Wewenang Mahkamah Konstitusi Menguji Undang-Undang (Judicial Review

)
Kamis, 21 Juni 2007

Suripto Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sekretariat Negara Republik Indonesia Pendahuluan Pasal 24c, ayat (1) UUD Tahun 1945 : Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Reformasi di Indonesia dimulai pada tahun 1998, gerakan reformasi di samping bertujuan menuntut pengunduran diri presiden juga menuntut perubahan sistem ekonomi, sistem politik dan sistem hukum, karena sistem ekonomi yang dibangun tidak mampu menghadapi cobaan (krisis) yang terjadi, sistem politik otoriter jauh dari nilai/paham demokrasi dan sistem hukum tidak ada kejelasan walaupun dalam UUD 1945 dengan jelas bahwa Indonesia negara berdasarkan hukum. Pada acara penyampaian pidato resmi kenegaraan di depan DPR RI tanggal 15 Agustus 1998 Presiden Prof. Dr. B.J. Habibie yang menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatannya tanggal 21 Mei 1998, antara lain mengemukakan bahwa esensi dari gerakan reformasi nasional ini adalah koreksi terencana, melembaga, dan berkesinambungan terhadap seluruh penyimpangan yang telah terjadi dalam bidang ekonomi, politik dan hukum. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa pada tanggal 21 Mei 1998, beliau telah menyampaikan tekad untuk melaksanakan reformasi secara bertahap dan konstitusional di segala bidang. Tujuannya adalah untuk memulihkan kehidupan sosial ekonomi, meningkatkan kehidupan politik yang demokratis dan menegakkan hukum sebagai langkah awal gerakan reformasi sistem politik. Setelah diadakan Pemilu Tahun 1999 dan terbentuk DPR/MPR, maka MPR dalam sidang-sidangnya telah mengamandemen UUD tahun 1945 sebagai langkah awal reformasi hukum. Amandemen dilakukan secara bertahap sejak SU MPR tahun 1999 sampai sidang tahunan 2002 (sebanyak 4 kali amandemen). Amandemen UUD tahun 1945 merupakan hal yang wajar untuk menuju praktek kenegaraan yang lebih demokratis, hal ini mengingat UUD tahun 1945 mengandung kelemahan-kelemahan sehingga praktek kenegaraan di Indonesia oleh gerakan reformis dianggap kurang demokratis. Perkembangan Hak Menguji Undang-Undang (JR) Salah satu pilar negara demokrasi adalah adanya kekuasaan kehakiman (peradilan) yang mandiri untuk menjaga praktik kenegaraan kekuasaan dari kesewenang-wenangan. Keberadaan kekuasaan kehakiman (peradilan) diharapkan dapat mandiri dari pengaruh kekuasaan yang lainnya dan harus mempunyai wewenang yang jelas dalam menjalankan fungsinya, sehingga kewibawaan kelak terjaga. Perkembangan Mahkamah Konstitusi yang ada di dunia diawali dari kasus Madison versus Madbury di Amerika Serikat. Pada awalnya manfaat dari Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan keperluan untuk mengadakan pengujian terhadap konstitusionalitas undang-undang yang ditetapkan parlemen. Inti perdebatan dalam kasus tersebut adalah bahwa Mahkamah Agung Amerika Serikat yang dipimpin John Marshall ditantang untuk melakukan pengujian (review atau toetsting) atas konstitusionalitas undang-undang yang ditetapkan oleh Konggres. Keputusan Madbury melawan Madison pada tahun 1803 itu sangat populer dan diyakini sebagai awal kelahiran judicial reviewdi USA. Kepala Kehakiman John Marshall berpendapat bahwa konstitusi tertulis dan pengadilan independen menyiratkan kekuasaan judicial review ada di Mahkamah Agung, hal ini berkaitan karena adanya kenyataan ketidaksesuaian antara konstitusi dan undang-undang, sehingga tidak mempunyai pilihan lain, harus memberlakukan hukum yang lebih tinggi, dan harus menganulir undang-undang yang lebih rendah. Tanggapan mengenai hal ini dapat ditemukan dari komentar R.H.S. Crossman, seorang anggota

Praktek judicial review tidak serta-merta dilakukan oleh penguasa yang demokratis. selanjutnya timbul ide untuk membentuk Komisi Konstitusi tersendiri di luar struktur Mahkamah Agung yang sudah ada sebelumnya. tidak dibuat oleh badan pengadilan yang ditunjuk dan mewakili rakyat. Tiga negara dengan konstitusi tidak tertulis. serta enam negara yang mempunyai konstitusi tertulis dan pengadilan tinggi. bahkan dapat menyelesaikan perselisihan pendapat tentang hasil Pemilu Presiden. dan badan tersebut terkenal dengan nama Mahkamah Konstitusi. maka dapat diartikan bahwa : a. Sebagai contoh kekuasaan peradilan tertinggi di USA berada di tangan Mahkamah Agung yang kekuasaannya sangat tinggi dan sangat dipercaya oleh masyarakatnya sebagai lembaga yang suci. Hak Menguji Baik dalam kepustakaan maupun dalam praktek dikenal ada dua macam hak menguji. Mahkamah Agung mengadili perselisihan pendapat tentang hasil pemilihan Presiden yang terakhir dan keputusannya menetapkan George W. dalam proses pembuatannya melalui cara-cara sebagaimana telah ditentukan/diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku atau tidak. Hak menguji material adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan menilai isi apakah suatu peraturan perundang-undangan itu sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya. dia kemudian mengatakan bahwa hukum ini akan dideklarasikan tidak konstitusional di setiap negara dengan konstitusi tertulis oleh Mahkamah Agung. Pada negara yang menganut law civil . menolak secara eksplisit adanya kekuasaanjudicial review. Berdasarkan arti dari hak menguji formal dan hak menguji material tersebut. Bush sebagai Presiden dan Al Gore sebagai Wakil Presiden. dan keputusan tersebut ditaati rakyat Amerika. dan b. beberapa negara mempercayakan judicial review ke pengadilan atau badan konstitusional khusus daripada ke sistem pengadilan umum. serta apakah suatu kekuasaan tertentu (verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu. Hak menguji formal adalah wewenang untuk menilai suatu produk legislatif seperti undang-undang. Sebagai kompromi antara dua pemikiran bertentangan ini.kabinet Partai Buruh Inggris yang bertanggung jawab terhadap hukum imigrasi pada tahun 1968. hak menguji formal. Selain hak menguji yang dimiliki hakim. Konstitusi Amerika Serikat sama sekali tidak memberikan kewenangan kepada Mahkamah Agung untuk melakukan upaya yang pada pokoknya bersifat mempersoalkan produk hukum yang dibuat oleh Konggres yang merupakan cabang kekuasaan legislatif. Dapat ditarik pengertian dari definisi tersebut bahwa definisi dari suatu istilah sangat tergantung dari sistem hukum yang dianut oleh negara yang bersangkutan. karena keputusan-keputusannya tidak pernah mengecewakan rakyat Amerika. Hak menguji terhadap peraturan perundang-undangan tidak hanya dimiliki oleh hakim. Pengujian formal terkait dengan masalah prosedural dan berkenaan dengan legalitas kompetensi institusi yang membuatnya. yaitu : a. Prinsip demokrasi merupakan suatu keputusan penting dan vital maka penyesuaian hak terhadap konstitusi seharusnya dibuat melalui perwakilan yang dipilih rakyat. yang menolak masuknya lebih kurang 100 ribu warga negara Inggris yang tinggal di Kenya ke Inggris. hak menguji material. juga terdapat hak menguji yang dimiliki legislatif dan hak menguji yang dimiliki eksekutif. b. Definisi Hak Menguji (toestsingsrecht) yang dikemukakan merupakan pengujian pada negara yang menganut civil law system. Negara-negara tersebut berpendapat bahwa parlemen adalah pemberi garansi tertinggi dari kosntitusi. tapi juga oleh lembaga negara lain yang diberi kewenangan tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan. Hak menguji merupakan kewenangan untuk menilai peraturan perundang-undangan terhadap UUD. Pengujian material berkaitan dengan kemungkinan pertentangan materi suatu peraturan dengan peraturan lain yang lebih tinggi ataupun menyangkut kekhususan-kekhususan yang dimiliki suatu aturan dibandingkan dengan norma-norma yang berlaku umum. Namun kemudian terjadi perkembangan.

Kewenangan Mahkamah Agung dalam hak menguji materil terhadap peraturan perundang-undangan dibatasi hanya terhadap peraturan-peraturan di bawah undang-undang. kebebasan kekuasaan kehakiman. yaitu terjadinya tarik menarik antara dua kekuatan yang berlawanan dalam pembahasan pada saat menyusun undang-undang yang pertama memuat masalah judicial review yakni Undang-Undang No. yang artinya tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Mahkamah Agung. hak menguji yang dimiliki hakim hanya dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan karena terhadap tindakan administrasi negara diadili oleh peradilan administrasi. Sepanjang sejarah kekuasaan kehakiman di Indonesia. 02 Tahun 2002 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Wewenang Mahkamah Konstitusi oleh Mahkamah Agung. sebagaimana diatur dalam pasal 24 UUD tahun 1945. karena berkaitan dengan masalah hukum acara yang berlaku di Mahkamah Agung dalam fungsi menjalankan peradilan. Implementasi dari peraturan perundang-undangan tersebut dituangkan dalam Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu PERMA No. tetapi masih di bawah kendali birokrasi politik. Sebelum amandeman. sudah sejak berdiri Indonesia menganut negara hukum. dengan pertimbangan ketentuan-ketentuan undang-undang yang mengatur hak uji materil tersebut bersifat singkat tanpa mengatur tentang tata cara atau prosedur pelaksanaan hak uji materil. 1 tahun 1999. Pasal 31 UU No 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan dan Pasal 26 UU No 14 Tahun 1970 jo Undang-Undang No. Hak menguji secara materil terhadap undang-undang merupakan suatu kewenangan yang diberikan kepada badan peradilan untuk menguji apakah suatu peraturan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. sebagaimana telah diubah dengan PERMA No. Hal ini tercantum dengan jelas dalam penjelasan UUD tahun 1945 (sebelum diamandemen) yang menyatakan antara lain bahwa Indonesia adalah negara yang berlandaskan atas hukum (rechstaat). Apakah akan memasukkan judicial review atau tidak dalam konstitusinya. 31 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman. antara pihak yang menghendaki Mahkamah Agung mandiri dengan kelompok yang menentang Mahkamah Agung mandiri. Rumusan seperti ini merupakan cermin kondisi yang terjadi saat itu. Seyogyanya hal ini diatur dalam bentuk undang-undang. Prosedur/tata cara hak uji materil diatur dalam PERMA. Kewenangan ini diberikan kepada Mahkamah Agung agar peraturan yang dibuat oleh lembaga legislatif dan eksekutif dapat diuji apakah sesuai atau tidak dengan peraturan yang lebih tinggi.14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Pokok Kehakiman yaitu. Hak menguji yang menjadi wewenang Mahkamah Agung terbatas kepada peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Pelaksanaan hak menguji undang-undang (judicial review) dalam prakteknya belum optimal karena masih mengandung kelemahan-kelemahan.1 tahun 1999 yang telah dicabut dengan PERMA No.system. tindakan administrasi negara yang berupa Keputusan Tata Usaha Negara diadili oleh PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara). tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machstaat). artinya selalu menjadi perdebatan tergantung kondisi sosial politik yang melingkupi sistem peradilan dan kekuasaan kehakiman. Kewenangan ini yang diatur dalam peraturan perundangan yang lain yaitu Pasal 11 ayat (4) Ketetapan MPR RI No. yang berbunyi : Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara materiil hanya terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Mengingat kondisi sosial politik pada masa reformasi yang dinamis dan menghendaki praktek kehidupan . Di Indonesia. III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dan/atau antar Lembaga Tinggi Negara. Mahkamah Konstitusi merupakan hal yang baru. selalu mengalami pasang surut. namun mengenai sistem negara hukum. UUD tahun 1945 kewenangan kekuasaan kehakiman (peradilan) berada pada Mahkamah Agung. Hak Menguji Undang-Undang di Indonesia Di Indonesia pengaturan hukum tentang judicial review menjadi suatu hal yang diperdebatkan secara serius sejak founding fathers membicarakan tentang undang-undang dasar yang akan diberlakukan apabila Indonesia telah merdeka.

akan membawa konsekuensi adanya perubahan terhadap beberapa peraturan perundang-undang yang berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Agung. menjadi salah satu sumber kegagalan penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. Pembentukan Mahkamah Konstitusi dapat dikatakan sebagai salah satu keberhasilan kaum reformis dalam mereformasi hukum di Indonesia. Salah satu pasal yang diamandemen adalah pasal 24 UUD tahun 1945 yang mengatur kewenangan lembaga peradilan atau kekuasaan kehakiman. bukan sebaliknya. budaya kurang kondusif untuk perkembangan demokrasi. hukum akan melakukan kontrol terhadap politik. Sebagai Mekanisme Check and Balances Sebuah sistem pemerintahan yang baik. UUD tahun 1945 dianggap turut memberi andil terhadap berbagai kejadian yang tidak sejalan dengan cita-cita dasar bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD tahun 1945 itu sendiri. Dengan terbentuknya Mahkamah Konstitusi ini diharapkan dapat terwujudnya penyelenggaraan kekuasaan dan ketatanegaraan yang lebih baik. kedua adalah konsep hak-hak sipil warga negara menyatakan. kekosongan berbagai prinsip dan kaidah konstitusional yang mendasar. dan penegakan hukum. Undang-undang ini pada intinya mengatur tentang kewenangan yang besar dan sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara. kurangnya sistem checks and balances. dkk. memutuskan pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Kewenangan lembaga peradilan/kekuasaan kehakiman ditambah dengan membuat aturan tentang Mahkamah Konstitusi yang antara lain mengatur wewenang untuk melakukan pengujian undang-undang bertentangan atau tidak dengan undang-undang dasar. Dengan mendasarkan pada prinsip negara hukum. Karena beberapa kewenangan Mahkamah Agung yang ada sekarang akan dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi. Faktor-faktor yang dijadikan dasar untuk melakukan amandemen UUD tahun 1945. ada 4 (empat) hal yang melatarbelakangi pembentukan Mahkamah Konstitusi. yaitu hak menguji undang-undang (judicial review). Mengutip Afiuka Hadjar. Lahirnya undang-undang yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi. Check and balancesmemungkinkan adanya saling kontrol antar cabang kekuasaan yang ada dan menghindarkan tindakan-tindakan hegemoni. Sistem UUD yang executive heavy. maka sistem kontrol yang relevan adalah sistem kontrol judicial. rumusan yang interpretable. sosial. Sehubungan dengan pemberian kewenangan pada Mahkamah Konstitusi tersebut. karena pasal-pasal yang mengatur sistem politik. menyelesaikan perselisihan kewenangan antara lembaga negara. 2. UUD tahun 1945 yang ditetapkan secara kilat.demokrasi yang lebih baik. tirani. . DPR dan Pemerintah membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. bahwa kebebasan warga negara dan kekuasaan negara dibatasi oleh konstitusi. maka MPR membentuk lembaga Mahkamah Konstitusi untuk menjaga agar pemerintahan berjalan seimbang. antara lain ditandai adanya mekanismecheck and balances dalam penyelenggaraan kekuasaan. Paham ini memiliki dua esensi yaitu pertama sebagai konsep negara hukum. yaitu: 1. untuk menjaga agar tidak terjadi tumpang tindih antar kewenangan yang ada. tidak sewenang-wenang. dan sentralisasi kekuasaan. bahwa hukum mengatasi kekuasaan negara. mengandung berbagai kekurangan dan kekosongan hukum. lahirlah undang-undang tentang Mahkamah Konstitusi. antara lain melakukan pengujian atas undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Paham Konstitusionalisme Paham Konstitusionalisme adalah suatu paham yang menganut adanya pembatasan kekuasaan. berbangsa dan bernegara sebagaimana dicitacitakan para pendiri bangsa dan negara. Adanya Mahkamah Konstitusi merupakan konsekuensi untuk menjamin tegaknya prinsip negara hukum modern (Moderne Democratische Rechtsstaat) dan memperkuat sistem demokrasi negara modern (modern constitutional democracy). yaitu Pasal 24c yang ayat (1) UUD tahun 1945 sebagaimana dikutip di awal tulisan ini.

Salah satu keputusan Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan judicial reviewyang diajukan Deliar Noer dkk dan Lembaga Perjuangan dan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR-KRDB) yang menuntut pembatalan pasal 60 huruf g UndangUndang No. Masyarakat sangat antusias menyambut keberadaan lembaga ini.3. .S/PKI. dan isi pasalnya ada yang saling bertentangan. bersifat integrated. Permohonan Ketua KPKPN ditolak oleh Mahkamah Konstitusi dengan konsekuensinya Undang-Undang No. Mahkamah Konstitusi memandang pasal itu melanggar hak asasi manusia yang diatur dalam UUD tahun 1945. yang bunyi lengkapnya adalah sebagai berikut:Calon anggota DPR. atau organisasi terlarang lainnya. hal ini dapat dilihat dari permohonan judicial review yang diajukan di Kepanitiaan Mahkamah Konstitusi. Di samping keempat alasan tersebut. oleh karena itu pasal tersebut harus dicabut. accountability. merupakan suatu realita bahwa Mahkamah Konstitusi dengan kewenangannya sudah dapat menyelesaikan perselisihan para pihak yang berbeda pendapat tentang suatu pasal undang-undang. di satu pihak masih mengakui keberadaan instansi terkait termasuk KPKPN. Keberadaan Mahkamah Konstitusi merupakan konsekuensi logis dari negara yang menjamin tegaknya prinsip negara hukum dan sistem demokrasi modern. Keberadaan Mahkamah Konstitusi mengakomodasikan kepentingan rakyat yang diperlakukan tidak adil dengan dibuatnya undang-undang yang bertentangan dengan UUD tahun 1945 sehingga rakyat dapat mengajukan judicial review. Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia Kekuasaan yang tidak terkontrol seringkali melakukan tindakan semena-mena dalam penyelenggaraan negara dan tidak segan-segan melakukan pelanggaran terhadap HAM. Keputusan lain yang menjadi perhatian publik adalah keputusan gugatan Ketua Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) yang mengajukan gugatan judicial review terhadap Undang-Undang No.30. Keputusan Mahkamah Konstitusi yang tidak kalah populernya pada tahun 2006 adalah membatalkan kewenangan Pengadilan Ad Hoc dalam mengadili perkara korupsi yang penyidikannya dilakukan oleh KPK. 30 Tahun 2002 tentang KPK tetap berlaku dan eksistensi KPKPN secara mandiri teranulir menjadi bagian dari KPK. dan DPRD Kabupaten/Kota harus memenuhi persyaratan: bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia. DPRD Propinsi. keberadaan Mahkamah Konstitusi sejalan dengan Ketetapan MPR tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum yang mengatur bahwa WNI bekas anggota Partai terlarang (PKI) termasuk organisasi massanya tidak mempunyai hak dipilih dalam Pemilu tahun 2004. Penyelenggaraan Negara yang Bersih Sistem pemerintahan yang baik meniscayakan adanya penyelenggaraan negara yang bersih. terhadap undang-undang yang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selalu meningkat setiap tahunnya. tetapi di pihak lain menempatkan KPKPN merupakan salah satu bagian dari KPK. karena selama ini banyak sekali produk perundang-undangan yang dibentuk hanya berdasarkan kepentingan politik jangka pendek tidak mempunyai visi dan misi kedepan sehingga masyarakat tidak berdaya. dan pembatalan Undang-Undang No. Terlepas dari pendapat yang pro dan kontra terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945. rule of law. atau bukan orang yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam G. Keberadaan Mahkamah Konstitusi merupakan jawaban dari keinginan rakyat untuk memiliki aturan undang-undang yang berpihak kepada rakyat kecil atau berpihak pada keadilan (membatasi penguasa). Pada awal tahun pelaksanaan tugasnya Mahkamah Konstitusi telah memutuskan beberapa permohonan dan yang diajukan mendapat perhatian masyarakat luas. termasuk organisasi massanya. transparan dan partisipatif. dan transparancy. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsilisasi. 4.

Proses pembuatan UU dimaksud seharusnya memberikan peranan yang lebih besar terhadap partisipasi sosial atau individu di dalam masyarakat. Adanya pembatalan undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi dapat menjadi pelajaran bagi DPR dan Pemerintah. yuridis dan sosiologis dalam membentuk suatu undang-undang. sehingga diajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi. khususnya DPR dan Pemerintah seharusnya lebih responsif terhadap aspirasi masyarakat dan tidak meninggalkan prinsip filosofis. Mahkamah Konstitusi.Hal ini diharapkan akan tercipta suatu kepastian hukum terhadap konflik yang terjadi di masyarakat. Dengan keputusan ini Undang-undang tersebut harus diperbaharui karena dianggap melanggar hak asasi manusia. Mahkamah Konstitusi dalam menjalankan kewenangannya mengambil keputusan dalam menguji suatu undang-undang hendaknya menghindari pengaruh dari kepentingan politik tertentu. tidak hanya undang-undang seyogyanya politik lebih untuk hati-hati dan memperhatikan aspek filosofis. 24 Tahun 2003 merupakan langkah awal bangsa Indonesia dalam menjalankan pembangunan sistem hukum sesuai tuntutan reformasi di bidang hukum agar praktik kenegaraan di Indonesia lebih demokratis dan adil sesuai amanat UUD 1945. Penutup Keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagaimana diatur dalam UUD 1945 pasal 24c dan Undang-Undang No. . sebagai lembaga peradilan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat mengajukan JR terhadap undang-undang yang dianggap merugikan kepentingan dan bertentangan dengan undang-undang dasar. yuridis dan sosiologis serta responsif terhadap aspirasi rakyat sehingga UU mencerminkan mempertimbangkan kepentingan kelompok/golongannya melainkan mencerminkan kehendak rakyat dan tidak ada gugatan masyarakat terhadap UU tersebut. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga baru yang sudah dapat menunjukkan kinerjanya dalam menangani perselisihan pendapat antara para pihak terhadap suatu undang-undang yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Agar sesuai dengan undang-undang dasar dan dapat menampung (mengakomodasikan) kehendak masyarakat yang telah dirugikan dengan adanya undang-undang maka dalam pembentukan undang-undang. Oleh karena itu semua pihak yang terlibat dalam penyiapan undang-undang. tersebut agar dalam menyiapkan/membahas keadilan. Untuk menjaga kredibilitasnya. Rekapitulasi Perkara Pengujian Undang-Undang Mahkamah Konstitusi RI Tahun 2003 s/d 2007 TAHUN SISA YANG LALU 20 11 9 72 TERIMA JUMLAH( 3+4) 24 47 36 36 9 PUTUS KABUL 12 9 8 - TOLAK 8 14 8 - TIDAK DITERIMA 3 12 4 11 - TARIK KEMBALI 1 4 2 - 2003 2004 2005 2006 2007 24 27 25 27 2 Keputusan Mahkamah Konstitusi terhadap pembatalan sebagian atau seluruh pasal-pasal Undang-undang yang telah dihasilkan DPR bersama Pemerintah dapat dikatakan sebagai bagian pembangunan sistem hukum terutama substansi undang-undang yang tidak boleh bertentangan dengan UUD tahun 1945. untuk mengurangi undang-undang yang dibuat tersebut dinilai oleh masyarakat telah merugikannya dan bertentangan dengan UUD 1945. Produk undang-undang yang responsif dan populis adalah undang-undang yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. substansi yang akan diatur seharusnya mencerminkan kehendak masyarakat dan sejalan dengan amanat UUD tahun 1945.

dewan perwakilan maupun masyarakat luas) dituntut selalu meningkatkan kompetensinya.Bagi pemangku kepentingan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan (baik pihak pemerintah. tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan gejolak yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. yang akhirnya peraturan perundangundangan yang dihasilkan akan lebih baik dalam arti mengakomodasikan kepentingan semua pihak. Salah satu usaha untuk itu adalah melalui pendidikan dan pelatihan legal drafting bagi pihak yang menyiapkan rancangan peraturan perundang-undangan untuk mengikutinya secara rutin dan bertahap dengan harapan kompetensi yang bersangkutan akan selalu meningkat dan terjaga dengan baik. .

maka harus dilakukan mekanisme untuk mengawasinya melalui hak menguji (toetsingsrecht).” Hal ini berarti bahwa semua kegiatan dalam praktek ketatanegaraan harus didasarkan atas hukum.ANALISIS PELAKSANAAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM MELAKUKAN PENGUJIAN SUATU UNDANG-UNDANG TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR (JUDICIAL REVIEW) DI INDONESIA A. Peraturan Presiden . Latar Belakang Masalah Gerakan reformasi yang dipelopori oleh pemuda dan mahasiswa di Indonesia telah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan bernegara. termasuk pula dalam pembuatan suatu peraturan perundangundangan. yang ketika pada masa Orde Baru berkuasa selama hampir 32 tahun. Dalam hal ini praktek ketatanegaraan tersebut harus didasarkan pada ketentuan yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan peraturan tertinggi dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dari pasal tersebut terlihat bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menduduki tempat tertinggi dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Salah satu hasil yang jelas terlihat dengan adanya perubahan terhadap UUD 1945 adalah dengan dibentuknya sebuah lembaga negara baru yang bertugas untuk mengawal konstitusi di Indonesia. yang posisinya diletakkan dalam kedudukan yang tertinggi (supreme). artinya eksistensi dari hak menguji tersebut adalah sebagai penjamin agar materi dari konstitusi dapat diimplementasikan secara konsisten tanpa ada penyimpangan sama sekali terhadap nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam . dan lembaga negara tersebut dikenal dengan nama Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court). gerakan reformasi tersebut telah membawa perubahan yang besar dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. menimbulkan perubahan yang mendasar dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. Peraturan Pemerintah . Peraturan Daerah. sehingga konsekuensi dari adanya tingkatan hierarkis tersebut adalah peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Dengan diamandemennya Undang-Undang Dasar 1945 sebanyak empat kali tersebut. Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 amandemen ke IV menyatakan bahwa : “Negara Indonesia adalah negara hukum. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan dinyatakan bahwa tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah : Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 . Adanya hak menguji ini dimaksudkan untuk menjaga nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam konstitusi suatu negara. Undang-Undang Dasar 1945 hanya dijadikan sebagai alat pemaksa kekuasaan oleh para penguasa negara pada saat itu. Tak terkecuali dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan diamandemennya Undang-Undang Dasar 1945 sebanyak empat kali. Kemudian untuk menjamin penyusunan peraturan perundang-undangan tidak bertentangan dengan konstitusi. Undang-Undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang .

lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Pengujian yang dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 . maka perlu diadakan pengujian terhadap peraturan tersebut. Pembentukan Mahkamah Konstitusi pada setiap negara memiliki latar belakang yang beragam. dan juga merupakan koreksi terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan dimasa lalu yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi. bebas dari pengaruh kekuasaan lembaga lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan. 2003: 222). lingkungan peradilan militer. diantaranya adalah kewenangan untuk melakukan pengujian (judicial review) suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman disamping Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan : “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan” dan ayat (2) yang menyatakan : “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. Jika terdapat suatu peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Pengujian terhadap peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang dilakukan oleh Mahkamah Agung. Sebagai organ konstitusi. Mahkamah Konstitusi melalui amandemen ke-4 UUD 1945 telah menjadi salah satu pemegang kekuasaan kehakiman disamping Mahkamah Agung. Kewenangan tersebut selanjutnya diatur lebih rinci dalam UndangUndang Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada tanggal 13 Agustus tahun 2003. dan konstitusi telah memberikan sejumlah kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi. lembaga ini didesain untuk menjadi pengawal dan sekaligus menjadi penafsir terhadap Undang-Undang Dasar melalui putusan-putusannya. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga negara baru dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia yang merupakan hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hal ini berarti Mahkamah Konstitusi terikat pada prinsip umum penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka. tetapi secara umum pembentukan Mahkamah Konstitusi berawal dari suatu proses perubahan politik yang otoriter menuju demokrasi (Ni’matul Huda. sedangkan pengujian suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Kewenangan konstitusional Mahkamah Konstitusi melaksanakan prinsip checks and balancesyang menempatkan semua lembaga negara dalam kedudukan setara sehingga terdapat keseimbangan dalam penyelenggaraan negara. lingkungan peradilan agama. Mahkamah Konstitusi di banyak negara ditempatkan sebagai elemen penting dalam sistem negara konstitusional modern. Keberadaan Mahkamah Konstitusi merupakan langkah nyata untuk dapat saling mengoreksi kinerja antar lembaga negara. Gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan dorongan dalam penyelenggaraan kekuasaan dan ketatanegaraan yang lebih baik.konstitusi tersebut. Keberadaan Mahkamah Konstitusi sekaligus untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil.

tahun 2003 terbatas pada pengujian apakah materi dan pembuatan suatu Undang-Undang telah sesuai dengan Undang-Undang Dasar. hukum acara serta ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan UndangUndang. negarawan. serta tidak merangkap sebagai Pejabat Negara. Dari ketentuan Pasal tersebut. memutus pembubaran Partai Politik. dan tiga orang oleh Presiden. Dan Memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adil. Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar. Judicial Review pada prinsipnya merupakan upaya pengujian oleh lembaga yudisial terhadap produk hukum yang ditetapkan oleh cabang kekuasaan Legislatif. yang diajukan masingmasing tiga orang oleh Mahkamah Agung. Memutus pembubaran Partai Politik. maupun Yudikatif. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Eksekutif. Pengujian oleh Hakim terhadap produk cabang kekuasaan legislatif (legislative act) dan cabang kekuasaan eksekutif (executive act) merupakan konsekuensi dianutnya prinsip check and balances dalam sistem pemisahan kekuasaan (separation of power). Sedangkan dalam sistem pembagian kekuasaan (distribution or division of power) yang tidak mengidealkan prinsip check and balances. kewenangan untuk melakukan pengujian semacam itu berada di tangan lembaga yang membuat aturan itu sendiri. (b) . tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk (BookletMahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2006 : 3): Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim Konstitusi. Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota Hakim Konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden. yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan. Hakim Konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Mahkamah Konstitusi mempunyai empat kewenangan dan satu kewajiban. Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Dan yang menjadi kewajiban Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia adalah memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga : (1) Telah melakukan pelanggaran hukum berupa (a) penghianatan terhadap negara. Sedangkan pengujian atas peraturan lain di bawah Undang-Undang dilakukan di Mahkamah Agung dengan berpedoman pada Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1999 tentang Gugatan Uji Materiil. Pasal 24C UUD 1945 menyatakan bahwa : Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum.

Perumusan Masalah 1. Sebagai lembaga negara yang tergolong baru dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. dan bagaimana prosedur pelaksanaan pengujian terhadap Undang-Undang tersebut. maka hal tersebut akan mempermudah dan memperlancar pelaksanaan tugas konstitusional Mahkamah Konstitusi dalam memperkuat sistem check and balances antar cabang kekuasaan negara. maka setiap lembaga negara mempunyai kedudukan yang sederajat dan tidak lagi dikenal istilah Lembaga Tertinggi Negara atau Lembaga Tinggi Negara (Prof. Dengan demikian. Dr. MA dan lain-lain. dan/atau (3) tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Booklet Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.H. masih banyak orang yang belum menyadari arti penting dari Mahkamah Konstitusi dan hanya sebagian orang saja yang mengetahui maksud dan tujuan dibentuknya Mahkamah Konstitusi. maka kedudukan tertinggi dalam Negara Indonesia tidak lagi lembaga MPR tetapi UUD 1945. 2005 : 12). B. jimly Asshiddiqie.korupsi. DPR. Maka berdasarkan hal-hal tersebut penulis bermaksud untuk meneliti dan menggali lebih dalam lagi mengenai kewenangan yang dimiliki Mahkamah Konstitusi. (2) atau perbuatan tercela. walaupun Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga yang tergolong baru dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. 2006 : 3). seperti mengenai bagaimana kewenangan yang dimiliki Mahkamah Konstitusi dalam melaksanakan pengujian suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar (judicial review). S. yang telah ada sebelumnya seperti MPR. Presiden. namun lembaga ini mempunyai kedudukan yang sederajat dengan lembaga negara yang lain. tetapi hal ini belum menjadi hal yang umum bagi masyarakat. khususnya kewenangan Mahkmah Konstitusi dalam melakukan pengujian suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar (judicial review). (c) penyuapan. Seiring dengan perubahan UUD 1945 yang menggantikan paham supremasi MPR dengan supremasi konstitusi. Salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi yang banyak dilakukan adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam melaksanakan pengujian suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar (judicial review). Bagaimana prosedur pelaksanaan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar (judicial review) di Mahkamah Konstitusi? .. Dengan adanya kedudukan yang sederajat antara Mahkamah Konstitusi dengan lembaga negara lain yang telah disebutkan tadi. Bagaimana kewenangan yang dimiliki Mahkamah Konstitusi dalam melaksanakan pengujian UndangUndang (judicial review) di Indonesia? 2. (d) tindak pidana berat lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful