P. 1
Business Plan Karamel Susu

Business Plan Karamel Susu

5.0

|Views: 822|Likes:
Published by Arifgii
Business Plan
“Industri Permen Karamel Susu Aneka Rasa”

PT Selo Buanget Caramel’s
Head Office : Jl. Raya Selo-Boyolali KM. 3,4 Boyolali Penyusun : Fery Kurniawan (P2DA11001)

EXECUTIVE SUMMARY

Business plan mentega PT Selo Buanget Caramel’s memuat rencana bisnis pembuatan permen karamel susu mulai dari pembuatan, tenaga kerja yang dibutuhkan, teknologi yang digunakan, analisis-analisis lingkungan sosial politik dan analisis financial yang menjadi acuan apakah usaha ini menguntungkan atau tida
Business Plan
“Industri Permen Karamel Susu Aneka Rasa”

PT Selo Buanget Caramel’s
Head Office : Jl. Raya Selo-Boyolali KM. 3,4 Boyolali Penyusun : Fery Kurniawan (P2DA11001)

EXECUTIVE SUMMARY

Business plan mentega PT Selo Buanget Caramel’s memuat rencana bisnis pembuatan permen karamel susu mulai dari pembuatan, tenaga kerja yang dibutuhkan, teknologi yang digunakan, analisis-analisis lingkungan sosial politik dan analisis financial yang menjadi acuan apakah usaha ini menguntungkan atau tida

More info:

Published by: Arifgii on May 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/03/2014

Business Plan

“Industri Permen Karamel Susu Aneka Rasa”

PT Selo Buanget Caramel’s
Head Office : Jl. Raya Selo-Boyolali KM. 3,4 Boyolali Penyusun : Fery Kurniawan (P2DA11001)

EXECUTIVE SUMMARY

Business plan mentega PT Selo Buanget Caramel’s memuat rencana bisnis pembuatan permen karamel susu mulai dari pembuatan, tenaga kerja yang dibutuhkan, teknologi yang digunakan, analisis-analisis lingkungan sosial politik dan analisis financial yang menjadi acuan apakah usaha ini menguntungkan atau tidak. Berdasarkan perhitungan proyeksi rencana usaha pembuatan permen karamel susu oleh PT Selo Buanget Caramel’s dapat diperoleh informasi sebagai berikut : 1. Dalam satu tahun bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 1.956.640.500. 2. Dengan asumsi biaya 1 rupiah yang digunakan, mampu menghasilkan keuntungan sebesar 1,46 kali dari biaya yang digunakan. 3. Modal usaha dapat kembali dalam waktu 5 tahun 5,16 bulan. 4. BEP dicapai pada tingkat penerimaan sebesar Rp. 3.214.409.729,91.

I.

PENDAHULUAN Pada umumnya, produk hasil pertanian atau peternakan masih banyak yang

dipasarkan dalam bentuk primer atau belum diolah. Jenis produk tersebut relatif bernilai rendah dengan harga berfluktuatif. Produk olahan hasil pertanian dan peternakan selama ini masih belum digarap secara maksimal dan mutunya masih sangat beragam, sehingga daya saingnya di pasaran relatif masih rendah. Saat ini, pengembangan pertanian maupun peternakan telah mengalami pergeseran, yaitu lebih difokuskan kepada pengolahan dan pemasaran hasil-hasil pertanian maupun peternakan, sehingga diharapkan dapat menjadi strategi bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Susu merupakan satah satu produk hasil peternakan, terutama dari hewan ternak sapi yang bernilai gizi tinggi (produk peternakan ini terdiri dari susu sapi segar dan olahan). Salah satu produk hasil olahan susu sapi adalah kembang gula (permen) susu, yang disebut permen karamel susu. Di sentra-sentra produksi susu, sering terjadi kerusakan susu akibat tidak dapat terjual pada waktu yang tepat. Sejak susu diperahpun sudah mengandung bakteri perusak, yang akan lebih diperparah bila pemerahnya tidak mengetahui cara memerah susu yang baik. Susu yang rusak biasanya hanya dibuang, sehingga menjadi tidak bemilai dan merupakan kerugian yang cukup besar bagi para peternak. Salah satu cara untuk mengurangi kerugian tersebut adalah dengan mengolah susu lebih lanjut menjadi produk yang mempunyai nilai tambah dan masa simpan yang lebih lama. Pengolahanpengolahan susu yang dapat dilakukan dengan teknologi sederhana dan dapat menghasilkan produk yang disukai oleh konsumen perlu terus dicari dan dikembangkan. Menurut Arpah (1993), susu adalah produk hasil sekresi dari kelenjar sapi yang sedang menyusui anaknya, yang didapat melalui pemerahan. Susu merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan, terutama kerusakan oleh mikroba, karena susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba. Brevibacterium dan microbacterium sering ditemukan dalam susu dan produk-produk susu, tetapi tidak menimbulkan perubahan yang nyata terhadap tekstur, cita-rasa maupun warna, selain juga bakteri bacteroides, A.viscolactis/viscosus dan lain-lain (Fardiaz, 1992). Untuk memperpanjang masa simpan dan meningkatkan nilai penggunaannya, telah dilakukan berbagai cara pengolahan susu. Banyak produk yang dapat dihasilkan dari pengolahan susu tersebut, seperti susu kental manis, susu bubuk, es krim, permen dan lain-lain.

Produk olahan susu yang sudah cukup digemari dan dikenal masyarakat, antara lain karamel susu atau kembang gula susu. Pengolahan karamel susu saat ini sebagian besar dikembangkan dalam industri skala rumah tangga. Menurut Langwill (1965), gula-gula atau kembang gula digolongkan ke dalam 8 grup, yaitu (1) Hard candy, (2) Fondant, (3) Fudge, (4) Caramels, (5) Marshmallows, (6) Nougat, (7) Lozenges, (8) Jellies-Starch, Pectin dan agar-agar. Permen atau kembang gula merupakan salah satu produk pangan yang banyak digemari. Permen (boiled sweet) didefinisikan sebagai campuran antara sukrosa dan sirup glukosa dengan rasio tertentu yang dimasak dengan suhu tinggi lalu berubah kedalam keadaan glassy berupa sistem cairan super jenuh dan tidak berkristal setelah pencetakan. Berbagai jenis permen yang biasa terdapat di pasaran, antara lain fondant, fudge, pinoche, caramels, butterschotch, hard candy, lollypop, marsmallow, gum drops dan lain-lain. Kebanyakan permen yang bermutu baik masih diimpor dari luar negeri. Untuk mengimbangi produk impor tersebut diperlukan formulasi dan teknologi dalam proses produksinya. Berdasarkan SNI 01-3547-1994 (BSN, 1998), permen atau kembang gula diklasifikasikan dalam empat jenis, yaitu kembang gula keras (kembang gula bertekstur keras dan tidak menjadi lunak bila dikunyah), kembang gula lunak (kembang gula bertekstur relatif lunak atau lunak, jika dikunyah), kembang gula karet (kembang gula yang mengandung getah jelutung atau Dyena costulata, atau getah sintetis khusus); dan kembang gula nirgula (kembang gula yang dibuat dengan pemanis selain gula yang dibuat khusus untuk penderita diabetes dan atau yang membutuhkan makanan berkalori rendah). Permen karamel susu atau kembang gula susu berasal dari kata Caramel milk (bahasa Inggris) atau Hopyes (Bahasa Belanda), di India dikenal dengan nama Khoa. Di Indonesia karamel susu dikenal dengan sebutan hopyes/kopyes, namun di beberapa sentrum pembuatan produk kembang gula dari susu dikenal dengan nama karamel. Jenis-jenis karamel susu dibedakan berdasarkan produk utama dan produk sampingan. Hal lainnya dibedakan atas jenis aroma yang ditambahkan, seperti karamel vanili dan moka atau frambos. Karamel susu yang merupakan produk utama adalah yang dicetak melalui mesin pencetak digolongkan pada mutu I dan mutu II (produk sampingan) adalah merupakan serpihan yang dihasilkan pada waktu pemipihan (BBLIHP, 1985). Menurut BBLIHP (1985), dalam pengolahan karamel susu, mutu

yang dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya bahan baku, proses pengolahan dan sanitasi. Boyolali merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai potensi penghasil susu sapi perah yang potensial. Tingginya produksi susu sapi perah di Boyolali tidak diimbangi dengan teknologi pengolahan alternatif susu sapi perah sehingga masyarakat tidak mampu mendapatkan penghasilan tambahan. Hal ini berbeda dengan di daerah Pangalengan Bandung yang merupakan daerah produksi susu dan produsen pembuat permen karamel susu, dari penjualan permen susu ini mampu meningkatkan penghasilan peternak. Maka dari itu perlu diterapkan teknologi yang serupa di daerah Boyolali agar penghasilan peternak meningkat.

II. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN a. Permintaan Jumlah permintaan karamel susu, baik oleh penduduk di Jawa Tengah maupun di Indonesia sulit diketahui, karena belum pernah ada survei untuk menentukannya secara pasti. Melihat bentuk dan rasanya, permen karamel susu dapat dikategorikan ke dalam jenis makanan yang dapat mensubstitusi kembang gula. Permintaan terhadap permen karamel susu secara umum tergantung pada jumlah penduduk yang mengkonsumsinya (berminat mengkonsumsi), dimana diperkirakan adalah kelompok penduduk yang memiliki kemampuan membeli produk tersebut (tingkat sosial ekonomi menengah ke atas). Permen karamel susu merupakan jenis makanan praktis (convenient food) dan diperkirakan jenis makanan ini lebih populer di kota-kota besar (BBLIHP, 1985). Boyolali merupakan lokasi yang cukup strategis dimana lokasinya dekat dengan Jogja maupun Solo. Sehingga dalam hal pemasaran tidak akan mengalami banyak kendala mengingat daya beli masyarakat Jogja maupun Solo yang cukup tinggi. b. Penawaran Sama halnya dengan jumlah permintaan, jumlah penawaran permen karamel susu juga sulit diperkirakan, karena belum adanya data yang pasti mengenai itu. Hasil pengamatan oleh BBLIHP (1985) di lapangan memperlihatkan bahwa beberapa jenis permen karamel susu dijumpai di pasaran Jawa Barat, namun sebagian besar masih merupakan barang impor. Permen karamel susu lokal hanya dijumpai di beberapa kota di Bandung dan Jakarta dalam jumlah yang relatif kecil. Jumlah permen susu di daerah Boyolali dan sekitarnya masih dapat dikatakan belum banyak, sehingga potensi pasar masih sangat prospektif untuk dilakukan usaha permen susu. c. Persaingan dan Market Share Permen karamel susu belum begitu populer di kalangan masyarakat di luar daerah Bandung pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Daerah Pengalengan, Jawa Barat yang sampai saat ini masih merupakan daerah sentra produksi susu juga merupakan daerah penghasil produk-produk olahan dari susu, antara lain permen karamel susu. Jenis-jenis permen karamel susu di daerah ini dibedakan berdasarkan produk utama dan produk sampingan. Adapula yang membedakannya berdasarkan pada jenis aroma yang ditambahkan (vanili, moka atau frambos). Upaya mengembangkan pemasaran permen karamel susu sebagai produk olahan susu semestinya dilakukan

dengan cara memperhatikan aspek-aspek pemasaran dan menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Pengembangan pemasaran ini juga bisa dilakukan melalui jalurjalur pemasarannya, yaitu antara lain para distributor, agen dan penjual eceran. Sebagai ilustrasi, selama ini masih banyak masyarakat yang belum pernah mencoba bahkan mengenal atau mengetahui bentuk/rupa dan rasa permen karamel susu. Kurangnya promosi atau masih minimnya perhatian pengusaha kecil permen karamel susu terhadap aspek-aspek pemasaran berikut sarana-sarananya menjadikan permen karamel susu, khususnya produksi daerah Boyolali masih kurang dikenal oleh masyarakat. Padahal di lain pihak, pemasaran merupakan ujung tombak dari suatu usaha/industri, baik besar maupun kecil. Keberhasilan suatu produk di pasaran, dalam arti dapat diterima dan dtsukai oleh masyarakat luas, selain dilihat dari segi mutu produk, juga dari penerapan strategi pemasaran yang tepat.

d. Pasar Potensial Pasar potensial yang menjadi tujuan tempat penjualan barang produksi yaitu permen karamel susu adalah : 1. Toko-toko di wilayah Joaja, Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Klaten 2. Supermarket Jogja dan Solo 3. Kantin sekolah-sekolah di wilayah Boyolali

III. ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI a. Lokasi Produksi Lokasi yang digunakan untuk usaha permen karamel susu yaitu di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. b. Skala Produksi Produksi permen karamel susu dilakukan dalam skala menengah dengan kapasitas produksi 13 ton per bulan, dan kira-kira menghabiskan susu sapi segar sebanyak 1.300 liter/hari. c. Teknologi Pengolahan Proses pembuatan permen karamel susu pada prinsipnya adalah pemasakan campuran antara susu dan gula pasir dengan penambahan bahan-bahan lain sebagai pembangkit cita rasa hingga diperoleh produk permen karamel susu yang kental dan berwarna coklat. Secara garis besar, proses pembuatan permen karamel susu meliputi pencampuran bahan, pemasakan, pencetakan, pemotongan dan pengemasan. Proses pembuatan permen karamel susu sebagai berikut, susu yang telah diuji dan disaring segera dimasukkan ke dalam steam jacket atau wajan, lalu ditambahkan gula pasir dan glukosa sirup, serta dipanaskan sambil terus diaduk secara merata. Apabila diinginkan aroma dari esen, maka esen dapat ditambahkan pada saat pemasakan hampir selesai. Penambahan esen dilakukan sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk sampai adonan tercampur rata. Bila esen yang digunakan berbentuk padat atau pasta, sebaiknya dilarutkan lebih dahulu di dalam sedikit air. Pemasakan dilakukan sampai susu berubah menjadi kental, biasanya dapat memakan waktu 3-4 jam. Kriteria selesainya pemasakan dapat diamati dengan cara mengambil sedikit contoh adonan dan dimasukkan ke dalam air dingin, apabila adonan menjadi keras dan dapat dengan mudah dipatahkan, maka berarti pemasakan tersebut sudah cukup. Selesai pemasakan, steam segera dimatikan atau wajan diangkat dari brander dan adonan dipindahkan ke dalam loyang yang telah diolesi margarin/mentega. Adonan diratakan ke seluruh permukaan loyang sambil ditekan-tekan. Sisa adonan yang tidak tertampung di dalam loyang akan diiris dengan pisau. Adonan dalam loyang didinginkan selama ± 30 menit pada suhu kamar, lalu dicetak pada

mesin pencetak atau diiris-iris menggunakan pisau sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Setelah proses pencetakan dan pemotongan permen karamel susu selesai, maka produk-produk tersebut dapat segera dibungkus atau dikemas dengan wadah utama dan selanjutnya dengan wadah pengemas kedua sampai wadah pengemas terakhir. Permen karamel susu yang telah dipotong-potong dalam bentuk kotak kemudian dikemas. Kemasan karamel terdiri dari dua lapis, yaitu pada lapisan pertama dikemas dengan kertas minyak berukuran 3 cm x 4 cm, dan pada lapisan kedua dibungkus dengan kertas HVS yang telah berlabel dengan ukuran 5 cm x 7,5 cm. Permen karamel susu yang sudah dikemas dengan kedua lapisan kertas tersebut kemudian ditimbang dalam ukuran 250 g, 500 g dan 1000 g, serta dimasukkan ke dalam kemasan berupa kantong plastik yang telah diberi label. Pada label kemasan tersebut tertera logo dan nama perusahaan, nama karamel, berat/volume karamel dalam tiap kemasan, komposisi bahan, tanggal kadaluarsa dan ijin Depkes.

Susu sapi segar+gula+sirup glukosa+esen

Bahan di campur

Pemasakan dan pengadukan ±120oC

Pencetakan

Pendinginan ±45oC

Pemotongan

Pengemasan

Permen Karamel Susu

Bagan Pembuatan Permen Karamel Susu

IV. ASPEK MANAJEMEN Manajemen perusahaan dipimpin langsung oleh pemilik perusahaan dan sekaligus bertindak sebagai pemimpin perusahaan, pengawas mutu dan pengelola keuangan (administrasi). Pemasaran dikelola oleh 4 orang yaitu, 2 orang pemasaran di Solo dan 2 orang pemasaran di Jogja. Tenaga kerja di pabrik sebanyak 50 orang dengan pembagian kerja 30 orang di bagian produksi, 10 orang di bagian pemotongan dan 4 orang sebagai tenaga packing (pengemasan) dan seorang sebagai penjaga toko yang terletak di depan pabrik. Sebagian tenaga kerja berstatus tenaga borongan dengan latar belakang pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah lanjutan Pertama (SMP). Tenaga kerja yang berstatus pegawai tetap sebagian berada di bagian produksi dan sebagian berada di bagian pemasaran dengan tingkat pendidikan SMA. Biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran gaji pegawainya setiap bulan ± Rp. 35.000.000,- - Rp. 45.000.000,-, dengan kisaran gaji pegawai per orang Rp. 750.000,- - Rp. 2.000.000,- per bulan. Untuk bagian pemasaran diberikan insentif sebanyak 5% dari total penjualannya.

Balas Jasa atau Upah Tenaga Kerja No 1 2 3 4 Jabatan Pemasaran+Driver (4) Pegawai Produksi (30) Pegawai Pemotongan (10) Packing (4) Total Jumlah Upah/Bln (Rp) 8.000.000 24.000.000 7.500.000 3.000.000 42.500.000

V. ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK A. Pendapatan Perkapita Masyarakat Pendapatan perkapita masyarakat Indonesia yang diperoleh dari Badan Statistika Nasional tahun 2011 menyebutkan sebesar 27 juta. Dengan demikian, pendapatan perkapita masyarakat cukup tinggi. Meningkatnya pendapatan masyarakat ini mampu mempengaruhi perubahan pola konsumsi makan dan daya beli masyarakat terhadap produk pangan berbasis susu.

B. Penyerapan Tenaga Kerja Berdirinya PT Selo Buanget Caramel’s memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja. Melalui penyerapan tenaga kerja lokal di sekitar pabrik diharapkan mampu menurunkan angka pengangguran di Kabupaten Boyolali dan sekitarnya. Penyerapan tenaga kerja lokal akan meningkatkan kepercayaan masyarakat akan eksistensi industri karena masyarakat merasa terbantu dalam aspek ekonomi, mensejahterakan masyarakat lokal yang tergabung dalam perusahaan.

C. Penambahan Devisa Pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan sector perindustrian di Indonesia memberikan kontribusi cukup besar dalam pembangunan negara. Berdirinya industri Permen karamel susu PT Selo Buanget Caramel’s di Kabupaten Boyolali memberikan dampak positif terhadap penambahan devisa daerah maupun nasional secara lebih luas. Hal ini sesuai amanat pemerintah yang mendukung pertumbuhan industri lokal dan pertumbuhan perusahan-perusahaan baru dalam negeri sebagai ladang devisa yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat melalui program pembangunan.

D. Keuntungan Transfer Pengetahuan/Teknologi Pendekatan aspek sosial masyarakat dengan berdirinya industri permen karamel susu PT Selo Buanget Caramel’s melalui transfer ilmu pengetahuan atau teknologi industri pengolahan susu. Penerapan teknologi dan sains dalam memproduksi permen karamel susu secara modern diharapkan mampu memberikan rangsangan positif dalam pengembangan pengetahuan masyarakat akan kemajuan teknologi. Aplikasi teknologi

pengolahan susu juga diharapkan dapat dipelajari oleh tenaga kerja sehingga secara tidak langsung tenaga kerja/masyarakat memperoleh transfer pengetahuan dan teknologi mengenai industri tersebut.

E. Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Proyek Proyek PT Selo Buanget Caramel’s memberikan respon positif terhadap masyarakat di sekitar lokasi industri. Tidak hanya berdampak pada meningkatnya atau semakin baik nya kondisi lingkungan fisik tetapi juga kondisi lingkungan psikis masyarakat. Peningkatan kondisi lingkungan fisik terjadi pada pembangunan fisik sepeti pembangunan/perbaikan jalan, jembatan, akses informasi, jaringan telepon yang mampu memberi manfaat positif untuk masyarakat. Selain itu, persepsi dan sikap positif masyarakat juga ditunjukkan dari bentuk kerjasama masyarakat dengan perusahaan melalui keikutsertaan masyarakat dalam proses produksi sebagai tenaga kerja di PT Selo Buanget Caramel’s.

VI. ASPEK REGULASI DAN LEGALITAS Usaha permen susu ini sudah terdaftar di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali sejak tahun 1999. Selain itu juga sudah memiliki surat ijin usaha dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Boyolali.

A. Sistem Hukum Yang Berlaku Untuk Pendirian Usaha Kebijakan pemerintah yang mengatur tentang investasi dan perijinan industri pengolahan susu daiantaranya adalah Paket Kebijakan Pemerintah tanggal 23 Mei 1995, berisi tentang DNI (Daftar Negatif Investasi). Penjelasan tentang kebijakan ini adalah Industri pengolahan susu dalam negeri ditetapkan sebagai industri yang tertutup bagi penanaman modal kecuali memenuhi persyaratan terpadu dengan peternakan. Perpaduan antara industri pengolahan susu dengan industri peternakan sapi perah diharapkan mampu mendorong terbentuknya sistem agroindustri susu Indonesia berbasis sumber daya lokal. Sistem hukum perusahaan berada dibawah BPOM RI MD 25371015178 dan telah mendapatkan label halal dengan LPPOM 01120041999906. Perusahaan telah terdaftar di notaris dan mempunyai Surat Ijin Usaha yang resmi serta terdaftar di kantor pajak, dengan NPWP Perusahaan No. 35.728.673.0-252.000, sehingga setap tahunnya telah dikenakan pajak sesuai peraturan perundang-undangan.

B. Persyaratan Administrasi Pendirian Usaha Persyaratan admnistrasi untuk memperoleh persetujuan atau ijin yang dikeluarkan pemerintah Kabupaten Boyolali sesuai dasar hukum : Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No. 590/MPP/Kep/10/99 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Industri, Izin Usaha Perluasan dan Tanda Daftar Industri, ialah sebagai berikut. 1. Formulir permohonan (ijin industri SP 1 dan Pm II) yang telah diisi lengkap dan benar; 2. Foto copy akte pendirian perusahaan dan foto copy surat keputusan berwenang untuk Perusahaan Perseroan; 3. Foto copy akta pendirian koperasi yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi yang berwenang untuk perusahaan yang berbentuk koperasi;

4. Foto copy akta pendirian perusahaan yang telah didaftarkan pada pengadilan negeri untuk perusahaan persekutuan; 5. Foto copy KTP penanggungjawab Perusahaan/Koperasi; 6. Foto copy izin gangguan/AMDAL bagi kegiatan usaha perdagangan yang dipersyaratkan; 7. Neraca awal perusahaan; 8. Pas foto penanggungjawab ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar.

Berkaitan dengan aspek regulasi dan legalitas tersebut, PT Selo Buanget Caramel’s memiliki kekuatan hukum berdasarkan kelengkapan berkas persyaratan administrasi pendirian usaha, dan perizinan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan melalui keputusan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia.

VII. ASPEK LINGKUNGAN Secara global, industri permen susu ini tidak menghasilkan limbah yang berdampak negatif pada lingkungan. Limbah yang dihasilkan hanyalah asap hasil dari proses memasak dari susu menjadi permen, akan tetapi asap yang dihasilkannyapun masih di bawah ambang normal. Jadi dapat dikatakan industri ini ramah lingkungan.

VIII. ANALISIS RESIKO Setiap usaha pasti akan memiliki resiko yang harus ditanggung oleh pelaksana usaha, termasuk juga industri permen susu. Resiko yang dihadapi dalam industri permen susu ini yaitu pada aspek pemasaran dan daya simpan permen susu yang relatif tidak bertahan lama setelah kemasan luar dibuka. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan sumberdaya manusia yang benarbenar memiliki keahlian dalam bidang pemasaran, sehingga permen susu yang dihasilkanpun mampu bersaing dengan permen-permen yang ada di Indonesia saat ini. Untuk hal daya simpan yang relatif tidak lama setelah kemasan luar dibuka dapat diatasi dengan cara memasang cara penyimpanan yang baik dan benar pada kemasan pembungkus luar agar konsumen juga memahami bagaimana cara penyimpanan permen susu yang baik agar dapat bertahan lama. Selain resiko diatas, persaingan bisnis dari perusahaan lain pasti juga akan ada terutama permen karamel yang berasal dari perusahaan industri besar seperti Alpenliebe maupun yang berasal dari impor. Maka dari itu pemasaran yang jitu dan tepat sasaran sangat diperlukan.

IX. ANALISIS FINANSIAL A. Modal Perusahaan Modal perusahaan untuk investasi didapat dari hutang bank. Perusahaan hutang ke bank sebesar Rp. 9.000.000.000,00 dengan bunga 14%. Pinjaman beserta bunganya dibayar dalam waktu 10 tahun. B. Biaya Investasi Biaya investasi awal perusahaan sebesar Rp. 44.927.500,00 dengan rincian sebagai berikut : Alat wajan berkapasitas 50 liter tungku pemasak berbahan bakar kayu kompor berbahan bakar LPG pengaduk panjang rol pemipih timbangan kapasitas 100 kg timbangan kapasitas 5 kg meja penggiling mesin pencetak penampung susu (kapasitas 300 liter) loyang alumunium besar loyang alumunium sedang kain saring rak kayu tempat loyang pisau stainless stell besar pisau stainless stell kecil plastik sealer tabung LPG kapasitas 13 kg tabung LPG kapasitas 3 kg sumber air bersih (jet pump) unit Harga 30 125.000 4 10.000 30 40.000 10 8.000 5 7.500 1 1.500.000 2 350.000 4 230.000 2 3.500.000 5 2.000.000 50 25.000 20 15.000 5 10.000 5 125.000 5 25.000 10 10.000 2 450.000 30 500.000 5 150.000 1 600.000 Total Biaya 3.750.000 40.000 1.200.000 80.000 37.500 1.500.000 700.000 920.000 7.000.000 10.000.000 1.250.000 300.000 50.000 625.000 125.000 100.000 900.000 15.000.000 750.000 600.000 44.927.500

C. Estimasi Biaya Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap terdiri dari : penyusutan, cicilan bank, gaji karyawan dan pajak tahunan. No 1 2 3 4 Nama Biaya Tetap/ tahun Penyusutan Cicilan Bank Gaji karyawan Sewa Kendaraan Total Total (Rp.) 212.749.500 1.260.000.000 510.000.000 96.000.000 2.078.749.500

Biaya variable terdiri dari : susu, kemasan, bahan bakar, listrik, air dan lain-lain. Rincian biaya dapat dilihat pada tabel berikut : Biaya Variabel/thn Jumlah Harga satuan (Rp.) Total (Rp.) Susu (ltr) 468.000 4.100 (/kg) 1.918.800.000 102.960.000 Gula pasir (kg) 9.360 11.000 (/kg) 9.450.000 Esen (kg) 2.700 3.500 (/kg) 3.150.000 Mentega 126.000 25 (/gram) Kemasan 18.750.000 Bahan Bakar 15.000 4.500 (/liter) 67.500.000 Listrik 24.000.000 Promosi 60.000.000 2.204.610.000 Total Total biaya tetap dan biaya variable adalah Rp 4.056.749.000 D. Estimasi Penjualan /Penerimaan Barang yang dijual akan menghasilkan penerimaan kotor. Penerimaan diperoleh dari penjualan permen karamel susu. Estimasi penerimaan dalam satu tahun produksi dapat dilihat pada table berikut : Total Produksi (kg) kemungkinan Harga tdk terjual Satuan (kg) (Rp/bag) 38.000 19.000 No 1 2 3 4 5 6 7 8

No 1 2

Kemasan Permen Karamel Susu 1000 gr 78.000 Permen Karamel Susu 500 gr 78.000 Total Penerimaan

Total Penerimaan (Rp.) 2.964.000.000 2.964.000.000 5.928.000.000

E. Proyeksi untung Rugi Jumlah penerimaan lebih besar dari biaya-biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya. Maka tentunya perusahaan akan untung atau memperoleh laba. Berdasarkan perhitungan penerimaan perusahaan bisa mendapatkan laba kotor sebesar Rp. 3.216.640.500 yang diperoleh dari perhitungan penerimaan dikurangi dengan total

biaya tetap ditambah biaya variable. Sedangkan Laba bersih pertahun didapatkan angka sebesar Rp. 1.956.640.500 yang diperoleh dari hasil perhitungan laba kotor dikurangi dengan bunga pinjaman. F. Kriteria Investasi Beberapa kriteria investasi yang dihitung adalah : 1. Efisiensi usaha dengan R/C rasio Rumus R/C ratio = 2. Rentabilitas Rentabilitas =
Laba x 100 % Modal
Penerimaan TotalBiaya

3. Pay Back Period (PBP) PBP =
Modal x 1 tahun Laba

4. BEP baik berdasarkan Rupiah maupun jumlah permen karamel susu yang diproduksi BEP Rupiah BEP =
BiayaTetap 1  (biaya var iabel / penerimaan )

BEP produk dihitung dari hasil BEP Rupiah dibagi harga produk Dari Hasil Perhitungan diperoleh data sebagai berikut : Kriteria efisiensi 1. R/C Rasio 2. Rentabilitas 3. Pay Back Period 4. BEP - Dalam Rupiah - Dalam Produk Nilai 1,46 15,25% 5,43 tahun Rp. 3.214.409.729,91 80.360,24 kg

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis finansial usaha pembuatan permen karamel susu, mampu menghasilkan keuntungan bersih per tahun sebesar Rp. 1.956.640.500. R/C ratio menunjukkan angka sebesar 1,46 hal ini berarti bahwa dengan asumsi biaya 1 rupiah yang digunakan, mampu menghasilkan keuntungan sebesar 1,46 kali dari biaya yang digunakan. Analisis rentabilitas usaha dan pay bac periode menunjukkan hasil berturut-turut 15,25% dan 5,43 tahun. Hal tersebut menandakan bahwa modal yang digunakan akan lebih menguntungkan apabila digunakan untuk menjalankan usaha dibanding harus diinvestasikan serta tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan modal usahanya yaitu hanya dalam waktu 5 tahun 5,16 bulan. Dengan demikian usaha yang akan dijalankan ini diproyeksikan mempunyai prospek yang menjanjikan, karena efisiensi usaha tercapai dan berdasarkan parameter-parameter di atas usaha ini akan sustainable di masa yang akan datang. Hasil analisis Break Even Point dalam rupiah menunjukkan bahwa BEP dicapai pada tingkat penerimaan sebesar Rp. 3.214.409.729,91. BEP berdasarkan banyaknya produk yang dihasilkan akan dicapai pada produksi 80.360,24 kg. Apabila diinginkan keuntungan yang lebih besar lagi maka hendaknya skala usaha ini dibuat dalam skala industri dengan menggunakan mesin canggih, sehingga penggunaan tenaga kerja dapat dikurangi dan akan menghemat biaya tenaga kerja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->