P. 1
Evaluasi Kbk Dalam Kaitannya Dengan Peningkatan Mutu Lulusan Pendidikan

Evaluasi Kbk Dalam Kaitannya Dengan Peningkatan Mutu Lulusan Pendidikan

|Views: 31|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

EVALUASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DALAM KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN MUTU LULUSAN PENDIDIKAN

A. Pendahuluan Selama ini model kurikulum yang berlaku adalah model kurikulum yang bersifat akademik. Kurikulum yang demikian cenderung terlalu berorientasi pada isi atau bahan pelajaran. Berdasarkan hasil beberapa penelitian ternyata model kurikulum yang demikian kurang mampu meningkatkan kemampuan anak didik secara optimal. Hal ini terbukti dari rendahnya kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh bahwa di beberapa negara Asean menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada tingkat terendah, untuk mata pelajaran matematika berada pada urutan ke 32 pada tingkat SLTP. Bukti ini hanya sebagian kecil saja dari keterpurukan output pembelajaran yang selama ini dikembangkan berdasarkan kurikulum akademik yang berlaku. Dampak lain dari implementasi kurikulum akademik ini ternyata tidak mampu memberikan nilai etika, moral, dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan siswa dimanapun ia berada. Maka jika dievaluasi kira-kira mata pelajaran apa yang lemah dalam aspek kurikulumnya, maka diantaranya adalah pelajaran PPKn dan Agama. Berdasarkan fenomena tersebut, maka inovasi kurikulum melalui KBK sudah mulai dilakukan untuk menghindari keterpurukan lebih jauh. KBK setidaknya membekali kompetensi paling dasar atau paling tidak memberikan esensi pokok dari setiap mata pelajaran, dengan demikian diharapkan mampu memberikan pengalaman nyata bagi kehidupan anak secara nyata dan langsung dirasakan sehari-hari. Pada bahasan selanjutnya penulis ingin mengembangkan tulisan mengenai evaluasi kurikulum KBK. B. Konsep Evaluasi Kurikulum Dalam memahami pelaksanaan evaluasi kurikulum, maka sebelumnya penulis ingin mengetengahkan konsep dari evaluasi itu sendiri. Menurut Guba dan Lincoln bahwa Evaluasi dinyatakan sebagai suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai- dan arti sesuatu

yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaaan atau sesuatu kesatuan tertentu. Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk menentukan nilai atau efektivitas suatu kegiatan dalam membuat keputusan tentang program kurikulum. Evaluasi sistem kurikulum berkaitan dengan manajemen kurikulum yang dimulai dari tahap input evaluation, process evaluation, output evaluation dan outcomes evaluation. Bertujuan untuk mengukur tercapainya tujuan dan mengetahui hambatan-hambatan dalam pencapaian tujuan kurikulum, mengukur dan membandingkan keberhasilan kurikulum serta mengetahui potensi keberhasilannya, memonitor dan mengawasi pelaksanaan program, mengidentifikasi masalah yang timbul, menentukan kegunaan kurikulum, keuntungan, dan kemungkinan pengembangan lebih lanjut, mengukur dampak kurikulum bagi kinerja TKPD (Bushnell dalam Harris dan Desimone: 1994). Evaluasi merupakan kebutuhan dan mutlak diperlukan dalam suatu sistem kurikulum, karena berkaitan langsung dengan setiap komponen dalam sistem instruksional, dalam seluruh tahapan disain, dan pengembangan kurikulum. Asumsi dasar yang digunakan dalam evaluasi kurikulum dapat berupa spesifik yang ditujukan kepada pengukuran potensi dan kinerja manusia dalam hal ini tenaga kependidikan. Dari pendapat di atas, maka da dua pokok yang menjadi karakteristik evaluasi, yaitu: 1. evaluasi merupakan suatu proses atau tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk memberi makna atau nilai sesuatu. Dengan demikian evaluasi bukanlah hasil atau produk; 2. evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Artinya berdasarkan hasil pertimbangan evbaluasi apakah sesuatu itu mempunyai niai atau tidak. Dengan kata lain evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai. Konsep nilai dan arti dalam suatu evaluasi kurikulum memiliki makna yang berbeda. Pertimbangan nilai adalah pertimbangan yang ada dalam kurikulum itu sendiri. Dalam arti apakah program dalam kurikulum itu dapat dimengerti oleh guru atau tidak. Sedangkan konsep Arti berhubungan dengan kebermaknaan suatu kurkulum. Misalnya apakah kurikulum yang dinilai memberikan arti untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa, apakah kurikulum itu dapat merubah cara belajar siswa kepada yang lebih baik. Dari hasil evaluasi kurikulum dan hubungannya dengan konsep nilai dan arti ini bisa terjadi evaluator menyimpulkan bahwa kurikulum yang dievaluasi itu cukup sederhana dan

dimengerti guru akan tetapi tidak memiliki arti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Sebaliknya, kurikulum yang dievaluasi itu memang seikit rumit untuk dioterpkan oleh guru akan tetapi memiliki nilai yang berarti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut ahli kurikulum diantaranya Oliva (1988), menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir, meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Maka evaluasi itu sendiri merupakan bagian yang terintegrasi dalam suatu proses pengembangan kurikulum. Rumusan tentang tujuan evaluasi dikemukakan oleh Purwanto an Atwi (1999: 75) yaitu: (1) mengukur tercapainya tujuan dan mengetahuai hambatan-hambatan dalam pencapaian tujuan kurikulum, (2) mengukur dan membandingkan keberhasilan kurikulum serta mengetahui potensi keberhasilannya, (3) memonitor dan mengawasi pelaksanaan program, mengidentifikasi permasalahan yang timbul, (4) menentukan kegunaan kurikulum, keuntungan, dan kemungkinan

pengembangannya lebih lanjut, (5) mengukur dampak kurikulum bagi peningkatan kinerja SDM. Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi, pertama, kurikulum sebagai suatu program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen; kedua, kurikulum sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses pendidikan kedua sisi ini sama pentingnya, seperti dua sisi dari satu mata uang logam. Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi tersebut, baik evaluasi terhadap kurikulum yang ditempatkan sebagai suatu dokumen yang dijadikan pedoman juga kurikulum sebagai suatu proses, yakni implementasi dokumen secara sistematis. Jika melihat KBK, maka sudah memiliki beberapa komponen pokok yaitu kompetensi, pengalaman, strategi pembelajaran dan media, rencana evaluasi keberhasilan. Berikut adalah keatan evaluasi terhadap kurikulum: 1) Evaluasi tujuan dan kompetensi yang diharapkan dicapai oleh setiap anak yang sesuai dengan visi dan misi lembaga. Dalam evaluasi kurikulum seperti ini maka pokok yang akan dinilai adalah aspek tujuan atau kompetensi yang diharapkan dalam dokumen kurikulum, yaitu mencakup : 1. Apakah kompetensi yang harus dicapai oleh setiap anak didik sesuai dengan misi dan visi sekolah.

2. Apakah tujuan dan kompetensi itu mudah dipahami oleh setiap guru. Sebagai suatu dokumen, kuriulum tidak akan memiliki makna apa-apa tanpa diimplementasikan oleh guru. Maka guru perlu memahami mengenai kompetensi yang diharapkan oleh lembaga pendidikan. 3. Apakah tujuan dan kompetensi dirumuskan dalam kurikulum sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. 2) Evaluasi terhadap pengalaman belajar yang direncanakan. Kriteria yang dijadikan patokan dalam tahap ini yaitu menguji pengalaman belajar diantaranya : 1. Apakah pengalaman belajar yang ada dalam kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian visi dan misi lembaga pendidikan? 2. Apakah pengalaman belajar yang direncanakan itu sesuai dengan minat siswa. 3. Apakah pengalaman belajar yang direncanakan sesuai dengan karakteristik lingkungan di mana anak tinggal. 4. Apakah pengalaman belajar yang ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan jumlah waktu yang tersedia. 3) Evaluasi terhadap strategi belajar mengajar. Sebagai suatu pedoman bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat petunjuk sehingga bagamana cara pelaksanaan atau cara mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Sejumlah kriteria yang dapat diajukan untuk menilai pedoman strategi belajar mengajar, diantaranya: 1. apakah strategi pembelajaran dirumuskan sesuai dan dapat ,mendukung untuk keberhasilan pencapaian kompetensi pendidikan. 2. Apakah strategi pembelajaran yang diusulkan dapat mendorong aktivitas dan minat siswa untuk belajar? 3. Bagaimanakah keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi

pembelajaran yang disusulkan? 4. Apakah strategi pembeljaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa? 5. Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi waktu.

4) Evaluasi terhadap program penilaian Kompoenen berikutnya adalah komponen yang harus dijadikan sasaran penilai terhadap kurikulum sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan yaitu : 1. Apakah program evaluasi relevan dengan tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai; 2. Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai formatif maupun sumatif; 3. Apakah program evaluasi kurikulum yang direncanakan dapat mudah dibaca dan dipahami oleh guru; 4. Apakah program evaluasi bersifat realistios, dalam arti mungkin dapat dilaksanakan oleh guru. 5) Evaluasi terhadap implementasi kurikulum Sisi kedua dari kurikulum adalah pelaksanaan atau implementasi kurikulum sebagai program. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman sebagai berikut : 1. Apakah implementasi kurikulum yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan program yang direncanakan? 2. Apakah setiap program yang direncanakan dapat dilaksanakan oleh guru? 3. Sejauhmana siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai? 4. Apakah secara keseluruhan implementasi kurikulum dianggap efektif dan efesien?

C. Pendekatan Evaluasi Kurikulum Ada beberapa pendekatan Evaluasi Kurikulum, ada empat pendekatan yaitu pre-ordinate; pendekatan fidelity, pendekatan gabungan dan pendekatan proses. 1. Pendekatan pre-ordinate. Pendekatan ini adalah pendekatan evaluasi kurikulum yang mengggunakan kriteria ternetntu. Ada dua karakteritsik penekanan ini yaitu pendekatan yang dilakukan pada

waktu kegiatan evaluasi kurikulum beleum dilaksanakan, dan kedua kriteria tersebut tidak dikembangkan dari karakteristik kurikulum yang dievauasi melainkan dari buku tertentu atau dari alat evaluasi yang memiliki standar tertentu. 2. Pendekatan Fidelity Berbeda dengan pendekatan sebelumnya bahwa pendekatan fidelity berasal dari kurikulum yang dievaluasi. Oleh sebab itu sebelum evaluator melaksanakan evaluasi, maka ia perlu mempelajari secara mendalam tentang karakteristik kurikulum yang akan dievaluasi. Selanjutnya dari hasil studi itu dikembangkan kriteria evaluasi. 3. Pendekatan kriteria gabungan Evaluasi dengan pendeatan pengembangan kriteria gabungan mempergunakan berbagai sumber kriteria untuk mengukur berbagai dimensi kurikulum, baik kurikulum sebagai suatu gagasan, sebagai rancangan program maupun kurikulum sebagai suatu proses kegiatan dan kurikulum sebagai suatu hasil. Sesuai dengan namanya pendekatan ini menggabungkan antara kriteria yang diambil dari konsep atau standar tertentu di luar kurikulum yang relevan (pre-ordinate) dengan kriteria yang diambil dari kurikulum yang dievaluasi (fidelity) 4. Pendekatan proses Pendekatan ini bersumber dari pendekatan naturalistic inquiry atau sering juga disebut pendekatan feneomenelogi. Evaluasi kurikulum denagan pendekatan ini berasal dari rasa ketidak puasan terhadap hasil evaluasi yang dirasakan kurang membantu para pelaksana terutama para guru. Pemakaian pendekatan kualitatif yang terkenal dengan statistik menyebabkan para guru banyak yang tidak memahaminya sehingga hasil evaluasi yang menetapkan kriteria secara sepihak dari evaluator dianggap memiliki kelemahan, oleh karena guru sebgai pelaksana kurikulum seakan-akan akan hanya ditempatkan sebagai objek evaluasi, mereka tidak diotempatkan pada posisi yang sebenarnya. Oleh karena itulah dalam pendekatan proses, guru terlibat dalam proses evaluasi; evaluator memperhatikan perasaan dan pandangan mereka tentang kurikulum yang sedang dievaluasi.

D. Model Evaluasi Kurikulum Ada sejumlah model evaluasi kurikulum diantaranya model Tyler, model CIPP, model Stake, berikut ini akan penulsi sajian dua pendekatan saja, yaitu : 1. Pendekatan Tyler. Pendekatan model Tyler menakankan bahwa evaluasi kurikulum diarahkan kepada usaha untuk mengetahui sejauhmana tujuan pendidikan yang berupa tingkah laku yang diharapkan telah dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang merka tampilkan pada akhir kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, evaluasi dilaksanakan telah untuk melihat apakah perilaku yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dicapai oleh siswa atau belum. Selanjutnya, sehubungan dengan informasi hasil evaluasi ini, maka keputusan-keputusan apa yang harus diambil baik terhadap kurikulum yang berlaku maupun terhadap siswa sebagai subjek belajar. Oleh karena evaluasi model Tyler diarahkan untuk melihat kesesuaian antara tujuan yang diharap[kan dengan hasil yang diperoleh siswa, maka model ini juga dinamakan evaluasi model congruence (persuation). Evaluasi kurikulum seperti ini adalah EBTANAS merupakan contoh kongkrit dari pelaksanaan evaluasi kurikulum. 2. Pendekatan CIPP Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam. CIPP singkatan dari Context, Input, Process dan Product. Menurut model ini, proses pengembangan kurikulum tidak akan terlepas dari empat dimensi tersebut. Maka keempat komponen itu CIPP harus dijadikan pokok dalam evaluasi kurikulum. Isi adalah situasi atau latar belakang yang mempengaruhi perumusan tujuan yang hendak dicapai, misalkan padangan hidup atau sistem nilai masyarakat, ekadaan ekonomi, kondisi geografis, motivasi beajar dan sebagainya. Input adalah sarana prasarana, modal, bahan serta rencana strategi yang matang untuk mencapai tujuan. Proses adalah pelaksanaan strategi serta pemanfaatan berbagai sarana,modal; dan fasilitas seperti yang ditetapkan dalam komponen input. Produk adalah hasil yang dicapai baik selama maupun akhir pengembangan kurikulum yang berlaku.

Empat hal ini bisa dianggap sebagai tipe atau fase dalam evaluasi. Evaluasi konteks

berfokus pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang. Evaluasi input berfokus pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi desain dan cost benefit dari rancangan. Evaluasi proses memiliki focus lain yaitu menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan day to day decision making untuk melaksanakan program, membuat catatan atau “record”, atau merekam pelaksanaan program. Evaluasi produk berfokus pada mengukur pencapaian tujuan selama proses dan pada akhir program. E. Bentuk Kegiatan Evaluasi Kurikulum di Lapangan. Pelaksanaan penilaian kurikulum dapat dilihat juga pada konteks mikro yaitu tingkat pembelajaran, di mana seorang guru terutama dalam implementasi KBK akan menilai kurikulum apda spek tujuan yang aktual dalam bentuk TPU dan TPK , organisasi materi dan cara penyampaian materi, metode yang dikembangkan serta media yang dipakai dalam membantu kelancaran belajar siswa, sistem penilaian pembelajaran itu sendiri. Maka pada konteks ini betul-betul bahwa evaluasi kurikulum memang harus dilaksanakan. Di mana ujung akhir dapat dijadikan bahan atau masukan dalam nenentukan kenaikan kelas pada siswa. Pada dasarnya evaluasi kurikulum dapat dipandang dari konteks mikro dn makro serta fungsinya. Dari sudut pandang makro berarti evaluasi kurikulum ditujukan pada program kurikulum secara keseluruhan dalam suatu institusi atau kelembagaan. Di mana prosesnya akan terukur dari setiap penyuelenggaraaan program kurikulum untuk setiap mata pelajaran yang dikembangkan dalam pembelajaran. Sedangkan dalam konteks mikro berarti evaluasi kurikulum ditujukan pada upaya perbaikan pembelajaran pada tingkat elas, di mana hasilnya dapat berupa kualitas pembelajaran dan kualitas output atau keluaran hasil pembelajaran berupa keterampilan dan kecapakan siswa. Adapun ditinjau dari fungsi evaluasi, maka evaluasi kurikulum dapat berfungsi untuk: 1. Perbaikan, dimana evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki isi program, pelaksanaan, dan evaluasi itu sendiri, sera upaya kearah inovasi kurikulum msa yang akan datang. 2. Penempatan, dalam arti evaluasi kurikulum ditujukan untuk melihat hasil pembelajaran , dimana peserta didik yang mengikuti program kurikulum dalam bentuk pembelajaran akan dipetakan dalam kelompok tinggi, sedang dan rendah. Hal

ini sangat penting guna menilai dan mengembangkan kualitas dan kesesuaian kurikulum dengan klebutuhan peserta didik. 3. Penyebaran, evaluasi kurikulum dilaksanakan dalam rangka memberikan perlakukan secara merata pada setiap satuan pendidikan dna jenjang pendidikan untuk semua daerah baik perkotaan, pedesaan bahkan daerah terpencil sekalipun. Tujuannya agar kurikulum yang baru seperti KBK betul-betul teruji oleh semua kondisi dan karakteristik sistem pembelajaran sebagai wujud implementasinya di lapangan. 4. Penelitian dan Pengembangan, evaluasi kurikulum dilaksanakan guna melihat dampak atau perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat, apakah kurikulum tersebut dapat diterima atau masih perlu direvisi bahkan dikembangkan. Hal ini sangat penting guna mengontrol implementasi KBK diseluruh tanah air.

Dari keempat fungsi evaluasi kurikulum ini, maka dapat terlihat jika salah satunya dilaksanakan, maka akan menuntut langkah atau fungsi yang lainnya untuk dilakukan juga. Hal ini memungkinkan terjadi karena jika dikembalikan pda pemhaaman kurikulum sebagai suatu sistem, dengan demikian pelaksanaan evaluasi kurikulum juga harus berbasis sistemik. Secara lebih khusus bentuk pelaksanaan evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada kategori sebagai berikut : 1. Evaluasi terhadap konsep kurikulum, evaluasi dilakukan dengan tujuan mengkur sejauhmana pemahaman masyarakat belajar terhadap konsep kurikulum yang akan dioimplementasikan di sekolah-sekolah. Evaluasi ini bisa dilakukan dengan teruju pda aspek yang dievaluasi mencakup teori, pemahaman dasar, latar belakang, keterbacaan konsep kurikulum itu sendiri. 2. Evaluasi terhadap komponen kurikulum, evaluasi ini dilaksanakan tehradap komponen tujuan, komponen materi atau isi, komponen metode, dan komponen evaluasi itu sendirei. Di mana pelaksananaannya dapat dilakukan pada setiap pembelajaran berlangsung. Karena melalui pembeljaaranlah semua komponen kurikulum dalam arti kurikulum aktual dapat terlihat dengan jelas dan dirasakan oleh peserta didik. 3. Evaluasi terhadap isi program kurikulum, evaluasi dilaksanakan terhadap semua isi propgram, baik menyangkut keluasan dan kedalaman isi Scope dan Sequence. Hal ini

sangat penting guna memetakkan program yang proporsional antara jenjang pendidikan dasar, menengah, lanjutan dan mungkin pendidikan tinggi. Isi program dikaitkan dengan filsafat kurikulum yang dewasa ini menggunakan konsep life skill sebagai tujuan yang harus betul-betul memberikan perubahan perilaku pada kehidupan peserta didik. 4. Evaluasi terhadap prinsip-prinsip kurikulum, evaluasi ini dilakukan terhadap prinsipprinsip yang selama ini menjladi landasan pengembangan kurikulum baik secara makro maupun mikro. Evaluasi terhadap prinsip ini sangta penting guna memberikan dan melihta tingkat keefektifn dari kontribusi kurikulum yang baru bagi masyarakat. 5. Evaluasi terhadap landasan pengembangan kurikulum, evaluasi ini dilakukan tehradap landasan-landasan pengembangan kurikulum. Evaluasi mulai dilakukan terhadap landasan filosofis, hal ini penting karena masalah filposofis akan menjadi dasar bagi pengembangan dan keberlangsungan diterima tidaknya implementasi suatu kurikulum dalam suatu negara. Evaluasi terhadap landasan sosiologis, perlu dilakukan karena isi kurikulum harus mewadahi perkembangan dan kemajuan serta tuntutan dari masyarakat. Evaluasi terhadap landasan psikologis, harus dilakukan karena kurikulum disusun untuk memenuhi segala kebutuhan manusia secara individu, sosial, dan sistem. Evaluasi terhadap landasan IPTEK, sangat penting dilakukan karena kurikulum harus relevan dan sesauai serta mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disamping juga membekali masyarakat dengan IPTEK tersebut untuk mampu melakukan inovasi kurikulum yang akan datang. 6. Evaluasi terhadap evaluasi kurikulum itu sendiri evaluas ini dilakukan sebagai kontrol terhadap pelaksanaan evaluasi kurikulum dalma konteks sebelumnya. Karena tidak menutup kemungkinan evluasi dilaksanakan tidak sesuai dengan prosedur, jenis, fungsi, entuk dan alat yang semestinya dipakai dalam evaluasi. Dari sudut hakikat evaluasi juga kemungkinan evaluasi kurikulum tidak dilaksanakan tepat pada saaran, atau eval;uasi hanya dilaksanakan pada daerah-daerah tertentu tidk menyeluruh sehingga hasilnya dapat membingungkan dalam upaya inovasi dan pengembangan kurikulum lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut, maka evaluasi terhadap kegiatan evaluasi kurikulum itu sendiri harus dilaksanakan.

F. Indikator Keberhasilan suatu Pelaksanaan Kurikulum melalui Evaluasi Kurikulum.

Maksudnya bahwa setiap evaluasi kurikulum pasti akan menanyakan bagaimana hasil yang dicapai oleh kurikulum yang bersangkutan. Untuk menetapkan kriteria berhasil tidaknya suatu kurikulum dilaksanakan, maka pengolahan hasil evaluasi kurikulum harus mengacu kepada, indikator sebagai berikut : 1. Efektivitas Proses Pembelajaran. Dalam arti proses pembelajaran akan lebih efektif an efesien. Di mana efektif dan efesien ini diperoleh dan terwujud dari hasil masukan evaluasi kurikulum pada tingkat mikro. 2. Kepemimpinan Sekolah Yang Kuat. Dari hasil evaluais kurikulum maka secara tidka langsung akan berdampak pada kekuatan kepemimpinan sekolah itu sendiri. Karena masalah evaluasi akan berhubungan dengan masalah manajemen evluasi. Di mana kepemimpinan sekolah yang kuat akan mampu menjamin pelaksanaan evaluasi kurikulum yang objektif. 3. Pengelolaan Tenaga Kependidikan Yang Efektif. Pelaksanaan evaluasi kurikulum akna berjalan lancar dan objektif jika didukung oleh tenaga kependidikan yang efektif dalam arti memiliki pemikiran yang berkualitas sehingga pelaksanaan evaluasi tepat sasaran, yaitu menilai apa yang seharusnya dinilai. 4. Sekolah Memiliki Budaya Mutu. Jika sekolah sudah memiliki budaya mutu yang tinggi, maka evaluasi kurikulum pasti gencar dan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan sistem yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Tujuannya bahwa hasil evaluasi secara tidak langsung akan menjadi landasan peningkatan mutu sekolah itu sendiri. 5. Sekolah Memiliki “Teamwork” Yang Kompak, Cerdas, dan Dinamis. Memang dalam pelaksanaan evaluasi sangat diperlukan suatu sistem dalam bentuk jaringan SDM –nya maupun perangkat keran dan lunak yang mampu mendukung terhadap keefektifan pelaksanaan evaluasi. Jika tim pelaksana evaluasi berkualitas,

kompak serta cerdas dan dinamis, maka kesulitan apapun yang dihadapi akan dapat diatasi, demikian juga jika harus dituntut memunculkan inovasi atau strategi pelaksanaan evaluasi kurikulum yang modern juga akan segera terwujud. 6. Sekolah Memiliki Kemandirian. Evaluasi hendaknya dilaksanakan atas kemampuan dan kemauan sekolah sendiri, hal ini karena evaluasi dilaksanakan sesuai dengan analisis kebutuhan sebelumnya. 7. Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat. Kelancaran evaluasi kurikulum akan dituntut dari kontribusi tenaga, pikiran dan kerjasama yang baik antara pihak-pihak yang berkepentingan terhadap implementasi kurikulum. 8. Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi). Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan dan penilaian hasil evaluasi kurikulum hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak-pihak yang berkepentingan, guna menjaga tingkat objektivtas evaluasi itu sendiri. 9. Sekolah Memiliki Kemauan Untuk Berubah (Psikologis dan Fisik). Memang evaluasi sangat dituntut jika sekolah mau melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Hail evaluasi harus dijadikan landasan dalma melakukan pengembangan. 10. Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan. Pelaksanaan evaluasi tidak hanya untuk sekali saja. Seperti hanya untuk menilai KBK saja, akan tetapi mesti dilakukan melalui prosedur yang sistematis dan berkelanjutan. 11. Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan. Responsitivitas suatu sekolah akan muncul tak kala evaluasi kurikulum terus dilaksanakan, serta hasilnya betul- betul dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan, terutama ditujukan untuk memenuhi tuntutan masyarakat.

12. Sekolah Memiliki Akuntabilitas (Bentuk Pertanggungjawaban). Masalah kulaitas atau mutu hasil dan pelaksanaan evaluasi kurilum memang harus dijaga baik secara mandiri maupun kolektif. Dalam arti sekolah diharuskan memiliki standar mutu minimal berdasarkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, dengan demikian kualitas yang dihasilakan dari evaluasi ini bisa dipertanggungjawabkan. 13. Sekolah Memiliki Sustainabilitas (Berkelanjutan). Evaluasi harus dilaksanakan sesuai dengan kultur na rumahtangga manajemen sekolah secara terus menerus dan seimbang. Hal ini dilaksanakan karena evaluasi yang dilaksanakan pada tahun pertama mungkin akan tidak cocok jika dilaksanakan pada tahun berikutnya. 14. Output Adalah Prestasi Sekolah. Hasil evaluasi dengan gambaran yang bagaimanapun akan menjadi suatu input bagi sekolah dalam menunjang prestasi yang sebelumnya sudah dimiliki sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian evaluasi secara intern juga ditujukan mengukur kualitas sekolah itu sendiri. 15. Penekanan Angka Drop Out. Evaluasi kurikulum dilakukan salah satunya guna melayani semua peserta didik, sehingga betul-betul tertampung dan tidka menjdaikan mereka putus sekolah. Penyesuaian bentuk dan jenis program bahkan mungkin tingkat kesulitan dari program kurikulum selama ini bisa disesuaikan dengan kondisi peserta didik. 16. Kepuasan Staf. Keberhasilan kegiatan evaluasi dengan hasil yang baik maka akan memberikan stimulus bagi peningkatan kinerja para staf pelaksanana. Seidaknya hasil evaluasi dapat memberikan motivasi untuk lebih maju lagi dalam melaksanakan tugas masingmasing, agar hasilnya tidak menghasilkan raport merah terus. Selain dengan meilihat indikator keberhsian dalam pelaksanaaan suatu evaluasi kurikulum, maka juga harus diperhatikan mengenai kriteria-kriteria keberhasilannya. Menurut

Kirkpatrick Model (Harris dan Desimone, 1994: 171), dalam mengevaluasi program kurikulum ada empat kategori untuk mengukur perubahan yang terjadi yaitu: (1) reaksi (reaction), bagaimana perasaan peserta terhadap program kurikulum, (2) belajar (learning), sampai pada tingkat apa peserta belajar dari apa yang diajarkan, (3) perilaku (job behavior), perubahan perilaku apa, dalam konteks pembelajaran yang terjadi sebagai hasil dari keikut sertaan dalam program kurikulum, (4) hasil (result), sejauhmana diperoleh perubahan perilaku yang terkait dengan biaya, peningkatan kualitas sebagai hasil program kurikulum. Karena ukuran-ukuran reaksi (reaction) dan belajar (learning) berkaitan langsung dengan hasil dari program kurikulum, kedua kategori ini disebut kriteria internal. Ukuran perilaku (behavior) dan hasil (results) menunjukkan dampak pembelajaran terhadap kehdupan siswa sehari-hari; keduanya disebut sebagai kriteria eksternal. G. Faktor Pendukung Keberhasilan Evaluasi Implementasi kurikulum akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sifatnya internal di lingkungan sekolah, ataupun faktor eksternal di luar sekolah. Secara umum beberapa faktor pendukung evaluasi kurikulum tersebut adalah sebagai berikut : 1. Kepemimpinan dan Manajemen sekolah yang baik. Evalusi kurikulum akan berhasil jika ditopang oleh kemampuan profesional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien, serta mampu menciptakan iklim organisasi di sekolah yang kondusif untuk proses belajar mengajar. 2. Kondisi sosial, ekonomi, dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan. DFaktor eksternal yang akan turut menentukan keberhasilan evaluasi kurikulum adalah kondisi tingkat pendidikan orang tua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta tingkat apresiasi dalam mendorong anak untuk terus belajar. 3. Dukungan Pemerintah. Faktor ini sangat menentukan efektivitas suatu evaluasi kurikulum dilaksanakan terutama bagi sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap

memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan. Alokasi dana pemerintah (APBN, APBD) dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan sekolah menjadi penentu keberhasilan. 4. Profesionalisme. Faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan kinerja sekolah. Tanpa profesionalisme Kepala Sekolah, Guru, dan Pengawas akan sulit dicapai PBM yang bermutu tinggi serta prestasi siswa.

Dari ketiga faktor pendukung tersebut, maka dapat terlihat bahwa keberhasilan suatu evaluasi kurikulum akan berdampak pada aspek ketiga faktor tersebut dalam kerangka dua sudut pandnag yaitu masalah sumber daya manusia dan masalah sistem. Masalah sistem, hasil evaluasi yang didukung oleh faktor-faktor tersebut memungkinkan munculnya sistem yang demokratis dna teruka. Sedangkan dari sudut SDM hasil dari evaluasi kurikulum memungkinkan dihasilkannya kualitas dan sebaran informasi dari para ahli pengembangan kurikulum secara merata dan seimbang. H. Kesimpulan Pada dasarnya proses evaluasi kurikulum ditunjukan untuk mengevaluasi sejauhmana program-program pembelajaran yang mencakup intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kokurikuler telah terealisasikan dalam pembelajaran yang dikembangkan guru atau belum. Lebih jauh bahwa output yang dihasilkan dari realisasi program kurikulum dalam bentuk pembelajaran tersebut harus menggambarkan tujuan-tujuan semula yang dirumuskan dalam kurikulum. Evaluasi kurikulum dalam konteks KBK, pada dasarnya masih belum sempurna terbukti dari penemuan dan inovasi model dan pendekatan evaluasi yang masih perlu dikembangkan lagi, yaitu sistem evaluasi yang betul-betul menempatkan semua pihak secara demokratis baik apda tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi itu sendiri serta penempatan dan pengambilan kebijakan dari hasil suatu kegiatan evaluasi kurikulum. I. DAFTAR PUSTAKA

Atmadilaga, D., Firdaus A.F. (1994). Membuat dan Mengevaluasi Skripsi, Tesis dan Disertasi Berdasarkan Filsafat Ilmu. Bandung: SIP Press.

Frances and Roland Bee. (1999). Training Needs Analysis and Evaluation. London: Institute of Personel and Development, Short Run Press, Exeter.

Jack, J. P. (1991). Handbook of Training Evaluation and Measurement Methods. Huoston-Texas: Gulf Publishing Company.

Jack,Fitz-enz. (1995). How To Measure Human Resources Management. California: McGraw-Hill, Inc.

Kadarsah, S. dan Ramdhani.(1998). Sistem Pendukung Keputusan. Bandung. Remaja Rosda karya.

Marquardt,M.J. (1997). Building The Learning Organization:A System Approach to Quantum Improvement And Global Success. New York: McGraw-Hill.

 

Oemar Hamlik, (1998), Evaluasi Kurikulum, Bandung : Mandar Madju. Peter H.R. Howard E.F. Evaluation A Systematic Approach (1986). California: Sage Publication, Inc.

Purwanto dan Atwi (1999). Evaluasi Program Diklat. Jakarta: Lembaga administrasi Negara.

Rossi,P.H. and Freeman,H.E.(1985). Evaluation: A Systematic Approach. New Delhi: Sage Publication.

Stufflebeam., Daniel,L., and Shinkfield, Anthony, J. (1985). Systematic Evaluation. Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing. Suparman, A. dan Purwanto. (1999). Evaluasi Program Diklat. Jakarta: STIA –LAN Press

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->