ANALISIS FAKTOR –FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KETERANDALAN DAN KETEPATWAKTUAN PELAPORAN KEUANGAN PADA SKPD PEMERINTAH DAERAH

KOTA KENDARI Santiadji Mustafa (Universitas Haluoleo, Kendari) Sutrisno (Universitas Brawijaya, Malang) Rosidi (Universitas Brawijaya, Malang)

ABSTRAK Jenis penelitian adalah deskriptif verifikatif (causal) yang bertujuan untuk memberi gambaran (deskripsi) dari variabel-variabel yang diteliti dan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel melalui suatu pengujian hipotesis. Data penelitian adalah data primer yang dikumpulkan dengan mailed survey method dan direct survey method. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variabel exogenous (Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pengendalian Intern Akuntansi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi) terhadap variabel endogen (Keterandalan laporan keuangan dan Ketepatwaktuan laporan keuangan) melalui sebuah pendekatan Partial Least Square (PLS). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Pengumpulan data akan dilakukan melalui survai kuesioner yang diantar dan diambil sendiri oleh peneliti terhadap bagian akuntansi/penatausahaan keuangan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Kendari. SKPD ini meliputi dinas, badan, kantor, dan RSUD. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas SDM tidak berpengaruh terhadap keterandalan, namun pengendalian intern akuntansi dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap keterandalan pelaporan keuangan. Keterandalan pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan, sementara kapasitas SDM dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Kapasitas SDM berpengaruh terhadap keterandalan bisa disebabkan memang karateristik SDM di Kota Kendari masih memiliki kapasitas yang rendah dan taraf pendidikan yang masih relatif rendah khususnya dalam bidang akuntansi. Keterandalan pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan bisa disebabkan oleh upaya untuk memenuhi sebuah kriteria penyajian pelaporan keuangan yang andal, diperlukan berbagai upaya baik yang bersifat material maupun non material, yang mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan sebuah sistem pelaporan keuangan yang andal akan semakin lama.

Kata Kunci:

Kapasitas SDM, Pengendalian Intern Akuntansi, Pemanfaatan IT, Keterandalan dan Ketepatwaktuan.

1

Abstract Type of this research is descriptive verificative (causality) that aims to give descriptions from variables that researched and to know causality relation was between variable pass by a hypothesis testing. Research data using primary data that collected with mailed survey method and direct survey method. This research aims analyze effect of exogenous variables (Human Resources Capacity, Accountancy Internal Control, and Information Technology Usefulness) on endogenous variables (reliable of financial reporting and timeliness financial reporting) by PLS (partial least square) approach. Type of data uses in this research is primary data. Data collecting by survey of questionaire instrument with mailed survey method and direct survey method on Kendari local government especially on the SKPD (sub department of local government). Result of Hypothesis testing indicates that human resources capacity have not an effect on reliability of financial reporting, meanwhile accountancy internal control and information technology usefulness have an effect on reliability of financial reporting. Reliability of financial reporting have not an effect on timeliness of financial reporting. The next step of analysis indicates human resources capacity and information technology usefulness timeliness of financial reporting. Reliability of financial reporting have not an effect on timeliness of financial reporting caused by effort to fulfill a criterion of financial reporting presentation that reliable, needed various of efforts both for have the character of significant or nonsignificant, that result time required just for prepare a financial reporting system that reliable will longer. Keywords: Human resources capacity, internal control, information technology usefulness, reliable and timeliness of financial reporting

I.

PENDAHULUAN Fenomena yang terjadi dalam perkembangan sektor publik di Indonesia dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, baik di pusat maupun daerah. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Mardiasmo, 2006). Akuntabilitas meliputi berbagai dimensi antara lain akuntabilitas

hukum, akuntabilitas manajerial, akuntabilitas program, akuntabilitas kebijakan, dan akuntabilitas finansial (keuangan). Terkait dengan tugas untuk menegakkan akuntabilitas finansial, khususnya di daerah, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mempublikasikan laporan keuangan kepada pemangku kepentingannya (stakeholder). Governmental Accounting Standards Board (1999) dalam Concepts Statement No. 1 tentang Objectives of Financial Reporting menyatakan bahwa akuntabilitas merupakan dasar pelaporan keuangan di pemerintahan yang didasari oleh adanya hak masyarakat untuk mengetahui dan

2

menerima penjelasan atas pengumpulan sumber daya dan penggunaannya. Telah diketahui bahwa ada banyak pihak yang akan mengandalkan informasi dalam laporan keuangan yang dipublikasikan oleh pemerintah daerah sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informasi tersebut harus bermanfaat bagi para pemakai. Kebermanfaatan (usefulness) merupakan suatu karakteristik yang hanya dapat ditentukan secara kualitatif dalam hubungannya dengan keputusan, pemakai, dan keyakinan pemakai terhadap informasi. Oleh karena itu, kriteria ini secara umum disebut karakteristik kualitatif (qualitative characteristics) atau kualitas (qualities) informasi. Adapun kriteria dan unsur-unsur pembentuk kualitas informasi yang menjadikan informasi dalam laporan keuangan pemerintah mempunyai nilai atau manfaat sebagaimana disebutkan dalam Rerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan terdiri dari (PP No. 24 Tahun 2005): (a) relevan, (b) andal, (c) dapat dibandingkan, dan (d) dapat dipahami. Berdasarkan fakta yang diperoleh dari berbagai tulisan pada artikel atau jurnal yang menulis tentang akuntansi keuangan daerah, ternyata di dalam laporan keuangan pemerintah masih banyak disajikan data-data yang tidak sesuai (BPK, 2006), berdasarkan fenomena tersebut dapat dinyatakan bahwa laporan keuangan pemerintah masih belum seluruhnya memenuhi kriteria keterandalan dan ketepatwaktuan (timeliness). Mengingat bahwa keterandalan dan ketepatwaktuan merupakan dua unsur nilai informasi yang penting terkait dengan pengambilan keputusan berbagai pihak, peneliti tertarik untuk meneliti hal apa saja yang mungkin mempengaruhi keterandalan dan ketepatwaktuan dalam penyusunan pelaporan keuangan pemerintah.

Dalam Konsep Standar Pemeriksaan Keuangan Negara pada bagian Standar Pekerjaan Lapangan Pemeriksaan Keuangan mengenai Pengendalian Intern disebutkan bahwa sistem informasi yang relevan dengan tujuan laporan keuangan, salah satunya adalah sistem akuntansi yang terdiri dari metode dan catatan yang digunakan untuk mencatat, mengolah, mengikhtisarkan, dan melaporkan transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) untuk memelihara akuntabilitas bagi aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan (BPK RI, 2006). Untuk dapat menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas, maka kapasitas sumber daya manusia yang melaksanakan sistem akuntansi sangatlah penting, karena sistem akuntansi sebagai suatu sistem informasi membutuhkan kemampuan manusia untuk menjalankan sistem yang ada. Penelitian mengenai isu ketepatwaktuan pelaporan keuangan dilakukan oleh Heald (2008) pemerintah daerah di Inggris telah menetapkan tools akuntansi pemerintah (whole of government accounts) yang menjadi dasar pelaporan keuangan dalam upaya mencapai ketepatan pelaporan keuangan pemerintah. Pemerintah inggris telah melakukan perubahan sistem dari cash basis menuju accrual basis, yang harus melaporkan pelaporan entisas (sesuatu yang berwujud), secara khusus pada regulasi dari pelaporan keuangan pemerintah. Kemudian penelitian tentang peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan keuangan daerah dilakukan oleh Brignall dan Modell (2000) dan Marschke (2003) menganalisis sebuah evulusi dalam meningkatkan system pengukuran kinerja dalam organisasi pemerintah melalui program job-training. Dalam program ini, dinas-dinas pada

3

dan menyalurkan Informasi Keuangan Daerah kepada publik. Kapasitas sumber daya manusia yang masih minim ini cenderung memiliki pengaruh terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah. perangkat lunak. Seperti kita ketahui bahwa total volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/D) dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Statement of Financial Accounting Concept No. diantaranya penelitian Dinata (2004) menemukan bukti empiris bahwa secara garis besar sumber daya manusia yang ada di instansi pemerintahan Kota Palembang belum sepenuhnya dinyatakan siap atas berlakunya Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yang berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002. 2.. dan jaringan (Wilkinson et al. Sistem informasi juga berperan dalam bidang akuntansi. 2000) dalam Venkatesh et al. Untuk itu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah. Penggunaan SI mencakup sampai ke tingkat operasional untuk meningkatkan kualitas produk serta produktivitas operasi. 2000). Penelitian Alimbudiono dan Fidelis (2004) memberikan temuan empiris bahwa pegawai berlatar pendidikan akuntansi di subbagian akuntansi Pemerintah XYZ masih minim. dan pelatihan-pelatihan untuk menjamin fungsi akuntansi berjalan dengan baik belum dilaksanakan. Pengunaan Sistem Informasi dalam organisasi telah meningkat secara dramatis. Financial Accounting Standard Board mendefinisikan akuntansi sebagai sistem informasi. job description-nya belum jelas. Suatu teknologi informasi terdiri dari perangkat keras. Peningkatan volume transaksi yang semakin besar dan semakin kompleks tentu harus diikuti dengan peningkatan kemampuan pengelolaan keuangan pemerintah (Sugijanto. keakuratan 4 . Sejak tahun 1980-an. manajemen data. sekitar 50 persen modal baru digunakan untuk pengembangan Sistem Informasi (Westland dan Clark. 2002). Dari sisi akuntansi hal tersebut menunjukkan bahwa volume transaksi keuangan pemerintah juga menunjukkan kuantitas yang semakin besar dan kualitas yang semakin rumit dan kompleks. Walaupun secara umum telah banyak diketahui manfaat yang ditawarkan oleh suatu teknologi informasi antara lain kecepatan pemrosesan transaksi dan penyiapan laporan. 11 Tahun 2001 tentang Informasi Keuangan Daerah. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kapasitas sumber daya manusia yang ada di instansi pemerintahan masih belum memadai. Standar akuntansi keuangan tersebut juga menyebutkan bahwa tujuan utama akuntansi adalah untuk menyediakan informasi bagi pengambil keputusan. Penelitian mengenai sumber daya manusia yang ada di instansi pemerintah pernah dilakukan. Kewajiban pemanfaatan teknologi informasi oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah yang merupakan pengganti dari PP No. (2003). Hal kedua yang mungkin memengaruhi keterandalan dan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah adalah pemanfaatan teknologi informasi.pemerintah daerah di Amerika menetapkan ukuran kinerja dan standar untuk pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah. Sistem informasi diadakan untuk menunjang aktifitas usaha di semua tingkatan organisasi.

yang menganalisis pengaruh kapasitas sumber daya manusia. 2007): (a) sistem dan prosedur akuntansi. Kemudian dalam penelitian sebelumnya variabel keterandalan dan ketepatwaktuan dianalisis secara terpisah. kos pemrosesan yang lebih rendah. kondisi sumber daya manusia yang ada. Terlebih jika teknologi informasi yang ada. kemampuan multiprocessing.. 1990 dalam Triyuwono dan Roekhudin. (c) formulir. Ada tiga fungsi yang terlihat dari definisi tersebut yaitu: (a) keterandalan pelaporan keuangan. Komponen penting dari pengendalian intern organisasi yang terkait dengan sistem akuntansi antara lain (Mahmudi. penyimpanan data dalam jumlah besar. dan catatan. sedangkan fungsi kedua dan ketiga dilakukan secara khusus untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen dan dinamakan pengendalian intern administratif (Moscove et al. begitu pula pengaruh ketiga variabel bebas tersebut terhadap ketepatwaktuan dilakukan dengan pendekatan regresi dengan variabel terukur. tidak atau belum mampu dimanfaatkan secara maksimal maka implementasi teknologi menjadi sia-sia dan semakin mahal. dan (c) kepatuhan terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan penelitian sebelumnya. 2010). sementara penelitian 5 . pengendalian intern akuntansi dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap keterandalan dilakukan dengan menggunakan pendekatan regresi OLS (ordinary least square) semua variabel tersebut merupakan variabel terukur. dan (d) pemisahan tugas. Sementara penelitian ini menggunakan persamaan struktur dengan pendekatan PLS (partial least square) dengan variabel tidak terukur yang menggunakan indikator sebagai pengukur variabel-variabel exogen maupun endogen. dokumen. (b) efisiensi dan efektivitas operasi. Perbedanaan berikutnya. Hal ketiga yang mungkin mempengaruhi keterandalan pelaporan keuangan pemerintah adalah pengendalian intern akuntansi. 60 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan proses yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai mengenai pencapaian tujuan dan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan serta dipatuhinya peraturan perundangundangan. pemutakhiran data. Kendala ini yang mungkin menjadi faktor pemanfaatan teknologi informasi di instansi pemerintah belum optimal. dan keterbatasan dana. namun pengimplementasian teknologi informasi tidaklah murah. Fungsi pertama dilakukan untuk mencegah terjadinya inefisiensi dan dinamakan pengendalian intern akuntansi. faktor ini mungkin juga memiliki pengaruh terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah. perangkat lunak yang digunakan. penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada objek penelitian. Pengendalian intern menurut Permendagri No. penelitain sebelumnya dilakukan pada SKPD di kota Palembang. Oleh karena itu sistem akuntansi memerlukan pengendalian intern atau dengan kata lain sistem akuntansi berkaitan erat dengan pengendalian intern organisasi (Mahmudi. Sistem akuntansi sebagai sistem informasi merupakan subjek terjadinya kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja (Riasetiawan. Kendala penerapan teknologi informasi antara lain berkaitan dengan kondisi perangkat keras. (b) otorisasi. sementara dalam penelitian ini variabel keterandalan dan ketepatwaktuan dianalisis secara simultan dalam sebuah persamaan struktural keduanya berfungsi sebagai variabel endogen. 2007).perhitungan. 2000).

American Accounting Association (1970) dalam Glynn (1993) menyatakan bahwa tujuan akuntansi pada organisasi sektor publik adalah memberikan informasi yang diperlukan agar dapat mengelola suatu operasi dan alokasi sumber daya yang dipercayakan kepada organisasi secara tepat. serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Akuntansi Sektor Publik Akuntansi sektor publik memiliki kaitan erat dengan penerapan dan perlakuan akuntansi pada domain publik yang memiliki wilayah lebih luas dan kompleks dibandingkan sektor swasta atau bisnis.ini dilakukan pada SKPD di Kota Kendari. Keluasan wilayah publik tidak hanya disebabkan keluasan jenis dan bentuk organisasi yang berada di dalamnya. sistem pelaporan keuangan. 3) Menguji pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap keterandalan pelaporan keuangan. Akuntansi Keuangan Sektor Publik. 6) Menguji pengaruh keterandalan pelaporan keuangan terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Konsep transparansi dan akuntabilitas publik dibangun paling tidak atas lima komponen. sosial. sektor publik dapat dipahami sebagai entitas yang aktivitasnya menghasilkan barang dan layanan publik dalam memenuhi kebutuhan dan hak publik. akuntansi sektor publik terkait dengan penyediaan informasi untuk pengendalian manajemen dan akuntabilitas. efisien. serta memberikan informasi untuk melaporkan pertanggung-jawaban pelaksanaan pengelolaan tersebut serta melaporkan hasil operasi dan penggunaan dana publik. yang memiliki perbedaan karateristik wilayah dan budaya. sistem pengukuran kinerja. yaitu: Akuntansi Manajemen Sektor Publik. Laporan Keuangan Pemerintah Akuntansi keuangan sektor publik terkait dengan tujuan dihasilkannya laporan keuangan 6 . dan ekonomis. II. universitas. tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti politik. perusahaan milik negara dan daerah (BUMN dan BUMD). Dari sudut pandang ilmu ekonomi. Dengan demikian. organisasi politik dan organisasi massa. dan auditing sektor publik yang dapat diintegrasikan ke dalam tiga bagian akuntansi sektor publik. TINJAUAN PUSTAKA a. dan definisi. b. dan historis. yang menimbulkan perbedaan dalam pengertian. cara pandang. budaya. Secara kelembagaan. 2) Menguji pengaruh kapasitas sumber daya manusia terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. yayasan. domain publik antara lain meliputi badan-badan pemerintahan (Pemerintah Pusat dan Daerah serta unit kerja pemerintah). 4) Menguji pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. saluran akuntabilitas publik (channel of public accountability). dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah: 1) Menguji pengaruh kapasitas sumber daya manusia terhadap keterandalan pelaporan keuangan. Sektor publik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Berdasarkan dari latar belakang di atas. yaitu sistem perencanaan strategik. tetapi juga kompleksitas lingkungan yang mempengaruhi lembaga-lembaga publik tersebut. dan Auditing Sektor Publik. 5) Menguji pengaruh pengendalian intern akuntansi terhadap keterandalan pelaporan keuangan.

1999). Teknik akuntansi berbasis accrual dinilai dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih komprehensif dan relevan untuk pengambilan keputusan. akuntansi dana. Seiring dengan semakin tingginya tuntutan pewujudan good public governance. penggunaan salah satu teknik akuntansi tersebut tidak menolak penggunaan teknik yang lain. Beberapa teknik akuntansi keuangan yang dapat diadopsi oleh sektor publik adalah akuntansi anggaran. yang meliputi manajemen sumber daya (resource management) dan manajemen utang (liability management). Dengan demikian. maupun menggunakan kelima teknik tersebut secara bersamasama (Jones and Pendlebury. 1996). Beberapa negara telah mereformasi akuntansi sektor publik mereka. Isu yang muncul dan menjadi perdebatan dalam reformasi akuntansi sektor publik di Indonesia adalah perubahan single entry menjadi double entry bookkeeping dan perubahan teknik atau sistem akuntansi berbasis kas menjadi berbasis accrual. Single entry pada awalnya digunakan sebagai dasar pembukuan dengan alasan utama demi kemudahan dan kepraktisan. dan menyediakan indikasi kekuatan fiskal jangka panjang dalam reformasi manajemen keuangan dan reformasi manajemen lainnya (Mellor. New Zealand merupakan contoh sukses dalam menerapkannya. Artinya. 1996). bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan. sedangkan kelemahannya antara lain kurang mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. dan akuntansi accrual. akuntansi kas. sehingga memungkinkan pemerintah menyediakan layanan publik yang optimal dan sustainable. 2000). Namun demikian. perubahan tersebut dipandang sebagai solusi yang mendesak untuk diterapkan karena pengaplikasian double entry dapat menghasilkan laporan keuangan yang auditable. Penekanan penggunaan accrual basis juga disyaratkan dalam GASB (1999) dan diterapkan bersama-sama dengan asumsi dasar lainnya seperti going concern.eksternal. Pengaplikasian accrual basis lebih ditujukan pada penentuan biaya layanan dan harga yang dibebankan kepada publik. Pengaplikasian accrual basis memberikan gambaran kondisi keuangan secara menyeluruh (full picture). Namun. suatu organisasi dapat menggunakan teknik akuntansi yang berbeda-beda. consistency of presentation. efisiensi. salah satunya adalah 7 . Pada dasarnya kelima teknik tersebut tidak bersifat mutually exclusive. dan efektivitas organisasi. Kasus di Italia menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap transparansi. 2000. dalam mereformasi suatu sistem perlu dilakukan analisis mendalam terhadap faktor lingkungan. GASB. Cash basis mempunyai kelebihan antara lain mencerminkan informasi yang riil dan obyektif. Tujuan penyajian laporan keuangan adalah memberikan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan. terutama perubahan dari cash basis menjadi accrual basis. dan evaluasi kinerja manajerial dan organisasional (IFAC. Oleh karena itu. 2000). accrual accounting mempunyai beberapa kelemahan antara lain penilaian dan revaluasi aset yang didasarkan atas taksiran dan penggunaan estimasi dalam penghitungan depresiasi (Conn. akuntansi komitmen. beberapa kasus menunjukkan bahwa perubahan yang dilakukan tidak seluruhnya menjamin keberhasilan. materiality and aggregation untuk mewujudkan comparative information (IFAC.

1984. Menurut UU No. Scope dipandang sebagai suatu continuum dengan narrow scope pada satu sisi dan broad scope di sisi lain. Dimensi aggregation menyediakan informasi secara ringkas sesuai area fungsional. Sebagai contoh. transfer. serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset. belanja. Fokus merupakan informasi yang berasal dari dalam atau luar organisasi (seperti faktor-faktor ekonomi. kuantifikasi. Dimensi scope memiliki tiga sub-dimensi: fokus. and berorientasi ke masa yang akan datang. Dipertegas dalam PP No. Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Sistem informasi akuntansi dikonseptualisasikan di sini sebagai suatu sistem formal yang didesain untuk menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan. Galbraith (1973) menyatakan salah satu pilihan organisasi jika ada gap (kesenjangan) informasi adalah dengan meningkatkan kapabilitas proses pembuat keputusan melalui pengenalan sistem informasi yang lebih canggih. sebaliknya. 1986). dan pembiayaan. Gorry dan ScottMorton. kewajiban. yang mana penggunaan model keputusan memerlukan informasi yang teragregasi. periode waktu atau melalui model keputusan (Chenhall dan Morris. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Gordon dan Narayanan. dan horizon waktu (Chenhall dan Morris. 1997). pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual dilaksanakan selambat-lambatnya tahun 2008. Informasi aggregation pada tingkat fungsional memberikan pemakai informasi tentang hasil keputusan yang dibuat pada departemen. 1971. 1976. Informasi broad scope . Gordon dan Miller. dan ekuitas dana. Informasi narrow scope berhubungan dengan sistem akuntansi tradisional yang terbatas menyediakan informasi secara internal. dan informasi historis. Sementara itu 8 . dan kuantifikasi. time horizon. non-finansial. finansial. dan aggregation. digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Aggregation dengan periode waktu memungkinkan manajer untuk menilai hasil keputusan mereka sepanjang waktu. Empat karateristik tersebut dijelaskan lebih rinci sebagai berikut: 1) Informasi yang cakupannya luas (broad scope) adalah informasi yang memperhatikan dimensi fokus. c. teknologi dan pasar). 1981). Penelitian ini meneliti empat dimensi SAM: broad scope. dari hasil suatu keputusan untuk memperkenalkan input baru dapat dievaluasi dari sisi pengaruhnya terhadap efisiensi bisnis unit dan kualitas produksi selama suatu periode waktu.faktor sosiologi masyarakat (Yamamoto. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan. 1986. Sistem informasi akuntansi sebagian besar bisa mengisi gap ini dengan menyediakan informasi yang memungkinkan pemakai untuk memahami hubungan input/output lebih baik dan dengan menurunkan ketidakpastian mengenai kemungkinan tercapainya tujuan yang optimal bagi organisasi. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menyatakan bahwa laporan keuangan untuk tujuan umum disusun dan disajikan dengan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan. ada empat karateristik sistem informasi akuntansi yang familiar pada penggunaan di organisasi profit maupun non profit. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. dan Larcker. Time horizon berkaitan dengan informasi yang menyangkut estimasi kejadian di masa yang akan datang. adalah informasi yang bersifat eksternal.

suatu organisasi (kelembagaan). untuk menilai kapasitas dan kualitas sumber daya manusia dalam melaksanakan suatu fungsi. Tanpa adanya deskripsi jabatan yang jelas. Kompetensi merupakan suatu karakteristik dari seseorang yang memiliki keterampilan (skill). Jadi informasi yang tepat waktu dalam penelitian ini dikonseptualkan menjadi dua subdimensi yaitu kecepatan membuat laporan dan frekuensi pelaporan. Menurut beberapa pakar. 3) Informasi agregasi (agregation) merupakan ringkasan informasi menurut fungsi. dan dari keterampilan yang dinyatakan dalam pelaksanaan tugas. 9 . Tanggung jawab dapat dilihat dari atau tertuang dalam deskripsi jabatan. dan kemampuan (ability) untuk melaksanakan suatu pekerjaan (Hevesi. 4) Informasi yang terintegrasi (integration) ditunjukan dari koordinasi antara segmen subunit yang satu dengan yang lainnya. periode waktu dan model keputusan. 2) Informasi yang tepat waktu (timeliness) menunjukan pada rentang waktu antara kebutuhan informasi dengan tersedianya informasi yang diinginkan serta frekuensi pelaporan informasi. Kapasitas Sumber Daya Manusia Kapasitas sumber daya manusia adalah kemampuan seseorang atau individu. Informasi menurut periode waktu adalah informasi yang memungkinkan pemakai untuk menilai keputusan mereka dari waktu ke waktu. pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti. Kapasitas harus dilihat sebagai kemampuan untuk mencapai kinerja. Informasi menurut fungsi dimaksudkan untuk menyediakan informasi yang berkenaan dengan hasil dari suatu keputusan yang dibuat oleh unit-unit lain. untuk menghasilkan keluaran-keluaran (outputs) dan hasil-hasil (outcomes). Informasi ini juga menunjukan sifat transparansi dari masingmasing manajer mengenai dampak suatu kebijakan terhadap unit yang lain. Sedangkan informasi menurut keputusan adalah informasi yang disediakan untuk membuat keputusan dengan menggunakan model analisis seperti analisis what-if. 2005). termasuk akuntansi. pengetahuan (knowledge). dapat dilihat dari level of responsibility dan kompetensi sumberdaya tersebut. sumberdaya tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Sedangkan kompetensi dapat dilihat dari latar belakang pendidikan. Kecepatan diartikan sebagai tenggang waktu antara kebutuhan akan informasi dengan tersedianya informasi. Informasi yang terintegrasi mencakup aspek seperti ketentuan target atau aktivitas yang dihitung dari proses interaksi antar sub-unit dalam organisasi. dan analisis cost and benefit. atau suatu sistem untuk melaksanakan fungsifungsi atau kewenangannya untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Deskripsi jabatan merupakan dasar untuk melaksanakan tugas dengan baik. Menurut Tjiptoherijanto (2001) dalam Alimbudiono dan Fidelis (2004).kuantifikasi merupakan informasi yang menyangkut aspek-aspek keuangan dan non keuangan. sedangkan frekuensi diartikan dengan seberapa sering informasi disediakan untuk para pemakai laporan informasi akuntansi. b. kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang mencapai kinerja yang tinggi dalam pekerjaannya.

(2008). meski investasi awal lebih besar biayanya. Output lebih rapi. berkomunikasi efektif. akan dapat terus mengurangi biaya-biaya pada posisi yang paling rendah dibandingkan dengan metoda pengolahan yang lain. namun pada perkembangannya akan dapat mengurangi biaya pemrosesan dengan tetap menjaga volume. Sedangkan pengolahan data dengan menggunakan komputer. jaringan (internet. Pemanfaatan Teknologi Informasi Teknologi informasi meliputi komputer (mainframe. Menurut Blanchard dan Thacker (2004) dalam Indriasari dan Nahartyo. perangkat lunak (software). Menurut Dunnetts dalam Indriasari dan Nahartyo. electronic commerce. Terlebih lagi. intranet). yang lebih penting dari semua perubahan ini adalah peningkatan dalam hal (Wilkinson et al. Komputer sebagai salah satu komponen dari teknologi informasi merupakan alat yang bisa melipatgandakan kemampuan yang dimiliki manusia dan komputer juga bisa mengerjakan sesuatu yang manusia mungkin tidak mampu melakukannya. c. komputer akan meningkatkan kapabilitas sistem. dan lebih banyak. Pemrosesan secara manual memiliki biaya yang stabil pada angka yang cukup tinggi. Sistem informasi akuntansi masih mengumpulkan. 4) Penyiapan laporan dan output lainnya lebih tepat waktu. jika tidak semuanya. Sistem masih memasukkan pengendalianpengendalian atas keakurasian data. waktu.. Sementara dengan menggunakan mesin. Catatan akuntansi menggunakan lebih sedikit kertas. tahapan-tahapan pemrosesan dilakukan secara otomatis. database. tidak ada aktivitas umum yang ditambah atau dikurangi. 10 . skill adalah kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu rangkaian tugas yang berkembang dari hasil pelatihan dan pengalaman. 2000). micro). atau mengimplementasikan suatu strategi bisnis. 2) Keakurasian dalam perhitungan dan pembandingan lebih besar. Hanya saja pengkomputerisasian sistem informasi akuntansi seringkali mengubah karakter aktivitas. mini. Tingginya biaya tenaga kerja manusia yang diperlukan dalam pemrosesan data membuat pemrosesan secara manual kurang efektif jika ditinjau dari sisi volume dan biaya pemrosesan. dan tenaga. output dapat didistribusikan kepada orang lain yang terhubung lewat LAN.. dan menyimpan data. (2008) skill seseorang tercermin dari seberapa baik seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan yang spesifik seperti mengoperasikan suatu peralatan. 3) Kos pemrosesan masing-masing transaksi lebih rendah. juga berfungsi sebagai teknologi komunikasi untuk penyebaran informasi. dan jenis lainnya yang berhubungan dengan teknologi (Wilkinson et al. 2000): 1) Pemrosesan transaksi dan data lainnya lebih cepat. Dalam hubungannya dengan sistem informasi akuntansi. memproses. Data mungkin dikumpulkan dengan peralatan khusus. dalam bentuk yang lebih bervariasi. Sistem juga menghasilkan laporanlaporan dan informasi lainnya. Teknologi informasi selain sebagai teknologi komputer (hardware dan software) untuk pemrosesan dan penyimpanan informasi.Pegawai yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup akan bekerja tersendat-sendat dan juga mengakibatkan pemborosan bahan. Kebanyakan. Ketika komputer dan komponenkomponen yang berhubungan dengan teknologi informasi diintegrasikan ke dalam suatu sistem informasi akuntansi.

sistem komputer cenderung kurang fleksibel dan tidak dapat cepat beradaptasi jika ada perubahan sistem. 7) Produktivitas lebih tinggi bagi karyawan dan manager yang belajar untuk menggunakan komputer secara efektif dalam tanggung jawab rutin dan pembuatan keputusan. yang selanjutnya disingkat SPIP. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. menteri/pimpinan lembaga. keandalan pelaporankeuangan. Berikutnya Inspektorat Provinsi adalah aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada gubernur. 6) Pilihan pemasukan data dan penyediaan output lebih luas/banyak. dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. efisien. komputer tidak dapat mendeteksi penyebab kesalahan. Sementara itu institusi pada tingkat kabupaten/kota adalah inspektorat Kabupaten/Kota yang merupakan aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada bupati/walikota. Sedangkan kelemahannya. gubernur. hilangnya jejak audit. transparan. Pengawasan Intern merupakan seluruh proses kegiatan audit. pengamanan aset negara. data yang disimpan mudah rusak (Pujonggo. d. biaya pemasangan instalasi tinggi. Pemerintah daerah yang dimaksudkan dalam peraturan ini meliputi pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi. komputer peka terhadap pengaruh lingkungan. Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. BPKP (badan pengawas keuangan dan pembangunan) yang merupakan aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. butuh kontrol yang lebih baik. adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan akuntabel. Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan tersebut dilaksanakan dengan berpedoman pada SPIP sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 2004). 11 .5) Tempat penyimpanan data lebih ringkas dengan aksesibilitas lebih tinggi ketika dibutuhkan. reviu. perencanaan dan pembuatan sistem terkomputerisasi memakan waktu lebih lama. Selanjutnya Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern adalah aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada menteri/pimpinan lembaga. Pengendalian Internal Akuntansi Berdasarkan peraturan pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah bahwa sistem Pengendalian Intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. evaluasi. dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Dalam upaya mendukung pengawasan intern pemerintah daerah dilakukan oleh beberapa institusi antara lain. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. jika ada bagian hardware yang tidak bekerja dapat melumpuhkan sistem. pemantauan.

Kerangka Konseptual Kerangka konspetual bertujuan agar penelitian ini dapat terarah secara sistimatais dalam suatu alur metode penelitian yang baik. Pimpinan dan staf instansi Pemerintah wajib menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi. sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang akan dicapai. KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN a. e) Pemantauan pengendalian intern. komitmen terhadap kompetensi. mencatat. dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. keterkaitan variabel secara teoritis. Penegakan integritas dan nilai etika dilakukan dengan cara: menyusun dan menerapkan aturan perilaku. Indikator pemantauan pengendalian intern ini memiliki makna bahwa Sistem Pengendalian Intern dilaksanakan melalui pemantauanberkelanjutan. pengamanan aset negara. Indikator kegiatan pengendalian ini memiliki makna bahwa pimpinan beserta staf Instansi Pemerintah wajib menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran. kompleksitas. kajian penelitian-penelitian sebelumnya. memberikan keteladanan. III. metodologi. dan menegakkan tindakan disiplin. d) Informasi dan komunikasi. pengendalian intern akuntansi dan pemanfaatan teknologi infromasi terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan 12 . Indikator Lingkungan pengendalian ini memiliki makna bahwa pimpinan dan staf instansi pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam lingkungan kerjanya. keandalan pelaporan keuangan. melalui identifikasi risiko dan analisis risiko. dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Indikator Informasi dan komunikasi ini memiliki makna bahwa Pimpinan dan staf instansi Pemerintah wajib mengidentifikasi. Indikator Penilaian risiko ini memiliki makna bahwa pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan penilaian risiko. dan kepemimpinan yang kondusif. Kegiatan pengendalian dievaluasi secara teratur untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut masih sesuai dan berfungsi seperti yang diharapkan. Kerangka konseptual yang dibangun dalam penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan tentang penelitian yang akan dilakukan penulis secara keseluruhan. yaitu menganalisis pengaruh kapasitas sumber daya manusia. dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan review lainnya. b) Penilaian risiko. melalui. 60 tahun 2008 SPIP bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara. Kerangka konsep penelitian secara komprehensif perlu dibangun dengan mendasarkan kepada fakta masalah yang ada. metode analisis dan dengan keselarasan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Unsurunsur pembentuk SPIP (sistem pengendalian intern pemerintah) antara lain: a) Lingkungan pengendalian. evaluasi terpisah. Penilaian risiko oleh pimpinan Instansi Pemerintah dengan cara menetapkan: tujuan Instansi dan tujuan pada tingkatan kegiatan c) Kegiatan pengendalian. penegakan integritas dan nilai etika.Berdasarkan PP. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

sementara perubahan yang lebih bersifat pragmatik dan teknis operasional diatur dalam Kepmendagri Nomor 13 Tahun 2006.pelaporan keuangan daerah pada SKPD di Kota Kendari provinsi Sulawesi Tenggara. Perubahan tersebut merupakan suatu perubahan yang bersifat paradigmatik. Secara umum penelitian ini menganalisis variabel kapasitas SDM. Kerangka konsep dalam penelitian ini mengambarkan paradigma metode penelitian secara komprehensif. yang dapat digambarkan dalam suatu skema kerangka proses berpikir. Perubahan yang mendasar dalam PP Nomor 105 Tahun 2000 adalah terkait dengan perubahan dalam sistem penganggaran. Perubahan itu sudah sampai pada teknik akuntansinya yang meliputi perubahan dalam pendekatan sistem 13 . Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Pengendalian intern Akuntansi terhadap Keterandalan Laporan Keuangan Pemerintah daerah dan ketepatwaktuan pelaporan Keuangan Pemerintah daerah. yaitu terkait dengan penatausahaan keuangan daerah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari model hipotesis berikut: Kapasitas Sumber Daya Manusia (X1) Pengendalian Intern Akuntansi (X2) Keterandalan (Y1) Ketepatwaktuan (Y2) Pemanfaatan Teknologi Informasi (X3) Gambar. baik proses penganggarannya maupun bentuk dan struktur APBD. Model Hipotesis b. Pengembangan Hipotesis 1) Pengaruh kapasitas sumber daya manusia terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan Pemerintah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 105 Tahun 2000 dan Kepmendagri Nomor 13 Tahun 2006 telah membawa perubahan besar dan memberikan pendekatan baru dalam pengelolaan keuangan daerah.

rendahnya pemahaman pegawai terhadap tugas dan fungsinya serta hambatan di dalam pengolahan data juga dapat berdampak pada keterlambatan penyelesaian tugas yang harus diselesaikan. maka akan menimbulkan hambatan dalam pelaksanaan fungsi akuntansi yang ada dan akhirnya informasi akuntansi sebagai produk dari sistem akuntansi bisa jadi kualitasnya buruk. Berdasarkan uraian tersebut penulis menduga terdapat hubungan positif antara kapasitas sumber daya manusia dengan keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah dan hubungan tersebut dihipotesiskan: Hipotesis 1: Kapasitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap keterandalan keuangan. Palembang. dan menyalurkan 14 . Perubahan tersebut membutuhkan dukungan teknologi dan sumber daya manusia yang memiliki latar belakang pendidikan akuntansi yang memadai. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah disebutkan bahwa untuk menindaklanjuti terselenggaranya proses pembangunan yang sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance). Informasi yang dihasilkan menjadi informasi yang kurang atau tidak memiliki nilai. Dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No. termasuk pemerintahan. dan kurangnya dilaksanakannya pelatihanpelatihan untuk menjamin fungsi akuntansi berjalan dengan baik pada Pemerintah kota.akuntansi dan prosedur pencatatan. dokumen dan formulir yang digunakan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah. laporan. pelaporan Selain itu. 2) Pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan pelaporan keuangan Perkembangan teknologi informasi tidak hanya dimanfaatkan pada organisasi bisnis tetapi juga pada organisasi sektor publik. salah satunya keterandalan sebagaimana yang masih banyak ditemui dalam pelaporan keuangan pemerintah. Walaupun sistem akuntansi yang dibangun sudah baik tetapi sumber daya manusianya tidak memiliki kapasitas untuk melaksanakannya. fungsi-fungsi otorisasi untuk tujuan sistem pengendalian intern. Penelitian mengenai kesiapan sumber daya manusia subbagian akuntansi pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pertanggungjawaban keuangan daerah pernah dilakukan oleh Alimbudiono dan Fidelis (2004). 2006). serta pengawasan (Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik. Dinata (2004). yaitu ketepatwaktuan. salah satunya adalah penyajian laporan keuangan. Berdasarkan uraian tersebut penulis penulis menduga terdapat hubungan positif antara kapasitas sumber daya manusia dengan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah daerah dan hubungan tersebut dihipotesiskan sebagai berikut: Hipotesis 2 : Kapasitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Keterlambatan penyajian laporan keuangan berarti bahwa laporan keuangan belum/tidak memenuhi nilai informasi yang disyaratkan. Imelda (2005) Temuan empiris dari penelitian mereka menunjukkan masih minimnya pegawai berlatar pendidikan akuntansi. belum jelasnya job description.

Pemanfaatan teknologi informasi mesti akan sangat membantu mempercepat proses pengolahan data transaksi dan penyajian laporan keuangan pemerintah sehingga laporan keuangan tersebut tidak kehilangan nilai informasi yaitu ketepatwaktuan. (4) pemeriksaan independen atas kinerja. 3) Pengaruh pengendalian intern akuntansi terhadap keterandalan pelaporan keuangan Aktivitas pengendalian yang berhubungan dengan pelaporan keuangan adalah (1) perancangan yang memadai dan penggunaan dokumen-dokumen dan catatan-catatan bernomor. (2) pemisahan tugas. multiprocessing. Selain keterandalan hasil operasi dan kemampuan untuk mengurangi human error. Berdasarkan uraian tersebut diduga terdapat hubungan positif antara pemanfaatan teknologi informasi dengan keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah sehingga penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 3 : Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap keterandalan pelaporan keuangan. sudah pasti akan memiliki transaksi yang kompleks dan besar volumenya. pemanfaatan teknologi informasi dalam pengolahan data diketahui memiliki keunggulan dari sisi kecepatan. Hal ini boleh jadi dialami juga oleh pemerintah daerah di Indonesia sebagaimana dikatakan oleh Wakil Presiden RI.Informasi Keuangan Daerah kepada pelayanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi juga akan mengurangi kesalahan yang terjadi. Philip Kotler di Jakarta. (b) pemisahan fungsi organisasi yaitu pemisahan 15 . Unsur-unsur pokok yang diperlukan dalam menciptakan pengendalian akuntansi yang efektif antara lain: (a) adanya perlindungan fisik terhadap harta. Penelitian Donnelly et al. walaupun teknologi tersebut telah tersedia (ANTARA News. (1994) menemukan bahwa sistem/teknologi informasi yang dimiliki pemerintah daerah di Skotlandia belum begitu baik. Uraian dan temuan empiris mengenai teknologi informasi menunjukkan bahwa pengolahan data dengan memanfaatkan teknologi informasi (komputer dan jaringan) akan memberikan banyak keunggulan baik dari sisi keakuratan/ketepatan hasil operasi maupun predikatnya sebagai mesin multiguna. Beliau mengakui bahwa bangsa Indonesia masih belum mampu menggunakan secara maksimal Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Penelitian yang berhubungan dengan pemanfaatan sistem informasi dan teknologi informasi pada organisasi sektor publik sudah pernah dilakukan oleh Indriasari dan Nahartyo (2008). Pemerintah perlu mengoptimalisasi pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk membangun jaringan sistem informasi manajemen dan proses kerja yang memungkinkan pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan akses antar unit kerja. dan (5) penilaian yang sesuai/tepat atas jumlah yang dicatat. Suatu entitas akuntansi yang bernama “pemerintah daerah”. (3) otorisasi yang memadai atas transaksitransaksi. Berdasarkan uraian tersebut diduga terdapat hubungan positif antara pemanfaatan teknologi informasi dengan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah daerah sehingga diajukan hipotesis: Hipotesis 4 : Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Jusuf Kalla. 2007). dalam gala dinner bersama Guru Besar Pemasaran.

4) Pengaruh keterandalan terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan Beberapa kriteria keandalan dalam penelitian ini meliputi. Berdasarkan uraian dan temuan empiris tersebut. ketepatan waktu pelaporan akan semakin baik. Jadi terdapat saling korban (trade-off) antara ketepatwaktuan dan keterandalan/reliabilitas untuk mendapatkan kebermanfaatan.fungsi organisasi yang saling berkaitan. maka penyebab ketidakandalan laporan keuangan tersebut merupakan masalah yang berhubungan dengan pengendalian intern akuntansi. Ketika bebera[pa kriteria ini terpenuhi maka. Penyimpangan dan kebocoran yang masih ditemukan di dalam laporan keuangan menunjukkan bahwa laporan keuangan tersebut belum memenuhi karakteristik/nilai informasi yaitu keterandalan. masih ada ketidakwajaran dalam penyajian. Namun sebaliknya waktu pelaporan akan terbengkalai jika proses penyusunannya mengalami masalah. penyajian bersifat tertutup. Dengan begitu ketepatwaktuan dengan aproksimasi justru akan meningkatkan kebermanfaatan secara keseluruhan (Suwardjono. (c) adanya jejak audit yang baik. dan belum terujinya laporan keuangan. menyebabkan keterlambatan pelaporan. Bila dikaitkan dengan penjelasan mengenai pengendalian intern akuntansi. dan (d) sumber daya manusia yang optimal. Dalam hal tertentu. Dari uraian di atas dapat disusun hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 6 : Keterandalan pelaporan keuangan berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Namun. (3) Catatan atas laporan keuangan disajikan. (3) kehandalan Laporan realisasi anggaran atau laporan perhitungan APBD yang disajikan. (5) Rekonsiliasi dilakukan secara periodik antara catatan akuntansi dengan catatan bank atau catatan pihak eksternal yang membutuhkan konfirmasi atau rekonsiliasi. dapat diajukan hipotesis sebagai berikut. 2005). ini merupakan hal-hal yang menghambat penyajian laporan keuangan. (2) Andal dalam hal Neraca disajikan. Hipotesis 5 : Pengendalian intern akuntansi berpengaruh positif terhadap keterandalan pelaporan keuangan. sehingga jika keandalan sudah tercapai maka ketepatwaktuan pelaporan keuangan pun akan tercapai secara maksimal. (4) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji. (6) Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. dimungkinkan untuk mempercepat ketersediaan data secara aproksimasi tanpa mempengaruhi reliabilitas secara material. yang menyebabkan proses pemeriksaan ulang harus dilakukan. (1) Transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan tergambar dengan jujur dalam laporan keuangan. 16 . kemudian tidak dilakukannya pencatatan secara periodik. mengejar keberpautan dan ketepatwaktuan untuk mencapai kebermanfaatan harus dibarengi dengan mengorbankan kualitas lain yaitu keakuratan/presisi (accuracy/precision) atau keterandalan. walaupun berkurangnya reliabilitas berakibat berkurangnya kebermanfaatan.

Kriteria responden dalam penelitian ini adalah: a) Para pegawai yang melaksanakan fungsi akuntansi/tata usaha keuangan pada SKPD. 17 . hal ini dikarenakan: a) Maksimal 3 (tiga) responden pada tiap SKPD. Badan. b. Berikut ini distribusi sampel pada tiap SKPD meliputi Kantor Sekrtariat Daerah. supaya unit analisis bersifat heterogen dan persepsi responden dapat menyebar secara merata di semua SKPD. Dinas. secretariat DPRD.IV. 2003). staf pencatatan keuangan/akuntansi dan staf pemegang kas SKPD. bagian pencatatan/akuntansi dan pemegang kas yang mengetahui secara pasti mengenai pelaporan keuangan pada tiap SKPD. yakni pegawai negeri sipil pada SKPD di kota Kendari. METODE PENELITIAN a. Unit analisis. Rumah Sakit dan Kecamatan di Kota Kendari. Jenis penelitian adalah deskriptif verifikatif (causal) yang bertujuan untuk memberi gambaran (deskripsi) dari variabelvariabel yang diteliti dan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel melalui suatu pengujian hipotesis. Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian survey yang merupakan penelitian lapangan yang dilakukan terhadap beberapa anggota sampel dari suatu populasi tertentu yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan kuesioner (Sekaran. Penentuan kriteria sampel didasarkan pada alasan bahwa kepala bagian dan staf bagian keuangan/akuntansi merupakan pihak yang terlibat langsung secara teknis dalam pencatatan transkasi keuangan SKPD dan penyusunan pelaporan keuangan pemerintah daerah. Purposive sampling digunakan karena informasi yang akan diambil berasal dari sumber yang sengaja dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan peneliti (Sekaran. Populasi dalam penelitian ini adalah bagian akuntansi/penatausahaan keuangan pada SKPD di Kota Kendari. sehingga tiap SKPD ditetapkan secara cluster sampling sebanyak 3 orang yang menjadi responden. 2003). bagian pencatatan/akuntansi dan pemegang kas. Kantoe. Penyampelan atas responden dilakukan secara purposive sampling. c) Responden ditetapkan pada kepala bagian. c) Penentuan 3 (tiga) responden pada tiap SKPD didasarkan pada asumsi bahwa persepsi kepala bagian. b) Penentuan 3 (tiga) responden pada tiap SKPD karena hanya akan melihat persepsi kepala bagian. b) Responden dalam penelitian ini adalah kepala dan staf subbagian akuntansi/penatausahaan keuangan. populasi dan Sampel Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu. Penentuan jumlah responden masingmasing SKPD ditetapkan 3 (tiga) responden. Data penelitian adalah data primer yang dikumpulkan dengan mailed survey method dan direct survey method.

Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebersihan Kota Kendari Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil Dinas Sosial. Perpustakaan. Pertanian dan Kehutan Dinas Kesehatan Dinas Pekerjaan Umum Dinas Tata Kota dan Perumahan Dinas Perhubungan Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Asset Daerah Dinas Pemuda Olahraga. Tenaga Kerja. dan Linmas Badan Kepegawaian Daerah Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana Badan Lingkunag Hidup Badan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Badan Pelaksana Penyuluhan. dan Dokumentasi Kantor Polisi Pamong Praja Rumah Sakit Abunawas Kecamatan Kambu Kecamatan Poasia Kecamatan Baruga Kecamatan Wua-Wua Kecamatan Kadia Kecamatan Kendari Barat Kecamatan Kendari Kecamatan Mandonga Kecamatan Abeli Unit Kerja Jumlah Responden 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 114 Sumber : Kota Kendari (Data diolah 2010) 18 . Politik. dan Transmigrasi Dinas Pertanian dan Kehutanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Perindagkop dan UKM Dinas Pendidikan Nasional Kantor Ketahanan Pangan Kantor Pemadam Kebakaran Kantor Arsip.Distribusi Sampel tiap SKPD No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Sekretariat Daerah Sekretariat DPRD Inspektorat Daerah Bappeda dan Penenaman Modal Badan Kesatuan Bangsa.

merupakan standarisasi kapasitas staf bagian keuangan. c) Kegiatan pengendalian. pengamanan aset negara. merupakan upaya untuk meningkatkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam lingkungan kerjanya. No. keandalan pelaporan keuangan. (4) Setuju. dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat a) Pemantauan pengendalian intern. d) Informasi dan komunikasi. Responden diminta untuk menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya terhadap pertanyaan yang diajukan sesuai dengan kondisi mereka yang sesungguhnya. pengembangan keahlian staf. c) Pengembangan. b) Tupoksi. 2) Pengendalian Intern Akuntansi (X2) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan (PP. b) Penilaian risiko. 60 tahun 2008). (2) Tidak Setuju. dan (5) Sangat Setuju. Konstruk Pengendalian Intern Akuntansi diukur dengan indikator formatif: a) Lingkungan pengendalian. 19 . merupakan upaya untuk mengidentifikasi. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) variabel exsogen (independent) yang terdiri dari kapasitas SDM (X1). (Laporan akhir studi GTZ dan USAID/CLEAN Urban (2001). baik formal maupun non-formal. merupakan upaya untuk melakukan review atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan termasuk di dalamnya adalah pemisahan tugas. baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. merupakan upaya pemantauan berkelanjutan. yaitu (1) Sangat Tidak Setuju. (3) Netral. mencatat. organisasi/kelembagaan. maupun sistem untuk melaksanakan fungsi-fungsi atau kewenangannya untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Konstruk Kapasitas Sumber Daya Manusia diukur dengan indikator: a) Kapasitas Staf. pengendalian dan internal akuntansi (X2) pemanfaatan teknologi informasi (X3) dan 2 (dua) variabel endogen (dependent) yaitu keterandalan (Y1) yang dan ketepatwaktuan (Y2) dijelaskan secara operasional sebagai berikut: 1) Kapasitas Sumber Daya Manusia (X1) adalah kemampuan baik dalam tingkatan individu. merupakan uraian peran dan fungsi yang jelas bagi seorang staf bagian keuangan/akuntansi yang ditunjang dengan sistem dan prosedur yang jelas. merupakan upaya penguasaan dan c. merupakan upaya untuk mengidentifikasi risiko dan menganalisis risiko yang akan terjadi pada organisasi sektor publik.Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Masing-masing variabel diukur dengan model skala likert lima poin.

dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji kebenarannya. 24 Tahun 2005). c) Perawatan. laporan 20 . merupakan indikator untuk menggambarkan adanya jadwal pemeliharaan peralatan secara teratur terhadap perangkat teknologi informasi guna mendukung kelancaran pekerjaan. Konstruk nilai informasi ketepatwaktuan diukur dengan indikator: a) Timelines. keras dan sistem jaringan. Konstruk Pemanfaatan teknologi Informasi diukur dengan indikator: a) Perangkat. 24 Tahun 2005). c) Dapat diuji. merupakan indikator untuk menggambarkan pemanfaatan teknologi informasi untuk pengelolaan data keuangan secara sistematis dan menyeluruh.evaluasi terpisah. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa Informasi yang dibutuhkan segera tersedia ketika diminta. b) Sistematis waktu. d) Generalisasi. merupakan indikator untuk menggambarkan kelengkapan yang mendukung terlaksananya penggunaan teknologi informasi. 3) Pemanfaatan Teknologi Informasi (X3) adalah Tingkat integrasi teknologi informasi pada pelaksanaan tugas-tugas akuntansi. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa unsur-unsur laporan keuangan disajikan secara lengkap sesuai dengan peraturan menteri dalam negeri. 4) Keterandalan laporan keuangan adalah Kemampuan informasi untuk memberikan keyakinan bahwa informasi tersebut benar atau valid. (Jurnali dan Supomo (2002)). misal: laporan harian. laporan bulanan. meliputi perangkat lunak. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa laporan-laporan disediakan secara sistematis dan teratur. laporan mingguan. b) Kelengkapan unsur Laporan Keuangan. Konstruk Nilai Informasi Keterandalan diukur dengan indikator: a) Kewajaran. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa transaksi serta peristiwa lainnya yang disajikan tergambar dengan jujur dalam laporan keuangan. (PP No. (PP No. 5) Ketepatwaktuan laporan keuangan adalah tersedianya informasi bagi pembuat keputusan pada saat dibutuhkan sebelum informasi tersebut kehilangan kekuatan untuk mempengaruhi keputusan. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. baikmetodologi maupun bukti-bukti transaksi. b) Pengelolaan Data Keuangan.

Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer.3) Indikator Reflektif terdiri dari: Kewajaran (Y1. badan. arus kas dan catatan atas laporan keuangan.1) Unsur Laporan Keuangan (Y1. dan laporan tahunan.5) Indikator Reflektif terdiri dari: Perangkat (X3.3) Informasi dan komunikasi (X2.3) Skala Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Interval Pengendalian Intern akuntansi (X2) Pemanfaatan Teknologi Informasi (X3) Keterandalan (Y1) Ketepatwaktuan (Y2) d. yang meliputi realisasi anggaran. kantor. merupakan indikator untuk menggambarkan bahwa Laporan-laporan berikut disampaikan secara sistematis dan teratur antara unsur-unsur laporan keuangan.1) Tupoksi (X1.2) Dapat Diuji (Y1.4) Indikator Reflektif terdiri dari: Timelines (Y2. dan RSUD. neraca.2) Sistematis unsur (Y2. Peneliti juga melakukan tanya jawab (wawancara) kepada responden yang bersedia diwawancarai mengenai 21 .2) Perawatan (X3. Secara ringkas penjelasan variabl-variabel di atas mengenai indikator dan skala pengukurannya dapat dilihat dalam tabel berikut ini.2) Kegiatan pengendalian (X2. Operasionalisasi Variabel Penelitian Variabel Kapasitas Sumber Daya Manusia(X1) Indikator Indikator Reflektif terdiri dari: Kapasitas staf (X1.1) Penilaian risiko (X2.4) Pemantauan pengendalian intern (X2.1) Sistematis waktu (Y2.3) Indikator Formatif terdiri dari: Lingkungan pengendalian (X2. c) Sistematis unsur.semester.2) Pengembangan(X1. SKPD ini meliputi dinas.1) Pengelolaan Data Keuangan (X3.3) Generalisasi (Y1. Pengumpulan data akan dilakukan melalui survai kuesioner yang diantar dan diambil sendiri oleh peneliti terhadap bagian akuntansi/penatausahaan keuangan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

П 8 = Loading Factor δ4.3 = λ14 AND (Y1) + e14 Y1. e.4 + δ6 PIA (X2) = П8X2.….…. dan pengendalian intern yang ada di satuan kerja responden.1 – Y1.2 + δ5 PIA (X2) = П6X2. λ11 = Loading Factor e9. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Pengendalian intern Akuntansi terhadap Keterandalan Laporan Keuangan Pemerintah daerah dan ketepatwaktuan pelaporan Keuangan Pemerintah daerah. Data yang dianalisis merupakan data yang dikumpulkan melalui survey kuesioner (data primer)..5 = Indikator Formatif П 4.4 = λ15 AND (Y1) + e15 Keterangan: Y1.….2 = λ2 SDM (X1) + e2 X1.1 = λ1 SDM (X1) + e1 X1.… e15 = error term e) Ketapatwaktuan/KTP (Y2) Y2.1 – X3. λ15 = Loading Factor e12. dengan jenis data adalah data interval. δ8 = error term c) Pemanfaatan Teknologi Informasi /PTI (X3) X3.3 = λ3 SDM (X1) + e3 Keterangan: X1..3 = Indikator λ9.1 – X1.kondisi sumber daya manusia. λ3 = Loading Factor e1. Analisis Data Sesuai variabel-variabel bebas dalam penelitian ini. e3 = error term b) Pengendalian Internal Akuntansi /PIA (X2) PIA (X2) = П4X2. sementara data yang diperoleh melalui wawancara tidak dianalisis..α6 adalahParameter Persamaan spesifikasi model pengukuran untuk menentukan variabel konstruk dan rangkaian matriks yang menunjukkan korelasi antar konstruk atau variabel adalah sebagai berikut: a) Kapasitas SDM /SDM (X1) X1. maka model analisa data yang digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah PLS. tetapi hanya digunakan sebagai bahan pendukung bagi kelengkapan pembahasan.2 = λ13 AND (Y1) + e13 Y1. teknologi informasi.1 – X2.1 = λ9 PTI (X3) + e9 X3..2 = λ17 KTP (Y2) + e17 Y2.3 = Indikator λ1.1 = λ16 KTP (Y2) + e16 Y2.4 = Indikator λ12.1 = λ12 AND (Y1) + e12 Y1. e11 = error term d) Keterandalan /AND (Y1) Y1..3 + δ6 PIA (X2) = П7X2.….1 + δ4 PIA (X2) = П5X2.…. Adapun model persamaan struktur yang digunakan berdasarkan pola hubungan variabel bebas dengan variabel tergantungnya yaitu sebagai berikut : Model Persamaan Pengaruh Langsung: Y1 = α1X1 + α2X2 + α3X3 + e1 Y2 = α4X1 + α5X3 + α6Y1 + e2 Di mana : Y1 adalah Keterandalan Y2 adalah Ketepatwaktuan X1 adalah Kapasitas SDM X2 adalah Pengendalian Internal Akuntansi X3 adalah Pemanfaatan Teknologi Informasi α1.…..2 = λ10PTI (X3) + e10 X3.3 = λ18 KTP (Y2) + e18 22 .5 + δ6 Keterangan: X2. Analisis dengan model ini merupakan analisis yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh kapasitas SDM.3 = λ11PTI (X3) + e11 Keterangan: X3.

67.…. b. Tingkat Pengembalian Kuesioner Untuk mengetahui gambaran mengenai pengiriman dan tingkat pengembalian kuesioner (respon rate) dari responden. discriminant validity dan composite reliability. Hasil pengujian pertama dengan PLS ini menghasilkan outer loading sebagai berikut: 23 . nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. sementara itu sebanyak 9 kuesioner tidak dapat digunakan karena tidak lengkap dan rusak.Keterangan: Y2. Penelitian ini menguji pengaruh kapasitas sumber daya manusia. Kuesioner yang diolah 77 Response Rate 6. pengendalian intern akuntansi dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan dimediasi oleh keterandalan pelaporan keuangan daerah pada SKPD di Kota Kendari. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Ada beberapa kriteria untuk menilai outer model yaitu: convergent validity. Hasil Analisis Dalam analisis dengan PLS ada 2 hal yang dilakukan.…. Kuesioner yang kembali 86 4. Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk. dapat dilihat pada Tabel berikut ini: Pengiriman dan Tingkat Pengembalian Kuesioner No Keterangan Σ Kuesioner 1. Kedua. Sebanyak 28 buah kuesioner tidak dikembalikan karena yang bersangkutan ada tugas di luar daerah dan berbagai alasan lainnya. Kuesioner yang tidak dikembalikan 28 3.1 – Y2. menilai outer model atau measurement model adalah penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Tahun 2010 Jumlah kuesioner yang didistribusikan disesuaikan dengan jumlah sampel yang ditentukan yaitu sebanyak 114 orang. menilai inner model atau structural model.4 = Indikator λ16. e18 = error term V. Kuesioner yang didistribusikan 114 2. λ18 = Loading Factor e16. Kuesioner yang rusak/tidak lengkap 9 5. tetapi jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 77 sesuai dengan perhitungan metode sampel yang digunakan. pertama.54% Sumber: Data Primer Diolah.

4 -0. Namun demikian tidak dengan indikator formatif. walaupun nilai loading faktornya kurang dari 0.017 <0.40 (Chenhall dan Morris.4). Berikut ini beberapa indikator yang memiliki loading kurang dari 0. Hasil Outer Model tahap Pertama Berdasarkan hasil outer loading di atas beberapa indikator reflektif akan dikeluarkan dari model karena memiliki loading kurang dari 0.310 <0.4 tidak akan dihilangkan. 1986).4 Sumber: Ouput SmartPLS 24 .4 Keterandalan .40: Indikator yang yang memiliki loading kurang dari 0.Gambar.Y1.40 (OL<0.2 0.40 Indikator Outer Keterangan Loading Pemanfaatan Teknologi Informasi .X3. Selanjutnya model akan di-reestimasi kembali dengan membuang indikator yang memiliki loading kurang dari 0.

maka dapat dibuat hasil persamaan moderasi sebagai berikut: reliabilitas dan validitas variabel penelitian.268X1 + 0.40 (OL<0.266X3 + e1 Y2 = 0.748 Kapasitas SDM (X1) 0.169X3 + 0.835 Pengendalian Intern (X2) Pemanfaatan IT (X3) 0.630 0.515 0.Setelah dilakukan eliminasi terhadap indikator yang yang memiliki loading kurang dari 0. Gambar.528 0.764 Keterandalan (Y2) 0.592 0.031X1 + 0. Hasil Outer Model tahap kedua setelah eliminasi beberapa indikator Berdasarkan hasil estimasi terakhir yang digambarkan pada model PLS di atas. terhadap data yang baru.541 0. Y1 = 0.671 R Square 0.4).651 – – – 25 . Pengujian Outer Model (Measurement Model) Outer Model atau Measurement Model adalah penilaian terhadap Variabel Hasil Pengujian Reliabilitas dan Validitas AVE Nilai Komposit Reliabelitas Ketepatwaktuan (Y1) 0.126Y1 + e2 c. Ada beberapa kriteria untuk menilai outer model yaitu: Discriminant validity dan composite reliability. Discriminant validity dari pengukuran model dengan indikator refleksif dapat dilihat dari korelasi antar skor indikator dengan skor konstruknya.215X2 + 0. Tabel berikut menunjukkan hasil pengujian reliabilitas dan validitas untuk masingmasing variabel. maka langkah berikutnya adalah melakukan reestimasi.

60 dan dapat dinyatakan bahwa semua variabel penelitian reliabel dan memenuhi kaidah validitas karena seluruh outer loadings untuk AVE berada di atas 0. nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Pengujian Inner Model (Model Struktural) Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk.651 0.031 0.592 dapat diinterpretasikan bahwa kapasitas SDM. regresion weight hubungan antara konstruk.651 dapat diinterpretasikan bahwa kapasitas SDM.172 0.8 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. Nilai R-square. sedangkan Q-square kurang dari nol (0) menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance.9 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Hasil pengujian outer loadings untuk composite reliability pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa semua loading factor di atas 0.2%) 40. Nilai . sedangkan sisanya sebesar (100%-59.3509 X3 Y2 0.60 (Ghozali.1078 X3 Y1 0.651 0.592 0.592 0. Untuk menentukan nilai Q-square digunakan formula sebagai berikut: Q 2 = 1 − ( 1 − R1 ) * ( 1 − R2 ) 2 2 26 . 2006). Berdasarkan nilai Rsquare sebesar 0. Q-square lebih besar dari pada nol (0) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai memiliki predictive relevance.592 0. Berikut ini digambarkan nilai koefisien jalur hubungan antara konstruk. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan keterandalan dapat menjelaskan varian dari perubahan keteapwaktuan pelaporan keuangan sebesar 65. mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya (Ghozali. Sementara itu untuk menguji kelayakan model digunakan Koefisien Q-square determinasi total (Q2).113 2. 2006:26). Nilai R-square (R2) untuk variabel endogen ketepatwaktuan sebesar 0.114 2.266*) 0.268*) 0. 2006). . dan nilai signifikansi statistik (t_statsitic) Koefisien Deviasi Statistik T Hubungan R Square Jalur Standar Kauslitas Variabel (R2) X1 Y1 0.169*) 0.651. Pengendalian Intern Akuntansi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dapat menjelaskan varian dari perubahan keterandalan pelaporan keuangan sebesar 59. Berdasarkan nilai R-square sebesar 0.2 persen.Variabel akan dianggap relaible apabila nilai korelasinya di atas 0.30 (Ghozali.7326 Sumber: Output SmartPLS Ket: *) Singinifikan pada 5% Berdasarkan hasil analisis di atas diperoleh nilai R-square (R2) untuk variabel endogen keterandalan sebesar 0.2026 X2 Y1 0.126 0.102 2.3137 Y1 Y2 0.651 0. sedangkan sisanya sebesar (100% – 65.592. d.051 3.153 0.215*) 0.1%) 34.3540 X1 Y2 0.1 persen.

960. Dinata (2004). 1) Pengaruh Kapasitas SDM terhadap Keterandalan Hipotesis pertama menyatakan bahwa Kapasitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap keterandalan pelaporan keuangan. yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih kecil dari 1.031 dengan nilai t-statistik sebesar 0.031 0. maka akan menimbulkan hambatan dalam pelaksanaan fungsi akuntansi yang ada dan akhirnya informasi akuntansi 27 .3 persen informasi yang terkandung dalam data atau kontribusi pengaruh variabel-variabel exogen (termasuk keterandalan sebagai intervening) terhadap variabel endogen (ketepatwaktuan) sebesar 62.623.591) Q 2 = 0.592 ) * ( 1 − 0. dari enam hipotesis dua diantaranya tidak berpengaruh. Walaupun sistem akuntansi yang dibangun sudah baik tetapi sumber daya manusianya tidak memiliki kapasitas untuk melaksanakannya.960. nilai signifikansi statistik (t_statsitic) dan Penjelasan hasil uji hipotesis Hubungan Koefisien Statistik T Keterangan Kauslitas Variabel Jalur X1 Y1 Hipotesis tidak didukung 0. belum jelasnya job description. Temuan ini sejalan dengan penelitian Alimbudiono dan Fidelis (2004). Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0. Temuan empiris dari penelitian mereka menunjukkan masih minimnya pegawai berlatar pendidikan akuntansi.3137 Y1 Y2 0. Hasil analisis PLS dengan dua variabel endogen keterandalan dan ketepatwaktuan dijeaslkan dalam tabel berikut: Nilai koefisien jalur hubungan antara konstruk.1078 Hipotesis didukung X3 Y1 Hipotesis didukung 0.7326 Hipotesis tidak didukung Sumber: Output SmartPLS Berdasarkan hasil analisis di atas. model yang telah dibangun mempunyai nilai memiliki predictive relevance atau tingkat prediksi yang cukup akurat.266*) 2.2026 X2 Y1 0. sementara sisanya berpengaruh. Angka tersebut dapat diinterpretasikan bahwa model penelitian dapat menjelaskan 62.215*) 2. Berikut ini dijelaskan hasil pengujian hipotesis semua hubungan kausalitas. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Pengujian hipotesis dalam PLS didasarkan pada perbandingan antara nilai t-statistik dengan nilai 1.623 Berdasarkan perhitungan Qsquare (Q2) diperoleh nilai Q-square sebesar 0.268*) 2.126 0.3540 X1 Y2 0.202.3509 Hipotesis didukung X3 Y2 Hipotesis didukung 0. Imelda (2005). e. Temuan ini tidak mendukung hipotesis 1 (H1).651) Q 2 = 1 − (0.638) * (0.169*) 3. Temuan ini mengindikasikan tidak ada pengaruh antara kapasitas sumber daya manusia terhadap keterandalan pelaporan keuangan.Perhitungan Q-square dengan mengunakan data R-square yang ada pada dua model di atas dapat dilakukan sebagai berikut: Q 2 = 1 − ( 1 − 0. dan kurang dilaksanakannya pelatihan-pelatihan untuk menjamin fungsi akuntansi berjalan dengan baik pada Pemerintah Kota Palembang.3 persen.

Ketidaksignifikanan ini mungkin disebabkan kondisi kapasitas sumber daya manusia di subbagian akuntansi/tata usaha keuangan yang belum mendukung.960. pada sisi lain tinggi pemahaman dan keahlian SDM berdampak terhadap ketepatwaktuan penyelesaian tugas. yaitu “the one and only” kepala subbagian akuntansi/tata usaha keuangan. Namun satu hal yang perlu dipertanyakan dari temuan ini adalah mengenai perbedaan signifikansi antara pengaruh variabel kapasitas sumber daya manusia terhadap keterandalan dan ketepatwaktuan. 2) Pengaruh Kapasitas SDM terhadap Ketepatwaktuan Hipotesis kedua menyatakan bahwa Kapasitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. 2005). Dari hasil observasi pada saat pengambilan kuesioner diperoleh informasi bahwa sumber daya manusia di subbagian akuntansi/tata usaha keuangan yang ada di Kota Kendari diakui masih sangat kurang dari sisi jumlah maupun kualifikasinya.268 dengan nilai t-statistik sebesar 2. Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0. salah satunya keterandalan sebagaimana yang masih banyak ditemui dalam pelaporan keuangan pemerintah. Uraian tugas dan fungsi subbagian akuntansi/tata usaha keuangan yang ada juga masih terlalu umum (belum terspesifikasi dengan jelas). Temuan ini sejalan dengan penelitian Marschke (2003) yang menyatakan bahwa rendahnya pemahaman pegawai terhadap tugas dan fungsinya serta hambatan di dalam pengolahan data juga dapat berdampak pada keterlambatan penyelesaian. Boleh jadi temuan ini memberikan dukungan mengenai saling korban (trade-off) antara ketepatwaktuan dan keterandalan untuk mendapatkan kebermanfaatan sebagaimana dijelaskan dalam bab II. sementara peraturan perundang-undangan telah mewajibkan setiap satuan kerja untuk menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan. Karena masih sangat sedikit jumlah akuntan atau pegawai yang berpendidikan tinggi akuntansi. Padahal fungsi dan proses akuntansi hanya dapat dilaksanakan oleh pegawai yang memiliki pengetahuan di bidang ilmu akuntansi.sebagai produk dari sistem akuntansi bisa jadi kualitasnya buruk. Namun secara praktik di lapangan kondisinya berbeda. sebagian besar pegawai subbagian akuntansi/tata usaha keuangan tidak memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dan hal ini terlihat dari data demografi responden. Temuan ini mengindikasikan ada pengaruh antara kapasitas sumber daya manusia dengan ketepatwaktuan pelaporan keuangan yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih besar dari 1. Informasi yang dihasilkan menjadi informasi yang kurang atau tidak memiliki nilai. ketepatwaktuan dengan aproksimasi/taksiran justru akan meningkatkan kebermanfaatan secara keseluruhan (Suwardjono. 3) Pengaruh pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Keterandalan 28 . maka pegawai yang ada yang diberdayakan. Logika dari temuan ini adalah ketika seseorang memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang menjadi tanggung jawabnya maka ia akan menyelesaikan pekerjaan/tugasnya dengan baik dan lebih cepat. Dari sisi kualifikasi. beberapa satuan kerja yang ada hanya memiliki satu pegawai akuntansi. Kelemahan yang ada diimbangi dengan mengikutsertakan pegawai dalam pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan akuntansi dan pengelolaan keuangan daerah.351. Dengan kata lain. Dari sisi jumlah. Penelitian ini mendukung hipotesis 2 (H2).

keakurasian dalam perhitungan. Penelitian Donnelly et al. Pemanfaatan teknologi informasi mesti akan sangat membantu mempercepat proses pengolahan data transaksi dan penyajian laporan keuangan pemerintah sehingga laporan keuangan tersebut tidak kehilangan nilai informasi yaitu ketepatwaktuan. termasuk pemerintah daerah yang harus mengelola APBD dimana volume transaksinya dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan dan semakin kompleks.960. Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0.354.1078. Temuan ini mengindikasikan ada pengaruh antara pemanfaatan teknologi informasi dengan keterandalan pelaporan keuangan yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih besar dari 1. Temuan ini mengindikasikan ada pengaruh antara pemanfaatan teknologi informasi dengan ketepatwaktuan pelaporan keuangan yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih besar dari 1.266 dengan nilai t-statistik sebesar 2. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengolahan data diketahui memiliki keunggulan dari sisi kecepatan. (1994) menemukan bahwa sistem/teknologi informasi yang dimiliki pemerintah daerah di Skotlandia belum begitu baik. Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0.960. serta penyiapan laporan dan output lainnya lebih tepat waktu.215 dengan nilai t-statistik sebesar 2.169 dengan nilai t-statistik sebesar 3. (1994) yang menyatakan bahwa pemanfaatkan teknologi informasi (komputer dan jaringan) akan memberikan banyak keunggulan baik dari sisi keakuratan/ketepatan hasil operasi. Temuan ini mendukung hipotesis 5 (H5).317. 5) Pengaruh pengendalian intern akuntansi terhadap keterandalan Hipotesis kelima menyatakan bahwa pengendalian intern akuntansi berpengaruh positif terhadap keterandalan pelaporan keuangan. Pemanfaatan teknologi informasi juga akan mengurangi kesalahan yang terjadi. Temuan ini mengindikasikan ada pengaruh antara pengendalian intern akuntansi dengan keterandalan pelaporan keuangan yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih besar dari 1. agar terpenuhinya ketepatwaktuan penyampaian pelaporan keuangan. sudah pasti akan memiliki transaksi yang kompleks dan besar volumenya. 4) Pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap ketepatwaktuan Hipotesis keempat menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Temuan ini sejalan dengan Jones dan Pendlebury (1996) yang memberikan rekomendasi agar pengelolaan pencatatan dan pelaporan keuangan pemerintah sudah seharusnya menggunakan sistem komputer yang terintegrasi. Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0. Temuan ini mendukung hipotesis 4 (H4). Hal ini menggambarkan betapa sangat membantunya tekhnologi informasi dalam kecepatan pencapaian tujuan. Pemanfaatan teknologi informasi yang meliputi teknologi komputer dan teknologi komunikasi dalam pengelolaan keuangan daerah akan meningkatkan pemrosesan transaksi dan data lainnya. Suatu entitas akuntansi yang bernama “pemerintah daerah”. yang berakibat terhadap kurang baiknya kualitas hasil pekerjaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Donnelly et al. Temuan ini mendukung literaturliteratur yang berkaitan dengan manfaat dari suatu teknologi informasi dalam suatu organisasi. 29 . Temuan ini mendukung hipotesis 3 (H3).Hipotesis ketiga menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap keterandalan pelaporan keuangan.960.

Namun sebaliknya waktu pelaporan akan terbengkalai jika proses penyusunannya mengalami masalah. sehingga tujuan keterandalan suatu laporan keuangan akan tercapai. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. penyajian bersifat tertutup. kemudian tidak dilakukannya pencatatan secara periodik. pengamanan aset negara. sehingga jika keandalan sudah tercapai maka ketepatwaktuan pelaporan keuangan pun akan tercapai secara maksimal. Hasil analisis PLS menghasilkan koefisien jalur sebesar 0. Secara statistik hasil ini tidak berpengaruh.7326. Hasil tidak signifikan tersebut dapat disebabkan beberapa hal antara lain sebagai berikut: a) Dalam hal tertentu. 2005) 6) Pengaruh Keterandalan terhadap ketepatwaktuan Hipotesis keenam menyatakan bahwa keterandalan pelaporan keuangan berpengaruh positif terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. yang ditandai dengan nilai tstatistik lebih kecil dari 1. Jadi terdapat saling korban (trade-off) antara ketepatwaktuan dan keterandalan/reliabilitas untuk mendapatkan kebermanfaatan. Temuan ini mengindikasikan tidak ada pengaruh antara keterandalan pelaporan keuangan ketepatwaktuan pelaporan keuangan. yang menyebabkan proses pemeriksaan ulang harus dilakukan. masih ada ketidakwajaran dalam penyajian. keandalan pelaporan keuangan. menyebabkan keterlambatan pelaporan.Temuan ini sejalan dengan penelitian Indriasari dan Nahartyo (2008) yang menyatakan bahwa pengendalian intern akuntansi berpengaruh positif signifikan terhadap keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah di Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Ilir. Bila dikaitkan dengan penjelasan mengenai pengendalian intern akuntansi. ketepatan waktu pelaporan akan semakin baik. Temuan ini tidak mendukung hipotesis 6 (H6). Kegiatan pengendalian ini tentunya menjamin semua pencatatan akuntansi dan keuangan pemerintah telah sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku. 30 .126 dengan nilai t-statistik sebesar 0. Hal ini berarti bahwa ketika beberapa kriteria keterandalan terpenuhi maka. maka penyebab ketidakandalan laporan keuangan tersebut merupakan masalah yang berhubungan dengan pengendalian intern akuntansi (Suwarjono. dan belum terujinya laporan keuangan. mengejar keberpautan dan ketepatwaktuan untuk mencapai kebermanfaatan harus dibarengi dengan mengorbankan kualitas lain yaitu keakuratan/presisi (accuracy/precision) atau keterandalan. Temuan ini juga mendukung berbagai literatur yang menjelaskan tentang tujuan dari pengendalian intern akuntansi yaitu memberikan keyakinan yang memadai mengenai pencapaian tujuan pemerintah daerah yang tercermin dari keterandalan laporan keuangan. Peraturan pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah bahwa sistem Pengendalian Intern merupakan proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. ini merupakan hal-hal yang menghambat penyajian laporan keuangan.960. Penyimpangan dan kebocoran yang masih ditemukan di dalam laporan keuangan menunjukkan bahwa laporan keuangan tersebut belum memenuhi karakteristik/nilai informasi yaitu keterandalan.

arah hasil temuan dan keterangan pendukungan atau tidak terhadap hasil penelitian.215 2. 3) Kapasitas SDM berpengaruh terhadap keterandalan bisa disebabkan memang karateristik SDM di Kota Kendari masih memiliki kapasitas yang rendah dan taraf pendidikan yang masih relatif rendah khususnya dalam bidang akuntansi. termasuk didalamnya koefisien jalur.203 Positif X1 Y2 0.733 Positif Keterangan Tidak didukung Didukung Didukung Didukung Didukung Tidak didukung VI. namun pengendalian intern akuntansi dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap keterandalan pelaporan keuangan. Hipotesis H1 H2 H3 H4 H5 H6 Ikhtisar Hasil Pengujian Hipotesis Hubungan Koefisien Statistik T Arah X1 Y1 0.266 2.031 0. PENUTUP a. Simpulan Dari hasil analisis dan pengujian hipotesis dengan menggunakan partial least square disimpulkan bahwa: 1) Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas SDM tidak berpengaruh terhadap keterandalan. Berikut ini ringkasan hasil pengujian hipotesis dari hipotesis 1 sampai hipotesis 6. 4) Keterandalan pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan bisa disebabkan oleh upaya untuk memenuhi sebuah kriteria penyajian pelaporan keuangan yang andal.108 Positif Y1 Y2 0.126 0. yang mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan sebuah sistem pelaporan keuangan 31 . c) Berkurangnya reliabilitas berakibat berkurangnya kebermanfaatan.318 Positif X2 Y1 0.351 Positif X3 Y1 0. diperlukan berbagai upaya baik yang bersifat material maupun non material. nilai statistik. dimungkinkan untuk mempersulit ketersediaan data secara aproksimasi yang mempengaruhi waktu pelaporan keuangan. yang mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan sebuah sistem pelaporan keuangan akan semakin lama.268 2.169 3.354 Positif X3 Y2 0. diperlukan berbagai upaya baik yang bersifat material maupun non material. sementara kapasitas SDM dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. sehingga upaya untuk mencapai keterandalan malah akan memperlama waktu pelaporan keuangan.b) Untuk memenuhi sebuah kriteria penyajian pelaporan keuangan yang andal. 2) Keterandalan pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Dengan begitu ketepatwaktuan dengan aproksimasi justru semakin lama.

Saran Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan penelitian yang telah diuarikan di atas. Dengan memperhatikan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki baik pada tingkatan sistem. c. 2) Instrumen dan daftar pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini sebagian besar dikembangkan sendiri oleh peneliti. hasil penelitian ini memberikan bukti baru bahwa keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi informasi dan pengendalian intern akuntansi. maka dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut: 1) Kapasitas SDM merupakan salah satu unsur yang lemah pada pengelola keuangan di SKPD pemerintah Kota Kendari. Kontribusi teoritis adalah bahwa temuan dalam penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya. namun belum mampu 32 . Hasil ini diharapkan bisa dijadikan dasar atau acuan bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah. selebihnya mengadopsi dari peraturan pemerintah dan undang-undang yang mengatur tentang keterandalan. Peneliti berusaha menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan telah melakukan beberapa kali perbaikan. b. maupun individu. d. didukung dengan pemanfaatan teknologi informasi seoptimal mungkin. 2) Keterandalan tidak berpengaruh. misalnya dua nilai informasi lain yang belum diteliti yaitu dapat dibandingkan dan dapat dipahami. Implikasi Penelitian Kontribusi praktis.yang andal akan semakin lama. dan adanya rancangan pengendalian intern akuntansi yang memadai diharapkan pihak pengelola keuangan daerah khususnya bagian akuntansi mampu melaksanakan tugas dan fungsi akuntansi dengan baik yang akhirnya bermuara pada dihasilkannya laporan keuangan pemerintah daerah yang andal dan tepat waktu. kelembagaan. yaitu Kota Kendari sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisir ke semua objek. maka beberapa keterbatasan atau faktor-faktor yang tidak dapat diantisipasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Penelitian ini dilakukan hanya di wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara. ketepatwaktuan dan pengendalian intern akunatnsi. Dengan kata lain validitas eksternal dari hasil penelitian ini masih rendah. Masalah subjektivitas dari responden dapat mengakibatkan hasil penelitian ini rentan terhadap biasnya jawaban responden. artinya walaupun suatu pelaporan keuangan andal. disarankan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah pegawai pengelola keuangan yang memiliki latar belakang akuntansi maupun pendidikan teknologi informasi. Keterbatasan Berdasarkan verifikasi sampel dan hasil pengujian terhadap hipotesis. Kemudian kemungkinan untuk bias menambah variabel predictor maupun variabel intervening. 3) Kurangnya pemahaman dari responden terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner serta sikap kepedulian dan keseriusan dalam menjawab semua pertanyaanpertanyaan yang ada. Sedangkan ketepatwaktuan pelaporan keuangan pemerintah daerah dipengaruhi oleh kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi.

Anton Mulhar. D. 2006. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Kesiapan Sumber Daya Manusia Sub Bagian Akuntansi Pemerintah Daerah “XYZ” dan Kaitannya Dengan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kepada Masyarakat: Renungan Bagi Akuntan Pendidik. Donnelly. BPFE. Kasus dan Solusi. 02. 2000. 2004. Dalrymple. Hollingsworth. 33 . International Journal of Public Sector Management. 1: Objectives of Financial Reporting in Governmental Accounting Standards Boards Series Statement No. 281–306. Schindler. 3) Kepada peneliti berikutnya agar memperbaiki terlebih dahulu kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini atau menggunakan kuesioner yang tingkat validitas dan reliabilitasnya lebih tinggi. Februari. Ghozali. 2000. Analisis Regresi Teori. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik. 2005. Donald R. dan Ivan P. Vol. Tinjauan Atas Kesiapan SDM pada Instansi Pemerintah Kota Palembang dalam Penerapan Akuntansi Daerah Menuju Terciptanya Good Governance di Era Otonomi Daerah. Eight Edition. 11. 2006. 2000. The Accounting Review. 7 No. 2004. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Hal. Edisi 3. BPFE. 1999. The Impact of Structure.61. Business Research Method.4-15. Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik. Chenhall. 2005. 34: Basic Financial Statement and Management Discussion and Analysis for State and Local Government. 3. sehingga proses penyusunan pelaporan keuangan tidak lagi mamakan waktu yang lama. 05 No. Auditor-Controller County of Yoo Department. 1994.16-35. Concepts Statement No. Norwalk. Indralaya. Alimbudiono. Yogyakarta. Universitas Sriwijaya. DAFTAR PUSTAKA Algifari. Mc Graw Hill Dinata. Management Accounting Research. Mike. Governmental Accounting Standards Boards (GASB). pp. The Use and Development of Information Systems and Technology in Scottish Local Government. John F. Semarang. Internal Control Questionnaire. Jakarta Brignall. dan Morris. and Interdependence on Perceived Usefulness of Management Accounting Systems. Stan dan Sven Modell. Skripsi. Vol. Ria Sandra dan Fidelis Arastyo Andono. Cooper. RH. Imam. Badan Pemeriksa Keuangan RI. Publikasi BPK. Yogyakarta. dan Pamela S. 1986. Environment. untuk itu disarankan kepada pemerintah dearah untuk membangun sistem pencatatan pelaporan keuangan yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Konsep Standar Pemeriksaan Keuangan Negara. 2003.mencapai ketepatwaktuan pelaporan. 18-30. Hal. Vol. Standar Akuntansi Pemerintahan: Telaah Kritis PP Nomor 24 Tahun 2004. An institutional perspective on performance measurement and management in the ‘new public sector’.

Indriasari. 2008. dan Politik. Kelemahan Desain dan Pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal. Pusat Tahan DAU Daerah. M. 2 Hal. New York. Hal. J. Hair. Multivariate Data Analysis. J. 2009. Rowan dan Maurice Pendlebury. BPFE. Temuan BPK: Laporan Keuangan Pemda Tidak Layak. 2005. Fourth Edition. Henley. Mardiasmo. Hevesi. Inc. 1996. Marschke.osc. Sosial. Technical and Timetable Issues. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Likierman. Working Paper. Chapman dan Hall. Analisis Laporan Keuangan Daerah: Panduan Bagi Eksekutif. 214-228. Imelda. 25 Januari 2007.id. A. Anderson.go. 2005. Gerald. Whiteoak. Rolph E. Fifth Edition. Whole of Government Accounts Developments in the United Kingdom: Conceptual. McGraw-Hill. 2 No. Barry J. 2003 Making Government Accountable: Lessons from a Federal Job Training Program.itjen. I. Akses tanggal 17 November 2009 Jones. Desi dan Ertambang Nahartyo. 1. 2003. Yogyakarta. 31 August to 2 September 2008. Perrin. UPP STIM YKPN. dan Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi. Damodar N. presented at the Siena Whole of Government Accounting conference.indosiar. Mahmudi. Indralaya. David. 2006. Pascal Courty University 34 . Vol. Standards for Internal Control in New York State Government. Peran Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Alan. Dan Pengendalian Intern Akuntansi Terhadap Nilai Informasi Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Pada Pemerintah Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Ilir). www.Gujarati.itjen. dan J. 2007. 2008. Black. Pengaruh Kapasitas Sumberdaya Manusia. Pemanfaatan Teknologi Informasi.go.F. 2006. Inc.depkeu. Sixth Edition. Hartono. Prentice Hall International. Lapsley. Jurnal Akuntansi Pemerintah. Disampaikan pada SNA Pontianak. Universitas Sriwijaya. Konsep dan Aplikasi PLS untuk penelitian Empiris. D. working paper. Vol. Basic Econometrics. Jurnali. Public Sector Accounting. Evans. 2006. W. tahun 2008 Indosiar.us. J dan Abdillah. 117. William C. 2002. Akses tanggal 26 Desember 2009. 1992. G.. Tatham. 5 No. Public Sector Accounting and Financial Control.depkeu.id Akses tanggal 23 November 2009 -------------------. Skripsi. London: Pitman. Kamis.com Akses tanggal 26 Desember 2009 Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan RI..ny. Heald. dan Ronald L. Upper Saddle River. Perwujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik: Suatu Sarana Good Governance. 2007. Babin. Pengaruh Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah (SIAKD) Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. 2005. www. Pengaruh Faktor Kesesuaian Tugas-Teknologi dan Pemanfaatan TI terhadap Kinerja Akuntan Publik. www. DPRD. Teddy dan Bambang Supomo. Koran SINDO.state. www.

2003. Pebruari. Cerullo. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. No. Pikiran Rakyat.or. Akses 12 Januari 2010 Sekaran. V. 27 April 2007. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Management Science.B. Vol. 3 No.425-475. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Triyuwono. DPRD Kemungkinan Panggil Gubernur: Dipertanyakan Ketidaksesuaian LPJ. www. Wahana Komputer. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. State University of New York. 5066. BPK Baru Audit 80 Persen APBD. 2002. 2005.id.27.com.. 151-167. Sistem Akuntansi Pemerintah Lemah. Volume XIX Nomor 1. and Davis. 2 Hal. 2010 Tinjauan Teoritis Sistem Informasi Akuntansi. Lintasan Ekonomi. A Theoretical Extension of the Technology Acceptance Model: Four Longitudinal Field Studies. Konsistensi Praktik Sistem Pengendalian Intern dan Akuntabilitas pada Lazis (Studi Kasus di Lazis X Jakarta). Mardhani. 2003. pp. 2000. New York. Edisi Ketiga.. Peranan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Dalam Meningkatkan Akuntabilitas Keuangan dan Implikasi UU No. John Wiley and Sons Inc. Mei. Sabtu. Michael J. J. Media Indonesia.google. Joseph.gtzsfdm. Accounting Information 35 . Yogyakarta. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Research Methods For Business: A SkillBuilding Approach. Selasa. Akses pada tanggal 17 Oktober 2009. No. New York. 2005. MIS Querterly. Penerbit ANDI. Riasetiawan. M. Republik Indonesia. BPFE. Tim GTZ-USAID/CLEAN Urban. Davis. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.186-204.C.at Albany. September. dan Bernard Wong-On-Wing.Hal.. Pengembangan Kapasitas Pemerintahan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Tim GTZ-Support for Decentralization Measures/P4D. www. 17 Desember 2005. W. Panduan Aplikatif Sistem Akuntansi Online Berbasis Komputer. F...D.G. Wilkinson.46. Iwan dan Roekhudin. User Acceptance of Information Technology: Toward a Unified View.D. Vasant Raval. -------------------. 9 Desember 2006. Yogyakarta. Vol.2.3. Nunnally. 22/25 Tahun 1999. Mc GrawHill. 2000. -------------------. -------------------. Laporan Akhir: Studi Pengkajian Kebutuhan Pengembangan Kapasitas bagi Pemerintah Daerah dan DPRD. __________. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Venkatesh. Suwardjono. 1978. Vol. 2003. Jilid II: Sumber Daya Manusia Aparatur dan Kelembagaan Pemerintah. Uma. Pengembangan Kapasitas bagi Pemerintahan Daerah-Suatu Kerangka Kerja bagi Pemerintah dan Dukungan Donor. Psychometric Theory. 2000. Moris. and Davis F. Sugijanto. -------------------. pp. G. Januari 2001. Suara Karya.

Inc. Fourth Edition. 36 . World Bank. 2007.Systems: Essential Concepts and Applications. John Wiley and Sons. Pengelolaan Keuangan Publik di Aceh: Mengukur Kinerja Pemerintah Daerah di Aceh. Maret.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful