Askep Efusi Pleura

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 12 October 2011 di Kep Respirasi - 3 komentar

Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer. ataupun akibat proses keradangan seperti tuberculosis dan pneumonia.2. masih banyak penderita dengan efusi pleura yang telah di tatalaksana namun tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.2 Tujuan Khusus 1. tumor mediastinum. Kejadian efusi pleura yang cukup tinggi apalagi pada penderita keganasan jika tidak ditatalaksana dengan baik maka akan menurunkan kualitas hidup penderitanya dan semakin memberatkan kondisi penderita.ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) EFUSI PLEURA BAB 1 PENDAHULUAN 1.2 1. Maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura.3. Hambatan reabsorbsi cairan tersebut mengakibatkan penumpukan cairan di rongga pleura yang disebut efusi pleura. Efusi pleura tentu mengganggu fungsi pernapasan sehingga perlu penatalaksanaan yang baik. Sementana 95% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura. Mengidentifikasi konsep efusi pleura meliputi definisi. Karena hal tersebut. 1.1 Tujuan Umum Mengetahui bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura 1.3 Tujuan 1.1 Latar Belakang Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura dapat terjadi oleh banyak hal diantaranya adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah konsep penyakit efusi pleura? Bagaimanakah proses asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura? 1. maka pemulihannya menjadi lebih sulit. Untuk itu maka perawat perlu mempelajari tentang konsep efusi pleura dan penatalaksanaannya serta asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura. penyakit ginjal. gangguan pada organ ini seperti adanya efusi pleura dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan bahkan dapat mempengaruhi kerja sistem kardiovaskuler yang dapat berakhir pada kematian.1 1. etiologi. Perbaikan kondisi pasien dengan efusi pleura memerlukan penatalaksanaan yang tepat oleh petugas kesehatan termasuk perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan di rumah sakit.2.3. Pasien dengan efusi pleura yang telah diberikan tata laksana baik diharapkan dapat sembuh dan pulih kembali fungsi pernapasannya. manifestasi klinis dan patofisiologi . namun karena efusi pleura sebagian besar merupakan akibat dari penyakit lainnya yang menghambat reabsorbsi cairan dari rongga pleura. Paru-paru adalah bagian dari sistem pernapasan yang sangat penting.

penyakit ginjal. 2. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. Efusi dapat berupa cairan jernih. 1. virus). 1995) 2.1 Mahasiswa memahami konsep dan proses keperawatan pada klien dengan gangguan efusi pleura sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah respirasi. efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan: 1. 2000). eksudat.4 Manfaat 1.2 Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. Secara normal. tumor mediatinum. Peningkatan produksi cairan berlebih. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung) Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia) Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri) Berkurangnya absorbsi limfatik Penyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah: 1. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. pneumonia. Di Indonesia 80% karena tuberculosis.1 Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Secara patologis. intervensi dan evaluasi 1.2. 4. Mengidentifikasi proses keperawatan pada efusi pleura meliputi pengkajian.4. analisa data dan diagnosa.2 Etiologi Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. 2.4. yang mungkin merupakan transudat. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. (Price C Sylvia. karena radang (tuberculosis. bronkiektasis. Transudat . Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi : 1. Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman primer intrapleura dan tumor primer pleura. 3. 2002).

dan infeksi. Berat Jenis 6. Terutama PMN 2. Amilase 11. Hal tersebut berdasarkan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskuler (tekanan osmotic yang dilakukan oleh protein). Protein Total 4. Biasanya banyak 1. LDH 5. (-)/(+) 3. (-) 2. Penurunan tekanan osmotic koloid darah c. Ketika jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh terjadilah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya menyebabkan hipertensi kapiler sistemik. (-) 12. hipoproteinemia pada nefrotik sindrom. = / < plasma 5. Cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut selanjutnya menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura. Peningkatan pembentukan cairan dari pleura parietalis karena hipertensi kapiler sistemik dan penurunan reabsorbsi menyebabkan pengumpulan abnormal cairan pleura. kardiovaskuler. Bervariasi. virus. . Bekuan Eksudat 1. limfoma. 2008: 99) Indikator 1. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik b. tromboembolik. efusi terjadi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat) sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma (transudat). Neoplasma (Ca. TBC. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : a. <60% serum 7. >1000/uL 5. Kuning pucat dan jernih 2. >60% serum 4. Hitung jenis 3. jamur. sedikit 9. Eritrosit 2. obstruksi vena cava superior. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Perbedaan cairan transudat dan eksudat (Somantri. Bakteri 12. <1000 /uL 8. Infeksi (pneumonia.3 Patofisiologi Pada umumnya. Peningkatan tekanan negative intrapleural d. Pasien dengan pleura yang awalnya normal pun dapat mengalami efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif. Contoh bagi efusi pleura dengan pleura normal adalah payah jantung kongestif. Warna 2. <50% serum 10. (-) / (+) 11. Jernih. Eksudat 1.Gagal jantung. dan leukemia) Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. Leukosit 1. 0. keruh. sirosis hepatis dan ascites. >50% serum 10. purulen. 1. dialisis peritoneal. metastasis. Glukosa 6. Fibrinogen 10. parasit. Adanya hipoalbuminemia juga akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura. Peningkatan pembentukan cairan pleura dan berkurangnya reabsorbsi. =plasma 11. >50% serum 3. dan atelektasis akut. Efusi dalam hubungannya dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder (efek samping dari) peradangan atau keterlibatan neoplasma. MN (limfosit/mesotel) 6. dan hemoragik 2. (-) Transudat 1. pasca bedah abdomen. paru-paru. <1018 7. dan abses) 2. 4-6 % atau lebih 7. >1018 4.3-4% 12.

untuk mencegah penumpukan kembali cairan.4 Manifestasi Klinis Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar. dipsnea mungkin saja tidak terdapat. analisis sitologi untuk sel-sel malignan. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. . 5. subfebril (tuberkulosisi). 6. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar.Luas efusi pleura yang mengancam volume paru-paru. seosis) Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan. Pneumonia akan menyebabkan demam. dan pH. 3. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. Egofoni akan terdengar di atas area efusi. menggigil. dan torakosentesis. pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki. pekak saat diperkusi. laktat dehidrogenase. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. dan untuk menghilangkan dipsnea. menggigil. pemeriksaan kimiawi (glukosa. sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain. Bila terjadi efusi pleural kecil sampai sedang. pemeriksaan fisik. untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). amylase. Segitiga Grocco-Rochfusz. pada perkusi didapati daerah pekak. penipisan protein dan elektrolit. 2. karena cairan akan berpindah tempat. dinding dada cenderung rekoil ke luar sementara paru-paru cenderung untuk rekoil ke dalam (paru-paru tidak dapat berkembang secara maksimal melainkan cenderung untuk mengempis). penderita akan sesak napas. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi. Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru. Dalam batas pernapasan normal.5 Penatalaksanaan Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar. dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan. pewarnaan Gram. efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Bila cairan banyak. protein). dan kadang pneumotoraks. 2. hitung sel darah merah dan putih. panas tinggi (kokus). 4. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan. basil tahan asam (untuk tuberkulosis). Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri. pneumonia. sebagian akan tergantung atas kekuatan relatif paru-paru dan dinding dada. banyak keringat. banyak riak. 2. Didapati segitiga Garland. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif. Torasentesis berulang menyebabkan nyeri. Berikut tanda dan gejala: 1. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. dan nyeri dada pleuritis. yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas. dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dipsnea. ultrasound. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan. fremitus melemah (raba dan vocal). batuk.

seperti tetrasiklin. 1. CT – SCAN Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging klinik yang meliputi : 1. mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi. posedur diagnostic yang lebih jauh dilakukan untuk menetukan penyebabnya. 20 Oktober 2010 Jam Masuk No.6 Pemeriksaan Penunjang 1.Agens yang secara kimiawi mengiritasi. Foto Thorax Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva.45 : small cell Tanggal Pengkajian: 22 Oktober 2010 Jam Pengkajian : 12. dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. RM Diagnosa Masuk : 13. 2. Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial. evaluasi pengobatan.09.68. Jika cairan pleura merupakan eksudat. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax. Selang dilepaskan klemnya sesuai yang diresepkan. Setelah agens dimasukkan. mediatinum dan pembuluh darah besar 3. dan drainase dada biasanya diteruskan beberapa hari lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairan dan untuk meningkatkan pembentukan adhesi antara pleural viseralis dan parietalis. mendeteksi adanya efusi pleura Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA). pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari dalam paru-paru sendiri.00 WIB carcinoma + efusi plera (D) . dimasukkan ke dalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.00 WIB : 11. Modalitas penyakit lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada.7 WOC (Web Of Caution) DOWNLOAD : WOC ASKEP EFUSI PLEURA ASUHAN KEPERAWATAN FORMAT PENGKAJIAN Tanggal MRS : Rabu. Pengobatan untuk penyebab primer kemudian dilakukan. bedah pleurektomi. Disini perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus. bronkus. 2. dan terapi diuretic. selang dada diklem dan pasien dibantu untuk mengambil berbagai posisi untuk memastikan penyebaran agens secara merata dan untuk memaksimalkan kontak agens dengan permukaan pleural. 1. menentukan adanya tumor dan ukurannya 2.

Dalam sehari pasien mampu manghabiskan rokok 1 bungkus bahkan lebih. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti pasien. Surabaya. alergi. Jawa Timur : Ekspedisi di Perak Keluhan Utama : sesak napas Riwayat Penyakit Sekarang Pasien rujukan dari IRD RKZ dengan mula-mula sesak pada bulan Juli 2010. Tanda Tanda Vital Kesadaran compos mentis. DM. keringat dingin. Sesak hilang timbul. Keluarga mengatakan tidak ada riwayat keganasan. hal tersebut merupakan kurangnya sumber informasi bagi pasien. DM. alergi. Post operasi disuruh untuk control lagi bulan Oktober (pasien melakukan foto dada dan CT-scan). HT. batuk lama. keringat dingin. Sebelumnya tidak ada batuk darah.Ruang/ Kelas IDENTITAS Nama Umur Suku/ Bangsa Agama Alamat Pekerjaan : PALEM I/ 3 (Paru Laki) : Tn. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK 1. batuk berdarah. B : 53 tahun/ 3 bulan/ 5 hari : Jawa/ WNI : Khatolik : Candi Lontar blok 41-I/ 30. Sebelum sesak pasien mengeluh batuk selama kurang lebih selama satu bulan. Tanda-tanda vital: Suhu: 37˚C Nadi: 96×/ menit. Saat pengkajian pasien mengaku tidak mengerti bahwa pola hidupnya dapat mengakibatkan kanker paru. Pekerjaan pasien sebagai ekspedisi di perak yang selalu keluar pada malam hari. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Agustus 2010 pasien operasi hernia di RKZ (preoperasi melakukan rongent dan di katakana ada sesuatu di paru-paru). pasien ke UGD RKZ dan setelah di sana kurang lebih 1. dan mengkonsumsi obat batuk namun tidak sembuh. PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN Pasien tidak mengkonsumsi alcohol. Karena sesak bertambah hebat. tetapi pasien adalah perokok berat dimana dapat mengkonsumsi satu bungkus dalam sehari dan hal itu sudah dilakukan lebih dari 10 tahun. asma. Batuk tanpa disertai dahak. pasien mencoba tidur dengan posisi duduk.5 jam pasien dirujuk ke poli paru RS. Dr Soetomo karena keadaan ekonomi. Sistem Pernafasan (B1) . di sertai nyeri dada terutama saat beraktifitas dan terkadang juga pada malam hari sesak timbul kembali. RR:26x/menit TD:140/90mmHg 1. asma. HT. ketika pasien sesak.

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL Pasien tidak mengalami gangguan pada psikososial. tidak terdapat gangguan pendengaran. terdapat suara nafas tambahan berupa ronki di bagian dekstra apeks. kelainan tidak ada. tidak menggunakan traksi gips spalk. Pasien mengalami intoleransi aktifitas dikarenakan jika terlalu banyak bergerak. Sistem Perkemihan (B4) Menurut pasien.30. dan tidak terpasang kateter. Pasien tidak terpasang CVC sehingga CVP tidak terkaji. Terdapat hasil torakosintesis yang dilakukan pada pukul 11. 1. Sistem Pencernaan (B5) Mulut pasien tampak bersih. memakai arloji di tangan sebelah kanan pasien untuk melihat waktu kapan dia harus menjalani pengobatan. peristaltic 9x/ menit dengan suara peristaltic terdengar lemah. alat genetalia nya dalam kondisi bersih. CRT normal kurang dari tiga detik.Nafas pasien tersengal-sengal cepat. menggosok gigi 2x sehari. permukaaan kulit terlihat mengkilat. jam istirahat. Dan pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur. akan timbul sesak napas. terasa lebih sesak meningkat/ bertambah setelah beraktifitas dan terdapat nyeri. dan tidak mengalami gangguan penciuman. tidak lupa untuk membersihkan telinga serta lubang hidung setiap hari. Irama nafas teratur terdapat dispnoe. 1. Kuku terlihat bersih dan pendek. Foto Thorax . Istirahat pasien 8 jam/ hari. pakaian ganti sehari 2x. lidah merah. Adanya secret dan batuk produktif tetapi batuk tidak efektif. gigi sempurna (tidak terdapat karies gigi). dan tidak mengalami keluhan kencing. hipoglikemia (-). Rambut putih hitam bersih. PERSONAL HYGIENE DAN KEBIASAAN Klien mengatakan mandi sehari 2x dan keramas 1-2 kali seminggu. Volume urin pasien normal. 1. BAB 1x sehari terakhir pada tanggal 22-10-2010 dengan konsistensi lunak warna kecoklatan. tidak terdapat dekubitus. Tidak ada pernafasan cuping hidung dan tidak ada retraksi otot bantu nafas. Namun setelah bangun tidur sering sesak nafas. Sistem Persyarafan (B3) Pasien tidak merasa pusing. dan makan. pasien tidak menggunakan alat bantu nafas. Tidak mengalami kelainan tulang belakang. suara nafas vesikuler. tidak bau mulut. Hiperglikemia (-). Pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan dapat kooperatif dengan tenaga medis.dan ternyata masih terdapat cairan di kavum pleura sebanyak 500 cc. 1. Gerak dada kiri dan kanan simetris. Sistem Kardiovaskuler (B2) Pasien tidak mengalami nyeri dada. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Semua nya terlihat bersih dan rapi. pasien tidak mengalami gangguan menelan. tidak mengalami fraktur. dan bau khas. Sistem Muskoleskeletal (B6) Pergerakan sendi pasien bebas. 1. pendek. 1. Sistem Endokrin Leher pasien tidak terlihat membesar. dan tekstur halus. membersihkan diri. saat pemeriksaan Pasien tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan tidak mengalami pembesaran kelenjar betah bening. Tidak terdapat luka operasi. lembab dan tidak ada stomatitis. hangat dan kering. nafsu makan menurun. irama jantung regular. dan akral merah.

CT – SCAN CT Scan 20-10-2010: Ca paru dextra ANALISIS DATA No.30 sebesar 500cc Foto Thorak 20-10-2010: efusi pleura dekstra 1. pendek –ICS melebar dekstra ↓ –retraksi (-) otot bantu nafas (-) –fremitus raba ↓ Pola napas tidak efektif ↓ Ekspansi paru menurun ↓ RR meningkat 2. – Terdapat Massa di broncus ronkhi pada bagian apeks dextra. ↓ O : – sesekali batuk tetapi tidak efektif. tidak efektif Respon silia berusaha menghilangkan massa dengan hipersekresi mukus ↓ Secret/mucus tertahan di saluran napas ↓ Ronkhi (+) ↓ Bersihan jalan napas tidak efektif S : Pasien mengeluh sesak Efusi Pleura napas saat bernapas. ↓ –sekret (+) putih kekuningan. 1 Data S : Pasien mengatakan batuk sesekali Etiologi Ca paru Masalah Bersihan jalan napas tidak efektif. kental –batuk produktif.Hasil torakosintesis pada tanggal 20-10-2010 sebesar 500cc Hasil torakosintesis 22-10-2010 pukul11. ↓ O: Akumulasi cairan pada – RR = 26 x/ menit rongga pleura – Denyut nadi = 96 x/menit – Pasien bernapas tersengal-sengal cepat. 2. . Pola napas tidak efektif.

Ekspansi paru tidak –sesak nyeri ↑ saat maksimal dipindahkan posisinya dari duduk ke berdiri ↓ Suplai oksigen menurun ↓ RR meningkat ↓ Distribusi oksigen ke seluruh tubuh menurun ↓ Terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh ↓ Timbul asam laktat ↓ Nyeri ↓ Intoleransi aktifitas S : Pasien mengeluh nyeri Efusi Pleura pada bagian dada (D). ↓ P : perpindahan posisi Cairan menekan dinding Q : nyeri sedang pleura R S : dada (D) : 5 ↓ Rangsangan pada nosiseptor nyeri Intoleransi aktifitas 4. S : Pasien mengeluh nyeri Efusi Pleura dada sesak saat beraktifitas yang berat. ↓ O : – Pasien tampak lemah. Nyeri T : muncul saat aktivitas ↓ O : Nadi 96x/menit.–perkusi redup (D) 3. ekspresi wajah Nyeri menyeringai/ kesakitan saat dipindahkan posisinya dari duduk ke berdiri. .

12. Lakukan postural drainage .RENCANA INTERVENSI Hari / Jam Diagnose Intervensi Rasional tangg keperawatan al (tujuan.0 jalan nafas . Obat yang membantu untuk mengencerkan dahak Secret bisa sehingga mudah keluar (+) dikeluarkan.0 Bersihan 1. 2. tertahan di 2. KH: 4. criteria hasil) 22. efektif 3. RR: 1620x/menit 3.45°) tidur 2010 tidak efektif mempermudah fungsi berhubunga pernafasan dengan n dengan menggunakan gravitasi. Ajarkan pasien untuk nafas 5. Berikan posisi semi fowler (30° 1. Untuk mengencerkan secret Ronkhi (-) dalam dan batuk efektif sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan. Memobilisasi secret untuk membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan. Peninggian kepala tempat 10. dan adanya untuk meningkatkan secret ekspansi paru. Nafas dalam membantu jalan nafas memenuhi kecukupan O2 dan memobilisasi secret untuk membersihkan jalan Tuj : 3 X 24 nafas dan membantu jam bersihan mencegah komplikasi jalan nafas pernafasan.

0 tidak efektif (30° . retraksi otot bantu nafas. dan untuk meningkatkan ekspansi paru. Klien patuh terhadap terapi 3.2 Intoleransi 10. 22. Berikan HE penyebab sesak 2. terutama air hangat. Berikan posisi semi fowler 10. 1. Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Rancang jadwal harian pasien 1. Tuj : 3X 24 jam pola nafas pasien efektif 1. Kolaborasi Lakukan torakosintesis ulang atau pemasangan WSD 1. Meningkatkan tingkat .12. Ajarkan pola nafas efektif (teknik nafas dalam) 1. Observasi TTV terutama RR dan nadi serta status pernafasan(pernafasan cuping hidung.0 aktivitas 2010 berhubungan 1.12. Mengurangi cairan pada kavum pleura sehingga ekspansi paru bisa maksimal dan sesak berkurang. Memantau pola nafas pasien 1.45°) 2010 berhubungan dengan penurunan ekspansi paru akibat akumulasi cairan di kavum plura. Kolaborasi oksigen tambahan sesuai dengan indikasi 2. Mengatur irama nafas sehingga meningkatkan suplai O2 2. 1. Kolaborasi pemberian ekspetoran pada pasien 5. Meningkatkan suplai oksigen KH: Sesak (-) RR: 1620x/menit Retraksi otot bantu nafas (-) Pernafasan cuping hidung (-) Pengembang an dinding dada simetris Cairan pungsi pleura (-) Nadi: 60100x/menit 22.kesimetrisan dinding dada) 3. Anjurkan pasien untuk banyak minum.1 Pola nafas 1.4.

Tingkatkan aktivitas secara bertahap dengan periode istirahat diantara dua aktifitas misalnya duduk dulu sebelum berjalan setelah tidur 2. Meningkatkan perfusi jaringan dan meningkatkan suplai oksigen 1. Tujuan : 3X24 jam meningkatka n toleransi aktivitas pasien toleransi aktivitas Px. Anjurkan pasien untuk melakukan tirah baring. Anjurkan individu untuk istirahat 1 jam setelah makan (misalnya berbaring dan duduk-duduk). KH : – Nyeri berkurang .dengan penurunan suplai 02 ke jaringan sekunder karena gangguan pola nafas tidak efektif. – Mampu beraktivitas secara mandiri 22. Meningkatkan complain paru-paru dan mencegah kelelahan yang berlebihan. Mengajarkan. Kolaborasi : pemberian oksigen setelah beraktivitas bila terjadi peningkatan status pernafasan 3.0 dada yang 2010 berhubungan Tehnik relaksasi: nafas dalam/ dengan distraksi penekanan dinding pleura oleh cairan efusi pleura 1. 1. KH: – Kelelahan berkurang – Toleransi terhadap aktivitas meningkat 1. Kolaborasi pemberian obat analgesic. Tujuan : nyeri berkurang sampai dengan hilang 3 X 24 jam 1. 1.12:2 Nyeri pada 1. Evaluasi kelemahan dan tingkat toleransi aktivitas Px. 10. Mencegah aktivitas Px yang berlebihan 2. Observasi respon individu terhadap aktivitas (status pernafasan dan pucat) 1.

Pasien toleran terhadap aktifitasnya sehari-hari. untuk mengetahui perubahan karakteristik nyeri setelah dilakukan penatalaksanaan. BAB 4 PENUTUP 4. 4.1 Simpulan Efusi pleural adalah adanya sejumlah besar cairan yang abnormal dalam ruang antara pleural viseralis dan parietalis. 2. Pasien menunjukkan pola napas normal Pasien dapat mengeluarkan secret sehingga bersihan jalan nafas efektif. 2 jenis ini penyebab dan strategi tata laksana yang berbeda. Untuk meminimalkan mobilisasi pasien. Pasien mengatakan bahwa nyeri berkurang atau dapat dikontrol. 4. sirosis hepatis dan ascites) atau eksudat (infeksi dan neoplasma) . menghindari puncak periode nyeri. dan memperbaiki fungsi pernafasan dan kenyamanan / koping emosi 5. Pasien menjadi tahu tentang kondisinya dan pengaturan obatnya. Evaluasi karakteristik nyeri (PQRST) 2. 3. efusi dapat berupa transudat(Gagal jantung. Bergantung pada cairan tersebut. alat dalam penyembuhan otot. Mengalihkan perhatian pasien terhadap rasa nyeri yang sedang dirasakan.skala (0–1) – Ekspresi menyeringai (-) – Nadi : 60–100 x/menit 1. Efusi pleura yang disebabkan oleh infeksi paru disebut infeksi infeksi parapneumonik. 3. Penyebab efusi pleura yang sering terjadi di negara maju adalah . diharapkan agar nyeri dapat berkurang. 5. Evaluasi 1.

pneumonia bakterialis.2 Saran Efusi pleura merupakan penyakit komplikasi yang sering muncul pada penderita penyakit paru primer. 15. Somantri.CHF. dan evaluasi. Efusi Pleura. Di akses 10 oktober 2010 pukul 19. 2010.com/2008/09/asuhan-keperawatan-klien-dengan-efusi.44 WIB 16. Keperawatan medical bedah. Di akses 10 oktober 2010 pukul 20. Muhammad dkk (ed). Kapita Selekta Kedokteran. Ed2. 13. 4. 2002. 17. pekak pada perfusi. Asuhan Keperawatan Klien dengan Efusi Pleura. Syamsuhidayat. Jakarta: Salemba Medika 8. Jakarta: EGC 7. Jakarta: EGC 10. Sumedi SKp. Ns. atau friction rub pleura. Pasien dapat datang dengan berbagai keluhan. atau nyeri bahu. Purnawan. Ilmu penyakit paru. Surabaya : Airlangga University Press 2. Price. Revisi). dengan demikian segera tangani penyakit primer paru agar efusi yang terjadi tidak terlalu lama menginfeksi pleura.wordpress. Abdul Azis. Irman.html.co. 11.. 1997. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Efusi Pleura. diagnosis. Suzanne. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah ( Ed8.1). Jakarta: EGC 3. Efusi yang lebih besar dapat menyebabkan penurunan bunyi nafas. E Mailyn.cc/efusi-pleura. penyebab paling sering adalah tuberculosis. 2000. 1995. nyeri dada.1. Jakarta: EGC 4. keganasan. Jakarta: EGC 5. http://maidungleekapay. http://elisasiregar. Amin. M. Wim de Jong.23 WIB 3 Komentar said pada : 24 February 2012 . Ed5. dan emboli paru. 1999. Smeltzer c. Siregar. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Media Aesculapius. Baughman. termasuk nafas pendek. Di Negara berkembang.Carolyn M. Pemeriksaan fisik dapat normal pada seorang pasien dengan efusi kecil.com/efusi-pleura. FKUI 6. Buku Ajar Ilmu Bedah (Ed. Elisa. Tucker. 2010. 1997.15 WIB 14. J. DAFTAR PUSTAKA 1. Di akses 11 oktober 2010 pukul 18. 1998. Jakarta: EGC 12. 2008. 2008. Hudak.blogspot. http://nieziz09. Vol. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit Ed4. Vol. 1982. Susan Martin. C Diane. Doenges. Ed3. 1989. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Sylvia A. Jakarta: EGC 9.

saya sangat tertarik."hasil askep nya sangat bagus....." nuzulul pada : 25 February 2012 "thanks .bisa jadi referensi resume :)" Tinggalkan Komentar Nama E-mail Web : : : tanpa http:// Komentar : Pengumuman    ." melmel pada : 08 April 2012 "askepnya bagus bangettt....... semoga bermanfaat.

Blogroll      FKP Unair Janur Nuzulul Official Lab UNAIR Visitor Komentar Terbaru      septiadiah di 4 Hari Menjadi Calon Ketua BEM Unair 2012 rirane di Askep Peritonitis Napitupulu novita di Askep Meningitis Esenfalitis yuniawan di 4 Hari Menjadi Calon Ketua BEM Unair 2012 Nuzulul di 4 Hari Menjadi Calon Ketua BEM Unair 2012 Arsip         January 2012 February 2012 March 2012 April 2012 September 2011 October 2011 November 2011 December 2011 Pengunjung 93349    Home Profil UNAIR Copyright � 2011 DSI Unair | Website Templates by Free CSS Templates .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful