P. 1
2. PENGEMBG SOSIAL & EMOSIONAL

2. PENGEMBG SOSIAL & EMOSIONAL

|Views: 165|Likes:
Published by M Saikhul Arif

More info:

Published by: M Saikhul Arif on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

Sections

TUJUAN

1. Menjelaskan karakteristik pembelajaran terpadu berbasis tema

2. Menjelaskan pengembangan sosial emosional berbasis tema

A. BATASAN DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TERPADU

BERBASIS TEMA

Karakteristik perkembangan anak usia dini bersifat holistic atau menyeluruh.

Artinya antara aspek perkembangan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Aspek perkembangan yang satu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek

perkembangan lainnya, sebagaimana dikemukakan oleh Bredekamp (1997), Domains

of children's development is one domain influence and is influenced by development

in other domain.

Kurikulum/program untuk PAUD direncanakan untuk membantu

pengembangan potensi seutuhnya. Jadi, direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan anak. Eliason dan Jenkins (1994) mengemukakan bahwa kurikulum

harus memberi kesempatan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan,

aspek perkembangan intelektual, dorongan hubungan sosial, perkembangan emosi,

dan fisik anak.

Pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran terpadu berbasis pada tema.

Eliason & Jenkins (1994) Menegaskan, bahwa melalui tema dalam kurikulum terpadu

memudahkan anak dalam membangun konsep tentang benda atau peristiwa yang ada

di lingkungannya. Keunggulan dan perlunya pembelajaran model tersebut juga

diungkapkan oleh Conny R Semiawan (2002). Ia menyampaikan bahwa dengan

pembelajaran terpadu, sejak dini anak sudah terlatih mengaitkan informasi yang satu

dengan lainnya sehingga secara wajar dapat menghadapi situasi silang lingkungan,

silang pengetahuan ataupun silang perangkat dengan keasyikan yang menyenangkan,

dan sekaligus menjadikan belajar mereka menjadi aktif dan terlibat langsung dalam

29

kehidupan nyata. Dengan demikian, anak akan mampu bertahan

(survive).menghadapi berbagai situasi baru. Lebih jauh, pembelajaran terpadu dapat

menyentuh semua dimensi kecerdasan anak (multiple intelligence) sehingga hak

hakiki setiap anak terpenuhi karena ia memperoleh layanan pendidikan yang

menyentuh dan menyulut berbagai jenis inteligensi yang mungkin sebelumnya

tertutup. Ingatlah otak tidak hanya tumbuh dan berkembang semata, tetapi juga

mengorganisasikan dirinya (Mecker, 1998). Oleh sebab itu, perkembangan otak,

organisasi din fungsinya jangan hanya dilihat dan Produk - dan kinerjanya saja

melainkan dari Proses dan strukturnya.

1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Tema

Tema adalah ide-ide pokok Pembelajaran berbasis tema adalah salah satu

pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas ide-ide pokok atau ide-ide sentral

tentang anak dan lingkungannya. Tema yang disajikan kepada anak harus dimulai

dan hal-hal yang telah dikenal anak Dimulai dari yang sederhana menuju yang

lebih kompleks.

Pembelajaran tematik khas bagi AUD. Dalam pembelajaran ini semua

kegiatannya melibatkan pengalaman langsung anak-anak serta memberikan

berbagai informasi atau pemahaman tentang lingkungan sekitar anak. Kegiatan ini

juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan keterampilan

dan kemampuan selanjutnya sesuai kebutuhan anak.

Kegiatan pembelajaran terpadu melalui tema dapat diprogramkan dalam

periode jangka panjang atau jangka pendek Jangka panjang, misalnya satu bulan,

satu semester atau satu tahun, sedangkan jangka pendek, misalnya satu minggu

atau beberapa hari saja. Dengan menggunakan metode apa pun, melalui kemasan

pembelajaran tema, anak-anak akan banyak memperoleh manfaat yang besar untuk

memahami lingkungan sekitar mereka, misalnya tentang tanaman, binatang atau

lingkungan lainnya. Pembelajaran berbasis tema dapat mengembangkan

kemampuan dalam berbagai aspeknya, baik kemampuan kognitif, bahasa, fisik,

motorik, sosial emosional, dan estetis secara terpadu. Pembelajaran berbasis tema

juga dapat digunakan untuk mengintegrasikan bidang-bidang yang akan/ingin

dikembangkan dalam struktur kurikulum sesuai dengan karakteristik, usia, minat,

dan kebutuhan anak.

30

2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Tema

Pembelajaran tema memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran

lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung

atau hands on experiences. Secara terperinci Barbara Rohde dan Kostelnik, et al

(1991) mengemukakan karakteristik pembelajaran berbasis tema sebagai berikut.

a. Tema memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang nyata bagi

anak untuk menilai dan memanipulasinya.

b. Tema menciptakan kegiatan di mana anak menggunakan semua pemikirannya.

c. Membangun kegiatan sekitar minat-minat umum anak

d. Membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru

yang didasarkan pada hal-hal yang telah mereka ketahui dan kerjakan.

e. Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua aspek

perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan fisik.

f. Mengakomodasi kebutuhan anak-anak untuk bergerak dan melakukan kegiatan

fisik, interaksi sosial, kemandirian, dan harga dm yang positif.

g. Memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam

pengertian.

h. Menghargai perbedaan individu, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman di

keluarga yang dibawa anak-anak ke kelasnya.

i. Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.

Di samping prinsip-prinsip di atas, Hendrick (1986) dalam Kostelnik (1991)

mengemukakan bahwa tema membantu anak-anak mengembangkan semua

pemikirannya dalam belajar. Melalui program yang didasarkan pada tema anak-

anak membangun hubungan di antara informasi yang terpisah-pisah untuk

membentuk konsep yang lebih kompleks dan abstrak (Osborn dan Osborn, 1983;

Bredekamp dalam Kostelnik etal, (1991).

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pengajaran dengan

tema merupakan model pembelajaran yang lebih komprehensif dan terpadu.

Menggunakan tema - dapat meningkatkan pengembangan konsep anak Konsep

adalah gagasan pokok tentang objek dan peristiwa yang dibentuk anak-anak yang

ada di lingkungannya. Konsep adalah kategori kognitif yang membuat orang

mengelompokkan informasi yang berbeda secara perseptual, peristiwa atau

persoalan (Wellman, 1988 dalam Kostelnik, 1991).

31

Berdasarkan semua uraian tersebut dapat ditegaskan, bahwa pembelajaran

berbasis tema merupakan model pembelajaran yang lebih komprehensif dan

terpadu.

3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Terpadu Berbasis Tema

Pembelajaran terpadu yang berbasis tema akan efektif jika dalam

pengembangan perencanaan dan pelaksanaan berpegang teguh pada Kostelnik

(1999), menyajikan sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sekaligus dijalankan

dalam pengembangan pembelajaran terpadu berbasis tema diantaranya berikut ini :

a. Tema harus berorientasi pada usia, perbedaan individu dart sosial anak

b. Tema harus berkaitan langsung dengan pengalaman hidup nyata anak dan harus

dibangun berdasarkan apa yang telah mereka ketahui dan apa yang ingin mereka

ketahui.

c. Setiap tema harus menyajikan konsep untuk diselidiki oleh anak. Penekanannya

membantu anak membangun konsep yang berhubungan dengan tema, bukan

pada informasi terpisah-pisah yang harus diingat anak.

d. Setiap tema harus mengintegrasikan isi belajar (pengetahuan sosial

konvensional) dan proses belajar (fisika, matematika, metakognisi) dan proses

belajar khusus lainnya yang dihubungkan dengan setiap bidang kurikulum.

e. Informasi yang berhubungan dengan tema harus disampaikan kepada anak

melalui pengalaman langsung yang melibatkan penemuan aktif.

f. Kegiatan yang berhubungan dengan tema harus menggambarkan bidang

kurikulum dan mendukung keterpaduannya.

g. Dalam pembelajaran tema, materi yang sama harus diberikan lebih dari satu kali

dan dimasukkan ke dalam jenis-jenis kegiatan yang berbeda (eksplorasi,

penemuan terbimbing, pemecahan masalah, diskusi belajar kooperatif,

demonstrasi, kegiatan kelompok besar, dan kegiatan kelompok kecil).

h. Tema harus memungkinkan untuk dilaksanakan melalui kegiatan proyek yang

diprakarsai dan dipimpin oleh anak.

i. Tema harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mendokumentasikan dan

merefleksikan tentang apa yang telah mereka pelajari.

j. Tema harus memasukkan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.

k. Setiap tema harus diperluas atau direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman

yang ditunjukkan oleh anak.

32

Memperhatikan prinsip–prinsip di atas, pembelajaran berbasis tema

ternyata lebih kompleks dan komprehensif daripada pendekatan pembelajaran yang

hanya menggunakan satu disiplin/bidang pengembangan sebagaimana tertuang

dalam kurikulum. Namun, apabila prinsip tersebut dimasukkan ke dalam

pembelajaran berbasis tema maka kemungkinan untuk

berhasil akan tercapai secara baik.

4. Keunggulan-Keunggulan Pembelajaran Terpadu Berbasis Tema

Pembelajaran terpadu yang berbasis tema memiliki banyak keunggulan, baik

bagi guru maupun bagi anak. Disamping keunggulan yang telah disajikan pada

penyajian sebelumnya, terdapat pula beberapa keunggulan dari pembelajaran ini,

baik keunggulan secara umum, maupun keunggulan terkait dengan bidang

pengembangan sosial emosional anak,

Keunggulan-keunggulan yang bersifat umum, diantaranya berikut ini :

a. Mendukung perkembangan konsep anak. Konsep adalah gagasan pokok tentang

objek dan peristiwa yang dibentuk anak-anak di lingkungannya. Konsep adalah

kategori kognitif yang memungkinkan orang untuk mengelompokkan informasi-

informasi yang berbeda atau peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Dengan

pembelajaran berbasis tema, anak-anak dapat membentuk konsep secara

deduktif melalui kegiatan pengalaman langsung (Lawton, 1987 dalam

Konstelnik, 1991). Ketika anak-anak memanipulasi objek-objek atau

berinteraksi dengan orang lain, anak-anak memperoleh informasi yang relevan,

kemudian dipadukannya dengan pengetahuan atau pemahaman yang telah

mereka miliki sebelumnya. Melalui kegiatan seperti itu, anak-anak

mengembangkan sejumlah pengalaman, membangun, menyusun, dan

memperluas konsepnya setiap saat.

b. Tema mengintegrasikan isi dan proses belajar. Pembelajaran berbasis tema

tidak hanya meningkatkan perkembangan konsep anak, tetapi juga

mengintegrasikan isi dan proses belajar dengan cara-cara yang bermakna bagi

anak. Mempelajari isi atau materi belajar yang disajikan dalam tema

memerlukan kemampuan mental, seperti memperhatikan, mendengarkan,

mengamati, dan mengingat (Hendrik, 1986 dalam Kostelnik, 1991). Sebagai

contoh, sekelompok anak usia dini yang mempelajari tema “Kelinci dapat

melakukan binatang berkaki empat, berdaun telinga dua dan panjang, berbulu

33

lembut, dan berjalan dengan melompat”. Secara lebih khusus anak dapat

menemukan bahwa :

1) Bagian tubuh kelinci, terdiri dari kepala, badan, dan ekor.

2) Kepala kelinci memiliki mulut, mata, kumis, dan sebagainya.

3) Kelinci makanannya rumput, sayuran, dan daun-daunan;

c. Pembelajaran berbasis tema memberikan kesempatan kepada anak untuk

memadukan informasi-informasi secara terpadu dengan berbagai cara, apakah

melalui kegiatan terstruktur atau tidak terstruktur, kegiatan kelompok besar

atau kelompok kecil, model interaksi aktif atau pasif. Anak-anak dapat

memperoleh kesempatan untuk mempelajari topik dengan gaya belajarnya

masing-masing. Jika suatu kegiatan belajar tidak sesuai dengan gaya belajar

anak atau tidak berorientasi pada perkembangan anak maka anak-anak dapat

belajar dengan cara lain.

d. Pembelajaran berbasis tema juga memungkinkan anak untuk mempelajari

topik-topik yang khusus secara lebih mendalam. Anak-anak yang tertarik

dengan topik tertentu biasanya ingin mengetahui lebih banyak tentang isi topik

tertentu biasanya ingin mengetahui lebih banyak tentang isi topik tersebut.

mengeksplorasi konsep yang disajikan dalam tema akan mendukung anak untuk

terlihat secara mental dalam menyerap informasi-informasi atau ide-ide. Dalam

situasi tertentu kadang-kadang ada anak yang tidak tertarik dengan tema yang

disajikan. Apabila hal ini terjadi, guru tidak perlu memaksa anak untuk

melibatkan dm dalam tema tersebut, tetapi memberikan kesempatan kepada

anak tersebut untuk memusatkan perhatiannya secara bebas dalam isi tema atau

dapat dilibatkan dalam kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan tema.

e. Pembelajaran berbasis tema mendorong praktisi untuk menetapkan fokus

belajar yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, merencanakan, dan

melaksanakan pembelajaran secara terorganisasi, dengan cara mengembangkan

pengalaman belajar yang didasarkan pada bagaimana anak belajar.

f. Sebaiknya mereka menetapkan tujuan pembelajaran secara terpadu.

Perencanaan berbasis tema juga memungkinkan para guru bisa menyajikan

topik secara cukup luas dan mendalam sehingga anak-anak pun dapat

mempelajarinya secara luas dan mendalam. Keleluasaan dan kedalaman isi yang

disajikan oleh tema dapat dicapai dengan menggunakan berbagai kegiatan yang

berhubungan dengan tema dan menciptakan hubungan antar kegiatan.

g. Pembelajaran berbasis tema dapat diimplementasikan ke dalam berbagai

tingkatan kelas dan kelompok usia anak.

34

B. PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL BERBASIS TEMA

Keunggulan-keunggulan dari pembelajaran berbasis tema bagi

pengembangan sosial emosional anak, di antaranya adalah berikut ini.

1. Tingginya aktivitas anak akan dapat menyalurkan energi emosi dan diri anak

tersebut sehingga emosi anak dapat lebih stabil dan seimbang

Dengan demikian, gangguan-gangguan emosi yang biasa muncul meledak-ledak

pada anak dapat lebih dikendalikan. Selain itu, anak yang mengikuti kegiatan

pembelajaran berbasis tema secara penuh akan mendapat keuntungan ganda,

yaitu peningkatan kemampuan kognitif (IQ-nya) dan peningkatan kemampuan

dalam mengenali, mengendalikan, dan mengelola emosinya. Hal tersebut

berkontribusi secara positif dengan upaya-upaya peningkatan kecerdasan emosi

(EI)

2. Dapat mengembangkan cara belajar kooperatif dengan teman sebayanva

Pengemasan pembelajaran dengan cara terpadu dan berbasis tema akan

memfasilitasi kemampuan anak untuk belajar bersama. Intensitas anak bekerja

dalam kegiatan yang melibatkan anak lainnya, bukan hanya dapat meningkatkan

keterampilan sosial anak secara umum, tetapi juga meningkatkan keterampilan

sosial yang lebih positif sifatnya, yaitu yang disebut cooperative learning.

Dengan kata lain, pembelajaran berbasis tema akan membekali anak

kemampuan belajar untuk belajar (learn how to learn).

3. Meningkatkan keeratan kelompok anak

Membangun keeratan adalah satu tujuan penting dalam target Pembelajaran

bidang pengembangan sosial emosional pada AUD. Ciri keeratan akan diawali

dengan kemampuan dan kesanggupan menerima kedekatan dengan orang lain.

Keeratan seseorang dengan orang lain tercermin dari terjadinya pemahaman

emosi dan perilaku sosial yang dianggap baik dan cocok. Jika keeratan terjadi,

kita dapat menyimpulkan bahwa mereka memiliki kesanggupan untuk

menyelesaikan konflik-konflik yang mungkin terjadi di antara mereka. Dengan

demikian, terjalinnya keeratan antara seorang anak dengan anak lainnya akan

dapat mengatasi, dan menunjukkan halangan-halangan emosi yang terjadi di

antara mereka.

4. Mengembangkan minat kebersamaan yang diarahkan kepada hubungan positif

dengan teman sebaya

Penyajian pembelajaran terpadu berbasis tema, terutama yang dikemas dengan

35

metode proyek dan sejenisnya akan sangat besar manfaatnya bagi

pengembangan kemampuan anak dalam mewujudkan hidup bersama dan

membangun hubungan yang lebih positif dengan teman-temannya. Cara

pandang anak yang negatif tentang teman-temannya akan berubah, dan

berkurang seiring dengan frekuensi dan intensitas kegiatan yang mereka ikuti

secara bersama. Anggapan bahwa teman adalah pengganggu suka menyakiti,

dan suka bersaing secara negatif akan hilang dengan sendirinya (natural

learning). Nantinya yang muncul adalah semangat gotong-royong, saling

membantu, sikap-sikap empati dan toleransi, serta perilaku sosial emosional

positif lainnya.

5. Anak akan menemukan teman sekelas yang cocok dengan dirinya

Kemampuan mengidentifikasi diri merupakan keterampilan yang cukup sulit

jika diajarkan secara formal (akademis). Dengan pembelajaran secara terpadu,

tanpa terasa dapat menyimpulkan bahwa dirinya cocok dengan si A, dan ingin

berteman dengannya. Kemampuan memilih teman, selanjutnya akan diikuti

dengan keinginan untuk mempertahankannya. Nah, upaya-upaya untuk

mempertahankan temannya agar tidak marah, tidak kecewa, tidak kesal, dan

sebagainya merupakan latihan-latihan yang amat efektif (internal learning) bagi

peningkatan kemampuan anak dalam mengendalikan diri dan emosinya. Hal mi

sekaligus akan berdampak pada peningkatan keterampilan sosialnya.

Kesimpulannya, pengelolaan dan penyelenggaraan pembelajaran di PAUD

secara terpadu dan berbasiskan tema, memenuhi syarat untuk mengembangkan

keterampilan (kecerdasan) sosial emosional anak, baik secara langsung maupun

tidak langsung.

36

RANGKUMAN

1. Pembelajaran berbasis tema adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang

didasarkan atas ide-ide sentral tentang anak dan lingkungannya.

2. Pembelajaran berbasis tema mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, fisik,

motorik sosial emosional.

3. Pembelajaran berbasis tema mempunyai karakteristik tertentu.

4. Pembelajaran berbasis tema mempunyai pendekatan yang lebih komplit dan

komprehensif.

5. Pembelajaran berbasis tema mempunyai beberapa unggulan.

a. Mendukung perkembangan anak

b. Tema mengintegrasikan isi dan proses belajar

c. Anak dapat mempelajari topik-topik secara mendalam

d. Memungkinkan para guru dapat menyajikan topik secara luas dan mendalam.

LATIHAN

1. Pembelajaran terpadu yang ditetapkan di PAUD berbasis

a. Tema

b. Topik

c. Prinsip

d. Konsep

2. Kegiatan pembelajaran dapat diprogramkan dengan periode jangka panjang.

Dibawah ini program jangka panjang, kecuali

a. Program tahunan

b. Program semester

c. Program mingguan

d. Program harian

3. Pembelajaran berbasis tema membangun hubungan diantara informasi yang

terpisah untuk membentuk konsep yang lebih komplek, peringatan tersebut

dikemukakan oleh

a. Barbara Rokde

b. Rostelnik

c. Osborn

d. Vellman

37

4. Kelinci berkaki empat, berdaun telinga panjang dan makan rumput, pernyataan

diatas menggambarkan keinginan pembelajaran terpadu pada

a. Mendukung konsep anak

b. Tema mengintegrasikan isi dan proses

c. Memungkinkan anak memadukan informasi

d. Memungkinkan anak mempelajari secara mendalam

5. Pembelajaran berbasis tema, anak-anak dapat membentuk konsep melalui kegiatan

pengalaman langsung

a. Mendukung konsep anak

b. Tema mengintegrasikan isi dan proses

c. Memungkinkan anak memadukan informasi

d. Memungkinkan anak mempelajari secara mendalam

KUNCI JAWABAN

1. A

2. D

3. C

4. B

5. A

EVALUASI DIRI

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban yang benar.

Tingkat penguasaan =

100

x

5

5

Arti tingkat penguasaan

= 80 – 100 = Baik sekali

66 – 79

= Baik

56 – 65

= Cukup

40 – 55

= Kurang

38

KEGIATAN BELAJAR IV

STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN

SOSIAL EMOSIONAL

TUJUAN

Menjelaskan tentang tingkat pencapaian perkembangan pada usia :

a. 3 tahun

b. 4 tahun

c. 5 tahun

d. 6 tahun

Tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan

perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu.

Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai

agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional.

Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti bahwa

tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat baik

secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya. Walaupun setiap anak

adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh

faktor internal dan eksternal, namun demikian, perkembangan anak tetap mengikuti

pola yang umum. Agar anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal,

dibutuhkan keterlibatan orang tua dan orang dewasa untuk memberikan rangsangan

yang bersifat menyeluruh dan terpadu yang meliputi pendidikan, pengasuhan,

kesehatan, gizi, dan perlindungan yang diberikan secara konsisten melalui

pembiasaan.

USIA

TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN

3 tahun 1. Mulai bisa mengungkapkan ketika ingin buang air kecil dan buang air

besar.

2. Mulai memahami hak orang lain (antri, menunggu giliran)

3. Mulai menunjukkan sikap berbagi, membantu, bekerja sama.

4. Menyatakan perasaan terhadap orang lain (suka dan tidak suka)

5. Berbagi peran dalam suatu permainan (menjadi dokter, guru, tentara,

polisi)

39

USIA

TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN

4 tahun 1. Mulai bisa melakukan buang air kecil tanpa bantuan

2. Bersabar menunggu giliran

3. Mulai menunjukkan sikap toleran, sehingga dapat bekerja dalam

kelompok

4. Mulai menghargai orang lain

5. Bereaksi terhadap hal-hal yang dianggap tidak benar (marah, menangis

apabila diganggu)

6. Mulai menunjukkan ekspresif menyesal ketika melakukan kesalahan

5 tahun 1. Menunjukkan sikap mandiri dalam memilih kegiatan

2. Mau berbagi, menolong dan membantu teman

3. Menunjukkan antusiasme dalam melakukan permainan kompetitif

secara positif

4. Mengendalikan perasaan

5. Mentaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan

6. Menunjukkan rasa percaya diri

7. Menjaga diri sendiri dari lingkungannya

8. Menghargai orang lain

6 tahun 1. Bersikap kooperatif dengan teman

2. Menunjukkan sikap toleran

3. Mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada

4. Mengenal tata krama dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial

budaya setempat

5. Mematuhi peraturan dan disiplin

6. Menunjukkan rasa empati

7. Memiliki sikap tidak mudah menyerah

8. Bangga terhadap hasil karya sendiri

9. Menghargai keunggulan orang lain

40

LATIHAN

1. Tingkat pencapaian perkembangan sesuai dengan

a. Usia

b. Lingkungan

c. Makanan

d. Pertumbuhan fisik

2. Anak mulai mentaati aturan yang berlaku pada usia

a. 3 tahun

b. 4 tahun

c. 5 tahun

d. 6 tahun

3. Anak bangga terhadap hasil karya sendiri pada usia

a. 3 tahun

b. 4 tahun

c. 5 tahun

d. 6 tahun

KUNCI JAWABAN

1. A

2. C

3. D

41

DAFTAR PUSTAKA

Ali Nugraha, Yeni Rachmawati. 2006. Metode Pengembangan Sosial
Emosional. Jakarta : Universitas Terbuka.

Hadisubrata. 1991. Mengembangkan Kepribadian Anak Balita. Jakarta :
PT. Gunung Mulia.

Hurlock E. B. 1993. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.

Monkt. 1988. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.

Suryabrata S. 1998. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.

Yusuf S. 2002. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.

______, 2010. Standar Pendidikan Anak Usia Dini, Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 58 Tahun 2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->