P. 1
Model Iluminatif Pondok Pesantren eLKISI

Model Iluminatif Pondok Pesantren eLKISI

|Views: 187|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

A. Model Iluminatif 1.

Pengantar model illuminatif Dasar evaluasi illuminatif : antropologi sosial Memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas dimana suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Perhatian terhadap lingkungan luas ini merupakan salah satu kekuatan model illuminatif. Peran model illumnatif yaitu memberikan kemungkinan pemahaman terhadap KTSP suatu satuan pendidikan yang lebih baik. Berbagai lingkungan sosial- budaya ekonomi, agama,- teknologi menjadi bagian dari perhatian model illuminatif ketika suatu KTSP dilaksanakan dan dikembangkan. 2. Tujuan evaluasi elluminatif (Parlet dan Hamilton, 1976: 89): to study the innovatory project: how it operates; how it is influenced by various school situations in which it is applied; what those directly concerned regard as its advantages and disadvantages; and how students intellectual tasks and academic experience are most affected untuk belajar innovatory [itu] merancang: bagaimana [itu] beroperasi; bagaimana dipengaruhi oleh berbagai situasi sekolah di mana [itu] diterapkan; apa [yang] [mereka/yang] hormat secara langsung terkait [sebagai/ketika] kerugian dan keuntungan nya; dan bagaimana para siswa tugas intelektual dan pengalaman akademis adalah [yang] paling di/terpengaruh 3. Konsep dari evaluasi model illuminatif: Sistem instruksi (instructional system) dan lingkungan belajar (learning milieu). Sistem instruksional disini diartikan sebagai “katalog, prespektus dan laporan- laporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan suatu pengajaran (parlet dan

Himilton,1976:89) standar isi dan standar kompetensi lulusan adalah suatu sisem isntruksi. Sedangkan lingkungan belajar adalah “lingkungan social- psikologis dan materi dimana guru dan peserta didik berinterasi”.

4. Model illuminatif bersifat adaptif dan elektif: Adaptif :metode yang digunakan dalam model illiminatif asalkan metode tersebut sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi. Elektif :Baik data kuantitatif dan kualitatif memiliki kedudukan yang sama, keduanya saling mengisi. 5. 3 Rangkaian baku dalam kegiatan evaluasi model illuminatif: Observasi : pengamatan secara langsung pada suatu satuan kegiatan pendidikan : dapat berupa studi dokumen, wawancara, menyebarkan kuisioner dan melakukan tes untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan. Dari data yang berhasil dikumpulkan evaluator menemukan isu pokok :

kecenderungan yang sering muncul, persoalan- persoalan penting yang terjadi dalam pelaksanaan kurikulum di suatu pendidikan isu yang didapat digunakansebagai pedoman evaluator dalam lengkah berikutnya. Ingkuiri lanjutan : evaluator tidak berpegang teguh pada penemuannya dala malangkah yang pertaman. Seperti setelah dikemukakan sebelumnya, penemuan pada tahap pertama hanya sebagai pedoman. Pada langkah kedua isu yang pertama bisa saja berubah, misalnya dikarenakan munculnya/ isu yang lebih relevan dan menjadi focus baru dalam evaluasi. Dalam inkuiri lanjutan evaluator memantapkan isu, kecenderungan serta persoalan- persoalan yang ada sampai suatu titik baru muncul. Pada titik tersebut evaluator yakin bahwa tidak ada lagi persoalan yang mungkin lebih penting dibandingkan dengan perosalan yang sudah diidentifikasi. Artinya, persoalany yang ada pada evaluator sudah memiliki validitas permasalahan yang sudah tidak lagi diragukan.

usaha penjelasan: setelah langkah ke dua, evaluator memasuki langkah ke-3 yaitu langka memberikan penjelasan, evaluator harus dapat menemukan prinsipprinsip umum yang mendasari kurikulum disatuan pendidikan tersebut. Disamping itu evaluator harus dapat menemukan polah hubungan sebab akibat untuk menjelaskan mengapa suatu kegiatan dapat dikatakan berhasil dan mengapa kegiatan lainnya dikatakan gagal. Penjelasan merupakan suatu kegiatan penting dalam model ini, tidak hanya sekedar memaparkan apa yang terjadi secara “portrayal”.

B. Kurikulum Pondok Pesanten eLKISI Mojokerto 1. Deskripsi Nama Lembaga Alamat Institusi : Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI : Jl. Raya Mojosari-Trawas KM 8 Dsn. Kemuning Ds.

Mojorejo kec. Pungging – Mojokerto Kota Telp. Institusi Email Institusi URL/Website 2. Latar belakang Pondok pesantren eLKISI adalah sebuah pondok yang berdiri diatas tanah seluas 1,7 H atas wakaf para jama’ah yang dirintis sejak 2005. Ponpes eLKISI didirikan sebagai upaya menjawab tantangan dakwah Islam dimasa kini dan masa yang akan datang. Persoalan- persoalan keummatan yang muncul saat ini menjadi sebuah kajian mendalam eLKISI sebelum memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan formal dan informal. dan alhamdulillah keinginan eLKISI ini bagai gayung bersambut, terbukti dengan respon jama’ah yang cukup besar melalui gerakan wakaf 1 meteran sampai pada program pembangunan pesantren. Dalam rangka menyiapkan kader- kader dakwah yang istiqomah dan mandiri sekaligus membantu mensukseskan program pemerintah RI, WAJAR 9 tahun, maka eLKISI mengadakan pendidikan formal (SMP eLKISI) dengan menggunakan kurikulum diknas dan kurikulum pesantren. Selain itu, fasilitas- fasilitas pendukung yang terkait dengan pemberian life skill para santri juga disiapkan beserta tenaga- tenaga konsultan di bidangnya. 3. Visi MEMPERSIAPKAN GENERASI YANG TANGGUH DENGAN HAFAL AL QUR’AN DAN AL HADITS SECARA MAUDLU’I, BERAQIDAH LURUS, BERKEBIASAAN ISLAMI, TERAMPIL, MANDIRI, DAN BERPRESTASI 4. Misi a. Optimalisasi proses pembelajaran maudlu’I dengan mengaplikasikannya dalam amaliyah sehari- hari serta penugasan kepada santri untuk menyampaikan apa yang telah dihafal kepada jama’ah. : Mojokerto : (031) 3367504 : elkisi@gmail.com : http://www.elkisi.com

b. Mengadakan musabaqoh dan demonstrasi tahfidz maudlu’I serta melakukan evaluasi secara berkala (mingguan, bulanan, triwulan, dan semester) c. Menyiapkan “team teaching” yang kompeten d. Membiasakan berakhlaqul karimah terhadap sesama santri dan sesama masyarakat pendidikan lainnya e. Membiasakan sholat berjamaah dan qiyamul lail setiam malam di masjid ma’had f. Melaksanakan pelatihan kepemimpinan melalui ESQ g. Mengadakan kompetisi internal dan eksternal bidang ekstra kurikuler h. Mengikutsertakan siswa berprestasi dalam berbagai event 5. Target Hafal Alqur’an dan Hadist AL QUR’AN a. HAFAL ALQUR’AN 4 JUZ : JUZ 30, JUZ 29, JUZ 28, JUZ 1 b. HAFAL 100 HADIST AL HADITS c. HAFAL 500 HADIST d. HAFAL 1 JUZ : JUZ 30 6. Fasilitas Untuk menghasilkan output yang berkualitas, maka SMP eLKSI telah menyiapkan sarana prasarana antara lain: a. Fisik : Masjid, asrama, Ruang belajar (indoor dan Outdoor)

b. Pendidikan : Perpustakaan, Lab Komputer, lab IPA, Observasi Lingkungan langsung (Lahan pertanian, peternakan, dan perikanan, Aula (dalam proses penyelesaian) c. Olahraga dan Refreshing: Lapangan olahraga, arena outbound dan kolam ikan)

d. Penunjang: SMS Centre (akses informasi Ma’had eLKISI) e. Beasiswa bagi yang berprestasi

7. Kegiatan Belajar Mengajar 1. Pagi 2. Muroja’ah 3. Sore : Ahad - Kamis 07:00 -12: 05 WIB : Ba’da Dzuhur dan menjelang Maghrib : Ba’da ‘Ashar, Ba’da Maghrib dan ba’da Subuh

4. Pengembangan diri Life Skill (entrepreneur, berkebun, berternak) Komputer Tapak Suci Qiro’ah

5. Belajar malam : setiap hari 20:00 - 21:00 WIB

C. Penerapan evaluasi Illuminatif pada Pondok Pesantren eLKISI 1. Karakteristik Siswa/ santri eLKISI Latar belakang Siswa Kelas VII DI SMP ELKISI Mojokerto berasal dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi Balik Papan (Kalimantan), Ambon (Serang), Irian Jaya Surabaya,Sidoarjo, Gresik, Mojokerto (Jawa Timur). Karena keberadaan Pondok Pesantren ini terhitung baru Jumlah keseluruhan Siswa Kelas VII adalah 29 siswa, yang terdiri dari siswa laki- laki berjumlah 11 anak, siwa perempuan berjumlah 18 anak dengan usia berkisar antara 13-14 tahun. Untuk persyaratan masuk di pondok pesantren, siswa atau akrab disebut dengan santri diwajibkan bisa membaca Al-Qur’an, memiliki pengetahuan agama Islam (Bhs. Arab, Al-Qur’an, Hadist, dsb) , dan ilmu Umum (IPA, Bhs. Inggris, Matematika, IPS, Bhs. Indonesia, dsb) 2. Pendekatan konsep lingkungan belajar pada pondok pesantren Islamic Center eLKISI. Berdasarkan data yang didapat dalam pencapaian: target yang telah ditetapkan pondok pesantren Islamic center eLKISI telah menyediakan fasilitas yang dapat digunakan dalam proses pembelajarannya, yaitu ruang belajar, dimana ruang belajar di pondok pesantren eLKISI tidak hanya sebatas didalam kelas saja, akan tetapi telah disediakan tempat yang sejuk dan nyaman untuk memudahkan anak dalam menghafal Al Qur’an maupun al Hadist. Disamping sarana prasana yang disediakan, Sumber daya manusia adalah aspek penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran dalam tercapainya target. melihat target yang begitu besar, maka juga perlu adanya ahli- ahli dalam menangani berbagai bidangngya. Baik dalam bidang pendidikan maupun peningkatan pengembangan kemampuan anak. Dalam bidang pendidikan, tenaga pendidik di pesantren eLKISI dari alumnibeberapa pondok pesantren, S1 dan S2 dari perguruan tinggi Negeri (UNESA, UNAIR, ITS, UNIBRAW,IAIN)dan dari perguruan tinggi swasta (UMSIDA DAN UMS).

Dalam peningkatan proses yang cepat dalam menghafal Al- Qur’an dan Hadits,Pola Penggunaan Metode Guru adalah metode baca-simak, dimana pendidik membimbing dengan membaca kemudian menirukan, setelah itu baru mereka hafalkan dengan membaca berulang- ulang. Untuk mengetahui ketercapaian hafalan setiap siswa dapat dilihat dari buku Tahfidz yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk memudahkan siswa dalam mencapai target hafalan selama dipondok pesantren, siswa diwajibkan untuk menghafalkan minimal 3 ayat dan 1 hadist setiap harinya. Adapun hukuman untuk santri yang tidak menghafalkan adalah melalui pengkondisian, yaitu setiap santri yang tidak hafal maka dia memiliki hutang ganda, maksudnya, siswa harus menyetorkan hafalan kemarin dan hari ini. Sehingga siswa akan merasa terbebani jika mereka tidak menyetorkan hafalan mereka setiap hari. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap tenggung jawab pada kewajiban mereka. Life skill : untuk mewujudkan siswa yang berkualitas dalam kemandirian ma’ad eLKISI mendidik dan membimbing mereka agar lebih dapat mengembangkan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat nantinya, melalui program entrepreneur (Koprasi), berkebun (menanam padi dan sayuran), berternak (beternak kambing, ayam dan berbagai jenis hewan lainnya), diharapkan kemampuan anak terlihat dalam menentukan minat dan bakatnya sehingga dengan hal demikian dapat digunakan sebagai ilmu terapan dalam kehidupan mereka nantinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->