PDF Pola Asuh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orangtua dan perilaku remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual remaja.

A. Pola Asuh Orangtua 1. Pengertian Pola Asuh Orangtua Pengasuhan menurut (Schochib,2000, hlm.15) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin, atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud di sini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

2. Disamping itu. Dengan upaya ini berarti orang tua telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No. di mana. 1991). karena orangtua mempunyai pola pengasuhan tertentu. dan bagaimana melakukan suatu tugas. dan mengarahkan putra-putrinya. 117) Menurut Bernhard (1964: 31) sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga.nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri tiap orang tua (Gunarsa. Orang tua jugadapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. 86). memberikan teguran positif dan membantu mengarahkan perilaku anak.11 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama. dan sikap hidup Universitas Sumatera Utara . Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior.(Shochib.(Tarmuji. ketrampilan. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda. memberikan dorongan. 2002. Directive Behavior melibatkan komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa yang harus mereka lakukan. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya. Tipe Pola Asuh Orang tua Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya mengasuh putra-putrinya. Pola asuh yang ditanamkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. hlm. 2000. kapan. membesarkan hati. Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan anak. membimbing. nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan. orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya. Dalam mengasuh anak. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara.

tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya. dictator. masyarakat. Orang tua yang mampu berprilaku seperti diatas.yang mendukung kehidupan bermasyarakat. aturan-aturan pergaulan. berbangsa. ketakutan. Artinya. bangsa dan Negara. tidak Universitas Sumatera Utara . Pola Asuh Otoriter Menurut Baumrind (dalam Parke & Locke) pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. dirinya sendiri. suka menghukum. serta cenderung mengekang keinginan anaknya. Tipe pola asuh menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke. berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan bertanggung jawab untuk mengupayakannya (Shochib. hlm. dan lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri. Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai berikut: a. Menurut Wayson (1964 : 229) anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama. nilai budaya. dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku. sesama manusia. 1999) terdiri dari dua tipe yaitu: 1. 2000. anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut. pandangan hidup. dan memaksa anak untuk selalu mengikuti orangtua tanpa banyak alasan. yaitu anak merasa tidak bahagia. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas.3). Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak.

Dalam mengasuh anak. karena orang tua mempunyai pola asuhan tertentu. Pola asuhan itu menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke) terdiri dari tiga tipe. selalu tegang. membimbing dan mengarahkan putra-putrinya. anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdiplin. Menurut Shochib (dalam yuniati. berkomunikasi dengan lebih baik. 2003) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas. akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara. kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup. tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk). sosial. dan pengembangan kognitif. Di samping itu. Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga. cenderung ragu. pola asuh seperti ini anak diharuskan untuk berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua. tetapi keseluruhan kombinasi dari tingkah laku tersebut (Parke & Locke. Pola asuh demokratis dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif.terlatih untuk berinisiatif ( kurang berinisiatif). Anak menjadi tidak disiplin dan nakal. 1999). Universitas Sumatera Utara . Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda. 2).

3). b. Pola asuh bina kasih Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard (1978) (dalam Garliah & Sary. c. 2005).Kemudian tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh Maccoby dan Martin (1993) dengan menambah tipe pola asuh yang keempat. Pada tipe asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah. dan permissive . terdiri atas tiga tipe yaitu : 1). Pola asuh lepas kasih Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya.otoriter. Tipe Pola Asuh menurut Hoffman (1970) (dalam Garliah. demokratis. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah. 2). 2003). 1999). yaitu uninvolved parenting ( Parke & Locke. Pola asuh unjuk kuasa Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orangtua. terdiri dari empat tipe yaitu: Universitas Sumatera Utara .

Delegating Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan delegating. di mana dan bagaimana mereka melakukan satu hal. karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Orang tua juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan. Telling Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut dengan telling. bagaimana. Participating Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut participating. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan. kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai tugas. 2). karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. Universitas Sumatera Utara . namun anak diperbolehkan untuk menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan. 4). karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan melalui komunikasi dua arah.1). Selling Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling. karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara orangtua dengan anak. 3). Di mana orang tua menentukan peran anak dan mengatakan apa.

Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. serta neglectful oleh Maccoby dan Martin (1983) B. Remaja 1. hlm. 11-12) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi secara umum. Usia 11 tahun adalah di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik) Universitas Sumatera Utara . demokrasi. 2) Individu mengalami psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa 3) Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. dan permessive (Parke & Locke. Pengertian remaja menurut WHO (World Health Organization ). adat. Walaupun demikian. Dengan membagi menjadi 2 bagian dimana remaja awal pada usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono.Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1991) yaitu pola asuh otoriter. 1999). 2010. adalah suatu masa di mana : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai pematangan seksual. sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut a. dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan.

Universitas Sumatera Utara . usia 11 tahun tidak diperlakukan lagi seperti anak-anak baik menurut adat maupun agama (kriteria sosial) c. Pada remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa. belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi). yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua. ada 3 tahap perkembangan remaja : a. 92-93) 2. (Hurlock. Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh. hlm. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru. dan mudah terang secara erotis. 2006.b. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal. Karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah. cepat tertarik pada lawan jenis. tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikososiologi) d. Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa. Remaja awal (Early Adolescence) Remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perrubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Tahap Perkembangan Remaja : Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan. Masyarakat Indonesia. seperti tercapainya identitas diri.

Teori Remaja menurut Kurt Lewin. Mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. yaitu mencintai diri sendiri. Ada kecendrungan “ narcictis”. Universitas Sumatera Utara . c. Menggambarkan tingkah laku-tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a. 2). Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). nilai. dan gaya hidup. tetapi sekaligus juga cepat marah dan agresif b. Konfilk sikap.b. Tumbuh “ dinding” yang memisahkan diri pribadinya dengan masyarakat umum (Sarwono. Remaja Madya (Middle Adolescence) Pada tahap remaja ini sangat membutuhkan kawan-kawan. dan ideologi tersebut diatas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat. hlm. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. 3. dewasa pun bukan).30-31 ). Remaja terus menerus merasakan pertentangan antar sikap. Egosentrisisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain) 5). nilai. Remaja Akhir (Late Adoloscence) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini: 1). Ia sangat senang kalau banyak teman yang menyukainya. ideologi. 2010. Keadaan ini remaja yang berada diambang peralihan antara masa anak-anak dan dewasa. 3). Pemalu dan perasa. c. sehingga ia dapat disebut manusia maginal (dalam arti: anak bukan.

2010. minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. Kepatutan seks Kepatutan seks dalam penampilan diri. d. usia kematangan b. yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa. Remaja yang matang lebih awal. Kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah : a. akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak dikalangan remaja. 4. e. Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda-beda akan ditentukan oleh sifat (Sarwono. Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberikan buruk pada perilakunya.d. Hubungan keluarga Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasi diri dengan orang lain. 5253). Ada kecendrungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrem dan mengubah kelakuannya secara drastis. mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. dan ingin mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya Universitas Sumatera Utara . c. Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. hlm. e.

Perilaku Seksual Remaja 1. bercumbu dan bersenggama. dan marahmarah. konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya. Teman sebaya Sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara : yang pertama. C. Pengertian Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. Faktor yang sering dicurigai disebut sebagai pendorong perilaku seksual adalah: a. 2. Faktor agama yaitu merosotnya kepercayaan pada agama Universitas Sumatera Utara . 235). Bentuk-bentuk tingkah laku ini bias bermacam-macam mulai perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan. hlm.f. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain dampak bias cukup serius. Kreativitas Remaja yang semasa anak-anak didorong untun kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademisnya. orang dalam khayalan atau diri sendiri. mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang pengruh yang baik tentang konsep diri (Hurlock. yang kedua. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. seperti perasaan salah. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat di timbulkan. depresi. Objek seksualnya bias orang lain. 2006. ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian g.

( Darvill. e. Tugas-tugas perkembangan perilaku seksual remaja Secara rinci. 2010) Agar seseorang dapat membuat keputusan yang penting tentang seks. dia banyak membutuhkan banyak informasi. orang seharusnya merasa senang terhadap diri mereka dan tubuh mereka sendiri.b. dan siapa pasangannya . Orang juga harus belajar untuk membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka kehendaki atau sesuatu yang belum pasti. Faktor sosial ekonomi. 2005) nilai agama dimasyarakat yang 3. Yang paling penting . Kampanye Keluarga Berencana (KB) d. seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan. besarnya keluarga dan rendahnya bersangkutan. mau melakukannya. Havighurst tahun (1961) menjelaskan adalah sebagai berikut: a) Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif b) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya c) Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang d) Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminine e) Berperilaku sosial yang bertanggung jawab Universitas Sumatera Utara . Citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan control diri ( Sarwono. Perbedaan jenis kelamin c.

baik karena ketidak tahuannya maupun karena sikapnya yang mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak. 2. 5. Universitas Sumatera Utara . Sementara usia kawin ditunda. baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah 4. 2006. hlm. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan perkawinan. 3. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih. Orang tua sendiri.f) Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang memiliki konsekuensi ekonomi dan financial g) Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ) Dari berbagai hasil studi disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut yaitu : 1. malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat (Hurlock.

baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. 187-188) D. Apabila perekonomian keluarga cukup. Dipihak lain. 3. maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut 2. tidak dapat di ingkari adanya kecendrungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono. maka lingkungan material yang dihadapi remaja didalam keluarganya itu lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila tidak ada alat-alatnya. Status Sosial Ekonomi Keadaan sosial-ekonomi mempunyai peranan terhadap perkembangan psikososial anak. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow. Peranan dan fungsi keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Faktor-faktor Keluarga Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja 1. Keutuhan Keluarga Salah satu faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah faktor keutuhan keluarga. pertamatidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer Universitas Sumatera Utara . hlm.6. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila kehidupan manusia. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan. 2010.

dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga. Caracara bertingkah laku orangtua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya. struktur. termasuk dinamika kepemimpinannya.tama keutuhan dalam struktur keluarga. seperti anak tunggal. maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. 4. Selain keutuhan dalam struktur keluarga. Yang dimaksud status anak ialah kedudukan anak didalam keluarga. sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan. Universitas Sumatera Utara . Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya. dinamika kelompok. anak sulung. yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya. atau anak bungsu diantara saudara sekandungnya. Status Anak Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya didalam keluarganya. yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ayah disamping . norma-norma. jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Sikap dan Kebiasaan Orang tua Cara-cara dan sikap-sikap yang ditanamkan orangtua dirumah memegang peranan yang penting dalam pergaulan anak. adanya ibu dan anak-anaknya. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful