contoh skripsi hukum

dengan 134 komentar TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk, menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu, merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Husin, 1992 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (Silalahi, 11995 : 1). Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL, lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam. (Suparni, 1994 : 89). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (UU No. 23 Tahun 1997,1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai, maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut

Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya, sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut, terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, dan dampak lingkungan penting lainnya. Atas pertimbangan di atas, mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru, masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan, mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan, dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat, komisi daerah telah dilibatkan, yang akan menjamin keterpaduan vertical. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Oleh karena itu, penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan, misalnya ekonomi, sosial budaya, planologi, hidrologi, kimia dan biologi. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Meningkatkan kegiatan pembangunan, akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya, kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Dengan demikian, dalam perkembangan baru ini, hokum disamping untuk menjaga ketertiban, sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Untuk melakukan analisis secara demikian, Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas dasar pemikiran diatas, analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Kedua, pengaruh dari kualifikasi AMDAL oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam pengertian diatas, ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang

istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus, karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian, pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan, faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama, sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni, 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan, misalnya pembangunan pabrik pupuk, pembangunan pabrik tapioka, dan lain-lain. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak, maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa, aparatur pemerintah, dan masyarakat sangat penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Dalam membuat data, seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis, analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting, mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam, flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara, air dan darat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja, yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Berdasarkan uraian di atas, maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja, banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat, akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. 2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dalam segala hal, si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar, untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini, perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini, serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. D. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : - Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. - Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL

2. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan, baik bagi praktisi, akademisi ataupun aparat penegak hukum. E. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat, maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Sejak itu, AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (Ebisemiju dalam Soemartono, 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi, memprediksi, menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan, antara lain : a. Menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Ebisemiju dalam Silalahi, 1995 : 23). b. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Fandeli, 1995 : 34). Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan

yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. 1994 : 94). keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. (Soemartono. baik biofisik. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. yaitu sebagai berikut : a. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. 1996). Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia.(ANDAL).” b. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. (Suparni. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. c. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. d. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. Kerangka Acuan (KA). Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Prinsip ini berarti : . Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL).

kecuali yang menyangkut rahasia negara. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Sebaliknya. baik nasional maupun internasional. baik aparat administrasi. h. g. AMDAL bersifat terbuka. Karena itu. pemerintah maupun penyusun AMDAL. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. b. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan.Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. (Suparni. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. i. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. e. 1994 : 107) 2. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. Hal tersebut berarti pula. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. Apabila suatu . 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. f. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai.

Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil kegiatan menapis. Terhadap penolakan ini. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. (Fandeli. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. berhubung tidak ada dampak penting. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . (Silalahi. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. e. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. g. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. (Fandeli. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. k. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. antara lain : 1. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. 29 Tahun 1986. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. j. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan.lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. mengidentifikasi dan menganalisa data. c. i. d. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. h. 29 Tahun 1986. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan . f. Apabila ANDAL disetujui. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”.

terhadap AMDAL-nya sendiri. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. g. (Fandeli. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. dan batas teknis. KLH No. 29 Tahun 1986 dan Kep. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. d. Efisiensi waktu studi AMDAL. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. 1997:76). 1995 : 68). 51 Tahun 1993 dan Kep. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. 50/1987). Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. (Silalahi. (Soemarwoto. b. e. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : a. 1992 : 48). apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. b. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. 1995:32). dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. c. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 1995 : 107). dan biaya. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih . batas administrasi. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. batas ekologis. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. (Fandeli. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. Namun menurut PP No. Efisiensi biaya studi AMDAL. c. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. (Husein. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. f. 2. Men. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). Men. penelitian menjadi terfokus. sosial ekonomi dan sosial budaya. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. (Fandeli. KLH No.

23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. . (Husein. . 28 Tahun 1985). sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. 1992 : 206) 2. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. . Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1990).Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. Terhadap kegiatan yang sudah ada. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. .Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. . Karena itu. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. 1993 :86). 226. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan .Dan lain-lain (Lotulung.efisien. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . 1926 No. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan. 29 Tahun 1990).

maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. Rencana Pengelolaan Lingkungan . Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. Dengan adanya ketentuan ini. (Silalahi. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. 20 Tahun 1990. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. 1995 : 34). Dengan disahkannya Undang-undang No. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. 51 Tahun 1993. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. Semenjak berlakunya PP No. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. b. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). yang menyatakan bahwa : Pemilik. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. kerugian atau gangguan”.membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. kerugian atau gangguan”. perlu dibuat tata laksana. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Didalam menghasilkan dokumen. 51 Tahun 1993. pemegang Bezit. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup.. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan.

dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. I. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien.51/1993) b. II. konsultan penyusun. e. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. (Fandeli. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. Dengan demikian. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. 1995 : 42). 3. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. tenaga dan lain-lain sebagainya. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. faktor manusia dam lain sebagainya. yaitu : pemrakarsa. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. Manfaat Kerangka Acuan : 1. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. komisi AMDAL. 1996 : 164) c. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. KERANGKA ACUAN a. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . 2. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. . KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. (Silalahi. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas.(RKL). Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. baik pada tahap pra konstruksi. 2. 51 Tahun 1993). Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. dana.

sosial ekonomi. antara lain : 1. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. 2. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan.a. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. Ad. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Komponene rona lingkunagan awal Ad. Komponen rencana kegiatan b. C. b.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. Baik pada tahap pra konstruksi. termasuk masyarakat. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. Luas penyebaran dampak penting . 2. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. (Semartono. 1995 : 157).Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. b. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : a. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. kontruksi maupun pasca kontruksi. (Silalahi. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). c. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. c. d. Misal. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. B. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. kontruksi maupun pasca kontruksi.b. Memuat uraian singkat tentang : a. bila dipandang bperlu. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. 3. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. 1996 : 173).

Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. namun bersifat arahan dan garis besar. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi.Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. RKL yang bersamaan sesuai PP No. sosial ekonomi. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Setelah dikeluarkannya PP No. baik dari segi ekonomi. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. (Silalahi. 1996 : 175). Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. 51 Tahun 1993 dan Kep. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. 1995 : 173). 1995 : 47). Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai . Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. untuk menangguangi masalah lingkungan. c. Men LH No. b. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. e. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. d. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. (Fandeli. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. III. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. (Soemartono. c. d. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. (Fandeli. teknologi maupun instansi. ekonomi dan institusional. b. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. sumber dampak. D. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. Komponen lingkungan terkena dampak. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi.

Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. (Fandeli. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. 1992 : 121). (Husein. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4.koordinator. Jenis data yang dikumpulkan 2. RKL dan RPL. d. Disamping skala keacuhan. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). pelaksanaan pemantauan. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. (Soemartono. antara lain adalah : a. 1994 : 166). usaha atau kegiatan. 1995 : 49) IV. b. atau terkena dampak penting. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari . namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. berulang dan terencana. c. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. e. (Suparni. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. (Silalahi. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Lokasi pemantauan 3. mencakup hal : 1. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Metode pengumpulan data f. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang.

Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. yaitu : Administratif. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. 1992 : 81). pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 1993 : 2). Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. Penelitian meliputi bidang ekologi. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. (Suparni. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. (Lotulung. Penelitian tentang bentuk. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. sosial budaya dan lain-lain yang diperlukan. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. 1994 : 173). maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. medis. (Subagyo. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya .keperluannya. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. Perdata dan Pidana. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan.

mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. pasal yang dapat digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. (Hardjosoemantri. . dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. 1994 : 176).pemulihan lingkungan hidup. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu.ia mendasarkan sesuatu hak. ( Harjosomantri.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. Dalam hubungan ini. Hal ini penting sekali diatur. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. (Suparni. barulah mulai diwajibkan. 2. (Suparni. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. apabila si berhutang. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. 1993 : 352). Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. yang membawa kerugian kepada seorang lain. Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. 1993 : 353). Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. 1994 : 177). Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. 1. 3.

Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. Pasal 26. (Silalahi. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat . 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. dan sebagainya. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. baku mutu lingkungan. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. dan Pasal 19 UU No. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. 1995 : 50).Rudiger Lummert Mengemukakan. (Suparni. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). 1993 : 358). Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). 1994 : 166). (Hardjosoemantri. Dengan demikian. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. Peraturan Pemerintah No. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini.

Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. 1994 : 167). Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian . Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang bertanggung jawab. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. kepolisian. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. (Suparni. c) Undang-Undang No. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. b) Peraturan Pemerintah N0. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran.pengawasan. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. 226. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. 1995 : 51). Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. paksaan. 1926 No. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. (Silalahi. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. (Silalahi. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. Undang-Undang No. baku mutu lungkungan. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. (Silalahi. seperti pada Pasal 160 (menghasut).”. 1995 : 53). maka terciptalah delik. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. 1995 : 59). yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. Khusus mengenai pembuktian. 2.Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. (Husein. (Silalahi. perizinan lingkungan. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana.. misalnya pada Undang-undang No. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. Menurut Andi Hamzah. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang . 1995 : 59). yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Beberapa perumusan yaitu : a. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. diancam dengan pidana. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. Undangundang No. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. Pasal 362 (Pencurian). 1992 : 225).

jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . c. Prof. (Pasal 1 angka 21) b. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. baik kimia. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. d. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. (Suparni. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat . yaitu : 1.diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. (Abdurrahman. fisik. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Peraturan Pemerintah No. Kaslan A. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan pestisida. (Suparni. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . (Thohir. 1985 : 288) 3. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. I. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. (Soemarwoto. Menurut Ir. Prof. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. 1992 : 95) 1. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. maupun biologi. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Prof. 1986 : 81-81) 2.

Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. 9. 27 Tahun 1999. 27 Tahun 1999. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. kerusakan kawasan konservasi alam. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. 4. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. yaitu : a. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. 1. 6. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. misalnya pembuatan jalan. atau pencemaran benda cagar budaya. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. Sifat kumulatif dampak. Diintegrasikan ketiga aspek tadi kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya.(1) Peraturan Pemerintah No. 7. e. d. 2. 5. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. serta lingkungan sosial dan budaya. 2. f. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. jenis hewan dan jasad renik. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. zat energi. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. 3. lingkungan buatan. Luas wilayah penyebaran dampak. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. 8. yaitu . Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. bendungan/dam. Oleh karena itu peranan para pihak sangat . b. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup .

Ad. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Swasta. atau badan-badan hukum. Ad. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Aparatur Pemerintah 3. 1.berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.2. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. kelompok orang.3. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan . apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Swasta. 1992 : 104). yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Pemrakarsa 2. 27 Tahun 1999). Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. 1992 : 107). Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. 2. 3. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Masyarakat Ad. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. (Suparni.

Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. yaitu : a. b. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. misalnya dengan komputer. Penapisan 2. 3. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Ad. 2. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. misalnya kecil. d. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Pengelolaan Lingkungan 5. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu.memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Ad. 2.5. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Pelingkupan 3. Ad. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan . Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. Ad. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Pelaporan (Soemarwoto. c. 4.1. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1.2. Pengelolaan Lingkungan Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja.3. Metode formal terbagi dua. 3. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Ad. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. b. sedang atau besar. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Apbila proyek mempunyai dampak.

Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. apabila : 1. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Menurut Pasal 26 PP No. rencana pengelolaan lingkungan hidup. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan.1. Analisis dampak lingkungan hidup. 2. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya . atau b. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Menurut Pasal 27 PP No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 3. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. B. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 2. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya.

2. 3. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. C. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. 3. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1993 dicabur. c. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. 5.diatur pada Peraturan Pemerintah No. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. b. 4. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang- . 4. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. 29 Tahun 1986. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. 5. 2. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. 6. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994.

1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. c. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. d. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. (Soemarwoto. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. jika perlu dengan bantuan pakar. 1990 : 79-80). Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. 2. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan.undangan. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. 1992 : 113). Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. b. 1. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. h. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. (Pasal 1830 . i. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. d. c. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. f. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. g. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. f. e. b. Tidak adanya pemantauan. (Soemarwoto. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. e. (Suparni.

1992 : 1). (Suparni. antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 1994 : 89). LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya. semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka. guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. (Silalahi. lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. serta rendahnya nilai estetika alam.BW). merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk. Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. (Husin. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup. Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya. guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat. . 11995 : 1). tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu. menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan.

27 Tahun 1999 yang mencabut Peraturan Pemerintah No. yang akan menjamin keterpaduan vertical. mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia. dan dampak lingkungan penting lainnya. planologi. seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan. akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan. maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut. komisi daerah telah dilibatkan. kimia dan biologi. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai. Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas pertimbangan di atas. terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis.1997). Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. (UU No. 51 Tahun 1993. Atas dasar pemikiran diatas.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan. hokum disamping untuk menjaga ketertiban. dan pengambilan keputusan. Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. Oleh karena itu. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu.51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Untuk melakukan analisis secara demikian. penilaian. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat. masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru. hidrologi. sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. 23 Tahun 1997. Meningkatkan kegiatan pembangunan. dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. misalnya ekonomi. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. pengaruh dari kualifikasi AMDAL . Dengan demikian. dalam perkembangan baru ini. Kedua. sosial budaya.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. aparatur pemerintah.oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. dan lain-lain. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan. misalnya pembangunan pabrik pupuk. ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni. karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. . Secara yuridis. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak. Dalam pengertian diatas. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi. flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara. air dan darat. maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa. Dalam membuat data.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. pembangunan pabrik tapioka. analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. dan masyarakat sangat penting.

maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat. maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Dalam segala hal. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. maka yang menjadi permasalahan adalah: 1.Sehubungan dengan hal tersebut diatas. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar. Berdasarkan uraian di atas. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. 2. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat . si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini. yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. . Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : . Sejak itu. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu . akademisi ataupun aparat penegak hukum. sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No.Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL.melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan. D. E. yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini.Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL 2. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan. antara lain : a. (Ebisemiju dalam Soemartono. baik bagi praktisi. 2. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. memprediksi. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi. Menurut Peraturan Pemerintah No. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan. Tujuan dan kegunaan penelitian 1.

1994 : 94). Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang . (Suparni. 1995 : 34). Menurut Peraturan Pemerintah No. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup.kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup.” (Ebisemiju dalam Silalahi. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). (Soemartono. 1995 : 23). Kerangka Acuan (KA). Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).” b. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. baik biofisik. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.” (Fandeli. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA). maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. 1996). yaitu sebagai berikut : a. Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. c. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. b. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen.

f. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. Karena itu. i. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. h. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. AMDAL bersifat terbuka. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. baik aparat administrasi. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. kecuali yang menyangkut rahasia negara. baik nasional maupun internasional. (Suparni. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. pemerintah maupun penyusun AMDAL. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. e. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Sebaliknya. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara.bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. Prinsip ini berarti : Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. d. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Hal tersebut berarti pula. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. 1994 : 107) . AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. g.

Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. h. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . Terhadap penolakan ini. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. e. g. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. mengidentifikasi dan menganalisa data. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. k. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. j.2. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. i. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil . Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. f. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. antara lain : 1. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. d. c. b. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. berhubung tidak ada dampak penting. (Silalahi. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Apabila ANDAL disetujui. (Fandeli. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan.

sosial ekonomi dan sosial budaya. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. 1995 : 68). Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. Men. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. 29 Tahun 1986 dan Kep. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. (Fandeli. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan terhadap AMDAL-nya sendiri. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. (Silalahi. dan biaya. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. Namun menurut PP No. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. batas ekologis. 1995:32). (Soemarwoto. dan batas teknis. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. (Fandeli. c. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. KLH No.kegiatan menapis. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. 50/1987). Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : . Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. 29 Tahun 1986. KLH No. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. (Husein. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. 2. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. (Fandeli. 1995 : 107). 1992 : 48). 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. Men. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. (Fandeli. batas administrasi. 1997:76). b. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. 29 Tahun 1986. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. penelitian menjadi terfokus. 51 Tahun 1993 dan Kep.

28 Tahun 1985). Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. b. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. (Husein. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . g. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. d. sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. c. e. 1993 :86). . AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Efisiensi biaya studi AMDAL. . tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. 1926 No. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih efisien. 226. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. . Efisiensi waktu studi AMDAL.Dan lain-lain (Lotulung. . AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. 5 Tahun 1990). AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. 1992 : 206) 2. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. f.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. . 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : .Izin Mendirikan Banggunan (IMB). maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin.a. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. . 29 Tahun 1990). Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu.

Hasil studi ini terdiri . Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. Dengan adanya ketentuan ini. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. Karena itu. Terhadap kegiatan yang sudah ada. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO.. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. 20 Tahun 1990. Dengan disahkannya Undang-undang No. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. kerugian atau gangguan”. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. 51 Tahun 1993. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). kerugian atau gangguan”. pemegang Bezit. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. b. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. (Silalahi. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. yang menyatakan bahwa : Pemilik. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan.Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan.

KERANGKA ACUAN a. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Didalam menghasilkan dokumen. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. 1995 : 34). Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. 51 Tahun 1993. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . tenaga dan lain-lain sebagainya. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. yaitu : pemrakarsa. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. komisi AMDAL.51/1993) b. (Silalahi. 2.dari beberapa dokumen. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. perlu dibuat tata laksana. 3. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. baik pada tahap pra konstruksi. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. faktor manusia dam lain sebagainya. konsultan penyusun. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Manfaat Kerangka Acuan : 1. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. dana. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. . 2. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Semenjak berlakunya PP No. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. I. 1996 : 164) c. Dengan demikian.

sosial ekonomi. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Baik pada tahap pra konstruksi. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Komponen rencana kegiatan b. 2. 1995 : 42). Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. 3. termasuk masyarakat. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan.b. 2. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : . 1995 : 157). Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. Memuat uraian singkat tentang : a. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. c. 51 Tahun 1993).AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. B. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. kontruksi maupun pasca kontruksi. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. b. kontruksi maupun pasca kontruksi. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. C. (Semartono. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. Komponene rona lingkunagan awal Ad. bila dipandang bperlu.a. antara lain : 1. (Silalahi. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. Ad. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan.e. II. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. (Fandeli. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. 1996 : 173).

hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. b. Setelah dikeluarkannya PP No. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. sumber dampak. c. (Silalahi. b. c. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. e. III. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. teknologi maupun instansi. sosial ekonomi. d. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. D. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. c. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. (Soemartono. baik dari segi ekonomi. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. untuk menangguangi masalah lingkungan. Misal. Komponen lingkungan terkena dampak. d. b. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. 1996 : 175). namun bersifat arahan dan garis besar. 1995 : 47). (Fandeli. d. . tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. 1995 : 173). tata letak lokasi dan rencana bangun proyek.a. Luas penyebaran dampak penting Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi.

(Fandeli. (Fandeli. e. mencakup hal : 1. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. c. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. 1992 : 121). RKL dan RPL. d. atau terkena dampak penting. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. Metode pengumpulan data f. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. (Husein. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. antara lain adalah : a. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. b. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai koordinator. pelaksanaan pemantauan. (Silalahi. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. (Soemartono. Lokasi pemantauan 3. usaha atau kegiatan. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap . ekonomi dan institusional. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 1995 : 49) IV. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan.Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. RKL yang bersamaan sesuai PP No. 51 Tahun 1993 dan Kep. Jenis data yang dikumpulkan 2. berulang dan terencana. Men LH No. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. Disamping skala keacuhan.

sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. yaitu : Administratif. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. Perdata dan Pidana. sosial budaya dan lain-lain . Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. 1992 : 81). (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. (Subagyo. 1994 : 166). Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. Penelitian tentang bentuk. medis. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Penelitian meliputi bidang ekologi. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. (Lotulung. (Suparni. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup.orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. (Suparni. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. 1993 : 2). Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). 1994 : 173).

Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. (Hardjosoemantri. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran.yang diperlukan. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya pemulihan lingkungan hidup. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. 1. apabila si berhutang. 1993 : 352). mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). barulah mulai diwajibkan. ( Harjosomantri. 1994 : 176). Dalam hubungan ini. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. Hal ini penting sekali diatur. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. (Suparni. 2. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. pasal yang dapat . 3. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. 1993 : 353). Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). yang membawa kerugian kepada seorang lain. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita.

dan Pasal 24 ayat (1) dan (2).digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. dan Pasal 19 UU No. (Hardjosoemantri. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. . Dengan demikian.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. 1993 : 358). 1995 : 50). Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Peraturan Pemerintah No. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. (Silalahi. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Rudiger Lummert Mengemukakan. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. baku mutu lingkungan. 1994 : 177). Pasal 26.ia mendasarkan sesuatu hak. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. dan sebagainya. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. (Suparni.

Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. (Silalahi. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat pengawasan.Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. 1995 : 51). Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. 1926 No. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). paksaan. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. 1994 : 166). (Suparni. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang . Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. 226. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. kepolisian. 1994 : 167). Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. (Suparni. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. b) Peraturan Pemerintah N0. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Pencabutan izin melalui proses : teguran. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup.

bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. baku mutu lungkungan. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. 1995 : 59).”. c) Undang-Undang No. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. (Silalahi. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). 1992 : 225). maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. Menurut Andi Hamzah. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. seperti pada Pasal 160 (menghasut). ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Undangundang No. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum.bertanggung jawab. . Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. (Husein. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. 1995 : 59). yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. Pasal 362 (Pencurian). Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. diancam dengan pidana. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. Khusus mengenai pembuktian. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup.. misalnya pada Undang-undang No. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. maka terciptalah delik. (Silalahi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. (Silalahi. perizinan lingkungan.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. 1995 : 53).

Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. Prof. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. Kaslan A. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . d. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. baik kimia. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). (Thohir. Menurut Ir. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. 1986 : 81-81) 2. Prof. c. (Suparni.2. 1985 : 288) 3. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. Beberapa perumusan yaitu : a. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. fisik. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. 2. 1992 : 95) 1. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. yaitu : 1. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. (Suparni. I. Undang-Undang No. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. Prof. (Abdurrahman. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. (Pasal 1 angka 21) b. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan . khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. maupun biologi. Peraturan Pemerintah No.

Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. 3. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . serta lingkungan sosial dan budaya. jenis hewan dan jasad renik. misalnya pembuatan jalan. Diintegrasikan ketiga aspek tadi . Luas wilayah penyebaran dampak. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. kerusakan kawasan konservasi alam. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. 5. 1. Sifat kumulatif dampak. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. 27 Tahun 1999. 9. 7. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. b. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. zat energi. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. 27 Tahun 1999. atau pencemaran benda cagar budaya. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. bendungan/dam. yaitu : a. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. e. yaitu . misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. (Soemarwoto.pestisida. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. jalan kereta api dan pembukaan hutan. lingkungan buatan. 4. d. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. c. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. 6. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. 2. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 8.

Ad. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. Aparatur Pemerintah 3. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu peranan para pihak sangat berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Masyarakat Ad. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . 1992 : 104).3. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. atau badan-badan hukum. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Ad. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. 2. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1.2. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. 1. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Swasta. Pemrakarsa 2. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh . Swasta. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. 27 Tahun 1999). sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. kelompok orang. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan.kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. (Suparni. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. 1992 : 107). 2. 3.

Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. 4. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). 2. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Ad. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.1. sedang atau besar. Pengelolaan Lingkungan . yaitu : a. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. misalnya dengan komputer. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. d. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. Metode formal terbagi dua. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Ad. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Pelaporan (Soemarwoto. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. Pelingkupan 3. Apbila proyek mempunyai dampak. 2. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. 3. Ad. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. c. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. b. misalnya kecil. Penapisan 2.pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Ad. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. b. Pengelolaan Lingkungan 5. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal.3.2. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan.

apabila : 1. Menurut Pasal 27 PP No. atau b. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya.Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. Analisis dampak lingkungan hidup. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 3.5. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menurut Pasal 26 PP No. 27 Tahun 1999. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. 2. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. . Ad. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. 2. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No.3. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. 6. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. 29 Tahun 1986. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. B. 2. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. 51 tahun 1993 dicabur. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya diatur pada Peraturan Pemerintah No. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. 3. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. 5. 3. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 5. 4. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. C. 4. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No.

Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. (Soemarwoto. c. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. b. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. f. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundangundangan. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. (Soemarwoto. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. e. i. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. b. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. h. 2. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. (Suparni. e. 1990 : 79-80). d. 1992 : 113). Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. 1. d. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut.Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. f. c. g. Tidak adanya pemantauan. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan . Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. jika perlu dengan bantuan pakar. c. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . b.

Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya . (Pasal 1830 BW).