P. 1
Makalah Nasikh Mansukh

Makalah Nasikh Mansukh

5.0

|Views: 2,033|Likes:
Published by Abdul Rohman Sayyid

More info:

Published by: Abdul Rohman Sayyid on May 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

MAKALAH ULUMUL QUR’AN NASIKH MANSUKH

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 5 1. ABDUL ROHMAN SAYYID (1211703002) 2. ATIKAH MAYANGSARI (1211703006) 3. EVI MARLINA (1211703014) 4. HADIAN (1211703016) 5. UJANG PERMANA (1211703036)

FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2011

1

KATA PENGANTAR
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, meminta ampunan dari-Nya dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri kita serta keburukan amal perbuatan kita. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena hidayah-Nya pula, Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Nasikh Mansukh” ini sebagai tugas dari mata kuliah Ulumul Qur‟an tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Yuningsih selaku dosen mata kuliah Ulum Qur‟an yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan; rekan-rekan, serta semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat selesai tepat padawaktunya. Akhirnya penulis mohon kritik dan saran untuk lebih sempurnanya makalah ini. Selanjutnya penulis berharap makalah yang sederhana ini bermanfaat, terutama bagi yang membutuhkannya.

Bandung,31 Oktober 2011

Penulis

2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………2 Daftar Isi…………………………………………………………………………3

Bab I Pendahuluan………………………………………………………………4 1.1 Latar Belakang……………………………………………………………4 1.2 Rumusan masalah…………………………………………………………4

Bab II Pembahasan………………………………………………………………5 2.1 Pengertian Naskh………………………………………………………..5 2.2 Rukun dan Syarat Naskh………………………………………………..6 2.3 Perbedaan antara Naskh, Takhsish, dan Bada‟…………………………..6 2.4 Dasar-dasar Penetapan Nasikh dan Mansukh…………………………..8 2.5 Perbedaan Pendapat tentang Adanya Ayat-ayat Mansukh dalam Al-Quran………………………………………………………………....9 2.6 Bentuk-bentuk dan Macam-macam Naskh dalam Al-Quran………….12 2.7 Hikmah Keberadaan Naskh………………………………………………18

Bab III Penutup 3.1 kesimpulan……………………………………………………………..19 3.2.saran.........................................................................................................19

Daftar Pustaka………………………………………………………………….20

3

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah Salah satu tema dalam ulum Al-Qur‟an yang mengundang perdebatan para ulama adalah mengenai nasikh-mansukh.Perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan ada atau tidak adanya ayat-ayat mansukh(dihapus) dalam Alqur‟an,antara lain disebabkan adanya ayat-ayat yang tampak kontradiksi bila dilihat dari lahirnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa diantara ayat-ayat tersebut, adayang tidak bisa dikompromikan.Oleh karena itu,mereka menerima teori nasikh(penghapusan) dalam Al-qur‟an.Sebaliknya,bagi para ulama yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut keseluruhannya bisa dikompromikan,tidak mengakui teori penghapusan itu.Ulama-ulama klasik yang menerima penhapusan dalam Al-qur‟an ternyata tidak sepakat dalam menentukan mana ayat yang menghapus (nasikh) dan mana ayat yang dihapus(mansukh).

B.Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Naskh? 2. Apa saja rukun dan Syarat Naskh? 3. Apa perbedaan antara Naskh,Takhsish,dan Bada‟? 4. Bagaimana dasar-dasar penetapan Nasikh-Mansukh? 5. Bagaimana perbedaan pendapat tentang adanya ayat-ayat Mansukh dalam Al-qur‟an? C. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah agar kita bisa lebih mengenal tentang 2. silsilah nasikh mansukh dan lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan. 3.

4

BAB II PEMBAHASAN
A. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan([4]). Ungkapan ini sangat penting dalam rangka menafsirkan ayat-ayat memahami dan

serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an.

Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan,

keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum

didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling

bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode bagiannya([5]). penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu

2.1 Pengertian Naskh Secara lughawi, ada empat makna naskh yang sering diungkapkan ulama, yaitu secara berikut : a. Menghilangkan (Izalah) yaitu mengganti ayat sebelumnya. b. Mengganti (Tabdil) yaitu mengoreksi dan meralat kalimat dengan yang lain yang lebih baik, namun kandungannya tetap. c. Memalingkan (Tahwil) yaitu ayat yang di mansukh diperbaharui

5

kandungan-kandungannya sehingga lebih jelas. d. Menukil (memindahkan) yaitu memindahkan peletakan kata dalam suatu ayat agar lebih baik arti dan maknanya. e. Mengkhususkan (Tahshish) yaitu mengkhususkan/ menspesifikkan pembahasan ayat menjadi lebih terperinci sehinga lebih mudah dipahami. Dari segi terminologi, para ulama mendefinisikan naskh, dengan “raf‟u Alhukm Al- syari‟bi Al-Khitab Al- syar‟i (menghapuskan hukum syara dengan dalil syara yang lain). Maksud menghapuskan disini adalah terputusnya hubungan hukum yang dihapus dari seorang mukallaf, dan bukan terhapusnya substansi hukum itu sendiri. Ulama-ulama mutaqaddimin memperluas arti naskh, mencakup: 1. Pembatalan hukum yang ditetapkan oleh hukum yang ditetapkan kemudian 2. Pengecualian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang spesifik yang datang kemudian 3. Penjelasan susulan terhadap hukum yang bersifat ambigius 4. Penetapan syarat bagi hukum yang datang kemudian guna

membatalkan atau merebut atau menyatakan berakhirnyamasa berlakunya hukum yang terdahulu Menurut ahli ushul fiqh menyatakan bahwa naskh bisa dibenarkan bila memenuhi kriteria berikut: 1. Pembatalan harus dilakukan melalui tuntutan syara‟ yang mengandung hukum dari Allah dan Rasul-Nya yang disebut nasikh (yang menghapus). 2. Yang dibatalkan adalah syara‟ yang disebut mansukh (yang dihapus) 3. Nasikh harus datang kemudian (terakhir) dari mansukh

2.2 Rukun dan Syarat Naskh Rukun-rukun naskh adalah: 1. Adat naskh, adalah pernyataan yang menunjukkan adanya pembatalan hukum yang telah ada. 2. Nasikh, yaitu dalil kemudian yang menghapus hukum yang telah ada.

6

3. Mansukh, yaitu hukum yang dibatalkan, dihapuskan, atau dipindahkan. 4. Mansukh „anh, yaitu orang yang dibebani hukum. Syarat-syarat naskh adalah: 1. Yang dibatalkan adalah hukum syara‟. 2. Pembatalan itu datangnya dari tuntutan syara‟. 3. Pembatalan hukum tidak disebabkan oleh berakhirnya waktu pemberlakuan hukum. 4. Tuntutan yang mengandung naskh harus datang kemudian. Ada dua lapangan yang tidak menerima nasakh, yaitu: 1. Seluruh khabar/aqidah baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. 2. Hukum-hukum yang disyariatkan secara abadi. 2.3 Perbedaan antara Naskh, Takhsish, dan Bada’ Ibnu Katsir dan Al-Maraghi menetapkan adanya pembatalan hukum dalam AlQuran. Sedangkan Al-Ashfhani menyatakan bahwa Al-Quran tidak pernah disentuh “pembatalan”, tetapi dia sepakat tentang: 1. Adanya pengecualian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang spesifik yang datang kemudian. 2. Adanya penjelasan susulan terhadap hukum terdahulu yang ambigius. 3. Adanya penetapan syarat terhadap hukum yang terdahulu yang belum bersyarat. Ibnu Katsir dan Al-Maraghi memandang ketiga hal di atas sebagai naskh, sedangkan Al-Ashfahani memandangnya sebagai takshish.Al-Ashfahani

berpendapat bahwa tidak ada naskh dalam Al-Quran. Menurut Al-Ashfahani takhshish diartikan “mengeluarkan sebagian satuan (afrad) dari satuan-satuan yang tercakup dalam lafadz „amm”.

Perbedaan prinsipil antara naskh dan takhshish, dijelaskan sebagai berikut:

7

NASKH

TAKHSISH

Satuan yang terdapat dalam naskh Satuan yang terdapat dalam takhshish bukan merupakan bagian satuan yang merupakan sebagian dari satuan yang terdapat dalam mansukh terdapat dalam lafazh „amm merupakan hukum dari

Naskh adalah menghapuskan hukum Takhshish dalil „amm

dari seluruh satuan yang tercakup sebagian satuan yang tercakup dalam dalam dalil mansukh

Naskh hanya terjadi dengan dalil yang Takhshish dapat terjadi baik dengan datang kemudian dalil yang kemudian maupun menyertai dan mendahuluinya Naskh hubungan adanya mansukh menghapuskan Takhshish tidak menghapuskan hukum dalam rentang „amm sama sekali. Hukum „amm tetap berlaku meskipun sudah dikhususkan

waktu yang tidak terbatas

Setelah terjadi naskh, seluruh satuan Setelah terjadi Takhshish, sisa satuan yang terdapat dalam nasikh tidak terikat yang terdapat pada „amm tetap terikat dengan hukum yang terdapat dalam oleh dalil „amm mansukh Bada‟ menurut sumber-sumber kamus yang mashyur, adalah azh-zhuhur ba‟da Al-khafa‟(menampakkan setelah bersembunyi). Firman Allah:

ُ َ ْ ‫و بَدا لَهُم سيِّئبت مب عملُىا و حبق بِهم مب كبوُىا بِه يَستَهْزؤون‬ َ ُِ ْ ِ ِْ َ َِ َ َ

Artinya: “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolokolokkannya”(QS. Al-Jatsiyah : 33).

8

Arti bada‟ yang lain adalah „nasy‟ah ra‟yin jadid lam yaku maujud” (munculnya pemikiran baru setelah sebelumnya tidak terlintas). Definisi ini pun tersirat dalam firman Allah pada surat Yusuf ayat 35:

Artinya: “ Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu” (QS. Yusuf :35). Dalam bada‟ timbulnya hukum yang baru disebabkan oleh ketidaktahuan sang pembuat hukum akan kemungkinan munculnya hukum baru itu. Sedangkan dalam naskh, bagi ulama yang mengakui keberadaannya, Allah mengetahui nasikh dan mansukh sejak zaman azali, sebelum hukum-hukum itu diturunkan kepada manusia.

2.4 Dasar-dasar Penetapan Nasikh dan Mansukh Manna Al-Qaththan menetapkan tiga dasar untuk menegaskan bahwa suatu ayat dikatakan nasikh (menghapus) ayat lain mansukh (dihapus), yaitu: 1. Melalui pentransmisian yang jelas (An-naql Al-Sharih) dari Nabi atau para sahabatnya. 2. Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan ayat itu mansukh. 3. Melalui studi sejarah, mana ayat yang lebih belakang turun, sehinngga disebut nasikh, dan mana yang duluan turun, sehingga disebut mansukh. Al-Qaththan menambahkan bahwa nasikh tidak bisa ditetapkan melalui prosedur ijtihad, pendapat ahli tafsir, karena adanya kontradiksi antara beberapa dalil apabila dilihat dari lahirnya, atau latar belakang keislaman salah seorang dari pembawa riwayat.

9

Ibnu Al-Hisar mengemukakan: Persoalan naskh dikembalikan pada pernyataan yang jelas dari Rasulullah SAW, atau dari seorang sahabat yang mengatakan sebuah ayat ini di-naskh oleh yang ini. Dalam masalah naskh, tidak diperkenankan memegangi ijtihad para mujtahid tanpa pernyataan yang sahih, dan sanggahan yang jelas, sebab naskh mengandung arti menghapuskan dan menetapkan hukum yang sudah ditetapkan pada masa Nabi SAW, yang dipegangi dalam masalah ini adalah pernyataan dan sejarah, bukan pendapat dan ijtihad.

2.5Perbedaan Pendapat tentang Adanya Ayat-ayat Mansukh dalam AlQuran Perbedaan di kalangan ulama tentang eksistensi naskh dalam Al-Quran: 1. Menerima keberadaan naskh dalan Al-Quran Mayoritas ulama menerima keberadaan naskh, mereka mngemukakan argumentasi naqliah dan aqliah. Firman Allah:

ِْ ْ ّْ ٍ َ ِ ّ ّ ْ ْ ْ ِ ْ ٍ ْ ِ ْ َ َ‫مب وَىسخ مه آيَة أَو وُىسهَب وَأْت بِخيْر مىهَب أَو مثلِهَب أَلَم تَعلَم أَن ّللا‬ َ ‫علَى كل شيء قَدير‬ ِ ٍ ْ َ ّ ُ َ َ
Artinya: ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Al-Baqarah : 106].

Artinya:

10

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)” (QS. ArRa‟ad: 39).

Artinya: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui” (QS. An-Nahl: 101). Berpijak pada ayat-ayat di atas, para ulama berpendapat bahwa revisi AlQuran telah terjadi. Adapun dalil-dalil yang dikemukakan para ulama adalah sebagai berikut: a. Dalil pertama

Naskh tidak merupakan hal yang terlarang menurut akal pikiran dan setiap yang tidak dilarang berarti boleh.Mu‟tazilah menambahkan bahwa hukum Allah itu wajib membawa maslahat bagi hamba-Nya. Sedangkan ahli sunnah mengatakan bahwa tidak ada yang wajib bagi Allah terhadap hamba-Nya. Kalaupun Allah me-naskh-kannya tidak akan membawa akibat kepada hukum-Nya. Semua hukum Allah dan perbuatan-Nya adalah himmah balighah, ilmu yang luas dan Mahasuci dari sifat jahat dan aniaya. b. Dalil kedua Seandainya naskh tidak dibolehkan akal dan tidak terjadi, syar‟I tidak boleh memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya dengan perintah sementara dan melarangnya dengan larangan sementara.Akan tetapi, para penentang naskh berkata bahwa perintah dan larangan itu dapat terjadi. c. Dalil ketiga

11

Seandainya naskh itu tidak boleh menurut akal dan terjadi menurut sam‟iyat, tidak akan ditetapkan risalah Muhammad SAW kepada seluruh alam, sedangkan semuanya mengakui bahwa risalah itu semua berlaku untuk seluruh alam dengan dalil yang pasti. Syariat yang terdahulu dengan sendirinya aka kekal, tetapi akan di-naskh-kan oleh syariat yang terakhir. d. Dalil keempat Naskh terjadi menurut nash. Keadaan “terjadi (Al-Wuqu‟)” memberikan pengertian boleh bertambah (aj-jawaz wa ziyadah).

2. Menolak keberadaan naskh dalam Al-Quran Menurut para ulama yang masuk dalam kelompok ini, naskh diberi pengertian bukan sebagai pembatalan, tetapi sebagai pergantian,perngalihan, dan pemindahan ayat hukum disuatu tempat kepada ayat hukum ditempat lain.Terhadap argumentasi mayritas ulama yang didukung oleh surat An-nahl ayat 101,AlAshfahani membantahnya dengan mengjukan ayat 42 surat Al-Fushilat

Artinya: ”Yang tidak datang kepadanya (Al Quraan) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”(QS.Fushilat:42). Mayoritas ulama merasa keberatan terhadap pendapat Al-ashfahani sebab bagi mereka,ayat diatas tidak berbicara tentang”pembatalan”,tetapi tentang “kebatilan” yang berarti lawan dari”kebenaran”. Hukum Tuhan yang dibatalkanya tidak mengandung keharusan bahwa hukum itu batil, sebab sesuatu yang dibatalkan penggunaanya ketika terdapat perkembangaan dan kemaslahatan pada suatu wakyu,bukan berarti hukum itu menjadi tidak benar.Quraish Shihab menyimpulkanbahwa semua ayat Al-qur‟an pada dasarnya berlaku. Ayat hukum

12

yang tidak kondusip pada suatu waktu, Pada waktu yang berlainanakan tetap berlaku bagi orang-orang yang memiliki kesesuaian kondisi dengan apa yang ditunjuk oleh ayat yang bersangkutan.

2.6. Bentuk-bentuk dan Macam-macam Naskh dalam Al-Quran

 Naskh Sharih Cakupan  Naskh Dhimmi  Naskh Kulli  Naskh Juz’i

Macam-macam Naskh

Hukum Bacaan

  Naskh terhadap hukum bacaan dan ayat  Naskh terhadap hukum saja  Naskh terhadap bacaannya saja   Naskh Al-Quran dengan Al-Quran  Naskh Al-Quran dengan As-sunnah

Otoritas

 Naskh As-Sunnah dengan Al-Quran  Naskh As-Sunnah denganAs-Sunnah

Berdasarkan kejelasan dan cakupannya, naskh dalam Al-Quran dibagi menjadi empat macam, yaitu: 1. Naskh sharih, yaitu ayat yang secara jelas menghapus hukum yang terdapat pada ayat terdahulu. Misalnya ayat tentang perang pada ayat 65 surat AlAnfal yang mengharuskan satu orang muslim melawan sepuluh orang kafir:

13

Artinya: ”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”.(QS.al-Anfal:65). Menurut jumhur ulama, ayat ini di naskh oleh ayat yang mengharuskan satu orang mukmin melawan dua orang kafir pada ayat 66 dalam surat yang sama:

Artinya: ”Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QR.Al-Anfal:180).

14

2.

Naskh Dhimmi, yaitu jika terdapat dua naskh yang saling bertentangan, dan tidak dikompromikan, dan keduanya turun untuk sebuah masalah yang sama, serta kedua-duanya diketahui waktu turunnya, ayat yang kemudian menghapus ayat yang terdahulu. Misalnya ketetapan Allah yang mewajibkan berwasiat bagi orang-orang yang akan meninggal:

artinya: ”Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tandatanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”(QS.Al-Baqarah:180).

Menurut pendukung teori naskh, ayat ini di-naskh oleh hadis la washiyyah li waris (tidak ada wasiat bagi ahli waris). 3. Naskh kulli, yaitu menghapus hukum yang sebelumnya secara keseluruhan. Contohnya ketentuan „iddah empat bulan sepuluh hari pada surat Al-Baqarah ayat 234 di-naskh oleh ketentuan „iddah satu tahun pada ayat 240 dalam surat yang sama.

Artinya: ”Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteriisteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu

15

(para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri merekamenurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”(QS.AI-Baqarah:234).

Artinya: “ Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS.Al-Baqarah:240). 4. Naskh juz‟i, yaitu mengahapus hukum umum yang berlaku bagi semua

individu dengan hukum yang hanya berlaku bagi sebagian individu, atau menghapus hukum yang bersifat muthlaq dengan hukum yang muqayyad. Contohnya, hukum dera 80 kali bagi orang yang menuduh seorang wanita tanpa adanya saksi pada surat An-Nur ayat 4, dihapus oleh ketentuan li‟an, yaitu bersumpah empat kali dengan nama Allah, jika si penuduh suami yang tertuduh, pada ayat 6 surat yang sama.

Artinya:

16

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”.(QS. An-Nur: 4)

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar” (QS. An-Nur: 6). Dilihat dari segi bacaan dan hukumnya, naskh dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1. Penghapusan terhadap hukum (hukm) dan bacaan (tilawah) secara

bersamaan. Ayat-ayat yang terbilang kategori ini tidak dibenarkan dibaca dan tidak dibenarkan diamalkan. 2. Penghapusan terhadap hukumnya saja, sedangkan bacaannya tetap ada

.contohnya ajakan para penyembah berhala dari kalangan musyrikin kepada umat islam untuk saling bergantian dalam beribadah.

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".(QS.Al-Kafirun:6). Contoh lainnya adalah ayat tentang mendahulukan sedekah:

17

Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Mujadilah:12).

Ayat ini di-naskh oleh ayat 13:

Artinya: “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Mujadilah:13). 3. Penghapusan terhadap bacaannya saja,sedangkan hukumnya tetap berlaku.

18

Adapun dari sisi otoritas ,para ulama membagi naskh ke dalam 4 macam,yaitu: 1.Naskh Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an 2. Naskh Al-Qur‟an dengan As-Sunnah 3. Naskh As-Sunnah dengan Al-Qur‟an 4. As-Sunnah dengan As-Sunnah 2.7 Hikmah Keberadaan Naskh 1. Menjaga kemaslahatan hamba. 2. Pengembangan pensyariatan hukum sampai pada tingkat kesempurnaan seiring dengan perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri. 3. Menhuji kualitas keimanan mukalaf dengan cara adanya suruhan yang kemudian dihapus. 4. Merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat.

19

BAB III KESIMPULAN
Al-Qur'an merupakan dengan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu

lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an

yufassir-u

ba'dhuhu ba'dha. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan

persoalan.Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Dengan mengetahui, memahami ilmu nasikh mansukh dalam Al-Qur‟an kita akansemakin yakin bahwa al-Qur‟an diturunkan dari Allah SWT. Dan semakin kuatpula keyakinan bahwa Al-Qur‟an merupakn mukjizat yang paling agung.

B. Saran Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan baik dalam penjelasanmaupun dalam penulisan kami mohon maaf . kami mengharap kritik dan saranyang membangun agar dapat menjadi sumber rujukan

sehinggamenjadika apayang kami buat ini lebih baik di masa mendatang. Semoga makalah ini dapatbermanfaat bagi kita semua. Amiin..

20

DAFTAR PUSTAKA

Denffer, Ahmad. 1988. Ilmu Al-Qur‟an. Jakarta : Rajawali. Abdul HA, Djalal, H. Prof., Dr. 2000. Ulumul Qur‟an (Edisi Lengkap). Surabaya : Dunia Ilmu. Hamzah, Mukhotob. 2003. Study Al-Qur‟an Komprehensif. Yogyakarta : Gema Media. Chirzin, Muhammad. 1998. Al-Qur‟an Dan Ulumul Qur‟an. Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa. http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/tafsir-al-baqarah-ayat-106-naasikhwal.html http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->