P. 1
jurnal perbankan

jurnal perbankan

|Views: 297|Likes:
Published by Queenaa Bee

More info:

Published by: Queenaa Bee on May 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 3 No.2, Januari 2007 ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan
JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN Bandarlampung Januari 2007 ISSN 1411 - 9366

Jurnal

Vol. 3

No.2

Hal. 129 -257

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN
TIM REDAKSI
Penanggung Jawab Pembina : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung : Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E. : : : : : : : Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Pemimpin Umum Dewan Editor Ketua Anggota

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI
ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol …………………………………………………………………… KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana ................................................................................................... Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti ……………………………………………… PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty …………………………………………………………….. PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari ..........................................................................................

129

171

187

205

225

Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan ………………………………………………………………………….

233

yang diwakili oleh rasio Liquiditas Wajib Minimum atau Reserve Requirement (RR). Rasio Solvabilitas diwakili oleh rasio kecukupan modal atau Capital Adquecy Ratio (CAR) memperlihatkan pada tahun 2004. dan 2006 sebesar 7. Ahmad Faisol 1 ABSTRAK Bank Muamalat Indonesia (BMI) merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang tunduk pada peraturan Bank Indonesia (BI). diperoleh hasil bahwa untuk Rasio Liquiditas. Bank Indonesia. diperoleh ROA tahun 2004. 1. 2005. sebesar 0.26%. yang berarti telah memenuhi standar yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5%. dan 20.93%. sedangkan ROE tahun 2004. 2005. dan 2006.21%. Fakultas Ekonomi. yaitu larangan untuk menggunakan instrumen bunga. sehingga rasio Reserve Requirement dapat dikatakan baik. memiliki prinsip-prinsip yang harus ditaati. 47.49%.48%. Melalui alat analisis rasio liquiditas.86%. yang berarti kedua rasio tersebut meningkat setiap tahunnya dan mengalami kecenderungan membaik. 18. solvabilitas. syariah PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Dosen Jurusan Manajemen. BMI menjalankan operasionalnya dalam usaha untuk memperoleh laba di bawah perlindungan dan pembinaan Bank Indonesia yang beroperasi secara syariah.ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk.90%. dan 40.58%. dan 17.58%. yang berarti telah memenuhi standar Bank Indonesia sebesar 8% sehingga dapat dikatakan baik. 16. 2005. sebesar 14. Keys word : analisis rasio. Rasio Rentabilitas yang diwakili rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). dan 2006 diperoleh hasil 14. 2005. Universitas Lampung .85%. dan 2006. Sebagaimana Bank pada umumnya. dan 1.09%. rentabilitas. Melalui perhitungan di atas dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia (BMI) belum baik adalah tidak terbukti. diperoleh hasil pada tahun 2004.93%.

Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. dan merekapitulasi 9 Bank. (Lukman Dendawijaya. namun telah menjadikan perekonomian Indonesia mengalami efek pertumbuhan semu (buble growth effect). Melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan pendapatan dan keuntungan yang sah (revenue sharing atau profit sharing). (Zainul Arifin. Keberadaan bank syariah di tengah-tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan system perbankan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jasa perbankan tanpa harus khawatir atas persoalan bunga (riba). 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 2001 : 194). b. menegaskan bahwa BI mempersiapkan perangkat peraturan dan fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank syariah. Kedua undang-undang tersebut menjadi dasar hukum penerapan dual banking 130 . c. sehingga seringkali merugikan para deposan dan investor serta berdampak pada perekonomian negara. Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk tradisi.Perlombaan antar bank dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit oleh bank-bank komersil. sehingga pada 13 Maret 1999 dunia perbankan harus mengalami kejadian yang menyedihkan dengan dikeluarkannya keputusan pemerintah yang melakukan tindakan membekukan/meliquidasi 38 Bank (BBO). 2002 : 3) Pemberlakuan UU No. Akibatnya pada pertengahan 1997 industri perbankan akhirnya terpuruk sebagai imbas dari terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Selanjutnya pemberlakuan UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. meskipun awalnya mampu mendorong bergeraknya sektor perbankan secara dinamis. yang diakibatkan kecenderungan meningkatnya kredit bermasalah/ macet. Prinsip utama yang diikuti oleh bank syariah adalah: a. Memberikan zakat sebagai salah satu instrumen dalam perhitungan pembagian keuntungan dan laporan keuangan. yang menyebabkan beberapa Bank konvensional akhirnya kritis (collapse) dan tidak layak beroperasi. mengambil alih manajemen 7 Bank (BTO). 7 tahun 1992 tentang perbankan telah memberi kesempatan luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syariah. dalam prakteknya banyak yang kurang berhati-hati ataupun menyimpang dari aturanaturan yang berlaku dalam dunia bisnis perbankan seperti tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking) dengan memberikan kredit tak terbatas pada nasbah satu grup dengan perbankan tersebut. Penggunaan bunga ini.

Dual Banking system yang dimaksud adalah terselenggaranya dua system perbankan (non syariah dan syariah) secara berdampingan. Bank syariah dalam operasionalnya tetap mengadopsi pola pengoperasian dan prosedur dari bank konvensional selama hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariahk. Jika terdapat pola pengoperasian yang bertentangan. PT Bank Muamalat (BMI). cadaangan yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi yang disisihkan untuk menutup timbulnya resiko kerugian di kemudian hari. yaitu modal yang disetor secara kolektif oleh pemilik (bisa dalam bentuk kepemilikan saham). BMI juga tetap harus berpegang pada prinsip prudential Banking. (2002 : 54-55 dan 162-163) menggolongkan modal bank syariah sebagai berikut: a. sehingga masuk kedalam rekening modalnya. Modal Disetor. yaitu modal milik sendiri yang diperoleh dari modal disetor oleh pemegang saham. dan laba ditahan yaitu sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham. Tbk merupakan bank pertama di Indonesia yang mengoperasikan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam. 131 . Tbk. Pendirian Bank Muamalat diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kemudian didukung oleh sekelompok pengusaha dan cendekiawan muslim. Modal Inti. Modal inti ini terdiri atas: 1. Zainul Arifin. yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.system di Indonesia. yaitu prinsip kehati-hatian Bank dalam mengoperasikan usahanya agar tetap dalam kondisi kinerja yang baik dan memenuhi kriteria bank sehat. Selain itu. maka bank syariah akan membentuk prosedur pengoperasian tersendiri guna menyesuaikan aktivitas perbankan mereka. BMI tetap melaksanakan operasionalnya sama dengan bank-bank konvensional lainnya selama tidak bertentangan dengan syariah. tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui rapat umum pemegang saham) diputuskan untuk ditanam kembali pada Bank. PT Bank Muamalat Indonesia. BMI tidak terlepas dari usaha-usaha untuk mencapai keuntungan yang akan dibagi hasilkan kepada para nasabahnya. Sebagai suatu bank. Bank syariah dalam memenuhi kecukupan modalnya menghimpun modal dan dana-dana pihak ketiga. Untuk itu bank syariah membentuk Dewan Syariah yang berfungsi untuk memberikan masukan (advise) kepada perbankan Syariah guna memastikan bahwa bank tidak terlibat Dallam unsur-unsur yang tidak disetujui oleh Islam. didirikan pada tahun 1991 dan memulai kegiatan operasionalnya pada bulan Mei 1992.

Laba Tahun Berjalan. yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh dalam tahun berjalan. 3. yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak yang belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS. Apabila terdaapat keruugian maka 100% menjadi pengurang modal inti. maka 132 . 9.2. Laba Tahun Lalu. Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan. 5. yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk ttujuan tertentu atas ppersetujuan RUPS Laba ditahan. kelalaian dan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen bank. yaitu caadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan. maka jumlah modal inti harus dikurangkan dengan nilai Goodwill tersebut. Agio Saham. yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. 7. Laba yang diperhitungkan hanya 50% sebagai modal inti. karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Bank syariah dapat mengikuti sepenuhnya pengkatagorian unsur-unsur tersebut di atas sebagai modal inti. Cadangan Umum. yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham atau uang oleh pihak lain. Kuasi Ekuitas (Mudharabah Account). Modal Sumbangan. dan juga pemillik rekening bagi hasil dapat menolak menanggung resiko atas aktiva yang dibaiayainya apabila terbukti kerugian yang timbul disebabkan karena salah urus. yaitu selisih lebih dari harga saham dengan nilai nominal saham. apabila terjadi selisih negatif maka selisih tersebut menjadi pengurang. 6. dana-dana yang dihimpun ke dalam rekening bagi hasil atas dasar prinsip akad bagi hasil (mudharabah). Cadangan Tujuan. Bila dalam pembukuan Bank terdapat Goodwill. 8. 4. Akan tetapi karena rekening ini hanya dapat menanggung resiko atas aktiva yang ibiayai dari rekening bagi hasil itu sendiri. b. 10. Penggunaannya sebagai modal inti hanya 50% dari saldo yang ada. termasuk selisih nilai yang tercatat dengan harga apabila saham dijual kembali.

Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan. yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan. Modal pinjaman.sumber dana ini terkadang tidak dapat sepenuhnnya berperan dalam fungsi permodalan Bank. Secara terinci modal pelengkap dapat berupa: 1. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan dipersamakan dengan modal dan telah di bayar penuh. c. Modal Pelengkap (jika ada). tanpa persetujuan BI Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal memikul kerugian Bank Pembayaran bunga dapat ditangguhkan bila Bank dalam keadaan rugi. yang mempunyai ciri-ciri: 4. 2. yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. Tidak dapat dilunasi atas inisiatif pemilik. Pinjaman Subordinasi yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Ada perjanjian tertulis antara pemberi pinjaman dengan Bank Mendapat persetujuan dari BI Tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan Minimal berjangka waktu 5 tahun Pelunasan pinjaman harus dengan persetujuan BI Hak tagih dalam hal terjadi liquidasi berlaku paling akhir (kedudukannya sama dengan modal) Bank syariah dalam menghimpun dana selalu berusaha berhati-hati agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dianggap terlarang 133 . Cadangan revaluasi aktiva tetap. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif. Modal pelengkap terdiri atas cadangancadangan yang dibentuk bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. 3.

Besarnya ATMR Bank Muamalat Indonesia.5 3.996.791 492. Table 1.905 1. maka penggunaan modal pelengkap.178 52. Selain total modal yang mampu dihimpun oleh Bank.075 Jumlah Modal Inti 309.793.295 1.108 0 0 0 545. pada bank syariah sedapat mungkin dihindari.026 89. khususnya modal pinjaman dan subordinasi karena menggunakan bunga.498 132.616.791 806 132.232.447 697.399 3. Perkembangan jumlah modal yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia tahun 2004-2006 dapat dilihat pada tabel 1.677 104. yang Terdiri Atas ATMR Neraca Tahun 2004-2006 NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 73.587 6. dapat dilihat pada tabel 2.908 2.000 7.251 0 1.924 Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat yang dipublikasikan lewat internet. Berdasarkan Komponen Pembentukan Modal Inti Tahun 2004-2006 Jumlah Setiap Komponen (Dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 269.255 3.781 6.678.677 126.998 287.000 7.072 3.340 263.560 Keterangan Modal Disetor Agio Saham Cadangan Umum Modal Sumbangan Rugi tahun-tahun lalu (100%) (5.581.399 915.719 53.769 24.993.338.339.498 14.694 492.5 50% 100% 3.5 104.401 87. 2007.(haram). faktor lain yang ikut diperhitungkan dalam memperhitungkan rasio kecukupan modal adalah besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) yang dibiayai dari modal yang diihimpun tersebut.802 87.338.414.230 723.442 133.590 6.308 134 . Besarnya ATMR yang dimiliki oleh BMI. Perkembangan Jumlah Modal Bank Muamalat Indonesia.308 BOBOT RESIKO 0% 0% 0% 0% 20% NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10.905 662.055) Laba Tahun Berjalan (50%) 24.5 126.4 KETERANGAN Kas Giro Pada BI Tagihan pada Bank lain Surat Berharga (SBI) Kredit kepada pihak terkait Kredit kepada pihak lain* Penyertaan* Aktiva tetap 50% 1.6 0 1.390.122 382.000 51.277 45. Tabel 2.

kewajiban kembali membeli aktiva bank dengan menggunakan kontrak pembelian kembali (repurchase agreement).859 492.076.465. fasilitas kredit yang belum digunakan dengan menggunakan jaminan surat berharga. untuk ditentukan boleh atau tidaknya instrumen itu digunakan.122.209.299 16. Perkembangan Posisi Keuangan Bank Muamalat Indonesia Tahun 2004-2006 (Dalam Milyar Rupiah) Instrumen Total Aktiva Total Dana Pihak Ketiga Total modal disetor Total Ekuitas 2004 5. Penyesuaian yang lain adalah dalam hal penyediaan kredit dan penyertaan. kredit dan penyertaan dilakukan dengan menggunakan dana dari rekening mudharabah ditambah dengan dana dari modal inti. Pada dua hal ini. Menurut Zainal Arifin (2001:171).427.804 4. dengan beberapa penyesuaian sehingga sesuai dengan prinsip dan operasional Bank Muamalat Indonesia. dan posisi netto kontrak berjangka pasar uang.649.370.441 135 .113 2005 7.625 TOTAL ATMR BOBOT RESIKO 100% NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24.625 2.755 269. karena padaa saat itu masalah L/C masih dalam penilaian oleh Dewan Syariah Bank Muamalat Indonesia. Diantara penyesuaian itu antara lain pada perhitungan di atas ATMR yang digunakan adalah ATMR neraca ditambah dengan ATMR administratif.047 2.746 22. Selain itu. Nilai ATMR itu diperoleh dengan cara mengalikan nominal ATMR dengan bobot resiko.770.1 1. tidak diperhitungkannya instrumen L/C dalam perhitungan ATMR administratif.KETERANGAN Aktiva lainnya NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24.360.791 786. sedangkan Bank Muamalat berusaha sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan bunga dan gharar dalam operasionalnya.299 16.415 2006 8.694 339.294.285.595 2.4 Ket* = dibiayai oleh rekening mudharabah Sumber : Laporan Bank Muamalat yang dipublikasikan melalui situs internet Bank Indonesia. Tabel 3. 2007.994. yang terdiri dari: jaminan Letter of Credit (L/C). Penilaian ATMR tersebut di atas merupakan perhitungan ATMR dengan menggunakan metodelogi Basle commite.791 763. aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (rekening mudharabah) dan modal inti.5 1.459 492. maka bobot resikonya 50% dari yang seharusnya 100%.746 22. Tidak digunakannya ATMR administratif dalam perhitungan disebabkan karena sebagian besar ATMR administratif tersebut di atas masih menggunakan instrumen bunga dan untung-untungan (gharar).

458 179.564 133.294.606. Tabel 4.776 74.459 380.211 2.126 3.361 679.239. Tahun 2004-2006 Alat-alat Liquid 2004 (dalam Jutaan Rupiah) 2005 (dalam Jutaan Rupiah) 2006 (dalam Jutaan Rupiah) Kas Giro pada BI Jumlah 73.981 2005 70.480.599. adalah seberapa jauh Bank mampu mengelola alat-alat liquid yang dimilikinya. yang juga digunakan dalam perhitungan kinerja Bank.870 3.527. Selain itu perlu juga diperhatikan kemampuan bank dalam membentuk giro wajib minimum yang dipelihara oleh Bank pada Bank Indonesia (Reserve Requirement).298 654 40.340 382.994.859 214.183 138. yang terdiri kas Bank dan Giro pada Bank Indonesia.787 4.581 2.721 201. dari tahun 2004-2006 dapat dilihat pada Tabel 4.686.355 4.102 2.285.445 413. 2007 Faktor lain.978. 2007.224 2005 159. dimana giro wajib minimum ini diperoleh Bank dari penyisihan dana simpanan Pihak Ketiga.998 337.Instrumen Laba Operasional Laba (rugi) bersih Total pembiayaan yang diberikan 2004 74.187.024 89.122 376.248 1.442 287.757 2. Jumlah Alat Liquid Bank Muamalat Indonesia.631 48. 2007 Tabel 5.792 2006 60.152 2.853 2006 174.498 Sumber: Kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia. 136 .026 263.903 514.447 dan Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan melalui internet.269 2.267 629 24. Tahun 2004-2006 (Dalam Jutaan Rupiah) Jenis Hutang Kewajiban Segera Simpanan: Giro Wadiah Tabungan Mudharabah Deposito berjangka Jumlah Simpanan Simpanan dari Bank lain Pinjaman yang diterima Estimasi kerugian komitmen kontinjensi Hutang Pajak Kewajiban lain-lain Jumlah Kewajiban 2004 33.693.683 1.182.448 Sumber: Laporan keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan lewat internet. berkaitan dengan kemampuan Bank untuk membayar hutang-hutang jangka pendek dengan alat-alat liquid tersebut.098 215.108 515. Perkembangan Total Hutang Bank Muamalat Indonesia.755 31. Besarnya alat-alat liquid yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia. Tbk yang dipublikasikan melalui internet.771 161.803 4.299 2.

Analisa Rasio Liquiditas. Analisa Rasio Solvabilitas. 31/11/Kep/Dir tanggal 30 April 1997. karena dibiayai oleh rekening simpanan mudhaarabah. 26/BPPP/1993 tanggal 29 Mei 1993. terlihat bahwa terdapat perbedaan penetapan ATMR menurut teori dan menurut ketentuan Bank Indonesia. Didasarkan pada peraturan tersebut maka langkah untuk menilai performance atau kinerja suatu Bank dapat menggunakan alat-alat anaalisa sebagai berikut: a. Bank Muamalat mengusahakan untuk tidak mengimpun dari modal-modal pinjaman atau subordinasi yang menggunakan bunga. Dalam menghimpun modal. c. Dasar 137 . Analisa Rasio Rentabilitas adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha atau profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan. 2001 : 116 – 124). b. menurut teori pemberian bobot resiko ATMR pada rekening-rekening kredit kepada pihak lain dan penyertaan dalam bank syariah adalah sebesar 50%. yang kemudian disempurnakan melalui keputusan Direksi BI No. Akan tetapi dalam kenyataannya Bank Indonesia masih menerapkan bobot resiko 100% pada rekening-rekening tersebut. yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Perbedaan perhitungan ini dapat memperkecil angka rasio kecukupan modal yang dimiliki oleh bank syariah.Segala kriteria penilaian kinerja Bank pada dasarnya berpegang pada prinsip prudential Banking bagi Bank umum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku pengawas dan pembina bank nasional yang menetapkan ketentuan tentang penilaian tingkat kesehatan Bank dengan surat edaran BI no. (Lukman Dendawijaya. Pada Tabel 2 tentang perhitungan ATMR. TELAAH KEPUSTAKAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Perbankan syariah dikembangkan atas dasar yang tidak mengijinkan pemisahan antara masalah dunia dan masalah agama. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan Bank untuk memenuhi kewajiban jika terjadi liquidasi Bank. yang berarti bank akan cenderung tidak baik kinerjanya. Dasar tersebut mengharuskan kepatuhan terhadap syariah sebagai dasar bagi semua aspek kehidupan. sehingga memperbesar tanggungan resiko yang dihitung oleh Bank Muamalat. Tujuan penelitian Berdasarkan pada latar belakang diatas.

Misalnya. tetapi juga meliputi transaksi bisnis yang harus sesuai dengan prinsip syariah. sehingga setiap kerugian dan keuntungan akan dibagi sama rata. dimana bank memberikan pembiayaan kepada suatu proyek nasabah. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrakkontrak investasi atau Musyarakah (partnership. Syafei Antoni. bukan komoditas.itu tidak hanya mencakup ibadah saja. negative. sehingga besarnya proporsi pembagian keuntungan tergantung pada kesepakatan dan pertanggungan kerugian tergantung pada proporsi modal yang disetor bank. atau nol. (2) Musyarakah Inan. Uang berdasarkan prinsip syariah tidak mempunyai sisi time value terlepas dari nilai-nilai barang yang dipertukarkan melalui penggunaan uang. namun besarnya pembiayaan tidak tepat 50% dari kebutuhan dana.” Beradasarkan konsep ini. project financing participation). salah satu aspek yang paling menonjol dari prinsip-prinsip syariah adalah pelarangan riba dan persepsi mengenai uang sebagai alat tukar dan sarana untuk membayar kewajiban keuangan. bank syariah menolak (mengusahakan tidak menggunakan) penggunaan bunga dalam setiap transaksinya. Natural incertaintycontracts. yaitu kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return). akan tetapi bisa melebihi atau malah kurang tergantung pada kebutuhan nasabah. baik dari segi jumlah (amount) maupun waktunya (time). 2001 : 90). Biasanya Bank memberikan pembiayaan kurang dari 50%. Oleh karena itu bank syariah didirikan berdasarkan konsep Islam mengenai “keuntungan adalah bagi siapa yang menanggung resiko. sesuai dengan syariah. Tingkat return bisa positif. 2003 : 6) menggolongkan transaksi-transaksi yang saat ini biasa dilakukan oleh bank syariah terdiri atas: a. yaitu jenis musyarakah dimana bank memberikan pembiayaan sebesar 50% dari jumlah modal yang dibutuhkan nasabah. yaitu akad dua pihak atau lebih untuk suatu usaha dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai perjanjian (M. yaitu jenis musyarakah. 138 . Jenis kontrak Musyarakah dalam bank syariah terbagi atas: (1) Musyarakah Mufawadhah. dan bank turut serta dalam mengelola (manajemen) usaha. Adiwarman Karim (“Modul: Warkshop on Islamic banking”.

2001 : 95). dan setiap biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional tersebut sepenuhnya ditanggung oleh bank. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak-kontrak jual beli. Keuntungan usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. dan waktu penyerahan (time delivery). Apabila bank memperoleh keuntungan (laba) operasional maka pihak deposan berhak memperoleh bagian laba tersebut (profit sharing). sehingga bank tidak mengalami kehilangan dana meskipun proyek yang dijalankan merugi. Jenis kontrak ini terbagi atas: 139 . saldo rekening nasabah tidak akan berkurang. Dalam hal ini simpanan. karena sudah disepakati kedua belah pihak yang bertransaksi di awal akad. akan tetapi pendapatan (revenue) bank atas kegiatan operasional. bank memberlakukan kontrak revenue sharing dalam hal perolehan pendapatan bank dan semua biaya proyek ditanggung oleh debitur yang bersangkutan. sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola (mudharib).(3) Musyarakah Mudharabah. sehingga apabila bank tidak memperoleh pendapatan sekalipun. Jenis kontrak inilah yang banyak dilakukan oleh bank syariah. b. sewa-menyewa. Namun untuk mengantisipasi kecurangan (moral hazard) dunia perbankan terhadap kontrak i9ni. Natural Certainty contracts. untuk mengantisipasi moral hazard nasabah (debitur). Akan tetapi yang biasa dilakukan oleh dunia perbankan adalah ketiga jenis musyarakah di atas. Secara umum. Secara teknis. mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shohibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal. harganya (price). sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola (Syafi’I Antoni. baik dalam hal pembiayaan. sebenarnya kontrak musyarakah masih terdapat dua jenis lagi yaitu jenis Musyarakah wujuh dan musyarakah ‘abdan. baik dari segi jumlah maupun waktu. upah-mengupah. mutunya (quality). kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang memberikan kepastian pembayaran. Objek pertukaran (baik barang) maupun jasa sudah ditetapkan di awal akad dengan pasti. maka berdasarkan perkembangan terakhir yang dibagi kepada nasabah bukanlah laba (profit) yang diperoleh bank. Pada jenis kontrak ini cash flow bank dapat diprediksi relative pasti. dll. baik dalam jumlahnya (quantity). kontrak mudharabah ini berarti pihak nasabah menyediakan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito untuk dikelola oleh bank sehingga menghasilkan keuntungan. Demikian pula halnya dengan pemberian pembiayaan.

Meskipun secara operasional bank syariah mempunyai sedikit perbedaan dengan bank-bank konvensional lainnya. melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang. (3) Istishna (purchase by order or manufacture). tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri (M. (2) Salam (Infront payment sale). transaksi ini merupakan kontrak antara pembeli dan bank. Syafi’I Antonio. melalui pembayaran sewa. rentabilitas.(1) Mudharabah (deferred payment sale). pasal 29menyebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. Dalam kontrak ini. (4) Ijarah (Operational leas). Bank Indonesia menetapkan ketentuan Kesehatan/kinerja bank dengan memperhatikan aspek permodalan. nasabah membeli kembali barang tersebut dari bank (biasanya secara kredit) sesuai dengan harga barang ditambah dengan keuntungan jual-beli bagi bank. bank menerima pesanan dari pembeli (nsabah). Dalam dunia perbankan. kejelasan harga. (M. yang menjadi syarat terlaksananya salam adalah kejelasan modal. kualitas asset. adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa. Kedua belah pihak sepakat atas harga dan sistem pembayaran. 2001 : 117). bank membeli barang-barang yang dibutuhkan nasabah dari supplier secara tunai sesuai dengan harga yang berlaku. adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. dan kejelasan waktu penyerahan. kejelasan fisik barang. Selanjutnya. 140 . Pembinaan dan pengawasan Bank dilakukan oleh Bank Indonesia. adalah kontrak jual beli dimana pembayaran dilakuakn dimuka dan barang diserahkan dikemudian hari. solvabilitas. Dalam hal ini. kualitas manajemen. 2. 2001 : 113). Syafi’i Antonio. likuiditas. Bank lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang sesuai dengan spesifikasi pesanan dan menjualnya kepada pembeli akhir (nasabah yang memesan). kontrak ini berupa pembiayaan (finance) pada barangbarang modal maupun barang-barang konsumsi. dalam hal ini. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. namun dalam beberapa hal seperti pengukuran kesehatan dan pengukuran kinerja bank tetap mengacu kepada Undang-undang RI No.

3. Cadangan d. Untuk mengukur kinerja suatu bank maka pemahaman mengenai latar belakang keuangan sangat diperlukan sebelum seseorang dapat menganalisa kinerja/kesehatan atau melakuakan perubahan dalam portofolio aktiva dan pasiva untuk memperbaiki laba. 6. 9. 7.3. 8. neraca bank umum dapat dilihat sebagai berikut: Contoh Neraca Bank Umum 1. 8. Deposito berjangka d. 7. 7 tahun 1992 tentang perbankan. 5. bank mempunyai laporan keuangan pokok yang terdiri atas Neraca dan Laporan Rugi/Laba. Kredit yang diberikan Surat berharga dan tagihan lainnya Kredit yang diberikan Penyertaan Cadangan aktiva yang diklasifikasikan Rupa-rupa aktiva PASIVA Giro call money Tabungan Deposito berjangka Kewajiban lainnya Surat berharga Pinjaman yang diterima: Bank Indonesia Subordinasi dan lainnya Rupa-rupa passive Modal: a. 6. Laba/rugi tahun berjalan Jumlah Pasiva 1. Bank wajib memelihara kesehatan Bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Berdasarkan ketentuan di atas. pasal 34 menyebutkan “Setiap bank umum diwajibkan menyampaikan laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi/laba berdasarkan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Call money c. 5. bukanlah satu-satunya metode yang digunakan untuk menampilkan neraca bank umum. Modal disetor b. Agio saham c. AKTIVA Kas Giro di Bank Indonesia Tagihan pada Bank lain a. Neraca Bank Umum Berdasarkan Undang-Undang RI No. 2. Giro b. Jumlah Aktiva Metode di atas meskipun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. maka setiap bank wajib memelihara kesehatan dan kinerja Bank berdasarkan prinsip kehati-hatian. 141 . 4. b. 3. Secara sederhana.” Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. 2. 4. a. Laba di tahan 10.

dan pengelolaan dana pihak ketiga. 8. bentuk diatas bukanlah satu-satunya bentuk neraca pada Bank Syariah. pembiayaan. di bawah ini ditampilkan bentuk neraca bank syariah (diambil dari bentuk neraca Bank Syariah Mandiri. 4. Perlu diperhatikan. neraca suatu bank umum terdiri atas pos-pos yang ada pada sisi aktiva dan pos yang ada pada sisi pasiva. Aktiva lain-lain Total Aktiva Giro Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah Kewajiban kepada BI Surat berharga yang diterbitkan Pembiayaan yang diterima Kewajiban lainnya Setoran jaminan Pasiva lain Modal disetor Selisih penilaian kembali aktiva tetap 12. 5. Penempatan di Bank Indonesia 3. pembiayaan mudharabah b. 9. Pembiayaan yang diberikan a. karena tidak menggunakan instrumen bunga baik dalam hal kredit maupun simpanan nasabah. Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No. tahun 2002) Contoh Neraca Bank Syariah AKTIVA 1. 2. Piutang penjualan a. Tahun berjalan Total Pasiva PASIVA 1. Penyertaan 8. 3. Aktiva tetap dan inventaris 10. 11.Untuk bank syariah terdapat beberapa perbedaan sedikit instrumen di dalam neraca bank. Untuk lebih jelasnya. maka untuk hal-hal tersebut di atas digunakanlah kontrak mudharabah dan musyarakah seperti yang sudah dijelaskan di atas. Investasi aktiva Ijarah 9. Pada Bank syariah. Cadangan 13. Perbedaan tersebut ditekankan pada perbedaan sistem dalam hal pemberian pinjaman. Piutang mudharabah b. piutang Istishna 5. Kas 2. pembiayaan musyarakah c. piutang salam c. 10. Bentuk-bentuk lain untuk neraca bank syariah dapat ditampilkan sesuai dengan posisi keuangan bank syariah bersangkutan. 23 / 19 / BPPP tanggal 28 Februari 1991. pembiayaan lain-lain 7. Penempatan pada Bank lain 4. 6. Laba/rugi d. 7. Tahun lalu e. Investasi dalam surat berharga 6. 142 .

baik kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri (tidak termasuk Bank Indonesia). baik rupiah maupun valuta asing. 3. baik bank dalam negeri maupun bank luar negeri.Aktiva Pos-pos yang terdapat di sisi aktiva secara umum adalah sebagai berikut: 1. Giro Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank. Tagihan pada bank lain Tagihan pada bank lain adalah semua tagihan bank pelapor dalam rupiah dan valas kepada bank lain. termasuk kantornya diluar negeri. b. Call Money Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang dipinjamkan oleh bank. yang menjadi alat pembayaran yang sah di Indonesia maupun uang asing lainnya yang masih berlaku. Kas Yang dimasukkan ke pos ini adalah uang kas. Posisi pada pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh Bank Indonesia yang belum dipergunakan. Pos ini terdiri atas pos-pos sebagi berikut: a. 2. baik kepada bank lain di dalam negeri maupun diluar negeri. yang dimiliki oleh bank. Pada bank syariah pendapatan bunga dari giro yang tidak menggunakan kontrak mudharabah di bank lain disisihkan ke dalam pos dana-dana tidak hala (tidak dilaporkan) untuk kemudian digunakan untuk kepentingan sosial. termasuk kantornya di luar negeri. Pada bank syariah. Giro di Bank Indonesia Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank pada Bank Indonesia. 143 . Pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan bank lain kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui bank lain yang belum digunakan. termasuk kantornya yang ada di luar negeri.

deposito in call. penanaman pada bank lain. termasuk kantornya di luar negeri. d. pada bank lain dan atau lembaga keuangan lain dalam bentuk deposito berjangka. dan simpanan lain yang sejenis. serta perusahaan lain. Cadangan ini dibentuk untuk menampung resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat bank tidak dapat menarik kembali sebagian atas seluruh aktiva produktifnya. sehingga terkadang masih menggunakan bunga dalam pelaksanaannya. kepada pihak ketiga bukan bank. termasuk kantornya di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. serta penyertaan dan penanaman pada 144 . Aktiva produktif mencakkup kredit. surat-surat berharga. 4. 6. Cadangan aktiva yang diklasifikasikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan dana dalam rupiah dan valuta asing. 5. 7. Deposito berjangka Yang dimasukkan ke pos ini adalah penanaman dana dalam rupiah dan valuta asing oleh bank. Penyertaan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. sertifikat deposito. seperti surat-surat berhargta pasar uang dan pasar modal dalam rupiah dan valuta asing.pos ini masih digunakan. baik yang diberikan kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. baik dalam negeri maupun di luar negeri. termasuk kantornya diluar negeri. lembaga keuangan. c. Kredit yang diberikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kredit yang berdasarkan akad dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. Kredit yang diberikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. pada bank. Surat berharga dan tagihan lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang dimiliki oleh bank.

Aktiva tetap dan inventaris Yang dimasukkan ke pos ini adalah nilai buku dari tanah. 2. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor. termasuk kantornya di luar negeri. Dalam pengertian ini termasuk pula simpanan 145 . termasuk kantornya diluar negeri. Dalam pos ini dimasukkan pula pinjaman yang diberikan dalam rupiah yang bersaldo kredit. 9. yang penarikannnya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. 3. rumah. Giro Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga dan bank lain pada bank yang bersangkutan. Rupa-rupa aktiva Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening-rekening aktiva lainnya dalam rupiah dan valuta asing yang tidak dapat dimasukkan ke salah satu pospos di atas. 8. termasuk kantornya di luar negeri. dan perabot milik bank. baik dari bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. dalam rupiah dan valuta asing. Pasiva Pos-pos yang ada pada sisi pasiva adalah sebagai berikut: 1. gedung. pemindah bukuan. kantor. yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. Call money Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang diterima oleh bank. Pos ini merupakan pengurang aktiva pada neraca. Jumlah tersebut telah dikurangi dengan penyusutan nilai aktiva tetap dan inventaris sampai dengan akhir bulan laporan. dan surat perintah membayar lainnya. termasuk kantornya di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. Tabungan Yang dimasukkan ke pos ini adalah simpanan-simpanan dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga bukan bank pada bank yang bersangkutan.aktiva lainnya yang mengandung resiko dari bank. termasuk kantornya di luar negeri. sepanjang hasilnya debet bagi bank yang berbadan hokum Indonesia.

yang menyebabkan kewajiban membayar bagi bank. 5. Rupa-rupa pasiva Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening pasiva lainnya. Pinjaman Yang dimasukkan ke pos ini adalah pinjaman yang diterima oleh bank. 146 . Kewajiban lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kewajiban bank. baik dalam rupiah maupun valuta asing. baik dalam rupiah maupun valuta asing. sepanjang hasilnya kredit bagi bank yang berbadan hokum Indonesia. 4. misalnya selisih kurs dari rekening-rekening yang diblokir karena suatu perkara. sertifikat deposito. termasuk kantornya diluar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. dan deposito sejenis lainnya yang diterima bank. baik dalam rupiah maupun valuta asing. dari pihak ketiga. Pada pos ini dimasukkan pula kiriman uang. termasuk kantornya di luar negeri. yang setiap waktu dapat ditagih oleh pemiliknya dan harus segera dibayar oleh bank yang bersangkutan. kupon yang sudah jatuh tempo. dan Bank Indonesia. yang tidak dapat dimasukkan atau digolongkan ke dalam salah satu dari pos neraca ini dalam rupiah. milik pihak ketiga dan bank lain yang penarikannya dapat dilakukan tertentu sesuai perjanjian antara bank yang bersangkutan dan penyimpannya. Deposito berjangka Yang dimasukkan ke pos ini adalah deposito berjangka. Dalam pengertian ini termasuk pinjaman kelolaan dan two step loan yang diterima dari pemerintah atau lembaga-lembaga Internasional. 6. baik dalam rupiah maupun valuta asing. 7. termasuk kantornya di luar negeri. termasuk kantornya diluar negeri. baik dalam rupiah maupun valuta asing. Surat berharga Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang diterbitkan oleh bank.yang pengambilannya harus diberitahukan beberapa hari sebelumnya dan hanya dapat dilakukan dengan buku tabungan atau kwitansi. deposts one call. dan semua kewajiban yang berjangka waktu kurang dari 15 hari. bank lain. 8. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor.

e. 147 . c. Rugi yang diderita tahuntahun lalu dan tahun berjalan tidak boleh dicantumkan pada sisi aktiva.9. Laba/rugi Yang dimasukkan ke kolom ini adalah sisa laba / rugi tahun-tahun buku lalu yang belum dibagikan dan atau dipindah bukukan ke rekening lain dan ditambah laba / rugi dalam tahun buku berjalan. b. Laporan Laba-Rugi Bank Laporan perhitungan laba rugi (profit and loss statement) atau lebih dikenal juga dengan income statement dari suatu bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan non operasional bank serta keuntungan bersih suatu bank untuk suatu periode tertentu (Lukman Dendawijaya. Cadangan Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba bersih setelah atau sebelum dikurangi pajak dan mendapat persetujuan pemilik melalui rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai dengan anggaran dasar masing-masing bank. 2001 : 111). Modal a. d. Modal bank yang berbadan hokum Indonesia Yang dimasukkan ke pos ini adalah jumlah modal atau simpanan pokok dan wajib (bagi bank-bank yang berbadan hokum koperasi) yang benarbenar telah di setor atau selisih antara modal dasar dan modal yang belum di setor. Modal kantor cabang bank asing Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana bersih kantor pusat dan cabangnya di luar negeri. tapi pada sisi pasiva dengan tanda negative (-/-). Agio saham Yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.

hanya untuk pendapatan-pendapatan bunga di bankkonvensional..2 Pendapatan bagi hasil dari investasi a.. Musyarakah/penyertaan b.1 Pendapatan Margin dari Jual-beli a. perlakukan akuntansi terhadap biaya operasional dan non operasional dilakukan dengan menggunakan prinsip accrual basis. 148 .3 Pendapatan Bonus Sertifikat Wadiah Bank Indonesia JUMLAH PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI Jml ……. ……. laporan keuangan bulanan harus dilaporkan setiap bulan.. ……. Mudharabah/tabungan bagi hasil c. Dalam akuntansi. ……. sedangkan beban atau pendapatan bunga yang terpaksa diterima oleh bank syariah.Laporan perhitungan laba rugi bank harus disusun berdasarkan ketentuan tentang bentuk yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia. yaitu 31 Maret. (dalam jutaan rupiah) No. ……. Murabahah/jual-beli b.. konsep ini disebut cash basis. dan 31 Desember tahun yang bersangkutan. 1. Salam/jual-beli atas pembayaran dimuka d. Keterlambatan penyampaian serta bentuk laporan yang tidak mengikuti standarisasi yang telah dikenakan sanksi. dll. di masukkan ke dalam pos pendapatan/beban dana-dana tidak halal atau dimasukkan ke adalam pos operasional lain-lain. Penyusunan perhitungan laba rugi bank dilakukan dengan menganut konsep konservatisme. pada bank syariah merupakan pendapatan murabahah. 30 September. Lainnya 1. ……. Dalam prinsip ini. salam. Bentuk laporan laba-rugi Bank Syariah dapat dilihat dari tabel di bawah ini (contoh bentuk laporan keuangan Bank Syariah Mandiri tahun 2002): Perhitungan Laba/Rugi Periode:……………. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. ……. Sebaliknya. ……. mudharabah. Lainnya 1. ……. secara umum hampir sama dengan bentuk laba-rugi bank konvensional.. Konsep ini menekankan bahwa pendapatan yang diperhitungkan adalah pendapata yang benar-benar yang telah diterima secara efektif. Istisna/jual-beli atas pesanan c. Pos-pos PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI 1. 30 Juni. istisna. Bentuk laporan laba-rugi bank syariah. sedangkan untuk laporan keuangan triwulanan dilakukan untuk posisi akhir bulan. biaya yang akan dibayar di masa yang akan datang sudah diperhitungkan sebagai bagian komponen biaya yangdikeluarkan.

7. mungkin akan tertarik pada rasio kecukupan modal bank. rasio kualitas aktiva produktif. dan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan.3 Pengeluaran penyusutan/amortisasi/penghapusan aktiva produktif 5. ……. akan tertarik pada likuiditas bank. Sedangkan para pemegang saham dan nasabah deposito. Bagi Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan di Indonesia. …….2 Pendapatan jasa-jasa bank 4. serta rasio solvabilitas bank. maupun pihak bank sendiri. yaitu kemampuan bank dalam membayar hutang-hutang jangka panjang atau kemampuan bank dalam melunasi semmua hutangnya apabila dilikuidasi. 6. 3. seperti pemegang obligasi. Para pemegang surat berharga bank. dan para pemberi kredit jangka panjang. rasio-rasio rentabilitas bank. 149 . 5. ……. …….1 Zakat -/7. Yaitu kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi (jangka pendek). ……. yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh laba. …….1 Pengeluaran administrasi dan umum 5.1 Pendapatan administrasi pembiayaan 4. nasabah. ……. sumbersumber dana dan penggunaan dan. dan rasio-rasio likuiditas bank. ……. Analisis Rasio Keuangan Untuk membuat keputusan rasional yang sesuai dengan tujuan bank. …….. ……. …… ……. …….3 Pendapatan operasional lainnya 4. PENGELUARAN/DISTRIBUSI BONUS DAN BAGI HASIL INVESTASI 2. investor. 4.2 Pajak -/LABA (RUGI) BERSIH …….. profitabilitas selama beberapa periode dan proyeksi profitabilitas di masa datang.4 Pendapatan non operasional JUMLAH PENDAPATAN LAINNYA JUMLAH PENDAPATAN BANK PENGELUARAN LAINNYA 5. ……. mungkin akan tertarik pada struktur modal perusahaan.4 Pengeluaran non operasional JUMLAH PENGELUARAN LAINNYA -/LABA (RUGI) BERSIH SEBELUM ZAKAT DAN PAJAK ZAKAT DAN PAJAK 7. ……. manajerial bank haruslah mempunyai alat-alat analisa tertentu. Analisa keuangan dilakukan baik oleh pihak luar bank.2 Pengeluaran personalia 5. …….2 Pengeluaran bagi hasil mudharabah JUMLAH PENGELUARAN BONUS DAN BAGI HASIL ATAS INVESTASI -/PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN BERSIH INVESTASI BAGIAN BANK PENDAPATAN LAINNYA 4.1 Pengeluaran Bonus Wadiah 2. Jenis analisa bervariasi tergantung pada kepentingan pihak-pihak yang melakukan analisa.2. Seorang yang memberikan kredit (pinjaman) jangka pendek dan nasabah tabungan. mungkin akan tertarik pada rasio rentabilitas bank. seperti kreditur.

Reserve requirement merupakan ketentuan bagi setiap bank umum untuk menyisihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib minimum yang berupa rekening bank yang bersangkutan pada Bank 150 . yaitu Likuiditas minimum yang harus dipelihara oleh Bank dalam membayar kembali pinjaman jangka pendek bank. Macam-macam rasio keuangan untuk mengukur kinerja bank Seperti yang sudah dijelaskan dimuka. Perhitungan rasio untuk menilai posisi kinerja suatu bank.Rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematic relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dalam laporan keuangan. akan memberikan gambaran yang jelas tentang baik atau tidaknya operasional suatu bank. 1990 : 64) Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat kinerja suatu bank dan kesehatannya dengan menggunakan perhitungan rasio likuiditas. (Drs. serta rentabilitas suatu bank. Munawir. Pengukuran kinerja bank digunakan untuk mengetahui tentang baik-buruknya operasional bank serta seberapa sehatkah bank bersangkutan untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi perbankan. yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh tempo. Rasio ini merupakan perbandingan antara jumlah alat liquid yang dimiliki bank dengan pinjaman yang harus segera dibayar. Rasio Likuiditas. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai kinerja suatu bank antara lain sebagai berikut: a. maka pengukuran rasio keuangan dapat juga digunakan untuk mengetahui kinerja suatu bank. yaitu likuiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. S. b. Reserve Requirement (RR). dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu peusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angnka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. yang dilihat dari posisi keuangannya dalam neraca dan laba-rugi. Umumnya berbagai rasio yang dihitung untuk menilai kinerja suatu bank dikelompokkan ke dalam tiga (3) tipe dasar: 1. solvabilitas. Cash Ratio. namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas. Akt.

rasio-rasio dalam kategori ini dapat pula digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Namun batas toleransi berkisar antara 85%-100%. d. seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Dalam perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan timbale balik antar pos yang terdapat pada laporan laba-rugi bank dengan pos-pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. besarnya RR minimal 5%. 2. Rasio Rentabilitas. yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank.Indonesia. Rasio-rasio rentabilitas terdiri atas: a. Return On Asset (ROA). Menurut surat edaran BI tahun 1997. Dengan kata lain. Loan to Deposit Ratio (LDR). Selain itu. yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan. Semakin tinggi rasio ini. c. Semakin besar ROA suatu bank. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank. semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. Rasio LDR ini merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank. Loan to Asset Ratio (LAR). Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. tingkat likuiditasnya semakin kecil karena jumlah asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemapuan likuiditas bank yang bersangkutan. 151 .

Analisa Solvabilitas. b. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. keuntungan atas kontrak jual-beli. yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. Hal ini dikarenakan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat c. Perlu diperhatikan. Sebagaimana halnya dengan perhitungan rasio sebelumnya. biaya administrasi. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya.Dalam rangka mengukur tingkat kesehatan bank ada perbedaan sedikit antara ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Untuk bank syariah. ROE ini merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. Secara teoritis. 3. Selanjutnya. kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham. pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil. Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. bahwa dalam penentuan tingkat kesehatan bank. Return On Equity (ROE). Bank Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya ROA dan tidak memasukkan unsure ROE. dll. laba yang diperhitungkan adalah laba setelah pajak. Rasio Beban Operasional (BOPO). Disamping itu. rasio NPM pun mengacu kepada pendapatan operasional bank yang terutama berasal dari kegiatan pemberian kredit yang dalam prakteknya memiliki berbagai resiko seperti resiko kredit (kredit bermasalah dan kredit macet). fee. serta Kurs Valas (jika kredit diberikan dalam bentuk valas). rasio ini digunakan untuk mengetahui perbandingan antara 152 . yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank. d. dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi likuiditasi Bank. sedangkan dalam sistem CAMEL laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum pajak. Net Profit Margin (NPM).

Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993. Selain memperoleh hutang (kewajiban) dari deposan (penyimpanan dana). hanya sebagian kecil saja dana yang berasal dari modal sendiri. Dalam bisnis perbankan. Metodologi Penelitian Menurut Lukman Dendawijaya (2001: 116-124) alat analisis yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan bank (secara teori) adalah: 153 . penyertaan. seperti dana masyarakat. baik dalam maupun luar negeri. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko. adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit. baik berupa simpanan giro. Dengan demikian. tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank.volume (jumlah) dana yang diperoleh dari berbagai hutang (jangka pendek dan jangka panjang) serta sumber-sumber lain diluar modal bank sendiri dengan volume penanaman dana tersebut pada berbagai jenis aktiva yang dimiliki bank. misalnya kredit yang diberikan. dll. pinjaman (hutang). Debt to Equity Ratio (DER). Dengan kata lain. pada umumnya bank juga bisa meperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan. Capital Adequacy Ratio (CAR). dan fasilitas lainnya). bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. tabungan ataupun deposito. sebagian besar dana yang ada pada suatu bank berasal dari simpanan masyarakat. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas: a. surat berharga. dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang. BLBI. Dengan kata lain CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. b. baik jangka panjang maupun jangka pendek. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh hutanghutangnnya. serta pinjaman dari Bank Indonesia (KLBI.

Loan to Deposit Ratio (LDR). Menurut surat edaran BI tahun 1997. Reserve Requirement (RR). besarnya RR minimal 5%. sertifikat deposito. dan kewajiban jangka pendek lainnya. yaitu Liquiditas minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam membayar kembali dana pihak ketiga yang dihimpun bank yang harus segera dibayar. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan. Rasio Liquiditas ini terdiri atas: a. Rasio LDR ini merupakan indicator kerawanan dan kemampuan dari suatu X 100% X 100% 154 . Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Alat Liquid Cash Ratio = Pinjaman yang harus segera dibayar Alat liquid dalam rasio diatas. terdiri dari: 1. Giro pada Bank Indonesia b. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diterima oleh bank yang bersangkutan. yaitu liquiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. c. Kas 2. namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas.1. yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh bank. tabungan. Deposito berjangka. Cash Ratio. Rumus rasio ini adalah: Jumlah alat liquid RR = Jumlah dana simpanan pihak ketiga Komponen dana pihak ketiga pada rasio diatas adalah: Giro. Analisis Rasio Liquiditas Yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan.

5. Semakin tinggi rasio ini. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. 4.bank. Rasio Rentabilitas. tingkat liquiditasnya semakin kecil karena asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. Loan to Asset Ratio (LAR). 3. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat liquiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memnuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank. Rumus untuk rasio ini adalah sebagai berikut: Jumlah pembiayaan yang diberikan LAR = Jumlah Asset X 100% 2. yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. 2. Return On Asset (ROA). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Jumlah pembiayaan yang diberikan LDR = Jumlah dana yang diterima oleh bank Yang termasuk jumlah dana yang diterima oleh bank pada kriteria ini adalah. Kredit Liquiditas Bank Indonesia (jika ada). Namun batas toleransi berkisar antara 85% . Semakin besar ROA suatu bank. semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula 155 . Surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan.100%. Modal pinjaman Modal inti. 6. Giro/Deposito dan tabungan masyarakat Deposito dan pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan. terdiri atas: 1. X 100% d. Rasio ini terdiri atas: a.

Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROA = Total aktiva b. Analisis Solvabilitas X 100% X 100% x 100% Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Return On Equity (ROE). dll. Rasio Beban Operasional (BOPO). Rasio BOPO dirumuskan sebagai berikut: Beban Operasional BOPO = Pendapatan operasional d. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih NPM = Pendapatan Operasional 3. keuntungan atas kontrak jual-beli. biaya administrasi. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas: 156 . ROE ini merupakan indicator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya. serta fee.posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil. atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi liquidasi bank. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROE = x 100% Modal sendiri c. Untuk bank syariah. adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank. Net Profit Margin (NPM).

Sedangkan ATMR terdiri atas ATMR neraca ditambah ATMR rekening administrative (jika ada). yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang-utangnya. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. yaitu: modal disetor. seperti dana masyarakat. Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Modal Bank CAR = Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank. dengan pinjaman yang harus segera di bayar (pinjaman jangka pendek) untuk 157 . baik jangka panjang maupun jangka pendek. agio saham. Debt to Equity Ratio (DER). pinjaman (utang). Ditambah dengan Modal pelengkap yang terdiri antara lain: cadangan revaluasi aktiva tetap.a. dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit. Dengan kata lain. Dengan kata lain. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Jumlah utang DER = Jumlah modal sendiri HASIL PENELITIAN Analisa Rasio Liquiditas 1. cadangan umum. Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993. misalnya kredit yang diberikan. rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya utang. penyertaan. X 100% b. Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. surat berharga. Modal Bank terdiri dari modal inti. Cash Ratio X 100% Dengan membagi jumlah alat liquid yang terdiri atas Kas dan Giro pada Bank Indonesia di tahun 2004. dll. dan laba di tahan. 2005 dan 2006 seperti yang terlihat pada tabel 4.

448 Cash Ratio2006 = 179. 2005. sebesar 156. sebab cost of loanable fund biasanya timbul sebagai beban bunga yang harus dibayarkan bank pada para nasabah penabung. Akan tetapi. 337.03%. 2005. Besarnya dana yang menganggur ini.581 Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil Cash Ratio tahun 2004. bank tidak mengalami beban dana (cost of loanable fund) yang tinggi. dan 2006.267 376. dan 2006. Hal ini kemungkinan disebabkan bank kurang melakukan investasi atau memberikan pembiayaan/pinjaman kepada nasabah.tahun 2004. dapat dilihat besarnya total alat-alat liquid yang dimiliki bank pada tahun 2004. sebenarnya dapat merugikan bank sebab pendapatan bank sebagai akibat dari penggunan dana menjadi menurun. 2005.85% 158 . akan tetapi Karena BMI tidak menanggung beban bunga tabungan nasabah. 2005. dapat dilihat besarnya total dana pihak ketiga yang mampu dihimpun bank untuk tahun 2004. walaupun manfaat bagi hasil yang biasa dibagikan kepada nasabah mengalami penurunan.298 515.294.07% x 100% = 156. Ini berari liquiditas bank mengalami kenaikan.775 X 100% = 7.564 Cash Ratio2005 = 201. meskipun pendapatan bank menurun. dan 2006 seperti terlihat di tabel 5. sehingga semakin banyak dana yang menganggur. dan 2006. Cash Ratio tahun 2005 sebesar 187.56%. Dapat dilihat Cash Ratio Bank Muamalat dari tahun 2004 hingga tahun 2006 mengalami kenaikan. maka beban dana BMI juga kecil. maka besarnya Reserve Requirement (RR) bank adalah sebagai berikut: 337.56% Pada tabel 4. 2.024 Cash Ratio2004 = 215.03% x 100% = 187.07% dan Cash Ratio tahun 2006 sebesar 287.024 RR2004 = 4. sedangkan pada tabel 3. Reserve Requirement (RR) x 100% = 287. kemudian mengalikannya dengan bilangan 100% maka diperoleh besarnya Cash Ratio tahun 2004.

202 159 .755 Rp 309.564 RR2005 = 2. Jumlah dana yang diterima bank tahun 2004 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 4.21% X 100% = 16. 3. Loan to Deposit Ratio (LDR) X 100% = 17.982.982.994.182. 16.48% Dengan memasukkan jumlah pembiayaan yang diberikan bank untuk tahun 2004. 2005. dan 2006. dan Modal Inti Bank (Tabel 1).459 Rp 697. dan 2006 seperti terlihat pada tabel 3 ke dalam persamaan.48%. kemudian membaginya dengan jumlah dana yang diterima bank yang terdiri dari: Total dana pihak ketiga (Tabel 3).202 Jumlah dana yang diterima bank tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 3.448 RR2006 = 2.83% Rp4. maka akan diperoleh besarnya LDR tahun 2004.294. dan 17. sebesar 7.285.224 LDR2004 = 4.459 515.180 Rp2. dan 2006.376. dapat dikatakan bahwa kinerja bank cukup baik.604.604.239.447 Rp4.85%.639 X 100% = 108.21% yang berarti mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.853 LDR2005 = 2.639 X 100% = 90.859 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rasio RR tahun 2004.285.62% Rp2. 2005. 2005.

498 LAR2006 = 8. tentang jumlah pembiayaan yang diberikan dan tentang total Aktiva yang dimiliki Bank.239. dapat dilihat bahwa LAR mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2006.783 160 .Jumlah dana yang diterima bank tahun 2006 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 2.686.182.595 Dari perhitungan LAR diatas.83%.09% X 100% = 43.804 3.853 LAR2005 = 7. dan cenderung kritits di tahun 2006. dan 2006.24% Rp2. Meningkatnya persentase LDR ini memberikan indikasi makin rendahnya kemampuan likuiditas Bank Muamalat. X 100% = 32. maka LAR yang dimiliki Bank untuk tahun 2004. kemudian turun kembali di tahun 2006. dapat dihitung sebagai berikut: 4.370.686. Namun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih. dan LDR2006 sebesar 72.859 Rp 723. maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk ke dalam tahap yang aman/berkinerja baik. maka LDR bank masih berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik.209.24%. penurunan LAR ini menandakan tingkat liquiditas bank semakin besar. Loan to Asset Ratio (LAR) Berdasarkan data pada tabel 3. yang berarti LDR mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005.718.28% X 100% = 72.783 Berdasarkan hasil perhitungan. 2005.224 LAR2004 = 5. LDR2005 sebesar 108. diperoleh LDR2004 sebesar 90.62%. Namun apabila digunakan standar para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 81%-100%.427.994. 4.047 2.924 Rp3.62% X 100% = 80.498 LDR2006 = 3.718.

427.595 Dari hasil perhitungan di atas. Meskipun dalam gambaran umum kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan mengandalkan aktivanya masih terlalu kecil. terutama dalam hal meningkatkan perolehan laba.Analisis Rasio Rentabilitas 1. dan data laba bersih pada tabel 3. x 100% = 1. 2005. Return On Asset (ROA) ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan menggunakan Asset yang tersedia.93% 161 . dan 2006. Bertdasarkan data taoatal aktiva pada tabel 3. Dipeoleh perhitungan ROA tahun 2004. bahwa untuk mengukur tingkat kesehatan bank.804 138.93%. menjadi 1. sebagai berikut: 48. Perhitungan ROA ini menggambarkan kemampuan Bank Muamalat untuk melakukan bagi hasil (mudharabah) terhadap deposan dengan mengandalkan laba yang diperolehnya. dan meningkat lagi di tahun 2006 hingga mencapai 1.126 ROA2005 = 7. Perlu dicatat. dan mengurangi terjadinya dana-dana menganggur dari total aktiva yang dimiliki bank.209.86% x 100% = 0. Bank Indonesia biasanya menggunakan perhitungan ROA dengan mengandalkan laba sebelum pajak (laba kotor). akan tetapi berdasarkan teori dan agar tidak terjadi peningkatan laba semu (mark up laba) pada perhitungan ROA ini digunakan laba setelah pajak (laba bersih).93%. dapat dilihat bahwa ROA bank mengalami peningkatan dari tahun 2004.152 ROA2006 = 8.355 ROA2004 = 5. akan tetapi kecenderungan naiknya ROA dari tahun ke tahun menandakan bahwa bank berusaha untuk memperbaiki kinerjanya. sebesar 0.047 161.93% x 100% = 1.370.86% di tahun 2005.

Hal ini mengindikasikan bahwa bank mampu meningkatkan tingkat laba bersihnya dengan mengandalkan Modal Sendiri (Ekuitas) yang dimiliki bank. yang berarti bahwa mampu memperbaiki kinerja keuangannya dalam hal perolehan laba dari tahun ke tahun.152 ROE2006 = 786. 2005.26% Rasio beban operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. 3. Berdasarkan data pada tabel 3 tentang total laba bersih dan tentang ekuitas. 2005. yang dikaitkan dengan pembagian deviden. dapat dilihat bahwa bank mampu meningkatkan tingkat ROE nya setiap tahun.2. dapat kita hitung besarnya beban operasional bank dan pendapatan operasional bank untuk tahun 2004.441 Berdasarkan hasil perhitungan ROE 2004. dan 2006.113 138. Rasio Beban Operasional (BOPO) X 100% = 20.415 161.126 ROE2005 = 763.815 Rp456. Beban operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2004 Rp255. Return on Equity (ROE) ROE merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih dengan mengandalkan Equity (modal sendiri).355 ROE2004 = 339.477 Rp200. Berdasarkan data pada lampiran 2 (laporan rugi laba).09% X 100% = 14.49% X 100% = 18. maka besarnya ROE dapat dihitung sebagai berikut: 48. dan 2006 di atas.295 Pendapatan Operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah): 162 .

171 Rp1.295 BOPO2004 = 560.193 X 100% = 74.781 Beban operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2006 Rp570. kemudian di tahun 2005 besarnya rasio menurun hingga mencapai 74.34%.049.480 Berdasarkan hasil perhitungan rasio BOPO tahun 2004. Hal ini mengindikasikan bahwa bank pada tahun 2005 melakukan inefisiensi dalam hal 163 X 100% = 80.139 Rp 79.148 Rp 58.900 BOPO2006 = 1.387 Rp261.309 Rp 92.960 x 100% = 81. dan 2006.642 Rp864.047 Rp345.193 Pendapatan Operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2005 645.812 Rp560.781 Pendapatan Operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2006 915.806 Rp645.Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2004 456.34% Beban operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2005 Rp383.480 .853 Rp915. dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 besarnya rasio adalah 81.900 BOPO2005 = Rp785.141.960 Rp502.141.61% 864.24% Rp1.61%. 2005.

Pada tahun 2006. dan pembentuk laba bersih terbesar kemungkinan disumbangkan dari pendapatan non operasional bank.12% X 100% = 15. Net Profit Margin (NPM) Ratio NPM adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.62% .62%.152 NPM2006 = 1. Dalam hal ini dapat dihitung keoptimalan pendapatan operasional bank dalam membentuk laba bersih bank. maka besarnya rasio NPM dapat dihitung.960 138. NPM2004 = 560. Berdasarkan hasil perhitungan pendapatan operasional pada perhitungan rasio di atas. 4. tidak diimbang secara proporsional terhadap peningkatan pendapatan operasional bank. yang berarti kinerja operasional 164 X 100% = 14. kerugian valas.pengelolaan beban operasionalnya.97%. khususnya disebabkan kerugian investasi bank di valuta asing yang mengalami penurunan.480 Dari hasil perhitungan di ketahui. Tahun 2005. Pendapatan operasional bank ini perlu dihitung keoptimalannnya. NPM Bank tahun 2004 tercatat sebesar 8. yang kemungkinan disebabkan menurunnnya pendapatan operasional lainnya pada bank. seperti resiko kredit/pembiayaan macet (bermasalah). atau kegagalan investasi lainnya.355 X 100% = 8. dan data laba bersih yang diperoleh pada tabel 3.24%. sehingga rasio NPM meningkat menjadi 15.141. . hal ini berarti keoptimalan pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih relative rendah. Rasio NPM pada tahun 2005 telah mencapai 10%. bank mulai dapat mengoptimalkan pendapatan operasionalnya.126 NPM2005 = 864. yang harus ditanggung oleh pendapatan operasional bank. tampaknya bank mampu memperbaiki kondisi rasio Beban Operasional. Inefisiensi yang dimaksud adalah meningkat pesatnya beban operasional bank. meskipun kenaikannya tidak sesignifikan penurunannya di tahun 2005.97% 48. Karena dalam prakteknya pendapatan operasional banyak mengandung resiko. sehingga rasio BOPO mengalami peningkatan menjadi sebesar 80. bank tampak mulai memperbaiki kinerjanya.781 161.

360.465. namun tidak signifikan. walaupun mengalami penurunan dari tahun 2005. Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat. Selanjutnya di tahun 2006. dan 2006.076.90% X 100% = 47. Berdasarkan data-data pada kedua tabel di atas. sedangkan tabel 2 memperlihatkan besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Bank Muamalat Indonesia. maka besarnya CAR untuk tahun 2004. Capital Adequacy Ratio (CAR) CAR merupakan salah satu rasio yang dianggap cukup penting dalam penentuan Kinerja dan Kesehatan Bank. namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (idle fund). CAR2004 = 2.122.1 723. Tabel 3 memperlihatkan besarnya modal ekuitas yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia. CAR juga menjadi indicator untuk melihat tingkat efisiensi dana modal bank yang digunakan untuk investasi. CAR memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya.649.12%. rasio NPM tercatat sebesar 14. sehingga sumbangsih pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih masih lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.770.58% 309. CAR minimum yang harus dimiliki oleh sebuah bank adalah sebesar 8%.4 Secara umum hasil perhitungan CAR di atas telah mampu memenuhi standar minimal yang ditetapkan BI sebesar 8%. Analisis Rasio Solvabilitas 1. 2005. dapat dihitung sebagai berikut: . yang berarti bank masih mampu memperbaiki kinerja operasionalnya. Akan tetapi besarnya CAR di tahun 2005 yang 165 X 100% = 40.180 CAR2005 = 1.924 CAR2006 = 1. Menurut ketentuan Bank Indonesia.58% .bank sudah mulai membaik. dan masuk ke dalam jajaran Bank yang berkinerja baik dan sehat. sehingga rasio kecukupan modal Bank Muamalat telah memenuhi kriteria. CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko.5 697.447 X 100% = 14.

Debt to Equity Ratio (DER) Berdasrkan data pada tabel 5 tentang total hutang yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia. maka besarnya DER dapat dihitung sebagai berikut: . memperlihatkan dampak positif dari kinerja bank. khususnya kinerja solvabilitas. Turunnnya CAR yang masih dalam batas aman CAR minimum (8%). Dengan kata lain.26% X 100% = 340. DER2004 = 339.37% . dapat kita ketahui bahwa Debt Equity Ratio (DER) mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2005. bank berhasil menekan besarnya dana-dana menganggur. Besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat sebenarnya berdampak pada perolahan laba bersih yang dihasilkan oleh bank.mencapai 47. menandakan bahwa terlalu banyak dana yang menganggur besarnya dana mennganggur ini apabila dimiliki oleh bank-bank konvensional dapat mendatangkan permasalahan tersendiri. tingginya rasio DER ini menandakan bahwa kemampuan bank untuk menutupi seluruh hutang-hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas yang ia miliki sangat kecil.90%.999.598. Untuk itu. Tahun 2006. sehingga rasio cadangan modalnya menurun. maka hanya sebagian kecil saja hutang yang mampu di lunasi.029 X 100% = 884. agar selain dapat 166 X 100% = 421.441 Berdasarkan hasil perhitungan DER di atas. kemudian naik di tahun 2006.989 DER2006 = 786. Pada tahun 2006 ini.113 2. bila mengandalkan Ekuitas bank sebagai alat pembayar hutang.415 3. tampaknya bank harus berusaha untuk memperbesar cadangan Ekuitasnnya secara bijak (melakukan manajemen permodalan secara cermat).32% 2.58%. Akan tetapi karena Bank Muamalat merupakan bank syariah yang tidak menggunakan instrumen bunga sebagai kompensasi dana nasabah. 2.312. maka besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat tidak mempengaruhi kinerja keuangan bank. dan data pada tabel 3 tentang modal ekuitas. karena bank konvensional harus menanggung biaya dana (cost of loanable fund) yang besar yang didominasi oleh biaya bunga kepada nasabah.071 DER2005 = 763. besarnya CAR mengalami penurunan menjadi sebesar 40.

Rasio Solvabilitas: a. maka hasil penilaian untuk Rasio BOPO adalah cenderung efisien. ROA b.32% 287.83% 80. LAR 2.49% 80.memperbesar kemampuannya dalam membayar hutang. DER 2004 Hasil Perhitungan 2005 2006 187.58% 340.34% 8.85% 90.26% Metode Penilaian Historis Standar BI : 5% BI : max 110% Historis Historis Historis Historis Historis Standar BI : 8% Historis Hasil Penilaian Liquiditas meningkat Baik Baik Liquiditas meningkat Membaik Membaik Cenderung efisien Membaik Baik Cenderung Unsolven 156. NPM 3.03% 17. ROE c.12% 40. terlihat bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik.48% 108. dan Rasio Solvabilitas.09% 74. dimana besarnya rasio cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan dan mendekati 100%. Rasio Rentabilitas: a.62% 14.56% 7.24% 14. Rasio Rentabilitas.37% Berdasarkan hasil penilaian diatas. dimana diukur kemampuan bank dalam melakukan efisiensi dan menghasilkan laba. Penilaian rasio Solvabilitas yang mengukur 167 .62% 1. RR c. BOPO d.09% 1.58% 884. kecuali untuk rasio BOPO.93% 14. Cash Ratio b. Ringkasan Hasil Perhitungan Analisis Rasio Liquiditas. maupun analisa historisnya.24% 32.28% 0.07% 16. Pengujian Hipotesis Berikut ini disajikan tabel ringkasan hasil perhitungan analisa rasio Liquiditas. meskipun jika dilihat secara histories untuk rasio Loan to Deposit Ratio pada tahun 2006 menurun dan dibawah standar yang telah di tetapkan Bank Indonesia. profitabilitas bank yang merupakan konsekuensi penggunaan ekuitas bank tidak akan terganggu secara signifikan. Untuk analisis rasio Rentabilitas Bank. tahun 2004 sampai dengan 2006: Tabel 6. LDR d. dan Solvabilitas pada PT Bank Muamalat Indonesia. bahwa rasio liquiditas Bank Muamalat Indonesia cenderung liquid dan berkinerja baik. CAR b. pada PT Bank Muamalat Indonesia.26% 81.86% 18.02% 43.90% 421. maka secara histories dapat dilihat bahwa rasio Rentabilitas bank cenderung naik dari tahun ke tahun.97% 47. Rentabilitas. Tbk Tahun 2004-2006 Alat Analisis 1.61% 15. maka dapatlah ditarik kesimpulan. Analisis Liquiditas: a. yang berarti kemampuan bank dalam menghasilkan laba cenderung naik.93% 20.21% 72. berikut penilaiannya dengan menggunakan standar Bank Indonesia.

oleh karena itu CAR Bank Muamalat telah cukup baik. Analisa rasio Liquiditas Bank Muamalat Indonesia yang terdiri dari Cash Ratio. Reserve Requirement (RR). dapat dilihat bahwa untuk CAR Bank Muamalat telah memenuhi standar Bank Indonesia yang mensyaratkan minimal 8% bagi CAR suatu bank. Namun kemudian turun lagi pada tahun 2006. maka LDR bank berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik. sehingga kinerjanya buruk. Dari hasil analisa di atas yang memperlihatkan sebagian besar kinerja Bank Muamalat Indonesia berkwalitas baik. PENUTUP Kesimpulan Dengan melihat kembali tujuan penelitian ini di awal tulisan. maka hipotesis yang menyatakan bahwa “Bank Muamalat Indonesia mempunyai kinerja atau performance yang belum baik bila ditinjau dari rasio Liquiditas. Akan tetapi jika dilihat kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya dengan mengandalkan ekuitasnya yang tergambar dalam perhitungan DER. sehingga jumlah alat-alat liquid bank mengalami peningkatan. dan Solvabilitas” ditolak. 1. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja Keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik. Hal ini didasarkan pada nilai kas dan giro pada Bank Indonesia yang dimiliki BMI meningkat secara drastic dari tahun 2004 ke tahun 2005. Karena alatalat liquid bank kembali naik.kecukupan modal dan kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya. memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang terus meningkat dari tahun ke tahun. maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk kedalam tahap aman dan cenderung kritis di tahun 2006. Maka dilihat dari standar yang digunakan para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 80%-100%. penulis memberikan kesimpulan hasil penelitian ini sebagai berikut. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih. Hal ini ditunjukkan dengan hasil CAR bank yang selalu memenuhi ketentuan 2. Loan to Asset Ratio (LAR) memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang meningkat. maka terlihat bahwa keadaan Bank Muamalat cenderung memburuk atau tidak Solven (Unsolven). 168 . Hasil perhitungan rasio Solvabilitas BMI menunjukkan hasil yang beragam. Pada perhitungan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) kinerja Solvabilitas BMI menunjukkan kinerja yang baik. Loan to Deposit Ratio (LDR). Rentabilitas. mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005.

Langkah lain yang bisa dilakukan oleh bank adalah 169 . artinya bank mampu meningkatkan laba dari tahun ke tahun. meskipun tidak terlalu besar penghematan (efisiensi) yang mampu dilakukan oleh bank. maka kinerja keuangan bank sudah cukup baik. Melihat hasil perhitungan rasio-rasio di atas. dan Rentabilitas. maka dapatlah kita lihat bahwa kemampuan bank ini buruk. yang terdiri atas rasio Liquiditas. 4. namun dapatlah ditarik kesimpulan bahwa secara umum bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia tahun 2004 sampai 2006 cenderung baik. Rasio-rasio DER yang begitu besar memperlihatkan ketidakmampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas Bank. Besarnya Debt Equity Ratio (DER) Bank Muamalat. sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) bank cenderung baik. Hasil perhitungan rasio Rentabilitas Bank Muamalat Indonesia (BMI) memperlihatkan kecenderungan yang cukup baik. namun pendapatan operasional bank masih di atas beban operasional yang ada. Dalam hal melakukan efisiensi pendapatan operasional dibandingkan dengan beban operasional (diperlihatkan pada rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional). jika kita melihat Debt to Equity Ratio (DER) bank. Hal ini berarti bank cukup baik dalam mengelola operasionalnya sehingga mampu mengoptimalkan pendapatan operasional dalam pembentukan laba bersih. Akan tetapi. Solvabilitas. Untuk memperbesar DER bank dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan Ekuitas Bank yang berarti menambah jumlah saham yang beredar atau memperbesar jumlah laba ditahan yang bisa menambah ekuitas bank. baik dengan mengandalkan aktiva atau modalnya sebagai pembentuk laba (diperlihatkan pada nilai Ratio On Asset dan Rasio On Equity). juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.minimum yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%. 3. Secara keseluruhan dapat dilihat dalam hal pengukuran rasio rentabilitas bank. Besarnya angka DER ini menunjukkan kelemahan bank apabila Bank Muamalat dituntut untuk segera melunasi hutanghutangnya. meskipun ada beberapa hasil perhitungan rasio yang memperlihatkan kinerja bank yang buruk (contohnya rasio DER). yang merupakan bagian dari rasio Solvabilitas menunjukkan bahwa bank sebaiknya memperbaiki kinerja Solvabilitasnya. Selain itu margin keuntungan bersih bank yang dipelihatkan oleh rasio marjin keuntungan bersih (Net profit Margin). Saran 1. yang memperlihatkan kemampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan modal milik sendiri (Ekuitas) bank.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandar Lampung. Liberty. Universitas Lampung. Manajemen Perbankan. Modul: Workshop on Islamic Banking. 2006. Jakarta. Lukman. 2003. Muhammad. Zainul. Muhammad Syafi’i.memperkecil jumlah pinjaman bank dan melakukan efisiensi dana bank dengan melakukan perhitungan ulang terhadap investasi-investasi yang kurang menguntungkan. Munawir. Alvabet. 1998. Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah. Adiwarman. Karim. Universital Lampung. Ghalia Indonesia. Jakarta Dendawijaya. DAFTAR PUSTAKA Antonio. 2002. Yogyakarta. Yogyakarta. sehingga laba yang diperoleh bisa dgunakan untuk menambah Ekuitas Bank. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah. UII Press. S. 170 . 2006. Gema Insani Press. 1990. Jakarta. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Karim Business Consulting. Analisa Laporan Keuangan. Jakarta. 2006. Arifin.

sistem informasi dan komunikasi yang makin menyebabkan proses globalisasi bergerak semakin cepat. especially BUMD’s services is less quality and in business perspective PDAM Way Rilau is low contribution to PAD Kota Bandar Lampung. Keyword: Public satisfaction. c) totally. how satisfied order of PDAM’s consument in group R2A.KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A. Novita Tresiana2 ABSTRACT The research is based on the research question. In line with the study problem. makin bertambah akselerasinya didukung perkembangan teknologi. institusi publik bila ingin tetap 2 Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Dalam kondisi perubahan seperti itu. It is concluded that: a) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau technical unit is 1.10 that indicates C category. the order of public satisfied is 1. this study aimed at knowing the order of public satisfaction as performance of PDAM Way Rilau. It means that public response is worse. The Survey research method was used on unit of relationship and technical unit as research setting. This question is worth forwarding considering in some public institutions. FISIP Unila . R2B and R1 in which PDAM takes the services. PENDAHULUAN Perubahan yang terjadi dewasa ini dirasakan semakin cepat. It means that public response is not satisfied and PDAM’s services is worse.58 that indicates D category. service quality and performance. b) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau relationship unit is 2.84 that categories C. especially performance services of PDAM Way Rilau relationship and technical unit. R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung).

c) Semua aparat pemerintahan dituntut untuk memiliki ‘sense of crisis’. Ditinjau dari segi pelayanan. e) Masyarakat sebagai pihak yang harus dipenuhi dan dilindungi kepentingannya (public interest). b) Semakin tajamnya kritik masyarakat atas semakin rendahnya kualitas pelayanan publik.2001) tentang peran institusi publik. bertanggungjawab dan profesional.) Aparat pemerintah dituntut agar bekerja lebih profesional. Alhasil. PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung sebagai salah satu BUMD yang memberikan pelayanan publik kiranya juga tidak terlepas dari kondisi-kondisi diatas. menuntut agar pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi mereka sejauh bisa memenuhinya. Kondisi di atas. khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai akibat dari manajemen yang dikembangkan mengarah pada sistem monopolistik dan birokratis-sentralistik ketimbang berorientasi manajemen profesional wirausaha yang lebih bersifat profit oriented. Sebagai suatu lembaga usaha-meski tidak dapat dilepaskan dari label milik pemerintah daerah yang berkonotasi memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service provider).‘survive’ harus mampu merespon perubahan-perubahan melalui peningkatan kinerja dan kualitas layanannya (Brynson. khususnya garis depan dalam memberikan pelayanan publik di Indonesia menunjukkan adanya patologi dan stigma birokrasi pelayanan publik. akhirnya mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pokok dari PDAM sebagai salah satu bagian dari BUMD. tidak responsif dan tidak akuntabel kepada publik’. d. 2000). berupa pemerintahan yang bersih. dibutuhkan aparat pelayanan yang mampu ‘to do more with less’. 1995). Ada lima hal yang menjadi tuntutan masyarakat terhadap institusi publik dalam pelayanan yang diberikannya.menurut Wahab (1999) ‘menyebabkan munculnya pelayanan publik (konsumennya) amat tidak kompetitif dan tidak sensitif pada persoalan perbaikan kualitas secara menyeluruh. Senada dengan hal diatas..memiliki ‘public accuntability and responsibility’. maka kualitas pelayanan yang diberikan 172 . beberapa hasil riset yang telah dilakukan oleh beberapa pakar (dalam Islamy. sehingga disamping dapat digunakan untuk mengembangkan organisasinya juga dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pendapatan negara. (Islamy. yaitu: a) Derasnya tuntutan agar pemerintah mampu menumbuhkan adanya ‘good governance’. Monopoli (secara tersembunyi atau terang-terangan) atas penyediaan pelayanan publik ternyata juga menyebabkan perilaku para birokrat mulai dari pimpinan puncak hingga pegawai rendahan berlagak seperti ‘administrator kolonial’. maka yang harus juga dikejar adalah mencari keuntungan (profit). Sebagai perusahaan yang memegang monopoli dalam penyediaan air. kiranya juga membelenggu organisasi publik. Mereka menjadi arogan.

dengan mengetahui besar . R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung?. Penelitian ini merumuskan permasalahan berupa: Berapa besar tingkat kepuasan masyarakat.25/2004). maka akan didapat besarnya kinerja PDAM Way Rilau. R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. R2B dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No. mulai dari Keputusan MENPAN No. R2A dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No. juga optimalisasi pelayanan pada masyarakat dapat terwujud.25/2004) sebagai kompas kepuasan masyarakat/pelanggan dan kinerja PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung. Keputusan MENPAN No. responden terpilih ditetapkan minimal 150 orang pelanggan dari jumlah populasi penerima layanan masing-masing kategori konsumen dengan dasar: (‘jumlah unsur pelayanan’+1) x 10 = Jumlah Responden (14+1) x 10 = 150 Responden Sedangkan tehnik pengumpulan data untuk penelitian ini melalui kuesioner (pengisian angket).81/1993. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian Survei. Harapannya tentu saja selain dapat mendongkar PAD. wawancara dan observasi. Khusus untuk angket. Responden dipilih secara acak (secara sampel). Proses pengumpulan data/ informasi dilakukan terhadap sejumlah masyarakat kelompok pelanggan R2A. bentuk 173 . Keputusan MENPAN No. ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan. khususnya kelompok pelanggan R2. Untuk memenuhi akurasi hasil penyusunan indeks.63/2003. khususnya tanggapan kelompok pelanggan R2. Sedangkan dari perspektif usaha. PDAM Way Rilau belum mampu memberikan kontribusi yang profit yang cukup signifikan bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Besarnya Tingkat kepuasan masyarakat.25/2004 Tentang Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah dan terakhir Keputusan MENPAN No.26/2004. khususnya kelompok pelanggan R2. Untuk mengantisipasi hal di atas. Kajian dalam riset difokuskan pada tanggapan masyarakat terhadap mutu pelayanan PDAM Way Rilau (utamanya Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik).oleh PDAM kepada pelanggannya menjadi sangat rendah.

Nilai IKM dihitung dengan menggunakan ‘nilai rata-rata tertimbang’ masingmasing unsur pelayanan. jawaban tertulis dan bukti empiris lainnya dari berbagai narasumber terhadap 14 unsur pelayanan. kurang baik diberi nilai persepsi 2.071 sebagai nilai bobot rata-rata tertimbang dan nilai indeks unit pelayanan dengan cara menjumlahkan 14 unsur dari nilai rata-rata tertimbang. wawancara. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat (IKM) terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji. Ini 174 . setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut : Bobot nilai rata-rata = Jumlah bobot = 1 Tertimbang Jumlah unsur 14 = 0. Kemudian data pendapat masyarakat yang telah dimasukkan kedalam masingmasing kuesioner. pendapat.jawaban pertanyaan responden atas masing-masing unsur pelayanan diklasifikasi sesuai jenjang kualitas pelayanan. Dengan demikian. pendidikan terakhir dan pekerjaan utama. observasi) dilakukan di lokasi masing-masing unit pelayanan pada saat jam sibuk dan dilingkungan perumahan kelompok pelanggan pada saat responden ada di rumah.071 Untuk memperoleh nilai indeks kepuasan masyarakat (IKM) unit pelayanan digunakan pendekatan nilai rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut: IKM = Total dari Nilai Persepsi Per Unsur Total Unsur Terisi X Nilai Penimbang Data isian kuesioner dari setiap responden akan dimasukkan dalam formulir mulai dari unsur 1 sampai dengan unsur 14 yang selanjutnya dicari nilai ratarata per unsur pelayanan melalui jumlah nilai rata-rata per unsur pelayanan dikalikan dengan 0. baik diberi nilai persepsi 3. Data yang dikumpulkan diolah/dianalisis dengan menggunakan Analisis Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat (IKM). dilakukan pengujian kualitas data melalui penyusunan dengan mengkompilasikan data responden yang dihimpun berdasarkan kelompok umur. Selanjutnya. Lokasi pengumpulan data (Kuesioner. informasi (data) yang dikumpulkan adalah berupa pandangan. jenis kelamin. Untuk kategori tidak baik diberi nilai persepsi 1. yaitu dari yang sangat baik sampai dengan tidak baik. data yang dikumpulkan sifatnya bukan hanya kuantifikasi atau pasti tapi juga dalam bentuk naratif deskriptif. sangat baik diberi nilai persepsi 4.

Interval Konversi IKM.00 NILAI INTERVAL KONVERSI IKM 25-43.50 2. dan c) Kinerja Unit Pelayanan (Sangat baik.00 MUTU PELAYANAN D C B A KINERJA UNIT PELAYANAN Tidak baik Kurang baik Baik Sangat baik NILAI PERSEPSI 1 2 3 4 Penyimpulan dilakukan berdasarkan hasil penghitungan indeks kepuasan masyarakat.00-1.25 3. merupakan jumlah nilai rata-rata dari setiap unsur pelayanan dikalikan dengan penimbang yang sama. IKM UNIT PELAYANAN X 25 Sehingga interpretasi atau penafsirannya akan nampak dalam tabel sebagai berikut : Tabel 1.75 1. utamanya kelompok pelanggan R2A. Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan NILAI INTERVAL IKM 1. Dari Hasil nilai indeks unit pelayanan disimpulkan sebagai berikut : a) Nilai IKM setelah dikonversi = Nilai Indeks X Nilai Dasar. Sehubungan dengan hal ini. yang mendapat pelayanan oleh Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau. maka analisis kepuasan pelanggan dan kinerja 175 .50 62.C. yaitu 0. Proses penafsiran atau interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100. Nilai persepsi. Nilai indeks komposit (gabungan) untuk setiap unit pelayanan.25 81.26-4. jumlah nilai dari setiap unit pelayanan diperoleh dari jumlah nilai rata-rata setiap unsur pelayanan. Interval IKM.76-2.B.D). dengan rumus sebagai berikut : I.26-100.51-81.51-3. baik.071. b) Hasil nilai IKM setelah konversi disesuaikan dengan angka mutu pelayanan (A. kurang baik dan tidak baik) HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana telah ditetapkan. yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat sebagai pelanggan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung.tentunya berguna untuk mengetahui profil responden dan kecenderungan jawaban yang diberikan.75 43. sebagai bahan analisis objektivitas.76-62. R2B dan R1. maka hasil penilaian tersebut di atas dikonversikan dengan nilai dasar 25.

14 0.07 2.19 0.53 2. karena pada dasarnya kepuasan pelanggan muncul sebagai selisih (perbedaan) antara harapan (kepentingan) pelanggan dengan kinerja PDAM Way Rilau sebagai sesuatu yang dirasakan oleh pelanggannya.15 0.15 1.11 0.18 0.10 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 176 .33 2.13 0.45 73 58 37 79 20 125 55 69 83 61 64 101 28 978 81 50 60 49 57 55 83 79 84 41 61 44 33 837 32 61 68 52 95 10 25 37 18 82 57 30 98 680 14 31 35 20 28 10 37 15 15 16 18 25 41 305 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.800 1.51 2.11 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.76 2.83 2.90 2.15 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Jumlah Pelanggan Nilai rataKelompok R1 rata Masyarakat PDAM Way Rilau Pada Saat Observasi perunsur Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 125 60 15 200 1.10 0. TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT PELAYANAN MASYARAKAT PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Kepuasan pelanggan memiliki hubungan yang equivalen dengan kinerja yang ditunjukkan oleh suatu lembaga.13 0.20 2.14 0.17 0.94 2. Tabel 2.16 0.PDAM Way Rilau akan dipilah kedalam kategorisasi kelompok pelanggan dan unit PDAM Way Rilau yang dijadikan subyek kajian riset ini.66 1.22 1.27 2.16 0.99 1.

84 2. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Nilai rata-rata Jumlah Nilai rata.54 2.10.29 2.Dari perhitungan Tabel 2 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.12 0.21 1.50 2.95 2.03. maka didapat suatu kesimpulan tentang tingkat kepuasan masyarakat kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.03 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 3 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.tertimbang Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Pelanggan rata per Kota Bandar Lampung Kelompok R2A perunsur Pada Saat unsur 1 2 3 4 Observasi pelayanan 89 58 15 38 200 2.04 0.97 1.18 2.16 0.13 0.14 0.16 0.85 1. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.74 2.045 70 61 60 69 56 63 97 48 84 47 67 47 49 876 77 20 40 41 98 12 24 24 11 83 56 30 60 591 16 23 18 13 25 4 32 13 14 15 11 20 46 288 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.06 1.13 0. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan 177 .64 1.14 37 96 82 77 21 121 47 115 91 55 66 103 45 1.01 0.. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau terkategori ‘C’.5.15 0.12 0.17 0.36 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.800 2. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 3.19 0.14 0.10 x 25 = 52.11 0.68 1.

13 0.16 0.16 0.03 1.19 2.14 0.88 2. maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT.13 0. Menengah) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.17 0.13 0.16 x 25 = 54. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 4.69 1.14 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.nilai dasar 2.16 0.02 1.03 x 25 = 50.16 Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 4 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’.20 2.43 2.14 0.82 2.90 2.17 0.16 0.800 1. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’.96 2. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik 178 .94 0.16.27 2.29 2. Menengah) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 78 60 59 3 71 59 48 69 19 102 45 66 80 59 76 97 29 898 90 55 55 49 55 54 91 79 81 44 59 43 35 850 27 59 60 57 96 23 29 39 23 78 50 31 91 722 12 27 37 25 30 21 35 16 16 19 15 29 45 330 Jumlah Nilai rata-rata Pelanggan Nilai rata-rata tertimbang per Kelompok R2B perunsur unsur Pada Saat pelayanan Observasi 200 1.75.27 2.19 0. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.14 0.76 2. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT.

13 0.61 2.13 0.69 2.19 0.81 2.90 1.90 2.10 x 25 = 52.15 0.19 2.66 1.563 136 140 168 150 289 45 78 100 52 243 163 91 249 1.08 1.15 0.23 1.28 2.15 0.5.15 2.10 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 5 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.Tabel 5. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik 179 .16 0.11 0. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.80 0.30 2.11 0. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 292 178 89 41 181 213 167 225 60 348 147 250 254 175 206 301 102 2.13 0.13 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8.10. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’.15 0.16 0.16 0.07 2.993 42 81 90 58 83 35 104 44 45 50 44 74 132 923 Unit Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Nilai rata-rata Jumlah Nilai ratatertimbang per Pelanggan rata Pada Saat unsur perunsur Observasi pelayanan 600 1.07 2.400 2.921 241 166 175 167 168 172 271 206 249 132 187 134 117 2.

58.08 0. 180 . (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik.16 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.18 0.12 1.10 0.10 0. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’.03 1.50 1.08 0.45 1.11 0.08 0.89 1.48 2.58 Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 6 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.07 1. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT TEHNIK PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Tabel 6.42 1.27 1.10 0.12 2.21 0.09 0.20 0.800 Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.59 0.5.08 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Jumlah Pelanggan Unit Teknik PDAM Pelanggan Way Rilau Kota Bandar Kelompok Lampung R1 Pada Saat 1 2 3 4 Observasi 124 70 5 1 200 117 5 107 111 21 121 177 180 25 163 180 180 195 1.14 1.11 0.47 2.706 75 100 88 86 22 72 20 17 1 25 17 9 5 607 409 78 3 81 4 2 115 3 1 3 171 7 3 11 3 5 5 14 1 1 42 4 2 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.76 1.52 1.58 x 25 = 39.

10 0.58 404 71 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 7 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.59 0.52 2.09 0.5p.05 1.94 1.09 0. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2A mengindikasikan tidak baik.58 x 25 = 39.44 1.11 0.11 1.47 1.Tabel 7.21 1.10 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan 2 69 81 101 85 98 21 70 31 15 3 23 15 12 6 630 3 2 1 77 3 3 120 2 3 4 166 6 2 15 4 2 1 11 1 42 3 1 2 2 4 1 1 127 117 11 111 99 17 125 165 179 29 167 182 173 193 1.24 1.15 2. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1. 181 .20 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.71 1.58.10 0.42 1.08 0.10 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.07 1.17 0.21 0.43 2.09 0. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’.800 1.08 0.695 Nilai rataJumlah rata Pelanggan Nilai ratatertimbang Kelompok R2A rata per Pada Saat perunsur unsur Observasi pelayanan 200 1.40 0.19 0.

(b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.07 1.21 0.19 0.08 0.697 Jumlah Pelanggan Kelompok R2B Pada Saat Observasi 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.12 2.34 1.08 0.51 2.59 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT.10 0.19 1.39 1.08 0. Menengah) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.58 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 8 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.10 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT.58 x 25 = 39.800 Nilai ratarata perunsur 1.18 1.04 1.45 2.58.68 1.Tabel 8. Menengah) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan 2 79 83 99 85 97 23 65 24 8 14 20 16 11 5 629 3 1 3 75 2 2 119 2 4 3 155 12 3 13 1 395 4 1 14 0 43 3 1 3 4 8 2 0 79 119 114 12 113 101 15 130 171 186 27 160 179 176 194 1.42 1.46 1.10 0.08 0.10 0.45 1. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’.11 0.10 0.17 0.95 1.14 1.5. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2B mengindikasikan tidak baik. 182 .

04 1.10 0.72 1.09 0.28 1.11 183 .07 1.08 0.59 0. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan kepuasan masyarakat/ pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.08 0.93 1.60 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.18 0. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyakat/Pelanggan Terhadap Unit Pelayanan dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Pada Saat Kota Bandar Lampung Observasi 1 2 3 4 662 396 97 45 1200 Nilai ratarata perunsur 1.208 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 9 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.19 0. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.50 2.Tabel 9.42 1.10 0.41 0. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat/Pelanggan Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 370 218 8 4 348 28 331 311 53 376 513 545 81 490 541 529 582 5.58 1.098 239 300 258 281 66 207 75 40 18 68 48 32 16 7 233 9 7 354 7 8 10 492 25 8 39 1 6 39 2 1 127 10 4 5 9 17 3 0 1 228 Jumlah Pelanggan Pada Saat Observasi 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8.08 0.5.11 0.45 2.18 1.58.10 0.47 1.13 2.21 0.08 0. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way Rilau terkategori ‘D’.10 1.17 1.58 x 25 = 39.47 1. Tabel 10.400 Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.866 1. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan tidak baik.12 1.

(b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.89 1.84 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 10 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.11 0.85 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.12 0. (d) Kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan kurang baik.84 x 25 = 46.60 1.019 466 433 448 234 379 346 246 267 200 235 166 133 4.429 373 177 157 643 52 86 110 544 268 171 130 250 3.70 1.13 1.16 0.76 2.20 0.79 1.12 0.11 0.13 0.51 2. (c) Mutu pelayanan PDAM Way Rilau terkategori ‘C’.16 0.Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Kota Bandar Lampung Pada Saat Observasi 1 2 3 4 529 480 143 48 1200 241 498 536 113 724 660 795 335 665 747 830 684 8.52 1.201 120 92 59 210 45 108 49 54 67 47 74 133 1.800 Nilai ratarata perunsur 1.78 2.13 0.78 1.13 0. b) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 2. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan a) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1.11 0.54 1.86 1.26 1.31 1.151 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 16.10 dengan mutu pelayanan terkategori ‘C’ yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja 184 . yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik.84.58 dengan mutu pelayanan terkategori ‘D’.11 0.

and Lawton.Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik c) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan secara keseluruhan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1. yaitu: a) Reformasi manajemen stratejik melalui restrukturisasi dan revitalisasi.. J. Critique and Practice. A. Pelayanan Publik Pemerintah Lokal: Hak Dasar Warganegara. Edisi April-Juni 2002 Hughes. 2002. DAFTAR PUSTAKA Alam.Philip. b) Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar badan usaha. Potter. Public Management and Administration: An Introduction. (eds). The Public Service Manager. akan tetapi lebih pada aspek profit oriented seperti prinsip bisnis yang dijalankan sektor privat.Arif dan Basirun. B. Melbuorne: Long Man Chesire. Public Sector Management: Theory.. Saran-saran PDAM Way Rilau bukan semata-mata lembaga milik pemerintah yang hanya menjalankan fungsi sosial. Hal ini bisa dimulai dengan langkah-langkah mendasar.84 dengan mutu pelayanan terkategori ‘C’ yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik.E. D. 185 . Consumerism and The Public Sector: How well does The Coat fit? In McKevitt. O. Martin Press Inc. New York: St.. Jurnal PSPK.1994. (1994). (1988). New McCallum. Marketing Jersey:Prentice-Hall Inc. (1984).. maka PDAM Way Rilau harus membenahi sistem manajemen secara keseluruhan ke arah perbaikan kinerja dan kualitas pelayanan agar tidak ditinggalkan pelanggannya. Kotler. Seventh Edition. Management. London: Sage Publication.

dan Purbokusumo.25/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. 2. Y. Nomor 1.. Kepmenpan No. Kepmenpan No. (1999). Pebruari 1998. (1998).. S. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik. 26/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. A.Wibawa. Vol. Disampaikan pada Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Kebijakan Publik pada FIA-UNIBRAW. Wahab. 186 . Peningkatan Kualitas Pelayanan Administrasi. 63/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Kepmenpan No.Reformasi Pelayanan Publik: Kajian dari Perspektif Teori Governance. S..

Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman
Rinaldi Bursan, S.E., M.Si.3 Susni Herwanti, S.Hut. 4
ABSTRACT Total Quality Management plays an important role in customer to visit Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura War). Tahura War has faced competitive with other tourism object e.g Pasir Putih, National Park Way Kambar and others. This paper has objective that how to know to check correlation between top management commitment, customer focus, human resources focus with performance. This paper found that top management commitment, customer focus, human resources focus have positive correlation with performance. Key words: total quality management, correlation, performance, customer focus, and top management commitment. I. Pendahuluan Tahura WAR adalah salah satu kawasan pelestarian di Propinsi Lampung seluas 22.249,31 hektar yang ditetapkan melalui SK Menteri kehutanan No. 804/KPTS-II/1993 tanggal 10 Agustus1993. Sebelumnya kawasan itu merupakan Hutan Lindung Register 19 Gunung Betung, Gunung Pesawaran dan Gunung Ratai. Secara administratif lokasi kawasan Tahura WAR berada di wilayah kabupaten Lampung Selatan dan kotamadya Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Bagi masyarakat Lampung, khususnya masyarakat kota Bandar Lampung keberadaan Tahura WAR sungguh amat vital sebagai penyangga kehidupan ekonomi, sosial dan ekologi. Karakteristik bentang alam yang spesifik menjadikan kawasan tersebut sebagai penyedia berbagai jasa lingkungan untuk wilayah sekitarnya. Kejenuhan dari rutinitas kerja, adanya waktu luang, kebutuhan akan rekreasi dan mampu berwisata merupakan aspek-aspek yang
3 4

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung Dosen Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

mendorong untuk melakukan rekreasi. Tahura WAR yang berlokasi di Padang Cermin, Lampung Selatan ini menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat wisata. Perbaikan produktivitas terus-menerus tidak bisa dihindarkan dari pihak pengelola yang menginginkan kemajuan industri wisatanya. II. Permasalahan Tahura WAR merupakan taman hutan rakyat yang keberadaannya tidak hanya penting untuk mempertahankan keselestarian hutan, tetapi juga dapat menjadi sarana rekreasi dan pariwisata bagi masyarakat Lampung serta hutan pendidikan bagi masyarakat Lampung. Mengingat industri wisata yang semakin beragam di daerah tersebut dan penuh dengan persaingan, maka Tahura WAR perlu mengadakan suatu evaluasi terhadap pengelolaan yang sudah dilakukan selama ini. Tahura WAR dihadapkan pada persaingan tempat rekreasi lainnya seperti wisata pantai Pasir Putih dan wisata-wisata yang sedang marak lainnya seperti water park yang belakangan banyak bermunculan di Lampung. Untuk itu maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimanakah hubungan antara faktor manajemen, konsumen dan kinerja karyawan terhadap kepuasan pengunjung Tahura WAR. III. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Memeriksa korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak, fokus pada pelanggan, fokus pada konsumen, benchmark dan fokus pada karyawan dengan variabel TQM. Memeriksa korelasi antara variabel TQM dengan variabel Kinerja. Memeriksa variabel yang paling berpengaruh terhadap penerapan TQM Di Tahura WAR.

2. 3.

IV. Rerangka Pemikiran Program perbaikan terhadap mutu yang terus menerus dapat dilaksanakan dengan menerapkan Total Quality Management (TQM). (Samson & Terziovski, 1999). TQM merupakan strategi organisasi yang digunakan untuk memperbaiki kepuasan pengunjung di Tahura WAR dengan mengembangkan prosedur dan mengelola kualitas hasil. TQM telah menjadi strategi global dengan beberapa 188

keuntungan yaitu memperbaiki kepuasan pengunjung, fokus dan motivasi pada karyawan, menurunkan sampah/limbah, dan memperbaiki kinerja secara keseluruhan. Pendekatan TQM diharapkan tercapainya kinerja perusahaan secara keseluruhan. Menurut Harvey & Brown (2001) dalam Agus (2004) TQM merupakan sebuah strategi organisasi untuk memperbaiki service performance dan kepuasan konsumen dengan mengembangkan prosedur untuk secara bijak mengelola kulitas. TQM mengacu pada sebuah penekanan kualitas yang meliputi keseluruhan organisasi dari pemasok sampai konsumen. TQM menekankan sebuah komitmen melalui manajemen umtuk keberlangsungan organisasi secara luas dalam menggerakkan secara tepat semua aspek produk dan jasa yang penting bagi konsumen (Render, B., dan Heizer, J.2005). TQM adalah pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus-menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Proses TQM bermula dari pelanggan dan berakhir pada pelanggan pula. Proses TQM memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa) yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output). Lima variabel TQM dianalisis dengan menggunakan analisis reliabilitas untuk menentukan analisis item, konsistensi internal dan stabilitas dari pengukuran, uji korelasi antara praktik-praktik TQM dan uji korelasi antara TQM, service performance dan kepuasan pengunjung,. Peneliti berpendapat bahwa keseluruhan model hipotesis mempunyai kesesuaian terhadap performance secara keseluruhan. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah: H1 : Komitmen manajemen puncak mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM H2 : Fokus pada pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H3 : Benchmarking mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H4 : Pelatihan mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H5 : Service performance mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H6 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H7 : Kualitas Pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H8 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H9 : Total Quality Management mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja

189

Peranan Quality Department Training 190 . Koordinasi antara department kulitas dengan departemen lainnya. Fokus karyawan : TQM membutuhkan komitmen dari manajemen puncak untuk meyakinkan karyawan dalam hal quality work culture dan menciptakan kesehatan citra organisasi dengan membuat pelayanan kualitas terhadap konsumen. 4. Provisi dari pelatihan statistik. 2. Pentingnya mengarahkan kualitas terhadap biaya dan jadwal. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini dibatasi pada lima variabel TQM yang meliputi: 1. 2003.V. Tabel 1. jasa. dan kemudian diikuti oleh seluruh karyawannya. Evaluasi manejemen puncak terhadap kualitas. tujuan dan sistem untuk memuaskan harapan pelanggan dan untuk memperbaiki kinerja organisasi. Visibility dan otonomi dari department kualitas. 3. yang dimulai dari manajemen senior. Menurut Saraph et al. Keefektifan dari department kualitas. Benchmarking : melibatkan standar dari suatu produk. biaya atau praktik-praktik lainnya yang mewakili kinerja paling baik. Spesifikasi dari tujuan kualitas. 1989 dalam Kaynak. Akses department ke manajemen puncak. Menggunakan staf untuk konsultasi. menciptakan nilai. Fokus pada konsumen : Kesuksesan suatu organisasi salah satu indikatornya terdapat pada kepuasan konsumennya. dan training yang berhubungan dengan kualitas untuk semua karyawan. Perencanaan kualitas yang komprehensif. Partisifasi manjemen puncak dalam usaha perbaikan kualitas. identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1. Pelatihan : Pencapaian kesuksesan dalam budaya kualitas harus dimulai dengan program pendidikan. 5. trade training. Komitmen manajemen puncak : Kualitas membutuhkan sepenuhnya komitmen dari manajemen puncak. Identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran TQM PRAKTIK-PRAKTIK TQM Management Leadership DESKRIPSI Dukungan dari kualitas yang bertanggung jawab oleh manjemen puncak. Manajemen puncak bertindak sebagai pengendali dalam penerapan TQM.

Kejelasan spesifikasi. Penekanan pada produksi. Penelitian tersebut menggunakan A Null Model yang memperlihatkan hubungan antara lima elemen TQM dengan kinerja perusahaan ( Gambar 1). Ketergantungan yang kuat dari pemasok dan pelanggan.Pengukuran kulitas tepat waktu. Umpan balik dari data kulitas kepada karyawan dan manajer untuk problem solving. d1 Mdtopm d2 d3 d4 Mdcust Mdperf e1 TQM Perform Mdbench Zeta 1 Mdcsatis Mdtrain e2 d5 Mdemploy Gambar 1. Partisipasi karyawan yang terbuka dalam hal pengambilan keputusan terhadap kualitas. Keterlibatan semua departement yang berpengaruh dalam design review. Hindari desain ulang.PRAKTIK-PRAKTIK TQM EmployeeRrelation DESKRIPSI Implementasi dari keterlibatan karyawan dan lingkaran kualitas. Kejelasan kepemilikan proses. Evaluasi manajer dan karyawan berdasarkan quality performance. Tanggung jawab karyawan terhadap kualitas. Quality Data and Reporting Supplier Quality Management Product/ServiceDdesign Process Management Studi hubungan antara elemen-elemen TQM terhadap dua indikator kinerja telah dilakukan oleh A. Model struktural menunjukkan hubungan struktural antara TQM dan keseluruhan kinerja (A Null Model) 191 . Sedikit tergantung pada pemasok. kulitas bukan jadwal roll out. Ketersediaan data kulitas. tahap dan langkah. Agus (2004). Kontrol kualitas pemasok Melalui proses scrub-down. Pembelian kebijakan yang menekankan pada kualitas dari pada harga. Keefektifan supervisi dalam menangani isu-isu kulitas Penggunaan data biaya kualitas.

stakeholder dan masyarakat sekitar. Sampel diambil secara acak terhadap para pengunjung di lokasi yang terdapat pengunjung.VI. Model HUBUNGAN antara TQM dengan keseluruhan kinerja Keterangan: Mdtopmgt Mdbench Mdperf Mdemploy Mdemp1oy = top mangement commitment Mdcust = benchmarking Mdtrain = service performance Mdcsatis = employee wealth focus = customer focus = training =customer satisfaction VII. Model Penelitian Model penelitian yang digunakan diadopsi dari hasil sebuah model struktural pada Gambar 1. Masing-masing sampel sebanyak 35 responden untuk pengunjung dan 60 responden untuk pengelola. Masing-masing responden memberikan penilaian terhadap 192 . Mdtopmgt Mdcust TQM Mdperf Mdbench Perform Mdtrain Mdcsatis Gambar 2. Metode Penelitian Populasi yang akan diteliti adalah pengunjung pengunjung yang berusia antara 15-60 tahun dengan anggapan usia tersebut merupakan usia yang bisa diandalkan dalam pengisian kuisioner). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner yang terdiri dari dua jenis kuisioner. sehingga total ada 95 orang responden. dan para pengelola Tahura WAR. satu untuk pengunjung (terhadap level kepuasan pengunjung) dan satu untuk para pengelola Tahura WAR (terhadap praktikpraktik TQM).

1. Keinginan organisasi terhadap benchmark di masa mendatang 1. 2. komitmen dan suasana yang dibawa pengunjung 2. Visi. 6 = setuju dan 7= sangat setuju. kepuasan karyawan terhadap keseluruhan kegiatan pelatihan 1. Evaluasi kinerja dari manajer berdasarkan kualitas ekowisata Tahura WAR 1. 2. 5. Keinginan dan kesiapan karyawan (respon) yang cepat terhadap permintaan pengunjung Membangun fasilitas wisata yang dapat memuaskan pengunjung Antisipasi dan tanggung jawab terhadap kebutuhan. 2. 4 = netral. 3. Tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan Tingkat kesadaran kualitas ekowisata Tahura WAR. Penilaian terhadap praktik-praktik TQM dan level kepuasan pengunjung menggunakan tujuh skala penilaian yaitu :1 = sangat tidak setuju. 3. Tabel 2. 2. 4. 5 = agak setuju. Ketersediaan karyawan untuk mengikuti pelatihan kualitas 2. 5. gangguan dan risiko serta kenyamanan berwisata Kredibel. Mempertimbangkan keefektifan benchmarking dalam perbaikan kualitas Tahura WAR 3. Memanfaatkan informasi dari pengunjung Tahura 1. mempertahankan pengunjung dalam bahasa yang baik termasuk pada saat memberikan informasi tentang Tahura WAR Reliabilitas. 6. Keterlibatan dalam pemberian usul dan saran. Tersedianya kotak usul dan saran terhadap pihak pengelola Tahura 3. artinya Tahura WAR tersebut menyediakan obyek wisata yang tepat dan di tempat yang tepat. Keefektifan dari benchmarking dalam menurunkan biaya pelayanan 4. kedekatan dan kemudahan untuk dijangkau Kesopanan. Indikator Praktik-Praktik TQM dan Performance NAMA VARIABEL Komitmen manajemen puncak INDIKATOR 1. Frekuensi diadakannya pelatihan-pelatihan kualitas dalam setahun 3. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan pada sesi pelatihan yang sama 4. ketrampilan dan pengetahuan dari pihak pengelola tentang Tahura WAR KET Fokus pengunjung Pelatihan Fokus Kesejahteraan Karyawan Fokus Partisipasi Karyawan Service performance Level Kepuasan Pengunjung Kepuasan pengunjung Praktik TQM Benchmarking (standar) 193 . keyakinan dan kejujuran di hati pengunjung terhadap ekowisata Tahura WAR Kompetensi. Tingkat umpan balik pengunjung untuk memperbaiki kualitas ekowisata Tahura 4. Membangun kualitas sebagai suatu isu strategi organisasi 3. dan keramahan dari pihak pengelola Tahura Keamanan dan kebebasan dari bahaya. keluhan dan keinginan pengunjung Memahami kebutuhan pengunjung Komunikasi. Menyediakan insentif keuangan kelompok 2. artinya menimbulkan minat. kepercayaan. artinya memiliki keahlian. respek. Mempertimbangkan kualitas ekowisata Tahura WAR sebagai salah satu tujuan organisasi. Memperhatikan standar pelayanan dan proses dari industri jasa pesaing yang bergerak dibidang yang sama. 1. 4. 2 = tidak setuju. Menyediakan program-program profit-sharing 1. 3 = agak tidak setuju. 2.kuisioner dengan tujuh Skala Likert terhadap indikator-indikator variabel (Tabel 2). 3. Akses.

786. Dari tabel 4 terlihat bahwa hubungan antara variabel Benchmarking dan Fokus Pengunjung memiliki keeratan positif yang cukup tinggi.5 maka dapat disimpulkan bahwa indikator yang digunakan reliabel.378 dengan variabel Fokus Pengunjung. nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan masih dapat ditolerir untuk rentang yang luas. Hasil Uji Korelasi dengan Spearman Corellation 194 . Jika nilai alpha yang diperoleh lebih besar dari 0.885 0.794 dan Fokus Karyawan 0. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan Cronbach Alpha diperoleh nilai tertinggi untuk variabel Benchmarking 0. Komitmen Manajemen 0. Hasil Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha Variabel Komitmen Manajemen Fokus Pengunjung Benchmarking Pelatihan Karyawan Fokus Karyawan FinalItems 3 4 4 4 5 Reliability 0.VIII.885. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa jika pihak manajemen melakukan perbaikan pada benchmark Tahura maka aktivitas fokus pada pengunjung pun harus dilakukan karena keduanya memiliki hubungan yang erat dan positif.561. Nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan berada di bawah 0. Untuk menilai reliabilitas dalam penelitian ini digunakan nilai Cronbach Alpha. hal ini mungkin disebabkan karena posisi karyawan yang menyebar tidak hanya di lapangan atau lokasi Tahura tetapi juga di kantor pelayanan dan pusat.561 2.7. Tabel 3.857 0. Analisa Korelasi Pengujian dengan Korelasi Spearman menunjukkan bahwa variabel Komitmen mempunyai korelasi positif yang cenderung lemah sebesar 0. Keberagaman lokasi menyebabkan semakin heterogennya pengalaman yang telah dialami oleh setiap karyawan. Hasil Uji Reliabilitas Uji reabilitas menurut Simamora (2004) digunakan untuk menguji tingkat kehandalan kuesioner.786 0. Karena hasil uji semua item adalah realibel berarti instrumen penelitian layak digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian. Hasil Analisa Dan Pembahasan 1. Fokus Pengunjung 0.857. Tabel 4. Oleh karenanya.794 0. Pelatihan Karyawan 0.

Correlation is significant at the 0.261 .Correlations KOMITMENPELANGGANBENCHMARK TRAINING SEJAHTERAPARTISIPASI Pearson Correlation 1 .500 61.227 . Oleh karena angka tersebut lebih besar sama dengan 0.002 .811 .989 .190 .057 .390* Sig. .135 N 35 35 35 35 35 35 BENCHMARK Pearson Correlation .112 .5. Correlation is significant at the 0.190 N 35 35 35 35 35 35 PELANGGAN Pearson Correlation . (2-tailed) .05 level (2-tailed).112 .578** .000 Dari tabel di atas terlihat angka KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) adalah sebesar 0.096 .286 -. **. (2-tailed) .021 1. Uji KMO dan Bartlett KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy.258 Sig.116 -. (2-tailed) .390* .508 .025 .195 .195 -.002 -.524 .090 N 35 35 35 35 35 35 TRAINING Pearson Correlation . Bartlett's Test of Sphericity Approx.021 N 35 35 35 35 35 35 SEJAHTERA Pearson Correlation -.578** 1 .000 N 35 35 35 35 35 35 KOMITMEN *.524 .291 Sig.286 1 . 3.000 Sig.227 Sig. 195 .135 .000 . (2-tailed) .042 -.116 .992 .992 .745 .002 .042 1 .638 10 . Analisa Faktor Pengujian statistika dengan analisa faktor menemukan bahwa variabel fokus pada karyawan dan variabel kepuasan pengunjung terbagi menjadi 2 faktor yang berbeda.000 .745 .508 .000 1 Sig. Hal in dapat dilihat pada tabel berikut ini.811 .378* .261 .025 .258 .000 N 35 35 35 35 35 35 PARTISIPASI Pearson Correlation -.989 .01 level (2-tailed).090 . Chi-Square df Sig. (2-tailed) .057 .291 -.002 . Tabel 5.5 maka kumpulan variabel dapat diproses lebih lanjut.378* 1 . (2-tailed) .096 1.

Rotated Component Matrix Rotated Component Matrix Component 1 EMPLOY1 EMPLOY2 EMPLOY3 EMPLOY4 EMPLOY5 .654 3.258 15.965 1. Rotation converged in 3 iterations.956 persen.070 75.803 36. a.798 .302 39. Total Variance Explained Total Variance Explained Initial Eigenvalues % of Variance Cumulative % 39.948 2 . Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. Dari tabel di atas terlihat bahwa variabel Employ1.058 a Extraction Method: Principal Component Analysis.901 .887 .097 -. Tabel 7.034 90.956 75.258 Component 1 2 3 4 5 Total 1.293 6. Hasil pengujian dengan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) pada Tabel 8 menunjukkan nilai 0. Selanjutnya dari hasil pengujian dengan analisa faktor ditemukan bahwa variabel Kepuasan Pengunjung membentuk dua faktor.189 1.302 35.114 -. Kemudian dari tabel operasionalisasi variabel Faktor 1 dinamakan Faktor Kesejahteraan Karyawan dan Faktor 2 dinamakan Faktor Partisipasi Karyawan.362 96.189 39.513 -.752 .000 Rotation Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 1.645 sehingga variabel dapat diproses lebih lanjut.318 . Dari tabel di atas terlihat bahwa terbentuk dua buah faktor yang menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan.031 .167 Extraction Method: Principal Component Analysis.869 -.959 39.468 . Employ 4 dan Employ 5 membentuk Faktor 1 sedangkan variabel Employ 2 dan Employ 3 membentuk Faktor 2.346 100.Tabel 6.302 persen dan faktor 2 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 35. dimana faktor 1 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 39. 196 .

450 1.553 67.798 . Service3 dan Service4 termasuk dalam Faktor 2.163 .000 Lalu dari Tabel 9 terlihat bahwa faktor 1 dapat menjelaskan variabel Kepuasan Pengunjung sebesar 47.000 Extraction Method: Principal Component Analysis. Tabel 10.701 persen sedangkan faktor 2 dapat menjelaskan varaiabel Kepuasan Pengunjung sebesar 19. Faktor 1 dinamakan Faktor Kualitas Pelayanan dan Faktor 2 disebut Faktor Instrumen Pelayanan. Rotated Component Matrix 2 Faktor Rotated Component Matrix Component 1 SERVICE1 SERVICE2 SERVICE3 SERVICE4 SERVICE5 SERVICE6 .057 80. a. Bartlett's Test of Sphericity Approx.094 34. Rotation converged in 3 iterations.820 .898 34.862 47.714 95.876 -.898 2 1.701 2.414 a Extraction Method: Principal Component Analysis.862 47.645 114. Dari Tabel 10 terlihat bahwa variabel Service1.750 67.450 1.607 .851 6 .153 15 .783 13. Tabel 9.185 19.275 .002 .450 3 . Uji KMO dan Bartlett 2 Faktor KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy.508 4 .701 47. Service5 dan Service6 termasuk dalam Faktor 1 dan variabel Service2.496 .137 5 . Total Variance Explained 2 Faktor Total Variance Explained Initial Eigenvalues action Sums of Squared Loadiation Sums of Squared Loadin t Compone Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative % 1 2. Dari tabel operasionalisasi variabel.750 67.065 . Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.578 9.149 100. Chi-Square df Sig. 197 .953 32.573 2 .249 4.701 47. .185 19.866 .629 90.750 persen.343 5.Tabel 8.701 2.

00 menemukan bahwa komitmen manajemen puncak mempunyai korelasi positif yang lemah terhadap variabel TQM.002a Regression Residual Total a.942 . fokus pada pengunjung. . Analisa Regresi Dari Tabel 11 terlihat bahwa nilai R square adalah sebesar 0. Tabel 11.703a . mdbench.600 df 6 28 34 Mean Square 1.951 23. Predictors: (Constant).427 F 4.3 persen TQM dipengaruhi oleh variabel komitmen manajemen.Predictors: (Constant). mdtopmgt.494 4. Oleh karenanya. variabel fokus pada pelanggan memiliki hubungan negatif yang lemah dengan variabel TQM Hal ini berarti fokus pada pelanggan ditingkatkan maka komitmen pada manajemen puncak malah menurun dan sebaliknya.002 a.Dependent Variable: TQM Dari Tabel 12 terlihat bahwa F hitung memiliki nilai sebesar 4.494 . mdtrain. pelatihan karyawan dan fokus pada karyawan.649 11.385 .549 dengan tingkat signifikansi 0. Hipotesis H1 yang diujikan ternyata tidak mempunyai data yang cukup untuk mendukung hipotesis tersebut (Tabel 13). F Change . mdemploy1. Error of Square R R R SquareR Squarehe EstimateChangeF Change df1 df2 ig. Hasil Analisa Regresi b Model Summary Mode 1 Change Statistics AdjustedStd. Hasil Analisa Regresi ANOVAb Model 1 Sum of Squares 11.653 . mdcust b. mdemploy2. yaitu sebesar 0. mdtrain. mdemploy1. Dependent Variable: TQM Hasil pengujian statistik dengan menggunakan SPSS 13. Tabel 12.4. mdtopmgt. benchmark. mdcust b. hal ini berarti sekitar 70.703.002. kelima variabel dalam penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi TQM pada Tahura WAR. Selanjutnya. mdemploy2.084 dan pengaruhnya terhadap variabel TQM juga tidak signifikan. 198 .549 6 28 .549 Sig. mdbench.

316 .024 -.390 .095 .002 -.042 -.227 .131 .446 .023 .067 . Artinya.000 .010 .013 .373 .001 . hipotesis H2 tidak mempunyai cukup data yang mendukung untuk diterima.057 .000 .084 1.000 .131 .116 .254 . Tabel 13.500 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy2 .578 1.000 . .042 1.233 . 35 35 35 35 35 35 35 Sig.000 .340 .286 -. . Dengan kata lain. Hal ini menyebabkan variabel pelatihan karyawan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap variabel TQM.494 .045 . .262 .Korelasi yang lemah ini menyebabkan variabel fokus pelanggan ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM.227 .254 .286 1.357 .195 -.578 . jika fokus pada karyawan ditingkatkan baik secara kesejahteraan maupun partisipasi dalam pengambikan keputusan maka TQM akan meningkat pula.502 -.064 .378 1.024 .340 .494 .013 .057 .064 .002 .291 -. yaitu sebesar 0.316 .406 .045 35 35 35 35 35 35 35 mdtrain .000 .095 35 35 35 35 35 35 35 mdcust -.002 . Dalam hal ini hipotesis H5 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima.340.000 . Oleh karena itu hipotesis H3 tidak mempunyai data yang mendukung untuk diterima. Dari hasil pengujian dengan analisa regresi ditemukan bahwa variabel benchmark mempunyai korelasi negatif sebesar 0.067 35 35 35 35 35 35 35 mdbench -.010 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy1 . .116 -. (1-tailed) N Variabel fokus pada karyawan memiliki korelasi positif yang cukup kuat terhadap variabel TQM.195 .000 .500 .112 .502 .112 .048 .000 .291 .000 .001 . Hal ini menyebabkan variabel benchmark tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM.127 .233 35 35 35 35 35 35 35 mdtopmgt .406 .496 .048 .378 . Pengujian dengan Pearson Correlations antara variabel pelatihan karyawan dengan variabel TQM menemukan adanya korelasi positif yang cukup kuat.357 . . Hasil Uji Pearson Correlations Pearson Correlation TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM 1.000 1.064 dengan variabel TQM.002 .023 .390 .258 . .373 .258 .446 . Selanjutnya pada pengujian tentang pengaruh kinerja jasa terhadap kinerja secara keseluruhan diperoleh korelasi positif yang kuat antara kinerja jasa 199 .496 .084 -.262 .127 -.

Karena tingkat signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0.05. Korelasi yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif. Demikian pula hubungan yang terjadi antara variabel kualitas jasa dan kinerja secara keseluruhan memiliki korelasi positif yang cukup kuat sebesar 0.05. Dengan perkataan lain. dengan tingkat sigifikansi yang lebih kecil dari 0. 2.05 berarti hipotesis H7 diterima. Terdapat korelasi positif yang cukup kuat antara variabel fokus pada karyawan dengan TQM.218 dengan tingkat signifikansi di atas 0. Tingkat signifikansi yang cenderung di atas 0. variabel fokus pada pengunjung dengan TQM.05.439 dengan tingkat signifikansi di bawah 0. hipotesis H6 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima. Sedangkan hubungan yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif sebesar 0. variabel pelatihan karyawan dengan TQM dan variabel partisipasi karyawan dengan TQM.575 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0. Korelasi yang negatif ini menjelaskan bahwa apabila kinerja secara keseluruhan meningkat maka TQM malah menurun dan sebaliknya. 4. benchmark dengan TQM dan fokus pada partisipasi karyawan dengan TQM bersifat negatif dan lemah. 3. Kesimpulan Dari data yang telah dikumpulkan dan diolah dan dianalisis dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. IX.05 menyebabkan hipotesis H9 tidak mempunyai data yang cukup mendukung untuk dapat diterima.617. Hal ini berarti hipotesis H8 dapat diterima.terhadap kinerja secara keseluruhan sebesar 0. Variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap variabel TQM adalah variabel fokus pada kesejahteraan karyawan. 200 . Pengujian hubungan antara variabel Kepuasan Pengunjung dengan kinerja secara keseluruhan memiliki angka korelasi sebesar 0. Korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak dengan TQM.05.

Ecotourism. sedangkan yang lainnya dapat dikatakan belum memiliki kinerja yang cukup baik. 201 . 3. A. Switzerland: IUCN. Taylor &Francis. Gland. Ceballos-Lascurain. evaluasi kinerja dapat dilakukan khususnya pada variabel komitmen manajemen puncak. Oleh sebab itu. Berdasarkan temuan tersebut hendaknya segenap pengelola Tahura WAR dari semua level pekerjaan harus mau berbenah dan introspeksi diri demi mewujudkan tempat wisata yang berkualitas dan memiliki citra diri yang positif. TQM as a focus for improving overall service performance and customer satisfaction: an empirical study on a public service sector in Malaysia. beragam fasilitas yang kurang memadai seperti minimnya fasilitas MCK. Dengan adanya standarisasi pada setiap rangkaian pelayanan pada Tahura WAR maka semua kinerja dapat dievaluasi. 4. 2. Variabel TQM yang telah menunjukkan kinerja cukup baik dalam meningkatkan kinerja pada Tahura WAR adalah Fokus pada karyawan dan pelatihan karyawan. Saran dan Rekomendasi Berdasarkan temuan yang diperoleh peneliti dapat memberikan beberapa saran dan rekomendasi sebagai berikut : 1. akan lebih mudah memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan pada Tahura WAR. H. Daftar Pustaka Agus. Tourism. Proses yang tidak kalah pentingnya adalah benchmarking Tahura WAR itu sendiri. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh karena kesiapan dan respon karyawan relatif lambat terhadap permintaan pengunjung. Sehingga untuk kedepannya.15. 615-628. and Protected Areas. serta komunikasi satu arah yang dialami pengunjung. Dari sisi pengunjung ternyata ditemukan bahwa pengunjung belum merasa puas akan kinerja dan pelayanan yang diterima. pp. Masalah komitmen bukan melulu pemikiran manajemen puncak saja akan tetapi akan lebih baik kalau semua pihak pengelola (stakeholders) dari tingkat manajer hingga tukang tukang sapu bersama-sama berkomitmen untuk merawat dan mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan kinerja Tahura WAR. 2004. fokus pengunjung dan benchmarking.X. Vol. 1996.

A Guide for Planners and Managers. Tourism Management 20 (1999) 123-132. dan Mukhlison. Jakarta. Pearson education. Groonroos. Jakarta. 2005. Wall. D& Terziovski. Samson. Di dalam : Fandeli. Tourism Management 16 (1995) 3-8.. Vol. Epler Wood and D. 1995. Yogyakarta Setiawan. H. Problem. Issues. Orams M. C. J. Fandy. Farrel. 405-435. Baffins Lane. Managing Ecotourism Visitation in Protected Areas. 393-409. Singgih & Tjiptono.. ltd. Editor. 2005. North Bennington : The Ecotourism Society. Pedersen. 1996. Elex Media Komputindo. 2000. Nilai Ekonomi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung. and Heizer. and G.. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM. Kaynak. Teori dan Aplikasi. Edited : Lindberg K. A. Ross. Ecotourism : towards congruence between theory and practice.1999. Teori dan Praktik Riset Pemasaran dengan SPSS.. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Second edition. and G. The relationship between total quality management practices and their effect on firm performance. Journal of operation management 17. Riset Pemasaran : Falsafah. 1999.. C. Upper Saddle River. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata. The relation between total quality management practices and operational performance. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Andi Yogyakarta. Journal of operation management 21. Marion.L. Pengusahaan Ekowisata. West Sussex PO19 IUD. 2000.. 2. Service management and Marketing: a customer relationship management Approach. Tourism Management 20 (1999) 123-132.. pp. Santoso. S. Unit KSDA DIY.A. Seventh edition. Operation Management : flexible version. 2003. Great Britain : Elsevier Science Ltd. England. Di dalam : Ross. Great Britain : Elsevier Science Ltd. 1991. and Lesson Learned from Ecotourism Planning Projects. and T. M. Towards a More Desirable form of Ecotourism. New Jersey. Render. Simamora.Fandeli. Gramedia Pustaka Utama. 2002.B. Pustaka Pelajar. S. Engeldrum. pp. B.Inc.2004. 2000. Riset Pemasaran : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. J. Bilson. Sarwono. John Wiley and Sons. C. Jonathan. Ecotourism : towards congruence between theory and practice. Di dalam : Ecotourism. Chicester. Wall. 1999. I.. 202 .

Metode Penelitian Survey. 2003. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR.Singarimbun. 2002. 2000. dan S.A.go. 1989.depdiknas. UPTD Tahura WAR. www. Effendi. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman.id/jurnal/25/abbas gozali.. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR. M.htm 203 . UPTD Tahura WAR. Jakarta : LP3ES. Rencana Pengelolaan Tahunan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung T.

.

By using run test and event study. there were not an abnormal return It indicate that BEJ has already efficient semi strongly efficient because investor doesn’t have any strategy to use any available information at the market. therefore reduce the marketability. Pasar modal berperan sebagai sumber dana yang bersifat jangka panjang. wahana untuk melakukan restrukturisasi permodalan perusahaan.5 ABSTRACT Stock split is one of corporate action that executed by a public company which aim to increase number of shares. This action is s ussually took if stock price is very high. Latar Belakang Pasar modal sangat bermanfaat bagi para investor dan dunia usaha pada umumnya. Market Efficiency I. t test shows that 30 days before and 30 days after stock split announcement. The result of reasearch. this reasearch will test whether Bursa Efek Jakarta is weakly efficient and and or semi strongly efficient.. alternatif investasi. M. PENDAHULUAN 1. S.E. first that stock price change randomly. This reasearch will use stock split announcement at Bursa Efek Jakarta during year 2005 until 2006 as the event.1. Sedangkan manfaat pasar modal bagi dunia usaha adalah membina iklim keterbukaan bagi 5 Dosen Jurusan Manajemen. Manfaat pasar modal bagi investor adalah memberikan kesempatan atau hak kepada masyarakat untuk memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai prospek yang baik dimasa depan. Number of companies that announce the stock split were 12 companies. Second. fakultas Ekonomi Unila . Keywords : Abnormal Retun. dan media untuk melakukan divestasi. It imply that BEJ is weakly efficient.PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty. Stock split. cause the investor find difficulties to predict stock price movement to get an abnormal return.Si. dan merupakan alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa diperhitungkan.

Pada pasar modal. mendorong pemanfaatan manajemen profesional dalam pengelolaan perusahaan. kebenaran serta ketepatan informasi. wahana untuk melakukan investasi dalam jangka pendek (likuiditas) maupun jangka panjang (growth). dan merupakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan. karena informasi tersebut digunakan oleh mereka untuk mengambil keputusan invetasi. yaitu harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan saat itu dan karena informasi menyebar secara merata maka reaksi harga terhadap informasi baru terjadi seketika karena semua pemain di pasar telah memiliki antisipasi cukup. yaitu dividen dan keuntungan modal (capital gain). kecepatan. dibutuhkan suatu kondisi pasar modal yang efisien. baik dari sisi keanekaragaman.dunia usaha serta memberikan akses kontrol sosial bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya. 2003:hal 370). Agar harga sahamsaham yang tercatat di pasar modal menunjukkan nilai yang sebenarnya. frekuensi. maka pasar tersebut semakin efisien. dengan cara memecah sahamnya (split) menjadi lebih banyak dan harga per lembar saham berubah menjadi lebih kecil 206 . informasi merupakan kebutuhan utama para investor dan traders. Konsekuensi dari pasar modal yang efisien adalah sangat sulit (atau bahkan hampir tidak mungkin) bagi para investor untuk memperoleh tingkat keuntungan abnormal (tingkat keuntungan yang direalisir lebih tinggi dari tingkat keuntungan yang diharapkan) secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek. Tingkat kecepatan pasar modal dalam merespon atau menyerap informasi baru telah lama menjadi perhatian para ahli ekonomi keuangan di seluruh dunia. Terdapat dua tujuan investor dalam berinvestasi di pasar modal. Efisiensi pasar berdasarkan informasi dibagi menjadi: (1) Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form) (2) Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form) dan (3) Efisiensi pasar bentuk kuat Salah satu informasi yang signifikan terhadap harga sekuritas adalah pengumuman stock split. Keduanya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan tingkat pendapatan yang diharapkan. Mereka sepakat bahwa tingkat kecepatan pasar dalam merefleksikan informasi baru ke dalam perubahan nilai sekuritas merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi. Kunci utama untuk mengukur pasar modal adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi (Jogiyanto. Stock split merupakan salah satu bentuk corporate action (tindakan yang dilakukan perusahaan yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan) yang dilakukan emiten. Semakin cepat pasar modal melakukan reaksi terhadap informasi baru. Kondisi pasar modal yang efisien diantaranya berkaitan dengan kesadaran dari para emiten untuk menerbitkan informasi yang berkualitas. Pasar dikatakan efisien apabila memenuhi dua kriteria.

Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya 207 .3. Untuk memberikan melakukan stock split bahan pertimbangan kepada emiten sebelum b. Untuk mengetahui pergerakan harga saham sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006. Tujuan Penelitian 1. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas. maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Pemecahan saham telah menjadi alat yang digunakan untuk membentuk harga pasar saham perusahaan. Apakah harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ? Apakah terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ? b. Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi para investor sebagai pertimbangan sebelum berinvestasi di pasar modal dan pihak yang terkait dengan pasar modal. Tujuan Penulisan a. c.2. Tujuan dilakukannya stock split antara lain agar saham lebih menarik dimata investor. Untuk mengetahui tingkat abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006. Lebih banyaknya investor yang tertarik pada saham tersebut maka kemungkinan harga naik akan lebih besar. 1.dari harga sebelum pemecahan.1.3. b. 1. karena secara psikologis investor lebih tertarik membeli saham yang murah.3.2. Manfaat penelitian a.

1. Perubahan nilai nominal tersebut hanya mengakibatkan penambahan jumlah lembar saham. tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (paid in capital).4.1. 1.likuiditas dan spread Mengetahui pengaruh stock split terhadap abnormal return Mengetahui kandungan informasi stock split dan likuiditas saham Pembahasan Stock split berpengaruh terhadap ketiga variabel tersebut Tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return Terdapat kandungan informasi dan penurunan likuisditas saham Simpulan Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat Pasar modal efisien bentuk setengah kuat Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat 2000 Indah Kurniawaty 2003 Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa para peneliti menemukan bahwa pasar modal di Indonesia belum efisien bentuk setengah kuat.2. 208 .4. 1.2. Landasan Teori 1.1. Pengertian pemecahan saham (Stock split) Pemecahan saham (stock split) merupakan aksi emiten yang dilakukan dengan cara memecah nilai nominal saham menjadi nominal yang lebih kecil sesuai dengan rasio stock split yang ditentukan.4. Landasan Teori Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai stock split sudah sering dilakukan. Penelitian-penelitian empiris tentang efisiensi pasar modal di Bursa Efek Jakarta Peneliti Sri Fatmawati dan Marwan Asri Rianty Setyawasih Tahun 1999 Tujuan Mengetahui adakah pengaruh stock split tehadap harga saham. aksi pemecahan saham tidak akan mengurangi atau menambah nilai investasi dari pemegang saham/investor. Dengan kata lain. Hasil dari penelitian terdahulu diantaranya dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini: Tabel 1.4. Pemecahan Saham (Stock split) A.

Konsep Pasar Yang Efisien Konsep pasar modal yang efisien (efficient capital markets) merupakan tema yang dominan di kalangan akademisi sejak tahun 1960an. 3. Tingkat harga sesudah stock split akan mengubah posisi perusahaan pada kelompok yang memiliki nilai saham rendah sehingga mengakibatkan kepercayaan investor terhadap saham tersebut menurun. istilah pasar efisien pada umumnya hanya dikaitkan dengan salah satu dari tiga konsep tersebut. Tingkat harga saat ini belum dapat menjamin keberhasilan stock split karena ketidakpastian lingkungan bisnis. Motivasi stock split Beberapa pelaku pasar khususnya emiten mempunyai pendapat bahwa stock split mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah: 1.2. Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja perusahaan bagus dan memiliki prospek yang bagus. Menurut Blake (1990: 243) istilah pasar modal yang efisien memiliki beberapa konsep yang berbeda yaitu : (1) Efisiensi secara alokasi (allocatively efficient). Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga mengubah investor odd lot menjadi investor round lot. 4.2. Sementara itu ada beberapa pihak yang mempunyai pendapat yang bertentangan dengan hal diatas yaitu: 1. Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan lebih likuid. yaitu efisiensi secara informasi (informationally efficient). 1. 209 . Peningkatan jumlah pemegang saham akan pelayanan (servicing cost) bagi pemegang saham. Walaupun terdapat beberapa konsep pasar efisien. Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi. (2) Efisiensi secara operasional (operationally efficient) dan (3) Efisiensi secara informasi (informationally efficient) yaitu suatu pasar dikatakan efisien secara informasi jika harga pasar saat ini segera dan sepenuhnya merefleksikan semua informasi yang tersedia.4.B. 2. meningkatkan biaya 3. 2.

A. Hipotesis Pasar Efisien Hipotesis pasar efisien menurut Blake (1991:243) adalah “… that market prices instanteously and fully reflect all relevant available information is known as efficient markets hypothesis”. Dari definisi tersebut terdapat tiga hal yang penting untuk dipahami, yaitu : a. Fully Reflect Investor akan mengolah semua informasi yang relevan kedalam harga saham pada saat akan membuat keputusan menjual atau membeli saham. Harga sekarang yang terjadi mencerminkan semua informasi yang tersedia. b. All Relevant Available Information / All Known Information Informasi yang direfleksikan pada harga saham berasal dari informasi perubahan harga saham di masa lalu (historical price information), informasi yang tersedia di publik (public information) dan semua informasi dan infromasi yang tidak tersedia di publik (inside information). c. Instanteously / Quickly and Accurately Harga keseimbangan yang terbentuk di pasar modal tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru yang dapat merubah kekuatan permintaan dan penawaran. Pada saat suatu informasi baru yang relevan masuk ke pasar modal, kekuatan permintaan dan penawaran atas satu atau beberapa saham akan bereaksi, sehingga akan terbentuk harga keseimbangan yang baru. Semakin cepat informasi diserap dan diproses oleh pasar, maka pasar modal tersebut akan semakin efisien. Jika hipotesis pasar efisien tersebut terbukti, maka pasar dalam keadaan continous stochastic equilibrium, yang berarti harga pasar saham akan selalu sama dengan nilai fundamental saham tersebut. Nilai fundamental suatu saham tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru mengenai saham tersebut. Informasi baru atau berita pada umumnya tidak dapat diprediksi, Implikasinya adalah harga saham masa lalu tidak dapat dipakai untuk memprediksi harga saham di masa yang akan datang. Dengan kata lain menurut hipotesis pasar efisien, harga pasar suatu asset akan mengikuti langkah acak (random-walk). B. Kondisi dan Mekanisme Pasar Modal Yang Efisien Pasar modal yang efisien merupakan suatu bentuk pasar yang terdiri dari banyak penjual dan pembeli yang saling berinteraksi di dalamnya dan memiliki 210

karakter yang bersifat bebas (free market), di mana cukup mudah bagi para investor baru untuk masuk dan mengadakan transaksi dan sebaliknya, juga cukup mudah bagi lainnya untuk meninggalkan pasar setiap saat. Beberapa aspek tambahan lainnya yang merupakan syarat utama terbentuknya suatu pasar modal yang efisien adalah aspek-aspek : a. Ketersediaan dan penyebaran informasi Informasi tersedia bagi masyarakat secara bebas dan relatif tanpa biaya. Pentingnya ketersediaan dan penyebaran informasi ini disebabkan oleh investor membutuhkan informasi terkait secara cepat dan terus menerus untuk melakukan penilaian harga saham, sehingga informasi tersebut dapat dengan segera tercermin pada harga saham. b. Harga saham berfluktuasi bebas Harga saham tidak dapat dikendalikan oleh penjual dan pembeli di pasar modal. Investor individu tidak cukup kuat untuk mempengaruhi pergerakan harga saham. Ada beberapa investor institusi yang cukup kuat mempengaruhi harga. Investor ini dikendalikan melalui peraturan pasar modal sehingga tidak dapat melakukan manipulasi harga c. Terdapat analis investasi dalam jumlah besar di pasar modal Dikenal adanya dua tipe analis investasi yang membantu terjadinya perubahan harga saham secara acak di pasar modal Pertama, para analis fundamental berusaha mempelajari kondisi perekonomian secara umum. Kedua, para analis teknikal yang berusaha mempelajari pergerakan harga saham di masa lalu dan mencari suatu pola-pola tertentu dari perubahan harga di masa lalu tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semakin banyak analis investasi dan maraknya persaingan antar mereka akan membuat pasar modal setiap saat menunjukkan harga saham yang mencerminkan semua informasi yang relevan. C. Tingkatan Efisiensi Pasar Haugen (1993 : 634) menyatakan bahwa “The market is neither strictly efficient nor strictly inefficient. The question is one of degree. Just how efficient is the market ?”. Bowman dan Buckanan (1995) juga menyatakan “Markets are not simply either efficient or inefficient. Market efficiency can be viewed as a continuum running from the perfect market to the grossly inefficient market where excess earning opportunities abound”. Berdasarkan kedua pernyataan tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya pasar tidak ada 211

yang secara sempurna efisien atau sepenuhnya tidak efisien. Semuanya adalah efisien dengan tingkat atau derajat tertentu Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara sekuritas dengan informasi. Tiga bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi, yaitu efisiensi bentuk lemah (weak form), efisiensi bentuk setengah kuat (semistrong form) dan efisiensi bentuk kuat (strong form). 1. Efisiensi Bentuk Lemah (Weak form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga saham saat ini telah mencerminkan secara penuh semua informasi harga saham di masa lalu. Jones (1993 : 629) menyatakan bahwa hipotesis efisiensi pasar bentuk lemah berkaitan namun tidak identik dengan hipotesis langkah acak (random walk hypothesis). Jika harga mengikuti langkah acak, perubahan harga sepanjang waktu bersifat acak (independen). Perubahan harga hari ini tidak berkaitan dengan perubahan harga kemarin atau hari-hari lainnya. Dengan kata lain, harga masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang dan tidak dapat dipergunakan untuk memprediksi pergerakan harga. Salah satu cara untuk menguji efisiensi pasar bentuk lemah adalah dengan menguji independensi perubahan harga secara statistik, yaitu menggunakan serial correlation test. Serial correlation test mengukur korelasi perubahan harga pada bermacam-macam time lags, seperti satu hari, dua hari dan seterusnya. Pembuktian independensi harga saham secara statistik selama ini pada umumnya menunjukkan suatu korelasi positif yang signifikan dalam jangka pendek, namun tingkat korelasinya rendah, antara 0.1 - 0.2. Secara ekonomis (setelah mempertimbangkan biaya transaksi), adanya dependensi yang rendah tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan strategi perdagangan yang menguntungkan. Dengan demikian, walaupun pengujian independensi harga secara statistik menyimpang dari teori langkah acak, namun penyimpangannya tidak cukup untuk mendapatkan tingkat pendapatan abnormal, sehingga tidak dianggap berlawanan dengan efisiensi pasar. 2. Efisiensi Bentuk Setengah Kuat (Semi-Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga saham mencerminkan secara penuh semua informasi yang dipublikasikan termasuk informasi yang berada di laporan-laporan keuangan perusahaan emiten. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau grup dari investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk mendapatkan keuntungan abnormal dalam jangka waktu yang lama.

212

yaitu para corporate insiders dan para portofolio managers. maka tidak ada individual investor atau institutional investor yang dapat memperoleh keuntungan abnormal karena mempunyai informasi privat.Pengujian tentang bentuk efisiensi setengah kuat menggunakan event study test. Event study merupakan metode yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa. Jika kelompok ini terbukti memperoleh tingkat pendapatan di atas rata-rata maka pasar dikatakan tidak efisien dalam bentuk kuat. Studi ini melakukan pengamatan terhadap perilaku harga saham secara cermat untuk mengetahui bagaimana saham bereaksi. 4. Jika pasar efisien dalam bentuk kuat. Market Related Data 213 . Efisiensi Bentuk Kuat (Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Cara untuk menguji efisiensi bentuk kuat adalah meneliti kinerja kelompok yang diperkirakan memiliki akses informasi yang tidak dipublikasikan. 3. Jika terdapat penundaan dalam penyesuaian harga dan investor dapat memanfaatkan penundaan ini untuk memperoleh keuntungan abnormal maka pasar modal tersebut tidak efisien dalam bentuk setengah kuat. Hubungan Antar Tiga Tingkat Efisiensi Pasar Hubungan bentuk efisiensi pasar dengan ketersediaan informasi digambarkan pada gambar 1.

Sumber : Jones (1993 : 628) Gambar 1 Informasi dan tingkat efisiensi Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika ada sangkalan terhadap efisiensi pasar bentuk lemah.5. maka sangkalan berlaku bagi efisiensi pasar bentuk setengah kuat dan kuat. 1. Kerangka Penelitian dan Hipotesis Kerangka Penelitian Berdasarkan penelitian terdahulu dan hasil tunjauan pustaka. Sebaliknya bila pasar efisien dalam bentuk kuat maka pasar pasti dalam bentuk setengah kuat dan bentuk lemah. 1.1. Hipotesis Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006. 214 . 1.5.5. maka kerangka dari penelitian ini adalah : Periode sebelum pengumuman stock split (t = -30) Pengumuman stock split t=0 Periode sesudah pengumuman stock split (t = +30) Harga saham bergerak random Harga saham bergerak tidak random Ada tingkat pendapatan abnormal Tidak ada pendapatan abnormal Pasar modal tidak efisien bentuk lemah Pasar modal efisien bentuk lemah Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat Pasar modal efisien bentuk setengah kuat Gambar 2 : Kerangka Pikir Penelitian 1.2. Jika pasar tidak efisien dalam bentuk lemah maka otomatis pasar juga tidak efisien dalam bentuk setengah kuat dan bentuk kuat.

cash dividen. Tidak terdapat tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006. Harga saham harian (closing price) perusahaan sampel dalam periode pengamatan ( windows period). Metode Penelitian 1. Jenis Dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dengan menlakukan teknik dokumentasi. A. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode pengamatan yang tediri data harga saham harian selama periode pengamatan. Emiten yang melakukan pengumuman stock split pada periode tahun 2005 sampai dengan 2006 tercatat 15 emiten.6. Data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan lengkap dan diketahui secara jelas. Data-data meliputi : • Data tanggal pengumuman stock split perusahaan sampel. Berdasarkan kriteria populasi diatas maka diperoleh sampel seperti tersaji pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Right issue. Selanjutnya adalah menyeleksi emiten-emiten tersebut yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Populasi Populasi penelitian ini diambil emiten di Bursa Efek Jakarta yang melakukan pengumuman stock split pada tahun 2005 sampai dengan Juli 2006. Data tersebut digunakan untuk menentukan harga saham di sekitar tanggal stock split. dan bonus share) agar tidak dapat menimbulkan compounding effect (faktor pengganggu) yang dapat mempengaruhi reaksi pasar terhadap informasi ini b. Daftar sampel penelitian No Kode emiten No Kode emiten 215 .2. • • B. Selama periode penelitian perusahaan tidak melakukan corporate action lain yang secara langsung berpengaruh pada volume perdagangan (stock dividen.

12.1.t-30 – E (R i.t-30 = R i.t-30 R i. dihitung dengan rumus : AR i. JRPT TMAS PJAA LPKR BBLD EKAD C. HEXA 4. dihitung dengan rumus : AR i. HITS Sumber : www. SMAR 2.t) = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t+30 216 .t-30 E(R i. PRAS 6.t+30) Keterangan : AR i. yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar. 9.t-30 = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t-30 2. 8.t+30 = R i. Definisi Operasional Variabel Definisi opersional variabel dapat dijabarkan sebagai berikut: 1.t R i.t E(R i.id 7.t-30) Keterangan : AR i. Tingkat pendapatn abnormal sesudah stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sesudah peristiwa pengumuman stock split yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar. Tingkat pendapatan abnormal sebelum stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sebelum peristiwa pengumuman stock split.jsx. CTRS 5. 11.co.t+30 – E (R i. 10. TGKA 3.

2.D. Alat Analisis 1. Harga saham bergerak secara random pada periode jendela Ho 1: α = 0. Harga saham bergerak secara tidak random pada periode jendela d. Ha diterima atau Ho ditolak apabila –z tabel > z hitung. Uji t ( T –test ) Uji t adalah alat yang digunakan untuk mengetahui signifikansi abnormal return yang ada pada periode jendela. Kriteria Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Ho diterima atau Ha ditolak apabila –z hitung ≤ z hitung ≤ z tabel. Run Test ( uji runtun ) Run Test digunakan untuk mengetahui pergerakan harga saham secara random atau tidak random yang dapat diformulasikan sebagai berikut: c. Hipotesis : Ha 1 : α ≠ 0. Pengujian 217 . Signifikansi abnormal return digunakan untuk melihat secara statistik signifikan tidak sama dengan nol (positif untuk kabar baik dan negatif untuk kabar buruk). Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau α = 5 %. Menghitung Run Test dengan rumus Z= r−µ τr Keterangan: r = Jumlah runtun µ = Jumlah runtun ekspetasi τr = Standar deviasi jumlah runtun e.

353 1.statistik ini dilakukan dengan cara standarisasi dari abnormal return dengan cara membagi abnormal return dengan kesalahan standar estimasinya.176 0. Menghitung t statistik dengan rumus: t statistik = 3.96 ± 1.dt +30 SD / n Ho diterima atau Ha ditolak apabila –t hitung ≤ t hitung ≤ t tabel. Hipotesis : H0 : ARt-30 s.d t+30 = 0 (tidak terdapat AR) d. Kriteria penerimaan/penolakan ARt −30 s.345 -1.96 ± 1. Pengujian Pergerakan Harga Saham Hasil Run Test dapat dilihat pada Tabel 3.96 ± 1.74 -0. Tabel 2.96 Hasil Tidak Random Tidak Random Random Random Random Tidak Random Random Random .d T+30 ≠ 0 (terdapat AR) Ha : ARt-3 s. c.7. Hasil Run Test dengan tingkat keyakinan 95% Kode saham SMAR TGKA HEXA CTRS PRAS HITS JRPT TMAS 218 Z-hitung -3.96 ± 1.96 ± 1.459 0. 1.668 0 0. Ha diterima atau Ho ditolak apabila –t tabel > t hitung atau t hitung >tabel Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau α = 5 %.429 -4.283 0.96 ± 1.682 0 -1.081 Z-tabel ± 1.1.746 Probabilita 0 0 0.073 -0.96 ± 1.

020280 -0.015686 0.010362 0.96 ± 1.201 ± 2.033 -1.145 1.676 Sumber: Data diolah Probabilita 0.201 ± 2.075 -0.013502 0. TKGA.261 -0.032370 -0.tabel ± 2.418 0.201 ± 2. LPKR dan BBLD bergerak tidak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih kecil dari 0.922 1.201 ± 2.19 0.283 1. 1.201 ± 2.201 ± 2.2.012945 -0.05.004670 0. Sedangkan harga saham SMAR.082 -0.842 0.7.201 ± 2.201 ± 2.002156 thitung 0 0. CTRS.819 0.376 0.f = 11 Hari ke -30 -29 -28 -27 -26 -25 -24 -23 -22 -21 -20 -19 -18 -17 -16 -15 -14 -13 -12 AAR 0 0.201 ± 2.939 0. Berdasarkan analisis.018546 -0.012697 CAAR 0 0.306 0.014057 0. JRPT.936 0.028 0.647 1.12 0. TMAS.012475 0.009920 -0.201 Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan 219 .261 1.634 probabilita 0 0.421 -1.201 ± 2.708 -0.010532 0.233 0.011059 0.871 2.234 1.011914 -0.494 0.276 0.005555 0. Hasil perhitungan uji t secara cross section pada α = 5% dan d.241 0.396 -1.201 ± 2.201 ± 2.015021 -0.005504 0. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah. PJAA dan EKAD bergerak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih besar dari 0.019896 -0.201 ± 2.045 0.023307 -0.96 ± 1.24 0. penelitian ini mendukung hipotesis harga saham bergerak secara random pada sebelum dan setelah stock split.002998 -0.000384 -0.002115 -0. Pengujian Abnormal Return Pada Periode Pengamatan (t-30 s.005555 0.Kode saham Z-hitung PJAA -0.010541 0.016189 0.008358 -0.201 ± 2.077 LPKR -2.324 0.96 Hasil Random Tidak Random Random Tidak Random Tabel 2 menunjukan bahwa harga saham HEXA.003525 0.005144 0.d t+30) Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3.201 ± 2.702 BBLD -4.201 ± 2.183 0.024932 -0. PRAS.687 -1.022865 0.007805 -0.402 0.201 ± 2.05.201 ± 2. HITS.016574 0.030460 0.483 0 Z-tabel ± 1.131 t .226 0.531 0.193 EKAD -0.001552 0. Rata-rata pergerakan saham yang random menyebabkan para investor sulit untuk memprediksi harga saham sehingga abnormal return sulit didapatkan.96 ± 1.

111 -2.010916 0.201 ± 2.201 ± 2.29 0.201 ± 2.593 t .013236 -0.022267 -0.201 ± 2.008787 -0.014487 -0.201 Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Sumber: Data diolah dari lampiran 4 dan lampiran 7 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa abnormal return pada periode hari sebelum dan sesudah pengumuman cenderung fluktuatif.224 -1.256 0.201 ± 2.126 0.354 1.53 0.019534 -0.079 0.000402 0.201 ± 2.228 0.201 ± 2.002543 0.094 -0.203 0.003420 -0.021535 -0.725 1.201 ± 2.010168 -0.201 ± 2.009180 0.201 ± 2.011944 -0.267 -0.025157 -0.159 -0.019647 0.648 -1.011089 -0.234 -0.483 0.277 0.201 ± 2.016015 0.551 probabilita 0.026483 -0.964 0.201 ± 2.Hari ke -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 AAR -0.024254 -0.33 0.201 ± 2.000857 -0.201 ± 2.201 ± 2.085 -2.007599 0.002971 0.032410 -0.201 ± 2.004798 0.004168 0.270990 -0.003266 -0.337 0.521 0.201 ± 2.819 0.575 0.022639 -0.008676 0.010433 0.786 1.201 ± 2.384 0.015703 0.023041 -0.907 0.201 ± 2.811 0.012127 -0.000551 0.052 0.350298 -0.201 ± 2.002102 0.341496 0.010468 -0.544 0.001197 -0.448 0.577 0.201 ± 2.001537 0.019 -1.021565 -0.046 1.201 ± 2.201 ± 2.016561 -0.276 0.201 ± 2.201 ± 2.037 -0.736 -0.827 0.477 0.093 0.201 ± 2.002696 0.025659 -0.001378 -0.012634 -0.000539 -0.010735 -0.201 ± 2.003091 0.647 0.007047 0.069140 0.451 0.934 0.054622 0.936 -0.054 0.663 -0. AAR berkisar antara 220 .201 ± 2.201 ± 2.711 0.201 ± 2.694 0.177 0.201 ± 2.020157 -0.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.145 1.001037 -0.781 -2.009645 -0.245 -1.978 0.008802 0.201 ± 2.004508 -0.201 ± 2.457 0.973 -0.028 -0.06 0.007274 CAAR -0.173 0.201 ± 2.010354 -0.004810 -0.022212 0.403 -0.021810 0.tabel ± 2.010913 0.018725 0.372 0.971 0.201 ± 2.626 -1.026375 -0.531 0.839 -1.028959 0.231 0.239 1.008371 0.194 -1.823 0.201 ± 2.246 0.039120 -0.85 0.012071 thitung -0.931 1.225 0.658 -1.003888 0.851 0.008066 0.016481 -0.036916 0.012733 0.201 ± 2.000180 -0.192 0.009369 -0.241 0.079308 0.002689 -0.011953 -0.025905 -0.074 0.003 -0.021673 -0.024920 0.021716 0.229 0.381 -0.021728 0.197 0.201 ± 2.

Rata-rata return tidak signifikan.15 0.05 berarti hipotesis diterima.3 0.05 berarti hipotesis diterima. Bila probabilita lebih kecil dari 0. 1. Berdasarkan hasil perhitungan nilai probabilita. Pergerakan AAR dan terdapat pada 0. +26 dan +27namun tidak signifikan. 1. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat.8.05 0 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 -30 -28 -26 -24 -22 -20 -18 -16 -14 -12 -10 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 -0.1 0.35 0.05 -0.1 -0.4 0. yaitu tidak terdapat abnormal return positif signifikan pada periode pengamatan.-0. 1.25 0.350298.2 0. Pergerakan fluktuatif yang ekstrim terjadi sekitar hari +25. Hal ini berarti hasil peneltian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapatnya abnormal return yang signifikan. Hasil tersebut mendukung hasil penelitian Setyawasih (2000) yang tidak menemukan adanya abnormal return positif signifikan pada hari sekitar pengumuman stock split.8.15 AAR Gambar 3. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 30 221 . Grafik AAR Sumber: Data di olah dari lampiran 4 Dari Gambar 3 dapat dilihat pergerakan AAR 3.079308 sampai 0.1. secara keseluruhan lebih besar dari 0.

383-417. Pasar Modal di Indonesia. Bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal agar tidak menjadikan informasi pengumuman stock split sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mendapatkan return tidak normal. 3. Tjiptono dan Fakhrudin. SARAN 1. 2. 1998. Eugene F. Graw-Hill Companies Inc. Pengantar Pasar Modal. karena secara teoritis stock split hanya meningkatkan lembar saham yang beredar dan tidak secara langsung mempengaruhi cashflow perusahaan walaupun dalam praktiknya berbeda. Salemba Empat Fama. DAFTAR PUSTAKA Anoraga. David. 1990. Zvi. 222 . 1970. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah. Financial Market Analysis. Bagi emiten yang melakukan stock split hendaklah memperhatikan kondisi pasar modal. Efficient Capital Markets : A review of theory and empirical work. 2001.2. 2001. Alex Kane dan Alan J. Third Edition. Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. Tidak terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2002-2006. Irwin Mc. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat. Bagi penelitian selanjutnya agar dapat mengambil periode penelitian yang lebih panjang dan menggunakan metode perhitungan ekspektasi yang lain agar reaksi pasar terhadap pengumuman stock split terlihat lebih jelas. Journal of Finance.2002-2006.8. Jakarta Blake. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Mc. Darmadji. PT Rineka Cipta. 2. Pandji dan Piji Pakarti.. 25. Hendy M. Essentials of Invesments. Graw-Hill Book Company Bodie. Marcus.

Prentice Hall Inc.Yahoo. BPFE.13 http://www.co.id/ http://Finance. Yogyakarta Jones. Financial Statement Analysis.Indah. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan.Jurnal Riset Akuntansi Indonesia . 1991.. John Wiley & Sons. Invesments Analysis and Management. 1992.hal 264-775 Marwata. Invesments : Analysis and Management. Foster. 1996.id/ http://www. Modern Invesments Theory.hal 1. Jack Clark. Kurniati.com/ 223 .Wang. Jordan. Edisi ketiga. Donald E. September. hal 751-770 Sutrisno.id/ http://www... Englewood Cliffs. Graw-Hill Company. Kinerja Keuangan. Haugen.Fischer. 2003 . Second Edition. Mc.jsx.co. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Fifth Edition. Seminar Nasional Akuntansi. G. Robert A. 1986. Security Analysis and Portofolio Management. Fifth Edition.Francisca Yuniarti dan Soffy Susilowaty. Charles P. dan Ronald J.co. 1999. Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham :Studi Empiris Pada Non-synchronous trading’. 1993. New Jersey. Fourth Edition.2003.ksei.trimegah. Prentice Hall Hartono. Jogyanto.Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan return Saham di Bursa Efek Jakarta.2000. Harga Saham dan Pemecahan Saham. Fourth edition. Francis.

.

pemasok dan pelanggan. 2001). pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. 6 Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung . Keywords: Virtual organizing. Teknologi komunikasi memungkinkan adanya pertukaran informasi. perubahan integrasi fungsi organisaasi maupun hubungan dengan pemasok. Survei yang dilakukan oleh Goslar dan Grover (1993) terhadap 154 buah perusahaan mengenai faktor-faktor yang memungkinkan perusahaan melakukan inisiatif. transaksi jual beli melalui jaringan internet PC. peran. Teknologi informasi memungkinkan perusahaan yang mengadopsinya memiliki keunggulan kompetitif. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi membuat peran teknologi informasi mempengaruhi cara kerja. fungsi PENDAHULUAN Asean free trade area (AFTA) merupakan salah satu pemicu meningkatnya penerapan teknologi informasi di sektor pertelekomunikasian di Indonesia. sampai perubahan transformasi organisasi. serta implementasi teknologi komunikasi menghasilkan kesimpulan bahwa ketidakpastian lingkungan mempunyai hubungan yang signifikan dengan penggunaan teknologi komunikasi. Menurut Gartner Data Quest dan International Data Corporation. diperkirakan akan terjadi peningkatan volume bisnis m-commerce di AsiaPasifik dari US$ 2 milliar pada tahun 2001 menjadi US$ 36 milliar pada tahun 2004 (Warta Ekonomi. adopsi. seseorang akan mendapatkan mobile commerce atau m-commerce yang memudahkan dalam melakukan transaksi antara konsumen.PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari 6 ABSTRAK Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan. penjual dan jasa keuangan hubungan ini merupakan suatu jejaring kerja atau networks yang bersifat virtual. 2001. bila ditambah dengan faktor mobilitas yang ada dalam perangkat bergerak seperti ponsel.

Teknologi informasi memberikan peluang bagi perusahaan global untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian, atau juga untuk mendapatkan daya saing di pasar dunia (Johnston dan Carrico, 1988, dkk dalam Arifin, 2001). Menurut Wilkinson (2001) fasilitas perusahaan biasanya terletak lebih dari satu lokasi, maka diperlukan suatu sistem komunikasi data antar lokasi tersebut. Suatu jaringan komputer merupakan suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan untuk menyebarkan informasi dan program dengan menghubungkan komputer dengan fasilitas lain. Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Internal networking pada dasarnya adalah usaha yang sinergi untuk pencapaian tujuan perusahaan. External networking berasal dari pelanggan, pemasok, pemerintah, lembaga penelitian, dan setiap pesaing yang mampu merubah lingkungan yang dapat dimonitor secara efektif Richard Hall, (1992). Suatu organisasi memiliki kebebasan untuk menciptakan kerjasama dengan organisasi lain demi meningkatkan value dan meminimalkan investasi. Virtual organization berbeda dengan bentuk organisasi seperti fungsional, divisional atau matrix, tetapi sesungguhnya merupakan karakteristik strategik yang dapat diterapkan pada setiap organisasi Venkatraman (1998). Karimi dan kawan-kawan (1996) dan Darmawati dan Indriantoro (1999) telah membuat model penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan respon terhadap globalisasi yang dicerminkan dengan adanya penambahan investasi oleh perusahaan dalam teknologi informasi.. Faktor-faktor tersebut adalah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi informasi, dan ukuran perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel kematangan teknologi informasi yang mempunyai hubungan dengan respon strategik. Arifin (2001) melakukan penelitian kembali terhadap model penelitian Karmini, et al. (1996). Johan (2001) mencoba menghilangkan kemungkinan adanya efek industri yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, dengan subyek satu jenis industri yaitu perbankan di Indonesia.

226

Motivasi penulisan adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan respon strategik pada perusahaan pertelekomunikasian terhadap globalisasi, dan pengembangan investasi dalam teknologi informasi dan pengaruhnya terhadap desain organisasi khususnya networks sebagai intangible resources perusahaan. PERUMUSAN MASALAH Permasalahan yang diangkat adalah sebagai berikut: apakah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi, desain organisasi berhubungan dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Manfaat yang dapat diberikan oleh paper ini adalah didapatnya suatu dasar untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. TINJAUAN LITERATUR 1. Tipologi Strategi Kompetitif Miles dan Snow mengidentifikasikan tiga tipe konfigirasi strategi-struktur yang konsisten dan stabil yaitu: a. Defender, memiliki bagian yang relatif sempit, kestabilan domain domain operasi yang meliputi range yang terbatas dari barang-barang dan jasa. Prospector, mengikuti strategi gerakan yang cepat dalam suatu domain organisasi yang luas. Analyzer, mengikuti suatu strategi menengah yang mengkombinasikan aspek strategi defender dan prospector. Reactor, suatu organisasi dengan konfigurasi strategi struktur yang tidak konsisten dengan mengikuti strategi prospector dan struktur defender. (Bedeian dan Zammuto, 1991). 227

b.

c.

d.

Model tipologi ini didokumentasikan dalam berbagai studi empiris untuk menentukan hubungan antara strategi perusahaan dengan strategi unit bisnis yang lain sebagai respon lingkungan Govindrajan (1988), dan Karimi et. Al (1996), Darmawati dan Indriantoro (1999) dan Arifin, Johan (2001). Miles dan Snow (1978) mengungkapkan bahwa pemilihan tipologi strategi berdasarkan pada adptive cycle, yaitu pemilihan tipologi strategi berdasarkan siklus adaptasi lingkungan. Oleh karenanya stategi organisasional yang dipilih oleh perusahaan dapat saja berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya dengan pemilihan tipologi startegi perusahaan yang on going process. Bentuk strategi yang stabil menurut Miles dan Snow adalah tipe defender, prosfector dan analyzer jika manajemen memilihsalah satu diantara tiga tipe tipologi tersebut maka kemungkinan perusahaan akan menjadi pesaing dalam industrinya pada periode tertentu. 2. Kematangan Teknologi Informasi Tingkat kematangan informasi dicerminkan dalam formulasi aspek perencanaan, pengendalian, organisasi, dan integritasnya dalam suatu fungsi sistem informasi perusahaan Karmini et al. (1996). Konsep kematangan teknologi informasi diungkapkan oleh Churchill et al. (1969) untuk menentukan sejauh mana manajer menggunakan sistem informasi berdasarkan komputer. Perbedaan infrastruktur teknologi informasi dapat memperlancar atau menghambat pergerakan strategik perusahaan melalui operasi yang bereaksi cepat, koordinasi interorganisasional, serta fleksibilitas organisasional yang merupakan konsep penting dalam menghadapi kondisi ketidakpastian. Menurut Hill dan Jones (1995) ada empat faktor yang dapat dilakukan untuk aplikasi teknologi informasi seperti efisiensi, kualitas, inovasi, serta daya respon terhadap konsumen. 3. Networks Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Venkatraman (1998) menyajikan suatu bentuk model bisnis abad 21 yang merupakan perluasan dari networks, terdapat tiga vektor yang independen dalam virtual organization yaitu virtual encounter, virtual sourcing dan virtual expertise.

228

Model Struktur adaptif (Desaanctis and Poole 1984) Struktural teknologi sifat dan semangat Tugas dan lingkungan organisasi Struktur internal grup Munculnya sumber daya Pada struktur Perpindahan bantuan dan ketidakpercayaan Proses keputusan Keluaran Keputusan Struktur sosial baru Model ini menjelaskan menjelaskan tiga sumber struktur sebagai kondisi awal keberadaan yang membentuk arti teknologi yang diimplementasi sebagai efek yang tepat. Wide area network (WAN) Suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan membagi informasi dengan perusahaan lain yang saling berhubungan dan terpisah oleh letak geografis yang jauh.Virtual encounter merupakan gabungan antara tantangan baru dan kesempatan interaksi perusahaan dan pelanggannya. Teknologi informasi mengikuti keinginan pelanggan yangdinamik. Virtual expertise adalah perhatian kepada kesempatan untuk meningkatkan perbedaan sumber daya baik dari dalam pperusahaan maupun dari luar. Trend sekarang adalah mengarahkan kemampuan tenaga kerja perusahaan untuk memperoleh kemampuan kerja yang lebih baik sehingga meningkatkan kualitas kerja perusahaan. yang menghasilkan proses keputusan dan keluarannya. provider ataupun alat komunikasi lain yang tergantung pada lingkungan alam maka hal ini bisa mengganggu kelangsungan komunikasi antar tim. Virtual sourcing adalah perhatian produsen untuk meningkatkan integrasi nyata dari jaringan bisnis ditekankan pada model integrasi vertikal pada ekonomi industri dengan menggunakan internet untuk transaksi bisnisnya. Struktur 229 . hal ini mengakibatkan peningkatan hubungan dengan komunitas pelanggan. pada saat terjadinya kerusakan satelit. Virtual organization yang merupakan konsep yang berfokus pada pentingnya pemahaman dan kemampuan untuk meningkatkan value.

230 . informasi perusahaan. Tugas dan lingkungan organisasi merujuk pada sifat dari tugas seperti kelengkapan dan kebebasan dan susunan organisasi seperti hirarki. Struktur grup termasuk pola interaksi dan proses pengambilan keputusannya. Respon Strategik Perusahaan terhadap Globalisasi Merupakan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Mahmood dan Mann (1993) melakukan penelitian tentang hubungan antara investasi dalam teknologi informasi dengan strategik organisasional dan kinerja ekonomi.Teknologi .teknologi termasuk tindakan yang membatasi. Leonard-Barton’s mengusulkan model yang mengadaptasi ketepatan secara kontinyu dalam merespon ketidaksesuaian.Sistem pengiriman . Dalam model ini CT (Collaborative Technologies) yang digunakan “internet notebook” ketika anggota mempunyai kesulitan untuk memulai maka disediakan fasilitas untuk mendesain tekhnik kolaborasi yang rumit dengan kecanggihan yang disediakan oleh notebook. dan sempurna sebagai sebagai teknologi terkini yang memberi dorongan secara umum untuk mencapai tujuan dan meningkatkan nilai. Virtual team juga diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatannya kepada pimpinan melalui network. 4. Misalignment Model (Leonard-Barton 1988) Siklus Teknologi Ketidaksesuaian .Kriteria Kinerja Kesesuaian Lingkungan pemakai Perbedaan model kontinyu menduga ketepatan dalam proses adaptasi. canggih. dan budaya. yang akhirnya mengarahkan kesesuaian sehingga sukses.

Hasil penelitian Arifin (2001) mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al. Pada perusahaan telekomunikasi ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi. (1996) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi. Ada hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Arifin (2001) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi. Terdapat hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi.. KESIMPULAN Dari hasil analisis penelitian yang menjadi acuan. Kuesioner yang kembali sebanyak 71 buah atau 24. Studi ini mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al. terdapat hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. Hasil ini juga mendukung pernyataan bahwa kemampuan perusahaan untuk menggunakan teknologi informasi sebagai kekuatan yang terintegrasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan dalam menghadapi globalisasi. karena perusahaan teknologi informasi merupakan perusahaan yang termasuk 231 .4 % dari total kuesioner. pemasok dan pelanggan. Paper ini mendukung penelitian Karimi et al. yang diperoleh dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada para pimpinnan dari 291 perusahaan perbankan di Indonesia. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Karimi et aal.Penelitian sejenis pernah dilakukan oleh Arifin (2001). (1996). pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:tidak ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan perbankan melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. dapat disimpulkan bahwa. Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan.

(1997).. Jennifer M.. Watson. Hitt. Wong-On-Wing. Information Technology and Internal Firm Organization: An Explatory Analysis. Volume 21. 2. DAFTAR REFERENSI Arifin. B. Jhon C. 13. Edisi ke 2. Vol. Luthan F. Garrison.. Jones. Organizational Behavior. Zammuto.. M. Eric W. (2000). Pitt. Raval. Arthur G. June. Richard. McGraw-Hill Companies. F. Raymond F. L. Iss:2. Ray H. Sloan Management Review.. 135-144.. L.. Bedeian. Jhon Whiley and Sons. C. Wilkinson. Service Quality: A Measure of Information Effectiveness. and Hill. Singapore. Gareth R. (2000).. dan Brynjolfsson E. Irwin McGraw Hill. (2001). Contemporary Management. The Strategic Analysis of Intangible Resources. Henderson. No. dan Ukuran Perusahaan Perbankan dengan Respon Strategik dalam Menghadapi Global. T.prospector yang memiliki kecenderung untuk menerapkan desain strategi kompetitif yang agresif untuk menghadapi persaingan global. Charles W. Hall. Strategic Management Journal. 1992. Organizations Theory and Design.. Cerullo.. Journal of Management Information System. Volume 14. Real Strategies For Virtual Organizing.isasi.. Noreen. (1995). McGraw Hill Book. Accounting Information System-Essential Concepts and Applications. (1998). Hubungan Antara Tipologi Stategi Kompetitif... R. 232 . (1995). Managerial Accounting. Inc. Kematangan Teknologi Informasi. The Dryden Press. Thesis S2 UGM.. George. L. (2001). N. Inc. dan Kavan. MIS Quarterly. Venkatraman. (1991). Johan.

Masalah Tenaga kerja tidak terlepas dari banyaknya 7 Dosen Jurusan Manajemen. Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita. kemandirian. Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya. Fakultas Ekonomi. modal awal. pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil.1. Kata Kunci : Entrepreneurship. Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. orientasi kemasa depan dan toleransi pada suatu hal yang belum tentu. Pendahuluan 1. perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player). didukung. Unila . Latar Belakang Salah satu ciri negara berkembang adalah masalah tenaga kerja dan mutu sumber daya manusia. terutama di bidang Usaha Mikro. 1.Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan7 ABSTRAK Telah disadari bahwa peran perempuan dalam sektor ekonomi. status. berani mengambil resiko. usia. memainkan peran penting dalam menunjang ekonomi nasional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). Kecil dan Menengah (UMKM) tidaklah kecil. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented). modal saat ini. dan disadari oleh banyak pihak bahwa UMKM.

lapangan usaha yang tersedia. berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum pasti. Pengusaha kecil dan menengah di Bandar Lampung pada tahun 1998 berjumlah ± 1. percaya diri.98 % dari jumlah pengusaha kecil di Indonesia ( Kopperindag. ini merupakan 3. 1988 ). Untuk itu maka salah satu solusinya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan baru atau berwiraswasta. Menurut Hellriegel dan Slocum (1992.500 usaha kecil. Usaha kecil idealnya memang membutuhkan peran (campur tangan) pemerintah dalam peningkatan kemampuan bersaing dan peningkatan usahanya. Wirausaha yang tanguh adalah wirausaha yang menyukai mengambil resiko realistik karena mereka ingin berhasil. Dengan terbatasnya lapangan kerja disektor pegawai negeri sipil di Indonesia. semakin besar keyakinan wirausaha akan kesanggupan untuk mempengaruhi hasil keputusan dan semakin besar kemungkinan kebarhasilan. Usaha kecil di Lampung yang terbesar adalah disektor pertanian dan sektor perdangan / hotel dan restoran masing-masing adalah 70 % dan 18. Semakin besar keyakinan wirausaha pada kemuampuan sendiri. Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha 234 . mengharapkan penghasilan yang besar. akan tetapi pemerintah juga harus mengetahui kemampuan wirausaha (entrepreneurship) dari sudut pandang gender. Banyaknya usaha kecil di Bandar Lampung belum dapat memberdayakan potensi yang ada di wilayah tersebut. Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki. kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan ke lembaga-lembaga pemberi modal serta mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak pada usaha kecil. 1998). karena pertimbangan efisiensi skala usaha. Namun tidak selamanya usaha kecil harus terganung pada pemerintah akan tetapi mereka juga hendaknya mempunyai kemampuan berwirausaha dan keyakinan diri mereka terhadap perkembangan usahanya. tidak ingin bekerja pada orang lain. ini di sebabkan mutu sumber daya manusia yang masih rendah dan belum sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan.35 %. orientasi kedepan. 1996) seorang wirausahawan memiliki karatreristik: berkeinginan untuk naju. Menurut Meredith (2002) pengambilan resiko berkaitan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Pemerintah tidak saja harus membina kemampuan usaha kecil dalam menghitung modal optimum yang diperlukan. dalam Yusuf. Namun yang terjadi adalah penyerapan tenaga kerja di sektor swasta sangat sedikit sekali. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker. mengharuskan kita beralih lebih ke sektor swasta.

dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru dibanding dengan wirausaha pria. 2. pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. Hal ini dikarenakan perhatian pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat lebih banyak pada sektor usaha kecil. perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player).telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik.3. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented). Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: menganalisis perbandingan kemampuan wirausaha (entrepreneursip ) pengusaha wanita dan pria pada kecil dan menengah di Bandar Lampung. yaitu untuk informasi dan pengetahuan atau masukan bagi pemerintah daerah dalam kebijakan-kebijakan usaha kecil dan mikro berdasarkan aspek gender. Sealian itu dirumuskan pula manfaat dari penelitian ini. Selain itu. Penelitian ini. Tinjauan Pustaka Dan Hipotesis Perkembangan usaha kecil di negara kita berkembang sangat pesat setelah terjadi krisis ekonomi (pasca krisis). menganalisis perbandingan kemampuan entrepreneurship antara pengusaha wanita dan pria dengan menggunakan teknik analisa jalur dengan bantuan perhitungan regresi pada pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. dengan alasan bahwa usaha kecil adalah merupakan usaha kerakyatan yang dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat disekitar usaha tersebut. Penelitian ini menggunakan personal atribut yang terdapat pada wirausawan dalam kelompok usaha kecil (Usaha Kecil dan Menengah). Perumusan Masalah Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha. Peneliti merumuskan masalah : bagaimanakah perbandingan kemampuan entrepreneurship pengusaha wanita dan pria pada usaha kecil dan menengah di Bandar Lampung. 1. II. Disis lain penelitian-penelitian mengenai usaha kecil masih sangat 235 .

4. orang yang memiliki kemempuan untuk mengambil resiko dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru. dan Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk enjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Wirausaha (entrepreneur) adalah seorang pembuat keputusan yang membangtu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas. inovasi. standar kesuksesan bukanlah dari moneter semata tetapi dari hak paten yang didapatnya. Inventor didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja untuk mengkreasikan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya. dan kemajuan di perekonomian kita akan datang dari para wirausaha. sehingga pemerintah mengalami kesulitan dalam memahami usaha kecil terutama atribut persolan yang ada pada wirausaha. ia termotivasi dengan ide dan pekerjaannya. 236 . Inventor pada umumnya memiliki pendidikan dan motivasi berprestasi yang tinggi.1 Pengertian Wirausaha (Entrepreneurship) Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship. Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha. entrepreneurial. Inventor dan Entrepreneur Berikut ini beberapa perbedaan antara inventor dan entrepreneur. Menurutnya. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar. 1. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja. intrapreneurship. Sebagian besar pendorong perubahan. material. dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan. aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur. 2. 2. dan aturan baru. dan entrepreneur.sedikit. dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya. 3. inovasi.

Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi: 1. fisik. fisik dan resiko sosial. . 5. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Memperoleh reward. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut. Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbul pengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung. Entrepreneur berupaya mengimplementasikan penemuannya sehingga disukai publik namun inventor lebih menyukai menemukan atau menciptakan sesuatu. 2.Sedangkan wirausaha atau entrepreneur lebih menyukai berorganisasi daripada menemukan sesuatu. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan. Ia mengatur dan memastikan agar organisasinya berkembang dan bertahan. Dalam hal ini resiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan. Pengambilan inisiatif. 237 2. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan. Mengorganisasi dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan. 3. Melalui pengertian tersebut. dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal. terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yakni : 1. 3. dan resiko sosial. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul. Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.

dukungan pemerintah juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Wirausaha mempunyai arti seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et. mengubah gaya hidup atau meninggalkan karir yang telah dirintis.al. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. Peranan Wirausahawan dalam Perkembangan Ekonomi Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis. Faktor yang mendukung keinginan ini antara lain adalah budaya juga dukungan dari lingkungan sebaya. Faktor yang terakhir adalah ketersediaan finansial yang akan menunjang usaha. keluarga. Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata entrepreneur. Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Berikut ini beberapa paparan yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk berwirausaha: 1. Dukungan ini dapat terlihat melalui pembangunan infrastruktur. Faktor selanjutnya adalah pemahaman terhadap pasar. regulasi yang mendukung pembentukan usaha baru. 238 . Dalam budaya Amerika dimana menjadi bos bagi diri sendiri lebih dihargai daripada bekerja dengan orang lain. Hal ini lebih memacu seseorang untuk lebih mengembangkan usaha daripada bekerja untuk orang lain.Pengambilan Keputusan untuk Berwirausaha Setiap orang memiliki ide untuk berkreasi namun hanya sedikit orang yang tertarik untuk terus melanjutkan sebagai seorang wirausahawan. stabilitas ekonomi dan kelancaran komunikasi. dan partner kerja. Tentu saja hal ini menjadi penting terutama dalam meluncurkan produk baru ke pasaran. Selain itu. Adanya keinginan untuk membentuk usaha baru. 2. dan entrepnereurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan (Kamus Manajemen – LPPM). Selanjutnya adalah peranan dari model yang akan mempengaruhi dan juga memotivasi seorang wirausahawan. 2000). Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi wirausaha. Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti berdiri diatas kekuatan sendiri. Hal ini biasanya dipicu oleh keinginan untuk mengubah keadaan yang statis ataupun mengubah gaya hidupnya karena adanya suatu hal negatif yang menimbulkan gangguan.

Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. organisasi dan pengawasan. Griffin dan Ebert (1986) mendefinisikan wirausaha/ wirausahawan adalah orang yang mengorganisir dan memenej sumber-sumber daya. Sedangkan Sutrisno (2002) wirausaha (entrepneur) adalah mereka yang mendirikan.Banyak para ahli mendefinisikan wirausaha dengan versinya masing-masing. 1989). pengoperasian dan pengambilan resiko yang berhubungan dengan bisnis baru atau pendekatan baru yang berbeda (Luthan dan Hotgetts. mengapa entrepneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Di lain pihak bisnis (business) diartikan sebagai suatu organisasi yang sifatnya mencari profit dengan mengusahakan barang dan jasa yang diinginkan konsumen. Itu sebabnya. mengembangkan dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. dimana orang tersebut juga akan menanggung resiko kegagalan. mengubah atau mentransfer nilai. Sedangkan Drucker (1985) mengatakan bahwa untuk dapat dikatakan wirausaha seseorang harus dapat menciptakan sesuatu yang baru. 239 . mengelola. tidak mustahil akan terbukti bahwa ia betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang karena mengaguminya dan selanjutnya akan mengikutinya. Menurut Say yang dikutip Muhandri (2002) wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi. Dari berbagai definisi tersebut penulis mendefinisikan wirausaha sebagai seorang yang mampu memulai atau menjalankan usahanya dengan mengkoordinasikan dan mengoperasikan serta memenej sumber-sumber alam serta mampu mentransfer nilai menjadi sesuatu yang baru atau mengubah yang sudah ada dan berani menanggung resiko kegagalan. Definisi ini mendukung pendapat Yusuf (1996) yang mengemukakan bahwa wirausaha merupakan pengambilan resiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan bisnis baru atau dengan pendekatan yang berbeda sehingga bisnis yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. Entrepneurship merupakan suatu proses dari pengorganisasioan. Dari definisi-definisi tersebut mengandung asumsi bahwa setiap orang mempunyai kemampuan normal. mengelola sejumlah modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan. sesuatu yang berbeda. Dunia entrepneur merupakan dunia tersendiri yang unik. dapat menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Dengan kreatifitasnya.

mempunyai dorongan kuat. dapat bergaul dengan orang lain. suka pada tantangan. Kepemimpinan. d. 1996) mutu tersebut meliputi suka mencari peluang. Ciri-ciri tersebut adalah : a.Meredith. Adapun ciri dari kriteria tersebut adalah sebagai berikut: a. dan inisiatif. b. 2002) mengemukakan bahwa para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada. mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. berorientasi ke depan. seperti : kebutuhan akan prestasi. Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi diberbagai bidang. energik. Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkannya. Berorientasi tugas dan hasil. tidak mudah bosan dan ulet atau pantang menyerah. marker-driven dan berorientasi konsumen. bangsa dan negara. Selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya yang lebih baik untuk customers. dalam Yusuf. ketekunan dan ketabahan. menerima saran-saran dan kritik.al (1996. Menjadi wirausaha profesional harus memenuhi kriteria keungulan (Sutrisno. kerja keras. Sementara itu menurut G. seperti: bertingkah laku sebagai pemimpin. Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan. Antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Menurut Harper (1991. b. c. 2002). 240 . tekad.2. et. masyarakat. realistik. dalam Sutrisno. dan bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mencapai tujuannya.2 Karateristik Wirausawan (Entrepneurship) Wirausawan yang sukses memiliki mutu yang membedakan mereka dari orang lain pada umumnya. seperti: kemampuan mengambil resiko. berorientasi laba. Pengambil resiko. e. c.

Para ahli menemukan bahwa para wirausaha terdapat keinginan yang lebih besar mengambil resiko dari pada manajer profesional c. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. d. orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya.al (2000). orang yang percaya pada dirinya sendiri. meninggalkan pekerjaannya. resiko yang diambil oleh entrepneur didalam memulai dan atau menjalankan usahanya berbeda-beda. dalam Yusuf. 1996) seorang wirausaha yang sukses juga memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju. e. Berorientasi ke masa depan. Sedangkan menurut Hellriegel dan Slocum (1992. menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras. yang mengakui adanya masalah didalam pembauatan usaha baru. Percaya diri. tidak ingin bekerja pada orang lain.al . mengharapkan penghasilan yang besar. seorang wirausaha mempeerhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun. Keorisinilan. seperti: perspektif dan mempunyai pandangan kedepan. tapi mempercayai kemampuan dirinya untuk mengatasi masalah tersebut. Keinginan yang kuat untuk berusaha. karateristik entrepneur adalah: a. menerima resiko fisik sebagaimana mereka menghadapi kemungkinan terjadinya kegagalan.d. Kebutuhan akan keberhasilan. Tantanagan dan waktu yang dibutuhkan untuk memulai dan menjalankan usahanya juga mendatangkan resiko bagi keluarganya. fleksibel. percaya diri (self eficacy). Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu. dan mempertaruhkan karirnya. Keinginan untuk mengambil resiko. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. 241 . ingin independen. b. orientasi ke masa depan. McClelland (dalam Longenecker et. Wirausaha yang mengidentifikasikan secara teliti kegiatan usahanya . berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. 2000) menemukan bahwa orang cenderung dengan kebutuhan yang tinggi akan keberhasilan juga memiliki kecenderungan untuk mengambil resiko yang moderat. seperti: inovatif dan kretif. Menurut Longenecker et.

Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan i. Motivasi kerja yang Tinggi d. Berkemampuan menjual ide atau gagasan pada pihak lain. f. Cermat. Berpikir jauh ke depan Bekerja secara terencana. Berkemampuan bersosialisasi pada stakeholders o. j. Memiliki intuisi bisnis yang tinggi m. Bahwa eksekutip perempuan memiliki hubungan interpersonal yang lebih intens dengan mitra kerja atau karyawan dibanding dengan laki-laki. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker.terstruktur. Perempuan lebih 242 . Sabar dan cukup Kompromis Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki. perempuan cenderung lebih menonjol dalam pergaulan (people oriented). Sebagaimana pendapat Stain (1989 :240). Bersedia bekerja susah h. Responsif terhadap reward yang diberikan. 2005) a. Menginginkan adanya akses ke seluruh resource perusahaan. dan sistematik g. l. Sensitif terhadap situasi dan kondisi internal dan eksternal perusahaan. n. Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik. Bahwa dibanding laki-laki .Ciri-ciri Intrapreneurship (menurut Moko. Berorientasi pada pencapaian Tujuan c. 1988 ). e. b. Memiliki self-esteem dan self eficacy yang tinggi Berani Mengambil resiko k.

organisasi perempuan dan institusi terkait lainnya. Namun disadari bahwa pemakaian teknologi juga terkendala oleh berbagai faktor. terutama melalui iptek. Perbedaan jenis kelamin bukanlah hal yang unik. pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah. Selain itu. perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player).3. namun memiliki bakat alam yang memotivasi mereka menekuni MLM dan berjuang melawan arus perbedaan gender. dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru.lunak di dalam menghadapi kesalahan atau masalah pribadi mitra kerja atau karyawan. 2. Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha.Teknologi dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk meningkatkan peranannya di bidang usaha. akses pemasaran. perempuan sangat berpotensi untuk mengembangkan usaha. swasta. lebih mudah memaafkan dan bersikap fleksibel terhadap masalah di kantor dibanding laki-laki. Wirausaha Perempuan Banyak pihak memahami bahwa kesempatan berkarya bagi perempuan lebih terbatas dibandingkan dengan laki-laki. masih merupakan tantangan yang besar. perlindungan HKI. berbagai hal seperti kemudahan pembiayaan dan perijinan. 243 . Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. selain sebagai salah satu faktor penentu dalam persaingan juga memungkinkan perempuan untuk bekerja dan berusaha di rumah. Berbagai kebijakan dan tindakan telah dicanangkan namun kesemuanya masih belum menghasilkan dampak yang diharapkan. Data sejak tahun 2004 memperlihatkan bahwa jumlah perempuan yang aktif dalam bidang usaha masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Di satu sisi. Di sisi lain. Menurut Langan-Fox (1991) pengusaha perempuan cenderung memperlakukan orang lain lebih liberal.Upaya untuk meningkatkan peranan perempuan dalam pengembangan wirausaha. memperluas jaringan usaha atau meringankan beban kerjanya. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented).

Pengaruh kemandirian.4. Metodologi Penelitian Bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi populasi dan sampel. berani mengambil resiko. seperti : ketidak ketergantungan. berpandangan ke depan dan toleransi pada sesuatu hal yang belum menentu. Kemampuan seorang wirausaha yang sukses adalah orang yang mempunyai kemampuan diri terhadap usahanya seperti ketidak ketergantungan. individualitas dan optimisme. berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. metode pengumpulan data dan pengukuran dan definisi operasional variabel. orientasi ke masa depan.2. mengharapkan penghasilan yang besar. Disamping itu dibahas pengukuran variabel penelitian. berani mengambil resiko. Hipotesis Hipotesisi dalam penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan wirausaha pria di Kota Bandar Lampung. Ingin Independen / kemandirian Entrepneurship Pengambilan resiko Orientasi ke masa depan Toleran pada sesuatu yang belum menentu. Gambar 1. Sedangkan entrepreneurship seseorang wirausaha (entrepreneur) mempunyai sifat-sifat. tidak ingin bekerja pada orang lain. orientasi ke masa depan dan toleransi pada sesuatu yang belum menentu antara wirausaha wanita dan pria berbada secara signifikan. III. ingin independen. uji validitas dan reliabilitas serta teknik analisis data. Identifikasi Kemampuan Entrepreneurship 244 . Seorang wirausaha yang sukses memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju.

modal awal. populasi yang dipilih mempunyai hubungan yang erat dengan masalah yang diteliti. hasil-hasil penelitian dan data-data tentang pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Populasi merupakan jumlah keseluruhan unit analisis yang ciri-cirinya akan diperkirakan (Cooper & Emory. Studi pustaka. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut.1 Populasi Dan Sempel Dalam suatu penelitian. 1995). seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et. usia. pekerjaan orang tua. keinginan untuk mengambil resiko. Karateristik entrepneurship adalah keinginan untuk independen dan mandiri. 2000).3 Definisi Operasionel Dan Pengukuran Variabel Kewirausahaan (Entrepneurship). Ide dasar pengambilan sampel adalah bahwa dengan menyeleksi bagian dari elemen-elemen populasi. 2003). 3. Data primer ini meliputi data-data tentang variabel penelitian yaitu : kewirausahaan (entrepneurship). berorientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum 245 . Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag. modal saat ini. dilakukan guna memperoleh data primer melalui pemberian kuesioner kepada responden. status perkawinan. lingkungan diwaktu kecil dan pengalaman berwirausaha.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer dan skunder yang diperoleh melalui: a. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode acak sederhana (random sampling). 3. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode strattified sampling dan random sampling. kesimpulan tentang keseluruhan populasi diharapkan dapat diperoleh (Cooper & Emory. b. dilakukan guna memperoleh data skunder yang berkaitan dengan tinjauan pustaka. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. Survey. Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. Sampel merupakan bagian dari elemen-elemen populasi yang hendak diteliti. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung.3.al. 1995).

apa yang saya capai atau peroleh saat ini sudah cukup (sangat tidak setuju (1) -----------------. Dengan mempergunakan instrumen penelitian yang memiliki validitas tinggi.7 dapat diterima dan diatas 0. Tatham. Anderson.6 3. Pengujian reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien cronbach alpha. item-item pertanyaan yang digunakan diuji validitasnya. 0. Semakin mendekati 1.sangat setuju (5) ). Kuesioner entrepneurship ini terdiri dari 16 item yang menilai kemandirian. tujuan dan cita-cita. Dalam penelitian ini. toleransi pada sesuatu yang belum tentu seperti: bagi saya. 1986). Dalam penelitian ini. Pengukuran variabel diukur dengan menggunakan skala likert 5 – point (sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju). Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan ketepatan pengukuran. reliabilitas yang kurang dari 0. bila pengukuran dilakukan pada objek yang sama berulang kali dengan instrumen yang sama.00 maka semakin tinggi konsistensi jawaban skor butir-butir pertanyaan atau makin dapat dipercaya. metode analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) dengan dibantu program aplikasi AMOS yang merupakan teknik multivariate dengan mengkombinasikan aspek-aspek multiple regression. sehingga tidak perlu melakukan lagi uji validitas. dan Black 246 .tentu serta berani berkorban. 1992). 3. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukurnya secara tepat dan benar. dan berorientasi ke masa depan. Menurut Hair.5 Teknik Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis serta menghasilkan suatu model yang fit. sedangkan uji reliabilitas menggunakan cronbach alpha pada α = 0. Reliabilitas instrumen adalah kejituan atau ketepatan instrumen pengukur (Kerlinger.8 adalah baik (Sekaran.4 Uji Validitas dan Reliabilitas. hasil penelitian mampu menjelaskan masalah penelitiannya sesuai dengan keadaan atau kejadian yang sebenarnya. pengambilan resiko. 2006). Uji Validitas Uji validitas dimaksudkan untuk memastikan seberapa baik suatu instrumen mengukur konsep yang seharusnya diukur. Uji Reliabilitas. kerja keras. item-item pertanyaan yang digunakan sudah standardized dalam artian sudah digunakan dalam peneliti-peneliti sebelumnya (ribhan.6 adalah kurang baik. Analysis of Moment Structure (AMOS) merupakan salah satu program untuk mengolah model-model yang multidimensi dan berjenjang.

94. yaitu dengan menetapkan variabel exogenous dan variabel endogenous yang dikembangkan dalam sebuah diagram path. Hal ini sangat penting untuk membenarkan hubungan antara dua variabel. (b) hubungan causal haruslah atau diasumsikan sebagai hubungan yang linier. kemudian mengembangkan model tersebut kedalam bentuk yang lebih formal yaitu dengan cara: (a) structural model. 2.05 ). b. c. Memasukan diagram path kedalam serangkaian struktur model dan pengukuruan model. AGFI (Ajusted Goodness of Fit Index) lebih besar atau sama dengan 0. Incremental fit untuk GFI (Goodness of Fit Index). 2000): 1. Structural Equation Modelling (SEM) bias terdapat beberapa variabel endogenous (dependen) dan variabel endogenous ini bias menjadi variabel exogenous (independen) bagi varaibel endogenous yang lain.90 ( ≥ 0. Setelah mengembangkan model yang didasari teoriteori atau penelitian sebelumnya. Mengembangkan teori-teori yang mendasari model penelitian yang akan digunakan. Model persamaam struktural yang baik dengan menggunakan analysis of moment structure (AMOS) adalah ditandai dengan pertimbangan kriteria-kriteria (Arbuckle.90 ).95 dan Normed Fit Index (NFI) lebih besar atau sama dengan 0.(1998) Structural Equation Modelling (SEM) atau Analysis of Moment Structure (AMOS) digunakan untuk mengestimasi serangkaian persamaan regresi berganda yang berpisah. tapi saling berhubungan secara bersamaan (simultaneously). Degree of freedom (DF) harus positif. Langkahlangkah dalam Structural Equation Modelling (SEM) adalah: a. Membuat diagram path. 247 . Asumsi yang mendasari dalam penyusunan diagram path adalah (a) semua hubungan causal ditunjukkan dengan didasari oleh teori-teori yang ada. 3. 1997. pada Ferdinand. dan (c) mengkorelasikan antara konstruk-konstruk dan indikator-indikator yang ada. dengan mentransfer diagram path kedalam serangkaian structural equations yang jelas. Tucker-Lewis Index (TLI) lebih besar atau sama dengan 0.05 ( ≥ 0. (b) measurement model. Chi-square – Significance Probability yang disyaratkan adalah lebih besar atau sama dengan 0.

Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). 2003). Dari hasil pengumpulan kuesioner diskripsi responden secara rinci dapat terlihat dalam tabel 1 berikut: Tabel 1.1.08 ). usia. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. uji validitas.08 ( ≤ 0. 4. Nilai Root Mean Square Residual (RMR) dan Root Mean Square Error of Approximation ( RMSEA) yang rendah. serta hasil pengujian hipotesis dan pembahasannya. Analisis Deskripsi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung. Pembahasan mencakup deskripsi responden. Dari 150 kuesioner yang diisi responden yang dikembalikan adalah sebanyak 119 kuesioener (respon rate 79%). modal saat ini. Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Bab ini membahas analisis data dan hasil perhitungan serta pembahasan tentang perbandingan kemampuan entrepneurship antara pengusaha wanita dan pria. uji reliabilitas dan korelasi antara variabel. status.4. Deskripsi Responden Keterangan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 248 Jumlah 56 63 Persentase (%) 47% 53% . lebih kecil atau sama dengan 0. Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut. IV. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil. modal awal.

5. dengan kata lain peneliti berasumsi bahwa item-item pada kuesioner penelitian ini telah dilakukan validitas item .Keterangan Usia 20 – 30 tahun 31 -40 tahun lebih dari 40 tahun Status Perkawinan Kawin Belum Kawin Jumlah 18 56 45 Persentase (%) 15% 47% 38% 99 20 83% 17% 4.5105) dengan empat kali pengujian. 2006). hasil pengujian reliabilitas masing-masing variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.5105 (standardized item alpha sebasar 0. dengan membandingkan antara cronbach alpha total dan alpha if item deleted sehingga dapat meningkatkan nilai cronbach alpha. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan terhadap data yang sudah terkumpul.2. Secara rinci. Pengujian Reliabilitas item-item Entrepneurship Pengujian reliabilitas untuk item-item variabel entrepreneurship menghasilkan nilai cronbach alpha tertinggi sebesar 0. Sehingga item-item yang reliabel adalah: 3.11. Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang pernah digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu (ribhan. Sehingga dalam penelitian ini tidak dilakukan uji validitas terhadap item-item kuesioner penelitian. Pada uji reliabilitas ini dapat terjadi penghapusan beberapa item-item pertanyaan.14. 249 .13. Uji reliabilitas ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui seberapa jauh sebenarnya item-item pertanyaan tersebut memiliki konsistensi.

-.0694 Jumlah item 5 Akhir Cronbach Alpha 0.000 18.000 max 18.000 9.000 12.899 .124 .294 .000 16.067 -1.Tebel 2. Apabila nilai kritisnya (CR) lebih besar dari ± 2.144 1.(1998) ukuran sampel yang sesuai adalah antara 100 – 200.065 2.5105 4. Jumlah sampel ini telah lebih dari jumlah sampel minimum yang diperlukan dalam pengujian structural equation model.000 11.446 1.378 . SEM bila diestimasi dengan menggunakan maximum likelihood estimation technique. Menurut Hair et al.556 c.135 -.000 17.845 kurtosis -. Ringkasan Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Penelitian No 2 Nama Variabel Entrepneurship Awal Cronbach Jumlah Alpha item 16 -0. Untuk menguji normalitas distribusi data yang digunakan dalam analisis bisa digunakan dengan mengamati mulitivativariate kurtosis value. (1998). Hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha pria disajikan dalam tabel 3.380 Sedangkan hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha Wanita disajikan dalam tabel 4 berikut.58 berarti kita dapat menolak asumsi mengenai normalitas pada probability level 0. 1998).047 . Oleh karena itu pengujian model keseluruhan dengan SEM dapat dilakukan.r. Evaluasi atas Dipenuhinya Asumsi Normalitas Menurut Hair et al.3.681 1.604 c.000 skew -.734 -. Tabel 3.099 1.. Analisis Data Evaluasi atas Dipenuhinya Ukuran Sampel Jumlah sampel total yang digunakan dalam pengujian ini adalah 119 sampel..630 -1. mensyaratkan pengujian asumsi normalitas.r.01 (Hair et al. Assessment of normality Wirausaha Pria Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 12. -. 250 .

000 9. Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 10.000 skew .022 -.38 .000 17.22 -.58.579 -.4.006 . nilai tersebut lebih kecil dari nilai batas ± 2.r.236 2.655.177 -.938 -. 4.r.179 -.745 kurtosis .296 -.230 c.290 -.574 -1.000 17.000 10. .018 .32 res e3 .51 tol 251 . baik secara multivariate tidak ada bukti bahwa data yang digunakan berdistribusi tidak normal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada pengujian data SEM. sehingga asumsi normalitas terpenuhi.655 Dari tabel 3 dan 4 dapat dilihat bahwa nilai CR untuk multivariete menunjukkan angka 1. Perbandingan Model Path antara Wirausaha Pria dan Wanita Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh gambar analisa jalur antara pria dan wanita sebagai berikut: e1 .47 .Tabel 4.400 -.000 11.10 dep e2 .26 .380 dan 1.000 max 20.61 wirausaha md e4 . Assessment of normality Wirausaha Perempuan.035 -.000 19.888 c. .382 1.

54 wirausaha md .12 1.004 tol 4. Model Path Wirausaha – Perempuan (Wanita) e1 .512 Wanita -.014 .00 dep e2 2. Pengujian Hipotesis dan Pembahsan Nilai-nilai koefisien path dan critical ratio (CR) hasil analisis hubungan kausalitas antara variabel-variabvel penelitian dengan menggunakan program AMOS 5 dapat dilihat pada tabel 5 Tabel 5. Wirausaha – Laki-laki (Pria) Sedangkan untuk gambar path atau analisa jalur diperoleh sebagai berikut: Gambar 3.467 .613 -.538 .020 1.Gambar 2.322 .119 . Nilai Koefisien Path Wirausaha Pria dan Wanita Path wirausaha wirausaha wirausaha wirausaha Pria .06 e4 .063 dep res md tol <--<--<--<--- 252 .02 res e3 .37 -.4.

020.322) lebih besar dibandingkan dengan indikator kemandirian pada wirausaha perempuan yaitu sebesar -0. Orientasi kemasa depan. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya. diinterpretasikan signifikan secara statistik pada tingkat 0.467.96. Sedangakan untuk wirausaha wanita memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan yaitu -0.05 (p<0. 2000) yang mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya.613). (1998) dilihat dari nilai koefisien path-nya dan nilai critical ratio (CR) yang lebih besar atau sama dengan 1. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa pengaruh indikator orientasi kemasa depan wirausaha pria mempunyai pengaruh yang relatif kecil (0. Berani mengambil resiko.al. hal ini menandakan bahwa wirausaha pria di Bandar Lampung mempunyai kemampuan mengembangkan kemajuan usahanya masih sangat rendah. Ingin Independen atau Kemandirian.119) dan tidak signifikan.538) lebih baik dalam pengambilan resiko dalam menjalankan usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria (0. Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. Berdasarkan pengujian tersebut bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya. dibandingkan dengan wirausaha wanita.05). temuan ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita di 253 . hasil perhitungan dengan AMOS menunjukkan bahwa besarnya pengaruh indikator kemandirian antara wirausaha wanita dan pria berbeda. hasil temuan dalam peneltian ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita (1. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. meninggalkan pekerjaannya. Temuan ini berbeda dengan pendapat para ahli (Longenecker et.Penilaian terhadap pengaruh dari masing-masing indikator.. Pengaruh kemandirian pria (0. dan mempertaruhkan karirnya. Hal ini berkemungkinan disebabkan masalah-masalah permodalan dan pengembangan pasar produk mereka. didukung. et al. Temuan ini menandakan bahwa wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria. menurut Hair.

063). Toleransi ambiguitas yakni kemampuan untuk berhubungan dengan yang tidak tersetruktur dan tidak bisa diprediksi sehingga menuntut kreatifitas seseorang. Hal ini dikarenakan setelah pengolahan dipisahkan antara wanita dan pria maka 254 . Perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. Hal ini mengindikasikan bahwa wirausaha wanita berkemungkinan.1. didukung. serta fleksibel. V. Keterbatasan Dan Saran Penelitian Mendatang 5.512). Hasil pengujian menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kemampuan wirausaha antara wanita dan pria di Bandar Lampung serta terdapat perbedaan pengaruh antara indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Hasil pengolahan dengan menggunakan AMOS pengaruh indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria semuanya tidak signifikan. Kesimpulan Seratus sembilan belas data yang diperoleh dari para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung dianalisis dengan menggunakan analisis model persamaan structural (structural equation modeling) dan program apliklasi AMOS. Penelitian ini menguji perbandingan pengaruh kemampuan entrepneurship Wanita dan Pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Seorang wirausaha mempunyai kemampuan antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan (0. Implikasi. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu. Simpulan. orientasi mereka dalam menjalan usahanya hanya sekedar membantu pasangan mereka dalam memenuhi kebutuhan rumahtangganya. menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras.Bandar Lampung tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan usahanya kemasa depan. seorang wirausaha memperhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun. hal ini menandakan bawa wirausaha wanita hapir tidak memiliki toleransi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi dan akan terjadi dan kurang kreatifitasnya. Sedangkan wirausaha wanita indikator ini memiliki pengaruh yang sangat kecil (0.

terutama dalam wirausaha wanita. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. Dengan demikian wirausaha wanita dalam menjalankan usahanya tidak semata-mata usaha sambilan atau sementara. dan kreatifitas dibandingkan dengan wirausaha wanita. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu. Sedangkan dalam hal keberanian mengambil resiko. Orientasi kemasa depan. hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahanperubahan lingkungan. Temuan ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi stakeholder dalam memberdayakan kemampuan wirausaha. perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. Wirausaha pria lebih mandiri. dibandingkan dengan wirausaha wanita. Berani mengambil resiko. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya. serta toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu. wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria. Hasil temuan ini menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan entrepneurship dari persepteif gender di Bandar Lampung. akademisi serta masyarakat) dalam memberikan bimbigan terhadap usaha entrepneurship terutama dalam wirausaha wanita. professional. berorientasi kemasa depan dan kreatifitas. dan mempertaruhkan karirnya.2. yaitu antara 100 -200 responden. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan analisa menghasilkan temuan yang mendukung hipotesis yang diajukan peneliti. pengambilan resiko. berorientasi kemasa depan. Implikasi Hasil Penelitian Temuan-temuan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan indikator-indikator wirausaha para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung berbeda antara wanita dan pria dalam hal ingin independent (kemandirian) atau kemandirian. 255 . orientasi ke masa depan. sehingga mereka akan lebih mandiri. menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. wirausaha wanita lebih berani dibanding dengan wirausaha pria. 5.sampel masing-masing gender tidak memenuhi standar pengolahan. meninggalkan pekerjaannya. Untuk itu diperlukan peranan berbagai pihak (pemerintah. sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. jalur Ingin Independen atau Kemandirian.

R. & Emory. Diharapkan menggunakan sampel yang terspesifikasi dan berbeda dengan penelitian ini dengan maksud untuk lebih menguatkan temuan peneliti. 256 . 2005. Keterbatasan dan Saran Penelitian Mendatang Penelitian ini masih banyak kekurangan-kekurangan yang dialami. Kuesioner yang digunakan peneliti bersifat self-report atau self rating scale. 1995. pengambilan resiko.D. Hal ini berkemungkinan karena seluruh item-item pertanyaan yang diajukan. Model yang di tunjukkan belum menunjukkan suatu model yang fit (sesuai). Kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya bias respon akibat adanya kecenderungan para responden mengukur lebih tinggi dari kondisi sesungguhnya.Irwin. London: Richard D. Keterbatasan lainnya besarnya responden masih sangat kurang dari yang seharusnya. Dimana perbandingan antara besarnya responden (sample) dan populasi tidak sesuai. 2. Moko P.3.. hal ini disebabkan terdapatnya bias atau halo efek dalam kuesioner. diisi responden dalam satu paket kuesioner. seperti kemadirian.W. 5. orientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu. Bandung: Alfabeta Cooper. Business Research Methods (5th edition).C. Penelitian yang akan datang diharapkan mengikutsertakan faktor-faktor yang lebih kompleks dalam penelitian. Entrepreneurship (dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia). hal ini karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh peneliti. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada pengaruh indikator-indikator entrepneurship. Oleh karenanya peneliti menyarankan bagi penelitian yang akan datang sebagai berikut: 1. Inc.Dengan demikian bantuan yang bersifat materi dan non materi masih terus ditingkatkan untuk memotivasi dan kepercayaan diri mereka dalam menjalankan usahanya. karena besarnya pengambilan responden setelah dibedakan antara pria dan wanita besarnya tidak mengikuti aturan yang ditetapkan dalam pengolahan data dengan menggunakan AMOS. DAFTAR PUSTAKA Astamoen.

Multivariate Data Analysis (Fifth Edition). Rolph E.Slocum.Moore.. Pemikiran dalam Rangka Lustrum ke 6 FE UNILA. Fred. Thomson Learning. Entrepneur Kreatif. Asas-asas Penelitian Behavioral (edisi Indonesia). Ronald. Ferdinan.Hotgetts.L. 1989. New York. 257 .. 1992. (Penerjemah: Simatupang Ladung R) 1998.1989. Purdi E.com. & Black. Anderson. The Dryden Pres Chicago. Innovation and Entrepreneurship. Harper & Row . Pengaruh Keyakinan Diri (Self Eficacay) dalam Kemampuan Entrepreneurship Pengusaha Kecil dan Mikro di Propinsi Lampung. Pengembangan pendidikan Berwawasan Kewirausahaan Sejak Usia Dini. J. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen. Small Business Management. Business.1985.tripod.2002. New Jersey. Joko Sutrisno. Muhandri.Griffin dan Ronald J. Media Informasi BPR. http://rudict. Second Edition.C. 2000. 2003. 2005. Tjahya. Addison-Wesley Publishing Co. Chandra. Yuni Pristiawati. Sekaran. Joseph F. N.Drucker. Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah yang Tangguh. Entrepneur Indonesia Edisi 2 / Tahun I / Agsutus. Fred Luthan dan Richard M. JustinG. http://rudict. Isu Dan Kecenderungan Ekonomi. 2006. 2002.Don Hellriegel dan John W.1996. William. Kerlinger. Edisi V bulan Juni. Wirausaha dan Bisnis Kecil. Hair. Jr.. U. Pengembangan Usaha Kecil Untuk Penguatan Perempuan. Longenecker.Ebert. Inc. Gadjah Mada University Press. Tatham. Augusty. Pranctise and Principles. 2000. Management.. An Entrepneurial Emphasis 11th Ed.William Petty. Research Methods for Business.com. Massacussets. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Prentice Hall. Ribhan.1992. Prentice-Hall International Inc. Peter F. New York: John Wiley & Son.CarlosW. Nasrullah Yusuf. Ricky E. 1998.topcities. JR. Business.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->