P. 1
Tips Pemandu Wisata Alam

Tips Pemandu Wisata Alam

|Views: 1,354|Likes:
Published by Edy Hendras
Buku panduan sederhana bagi pemula untuk memandu wisata ke alam
Buku panduan sederhana bagi pemula untuk memandu wisata ke alam

More info:

Published by: Edy Hendras on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2015

pdf

text

original

Tips

Pemandu Wisata Alam

Edy Hendras Wahyono

KATA PENGANTAR
Buku ini, merupakan sebuah petunjuk praktis bila anda akan membawa wisatawan minat khusus dari nusantara ataupun mancanegara. Minat khusus, maksudnya wisatawan yang khusus ingin mengunjungi lokasi yang dikehendaki untuk mengetahui lebih banyak atau belajar tentang potensi daerah yang dikunjungi. Daerah-daerah yang banyak dikunjungi adalah kawasan yang dilindungi seperti taman nasional, cagar alam, hutan wisata, hutan lindung atau ke lokasi pertanian (agrowisata), dan lokasi lain yang dianggap wisatawan menarik untuk dikunjungi dan dipelajari. Misalnya kebudayaan, adat istiadat, peninggalan sejarah, dsb. Mulanya buku yang disusun ini, sebagian merupakan bahan pelatihan yang disiapkan bagi para pemandu lokal, yang diterbitkan Yayasan Alami, untuk masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Namun setelah dilengkapi dengan berbagai bahan, dan ditambah dengan berbagai pelatihan dibeberapa daerah, maka buku ini dapat digunakan pemandu lokal untuk semua daerah, atau pemandu yang sering memandu namun ingin mendalami masalah pemanduan di alam bebas. Seorang pemandu, tidak harus berlatar belakang pendidikan kepariwisataan. Setiap orang dapat menjadi pemandu, dengan pengalamannya menggeluti suatu bidang, dan bidang tersebut sangat menarik perhatian atau seseorang ingin mengetahui hal tersebut, maka dia dapat menjadi pemandu. Seorang petani yang memiliki keahlian dalam bidang obat-obatan tradisional, dan biasa menggunakannya, maka dia dapat memandu pengunjung dan menjelaskannya hal tersebut kepada pengunjung. Atau seseorang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, ahli perilaku binatang dan pengetahuan lain, maka pengetahuan tersebut dapat dijelaskan kepada wisatawan tentang hal tersebut. Bahan yang ada di dalam tulisan dan petunjuk ini, merupakan rangkaian pengalaman penulis ketika membawa sejumlah wisatawan nusantara ataupun mancanegara, sekelompok pelajar yang ingin belajar tentang alam dan kehidupan, pelatihan yang dilakukan oleh berbagai instansi dan organisasi serta rangkuman beberapa buku bacaan yang ada kaitannya dengan ecoturism (ekowisata). Sebagai buku pedoman, ungkapan pengalaman dan petunjuk praktis, merupakan sebuah pegangan untuk pemandu dilapangan yang sifatnya teori praktis untuk memberikan pengetahuan kepada pengunjung tentang sesuatu yang dilihat dan ingin diketahui, bagaimana menjelaskan sesuatu

2

yang yang unik, aneh, dan baru pertama kali dilihat oleh wisatawan, serta menjelaskan bagaimana cara-cara agar si pengunjung memperhatikan apa yang kita jelaskan, mempercayai yang kita terangkan dan membuat wisatawan senang, gembira, puas dan berkesan selama kunjungan. Penulis berusaha menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin, namun tidak mengurangi makna keilmiahan bila yang dijelaskan telah dibuktikan dengan berbagai penelitian, agar semua kalangan yang ingin menekuni masalah ekowisata dapat memahami. Karena banyak sekali pemandu pemula yang merupakan masyarakat lokal di daerah sekitar kawasan konservasi, yang paham akan kehidupan di alam, mengerti akan kegunaan tumbuhan di alam, namun mereka belum tahu bagaimana cara menyampaikan pengalamannya kepada pengunjung. Mudah-mudahan informasi sederhana ini bermanfaat bagi anda sebagai seorang pemandu pemula atau pemandu yang telah lama menekuni pekerjaannya namun ingin mengetahui seluk beluk tentang wisata alam, tentang ekowista dan ingin mengetahui lebih dalam cara-cara menjadi seorang pemandu ekowisata yang baik. Jakarta, September 1996. wassallam, Penyusun,

3

PENDAHULUAN
Semakin meningkatnya wisatawan yang diperkirakan lebih dari 70 manusia bidang pariwisata harus diperlukan sumber daya manusia terlatih agar dapat memuaskan ditingkatkan. mancanegara dan wisatawan nusantara juta, maka peningkatan sumber daya dikembangkan secara bersamaan serta di bidang pemandu yang handal dan para tamu yang berkunjung, terus

Saat ini banyak wisatawan mulai mencintai alam, kembali ke alam, mengunjungi alam (back to nature) untuk menikmati keindahan alam, dan menghilangkan serta melupakan kesibukan-kesibukan yang dilakukan setiap harinya. Oleh karena itu seorang pemandu tidak cukup hanya ketrampilan sebagai pengantar atau pendamping, akan tetapi lebih dari itu, yaitu pemandu dituntut untuk mengerti tentang kehidupan di alam itu sendiri. Untuk melayani permintaan yang semakin meningkat untuk wisata ke alam, maka ada beberapa istilah yang menawarkan bepergian wisata ke alam bebas, menikmati keindahan panorama dan keunikan kehidupan di alam, serta memberikan keuntungan bagi lingkungan yang dikunjungi (seperti taman nasional, cagar alam dsb) maupun masyarakat di sekitarnya. Maka munculah istilah Ekowisata yang berasal dari kata bahasa Inggris yaitu Ecotourism. Ekowisata, mempunyai beberapa definisi. Namun pada dasarnya adalah perjalan yang bertanggung jawab ke tempat-tempat alami, yang mempunyai usaha pelestarian lingkungan, dan memberikan untung atau ikut mensejahterakan masyarakat di sekitar daerah tujuan wisata. Prinsip inilah yang dimaksud wisata yang bertanggung jawab, sama-sama memberikan keuntungan. Ekowisata (Ecotourism) saat ini sedang banyak diminati oleh berbagai wisatawan yang ingin mengetahui dan belajar lebih banyak dari alam. Ekowisata sebenarnya merupakan bentuk wisata pilihan (alternatif) atau bentuk baru dari wisata alam yang telah lama dilakukan oleh para pelancong yang berkunjung ke kawasan pelestarian alam. Akan tetapi bentuk wisata ini berlainan dengan wisata alam atau wisata petualangan (adventure). Bila wisata petualangan lebih mengandalkan kekuatan fisik, seperti panjat tebing, arung jeram, atau melakukan

4

perjalanan petualangan di alam bebas yang memerlukan fisik yang kuat. Sedangkan ekowisata lebih cenderung untuk belajar mengetahui kehidupan alam, mendidik wisatawan, memberikan informasi dan penjelasan bagi mereka yang datang ke lokasi wisata. Selain itu ekowisata juga menekan sekecil mungkin dampak negatif terhadap lingkungan serta menguntungkan bagi masyarakat di sekitarnya dan lingkung an yang dikunjungi. Oleh karena itu Ekowisata, banyak dikembangkan di berbagai negara. Para pembeli paket ekowisata umumnya wistawan yang ingin berkunjung ke tempat yang sunyi, alamnya masih asli, asri dan belum banyak dirubah oleh tangan-tangan jahil. Mereka ingin kembali ke alam, kembali menghormati alam dan berusaha membantu melestarikannya, melindungi dari kerusakan. Informasi yang benar tentang jenis, fungsi, perilaku, keadaan alam bagi wisatawan adalah sangat penting artinya. Sehingga mereka mengenal, mengetahui dan akhirnya mencintai alam dan kehidupannya itu sendiri. Sebagai seorang pemadu ekowisata atau pemandu lokal yang banyak mengetahui tentang situasi, kondisi dan medan di alam, adat istiadat dan kebudayaan, kehidupan di dalam hutan, keragaman jenis flora dan fauna, pemanfaatan tumbuhan untuk bahan makanan dan obat-obatan dsb., merupakan sumber daya manusia yang perlu dimanfaatkan dalam pengembangan ekowisata. Akan tetapi walaupun telah banyak mengetahui segala macam yang telah disebutkan di atas, tentu ingin mengetahui bagaimana cara penyampaian informasi tersebut kepada pengunjung. Setiap pemandu mempunyai cara tersendiri, dan mempunyai seni tersendiri pula, bagaimana agar si pengunjung senang mengunjungi ke daerah kita, betah tinggal lebih lama, dan sebagai pemandu tentunya akan senang bila mereka puas dengan layanan kita, dengan informasi yang kita sampaikan, serta menjadikan kenangan daerah yang dikunjungi, dengan harapan dapat berkunjung kembali lagi. Di dalam memandu wisatawan yang berkunjung ke kawasan hutan, yang umumnya dilindungi, seorang pemandu diharapkan dapat memberikan contoh perilaku dan memperlakukan alam dengan benar, atau menyampaikan usaha dalam melestarikan kehidupan di alam, atau memanfaatkan hasil hutan secara berkesinambungan. Karena hanya dengan tindakan seperti itu, diharapkan para wisatawan akan membantu dalam usaha pelestarian alam. Oleh karena itu, mulai saat ini, sudah mampukah kita memberikan informasi, layanan dan penjelasan kepada wisatawan tentang kehidupan di

5

alam ?. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini, akan menambah pengetahuan tentang memandu wisatawan ekowisata.

6

PARIWISATA, EKOWISATA DAN JENIS-JENIS WISATAWAN
A.. PARIWISATA & JENIS-JENIS WISATAWAN 1. Pengertian Pariwisata Pariwisata berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari 2 suku kata, yaitu pari berarti penuh, seluruh atau penuh sedangkan wisata artinya perjalanan. Sehingga secara keseluruhan, pariwisata dapat diartikan keseluruhan fenomena atau gejala dan hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan atau persinggahan yang dilakukan oleh seseorang di luar tempat tinggalnya untuk berbagai tujuan. Tetapi perjalanan tersebut bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau melakukan pekerjaan untuk mendapatkan upah. Tujuan-tujuan perjalanan tersebut, tergantung dari minat seseorang untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu untuk mengetahui lebih jauh lokasi yang dituju. Sehingga ada beberapa bentuk dan jenis pariwisata yang dikenal, misalnya : 2. Jenis-Jenis Wisata Ada beberapa jenis wisata yang selama ini dikenal, tergantung dari daerah tujuannya atau dari kunjungan tersebut mendapatkan suatu pengalaman atau hasil yang di harapkan. Jenis-jenis tersebut antara lain : Wisata alam : adalah bentuk perjalanan ke suatu tempat yang masih alami, yang belum mendapatkan banyak gangguan. Misalnya berkunjung ke hutan seperti hutan lindung, taman nasional, cagar alam, hutan wisata dsb. Atau ke gunung, dengan pemandangan, suhu dan suasana yang sejuk, ata bahkan mengunjungi ke indahan laut baik laut panoramanya ataupun pemandangan kehidupan di dasar laut. Wisatawan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang sekedar untuk melihat dan mengetahui keindahan alam lebih dekat. Ada kalanya wisata alam ini mempunyai kegiatan sedikit menantang yang dilakukan oleh pelakunya, sehingga memerlukan kekuatan fisik, mental dan keberanian misalnya menjelajah hutan, memanjat tebing, arung jeram dsb. Namun ada pula yang sekedar melihat dan menikmati akan keindahan alam, mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga, cukup datang ke tempat yang dituju, duduk dan menikmati kesejukan dan kesegaran udara, keragaman tumbuhan dan binatang dsb.

7

Wisata kebudayaan : adalah perjalanan ke pusat-pusat kebudayaan dengan maksud untuk mengetahui lebih dekat, bentuk kebudayaan dari masyarakat tertentu. Apabila tertarik, biasanya dilanjutkan dengan belajar. Wisata belajar (Study-tour) : adalah perjalanan untuk belajar sesuatu yang dilakukan secara berkelompok (biasanya anak sekolah) dan berkunjung ke tempat-tempat yang mempunyai nilai pendidikan. Misalnya berkunjung ke kebun raya, kebun binatang, pusat kebudayaan. Wisata pertanian atau agrowisata: adalah perjalanan untuk mengetahui lebih dekat akan usaha pertanian di suatu tempat. Kunjungan ini biasanya disertai dengan ikut memanen hasil pertanian atau memetik buah yang dihasilkan suatu perkebunan. Jenis wisata ini juga kadangkala mengunjungi tem[pat-tempat peternakan seperti tambak ikan, udang selain berwisata mereka juga belajar. Wisata perbandingan : adalah perjalanan dengan tujuan membandingkan suatu kegiatan yang telah dilakukan oleh seseorang dengan kegiatan yang dilakukan. Sehingga akan ada tukar informasi, tukar pengalaman, mengambil yang baik dan memperbaiki yang kurang dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan.

B. EKOWISATA Ekowisata, adalah terjemahan langsung dari ecotourism (Inggris). Terjemahan ini memang tidak baku, sedangkan terjemah yang benar adalah Wisata Ekologis. Apabila diartikan secara bebas, adalah wisata yang mempelajari timbal balik antara wisatawan dengan alam lingkungannya. Sebenarnya bentuk wisata ini adalah pengembangan dari bentuk wisata wisata sebelumnya yang telah disebutkan diatas. Oleh karena kegiatan wisata saat ini banyak berakibat kurang baik terhadap lingkungan dan masyarakat lokal kurang mendapatkan untuk, maka diperkenalkanlah bentuk baru, yaitu ekowisata. Ada beberapa pengertian tentang ekowisata, diantarnya adalah suatu kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam. Perjalanannya mendukung upaya pelestarian lingkungan ( alam dan kebudayaan) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Wisata ini memang berbeda dengan jenis wisata yang telah disebutkan diatas. Bentuk ini lebih cenderung bersifat pendidikan yaitu mendidik,

8

menginformasikan kepada wisatawan tentang alam dan lingkungan yang dikunjungi. Misalnya seorang dukun desa yang ahli dengan obat-obatan tradisional, mengajari wisatawan tentang cara-cara membuat obat yang diperlukan serta ramuan-ramuan yang diperlukan yang terdiri dari beberapa jenis tumbuhan dan bagian-bagiannya. Atau seorang peneliti, menjelaskan perilaku binatang tertentu yang dipelajari kepada pengunjung dsb. Umumnya wisatawan yang mengikuti paket perjalanan ekowista, berkunjung ke kawasan yang dilindungi. Akan tetapi bentuk wisata ini tidak harus ke kawasan pelestarian alam, dapat juga di luar kawasan yang dilindungi, yang mempunyai potensi alam baik. Namun perlu diingat kunjungan tersebut tidak mengakibatkan dampak yang kurang baik, tetapi sebaliknya yaitu memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat. Misalnya dengan membeli kerajinannya, menginap di rumah penduduk dan memberikan donasi, membeli makanan bila layak untuk wisatawan atau memberikan sumbangan kepada organisasi untuk kemajuan masyarakat setempat ataupun lingkungan alam. C. JENIS-JENIS WISATAWAN DAN PERILAKUNYA 1. Jenis-Jenis Wisatawan Memang tak ada ketentuan di dalam pengelompokan wisatawan yang datang ke daerah tujuan wisata, akan tetapi agar mudah di dalam pelayanan, di bawah ini ada beberapa jenis wisatawan yang umumnya datang atau dilayani oleh biro perjalanan wisata atau pemandu untuk mengunjungi ke berbagai daerah. Kelompop-kelompok wisatawan tersebut antara lain : a). Explorer Yaitu wisatawan, umumnya jumlah terbatas, mempunyai jiwa petualang. Mereka tidak memerlukan tempat khusus untuk menginap ataupun makan, lebih senang berinteraksi langsung dengan masyarakat, sifatnya tidak terlalu banyak mengeluarkan uang, karena terbatas. Termasuk didalamnya adalah wisatawan yang ingin melihat keindahan alam bebas, mendaki gunung. Umur berkisar 25 - 45 tahun. b). Wisatawan Minat Khusus Yaitu sekelompok kecil wisatawan atau perseorangan yang mempunyai maksud dan tujuan khusus, sesuai dengan minat atau hobi yang dimiliki. Seperti melihat burung, menyelam, milihat satwa liar. Umumnya sedikit sekali yang menyukai kebudayaan. Mereka

9

orang berada, memerlukan tempat dan pelayanan khusus, dan sering melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lain. Kelompok ini termasuk juga para ilmuwan, umur berkisar 30 - 70 tahun. c). Wisatawan Banyak Minat Mereka menyukai alam atau satwa liar, yang tak sulit untuk dikunjungi atau dilihat, serta mereka senang berkunjung ke masyarakat, menyukai kebudayaan. Senang berjalan namun tidak terlalu jauh, umumnya mereka berada dan memerlukan tempat dan pelayanan khusus, namun mereka juga ingin mencoba fasilitas atau hal-hal yang primitip. Umur berkisar 35 - 60 tahun. d). Wisatawan Backpacker (ransel) Wisatawan yang mempunyai keinginan untuk melakukan perjalanan panjang dengan pengeluaran yang sedikit mungkin, segala sesuatunya haruslah yang murah baik penginapan, transportasi atupun makanan. Mereka ingin mencari banyak pengalaman, dengan berjalan di hutan, melihat sesuatu yang sifatnya exotic. Umumnya mereka adalah petualang muda yang umurnya berkisar 18 - 25 tahun. e). Wisatawan Rombongan Adalah wisatawan yang mempunyai rombongan cukup besar, umumnya mereka berada, senang mengunjungi tempat yang indah, kebudayaan masyarakat. Mereka juga menyukai melihat satwa liar yang mudah untuk dikunjungi. Umumnya memerlukan pelayanan dan tempat yang baik. Di dalamnya termasuk rombongan/ penumpang yang menggunakan kapal mewah. Umur berkisar 40 - 80 tahun. 2. Beberapa Perilaku Wisatawan Mancanegara Perilaku manusia memang beraneka, tentu satu sama lain tidak sama, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Di bawah ini ada beberapa perilaku wisatawan asing, yang umumnya dijumpai saat memandu mereka. Turis yang datang, berasal dari berbagai negara yang mempunyai tingkah laku, bahasa, kebiasaan yang berbeda. Oleh karena itu, kita harus memaklumi, sebatas norma-norma adat istiadat yang dapat diterima sebagai orang timur. Misalnya yang perlu kita peringatkan, tidak memakai baju atau tidak menutupi aurat (terutama wanita) sehingga mengundang protes masyarakat, atau tindak kriminal. Turis, biasanya mempunyai keinginan yang sangat banyak, namun semua permintaan tidak harus dituruti, akan tetapi dapat dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

10

Apa bila turis melakukan sesuatu yang menurut pandangan masyarakat desa, merupakan hal yang tabu, maka pemandu wajib memperingatkan. Pada saat istirahat/tidur, biasanya turis menyukai situasi yang tenang. Turis adalah pembeli (=raja) yang biasanya menuntut banyak yang sesuai dengan apa yang dibeli. Misalnya, dalam suatu paket dituliskan makan sesuatu, tapi tidak tersedia, dan tidak ada pemberitahuan, biasanya turis akan menuntut. Hal itu wajar, karena di negaranya mereka biasa dengan keterusterangan.

11

MENJADI PEMANDU
Pemandu wisata mempunyai peranan yang sangat penting di dalam industri pariwisata, karena harus mampu membuat wisatawan memperoleh kesan yang baik, tentang tempat, daerah dan obyek wisata yang di lihat atau dikunjunginya. Hal ini perlu diperhatikan, karena bila pertama kali memberikan pelayanan yang baik dan membuat kesan yang menyenangkan, maka selanjutnya akan memberikan kesan yang baik, tak hanya bagi wisatawan yang dipandu, akan tetapi menjadikan buah bibir diantara wisatawan yang akan datang. Seorang pemandu adalah duta negara, yang memberikan informasi sejelas mungkin kepada wisatwan (khususnya wisatawan asing). Oleh karena itu seorang pemandu dituntut untuk mampu memberikan pengertian terhadap alam kehidupan Indonesia, tata krama adat istiadat yang dimiliki bangsa negeri ini. Untuk menjadi yang terbaik, seorang pemandu harus membekali dirinya dengan ilmu dan pengetahuan yang berkaitan erat dengan kegian wisata. Ada beberapa persyaratan yang perlu disiapkan sebelum menjadi seorang pemandu, yaitu : A. Persiapan Mental Dan Rohani Daya pikir dan daya nalar merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan dari awal. Seorang yang berpendidikan tinggi bukanlah merupakan suatu faktor yang menentukan baik buruknya menjadi pemandu. Sangat penting bagi seorang pemandu adalah berpikir praktis dan sistematis di dalam menjalankan tugasnya menjadi pemandu wisata. Berpikir secara sistematis di dalam pemanduan, hendaknya dimulai dengan bertanya pada diri sendiri, yaitu : Apa yang akan dihadapi dan dikerjakan, apa masalah yang akan dihadapinya dan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Pertanyaan ini dapat dikembangkan terus sesuai dengan kondisi dan situasi. Siapa wisatawan yang akan dilayani. Dengan demikian seorang pemandu dapat menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari bahan ceritera, bahan makanan, route perjalanan hingga kemungkinan penyakit yang dimiliki oleh wisatawan.

12

Kapan, hal ini menyangkut masalah waktu. Suatu hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah selalu tepat waktu. Dengan memperkirakan waktu yang diperlukan dalam suatu perjalanan. Dimana, erat kaitannya dengan daerah tujuan wisata atau obyek yang akan dituju. Sehingga seorang pemandu sudah menyiapkan suatu ceritera yang menarik untuk wisatawan. Bagaimana, menyangkut pelaksanaan di lapangan. Berkenan atau tidak suatu obyek yang akan disajikan, atau kemungkinan menyangkut tentang perjalanan atau cara/tehnik dalam pemanduan yang akan digunakan. Berapa, menyangkut jumlah orang yang akan dipandu. Dengan demikian akan tahu persis hal-hal yang harus persiapan. B. Persiapan Fisik Dan Jasmani Penampilan diri yang segar, tubuh yang prima, pikiran jernih sedang tidak kacau, semangat, tampak gembira selama mendampingi dan memberikan penjelasan kepada wisatawan, merupakan salah satu kunci sukses di dalam memandu. Kondisi yang demikian akan tercapai bila selalu menjaga kondisi tubuh. Sebab, apabila kondisi tubuh kita sedang tidak sehat, atau pikiran sedang kacau, maka di dalam menyiapkan atau menjelaskan suatu ceritera, akan tidak tercapai suatu yang diharapkan. Kemungkinan akan membuat wisatawan kecewa. Untuk itu apabila pikiran sedang tidak jernih, banyak masalah, sebaiknya tidak memandu. C. Persiapan Pengetahuan Seorang pemandu wisata yang sudah dikenal atau sering direkomendasikan untuk memandu suatu rombongan, terletak pada pengetahuan yang mereka miliki. Pengetahuan-pengetahun tersebut antara lain : Pengetahuan tentang obyek wisata yang dikunjungi, seperti obyek alam termasuk flora fauna, obyek budaya, dengan suatu kemasan yang menarik. Sehingga wisatawan terkesan dan mendapatkan suatu pengetahuan yang baru dari pemandu. Suatu ceritera sederhana, namun penyampaian ceritera tersebut dengan baik dan menarik serta menggunakan gaya bahasa ataupun bahasa tubuh, akan memberikan nilai tambah kepada seorang pemandu. Bahasa dan komunikasi, merupakan hal yang harus dimiliki oleh pemandu. Pandai berbahasa asing, namun tidak dapat berkomunikasi dengan wisatawan, tidak ada artinya. Karena komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam

13

pemanduan. Bagaimana pemandu akan berceritera atau menjelaskan suatu obyek bila tidak mampu untuk berkomunikasi ?. Menghadapi wisatawan. Ada kalanya seseorang sudah akan ““grogi”” atau ““kaku”” sebelum bertemu dengan wisatawan. Oleh karena itu tehnik menghadapi dan menghilangkan rasa keraguan menghadapi wisatawan, seorang pemandu perlu mempelajarinya. Ada beberapa cara yang sederhana untuk menghilangkan kegrogian, atau takut salah dalam berceritera atau menginformasikan sesuatu. Anggaplah bahwa yang mengetahui ceritera itu hanyalah anda, dan wisatawan yang umumnya baru datang tidak mengerti atau belum tahu benar tentang obyek yang diceriterakan. Tehnis pelaksanaan. Seorang pemandu tidak akan dapat bekerja sendiri, tanpa ada kerjasama dengan biro perjalanan. Seorang pemandu tidak akan mengerti atau puas tidaknya penlayanannya yang diberikan kepada wisatawan yang dipandu, tanpa mengadakan evaluasi diri. Seorang pemandu mempunyai tehnik tersendiri di dalam memandu. Mengenai hal-hal tehnis di lapangan, seorang pemandu harus memiliki kerjasama dengan siapa saja bila ingin meningkatkan karirnya. D. Kode Etik Pemandu Wisata Sebagai seorang pemandu wisata yang baik, harus berpedoman kepada kode etik Pramuwisata Indonesia, yang merupakan penjabaran dari The Tour Guide Decalugue (Ten Comandement). Kode etik ini adalah sebagai berikut ; 1. Pramuwisata merupakan wakil negaranya, sikap dan tindak tanduknya haruslah mencerminkan tindak dan tanduk negaranya. 2. Selalu rapi dan berpakaian pantas dan bersih. 3. Bersikap wajar dengan penuh pertimbangan serta tidak mengurangi keakraban dengan wisatawan. 4. Bangga akan tanah air dengan mematuhi peraturan yang berlaku, menghormati tradisi yang terdapat pada suatu daerah dan mengajak wisatawan untuk mematuhinya. 5. Tidak pernah memberikan pandangan yang negatif terhadap cara hidup seseorang dari suku/bangsa lain. 6. Berikan perhatian yang sama kepada anggota/atau rombongan. Jangan hanya seseorang atau sebagian dari rombongan yang dipandu. 7. Berikan informasi yang benar, tepat dan bukan informasi yang hanya kabar burung. 8. Jangan sesekali berbohong, lebih baik mengakui ketidak tahuan dari pada berbohong.

14

9. Tidak sekali-kali meminta imbalan lebih dari yang seharusnya dibayar oleh wisatawan, jangan mengharap atau meminta imbalan dalam menjalankan tugas. 10. Tidak mengkritik atau berkata negatif terhadap pelayanan pemandu wisata lain dihadapan wisatawan, dan tidak menganjurkan wisatawan berkunjung ke obyek wisata yang tidak baik kondisinya. Apabila hal-hal tersebut sudah dimiliki oleh seseorang, mereka dapat menjadi seorang pemandu. E. Beberapa Istilah Selain istilah Pemandu atau Pramuwisata, ada beberapa istilah yang sering digunakan atau dipakai selama melakukan perjalanan. Istilah-istilah tersebut antara lain : 4.1. Pramuwisata Atau Pemandu/Guide Adalah seseorang yang mendampingi serombongan orang, dan mempunyai keahlian atau yang dapat menerangkan sesuatu kepada rombongan tersebut. Pemandu ini ada beberapa tingkatan, tergantung dari segi pengalaman, kwalitas dan operasional. Pemandu muda atau pemula : Pemandu ini ruang lingkupnya masih sempit, misalnya daerah operasinya terbatas pada daerah Tk II atau kabupaten. Untuk mendapatkan lisensi atau ijin operasional, didapatkan dari Dinas Pariwisata Tk II., biasanya dengan pelatihan serta kurikulum yang sudah baku. Pemandu madya : Untuk menjadi pemandu madya, umumnya bila pemandu sudah mendapatkan ijin operasional atau lisensi pemandu muda. Operasional cukup luas, meliputi daerah Tk I atau propinsi. Untuk mendapatkannya biasanya mengikuti pelatihan pemandu madya yang diadakan oleh Kantor Wilayah Pariwisata Tk I. Tour operator : Dalam tingkatan pemandu, tour operator merupakan tingkatan yang paling tinggi. Mereka dapat membawa wisatawan ke seluruh propinsi. Untuk mendapatkan lisensi, biasanya dilakukan pelatihan yang diadakan oleh Departemen Pariwisata. Walaupun sudah dapat membawa wisatawan dengan ruang lingkup yang tidak terbatas, diharapkan tour operator menggunakan pemandu lokal atau muda, karena walaupun bagaimana, pemandu daerah lebih banyak mengetahui tentang seluk beluk daerahnya. Selain itu, pemandu muda yang operasionalnya terbatas, dengan pengetahuan yang hanya di daerah, dapat mendapatkan hasil dari kunjungan wisatawan yang datang ke daerahnya.

15

4.2. Penunjuk Jalan Adalah seseorang yang menjadi petunjuk dalam suatu perjalanan karena pengalaman melewati suatu daerah tertentu. 4.3. Penterjemah Adalah seseorang yang karena keahliannya dan menguasai bahasa tertentu, mengalih bahasakan dari pemandu/masyarakat ke dalam bahasa turis yang didampingi. 4.4. Porter Adalah pembawa barang - barang milik rombongan. F. Persiapan Bagi Pemandu Pemandu wisata dapat dilakukan oleh siapa saja yang merasa dirinya mampu untuk mengantarkan seseorang mengunjungi tempat yang dikehendaki. Misalnya mengantarkan wisatawan ke kawasan yang dilindungi seperti taman nasional, hutan wisata, cagar alam atau lokasi peninggalan sejarah seperti candi, kebudayaan, adat istiadat dan sebagainya. Namun dapat juga mengantarkan ke tempat-tempat tertentu yang memiliki daya tarik tersendiri seperti pertanian, perkebunan, perikanan atau dapat juga daerah yang dibuat untuk tujuan pariwisata seperti Taman Mini Indonesia, Kebun Binatang, Ancol, Wisata Laut dan masih banyak lagi. Walaupun setiap orang dapat melakukannya, tetapi ada beberapa hal yang perlu disiapkan seseorang yang ingin menekuni sebagai penjual jasa pelayanan seperti pemandu, khususnya pemandu ekowisata. Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum menjadi pemandu ekowisata, antara lain : 5.1. Pengetahuan Keadaan Alam Dan Lingkungan Sebelum seseorang menyatakan sebagai seorang pemandu dalam suatu kawasan atau di daerahnya, sedikitnya harus menguasai : Kehidupan masyarakat (jumlah penduduk, pekerjaan dsb). Yang dimaksud di sini adalah, tentang kehidupan masyarakat di desanya. Misalnya jumlah penduduk, pekerjaan orang yang ada (pekerjaan pokok) dsb. Adat istiadat & kebudayaan : Adat istiadat serta kebiasaan kebiasaan setiap hari, ini sangat penting artinya untuk menjelaskan setiap pengunjung yang datang ke daerahnya. Misalnya larangan atau pantangan. Kebudayaan juga penting

16

artinya sebagai bahan ceritera untuk turis yang senang mempelajari seni dan budaya. Alam lingkungan (tumbuhan dan satwa), panorama : Sebagai pemandu ekowisata, selayaknya mengetahui sedikit banyak tentang kehidupan satwa ataupun tumbuhan, dan tempat pemandangan yang indah. Paling tidak mengenal suara satwa, binatang yang hidup di sekitarnya dan mengenal tumbuhan apalagi bila tahu khasiat dan manfaat suatu tumbuhan tertentu, akan sangat menarik untuk diceriterakan kepada turis. Kondisi medan : atau keadaan medan atau lokasi yang menjadi tujuan berwisata. Ini harus tahu benar jangan sampai saat membawa turis tersesat. 5.2. Cara Mendapatkan Pengetahuan Membaca : tulisan atau laporan dari berbagai sumber, bisa dari peneliti, surat kabar dsb. Tulisan yang menyangkut tentang daerah yang dimaksudkan sangat penting artinya sebagai sumber informasi. Tulisan ini biasanya tersimpan pada perpustakaan seperti taman nasional, Sub Balai KSDA atau instansi lain yang ada kaitannya dengan kebudayaan, adat istiadat, pertanian, perkebunan dan sebagainya. Bertanya dan diskusi : Cara lain adalah dengan bertanya, berdiskusi dengan ahlinya, sesepuh, atau orang yang berpengalaman di bidangnya. Misalnya tanaman obat-obatan, atau tarian tradisional, umumnya para orangtua masih mengetahui tentang hal itu, dikhawatirkan bila mereka yang sudah lanjut usia tak ada lagi, akan hilanglah pengetahuan yang dimilikinya, berarti hilang pula ilmu yang telah ada. Pengalaman : Misalnya anda pernah menjadi pendamping peneliti, pernah melakukan pengoleksian tanaman obat, mencari tanaman obat, melakukan hal-hal yang disebutkan di atas. Belajar dari turis itu sendiri/selama menjadi pemandu. Biasanya wisatawan yang datang, khususnya wisatawan ekowisata, banyak yang telah mengunjungi daerah serupa di negara-negara lain. Bertanyalah keahliannya dan bila perlu tukar pengalaman atau tentang sesuatu yang sekiranya kita belum jelas. 5.3. Bahasa Memang sebaiknya setiap pemandu menguasai bahasa asing (minimal bahasa Inggris), namun kemampuan berbahasa Inggris ini jangan dijadikan suatu kendala, pengetahuan alam lebih penting. Bahasa Inggris dapat dipelajari setahap demi setahap, misalnya masyarakat yang menjadi pemandu wisata lokal dapat belajar secara

17

langsung dengan pemandu wisata yang sudah berpengalaman dari Biro Perjalanan Wisata yang membawa tamu ke daerah tersebut. 5.4. Persiapan Memandu Sebelum Wisatawan Datang Apa yang harus disiapkan seorang pemandu sebelum wisatawan yang sudah diketahui akan datang ?. Di bawah ini ada beberapa yang sebaiknya disiapkan oleh pemandu untuk memudahkan agar wisatawan yang datang tidak terlalu lama menunggu untuk berangkat ke hutan/lokasi tujuan wisata alam yang diinginkan. Persiapan tersebut antara lain : Perijinan (RT, Kepala Desa, Kecamatan, Kepolisian, Babinsa, Taman Nasional) : Perijinan atau pemberitahuan ini sangat penting artinya untuk faktor keamanan, apa bila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Selain itu ada suatu kawasan (seperti taman nasional atau daerah yang dilindungi) setiap orang harus wajib melaporkan atau minta ijin masuk, atau membeli tiket/karcis. Hal ini juga bermanfaat untuk mendata jumlah pengunjung yang memasuki wilayah yang bersangkutan. Ada beberapa daerah yang mempunyai peraturan atau perijinan yang ketat bagi pengunjung, khususnya wisatawan asing. Hal ini diberlakukan di daerah yang dianggap masih rawan, seperti Irian Jaya. Perijinan ini masih berlaku untuk beberapa daerah di Indonesia, yang masih belum banyak dikunjungi wisatawan. Namun bila daerah yang sudah menjadi atau banyak dikunjungi wisatawan, biasanya laporan sudah dilakukan oleh pemilik penginapan. Penginapan : Apakah sudah siap tempat untuk menginap atau tinggal bila ada wisatawan ?. Apakah sudah memesan penginapan untuk sejumlah turis yang akan datang ?. Bila wisatawan yang akan datang ingin berkunjung ke desa-desa, apakah sudah disiapkan penginapan ?. Untuk di desa cukup disediakan kamar yang bersih, dan ada kamar kecilnya. Makanan ; Apakah telah tersedia makanan untuk jangka waktu tertentu ?. Apakah harus disediakan makanan ala barat ?. Apakah tour operator/ wisatawan membawa makanan sendiri ? Apakah perlu disiapkan makanan kaleng, atau cukup makanan seadanya seseuai yang dimakan oleh penduduk setempat. Penting diketahui, masalah makanan, umumnya wisatawan ada yang tidak makan daging (Vegetarian), mereka hanya memakan makanan dari tumbuhan seperti sayuran, buah dsb. Transportasi : Apa ada jemputan dari desa terdekat?.Apa cukup jalan kaki, baik saat datang ataupun pulang. Kalau perlu kendaraan sebaiknya sudah dipesan sebelum wisatawan datang.

18

Menyiapkan Bahan Ceritera Menyiapkan bahan ceritera untuk wisatawan yang akan datang, memerlukan cara tersendiri. Setiap pemandu, tentu mempunyai cara dan gaya yang berbeda. Khusus mengenai ceritera untuk wisatawan ekowisata, tentunya tidak jauh dari masalah kehidupan di alam beserta adat istiadat masyarakat di sekitarnya. Dibawah ini ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk acuan dalam pembuatan ceritera yang menarik. 1. Siapkan bahan ceritera, khususnya yang akan diceriterakan di hutan atau di lokasi, misalnya satwa yang mungkin akan ditemui, tumbuhan atau kebudayaan masyarakat. 2. Pilih satwa-satwa yang biasa ditemui dan ceriterakan kebiasaan perilakunya, tentu mempunyai perilaku yang unik dan lucu.Kemas ceritera tersebut dengan menggunakan bahasa yang menarik, sehingga mengundang keingintahuan wisatawan untuk mendengarkannya. Misalnya, mengapa monyet ekor panjang atau kunyuk atau bedes atau kra (Macaca fascicularis) juga dalam bahasa Inggris disebut ““Crabs eating macaque””. Kisah ceritera yang lucu, bahwa monyet ini sering makan kepiting. Mereka mempunyai cara tersendiri saat memancing kepiting dengan ekornya. Ekor dimasukkan ke dalam lubang, monyet tersebut diam dan bersabar menanti seperti halnya orang memancing ikan. Bila ekornya sudah merasakan digigit kepiting, perlahan-lahan monyet tersebut menarik ekornyanya atau berjalan pelan-pelan. Sampai dipermukaan, dengan cepat monyet tersebut menangkap kepiting. Dengan mengemas ceritera yang menarik, lucu tersebut, akan menarik perhatian kepada pengunjung, sehingga keinginan tahuan dan minat pengunjung akan bertambah untuk lebih banyak mendengar ceritera yang serupa. 3. Cara yang mudah untuk membuat ceritera, bila semua pemandu lokal telah sepakat dan membuat route perjalanan, sehingga selama dalam perjalanan, sudah ada tempat-tempat tertentu yang dibuat sebuah ceritera. Misalnya dengan menandai sebuah pohon yang mempunyai khasiat sebagai bahan obat-obatan. Sehingga setiap pemandu yang membawa wisatawan akan selalu ingat menceriterakan pohon tersebut. Atau ceritera apa saja sepanjang route yang telah dibuat, misalnya sawah, kebiasaan masyarakat mengusir satwa liar dengan menggunakan patung, tempat keramat dsb. Untuk membuat ceritera ini, sebelumnya dilakukan survey dan

19

identifikasi, sehingga dapat dibuat poin-poin yang menarik (point of interest) untuk sebuah ceritera. Ceritera menarik ini dapat dikemas secara singkat dan disampaikan sebelum masuk ke kawasan hutan, penjelasan rincinya dapat diceriterakan selama dalam perjalanan. Perlu diingat, bila saat bertemu dengan satwa, menceriterakan perilaku mereka haruslah perlahan-lahan jangan sampai mengganggu aktifitas satwa tersebut. G. Memandu. Selama memandu, pemandu harus memperhatikan persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan. 6.1. Persiapan Sebelum Berangkat Perlu dipersiapkan, diperhatikan atau diingatkan kepada pengunjung adalah, sudahkah memakai sepatu, sudahkah membawa peralatan yang diperlukan seperti kompas (bila perlu) teropong (yang menyukai burung/pengamatan atau satwa liar), makanan, minuman atau peralatan pribadi lainnya. Jika akan melewati daerah yang terbuka/panas, sudahkah mengoles dengan krem pelindung kulit, khusus bagi mereka yang kulitnya sangat peka. Persiapan ini perlu diAtau akan melewati suatu daera 6.2. Selama Persiapan Sebelum berangkat, pemandu perlu menjelaskan rute perjalanan, menjelaskan peta (bila perlu setiap orang mendapatkan peta) dan perkiraan waktu perjalanan (berapa menit, jam) untuk menuju ke lokasi yang dituju. Perlu dijelaskan pula, apabila ada, larangan atau pantangan yang tak boleh dilakukan oleh pengunjung. 6.3. Menceriterakan Potensi Alam Selama perjalan, sebisa mungkin pemandu dapat menjelaskan potensi alam yang dimiliki, ditemui, dan bila ada, manfaatnya bagi kehidupan manusia. Misalnya tumbuhan obat, manfaatnya untuk menyembuhkan penyakit sesuatu.

H. Tip Penyampaian Informasi Ke Pengunjung 7.1. Tersenyum Dengan senyuman mengandung seribu arti. Maksudnya, dengan raut wajah yang ceria, para pengunjung akan menganggap diri kita sebagai

20

pemandu, merasa senang dengan kedatangan mereka, sehingga apa yang akan kita sampaikan kepada pengunjung akan diterima dengan senang hati. Khususnya penyampaian informasi di lapangan sebaiknya dijelaskan dengan santai, sehingga tamu-tamu kita yang sebenarnya adalah wisatawan yang ingin belajar dari alam, mengisi liburan, akan menerima dan senang hati mendapatkan informasi yang kita berikan. 7.2. Gunakan Bahasa Yang Aktif Yang dimaksud di sini adalah, bahasa yang sederhana, dan mengundang perhatian para pengunjung. Misalnya. ““Kelelawar mengawinkan tumbuhan”” bukan ““tumbuhan dikawinkan oleh kelelawar””. 7.3. Buat Informasi Yang Menarik Informasi yang diberikan sedapat mungkin membuat pengunjung ingin tahu lebih banyak, dan menimbulkan pertanyaan, sehingga mereka akan memperhatikan kita. Contoh, masalah pacaran, dan memilih pasangan hidup. Pacaran dan memilih padangan hidup, tidak hanya dilakukan oleh manusia, bangsa monyetpun melakukan hal itu pilihpilih pasangan, misalnya orangutan. Pada musim kawin orangutan jantan atau betina tidak sembarangan pilih pasangan. Atau, ternyata Owa-owa itu kesetiaannya terhadap pasangan adalah sehidup semati, mereka tidak pernah berselingkuh, tidak seperti manusia, dan sebagainya. 7.4. Pengetahuan Dan Kenyataan Banyak orang percaya dan ingin tahu tentang hasil penelitian seorang ahli dalam bidangnya. Namun informasi tradisional yang akan disampaikan diusahakan didukung dengan hasil penelitian para ahli. Seumpamanya, masyarakat disekitar hutan yang tak pernah mengenal kompas, untuk menentukan arah di dalam hutan mereka melihat tumbuhan merambat/lumut yang menempel pada batang pohon. Bila tumbuhan tersebut merambat atau menempel di salah satu sisi pohon, mereka percaya sisi pohon itu menghadap ke arah ‘‘timur’’. Secara ilmu pengetahuan, setiap tumbuhan membutuhkan sinar matahari untuk melakukan fotosintesa. 7.5. Perumpamaan Berikan perumpamaan seolah-olah kehidupan di hutan itu seperti kehidupan manusia. Misalnya, kehidupan di hutan itu sangat ramai bila di pagi hari seperti Owa-owa , dan burung, selalu bernyanyi sahut menyahut layaknya manusia yang sedang berpaduan suara. Atau tumbuhan juga mempunyai perasaan, bila diperlakuan dengan kasih sayang, mereka juga akan tumbuh subur dsb.

21

7.6. Bagaimana Menjadi Pemandu Yang Disukai Dan Menyenangkan Pernahkah terpikirkan oleh seorang pemandu akan suatu istilah Hospitality Industry (Industri keramahtamahan) ?. Banyak pengertian tentang hal ini. Orang akan bahagia dan senang apabila kebutuhan mereka dipenuhi sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya seseorang tidak akan merasa senang dan bahkan frustrasi bila kebutuhannya tidak dapat dipenuhi. Walaupun hal ini kelihatannya sangat sederhana akan tetapi merupakan titik kunci bagi pemandu untuk menjadi pendamping yang disukai dan menyenangkan. Seorang pemandu yang berpengalaman, harus menjawab dua pertanyaan berikut : 1. Apakah yang diinginkan wisatawan yang dipandu ?. 2. Apa yang dapat dilakukan untuk memuaskan keinginana wisatawan ?. Kedua pertanyaan tersebut merupakan hal yang dapat dijadikan kunci bila ingin menjadi pemandu wisata yang menyenangkan dan disukai wisatawan. Namun tugas ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan, karena pada dasarnya manusia mempunyai masalah yang komplek dan kebutuhan yang berbeda.

22

TUGAS & SIKAP SEORANG PEMANDU EKOWISATA
Apabila di atas telah disinggung tentang pemandu wisata dengan berbagai seluk beluknya, maka di bawah ini akan membicarakan pemandu minat khusus, terutama tentang ekowisata. Pemandu ekowisata, memang sedikit berbeda dengan pemandu umum. Perbedaannya, terletak pada obyek yang akan diperkenalkan kepada wisatawan, diantaranya adalah obyek yang berkaitan dengan kehidupan di alam, dan hubungan timbal baliknya antara usaha wisata dengan kehidupan di lingkungan sekitarnya, baik masyarakat ataupun alam yang dikunjungi. Oleh karena itu, ada beberapa tugas dan sikap seorang pemandu ekowisata yang perlu diperhatikan, antara lain : A. Tugas Pokok Seorang Pemandu.

RENUNGKAN :

1. Ikut Menjaga Keutuhan Dan Kelestarian Jika anda menjaga Lingkungan kelestarian sumber daya Menjelaskan kepada wisatawan tentang alam yang berpotensi peraturan lokal (adat istiadat, norma untuk wisata, berarti sosial, agama, budaya, tradisi masyarakat anda telah melestarikan setempat) serta peraturan kawasan sumber pendapatan konservasi (yang boleh dan tidak boleh sendiri dan pendapatan dilakukan) banyak orang Mengawasi dan mengoreksi perilaku wisatawan selama perjalanan. Menganjurkan kepada wisatawan untuk membeli suvernir yang ramah terhadap lingkungan dan menganjurkan untuk tidak membeli yang merusak lingkungan. Memberikan contoh atau teladan pada masyarakat setempat sebagai seorang yang perduli terhadap lingkungan. 2. Meningkatkan Apresiasi Wisatawan Terhadap Keanekaragaman, Kekaya-An Hayati, Dan Budaya Indonesia Memberikan informasi ten-tang keanekaragaman kehi-dupan daerah yang dikunju-ngi dengan benar, misalnya berkunjung ke pusat informasi. Memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendiskusikan tentang perjalanan setiap harinya.

23

Memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk turut serta dalam kegiatan sosial budaya masyarakat setempat sepanjang tidak bertentangan dengan nilai yang berlaku. 3. Mengatur Wisatawan (Rombongan Atau Perorangan Dalam Wilayah Tertentu Mengenali latar belakang wisatawan dan keinginannya. Memadukan keinginan wisatawan dengan daya tarik di dalam kawasan termasuk negoisasi dalam perencanaan. Mampu mengatur waktu dan mendisiplinkan jadwal perjalanan. Mengenali kemampuan fisik wisatawan dalam upaya memberikan informasi secara merata. Mengantisipasi dan mengatasi masalah yang timbul di lapangan. 4. Memberikan Penjelasan Tentang Rencana Perjalanan Dalam Wilayah Tertentu Memberikan gambaran situasi dan penjelasan tehnis perjalanan Mengecek perlengkapan dan bahan makanan. Memberikan penjelasan kemungkinan terjadi perubahan jadwal perjalanan. 5. Menjelaskan Tentang Obyek-Obyek/Daya Tarik Wisata Menceriterakan keadaan alam kawasan yang dikunjungi, menceriterakan hal-hal yang menarik secara atraktif sepanjang perjalanan, seperti sejarah, kebudayaan, kepercayaan dan seni budaya setempat yang berhubungan dengan obyek dan daya tarik ekowisata. Memberikan ceramah singkat tentang hal-hal yang menarik sepanjang perjalanan dengan cara melihat, menyentuh, mencium, mencicipi, mendengar, meraba dsb. Memberikan penjelasan tentang pengembangan dan pelestarian obyek-obyek wisata dan daya tarik ekowista. 6. Memberikan Pertolongan Kepada Wisatawan Yang Sakit Mendapat Kecelakaan, Kehilangan Atau Musibah Lainnya Melakukan cara-cara P3K, baik secara tradisional maupun medis. Mengambil tindakan cepat dan tepat ke instansi yang terkait. Mempelajari lokasi terdekat untuk pengobatan (Rumah Sakit, Puskesmas dll), mengantisipasi bila terjadi kecelakaan. 7. Menjaga Keselamatan, Kenyamanan Dan Keamanan Wisatawan. Memberikan tentang petunjuk praktis tentang kesehatan perjalanan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang dapat membahayakan wisatawan.

24

Menjamin tingkat kenyamanan sesuai dengan kondisi setempat mengatur dan membatu perijinan. B. Sikap Seorang Pemandu 1. Jujur dan terus terang : Jujur adalah masalah pokok yang harus dipunyai seorang pemandu,. karena kejujuran merupakan hal yang dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap pemandu. Sebaliknya jika tidak mempunyai sifat ini, akan merusak reputasi/citra pemandu itu sendiri atau daerah tujuan wisata itu sendiri. Kita harus ingat bahwa kunjungan yang pertama, bila kita jujur dan baik pelayanan terhadap turis, kelak di kemudian hari akan dikunjungi lagi. atau kita mendatangkan turis, tujuannya adalah agar turis tersebut dapat datang lagi di kemudian hari atau memberitahukan kepada teman, tetangga, saudaranya untuk berkunjung. 2. Sebagai orang timur, sebaiknya kita tidak perlu meniru perilaku turis yang tidak pantas untuk kehidupan masyarakat kita. 3. Terus terang, umumnya turis menyukai keterus terangan kita. Tidak usah malu, takut untuk menyampaikan sesuatu. misalnya masalah makanan, penginapan. 4. Tidak terlalu banyak janji. Janji yang tidak ditepati, atau tidak ada kenyataannya, sebaiknya dihindarkan. Misalnya, dalam perjalanan kita menjelaskan pasti akan bertemu dengan binatang A, namun kenyataannya tidak, hal ini akan mengecewakan mereka. Sebaiknya kita bicara, mudah-mudahan atau apabila beruntung, kita akan bertemu binatang A. 5. Memaksa. Jangan sampai terjadi memaksa turis menuruti kehendak. Misalnya harus beli sesuatu dengan memaksa, atau meminta sesuatu barang dari turis. Bila mereka memberi sesuatu, secara ihlas, baru kita terima. C. Apa Yang Harus Diceriterakan Oleh Seorang Pemandu? 1. Apabila anda telah banyak mengetahui dan berpengalaman di lapangan baik kehidupan masyarakat, seperti kebudayaan, mata pencaharian, kehidupan di hutan atau pekerjaan anda sendiri, dapat dijelaskan kepada pengunjung yang datang. Penjelasan ini sedapat mungkin singkat dan informatif, dan bila mereka bertanya, baru anda menjabarkan selengkap mungkin. 2. Tentang masyarakat. Untuk menjelaskan tentang kehidupan masyarakat, baik jumlah penduduk, pekerjaan, sekolahan sampai aparat desa, dapat diceriterakan pada saat-saat perkenalan atau

25

mengunjungi obyek yang dituju. Misalnya ke persawahan, perladangan, atau pekerjaan lain. Di sini harus diingat, umumnya wisatawan ekowisata, kurang menyenangi pekerjaan yang merusak lingkungan dan lebih tertarik pada usaha pelestarian alam. Apabila secara tidak sengaja menemui hal yang merusak alam, maka kita dapat menjelaskan apa adanya (tidak boleh bohong dan ditutupi), namun dapat disinggung usaha untuk memperbaiki atau mencari pekerjaan alternatif. Dapat juga dijelaskan adanya usaha penyuluhan dan pendidikan konservasi terhadap masyarakat, untuk meningkatkan kehidupan dan memberikan nilai tambah tanpa mengganggu kelestarian lingkungan. 3. Untuk kehidupan liar di hutan, ada beberapa hal yang perlu diketahui dan sedapat mungkin untuk menceriterakannya, tidak perlu bersuara keras. Jelaskan bila ada suara-suara binatang di hutan. Sebisa mungkin anda menjawab bila dengan pasti mendengarkan sendiri, dan jawabannya tidak bohong. Bila tidak tahu, katakan, dengan kata-kata ““mungkin”” atau ““menyerupai”” suara anu. Untuk menuju ke suatu tempat, harus diingat ““jangan sampai menjanjikan bertemu dengan satwa”” dan sebelum berangkat, katakan ““ bila kita beruntung, kita akan bertemu dengan binatang yang dimaksud””. Jangan sampai membuat kecewa para turis yang tidak bertemu dengan binatang. 4. Bila melihat binatang yang cepat bergerak, sebaiknya kita memberikan kode dengan bahasa tubuh atau gerakan terlebih dahulu agar turis berhenti tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara berisik. Setelah pasti binatang yang dimaksud tidak akan bergerak, saatnyalah untuk memberitahukan kepada wisatawan yang kita bawa. 5. Menjelaskan mengenai tumbuhan, terangkan dengan jelas, manfaatnya (bila ada), beracun atau tidak. Bila ada manfaatnya, untuk apa (obat tertentu - menyembuhkan penyakit apa). Bila beracun, racunnya kuat atau tidak, kalau keracunan penangkalnya apa, dsb.

26

PEMBUATAN PAKET WISATA DAN PENENTUAN HARGA JUAL
A. PEMBUATAN PAKET PERJALANAN Paket wisata yang dibuat untuk wisatawan, sangat penting artinya di dalam mengembangkan pariwisata dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah. Paket ini berupa sebuah rencana perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, lokasi yang menarik dan layak dikunjungi dsb. Di dalam pembuatan paket wisata, hendaknya dibuat selengkap mungkin dan seinformatif mungkin, tempat yang baik, jadwal pemberangkatan, lokasi yang akan dikunjungi, waktu tempuh, panorama yang indah, binatang yang kemungkinan dapat dijumpai, tumbuhan yang dapat dimanfaatkan, adat istiadat dan kebudayaan yang masih ada, ataupun peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada. Semuanya itu penting artinya agar wisatawan yang membeli atau mengikuti paket yang dibuat dapat mempersiapkan diri dengan daerah atau medan yang dikunjungi. Serta kegiatan harian, apa saja yang akan ditonton, dilihat, ditemui dsb Di dalam pembuatan paket wisata perlu juga dicantumkan fasilitas-fasilitas yang ada, misalnya tempat menginap : di hotel, di pondok, di perahu, di rumah penduduk atau di hutan yang memerlukan peralatan tidur seperti tenda atau kantong tidur (Sleeping Bed). Perlu juga diinformasikan pula masalah makanan, makan pagi, siang atau malam serta jenis makanannya dsb. Paket yang sudah ditentukan waktunya, misal 3N/4D (3 malam/night dan 4 hari/day) dapat diperpanjang bila wisatawan menghendaki pada suatu tempat atau ke lokasi lain. Bila hal demikian terjadi, maka si pemandu harus mempunyai pilihan daerah tujuan atau lokasi yang baik. Hal ini dapat juga dikombinasikan antara daerah yang satu dengan yang lain, sehingga merupakan paket jangka panjang, misalnya 6 - 15 hari. Contoh paket kombinasi gabungan antar pulau, antar propinsi dengan daerah kunjungan taman nasional, kebudayaan, adat istiadat dan peninggalan sejarah yang disertai dengan rencana perjalanan : 1. Paket Perjalanan Gabungan.

27

MELIHAT PENDIDIKAN GAJAH DI TN WAY KAMBAS, MENGENAL MASYARAKAT BADUY, BERKUNJUNG KE PUSAT REHABILITASI ORANGUTAN DI KALIMANTAN DAN KEMEGAHAN CANDI BOROBUDUR. 8 Hari, 7 malam HARI 01 : (L/D)* Dari Bandara Bandar Lampung dilanjutkan perjalanan menuju Tanjung Karang (1 jam), makan siang di Restoran X kemudian menuju TN Way Kambas ( 3 Jam) melihat Pusat Pelatihan Gajah. Sore hari menuju Way Kanan, menginap 1 malam (makan malam) Hari : 02 (B/L/D). Pagi-pagi setelah makan pagi, menelusuri jalan setapak keliling hutan. Kembali ke penginapan, setelah makan siang, menuju ke Bandar Lampung dan selanjutnya ke Bakauheni, menyeberang dengan Fery menuju Merak dilanjutkan ke Pantai Carita menginap di Hotel X dan makan malam. Hari 03 : (B/L/D). Pagi-pagi sekali seusai sarapan, ke perkampungan Baduy, makan siang di restoran x. Sore hari perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, menginap di hotel x. Hari 04 : (B/L/D). Seusai makan pagi, ke Bandara Halim Perdana Kesuma, untuk selanjutnya terbang dengan Merpati menuju ke Pangkalan Bun. Setibanya di Bandara, makan siang di Restoran, kemudian dengan perahu diesel menuju ke Hotel yang berdekatan dengan taman nasional, makan malam di hotel. Hari 05 : (B/L/D). Pagi-pagi seusai makan pagi, ke Kam Leakey, dengan perahu, melihat lokasi pelepasan orangutan. Berjalan ke hutan dengan membawa makanan siang. Sore hari Pk 16.00 melihat pemberian makan orangutan, selanjutnya kembali ke hotel. Hari 06 : (B/L/D). Kembali ke Bandara, dan terbang menuju ke Semarang dan dilanjutkan ke Yogyakarta. Dari Semarang menggunakan kendaraan darat, ke Candi Borobudur, hingga sore hari dan menginap di Yogyakarta. Hari 07 : (B/L/D) Keliling kota, melihat Keraton Jogja, belanja suvernir, ke Candi Prambanan, Candi Sewu, dan kembali ke Hotel. Hari 08 : (B/L/D). Ke Bandara Adisucipto untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. * (artinya sarapan B/Breakfast, makan siang -L/lunch dan makan malam D/dinner)

28

Di atas hanya sebuah contoh, pembuatan paket perjalanan yang dikombinasikan dengan daerah lain. Khusus untuk pembuatan paket wisata lokal, dapat dibuat sebaik mungkin, untuk mengunjungi ke daerah tertentu, lamanya perjalanan dan perincian biaya, sesuai dengan kondisi daerah setempat. Pada umumnya dalam pembuatan paket bersambung, dilakukan kerjasama antar biro perjalanan, atau bila sudah mampu, dikerjakan sendiri dan mendampingi wasatawan mengikuti perjalanan dan berpedoman pada paket yang dibuat. Usahakan bekerja sama dengan pemandu lokal, karena merekalah yang mengetahui kondisi dan keadaan medan serta adat istiadat masayarakat sekitarnya. 2. Perjalanan untuk lokal : 4 Hari, 3 Malam ke Taman Nasional Halimun : Hari 01 : (L/D) Menuju ke Desa Leuwi Jamang dengan kendaraan darat, makan siang di Bogor, dan makan malam di Desa. Menginap di Pondok Wisata yang dikelola Masyarakat. Hari 02 : (B/L/D/) Keliling Desa melihat pemandangan alam yang indah, aktifitas masyarakat, dan satwa liar. Siang hari seusai makan siang, ke Desa Citalahap, masih dalam kawasan TN Gunung Halimun. Makan malam dan menginap di Pondok Wisata. Hari 03 B/L/D: Melihat pemandangan alam, perkebunan teh, cara memetik dan pengumpulannya, melihat satwa liar dsb. Seusai makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Desa Cipta Rasa. Menginap dan makan malam di Pondok Wisata. Hari 04 B/L: Keliling Desa melihat pemandangan alam, pembuatan gula kelapa, aktifitas masyarakat, adat kebudayaan, melihat upacara adat (bila kebetulan ada). Seusai makan siang, kembali ke Jakarta. Perjalanan selesai. Bentuk paket ini dapat diperpanjang, sesuai dengan kemampuan wisatawan atau bila ada permintaan wisatawan atau memang sudah menjadi paket perjalanan yang ditawarkan semula. B. PENENTUAN HARGA PAKET Harga jual sebuah paket yang ditawarkan kepada pengunjung atau wisatawan sangat bervariasi harganya, tergantung dari banyak sedikitnya

29

biaya yang dikeluarkan oleh penjual. Misalnya harga paket untuk 3 hari 2 malam kunjungan ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Untuk memudahkan perhitungan, agar lebih terinci dan tidak salah hitung, hitunglah pengeluaran secara harian. Untuk lebih terinci lihat contoh perhitungan perjalanan halaman berikut. Selanjutnya harga jual kepada wisatawan, tergantung dari pengambilan keuntungan, misalnya 25%, 50%, 75% atau 100% dari biaya pengeluaran. Adanya perbedaan harga jual paket setiap Biro Perjalanan Wisata, dikarenakan banyak sedikitnya pengambilan keuntungan dari biaya pengeluaran yang sudah disebutkan di atas, atau fasilitas yang disediakan atau pelayanannya. Seperti harga paket termasuk mencuci pakaian, makanan memilih sendiri, mendapatkan suvernir dengan gratis atau diberkan secara cuma-cuma perlengkapan lapangan seperti topi, ransel dsb. Umumnya Biro Perjalanan Wisata, penjualan harga paket tidak termasuk tiket pesawat, cuci pakaian dan minuman. Dalam prakteknya, perjalanan ekowisata, selalu memberikan donasi kepada masyarakat atau kawasan yang dikunjungi untuk kegiatan kemasyarakatan atau usaha perlindungan alam. Donasi ini tergantung dari kebijakan perusahaan biro perjalanan wisata atau pemandu yang mengeluarkan harga paket. Di samping itu, biasanya wisatawan juga akan memberikan donasi bila kita dapat menjelaskan kegunaan donasi (sumbangan) yang diberikan. Apabila anda atau biro perjalanan wisata tempat anda bernaung, ingin menerapkan ekowisata, maka harga jual sebuah paket harus diperhitungkan di dalamnya. Misalnya donasi ke kawasan konservasi, yayasan atau organisasi yang membantu pelestarian alam, kegiatan sosial, kemasyarakatan dsb. Atau langsung diberikan kepada orang-orang tertentu yang terlibat di dalam kegiatan perjalanan wisata tersebut. Yang penting, perjalanan ke daerah yang dikunjungi, tidak meninggalkan kesan kotor (sampah), perusakan (mengganggu dalam kawasan konservasi dengan coretan atau mengambil tumbuhan atau binatang) dan menguntungkan masyarakat yang dikunjungi. Misalnya membeli kerajinan tangan atau donasi yang telah disebutkan di atas. Perhitungan perjalanan ke Taman Nasional Tanjung Puting 5 hari 4 malam untuk 1 wisatawan (dalam rupiah) No Rincian Satuan Sub Keterangan Total 1 Donasi *. Tour Object 5000 5000 2 object CL/NL *. Masyarakat/kelomp./organisasi 25000 25000 2 Tiket, asuransi + 1 Guide

30

*. Tiket masuk taman nasional *. Assuransi *. Tiket perahu 3 Transportasi Darat/taxi *. Bandara-Pelabuhan-Bandara *. Carter 2 hari Transportasi sungai *. Klotok/perahu disel 4 hari/carter 4 Akomodasi + pajak/servis 21% *. Lodge 3N *. Hotel 1N 5 Makanan *. Makan siang di Hotel (1x) *. Makan malam di Lodge (3x) *. Makan siang kotak (3x) *. Makan malam di Hotel (1x) *. Buah-buahan *. Aqua 6 Guide + Assisten *. 1 Guide x 5 hari *. 1 Assistant x 5 days Total

2000 2500 2000

12000 2 orang/3hari 12000 idem 6000 3 hari

15000 75000 75000

15000 2 taxi 150000 1 car 300000 1 klotok

104090 99000

312270 1 orang/3malam 99000 idem

20000 20000 10000 20000 20000 10000

20000 600000 300000 20000 10000 10000

50000 20000

250000 100000 1.166.270

Operasional lapangan untuk 1 orang : Rp 1.166.270,Keuntungan perusahaan 50 % : Rp 583.135,-* Jadi harga jual ke wisatawan : Rp 1.749.405,Apabila dijual dalam dolar, tinggal menghitung kurs dollar yang berlaku. Bandingkan dengan perhitungan di bawah ini perjalanan waktu dan tujuan sama hanya berbeda jumlah wisatawan yang berkunjung. Perhitungan perjalanan ke Taman Nasional Tanjung Puting 5 hari 4 malam untuk 4 wisatawan ( dalam rupiah) No Rincian Satuan Sub Keterangan Total

31

1 Donasi *. Tour Object *. Masyarakat/kelomp./organisasi 2 Tiket, asuransi + 1 Guide *. Tiket masuk taman nasional *. Assuransi *. Tiket perahu 3 Transportasi Darat/taxi *. Bandara-Pelabuhan-Bandara *. Carter 2 hari Transportasi sungai *. Klotok/perahu disel 4 hari/carter 4 Akomodasi + pajak/servis 21% *. Lodge 3N *. Hotel 1N 5 Makanan *. Makan siang di Hotel (1x) *. Makan malam di Lodge (3x) *. Makan siang kotak (3x) *. Makan malam di Lodge (1x) *. Buah-buahan *. Aqua 6 Guide + Assisten *. 1 Guide x 5 hari *. 1 Assistant x 5 days

5000 25000

15000 2 object CL/NL 25000

2000 2500 2000

48000 4orang/3hari 30000 idem 6000 3 hari

15000 75000 75000

30000 2 taxi 150000 1 car 300000 1 klotok

104090

1249080 4orang/3mala m 99000 396000 idem

20000 20000 10000 20000 20000 10000

80000 240000 120000 80000 20000 20000

50000 20000

250000 100000

3.135.080 Total *) Catatan : Biaya diatas adalah biaya operasional di lapangan, tanpa tiket pesawat terbang. Jadi pemandu atau agen biro perjalanan hanya bertanggung jawab dari bandara dan kembali lagi ke bandara. Di luar itu, tanggung jawab wisatawan. Untuk perhitungan harga jual, khususnya bagi Biro perjalanan wisata adalah sbb : Operasional lapangan untuk 4 orang : Rp 3.135.080,Jadi biaya perorang adalah : Rp 783.770,-

32

Keuntungan perusahaan 50 % Jadi harga jual ke wisatawan untuk setiap orang

: Rp 391.885,*) : Rp 1.175.655,-

*) Keuntungan perusahaan setiap biro perjalanan wisata berbeda ada yang mengambil keuntungan 100 %, 75 %, 50 %. Karena di perusahaan memerlukan biaya yang cukup besar seperti biaya tilphon, fax, sewa gedung, pajak, menggajih karyawan dsb. Apabila anda sebagai seorang pemandu dan akan menjualnya ke wisatawan, tentunya akan lebih murah, karena tidak banyak memerlukan pengeluaran untuk kantor. Untuk harga jual paket, semakin banyak wisatawan yang dibawa, harga paket setiap orangnya semakin murah, hal ini dikarenakan untuk meyewa alat transportasi, membayar pemandu, penunjuk jalan atau porter, bisa bersama-sama sehingga lebih ringan, lihat dan bandingkan perhitungan di atas. Perlu diingat harga perhitungan untuk satu orang, sebaiknya tidak langsung dikalikan dengan jumlah wisatawan yang akan dibawa seandainya akan menjual paket. Coba anda membuat sebuah paket perjalanan dengan perhitungan pengeluaran untuk daerah anda, misalnya 2 malam 3 hari untuk 3 orang atau 5 orang, 6 orang dsb. Atau silahkan anda membuat perhitungan yang berlainan, misalnya 3 malam 4 hari untuk untuk jumlah orang yang sama. Selamat mencoba.

33

DASAR-DASAR EKOLOGI & PELESTARIAN ALAM PEMANDU EKOWISATA

Bumi ini adalah milik kita bersama, milik keluarga kita, milik orang-orang yang masih hidup, milik orang-orang yang sudah mati dan milik anak-anak kita yang belum lahir. Untuk itu mari kita jaga dan kita lestarikan bersama-sama.

A. Pengertian Ekologi Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari 2 kata, yaitu Eikos artinya rumah dan logos artinya ilmu. Karena itu secara sederhana dapat dikatakan ekologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan di dalam rumah, atau suatu tempat segala macam mahluk hidup mempunyai aktifitas. Di dalam rumah, tentu terjadi hubungan timbal balik, satu sama lain saling memerlukan, dan tidak mungkin mahluk hidup dapat berdiri sendiri.

BANTULAH PELESTARIAN KAWASAN YANG DILINDUNGI DENGAN : 1. Tidak mengambil, memetik tanaman yang ada di dalam kawasan. 2. Tidak mengambil, menangkap satwa yang ada di dalam kawasan. 3. Tidak memasukkan tumbuhan atau binatang yang bukan merupakan fauna atau flora asli. 4. Menegur siapa saja yang melakukan pelanggaran yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Pada intinya ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya, baik kepada sesama mahluk hidup (misalnya manusia dengan tumbuhan, manusia dengan binatang, manusia dengan manusia, manusia dengan air dsb). Suatu mahluk hidup selalu tergantung dengan mahluk atau benda lainnya. Sebagai seorang pemandu, hal ini harus dimengerti dengan benar. Karena pengertian ini menjadi dasar untuk menjelaskan masalah kehidupan di alam, masalah pelestarian alam dan masalah kehidupan manusia itu sendiri. Apabila sudah dipahami, maka tindak tanduk seorang pemandu selalu berwawasan lingkungan, ikut memelihara kehidupan dan membantu pelestarian alam.

34

Sebagai contoh yang paling mudah tentang ketergantungan mahkluk hidup yang satu dengan yang lain adalah, manusia setiap hari perlu makan, dan makanan itu dihasilkan dari tumbuhan. Atau manusia memerlukan daging JAGALAH KEBERSIHAN DI binatang sedangkan binatang memakan DALAM KAWASAN rumput atau tumbuhan. Tumbuhan KONSERVASI DENGAN ; 1. Tidak membuang sampah memerlukan makanan dari tanah yang sembarangan, terutama berupa pembusukan segala macam sampah plastik, karet, filter kehidupan yang telah mati (daun, rokok, bekas kaleng kotoran binatang, atau binatang yang minuman dan bahan-bahan mati dan telah membusuk, dsb). lain yang tidak dapat Tumbuhan memerlukan bantuan membusuk. serangga untuk penyerbukan atau 2. Bawalah sampah-sampah memerlukan satwa pemakan biji seperti kembali dan buang ke tempoat sampah yang telah kelelawar, monyet, burung dan lain lain disediakan petugas atau untuk penyebaran biji. Dari siklus hubungan timbal balik itulah, satu sama lain saling memerlukan, saling ketergantungan satu sama lain, dan tak mungkin hidup sendiri. Permasalahan itu dipelajari dengan disiplin ilmu yang disebut Ekologi.
ambilah bila menemui sampah di dalam kawasan konservasi. 3. Jangan membuat coretan atau tulisan indentitas diri dengan bahan apapun di dalam kawasan konservasi seperti pada batu, pohon, bangunan atau mengukir pada batu atau pohon. 4. Apabila melihat seseorang yang melakukan hal tersebut, tegurlah karena bila kawasan sudah banyak tulisan cat, akan mengurangi keindahan alam yang sedang kita nikmati.

Apabila mahluk hidup yang hidupnya saling tergantung satu sama lain itu rantai kehidupannya diputus, maka sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup satwa yang menggantungkan hidupnya dari alam. Misalnya pohon berbunga yang dalam penyerbukannya memerlukan bantuan serangga, seperti lebah. Apa yang terjadi bila lebah tersebut hilang, musnah karena penyemprotan pestisida (misalnya). Lambat laun tanaman tak berbuah, tak ada biji yang disebarkan, lambat laun musnah karena tak lagi berbiak Suatu contoh kejadian yang pernah dialami di bumi ini adalah punahnya burung Dodo, di Kepulauan Mauritus yang terletak di Samudera Hindia, dekat Madagaskar, Afrika Timur. Burung ini punah 100 tahun silam akibat perburuan. Dengan hilangnya burung tersebut, maka ada sejenis tanaman bunga Calvalia major, lambat laun berkurang dan akhirnya suatu saat nanti akan punah pula. Bagaimana bila suatu jenis binatang di Indonesia ini

35

punah ?. Kemungkinan besar ada tumbuhan di alam tropika ini akan ikut punah pula, walaupun akan terasa beberapa tahun mendatang. Misalnya, orangutan di dalam hutan mempunyai peran dalam menyebarkan biji-bijian. Menurut penelitian lebih dari 40 jenis biji yang disebarkan oleh kera merah tersebut. Ada beberapa tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi penting yang perlu bantuan satwa untuk menyebarkan bijinya. Bagaimana bila orangutan punah ??. Dengan memahami pengertian ekologi ini, diharapkan seorang pemandu yang menjadi ujung tombak kunjungan ekowisata, dapat menjadi panutan, baik bagi wisatawannya sendiri yang dipandu selama dalam perjalanan, ataupun masyarakat di sekitarnya dalam hal mencontoh seseorang yang peduli terhadap pelestarian alam. Masih banyak ceritera yang menarik tentang kehidupan di alam ini satu sama lain mempunyai keterkaitan, dan tidak dapat hidup sendiri. B. Pengertian & Mengenal Kawasan Konservasi Pengertian konservasi, diambil dari bahasa asing yaitu conservation, yang artinya perlindungan. Apabila membicarakan mengenai perlindungan, maka kita akan menyinggung masalah cagar alam, atau pencagar alaman (nature conservation). Di dalam kamus Poerwadarminta cagar berarti benda yang dipakai sebagai tanggungan pinjaman atau hutang. Apabila dikaitkan kata cagar alam dalam kamus Poerwadarminta maka mempunyai arti bahwa alam ini bukan milik kita, melainkan milik dari generasi mendatang. Kita hanya meminjam, tentunya seorang peminjam harus mengembalikan lebih baik dari semula.Ada beberapa istilah untuk sebutan kawasan yang dilindungi diantaranya adalah : 2.1. Suaka alam : Adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi flora dan fauna yang ada di dalamnya. Di dalam suaka alam ini tak boleh dilakukan suatu kegiatan seperti eksploitasi (misalnya pengambilan barang-barang yang ada di dalamnya baik di permukaan tanah seperti kayui, rotan dsb, maupun barang yang dikandung di dalamnya, emas, batubara, minyak dsb). Suaka alam ini dibagi menjadi dua istilah, antara lain : Cagar Alam, yang lebih cenderung untuk melindungi tumbuhan (flora) dan Suaka Margasatwa yang ditekankan untuk melindungi satwa endemik pada suatu kawasan tertentu.

36

2.2. Hutan Lindung : Adalah suatu kawasan hutan yang karena kepentingannya hutan ini dilindungi untuk mencegah terjadinya erosi, tanah longsor, banjir ataupun sebagai daerah penangkap air hujan yang mendukung keperluan air bagai masyarakat di sekitarnya. 2.3. Taman Nasional : Adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan dan zona penyangga. Hanya pada zona pemanfaatan saja yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, karena ditempat ini dapat dimanfaatkan atau telah disediakan lokasi wisata. Sedangkan zona inti dan rimba, hanya boleh dikunjungi untuk kepentingan penelitian. C. Pemandu Ekowisata & Konservasi Seorang pemandu ekowisata, erat kaitannya dengan masalah lingkungan dan konservasi. Pariwisata yang sedang berkembang dengan pesatnya di Indonesia, khususnya kunjungan ke alam (back to nature), masalah lingkungan adalah masalah utama yang harus dipertahankan. Kelangsungan hidup pariwisata sangat ditentukan oleh baik buruknya lingkungan. Pariwisata sangat peka sekali terhadap perubahan lingkungan, misalnya pencemaran (seperti sampah yang bertumpuk, asap, debu baik dari rumah tangga maupun pabrik, yang menyebabkan bau tidak sedap dan nampak kotor), kerusakan pemandangan akibat penebangan hutan hingga nampak gersang dan tak ada lagi binatang, sikap penduduk yang tak ramah, keamanan yang kurang, banyak pencurian, perampokan dsb. Tanpa lingkungan yang baik, maka tak mungkin pariwisata akan berkembang. Oleh karena itu dalam pengembangan pariwisata harus memperhatikan terjaganya mutu lingkungan, sebab dalam industri pariwisata sebenarnya, lingkungan itulah yang dijual. Apa bila mutu lingkungan tidak baik, maka akan mengurangi minat wisatawan akan berkunjung, malah akan terhenti tak ada wisatawan yang datang. Jadi memelihara lingkungan dalam usaha pariwisata, bukanlah slogan atau kata-kata klise belaka, namun merupakan usaha yang nyata, yang harus dilakukan oleh setiap individu yang bekerja di dalam sektor pariwisata, termasuk seorang pemandu.

37

MENGENAL HUTAN HUJAN TROPIK & ISINYA
A. Apa Itu Hutan ?
Hutan tropik di dunia saat ini hanya ada di Amerika Latin, Afrika yang terletak di khatulistiwa serta sebagian benua Asia (khatulistiwa) termasuk Indonesia.

Hutan adalah sekumpulan pohon yang menempati ruang dan waktu dan dapat menimbulkan iklim mikro. Yang dimaksud dengan iklim mikro di sini adalah, perubahan yang diakibatkan adanya hutan dan terjadi disekitar hutan. Misalnya keteduhan, pengadaan air dsb. Sedangkan hutan hujan tropik adalah hutan yang tumbuh dan berada pada daerah tropika (di sekitar garis khatulistiwa). Di dunia, setiap tahunnya hutan tropik terus berkurang dan diperkirakan setiap menitnya 200.000 meter persegi, dan kini diperkirakan hanya tinggal 0,9 milyard hektar. Sedangkan di Indonesia hutan hujan tropik diperkirakan hanya tinggal tidak lebih dari 120-an juta hektar.

B. Beberapa Jenis Hutan Yang Ada Pada Hutan Tropik 2.1. Hutan Mangrove/Hutan Bakau. Hutan mangrove atau bakau umumnya tumbuh di daerah pantai berdekatan dengan muara sungai atau di pulau-pulau. Hutan bakau tumbuh pada daerah yang beriklim tipe A dengan curah hujan rata-rata 2.000-3.000 mm per tahunnya. Tumbuh pada jenis tanah aluvial hidromorf, aluvial dan aluvialgrey humus. Di Indonesia terdapat hampir di semua pulau atau pantai kecuali daerah pantai yang berkarang. Karena hidup pada tanah yang selalu terendam air, tumbuhannya mempunyai akar nafas yang muncul ke permukaan atau keluar dari batang utaman. Umumnya binatang yang hidup pada hutan bakau adalah buaya, cacing, kepiting, kerang, siput, dan hewan lainnya secara langsung hidup di laut. Selain itu binatang daratan yang sering berkunjung ke darah hutan bakau adalah biawak, burung, kadal, laba-laba, monyet, serangga, tikus, ular dan binatang lain yang hidupnya tidak langsung tergantung dari laut. Kehidupan pada hutan mangrove, sangatlah menarik untuk dipelajari, air yang selalu pasang dan surut memberikan keaneka ragaman kehidupan. Bagi orang awam atau yang baru mengunjungi hutan ini, memang tak ada bedanya dengan hutan-hutan rawa lainnya. Namun seorang pemandu yang berpengalaman yang sering mengunjungi dan melihat kehidupan pada hutan bakau, memiliki ceritera yang menarik. Mulai dari datang dan perginya ikan, kepiting yang membuat lubang dengan engeluarkan suara yang sahut

38

menyahut, burung air yang sering terlihat bertengger atau beberapa jenis binatang melata yang hilir mudik mencari makan. Merupakan ceritera yang menarik bila mendalami atau mengemas sebuah ceritera masalah hutan bakau. Perakaran tumbuhan pada hutan bakau, memiliki ceritera yang sangat menarik untuk dijelaskan kepada wisatawan. Akar-akar yang menonjol ke permukaan dengan berbagai bentuk dan berfungsi untuk bernafas ini, satu sama lain dimiliki oleh jenis yang berbeda. Bagaimana pemandu dapat menjelaskannya ? 2.2. Hutan Pantai Hutan pantai, tumbuh di sepanjang pantai yang berpasir atau berbatu karang atau berlempung. Tumbuhan yang tumbuh pada hutan ini diantaranya adalah pohon cemara, kelapa, pandan, ketapang dsb. Sedangkan jenis binatang yang sering ditemukan antara lain, beberapa jenis penyu (penyu sisik, penyu belimbing, penyu hijau, penyu pipih), kepiting, kerang siput, dan juga binatang mamalia seperti monyet, lutung, sambar, beberapa jenis burung dsb. 2.3. Hutan Rawa Adalah hutan yang keberadaannya di daerah rawa, pada umumnya sepanjang tahun akarnya tertutup air. Tumbuhan yang hidup pada hutan rawa mempunyai ciri-ciri khas, antara lain mempunyai akar nafas atau akar papan (baner). Akar-akar ini berfungsi untuk pernafasan, menhirup udara. Hutan rawa adalah hutan yang selalu hijau sepanjang tahun, sehingga banyak ditumbuhi tumbuhan merambat atau tumbuhan yang menempel pada pohon yang besar. Misalnya lumut, paku-pakuan, anggrek. Sedangkan jenis binatangnya lebih beragam, misalnya gajah, harimau, badak, tapir, rusa, biawak, berbagai jenis ikan, kadal, kalajengking, ular, serangga, berbagai jenis burung, buaya air tawar, beberapa jenis primata dsb. 2.4. Hutan Rawa Gambut Seperti halnya hutan rawa, hutan gambut atau disebut juga hutan rawa gambut, mempunyai ciri yang hampir sama, baik tumbuhannya, maupun satwanya. Perbedaanya terletak pada gambut yang terdapat pada dasar hutan. Gambut ini terbentuk dari serasah yang terus menumpuk karena selalu terendam air, sehingga tidak dapat membusuk. Hutan gambut tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Selain itu pada hutan rawa gambut, ada ciri khas lainnya, yaitu air berwarna hitam, kadar keasamannya tinggi. 2.5. Hutan Hujan Basah Hutan hujan basah, merupakan jenis hutan tropik yang berbeda bila dibandingkan dengan hutan yang telah di sebutkan di atas. Hutan ini

39

tumbuh hampir di seluruh Indonesia, dan tersebar luas, mulai dari daerah dataran rendah hingga lereng pegunungan, puncak gunung. Jenis binatang yang ada juga mempunyai variasi yang tinggi, karena menyediakan segala jenis makanan yang cukup, mulai dari mamalia tingkat tinggi seperti orangutan hingga jenis serangga, jamur, anggrek, tumbuhan merambat, hingga tumbuhan besar yang mempunyai nilai ekonomi penting. C. Stratifikasi Hutan Hujan Tropik Hutan mempunyai stratifikasi yang terbentuk dari rangkaian ketinggian dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di hutan tersebut. Ketinggian tumbuhtumbuhan penyusun hutan tersebut bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai puluhan meter. Ketinggian tumbuh-tumbuhan tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran tinggi dan perbedaan lapisan. Tajuk dari tumbuh-tumbuhan yang tinggi membentuk lapisan yang hampir berkesinambungan di atas dasar dari hutan. Celah-celah kanopi terjadi hanya jika ada pohon yang tumbang. Lapisan kanopi yang tebal ini mendapatkan sebagian besar cahaya, karena itu menyebakan terbentuknya lingkungan yang khusus di bawahnya, teduh, lembab dan sejuk. Lingkungan dibawah kanopi ternaung dan gelap, tidak ada cahaya yang cukup untuk tumbuhan pionir seperti rumput-rumputan dan semak-semak. Pada relung ekologi (habitat kecil) seperti ini hanya ditumbuhi oleh jenis tumbuh-tumbuhan khusus yang dapat beradaptasi pada kondisi seperti ini. Di dasar hutan umumnya dapat temukan jenis tumbuhan pakis, lumut dan herba (herba adalah tumbuhan yang batangnya tidak berkayu dan banyak mengandung air, misalnya tepus, begonia dll), beragam semak dengan daun yang lebar dan lunak, sejumlah palem membentuk lapisan lain. Dan diantara lapisan semak dan kanopi tumbuh sedikit pohon-pohon kecil, pohon muda atau palem. Dari perbedaan tinggi tiap tumbuhan tersebut nampak menyusun suatu strata horizontal, yang terdiri dari 4 lapisan yakni; a. Lapisan penutup tanah, b. Lapisan semak, c. Lapisan pohon-pohon kecil, dan d. Lapisan pohon-pohon besar D. LAPISAN TAJUK (KANOPI) Kanopi merupakan semacam naungan yang terbentuk dari susunan cabang dan kumpulan-kumpulan rindanganya pepohonan. Di dalam lingkungan kanopi tersebut biasanya terdapat suatu ekosistem tertentu yang banyak dihuni oleh hewan-hewan baik di kanopi ataupun pada dasar hutan. Pada

40

kanopi terdapat berbagai macam buah, sehingga hewan dominan yang hidup di sana umumnya jenis hewan pemakan buah, seperti jenis-jenis primata, burung rangkong, kalong dll. Umumnya mereka jarang bahkan mungkin tidak pernah turun ke lantai hutan, karenanya pergerakan (mobilitas) mereka hanya dilakukan melalui cabang-cabang pohon ke tajuk pohon-pohon lain. Sedangkan jenis hewan yang hidup di dasar hutan umumnya pemakan daundaunan dan buah-buahan yang jatuh ke tanah. Hanya sedikit hewan mendiami daerah diantara dasar hutan dan kanopi. Kebanyakan adalah hewan yang dapat terbang atau menggantung dari satu batang pohon ke batang pohon lain dan umumnya pemakan serangga, misalnya tupai, bajing, burung pelatuk dll. E. TUMBUHAN SEKUNDER Di kawasan hutan tropika, kadangkala dijumpai suatu daerah yang hanya ditumbuhi oleh semak-semak, rumput-rumput dan belukar dan hanya sedikit ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Daerah tersebut dikenal dengan daerah "vegetasi sekunder". Vegetasi sekunder merupakan suatu kumpulan tumbuh-tumbuhan yang menempati suatu daerah tertentu, dan bukan merupakan tumbuhan yang pertama hidup di daerah tersebut, tetapi kumpulan ini tumbuh sesudah vegetasi yang asli berkurang jumlahnya atau musnah. Tempat ini juga sebelumnya pernah ditumbuhi oleh hutan yang lebat, tetapi pepohonannya ditebangi atau karena bencana alam (gunung meletus, longsor, banjir, kebakaran hutan, pohon-pohon tua mati, pohon terserang penyakit dsb). Akibatnya akan terbentuk suatu daerah yang terbuka dengan dipenuhi oleh sinar matahari. Pada tempat-tempat terbuka dan banyak sinar matahari pohon-pohon tidak dapat tumbuh. Mereka membutuhkan kelembaban dan keteduhan yang menaungi dasar hutan untuk memulai kehidupan mereka. Tetapi ada beberapa tumbuhan yang dapat tumbuh pada kondisi yang keras seperti panas dan sinar matahari yang kuat atau hujan yang lebat. Tumbuhtumbuhan seperti ini disebut tumbuhan pionir atau pemula. Kebanyakan tumbuhan pionir adalah rumput-rumputan, semak dan lain-lain.

41

KEHIDUPAN PADA HUTAN HUJAN TROPIK
A. SATWA HUTAN HUJAN TROPIK 1. Mengenal Satwa Tropika Indonesia, merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis-jenis binatang, hal ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai hutan tropika yang luas dan cukup untuk memberikan makanan serta tempat tinggal bagi kehidupan satwa-satwa yang ada. Untuk mengenal satwa yang hidup pada hutan tropik, di bawah ini akan diuraikan satu persatu kelompok satwa yang kita miliki. Sedangkan untuk mengetahui setiap jenisnya (sebagian yang dilindungi) lihat lampiran satwa yang dilindungi di Indonesia. 1.1. Binatang Menyusui (Mamalia) Binatang yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah semua satwa yang menyusui, baik yang hidup di darat maupun di perairan. Jenis binatang menyusui di Indonesia ada sekitar 500-an jenis atau lebih. Binatang menyusui dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, Jenisjenis binatang mengerat (tupai, tikus dsb) ; Binatang pemangsa (Harimau, macan, musang, kucing dsb) ; Primata/monyet atau kera (Orangutan, lutung, owa, beruk dsb). Binatang menyusui yang hidup di perairan (Lumba-lumba, duyung, ikan paus dsb), yang bisa terbang (kalong, kubung dsb), berkuku genap (sapi, rusa, kijang dsb), sedangkan yang berkuku ganjil (kuda). 1.2. Burung (Aves) Burung, keragaman jenisnya sangat bervariasi. Di Indonesia, diperkirakan ada 2500-an jenis. Seperti halnya mammalia, burung-burung inipun dibagi menjadi beberapa kelompok. Misalnya jenis burung pemangsa (elang, rajawali, burung hantu dsb) sampai burung pemakan biji (pipit, gelatik dsb). Ciri-ciri burung ini dapat dilihat dengan memperhatikan bentuk paruh, bentuk kaki, warna bulu dsb. Untuk lebih jelasnya lihat cara pengamatan burung, serta lampiran sebagian satwa yang dilindungi. 1.3 Binatang Melata (Reptilia) Binatang melata, mudah dikenal, karena pergerakannya merayap. Ada yang memiliki kaki (kadal, biawak) adapula yang tidak memiliki kaki (ular). Semuanya mempunyai sisik. Namun sisiknya ada yang tersusun rapih, adapula yang menyatu hingga membentuk tempurung yang keras (penyu,

42

kura). Binatang melata, makanannya bervariasi, ada jenis yang memakan serangga (kadal), pemakan ikan, pemangsa satwa lain (ular), tapi ada pula yang memakan daun atau buah dan rumput (iguana, penyu). Di dalam lampiran dicantumkan beberapa satwa melata yang dilindungi. 1.4 Dua Alam (Amphibi) Binatang ini mudah dan banyak ditemui di sekitar kita. Mereka hidup di dua alam, darat dan air. Saat kecil hidup di air setelah dewasa hidup di darat (Kodok dan Katak). Makanannya serangga, ada yang dapat dimanfaatkan (dimakan) tapi ada pula yang beracun. 1.5. Ikan (Pisces) Ikan adalah kelompok vertebrata (bertulang belakang) yang seluruh hidupnya berada di perairan baik tawar (sungai, rawa) ataupun asin (laut). Jenisnya cukup banyak dan semuanya belum diketahui jenisnya. Ada beberapa yang telah dilindungi karena kelangkaannya dan bila tidak dilindungi akan punah (Arowana). Lima golongan besar yang disebutkan di atas adalah binatang yang memiliki tulang punggung atau disebut Vertebrata. Binatang penghuni hutan tidak hanya itu, namun banyak sekali jenis-jenis yang sudah dketahui ataupun belum. Binatang-binatang tersebut diantaranya adalah : 2. Cara Mengenal Satwa Di Alam Untuk mengenal satwa liar, sebagai seorang pemandu sangat perlu mencari informasi tentang satwa yang umum ditemui pada daerah yang akan dikunjungi dari buku-buku ataupun informasi langsung dari masyarakat. Kecuali apabila di daerah tersebut belum pernah diadakan penelitian dan belum ada tulisan tentang daerah yang akan dikunjungi. Namun adanya informasi dari masyarakat sekitar hutan akan mempermudah dalam pengenalan dan menjelaskan kepada wisatawan. Ringkasnya pengetahuan dan persiapan sebagai seorang pemandu ekowisata yang perlu dilakukan untuk mengenali satwa di lapangan ada baiknya dikaitkan dengan informasi dari masyarakat mengenai satwa liar yang ada. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sbb; 2.1. Jenis Satwa Liar Pengenalan jenis seperti tanda-tanda atau ciri-ciri satwa pada bagian luar tubuh (morfologi) yang dimiliki, sehingga dapat membedakan

43

jenis binatang dalam kelompok satwa liar. Keperluan ini akan mudah jika ada buku identifikasi satwa liar. 2.2. Habitat Pengenalan tempat hidup atau kebiasaan hidup (habitat) yang disukai oleh satwa liar, seperti kondisi habitat pada daerah yang akan dikunjungi : hutan bakau, hutan rawa, hutan pegunungan, padang rumput dsb. 2.3. Perilaku Merupakan kebiasaan-kebiasaan satwa liar dalam kehidupan seharihari. Misalnya pengelompokan, cara hidup, waktu aktif, daerah pergerakan, cara mencari makan, membuat sarang, kawin dan melahirkan anak, hubungan sosial, interaksi dengan species lain, dsb. 2.4. Jejak Bekas tapak kaki di tanah, kotoran, bagian-bagian yang ditinggalkan, suara, sarang, bau-bauan dan tanda-tanda lain perlu juga dipelajari dengan seksama. Bekas tapak kaki di tanah, penting untuk diketahui ukurannya, bentuk dan umurnya. Tempat-tempat yang mudah untuk mendapatkan jejak kaki antar di tepi-tepi sungai, tempat kubangan atau minum, pantai, tempat-tempat istirahat, lorong-lorong diantara tumbuhan bambu dan semak belukar. 2.5. Kotoran (Feces) Penemuan kotoran penting karena dapat mengetahui masih baru atau sudah lama. Untuk mengetahui berapa lama satwa liar tersebut berada di daerah yang ada kotorannya, dengan melihat tingkat kekeringan, banyak sedikitnya serangga dsb. Dengan melihat kotoran secara sederhana dapat diketahui jenis makanan mereka, maka dapat pula diketahui jenis binatang yang meninggalkan kotoran. 2.6. Bagian-Bagian Anggota Tubuh Ada beberapa jenis satwa yang mempunyai kebiasaan melepas atau meninggalkan bagian tubuhnya seperti, bulu (bangsa burung, ayam, merak), bulu duri (landak), telur dsb-nya. 2.7. Suara Dan Bunyi suara yang dimaksud adalah sesuatu yang terdengar akibat dikeluarkan oleh mulut satwa liar seperti kijang, harimau, burung, owa dsb, sedangkan bunyi adalah sesuatu yang terdengar akibat dari tingkah laku satwa liar seperti buaya di air, ulang menangkap mangsa dsb.

44

2.8. Tanda-Tanda Habitat Tanda-tanda satwa liar dapat tertinggal setelah satwa tersebut melakukan aktivitas seperti tingkah laku pada saat mencari makan, waktu kawin, mandi, berkubang dsb. Tanda-tanda tersebut dapat berupa gigitan-gigitan pada sisa daun yang dimakan, kulit pohon, akar, pucuk-pucuk pohon yang patah, bekas cakaran, sisa buah dan jalur lintasan. 2.9. Sarang Adalah sesuatu yang dengan sengaja atau tidak dibangun oleh satwa yang dipergunakan untuk perkembang biakan, atau digunakan sebagai tempat istirahat. Letaknya bermacam-macam, di pohon, atau di tanah, di lubang pohon mati. 3. Tehnik Pengamatan Langsung Teknik ini biasanya diterapkan untuk inventarisasi dan sensus. Pada inventrisasi pengamatan ditujukan untuk mengenal jenis-jenis satwa liar dari tanda-tanda yang dimilikinya, baik bentuk, ukuran, warna, bulu atau rambut, keadaan anggota badan, panjang dan tinggi badan, bentuk muka, kepala, tanduk dsb. Sedangkan untuk sensus merupakan perhitungan semua individu satwa liar yang terdapat di suatu areal pada suatu waktu tertentu, atau suatu interval waktu pada areal tertentu. Dalam kegiatan sensus diamati dan dicatat jumlah individu, struktur umur, kondisi fisik satwa dan jenis kelamin. 3.1. Pengamatan Burung Pengamatan burung, dapat lebih mudah dilakukan dan lebih mudah untuk diidentifikasikan dengan membuat sket gambar pada buku catatan, seperti tanda-tanda warna pada setiap bagian tubuhnya. Burung-burung umumnya mempunyai ciri-ciri yang sangat mencolok, baik dari warnanya, bentuk tubuhnya, bentuk paruh maupun suaranya. Untuk mengamati burung sebaiknya dilakukan pada saat burungburung tersebut sedang aktif malaksanakan aktifitas kehidupannya, seperti mencari makan, biasanya kegiatan tersebut dilakukan pada pagi hari (jam 06:00-08:00) pada saat burung meninggalkan pohon sarangnya untuk mencari makan dan sore hari (jam 17:00-18:00) pada saat burung kembali untuk istirahat. Ada beberapa buku paduan mengenal burung-burung di Indonesia, anatara lain Karangan John MacKinnon (Burung-burung Jawa dan

45

Bali), John MacKinnon dan Karen Phillipps (A Field Guide to the Birds Of Borneo, Sumatera, Java and Bali), Ben King (Bird of South East Asia) dan Bruce M Beehler dkk (Birds of New Guinea). Buku-buku tersebut cukup untuk mengenal beberapa jenis burung yang tersebar luas di Indonesia. Atau bila ingin mempraktekkan diri untuk menjadi pemandu masalah burung, dapat juga belajar di Taman Burung TMII atau Kebun Binatang Ragunan, Taman Burung di Bali atau ke Museum Zoologi Bogor. 3.2. Mamalia Darat. Mengenal mamalia darat, tentu berbeda dengan pengamatan burung yang jenis lebih banyak. Bila berjumpa satwa yang masih liar, catat ciriciri hewan yang khas, seperti tanduknya, warna, seperti bentuk tubuhnya, atau menyerupai binatang yang dikenal sehari-hari dsb. Buatlah sketsa gambar, kemudian bandingkan dengan buku-buku mengenai mamalia darat Indonesia untuk mengetahui keterangan lebih lanjut. Untuk mengamati jenis-jenis mamalia, harus diketahui jam berapa mereka mulai aktif mencari makan, merumput, minum, sumber air dan habitatnya. Umumnya jam aktif adalah pada pagi hari dan sore hari. Pada siang hari biasanya hewan-hewan tersebut beristirahat di dalam kerimbunan hutan. Mengamati jenis-jenis mamalia liar sebaiknya kita jangan menentang arah angin, maksudnya posisi dimana kita berada jangan sampai bau badan kita terbawa ke arah hewan yang sedang diamati. Biasanya jenis mamalia sangat sensitif pada pendatang baru, sehingga kemungkinan hewan liar tersebut dapat menghindar atau menyerang kita. 4. Pengamatan Tidak Langsung Pengenalan satwa secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menelusuri jejak satwa yang dimaksud. Salah satu cara diantaranya adalah dengan pengenalan tapak. Di bawah ini akan disebutkan beberapa jenis jejak yang dapat ditemui di dalam hutan, yang ditinggalkan oleh binatang. 4.1. Tapak Tapak adalah jejak dari telapak kaki binatang yang ditinggalkan, yang membekas pada tanah atau pasir. Jejak binatang ini ada berbagai jenis tergantung dari jenis binatangnya. Setiap binatang mempunyai cetakan

46

tapak yang berbeda, dan mempunyai ciri-ciri khusus, ukuran. Cetakan tapak biasanya hanya untuk mengenal jenis saja, tidak biasa untuk mengenal kelamin. Kadang-kadang beberapa jenis tapak dapat menentukan umur (dewasa atau anak). 4.2. Bekas Makan Bekas makan, adalah sisa makanan yang ditinggalkan oleh binatang tertentu. Misalnya bekas gigitan buah, daun, biji atau bekas makanan lain atau sisa makanan binatang pemangsa. Sisa makanan pemangsa, biasanya akan tersisa, seperti tulang binatang, sisik, rambut atau bagian tubuh binatang yang dimangsa, kecuali ular, tidak pernah menyisakan hasil tangkapannya, karena semuanya ditelan. 4.3. Bau Air Kencing Bau yang menyengat di hutan (pesing) biasanya merupakan air kencing yang dikeluarkan oleh binatang tertentu. Setiap binatang mempunyai bau yang khas, sesuai dengan makananya. Bau air kencing ini dapat juga diartikan sebagai daerah teritorial (kekuasaan) suatu jenis binatang. Harimau jantan dan betina menandai daerah teritorinya dengan air kencing yang disebarkan dan kotorannya diletakkan secara menyolok. Bau yang ditimbulkannya sangat khas dan akan tercium dari jarak beberapa meter. Tanda untuk daerah teritori semacam ini lazim dibuat oleh bangsa kucing lainnya. 4.4. Kotoran Setiap binatang akan membuang kotoran. Dari kotoran binatang yang ditinggalkan, seseorang dapat mengenal atau paling tidak memperkirakan binatang yang meninggalkan kotoran tersebut. Kotoran yang ada pada batu-batu besar, yang terdiri dari biji-bijian, umumnya musang untuk menandai teritorinya. 4.5. Sarang Ada beberapa jenis binatang, bila akan tidur memerlukan sarang. Sarang ini dibangun tidak hanya untuk tidur, akan tetapi juga dibuat untuk berkembang biak. Sarang dapat di pohon atau di tanah, yang dibuat dari kumpulan daun kering, rumput kering atau ranting kecil serta ada beberapa yang menggunakan air liur, bulu burung dsb. Beberapa jenis binatang ada yang setiap harinya membangun sarang setiap akan tidur (Orangutan). Orangutan selalu pindah tempat

47

untuk membangun sarang setiap sore hari dengan daun yang masih segar. Beruang madu biasanya sering menggunakan sarang bekas, sedangkan babi membuat sarang (biasanya di tanah) hanya saat berbiak atau melahirkan hingga beberapa waktu sampai anak dapat berjalan. Beberapa jenis burung selalu membangun sarang setiap akan berbiak dan menempati hingga anaknya menetas dan dapat hidup mandiri. 4.6. Goresan Dan Galian Goresan atau torehan pada pohon, atau pada tanah, juga dapat digunakan untuk mengetahui binatang yang meninggalkan tanda tersebut. Goresan cakar pada pohon, biasa dilakukan oleh bangsa kucing (macan atau harimau). Sedangkan galian pada tanah yang agak basah, biasa dilakukan oleh babi yang sedang mencari cacing.

5. Aktifitas Hidup Binatang Di Hutan Semua kehidupan, mempunyai cara tersendiri di dalam hidupnya, khususnya dalam mencari makan. Di bawah ini ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggolongkan waktu aktifitas binatang : 5.1. Diurnal (aktif siang hari) Jenis satwa yang melakukan sebagian besar aktivitasnya, terutama untuk mencari makan pada siang hari. Kelompok satwa diurnal adalah rusa, banteng, gajah, monyet, burung. Kelompok ini memulai kegiatannya setelah matahari terbit sampai menjelang matahari terbenam. 5.2. Nokturnal (aktif malam hari) Jenis satwa yang melakukan sebagian besar aktivitasnya, terutama mencari makan pada malam hari. Jenis-jenis satwa yang termasuk nokturnal antara lain karnivora ; seperti harimau, anjing hutan, meskipun demikian terdapat juga satwa lain yang bukan karnivora yang termasuk nokturnal seperti tikus (yang mulai kegiatannya sekitar matahari terbenam. 5.3. Crepascular (Aktif pada siang dan malam hari). Jenis-jenis satwa ini aktif pada siang dan malam hari, khususnya dalam mencari makanan. Contoh satwa yang masuk dalam dalam golongan ini adalah babi hutan. Satwa kelompok ini memulai kegiatannya mencari makan menjelang matahari terbenam sampai menjelang tengah malam dan dilanjutkan menjelang matahari terbit. Pada siang hari mereka istirahat, berkubang dsb.

48

Jejak binatang darat sangatlah bervariasi dan banyak ragamnya, kadang-kadang binatang yang hidup di pohon juga meninggalkan tapak di tanah. Di hutan banyak ditemui jejak babi, bajing tanah, monyet, luwak, ajak (di Sumatera), kucing hutan, macan, gajah, banteng dll. 6. Sifat Hidup Berdasarkan Makanan Berdasarkan jenis makanannya, satwa digolongkan dalam beberapa kelompok antara lain ; 6.1. Karnivora Yaitu satwa pemakan daging. Golongan ini di dalam ekosistem bertindak sebagai predator/pemangsa terhadap golongan lain atau bahkan memangsa golongan karnivora dari jenis lain, contoh harimau memangsa rusa dan babi hutan, elang memangsa kelinci, tikus atau ular (karnivora), ular memangsa tikus. 6.2. Herbivora Yaitu golongan satwa yang sebagian besar makanannya berupa tanaman hijauan, golongan ini terdiri dari; Herbivora murni, mempunyai perut tunggal, disamping hijauan yang banyak mengandung serat kasar sebagai makanannya memerlukan pula biji-bijian, misalnya kuda. Ruminansia, berperut ganda, yang mampu mencerna serat kasar, sehingga seluruh makanannya berupa hijauan, misalnya Banteng, Rusa, dan Gajah. 6.3. Omnivora Yaitu golongan satwa pemakan segala jenis makanan. Golongan ini memakan hampir semua jenis makanan, baik berupa rumput, daun-daunan, umbi, biji-bijian dan sumber protein hewani lain misalnya memakan cacing, telur, tikus, serangga dsb. Contoh adalah babi, beruang dan termasuk manusia. 6.4. Insektivora Yaitu golongan satwa pemangsa serangga, contohnya Trenggiling (Manis javanicus), Cecurut (Suncus spp.) dan beberapa jenis burung. 6.5. Gravivora Golongan burung-burung pemakan biji-bijian, contoh kakatua, parkit, gelatik dll. 6.6. Frugifora Adalah golongan yang hampir seluruh hidupnya memakan buah-bahan.

49

7. Cara Hidup Binatang Menurut cara hidup, satwa liar dapat digolongkan dalam; 7.1. Hidup berkelompok, Umumnya golongan ini selalu ditemui berkelompok, menurut musim, dan khas pada setiap jenis. Kecuali pada individu-individu yang telah tersingkir dari kelompoknya. Contoh: babi hutan, berkelompok sesuai jenis kelaminnya, dan bergabung pada musim kawin. Bekantan sering membentuk kelompok tersendiri yang semuanya jantan, karena terusir dari kelompoknya yang dipimpin oleh jantan dominan (yang berkuasa). Gajah umumnya selalu berkelompok, betina tertua sebagai pemimpin dan selalu berada di garis terdepan dan di belakangnya diikuti betina-betina muda dan anak-anaknya dan barisan paling belakang adalah gajah jantan. Individu jantan yang sudah tua dan telah kehilangan kekuatannya akan disingkirkan dari kelokmpok dan hidup terpisah secara soliter. Hidup berkelompoknya binatang ada yang dipimpin oleh seekor jantan dewasa (monyet, lutung, bekantan) tapi ada pula hidup berkelompok hanya berdasarkan sesama jenis. 7.2. Hidup Soliter, Golongan ini melakukan seluruh aktivitas hidupnya secara soliter atau menyendiri. Kecuali pada musim kawin, yang sering terlihat bersma-sama dengan pasangannya, atau individu betina dengan beberapa ekor anaknya. Misal harimau loreng, macan dahan, orangutan dsb. 8. Perilaku Tidur Perilaku tidur dan waktu tidur setiap binatang tidaklah sama, tergantung dari jenis binatangnya dan perilaku aktifitasnya (aktif pada malam hari atau siang hari). Bagi yang aktif pada siang hari, maka malam harinya dihabiskan untuk istirahat, demikian juga sebaliknya yang aktif pada malam hari, menjelah matahari terbit mereka istirahat dan tidur. Cara tidur setiap hewan berlainan, ada yang memerlukan sarang (orangutan, burung, beruang dsb) tapi adapula yang tidak, mereka hanya perlu pohon untuk berlindung (monyet, owa, burung, macan tutul). Ada pula yang masuk ke tempat yang permanen yang dijadikan untuk tinggal baik istirahat ataupun berbiak seperti Goa (harimau), lobang pohon (tarsius), burung rangkong dsb.

50

B. MENGENAL TUMBUHAN TROPIK (BOTANI) Tumbuh-tumbuhan yang menyusun hutan sangat beragam bentuknya, baik itu akar, batang, daun, buah maupun bunganya. Setiap tempat, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan; keadaan jenis tanah dan iklim sangat menentukan keberadaan dan bentuk dari tumbuh-tumbuhan. Misalnya daerah hutan hujan tropis dapat dicirikan dengan banyaknya tumbuhan lumut, paku-pakuan dan liana. Kalau kita ingin mempelajari dan mengenal tumbuh-tumbuhan maka kita perlu mengenal seluruh bagian yang ada mulai dari akar sampai bunga, baik itu berupa penampakan bagian luar maupun sifat-sifat dalamnya. Setiap jenis tumbuhan yang ada mempunyai ciri tersendiri. Hal-hal dibawah ini perlu untuk dicatat jika kita kelapangan: 1. Akar : bentuk percabangan 2. Batang : berbentuk pohon tinggi, liana, perdu atau merambat; berkayu atau herba; mempunyai banir atau tidak. 3. Daun : bentuk tepi daun (rata, bergerigi); bentuk daun (bulat, lonjong, menjari); susunan daun (daun tunggal atau majemuk); tebal atau tipis; susunan urat daun; tangkai daun (berpelepah, mempunyai helai/tidak, bertangkai atau tidak); permukaan kasar atau mengkilat; warna daun dsb. 4. Buah : buah tunggal/majemuk; berdaging atau kering; warna; letak buah. 5. Bunga : bunga tunggal/majemuk; warna; bau, dsb. 6. Bagian-bagian lain : sulur, duri dan rambut-rambut halus yang lembut atau tajam 7. Mahkota pohon: bentuknya bulat, lonjong, segitiga atau lebar seperti payung 8. Pertajukannya: saling tumpang tindih atau terpisah-pisah Selain mengenal bagian dari tumbuhan maka perlu kita mengetahui kondisi tanah dan tempat tumbuhan tersebut tumbuh. Juga perlu diketahui bagianbagian mana dari tumbuhan tersebut yang mengandung racun. Masyarakat setempat lebih berpengalaman mengenal beberapa tumbuhan yang berpotensi sebagai obat atau keperluan lain dan pengetahuan tersebut sebaiknya dibuatkan catatannya. Musim berbuah atau berbunga perlu dicatat dan ini ada hubungannya dengan keberadaan binatang di sekitarnya, sehingga memudahkan untuk mengetahui pula bagaimana keterkaitan antara tumbuhan dan binatang. Berberapa jenis dari tumbuhan lain seperti jamur, kantung semar dan bunga bangkai adalah jenis yang jarang dijumpai. Merekapun mempunyai

51

keunikan ciri tersendiri yang perlu dicatat dan diamati. Keunikan mereka terletak pada cara hidup, mendapatkan makanan, seperti bunga bangkai dengan bau busuknya banyak mengundang lalat yang akhirnya dimakan (setelah busuk) demikian juga kantung semar. Rupanya tumbuhanpun mempunyai pertahanan untuk menghadapi segala gangguan musuh, sehingga tumbuh-tumbuhan mempunyai racun. Racun ini ada pada akar, batang, daun dan buah, karena musuh (binatang) memakan bagian-bagian tersebut. Keberadaan racun pada bagian dari tumbuhan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat secara tradisional untuk kepentingan berburu ataupun sebagai obat terhadap berbagai macam penyakit. C. KEUNIKAN HUTAN TROPIK Hutan tropik yang belum banyak dijamah oleh manusia, masih asli, masih utuh, maka di sanalah banyak keunikan, keanehan yang jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dibawah ini ada beberapa keunikan yang sering dijumpai. 1. Suara Di tengah rimba, kadang-kadang terdengar suara-suara yang aneh dan membuat seseorang bertanya-tanya, atau atau ada yang mengkaitkan dengan suara gaib. Bagi yang percaya kadang membuat ketakutan. Suarasuara tersebut seringkali ditimbulkan oleh alam itu sendiri, seperti perilaku binatang ataupun tumbuhan, misalnya : a) Ketokan. Suara seperti orang mengetuk pintu atau memukul pohon. Suara ini bisa ditimbulkan oleh burung pelatuk yang mencari makan dari pohon mati atau burung yang sedang membuat lubang. b) Seperti pohon roboh. Suara yang gemuruh yang terjadi di hutan, memang disebabkan oleh robohnya sebuah pohon. Akan tetapi di daerah yang ada orangutannya, hal ini bisa disebabkan oleh perilaku orangutan yang sengaja merobohkan pohon mati untuk dicari rayapnya atau mencari perhatian orangutan jantan penguasa. Biasanya tak berapa lama akan terdengar suara yang melengking keras ““long call”” yang dikeluarkan orangutan jantan dewasa. c) Sibakan dalam air. Bila berdekatan dengan sungai atau rawa dan terdengar suara seperti orang menyibak air ada beberapa kemungkinan yaitu : Buaya yang menangkap mangsa, Biawak yang mengejar mangsa, Babi yang bergerak di rawa dsb. d) Suara binatang lain. Suara binatang ada berbagai macam jenis tergantung dari daerah tertentu. Umumnya suara yang terdengar diakibatkan oleh rasa terkejut sehingga binatang tersebut memberikan tanda bahaya bagi anggotanya (kijang, lutung), akibat terusik terganggu

52

sehingga binatang tersebut seperti marah (orangutan), suara yang dikeluarkan karena daerahnya terganggu oleh binatang lain yang sejenis (Bakantan, lutung), suara yang memang dilakukan oleh binatang setiap pagi atau sore (owa, siamang, berbagai jenis burung), suara tantangan atau memanggil pasangannya biasanya suara jantan (orangutan). 2. Cahaya/sinar Di tengah rimba, khususnya pada malam hari, sering terlihat cahaya yang bergerak atau berdiam diri. Cahaya ini dikeluarkan oleh binatang tertentu atau tumbuhan yang telah membusuk atau jamur. Cahaya tersebut berwarna kuning kehijauan, antara lain : a) Sepasang bulat bergerak atau diam di darat. Bila di bawah/ dasar hutan dapat disebabkan oleh binatang malam yang mencari mangsa seperti harimau, macan, kucing, musang. Cahaya ini akan keluar bila ada pantulan cahaya, misalnya senter, cahaya rembulan dsb. Bila di pohon, dapat disebabkan oleh adanya burung hantu, kelelawar, musang, macan dahan dsb. b) Sepasang bulat bergerak atau diam di perairan. Pantulan cahaya yang ada di permukaan air dapat ditimbulkan oleh binatang perairan, bila terkena pantulan cahaya dari senter atau bulan. Umumnya binatang ini adalah buaya, ikan arowana, ikan pemangsa dsb. c) Tunggal, berkelap-kelip, bergerak atau diam. Cahaya ini dikeluarkan oleh bangsa serangga tertentu yaitu kunang-kunang (fire-fligh). Cahaya yang dikeluarkan, terjadi tanpa adanya pantulan cahaya. Kunangkunang yang cahayanya tidak berkelap-kelip, biasanya kunang-kunang jantan. Jenis-jenis kunang dapat diketahui dari panjang pendeknya waktu berkelap-kelip. Perilaku kunang-kunang ini sangat menarik. Kunang-kunang betina mempunyai sifat kanibal, memakan sesama jenis. Betina yang emiliki caya tanpa kedip, menempel pada dahan, ranting atau daun, untuk memanggil jantan. Jantan menghampiri. Setelah melakukan perkawinan, betina langsung menyerang jantan dan memakannya. d) Cahaya tidak beraturan, besar dan kecil. Cahaya ini dikeluarkan oleh sejenis jamur yang tumbuh pada dedaunan atau kayu yang sedang membusuk. Selama proses pembusukan itulah mengeluarkan zat phosphor yang bercahaya (seperti pada arloji). Cahaya yang dikeluarkan tanpa adanya sinar pantulan. Pada hutan tropik biasanya ditemukan pada dasar hutan dan kadang kadang areal yang bercahaya cukup luas satu meter persegi atau kadang-kadang lebih tapi tidak beraturan. e) Cahaya tidak beraturan pada perairan yang keluar biasanya diakibatkan oleh plankton (mikro-organisme), dan cahaya ini keluar karena ada pantulan cahaya, seperti di laut atau di perairan payau.

53

D. BINATANG DAN TUMBUHAN ENDEMIK Kata endemik mempunyai arti hanya terdapat atau tersebar pada daerah tertentu, dan di daerah lain tidak ditemukan. Binatang dan tumbuhan yang bersifat endemik, adalah mahluk hidup yang hanya terdapat atau hidup atau dijumpai terbatas pada suatu daerah, dan secara alami tidak terdapat di tempat lain, misalnya: 1. Bekantan hanya ada di Kalimantan, 2. Wanga, Babirusa dan Anoa di Sulawesi 3. Cendrawasih di Irian Jaya 4. Siamang Kerdil di Mentawai. 5. Badak Jawa di, Ujung Kulon, Jawa Barat. 6. Komodo di Pulau Komodo dan sekitarnya, dsb. Untuk jenis jenis tumbuhan, beberapa yang mempunyai sifat endemik, antara lain : 1. Suku Dipterocarpaceae yang kebanyakan marganya merupakan tumbuhan endemik Kalimantan, 2. Tusam/Pinus (Pinus merkusii - Pinaceae) di Sumatera Utara. 3. Kayu Ebony, terdapat di Sulawesi. 4. Kayu Cedana di Nusa tenggara Timur, dsb Walaupun terbatas dalam persebaran, populasi kelompok ini tidak harus rendah. Mahluk yang tersebar jarang secara alami tidak mempunyai populasi dengan kerapatan tinggi. Kejarangan berbiak, persaingan antar individu dan sebab-sebab alami lainnyalah yang menyebabkan terbentuknya pola kerapatan sedemikian rupa itu. Kelompok mahluk inilah yang layak disebut langka. (Bunga bangkai raksasa dan kembang padma tergolong langka). Mahluk dapat menjadi relik (tersisa) oleh adanya persaingan ketat antar jenis, terutama jenis yang sudah tua, mungkin terdesak kepinggiran suatu kawasan fisik, misalnya, biawak Komodo (Varanus komodoensis) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Keterbatasan populasi dapat juga terjadi oleh ulah manusia, misalnya dalam kegiatan memanfaatkan suatu jenis secara berlebihan (tidak seimbang dengan laju pemulihannya) dan pengubahan habitat menjadi bentuk lain, populasi mahluk yang bersangkutan dapat menurun mencapai berbagai taraf, yang secara kasar dapat digolongkan menjadi rawan dan terkikis. Bila pengikisan terjadi terus menerus dan tidak ada tindakan yang mencegah merosotnya populasi mahluk yang bersangkutan, akhirnya akan punah. Contoh yang rawan diantaranya adalah kayu ulin, orang utan, kakatua raja, kima raksasa (Tridacna gigas) dan mata lembu (Turbo marmoratus), sedangkan yang sudah mengalami pengikisan adalah kedawung, harimau, gajah, duyung (Dugong dugong) dan ikan terubuk (Hilsa toli).

54

Tiap-tiap jenis mahluk mempunyai rentang kehidupan (life span) dan juga batas umur yang bermacam-macam, sehingga keberadaannya di alam ini ada batasnya. Karena pada suatu waktu secara alami jenis akan mengakhiri masa hidupnya. Seluruh populasi serta individu anggotanya akan mati atau punah dari muka bumi. Banyak jenis walaupun tidak mengalami tekanan oleh manusia tetap menjadi punah. Umumnya adalah jenis tumbuhan tua yang telah punah pada jaman-jaman purba, misalnya tumbuhan paku berbiji (Pteridospermae) dan reptil raksasa purba Dinosaurus. Namun ada pula mahluk yang masih dapat berumur panjang yang telah melewati berbagai perubahan keadaan geologi dunia dan masih hidup sampai kini, misalnya biawak komodo di Pulau Komodo, Nusa Tenggara, penyu di kepulauan Galapagos. Marga flora endemik yang terdapat di Malesia dibagi 3 bagian : a. Malesia Barat (Sumatera 17 marga, Malaya 71 marga dan Kalimantan 59 marga); b. Malesia Selatan (Jawa 10 marga, Pulau-pulau lain 4 marga); c. Malesia Timur (Sulawesi 7 marga, Maluku 1 marga, Filipina 33 marga, dan Irian 124 marga). E. BINATANG DAN TUMBUHAN EKSOTIK Binatang dan tumbuhan exotik, adalah mahluk hidup yang jarang ditemui, mempunyai bentuk dan perilaku yang unik dan oleh sebagaian wisatawan belum pernah menemui secara langsung atau biasanya mereka hanya pernah melihat melalui gambar atau mendengarkan ceritera orang. Pada hutan tropik, keunikan keunikan binatang dan tumbuhan seperti ini, banyak ditemui. Di bawah ini ada beberapa contoh binatang dan tumbuhan eksotik yang mempunyai daya tarik bagi pengunjung. 1. Binatang. Pada umumnya semua binatang mempunyai musuh atau predator yang akan memangsa dirinya atau binatang pemangsa untuk memudahkan menangkap mangsanya mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sebaliknya binatang yang akan dimangsa, untuk menghindari diri dari pemangsa, mereka juga menyesuaikan diri dengan lingkungan agar terlepas dari sergapan pemangsa. Di bawah ini ada beberapa binatang yang merubah bentuk agar sesuai dengan lingkungan : a) Belalang : Belalang, yang masuk ke dalam keluarga serangga, yang merupakan sumber makanan bagi beberapa jenis binatang (burung, reptil, amphibi). Ada beberap jenis belalang yang sayapnya mirip/sama

55

dengan daun kering, sehingga agak sulit untuk membedakan antara belalang dengan daun kering. Selain itu ada pula yang tubuhnya menyerupai patahan ranting b) Trenggiling : adalah jenis mamalia yang bersisik. Untuk menghindari pemangsa, biasanya binatang ini melingkar dan sulit untuk dibuka. c) Kadal : Beberapa jenis reptil sering merubah warna kulitnya, seperti blungkon, untuk memudahkan menangkap mangsa. Namun bila diserang musuh, sering menanggalkan ekornya, sehingga binatang ini terlepas dari kejaran musuh. d) Beberapa jenis monyet : Beberapa jenis monyet, terutama yang bertubuh kecil, umumnya hidup berkelompok, untuk menghindari serbuan pemangsa. Mereka sering tidur berkelompok di tepian sungai. Ada teori yang mengatakan, dengan tidur di tepian sungai, selain mudah menemukan makanan dari tumbuhan yang selalu hijau, juga bila ada pemangsa cepat menceburkan diri. Bangsa monyet di Kalimanatan (Monyet ekor panjang dan Bekantan) yang sering menyeberangi sungai, bila hendak menyeberang sering menunggu perahu lewat. Dengan demikian mereka terhindar dari musuh perairan, seperti ikan toman dan buaya supit. 2. Tumbuhan. Selain binatang, tumbuhan juga mempunyai cara untuk mencari makan, bernafas. Karena kondisi lingkunganlah, tumbuhan tersebut melakukan hal yang demikian, agar dalam persaingan merebutkan makanan di hutan dapat berhasil sehingga dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. a) Kantong semar : Tumbuhan perdu ini biasanya tumbuh pada daerah yang miskin unsur hara. Kantong kantong yang tumbuh pada ujung daun atau pada batang utama ini berfungsi untuk menangkap serangga. Serangga yang masuk, yang di dalamnya terdapat air, akan membusuk dan tumbuhan akan menyerap nitrogen dari hasil pembusukan serangga. Kantong mempunyai tutup yang berwarna mencolok yang menarik perhatian serangga, selanjutnya serangga terjebak dan masuk ke dalam kantong. b) Bunga Bangkai : Karena mempunyai bau busuk yang menyengat, maka banyak mengundang lalat untuk hinggap. Serangga-serangga yang hinggap inilah terjebak dan menjadi sumber nitrogen bagi bunga bangkai. c) Akar Papan : Akar papan, merupakan pelebaran akar yang berbentuk pipih, mempunyai fungsi untuk menahan batang yang menjulang tinggi. Selain itu mempunyai fungsi untuk bernafas, umumnya tumbuhan banyak ditemukan pada daerah hutan rawa. d) Liana : merupakan kekhasan pada daerah hutan tropik. Tumbuhan ini merambat dan bertumpu pada tumbuhan lain, dan menjalar cukup

56

panjang dapat mencapai 100 meter. Liana jenis tertentu dapat diambil airnya bila kita kekurangan air di dalam hutan. e) Beringin Pencekik : Jenis beringin ini, mulanya tumbuh dan menempel pada batang, dan tidak merugikan batang yang ditempeli. Namun setelah besar, karena kekuatan akar yang tumbuh, lama kelamaan tumbuhan penumpu mati, karena seluruh permukaannya dililit oleh beringin tsb. f) Buah Bersayap : Buah yang mempunyai sayap, umumnya dari jenis dipterocarpaceae (meranti). Sayap ini mempunyai fungsi untuk menyebarkan biji sejauh mungkin bila tertiup angin. Selain jenis meranti juga dimiliki oleh tumbuhan mahoni. g) Tumbuhan berlubang : Beberapa jenis tumbuhan pada hutan tropik, sering ditemui tidak memiliki kayu, dan bagian tengahnya berlubang. Lubang ini ternyata mempunyai fungsi untuk menarik binatang tinggal di dalamnya. Tumbuhan mempunyai keuntungan yang besar, karena tumbuhan akan mendapatkan makanan/pupuk dari kotoran binatang yang tinggal.

F. PERSAINGAN KEHIDUPAN PADA HUTAN TROPIK Kehidupan pada hutan tropik, merupakan kehidupan yang sangat komplek, tak ubahnya seperti kehidupan manusia di alam ini yang penuh dengan persaingan untuk mendapatkan makanan. Kehidupan pada hutan demikian pula. Mereka satu sama lain, baik binatang ataupun tumbuhan saling merebutkan makanan, cahaya ataupun pasangan. Dibawah ini ada beberapa keunikan kehidupan pada hutan tropik : 1. Merebutkan Cahaya Semua tumbuhan memerlukan cahaya untuk ““memasak”” makanannya. Sehingga tumbuhan pada hutan yang belum terganggu akan nampak menjulang tinggi, seolah-olah ingin menguasai cahaya yang ada. Sedangkan tumbuhan yang masih muda, akan selalu berusaha untuk tumbuh tegak lurus hingga mendapatkan cahaya yang cukup. Ada keunikan pada beberapa tumbuhan untuk merebutkan cahaya dengan cara yang yang menarik untuk dipelajari antara lain : Tumbuhan merambat pada hutan tropik tidak saja liana, namun ada beberapa jenis seperti bambu, rotan dsb. Liana dan bambu memiliki cara yang unik. Mereka umumnya bertumpu pada pohon dan cabang hingga ranting-ranting. Dalam tumbuh kembangnya, liana tersebut seolah-olah menarik kebawah dengan lilitan dan beban yang cukup berat. Ranting atau dahan yang tidak kuat akan patah, dengan demikian pucuk liana akan mendapatkan cahaya matahari yang lebih leluasa.

57

Pada bambu yang merambat, umumnya mereka menutupi seluruh permukaan tumbuhan yang menjadi inangnya. Tidak seperti lianan yang memiliki pangkal yang besar, bambu hanya mengandalkan kecepatan bertunans bila mendapatkan cahaya yang cukup. Sedangkan tumbuhan penumpu masih hidup. Rotan. Tumbuhan ini pada ujungnya memiliki duri kait yang tajam. Rotan tumbuhnya tidak melilit seperti liana. Pada saat tumbuh, ujung tangkai daun yang panjang dan berduri, berfungsi untuk mengait pada tumbuhan lain untuk bertahan agar dapat tegak dan hidup menjulang ke atas. Setelah sampai di atas dan mendapatkan cahaya yang cukup, biasanya rotan menjalar ke pohon lain hingga mencapai kehidupan yang maksimim. Biasanya tidak mematikan pohon tumpuan. 2. Merebutkan udara Paling mudah untuk mendapatkan tumbuhan yang bersaing untuk mendapatkan udara adalah tumbuhnya akar nafas. Seperti pada pohon beringin (ficus) atau pohon-pohon yang tumbuh pada daerah perairan, rawa atau hutan bakau. Maka di sana akan nampak akar-akar yang bermunculan dari dahan ataupun dari dalam tanah. Pada tumbuhan yang tumbuh pada tanah kering, dapat diambik contoh tumbuhan yang memiliki akar baner atau akar papan. Akar yang melebar ini tidak hanya sekedar sebagai penunjang atau menahan batang yang tinggi, akan tetapi juga berfungsi untuk memperluas permukaan batang. Sehingga akan mendapatkan cukup udara. Dapat diamati pada tumbuhan yang berbaner, umumnya tumbuhan di sekitarnya sangat jarang. Selain itu ada pula tumbuhan yang selalu mengganti kulitnya, seperti pada jenis-jenis reptil, atau serangga. Tumbuhan ini untuk menyegarkan kulit serta agar dapat mendapatkan udara yang cukup, selalu mengelupas, sehingga kulit yang baru ada di permukaan dan dapat berfungsi untuk mendapatkan udara segar. 3. Merebutkan Makanan Tak ubahnya seperti manusia, ada tumbuhan yang rakus, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan makanan dan mematikan tumbuhan lain. Tumbuah yang mempunyai perilaku ini antara lain : Mengeluarkan racun : alang-alang, merupakan rumput yang memiliki zat racun bagi tumbuhan (alelopati). Oleh karena itu di mana ada tumbuhan padang alang-alang, jarang ditemui tumbuhan lain. Namun ada jenis tanaman yang berbiji polong dapat membunuh alang-alang.

58

Akasia, merupakan tumbuhan yang rakus akan air, sehingga tumbuhan di sekitarnya jarang ada yang hidup karena kalah bersaing dalam merebutkan
Larangan apa yang harus disampaikan ? Selama membawa pengunjung, ada beberapa hal yang perlu disampaikan mengenai anjuran, himbauan atau larangan kepada wisatawan. Lebih baik disampaikan sebelum menuju ke lokasi. Larangan larangan tersebut diantaranya : 1. Jangan mengganggu kehidupan di dalam kawasan, dalam bentuk apapun sehingga dapat merubah kehidupan di alam. 2. Mengambil, membawa, atau memetik, tumbuhan atau binatang yang ada didalam kawasan. 3. Membuat coretan, atau membuat tulisan (vandalisme), pada bebatuan, pohon atau tempat lain yang mengganggu keindahan kawasan. 4. Membuang sampah di sembarang tempat, khususnya bahan-bahan dari plastik yang tak bisa membusuk. 5. Saat bertemu dengan satwa, dilarang membuat gaduh atau mengganggunya, sehingga dapat mempengaruhi perilakunya. 6. Membawa atau memasukan binatang atau tumbuhan yang bukan tanaman atau satwa asli yang ada dalam kawasan yang dilindungi. Larangan-larangan ini perlu sekali diterapkan kepada pengunjung. Namun pemandu ““harus”” memberikan contoh kepada pengunjung dan tidak berbuat sesuatu yang terdapat dalam daftar larangan. Misalnya pengunjung dilarang membuang sampah plastik, tetapi pemandu sendiri dengan enaknya membuang bungkus permen. Hal ini harus dihindari.

air.

59

EVALUASI
Setelah memandu, mengantarkan wisatawan keliling daerah yang dikunjungi, hendaknya diadakan evaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Evaluasi sangat penting artinya untuk mengoreksi diri sendiri, apakah selama memandu wisatawan yang kita pandu itu cukup puas atau tidak. Sehingga dapat memperbaiki kekurangan kekurangan yang selama itu kita jalankan. Selain untuk mengoreksi diri sendiri sebagai seorang pemandu ekowisata, tentunya juga ingin mengetahui pendapat atau komentar atau usulanusulan wisatawan terhadap lokasi yang dikunjungi. Misalnya pelayanan hotel, jenis makanan yang dihidangkan, macam-macam cindera mata yang dijual sampai lokasi yang dikunjungi. Apabila ada saran dan masukan dari wisatawan, tentunya sangat bermanfaat bagi kita sendiri, bagi lingkungan ataupun layanan jasa lainnya, untuk mengembangkan lebih baik atau untuk berbuat sebaik mungkin atau meningkatkan mutu pelayanan kepada wisatawan, agar kelak akan kembali lagi. Di dalam menyampaikan formulir evaluasi ini, alangkah baiknya diberikan pada saat malam terakhir, saat makan malam, sambil berbincang-bincang atau diskusi selama perjalanan. CONTOH EVALUASI
Silahkan anda isi formulir ini untuk memberikan masukan kepada kami dalam mengembangkan pariwisata di daerah X. Tanggal : Nama : L/P : Umur : Alamat : Pekerjaan : Pemandu yang mendampingi anda adalah Nama : Tentang lokasi pariwisata di daerah X. Apakah anda datang ke lokasi ini untuk pertama kali ? ya/tidak Apabila pernah datang, kapan anda pertama datang ke lokasi ini ? (bln/th) Berapa lama anda datang waktu itu ? ........ hari. Apa bila pertama kali datang, dari mana informasi yang anda peroleh tentang lokasi wisata di daerah X

60

Brosur, Travel Agent, Teman, Baca Koran/Majalah. Pelayanan pemandu : Selama anda di pandu oleh pemandu yang selama ini menemani anda, bagaimana kesan anda tentang pemandu tersebut mengenai : Bahasa : sangat bagus/bagus/cukup/kurang. Pelayanan : sangat bagus/bagus/cukup/kurang. Interaksi dengan anda : sanagt bagus/bagus/cukup/kurang. Saran anda : .................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................... Obyek wisata yang anda kunjungi, bagaimana komentar anda : Menarik sekali/menarik/biasa-biasa saja/kurang menarik. Saran anda : .................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................... Penginapan : Kebersihan : Bersih/cukup/kotor. Pelayanan : Bagus/cukup/kurang. Fasilitas (wc, air dll) : Bagus/cukup/kurang. Saran anda : .................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................... Makanan : Enak sekali/Enak/Cukup/Kurang. Saran anda : .................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................... Transportasi : Pengemudi : Bagus/Cukup/Kurang. Kebersihan kendaraan : Bagus/Cukup/Kurang Saran anda : .................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................... Terima kasih atas komentar anda, masukan dari anda sangat bermanfaat untuk pengembangan sumber daya manusia di dalam melayani wisatawan di masa yang akan datang. (.................................................) Tanda tangan/nama terang.

61

BUKU BACAAN DALAM PENYUSUSNAN BUKU INI
Djamin, D (1997), Persiapan Seorang pemandu. Makalah dalam pelatihan pemandu muda. HPI Sumatera Barat. Ekariono, W dan Edy Hendras W, (1996): Pedoman untuk ekowisata ke kawasan taman nasional di Indonesia (inpress). INDECON, (1996 ) : Prosiding Symposium Ekowisata. Konsep, Prinsip dan Kriteria-kriterianya. Kodhyat, H. (1995) : Buku Panduan Program Pendidikan dan Pelatihan Pemandu Ekowisata, LSPI/INDECON, Jakarta. Kodhyat, H. (1996) : Sejarah Pariwisata Dan Perkembangannya di Indonesia, Grasindo, Jakarta. Mitrasetia, T, Edy Hendras W dan Ary Suhandy, (1996) : Pelatihan Pemandu Ekowisata, Yayasan Alami. Otto Sumarwoto, (1983) : Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan, Jakarta. Sam H. Ham, (1992) : Environmental Interpretation. A practical guide for people with big ideas and small budged. Department of Resource Recreation and Tourism College of Forestry, Wildlife, and Range Sciences, University of Idaho USA. The Ecotourism Society, (1993) : Ecotourism Guiglines. For nature tour operators. North Bennington, Vermont, USA. Whitmore, T.C. 1984. Tropical Rain Forest of the Far East, Clarendon Press, Oxford.

62

LAMPIRAN : 1 Taman-taman nasional di Indonesia dan lokasinya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. Taman Nasional Gunung Leuser : DI Aceh Taman Nasional Siberut : Propinsi Sumatera Barat Taman Nasional Berbak : Propinsi Jambi. Taman Nasional Kerinci Seblat : Terletak di tiga propinsi, antara lain Propinsi Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan : Propinsi Lampung. Taman Nasional Way Kambas : Propinsi Lampung. Taman Nasional Laut Pulau Seribu : DKI Jakarta. Taman Nasional Ujung Kulon : Propinsi Jawa Barat. Taman Nasional Gn Gede Pangrango : Propinsi Jawa Barat. Taman Nasional Gn Halimun : Propinsi Jawa Barat. Taman Nasional Laut Karimun Jawa : Propinsi Jawa Tengah. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru : Propinsi Jawa Timur. Taman Nasional Alas Purwo : Propinsi Jawa Timur. Taman Nasional Meru Betiri : Propinsi Jawa Timur. Taman Nasional Baluran : Propinsi Jawa Timur. Taman Nasional Bali Barat : Propinsi Bali. Taman Nasional Gunung Rinjani : Pulau Lombok. Taman Nasional Pulau Komodo : Pulau Komodo Taman Nasional Kelimutu : Pulau Flores. Taman Nasional Kutai : Propinsi Kalimantan Timur. Taman Nasional Tanjung Puting : Propinsi Kalimantan Tengah. Taman Nasional Gunung Palung : Propinsi Kalimantan Barat. Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya : Propinsi Kalimantan Tengah. Taman Nasional Laut Bunaken : Propinsi Sulawesi Utara. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone : Sulawesi Utara Taman Nasional Lore Lindu : Propinsi Sulawesi Tengah. Taman Nasional Rawa Aopa-Watumohai : Propinsi Sulawesi Tenggara. Taman Nasional Laut Taka Bone Rate : Sulawesi Selatan Taman Nasional Manusela : Propinsi Maluku. Taman Nasional Lorentz : Propinsi Irian Jaya. Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih : Propinsi Irian Jaya. Taman Nasional Wasur : Propinsi Irian Jaya.

LAMPIRAN : 2 Daerah Tujuan Ekowisata (DTE) ungggulan versi Masyarakat Ekowisata Iindonesia (MEI) : 1. Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumbar), 2. Taman Nasional Ujung Kulon (Jabar), 3. Taman Nasional Tanjung Puting (Kalteng),

63

4. 5. 6. 7.

Bedugul (Bali), Gili Air (Lombok), Taman Nasional Komodo (NTT), Tanah Toraja, Taman Nasional Take Nonarate (Sulsel), Kep. Leasi (Maluku) Kep. Padaido (Biak-Irja).

Daerah lain yang berpotensi dikembangkan menjadi DTE, al : Kep. Togian (Sulteng), Kep. Wakatobi (Sultra) Taman Nasional Wasur (Irja), Taman Nasional Halimun (Jabar).

LAMPIRAN : 3 DAFTAR NAMA SATWA YANG DILINDUNGI DI INDONESIA A. MAMALIA (Binatang Menyusui) BALAENOPTERIDAE (Ikan Paus) 1.Balaenoptera musculus (Blue Whale -Paus Biru) 2.B. physalis (Fin Whale, Razorback -Paus Sirip) 3.Megaptera novaeangliae(Humpback Whale -Paus Bongkok) 4.Cetacea spp. (Whale's -Paus) BOVIDAE (Keluarga Kerbau) 1.Bubalus depressicornis (Lowland Anoa Rendah) B. quarlesi (High Land Anoa 2.Bos javanicus (Banteng 3.Capricornis sumatrensis (Sumatran Serow

-Anoa Dataran -Anoa Dataran Tinggi) -Banteng) -Kambing Sumatera)

CANIDAE (Kel. Anjing) 1.Cuon alpinus (Asiatic Wild Dog -Ajag) CERCOPITHECIDAE (Kel. monyet) 1.Cynopithecus niger (Celebes crested macaque -Monyethitam Sulawesi) 2.Macaca bruescans (Booted macaque -Monyet buntung) M. maura (Moor Macaque -Monyet Dare) M. nigra (Crested Celebes Macaque -Monyet dihe) M. pagensis (Mentawai Pigtailed Macaque-Beruk Mentawai) M. tonkeana (Tonkean macaque -Monyet Digo) 3.Nasalis larvatus (Proboscis monkey -Bekantan) 4.Presbytis aygula (Javan leaf monkey -Lutung surili) P. frontata (White fronted leaf monkey-Lutung dahi putih) P. potenziari (Mentawai langur-Lutung Mentawai) P. rubicunda (Maroon leaf monkey -Lutung Merah) P. thomasi (Thomas/Banded leaf monkey-Rungka, Kedih)

64

5.Simias concolor(Pigtailed langur/Snubnosed Monkey-Simpai Mentawai) CERVIDAE (Kel Rusa) 1.Cervus timorensis (Deer -Rusa) C. unicolor (Sambar -Sambar) 2.Hylelaghus kuhlii (Axis kuhlii) (Bawean deer, Kuw's deer -Rusa Bawean) 3.Muntiacus muntjak (Barking Deer -Kijang) CYNOCPHALIDAE (Kel. Lemur) 1.Cynocephalus variegatus (Flying Lemur -Kubung, Tando) DELPHINIDAE (Kel. Lumba-lumba) 1.Delphinus delphis (Common Dolphin-Lumba-lumba Delpis) D. roseirostris (Red fellied Dolphin-Lumba-lumba perut merah) 2.Orcella brevirostris (Irrawady Dolphin-Lumba-lumba Trawedi) 3.Trusiops spp. (Bottle nose Dolphin-Lumba-lumba botol) 4.Orcella sp. (Mahakam Dolphin -Pesut) 5.Gramphus griscus (Bottled nosed Gramphus -Lumba-lumba gromphus) 6.Peponocephala electra (Little Killer -Lumba-lumba pemangsa kecil) DUGONGIDAE (kel. Ikan Duyung) 1.Dugong dugon (Dugong

-Duyung)

ELEPANTIDAE (Kel. Gajah) 1.Elephas maximus (Asian Elephant

-Gajah)

FELIDAE (kel. Kucing) 1.Felis badia (Bornean Bay Cat-Kucing merah) F. bengalensis (Leopard Cat-Kucing hutan, Meong Congkok) F. marmorata (Marble Cat-Luwak) F. Planniceps (Flatheaded Cat-Kucing dampak) F. temminckii (Golden Cat-Kucing Emas) F. viverrinus (Fishing Cat-Kucing Bakau) 2.Panthera pardus (Leopard Panther -Macan Kumbang, Macan Tutul) P. tigris sondaica (Javan Tiger-Harimau Jawa) P. tigris sumatrae (Sumatran Tiger-Harimau Sumatera) 3.Neofelis nebulosa (Clouded Leopard-Harimau Dahan) HYLOBATIDAE (kel. Owa-owa) 1.Hylobates agilis (Klose Gibbon-Jenis-jenis Owa tidak berbuntut) H. lar (White Handed Gibbon-Sarudung) H moloch (Silvery Gibbon-Klampiau)

65

HYSTRICIDAE (kel. Landak) 1.Hystrix brachyura (Porcupine-Landak) LEPORIDAE (Kel.Kelinci) 1.Nesolagus netsheri (Sumatran Shorteared Rabbit-Kelinci Liar Sumatera) LORISIDAE (kel. Kukang) 1.Nicticebus coucang (Slow loris-Malu-malu) MACROPODIDAE (Kel. Kanguru) 1.Debdrolagus dorianus (Unicolored Tree Kangaroo-Kanguru Pohon) D. goodfellowi (Ornata Tree Kangaroo-Kanguru Pohon) D. inustus (Grizzled Tree Kangaroo-Kanguru Pohon) D. ursinus (Dustry Tree Kangaroo-Kanguru Pohon) 2.Dorcopsis muelleri (Wallaby-Kanguru Tanah) 3.Thylogale bruijni (Dusky Pademelon-Kanguru Tanah) T. stigmatica (Red Legged Pademelon-Kanguru Tanah) MANIDAE (kel. Trenggiling) 1.Manis javanica (Scaly anteater/Pangolin-Trenggiling) MUSTELIDAE (kel. Sigung) 1.Arctonyx collaris (Hognose Badger-Pulusan) 2 Mydaus javanensis (Malay Stink Badger-Sigung) PHALANGERIDAE (kel.Kuskus) 1.Phalanger atrimaculatus(Black phalanger -Kuskus) P. celebensis (Celebes phalange-Kuskus) P. gymnotis (Gray phalanger-Kuskus) P. maculatus (Spotted phalanger-Kuskus) P. orientalis (Common phalanger-kuskus) P. ursinus (Bear phalanger-Kuskus) PHOCOENIDAE (Kel. Lumba-lumba) 1.Neophocaena phocaenoides (Black Finless Porpoise-Lumba-lumba tak bersirip punggung)

PONGIDAE (kel. Kera) 1.Pongo pygmaeus pygmaeus (Orang utan Kalimantan-Mawas/Orangutan) P.p.abeli (Orangutan Sumatera-Mawas/Orangutan)

66

RHINOCEROTIDAE (kel Badak) 1.Dicerorhinus sumatrensis (Sumatran Rhino-Badak Sumatra) 2.Rhinoceros sondaicus (Javan Rhino-Badak Jawa) SCIURIDAE (Kel. Tupai) 1.Iomys horsfieldii (Red Tailed Flying Squirrel-Bajing Terbang Ekor Merah) 2.Laricus hosei (Foursriped Ground Squirrel-Bajing Tanah Bergaris Empat) L. insignis (Theestriped Ground Squirrel-Tupai Tanah) 3.Petaurista elegants (Spotted Giant Flying Squirrel-Bajing Terbang) 4.Ratufa bicolor (Black Giant Squirrel-Jelarang) STONIDAE (Kel. Lumba-lumba) 1.Sotalia borneensis (Indonesian White Dolphin-Lumba-lumba Borneo) S. chinensis (Chinese White Dolphin-Lumba-lumba Cina) S. plombea (Plumboeus Dolphin-Lumba-lumba Timah) 2.Stenella malayana (Malayan Dolphin-Lumba-lumba Malaya) 3.Steno bredanensis (Rough toothed Dolphin-Lumba-lumba Gigi Kasar) SUIDAE (kel. babi) 1.Babyrousa babirussa (Babyrusa-Babi Rusa) TACHYGLOSSIDAE (Kel. Landak) 1.Zagglossus bruijni (Spiny Anteater-Landak Irian, Nokdiak) TAPIRIDAE (Kel. Tapir) 1.Tapirus indicus (Malay Tapir-Tapir) TARSIIDAE (Kel. Binatang hantu) 1.Tarsius bancanus (Tarsier-Binatang Hantu, Singapuar) Tarsius spectrum (Tarsier -Binatang Hantu, singapuar) TRAGULIDAE (Kel Kancil) 1.Tragulus javanicus (Smaller Mouse Deer-Kancil) T. napu (Large Mouse Deer-Pelanduk) URSIDAE (kel. Beruang) 1.Helarctos malayanus (Malayan Sun Bear-Beruang Madu) VIVERRIDAE (Kel. musang) 1.Arctictis binturong (Binturung-Binturung) 2.Cynogale bennetti (Otter civet-Musang Air) 3.Macrogalidea musschenbrockii (Celebes Palm Civet-Musang Sulawesi) 4.Prionodon linsang (Banded linsang-Musang congkok)

67

ZIIPHIIDAE (Kel. Ikan Paus) 1.Ziphius cavirostris (Civier's Whale-Paus Paruh Angsa) B. AVES (Burung) CASSUARIDAE (Kel. Kasuari) 1.Casuarius bennetti (Dwarf Cassowary-Kasuari Kerdil) C. Casuarius (Double Wattled Cassowary-Kasuari Gelambir Ganda) C. unappendiculatus (Single Wattled Cassowary-Kasuari Gelambir Tunggal) PELECANIDAE (Kel. Pelikan) 1.Pelecanus conspicilatus (Australian Pelican-Undan Kacamata) P. onocrotalus (Eastern White Pelican-Undan Putih) P. roseus (Spot Billed Pelican-Undan Paruh Botol) SULIDAE 1.Sula abbotti S. dactylatra S. leucogaster S. sula

(Abbott's Booby-Gangsa Batu Abotti) (Blue Faced Booby-Gangsa Batu Muka Biru) (Browned Booby-Gangsa Batu Coklat) (Red Footed Booby-Gangsa Batu Kaki Merah)

ANGHINGIDAE1.(Kel. Pecuk) 1.Anhinga melanogaster (Oriental Darter-Pecuk Ular) FREGATIDAE 1.Fregata andrewsi (Christmas Island Frigate Bird-Bintayung P. Chrismas)

ARDEIDAE (Kel. Kuntul) 1.Bulbucus ibis (Cattle Egret-Kuntul Kerbau) 2.Egretta alba (Greater Egret-Kuntul Besar) E. intermedia (Lesser Egret-Kuntul Sedang) E. garzetta (Little Egret-Kuntul Kecil) E. eulophotes (Chinese Egret-Kuntul Cina) E. sacra (Pacific Reef Egret-Kuntul Karang) 3.Nycticorax caledonicus (Rufous Night Heron-Kowak Merah) CICONIIDAE (Kel. Bangau) 1.Ciconia episcopus (Wolly Necked Stork-Bangau Hitam)

68

2.Ibis cinereus (Milky Stork-Bluwok Putih) 3.Leptoptilos javanicus (Lesser Adjutant Stork-Bangau Tongtong) 4.Ibis leucocephalus (Painted Stork-Bluwok Berwarna) THRESKIERNITHEDAE (kel. Ibis) 1.Threskiornis melanocepalus (Black Headed Ibis-Ibis Putih Kepala Hitam) 2.Pseudibis davisoni (White Shouldered Ibis-Ibis Bahu Putih) 3.Plegadis falcinollus (Glossy Ibis-Roko-roko, Ibis Hitam) ACCIPITRIDAE (Kel. Alap-alap) 1.Accipiter badius (Shikra Goshawk -Alap-alap) A. erythreuchen (Moluccan Sparrowhawks -Alap-Alap Berkalung) A. fasciatus (Brown goshawk-Alap-alap Coklat) A. grisciceps (Celebes Crested Goshawk-Alap-alap Sulawesi) A. henicogrammus (White Headed Sparrowhawk-Alap-alap Kepala Putih) A. melanochlamys (Black Mantled Sparrowhawk-Alap-alap Punggung Hitam) A. meyerianus A. nanus (Meyer's Goshawk-Alap-alap Meyer) (Celebes Little Sparrowhawk-Alap-alap Kecil Sulawesi)

A. novaehollnadiaea (White Goshawk-Alap-alap Putih) A. poliocephalus (Grey Headed Sparrowhawk-Alap-alap Kepala Kelabu) A. rhodogaster (Vinous Breasted Sparrowhawk-Alap-alap Sulawesi) A. soleonsis (Chinese Goshawk-Alap-alap Cina) A. trivingatus (Crested Goshawk-Alap-alap Jambul) A. trinotatus (Spottailed Sparrowhawk -Alap-alap Ekor Bintik) A. virgatus (Asiatic Sparrowhawk -Alap-alap Burung) 2.Aviceda jerdoni (Crested Lizard Hawk -Alap-alap Kadal Jambul) A. subscriastata (Cuckeo Falcon Hawk -Alap-alap Kukuk) 3.Butastur indicus (Gray Faced Buzzard -Elang Kelabu) B. liventer (Cinoamon Winged Buzzard-Elang Coklat) 4.Circus aeruginosus (Western March Harrier -Elang Rawa) C. assimulis (Spotted Harrier -Elang Tutul) C. melanoleucus (Pied Harrier -Elang Cina) 5.Elanus caeruleus (Black Winged Kite-Elang Tikus) 6.Haliaetus leucogaster (White Bellied Sea Eagle -Elang Laut Perut Putih) H. indus (Brahminy Kite -Elang Bondol, Wulung) H. spenurus (Whistling Kite -Elang Siul) 7.Harpyopsis novaeguineae (New Guinea Haspy Eagle-Elang Irian) 8.Heniscopernis longicauda (Hawk Eagle-Elang) 9.Hieractus kionerii (Ruffous Bellied Eagle-Elang Kecil) H. morphodes (Little Eagle-Elang Kecil Australi) 10.Ichthyophaga ichthyactus (Grey Headed Fishing Eagle-Elang Laut Kelabu)

69

I. nana (Lesser Fishing Eagle-Elang Laut Kecil) 11.Machaerhamphus alcinus (Bat Hawk-Alap-alap Kelelawar) 12.Magatriorochis deriae (Doria's Goshawk -Alap-alap Doria) 13.Milvus migrans (Black Kite-Alap-alap Malam) 14.Pernis celebensis (Parred Honey Buzzard-Alap-alap Belang) P. ptilorhynchus (Asiatic Honey Buzzard-Alap-alap Belang) 15.Spilornis cheela (Crested Serpent Eagle-Elang Ular) S. rufipectus (Celebes Serpent Eagle-Bido Sulawesi) S. elgini (Andaman Serpent Eagle-Bido Andaman) 16.Spizaetus bartelsi (Java Hawk Eagle-Elang Jawa) S. cirrhatus (Changeable Hawk Eagle-Elang Hitam) S. gurneyi (Hawk Eagle-Elang Gurne) S. alboniger (Black and White Hawk Eagle-Elang Hitam Putih) S. nipalensis (Hawk Eagle-Elang Sulawesi) S. lanceolatus (Celebes Shorterested Hawk Eagle -Elang Sulawesi Jambul) S. nanus (Wallace's Hawk Eagle-Elang Biliton, Elang Wallace) 17.Aquila audax (Wedge Tailed Eagle-Garuda Australia) A. gurneyi (Gurney's Eagle -Garuda Irian) PANDIONIDAE 1.Pandion haliaetus

(Osprey

-Elang Ikan)

FALCONIDAE (Kel. Elang) 1.Falcio peregrinus (Peregine falcon-Sikap Elang) F. severus (Oriental Bobby-Alap-alap macan) F. tinnunculus (Common Kostrel-Alap-alap) F. lengipennis (Little Falcon-Alap-alap Kecil) F. cenchroides (Nanken Kestrel -Alap-alap Irian) F. nolvecensis (Spotted Kestrel -Alap-alap Menara) 2.Microhierax fringillarius (Black Legged Falconet -Elang Belalang) M. latifrons (Bornean Falconed-Elang Kecil Borneo) MEGAPODIDAE (Kel. Maleo/gosong) 1.Macrocephalon maleo (Maleo -Maleo) 2.Megapodidus freycinet (Incubator Bird-Burung Gosong) M. arfakisnus (Waffled Brush Incubstro Bird-Burung Gosong) M. bruijni (Bryn's Brush Incubator Bird-Burung Gosong) M. freycinet affinis (Incubator Bird-Burung Gosong) M. nicobarensis (Incubator Bird-Burung Gosong) M. tenimberensis (Incubator BirdBurung Gosong) 3.Eulipoa wallacei (Mollucan Srum Hern-Burung Gosong) 4.Telogalla fuscirostris(Black Billed Brush-Kamur) T. jobiensis (Brown Collared Brush Turkey-Umgran)

70

PHASIANIDAE (Kel. Merak) 1.Argusianus argus (Great Argus Pheasant-Kuao) 2.Pavo muticus (Green Peafowl-Merak) 3.Polyplectron malacense (Malaysian Peacock Pheasant-Merak Kerdil) 4.Lophura bulweri (Bulwer's Wattled Pheasant-Beleang Bulwor) GRUIDAE 1.Grus satigone

(Sarus Grane-Jenjang)

BALLIDAE 1.Aramidopsis plateni (Celebes Rails-Mandar Sulawesi) CHARAIRIIDAE 1.Venellus tricolor SCOLOPACIDAE 1.Numenius arquata N. shcopus N. madagascariensis N. minutus 2.Tringa guttifer

(Javan Wattled Lapwing-Trulek Jawa)

(Buraskan Curlew-Gegajahan Besar) (Wimbrel-Gegajahan Sedang) (Curlew-Gegajahan Paruh Besar) (Little Curlew-Gegajahan Kecil) (Spotted Greenshak-Trinil Asia)

RECURVIRESTRIDAE 1.Himantopus himantopus (Black Winged Stilt-Trulak Lidi) BURHINIDAE 1.Esacus magnirostris (Great Reef Thick Knee-Wili-wili) LARIDAE 1.Strena ziumermani 2.Anous stolidus A. minutus A. tenuirostris 3.Chlidonias hybrida C. niger C. leucopterus 4.Gygis alba 5.Sterna albifrons S. anacthetus S. bengalensis S. bergii S. dougalltii S. uscata S. hirundo S. sumatrana

(Chinese Crested Tern-Dara Laut Berjambul) (Brown Noody-Camar Coklat) (White Capped Noody-Camar Kerudi Putih) (Black Noody-Camar Hitam) (Whishered Tern -Dara Laut Kumis) (Black Tern-Dara Laut Sayap Hitam) (White Winged Tern-Dara Laut Sayap Putih) (White Tern-Camar Putih Mata Cincin) (Little Crested Tern-Dara Laut Kecil) (Bridled Tern-Dara Laut Kendal) (Lesser Crested Tern-Dara Laut Jambul Kecil) (Greater Crested Tern-Dara Laut Jambul Besar) (Roseate Tern-Dara Laut Dougalii) (Sooty Tern-Dara Laut Hitam) (Common Tern-Dara Laut Hirunda) (Black Naped Tern-Dara Laut Tengkuk Hitam)

71

COLUMBIDAE 1.Caloenas nicobarica 2.Goura scheepmakeri G. cristata G. victoria

(Nicobar Pigeon-Junai Emas) (Grounded Pigeon-Mambruk Skop Makeri) (Grounded Pigeon-Mambruk Biasa) (Victoria Crowded Pigeon -Mambruk Viktoria)

Psittacidae 1.Cacatua galerita triton (Greater Sulphur Crested Cockatoo -Kakatua Putih Besar jambul kuning) 2.Lorius domicellus (Black Naped Lory-Nuri Merah Kepala Hitam) L. lory (Blck Capped Lory-Nuri Merah Kepala Hitam) L. rotatus (Electus Parrot-Payap) 3.Loriculus exilis (Celebas Spoted Hanging Parrot-Serindit Sulawesi) 4.Probosciger aterrimus (Palm Cockatoo-Kakatua Raja) 5.Psittrichas fulgidus (Peacquet's Parrot-Kasturi Raja) 6.Tanygnathus sumatranus (Muller's Parrot-Nuri Sulawesi) 7.Trichogloscus ornatus (Orrate Lorikeet-Kasturi Sulawesi) Strigidae 1.Otus manadensis beccarii (Biak Scops Owl-Celepuk Biak) Trogonidae 1.Harpactes disrdii (Diardi's Trogon -Kasumba) H. duvaucelli (Scarlet Rumped Trogon-Kasumba Punggung Ungu) H. oreskios (Orange Breasted Trogon-Kasumba Kepala Merah) H. orrophaeus (Cinnamon Remped Trogon-Kasumba Tinanggang Cinnamas) H. reinwardtii (Blue Tailed Trogon-Kasumba Ekor Biru) H. white headi (White Head's Trogon-Kasumba Kalimantan) Alcedinadae 1.Alcedo atthis A. coerulesceus A. euryzone A. meninting 2.Ceyx azurea C. eritharus C. fallax

(River Kingfisher -Raja Udang Sungai) (Small Blue Kingfisher-Raja Udang Biru Kecil) (Brond Zoned Kingfisher-Raja Udang Binti) (Malaysian Kingfisher-Raja Udang Binti) (Azure Kingfisher-Raja Udang Biru) (Indian Forest Kingfisher-Raja Udang Kuku Tiga) (Kingfisher Celebes Pygmy-Raja Udang Kerdil Sulawesi)

C. lepidus (Dwarf Kingfisher-Raja Udang Elok) C. pusilus (Little Kingfisher-Raja Udang Kecil) C. rufidorsus (Malay Forest Kingfisher-Raja Udang Hutan Punggung Merah

72

3.Cittura cynanotis (Celebes Blue Eared Kingfisher-Raja Udang Sulawesi Telinga Biru) 4.Clytoceyx pex (Shovel Billed Kingfisher-Raja Udang Paruh Sendok) 5.Dacelo gaudichaudi (Red Bellied Great Kingfisher-Raja Udang Besar Paruh Merah) D. leachii (Blue Winged Kookabura-Raja Udang Irian Sayap Biru) D. tyro (Aru Giant Kingfisher-Raja Udang Aru Besar) 6.Halcyon australasia (Kingfisher-Raja Udang Timor) H. chloris (White Colared Kingfisher-Raja Udang Kalung Putih) H. concreta (Chesnut Collared Kingfisher-Raja Udang Kalung Coklat) H. coromanda (Red Kingfisher-Raja Udang Merah) H. cyanoventris (Java Kingfisher-Raja Udang Biru Jawa) H. funebris (Kingfisher-Raja Udang) H. fulgidus (Kingfisher-Raja Udang) H. macleayii (Forest Kingfisher-Raja Udang Hutan) H. megarhynchus (Mountain Yellow Billed Kingfisher-Raja Udang Punggung Paruh Kuning) H. monacha (Kingfisher Molucean-Raja Udang) H. nigricyanea (Blue black Kingfisher-Raja Udang Biru Hitam) H. pileata (Black Capped Kingfisher -Raja Udang Kuduk Hitam) H. smynensis (White Threated Kingfisher-Raja Udang Leher Putih) H. princepa (Kingfisher-Raja Udang) H. sancta (Sacred Kingfisher-Raja Udang) H. torotoro (Lesser Yellow Billed Kingfisher -Raja Udang Paruh Kuning Kecil) H. laruli (Kingfisher-Raja Udang) 7.Lacedo pulchella (Banded Kingfisher-Raja Udang Pita) 8.Melidora macrorhina (Hook Billed Kingfisher-Raja Udang Paruh Bengkok) 9.Pelargopsis eapensis (Stork Billed Kingfisher-Raja Udang Paruh Bango) P. melanochyncha (Kingfisher Black Bellied-Raja Udang Perut Hitam) 10.Tanysiptera corolinae (Numfor Paradise Kingfisher-Raja Udang Numfor) T. ellioti (Kofiau Paradise Kingfisher-Raja Udang Kofiau) T. galatea (Common Paradise Kingfisher-Raja Udang Ekor Panjang) T. hydrochari (Aru Paradise Kingfisher-Raja Udang Aru) T. nympha (Pint Breasted Paradise Kingfisher -Raja Udang Kemerahmerahan) T. riedelii (Biak Paradise Kingfisher-Raja Udang Biak) T. sylvia (White Tailed Paradise Kingfisher -Raja Udang Ekor Putih)

73

T. danae (Brown Backed Paradise Kingfisher-Raja Udang Ekor Punggung Coklat) T. dane (Kingfisher-Raja Udang) Bucerotidae 1.Rhyticeros cassidix (Hornbill-Rangkok Buton) R. coronatus (Hornbill-Kangkareng) R. everetti (Sumba Hornbill-Rangkong Sumba) R. leucocephalus (Wrinkled Hornbill-Burung Tahun) R. plicatus (Blyth's Hornbill-Burung Lipat) R. undulatus (Wieated Hornbill-Enggang Musim) 2.Berenicornis comatus (White Crowned Hornbill-Enggang Jambul Putih) 3.Anorrhinus guleritus (Bushy Crested Hornbill-Enggang Kode) 4.Anthracoceros malayanus (Black Hornbill-Enggang Hitam) A. malabaricus (Great Pied Hornbill-Rangkok Kecil) 5.Buceros rhinoceros (Rhinoceros Hornbill-Rangkok Badak) B. bicornis (Great Hornbill-Rangkok Papan) 6.Rhinoplax vigil (Helmeted Hornbill-Enggang Gading) 7.Rhyticeros plicatus (Papuan Hornbill -Rangkok Irian) 8.Penelopides exarhatus (Celebes Hornbill -Rangkok Sulawesi) Capitonidae 1.Magalaima corvina (Brown Throaled Barbet-Maruku) M. javensis (Java Barbet-Tulumtumpuk) M. armillaris (Blue Crowned Barbet-Cangkarang) Pittidae 1.Pitta baudi P. brachyura P. caerulea P. erythrogaster P. garnatina P. guajana P. maxima P. mollucensis P. schneideri P. sordida P. arcuata P. versicolor

(Blue Headed Pitta-Paok Kepala Biru) (Blue Winged Pitta-Paok Sayap Biru) (Giant Pitta-Paok Besar Biru) (Red Breasted Pitta-Paok Dada Merah) (Garnet Pitta-Paok Garnet) (Bandet Pitta-Paok Ekor Biru) (Greater Pitta-Paok Halmahera) (Moluccan Blue-Paok Maluku) (Schneide's Pitta-Paok Schneideri) (Hooded Pitta-Paok Topi) (Blue Banded Pitta-Paok Biru) (Hoisy Pitta-Paok)

Muscicapidae 1.Moscivapa rueeki (Rueek's Blue Flycather-Burung Kipas Biru) 2.Rhipidura javanica (Pied Faintail-Burung Kipasan)

74

R. phoenicura R. euryura Aegithalidae 1.Psaltria exilis

(Red Tailed Fantail-Burung Kipas Ekor Merah) (White Bellied Fantail-Burung Kipas Gunung)

(Pygmy Tit-Glatik Kecil)

Nectariniidae 1.Aethopyga doyvenhodei (Duyrebode's Sunbird-Burung Madu Sangir) A. eximialis (Khul's Sunbird-Burung Madu) A. mystacalis (Scarlet Sunbird-Burung Madu Merah) A. siparaja (Crimson Sunbird-Burung Madu Merah jingga) 2Anthreptes malacensis (Brown Threated Sunbird-Burung Madu) A. rhodolaema (Red Threated Sunbird-Burung Madu, Jantingan) A. singalensis (Ruby Checked Sunbird-Burung Madu Pipi Merah) 3Arachnothera affinis (Grey Breasted Spiderhunter-Burung Jantung Kelabu) A. chrysogenys (Lesser Yellow Eared Spiderhunter-Burung Jantung Kecil) A. crassirostris(Thick Billed Spiderhunter-Burung Madu Paruh Tebal) A. flavigaster (Greater Yellow Cared Spiderhunter-Burung Jantung Besar) A. robusta (Long Billed Spiderhunter -Burung Jantung Besar) A. longirostris (Little Spiderhunter-Burung Madu) 4Nectarinia hypogramica (Purple Naped Sunbird-Burung Madu Kuduk Ungu) N. sperata (Purple Threated Sunbird-Burung Madu Tenggorokan Ungu N. chalcostetha (Copper Threated Sunbird -Burung Madu Tenggorokan Pirang) N. jugularis (Yellow Threated Sunbird -Burung Madu Kuning) N. sericea (Black Sunbird-Burung Madu Hitam) Zosterropidae 1.Lophozosterops javanicus (Javan Grey Throated White Eye-Burung Kacamata Leher Abu-abu) Meliphagidae 1.Conophila albogularis (Rufous Breasted Honey Eater-Burung Madu Dada Coklat) 2.Entomyzen eater (Blue Faced Honey Eater -Burung Madu Mata Biru) 3.Glycichaera fallax (White Eye Honey Eater-Burung Madu Mata Putih) 4.Lichmera alboouricularis(White Eared Honey Eater-Burung Madu Kuping Putih) L. flavicans (Honey Eater-Burung Madu) L. argentaurus (Plain Olive Honey Eater-Burung Madu Hijau) L. deningeri (Honey Eater-Burung Madu) L. indistincta (Brown Honey Eater-Burung Sesap Madu Coklat)

75

L. Lombokia L. monticola L. notabilis L. squamata 5Melidectes beredi M. fuscus M. leuciatephes

(Lombok Honey Eater-Burung Madu Lombok) (Honey Eater-Burung Madu) (Honey Eater-Burung Madu) (Honey Eater-Burung Madu) (Belford's Honey Eater-Burung Madu Belford) (Soety Honey Eater-Burung Madu) (White Fronted Honey Eater-Burung Madu Muka Putih)

M. achromelas (Mid Mountain Honey Eater-Burung Madu Gunung) M. princeps (Long Bearded Honey Eater-Burung Madu Kumis) M. nouhysi (Short Bearned Honey Eater-Burung Madu Kumis) M. torguatus (Linnamen Brearted Honey Eater-Burung Madu Dada Coklat) M. megarhynchus (Long Billed Honey Eater-Burung Madu) 6Meliphaga albonotata (White Marked Honey Eater-Burung Madu Bercak Putih) M. analoga (Memic Honey Eater-Burung Madu) M. aruensis (Puff Bathed Honey Eater-Burung Madu) M. flavirictus (Yellow Gadep Honey Eater-Burung Madu Kuning) M. gracilis (Sleder Billed Honey Eater-Burung Madu Paruh Langsing) M. Mimikae (Large Spot Breasted Honey Eater -Burung Madu Besar) M. montana (White Eared Honey Eater -Burung Madu Telinga Putih) M. orientalis (Small Spot Breasted Honey Eater-Burung Madu Dada Tutul) M. Virescens (Singing Honey Eater-Burung Madu) M. fumigatus (Common Honey Eater-Burung Madu) M. gymnops (Arfak Melipetes -Burung Madu Arfak) 7.Myza celebensis (Celebes Honey Eater-Burung Madu Sulawesi) M. sarasinorum (Honey Eater-Burung Madu) 8.Myzomela adolphinae (Mountai Red Headed Honey Eater-Burung Madu Gunung Merah) M. blassii (Honey Eater-Burung Madu) M. cruentata (Red Honey Eater-Burung Madu Merah) M. crythrocephala (Mangrove Red Headed Honey Eater-Burung Madu Rawa) M. eques M. kuehni M. nigrita M. obscura M. Rosenbergii Merah) M. sanguinolenta M. vulnerata 9.Oedistoma pygmae O. iliolophum (Red Spot Honey Eater-Burung Madu) (Honey Eater-Burung Madu) (Black Honey Eater-Burung Madu Hitam) (Dusky Honey Eater-Burung Madu) (Black and Red Honey Eater-Burung Madu Hitam (Honey Eater-Burung Madu) (Honey Eater-Burung Madu) (Pygmy Honey Eater-Burung Madu Pigmi) (Honey Eater-Burung Madu)

76

O. chrysogenys (Orange Checked Honey Eater-Burung Madu Pipi Merah) O. abscurus (Honey Eater-Burung Madu) 10.Philemon brassi (Brass Fiar Bird-Burung Madu Kerongkongan Hitam P. buceroides (Nossy Fiar Bird-Burung Madu Besar, Cikus-kua) P. citreogularis (Yellow Threated Fiar Bird-Burung Madu Bsr Kerongkongan Kuning) P. fuscipilus (Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar) P. gilolansis (Grigolo Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar) P. inornatus (Timor Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar) P. meyeri (Meyer's Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar) P. molluecensis (Moluccan Fiar Bird Eater -Burung Madu Besar Maluku) P. novaeguineae (New Guinea Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar Irian) P. subcorniculatus (Seram Fiar Bird Eater-Burung Madu Besar Seram) 11.Ptiloprora guisei (Red Backed Honey Eater-Burung Madu Punggung Merah) P. meekiana (Meek's Stresked Honey Eater-Burung Madu Bergaris) P. Perstriata (Honey Eater-Burung Madu) P. plumbea (Leader's Honey Eater-Burung Madu) 12.Pygnopygius cinerus (Grey Honey Eater-Burung Madu Kelabu) P. ixoides (Brown Honey Eater-Burung Madu Coklat) 13.Toxorhampus novaeguineae (Yellow Billed Honey Eater-Burung Madu Paruh) T. poliopterus (Slaty Chinned Honey Eater-Burung Madu Pipi Kelabu) 14.Pygpygius stictocephalus (Steak Capped Honey Eater-Burung Madu Kerudung Setrip) 15.Toxorhampus iliolophus (Grey Billed Long Bill Honey Eater-Burung Madu Perut) 16.Timeliopsis fellvigula (Mountain Straight Billed Honey Eater-Burung Madu Gunung) T. Griseigula(Lowland Staright Billed Honey Eater-Burung Madu Paruh Lurus) 17.Ramsayornis modestus (Modest Honey Eater-Burung Madu Sederhana) Sturnidae 1.Gracula relligosa robusta 2.Leucopsar rothschildi 3.Sturnus melanoptera

(Nias Talking Starling-Beo Nias) (Rotschild's Starling-Jalak Bali Putih) (Black Winged Starling-Jalak Putih)

Ptilonorhynchidae 1.Ailuroedes buccides (White Tared Cat Bird-Burung Kucing Telinga Putih) A. melanetis (Black Tared Cat Bird-Burung Kucing Telinga Hitam) 2.Amblyornis inornatus (Gardener Tared Bower Bird-Burung Serambi)

77

A. Flavifrons (Yellow Fronted Golden Bower Bird-Burung Namdur Jumbai) A. macgregoriae (Crested Gardener-Burung Namdur Jambul) 3.Archboldia papuensis (Archcold's Bower Bird-Burung Namdur Hitam)

4.Clamydera cerviniventris (Brown Broasted Bower Bird-Burung Namdur Coklat) C. lauterbachi (Lauterbach's Bower Bird-Burung Namdur Kuning Muda) 5.Sericulus aurens (Golden Bower Bird-Burung Namdur Kuning Emas) Paradisaeidae 1.Astrapia nigra (Arfak Astrapia Bird of Paradise-Burung Dewata Ekor Panjang) A. splendidissima (Splendid Adtrapia Bird of Paradise-Burung Dewata) 2.Astrapimachus elliotti (Elliot's Bird of Paradise-Burung Dewata Elliot) 3.Cincinurus ragius (King Bird of Paradise-Burung Raja) 4.Diphyllodes magnificus (Magnificent Bird of Paradise-Burung Dewata Raja Kecil) D. Republica (Waigeo Bird of Paradise-Burung Dewata Waigeo) D. albertsi (Black Sickle Billed Bird of Paradise-Burung Dewata Paruh Panjang) 5.Drepanornis bruijnii (White Sickle Bird of Paradise-Burung Dewata Paruh Sabit Putih) 6.Epimachus mayeri (Brown Sickle Billed Bird of Paradise-Burung Dewata Paruh Sabit Coklat) E. Fuscatus (Black Sickle Billed Bird of Paradise-Burung Dewata Paruh Sabit Hitam) 7.Laboparadisae sericea (Wattle Billed Bird of Paradise-Burung Dewata Berpial) 8.Lophorina superba (Superba Bird of Paradise-Burung Dewata Superba) 9.Loria loriae (Loria's Bird of Paradise-Burung Dewata Loria) 10.Lycocorax pyrrhopterus (Paradise Crown-Burung Gagak Surga) 11.Maegregoria pulchra (Macgregor's Bird of Paradise-Burung Dewata Topeng) 12.Manucodia ater (Jobi Manucode-Burung Dewata Jobi) M. Chalybatus (Crinkled Collared Manucode-Burung Dewata Hijau) M. Ater (Glossy Wantled Manucode-Burung Dewata) 13.Paradigalla carumculata(Long Tailed Paradigala-Cendrawasih Berpial) P. Brevicanda (Short Tailed Paradigala-Cendrawasih Berpial Ekor Pendek) 14.Paradisea apoda (Greater Bird of Paradise-Cendrawasih Kuning Besar) P. Minor (Lesser Bird of Paradise-Cendrawasih Kuning Kecil) P. Rubra (Red Bird of Paradise-Cendrawasih Kuning Merah) P. Raggiana (Count Rangi's Bird Six of Paradise-Cendrawasih Jingga)

78

15.Parotia corolea (Queen Carol's Sister of Paradise-Burung Dewata Bulu Enam Putih) P. sefilate(Arfak Six Wired Bird of Paradise-Burung Dewata Bulu Enam) 16.Pteridophora alberti (Enammeled Bird of Paradise-Burung Dewata Pembawa Pinji) 17.Phonygammus keraudrenii (Trumpet Bird-Burung Dewata Trompet) 18.Ptiloris magnificus (Magnificent Rifle Bird-Cendrawasih Memenjat) 19.Seleucidis melanoleuea (Twelve Wired Bird of Paradise-Burung Dewata Dua Belas Kawat) 20.Semioptera wallasei (Wallace's Standar Wing-Burung Plat) 21.Pseudastrapia lobata (False Lobel Long Tail-Burung Dewata Ekor Panjang) Timaliidae 1.Alcippe pyrrhoptera (Java nun Babler-Brencer Wergan) 2.Cairina scutulata (White Winged Duck-Itik Liar) 3.Crocias albonotatus (Spotted Sibig-Burung Matahari) 4.Garrulax rufifrons (Red Fronted Laughing Thrush-Burung Kuda) 5.Niltiva ruecki (Rueck's Blue Flycatcher-Burung Kipas Biru) 6.Stachyris grammiceps (White Brested Tree Babler-Burung Tepus Dada Putih) S. melanothorax (Pearl Cheek Tree Bablier -Burung Tepus Pipi Perak) Charairiidae 1.Ducula whartoni (Imperial Pigeon -Pergam Raja) 2.Lophozosterops javanica(Javan Grey Throated White Eye-Burung Kacamata Leher Abu-abu) 3.Otus beccarri (Biak Cops Owl-Burung Hantu Biak) 4.Venellus macropterus (Javan Wattled Plover-Trulek Jawa) C. REPTILIA Emydidae 1.Batagur baska 2.Orlitia borneensis

(River Terropin-Tuntong) (Aquatio tortoise -Kura-kura)

Corottochelidae 1.Carettachelys insculpta (Irian Tortoiso-Kura-kura Irian) 2.Elseya novaeguineae (New Gunea Snapper-Kura-kura Irian Leher Pendek) Chelyidae 1.Chelodina novaeguineae(New Gunea Snapper-Kura-kura Irian Leher Panjang)

79

Dermochelydae 1.Caretta caretta 2.Dermochelys coriacea 3.Lepidochelys olivaceae Trioychdae 1.Chitra indica

(Red Brown Longger Head-Penyu Tempayan) (Leather Back Turtle-Penyu Belimbing) (Grey Olive Longerhead-Penyu Ridel)

(Giant Fresh Water Turtle -Labi-labi Besar)

Crocodylidae 1.Crocodylus novaeguineae(New Guinea Fresh Water Crocodile-Buaya Air Tawar Irian) C. porosus (Marsh Cocodile-Buaya Muara) C. siamensis (Siamese Crocodile-Buaya Siam) 2.Tomistoma schegellii (Malayan Gavial-Buaya Capit Senyulong) Agamidae 1.Chlamydosaurus kingi (Collar Skin Flapped Lizard-Soa Payung) 2.Gonyocephalus dilophus(Giant Cahmeleon-Bunglon Sisir Raksasa) 3.Hydrosaurus ambonensis (Fintaited Lizard -Soa-soa) Boidae Chondropython viridis 1. (Green Python-Sanca Hijau) 2. Python molurus (Rock Python-Sanca Bodo) P. timorensis (Timor Python-Sanca Timor) Scincidae Tiligua gigas (Giant Skink-Ular Kaki Empat, Biawak Panama) 1. Varanidae 1. Varanus bengalensis V. borneensis V. indicus V. gouldii V. komodoensis V. parasinus V. salvator togianus V. timorensis

(Grey Monitor Lizard-Biawak Abu-abu) (Cantarus Lizard-Biawak Kalimantan) (Indian Water Monitor-Biawak Maluku) (Brown Monitor-Biawak Coklat) (Komodo Dragon -Biawak Komodo) (Green Monitor Lizard-Biawak Hijau) (Togian Monitor-Biawak Togian) (Timor Lizard-Biawak Timor)

D. PISCES ikan Hornaloptera gymnogaster(Maninjau Loach-Selusur Maninjau) 1. 2. Notopterus sp. (Maninjau Loach -Belida Jawa) 3. Pristis sp. (Sentani Shark -Pari Sentani) Puntius microps 4. (Maninjau Loach -Wader Goa) 5. Schlerophages formosus (Asian Bonitangue-Petang Malaya)

80

S. leichardti

(Dawson River Salmon-Peyang Irian)

E. INSECT - Serangga Papilionidae 1. Cethosia myrina (Birdwing Butterfly-Kupu Bidadari) Ornithoptera chimaera 2. (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Peri) O. goliath (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Goliat) O. paradisea (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Surga) O. priamus (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Priamus) O. rotschildi (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Rotsil) O. tithonus (Birdwing Butterfly-Kupu Sayap Burung Fiton) 3.Troides andromane (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Odromas) T. amparysus (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Amprisus) T. criton (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Kriton) T. haliphinon (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Halifrom) T. helena (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Helena) T. hypolitus (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Hipolitus) T. meoris (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Neoris) T. miranda (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Miranda) T. plato (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Plato) T. rhadamantus (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Radaman) T. reideli (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Ridel) T. vadepolli (Birdwing Butterfly-Kupu Raja Vandepel) 4. Trogonotera brookiana (Birdwing Butterfly-Kupu Tragon) F. CORAL 1. 2. 3. 4. 5. Antiphates sp. (Black Coral-Akar bahar) Birgus latro (Coconut Crab, Robber-Ketam Kelapa) Cassis cornuta (Giant Helmet Shell-Kepala Kambing) Cheronia tritonis (Triton Thrumpet-Triton Terompet) Hippopus porcellanus (Cina Clam-Kima Cina) H. hippopus (Horse Hoof, Bear's Paw Clam-Kima Telapak Kuda, Kima Pasir) 6. Nautilus pompillius (Pearly, Chambered Nautilus-Nautilus Berongga) Tachypleus gigas 7. (Horse Shoe Crab-Ketam Telapak Kuda)

81

Tachypleus tridentatus 8. (King crab-Mimi) 9. Tridacna crocea (Saffron Coloured,Boring Clam-Kima Kunia,Lubang) T. derasa (Shoutern Giant Clam-Kima Selatan) U. gigas (Giant Clam-Kima Raksasa) T. maxima (Small Giant Clam-Kima Besar) T. squamosa (Scaly Clam-Kima Sisik, Kima Seruling) Trochus niloticus 10. (Mother of Pearl, Top Shell-Troka, Susu Bundar) 11. Turbo marmoratus (Green Snail-Batu Laga, Siput Hijau)

LAMPIRAN : 4 POHON-POHON YANG DILINDUNGI DAN BOLEH DITEBANG SETELAH MEMENUHI KETENTUAN YANG DITETAPKAN I. Jenis flora yang dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.54/Kpts/Um/2/1972 tanggal 5 Februari 1972 adalah: A. Phon-pohon yang mutlak dilindungi 1. Jenis-jenis pohon yang dilindungi berdasarkan Ordonasi Perlindungan Alam 1941 Stbl. 1941 no. 187. 2. Pohon-pohon yang dipergunakan sebagai sarang lebah dan merupakan lapangan penghidupan bagi rakyat setempat. 3. pohon-pohon induk. 4. Pohon-pohon yang tumbuh di atas saerah/tempat yang dinyatakan keramat/suci. 5. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar daerah sumber air/tepi sungai dengan radius sedikit-dikitnya 50 meter. B. Pohon-pohon yang dilindungi dan dapat ditebang setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan, tertera dalam lampiran. II. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.37/5/1968 tanggal 27 Mei 1978, maka semua jenis anggrek alam ialah tanaman anggrek berasal dari alam (hutan) tidak diperkenankan dikeluarkan, kecuali untuk keperluan ilmiah dengan seijin Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk. III. Bersarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 43 tanggal 15 Desember 1978 (Lembaran negara 1978 No. 51) tentang Ratifikasi CITES (Convention on International Trdae in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) perlu dilakukan pengawasan terhadap lalu lintas/perdagangan binatang atau tumbuh-tumbuhan baik hidup maupun mati serta bagian-bagian berasal daripadanya. A.POHON-POHON YANG MENGHASILKAN GETAH-GETAH, DAMAR/KEPAL ANTARA LAIN:

82

1. Agathis labillardiari (Damar, Kopal) - 50 2.Dipterocarpus sp (Keruing (minyak) - 50 3.Dryobalanop camphora (Kapur Barus) - 50 4.Dyera sp. (Jelutung) - 60 5.Ganus motleyana (Katiau) - 50 6.Palquim gutta (Malam Merah, Sumban Getah Merah)- (diameter setinggi dada 50) 7.P. leiocarpum (Hangkang) - 50 8.Shorea sp (Mata Kucing) - 50 9.Styrax sp. (Kemenyan) - 50

B. POHON-POHON YANG MENGASILKAN BUAH ANTARA LAIN : 1. 2. 3. 4. 5. Aleurites moluccana (Kemiri) Anacardium occidentale (Jambu monyet) Arenga pinnata (Enau) Durio zibethinus (Durian) Palaquim walsurifolium (Balam Suntai) P. burckii - 50 - 30 - 40 - 60 - 50

C. POHON-POHON YANG MENGHASILKAN KULIT KAYU, ZAT WARNA ANTARA LAIN: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Caesalpinia sappan (Kayu Sopang) Cinnamomum birmannii (Kayu Manis) C. cullilawan (Kulit Lawang) Cudrania sp. (Kayu kuning) Cryptocaria massoi (Massoi) Excoecaria agallocha (Buta-buta, Garu) Myristica argenta (Hongi, saya) - 10 - 25 - 25 - 10 - 24 - 25 - 30

D. POHON-POHON YANG MENGHASILKAN KAYU/BATANG ANTARA LAIN: 1. Azadirachta indica (Imba) - 50 2. Cordia subcordata (Purnamasada) -40 Dalbergia latifolia 3. (Sonokeling) - 50 Eusideroxylon zwageri 4. (Ulin) - 60 5. Eucalyptus sp. (Eucaliptus) - 40 6. Diospyros sp. (Kayu hitam) - 40 Duabanga moluccana (Taker, Benuang) 7. - 60 8. Fragacea fragans (Trembesi) - 50

83

9. 10. 11. 12. 50 13. 14. 15. 16.

Instia amboinensis Manilkara kauki Pterospermum sp. Protium javanicum

(ipik) (Sawo kecik) (Bayur) (Trenggulung)

- 60 - 40 - 60 - 50 - 50 - 40 - 60

Santalum album (Cendana) Scorodocarpus borneonsis(Kayu bawang, kulim) Timonius sercus (Ketimun) Toona sureni (Suren)

LAMPIRAN : 5 DAFTAR NAMA FLORA LANGKA YANG PERLU DILINDUNGI DI INDONESIA Apocynaceae Rauwolfia spp. 1.

(Pulau Pandak)

Araceae 1. Amorphophallus decussilvae (Bunga Bangkai Jangkung) A. titanum (Bunga Bangkai Raksasa) Balanophora spp. 2. (Parasite Plant-Balanofora) 3. Rafflesia spp. (Parasite Plant-Rafllesia, Bunga Padma) 4. Rhisanthes sippelii (Parasite Plant-Risantes) Palmae 1. Borassodendron borneonsis (Budang) 2. Caryota no (Fishtail Palm-Sarai Raja) 3. Ceratolobus glaucescens (Palem Jawa) 4. Eugeissona utilis (Bertam) 5. Johannesteijsmannia altifrons (Daun payung) 6. Livistona rotundifolia (Serdang) 7. Nenga gajah (Palem gajah) 8. Phoenix paludosa (Korma Rawa) 9. Pigafetta filaris (Wanga) Pinanga javana 10 (Pinang Jawa) Orchidaceae 1. Ascocentrum miniatum (Anggrek kebutan) 2. Coelogyne pandurata (Black orchid-Anggrek Hitam) 3. Corybas fornicatus (Anggrek Koribas) 4. Cymbidium hartinahianum (Anggrek Hartinah) 5. Dendrobium d'albertisii (Anggrek Albert) D. lasianthera (Anggrek Stuberi) D. macrophylum (Anggrek Jamrud)

84

D. ostrinoglossum (Anggrek Karawai) D. phalaenopsis (Anggrek Larat) 6. Grammatophyllum papuanum (Anggrek Raksasa Irian) G. speciosum (Giant-Anggrek Tebu) 7.Macodes petola (Anggrek Ki Aksara) 8.Paraphalaenopsis denevei (Anggrek Bulan Bintang) P. laycockii (Anggrek Bulan Kalimantan Tengah) P. serpentiliga (Anggrek Bulan Kalimantan Barat) 9.Paphiopedillum chamberlainnianum (Anggrek Kasut Kumis) P. glaucophyllum (Java's Slipper Orchid-Anggrek Kasut Berbulu) P. praestns (Anggrek Kasut Pita) 10.Phalaenopsis amboinensis (Anggrek Bulan Ambon) P. gigantea (Anggrek Bulan Raksasa) P. sumatrana (Anggrek Bulan Sumatera) 11.Renanthera matutina (Anggrek Jingga) 12.Spathoplottis zurea (Anggrek Sendok) 13.Vanda pumila (Vanda) V. sumatrana (Vanda Sumatera) V. celebica (Vanda Mungil) V. hookeriana (Anggrek Pensil) LAMPIRAN : 6 Kutipan beberapa bab dari Undang Undang No 5 Tahun 1990. *). Catatan : dengan terbitnya Undang-Undang no. 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya maka semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini, tetap berlaku sampai dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini (Pasal 42 Bab XII Undang-Undang No. 5 tahun 1990). Balam Bab V Pasal 21 UU No. 5 tahun 1990, dinyatakan bahwa : (1) Setiap orang dilarang untuk: a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati; b. Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

85

(2) Setiap orang dilarang untuk: a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mangangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi. Dalam Bab VII Pasal 33 UU No. 5 tahun 1990 dinyatakan pula bahwa, Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Beberapa pengecualian diatur pula dalam Bab V Pasal 22 UU No. 5 tahun 1990 sebagao berikut: (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negrei dengan izin Pemerintah. (3) Pengecualian dari larangan menagkap, melukai dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagi mereka yang melanggar, dapat dikenakan sangsi pidana dan denda sebagaimana di atas dalam Bab XII Pasal 40 UU No. 5 tahun 1990:

86

1. Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

87

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->