P. 1
Fungsi Distribusi Normal

Fungsi Distribusi Normal

|Views: 1,210|Likes:
Tugasnya Pak wipsar sunu brams dwandaru
Tugasnya Pak wipsar sunu brams dwandaru

More info:

Published by: Purwoko Haryadi Santoso on May 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

TUGAS ANALISIS PENGUKURAN FISIKA HISTOGRAM DAN FUNGSI DISTRIBUSI

Oleh PRODI

: :

KELOMPOK 8 PEND. FISIKA SUB 2011/A

Anggota : 1. Ria Nur Fitri 2. Nurul Wulandari 3. Purwoko Haryadi Santoso 4. Bangkit Sudrajad (11302241014) (113022410__) (11302241045) (11302241046)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012

PENGERTIAN HISTOGRAM Data yang kita dapat dari penelitian yang bersifat percobaan atau penarikan contoh (survei) perlu dikumpulkan untuk disajikan secara deskriptif ataupun digunakan untuk inferensia nantinya. Data yang disajikan tersebut hendaknya dapat dimengerti baik oleh penyaji ataupun pengguna/pembaca yang lain (Sigit Nugroho, 2007: 17). Deskripsi data adalah upaya menampilkan data agar data tersebut dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah. Deskripsi data meliputi penyusunan data dalam bentuk tampilan yang mudah terbaca secara lengkap. Tabel frekuensi merupakan cara penyajian data yang paling umum untuk deskripsi data, yang sering ditampilkan pula secara visual dalam bentuk diagram batang atau histogram. Ukuran-ukuran deskriptif digunakan untuk menyatakan ciri lokasi dan persebaran peubah pengukuran (Asep Saefudin, dkk. 2009: 11). Data-data yang telah diperoleh harus dilakukan penyajian data. Teknik-teknik menyajikan data terdiri dari 3 bentuk yaitu: tulisan atau karangan (textular), tabel (tabular), grafik atau diagram atau gambar (grafikal) (Heru Purwanto, 1994: 17). Karena dalam hal ini hanya akan membahas histogram maka akan penulis batasi hanya sebatas penyajian data secara tabel atau diagram atau gambar (grafikal). Data dalam bentuk tabel menyajikan suatu agregat dari data berbentuk angka yang tersusun singkat dan jelas dalam baris-baris dan kolom-kolom sehingga memberikan gambaran perbandingan (Heru Purwanto, 1994: 18). Tujuan dari penyajian data bentuk grafik adalah untuk meramalkan sifat-sifat suatu agregat dan membandingkan sifat-sifat yang ada dalam tabel. Sebab apabila disajikan dalam tabel akan sukar dilihat dengan cepat dan jelas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan grafik adalah: a. self explanation: judul, sumber, keterangan-keterangan (kunci). b. skala: mulai kiri ke kanan dan dari bawah ke atas, hendaknya proporsional agar lebih artistik, angka yang menunjukkan frekuensi diletakkan pada sumbu vertikal (Y) dan kelas/kelompok diletakkan pada sumbu horisontal (X), skala frekuensi harus dimulai dari nol (0) dan bila tidak memungkinkan dibuat patah-patah. Jenis-jenis grafik: 1. Grafik batang: histogram, single bar, sub divided bar, multiple bar. 2. Grafik garis: poligon, ogive, proportional line diagram, proportional change line diagram, grafik garis tunggal, grafik garis berganda, hi-lo. 3. Grafik gambar (piktogram) 4. Grafik lingkaran (pie diagram)

5. Grafik tebar (scater diagram) (Heru Purwanto, 1994: 23). Histogram Fungsi dari histogram adalah untuk menyajikan distribusi frekuensi dari data kontinu. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :    Memerlukan batas kelas yang sebenarnya. Batas kelas sebenarnya digambarkan dalam sumbu horizontal. Frekuensi dibambarkan pada sumbu vertikal (Heru Purwanto, 1994: 24). Tampilan histogram mirip dengan tampilan diagram batang untuk peubah kategorik. Perbedaan diantaranya keduanya adalah bahwa pada histogram, batang yang satu dengan batang yang lainnya berimpitan. Dalam penyusunannya, masing-masing selang kelas pada sebaran frekuensi dibuat tumpang tindih dengan selang kelas yang berdampingan di atas dan dibawahnya, sedangkan batas-batas kelasnya diberi satu desimal lebih dari desimal nilai peubahnya untuk menghindari pengkelasan satu nilai peubah masuk kedalam lebih dari satu kelas. Sebaran frekuensi peubah pengukuran memberi gambaran persebaran data pada suatu garis peubah kontinu, secara singkat tabel sebaran. Histogram menggambarkan sebaran frekuensi secara visual (Asep Saefudin, dkk. 2009: 24). Data yang dianalisis berasal dari data Hasil Try Out SNMPTN Expo Universitas 2011 untuk Siswa/i SMA kelas XII Kabupaten Purworejo. Data terlampir pada bagian akhir halaman. Namun, berhubung praktikan merasa mengalami kesulitan untuk menganalisis semua data karena data berjumlah terlampau banyak (diperoleh dari 600 lebih peserta). Maka, alangkah baiknya penulis hanya akan mengambil sampel dari populasi peserta ini sebanyak 100 orang. Data nya (yang telah dipilih sebagai sampel) adalah sebagai berikut.
DATA HASIL Try Out SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011 52,78 52,92 63,03 54,38 63,28 60,89 51,84 58,77 60,38 48,22 49,83 42,82 63,86 35,02 39,66 37,58 59,51 45,13 74,28 68,24 46,23 67,69 29,81 62,65 34,43 42,48 62,06 64,19 65,63 53,94 54,20 21,50 60,63 54,05 73,33 37,46 53,77 72,06 57,86 43,90 58,58 77,40 61,63 61,61 57,06 72,37 32,08 24,83 70,59 58,39 26,06 69,00 56,78 77,36 40,23 42,99 61,08 45,02 31,59 47,50 33,86 71,97 53,94 41,27 49,56 45,09 27,27 49,03 71,06 53,79 56,25 56,67 49,49 61,38 42,39 37,39 40,47 77,38 37,86 45,78 49,09 58,39 40,76 64,15 46,95 50,55 51,48 46,00 39,53 47,25 61,74 41,69 56,16 64,58 48,98 26,55 32,10 62,03 59,17 44,49

Dalam menyajikan data-data ini ke dalam histogram (diagram batang), untuk memudahkan terlebih dahulu dapat dibuat tabel distribusi frekuensi. Dalam membuat tabel distribusi frekuensi penulis merasa kesulitan apabila data yang akan disajikan berupa angka desimal. Oleh sebab itu, penulis akan melakukan pembulatan terhadap 100 data ini. Sehingga datanya menjadi seperti dibawah ini

DATA HASIL Try Out SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011 53 53 63 54 63 61 52 59 60 48 50 43 64 35 40 38 60 45 74 68 46 68 30 63 34 42 62 64 66 54 54 22 61 54 73 37 54 72 58 44 59 77 62 62 57 72 32 25 71 58 26 69 57 77 40 43 61 45 32 48 34 72 54 41 50 45 27 49 71 54 56 57 49 61 42 37 40 77 38 46 49 58 41 64 47 51 51 46 40 47 62 42 56 65 49 27 32 62 59 44

Nilai maksimum Nilai minimum Jangkauan (Range)

= 77 = 22 = nilai maksimum – nilai minimum = 77 – 22

R

= 56

Dalam menentukan banyak kelas (K), sebenarnya tidak ada hal khusus atau aturan khusus yang harus diikuti, namun berikut ini adalah salah satu aturan atau anjuran yang dapat dipakai: gunakan banyak kelas 10 hingga 20 bila banyaknya data lebih dari 50, atau gunakan 6 hingga 10 kelas bila banyak data kurang dari 50 (Sigit Nugroho, 2007: 23). Ada juga yang menggunakan aturan 2K > N, dimana K adalah banyaknya kelas dan K dipilih adalah nilai minimum yang memenuhi 2K > N, dan N adalah ukuran contoh atau

banyaknya data contoh. Sturgess memberikan formula sederhana yang digunakan untuk menentukan banyak kelas (Sigit Nugroho, 2007: 23). Menurut aturan Sturgess banyak interval dinyatakan dengan persamaan K K N = 1 + 3,3 log N, dimana = banyak kelas = banyak data

Jadi, untuk data-data ini K = 1 + 3,3 log (100) = 1 + 3,3 . log 102 = 1 + 3,3 . 2 = 1+ 6,6 K = 7,6 8 Sedangkan untuk menentukan Interval Kelas adalah sebagai berikut

Interval Kelas (I)

=

=

= 7,368421 7

Sehingga dari sini kita sudah bisa membuat tabel distribusi frekuensi

Tabel Distribusi Frekuensi Hasil Try Out SNMPTN Expo Universitas Kabupaten Purworejo 2011 No Interval 1 2 3 4 5 6 7 8 22 – 28 29 – 35 36 – 42 43 – 49 50 – 56 57 – 63 64 – 70 71 – 77 Turus IIII IIII II IIII IIII III IIII IIII IIII III IIII IIII IIII I IIII IIII IIII IIII IIII IIII I IIII IIII Frekuensi 5 7 13 18 16 25 6 10 100 Nilai Tengah 25 32 39 46 53 60 67 74 Tepi Bawah 21,5 28,5 35,5 42.5 49,5 56,5 63,5 70,5 Tepi Atas 28,5 35,5 42,5 49,5 56,5 63,5 70.5 77,5

Jumlah (∑)

Nilai Tengah

=

(Tepi Atas + Tepi Bawah)

Tepi Bawah Tepi Atas

= Batas Bawah – 0,5 = Batas Atas + 0,5

Setelah dibuat tabel distribusi frekuensi, maka tinggal disajikan kedalam bentuk histogram.
30

DATA HASIL TRY OUT SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011

25

25
20 Jumlah Peserta

18
15

16 13

10

10
5

7 5

6

0
21,5 25 28,5 32 35,5 39 42,5 46 49,5 53 56,5 60 63,5 67 70.5 74 77,5

Nilai Total

Apabila titik puncak pada batang histogram saling dihubungkan maka akan terbentuk grafik poligon frekuensi seperti dibawah ini.

30

DATA HASIL TRY OUT SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011

25

25

20 Jumlah Peserta

18
15

16
13

10

10 7

5

5

6

0 25 32 39 46 53 60 67 74 Nilai Total

Apabila garis ini diperhalus, maka akan terbentuk suatu fungsi distribusi seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

DATA HASIL TRY OUT SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011
30

25

25

20 Jumlah Peserta
18 16 13

15

10
7 6 5

10

5

0 0 20 40 Nilai Total 60 80

FUNGSI DISTRIBUSI Distribusi normal adalah distribusi dari variabel acak kontinu. Kadang-kadang distribusi normal disebut juga dengan distribusi Gauss. Distribusi ini merupakan distribusi yang paling penting dan paling banyak digunakan di bidang statistika. Fungsi densitas distribusi normal diperoleh dengan persamaan sebagai berikut

dimana π = 3,1416 e = 2,7183 µ = rata-rata σ = simpangan baku

Persamaan di atas bila dihitung dan diplot pada grafik akan terlihat seperti pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. kurva distribusi normal umum Sifat-sifat penting distribusi normal adalah sebagai berikut: 1. Grafiknya selalu berada di atas sumbu x 2. Bentuknya simetris pada x = µ 3. Mempunyai satu buah modus, yaitu pada x = µ 4. Luas grafiknya sama dengan satu unit persegi, dengan rincian a. Kira-kira 68% luasnya berada di antara daerah µ – σ dan µ + σ b. Kira-kira 95% luasnya berada di antara daerah µ – 2σ dan µ + 2σ c. Kira-kira 99% luasnya berada di antara daerah µ – 3σ dan µ + 3σ Membuat kurva normal umum bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Lihat saja rumus untuk mencari fungsi densitasnya (nilai pada sumbu Y) begitu rumit. Oleh karena itu, orang tidak banyak menggunakannya.

Orang lebih banyak menggunakan distribusi normal baku. Kurva distribusi normal baku diperoleh dari distribusi normal umum dengan cara transformasi nilai x menjadi nilai z, dengan formula sbb:

Kurva distribusi normal baku disajikan pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Kurva distribusi normal baku Kurva distribusi normal baku lebih sederhana dibanding kurva normal umum. Pada kurva distribusi normal baku, nilai µ = 0 dan nilai σ=1, sehingga terlihat lebih menyenangkan. Namun, sifat-sifatnya persis sama dengan sifat-sifat distribusi normal umum. Untuk keperluan praktis, para ahli statistika telah menyusun Tabel distribusi normal baku dan tabel tersebut dapat ditemukan hampir di semua buku teks Statistika. Tabel distribusi normal bakui disebut juga dengan Tabel Z dan dapat digunakan untuk mencari peluang di bawah kurva normal secara umum, asal saja nilai µ dan σ diketahui. Sebagai catatan nilai µ dan σ dapat diganti masing-masing dengan nilai dan S. (Statistika, 2011: http://hatta2stat.wordpress.com/ cate gory/distribusi-normal-2/

Seperti terlihat pada grafik fungsi distribusi sebelumnya yang telah dibuat, maka dapat dikatakan bahwa fungsi distribusi tersebut non-simetri. Ini disebabkan karena grafik yang terbentuk tidak berbentuk seperti lonceng, seperti pada fungsi distribusi normal Gaussian pada umumnya. Namun, apabila kita mempertimbangkan kecenderungan dari grafik ini maka akan terdapat distribusi data yang berbentuk seperti lonceng. Tetapi, ini hanya dipertimbangkan dari kecenderungan nya saja. Jadi, grafik diatas menjadi seperti dibawah ini.

DATA HASIL TRY OUT SNMPTN EXPO UNIVERSITAS KABUPATEN PURWOREJO 2011
30

25

25

20 Jumlah Peserta
18 16 13

15

10
7 6 5

10

5

0 0 20 40

µ

60

80

Nilai Total y = 5E-05x4 - 0.0101x3 + 0.7204x2 - 20.848x + 214.61

Dari data yang telah dipaparkan sebelumnya. Rata-rata =

=

= ̅
µ

= 52,0678 52,07 =√
̅

Standar Deviasi

=√

=√

σ

= 108,1751146

108,18

Seperti telah dijelaskan diatas, Fungsi densitas distribusi normal diperoleh dengan persamaan sebagai berikut

Maka, fungsi distribusi normalnya adalah,

Membuat kurva normal umum bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Lihat saja rumus untuk mencari fungsi densitasnya (nilai pada sumbu Y) begitu rumit. Oleh karena itu, orang tidak banyak menggunakannya. Orang lebih banyak menggunakan distribusi normal baku. Kurva distribusi normal baku diperoleh dari distribusi normal umum dengan cara transformasi nilai x menjadi nilai z, dengan formula sbb:

DAFTAR PUSTAKA Nugroho, Sigit. 2007. Dasar-Dasar Metode Statistika. Bengkulu: Grasindo Purwanto, Heru. 1994. Pengantar Statistik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Saefudin, Asep, dkk. 2009. Statistika Dasar. Bogor: Grasindo Statistika, 2011. Distribusi Normal. Diakses melalui http://hatta2stat.wordpress.com/ cate gory/d istribusi-normal-2/ pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 22.15 WIB

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->