contoh skripsi hukum

dengan 134 komentar TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk, menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu, merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Husin, 1992 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (Silalahi, 11995 : 1). Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL, lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam. (Suparni, 1994 : 89). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (UU No. 23 Tahun 1997,1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai, maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut

Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya, sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut, terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, dan dampak lingkungan penting lainnya. Atas pertimbangan di atas, mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru, masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan, mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan, dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat, komisi daerah telah dilibatkan, yang akan menjamin keterpaduan vertical. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Oleh karena itu, penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan, misalnya ekonomi, sosial budaya, planologi, hidrologi, kimia dan biologi. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Meningkatkan kegiatan pembangunan, akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya, kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Dengan demikian, dalam perkembangan baru ini, hokum disamping untuk menjaga ketertiban, sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Untuk melakukan analisis secara demikian, Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas dasar pemikiran diatas, analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Kedua, pengaruh dari kualifikasi AMDAL oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam pengertian diatas, ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang

istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus, karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian, pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan, faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama, sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni, 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan, misalnya pembangunan pabrik pupuk, pembangunan pabrik tapioka, dan lain-lain. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak, maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa, aparatur pemerintah, dan masyarakat sangat penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Dalam membuat data, seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis, analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting, mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam, flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara, air dan darat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja, yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Berdasarkan uraian di atas, maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja, banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat, akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. 2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dalam segala hal, si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar, untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini, perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini, serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. D. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : - Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. - Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL

2. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan, baik bagi praktisi, akademisi ataupun aparat penegak hukum. E. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat, maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Sejak itu, AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (Ebisemiju dalam Soemartono, 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi, memprediksi, menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan, antara lain : a. Menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Ebisemiju dalam Silalahi, 1995 : 23). b. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Fandeli, 1995 : 34). Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan

keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. baik biofisik. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Prinsip ini berarti : . Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).(ANDAL). 1996). Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. Kerangka Acuan (KA). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. (Suparni. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan.” b. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. d. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. yaitu sebagai berikut : a. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. 1994 : 94). prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). c. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. (Soemartono.

h. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. AMDAL bersifat terbuka. Karena itu. i. baik aparat administrasi. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. kecuali yang menyangkut rahasia negara. (Suparni. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. e. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. pemerintah maupun penyusun AMDAL.Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Sebaliknya. g. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. 1994 : 107) 2. baik nasional maupun internasional. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. f. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Apabila suatu . Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. b. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Hal tersebut berarti pula.

pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. (Fandeli. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. mengidentifikasi dan menganalisa data. (Fandeli. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. d. f. i. 29 Tahun 1986. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. Apabila ANDAL disetujui. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan . Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil kegiatan menapis. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan.lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. j. h. antara lain : 1. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. 29 Tahun 1986. berhubung tidak ada dampak penting. g. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. k. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. Terhadap penolakan ini. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. e. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. c. (Silalahi. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral.

batas administrasi. b. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. Efisiensi waktu studi AMDAL. f. 1995 : 107). Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. batas ekologis. (Silalahi. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 dan Kep. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. Efisiensi biaya studi AMDAL. d. sosial ekonomi dan sosial budaya. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL.terhadap AMDAL-nya sendiri. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. g. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Namun menurut PP No. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. (Soemarwoto. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. penelitian menjadi terfokus. 1997:76). Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. Men. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. KLH No. 1995 : 68). 29 Tahun 1986 dan Kep. (Husein. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. 1992 : 48). Men. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. (Fandeli. c. dan biaya. KLH No. (Fandeli. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : a. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. e. 1995:32). Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. 50/1987). (Fandeli. c. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. dan batas teknis. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih . Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. b. 2.

jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. 29 Tahun 1990). Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. . menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. 1926 No. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. 1993 :86). AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . 28 Tahun 1985).efisien. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. . sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. (Husein. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. . keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan . Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. 226.Dan lain-lain (Lotulung. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. . Karena itu. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. 1992 : 206) 2.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. 5 Tahun 1990). Terhadap kegiatan yang sudah ada. .

Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. Dengan adanya ketentuan ini. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum.. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. Didalam menghasilkan dokumen. (Silalahi. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). kerugian atau gangguan”. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No.membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. pemegang Bezit. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. Semenjak berlakunya PP No. b. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. Dengan disahkannya Undang-undang No. yang menyatakan bahwa : Pemilik. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. kerugian atau gangguan”. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. 20 Tahun 1990. Rencana Pengelolaan Lingkungan . Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. 1995 : 34). 51 Tahun 1993. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . perlu dibuat tata laksana. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. 51 Tahun 1993. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan.

faktor manusia dam lain sebagainya. yaitu : pemrakarsa. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. (Fandeli. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. Dengan demikian.51/1993) b. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. I. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. baik pada tahap pra konstruksi. 1995 : 42). Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. 2. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. II. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. 3. 51 Tahun 1993). Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. dana. konsultan penyusun. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. tenaga dan lain-lain sebagainya. komisi AMDAL. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. (Silalahi. . instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. 1996 : 164) c. 2. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. KERANGKA ACUAN a. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. Manfaat Kerangka Acuan : 1. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. e. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1.(RKL).

b. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. B. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). c. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Baik pada tahap pra konstruksi.a. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Misal. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. sosial ekonomi. b. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. 1995 : 157). Komponen rencana kegiatan b. Luas penyebaran dampak penting . Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : a. Ad. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. 2. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. (Semartono. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. 2.Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Memuat uraian singkat tentang : a. 3. kontruksi maupun pasca kontruksi. kontruksi maupun pasca kontruksi. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. (Silalahi. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. d. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. antara lain : 1. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. C. 1996 : 173). Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. bila dipandang bperlu. c. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. Komponene rona lingkunagan awal Ad. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. termasuk masyarakat. b. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A.

d. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. (Fandeli. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. 1995 : 47). Men LH No. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. Setelah dikeluarkannya PP No. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. b. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. 51 Tahun 1993 dan Kep. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. teknologi maupun instansi. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Komponen lingkungan terkena dampak. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. 1996 : 175). III. ekonomi dan institusional. (Silalahi. (Soemartono. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. c. c. b. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. namun bersifat arahan dan garis besar. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan.Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. (Fandeli. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai . 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. 1995 : 173). RKL yang bersamaan sesuai PP No. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. D. sumber dampak. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. d. baik dari segi ekonomi. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. untuk menangguangi masalah lingkungan. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. e. sosial ekonomi.

Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Metode pengumpulan data f. (Husein. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Lokasi pemantauan 3. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari . d.koordinator. b. (Suparni. mencakup hal : 1. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. 1992 : 121). penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. antara lain adalah : a. Jenis data yang dikumpulkan 2. c. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. (Fandeli. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. pelaksanaan pemantauan. RKL dan RPL. atau terkena dampak penting. berulang dan terencana. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. (Silalahi. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). usaha atau kegiatan. 1994 : 166). Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. e. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. (Soemartono. Disamping skala keacuhan. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. 1995 : 49) IV.

misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. yaitu : Administratif. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. 1994 : 173). maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. Penelitian meliputi bidang ekologi. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya . Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. Perdata dan Pidana. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. medis. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. 1992 : 81). 1993 : 2). (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). Penelitian tentang bentuk. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. sosial budaya dan lain-lain yang diperlukan. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. (Lotulung.keperluannya. (Subagyo. (Suparni. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara.

Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu.pemulihan lingkungan hidup. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. pasal yang dapat digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. (Suparni. ( Harjosomantri. (Suparni. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. barulah mulai diwajibkan. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. 3. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. Hal ini penting sekali diatur. yang membawa kerugian kepada seorang lain. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. 2. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). apabila si berhutang. 1994 : 176). 1993 : 353). sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. (Hardjosoemantri. .ia mendasarkan sesuatu hak. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. 1994 : 177). Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. Dalam hubungan ini. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. 1993 : 352). mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. 1. Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara.

1993 : 358). (Hardjosoemantri. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat . Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. Pasal 26. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. dan Pasal 19 UU No. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).Rudiger Lummert Mengemukakan. Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. 1995 : 50). misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Peraturan Pemerintah No. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. dan sebagainya. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. 1994 : 166). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. (Suparni. (Silalahi. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. baku mutu lingkungan. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. Dengan demikian. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”.

maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian . ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. 1995 : 51). Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. paksaan. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. (Suparni.pengawasan. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. c) Undang-Undang No. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang bertanggung jawab. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. 1994 : 167). yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. 226. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. kepolisian. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. 1926 No. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. (Silalahi. b) Peraturan Pemerintah N0. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3.

1995 : 59). yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. baku mutu lungkungan. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. (Silalahi. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. maka terciptalah delik. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. Menurut Andi Hamzah. Pasal 362 (Pencurian). bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 1995 : 59). UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. seperti pada Pasal 160 (menghasut). Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup.”. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. diancam dengan pidana. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Beberapa perumusan yaitu : a. perizinan lingkungan. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. 2. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. 1995 : 53). yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. (Husein. Undangundang No. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan.Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. (Silalahi. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. (Silalahi.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang . Khusus mengenai pembuktian.. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. misalnya pada Undang-undang No. 1992 : 225).

(Suparni. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai.diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. (Abdurrahman. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. c. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. fisik. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Kaslan A. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. Prof. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. (Pasal 1 angka 21) b. Peraturan Pemerintah No. I. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. maupun biologi. (Suparni. Menurut Ir. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. 1986 : 81-81) 2. yaitu : 1. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat . (Thohir. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan pestisida. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. d. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. baik kimia. 1985 : 288) 3. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. Prof. 1992 : 95) 1. (Soemarwoto. Prof. 2. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah.

lingkungan buatan. zat energi. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. b. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. Luas wilayah penyebaran dampak. 5. 2. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. 9. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. misalnya pembuatan jalan. bendungan/dam. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran.(1) Peraturan Pemerintah No. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. d. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 27 Tahun 1999. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. yaitu . Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. 4. c. Diintegrasikan ketiga aspek tadi kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Oleh karena itu peranan para pihak sangat . 6. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. 27 Tahun 1999. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. jenis hewan dan jasad renik. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. kerusakan kawasan konservasi alam. 8. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. Sifat kumulatif dampak. 2. atau pencemaran benda cagar budaya. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. 3. f. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. serta lingkungan sosial dan budaya. 7. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. yaitu : a. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. 1. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. e.

sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2.3. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1.berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. Swasta. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. 3. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan . 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. 2. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Ad. kelompok orang. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). 27 Tahun 1999). Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. Aparatur Pemerintah 3. Masyarakat Ad. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Angaran Pendapat dan Belanja Negara.2. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. 1992 : 107). yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. 1. Ad. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. atau badan-badan hukum. Swasta. (Suparni. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. 1992 : 104). Pemrakarsa 2. Dalam penyelenggaraan tugasnya.

Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. c. 2. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Pengelolaan Lingkungan 5. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. sedang atau besar. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. misalnya kecil. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Pengelolaan Lingkungan Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan.3. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai.memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Ad. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. b.5. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. Ad. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Ad. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Metode formal terbagi dua. 4. Ad. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. misalnya dengan komputer. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan.1. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. Pelingkupan 3. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. 2.2. b. Pelaporan (Soemarwoto. Penapisan 2. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan . yaitu : a. 3. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Ad. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. Apbila proyek mempunyai dampak. d.

Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. atau b. 27 Tahun 1999. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. B. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Menurut Pasal 27 PP No. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. 2. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya . (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 2. Analisis dampak lingkungan hidup. 3. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. Menurut Pasal 26 PP No.1. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. apabila : 1.

sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang- . KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. b. 2. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. 3. c. 5. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. 2. 6. 29 Tahun 1986. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. 3. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. C. 4. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu.diatur pada Peraturan Pemerintah No. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. 5. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. 4. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. 51 tahun 1993 dicabur. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

undangan. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. 2. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. (Soemarwoto. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. f. f. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . e. d. c. Tidak adanya pemantauan. (Suparni. d. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. i. (Soemarwoto. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. b. h. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. jika perlu dengan bantuan pakar. 1. e. (Pasal 1830 . Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. c. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. 1990 : 79-80). Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. 1992 : 113). Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. g. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. b.

Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. (Suparni. guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. serta rendahnya nilai estetika alam. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat. (Silalahi. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). 1994 : 89). Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup. guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam. semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut.BW). tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu. . Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). 11995 : 1). lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya. 1992 : 1). Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan. (Husin. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk.

Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No.1997). Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan. dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. yang akan menjamin keterpaduan vertical. hidrologi. masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu. akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya. Atas pertimbangan di atas. (UU No. mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya. sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut.51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. Dengan demikian. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. 27 Tahun 1999 yang mencabut Peraturan Pemerintah No. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat. Meningkatkan kegiatan pembangunan. Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. sosial budaya. Untuk melakukan analisis secara demikian. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. misalnya ekonomi. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Atas dasar pemikiran diatas. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru. kimia dan biologi. penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan. dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. pengaruh dari kualifikasi AMDAL . sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Kedua. 51 Tahun 1993. terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. hokum disamping untuk menjaga ketertiban. dalam perkembangan baru ini. maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. planologi.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. penilaian. dan dampak lingkungan penting lainnya. komisi daerah telah dilibatkan. 23 Tahun 1997. dan pengambilan keputusan.

dan masyarakat sangat penting. seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. . dan lain-lain. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak. faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan. sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni.oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus. jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. air dan darat. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara. maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa. misalnya pembangunan pabrik pupuk. analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. aparatur pemerintah. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. pembangunan pabrik tapioka. mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Secara yuridis. Dalam pengertian diatas. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Dalam membuat data. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan.

2. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar. banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat . PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas. maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Dalam segala hal. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini. maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja. untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya.Sehubungan dengan hal tersebut diatas. si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. Berdasarkan uraian di atas.

Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan. (Ebisemiju dalam Soemartono. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. baik bagi praktisi. antara lain : a.Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL 2. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. 2. Sejak itu. E. menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan. Menurut Peraturan Pemerintah No. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu . maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan.Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Tujuan dan kegunaan penelitian 1.melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. D. AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. akademisi ataupun aparat penegak hukum. . Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : . 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi. memprediksi. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1.

1994 : 94). AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang . Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA). Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. 1995 : 23). Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut.” (Ebisemiju dalam Silalahi. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. Menurut Peraturan Pemerintah No. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. (Suparni. Kerangka Acuan (KA). yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada.kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. baik biofisik. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.” (Fandeli. yaitu sebagai berikut : a. (Soemartono. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut.” b. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). 1995 : 34). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. 1996). termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. b. c. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen.

h. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. Hal tersebut berarti pula. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya.bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. pemerintah maupun penyusun AMDAL. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. baik nasional maupun internasional. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. Sebaliknya. Prinsip ini berarti : Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. g. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. Karena itu. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. e. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. (Suparni. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. 1994 : 107) . Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. d. baik aparat administrasi. i. kecuali yang menyangkut rahasia negara. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. f. AMDAL bersifat terbuka.

apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a.2. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. g. b. c. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. d. (Fandeli. j. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. antara lain : 1. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. e. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. k. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. Apabila ANDAL disetujui. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. i. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. f. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. h. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Terhadap penolakan ini. (Silalahi. berhubung tidak ada dampak penting. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil . 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . mengidentifikasi dan menganalisa data.

Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak.kegiatan menapis. batas ekologis. (Soemarwoto. 1995 : 68). Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. 1995:32). batas administrasi. (Husein. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). 1995 : 107). 2. c. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 50/1987). perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. (Silalahi. Men. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. sosial ekonomi dan sosial budaya. 29 Tahun 1986. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. 51 Tahun 1993 dan Kep. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. (Fandeli. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. Namun menurut PP No. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. KLH No. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. penelitian menjadi terfokus. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. (Fandeli. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. (Fandeli. KLH No. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan terhadap AMDAL-nya sendiri. Men. 1997:76). 29 Tahun 1986. dan biaya. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. 1992 : 48). dan batas teknis. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : . 29 Tahun 1986 dan Kep. b. (Fandeli.

Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. e. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. 1926 No. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. . d. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1.Dan lain-lain (Lotulung. .Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . 1992 : 206) 2. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. . 5 Tahun 1990). AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan).a. c. 29 Tahun 1990). Efisiensi waktu studi AMDAL. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. 28 Tahun 1985). maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. 1993 :86). .Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. f. .Izin Mendirikan Banggunan (IMB). 226. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih efisien. g. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . . sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. Efisiensi biaya studi AMDAL. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. (Husein. b. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak.

yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. yang menyatakan bahwa : Pemilik. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan.Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. kerugian atau gangguan”. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. Hasil studi ini terdiri . disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Dengan adanya ketentuan ini. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. Terhadap kegiatan yang sudah ada. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. 51 Tahun 1993. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. 20 Tahun 1990. b. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. Dengan disahkannya Undang-undang No. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. (Silalahi. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas.. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. pemegang Bezit. Karena itu. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. kerugian atau gangguan”. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho.

KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. . b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Didalam menghasilkan dokumen. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. 2. dana. faktor manusia dam lain sebagainya. Manfaat Kerangka Acuan : 1. tenaga dan lain-lain sebagainya. 3. baik pada tahap pra konstruksi. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . yaitu : pemrakarsa. 1995 : 34). dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. KERANGKA ACUAN a. 2. perlu dibuat tata laksana. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. I. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien.51/1993) b. Dengan demikian. konsultan penyusun. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. komisi AMDAL. (Silalahi. Semenjak berlakunya PP No. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. 1996 : 164) c. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa.dari beberapa dokumen. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. 51 Tahun 1993. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d.

perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. Komponen rencana kegiatan b. b. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. c. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. kontruksi maupun pasca kontruksi. B. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Komponene rona lingkunagan awal Ad. antara lain : 1.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional.a. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. (Silalahi. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. C. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). II. 1995 : 42). 51 Tahun 1993). atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. bila dipandang bperlu. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Baik pada tahap pra konstruksi. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. 2. 3. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). kontruksi maupun pasca kontruksi. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Ad. 1996 : 173). Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. 2. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. (Fandeli. 1995 : 157). perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. termasuk masyarakat. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. (Semartono. sosial ekonomi. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Memuat uraian singkat tentang : a.b. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya.e. Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : .

Setelah dikeluarkannya PP No. d. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. sosial ekonomi. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. c. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. 1995 : 173). d. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. . (Soemartono. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak.a. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. Luas penyebaran dampak penting Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. teknologi maupun instansi. (Silalahi. namun bersifat arahan dan garis besar. sumber dampak. c. e. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Komponen lingkungan terkena dampak. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. baik dari segi ekonomi. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. untuk menangguangi masalah lingkungan. III. d. (Fandeli. b. D. Misal. c. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. b. b. 1996 : 175). tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. 1995 : 47). Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak.

mencakup hal : 1. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. Men LH No. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. berulang dan terencana. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. (Fandeli. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai koordinator. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. 51 Tahun 1993 dan Kep. (Silalahi. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. (Fandeli. (Soemartono. b. Disamping skala keacuhan. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. atau terkena dampak penting. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Metode pengumpulan data f. 1992 : 121). pelaksanaan pemantauan. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. c. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. RKL dan RPL. ekonomi dan institusional. e. RKL yang bersamaan sesuai PP No. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap . antara lain adalah : a. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Jenis data yang dikumpulkan 2. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. d. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. (Husein. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. Lokasi pemantauan 3. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. usaha atau kegiatan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. 1995 : 49) IV. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan.

Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. Perdata dan Pidana. 1994 : 166). jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Penelitian meliputi bidang ekologi. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk.orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. yaitu : Administratif. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 1994 : 173). Penelitian tentang bentuk. (Subagyo. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. sosial budaya dan lain-lain . (Suparni. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. (Suparni. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. 1992 : 81). medis. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 1993 : 2). (Lotulung. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah.

maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. Hal ini penting sekali diatur. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. (Suparni. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. apabila si berhutang. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. 3. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. 1994 : 176). yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. Dalam hubungan ini.yang diperlukan. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). 1. pasal yang dapat . 2.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. 1993 : 352). Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. barulah mulai diwajibkan. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. 1993 : 353). Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. ( Harjosomantri. yang membawa kerugian kepada seorang lain. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya pemulihan lingkungan hidup. (Hardjosoemantri.

Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. Dengan demikian. (Hardjosoemantri. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL).ia mendasarkan sesuatu hak. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. (Silalahi. dan sebagainya. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. Rudiger Lummert Mengemukakan. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Pasal 26. . Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. 1993 : 358). baku mutu lingkungan.digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Peraturan Pemerintah No. 1994 : 177). Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. dan Pasal 19 UU No. 1995 : 50). (Suparni. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini.

Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. 1926 No. (Silalahi. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat pengawasan. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. (Suparni. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. 1995 : 51). 1994 : 166). Pencabutan izin melalui proses : teguran. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. b) Peraturan Pemerintah N0. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. 226. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang . Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. paksaan. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. (Suparni. 1994 : 167). Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin.Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. kepolisian. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3.

”. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. diancam dengan pidana. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 1992 : 225). 1995 : 59). (Husein. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. maka terciptalah delik. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. Pasal 362 (Pencurian). (Silalahi. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. baku mutu lungkungan. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum.. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. (Silalahi. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. Undangundang No. 1995 : 59). 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. Khusus mengenai pembuktian. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. Menurut Andi Hamzah. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut.bertanggung jawab. (Silalahi. misalnya pada Undang-undang No. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. perizinan lingkungan. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. seperti pada Pasal 160 (menghasut). . yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. 1995 : 53). 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. c) Undang-Undang No.

misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Beberapa perumusan yaitu : a. (Suparni. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Prof. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. Prof. (Abdurrahman. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. d. 1985 : 288) 3.2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. c. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Undang-Undang No. maupun biologi. (Thohir. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Kaslan A. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. fisik. I. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Menurut Ir. 1992 : 95) 1. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. (Suparni. baik kimia. 1986 : 81-81) 2. Prof. Peraturan Pemerintah No. (Pasal 1 angka 21) b. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. 2. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . yaitu : 1. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan . Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan.

Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. 4. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. yaitu : a. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. 8. Luas wilayah penyebaran dampak. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. 27 Tahun 1999. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati.pestisida. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. kerusakan kawasan konservasi alam. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 27 Tahun 1999. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. e. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. b. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. lingkungan buatan. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . 6. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Sifat kumulatif dampak. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. 7. 5. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. serta lingkungan sosial dan budaya. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. misalnya pembuatan jalan. 2. Diintegrasikan ketiga aspek tadi . 9. jenis hewan dan jasad renik. zat energi. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. d. f. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. 1. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. bendungan/dam. atau pencemaran benda cagar budaya. jalan kereta api dan pembukaan hutan. c. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. 3. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . yaitu . Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. (Soemarwoto. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Ad. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. 2. Swasta. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. Swasta. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh . Masyarakat Ad. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Dalam penyelenggaraan tugasnya.2. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. Aparatur Pemerintah 3. 1. 27 Tahun 1999). 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. 1992 : 104). Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. (Suparni. Ad.3. Pemrakarsa 2. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. 2. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. 1992 : 107). sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Oleh karena itu peranan para pihak sangat berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. atau badan-badan hukum. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. kelompok orang.

Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. 3. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Ad. Apbila proyek mempunyai dampak. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. Ad. Ad. Pengelolaan Lingkungan . b. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Pelaporan (Soemarwoto. Pelingkupan 3. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. misalnya dengan komputer. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. 2. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. misalnya kecil. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. d.1. yaitu : a. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang.2.pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Metode formal terbagi dua. 2. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Penapisan 2. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Pengelolaan Lingkungan 5. b. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. c.3. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Ad. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. sedang atau besar. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek.

(2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. 2. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. atau b. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 3. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. Analisis dampak lingkungan hidup. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. 27 Tahun 1999. Menurut Pasal 26 PP No. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. . 2. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. apabila : 1. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Menurut Pasal 27 PP No.5. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. Ad. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya.Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali.

KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.3. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. 5. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 5. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. 2. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 6. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. 2. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. 4. 51 tahun 1993 dicabur. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya diatur pada Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. 4. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 29 Tahun 1986. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. 3. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. B. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. C. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. 3. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”.

Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan . e. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. c. 1992 : 113). f. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. 1. jika perlu dengan bantuan pakar. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. Tidak adanya pemantauan. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. (Soemarwoto. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. d. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. b. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. b. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. e. d. f. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundangundangan. g. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. c. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. (Soemarwoto. i.Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. (Suparni. c. 2. h. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. b. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. 1990 : 79-80).

baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd.Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. (Pasal 1830 BW). Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful