P. 1
2. PENGEMBG SOSIAL & EMOSIONAL

2. PENGEMBG SOSIAL & EMOSIONAL

|Views: 1,937|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

MODUL II

PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI

Penulis:

Dra. MEUTHIA ULFAH, M.Si

PRODI PG-PAUD FIP UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2011
KATA PENGANTAR
1

Puji

syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang melimpahkan rahmat dan

hidayahNya, sehingga penulisan modul diklat Sertifikasi Guru Dalam Jabatan untuk PAUD dapat diselesaikan. Modul ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peserta diklat dalam memahami dan menelaah kembali pengembangan SOSIAL DAN EMOSIONAL Anak Usia Dini. Tentu saja modul ini masih belum sempurna, sehingga saran dan kritik dari berbagai pihak akan sangat ditunggu demi sempurnanya diklat ini. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Rektor Universitas Negeri Surabaya dan jajarannya yang telah memfasilitasi penulisan modul ini. 2. Panitia Sertifikasi Guru dan Koordinator Divisi Pendidikan dan Pelatihan yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk penyusunan modul ini. 3. Semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan modul ini. Semoga amal baik semua pihak diterima oleh Allah SWT. Semoga pula modul ini bermanfaat bagi seluruh peserta diklat.

Surabaya, Juni 2011 Penulis,

ii

2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ KATA PENGANTAR ......................................................................................... DAFTAR ISI........................................................................................................ .................................................................................................................iii KEGIATAN BELAJAR I PERKEMBANGAN EMOSI............................................................................... A...........................................................PENGERTIAN EMOSI ...................................................................................................1 B...........................................................TEORI-TEORI EMOSI ...................................................................................................1 C..............................................................PENGARUH EMOSI ...................................................................................................2 D................................................PENGELOMPOKAN EMOSI ...................................................................................................3 E.......................................POLA PERKEMBANGAN EMOSI ...................................................................................................4 F.....................KONDISI YANG MEMPENGARUHI EMOSI ...................................................................................................5 G.............................................KECERDASAN EMOSIONAL ...................................................................................................8 H................................METODE PENGEMBANGAN EMOSI .................................................................................................10 I...................................PERANAN GURU ANAK USIA DINI .................................................................................................15 RANGKUMAN ............................................................................... LATIHAN ........................................................................................ KEGIATAN BELAJAR II PERKEMBANGAN SOSIAL.............................................................................. 3

i ii

1

16 16

19

A.................................MAKNA PERKEMBANGAN SOSIAL .................................................................................................19 B. PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK USIA DINI.................... C. POLA PERILAKU SOSIAL....................................................... D. POLA PERILAKU YANG TIDAK SOSIAL............................. E. PERANAN GURU ANAK USIA DINI...................................... RANGKUMAN ............................................................................... LATIHAN......................................................................................... 20 22 23 24 25 26

iii

4

KEGIATAN BELAJAR III PENGEMBANGAN EMOSI SOSIAL ANAK MELALUI PENDEKATAN TERPADU................................................................................ A. BATASAN DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN .......................................................TERPADU BERBASIS TEMA .......................................................................................................28 B. PENGEMBANGAN EMOSI SOSIAL BERBASIS TEMA...... RANGKUMAN ............................................................................... LATIHAN......................................................................................... KEGIATAN BELAJAR IV STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN .......................... DAFTAR PUSTAKA 38 34 36 36 28

5 iviv

KEGIATAN BELAJAR I PERKEMBANGAN EMOSI
TUJUAN 1. Menjelaskan pengertian emosi 2. Menjelaskan teori-teori perkembangan 3. Memperjelas pengaruh emosi terhadap perilaku dari perubahan fisik 4. Mengidentifikasi pengelompokan emosi 5. Menjelaskan pola perkembangan emosi 6. Menyebutkan kondisi yang mempengaruhi perkembangan emosi 7. Mengidentifikasi kecerdasan emosional 8. Menerapkan metode pengembangan emosi 9. Menjelaskan peranan guru anak usia dini dalam mengembangkan emosi A. PENGERTIAN EMOSI Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pads tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang lugs (mendalam). Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2002) menjelaskan bahwa emosi anak bertalian dengan perasaan fisik, dengan kualitas perasaan senang (like) dan tidak senang (dislike) jasmaniah. B. TEORI-TEORI EMOSI Canon Bard merumuskan teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian pada proses syaraf. Suatu situasi yang sating mempengaruhi antara thalamus (pusat penghubung antara bagian bawah otak dengan susunan urat syaraf di satu pihak dan alat keseimbangan atau cerebellum dengan Creblar Cortex (bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses terjadinya pada jiwa taraf tinggi, seperti berpikir). Menurut teori James dan Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh

1

perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya, menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira, lari itu karena takut, dan berkelahi itu karena marah. Lindsley mengemukakan teorinya yang disebut “Activation Theory” (teori penggerakan). Menurut teori ini emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak. Contohnya, apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjarkelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi. John B. Waston mengemukakan bahwa ada tiga pola dasar emosi, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Ketiga jenis emosi tersebut menunjukkan respons tertentu pada stimulus tertentu pula. C. PENGARUH EMOSI TERHADAP PERILAKU DAN PERUBAHAN FISIK INDIVIDU Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya, gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya. Di bawah ini ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya sebagai berikut : 1. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai. 2. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi). 3. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara. 4. Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati. 5. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

2

Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat dijelaskan dengan gambaran sebagai berikut : Canon telah mengadakan penelitian dengan sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. la melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencerna makanan. Kemudian dibawa ke depannya seekor anjing yang besar dan Was / galak. Pada saat itu, Canon melihat bahwa proses mencerna terhenti, seketika, dan pembuluh darah di bagian lambung mengkerut, di samping, itu tekanan darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya keringat dan kekurangan air liur. TABEL 1 JENIS-JENIS EMOSI DAN DAMPAKNYA PADA PERUBAHAN FISIK JENIS EMOSI 1. Terpesona 2. Marah 3. Terkejut 4. Kecewa 5. Sakit / marah 6. Takut / tegang 7. Takut 8. Tegang PERUBAHAN FISIK 1. Reaksi elektris pada kulit 2. Peredaran darah bertambah cepat 3. Denyut jantung bertambah cepat 4. Bernapas panjang 5. Pupil mata membesar 6. Air liur mengering 7. Berdiri bulu roma 8. Terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)
Sumber : Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal. 116

D. PENGELOMPOKAN EMOSI Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis) 1. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti : rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar. 2. Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, diantaranya adalah : a) Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk : (a) rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, (b) rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, (c) rasa puas karena dapat m8nyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.

3

b) Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti (a) rasa solidaritas, (b) persaudaraan, (c) simpati, (d) kasih sayang dan sebagainya. c) Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya, (a) rasa tanggungjawab (responsibility), (b) rasa bersalah apabila melanggar norma, (c) rasa tenteram dalam menaati norma. d) Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian. e) Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Religius”, yaitu sebagai makhluk yang berke-Tuhan-an atau makhluk beragama E. POLA PERKEMBANGAN EMOSI Hurlock (1993) menjelaskan kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional ialah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebihlebihan ini tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat lahir, bayi tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik. Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba, sekonyong-konyong membuat suara keras, merintangi gerakan bayi, membiarkan bayi tetap mengenakan popok yang basah, dan menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya. Rangsangan semacam itu menyebabkan timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi yang menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga dapat diperoleh dengan cara mengayun-ayunkannya, menepuk-nepuknya, memberikan kehangatan, dan membopongnya 4

dengan mesra. Rasa senang pada bayi dapat terlihat dari relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan dari suara yang menyenangkan berapa mendekut dan mendeguk. Bahkan sebelum bayi berusia satu tahun, ekspresi emosional diketahui serupa dengan ekspresi pada orang dewasa. Lebih jauh lagi, bayi menunjukkan berbagai macam reaksi emosional yang semakin banyak - antara lain kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan kebahagiaan. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan cara memberikan berbagai macam rangsangan yang meliputi manusia serta obyek dan situasi yang tidak efektif bagi bayi yang lebih muda. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka menjadi kurang menyebar, kurang sebaran, dan lebih dapat dibedakan. Sebagai contoh, anak yang lebih muda memperlihatkan ketidaksenangan semata-mata hanya dengan menjerit dan menangis. Kemudian reaksi mereka semakin bertambah yang meliputi perlawanan, melemparkan benda, mengejangkan tubuh, lari menghindar, bersembunyi, dan mengeluarkan kata-kata. Dengan bertambahnya umur, maka reaksi yang berwujud bahasa meningkat, sedangkan reaksi gerak otot berkurang. F. KONDISI YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI Sejumlah studi tentang emosi anak telah menyingkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor kematangan (maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan adanya kematangan dan sistem endokrin. Kematangan dan belajar berjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi sehingga pada saatnya akan sulit untuk menentukan dampak relatifnya. Bukti tentang peran yang memainkan faktor kematangan dan faktor belajar dalam perkembangan emosi disajikan dibawah ini.

1. Peran Kematangan Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu 5

obyek. Demikian pula, kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian, anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat- sampai anak berusia 5 tahun, pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun, dan pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan, sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-anak. 2. Peran Belajar Kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak, mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.

6

Cara Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi a) Belajar Secara Coba dan Ralat Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali. b) Belajar dengan Cara Meniru Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap tegoran guru. Jika ia seorang anak yang populer di kalangan teman sebayanya, mereka juga akan ikut marah seperti guru tersebut. c) Belajar dengan cara mempersamakan diri Pelajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar menirukan yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya ; kedua ialah, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang. d) Belajar Melalui Pengkondisian Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman

7

untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka. e) Pelatihan Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak beraksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan. G. KECERDASAN EMOSIONAL (Emotional Intelligence) Berdasarkan pengamatan, banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena mereka memiliki kecerdasan emosional meskipun intelegensinya hanya pada tingkat rata -rata. Kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam pengembangannya karena mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu. Dalam hal ini, Daniel Goleman mengemukakan hasil survei terhadap para orangtua dan guru yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif. Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati. Secara jelasnya unsur-unsur kecerdasan emosional ini dapat disimak pada : Unsur-Unsur Kecerdasan Emosional ASPEK 1. Kesadaran Diri KARAKTERISTIK PERILAKU a) Mengenal dan merasakan emosi sendiri 8

b) Memahami penyebab perasaan yang timbul 2. Mengelola Emosi c) Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan a) Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik b) Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi c) Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain d) Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga e) Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa f) dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan 3. Memanfaatkan emosi secara a) Memiliki rasa tanggungjawab produktif b) Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan c) Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat 4. Empati implusif a) Mampu menerima sudut pandang orang lain b) Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap perasaan orang lain 5. Membina hubungan c) Mampu mendengarkan orang lain a) Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain b) Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain c) Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain d) Memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan teman sebaya e) Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain f) Memperhatikan kepentingan dengan kelompok 9 sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras

g) Bersikap senang berbagai rasa dan bekerja sama h) Bersikap demokratis dalam bergaul dengan orang lain H. METODE PENGEMBANGAN EMOSI Untuk membantu proses perkembangan emosi anak usia dini, seorang guru dapat melakukan beberapa metode pembelajaran berikut. 1. Bernyanyi dan Bermain Musik Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dikelilingi oleh musik yang beraneka ragam. Musik itu bisa berasal dan suara alam, binatang atau manusia. Kehidupan manusia tidak bisa lepas dan pengaruh musik karena dalam diri manusia sendiri pun memiliki sumber musik, seperti pita suara ataupun degup jantung yang mirip, seperti suara drum band. Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia. Oleh karena - itu, bermain musik bagi anak sangat penting dan memberikan pengaruh yang cukup kuat dalam pengembangan emosinya. Mahmud (I995) mengatakan bahwa musik dapat menimbulkan rasa kesatuan dan persamaan, rasa kebangsaan, rasa keagamaan, rasa kagum, rasa gembira, dan sebagainya. Musik dapat memberikan kepuasan rohaniah dan jasmaniah. Manfaat musik yang lain diantaranya adalah mendorong gerak pikir dan rasa, membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak. Musik menanamkan dalam jiwa manusia perasaan yang halus atau budi yang halus. Lebih lanjut Campbell (2001) mengatakan bahwa musik dapat mengangkat suasana jiwa seseorang karena melalui musik, kasih sayang serta doa di dalam diri seseorang dapat dibangkitkan. Musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan Ilahi, serta semesta alam, dan melakukan transformasi diri ke alam spiritual. 2. Bermain Peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan., tokoh-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada di sekitar anak. Melalui permainan ini daya imajinasi, kreativitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apa pun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, ia akan memerankan tokoh

10

ibunya, seperti yang biasa ia lihat. Namun, sebaliknya jika ia tidak menyukai tokoh tertentu, ia tidak akan pernah menghadirkan tokoh tersebut dalam permainannya.. Kalaupun ia memerankannya maka ia akan mengubah karakter tokoh tersebut menjadi sosok seorang yang diinginkannya. Dalam permainan ini anak dapat mengembangkan kemampuan sosial emosional. Anak dapat mengekspresikan berbagai macam emosinya tanpa takut, malu ataupun ditolak oleh lingkungannya. la juga dapat mengeluarkan emosinya yang terpendam karena tekanan sosial. Dalam bermain peran seorang anak dapat memainkan tokoh yang pemarah, baik hati, takut, penuh kasih, dan lain sebagainya. Dalam memahami drama anak-anak Harley (2000) mendefinisikan bermain peran sebagai berikut. “Bermain peran adalah bentuk permainan bebas dari anak-anak yang masih muda. Adalah salah satu cara bagi mereka untuk menelusuri dunianya, dengan meniru tindakan dan karakter dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Ini adalah ekspresi paling awal dari bentuk drama, namun tidak boleh disamakan dengan drama atau ditafsirkan sebagai penampilan. Drama peran adalah sangat sementara, hanya berlaku sesaat. Bisa berlangsung selama beberapa menit atau terus berlangsung untuk beberapa waktu. Bisa juga dimainkan berulang kali bila keterkaitan si anak cukup kuat, tetapi bila ini terjadi maka pengulangan tersebut bukanlah sebagai bentuk latihan. Melainkan adalah pengulangan pengalaman yang kreatif untuk kesenangan murni dalam melakukannya. la tidak memiliki awalan dan akhiran dan tidak memiliki perkembangan dalam arti drama”. 3. Permainan Hand Puppet Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia dini. Melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan dalam melakukannya walaupun ada juga anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan boneka tangannya. Namun, sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak temantemannya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan hand puppet ini untuk terapi. Dengan permainan ini, anak-anak yang mengalami permasalahan emosional pun dapat terbantu. 11

4. Latihan Relaksasi dam Meditasi dengan Musik Berdasarkan basil penelitian yang dilakukannya, Rachmawati (1998) mengatakan bahwa proses relaksasi yang dilakukan pada anak, cukup efektif untuk latihan pengenalan emosi diri mereka sendiri atau terbentuknya keterampilan emotional awareness. Selain itu, aktivitas meditatif dengan musik dapat membantu proses katarsis, di mana individu mengeluarkan emosi yang ditekan, menciptakan ketenangan, dan meningkatkan aktivitas pembelajaran pada anak proses pelaksanaannya cukup sederhana, guru hanya memilihkan musik lembut dan disukai anak dan meminta anak untuk mendengarkan dan hayatinya dengan saksama. Untuk membantu proses penghayatan, anak diminta untuk mengambil posisi yang paling nyaman, ia dapat duduk berbaring sambil memejamkan mata. Setelah proses mendengarkan lagu tadi, guru dapat melakukan wawancara, atau memberikan selembar kertas mengevaluasi apa yang anak rasakan selama ia mendengarkan lagu Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, jawaban anak sangat beragam, di antaranya ada yang merasa selalu takut, bosan, teringat kembali saat ditinggalkan ibunya ke luar negeri, dan lain sebagainya. 5. Bercerita Bercerita bagi seorang anak adalah sesuatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apa pun yang dia inginkan. Dalam cerita seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangannya, termasuk di dalamnya perkembangan SOSIAL DAN EMOSIONALnya. Selain melatih keterampilan membaca, bagi seorang anak bercerita merupakan suatu petualangan besar. A Great Adventure, sebagaimana yang dikemukakan Graves (dalam Solehuddin, 2000). Bercerita dapat juga berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan dan nilai pada anak. Cerita tentang kura-kura dan kelinci, beauty and the beast, cerita tentang para nabi, orang baik dan orang jahat, bawang putih-bawang merah, dan sejenisnya merupakan contoh lain dari penggunaan cerita untuk menanamkan nilai-nilai pada anak. 12

Selanjutnya Solehuddin (2000) dan Hidayat (2003) mengemukakan bahwa aktivitas bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat dengan anak. Melalui bercerita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat dan akrab, terlebih jika mereka dapat menyelingi atau melengkapi cerita-cerita itu dengan unsur humor. 6. Permainan Gerak dan Lagu Permainan gerak dan lagu merupakan aktivitas bermain musik sambil menari. Anak-anak sangat menyukai permainan ini terutama jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik pelaksanaannya sangat mudah, pertama kita dapat memutar musik klasik di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik kita matikan di tengah-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi Patung. Langkah berikutnya kita putar lagu yang kedua dan jenis musik dangdut, dan anak pun bergerak bebas sesuai irama dangdut. Gerakan anak-anak tentu akan berbeda dengan lagu pertama tadi permainan dilanjutkan dengan pola tersebut. Semakin beraneka macam warna musik, kegiatan akan semakin menyenangkan, dan emosi anak semakin terekspresikan. Di akhir, kegiatan, anak dapat merasakan perasaan yang lega. 7. Permainan Feeling Band Menurut Newcomb (1994) permainan feeling band atau band perasaan permainan membunyikan instrumen musik sesuai dengan ekspresi perasaan. Alat musik yang digunakan sebaiknya jenis perkusi sehingga anak dapat lebih mudah menggunakannya. Dalam permainan ini, guru berperan sebagai konduktor. la dapat meminta anak untuk membunyikan alat musiknya dengan ekspresi “marah”, “sedih”, “gembira”, dan lain sebagainya. Anak-anak akan mencoba memahami perasaan itu terlebih dahulu sebelum ia mengekspresikannya melalui alat musik yang dipegangnya. Dalam pelaksanaannya sangat mungkin ada anak yang mengalami kesulitan, namun karena kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok, ia akan belajar pada anak yang lain. Permainan ini sangat membantu anak untuk melakukan proses katarsis, menyadari perasaannya sendiri, dan bersenang-senang. 8. Demonstrasi 13

Demonstrasi adalah kegiatan memberi contoh atau memperlihatkan secara langsung dalam melakukan suatu perbuatan atau perilaku. Dalam demonstrasi terkandung unsur showing; doing and telling, yaitu perlihatkan, lakukan, dan katakan sebagaimana yang dipaparkan Moeslichatoen (1999). Berkenaan dengan pengembangan emosi, atau pembelajaran emosi dilakukan dengan cara dapat mendemonstrasikan mengekspresikan perasaan. Demonstrasi

dilakukan melalui kegiatan bercakap-cakap terlebih dahulu, kemudian anak diminta untuk mendemonstrasikan emosi yang diminta. Selain itu, bermain pantomim juga dapat dilakukan sebagai permainan untuk mendemonstrasikan ekspresi emosi anak. Contoh kegiatan lain, guru dapat pula meminta anak untuk mendemonstrasikan berbagai si emosi secara langsung. misalnya seorang guru mengajak anak-anak tertawa bersama-sama, kemudian menangis, marah, tersenyum, dan sebagainya. Tujuan penerapan metode ini adalah untuk katarsis atau mengeluarkan emosi yang ditekan, self awareness atau kesadaran terhadap diri sendiri serta pengenalan terhadap berbagai bentuk emosi. Dalam metode ini guru juga dapat menjelaskan harapan lingkungan dalam proses pengekspresian emosi, misalnya guru bertanya, bolehkah mereka melempar mainan, piring, dan gelas pada saat mereka marah. Guru, kemudian menjelaskan alasannya dan apa yang sebaiknya dapat mereka lakukan. 9. Permainan Personifikasi Permainan personifikasi adalah permainan yang dilakukan dengan cara a gerakan binatang atau tumbuhan seolah-olah mereka hidup dengan cara hidup manusia. Dalam permainan ini anak dapat berpura-pura menjadi hujan, menjadi selembar daun yang terbang tertiup angin atau pohon yang tumbang. Permainan ini membutuhkan perasaan yang halus dari anak. Selain itu empati dan perhatian anak terhadap pola hidup makhluk lain juga dilatih. Melalui permainan ini, kepercayaan diri, kebebasan berekspresi, kreativitas, dan imajinasi anak ikut terkembangkan. 10. Permainan Tradisional Permainan tradisional yang dilakukan anak-anak yaitu permainan daerah dengan bahan permainan sederhana (kerikil, pecahan genting, kulit buah, kayu, sabut kelapa, kelereng dll) mampu mematangkan emosi. Misalkan permainan angkle, anak-anak tiap menahan diri dengan menanti giliran dan siapa yang salah 14

melempar gaco ia harus menerima bahwa ia salah / keluar dan berhenti sementara kegiatan permainan tersebut. Melalui kegiatan permainan tradisional anak-anak merasa senang, gembira dan matang menahan diri apabila kalah. I. PERANAN GURU ANAK USIA DINI DALAM MENGEMBANGKAN EMOSI Perkembangan emosi yang sehat sangat membantu bagi keberhasilan anak belajar. Oleh karena itu, dalam rangka mengembangkan emosi anak yang sehat, guru-guru (anak usia dini) seyogyanya memberikan bimbingan kepada mereka, agar mereka dapat mengembangkan hal-hal berikut. 1. Kemampuan untuk mengenal, menerima dan berbicara tentang perasaanperasaannya. 2. Menyadari bahwa ada hubungan antara emosi dengan tingkah laku sosial. 3. Kemampuan untuk. menyalurkan keinginannya tanpa mengganggu perasaan orang lain. 4. Kemampuan untuk perlu terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

15

RANGKUMAN Emosi adalah suatu keadaan perasaan senang atau tidak senang Emosi muncul karena adanya pengaruh fisiologis yang mempengaruhi syaraf Emosi mempengaruhi perilaku senang, marah dan takut Emosi dapat dikelompokkan menjadi emosi sensoris dan spikis Perkembangan emosi dipengaruhi oleh kematangan dan belajar Kecerdasan emosi dapat berbentuk kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati Metode pengembangan emosi dapat dilakukan dengan bermain musik, bermain peran, bercerita, gerak dan lagu, feeling band dan demontrasi peragaan Peranan guru anak usia dini dalam mengembangkan emosi untuk mengembangkan secara optimal dengan kemampuan untuk mengenal, menerima dan menyalurkan secara positif. LATIHAN Emosi merupakan keadaan pada seseorang yang berhubungan dengan : a. c. Fisik Motorik b. Afektif d. Bahasa Emosi timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan, pendapat tersebut dikemukakan oleh : a. John & Waslow b. Lindsley c. James dan Lange d. Cannon Bard Denyut jantung seseorang bertambah cepat, disebabkan karena seseorang tersebut a. Terkejut b. Marah c. Takjub d. Kecewa 1. Perasaan yang berhubungan dengan rasa tanggung jawab merupakan perasaan a. Intelektual b. Sosial c. Susila

16

d. Keindahan 2. Perkembangan emosi bayi dipengaruhi oleh produksi kelenjar endokrim, hal tersebut bahwa kondisi yang mempengaruhi adalah a. Pertumbuhan b. Sisi c. Usia d. Kematangan 3. Metode belajar trial and error learning, berarti anak melakukan a. Coba-coba b. Meniru c. Mempersamakan diri d. Melatih diri 4. Seorang anak usia dini berperan sebagai guru berarti anak melakukan a. Coba-coba b. Meniru c. Mempersamakan diri d. Melatih diri 5. Anak dapat mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif, merupakan karakteristik a. Kesadaran diri b. Mengelola emosi c. Memanfaatkan emosi d. Perasaan empati 6. Anak-anak di beri kebebasan membunyikan instrumen musik sesuai dengan ekspresif perasaan adalah permainan a. Gerak dan lagu b. Feeling band c. Meditasi d. Bernyanyi 7. Gerakan anak mematung pada saat musik berhenti merupakan dari a. Gerak dan lagu b. Feeling band c. Meditasi d. Bernyanyi

17

KUNCI JAWABAN 1. B 2. C 3. A 4. C 5. D 6. A 7. C 8. C 9. B 10. A EVALUASI DIRI Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban yang benar. Tingkat penguasaan =
10 x 100 = 10

Arti tingkat penguasaan

= 80– 100 66 – 79 56 – 65 40 – 55

= Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang

18

KEGIATAN BELAJAR II

PERKEMBANGAN SOSIAL
TUJUAN 1. Menjelaskan makna perkembangan sosial II 2. Menjelaskan perkembangan sosial anak usia dini 3. Mengidentifikasi pola perilaku sosial 4. Mengidentifikasi pola perilaku tindak sosial 5. Menjelaskan peranan guru anak usia dini dalam pengembangan sosial A. MAKNA PERKEMBANGAN SOSIAL Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap normanorma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orangorang di lingkungannya, baik orangtua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenakkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orangtua dan guru ini lazim disebut sosialisasi. Proses sosialisasi dilakukan dengan : 1. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bermasyarakat anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima.

19

2. Memainkan Peran Sosial yang Dapat Diterima Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta bagi guru dan murid. 3. Perkembangan Sikap Sosial Untuk bermasyarakat/ bergaul dengan baik anak-anak harus menyukai orang dan aktivitas sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri. B. PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK USIA DINI Pada usia dini (terutama mulai usia 4 tahun), perkembangan sosial anak sudah tampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah : 1. Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain. 2. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan. 3. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain. 4. Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain, atau teman sebaya (peer group). Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarganya. Apabila di lingkungan keluarga tercipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu (bekerja sama) dalam menyelesaikan tugas-tugas keluarga atau anggota keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsistensi dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan, atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan orang lain. Kematangan penyesuaian sosial anak sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ke PAUD sebagai “jembatan bergaul” merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak untuk belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan menaati peraturan (kedisiplinan). PAUD dipandang mempunyai kontribusi yang baik bagi perkembangan sosial anak, karena alasan-alasan berikut :

20

1. Suasana PAUD sebagian masih seperti suasana keluarga. 2. Tata tertibnya masih longgar, tidak terlalu mengikat kebebasan anak. 3. Anak berkesempatan untuk aktif bergerak, bermain dan riang gembira yang kesemuanya mempunyai nilai pedagogis. 4. Anak dapat mengenal dan bergaul dengan teman sebaya yang beragam (multi budaya), baik etnis, agama, dan budaya. Dari umur 2 sampai 6 tahun, anak belajar melakukan hubungan sosial dan bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Mereka belajar menyesuaikan diri dan bekerja sama dalam kegiatan bermain. Studi lanjutan tentang kelompok anak melaporkan bahwa sikap dan perilaku sosial yang terbentuk pada usia dini biasanya menetap dam hanya mengalami perubahan sedikit. Masa kanak-kanak awal sering disebut “usia pragang” (pregang age). Pada masa ini sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak-anak lain meningkat dan ini sebagian menentukan bagaimana gerak maju perkembangan sosial mereka. Anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah misalnya pendidikan untuk anak usia dini (nursery school), pusat pengasuhan anak pada siang hari (day care center), biasanya mempunyai sejumlah besar hubungan sosial yang telah ditentukan dengan anak-anak yang umumnya sebaya. Anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan penyesuaian sosial yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan prasekolah. Alasannya adalah mereka dipersiapkan secara lebih baik untuk melakukan partisipasi yang aktif dalam kelompok dibandingkan dengan anak-anak aktivitas sosialnya terbatas dengan anggota keluarga dan anak-anak dari lingkungan tetangga terdekat. Salah satu diantara sejumlah keuntungan pendidikan prasekolah adalah bahwa pusat pendidikan tersebut memberikan pengalaman sosial di bawah bimbingan para guru yang terlatih yang membantu mengembangkan hubungan yang menyenangkan dan berusaha agar anak-anak tidak mendapatkan perlakuan yang mungkin menyebabkan mereka menghindari hubungan sosial. Akibatnya, semua reaksi negatif kepada anak lain berkurang. Walaupun dengan meningkat sedikit setelah anak lebih suka bergaul dengan teman sebaya daripada dengan orang dewasa.

C. POLA PERILAKU SOSIAL 21

1. Kerjasama. Sejumlah kecil anak belajar bermain atau bekerja secara bersama dengan anak lain sampai mereka berumur 4 tahun. semakin banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan cara bekerja sama. 2. Persaingan. Jika persaingan merupakan dorongan baik anak-anak untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu akan menambah sosialisasi mereka. Jika hal ini itu diekspresikan dalam pertengkaran dan kesombongan, akan mengakibatkan timbulnya sosialisasi yang buruk. 3. Kemurahan hati. Kemurahan hati, sebagai mana terlihat pada kesediaan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain, meningkatkan dan sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial. 4. Hasrat akan penerimaan sosial. Jika hasrat untuk diterima kuat, hat 'itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal dibandingkan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya. 5. Simpati. Anak kecil tidak mampu berperilaku simpatik sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan dukacita. Mereka mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih. 6. Empati. Empati kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini hanya berkembang jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud pembicaraan orang lain. 7. Ketergantungan. Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal bantuan, perhatian, dan kasih sayang mendorong anak untuk berperilaku dalam cara yang diterima secara sosial. Anak yang berjiwa bebas kekurangan motivasi ini. 8. Sikap ramah. Anak kecil memperlihatkan sikap ramah melalui kesediaan melakukan sesuatu untuk kesediaan melakukan sesuatu untuk atau bersama anak/orang lain dan dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka. 9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Anak yang mempunyai kesempatan dan mendapat dorongan untuk membagi apa yang mereka miliki dan yang tidak terus menerus menjadi pusat perhatian keluarga belajar memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain dan bukannya hanya memusatkan perhatian pada kepentingan dan milik mereka sendiri.

22

10. Meniru. Dengan meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompok sosial, anak-anak menggambarkan sifat yang menambah penerimaan kelompok terhadap diri mereka. 11. Perilaku kelekatan (attachment behavior). Dari landasan yang diletakkan pada masa bayi, yaitu tatkala bayi mengembangkan suatu kelekatan yang hangat dan penuh cinta kasih kepada ibu atau pengganti ibu, anak kecil mengalihkan pola perilaku ini kepada anak/ orang lain dan belajar membina persahabatan dengan mereka. D. POLA PERILAKU YANG TIDAK SOSIAL 1. Negativisme. Negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal itu dimulai pada usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara umur 3 dan 6 tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara setahap semi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menuruti perintah. 2. Agresi. Agresi adalah tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman permusuhan, biasanya tidak ditimbulkan oleh orang lain. Anak-anak mungkin mengekspresikan sikap agresif mereka berupa penyerangan secara fisik dan lisan terhadap pihak lain, biasanya terhadap anak yang lebih kecil. 3. Pertengkaran. Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat yang mengandung kemarahan yang umumnya dimulai apabila seseorang melakukan penyerangan yang tidak beralasan. Pertengkaran berbeda dari agresi pertama karena pertengkaran melibatkan dua orang atau lebih sedangkan agresi merupakan tindakan individu, dan kedua karena salah seorang yang terlibat di dalam pertengkaran memainkan peran bertahan sedangkan dalam agresi merupakan tindakan individu, dan kedua karena salah seorang yang terlibat di dalam pertengkaran memainkan peran bertahan sedangkan dalam agresi peran selalu agresif. 4. Mengejek dan menggertak. Mengejek merupakan serangan secara lisan terhadap orang lain, tetapi menggertak merupakan serangan yang bersifat fisik. Dalam kedua hal tersebut si penyerang memperoleh keputusan dengan menyaksikan ketidakenakan korban dan usahanya untuk membalas dendam. 5. Perilaku yang sok kuasa. Perilaku sok kuasa adalah kecenderungan untuk

23

mendominasi orang lain atau menjadi “majikan”. Jika diarahkan secara tepat hal ini dapat menjadi sifat kepemimpinan, tetapi umumnya tidak demikian, dan biasanya hal ini mengakibatkan timbulnya penolakan dari kelompok sosial. 6. Egosentrisme. Hampir semua anak kecil bersifat egosentrik dalam arti bahwa mereka cenderung berpikir dan berbicara tentang diri mereka sendiri. Apakah kecenderungan ini akan hilang, menetap, atau akan berkembang semakin kuat, sebagian bergantung pada kesadaran anak bahwa hal itu membuat mereka tidak populer dan sebagian lagi bergantung pada kuat lemahnya keinginan mereka untuk menjadi populer. 7. Antagonisme jenis kelamin. Ketika masa kanak-kanak berakhir, banyak anak laki-laki ditekan oleh keluarga laki-laki dan teman sebaya untuk menghindari pergaulan dengan anak perempuan atau memainkan “permainan anak perempuan”. Mereka juga mengetahui bahwa kelompok sosial memandang lakilaki lebih tinggi derajatnya daripada perempuan. Walaupun demikian, pada umur ini terhadap anak perempuan, tetapi menghindari mereka dan menghindari aktivitas yang dianggap sebagai aktivitas anak perempuan. E. PERANAN GURU ANAK USIA DINI DALAM PENGEMBANGAN SOSIAL Untuk memfasilitasi perkembangan sosial anak, maka guru-guru PAUD hendaknya melakukan hal-hal berikut : 1. Membantu anak agar memahami alasan tentang diterapkannya aturan, seperti keharusan memelihara ketertiban didalam kelas, dan larangan masuk atau keluar kelas saling mendahului. 2. Membantu anak untuk memahami, dan membiasakan mereka untuk memelihara persahabatan, kerjasama, saling membantu, dan saling menghargai/ menghormati. 3. Memberikan informasi kepada anak tentang adanya keragaman budaya, suku dan agama di masyarakat, atau di kalangan anak sendiri, dan perlunya saling menghormati di antara mereka. Sangat menarik apabila penyajiannya dibantu dengan gambar-gambar (alat peraga).

24

RANGKUMAN 1. Proses sosialisasi dilakukan dengan a. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial b. Memainkan pernah sosial c. Perkembangan sikap sosial 2. Karakteristik perkembangan sosial a. Anak mulai mengenal peraturan b. Anak mulai taat pada peraturan c. Anak mulai menyadari hak dan kewajiban d. Anak mulai bermain bersama teman 3. Contoh pola perilaku sosial a. Kerja sama b. Persaingan c. Kemurahan hati d. Penerimaan sosial e. Simpati f. Empati g. Sikap ramah h. Tidak mementingkan diri sendiri i. Meniru j. Perilaku kelekatan 4. Contoh pola perilaku tidak sosial a. Negativisme b. Agresi c. Pertengkaran d. Mengejek e. Perilaku yang sok kuasa f. Egosentrisme 5. Peranan guru PAUD dalam mengembangkan sosial membantu anak mentaati aturan, membiasakan persahabatan, kerjasama dan saling menghormati diantara mereka.

25

LATIHAN 1. Perilaku anak diterima oleh masyarakat dimana dia berada a. Perilaku diterima secara sosial b. Dalam sosial yang dapat diterima c. Perkembangan sikap sosial d. Sosialisasi 2. Proses bimbingan orang tua atau guru agar perkembangan sosial anak berkembang secara positif disebut a. Perilaku diterima secara sosial b. Peran sosial yang dapat diterima c. Perkembangan sikap sosial d. Sosialisasi 3. Bekerjasama dan saling berbagi sesuatu dengan orang lain, merupakan perilaku sosial a. Kerjasama b. Persaingan c. Kemurahan hati d. Penerimaan sosial 4. Mengadakan lomba agar siswa menerima kelebihan dan kekurangan dirinya, termasuk : a. Kerjasama b. Persaingan c. Kemurahan hati d. Penerimaan sosial 5. Peranan guru PAUD dalam pengembangan sosial a. Membantu anak mentaati aturan b. Membiasakan persahabatan c. Mengadakan kerjasama d. Semua betul

26

KUNCI JAWABAN 1. A 2. D 3. C 4. B 5. D EVALUASI DIRI Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban yang benar. Tingkat penguasaan =
5 x 100 = 5

Arti tingkat penguasaan

= 80 – 100 66 – 79 56 – 65 40 – 55

= Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang

27

KEGIATAN BELAJAR III PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI PENDEKATAN TERPADU
TUJUAN 1. Menjelaskan karakteristik pembelajaran terpadu berbasis tema 2. Menjelaskan pengembangan sosial emosional berbasis tema

A. BATASAN

DAN

KARAKTERISTIK

PEMBELAJARAN

TERPADU

BERBASIS TEMA Karakteristik perkembangan anak usia dini bersifat holistic atau menyeluruh. Artinya antara aspek perkembangan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Aspek perkembangan yang satu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya, sebagaimana dikemukakan oleh Bredekamp (1997), Domains of children's development is one domain influence and is influenced by development in other domain. Kurikulum/program untuk PAUD direncanakan untuk membantu pengembangan potensi seutuhnya. Jadi, direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Eliason dan Jenkins (1994) mengemukakan bahwa kurikulum harus memberi kesempatan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan, aspek perkembangan intelektual, dorongan hubungan sosial, perkembangan emosi, dan fisik anak. Pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran terpadu berbasis pada tema. Eliason & Jenkins (1994) Menegaskan, bahwa melalui tema dalam kurikulum terpadu memudahkan anak dalam membangun konsep tentang benda atau peristiwa yang ada di lingkungannya. Keunggulan dan perlunya pembelajaran model tersebut juga diungkapkan oleh Conny R Semiawan (2002). Ia menyampaikan bahwa dengan pembelajaran terpadu, sejak dini anak sudah terlatih mengaitkan informasi yang satu dengan lainnya sehingga secara wajar dapat menghadapi situasi silang lingkungan, silang pengetahuan ataupun silang perangkat dengan keasyikan yang menyenangkan, dan sekaligus menjadikan belajar mereka menjadi aktif dan terlibat langsung dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, anak akan mampu bertahan (survive).menghadapi

28

berbagai situasi baru. Lebih jauh, pembelajaran terpadu dapat menyentuh semua dimensi kecerdasan anak (multiple intelligence) sehingga hak hakiki setiap anak terpenuhi karena ia memperoleh layanan pendidikan yang menyentuh dan menyulut berbagai jenis inteligensi yang mungkin sebelumnya tertutup. Ingatlah otak tidak hanya tumbuh dan berkembang semata, tetapi juga mengorganisasikan dirinya (Mecker, 1998). Oleh sebab itu, perkembangan otak, organisasi din fungsinya jangan hanya dilihat dan Produk - dan kinerjanya saja melainkan dari Proses dan strukturnya. 1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Tema Tema adalah ide-ide pokok Pembelajaran berbasis tema adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas ide-ide pokok atau ide-ide sentral tentang anak dan lingkungannya. Tema yang disajikan kepada anak harus dimulai dan hal-hal yang telah dikenal anak Dimulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Pembelajaran tematik khas bagi AUD. Dalam pembelajaran ini semua kegiatannya melibatkan pengalaman langsung anak-anak serta memberikan berbagai informasi atau pemahaman tentang lingkungan sekitar anak. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan selanjutnya sesuai kebutuhan anak. Kegiatan pembelajaran terpadu melalui tema dapat diprogramkan dalam periode jangka panjang atau jangka pendek Jangka panjang, misalnya satu bulan, satu semester atau satu tahun, sedangkan jangka pendek, misalnya satu minggu atau beberapa hari saja. Dengan menggunakan metode apa pun, melalui kemasan pembelajaran tema, anak-anak akan banyak memperoleh manfaat yang besar untuk memahami lingkungan sekitar mereka, misalnya tentang tanaman, binatang atau lingkungan lainnya. Pembelajaran berbasis tema dapat mengembangkan kemampuan dalam berbagai aspeknya, baik kemampuan kognitif, bahasa, fisik, motorik, sosial emosional, dan estetis secara terpadu. Pembelajaran berbasis tema juga dapat digunakan untuk mengintegrasikan bidang-bidang yang akan/ingin dikembangkan dalam struktur kurikulum sesuai dengan karakteristik, usia, minat, dan kebutuhan anak. 2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Tema Pembelajaran tema memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran

29

lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung atau hands on experiences. Secara terperinci Barbara Rohde dan Kostelnik, et al (1991) mengemukakan karakteristik pembelajaran berbasis tema sebagai berikut. a. Tema memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang nyata bagi anak untuk menilai dan memanipulasinya. b. Tema menciptakan kegiatan di mana anak menggunakan semua pemikirannya. c. Membangun kegiatan sekitar minat-minat umum anak d. Membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada hal-hal yang telah mereka ketahui dan kerjakan. e. Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan fisik. f. Mengakomodasi kebutuhan anak-anak untuk bergerak dan melakukan kegiatan fisik, interaksi sosial, kemandirian, dan harga dm yang positif. g. Memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam pengertian. h. Menghargai perbedaan individu, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman di keluarga yang dibawa anak-anak ke kelasnya. i.Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak. Di samping prinsip-prinsip di atas, Hendrick (1986) dalam Kostelnik (1991) mengemukakan bahwa tema membantu anak-anak mengembangkan semua pemikirannya dalam belajar. Melalui program yang didasarkan pada tema anak-anak membangun hubungan di antara informasi yang terpisah-pisah untuk membentuk konsep yang lebih kompleks dan abstrak (Osborn dan Osborn, 1983; Bredekamp dalam Kostelnik etal, (1991). Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pengajaran dengan tema merupakan model pembelajaran yang lebih komprehensif dan terpadu. Menggunakan tema - dapat meningkatkan pengembangan konsep anak Konsep adalah gagasan pokok tentang objek dan peristiwa yang dibentuk anak-anak yang ada di lingkungannya. Konsep adalah kategori kognitif yang membuat orang mengelompokkan informasi yang berbeda secara perseptual, peristiwa atau persoalan (Wellman, 1988 dalam Kostelnik, 1991). Berdasarkan semua uraian tersebut dapat ditegaskan, bahwa pembelajaran berbasis tema merupakan model pembelajaran yang lebih komprehensif dan terpadu. 30

3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Terpadu Berbasis Tema Pembelajaran terpadu yang berbasis tema akan efektif jika dalam pengembangan perencanaan dan pelaksanaan berpegang teguh pada Kostelnik (1999), menyajikan sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sekaligus dijalankan dalam pengembangan pembelajaran terpadu berbasis tema diantaranya berikut ini : a. Tema harus berorientasi pada usia, perbedaan individu dart sosial anak b. Tema harus berkaitan langsung dengan pengalaman hidup nyata anak dan harus dibangun berdasarkan apa yang telah mereka ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui. c. Setiap tema harus menyajikan konsep untuk diselidiki oleh anak. Penekanannya membantu anak membangun konsep yang berhubungan dengan tema, bukan pada informasi terpisah-pisah yang harus diingat anak. d. Setiap tema harus mengintegrasikan isi belajar (pengetahuan sosial konvensional) dan proses belajar (fisika, matematika, metakognisi) dan proses belajar khusus lainnya yang dihubungkan dengan setiap bidang kurikulum. e. Informasi yang berhubungan dengan tema harus disampaikan kepada anak melalui pengalaman langsung yang melibatkan penemuan aktif. f. Kegiatan yang berhubungan dengan tema harus menggambarkan bidang kurikulum dan mendukung keterpaduannya. g. Dalam pembelajaran tema, materi yang sama harus diberikan lebih dari satu kali dan dimasukkan ke dalam jenis-jenis kegiatan yang berbeda (eksplorasi, penemuan terbimbing, pemecahan masalah, diskusi belajar kooperatif, demonstrasi, kegiatan kelompok besar, dan kegiatan kelompok kecil). h. Tema harus memungkinkan untuk dilaksanakan melalui kegiatan proyek yang diprakarsai dan dipimpin oleh anak. i. Tema harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mendokumentasikan dan merefleksikan tentang apa yang telah mereka pelajari. j. Tema harus memasukkan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak. k. Setiap tema harus diperluas atau direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan oleh anak. Memperhatikan prinsip–prinsip di atas, pembelajaran berbasis tema ternyata lebih kompleks dan komprehensif daripada pendekatan pembelajaran yang hanya menggunakan satu disiplin/bidang pengembangan sebagaimana tertuang 31

dalam kurikulum. Namun, apabila prinsip tersebut dimasukkan ke dalam pembelajaran berbasis tema maka kemungkinan untuk berhasil akan tercapai secara baik. 4. Keunggulan-Keunggulan Pembelajaran Terpadu Berbasis Tema Pembelajaran terpadu yang berbasis tema memiliki banyak keunggulan, baik bagi guru maupun bagi anak. Disamping keunggulan yang telah disajikan pada penyajian sebelumnya, terdapat pula beberapa keunggulan dari pembelajaran ini, baik keunggulan secara umum, maupun keunggulan terkait dengan bidang pengembangan sosial emosional anak, Keunggulan-keunggulan yang bersifat umum, diantaranya berikut ini : a. Mendukung perkembangan konsep anak. Konsep adalah gagasan pokok tentang objek dan peristiwa yang dibentuk anak-anak di lingkungannya. Konsep adalah kategori kognitif yang memungkinkan orang untuk mengelompokkan informasiinformasi yang berbeda atau peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Dengan pembelajaran berbasis tema, anak-anak dapat membentuk konsep secara deduktif melalui kegiatan pengalaman langsung (Lawton, 1987 dalam Konstelnik, 1991). Ketika anak-anak memanipulasi objek-objek atau berinteraksi dengan orang lain, anak-anak memperoleh informasi yang relevan, kemudian dipadukannya dengan pengetahuan atau pemahaman yang telah mereka miliki sebelumnya. Melalui kegiatan seperti itu, anak-anak mengembangkan sejumlah pengalaman, membangun, menyusun, dan memperluas konsepnya setiap saat. b. Tema mengintegrasikan isi dan proses belajar. Pembelajaran berbasis tema tidak hanya meningkatkan perkembangan konsep anak, tetapi juga mengintegrasikan isi dan proses belajar dengan cara-cara yang bermakna bagi anak. Mempelajari isi atau materi belajar yang disajikan dalam tema memerlukan kemampuan mental, seperti memperhatikan, mendengarkan, mengamati, dan mengingat (Hendrik, 1986 dalam Kostelnik, 1991). Sebagai contoh, sekelompok anak usia dini yang mempelajari tema “Kelinci dapat melakukan binatang berkaki empat, berdaun telinga dua dan panjang, berbulu lembut, dan berjalan dengan melompat”. Secara lebih khusus anak dapat menemukan bahwa : 1) Bagian tubuh kelinci, terdiri dari kepala, badan, dan ekor. 2) Kepala kelinci memiliki mulut, mata, kumis, dan sebagainya. 3) Kelinci makanannya rumput, sayuran, dan daun-daunan;

32

c. Pembelajaran berbasis tema memberikan kesempatan kepada anak untuk memadukan informasi-informasi secara terpadu dengan berbagai cara, apakah melalui kegiatan terstruktur atau tidak terstruktur, kegiatan kelompok besar atau kelompok kecil, model interaksi aktif atau pasif. Anak-anak dapat memperoleh kesempatan untuk mempelajari topik dengan gaya belajarnya masing-masing. Jika suatu kegiatan belajar tidak sesuai dengan gaya belajar anak atau tidak berorientasi pada perkembangan anak maka anak-anak dapat belajar dengan cara lain. d. Pembelajaran berbasis tema juga memungkinkan anak untuk mempelajari topiktopik yang khusus secara lebih mendalam. Anak-anak yang tertarik dengan topik tertentu biasanya ingin mengetahui lebih banyak tentang isi topik tertentu biasanya ingin mengetahui lebih banyak tentang isi topik tersebut. mengeksplorasi konsep yang disajikan dalam tema akan mendukung anak untuk terlihat secara mental dalam menyerap informasi-informasi atau ide-ide. Dalam situasi tertentu kadang-kadang ada anak yang tidak tertarik dengan tema yang disajikan. Apabila hal ini terjadi, guru tidak perlu memaksa anak untuk melibatkan dm dalam tema tersebut, tetapi memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk memusatkan perhatiannya secara bebas dalam isi tema atau dapat dilibatkan dalam kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan tema. e. Pembelajaran berbasis tema mendorong praktisi untuk menetapkan fokus belajar yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, merencanakan, dan melaksanakan pembelajaran secara terorganisasi, dengan cara mengembangkan pengalaman belajar yang didasarkan pada bagaimana anak belajar. f. Sebaiknya mereka menetapkan tujuan pembelajaran secara terpadu. Perencanaan berbasis tema juga memungkinkan para guru bisa menyajikan topik secara cukup luas dan mendalam sehingga anak-anak pun dapat mempelajarinya secara luas dan mendalam. Keleluasaan dan kedalaman isi yang disajikan oleh tema dapat dicapai dengan menggunakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan tema dan menciptakan hubungan antar kegiatan. g. Pembelajaran berbasis tema dapat diimplementasikan ke dalam berbagai tingkatan kelas dan kelompok usia anak. B. PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL BERBASIS TEMA Keunggulan-keunggulan dari pembelajaran berbasis tema bagi pengembangan sosial emosional anak, di antaranya adalah berikut ini. 1. Tingginya aktivitas anak akan dapat menyalurkan energi emosi dan diri anak tersebut sehingga emosi anak dapat lebih stabil dan seimbang 33

Dengan demikian, gangguan-gangguan emosi yang biasa muncul meledak-ledak pada anak dapat lebih dikendalikan. Selain itu, anak yang mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis tema secara penuh akan mendapat keuntungan ganda, yaitu peningkatan kemampuan kognitif (IQ-nya) dan peningkatan kemampuan dalam mengenali, mengendalikan, dan mengelola emosinya. Hal tersebut berkontribusi secara positif dengan upaya-upaya peningkatan kecerdasan emosi (EI) 2. Dapat mengembangkan cara belajar kooperatif dengan teman sebayanva Pengemasan pembelajaran dengan cara terpadu dan berbasis tema akan memfasilitasi kemampuan anak untuk belajar bersama. Intensitas anak bekerja dalam kegiatan yang melibatkan anak lainnya, bukan hanya dapat meningkatkan keterampilan sosial anak secara umum, tetapi juga meningkatkan keterampilan sosial yang lebih positif sifatnya, yaitu yang disebut cooperative learning. Dengan kata lain, pembelajaran berbasis tema akan membekali anak kemampuan belajar untuk belajar (learn how to learn). 3. Meningkatkan keeratan kelompok anak Membangun keeratan adalah satu tujuan penting dalam target Pembelajaran bidang pengembangan sosial emosional pada AUD. Ciri keeratan akan diawali dengan kemampuan dan kesanggupan menerima kedekatan dengan orang lain. Keeratan seseorang dengan orang lain tercermin dari terjadinya pemahaman emosi dan perilaku sosial yang dianggap baik dan cocok. Jika keeratan terjadi, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan konflik-konflik yang mungkin terjadi di antara mereka. Dengan demikian, terjalinnya keeratan antara seorang anak dengan anak lainnya akan dapat mengatasi, dan menunjukkan halangan-halangan emosi yang terjadi di antara mereka. 4. Mengembangkan minat kebersamaan yang diarahkan kepada hubungan positif dengan teman sebaya Penyajian pembelajaran terpadu berbasis tema, terutama yang dikemas dengan metode proyek dan sejenisnya akan sangat besar manfaatnya bagi pengembangan kemampuan anak dalam mewujudkan hidup bersama dan membangun hubungan yang lebih positif dengan teman-temannya. Cara pandang anak yang negatif tentang teman-temannya akan berubah, dan berkurang seiring dengan frekuensi dan intensitas kegiatan yang mereka ikuti secara bersama. Anggapan bahwa teman adalah pengganggu suka menyakiti, dan suka bersaing secara negatif akan 34

hilang dengan sendirinya (natural learning). Nantinya yang muncul adalah semangat gotong-royong, saling membantu, sikap-sikap empati dan toleransi, serta perilaku sosial emosional positif lainnya. 5. Anak akan menemukan teman sekelas yang cocok dengan dirinya Kemampuan mengidentifikasi diri merupakan keterampilan yang cukup sulit jika diajarkan secara formal (akademis). Dengan pembelajaran secara terpadu, tanpa terasa dapat menyimpulkan bahwa dirinya cocok dengan si A, dan ingin berteman dengannya. Kemampuan memilih teman, selanjutnya akan diikuti dengan keinginan untuk mempertahankannya. Nah, upaya-upaya untuk mempertahankan temannya agar tidak marah, tidak kecewa, tidak kesal, dan sebagainya merupakan latihan-latihan yang amat efektif (internal learning) bagi peningkatan kemampuan anak dalam mengendalikan diri dan emosinya. Hal mi sekaligus akan berdampak pada peningkatan keterampilan sosialnya. Kesimpulannya, pengelolaan dan penyelenggaraan pembelajaran di PAUD secara terpadu dan berbasiskan tema, memenuhi syarat untuk mengembangkan keterampilan (kecerdasan) sosial emosional anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

35

RANGKUMAN 1. Pembelajaran berbasis tema adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas ide-ide sentral tentang anak dan lingkungannya. 2. Pembelajaran berbasis tema mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, fisik, motorik sosial emosional. 3. Pembelajaran berbasis tema mempunyai karakteristik tertentu. 4. Pembelajaran berbasis tema mempunyai pendekatan yang lebih komplit dan komprehensif. 5. Pembelajaran berbasis tema mempunyai beberapa unggulan. a. Mendukung perkembangan anak b. Tema mengintegrasikan isi dan proses belajar c. Anak dapat mempelajari topik-topik secara mendalam d. Memungkinkan para guru dapat menyajikan topik secara luas dan mendalam. LATIHAN 1. Pembelajaran terpadu yang ditetapkan di PAUD berbasis a. b. c. d. Tema Topik Prinsip Konsep

2. Kegiatan pembelajaran dapat diprogramkan dengan periode jangka panjang. Dibawah ini program jangka panjang, kecuali a. b. c. d. Program tahunan Program semester Program mingguan Program harian

3. Pembelajaran berbasis tema membangun hubungan diantara informasi yang terpisah untuk membentuk konsep yang lebih komplek, peringatan tersebut dikemukakan oleh a. b. c. d. Barbara Rokde Rostelnik Osborn Vellman

36

4. Kelinci berkaki empat, berdaun telinga panjang dan makan rumput, pernyataan diatas menggambarkan keinginan pembelajaran terpadu pada a. b. c. d. Mendukung konsep anak Tema mengintegrasikan isi dan proses Memungkinkan anak memadukan informasi Memungkinkan anak mempelajari secara mendalam

5. Pembelajaran berbasis tema, anak-anak dapat membentuk konsep melalui kegiatan pengalaman langsung a. b. c. d. Mendukung konsep anak Tema mengintegrasikan isi dan proses Memungkinkan anak memadukan informasi Memungkinkan anak mempelajari secara mendalam

KUNCI JAWABAN 1. A 2. D 3. C 4. B 5. A EVALUASI DIRI Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban yang benar. Tingkat penguasaan =
5 x 100 = 5

Arti tingkat penguasaan

= 80 – 100 66 – 79 56 – 65 40 – 55

= Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang

37

KEGIATAN BELAJAR IV STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL
TUJUAN Menjelaskan tentang tingkat pencapaian perkembangan pada usia : a. b. c. d. 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun Tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu. Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya. Walaupun setiap anak adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun demikian, perkembangan anak tetap mengikuti pola yang umum. Agar anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal, dibutuhkan keterlibatan orang tua dan orang dewasa untuk memberikan rangsangan yang bersifat menyeluruh dan terpadu yang meliputi pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, dan perlindungan yang diberikan secara konsisten melalui pembiasaan. USIA 3 tahun TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN 1. Mulai bisa mengungkapkan ketika ingin buang air kecil dan buang air besar. 2. Mulai memahami hak orang lain (antri, menunggu giliran) 3. Mulai menunjukkan sikap berbagi, membantu, bekerja sama. 4. Menyatakan perasaan terhadap orang lain (suka dan tidak suka) 5. Berbagi peran dalam suatu permainan (menjadi dokter, guru, tentara, polisi) USIA TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN

38

4 tahun

1. Mulai bisa melakukan buang air kecil tanpa bantuan 2. Bersabar menunggu giliran 3. Mulai menunjukkan sikap toleran, sehingga dapat bekerja dalam kelompok 4. Mulai menghargai orang lain 5. Bereaksi terhadap hal-hal yang dianggap tidak benar (marah, menangis apabila diganggu) 6. Mulai menunjukkan ekspresif menyesal ketika melakukan kesalahan 1. Menunjukkan sikap mandiri dalam memilih kegiatan 2. Mau berbagi, menolong dan membantu teman 3. Menunjukkan antusiasme dalam melakukan permainan kompetitif secara positif 4. Mengendalikan perasaan 5. Mentaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan 6. Menunjukkan rasa percaya diri 7. Menjaga diri sendiri dari lingkungannya 8. Menghargai orang lain 1. Bersikap kooperatif dengan teman 2. Menunjukkan sikap toleran 3. Mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada 4. Mengenal tata krama dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial budaya setempat 5. Mematuhi peraturan dan disiplin 6. Menunjukkan rasa empati 7. Memiliki sikap tidak mudah menyerah 8. Bangga terhadap hasil karya sendiri 9. Menghargai keunggulan orang lain

5 tahun

6 tahun

39

LATIHAN 1. a. b. c. d. 2. a. b. c. d. 3. a. b. c. d. Tingkat pencapaian perkembangan sesuai dengan Usia Lingkungan Makanan Pertumbuhan fisik Anak mulai mentaati aturan yang berlaku pada usia 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun Anak bangga terhadap hasil karya sendiri pada usia 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun

KUNCI JAWABAN 1. A 2. C 3. D

40

DAFTAR PUSTAKA

Ali Nugraha, Yeni Rachmawati. 2006. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta : Universitas Terbuka. Hadisubrata. 1991. Mengembangkan Kepribadian Anak Balita. Jakarta : PT. Gunung Mulia. Hurlock E. B. 1993. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga. Monkt. 1988. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Suryabrata S. 1998. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Yusuf S. 2002. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. ______, 2010. Standar Pendidikan Anak Usia Dini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 58 Tahun 2009.

41 v

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->