BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orangtua dan perilaku remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual remaja.

A. Pola Asuh Orangtua 1. Pengertian Pola Asuh Orangtua Pengasuhan menurut (Schochib,2000, hlm.15) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin, atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud di sini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

dan mengarahkan putra-putrinya. orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya.11 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama. 2.(Shochib. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya. 117) Menurut Bernhard (1964: 31) sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga.nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. dan bagaimana melakukan suatu tugas. Dalam mengasuh anak. 2000. di mana. membesarkan hati. Orang tua jugadapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. hlm.(Tarmuji. nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan. Disamping itu. membimbing. 86). dan sikap hidup Universitas Sumatera Utara . Directive Behavior melibatkan komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa yang harus mereka lakukan. karena orangtua mempunyai pola pengasuhan tertentu. Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan anak. kapan. 1991). 2002. Pola asuh yang ditanamkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Dengan upaya ini berarti orang tua telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No. Tipe Pola Asuh Orang tua Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya mengasuh putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda. memberikan dorongan. memberikan teguran positif dan membantu mengarahkan perilaku anak. ketrampilan. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri tiap orang tua (Gunarsa.

Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai berikut: a. pandangan hidup. berbangsa. Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku. dictator. 2000. tidak Universitas Sumatera Utara . dan memaksa anak untuk selalu mengikuti orangtua tanpa banyak alasan. hlm. masyarakat. Menurut Wayson (1964 : 229) anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama. Orang tua yang mampu berprilaku seperti diatas.3). aturan-aturan pergaulan. 1999) terdiri dari dua tipe yaitu: 1. anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut. yaitu anak merasa tidak bahagia. dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri. dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. dirinya sendiri. bangsa dan Negara. tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya. Tipe pola asuh menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke. serta cenderung mengekang keinginan anaknya. nilai budaya. Artinya. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak. Pola Asuh Otoriter Menurut Baumrind (dalam Parke & Locke) pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan.yang mendukung kehidupan bermasyarakat. berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan bertanggung jawab untuk mengupayakannya (Shochib. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas. sesama manusia. suka menghukum. ketakutan. dan lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral.

berkomunikasi dengan lebih baik. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya.terlatih untuk berinisiatif ( kurang berinisiatif). tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk). Universitas Sumatera Utara . 1999). anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdiplin. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. karena orang tua mempunyai pola asuhan tertentu. akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. dan pengembangan kognitif. mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Menurut Shochib (dalam yuniati. Dalam mengasuh anak. tetapi keseluruhan kombinasi dari tingkah laku tersebut (Parke & Locke. kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup. selalu tegang. 2). Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. cenderung ragu. Di samping itu. membimbing dan mengarahkan putra-putrinya. Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga. Anak menjadi tidak disiplin dan nakal. Pola asuhan itu menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke) terdiri dari tiga tipe. sosial. Pola asuh demokratis dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif. pola asuh seperti ini anak diharuskan untuk berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua. 2003) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas.

demokratis. 2). Pola asuh bina kasih Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah. yaitu uninvolved parenting ( Parke & Locke.Kemudian tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh Maccoby dan Martin (1993) dengan menambah tipe pola asuh yang keempat. 3). 2003). Pada tipe asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi. Pola asuh lepas kasih Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. 2005). 1999). Tipe Pola Asuh menurut Hoffman (1970) (dalam Garliah. c. terdiri dari empat tipe yaitu: Universitas Sumatera Utara . Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah.otoriter. b. dan permissive . terdiri atas tiga tipe yaitu : 1). Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard (1978) (dalam Garliah & Sary. Pola asuh unjuk kuasa Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orangtua.

Selling Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling. Di mana orang tua menentukan peran anak dan mengatakan apa. namun anak diperbolehkan untuk menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan. karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan melalui komunikasi dua arah. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan. bagaimana. Participating Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut participating. Telling Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut dengan telling. Orang tua juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan. kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai tugas. Delegating Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan delegating. 3). 4). Universitas Sumatera Utara . 2). di mana dan bagaimana mereka melakukan satu hal. karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara orangtua dengan anak. karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah.1).

adalah suatu masa di mana : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai pematangan seksual. dan permessive (Parke & Locke. Usia 11 tahun adalah di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik) Universitas Sumatera Utara . Dengan membagi menjadi 2 bagian dimana remaja awal pada usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono. Remaja 1. Pengertian remaja menurut WHO (World Health Organization ). serta neglectful oleh Maccoby dan Martin (1983) B. 11-12) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi secara umum. 1999). dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan. Walaupun demikian. sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut a. WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. demokrasi. hlm. adat.Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1991) yaitu pola asuh otoriter. 2010. 2) Individu mengalami psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa 3) Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari berbagai macam suku.

92-93) 2. Pada remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa. Tahap Perkembangan Remaja : Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan. belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi). hlm. yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua. seperti tercapainya identitas diri.b. Karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah. (Hurlock. Masyarakat Indonesia. Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru. Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh. cepat tertarik pada lawan jenis. ada 3 tahap perkembangan remaja : a. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. 2006. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal. Remaja awal (Early Adolescence) Remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perrubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikososiologi) d. Universitas Sumatera Utara . usia 11 tahun tidak diperlakukan lagi seperti anak-anak baik menurut adat maupun agama (kriteria sosial) c. dan mudah terang secara erotis.

2). dan gaya hidup. ideologi. Teori Remaja menurut Kurt Lewin. Menggambarkan tingkah laku-tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). Ia sangat senang kalau banyak teman yang menyukainya. hlm. nilai. Ada kecendrungan “ narcictis”. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. Universitas Sumatera Utara . Remaja terus menerus merasakan pertentangan antar sikap. Mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. c. Remaja Madya (Middle Adolescence) Pada tahap remaja ini sangat membutuhkan kawan-kawan. Keadaan ini remaja yang berada diambang peralihan antara masa anak-anak dan dewasa. dan ideologi tersebut diatas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat.30-31 ). sehingga ia dapat disebut manusia maginal (dalam arti: anak bukan. 3). Egosentrisisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain) 5). Pemalu dan perasa. nilai.b. tetapi sekaligus juga cepat marah dan agresif b. 2010. c. yaitu mencintai diri sendiri. Konfilk sikap. 3. Tumbuh “ dinding” yang memisahkan diri pribadinya dengan masyarakat umum (Sarwono. Remaja Akhir (Late Adoloscence) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini: 1). dewasa pun bukan).

d. yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa. Kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah : a. hlm. e. Kepatutan seks Kepatutan seks dalam penampilan diri. Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. Remaja yang matang lebih awal. e. Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda-beda akan ditentukan oleh sifat (Sarwono. Ada kecendrungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrem dan mengubah kelakuannya secara drastis. 4. usia kematangan b. minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. d. mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. 2010. Hubungan keluarga Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasi diri dengan orang lain. 5253). Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberikan buruk pada perilakunya. c. akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak dikalangan remaja. dan ingin mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya Universitas Sumatera Utara .

Faktor yang sering dicurigai disebut sebagai pendorong perilaku seksual adalah: a. konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya. ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian g. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. C. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain dampak bias cukup serius. depresi. Teman sebaya Sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara : yang pertama. Perilaku Seksual Remaja 1. Objek seksualnya bias orang lain.f. seperti perasaan salah. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat di timbulkan. 2. 235). yang kedua. Kreativitas Remaja yang semasa anak-anak didorong untun kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademisnya. orang dalam khayalan atau diri sendiri. Pengertian Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. Faktor agama yaitu merosotnya kepercayaan pada agama Universitas Sumatera Utara . 2006. mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang pengruh yang baik tentang konsep diri (Hurlock. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bias bermacam-macam mulai perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan. hlm. dan marahmarah. bercumbu dan bersenggama.

Yang paling penting .b. e. seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan. Faktor sosial ekonomi. 2005) nilai agama dimasyarakat yang 3. Orang juga harus belajar untuk membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka kehendaki atau sesuatu yang belum pasti. 2010) Agar seseorang dapat membuat keputusan yang penting tentang seks. dan siapa pasangannya . orang seharusnya merasa senang terhadap diri mereka dan tubuh mereka sendiri. dia banyak membutuhkan banyak informasi. besarnya keluarga dan rendahnya bersangkutan. Perbedaan jenis kelamin c. Havighurst tahun (1961) menjelaskan adalah sebagai berikut: a) Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif b) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya c) Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang d) Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminine e) Berperilaku sosial yang bertanggung jawab Universitas Sumatera Utara . Citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan control diri ( Sarwono. mau melakukannya. Kampanye Keluarga Berencana (KB) d. Tugas-tugas perkembangan perilaku seksual remaja Secara rinci.( Darvill.

hlm. norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah 4.f) Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang memiliki konsekuensi ekonomi dan financial g) Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ) Dari berbagai hasil studi disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut yaitu : 1. baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. Sementara usia kawin ditunda. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan perkawinan. 3. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat (Hurlock. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. 2. 2006. Universitas Sumatera Utara . baik karena ketidak tahuannya maupun karena sikapnya yang mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak. Orang tua sendiri. Kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih. 5.

Peranan dan fungsi keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. 2010. maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut 2. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah. tidak dapat di ingkari adanya kecendrungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila kehidupan manusia. Faktor-faktor Keluarga Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja 1. hlm. pertamatidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer Universitas Sumatera Utara . maka lingkungan material yang dihadapi remaja didalam keluarganya itu lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila tidak ada alat-alatnya. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan. 3.6. baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. 187-188) D. Keutuhan Keluarga Salah satu faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah faktor keutuhan keluarga. Dipihak lain. Status Sosial Ekonomi Keadaan sosial-ekonomi mempunyai peranan terhadap perkembangan psikososial anak. Apabila perekonomian keluarga cukup.

yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. dinamika kelompok. yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ayah disamping . termasuk dinamika kepemimpinannya. sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga. atau anak bungsu diantara saudara sekandungnya. struktur. seperti anak tunggal. Sikap dan Kebiasaan Orang tua Cara-cara dan sikap-sikap yang ditanamkan orangtua dirumah memegang peranan yang penting dalam pergaulan anak. jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Status Anak Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya didalam keluarganya. dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya. adanya ibu dan anak-anaknya. Caracara bertingkah laku orangtua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya. Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya. norma-norma.tama keutuhan dalam struktur keluarga. dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga. 5. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan. Yang dimaksud status anak ialah kedudukan anak didalam keluarga. 4. Selain keutuhan dalam struktur keluarga. Universitas Sumatera Utara . maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. anak sulung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful