EORI-TEORI PENGEMBANGAN WILAYAH

:
Secara garis besar, teori perkembangan wilayah di bagi atas 4 (empat) kelompok yaitu: Kelompok pertamaadalah teori yang memberi penekanan kepada kemakmuran wilayah (local prosperity). Kelompok kedua menekankan pada sumberdaya lingkungan dan faktor alam yang dinilai sangat mempengaruhi keberlanjutan sistem kegiatan produksi di suatu daerah (sustainable production activity). Kelompok ini sering disebut sebagai sangat perduli dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kelompok ketiga memberikan perhatian kepada kelembagaan dan proses pengambilan keputusan di tingkat lokal sehingga kajian terfokus kepada governance yang bisa bertanggung jawab (resposnsible) dan berkinerja bagus (good). Kelompok keempat perhatiannya tertuju kepada kesejahteraan masyarakat yang tinggal di suatu lokasi (people prosperity). 1. Teori Keynes Teori ini dicetuskan oleh Keynes Dalam aliran Keynes mengemukakan bahwa karena upah bergerak lamban, sistem kapitalisme tidak akan secara otomatis menuju keseimbangan penggunaan tenaga secara penuh (full employment equilibrium). Akibat yang ditimbulkan adalah justru sebaliknya, equilibrium deemployment yang dapat diperbaiki melalui kebijakan fiskal atau moneter untuk meningkatkan permintaaan agregat. 2. Teori Neoklasik Salah satu teori pengembangan wilayah dan kota menyatakan bahwa salah satu pertumbuhan ekonomi adalah satu proses yang

 Dalam perkembangan ekonomi jangka panjang senantiasa akan muncul kekuatan tandingan yang dapat menanggulangi ketidakseimbangan dan mengembalikan penyimpangan kepada keseimbangan yang stabil sehingga tidak diperlukan intervensi kebijakan secara aktif. penawaran tenaga kerja dan kemajuan teknologi.  Persaingan sempurna tidak dapat diberlakukan pada perekonomian regional dan spasial.  Tingkat pertumbuhan terdiri dari 3 sumber: akumulasi modal.  Modal akan bergerak dari daerah yang mempunyai tingkat biaya tinggi ke daerah yang mempunyai tingkat biaya rendah. Teori “inter” dan “intra” wilayah oleh Mirdal (Era tahun 1950) Dalam teori ini terdapat Pengertian ”backwash effects” dan ”spread effects” Backwash effects contohnya adalah makin . 3.  Implikasi dari persaingan sempurna adalah modal dan tenaga kerja akan berpindah apabila balas jasa faktor-faktor tersebut berbeda-beda.  Tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan akan pindah ke daerah lain yang mempunyai lapangan kerja baru pendorong untuk pembangunan di daerah tersebut. karena keadaan yang terakhir memberikan suatu penghasilan yang lebih tinggi.gradual di mana pada satu saat kegiatan manusia semuanya akan terakumulasi. Dalam teori ini terdapat pernyataan sebagai berikut :  Pemenuhan pekerjaan yang terus menerus tidak dapat diterapkan pada sistem multi-regional dimana persoalan regional timbul disebabkan karena perbedaan-perbedaan geografis dalam hal tingkat penggunaan sumber daya.

Penyebaran tersebut kadang-kadang bergerombol atau berkelompok dan kadang-kadang terpisah jauh satu sama lain. Sementara Spread effects contohnya adalah makin berkurangnya kualitas pertanian masyarakat miskin akibat dampak negatif dari polusi yang disebabkan oleh masyarakat wilayah kaya. baik di dalam negara berkembang masing maupun antara negara maju dengan negara berkembang. desa dan kota-kota yang berbeda-beda ukuran luasnya. sementara kenyataan yang terjadi Jepang semakin kaya dan Indonesia semakin miskin. Atas dasar lokasi dan pola penyebaran pemukiman dalam ruang ia mengemukakan teori yang disebut Teori Tempat Yang Sentral (Central Place Theory) (Nursid Sumaatmadja. Misalnya yang terjadi antara negara Indonesia (dalam hal ini dikategorikan wilayah miskin) dan negara Jepang (wilayah kaya). 1981). 5. Indonesia merupakan salah satu pemasok bahan baku untuk Jepang. Teori Tempat Sentral oleh Walter Christaller tahun 1933 Pada tahun 1933. Teori “trickle down effects” dari pola pembangunan yang diterapkan di wilayah miskin di negara berkembang dirasa tidak berhasil memecahkan masalah pengangguran. kemiskinan dan pembagian pendapatan yang tidak merata. .bertambahnya permintaan masyarakat suatu wilayah kaya atas hasil-hasil dari masyarakat miskin berupa bahan makanan pokok seperti beras yang sumbernya dari pertanian masyarakat wilayah miskin. 4. Maksudnya. tingkat kemiskinan di Indonesia lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan di Jepang. Walter Christaller memusatkan perhatianya terhadap penyebaran pemukiman. Teori Trickle down Effect (Hirschman) EraTahun 1950 Trickle down effects adalah perkembangnan meluasnya pembagian pendapatan.

 Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip minimalisasi jarak/biaya.Penerapan model ini sangat simple karena karakteristik.  Seluruh fasilitas model memiliki iklim. 6.  Tipe pemukiman adalah padat di pusat wilayah (pusat pasar) dan makin berkurang kepadatannya apabila menjauhi pusat wilayah. tanah dan topografi yang seragam. . Asumsi-asumsi dalam model Von Thunen:  Wilayah analisis bersifat terisolir sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain.  Ongkos ditentukan oleh berat barang yang dibawa kecuali perbedaan jarak ke pasar. tingakt pendapatan (daya beli) masyarakat hamper sama.Model ini dikembangkan untuk suatu wilayah abstrak dengan ciriciri sebagai berikut:  Wilayahnya adalah daratan. Asumsi-asumsi yang digunakan Weber: . 7.  Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah  Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tersebar secara merata pada seluruh wilayah.  Fasilitas pengangkutan adalah primitif (sesuai pada zamannya) dan relatif seragam. Teori lokasi biaya minimum oleh Max Weber tahun 1929 Teori ini menganalisis lokasi kegiatan industri. semua adalah datar dan sama. Teori Von Thunen Membahas tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa tanah (pertimbangan ekonomi). semua faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan tanah adalah seragam dan konstan.

. Teori polarization effect dan Trickle down effect (Hirchmant) Dalam teori ini berpandapat bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan. 8. konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat. suatu wilayah yang berkembang akan membuat wilayah di sekitarnya akan ikut berkembang. Dalam teori ini terdapat system polarisasi perkembangan suatu wilayah yang kemudian akan memberikan efek ke wilayah lainnya. Lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen. dan kondisi pasar adalah persaingan sempurna. 10. konsumen enggan karena biaya transportasi tinggi. Teori lokasi pendekatan pasar (Losch) Teori ini melihat persoalan dan sisi permintaan (pasar). pasir dan batu bara tersedia dimana-mana dalam jumlah yang memadai. Teori pusat pertumbuhan (Friedman) Teori ini lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan system pembangunan dengan asumsi bahwa dengan adanya pusat pertumbuhan akan lebih memudahkan dan pembangunan akan lebih terencana.  Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara sporadis dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas.  Tenaga kerja tidak tersebar merata tapi berkelompok pada beberapa lokasi dan dengan mobilitas yang terbatas. 9. iklim yang homogen.  Beberapa sumber daya alam seperti air. Unit telaahan adalah suatu wilayah terisolasi. Makin jauh dari pasar. atau dengan kata lain.

Teori Kutub Pertumbuhan oleh Perroux tahun 1955 Teori ini dikemukakan oleh Perroux pada tahun 1955. Contohnya adalah adanya pembangunan infrastruktur industri pertambangan nikel (PT. Korindo) 12. Inco) di sorowako membuat daerah sorowako yang dulunya terpencil berubah menjadi kota industri (kota yang tercipta karena adanya industri) contoh lainnya adalah Kabupaten Asiki (papua) berkembang karena adanya industri tripleks di daerah tersebut (PT. Dari titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan itulah pembangunan akan menyebar melalui berbagai saluran dan mempunyai akibat akhir yang berlainan pada perekonomian secara keseluruhan. Teori dari Ir. Perroux mengakui kenyataan bahwa pembangunan tidak terjadi dimana-mana secara serentak.11. Sutami tahun 1970 Beliau berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur yang intensif untuk mendukung pemanfaatan potensi sumber daya alam akan mampu mempercepat pengembangan wilayah. . tetapi muncul ditempat-tempat tertentu dengan intensitas yang berbeda. Tempat-tampat itulah yang dinamakan titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan. Era transisi meberikan kontribusi lahirnya konsep hirarki kota-kota dan dan hirarki prasarana jalan melalui orde kota .Perkembangan wilayah tergantung dari sumber daya alam yang terdapat di daerah tersebut. atas dasar pengamatan terhadap proses pembangunan. karena pada umumnya wilayah dengan pusat industri akan manarik masyarakat untuk dating karena potensi lapangan pekerjaan terbuka luas.