P. 1
MAKALAH DIARE

MAKALAH DIARE

|Views: 977|Likes:

More info:

Published by: Aya ChEei XiCie'xiCie on May 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2013

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit gastroenteritris atau diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi angka insidensi diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris, 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini dikarenakan foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan oleh bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika, anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya yang mengalami serangan diare hingga 3 kali setiap tahun. Di Indonesia, khususnya di beberapa provinsi yakni Jakarta, Padang, Medan, Denpasar, Pontianak, Makassar dan Batam, penyebab terbanyak dari 2.812 pasien diare yang disebabkan oleh bakteri yang datang ke rumah sakit di provinsi-provinsi tersebut adalah Vibrio cholerae 01, diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01, dan Salmonella paratyphi A. Hal tersebut berdasarkan hasil analisa yang dilakukan di wilayah tersebut dari tahun 1995 hingga 2001. Berdasarkan uraian di atas tersebut, penulis mengangkat tema

Gastroenteritris Akut sebagai makalah yang digunakan untuk memenuhi tugas patofisiologi yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah patofisiologi.

1

1.2 TUJUAN

Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini, yakni: 1. untuk mengetahui tentang definisi Gastroenteritris Akut, 2. untuk mengetahui tentang faktor-faktor penyebab dari timbulnya Gastroenteritris Akut, 3. untuk mengetahui epidemiologi dari penyakit Gastroenteritris Akut khususnya di wilayah Indonesia, 4. untuk mengetahui patogenesis ataupun patofisiologi dari Gastroenteritris Akut, 5. untuk mengetahui manifestasi klinis yang ditimbulkan dari

Gastroenteritris Akut, 6. untuk mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan setelah Gastroenteritris Akut, 7. untuk mengetahui tentang pencegahan primer, sekunder, maupun tersier dari Gastroenteritris Akut, dan 8. untuk mengetahui penatalaksanaan maupun prognosis dari

Gastroenteritris Akut.

1.3 MANFAAT

Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini yakni:
1.

dapat mengetahui tentang definisi Gastroenteritris Akut,

2

2. dapat mengetahui tentang faktor-faktor penyebab dari timbulnya Gastroenteritris Akut, 3. dapat mengetahui epidemiologi dari penyakit Gastroenteritris Akut khususnya di wilayah Indonesia, 4. dapat mengetahui patogenesis ataupun patofisiologi dari

Gastroenteritris Akut, 5. dapat mengetahui manifestasi klinis yang ditimbulkan dari Gastroenteritris Akut, 6. dapat mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan setelah Gastroenteritris Akut,
7. dapat mengetahui tentang pencegahan primer, sekunder, maupun

tersier dari Gastroenteritris Akut, dan 8. dapat mengetahui penatalaksanaan maupun prognosis dari

Gastroenteritris Akut.

3

BAB 2 KONSEP PENYAKIT 2.et all.1 DEFINISI Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden.1996). Menurut WHO (1980). Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005.2 ETIOLOGI 4 . Selain itu. gastroenteritis adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari dimana buang air besar encer tersebut dapat atau tanpa disertai lendir dan darah. alergi atau keracunan zat makanan (Marlenan Mayers. 2. berlangsung kurang dari 14 hari. virus dan parasit yang patogen. Gastroenteritis juga dapat diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI. 1995). Sehingga Gastroenteritis Akut sendiri merupakan diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari. diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal. Gastroenteritis juga dapat merupakan kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi. 1965). Dari berbagai pengertian diatas. 1995). Berbeda halnya dengan diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari. gastroenteritis diartikan pula sebagai inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam. virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s. penulis dapat menyimpulkan bahwa Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri.

Bakteri Escherichia coli. Clostridium perfringens. bahan-bahan toksik. Salmonella typhi. Virus terdiri dari Rotavirus. Cacing: A. Di negara maju penyebab paling sering dikarenakan infeksi dari Norwalk virus. Campylobacter (Helicobacter) jejuni. Giardia lamblia. lumbricoides. T. T. cholerae. Streptococcus spp. Vibrio cholerae 01 dan 0139. dan Norwalk virus. Pola mikroorganisme penyebab gastroenteritis akut berbeda-beda berdasarkan umur. americanus. iskemik dan sebagainya. N.3 EPIDEMIOLOGI Pada tahun 1995. 5 . Gastroenteritis akut karena infeksi dapat ditimbulkan oleh: 1. yakni : Entamoeba hystolitica. Yersinia intestinalis. Parasit Golongan protozoa. Salmonella paratyphi A/B/C. Shigella flexneri. Helicobacter jejuni. gastroenteritis akut karena infeksi sebagai penyebab kematian pada lebih dari 3 juta penduduk dunia. sedangkan sekitar 10% karena sebabsebab lain antara lain obat-obatan. 2. dimana dua pertiga diantaranya tinggal didaerah atau lingkungan yang buruk. sollium. Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi. Adenovirus. trichiura. Vibrio cholera non 01. Salmonella sp. 2. vermicularis. saginata. Isospora sp.Penyebab dari gastroenteritis akut terdiri dari berbagai macam. Kematian karena diare akut di negara berkembang terjadi terutama pada anak-anak berusia kurang dari 5 tahun. sedangkan penyebab paling sering di negara berkembang adalah Enterotoxicgenic Escherichia coli (ETEC). Salmonella spp. Vibrio parachemolyticus. O. Shigella dysentriae. T. Clostridium difficile. 3. Trichomonas hominis. tempat dan waktu. Staphlyllococcus spp. A. Coccidosis. Rota virus dan V. duodenale.

Escherichia coli. merupakan petunjuk penting dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk gastroenteritis akut akibat infeksi. berpergian. 2. sehingga tersisa cairan dengan jumlah 150-250 ml yang akan ikut dalam pembentukan tinja. Sejumlah 90% dari cairan tersebut di usus besar akan direabsorbsi. data menunjukkan diare akut akibat infeksi masih menduduki peringkat pertama. 6 . air dan zat-zat lain menjadi terganggu. Faktor-faktor faali yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu sama lain. kurangnya sumber bahan makanan disertai cara penyimpanan yang tak memenuhi syarat. Sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia. empedu dan sebagainya). Cairan tersebut berasal dari luar (diet) dan dari dalam tubuh kita (sekresi cairan lambung. Di Amerika Serikat dengan perbaikan sanitasi dan tingkat pendidikan. Shigella. dan Yersinia berkurang berkisar 20-30%. misalnya saja. Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien gastroenteritis akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman terkontaminasi. Listeria. keterbatasan air bersih dalam jumlah maupun distribusinya. Sebagian besar (75-85%) dari jumlah tersebut akan direabsorbsi kembali di usus halus. sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu penghentian makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan gangguan waktu penyentuhan makanan dengan mukosa usus sehingga waktu penyerapan elektrolit. penggunaan antibiotik. prevalensi diare karena infeksi berkurang.4 PATOGENESIS PATOFISIOLOGI Cairan sebanyak kurang lebih 9-10 liter memasuki saluran pencernaan setiap harinya. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa infeksi karena Salmonella. Hal ini tentunya dikarenakan perhatian yang besar atas kebersihan dan keamanan makanan. cairan intraluminal yang meningkat menyebabkan terangsangnya usus dan meningkatnya volume. Sementara itu sisanya sebanyak 1500 ml akan memasuki usus besar. HIV positif atau AIDS. tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan.kumuh dan padat dengan sistem pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat.

imunitas dan juga mencakup lingkungan mikroflora usus. Patogenesis diare yang disebabkan infeksi bakteri diklasifikasikan menjadi: a. perfringens. Hipomotilitas usus pada infeksi usus akan memperlambat waktu diare dan gejala penyakit. cereus. Infeksi Non-Invasif Diare yang disebabkan oleh bakteri non invasif disebut juga diare sekretorik atau watery diarrhea. cholera non 01. C. motilitas usus. Peran imunitas dibuktikan dengan didapatkannya frekuensi pasien giardiasis pada mereka yang kekurangan IgA. kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus halus. cholera. akan terjadi sekresi antibodi. Enterotoksigenik E. Penurunan keasaman lambung pada infeksi Shigella terbukti dapat menyebabkan serangan infeksi yang lebih berat dan menyebabkan kepekaan lebih tinggi terhadap infeksi oleh V. B. cholera eltor mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi dan enterotoksin ini mengakibatkan kegiatan yang berlebihan 7 . V. coli (ETEC). Percobaan lain membuktikan bahwa bila lumen usus dirangsang oleh suatu toksoid berulang kali. Faktor kausal yang mempengaruhi patogenesis antara lain adalah daya lekat dan penetrasi yang dapat merusak sel mukosa. terdiri atas faktor-faktor daya tangkis atau lingkungan intern traktus intestinalis seperti keasaman lambung. sekresi mukosa. serta mengurangi absorbsi elektrolit.Hal umum yang perlu diperhatikan pada keadaan gastroenteritis akut karena infeksi adalah faktor kausal (agent) dan faktor penjamu (host). Selain itu juga akan mengurangi kecepatan eliminasi sumber infeksi. Kuman tersebut dapat membentuk koloni-koloni yang juga dapat menginduksi diare. Pada diare tipe ini disebabkan oleh bakteri yang memproduksi enterotoksin yang bersifat tidak merusak mukosa. Faktor penjamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut. cholera 01 atau 0139. Demikian pula diare yang terjadi pada penderita HIV/AIDS karena gangguan imunitas. aureus. Aeromonas spp. V. Stap. Bakteri non invasif misalnya V.. dan enzim pencernaan.

C. Salmonella spp. sehingga meningkatkan kadar adenosin 3′. Entamoeba histolytica. Bakteri invasif misalnya: Enteroinvasive E. Glukosa tersebut diserap bersama air. C. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. perfringens tipe C. Na+ dan K+) dapat dikompensasi oleh meningkatnya absorbsi ion Na (diiringi oleh H2O. kation natrium dan kalium. Cl. parahaemolyticus.Nikotinamid Adenin Dinukleotid pada dinding sel usus. HCO3-. H2O. dan Cl-). shigelloides. Diare terjadi disebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. cholerae. V. Namun demikian mekanisme absorbsi ion Na melalui mekanisme pimpa Na tidak terganggu. Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus. K+. C. Dengan demikian jelas bahwa diare yang disebabkan E. Yersinia. jejuni. Campylobacter spp. ion bikarbonat. Clostridium perfringens (tipe A) yang sering menyebabkan keracunan makanan menghasilkan enterotoksin yang bekerja mirip enterotoksin kolera yang menyebabkan diare yang singkat dan dahsyat. Inilah dasar terapi oralit per oral pada kolera..(disertai ion HCO3-. sekaligus diiringi oleh ion Na+.. b. Cairan diare dapat bercampur dengan lendir dan 8 . Secara klinis dapat ditemukan diare berupa air seperti cucian beras dan keluar secara deras dan banyak (voluminous). Infeksi Invasif Diare yang disebabkan bakteri enterovasif disebut sebagai diare Inflammatory. P. Keadaan ini disebut sebagai diare sekretorik isotonik voluminial (watery diarrhea). ETEC mengeluarkan 2 macam enterotoksin ialah labile toxin (LT) dan stable toxin (ST). coli lebih ringan dibandingkan diare yang disebabkan V.5′-siklik mono phospat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air. difficile.dan HCO3-. K+. coli (EIEC). karena itu keluarnya ion Cl. Shigella spp. LT bekerja secara cepat terhadap mukosa usus halus tetapi hanya memberikan stimulasi yang terbatas terhadap enzim adenilat siklase.

Umumnya gejala diare sekretorik timbul dalam beberapa jam setelah makan atau minuman yang terkontaminasi. kehilangan bikarbonat akan menyebabkan perbandingan bikarbonat dan asam karbonat berkurang yang menyebabkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi napas menjadi lebih cepat dari biasa (pernapasan Kussmaul).5 MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA) Penularan diare akut karena infeksi melalui transmisi fekal oral langsung dari penderita diare atau melalui makanan/minuman yang terkontaminasi bakteri patogen yang berasal dari tinja manusia/hewan atau bahan muntahan penderita. Diare akut karena infeksi bakteri yang mengandung atau memproduksi toksin akan menyebabkan diare sekretorik (watery diarrhea) dengan gejala-gejala antara lain: mual. serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan karena deplesi air yang isotonik. mata menjadi cekung. lidah kering. tulang pipi menonjol.darah. Pada pemeriksaan tinja biasanya akan didapatkan sel-sel eritrosit dan leukosit. Reaksi ini adalah usaha badan untuk mengeluarkan asam karbonat agar pH darah dapat kembali normal. Diare sekretorik yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. berat badan berkurang. Gangguan kardiovaskular pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi yang cepat lebih dari 120x/menit. Sementara itu. tekanan darah menurun 9 . atau melalui aktivitas seksual kontak oralgenital atau oral-anal. dengan atau tanpa demam yang umumnya ringan disertai atau tanpa nyeri/kejang perut. dengan feses lembek/cair. muntah. Kehilangan cairan akan menyebabkan individu atau penderita akan merasa haus. turgor kulit turun. 2. Walau demikian infeksi oleh kuman-kuman ini dapat juga bermanifestasi sebagai suatu diare sekretorik. Penularan dapat juga berupa transmisi dari manusia ke manusia melalui udara (droplet infection) misalnya: rota virus.

2. dan anamnesis/observasi bentuk diare. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun drastic dan akan menyebabkan timbulnya anuria. tenesmus. pada diare akut juga dapat timbul adanya aritmia jantung. dengan nyeri abdomen disertai nyeri tekan di regio titik Mc. uretritis. Diare akut karena infeksi dapat disertai gejala-gejala sistemik lainnya seperti Reiter’s syndrome (arthritis. dan kadang sianosis. listeriosis. Observasi ini penting sekali karena dapat menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan intravena tanpa alkali. Pada diare akut karena infeksi. muka pucat. yang dapat mengakibatkan gagal ginjal akut. legionellosis.6 KOMPLIKASI Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama. Yersinia dapat menginvasi mukosa ileum terminalis dan kolon bagian proksimal. muntah dan demam yang tinggi. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyulit berupa nekrosis tubulus ginjal akut. dan toksik renjatan sindrom. dugaan terhadap bakteri penyebab dapat diperkirakan berdasarkan anamnesis makanan atau minuman dalam beberapa jam atau hari terakhir. Shigella dapat menyebabkan hemolytic-uremic syndrome. Shigella. Diare akut dapat juga sebagai gejala utama beberapa infeksi sistemik antara lain hepatitis virus akut. Karena kehilangan kalium. diare disertai darah dan lendir.sampai tidak terukur. terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pasien mulai gelisah. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. 10 . Sedangkan keadaan asidosis metabolik menjadi lebih berat. dan Yersinia.Burney dengan gejala seperti apendisitis akut. Campylobacter. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik. disertai nyeri perut. ujung-ujung eksterimitas dingin. akan terjadi kepincangan pada pembagian darah dengan pemusatan darah yang lebih banyak dalam sirkulasi paru-paru. dan konjungtivitis) yang dapat disebabkan oleh Salmonella. Bakteri yang invasif akan menyebabkan diare yang disebut sebagai diare inflamasi dengan gejala mual.

Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti diare. Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air. Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC. 2. sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi.7 PENCEGAHAN PRIMER. anemia hemolisis. dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia.Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang 11 . maka hal ini harus diberikan perhatian khusus. Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran. SEKUNDER. Air minum. atau Yersinia spp. Sementara itu. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman. tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi. harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi. harus diperingatkan untuk tidak menelan air. Shigella. penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal. air yang digunakan untuk membersihkan makanan. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Salmonella. Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena Campylobakter. DAN TERSIER Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral. Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. atau olahan) sebelum dikonsumsi. saringan. atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi. Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan. dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Ketika berenang di danau atau sungai. Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal.

dan demam tipoid. tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas.tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi. Sebaiknya ditambahkan satu ampul Na bikarbonat 7. Apabila tidak tersedia cairan ini. vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera. meskipun jumlah kaliumnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium cairan tinja. Pada keadaan diare akut awal yang ringan.5% 50 ml pada setiap satu liter infus NaCl isotonik. dan durasi imunitasnya lebih panjang. hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Pada saat ini. Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius. 2. setelah jatuh dan terkena kotoran ternak. yang dapat diminum sebagai usaha awal agar tidak terjadi rehidrasi dengan berbagai akibatnya. yaitu: Jenis cairan yang hendak digunakan. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin tipoid oral telah tersedia. tersedia di pasaran cairan/bubuk oralit. Pada prinsipnya jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Asidosis akan dapat diatasi dalam 1-4 jam. hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping. 12 .8 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan gastroenteritis akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas: 1. boleh diberkan cairan NaCl isotonik. Pada saat ini cairan RL merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan Ada hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat. Jumlah cairan yang hendak diberikan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %.

Dehidrasi berat.Dehidrasi sedang.025 x BB (Kg) x 4 ml Metode Pierce berdasarkan kriteria klinis: . sopor atau koma Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Tekanan darah sistolik < 60 mmHg Frekwensi Nadi > 120 x/menit Frekwensi nafas > 30 x/menit Turgor kulit menurun Facies cholerica/wajah keriput 2 13 1 2 1 2 1 2 1 1 1 . kebutuhan cairan 10% X KgBB Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberikan penilaian/skor sebagai berikut: Pemeriksaan Skor: Rasa haus/muntah Suara serak Kesadaran apatis Kesadaran somnolen.Dehidrasi ringan.Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai cara: BJ Plasma dengan memakai rumus: Kebutuhan cairan: BJ Plasma – 1. kebutuhan cairan 5% X KgBB . kebutuhan cairan 8% X KgBB .

5 gr Na bikarbonat dan 1. Cairan per oral juga digunakan untuk mempertahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan dengan mencampurkan dengan air. 3. Tujuannya jelas agar tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Untuk jadwal rehidrasi inisial yang dihitung dengan rumus BJ plasma atau sistem skor Daldiyono diberikan dalam waktu 2 jam. Pemberian cairan pada orang dewasa dapat melalui oral dan intravena. Untuk pemberian per oral diberikan larutan oralit yang komposisinya berkisar antara 20 gr glukosa. cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh garam. Memberikan terapi simptomatik 14 . didasarkan kepada kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya.Ekstremitas dingin Washer’s woman’s hand Sianosis Umur 50-60 tahun Umur > 60 tahun 1 1 2 -1 -2 Kebutuhan cairan = Skor x 10% x BB (Kg) x 1 Liter Jalan masuk atau cara pemberian cairan.5 gr NaCl. Jadwal pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3. Jadwal pemberian cairan. rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3. Jika sediaan secara komersial tidak ada. 2. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium.5 gr KCl per liter air. dan 2 – 4 sendok makan gula per liter air. ½ sendok teh baking soda. 2.

Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi. pektin.Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Kelompok opiate Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat. Di Indonesia saat ini tersedia di bawah nama Hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti diare yang dapat pula digunakan lebih aman pada anak. Kelompok absorbent Arang aktif. atau smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyeap bahan infeksius atau toksin-toksin. d. Melalui efek tersebut maka sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit. peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi diare.Obat anti diare dapat diklasifikasikan yakni: a. kaolin. loperamid 2 – 4 mg/ 3 – 4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x sehari. b. bismut subsalisilat. loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). attapulgit aktif. c. Kelompok antisekresi selektif Terobosan terbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal. Bila diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan. Zat Hidrofilik 15 . Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal.

Ispraghulla. aureus: Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr 16 . Memberikan terapi definitive Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi. bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. S. 3. Karaya (Strerculia). Probiotik Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau Saccharomyces boulardii. Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet. mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan. Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi: V. ETEC: Trimetoprim-Sulfametoksazole atau Kuinolon selama 3 hari. kemudian 2 x 2 tab selama 6 hari atau kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 7 hari atau golongan Fluoroquinolon. diare pada pelancong. Coptidis dan Catechu dapat membentuk kolloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekwensi dan konsistensi feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit. kolera El Tor: Tetrasiklin 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau kortimoksazol dosis awal 2 x 3 tab. Syarat penggunaan dan keberhasilan mengurangi atau menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. Psyllium. feses berdarah. leukosit pada feses. karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik. dan pasien immunocompromised. Pemberian antibiotik di indikasikan pada: pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam. persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi.Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta.

17 . mortalitas berhubungan dengan diare akut karena infeksi < 1.2 % yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik. prognosis gastroenteritis akut hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. atau Ciprofloksasin 2 x 500 mg selama 14 hari. Balantidiasis: Tetrasiklin 3 x 500 mg/hr selama 10 hari Virus: simptomatik dan suportif. Giardiasis: Quinacrine 3 x 100 mg/hr selama 1 minggu atau Chloroquin 3 x 100 mg/hr selama 5 hari. dewasa: 3 x 500 mg atau 4 x 250 mg. perawatan yang mendukung. anak: 30-50 mg/kgBB/hr dalam dosis terbagi selama 5-7 hari atau Ciprofloxacin 2 x 500 mg/hr selama 5-7 hari.- Salmonella Typhi: Obat pilihan Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 2 minggu atau Sefalosporin generasi 3 yang diberikan secara IV selama 7-10 hari. - Salmonella non Typhi: Trimetoprim-Sulfametoksazole atau ciprofloxacin atau norfloxacin oral 2 kali sehari selama 5 – 7 hari. morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia.0 %. Di Amerika Serikat. Seperti kebanyakan penyakit.9 PROGNOSIS Dengan penggantian cairan yang adekuat. jejuni): Eritromisin. Helicobacter jejuni (C. Shigellosis: Ampisilin 4 x 1 g/hr atau Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 5 hari. 2. dan terapi antimikrobial jika diindikasikan. Amoebiasis: 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau Tinidazol dosis tunggal 2 g/hr selama 3 hari. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1.

BAB 3 PATHWAY 3.1 PATOFISIOLOGI GAMBARAN PENYAKIT SECARA MENYELURUH 18 .

intervensi. implementasi dan evaluasi. suhu tubuh meningkat. Riwayat keperawatan.1 IMPLIKASI PATOFISIOLOGI PENYAKIT DALAM BIDANG KEPERAWATAN Implikasi dalam bidang keperawatan mencakup proses keperawatan itu sendiri. diagnosis keperawatan. bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi. Gejala awal serangan yang terjadi dapat berupa gelisah. dan psikal assessment. ubun-ubun besar cekung. Identitas klien. Sementara itu. analisa data dan perumusan masalah. Kelima proses keperawatan yang terkait dengan Gastroenteritris Akut sendiri dijelaskan di bawah ini. Riwayat keperawatan ini terkait dengan gejala awal dari serangan dan keluhan utama klien. 19 . Pada bayi. observasi. yaitu: 1. 3. Riwayat kesehatan masa lalu. anoreksia kemudian timbul diare. frekuensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi tinja encer. selaput lendir mulut dan bibir kering. keluhan utama yakni berupa faeces semakin cair. 2. muntah.BAB 4` IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN 4. yakni pengkajian. Proses keperawatan tersebut terdiri dari lima hal. Pengkajian Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi. tonus dan turgor kulit berkurang. Riwayat penyakit yang diderita dan riwayat pemberian imunisasi. berat badan menurun. 1992 terdiri dari beberapa cakupan yakni: 1. Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg.

mencakup: inspeksi. Perawatan akan menjadi stressor bagi klien maupun bagi keluarga. e) Aktivitas klien tentunya akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen. palpasi. kesadaran composmentis sampai koma. Hal ini diawali dengan mual. c) Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. d) Pola hygiene terkait dengan kebiasaan mandi klien setiap harinya. muntah. Pemeriksaan fisik. Kecemasan akan meningkat jika keluarga tidak mengetahui prosedur dan pengobatan pada anggota keluarga mereka yang terkena diare. Pada klien yang menderita Gastroenteritris Akut tentunya terjadi perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. serta pernapasan yang cukup cepat. 6. perkusi. Kebutuhan dasar. mereka cenderung akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. Setelah menyadari penyakit yang diderita oleh anggota keluarga mereka. b) Pemeriksaan sistematik. sedangkan BAK sedikit bahkan jarang. 20 . Riwayat psikososial keluarga. b) Pola nutrisi pada klien akan mengalami perubahan pula. a) Pola eliminasi pada klien akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari. anoreksia yang dapat menyebabkan penurunan berat badan pasien.4. a) Pemeriksaan psikologis terdiri dari keadaan umum tampak lemah. 5. nadi cepat dan lemah. dan auskultasi. suhu tubuh tinggi.

21 . pemeriksaan darah lengkap dan duodenum intubation dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab secara kuantitatif dan kualitatif. Pemeriksaan tinja. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi dan frekuensi BAB yang berlebihan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan haluaran urine yang berlebihan. berat badan menurun. 2. ubun-ubun besar. selaput lendir.1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan gangguan pencernaan akibat inflamasi. 3. 3. 2. serta anus yang kemerahan. Pada klien yang diare tentunya akan mengalami gangguan fisiologis seperti dehidrasi sehingga terjadi penurunan berat badan. ditandai adanya distensi abdomen. didapatkan terdengarnya bising usus. Inspeksi Mata cekung. Auskultasi. c) Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang. d) Pemeriksaan penunjang. 4. 2. didapatkan data bahwa turgor kulit kurang elastik. mulut dan bibir kering. Perkusi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada klien yang mengalami Gastroenteritris Akut antara lain: 1. Palpasi.

6. prognosis dan pengobatan. 5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit.4. Ansietas berhubungan dengan prosedur penanganan yang menakutkan. 22 . Gangguan kenyamanan nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Pantau asupan: pastikan sedikitnya 1500ml cairan per oral setiap 24 jam 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan serta pemeriksaan laboratorium dari elektrolit klien 7. Tujuan : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi 23 . Pantau adanya penurunan berat jenis urine 6. Kaji tanda-tanda dehidrasi 3. Intervensi Keperawatan Diagnosa 1. Intervensi : 1. Beri cairan kesukaan dalam batasan diet 4. cairan seimbang. Pantau haluaran: pastikan sedikitnya 1000-1500 ml/24 jam. jus buah anggur menyebabkan dieresis dan dapat memperberat kehilangan cairan Diagnosa 2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan gangguan pencernaan akibat inflamasi. Tujuan : Kekurangan volume cairan teratasi. Kaji tanda-tanda vital 2.3. mukosa mulut dan bibir lembab. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium 8. teh. Ajarkan bahwa kopi. Kriteria hasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan haluaran urine yang berlebihan.

diet habis 1 porsi yang disediakan.Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat. 24 . serta mual maupun muntah tidak ada.

tanda-tanda infeksi tidak ada Intervensi : 1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi 2. Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering 7. dan auskultasi) 6. Pertahankan kelembaban kulit klien 4. Cuci area yang kemerahan dengan lembut menggunakan sabun ringan. Kaji status dekubitus 3. pantau hasil pemeriksaan laboratorium 3. Timbang berat badan klien setiap hari. Negosiasikan dengan klien tujuan asupan untuk setiap kali makan dan makan makanan kecil 4. palpasi. perkusi. Identifikasikan derajat dekubitus yang dialami klien 2. Bilas seluruh area dengan bersih untuk menghilangkan sabun dan keringkan 25 . Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.Intervensi : 1. Diagnosa 3 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi dan frekuensi BAB yang berlebihan. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (inspeksi. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat. iritasi tidak ada. Tujuan : Gangguan integritas kulit teratasi Kriteria hasil : Integritas kulit kembali normal. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi 5.

Timbang BB setiap hari dan tentukan kadar albumin serum setiap minggu untuk memantau status. Bicarakan dengan klien dan keluarga mengenai penggunaan terapi distraksi serta metode pereda nyeri lain 6. 7. Lindungi permukaan kulit yang sehat. Masase dengan lembut kulit sehat di sekitar area yang sakit untuk merangsang sirkulasi. Kaji tanda-tanda vital 2. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi. Atur posisi yang nyaman bagi klien 4.5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antifungi sesuai indikasi. Diagnosa 4. Tujuan : Nyeri dapat teratasi Kriteria hasil : Nyeri dapat berkurang atau hilang. Kaji tingkat rasa nyeri pada klien 3. Jangan lakukan masase area jika tampak kemerahan 6. Gangguan kenyamanan nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. Beri kompres hangat pada daerah abdomen 5. Tingkatkan asupan protein dan karbohidrat untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif. Ajarkan tindakan pereda nyeri noninvasif pada klien Diagnosa 5. prognosis dan pengobatan. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit. Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat 26 . ekspresi wajah tenang Intervensi : 1. Oleskan lapisan tipis cairan capolymer skin sealant 7. 8.

27 . ekspresi wajah tenang.Kriteria hasil : Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien. keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.

Ansietas berhubungan dengan prosedur penanganan yang menakutkan. Batasi kontak dengan orang lain yang juga mengalami cemas 5.Intervensi : 1. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan 8. Kaji tingkat kecemasan klien . Beri kenyamanan dan ketentraman hati 4. ringan. Kaji hal yang disukai klien 7. Kaji factor pencetus cemas 3. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan 4. Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya bila terdapat hal-hal yang belum di mengerti 5. Singkirkan stimulasi yang berlebihan. Ajarkan penghentian ansietas untuk digunakan bila situasi yang menimbulkan stress tidak dapat dihindari 28 . Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien 3. sedang. Tujuan : Ansietas pada klien teratasi Kriteria hasil : Klien tidak gelisah. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien 9. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien. Buat jadwal kontak dengan klien 6. frekuensi jantung. tekanan darah dan frekuensi pernapasan klien normal Intervensi : 1. berat atau panic 2. Kaji tingkat pendidikan keluarga klien 2. Diagnosa 6.

Ansietas pada klien teratasi 4. 2. Pendidik 29 . seperti dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien. digunakan kata kerja bukan kata perintah seperti pada intervensi keperawatan. c. Pengetahuan keluarga meningkat. Rasa nyaman terpenuhi.2 PERANAN KEPERAWATAN 1. 5. Namun dalam pendokumentasian implementasi keperawatan.4. Pelaksana keperawatan (care giver) Perawat memberikan bantuan secara langsung pada klien dengan masalah Gastroenteritris Akut. yakni: a. Implementasi Implementasi yang dilakukan oleh perawat dalam menangani klien yang menderita Gastroenteritris Akut tentunya sesuai dengan intervensi atau rencana tindakan yang telah dibahas sebelumnya. serta pelaksanaan manajemen nyeri pada klien. d. e. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh. b. Integritas kulit kembali normal. f. Evaluasi Evaluasi dari keseluruhan proses keperawatan dengan klien yang menderita Gastroenteritris Akut tentunya untuk mencapai hal-hal di bawah ini yang sesuai dengan respon yang diberikan klien atas timbulnya penyakit tersebut. Volume cairan normal sesuai kebutuhan.

Perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya. Konsultan Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kenyamanan maupun keamanan. Kolaborasi Perawat juga harus bekerja sama dengan lintas program maupun secara lintas sektoral dalam pemenuhan kebutuhan dasar serta penyembuhan penyakit yang dialami klien. 3. 5. tindakan pencegahan maupun penanganan yang dilakukan oleh petugas kesehatan.Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga agar klien dan keluarganya dapat memahami cara mengatasi masalah penyakit. Pengawas Kesehatan Perawat harus melakukan home visit atau kunjungan ke rumah klien secara teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang proses rehabilitasi klien dari Gastroenteritris Akut yang klien derita sebelumnya. Keluarga dapat meminta nasehat pada perawat sehingga terjalin hubungan antara perawat dan keluarga yang baik. 4. 30 .

Hal umum yang perlu diperhatikan pada keadaan gastroenteritis akut karena infeksi adalah faktor kausal (agent) dan faktor penjamu (host). Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien gastroenteritis akut yang disebabkan oleh infeksi. sekresi mukosa. Faktor kausal yang mempengaruhi patogenesis antara lain adalah daya lekat dan penetrasi yang dapat merusak sel mukosa. kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus halus. penggunaan antibiotik. Makanan atau minuman terkontaminasi. muntah. Di beberapa rumah sakit di Indonesia. Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi. Sehingga Gastroenteritis Akut sendiri merupakan diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari.BAB 5 PENUTUP 5. Kuman tersebut dapat membentuk koloni-koloni yang juga dapat menginduksi diare. imunitas dan juga mencakup lingkungan mikroflora usus.vvirus dan parasit yang patogen. merupakan petunjuk penting dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk gastroenteritis akut akibat infeksi. berpergian. sedangkan sekitar 10% karena sebabsebab lain antara lain obat-obatan. Faktor penjamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut. dan enzim pencernaan. Penyebab dari gastroenteritis akut terdiri dari berbagai macam. iskemik dan sebagainya. data menunjukkan diare akut akibat infeksi masih menduduki peringkat pertama. Diare akut karena infeksi bakteri yang mengandung atau memproduksi toksin akan menyebabkan diare sekretorik (watery diarrhea) dengan gejala-gejala antara lain: mual. motilitas usus.1 KESIMPULAN Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri. terdiri atas faktor-faktor daya tangkis atau lingkungan intern traktus intestinalis seperti keasaman lambung. dengan atau tanpa demam yang umumnya ringan disertai 31 . bahan-bahan toksik. HIV positif atau AIDS.

dan memberikan terapi definitive. penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis. sehingga dapat menunjang dalam pengendalian penyakit Gastroenteritris Akut. memberikan terapi simptomatik. Diharapkan makalah ini dapat digunakan sebagai panduan bagi semua pihak yang terkait. Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral. Umumnya gejala diare sekretorik timbul dalam beberapa jam setelah makan atau minuman yang terkontaminasi. penatalaksanaan gastroenteritis akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan. perawatan yang mendukung. Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC. Sedangkan dengan penggantian cairan yang adekuat. dan terapi antimikrobial jika diindikasikan. Kita sebagai perawat dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien yang menderita Gastroenteritris Akut secara tepat. 2.2 SARAN 1. prognosis gastroenteritis akut hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. 3. Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama.atau tanpa nyeri/kejang perut. dengan feses lembek/cair. Sementara itu. 5. 32 . terutama pada usia lanjut dan anak-anak. sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Diharapkan pembaca dapat mengaplikasikan tindakan pencegahan untuk menghindari penyakit Gastroenteritris Akut ini.

33 . 15th edition. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Guyton. 6. Sylvia Anderson. 2001. Lynda Juall. Jakarta: EGC. Camilleri M. Arthur C. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Braunwald. Jakarta: EGC Hendarwanto. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1 Ed. 2006. Carpenito-Moyet. Jakarta: EGC. 2007. Kasper et all (Editor). Harrison’s Principles of Internal Medicine. Jakarta : Balai Penerbit Universitas Indonesia. Price.DAFTAR PUSTAKA Ahlquist David A. 2005. 2000. Fauci. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.

LAMPIRAN 34 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->