Jawablah dengan benar! 1. Apa yang Anda ketahui mengenai Pejabat Lelang? Uraikan! 2.

Jelaskan organisasi, standar profesi, dan kode etik yang berlaku untuk Pejabat Lelang sesuai yang Anda ketahui! 3. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi dan perbedaan Pejabat Lelang yang ada di Indonesia! 4. Apakah tugas dan fungsi yang dimiliki oleh Pejabat Lelang? Jelaskan! 5. Apakah kewenangan yang dimiliki oleh Pejabat Lelang dalam suatu pelaksanaan lelang? Jelaskan! 6. Sebutkan hak dan kewajiban yang dimiliki Pejabat Lelang? Uraikan! 7. Larangan apa sajakah yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Pejabat Lelang? 8. Bagaimanakah seseorang dapat diangkat sebagai Pejabat Lelang? Jelaskan! 9. Dalam kondisi tertentu seorang Pejabat Lelang dapat saja dibebastugaskan dari tugasnya. Bagaimanakah pembebastugasan itu dapat dilakukan dan bagaimana pula prosedurnya? 10. Bagaimana seorang Pejabat Lelang dapat diberhentikan dari tugasnya sebagai pemimpin pelaksanaan Lelang? Jelaskan!

seluruh Vendumeester kelas II dijabat oleh para kepala seksi dari Ditjen Pajak.  Anggota Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI) terdiri dari: o Anggota biasa o Anggota kehormatan o Anggota luar biasa.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 yang dimaksud Pejabat Lelang adalah orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang berdasarkan peraturan perundang. Hal ini terbukti. Padahal fungsi PPAT dan Vendumeester adalah sama. Sedangkan persyaratan untuk menjadi anggota organisasi ini menurut Pasal 16 adalah: o Anggota biasa adalah orang yang masih berstatus sebagai Pejabat Lelang dan terdaftar pada organisasi. Dalam standar Profesi Pejabat Lelang telah dirumuskan pokokpokok pikiran yang terdiri dari: . Bupati/Walikota. Apalagi untuk Notaris yang merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah. Organisasi. Hal ini dapat dimengerti. SH dan ENGELBRECHT diartikan sebagai Juru Lelang. Rochmat P Soemitro. lebih-lebih sekarang persyaratam Vendumeester minimal berijazah sarjana. sehingga saat ini istilah Vendumeester diterjemahkan menjadi Pejabat Lelang. saat ini para Vendumeester mencantumkan jabatannya sebagai Pejabat Lelang dalam Risalah Lelang yang dibuatnya. Vendumeester menurut Prof Dr. Pejabat Lelang sering juga disebut Vendumeester atau Auctioneer atau Juru Lelang. dan istilah juru lelang jarang dipakai oleh para Vendumeester.  Pengurus tingkat pusat. Berdasarkan Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan No. standar profesi. Sejak tahun 1983. dan kode etik yang berlaku untuk Pejabat Lelang Organisasi Pejabat Lelang Indonesia mempunyai perangkat yang terdiri dari:  Musyawarah Nasional/Musyawarah Daerah.undangan yang berlaku. Sedangkan keanggotaan organisasi ini dirumuskan dalam Bab VII Pasal 15 rumusan Kode Etik Pejabat Lelang yang menyebutkan:  Keanggotaan Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI) terdiri dari perorangan.JAWABAN BAB IV 1. dia disebut sebagai “Pejabat”. o Anggota kehormatan adalah orang yang berjasa terhadap organisasi berdasarkan keputusan Musyawarah Nasional.  Dewan kehormatan.305/KMK/KMK. mengingat para Vendumeester Kelas II umumnya dijabat oleh Notaris. Pejabat Lelang yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI) melalui Munas di bulan April 2001 telah menempatkan berbagai ketentuan yang menuntut para Pejabat Lelang di Indonesia untuk dapat dipatuhi oleh profesi Pejabat Lelang diantaranya : Standar Profesi Pejabat Lelang.  Pengurus tingkat daerah. o Anggota luar biasa adalah Pejabat Lelang warga negara asing yang berada dan bekerja di Indonesia. 2. Sewilda.

Setiap anggota berkewajiban untuk senantias bertindak dalam kerangka pelayanan kepada masyarakat.  Bersikap saling menghormati. Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.         Tanggung Jawab Profesi. Kode Etik Pejabat Lelang Kode etik Pejabat Lelang Indonesia berdasarkan hasil rumusan Musyawarah Nasional bulan April 2001 menghasilkan rumusan antara lain: Bab I : Ketentuan Umum Bab II : Ruang Lingkup berlakunya kode etik Bab III : Kewajiban dan larangan Bab IV : Sanksi Bab V : Tata cara penegakan kode etik Bab VI : Kewajiban Pengawas Bab VII : Ketentuan Penutup Ketentuan yang mengatur para profesi Pejabat Lelang ada dalam bab III mengenai Kewajiban dan Larangan yang antara lain:  Senantiasa menjunjung tinggi dasar negara dan hukum yang berlaku. Objektivitas dan Kemandirian. setiap anggota harus menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan. Integritas. Kekeluargaan dan Kebersamaan. Transparansi Informasi. Setiap anggota harus melaksanakan profesinya dengan kehati-hatian. Pelayanan Masyarakat. jujur. . Memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan maksud agar masyarakat menyadari dan menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan anggota masyarakat. serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemampuan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan pengguna jasa memperoleh manfaat dari jasa profesional Pejabat Lelang. kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional untuk merahasiakannya. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan negara dan masyarakat. Setiap anggota dalam melaksanakan profesinya harus secara transparan menginformasikan fakta dan data yang benar mengenai pelaksanaan suatu lelang kepada pengguna jasa. dan tidak berpihak. serta mengusahakan penyelesaian permasalahan anggota secara kekeluargaan/musyawarah. mandiri. ketekunan. Menjunjung tinggi kehormatan profesi Pejabat Lelang dan menjaga nama baik organisasi sesuai dengan makna sumpah jabatan dan kode etik. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Setiap anggota harus saling menghormati dan mau berbagi pengalaman kepada sesama anggota. Bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab. Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Standar Teknis. menghormati kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen atas profesionalismenya. Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang menurunkan martabat profesi. setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Perilaku Profesional. menghargai serta mempercayai dalam suasana kekeluargaan dengan sesama anggota organisasi. kompetensi. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional. Memberi pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat yang memerlukan jasanya. Memiliki perilaku profesional dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Inovatif dan Kehati-hatian Profesional.

seorang Pejabat Lelang harus lebih dulu mengangkat sumpah/janji Pejabat Lelang dihadapan superintenden.  Orang-orang yang khusus/bukan PNS diangkat sebagai Pejabat Lelang Saat ini.  Penerima Uang Kas Negara yang ditugaskan sebagai Pejabat Lelang (telah dihapus tahun 1930). Dengan demikian pegawai tersebut mendapatkan . 3. yang terdiri dari :  Lulusan Pendidikan dan Pelatihan Pejabat Lelang yang diselengggarakan oleh BPPK. Ada dua macam Pejabat Lelang:  Pejabat Lelang Kelas I (PL I) adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) yang diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang.  Notaris. Klasifikasi dan perbedaan Pejabat Lelang di Indonesia Berdasarkan Pasal 7 Vendu Instructie. o Anggaran Dasar.  Pejabat Lelang Kelas II (PL II) Orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang atas permohonan Balai Lelang. atau  Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) DJPLN diutamakan yang pernah menjadi Pejabat Lelang Kelas I. tidak terbatas pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam: o Ketentuan-ketentuan pada undang-undang. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 119/PMK. Pejabat Lelang diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu: Pejabat Lelang Kelas I (PL I)  Pegawai Negeri Sipil yang diangkat khusus sebagai Pejabat Lelang. Pejabat Lelang Kelas II (PL II)  Pegawai Negeri selain Pejabat Lelang Kelas I yang diberi tugas tambahan sebagai Pejabat Lelang. Sebelum memangku jabatannya.  Pejabat Lelang Kelas I (PL I) Pegawai Negeri Sipil (PNS) Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) yang diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai kewajiban untuk ditaati dan dilaksanakan.07/2005 tanggal 30 November 2005 tentang Pejabat Lelang Kelas II. Ruang Lingkup Berlakunya Kode Etik Ruang lingkup dan berlakunya Kode Etik terdapat dalam Bab II Pasal 2 dimana Kode Etik ini berlaku bagi seluruh anggota baik dalam lingkup melaksanakan tugasjabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Anggaran Rumah Tangga. PERBEDAAN PEJABAT LELANG KELAS I DAN PEJABAT LELANG KELAS II Pejabat Lelang diangkat oleh Menteri Keuangan. selaku kuasa dari Pemilik Barang yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II. o Isi sumpah jabatan. Standar Profesi ataupun keputusan-keputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Berdasarkan Pasal 20 PMK Nomor 119/PMK. besaran honorarium Pejabat Lelang Kelas II adalah kesepakatan perdata antara Pejabat Lelang Kelas II dengan Balai Lelang dan menjadi menjadi beban Balai Lelang. Biaya operasional KP2LN dibiayai APBN. honorarium yang diterima paling besar adalah 1. Dalam setiap pelelangan.  Kantor Wilayah sebesar 20 %.000.  sebesar 40% (empat puluh persen) untuk Superintenden.000 (satu miliar rupiah).000 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp1.000 (satu miliar rupiah). Pejabat Lelang Kelas II (PL II) ialah orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang atas permohonan Balai Lelang selaku kuasa dari Pemilik barang yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II.5% (satu koma lima persen) dari harga lelang.000. Tugas dan fungsi Pejabat Lelang Pejabat Lelan (vendumeester) adalah jabatan fungsional selaku pejabat umum yang melayani masyarakat untuk melaksanakan lelang. Pejabat Lelang berfungsi sebagai :  Peneliti dokumen persyaratan lelang.000. dengan ketentuan sebagai berikut : o Sampai dengan Rp100. 4. Bagian Superintenden sebagaimana dimaksud tersebut dirinci sebagai berikut :  Kantor Pusat sebesar 20 %. Berdasarkan Pasal 21 PMK Nomor :119/PMK. o diatas Rp1.5% (dua koma lima persen) dari harga lelang.000.07/2005 tanggal 30 November2005 tentang Pejabat Lelang Kelas II. . Uang perurugi ini disebut juga uang persepsi yang diatur dalam Pasal 45 ayat (3) VR.000 (seratus juta rupiah).000. honorarium yang diterima paling besar adalah 1% (satu persen) dari harga lelang. Bagian Superintenden tersebut disetorkan oleh Pejabat Lelang Kelas II paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah pelaksanaan lelang dengan rincian sebagai berikut:  Direktur Jenderal sebesar 20% (dua puluh persen).  Kepala Kantor Wilayah sebesar 20% (dua puluh persen). Mereka berhak mendapat honorarium dan uang perurugi dari lelang yang dilaksanakan. Juga diatur dalam Pasal 39 VI yang menetapkan besarnya perurugi 60% atau 3/5 dari Bea Lelang yang diterima.  Pemberi informasi lelang. o diatas Rp100.07/200 tentang Pejabat Lelang Kelas II. Perurugi tersebut setelah dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dibagi untuk Pejabat Lelang Kelas II yang melakukan pelelangan sebesar 60 % (enam puluh persen) dan Superintenden sebesar 40 % (empat puluh persen) yang disetorkan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah pelaksanaan lelang. disebutkan atas Bea Lelang dari setiap pelaksanaan lelang. honorarium yang diterima paling besar adalah 2. Balai Lelang memungut Perurugi sebesar 60% (enam puluh persen) untuk diserahkan kepada Pejabat Lelang Kelas II setelah dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dibagi sebagai berikut:  sebesar 60% (enam puluh persen) untuk Pejabat Lelang Kelas II yang melakukan pelelangan. gaji dari keuangan negara dan mempunyai kantor-kantor tersendiri.  Pemimpin Lelang.000.

meliputi persiapan lelang. o Memimpin pelaksanaan lelang agar berjalan tertib. dan  Bendaharawan.  Dalam persiapan lelang. di mana disebutkan bahwa tugas Pejabat Lelang ialah melakukan persiapan lelang. Risalah Lelang itu dibuat oleh Pejabat Umum yang berwenang. yaitu dalam Keputusan Menteri Keuangan No. Pejabat Lelang: o Meminta dan menerima dokumen persyaratan lelang yang berkaitan dengan objek lelang. o Memberikan kesempatan kepada Peserta Lelang untuk mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan lelang yang sedang diadakan tersebut. 38.  Pejabat Umum. pelunasan Uang Hasil Lelang. pelaksanaan lelang dan kegiatan setelah lelang. Bea Lelang dan pungutan-pungutan lain sesuai peraturan perundangan. Tugas dan fungsi Pejabat Lelang telah ditentukan dalam peraturan mengenai Pejabat Lelang. objek lelang dan atau pengumuman lelang. aman dan lancar. o Meneliti kelengkapan dan kebenaran formal dokumen persyaratan lelang.  Setiap Pejabat Lelang mempunyai wilayah kerja tertentu. Apabila diperlukan Pejabat Lelang dapat meminta bantuan Polisi setempat. Uang Jaminan. Hakim. Risalah Lelang yang merupakan produk hukum Pejabat Lelang statusnya sama dengan akta otentik karena memenuhi syarat-syarat sebagai suatu akta otentik seperti yang diatur dalam Pasal 1868 BW (Kitab Undang-Undang hukum Perdata) yaitu:  Dibuat oleh Pejabat Umum yang diangkat oleh Pemerintah. 305/KMK. 39. Tugas Pejabat Lelang Pejabat Lelang melaksanakan tugas setelah ada penunjukan dari Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara/Pimpinan Kantor Lelang.Undang Lelang) yaitu dalam Pasal 37. Setelah penjelasan/pembacaan Risalah Lelang. Pejabat Lelang mempunyai wilayah kerja tertentu sesuai wilayah kerja KP2LN dimana Pejabat Lelang berkedudukan sesuai dengan Surat Keputusan pengangkatannya. para Peserta Lelang dianggap tunduk dan terikat dengan ketentuan yang tercantum dalam Risalah Lelang (Pasal 1233 jo 1347 BW). o Mengatur ketepatan waktu. Dengan demikian Pejabat Lelang tidak hanya menyaksikan lelang tetapi justru menyelenggarakan penjualan itu sendiri dan juga membuat akta otentik.  Bentuk aktanya telah ditentukan dalam undang-undang. Pejabat Lelang: o Membacakan bagian Kepala Risalah Lelang dengan suara yang keras dan jelas (Pasal 37 VR). o Memberikan informasi lelang kepada pengguna jasa lelang antara lain tata cara penawaran lelang. o Membuat bagian Kepala Risalah Lelang. Pejabat Lelang adalah Pejabat Umum yang diangkat oleh Menteri Keuangan. . pelaksanaan lelang dan membuat laporan pelaksanaan lelang. Risalah Lelang bentuknya telah ditentukan dalam Vendu Reglement (Undang. o Mempersiapkan bagian Badan dan bagian Kaki Risalah Lelang  Dalam pelaksanaan lelang.01/2002.

Pejabat Lelang memberikan informasi kepada pengguna jasa lelang. o Menyimpan surat-surat resmi yang berkaitan dengan tata usaha lelang. o Menyelesaikan persengketaan secara adil dan bijaksana. dan PPh (apabila ada) ke Kas Negara serta Hasil Bersih Lelang ke Kas Negara/penjual. Pejabat Lelang sebagai pejabat yang membuat akta otentik berdasarkan undang-undang di wilayah kerjanya. serta Pembeli Lelang dalam hal lelang barang tak bergerak. dalam pelaksanaan lelang.  Pemberi informasi lelang. Dalam pelaksanaan lelang.  Pejabat umum. o Menandatangani tiap lembar Risalah Lelang kecuali lembar terakhir sebagai pembenaran. o Menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu apabila terjadi ketidaktertiban atau ketidakamanan dalam pelaksanaan lelang. Pejabat Lelang sebagai juri harus bertindak adil dan bijaksana untuk menyelesaikan persengketaan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan lelang. tegas dan berwibawa. Pejabat Lelang menerima. o Bersikap tegas. o Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II menyetorkan Bea Lelang. menyetorkan dan mempertanggungjawabkan uang hasil lelang. Fungsi Pejabat Lelang Fungsi Pejabat Lelang disebutkan antara lain:  Peneliti dokumen objek lelang. o Menandatangani Risalah Lelang bersama pemohon lelang. o Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Balai Lelang menyetorkan Biaya Administrasi dan PPh (apabila ada) ke Kas Negara serta Hasil Bersih Lelang ke pemilik barang. . keamanan dan kelancaran serta mewujudkan pelaksanaan lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. untuk menjamin ketertiban. Pejabat Lelang bertanggung jawab atas ketidakcermata dan ketidakakuratan penelitian mengenai kebenaran formal dokumen lelang. komunikatif dan berwibawa. o Mengesahkan Pembeli Lelang.  Bendaharawan. Pejabat Lelang dalam memimpin lelang harus komunikatif. o Menyimpan Minuta Risalah Lelang dengan baik.  Juri.  Pemimpin Lelang. dalam pelaksanaan lelang Pejabat Lelang meneliti kebenaran formal dokumen lelang. serta bertanggung jawab atas ketidaktertiban dan ketidaklancaran pelaksanaan lelang. subjek dari barang yang akan dilelang dan kebenaran materiil objek lelang yang diberikan. o Mengirimkan ekstrak/kutipan Risalah Lelang kepada Superintenden. o Pejabat Lelang Kelas I menyetorkan Uang Hasil Lelang yang diterima dari Pembeli ke Bendaharawan Penerima/Rekening Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara. o Menutup dan menandatangani Risalah Lelang. Pejabat Lelang: o Membuat bagian Kaki Risalah Lelang. Dalam kegiatan setelah lelang. untuk mengoptimalkan pelaksanaan lelang. o Membuat bagian Badan Risalah Lelang. Uang Miskin.

kecuali lelang atas permohonan Balai Lelang. lelang aset BUMN/D berbentuk Persero dan lelang aset milik bank dalam likuidasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha.  Melihat barang yang akan dilelang. 5.  Menegur dan/atau mengeluarkan peserta dan atau pengunjung lelang apabila melanggar tata tertib pelaksanaan lelang.  Pemandu Lelang bertugas menawarkan barang dalam pelaksanaan lelang sampai dengan diperoleh penawaran tertinggi. Pejabat Lelang Kelas II berwenang melaksanakan lelang terbatas pada lelang non eksekusi sukarela. dan/atau . cuti atau berhalangan tetap.  Setelah menerima usulan sebagaimana dimaksud di atas.ketidaktertiban administrasi dan legalitas Risalah Lelang yang dibuatnya dan uang hasil lelang yang diterima. Kepala Kantor Pelayanan Piutang Lelang Negara/Balai Lelang dapat meminta bantuan Pemandu lelang dari tempat lain  Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara/Balai Lelang dapat meminta bantuan Pemandu Lelang dari tempat lain.  Pemandu Lelang adalah orang yang membantu Pejabat Lelang untuk menawarkan barang dalam suatu pelaksanaan Lelang.  Meminta bantuan aparat keamanan apabila diperlukan. Pembubaran dan Likuidasi Bank.  Menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu apabila diperlukan  Dalam rangka menjaga ketertiban pelaksanaan lelang. 6. pelayanan lelang atas permohonan Balai Lelang dilakukan oleh Pejabat Lelang Kelas I sesuai dengan KP2LN tempat kedudukannya.  Menolak melaksanakan lelang apabila tidak yakin akan kebenaran formal berkas persyaratan lelang. Pejabat Lelang mempunyai hak sebagai berikut: Melakukan analisis yuridis terhadap dokumen persyaratan lelang dan dokumen barang yang akan dilelang.  Pemandu Lelang bertanggung jawab kepada Pejabat Lelang. Dalam hal di suatu wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas II belum terdapat Pejabat Lelang Kelas II atau semua Pejabat Lelang Kelas II yang ada di wilayah tersebut dibebastugaskan. Hak dan kewajiban Pejabat Lelang Hak Pejabat Lelang. Kewenangan Pejabat Lelang memiliki wewenang sebagai berikut:    Pejabat Lelang Kelas I berwenang melaksanakan untuk semua jenis lelang.  Pejabat Lelang dalam pelaksanaan lelang dengan penawaran secara lisan dapat dibantu Pemandu Lelang.  Pemandu Lelang diusulkan secara tertulis oleh penjual pada saat Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara/Pemimpin Balai Lelang menetapkan Pemandu Lelang dengan Surat Tugas.  Mengesahkan Pembeli Lelang.

o Membuat adminitrasi perkantoran dan pelaporan pelaksanaan lelang. o Membacakan bagian kepala Risalah Lelang dihadapan peserta lelang sebelum lelang dimulai. Kewajiban Pejabat Lelang. . o Membuat bagian kepala Risalah Lelang sebelum lelang dimulai. o Meminta dari Balai Lelang bukti pelunasan Harga Lelang. tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait. seksama. o Memimpin pelaksanaan lelang. o Membuat administrasi pelaksanaan lelang. o Membuat Minuta Risalah Lelang dan menyimpannya. o Membacakan bagian Kepala Risalah Lelang dihadapan peserta lelang sebelum lelang dimulai. o Memberikan pelayanan jasa lelang sesuai dengan peraturan perundang.undangan lelang yang berlaku. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. o Membuat Minuta Risalah Lelang dan menyimpannya. o Membuat Salinan dan Kutipan Risalah Lelang menyerahkan kepada yang berhak.  Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II mempunyai kewajiban sebagai berikut: o Bertindak jujur. dan o Mematuhi peraturan perundang-undangan lelang. Membatalkan Pembeli Lelang yang wanprestasi. o Menyetorkan bagian perurugi kepada superintenden. kecuali dalam lelang yang dilakukan melalui media elektronik. tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait. o Meneliti dokumen persyaratan lelang. o Membuat Salinan dan Kutipan Risalah Lelang dan menyerahkan kepada balai Lelang. dan pungutan-pungutan lain yang diatur sesuai peraturan perundang-undangan dan meneliti keabsahannya. Bea Lelang. seksama. Pajak Penghasilan final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. kecuali dalam lelang yang dilakukan melalui media elektronik. o Meminta dari Pembeli bukti Pelunasan Harga Lelang.undangan lelang. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Kewajiban Pejabat Lelang dibedakan untuk Pejabat Lelang Kelas I dan Kelas II. dan pungutan-pungutan lain yang diatur sesuai peraturan perundang-undangan dan meneliti keabsahannya. o Memberikan pelayanan jasa lelang sesuai dengan peraturan perundang. o Meneliti dokumen persyaratan lelang. o Mengadakan perikatan perdata dengan Balai Lelang mengenai pelaksanaan lelang dan honorarium. mandiri. mandiri.  Pejabat Lelang Kelas I mempunyai kewajiban sebagai berikut: o bertindak jujur. o Memimpin pelaksanaan lelang. o Membuat bagian Kepala Risalah Lelang sebelum Lelang dimulai. dan o Mematuhi peraturan perundang-undangan lelang.

Membujuk dan atau memaksa pengguna jasa dengan cara atau dalam bentuk apapun untuk membuat agar pelaksanaan lelang dilakukan olehnya. Standar Profesi ataupun keputusankeputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi. apalagi menutup kemungkinan bagi Pejabat Lelang lain berpartisipasi. Pejabat Lelang dilarang untuk:             Melayani permohonan lelang di luar kewenangannya Dengan sengaja tidak hadir dalam pelaksanaan lelang yang telah dijadwalkan Membeli barang yang dilelang dihadapannya secara langsung maupun tidak langsung Menerima uang jaminan lelang dan harga lelang dari pembeli Melakukan pungutan lain diluar yang telah ditentukan dalam peraturan perundangundangan yang berlaku Merangkap jabatan atau profesi sebagai Pejabat Negara. . Anggaran Rumah Tangga. Setelah usul diterima. dan  Apabila dipandang perlu. Seseorang bisa diangkat menjadi Pejabat Lelang dengan cara Pejabat Lelang diangkat oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan berdasarkan usul Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai pelanggaran. Penilai. 8. Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas I terdiri dari:  Fotokopi ijazah sarjana yang telah dilegalisir. Membentuk kelompok di dalam tubuh organisasi dengan tujuan untuk melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga secara khusus/eksklusif.7. Pengacara/Advokat atau jabatan lain yang oleh peraturan perundang-undangan dilarang dirangkap dengan jabatan Pejabat Lelang Menolak permohonan lelang dalam wilayah kerjanya sepanjang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Kepala Kanwil meneruskan usulan pengangkatan Pejabat Lelang tersebut kepada Direktur Jenderal apabila dokumen telah lengkap dan memenuhi persyaratan. o Isi sumpah jabatan. Usul pengangkatan Pejabat Lelang diajukan kepada Kepala Kanwil setempat dengan alasan:  Kekurangan Pejabat Lelang. Larangan yang tidak boleh dialakukan Pejabat Lelang. o Anggaran Dasar. Kurator. tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran terhadap : o Ketentuan-ketentuan dalam peraturan Pejabat Lelang. Menunjuk atau menetapkan salah satu Peserta Lelang sebagai pemenang lelang di luar prosedur dan tata cara lelang. Baik langsung maupun tidak langsung mengadakan usaha-usaha/melakukan perbuatan yang menjurus ke arah timbulnya persaingan yang tidak sehat dan merugikan sesama Pejabat Lelang baik moral maupun material.  Terjadi mutasi pegawai yang menjadi Pejabat Lelang pada Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara.  Fotokopi Surat Keputusan kepangkatan terakhir.

atau lulus Diklat Pejabat Lelang.  fotokopi ijazah Sarjana (S1) yang telah dilegalisasi Pejabat yang berwenang.  Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).q.  Surat rekomendasi dari Direksi Balai Lelang dan Kepala KP2LN atau Direksi Balai Lelang dan Pejabat Lelang Kelas II.    Fotokopi sertifikat kelulusan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pejabat Lelang dan Penilai. Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II yang berasal dari Lulusan Pendidikan dan Pelatihan BPPK dan Notaris :  Fotokopi identitas diri.  Surat keterangan dokter pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani. Usul pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II diajukan kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara setelah memperhatikan formasi jabatan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan pertimbangan :  jumlah Balai Lelang. .  Fotokopi ijazah kenotariatan yang telah dilegalisir Pejabat yang berwenang terakhir. yang menyatakan calon Pejabat Lelang Kelas II yang bersangkutan telah melakukan praktek kerja (magang):  Fotokopi sertifikat kelulusan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pejabat Lelang yang diselenggarakan BPPK. Diklat Lelang II. Sekretaris DJPLN yang menyatakan tidak pernah terkena sanksi administrasi dan memiliki integritas tinggi.  Surat Keterangan Berkelakukan Baik dari Kepolisian. dan/atau  jumlah penduduk. Diklat Lelang III (khusus). Surat keterangan tidak pernah terkena sanksi administrasi dan memiliki integritas yang tinggi dari atasan setingkat eselon III dalam unit kerja yang bersangkutan.  Fotokopi sertifikat atau surat tanda bukti kepemilikan atau surat perjanjian sewa dengan jangka waktu sewa minimal 2 (dua) tahun dan foto sebagai data pendukung tersedianya fasilitas kantor dengan luas sekurang-kurangnya 48 m2. Surat rekomendasi dari atasan setingkat eselon III dalam unit kerja yang bersangkutan.  frekuensi pelaksanaan lelang.  fotokopi Surat Keputusan Pensiun PNS DJPLN dengan pangkat/golongan terakhir paling rendah Penata Muda (III a).  fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).  surat rekomendasi dari Direktur Jenderal c. Surat keterangan dokter pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani.  Surat Keterangan dokter Pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani. Diklat Lelang III dan DPT III PPL.  Fotokopi ijazah sarjana yang telah dilegalisir. Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II yang berasal dari Pensiunan PNS DJPLN yang pernah menjabat menjadi Pejabat Lelang:  fotokopi identitas diri.

Pembebas tugasan Pejabat Lelang yaitu Pejabat Lelang dapat diusulkan untuk dibebastugaskan berupa larangan melaksanakan jabatannya selama 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun apabila. Kepala kanwil mengambil sumpah/janji yang diucapkan oleh Pejabat Lelang menurut agama atau kepercayaannya dengan didampingi oleh seorang rohaniwan dan disaksikan sekurangkurangnya 2 (dua) orang saksi.  Setelah menerima usul perpanjangan waktu pembebastugasan dari Superintenden. Keputusan Direktur Jenderal tentang Pembebastugasan Pejabat Lelang diterbitkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul pembebastugasan dari Superintenden diterima. Setelah menerima usul pembebastugasan dari Superintenden.   fotokopi Surat Keputusan Pengangkatan Pejabat Lelang. Direktur Lelang Negara memberikan rekomendasi dan mengajukan usul perpanjangan . o melakukan pungutan di luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan atau  Surat Keterangan Jaksa Penuntut Umum yang menyatakan bahwa Pejabat Lelang yang bersangkutan telah berstatus sebagai terdakwa. Jangka waktu pembebastugasan Pejabat Lelang dapat diperpanjang apabila pemrosesan pemeriksaan atas indikasi pelanggaran belum selesai. Direktorat Lelang Negara memberikan rekomendasi dan mengajukan usul pembebastugasan secara tertulis kepada Direktur Jenderal selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul pembebastugasa diterima. o tidak menyetorkan uang hasil lelang. atau o melakukan tindakan di luar kepatutan sebagai seorang Pejabat Lelang. diduga melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. Pembebastugasan tersebut digunakan untuk memperlancar proses pemeriksaan atas indikasi pelanggaran yang telah dilakukan oleh Pejabat n Lelang yang bersangkutan. 9. Superintenden mengusulkan pembebastugasan Pejabat Lelang secara tertulis kepada Direktur Jenderal melalui Direktur Lelang Negara antara lain dilampiri:  Bukti dan Surat keterangan Superintenden yang menyatakan bahwa Pejabat Lelang yang bersangkutan : o tidak mengindahkan Surat Peringatan. Sedangkan Keputusan pembebastugasan yang dimaksud berlaku untuk jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal ditetapkan. dan sertifikat atau surat tanda bukti kepemilikan atau surat perjanjian sewa dengan jangka waktu sewa minimal 2 (dua) tahun dan foto sebagai data pendukung tersedianya fasilitas kantor dengan luas sekurang-kurangnya 48 M2. o menyalahgunakan uang jaminan lelang. Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Perpanjangan jangka waktu pembebastugasan Pejabat Lelang dilakukan sebagai berikut:  Superintenden mengajukan usul perpanjangan waktu pembebastugasan Pejabat Lelang secara tertulis kepada Direktorat Jenderal melalui Direktur Lelang Negara.

01/2002 tentang Pejabat Lelang masih belum lulus Sarjana (S1). Pemberhentian Pejabat Lelang dari tugasnya dengan cara Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara mengajukan Pemberhentian Pejabat Lelang secara tertulis kepada Direktur Jenderal melalui Direktur Lelang Negara dengan dilampiri dokumen antara lain:  Surat Keputusan meninggal dunia. atau  Fotokopi SK pensiun. Terhadap Pejabat Lelang yang telah dibebastugaskan sebanyak 2 (dua) kali dengan indikasi pelanggaran yang sama/pelanggaran lainnya.  Tidak menyetorkan hasil lelang. Direktur Jenderal menerbitkan Surat Keputusan tentang pemberhentian Pejabat Lelang Kelas II selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usulan pemberhentian dari Direktur Lelang Negara diterima. dan atau  Melakukan tindak pidana lainnya dan telah berstatus sebagai terdakwa. Keputusan perpanjangan jangka waktu pembebastugasan Pejabat Lelang dapat diberikan 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan. Surat Direktur Jenderal perihal Perpanjangan Waktu Pembebastugasan Pejabat Lelang diterbitkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul perpanjangan waktu pembebastugasan dari Direktur Lelang Negara diterima. 10. Sedangkan terhadap Pejabat Lelang yang telah dibebastugaskan sebanyak 3 (tiga) kali dengan indikasi pelanggaran yang sama/pelanggaran lainnya.  Melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kepatutan sebagai Pejabat Lelang. atau  Surat Keterangan Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara yang menyatakan bahwa Pejabat Lelang Kelas II yang bersangkutan sudah tidak lagi berkedudukan di wilayah kerjanya. atau  Surat Keterangan dari atasan langsung dari Pejabat Lelang Kelas I dan atau surat keterangan dari instansi/lembaga yang berwenang untuk Pejabat Lelang yang bersangkutan dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak berlakunya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 305/KMK. .  Menerima kuasa dari pembeli. waktu pembebastugasan secara tertulis kepada Direktur Jenderal selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul perpanjangan waktu pembebastugasan diterima. Pemberhentian Pejabat Lelang Kelas II diusulkan oleh Kepala Kanwil setempat secara tertulis kepada Direktur Jenderal.  Melakukan pungutan lain di luar yang telah ditentukan dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. Pejabat Lelang diusulkan untuk dibebastugaskan dalam hal terdapat indikasi melakukan pelanggaran berupa:  Membeli barang yang dilelang dihadapannya.  Menyalahgunakan uang Jaminan Lelang yang diterimanya. atau  Surat Keputusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap. dapat diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pejabat Lelang . dibebastugaskan selama 1 (satu) tahun.

 Pensiun.  Pejabat Lelang Kelas I yang belum lulus Sarjana (S1) dan belum berpangkat Penata Muda (Golongan III/a) dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 305/KMK.  Indikasi pelanggaran terbukti kebenarannya. . Apabila indikasi pelanggaran tidak terbukti. Usulan pemberhentian Pejabat Lelang diajukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara kepada Kepala Kantor Wilayah DJPLN untuk diteruskan kepada Direktur Jenderal. Pejabat Lelang diusulkan untuk diberhentikan dengan hormat dalam hal:  Meninggal dunia. Notaris dan Penilai. maka pembebasan Pejabat Lelang yang bersangkutan segera dicabut. Pembebastugasan sebagaimana dimaksud diatas berlaku untuk jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan yang dapat diperpanjang apabila pemrosesan atas pelanggaran sebagaimana yang telah disebutkan di atas belum selesai.Usulan pembebastugasan Pejabat Lelang dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah kepada Direktur Lelang Negara untuk diteruskan kepada Direktur Jenderal.  Telah mencapai usia 65 tahun bagi Pejabat Lelang Kelas II dari pensiunan PNS DJPLN.01/2002.  Pejabat Lelang Kelas II yang tidak lagi berkedudukan di wilayah kerjanya. Kemudian yang akan memberhentikan Pejabat Lelang adalah Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan. Sedangkan pembebastugasannya dilakukan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan.  Dijatuhi hukuman administrasi/disiplin berdasarkan ketentuan kepegawaian yang berlaku dan kode etik instansi/lembaga yang berwenang. Pembebastugasan dan Pemberhentian sebagaimana dimaksud di atas tidak mengurangi kemungkinan gugatan perdata dan atau tuntutan pidana sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.

MATERI NAMA NRP : TUGAS LELANG BAB IV : DIAH AYU RAHAJENG : 91130921 Magister Kenotariatan UNIVERSITAS SURABAYA .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.