Laporan

d) Sistem Trigonal e) Sistem Orthorombic f) Sistem Triclinic g) Sistem Monoclin

kristalografi

1.2 Pengertian Kristal Kristal berasal dari bahasa Yunani yaitu crustallos yang berarti es atau sesuatu yang menyerupai es. Kristal merupakan bangun yang homogen terdiri atas atomatom yang tersusun teratur dan berulang (dalam pola tiga dimensi). Zat padat terbentuk dari Kristal yang mempunyai jarak antara atom satu dan antara lainnya tertentu sehingga akan membentuk bangun geometri tertentu pula. Bentuk-bentuk geometri inilah yang merupakan dasar bentuk Kristal suatu zat. Bentuk geometri terkecil dari krsital disebut sel satuan.

1.3 Maksud dan Tujuan 1.3.1 Maksud Dalam studi Geologi, setelah mempelajari ilmu-ilmu tentang kristal, tahap selanjutnya adalah mempalajari ilmu tentang mineral atau Mineralogi. Kristalografi sendiri terkait dalam satu rangkaian dengan berbagai macam contoh dalam pembelajarannya. Terkait dengan kristal adalah komponen dasar dalam Geologi karena kristal adalah adalah suatu padatan yang atom, molekul,atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Dan dengan menjalani studi Kristalogrfi, dimaksudkan agar kita dapat mengenal, mengetahui dan juga menguasai Kristalografi yang menjadi salah satu dasar terpenting dalam Geologi. Dengan bekal ilmu tentang kristal yang akan diperoleh, Kristalografi adalah salah satu aplikasi dari ilmu tersebut. Dan pada akhirnya, dengan menguasai kristalografi dan Mineralogi nantinya, akan dapat lebih mudah dalam mempelajari ilmu Geologi pada tahap selanjutnya.

1.3.2 Tujuan Dalam kegiatan mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, kita Di tuntut untuk dapat 1. Mengaplikasikan ilmu tentang kristal. 2. Mengetahui defenisi dari Kristalografi itu sendiri. 3. Mengetahui sifat-sifat fisik dari kristal. 4. Mampu melakukan penyelidikan secara fisik dari kristal. 1

File Riskan

T.Geologi

Laporan
6. Mengetahui persentase komponen-komponen kristal.

kristalografi

1.4 Aplikasi di Bidang Geologi Pada bidang Geologi, mempelajari kristalografi sangatlah penting.Karena untuk mempelajari ilmu Geologi, kita tentunya juga harus mengetahui komposisi dasar dari Bumi ini, yaitu batuan. Dan batuan sendiri terbentuk dari susunan mineralmineral yang tebentuk oleh proses alam. Dan pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang pengertian mineral yang dibentuk kristal-kristal. Dengan mempelajari kristalografi, kita juga dapat mengetahui berbagai macam bahan-bahan dasar pembentuk Bumi ini, dari yang ada disekitar kita hingga jauh didasar Bumi. Ilmu kristalografi juga dapat digunakan untuk mempelajari sifat-sifat berbagai macam mineral yang paling dicari oleh manusia.Dengan alasan untuk digunakan sebagai perhiasan karena nilai estetikanya maupun nilai guna dari mineral itu sendiri.Jadi, pada dasarnya, kristalografi digunakan sebagai dasar untuk mempelajari ilmu Geologi itu sendiri. Dengan alasan utama kristal adalah sebagai pembentuk Bumi yang akan dipelajari.

2

File Riskan

T.Geologi

Bahan padat homogen. sehingga menghasilkan padatan polikristalin.Laporan BAB II kristalografi GEOMETRI PEMBENTUK KRISTALOGRAFI 2.biasanya anisotrop dan tembus air. Keteraturannya tercermin dalam permukaan kristal yang berupa bidang. Bidang-bidang datar ini disebut sebagai bidang muka kristal.atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. kondisi ketika terjadi pemadatan.1 Proses Pembentukan Kristal Kristal adalah suatu padatan yang atom. Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia cairannya sendiri. 3 File Riskan T. sehingga susunan bidang. Bidang muka kristal itu baik letak maupun arahnya ditentukan oleh perpotongannya dengan sumbu-sumbu kristal. secara umum. Sifat fisis kristal sangat tergantung pada struktur susunan atom-atomnya. hasilnya bisa berupa kristal tunggal. dan tekanan ambien.Geologi . kebanyakan kristal terbentuk secara simultan. molekul. Pada kondisi ideal. Kristal juga dapat didefinisikan sebagai bahan padat homogen. yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang" pada kisi atau struktur kristal yang sama. jumlah dan kedudukan dari bidangnya tertentudan teratur.Secara umum. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi.bidangnya mengikuti hukum geometri.mengandung pengertian: * Tidak termasuk di dalam cair dan gas * Tidak dapat diuraikan menjadi senyawa lain yang lebih sederhana oleh proses fisikaMenuruti hukum-hukum pasti sehingga susunan bidangnya mengikuti hokum geometri * Jumlah bidang dari suatu bentuk kristal tetap * Macam bentuk dari bidang kristal tetap * Sifat keteraturannya tercermin pada bentuk luar dari kristal yang tetap. Sudut antara bidang-bidang muka kristal yang saling berpotongan besarnya selalu tetap pada suatu kristal. biasanya anisotropy dan tembus air serta menuruti hukum-hukum ilmu pasti. kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari merupakan polikristal. sumbu kristal berupa garis bayangan yang lurus yang menembus Kristal melalui pusat kristal. tapi. Dalam sebuah kristal. zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Sumbu kristal tersebut mempunyai satuan panjang yang disebutsebagai parameter.bidang datar dan rata yang mengikuti pola-pola tertentu. Misalnya.

2. sistem trigonal 4. 2-4.1. Tujuh prinsip letak bidang kristal terhadap susunan salib sumbu kristal: α : sudut yang dibentuk antara sumbu b dan sumbu c β : sudut yang dibentuk a 2.3 Sumbu dan Sudut Kristalografi 2. sistem monoklin 7. yang penting bentuk yang dibatasi oleh bidang. sistem tetragonal 5. Sudut Kristalografi Sudut kristalografi adalah sudut yang di bentuk oleh perpotongan sumbusumbu kristalografi pada titik potong (pusat kristal). sehingga akan dikenal 2 zat yaitu kristalin dan non kristalin. Sumbu Kristalografi Sumbu kristalografi adalah suatu garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal. sistem orthorombik 6. Ketujuh kelompok sitem kristal itu yaitu : 1. 2-4. Bidang yang lebih penting bagi pembahasan ini adalah bidang yang digambarkan pada gambar 2-4.Bidang Kristal Suatu kristal mengandung beberapa bidang atom. lebar. dan tebal atau tinggi. sistem kubik 2. 2. yang disebut system kristal.4 Bidang Kristal dan Bidang Simetri 2.4. 2.Laporan kristalografi Besar kecilnya kristal tidak mempengaruhi. 4 File Riskan T.3.3. sistem triklin 2. sehingga bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai bidang dalam kristal.3. tetapi terdapat pula banyak bidang lain.1.1. Bidang kisi kristal yang paling mudah dikenali adalah bidang pembatas sel satuan. sistem hexagonal 3.Tetapi dalam penggambarannya dibuat 2 dimensi sehingga digunakan proyeksi orthogonal. Dimana kristal mempunyai bentuk 3 dimensi. tetapi kristalkristal ini dapat diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok besar.2. bidang-bidang ini mempengaruhi sifat dan perilaku material.Geologi .bidang kristal.2 Bentuk Kristal Terdapat banyak sekali kemungkinan bentuk kristal di Alam. yaitu panjang.

5 File Riskan T. dan (Ī11).3. dimana bilangan dalam tanda kurung (hkl) disebut Indeks miller Gambar 2-4.1. (c) kubik pemusatan-sisi (fcc). (a) kubik sederhana (sc).4 Masing-masing diberi tanda (010). Perpotongan negative diberi tanda garis di atas indeks. (c) Kubik pemusatan-sisi (fcc). (b) kubik pemusatanruang (bcc).(Bidang (222) yang terdapat di gambar untuk bcc setara dengan bidang (Ī11)). (a) kubik sederhana (sc). (c) Kubik pemusatan-sisi (fcc). (b) Kubik pemusatanruang (bcc). (a) kubik sederhana (sc). (110). Bidang (Ī11) dalam struktur Kubik.) Gambar 2-4.Geologi . (b) Kubik pemusatanruang (bcc). (Bidang (200) yang terdapat di fcc setara dengan bidang (110)) Gambar 2-4.2.Laporan kristalografi dan 2-4. Bidang (110) dalam struktur Kubik. Bidang (010) dalam struktur kubik. (Bidang (020) yang terdapat dalam bcc dan fcc setara dengan bidang (010) jika digambarkan pada perluasan sketsa ini.

2 Bidang Simetri Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat membelah kristal menjadi dua bagian yang sama. Bidang simetri aksial ini dibedakan menjadi dua.Laporan kristalografi Gambar 2-4. Indeks miller. Bidang (112) memotong ketiga sumbu pada jarak satuan 1. yang melalui sumbua-b-αβγ vertikal (biasanya dinotasikan dengan v). 6 File Riskan T. * Bidang simetri menengah adalah bidang simetri yang hanya melalui satu sumbu kristal. yang berada tegak lurus terhadap sumbu c (dinotasikan dengan h).4. Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua. Bidang simetri ini sering pula dikatakan sebagai bidang siemetri diagonal. yaitu: * Bidang simetri aksial dikatakan Bidang simetri aksial bila bidang tersebut membagi kristal melalui dua sumbu utama (sumbu kristal). dan bidang simetri horisontal. 2. yaitu bidang simetri vertikal . dimana bagian yang satu merupakan pencerminan dari yang lain.1 dan ½.Geologi .4.

tetapi bidang proyeksinya merupakan bidang ekuator bola atau bidang horizontal yang melalui equator bola tersebut. 3.1.3. Proyeksi 3. Jumlah Unsur Simetri 7 File Riskan T. Sistem Isometrik terdiri dari lima kelas.4.1 Proyeksi Bola Proyeksi bola merupakan bidang proyeksi garis yang ditarik dari pusat bola. bidang Kristal dan diteruskan hingga memotong bidang proyeksi. Sistem Kristal Dalam mempelajari dan mengenal bentuk kristal secara mendetail. perlu diadakan pengelompokkan yang sistematis. Pengelompokkan itu didasarkan pada perbandingan panjang. Proyeksi stereografi memproyeksikan sumbu simetri (A). tetapi bidang proyeksi merupakan bidang singgung bola yang memotong kutub utara 3.Laporan BAB III TATA CARA PENDESKRIPSIAN kristalografi 3.1. sistem Orthorhombik memiliki tiga kelas.1. letak (posisi) dan jumlah serta nilai sumbu tegaknya. Bentuk kristal dibedakan berdasarkan sifat-sifat simetrinya (bidang simetri dan sumbu simetri) Dari bidang simetri dan sumbu simetri tersebut kristal dapat dikelompokkan menjadi 32 kelas kristal.3. Pengelompokkan ini berdasarkan pada jumlah unsur simetri yang dimiliki oleh kristal tersebut. sistem Tetragonal mempunyai tujuh kelas. sumbu U-S cara proyeksinya dengan cara menarik garis.2.Proyeksi Stereografi Prinsipnya sama dengan proyeksi bola. 3. dari titik-titik yang berupa kutub bola ke bidang proyeksi ortografi. Selanjutnya Monoklin mempunyai tiga kelas dan Triklin dua kelas. Hexagonal tujuh kelas dan Trigonal lima kelas.1. 3. 3.2. Proyeksi Gnemonik Prinsip dasar proyeksi gnemonik ini sama dengan proyeksi bola. Proyeksi Ortografi Bidang proyeksi ortografi utara bola.1.Geologi .

4. yang selanjutnya akan menjadi patokan dalam penggambarannya. Dan cara penentuannya pun berbeda pada tiap sistem kristal. jika ada tentukan jumlah serta nilainya. lakukan pengamatan terhadap nilai sumbu simetri yang ada. * Amati keterdapatan bidang simetri pada setiap pasangan sumbu simetri yang ada pada kristal. 8 File Riskan T. Berbeda dengan Herman-Mauguin yang pemberian simbolnya berbeda-beda pada masing-masing sistemnya. * Jumlahkan semua sumbu dan bidang simetri (yang bernilai sama) yang ada. kita akan dapat mengetahui dimensi-dimensi yang ada dalam kristal tersebut. bidang.Geologi . Menentukan nilainya sama dengan pada sumbu utama. serta titik pusat dari kristal tersebut.2.Laporan kristalografi Jumlah unsur simetri adalah notasi-notasi yang digunakan untuk menjelaskan nilai-nilai yang ada dalam sebuah kristal. Kelas Simetri menurut Herman Mauguin Simbol Herman-Mauguin adalah simbol yang menerangkan ada atau tidaknya bidang simetri dalam suatu kristal yang tegak lurus terhadap sumbu-sumbu utama dalam kristal tersebut. 3. Seperti sumbu-sumbu dan bidang-bidang simetri.4. Cara penentuannya adalah sebagai berikut: * Pada posisi kristal dengan salah satu sumbu utamanya.4. Sedangkan system-sistem yang lainnya sama cara penentuan simbolnya. Dengan menentukan nilai jumlah unsur simetri. Pemberian simbol Herman-Mauguin ini akan berbeda pada masing-masing kristal. Kelas Simetri menurut Schonfils Simbolisasi Scoenflish digunakan untuk menandai atau memberi simbol pada unsur-unsur simetri suatu kristal.1. jumlah bidang simetrinya. Unsur simetri yang diamati adalah sumbu. * Amati bentuk kristal terhadap susunan persilangan sumbunya. 3. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati sumbu dan bidang yang ada pada kristal tersebut. Pengamatan dapat dilakukan dengan cara memutar kristal dengan poros pada sumbu utamanya. dan pusat simetri. Kelas Simetri 3. Simbolisasi Schoenflish akan menerangkan unsur-unsur tersebut dengan menggunakan huruf-huruf dan angka yang masing-masing akan berbeda pada setiap kristal. kemudian tentukan ada tidaknya titik pusat kristal. pada Schoenflish yang berbeda hanya pada sistem Isometrik. * Perhatikan keterdapatan sumbu simetri tambahan. nilai sumbu-sumbunya.

Nilai-nilai pada indeks ini dapat ditentukan dengan menentukan salah satu bidang atau sisi kristal dan memperhatikan apakah sisi atau bidang tersebut memotong sumbu-sumbu utama (a. yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal. Indeks Miller & Weiss indeks Miller dan Weiss adalah salah satu indeks yang sangat penting.5. Indeks Miller dan Weiss pada kristalografi menunjukkan adanya perpotongan sumbu-sumbu utama oleh bidang-bidang atau sisi-sisi sebuah kristal. yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan. yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. dike dan sill. 3.6.2 Contoh Simbolisasi Schoenflish kristalografi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kelas Simetri Hexotahedral Ditetragonal Bipyramidal Hexagonal Pyramidal Trigonal Pyramidal Rhombik Pyramidal Rhombik Dipyramidal Rhombik Disphenoidal Domatic Pinacoidal Pedial Notasi (Simbolisasi) Oh D4h D6h C3v C2v C2h C2 Cv C C 3. yaitu: • Holokristalin. • Hipokristalin. • Holohialin. karena indeks ini digunakan pada ancer semua ilmu matematika dan struktur kristalografi. Penentuan Bentuk Kristal Dalam Penentuan pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi.Laporan Tabel 3. atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.Geologi .Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik. yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. 9 File Riskan T. b dan c) pada kristal tersebut.4.Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian).

SnO2 (kalsilexit) : Magnetite (Fe3O4) . yaitu tentang perpotongan sisi atau bidang dengan sumbu simetri kristal. langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah menentukan nilai dari indeks Miller dan Weiss itu sendiri. indeks Miller dan Weiss tidak jauh berbeda.Laporan kristalografi Selanjutnya setelah mendapatkan nilai perpotongan tersebut. disepakati bahwa nilai tidak terbatas ( ~ ) tersebut digantikan dengan atau disamakan dengan tidak mempunyai nilai (0).Geologi . Contoh Mineral Contoh-contoh Mineral dari Beberapa Logam Silikon (Si) Kalsium (Ca) Krom (Cr) Mangan (Mn) Tembaga (Cu) : SiO2 (kwarsa) : CaCO3 (kalsit) : Chromite (FeCr2O4) : Manganite (MnO(OH)) : Malachite ((Cu2CO3(OH)3) . Bila pada Miller nilai perpotongan yang telah didapat sebelumnya dijadikan penyebut. Dalam praktikum laboratorium Kristalografi dan Mineralogi jurusan Teknik Geologi. 3. Hal ini adalah karena indeks ini juga akan mencerminkan bagaimana bentuk sisi-sisi dan bidang-bidang yang ada pada kristal terhadap sumbu-sumbu utama kristalnya. memungkinkan untuk mendapat nilai indeks tidak terbatas. Penilaian dilakukan dengan mengamati berapa nilai dari perpotongan sumbu yang dilalui oleh sisi atau bidang tersebut. ITM. yaitu jika sisi atau bidang tidak memotong sumbu (nilai perpotongan sumbu sama dengan nol). Limonite FeO(OH)·nH2O . Cerrusite (PbCO3) 10 File Riskan T. Untuk indeks Weiss. Pyrite (FeS2) Timah hitam/timbal (Pb) : Galena (PbS) . Karena apa yang dijelaskan dan cara penjelasannya sama. Anglesite (PbSO4) . Tergantung dari titik dimana sisi atau bidang tersebut memotong sumbu-sumbu kristal. Pada dasarnya.7. dengan dengan nilai pembilang sama dengan satu. Maka pada Weiss nilai perpotongan tersebut menjadi pembilang dengan nilai penyebut sama dengan satu. Goethite (αFe3+O(OH)) . Hematite (Fe2O3) . Indeks Miller-Weiss ini juga disebut sebagai ancer bentuk. Chalcopyrite (CuFeS2) Aluminium (Al) Timah putih (Sn) Besi (Fe) : Bauxite (Al2O3nH20) : Cassiterite (SnO2) . Yang berbeda hanyalah pada penentuan nilai indeks.

Geologi . NiS (milerit) : Sperrylite (PtAs2) : Cobaltite (Co.Laporan Nikel (Ni) Platina (Pt) Cobalt (Co) Perak (Ag) Seng (Zn) Titanium (Ti) : Nickelite (NiAs) . Titanite (CaTiSiO5) kristalografi 11 File Riskan T. Fe)S) : Rutile (TiO2) . Fe)AsS) : Argentite (Ag2S) : Sphalerite ((Zn.

semua sudut kristalnya ( α .Laporan BAB IV PENDISKRIPSIAN SISTEM KRISTAL 4. pada sistem ini. Pada kondisi sebenarnya. sistem kristal Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a = b = c. Artinya. pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1. atau dikenal pula dengan sistem kristal kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚.1. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini berarti. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masingmasing sumbunya. a1 = a2 = a3 sudut antara a2 dan a3 = 90 sudut antara a3 dan a1 = 90 Sudut antara a1 dan a2 = 90 a1: a2 : a3 = 1 : 3 : 3 sudut antara a1 dan –a2 = 30 Gambar 1 Sistem Isometrik Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3 (nilai bukan patokan. hanya perbandingan). yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c. β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚). sistem Isometrik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Sistem Kristal Isometrik kristalografi Sistem ini juga disebut sistem kristal regular. Sistem isometrik dibagi menjadi 5 Kelas :  Tetaoidal  Gyroida  Diploida  Hextetrahedral  Hexoctahedral 12 File Riskan T. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.Geologi .

sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. semua sudut kristalografinya ( α .Laporan kristalografi Beberapa contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold. pyrite. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Sedangkan sumbu c berlainan. pada sistem ini. pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.2. Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas:  Piramid  Bipiramid  Bisfenoid  Trapezohedral  Ditetragonal Piramid  Skalenohedral  Ditetragonal Bipiramid 13 File Riskan T.Tapi pada umumnya lebih panjang. Pada kondisi sebenarnya. dapat lebih panjang atau lebih pendek. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Fluorite (Pellant. galena. Sistem Kristal Tetragonal Sama dengan system Isometrik. dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan. halite. yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c. pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1. Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b ≠ c . a1 = a 2 ≠ a3 sudut antara a1 dan a2 dan a3 = 90 a1 : a2 : a3 = 1 : 3 : 6 sudut antara a1 dan -a2 = 30 Gambar 2 Sistem Tetragonal Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. chris: 1992) 4. Artinya. Hal ini berarti. sistem kristal Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6.Geologi . hanya perbandingan). β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚).

pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3. Sistem ini dibagi menjadi 7:  Hexagonal  Hexagonal Piramid Bipramid Piramid Bipiramid  Dihexagonal  Dihexagonal  Trigonal Bipiramid Bipiramid  Ditrigonal 14 File Riskan T. autunite. γ = 120˚. pada sistem ini. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+. dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang). Sambu a. tapi tidak sama dengan sumbu c. Sistem Kristal Hexagonal & Trigonal 4. sistem Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. a1 = a2 = a3 ≠ c C ? a1. dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan.3. sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ. dˉ^b+= 40˚. Sistem Hexagonal Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal. yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d. pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1. Hal ini berarti. a2. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ .Geologi . Pada kondisi sebenarnya. dan d memiliki panjang sama. b. Chris: 1992) 4. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ . a3 Sudut antara a1 dan –a2 = 20 sudut antara a2 dan –a3 = 40 a2 : a3 : c = 3 : 1 : 6 Gambar 3 Sistem Hexagonal Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. b.1. hanya perbandingan). pyrolusite. Leucite. Sedangkan panjang c berbeda. Sumbu a.3.Laporan kristalografi Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil. scapolite (Pellant. sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c . Artinya.

γ = 120˚. Artinya. selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal.3. tapi tidak sama dengan sumbu c. (Mondadori.Laporan  Hexagonal kristalografi Trapezohedral Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz. corundum. Arlondo. hanya perbandingan). dˉ^b+= 40˚.2. sistem kristal Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. apatite. pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3. dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan. yang terbentuk segienam. sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ. yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d. Perbedaannya. kemudian dibentuk segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya. Pada kondisi sebenarnya. 1977) 4. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. dolomite. sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+.Geologi . Hal ini berarti. Gambar 4 Sistem Trigonal Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. pada sistem ini. Sistem ini dibagi menjadi 5 kelas:  Trigonal  Trigonal piramid Trapezohedral Piramid Skalenohedral  Ditrigonal  Ditrigonal  Rombohedral 15 File Riskan T. hematite. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ . Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ . Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c . pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1. bila pada sistem Trigonal setelah terbentuk bidang dasar. calcite. Sistem Trigonal Jika kita membaca beberapa referensi luar.

b. ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚). Arlondo. Sistem Kristal Orthorombik Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. aragonite dan witherite (Pellant. sistem Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. c = 90 a :b : c = sembarang sudut antara a dan –b = 30 Gambar 5 Sistem Orthorhombik Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas:  Bisfenoid  Piramid  Bipiramid Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite. Hal ini berarti. yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Ketiga sumbu tersebut 16 File Riskan T. chris. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n.4.5. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. 1992) 4.Geologi . a ≠b≠c sudut antara a. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda. n tegak lurus terhadap sumbu c. sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c . 1977) 4. Pada kondisi sebenarnya.Laporan kristalografi Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah tourmaline dan cinabar (Mondadori. chrysoberyl. tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. pada sistem ini. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Sistem Kristal Monoklin Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya.

17 File Riskan T. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.Geologi . Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:  Sfenoid  Doma  Prisma Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. dan epidot (Pellant. 4. yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c . yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. a ≠ b≠ c sudut antara b dan c = 90 sudut antara a dan b = 90 sudut antara a dan c ≠ 90 sudut antara a dan –b = 45 a : b : c = sembarang Gambar 6 Sistem Monoklin Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. gypsum. sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).Laporan kristalografi mempunyai panjang yang tidak sama. Pada kondisi sebenarnya. Sistem Kristal Triklin Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Pada kondisi sebenarnya. colemanite. pada ancer ini. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c . umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek. Hal ini berarti. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ. sistem kristal Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang.6. sudut α dan β saling tegak lurus (90˚). Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. chris. malachite. 1992).

Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ dan bˉ membentuk sudut 80˚ terhadap c+. pada system ini. labradorite. 1992).Laporan kristalografi Hal ini berarti. sudut α. anorthite. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 45˚ . kaolinite. bˉ^c+= 80˚.Geologi . β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. 18 File Riskan T. Triklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Gambar 7 Sistem Triklin Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal. microcline dan anortoclase (Pellant. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. chris. Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:  Pedial  Pinakoidal Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite.

mengklasifikasi. Kesimpulan kristalografi Dengan mempelajari dan melakukan praktikum tentang Kristalografi yang menjadi bagian dari praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Dapat saya ambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya untuk dapat mengenal. Hal tersebut dikarenakan oleh kristal menjadi salah satu dasar untuk mempelajari ilmu tentang mineral yang akan dipelajari pada tahap selanjutnya. Isometrik. Trigonal. Orthorhombik. diharapkan untuk kedepannya dalam mempelajari Mineralogi akan dapat lebih mudah dengan memiliki dasar-dasar yang telah didapat pada Kristalografi. simbolisasi Schoenflish. dan mineral itu sendiri adalah pembentuk batuan. dan juga mengetahui ancer-unsur yang ada pada kristal itu sendiri. akan sangat sulit untuk selanjutnya memmahami Mineralogi. kelas simetri. Dalam praktikum Kristalografi yang dilakukan dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi di Lep ITM ini. simbolisasi Herman-Mauguin. Hal ini juga menyebabkan Kristalografi dan Mineralogi menjadi syarat untuk dapat melanjutkan studi pada mata kuliah dan praktikum Petrologi yang akan dipelajari selanjutnya. yaitu. mengetahui dan menguasai ilmu tentang kristal dalam studi Geologi. praktikan diharapkan mampu mengenal. dan juga bidang simetri.Laporan BAB V KESIMPULAN & SARAN 5. Metode penggambaran ini dilakukan dengan menggunakan persilangan sumbu yang akan menghasilkan sketsa tiga dimensi dari kristal. Hexagonal. Dan tentu saja praktikan diharapkan mampu untuk mengetahui defenisi dari kristal itu sendiri. Tetragonal. Jika tidak menguasai dan mengenal tentang kristal. Setelah mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi. khususnya dibidang Geologi. Penggambaran kristal dilakukan sesuai dengan hasil deskripsi kristal yang telah dilakukan. 19 File Riskan T. sudut simetri. proses-proses pembentukkannya. Karena kristal sendiri adalah merupakan salah satu dasar yang paling penting dalam ilmu Geologi itu sendiri. Digunakan proyeksi Orthogonal dalam melakukan penggambaran atau sketsa kristal. Seperti sumbu simetri. mendeskripsi serta menggambar sketsa dari masingmasing ancer kristal yang ada. Selama melakukan praktikum Kristalografi. indeks Miller-Weiss serta menentukan nama bentuk kristal dan contohcontoh mineralnya.1.Geologi . Monoklin serta Triklin. Selain itu praktikan juga harus mengetahui aplikasi dari Kristalografi itu sendiri. sedangkan batuan itu adalah inti dari Geologi. Pendeskripsian dilakukan dengan langkah-langkah menentukan jumlah ancer-unsur simetri.

2. dapat kita sadari bersama ada beberapa kekurangan yang cukup menghambat berjalannya proses praktikum. Diharapkan agar untuk kedepannya kita dapat sama-sama untuk menjaga hal tersebut agar tidak terulang atau paling tidak dikurangi. telah banyak yang dapat kita pelajari. Saran Selama mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi. Dengan begitu diharapkan praktikum yang dilakukan dapat lebih baik lagi. Dan satu hal lagi yang juga perlu diperhatikan adalah waktu praktikum yang kadang tidak tepat pada waktunya. Maka diharapkan agar kedepannya kekurangan tersebut dapat ditutupi sehingga proses praktikum yang dilakukan dapat berjalan lancar. Baik dalam hal ilmu tentang kristal itu sendiri pada khususnya serta tentang aplikasi dan manfaatnya dalam bidang Geologi dan juga dikehidupan sehari-hari. Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kurangnya jumlah sampel (contoh) kristal yang ada dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi. 20 File Riskan T. Dalam melakukan praktikum Kristalografi.Geologi .Laporan kristalografi 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful