P. 1
Kultur Jaringan Dan Manfaatnya Bagi Kehidupan

Kultur Jaringan Dan Manfaatnya Bagi Kehidupan

|Views: 577|Likes:
Published by Wanda Mardhotillah

More info:

Published by: Wanda Mardhotillah on May 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2014

pdf

text

original

WELCOME TO

PLAY

KULTUR JARINGAN DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN
Oleh : Dewi Silvia Firnatelia Res Gita Nurfalah Meidiawati Restu F. Mila Munawaroh Wanda Mardhotillah

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Untuk menjunjang proses pembelajar di sekolah yang dilakukan di ruang kelas dilakukan observasi langsung di luar ruangan kelas untuk menambah wawasan siswa dengan mengadakan kegiatan Study Tour. Untuk itu, maka Study Tour merupakan media alternatif yang mempunyai nilai lebih dan cukup efektif untuk memperluas cakrawala keilmuan dan berbagai dimensinya dibanding dengan lingkungan ruang kelas yang hanya bersifat sekitar buku-buku pelajaran wajib, perpustakaan, diskusi dan sarana perpustakaan lainnya. Study Tour selain merupakan tujuan utamanya untuk memperkaya khasanah keilmuan juga didalamnya terkandung unsur reaksi yang bisa berfungsi sebagai “The Idea Fresher” yang bertindak sebagai motivasi belajar yang lebih baik. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari Study Tour ini. Keterikatan dengan subjek Study Tour adalah dalam bidang Fisika, Biologi, Kimia dan Bahasa Indonesia.

B. Tujuan Adapun tujuan diadakannya Study Tour ini anatara lain : 1. Memperluas cakrawala keilmuan. 2. Mempertinggi etos belajar, berusaha untuk menjawab rasa ingin tahu dari penemuan-penemuan barunnya yang membekas sebagai pengalaman atau catatan perjalanan yang dilihat, didengar maupun dari sejumlah objek. 3. Reverensi sejumlah teori dengan realitas sejumlah fakta. 4. Melatih berorganisasi, memupuk rasa tanggung jawab serta loyalitas yang tinggi sesama kelompok kerja.

C. Rumusan Masalah 1. Apa manfaat dari adanya Kultur Jaringan dalam kehidupan sehari-hari? 2. Bagaimana pengembangan Kultur Jaringan dalam kehidupan sehari-hari?

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Definisi Kultur Jaringan Kultur jaringan (Tissue Culture) merupakan suatu cara memperbanyak tanaman dengan teknik mengisolasi bagian tertentu dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya pada media nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman di dalam kondisi yang steril, sehingga bagian - bagian tersebut bisa memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap/sempurna. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman dengan menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Kultur jaringan atau biakan jaringan sering disebut kultur in vitro yakni teknik pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan yang dilakukan di luar individu yang bersangkutan. In vitro berasal dari bahasa Latin yang artinya "di dalam kaca". Jadi Kultur in vitro dapat diartikan sebagai bagian jaringan yang dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Secara teoritis teknik kultur jaringan dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan, hewan, bahkan juga manusia, karena berdasarkan teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), bahwa setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut, setiap sel berasal dari satu sel.

Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses perbanyakan tanaman dengan metoda kultur jaringan, yaitu: 1) Bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk dikulturkan; 2) Wadah dan media tumbuh yang steril; 3) Lingkungan tumbuh.

BAB III PEMBAHASAN HASIL OBSERVASI
A. Waktu dan Tempat Observsi ini kami laksanakan pada tanggal 24 Januari 2012 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

B.

Deskripsi Objektif Istitut Pertanian Bogor (IPB) memiliki salah satu Fakultas yang bernama Fakultas Agronomi dan Hortikultura. Di Fakultas ini, ada pembelajaran khusus untuk meneliti dan mengembangkan Kultur Jaringan. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangbiakakan berbagai macam tanaman yang ada di Indonesia dengan teknik Kultur Jaringan yang memiliki nilai guna tinggi dan cocok untuk diterapkan di Negara kita yang memiliki berbagai varietas tumbuhan yang beragam dan perlu untuk dilestraikan. Mengapa pengembangbiakan tanaman dengan Kultur Jaringan lebih disarankan? Karena, bibit yang dihasilkan dari Kultur Jaringan memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan dengan pengembangbiakan secara konvensional. Salah satu keunggulannya adalah dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar tanpa menggunakan tempat yang luas. Kultur jaringan dalam kehidupan sehari-hari dapat diterapkan pada tumbuhan monokotil seperti pisang. Pisang merupakan salah satu tumbuhan monokotil. Di Indonesia pisang memiliki varietas yang sangat beragam. Pisang yang berkualitas tentunya akan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi juga. Pisang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Pisang mengandung vitamin, karbohidrat dan sedikit protein. Dengan menggunakan teknik penanaman secara konvensional (perbanyakan bonggol) pisang belum tentu berbuah secara bersamaan dan virus yang berada pada tanaman induk akan diturunkan kepada anakannya sehingga ketika berada di pasar jumlahnya hanya sedikit dan semakin lama menjadi semakin kecil.

Keadaan yang seperti ini tentunya tidak memungkinkan adanya ekspor pisang dari Indonesia. Oleh karena itu di Indonesia perlu dikembangkan teknik penanaman yang lain yang berbeda dari teknik penanaman secara konvensional. Slah satu teknik yang dapat dikembangkan adalah teknik kultur jaringan. Bagian pisang yang dapat dikulturkan adalah tunas pisang. Dengan mengunakan teknik kultur jaringan ini pisang dapat ditanam dalam jumlah yang banyak pada waktu yang bersamaan. Karena ditanam dalam waktu yang sama maka panen pisang pun dapat dilakukan secara bersamaan. Ketika pisang dapat dipanen dalam jumlah yang melimpah maka tidak menutup kemungkinan buah yang memiiki banyak manfaat ini untuk di ekspor kenegara lain. Selain itu manfaat teknik kultur jaringan adalah memisahkan bagian tanaman yang tidak terkena virus sehingga ketika bagian tanaman tersebut ditumbuhkan maka menjadi tanaman yang bebas dari virus. Tanaman yang bebas virus dapat tumbuh secara optimal sehingga dapat menghasilkan buah yang ukurannya besar. Perkembangan pengembangbiakan tanaman dengan Kultur Jaringan di Indonesia masih sangat lamban bahkan bisa dikatakan masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain yang maelakukan pengembangbiakan tanaman dengan teknik Kultur Jaringan. Hal ini disebabkan karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang sangat mahal untuk mendirikan sebuah laboratorium Kultur Jaringan dan hanya cocok untuk perusahaan. Padahal, masalah ini masih bisa ditanggulangi dengan membuat laboratorium Kultur Jaringan yang sederhana.

Secara prinsip, laboratorium Kultur Jaringan bisa disederhanakan dengan melakukan modifikasi peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat dimungkinkan kultur jaringan seperti home industry. Hal ini dapat dilihat pada kelompok petani pengkultur biji anggrek di Malang yang telah sedemikian banyak menghasilkan tanaman anggrek yang menggunakan teknik pengembangbiakan dengan kultur jaringan. Mereka membuat laboratorium Kultur Jaringan yang sederhana.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan Kultur Jaringan atau dalam bahasa asing disebut Tissue Culture memiliki banyak sekali manfaat. Manfaat kultur jaringan diantaranya adalah pengembangan bibitnya tidak tergantung musim, bibit yang dihasilkan bisa didapatkan dengan jumlah yang banyak dan seragam serta tanpa memakan waktu yang lama, biaya pengangkutannya relatif murah, dalam proses pembibitan tidak akan terganggu hama dan penyakit serta dapat menghasilkan bibit dengan sifat sesuai kehendak. Namun sayangnya, pengembangan kultur jaringan di Indonesia sangat lamban dan hanya beberapa intansi tertentu saja yang masih menggunakan kultur jaringan sebagai media untuk mengembangbiakan tanaman. Hal ini disebabkan karena mahalnya biaya untuk membuat sebuah Laboratorium Kultur Jaringan.

B.

Saran Penggunaan metode kultur jaringan dalam pengembangbiakan tanaman sangat dianjurkan. Perkembangan dengan metoda ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya bibit tanaman yang dihasilkan dari produk kultur jaringan lebih berkualitas dibandingkan dengan bibit hasil produk pengembangbiakan secara konvensional dan selain itu pengembangbiakan dengan metoda ini tidak memerlukan tempat yang luas, cukup dilakukan di dalam tabung yang steril. Selain itu, hasil tanaman yang dihasilkan kultur jaringan terbebas dari penyakit sifat-sifat keturunannya bisa sesuai kehendak pembuatnya. Untuk itu, penyusun menyarankan agar pengembangbiakan tanaman dengan kultur jaringan lebih sering digunakan oleh para pemelihara dan pengembang tanaman serta produsen bibit di Indonesia. Apabila masalah biaya membuat Laboratorium Kultur Jaringan masih menjadi kendala, solusinya adalah membuat Laboratorium Kultur Jaringan sederhana yang bisa dibuat di dalam rumah sendiri atau bisa disebut home industry.

Terima kasih atas perhatian anda^^

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->