P. 1
Kedudukan Sumber Belajar Dalam Proses Pembelajaran

Kedudukan Sumber Belajar Dalam Proses Pembelajaran

|Views: 41|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Kedudukan Sumber Belajar Dalam Proses Pembelajaran

Senin 30 May 2011 10:16 AM Alim Sumarno, M.Pd Dari sudut kelembagaan kita mengenal adanya penyelenggaraan Pendidikan melalui Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah. Apapun namanya dan di manapun kegiatan belajar mengajar dilakukan, kegiatan itu harus dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang terdapat di mana-mana baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk sarana ataupun prasarana. Kegiatan proses belajar mengajar memerlukan interaksi dengan sumber belajar yang dapat digunakan untuk menyediakan fasilitas belajar. Agar diperoleh hasil yang maksimal, maka kadar itu harus tinggi. Untuk memperoleh interaksi yang tinggi, maka proses interaksi perlu dikembangkan secara sistematik. Begitu pula sumber belajar perlu dikembangkan dan dikelola secara baik dan fungsional.

Di mana-mana orang dapat belajar, dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sebab sumber belajar ada di mana-mana, baik berupa manusia maupun bukan manusia, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar. Oleh AECT disebutkan pula bahwa dalam kegiatan instruksional (PBM), sumber belajar dapat berubah menjadi komponen instruksional. Dan uraian tersebut jelas bahwa kegiatan belajar adalah pembelajaran yang penting selalu ada, dan yang dapat membantu pemecahan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran.

Dari uraian di atas tampak bahwa pola-pola pembelajaran yang memanfaatkan sumber belajar cukup banyak antara lain sebagai berikut : Gambar1 Pembelajaran Tradisional (Morris, 1963, hal. 11) Tujuan ----> Penetapan isi & Metoda ----> Guru ----> Siswa

Dalam pola ini (gambar 1) guru yang brtindak selaku komponen sistem instruksional, merupakan satu-satunya sumber. Gambar2 Pembelajaran Tradisional (Morris, 1963, hal. 11) Tujuan ----> Penetapan isi & Metoda ----> Guru dengan media ----> Siswa

Pola ke dua ini (gambar 2) guru dengan alat bantu audio visual (media) merupakan sumber belajar untuk membantu kegiatan Pembelajaran. Pola ini masih memandang guru sebagai komponen sistem instruksional yang utama, dengan sumber belajar lain (seperti : Bahan pelajaran, Perangkat keras, Tehnik, Latar kegiatan belajar) yang dipergunakan sebagai tambahan. Morris menyebut pola ini “Guru dengan Media”. Gambar 3 Fungsi Media No. 1 Guru dengan Media (Morris, 1963, hal. 11) ----> Media ----> Tujuan ----> Penetapan isi & Metoda <---Guru <---Siswa

Pola yang ke tiga (gambar 3) mengandung pemanfaatan sistem instruksional yang lengkap, meliputi pembelajaran bermedia dimana guru terlibat dalam merancang dan menilai serta menyeleksi, maupun berpran dalam fungsi pemanfaatan untuk hal-hal yang belum tercakup dalam sistem instruksional. Sebagian besar proses pembelajaran diberikan melalui sistem instruksional yang telah dirancang sebelumnya, dan terdiri dari komponen Sistem Instruksional yang bukan manusia (Bahan, Peralatan, Tehnik, Latar). Gambar 4 Fungsi Media No. 3 Pembelajaran Bermedia(Morris, 1963, hal. 11) Tujuan ----> Penetapan isi & Metoda ----> Media ----> Siswa

Pola instruksional ke empat (gambar 4) meliputi penggunaan sistem instruksional lengkap yang hanya terdiri dari pembelajaran bermedia, dimana guru tidak berperan langsung. Pendekatan “Media saja”. Gambar Sistem Instruksional (Morris, 1963, hal. 5. 11)

Kombinasi berbagai pola instruksional dasar tersebut dapat ditunjukkan dengan diagram Morris (Gambar 5.)

Heinich (1970, hal. 147) mengajukan “Model tentang Paradigma Pengelolaan Instruksional” (Gambar 6) yang sejalan dengan ringkasan diagram Morris, bedanya Heinich mewujudkan dengan jelas hubungan terkendali antara guru kelas dengan huru bermedia. Heinich memandang kegiatan kelas yang tradisional sebagai “guru dengan mediaí”, yang meliputi apa yang disebut oleh Morris yaitu: “Pembelajaran tradisionil” dan “guru dengan media” (gambar 1 dan 2). Heinich lebih lnjut menekankan bahwa dalam kegiatan ini guru kelas menggunakan semua media, dan keputusan untuk menggunakan/ tidak sepenuhnya ada dalam kewenangannya. Pola hubungan ke dua Heinich menunjukkan “Pembagian tanggung jawab” antara guru kelas dan guru bermedia.

Pengaturan ini memungkinkan sistem yang bersifat adaptif mskipun mempertahankan kesungguhan ”tentu pengajaran dalam arti luas” melalui media. Guru bermedia di bagian tengah mencapai siswa tanpa melalui guru kelas. Dengan kata lain siswa menggunakan sebagian waktunya dengan guru bermedia dan selebihnya dengan guru kelas bukan guru kelas yang memutuskan apakah siswa perlu belajar dari guru bermedia/ tidak. Keputusan ditetapkan pada tingkat perencanaan kurikulum.

Pola ke tiga oleh Heinich menunjukkan dimana seluruh pembelajaran dilakukan oleh guru bermedia. Pola ini mirip dengan pola “media saja” (gambar 4). Dalam pola ini guru kelas sebagai komponen sistem instruksional insani, tidak terlihat dalam fungsi pemanfaatan. Guru bermedia tidak mencapai siswa melalui guru kelas dan tidak pula berbagi tanggung jawab dengan guru kelas (Heinich, 1970, hal. 148).

Dari uraian di atas, tampak bahwa pemanfaatan sumber belajar harus berdasar pada pola-pola pembelajaran yang saat ini. Semua pola tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu belajar dengan mempergunakan sarana yang berupa sumber belajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->