Karyawisata A.

Latar Belakang Bimbingan konseling adalah suatu proses pemberian layanan atau bantuan kpd konseli/peserta didik. Dalam proses bimbingan diperlukan adanya suatu cara dlm berinteraksi dengan konseli dengan tujuan supaya konseli bs memahami n mendptkan solui tntg mslh yg dihadapiny. Bnyk skali teknik yg bs dihgunakan dlm proses bmbingan. Namun, srgkali metode2 itu krg efektif dikarenakan adanya kekurangan dlm penyapaiannya. Oleh karena itu, kryawsata sbg slh 1 metode yg srg digunakan utk proses bmbingan d sklh krn siswa dpt trjun lgsg d lpgn u/ mmbuktikan kebenaran teori yg d smpaikan o/ guru. B. Pengertian a. Metode Metode dapat diartikan sebagai satu cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan bimbingan adalah bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan normanorma yang berlaku. Sehingga dapat disimpukan bahwa metode bimbingan adaah suatu cara yang sistematis yang digunakan guru pembimbing untuk memberikan bantuan kepada seorang atau beberapa individu agar dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan diri dan sarana yang ada dengan berdasarkan normanorma yang beraku. Metode bimbingan terbagi atas dua macam, yaitu metode Metode langsung (metode komunikasi langsung) di mana pembimbing melakukan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan orang yang dibimbingnya, dan metode tidak langsung yaitu metode bimbingan / konseling yang dilakukan melalui media komunikasi massa. b. Karyawisata Karyawisata atau sering disebut study tour, yaitu melakukan studi kunjungan, kesuatu tempat atau obyek tertentu. Dengan kata lain metode karya wisata yaitu suatu cara mengajar dengan jalan guru mengajar atau membawa siswa ke suatu tempat/obyek tertentu yang ada hubungannya dengan pendidikan atau memiliki nilai sejarah dan sebagainya. Misalnya guru membawa siswa-siswa untuk mengunjungi tempat-tempat, seperti : pabrik-pabrik (pabrik mobil, pabrik tenun, pabrik tapioka), mengunjungi tempat percetakan-percetakan, tempat kebun binatang, atau museum perjuangan. Karyawisata juga merupakan salah satu metode bimbingan kelompok yang dilakukan secara langsung. Dengan mengunjungi dan mengadakan peninjauan pada objek-objek yang menarik yang berkaitan dengan pelajaran tertentu, mereka akan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini akan mendorong aktivitas penyesuaian diri, kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri serta mengembangkan bakat dan cita-cita. karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya (roestiyah: 2001) Adapun tujuan metode karyawisata adalah sebagai berikut: 1) Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya. Sehingga siswa dapat membuktikan kebenaran teori yang dipeajarinya di sekolah.

2) Dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. 3) Mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran. 4) Siswa dapat memperluas pengetahuan dan mengasah kreatifitas. 5) Siswa dapat mengembangkan nilai sosial, rasa tanggung jawab, dan kepercayaan diri C. Macam-Macam Karyawisata 1. Karyawisata Alam Karyawisata alam adalah karyawisata yang dilaksanakan dengan tujuan mengenalkan siswa kepada alam. Karyawisata alam bertempat di alam terbuka, contoh: kebun teh, hutan, tempat wisata alam, kebun binatang, cagar alam, dan lain sebagainya. Biasanya, siswa diajak melakukan kegiatan seperti outbond, sehingga siswa dapat mengasah kekompakan dan rasa saling percaya kepada temantemannya. Karyawisata alam juga dilakukan untuk menambah pengetahuan terutama dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). 2. Karyawisata Karir Karyawisata karir adalah karyawisata yang bertujuan untuk menambah wawasan siswa terhadap masa depan karirnya. Sebagai contoh, siswa diajak ke salah satu universitas atau ke suatu perusahaan. Disana siswa dapat mengetahui gambaran bagaimana suasana di suatu perusahaan atau di universitas. Sehingga siswa dapat menentukan pilihan untuk masa depannya. Pada karyawisata karir ini, siswa biasanya diperbolehkan mencoba pekerjaan disana, contoh: siswa mencoba menggunakan beberapa peralatan dokter. 3. Karyawisata Budaya Pada karyawisata ini, siswa diajak ke suatu tempat yang memiliki nilai budaya, sehingga siswa dapat menambah wawasan tentang budaya di indonesia atau negara lain. Contoh: siswa diajak ke museum budaya, dimana di museum itu terdapat patung-patung yang mengenakan baju daerah-daerah di indonesia. 4. Karyawisata Religi Karyawisata religi bertujuan untuk menambah wawasan siswa tentang agamaagama di dunia. Contoh: siswa diajak ke suatu masjid atau pura yang mengandung nilai sejarah, sehingga siswa dapat mengetahui macam-macam tempat peribadatan sekaligus mengerti tentang sejarah agama itu. Masih banyak lagi macam-macam karyawisata lainnya. Karyawisata bersifat kondisional, tergantung kebutuhan siswa akan pelajaran yang dipelajari di sekolah, jika siswa membutuhkan pendalaman tentang pelajaran sejarah, maka sebaiknya guru mengajak siswa ke museum atau monumen yang memiliki nilai sejarah. D. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Persiapan

Dalam merencanakan tujuan karyawisata, guru perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusanUntuk menetapkan tujuan ini ditunjuk suatu panitia dibawah bimbingan guru, untuk mengadakan survei ke obyek yang dituju. Dalam kunjungan pendahuluan ini sudah harus diperoleh data tentang objek antara lain tentang lokasi, aspek-aspek yang dipelajari, jalan yang ditempuh, penginapan, makan dan biaya transportasi 2) Perencanaan Hasil kunjungan pendahuluan (survei) dibicarakan bersama dalam rangka menyusun perencanaan yang meliputi: tujuan karyawisata, pembagian objek sesuai dengan tujuan,jenis objek sesuai dengan tujuan, jenis objek serta jumlah siswa. a) Dibentuk panitia secara lengkap, termasuk ketua tiap kelompok/seksi. b) Menentukan metode mengumpulkan data, mungkin berwujud wawancara, pengamatan langsung, dokumentasi. c) Penyusunan acara selama karyawisata berlangsung. d) Mengurus perizinan. e) Menentukan biaya, penginapan, konsumsi serta peralatan yang diperlukan. 3) Pelaksanaan Siswa melaksanakan tugas sesuai dengan pembagian yang telah ditetapkan dalam rencana kunjungan, sedangkan guru mengawasi, membimbing, bila perlu menegur sekiranya ada siswa yang kurang mentaati tata tertib sesuai acara. Pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggung jawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu. 4) Pembuatan Laporan Akhir karya wisata, pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper yang memuat kesimpulan yang diperoleh, menindak. Lanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, modelmodel, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya. Hasil yang diperoleh dan kegiatan karyawisata ditulis dalam bentuk laporan yang formatnya telah disepakati bersama. E. KELEBIHAN KARYAWISATA Metode karyawisata memiliki beberapa kelebihan di dalam pelaksanaanya yaitu: a) Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran. b) Siswa dapat berpartisispasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh disekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau ketrampilan mereka. c) Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.

d) Dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek. e) Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu. f) Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat. g) Dapat merangsang kreativitas siswa. F. KEKURANGAN KARYAWISATA Walaupun banyak memiliki kelebihan tetapi di dalam metode karyawisata juga memiliki beberapa kekurangan seperti: a) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak. b) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang. c) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan. d) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan. e) Biayanya cukup mahal. f) Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh. g) Memakan waktu bila lokasi yang dikunjungi jauh dari pusat latihan. h) Sulit untuk mendapat ijin dari pimpinan kerja atau kantor yang akan dikunjungi. G. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN Sebelum karya wisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu: a) Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar mengajar. b) Mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah. c) Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai paedagogis. d) Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, apakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karya wisata dapat dilaksanakan. e) Membuat dan mengembangkan program karya wisata secara logis, dan sistematis. f) Melaksanakan karya wisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, efek pembelajaran, serta iklim yang kondusif. g) Menganalisis apakah tujuan karya wisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan karya wisata yang akan datang. H. KESIMPULAN Setiap metode dalam teknik bimbingan , memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penggunaan metode hendaknya disesuaikan dengan konteksnya. Seperti halnya karyawisata, karyawisata akan lebih efektif jika ada kesesuaian antara

tujuan pembelajaran dengan objek wisata. Selain itu, partisipasi aktif dari peserta sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan dari karyawisata tersebut.

Teknik atau Metode Bimbingan dengan Menggunakan Media Jejaring Sosial 1. Pengertian Teknik atau Metode Metode berasal dari Bahasa Yunani ―Methodos‘‘ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. 1. Pengertian Bimbingan Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya‖ (Frank Parson ,1951). Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat‖ 1. Pengertian Jejaring Sosial Jejaring sosial adalah adalah struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga. Istilah ini diperkenalkan oleh profesor J.A. Barnes di tahun 1954. Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll. Hubungan jejaring sosial dengan teknik bimbingan dalam layanan bimbingan dan konseling Dalam Standar Kompetensi Konselor Indonesia telah mengamanatkan kepada para konselor untuk menguasai teknologi informasi untuk kepentingan pemberian layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Identifikasi layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat dilakukan dengan teknologi informasi juga sudah dilakukan. Menurut Handarini (2006), menyatakan bahwa teknologi dan internet dapat diterapkan dalam layanan bimbingan konseling, yaitu : 1) layanan appraisal, 2) layanan informasi, 3) layanan Konseling, 4) layanan konsultasi, 5) layanan perencanaan, penempatan dan tindak lanjut dan 6) layanan evaluasi. Pada layanan appraisal yang merupakan kegiatan Bimbingan dan Konseling yang berupa pengumpulan, analisa, dan pengumpulan data personal, psikologis, sosial siswa; yang berguna untuk memahami siswa dan membantu siswa memahami dirinya sendiri. Teknologi yang dapat diterapkan pada teknik testing dan non testing menggunakan computer dan internet. Layanan informasi yang merupakan kegiatan Bimbingan dan Konseling yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada siswa, dan mengembangkan keterampilan siswa bagaimana mencari informasi (personal-sosial, karier, pendidikan). Teknologi yang dapat diterakan yaituself-initiated information searching dengan menggunakan internet. Layanan konseling yang merupakan kegiatan layanan yang bertujuan untuk memfasilitasi self-understanding dan self-development, yang dilakukan dengan cara “dyadic relationship” atausmall group relationship. Fokus kegiatan ini adalah personal development dan decision making. Teknologi yang dapat diterapkan adalah cybercounseling.

1.

1.

2.

3.

4. Layanan konsultasi yaitu layanan bantuan yang diberikan kepada guru, administrator sekolah, dan orang tua untuk memahami siswa atau anak. Teknologi yang dapat diterapkan yaitu cyber consultation. 5. Layanan perencanaan, penempatan dan tindak lanjut yaitu layanan Bimbingan dan Konseling yang bertujuan untuk membantu siswa memilih dan menggunakan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang ada. Teknologi yang dapat diterapkan yaitu computerized self informationdan internet. 6. Layanan evaluasi merupakan kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan program. Teknologi yang dapat diterapkan yaitu computerizeddata collection, computerized assessment, dan internet. Dunia bimbingan dan konseling adalah dunia yang dinamis mengikuti kemajuan zaman, penting sekali adanya kolaborasi antara dunia konseling dengan dunia teknologi dalam menghadapi dan mempertahankan keberadaan bimbingan dan konseling. Agar bisa bertahan dan diterima masyarakat, maka pelayanan bimbingan dan konseling harus dapat disajikan dalam bentuk yang efisien dan efektif yaitu dengan menggunakan ICT (Information Comunication and Technology) dan salah satunya adalah dengan media Jejaring Sosial atau social networking Potensi teknologi komputer berbasis jejaring sosial yang dapat digunakan untuk Bimbingan dan Konseling yaitu : 1. a. Website / Homepages Potensi penggunaan oleh konselor antara lain, untuk pemasaran, periklanan, diseminasi informasi, dan publikasi apa itu layanan Bimbingan dan Konseling. 1. b. Chat Rooms / Electronic Discussion Groups Potensi penggunaan oleh konselor antara lain, untuk terapi kelompok, membantu diri sendiri dan asesment / pengukuran 1. Blog / web log Potensi penggunaan oleh konselor antara lain untuk mengulas sebuah masalah secara umum dan membebaskan setiap responden atau pembaca untuk berkomentar, memberi saran atau menanggapi. 1. Facebook dan Twitter Potensi penggunaan oleh konselor antar lain adalah untuk berkomunikasi secara lebih intim bermedia internet dengan konseli-konselinya. 1. Kelebihan dan kekurangan menggunakan metode jejaring social 1. Kelebihan:  Mempermudah dalam penyampaian informasi  Alat bantu dalam group information  Tidak terikat ruang dan waktu  Hemat tenaga, biaya dan waktu  Menyamarkan identitas 1. Kekurangan  Tidak dapat bertatap muka secara langsung  Kerahasiaannya kurang terjamin  Aksesnya terbatas

akselerasi A. Pendahuluan Secara konseptual pengertian acceleration suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran, pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional. Dalam program percepatan belajar untuk SD, SMP, dan SMA yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000, akselerasi didefinisikan sebagai salah satu bentuk pelayanan pendidikan yang diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa: "warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus" (Pasal 5; ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa "setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya" (pasal 12; ayat 1b). Hal ini merupakan berita yang menggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya. Anak berbakat adalah anak yang memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Dengan adanya akselerasi ini anak-anak berbakat dapat memperoleh pendidikan yang sesuai dengan bakat,minat dan kemampuanya secara optimal. B. Program Akselarasi Definsi Akselerasi Colangelo (1991) menyebutkan bahwa istilah akselerasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (service delivery), dan kurikulum yang disampaikan. 1. Pengertian akselerasi:  Sebagai model pelayanan, siswa meloncat kelas dan mengikuti pelajaran tertentu pada kelas di atasnya.  Sebagai model kurikulum, akselerasi berarti mempercepat bahan ajar dari yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat itu. Dalam hal ini, akselerasi dapat dilakukan dalam kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk akselerasi yang diambil bisa telescoping dan siswa dapat menyelesaikan dua tahun atau lebih kegiatan belajarnya menjadi satu tahun atau dengan cara self-paced studies, yaitu siswa mengatur kecepatan belajarnya sendiri. Calanglo mengingatkan bahwa: akselerasi sebagai model pelayanan, gagal dalam memenuhi kurikulum deferensiasi bagi anak berbakat. Sebagai model kurikulum, akselerasi akan membuat anak berbakat menguasai banyak isi pelajaran dalam waktu yang sedikit. Anak-anak ini dapat menguasai bahan ajar secara cepat dan merasa bahagia atas prestasi yang dicapainya, di samping segi ekonomis. Secara umum, bentuk akselerasi telescoping menimbulkan masalah pada pihak sekolah sebagai penyelenggara dan guru, terutama dari sisi keterampilan dan manajemen waktu. 2. Tujuan Penyelenggaraan Program Akselerasi (Percepatan) a. Tujuan Umum 1) Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektif.

2) Memenuhi Hak Azasi manusia peserta didik yag sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri. 3) Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik. 4) Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik. 5) Menimbang peran serta peserta didik sebagai aset masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran. 6) Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan. b. Tujuan Khusus 1) Memberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat. 2) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik. 3) Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal. 4) Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosionalnya secara seimbang. 3. Panduan Penyelenggaraan Menurut Felhusen, Proctor, dan Black (1986), akselerasi diberikan untuk memelihara minat siswa terhadap sekolah mendorong siswa agar mencapai prestasi akademis yang baik dan untuk menyelesaikan pendidikan dalam tingkat yang lebih tinggi bagi keuntungan dirinya ataupun masyarakat. Beberapa panduan agar program akselerasi tercapai secara memadai adalah sebagai berikut: a) Dilakukan evaluasi psikologi yang komprehensif untuk mengetahui berfungsinya kemampuan intelektual dan kepribadian siswa, di samping tingkat penguasaan akademiknya. b) Dibutuhkan IQ di atas 125 bagi siswa yang kurang menunjukkan prestasi akademiknya. c) Bebas dari problem emosional dan sosial, yang ditunjukkan dengan adanya persistensi dan motivasi dalam derajat yang tinggi. d) Memiliki fisik sehat. e) Tidak ada tekanan dari orang tua, tetapi atas kemauan anak sendiri. f) Guru memiliki sikap positif terhadap siswa akseleran g) Guru comcern terhadap kematangan sosial emosional siswa, yang dibuktikan dari masukan orang tua dan psikolog h) Sebaiknya dilakukan pada awal tahun ajaran dan didukung pada pertengahan tahun ajaran i) Ada masa percobaan selama enam minggu yang diikuti dengan pelayanan konseling 4. Manfaat Akselerasi Southerm dan Jones (1991) keuntungan program akselerasi bagi anak berbakat: a. Meningkatkan efesiensi Siswa yang telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan menguasai kurikulum pada tingkat sebelumnya akan belajar lebih baik dan lebih efisien. b. Meningkatkan efektivitas

Siswa yang terkait belajar pada tingkat kelas yang dipersiapkan dan menguasai keterampilan-keterampilan sebelumnya merupakan siswa yang paling efektif. c. Penghargaan Siswa yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya memperoleh penghargaan atas prestasi yang dicapainya. d. Meningkatkan waktu untuk karier Adanya pengurangan waktu belajar akan meningkatkan produktivitas siswa, penghasilan, dan kehidupan pribadinya pada waktu yang lain. e. Membuka siswa pada kelompok barunya Dengan program akselerasi, siswa dimungkinkan untuk bergabung dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektial dan akademis yang sama. f. Ekonomis Keuntungan bagi sekolah ialah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mendidik guru khusus anak berbakat. 5. Kelemahan Akselerasi A. Segi akademik 1) Bahan ajar terlalu tinggi bagi siswa akselerasi. 2) Kemampuan siswa melebihi teman sebayanya bersifat sementara 3) Siswa akseleran kemungkinan imatur secara sosial, fisik dan emosional dalam tingkatan kelas tertentu 4) Siswa akseleran terikat pada keputusan karier lebih dini tidak efisien sehingga mahal. 5) Siswa ekseleran mengembangkan kedewasaan yang luar biasa tanpa adanya pengalaman yang dimiliki sebelumnya 6) Pengalaman-pengalaman yang sesuai untuk anak seusianya tidak dialami karena tidak merupakan bagian dari kurikulum 7) Tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik konvergen sehingga siswa akseleran akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan divergen. B. Segi penyesuaian sosial 1) Kekurangan waktu beraktivitas dengan teman sebayanya 2) Siswa akan kehilangan aktivitas sosial yang penting dalam usia sebenarnya dan kehilangan waktu bermain. 3) Berkurangnya kesempatan kegiatan ekstrakurikuler. C. Penyesuaian emosional 1) Siswa akseleran pada akhirnya akan mengalami burn out di bawah rekanan yang ada dan kemungkinan menjadi underachiever. 2) Siswa akseleran akan mudah frsutasi dengan adanya tekanan dan tuntutan berprestasi. 3) Adanya tekanan untuk berprestasi membuat siswa akseleran kehilangan kesempatan untuk memgembangkan hobi. C. Anak Berbakat Intelektual Dalam Perspektif MasaDepan

A. Upaya Yang Dilakukan Pemerintah Saat Ini.  Tahun 1974, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah menaruh perhatian terhadap masalah bakat dan prestasi dan memberikan beasiswa pada siswa SD, SMP, SMA, dan SMEA yang berbakat dan berprestasi tinggi, tetapi kondisi ekonomi orang tuanya lemah.  Tahun 1984, pelayanan pendidikan dalam bentuk uji coba perintisan Sekolah Anak berbakat di satu daerah perkotaan (Jakarta) dan disuatu daerah pedesaan (Cianjur), pada satuan pendidikan SD, SMP, dan SMA.  Tahun 1994, pelayanan pendidikan dalam bentuk program sekolah unggul (shools of excellence) di seluruh provinsi.  Tahun 1998 Depdiknas memberikan Surat Keputusan Penetapan Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar. B. Pelayanan Anak Berbakat Intelektual Ke Depan Model layanan pendidikan dalam bidang keberbakatan: 1) Akselerasi bidang studi Di masa mendatang, akselerasi bisa hanya untuk suatu mata pelajaran yang menonjol dan sangat dikuasai siswa. Model pelayanan seperti ini disebut akselerasi bidang studi. 2) Mentorship Akselerasi tidak harus melayani lima belas orang siswa persekolah. Seandainya hanya ada satu orang siswa, sekolah harus mampu melayani. 3) Sistem kredit Teknik pelayanan akselerasi juga bisa dilakukan secara sistem kredit 4) Pengayaan materi pada mata pelajaran tertentu Dengan cara pull out program yaitu hanya pada hari tertentu saja, atau pada mata pelajaran tertentu saja pengayaan diberikan pada siswa. 5) Kelas super Saturday Super Saturday, yaitu pengayaan materi yang dilakukan setiap hari Sabtu dalam berbagai bidang di luar mata pelajaran yang diberikan misalnya tentang kelautan, psikologi. 6) Pendirian pusat keberbakatan Pemerintah akan berupaya membangun semacam pusat keberbakatan di masa mendatang. Berlokasi di tiga wilayah, yakni Indonesia bagian Timur, Tengah, dan Barat. 7) Sertifikasi bagi guru pengajar gifted Di Amerika Serikat, guru yang mengajar bersertifikat khusus bagi gifted. Sertifikasi ini penting untuk menjaga kualitas layanan pendidikan. C. Tantangan ke depan Tantangan dimasa depan meliputi hal sebagai berikut: 1. Dukungan finansial di Indonesia belum memadai seperti negara lain yang telah mengalokasikan dana khusus untuk anak berbakat. 2. Perlunya pengembangan organisasi pemerintah yang mewadahi masalah keberbakatan di Indonesia. D. Strategi pengembangan Tantangan di masa depan diperlukan strategi pengembangan sebagai berikut: 1. Penyediaan, pengadaan, dan peningkatan kemampuan SDM yang berkualitas;

2. Proses pembelajaran yang berkualitas 3. Adanya frekuensi penelitian yang cukup dan berkualitas 4. Sosialisasi ke mancanegara (tingkat internasional).tuk mengembangkan hobi. Dalam identifikasi ini mengguakan tes kecerdasan dan tes lain seperti minat, kreatifitas, motivasi juga penting dilakukan. Dengan demikian ada dua pendekatan yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi murid cerdas dan berbakat, yaitu dengan cara studi kasus dan melalui tes, atau penggabungan keduanya. Identifikasi di sekolah dapat dilakukan melalui tahap (1) penjaringan (screening), dan (2) tahap seleksi (identification). a. Tahap Penjaringan Tahap penjaringan murid cerdas dan berbakat di sekolah dapat dilakukan dengan menganalisa data prestasi belajar, usia kronologis, nominasi oleh teman sekelas, orang tua dan guru. Digunakan prestasi belajar dengan dasar pemikiran bahwa sekalipun yang memiliki keunggulan prestasi belajar tidak konklusif memiliki kecerdasan dan keberbakatan, namun mereka diasumsikan termasuk anak berbakat dan cerdas jika memiliki prestasi di atas rata-rata. Digunakan acuan usia kronologis dengan asumsi bahwa murid cerdas dan berbakat memiliki usia lebih muda, namun mampu bersaing dan memiliki mental yang lebih tinggi dibanding dengan teman-teman yang memiliki usia lebih tua. Penjaringan murid cerdas dan berbakat dimungkinkan pula dengan nominasi oleh guru, orang tua, dan teman sekelas. Model nominasi ini dilakukan dengan asumsi bahwa orang-orang terdekat dengan anak berbakat dan cerdas, memiliki penilaian yang objektif dan intensif, hasil pengamatan yang relatif lama. b. Tahap Seleksi Tahap seleksi dilakukan terhadap siswa yang telah lolos tahap penjaringan. Tahap seleksi dilakukan dengan tes, seperti Collour Progressive Matrice(CPM), Wechler Inteligence Scale for Children (WICM). Contoh menjaring dan menyeleksi murid cerdas dan berbakat. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi murid berbagai SD yang diduga mempunyai murid cerdas dan berbakat dengan mengacu pada prestasi belajar usia kronologis dan kelasnya. Kriteria yang digunakan untuk mendeteksi murid cerdas dan berbakat adalah murid yang memperoleh nilai rata-rata 8 atau lebih, berusia antara 3-11 tahun dan berada pada kelas 3,4, atau 5 SD. Berdasarkan kriteria ini dilakukan observasi dan studi dokumentasi, dan akhirnya ditemukan 66 murid yang diduga termasuk murid cerdas dan berbakat. 2. Dari sejumalah 66 murid, dilakukan penyaringan dengan melakukan tes Colour Progressive Matrices (CPM) untuk mengetahui kemampuan intelektualnya. Kriteria yang ditetapkan murid yang diduga cerdas dan berbakat adalah murid yang menduduki persentil 95. Dengan asumsi bahwa mereka yang berada pada posisi tersebut diduga memiliki kecerdasan yang tinggi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Hasil penyaringan dengan tes CPM diperoleh sejumlah 21 murid. 1. Penyaringan dengan menetapkan 30% dari murid yang paling unggul dalam nilai hasil CPM, yaitu sebanyak 8 murid. 2. Setelah ditemukan 8 murid yang diduga cerdas dan berbakat, langkah selanjutnya melakukan pemeriksaan psikologis terhadap 8 murid tersebut dengan menggunakan Wechler Inteligence Scale for Children (WISC) untuk mengetahui IQ.

Setelah dilakukan pemeriksaan psikologis dengan WISC ditemukan 3 anak diantara 8 murid yang diperiksa, diklasifikasikan sebagai murid cerdas dan berbakat, meskipun satu di antaranya memiliki IQ 129, tetap dimasukkan sebagai murid cerdas dan berbakat, karena yang bersangkutan memiliki original IQ 157, dan selisih 1 point dipandang tidak memiliki perbedaan yang berarti. D. Permasalahan yang Dihadapi Anak Berbakat a. Labeling Memberikan label pada anak berbakat bahwa ia berbakat dapat menimbulkan harapan terhadap kemampuan anak tersebut dan dapat mengakibatkan beban mental bilamana anak tersebut tidak dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh si pemberi label. b. Memberi nilai (grading) dalam bentuk angka Pemberian angka bagi anak berbakat dapat menimbulkan permasalahan bilamana angka yang dimilikinya tidak menggambarkan kemampuannya. Angka seringkali tidak cermat, artinya sering kurang mencerminkan kemampuan yang sebenarnya. Terutama bagi anak berbakat, penilaian dalam bentuk angka turut berbicara, karena mereka sangat sensitif, angka ini menjadi kepedulian yang besar yang kadangkala juga terlalu berlebihan. Oleh karena itu, pemberian angka harus dilakukan secara hati-hati dan lebih mengacu kepada penilaian berdasarkan criteria. Mengatasi penilaian yang kurang cermat bagi anak berbakat dapat dilakukan dengan self-diagnose. Pemeriksaan kembali pekerjaan dapat menjadikan siswa menyadari apa kesalahannya dan mengapa kesalahan-kesalahan tersebut dibuatnya. c. Underachievement Underachievement di antara anak berbakat adalah kinerja yang secara signifikan berada di bawah potensinya (Kitano and Kirty, 1986). Hal ini dapat terjadi karena anak berbakat mengalami berbagai tekanan baik dari rumah, sekolah maupun teman sebayanya. Tekanan-tekanan yang dialami anak berbakat antara lain : 1) Perasaan bahwa ia harus menjadi manusia sempurna dan sangat inteligen 2) Keinginan untuk menjadi sangat kreatif dan luar biasa, yang kemudian diterjemahkan sebagai manusia yang lain dari yang lain 3) Kepedulian untuk dikagumi oleh teman sebaya karena penampilannya dan popularitasnya. (Colangelo, 1991) Tekanan yang dialami anak berbakat diinternalisasikan pada dirinya karena orang-orang disekitarnya telah mengagumi mereka karena keluarbiasaan kemampuannya. Hal ini membuat mereka merasa sulit untuk mencapai kemajuan bila tidak dipuji. Kekuatan intrinsic reinforcement tergantung pada kekuatan extrinsic reinforcement. d. Konsep diri Konsep diri terbentuk bukan hanya dari bagaimana orang lain memandang tentang dirinya, tetapi juga bagaimana dia sendiri menghayati pengalaman tersebut. Anak-anak yang berbakat sangat ambivalent sikapnya terhadap keberbakatannya, dan cenderung anak berbakat mempersepsikan dirinya secara positif, namun mengganggap bahwa lingkungannya yaitu teman sebaya dan gurunya memiliki pandangan negatif terhadap dirinya.

1. Model Bimbingan dan Konseling. Menurut Torrance (1986) terdapat kecenderungan berkembang minat konseling dalam mempertemukan kebutuhan-kebutuhan siswa yang berkemampuan unggul dan kreatif selama dekade terakhir ini. Tassel-Baska (1983) menekankan pentingnya peranan guru sebagai konselor bagi siswa yang berkemampuan unggul. Zaffran (1979) memperluas fungsi konselor di luar tugas yang telah biasa, seperti konsultasi dan penelitian serta penilaian data bekerja siswa dengan siswa berkemampuan unggul. Kenny (1982) menemukan bahwa kegiatan penulisan kreatif yang diancang secara khusus dapat digunakan untuk membimbing siswa berkemampuan unggul, untuk mengembangkan kesadaran perasaan dan persepsinya serta belajar memahami hubungan antara prestasi, bakat, minat dan tujuan dirinya sendiri. E. Teknik Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat Layanan bimbingan bagi murid cerdas dan berbakat tidak diarahkan kepada layanan yang bersifat eksklusif melainkan dikembangkan secara terpadu di dalam sistem bimbingan yang ada. Di sekolah dasar, sistem yang dimaksud akan banyak terkait dengan kegiatan belajar mengajar. Layanan bagi murid cerdas dan berbakat tetap bertolak dari pandangan tentang hakekat manusia sebagai makhluk individu, social, dan makhluk Tuhan. Dengan kata lain, murid cerdas dan berbakat dipandang sebagai suatu keutuhan pribadi sehingga program layanan bimbingan yang dikembangkan mampu menyentuh semua dimensi perkembngan pribadi secara utuh. Dimensi keutuhan perkembangan pribadi yang dimaksud mencakup unsur-unsur berikut ini: a. Pengembangan ranah kognitif/ intelektual Hal ini mengandung implikasi bagi guru untuk menyediakan rentang pengalaman belajar yang luas dan dapat diakselerasikan dan mengakselerasi perkembangan kognitif anak berbakat. Pengolahan tugas dan bahan ajar secara khusus yang didasarkan kepada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus ditakutkan guru untuk dapat memberikan layanan optimal bagi anak berbakat. b. Pengembangan ranah afektif Layanan bimbingan yang perlu diberrikan adalah memahami pikiran dan harapan anak berbakat dengan sikap terbuka dan membantu anak memahami pikiran dan harapan yang ada pada dirinya serta kemungkinan pemenuhannya di dalam kehidupan kelompok. c. Pengembangan ranah fisik Kemampuan anak berbakat yang cenderung berkembang lebioh awal dari usia pada umumnya menghendaki layanan pendidikan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan fisik. Layanan bimbingan yang bisa diberikan ialah membantu anak memilih kegiatan fisik yang sesuai dengan perkembangannya dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya. d. Pengembangan ranah intuitif Layanan pendidikan bagi anak berbakat perlu mempedulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk berimajinasi dan berkreasi. Layanan bimbingan diberikan dalam bentuk pengem,bangan lingkungan belajar yang menghadapkan anak kepada situasi atau stimulus baru yang dapat memunculkan daya imajinasi dan kreativitas anak. e. Pengembangan ranah kemasyarakatan

Layanan bimbingan yang dapat diberikan ialah membantu anak memperoleh pengalaman mengembangkan diri menjadi anggota kelompok dan mampu berpartisipasi dalam proses kelompok, memperluas perasaan keanggotaan kelompok kea rah keanggotaan kemasyarakatan, memperluas identifikasi diri dari masyarakat terbatas identifikasi terhadap masyarakat luas. Wahana pengembangan kemasyarakatan ini dapat dibentuk secara terpadu dalam proses belajar mengajar atau dengan cara merancang kegiatan-kegiatan kelompok khusus. Beberapa implikasi manajerial bagi penataan layanan bimbingan anak berbakat di sekolah dasar yang perlu diperhatikan adalah: a. Menyediakan kesempatan dan pengalaman khusus untuk memenuhi kebutuhan anak berbakat sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya secara berkesinambungan. b. Menata lingkungan yang dapat memperkaya pertumbuhan intelektual, afektif, fisik, intuisi, dan social. c. Memungkinkan terjadinya partisipasi dan kerjasama yang yang dilakukan oleh anak berbakat dan orangtua. d. Menyediakan waktu, tempat, dan dukungan bagi anak berbakat yang memungkinkan dirinya menjadi sebagaimana mereka bisa menjadi. e. Mendorong anak berbakat menemukan tempat dirinya dalam perkembangan manusia dengan menemukan kecakapannya dan bidang-bidang di mana dia dapat berkontribusi. f. Menyediakan kesempatan bagi anak berbakat untuk berinteraksi dengan sesamanya dan orang dewasa dari berbagai ragam kecakapan yang memungkinkan dia menemukan keunikan dan keterkaitan dirinya. F. Penyelenggaraan Kelas Unggulan sebagai Model Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat a. Pengertian Kelas Unggulan Kelas unggulan adalah kelas yang terdiri atas sejumlah siswa yang karena prestasinya menonjol dikelompokkan di kelas tertentu pada SD Inti (Depdikbud,1996).Program pengajaran pada kelas unggulan adalah program pengajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku ditambah dengan pendalaman materi Matematika/Berhitung dan IPA serta pelajaran Bahasa Inggris. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk memudahkan membina siswa oleh guru dalam mengembangkan kemampuan dan potensi yang ada pada siswa seoptimum mungkin sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Tujuan pendidikan kelas unggulan di SD secara rinci mencakup : 1. Mempersiapkan peserta didik yang cerdas, beriman dan bertakwa pada Tuhan YME, memiliki budi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta sehat jasmani dan rohani. 2. Memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata normal untuk mendapat pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa. 3. Memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih cepat mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan pembangunan. 4. Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi baik.

5. Mempersiapkan lulusan kelas unggulan menjadi siswa unggul dalam bidang pengetahuan dan teknologi sesuai dengan perkembangan mentaln anak. Siswa yang direkrut adalah siswa kelas IV dengan pertimbangan bahwa siswa kelas IV telah mulai dapat berpikir rasional baik pada SD Inti maupun pada SD Imbas. Cara mendapatkan siswa kelas unggulan dengan cara merekrut semua siswa yang memenuhi persyaratan yang berada di lingkungan gugus tempat diselenggarakan kelas unggulan. Persyaratan kandidat siswa kelas unggulan antara lain : 1. Siswa peserta kelas unggulan harus bersekolah pada SD Inti/Imbas pada gugusnya. 2. Merupakan murid pada jenjang kelas tinggi dimulai kelas IV pada tahun ajaran baru. 3. Memiliki bakat dan minat serta prestasi yang konsisten mulai dari kelas I s.d III melalui rekaman pengamatan dan tes psikologi. 4. Merupakan murid berprestasi di sekolahnya dan memiliki rangking 1 s.d 10. 5. Lulus seleksi Tes Kemampuan Akademik dan Kesehatan. 6. Mendapat rekomendasi dari kKepala Sekolah tempa asal siswa bersekolah. 7. Mendapat ijin tertulis dari orangtua/wali murid yang isinya bersedia patuh mengikuti tata tertib penyelenggarakan kelas unggulan. 8. Apabila pada setiap akhir tahun pelajaran tidak mampu menunjukan keberhasilan prestasi belajarnya, ditempatkan pada kelas biasa di SD yang bersangkutan. b. PMB di kelas unggulan PMB di kelas unggulan diupayakan memiliki keunggulan daripada kelas biasa. Oleh karena itu seluruh komponen pendidikan seperti, guru, materi ajar, bahan sarana belajar-mengajar dan waktu belajar di kelas unggulan harus lebih baik dari kelas biasa. Mengingat tuntutan prestasi belajar bagi siswa kelas unggulan sangat tinggi, diperlukan adanya guru pembimbing yang tugas khususnya mengawasi/ memantau, membimbing serta mengarahkan siswa di kelas unggulan agar dapat berprestasi dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar siswa unggulan lebih mendapatkan pelayanan pengembangan minat dan bakat yang dimilikinya. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berlaku secara nasional (termasuk di dalamnya muatan lokal) dan kurikulum plus yang terdiri atas mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris selama 4 jam. Dengan demikian diperlukan penambahan waktu belajar di sekolah. Metode mengajar diharapkan dapat lebih mengaktifkan siswa dengan merangsang siswa untuk berpikir mengembangkan berbagai pertanyaan. Variasi pembelajaran cukup beragam (individu dan kelompok). Tugas-tugas PR lebih disesuaikan dengan kehendak siswa untuk mengingat prestasinya. Umpan balik terhadap PMB harus sering dilakukan. Evaluasi hendaknya mendorong siswa untuk belajar. Baik dari segi alat evaluasi proses maupun tindak lanjut dari hasil evaluasi. c. Kelebihan dan Kekurangan Model Kelas Unggulan Mencermati penyelenggaraan kelas unggulan di SD inti, pada hakekatnya adalah model pengelompokan berdasarkan kemampuan ( ability grouping). Model ini akan mempermudah bagi guru dalam mengembangkan

kemampuan atau potensi siswa optimum mungkin. Model kelas unggulan memungkinkan guru mengembangkan suasana belajar kompetitif sehingga terjadi persaingan sehat antar siswa dalam memperoleh prestasi terbaik. Menurut hasil penelitian Mulyono (Mimbar Pendidikan No. 4 Tahun XI Desember 1992 :22) suasana belajar kompetitif unggul atas suasana belajar kooperatif. Jika kemampuan dan kecerdasan peserta didik homogen. Studi Halinan dan Sorensen (dalam Sunaryo Kartadinata 1993-45) menunjukkan bahwa pengelompokan kecakapan ini memiliki keunggulan dan kelemahan dalam perkembangan sosial peserta didik. Keunggulannya ialah bahwa model ini bisa memperkuat ikatan sosial sesama anggota kelompok, tetapi dipihak lain jika tingkat kecakapan itu berkaitan dengan status sosial ekonomi, etnis atau kelompok berlatar belakang sama maka model ini akan menumbuhkan klik-klik yang tidak sehat. d. Bimbingan bagi Siswa Kelas Unggulan Bertolak dari antisipasi terjadinya dampak negatif penyelenggaraan kelas unggulan maka penulis mengajukan gagasan agar siswakelas unggulan tetap merupakan siswa dari kelas biasa di sekolah masing-masing atau lazim dikenal dengan pull out enrichment (Conny Semiawan, 1997:256). Alternatif pertama, siswa unggul bergabung dalam kelas unggulan hanya dalam kurikulum plus yaitu: mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahas Inggris. Alternatif kedua, siswa unggul bergabung dalam kelas unggulan pada setiap mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahas Inggris baik dalam pelaksanaan kurikulum biasa maupun kurikulum plus. Keunggulan metode ini dalah siswa unggul tetap berbaur dengan siswa biasa, siswa tidak merasa elit dan perkembangan sosial anak tidak terganggu. Secara administratif SD Imbas tidak merasa ditinggalkan oleh siswa-siswa terbaiknya. Tujuan bimbingan dan konseling anak berbakat adalah membantu perkembangan pribadi mereka dalam menyingkirkan halangan emosional lingkungan, serta membantu agar mampu menggunakan kemampuannya seoptimal mungkin (Conny R Semiawan. 1992:68). Anak berbakat tidak saja diidentifikasikan karena kemampuannya yang luar biasa dalam segi intelektual akademis, tetapi juga dalam bidang berpikir kreatif. Milgram (1991) berpendapat bahwa kebutuhan bimbingan dan konseling dari anak berbakat meliputi tiga kategori : kognitif-akademik, personal-sosial, dan pengalaman luar sekolah ( experimental needs ). Menurut Conny Semiawan (1992:73) berpendapat bahwa konselor harus mampu bertindak berdasarkan pendekatan perkembangan. Oleh karena itu model bimbingan yang dikembangkan adalah model bimbingan dan konseling perkembangan ( development counseling ). Faktor lain yang dipertimbangkan dengan penyelenggaraan kelas unggulan adalah tidak adanya reward bagi siswa unggulan. Mereka sepertinya dijejali dengan kurikulum plus, tugas-tugas tambahan tetapi tidak dari peluang untuk naik kelas lebih cepat seperti jaman keemasan SD PPSP atau seperti yang dilakukan di Sekolah Adik Irma Jakarta. Program penyelenggaraan kelas unggulan di SD tanpa peluang untuk percepatan kenaikan kelas, dikhawatirkan menjadi beban siswa unggul. G. REKRUITMEN/PENGKELASAN

A. PENGAMATAN Siswa yang sudah terjaring/kelompok calon siswa akselarasi diamati oleh team secara terus-menerus selama 2 bulan semester 1 kelas I dalam hal: kemampuan bersifat kritis mengemukakan pendapat baik lisan maupun tertulis, beradaptasi bersosialisasi dan bertanggung jawab. B. SELEKSI 1. Psikotes Psikotes bekerjasama dengan biro Psikologi yang berwenang untuk mengetahui kemampuan intelegensi, kematangan emosi, motivasi berprestasi, kreativitas dan komitmen tes 2. Tes Potensi Akademik (TPA) Mata pelajaran :PPKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. C. WAWANCARA Bertujuan untuk mendapatkan bebagai informasi tentang calon, antara lain berupa Scor tes, latar belakang kehidupan, cita-cita masa depan, minat sisw, motvasi. D. REKOMENDASI GURU Rekomendasi Guru berisi penilaian guru terhadap calon yang bersangkutan dengan jelas bahwa calon siswa tersebut baik dan diperkirakan mampu untuk menyelesaikan program Khusus. E. PENGAMBILAN KEPUTUSAN  Memanggil anak dan Orang Tua yang bersangkutan untuk mendapatkan penjelasan tentang program Akselarasi  Siswa dan Orang Tua yang telah menyetujui dengan surat kesediaannya dinyatakan sebagai siswa program Percepatan Belajar  Siswa tersebut dikelompokkan pada kelas khusus F. KETENAGAAN  KEPALA SEKOLAH  GURU  BIMBINGAN dan KONSELING (BK)  PUSTAKAWAN DAN TEKNISI SUMBER BELAJAR  LABORAN IPA, BAHASA, IPS, KOMPUTER, AKUNTANSI H. Peran Bimbingan dan Konseling Pelayanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan agar potensi keberbakatan tinggi yang dimiliki oleh siswa dapat dikembangkan dan tersalur secara optimal. Program Bimbingan dan Konseling diarahkan untuk dapat menjaga terjadinya keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional dan social. Hendaknya dijaga agar jangan sampai penyelenggara Program Cerdas Istimewa (Akselerasi) terlalu menekankan perkembangan intelektual dan kurang mementingkan perkembangan emosional dan sosial anak seirama dengan jiwa keremajaannya. Selain itu, Program Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat mencegah dan mengatasi potensi-potensi negative yang dapat terjadi dalam proses percepatan belajar. Potensi negative tersebut, misalnya, siswa akan mudah frustasi karena adanya tekanan dan tuntutan untuk berprestasi, siswa menjadi terasing atau agresif terhadap orang lain karena sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan pada masanya, ataupun kegelisahan akibat harus menentukan keputusan karier lebih dini dari biasanya.

Biblioterapi Buku merupakan media untuk mendapatkan wawasan, pengetahuan, informasi, dan hiburan. Selain itu, buku dapat menjadi media terapi atau penyembuhan bagi penderita gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, trauma, dan stres. Pemanfaatan buku sebagai media terapi disebut biblioterapi. Jachna (2005:1) mengatakan biblioterapi adalah dukungan psikoterapi melalui bahan bacaan untuk membantu seseorang yang mengalami permasalahan personal. Metode terapi ini sangat dianjurkan, terutama bagi para penderita yang sulit mengungkapkan permasalahannya secara verbal. Biblioterapi telah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Di atas gedung Perpustakaan Thebes terdapat patung yang melukiskan orang yang tengah bosan dan dibawahnya ada manuskrip berbunyi tempat penyembuhan jiwa (the healing place of the soul). Ide pemanfaatan bahan bacaan sebagai media terapi pada zaman itu tak dapat dilepaskan dari Plato. Menurutnya, orang dewasa sebaiknya menyeleksi cerita dan kisah yang diperdengarkan pada anak-anak mereka sebab hal itu dapat menjadi model cara berpikir dan budi pekerti anak di masa-masa selanjutnya. Secara medis, pemikiran Plato diteruskan oleh Rush dan Galt pada 1815-1853. Lewat percobaan-percobaan medis, keduanya berkesimpulan bahan bacaan dapat dipadukan dengan proses konseling, terutama untuk menciptakan hubungan yang hangat, mengeksplorasi gaya hidup, dan menyarankan wawasan mendalam (insight). Para dokter di Inggris membangun kerjasama dengan para pustakawan untuk pengembangan model terapi ini. Biblioterapi berasal dari kata biblion dan therapeia. Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sementara therapeia artinya penyembuhaan. Jadi, biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku. Bahan bacaan berfungsi untuk mengalihkan orientasi dan memberikan pandangan-pandangan yang positif sehingga menggugah kesadaran penderita untuk bangkit menata hidupnya. Perkembangan biblioterapi berjalan pesat setelah Perang Dunia I. Rumah sakit mendirikan perpustakaan untuk mengembalikan kondisi psikis para tentara yang cacat akibat perang. American Library Association (ALA) melaporkan metode ini telah membantu 3.981 tentara untuk menerima kondisi yang dialaminya. Bahan bacaan dapat berupa buku, artikel, puisi, dan majalah. Pemilihan bahan bacaan tergantung pada tujuan dan tingkat intervensi yang diinginkan. Secara garis besar, bahan bacaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu didaktif dan imajinatif. Bahan bacaan didaktif memfasilitasi suatu perubahan dalam individu melalui pemahaman diri yang lebih bersifat kognitif, Pustakanya bersifat instruksional dan emndidik, seperti buku ajar, buku petunjuk (how to). materi-materinya adalah bagaiamana suaru perilaku baru harus dibentuk atau dihilangkan, bagaimana mengatasi masalah, relaksasi, dan meditasi. Bahan bacaan imajinatif atau kreatif merujuk pada presentasu perilaku manusia dengan cara yang dramatis. Kategori ini meliputi novel, cerita pendek, puisi, dan sandiwara. Tujuannya adalah memperstukan hubungan antara kepribadian seseorang dengan penghayatan atas pengalaman orang lain. Dalam proses penghayatan pembaca secara simultan terlibat sekaligus terpisah dari cerita. Sebagian besar dari kita sebenarnya telah menerapkan terapi membaca. Biblioterapi sering kita gunakan untuk pencarian jati diri melalui dunia yang ada dalam halamanhalaman buku yang baik. Kita merasa terlibat dalam karakter tokoh utama yang ada di sana. Acapkali kita sering menutup sampul sembari tersenyum setelah mendapatkan inspirasi dan ide baru dari buku. Nah, itulah tujuan dari biblioterapi, yaitu mendampingi seseorang yang tengah mengalami emosional yang berkecamuk karena permasalahan yang dia hadapi dengan

menyediakan bahan-bahan bacaan dengan topik yang tepat. Kisah dalam buku akan membantu mereka untuk menyelami hidupnya sehingga mampu memutuskan jalan keluar yang paling mungkin bisa diambil. Meskipun biblioterapi mendorong perubahan secara individual, hal ini hanya digunakan terbatas pada saat di mana krisis hadir. Bagaimanapun itu bukan obat yang menghilangkan semua masalah psikologis yang telah mengakar secara mendalam. Masalah-masalah mendalam yang terbaik dilayani melalui intervensi terapi lebih intensif. Klien usia anak-anak mungkin belum bisa melihat diri lewat cermin sastra dan literatur bila pun bisa sebatas untuk tujuan melarikan diri saja. Lainnya mungkin cenderung untuk merasionalisasi masalah mereka daripada yang mereka hadapi. Namun orang lain mungkin tidak dapat mentransfer wawasan ke dalam kehidupan nyata. Tujuan dari biblioterapi, yaitu mendampingi seseorang yang tengah mengalami emosional yang berkecamuk karena permasalahan yang dia hadapi dengan menyediakan bahanbahan bacaan dengan topik yang tepat. Kisah dalam buku akan membantu mereka untuk menyelami hidupnya sehingga mampu memutuskan jalan keluar yang paling mungkin bisa diambil. 1. A. Tingkat Intervensi Biblioterapi Lewat membaca seseorang bisa mengenali dirinya. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan membaca menjadi masukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi seseorang. Saat membaca, pembaca menginterpretasi jalan pikiran penulis, menerjemahkan simbol dan huruf ke dalam kata dan kalimat yang memiliki makna tertentu, seperti rasa haru dan simpati. Perasaan ini dapat ―membersihkan diri‖ dan mendorong sesorang untuk berperilaku lebih positif. Menurut Novitawati (2001) intervensi biblioterapi dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan, yaitu intelektual, sosial, perilaku, dan emosional. Pertama, pada tingkat intelektual individu memperoleh pengetahuan tentang perilaku yang dapat memecahkan masalah, membantu pengertian diri, serta mendapatkan wawasan intelektual. Selanjutnya, individu dapat menyadari ada banyak pilihan dalam menangai masalah. Kedua, di tingkat sosial, individu dapat mengasah kepekaan sosialnya. Ia dapat melampaui bingkai referensinya sendiri melalui imajinasi orang lain. Teknik ini dapat menguatkan polapola sosial, budaya, menyerap nilai kemanusiaan dan saling memiliki. Ketiga, tingkat perilaku individu akan mendapatkan kepercayaan diri untuk membicarakan masalah-masalah yang sulit didiskusikan akibat perasaan takut, malu, dan bersalah. Lewat membaca, individu didorong untuk diskusi tanpa rasa malu akibat rahasia pribadinya terbongkar. Keempat, pada tingkat emosional, individu dapat terbawa perasaannya dan mengembangkan kesadaran menyangkut wawasan emosional. Teknik ini dapat menyediakan solusi-solusi terbaik dari rujukan masalah sejenis yang telah dialami orang lain sehingga merangsang kemauan yang kuat pada individu untuk memecahkan masalahnya. 1. B. Penerapan Biblioterapi Biblioterapi dapat disampaikan secara individual maupun kelompok. Pada individual biblioterapi, bahan-bahan yang dibutuhkan harus bersifat khusus dan rinci. Klien harus membaca bahan bacaan atau literatur yang sesuai dengan kesukaannya. Kegiatan apa yang akan ditindaklanjuti juga bisa disampaikan secara individual pada klien. Klien

membahas kisah dalam buku dengan pembimbing, menulis laporan, merekam dalam perekam suara, atau mengungkapkan reaksinya. Melalui proses ini klien mampu membongkar beban emosi dan meringankan tekanan emosional. Selain itu, dengan pemeriksaan dan analisis nilai-nilai moral dan stimulasi pemikiran kritis, klien bisa mengembangkan kesadaran diri, meningkatkan konsep diri, dan memperbaiki penilaian pribadi dan sosial. Hasilnya ada perbaikan perilaku, kemampuan untuk menangani dan memahami masalah kehidupan yang penting, dan peningkatan empati, toleransi, respek. Semuanya bisa dilakukan melalui identifikasi dengan bahan bacaan yang sesuai. Misalnya diterapkan pada kelompok, siswa membaca literatur lisan atau mendengarkan sementara Konselor membaca kepada mereka. Diskusikan secara kelompok dan ambil nilainilai yang terkandung dalam bacaan tersebut. Dengan begitu klien akan menyadari bahwa mereka tidak sendirian, masalah-masalah bisa dirasakan oleh orang lain. 1. C. Tahapan Biblioterapi Oslen (2006) menyarankan lima tahap penerapan biblioterapi, baik dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Pertama, awali dengan motivasi. Terapis dapat memberikan kegiatan pendahuluan, seperti permainan atau bermain peran, yang dapat memotivasi peserta untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan terapi. Kedua, berikan waktu yang cukup. Terapis mengajak peserta untuk membaca bahan-bahan bacaan yang telah disiapkan hingga selesai. Yakinkan, terapis telah akrab dengan bahanbahan bacaan yang disediakan. Ketiga, Lakukan inkubasi. Terapis memberikan waktu pada peserta untuk merenungkan materi yang baru saja mereka baca. Keempat, tindak lanjut. Sebaiknya tindak lanjut dilakukan dengan metode diskusi. Lewat diskusi peserta mendapatkan ruang untuk saling bertukar pandangan sehingga memunculkan gagasan baru. Lalu, terapis membantu peserta untuk merealisasikan pengetahuan itu dalam hidupnya. Kelima, evaluasi. Sebaiknya evaluasi dilakukan secara mandiri oleh peserta. Hal ini memancing peserta untuk memperoleh kesimpulan yang tuntas dan memahami arti peengalaman yang dialami. D. Aplikasi biblioterapi 1. Identifikasi kebutuhan-kebutuhan klien. Tugas ini dilakukan melalui pengamatan, berbincang dengan orangtua, penugasan untuk menulis, dan pandangan dari sekolah atau fasilitas-fasilitas yang berisi rekam hidup klien. 2. Sesuaikan klien dengan bahan-bahan bacaan yang tepat. Carilah buku yang berhubungan dengan perceraian, kematian keluarga, atau apapun yang dibutuhkan yang telah diidentifikasi. Jagalah hal-hal ini dalam ingatan: a. Buku harus sesuai dengan tingkat kemampuan baca klien. b. Tulisan harus menarik dan melatih klien untuk lebih dewasa. c. Tema bacaan seharusnya sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi dari klien. d. Karakteristik seharus dapat dipercaya dan mampu memunculkan rasa empati. e. Alur kisah seharusnya realistis dan melibatkan kreativitas untuk menyelesaian masalah. 3. Putuskan susunan waktu dan sesi serta bagaimana sesi diperkenalkan pada klien. 4. Rancanglah aktivitas-aktivitas tindak lanjut setelah membaca, seperti diskusi, menulis makalah, menggambar, dan drama.

5. Motivasi klien dengan aktivitas pengenalan seperti mengajukan pertanyaan untuk menuju ke pembahasan tentang tema yang dibicarakan. 6. Libatkan klien dalam fase membaca, berkomentar atau mendengarkan. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pokok dan mulaialah berdiskusi kecil tentang bacaan. Secara berkala, simpulkan apa yang terjadi secara panjang lebar. 7. Berilah waktu jeda beberapa menit agar klien bisa merefleksikan materi bacaannya. 8. Kenalkan aktivitas tindak lanjut: a. Menceritakan kembali kisah yang dibaca b. Diskusi mendalam tentang buku, misalnya diskusi tentang benar dan salah, moral, hukum, letak kekuatan dan kelemahan dari karakter utama dan lain-lain. c. Aktivitas seni seperti menggambar ilustasi persitiwa kisah, membuat kolase dari foto majalah dan berita utama untuk mengilustrasikan peristiwa-peristiwa dalam kisah, melukis gambar peristiwa) d. Menulis kreatif, seperti menyelesaikan kisah dalam cara yang berbeda, mengkaji keputusan dari karakter e. Drama, seperti bermain peran, merekonstruksi kisah dengan wayang yang dibuat selama aktivitas seni, yang menjadi coba-coba dalam karakter 9. Dampingi klien untuk meraih penutupan melalui diskusi dan menyusun daftar jalan keluar yang mungkin atau aktivitas lainnya. E. Cara kerja Biblioterapi Dalam penerapan biblioterapi klien akan melewati tiga tahapan berikut ini: 1. Identifikasi, klien mengidentifikasi dirinya dengan karakter dan peristiwa yang ada dalam buku, baik yang bersifat nyata atau fiksi. Bila bahan bacaan yang disarankan tepat maka klien akan mendapatkan karakter yang mirip atau mengalami peristiwa yang sama dengan dirinya. 2. Katarsis, klien menjadi terlibat secara emosional dalam kisah dan menyalurkan emosiemosi yang terpendam dalam dirinya secara aman (seringnya melalui diskusi atau karya seni). 3. Wawasan Mendalam (insight), setelah katarsis klien (dengan bantuan pembimbing) menjadi sadar bahwa permasalahannya bisa disalurkan atau dicarikan jalan keluarnya. Permasalahan klien mungkin saja dia temukan dalam karakter tokoh dalam buku sehingga dalam menyelesaikannya dia bisa mempertimbangkan langkah-langkah yang ada dalam cerita buku. F. Kelemahan Biblioterapi Sama dengan metode teknik bimbingan yang lain , Biblioterapi juga memiliki kelemahan. Meskipun biblioterapi mendorong perubahan secara individual, hal ini hanya digunakan terbatas pada saat di mana krisis hadir. Bagaimanapun itu bukan obat yang menghilangkan semua masalah psikologis yang telah mengakar secara mendalam. Masalah-masalah mendalam yang terbaik dilayani melalui intervensi terapi lebih intensif. Klien usia anak-anak mungkin belum bisa melihat diri lewat cermin sastra dan literatur bila pun bisa sebatas untuk tujuan melarikan diri saja. Lainnya mungkin cenderung untuk merasionalisasi masalah mereka daripada yang mereka hadapi. Namun orang lain mungkin tidak dapat mentransfer wawasan ke dalam kehidupan nyata. Namun, pengalaman ini mengganti dengan karakter sastra terbukti membantu banyak klien. G. Perhatian

1. Hindari topik-topik seperti aborsi, penggunaan narkotika, dan kriminal. usahakan untuk menceritakan tentang perhatian orang tua, komunitas, dan lainnya kecuali disepakati oleh pihak yang berwajib. 2. Akrablah dengan buku. Bacalah dan pahami buku sebelum digunakan.

METODE CERAMAH Bimbingan dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu siswa, dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Salah satu jenis layanan bimbingan yang banyak diberikan oleh konselor atau petugas bimbingan adalah metode ceramah. Metode ceramah telah lama dipergunakan untuk menyampaikan infomasi kepada sekelompok pendengar. Orang-orang Yunani, Hindu dan China misalnya, sejak beberapa abad yang silam, telah menggunakan ceramah sebagai alat utama untuk menyampaikan informasi. Dalam tradisi pembelajaran, ceramah juga telah lama menjadi alat yang dipergunakan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Sampai saat ini, metode ceramah masih dominan dalam pembelajaran di sekolah. Ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan bimbingan tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Metode ceramah merupakan layanan informasi Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada siswa dengan memberikan berbagai informasi yang diperlukan dan berguna bagi perkembangan diri siswa. Informasi yang disampaikan terkait dengan berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan pribadi, sosial, belajar maupun karir siswa di masa mendatang. Melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya. Demikian pula ceramah dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antar ide atau konsep yang dicermahkan atau menjelaskan hubungan antara teori dan hasil-hasil penelitian. Tujuan penggunaan metode ceramah adalah : Membantu seekelompok individu agar mampu mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuan, kesempatan. § Membantu sekelompok individu agar mampu mencapai perkembangan diri secara optimal Membantu sekelompok individu agar mampu melakukan pilihan dan mengambil keputusan atas tanggung jawabnya sendiri.

  

1. Kelebihan dan Kekurangan Metode Ceramah 1. Kelebihan :  Efisiensi waktu dan tenaga, sebab dalam satu waktu dapat dibimbing sejumlah individu secara bersama-sama  Dalam situasi kelompok, dapat terjadi saling membantu dalam memecahkan masalah, sehingga mendorongnya berkembangnya sikap sosial 2. Kelemahan :  Gaya penyampaian yang ditunjukkan konselor monoton jika tidak ada variasi  Siswa cenderung bosan dan tidak memperhatikan  Persepsi siswa yang memandang bahwa materi bimbingan tidak lebih penting dibandingkan dengan materi pelajaran 1. Tahap-Tahap Layanan Informasi Bimbingan dan Konseling Dengan Teknik Ceramah Pemberian layanan informasi bimbingan dengan teknik bercerita, dapat dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan Pada tahap persiapan, pembimbing merancang rencana layanan informasi bimbingan yang akan disampaikan kepada siswa. Adapun aktivitas pada tahap persiapan ini adalah:

1. Identifikasi kebutuhan/ masalah siswa, yaitu kegiatan untuk mengungkap materi apa yang dibutuhkan oleh sebagian besar siswa. 2. Menetapkan tujuan/ kompetensi yang akan dicapai. Tujuan ceramah ditetapkan berdasarkan pada tujuan bimbingan yang telah dirancang dan tercantum dalam program bimbingan. Tujuan yang dirumuskan merupakan tujuan bimbingan yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Perlu diingat bahwa berceramah di sini merupakan alat untuk mencapai tujuan bimbingan. 3. Menetapkan tema ceramah yang akan disampaikan. Berdasarkan pada tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan maka pembimbing dapat menentukan tema ceramah. Tema tersebut tentunya disesuaikan dengan tujuan, materi dan kondisi sasaran atau siswa yang akan dibimbing. Ceramah yang akan disampaikan biasanya disusun sendiri oleh pembimbing. Di samping itu pembimbing juga biasanya mengambil dari cerita-cerita yang telah ada, tetapi hendaknya dimodifikasi dan disesuaikan dengan tujuan bimbingan yang hendak dicapai. Persiapan tersebut di atas kemudian disusun secara tertulis dalam bentuk Persiapan Bimbingan atau Satuan Layanan Bimbingan. 2. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan menyampaikan ceramah kepada siswa, sesuai dengan rencana yang telah disiapkan. Langkah-langkah dalam pelaksanaan ini yaitu: 1. Pembukaan Awal pertemuan dengan siswa, pembimbing membuka kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada saat pembukaan aktivitas pembimbing yaitu:  Menciptakan rapport dan memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan dengan menginformasikan kegiatan dan tujuan yang hendak dicapai  Mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan formasi yang dirancang, bisa dalam bentuk melingkar, setengah lingkaran, bentuk u dan sebagainya. Di samping itu bias duduk dikursi atau lesehan di tikar/ karpet  Menyiapkan media yang akan digunakan  Menggali pengalaman awal siswa terkait dengan materi bimbingan yang akan disampaikan melalui berceramah  Menyampaikan topik dan tujuan bimbingan  Menyampaikan aturan-aturan yang harus diikuti selama proses berceramah. 1. Kegiatan inti, Menuturkan atau menyampaikan ceramah yang telah disiapkan kepada siswa. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan meliputi:  Vocal, pembimbing hendaknya memperhatikan suaranya saat menyampaikan ceramah, aspek yang diperhatikan meliputi volume suara, intonasi, warna suara irama dan cara pengucapannya;  Mimik pantomimik, yaitu peragaan tubuh dan ekspresi wajah saat menyampaikan ceramah;  Pengelolaan kelas, pembimbing memperhatikan keterlibatan siswa saat berceramah, perhatian yang merata kepada seluruh siswa;  Penggunaan media disesuaikan dengan teknik ceramah yang akan dipilih apakah menggunakan papan flannel, gambar, boneka dsb. 1. Diskusi/ Tanya jawab Setelah selesai berceramah, maka pembimbing mendiskusikan dengan para siswa dalam rangka memahami materi bimbingan yang disampaikan melalui ceramah 1. Penutupan

Pembimbing mengakhiri kegiatan dengan membuat kesimpulan dan memberi penekanan-penekanan pada pesan-pesan bimbingan yang disampaikan. 1. Evaluasi Memberikan penilaian terhadap siswa. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat keberhasilan siswa dalam menerima dan memahami materi bimbingan yang disampaikan melalui cerita.

Pengertian Home Visit Tugas dan fungsi guru tidak saja memberikan pendidikan, pengajaran, dan pelatihan saja, akan tetapi tugas yang melekat pada dirinya juga, tidak hanya sekadar di sekolah, akan tetapi juga di luar sekolah. Satu hal yang perlu menjadi perhatian dari guru, adalah tugas mendidik, tugas ini adalah sangat berat, karena mendidik tidak saja menjadikan seorang anak yang semula berperilaku tidak terpuji, akan tetapi berubah menjadi anak baik. Kunjungan ke rumah dan silaturahmi dengan orang tua atau wali murid perlu dilakukan, dan tugas ini tidak hanya dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling saja, akan tetapi untuk semua guru, terutama wali kelas atau guru kelas. Home visit merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan guru pembimbing atau wali kelas dengan mengunjungi orang tua/tempat tinggal siswa. Kegiatan dalam kunjungan rumah dapat berbentuk pengamatan dan wawancara, terutama tentang kondisi rumah tangga, fasilitas belajar, dan hubungan antaranggota keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan siswa. Masalah siswa yang dibahas dapat berupa bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan bidang bimbingan karier. Home visit bisa bermakna upaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan individu atau siswa yang menjadi tanggung jawab pembimbing atau konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling, kunjungan rumah dilakukan apabila data siswa utuk kepentingan pelayanan bimbingan atau konseling belum diperoleh melalui wawancara atau angket selain itu perlu dilakukan guna melakukan cek silang berkenaan dengan data yang diperoleh melalui angket dan wawancara. Home visit / kunjungan rumah adalah salah satu teknik pengumpul data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan teknik lain (WS.Winkel, 1995). Home visit perlu dilakukan dalam rangka membantu menangani masalah siswa walaupun tidak berlaku untuk seluruh siswa. Maksudnya, hanya siswa tertentu yang menurut perkiraan guru pembimbing perlu dilakukan kunjungan rumah, mengingat pemecahan masalah hanya dapat diselesaikan bila ada kontak dengan orang tua atau diperkirakan masalahnya bersumber dari lingkungan keluarga. Peran orang tua, dalam masalah ini adalah membimbing dan menuntun anaknya dengan baik, bebas dari lingkungan negatif, memberi keyakinan percaya diri yang cukup, de ngan memberikan fasilitas sesuai dengan kemampuan. Juga bertanggung jawab menjaga lingkungan keluarga dan masyarakat agar ideal, baik dalam bentuk pribadi santun maupun dalam ketaatan beribadah kepada Tuhan YME. Di samping itu, orang tua juga harus bersinergi dengan sekolah dengan cara turut serta memantau, mengevaluasi dan memberikan masukan positif untuk kemajuan sekolah, dengan tetap secara materiil membantu sekolah sesuai kemampuan.Masyarakat pun dituntut peran sertanya dalam soal ini, untuk menjaga lingkungan agar tetap ideal, dalam hal perilaku, sikap dan agamis sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia . Peran masyarakat dilakukan dengan tetap memantau setiap pribadi anak, dan mendiskusikan dengan orang tua. Apabila menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat, tokoh masyarakat dan pimpinan pemerintah setempat. Peran lainnya juga harus terus dilakukan masyarakat adalah mengevaluasi dan mengontrol sekolah, dengan didasari keikhlasan mengkritik dan menyampaikan masukan.

1. 2. 3. 4.

Sekolah secara formal memberikan pendidikan yang utuh sesuai dengan ketentuan yang ada dengan tetap menjadikan sekolah sebagai pusat budaya, terutama budaya lingkungan. Dengan menerima masukan dari orang tua dan masyarakat, sekolah akan terus berkembang dinamis menuju sekolah ideal, yang akhirnya akan melahirkan anak bangsa yang ideal pula Alasan Penggunaan Home Visit Pertimbangan diperlukannya kunjungan rumah, sebagai berikut: Jika permasalahan yang dihadapi siswa ada sangkut pautnya dengan masalah keluarga; Keluarga sebagai salah satu sumber data yang dapat dipercaya tentang keadaan siswa; Dalam kegiatan bimbingan diperlukan kerja sama antara guru pembimbing dengan orang tua; Faktor situasi keluarga memegang peranan penting terhadap perkembangan dan kesejahteraan anak. Tujuan home visit Membangun hubungan antara lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat. Mengumpulkan data yang berharga tentang latar belakang kehidupan anak dan keluarganya, mengumpulkan data dapat berarti mendapat data baru atau mengecek betul tidaknya data yang diperoleh melalui metode lain. Lebih mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari, bila informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket dan wawancara informasi. Untuk membicarakan kasus seorang siswa bila memerlukan kerjasama dengan orang tua. Pelaksanaan kunjungan rumah memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang dari guru pembimbing dan memerlukan kerja sama yang baik dari orang tua serta atas persetujuan kepala sekolah. Fungsi utama bimbingan yang ditopang oleh kegiatan kunjungan rumah ialah fungsi pemahaman. Langkah-langkah Home Visit Persiapan Menentukan tujuan. Menentukan waktu pelaksanaan Mengirim surat pemberitahuan kepada orang tua yang diketahui oleh kepala sekolah. Mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, misalnya daftar pertanyaan dan pedoman observasi. Pelaksanaan Perkenalan, dimaksudkan untuk mengadakan kontak yang baik agar konsep orang tua tidak bersifat defensif / mempertahankan diri. Untuk menciptakan hubungan baik, konselor harus bersikap sopan dan sabar, menjelaskan maksud dan tujuan home visit. Dengan demikian diharapkan orang tua siswa akan bersikap terbuka. Mengadakan observasi seperlunya. Mengadakan wawancara yang sesungguhnya dan secukupnya. Penutup Mengakhiri home visit dan minta diri. Akhirilah home visit pada waktu yang tepat, dengan melihat kemungkinan terjadinya kebosanan dan mempertimbangkan waktu. Pembuatan laporan Dalam menyusun laporan home visit hendaknya dibuat juga kesimpulan (sementara ). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Home Visit. Mengadakan persiapan mental sebelumnya mengenai informasi apa yang ingin diperoleh .

1. 2.

3. 4.

   

 

       

1. 2. 3. 4.

1. 2. 3. 4.

5. 6.

1. 2.

Konselor perlu bersikap wajar, sopan dan menghargai dan ada kesediaan untuk menolong untuk menghindari memberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan atau penggeledahan. Harus ada kepastian sebelum berkunjung ,bahwa kedatangan konselor akan disambut dengan baik. Kepastian itu dapat diperoleh dari surat balasan yang diberikan orang tua terhadap surat pemberitahuan dari sekolah mengenai rencana kunjungan rumah atau dengan menanyai siswa yang bersangkutan tentang rencana berkunjung ke rumahnya. Kalau siswa tidak menyukainya atau meragukan kerelaan orang tua menerima kunjungan petugas bimbingan / konselor, pada umumnya lebih baik rencana itu dibatalkan saja. Membuat catatan seperlunya, sesuai dengan tujuan. Hindari wawancara sepihak. Pada ibu biasanya banyak tersimpan data. Sebelum mengadakan home visit, sebaiknya pembimbing mempelajari data anak di sekolah. Mencari data sejauh yang memungkinkan. Pendekatan dapat dilakukan dari segi positif atau kekuatan dari keluarga anak. Hasil dari home visit dipergunakan dalam rangka menolong. Sesudah kembali dari kunjungan rumah, pembimbing membuat laporan singkattentang informasi yang diperoleh dengan membedakan antara fakta dan datadengan kesan pribadi yang merupakan interpretasi terhadap informasi.Laporan disimpan sendiri dan tembusan dilampirkan pada kartu pribadi siswa yang bersangkutan. Informasi yang dapat dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal : Letak rumah dan keadaan di dalam rumah : keadaan fisik daerah di sekitar rumah, ukuran rumah, perlengkapan di dalam rumah, sumber penerangan, dsb. Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa : ruang belajar, meja belajar, macam sumber penerangan, sumber-sumber gangguan. Kebiasaan belajar siswa : belajar pada waktu-waktu kapan, berinisiatif sendiri atau harus dikejar-kejar, belajar bersama teman atau sendirian. Suasana keluarga : corak hubungan antara anak dan orang tua (akrab atau tidak), sikap orang tua terhadap sekolah, sikap orang tua terhadap teman-teman bergaul anaknya, harapan kedua orang tua terhadap anaknya, tekanan ekonomi, dsb. Keterbatasan Home Visit. Menyita banyak waktu dari pembimbing di luar jam kerjanya. Orang tua mudah merasa tidak enak dipancingi informasi macam-macam tentang keadaan keluarganya. Informasi yang dapat diperoleh terbatas, sebab petugas bimbingan hanya melihat ruang tamu. Pada umumnya orang tua cenderung memberikan kesan yang baik tentang keluarganya, sehingga informasi yang diberikan tidak / belum tentu menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Orang tua siswa belum menyadari pentingnya kunjungan rumah. Hambatan bagi pembimbing yang belum matang secara pribadi dan dalam pemahaman sosial yaitu adanya kesukaran ketika berhubungan dengan orang tua. Adanya perasaan curiga dari orang tua jika tujuan home visit tidak jelas. Kelebihan Home Visit Mendapatkan secara langsung data dan masalah yang dihadapi oleh siswa. Dapat untuk mencocokkan data yang sebelumnya telah diperoleh dari siswa. Memperoleh hubungan timbal balik / kerjasama yang sehat antara pembimbing dan orang tua.

Kelompok Belajar Arti secara harafiah dari kelompok belajar yaitu, Kelompok diartikan sebagai suatu kumpulan orang, jadi lebih dari satu orang, bisa dua orang atau lebih. Belajar merupakan upaya untuk tahu, yang terjadi selama orang itu masih hidup. Kelompok Belajar merupakan suatu metode atau teknik dalam memberikan bimbingan kepada siswa dalam hal ini konseli, konseli dibuat berkelompok-kelompok untuk belajar mengenai suatu masalah, sekelompok siswa diajarkan untuk saling bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai permasalahan dan solusi. Setelah terbentuk kelompok belajar konselor memiliki peran untuk mendampingi kelompok, memfasilitasi kelompok dalam upaya menciptakan keharmonisan antar anggota kelompok, sebelum tercipta ikatan psikologis antar anggota kelompok sehingga pada akhirnya diharapkan kelompok tersebut dapat mandiri, seolah tak perlu lagi didampingi oleh konselor. Konselor dapat melemparkan permasalahan, atau konselor mendampingi siswa untuk menemukan masalah-masalah mereka secara umum kemudian dibahas untuk dicari solusinya secara bersama-sama. Metode kelompok belajar dapat menumbuhkan memotivasi belajar bagi para peserta didik dalam meningkatkan prestasi belajar. Dikatakan demikian, karena melalui kelompok ini Para siswa akan lebih terpacu untuk mencari hal-hal yang belum mereka ketahui dengan cara berdiskusi dengan para satuan kelompok mereka. Melalui pembentukan kelompok belajar, para siswa dilatih membentuk suatu kepribadian kesatuan serta kebersamaan, karena dengan cara seperti ini siswa yang kemampuannya kurang pandai dapat bekerja sama saling tukar pengetahuan dengan siswa yang lebih pandai. Tujuan kelompok belajar : 1. Meninggikan rasapercayadiri terhadap kemampuan siswa. 2. Mengembangkan kemampuan siswadalambersosialisasi. 3. Mewujudkan tingkah laku yang lebih efektif. 4. Meningkatkan prestasi belajar siswa. 5. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Manfaat kelompok belajar: 1. Apabila guru dalam menghadapi anak didik dikelas merasa perlu membagi-bagi anak didik dalam kelompok untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu tugas pekerjaaan yang perlu untuk dikerjakan bersama-sama maka mengajar dengan cara kerja kelompok sangatlah tepat untuk dilaksanakan. 2. Belajar dengan membentuk kelompok belajar dapat memotivasi semangat belajar antara teman yang satu dengan lainnya. 3. Saling berbagi informasi dan pengetahuan antar teman.teman yang pandai dapat mengajari dan menularkan ilmunya kepada teman yang lainnya. Denagn begitu, materi yang diserap oleh siswadapat merata kepada siswa lain. 4. Membangun komunikasi timbal balik dengan adanya diskusi. 5. Bekerjasama menyelesaikan PR maupun tugas sekaligus bersosialisasi di luar sekolah sehingga tdak membosankan. 6. Meringankan tugas yang diberikan kepada siswa karena dikerjakakan bersamasama 7. Mengoptimalkan kemampuan berpikir siswa dalam menanggapi suatu permasalahan. 8. Belajar lebih menyenangkan karena dikerjakan secara berkelompok/bersama-sama. Jenis-jenis kelompok belajar:

Kelompok belajar terdiri atas berbagai macam jenis. Terbagi berdasarkan jumlah siswa perkelompokdan berdasarkan kemampuan siswa. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut : a. Kelompok belajar berdasarkan jumlah siswa per kelompok : 1. Kelompok besar,dengan jumlah siswa 20-40 siswa.,misalnya komunitas percakapan Bahasa Inggris. 2. Kelompok kecil, dengan jumlah siswa 5-10orang. 3. Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja) b. Kelompok belajar berdasarkan kemampuan siswa : 1. Kelompok belajar sedang adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan bimbingan dan dorongan secara utuh supaya kelompok tersebut berhasil. 2. Kelompok belajar cukup, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan motivasi dan perhatian supaya berhasil mencapai tujuan. 3. Kelompok belajar baik, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang sudah mulai mandiri dalam menyelesaikan tugasnya. PEMBENTUKAN KELOMPOK BELAJAR Dalam pembentukan kelompok belajar ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan,antara lain : tujuan,materi, fasilitas belajar,dan karakteristik siswa. Jika fasilitas belajar dipandang hanya dapat digunakan oleh kelompok kecil secara bergantian,maka siswa harus di bagi menjadi beberapa kelompok belajar. Teknik pembentuk kelompok: Untuk membentuk kelompok belajar, ada beberapa cara atau tehnik yang dapat digunakan,yaitu pembentukan yang bersifat : a. Teknik pembentukan secara otoriter Dalam pembentukan kelompok belajar dengan cara ini kelompok ditentukan sedemikian rupa oleh guru atau pembimbing tanpa memperhatikan pendapat anakanak. Dengan demikian maka kelompok itu besar kemungkinannya tidak sesuai dengan kehendak anak—anak. b. Teknik pembentukan secara bebas Teknik ini adalah dengan menyerahkan pembentukan kelompok belajar itu kepada anak-anak sementara guru atau pembimbing tidak ikut campur tangan. Teknik ini merupakan teknik yang sebaliknya dari yang pertama. Teknik ini pun mengandung segi-segi yang menguntungkan disamping itu juga ada segi—segi kelemahannya: Keuntungan:  Anak-anak dapat memilih teman yang betul-betul cocok sehingga mereka betul-betul kompak dan dapat diharapkan akan dapat berlangsung dengan baik.  Di dalam kelompok itu ada kepercayaan yang mendalam sehingga antara mereka dapat berterus terang mengenai segala sesuatu.  Memacu motivasi siswa untuk aktif belajar.  Menciptakan rasa kebersamaan serta bekerja sama.  Menanamkan solidaritas antar teman dalam kelompok.  Memudahkan meleksanakan tugas dari guru.

- Menanamkan pentingnya musyawarah dalam memecahkan suatu masalah

Kelemahan :  Mungkin akan adaanakyang tidakdipilih sama sekali untukmasuk kedalam kelompok.  Ada kemungkinan bila kelompokyang satu dengan yang lain akan saling tertutup menutupi sehingga akan dapat menimbulkan efek yang kurang baik.  Ada kemungkinan bahwaanak—anak yang pandai akan menjadi satukelompok,demikian pula dengan anak—anak yang bodoh. Situasi yang demikian akan berakibat tidak baik.  Ada kemungkinan anak-anak dari lingkungan sosial yang baik,terutama dari segi sosialekonomi,menjadi satu dan demikian juga sebaliknya. Keadaan yang demikian jelas tidak baik dari segi pendidikan karena pada anak-anak akan tertanam sikap atau sifat yang kurang bauk, yaitu anak yang satu akan memandang rendah anak yang lain. c. Teknik pembentukan secara terpimpin Pembentukankelompok belajar dengan teknik ini merupakan teknik yang sebaikbaiknya. Teknik ini merupakan perpaduan dari kedua teknik diatas. Kiat-kiat belajar kelompok agar efisien: 1. Jumlah anggota kelompok maksimal adalah 5 orang. Dengan anggota kelompok yang tidak terlalu banyak diharapkan siswa bisa lebih focus dalam berdiskusi. 2. Menentukan materi belajar jauh-jauh hari sebelum belajar kelompok dilaksanakan. Menentukan materi belajar sebelum belajar kelompok dilakukan adalah sangat penting agar semua anggota bisa mempersiapkan diri terhadap materi yang akan didiskusikan. 3. Waktu belajar dari kelompok tersebut, minimal 2 jam tiap pertemuan dan dilakukan 3 kali dalam seminggu. Waktu belajar yang efektif adalah siang hari atau sore hari setelah istirahat di rumah. Mengusahakn agar setiap anggota datang tepat pada waktunya di tempat yang disepakati sebelumnya. 4. Menciptakan suasana belajar yang serius tapi santai. Setiap anggota kelompok diharapkan untuk fokus terhadap materi yang didiskusikan. Hindari bercanda yang berkepanjangan atau bermain HP saat belajar kelompok. Apabila anda teman yang bercanda terlalu lama jangan sungkan untuk menegurnya demi tercapainya tujuan belajar kelompok. 5. Memilih tempat belajar yang nyaman dan tenang, jauh dari televisi atau keramaian. Tempat belajar kelompok yang tenang dan nyaman sangat membantu dalam meningkatkan konsentrasi dalam proses belajar dan berdiskusi. 6. Memanfaatkan waktu untuk mengerjakan soal-soal yang telah disepakati. Tiap-tiap anggota harus mengerjakan soalnya sendiri-sendiri. Apabila ada anggota yang tidak bisa mengerjakan suatu soal, anggota yang lain harus menjelaskan kepadanya sampai ia mengerti. Tidak sungkan untuk bertanya apabila tidak bisa mengerjakan soal. Bila semua anggota kelompok tidak ada yang mampu, catatlah soal tersebut untuk ditanyakan kepada guru di sekolah. 7. Tidak sungkan membantu menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain. Semakin sering anda menjelaskan suatu materi kepada orang lain maka semakin dalam juga penguasaan anda terhadap materi tersebut. Kelebihan dan kelemahan teknik kelompok belajar.

Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan teknik kelompok belajar, hal ini disebabkan tiap-tiap individu peserta didik berbeda-beda dalam pengetahuannya maupun kepribadiannya, Berikut beberapa kelebihan serta kekurangannya : KELEBIHAN :  Memacu motivasi siswa untuk aktif belajar.  Menciptakan rasa kebersamaan serta bekerja sama.  Menanamkan solidaritas antar teman dalam kelompok.  Memudahkan meleksanakan tugas dari guru.  Menanamkan pentingnya musyawarah dalam memecahkan suatu masalah. KEKURANGAN :  Siswa yang mempunyai pengetahuan lemah akan diremehakan oleh yang lebih pandai.  Membosankan bagi siswa pandai yang merasa rekan sekelompok tidak memberi kemanfaatan baginya.  Rasa malas kerena jauh dari pantauan guru. Kesimpulan Kelompok Belajar merupakan salah satu metode belajar dengan cara berkelompokkelompok untuk menyelesaikan suatu tugas yang dirasa perlu dikerjakan secara bersamasama, belajar kelompok sangat berpengaruh dalam memotivasi belajar bagi para peserta didik dalam meningkatkan prestasi belajar. Kelompok belajar merupakan teknik bimbingan yang diadopsi dari teknik pembelajaran yang mana digunakan untuk menyelesaikan tugastugas pembelajaran yang melibatkan aspek kognitif. Sedangkan dalam bimbingan, metode belajar kelompok dimanfaatkan sebagai sarana mengasah kepekaan afeksi siswa.

Konseling individu A. Pendahuluan Banyak anak muda yang enggan membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam sekolahsekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang konselor. Konseling telah dianggap sangat rumit, dengan setiap kata, sikap dan keheningan yang dianggap penting, yang hanya bisa terjadi antara konselor yang terampil dan konseli yang berminat. Bersama-sama mereka mencari makna tersembunyi di balik perilaku. Seperti pemeriksaan pribadi memerlukan sikap permisif dan kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide secara mendalam, di bawah pengawasan ketat dari konselor. Selama bertahun-tahun, telah diasumsikan bahwa pengalaman ini hanya bisa terjadi dalam interaksi antara dua orang. Konseling individu terkenal di sekolah karena berbagai alasan. Konseling individu lebih mudah untuk dijadwalkan daripada teknik bimbingan lain dan mungkin tampak lebih praktis. Selain itu, ini adalah teknik bimbingan yang paling sering digunakan. Selain itu, banyak konselor sekolah merasa lebih menyukai konseling individu. Karena konseling individual tampaknya lebih mudah untuk dipahami dan diatur, kebanyakan konselor pemula mengunakan teknik ini untuk konseling di sekolah. Program pendidikan konselor telah memperluas penawaran program mereka untuk memasukkan konseling kelompok, konsultasi, dan intervensi lain, tetapi, konseling individu masih merupakan fokus utama untuk persiapan konselor. Untuk alasan ini dan lainnya, konseling individu adalah teknik bimbingan yang utama di sekolah-sekolah. Ini adalah fungsi pekerjaan yang sah dan akan selalu menjadi bagian unik dan penting dari peran konselor. B. Pengertian Pengertian konseling individual mempunyai makna spesifik dalam arti pertemuan konselor dengan konseli secara individual, dimana terjadi hubungan konseling yg bernuansa raport, dan konselor berupaya memberikan bantuan untuk pengembangan pribadi konseli serta konseli dapat mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapinya. Konseling individual adalah kunci semua kegiatan bimbingan dan konseling. Karena jika menguasai teknik-teknik konseling individual berarti akan mudah menjalankan proses bimbingan dan konseling. Karena itu kepada calon konselor disarankan agar menguasai proses dan teknik konseling individual. Layanan konseling individual yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing/konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalahnya. Dalam konseling individual, kedua pihak harus bekerja sama agar konseli dapat memahami diri dan permasalahannya serta mampu mengembangkan potensi positif dalam dirinya. Yang terpenting lagi, klien harus mampu memecahkan masalahnya sendiri. Selanjutnya konselor harus memiliki keterampilan konseling yaitu menguasai teknik-teknik konseling disetiap tahapan proses. Konseling individual dapat memuat beberapa hal yaitu: 1) Usaha membantu konseli dalam upaya mengentaskan permasalahan; 2) Menjaga kerahasiaan konseli;

3) Konseling individual akan membuat hubungan akrab antara konseli dan konselor; 4) Proses membelajaran konseli; 5) Pelaksanaannya dilakukan secara tatap muka; 6) Tujuannya agar konseli dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus yang dialaminya. C. Tujuan 1. Mendorong konseli untuk mengembangkan potensinya agar bekerja efektif, produktif, dan mandiri. 2. Agar konseli mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. 3. Membantu konseli agar seimbang antara pengembangan intelektual, social, emosional, moral, dan religious. 4. Agar konseli dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus yang dialaminya. 5. Agar konseli dapat memahami diri dan permasalahannya serta mampu mengembangkan potensi positif dalam dirinya. D. Pendekatan dalam konseling individual:  Directvie counseling yaitu: dengan mnerapkan prosedur atau teknik playanan konseling tertuju pada masalahnya, konselor yang membuka jalan pemecahan masalah. Peran konselor adalah aktif mengarahkan konseli mengatasi masalahnya.  Non-directive counseling, yaitu: dengan menerapkan prosedur bimbingan yang difokuskan pada anak. Adanya pelayanan bimbingan bukan pelayanan yang mengambil inisiatif, tetapi klien sendiri yang mengambil prakarsa, yang menentukan sendiri apakah ia membutuhkan pertolongan atau tidak. Peran konselor adalah menampung dan mengarahkan.  Eklective counseling, yaitu: dengan menerapkan prosedur pelayanan tidak dipusatkan pada pembiming atau klien, tetapi masalah yang dihadapi itulah yang harus ditangani secara luwes, sehingga tenang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang diperlukan. Dalam menentukan pendekatan mana yang akan dipakai, harus memperhatikan hal-hal berikut:  Sifat masalah yang dihadapi (misalnya tingkat kesulitan dan kekompleksannya).  Kemampuan konseli dalam memainkan peranan dalam proses konseling.  Kemampuan konselor sendiri, baik pengetahuan maupun keterampilan dalam menggunakan masing-masing pendekatan. E. Tahap-tahap 1. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak konseli menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan konseli menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain: a) Membangun hubungan konseling yang melibatkan konseli (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya

asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan. b) Memperjelas dan mendefinisikan masalah . Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan konseli telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah konseli. c) Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi konseli, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. d) Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan konseli, berisi : 1) kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh konseli dan konselor tidak berkeberatan; 2) kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan konseli; dan 3) kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseli dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. 2. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja . Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :  Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah konseli lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar konseli mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.  Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersamasama konseli meninjau kembali permasalahan yang dihadapi konseli. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika : 1. Konseli merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. 2. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik -teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap konseli. 3. Proses konseling berjalan sesuai kontrak. 4. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun konseli. 3. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu: 1. Konselor bersama konseli membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. 2. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya. Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ;

1) 2) 3) 4)

Menurunnya kecemasan konseli; Perubahan perilaku konseli ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis ; Pemahaman baru dari konseli tentang masalah yang dihadapinya; dan Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

F. Hal-hal yang harus diperhatikan 1. Pada tahap awal: - Keterampilan konselor harus dipersiapkan - Konselor harus bisa mengatur jalannya konseling 2. Pada tahap inti: - Konselor mampu menggali masalah konseli - Keterampilan mendengarkan dan menarik kesimpulan sangat penting 3. Pada tahap akhir: - Solusi harus disesuaikan dengan masalah konseli G. Materi layanan konseling individual 1. Pemahaman sikap, kebiasaan, kekuatan diri dan kelemahan, bakat, dan minat serta penyalurannya. 2. Pengentasan kelemahan diri dan pengembangan kekuatan diri. 3. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima dan menyampaikan pendapat, bertingkahlaku social, baik di rumah, sekolah, dan masyarakat. 4. Mengembangkan sikap kebiasaan belajar yang baik, disiplin dan berlatih, dan pengembangan potensi diri. 5. Pemantapan pemilihan jurusan dan perguruan tinggi. 6. Pengembangan karir. 7. Pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi pribadi, keluarga dan social. H. Kelebihan 1. Hubungan lebih erat. 2. Kerahasiaan terjamin. 3. Konseli bisa lebih terbuka. 4. Perhatian konselor memusat pada satu konseli. 5. Konselor dapat menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. 6. Konselor bisa mengetahui bahasa verbal maupun nonverbal konseli. Kekurangan 1. Ada rasa canggung konseli kepada konselor. 2. Butuh keahlian dan keterampilan seorang konselor. 3. Menyita banyak waktu. 4. Jika konselor tidak punya keterampilan yang bagus, proses konseling tidak berjalan lancar. KONSELING TEMAN SEBAYA Pada awalnya konseling teman sebaya muncul dengan konsep peer support yang di mulai tahun 1939 untuk membantu para penderita alkoholik(Carter, 2005 : 2). Dalam konsep tersebut diyakini bahwa individu yang pernah kescanduan alkohol dan memiliki pengalaman berhasil mengatasi kecanduannya tersebut akan lebih giat membantu individu lain yang sedang mencoba mengatasi kecanduan alkohol. I.

Pada dasarnya konseling teman sebaya merupakan suatu cara bagi para remaja (siswa) belajar bagaimana memperhatikan dan membantu anak- anak lain, serta menerapkannya dalan kehidupan sehari- hari (Carr, 1981 : 3). Sementara itu, Tindall dan Gray (1985:5) mendefinisikan konseling teman sebaya sebagai suatu ragam tingkah laku membantu secara interpersonal yang dilakukan oleh individu nonprofesional yang berusaha membantu orang lain. Konseling sebaya merupakan suatu bentuk pendidikan psikologis yang disengaja dan sistematik. Konseling sebaya memungkinkan siswa untuk memilik ketrampilan- ketrampilan guna mengimplementasikan pengalaman kemandirian dan kemampuan mengontrol diri yang sangat bermakna bagi remaja. Secara focus konseling sebaya tidak memfokusksn pada evaluasi isi, namun lebih memfokuskan pada proses berfikir, proses- proses perasaan dan proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, konseling sebaya memberikan kontribusi pada dimilikinya pengalaman yang kuat yang dibutuhkan oleh para remaja yaitu respect, (Carr, 1981:4). Istilah ―konselor‖ sebaya kadang menimbulkan kekhawatiran karena orang akan memiliki persepsi yang sama dengan konselor professional. Oleh karena itu beberapa orang menyebut ―konselor sebaya‖ dengan sebutan ―fasilitator‖ atau ―konselor yunior‖. Terlepas dari berbagai sebutan yang digunakan, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana remaja berhubungan satu sama lain, dan dengan cara bagaimana hubungan- hubungan itu dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan mereka. Konseling teman sebaya dipandang penting karena sebagian besar remaja lebih sering membicarakan masalah- masalah mereka dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua, pembimbing, atau guru di sekolah. Untuk masalah yang dianggap sangat seriuspun mereka bicarakan pada teman sebaya(sahabat). Terdapat Sembilan area dasar yang memiliki sumbangan penting terhadap perlunya dikembangkan konseling teman sebaya (Carr,1981: 5-12) : 1) Hanya sebagian kecil siswa yang memanfaatkan dan mau berkonsultasi langsung dengan konselor, mereka (siswa) lebih sering menjadikan teman teman mereka sebagai sumber yang diharapkan dapat membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi, maupun sebagai sumber pertama dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan pribadi, perencanaan karir, dan bagaimana melanjutkan pendidikan formal mereka. 2) Pelatihan konseling sebaya itu sendiri juga dapat merupakan suatu bentuk treatment bagi para ―konselor‖ sebaya dalam membantu perkembangan psikologis mereka. 3) Di kalangan remaja kesepian atau kebutuhan akan teman merupakan salah satu diantara lima hal yang paling menjadi perhatian remaja. Kenyataan ini menunjukkan bahwa teman memungkinkan untuk saling membantu satu sama lain dengan cara yang unik tidak dapat diduga oleh para orang tua dan para pendidik. 4) Dasar keempat penggunaan siswa untuk membantu siswa lainnya muncul dari penekanan pada usaha preventif(Carr:1976). Program prevensi memiliki dua level tujuan yaitu: kebutuhan untuk memperkuat siswa dalam menghadapi pemecahan masalah secara lebih efektif dan pada saat yang sama mengurangi insiden faktor- faktor destruktif secara psikologis yang terjadi dalam lingkungan misalnya dengan mengeliminasi lingkungan yang kurang mendukung. 5) Siswa perlu memiliki kompetensi (menjadi kuat), perlu kecerdasan (bukan hanya akademik tapi juga dalam memahami suasana), pengambilan peran tanggumg jawab(menjadi terhormat) dan harga diri( menjadi bermaknadan dapat dipahami). Para

siswa memahami bagaimana kuatnya kebutuhan- kebutuhan tersebut, akan tetapi tidak semua orang tua memahami keadaan ini, sehingga remaja sering kali mencari sesama remaja yang memiliki perasaan yang sama, mencari teman yang mau mendengarkan, dan bukan untuk memecahkan atau tidak memecahkan masalahnya, tetapi mencari orang yang mau menerima dan memahami dirinya. 6) Kemandirian adalah suatu kunci keberhasilan bagi para remaja dan menjadi suatu hal yang penting bagi orang dewasa untuk memahami kemandirian dalam kaitannya dengan perspektif budaya teman sebaya. 7) Secara umum, penelitian- penelitian yang dilakukan tantang pengaruh tutor sebaya(Allen,1976; Gartner, Kohler dan Reissman, 1971) menunjukkan bahwa penggunaan teman sebaya dapat memperbaiki prestasi dan harga diri siswa- siswa lainnya. Beberapa siswa lebih senang belajat dengan teman sebayanya. 8) Peningkatan kemampuan untuk dapat membantu diri sendiri (self-help) atau kelompok yang saling membantu juga merupakan dasar bagi perlunya konseling sebaya. 9) Landasan terakhir adalah pada suplay dan biaya konselor professional yang dari waktu ke waktu terus bertambah dengan ongkos layanan yang semakin tidak terjangkau bagi sebagian remaja. Konseling teman sebaya secara kuat menempatkan ketrampilan- ketrampilan komunikasi untuk memfasilitasi eksplorasi diri dan pembuatan keputusan. ―konselor‖ sebaya bukanlah tenaga professional atau ahli terapi. ―Konselor‖ sebaya adalah para siswa (remaja) yang memberikan bantuan kepada remaja lain dibawah bimbingan konselor ahli. Dalam konseling sebaya peran dan kehadiran konselor ahli tetap dibutuhkan. ―Konselor ― sebaya terlatih yang direkrut dari jaringan kerja sosial memungkinkan terjadinya sejumlah kontak yang spontan dan informal. Kontak- kontak yang demikian memiliki berbagai efek pada berbagai aspek dari remaja lainnya. Kontak- kontak tersebut juga dapat memperbaiki atau dapat menjadi jembatan penghubung antara konselor profesional dengan para siswa(remaja) yang tidak sempat atau tidak bersedia bertemu dengan konselor. Konseling sebaya dibangun melalui langkah- langkah sebagai berikut: 1. Pemilihan calon ―Konselor‖ teman sebaya. Meskipun ketrampilan pemberian bantuan dapat dikuasai siapa saja namun faktor kesukarelaan dan kepribadian ternyata menentukan keberhasilan pemberian bantuan. Maka dari itu pemilihan calon ―konselor‖ sebaya didasarkan pada karakteristik- karakteristik sebagai berikut: 1. Hangat 2. memiliki minat untuk membantu secara suka rela, 3. dapat diterima orang lain, 4. toleran terhadap perbedaan sistem nilai, 5. energik, 6. memiliki emosi yang stabil, 7. Menghargai dan menghormati konseli. 8. Peka terhadap perasaan orang dan mampu berempati. 9. memiliki prestasi belajar yang cukup baik atau minimal rerata, 10. serta mampu menjaga rahasia Setelah memilih siswa yang memiliki kriteria tersebut kemudian dapat dilatih sekitar beberapa minggu. 1. Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan personal yang menggantikan fungsi dan peran konselor. Materi- materi pelatihan yang meliputi ketrampilan konseling dan ketrampilan daya lentur(resiliensi) dikemas dalam modul- modul yang disajikan berurutan. Calon ―konselor‖ teman sebaya dibekali kemampuan untuk membangun komunikasi

interpersonal secara baik. Seperti kemampuan berempati, ketrampilan bertanya, ketrampilan pemecahan masalah, dsb. Penguasaan terhadap kemampuan membantu diri sendiri dan kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal secara baik akan memungkinkan seorang remaja memililiki sahabat yang cukup. Selain melatih kemampuan- kemampuan tersebut ketrampilan untuk melatih daya lentur (resiliensi) juga diperlukan. Resiliensi adalah kemampuan penting bagi individu untuk menghadapi berbagai situasi dan susasana yang seringkali tidak dapat dielakkan dalam hidup. Dengan menguasai ketrampilan- ketrampilan tersebut calon ―konselor‖ teman sebaya mampu membantu diri sendiri dan teman lain. Resiliensi individu tergambarkan dari tujuh faktor resiliensi yaitu: pengendalian emosi, pengendalian dorongan, optimisme, kemampuan melakukan analisis penyebab, empati, efikasi diri, serta kemampuan membuka diri. Kemampuan resiliensi adalah kemampuan yang lebih bersifat dipelajari, bukan sekedar diturunkan. Melalui konseling teman sebaya, resiliensi remaja dapat ditingkatkan. 1. Pelaksaan dan pengorganisasian konseling teman sebaya. Dalam prakteknya interaksi ―konseling‖ teman sebaya lebih banyak bersifat spontan dan informal. Spontan karena interaksi tersebut dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak perlu menunda. Informal, karena memang tidak formal. Berikut ini diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan konseling sebaya, yang tentunya keterampilan konselor sebaya yang diperlukan relatif sangat sederhana apabila dibandingkan dengan keterampilan konselor professional. Hubungan Konseling Sebaya : 1. hubungan saling percaya 2. Komunikasi yang terbuka 3. Pemberdayaan konseli agar mampu mengambil keputusannya sendiri. Keterampilan Konselor Sebaya : 1. Membina suasana yang aman, nyaman, dan menimbulkan rasa percaya konseli terhadap konselor. 2.Melakukan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang bercirikan : komunikasi dua arah Perhatian pada aspek verbal dan non verbal Penggunaan pertanyaanuntuk menggali informasi, perasaan dan pikiran Kemampuan melakukan 3 M (Mendengar yang aktif, memahami secara positif, dan merespon secara tepat), seperti : - Jaga kontak mata dengan lawan bicara/konseli (sesuaikan dengan budaya setempat) - Tunjukkan minat mendengar - Jangan memotong pembicaraan konseli, atau melakukan kegiatan lain. - Ajukan pertanyaan yang relevan. - Tunjukkan empati. -Lakukan refleksi dengan cara mengulang kata-kata konseli dengan menggunakan kata-kata sendiri. -Mendorong konseli untuk terus bicara dengan memberikan dorongan minimal, seperti ungkapan (oh ya.., ehm..., bagus), dan anggukan kepala, acungan jempol, dan lain lain. Tempat Konseling : Sebenarnya konseling dapat dilakukan di mana saja, asalkan syarat-syarat berikut terpenuhi, antara lain : terjamin privacy nyaman dan tenang

1. 2. 3. 4.

1. 2.

3. tidak bising  Kiat-kiat khusus melaksanakan konseling sebaya (pada remaja) 1. Terbuka, membiarkannya untuk bertanya seluas-luasnya termasuk hal yang tabu 2. Fleksibel, memberikan jawaban yang sederhana dengan kata-kata yang mudah dimengerti. 3. Dapat dipercaya, jujur, dan apabila tidak mengerti jawaban dari pertanyaan konseli, katakana bahwa lain waktu akan berusaha menjawab karena sekarang belum mengerti. 4. Menjaga kerahasiaan konseli. 5. tunjukkan sikap tenang, jangan mudah panik dan terlalu heran pada hal baru. 6. Menghargai konseli dan jangan menadang rendah dirinya. 7. Memahami, dan tidak memberikan penilaian, apalagi penilaian megatif tentang konseli. 8. Bersabar, biarkan konseli yang mengambil keputusannya sendiri.  Persiapan konselor sebelum pertemuan konseling : 1. Menyiapkan mental dan psikologis, artinya konselor sedang tidak terbawa oleh emosi atau masalahnya sendiri. 2. Mengatur dan menata tempat konseling sesuai persyaratan. 3. Menyiapkan alat, atau hal-hal yang mempermudah bantuan konseling.  Langkah-langkah /tahapan konseling : 1. Mengucapkan salam. 2. Mempersilakan konseli duduk. 3. Menciptakan situasi yang membuat konseli merasa nyaman. 4. Mengajukan pertanyaan tentang maksud dan tujuan kedatangannya. 5. Berikan informasi yang sangat dibutuhkan konseli, termasuk berbagai alternatif jalan keluar. 6. Mendorong dan membantu konseli untuk menentukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi. 7. Sampaikan tawaran untuk konseling berikutnya apabila masih perlu pembicaraan selanjutnya, dan ucapkan salam penutup dan terima kasih.  Situasi sulit yang perlu dikenal oleh konselor : 1. Bila konseli pasif dan diam. 2. Konseli menangis. 3. Konseli menanyakan hal yang bersifat pribadi kepada konselor. 4. Konseli minta konselor untuk mengambil keputusan. 5. Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan konseli. 6. Konselor tidak menemukan solusi masalah. 7. Konselor dan konseli saling mengenal.

KOTAK MASALAH 1. Pengertian kotak masalah

Kotak masalah atau ― problem box ― sering kali disebut dengan kotak tanya. Kotak masalah merupakan layanan bimbingan dengan cara menaruh kotak pada tempat yang setrategis, sehingga murid dapat menyampaikan segala masalahnya secara tertulis yang ditujukan kepada sekolah atau pembimbing dengan memasukkannya kedalam kotak tersebut. Kotak masalah ini diselenggarakan karena sering adanya murid yang tidak dapat atau tidak mau menyampaikan masalahnya secara langsung kepada pembimbing karena beberapa alasan ; atau sehubungan dengan masalah yang bersifat umum atau klasikal, disamping yang bersifat pribadi. Penyampaian masalah melalui kotak masalah ini merupakan cara penyampaian yang bersifat pendahuluan. Hal ini harus mendapat perhatian pembimbing. 2. Pelaksanaan kotak masalah

Sekolah menyediakan kotak tertentu. siswa/konseli atau pejabat-pejabat yang lain dapat memasukkan hal-hal atau masalah-masalah yang menjadi persoalannya ke dalam kotak tersebut. Pada waktu tertentu (yang telah di tetapkan, misalnya seminggu sekali atau tiga hari sekali), kotak itu di buka oleh konselor atau guru pembimbing untuk dipelajari Jika dilihat dari masalahnya maka sifatnya ada dua macam, antara lain : A. Masalah yang bersifat umum

Apabila masalah bersifat umum maka cara pemecahan persoalannya mengenai bagaimana cara belajar yang baik atau bagaimana cara belajar bahasa inggris dan sebagainya. Ini dapat dikemukakan kepada siswa/konseli secara keseluruhan. B. Masalah yang bersifat khusus Apabila sifatnya khusus maka berarti hanya khusus mengenai siswa/konseli tertentu. Oleh karena itu, cara pemecahannya juga secara individual, yaitu dengan konseling. 3. Tata cara memasukkan masalah ke kotak masalah Tentang cara memasukkan masalah melalui kotak masalah ada dua yaitu: 1. Siswa/konseli memasukkan masalah (ditulis berupa surat) kedalam kotak masalah harus mencantumkan identitasnya; dengan demikian ada pertanggung jawaban dari Sisiwa/konseli yang memasukkan

masalahnya melalui kotak masalah. Namun demikian, dengan cara ini akan terjadi Sisiwa/konseli kurang terbuka dalam menyampaikan masalahnya karena merasa takut apabila dengan menyampikan masalahnya tersebut iya akan menerima sangsi tertentu. 2. Siswa/konseli memasukkan masalahnya (ditulis berupa surat) melalui kotak masalah tanpa mencantumkan identitasnya. Dengan cara ini Sisiwa/konseli akan menyampaikan masalahnya dengan panjang lebar dan sangat terbuka. Namun demikian cara ini juga mengandung kelemahan antara lain tidak adanya pertanggung jawaban dari siswa/konseli yang memasukkan masalah tersebut, dan pembimbing tidak mengetahui siapa yang memasukkan masalah tersebut. 4. Kelemahan dan kelebihan Kotak masalah · A. Kelemahan

1. Tidak terjalin hubungan atau pun interaksi antara seorang konselor dengan konselinya 2. Seorang konselor tidak dapat untuk melihat kondisi psikologis dari konselinya, 3. Sulit bagi seorang konselor untuk memberikan suatu layanan program bimbingan di karenakan data yang di miliki oleh seorang konselor tentang konselinya terbatas, 4. Adanya jarak antara konselor dengan konseli. · B. Kelebihan 1. siswa/konseli akan menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam menceritakan permasalahan yang di alaminya, 2. Adanya kesukarelaan dari seorang konseli didalam proses bimbingan konseling, 3. Konseli yang memiliki sifat tertutup bisa juga untuk menceritakan permasalahan yang dihadapinya sekarang dengan leluasa.

MEDIA MASSA SEBAGAI TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING LATAR BELAKANG Dalam sebuah kegiatan bimbingan dan konseling seorang konselor konselor mulai menggunakan media-media yang mampu menunjang kebutuhan para konseli. Dalam pengunaan media yang menunjang kegiatan konseling, ada beberapa media yang sangat cocok untuk digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu media massa khususnya media internet atau teknologi informasi. Jadi, dengan adanya pelayanan Bimbingan dan Konseling berbasis Teknologi Informasi diharapkan dapat diakses dimanapun, kapanpun, atau setiap saat dan mampu membantu konseli dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak waktu untuk menemui konselor. PENGERTIAN MEDIA MASSA Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002). 1. Hubungan Media Massa dengan Bimbingan dan Konseling Dalam Standar Kompetensi Konselor Indonesia telah mengamanatkan kepada para konselor untuk menguasai teknologi informasi untuk kepentingan pemberian layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Identifikasi layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat dilakukan dengan teknologi informasi juga sudah dilakukan. Menurut Handarini (2006), menyatakan bahwa teknologi dan internet dapat diterapkan dalam layanan bimbingan konseling,

TUJUAN Tujuan Bimbingan dan Konseling menggunakan Media Massa kedalam melakukan pelayanannya, yaitu : 1. Easy to use ( mudah digunakan ) 2. Easy to manage ( mudah di atur ) 3. Simple ( tidak rumit ) 4. Dynamic ( Dinamis ) POTENSI MEDIA MASSA YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM METODE BIMBINGAN DAN KONSELING 1. Film Untuk memperkuat pesan bimbingan yang disampaikan oleh konselor. Dan menjadi salah satu contoh untuk memotivasi konseli. 1. Radio dan Televisi Pelayanan ini umumnya bersifat informatif atau advis, jarang hubungan klien dan konselor mencapai taraf yang mendalam dan intensif. Konseling melalui radio dan televisi memungkinkan permasalahan konseli diketahui oleh umum, oleh karena itu kerahasiaan identitas konseli harus benar-benar menjadi perhatian. Permasalahan waktu dan bagaimana masalah klien akan membatasi keleluasaan dan efektivitas konseling.

1. Video phone Counseling Konseli dan konselor saling mengenal dan ―bertatap muka‖ melalui layar monitor (display), Konseling melalui video-phone lebih memungkinkan terjalinnya interaksi yang lebih baik antara konselor dan klien, dan dapat lebih mendekati karakteristik konseling tatap muka. 1. E-mail Layanan konseling berbasis e-mail ini akan sangat berguna dalam upaya menumbuhkan hubungan kehangatan antara konselor dengan siswa terutama bagi siswa atau konseli yang malu untuk bertatap muka langsung. Melalui layanan ini setidaknya sejak awal sudah tercipta suatu keakraban yang selanjutnya dapat dilanjutkan dalam proses konseling di sekolah sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat. 1. Telepon Ada beberapa layanan yang bisa diupayakan, yaitu: Layanan Konsultasi, Konseling Individual, bimbingan karir,bimbingan belajar dan jenis layanan yang lain sesuai dengan daya kreativitas konselor itu sendiri. Sudah tentunya, untuk menjalankan layanan ini harus ada kesepakatan antara konselor dengan konseli untuk menjalankan layanan tersebut. 1. Biblioterapi Biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku. Berisi bahan bacaan berfungsi untuk mengalihkan orientasi dan memberikan pandangan-pandangan yang positif sehingga menggugah kesadaran penderita untuk bangkit menata hidupnya. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MEDIA MASSA 1. Kelebihan Proses konseling dapat di lakukan dengan mudah Lebih hemat dalam pengeluaran biaya Konseli dan konselor tidak harus bertemu secara langsung (face to face) Pelayanan teknik ini lebih berbasis ke individu-kelompok Efisien waktu 1. Kelemahan Konselor tidak bisa melihat reaksi non-verbal si konseli Kurang efektif Kerahasiaan kurang terjamin Tidak terbentuk ikatan emosional dalam hubungan antara konselor dan konseli

PERAN KONSELOR DALAM MEDIA MASSA 1. Fasilitator Dalam teknik bimbingan yang menggunakan media massa ini, seorang konselor dituntut untuk dapat memberikan fasilitas kepada konseli, supaya konseli dapat melakukan konseling kapanpun dan melalui media yang disediakan. 1. Motivator Didalam sebuah bimbingan konseling, seorang konselor dapat memberikan motivasi dan saran kepada konseli dimanapundan menggunakan media massa seperti e-mail, video phone counseling, telepon, radio, TV, film, dan biblioterapi.

KESIMPULAN Dalam pelayanan bimbingan konseling, konselor dapat menggunakan berbagai teknik untuk melakukan bimbingan. Salah satunya adalah teknik bimbingan melalui media massa. Dalam teknik ini konselor tidak hanya bisa menggunakan media massa secara langsung seperti Video Phone Counseling, tetapi juga secara tidak langsung seperti e-mail, telepon, TV, radio, dll. Dalam metode media massa ini juga terdapat kelebihan dan kelemahannya. Namun, bisa di tindak lanjuti atau di lengkapi dengan metode-metode lainnya, sehingga menjadi suatu metode yang lebih efektif.

A. Pengertian Psikodrama Menurut Bennet (Romlah 2001:99), Psikodrama merupakan bagian dari permainan peranan (role playing). Bennet membagi permainan peranan menjadi dua macam yaitu sosiodrama dan psikodrama. Psikodrama merupakan cara untuk mengekplorasi jiwa dengan dramatisasi dari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gangguan serius dalam kesehatan mental para partisipan, sehingga tujuannya ialah perombakan dalam struktur kepribadian seseorang. Psikodrama bersifat kegiatan terapi dan ditangani oleh seorang ahli psikoterapi (WS. Winkel, :571). Psikodrama biasanya dipentaskan secara spontan tanpa skenario yang telah ditetapkan.(KBS World, 2009). Psikodrama pada awalnya diperkenalkan dan dikembangkan oleh Jacob L. Moreno, seorang psikiater dari Rumania. Kata ‗psikodrama―sering digunakan sebagai istilah umum ketika berbicara tentang tindakan berbagai metode yang dikembangkan J.L. Moreno. Menurut J.L Moreno. Psikodrama adalah sebuah bentuk pengembangan manusia dengan eksplorasi, melalui tindakan dramatis, masalah, isu, keprihatinan, mimpi dan cita-cita tertinggi orang, kelompok, sistem dan organisasi. Hal ini kebanyakan digunakan sebagai metode kerja kelompok, di mana setiap orang dalam kelompok dapat menjadi agen penyembuhan (terapeutic agent) untuk satu sama lain dalam kelompok. Psikodrama ini merupakan salah satu cara yang bisa digunakan sebagai media pengembangan manusia (human development). Dengan berakting dalam sebuah drama diharapkan hal ini akan dapat menyadarkan seseorang (insight) dan juga menggali (to explore) permasalahan yang sedang dihadapinya. Berbagai isu (issue) atau masalah dan kemungkinan pemecahannya dimainkan terasa lebih baik daripada sekedar berbicara. Psikodrama menawarkan kesempatan untuk melatih dengan aman peranan baru, melihat diri sendiri dari sisi luar, menumbuhkan insight dan perubahan. Ada seorang pemimpin (director), sebuah action area dan para anggota kelompok. Director mendukung kelompok untuk menggali (explore) solusi baru dari masalah – masalah terdahulu, anggota kelompok berpartisipasi dalam drama sebagai orang lain yang berarti dan saling berbagi cara mereka bagaimana berhubungan secara pribadi dan bisa belajar dari masalah yang diajukan pada akhir sesi. . Psikodrama merupakan upaya untuk menciptakan restrukturisasi internal disfungsional pola pikir dengan orang lain, dan menantang para peserta untuk menemukan jawaban baru untuk beberapa situasi dan menjadi lebih spontan dan mandiri. (dari Wikipedia,2009) Meskipun penerapan utama psikodrama secara tradisional sebagai bentuk psikoterapi kelompok, dan sering didapati bahwa psikodrama didefinisikan sebagai ―sebuah metode psikoterapi kelompok,‖ hal ini merugikan kepada banyak kegunaan lain atau fungsi-fungsi dari metode. Psikodrama secara lebih akurat didefinisikan sebagai ―sebuah metode komunikasi di mana komunikator mengekspresikan dirinya/dia/mereka sendiri dalam tindakan‖. Metode yang psikodramatis merupakan sumber penting dari permainan peran (role playing) banyak digunakan dalam bisnis dan industri. Psikodrama menawarkan pendekatan yang sangat kuat untuk mengajar dan belajar, serta hubungan timbal-balik pelatihan keterampilan. Teknik tindakan psikodrama juga menawarkan cara untuk menemukan dan mengkomunikasikan informasi tentang kegiatan dan situasi di mana komunikator telah terlibat. (dari Wikipedia, 2009). Departemen Pendidikan Nasional dalam Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya (2008), mendefinisikan Psikodrama sebagai metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama digolongkan ke dalam metode simulasi dan merupakan metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplemetasi strategi pembelajaran.

B. Tujuan Psikodrama Tujuan dari psikodrama ini adalah membantu seorang pasien atau sekelompok pasien untuk mengatasi masalah masalah pribadi dengan cara menggunakan permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Lewat cara cara itu pasien di bantu untuk mengungkapkan perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah dan kesedihan (Semiun, 2006:562). Psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya (Corey dalam Romlah, 2001:107). Jacob Moreno berpendapat bahwa dalam teknik dramatik, manusia dapat berusaha menciptakan atau menciptakan kembali suasana fisik dan emosional yang dikehendaki dan yang harus dipahami adalah bahwa keaktifan dalam psikodrama tidak dimonopoli oleh konselor atau terapis tetapi juga anak. Sementara menurut Betary Maharani, Ada dua manfaat penting dalam psikodrama. Pertama manfaat katarsis atau melepaskan emosi. Manfaat kedua adalah bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dengan mendramatisasikan konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata. C. Teknik – Teknik dalam Psikodrama 1. Creative imagery, merupakan teknik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan adegan dan objek yang menyenangkan dan netral. 2. The magic shop, ini merupakan teknik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang tidak dapat memutuskan atau ragu tentang nilai dan tujuan mereka. Teknik ini melibatkan penjaga-toko(sutradara atau ego yang membantu)yang menyediakan kualitas-kualitas khusus. Kualitas tidak untuk diobral, tetapi dapat ditukar atau berter. Misalnya: wawan sebagai protagonis menginginkan keterampilan-keterampilan berhubungan dengan orang lain: dia harus menyerahkan kemarahan yang irasional untuk ditukar dengan keterampilan berhubungan yang baik. 3. Teknik berbicara-sendiri (soliloquy), teknik ini melibatkan protagonis (klien) menyajikan suatu monolog tentang situasi dirinya. 4. Monodrama (autodrama), teknik ini merupakan bentuk inti terapi gestalt. Dalam taknik ini, ptotagonis memainkan semua bagian peranan atau tidak menggunakan ego pembantu. 5. The double and multiple double technique. Teknik double adalah suatu teknik yang sangat penting dalam psikodrama. Teknik ini terdiri atas pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu protagonis mengekspresikan perasaan terdalam yang sesungguhnya secara lebih jelas. Jika protagonist memiliki perasaan ragu, maka teknik multiple double dapat digunakan. 6. Role reverals (pemindahan peran). Dalam teknik ini protagionist memindahkan peran dengan orang lain di pentas dan memainkan bagian orang itu. Teknik ini mendorong ekspresi konflik-konflik secara maksimum, dan merupakan teknik inti dari psikodrama. 7. Teknik cermin. Dalam aktivitas ini, protagonis memperhatikan dari luar pentas, sementara cermin ego pembantu memantulkan kata-kata, gerak tubuh, dan postur protagonis. Teknik ini dipakai pada fase tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.

D. Prosedur Pelaksanaan Langkah-langkah pelaksanaan psikodrama: 1. Persiapan (warm-up) a. Pemimpin kelompok memberikan uraian singkat mengenai hakikat dan tujuan psikodrama. b. Mewawancarai anggota kelompok tentang kejadian-kejadian pada saat ini atau lampau. c. Meminta anggota kelompok untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan mendiskusikan kelompok-kelompok yang pernah mereka alami, yang ingin mereka kemukakan dalam psikodrama. 2. Pelaksanaan a. Protagonist dan peran pembantu memainkan peranannya dalam psikodrama. b. Lama pelaksanaan tergantung pada penilaian pemimpin kelompok terhadap tingkat keterlibatan emosional protagonist dan pemain lainnya. 3. Diskusi a. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk memberikan tanggapan dan brainstorm terhadap permainan pemeran protagonis. b. Pemimpin kelompok memimpin diskusi dan mendorong sebanyak mungkin anggota kelompok memberikan balikannya. c. Pemimpin kelompok menetralisir balikan yang bersifat menyerang atau menjatuhkan protagonis.

Peran Konselor di dalam Psikodrama: Konselor dalam psikodarama berperan sebagai sutradara yang memiliki banyak peran. Moreno (1953, 1964) menyarankan bahwa sutradara berperan sebagai produser, fasilitator, pengamat, dan seorang analis. Blatner (1988a) menyatakan lebih lanjut bahwa seorang sutradara seyogianya membangun keterampilannya dalam tiga bidang yang saling tergantung, yaitu: (a) pengetahuan tentang metode-metode, prinsip-prinsip, dan teknikteknik; (b) pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup; c. pematangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri. Ia juga menambahkan bahwa ilmu pengetahuan yang luas tentang hidup dan hakikat manusia, seorang sutradara diharapkan memiliki kerja khusus dalam bidang pokok seperti psikologi umum, proses kelompok, psikologi humanistik, teori komunikasi, dan komunikasi nonverbal. Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas-tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, agar protagonist dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok-pokok pikiran yang signifikan dalam hidup mereka, melindungi konseli dari terbius oleh orang lain dan membawakan beberapa bentuk penghentian sesi kelompok (Hashell, 1973; Ohlsen et al., 1988). Untuk menyelenggarakan tugas tersebut dengan benar, sutradara yang potensial seyogianya sudah mengalami banyak psikodrama dan mendapatkan supervisi langsung dari sutradara yang lebih berpengalaman. Secara menyeluruh, Corsini (1966) menyimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu : 1) kreativitas, 2) dorongan, dan 3) kharisma. Individu seperti ini akan bekerja keras untuk kebaikan kelompok dan senantiasa berani mengambil resiko untuk membantu konseli mencapai tujuan. Hasil yang Diinginkan dari Konseling Kelompok Psikodrama

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2.

Moreno (1964) berpendapat bahwa hasil psikodrama yang diinginkan dapat dikemukakan seperti penciptaan katarsis, pemahaman dan resolusi emosional. Yablonsky (1976) mengatakan bahwa tujuan psikodrama Moreno adalah untuk mengembangkan suatu theatrical catedral bagi perilisan spontanitas manusia yang alami dan kreativitas yang dimiliki tiap orang secara alami. Melalui psikodrama, individu seyogianya mampu mengalami dan bekerja melalui kejadian yang diantisipasi sekarang, masa lalu yang menyebabkan mereka tertekan. Ketika mereka telah memperoleh pemahaman kognitif dan emosional dengan mengatasi kesulitan-kesulitannya, maka mereka akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol dan pencegahan (Ohlsen et al, 1988). Secara lebih esensial, peserta psikodrama rela mengambil resiko dan terbuka terhadap umpan balik yang konstruktif dari audiens dan sutradara. Salah satu yang diinginkan dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seseorang bukan protagonist utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan ini yang membantu dan memperhatikan karakter orang terutama mencapai resolusi pada persoalan penting. Komponen utama (operational component of) psikodrama: Panggung permainan (stage): Merupakan ruang kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau pasien. Pemimpin psikodrama (Director): Yaitu Psychodramatist terlatih yang membimbing peserta melalui setiap fase dari sesi. Pemegang peran utama(protagonist): Anggota yang dipilih untuk ―mewakili tema‖ dalam kelompok drama. Peran pembantu (Auxilary egos): Anggota kelompok yang diasumsikan mempunyai peran penting lain dalam drama. Pendengar (Audience): Anggota kelompok yang menyaksikan drama dan ‗mewakili dunia‘ pada umumnya. Dalam psikodrama, peserta mengeksplorasi konflik yang terjadi di dalam diri (internal conflic) dimunculkan keluar melalui tindakan dengan mengeluarkan emosinya (acting) dan interaksi antarpribadi dengan pemain lainnya di atas panggung (stage). Sebuah psikodrama diberikan sesi (biasanya 90 menit sampai 2 jam) dengan fokus utama pada satu peserta (peserta yang mempunyai masalah), yang dikenal sebagai protagonis (protagonist). Sedangkan pemain lainnya bertugas membantu protagonis (Auxilary Egos). Protagonis menguji hubungannya dengan berinteraksi dengan para pemain lain dan pemimpin (Director). Layaknya sebuah drama yang dipentaskan, psikodrama ini selain membutuhkan pemain juga membutuhkan suasana yang mendukung. Ada banyak teknik yang bisa digunakan misalnya saja dengan doubling (psikodrama), pembalikan peran (bertukar peran dengan pemain lain), cermin, solilokui, dan diterapkan sosiometri. Seperti yang dikembangkan dan dipraktekan oleh Moreno, psikodrama menggunakan tempat yang menyerupai panggung. Hal ini bertujuan supaya pasien memainkan peran di alam khayal, dengan demikian dia merasa bebas mengungkapkan sikap-sikap yang terpendam dan motivasi-motivasi yang kuat. Ketika peran dimainkan, implikasi-implikasi realistis dari tingkah lakunya yang dramatis menjadi jelas, ketrampilan Terapis dalam mengenal dan menafsirkan dinamika yang di ungkapkan memudahkan proses terapi. Menurut Yustinus (2006:563) Ada 3 tahap yang penting dalam psikodrama, yaitu: Tahap Pelaksanaan. Dimana subyek memerankan khayalan-khayalannya. Tahap Penggantian. Dimana orang-orang yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang di khayalkan subyek.

3. Tahap Penjernihan. Dimana diadakan penngalihan dari kontak dengan individu-individu pengganti, kontak dengan individu-individu dimana subyek memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan mereka dalam kehidupan yang nyata. Selanjutnya Whittaker (dalam Yustinus, 2006:563) mengungkapkan 4 teknik yang bisa digunakan dalam psikodrama yaitu: 1. Presentasi diri, Klien mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting dalam kehidupannya. 2. Memimpin percakapannya sendiri. Klien melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya sendiri dan kepada kelompok 3. Teknik ganda (Doubling). Seorang ego penolong (Auxilary Egos) berperan bersama dengan pasien dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan pasien pada waktu yang sama. 4. Teknik cermin. Seorang ego penolong (Auxilary Egos) berperan sejelas mungkin menggantikan klien. Dari para penonton, klien memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihatnya. Pemimpin (Director) berfungsi baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai produser, dia mengatur dan memilih adegan adegan dan juga memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilh berdasarkan situasi-situasi yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau berdasarkan situasi-situasi dimana pasien bertingkah laku tidak tepat atau tidak efektif dalam situasi-situasi itu. Sebagai terapi, Pemimpin memberikan dukungan atau klarifikasi pada aktor dan kadang kadang memberikan penafsiran (seiring dengan bantuan para anggota kelompok lain) tentang adegan permainan itu. E. Manfaat 1. Manfaat katarsis atau melepaskan emosi 2. Bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain F. Kelemahan Psikodrama 1) Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dari waktu pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya, 2) Aktivitas dan pembelajaran cenderung akan didominasi oleh peserta didik yang biasa atau senang berbicara sehingga peserta didik lainnya lebih banyak mengikuti jalan pikiran peserta didik yang senang berbicara, dan 3) Pembicaraan dapat menyimpang dari arah pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. 4) Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan terhadap pentingnya aktivitas pendidik dalam mengajar atau membelajarkan peserta didik. Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses serta hasil pembelajaran dilakukan dan dikendalikan oleh pendidik sedangkan peserta didik berperan sebagai pengikut kegiatan yang ditampilkan oleh pendidik. G. Kelebihan Keunggulannya adalah: 1) Peserta didik akan dapat merasakan bahwa pembelajaran menjadi miliknya sendiri karena peserta didik diberi kesempatan yang luas untuk berpartisipasi. 2) Peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. 3) Tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk saling belajar-membelajarkan di antara peserta didik.

4) Dapat menambah wawasan pikiran dan pengetahuan bagi pendidik karena sesuatu yang dialami dan disampaikan peserta didik mungkin belum diketahui sebelumnya oleh pendidik. E. Kesimpulan Psikodrama ini merupakan salah satu metode bimbingan dan konseling kelompok yang sangat bermanfaat bagi konseli/ klien/ peserta didik. Walaupun Psikodrama ini pada awalnya digunakan untuk penyembuhan (psikoterapi), akan tetapi ada teknik-teknik dari psikodrama yang dapat diaplikasikan ke dalam metode bimbingan dan konseling maupun metode pembelajaran. Psikodrama dapat digunakan oleh konselor untuk membantu memecahkan masalahmasalah klien yang bersifat psikologis. Metode psikodrama ini memang sangat membantu untuk pemecahan masalah karena klien secara spontan dapat menggali sendiri masalahnya (mengeksporasi potensi-potensi yang ada dalam dirinya), meluapkan emosi yang terpendam serta mendapatkan pemecahan masalah yang berasal dari konselor dan anggota kelompok lainnya. Akan tetapi psikodrama ini akan sulit dilakukan pada klien yang kepercayaan dirinya sangat lemah(under estimate), pendiam, tidak suka banyak bercerita, tertutup dan pemalu untuk mengungkapkan dirinya sendiri di depan banyak orang. Sementara bagi klien yang suka bercerita dan terbuka mudah saja dalam melakukan kegiatan psikodrama ini. Selain itu, anggota kelompok lain juga mampu menghayati peran atau menempatkan diri dalam posisi yang diperankan. Sehingga drama dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Anggota kelompok dapat saling memberikan masukan dan pendapatnya pada akhir sesi dalam sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang tokoh utama. Pada psikodrama ini hanya satu klien saja yang difokuskan. Sehingga anggota kelompok lain yang mempunyai masalah lain tidak bisa dilibatkan dalam drama yang sama. Melainkan, perlu melaukan kegiatan psikodrama lagi. F. Saran Kegiatan psikodrama membutuhkan keterampilan konselor dalam membawakan psikodrama agar berjalan dengan baik, terutama untuk mengatur jalannya psikodrama agar tidak terlalu lama, fokus pada permasalahan dan tidak membosankan. Kegiatan psikodrama ini juga memerlukan tempat yang luas dan cukup hening, agar tidak terganggu oleh keramaian yang dapat merusak suasana psikodrama atau justru mengganggu kegiatan lain seperti kegiatan pembelajaran di sekolah. Psikodrama juga membutuhkan keterlibatan dari anggota kelompok untuk bermain peran dengan baik.

sosiodrama A. Latar Belakang Individu diharapkan mampu menyesuaikan diri dimanapun mereka berada. Penyesuaian diri individu tidak hanya pada diri sendiri tetapi juga dalam berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhdapa keberhasilan penyesuaian diri individu adalah bagaimana individu tersebut dapat mengelola emosi pada dirinya sendiri dan saat berinteraksi dengan orang lain. Salovey dan mayer berpendapat bahwa anak yang dapat mengatur emosinya dapat disebut memiliki keterampilan mengelola emosi, maka dia akan lebih produktif dari pada anak yang kurang memiliki keterampilan mengelola emosinya. Ia akan lebih mudah berkonsentrasi, berpikir logis, mampu memotivasi dirinya untuk fokus pada aktivitas yang konstruktif dan membina hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar. Keterampilan pengelolaan emosi disebut juga sebagai salah satu kebutuhan siswa SMA. Dengan mempertimbangkan berbagai hal di atas, maka keterampilan mengelola emosi termasuk pada kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan ini dirancang dalam kerangka empat bidang bimbingan yang disusun dalam program bimbingan dan konseling sebagai acuan pelaksanaan layanan dan kegiatan pendukungnya. Bimbingan konseling adalah pelayanan bantuan psiko pendidikan dalam bingkaii budaya untuk siswa baik secara perorangan atua kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Mengingat bahwa siswa usia SMA adalah masa remaja di mana ciri utama dari masa remaja adalah meningginya emosi (Hurlock, 1980: 207). Gardner menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Selama masa transisi ini remaja diperhadapkan dengan berbagai problematik yang dapat menimbulkan krisis identitas dan ketidakstabilan emosi. Salah satu teknik bimbingan dan konseling adalah sosiodrama. Sosiodrama merupakan salah satu teknik pembelajaran yang dapat dikembangkan secara menarik untuk diterapkan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Berdasarkan berbagai alasan diatas maka diperlukan sebuah layanan yang efektif guna memenuhi kebutuhan siswa SMA yaitu meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi. Mengingat pentingnya pemenuhian kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan mengelola emosi siswa SMA dan mempertimbangkan teknik sosiodrama dalam bimbingan dan konseling yang dapat dikembangkan sebagai teknik untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA, maka disusunlah rancangan pelaksanaan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA. B. Pengertian Sosiodrama Sosiodrama merupakan teknik permainan peran (role playing) yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antara manusia. Teknik ini dapat digunakan konselor untuk melatih keterampilan-keterampilan hidup, salah satunya adalah keterampilan mengelola emosi kepada siswa dengan cara membimbing siswa untuk mempraktekan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial yang dikeams dalam bentuk pelaksanaan sosiodrama. Dengan mempraktekan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial secara langsung, diharapkan siswa dapat meningkatakn keterampilan mengelola emosi dan dapat mengubah perilakunya menjadi lebih baik seperti: siswa dapat memahami berbagai jenis emosi serta mampu mengendalikan dan mengekspresikan emosi menjadi tingkahlaku yang efektif untuk diri sendiri dan orang lain.

C. Tujuan Tujuan dari rancangan layanan bimbingan konseling melalui permainan sosiodrama adalah sebagai berikut: 1. Tujuan umum Siswa mampu mengingkatkan keterampilan pengelolaan emosi melalui teknik sosiodrama 1. Tujuan khusus a) Siswa mampu mengenali macam-macam emosi b) Siswa mampu mengendalikan macam-macam emosi c) Siswa mengekspreikan emosi ke tingkah laku yang efektif untuk diri sendiri dan orang lain. BAB II RANCANGAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING A. Prosedur Pelaksanaan Sosiodrama Prosedur pelaksanaan sosiodrama memiliki urutan langkah pelaksanaan sebagai berikut: 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan konselor menyusun dan menyiapkan sejumlah permasalahan yang merupakan kebutuhan-kebutuhan siswa SMA. Khususnya untuk sosidrama dengan topik mengelola emosi. Dalam mengembangkan sebuah cerita konselor harus menggunakan tahap pengembangan alur cerita yang meliputi eksposisi, konflik, komplikasi, klimaks dan solusi. 2. Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan, ada tiga kegiatan yaitu pembukaan, kegiatan inti dan penutup. Setiap kegiatan tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut a. Pembukaan (10 menit) Konselor menyampaikan pengantar, tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan, dan memberikan motivasi kepada para siswa mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga kegiatan dapat berjalan secara maksimal. Pada awalnya konselor membagi kelompok ke dalam empat bagian. Kemudian konselor menyampaikan satu jenis masalah yang sudah diuraikan dalam bentuk garis beser cerita, yang mewakili lima langkah alur pengembangan di atas. Siswa diharapkan dapat mempraktekkan keseluruhan adegan yang sudah disiapkan dan diatur dari lima alur tersebut menjadi lima rincian adegan. b. Kegiatan Inti (20 menit) Kelompok yang akan bermain peran (role playing) diberikan kesempatan utnuk mempersiapkan diri di luar tempat sosiodrama. Disamping itu konselor menjelaskan kepada siswa yang bertugas menjadi penonton untuk mengobservasi jalannya permainan sosiodrama dengan memberikan lebar observasi sebagai panduan dalam mengobservasi jalannya sosiodrama dan sebagai bahan diskusi dan evaluasi. Salah satu pemain dari kelompok yang bertugas menjadi pemain membacakan tokoh-tokoh yang akan berperan serta karakternya. Kemudian kelompok pemain memulai pemain sosiodrama. Masing-masing pemain memerankan perannya berdasarkan imajinasinya tentang peran yang dimainkannya. Pemain diharapkan dapat memperagakan konflik, mengekpresikan perasaan, dan memperagakan sikap-sikap tertentu sesuai dengan peranan yang dimainakan. c. Penutupan (15 menit)

1.

1.

1.

1.

1.

Setelah selesai sosiodrama dilaksanakan, konselor menutup sosiodrama dan memberikan motivasi atau reward secara lisan, kemudian mengkondisikan siswa untuk ke tahap berikutnya yaitu diskusi. Tujuannya adalah untuk pemantapan siswa pada hasil belajarnya. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini mengacu pada lembar observasi yang telah dibagikan konselor pada siswa-siswa yang bertugas sebagai observer. 1. d. Evaluasi (15 menit) Setelah selesai permainan diadakan diskusi mengenai pelaksanaan permainan berdasarkan hasil observasi dan tanggapan-tanggapan penonton ataupun tanggapan dari para pemain. Pertanyaan-pertanyaan dalam evaluasi dan diskusi untuk topik ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana perasaan anda ketika menonton sosiodrama ini ? 2) Bagaimana tahap dalam pelaksanaan sosiodrama, apakah sudah meliputi dari 5 tahap yaitu: eksposisi,konflik, komplikasi, klimaks dan solusi ? 3) Apakah semua tokoh dalam permainan sosiodrama sudah sesuai dengan karakter yang telah ditentukan? 4) Menurut anda bagaimana solusi yang dimunculkan dalam pelaksanaan sosiodrama? Kemukakan pendapat anda. 5) Menurut anda tingkah laku mana yang perlu ditiru dan tidak perlu ditiru, mengapa? B. Peran Konselor Konselor memiliki peran yang sangat penting pada pelaksanaan sosiodrama dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Peran konselor antara lain: 1. Sebagai fasilitator Memfasilitasi siswa dalam hal penyediaan permasalahan yang akan diangkat dan dikembangkan solusi pemecahannya dalam permaianan sosiodrama. 2. Sebagai motivator Konselor memotivasi dan mengkondisikan siswa utnuk melaksanakan sosiodrama ini, sehingga dapat tercapai tujuan dengan maksimal. Memberikan reward kepada siswa, disetiap kesemapatan saat siswa menunjukan perilaku yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan sosiodrama. 3. Sebagai koordinator Konselor memimpin siswa mulai dari tahap persiapan hingga tahap evaluasi. Menyampaikan permasalahan yang akan dimainkan dan membantu siswa mempersiapkan sosiodrama, serta memimpin jalannya diskusi. C. Peran Siswa Siswa dalam pelaksanaan sosiodrama dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemain dan kelompok penonton. Pembagian dua kelompok ini dapat dilakukan dengan sukarela ataupun penunjukan. Tugas dari kelompok pemain adalah memainkan peran sesuai dengan naskah atau skenario sosiodrama yang telah disusun. Memerankan setiap adegan dengan dialog yang tidak disusun sebelumnya atau dialog dalam sosiodrama dimunculkan secara spontan oleh para pemegang peran. Tugas dari kelompok penonton adalah mengobservasi pelaksanaan permaina. Hasil observasi kelompok penonton merupakan bahan diskusi setelah permaian selesai. D. Keuntungan metode sosiodrama Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dengan melaksanakan metode sosiodrama: 1) Untuk mengajar peserta didik supaya ia bisa menempatkan dirinya dengan orang lain. 2) Guru dapat melihat kenyataan yang sebenarnya dari kemampuan perserta didik.

1.

1.

1.

1.

2.

3) 4) 5) 6)

Sosiodrama menimbulkan diskusi yang hidup. Peserta didik akan mengerti sosial psychologis. Metode sosiodrama dapat menarik minat peserta didik. Melatih peserta didik uuntuk berinisiatif dan berkreasi.

E. Kelemahan metode sosiodrama Kelemahan-kelemahan/ kekurangan metode sosiodrama: 1) Sukar untuk memilih anak-anak yang betul-betul berwatak untuk memecahkan masalah tersebut. 2) Perbedaan adat istiadat kebiasaan dan kehidupan. Kehidupan dalam suatu masyarakat akan mempersulit pelaksanaannya. 3) Anak-anak yang tidak mendapat giliran akan menjag pasif. 4) Kalau metode ini dipakainya untuk tujuan yang tidak layak. 5) Kalau guru kurang bijaksana tujuan yang dicapai tidak memuaskan. Cara-cara mengatasi kelemahan – kelemahan Metode Sosiadrama Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari metode sosiodrama antara lain ialah : 1) Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan metode ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang akan berperan masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tigas tertentu 2) Guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia mampu menjelaskan dengan baik dan menarik sehingga siswa terangsang untuk berusaha memecahkan masalah itu. 3) Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan yang pertama. 4) Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu harus diusahakan agar para pemain berbicara dan melakukan gerakan jangan sampai banyak variasi yang kurang berguna. F. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sosiodrama 1. Masalah yang dijadikan tema berita hendaknya dialami oleh sebagian besar peserta didikmurid. 2. Penentuan pemeran hendaknya secara sukarela dan motivasi diri guru. 3. Jangan terlalu banyak "disutradarai", biarkan peserta didik mengembangkan kreatifitas dan spontanitas mereka. 4. Diskusi diarahkan kepada penyelesaian akhir (tujuan), bukan kepada baik atau tidaknya seseorang peserta didik berperan. 5. Kesimpulan diskusi dapat diresumekan oleh guru. 6. Sosiodrama bukanlah sandiwara atau Drama saja, melainkan merupakan peranan situasi sosial yang ekspresi dan hanya dimainkan satu babak saja BAB III PENUTUP KESIMPULAN

A. Pengertian sosiodrama sosiodrama berasal dari kata sosio yang artinya masyarakat, dan darma yang artinya keadaan orang atau peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah lakunya, hubungan seseorang, hubungan seseorang dengan orang lain dan sebagainya. B. Kebaikan dan kelemahan metode sosiodrama Kebaikan Kelemahan 1) Untuk mengajar peserta didik supaya ia bisa menempatkan dirinya dengan orang lain. 2) Guru dapat melihat kenyataan yang sebenarnya dari kemampuan perserta didik 3) Sosiodrama menimbulkan diskusi yang hidup. 4) Peserta didik akan mengerti sosial psychologis. 5) Metode sosiodrama dapat menarik minat peserta didik. 6) Melatih peserta didik uuntuk berinisiatif dan berkreasi. 1) Sukar untuk memilih anak-anak yang betul-betul berwatak untuk memecahkan masalah tersebut. 2) Perbedaan adat istiadat kebiasaan dan kehidupan. Kehidupan dalam suatu masyarakat akan mempersulit pelaksanaannya. 3) Anak-anak yang tidak mendapat giliran akan menjag pasif. 4) Kalau metode ini dipakainya untuk tujuan yang tidak layak. 5) Kalau guru kurang bijaksana tujuan yang dicapai tidak memuaskan. C. Kewajaran metode sosiodrama 1) Metode sosiodrama wajar digunakan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang mengandung sifat-sifat sebagai berikut: 2) Memahami perasaan orang lain. 3) Membagi pertanggungan jawab dan memikulnya. 4) Menghargai pendapat orang lain. 5) Mengambil keputusan dalam kelompok. 6) Memperbaiki hubungan sosial. 7) Mengenali nilai-nilai dan sikap-sikap. 8) Menanggulangi atau memperbaiki sikap-sikap salah

Tutor sebaya 1. Pengertian tutor Menurut etimologi tutor adalah guru pribadi, mengajar ekstra atau memberi les/pengajaran. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Di mana tutor merupakan sebutan bagi orang yang mengajar dalam pendidikan non-formal, walaupun yang menjadi tutor adalah seorang guru dalam pendidikan formal. Metode tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri. Siswa dapat mengkonsultasikan tentang masalah-masalah dan kemajuan yang ditemui secara periodik. Metode ini biasanya dilakukan pada SMP Terbuka, Paket A,B,C dan belajar jarak jauh dengan tatap muka terjadwal. Para tutor yang telah terlatih dalam menggunakan Pedoman Belajar Mengajar membawakannya dengan langkah-langkah sebagaimana diperintahkan di dalam Pedoman itu, pada jam-jam tertentu yang telah ditetapkan. Langkah-langkah itu ada beberapa macam, sesuai dengan sifat bahan pelajaran, sehingga tutor akan mengajar secara berlainan pada waktu membawakan bagian modul satu ke bagian modul yang lain. Namun pola umum yang dilakukan para tutor adalah meminta murid-murid membuka buku pelajaran, menanyakan suatu pelajaran, memuji jawaban yang benar, meluruskan jawaban yang salah, menggilir latihan, mengetes, dan memaraf pedoman itu manakala telah selesai diajarkan. Tutor mengadakan evaluasi pada tiap-tap bagian modul yang memang telah diajarkan guna mengetahui apakah tujuan pengajaran telah dicapai atau belum. Apabila belum sesuai dengan apa yang diharapkan, maka seorang tutor harus mengulang materi sehingga sang murid dapat menguasai materi secara keseluruhan atau tidak pindah dari modul satu ke modul yang lain karena tujuan belum tercapai. Seorang guru di sini sebagai pengawas, mengawasi jalannya Pengajaran Terprogram, mereka membantu mengatur kelompok, menyesuaikan jadwal, membantu mengatasi kesulitan, menyempurnakan kompetensi yang belum dicapai secara sempurna dan mengelola keseluruhan administrasi pendidikan Sekolah Menengah Pertama itu. Tugas seorang guru juga melatih para tutor untuk mengajar berdasarkan pedoman program silabus, hubungan antara tutor dengan anak-anak adalah hubungan antar kakakadik atau antar kawan, kekakuan seperti yang ada pada guru agar dihilangkan. Bersamasama para tutor yang lain dan guru, mereka menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi murid, baik dengan cara satu lawan satu maupun kelompok kecil. Setiap tutor menghadapi empat sampai enam orang. Kelompok ini cukup kecil, sehingga metode mengajar yang ditetapkan berdasarkan teknik program itu memungkinkan setiap anak mendapatkan latihan dalam bentuk giliran lebih banyak. Mereka yang dengan cepat menguasai suatu item pengajaran tidak usah mendapat giliran lagi, sementara mereka yang tidak cepat menguasai akan mendapat giliran terus sampai dapat menguasai. Di sini waktu penguasaan disesuaikan dengan kondisi murid. 2. Pengertian metode tutor sebaya Menurut Dedi Supriyadi mengemukakan, bahwa tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Nasution (1992) berpendapat bahwa bantuan tutor, adalah orang yang dapat membantu murid secara individual. Menurut Ischak dan Warji (1987) tutor sebaya artinya siswa yang mengalami kesulitan belajar diberi bantuan oleh teman-teman mereka sekelas yang punya umur sebaya dengan dia. Tutor sebaya adalah seorang teman atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru (sesuai kriteria menjadi tutor sebaya) dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pengajaran dengan tutor sebaya adalah kegiatan belajar siswa dengan memanfaatkan teman sekelas yang mempunyai kemampuan lebih untuk membantu temannya dalam melaksanakan suatu kegiatan atau memahami suatu konsep. Berdasarkan definisi tentang tutor sebaya di atas, maka dapat disimpulkan bahwa istilah tutor sebaya yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengoptimalkan kemampuan siswa yang berprestasi dalam satu kelas untuk mengajarkan atau menularkan kepada teman sebaya mereka yang kurang berprestasi. Sehingga siswa yang kurang berprestasi bisa mengatasi ketertinggalan. Pembimbingan dalam pelajaran yang diberikan oleh seorang siswa kepada siswa lain, sedangkan mereka (antara pembimbing dan yang dibimbing) adalah teman sekelas atau teman sebangku yang usianya relatif sama, dan siswa yang kurang paham bisa bertanya langsung kepada teman sebangkunya (tutor yang di tunjuk) sehingga kondisi kelas pun bisa hidup karena siswa tidak malu bertanya ketika mereka tidak paham. a. Kriteria Tutor SebayaSeorang tutor hendaknya memiliki kriteria: 1. Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas. 2. Mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa, 3. Memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik, 4. Memiliki sikap toleransi, tenggang rasa, dan ramah dengan sesama. 5. Memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik. 6. Bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab.Suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan b. Tugas dan Tanggung Jawab Tutor SebayaTutor memiliki tugas dan tanggung jawab: 1. Memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi yang dipelajari, 2. Mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis,. 3. Menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai c. Cara Menyiapkan Tutor Sebaya Cara menyiapkan tutor sebaya menurut Suparno yaitu: 1. Guru memberikan petunjuk pada tutor bagaimana mendekati temannya dalam hal memahami materi. 2. Guru menyampaikan pesan kepada tutor-tutor agar tidak selalu membimbing teman yang sama. 3. Guru membantu agar semua siswa dapat menjadi tutor sehingga mereka merasa dapat membantu teman belajar.

4. Tutor sebaiknya bekerja dalam kelompok kecil, campuran siswa berbagai kemampuan (heterogen) akan lebih baik. 5. Guru memonitoring terus kapan tutor maupun siswa yang lain membutuhkan pertolongan. 6. Guru memonitoring tutor sebaya dengan berkunjung dan menanyakan kesulitan yang dihadapi setiap kelompok pada saat mereka diskusi di kelas maupun praktikum. 7. Tutor tidak mengetes temannya untuk grade, biarkan hal ini dilakukan guru. d. Cara Membagi Kelompok Tutor sebaya merupakan bagian dari Cooperative Learning atau belajar bersama. Dalam metode ini siswa yang kurang mampu dibantu belajar oleh teman-teman sendiri yang lebih mampu dalam suatu kelompok. Bentuknya adalah satu tutor membimbing satu teman, atau satu tutor membimbing beberapa teman dalam kelompok 3. Kelebihan dan kekuranga tutor sebaya Ada beberapa keunggulan dan kekurangan dengan menggunakan tutor sebaya, seperti yang dikemukakan Arikunto (1995) berikut ini. a. Keunggulan dari tutor sebaya: 1) Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada gurunya. 2) Bagi tutor pekerjaan tutoring akan dapat memperkuat konsep yang sedang dibahas. 3) Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran. 4) Mempererat hubungan antar siswa sehingga mempertebal perasaan sosial. b. Kekurangan dari tutor sebaya: 1) Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan temannya sendiri sehingga hasilnya kurang memuaskan. 2) Ada beberapa orang siswa yang merasa malu atau enggan untuk bertanya karena takut kelemahannya diketahui oleh temannya. 3) Pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan karena perbedaan jenis kelamin antara tutor dengan siswa yang diberi program perbaikan. 4) Bagi guru sukar untuk menentukan seorang tutor sebaya karena tidak semua siswa yang pandai dapat mengajarkannya kembali kepada teman-temannya. Menurut Suparno beberapa studi menemukan keuntungan dengan tutor sebaya antara lain: a. Tutor sebaya menghilangkan ketakutan yang sering disebabkan oleh perbedaan umur, status, dan latar belakang antara siswa dengan guru. Antara siswa biasanya mudah kerja sama dan komunikasi. b. Si tutor sendiri akan mendapatkan pengertian lebih dalam dan juga menaikkan harga dirinya karena mampu membantu teman. c. Tutor teman dapat sabar terhadap siswa yang lamban dalam belajar. d. Pelajaran dengan tutor sebaya cukup efektif daripada pelajaran biasa karena siswa yang lemah akan dibantu tepat pada kekurangannya

e. Siswa yang lemah dapat terus terang memberi tahu tutornya mana yang belum jelas, tanpa malu-malu. Kekurangan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya, tidak semua siswa bisa menjawab pertanyaan teman sebayanya sehingga siswapun bingung, dan tdak semua siswa mau belajar ma temannya. Jadi menurut para tokoh di atas Kelebihan dan kekurangan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya, anakanak diajak untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Dan adapun kekurangannya tidak semua tutor dapat mengajari atau menjawab semua pertanyaan temannya.Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja. Menurut Hisyam Zaini (2001:1) (dalam Amin Suyitno, 2004:34) langkah-langkah pelaksanaan tutor sebaya adalah sebagai berikut. 1. Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi). Misalnya siswa diberi soal latihan tentukan KPK dan FPB dari pasangan bilangan 24 dan 18, maka segmen materi yang diberikan adalah sebagai berikut. Kelipatan dari 24 adalah : 24, 48,…,…,(diisi oleh siswa) , Kelipatan dari 18 adalah : 18, 36,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 24 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 18 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa) 2. Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya 3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya. 4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas 5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama. 6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan. Dari uraian tersebut di atas selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam kelompokkelompok kecil. Dengan demikian oleh model pembelajaran ini dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu antar teman sebaya. Agar model pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, Miler (dalam Aria Djalil 1997:2.48) menuliskan saran penggunaan tutor sebaya sebagai berikut. a. Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai. b. Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas). Misalnya : agar pelajaran matematika dapat mudah dipahami. c. Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai. d. Gunakan cara yang praktis. e. Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru. f. Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor. g. Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor.

h. Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya. i. Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong. dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya. b. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan. c. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan. d. Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya. Siswa yang ditunjuk sebagai tutor akan ditugaskan membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosa. Para tutor dilatih untuk mengajar berdasarkan silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar dihilangkan. Dalam kegiatan ini tutor dan guru menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatsi kesulitan yang dihadapi murid, baik dengan cara satu lawan satu maupun kelompok kecil. Dari sudut lain dapat diketengahkan bahwa efektifitas para tutor itu cukup dapat diharapkan. Tentang efektifitas tutor itu, Good dalam Muntansir (1985:180) menerangkan bahwa tutor SD sama efektifnya dengan tutor dari perguruan tinggi. Dalam kesempatan lain Good juga menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga mendapatkan keuntungan berupa nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau fokusnya pada kemampuan kognitif. Pendekatan tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana yang melakukan kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menyerap materi pelajaran akan membantu siswa yang kurang cepat menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya. Pendekatan tutor sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan oleh guru dengan baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful