dasar teori praktikum ilmu ukur tanah

BAB II DASAR TEORI Dalam pekerjaan pengukuran progress mining atau survey perlu digunakan alat-alat untuk mempermudah penyelesaian pengambilan data-data. Jenis alat yang digunakanpun sangat mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam peker jaan tersebut. Alat yang umum digunakan dalam pengukuran ini adalah theodolite. 2.1. Peralatan Pengukuran 2.1.1 Theodolite Secara garis besar theodolit terbagi 2 Theodolit bagian atas, terdiri dari : 1. Plat atas yang langsung dipasang pada sumbu vertical 2. Sumbu HOR 3. Nivo tabung 4. Telescop (teropong) Pada teropong ini terdapat dua lensa, depan yang disebut lensa objektif dan belakang yang disebut lensa okuler, dimana kedua lensa diletakkan sedemikian rupa sehingga sumbu optisnya berimpit. Agar teropong bisa digunakan sebagai alat bidik pada bagian belakang dilengkapi dengan dua garis salib sumbu yang terbuat dari benang laba- laba atau dengan cara digoreskan pada kaca. Garis salib sumbu biasanya berupa garis tegak dan tiga garis mendatar yang biasanya digunakan untuk pembacaan. Theodolit bagian bawah, terdiri dari 1. Plat bawah 2. Lingkaran horizontal 3. Tabung sumbu luar dari sumbu vertical 4. Sekrup pengikat datar ( penyetel nivo) 5. Statip atau tripot atau kaki tiga yang berguna untuk menyangga theodolit 6. Centring. 2.1.1.1. Bagian – bagian dari theodolit dan kegunnannya A. Tombol Focus yang berguna untuk memper jelas objek yang dituju B. Nivo Pada alat theodolit biasanya terdapat dua buah nivo yaitu nivo kotak yang terletak dibawah dan nivo tabung yang terletak diatas dimana nivo sendiri berfungsi untuk mengetahui kedudukan theodolit dalam keadaan waterpas dari kedua arah. 1. Teropong kecil untuk melihat bacaan horizontal dan vertical Biasanya terletak disebelah kanan dari teropong besar yang berguna untuk membaca sudut horizontal dan vertical. 2. Mikrometer Alat ini terletak pada bagian kanan atas dari theodolit yang berguna untuk mempaskan bacaan sudut horizontal dan vertical dengan cara diputar kedepan atau kebelakang agar sudut horizontal dan vertical pas pada pembacaan sudut. 3. Centring Berguna untuk melihat posisi alat apakah sudah tepat berada diatas patok. ¬Pada alat model lama tidak ada centringnya masih menggunakan unting¬unting yang dihubungkan dengan benang dan digantung di bawah alat ukur. 4. Statip Berfungsi menopang alat ukur theodolit agar ketinggiannnya sesuai dengan ketinggian pembacanya dimana kaki statip bisa digerakkan naik tunin. 5. Bak atau Rambu

Setelah statip ditaruh semua dan patok serta pakunya sudah kelihatan (walau tidak tepat) baru diinjak ketiga kaki di statip agar posisinya kuat menancap ditanah dan alat tidak mudah digoyang . Setelah posisi gelembung pads nivo kotak ada ditengah maka alat sudah dalam keadaan waterpas (walau . lingkaran petunjuk yang ada pada centring akan berubah dan arahkan lingkaran tersebut pada paku yang ada dipatok. Setelah posisi statip kuat dan tidak goyang barulah dilihat paku lowat centring. Untuk melihat dimana posisi alat yang lebih tinggi maka lihat gelembung yang ada pada nivo kotak apabila nivo mata sapinya ada di Timur maka posisi alat tersebut lebih tinggi disebelah Timur (kaki sebelah Timur dipendekkan atau yang sebelah Barat dinaikkan ).1. karena dengan memutar sekrup penyetel.1. karena dikhawatirkan apabila tidak diperhatiakan posisinya. Gambar 2. Apabila nivo mata sapinya tidak ada ditengah maka posisi alat dalam keadaan miring. setelah dipakai dan akan disimpan kembali akan mengalami kesulitan . setelah paku terlihat baru kedua kaki yang kita pegang ditaruh pada tanah (kalau sudah mahir tanpa melihat centring sudah bisa menentukan posisi alat sudah tepat diatas patok atau palu (walaupun tidak pas).2 Pemasangan theodolit dan Pembacaan Alat Ukurnya : Sebelum theodolit digunakan harus distel terlebih dahulu agar posisi theodolit bisa waterpas atau level kesegala arah dan cara penggunaannya sebagai berikut : Sebelum alat dikeluarkan dari tempatnya maka harus diperhatikan terlebih dahulu posisi alat tersebut pada tempatnya.Berupa garis garis yang tebalnya 1 cm yang berguna untuk menghitung jarak yang diukur yaitu jarak antara alat berdiri dengan bak yang menghasilkan jarak miring. apabila paku tidak tepat maka kejar pakunya dengan menggunakan sekrup penyetel sambil melihat centring. Setelah posisi tandanya sudah kita perhatikan lalu letakkan pesawat diatas statip atau kaki tiga lalu diikat dengan baut yang ada pada statip. Setelah pesawat tereikat dengan sempurna pada statip baru pesawat yang sudah terikat pada statip diangkat dan diletakkan diatas patok yang sudah ada pakunya. Setelah itu barulah dilihat nivo kotak¬(bagian bawah). Bak Rambu Ukur 2..1. Pertama tancapkan salah satu kaki di tripod sambil tangan dua memegang kedua kaki di tripod lihat paku dibawah dengan bantuan centring. Untuk mempermudah pada setiap alat pasti ada tandanya berupa titik merah atau hitam dan biasanya kedua titik tersebut dalam keadaan sejajar bila akan dimasukkan pada tempatnya.

B. Setelah theodolit tepat pada posisi yang dituju maka dibaca sudut horizontal maupun yang vertical. setelah itu di ukur tingginya alat dan alat siap digunakan. dan arah Utara dengan menggunakan kompas arah. Setelah itu baru angka bacaan pada Skala horizontal disetel dan diatur pada angka 000'0" dan selanjutnya sejajarkan arah teropong. Misalnya saja A dan B. sebab kalau diputar posisi nivo pasi akan berubah banyak.1. Jarak ini didapat dengan pembacaan Benang Atas (BA). Setelah itu baru dilihat centring apabila paku sudah tepat pada lingkaran kecil berarti alat tersebut sudah tepat diatas patok apabila belum tepat maka alat harus digeser dengan cara mengendorkan baut pengikat yang berada dibawah alat ukur. 1520.1. Pertama sejajarkan nivo tabung dengan kedua sekrup penyetel (bebas dan tidak terikat harus sekrup yang mana). benang atas 1750 mm. 1480 karena dengan dibulatkan akan memudahkan dalam perhitungan selanjutnya. untuk menghaluskan agar posisinya lebih level maka gunakan nivo tabung caranya : karena dibawah alat theodolit terdapat tiga sekrup penyetel maka sebut saja sekrup A.masih dalam keadaan kasar).1. Contoh : BA = 1750 BT = 1500 BB = 1250 Untuk mengetahui bacaan rambu salah atau benar dapat dicek dengan menggunakan rumus : (BA +BB = BT)/2 BB + BA = 2BT BB = 2BT – BA BA = 2BT – BB Contoh : Diketahui. 2. setelah itu baru dilihat posisi gelembungaya. Contoh 1500. benang bawah 1250 Jadi benang tengah =(1750 + 1250)/2 = 1500 Dalam hal ini Benang Tengah diusahakan menggunakan bilangan bulat.1. Setelah kendor geser alat tersebut agar tepat di atas paku. seperti pada waktu penyetelan pertama. Setelah nivo tabung ada ditengah baru diputar 90° atau 270° dan nivo tabung ditengahkan dengan menggunakan sekrup yang C. Setelah posisi alas tepat diatas patok maka pengaturan nivo tabung diulangi seperti semula sehinga posisinya ditengah lagi. C. Hasil dari (BA – BB) x 100 merupakan Jarak Miring.3 Pembacaan Mistar Dalam pengukuran dengan menggunakan theodolit data yang diperleh salah satunya adalah jarak. Contoh : Sudut Horizontal 179°37'28" (biasa) Sudut vertikal 93°28 48 " (biasa) Maka untuk mendapatkan pembacaan luar biasa alai theodolit kita putar 180°secara horizontal dan teropong diputar 180° secara vertical maka akan didapat bacaan sebagai . Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah (BB).Cara pengkoreksiannya adalah dengan pembacaan luar biasa.4 Koreksi Sudut Horizontal dan Vertical ( biasa dan luar biasa) Dalam pembacaan sudut baik yang horizontal maupun vertiakal ada koreksinya. Perlu diingat untuk merubah posisi alat agar tepat diatas paku harus digeser sekali lagi digeser dan jangan diputar. Apabila tidak ditengah maka posisi alat tersebut belum level maka harus ditengahkan dengan menggunakan sekrup A dan B (kalau belum mahir disarankan untuk menggunakan satu sekrup saja A atau B karena dikhawatirkan sekrup yang A akan menarik nivo kekiri dan sekrup yang B akan menarik nivo tabung kekanan ). 2. 1450. setelah ditengah berarti posisi nivo tabung dan kotak sudah sempurna dan keduanya ada ditengah.

1 Pengukuran (survey) original Cari atau tentukan titik dipatok simpanan pada lahan yang belum ditambang karena biasanya surveyor pasti mempunyai simpanan titik atau patok yang disimpan didalam hutan agar tidak hilang dan tidak dicabut . Pengukuran.2. akan didirikan alat untuk menembak kiri dan kanan dengan menggunakan rambu untuk mengetahui jarak maupun beda tinggi.Dengan data original dapat digunakan untuk menggambar propil melintang dari daerah yang diukur. Hasil dari perhitungan original berupa potongan melintang dimana setelah peta selesai barulah pekejaan penambangan dapat dilakukan.2. Dalam pekerjaan survey original atau progress digunakan sistem line.2. Survey original sebagai acuan untuk perhitungan volume progress. Setelah itu baru ditarik pada daerah yang akan dikembangkan dan dipasangi patok dengan jarak tiap 10m dan patok tersebut didirikan alat dan dihitung jaraknya. Didirikan alat pada patok-patok yang jaraknya kelipatan 10. Beda Tinggi dan data ini akan diplotkan pada peta yang sebelumnya sudah diplotkan data original pada line yang sama.berikut : Sudut Horizontal 359°37'10"( luar biasa) 266°31'03"( luar biasa) Hasilnya 359037'10" 93°28'48" 179°37'28" . Kegiatan ini merupakan dasar atau acuan untuk menghitung progress setelah tambang dikerjakan.2 Pengukuran (Survey) Progress Survey progress adalah survey yang diakukan setiap bulan yang bertujuan untuk menghitung berapa volume overburden (lapisan tanah penutup) yang telah diambil dan dipindahkan dari lokasi tambang yang akan diambil batubaranya ketempat lokasi yang tidak ada batubaranya (disposal area). Survey Original Dalam kegiatan penambangan sebelum dimulai kegiatan yang lainnya.2. dimana jarak dan data yang dihasilkan dari pengukuran ini adalah jarak miring dan beda tinggi dan selanjutnya akan diketahui jarak datar dan beda tinggi dari rumus tersebut diatas. Dari basil survey progress digunakan untuk menghitung berapa uang yang dibayarkan dari pemilik lahan (owner) kepada kontraktor. 2.1. (Survey) 2.sudut biasa = 180°. Koreksi yang diijinkan adalah 200 dan apabila koreksinya > 20° maka alat survey tersebut harus dikalibrasi. Data yang diperoleh dan pengukuran survey progress adalah jarak datar. Setelah itu baru angka bacaan pada skala. 2. sedangkan arahnya tidak terikat dan tinggal mengikuti survey yang sudah dilakukan . horizontal distel dan ddiatur pada angka 0°0'0" dan selanjutnya sejajarkan arah teropong dan arah Utara dengan menggunakan kompas arah Setelah itu diukur tingginya alat dan alat siap kerja. maka terlebih dahulu akan dilakukan kegiatan survey original yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan permukaan tanah yang belum berubah karena belum ada kegiatan penambangan. Untuk mempermudah perhitungan line-line tersebut dibuat pada angka kelipatan 10.266°31'03" + 179059'42" 359°59'51 " Kalau hasilnyu baik untuk pembacaan sudut horizontal luar biasa.1. Hasil perhitungan kedua team survey akan dibandingkan dan dirata--ratakan. 2. Mengingat pentingnya pekerjaan survey progress maka biasanya dilakukan oleh dua team survey yaitu kontraktor dan owner.1 Cara Pengukuran Survey Progress Metode pengukuran progress yang dilakukan pads PT. Sebelm survey original dimulai biasanya terlebih dahulu dilakukan kegiatan clearing agar mempermudah pekerjaan survey original . Alas Watu Utama adalah menggunakan sistem penampang melintang atau sistem line dengan jarak antar line adalah 10 m. 3.2 .. Sedang untuk koreksi pembacaan sudut vertikal biasa dan luar biasa maka sudut biasa + luar biasa = 360°.2.

sedangkan disekitar alat banyak perangkat survey terbuat dari besi misalnya parang. Dari kedua titik tersebut tarik titik ketempat lokasi dimana pada lokasi tersebut banyak terjadi perubahan karena diambil lapisan atasnya atau overburden selama satu bulan.sebelumnya baik itu arah Timur Barat atau Utara Selatan. pemetaan topografi. 2. Dengan cara setiap alat berdiri. Salah satu dititik -tersebut dijadikan untuk mendirikan alat dan satunya untuk back sigh. Kelebihan dari cara ini tidak perlu menghitung besarnya sudut dari titik-titik yang ditembak karena begitu ditembak skala horizontal sudah menunjukan arah sebenarnya. cara pengambilan data harus mengikuti lekuk.lekuk permukaan tanpa harus ada yang terlewati. . agar tidak terganggu ).tiap baseline 10 m. Ada dua cara untuk mencari arah : 1. arah Utara disejajarkan dengan 00 pada piringan skala HOR. baik untuk survey geologi. Dari tarikan tersebut dibuat baseline dimana jarak tiap. Contoh Pembuatan Baseline Dalam pengambilan data. Sedangkan k-ekurangannya adalah pada setiap berdiri alat harus mensejajarkan arah Utara dengan arah 0° pada alat. Pertama cari dua buah titik simpanan yang masih baik. tongkat payung dan lainlain. Hasil perhitungan luas dijumlahkan dan dikalikan dengan 10 m (jarak antar line) yang akan menghasilkan volume.2. arah Utara pada kompas. Contoh titik D 340 dan E 340 (biasanya disimpan di hutan. dan mensejajarkan arah Utara dengan 0° pada piringan skala horizontal.2.3 Arah Dalam pekeerjaan survey. Seperti diketahui magnet pada kompas arah peka sekali terhadap bahan logam atau besi. arah atau azimuth merupakan hal yang harus dicari dilapangan. Dengan demikian setiap berdiri alat harus memasang kompas arah. Jadi dengan demikian benda-benda tersebut mempengaruhi jarum kompas. situasi maupun untuk survey progress. Gambar 2. Dari baseline tersebut didirikan alat satu persatu untuk mengambil detail baik kearah 900 atau 2700 dimana detail-detail tersebut diplot gambar.gambarnya yang akan dijadikan acuan dalam menghitung luas areal tersebut . daerah yang diukur adalah seluruh daerah Yang berubah. sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan arah.

Kerugian dari cara ini terlalu banyak menghitung sudut. Keuntungan dari cara ini adalah penggunaan kompas arah hanya pada waktu pemassangan alat untuk penembakkan pertama kali atau pada awal pekerjaan¬. menit (‘) dan detik (") sedangkan bilangan derajat. Jarak miring atau optis dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dimana: BA =BenangAtas BB = Benang Bawah 100 adalah bilangan konstanta pengali teropong. menit dan detik merupakan bilangan yang sulit untuk dihitung kecuali bagi yang sudah terbiasa menggunakannya. Contoh : BA = 1750 mm BT =1500 mm BB = 1250 mm Jarak Miring = (1750 mm. bak atau rambu.Gambar 2.4 Jarak miring atau jarak optik Dalam pekejaan pengukuran yang menggunakan alat ukur iheodolit.3.2.2. Setiap berdiri alat arah 0° pads Skala horizontal diarahkan ketitik sebetumnya. yang tidakkalah pentingnya selain arah dan azimuth adalah jarak. Cara 1: Jarak Datar = Cos 2 α x Jarak miring .5 Jarak Datar Untuk mencari jarak datar dapat dihitug dengan menggunakan rumus seperti dibawah ini.t250 mm ) x 100 = 50. Jarak yang dimaksud adalah jarak optis. Jarak optis didapat dari pembacaan mistar.000 mm = 59 m 2. Pengukuran Dengan Patok Sebelumya Sebagai Acuan 2. Gamar 2.4. Pengukuran Dengan Menggunakan Arah Utara Sebagai Acuan 2.sudut yang menggunakan bilangan derajat (0).

991154523 x Jarak Miring = 0. Makasudut kemiringannya adalah 95023'48" 90°00'00" 05023'48" Beda tinggi = 5°23'48" x 2 = 10°47'36" Sin = 0.1 872670 1 9 x V2 =0.557726 m Cara 2: Apabila yang digunakan untuk menghitung bukan sudut kemiringan tapi pembacaan sudut vertikal dan yang terbaca adalah 95023'48" maka rumus yang digunakan adalah : Diketahui :BA = 1750 Pembacaan vertikal 95 023' 48” BB = 1250 JM= 50 m Jarak.093633509 x JM = 0.6 Beda Tinggi Beda tinggi merupakan hal yang juga sangat penting apalagi dalam pekeerjaan bangunan gedung dan irigasi. kalau tidak teliti akan mengakibatkan kemiringan pada gedung atau aliran air yang tidak sesuai dengan perencanaan.995567438` = 0.093633509 x 50m = 4.991154523 x 50 m = 49.557726 m 2.Contoh : Diketahui :BA = 1750 Pembacaan vertikal 95 ° 23' 48 BB = 1250 JM= 50 m Maka slope atau sudut kemiringannya = 95°23'48" 90°00’00” 5°23’48” Jarak Datarnya Cos 5°23'48" = 0.Datarnya Sin 2 95 023’ 48" = 0.681675 m = .681675 m .9955674382 = 0. Pada pekerjaan pengukuran beda tinggi dapat dihitung dengan menggunakan rumus : Cara 1 : BT=1/2Sin 2 α x Jarak Miring Contoh.991154523 x Jarak Miring = 0.2.4.991154523 x 50 m = 49. Diketahui BA = 1750 mm BB = 1250 pembacaan sudut vertikal 9523'48" JM= 50 m.

Untuk mengatasinya perlu mencari surveyor yang mahir dan diusahakan tempat menginap tidak jauh dari lokasi kerja dan disediakan fasilitas yang memadai.3. bagian bawah rambu sudah rusak.0. kesalahan dalam pembacaan. orangnya belum mahir atau kondsi sudah dalam kelelahan.681675 m 2. Adapun macam-macam kesalahan yang ditimbulkan oleh manusianya.3. lokasinya jauh dan memerlukan perjalanan yang melelahkan. Apabila. Karena sering berpindah. 2. 2. pembacaan biasa dan luar biasa pada pembacaan sudut horizontal dan vertikal akan mengamlami selisih yang besar. Hal ini bisa ter jadi karena jarak yang diukur tidak terlalu jauh sekitar 50 m sampai 80 m. agar bisa menyingkat waktu dan menghemat biaya maupun tenaga. Luas penampang dapat dihitung secara mekanis . rambu sudah rusak sehingga tulisannya tidak jelas yang menyulitkan surveyor untukmembacanya.093633509 x 50m = 4.pindah maka theodoit juga. meliputi kesalahan dalam penyetelan alat. Untuk itu disararankan apabila lokasinya jauh didalam hutan dan mernerlukan perjalanan yang jauh dan melelahkan.1 Kesalahan yang disebabkan karena alam Dalam hal ini kesalahan disebabkan karena keadaan bumi yang sebenarnya melengkung atau berbentuk bola tapi kita menggapnya lurus. luasnya adalah luas yang dihitung dalam peta atau gambar yang merupakan keadaan bumi dengan proyeksi orthogonal. Tapi karena jarak yang diukur tersebut berulang kali maka dari jarak yang pendek-¬pendek tersebut digabung yang akan menjadi panjang dengan sendirinya kelengkungan bumi akan berpengaruh terhadap ketelitian pengukuran.guncang bahkan terbanting dan akan mengalami perubahan misalnya nivo tidak bisa ditengah waktu distel.3 Kesalahan yang disebabkan manusia Kesalahan disini lebih sering terjadi karena. Tapi kesalahan karena alam tidak terlalu berpengaruh terhadap penngukuran progress karena dalam pengukuran progress jarak yang diambil tidak telalu jauh maksimal ± 70m sampai dengan ±100m. Jadi dalam hal ini faktor alam bisa diabaikan. maka alat tersebut harus dikalibrasi.187267019) x 50m = -0.3 Kesalahan Dalam Pengukuran Dalam pengukuran ada bermacam. centring akan berubah jika dilihat disisi lain. Kesalahan juga bisa karena rambu ukur misalnya pada waktu memegang rambu letakkya tidak vertikal. Cara 2 Apabila yang digunakan untuk menghitung bukan sudut kemiringan tapi pembacaan sudut vertikal dan yang terbaca adalah 95023'48” maka minus yang digunakan adalah : Diketahui BA = 1750 mm BB = 1250 pembacaan sudut vertikal 95023'48" JM = 50 m Beda tinggi =1/2 (95"23'48" x 2) x 50m = 1/2 Sin 190'47' 361 ~ x 50m =1/2(. rambu terbenam dilumpur sambungan rambu yang tidak tepat. Faktor alam juga bisa disebabkan sinar matahari dimana pada bagian nivo yang mudah mengembang jika terkena panas matahari .macam kesalahan dan yang sering terjadi dilapangan ada tiga macam kesalahan dalam pengukuran yaitu : 2. akan terguncang. Dalam hal ini.4 Luas Penampang Yang dimaksud dengan luas (L) adalah suatu nominal yang didapat dari perkalian antara panjang (p) dan lebar (1) dari suatu bidang. 2.2 Kesalahan yang disebabkan oleh alat Kesalahan karena alat ukut theodolit yang sangat peka terhadap goncangan dan tekanan maka alat ukur ditempatkan pada kotak yang sedemiklan rupa.3. lebih baik membuat basecamp dilokasi sekitar tempat kerja.Karena pembacaan sudut vertikal lebih dari 90° maka beda tingginya diberi tanda minus. Maka dalam pekerjaansurvey harus memaki payung jika cuaca dalam keadaan panas.

3.5 . L= Luas n= Banyaknya kotak per milimeter 2. dapat diperoleh diantaranya melalui peta topografi yaitu dengan cara membuat penampang melintang (cross section). kemudian diolah dengan perintah-perintah yang tersedia. n = point titik pengukuran 3. karena dengan mengelilingi area penelitian (dalam bentuk peta) sudah dapat diketahui nilai luas area tersebut.surfer.Atau dapat denggan meuggunakan rumus: V = Volume tanah penutup A= Luas area L = Jarak per area Gambar 2. X= Koordinat X. maka dengan sendirinya akan dapat diketahui besaran luas dari daerah penelitian. Dengan menggunakan kertas milimeter Cara ini dilakukan dengan menghitung banyaknya kotak kecil per milimeter yang termasuk dalam area pengukuran. Penampang Melintang Rata-Rata Diposkan oleh Kuliah D3 Fatek di 03:55 1 komentar: . Dengan menggunakan Software Cara ini yang paling mudah yaitu dengan memasukkan data pengukuran dari theodolite ke dalam komputer (software) seperti surfac. Adapun cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume tanah penutup. Dengan menggunakan data koordinat Cara ini dilakulan dengan menggunakan data-data koordinat (koordinat X. antara lain adalah sebagai berikut : 1. Y dan z) L = Luas. Penampang melintang dibuat tegak lurus terhadap kontur struktur batubara dengan interval tertentu antar penampang dengan batas-batas sesuai rencana-rencana penambangan. Z = Elevasi. Menentukan luas area per penampang (section) kemudian luas 1 ditambah luas 2 dibagi 2 kemudian dikalikan jarak per penampang. yaitu antara lain: 1. Volume Tanah Penutup Untuk menentukan volume tanah penutup.menggunakan alat ukur theodolite dan dioleh dengan menggunakan planimeter. Dengan menggunakan alat Planimeter Cara ini lebih mudah.5. Ada bebempa cara yang dapat digunakan untuk menghitung luas. 4.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Ada kesalahan di dalam gadget ini Pengikut Arsip Blog  ▼ 2009 (12) o ▼ Juli (2)  Laporan Praktikum Geologi Struktur  dasar teori praktikum ilmu ukur tanah o ► Mei (10)  Batuan Beku  Stratigrafi  BAB VIII Pengolahan Bahan Galian  BABA vII Pengoahan Bahan Galian  BAB vi Pengolahan Bahan Galian  BAB V GRAVITY CONCENTRATION  BAB IV Pengolahan Bahan galian  BAB III Pengolahan Bahan Galian  BAB II Pengolahan Bahan Galian  Bab I Pengolahan Bahan Galian "Graviti. entar q minta filenya ya.....1..????? BalasHapus Tambahkan komentar Muat yang lain. 2009 09:51 PM sip. gratis kan.. Mengenai Saya .. SyahidNov 28..

Kuliah D3 Fatek Lihat profil lengkapku .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful