P. 1
RUU RUU Tentang Pangan

RUU RUU Tentang Pangan

|Views: 2|Likes:
Published by Care Mhn

More info:

Published by: Care Mhn on May 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • AMIR SYAMSUDDIN
  • II. PASAL DEMI PASAL

~.

RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR ...TAHUN ...
TENTANG
PANGAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR. .... TAHUN.....
TENTANG
PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara
mempunyai tanggung jawab untuk melindungi segenap
bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
b. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makrrrur
ser ta untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasar warga
negara, negara menyelenggarakan perlindungan dan
pernberdayaan masyarakat secara terencana, terarah,
dan berkelanjutan;
c. bahwa kecenderungan meningkatnya perubahan iklim,
globalisasi dan gejolak ekonomi global, kerentanan
terhadap bencana a1am dan risiko usaha, serta sistem
pasar yang tidak transparan dan tidak adil, petani
mernbutuhkan per1indungan dan pemberdayaan;
d. bahwa peraturan perundang-undangan yang saat irii
masih berlaku belurn mengatur perlindungan dan
pemberdayaan petani secara kornprehensif, sistemik, dan
holistik;
e. bahwa berdasarkan

pertirnbangan

sebagaimana
dimaksud 'pada huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d
perlu membentuk Undang-Undang tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petarii.
1. Pasa1 20, Pasa1 21, Pasal 28H, dan Pasal 33 ayat (3)
Undarig-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Ta.htrn
1945;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(Lembaran Negara Repub1ik Indonesia Tah un 2009
Nomor 149, Tambahan Lernbaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5068).

Mengingat:

Dengan Persetujuan Bersarna
DEWAN PERWAKILAN RAKYATREPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:

2

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG
PEMBERDAYAANPETANI.

PERLINDUNGAN DAN

BABI
KETENTUANUMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan:
1. Petani adalah warga negara Indonesia perseorangan darr/ atau beserta
keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan,
hortik ultura, perkebunan, darr/ atau peternakan.
2. Perlindungan Petani adalah segala upaya untuk membantu petani
menghadapi permasalahan kesulitan mernperoleh prasarana dan
sarana produksi, ketersediaan lahan, kepastian usaha, risiko harga,
kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.
3. Pemberdayaan Petani adalah segala upaya untuk mengubah pola pikir
ke arah yang lebih maju, peningkatan kemampuan usaha tani,
penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani guna meningkatkan
kesejahteraan petani.
4. Pertanian adalah kegiatan untuk mengelola lahan dan agroekosistem
yang dilakukan dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan
manajemen, yang mencakup tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, danl atau peternakan.
5. Usaha Tani adalah kegiatan dalam bidang pertanian, mulai dari
produksi r budidaya, penanganan pascapanen, sarana produksi,
pemasaran hasil, dan,' atau jasa penunjang untuk mencapai
kedaulatan dan kesejahteraan yang bermartabat.
6. Komoditas Pertanian adalah hasil dad usaha tani yang dapat
diperdagangkan, disimpan dan /atau dipertuk arkan.
7. Pelaku Usaha adalah setiap orang yang melakukan usaha sarana
produksi pertanian, pengolahan dan pernasaran hasil pertanian, serta
jasa penunjang pertanian yang berkedudukan eli wilayah hukum
Republik Indonesia.
8. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan lrukurn.
9. Kelernbagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari,
oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan mernperjuangkan
kepentingan petani.
10. Kelompok Tani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh,
dan untuk petani yang terdiri dari sejumlah petani guna
mernperjuangkan kepentingan anggotanya.
11. Gabungan Kelompok Tani, yang selanjutnya disingkat Gapoktan,
adalah gabungan lebih dari satu kelompok tani guna memperjuangkan
kepentingan anggotanya.
12. Asosiasi adalah kumpulan dari petani, kelompok tani, dan zatau
Gapoktan.

3

13. Dewan Komoditas Pertanian Nasional adalah suatu lembaga yang
beranggotakan petani untuk memperjuangkan kepentingan petani.
14. Kelembagaan Ekonomi Petani adalah lembaga yang melaksanakan
kegiatan usaha tani yang dibentuk oleh, dari, dan untuk petani, guna
meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
15. Badan Usaha Milik Petani adalah badan usaha berbentuk koperasi
atau badan usaha lainnya yang dimiliki oleh petani.
16. Bank Bagi Petani adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dana tanggung jawab sosial dan
lingkungan badan usaha, serta dana masyarakat, dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada petani dalam bentuk kredit
dan /atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka pembiayaan usaha
tani.

17. Lembaga Pembiayaan Petani adalah badan usaha yang melakukan
kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang
modal untuk memfasilitasi serta membantu petani dalam melakukan
usaha tani.
18. Asuransi Pertanian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih,
dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada perjanjian
dengan petani, dengan menerima premi asuransi untuk mernberikan
penggantian pada petani sesuai risiko yang dipertanggungkan.
19. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
20. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
21. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang pertanian.

BABII
ASAS,TUJUAN, DANLINGKUPPENGATURAN
Pasal2
Perlindungan dan pemberdayaan petani berdasarkan aS8.S:
a. kemandirian;
b. kedaulatan;
c. kebermanfaatan;
d. kebersamaan;
e. keterpaduan;
f. keterbukaan;
g. efisiensi berkeadilan; dan
h. berkelanjutan.

4

Pasa13
Perlindungan dan pernberdayaan petani bertujuan untuk:
a. rneningkatkan kemandirian dan kedaulatan petani dalam rangka
mewujudkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup
yang lebih baik;
b. melindungi petani dari kegagalan panen dan risiko harga;
c. menyediakan prasarana dan sarana pertanian yang dibutuhkan dalam
mengembangkan usaha tani;
d. menumbuhkembangkan kelembagaan pernbiayaan pertanian yang
melayani kepentingan usaha tani;
e. meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani serta kelembagaan
petani dalam menjalankan usaha tani yang produktif, maju, modern,
bernilai tambah, berdaya saing, mernpunyai pangsa pasar dan
berkelanjutan; dan
f. memberikan kepastian hukum bagi terselenggaranya usaha tani.

Pasa14
Lingkup pengaturan perlindungan dan pernberdayaan petani meliputi:
a. perencanaan;
b. perlindungan petani;
c. pemberdayaan petani;
d. pembiayaan;
e. pengawasan; dan
f. peran serta masyarakat.

BABIII

PERENCANAAN

Pasa15
(1) Perencanaan perlindungan dan pernberdayaan petani dilakukan secara
sistematis, terpadu, terarah , menyeluruh, transparan, dan akuntabel.
(2)Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memperhatikan:
a. daya dukung sumber daya alam dan lingkungan;
b. kebutuhan sarana dan prasarana;
c. kebutuhan teknis, ekonomis, kelembagaan, dan budaya setempat;
d. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
e. tingkat pertumbuhan ekonomi; dan
f. jumlah petani.

5

(3)Perencanaan sebagaimana dunaksud pada ayat (1) merupakan bagian
yang integral dari:
a. rencana pembangunan nasianal;
b. rencana pembangunan daerah;
c. rencana pembangunan pertanian:
d. rencana anggaran pendapatan dan belanja negara.; dan
e. rencana anggaran pendapatan dan belanja daerab.

Pasal6
Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) paling sedikit
memuat strategi dan kebijakan.

Pasal 7
(1) Strategi perlindungan dan pemberdayaan petani sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ditetapkan oleh Pernerintah dan Pemerintah
Daerah sesuai keweriangannya dengan memperhatikan kebijakan
perlindungan dan pernberdayaan petani.
(2) Strategi perlindungan petani dilakukan rnelalui:
a. prasarana dan sarana produksi pertanian;
b. kepastian usaha;
c. harga kornoditas pertanian;
d. Asuransi Pertanian;
e. penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi; dan
f. pembangunan sistem peringatan dini dan penanganan dampak
perubahan iklim.
(3)Strategi pemberdayaan petani dilakukan melalui:
a. pendidikan dan pelatihan;
b. penyuluhan dan pendampingan;
c. pengembangan sistem dan sarana pernasaran hasil pertaniari;
d. pengutamaan basil pertanian dalam negeri untuk memenuhi
kebutuhan pangan nasional;
e. konsolidasi dan jaminanluasan lahan pertanian;
f. penyediaan fasilitas pembiayaan dan permodalan;
g. kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi: dan
h. penguatan kelembagaan petani.

Pasal 8
(1)Kebijakan perlindungan dan pernberdayaan petani sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah
Daerah sesuai kewenangannya dengan memperhatikan asas dan tujuan
perlindungan dan pemberdayaan petani.

6

(2)Dalam menetapkan kcbijakan perlindungan dan pemberdayaan petani
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pernerintah dan Pemerintah
Daerah mernpertim bangkan:
a. perlindungan dan pemberdayaan petani dilaksanakan selaras
dengan program pemberdayaan masyarakat yang di1akukan oleh
kementerian/lembaga non kernenterian terkait lainnya; dan
b. perlindungan dan pernberdayaan petani dapat di1aksanakan oleh
masyarakat dan/ atau pemangku kepentingan lainnya sebagai mitra
Pemerintah dan Pernerintah Daerah.

Pasa19
(1)Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani disusun oleh
Pemerintah danj atau Pemerintah Daerah dengan melibatkan petani.
(2)Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disusun di tingkat nasional, provinsi, atau
kabupatenjkota.
(3)Perencanaan perlindungan dan pernberdayaan petani ditetapkan oleh
Pemerintah, Pemerintah Provinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota
menjadi rencana perlindungan dan pemberdayaan petani baik jangka
pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

Pasal 10
Rencana perlindungan dan pemberdayaan petani sebagaimana dimaksud
dalam pasal 9 ayat (3)terdiri atas:
a. rencana perlindungan dan pemberdayaan petani nasiorial;
b. rericana perlindungan dan pemberdayaan petani provinsi; dan
c. rencana perlindungan dan pemberdayaan petani kabupaten/kota.

Pasal 11
(1)Rencana perlindungan dan pemberdayaan petani nasional menjadi
pedoman untuk menyusun perencanaan perlindungan dan
pemberdayaan petani provinsi.
(2)Rencana perlindungan dan pemberdayaan petani provinsi menjadi
pedoman untuk menyusun perencanaan perlindungan dan
pernberdayaan petani kabupaten /kota.
(3)Rencana perlindungan dan pemberdayaan petani kabupaten/kota
menjadi pedoman untuk menyusun perencanaan perlindungan dan
pemberdayaan petani setempat.

7

BABIV
PERLINDUNGAN PETANI

Bagian Kesatu
Umum
Pasa1 12
(1) Perlindungan petani di1akukan me1a1ui penentuan strategi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).
(2) Per1indungan petani sebagaimana dimaksud da1arn Pasal 7 ayat (2)
huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d diberikan kepada:
a. petani yang tidak mernpunyai lahan yang mata pencaharian pokoknya
adalah me1akukan usaha tani;
b. petani yang rnempunyai 1ahan dan melakukan usaha budidaya
tanaman pangan pada luas lahan paling banyak 2 (dua) hektar;
danv atau

c. petani hortikultura, pekebun, atau peternak yang tidak memerlukan

izin usaha.
(3) Perlindungan petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
huruf e dan huruf fdiberikan kepada Petani.

Pasal 13
Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas perlindungan
petani sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 14
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan perlindungan petani.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk me1aksanakan
strategi perlindungan petani sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 7
ayat (2).

Pasal 15
(1) Pernerin tah berkewajiban mengutarnakan produksi pertanian dalam
negeri un tuk merneriuhi kebutuhan pangan nasional.
(2) Kewajiban mengutamakan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan melalui pengaturan pemasukan komoditas pertanian dari
luar negeri sesuai dengan rnusim panen dari/ atau kebutuhan konsumsi
di da1am negeri.
(3) Dalam hal memasukan kornoditas pertanian dari luar negeri, menteri
terkait harus melakukan koordinasi dengan Menteri.

8

Bagian Kedua
Prasarana Pertanian dan Sarana Produksi Pertanian
Paragraf 1
Prasarana Pertanian
Pasal 16
(1) Pernerin tah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab membangun
ketersediaan prasarana pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (2) huruf a.
(2)Prasarana pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) an tara lain

meliputi:
a. jalan usaha tani, jalan produksi, dan jalan desa;
b. bendungan, dam, jaringan irigasi, dan embung; dan
c. jaringan listrik, pergudangan, pelabuhan, dan pasar.

Pasal 17

Selain disediakan oleh Pernerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16, pelaku usaha dapat menyediakan prasarana
pertanian yang dibutuhkan petani.

Pasal 18
Petani berkewajiban memelihara prasarana pertanian yang telah dibangun
oleh Pemerintah dan 'atau Pernerintah Daerah sebagairnana yang dimaksud
dalam Pasal 16.

Paragraf 2
Sarana Produksi Pertanian
Pasal 19
(1) Pemerintah bertanggung jawab menyediakan sarana produksi pertanian
sebagaimana dima.ksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a yang tepat waktu
dan harga yang terjangkau bagi petani.
(2) Sarana produksi pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sekurang-kurangnya meliputi:
a. penyediaan beriih, pupuk, dan pestisida sesuai dengan standar mutu;

dan

b. penyediaan alat dan mesin pertanian sesuai standar mutu dan
kondisi spesifik lokasi.
(3) Penyediaan sarana produksi pertanian diutarnakan dengan
menggunakan sarana produksi lokal.
(4) Pemerintah mendorong petani untuk menghasilkan sarana produksi
pertanian yang berkualitas untuk keburuhan sendiri darr/ atau terbatas
dalam 1 (satu) kelompok.

9

Pasal20
Selain merupakan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19, pelaku usaha dapat menyediakan saran a produksi
pertanian yang dibutuhkan petani.

Pasal21
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan subsidi benih
atau bibit tanaman, bibit atau bakalan ternak, pupuk, danl atau alat
dan mesin pertanian sesuai dengan kebutuhan.
(2)Pemberian subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus tepat
guna, tepat sasaran, tepat waktu, tepat lokasi, tepat kualitas, dan tepat
jumlah.

Bagian Ketiga
Kepastian Usaha
Pasal22
Untuk menjamin kepastian usaha tani sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (2)huruf b, Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban:
a. menetapkan kawasan usaha tani berdasarkan kondisi dan potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
b. memberikan jaminan pemasaran hasil pertanian kepada petani yang
melaksanakan usaha tani sebagai program pemerintah;
c. memberikan keringanan Pajak Bumi dan Bangunan bagi lahan
pertanian; dan,' atau
d. mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil pertanian.

Pasal23
(1)Jaminan pemasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf b
merupakan hak petani untuk mendapatkan penghasilan yang
seharu snya diperoleh.
(2)Jaminan pemasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan melalui:
a. melakukan pembelian secara langsung;
b. menampung hasil usaha tani; atau
c. menyediakan akses pasar.

Pasal24
Ketentuan lebih lanjut mengenai kepastian usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22 dan Pasal 2.3 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerin tah.

10

Bagian Keernpat
Harga Komoditas Pertanian
Paragraf 1
Umum
Pasal25
(1) Pemerintah berkewajiban menciptakan kondisi yang menghasilkan harga
komoditas pertanian yang rnenguntungkan bagi petani sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf c.
(2) Kewajiban Pemerintah menciptakan kondisi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan dengan menetapkan:
a. tarif bea masuk komoditas pertanian;
b. kawasan pabean pemasukan komoditas pertanian dari luar negeri;
c. persyaratan administrasi dan standar mutu;
d. struktur pasar produk pertanian yang berimbang; dan
e. dana penyangga harga pangan.

Paragraf 2
Tarif Bea Masuk Komoditas Pertanian
Pasa126
(1) Pemerintah menentukan jenis komoditas pertanian yang ditetapkan tarif
bea masuknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2~;ayat (2) huruf a.
(2) Penetapan tarif bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan besarannya oleh Pemerin tah.
(3) Penetapan besaran tarif bea masuk sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) didasarkan pada:
a. harga pasar internasional;
b. harga pasar domestik;
c. jenis komoditas pertanian tertentu nasional dan lokal; dan
d. produksi dan kebutuhan nasional.

Pasal27
(1) Pernerin tah menetapkan jenis komoditas pertariian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) huruf c.
(2) Penetapan jenis komoditas pertanian tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dilakukan berdasarkan:

tertentu

a. perigaruh komoditas pertanian terhadap laju inflasi; dan
b. kepentingan hajat hidup orang banyak.
(3) Ketentuan mengenai penetapan jenis komoditas pertanian tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pemerintah.

L L

Pasa128
Setiap orang wajib mematuhi ketentuan besaran tarif bea masuk yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah.

Paragraf 3
Kawasan Pabean Pemasukan Komoditas Pertanian
PasaI29
(1) Penetapan kawasan pabean pemasukan komoditas pertanian dari Iuar
negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2)huruf b harus:
a. jauh dengan sentra produksi komoditas pertanian dalam negeri;

dan

b. dilengkapi dengan balai karantina sesuai standar yang ditetapkan
oleh Menteri.
(2)Ketentuan mengenai penetapan kawasan pabean pernasukan komoditas
pertanian diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah.

PasaI30
Setiap orang yang memasukkan barang komoditas pertanian dari luar
negeri wajib rnelalui kawasan pemasukan yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah.

Pasa131
Setiap orang dilarang memasukkan komoditas pertanian dari luar negeri,
pada saat ketersediaan komoditas pertanian di dalam negeri sudah
mencukupi kebutuhan konsumsi dan cadangan pangan pemerintah.

Paragraf 4
Persyaratan Administrasi dan Standar Mutu
PasaI32
(1)Setiap orang yang memasukkan komoditas pertanian dari luar negeri
harus memenuhi persyaratan administratif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25 ayat (2)huruf cyang sekurang-kurangnya rneliputi:
a. tanggal panen dan tanggal kedaluarsa; dan
b. asal negara penghasil komoditas pertanian dan negara pengekspor.
(2)Selain persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
komoditas pertanian dari luar negeri harus memenuhi standar mutu
yang ditetapkan oleh Pemerintah.
(3) Ketentuan mengenai persyaratan administratif dan standar mutu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemeriritah.

12

Bagian Kelima
Asuransi Pertanian
Pasal33
(1) Pemerintah dan/atau Pemerintah daerah berkewajiban melindungi
usaha tani yang dilakukan oleh petani dalam bentuk Asuransi Pertanian
(2) Asuransi pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
untuk melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat:
a. bencana alam;
b. ledakan organisme pengganggu tumbuhan;
c. wabah penyakit hewan menular;
d. perubahan iklim global; dan/ atau
e. kesalahan program Pemerintah dan/atau Pemeriritah Daerah.

Pasal34
(1) Pemerintah dan/ atau Pemerintah Daerah wajib menugaskan badan
usaha milik negara darr/ atau badan usaha milik daerah di bidang
asuransi untuk melaksanakan Asuransi Pertanian.
(2) Pelaksanaan Asuransi Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal35
Pemerintah dan/ atau Pemerintah Daerah rnernfasilitasi setiap petani
menjadi peserta Asuransi Pertanian.

Pasal36
(I) Pada awal pertanggungan Asuransi Pertanian , prerni untuk petani
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) wajib dibayarkan oleh
Pernerin tah dan/ atau Pernerintah Daerah.
(2) Pembayaran premi asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara darr/ atau
anggaran pendapatan dan belanja daerah.
(3) Pembayaran premi asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibayarkan sampai petani dinyatakan oleh Pemerintah dan Pemerintah
Daerah marnpu membayar preminya sendiri.
(4) Kemampuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan pada
skala ekonomi petani.

Pasal37
Ketentuan lebih lanjut mengenai Asuransi Pertanian dan tata cara
pembayaran premi untuk petani diatur dalarn Peraturan Pemerintah.

13

Bagian Keeriarn
Penghapusan Praktik Ekonomi Biaya Tinggi
Pasal 38
Pemerintah dan r atau Perneriritah daerah memberikan jaminan kepada
Petani berupa penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi sebagaimana
dimaks ud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf e, drlakukan dengan menghapuskan
berbagai pungutan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Bagian Ketujuh
Pernbangunan Sistern Peringatan Dini Darnpak Peru bah an Ikhrn
Pasa139
Pemerintah dan zatau Pernerintah Daerah mernbangun sistem peringatan
dini dan penanganan dampak perubahan iklim sebagaimana dimaksud
dalarn Pasal 7 ayat (2) huruf f.

Pasal40
(1)Pemerintah wajib melakukan prakiraan iklim unt.uk rnengantisipasi
terjadinya gagal panen.
(2) Pemerintah dan Pernerintah Daerah wajib mengantisipasi terjadinya
gagal panen dengan melakukan:
a. perarnalan ledakan organisme pengganggu tumbuhan danl atau
wabah penyakit hewan menular;
b. upaya penanganan terhadap hasil prakiraan iklim dan perarnalan
ledakan organisme pengganggu tumbuhan dan zatau wabah
penyakit hewan menular.
(3) Antisipasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan
dengan penyebarluasan informasi dan hasil prakiraan iklim, hasil
peramalan ledakan organisrne pengganggu tumbuhan darr/ atau wabah
penyakit hewan menular.

BABV
PEMBERDAYAAN PETANI
Bagian Kesatu
Umurn
Pasal41
Pemberdayaan petani dilakukan untuk memajukan dan rnengembangkan
pola pikir petani, meriingkatkan usaha tani, menurnbuhkan dan
menguatkan kelembagaan petani agar mampu mandiri dan berdaya saing
tinggi.

14

Pasa142
Pernerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas pernberdayaan
petani sesuai dengan kewenangannya.

Pasa143
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pemberdayaan petani.
(2)Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk
melaksanakan strategi pemberdayaan petani sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (3).

Bagian Kedua
Pendidikan dan Pelatihan
Pasa144
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan pendidikan dan
pelatihan kepada petani.
(2)Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara
lain berupa:
a. pengembangan program pelatihan dan pemaganga.n;
b. pemberian beasiswa bagi petani untuk mendapatkan pendidikan di
bidang pertanian; atau
c. pengembangan pelatihan kewirausahaan di bidang agrobisnis.
(3) Petani yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan serta
memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2)
berhak memperoleh bantuan modal dari Pernerintah dan/ atau
Pemerintah Daerah.
(4)Bantuan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan khusus
pada petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2).

Pasa145
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban meningkatkan
keahlian dan keterampilan petani melalui pendidikan dan pelatihan
secara berkelanjutan.
(2)Selain Pemerintah dan Pemerintah Daerah, badan dan/atau lembaga
yang terakreditasi dapat memberikan pendidikan dan pelatihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.
(3)Untuk meningkatkan keahlian dan keterarnpilan petani sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)dapat melalui sertifikasi kompetensi.
(4)Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mernfasilita.si petani
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) untuk memperoleh
sertifikasi kompetensi.

15

(5)Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pendidikan, pelatihan,
dan sertifikasi kompetensi diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasa146
Petani yang telah ditingkatkan keahlian dan keterarnpilannya melalui
pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 wajib
melakukan tata cara budidaya, penanganan, dan pemasaran yang baik
sesuai dengan petunjuk pelaksanaannya.

Pasa147
Pelaku usaha dalam pemberdayaan petani dapat rnenyelcnggarakan:
a. pendidikan formal dan non formal; dan
b. pelatihan dan pemagangan.

Bagian Ketiga
Penyuluhan dan Pendampingan
Pasa148
(1)Pemerintah dan Zatau Pemerintah Daerah memfasilitasi penyuluhan
dan pendampingan kepada petani.
(2)Fasilitasi penyuluhan berupa penyediaan paling sedikit 1 (satu) orang
penyuluh dalam 1 (satu) desa yang termasuk di dalam kawasan usaha
tani.

(3)Pendampingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
oleh penyuluh.
(4)Penyuluhan dan pendampingan antara lain agar petani dapat
melakukan:
a. tata cara budidaya, pengolahan, dan pemasaran yang baik;
b.analisis kelayakan usaha yang menguntungkan; dan
c. kemitraan dengan pelaku usaha.
(5)Ketentuan lebih lanjut mengenai penyuluh an dan pendampingan
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasa149
Penyuluh dan/ atau lembaga penyuluh dilarang rnelakukan penyuluhan
yang tidak sesuai dengan materi, metode, dan mekanisme kerja
penyuluhan yang telah ditetapkan.

16

Bagian Keempat
Pemasaran Hasil Pertanian
Pasal 50
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pernberdayaan petani
melalui pemasaran hasil pertanian.
(2)Pemasaran hasil pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibangun, dikelola, dan dikembangkan dengan:
a. rnewujudkan pasar hasil pertanian yang memenu hi standar
keamanan pangan, sanitasi, serta memperh atikan ketertiban umum;
b. mewujudkan terminal agrobisnis dan sub terminal agrobisnis untuk
pemasaran hasil pertanian;
c. mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil pertanian;
d. memfasilitasi pengembangan pasar hasil pertanian yang dimiliki oleh
kelompok tani dan/ atau koperasi di daerah produksi komoditas
pertanian;
e. membatasi pasar modern yang bukan dimiliki oleh kelompok tani
dan/ atau koperasi di daerah produksi komoditas pertanian;
f. mengembangkan pola kemitraan usaha tani yang saling
menguntungkan;
g. mengembangkan sistem pemasaran clan promosi hasil pertanian;
h. mengembangkan pasar lelang;
1. menyediakan informasi pasar; dan

J. mengembangkan lindung nilai.
(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai pembatasan pasar modern yang
bukan dimiliki oleh kelompok tani dan/ atau koperasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2)huruf e diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasa151
Dalam hal membatasi pasar modern sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50
ayat (2) huruf e, Pemerintah dan Pemerintah Daerah dilarang memberikan
izin pembangunan pasar modern yang dimiliki oleh pelaku usaha di daerah
produksi komoditas pertanian.

Pasal52
(1) Petani dapat melakukan kemitraan usaha dengan pelaku usaha
dalam memasarkan hasil pertanian.
(2)Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilarang melakukan
kemitraan usaha yang merugikan petani.

Pasal 53
(1)Setiap orang yang mengelola pasar modern wajib mengutamakan
penjualan komoditas pertanian dari dalam negeri.

l7

(2)Kewajiban mengutamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan melalui pola kernitraan yang saling menguntungkan.

Pasal 54
(1)Trarisaksi jual beli komoditas pertanian di pasar induk, terminal
agrobisnis, dan sub terminal agrobisnis dapat dilakukan rnelalui
mekanisme pelelangan.
(2)Dalam mekanisme pelelangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
penyelenggara pelelangan wajib menetapkan harga awal yang
menguntungkan petani.
(3)Ketentuan mengenai penyelenggara, mekanisme, clan penetapan harga
awal pelelangan komoditas pertanian diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pernerintah.

Pasa155
(1)Komoditas pertanian yang dipasarkan harus mernenuhi standar mutu
yang ditetapkan.
(2)Pemerintah menetapkan standar mutu untuk setiap jenis komoditas
pertanian.

Pasa156
(1)Setiap petani wajib memenuhi standar mutu yang ditetapkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (2).
(2)Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi petani sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2)untuk memenuhi staridar mutu yang
ditetapkan.

Pasal 57
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan prornosi dan
sosialisasi pentingnya mengonsumsi komoditas hasil pertanian dalam
negen.

Bagian Kelima
Konsolidasi dan Jaminan Luasan Lahan Pertanian
Paragraf 1
Umum
Pasa158
(1)Pemerintah dan/ atau Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan
jaminan ketersediaan lahan pertanian.
(2)Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan melalui:
a. konsolidasi lahan pertanian; dan
b. jaminan luasan 1ahan pertanian.

18

Paragraf 2
Konsolidasi Laban Pertanian
Pasal59
(1) Konsolidasi lahan pertanian sebagaimana dimaks ud dalam Pasal 58
ayat (2) huruf a merupakan penataan kernbali penggunaan dan
pemanfaatan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah untuk
kepentingan lahan pertanian.
(2) Konsolidasi lahan pertanian diutamakan untuk menjamin lua san lahan
pertanian untuk petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2)
agar mencapai tingkat kehidupan yang layak.
(3) Konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:
a. pengendalian alih fungsi lahan pertanian; dan
b. pemanfaatan lahan pertanian yang terlantar.

Pasal60
(1) Selain konsolidasi lahan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
59, Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat melakukan perluasan
lahan pertanian melalui penetapan lahan terlantar yang potensial
sebagai lahan pertanian.
(2) Perluasan lahan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

Paragraf 3
Jaminan Luasan Lahan Pertanian
Pasal61
(1) Pemerintah dan.' atau Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan
jaminan luasan Iah an pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
58 ayat (2) huruf b bagi petani sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 12
ayat (2).
(2) Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
memberikan kemudahan untuk memperoleh tanah negara yang
diperuntukan atau ditetapkan untuk kawasan pertanian.
(3) Kemudahan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) berupa:
a. pernberian lahan pertanian seluas maksimal 2 hektar bagi petani
yang mengusahakan lahan pert ani an di lahan yang diperun tukan
untuk kawasan pertanian selama 5 (lima) tahun berturut-turut;
atau

b. pemberian lahan pertanian sebagaimana dimaksud dalarn
Pasal 60 ayat (1).
(4) Selain kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemerintah
darr/ atau Pemerintah Daerah dapat mernberikan pinjaman modal bagi
petarii sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) untuk memiliki

19

tanah negara maupun tanah
berdampingan, dau/ atau laban
luasannya lebih kecil.

milik pribadi
pertanian di yang diusahakan,
tempat lain yang

Pasa162
(1)Kemudahan bagi petani untuk memperoleh lahan pertanian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3)huruf a dapat diberikan
pada laban yang sedang diusahakan atau laban di kawasan pertanian
lain.

(2)Lahan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan hak
atas tanah berupa hak pakai atau hak guna usaha.

Pasa163
Pemberian lahan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3)
huruf b diutamakan kepada petani setempat yang:
a. memiliki lahan pertanian kurang dari 2 (dua) hektar; atau
b. tidak memiliki lahan yang mengusahakan lahan pertanian di lahan yang
diperuntukkan untuk kawasan pertanian selama 5 (lima)tahun berturut
turut.

Pasal64
Petani yang menerima kemudahan untuk mernperoleh tanah negara yang
diperuntukan atau ditetapkan untuk kawasan pertanian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3) wajib merrgu aah akari lahan pertanian
miliknya dengan memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan
berkelanjutan.

Pasa165
(1)Petani yang merigu sahakan lahan pertanian miliknya dengan
memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 berhak memperoleh keringanan
Pajak Bumi dan Bangunan atas lahan pertanian yang dimilikinya.
(2)Tata cara pemberian keringanan Pajak Bumi dan Bangunan diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 66
(1)Petani dilarang mengalihfungsikan lahan pertanian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3).
(2)Petani dilarang mengalihkan lahan pertanian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 61 ayat (3)kepada pihak lain.

20

Pasa167
(1)Pernerintah dan/atau Pemerintah Daerah membina petani yang
lahannya sudah dimiliki oleh petani lain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 61 ayat (4)untuk alih profesi
(2)Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1} dilakukan dengan
mernberikan pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal.

Paragraf 4
Pengaturan Lebih Lanjut
Pasa168
Ketentuan lebih lanjut mengenai konsolidasi lahan pertanian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 dan Pasal 60, dan jarninan luasan lahan
pertanian sebagairnana dimaksud da1am Pasa1 61 sampai dengan Pasal 67
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Keenam
Fasilitas Pembiayaan dan Perrnodalan
Pasa169
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memfasilitasi
pembiayaan dan permoda1an usaha tani.
(2)Fasilitasi pernbiayaan dan permodalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1)dilakukan dengan:
a. pemberian pinjarnan modal untuk memi1ikiIahan pertanian;
b. pemberian bantuan penguatan modal bagi petani sebagaimaria
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2);
c. pemberian subsidi bunga kredit program pertanian; darr/ atau
d. pemanfaatan tanggung jawab sosial perusahaan serta program
kemitraan dan bina lingkungan.

Bagian Ketujuh
Akses Ilmu Pengetahuan, Tekno1ogi,dan Informasi
Pasal 70
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan
kemudahan akses i1mupengetahuan, teknologi, dan informasi.
(2)Kemudahan akses sebagaimana dimaksud pada ayat U) meliputi:
a. penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi;
b.kerja sama a1ihtekno1ogi;dan
c. penyediaan fasilitas bagi petani untuk mengakses ilmu pengetahuan,
tekno1ogi,dan informasi.

21

Pasal 71
(1)Penyediaan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2]
huruf c paling sedikit berupa:
a. harga komoditas pertanian;
b. peluang dan tantangan pasar;
c. prakiraan iklim, dan ledakan organisme pengganggu tumbuhan
darr/ atau wabah penyakit hewan menular;
d. pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan;
e. pernberian subsidi dan bantuan modal; dan
f. ketersediaan lahan pertanian.
(2)Inforrnasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)harus akurat serta dapat
diakses dengan mudah dan cepat oleh petani, pelaku usaha, darr/ atau
masyarakat.

Pasal 72
Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memfasilitasi penyediaan
teknologi untuk mencapai standar mutu komoditas pertanian.

Bagian Kedelapan
Penguatan Kelembagaan
Paragraf 1
Umum
Pasal 73
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mendorong dan
memfasilitasi terbentuknya kelembagaan.
(2)Kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari
kelembagaan petani dan kelembagaan ekonomi petani.
(3)Pembentukan kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dengan perpaduan dari budaya, norma, nilai, dan
kearifan lokal petani.

Pasal74
(1) Kelembagaan Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2)
terdiri atas:
a. Kelompok Tani;
b. Gapoktan;
c. Asosiasi; dan
d. Dewan Komoditas Pertanian Nasional.
(2) Kelembagaan ekonomi petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73
ayat (2)berupa badan usaha milik petani.

22

Pasal75
Petani berkewajiban bergabung dan berperan aktif clalam kelembagaan
petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1).

Paragraf 2
Kelembagaan Petani
Pasal76
(1) Kelompok Tani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) huruf a
dibentuk oleh, dari, dan untuk petani.
(2) Kelompok Tani dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kondisi
lingkungan, lokasi, dan komoditas yang diusahakan, untuk
meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

Pasal77
Gapoktan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) huruf b
merupakan gabungan dari beberapa kelornpok tani yang berkedudukan di
desa atau beberapa desa dalam kecamatan yang sama.

Pasal78
Kelompok Tani dan Gapoktan berfungsi sebagai wadah pembelajaran,
kerjasama, dan tukar menukar informasi untuk menyelesaikan masalah
dalam melakukan usaha tani sesuai dengan kedudukannya.

Pasal 79
Dalam melaksanakan fungsinya, Kelompok Tani dan Gapoktan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 bertugas:
a. meningkatkan kemampuan anggota atau kelompok dalam
mengembangkan usaha tani yang berkelanjutan dan kelembagaan
petani yang mandiri;
b. memperjuangkan kepentingan anggota atau kelompok dalam
mengembangkan kemitraan usaha;
c. menampung dan menyalurkan aspirasi anggota atau kelompok; dan
d. membantu menyelesaikan permasalahan anggota atau kelompok dalam
berusaha tani.

Pasal80
(1) Asosiasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) huruf c
merupakan lembaga independen nirlaba yang dibentuk oleh, dari, dan
untuk petani.
(2) Petani dalam mengembangkan asosiasinya dapat mengikutsertakan
pelaku usaha, pakar, dan /atau tokoh masyarakat yang peduli pada
kesejahteraan petani.
(3) Asosiasi berfungsi rnernperjuangkan kepentingan petani.

23

Pasa181
Asosiasi dapat berkedudukan di kabupaten/kota atau provinsi.

Pasa182
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksucl dalam Pasal 80
ayat (3),asosiasi bertugas:
a. menampung dan menyalurkan aspirasi petani;
b. mengadvokasi dan mengawasi pelaksanaan kemitraa.an usaha tani;
c. memberikan masukan kepada Pemerintah darr/ atau Pemerintah
Daerah dalam perumusan kebijakan perlindungan dan pemberdayaan
petani;

d. mempromosikan komoditas pertanian yang dihasilkan anggota, di
dalam negeri dan di luar negeri;
e. mendorong persaingan usaha tani yang adi1;
f. memfasilitasi anggota dalam mengakses sarana prod.uksi dan teknologi;

dan

g. membantu menyelesaikan permasalahan dalam berusaha tani.

Pasal 83
(1)Dewan komoditas pertanian nasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 74 ayat (1)huruf d bersifat nirlaba yang merupakan gabungan dari
berbagai asosiasi komoditas pertanian.
(2)Dewan komoditas pertanian nasional berfungsi sebagai wadah untuk
mcmperjuangkan kepentingan petani dan menyelesaikan permasalahan
dalam berusaha tani.
(3)Petani dalam mengembangkan dewan kornoditas pertanian nasional
dapat mengikutsertakan pelaku usaha, pakar, dan/ atau tokoh
masyarakat yang peduli pada kesejahteraan petani.
(4) Dewan komoditas pertanian nasional merupakan mitra pemerintah
dalam perumusan strategi dan kebijakan perlindungan dan
pemberdayaan petani.

Paragraf 3
Kelembagaan Ekonomi Petani
PasaI84
(1)Badan usaha milik petani dibentuk oleh, dari, dan untuk petani melalui
Gapoktan dengan penyertaan modal yang seluruhnya dimiliki oleh
Gapoktan.
(2)Badan usaha milik petani sebagaimana dimaksud
berbentuk koperasi, atau badan usaha lainnya
ketentuan peraturan perundang-undangan.

pada ayat (1)
sesuai dengan

24

(3) Badan usaha milik petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi untuk meningkatkan skala ekonorni, daya saing, wadah
investa si, dan mengembangkan jiwa kewirausahaan petani.

Pasa185
Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (3),
badan usaha milik petani bertugas:
a. menyusun kelayakan usaha;
b. mengembangkan kemitraan usaha; dan
c. meriingkatkan nilai tambah komoditas pertanian.

BAB VI
PEMBIAYAAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasa186
(1) Pembiayaan perlindungan dan pernberdayaan petani yang dilakukan oleh
Pemerintah bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara.
(2) Pembiayaan perlindungan dan pemberdayaan petani yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah ber surnber dari anggaran peridapatan dan belanja
daerah.

Pasal87
Pembiayaan dalam perlindurigan dan pemberdayaan petani dilakukan
untuk mengembangkan usaha tani rnelalui:
a. Bank Bagi Petani:
b. lembaga perbankan yang ada; darr/ atau
c. Lembaga Pembiayaan Petani.

Bagian Kedua
Bank Bagi Petani
Pasal88
(1) Dalam melaksanakan perlindungan dan pemberdayaan petarii,
Perneriritah membentuk Bank Bagi Petani sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 87 huruf a.
(2) Pembentukan bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terutama
untuk melayani kebutuhan modal bagi petani.

Pasa189
(1) Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88
melaksanakan kegiatan penyaluran kredit bagi
persyaratan sederhana dan prosedur cepat.

ayat (1) wajib
petani dengan

25

(2)Persyaratan sederhana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)berupa:
a. agunan dijamin oleh Pemerintah; atau
b. penyaluran kredit tanpa agunan.
(3)Ketentuan mengenai persyaratan sederhana sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pernerintah darr/ atau Peraturan
Bank Indonesia.

Pasa190
(1) Untuk melaksanakan penyaluran kredit bagi petani, pihak bank
berperan aktif mernbantu petani agar memenuhi persyaratan
memperoleh kredit.
(2) Selain melaksanakan penyaluran kredit, pihak bank berperan aktif
membantu dan memudahkan petani melakukan kegiatan perbankan.

Pasa191
(1)Bank Bagi Petani dapat menyalurkan kredit bersubsidi dan/ atau
pembiayaan kepada petani melalui lembaga keuangan pertanian bukan
bank dan /atau jejaring lembaga keuangan rnikro agrobisnis.
(2)Bank Bagi Petani dapat menyalurkan kredit kepada selain petani untuk
mengembangkan pertanian sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Pasal92
Pengurus Bank Bagi Petani dilarang menyalurkan kredit da.n/atau
pembiayaan bersubsidi kepada selain petani.

Pasal93
Selain Bank Bagi Petani, petani dapat memperoleh fasilitas pembiayaan
dari lembaga perbankan yang sudah ada.

Pasa194
Ketentuan mengenai penzman, bentuk hukum, kepemilikan, pembinaan,
pengawasan, dewan komisaris, direksi dan tenaga asing, dan rahasia bank
diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga
Lembaga Pembiayaan Petani
Pasa195
(I) Dalam perlindungan dan pemberdayaan petani, Pemerintah membentuk
Lembaga Pembiayaan Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87
huruf c.

(2)Lembaga Pembiayaan Petani melayani kebutuhan modal bagi petani
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2).

26

(3)Lembaga Pembiayaan Petani berkedudukan di ibu kota negara dan
dapat membentuk Lembaga Pembiayaan Petani di setiap provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan, dan,' atau desa sesuai kebutuhan.

Pasa196
(1) Modal awal Lembaga Pernbiavaan Petani ditetapkan paling sedikit
Rp6.000.000.000.000,OO (enam triliun rupiah).
(2)Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari anggaran
pendapatan dan belanja negara dan merupakan kekayaan negara yang
dipisahkan dan tidak terbagi atas saham.
(3)Dalam hal modal Lembaza Pembiayaan Petani menjadi berkurang dari
Rp6.000.000.000.000,OO (enam triliun rupiah), Pemerintah menutup
kckurangan tersebut dari dana anggaran pendapatan dan belanja
negara sesuai derigan ketentuan peraturan perundan.g-undangan.
(4)Penambahan modal Lembaga Pembiayaan Petan.i untuk menutup
kekurangan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.

Pasa! 97
Lembaga Pembiayaan Petani wajib me1aksanakan kegiatan pernbiayaan
usaha tani dengan persyaratan sederhana dan prosedur cepat.

Pasal98
Ketentuan lebih lanjut mengenai Lembaga Pernbiayaan Petani dan
pembentukan kelembagaannya diatur dalam Peraturan Presiden.

BAB VII
PENGAWASAN

Pasal99
(1) Untuk rnenjarnin tercapainya tujuan perlindungan dan pernberdayaan
petani, dilakukan pengawasan terhadap kinerja perericanaan dan
pelaksanaan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelaporan,
pemantauan, dan evaluasi.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan secara berjenjang oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah
prOVIl1SI, dan Pemerintah Daerah kabupaten Zkota sesuai
keweriangannya.
(4) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat melibatkan masyarakat
dalam pelaporan dan pemantauan dengan memberdayakan potensi
yang ada.

27

Pasal 100
(1) Laporan hasil pengawasan disampaikan secara berjenjang dari:
a. pemerintah desa rkelurahan kepada pemerintah kecamatan;
b. pemerintah kecamatan kepada pemerintah kabupaten/kota;
c. pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi; dan
d. pemerintah provinsi kepada Pemerintah.
(2)Laporan hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
berbentuk dokumen tertulis dan disertai dokumen pendukung lainnya .
(3)Laporan hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan informasi publik yang diumumkan dan dapat diakse s secara
terbuka oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasall0l
(1)Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat melakukan pemantauan dan
evaluasi dari hasil pelaporan pemerintah daerah secara berjenjang.
(2)Pemerintah atau Pemerintah Daerah berkewajiban menindaklanjuti
laporan hasil pengawasan sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 100
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

BAB VIII

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 102
Masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan perlindungan dan
pemberdayaan petani.

Pasal 103
(1)Peran rnasyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 dapat
dilakukan oleh:
a. perseorangan;
b. lembaga swadaya masyarakat; dan
c. pelaku usaha.
(2)Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),dapat dilakukan

terhadap:
a. periyusunan perencanaan;
b. perlindungan petani;
c. pemberdayaan petani;
d. pembiayaan;
e. pengawasan; dan
f. penyediaan informasi.

28

Pasal 104
Masyarakat dalam perlindungan petani dapat berperan serta dalam:
a. memelihara dan menyediakan prasarana pertanian;
b. mengutamakan konsumsi hasil pertanian dalam negeri;
c. mencegah alih fungsi lahan pertanian;
d. melaporkan adanya pungutan yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan; dan
e. menyediakan bantuan sosial bagi petani yang rnerigalarni bencana.

Pasal 105
Masyarakat dalam pernberdayaan petani dapat berperan serta dalam
menyelenggarakan:
a. pendidikan non formal;
b. pelatihan dan pemagangan;
c. penyuluhan;
d. penguatan kelembagaan petani dan kelembagaan ekonomi petani:

dan

e. fasilitasi sumber pembiayaan atau permodalan.

BABIX
SANKS I ADMINISTRATIF

Pasal 106
(1)Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 dan Pasal 53 dikenai sanksi administratif.
(2)Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sernentara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pencabutan insentif; darr/ atau
h. denda administratif.
(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi, besarnya
denda, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan
Pemerin tah.

29

BABX

KETENTUAN PIDANA

Pasal 107
Setiap orang yang memasukkan komoditas pertanian dari luar negeri pada
saat di dalam negeri pada saat ketersediaan komoditas pertanian di dalam
negeri sudah mencukupi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 108
Penyuluh dan/ atau lembaga penyuluhan yang rnelakukan penyuluhan
yang mengakibatkan kerugian bagi petani sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 49, dipidana dengan pidana penjara paling lama. 2 (dua) tahun atau
derida paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh limajuta rupiah).

Pasal 109
Setiap pejabat yang rnernberikan izin pembangunan pasar modern di
daerah komoditas produksi pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
51 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda
paling banyak Rp6.000.000.000,OO (enam rniliar rupiah).

Pasal 110
Setiap pelaku usaha yang melakukan kemitraan usaha yang merugikan
petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 111
(1)Petani yang mengalihfungsikan lahan pertanian seba.gaimana dimaksud
dalam Pasal 66 ayat (1)dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rpl.OOO.OOO.OOO,OO

(satu miliar

rupiah).

(2)Petani yang mengalihkan lahan pertanian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 66 ayat (2)dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rpl.OOO.OOO.OOO,OO

(satu rniliar

rupiah).

Pasal 112
Pengurus Bank Bagi Petani yang menyalurkan kredit dan/ atau pembiayaan
bersubsidi kepada selain petani, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).

30

Pasal 113
Dalam hal perbuatan sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 107, Pasal 108,
Pasal 110, dan Pasal 112 dilakukan oleh korporasi, rnaka selain
pengurusnya dipidana berdasarkan dalam Pasal 107, Pasal 108, Pasal 110,
dan Pasal 112, korporasinya dipidana dengan pidana denda paling banyak,
ditambah 1/3 (sepertiga) dari pidana denda dari masing-masing tersebut.

BABXI
KETENTUANPERALIHAN
Pasal 114
Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang 1111, semua peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindurigan dan
pemberdayaan petani yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini
tetap berlaku selama belum ditetapkan penggantinya berciasarkan Undang-
Undang ini.

BABXII
KETENTUANPENUTUP
Pasal 115
Bank Bagi Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 sudah harus
dibentuk paling lama 2 (dual tahun sejak peraturan perundang-undangan
yang mengatur mengenai perbankan diundangkan.

Pasal 116
(1)Pemerintah dari/ atau Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi setiap
petani menjadi peserta Asuransi Pertanian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 paling lama 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini
diundangkan.
(2)Dalam hal terjadi gagal panen dan petani belum menjadi peserta
Asuransi Pertanian dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan zatau Pemerintah daerah wajib
memberikan kompensasi.

Pasal 117
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling
lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 118
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

31

Disahkan diJakarta
pada tanggal

..

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan diJakarta
pada tanggal

.. .

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->