P. 1
Pemanfaatan Media Video (VCD) Jazirah Nabi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII Di SMP Negeri II Taman Sidoarjo

Pemanfaatan Media Video (VCD) Jazirah Nabi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII Di SMP Negeri II Taman Sidoarjo

|Views: 111|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/30/2012

pdf

text

original

1

PEMANFAATAN PROGRAM VIDEO PEMBELAJARAN SIRAH NABAWIYAH PADA MATA PELAJARAN PEMBELAJARAN SIRAH NABAWIYAH POKOK BAHASAN MEMAHAMI SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII DI SMP eLKISI MOJOKERTO M Saikhul Arif

2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan Teknologi dan Informasi berjalan begitu pesat khususnya perkembangan teknologi di bidang pendidikan yang telah banyak memberikan sumbangan dalam pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan proses belajar mengajar dan memecahkan masalah belajar.

Salah satu kemudahan yang didapat yakni adanya penggunaan dan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Untuk melengkapi komponen belajar dan pembelajaran di sekolah, sudah seharusnya guru memanfaatkan media atau alat bantu yang mampu merangsang pembelajaran secara efektif dan efisien. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mensyaratkan agar setiap satuan pendidikan jalur sekolah menyediakan sarana belajar yang memadai sebagai pendukung pelaksanaan pendidikan. Salah satu yang dapat dimanfaatkan diantaranya adalah media video Video (VCD) Jazirah Nabi Dengan Judul “Muhammad SAW” sehingga siswa mampu memahami materi pelajaran Pendidikan agama islam pokok bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad Saw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Di SMP Negeri II Taman Sidoarjo. Pada umumnya sekolah-sekolah Menengah Pertama di kota satelit atau kota yang dekat dengan kota besar telah mengalami kemajuan sebagai dampak dari sekolah- sekolah di kota besar, yaitu salah satunya dalam penyediaan dan

3

penggunaan sarana prasarana yang memadai sebagai penunjang proses pembelajaran. Seperti halnya kota Sidoarjo yang dekat dengan kota Surabaya, dalam proses pembelajarannya sebagian sekolah telah menyediakan sarana prasarana sebagai penunjang proses pembelajaran. Setiap sekolah di Surabaya berusaha untuk mendapatkan ranting terbaik dalam peringkat sebagai sekolah favorit, dimana setiap proses pembelajaran disekolah telah didukung dengan penggunakan media. Hal ini berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah kota kecil seperti Mojokerto dalam proses pembelajarannya guru cenderung masih menggunakan metode konvensional yang perpusat pada guru yang dalam proses pembelajarannya, guru masih menggunakan metode ceramah, penugasan dan tanya jawab saja, serta bahan ajar sebagai sumber belajar masih berpusat pada penggunakan buku paket, lembar kerja siswa. Sehingga Dengan demikian kota Mojokerto merupakan tujuan kota penelitian.

Penggunaan media pembelajaran di sekolah- sekolah kota Mojokerto tidak semuanya menggunakan model pembelajaran konvensional, di beberapa sekolah juga telah tersedia sarana- prasarana yang mencukupi, akan tetapi pada pelaksanaan penggunaannya belum secara maksimal baik sekolah Negeri maupun Swasta. Pada sekolah SMP eLKISI yang merupakan salah satu sekolah swasta di Mojokerto telah memiliki Sarana- prasarana yang memadai, akan tetapi belum digunakan secara maksimal oleh guru dalam proses pembelajarannya. Untuk itu penelitian dilakukan di SMP eLKISI Mojokerto, pada mata pelajaran Sirah Nabawiyah kelas VII karena Penulis memilih lokasi di SMP eLKISI

Mojokerto, k a r e n a m e m a h a m i s e j a r a h t i da k h a n ya s e l a l u d e nga n

4

d i d a p a t k a n d a r i p en j e l a s a n gu r u , a k a n t e t a p i j u ga h a r u s a d a s u a t u v a r i a s i d a l a m p r o s e s p e m b e l a j a r a n n ya . P a d a S i s w a K e l a s V II rata- rata berusia (11-12) tahun disebut oleh piaget sebagai tahap Operasional Formal. Kanak-kanak yang memasuki tahap ini berupaya berfikir dengan logika serta memahami konsep-konsep yang abstrak, pada masa remaja awal ini merupakan masa transisi keluar dari masa kanak-kanak yang menawarkan peluang untuk tumbuh – bukan hanya dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial. Dalam peningkatan kualitas pembelajran Sirah Nabawiyah diadakan berbagai penelitian. Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang pembelajaran Sirah Nabawiyah yang mengacu pada media dengan judul pengaruh penggunaan media video terhadap motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Sirah Nabawiyah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lais Musi Banyuasin. Dan yang mengacu pada efektifitas penggunaan multimedia dalam pembelajaran sirah nabawiyah (studi eksperimen di madrasah Tsanawiyah tahfizhul qur‟an program takhassus ma‟had isy karima gerdu karangpandan kabupaten karanganyar tahun pelajaran 2007/2008) Dari hasil studi pendahuluan pada tanggal 25 Februari 2012 di SMP eLKISI Mojokerto yang dilakukan oleh peneliti berupa observasi langsung serta wawancara kepada guru bidang studi menemukan beberapa indikator, antara lain : (1) Siswa kesulitan dalam memahami materi yang bersifat cerita masa lalu/ sejarah, (2) Dalam Pembelajaran Sirah Nabawiyah yang dilakukan oleh guru hanya menggunakan LKS dan papan tulis sehingga media yang digunakan kurang efektif dan terkesan monoton,(3) Dalam pembelajaran

5

didalam kelas hanya 2 jam dalam seminggu, sehingga waktu untuk belajar siswa sangat terbatas dalam memahami materi, Dari indikator di atas membawa dampak, antara lain : (1) Siswa tidak dapat mencapai kompetensi yang diharapkan dengan adanya indikator nilai ulangan siswa pada pokok bahasan memahami sejarah nabi Muhammad SAW dibawah standar

minimum. Tujuan ideal dari proses pembelajaran Sirah Nabawiyah adalah siswa mampu mencapai indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelas VII.

Sirah Nabawiyah m e r up ak an bagian dari kisah seorang nabi. Kisah ini memuat kelahiran seorang nabi, wilayah diutusnya nabi,

sahabat yang mengiringi nabi

dan berbagai peristiwa yang dialami

oleh nabi dalam hidupnya. Semua kejadian ini akan mudah difahami dan dirasakan anak didik jika seorang pengajar mampu menghadirkan media yang bervariasi dan saling terintegrasi. Daya serap seseorang terhadap pesan dan isi dalam sebuah Video Pembelajaran sangat besar. Mereka dapat menggambarkan setiap episode film tersebut secara baik setelah menonton untuk dapat memecahkan masalah belajar pada mata pelajaran Sirah nabawiyah.

6

B. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan : 1. Bagaimanakah proses pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dalam peranan pembelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad Saw siswa Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto? 2. Apakah pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto pada pelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad Saw? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk megetahui peranan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dalam meningkatkan hasil belajar siswa Pada Mata Pelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad SAW Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto 2. Untuk mengetahui proses pembelajaran Pembelajaran Sirah Nabawiyah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad SAW Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan

7

D. Manfaat Hasil Penelitian Ditinjau dari segi teoritik dan praktis, maka implikasi dan temuan penelitian terhadap bidang ilmu pengetahuan akan berguna bagi dunia pendidikan pada umumnya dan pada khususnya : 1. Bagi mahasiswa Bagi diri pengembang ini merupakan suatu penelitian yang sangat berarti dalam kegiatan untuk melatih cara berfikir ilmiah dan merupakan implementasi terhadap ilmu dan teori yang didapatkan di bangku perkuliahan, serta sebagai latihan untuk menambah pengalaman dalam melaksanakan penelitian, khususnya penelitian tentang Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. 2. Bagi masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangan kepada masyarakat, terutama pada guru-guru untuk dapat lebih kreatif mencari bentuk media lainnya yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Bagi Pemerintah Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan pengembangan untuk terus meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia terutama dalam mendesain strategi pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

8

4. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Hasil penelitian ini dapat disumbangkan untuk pengembangan ilmu sosial, khususnya pada bidang pendidikan dan lebih khusus pada jalur Teknologi Pendidikan dalam bidang pemanfaatan media. E. Asumsi Dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi Berdasarkan rumusan masalah maka yang menjadi asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Dengan pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dapat memungkinkan peningkatan hasil belajar karena media ini

memiliki daya tarik, sehingga mampu mengkaitkan perhatian siswa disaat belajar. b. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai terhadap penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, dikerjakan baik secara individu maupun kelompok. (Djamarah, 2002:15) 2. Keterbatasan Dalam penelitian inu peneliti mempunyai keterbatasan sebagai berikut : a. Sasaran dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto b. Penelitian ini hanya membatasi pada proses belajar mengajar dengan menggunakan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah. c. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran Sirah Nabawiyah.

9

F. Definisi Istilah a. Pemanfaatan Richey (1994,6) pemanfaatan adalah tindakan menggunakan proses dan sumber belajar Menurut Sadiman (1993,191) pegertian pemanfaatan adalah kemampuan dalam menggunakan atau

memanfaatkan sumber belajar dalam suatu rangkaian kegiatan yang teratur secara sistematis untuk mencapai tujuan. b. Video Pembelajaran Video/VCD pembelajaran adalah suatu media yang dirancang secara sistematis dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku dan dalam pengembangannya mengaplikasikan prinsip-prinsip

pembelajaran sehingga program tersebut memungkinkan peserta didik mencema materi pelajaran secara lebih mudah dan menarik. Secara fisik Video/VCD pembelajaran merupakan program pembelajaran yang dikemas dalam kaset video atau VCD dan disajikan dengan menggunakan peralatan VTR atau VCD player serta TV monitor. Sadiman (1993,282) c. Hasil belajar Menurut Djamarah (2002:15) bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai terhadap penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, dikerjakan baik secara individu maupun kelompok.

10

d. Sirah Nabawiyah Sirah berasal dari bahasa arab ُ‫ السْي ر‬yang bermakna perjalanan, ‫ِ َة‬ kisah, sejarah dan biografi. Nabawiyah berasal dari bahasa arab َُ‫النَبَوي‬ ‫ِة‬ dari ُ َُِ yang berarti seorang nabi. َُ‫ النَبَوي‬berarti kenabian atau yang ‫النب‬ ‫ِة‬ dinisbatkan kepada seorang nabi, maka sirah nabawiyah bermakna perjalanan hidup seorang nabi. Sirah Nabawiyah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SMP eLKISI Mojokerto.

11

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pemanfaatan Program video Pembelajaran kaitannya Teknologi Pendidikan Teknologi pendidikan Proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan manusia, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan,

mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah belajar (siswa) dimana teknologi pendidikan juga merupakan suatu ilmu terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu sesuai dengan kebutuhan dilapangan, memiliki daya tarik, kebutuhan untuk belajar – mengajar lebih efektif, lebih efisien. Dalam proses praktiknya teknologi pendidikan, menerapkan prosedur yang merefleksikan konsep dan teori dari pembelajaran dan perbaikan kinerja, tujuannya yakni pembelajaran dapat terfasilitasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran tertentu dan untuk memperbaiki kinerja siswa, guru, dan perancang pembelajaran serta organisasi dalam konteks perbaikan kinerja. Menurut AECT 2004 (Warsita, 2008 : 17-18) Teknologi Pendidikan adalah Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources. (Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.)

12

Dari definisi di atas dapat terlihat bahwa pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan. Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi proses dan sumber untuk belajar (Richey, 1994 : 1). Teknologi pembelajaran berupaya untuk merancang, mengembangkan, dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan cara dan sumber belajar apa saja yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya (Warsita, 2008 : 20). Dalam Teknologi Pembelajaran, pemecahan masalah nampak dalam bentuk semua sumber belajar yang didesain dan/atau dipilih dan/atau dimanfaatkan. Sumber belajar dalam Teknologi Pembelajaran yaitu ”resource is understood to include the tools, materials, devices, setting, and people that learners interact with to solve learning and performance problems”. (Sumber belajar itu meliputi peralatan, bahan, lingkungan/latar, dan orang dimana pebelajar berinteraksi untuk pemecahan masalah pembelajaran dan kinerja). (Warsita, 2008 : 32) Terdapat dua jenis sumber belajar yaitu sumber belajar yang didesain (resources by desain) dan sumber belajar yang dimanfaatkan (resources by utilization). Bentuk pemecahan masalah belajar pada penelitian ini adalah melalui sumber belajar yang didesain yaitu sumber-sumber yang secara

khusus dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional. Komponenkomponen tersebut telah tersusun dalam proses desain atau pemilihan dan pemanfaatan serta dikombinasikam dalam sistem pembelajaran yang lengkap. Dari uraian tersebut bahwa Teknologi Pembelajaran menggunakan Sumber Belajar / Komponen Sistem Instruksional sebagai upaya untuk memecahkan

13

masalah-masalah belajar yang bertujuan dan terkontrol yang salah satu komponennya adalah media berwujud bahan dan peralatan. Hal ini menegaskan bahwa media pembelajaran mempunyai hubungan erat dengan Teknologi Pendidikan, yaitu media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar (by design) yang merupakan ciri khas pemecahan masalah belajar (Soeharto, 1995 : 104). Di tinjau dari kawasan instruksional, yaitu termasuk dalam domain utilization dan tergolong dalam media utilization sebagaimana dinyatakan bahwa: “media utilization is the systematic use of resources for learning”(Seels & Richey dalam terjemahan AECT , 1994: 50), yaitu berkenaan dengan belajar secara sistematis, termasuk penggunaan media untuk keperluan belajar. Proses pemakaian media merupakan proses pembuatan keputusan yang didasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Prinsip-prinsip pemanfaatannya juga di kaitkan dengan karakteristik pebelajar. Seseorang yang belajar juga memerlukan bantuan keterampilan visual atau verbal agar dapat menarik keuntungan dari praktek atau sumber belajar. Pada pengertian bahwa pemakaian adalah tindakan menggunakan proses dan sumber untuk belajar yang dalam kaitannya sesuai dengan judul yaitu bahwa Program Video Pembelajaran merupakan salah satu sumber belajar yang pemanfaatannya digunakan dalam suatu proses pembelajaran yang sistematis untuk belajar sebagai upaya untuk peningkatan pemahaman materi siswa terhadap apa yang sedang di pelajari. Dari penjelasan diatas jika kita hubungkan dengan domain teknologi pembelajaran dalam Barbara B Seels (1994:31), dapat digambarkan sebagai berikut:

14

Kawasan Teknologi Pembelajaran Barbara B. Seels & Rita C. Richey (Instructional - Technology, 1994:26)
PENGEMBANGAN     Teknologi Cetak Teknologi Audiovisual Teknologi Berbasis Komputer Teknologi Terpadu PEMANFAATAN

 Pemanfaatan Media  Difusi Inovasi  Implementasi dan institusionalisasi  Kebijakan dan regulasi

DESAIN     Desain Sistem pembelajaran Desain Pesan Strategi pembelajaran Karakteristik pebelajar    

Teori dan

PENGELOLAAN  Manajemen Proyek  Manajemen Sumber  Manajemen Sistem Penyampaian  Manajemen Informasi

PENILAIAN Analisis Masalah Pengukuran Acuan patokan Evaluasi Formatif Evaluasi Sumatif

Bagan 2.1 Domain Teknologi Pembelajaran

Judul yang diangkat termasuk dalam domain Pemanfaatan yaitu Pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah Pada Mata Pelajaran Pembelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad Saw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII DI SMP eLKISI Mojokerto. Fungsi pemanfaatan penting karena fungsi ini memperjelas hubungan pebelajar dengan bahan dan sistem pembelajaran. Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung-jawab untuk mencocokkan pebelajar dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan

15

bimbingan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pebelajar, serta memasukkannya kedalam prosedur organisasi yang

berkelanjutan. Bila ditinjau dari kawasan teknologi pembelajaran, maka kedudukan pemanfaatan surat kabar termasuk dalam kawasan pemanfaatan pada sub domain pemanfaatan media. Dalam hal ini program video pembelajaran sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran lebih mudah tercapai serta dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi. Tabel 2.2 KEDUDUKAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Penetapan isi dan metode Guru dengan media

Tujuan

Siswa

(AECT, 1986:108) Pola ini mengandung pemanfaatan sistem instruksional yang lengkap, meliputi pembelajaran media dimana guru terlibat menilai serta menyeleksi, maupun berperan dalam hal ini fungsi pemanfaatan media mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan guru karena media merupakan alat bantu guru dalam mengajar. Guru dengan alat bantu media merupakan sumber belajar untuk membantu kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu di harapkan terjadi suatu interaksi yang kondusif antara guru-siswa dan antara media-siswa.

16

1. Pola Pembelajaran Morris menjelaskan dalam AECT (1994 : 108-109) sebagai berikut: a) Pola pembelajaran Morris I
Tujuan Penetapan Isi dan Metode Guru Siswa

Pola diatas merupakan pola tradisional dalam bentuk tatap muka guru dengan siswa. Dalam pola ini guru bertindak sebagai komponen sistem instruksional, merupakan satu-satunya sumber. b) Pola pembelajaran Morris II
Tujuan Penetapan Isi dan Metode Guru dengan Media Siswa

Pola yang kedua ini merupakan guru dengan alat bantu audiovisual untuk membantu kegiatan pembelajaran. Pola ini masih memandang guru sebagai Sistem Instruksional yang utama, dengan sumber belajar lain yang dipergunakan sebagai tambahan. Morris menyebut pola ini sebagai guru dengan media. c) Pola pembelajaran Morris III
Guru Tujuan Penetapan Isi dan Metode Media Siswa

Dalam

pola

instruksional

yang

ketiga,

mengandung

pemanfaatan sistem instruksional yang lebih lengkap, meliputi

17

pembelajaran bermedia dimana guru terlibat dalam merancang dan menilai serta menyeleksi, maupun berperan dalam fungsi pemanfaatan untuk hal-hal yang belum tercakup dalam sistem instruksional. Sebagian besar proses pembelajaran diberikan melalui sistem instruksional yang telah dirancang sebelumnya dan yang terdiri dari Komponen Sistem Instruksional yang bukan manusia. d) Pola pembelajaran Morris IV
Tujuan Penetapan Isi dan Metode Media Siswa

Pola instruksional keempat meliputi penggunaan sistem instruksional lengkap yang hanya terdiri dari pembelajaran bermedia, dimana guru tidak berperan langsung. Dan Pendekatan ini bisa disebut dengan ”media saja”. Pola Pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah Pada Mata Pelajaran Pembelajaran Sirah Nabawiyah Pokok Bahasan Memahami Sejarah Nabi Muhammad Saw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kelas VII di SMP eLKISI Mojokerto termasuk dalam pola pembelajran Morris IV yaitu pola pembelajaran bermedia dimana guru tidak berperan langsung. B. 2. Proses Pemanfaatan Program Video Pembelajaran Menurut Sadiman (2002:188), supaya media dapat di gunakan secara efektif dan efisien ada tiga langkah utama yang perlu diikuti dalam menggunakan media, antara lain:

18

a) Tahap Persiapan sebelum menggunakan media Supaya penggunaan media dapat berjalan dengan baik, kita perlu membuat persiapan yang baik. Pertama-tama kita pelajari dulu petunjuk yang telah disediakan kemudian kita disarankan membaca buku untuk bahan belajar lain yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai seyogyanya . Peralatan yang di perlukan untuk menggunakan media juga perlu di siapkan sebelumnya. Bila media itu digunakan secara berkelompok sebaiknya tujuan yang akan dicapai di bicarakan dahulu dengan semua angggota kelompok. Peralatan media perlu kita tempatkan dengan baik sehingga kita dapat melihat untuk dapat mendengar programnya dengan baik. b) Tahap Kegiatan selama menggunakan Selama kita menggunakan media yang perlu dijaga adalah suasana ketenangan. Gangguan-gangguan yang dapat mengganggu perlahan dan konsentrasi harus di hindarkan. Sebaiknya ruangan jangan di gelapkan sama sekali, supaya kita masih dapat menulis bila kita menjumapai hal-hal penting yang perlu kita ingat-ingat. Bila kita menulis untuk membuat gambar bahkan membuat catatatn singkat, usahakan hal tersebut tidak akan mengganggu konsentrasi kita.

19

Bila media digunakan secara berkelompok harus kita jaga benar-benar supaya kita tidak berbicara. Kemungkinan selama sajian media berjalan kita diminta melakukan sesuatu. c) Tahap penutup (tindak lanjut) Untuk menjajaki apakah tujuan telah tercapai dan untuk mengetahui peningkatan dalam memahami isi materi siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan melalui media. Berdasarkan uraian diatas, peneliti menetapkan langkahlangkah yang akan digunakan dalam pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah adalah sebagai berikut: 1. Tahap persiapan, meliputi: Sebelum memanfaatkan program video pembelajaran sirah nabawiyah, guru melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Menyusun jadwal pemanfaatan disesuaikan dengan topik dan program belajar yang sudah dibuat. b. Memeriksa kelengkapan peralatan termasuk menyesuaikan tegangan peralatan dengan tegangan lisrik yang tersedia di sekolah. c. Mempelajari bahan penyerta. d. Mempelajari isi program sekaligus menandai bagianbagian yang perlu atau tidak pertu disajikan dalam kegiatan pembelajaran.

20

e. Memeriksa kesesuaian isi program video dengan judul yang tertera. f. Meminta siswa agar mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan lain yang diperlukan. g. Mengatur tempat duduk siswa agar semua siswa dapat melihat dan mendengar dengan baik.

2. Tahap pelaksanaan, meliputi: Selama memanfaatkan program video pembelajaran, guru hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Sebelum

menghidupkan/memulai

program

video

pembelajaran sirah nabawiyah mengajak siswa agar memperhatikan materi yang akan dipelajari dengan baik. b. Memberikan penjelasan terhadap materi yang diajarkan. c. Menjelaskan tujuan dan materi pokok dari program yang akan dimanfaatkan. d. Memberikan sebelumnya. e. Mengoperasikan program sesuai dengan petunjuk prasarat/persepsi pengetahuan/pelajaran

pemanfaatan/petunjuk teknis dan bahan penyerta. f. Mengamati/memantau kegiatan siswa selama mengikuti program. Selama program diputar, guru tidak perlu maju ke depan menunjuk gambar di layar atau mondar-mandir berkeliling kelas. Lebih baik guru mengajarkan hal :

21

a. b.

Menjaga agar suasana kelas tetap tertib. Usahakan agar volume suara (narasi) jelas terdengar oleh seluruh siswa yang ada di ruangan.

c.

Mengatur kekontrasan dan kecerahan gambar pada pesawat televisi, sehingga gambar terlihat jelas oleh siswa.

g. Memberi

penguatan/penegasan/pengayaan

terhadap

tayangan program. h. Memutar diperlukan. i. Membuat kesimpulan materi/isi program sesudah ulang program video pembelajaran bila

memberikan evaluasi kepada siswa.

3. Tahap tindak lanjut a. Memberikan tugas kepada siswa. b. Memberi pertanyaan/umpan balik. c. Bagi mata pelajaran yang memerlukan praktikum, guru kemudian mengajak siswa untuk mengadakan praktek di laboratorium. d. Sebagai tambahan referensi yang lebih lengkap, guru mengajak siswa untuk belajar di perpustakaan. e. Menginformasikan tentang pentingnya memperhatikan/ mendengarkan program video pembelajaran.

22

f. Mengajak siswa untuk memperkaya materi melalui sumber belajar lain yang relevan dengan materi yang dipelaiari.

3. Karakteristik dalam Pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah Penggunaan video pembelajaran dalam pembelajaran sangatlah penting karena dapat memudahkan siswa dalam menerima suatu materi akan tetapi dalam menggunakan video pembelajaran kita harus mengetahui karakteristik video pembelajaran tersebut sebelum dipilih dan di gunakan untuk memanfaatkan dalam suatu pembelajaran agar tujuan yang di harapkan dapat tercapai. Oleh karena itu dalam memilih video pembelajaran untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya memperhatikan beberapa aspek meliputi: a. Aspek Isi: kebenaran materi yang ada dalam program, kecukupan butir- butir materi dengan tujuan yang ingin dicapailogika program dan sebagainya. b. Aspek pembelajaran: kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku, judul program, kesesuaian isi program dengan tujuan pembelajaran dan sebagainya. c. Aspek Media: kesesuaian program dengan judul kesederhanaan bahasa yang digunakan, bagian- bagian yang cara penyimpanannya sulit dipahami oleh peserta didik, daya tarik program dan sebagainya.

23

B. Konsep Program video pembelajaran Sirah Nabawiyah 1. Pengertian Media Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, ‟perantara‟ atau „pengantar‟. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Sejumlah pakar membuat batasan tentang media, diantaranya yang dikemukakan oleh AECT (Assosiation of Education and Communication

Technology, 1977) Amerika memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi (Arsyad, 2007 : 3). Media Pembelajaran adalah sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau bahan pembelajaran. Menurut Miarso,2005:458 media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali (Warsita, 2008 : 121). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah media yang dirancang untuk merangsang pikiran,perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga terjadi proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak

24

saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kemp,dkk 1985 (Uno, 2008 : 116) menjabarkan sejumlah kontribusi media dalam kegiatan pembelajaran antara lain : a. Penyajian materi ajar menjadi lebih standar; b. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik; c. Kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif; d. Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi; e. Kualitas belajar dapat ditingkatkan; f. Pembelajaran dapat disajikan dimana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan; g. Meningkatkan sifat positif peserta didik dalam proses belajar menjadi lebih kuat/ baik h. Memberikan nilai positif bagi pengajar Seiring dengan pesatnya perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sekarang banyak sekali muncul berbagai media dengan jenis dan format yang berbeda-beda dengan ciri-ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sinilah kemudian muncul usahausaha dari para ahli untuk mengklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya. Banyak cara untuk mengidentifikasi suatu media yang kemudian digolongkan berdasarkan hal-hal tertentu. Pada umumnya penggolongan media tersebut berdasarkan karakteristik atau ciri-ciri yang terdapat pada media tersebut. Salah satu bentuk klasifikasi media pembelajaran oleh Allen yang melihat kelebihan

25

suatu media dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran (Miarso, 2004 : 154). Tabel 2.3 Klasifikasi Media Pembelajaran

Dari pengklasifikasian jenis media diatas, maka media pembelajaran yang dmanfaatkankan dalam penelitian ini merupakan media pelajaran terprogram yakni program video pembelajaran hal ini dapat dikaitkan dengan adanya tujuan pembelajaran serta materi Sejarah nabi Muhammad SAW yang memiliki karakteristik bersifat pemahaman konsep sehingga memerlukan pengenalan visual dan audio untuk dapat mempelajari dan menguasai tugas, berupa pemahaman konsep – konsep, prinsip dan prosedur. 2. Karakteristik Program video Pembelajaran Sebagai sebuah media pembelajaran, video mempunyai

karakteristik yang berbeda dengan media lain. Adapun karakteristik media video agak berbeda dengan media televisi. Perbedaan itu terletak pada penggunaan dan sumber. Media video dapat digunakan

26

kapan saja dan kontrol ada pada pengguna, sedangkan media televisi hanya dapat digunakan satu kali pada saat disiarkan, dan kontrol ada pada pengelola siaran. Namun secara umum kedua media ini mempunyai karakteristik yang sama, yaitu: a. Menampilkan gambar dengan gerak, serta suara secara bersamaan. b. Mampu menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas karena terlalu besar (gunung), terlal kecil (kuman), terlalu abstrak (bencana), terlalu rumit (proses produksi), terlalu jauh (kehidupan di kutub) dan lain sebagainya. c. Mampu mempersingkat proses, misalnya proses penyemaian padi hingga panen. d. Memungkinkan adanya rekayasa (animasi). 3. Kelebihan dan kekurangan Program video pembelajaran Agnes, Elisabeth (1999) didalam bukunya yang berjudul Format Program TV/Video, kelebihan dan kekurangan media video pembelajaran, antara lain: a. Kelebihan Dapat menstimulir efek gerak Dapat diberi suara maupun warna Tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya Tidak memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya Dapat diputar ulang, diberhentikan sebentar, dan sebagainya (video)à control pada pengguna.

27

b. Kekurangan Memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya Memerlukan tenaga listrik Memerlukan keterampilan khusus dan kerja tim dalam Pembuatannya Tidak dapat diputar ulang (siaran televisi) à kontrol pada pengelola. Sulit dibuat interaktif (khusus siaran langsung siaran televisi interaktif melalui telepon/sms). Dan lain sebagainya.

4. Karakteristik sasaran Siswa SMP Kelas VII Salah satu langkah dalam memanfaatkan media adalah menganalisis karakteristik sasaran. Hal ini sangat penting agar nantinya media yang dimanfaatkan sesuai dengan karakteristik sasaran. Dalam pembelajaran, karakteristik sasaran identik dengan

perkembangan kognitif yang diukur dengan rentang usia. Siswa kelas VII SMP eLKISI MOJOSARI rata-rata berumur 12 tahun. Menurut piaget (Papalia, 2008 : 35) bahwa perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir hingga dewasa, yaitu : Tabel 2.4 Tahap Perkembangan Kognitif Tahap-tahap Usia Kemampuan

28

Belum memiliki konsep permanensi objek Sensori-motorik 0-2 tahun (kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap ada walaupun pada suatu waktu tidak terlihat) Masa Perkembangan kemampuan menggunakan kanak-kanak Pra-operasional 2-7 tahun simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada disekitarnya. Berpikirnya masih egosentris dan berpusat. Mampu Operasional konkrit 7-11 tahun berpikir lebih logis. dari satu Mampu aspek

memperhatikan

sekaligus dan juga dapat menghubungkan aspek yang satu dengan yang lain. Kurang egosentris. Belum bisa berpikir abstrak Masa awal pubertas dan masa remaja

Operasional formal

11 tahundewasa

Mampu

berpikir

abstrak

dan

dapat

menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah.

Berdasarkan tabel tahap perkembangan kognitif di atas maka karakteristik siswa kelas VII SMP eLKISI MOJOKERTO masuk pada tahap Operasional Formal yaitu usia 11 tahun - dewasa. Kanak-kanak yang memasuki tahap ini berupaya berfikir dengan logika serta memahami konsep-konsep yang abstrak, pada masa remaja awal ini merupakan masa transisi keluar dari masa kanak-kanak yang

29

menawarkan peluang untuk tumbuh – bukan hanya dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial. Tahap kognitif ini membolehkan para remaja berfikir tentang fikiran itu sendiri, mempelajari tata bahasa yang kompleks, konsep matematik seperti algebra dan mengendalikan tugas mental dengan menggunakan konsep serta fikiran yang kompleks. Orang – orang ditahap Operasi Formal dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. 5. Materi Mata Pelajaran Sirah Nabawiyah Kelas VII SMP 1. Pengertian Sirah Nabawiyah Ibnu Mandzur dalam „Lisanul Arab‟ mengatakan bahwa As Sirah menurut bahasa berarti kebiasaan, jalan / cara, tingkah laku. Sedangkan menurut istilah umum, berarti rincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang. Namun sudah menjadi kesepakatan umat manakala menyebut as-Sirah, yang dimaksud adalah as-Sirah an-Nabawiyah artinya sejarah hidup Rasulullah SAW dan kini sudah menjadi satu nama / istilah dari disiplin ilmu tersendiri. Para ulama ahli sejarah dahulu memakai istilah „Ilmu peperangan dan Sejarah‟. Pada dasarnya pembahasan Sirah Nabawiyah mencakup 3 bahasan pokok : 1. Sejarah kehidupan Rasulullah SAW kenabian (sejak lahir) sampai wafatnya. sejak tanda-tanda

30

2.

Sejarah kehidupan para sahabat yang beriman dan berjihad bersama beliau.

3.

Sejarah penyebaran Dienul Islam yang dimulai turunnya Al „Alaq di gua Hira sampai berduyun-duyun umat manusia di jazirah Arab memasuki Islam.

2. Ciri-ciri Sirah Nabawiyah

Ciri-ciri

Sirah

Nabawiyah

sangat

terkait

dengan

karakteristik Al Qur‟an dan As-Sunnah, karena ketiganya merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan. Namun di sisi lain ada perbedaan-perbedaan yang disebabkan karena unsur

kemanusiaan pribadi Rasulullah SAW. Asy-Syumul (Universal), yakni mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Karena beliau diutus untuk dicontoh dan dijadikan tauladan oleh umat manusia.

Al-Mahfudh (Terpelihara), yakni Allah SWT memelihara Sirah Nabawiyah seperti Sunnah Nabawiyyah, karena

pemeliharaan keduanya merupakan indikasi pemeliharaan terhadap Al Qur‟an sendiri. Al-‟Amaliyyah (Aplikatif), yakni Sirah Nabawiyah sangat mungkin untuk diaplikasikan dalam setiap masa, setiap tempat dan keadaan serta setiap permasalahan.

3. Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah

31

Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah dan memahaminya bukanlah seperti merenungkan peristiwa-peristiwa sejarah, bukan pula menguraikan keindahan tutur kata dari pencatatan suatu peristiwa, sebagaimana pencatatan sejarah hidup seorang raja atau pemimpin biasa. Akan tetapi bertujuan supaya seorang muslim mempunyai gambaran nyata tentang hakikat Islam yang sebenarnya, yang tercermin dalam sosok kehidupan Rasulullah SAW. Jadi tiada lain kecuali suatu usaha aplikatif untuk merealisasikan hakikat Islam yang sempurna.

Fungsi memahami Sirah Nabawiyah tercermin dalam point-point berikut:

Meletakkan dasar yang kuat tentang Kerasulan Muhammad SAW.

-

membenarkan setiap apa yang beliau khabarkan (QS 53:3-4), mentaati apa yang diperintahkan (QS. 4:59), menjauhi apa yang beliau larang (QS 59:7), beribadat menurut syari‟atnya dan mencintainya (QS 9:23-24).

Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) di antara kalian kecuali aku lebih dicintai dari pada dirinya sendiri, orang tua dan seluruh manusia."

32

Dengan dasar ini maka secara langsung merupakan senjata yang ampuh dan kuat untuk menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam yang selalu berupaya melontarkan syubuhat (kerancuan-kerancuan) tentang kebenaran risalah dan kenabian Muhammad SAW. Mereka bertujuan supaya kalimat kedua dari dua kalimat syahadat hanya menjadi pemanis bibir dan hiasan basa-basi pada percakapan resmi. Penjelmaan di hadapan seorang muslim sebuah sosok yang jelas dengan sisi-sisi kehidupan yang patut dicontoh sebagai aplikasi dari ayat 21 surat Al-Ahzab, sehingga mendapatkan contoh yang nyata dalam pelaksanaan Dienul Islam.

Kajian Sirah Nabawiyah membantu dalam menelaah Kitabullah (Al Qur‟an), merasakan ruhnya dan menangkap pesan-pesannya. Dengan demikian Al Qur‟an difahami dengan benar, baik secara tektual ataupun kontektual. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur‟an yang tidak bisa difahami / ditafsirkan secara benar kecuali dengan merujuk kepada Sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan ayat-ayat itu. Sebagai contoh surat Al-Anfal. Surat ini hanya bisa difahami dan bisa diambil ibrahnya manakala kita baca Sirah Nabawiyah tentang perang Badar. Kajian Sirah Nabawiyah memberikan manhaj (methode) yang jelas bagi para da‟i untuk meneruskan perjuangan mulia para Nabi dan Rasul. Juga memberikan gambaran susunan agenda dan alpabeta kerja da‟wah secara rinci dan jelas.

33

Dalam perjalanan da‟wah Rasulullah SAW, di kenal dua buah fase/tahapan da‟wah : Fase Makkiyah (selama beliau berda’wah di Makkah ). 1. Penekanan dengan penyampaian dan penyebaran da‟wah, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan, dimulai dari keluarga terdekat, sebagai penyelamatan manusia dari

kesesatan kepada petunjuk yang terang, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam yang terang benderang. 2. Penekanan dengan mendidik / mentarbiyah orang-orang menerima da‟wah dan beriman kepada da‟wah beliau, mentazkiyah / menyucikan jiwa mereka, untuk membentuk basis masyarakat Islami dengan jalan: -mengajarkan Dienul Islam -mengaplikasikan Islam dalam kehidupan mereka. memperdalam makna ukhuwah islamiyah di antara mereka saling berwasiat dengan haq dan kesabaran 3. Berusaha untuk tidak memberikan perlawanan secara fisikal terhadap gangguan dan rintangan da‟wah, cukup dengan jihad da‟wah. Padahal musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai kekuatan fisikal. Bahkan Khobbab ibn Al-Arot ra pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang siksaan yang diderita oleh shahabat yang lain. Shahabat Khobbab lalu mengusulkan agar kaum Muslimin diizinkan memberikan

34

perlawanan fisikal atau Rasulullah berdo‟a kepada Allah untuk kehancuran orang-orang kafir. Tapi beliau menganggap tindakan itu sebagai langkah isti‟jal (ketergesa-gesaan). 4. Terus bergerak dengan da‟wah, tidak terfokus pada Makkah saja, hijrahnya beberapa orang ke Habasyah, perginya beliau ke Tha‟if, usaha beliau untuk menjalin hubungan dengan jemaah haji yang datang ke Makkah di musim haji merupakan bukti amanah beliau dalam menyampaikan Risalah Islam. 5. Kesinambungan kerja dalam meletakkan strategi dan langkahlangkah untuk masa depan da‟wah islamiyah. Seperti mengadakan perjanjian dan sumpah setia (bai‟at) dengan orang-orang Yatsrib; kemudian mengutus Mus‟ab bin Umair kepada mereka untuk mengajarkan Al Qur‟an dan Islam; berusaha memiliki kontak dengan kabilah-kabilah di luar kota Makkah untuk mencari suaka dan tempat berlindung; Dan akhirnya beliau hijrah ke Yathrib/Madinah dengan strategi yang sangat rapi dan matang. Fase Madaniyah (selama beliau berda‟wah di Madinah) 1. Penekanan dalam pemantauan proses penyampaian da‟wah, tarbiyah dan tazkiyah kepada orang-orang yang menerima da‟wah dengan cara penyampaian Al Qur‟an, mengajarkannya dan menerapkannya dalam kenyataan hidup mereka. Juga kepentingan pembangunan masjid sebagai tempat pembinaan

35

umat, mempersaudarakan antara orang-orang Ansar dan Muhajirin serta terus mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka. 2. Penuh perhatian dengan berdirinya suatu tatanan masyarakat atau tata perlembagaan masyarakat Islami (daulah) setelah ketiga unsurnya sempurna, yaitu: - adanya basis masyarakat yang beriman, hal ini sudah beliau persiapkan sejak diutusnya Mus‟ab bin Umair ke Yatsrib sebelum Hijrah. - adanya basis geografis yang aman, di mana kota Yathrib sangat strategis kalau dilihat dari berbagai aspeknya, di samping sebagai realisasi petunjuk Allah dalam mimpi beliau (mimpi seorang Nabi merupakan wahyu yang benar). - adanya aturan hidup yang jelas, yakni syari‟at Islam yang terus mengatur interaksi masyarakat. 3. Penekanan pada melaksanakan aplikasi syari‟at Islam bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, baik untuk perorangan atau masyarakat luas. Malah beliau menegaskan, putri beliau tercinta pun tidak akan lepas dari hukum tersebut, apabila ia melanggar. 4. Berusaha mengadakan perdamaian dengan musuh-musuh Islam yang mahu berdamai dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam suatu tatanan masyarakat Islami. 5. Menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha menyerang dengan jalan melakukan peperangan, mengadakan latihan dan

36

patroli ketenteraan serta terus mengadakan mobilisasi pasukan mujahidin yang siap tempur bila saja beliau minta. Sebagai contoh adalah kisah Hanzalah. Beliau tidak sempat mandi junub setelah malam pengantinnya karena mendadak ada penggilan jihad menuju Uhud. Di dalam perang Uhud sahabat Hanzalah syahid. Malaikatlah yang memandikan beliau sebelum akhirnya dikuburkan oleh kaum muslimin. 6. Merealisasikan Alamiyatudda‟wah Al-Islamiyah, sebagai

Rahmatan lil „Alamin dengan cara mengirim utusan-utusan dan surat-surat da‟wah ke berbagai daerah atau negara tetangga serta menerima tamu-tamu dari utusan negara lain sebagai bukti bahwa da‟wah beliau untuk seluruh umat manusia.

Kajian Sirah Nabawiyah termasuk aktivitas ilmiah kita yang bernilai ibadah. Ayat 21 surat al-Ahzab secara jelas

memerintahkan kita berqudwah kepada Rasulullah SAW. Tidak mungkin kita boleh berqudwah kepada beliau kecuali dengan mengenal, mengkaji dan memahami Sirahnya. Dalam kaidah syar‟iyyah sering kita jumpai: "Segala sesuatu yang mendukung sempurnanya suatu kewajiban, maka hukumnya wajib".

6. Program Video Pembelajaran dan hasil belajar siswa Penggunaan media pembelajaran sangat membantu

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pengadaannya tidak harus memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Benda-benda yang

37

sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat dibutuhkan untuk memilih media yang cocok bagi siswa. Sesuatu yang nampaknya sepele akan berdaya guna tinggi bila guru mampu memanfaatkannya. 7. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji kebenarannya secara empiris (Suryabrata, 1991:75). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Ha: Penggunaan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dalam pembelajaran Sirah Nabawiyah lebih efektif dari pada pembelajaran yang tidak menggunakan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah Ho: Penggunaan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah dalam pembelajaran Sirah Nabawiyah tidak lebih efektif dari pada pembelajaran yang tidak menggunakan

Penggunaan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah

38

BAB III METODE PENELITIAN Penelitian suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran. Untuk itu dalam suatu penelitian ilmiah metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sangat penting. Dengan metode penelitian yang tepat maka diharapkan tujuan penelitian dapat tercapai sesuai dengan yang di harapkan. Hal ini juga penting adanya guna mendapatkan nilai ilmiah dan juga untuk menguji kebenaran dari hasil penelitian. Sehubungan dengan pentingnya metode penelitian Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa: “Metodologi research memberikan garis-garis yang sangat cermat dan mengajukan syarat-syarat yang sangat keras, maksudnya untuk menjaga agar pengetahuan yang di capai dari suatu research dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya”. Disamping itu suatu karya penelitian dilakukan untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi research dengan perkembangan zaman, pengetahuan dan teknologi akan bertambah maju jika didukung oleh suatu penelitian. Adapun beberapa hal yang akan dikemukakan oleh peneliti sehubungan dengan metode penelitian dalam hal ini meliputi : 1. Jenis Penelitian, 2. Desain Penelitian, 3. Subyek Penelitian, 4. Variabel Penelitian, 5. Metode Pengumpulan Data, 6. Teknik Analisis Data.

39

A. Jenis Penelitian Dan Desain Penelitian Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti termasuk jenis penelitian eksperimen. Dimana peneliti menggunakan pre test dan post tes untuk mengetahui pemahaman materi siswa sebelum memanfaatkan program video prmbrlajaran Sirah Nabawiyah dan sesudah menggunakan program video prmbrlajaran Sirah Nabawiyah Jenis yang digunakan adalah Quast Experimen Desain “One Grup Pre tes-Post test Design (Arikunto, 2002:78), berikut pola penelitiannya:

O1 x O2 Keterangan: 01 02 : Observasi sebelum eksperiment (pre test) : Observasi sesudah eksperiment (postest)

B. Subjek Penelitian Sasaran dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas VII DI SMP ELKISI MOJOKERTO. Jumlah keseluruhan Siswa Kelas VII adalah 29, siswa laki- laki berjumlah 11 anak, siwa perempuan berjumlah 18 anak dengan usia berkisar antara 13-14 tahun. Karena Subyek kurang dari 100 orang, maka penelitian ini termasuk penelitian populasi.

C. Variable Penelitian Menurut Hadi dalam Arikunto (1993:91) “ Variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi”, menurut Sudjana (2004:11) bahwa “ Variabel

40

adalah ciri atau karaktersitik dari individu, obyek, peristiwa yang nilanya bisa berubah- ubah. Variable merupakan obyek penelitian yang bervariasi dan memiliki bagian- bagian kecil yang terdapat pada indicator masingmasing variabel. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas dan variabel terikat adalah: Variabel bebas adalah yang memberikan pengaruh kepada variabel lainnya. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebasnya adalah Pemanfaatan Program Video Pembelajaran Sirah Nabawiyah karena dengan dimanfaatkannya akan mempengaruhi pemahaman materi Sirah Nabawiyah yang dicapai Siswa Kelas VII DI SMP ELKISI Mojokerto Variabel terikat akibat dari variabel bebas yang keadaanya tergantung pada variabel bebas dan variabel lain. Dalam hal ini adalah varibel hasil belajar kelas VII pada Mata Pelajaran Pembelajaran Sirah Nabawiyah.

D. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan cara kerja dalam penelitian guna memperoleh data atau keterangan-keterangan yang diperoleh dalam kegiatan sesuai dengan kenyataan. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini ada prosedur yang harus digunakan agar data yang diperoleh bisa relevan dengan kebutuhan peneliti. Dari rumusan masalah dapat diketahui jenis data yang diambil, sumber data, metode pengumpulan data yang diperlukan.

41

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode tes dan metode non tes. Metode tes menggunakan tes hasil belajar yaitu metode observasi dan metode tes. 1. Metode Observasi Metode observasi adalah kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto, 2006:156). Metode observasi dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan persiapan pembelajaran dilihat dari guru dan materi dalam pemanfaatan media Surat Kabar. Observasi dapat dibedakan menjadi dua cara yang kemudian

digunakan untuk menyebutkan jenis observasi yaitu: 1) Observasi non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. 2) Observasi sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. (Arikunto, 2006:157). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan obsevasi sistematis menggunakan instrumen pengamatan. Peneliti menggunakan cek list (√) pada pertanyaan yang telah dibuat terlebih dahulu oleh peneliti. Peneliti memilih metode observasi ini untuk melakukan pengamatan langsung terhadap proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media Surat Kabar. Dalam hal ini peneliti mengobservasi proses pembelajaran dengan media Surat Kabar yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas.

42

Alasan atau pertimbangan peneliti dalam menggunakan metode observasi adalah sebagai berikut; 1. Peneliti dapat langsung melakukan pengamatan terhadap obyek yang diteliti 2. Karena pengamatan dilakukan secara langsung maka data yang diperoleh benar- benar obyektif tanpa ada tekanan dari luar. Langkah-langkah yang dilakukan dengan metode observasi antara lain: 1. Membuat instrument observasi berupa check list 2. Melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti. 3. Melakukan pencatatan terhadap hasil yang diperoleh dari observasi. 4. Proses pengamatan dilakukan dalam dua tahap

Berikut ini tabel kisi-kisi instruemen observasi: Tabel 3.1 TABEL KISI-KISI INSTRUMEN OBSERVASI VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR

Pemanfaatan Proses a. Kegiatan Awal program video Pemanfaatan 1. Guru menjelaskan petunjuk mengikuti program video proses belajar mengajar dengan pembelajaran menggunakan video pembelajaran sirah pembelajaran nabawiyah 2. Guru mengucapkan salam dan mengabsen siswa 3. Guru membuka pelajaran dengan menjelaskan TIK b. Pelaksanaan 1. Kegiatan Guru a) Menjelaskan materi pelajaran

43

b) Memberi tugas kepada siswa untuk menyaksikan video sirah nabawiyah c) Menjelaskan tiap scane video dan momen- momen penting yang ada pada tiap peristiwa d) Memberikan latihan kepada siswa dengan pertanyaan dari isi video tersebut 2. Kegiatan Siswa a) Memperhatikan penjelasan guru b) Menyaksikan video sirah nabawiyah c) Menyimak secara seksama dan teliti tiap peristiwa- peristiwa penting dalam video d) Mendengarkan dengan seksama penjelasan guru di tiap momenmomen penting pada peristiwa yang sedang terjadi e) Mencatat hal- hal penting f) Siswa menjawab setiap pertanyaan dari guru g) Siswa bertanya kepada guru tentang hal- hal yang menyangkut peristiwa- peristiwa dalam isi video h) Mengerjakan laithan soal yang diberikan oleh guru

2. Tes Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan) (Sudjana, 2005 : 35) Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengumpulkan keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan

44

atau

bakat

yang

dimiliki

oleh

individu

atau

kelompok

(Arikunto,1998:139). Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui atau mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebelum diberikan perlakuan (pre test) dan sesudah diberikan perlakuan (post test). Disini tes yang di gunakan adalah tes subjektif. Tes subyektif adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang memiliki karakteristik tertentu. (Sudijono, 2005:99 ). Tes subjektif yang digunakan berupa tes uraian bentuk bebas. Tes hasil belajar diberikan sebanyak dua kali, yaitu: 1. Pre tes, untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum materi diberikan. 2. Post tes, untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan media Surat Kabar. Pelaksananaan evaluasi ini diberikan sebelum dan sesudah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media Surat Kabar . Berikut kisi-kisi instrument tes: Tabel 3.2 KISI-KISI INSTUMEN TES VARIABEL SUB VARIABEL KOMPETENS I DASAR INDIKATOR  Siswa dapat mengartikan dalil naqli bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak,

Hasil belajar Hasil belajar siswa kelas VII siswa mata pelajaran Sirah Nabawiyah

 Sisa dapat
Menjelaskan misi Nabi Muhammad SAW untuk menyempur nakan

45

akhlak, membangun manusia mulia dan bermanfaat

membangun ‎ anusia m mulia dan bermanfaat. Siswa dapat Menjelaskan misi Nabi Muhammad SAW ‎ ntuk u menyempurnakan akhlak, membangun ‎ anusia m mulia dan bermanfaat.

E. Uji Validitas dan Releabilitas Instrumen

Instrument penelitian digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian yang sesungguhnya, perlu dikatakan uji coba untuk mengetahui tingkat validitas dan realibiltasnya. Hal ini perlu dilakukan agar data yang terkumpul nantinya sesuai dengan yang diharapkan dan dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya. 1. Vailditas Validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur. Sehingga betul- betul mengukur apa yang seharusnya diukur. (Sujana, 2004:117) a.Validitas Tes Berdasarkan pengembangan instrument buatan guru tersebut dilihat dari isi sudah valid. Peneliti menggunakan validitas isi (logleal validity). Validitas ini diperoleh dengan usaha hati- hati melalui cara benar sehingga menurut logika akan mencapai validitas yang dikehendaki. Usaha hati- hati dan cara benar yang dilakukan peneliti adalah mengikuti langkah- langkah penyusunan instrument, yakni memecah

46

variable menjadi sub variable dan indicator sudah mencakup butir pertanyaan, peneliti dalam hal ini sudah bertindak hati- hati. Setelah diketahui bahwa tes tersebut menurut guru Sirah Nabawiyah tersebut sudah sesuai dengan materi yang ada di kurikulum, jadi bisa dinyatakan dari segi isinya valid tidak perlu lagi dilakukan uji validitas soal tes. 2. Reliabilitas Reliabilitas alat ukur adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya, artinya kapanpun alat ukur tersebut digunakan, akan memberikan hasil ukur yang sama. (Sudjana,2004:121) a. Reliabilitas Observasi
Untuk mencari reliabilitas observasi digunakan analisis rumus:

KK 

2S N1  N 2

Keterangan: KK S : koefisiensi kesepakatan : sepakat, jumlah kode yang sama untuk objek yang sama : jumlah kode yang dibuat oleh pengamat 1

N2

: jumlah kode yang dibuat oleh pengamat 2

(Arikunto, 2006:201)

47

Table 3.3 Table untuk menghitung Reliabilitas Observasi P-1 Baik P H Baik Cukup Jumlah (Arikunto, 2002: 177) 1,2,3,4,5,7,10,13,14,15 8,11,12,16 14 Cukup 0 6,9 2 Jumlah 10 6 16

KK 

2S N1  N 2

KK 

2 x12 24   0,75 16  16 32

Berdasarkan perhitungan yang telah diperoleh dikonsultasikan dengan r product moment dengan signifikasi 5% maka diperoleh r table 0,468 karena r 0,75 maka data yang dianalisis reliabel. b. Reliabilitas Tes Pengertian reliabilitas menurut Arikunto (2002:154) yaitu sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, karena instrument tersebut sudah baik. Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu diadakan penelitian tes yang akan diujicobakan lebih dari satu kali, hal ini dimaksudkan untuk mencari hasil yang diperoleh masih tetap sama atau berbeda, jika ada perbedaan, apakah perbedaan tersebut signifikan atau tidak.

48

Pada penelitian ini menggunakan jenis tes obyektif bentuk pilihan ganda dengan jumlah 10 soal pre test dan 10 soal untuk post test. Alas an dipilhnya jenis tes obyektif bentuk pilihan ganda karena butir- butir pada soal pilihan ganda lebih mudah menganalisis dari segi derajat kesukarannya, daya pembeda, validitas, maupun reliabilitasnya. (Anas Sudjiono,2005:134) Pada proses pembuatan soal penelitian terlebih dahulu

konsultasikan soal tes kepada guru bidang studi kemudian diujikan kepada siswa untuk mengetahui apakah sudah memenuhi syarat atau tidak (sesuai dengan materi yang ada) dalam kurikulum. Untuk mengetahui reliabilitas dari soal tes dalam penelitian ini tes terlebih dahulu diujicobakan kepada siswa kelas VII SMP eLKISI Mojokerto. Pada penelitian ini peneliti menggunakan rumus spearman-bown dimana dalam penghitungan rumus tersebut peneliti harus melalui langkah yaitu membuat table analisis butir soal atau butir pertanyaan, selanjutnya dari analisis butir soal skor- skor dikelompokkan menjadi dua dengan menggunakan teknik belah dua. Selanjutnya data skor yang telah dikelompokkan dikorelasikanantara belah pertama dengan belah kedua dan akan diperoleh harga r xy. Hasil perhitungan reliabilitas soal tes dapat dilihat pada lampiran. Karena indeks yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua belah instrument maka untuk memperoleh indeksreliabilitas soal masih harus menggunakan rumus spearman- bown yaitu:

49

⁄ ( ⁄

⁄ ⁄ )

(

)

Dari perhiutungan yang diperoleh dikonsultasika dengan nilai r product moment signifikansi 5% maka diperoleh r table 0,468. Karena r hitung 0,577 lebih besar dari r table 0,468 maka semua data yang dianalisi adalah reliabel.
F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah diajukan sehingga dapat digunakan untuk menarik kesimpulan,”menarik kesimpulan penelitian selalu berdasarkan diri atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian”. Teknik analisis data menggunakan presentase dan uji t. 1. Perhitungan dengan prosentase Perhitungan dengan menggunakan rumus prosentase dilakukan untuk menentukan gambaran kualitas pemanfaatan program vido pembeajaran Sirah Nabawiyah di SMP eLKISI Mojokerto. Peneliti menggunakan perhitungan prosentase, data yang diperoleh dari observasi, adapun rumus prosentase yang digunakan adalah:

P

f x100% N

50

Keterangan:

P = Angka presentase f = Frekunsi yang akan dicari N = Jumlah frekuensi/banyaknya individu (Sudjono, 2001:40)

Untuk mengetahui hasil perhitungan prosentase mengenai pemanfaatan program video pembelajaran Sirah Nabawiyah di SMP eLKISI Mojokerto termasuk kriteria baik atau cukup dapat dilihat dari kriteria: 76% - 100% 56% - 75% 40% - 55% 0 - 40% : Sangat baik : Baik : Cukup : Kurang baik

(Arikunto, 1998:246) Pedoman interprestasi hasil anailis dengan kriteris sebagai berikut:

Tabel 3.3 TABEL PEDOMAN INTERPRESTASI HASIL ANAILIS
Tingkat Penguasaan Nilai Akhir

51

90% - 100% 80% - 89% 65% - 78% 55% - 64%

A atau 4 B atau 3 C atau 2 D atau 1 E atau 0

(Sudijono, 2005:35)

2. Perhitungan dengan uji t
Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pemanfaatan

program video pembelajaran menggunakan teknik kuantitatif dengan
menggunakan rumus uji t (t-tes). Karena penelitian ini merupakan Quasi Eksperimen maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan:

Md = mean dari deviasi Xd = perbedaan deviasi dengan mean deviasi N = banyaknya subjek df = atau db adalah N-1

(Arikunto, 2006:86)

52

DAFTAR PUSTAKA AECT. 1994. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali Arief Sadiman. dkk. 2003. Media pendidikan. Jakarta : Raya Grafinda Persada Arikunto, Suharsimi.2006. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek, edisi Revisi IV. Jakarta: Rineneka Cipta Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi VI Jakarta: Rineneka Cipta Hd. Sutrisno. 1993. Metodologi Riset Jilid 1. Jogja Karta: Andi Offest

53

Muhadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press Nazir Moh. 2005. Metodologi Penelitian. Bogor: Ghaina Press Seels, Barbara dan Richey, rita.1994. Teknologi Pembelajaran Devinisi dan Kawasannya. Jakarta : Unit Percetakan Universitas Negeri Jakarta Sudijono, anas. 2005. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakara : PT Rajawali

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->