contoh skripsi hukum

dengan 134 komentar TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk, menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu, merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Husin, 1992 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (Silalahi, 11995 : 1). Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL, lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam. (Suparni, 1994 : 89). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (UU No. 23 Tahun 1997,1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai, maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut

Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya, sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut, terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, dan dampak lingkungan penting lainnya. Atas pertimbangan di atas, mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru, masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan, mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan, dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat, komisi daerah telah dilibatkan, yang akan menjamin keterpaduan vertical. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Oleh karena itu, penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan, misalnya ekonomi, sosial budaya, planologi, hidrologi, kimia dan biologi. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Meningkatkan kegiatan pembangunan, akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya, kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Dengan demikian, dalam perkembangan baru ini, hokum disamping untuk menjaga ketertiban, sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Untuk melakukan analisis secara demikian, Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas dasar pemikiran diatas, analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Kedua, pengaruh dari kualifikasi AMDAL oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam pengertian diatas, ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang

istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus, karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian, pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan, faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama, sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni, 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan, misalnya pembangunan pabrik pupuk, pembangunan pabrik tapioka, dan lain-lain. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak, maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa, aparatur pemerintah, dan masyarakat sangat penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Dalam membuat data, seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis, analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting, mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam, flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara, air dan darat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja, yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Berdasarkan uraian di atas, maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja, banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat, akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. 2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dalam segala hal, si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar, untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini, perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini, serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. D. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : - Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. - Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL

2. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan, baik bagi praktisi, akademisi ataupun aparat penegak hukum. E. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat, maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Sejak itu, AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (Ebisemiju dalam Soemartono, 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi, memprediksi, menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan, antara lain : a. Menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Ebisemiju dalam Silalahi, 1995 : 23). b. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Fandeli, 1995 : 34). Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan

keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. (Soemartono. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). d. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). (Suparni. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen.” b. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Kerangka Acuan (KA). Prinsip ini berarti : . c. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). baik biofisik. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. 1996). prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. yaitu sebagai berikut : a. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. 1994 : 94). Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak.(ANDAL). Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan.

maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. i.Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. (Suparni. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. b. Apabila suatu . maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. kecuali yang menyangkut rahasia negara. e. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. baik nasional maupun internasional. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. f. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. Karena itu. Hal tersebut berarti pula. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. 1994 : 107) 2. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. h. Sebaliknya. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. baik aparat administrasi. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. pemerintah maupun penyusun AMDAL. g. AMDAL bersifat terbuka.

f. i. g. h. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan . Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. e. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. Terhadap penolakan ini. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. 29 Tahun 1986. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. (Silalahi. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. d. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. mengidentifikasi dan menganalisa data. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. 29 Tahun 1986. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. (Fandeli. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. k. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. j. (Fandeli. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL.lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. Apabila ANDAL disetujui. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil kegiatan menapis. berhubung tidak ada dampak penting. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. antara lain : 1. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . c.

29 Tahun 1986 dan Kep. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. 1995 : 68). 1995:32). g. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. 1997:76). 50/1987). Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : a. 1992 : 48). sosial ekonomi dan sosial budaya. KLH No. KLH No. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. e. batas administrasi. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan.terhadap AMDAL-nya sendiri. c. Men. dan batas teknis. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih . Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. batas ekologis. (Fandeli. 2. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. (Husein. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). (Silalahi. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. c. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. 1995 : 107). (Soemarwoto. f. Efisiensi biaya studi AMDAL. Men. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. d. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. Namun menurut PP No. (Fandeli. penelitian menjadi terfokus. (Fandeli. b. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. b. 51 Tahun 1993 dan Kep. dan biaya. Efisiensi waktu studi AMDAL.

Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. Karena itu. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan . AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan.Dan lain-lain (Lotulung. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. . 5 Tahun 1990). Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. 1992 : 206) 2. . . tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). 1993 :86). Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.efisien. 226. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). 29 Tahun 1990). sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. 28 Tahun 1985). . (Husein. 1926 No. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. . Terhadap kegiatan yang sudah ada. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan.

Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. Semenjak berlakunya PP No. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . Dengan adanya ketentuan ini. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. pemegang Bezit. Rencana Pengelolaan Lingkungan . menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). 51 Tahun 1993. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Dengan disahkannya Undang-undang No. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. perlu dibuat tata laksana. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. 1995 : 34). termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. kerugian atau gangguan”. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. kerugian atau gangguan”. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. 20 Tahun 1990. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. b. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. yang menyatakan bahwa : Pemilik. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. (Silalahi. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden.membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. Didalam menghasilkan dokumen. 51 Tahun 1993. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho..

Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. yaitu : pemrakarsa. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah.51/1993) b. 1996 : 164) c. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. . yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. (Fandeli. baik pada tahap pra konstruksi. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. e. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. 2. 1995 : 42). b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. 2. KERANGKA ACUAN a. komisi AMDAL. 51 Tahun 1993). dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dengan demikian. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. II. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. 3.(RKL). faktor manusia dam lain sebagainya. tenaga dan lain-lain sebagainya. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. dana. Manfaat Kerangka Acuan : 1. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. I. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. (Silalahi. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. konsultan penyusun. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien.

1995 : 157). Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. antara lain : 1. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : a.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. 2. Ad. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. C. kontruksi maupun pasca kontruksi. (Silalahi. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini.b. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan.Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. c. b.a. Memuat uraian singkat tentang : a. c. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. sosial ekonomi. Komponen rencana kegiatan b. Luas penyebaran dampak penting . atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. (Semartono. d. 3. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. 1996 : 173). Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. Komponene rona lingkunagan awal Ad. termasuk masyarakat. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. bila dipandang bperlu. kontruksi maupun pasca kontruksi. Baik pada tahap pra konstruksi. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. b. Misal. 2. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. B. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). yang dihadapi selama menyusun ANDAL.

teknologi maupun instansi. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. RKL yang bersamaan sesuai PP No. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. D. d. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. b. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. c. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a.Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai . Men LH No. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. 1995 : 47). mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. (Fandeli. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. d. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Komponen lingkungan terkena dampak. Setelah dikeluarkannya PP No. namun bersifat arahan dan garis besar. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. 51 Tahun 1993 dan Kep. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. (Soemartono. c. (Silalahi. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. (Fandeli. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. b. ekonomi dan institusional. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. III. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. baik dari segi ekonomi. sumber dampak. sosial ekonomi. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. untuk menangguangi masalah lingkungan. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. e. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. 1995 : 173). 1996 : 175). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan.

d. pelaksanaan pemantauan. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. (Fandeli. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). b. Jenis data yang dikumpulkan 2. Metode pengumpulan data f. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. Lokasi pemantauan 3. atau terkena dampak penting. (Soemartono. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. 1994 : 166). usaha atau kegiatan. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari . Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. berulang dan terencana. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. (Silalahi. mencakup hal : 1. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. RKL dan RPL. c. Disamping skala keacuhan. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional.koordinator. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. (Husein. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. (Suparni. antara lain adalah : a. 1995 : 49) IV. 1992 : 121). e. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan.

1994 : 173). jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. Penelitian tentang bentuk. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara.keperluannya. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. medis. pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. (Lotulung. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. sosial budaya dan lain-lain yang diperlukan. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. Penelitian meliputi bidang ekologi. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. 1992 : 81). 1993 : 2). Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). yaitu : Administratif. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Perdata dan Pidana. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. (Suparni. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya . misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. (Subagyo. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita.

Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. pasal yang dapat digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. yang membawa kerugian kepada seorang lain. 3. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. . hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). 1993 : 353). 1994 : 177). 1993 : 352).setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. 1. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. apabila si berhutang. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan.pemulihan lingkungan hidup. 2. sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. Dalam hubungan ini. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. barulah mulai diwajibkan. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. (Suparni. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. (Hardjosoemantri. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. ( Harjosomantri. (Suparni. 1994 : 176). Hal ini penting sekali diatur.ia mendasarkan sesuatu hak.

20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. (Suparni. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. Dengan demikian. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat.Rudiger Lummert Mengemukakan. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat . Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. 1993 : 358). baku mutu lingkungan. dan sebagainya. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. dan Pasal 19 UU No. 1994 : 166). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. (Silalahi. (Hardjosoemantri. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. 1995 : 50). misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. Peraturan Pemerintah No. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. Pasal 26. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan.

yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. 1994 : 167).pengawasan. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. c) Undang-Undang No. 1995 : 51). selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang bertanggung jawab. kepolisian. (Suparni. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. (Silalahi. 1926 No. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. b) Peraturan Pemerintah N0. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. paksaan. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. 226. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian . Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll.

(Silalahi. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. baku mutu lungkungan. Undang-Undang No. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. diancam dengan pidana.. 1992 : 225). biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. 1995 : 59). misalnya pada Undang-undang No. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang.Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. Beberapa perumusan yaitu : a. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. perizinan lingkungan. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 1995 : 53). UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Undangundang No. (Silalahi. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. (Husein. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban.”. maka terciptalah delik. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. Menurut Andi Hamzah. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang . 2. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. Pasal 362 (Pencurian). 1995 : 59). perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. Khusus mengenai pembuktian. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. (Silalahi. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. seperti pada Pasal 160 (menghasut). sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum.

1986 : 81-81) 2. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. 1985 : 288) 3. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Menurut Ir. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. (Abdurrahman. (Thohir. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. Prof. (Suparni. d. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. Prof. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). yaitu : 1. maupun biologi. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. (Soemarwoto. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . 2. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat . (Pasal 1 angka 21) b. (Suparni. Peraturan Pemerintah No. baik kimia. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. Prof. c. I. fisik. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan pestisida. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Kaslan A. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. 1992 : 95) 1. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.

f. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu peranan para pihak sangat . misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. 3. 1. zat energi. Diintegrasikan ketiga aspek tadi kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. 5. yaitu : a. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. yaitu . 27 Tahun 1999. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. d. kerusakan kawasan konservasi alam. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. 7. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. c. misalnya pembuatan jalan. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Sifat kumulatif dampak. 6. lingkungan buatan. 2. serta lingkungan sosial dan budaya. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak.(1) Peraturan Pemerintah No. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. 8. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. atau pencemaran benda cagar budaya. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. b. jalan kereta api dan pembukaan hutan. 4. 2. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. e. jenis hewan dan jasad renik. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. bendungan/dam. 9. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. Luas wilayah penyebaran dampak. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. 27 Tahun 1999.

sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. atau badan-badan hukum. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. (Suparni. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2.2. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Angaran Pendapat dan Belanja Negara. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. 1992 : 104). 27 Tahun 1999). Ad.3. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan . 1992 : 107). Ad. Aparatur Pemerintah 3. Swasta. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Swasta. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. Masyarakat Ad. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. kelompok orang. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 1. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. 3. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Pemrakarsa 2. 2. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. misalnya dengan komputer. 2. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. b.memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. Pelingkupan 3. Ad.1. yaitu : a.3. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan . jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Penapisan 2. 3. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Pelaporan (Soemarwoto. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. 4. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. Pengelolaan Lingkungan Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. 3. b. Ad. Apbila proyek mempunyai dampak. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan.5. Ad. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. 2. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. c. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Pengelolaan Lingkungan 5. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. misalnya kecil. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. sedang atau besar. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. Ad.2. Metode formal terbagi dua. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Ad. d.

dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya . Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. apabila : 1. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Analisis dampak lingkungan hidup. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.1. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. 27 Tahun 1999. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menurut Pasal 26 PP No. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 3. 2. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Menurut Pasal 27 PP No. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. atau b. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. B. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. 2.

Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. 2. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. 2. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. b. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang- . 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. 5. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. 29 Tahun 1986. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 3. 3. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994.diatur pada Peraturan Pemerintah No. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 4. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. 5. c. C. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 51 tahun 1993 dicabur. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. 4. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 6.

(Pasal 1830 . Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. 1990 : 79-80). (Soemarwoto. f.undangan. g. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. i. (Soemarwoto. jika perlu dengan bantuan pakar. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. b. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. 1992 : 113). Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. (Suparni. e. c. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. d. h. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. 2. d. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. c. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Tidak adanya pemantauan. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. 1. b. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. e. f. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum.

LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya. TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. 1992 : 1). Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya.BW). NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat. maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu. semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. (Suparni. antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka. 1994 : 89). merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 11995 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). . Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan. menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam. serta rendahnya nilai estetika alam. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan. Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL. guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. (Husin. guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk. maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Silalahi.

masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu. dalam perkembangan baru ini. komisi daerah telah dilibatkan. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Atas dasar pemikiran diatas.51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Oleh karena itu. misalnya ekonomi. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. kimia dan biologi. terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis. penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan. sosial budaya.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. planologi. 23 Tahun 1997. mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. Untuk melakukan analisis secara demikian. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. (UU No. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Meningkatkan kegiatan pembangunan. Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas pertimbangan di atas. dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia. sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya. 51 Tahun 1993. hokum disamping untuk menjaga ketertiban. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai. analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan. mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. hidrologi. Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut Peraturan Pemerintah No. akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya. maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. pengaruh dari kualifikasi AMDAL . AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. penilaian. sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut.1997). yang akan menjamin keterpaduan vertical. seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Kedua. dan dampak lingkungan penting lainnya. dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. dan pengambilan keputusan.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. air dan darat. dan masyarakat sangat penting. dan lain-lain. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus. sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. . Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. misalnya pembangunan pabrik pupuk. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan. seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. aparatur pemerintah. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam membuat data. flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi. jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis. Dalam pengertian diatas. pembangunan pabrik tapioka.oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam. faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama. 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi.

Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar. banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang. untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. 2. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Berdasarkan uraian di atas.Sehubungan dengan hal tersebut diatas. maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat . Dalam segala hal. si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1.

27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat. sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait.Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL 2. akademisi ataupun aparat penegak hukum. 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL.melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu . antara lain : a. E. AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Sejak itu. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. memprediksi. D. maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan. (Ebisemiju dalam Soemartono. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan.Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. 2. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. . Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. baik bagi praktisi. menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : . Menurut Peraturan Pemerintah No.

sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. c. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Menurut Peraturan Pemerintah No. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan.kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Kerangka Acuan (KA).” (Fandeli. b. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan.” b. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. (Suparni. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA).” (Ebisemiju dalam Silalahi. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). 1995 : 34). Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang . yaitu sebagai berikut : a. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. (Soemartono. 1994 : 94). 1995 : 23). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. 1996). Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). baik biofisik.

yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. baik nasional maupun internasional. Sebaliknya. 1994 : 107) . setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Prinsip ini berarti : Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. (Suparni. g. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. i. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. Hal tersebut berarti pula. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. f. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. e. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. pemerintah maupun penyusun AMDAL. baik aparat administrasi. d. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional.bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Karena itu. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. AMDAL bersifat terbuka. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. kecuali yang menyangkut rahasia negara. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. h.

Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. antara lain : 1. Terhadap penolakan ini. i. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. berhubung tidak ada dampak penting. (Fandeli. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. j. Apabila ANDAL disetujui. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil . PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. d. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. c. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. h. mengidentifikasi dan menganalisa data. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. g. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. (Silalahi. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan.2. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. b. e. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. f. k. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening.

Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. 29 Tahun 1986. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. 2. Men.kegiatan menapis. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. 29 Tahun 1986 dan Kep. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. batas administrasi. 1995:32). Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. penelitian menjadi terfokus. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. Men. 1992 : 48). 51 Tahun 1993 dan Kep. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. 50/1987). ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. (Silalahi. (Fandeli. dan batas teknis. Namun menurut PP No. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : . 29 Tahun 1986. sosial ekonomi dan sosial budaya. (Fandeli. (Husein. 1997:76). Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. (Soemarwoto. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. (Fandeli. dan biaya. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. 1995 : 68). 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. KLH No. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. b. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. KLH No. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. (Fandeli. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan terhadap AMDAL-nya sendiri. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. c. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. batas ekologis. 1995 : 107). Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan.

Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. . maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. 5 Tahun 1990). 1993 :86). biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih efisien. d. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. c. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. b. . (Husein. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . 1992 : 206) 2. . Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. Efisiensi waktu studi AMDAL. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. 226. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. f. g. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. . e. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL.a.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. 29 Tahun 1990). Efisiensi biaya studi AMDAL. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. . 1926 No. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . Ditinjau dari segi perizinan AMDAL.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek.Dan lain-lain (Lotulung. 28 Tahun 1985). .

sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. yang menyatakan bahwa : Pemilik. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). kerugian atau gangguan”. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. Dengan disahkannya Undang-undang No. b. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan.. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Karena itu. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. 20 Tahun 1990. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. Hasil studi ini terdiri . 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. kerugian atau gangguan”. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. (Silalahi. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden.Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. Dengan adanya ketentuan ini. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. 51 Tahun 1993. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. Terhadap kegiatan yang sudah ada. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). pemegang Bezit. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan.

Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . yaitu : pemrakarsa. Manfaat Kerangka Acuan : 1. (Silalahi. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. faktor manusia dam lain sebagainya. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. komisi AMDAL. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. 2. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Dengan demikian. baik pada tahap pra konstruksi. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. 1995 : 34). Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. 51 Tahun 1993. 2. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). 1996 : 164) c.51/1993) b. . Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. perlu dibuat tata laksana. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. Didalam menghasilkan dokumen. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. KERANGKA ACUAN a. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas.dari beberapa dokumen. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. tenaga dan lain-lain sebagainya. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. konsultan penyusun. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. 3. Semenjak berlakunya PP No. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. dana. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). I.

e. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. Memuat uraian singkat tentang : a. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. (Semartono. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. Komponene rona lingkunagan awal Ad.a. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. termasuk masyarakat. kontruksi maupun pasca kontruksi. (Fandeli. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. 2. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. 51 Tahun 1993). 1995 : 157). dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. 1995 : 42). kontruksi maupun pasca kontruksi. sosial ekonomi. (Silalahi. Komponen rencana kegiatan b. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak.b. bila dipandang bperlu. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. 1996 : 173). Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. B. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : . Ad. C. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. b. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Baik pada tahap pra konstruksi. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. II. 3. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. c. 2. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. antara lain : 1.

e. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Misal. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. . Komponen lingkungan terkena dampak. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. (Soemartono. sumber dampak. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya.a. 1995 : 47). Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. III. Setelah dikeluarkannya PP No. d. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. sosial ekonomi. D. teknologi maupun instansi. c. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. 1996 : 175). Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. b. untuk menangguangi masalah lingkungan. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. (Silalahi. c. d. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. c. Luas penyebaran dampak penting Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. (Fandeli. 1995 : 173). d. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. namun bersifat arahan dan garis besar. b. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. baik dari segi ekonomi. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. b. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif.

1992 : 121). Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. (Husein. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap . antara lain adalah : a. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. mencakup hal : 1. usaha atau kegiatan. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. (Fandeli. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai koordinator. RKL yang bersamaan sesuai PP No. c. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. (Silalahi. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. RKL dan RPL.Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. ekonomi dan institusional. Metode pengumpulan data f. 51 Tahun 1993 dan Kep. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. pelaksanaan pemantauan. Disamping skala keacuhan. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. Lokasi pemantauan 3. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. (Soemartono. atau terkena dampak penting. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. 1995 : 49) IV. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. e. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. berulang dan terencana. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. d. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Men LH No. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Jenis data yang dikumpulkan 2. (Fandeli. b. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana.

tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara.orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. (Lotulung. 1993 : 2). jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. 1992 : 81). Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Perdata dan Pidana. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Penelitian meliputi bidang ekologi. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. 1994 : 173). Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. medis. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. (Subagyo. (Suparni. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. Penelitian tentang bentuk. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. 1994 : 166). jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. sosial budaya dan lain-lain . (Suparni. yaitu : Administratif. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. yang membawa kerugian kepada seorang lain. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus.yang diperlukan. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. 1993 : 352). barulah mulai diwajibkan. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. 1994 : 176). Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. 3. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. (Hardjosoemantri. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya pemulihan lingkungan hidup. 1. Hal ini penting sekali diatur. Dalam hubungan ini. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). 1993 : 353). hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. ( Harjosomantri. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). apabila si berhutang. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. (Suparni. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. pasal yang dapat . 2.

Pasal 26. Peraturan Pemerintah No.digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. (Hardjosoemantri. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). (Silalahi. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. Rudiger Lummert Mengemukakan. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. 1993 : 358).yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. (Suparni. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama.ia mendasarkan sesuatu hak. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Dengan demikian. 1994 : 177). dan Pasal 19 UU No. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. 1995 : 50). Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. . Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. dan sebagainya. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. baku mutu lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan).

Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. 1926 No. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. (Suparni. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. (Suparni. paksaan. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat pengawasan. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. 1994 : 167). Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. (Silalahi. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. 1995 : 51). menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. 226. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2.Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. kepolisian. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pencabutan izin melalui proses : teguran. 1994 : 166). Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. b) Peraturan Pemerintah N0. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang . Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan.

bertanggung jawab. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. 1995 : 59).Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. maka terciptalah delik. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). (Husein. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. diancam dengan pidana. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. baku mutu lungkungan. Pasal 362 (Pencurian). 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. . seperti pada Pasal 160 (menghasut). Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. Undangundang No. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. Khusus mengenai pembuktian. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana.”. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. perizinan lingkungan. (Silalahi. (Silalahi. 1995 : 53). maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. 1995 : 59). 1992 : 225). c) Undang-Undang No. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya.. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. misalnya pada Undang-undang No. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. Menurut Andi Hamzah. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. (Silalahi. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif.

fisik. (Suparni. 2. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Menurut Ir. (Thohir. Peraturan Pemerintah No. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. (Suparni. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . c. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). (Abdurrahman. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. baik kimia. Undang-Undang No. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. maupun biologi. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. I. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan . 1986 : 81-81) 2. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia.2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. Beberapa perumusan yaitu : a. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Kaslan A. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. d. Prof. (Pasal 1 angka 21) b. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Prof. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. 1992 : 95) 1. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. yaitu : 1. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. Prof. 1985 : 288) 3.

Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. jenis hewan dan jasad renik. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. 5. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. 3. atau pencemaran benda cagar budaya. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. Diintegrasikan ketiga aspek tadi . f. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. c. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. 7. kerusakan kawasan konservasi alam. 2. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. 1. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. 6. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. d. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Sifat kumulatif dampak. zat energi. b. yaitu . jalan kereta api dan pembukaan hutan. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. misalnya pembuatan jalan. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. 4. yaitu : a. bendungan/dam.pestisida. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . 27 Tahun 1999. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 27 Tahun 1999. Luas wilayah penyebaran dampak. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. lingkungan buatan. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. 9. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. e. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 8. (Soemarwoto. serta lingkungan sosial dan budaya. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No.

27 Tahun 1999). kelompok orang.kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Ad. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Swasta. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. 1992 : 104).3. (Suparni.2. 2. 1992 : 107). baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. 3. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. Aparatur Pemerintah 3. Oleh karena itu peranan para pihak sangat berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Ad. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. Pemrakarsa 2. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. atau badan-badan hukum. 1. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh . Masyarakat Ad. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Swasta. 2. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta.

Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Metode formal terbagi dua. 4. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Ad. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan.3. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. misalnya kecil. 3. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Ad. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan.pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. Apbila proyek mempunyai dampak. b. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. d. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. misalnya dengan komputer. b. 2. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. yaitu : a. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. sedang atau besar. 2. Ad.2.1. Pengelolaan Lingkungan 5. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Pelaporan (Soemarwoto. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. Penapisan 2. Pelingkupan 3. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Ad. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pengelolaan Lingkungan . Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. c.

Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. 3. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. atau b. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 2. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. 2. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan.Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.5. Ad. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999. . Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. apabila : 1. Menurut Pasal 27 PP No. Menurut Pasal 26 PP No. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong.

dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. B. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya diatur pada Peraturan Pemerintah No. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. 3. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 6. 5. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. C. 5. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.3. 3. 2. 29 Tahun 1986. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. 51 tahun 1993 dicabur. 4. 4.

Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. (Suparni. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. 1992 : 113). Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. c. 1. b. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . d. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundangundangan. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. (Soemarwoto. d. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. i. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. e. e. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan . b. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. 2. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. 1990 : 79-80). g. f. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. h. b. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. jika perlu dengan bantuan pakar. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan.Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. c. c. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. (Soemarwoto. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. f. Tidak adanya pemantauan. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional.

Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya . (Pasal 1830 BW). sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd.Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful