P. 1
PDF Pola Asuh

PDF Pola Asuh

|Views: 629|Likes:
Published by Ani Suryani

More info:

Published by: Ani Suryani on May 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2013

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orangtua dan perilaku remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual remaja.

A. Pola Asuh Orangtua 1. Pengertian Pola Asuh Orangtua Pengasuhan menurut (Schochib,2000, hlm.15) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin, atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud di sini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda. Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan anak. nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan. kapan. 2000. 1991). membimbing. dan sikap hidup Universitas Sumatera Utara . orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. Directive Behavior melibatkan komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa yang harus mereka lakukan. 2002. karena orangtua mempunyai pola pengasuhan tertentu. memberikan dorongan. ketrampilan. Dengan upaya ini berarti orang tua telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No. Disamping itu. dan bagaimana melakukan suatu tugas. di mana.(Shochib. Dalam mengasuh anak. Orang tua jugadapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. 2. Tipe Pola Asuh Orang tua Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya mengasuh putra-putrinya. membesarkan hati.11 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama. 86). 117) Menurut Bernhard (1964: 31) sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga. memberikan teguran positif dan membantu mengarahkan perilaku anak. hlm. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri tiap orang tua (Gunarsa. Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior. Pola asuh yang ditanamkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya.(Tarmuji. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya.nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya.

yang mendukung kehidupan bermasyarakat. sesama manusia. berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan bertanggung jawab untuk mengupayakannya (Shochib.3). Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai berikut: a. dirinya sendiri. 1999) terdiri dari dua tipe yaitu: 1. Artinya. nilai budaya. suka menghukum. ketakutan. 2000. aturan-aturan pergaulan. dan lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas. hlm. tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya. Pola Asuh Otoriter Menurut Baumrind (dalam Parke & Locke) pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak. serta cenderung mengekang keinginan anaknya. dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Menurut Wayson (1964 : 229) anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama. bangsa dan Negara. dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri. anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut. yaitu anak merasa tidak bahagia. Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku. masyarakat. berbangsa. dan memaksa anak untuk selalu mengikuti orangtua tanpa banyak alasan. pandangan hidup. dictator. tidak Universitas Sumatera Utara . Tipe pola asuh menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke. Orang tua yang mampu berprilaku seperti diatas.

2). Di samping itu. berkomunikasi dengan lebih baik. mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Anak menjadi tidak disiplin dan nakal. Dalam mengasuh anak. Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdiplin. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Menurut Shochib (dalam yuniati. selalu tegang. cenderung ragu. 2003) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas. Pola asuh demokratis dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif. karena orang tua mempunyai pola asuhan tertentu. kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup. tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk). membimbing dan mengarahkan putra-putrinya. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. pola asuh seperti ini anak diharuskan untuk berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua. dan pengembangan kognitif. tetapi keseluruhan kombinasi dari tingkah laku tersebut (Parke & Locke.terlatih untuk berinisiatif ( kurang berinisiatif). Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga. sosial. 1999). Universitas Sumatera Utara . Pola asuhan itu menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke) terdiri dari tiga tipe. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda.

Kemudian tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh Maccoby dan Martin (1993) dengan menambah tipe pola asuh yang keempat. 2). Pola asuh unjuk kuasa Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orangtua. Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard (1978) (dalam Garliah & Sary. 1999). terdiri atas tiga tipe yaitu : 1).otoriter. 2003). Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah. yaitu uninvolved parenting ( Parke & Locke. dan permissive . terdiri dari empat tipe yaitu: Universitas Sumatera Utara . b. 3). demokratis. Pola asuh bina kasih Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pola asuh lepas kasih Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah. Pada tipe asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi. Tipe Pola Asuh menurut Hoffman (1970) (dalam Garliah. 2005). c.

3). Di mana orang tua menentukan peran anak dan mengatakan apa. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan. kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai tugas. karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. Delegating Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan delegating. Universitas Sumatera Utara . karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. bagaimana.1). Telling Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut dengan telling. karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara orangtua dengan anak. Orang tua juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan. 2). Selling Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling. namun anak diperbolehkan untuk menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan. karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan melalui komunikasi dua arah. 4). di mana dan bagaimana mereka melakukan satu hal. Participating Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut participating.

11-12) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi secara umum. dan permessive (Parke & Locke. adalah suatu masa di mana : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai pematangan seksual. Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. hlm.Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1991) yaitu pola asuh otoriter. Remaja 1. dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan. 2010. 2) Individu mengalami psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa 3) Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. demokrasi. Usia 11 tahun adalah di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik) Universitas Sumatera Utara . WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut a. Walaupun demikian. Dengan membagi menjadi 2 bagian dimana remaja awal pada usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono. adat. Pengertian remaja menurut WHO (World Health Organization ). 1999). serta neglectful oleh Maccoby dan Martin (1983) B.

Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa. tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikososiologi) d. (Hurlock. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal. Pada remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa. seperti tercapainya identitas diri. Tahap Perkembangan Remaja : Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan. Masyarakat Indonesia. usia 11 tahun tidak diperlakukan lagi seperti anak-anak baik menurut adat maupun agama (kriteria sosial) c.b. ada 3 tahap perkembangan remaja : a. yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua. 92-93) 2. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah. Remaja awal (Early Adolescence) Remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perrubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. cepat tertarik pada lawan jenis. Universitas Sumatera Utara . Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru. 2006. hlm. dan mudah terang secara erotis. Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh. belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi).

Remaja terus menerus merasakan pertentangan antar sikap. Egosentrisisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain) 5). yaitu mencintai diri sendiri. Pemalu dan perasa. nilai. Tumbuh “ dinding” yang memisahkan diri pribadinya dengan masyarakat umum (Sarwono. Remaja Madya (Middle Adolescence) Pada tahap remaja ini sangat membutuhkan kawan-kawan. dan gaya hidup.b. Remaja Akhir (Late Adoloscence) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini: 1).30-31 ). Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). c. 3. 2010. hlm. dan ideologi tersebut diatas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat. c. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. Menggambarkan tingkah laku-tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a. dewasa pun bukan). Teori Remaja menurut Kurt Lewin. ideologi. nilai. Mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. tetapi sekaligus juga cepat marah dan agresif b. Konfilk sikap. 3). Ia sangat senang kalau banyak teman yang menyukainya. sehingga ia dapat disebut manusia maginal (dalam arti: anak bukan. Ada kecendrungan “ narcictis”. Universitas Sumatera Utara . 2). Keadaan ini remaja yang berada diambang peralihan antara masa anak-anak dan dewasa.

mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. 2010. hlm. yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa. dan ingin mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya Universitas Sumatera Utara . d. usia kematangan b. 5253). c. Ada kecendrungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrem dan mengubah kelakuannya secara drastis. 4.d. Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberikan buruk pada perilakunya. e. akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak dikalangan remaja. e. Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. Kepatutan seks Kepatutan seks dalam penampilan diri. Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda-beda akan ditentukan oleh sifat (Sarwono. Remaja yang matang lebih awal. Kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah : a. minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. Hubungan keluarga Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasi diri dengan orang lain.

Teman sebaya Sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara : yang pertama. 2. seperti perasaan salah. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat di timbulkan. Perilaku Seksual Remaja 1. Faktor agama yaitu merosotnya kepercayaan pada agama Universitas Sumatera Utara . konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya.f. ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian g. Kreativitas Remaja yang semasa anak-anak didorong untun kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademisnya. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bias bermacam-macam mulai perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. 2006. Objek seksualnya bias orang lain. hlm. mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang pengruh yang baik tentang konsep diri (Hurlock. depresi. 235). orang dalam khayalan atau diri sendiri. Faktor yang sering dicurigai disebut sebagai pendorong perilaku seksual adalah: a. Pengertian Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain dampak bias cukup serius. C. yang kedua. dan marahmarah. bercumbu dan bersenggama.

Faktor sosial ekonomi. besarnya keluarga dan rendahnya bersangkutan. Citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan control diri ( Sarwono. Havighurst tahun (1961) menjelaskan adalah sebagai berikut: a) Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif b) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya c) Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang d) Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminine e) Berperilaku sosial yang bertanggung jawab Universitas Sumatera Utara . seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan.b. dia banyak membutuhkan banyak informasi. Orang juga harus belajar untuk membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka kehendaki atau sesuatu yang belum pasti. dan siapa pasangannya . Kampanye Keluarga Berencana (KB) d. 2005) nilai agama dimasyarakat yang 3. Yang paling penting . e. mau melakukannya. Perbedaan jenis kelamin c. Tugas-tugas perkembangan perilaku seksual remaja Secara rinci. 2010) Agar seseorang dapat membuat keputusan yang penting tentang seks. orang seharusnya merasa senang terhadap diri mereka dan tubuh mereka sendiri.( Darvill.

norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah 4. baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria.f) Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang memiliki konsekuensi ekonomi dan financial g) Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ) Dari berbagai hasil studi disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut yaitu : 1. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. Sementara usia kawin ditunda. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Universitas Sumatera Utara . 2. Kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih. 2006. 5. hlm. 3. Orang tua sendiri. malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat (Hurlock. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan perkawinan. baik karena ketidak tahuannya maupun karena sikapnya yang mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak.

Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah. baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. 187-188) D. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan. Keutuhan Keluarga Salah satu faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah faktor keutuhan keluarga. Peranan dan fungsi keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut 2. maka lingkungan material yang dihadapi remaja didalam keluarganya itu lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila tidak ada alat-alatnya. tidak dapat di ingkari adanya kecendrungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono. pertamatidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer Universitas Sumatera Utara . Apabila perekonomian keluarga cukup. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila kehidupan manusia. hlm. Status Sosial Ekonomi Keadaan sosial-ekonomi mempunyai peranan terhadap perkembangan psikososial anak.6. 2010. 3. Dipihak lain. Faktor-faktor Keluarga Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja 1.

dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya. dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga. anak sulung. norma-norma. struktur. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan. 5. Yang dimaksud status anak ialah kedudukan anak didalam keluarga. atau anak bungsu diantara saudara sekandungnya. Caracara bertingkah laku orangtua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya. adanya ibu dan anak-anaknya. Status Anak Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya didalam keluarganya. yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ayah disamping . yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. termasuk dinamika kepemimpinannya. dinamika kelompok. 4. Selain keutuhan dalam struktur keluarga. seperti anak tunggal. Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya. sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga. Universitas Sumatera Utara .tama keutuhan dalam struktur keluarga. Sikap dan Kebiasaan Orang tua Cara-cara dan sikap-sikap yang ditanamkan orangtua dirumah memegang peranan yang penting dalam pergaulan anak. jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->