BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi), khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar. Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran, seperti pelajaran seni budaya tari di sekolah. Kelancaran proses pembelajaran seni tari di sekolah didukung oleh adanya sarana dan fasilitas yang cukup memadai, diantaranya adalah sebagai berikut: gedung yang cukup representative, ruang kelas yang luas dan tertata rapi, ruang aula sebagai tempat latihan menari, tape recorder, video player, dan tv. Peranan dari masing-masing sarana di atas, dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktivitas yang lebih luas dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar.

Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat “top-down” ke hubungan

baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. hubungan kemitraan antara guru dengan siswa. instruksi bergaya birokrat. Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir siswa 5. Berbeda dengan pola hubungan “top-down”. Dalam hubungan yang bersifat “top-down”. 2. Sementara. Mangunwijaya (Sindhunata. siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru. agar guru dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator seyogyanya guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam pendidikan kemitraan. yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila : 1.kemitraan. Terbina saling pengertian. sebagaimana disinyalir oleh Y. Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas pembelajaran. 2001). bahkan pawang.B. guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Oleh karena itu. 3. . sarat komando. Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis (usable) Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup 4. guru seringkali diposisikan sebagai “atasan” yang cenderung bersifat otoriter.

maka permasalahan yang dapat penulis rumuskan adalah : 1. Apa fungsi guru sebagai fasilitator ? 2. Apa yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses ? . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuaraikan.B.

 Kedua.1 Fungsi Guru Sebagai Fasilitator Sebagai fasilitator guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Perkembangan tehnolgi informasi menuntut setiap guru untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi . ada beberapa hal yang harus dipahami guru :  Pertama. Kemampuan merancang media merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional. Pemahaman terhadap media penting.  Ketiga.BAB II PEMBAHASAN 2. Dengan merancang media yang cocok akan memudahkan proses pembelajaran. yang pada gilirannya tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator. guru perlu memahami bebagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut. guru perlu mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media. guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan sebagai sumber belajar. belum tentu suatu media cocok digunakan untuk mengajarkan semua bahan pelajaran. termasuk memanfaatkan teknologi informasi.

guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran. sebagai fasilitator guru dituntut agar mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa. maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Pada bagian lain. dan tidak menjadikan dirinya sebagai satusatunya sumber belajar bagi para siswanya. Dari ungkapan ini. kemampuan berkomunikasi secara efektif dapat memudahkan siswa menangkap pesan sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.mutakhir. jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator. Melalui teknologi informasi memungkinkan setiap guru bisa menggunakan berbagai pilihan media yang dianggap cocok.2 Yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses Terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator. 2. Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator. Hal ini sangat penting.  Keempat. di bawah ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses: .

Bersikap sabar. Siswa memiliki pengalaman. maka hal ini sama dengan guru telah merampas kesempatan belajar siswa. Tidak berusaha menceramahi. Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila dia tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka. Mau belajar. pendirian. Guru berupaya menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan dan pengalaman mereka 4. Aspek utama pembelajaran adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. maka sebagai fasilitator guru harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif. 5. Guru perlu mengembangkan sikap kesederajatan agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya 6. sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru. Bersikap akrab dan melebur. Oleh karena itu. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa bisa dilakukan sedikit demi sedikit. Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab. Karena siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran. bersifat dari hati ke hati (interpersonal realtionship). Bersikap sederajat. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu. dan keyakinan tersendiri.1. 3. Menghargai dan rendah hati. 2. Mendengarkan dan tidak mendominasi. 7. santai. tetapi berusaha untuk saling berbagai . guru tidak perlu menunjukkan diri sebagai orang yang serba tahu.

Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan. sehingga diperoleh pemahaman yang kaya diantara keduanya. Bersikap terbuka.pengalaman dengan siswanya. untuk mencari kesepakatan dan jalan keluarnya. potensi terbesar setiap siswa adalah kemauan dari manusianya sendiri untuk merubah keadaan. diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat. agar siswa memahami bahwa semua orang selalu masih perlu belajar 11. Dalam hal ini. bukan sebaliknya mengeluhkan keburukan-keburukannya. Perlu diingat. Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai. Guru mengajak siswa untuk mamahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada. 8. sehingga siswa akan tetap menghargainya. Di tengah kelompok siswa seringkali terjadi pertentangan pendapat. Bersikap positif. Berwibawa. Oleh karena itu. guru juga jangan segan untuk berterus terang bila merasa kurang mengetahui sesuatu. . 10. 9. Tidak memihak dan mengkritik. seorang fasilitator sebaiknya tetap dapat menunjukan kesungguhan di dalam bekerja dengan siswanya.

dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya.2 Saran Penulis mengharapkan semua komponen pendidikan yang terkait langsung mapun yang tidak langsung untuk dapat sadar dan memahami serta berupaya untuk dapat meningkatkan kualialitas sumber daya manusia di Indonesia dengan cara mengoptimalkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Dari ungkapan ini.BAB III PENUTUP 3. guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran. jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari pembahasan fungsi guru sebagai fasilitator pelajaran seni budaya tari di sekolah yaitu: guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator. 3. . maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful