P. 1
contoh skripsi AmDal

contoh skripsi AmDal

|Views: 1,058|Likes:
Published by Fico Fidel

More info:

Published by: Fico Fidel on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/20/2013

pdf

text

original

contoh skripsi hukum

dengan 134 komentar TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk, menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu, merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut. (Husin, 1992 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (Silalahi, 11995 : 1). Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL, lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam. (Suparni, 1994 : 89). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (UU No. 23 Tahun 1997,1997). Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai, maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang mencabut

Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya, sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut, terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, dan dampak lingkungan penting lainnya. Atas pertimbangan di atas, mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru, masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan, mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan, dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat, komisi daerah telah dilibatkan, yang akan menjamin keterpaduan vertical. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. Oleh karena itu, penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan, misalnya ekonomi, sosial budaya, planologi, hidrologi, kimia dan biologi. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. Meningkatkan kegiatan pembangunan, akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya, kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Dengan demikian, dalam perkembangan baru ini, hokum disamping untuk menjaga ketertiban, sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. Untuk melakukan analisis secara demikian, Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. Atas dasar pemikiran diatas, analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Kedua, pengaruh dari kualifikasi AMDAL oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Dalam pengertian diatas, ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang

istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus, karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian, pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan, faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama, sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni, 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan, misalnya pembangunan pabrik pupuk, pembangunan pabrik tapioka, dan lain-lain. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak, maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa, aparatur pemerintah, dan masyarakat sangat penting. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Dalam membuat data, seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Secara yuridis, analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting, mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam, flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara, air dan darat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja, yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Berdasarkan uraian di atas, maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja, banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat, akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. 2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Dalam segala hal, si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar, untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini, perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini, serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. D. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : - Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. - Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL

2. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan, baik bagi praktisi, akademisi ataupun aparat penegak hukum. E. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat, maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. Sejak itu, AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (Ebisemiju dalam Soemartono, 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi, memprediksi, menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan, antara lain : a. Menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Ebisemiju dalam Silalahi, 1995 : 23). b. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.” (Fandeli, 1995 : 34). Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan

AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. 1996). maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. Prinsip ini berarti : . Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. (Soemartono. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. (Suparni. Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. c. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif.(ANDAL). Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. yaitu sebagai berikut : a. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). 1994 : 94). Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL.” b. d. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. baik biofisik. keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Kerangka Acuan (KA).

Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya. baik nasional maupun internasional. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. Hal tersebut berarti pula. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. kecuali yang menyangkut rahasia negara. h. Karena itu. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. b. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. pemerintah maupun penyusun AMDAL. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Sebaliknya. Apabila suatu . Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab.Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. baik aparat administrasi. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. (Suparni. g. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. f. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. 1994 : 107) 2. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. i. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. e. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. AMDAL bersifat terbuka. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas.

Kata Screen berarti menapis atau menyaring. j. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. d. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL. e. 29 Tahun 1986. i. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. (Fandeli. (Fandeli. 29 Tahun 1986. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. Apabila ANDAL disetujui. g. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu.lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. mengidentifikasi dan menganalisa data. (Silalahi. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Terhadap penolakan ini. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil kegiatan menapis. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. h. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan . Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. berhubung tidak ada dampak penting. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. antara lain : 1. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. k. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. f. c. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut.

11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. KLH No. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. 1995 : 68). (Silalahi. 51 Tahun 1993 dan Kep. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. c. e. tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. Efisiensi waktu studi AMDAL. Namun menurut PP No. (Fandeli. Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. d. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. (Soemarwoto. Men. b. 29 Tahun 1986 dan Kep. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. 2. 1995:32). Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50/1987). f. dan biaya. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. b. Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. 1997:76). ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dan batas teknis. g. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. (Husein. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. batas ekologis. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. KLH No. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : a. (Fandeli. batas administrasi.terhadap AMDAL-nya sendiri. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. sosial ekonomi dan sosial budaya. (Fandeli. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. Efisiensi biaya studi AMDAL. Men. penelitian menjadi terfokus. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. 1995 : 107). biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih . c. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). 1992 : 48). Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan.

tanpa banyak terbuang untuk meneliti. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. Karena itu. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan . sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. 29 Tahun 1990). Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. 28 Tahun 1985). Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. . 5 Tahun 1990). AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan.Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. . . AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan).Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. (Husein. . 1993 :86).Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. 1992 : 206) 2. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak.Dan lain-lain (Lotulung. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : .efisien. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. 1926 No. 226. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. . 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab.Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. Terhadap kegiatan yang sudah ada.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang.

yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. (Silalahi. 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. Dengan disahkannya Undang-undang No. perlu dibuat tata laksana. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. Dengan adanya ketentuan ini. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Didalam menghasilkan dokumen. 20 Tahun 1990. Rencana Pengelolaan Lingkungan . selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. kerugian atau gangguan”. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. 51 Tahun 1993. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. 51 Tahun 1993. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. yang menyatakan bahwa : Pemilik. 1995 : 34). pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . pemegang Bezit. yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). 5 Tahun 1984 tentang perindustrian.membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. b. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Semenjak berlakunya PP No. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. kerugian atau gangguan”.. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL.

baik pada tahap pra konstruksi. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. (Silalahi. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. 2. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. 1996 : 164) c. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. . konsultan penyusun. faktor manusia dam lain sebagainya. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. II. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. e. I. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. komisi AMDAL. Dengan demikian. dana. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. KERANGKA ACUAN a. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. 1995 : 42). yaitu : pemrakarsa. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. 3.51/1993) b. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. Manfaat Kerangka Acuan : 1. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. 2. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. (Fandeli. 51 Tahun 1993). b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. tenaga dan lain-lain sebagainya.(RKL).

d.Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : a. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. (Silalahi. 2.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. Komponen rencana kegiatan b. c.b. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1.a. Ad. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. sosial budaya dan kesehatan masyarakat). Baik pada tahap pra konstruksi. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. 3. Memuat uraian singkat tentang : a. bila dipandang bperlu. (Semartono. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Misal. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. c. B. Luas penyebaran dampak penting . 1996 : 173). Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. C. antara lain : 1. termasuk masyarakat. kontruksi maupun pasca kontruksi. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. kontruksi maupun pasca kontruksi. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. 1995 : 157). Komponene rona lingkunagan awal Ad. sosial ekonomi. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. 2. b. b.

c. c. (Fandeli. b. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. Men LH No. hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. 1995 : 47). sumber dampak. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. untuk menangguangi masalah lingkungan. (Silalahi. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. sosial ekonomi. d. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. ekonomi dan institusional. Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. namun bersifat arahan dan garis besar. baik dari segi ekonomi. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. 1996 : 175). RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi. D. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi. Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. b. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. (Fandeli. e. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Setelah dikeluarkannya PP No. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. 51 Tahun 1993 dan Kep. teknologi maupun instansi. (Soemartono. d.Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. III. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai . 1995 : 173). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Komponen lingkungan terkena dampak. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. RKL yang bersamaan sesuai PP No.

Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. pelaksanaan pemantauan. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. 1992 : 121). Metode pengumpulan data f. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. antara lain adalah : a. RKL dan RPL. b. Disamping skala keacuhan. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. (Suparni. berulang dan terencana. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Jenis data yang dikumpulkan 2. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. e. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. (Fandeli. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. (Silalahi. atau terkena dampak penting. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL.koordinator. 1995 : 49) IV. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. (Soemartono. 1994 : 166). Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. mencakup hal : 1. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. (Husein. c. d. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. Lokasi pemantauan 3. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari . 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. usaha atau kegiatan. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan.

(Suparni. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. medis. (Subagyo. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. yaitu : Administratif. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. (Lotulung. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. Perdata dan Pidana. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. sosial budaya dan lain-lain yang diperlukan. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya . tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Penelitian meliputi bidang ekologi. 1994 : 173).keperluannya. (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. 1993 : 2). 1992 : 81). yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. Penelitian tentang bentuk. Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri.

1993 : 352). mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. pasal yang dapat digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. 1. ( Harjosomantri. Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran.pemulihan lingkungan hidup. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. (Suparni. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Dalam hubungan ini. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara. 3. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup. apabila si berhutang. 1994 : 176). 1993 : 353). tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. 2. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). barulah mulai diwajibkan. (Suparni. . sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. (Hardjosoemantri.ia mendasarkan sesuatu hak. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. yang membawa kerugian kepada seorang lain. Hal ini penting sekali diatur. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. 1994 : 177).

1994 : 166). 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Pasal 26. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan. Dengan demikian. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. baku mutu lingkungan. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”.Rudiger Lummert Mengemukakan. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Peraturan Pemerintah No. 1993 : 358). pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat . Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. (Silalahi. dan Pasal 19 UU No. (Hardjosoemantri.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). 1995 : 50). 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. (Suparni. karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). dan sebagainya. Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan.

Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. (Suparni. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang bertanggung jawab. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. (Silalahi. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. 1995 : 51). 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian . paksaan. b) Peraturan Pemerintah N0. 1994 : 167). Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. 1926 No. Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. c) Undang-Undang No. 226. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. kepolisian. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin.pengawasan. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan.

1995 : 59). bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 1995 : 59). Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. seperti pada Pasal 160 (menghasut). perizinan lingkungan. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. Khusus mengenai pembuktian. Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. 1992 : 225). Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). maka terciptalah delik. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. (Silalahi. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. Beberapa perumusan yaitu : a.”. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. Pasal 362 (Pencurian). 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang . Undang-Undang No. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. Undangundang No. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. (Husein. misalnya pada Undang-undang No. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. (Silalahi. 2. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. baku mutu lungkungan. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. Menurut Andi Hamzah. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan.Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. 1995 : 53). diancam dengan pidana. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. (Silalahi.. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya.

(Thohir. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. 2. Kaslan A. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. Prof.diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. maupun biologi. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. 1992 : 95) 1. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. (Suparni. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia. fisik. Prof. Menurut Ir. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan . Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . Peraturan Pemerintah No. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. (Suparni. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. (Soemarwoto. I. 1985 : 288) 3. baik kimia. (Pasal 1 angka 21) b. Prof. yaitu : 1. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. (Abdurrahman. 1986 : 81-81) 2. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. c. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan pestisida. d. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat . Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah.

4. Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. yaitu : a. 5. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 2. kerusakan kawasan konservasi alam. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. misalnya pembuatan jalan. f. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. atau pencemaran benda cagar budaya. 27 Tahun 1999. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. Diintegrasikan ketiga aspek tadi kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. 9. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. jenis hewan dan jasad renik. Luas wilayah penyebaran dampak. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.(1) Peraturan Pemerintah No. lingkungan buatan. d. Oleh karena itu peranan para pihak sangat . misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. 27 Tahun 1999. b. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. 3. yaitu . Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. 6. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. 7. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. serta lingkungan sosial dan budaya. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. 1. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. 2. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. bendungan/dam. 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. e. 8. zat energi. Sifat kumulatif dampak. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. c. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup.

Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. kelompok orang. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. Ad. 1992 : 107). yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. 27 Tahun 1999). apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Swasta. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Masyarakat Ad. Pemrakarsa 2. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. 1992 : 104). Angaran Pendapat dan Belanja Negara. atau badan-badan hukum. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Ad. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan . sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No.2. Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. Swasta. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 3. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. 1. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud.berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. (Suparni. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Aparatur Pemerintah 3. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang . Dalam penyelenggaraan tugasnya. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1.3. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. 2. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. yaitu : a. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan.5. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. 4. Penapisan 2. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. Ad.1. 3. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. misalnya dengan komputer. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. c. 2. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. 2. Ad. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Apbila proyek mempunyai dampak. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Ad. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. Ad. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja.3. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan . d. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. 3.2. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. Pelaporan (Soemarwoto. b. Ad. Pelingkupan 3. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. Pengelolaan Lingkungan Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. Pengelolaan Lingkungan 5. sedang atau besar. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. b. Metode formal terbagi dua. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. misalnya kecil.

Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. atau b. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya . Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. apabila : 1. Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan.1. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. Analisis dampak lingkungan hidup. Menurut Pasal 27 PP No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 2. 2. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. 3. 27 Tahun 1999. B. Menurut Pasal 26 PP No. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No.

Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Amdal.diatur pada Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 3. 51 tahun 1993 dicabur. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 5. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. 2. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. 2. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. 3. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang- . c. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. 6. KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 4. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. C. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. 4. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. 5. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. b.

Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. 1992 : 113). f. i. e. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. b. baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. 1. Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. f. jika perlu dengan bantuan pakar. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. c. d. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . (Soemarwoto. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. 1990 : 79-80). sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. b.undangan. (Pasal 1830 . e. (Suparni. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. (Soemarwoto. h. 2. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. g. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. d. Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. Tidak adanya pemantauan. c. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut.

Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya. (Silalahi. 11995 : 1). Keinginan untuk mempengaruhi pengaruh negatif dan resiko pada tingkat yang mungkin (Risk Assesment) dan mengelola resikonya (Risk Management) melalui mekanisme dan system hokum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu. Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya pembangunan. merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. serta rendahnya nilai estetika alam. antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri daan transpor. NEPA 1969 merupakn suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-undang ini menyatakan. Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Pokok Lingkungan Hidup No. guna memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang disebabkanoleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya alam. 23 Tahun 1997 tentang kewajiban Membuat Analisis Mengenai Damoak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang diperkirakan mempunyai Dampak penting terhadap lingkungan hidup. Pelaksanaan pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk. Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek. maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd. TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA LOGO UMP Paper ini merupakan tugas akhir Program Sarjana Hukum OLEH : BAB I PENDAHULUAN A. 1994 : 89). (Husin. guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. lahir denga diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya. Analisis Dampak lingkungan yang sering disebut ANDAL. Rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka. semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut.BW). 1992 : 1). (Suparni. .

penguasaan hukum yang mengatur dan menerbitkan masalah lingkungan dalam pembangunan wajib kita menguasai pula ilmu-ilmu lain yang relevan. mengalami kondisi untuk segera dikembangkan lebih lanjut ketentuan hukumnya sesuai dengan perkembangan baru. terutama pada kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat toksis. dan dampak lingkungan penting lainnya. seperti keterkaitan AMDAL denga perizinan. Pendekatan interdisipliner ilmu demikian dapat dan berkembang. sehingga menjadi kendala menegakkan ketentuan-ketentuan tersebut. analisis masalah hukum tentang AMDAL pertama-tama akan membantu memberikan uraian keterkaitan perundang-undangan dan pelaksanaan AMDAL dengan Undang-undang atau ketentuan hokum sektoral untuk memperoleh persamaan persepsi dan penafsiran atas hokum yang mengatur pelaksanaan AMDAL dilihat dari penyusunan. yang akan menjamin keterpaduan vertical. kerugian daan lingkungan tercemar terhadap aspek kesehatan dan lingkunga salah satu “Instrumen Hukum” yang dikembangkan dan mengatasi ini adalah AMDAL.51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dengan demikian. 23 Tahun 1997. dan metode pengumpulan informasi yang mampu memberikan identifikasi terhadap berbagai pengaruh dan dampak lingkungan.1997). penilaian. dalam perkembangan baru ini. hokum disamping untuk menjaga ketertiban. Oleh karena itu. Kedua. Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982 dan peraturan Pemerintah tentaang AMDAL akan dijadikan acuan utama dalam keseluruhan proses pengujiaan masalah dan sarana pemecahaannya. planologi. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia. komisi daerah telah dilibatkan. Dalam waktu empat tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah No. sosial budaya. Ini berarti dalam hal perencanaan proyek pusat. 23 Tahun 1997 dikeluarkanlah Peraaturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 diantaranya beberapa persoalan yang bermunculan pada tingkat pelaksanaan termasuk kurang dipahaminya ketentuan-ketentuan hukum dasarnya menurut Undangundang Lingkungan Hidup Tahun 1997 serta implikasi aspek-aspek teknis dan ilmu ilmiah pada penerapan hukumnya. sarana pembaharuan masyarakat juga dianggap mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan masalah-masalah lingkunga yang mungkin timbul daaan tata cara memecahkannya. kimia dan biologi.” Kurang dipahminya proses AMDAL dalam system perizinan menyebabkan studi AMDAL sering kali dianggap memperlambat diperolehnya izin kegiatan. 51 Tahun 1993 telah diteliti berbagai aspek untuk penetapan criteria daamapak kegiatan dari lingkunganlingkungan social Budaya. mekanisme keterkaitan AMDAL dan masyarakat sebagai pelaksana peran serta rakyat dalam proses pengambilan keputusan. dan pengambilan keputusan. misalnya ekonomi. Atas pertimbangan di atas. hidrologi. IV Tahun 1973 tentang GBHN yang berbunyi sebagai berikut : “ Dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam Indonesia harus digunakan secara rasional. (UU No. masalah-masalah yang belum terakomodasi oleh ketentuan-ketentuan yang dianggap mengandung kelemahan-kelemahan tertentu. Suatu perkembangan hukum yang dipengaruhinya oleh metode dan prinsip ilmu. akan membawa perkembangan baru atas pengertian bahaya. pengaruh dari kualifikasi AMDAL . Untuk melakukan analisis secara demikian. AMDAL sebagai studi ilmiah dianggap mempunyai kemampuan untuk melakuka prediksi dan identifikasi itu terhadap kemungkinan timbulnya dampak lingkungan. Alasan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. 27 Tahun 1999 yang mencabut Peraturan Pemerintah No. Dalam proses AMDAL ini analisis mengenai masalah dilakukan yang berdasarkan pendekatan antar berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah pula untuk menerangkan hubungaan kausal masalah lingkungan dan cara pemecahaannya. Meningkatkan kegiatan pembangunan. Landasan Hukum kebijaksanaan lingkungan secara umum di Indonesia dinyatakan sejak Repelita II yang diatur dalam TAP MPR No. Karena dianggap Peraturan Pemerintah belum memadai. 51 Tahun 1993. maka kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelaksanaan dan penegakkan undang-undang No. Atas dasar pemikiran diatas.

Sebab formulasi hukum tidak secar jelas memberikan batas baik secara kuantitatif maupun kualitatif tentang apa yang merupakan dampak yang penting. Dalam membuat data. 27 Tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Oleh karena itu seorang konsultan tidak boleh menyimpang dari ketentuan diatas. Status AMDAL dalam proses pengambilan keputusan sebagai “Significant Agency Expertise” yang memegang yurisdiksi kewenangan dan merupakan ruang lingkupnya yang lebih utama dalam masalah hukum yang timbul di kemudian hari. 27 Tahun 1999 yang isinya merupakan pedoman bagi para konsultan yang akan membuat analisis mengenai dampak lingkungan. jadi disini keadaan dari lokasi proyek harus jelas. Di dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.oleh perangkat aparatur pemerintah yang memiliki criteria keahlian khusus dalam proses AMDAL sebagai penanggung jawab utama. Secar yuridis hanya menyatakan dampak penting itu berupa perubahan lingkungan yaitu yang sangat mendasar bersumber dari suatu kegiatan. Sesuai dengan ketentuan Pasal 15 diatas maka pemerintah berhasil menetapkan Peraturan Pemerintah No. seorang pemrakarsa proyekharus mengetahui apakah proyek yang akan didirikannya itu wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. pembangunan pabrik tapioka. sebab pada hakekatnya adalah : (Suparni. dan lain-lain. II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluaan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa : Penelitian. pengendalian dan pemanfaatan ssumber daya alam serta pembinaan lingkungan hidup perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara yang tepat sehingga mengurangi dampak yang penting yang merugikan lingkungan hidup serta mempertahankan mutu dan kelestariannya kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan berkesinambungan. 23 Tahun 1997 yang isinya “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan”. misalnya pembangunan pabrik pupuk. flora dan fauna dan sebagainya yang dapat terganggu akibat langsung terhadap polusi udara. karena itu kedudukan ini memberikan dasar hukum yang kuat baginya untuk menetapkan pilihan yang terbaik dan bersifat final. Kewajiban membuat analisis mengenai dampak lingkungan dapat kita lihat pada Pasal 15 Undang-undang No. .” Oleh karena itu pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan harus dibuat analisis mengenai dampak lingkungan. Dalam pengertian diatas. analisis mengenai dampak lingkunga dibutuhkan hanya terhadap kegiatan pembangunan yang berdampak penting. aparatur pemerintah. Oleh karena itu untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan ini harus ada kerjasama yang baik antara aparatur pemerintah dan pihak yang terkait. dan masyarakat sangat penting. Contoh dampak itu paling tidak menyangkut hidup orang banyak antara lain menyangkut alam. maka peranan pihak yang berkepentingan yaitu pemrakarsa. ditegaskan bahwa aparat pemerintah (agency) barulah dapat dikualifisir dan mempunyai “Primary Jurisdiction” yang memberikan kedudukan hukum yang istimewa baginya untuk memutuskan apa yang menurut aparatur pemerintah paling menguntungkan berdasarkan keahliannya yang khusus. Dalam hal ini harus menjaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi. faktor lingkungan hidup menjadi perhatian yang utama. Untuk itu Menteri Negara Kependudukan dan Lingkuyngan Hidup telah mengeluarkan beberapa keputusan sebagai realisasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Secara yuridis. 1992 : 36) ”Gangguan terhadap keseimbangan lingkungan yaitu sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang lebih tinggi. mengenai ada atau tidaknya dampak penting itu tidak mudah diukur dengan barometer tertentu. Untuk menciptakan suatu pembangunan yang berkesinambungan. air dan darat. Mengenai masalah analisis mengenai dampak lingkungan adalah menyangkut masalah orang banyak. Peraturan Pemerintah ini merupakan tonggaak sejarah yang amat penting dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan.

perlu pembatasan masalah ini dengan menitik beratkan pada tanggung jawab konsultan dalam perjanjian pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan yang sesuai dengan Pasal 1801 dan Pasal 1803 KUH Perdata dan tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih relevan.Sehubungan dengan hal tersebut diatas. Tanggung jawab ini menyangkut ganti rugi apabila konsultan itu melakukan kesalahan dalam membuat data analisis. akibatnya studi analisi mengenai dampak lingkungan hanya formalitas saja. wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Untuk itulah maka setiap konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya sehingga konsultan harus hati-hati dalam membuat analisis mengenai dampak lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pengetahuan penulis selama ini. 2. Apa saja kewajiban-kewajiban konsultan yang harus dipenuhinya dalam menyusun AMDAL ? 2. Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian bagi seseorang yang dengan Cuma-Cuma menerima kuasa adalah tidak begitu berat seperti yang dapat diminta dari seseorang yang untuk itu menerima upah. maka akibat mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dianggap formalitas saja. Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk pengurusan benda-benda yang terletak diluar wilayah daripada yang ditempat tingfgal si pemberi kuasa. Didalam Kitaab Undang-Undaang Hukum Perdata mengenai tanggung jawab ini diatur dalam pasal 1801 dan pasal 1803 Kitab Undaang-Undang Hukum Perdata : “Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan –perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tapi juga tentang kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya”. Berdasarkan uraian di atas. Dalam segala hal. yang tidak dilaksanakan berdasarkan prosedure yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Oleh sebab itu bagi proyek yang mempunyai dampak penting banyak sekali sekali yang meminta pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga mendorong munculnya pihak pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sejauh mana taanggung jawab konsultan terhadap analisis tersebut ? C. maka terhadap usaha yang menimbulkan dampak penting. Dari uraian diatas jelas bahwa tanggung jawab konsultan sangat besar. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa sebab penyebutaan seoraang tertentu. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya. si pemberi kuasa dapat secara langsung menurut orang yang ditunjuk oleh si kuaasaa sebagaai penggantinya itu. Ruang Lingkup Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang penelitian ini. maka yang menjadi permasalahan adalah: 1. Sedangkan oraang yang dipilih itu ternyata tidak cakap atau tidak mampu. akibatnya setelah terjadi dampak penting terhadap lingkungan maka diketahui segala kesalahanya. Disisi lain Pasal 1803 KUH Perdata berbunyi : “Si Kuasa bertanggung jawab untuk oraang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya” 1. banyak sekali terdapat data fiktif yaitu data yang diperolehdari hasil data konsssultan saja atau bisa juga dari hasil pemikiran yang dibuat oleh konssultan itu dapat saja karena kesengajaan atau karena kelalaiannya sehingga dat yang sebenarnya harus dicantumkan ke dalam analisi mengenai dampak lingkungan tidak dibuatnya secar tepat. serta menambah informasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan bidang hukum pada umumnya. untuk itulah penulis mengambil judul “TANGGUNG JAWAB KONSULTAN DALAM PEMBUATAN ANALISI MENGENAI DAAMPAK LINGKUNGAN DAAN AAKIBAT HUKUMNYA” B. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia konsultan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dapat . PERMASALAHAN Bertitik tolak dari uraian diatas.

.melaksanakan dan menegakkan Peraturan Pemerintah No. sehingga penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis (empiris) bersifat eksploiratoris yang tidak bermaksud menguji suatu hipotesa. 29 Tahun 1986 Pasal 1 ayat 1 (pelaksaanaan Pasal 16 Undaang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1982) merumuskan sebagai berikut : “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu . akademisi ataupun aparat penegak hukum. memprediksi. yang kemudian penulis konstruksikan dalam suatu kesimpulan pada bagian akhir dari penelitian ini.Mengaanalisis sampai sejauh mana batas tanggung jawab konsultan AMDAL 2. (Ebisemiju dalam Soemartono. 27 Taahun 1999 Menurut Fola S. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. menginterpretasikan dan mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan” Dari definisi secara akademis ini kemudian dirumuskan definisi hukum dalam perundangundangan. Penelitian Kepustakaan (Library Research ) Penelitian kepustaakaan dalam rangka memperoleh data skunder yaitu bahn hukum primer misalnya Peraturan Pengganti Undang-Undang serta bahan hukum sekunder seperti buku – buku (literatur). Tujuan Penelitian Penelitian ini secara menyeluruh mempunyai tujuan untuk : . 1996 : 158) Menurut Munn (1974) definisi umum tenyang Amdal itu adalah : “ Analisis Mengenaai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu kegiatan (studi) yang dilakukaan untuk meng identifikasi. Tujuan dan kegunaan penelitian 1. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini daapat merupaklaan rekomendasi/pemikiran/konsep/saran untuk digunakan para pihak yang berkepentingan. antara lain : a. Kegunaan Penelitian Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk perkembangan ilmu pengetaahuaan dalam Hukum Lingkungan khususnya yang berhubungan dengan konsssultan AMDAL. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dalam rangka memperoleh data primer maka penulis melakukan penelitian langsung Program Penelitian Lingkungan Hiddup (PPLH) dengan cara wawancara kepada para konsultan dan pihak-pihak terkait. Metode Penelitian Sejalan dengan ruang lingkup dan permasalahan dalam penelitian yang bersifat eksploratoris sebagi landasan utama dan tolak ukur dalam penyusunan maka dilakukan penelitian lapangan melalui wawancara denga para konsultan dan penelitian kepustakaan dengan cara pengumpulan data-data dan teori yang ada melaui kepustakaan. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) A. baik bagi praktisi. Menurut Peraturan Pemerintah No. maka terhadap data tersebut selanjutnya dilakukan dengan cara Content Analisys terhadap data tekstular dan menetapkan metode kualitatif terhadap dat yang diperoleh dari lapangan. Selanjutnya teknik pengumpulan dapat dilakukan melaui: 1.Menganalisis sekitar hak dan kewajiban konsultan yangmembidangi penyusunan dokumen AMDAL. 2. E. Ebisemiju (1993) bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungaan atau Environmental Impact Assesment (EIA) muncul sebagai jawaban atas keprihatinan tentang daampak negaatif dari kegiatan manusia khususnya pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri pada tahun 1960-an. D. Sebelum keluar Perauraan Pemerintah No. Setelah data-data kepustakaan dan lapangan didapat. AMDAL tetap menjadi alat utama untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Sejak itu. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 1.

” b. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). yaitu prosedur perizinan yang berlaku bagi rencana kegiatan yang bersangkutan. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah keseluruhan dokumen studi kelayakan lingkungan yang terdiri dari kerangka acuan (KA). 1995 : 23).” (Ebisemiju dalam Silalahi. keseluruhan yang terdapat dalam AMDAL harus dilaksanakan secara cermat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Sebagai konsekwensi kewajiban setiap orang untuk memelihara lingkungan hidup. 51 Tahun 1993 yang menyatakan : “ Keputusan tentang pemberian izin terhadap rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang dibidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya persetujuan atas rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh instansi yang bertanggung jawab. Jadi istilah AMDAL dibedakan dengan ANDAL. Seorang pemrakarsa memerlukan kepastian bahwa untuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakannya itu perlu atau tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Untuk mempertimbangkan dampak rencana kegiatan dalam lingkungan hidup diperlukan pengaturan mengenai prosedur administratif. b. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 5 PP No. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Untuk menghilangkan kemungkinan pencemaran. sosial ekonomi maupun sosial budaya yang relevan denga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. 51 Tahun 1993 yang menyatakan sebagai berikut : “Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Dalam prinsip ini mengandung pengertian bahwa dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan mencakup semua aspek lingkungan. prosedur AMDAL diintegrasikan kedalam prosedur administratif yang ada. Pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mempunyai konsekwensi bahwa kriteria dan prosedur itu mengikat baik bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan kegiatan maupun instansi yang . Dalam Kaitan dengan prosedur administratif tersebut. Menurut Peraturan Pemerintah No. AMDAL merupakan instrumen pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari perencanaan Sebagai instrumen pengambilan keputusan. (Soemartono. termasuk pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan.” (Fandeli. Kriterian dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup harus secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Prinsip Dalam Penerapan dan Tata Laksana Amdal 1. Kepastian ini diperlukan berkenaan dengan perbedaan prosedur yang harus ditempuh oleh pemrakarsa. Dari pengertian tersebut Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Kerangka Acuan (KA). AMDAL dapat memperluas wawasan pengambilan keputusan sehingga dapat diambil keputusan yang paling optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. 1995 : 34). 1996). c. baik biofisik.kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Sedangkan ANDAL yaitu Analisis Dampak Lingkungan merupakan salah satu dokumen yang dibuat dalam proses tersebut. (Suparni. 1994 : 94). Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakan setelah dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan hidup. maka menjadi kewajiban pemrakarsa untuk memikul biaya pencegahan dan penanggulangan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaksanaan rencana kegiatannya. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Prinsip Dalam Penerapan AMDAL Dalam Peraturan penerapan AMDAL tercermin beberapa prinsip yang dianut. yaitu sebagai berikut : a. yaitu AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi kelima buah dokumen. yaitu Penyajian Informasi Lingkungan (PIL).

Karena itu. Sebaliknya. Kedua: bahwa semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan pelaksanaan rencana kegiatan harus diberi hak dan kesempatan yang sama dalam proses penilaian substansi AMDAL. Pemantauan perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat dilaksanakan rencana kegiatan. kecuali yang menyangkut rahasia negara. i. 2) Pejabat : yang mengeluarkan keputusan itu : keputusan itu menjadi pegangan untuk menilai apakah pemrakarsa menaati syarat dan kewajiban yang ditetapkan dalam keputusan. maka keputusan itu menjadi dasar untuk diambilnya tindakan hukum administratif terhadap pemrakarsa. yaitu tetap terpeliharanya kemampuan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. h. Keputusan tertulis memberikan jaminan kepastian mengenai substansi keputusan tersebut. 1994 : 107) . Hal tersebut berarti pula. Keputusan tentang AMDAL harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan keputusan. Hak dan kewajiban ini dapat terlaksana secara baik kalau subjek pendukung hak dan kewajiban berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. bahwa hak dan kewajiban itu mempunyai hak akses terhadap keadaan dan kondisi lingkungan hidup. dan bahan dalam rangka penyidikan perkara pidana. d. Pelaksanaan rencana kegiatan yang AMDAL-nya telah disetujui harus dipantau. g. Sedangkan bagi pihak instansi yang berwenang tidak ditaatinya kriteria dan prosedur tersebut merupakan dasar bagi instansi yang berwenang untuk menolak permononan izin bagi izin pelaksanaan kegiatan. termasuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. baik aparat administrasi. AMDAL merupakan suatu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuju ke arah tercapainya suatu tujuan. pemerintah maupun penyusun AMDAL. AMDAL harus selalu mengacu kepada kebijaksanaan nasional. setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup. f. Prosedur AMDAL harus mencakup tata cara penilaian yang tidak memihak. Prinsip ini berarti : Pertama: bahwa semua aspek lingkungan dan berbagai kepentingan yang terkait harus didudukan secara serasi dan dipertimbangkan secara imbang. 3) Penegak hukum : keputusan tertulis itu dapat menjadi sumber untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan si pemrakarsa. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Untuk menerapkan AMDAL sangat tergantung kepada aparat-aparat yang memadai. AMDAL bersifat terbuka. dan apabila keputusan ini bersifat merugikan kepentingannya keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajukan banding atau gugatan tata usaha negara. baik nasional maupun internasional. e. Ketiga : Pengambilan keputusan harus didasarkan pada cara yang menjamin objektifitas. 4) Warga masyarakat : keputusan itu dapat dipakai sebagai dasar gugatan apabila pelanggaran yang dilakukan pemrakarsa terhadap keputusan itu menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat. Jaminan kepastian ini penting bagi : 1) Pemrakarsa : dengan keputusan tertulis dia mengetahui secara pasti tentang syarat dan kewajiban yang harus dia penuhi dalam rangka pelaksanaan rencana kegiatannya. (Suparni. Keberhasilan penerapan AMDAL sangat bergantung kepada kemampuan aparat pelaksanaannya.bertanggung jawab dalam menilai dan mengambil keputusan atas AMDAL. Tidak di taatinya kriteria dan prosedur tersebut dapat menjadi dasar gugagatan terhadap keputusan pemberian ijin pelaksanaan rencana kegiatan oleh pihak yang dirugikan haknya. Penerapan AMDAL dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. Hasil pemantauan perubahan lingkungan dan evaluasi hasilnya merupakan bahan masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.

k. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH. d.2. Terhadap penolakan ini. sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. (Fandeli. maka pemrakarsa bersama-sama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat ditanggulangi ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. i. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan. PIL tersebut dibuat berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh mentri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat. Instaansi yang bertanggung jawab adlah instansi yang berwenang memberi keputusan tentang rencana pelaksanaan kegiatan. maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang du\ibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab. Masalah Penapisan (Screening) dalam Proses AMDAL Penapisan merupakan terjemahan dari sreening. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan untuk menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. Screening atau penapisan merupakan kata benda yang berarti sesuatu hal dari hasil –hasil . maka pemrakarsa diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. Padahal salah satu hal penting sdalam AMDAL adalah “Consistency” dan “Simplicy”. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannyakeputusan tersebut. berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan penyajian informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. c. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur. antara lain : 1. g. 1995 : Pedoman dan Analisa Data dalam Penyusunan AMDAL Timbulnya perbedaan penafsiran dan tolak ukur penilaian atas kriteria atau baku lingkungan disebabkan perbedaan menjabarkan pedoman dan perbedaan metode yang digunakan untuk memperoleh data. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL. Apabila ANDAL disetujui. maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberi petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. baik dilingkungan geofisik maupun lingkungan sosial budaya. b. Kata Screen berarti menapis atau menyaring. f. berhubung tidak ada dampak penting. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dan instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya penolakan itu. sehingga baik pedoman maupun metodologi penyusunan AMDAL oleh konsultan harus memperhatikan “konsisten” sehingga tidak menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berubah-ubah atau berbeda-beda secara yuridis. mengidentifikasi dan menganalisa data. 1995 : 31) Beberapa ketentuan hukum dalam proses AMDAL yang bertalian dengan pedoman ini . h. Pedoman dan metodologi ini juga harus menyajikan prosedur penyusunan dan penilaian yang mudah dan sederhana dalam praktek. j. (Silalahi. Tata Laksana Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Tata laksana AMDAL dalam garis besarnya adalah sebagai berikut : a. apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain. e. Apabila dari semua sudaah diketahui bahwa akan ada dampak penting maka tidak perlu dibuat PIL terlebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun (KA) bagi pembuat ANDAL.

Komponen lingkungan yang telah ditelaah Komponen lingkungan yang harus dicakup dalam studi adalah komponen lingkungan biogesik. Penapisan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tahapan awal digunakan untuk menentukan suatu proyek memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau tidak. 50/1987). batas ekologis. sehingga dengan demikian penapisan harus dilakukan terhadap kegiatan proyek dan terhadap AMDAL-nya sendiri. Pelingkupan dalam studi ANDAL dilaksanakan mengingat maksud dan tujuan serta kegunaan hasil studi. 29 Tahun 1986 tentang AMDAL. Sementara itu lingkup penapisan dalam proses program dan proyek tercermin pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. Langkah itu sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sendiri mungkin apakah proyeknya itu akan terkena AMDAL. Pelingkupan (scoping) memgang peranan yang sangat penting di dalam menentukan data yang harus dikumpulkan yang diperlukan untuk menyusun garis besar. sosial ekonomi dan sosial budaya. Men. dan batas teknis. (Fandeli. (Fandeli. (Soemarwoto. Jelaslah disini diperlukan panduan yang jelas untuk menyusun daftar parameter kunci untuk mengetahui matriks identifikasi dampak penting pada lingkungan. Jadi penapisan itu bertujuan untuk memilih rencana-rencana pembangunan mana yang harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penapisan adalah suatu proses untuk pengambilan keputusan. Namun menurut PP No. 11 Tahun 1994 tidak ada penapisan dengan PIL. 29 Tahun 1986 dan Kep. (Fandeli. Pembatasan ruang lingkup tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu atau memfokuskan ANDAL pada komponen-komponen lingkungan tertentu sangat diperlukan. batas administrasi. 1997:76). Men. (Silalahi. 1995 : 107). Rencana Kegiatan yang harus ditelaah dampaknya Uraian rencana kegiatan dan komponen kegiatannya serta dampak yang ditimbulkan. Lingkup penapisan yang paling rendah adalah dalam menyusun AMDAL untuk menentukan aktivitas yang menimbulkan dampak komponen lingkungan yang terkena dampak dan teknologi untuk menanggulangi dampak. perlu tidaknya membuat ADL (Pasal 11) dan dalam hal terdapatnya keraguan tentang ada tidaknya dampak penting. ditetapkan ruang lingkup studi ANDAL sebagai berikut : a. (Husein. Setiap kali data akan dikumpulkan haruslah ditanyakan “ perlukah data tersebut untuk mengambil keputusan?”. PIL adalah sebagai salah satu alat penapisan terutama untuk menilai tepat tidaknya lokasi rencana kegiatan (Pasl 9). tenaga dan waktu dapat digunakan secar efektif dan efisien. dan biaya. b. (Fandeli. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran biaya dan waktu. data yang dikumpulkan hanya terbatas pada yang diperlukan saja. KLH No. Kegunaan Pelingkupan (Scoping) adalah untuk kepentingan : .kegiatan menapis. c. 2. Maksudnya diperlukan agar ANDAL menghasilkan data dan informasi lingkungan yang relevan sesuai dengan rencana kegiatan / proyek-proyek yang bersangkutan. Pelingkupan Dalam Proses AMDAL Pelingkupan (scoping) atau pembatasan-pembatasan ruang lingkup pelaksanaan ANDAL. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. penelitian menjadi terfokus. 51 Tahun 1993 dan Kep. dan bagi proyek-proyek yang memerlukan AMDAL. 1995 : 68) Pada hakekatnya lingkup penapisan dapat bersifat nasional yang tercermin pada kebijaksanaan sektoral. 1995 : 68) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Pembatasan ruang lingkup ANDAL tersebut perlu pula disesuaikan dengan pedoman yang telah ditetapkan pemerintah. KLH No. Dengan demikian apabila Pelingkupan telah dijalankan dengan baik. 29 Tahun 1986. Dalam Lampiran II Keputusan MENKLH Nomor : KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. apakah langsung menyusun ANDAL (dokumen 3) atau kita harus melewati PIL yang merupakan Penapisan Tingkat Pertama (PP No. Batas Wilayah Studi Batas wlayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas proyek. 1995 : 68). 1995:32). 29 Tahun 1986. 1992 : 48).

Izin yang berkaitan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. Menetapkan strategi penelitian pada komponen lingkungan yang akan terkena dampak.Izin yang berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air (PP No. tetapi sudah merupakan sistem perizinan dalam sistem hukum lingkungan Indonesia berdasarkan Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. g. Jadi dengan demikian keputusan pemberian izin baru akan diberikan oleh instansi yang berwenang. (Husein. maka keterkaitannya dengan proses perizinan sektoral.Izin Mendirikan Banggunan (IMB). maka AMDAL untuk kegiatan industri harus melihat beberapa aspek perizinan antara lain : 1. c. Dengan pelingkupan (scoping) maka waktu. AMDAL Sebagai Prasyarat Dalam Sistem Perizinan Di Indonesia dinamakan sebagai “Een Vergunningenland” (Negara Perizinan). 1993 :86). sesuai dengan Pasal 11 (Ayat 1) Hinder Ordonantie (HO) yang menyatakan bahwa : “Pejabat yang memberikan izin itu dapat mengenakan syarat baru kepada pemegang izin itu. 5 Tahun 1990). Menetapkan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak nyata. f. Identifikasi dampak penting atau masalah utam dari suatu proyek. e. biaya dan tenaga untuk studi AMDAL dapat lebih efisien. Jadi kewajiban tersebut dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. 51 Tahun 1993 ini menyatakan tentang keputusan pemberian izin terhadap rencana-rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang-bidang perizinan untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKL dan RPL oleh instansi yang bertanggung jawab. . 1926 No. Apabila rencana kegiatan tersebut dalam tahap perencanaan dan operasionalnya tidak mencemari atau merusak lingkungan hidup . maka Oasal 5 Peraturan Pemerintah No. tanpa banyak terbuang untuk meneliti. jika menurut pendapatnya memang memerlukan” Sesuai dengan Pasal 6 dan Pasal 15 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup itu bukan saja syarat baru menurut pajabat yang hidup bukan saja syarat baru menurut pajabat yang menberi izin. 28 Tahun 1985). 1992 : 206) 2. Efisiensi waktu studi AMDAL. karena sedemikian banyaknya jenis perizinan di negara kita. Keputusan persetujuan atas RKL danRPL yang baru dapat diberikan apabila terjadi rencana kegiatan tersebut tidak memerlukan ANDAL. atau memerlukan AMDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. 226. . Efisiensi biaya studi AMDAL. Komponen-komponen yang ditetapkan sedikit-dikitnya atau sama sekali tidak terkena dampak lingkungan tidak akan dievaluasi lagi. d. menganalisa dan memprediksi dampak terhadap komponen lingkungan yang tidak terkena dampak. Ditinjau dari segi perizinan AMDAL. .Izin usaha yang diatur dalam Ordonansi Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Umum) Dalam Pasal 6 Undang-undang No. sesuai dengan ketentuan peralihan dalam Pasal 49 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997. 23 Tahun 1997 dinyatakan sebagai berikut : “Setiap orang yang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”.Dan lain-lain (Lotulung. Dengan mengacu ketentuan perizinan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 di atas. 29 Tahun 1990). b. Jenis perizinan yang erat hubungannya dengan pengelolaan lingkunggan hidup antara lain : .a. Menetapkan parameter atau indikator dari komponen lingkungan yang akan diukur. . AMDAL harus diartikan sebagai salah satu persyaratan tambahan untuk memperoleh izin. . .Izin yang berkaitan dengan Perlindungan Hutan (PP No. AMDAL Dalam Sistem Perizinan (Sektoral) Apabila AMDAL telah dipahami sebagai salah satu syarat perizinan dalam setiap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting pada lingkungan.

Hal ini diatur dalam Pasal 15 Ho. meskipun belum terbukti adanya pencemaran dalam arti hukum. jika ia mendirikan atau menjalankan tanpa izin yang dikehendaki…… atau jika ia berlaku berlawanan dengan alasan untuk kepentingan ketertiban. jika ia berbuat berlawanan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. seperti diatur dalam Pasal 7 HO yang berbunyi : “Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan-keberatan dengan bahaya kerugian atau gangguan. kerugian atau gangguan”. 14 dan 15 berlaku pula bagi proses perizinan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 AMDAAL Tahun 1993. Terhadap kegiatan yang sudah ada. (Pasal 16 HO) dan mencabut izin (Pasal 18). Dengan disahkannya Undang-undang No. Untuk menghindarinya terjadinya “bahaya. Untuk melaksanakan tindaka tersebut di atas. termasuk wewenang memasuki tempat-tempat kerja walupun tanpa izin yang mendiami atau mempergunakan tempat kerja tersebut …. Hasil studi ini terdiri . yang menetapkan keterkaitan undang-undang ini dengan Undang-undang Lingkungan Hidup Tahun 1997 syarat-syarat perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 13. pejabat yang berwenang dapat mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan.Dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah No. kerugian atau gangguan”. yang menyatakan bahwa : Pemilik. selanjutnya disebut Undang-undang Pokok Tahun 1984. 51 Thun 1993 tentang AMDAL atau Peraturan Pemerintah tentang AMDAL. sebagai syarat baru menurut Pasal 11 (Ayat 1) di atas. Dengan hukuman kurungan selam-lamanya dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus lima puluh gulden. terhadap perbuatan ini dapat juga dikenakan denda dan pidana kurungan. Dengan hukuman selam-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima ratus gulden. pemakai atau pengurus tempat kerja sebagai tersebut dalam pasal 1 dihukum : a. dipidana selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh juta rupiah dengan hukuman tambahan pencabutan izin usaha . 20 Tahun 1990. Yang menarik dari ketentuan hukum berdasarkan Hinder Ordonantie (HO) sebagaimana diuraikan di atas. meskopun ketentuan hukum ini dibuat sebelum ilmu dan teknologi berkembang seperti sekarang adalah tersedianya peluang yang luas untuk mengembangkan syarat-syarat perizinan. sesuai dengan ketentuan peralihan Pasal 38 dan 39 AMDAL diwajibkan membuat studi mengenai evaluasi dempak lingkungan atau SEMDAL. menutup dan menyegel mesin-mesin atau tindakan lain untuk mencegah terjadinya akibat selanjutnya. yang dimaksud dangan AMDAAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Pasal 5 AMDAL Tahun 1986 yang mengatur mengenai syarat-syarat perizinan terkait pula dengan sistem HO. tindakan hukum yang dapat dikenakan pada setiap orang yang tidak melaksanakan AMDAL yang diatur oleh hukum administrasi. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Pokok Tahun 1984. maka izin itu diberikan dengan bersyarat”. keharusan mempertimbangkan gangguan dalam arti HO harus ditafsirkan sebagai meliputi pula Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang harus dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan. keselamatan atau kesehatan umum (Pasal 2 dan 3). 1995 :36) Kriteria Kegiatan yang Diwajibkan Membuat AMDAL Menurut Peraturan Pemerintah No. disamping memberikan wewenang untuk mencabut izin. pemegang Bezit. Karena itu.. Hal ini memperlihatkan terbukanya peluang untuk memberikan persyaratan baru atas dasar pertimbanagn atau keberatan tentang kemungkinan terjadinya “bahaya. Dengan adanya ketentuan ini. 51 Tahun 1993. sebagai pelaksana Undang-undang Pokok Lingkungan Hidup Tahun 1997 yang mengakui berlakunya ketentuan sektoral yang berhubungan dengan lingkungan. Hal ini diperkuat pula oleh ketentuan hukum dalam Pasal 33 PP No. maka pembuat Undangundang akan memperlihatkan pula tersedianyan ancaman pidana terhadap setiap orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan syarat perizinan (aspek preventif). (Silalahi. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. b. apabila tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian.

51 Tahun 1993. 2. tim teknis dan instansi teknis yang bertanggung jawab. yang dimaksud semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. yaitu : pemrakarsa. faktor manusia dam lain sebagainya. perlu dibuat tata laksana. KERANGKA ACUAN a. 1996 : 164) c. maka KEP/14?MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai peraturan yang menyusun AMDAL. 3. 1995 : 140) Untuk mengetahui secara luas tentang kriteria kegiatan tersebut. (Silalahi. Panjang dan pendeknya prosedur tergantung dari proyek pembangunan yang dilaksanakan (Fandeli. Tujuan Penyusunan KA-ANDAL adalah untuk : 1. Fungsi Dokumen KA-ANDAL : 1. konsultan penyusun. dana. tenaga dan waktu yang tersedia (Soemaetono. dan penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Semenjak berlakunya PP No. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).51/1993) b. tenaga dan lain-lain sebagainya. maka kriteria yang diwajibkan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) itu harus memperhatikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Dengan demikian.dari beberapa dokumen. Manfaat Kerangka Acuan : 1. KA memberikan keterbatasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumberdaya tersebut tanpa mengurangi mutu ANDAL. Didalam menghasilkan dokumen. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan efisien. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL d. Terjadinya dampak dari sesuatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. dan dokumen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyusunan ANDAAL. . 2. Instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL yang dimaksud untuk mmmempercepat proses penyelesaiannya. maka keempat kegiatan tersebut haruslah diuraikan terlebih dahulu. instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. maupun pasca konstruksi keanekaragaman faktor lingkungan . Tata laksana ini merupakan suatu prosedur. komisi AMDAL. 1995 : 34). Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakatinya bersama oleh pihak yang berkepentingan. Dengan dikeluarkannya KEP-14/MENLH/3/1994. Sebagai rujukan bagi pemrakarsa. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). I. KA diberikan untuk memberikan arahan tntang komponen kegiatan manakah yang harus ditelaah. Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menuyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meskipun sumberdaya terbatas. Dasar pertimbangan perlunya KA-ANDAAL disusun adalah : a) Keanekaaragaman ANDAL bertujuan untuk menduga kemungkinan seperti tercantum di bawah ini. baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam evaluasinya. baik pada tahap pra konstruksi. b) Keterbatasan Sumberdaya Pelaksanaan ANDAL seringkali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti waktu. c) Efisien Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan Andal perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP No. Kemungkinan timbulnyadampak lingkungan akan berbeda-beda pula. Atas dasar dokumen ini kebijaksanaan dipertimbangkan dan diambil. Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL 2. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan tersebut maka semua pihak yang akan berpegang pada KA tersebut.

Dengan demikian maka studi ini harus lebih ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut terhadap lingkungan dan usaha penanganannya ditinjau dari segi teknologi. Ad. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. (Semartono. 51 Tahun 1993). Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan nantinya. Komponen rona lingkungan awal Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik. 1996 : 173). 2.e. Pengumpulan Data dan Informasi tentang : a. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media masa. kontruksi maupun pasca kontruksi.b. (Fandeli. Komponen rencana kegiatan b. ekonomi dan lingkungan secara komprehensif. yang akan mengalami dampak akibat rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap rencana kegiatan tersebut. 1995 : 157). Penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa sehingga dapat : 1.AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini : . b. perencanaan dan pengelolaan rencana usaha atau kegiatan. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi pengambilan keputusan. Komponene rona lingkunagan awal Ad. Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. 1995 : 42). Baik pada tahap pra konstruksi. sosial ekonomi. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana atau kegiatan (Pasal 1 PP No. c. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan Fungsi dan pedoman umum penyusunan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Pedoman Umum Penyusunan ANDAL digunakan sebagai salah satu acuan bagi penyusunann Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL atau sebagai dasar penyusunan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha-usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. bila dipandang bperlu.a. termasuk masyarakat. II. Komponen rencana kegiatan Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi. Hubungan Penyusunan KA dengan Pemakai ANDAL Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan dampak pentingnya. antara lain : 1. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan. (Silalahi. Memuat uraian singkat tentang : a. Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima) tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut : A. Pdoman Umum Penyusunan ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor. B. perencanaan dan pengelolaan rencana kegiatan bersangkutan. C. Pedoman umum penyusunan dokumen ANDAL berfungsi sebagai acuan bagi penyususnan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. 3. kontruksi maupun pasca kontruksi. 2. Evaluasi Dampak Pnring Pada tahap evaluasi dampak penting ini. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. atau sebagai dasar penyususnan ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum tentu diterapkan. sosial budaya dan kesehatan masyarakat).

hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau kegiatan. b. Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak posityif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Komponen lingkungan terkena dampak. tolak ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan. Setelah dikeluarkannya PP No. sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Namun demikianlah apabila dipandang perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan bangunan untuk mencegah/penanggulangan dampak. 51 Tahun 1993 dokumen AMDAL bersamaan dengan dokumen ANDAL. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk mencegah/mengendalikan dampak. d. Pengelolaan memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan. teknologi maupun instansi. sosial ekonomi. tata letak lokasi dan rencana bangun proyek. Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan. (Fandeli. baik dari segi ekonomi. Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut : a. meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi. 1995 : 47). Misal. III. maupun hingga saat usaha atau kegiatan terakhir. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan melalui pemilihan atas alternatif. 1996 : 175). 1995 : 173). Didalam dokumen ANDAL memang tercantum pula adanya materi RKL. c. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Ciri dampak penting Pada bagian ini yang perlu dikemukakan adalah sifat-sifat sesuatu dampak. Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan waktu. Rencana Pengelolaan Lingkungan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) merupakan dokumen yang memuat upayaupaya mencegah. Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia. d. Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. b. e. Dari segi instansi misalnya dengan mmmemperluas sistem pengelolaan agar hal yang menyangkutan penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya. d. . Luas penyebaran dampak penting Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan sangat luas. D. dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan diketahui pertimbangannya. Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi. Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan berbahaya dan bahan beracun. b. sumber dampak. c. namun bersifat arahan dan garis besar. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan mencakup empat kelompok aktivitas antara lain : a. (Silalahi. Dari segi teknologi adalah dengan cara membatasi.a. untuk menangguangi masalah lingkungan. c. Cara pendektan dalam penanganan dampak Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi. (Soemartono. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda.

tergantung pada skala keacuhan pada masalah yang dihadapi. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan pelaksana. Men LH No. Frekwensi dan jangka waktu pemantauan 4. yang dimaksud disini adalah instansi yang bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan. ekonomi dan institusional. Sehingga pengertian dari pemantauan lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu. Sisi lain dari hak ini adalah kewajiban setiap . Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu. Pemantauan dampak lingkungan dapat pula diartikan sebagai berikut : pemantauan dampak lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen atau parameter lingkungan untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan karena adanya pengaruh dari luar yaitu aktivitas proyek. Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang dirumuskan dalam dokumen RKL. antara lain adalah : a. Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan lingkungan. Jenis data yang dikumpulkan 2. atau terkena dampak penting. Sesuai dengan prosedur penyusunan dokumen ANDAL. mulai dari tingkat proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. Aspekaspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam ANDAL. c. b. Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja. d. hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipandang. 1996 : 178) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai koordinator. e. RKL dan RPL.Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan RKL didasarkan pada adanya dampak penting yang timbul. RKL yang bersamaan sesuai PP No. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus dipantau. (Silalahi. penggunaan hasil pemantauan dan pengawasan kegiatan pemantauan. ada 2 kata kunci yang membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada data sistematik. 51 Tahun 1993 dan Kep. (Soemartono. berulang dan terencana. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepnjang usia. (Fandeli. Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak. 1995 : 185) Akibat Hukum Jika Suatu Perusahaan Tidak Melaksanakan Amdal Menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Lingkungan Hidup yang menegaskan hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Metode pengumpulan data f. Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan. 14/3/1994 maka penyusunan RKL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. 1995 : 49) RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. (Fandeli. 1992 : 121). Lokasi pemantauan 3. (Husein. 1995 : 49) IV. usaha atau kegiatan. Disamping skala keacuhan. Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang akan dipantau. pelaksanaan pemantauan. mencakup hal : 1. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi.

Perdata dan Pidana. misalnya : wewenang hukum perdata untuk menjatuhkan putusan yang berisi perintah atau larangan (Verbod of Gebod) terhadap seorang yang telah bertindak secara bertentangan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam suatu Verguning (surat izin) yang berkaitan dengan masalah lingkunga hidup. 1994 : 173). misalnya : melalui putusan hakim perdata dapat dirumuskan norma-norma tentang tindakan yang cermat yang seharusnyadiharapkan dari seseorang dalam hubungan masyarakat. yaitu : Administratif. 1993 : 2). Ketiga : Hukum perdata memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian atas pencemaran lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut. sebagai pertimbangan lain melihat dampak yang ditimbulkan. tata cara penelitian oleh tim tentang bentuk. (3) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara. Penelitian tentang bentuk. Kewajiban setiap orang tersebut adalah tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Jadi penegakan didalam hukum lingkungan itu harus diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan bagi pelaku baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakan (represif). Ganti kerugian dan pemulihan ini diatur dalam Pasal 20 UU Lingkungan Hidup Yang berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikiul tanggung jawab dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah dilanggar hanya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Kedua : Hukum perdata dapat memberikan penentuan norma-norma (Nomstelling) dalam masalah lingkungan hidup. jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk pemerintah. Ayat (2) : Bentuk dan jenis kerugian akibat perusakan dan pencemaran akan menentukan besarnya kerugian. 1994 : 166). 1992 : 81). yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum. (2) Tata cara pengaduan oleh penderita. Dengan demikian tujuan pembangunan penegakan hukum lingkungan melalui penerapan kaedah-kaedah hukum perdata adalah terutama untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan maupun si korban yang menderita kerugian sebagai akibat pencemaran atau perusakan lingkungan hidup.orang untuk memelihara lingkunga hidup dan mencegah serta menaggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari berbagai peraturan perundang-undangan. Penjelasan Pasal 20 ini menyatakan bahwa : Ayat (1) : Kerugian merupakan konsekwensi setiap orang untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. (Subagyo. Penelitian meliputi bidang ekologi. sosial budaya dan lain-lain . (4) Tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan lingkungan hidup diatur dengan peraturan perundang-undangan. sebab : Pertama : Dengan melalui hukum perdata dapat dipaksakan ketaatan pada norma-norma hukum lingkungan baik yang bersifat hukum privat maupun hukum publik. (Lotulung. jenis dan besarnya kerugian serta tata cara penuntutan ganti kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan. (Suparni. medis. (Suparni. Mengenai aspek keperdataan perlu dibedakan antara penerapan hukum perdata oleh instansi yang berwenang melaksanakan kebijaksanaan lingkungan dan penerapan hukum perdata untuk melaksanakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrumen yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya. Aspek Perdata Dalam Penegakan Hukum Perdata Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelasaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup.

Dalam hal menurut ganti kerugian berhubung dengan penderitaan akibat kerusakan dan atau pencemaran. maka penyelesaiannya diatur melalui Pengadilan Negeri. 1994 : 176). tetap melalaikannya atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tengang waktu yang telah dilampauinya” Pasal 1365 KUH Perdata : “Tiap perbuatan melanggar hukum. Bilamana tidak tercapai kata sepakat dalam batas waktu tertentu. Prinsip tersebut merupakan azas yang dianut dan diterapkan secara konsekwen sebagai salah satu kebijakan lingkungan dan jalan keluar bagi kasus pencemaran. dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. Kewajiban inidiatur dalam Pasal 20 ayat (3) UU Lingkungan Hidup.setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya. 1993 : 352). (Suparni. mengganti kerugian tersebut” Prinsip yang digunakan kedua pasal tersebut adalah “Liability Based on Fault” dengan nbeban pembuktian yang memberatkan penderita. tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. karena dalam banyak hal penderita ini adalah rakyat biasa yang kurang mengetahui bagaimana mempergunakan haknya untuk meminta ganti rugi karena penderitaan yang mereka alami sebagai akibat perusakan dan atau pencemaran. 1. yaitu ganti kerugian kepada penderita dan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak/tercemar yang perlu dibayar kepada negara.yang diperlukan. 1993 : 353). Hal ini penting sekali diatur. Didalam Pasal 20 ayat (4) yang telah menyatakan tentang perlunya diatur dengan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan dan pembayaran biaya pemulihan tersebut. apabila si berhutang. Ganti Kerugian Kepada Penderita Pasal 20 ayat (1) menganut prinsip pencemaran membayar (Polluter Pays Principle). (Hardjosoemantri. pasal yang dapat . yang membawa kerugian kepada seorang lain. Tim yang dimaksud dalam penjelasan ayat (2) dapat pula diserahi tugas untuk menetapkan besarnya biaya pemulihan lingkungan hidup. mewajibkan orang yang karena selahnya menerbitkan kerugian itu. Kesalahan disini merupakanunsur yang menentukan pertanggung jawaban. Biaya Pemulihan Lingkungan Pembayaran ganti kerugian kepada penderita tidak membebaskan si perusak dan atau pencemar dari kewajibannya untuk membayar biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau telah tercemar oleh perbuatan itu. ( Harjosomantri. Ayat (4) : Cukup jelas Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 20 UU Lingkungan hidup ini menunjukkan dua hal. yang berati bila tidak adanya bukti kesalahan. barulah mulai diwajibkan. dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan biaya pemulihan. Azas Tanggung Jawab Mutlak Dalam hubungan dengan penyelesaian ganti kerugian ketentuan yang dipakai adalah sebagaimana tertera dalam Pasal 1243 dan Pasal 1365 KUH Perdata : Pasal 1234 KUH Perdata : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau kuasanya. Dalam hubungan ini. hasil penelitian oleh tim sebagaimana disebut dalam Pasal 20 ayat (2). Ia baru akan memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat. perusak dan atau pencemar lingkungan hidup berkewajiban juga membayar biaya pemulihan lingkungan hidup kepada negara untuk keperluan pemulihan. Pasal 20 ayat (2) menentukan tentang berbagai cara yang perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Ayat (3) : Disamping kewajiban membayar gani kerugian sebagaimana tersebut dalam penjelasan ayat (2). 2. Pertama-tama adalah mengenai tata cara pengaduan oleh penderita. 3. Biaya ini dibayar kepada negara karena negaralah yang mempunyai kemampuan dengan fasilitas yang ada padany untuk melakukan upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak dan atau tercemar itu.

Salah satu ciri utama tanggung jawab mutlak adalah tidak adanya persyaratan tentang perlu adanya kesalahan.ia mendasarkan sesuatu hak. Azas tanggung jawab mutlak telah dimasukkan dalam UU Lingkungan hidup. Peraturan Pemerintah No.yaitu dalam Pasal 21 yang berbunyi : “Dalam beberapa kegiatan yang menyangkut jenis sumber daya tertentu tanggung jawab timbul secara mutlak pada perusak dan atau pencemar pada saat terjadinya perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang pengaturannya diatur dalam peraturan perundangundangan yang bersangkutan”. 1993 : 358).digunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata. Dalam kaitan dengan pembuktian perlu dikemukakan Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan : “Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas nama. Pasal 26. 1994 : 177). bahwa dengan berkembangnya industrialisasi yang menghasilkan resiko yang bertambah besar serta makin rumitnya hubungan sebab-akibat. maka teori hukum telah menghasilkan konsep “Resiko” dan meninggalkan konsep “Kesalahan”. Aspek/saran administratif dapat bersifat preventif dan bertujuan menegakkan peraturan perundang-undangan. 1995 : 50). karena adalah tanggung jawab dari tergugat untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatannya yang mengandung resiko tudak mempunyai akibat-akibat yang berbahaya atau menimbulkan gangguan (pencemaran atau perusakan). sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain diwajibkanjuga membuktikan peristiwaperistiwa itu”. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian. dan sebagainya. dan Pasal 19 UU No. Pasal 12 ayat (1) Ho tentang wewenang membuat izin oleh instansi yang berwenang dikaitkan dalam Pasal 33 Bab Pengawasan dan Pemantauan. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. kecuali ia membuktikan bahwa ia tidak dapat dipersalahkan. misalnya Pasal 11 ayat (1) HO (Hinder Ordonantie) tentang keharusan memenuhi syarat-syarat baru dalam sistem perizinan dikembangkan dengan memperhatikan Pasal5 AMDAL –93. Rudiger Lummert Mengemukakan. Tanggung jawab konsultan AMDAL sebagai akibat tidak dipenuhinya persyaratan kualifikasi penyusunan AMDAAL dapat ditelusuri berdasarkan Pasal 30 PP AMDAL-86 (dijadikan bagian dari Pasal 20 AMDAL-93) dan ketentuan undang-undang lain yang relevan dengan tugas konsulat. (Suparni. sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1). Aspek Administrasi Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pemrakarsa yang tidak melakukan AMDAL dapat dikenakan ketentuan hukum yang dalam sistem perizinan. kewajiban membuktikan peristiwa-peristiwa itu. dan Pasal 24 ayat (1) dan (2). . Dengan demikian. dikembangkanlah di dalam ilmu hukum prosedur tentang pembuktian yang oleh Krier disebut “Shifting(or Alleviating) of Burden of Proofs”. Konsep tanggung jawab mutlak diartikan terutama sebagai kewajiban mutlak yang dihubungkan dengan ditimbulkannya kerusakan. Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Azas tanggung jawab mutlak dikenakan secara selektif atas kasus yang akan ditetapkan berdasrkan peraturan perundang-undangan yang dapat menentukan jenis dan kategori kegiatan yang akan terkena oleh ketentuan-ketentuan termaksud”. Pejabat yang mengambil keputusan atau pejabat lain yang melakukan tugas pengawasan atas pelaksanaan AMDAL dapat diancam dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Berdasarkan prinsip pencemar membayar dan azas tanggung jawab mutlak ini. maka dalam perkara lingkungan seseorang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang ditimbulkannya. (Silalahi. (Hardjosoemantri. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL). Upaya penegakan hukum dapat ditetapkan terhadap kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan. Dengan adanya pembalikan beban pembuktian tidak merupakan halangan bagi penderita atau pencipta “Lingkungan baik dan sehat” untuk berperkara di depan pengadilan sebagai penggugat. baku mutu lingkungan.

b) Peraturan Pemerintah N0. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan. Denga adanya kewajiban tersebut yang dijadikan salah satu syarat dalam pemberian izin.Sarana administratif dapat ditegakkan dengan kemudahan-kemudahan terutama di bidang keuangan. Tindakan paksa (Bestuursdwang) 3. selanjutnya ayat (3) mencantumkan bahwa “Sifat Keterbukaan” sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan/atau tertulis kepada komisi. 1926 No. Jadi dalam rangka penjatuhan sanksi administratif terhadap pencemaran lingkungan masih terdapat perbedaan pendapat. Penyerasian peraturan (Harmonisering) 2. yaitu penanggulangan dan pengendalian perbuatan terlarang. pemantauan dan penggunaan kewenangan yang bersifat pengawasan. Kewajiban tersebut harus dicantumkan pada setiap izin yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Sanksi administratif terutama mempunyai fungsi instrumental (Een Instrumentele Functie). 1994 : 166). paksaan. Uang paksa (Publiekrechtelijk Dwangsom) 4. (Silalahi. Pelanggaran kewajiban yang tercantum dalam izin berakibat dikenakannya sanksi administrastif. Jadi penegakan hukim preventif berarti pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan atas peraturan tanpa kejadian-kejadian langsung yang menyangkut kejadian konkrit yang menimbulkan dugaan keras bahwa peraturan hukum telah dilanggar. Beberapa jenis sarana penegakan huum administrasi adalah sebagai berikut : 1. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) dinyatakan bahwa pengumuman rencana kegiatan dapat dilakukan melalui media masa dan/atau papan pengumuman di instansi yang . 1994 : 167). Sedangkan dalam ayat (2) ditetapkan bahwa dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umum. maka penyelanggaran bidang usaha senantiasa terikat guna melakukan tindakan pelestarian kemampuan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL Pasal 22 ayat (1) PP AMDAL mengatur tentang kewajiban membuat AMDAL setiap rencana kegiatan oleh instansi yang bertanggung jawab. penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin. 226. Namun dalam praktek peran serta yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) HO ini tidak pernah dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Peraturan perundang-undangan lingkungan yang mengadung prosedur administratif dalam proses pengambilan keputusan administratif negara adalah : a) Ordonantie Gangguan (HO) Stbll. Disamping itu sanksi administrasi terutama ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut. seperti keringanan bea masuk alat-alat pencegahan pencemaran dan kredit bank untuk biaya pengelolaan lingkungan dan sebagainya. Pasal 5 ayat (3) Menyantumkan bahwa setiap orang berhak dalam waktu satu sebulan menyerahkan atau menyatakan keberatannya terhadap pemberian izin tempat usaha. dapt berupa peringatan kepada pemegang izin. yang disebabkan oleh alasan-alasan non yuridis antara lain terhadap akibat penutupan perusahaan yang dikaitkan dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibatnya terjadi pengangguran. (Suparni. menurut ketentuan ini setiap orang yang menjalankansuatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan. (Suparni. 1995 : 51). Aspek/sarana administratif dapat bersifat represif oleh pengusaha terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan lingkungan administratif pada dasarnya bertujuan untuk mengakhiri secara langsung keadaan terlarang itu. penutupan dan uang paksa Kewajiban setiap orang seperti tersebut dalam Pasal 5 UU Lingkungan Hidup secara lebih khusus diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU Lingkungan Hidup. Pencabutan izin melalui proses : teguran. Kendala-kendala/hambatan inilah yang mengakibatkan lemahnya penegakan hukum lingkungan dari aspek hukum administratif. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruiksteling Van Een Toestel) 6. Penutupan tempat usaha (Sluiting Van Een Inrichting) 5. kepolisian.

(Silalahi. bentuk kesalahan pelaku dalam tindak pidana lingkungan dan pertanggungjawaban pidananya. 8 Tahun 1982 (KUHAP) yabg harus dipergunakan. Pembuktian tindak pidana lingkungan tidak dapat dipersamakan dengan pembuktian tindak pidana lainnya. 1995 : 53). (Silalahi.Rusaknya lingkungan hidup atau tercemarnya lingkungan hidup yang diatur dalam Undang-undang ini atau Undang-undang lain…. Aspek Pidana Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Pelaksanaan Studi AMDAL berhubungan pula dengan aspek hukum pidana. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian Salah satu upaya pencegahan pencemaran lingkungan diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU Perindustrian yang menetapkan bahwa “Setiap pendirian usaha industri baru maupun setiap perluasan wajib memperoleh izin usaha industri. 1995 : 59). dapat menyebabkan kasus yang diselesaikan melalui proses pengadilan pidana. Karena pelaksanaan studi ini dengan cara yang tidak sebagaiman mestinya. Dalam UU Lingkungan Hidup terdapat ketentuan prosedural. c) Undang-Undang No. karene pPAsal 22 PP AMDAAAL tidak mengatur secara jelas dan rinci prosedur peran serta masyarakat tersebut. yaitu akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak.bertanggung jawab. 1992 : 225). pengertian “Delik Formil” adalah delik yang semata-mata melakukan perbuatan tertentu. Pengaturan tindak pidana lingkungan tersebut bersifat substansial. sebab tidak secara tegas menyebutkan subjek hukum. maka dapat ditafsirkan bahwa delik ini adalah Delik Materiil. Apabila disimak lebih lanjut pada kutipan kalimat “…. misalnya pembunuhan ada akibat matinya korban. diatur dalam Pasal 183 sampai 189 KUHAP. perlu diketengahkan konsep-konsep hukum pidana yang meliputi : perumusan tindak pidana (delik) lingkungan. misalnya karena pertimbangan untuk menghemat waktu. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menyampaikan saran dan pemikirannya. baku mutu lungkungan. (Silalahi. Menyangkut masalah siapa yang menjadi subyek tindak pidana lingkungan dapat dilihat dari isi Pasal 22 UU Lingkungan Hidup yang dirumuskan dalam kata-kata “barang siapa” yang lebih cenderung menunjuk pada subjek hukum orang perorang. misalnya pada Undang-undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Karena ketentuan-ketentuan prosedural tersebut tidak terdapat dalam UU Lingkungan Hidup. Maka subjek tindak pidana lingkungan dapat pula berupa badan hukum. Khusus mengenai pembuktian. perizinan lingkungan. Di dalam pembuktian tindak pidana lingkungan melalui pendekatan terpadu lintas disiplin dan diperlukan kemampuan menterjemahkan fakta-fakta hukum. ketentuan Pasal 22 ayat (3) tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut dalam bentuk prosedur peran serta masyarakat. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan sebagainya. (Husein. biaya dan tenaga akan tetapi kemudian ternyata kegiatan itu menimbulkan pencemaran dan atau perusakan. Bila dikaitkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 22 UU Lingkungan Hidup. Undangundang No. seperti pada Pasal 160 (menghasut). Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan pidana Pasal 22 UU Lingkungan hidup berlaku pula pada badan hukum yang melakukan perusakan atau pencemaran lingkungan hidup. diancam dengan pidana. maka ketentuan-ketentuan prosedural terdapat dalam Uu N0. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri” Dari pembahasan tentang aspek hukum administrasi dalam rangka penegakan hukum lingkungan nampak bahwa bidang hukum administrasi belum sepenuhnya mendapat pembahasan dan pengembangan antara lain seperti : peraturan pelaksanaan mengenai pencemaran lingkungan dalam berbagai instrumen hukum seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). 1995 : 59). Sedangkan delik materiil adalh delik yang dengan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Pasal 362 (Pencurian).. yang mengatur tata cara penanganan suatu kasus tindak pidana lingkungan. yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No.”. Namun dari aspel hukum lingkungan administarttif. maka terciptalah delik. sebagai kelemahan yang memerlukan penyempurnaan. . Untuk memahami sejauh mana kaitan studi AMDAL dengan hukum pidana. disamping itu merumuskan pula tindak tindak pidana (delik) lingkungan berupa pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. UU Lingkungan Hidup hanya menggariskan pokok-pokok pengelolaan lingkungan menurut garis besarnya. Menurut Andi Hamzah.

Soerinegara Idealnya pendugaan pengaruh terhadap lingkungan harus dilakukan pada waktu sebelum ada proyek pada waktu berjalan .2. (Thohir. Menadjad Darusaputra Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari pengaruh dari suatu kegiatan manusia. Aktivitas dapat pula dilakukan manusia. Prof. Kaslan A. misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan penyemprotan dengan . c. 27 Tahun 1999 Konsep dasar analisis mengenai dampak lingkungan dapat dilihat dari pengertian di bawah ini : 1. misalnya senburan asap beracun dari kawah gunung Dieng adalah aktivitas alam yang bersifat kimia. Setelah Berlakunya Peraturan Pemerintah No. baik kimia. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah. Otto Soemarwoto Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diartikan sebagai suatu aktivitas ilmiah. 23 Tahun 1997 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidupa adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelanggaraan usaha dan/atau kegiatan. Peraturan Pemerintah No. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 4. 2. Tidak semua rencana kegiatan itu wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Prof. (Suparni. Beberapa perumusan yaitu : a. Undang-Undang No. Thohir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah cara pengukuran dampak lingkungan proyek atau pengukuran perbedaan kondisi lingkungan yang diperkirakan akan tanpa adanya proyek dan yang diperkirakan akan adanya proyek. jadi pendugaan atau analisis pengaruh terhadap lingkungan adalah suatu kegiatan monitoring terus-menerus. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 5. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Merupakan bagian dari proses percanaan dan intsrumennya dari pengambilan keputusan. (Pasal 1 angka 21) b. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Menurut Ir. Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemareoto dampak adalah : Suatu kegiatan atau perubahab yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. I. (Pasal 1 angka 1) Disamping beberapa pengertian di atas dalam Anlisis Mengenai Dampak Liungkungan merupakan keseluruhan proyek yang meliputi penyusunan berturut-turut : 1. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) 2. terapan yang ditujukan mengidentifikasikan. fisik. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan 3. d. gempa bumi adalaha aktivitas fisik. 1992 : 95) 1. (Suparni. maupun biologi. 1992 : 95) Dari pengertian di atas dapt kita simpulkan dua hal. 1985 : 288) 3. khususnya suatu proyek terhadap lingkungan secara utuh dan menyeluruh baik pengaruh yang positif maupun negatif dengan tujuan untuk terakhirnya memperkecil pengaruh negatifnya dan memperbesar pengaruf positifnya terhadap lingkungan. yaitu : 1. (Abdurrahman. yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hanyalah rencana kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. Prof. 27 Tahun 1999 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi prosrs pengambilan keputusan tentang penyelenggaran usaha dan/atau kegiatan. dan pertumbuhan eceng gondok merupakan aktivitas biologi. 1986 : 81-81) 2. pada waktu proyek selesai dan beberapa waktu sesudah proyek selesai. menafsirkan dan memberi informasi tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan terhadap kehidupan manusia dalam ekosistem yang bermanfaat bagi perjuangan hidup manusia.

yaitu : a. Sedangkan mengenai baku mutu lingkungan disebutkan dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-undang No. (Soemarwoto. misalnya kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Di samping iti pembangunan juga menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Berdasarkan tingkat perkembangan ilmu dan teknologi diidentifikasikan ada sembilan perkembangan kategori kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan dampak lingkungan hidup. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. f. Mengenai daya dukung lingkungan dapat dilihat pada Pasal 1 angka 8 Undang-undang No. 8. Dalam konteks Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 23 Tahun 1997 yaitu ukuran batas atau kadar makhluk hidup . 3. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irrreversible) dampak. Penerapan teknologi untuk mempengaruhi lingkungan hidup. e. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. lingkungan buatan. misalnya introduksi suatu jenis tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. kerusakan kawasan konservasi alam. serta lingkungan sosial dan budaya. misalnya penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Kedua pasal itu menentukan jika terjadi pencemaran. Diintegrasikan ketiga aspek tadi . 1990 : 43) Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran pembangunan yang diharapkan . 5. Selain menimbulkan dampak fisik pembangunan juga menimbulkan dampak nonfisik yaitu sosial budaya dan kesehatan masyarakat. 23 Tahun 1997 yaitu daya dukung lingkunga hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak penting itu dapat kita lihat dari penjelasan Pasal 15 Undang-Undang No. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. misalnya pembuatan jalan. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. 27 Tahun 1999. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. 7. c. 6. Kategori tersebut dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) dari penjelasan Peraturan Pemerintah N0. misalnya kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. 1. penelitian dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. b. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. bendungan/dam. 23 Tahun 1997 jo Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. misalnya pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. atau pencemaran benda cagar budaya. Luas wilayah penyebaran dampak. yaitu . d. 4. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak terbarui.pestisida. Sifat kumulatif dampak. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. misalnya penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian perubahan. misalnya kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. 2. jenis hewan dan jasad renik. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. atau komponen yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. 9. sebagai batas tolak ukur dari suatu akibat pembangunan. Untukitulah seharusnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyangkut ketiga aspek tersebut diatas. 27 Tahun 1999. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat mempengaruhi lingkungan alam. zat energi.

Pemrakarsa Menurut Peraturan pemerintah No. Masyarakat Dilaksanakannya suatu rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan biofisik dan lingkungan sosial. sedangkan yang dimaksud dengan badan yaitu meliputi badan-badan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Sebab para pihak inilah yang akan menentukan pelaksanaan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. (Suparni. sedangkan komisi daerah dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I (Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 2. Adapun yang dimaksudkan dengan orang adalah adalah orang seorang .kedalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih menguntungkan daripada dipisahkan. Pemrakarsa 2. 27 Tahun 1999 berlaku terhadap rencana kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadaap negara maupun swasta. Dalam penyelenggaraan tugasnya. Angaran Pendapat dan Belanja Negara. yang izin usaha dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat (Suparni. baik komisi pusat maupun daerah masing-masing dibantu oleh tim teknis yang terdiri dari lulisan kursur atau pakar pembantuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. yaitu komisi pusat dan komisi daerah. Sedangkan instansi yang membidangi usaha dana atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan atau kegiatan dimaksud. yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. 3.2. Masyarakat Ad. menentukan pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Ad. Dengan demikian bagi pemrakarsa proyek harus memakai ketiga dampak tersebut agar dalam pelaksanaanya nanti tidak menimbulkan kerugian bagi proyeknya. Oleh karena itu peranan para pihak sangat berpengaruh berhasil tidaknya pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. apabila penyelenggaraan rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah. Ada tiga Aspek yang berkepentingan didalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yaitu: 1. 2. Sedangkan tugas menilai yang dilakukan oleh komisi daerah meliputi menilai dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Aparatur Pemerintah Aparatur pemerintah yang berkepentingan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat dibedakan antara instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. Untuk menilai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dibentuk komisi. Yang dimaksudkan dengan instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan ditingkat pusat berada pada kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan ditingkat daerah pada Gubernur (Pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah No. kelompok orang. 27 Tahun 1999) Tugas menilai yang dilakukan oleh komisi pusat meliputi dan menetapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dari rencana kegiatan yang dibiayai oleh : 1. Anggaran Pendapat dan Belanja Negara sejauh mengenai kegiatan yang bersangkutan. Rumusan pengertian yang demikian memberikan penegasanbahwa Peraturan Pemerintah No. 1992 : 107). Pihak-pihak yang berkepentingan Pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait dalam analisis mengenai dampak lingkungan sangat penting sekali.3. Ad. Swasta. 27 Tahun 1999 Pasal 1 angka 7. Komisi pusat dibentuk oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Swasta. 1. atau badan-badan hukum. Adanya dampak sosial yang ditimbulkan oleh . 1992 : 104). 27 Tahun 1999). Angaran Pendapat dan Belanja Negara 2. Aparatur Pemerintah 3.

Ad. Diikutsertakannya warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan saran. tetapi belum tentu sesuai untuk tujuan lain. misalnya kecil. Pengelolaan Lingkungan 5. Metode informal dilakukan berdasarkan pengalaman 2. sedang atau besar. b. Apbila proyek mempunyai dampak. Metode ekonomi yaitu metode yang diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang. maka dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.1. Ad. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah : 1.2. Metode formal dilakukan dengan menggunakan : a. Ad. Model fisik dilakukan dengan menggunakan skala tertentu. Penapisan 2. Metode formal terbagi dua. Diikutsertakannya warga masyarakat akan memperbesar kesediaan masyarakat menerima keputusan dan pada gilirannya akan memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa lingkungan. b. Diikutsertakannya warga masyarakat hendaknya dilakukan sejak awal perencanaan suatu kegiatan proyek tertentu. 2.3. yaitu : a. d. Metode yang sesuai dengan pelingkupan adalah metode identifikasi hal penting. dalam kaitannya dengan pelaksanaan keggiatan tersebut. telaah literatur dan wawancara secara kuesioner. Penapisan Tujuan penapisan adalah untuk memilih rencana pembangunan yang harus dilengkapi dengan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. c. Metode yang sesuai dengan prakiraan dampak yaitu : 1. Ad. Masing-masing tujuan itu walaupun baik untik suatu tujuan tertentu. Model matematika dengan mengambil model yang khusus dikembangkan dalam penelitian analisis dampak lingkungan. Prakiraan dan Evaluasi Dampak Prakiraan dapat ditentukan dari sebelum suatu perusahaan didirikan dan sesudah perusahaan didirikan.pelaksanaan suatu kegiatan mempunyai arti semakin pentingnya peran serta masyarakat. Model prakiraan cepat yaitu dengan mengambil data yang sudah tersedia oleh badan lain. partisipasi observasi dan metode delphi yaitu konferensi jarak hauh dengan menggunakan kuisioner dengan para ahli analisis mengenai lingkungan. Pelaporan (Soemarwoto. Metode ini diperoleh melalui telaah uraian proyek dan penelitian lapangan di daerah proyek. jika tidak maka tidak perlu dibuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4. Pelingkupan 3. Metode informal yaitu dengan memberi nilai verbal. Metode pembobotan yaitu setiap kegiatan untuk mencari data diberi data tertentu. Metode Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Menurut Otto Soemarwoto dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan terdiri dari : 1. Prakiraan dan Evaluasi Dampak 4. Pelingkupan Tujuan pelingkupan adalah untuk membatasi penelitian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada dampak pentinga saja. maka dapt dicapai suatu keputusan yang optimal. Metode Penapisan Satu Langkah Dalam metode ini hanya melihat daftar positif proyek sebagai kriteria. Karena itu warga masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban perlu diikutsertakan dalam proses penelitian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). dalam beberapa langkah yaitu dengan daftar positif dan penyajian informasi lingkungan. Hal ini menyangkut dampak positif dan negatif. Pengelolaan Lingkungan . misalnya dengan komputer. Model eksperimen yaitu dengan cara melakukan eksperimen di lapangan atau di laboratarium. Sedangkan untuk metode Evaluasi Dampak dapat dilakukan dengan cara : 1. 1990 : 91-99) Setiap langkah-langkah itu memiliki tijian yang ingin dicapai. 2. Metode Penapisan Bertahap Dalam metide ini dilakukan secara bertahap.

(2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesaui dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. apabila : 1. Pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Menurut Pasal 27 PP No. Pelaporan Hasil penelitian di atas pada akhirnya dibuat hasil penelitian dalam bentuk laporan. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. . Pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong.5. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mandasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Jadi jelas untuk dinyatakan batalnya keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Menurut Pasal 26 PP No. Analisis dampak lingkungan hidup.Metode yang sesuai dengan pengelolaan lingkungan adalah metode prakiraan atau dikembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. yaitu : Menurut Pasal 25 PP No. 27 Tahun 1999. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan Ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ad. Kadaluarsa dan Batalnya Keputusan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Kadaluarsa keputusan persetujuan Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. 2. atau b. 2. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemrakarsa wajib membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Suatu tuntutan dalam membuat penulisan laporan adalah untuk membuat bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesimpulan. Batalnya Keputusan Persetujuan Analisis Dampak Lingkungan Menurut Peraturan Pemerintah No. karena itu dalam laporan ini terdapat multi disiplin dalam pembuatan laporan penelitian. Menurut Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 adalah : (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau bahan penolong. apabila renmcana dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahunsejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a.

KEP-13/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL. dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No. Adapun keputusan-keputusan sebagai berikut : 1. Dengan sdiundangkannya Undang-undang No. sehari menjelang efektif berlakunya Peraturan Pemerintah N0. 5. 3. 4. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . KEP-53//MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi. 3. Demikian juga halnya dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka perlu dilakukan penyesuaian terhadapPeraturan Pemerintah No. KEP-15/MENKLH/3/1994 tentang Pembentukan Komisis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Terpadu. KEP-14/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Upaya Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. oleh karena itu Peraturan Pemerintah No. Oleh karena itu perubahan lingkungan ini menyangkut perubahan positif atau perubahan negatif bagi kegiatan pembangunan. 4 Tahun 1982 yang pelaksanaannya diatur pada Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tersebut di atas maka telah ditetapkan lima Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tanggal 4 Juni 1987. 23 Tahun 1997 tentang Pedoman Lingkungan Hidup. 27 tahun 1999 yang mulai berlaku efektif tanggal 18 Nopember 2000. 2. Peraturan perudang-undangan tersebut di atas sekarang tidak berlaku lagi semenjak dikeluarkannya Undang-undang yang baru berupa Undang-undang No. KEP-52/MENKLH/6/1987 tentang Batas Waktu Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dasar Hukum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dasar hukum untuk melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalh Ketentuan Pasal 16 Undang-undang No. KEP-12/MENKLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 4 Tahun 1982 yang isinya sebagai berikut : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. 51 Tahun 1993 tentang Amdal. Adapun rumusan Pasal 16 Undang-undang No. KEP/11/MENKLH/6/1994 tentang Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. KEP-49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. 29 Tahun 1986 telah dicabut dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah No51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada tanggal 23 Oktober 1993. KEP-49 sampai dengan KEP-53 tersebut di atas. 6. 51 tahun 1993 dicabur. KEP-10/MENKLH/3/1994 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 5. 29 Tahun 1986. Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah No. Adapun Keenam Keputusan Menteri Neegara Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut : 1. 51 Tahun 1993 telah ditetapkan enam (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 Maret 1994 dan satu keputusan Kepala BAPEDAAAl pada tanggal 18 Maret 1994. Terjadinya peribahan lingkungan hidup yang sangat mendasar sebagai akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 4. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. KEP-51/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penyusunan Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan.3. C. B.

Sebagian besar laporan analisis dampak lingkungan mengandung banyak sekali data-data tetapi masih banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. Disalahgunakannya analisis mengenai dampak lingkungan untuk membenarkannya diadakannya proyek sehingga membuat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. Beberapa sebab tidak dipergunakannya laporan-laporan analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. e. c. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan. (Suparni.Dalam penerapannya analsisi mengenai dampak lingkungan tercermin dalam beberapa prinsip yang dianut : a. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dilakukan terlambat sehungga tidak dapat lagi memberikan masukan untuk pengambilan suatu keputusan. 1992 : 113). h. Akibat Pembuatan Analisis Dampak Lingkungan . jika perlu dengan bantuan pakar. (Soemarwoto. 1990 : 79-80). baik itu pemantauan terhadap pelaksanaan proyek maupun pada tahap operasional proyek. bahwa dokumen formal saja yakin sebagai atau sekedar untuk memenuhi ketentuan undang-undang saja. Prosedur mengenai dampak lingkungan harus mencakup tata cara penelitian yang tidak memihak. 1. c. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan analisis dampak lingkungan yang telah disetujui haruslah menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang termuat dalam rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan . c. Adanya kemampuan pada badan pemerintah yang berwenang untuk memeriksa laporan analisis dampak lingkungan. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas sehingga para perencanaan dapat menggunakannya. d. b. Tidak adanya pemantauan. d. Analisis mengenai dampak lingkungan bersifat terbuka kecuali yang menyangkut rahasia negara. b. 1990 : 78-79) Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menaikan efektifitas analisis mengenai dampak lingkungan adalah : a. f. Menumbuhkan pengertian di kalangan yang akan merencanakan dan pemrakarsa proyek bahwa analisis mengenai dampak lingkungan bukanlah alat-alat untuk mengahambat pembangunan. i. Kriteria dan prosedur untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan secara jelas dirumuskan dalam peraturan perundangundangan. melainkan sebaliknya analisis dampak lingkungan adalah untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan. Penerapan analisis mengenai dampak lingkunagn dilakukan dalam rangka kebijakan nasional. f. 2. b. Pelaksanaan rencana kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan telah disetujui harus dipandang atau dipantau terus menerus. g. pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan secara jelas. e. Suatu rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup dapat dilaksanakannya setelah dipertimbangkannya dampak terhadap lingkungan hidup. (Soemarwoto. Keputusan tentang analisis mengenai dampak penting terhadap lingkungan harus dilakukan secara tertulis dengan mengemukakan pertimbangan pengambilan suatu keputusan. Untuk menerapkan analisis mengenai dampak lingkungan diperlukan aparat memadai sehingga di dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kesalahan. Efektifitas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan dewasa ini belum dapat kita terapkan sebagai alat perencanaan. hal ini berguna untuk adanya kepastian hukum. Agar perencanaan pembangunan dan pelaksanaan proyek dapat menggunakan hasil telaah analisis dampak lingkungan haruslah ditulis dengan jelas dan dengan bahasa yang dapat dimengertioleh perencanaan dan pelaksanaan tersebut.

Hal ini di dalam hukum perjanjian dinamakan ingkar janji (wanprestasi). Disini pihak konsultan bertugas untuk membuat atau menyusun analisis dampak lingkungan. Apabhila seorang konsultan telah melakukan kesalahan di atas maka dikatakan konsultan telah melakukan prestasi yang bukan seharusnya ia lakukan. baik karena kesengajaan atau kelalaiannya. Berdasarkan uraian kerugian atas seorang konsultan harus mengganti semua kerugianj atas perbuatan baik itu karena kesengajaan atau karena kelalaian sehungga pemilik proyek dapat dibenarkan menurut hukum myang berlaku atas tuntutan ganti ruginya . Dalam membuat analisis dampak lingkungan seorang konsultan harus bertanggung jawab atas semua data yang dibuatnya. sedangkan pemilik proyek sebagai pihak yang mempunyai rencan kegiatan pembuatan analisis dampak lingkungan sehubungan dengan proyek tersebut mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. (Pasal 1830 BW). Terhadap data yang sedemikian seorang konsultan harus bertanggung jawab dan memikul atas semua kerugian dari pemilik proyek.Seperti kita ketahui bahwa adanya pembuatan analisis dampak lingkungan karena adanya perjanjian antara konsultan dengan pemrakarsa atau pemilik proyek. Disini konsultan tidak membuat data yang sebanarnya akibatnya akan menimbulakan data fiktifd.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->