BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orangtua dan perilaku remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual remaja.

A. Pola Asuh Orangtua 1. Pengertian Pola Asuh Orangtua Pengasuhan menurut (Schochib,2000, hlm.15) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin, atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud di sini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

memberikan dorongan. 86). Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan anak. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda. dan sikap hidup Universitas Sumatera Utara . membesarkan hati. orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya. karena orangtua mempunyai pola pengasuhan tertentu. membimbing. Dengan upaya ini berarti orang tua telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No. di mana. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri tiap orang tua (Gunarsa. Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior. dan mengarahkan putra-putrinya. memberikan teguran positif dan membantu mengarahkan perilaku anak. kapan. hlm. Disamping itu. 117) Menurut Bernhard (1964: 31) sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga. Pola asuh yang ditanamkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya. Directive Behavior melibatkan komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa yang harus mereka lakukan. 2002.(Tarmuji. Tipe Pola Asuh Orang tua Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya mengasuh putra-putrinya.(Shochib.11 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama. nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan.nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Orang tua jugadapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. 2. dan bagaimana melakukan suatu tugas. 2000. Dalam mengasuh anak. ketrampilan. 1991).

1999) terdiri dari dua tipe yaitu: 1. serta cenderung mengekang keinginan anaknya. berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan bertanggung jawab untuk mengupayakannya (Shochib. dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas. Artinya. dan lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. ketakutan. dirinya sendiri. Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku. tidak Universitas Sumatera Utara . Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai berikut: a. berbangsa. sesama manusia. dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri. Tipe pola asuh menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke. masyarakat. aturan-aturan pergaulan. Orang tua yang mampu berprilaku seperti diatas. tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak.yang mendukung kehidupan bermasyarakat. dan memaksa anak untuk selalu mengikuti orangtua tanpa banyak alasan.3). pandangan hidup. Menurut Wayson (1964 : 229) anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama. bangsa dan Negara. dictator. yaitu anak merasa tidak bahagia. 2000. anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut. suka menghukum. hlm. Pola Asuh Otoriter Menurut Baumrind (dalam Parke & Locke) pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. nilai budaya.

2). orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. Pola asuh demokratis dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif. karena orang tua mempunyai pola asuhan tertentu. Menurut Shochib (dalam yuniati. tetapi keseluruhan kombinasi dari tingkah laku tersebut (Parke & Locke. dan pengembangan kognitif. 2003) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas. Anak menjadi tidak disiplin dan nakal. akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. cenderung ragu. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. sosial. mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. 1999). Di samping itu.terlatih untuk berinisiatif ( kurang berinisiatif). selalu tegang. anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdiplin. pola asuh seperti ini anak diharuskan untuk berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua. Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup. tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk). Pola asuhan itu menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke) terdiri dari tiga tipe. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda. Dalam mengasuh anak. Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga. berkomunikasi dengan lebih baik. Universitas Sumatera Utara . membimbing dan mengarahkan putra-putrinya.

3). Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah. Pola asuh unjuk kuasa Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orangtua. c. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah. Pada tipe asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi. 2005). 1999). demokratis. 2). terdiri dari empat tipe yaitu: Universitas Sumatera Utara . Tipe Pola Asuh menurut Hoffman (1970) (dalam Garliah.Kemudian tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh Maccoby dan Martin (1993) dengan menambah tipe pola asuh yang keempat. dan permissive .otoriter. b. terdiri atas tiga tipe yaitu : 1). Pola asuh lepas kasih Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. 2003). Pola asuh bina kasih Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard (1978) (dalam Garliah & Sary. yaitu uninvolved parenting ( Parke & Locke.

4). Selling Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling. karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan melalui komunikasi dua arah. Delegating Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan delegating. bagaimana. Di mana orang tua menentukan peran anak dan mengatakan apa. karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan. Participating Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut participating. Universitas Sumatera Utara . 3). namun anak diperbolehkan untuk menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan. 2). karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. di mana dan bagaimana mereka melakukan satu hal.1). Orang tua juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan. Telling Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut dengan telling. kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai tugas. karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara orangtua dengan anak.

demokrasi. 11-12) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi secara umum. adat. dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan. Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. serta neglectful oleh Maccoby dan Martin (1983) B. Walaupun demikian. sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut a. Usia 11 tahun adalah di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik) Universitas Sumatera Utara . 1999). Dengan membagi menjadi 2 bagian dimana remaja awal pada usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono. 2) Individu mengalami psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa 3) Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. hlm. dan permessive (Parke & Locke. adalah suatu masa di mana : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai pematangan seksual.Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1991) yaitu pola asuh otoriter. Pengertian remaja menurut WHO (World Health Organization ). 2010. Remaja 1.

Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh.b. 2006. (Hurlock. belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi). usia 11 tahun tidak diperlakukan lagi seperti anak-anak baik menurut adat maupun agama (kriteria sosial) c. Pada remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa. dan mudah terang secara erotis. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru. ada 3 tahap perkembangan remaja : a. Universitas Sumatera Utara . Tahap Perkembangan Remaja : Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan. yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua. Remaja awal (Early Adolescence) Remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perrubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. seperti tercapainya identitas diri. Karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah. Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa. hlm. Masyarakat Indonesia. tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikososiologi) d. 92-93) 2. cepat tertarik pada lawan jenis.

nilai. Tumbuh “ dinding” yang memisahkan diri pribadinya dengan masyarakat umum (Sarwono. 2010. tetapi sekaligus juga cepat marah dan agresif b. dan ideologi tersebut diatas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat. 2). Keadaan ini remaja yang berada diambang peralihan antara masa anak-anak dan dewasa. 3. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. Remaja terus menerus merasakan pertentangan antar sikap. 3). Universitas Sumatera Utara . Konfilk sikap. Remaja Madya (Middle Adolescence) Pada tahap remaja ini sangat membutuhkan kawan-kawan. c. ideologi. Pemalu dan perasa. Remaja Akhir (Late Adoloscence) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini: 1). Ia sangat senang kalau banyak teman yang menyukainya. dan gaya hidup.b. Egosentrisisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain) 5).30-31 ). Ada kecendrungan “ narcictis”. c. hlm. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). yaitu mencintai diri sendiri. Teori Remaja menurut Kurt Lewin. Mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. nilai. dewasa pun bukan). sehingga ia dapat disebut manusia maginal (dalam arti: anak bukan. Menggambarkan tingkah laku-tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a.

dan ingin mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya Universitas Sumatera Utara . d. usia kematangan b. Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberikan buruk pada perilakunya. Remaja yang matang lebih awal. Hubungan keluarga Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasi diri dengan orang lain. e. yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa. Kepatutan seks Kepatutan seks dalam penampilan diri. 2010. hlm. Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. 5253). mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.d. minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. Kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah : a. akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak dikalangan remaja. Ada kecendrungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrem dan mengubah kelakuannya secara drastis. 4. e. c. Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda-beda akan ditentukan oleh sifat (Sarwono.

bercumbu dan bersenggama. 235). Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat di timbulkan. Faktor yang sering dicurigai disebut sebagai pendorong perilaku seksual adalah: a. Perilaku Seksual Remaja 1. konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya. Pengertian Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual.f. depresi. orang dalam khayalan atau diri sendiri. Objek seksualnya bias orang lain. Teman sebaya Sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara : yang pertama. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Faktor agama yaitu merosotnya kepercayaan pada agama Universitas Sumatera Utara . Kreativitas Remaja yang semasa anak-anak didorong untun kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademisnya. mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang pengruh yang baik tentang konsep diri (Hurlock. hlm. seperti perasaan salah. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bias bermacam-macam mulai perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan. yang kedua. ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian g. dan marahmarah. 2. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain dampak bias cukup serius. C. 2006.

Orang juga harus belajar untuk membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka kehendaki atau sesuatu yang belum pasti. dan siapa pasangannya . Kampanye Keluarga Berencana (KB) d. dia banyak membutuhkan banyak informasi. mau melakukannya. e. Citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan control diri ( Sarwono. Faktor sosial ekonomi. 2010) Agar seseorang dapat membuat keputusan yang penting tentang seks. 2005) nilai agama dimasyarakat yang 3. orang seharusnya merasa senang terhadap diri mereka dan tubuh mereka sendiri. Yang paling penting . Perbedaan jenis kelamin c. Tugas-tugas perkembangan perilaku seksual remaja Secara rinci. besarnya keluarga dan rendahnya bersangkutan.b.( Darvill. Havighurst tahun (1961) menjelaskan adalah sebagai berikut: a) Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif b) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya c) Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang d) Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminine e) Berperilaku sosial yang bertanggung jawab Universitas Sumatera Utara . seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan.

3. Sementara usia kawin ditunda. Orang tua sendiri. norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah 4. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. hlm. 2006. malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat (Hurlock. Universitas Sumatera Utara . Kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. 5.f) Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang memiliki konsekuensi ekonomi dan financial g) Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ) Dari berbagai hasil studi disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut yaitu : 1. baik karena ketidak tahuannya maupun karena sikapnya yang mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan perkawinan. 2. baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria.

pertamatidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer Universitas Sumatera Utara . 3. maka lingkungan material yang dihadapi remaja didalam keluarganya itu lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila tidak ada alat-alatnya. maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut 2. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah. Dipihak lain. Peranan dan fungsi keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Keutuhan Keluarga Salah satu faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah faktor keutuhan keluarga. hlm. tidak dapat di ingkari adanya kecendrungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow. Faktor-faktor Keluarga Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja 1.6. baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. 187-188) D. Apabila perekonomian keluarga cukup. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan. Status Sosial Ekonomi Keadaan sosial-ekonomi mempunyai peranan terhadap perkembangan psikososial anak. 2010. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila kehidupan manusia.

dinamika kelompok. Selain keutuhan dalam struktur keluarga. 5. termasuk dinamika kepemimpinannya. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan. yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ayah disamping . norma-norma. 4. dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga. Caracara bertingkah laku orangtua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya. jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya. sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga.tama keutuhan dalam struktur keluarga. atau anak bungsu diantara saudara sekandungnya. Yang dimaksud status anak ialah kedudukan anak didalam keluarga. yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. Status Anak Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya didalam keluarganya. Universitas Sumatera Utara . maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. adanya ibu dan anak-anaknya. seperti anak tunggal. Sikap dan Kebiasaan Orang tua Cara-cara dan sikap-sikap yang ditanamkan orangtua dirumah memegang peranan yang penting dalam pergaulan anak. anak sulung. struktur. dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya.