PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Hak cipta :

“Seluruh tulisan pada modul ini merupakan milik dari Pusdiklat Pajak – BPPK, hasil tulisan dari Widyaiswara Pusdiklat Pajak, Drs. Hasan Basri.” “Modul ini dapat digunakan dalam rangka proses pembelajaran, dengan tetap mencantumkan penulis dan pemilik sah dokumen ini. Dilarang mengunakan sebagian atau seluruh isi dari modul ini untuk kepentingan komersial. “

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 1. 2. 3. Deskripsi Singkat Tujuan Instruksional Umum Tujuan Instruksional Khusus

1 1 2 3

Kegiatan Belajar 1 UU KUP 1. 2. 3. Landasan UU KUP UU KUP Self Assessment 4 4 4 6

Kegiatan Belajar 2 NPWP DAN PENGUKUHAN PKP 1. 2. Pengertian NPWP dan Pengukuhan PKP Yang wajib mendaftarkan diri dan kepadanya diberikan NPWP 3. Yang wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi 9 7 7 7

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 1

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PKP 4. 5. 6. 7. Jangka waktu pendaftaran dan/atau melaporkan usaha Tempat pendaftaran dan pelaporan usaha Penerbitan NPWP dan/atau Pengukuhan PKP secara jabatan Sanksi berkaitan dengan kewajiban mendaftarkan diri dan melaporkan usaha 8. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP 12 13 10 11 12

Kegiatan Belajar 3 PEMBUKUAN DAN PENCATATAN 1. 2. 3. Pengertian Pembukuan dan Pencatatan Penyimpanan Dokumen Pembukuan Sanksi berkaitan dengan kewajiban pembukuan dan 16 16 21 21

pencatatan

Kegiatan Belajar 4 SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) Kewajiban menyampaikan SPT Tempat dan cara pengambilan SPT Penandatanganan SPT Cara penyampaian SPT Batas waktu penyampaian SPT SPT dianggap tidak disampaikan WP dengan kriteria tertentu yang dapat melaporkan beberap masa pajak dalam satu SPT Masa 9. WP PPh tertentu yang dikecualikan dari kewajiban 28 28 31 27 23 23 23 24 24 25 26 26

menyampaikan SPT 10 11 Sanksi karena tidak menyampaikan SPT Hak WP berkaitan dengan penyampaian SPT

Kegiatan Belajar 5 PEMBAYARAN PAJAK 1. Kewajiban dan Sarana Pembayaran Pajak 39 39

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 2

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

2.

Jatuh Tempo Pembayaran Pajak dan Sanksi Administrasi Atas Keterlambatannya 39 44 44

3. 4.

Hak WP Berkaitan dengan Pembayaran Pajak Ketentuan mengenai Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak

5.

Sanksi Administrasi akibat Angsuran dan/atau Penundaan Pembayaran Pajak 45

6.

Sanksi Pidana terhadap WP yang tidak memenuhi Kewajiban Penyetoran Pajak 45

Kegiatan Belajar 6 PEMERIKSAAN PAJAK 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengertian Pemeriksaan Pajak Wewenang dan Tata Cara Pemeriksaan Pajak Kriteria Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan WP Pemeriksaan Untuk Tujuan Lain Kewajiban WP yang Diperiksa Produk Pemeriksaan dalam rangka Menguji Kepatuhan WP Sanksi Administrasi apabila menurut hasil pemeriksaan terdapat kurang bayar pajak 8. Sanksi apabila WP tidak memenuhi kewajibannya ketika diperiksa Kegiatan Belajar 7 PENETAPAN dan KETETAPAN 1. 2. 3. 4. Pengertian Penetapan Pengertian Ketetapan Surat Ketetapan Pajak (SKP) Surat Tagihan Pajak (STP) 54 54 55 55 67 52 52 47 47 48 48 50 51 51

Kegiatan Belajar 8 PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK (RESTITUSI) 1. 2. 3. Sebab Terjadinya Kelebihan Pembayaran Pajak Restitusi Kelebihan Pajak dalam SPT Kelebihan Pajak akibat pembayaran pajak yang Seharusnya 72 72 73

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 3

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Tidak Terutang Kegiatan Belajar 9 SENGKETA PAJAK 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengertian Sengketa Pajak Penyelesaian Sengketa Pajak Penyelesaian di DJP sebelum ke Pengadilan Pajak Keberatan Penyelesaian di Pengadilan Pajak Penyelesaian di Mahkamah Agung

77

79 79 79 80 85 90 93

Kegiatan Belajar 10 IMBALAN BUNGA 1. Keterlambatan Restitusi Kelebihan Pajak, menurut Pasal 11 ayat (3) UU KUP 2. Keterlambatan Penerbitan SKP LB, menurut Pasal 17B ayat (3) UU KUP 3. Pembayaran Kelebihan Pajak tertangguh akibat Pemeriksaan Bukti Permulaan (Pasal 17B ayat {4} UU KUP) 4. Kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan atau permohonan banding atau peninjauan kembali, diterima sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (1) UU KUP 5. Kelebihan pembayaran pajak karena SK Pembetulan, SK Pengurang an atau Pembatalan Ketetapan Pajak, yang dikabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud Pasal 27 ayat (1a) UU KUP 6. Kelebihan pembayaran sanksi administrasi Pasal 14 ayat (4) dan/atau Pasal 19 ayat (1) berdasarkan SK Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan SK Keberatan, Putus an Banding, atau Putusan Peninjauan Kenbali yang mengabulkan se bagian atau seluruh 100 99 98 98 97 96 95

permohonan WP, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (2) UU KUP

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 4

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Kegiatan Belajar 11 TINDAK PIDANA PERPAJAKAN DAN PENYIDIKAN. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengertian Tindak Pidana dan Ketentuan Pidana Tindak Pidana di Bidang Perpajakan Tindak Pidana dalam UU KUP Tindak Pidana dalam UU PBB Tindak Pidana dalam UU Bea Meterai Tindak Pidana dalam UU Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa 7. 8. Penyidikan Pajak Daftar Pustaka 110 114 101 101 102 103 108 109 109

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 5

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Hak cipta :

“Seluruh tulisan pada modul ini merupakan milik dari Pusdiklat Pajak – BPPK, hasil tulisan dari Widyaiswara Pusdiklat Pajak, Drs. Hasan Basri” “Modul ini dapat digunakan dalam rangka proses pembelajaran, dengan tetap mencantumkan penulis dan pemilik sah dokumen ini. Dilarang mengunakan sebagian atau seluruh isi dari modul ini untuk kepentingan komersial. “

PENDAHULUAN

1.

Deskripsi Singkat. Dengan penyempurnaan Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), melalui Undang-undang No. 28 Tahun 2007 diharapkan kepastian hukum pelaksanaan sistem self assessment dalam pemungutan pajak menjadi lebih terjaga dan berkualitas. Hal ini tercermin dari beberapa pasal yang mengatur tentang jadual/batasan waktu yang harus dipenuhi aparatur pajak dalam memenuhi/melayani hak Wajib Pajak (WP). UU KUP merupakan ketentuan formil bagi undang-undang pajak materiil. Hukum pajak materiil berfungsi menjawab pertanyaan tentang, “siapa yang dikenakan pajak; dan apa yang menjadi sasaran pajak; serta berapa besarnya pajak”. Sementara hukum pajak formil akan menjawab “siapa WP, penanggung pajak dan bagaimana caranya WP membayar pajak yang terutang menurut hukum pajak materiil, sehingga terealisasi menjadi penerimaan negara. Hukum pajak formil berisi kewajiban dan hak WP secara formil. Dalam kewajiban formil antara lain diatur bagaimana suatu kewajiban harus ditunaikan, serta apa

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 6

HALAMAN

Tahap kedua diawali dengan penelitian SPT dan tindakan pemeriksaan oleh aparat pajak. termasuk membetulkan SPT. sanksi administrasi maupun prosedur formal lainnya. Sengketa pajak disini tidak melulu berkaitan dengan materi hasil pemeriksaan tetapi dapat juga berkaitan dengan salah tulis atau salah hitung. sedikitnya terdapat empat tahap yang akan dilalui WP sampai dengan pajak yang menjadi kewajibannya tersebut berakhir atau menjadi pasti/final menurut hukum. A. melakukan pembayaran pajak dengan Surat Setoran Pajak (SSP) dan diakhiri dengan kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) sebagai sarana untuk melaporkan seluruh kewajiban perpajakannya dalam suatu masa pajak atau tahun pajak. serta apa sanksi bagi aparat pajak yang melalaikan/tidak memberikan hak tersebut. Rohmat Soemitro menyebutnya peradilan semu sebab yg menyelesai kan sengketa adalah yang bersengketa (fiskus). yang aktif adalah pemeriksa pajak dan SKP dapat berupa kurang/lebih bayar atau nihil (SKP KB. menjadi pasti berdasar kan hukum. maka kewajiban WP untuk suatu jenis pajak dalam suatu periode. LB atau Nihil). Tahap keempat dimulai apabila WP tidak setuju dengan keputusan fiskus (SK Keberatan) maka upaya hukum selanjutnya yang dapat dilakukan WP adalah mengajukan banding atau gugatan ke Pengadilan Pajak dan ini MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 7 HALAMAN . D. melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). (Tahap Self Assessment) B. menyelenggarakan pembukuan/pencatatan guna menghitung pajak terutang. Penyelesaian keberatan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan (SK Keberatan). Tahap pertama terlihat sejak mendaftarkan diri dan diberi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Disini WP pasif. Jika kita teliti UU KUP sejak berlakunya UU Perpajakan. Sebaliknya juga diatur secara formal bagaimana hak-hak WP dapat diperoleh. C. Apabila dalam lima tahun tidak dilakukan pemeriksaan yang melahirkan Surat Ketetapan Pajak (SKP).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sanksinya bila kewajiban tersebut dilanggar. Tahap ketiga terjadi dalam hal WP tidak setuju dengan SKP maka WP berhak untuk mengajukan keberatan. Tidak semua WP terdaftar diperiksa.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN merupakan peradilan murni. Menjelaskan pengertian tindak pidana di bidang perpajakan dan menjelaskan pengertian penyidikan. Tujuan Instruksional Umum. Menjelaskan bagaimana cara melakukan pembayaran pajak. pihak yang bersengketa dapat mengajukan Peninjauan Kembali yang penyelesaiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. Materi tentang KUP yang disusun dalam modul ini menggunakan kronologi berdasarkan tahap-tahap di atas dan tidak berdasarkan urut-urutan pasal-pasalnya dengan harap an agar para pembaca. Menjelaskan pengertian/wewenang pemeriksa dan produk hukum hasil pemeriksaan pajak serta hak-hak WP yang berkaitan dengan pemeriksaan pajak. Menjelaskan ketentuan dan tatacara penyelesaian sengketa pajak. Menjelaskan kewajiban melakukan pembukuan/ pencatatan kepada WP. i. Menjelaskan penetapan dan ketetapan pajak. Menjelaskan kewajiban mendaftarkan diri bagi WP dan kewajiban melaporkan usahanya sebagai PKP. khususnya peserta diklat dapat memahami KUP secara lebih mudah dan komprehensif. 2. peserta diklat diharapkan memahami dan mampu menjelaskan kewajiban dan hak WP dalam melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang KUP sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007. h. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 8 HALAMAN . Menjelaskan kewajiban menyampaikan SPT bagi WP dan hak-hak yang berkaitan dengan penyampaian SPT. 3. e. Setelah mempelajari modul ini. b. Tujuan Instruksional Khusus. Menjelaskan ketentuan mengenai imbalan dan besarnya imbalan bunga. peserta diklat diharapkan mampu : a. d. Setelah mempelajari modul ini. f. Untuk upaya hukum luar biasa atas Putusan Banding maupun Putusan Gugatan. g. c. kewenangan dan wewenang penyidik.

Falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEGIATAN BELAJAR 1 UNDANG-UNDANG TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (UU KUP) 1. harus ditetapkan oleh rakyat sendiri. Landasan UU KUP. seperti MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 9 HALAMAN . Pancasila seharusnya menjiwai setiap ketentuan dan pelaksanaan pemungutan pajak di lapangan. adalah merupakan landasan yang melahirkan UU KUP. Secara formal landasan segala hukum pajak di Indonesia mengacu pada Pasal 23 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi: “Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang”. Oleh karena penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan sendiri nasibnya. Dalam penjelasannya diuraikan: “Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana didapatnya belanja buat hidup. dengan perantaraan Dewan Perwakilannya. maka segala tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat. Dengan demikian.

meningkatkan pelayanan. menyesuaikan tuntutan perkembangan sosial ekonomi masyarakat serta perkembangan di bidang teknologi informasi. G. yaitu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. meningkatkan penerapan prinsip self assessment yang akuntabel dan konsisten.” 2. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 10 HALAMAN . Dengan meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah dan panjang seiring dengan meningkatnya kepatuhan sukarela para WP dan membaiknya iklim usaha. E. menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan. dilaksanakannya kebijakan pokok tersebut diharapkan dapat C. meningkatkan efisiensi pemungutan pajak guna mendukung penerimaan negara. kecuali undangundang pajak materiil yang bersangkut an telah mengatur sendiri mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakannya. kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna menaikkan daya saing dalam bidang penanaman modal. U U K U P. Kebijakan/tujuan dilakukannya perubahan ketiga UU KUP adalah : A. harus ditetapkan dengan undang-undang. UU KUP memuat ketentuan umum dan tata cara perpajakan yang pada prinsipnya berlaku bagi semua undang-undang pajak materiil. Perubahan terakhir dilakukan dengan UU Nomor 28 Tahun 2007 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2008.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pajak dan pungutan-pungutan lainnya. Perubahan kedua dilakukan dengan UU Nomor 16 Tahun 2000 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 2001. Perubahan pertama dilakukan dengan UU Nomor 9 Tahun 1994 dan mulai berlaku 1 Januari 1995. F. D. Landasan hukum ini mengalami perubahan melalui Amandemen ketiga UUD 1945 yang disahkan 10 November 2001 yaitu menjadi Pasal 23A dengan bunyi: ”Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undangundang. dengan tetap mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah. B. Undang-undang KUP telah mengalami tiga kali perubahan sejak diundangkan pertama kali dengan UU Nomor 6 Tahun 1983 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2004. meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban. mendukung iklim usaha ke arah yang lebih kondusif dan kompetitif.

Sistem pemungutan pajak tersebut mempunyai arti bahwa penentuan /penetapan. sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan dipercayakan sepenuhnya kepada WP. dengan tidak menggantungkan pada adanya SKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Isi dari keseluruhan naskah UU KUP adalah sebagai berikut : Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 3. Jiwa Self Assessment tercantum dalam pasal 12 UU KUP yang berbunyi : (1) Setiap WP wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Apabila Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) mendapatkan bukti jumlah HALAMAN 11 pembinaan. pengawasan. serta pelaporan secara teratur tentang besarnya pajak terutang dan jumlah pajak yang telah dibayar. Administrasi perpajakan berperan aktif dalam melaksanakan pengendalian administrasi pemungutan pajak yang meliputi tugas-tugas perpajakan. membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang. pelayanan. Pembayaran Pajak Penetapan dan Ketetapan Pajak Penagihan Pajak Keberatan dan Banding Pembukuan dan Pemeriksaan Ketentuan Khusus Ketentuan Pidana Penyidikan Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup dan Tata Cara Self Assessment. Jumlah Pajak yang terutang menurut SPT yang disampaikan oleh WP adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dan penerapan sanksi (2) (3) MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II . memperhitungkan. SPT. Pengukuhan PKP. : : : : : : : : : : : Ketentuan Umum NPWP. Salah satu ciri dari sistem pemungutan pajak Indonesia adalah self assessment yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan kepada masyarakat WP untuk menghitung.

SKP hanya diterbitkan oleh fiskus apabila perhitungan wajib pajak tersebut tidak benar berdasarkan pada suatu pembuktian oleh fiskus. NPWP adalah nomor yang diberikan kepada WP sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya (Pasal 1 angka 6 UU KUP). Perhitungan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pajak yang terutang menurut SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar. pembayaran dan pelaporan yang dilakukan WP tersebut dianggap benar (sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan) sepanjang Dirjen Pajak tidak dapat membuktikan sebaliknya.567. Dari bunyi Pasal 12 UU KUP tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penghitungan pajak yang terutang (untuk Pajak Penghasilan {PPh}. pembayarannya ke Kas Negara. Dirjen Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang. KEGIATAN BELAJAR 2 N P W P DAN PENGUKUHAN P K P 1.8 – 999 . Pada prinsip self assessment beban pembuktian (bahwa pajak terutang yang telah dilaporkan adalah tidak benar) berada di pihak fiskus (Dirjen Pajak). 000 Kode WP Kode KPP Kode cabang Pengukuhan PKP adalah kewajiban bagi WP sebagai pengusaha yang MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 12 HALAMAN . yaitu 9 (sembilan) digit pertama merupakan Kode WP dan 6 (enam) digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan. 01. Pengertian NPWP dan Pengukuhan PKP. NPWP diberikan kepada WP Orang Pribadi atau Badan yang berdasarkan UU PPh dikenai kewajiban perpajakan baik kewajiban perpajakan atas dirinya sendiri ataupun kewajiban memungut atau memotong PPh pihak lain (withholding tax). PPN dan PPnBM). NPWP terdiri dari 15 (lima belas) digit. dan pelaporannya diserahkan sepenuhnya kepada WP serta tidak didasarkan pada SKP yang diterbitkan administrasi pajak.234.

2. meliputi pembayar pajak. orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri yang dapat HALAMAN 13 MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II . Fungsi Pengukuhan PKP selain dipergunakan untuk mengetahui identitas PKP yang sebenarnya. atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia. B. orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Dalam pasal 2 ayat (1) UU KUP dinyatakan bahwa : ”Setiap WP yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan WP dan kepadanya diberikan NPWP”. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sedangkan persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/ pemungutan sesuai UU PPh 1984 dan perubahannya. badan. juga berguna untuk melaksanakan hak dan kewajiban di bidang PPN dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM) serta untuk pengawasan administrasi perpajakan. Timbulnya kewajiban pajak subjektif sebagaimana diatur dalam UU PPh 1984 dapat diuraikan sebagai berikut : A. dimulai pada saat orang pribadi tersebut dilahirkan. D. C. orang pribadi sebagai subjek pajak dalam negeri. berada. WP adalah Orang Pribadi atau Badan. pemotong pajak. Yang dimaksud dengan persyaratan subjektif adalah sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam UU PPh 1984 dan perubahannya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) atau ekspor BKP yang atas penyerahan atau ekspor BKP tersebut terutang PPN sebagaimana ditentukan oleh UU PPN 1984. dan pemungut pajak. Yang wajib mendaftarkan diri dan kepadanya diberikan NPWP.

perseroan komanditer. organisasi massa. firma. atau organisasi lainnya. Sementara itu dalam Peraturan Menteri MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 14 HALAMAN . c) WP Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas. meliputi perseroan terbatas. Yang membedakan adalah. menggantikan yang berhak. WP yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif secara formal dijabarkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh Orang Pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. Dari uraian mengenai kewajiban pajak subjektif dalam UU PPh 1984 diketahui bahwa timbulnya kewajiban pajak subjektif berlaku bagi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. E. koperasi. apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). dana pensiun. dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut. persekutu an. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan BUT. organisasi sosial politik.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. perseroan lainnya. timbulnya kewajiban subjektif subjek pajak luar negeri bersamaan dengan timbulnya kewajiban pajak objektif (menjalankan usaha melalui BUT atau menerima/memperoleh penghasilan). yayasan. termasuk dalam pengertian bentuk badan lainnya adalah bentuk kerjasama operasi. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan.03/2008 adalah sebagai berikut : a) WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. b) WP Badan yaitu sekumpulan orang dan/atau modal yg merupakan kesatuan baik yg mela kukan usaha maupun yg tidak melakukan usaha. perkumpulan. kongsi. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 mengenai bentuk badan lainnya disinggung bahwa dalam rangka pengukuhan Pengusaha sebagai PKP.

Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup berpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta (PP Nomor 80 Tahun 2007).00 (enam ratus juta rupiah). tidak diatur mengenai kewajiban mendaftarkan diri bagi subjek pajak luar negeri. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean (Pasal 1 butir 4 UU KUP). kecuali pengusaha kecil tersebut memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. Yang wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP. Dalam UU PPN 1984 pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP yang tergolong pengusaha kecil tidak diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP. Dalam Pasal 1 butir 15 UU PPN 1984. wa jib melaporkan usahanya pada kantor DJP yg wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha. Dalam pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa : “Setiap WP sebagai Pengusaha yg dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 dan perubahannya. mengimpor barang. dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP”. PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan UU ini. 3.600.03/2008.000. Batasan Pengusaha Kecil berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK. melakukan usaha perdagangan. mengekspor barang. melakukan usaha jasa.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Keuangan Nomor 20/PMK. Kiranya menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan memenuhi persyaratan subjektif dalam Pasal 2 angka 1 UU KUP adalah persyaratan subjektif orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak dalam negeri. Dan memang demikian kelazimannya. Disamping itu dalam Pasal 3A ayat 1 UU PPN 1984 disebutkan bahwa. kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.03/2003 adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean. tidak termasuk Pengusaha Kecil. Warisan yang belum terbagi dalam kedudukannya sebagai Subjek Pajak menggunakan NPWP dari WP Orang Pribadi yang meninggalkan warisan tersebut. yang wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP selain pengusaha MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 15 HALAMAN .

jangka waktu pendaftaran dan pelaporan usaha diatur sebagai berikut : A. juga termasuk pengusaha yang melakukan ekspor BKP. wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama pada akhir bulan berikutnya. B. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lama akhir bulan berikutnya. Pengusaha Kecil. yang :  1. Berdasarkan PMK No. 4.03/2008. 2. WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas di MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 16 HALAMAN Jangka waktu pelaporan usaha : WP yg memenuhi ketentuan sebagai PKP. Jangka waktu pendaftaran : WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan  bebas dan WP Badan. atau saat usaha/pekerjaan bebas nyata-nyata mulai dilakukan. wajib melaporkan usahanya . 20/PMK. apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi PTKP.  untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP. memilih sebagai PKP. 5. a. Jangka waktu pendaftaran dan/atau melaporkan usaha. wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan. Tempat pendaftaran dan pelaporan usaha. WP orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan  pekerjaan bebas. atau tidak memilih sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu bulan dalam suatu tahun buku jumlah nilai peredaran bruto atas penyerahan BKP melampaui batasan yang ditentukan sebagai Pengusaha Kecil. Saat usaha mulai dijalankan adalah saat pendirian. b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN yang menyerah kan BKP atau JKP. WP mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal bagi WP Orang Pribadi dan tempat kedudukan bagi WP Badan atau ke KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

juga diwajibkan mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha WP dilakukan. yaitu WP orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat. Tempat pelaporan usaha.” (Pasal 2 ayat 3 huruf b UU KUP) WP Orang Pribadi pengusaha tertentu. atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam 2 (dua) atau lebih wilayah kerja KPP. “Kewajiban perpajakan bagi WP yang diterbitkan NPWP dan/atau yang MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 17 HALAMAN . A. telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP. bagi WP Orang Pribadi pengusaha tertentu. 6. Penerbitan NPWP dan/atau Pengukuhan PKP secara jabatan.” Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan dilakukan apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh Dirjen Pajak ternyata Orang Pribadi atau Badan atau Pengusaha tsb. misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan. Ketentuan mengenai penerbitan NPWP secara jabatan dan pengukuhan PKP secara jabatan diatur dalam Pasal 2 ayat (4) UU KUP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN beberapa tempat atau mempunyai tempat usaha yang berbeda alamat dengan tempat tinggal. selain mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat kegiatan usaha WP. c. tempat kedudukan. yang berbunyi : “Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau mengukuhkan PKP secara jabatan apabila WP atau PKP tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2). di samping wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal WP. B. Dalam hal tempat tinggal. WP sebagai PKP melaporkan usahanya ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha WP atau ke KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tempat pendaftaran WP Orang Pribadi pengusaha tertentu ”Dirjen Pajak dapat menetapkan tempat pendaftaran pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan. Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat WP terdaftar.

dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak. Sanksi administrasi adalah berupa bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. paling lama 5 (lima) tahun sebelum diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkannya sebagai PKP”. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 18 HALAMAN . sehingga dapat menimbul kan kerugian pada pendapatan negara.” Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun. (Pasal 2 ayat (4a) UU KUP Misalkan terhadap WP diterbitkan NPWP secara jabatan pada tahun 2008. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. maka kewajiban perpajakannya dihitung sejak tahun 2003 sepanjang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif berdasarkan data yang ada. bagian Tahun Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dikukuhkan sebagai PKP secara jabatan dimulai sejak saat WP memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Sanksi berkaitan dengan kewajiban mendaftarkan diri dan melaporkan usaha. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Sanksi berkaitan dengan tidak dipenuhinya kewajiban mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya dapat berupa sanksi administrasi atau sanksi pidana. Sanksi pidana diatur pada pasal 39 ayat 1 huruf a dan b yang berbunyi: “Setiap orang yang dengan sengaja : a. terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan (Pasal 39 ayat 2 UU KUP). 7. b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP. Dalam Pasal 39 ayat 3 dinyatakan bahwa setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya SKP KB sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 2 UU KUP.

WP Badan dalam rangka likuidasi atau pembubaran karena penghentian atau penggabungan usaha. 3) Wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan. permohonan penghapusan NPWP itu dianggap dikabulkan. 8.03/2008. diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh : 1) WP dan/atau ahli warisnya karena WP sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pengkreditan yang dilakukan. dan tidak menghilangkan kewajiban perpajakan yang harus dilakukan WP yang bersangkut an. sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. dan Dirjen Pajak harus menerbitkan surat keputusan penghapusan NPWP dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 19 HALAMAN . Berdasarkan Pasal 2 ayat 6 UU KUP dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. Penghapusan NPWP hanya ditujukan untuk kepentingan tata usaha perpajakan. atau 2) dianggap perlu oleh Dirjen Pajak untuk menghapuskan NPWP dari WP yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. WP BUT menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (7) UU KUP dinyatakan bahwa “Dirjen Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan penghapusan NPWP dalam jangka waktu 6 (enam) bulan untuk WP Orang Pribadi atau 12 (dua belas) bulan untuk WP Badan. Penghapusan NPWP bagi wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan dapat dilakukan dalam hal suami dari wanita tersebut telah terdaftar sebagai WP. penghapusan NPWP dilakukan apabila : A. Penghapusan NPWP adalah tindakan menghapus NPWP dari tata usaha KPP. atau 4) B.” Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan.

Selanjutnya pasal 2 ayat (9) UU KUP mengatakan “Dirjen Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan pencabutan pengukuhan PKP dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap”. antara lain karena : a) WP Orang Pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan serta tidak mempunyai ahli waris atau ahli waris tidak dapat ditemukan.Menkeu 20/2008). “Dirjen Pajak karena jabatan atau atas permohonan WP dapat melakukan pencabutan pengukuhan PKP”. Pencabutan Pengukuhan PKP. Pencabutan pengukuhan PKP dapat dilakukan karena jabatan atau atas permohonan WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pada ayat (3) berakhir (Per. maka permohonan Pencabutan Pengukuhan PKP dianggap dikabulkan dan surat keputusan mengenai Pencabutan PKP harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. Penghapusan NPWP dilakukan apabila utang pajak telah dilunasi atau hak untuk melakukan penagihan telah daluwarsa. atau  Sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai PKP atau termasuk PKP yang  jumlah peredaran dan/atau penerimaan brutonya untuk suatu tahun buku tidak melebihi batas jumlah peredaran dan/atau penerimaan bruto untuk Pengusaha Kecil. dan tidak menghilangkan kewajiban perpajakan yang harus dilakukan PKP ybs. (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 20 HALAMAN . (Pasal 2 ayat 8 UU KUP) Pencabutan Pengukuhan PKP hanya ditujukan untuk kepentingan tata usaha perpajakan. atau b) WP tidak mempunyai harta kekayaan. Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan. Pencabutan Pengukuhan PKP tersebut dapat dilakukan dalam hal : PKP pindah alamat ke wilayah kerja KPP lain. kecuali dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa utang pajak tersebut tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi.03/2008).

modal. selain dapat digunakan untuk menghitung besarnya MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 21 HALAMAN . Dengan demikian apabila pembukuan yang diselenggarakan tidak dapat digunakan untuk menghitung besarnya pajak yang terutang maka secara material pembukuan tersebut tidak sesuai dengan Pasal 28 UU KUP. yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut (Pasal 1 angka 29 UU KUP). penghasilan dan biaya. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta. Fungsi pembukuan adalah agar dari pembukuan tersebut dapat dihitung besarnya pajak yang terutang (Pasal 28 ayat 7 UU KUP). serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa. Berbeda dengan laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Dapat digunakan untuk menghitung besarnya pajak yang terutang adalah. kewajiban. Pengertian Pembukuan dan Pencatatan. laporan keuangan yang dihasilkan oleh pembukuan hanya berupa neraca dan laporan laba rugi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEGIATAN BELAJAR 3 PEMBUKUAN DAN PENCATATAN 1.

A. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 22 HALAMAN diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan . satuan mata uang Rupiah. pajak-pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. modal. perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku. dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. diselenggarakan dgn prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel  kas. Berbeda dengan pembukuan. harus  mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak. Yang Tidak Wajib Pembukuan. yang tidak wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan pencatatan adalah : 1) 2) WP Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Ketentuan mengenai pembukuan diatur dalam Pasal 28 UU KUP sbb : harus  mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang. C. WP Orang Pribadi yg melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dgn ketentuan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung peng hasilan neto dgn menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN). Ketentuan mengenai Pembukuan. wajib menyelenggarakan pembukuan.  angka Arab. Menurut pasal 28 ayat (2) UU KUP. serta penjualan dan pembelian. WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan WP Badan di Indonesia. harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin. Yang Wajib menyelenggarakan Pembukuan. (Pasal 28 ayat {1} UU KUP) B. penghasilan dan biaya.  kewajiban. dan/atau penghasilan yang dikenai pajak yang bersifat final. pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PPh. penghasilan yang bukan objek pajak. tetapi Wajib melakukan Pencatatan.

Stelsel Kas dan Stelsel Akrual Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. 2) tahun buku. pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain  Rupiah dapat diselenggarakan oleh WP setelah mendapat izin Menteri Keuangan. Dalam stelsel kas murni. D. Menurut stelsel kas. E. Prinsip Taat Asas. Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya dalam penerapan : 1) pengakuan penghasilan. 3) metode penilaian persediaan. penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan apabila benar-benar telah diterima secara tunai dalam suatu periode tertentu serta biaya baru dianggap sebagai biaya apabila benar-benar telah dibayar secara tunai dalam suatu periode. Termasuk dalam pengertian stelsel akrual adalah pengakuan penghasilan berdasarkan metode persentase tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai dalam bidang konstruksi dan metode lain yang dipakai dalam bidang usaha tertentu seperti build operate and transfer (BOT) dan real estat. hiburan. penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pada saat pembayaran dari pelanggan diterima dan biaya-biaya MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 23 HALAMAN . tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar tunai.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. Jadi. dan restoran yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung lama. Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa. Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran laba atau rugi. misalnya transportasi. atau 4) metode penyusutan dan amortisasi.

pemakaian stelsel kas dapat menyesatkan penghitungan penghasilan. tanggal 28 Desember 2007. F. Oleh karena itu. b) WP dalam rangka Kontrak Karya yg beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah RI sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas bumi. untuk penghitungan PPh dalam memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut . artinya besar penghasilan dari tahun ke tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang selain rupiah. c) WP Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan HALAMAN 24 MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II . Dengan cara ini.” Aturan pelaksanaannya dijabarkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 196/PMK. Pasal 28 ayat 8 UU KUP menyatakan bahwa:”Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh WP setelah mendapat izin Menteri Keuangan.03/2007. biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi. dan biaya operasi lain dibayar. 1) Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan. baik yang tunai maupun yang bukan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ditetapkan pada saat barang. WP dimaksud meliputi : a) WP dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing. 3) Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten). Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan. 2) Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi. jasa. Dengan demikian penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran. yaitu sbb : 1) WP dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan satuan mata uang selain Rupiah yaitu Bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat .

Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang memerlukan reksadana dalam denominasi satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal –Lembaga Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar modal. 3) Izin tertulis dapat diperoleh WP dengan mengajukan surat permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi. 5) Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan belum ada keputusan maka permohonan dianggap diterima dan Kepala Kantor Wilayah atas nama Menkeu menerbitkan keputusan pemberian izin. atau WP yg berafiliasi langsung dgn perusahaan induk di luar negeri. G. g) yaitu perusa haan anak (subsidiary company) yg dimiliki dan/atau dikuasasi oleh perusaha an induk (parent company) di luar negeri yg 2) mempunyai hubungan istimewa. kecuali bagi WP dalam rangka Kontrak Karya atau WP dalam rangka Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Ketentuan mengenai pencatatan dalam pasal 28 UU KUP diatur sbb : MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 25 HALAMAN . WP yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di bursa efek luar negeri. Penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar AS oleh WP harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Menteri Keuangan. atau b) sejak tanggal pendirian bagi WP baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak pertama. 4) Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas permohonan dimaksud paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari WP diterima secara lengkap. paling lambat 3 (tiga) bulan : a) sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar AS tersebut dimulai. Ketentuan mengenai pencatatan. d) e) f) B U T.

3. harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin. penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang dikenai pajak yang bersifat final. catatan. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-line harus dilakukan dengan memperhatikan faktor keamanan. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuai dengan ketentuan yang mengatur tentang batas waktu daluwarsa penyidikan tindak pidana di bidang perpajak an. dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia. catatan. Sanksi berkaitan dengan kewajiban pembukuan dan pencatatan. catatan. 2. satuan mata uang Rupiah. yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal WP Orang Pribadi. Penyimpanan buku. Dalam pasal 28 ayat 11 UU KUP tentang penyimpanan dokumen pembukuan menyebutkan bahwa : “Buku. Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak terutang.” Kurun waktu 10 (sepuluh) tahun penyimpanan buku. kelayakan.  angka Arab. dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. dan kewajaran penyimpanan. Penyimpanan Dokumen pembukuan. atau di tempat kedudukan WP Badan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN harus  diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. Sanksi berkaitan dengan kewajiban pembukuan dan pencatatan terdiri dari: MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 26 HALAMAN .

tidak atau kurang dipungut. Sanksi Pidana. atau 100 % (seratus persen) dari PPN dan PPn BM yang tidak atau kurang dibayar. pencatatan. Sanksi Administrasi. atau  tidak menyimpan buku. atau sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. atau  tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia. 100 % (seratus persen) dari PPh yang tidak atau kurang dipotong. atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. atau dokumen lain.   B. Sanksi pidana berkaitan dengan tidak dipenuhinya kewajiban menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan terdapat dalam Pasal 39 ayat 1 huruf f. dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor. tidak atau kurang disetor. catatan. tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku. maka atas kekurangan pembayaran pajak tersebut ditagih dengan SKP KB ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar :  50 % (lima puluh persen) dari PPh yang tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN A. Pasal 13 ayat 1 dan ayat 3 UU KUP menyatakan bahwa apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 (mengenai pembukuan) atau Pasal 29 (mengenai pemeriksaan) tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 27 HALAMAN . huruf g dan huruf h dengan ancaman pidana sebagai berikut: ”Setiap orang yang dengan sengaja :  memperlihatkan pembukuan. catatan. terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan (Pasal 39 ayat 2 UU KUP). atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (11). atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun.

2. e-SPT. atau b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEGIATAN BELAJAR 4. SPT Masa yang meliputi : 1. dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan per-UU-an Pajak. SPT adalah surat yang oleh WP digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. SPT Tahunan PPh. E-SPT adalah data SPT WP dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh WP dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh DJP. 1. Aplikasi e-SPT MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 28 HALAMAN . formulir kertas (hardcopy). SURAT PEMBERITAHUAN (SPT). SPT terdiri dari : a. SPT Masa PPN. SPT Masa Pemungut PPN SPT tersebut berbentuk: a. dan 3. objek pajak dan/atau bukan objek pajak. Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT). b. SPT Masa PPh.

lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT. dan jelas.2007 diatur : MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 29 HALAMAN .03/2007 tgl 28-12. 2. Dalam PMK No. dan c. benar adalah benar dalam perhitungan. b. dan jelas dalam mengisi SPT adalah : a. dan jelas tersebut wajib disampaikan ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh DJP. dalam penulisan. SPT yg telah diisi dgn benar. angka Arab. WP mengambil sendiri SPT ditempat yg ditetapkan oleh Dirjen (pada kantor DJP atau tempat lain yg diperkirakan mudah terjangkau oleh WP) atau mengambil dgn cara lain yg tata cara pelaksanaannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin. objek pajak dan/atau bukan objek pajak. Kewajiban menyampaikan SPT. jelas melaporkan asal-usul / sumber objek pajak dan unsur lain yg hrs diisikan dlm SPT. dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam SPT tercantum dalam Pasal 3 ayat 1 UU KUP yang berbunyi sbb : “Setiap WP wajib mengisi SPT dengan benar.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN adalah aplikasi dari DJP yang dapat digunakan WP untuk membuat e-SPT. satuan mata uang Rupiah. dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Pasal 3 ayat (2) UU KUP menyatakan. lengkap. 181/PMK. Kewajban melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. dan kewajiban penyampaian SPT oleh Pemotong atau Pemungut Pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak.” Yang dimaksud dengan benar. Tempat dan cara pengambilan SPT. lengkap. 3. termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan UU Pajak. lengkap.

Dalam hal WP menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menanda tangani SPT. dan sebagainya walaupun orang tersebut tidak tercantum namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan. 4. atau tanda tangan elektronik atau digital. selain diatur dalam Pasal 3 ayat 1 UU KUP. tanda tangan stempel. yang semuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan biasa. Penandatanganan SPT oleh WP / Kuasa WP dapat dilakukan secara biasa. dan menandatanganinya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil secara langsung di  tempat yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. Tanda MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 30 HALAMAN . namun untuk penandatangan SPT sebaiknya tetap orang yang namanya tercantum dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan. (Pasal 4 ayat 3 UU KUP). Ketentuan mengenai orang yang tidak tercantum namanya dalam akte pendirian beserta perubahannya yang dianggap sebagai pengurus tepat diberlakukan bagi kewajiban perpajakan lainnya seperti misalnya untuk kepentingan penagihan pajak. SPT yang disampaikan wajib ditandatangani oleh WP atau Kuasa WP. dan termasuk pula bagi komisaris dan pemegang saham mayoritas atau pengendali. menandatangani cek.” Bagi WP Badan yang berhak menandatangani SPT tersebut adalah pengurus atau direksi (Pasal 4 ayat 2 UU KUP). Mengenai kewajiban WP menandatangani SPT. lengkap. Penandatangan SPT. misalnya berwenang menandatangani kontrak dengan pihak ketiga. surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada SPT. SPT berbentuk e-SPT dapat diambil secara langsung oleh WP dengan cara  mengunduh format SPT atau aplikasi e-SPT dari situs DJP. juga disebut dalam Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi bahwa:”WP wajib mengisi dan menyampaikan SPT dengan benar. Meskipun yang dimaksud dengan pengurus sebagaimana diuraikan dalam penjelasan Pasal 32 ayat 4 UU KUP adalah termasuk orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang dalam menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan perusahaan. jelas.

dengan cara lain seperti: melalui perusahaan jasa ekspedisi/kurir dengan bukti pengiriman surat. (PMK No.03/2007) 6. c. atau  e-Filing melalui ASP (Penyedia Jasa Aplikasi) dan diberikan Bukti  Penerimaan Elektronik. atau c) SPT Tahunan PPh WP Badan. Batas waktu penyampaian SPT pada pasal 3 ayat 3 UU KUP diatur sbb : a) SPT Masa. E-Filing adalah cara penyampaian SPT / Perpanjangan SPT Tahunan yg dilakukan secara on-line dan real time melalui Application Service Provider (ASP). memiliki hubungan langsung atau terasosiasi pada suatu informasi elektronik lain termasuk sarana administrasi perpajakan yang ditujukan oleh WP atau kuasanya untuk menunjukan identitas dan status yang bersangkutan. Menkeu.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN tangan elektronik atau tanda tangan digital adalah informasi elektronik yang dilekatkan. 181/PMK. bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak. b. 7. atau MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 31 HALAMAN . paling lama 4 bulan setelah akhir Tahun Pajak. paling lama 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak. SPT tidak ditandatangani. SPT tidak dilampiri keterangan dan/atau dokumen sesuai dengan Per. Dalam Pasal 3 ayat 7 UU KUP dinyatakan bahwa. dan WP telah ditegur secara tertulis. secara langsung dan diberikan tanda penerimaan sirat. Batas waktu penyampaian SPT. Cara penyampaian SPT. SPT dianggap Tidak Disampaikan. atau c. b) SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi. Penyampaian SPT oleh WP dapat dilakukan : a.03/2007) 5. 181/PMK. b. SPT lebih bayar disampaikan telah lewat 3 tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak. (PMK No. paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak. SPT dianggap tidak disampaikan apabila: a. melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

{Pasal 4 ayat (4b) UU KUP} c. 181/PMK. merupakan satu kesatuan yg tidak terpisahkan. SPT tersebut selanjutnya dianggap sebagai data perpajakan. 182/PMK.03/2007 tentang “Bentuk dan Isi SPT. SPT dianggap tidak lengkap dan tidak jelas. serta Tata Cara Pengambilan. sehingga SPT dianggap tidak disampaikan. SPT Tahunan PPh WP yg wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dgn laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yg diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak. Dalam Pasal 3 ayat (3a) dan (3b) ditetapkan bahwa WP dengan kriteria tertentu dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam 1 (satu) SPT Masa. WP dengan kriteria tertentu dan tata cara pelaporan diatur dengan atau berdasarkan PMK No. surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada SPT. Penandatanganan. Mengenai dokumen yang harus dilampirkan pada SPT dalam PMK No.  SPT harus dilampiri dgn keterangan dan/atau dokumen sesuai dengan UU Pajak. 4 ayat (4)}. Pengisian. SPT disampaikan setelah Dirjen Pajak melakukan pemeriksaan / menerbitkan SKP. Apabila SPT dianggap tidak disampaikan. Dalam UU KUP yang pasti harus dilampirkan dalam SPT adalah sbb: a. b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN d. Dalam hal WP menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani SPT. dan Penyampaian SPT” dinyatakan bahwa :  SPT terdiri dari SPT Induk dan Lampiran. Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak dilampirkan pada SPT. (Pasal 4 angka 3 UU KUP) 8. yang meliputi: MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 32 HALAMAN . {Ps. WP dgn Kriteria Tertentu yg dpt melaporkan Beberapa Masa Pajak dalam Satu SPT Masa.  Ketentuan mengenai dokumen yg harus dilampirkan dlm SPT diatur dgn Peraturan DJP.03/2007 sbb : 1) WP dengan kriteria tertentu dapat menyampaikan 1 (satu) SPT Masa untuk beberapa Masa Pajak sekaligus. Dirjen Pajak wajib memberitahukan kepada WP (Pasal 3 ayat 7a UU KUP).

Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 dan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi yaitu WP Orang Pribadi yang dalam satu MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 33 HALAMAN . Berdasarkan PMK No. c> Apabila berdasarkan penelitian WP tidak memenuhi kriteria.000. atau 2> WP Badan yang harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a> modal WP 100% (seratus persen) dimiliki oleh W N I. WP PPh tertentu yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT.000. 2) Tata Cara Pelaporan a> WP yang termasuk dalam kriteria tertentu yang bermaksud melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa harus menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Dirjen Pajak paling lambat 2 (dua) bulan sebelum dimulainya masa pajak pertama yang oleh WP akan disampaikan dalam SPT Masa yang meliputi beberapa Masa sekaligus.600.(enam ratus juta rupiah).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. terdiri dari: 1> WP Orang Pribadi yang menjalankan kegiatan usaha atau melakukan pekerjaan bebas. yang harus memenuhi kriteria sbb : a> WP Orang Pribadi dalam negeri.000. atau di daerah tertentu. WP Pajak sebelumnya adalah tidak WP berlokasi lebih yg di dari tempat daerah Rp.000.03/2007 yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT dapat diuraikan sebagai berikut: 1. 183/PMK. Dirjen Pajak memberitahukan secara tertulis kepada WP. 9.. b> Terhadap pemberitahuan secara tertulis dilakukan penelitian.900.-. b> menerima atau memperoleh peredaran usaha dalam Tahun b. tinggal/kedudukan/kegiatan usahanya tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. WP usaha kecil. dan b> menerima atau memperoleh peredaran usaha dari kegiatan usaha atau penerimaan bruto dari pekerjaan bebas dalam Tahun Pajak sebelumnya tidak lebih dari Rp.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi PTKP sebagaimana dimaksud dalam UU PPh. 2. Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 yaitu WP Orang Pribadi yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas. 10. Sanksi karena tidak menyampaikan SPT. Sanksi bagi WP yang tidak menyampaikan SPT, dapat berupa sanksi administrasi ataupun sanksi pidana. Sanksi administrasi dapat berupa denda sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU KUP atau berupa kenaikan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 3 UU KUP. Sanksi pidana dapat berupa kurungan atas tindak pidana kealpaan sebagaimana diatur dalam Pasal 38 UU KUP ataupun penjara atas tindak pidana kesengajaan sebagaimana diatur dalam Pasal 39 UU KUP. A. Surat Teguran atas SPT yang tidak disampaikan. Apabila SPT tidak disampaikan sesuai batas waktu yang ditentukan atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT Tahunan, dapat diterbitkan Surat Teguran (Pasal 3 ayat 5a UU KUP). Penerbitan Surat Teguran, disamping merupakan bentuk pembinaan terhadap WP, juga merupakan syarat bagi dikenainya WP yang bersangkutan dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat 1 huruf b dan Pasal 13 ayat 3 UU KUP. B. Sanksi administrasi berupa denda. Pasal 7 ayat (1) UU KUP menyatakan apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar: Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN,  Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya,  Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Badan  Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Orang  Pribadi. Ayat (2) menyatakan bahwa “sanksi administrasi berupa denda diatas tidak dilakukan terhadap”:

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 34

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

a. WP Orang Pribadi yang telah meninggal dunia; b. WP Orang Pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas; c. WP Orang Pribadi yg berstatus sebagai W N A yg tidak tinggal lagi di Indonesia; d. BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia; e. WP Badan yg tidak melakukan usaha lagi tetapi belum bubar sesuai dgn ketentuannya f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi; g. WP yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Per. Menkeu; atau h. WP lain yg diatur dengan atau berdasarkan PMK. Yg dimaksud dgn WP lain tersebut pada huruf h berdasarkan PMK No. 186/PMK.03/2007 adalah WP yg tidak dapat menyampaikan SPT dalam jangka waktu yg telah ditentukan karena keadaan antara lain : a. kerusuhan massal; b. kebakaran; c. ledakan bom atau aksi terorisme; d. perang antar suku; atau e.

kegagalan sistem komputer administrasi penerimaan negara atau perpajakan. Penetapan WP tersebut dilakukan dengan Keputusan Dirjen Pajak. C. Sanksi administrasi berupa kenaikan. Sanksi administrasi berupa kenaikan dapat dikenakan melaui penerbitan SKP KB apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya dan setelah ditegur secara tertulis, tetap tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran (Pasal 13 ayat 1 huruf b UU KUP). Dari Jumlah pajak dalam SKP KB yang diterbitkan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sesuai dengan Pasal 13 ayat 3 UU KUP. D. Sanksi pidana kurungan. Pidana kurungan dalam Pasal 38 UU KUP dikenakan terhadap setiap orang yang karena kealpaannya tidak menyampaian SPT. Pasal 38 UU KUP tersebut berbunyi:” Setiap orang yang karena kealpaannya: a. tidak menyampaikan SPT; atau b. menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar
MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 35 HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yg isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 bulan atau paling lama 1 tahun.” Yang dimaksud dengan perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A adalah “WP yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tidak dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan oleh WP dan WP tersebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200 % dari jumlah pajak yg kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan SKP KB”.

E. Sanksi pidana penjara. Pasal 39 ayat 1 huruf c dan d UU KUP menyatakan ”Setiap orang yang dengan sengaja: c. tidak menyampaikan SPT; d. menyampaikan SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, terkena sanksi pidana antara 6 bulan s/d 6 tahun dan denda antara 2 s/d 4 kali. 11. Hak WP berkaitan dengan penyampaian SPT. Berkaitan dengan kewajiban melaporkan penghitungan dan/atau

pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan melalui SPT, WP mempunyai hak-hak sbb : 1. Memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan 2. Membetulkan SPT 3. Mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT A. Memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT. Hak WP untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan dinyatakan dalam Pasal 3 ayat 4 UU KUP yg berbunyi: “WP dapat
MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 36 HALAMAN

Dalam PMK No. Hak ini diperlukan apabila WP baik Orang Pribadi maupun Badan ternyata tidak dapat menyampaikan SPT dalam jangka waktunya karena luasnya kegiatan usaha dan masalah-masalah teknis penyusunan laporan keuangan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 37 HALAMAN . 5) Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yg tidak memenuhi syarat. 4) Cara penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT sama dgn cara penyampaian SPT dan diberikan tanda penerimaan surat atau Bukti Penerimaan Elektronik. dan Dirjen Pajak wajib memberitahukannya kepada WP ybs.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan PPh sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dgn cara lain kepada Dirjen Pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan PMK”.03/2007 hal ini diatur sbb : 1) Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hardcopy) atau dalam bentuk data elektronik (dari aplikasi yang dibuat oleh Dirjen Pajak). 3) Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan wajib ditandatangani oleh WP atau Kuasa WP. Ketentuan sebelumnya melalui prosedur permohonan. dan  SSP sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang  terutang. sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan berakhir. bukan Pemberitahu an Perpanjangan SPT. dengan dilampiri : penghitungan sementara pajak terutang dalam 1 (satu) Tahun  Pajak yang batas waktu penyampaiannya diperpanjang. atau sebab lainnya sehingga sulit untuk memenuhi batas waktu penyelesaian dan memerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah ditentukan. 181/PMK. laporan keuangan sementara. 2) Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dibuat secara tertulis dan disampaikan ke KPP. Hak memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan ini berguna bagi WP untuk menghindari sanksi administrasi karena melakukan pelanggaran terlambat menyampaikan SPT Tahunan.

20.00 = Rp. Dari kasus ini PT ABC dikenakan bunga selama 2 bulan (1 Mei 2009 s/d 28 Juni 2009) atau sebesar : 2% x 2 x Rp. Pasal 8 ayat 1 UU KUP menyatakan bahwa:”WP dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPT yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis. Pembetulan SPT merupakan hak WP dalam hal terdapat kekeliruan pengisian SPT yang sudah disampaikan. 1. atas kekurangan pembayaran pajak tersebut dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari saat berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b dan huruf c sampai dengan tanggal dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Akibat administratif penundaan penyampaian SPT Tahunan. SK Keberatan.” Contoh : PT ABC setelah menyampaikan pemberitahuan tertulis menunda jangka waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2008 (Tahun Takwim) sampai dengan tanggal 30 Juni 2009 dengan perhitungan sementara pajak terutang sebesar Rp100juta dan kredit pajak Rp80juta.000. PT ABC menyampaikan SPT sesungguhnya pada tanggal 30 Juni 2009 dengan jumlah pajak yang terutang sebesar Rp120juta. Kekeliruan pengisian SPT bisa juga disebabkan karena kekeliruan kompensasi kerugian sebagai akibat diterbitkannya SKP. SK Pembetulan. dengan syarat Dirjen Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. Ketentuan mengenai Pembetulan SPT. Kekurangan pajak (PPh Pasal 29) sebesar Rp20juta dilunasi pada tanggal 25 April 2009. Pasal 19 ayat 3 UU KUP menyebutkan“Dalam hal WP diperbolehkan menunda penyampaian SPT Tahunan dan ternyata penghitungan sementara pajak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya terutang. atau Putusan Peninjauan Kembali.000. Kekurangan pembayaran dilunasi tanggal 28 Juni 2004.” Pasal 8 ayat 1a UU KUP MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 38 HALAMAN . dengan syarat belum dilakukan pemeriksaan.00 B. Pembetulan dilakukan antara lain untuk menghindari sanksi administrasi berupa bunga karena pemeriksaan pajak.800.000. Membetulkan SPT. Putusan Banding.

pegawai. Yg dimaksud dengan daluwarsa penetapan adalah 5 tahun setelah  saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. pembetulan SPT harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Sanksi Administratif akibat Pembetulan SPT Tahunan. Pasal 8 ayat 2a UU KUP menyatakan ”Dalam hal WP membetulkan sendiri SPT Masa yg mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar.” Penjelasan dari ayat tersebut dapat diuraikan sbb: Pernyataan tertulis dalam Pembetulan SPT dilakukan dengan cara  memberi tanda pada tempat yang telah disediakan dalam SPT yang menyatakan bahwa WP yang bersangkutan membetulkan SPT (PP Nomor 80 Tahun 2007). atau Tahun Pajak. atau anggota keluarga yang telah dewasa dari WP. kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. bagian Tahun Pajak. 2.” 3. kuasa.” Contoh : PT ABC membetulkan sendiri SPT Masa PPN Masa Januari MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 39 HALAMAN . kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. wakil. Yang dimaksud dengan “mulai melakukan tindakan pemeriksaan”  adalah pada saat Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak (SP3) disampaikan kepada WP. dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran. dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal pembayaran. Sanksi Administrasi akibat Pembetulan SPT Masa. Pasal 8 ayat 2 UU KUP menyebutkan ”Dalam hal WP membetulkan sendiri SPT Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menyatakan:”Dalam hal pembetulan SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan rugi atau lebih bayar.

000.00 Pembetulan SPT karena Kompensasi Kerugian. atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak sebelumnya.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2008 pada tanggal 20 November 2008. atau Putusan Peninjauan Kembali dalam penerbitan SKP. Dirjen Pajak  memperhitungkan rugi fiskal menurut SKP. SK Pembetulan.000. dalam hal WP menerima SKP.000. atau Peninjauan Kembali. jangka waktu 3 (tiga) bulan dihitung sejak tanggal diterimanya SKP. yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam SPT Tahunan yang akan dibetulkan tersebut. SK Pembetulan. SK Keberatan. SK Pembetulan. dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima SKP. SK Keberatan.6. Akibatnya PT ABC dikenai bunga 10 bulan (16 Februari 2008 s/d 18 Nopember 2008) atau sebesar : 2% x 10 x Rp30. Jangka waktu 3 bulan untuk melakukan pembetulan SPT Tahunan dihitung  sejak stempel pos pengiriman. Dalam hal WP tidak membetulkan SPT Tahunan dimaksud. dibetulkan menjadi jumlah Pajak Keluaran yg seharusnya dipungut sebesar Rp. SK Keberatan. sebagai berikut : Pembetulan harus dilakukan paling lama 3 (tiga) bulan setelah menerima  SKP. SK Pembetulan. SK Keberatan.30juta dibayar pada tanggal 18 November 2008. Putusan Banding. semula menyatakan jumlah Pajak Keluaran yg harus dipungut sendiri sebesar Rp. Pasal 8 ayat 6 UU KUP menyatakan bahwa:”WP dapat membetulkan SPT Tahunan yang telah disampaikan. Kekurangan pembayar an pajak Rp. SK Keberatan.00 = Rp. Putusan Banding. Putusan Banding. Apabila WP tidak membetulkan SPT Tahunan dalam jangka waktu 3 (tiga)  MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 40 HALAMAN Putusan .80juta. SK Pembetulan. atau dalam hal diterima secara langsung.” Penjelasan atas ketentuan tersebut dinyatakan dalam PP Nomor 80 Tahun 2007.130juta dan kredit pajak tetap. dengan syarat Dirjen belum melakukan tindakan pemeriksaan. Putusan Banding. Putusan Banding. atau Putusan Peninjauan Kembali oleh WP.100juta dan kredit pajak Rp. atau Putusan Peninjauan Kembali.

000.000.000.000. Contoh : PT A menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun 2008 yang menyatakan: Penghasilan Neto sebesar Rp. terhadap ketidak benaran perbuatan WP tersebut tidak akan dilakukan penyidikan.000. Putusan Banding.000.70juta) C.150. Kompensasi kerugian berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun 2007sebesar Penghasilan Kena Pajak Rp.00 Dengan demikian penghasilan kena pajak dari SPT yang semula Rp. 1. Mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT adalah hak WP.200. 50.000.200juta – Rp.00.00 (-) Rp.130juta (Rp.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bulan sebagaimana dimaksud.000. apabila WP dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa Ketidakbenaran Pengisian SPT karena MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 41 HALAMAN . Pasal 8 ayat 3 menyatakan bahwa:”Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksa an.00 (-) Rp. dan pada tgl 6 Januari 2010 diterbit kan SKP yang menyatakan rugi Rp.130.150juta) setelah pembetulan menjadi Rp.50juta (Rp.000. Mengungkapkan Kealpaan. 70. SK Keberatan. tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38.000. Rp. Berdasarkan SKP tsb Dirjen Pajak akan mengubah perhitungan Penghasilan Kena Pajak thn 2008 menjadi sbb: Penghasilan Neto sebesar Rugi menurut SKP tahun 2007 sebesar Penghasilan Kena Pajak Rp. Dirjen Pajak menghitung kembali kompensasi kerugian dalam SPT Tahunan secara jabatan berdasarkan rugi fiskal sesuai dengan SKP.200juta – Rp. Mengungkapkan Keidakbenaran Pengisian SPT.00 Terhadap SPT Tahunan PPh thn 2007 dilakukan pemeriksaan.70juta. atau Putusan Peninjauan Kembali.000.00. untuk menghindar dari kemungkinan dikenai sanksi/hukuman pidana pajak.200. SK Pembetulan.000.

 dan SSP bukti pembayaran sanksi administrasi denda  sebesar 150 %. atau b.” b) Pernyataan tertulis harus ditandatangani oleh WP dan dilampiri dengan : Penghitungan kekurangan pembayaran pajak yg benar.  dgn format SPT.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar”. didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. 80 Tahun 2007 sbb : a) Ketidakbenaran yang dilakukan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 adalah “Setiap orang yang karena kealpaannya: a. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. c) Terhadap WP yg telah mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya administrasinya dan sekaligus akan melunasi dilakukan kekurangan penyidikan. SSP bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak. d) Apabila telah dilakukan tindakan penyidikan dan mulainya penyidikan tersebut diberitahukan kepada Penuntut Umum. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 42 HALAMAN . atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. pembayaran pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi tidak sepanjang tidak ditemukan data yang menyatakan lain dari pengungkapan ketidakbenaran perbuatan tersebut. menyampaikan SPT. tidak menyampaikan SPT. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan yang kerugian pertama pada kali pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A. Ketentuan ini dijelaskan oleh PP No.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

kesempatan untuk membetulkan sendiri sudah tertutup bagi WP yang bersangkutan. 2. Mengungkapkan kesalahan pengisian SPT setelah dilakukan pemeriksaan. Pasal 8 ayat 4 UU KUP menyatakan bahwa:”Walaupun Dirjen Pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat Dirjen Pajak belum menerbitkan SKP, WP dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidak benaran pengisian SPT yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya, yang dapat mengakibatkan: a. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil; b. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar; c. jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil; atau d. jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan.” Mengenai sanksinya diatur dalam Pasal 8 ayat 5 yang menyatakan bahwa:”Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, harus dilunasi oleh WP sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan.” PP Nomor 80 Tahun 2007 menjelaskan lebih lanjut Pasal 8 ayat (4) UU KUP sbb : a) Laporan tersendiri dimaksud harus ditandatangani oleh WP dan dilampiri dengan :  Penghitungan pajak yang kurang dibayar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dalam format SPT;  SSP bukti pelunasan pajak yang kurang dibayar; dan  SSP bukti pembayaran sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50 %. Untuk membuktikan kebenaran pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT, pe meriksaan tetap dilanjutkan dan dari hasil pemeriksaan diterbitkan SKP dgn

b)

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 43

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

c)

mem pertimbangkan laporan tersendiri tsb. beserta pelunasan pajak yang telah dibayar. Dalam hal hasil pemeriksaan membuktikan bahwa pengungkapan ketidak benaran pengisian SPT yang dilakukan oleh WP ternyata tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, SKP diterbitkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tersebut. Apabila hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti dgn penerbitan SKP KB, SSP bukti pelunasan pajak dan pelunasan sanksi tidak dihitung sebagai kredit pajak. Pelunasan pajak yang kurang dibayar dan sanksi administrasi berupa kenaikan di atas dapat diperhitungkan sebagai pembayaran atas surat ketetapan pajak hasil pemeriksaan berdasarkan permohonan WP.

d)

e)

KEGIATAN BELAJAR 5 PEMBAYARAN PAJAK

Pembayaran pajak terutang adalah kewajiban yang melekat pada diri setiap WP yang bertanggungjawab terhadap pembayarannya ke Kas Negara, baik sebagai pemikul beban pajak maupun sebagai pemotong atau pemungut pajak. 1. Kewajiban dan Sarana Pembayaran Pajak. Setelah diketahui adanya pajak terutang (objek pajak) dan pihak yang bertanggung jawab terhadap pembayarannya ke Kas Negara (subjek pajak), kewajiban berikutnya adalah pembayaran dan penyetoran pajak. Kewajiban membayar pajak yang terutang dinyatakan dalam Pasal 10 ayat 1 UU KUP yang berbunyi: “WP wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan meng gunakan SSP ke kas negara melalui tempat pembayaran yg diatur dengan atau berdasarkan PMK”. Sarana yang dipakai untuk pembayaran dan penyetoran pajak adalah SSP. SSP

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 44

HALAMAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. SSP berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi, dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara {NTPN}. (Pasal 10 ayat 1a UU KUP). 2. Jatuh Tempo Pembayaran Pajak dan Sanksi Administrasi Atas

Keterlambatannya. A. 1) Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran/Penyetoran Pajak Suatu Saat/Masa Pajak. Berdasarkan Pasal 9 ayat 1 UU KUP, tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak ditentukan oleh Menteri Keuangan, paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak berikut: No
1.

atau

berakhirnya

Masa

Pajak.

Berdasarkan

PMK

No.

184/PMK.03/2007, tanggal 28 Desember 2007 ditentukan sebagai Jenis pajak
PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong Pajak PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh Pemotong PPh PPh Pasal 25

Jatuh tempo
Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 15 bulan

2.

3.

4.

5.

6.

7.

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 45

HALAMAN

13. 10. PPh Pasal 22. PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar minyak. 12. dan pelumas PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh WP badan tertentu sebagai Pemungut Pajak PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerin tah yang ditunjuk Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Paling lama tanggal 7 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 46 HALAMAN . gas. 14.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 8. PPh Pasal 22. harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor Jangka waktu 1 (satu hari kerja) setelah dilakukan pemungutan pajak Pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara atau belanja Daerah. dan pelumas kepada penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh WP badan yang bergerak dalam bidang produksi bahan bakar minyak. gas. dengan SSP atas nama rekanan dan ditandatangani oleh bendahara Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir 11. PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut Ditjen Bea dan Cukai PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara berikutnya setelah Masa Pajak berakhir Dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan. PPN dan PPnBM atas impor 9.

000.000. Contoh: Angsuran masa PPh Pasal 25 Tahun 2008 sejumlah Rp10juta per bulan. Termasuk hari libur nasional adalah hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sanksi administrasi apabila pembayaran atau penyetoran dilakukan setelah tanggal jatuh tempo seperti tsb diatas. Pembayaran Masa selain PPh Pasal 25 bagi WP dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) UU KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa Paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masingmasing jenis pajak Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional.200.00 = Rp.000. PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk PPh Pasal 25 bagi WP dengan kriteria tertentu dimaksud melaporkan sebagaimana KUP yang Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir 16.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 15. 2) Sanksi Administrasi Atas Keterlambatan Pembayaran Masa. Angsuran Masa Pajak Mei Tahun 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggal 19 Juni 2008. Tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan STP dengan sanksi bunga 1 bulan (15 Juni s/d 18 Juni) atau sebesar : 1x 2% x Rp. pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. (Pasal 9 ayat 2a UU KUP).10. adalah berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran.00 MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 47 HALAMAN . dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan. Paling lama pada akhir Masa Pajak berakhir dalam Pasal 3 ayat (3b) UU beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa 17.

serta Putusan Peninjauan Kembali. Putusan Banding serta Putusan Peninjauan Kembali. Pelunasan pajak yang masih harus dibayar berdasarkan STP. Jatuh tempo pembayaran kekurangan pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh harus dibayar lunas sebelum SPT PPh tsb. b> menerima atau memperoleh peredaran usaha dalam Tahun MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 48 HALAMAN .” Bagi WP usaha kecil dan WP di daerah tertentu. Dalam PMK No. SKP KB. SKP KB. 2. harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. 187/PMK. SK Pembetulan. dan SK Keberatan. jangka waktu pelunasan tersebut dapat diperpanjang paling lama menjadi 2 (dua) bulan yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan PMK (Pasal 9 ayat 3a UU KUP). yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. SK Pembetulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN B. Putusan Banding. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan (Pasal 9 ayat 2b UU KUP). Dalam Pasal 9 ayat 3 UU KUP ditetapkan bahwa:” STP. disampaikan (Pasal 9 ayat 3 UU KUP). SKP KBT. dan b> Menerima atau memperoleh peredaran usaha dari kegiatan usaha atau menerima penerimaan bruto dari pekerjaan bebas dalam Tahun Pajak sebelumnya tidak lebih dari Rp. Pembayaran Kekurangan Pajak Terutang Berdasarkan SPT Tahunan PPh. WP Badan dengan kriteria sebagai berikut: a> modal WP Badan 100% dimiliki oleh WNI.03/2007. WP Orang Pribadi usaha kecil dengan kriteria sbb: a> WP Orang Pribadi dalam negeri. batasan WP usaha kecil ditentukan sbb : 1. serta SKP KBT.600juta (enam ratus juta rupiah). SK Keberatan. dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran. C. Atas pembayaran/penyetoran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian SPT Tahunan.

serta MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 49 HALAMAN . SK Pembetulan. SKP KBT. tempat kedudukan. WP mempunyai hak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak khususnya bagi WP yang mengalami kesulitan likuiditas yaitu dengan cara mengajukan permohonan. Hal ini diatur dalam Pasal 9 ayat 4 UU KUP yang menyatakan bahwa:”Dirjen Pajak atas permohonan WP dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 12 (dua belas) bulan. yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah. Ketentuan mengenai Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak. Sanksi bagi keterlambatan pembayaran jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam ketentuan ini diatur dalam Pasal 19 ayat 1 UU KUP yang berbunyi:”Apabila SKP KB atau SKP KBT. Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali. SKP KB.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pajak sebelumnya tidak lebih dari Rp. serta SK Pembetulan. atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk seluruh masa. Pembayaran pajak yang dapat dilakukan dengan cara mengangsur atau menunda pembayaran adalah atas: a> pajak yang masih harus dibayar dalam STP. yg pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan PMK”. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. SK Keberatan. atau tempat kegiatan usahanya berlokasi di daerah tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. SK Keberatan. Putusan Banding. PMK No. 184/PMK. Berkaitan dengan pembayaran pajak. 900juta (sembilan ratus juta rupiah). Hak WP Berkaitan dengan Pembayaran Pajak. yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal pelunasan atau tanggal diterbitkannya STP. 4.03/2007 tentang angsuran dan penundaan pembayaran pajak diatur sbb : 1. WP di daerah tertentu adalah WP yang tempat tinggal.” 3. pada saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang dibayar.

Apabila batas waktu 9 hari tersebut tidak dapat dipenuhi oleh WP karena keadaan diluar kekuasaannya. 6. 4. menerima sebagian. dan b> PPh Pasal 29.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Putusan Peninjauan Kembali. Sanksi Administrasi akibat Angsuran dan/atau Penundaan Pembayaran Pajak. 8. 7.” MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 50 HALAMAN . Dirjen Pajak menerbitkan surat keputusan atas permohonan WP tersebut berupa menerima seluruhnya. permohonan WP dianggap diterima. 3. 5. Permohonan harus diajukan paling lama 9 (sembilan) hari kerja sebelum saat jatuh tempo pembayaran utang pajak berakhir disertai alasan dan jumlah pembayaran pajak yang dimohon diangsur atau ditunda. Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan. permohonan WP masih dapat dipertimbangkan Dirjen Pajak sepanjang WP dapat membuktikan kebenaran keadaan diluar kekuasaannya itu. yg menyebabkan jumlah pajak yg terutang bertambah. atau menolak paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal diterimanya permohonan. Surat Keputusan yang menerima seluruhnya atau sebagian. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat. Sanksi administrasi berkaitan dengan dikabulkannya permohonan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak baik sebagian maupun seluruhnya diatur dalam Pasal 19 ayat 2 UU KUP yang berbunyi:”Dalam hal WP diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. WP terlebih dahulu mengajukan permohonan secara tertulis untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak kepada Dirjen Pajak. dengan jangka waktu masa angsuran atau penundaan tidak melebihi 12 (dua belas) bulan dengan mempertimbangkan kesulitan likuiditas atau keadaan di luar kekuasaan WP. 2. 5. Terhadap utang pajak yang telah diterbitkan surat keputusan tidak dapat lagi diajukan permohonan untuk mengangsur atau menunda pembayaran.

4. WP menerima SKP KB sebesar Rp.00 = Rp.00. 224.00.00 = Rp.00 = Rp112. b.000.920.00 angsuran ke-4 : 2% x Rp.22.00 = Rp. 8.1. 896. 448.13.000.480.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : a. WP sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperbolehkan untuk menunda pembayaran pajak sampai dengan tanggal 30 Juni 2009.000.120.1.00 = Rp.00 yang diterbitkan pada tanggal 2 Januari 2009 dengan batas akhir pelunasan tanggal 1 Februari 2009.000.1. 672. Sanksi Pidana terhadap WP yg tidak memenuhi Kewajiban Penyetoran Pajak.00 = Rp.000.000.000. {Pasal 39 ayat (2) UU KUP} MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 51 HALAMAN .120.00 angsuran ke-3 : 2% x Rp.17.00 6.00 angsuran ke-5 : 2% x Rp.440.000.00 angsuran ke-2 : 2% x Rp.000. Yang termasuk dalam tindak pidana di bidang perpajakan berkaitan dengan kewajiban pembayaran atau penyetoran pajak adalah apabila WP tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut dengan ancaman pidana penjara. Sanksi administrasi berupa bunga untuk setiap angsuran dihitung sbb : angsuran ke-1 : 2% x Rp. sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 39 ayat (1) hurif i UU KUP dan hukuman itu dilipat duakan apabila terjadi pengulangan dalam waktu 1 tahun setelah selesai menjalani pidana yang pertama dijatuhkan. Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran SKP KB tersebut adalah sebesar : 5 x 2% x Rp. WP tersebut diperbolehkan untuk mengangsur pembayaran pajak dalam jangka waktu 5 (lima) bulan dengan jumlah yang tetap sebesar Rp.120.224.400.960.

namun tidak terbatas pada objek yang diperiksa. Hak ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan WP dan bersifat terbatas. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 52 HALAMAN . Yang dimaksud bersifat terbatas adalah pada aktivitasnya harus selaras dengan tujuan pemeriksaan. Artinya setiap WP tidak luput dari kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan. Yang dijelaskan hanya tujuan pemeriksaan yaitu menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEGIATAN BELAJAR 6 PEMERIKSAAN PAJAK Hak melakukan pemeriksaan pajak terhadap WP oleh UU KUP hanya diberikan kepada Dirjen Pajak. Kapan hak ini muncul? UU KUP tidak secara khusus menentukan. namun dalam kasus tertentu (seperti untuk WP yang mengajukan permohonan restitusi pajak) pemeriksaan pajak adalah kewajiban bagi Dirjen Pajak. Meskipun pemeriksaan pajak adalah hak.

keterangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. Pada awal berlakunya UU KUP. untuk mencari bahan-bahan guna penghitungan jumlah pajak yang terhutang dan jumlah pajak yang harus dibayar. mengumpulkan. definisi pemeriksaan mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan perubahan UU KUP. mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak. pemeriksaan didefinisikan sebagai “serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data. Selanjutnya pada perubahan pertama UU KUP (berlaku 1 Januari 1995). Secara resmi. dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak”. Perubahan hanya pada tujuan pemeriksaan yang sebelumnya guna penghitungan jumlah pajak yang terhutang dan jumlah pajak yang harus dibayar diubah terakhir menjadi untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak. Perubahan terakhir UU KUP yang mulai berlaku 1 Januari 2008. Pengertian Pemeriksaan. pemeriksaan dengan nama “tindakan pemeriksaan” didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh petugas perpajakan dalam rangka melaksanakan pemeriksaan terhadap WP. definisi pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari. pemeriksaan didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan untuk mencari. Pada prinsipnya tidak ada perubahan dalam pengertian pemeriksaan yang menyangkut aktivitas pemeriksa yaitu mencari atau menghimpun bahan/data/keterangan/bukti. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 53 HALAMAN . Pada perubahan kedua UU KUP (berlaku 1 Januari 2001). mengumpulkan. dan mengolah data dan/atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan berdasarkan ketentuan per-UU-an Pajak.

kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada WP. Berdasarkan wewenang Pasal 31 UU KUP tersebut terbit PMK No. yang berlaku terhadap SP3 yang diterbitkan mulai tanggal 1 Januari 2008. 545/KMK.03/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak. 123/PMK. Pemeriksaan merupakan kewenangan yang dimiliki oleh Dirjen Pajak dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan tujuan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 54 HALAMAN .04/2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak sebagaimana telah diubah dengan PMK No. Terhadap kewajiban di bidang perpajakan yang berdasarkan UU KUP sampai perubahan kedua (UU Nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 16 Tahun 2000) tetap menggunakan tata cara pemeriksaan yang diatur dalam KMK No. 199/PMK. 199/PMK. Kriteria Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan WP. Tata cara pemeriksaan pajak sesuai dengan Pasal 31 UU KUP diatur dengan atau berdasarkan PMK.03/2006. Menurut hemat penulis.03/2006. sesuai kelazimannya. Wewenang dan Tata Cara Pemeriksaan Pajak.03/2007 seharusnya berlaku terhadap pemeriksaan pajak berkaitan dengan kewajiban di bidang perpajakan yang terkait dengan UU KUP sampai perubahan terakhir (UU Nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2007). PMK No. misalnya SP3 diterbitkan setelah 1 Januari 2008 tetapi objek pemeriksaan adalah bukan SPT Masa Januari 2008 ke depan atau bukan SPT Tahunan Tahun Pajak 2008 ke depan maka tetap mengacu pada tata cara pemeriksaan yang lama. jangka waktu pemeriksaan. 123/PMK.04/2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak sebagaimana telah diubah dengan PMK No. yang antara lain mengatur tentang pemeriksaan ulang. dan hak WP untuk hadir pada pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. 545/KMK. 3. sedangkan yang diterbitkan sebelum tanggal 1 Januari 2008 berlaku KMK No. Pasal 29 ayat 1 UU KUP menyebutkan : “Dirjen Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak”.

Dapat dilakukan Dirjen Pajak. b. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 55 HALAMAN . Pemeriksaan yang dilakukan tersebut diikuti dengan ketentuan bahwa dalam jangka waktu 12 bulan sejak permohonan diterima lengkap. SKP harus sudah diterbitkan. yaitu permohonan pembayaran kembali (restitusi) kelebihan pajak yang dinyatakan dalam SPT selain WP dengan kriteria tertentu (Pasal 17C UU KUP) dan selain WP dengan persyaratan tertentu (Pasal 17D UU KUP). menyampaikan SPT yang menyatakan rugi. pemeriksaan untuk tujuan menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dapat dilakukan dalam hal WP : a. tidak menyampaikan atau menyampaikan SPT tetapi melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan dalam Surat Teguran.03/2007. B. Meskipun merupakan kewenangan namun dalam hal WP mengajukan permohonan restitusi pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B UU KUP. pemeriksaan juga merupakan suatu keharusan bagi Dirjen Pajak. 199/PMK. Dirjen Pajak harus melakukan pemeriksaan dalam hal WP mengajukan permohonan restitusi pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B UU KUP. Dengan demikian. sesuai PMK No. c. pemeriksaan harus dilakukan oleh Dirjen Pajak. Apabila jangka waktu 12 bulan tersebut terlewati dan SKP belum diterbitkan maka atas permohonan restitusi pajak tersebut dianggap dikabulkan dan paling lambat satu bulan berikutnya SKP LB sudah harus diterbitkan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak. Selain yang tersebut pada huruf a) di atas. menyampaikan SPT yang menyatakan lebih bayar. pemeriksaan selain dilihat sebagai kewenangan dalam arti dapat dilakukan oleh Dirjen Pajak. termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. Untuk kedua hal tersebut kriterianya adalah sebagai berikut: A. Harus dilakukan Dirjen Pajak.

Ruang lingkup Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan per-UU-an Pajak dapat meliputi penentuan. Kewajiban WP yang Diperiksa. melakukan penggabungan. j. atau e. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak. Pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan dengan kiriteria antara lain: a. 4. i. pembubaran. Pencocokan data dan/atau alat keterangan. WP mengajukan keberatan. dan/ atau k. b. Penghapusan NPWP. pemekaran. peleburan. Pasal 29 mengatur tentang kewajiban WP ketika dilakukan pemeriksaan. e. Pemeriksaa Untuk Tujuan Lain. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan PKP. 5. atau akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya. yaitu sbb : MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 56 HALAMAN . h.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN d. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. pemberian NPWP secara jabatan. Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil. f. c. likuidasi. atau pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan pemeriksaan. Memenuhi permintaan informasi dari negara mitra P 3 B. d. menyampaikan SPT yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan hasil analisis risiko (risk based selection) mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan WP yang tidak dipenuhi sesuai ketentuan. pencocokan. Penentuan satu atau lebih tempat terutang PPN. g.

SKP Nihil apabila berdasarkan hasil pemeriksaan jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang. informasi. Apabila dalam mengungkapkan pembukuan. Buku. 2. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Hasil pemeriksaan pajak dapat berupa SKP. Produk Pemeriksaan dalam rangka Menguji Kepatuhan WP. maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan. dan dokumen. setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKP KBT (Pasal 15 ayat 1 UU MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 57 HALAMAN .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. catatan. dokumen yang menjadi dasarnya. serta data. pekerjaan bebas WP. STP atau dapat juga ditingkatkan menjadi pemeriksaan bukti permulaan dalam hal hasil pemeriksaan memberikan indikasi adanya tindak pidana di bidang perpajakan. 3. Secara detil. atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak. WP yang diperiksa wajib: a. pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar (Pasal 13 ayat 1 UU KUP). dan keterangan lain tersebut wajib dipenuhi oleh WP paling lama 1 (satu) bulan sejak permintaan disampaikan. SKP KBT apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang (menurut SKP KB). 6. c. atau objek yang terutang pajak. dan/atau c. SKP KB. pencatatan. kegiatan usaha. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yg dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang (Pasal 17 ayat 1 UU KUP). produk dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut : a. SKP LB. atau dokumen serta keterangan yang diminta. b. b. memberikan keterangan lain yang diperlukan. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan. WP terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakannya. d. dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh.

bagian Tahun Pajak. e. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya SKP KB. b. STP apabila ditemukan sanksi administrasi berupa denda / bunga (Pasal 14 UU KUP). Yang akan diuraikan pada sub-bab ini adalah apabila WP : a. apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 (mengenai pembukuan) atau Pasal 29 (mengenai pemeriksaan) tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang. b. Apabila WP tidak memenuhi kewajiban ketika dilakukan pemeriksaan maka dapat dikenakan sanksi baik sanksi administrasi ataupun sanksi pidana tergantung jenis pelanggarannya. atas jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKP KB ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. dokumen yang menjadi dasarnya. atas jumlah pajak dalam SKP KB ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan menurut Pasal 13 ayat 3 UU KUP Sanksi apabila WP tidak memenuhi kewajibannya ketika diperiksa. dan dokumen lain yang berhubungan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 58 HALAMAN 8. (Pasal 13 ayat 2 UU KUP). Sanksi Administrasi apabila menurut hasil pemeriksaan terdapat kurang bayar pajak. tidak memperlihatkan dan/atau tidak meminjamkan buku atau catatan. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain. atas pajak yang tidak atau kurang dibayar (Pasal 13 ayat 3 UU KUP) c. yaitu sbb : a. menolak dilakukan pemeriksaan. f. dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KUP). Apabila hasil pemeriksaan pajak menemukan adanya kekurangan pembayaran pajak maka atas kekurangan pembayaran pajak tersebut dikenai sanksi administrasi berupa bunga atau kenaikan dengan kriteria sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 2 dan 3. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0 % dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%. Pemeriksaan dapat ditingkatkan menjadi pemeriksaan bukti permulaan apabila ditemukan indikasi adanya tindak pidana di bidang perpajakan. . 7.

e. KEGIATAN BELAJAR 7 PENETAPAN dan KETETAPAN Dalam kerangka sistem pemungutan pajak yang menganut self assessment system.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan penghasilan yang diperoleh. Pengertian Penetapan. pencatatan. pengertian penetapan merujuk pada aktivitas di bidang perpajakan di mana WP menghitung. tidak memberikan keterangan lain yang diperlukan. Dengan demikian penetapan adalah aktivitas WP pada fase self assessment. c. diperhitungkan dan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 59 HALAMAN . b. karena tidak diatur dalam UU KUP sebagai tindak pidana. Sedangkan ketetapan merupakan kewenangan yang dimiliki fiskus dalam “menghitung kembali” pajak yang sudah ditunaikan WP apabila terdapat cukup bukti untuk itu. atau pekerjaan bebas WP. 1. Apabila Wajib Pajak melakukan tindakan sebagaimana huruf a. memperlihatkan pembukuan. Tindakan pada huruf d dan e tidak termasuk dalam tindak pidana di bidang perpajakan. atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. kegiatan usaha. atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Pajak yang dihitung. membayar dan melapor sendiri kewajiban perpajakannya. dan c maka atas tindakan tersebut dapat dikenai sanksi administrasi pasal 13 ayat (1) huruf d dan ayat (3) ataupun sanksi pidana menurut pasal 39 ayat (1) huruf e. tidak memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. memperhitungkan. d. Namun demikian tetap dikenai sanksi administrasi karena memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf d dan ayat 3 UU KUP. f dan huruf g serta ayat (2) UU KUP. Kewajiban membayar pajak yang terutang dilakukan oleh WP tanpa menggantungkan pada adanya SKP.

202. sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 12 ayat 3 UU KUP yg bunyinya “Apabila Dirjen Pajak mendapatkan bukti jumlah pajak yg terutang menurut SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar.” Proses pembuktian atau bukti yang diperoleh dapat berasal dari pemeriksaan atau adanya keterangan lain.500. Maka apabila dari bukti tersebut ternyata jumlah pajak yang terutang menurut WP sebagaimana dilaporkan dalam SPT tidak benar. Contoh : PT XYZ adalah WP Badan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan barang-barang elektronik.80.500. Pengertian Ketetapan. Dirjen Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang.282.202.000.000. Dalam self assessment system.000.500. Rp. Rp.000. yaitu melalui pemotongan/pemungutan pihak ketiga dan dibayar sendiri. Misalkan PT XYZ adalah WP Badan yg melakukan kegiatan usaha perdagangan barang-barang elektronik. PT XYZ melaporkan seluruh penghasilan yg diperoleh tahun 2008 dan kredit pajaknya dalam SPT Tahunan PPh badan Tahun 2008.00 dan PPh yg kurang dibayar sebesar Rp. sesuai dengan bunyi Pasal 12 ayat 2 UU KUP yg berbunyi ”Jumlah Pajak yang terutang menurut SPT yg disampaikan oleh WP adalah jumlah pajak yg terutang sesuai dengan ketentuan per-UU-an Pajak”. maka Dirjen Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang dengan menerbitkan SKP. PT XYZ melaporkan seluruh MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 60 HALAMAN . Rp.000.500.00 hasil perhitungan WP adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dibayar sendiri tersebut kemudian dilaporkan dengan menggunakan SPT. Sedangkan kredit pajak sebesar Rp.000.282.000. 2.00 yang telah dilunasi adalah pembayaran pajak oleh WP tanpa didahului dengan SKP.000. Apabila SPT telah disampaikan (telah diterima bukti penerimaan SPT) maka kewajiban perpajakan yang dilaporkan dalam SPT tersebut telah dianggap benar.- PPh terutang sebesar Rp.80.000.000. 1. dengan perincian sbb: Penghasilan Neto PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang kurang dibayar Rp. beban pembuktian untuk menyatakan bahwa pajak yang terutang dalam SPT adalah tidak benar berada pada pihak fiskus (Dirjen Pajak).

Dari definisi tersebut maka format SKP KB adalah sebagai berikut : Jumlah Pokok Pajak  Jumlah Kredit Pajak  Jumlah Kekurangan Pembayaran  Pokok Pajak Besarnya Sanksi Administrasi  Jumlah Pajak Yang Masih Harus  Dibayar 2) Penerbitan SKP KB.000.- Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan bahwa pajak yang dihitung dan dilaporkan PT XYZ dalam SPT PPh Tahun 2008 tidak benar. A.000.000.000.000.00 Rp.000.80. Dalam hal apa Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP ? Pasal 13 ayat 1 UU KUP menyatakan bahwa: ”Dalam jangka waktu 5 (lima tahun) setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Rp.000. Rp.000. Rp.000.00 Rp.000. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak.000. 3.000.000. jumlah kredit pajak.282.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN penghasilan tahun 2008 dan kredit pajaknya dalam SPT Tahunan PPh badan Tahun 2008. besarnya sanksi administrasi.10. 1.000. 1) Pengertian SKP KB. dengan perincian sbb: Penghasilan Neto PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang kurang dibayar Rp.00 Rp.202.000. misalnya pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya sehingga PPh terutang kurang dilaporkan.500.00 MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 61 HALAMAN . Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKP KB). 4. Surat Ketetapan Pajak (SKP). Rp. yaitu dengan menerbitkan SKP. SKP KB adalah SKP yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. maka Dirjen Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.500.000. dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. 6.00 Rp. 6.000. 2.

000.500. apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau Pasal 29 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang. bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak. b. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. apabila kepada WP diterbitkan NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP secara jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4a). Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP KB dalam hal-hal sbb : a.000.1. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai PPN dan PPN BM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0% (nol persen). A) Pasal 13 ayat (2) menyatakan bahwa : Atas jumlah kekurangan pajak yg terutang dalam SKP KB tersebut ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Masa Pajak. c. dengan perincian sbb: Penghasilan Kena Pajak PPh terutang Rp. 282. menyampaikan SPT PPh badan Tahun 2008 (tahun takwim) pada tgl 30 April 2009. berlaku untuk angka 1 dan 5 diatas. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya SKP KB. dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran. d. atau e.Rp. Contoh : PT XYZ adalah WP Badan yang melakukan usaha perdagangan barang-barang elektronik. bagian Tahun Pajak.000.- MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 62 HALAMAN .000.

312.000.500. tidak atau kurang dipungut. c dan huruf d (angka 2.000. 30.sehingga PPh terutang seharusnya adalah Rp. 80. tidak atau kurang disetor.Rp.000.312. atau c. 202. b.1.Sanksi administrasi (bunga 10 bulan / 1/1 s/d 10/10) Jumlah pajak yang masih harus Dibayar Rp. Apabila berdasarkan Kena hasil Pajak pemeriksaan seharusnya ternyata adalah Penghasilan Rp.000.- Kekurangan (PPh Pasal 29) tersebut telah dibayar tgl 29 April 2009. 3 dan 4 tersebut diatas). dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor.000.500.- B) Atas jumlah kekurangan pajak dalam SKP KB yang diterbitkan berdasar kan Pasal 13 ayat (1) huruf b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kredit Pajak Pajak yang kurang dibayar Rp.500.00 dan seandainya SKP KB diterbitkan tanggal 10 Oktober 2009.Rp. maka rincian SKP KB adalah sbb : Jumlah Pokok Pajak Jumlah Kredit Pajak Rp.000.000.000. 50 % (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak.Rp.000.282.000. 36..- Jumlah Kekurangan Pokok Pajak Rp.000.500. 6. 100 % (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas dengan sanksi administrasi berupa kenaikan menurut pasal 13 ayat (3) UU KUP MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 63 HALAMAN .000.100.000. ditambah sebesar : a. 100 % (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dipotong.000.

bagian Tahun Pajak. b. 3) Daluwarsa Penerbitan SKP KB. atau Tahun Pajak. bagian Tahun Pajak. Walaupun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat. atau Tahun Pajak. SKP KB hanya dapat diterbitkan (dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48%) apabila WP dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 64 HALAMAN . Sebagai contoh. atas PPh badan tahun pajak (tahun takwim) 2008 yang saat terutang pajaknya adalah akhir Desember 2008. Sejak awal Januari 2014. tidak diterbitkan SKP. apabila WP setelah jangka waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum tetap.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Barang Mewah yang tidak atau kurang dibayar. c. Besarnya pajak yang terutang yang diberitahukan oleh WP dalam SPT menjadi pasti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. SKPKB tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48 % dari jumlah pajak yg tidak atau kurang dibayar. Daluwarsa atau jangka waktu Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP KB adalah 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Daluwarsa penerbitan SKP KB diatur dalam Pasal 13 UU KUP yaitu sbb: a. dalam jangka waktu sejak awal Januari 2009 sampai dengan akhir Desember 2013 Dirjen Pajak berhak menerbitkan SKP KB dengan kriteria di atas.

00 perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan. tidak diungkapkan oleh WP dalam SPT beserta MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 65 HALAMAN .000.000. baik dalam SPT dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan Rp.00 Rp.00 Rp.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN tetap. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP KBT). Yang dimaksud data baru adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak terutang yang oleh WP belum diberitahukan pada waktu penetapan semula.00 Rp. bagian Tahun Pajak.000.000.10. atau Tahun Pajak apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKP KBT”.000.000. yang termasuk dalam data baru adalah data yang semula belum terungkap. B. 6.000. Dari definisi tersebut maka SKP KBT terdiri dari: Jumlah Pajak Sebenarnya Jumlah Pajak Yang Telah Ditetapkan (SKP KB) Tambahan Jumlah Pajak Besarnya Sanksi Administrasi Tambahan Jumlah Pajak Yg Masih Harus Dibayar 2) Penerbitan SKP KBT. Kewenangan dan kriteria penerbitan SKP KBT diatur dalam Pasal 15 ayat 1 UU KUP yang berbunyi :”Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP KBT dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. 4. Selain itu. 4. SKP KBT adalah SKP yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan (Pasal 1 angka 17 UU KUP). yaitu data yang : a.00 Rp. 1) Pengertian SKP KBT. 8.000.000.

000. c.5. pada waktu pemeriksaan untuk penetapan semula WP tidak mengungkapkan data dan/atau memberikan keterangan lain secara benar. dan/atau b. Akibatnya.10. tetapi apabila memberitahukannya atau mengungkapkannya dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat fiskus tidak mungkin menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang secara benar sehingga jumlah pajak yang terutang ditetapkan kurang dari yang seharusnya.000.00 biaya iklan di media massa dan Rp. Dalam Surat Pemberitahuan dan/atau laporan keuangan disebutkan pengelompokan harta tetap yang disusutkan tanpa disertai dengan perincian harta pada setiap kelompok yang dimaksud. dan terinci sehingga tidak memungkinkan fiskus dapat menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dengan benar dalam menghitung jumlah pajak yang terutang.000.000. tetapi dikelompokkan ke dalam kelompok 2.000. data mengenai pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah tersebut tergolong data yang semula belum terungkap. demikian pula pada saat pemeriksaan untuk penetapan semula WP tidak mengung kapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak dapat meneliti kebenaran pengelompokan dimaksud. atas HALAMAN 66   MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II .000.00 sisanya adalah sumbangan atau hadiah yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Walaupun WP telah memberitahukan data dalam SPT atau mengungkapkannya pada waktu pemeriksaan. hal tersebut termasuk dalam pengertian data yang semula belum terungkap.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN lampirannya (termasuk laporan keuangan). Contoh : Dalam SPT dan/atau laporan keuangan tertulis adanya biaya iklan Rp.5. sedangkan sesungguhnya biaya tersebut terdiri atas Rp. misalnya harta yang seharusnya termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan kelompok 3.00. lengkap. Apabila pada saat penetapan semula WP tidak mengung kapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak melakukan koreksi atas pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar.

000. sebagai akibatnya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang tidak dapat dihitung secara benar.00 Rp.20juta.000. Sehingga seharusnya jumlah pokok pajak pada Masa Des’08 adalah Rp.00 Rp. Misalkan setelah MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 67 HALAMAN .00 Rp.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN kesalahan pengelompokan harta tersebut tidak dilakukan koreksi.000. 10.000. maka data tersebut termasuk data yang semula belum terungkap. dan manajemen. Barang-barang tersebut sebagian digunakan untuk kegiatan yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usahanya. pemasaran.000. data atau keterangan tersebut merupakan data yang semula belum terungkap.000. 12.000.000. bunga Pasal 13 (2) Jumlah yang masih harus dibayar Rp. Apabila pada saat penetapan semula Pengusaha Kena Pajak tidak mengungkapkan rincian penggunaan barang tersebut dengan benar sehingga tidak dilakukan koreksi atas pengkreditan Pajak Masukan tersebut oleh fiskus. 90.000.000. Apabila setelah itu diketahui adanya data yang menyatakan bahwa pengelompokan harta tersebut tidak benar. distribusi.100. sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar. 2.120juta. seperti pengeluaran untuk kegiatan produksi. Apabila setelah itu diketahui adanya data atau keterangan tentang kesalahan mengkreditkan Pajak Masukan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dimaksud.  Pengusaha Kena Pajak melakukan pembelian sejumlah barang dari Pengusaha Kena Pajak lain dan atas pembelian tersebut oleh Pengusaha Kena Pajak penjual diterbitkan faktur pajak.00 Rp. Seluruh faktur pajak tersebut dikreditkan sebagai Pajak Masukan oleh Pengusaha Kena Pajak pembeli.00 Pada bulan Mei 2010 ditemukan data baru berupa objek PPh Pasal 23 yang belum dipotong oleh PT FGH dan seharusnya dilaporkan dalam SPT Masa Desember 2008 dengan jumlah pokok pajak Rp. Contoh penerbitan SKP KBP Terhadap SPT PPh Pasal 23 Masa Desember 2008 a/n PT FGH telah dilakukan pemeriksaan dan diterbitkan SKP KB tanggal 10 Oktober 2009 dengan perincian sbb: Jumlah Pokok Pajak Jumlah Kredit Pajak Jumlah Kekurangan Pokok Pajak Sanksi adm. dan sebagian lainnya tidak mempunyai hubungan langsung.

Daluwarsa atau jangka waktu Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP KBT diatur dalam Pasal 15 yaitu sbb: Dirjen Pajak dapat menerbitkan SKP. SKP KBT tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48 % dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar.KBT tanggal 25 Mei 2010. dalam hal WP setelah jangka waktu 5 tahun tersebut dipidana karena melaku kan tindak pidana dibidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.00 Rp. (Pasal 1 angka 19 UU KUP) MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 68 HALAMAN .000.000. bagian Tahun Pajak.KBT dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau Rp.120.00 berakhirnya Masa Pajak.000.KBT adalah sbb: Jumlah Pajak Jumlah Pajak yang telah ditetapkan Tambahan Jumlah Pajak Besarnya sanksi administrasi (100%) Tambahan jumlah pajak yang masih harus dibayar 3) Daluwarsa Penerbitan SKP KBT.000.100.00 Rp.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dilakukan pemeriksaan diterbitkan SKP. 40. atau Tahun Pajak apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKP KBT. maka rincian SKP.000.000. C.000.000. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKP LB) 1) Pengertian SKP LB.000. 20.00 Rp.000. SKP LB adalah SKP yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. Apabila jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut telah lewat. 20.00 Rp.

SKP LB masih dapat diterbitkan lagi apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau data baru ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar daripada kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan. (Pasal 17 ayat {1} UU KUP. menyampaikan SPT PPh badan Tahun 2008 (tahun takwim) pada tgl 30 April 2009.000. nihil.000. Hal ini dapat terjadi apabila berdasarkan hasil pemeriksaan jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang (untuk PPh dan PPN) atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang (untuk PPn BM).1.500.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2) Penerbitan SKP LB.500.00) Rp.000. atau lebih bayar dan tidak disertai dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayar an pajak.00 Rp. Contoh : PT XYZ adalah WP Badan yang melakukan usaha perdagangan barang-barang elektronik. 282.000. WP wajib mengajukan permohonan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). 202. Kekurangan (PPh Pasal 29) tersebut dibayar tgl 29 April MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 69 HALAMAN .00 (Rp. 80.000. Kriteria penerbitan SKP LB diatur dalam Pasal 17 UU KUP.000. Apabila WP setelah menerima SKP LB. dan dilakukan setelah melalui pemeriksaan atau setelah meneliti kebenaran pembayaran pajak. A) SKP LB Hasil Pemeriksaan. Pajak ”Dirjen menerbitkan SKP LB apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar dari pada jumlah pajak yang terutang”. dengan perincian sbb: Penghasilan Kena Pajak PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang kurang dibayar Rp.00 setelah melakukan pemeriksaan. SKP LB disini adalah akibat dilakukannya pemeriksaan atas SPT yang disampaikan WP yang menyatakan kurang bayar.000. menghendaki pengem balian kelebihan pembayaran pajak.

500. terlalu besar dipotong/dipungut.500. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan PMK”. b. Apabila berdasarkan Kena hasil Pajak pemeriksaan seharusnya maka Dirjen ternyata adalah Pajak Penghasilan adalah Rp.000. menerbitkan SKPLB dengan rincian sbb: Pajak Yang Terutang Jumlah Kredit Pajak Jumlah Kelebihan Pembayaran Pajak B) (Rp.500.252.000.00) Rp.00) SKP LB Hasil Penelitian Kebenaran Pembayaran Pajak.00. menerbitkan SKP LB apabila terdapat pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.000. Pasal 17 ayat 2 menyatakan bahwa:”Berdasarkan permohonan WP. WP yang melakukan pemotongan/pemungutan atau PKP yang melakukan pemungutan tidak dapat meminta kembali pajak yang salah dipotong atau dipungut tsb.00 (Rp. seharusnya tidak dipotong/tidak dipungut dan pajak yang salah dipotong/dipungut tsb telah disetorkan dan dilaporkan.00 sehingga PPh terutang seharusnya Rp. Dalam hal terdapat pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang yaitu terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan yang dapat berupa : a.282. setelah meneliti kebenaran pembayaran pajak.000. Dirjen Pajak.000.000. 30.900.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2009. maka terhadap : PPh yang salah dipotong atau dipungut  tsb dapat diminta kembali oleh WP yang dipotong/dipungut dengan surat MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 70 HALAMAN .000.252.

atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak. 1) Pengertian SKP Nihil.03/2007) Atas permohonan tersebut Dirjen Pajak setelah meneliti kebenaran pembayaran pajak dimaksud menerbitkan SKP LB dalam jangka waktu paling lama 3 bulan sejak surat permohonan diterima. untuk PPN. 2) Penerbitan SKP Nihil. jumlah kredit pajak sama dengan jumlah pajak  yang terutang.” Hal ini dapat terjadi apabila: untuk PPh. D. sepanjang belum PPN dan PPn BM yang salah dipungut  tsb dapat diminta kembali oleh PKP yang dipungut dengan surat permohonan. dikreditkan. (Peraturan 190/PMK. sepanjang belum dikreditkan atau belum dibebankan sebagai biaya. jumlah kredit pajak sama dengan jumlah pajak  yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. SKP Nihil adalah SKP yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak (Pasal 1 angka 18 UU KUP). Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKP Nihil).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN permohonan. menerbitkan SKP Nihil apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang. atau pajak tidak terutang dan tidak ada Menteri Keuangan Nomor MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 71 HALAMAN . Ketentuan mengenai penerbitan SKP Nihil diatur dalam Pasal 17A yang berbunyi: ”Dirjen Pajak setelah melakukan pemeriksaan.

000. STP adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda (Pasal 1 angka 20 UU KUP). Nihil --- Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata rugi neto seharusnya adalah Rp. Dengan demikian fungsi STP adalah untuk melakukan: tagihan pajak.000. untuk PPn BM. Karena berdasarkan hasil pemeriksaan tidak ada PPh terutang dan tidak ada kredit pajak maka selanjutnya Dirjen E.000.000. Rp.00 Rp.00 dan PPh terutang tetap nihil. tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak. dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung.1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN kredit pajak. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP. d. Contoh : PT JKL adalah WP badan yang melakukan kegiatan usaha industri garmen menyampaikan SPT PPh badan Tahun 2008 (tahun takwim) pada tgl 30 April 2009 yang menyatakan rugi. Surat Tagihan Pajak (STP). dengan perincian sbb: Rugi Neto PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang kurang/(lebih) dibayar Rp. PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. dan/atau  tagihan sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.000. c. Rp.400. Pajak menerbitkan SKP Nihil. 1) Pengertian STP. b. jumlah pajak yg dibayar sama dengan  jumlah pajak yg terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak.  2) Penerbitan STP. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 72 HALAMAN . Dirjen dapat menerbitkan STP apabila : a.

PKP yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (6a) UU PPN 1984 dan perubahannya.  f. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN dan perubahannya. atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya STP. dalam hal penyerahan dilakukan oleh PKP pedagang eceran. e. Yang dimaksud dengan penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian SPT dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya. dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN tetapi tidak tepat waktu. dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. selain:  identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b UU PPN 1984 dan perubahannya. PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak. b. atau g. atau identitas pembeli serta nama dan tandatangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b dan huruf g UU PPN 1984 dan perubahannya. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STP yang diterbitkan akibat kasus di atas ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Contoh 1: MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 73 HALAMAN . (Pasal 14 ayat 1 UU KUP) 3) STP untuk melakukan Tagihan Pajak. bagian Tahun Pajak. STP untuk melakukan tagihan pajak dapat diterbitkan dalam hal : a.

c. Contoh 2 : SPT Tahunan PPh tahun 2008 (tahun takwim) yang disampaikan pada tanggal 31 Maret 2009 setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat salah hitung yang menyebabkan PPh kurang bayar sebesar Rp.600. dibayar tepat waktu sebesar Rp.000.00 Bunga = 3 x 2% x Rp. Berarti.00.000.00 Rp.000.600. PPh dalam tahun berjalan kurang dibayar sebesar Rp.000.00 Tiga bulan dihitung sejak 1 Juli 2008 sampai dengan 18 September 2008.120.000. Misalkan atas kekurangan PPh tersebut diterbitkan STP pada tanggal 12 Juni 2009 dengan penghitungan sbb: . 4) STP untuk menagih Sanksi Administrasi Bunga.000. Pasal 9 ayat 2b KUP : pembayaran atau penyetoran kekurangan pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 74 HALAMAN . Bulan Juni 2008.100. 120. Pasal 9 ayat 2a KUP : pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang dalam suatu Masa Pajak dilakukan setelah tanggal jatuh tempo.60.40.000.000.00= Rp.00 Enam bulan dihitung yaitu sejak tanggal 1 Januari 2009 s/d 12 Juni 2009.000.-/bulan jatuh tempo setiap tanggal 15. b.Kekurangan bayar PPh Rp. d.00.000.1.00 Rp.00 . Atas kekurangan PPh Pasal 25 tersebut diterbitkan STP pada tanggal 18 September 2008 dengan penghitungan sbb: Kekurangan bayar PPh Pasal 25 bulan Juni 2008 Jumlah yang harus dibayar Rp.000.1.000.00 . Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan terhadap WP yaitu sbb : a.000.60.000.Bunga = 6 x 2% x Rp1. Pasal 8 ayat 2a KUP: dalam hal WP membetulkan sendiri SPT Masa yg mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar.1. Pasal 8 ayat 2 KUP: dalam hal WP membetulkan sendiri SPT Tahunan yg mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar.000. 3.000.63.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PPh Pasal 25 Tahun 2008 sebesar Rp.Jumlah yang harus dibayar Rp.60juta.000.000.

5) STP untuk menagih Sanksi Administrasi Denda. pajak yang terutang kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya terutang. Pasal 19 ayat 1 KUP: dalam hal jumlah pajak yang masih harus dibayar menurut ketetapan.  Pasal 14 ayat 1 huruf d: pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP.00 Jumlah bulan dihitung sejak 1 Mei 2009 – 20 Februari 2010 = 10 bulan. Kekurangan pembayaran pajak sebesar Rp30juta dibayar pada tanggal 18 Februari 2010.000.000.000. Dari kasus di atas maka PT ABC dikenai sanksi administrasi berupa bunga sesuai dengan Pasal 8 ayat 2 UU KUP sebesar: 2% x 10 x Rp30. A) Berkaitan dengan Faktur Pajak. pada saat jatuh tempo tidak atau kurang dibayar. h. f. Pasal 19 ayat 2 KUP: dalam hal WP diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Pasal 14 ayat 1 huruf g: PKP yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (6a) UU PPN 1984 dan perubahannya. DJP menerbitkan STP untuk menagih sanksi administrasi berupa bunga tsb. Contoh : PT ABC membetulkan sendiri SPT Tahunan PPh Tahun 2008 pada tanggal 20 Februari 2010. tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak.000. g. yang semula menyatakan jumlah pajak terutang sebesar Rp100juta dan kredit pajak sebesar Rp80juta. Pasal 19 ayat 3 KUP: dalam hal WP diperbolehkan menunda penyampaian SPT Tahunan yang penghitungan sementara.00 = Rp6. dibetulkan seharusnya jumlah pajak terutang sebesar Rp130juta dan kredit pajak tetap.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN SPT Tahunan e. tetapi tidak tepat waktu. Pasal 14 ayat 1 huruf e: pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap sebagaimana  MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 75 HALAMAN .

00) dan penagihannya dilakukan dengan penerbitan STP.000.00 = Rp.200. Pelunasan dilakukan oleh A pada tanggal 2 Juli 2008 dan bersamaan dengan itu PKP A menerbitkan Faktur Pajak Standar tertanggal 2 Juli 2008. Terhadap pengusaha atau PKP tersebut.10. B) Berkaitan dengan Penyampaian SPT. Contoh : PKP A pada tanggal 30 Mei 2008 menyerahkan BKP dengan harga jual Rp10juta kepada PKP B. identitas pembeli serta nama dan tandatangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b dan huruf g UU PPN 1984 dan perubahannya.  Pasal 14 ayat 1 huruf f: PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak. Apabila keterlambatan tersebut diketahui DJP misal melalui pemeriksaan. dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak (Pasal 14 ayat 4 UU KUP).000. identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b UU PPN 1984 dan perubahannya. maka PKP A dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% x DPP (2% x Rp. selain wajib menyetor pajak yang terutang. Pasal 7 ayat (1) UU KUP menyatakan “Sanksi administrasi berupa denda apabila SPT tidak MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 76 HALAMAN . selain: 1. PKP A terlambat membuat Faktur Pajak Standar yang seharusnya paling lambat tanggal 30 Juni 2005.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984 dan perubahannya. dalam hal penyerahan dilakukan oleh PKP pedagang eceran. atau 2.

Sejatinya sebuah permohonan maka ia dapat dikabulkan seluruhnya atau sebagian atau dapat juga ditolak. sehingga dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa. 1. Tetapi dalam kasus tertentu seperti permohonan restitusi oleh WP dengan kriteria tertentu atau oleh WP yang memenuhi persyaratan tertentu. kekuatan hukum STP sama dengan SKP. Hak ini timbul apabila terdapat kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dilaporkan dalam SPT atau apabila terdapat kekeliruan pemungutan atau pemotongan yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN disampaikan dalam jangka waktunya”. 6) Kekuatan Hukum STP. Hak ini dapat ditunaikan setelah terlebih dahulu diajukan permohonan. Dan untuk restitusi akibat kekeliruan pemotongan atau pemungutan permohonan kelebihan pembayaran pajak ditindaklanjuti dengan ”hanya” meneliti kebenaran pembayaran pajak. Menurut Pasal 14 ayat (2) UU KUP. Sebab Terjadinya Kelebihan Pembayaran Pajak. yaitu: MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 77 HALAMAN . KEGIATAN BELAJAR 8 PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK (RESTITUSI) Kelebihan pembayaran pajak adalah hak bagi WP. Setiap permohonan lazimnya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan. Kelebihan pembayaran pajak dapat terjadi dalam dua hal. permohonan ini ditindaklanjuti dengan penelitian.

ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut. dan  WP yang memenuhi persyaratan tertentu (Pasal 17D)  MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 78 HALAMAN . dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN A. WP dengan kriteria tertentu (Pasal 17C). Permohonan restitusi sebagai akibat dari SPT yang menyatakan kelebihan pembayaran pajak. yang dikurangkan dari pajak yang terutang. B. Kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang sebagaimana dilaporkan dalam SPT. Kredit Pajak untuk PPN adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan. yaitu : Selain WP dengan kriteria tertentu dan WP yg memenuhi persyaratan tertentu  (Pasal 17B). karena terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan yang dapat berupa: a) terlalu besar dipotong/dipungut. Restitusi Kelebihan Pajak dalam SPT. Kredit Pajak untuk PPh adalah pajak yang dibayar sendiri oleh WP ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam STP karena PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. tata cara penyelesaiannya dibedakan dalam 3 jenis WP. ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri. Terdapat pembayaran pajak yg seharusnya tidak terutang. dan b)seharusnya tidak dipotong/tidak dipungut. yang dikurangkan dari pajak yang terutang. 2.

282.000.000.1. dan dalam hal kepada WP diterbitkan SKP LB. 2. Terhadap WP yg sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana perpajakan. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. 482. PT DEF menyampaikan SPT Tahunan 2008 pada tanggal 30 April 2009 yang menyatakan lebih bayar dengan rincian sebagai berikut : Penghasilan Kena Pajak PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang lebih dibayar Rp. apabila pemeriksaan bukti permulaan tidak dilanjut kan dengan penyidikan.000.000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN A) Selain WP Kriteria Tertentu dan WP yg memenuhi Persyaratan Tertentu. ketentuan mengenai permohonan restitusi kelebihan pajak dalam SPT diatur dalam Pasal 17B UU KUP sebagai berikut : 1. Contoh : PT DEF adalah WP Badan selain WP dengan kriteria/memenuhi syarat tertentu. Apabila setelah melampaui jangka waktu tersebut Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan.00) MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 79 HALAMAN . Dirjen Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan restitusi kelebihan pajak harus menerbitkan SKP paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap.500. atau dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan. 3.00 (Rp. tetapi diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.500.00) (Rp. tetapi tidak dilanjutkan dengan penuntutan.00 Rp. dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan saat diterbitkan SKP LB. permohonan restitusi kelebihan pajak diang gap dikabulkan dan SKP LB harus diterbitkan paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. 200.000. dilanjutkan dengan penyidikan. Selain WP dengan kriteria tertentu dan WP yang memenuhi persyaratan tertentu. kecuali terhadap WP yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan. kepada WP diberikan imbalan bunga sebesar 2 % per bulan untuk paling lama 24 bulan.000.

Ketentuan mengenai permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak oleh WP dengan kriteria tertentu diatur dalam Pasal 17C UU KUP sbb : 1. WP dengan kriteria tertentu ditetapkan dengan Keputusan Dirjen Pajak. laporan keuangannya diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturutturut. Apabila sampai dengan tanggal 29 April 2010 DJP belum menerbitkan SKP maka permohonan restitusi dianggap dikabulkan dan paling lambat tanggal 30 Mei 2010 harus diterbitkan SKP LB. DJP harus melakukan pemeriksaan dan paling lambat tanggal 29 April 2010 (12 bulan sejak SPT diterima secara lengkap) harus sudah menerbitkan SKP. Yg dimaksud WP dengan kriteria tertentu adalah WP yang : tepat waktu dalam menyampaikan SPT. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 80 HALAMAN .   2. 3.   tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak. B) WP dengan Kriteria Tertentu. Dirjen Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan restitusi kelebihan pajak dari WP dengan kriteria tertentu. kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. dan tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir. Terhadap SPT Tahunan PPh atas nama PT DEF ini.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Atas kelebihan tersebut WP mengajukan permohonan restitusi melalui SPT yang disampaikan tersebut.

Setelah dilakukan penelitian diterbitkan SKPPKP pada tanggal 20 Juli 2009 dengan jumlah restitusi sesuai permohonan.000.00)   Atas kelebihan tersebut WP mengajukan permohonan restitusi.00) (Rp . 4. Contoh : PT LMN adalah WP badan yang ditetapkan DJP sebagai WP dengan kriteria tertentu.000. 482.500. Dirjen Pajak menerbitkan SKP KB. Dirjen Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap WP dengan kriteria tertentu.  5. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. 282.000.000. Apabila misalnya DJP melakukan pemeriksaan pada tanggal 10 Agustus 2009 dan ditemukan ketidakbenaran sehingga PPh MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 81 HALAMAN . 6.500. setelah melakukan pengembalian pendahu luan kelebihan pajak. PT LMN menyampaikan SPT Tahunan 2008 pada tanggal 30 April 2009 yang menyatakan lebih bayar dengan rincian sbb: Penghasilan Kena Pajak PPh terutang Kredit Pajak Pajak yang lebih dibayar Rp.00 Rp.00 (Rp.000.000. atau terlambat menyampaikan SPT Tahunan.200.1. terlambat menyampaikan SPT Masa untuk suatu jenis pajak tertentu 3 (tiga) Masa Pajak dalam 1 (satu) tahun kalender.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menerbitkan Surat Kepu tusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) paling lama 3 bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk PPh. terlambat menyampaikan SPT Masa untuk suatu jenis pajak tertentu 2 (dua) Masa Pajak berturut-turut. jumlah kekurangan pajak ditambah dgn sanksi administrasi beru pa kenaikan sebesar 100 % dari jumlah kekurangan pembayaran pajak. WP dengan kriteria tertentu tidak dapat diberikan pengembalian pendahulu an kelebihan pembayaran pajak apabila :  terhadap WP tersebut dilakukan tindakan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. dan menerbitkan SKP. dan paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk PPN.000.

000. sebagai berikut : 1.500. Pasal 17C (5) (100%) Jumlah yang masih harus dibayar C) WP yang memenuhi Persyaratan Tertentu.000.00 Rp.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN terutang sbb : menjadi Rp.000.000.00 c .000.03/2007.312.000.5% (setengah persen) dari jumlah peredaran usaha sebagaimana dimaksud pada angka 1) WP Badan dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu.000.00 Jumlah Kredit Pajak (482.500.000.000.00 (satu juta rupiah). WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu. 2.00 Rp.000.dan 2.000.000. 193/PMK. Jumlah lebih bayar menurut SPT Tahunan PPh kurang MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 82 HALAMAN Rp.000. yaitu: 1. Jumlah lebih bayar menurut SPT Tahunan PPh paling banyak 0. Jumlah peredaran usaha yg tercantum dlm SPT Tahunan PPh paling banyak Rp.1. Yang dimaksud dengan WP yang memenuhi Persyaratan Tertentu adalah : a b WP Orang Pribadi yg tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.00 Rp.atau 3. Ketentuan mengenai permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak bagi WP yang memenuhi persyaratan tertentu diatur dalam Pasal 17D UU KUP jo PMK No.500. Jumlah lebih bayar menurut SPT Tahunan PPh kurang dari Rp1. Jumlah peredaran usaha yang tercantum dalam SPT Tahunan PPh sama dengan batasan peredaran usaha WP Orang Pribadi yang diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan NPPN (peredaran usaha kurang dari Rp. 30. 30.00 (lima milyar rupiah). Atas kekurangan pembayaran pajak tersebut diterbitkan SKP KB. dengan rincian Jumlah Pokok Pajak Jumlah Kekurangan Pokok Pajak Sanksi adm.000.00.5.5juta – 200juta) Rp.8 milyar dalam satu tahun).312.282. 60. yaitu : 1.

dan pajak yang salah dipotong/dipungut tsb telah disetorkan dan dilaporkan.000. b) seharusnya tidak dipotong/tidak dipungut. yaitu: 1. menerbitkan SKP PKP paling lama 3 bulan sejak permohonan lengkap diterima untuk PPh.000. maka pajak yang salah dipotong atau dipungut tsb dapat diminta kembali oleh WP yang dipotong/dipungut. dan 2. atau d .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dari Rp10.00 (sepuluh juta rupiah). dan paling lama 1 3. melakukan pengembali an pendahuluan kelebihan pajak. setelah meneliti kebenaran pembayaran pajak. Jumlah peredaran yang tercantum dalam SPT Masa PPN untuk suatu Masa Pajak paling banyak Rp. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 83 HALAMAN .00 (seratus lima puluh ribu rupiah) 2.000. Jumlah lebih bayar menurut SPT Masa PPN paling banyak Rp150. Jika berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut Dirjen Pajak menerbitkan SKP KB. Dirjen Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan restitusi kele bihan pajak dari WP yg memenuhi persyaratan tertentu. Dalam hal terdapat pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang yaitu terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan yang dapat berupa.000. Kelebihan Pajak akibat pembayaran pajak yang Seharusnya Tidak Terutang.00. PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN dengan jumlah penyerahan dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu. jumlah pajak yang kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen). bulan sejak permohonan lengkap diterima untuk PPN.150. Dirjen Pajak.000. a) terlalu besar dipotong/dipungut. 3. Dirjen Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap WP yg memenuhi persyaratan tertentu dan menerbitkan SKP setelah 4.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menerbitkan SKP LB apabila terdapat pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. KEGIATAN BELAJAR 9 SENGKETA PAJAK. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 84 HALAMAN .

Terhadap setiap keputusan yang dikeluarkan fiskus yang menyangkut WP atau PP berpotensi menimbulkan sengketa pajak apabila WP atau PP merasa tidak puas terhadap keputusan tersebut dan sepanjang keputusan tersebut dapat diajukan Banding atau Gugatan. Dengan pengertian seperti ini. 2. Selain itu terdapat juga sengketa pajak yang penyelesai annya di lakukan pada tingkat Mahkamah Agung.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. Pengertian Sengketa Pajak. Penyelesaian Sengketa Pajak. Penyelesaian sengketa pajak yang dapat diselesaikan di DJP atau penyelesai annya menjadi kewenangan Dirjen Pajak. penyelesaian sengketa pajak yang demikian hanya bermuara pada Banding atau Gugatan di Pengadilan Pajak. atau di Pengadilan Pajak. pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi. termasuk Gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. yaitu: ”sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara WP atau Penanggung Pajak (PP) dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. maka penyelesaian sengketa pajak bisa diselesaikan di DJP (sebelum ke Pengadilan Pajak). Penyelesaian di DJP “sebelum” ke Pengadilan Pajak. 3. Selanjutnya. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 85 HALAMAN . Sementara itu untuk upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali diselesaikan di Mahkamah Agung. yaitu peninjauan kembali. berdasarkan UU KUP terdiri dari: pembetulan suatu keputusan. Meskipun demikian sebelum sampai kepada Pengadilan Pajak “sengketa pajak” bisa saja diselesaikan terlebih dahulu di DJP untuk beberapa keputusan. Yang dimaksud dengan sengketa pajak dalam bab ini adalah sengketa pajak sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 angka 5 UU Pengadilan Pajak. Dalam pengertian ini muara penyelesaian sengketa pajak hanya melalui Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak.” Sengketa yang timbul akibat suatu keputusan yang dikeluarkan Dirjen Pajak sesuai kewenangan yang dimilkinya berdasarkan UU KUP dan terhadap keputusan tersebut WP atau PP merasa tidak puas yang selanjutnya mengajukan upaya hukum sesuai UU KUP.

mengurang kan. 2. tergantung pada sifat kesalahan dan kekeliruannya. yang meliputi SKP KB. Keputusan/Ketetapan yg dapat dibetulkan karena kesalahan atau kekeliruan adalah sebagai berikut : 1. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam per-UU-an Pajak. STP. SKP Nihil. yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan per-UU-an Pajak” Pembetulan menurut ayat ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan tugas pemerintahan yang baik sehingga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi yang ditemukan fiskus maupu atas permohonan WP. Pasal 16 ayat UU KUP menyatakan bahwa: “Atas permohonan WP atau karena jabatan. Dirjen Pajak dapat membetulkan SKP. antara lain. Sifat kesalahan atau kekeliruan tersebut tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan WP. Pengertian ”membetulkan” pada ayat ini. harus dibetulkan sebagaimana mestinya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak. SK Keberat an. SKP. menambahkan. SK Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. kesalahan hitung. SK Pengurangan / Pembatalan Ketetapan Pajak. atau Dirjen Pajak dapat melakukan pembetulan lagi karena jabatan. SK Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. S T P. atau SK Pemberian Imbalan Bunga. A1 Keputusan/Ketetapan yang Dapat Dibetulkan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 86 HALAMAN . SK Pengurangan / Penghapusan Sanksi Administrasi. 3. Rinciannya adalah sbb : A. Jika masih terdapat kesalahan tulis. dan SKP LB. SKP KBT. atau menghapuskan. pengurangan/pembatalan STP. kesalahan hitung. SK Pembetulan. Pembetulan Suatu Keputusan. dan pembatalan hasil pemeriksaan atau SKP hasil pemeriksaannya. WP dapat mengajukan lagi permohonan pembetulan kepada Dirjen Pajak.

2. 9. alamat. Masa Pajak atau Tahun Pajak. SK Pemberian Imbalan Bunga. kekeliruan penghitungan PPh dalam tahun berjalan. nomor SKP. tetapi Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. dan kekeliruan pengkreditan pajak. NPWP. SK Pembetulan. 8. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 87 HALAMAN dalam . antara lain kesalahan yang berasal dari penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau pembagian suatu bilangan. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah lewat. SK Pengurangan Sanksi Administrasi. kesalahan hitung. A3 Jangka waktu Keputusan Pembetulan. jenis pajak. yaitu kekeliruan dalam penerapan tarif. antara lain kesalahan yang dapat berupa nama. 7. kesalahan tulis. permohonan pembetulan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan (Pasal 16 ayat 3). SK Pembatalan Ketetapan Pajak. harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan yang diajukan WP (Pasal 16 ayat 2). SK Keberatan. kekeliruan PTKP. atau 3. kekeliruan penerapan sanksi administrasi. Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. SK Penghapusan Sanksi Administrasi. atau 10. kekeliruan penerapan persentase NPPN. 5. Ruang lingkup pembetulan yang diatur pada ayat ini terbatas pada kesalahan atau kekeliruan sebagai akibat dari : 1. dan tanggal jatuh tempo. 6. A2 Jenis Kekeliruan/Kesalahan yang Dapat Dibetulkan.

SKP KBT. dan kenaikan yang terutang sesuai dengan ketentuan per-UU-an Pajak dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan WP atau bukan karena kesalahannya. Sebagai peraturan pelaksanaan diterbitkan PMK No. STP. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 88 HALAMAN . Kewenangan Dirjen Pajak untuk melakukan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga. SKP KB. dan kenaikan diberikan oleh Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP yang berbunyi: “Dirjen Pajak karena jabatan atau atas permohonan WP dapat mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga. atau 3. hanya dapat dilakukan dalam hal SKP tersebut : 1) tidak diajukan keberatan. denda. denda. yang tercantum dalam: 1. administrasi yang atau penghapusan sanksi tercantum dalam SKP KB atau SKP KBT. Dalam hal demikian.” Dalam praktik dapat ditemukan sanksi administrasi yang dikenakan kepada WP tidak tepat karena ketidak telitian petugas pajak yang dapat membebani WP yang tidak bersalah atau tidak memahami peraturan perpajakan. Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi. Dirjen Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabul kan sebagian permohonan WP tersebut (Pasal 16 ayat 4). denda. sanksi administrasi berupa bunga.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Apabila diminta oleh WP. dan/atau kenaikan. 21/PMK. denda. B. dengan pengaturan sebagai berikut: B1 Sanksi administrasi yang dapat dikurangkan atau dihapuskan yang dikenakan karena kekhilafan WP atau bukan karena kesalahannya meliputi sanksi administrasi berupa bunga.03/2008. B2 Pengurangan 2. dan kenaikan yang telah ditetapkan dapat dihapuskan atau dikurangkan oleh Dirjen Pajak.

B7 Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan diterima. atau 3) diajukan keberatan. permohonan WP dianggap dikabulkan dan Dirjen Pajak harus menerbitkan keputusan sesuai dengan permohonan yang diajukan. B4 Permohonan yg tidak memenuhi persyaratan diatas tdk dpt dipertimbangkan. dan dalam hal surat permohon an ditandatangani oleh bukan WP. 2. tetapi tidak dipertimbangkan. 4. harus memberi keputusan atas permohonan yang diajukan. SKP KB atau SKP KBT. WP telah melunasi pajak yang terutang. B9 Keputusan yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya. Permohonan harus diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memberikan alasan yang mendukung permohonannya. atau menolak permohonan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 89 HALAMAN . B3 Permohonan untuk memperoleh pengurangan atau penghapusan sanksi adminis trasi tersebut harus memenuhi persyaratan sbb: 1. permohonan tersebut harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal keputusan Dirjen Pajak atas permohonan yang pertama dikirim. 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) STP. dan 5. Dalam hal WP mengajukan permohonan kedua. B8 Apabila jangka waktu tersebut telah lewat tetapi Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan. Permohonan harus disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar. 3. Surat permohonan ditandatangani oleh WP. B5 B6 Permohonan hanya dapat diajukan oleh WP paling banyak 2 kali. surat permohonan tersebut harus dilam piri dengan surat kuasa khusus.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2) diajukan keberatan tetapi telah dicabut oleh WP.

penerapan ketentuan Pasal 19 ayat 1 UU KUP (bunga penagihan terlambat melunasi utang pajak) B12 Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi tersebut dilakukan apabila diterbitkan SK Pembetulan. atau SK Keberatan. C. atau Putusan Peninjauan Kembali. SK Pengurangan/Pembatalan Ketetapan Pajak yang tidak benar. misalnya WP yang ditolak pengajuan keberatannya karena tidak memenuhi persyaratan formal (memasukkan surat keberatan tidak pada waktunya) meskipun persyaratan material terpenuhi. B10 Apabila diminta oleh WP. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 90 HALAMAN . Putusan Banding. Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak. Pengurangan/Pembatalan STP. D.03/2008. yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar berkurang atau dibatalkan. yang berbunyi: ”Dirjen Pajak karena jabatan atau atas permohonan WP dapat mengurangkan atau membatalkan SKP yang tidak benar. Kewenangan Dirjen Pajak untuk melakukan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak diatur dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b.” Dirjen Pajak berlandaskan unsur keadilan dapat mengurangkan atau membatalkan SKP yang tidak benar. Dirjen Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN WP. B11 Dirjen Pajak secara jabatan dapat mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi dalam STP yang diterbitkan sebagai akibat dari: 1. dan 2. Pelaksanaan Pasal 36 ayat (1) huruf b ini diatur dgn PMK No. diterbitkannya SKP karena PKP tidak membuat faktur pajak. 21/PMK.

03/2008. Dalam penjelasan Pasal 25 ayat 1 UU KUP disebutkan apabila WP berpendapat bahwa jumlah rugi. c ini diatur dgn PMK No. Dirjen atas kewenangannya atau atas permohonan WP dapat membatalkan hasil pemeriksaan pajak yang dilaksanakan tanpa penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan atau tanpa dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan WP. Namun. E. pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. atau b. penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan. WP dapat mengajukan keberatan hanya kepada Dirjen Pajak. jumlah pajak. dan pemotongan atau pemungutan pajak tidak sebagaimana mestinya. 4. “Dirjen Pajak karena jabatan atau atas permohonan WP dapat mengurangkan atau membatalkan STP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 yang tidak benar. Pembatalan Hasil Pemeriksaan atau SKP Hasil Pemeriksaan. 21/PMK. dalam hal WP tidak hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. atau pemotongan atau MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 91 HALAMAN . K e b e r a t a n. permohonan WP tidak dapat dipertimbangkan. jumlah besarnya pajak. Keberatan yang diajukan adalah mengenai materi atau isi dari ketetapan pajak. Kewenangan Dirjen Pajak untuk membatalkan hasil pemeriksaan atau SKP hasil pemeriksaan terdapat dalam Pasal 36 ayat (1) huruf d.” Pelaksanaa Pasal 36 ayat (1) huruf 21/PMK. yaitu jumlah rugi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kewenangan Dirjen Pajak untuk melakukan pengurangan atau pembatalan STP terdapat dalam Pasal 36 ayat (1) huruf c UU KUP yang berbunyi. yang berbunyi: ”Dirjen Pajak karena jabatan atau atas permohonan WP dapat membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau SKP dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa : a.” Pelaksanaan Pasal 36 ayat (1) huruf d ini diatur dgn PMK No. Dalam rangka memberikan keadilan dan melindungi hak WP.03/2008.

Surat Ketetapan Pajak Nihil. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 92 HALAMAN .03/2007 adalah sebagai berikut: A1 Keberatan diajukan oleh WP dengan menyampaikan surat keberatan ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat PKP dikukuhkan melalui : 1. penyampaian langsung. atau b) e-Filing melalui ASP. d. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. A. Ketentuan mengenai pengajuan Keberatan. atau 3. pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. c. 2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pemungutan pajak. Ketentuan dan syarat pengajuan keberatan diatur dalam Pasal 25 UU KUP jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK. A2 Pengajuan keberatan yang dituangkan dalam bentuk surat keberatan harus memenuhi syarat sbb: 1. Untuk 2 (dua) Tahun Pajak tersebut harus diajukan 2 (dua) buah surat keberatan. cara lain. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. b. Ketentuan mengenai keberatan dalam Pasal 25 ayat 1 UU KUP berbunyi: “WP dapat mengajukan keberatan hanya kepada Dirjen Pajak atas suatu : a. Contoh : Keberatan atas ketetapan PPh Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak 2009 harus diajukan masing-masing dalam 1 (satu) surat keberatan tersendiri. meliputi: a) melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat. atau e. pos dengan bukti pengiriman surat.” Yang dimaksud dengan "suatu" pada ayat ini adalah 1 (satu) keberatan harus diajukan terhadap 1 (satu) jenis pajak dan 1 (satu) Masa Pajak atau Tahun Pajak.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. 4. dengan demikian tanggal penyampaian per baikan surat keberatan merupakan tanggal surat keberatan diterima. WP telah melunasi pajak yg masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui WP dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. WP dapat meminta kepada Dirjen Pajak untuk memberi keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak atau penghitungan rugi. untuk 1 (satu) pemotongan pajak. mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan WP dengan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar penghitungan. atau untuk 1 (satu) pemungutan pajak. A3 Surat keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan dan tidak diterbitkan SK Keberatan. diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim SKP atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga kecuali WP dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan WP (force majeur). 5. Dalam hal surat keberatan yang disampaikan oleh WP belum memenuhi persyaratan. surat keberatan ditandatangani oleh WP. A4 Untuk keperluan pengajuan keberatan. dan hal ini wajib dipenuhi oleh Dirjen Pajak dalam jangka MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 93 HALAMAN . dan 6. 1 (satu) surat keberatan diajukan hanya untuk 1 (satu) SKP. surat keberatan tersebut harus dilampiri dengan surat kuasa khusus. WP dapat menyampaikan perbaikan surat keberatan dengan melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi sebelum jangka waktu 3 (tiga) bulan dimaksud terlampaui. serta hal ini diberitahukan secara tertulis kepada WP. 3. dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan WP.

Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 94 HALAMAN . menolak. B. tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan SK Keberatan (Pasal 25 ayat 7 UU KUP). Pelunasan tersebut harus dilakukan sebelum WP mengaju kan keberatan. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui. jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat 3 (satu bulan sejak tanggal diterbitkan SKP KB atau SKP KBT) atau ayat 3a (jangka waktu pelunasan bagi WP usaha kecil dan WP di daerah tertentu) atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. Dirjen Pajak tidak menerbit kan SK Keberatan. atau menambah besarnya jumlah pajak yg masih harus dibayar. keberatan yang diajukan WP dianggap dikabulkan dan Dirjen Pajak wajib menerbitkan SK Keberatan sesuai dengan keberatan WP. Jangka Waktu Pelunasan Pajak akibat Pengajuan Keberatan. Dalam hal WP mengajukan keberatan. Persyaratan pengajuan keberatan bagi WP adalah harus melunasi terlebih dahulu sejumlah kewajiban perpajakannya yang telah disetujui WP pada saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Keputusan Dirjen Pajak dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagi an. A5 Jangka waktu pemberian keterangan oleh Dirjen Pajak atas permintaan WP tersebut tidak menunda jangka waktu pengajuan keberatan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN waktu paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak surat permintaan WP diterima. A6 Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. dan hal ini diatur dalam Pasal 25 ayat 3a UU KUP.

20.100. Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat mengajukan keberatan yaitu sebesar Rp18juta. Jatuh tempo pelunasan kekurangan pembayaran pajak ditambah sanksi administrasi Pajak Yang Masih Harus Rp.000. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.000.000.18juta dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% atau Rp.000. Contoh : Setelah dilakukan pemeriksaan atas SPT PPh Badan tahun 2008 atas nama PT ABC diterbitkan SKP KB tanggal 10 Oktober 2009 dengan rincian sebagai sbb: Jumlah Pokok Pajak Jumlah Kredit Pajak “ Jumlah Kekurangan Pembayaran Pokok “ Pajak “ Sanksi Administrasi (2% X 10 bulan = 20%) Jumlah Dibayar Misalkan dalam pembahasan akhir.9juta.000. Dan sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan (Pasal 19) atas jumlah Rp18juta tidak diberlakukan.000.-. PT ABC hanya menyetujui jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak sebesar Rp. maka atas jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan yaitu Rp. Selanjutnya dalam Pasal 25 ayat 9 UU KUP dinyatakan bahwa “Dalam hal keberatan WP ditolak atau dikabulkan sebagian. Dalam hal PT ABC mengajukan keberatan maka PT ABC wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar yang telah disetujui yaitu sebesar Rp. tertangguh sampai dengan 1 bulan sejak tanggal penerbitan SK Keberatan.- MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 95 HALAMAN .6juta {Rp5juta + (20% x Rp5juta)} sebelum surat keberatan disampaikan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pada saat pengajuan keberatan.000. 120.5. 4.000.24.000.000.Rp.000.” Contoh : Misalkan keberatan PT ABC pada kasus di atas ditolak dengan SK Keberatan tanggal 20 Februari 2009.000.

Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 27 ayat 5a bahwa: ”Dalam hal WP mengajukan banding. Penyelesaian sengketa pajak di Pengadilan Pajak meliputi banding dan gugatan. B a n d i n g.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (Rp.27juta) dalam SK Keberatan tersebut adalah tanggal 19 Maret 2009. Apabila diminta oleh WP untuk keperluan pengajuan permohonan banding. jangka waktu pelunasan pajak yang diajukan banding tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. A1 Jangka Waktu Pelunasan SK Keberatan dalam hal WP mengajukan Banding. Bagi WP yang mengajukan banding. Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. Penyelesaian di Pengadilan Pajak. 5. Upaya hukum selanjutnya yang dimiliki WP dalam hal tidak puas dengan SK Keberatan yang diterbitkan fiskus adalah mengajukan permohonan banding kepada Pengadilan Pajak sebagaimana tertera dalam Pasal 27 ayat 1 UU KUP. (Pasal 25 ayat 10 UU KUP). Dirjen Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis halhal yang menjadi dasar SK Keberatan diterbitkan (Pasal 27 ayat 4a UU KUP). jangka waktu MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 96 HALAMAN . A. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak SK Keberatan diterima dan dilampiri dengan salinan SK Keberatan tersebut {Pasal 27 ayat 3}. Apabila WP mengajukan permohonan banding maka sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (9) tidak dikenakan.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Dalam hal permohonan banding WP ditolak atau dikabulkan sebagian. dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila WP tidak melunasi utang pajak tersebut. ayat (3a). Di samping itu. WP telah melunasi sebagian SKP KB tersebut sebesar Rp. maka kekurangan pembayaran pajak (Rp.000.200.” Contoh : Untuk tahun pajak 2008. tertangguh sampai dengan 1 bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.200.000. Dirjen Pajak mengabulkan sebagian keberatan WP dengan jumlah MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 97 HALAMAN . jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 27 ayat (5d) UU KUP bahwa: “Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabul kan sebagian.000.18juta). tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. SKP KB dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp.00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.00 diterbitkan terhadap PT A.1. Sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan (Pasal 19) atas jumlah Rp.” Contoh : Misalkan PT ABC pada contoh sebelumnya mengajukan banding.00.000. Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. atau Pasal 25 ayat (7).000.18juta tidak diberlakukan.000.000. WP hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp. atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100 % dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayar an pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

WP dikenai sanksi administrasi berupa – Rp. atau Pengumuman Lelang.000. Sesuai dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 98 HALAMAN denda sebesar 100% x = (Rp.00.00 Rp.000.” B. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap SK Keberatan yang diajukan oleh WP (Pasal 1 angka 31 UU KUP).00. Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh WPajib Pajak atau penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku (Pasal 1 angka 7 UU Pengadilan Pajak).000.750. Selanjutnya WP mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan besarnya pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp.000.000. G u g a t a n. dalam penjelasan Pasal 15 ayat 1 yang menyatakan bahwa: “Yang dimaksud dengan “pengadilan khusus” dalam ketentuan ini antara lain … pengadilan pajak di lingkungan peradilan tata usaha negara.000.000. Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus di lingkungan peradilan tata usaha negara {Pasal 27 ayat 2 UU KUP}.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp.200. Dalam hal ini baik sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 maupun sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (9) tidak dikenakan. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan. A2 Putusan Banding.450.450. pelaksanaan Surat Paksa.000.250.00) .00. Namun. Mengenai gugatan diatur dalam Pasal 23 ayat 2 UU KUP yaitu sbb:” Gugatan WP atau Penanggung Pajak terhadap: 1.000.000.

Peninjauan kembali diatur dalam UU Pengadilan Pajak. c. “setelah” Pengadilan Pajak.” 6. yang apabila diketahui pada tahap persidangan di Pengadilan Pajak akan menghasilkan putusan yang berbeda.” Pasal 91: Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut: a. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya. Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu. penerbitan SKP atau SK Keberatan yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan hanya dapat diajukan kepada badan peradilan pajak. atau 4. yaitu sbb: Pasal 77 ayat 3: “Pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan peninjauan kembali atas putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 99 HALAMAN . d. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelesaian di Mahkamah Agung. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak. atau e. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada yang dituntut. kecuali yang diputus berdasarkan Pasal 80 ayat (1) huruf b dan c. Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan. b. 3. keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan. Upaya hukum berikutnya yang merupakan upaya hukum luar biasa yang dapat dilakukan baik oleh WP maupun fiskus adalah peninjauan kembali.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEGIATAN BELAJAR 1O IMBALAN BUNGA MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 100 HALAMAN .

kelebihan pembayaran sanksi administrasi berupa denda Pasal 14 ayat (4) dan/atau bunga MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 101 HALAMAN . keterlambatan restitusi kelebihan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) UU KUP. keputusan pengurangan. atau Putusan Peninjauan Kembali atau diterbitkannya keputusan pembetulan. Ketentuan mengenai imbalan bunga diatur dalam Pasal 27A UU KUP jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 195/PMK. atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat 1 UU KUP. tetapi tidak dilanjutkan dengan penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan. c. atau dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan. d. dilanjutkan dengan penyidikan. SK Pengurangan/Pembatalan Ketetapan Pajak yang mengabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat 1a UU KUP. Putusan Banding.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Imbalan bunga adalah hak yang dimiliki WP apabila terdapat kelebihan pembayaran pajak sebagai akibat diterbitkannya SK Keberatan. f. tetapi diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. keterlambatan penerbitan SKP LB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B ayat 3 UU KUP. yaitu terhadap permohonan kelebihan pembayaran pajak dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan pemeriksaan bukti permulaan tersebut tidak dilanjutkan dengan penyidikan. Imbalan bunga diberikan kepada WP dalam hal terdapat : a.03/2007. permohonan banding. Hak ini bersifat otomatis artinya dapat diperoleh WP tanpa melaui suatu permohonan ataupun pemberitahuan. e. b. kelebihan pembayaran pajak karena SK Pembetulan. dan dalam hal kepada WP diterbitkan SKP LB. atau keputusan pembatalan atas SKP atau STP yang keputusannya mengabulkan sebagian atau seluruhnya atau diterbitkannya keputusan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi. yaitu SKP LB yang diterbitkan setelah jangka waktu satu bulan setelah dalam jangka waktu 12 bulan tidak diterbitkan surat ketetapan atas permohonan kelebihan pembayaran pajak dalam SPT. kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B ayat (4) UU KUP. kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan.

 terbitnya SKPPKP atas permohonan restitusi kelebihan pajak dari WP dengan kriteria tertentu {Pasal 17C} atau dari WP yang memenuhi persyaratan tertentu {Pasal 17D}. SK Pembetulan. Putusan Banding. atau Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (2) UU KUP. Pasal 11 ayat 3 UU KUP menyebutkan: ”Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu 1 (satu) bulan. SK Pengurangan/Pembatalan Ketetapan Pajak. Keterlambatan Penerbitan SKP LB. 2. menurut Pasal 17B ayat (3) UU KUP. Pemerintah memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas keterlambatan restitusi kelebihan pajak.  terbitnya SKP LB setelah Dirjen Pajak meneliti kebenaran pembayaran pajak akibat pembayaran pajak yg tidak seharusnya terutang {Pasal 17 ayat (2)}. atau SK Pemberian Imbalan Bunga.  terbitnya SK Keberatan. Pasal 17B ayat 1 dan ayat 2 UU KUP mengatur bahwa apabila setelah melampaui jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan restitusi kelebihan pajak (untuk selain WP dengan kriteria tertentu dan WP yang MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 102 HALAMAN .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pasal 19 ayat (1) UU KUP karena SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan SK Keberatan. yg menyebabkan kelebihan pembayaran pajak. SK Pengurangan Sanksi Adm. menurut Pasal 11 ayat (3) UU KUP.  terbitnya SKP LB hasil pemeriksaan atas permohonan restitusi kelebihan pajak dalam SPT {Pasal 17B}. 195 Th 2007. dihitung sejak batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir sampai dengan saat dilakukan pengembalian kelebihan. atau diterimanya Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali.” Restitusi kelebihan pajak yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah akibat:  diajukan permohonan restitusi kelebihan pajak sehubungan dengan diterbitkan nya SKP LB hasil pemeriksaan atas SPT yang tidak menunjukkan kelebihan pambayaran pajak {Pasal 17 ayat (1)}. 1. Keterlambatan Restitusi Kelebihan Pajak. SK Penghapusan Sanksi Adm. Jangka waktu satu bulan di atas merupakan batas waktu penerbitan SPMKP (Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak) sebagaimana diatur dlm PMK No.

Dalam PMK yg sama hal ini ternyata berlaku juga bagi keterlambatan penerbitan SKPPKP yg sesungguhnya tidak diatur dalam UU KUP.” Yang dimaksud dengan sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat 2 adalah jangka waktu satu bulan setelah jangka waktu 12 bulan dimana seharusnya Dirjen Pajak memberikan suatu keputusan terhadap permohonan restitusi kelebihan pajak. Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan. 3. Pembayaran Kelebihan Pajak tertangguh akibat Pemeriksaan Bukti Permulaan (Pasal 17 B ayat (4) UU KUP. Ketentuan tersebut merupakan kekeliruan sebab berbeda dengan UU KUP yang penghitungan masa bunganya dimulai sejak satu bulan setelah jangka waktu 12 bulan dimana Dirjen Pajak seharusnya memberikan suatu keputusan berakhir. Dalam PMK No. atau  jangka waktu 1 (satu) bulan berakhir untuk SKPPKP PPN. Masa bunga bagi penghitungan imbalan bunga untuk keterlambatan penerbitan SKPPKP adalah dihitung sejak :  jangka waktu 3 (tiga) bulan berakhir untuk SKPPKP PPh. 195 tahun 2007 masa bunga untuk penghitungan imbalan bunga dihitung sejak jangka waktu 12 (dua belas) bulan berakhir untuk SKP LB. Selanjutnya dalam Pasal 17B ayat 3 UU KUP dinyatakan bahwa : ”Apabila SKP LB terlambat diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN memenuhi persyaratan tertentu) diterima secara lengkap. kepada WP diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat diterbitkan SKP LB. permohonan restitusi kelebihan pajak dianggap dikabulkan dan SKP LB harus diterbitkan paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. Pasal 17 B ayat (1) dan ayat (1a) UU KUP mengatur bahwa ketentuan mengenai keharusan Dirjen Pajak menerbitkan SKP paling lama 12 (dua belas) MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 103 HALAMAN . Karena tidak diatur dalam UU KUP mengenai jangka waktu dimulainya penghitungan masa bunga maka imbalan bunga bagi keterlambatan penerbitan SKPPKP dihitung sesuai dengan PMK tersebut.

dilanjutkan dengan penyidikan. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. tetapi diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Imbalan bunga akibat kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan atau permohonan banding atau peninjauan kembali diterima sebagian atau seluruhnya diatur dalam Pasal 27A ayat (1) KUP yang berbunyi: pengajuan ”Apabila peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya. permohonan banding. kepada WP diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan atau permohonan banding atau peninjauan kembali diterima sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (1) KUP. kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan keberatan. SKP Nihil.” 4. atau dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan tindak pidana perpajakan. dan dalam hal kepada WP diterbitkan SKP LB. SKP KBT. tetapi tidak dilanjutkan dengan penuntutan tindak pidana perpajakan. dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan saat diterbitkan SKP LB. atau permohonan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 104 HALAMAN . Apabila pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana tersebut tidak sampai pada penuntutan dan dalam hal diterbitkan SKP LB maka WP tersebut berhak atas imbalan bunga sebagaimana diatur dalam Pasal 17B ayat 4 UU KUP yang berbunyi: ”Apabila pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) tidak dilanjutkan dengan penyidikan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bulan sejak surat permohonan restitusi kelebihan pajak (selain WP dengan kriteria tertentu dan selain WP yang memenuhi persyaratan tertentu) diterima secara lengkap. tidak berlaku terhadap WP yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana perpajakan. selama pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam SKP KB. dan SKP LB yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak.

Kelebihan pembayaran sanksi administrasi Pasal 14 ayat (4) dan atau Pasal 19 ayat (1) berdasarkan SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan SK Keberatan. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. atau Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 105 HALAMAN . b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan ketentuan sebagai berikut: a. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. Putusan Banding. atau Putusan Peninjauan Kembali. Putusan Banding. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak yang dikabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud Pasal 27 ayat (1a) UU KUP. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak yang dikabulkan sebagian atau seluruhnya menyebabkan kelebihan pembayaran pajak dengan ketentuan sebagai berikut: a. Imbalan bunga akibat kelebihan pembayaran pajak karena SK Pembetulan. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak yang dikabulkan sebagian atau seluruhnya diatur dalam Pasal 27A ayat (1a) KUP yang berbunyi: “Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga diberikan atas SK Pembetulan. atau b. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. atau Putusan Peninjauan Kembali. atau c. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. Putusan Banding.” 5. untuk SKP KB dan SKP KBT dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya SK. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak. Kelebihan pembayaran pajak karena SK Pembetulan. untuk SKP Nihil dan SKP LB dihitung sejak tanggal penerbitan SKP sampai dengan diterbitkannya SK Keberatan. atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak. untuk STP dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya SK Pembetulan. SK Pengurangan Ketetapan Pajak. untuk SKP KB dan SKP KBT dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya SK Pembetulan. untuk SKP Nihil dan SKP LB dihitung sejak tanggal penerbitan SKP sampai dengan diterbitkannya SK Pembetulan.” 6.

MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 106 HALAMAN .  PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai dgn masa penerbitan faktur pajak. tetapi tidak tepat waktu.  PKP tidak mengisi faktur pajak secara lengkap. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (2) KUP Selengkapnya Pasal 27A ayat (2) UU KUP berbunyi: “Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga diberikan atas pembayaran lebih sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan/atau bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) berdasarkan SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan SK Keberatan. Putusan Banding. KEGIATAN BELAJAR 11 TINDAK PIDANA PERPAJAKAN DAN PENYIDIKAN.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sebagian atau seluruh permohonan WP.” Sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) adalah sanksi administrasi 2% dari Dasar Pengenaan Pajak yang dikenakan terhadap:  PKP tidak membuat atau membuat faktur pajak. atau Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan sebagian atau seluruh permohonan WP. pada saat jatuh tempo tidak atau kurang dibayar. Sedangkan sanksi administrasi berupa bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) UU KUP adalah berupa bunga penagihan sebesar 2% per bulan dalam hal jumlah pajak yang masih harus dibayar menurut ketetapan.

Dengan demikian apabila suatu sangkaan tindak pidana dilakukan penyidikan berdasar kan KUHP maka tindak pidana tersebut merupakan tindak pidana umum meskipun rumusan tindak pidananya (ketentuan pidana) tidak diatur dalam KUHP tetapi dalam UU lainnya. pemeriksaannya maupun sanksinya yang menyimpang dari ketentuan yang dimuat dalam KUHP yang lazimnya lebih ketat dan lebih berat. SH dalam bukunya Asas dan Dasar Perpajakan 3. Termasuk dalam tindak pidana khusus dalam pemahaman ini adalah tindak pidana korupsi. merupakan tindak pidana umum meskipun rumusan mengenai tindak pidananya diatur dalam undang-undang perpajakan sebab tata cara penyidikannya mengacu kepada KUHP. Tentang hal ini Prof.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. Pengertian tersebut dan penjelasan selanjutnya dari buku itu memberikan penekanan pada tata cara penyidikan. misalnya. pemeriksaannya yang khusus sebagai unsur suatu tindak pidana merupakan tindak pidana khusus. Aturan umum mengenai tindak pidana adalah bahwa suatu perbuatan termasuk dalam kategori tindak pidana apabila perbuatan tersebut memenuhi kriteria sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang yang memuat ketentuan mengenai pidana. Tindak pidana khusus diberikan pengertian sebagai tindak pidana yang diatur tersendiri dalam undang-undang khusus. Hal ini tertera dalam Bab I Pasal 1 ayat 1 KUHP yang berbunyi : “Suatu perbuatan tidak dapat dipidana. Rochmat Soemitro. yang memberikan peraturan khusus tentang cara penyidikannya. Definisi tersebut diberikan dengan tambahan kalimat: jika tidak diberikan ketentuan yang menyimpang. Tindak pidana perpajakan. tuntutannya. Pengertian Tindak Pidana dan Ketentuan Pidana.” Seseorang tidak dapat dinyatakan melakukan tindak pidana sepanjang tindakannya itu tidak dapat dibuktikan sebagai tindak pidana sesuai perumusan dalam ketentuan pidana. maka ketentuan KUHP umum tetap berlaku. kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada. Mengacu pada pendapat Prof. bahwa suatu tindak pidana dapat dikategorikan sebagai tindak pidana umum atau tindak pidana khusus. Rochmat Soemitro menulis bahwa tindak pidana di MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 107 HALAMAN . Dr. tuntutannya. Apabila atas sangkaan suatu tindak pidana dilakukan penyidikan yang tata caranya tidak mengacu pada KUHP maka tindak pidana tersebut merupakan tindak pidana khusus.

bahwa perbuatan itu merupakan tindak pidana fiskal. Timbul pertanyaan apakah tindak pidana perpajakan adalah tindak pidana yang rumusannya hanya ada dalam undang-undang perpajakan saja? Atau apakah juga ada pada ketentuan yang lain ? Rochmat Soemitro berpendapat bahwa “jika tindak pidana tersebut dilakukan dalam bidang perpajakan maka dikatakan. Berdasarkan pengertian di atas maka tindakan pemerasan yang dilakukan pegawai pajak termasuk dalam tindak pidana di bidang perpajakan. Apabila kita setuju dengan pendapat ini.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bidang perpajakan adalah tindak pidana umum yang sanksinya diatur secara khusus dalam Unadang-Undang Pajak. Menurut pendapat penulis. Maka dalam kasus pemerasan di atas tidak bisa dikategorikan sebagai tindak pidana di bidang perpajakan karena perumusan pemerasan sebagai tindak pidana tidak ditemukan dalam undang-undang di bidang perpajakan. UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa dan sebagainya. Rumusan tentang pemerasan dijumpai dalam KUHP. Ketentuan pidana tidak hanya terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tetapi dapat dijumpai juga dalam undang-undang lain seperti UU Perpajakan. Misalkan tentang pemerasan yang dilakukan pegawai pajak. Dalam UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) tidak dijumpai ketentuan pidana berkaitan dengan pemerasan. meskipun tindak pidana di bidang perpajakan adalah tindak pidana umum yang tata cara penyidikan dan tuntutannya dilakukan berdasarkan KUHP namun dalam menentukan apakah suatu tindak pidana merupakan tindak pidana di bidang perpajakan adalah dengan melihat apakah tindakan tersebut sesuai kekhususannya termasuk ke dalam rumusan dalam undang-undang perpajakan. walaupun perumusannya tidak terdapat dalam perundang-undangan pajak”. UU Bea dan Cukai. maka penyidik PNS (pejabat DJP) dapat melakukan tindakan penyidikan atas sangkaan tindak pidana terhadap para tersangka meskipun tindak pidana yang dilakukan tidak terdapat dalam perumusan undang-undang perpajakan sepanjang tindakan tersebut dilakukan dalam bidang perpajakan. Undang-undang perpajakan yang memuat ketentuan pidana MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 108 HALAMAN . 2. Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. UU Imigrasi.

tidak menyampaikan SPT. pencatatan. 3. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. 2. A. Selanjutnya Pasal 39 UU KUP menyatakan : (1) Setiap orang yang dengan sengaja: 1. 4. 7. Setiap orang yang karena kealpaannya : 1. memperlihatkan pembukuan. Bagi Setiap Orang selaku WP. tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 109 HALAMAN . didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. atau 2. Tindak Pidana dalam UU KUP. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A. Rumusan tindak pidana bagi setiap orang selaku WP yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya karena alpa diuraikan dalam Pasal 38 UU KUP. UU Bea Meterai. menyampaikan SPT.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN adalah UU KUP. 6. 3. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29. atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. selanjutnya dirinci sbb : Pasal 38 menyatakan. UU PBB. atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. 5. UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. dan Pasal 39 UU KUP untuk tindakan yang dilakukan secara sengaja. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia.

terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 110 HALAMAN . (2) Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun. atau menyampaikan SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut. kuasa. Ketentuan dlm Pasal 39 UU KUP ini berlaku juga bagi wakil. sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. catatan. (3) Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. atau dokumen lain. catatan. dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak. atau 9. 8. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (11). dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan. tidak menyimpan buku.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN buku.

kuasa. Bagi Setiap Orang berkaitan dengan Faktur Pajak. menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak. dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak. bukti pemotongan pajak. yang menganjurkan. bukti pemungutan pajak.000. atau yg membantu melakukan tindak pidana pajak (Pasal 43 {1} UU KUP). Ketentuan dalam Pasal 39A UU KUP ini berlaku juga bagi wakil. atau 2. bukti pemungutan pajak. Rumusan tindak pidana bagi pejabat adalah berkaitan dengan kerahasiaan jabatan yang diuraikan dalam Pasal 41 UU KUP dengan rincian sebagai berikut: (1) Pejabat yang karena kealpaanya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp25. dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya. B. atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan (Pasal 43 ayat 1 UU KUP). yang turut serta melakukan. bukti pemungutan pajak. (2) Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 111 HALAMAN . yang menyatakan bahwa “Setiap orang yang dengan sengaja : 1. atau pihak lain yang menyuruh melakukan.000.00 (dua puluh lima juta rupiah). menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai PKP dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak. atau pihak lain yg menyuruh melakukan. dan/atau bukti setoran pajak. bukti pemotongan pajak. Bagi Pejabat. pegawai dari WP. yg turut serta melakukan. yg mengan jurkan. bukti pemotongan pajak. C. Rumusan tindak pidana bagi setiap orang berkaitan dengan penerbitan Faktur Pajak diuraikan dalam Pasal 39A UU KUP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pegawai dari WP.

00 (lima puluh juta rupiah).000.25. Tanpa ada pengaduan pejabat yang bersangkutan tidak dapat dituntut (delik aduan).” Seorang pejabat dapat disangka melakukan tindak pidana berkaitan dengan kealpaan maupun sengaja melalaikan kewajiban merahasiakan segala sesuatu dalam rangka jabatan atau pekerjaannya apabila atas tindakan itu dilakukan pengaduan oleh orang yang kerahasiaannya dilanggar. Bagi Pihak Ketiga. konsultan pajak. notaris. Bagi pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan WP seperti bank.000. (3) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar. kantor administrasi wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta dalam rangka pemeriksaan pajak. atau memberi keterangan atau bukti yang tidak benar dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Apabila kewajiban ini dilanggar maka merupakan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 41A UU KUP yang berbunyi: “Setiap orang yang wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 tetapi dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti.000. yang menganjurkan.000.00 (dua puluh lima juta rupiah). atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana diatur dalam Pasal 35 UU KUP. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 112 HALAMAN . akuntan publik.” Ketetentuan dalam Pasal 41A UU KUP ini berlaku juga bagi yang menyuruh melakukan. atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. D. Yang mempunyai hubungan dengan WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp50. penagihan pajak. 1.

000.000. Instansi pemerintah.00 (delapan ratus juta rupiah). asosiasi. 3. wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Dirjen Pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).000.000. lembaga. asosiasi dan pihak lain diatur dalam Pasal 35A ayat 1 UU KUP yang bebrunyi: Setiap instansi pemerintah.000. Bagi Setiap Orang yang Menghalangi Penyidikan. dan pihak lain Kewajiban memberikan informasi bagi instansi pemerintah. seperti mengha langi penyidik melakukan penggeledahan atau menyembunyikan barang bukti dirumuskan dalam Pasal 41B UU KUP yaitu sebagai berikut: “Setiap orang yg dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 113 HALAMAN . lembaga.800. dan pihak lain. Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.00 (lima ratus juta rupiah). Tindak pidana bagi setiap orang yang menghalangi penyidikan.000.000.00 (delapan ratus juta rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp. Apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi maka yang demikian itu merupakan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 41C UU KUP yang menyatakan sebagai berikut : 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2.1. lembaga. 2. Setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh Dirjen Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp.00 (satu miliar rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. asosiasi.500.000.000.800. E. 4.

dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terhutang. tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang diperlukan. 2. e.000.00 (tujuh puluh lima juta rupiah). 4. dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terutang. b.-.000. menyampaikan SPOP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Rp75. Terhadap bukan WP yang bersangkutan yang melakukan tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d dan huruf e. dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp. “Barang siapa karena kealpaannya : 1.” Ketetentuan Pasal 41B UU KUP ini berlaku juga bagi yg menyuruh melakukan. Tindak Pidana dalam UU PBB. memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. sehingga menimbulkan kerugian pada Negara.000. atau yg membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau dokumen lainnya. Tindak pidana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25 ayat (2) adalah (2) MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 114 HALAMAN . tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP kepada DJP. c. sehingga menimbulkan kerugian pada Negara. yg menganjurkan. (1) Barang siapa dengan sengaja : a. 2. (3) Ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun. d. terhitung sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarnya denda. tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP kepada Dirjen Pajak. menyampaikan SPOP. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar.000. Selanjutnya Pasal 25 UU PBB menyatakan. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar. Pasal 24 UU PBB menyebutkan.

capnya. barangsiapa dengan sengaja menggunakan. menyerahkan. b. barangsiapa meniru atau memalsukan meterai tempel dan kertas meterai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan meterai. huruf c.00 (dua belas juta rupiah). Selanjutnya Pasal 14 UU Bea Meterai menyebutkan : a. c. yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak. 6. Tindak Pidana dalam UU Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (UU PPSP). dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun. dan huruf f tidak melaksanakan kewajibannya. 12. Perumusan tindak pidana berkaitan dengan penagihan pajak dengan surat paksa terdapat dalam UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. dan tindak pidana sebagaimana tersebut pada Pasal 25 ayat (1) adalah kejahatan. huruf e. dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling banyak Rp. Pasal 13 UU Bea Meterai menyatakan : Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana : a.000. d. Tindak Pidana dalam UU Bea Meterai. tanda-tangannya. tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakannya dengan melawan hak. barangsiapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau memasukkan ke Negara Indonesia meterai palsu.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pelanggaran. huruf d. Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b tanpa izin Menteri Keuangan. b.000. pada pasal 41A yang berbunyi : a. menawarkan.00 (sepuluh juta rupiah). b. menjual. barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai.000. Setiap orang yang dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 115 HALAMAN .000. Penanggung Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp. 5. Apabila pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) huruf b. menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke Negara Indonesia meterai yang mereknya. c. 10. Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kejahatan.

b. Kewenangan melakukan penyidikan tindak pidana perpajakan diatur dalam Pasal 44 ayat 1 UU KUP yang berbunyi : “Penyidikan tindak pidana perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan DJP yang diberi MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 116 HALAMAN .000." 7.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN yang dilakukan menurut undang-undang. Kewenangan Melakukan Penyidikan Pajak dan Wewenang Penyidik Pajak. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. Untuk tindak pidana perpajakan penyidikan dilakukan oleh pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan DJP yang wewenangnya diatur dalam UU KUP. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.00 (sepuluh juta rupiah). Penyidik dalam KUHP Pasal 6 ayat 1 adalah : a. menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan dalam melaksanakan ketentuan undang-undang yang dilakukan oleh Jurusita Pajak. pejabat polisi negara Republik Indonesia. atau dengan sengaja mencegah. dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling banyak Rp. Pengertian Penyidikan. Penyidikan Pajak.10.000. B. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan DJP yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan per-UU-an Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dilaksanakan menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. A.

mengumpulkan. b. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang. 2. menghentikan penyidikan. Dalam pelaksanaan tugasnya penyidik pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan DJP berada di bawah koordinasi penyidik pejabat polisi negara RI yang mempunyai wewenang sebagaimana diatur dalam Pasal 7 KUHP yaitu sebagai berikut: 1. j. dan/atau dokumen yang dibawa. c. dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas. mencari. mencari. d. catatan. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan. dan/atau k. e. menerima lapran atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. g. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. pencatatan. dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan.” Wewenang penyidik pajak (Pejabat PNS DJP) diatur dalam Pasal 44 ayat 2 UU KUP yaitu sebagai berikut: a. h. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan. i. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian. dan dokumen lain. f. serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut. benda. meneliti.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana perpajakan. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan. memeriksa buku. menerima. 3. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan menurut ketentuan peraturan perUU-an. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 117 HALAMAN .

penahanan. Penghentian Penyidikan. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. Penghentian penyidikan dapat juga dilakukan meskipun tidak memenuhi kriteria di atas. 8. Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana perpajakan paling lama dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal surat permintaan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 118 HALAMAN . mengambil sidik jari dan memotret seseorang. melakukan penangkapan. Berdasarkan Pasal 44A UU KUP. 6. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab. (2) Penghentian penyidikan tindak pidana perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan setelah WP melunasi utang pajak yg tidak/ kurang dibayar atau yg tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar. atau tersangka meninggal dunia. 5. Hal ini dapat dilakukan untuk kepentingan penerimaan negara. atas permintaan Menteri Keuangan. atau 3. sebagaimana diatur dalam Pasal 44B UU KUP yang lengkapnya berbunyi: (1) Untuk kepentingan penerimaan negara. tidak terdapat cukup bukti. 4. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara. penyidikan dihentikan karena peristiwanya telah daluwarsa. 2. 9.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. mengadakan penghentian penyidikan. 10. C. 7. atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan. penyidik dapat menghentikan penyidikan dalam hal: 1. penggeledahan dan penyitaan.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN atau yang tidak seharusnya dikembalikan. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 119 HALAMAN .

7. Jakarta. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (LN RI Tahun 1983 Nomor 46. Bertens K. Komisi Pemberantasan Korupsi.3/2007. MODUL KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN@DTS DASAR PAJAK II 120 HALAMAN . Republik Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi. Kamus Besar Indonesia. Eresco. Rochmat.04/2000 jo.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DAFTAR PUSTAKA 1.. Asas dan Dasar Perpajakan 3. 9. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 545/KMK. 1991. 2005. Soemitro. 1989. Etika. 4. Jakarta. 2. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. Jakarta. Republik Indonesia. Republik Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 8. 2006. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. 5. Memahami Untuk Membasmi. TLN RI Nomor 4740). 3.03/2006. TLN RI Nomor 3262 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (LN RI Tahun 2007 Nomor 85. PT Gramedia Pustaka Utama. Bandung. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 123/PMK. 6. Balai Pustaka. UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful