Perencanaan Penanggulangan Bencana Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang

berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana,tanggap darurat, dan rehabilitasi. Pada dasarnya penyelenggaraan adalah tiga tahapan yakni : 1. Pra bencana yang meliputi: • • situasi tidak terjadi bencana situasi terdapat potensi bencana

2. Saat Tanggap Darurat yang dilakukan dalam situasi terjadi bencana 3. Pascabencana yang dilakukan dalam saat setelah terjadi bencana

Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar skegiatan dalam setiap tahapan dapat berjalan dengan terarah, maka disusun suatu rencana yang spesifik pada setiap tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana.
1. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana, dilakukan penyusunan Rencana

Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan), yang merupakan rencana umum dan menyeluruh yang meliputi seluruh tahapan / bidang kerja kebencanaan. Secara khusus untuk upaya pencegahan dan mitigasi bencana tertentu terdapat rencana yang disebut rencana mitigasi misalnya Rencana Mitigasi Bencana Banjir DKI Jakarta.
2. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana dilakukan penyusunan

Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi bencana tertentu (single hazard) maka disusun satu rencana yang disebut Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).
3. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational Plan) yang merupakan

operasionalisasi/aktivasi dari Rencana Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang telah disusun sebelumnya.
4. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan (Recovery Plan) yang

meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pada pasca bencana. Sedangkan

maka untuk mengantisipasi kejadian bencana dimasa mendatang dilakukan penyusunan petunjuk/pedoman mekanisme penanggulangan pasca bencana. Proses Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana : . Rencana penanggulangan bencanaditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Penyusunan rencana penanggulangan bencana dikoordinasikan oleh: 1. BNPB untuk tingkat nasional 2. BPBD kabupaten/kota untuk tingkat kabupaten/kota. Setiap rencana yang dihasilkan dalam perencanaan ini merupakan program/kegiatan yang terkait dengan pencegahan. mitigasi dan kesiapsiagaan yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Perencanaan penanggulangan bencana merupakan bagian dari perencanaan pembangunan. Rencana penanggulangan bencana ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.jika bencana belum terjadi. Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Perencanaan penanggulangan bencana disusun berdasarkan hasil analisis risiko bencana dan upaya penanggulangannya yang dijabarkan dalam program kegiatan penanggulangan bencana dan rincian anggarannya. BPBD provinsi untuk tingkat provinsi 3.

Pengenalan dan Pengkajian bahaya Pengenalan Kerentanan Analisis Kemungkinan Dampak Bencana Pilihan Tindakan Penanggulangan Bencana Mekanisme Penanggulangan Dampak Bencana Alokasi Tugas Dan Peran Instansi .

Pengarus-utamaan PB dalam perencanaan pembangunan Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi aktif antara lain: 1. 4. Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian. dam. Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan. Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat. Pembuatan pedoman/standar/prosedur 4. Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah. seperti: tanggul. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang. seperti forum 10. 3. ijin mendirikan bangunan (IMB). Penelitian / pengkajian karakteristik bencana 6. larangan memasuki daerah rawan bencana dsb. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat. Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana 9. Tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi pasif antara lain adalah: 1. Pembuatan brosur/leaflet/poster 5.Pencegahan dan Mitigasi Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang dilakukan. mengamankan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana. 5. 6. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana. 7. bahaya. Pengkajian / analisis risiko bencana 7. Adakalanya kegiatan mitigasi ini . 3. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah. Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih aman. penahan erosi pantai. dan peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana. bangunan tahan gempa dan sejenisnya. Penyusunan peraturan perundang-undangan 2. Internalisasi PB dalam muatan lokal pendidikan 8. yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif. bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bencana. 2.

5. pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital. pendidikan) dan yang bersifat struktural (berupa bangunan dan prasarana). Pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi setiap sektor Penanggulangan bencana (SAR. Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi: 1. Upaya yang dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi daerah yang terkena bencana yang serba tidak . sosial. prasarana dan pekerjaan umum). pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi. 4. dan 6. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai teridentifikasi akan terjadi. Kesiapsiagaan Kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa. penyuluhan. kesehatan. penentuan status keadaan darurat bencana. 2. Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumberdaya/logistik. 3. Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan) 8. Mobilisasi sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan) Tanggap Darurat Tahap Tanggap Darurat merupakan tahap penindakan atau pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana. 2. pemenuhan kebutuhan dasar. 6. guna menghindari bertambahnya korban jiwa.digolongkan menjadi mitigasi yang bersifat non-struktural (berupa peraturan. Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini (early warning) 7. Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu guna mendukung tugas kebencanaan. Pemulihan Tahap pemulihan meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. dan sumber daya. kerugian. kegiatan yang dilakukan antara lain: 1. perlindungan terhadap kelompok rentan. 3. penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana. kerugian harta benda dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan 4. 5. Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur pendukungnya. kerusakan.

pemulihan keamanan dan ketertiban 9. ekonomi. penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana 5. pemulihan fungsi pelayanan publik Sedangkan tahap rekonstruksi merupakan tahap untuk membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna. pembangunan kembali prasarana dan sarana. 2. dunia usaha dan masyarakat 6. pemulihan fungsi pemerintahan. peningkatan fungsi pelayanan publik 8. agar kehidupan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali. pembangunan kembali sarana sosial masyarakat 3. perbaikan lingkungan daerah bencana 2. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat 4. partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan. ekonomi. rekonsiliasi dan resolusi konflik 7. pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat 4. Mekanisme Penanggulangan Bencana Mekanisme penanggulangan bencana yang akan dianut dalam hal ini adalah mengacu pada UU . perbaikan prasarana dan sarana umum 3. pemulihan sosial. peningkatan kondisi sosial. pelayanan kesehatan 6. 1. dan budaya 8. Oleh sebab itu pembangunannya harus dilakukan melalui suatu perencanaan yang didahului oleh pengkajian dari berbagai ahli dan sektor terkait.menentu ke kondisi normal yang lebih baik. dan budaya 7. pemulihan sosial psikologis 5. dan 10. peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pada saat Darurat bersifat koordinasi. Sektor Lingkungan Hidup. Sektor Perhubungan. 5. Dari peraturan perundangundangan tersebut di atas. . dan deteksi dini dalam pencegahan bencana. dinyatakan bahwa mekanisme tersebut dibagi ke dalam tiga tahapan yaitu : 1. merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. sandang. merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan para medis 3. advokasi. Secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut : 1. Sektor Keuangan. merencanakan kebutuhan pangan. Pada pasca bencana bersifat koordinasi dan pelaksana. Sektor Sosial. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral. merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana. Peran dan Fungsi Instansi Pemerintahan Terkait Dalam melaksanakan penanggulangan becana di daerah akanmemerlukan koordinasi dengan sektor. Sektor Pekerjaan Umum. Sektor Kesehatan. 11. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi 4.No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana 9. komando dan pelaksana 3. merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif khususnya kebakaran hutan/lahan 10. Pada pra bencana maka fungsi BPBD bersifat koordinasi dan pelaksana 2. merencanakan tata ruang daerah. merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi sebelumnya 7. Sektor Pemerintahan. mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah 2. Sektor Kehutanan. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi. melakukan deteksi dini dan informasi cuaca/meteorologi dan merencanakan kebutuhan transportasi dan komunikasi 6. Sektor Kelautan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. 8.

Swasta Peran swasta belum secara optimal diberdayakan. Peran dan Potensi Masyarakat 1. 6. Lembaga Internasional . dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. pada saat dan pasca bencana. rehabilitasi dan rekonstruksi. 2. kejadian bencana serta upaya penanggulangannya. 13. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan nasional dalam menghadapi bencana.12. Masyarakat Masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu menangani bencana sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar. Lembaga Non-Pemerintah Lembaga-lembaga Non Pemerintah pada dasarnya memiliki fleksibilitas dan kemampuan yang memadai dalam upaya penanggulangan bencana. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat. Dengan koordinasi yang baik lembaga Non Pemerintah ini akan dapat memberikan kontribusi dalam upaya penanggulangan bencana mulai dari tahap sebelum. 3. TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR. Untuk itu peran media sangat penting dalam hal membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana melalui kecepatan dan ketepatan dalam memberikan informasi kebencanaan berupa peringatan dini. Sektor Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi. melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana. Untuk itu diperlukan kontribusi pemikiran dari para ahli dari lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian. Media Media memiliki kemampuan besar untuk membentuk opini publik. 4. Perguruan Tinggi / Lembaga Penelitian Penanggulangan bencana dapat efektif dan efisien jika dilakukan berdasarkan penerapan ilmupengetahuan dan teknologi yang tepat. tanggap darurat. serta pendidikan kebencanaan kepada masyarakat. 5.

mengkaji data atau informasi yang ada baik (primer atau sekunder). 2) Mengaktifkan Pusdalops penanggulangan Bencana tingkat Provinsi. survei cepat maupun melalui pencatatan lainnya. saat tanggap darurta maupun pasca bencana. Kegiatan sektoral dibiayai dari anggaran masing-masing sektor yang bersangkutan. Bahkan Menteri Kesehatan RI telah mengeluarkan keputusan Nomor: 145/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan yang salah satu isinya sebagai berikut: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi melakukan kegiatan: 1) Melapor kepada Gubernur dan menginformasikan kepada PPK Depkes tentang terjadinya bencana atau adanya pengungsi. baik pada saat pra bencana. Pendanaan Sebagian besar pembiayaan untuk kegiatan-kegiatan Penanggulangan bencana terintegrasikan dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan dan pembangunan yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja nasional. menugaskan Rumah . Assessment dapat dilakukan dengan pengamatan visual dengan cara melakukan observasi lapangan di daerah bencana dan sekitarnya. wawancara.Pada dasarnya Pemerintah dapat menerima bantuan dari lembaga internasional. propinsi atau kabupaten/kota. Namun demikian harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan menggunakan buku pedoman pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan. bila ada kebutuhan bantuan obat dan perbekalan kesehatan. Rapid Health Assesment (RHA) dilakukan untuk menentukan tindakan dan bantuan yang diperlukan. Dengan adanya RHA ini diharapkan tindakan dan bantuan dapat terdistribusi dengan cepat dan tepat. 3) Berkoordinasi dengan Depkes dalam hal ini PPK. Rapid Health Assesment Rapid Health Assesment (Penilaian Cepat Kesehatan) merupakan suatu rangkaian siklus manajemen kesehatan pada situasi bencana yang harus dilakukan sesaat setelah terjadi bencana dan dilakukan secara cepat. 4) Berkoordinasi dengan Rumah Sakit Provinsi untuk mempersiapkan menerima rujukan dari lokasi bencana atau tempat penampungan pengungsi. Bila diperlukan.

3) Mengajukan kebutuhan obat dan peralatan lain yang diperlukan. 6) Berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk melakukan “Rapid Health Assessment” atau evaluasi pelaksanaan upaya kesehatan. maka sebagai koordinator penanggulangan bencana nasional adalah Sekjen Depkes. melakukan kegiatan: 1) Berkoordinasi dengan anggota Satlak PB dalam penanggulangan bencana. 5) Berkoordinasi dengan Rumah Sakit rujukan (RS Pendidikan) di luar Provinsi untuk meminta bantuan dan menerima rujukan pasien. obat dan perbekalan kesehatan ke lokasi bencana. 7) Memobilisasi tenaga kesehatan untuk tugas perbantuan ke daerah bencana. 10)Apabila kejadian melampaui batas wilayah.Sakit Provinsi untuk mengirimkan tenaga ahli kesehatan ke lokasi bencana atau tempat penampungan pengungsi. 5) Menghubungi Puskesmas di sekitar lokasi bencana untuk mengirimkan dokter. Direktur Rumah Sakit Provinsi melakukan kegiatan: 1) Mengadakan koordinasi dengan Rumah Sakit Kabupaten/Kota untuk mengoptimalkan sistem rujukan. 4) Menyiapkan dan mengirim tenaga kesehatan. 9) Menuju lokasi terjadinya bencana atau tempat penampungan pengungsi. 2) Menyiapkan instalasi gawat darurat dan instalasi rawat inap untuk menerima penderita rujukan dan melakukan pengaturan jalur evakuasi. 8) Berkoordinasi dengan sektor terkait untuk penanggulangan bencana. . 2) Mengaktifkan Pusdalops Penanggulangan Bencana Tingkat Kabupaten/Kota. perawat dan peralatan yang diperlukan termasuk ambulans ke lokasi bencana. 4) Mengirimkan tenaga dan peralatan ke lokasi bencana bila diperlukan. 3) Berkoordinasi dengan RS Kabupaten/Kota termasuk RS Swasta Rumkit TNI dan POLRI untuk mempersiapkan penerimaan penderita yang dirujuk dari lokasi bencana dan tempat penampungan pengungsi. 6) Melakukan Penilaian Kesehatan Cepat Terpadu (Integrated Rapid Health Assessment). Tingkat Kabupaten/Kota Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setelah menerima berita tentang terjadinya bencana dari Kecamatan.

” . Direktur Rumah Sakit Kabupaten/Kota melakukan kegiatan: 1) Menghubungi lokasi bencana untuk mempersiapkan instalasi gawat darurat dan ruang perawatan untuk menerima rujukan penderita dari lokasi bencana dan tempat penampungan pengungsi. Kepala Puskesmas di sekitar lokasi bencana melakukan kegiatan: 1) Mengirimkan tenaga dan perbekalan kesehatan serta ambulans/alat transportasi lainnya ke lokasi bencana dan tempat penampungan pengungsi. 4) Menyerahkan tanggung jawab pada Kadinkes Kabupaten/Kota apabila telah tiba di lokasi. 2) Melaporkan kepada Kadinkes Kabupaten/Kota tentang terjadinya bencana. maka sebagai penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. maka sebagai penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 9) Melakukan surveilans epidemiologi terhadap penyakit potensial wabah. Tingkat Kecamatan Kepala Puskesmas di lokasi bencana melakukan kegiatan: 1) Beserta staf menuju lokasi bencana dengan membawa peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan triase dan memberikan pertolongan pertama.7) Melakukan penanggulangan gizi darurat. pengendalian vektor serta pengawasan kualitas air dan lingkungan. 5) Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah kecamatan. 2) Membantu melaksanakan perawatan dan evakuasi korban serta pelayanan kesehatan pengungsi. 3) Melakukan Initial Rapid Health Assessment (Penilaian Cepat Masalah Kesehatan Awal). 3) Menghubungi RS Provinsi tentang kemungkinan adanya penderita yang akan dirujuk. 4) Menyiapkan dan mengirimkan tenaga dan perlatan kesehatan ke lokasi bencana bila diperlukan. 10)Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah Kabupaten/Kota. 8) Memberikan imunisasi campak di tempat pengungsian bagi anak-anak dibawah usia 15 tahun. 2) Menyiapkan instalasi gawat darurat dan instalasi rawat inap untuk menerima rujukan penderita dari lokasi bencana atau tempat penampungan pengungsi dan melakukan pangaturan jalur evakuasi.

kondisi lingkungan (sebagai ‘risk factors’) dan jenis bantuan awal yang diperlukan segera. perlu melihat dampak bencana terhadap: - Kesehatan komunitas korban: fisik maupun emosional. pangan. Untuk memahami masalah utama yang ada ini. komunikasi. antara lain: Informasi tentang Kondisi Darurat • • Bencana apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Selain itu perlu juga diketahui mengenai perkiraan jumlah korban (meninggal maupun luka). Apa saja masalah utama yang ada sekarang dan seberapa mendesak masalah tersebut harus ditangani. Ini dilakukan untuk menetukan jenis bantuan awal yang dibutuhkan segera. Integrated Rapid Health Assessment (Penilaian Masalah Kesehatan Terpadu) menindaklanjuti assessment awal dan mendata kebutuhan para korban di shelter pengungsian. listrik. Masalah . Initial Rapid Health Assessment (Penilaian Masalah Kesehatan Awal) yang dalam hal ini dilakukan oleh petugas kesehatan tingkat kecamatan dibawah tanggung jawab Kepala Puskesmas setempat. fasilitas sanitasi dan kondisi tempat pengungsian. serta penyakit menular baik yang mulai terjadi maupun resiko yang ada.Rapid Health Assessment dibagi menjadi dua yaitu: a. Kesehatan fisik menyangkut ketersediaan dan akses komunitas terhadap infrastruktur kesehatan. Pengumpulan data tersebut dapat dipergunakan untuk mengukur besarnya masalah yang berkaitan dengan kesehatan akibat bencana maupun mengidentifikasi kebutuhan untuk penanggulangan bencana tersebut. memberikan imunisasi. pelayanan kesehatan. b. obat-obatan (produk kimia maupun obat tradisional). endemisitas penyakit menular setempat. tenaga ahli kesehatan (medis maupun paramedis. ketersediaan air bersih. Data-data yang dikumpulkan antara lain luas area geografi yang terkena bencana. Dengan adanya assessment terpadu ini kita dapat melakukan penanggulangan gizi. termasuk tenaga kesehatan tradisional). melakukan surveilans epidemiologi terhadap penyakit potensial sehingga kejadian penyakit di lokasi bencana dapat dikontrol. kondisi SDM kesehatan yang ada di lokasi. status sarana transportasi. Silvia Fanggidae dalam Draft#3 Manual Manajemen dan Sistem Penanganan Kondisi Darurat (Emergency Management Manual) menguraikan beberapa informasi yang perlu diketahui dalam sebuah assessment. perkiraan jumlah pengungsi. kondisi penyakit potensial KLB & kecenderungannya.

Ketersediaan dan akses terhadap makanan ini dapat dirinci menjadi makanan pokok (sumber karbohidrat) serta makanan yang mengandung zat nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh manusia untuk bisa hidup dan beraktifitas secara normal. - - • Skala dampak bencana - Berapa banyak orang yang terkena dampak saat itu. - Ketersediaan dan akses komunitas terhadap sumber penghasilan. dari segi jumlah. mutu dan keberlanjutannya. Penilaian situasi awal yang dimaksudkan dalam keputusan Menteri Kesehatan RI tersebut merupakan hasil dari Initial Rapid Health Assessment .emosional menyangkut berbagai fenomena gangguan mental dalam berbagai tingkatan dari yang ringan sampai yang berat. dalam hal ini apakah terjadi degradasi lingkungan yang signifikan dan berbahaya bagi kehidupan selanjutnya. Kualitas dan jumlah penampungan. berfungsi untuk mencegah pertambahan/menurunkan tingkat kematian dan jatuhnya korban akibat penyakit melalui pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. Hubungan sosial: antar pengungsi maupun antara pengungsi dengan masyarakat lokal di sekitar penampungan korban. Lingkungan: dampak bencana dan pengungsian terhadap kualitas lingkungan hidup. Ketersediaan dan akses komunitas pada makanan pada saat itu maupun dalam jangka waktu tertentu ke depan. - - Ketersediaan dan akses komunitas terhadap air bersih: jumlah dan kualitas. yang mungkin dapat terlihat dalam penilaian kondisi. Sanitasi atau kebersihan lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkat resiko penyebaran penyakit menular. berapa besar kelompok rentan yang ada dan berapa yang beresiko berdasarkan penilaian terhadap kemungkinan perkembangan masalah? - Seberapa luas wilayah yang terkena dampak bencana tersebut.” Selain itu dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1357/MENKES/SK/XII/2001 tentang Standar Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Penanganan Pengungsi dijelaskan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat korban bencana didasarkan pada penilaian situasi awal serta data informasi kesehatan berkelanjutan.

Begitu juga Integrarted Rapid Health Assessment yang disebutkan dalam keputusan di atas sebagai data informasi kesehatan berkelanjutan. .yang sudah dijelaskan di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful