A. Landasan Teori 1.

Pengertian

Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Pada orang dewasa, perforasi ulkus peptik adalah penyebab umum dari morbiditas dan mortalitas akut abdomen sampai sekitar 30 tahun lalu. Angka kejadian menurun secara paralel dengan penurunan umum dari prevalensi ulkus peptik. Ulkus duodenum 2-3 kali lebih sering dari perforasi ulkus gaster. Sekitar satu pertiga perforasi gaster berkaitan dengan karsinoma gaster. Pada tahun 1799 gejala klinik ulkus perforasi dikenali untuk pertama kali, meskipun baru pada tahun 1892, Ludwig Hensner, seorang Jerman, pertama kali melakukan tindaka bedah pada ulkus peptik lambung. Pada tahun 1894, Henry Percy Dean melakukan tindakan bedah pada ulkus perforasi usus kecil duodenum. Gastrektomi parsial, meskipun sudah dilaksanakan untuk ulkus gaster perforasi dari awal 1892, tidak menjadi terapi populer sampai tahun 1940. Hal ini karena dirasakan adanya rekurensi yang tinggi dari gejala-gejala setelah perbaikan sederhana. Efek fisiologis vagotomi trunkal pada sekresi asam telah diketahui sejak awal abad 19, dan pendekatan ini diperkenalkan sebagai terapi ulkus duodenum pada tahun 1940. Perkembangan selanjutnya terapi ulkus peptik adalah diperkenalkannya vagotomi selektif tinggi pada akhir 1960. Namun, tidak ada satupun pencapaian ini yang terbukti berhasil, dan beberapa komplikasi postoperatif, termasuk angka rekurensi ulkus yang tinggi, telah membatasi penggunaan teknik-teknik ini. Akhir-akhir ini, pada pasien dengan perforasi gaster, penutupan sederhana lebih umum dikerjakan daripada reseksi gaster. 2. Etiologi a. Perforasi non-trauma, misalnya : o Akibat volvulus gaster karena overdistensi dan iskemia o Spontan pasa bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress ulcer.

o Ingesti aspirin, anti inflamasi non steroid, dan steroid : terutama pada pasien usia lanjut. o Adanya faktor predisposisi : termasuk ulkus peptik o Perforasi oleh malignansi intraabdomen atau limfoma o Benda asing (misalnya jarum pentul) dapat menyebabkan perforasi esofagus, gaster, atau usus dengan infeksi intra abdomen, peritonitis, dan sepsis. b. Perforasi trauma (tajam atau tumpul), misalnya : o trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa nasogastrik saat endoskopi. o Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau abdomen (misalnya tusukan pisau) o Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti ini lebih umum pada anak daripada dewasa dan termasuk trauma yang berhubungan dengan pemasangan alat, cedera gagang kemudi sepeda, dan sindrom sabuk pengaman. Ruptur lambung akan melepaskan udara dan kandungan lambung ke dalam peritoneum. pasien akan menunjukkan rasa nyeri hebat, akut, disertai peritonitis. Dari radiologis, sejumlah besar udara bebas akan tampak di peritoneum dan ligamentum falsiparum tampak dikelilingi udara. 3. Patofisiologi Dalam keadaan normal, lambung relatif bersih dari bakteri dan mikroorganisme lain karena kadar asam intraluminalnya yang tinggi. Kebanyakan orang yang mengalami trauma abdominal memiliki fungsi gaster normal dan tidak berada dalam resiko kontaminasi bakteri setelah perforasi gaster. Namun, mereka yang sebelumnya sudah memiliki masalah gaster beresiko terhadap kontaminasi peritoneal dengan perforasi gaster. Kebocoran cairan asam lambung ke rongga peritoneal sering berakibat peritonitis kimia yang dalam. Jika kebocoran tidak ditutup dan partikel makanan mencapai rongga peritoneal, peritonitis kimia bertahap menjadi peritonitis bakterial. Pasien mungkin bebas gejala untuk beberapa jam antara peritonitis kimia awal sampai peritonitis bakterial kemudian. Adanya bakteri di rongga peritoneal merangsang influks sel-sel inflamasi akut. Omentum dan organ dalam cenderung untuk melokalisasi tempat inflamasi, membentuk flegmon (ini biasanya terjadi pada perforasi usus besar). Hipoksia yang diakibatkan di area memfasilitasi pertumbuhan bakteri anaerob dan menyebabkan pelemahan aktivitas bakterisid dari granulosit, yang mengarah pada peningkatan aktivitas fagosit granulosit, degradasi sel, hipertonisitas cairan membentuk abses, efek osmotik,

. terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh asam lambung. Pekak hati bisa hilang karena adanya udara bebas di bawah diafragma. colok dubur. Reaksi peritoneum berupa pengenceran zat asam yang merangsang itu akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria. Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya rangsangan peritoneum di permukaan bawah diafragma. Jika tidak diterapi. seperti ditikam di perut. dan mengejan. 5. Pemeriksaan Penunjang Sejalan dengan penemuan klinis. ultrasonografi dengan vesika urinaria penuh. bernapas. menggerakkan badan. Nyeri ini timbul mendadak. tes psoas. Manifestasi Klinis Perforasi gaster akan menyebabkan peritonitis akut. dan pembesaran abses abdomen. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum. Nyeri subjektif dirasakan waktu penderita bergerak. hipotensi. dan tes obturator. dan penderita tampak letargik karena syok toksik. sebaiknya jangan ragu untuk menggunakan CT-scan. Jika temuan foto Rontgen dan ultrasonografi tidak jelas. Cairan lambung akan mengalir ke kelok parakolika kanan. kemudian menyebar ke seluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut. Pada awal perforasi.mengalirnya lebih banyak cairan ke area abses. batuk. belum ada infeksi bakteria. metode tambahan yang dapat dilakukan adalah : foto polos abdomen pada posisi berdiri. seperti berjalan. Penderita yang mengalami perforasi akan tampak kesakitan hebat. Peristaltis usus menurun sampai menghilang akibat kelumpuhan sementara usus. dan syok dapat terjadi. dengan pertimbangan metode ini dapat mendeteksi cairan dan jumlah udara yang sangat sedikit sekali pun yang tidak terdeteksi oleh metode yang disebutkan sebelumnya. 4. CTscan murni dan CT-scan dengan kontras. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri tekan dan defans muskuler. tekanan dilepaskan. Nyeri objektif berupa nyeri ketika digerakkan seperti pada saat palpasi. kegagalan multi organ. empedu dan/atau enzim pankreas. fase ini disebut fase peritonitis kimia. Bila telah terjadi peritonitis bakteria. sepsis general. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. bakteremia. menimbulkan nyeri perut kanan bawah.

Udara bebas terjadi di rongga peritoneum 20 menit setelah perforasi. maka. makanan. Udara bebas tampak pada posisi berdiri atau posisi decubitus lateral kiri. jumlah udara yang sangat kecil dilepaskan. pada saat pengambilan udara bebas dapat mencapai titik tertinggi di abdomen. Pada kasus perforasi karena trauma. lainnya adalah subhepatika atau di ruang hepatorenal. Isi yang keluar dari perforasi dapat mengandung udara. dapat mendeteksi jumlah udara sebanyak 1 ml. perforasi dapat tersembunyi dan tertutup oleh kondisi bedah patologis lain. dalam melakukannya. Manfaat penemuan dini dan pasti dari perforasi gaster sangat penting. karena keadaan ini biasanya memerlukan intervensi bedah. . dan usus besar. dengan menggunakan teknik radiologi. Radiologis memiliki peran nyata dalam menolong ahli bedah dalam memilih prosedur diagnostik dan untuk memutuskan apakah pasien perlu dioperasi. Banyak peneliti menunjukkan kehadiran udara bebas dapat terlihat pada 75-80% kasus. Udara bebas atau pneumoperitoneum terbentuk jika udara keluar dari sistem gastrointestinal.a. Pada kasus perforasi usus kecil. ia menggunakan teknik foto abdomen klasik dalam posisi berdiri dan posisi lateral decubitus kiri. Sekitar 50% pasien menunjukkan kumpulan udara di abdomen atas kanan. Gambaran udara bentuk segitiga kecil juga dapat tampak di antara lekukan usus. Posisi supine menunjukkan pneumoperitoneum pada hanya 56% kasus. Hal ini terjadi setelah perforasi lambung. empedu. Deteksi pneumoperitoneum minimal pada pasien dengan nyeri akut abdomen karena perforasi gaster adalah tugas diagnostik yang paling penting dalam status kegawatdaruratan abdomen. Meskipun. paling sering terlihat dalam bentuk seperti kubah atau bentuk bulan setengah di bawah diafragma pada posisi berdiri. Di sini dapat terlihat gambaran oval kecil atau linear. Radiologi Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. cairan lambung dan duodenum. kualitas film pajanan dan posisi yang benar sangat penting. Setiap pasien harus mengambil posisi adekuat 10 menit sebelum pengambilan foto. Seorang dokter yang berpengalaman. yang dalam keadaan normal tidak mengandung udara. bagian oral duodenum. Untuk melihat udara bebas dan membuat interpretasi radiologi dapat dipercaya. Football sign menggambarkan adanya udara bebas di atas kumpulan cairan di bagian tengah abdomen. dan bakteri.

b. Cara kedua adalah dengan memberikan kontras yang dapat larut secara oral minimal 250 ml 5 menit sebelum scanning. Komponen barium tidak dapat diberikan pada keadaan ini karena mereka dapat menyebabkan pembentukkan granuloma dan adesi peritoneum. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan udara melalui pipa nasogastrik 10 menit sebelum scanning. karena keduanya tampak sebagai area hipodens dengan densitas negatif. Jendela untuk parenkim paru adalah yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Saat CT scan dilakukan dalam posisi supine. Ultrasonografi Ultrasonografi adalah metode awal untuk kebanyakan kondisi akut abdomen. CT Scan CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitif untuk mendeteksi udara setelah perforasi. yang pada kasus ini adalah sangat tidak homogen karena terdapat kandungan lambung. Sedangkan bila diagnosis. . CT scan sangat efisien untuk deteksi dini perforasi gaster. Kebanyakan. Ketika melakukan pemeriksaan. Beberapa penulis menyatakan bahwa CT scan dapat memberi ketepatan sampai 95%. yang membantu untuk menunjukkan kontras tapi bukan udara. 6. tindakan. gelembung udara pada CT scan terutama berlokasi di depan bagian abdomen. Walaupun sensitivitasnya tinggi. dan pemberian antibiotik terlambat dilakukan maka prognosisnya menjadi dubia ad malam. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi cairan bebas dengan berbagai densitas. Kita dapat melihat gelembung udara bergerak jika pasien setelah itu mengambil posisi decubitus kiri. dan udara bebas tidak terlihat pada scan murni klasik. Oleh karena itu. CT scan tidak selalu diperlukan berkaitan dengan biaya yang tinggi dan efek radiasinya. Jika kita menduga seseorang mengalami perforasi. CT scan juga jauh lebih baik dalam mendeteksi kumpulan cairan di bursa omentalis dan retroperitoneal. kita perlu menyetel jendelanya agar dapat membedakan antara lemak dengan udara. Prognosis Apabila tindakan operasi dan pemberian antibiotik berspektrum luas cepat dilakukan maka prognosisnya dubia ad bonam. ultrasonografi tidak dapat mendeteksi udara bebas. Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan bebas di pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh. kita dapat menggunakan substansi kontras nonionik untuk membuktikan keraguan kita. c. bahkan jika udara tampak seperti gelembung dan saat pada foto rontgen murni dinyatakan negatif.

Faktor-faktor berikut akan meningkatkan resiko kematian : • Usia lanjut • Adanya penyakit yang mendasari sebelumnya • Malnutrisi • Timbulnya komplikasi 7. Syok septik dihubungkan Hilangnya Peningkatan dengan kombinasi hal-hal tonus permeabilitas dan berikut : vasomotor kapiler myokardial trombosit Pemakaian Depresi leukosit . angka kejadian infeksi berkaitan dengan muatan bakteri pada gaster • Kegagalan luka operasi Kegagalan luka operasi (kerusakan parsial atau total pada setiap lapisan luka operasi) dapat terjadi segera atau lambat Faktor-faktor berikut ini dihubungkan dengan kegagalan luka operasi : Malnutrisi Sepsis Uremia Diabetes mellitus Terapi kortikosteroid Obesitas Batuk yang berat . leukositosis atau leukopenia (pada septikemia berat).Hasil terapi meningkat dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini. takikardi. hipotermi (pada septikemia gram negatif dengan endotoksemia). seperti kekakuan. demam.Hematoma (dengan atau tanpa infeksi) • Abses • Kegagalan multiorgan dan syok septik abdominal terlokalisasi Septikemia adalah proliferasi bakteri dalam darah yang menimbulkan manifestasi sistemik. Komplikasi • Infeksi Luka. dan kolaps sirkuler.

mungkin karena hubungan dengan endotoksemia. Tujuan dari terapi bedah adalah : • Koreksi masalah anatomi yang mendasari • Koreksi penyebab peritonitis • Membuang setiap material asing di rongga peritoneum yang dapat menghambat fungsi leukosit dan mendorong pertumbuhan bakteri (seperti darah. makanan. Faktor berikut dapat menyebabkan predisposisi o Usia o Ketergantungan o o Abnormalitan o o Riwayat delirium o o Hipotensi Intraoperatif/postoperatif delirium postoperatif : lanjut obat Demensia metabolik Infeksi sebelumnya Hipoksia 8. sering disebabkan karena adesi postoperatif • Delirium post-operatif. seperti histamin. elektrolit. pemasangan pipa nasogastrik. dan pemberian antibiotik mutlak diberikan. Penatalaksanaan Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki keadaan umumnya sebelum operasi. sekresi lambung) . • Gagal ginjal dan ketidakseimbangan cairan.Penyebaran substansi vasoaktif kuat. dan prostaglandin. kebijakan nonoperatif mungkin digunakan dengan terapi antibiotik langsung terhadap bakteri gram-negatif dan anaerob. Komplikasi ini biasanya dihubungkan dengan kegagalan sistem multipel organ dan mungkin berhubungan dengan defek proteksi oleh mukosa gaster • Obstruksi mekanik. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit.Aktivasi komplemen dan kerusakan endotel kapiler o Infeksi gram-negatif dihubungkan dengan prognosis yang lebih buruk dari grampositif. menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler . Jika gejala dan tanda-tanda peritonitis umum tidak ada. serotonin.. dan pH • Perdarahan mukosa gaster.

Perforasi gaster pada periode neonatal Meskipun perforasi gaster jarang terjadi. Bila keadaan memungkinkan. biasanya dalam minggu pertama kehidupan terutama antara hari ke 2 sampai ke 7. dan terdapat peritonitis purulenta. Istilah spontan menyatakan penyebab yang bukan akibat enterokolitis nekrotikan atau iskemia. Perforasi gastrik iskemik telah dilaporkan dalam hubungan dengan enterokolitis nekrotikans. Karena stress ulcer gaster telah dilaporkan pada berbagai bayi yang sakit kritis. Perforasi gaster traumatik dapat muncul sebagai akibat distensi gaster yang hebat selama ventilasi tekanan positif selama resusitasi bag-mask atau ventilasi mekanik untuk gagal napas. Perforasi gaster spontan pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang sehat.Laparotomi dilakukan segera setelah upaya suportif dikerjakan. Jahitan saja setelah eksisi tukak yang perforasi belum mengatasi penyakit primernya. Cedera paling umum adalah akibat pemasangan pipa orogastrik atau nasogastrik yang terlalu bertenaga. Mekanisme perforasi iskemik sulit diterangkan karena kasus ini dihubungkan dengan kondisi stress fisiologis berat seperti prematuritas hebat. Satu hipotesis adalah bahwa perforasi spontan berkaitan dengan defek kongenital . iskemik. telah diajukan bahwa perforasi gaster sebagai akibat dari nekrosis transmural. penderita usia lanjut. trauma dari intubasi gastrik. obstruksi intestinal atau insuflasi aksidental selama bantuan ventilasi. tambahan tindakan vagotomi dan antrektomi dianjurkan untuk mencegah kekambuhan. Tiga mekanisme telah diajukan untuk perforasi gaster pada neonatal : traumatik. tidak ada faktor predisposisi yang dapat diidentifikasi pada setidaknya 20% kasus. penyakit ini lebih sering terjadi pada anak daripada dewasa. Perforasi biasanya di sepanjang kurvatura mayor dan tampak sebagai luka tusuk atau laserasi pendek. tetapi tindakan ini dianjurkan bila keadaan umum kurang baik. dan spontan. dan biasanya terjadi di ICU neonatal. dan asfiksia neonatal. Meskipun stress perinatal dan prematuritas tidak umum dihubungkan. Etiologi spesifik dapat sulit ditentukan karena bayi biasanya sakit dan patologi aktual menyediakan hanya sedikit petunjuk. Kebanyakan perforasi gaster adalah akibat trauma iatrogenik. sepsis.

Pada bayi dengan berat lahir yang sangat rendah yang mengalami perforasi terisolasi. Kebanyakan bayi diberi makan secara normal sampai saat terjadi perforasi. Area multipel dari cedera harus dikecualikan. Pipa nasogastrik sebaiknya dipasang ketika resusitasi cepat dikerjakan. . Vomitus adalah gejala yang tidak konsisten. Tanda dan gejala perforasi gaster biasanya mereka dengan gejala akut abdomen disertai sepsis dan gagal napas. Namun penemuan patologis yang sama belum pernah dilaporkan. Perforasi pada bayi baru lahir merupakan kegawatdaruratan bedah. Berkaitan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan sepsis dan gagal napas sering ditemukan pada bayi prematur. Konfirmasi radiografi akan pneumoperitoneum masif adalah sugestif dan studi kontras untuk mengkonfirmasi diagnosis tidak diindikasikan. Tanda-tanda syok hipovolemik dan sepsis melengkapi gambaran klinik. Udara bebas persisten atau asidosis berkelanjutan dan bukti peritonitis mengamanatkan eksplorasi bedah. berkisar antara 45% sampai 58%. Sebelum intervensi bedah. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi angka ketahanan hidup tampaknya adalah interval antara onset gejala dan dimulainya terapi definitif. dekompresi jarum abdomen dengan kateter intravena besar mungkin diperlukan. Suatu gastrostomi mungkin menjamin. kerusakan sering melibatkan dinding posterior lambung sepanjang kurvatura mayor membuat pembagian omentum gastrokolik dan eksplorasi dinding lambung posterior diperlukan bahkan jika gangguan ditemukan juga di dinding anterior.dinding muskuler gaster. derajat prematuritas dan keparahan konsekuensi asfiksia. angka mortalitas perforasi gaster menjadi tinggi. Terapi suportif yang giat post operatif bersama dengan penggunaan antibiotik spektrum luas secara intravena diperlukan. luas kontaminasi peritonel. Perforasi gastroduodenal telah dihubungkan dengan terapi steroid postnatal untuk mencegah atau terapi BPD. Gambaran patologis dan klinis konsisten dengan overdistensi mekanik daripada iskemia sebagai penyebab perforasi. selama evaluasi dan resusitasi bayi. Perbaikan bedah kebanyakan perforasi terdiri dari debrideman dan penutupan dua lapis gaster. bayi-bayi ini dapat mendapat pneumoperitoneum dengan progresifitas cepat yang dihubungkan dengan bahaya kardiopulmoner. drainse peritonel saja dapat encukupi. Pemeriksaan abdominal adanya distensi abdominal yang signifikan. Reseksi lambung signifikan sebaiknya dihindari. Karena ukuran yang besar dan tempat perforasi yang proksimal.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim muncul adalah : 1. takut. 2. 5.B. Ditandai dengan: peningkatan tegangan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan. terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. berkeringat. pernyataan salah konsep. rongga oral. mudah terangsang. kurang kontak mata. Rencana Keperawatan . kesalahan interpretasi/informasi. panik atau perilaku menyerang. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Kurang pengetahuan mengenai penyakit. postur tubuh kaku. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. perubahan tanda vital. Nyeri berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster. wajah mengkerut. gemetar. 4. C. takikardia. gelisah. pengisian kapiler lambat. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 3. urine pekat/menurun. 3. Pengkajian 2. Ditandai dengan: mengkomunikasikan gambaran nyeri. takikardi. hemokonsentrasi. Ditandai dengan: permintaan informasi. Ditandai dengan: hipotensi. berhati-hati dengan abdomen. menolak. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat.

Awasi tanda vital. Ukur TD dengan posisi duduk. Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka. Berdiri bila mungkin. R/ perubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah. Catat karakteristik muntah dan/atau drainase. . Penampilan kopi gelap diduga sebagai darah tercerna dari area perdarahan lambat. Hipotensi postural menunjukkan penurunan volume sirkulasi. Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan. R/ aktivitas/muntah meningkatkan tekanan intra-abdomen dan dapat mencetuskan perdarah lanjut. Kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. b. berbaring. Tujuan : Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan dengan haluaran urin adekuat dengan berat jenis normal. turgor kulit baik. d. Makanan tak tercerna menunjukkan obstruksi atau tumor gaster. pengisian kapiler cepat. Intervensi : a. darah merah gelap mungkin darah lama (tertahan dalam usus) atau perdarahan vena dari varises. mungkin karna ulkus gaster. R/ mencegah refluks gaster dan aspirasi antasida dimanadapat menyebabkan komplikasi paru serius. R/ membantu dalam membedakan penyebab distres gaster. Darah merah cerah menandakan adanya atau perdarahan arterial akut. membrane mukosa lembab. mencegah muntah dan tegangan padasaat defekasi. tanda vital stabil. Pertahankan tirah baring. c.

b. Tambahan volume (albumin) dapat diinfuskan sampai golongan darah dan pencocokan silang dapat diselesaikan dan transfusi darah dimulai. f. R/ mendorong keluar/pemecahan bekuandan dapat menurunkan perdarahan dengan vasokonstriksi lokal. nadi perifer teraba. Catat lokasi. lamanya dan apa yang menghilangkan nyeri. Memudahkan visualisasi dengan endoskopi untuk melokalisasi sumber perdarahan.Kolaborasi : e. Kaji perubahan tingkat kesadaran. kualitas. c. berkeringat. R/ penggantian cairan bergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan. R/ perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial. Kaji kulit terhadap dingin. Intervensi : a. Tujuan : Mempertahankan/memperbaiki perfusi jaringan dengan bukti tanda vital stabil. pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah. Berikan cairan/darah sesuai indikasi. R/ dapat menunjukkan iskemia jantung sehubungan dengan penurunan perfusi. keluaran urin adekuat. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia. Lakukan lavase gaster dengan cairan garam faal dingin atau dengan suhu ruangan sampai cairan aspirasi merah muda bening atau jernih dan bebas bekuan. keluhan pusing/sakit kepala. 2. GDA dalam batas normal. kulit hangat. pucat. Selidiki keluhan nyeri dada. .

Catat laporan nyeri abdomen. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu. 3. g. khusus tiba-tiba. Catat haluaran urin dan berat jenis. Menyatakan rentang perasaan yang tepat. Berikancairan IV sesuai indikasi. Menunjukkan rileks dan laporan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani. R/ nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karna efek buffer darah. Nyeri berat berlanjut atau tiba-tiba dapat menunjukkan iskemia sehubungan dengan terapi vasokonstriksi. R/ penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia/gagal ginjal dimanifestasikan dengan penurunan keluaran urin. R/ mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi. Tujuan : a. R/ mengobati hipoksemia dan asidosis laktat selama perdarahan akut. e. b. d. Kolaborasi : f.R/ vasokonstriksi adalah respons simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan/atau dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vasopressin. Intervensi : .

Awasi respon fisiologis (takipnea. c. Nyeri berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster. Dorong pernyataan takut dan ansietas. nyata tentang apa yang dilakukan. sensasi kesemutan). e. R/ meliarkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan. Menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. 4. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat. rongga oral. d. pusing. b. R/ belajar cara untuk rileks dapat membantu menurunkan takut dan ansietas. Tujuan : a. R/ memindahkan pasien dari stresor luar meningkatkan relaksasi. Berikan informasi akurat. Menyatakan nyeri hilang. . palpitasi. R/ membuat hubungan terapautik. b. Tunjukkan tehnik relaksasi. dapat meningkatkan keterampilan koping. berikan umpan balik.a. Membantu pasien menerima perasaan dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep. R/ dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik/status syok.

Intervensi : . termasuk lokasi. R/ nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi. intensitas (skala 0-10). b. juga menghancurkan kandungan gaster. Kurang pengetahuan mengenai penyakit. Menyatakan pemahaman penyebab perdarahannya sendiri dan penggunaan tindakan pengobatan. c. Tujuan : a. Catat keluhan nyeri. Bantu latihan rentang gerak aktif/pasif. c. meminimalkan nyeri/ketidaknyamanan. b. d. R/ menurunkan kekakuan sendi. Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri. lamanya. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat. Mulai mendiskusikan perannya dalam mencegah kekambuhan. Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi. 5. R/ membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. R/ makanan mempunyai efek penetralisir asam.Intervensi : a. Berpartisipasi dalam program pengobatan. kesalahan interpretasi/informasi. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin.

Individu dapat menemukan bahwa makan/minuman tertentu meningkatkan sekresi lambung dan nyeri. ulkus dan perdarahan. R/ memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan informasi/keputusan tentang masa depan dan control masalah kesehatan. d. D. Berikan/kaji ulang tentang etiologi perdarahan. dan cara menurunkan resiko/faktor pendukung. dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien. Alkohol mendukung untuk erosi mukosa lambung. R/ penyembuhan ulkus dapat melambat pada orang yang merokok. e. b. Bantu pasien untuk mengidentifikasi hubungan masukan makanan dan pencetus/atau hilangnya nyeri epigastrik. c. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam kasus. R/ kafein dan rokok merangsang keasaman lambung. Tentukan persepsi pasien tentang penyebab perdarahan. termasuk menghindari irirtan gaster. . memungkinkan terjadi erosi gaster. Tekankan pentingnya membaca label obat dijual bebas dan menghindari produk yang mengandung aspirin. R/ membuat pengetahuan dasar dan memberikan beberapa kesadaran yang konstruktif pada pasien.a. R/ aspirin merusak mukosa pelindung. Diskusikan tentang pentingnya menghentikan merokok. penyebab/efek hubungan perilaku pola hidup. 4. Meroko juga berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya/berulangnya ulkus peptikum.

wordpress.. Pieter. Jakarta. 3. http://meetabied. Edisi Ketiga. editor : Mansjoer. Wahyu Ika. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Doenges..blogspot. http://andimarlinasyam. 541-59. Smeltzer. Jakarta : 2000 6. 4. 2. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. 5. 5. Arif. 2. 3. John. Evaluasi 1. 2004.. Edisi 2.html http://andimarlinasyam. Richard N. editor : Sjamsuhidajat. 1999. Setiowulan. 2001..blogspot. EGC. Wim. Bab 31 : Lambung dan Duodenum.com/2009/08/27/perforasi-gaster 7. Marilynn E.E. EGC : Jakarta. Daftar Pustaka : 1. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan dapat dicegah atau teratasi.. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. prognosis dan kebutuhan pengobatan dapat teratasi.wordpress.. Rencana Asuhan Kepeawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Suzanne C. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta . Jilid 2. (Edisi 3).. Wardhani. Wiwiek. 4. dan De Jong. Mitchell. 2008. Suprohalta. Fakultas Kedokteran UI.com http://akatsukiners. Nyeri dapat teratasi. Hal. EGC.com/2011/08/askepklien-dengan-perforasi.R.com /2009/08/27/perforasi-gaster/ PERFORASI GASTER . Ansietas dapat teratasi. Kurang pengetahuan mengenai penyakit. Kekurangan volume cairan dapat teratasi. 5. Media Aesculapius.

inflamasi divertikulum kolon sigmoid. Pada tahun 1799 gejala klinik ulkus perforasi dikenali untuk pertama kali. tebal. Berdasarkan faalnya. perubahan pada kasus penyakit Crohn. Perforasi dapat terjadi di rongga abdomen (perforatio libera) atau adesi kantung buatan (perforatio tecta).vagus dan . Saluran limf dari lambung juga cukup rumit. Hal ini karena dirasakan adanya rekurensi yang tinggi dari gejala-gejala setelah perbaikan sederhana. Henry Percy Dean melakukan tindakan bedah pada ulkus perforasi usus kecil duodenum. Antara lambung dan pangkal embrional itu terdapat kelenjar limf yang letaknya tersebar di mana-mana akibat putaran embrional. lambung dibagi dalam dua bagian. telah membatasi penggunaan teknik-teknik ini. kolitis ulserasi. Serabut parasimpatis berasal dari n. pertama kali melakukan tindaka bedah pada ulkus peptik lambung. Pada tahun 1894. Semuanya akan berakhir di kelenjar paraaorta dan preaorta di pangkal mesenterium embrional.PENDAHULUAN Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Vena dari lambung duodenum bermuara ke vena porta. Tiga perempat proksimal yang terdiri dari fundus dan korpus. Efek fisiologis vagotomi trunkal pada sekresi asam telah diketahui sejak awal abad 19. kerusakan akibat trauma. termasuk angka rekurensi ulkus yang tinggi. Ciri yang cukup menonjol pada anatomi lambung adalah peredaran darahnya yang sangat kaya dan berasal dari empat jurusan dengan pembuluh nadi besar di pinggir kurvatura mayor dan minor serta dalam dinding lambung. dan pendekatan ini diperkenalkan sebagai terapi ulkus duodenum pada tahun 1940. berfungsi sebagai penampung makanan yang ditelan serta tempat produksi asam lambung dan pepsin. seorang Jerman. ANATOMI LAMBUNG Lambung merupakan bagian sistem gastrointestinal yang terletak di antara esofagus dan duodenum. dan tumor ganas di sistem gastrointestinal. penutupan sederhana lebih umum dikerjakan daripada reseksi gaster. dapat diperkirakan bahwa tukak peptik akan mengalami perforasi ke rongga sekitarnya secara bebas atau penetrasi ke dalam organ di dekatnya. Akhir-akhir ini. bergantung pada letak tukak. sedangkan dinding korpus. apalagi antrum. meskipun baru pada tahun 1892. Perforasi paling sering adalah akibat ulkus peptik lambung dan duodenum. juga ditemukan arteri besar (a. Peredaran vena ini kaya sekali dengan hubungan kolateral ke organ yang ada hubungan embrional dengan lambung dan duodenum. Perdarahan hebat bisa terjadi karena erosi dinding arteri itu pada tukak peptik lambung atau duodenum. meskipun sudah dilaksanakan untuk ulkus gaster perforasi dari awal 1892. dan beberapa komplikasi postoperatif. tidak menjadi terapi populer sampai tahun 1940. Gastrektomi parsial. Perkembangan selanjutnya terapi ulkus peptik adalah diperkenalkannya vagotomi selektif tinggi pada akhir 1960. tidak ada satupun pencapaian ini yang terbukti berhasil. pada pasien dengan perforasi gaster. Ludwig Hensner. Dari hubungan anatomi topografik lambung-duodenum dengan hati. dan kuat lapisan ototnya. Penyebab perforasi gastrointestinal adalah : ulkus peptik. Di belakang dan tepi madial duodenum. Namun. dan limpa. pankreas. Impuls nyeri dihantarkan melalui serabut eferen saraf simpatis.gastroduodenalis). Persarafan simpatis lambung seperti biasa melalui serabut saraf yang menyertai arteri.

kemudian mengosongkannya ke duodenum secara bertahap. nasi. asam amino. Seperti halnya proses sekresi dalam tubuh. terutama larutan HCl. Fase sefalik Rangsang yang timbul akibat melihat. namun secara sederhana dibagi atas tiga fase perangsangan. dan peptida dalam makanan akan merangsang produksi gastrin. pepsinogen. Motilitas Fungsi lambung yang berkaitan dengan gerakan adalah penyimpanan dan pencampuran makanan serta pengosongan lambung. merasakan. sedangkan makanan yang tinggi lemak dapat bertahan di lambung 6-12 jam. dan fase intestinal ini saling mempengaruhi dan berhubungan. dan reflek kolinergik intramural. refleks vagus. Kontraksi yang kuat pada antrum (dindingnya paling tebal) akan mencampur makanan dengan enzim lambung. hati dan antrum sebagai saraf Laterjet anterior. bahkan berpikir tentang makanan akan meningkatkan produksi asam melalui aktivitas n. yaitu fase sefalik. Pada pH di bawah 2. . menghirup. Ketiga fase. FISIOLOGI LAMBUNG Fungsi utama lambung adalah penerima makanan dan minuman. sedangkan n. selain turut bekerja dalam pencernaan awal berkat kerja kimiawi asam lambung dan pepsin. Cairan lambung Cairan lambung yang jumlahnya bervariasi antara 500-1500 ml/hari mengandung lendir. Keasaman yang tinggi di daerah antrum akan menghambat produksi gastrin oleh sel G sehingga sekresi fase gastrik akan berkurang. Fase gastrik Distensi lambung akibat adanya makanan atau zat kimia. faktor intrinsik dan elektrolit. Produksi asam merupakan hal yang kompleks. Nervus vagus anterior (sinister) memberikan cabang ke kandung empedu. dan penghancur dikerjakan oleh antrum. seperti kalsium. Fungsi ini diatur oleh n. fase gastrik. Sekresi basal cairan ini selalu ada dalam jumlah sedikit. Ini antara lain yang mendasari turunnya kapasitas penampungan pada penderita tumor lambung lanjut sehingga cepat kenyang. cairan lambung bertindak sebagai penghambat sekresinya sendiri berdasarkan prinsip umpan balik.vagus posterior (dekstra) memberikan cabang ke ganglion seliakus untuk visera lain di perut kan ke antrum sebagai saraf Laterjet posterior.mengurus sel parietal di fundus dan korpus lambung. dan sayuran meninggalkan lambung dalam tiga jam.vagus dan hilang setelah vagotomi. dikerjakan oleh fundus dan korpus. Fase intestinal Hormon enterooksintin merangsang produksi asam lambung setelah makanan sampai di usus halus.vagus. Kemampuan lambung menampung makanan mencapai 1500 ml karena mampu menyesuaikan ukurannya dengan kenaikan tekanan intraluminal tanpa peregangan dinding (relaksasi reseptif).5 produksi gastrin mulai dihambat. Daging tidak berlemak. Semua itu akan merangsang sel parietal untuk memproduksi asam lambung. Peristalsis terjadi bila lambung mengambang akibat adanya makanan dan minuman.

Namun. Dari uji laboratorium. o Ingesti aspirin. dan natrium diclofenac. lambung relatif bersih dari bakteri dan mikroorganisme lain karena kadar asam intraluminalnya yang tinggi. Dari hasil penelitian di RS Hasan Sadikin Bandung sejak akhir tahun 2006 terhadap 38 kasus perforasi gaster. Kebanyakan orang yang mengalami trauma abdominal memiliki fungsi gaster normal dan tidak berada dalam resiko kontaminasi bakteri setelah perforasi gaster. Frekuensi tersering mengonsumsi jamu adalah seminggu tiga kali. serta golongan obat anti-inflamasi steroid di antaranya deksametosan dan prednisone Ruptur lambung akan melepaskan udara dan kandungan lambung ke dalam peritoneum. pasien akan menunjukkan rasa nyeri hebat. atau usus dengan infeksi intraabdomen. 32 orang di antaranya adalah pengonsumsi jamu (84. peritonitis. Dari radiologis. gaster. anti inflamasi non steroid. o Adanya faktor predisposisi : termasuk ulkus peptik o Perforasi oleh malignansi intraabdomen atau limfoma o Benda asing (misalnya jarum pentul) dapat menyebabkan perforasi esofagus.PERFORASI GASTER Pada orang dewasa. o Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau abdomen (misalnya tusukan pisau) o Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti ini lebih umum pada anak daripada dewasa dan termasuk trauma yang berhubungan dengan pemasangan alat. misalnya : o trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa nasogastrik saat endoskopi. sebanyak 18 orang mengonsumsi jamu lebih dari 1 tahun (56. antalgin. Sebagian besar zat kimia tersebut merupakan golongan obat yang bersifat antiperadangan dan antinyeri (anti-inflamasi) nonsteroid (NSAID) di antaranya fenilbutazon. Angka kejadian menurun secara paralel dengan penurunan umum dari prevalensi ulkus peptik. Sekitar satu pertiga perforasi gaster berkaitan dengan karsinoma gaster. Etiologi • Perforasi non-trauma. perforasi ulkus peptik adalah penyebab umum dari morbiditas dan mortalitas akut abdomen sampai sekitar 30 tahun lalu.25 persen). dan steroid : terutama pada pasien usia lanjut. sejumlah besar udara bebas akan tampak di peritoneum dan ligamentum falsiparum tampak dikelilingi udara. ternyata jamu tersebut mengandung bahan kimia. disertai peritonitis. dan sepsis. akut. Pasien yang paling lama mengonsumsi jamu adalah sekitar 5 tahun. misalnya : o akibat volvulus gaster karena overdistensi dan iskemia o spontan pasa bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress ulcer. dan sindrom sabuk pengaman.2 persen) dan dari jumlah itu. Namun jamu yang mereka konsumsi adalah jamu plus obat kimia atau yang sering dikenal dengan jamu oplosan. cedera gagang kemudi sepeda. Ulkus duodenum 2-3 kali lebih sering dari perforasi ulkus gaster. mereka yang sebelumnya sudah memiliki masalah gaster beresiko terhadap kontaminasi peritoneal dengan . • Perforasi trauma (tajam atau tumpul). Patofisiologi Dalam keadaan normal.

Isi yang keluar dari perforasi dapat mengandung udara. Pemeriksaan Penunjang Sejalan dengan penemuan klinis. seperti berjalan. CT-scan murni dan CT-scan dengan kontras. Kebocoran cairan asam lambung ke rongga peritoneal sering berakibat peritonitis kimia yang dalam. belum ada infeksi bakteria. bakteremia. peritonitis kimia bertahap menjadi peritonitis bakterial. dan bakteri. empedu. dan syok dapat terjadi. Radiologi Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. ultrasonografi dengan vesika urinaria penuh. empedu dan/atau enzim pankreas. makanan. tes psoas. Omentum dan organ dalam cenderung untuk melokalisasi tempat inflamasi. tekanan dilepaskan. Hipoksia yang diakibatkan di area memfasilitasi pertumbuhan bakteri anaerob dan menyebabkan pelemahan aktivitas bakterisid dari granulosit. Jika kebocoran tidak ditutup dan partikel makanan mencapai rongga peritoneal. terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh asam lambung. fase ini disebut fase peritonitis kimia. dan penderita tampak letargik karena syok toksik. Pasien mungkin bebas gejala untuk beberapa jam antara peritonitis kimia awal sampai peritonitis bakterial kemudian. Nyeri subjektif dirasakan waktu penderita bergerak. Reaksi peritoneum berupa pengenceran zat asam yang merangsang itu akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria. Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya rangsangan peritoneum di permukaan bawah diafragma. suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia. membentuk flegmon (ini biasanya terjadi pada perforasi usus besar). Pada awal perforasi. dan pembesaran abses abdomen. efek osmotik. hipertonisitas cairan membentuk abses. Jika tidak diterapi. Jika temuan foto Rontgen dan ultrasonografi tidak jelas. menimbulkan nyeri perut kanan bawah.perforasi gaster. sepsis general. Cairan lambung akan mengalir ke kelok parakolika kanan. sebaiknya jangan ragu untuk menggunakan CT-scan. degradasi sel. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri tekan dan defans muskuler. Udara bebas atau . cairan lambung dan duodenum. hipotensi. Nyeri ini timbul mendadak. kemudian menyebar ke seluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut. Adanya bakteri di rongga peritoneal merangsang influks sel-sel inflamasi akut. Tanda dan Gejala Perforasi gaster akan menyebabkan peritonitis akut. Pekak hati bisa hilang karena adanya udara bebas di bawah diafragma. dan mengejan. Penderita yang mengalami perforasi akan tampak kesakitan hebat. Nyeri objektif berupa nyeri ketika digerakkan seperti pada saat palpasi. mengalirnya lebih banyak cairan ke area abses. Bila telah terjadi peritonitis bakteria. metode tambahan yang dapat dilakukan adalah : foto polos abdomen pada posisi berdiri. batuk. kegagalan multi organ. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum. yang mengarah pada peningkatan aktivitas fagosit granulosit. bernapas. menggerakkan badan. dengan pertimbangan metode ini dapat mendeteksi cairan dan jumlah udara yang sangat sedikit sekali pun yang tidak terdeteksi oleh metode yang disebutkan sebelumnya. dan tes obturator. colok dubur. seperti ditikam di perut. Peristaltis usus menurun sampai menghilang akibat kelumpuhan sementara usus.

ia menggunakan teknik foto abdomen klasik dalam posisi berdiri dan posisi lateral decubitus kiri. Meskipun. Banyak peneliti menunjukkan kehadiran udara bebas dapat terlihat pada 75-80% kasus. Kebanyakan. yang pada kasus ini adalah sangat tidak homogen karena terdapat kandungan lambung. dalam melakukannya. dapat mendeteksi jumlah udara sebanyak 1 ml. kualitas film pajanan dan posisi yang benar sangat penting. bagian oral duodenum. Saat CT scan dilakukan dalam posisi supine. Deteksi pneumoperitoneum minimal pada pasien dengan nyeri akut abdomen karena perforasi gaster adalah tugas diagnostik yang paling penting dalam status kegawatdaruratan abdomen. Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan bebas di pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh. Sekitar 50% pasien menunjukkan kumpulan udara di abdomen atas kanan. karena keduanya tampak sebagai area hipodens dengan densitas negatif. lainnya adalah subhepatika atau di ruang hepatorenal.pneumoperitoneum terbentuk jika udara keluar dari sistem gastrointestinal. Gambaran udara bentuk segitiga kecil juga dapat tampak di antara lekukan usus. dan usus besar. Untuk melihat udara bebas dan membuat interpretasi radiologi dapat dipercaya. paling sering terlihat dalam bentuk seperti kubah atau bentuk bulan setengah di bawah diafragma pada posisi berdiri. maka. jumlah udara yang sangat kecil dilepaskan. Manfaat penemuan dini dan pasti dari perforasi gaster sangat penting. yang dalam keadaan normal tidak mengandung udara. pada saat pengambilan udara bebas dapat mencapai titik tertinggi di abdomen. Hal ini terjadi setelah perforasi lambung. Ketika melakukan pemeriksaan. gelembung udara pada CT scan . Udara bebas terjadi di rongga peritoneum 20 menit setelah perforasi. Pada kasus perforasi karena trauma. Di sini dapat terlihat gambaran oval kecil atau linear. CT scan sangat efisien untuk deteksi dini perforasi gaster. Football sign menggambarkan adanya udara bebas di atas kumpulan cairan di bagian tengah abdomen. Setiap pasien harus mengambil posisi adekuat 10 menit sebelum pengambilan foto. kita perlu menyetel jendelanya agar dapat membedakan antara lemak dengan udara. karena keadaan ini biasanya memerlukan intervensi bedah. CT scan CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitif untuk mendeteksi udara setelah perforasi. Seorang dokter yang berpengalaman. Udara bebas tampak pada posisi berdiri atau posisi decubitus lateral kiri. Ultrasonografi Ultrasonografi adalah metode awal untuk kebanyakan kondisi akut abdomen. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi cairan bebas dengan berbagai densitas. ultrasonografi tidak dapat mendeteksi udara bebas. dengan menggunakan teknik radiologi. Radiologis memiliki peran nyata dalam menolong ahli bedah dalam memilih prosedur diagnostik dan untuk memutuskan apakah pasien perlu dioperasi. Jendela untuk parenkim paru adalah yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. perforasi dapat tersembunyi dan tertutup oleh kondisi bedah patologis lain. bahkan jika udara tampak seperti gelembung dan saat pada foto rontgen murni dinyatakan negatif. Oleh karena itu. Posisi supine menunjukkan pneumoperitoneum pada hanya 56% kasus. Pada kasus perforasi usus kecil.

Komponen barium tidak dapat diberikan pada keadaan ini karena mereka dapat menyebabkan pembentukkan granuloma dan adesi peritoneum. tetapi tindakan ini dianjurkan bila keadaan umum kurang baik. Walaupun sensitivitasnya tinggi. pemasangan pipa nasogastrik. dan terdapat peritonitis purulenta. yang membantu untuk menunjukkan kontras tapi bukan udara. CT scan tidak selalu diperlukan berkaitan dengan biaya yang tinggi dan efek radiasinya. CT scan juga jauh lebih baik dalam mendeteksi kumpulan cairan di bursa omentalis dan retroperitoneal. Tujuan dari terapi bedah adalah : • Koreksi masalah anatomi yang mendasari • Koreksi penyebab peritonitis • Membuang setiap material asing di rongga peritoneum yang dapat menghambat fungsi leukosit dan mendorong pertumbuhan bakteri (seperti darah. Cara kedua adalah dengan memberikan kontras yang dapat larut secara oral minimal 250 ml 5 menit sebelum scanning.terutama berlokasi di depan bagian abdomen. Jahitan saja setelah eksisi tukak yang perforasi belum mengatasi penyakit primernya. dan pemberian antibiotik mutlak diberikan. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit. kebijakan nonoperatif mungkin digunakan dengan terapi antibiotik langsung terhadap bakteri gram-negatif dan anaerob. Prognosis Apabila tindakan operasi dan pemberian antibiotik berspektrum luas cepat dilakukan maka prognosisnya dubia ad bonam. dan pemberian antibiotik terlambat dilakukan maka prognosisnya menjadi dubia ad malam. Bila keadaan memungkinkan. Perforasi gaster pada periode neonatal Meskipun perforasi gaster jarang terjadi. Hasil terapi meningkat dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan udara melalui pipa nasogastrik 10 menit sebelum scanning. . tambahan tindakan vagotomi dan antrektomi dianjurkan untuk mencegah kekambuhan. dan biasanya terjadi di ICU neonatal. tindakan. Jika gejala dan tanda-tanda peritonitis umum tidak ada. kita dapat menggunakan substansi kontras nonionik untuk membuktikan keraguan kita. penderita usia lanjut. Sedangkan bila diagnosis. Jika kita menduga seseorang mengalami perforasi. dan udara bebas tidak terlihat pada scan murni klasik. Kita dapat melihat gelembung udara bergerak jika pasien setelah itu mengambil posisi decubitus kiri. Beberapa penulis menyatakan bahwa CT scan dapat memberi ketepatan sampai 95%. makanan. Faktor-faktor berikut akan meningkatkan resiko kematian : • Usia lanjut • Adanya penyakit yang mendasari sebelumnya • Malnutrisi • Timbulnya komplikasi Penatalaksanaan Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki keadaan umumnya sebelum operasi. penyakit ini lebih sering terjadi pada anak daripada dewasa. sekresi lambung) Laparotomi dilakukan segera setelah upaya suportif dikerjakan.

Perforasi gastrik iskemik telah dilaporkan dalam hubungan dengan enterokolitis nekrotikans. Karena stress ulcer gaster telah dilaporkan pada berbagai bayi yang sakit kritis. Etiologi spesifik dapat sulit ditentukan karena bayi biasanya sakit dan patologi aktual menyediakan hanya sedikit petunjuk. biasanya dalam minggu pertama kehidupan terutama antara hari ke 2 sampai ke 7. Reseksi lambung signifikan sebaiknya dihindari. Karena ukuran yang besar dan tempat perforasi yang proksimal. dekompresi jarum abdomen dengan kateter intravena besar mungkin diperlukan. Istilah spontan menyatakan penyebab yang bukan akibat enterokolitis nekrotikan atau iskemia. Cedera paling umum adalah akibat pemasangan pipa orogastrik atau nasogastrik yang terlalu bertenaga. Perforasi gaster traumatik dapat muncul sebagai akibat distensi gaster yang hebat selama ventilasi tekanan positif selama resusitasi bag-mask atau ventilasi mekanik untuk gagal napas. dan spontan. drainse peritonel saja dapat encukupi. iskemik. Perforasi pada bayi baru lahir merupakan kegawatdaruratan bedah. Area multipel dari cedera harus dikecualikan. Vomitus adalah gejala yang tidak konsisten. Terapi . Mekanisme perforasi iskemik sulit diterangkan karena kasus ini dihubungkan dengan kondisi stress fisiologis berat seperti prematuritas hebat. Tanda-tanda syok hipovolemik dan sepsis melengkapi gambaran klinik. bayi-bayi ini dapat mendapat pneumoperitoneum dengan progresifitas cepat yang dihubungkan dengan bahaya kardiopulmoner. Pada bayi dengan berat lahir yang sangat rendah yang mengalami perforasi terisolasi. Sebelum intervensi bedah. Perforasi gastroduodenal telah dihubungkan dengan terapi steroid postnatal untuk mencegah atau terapi BPD. obstruksi intestinal atau insuflasi aksidental selama bantuan ventilasi. Tanda dan gejala perforasi gaster biasanya mereka dengan gejala akut abdomen disertai sepsis dan gagal napas. kerusakan sering melibatkan dinding posterior lambung sepanjang kurvatura mayor membuat pembagian omentum gastrokolik dan eksplorasi dinding lambung posterior diperlukan bahkan jika gangguan ditemukan juga di dinding anterior. Namun penemuan patologis yang sama belum pernah dilaporkan. Gambaran patologis dan klinis konsisten dengan overdistensi mekanik daripada iskemia sebagai penyebab perforasi. selama evaluasi dan resusitasi bayi. Satu hipotesis adalah bahwa perforasi spontan berkaitan dengan defek kongenital dinding muskuler gaster. trauma dari intubasi gastrik. Pipa nasogastrik sebaiknya dipasang ketika resusitasi cepat dikerjakan. Perbaikan bedah kebanyakan perforasi terdiri dari debrideman dan penutupan dua lapis gaster. Meskipun stress perinatal dan prematuritas tidak umum dihubungkan. Konfirmasi radiografi akan pneumoperitoneum masif adalah sugestif dan studi kontras untuk mengkonfirmasi diagnosis tidak diindikasikan.Tiga mekanisme telah diajukan untuk perforasi gaster pada neonatal : traumatik. tidak ada faktor predisposisi yang dapat diidentifikasi pada setidaknya 20% kasus. Udara bebas persisten atau asidosis berkelanjutan dan bukti peritonitis mengamanatkan eksplorasi bedah. Pemeriksaan abdominal adanya distensi abdominal yang signifikan. Kebanyakan perforasi gaster adalah akibat trauma iatrogenik. Kebanyakan bayi diberi makan secara normal sampai saat terjadi perforasi. dan asfiksia neonatal. Suatu gastrostomi mungkin menjamin. sepsis. telah diajukan bahwa perforasi gaster sebagai akibat dari nekrosis transmural. Perforasi biasanya di sepanjang kurvatura mayor dan tampak sebagai luka tusuk atau laserasi pendek. Perforasi gaster spontan pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang sehat.

angka mortalitas perforasi gaster menjadi tinggi. Komplikasi ini biasanya dihubungkan dengan kegagalan sistem multipel organ dan mungkin berhubungan dengan defek proteksi oleh mukosa gaster . serotonin. menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler  Aktivasi komplemen dan kerusakan endotel kapiler o Infeksi gram-negatif dihubungkan dengan prognosis yang lebih buruk dari gram-positif. takikardi. Berkaitan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan sepsis dan gagal napas sering ditemukan pada bayi prematur. luas kontaminasi peritonel. Komplikasi • Infeksi Luka. dan kolaps sirkuler. hipotermi (pada septikemia gram negatif dengan endotoksemia). seperti histamin. dan prostaglandin. leukositosis atau leukopenia (pada septikemia berat). o Syok septik dihubungkan dengan kombinasi hal-hal berikut :  Hilangnya tonus vasomotor  Peningkatan permeabilitas kapiler  Depresi myokardial  Pemakaian leukosit dan trombosit  Penyebaran substansi vasoaktif kuat. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi angka ketahanan hidup tampaknya adalah interval antara onset gejala dan dimulainya terapi definitif. angka kejadian infeksi berkaitan dengan muatan bakteri pada gaster • Kegagalan luka operasi o Kegagalan luka operasi (kerusakan parsial atau total pada setiap lapisan luka operasi) dapat terjadi segera atau lambat o Faktor-faktor berikut ini dihubungkan dengan kegagalan luka operasi :  Malnutrisi  Sepsis  Uremia  Diabetes mellitus  Terapi kortikosteroid  Obesitas  Batuk yang berat  Hematoma (dengan atau tanpa infeksi) • Abses abdominal terlokalisasi • Kegagalan multiorgan dan syok septik o Septikemia adalah proliferasi bakteri dalam darah yang menimbulkan manifestasi sistemik. demam.suportif yang giat post operatif bersama dengan penggunaan antibiotik spektrum luas secara intravena diperlukan. seperti kekakuan. • Gagal ginjal dan ketidakseimbangan cairan. mungkin karena hubungan dengan endotoksemia. derajat prematuritas dan keparahan konsekuensi asfiksia. berkisar antara 45% sampai 58%. elektrolit. dan pH • Perdarahan mukosa gaster.

available from www. Acute Gastric Perforation in Neonatal Period. Edisi Ketiga. Hal.com/library/topics/volume_vii/g/gastric_rupture  Gharehbaghy. Intestinal Perforation – emedicine available from.. Rafeey. Bab 31 : Lambung dan Duodenum.medcyclopaedia. Media Aesculapius. editor : Mansjoer. Jakarta : 2000  Azer. Šerif.org/14_2/Gharehbaghy..htm  Medcyclopaedia – Gastric rupture.. Awas. Jilid 2. Vrcić. Wahyu Ika.com/med/topic2822.. Buku Ajar Ilmu Bedah. Early radiological diagnostics of gastrointestinal perforation. dan De Jong. EGC : Jakarta. Samy A.emedicine. sering disebabkan karena adesi postoperatif • Delirium post-operatif. Wardhani.  Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2.• Obstruksi mekanik. available from www.medicaljournal-ias.pdf  Sofić. 541-59. http://www. available from http://www. Linceder.. Manizheh M. 2004. Wim..pikiranrakyat.. Arif. Bešlić. editor : Sjamsuhidajat.pdf  Hermana. Setiowulan.si/uploads/articles/Radiology_40_2_2. Dunja. Faktor berikut dapat menyebabkan predisposisi delirium postoperatif: o Usia lanjut o Ketergantungan obat o Demensia o Abnormalitan metabolik o Infeksi o Riwayat delirium sebelumnya o Hipoksia o Hipotensi Intraoperatif/postoperatif DAFTAR RUJUKAN  Pieter. Amela. Suprohalta.. Lidija.. John.onko-i. Mandana. Bahaya Jamu Oplosan! Available from http://www..com/cetak/2007/072007/05/cakrawala/lainnya . Fakultas Kedokteran UI.. Asep. Wiwiek.R..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful