contoh skripsi hukum

dengan 134 komentar TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk, menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu, merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Husin, 1992 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (Silalahi, 11995 : 1). Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL, lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam. (Suparni, 1994 : 89). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (UU No. 23 Tahun 1997,1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai, maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut

Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya, sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut, terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, dan dampak lingkungan penting lainnya. Atas pertimbangan di atas, mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru, masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan, mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan, dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat, komisi daerah telah dilibatkan, yang akan menjamin keterpaduan vertical. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Oleh karena itu, penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan, misalnya ekonomi, sosial budaya, planologi, hidrologi, kimia dan biologi. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Meningkatkan kegiatan pembangunan, akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya, kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Dengan demikian, dalam perkembangan baru ini, hokum disamping untuk menjaga ketertiban, sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Untuk melakukan analisis secara demikian, Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas dasar pemikiran diatas, analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Kedua, pengaruh dari kualifikasi AMDAL oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam pengertian diatas, ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang

istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus, karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian, pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan, faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama, sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni, 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan, misalnya pembangunan pabrik pupuk, pembangunan pabrik tapioka, dan lain-lain. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak, maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa, aparatur pemerintah, dan masyarakat sangat penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Dalam membuat data, seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis, analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting, mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam, flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara, air dan darat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja, yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Berdasarkan uraian di atas, maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja, banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat, akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. 2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dalam segala hal, si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar, untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini, perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini, serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. D. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : - Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. - Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL

2. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan, baik bagi praktisi, akademisi ataupun aparat penegak hukum. E. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat, maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Sejak itu, AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (Ebisemiju dalam Soemartono, 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi, memprediksi, menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan, antara lain : a. Menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Ebisemiju dalam Silalahi, 1995 : 23). b. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Fandeli, 1995 : 34). Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan

Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. Kerangka Acuan (KA).” b. keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. d. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. baik biofisik. 1994 : 94). Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). 1996). (Suparni. yaitu sebagai berikut : a. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. c. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Prinsip ini berarti : . Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. (Soemartono. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada.(ANDAL). Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia.

Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. f. Apabila suatu . Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. Karena itu. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Sebaliknya. pemerintah maupun penyusun AMDAL. 1994 : 107) 2. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. i. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. AMDAL bersifat terbuka. baik nasional maupun internasional. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. h. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. g. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Hal tersebut berarti pula. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. e. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. baik aparat administrasi. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. (Suparni. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. kecuali yang menyangkut rahasia negara. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana.Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. b. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan.

lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil kegiatan menapis. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. 29 Tahun 1986. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. (Fandeli. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. i. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. g. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. 29 Tahun 1986. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. k. Terhadap penolakan ini. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. c. j. (Silalahi. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. f. e. mengidentifikasi dan menganalisa data. (Fandeli. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. Apabila ANDAL disetujui. berhubung tidak ada dampak penting. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . h. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan . d. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. antara lain : 1.

Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. 1995 : 68). Men. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. (Silalahi. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Men. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. penelitian menjadi terfokus. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. KLH No. c. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. Namun menurut PP No. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. (Husein. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. 2. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. b. dan batas teknis. KLH No. 51 Tahun 1993 dan Kep. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. Efisiensi waktu studi AMDAL. d. Efisiensi biaya studi AMDAL. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. (Fandeli. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. (Fandeli. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek.terhadap AMDAL-nya sendiri. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. batas administrasi. 1995 : 107). batas ekologis. 50/1987). 1995:32). 29 Tahun 1986 dan Kep. 1997:76). Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : a. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. e. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). dan biaya. 1992 : 48). Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. g. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih . Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. (Fandeli. b. f. c. sosial ekonomi dan sosial budaya. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. (Soemarwoto. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar.

23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.Dan lain-lain (Lotulung.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl.efisien. 1926 No. .Izin Mendirikan Banggunan (IMB). sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. 1992 : 206) 2. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. 28 Tahun 1985). maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. . (Husein. Terhadap kegiatan yang sudah ada. . Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. 1993 :86). sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan . Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. 29 Tahun 1990). Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. 226. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. . Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . Karena itu. maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. . 5 Tahun 1990). Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997.

Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Semenjak berlakunya PP No. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. 51 Tahun 1993. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Dengan adanya ketentuan ini. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). Rencana Pengelolaan Lingkungan . yang menyatakan bahwa : Pemilik. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. perlu dibuat tata laksana. (Silalahi. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. Didalam menghasilkan dokumen. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. kerugian atau gangguan”. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No.. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . pemegang Bezit. kerugian atau gangguan”. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Dengan disahkannya Undang-undang No. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. 1995 : 34). b.membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. 51 Tahun 1993. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. 20 Tahun 1990. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya.

faktor manusia dam lain sebagainya. Manfaat Kerangka Acuan : 1. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. 1996 : 164) c. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. 51 Tahun 1993). Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. 2. . 2. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. komisi AMDAL. 1995 : 42). 3. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. KERANGKA ACUAN a. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. I. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. (Fandeli. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. dana. Dengan demikian. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. tenaga dan lain-lain sebagainya. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. yaitu : pemrakarsa. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. II. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan.51/1993) b. baik pada tahap pra konstruksi. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1.(RKL). konsultan penyusun. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. (Silalahi. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. e.

2. Baik pada tahap pra konstruksi. b. kontruksi maupun pasca kontruksi.Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. antara lain : 1. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. b. Memuat uraian singkat tentang : a. 1996 : 173).b. 3. d. kontruksi maupun pasca kontruksi. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. 2. (Silalahi. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. c. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : a. Misal. c. Komponene rona lingkunagan awal Ad. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Komponen rencana kegiatan b. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. 1995 : 157).a. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. bila dipandang bperlu. sosial ekonomi. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). Luas penyebaran dampak penting . Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Ad. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. (Semartono. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. termasuk masyarakat.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. B. C.

Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. teknologi maupun instansi. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. 1995 : 47). Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. 1995 : 173). sumber dampak. baik dari segi ekonomi. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. namun bersifat arahan dan garis besar. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. c. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. RKL yang bersamaan sesuai PP No. c. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. b. untuk menangguangi masalah lingkungan. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. III. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. 51 Tahun 1993 dan Kep. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. d. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. (Fandeli. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. e. 1996 : 175). Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai . Komponen lingkungan terkena dampak. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. d. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak.Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Men LH No. (Fandeli. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. D. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. ekonomi dan institusional. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. (Silalahi. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. Setelah dikeluarkannya PP No. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. sosial ekonomi. (Soemartono. b.

pelaksanaan pemantauan. (Husein. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. Lokasi pemantauan 3. c. antara lain adalah : a. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. RKL dan RPL. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). mencakup hal : 1. berulang dan terencana. Metode pengumpulan data f. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. 1995 : 49) IV. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. atau terkena dampak penting. e. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Disamping skala keacuhan. (Suparni. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. (Soemartono. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL.koordinator. 1992 : 121). d. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. b. (Silalahi. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. (Fandeli. Jenis data yang dikumpulkan 2. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. 1994 : 166). Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari . Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. usaha atau kegiatan.

pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut.keperluannya. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. (Subagyo. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. 1993 : 2). perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Penelitian meliputi bidang ekologi. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. Penelitian tentang bentuk. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Perdata dan Pidana. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. (Suparni. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. 1992 : 81). medis. yaitu : Administratif. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya . (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. 1994 : 173). sosial budaya dan lain-lain yang diperlukan. (Lotulung. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk.

Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita.ia mendasarkan sesuatu hak. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. 1994 : 177). Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. (Hardjosoemantri. 1.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Dalam hubungan ini. sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. barulah mulai diwajibkan. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. ( Harjosomantri. 1994 : 176). Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. pasal yang dapat digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. 2.pemulihan lingkungan hidup. 3. apabila si berhutang. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Hal ini penting sekali diatur. 1993 : 352). Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. (Suparni. . 1993 : 353). Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. (Suparni. yang membawa kerugian kepada seorang lain.

Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. dan sebagainya. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. (Suparni. Pasal 26. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. (Hardjosoemantri. Dengan demikian. 1994 : 166). Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). Peraturan Pemerintah No. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”.Rudiger Lummert Mengemukakan. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. 1993 : 358). baku mutu lingkungan. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. 1995 : 50). maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. (Silalahi. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat . kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. dan Pasal 19 UU No. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian.

dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. kepolisian. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. paksaan. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian . Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. c) Undang-Undang No. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. 1995 : 51). penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. 226. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang bertanggung jawab. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan.pengawasan. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. 1926 No. 1994 : 167). (Suparni. (Silalahi. b) Peraturan Pemerintah N0. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif.

diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP.Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup.”. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). misalnya pada Undang-undang No. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. 1995 : 59).. Beberapa perumusan yaitu : a. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Menurut Andi Hamzah. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. Undangundang No. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. (Husein. 1995 : 53). 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. diancam dengan pidana. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. 1992 : 225). 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang . 1995 : 59). seperti pada Pasal 160 (menghasut). (Silalahi. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. (Silalahi. (Silalahi. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. 2. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. baku mutu lungkungan. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. Undang-Undang No. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. Khusus mengenai pembuktian. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. perizinan lingkungan. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. Pasal 362 (Pencurian). Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. maka terciptalah delik.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain….

penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. (Pasal 1 angka 21) b. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. Menurut Ir. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . Prof.diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Peraturan Pemerintah No. 1992 : 95) 1. Prof. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. 1985 : 288) 3. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. Kaslan A. (Soemarwoto. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. yaitu : 1. I. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. baik kimia. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. 1986 : 81-81) 2. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat . Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan pestisida. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. (Abdurrahman. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. (Suparni. fisik. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. d. (Suparni. 2. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Prof. c. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. maupun biologi. (Thohir. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek.

misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. 27 Tahun 1999. 7. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. zat energi. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 27 Tahun 1999. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan.(1) Peraturan Pemerintah No. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. c. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. jenis hewan dan jasad renik. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. 9. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. atau pencemaran benda cagar budaya. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. 6. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Luas wilayah penyebaran dampak. f. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. 1. 8. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 3. d. yaitu : a. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Sifat kumulatif dampak. kerusakan kawasan konservasi alam. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. lingkungan buatan. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. e. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. yaitu . Oleh karena itu peranan para pihak sangat . Jumlah manusia yang akan terkena dampak. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. serta lingkungan sosial dan budaya. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. 2. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. 4. b. Diintegrasikan ketiga aspek tadi kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. 2. bendungan/dam. misalnya pembuatan jalan. 5. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara.

27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan.2. 1992 : 107). 1. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. Swasta. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. (Suparni. kelompok orang. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Ad. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. 27 Tahun 1999). 1992 : 104). 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. 3.berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). atau badan-badan hukum. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. 2. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan . baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Masyarakat Ad. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Ad. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No.3. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Swasta. Aparatur Pemerintah 3. Pemrakarsa 2.

Apbila proyek mempunyai dampak. b.3. b. Pelaporan (Soemarwoto. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Ad. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Ad. Ad. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Pelingkupan 3. sedang atau besar. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan . Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Pengelolaan Lingkungan 5. Ad. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Ad. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Metode formal terbagi dua. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. 3. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. d. 3. 2. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Penapisan 2. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. 4. c. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. 2. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pengelolaan Lingkungan Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. misalnya kecil.5. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. misalnya dengan komputer. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1.memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner.2. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. yaitu : a. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain.1.

2. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Menurut Pasal 27 PP No. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Analisis dampak lingkungan hidup. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. apabila : 1. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. 2. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).1. 27 Tahun 1999. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya . 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 3. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. B. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. atau b. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Menurut Pasal 26 PP No. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan.

Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 51 tahun 1993 dicabur. 5. 3. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang- . 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 4. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 29 Tahun 1986. 5. C.diatur pada Peraturan Pemerintah No. 2. c. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. 6. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. 2. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. b. 3. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL.

(Soemarwoto. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. e. 1990 : 79-80). f. 2. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. i. 1992 : 113). pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. (Pasal 1830 . Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. h. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. b. d. c. jika perlu dengan bantuan pakar. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. 1. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . g. d. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. (Soemarwoto. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum.undangan. e. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Tidak adanya pemantauan. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. (Suparni. c. f. b.

guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.BW). Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan. 11995 : 1). (Silalahi. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). serta rendahnya nilai estetika alam. . Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya. tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu. Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL. antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya. 1992 : 1). Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka. maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan. (Husin. lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk. (Suparni. 1994 : 89). maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut.

51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. dalam perkembangan baru ini. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. yang akan menjamin keterpaduan vertical. dan pengambilan keputusan. mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru. sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut. Oleh karena itu. sosial budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai. (UU No. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut Peraturan Pemerintah No. Dengan demikian. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. 51 Tahun 1993. Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya.51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan. penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia. Atas pertimbangan di atas. terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis. sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. kimia dan biologi. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. hokum disamping untuk menjaga ketertiban. misalnya ekonomi. Untuk melakukan analisis secara demikian. hidrologi. dan dampak lingkungan penting lainnya. komisi daerah telah dilibatkan. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya. analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan. Atas dasar pemikiran diatas. Meningkatkan kegiatan pembangunan. penilaian. dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan. 23 Tahun 1997. kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL.1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Kedua. pengaruh dari kualifikasi AMDAL .” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. planologi. maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya. dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan.

pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. . Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. misalnya pembangunan pabrik pupuk. Dalam membuat data. faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama. sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam. maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa. pembangunan pabrik tapioka. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. air dan darat. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan. dan masyarakat sangat penting. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi. analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian.oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus. seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Dalam pengertian diatas. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. dan lain-lain. aparatur pemerintah. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Secara yuridis. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi.

si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu.Sehubungan dengan hal tersebut diatas. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting. serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat . untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini. perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja. akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja. maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Dalam segala hal. banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat. Berdasarkan uraian di atas. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. 2. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa.

1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan.melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. baik bagi praktisi.Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan. D. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. memprediksi. AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. . Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. antara lain : a. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : . 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu . akademisi ataupun aparat penegak hukum. Menurut Peraturan Pemerintah No. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1.Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL 2. 2. menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. E. sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. (Ebisemiju dalam Soemartono. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat. Sejak itu.

termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. yaitu sebagai berikut : a. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang . yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. 1994 : 94). AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1.” (Fandeli. Menurut Peraturan Pemerintah No. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup.” (Ebisemiju dalam Silalahi. 1995 : 34). Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup.kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup.” b. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). (Suparni. Kerangka Acuan (KA). (Soemartono. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. baik biofisik. 1996). AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. 1995 : 23). yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. b. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA). c. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL.

Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. baik aparat administrasi. g. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. (Suparni. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. f. Karena itu. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. AMDAL bersifat terbuka. Sebaliknya. e. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. i. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. Hal tersebut berarti pula. h. pemerintah maupun penyusun AMDAL. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 1994 : 107) . Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. kecuali yang menyangkut rahasia negara. baik nasional maupun internasional. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. d. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. Prinsip ini berarti : Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang.

Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. f. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan.2. c. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. (Silalahi. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. Apabila ANDAL disetujui. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. g. h. j. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. berhubung tidak ada dampak penting. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. i. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. e. b. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. (Fandeli. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. d. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. Terhadap penolakan ini. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. k. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. antara lain : 1. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil . maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. mengidentifikasi dan menganalisa data.

1992 : 48). Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. 2. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. (Fandeli. (Fandeli. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. dan batas teknis. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : . Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. penelitian menjadi terfokus. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. 1995:32). data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. Men. (Silalahi. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. (Fandeli. 1997:76). (Soemarwoto. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). 29 Tahun 1986. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. sosial ekonomi dan sosial budaya. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. 29 Tahun 1986 dan Kep. KLH No. 51 Tahun 1993 dan Kep. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. b. (Husein. (Fandeli. KLH No. c. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. 50/1987). ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. batas ekologis.kegiatan menapis. 1995 : 68). dan biaya. 1995 : 107). 29 Tahun 1986. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan terhadap AMDAL-nya sendiri. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. Men. batas administrasi. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. Namun menurut PP No. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi.

AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. .Dan lain-lain (Lotulung. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. Efisiensi biaya studi AMDAL. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : . Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. c. e. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. 1993 :86). 29 Tahun 1990). maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. Efisiensi waktu studi AMDAL. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak.a. 1992 : 206) 2. d. 226. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. 5 Tahun 1990). Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. . 28 Tahun 1985). tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. (Husein. . . tanpa banyak terbuang untuk meneliti. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas.Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. g. . 1926 No. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. f. b. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih efisien. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. .Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita.

20 Tahun 1990. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. b. Karena itu. 51 Tahun 1993. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No.Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. kerugian atau gangguan”. Terhadap kegiatan yang sudah ada. pemegang Bezit. Dengan adanya ketentuan ini. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Dengan disahkannya Undang-undang No. yang menyatakan bahwa : Pemilik. kerugian atau gangguan”. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. Hasil studi ini terdiri . pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban.. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. (Silalahi. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO.

Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. komisi AMDAL. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. 51 Tahun 1993. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. 1995 : 34).51/1993) b. perlu dibuat tata laksana. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. KERANGKA ACUAN a. faktor manusia dam lain sebagainya. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. dana. Didalam menghasilkan dokumen. 2. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. 1996 : 164) c. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. Dengan demikian. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. Manfaat Kerangka Acuan : 1. baik pada tahap pra konstruksi. yaitu : pemrakarsa. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. 2. konsultan penyusun. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. . Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. I. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. 3. Semenjak berlakunya PP No. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). (Silalahi. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli.dari beberapa dokumen. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. tenaga dan lain-lain sebagainya.

2. bila dipandang bperlu. (Silalahi. Baik pada tahap pra konstruksi. 2. Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. 3. antara lain : 1. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. kontruksi maupun pasca kontruksi. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. (Fandeli. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. c. 1995 : 42). termasuk masyarakat. (Semartono. Memuat uraian singkat tentang : a. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Komponene rona lingkunagan awal Ad. Komponen rencana kegiatan b. sosial ekonomi.b. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. 51 Tahun 1993). Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. b. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No.a.e. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1. B. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. II. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. C. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. 1996 : 173). sosial budaya dan kesehatan masyarakat). Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : . Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. 1995 : 157). Ad. Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. kontruksi maupun pasca kontruksi. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif.

maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. D. . Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. d. d. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. c. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. Misal. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. untuk menangguangi masalah lingkungan. teknologi maupun instansi. Setelah dikeluarkannya PP No. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. baik dari segi ekonomi. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. b. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. (Soemartono. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. b. 1996 : 175). c. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Komponen lingkungan terkena dampak. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. (Silalahi. sumber dampak. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. d. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. 1995 : 173). c. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak.a. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. e. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. b. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. 1995 : 47). III. sosial ekonomi. namun bersifat arahan dan garis besar. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Luas penyebaran dampak penting Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. (Fandeli.

namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. Disamping skala keacuhan.Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap . pelaksanaan pemantauan. RKL dan RPL. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. atau terkena dampak penting. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. 1995 : 49) IV. Lokasi pemantauan 3. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. 51 Tahun 1993 dan Kep. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. (Fandeli. (Husein. usaha atau kegiatan. b. mencakup hal : 1. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. (Fandeli. Jenis data yang dikumpulkan 2. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. ekonomi dan institusional. c. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. berulang dan terencana. e. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. antara lain adalah : a. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. d. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Metode pengumpulan data f. Men LH No. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. (Soemartono. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai koordinator. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. 1992 : 121). (Silalahi. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. RKL yang bersamaan sesuai PP No. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak.

sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. medis. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. 1993 : 2). misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita.orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 1994 : 173). Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. (Suparni. sosial budaya dan lain-lain . 1992 : 81). pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Penelitian meliputi bidang ekologi. Penelitian tentang bentuk. yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. (Lotulung. yaitu : Administratif. (Subagyo. (Suparni. Perdata dan Pidana. 1994 : 166). tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan.

tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. 1. Hal ini penting sekali diatur. 3. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). 2. 1993 : 352). Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. barulah mulai diwajibkan. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. (Hardjosoemantri. 1993 : 353). yang membawa kerugian kepada seorang lain.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. pasal yang dapat . Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. (Suparni. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Dalam hubungan ini. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu.yang diperlukan. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya pemulihan lingkungan hidup. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. 1994 : 176). hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. ( Harjosomantri. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. apabila si berhutang. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran.

dan sebagainya. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. dan Pasal 19 UU No. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan.ia mendasarkan sesuatu hak. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. (Hardjosoemantri. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”.digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. . 1993 : 358). kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. (Suparni. 1994 : 177). karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). Peraturan Pemerintah No. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). 1995 : 50). Rudiger Lummert Mengemukakan. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. (Silalahi. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). Pasal 26. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. baku mutu lingkungan. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. Dengan demikian. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. Pencabutan izin melalui proses : teguran. (Suparni. 1994 : 167). Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. 1994 : 166). Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. kepolisian. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang . Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. 226. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. (Suparni. (Silalahi. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat pengawasan. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin.Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. 1926 No. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. b) Peraturan Pemerintah N0. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. 1995 : 51). Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. paksaan. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6.

Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. seperti pada Pasal 160 (menghasut). 1995 : 59).bertanggung jawab. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. . Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. (Silalahi. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. diancam dengan pidana. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. (Husein. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “….”. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. 1995 : 59). Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. 1995 : 53). biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. misalnya pada Undang-undang No. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. perizinan lingkungan. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. 1992 : 225). (Silalahi. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum.. Menurut Andi Hamzah. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. maka terciptalah delik. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. (Silalahi. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. Khusus mengenai pembuktian. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. Pasal 362 (Pencurian). karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. baku mutu lungkungan. Undangundang No. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. c) Undang-Undang No.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. yaitu : 1. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. 1985 : 288) 3. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan . Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. Kaslan A. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Prof. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . maupun biologi. baik kimia. c. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. (Thohir. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Prof. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Menurut Ir.2. Beberapa perumusan yaitu : a. (Abdurrahman. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 1986 : 81-81) 2. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. (Pasal 1 angka 21) b. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. d. I. (Suparni. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. (Suparni. Prof. 2. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. fisik. 1992 : 95) 1. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Undang-Undang No.

misalnya pembuatan jalan. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. 1. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. zat energi. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. jenis hewan dan jasad renik. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. c. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. e. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. 27 Tahun 1999. 6. 27 Tahun 1999. yaitu . Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. serta lingkungan sosial dan budaya. Diintegrasikan ketiga aspek tadi . atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. b. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. bendungan/dam.pestisida. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. 2. kerusakan kawasan konservasi alam. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. atau pencemaran benda cagar budaya. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Sifat kumulatif dampak. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. yaitu : a. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. 3. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. d. lingkungan buatan. 4. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. 8. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Luas wilayah penyebaran dampak. 5. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. f. 9. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. jalan kereta api dan pembukaan hutan. 7. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. (Soemarwoto.

3. Oleh karena itu peranan para pihak sangat berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . 2. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. Ad. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 1992 : 104). Dalam penyelenggaraan tugasnya. Swasta. 2.2. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Swasta.kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. (Suparni. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. kelompok orang. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999). 1992 : 107). yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No.3. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. 1. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Pemrakarsa 2. Ad. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. Aparatur Pemerintah 3. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh . Masyarakat Ad. atau badan-badan hukum.

Pengelolaan Lingkungan . Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. Pelaporan (Soemarwoto. Pengelolaan Lingkungan 5.pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Ad. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. Ad. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. 3. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. 2. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. misalnya dengan komputer. Pelingkupan 3. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. Penapisan 2. c. b. 4. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. yaitu : a. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Ad. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. misalnya kecil. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang.1. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan.3. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. Ad. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal.2. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Apbila proyek mempunyai dampak. 2. sedang atau besar. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. d. b. Metode formal terbagi dua. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu.

27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. Menurut Pasal 26 PP No. 3.Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. apabila : 1. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).5. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Ad. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 2. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Menurut Pasal 27 PP No. 27 Tahun 1999. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. atau b. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Analisis dampak lingkungan hidup. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. 2. . 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. 29 Tahun 1986. 4. 4. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . B. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. 6.3. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. 3. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. 51 tahun 1993 dicabur. 5. 3. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 5. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 2. 2. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. C. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya diatur pada Peraturan Pemerintah No. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Amdal.

e. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . jika perlu dengan bantuan pakar. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. b. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. c. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. h. 1. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. (Soemarwoto. c. c. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan . b. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. d. 1990 : 79-80). baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. f. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. 1992 : 113). (Soemarwoto. g. i. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundangundangan. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. (Suparni. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. e. Tidak adanya pemantauan. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. b.Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. 2. f. d. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan.

Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya .Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). (Pasal 1830 BW). Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful