Bahwa dalam suatu perkara perdata itu sekurang-kurangnya terdiri dari dua pihak, yaitu penggugat dan

tergugat. Dan perkara perdata yang sederhana, masing-masing pihak terdiri dari seorang: seorang penggugat dan seorang tergugat yang menyengketakan satu tuntutan. Tetapi tidak jarang terjadi bahwa penggugat lebih dari seorang melawan tergugat hanya seorang saja, atau seorang penggugat melawan tergugat lebih dari seorang atau kedua pihak lebih dari seorang. Hal ini di sebut kumulasi subyektif: penggabungan dari pada kumulasi subyektif terjadi misalnya apabila seorang kreditur menagih beberapa orang debitur atau beberapa orang ahli waris menggugat ahli waris lainya mengenai harta warisan. Tidak jarang terjadi bahwa penggugat mengajukan lebih dari satu tuntutan dalam satu perkara sekaligus. Ini merupakan penggabungan dari pada tuntutan yang di sebut kumulasi obyektif pada umumnya tidak di syaratkan bahwa tuntutan-tuntutan itu harus ada hubunganya yang erat satu sama lain. Baik kumulasi subyektif maupun kumulasi obyektif pada hakekatnya merupakan penggabungan (kumulasi) dari pada tuntutan hak. Kumulasi harus kita bedakan dari konkursus yang merupakan kebersamaan adanya beberapa tuntutan hak. Konkursus terjadi apabila seorang penggugat melakukan gugatan yang mengadung beberapa tuntutan yang kesemuanya menuju pada satu akibat hukum yang sama. Dengan dipenuhi dan dikabulkanya salah satu dari tuntutan-tuntutan itu maka tuntutan lainya sekaligus terkabul. “Contoh” 1. Seorang kreditur menuntut pembayaran sejumlah uang kepada beberapa orang debitur yang terikat secara tanggung renteng dengan kreditur. Dengan di bayarkanya sejumlah uang tersebut oleh salah seorang debitur itu semua tuntutan terhadap debitur lainya hapus, 2. Pemilik satu benda meminjamkan bendanya dengan persetujuan pinjam pakai. Pada waktu berakhirnya persetujuan pinjam pakai tersebut pemilik berhak menuntut pengembalian benda itu, karena dia pemiliknya, karena juga persetujuan pinjam pakai sudah berakhir, maka ia berhak menuntut pengembalian benda itu: yang pertama bedasarkan adanya hak milik. Yang kedua berdasarkan adanya persetujuan pinjam pakai. Sumber: http://id.shvoong.com/law-and-politics/criminal-law/2115073-penggabungantuntutan/#ixzz1vbLDClmC

BAB II PERIHAL GUGATAN A. Pendahuluan Perkara perdata yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan (damai), tidak boleh diselesaikan dengan cara main hakim sendiri (eigenrichting) tetapi harus diselesaikan melalui pengadilan. Pihak yg merasa dirugikan hak perdatanya dapat mengajukan perkaranya ke pengadilan untuk memperoleh penyelesaian sebagaimana mestinya, yakni dengan menyampaikan gugatan terhadap pihak dirasa merugikan. Perkara perdata ada 2 yaitu : 1. Perkara contentiosa (gugatan) yaitu perkara yang di dalamnya terdapat sengketa 2 pihak atau lebih yang sering disebut dengan istilah gugatan perdata. Artinya ada konflik yang harus diselesaikan dan harus diputus pengadilan, apakah berakhir dengan kalah memang atau damai tergantung pada proses hukumnya. Misalnya sengketa hak milik, warisan, dll. 2. Perkara voluntaria yaitu yang didalamnya tidak terdapat sengketa atau perselisihan tapi hanya semata-mata untuk kepentingan pemohon dan bersifat sepihak (ex-parte). Disebut juga gugatan permohonan. Contoh meminta penetapan bagian masing-masing warisan, mengubah nama, pengangkatan anak, wali, pengampu, perbaikan akta catatan sipil, dll. Menurut Yahya Harahap gugatan permohonan (voluntair) adalah permasalahan perdata yang diajukan dalam bentuk permohonan yang ditandatangani pemohon atau kuasanya yang ditujukan kepada ketua pengadilan. Ciri-cirinya sebagai berikut : 1. Masalah yang diajukan bersifat kepentingan sepihak semata (for the benefit of one party only) :

Benar-benar murni untuk menyelesaikan kepentingan pemohon tentang sesuatu permasalahan perdata yang memerlukan kepastian hokum, isalnya permintaan izin dari pengadilan untuk melakukan tindakan tertentu. Apa yang dipermasalahkan pemohon tidak bersentuhan dengan hak dan kepentingan lain.

2. Permasalahan yang dimohon penyelesaian kepada pengadilan negeri, pada prinsipnya tanpa sengketa dengan pihak lain (withaout disputes of defferences with another party). Berdasarkan ukuran ini tidak dibenarkan mengajukan permohonan tentang penyelesaian sengketa hak atau pemilikan maupun penyerahan serta pembayaran sesuatu oleh orang lain atau pihak ketiga. 3. Tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan, tetapi bersifat ex parte.

Benar-benar murni dan mutlak satu pihak atau bersifat ex parte. Permohonan untuk kepentingan sepihak (on behalf of one party) atau yang terlibat dalam permasalahan hokum (involving onle one party to a legal matter) yang diajukan dalam kasus itu, hanya satu pihak. Perbedaan antara contentiosa dan voluntaria dapat ditinjau dari : 1. Pihak yang berpekara :

Contentiosa, pihak yang berperkara adalah penggugat dan tergugat. Ada juga isitlah turut tergugat (tergugat II,II, IV , dst). Pihak ini tidak menguasai objek sengketa atau mempunyai kewajiban melaksanakan sesuatu. Namun hanya sebagai syarat lengkapnya pihak dalam berperkara. Mereka dalam petitum hanya sekedar dimohon agar tunduk dan taat dan taat terhadap putusan pengadilan (MA tgl 6-8-1973 Nomor 663 K/Sip/1971 tanggal 1-8-1973 Nomor 1038 K/Sip/1972). Sedangkan turut penggugat tidak dikenal dalam HIR maupun praktek. Voluntaria, pihak yang berpekara adalah pemohon.

Istilah pihak pemohon dalam perakra voluntaria diatas, ini tentunya tidak relevan dengan jika dikaitkan dengan UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan Agama sebab dalam UU tersebut dikenal adanya permohonan dan gugatan perceraian. Permohonan perceraian dilakukan oleh suami kepada istrinya sehingga pihak-pihaknya disebut pemohon dan termohon berarti ada sengketa atau konflik . istilah pihak-pihak yang diatur dalam UU No. 7 tahun 1989 adalah tentunya suatu pengecualiaan istilah yang dipakai dalam perkara voluntaria. 2. Aktifitas hakim dalam memeriksa perkara :
 

Contentiosa, terbatas yang dikemukakan dan diminta oleh pihak-pihak Voluntaria : hakim dapat melebihi apa yang dimohonkan karena tugas hakim bercorak administratif.

3. Kebebasan hakim
 

Contentiosa : hakim hanya memperhatikan dan menerapkan apa yang telah ditentukan undang-undang Voluntaria : hakim memiliki kebebasan menggunakan kebijaksanaannya.

4. Kekuatan mengikat putusan hakim
 

Contentiosa : hanya mengikat pihak-pihak yang bersengketa serta orang-orang yang telah didengar sebagai saksi. Voluntaria : mengikat terhadap semua pihak.

5. Hasil akhir perkara :
 

Hasil suatu gugatan (Contentiosa) adalah berupa putusan (vonis) Hasil suatu permohonan (voluntaria) adalah penetapan (beschikking).

Dewasa ini gugatan lisan sudah tidak lazim lagi. Lisan (Pasal 120 HIR/Pasal 144 Rbg Tentang gugatan lisan “bilamana penggugat buta huruf maka surat gugatannya yang dapat dimasukkannya dengan lisan kepada ketua pengadilan negeri yang mencatat gugatan”. Orang bebas menyusun dan merumuskan surat gugatan asal cukup memberikan gambaran tentang kejadian materil yang menjadi dasar tuntutan (MA tgl 15-3-1970 Nomor 547 K/Sip/1972) 2. Ciri-Ciri Gugatan 1.B. Bersifat partai (party) dengan komposisi. batas-batas dan ukuran tanah (MA tgl 9-7-1973 Nomor 81 K/Sip/1971) . Tertulis (Pasal 118 HIR/Pasal 142 Rbg 2. C. Darwan Prinst. paling kurang diantara 2 pihak 3. gugatan adalah suatu permohonan yang disampaikan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang berwenang mengenai suatu tuntutan terhadap pihak lainnya dan harus diperiksa menurut tata cara tertentu oleh pengadilan serta kemudian diambil putusan terhadap gugatan tersebut. gugatan adalah tuntutan hak yang mengandung sengketa dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan putusan 2. Khusus gugatan mengenai tanah harus menyebut dengan jelas letak. tuntutan hak adalah tindakan yang bertujuan memperoleh perlindungan yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah main hakim sendiri (eigenrichting). D. Perselisihan hukum yg diajukan ke pengadilan mengandung sengketa 2. pihak yang satu bertindak dan berkedudukan sebagai penggugat dan pihak lain berkedudukan sebagai tergugat. Apa yang dituntut harus disebut dengan jelas (MA tgl 21-11-1970 Nomor 492 K/Sip/1970) 3. Bentuk Gugatan Gugatan diajukan dapat berbentuk : 1. Sengketa terjadi diantara para pihak.(Pasal 120 HIR). Pengertian Gugatan 1. Sudikno Mertokusumo. Menurut RUU Hukum Acara Perdata pada Psl 1 angka 2. 3. bahkan menurut Yurisprudensi MA tanggal 412-1975 Nomor 369 K/Sip/1973 orang yang menerima kuasa tidak diperbolehkan mengajukan gugatan secara lisan Yurisprudensi MA tentang syarat dalam menyusun gugatan : 1. Pihak-pihak yang berperkara harus dicantumkan secara lengkap (MA tgl 13-5-1975 Nomor 151 /Sip/1975 dll 4.

Diajukan oleh orang yang berkepentingan. Fundamentum petendi (posita) adalah dasar dari gugatan yang memuat tentang adanya hubungan hukum antara pihak-pihak yang berpekara (penggugat dan tergugat) yang terdiri dari 2 bagian yaitu : 1) uraian tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa (eittelijke gronden) adalah merupakan penjelasan duduk perkaranya. Namun karena sekarang sudah banyak advokat/pengacara maka sangat jarang terjadi kecuali mereka tidak bisa tulisa baca. Kalau mungkin juga agama. Lebih kepada tidak memenuhi syarat materil (pembuktian) E. 3. Putusan tidak diterima ini bermaksud menolak gugatan diluar pokok perkara. Dasar atau dalil gugatan/ posita /fundamentum petendi berisi tentang peristiwa dan hubungan hukum 3. Syarat dan Isi Gugatan Syarat gugatan : 1. 2) uraian tentang hukumnya (rechtsgronden) adalah uraian tentang adanya hak atau hubungan hukum yang menjadi dasar yuridis dari gugatan . Gugatan dalam bentuk tertulis. Identitas para pihak 2. tempat tinggal. Dalam hal ini penggugat tidak ada kesempatan mengajukan kembali tapi haknya adalah banding. umur. Lebih kepada tidak memenuhi syarat formil. Putusan hakim dengan melakukan penolakan bermaksud menolah setelah mempertimbangkan pokok perkara. dan status kawin. Gugatan ditolak adalah gugatan tidak beralasan hukum yaitu apabila tidak diajukan peristiwa-peristiwa yang membenarkan tuntutan.Tidak memenuhi syarat diatas gugatan menjadi tidak sempurna maka gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard) Ketidaksempurnaan diatas dapat dihindarkan jika penggugat/kuasanya sebelum memasukkan gugatan meminta nasihat dulu ke ketua pengadilan. dan pekerjaan.   Gugatan tidak diterima adalah gugatan yang tidak bersandarkan hukum yaitu apabila peristiwa-peristiwa sebagai dasar tuntutan tidak membenarkan tuntutan. Dalam hal ini penggugat masih dapat mengajukan kembali gugatannya atau banding. Dalam hukum acara perdata ada istilah gugatan tidak dapat diterima dan gugatan ditolak. Tuntutan/petitum terdiri dari tuntutan primer dan tuntutan subsider/tambahan Identitas para pihak adalah keterangan yang lengkap dari pihak-pihak yang berpekara yaitu nama. 2. Diajukan ke pengadilan yang berwenang (kompetensi) Isi gugatan : Menurut Pasal 8 BRv gugatan memuat : 1.

Sebelum pemeriksaan perkara oleh hakim dalam hal ini adalah tergugat belum memberikan jawaban. Individualiserings Theorie yaitu teori ini menyatakan bahwa dalam dalam gugatan cukup disebutkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang menunjukkan adanya hubungan hhukum yang menjadi dasar gugatan. kalau tidak bisa menyebabkan gugatan tidak dapat diterima. Substantierings Theorie yaitu dimana teori ini menyatakan bahwa gugatan selain harus menyebutkan peristiwa hukum yang menjadi dasar gugatan. misalnya dalam gugatan cukup disebutkan bahwa ia adalah pemilik benda itu. . hadiah dsb. Jadi. tuntutan akan nafkah bagi istri atau pembagian harta bersama dalam hal gugatan perceraian.Petitum adalah yang dimohon atau dituntut supaya diputuskan pengadilan. tuntutan agar putusan dinyatakan dapat dilaksanakan lebih dahulu (uit vierbaar bij vorraad). Dilakukan dalam proses pemeriksaan perkara dalam hal ini apabila tergugat sudah memberikan jawaban maka harus dengan syarat disetujui oleh pihak tergugat. tetapi juga harus menyebutkan sejarah pemilikannya. Pencabutan Gugatan Pencabutan gugatan dapat terjadi: 1. Tuntutan pokok (primair) yaitu tuntutan utama yang diminta 2. petitum ini akan mendapat jawabannya dalam diktum atau amar putusan pengadilan. Tuntutan tambahan/pelengkap (subsidair) yaitu berupa tuntutan agar tergugat membayar ongkos perkara. Dasar terjadinya atau sejarah adanya hak milik atas benda itu padanya tidak perlu dimasukan dalam gugatan karenaini dapat dikemukakan di persidangan pengadilan dengan disertai bukti-bukti. Bagi penggugat yang menuntut suatu benda miliknya. Teori ini sesuai dengan system yang dianut dalam HIR/Rbg. Teori sudah ditinggalkan 2. mewaris. tanpa harus menyebutkan kejadiankejadian nyata yang mendahului dan menjadi sebab timbulnya kejadian-kejadian hokum tersebut. misalnya karena membeli. dsb. penggugat harus merumuskan petitum tersebut dengan jelas dan tegas. tuntutan agar tergugat dihukum membayar uang paksa (dwangsom). F. tidak ada kewajiban menguasakan kepada ahli hukum dan hakim bersifat aktif. Dalam praktek ada 2 petitum yaitu : 1. 2. Bagi penggugat yang menuntut suatu benda miliknya misalnya dalam gugatan tidak cukup hanya menyebutkan bahwa ia adalah pemilik benda itu. Karena itu. Teori Pembuatan Gugatan Ada 2 teori tentang bagaimana menyusun sebuah surat gugatan yaitu : 1. juga harus menyebutkan kejadian-kejadian nyata yang mendahului peristiwa hukum dan menjadi sebab timbulnya peristiwa hokum tersebut. dimana orang boleh beracara secara lisan. G.

1. c) Tidak boleh menimbulkan keadaan baru dalam positanya. Perubahan seperti ini tidak diperkenankan. Bersifat mengurangi atau tidak menambah tuntutan. Dalam gugatan semula A menutut B agar membayar hutangnya sebesar Rp. Sebelum tergugat mengajukan jawaban dapat dilakukan tanpa perlu izin tergugat. Contoh ad. Penggabungan gugatan atau kumulasi gugatan Penggabungan / kumulasi gugatan ada 2 yaitu : . Tidak boleh mengubah kejadian materil yang menjadi dasar gugatan (MA tanggal 6 Maret 1971 Nomor 209 K/Sip/1970. tanggal 3-12-1974 Nomor 1042 K/Sip/1971 dan tanggal 29-1-1976 Nomor 823 K/Sip/1973).000. Kemudian A mengubah tuntutannya agar B membyara hutangnya sebesar 1. kemudian diubah atas dasar “perjanjian penitipan uang penggugat pada tergugat”. 2. Sesudah tergugat mengajukan jawaban harus dengan izin tergugat jika tidak di setujui perubahan tetap dapat dilakukan dengan ketentuan : a) Tidak menyebabkan kepentingan kedua belah pihak dirugikan terutama tergugat.000. Kesempatan atau waktu melakukan perubahan gugatan dapat dibagi menjadi 2 tahap : 1.Jika gugatan dicabut sebelum tergugat memberikan jawaban maka penggugat masih boleh mengajukan gugatannya kembali dan jika tergugat sudah memberikan jawaban penggugat tidak boleh lagi mengajukan gugatan karena penggugat sudah dianggap melepaskan haknya. Contoh ad. Tentang perubahan atau penambahan gugatan tidak diatur dalam HIR/Rbg namun dalam yurisprudensi MA dijelaskan bahwa perubahan atau penambahan gugatan diperkenankan asal tidak merubah dasar gugatan (posita) dan tidak merugikan tergugat dalam pembelaan kepentingannya (MA tgl 11-3-1970 Nomo 454 K/Sip/1970. Perubahan tidak diperkenankan kalau pemeriksaan hamper selesai.000 ditambah Bungan 10 % setiap bulan. H. Perubahan bentuk seperti ini tidak dibenarkan. Penggugat semula menuntut agar tergugat membayar hutangnya berupa sejumlah uang atas dasar “perjanjian hutang piutang”. Semua dali pihak-pihak sudah saling mengemukakan dan pihak sudah memohon putusan kepada majelis hakim (MA tanggal 28-10-1970 Nomo 546 K/Sip/1970). 2. I. Perubahan Gugatan Perubahan surat gugatan dapat dilakukan dengan syarat : 1. b) Tidak menyimpang dari kejadian materil sebagai penyebab timbulnya perkara. 1. 2.000.

Hak Kekayaan Intelektual). hal ini disebutkan dalam Pasal 118 HIR/142 RBg . Penggabungan objektif tidak boleh dilakukan dalam hal: 1. Kumulasi objektif yaitu penggabungan beberapa tuntutan dalam satu perkara sekaligus (penggabungan objek tuntutan). Lain hal jika alamat tergugat berada di kabupaten Rengat. Tuntutan tentang bezit tidak boleh diajukan bersama-sama dengan tuntutan tentang eigendom dalam satu gugatan. misalnya sengketa warisan orang islam tergugatnya berada di Tembilahan (Inhil) maka komptensi relatifnya adalah pengadilan agama Tembilahan. 2. Hakim tidak berwenang secara relatif untuk memeriksa satu tuntutan yang diajukan secara bersama-sama dalam gugatan. peradilan niaga (kepailitan. peradilan HAM di Indonesia. Kompetensi relatif/nisbi yaitu dari wilayah hukum masing-masing peradilan. 2. Tujuan penggabungan gugatan : 1. Jika ada suatu sengketa dibidang tanah. Wilayah hukum peradilan biasanya berdasarkan pada wilayah dimana tempat tinggal tergugat. maka yang berwenang (kompetensi asbulut) adalah pengadilan negeri. misalnya A menggugat B selain minta dibayar hutang yang belum dibayar juga menuntut pengembalian barang yang tadinya telah dipinjam. peradilan militer. Dalam perkara cerai talak. peradilan tata usaha Negara. Kompetensi ada 2 yaitu : 1. pengadilan hubungan industrial (perburuhan). Menghindari kemungkinan putusan yang berbeda atau berlawanan/bertentangan. 3. misalnya peradilan umum (pengadilan negeri). komptensi relatifnya berdasarkan dimana alamat termohon. J. D) yang berhuntang secara tanggung renteng (bersama). Kompetensi mutlak/absolut yaitu dilihat dari beban tugas masing-masing badan peradilan. Untuk kepentingan beracara yang bersifat sederhana. 2. Satu tuntutan tertentu diperlukan satu gugatan khusus sedangkan tuntutan lainnya diperiksa menurut acara biasa. Kumulasi subjektif yaitu para pihak lebih dari satu orang (Pasal 127 HIR/151 RBg) adalah penggugat atau beberapa penggugat melawan (menggugat) beberapa orang tergugat. Di Indonesia ada beberapa badan peradilan. Syarat untuk kumulasi subjektif adalah bahwan tuntutan tersebut harus ada hubungan hokum yang erat satu tergugat dengan tergugat lainnya (koneksitas). Kompetensi atau Kewenangan Mengadili Kompentensi adalah kewenangan mengadili dari badan peradilan. cepat dan biaya ringan. maka kompetensi relatifnya adalah pengadilan agama Rengat. Tentang kompetensi relative. Kalau tidak ada hubunganya harus digugat secara tersendiri. Atau beberapa penggugat menggugat seorang tergugat karena perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). C. misalnya Kreditur A mengajukan gugatan terhadap beberapa orang debitur (B. Atau sengketa warisan bagi orang islam maka yang berwenang (kompetensi absolut) adalah pengadilan agama.1. 2. peradilan agama.

3. Pihak ini dapat secara langsung berperkara di pengadilan dan dapat juga diwakilkan baik melalui kuasa khusus (pengacara) maupun kuasa insidentil (hubungan keluarga). namun jika penggugat mau memilih berdasarkan tempat tinggal tergugat. Para Pihak Dalam Berperkara Ada 2 pihak yaitu penggugat dan tergugat. Pasal 118 HIR/142 RBg mengatur juga pengecualiannya yaitu : 1. apabila tempat tinggal tergugat (berhutang) dan tempat turut tergugat (penjamin) berbeda maka diajukan dimana tempat tinggal tergugat. yaitu penggugat. maka gugatan juga dapat diajukan di tempat tinggal tergugat. tergugat dan kuasa hukum. Jika objeknya benda tetap diajukan di tempat benda tetap itu berada. 2. 6. Contoh perkara sengketa tanah antara A (penggugat) dengan B (Tergugat). Pihak formil : mereka yang beracara di pengadilan. Perwakilan dalam Perkara Perdata Dalam sistim HIR/RBg beracara di muka pengadilan dapat diwakilkan kepada kuasa hukum dengan syarat dengan surat kuasa. Satu tergugat sebagai yang berhutang dan satu lagi penjamin diajukan di tempat tinggal yang berhutang. Pihak materil : pihak yang mempunyai kepentingan langsung yaitu penggugat dan tergugat. K. 3.kompetensi relatif adalah pengadilan negeri di tempat tinggal tergugat (asas Actor Sequitor Forum Rei). 2. Sering juga disebut dengan penggugat in person dan tergugat in person. Diajukan di tempat kediaman tergugat yang terakhir yang sebenarnya apabila tidak diketahui tempat tinggalnya. kuasa hukum itu diberikan kepada advokat. Apabila tergugat lebih dari satu orang diajukan di tempat tinggal salah satunya sesuai pilihan penggugat. maka A dan B disebutkan oleh C (BPN). 4. 5. dimana B mengusai tanah milik A dan tanah tersebut disertifikat. L. Turut tergugat : pihak yang tidak menguasai objek perkara tetapi akan terikat dengan putusan hakim. . maka A dan B disebut pihak formil/materil dan C adalah turut tergugat. Untuk ini dapat dibedakan atas : 1. Jika tidak dikenal tempat tinggal dan kediaman tergugat diajukan kepada ketua pengadilan negeri di tempat tinggal penggugat atau salah seorang penggugat. Jika ditentukan dalam perjanjian (akta) ada tempat tinggal yang dipilih (domisili hukum) mka gugatan diajukan di tempat tinggal yang dipilih tersebut (pilihan domisili hukum). Menurut UU No 18 Tahun 2003 tentang advokat . dimana B mengusai tanah milik A dan tanah tersebut disertifikatkan oleh C (BPN).

Dengan demikian dalam beracara perdata digunakan surat kuasa khusus. pekerjaan. termasuk kewengan sampai ke banding dan kasasi. yang menerimanya untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan. Apa yang menjadi pokok perkara. Dijelaskan tentang kekhususan isi kuasa. Ini penting manakala penerima kuasa berhalangan sehingga ia berwenang menggantikan kepada penerima kuasa lainnya. alamat atau tempat tinggal. Hal ini diatur dalam pasal 123 HIR. Surat kuasa umum tidak dapat dipergunakan di depan pengadilan untuk mewakili pemberi kuasa. pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain. Identitas pemberi kuasa dan penerima kuasa yaitu nama lengkap. 3. 2. Surat kuasa khusus yaitu kuasa yang menerangkan bahwa pemberian kuasa hanya berlaku untuk hal-hal tertentu saja atau lebih (1795 KUHPerdata). Macam-macam surat kuasa : 1. Surat kuasa umum yaitu surat yang menerangkan bahwa pemberian kuasa tersebut hanya untuk hal-hal yang bersifat umum saja. misalnya perkara perdata jual beli sebidang tanah ditempat tertentu melawan pihak tertentu dengan nomor perkara. Contoh kuasa khusus : SURAT KUASA Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama TTL / Umur : FIRDAUS Bin DAUS : Makasar. pengadilan tertentu. Surat Kuasa Surat kuasa adalah suatu dokumen di mana isinya seseorang menunjuk dan memberikan wewenang pada orang lain untuk melakukan perbuatan hukum untuk dan atas namanya. Menurut Pasal 1792 KUHPerdata. M. Diluar kekhususan yang diberikan penerima kuasa tidak mempunyai kewenangan melakukan tindakan hukum. Hak subsitusi/pengganti. 26 Juni 1975 / 29 tahun . Batasan isi kuasa yang diberikan. 4. artinya untuk segala hal atau segala perbuatan dengan titik berat pengurusan. Isi Surat Kuasa Khusus : 1. Dengan surat kuasa khusus penerima kuasa dapat mewakili pemberi kuasa di depan pengadilan. sehingga sidang tidak tertunda dan tetap lancar.Advokat adalah orang yang mewakili kliennya untuk melakukan tindakan hukum berdasarkan surat kuasa yang diberikan untuk pembelaan atau penuntutan pada acara persidangan di pengadilan atau beracara di pengadilan. 2.

terhadap H. Tembilahan. pembesar-pembesar. meminta atau memberikan segala keterangan yang diperlukan. mengajukan kesimpulan-kesimpulan. dapat mengadakan perdamaian dengan syarat-syarat yang dianggap baik oleh yang diberi kuasa. pejabat-pejabat.… (tulis nomor perkara jika perkara sudah masuk dipersidangan) kepada : Nama Pekerjaan : ABDUL HADI HASIBUAN. Penerima Kuasa Materi 6000 ABDUL HADI HASIBUAN. SH FIRDAUS BIN DAUS 2010 Pemberi Kuasa . 20 Tembilahan Inhil Riau Dengan ini menerangkan memberikan kuasa pekara No. mengajukan gugatan ……. 09 Tembilahan. meminta penetapan. KHUSUS Untuk dan atas nama pemberi mewakili sebagai Penggugat. menerima. jawabatan-jawatan. SH : Pengacara / Advokat Berkantor jalan Subrantas No. Kuasa ini berikan dengan berhak mendapatkan honorarium (upah) dan retensi (hak menahan barang milik orang lain) serta dengan hak substitusi (melimpahkan) kepada orang lain baik sebagian maupun seluruhnya. menerima uang pembayaran dan memberikan kwitansin tanda penerimaan dan memberikan kwitansi tanda penerimaan uang. hakim.Pekerjaan Jenis kelamin Kebangsaan Alamat : Tani : Laki-laki : WNI : Jalan Pelita jaya No. mengajukan dan menolak-saksi-saksi. Untuk itu yang diberi kuasa dikuasakan untuk menghadap dan menghadiri semua persidangan Pengadilan Negeri Temvbilahan. juga mengajukan permohonan banding atau kontra. dapat mengambil segala tindakan yang penting. SINAGA Bin H. melakukan peneguran-peneguran. perlu dan berguna sehubungan dengan menjalankan perkara serta dapat mengerjakan segala sesuatu pekerjaan yang umumnya dapat dikerjakan oleh seorang kuasa/wakil guna kepentingan tersbeut diatas. LUBIS di Pengadilan Negeri Tembilahan. pelaksanaan putusan (eksekusi). menghadapi instansi-instansi. menerima atau menolak keterangan saksi-saksi. kasasi atau kontra. meminta siataan. putusan.

Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Tentang KHI. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977. 7. 4/2004. Sumber Hukum Materiil Peradilan Agama Sumber utama Hukum Materil Peradilan Agama ialah: 1. Undang-undang No. 2. Doktrin/Ilmu Pengetahuan Hukum/Kitab-kitab Fiqih.35 Tahun 1999 dan terakhir diganti dengan UU No. PP Nomor 9 Tahun 1975. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama. 3. HIR/RBg (Hukum acara perdata yang berlaku bagi Peradilan Umum). Adapun sumber utama hukum acara peradilan agama adalah: 1. Peraturan Menteri Agama Nomor 2 TAhun 1987. Hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. 14 Tahun 1970 yang telah diubah dengan UU No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 yang telah diganti dengan UU No. 6. 5. 7 Tahun 1989). Peradilan agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (1) UU No. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.H U K U M A C A R A PERADILAN AGAMA Undang-Undang Dasar Tahun 1945 disebutkan dalam Bab IX pasal 24 ayat (2) bahwa peradilan agama merupakan salah satu pemegang kekuasaan kehakiman. 10. 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. 8. Dan lain-lain. 12. Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang KHI. 3. Pengertian Hukum Acara Hukum acara (hukum formil) bertujuan untuk menjamin ditaatinya hukum perdata materil. Surat Edaran Mahkamah Agung. 14 Tahun 1985 yang telah diubah dengan UU No. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947. Adapaun hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus (Pasal 54 UU No. 7.7 Tahun 1989 dalam pasal 2 disebutkan: “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini”. 11. 4. oleh karena itu hukum acara memuat tentang cara bagaimana melaksanakan dan mempertahankan atau menegakkan kaidah-kaidah yang termuat dalam hukum perdata materil. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No.5 Tahun 2004. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. 6. . 9. 5. 4. RV (Reglement op de Burgerlijke Rechsvordering).

Dalam istilah lain kewenangan relatif ini disebut “Distribute van Rechtsmacht”. (Pasal 2 dan 49 UU No. Kewenangan Mengadili Peradilan Agama Adapun kewenangan mengadili badan Peradilan Agama dapat dibagi menjadi 2 (dua) kewenangan yaitu: 1. Peradilan/hakim bersipat pasif. Ketentuan umum menentukan gugatan diajukan kepada pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal tergugat (Pasal 120 ayat (1) HIR/Pasal 142 ayat (1) RBg. Mendengar pihak-pihak berperkara di muka pengadilan. (Pasal 57 ayat (1) dan (2) UU No. 7 Tahun 1989). Psl. Doktrin/Ilmu Pengetahuan Hukum dalam Kitab-kitab Fiqih.4/2004).5 ayat (2) UU.8. 20 UU No. Yuriprudensi. Dalam istilah lain disebut “Atribut Van Rechsmacht”. Azas-Azas Hukum Acara Peradilan Agama : a. Psl. Dalam Perkara perceraian gugatan diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal isteri (Pasal 66 ayat (2) dan Pasal 73 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989). No. Peradilan Agama dilakukan bebas dari pengaruh dan campur tangan dari luar (Psl. 9. k. d.7/1989) akan tetapi pada saat pembacaan putusan atau penetapan dilakukan dengan terbuka untuk umum (Pasal 60 UU No.4/2004). 3/2006 jo. Hukum positif yang berkaitan dengan tugas dan kewenangan Peradilan Agama. cepat dan biaya ringan (Pasal 57 ayat (3) UU No.7/1989) e. Kewenangan Relatif (Relative Competensi) yaitu kewenangan mengadili suatu perkara yang menyangkut wilayah/daerah hukum (yurisdiksi). Psl. hal ini dikaitkan dengan tempat tinggal pihakpihak berperkara. f. c. Contoh perkara perceraian bagi orang-orang yang beragama Islam dan perkawinannya dilakukan secara Islam menjadi kewenangan absolute Pengadilan Agama. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. . 4 ayat (3) UU. Peradilan Agama dilakukan dengan sederhana. Pemeriksaan perkara dilakukan dalam persidangan Majelis sekurang-kurangnya tiga orang Hakim (salah satunya Menjadi Ketua Majelis) dan dibantu Panitera sidang. b. (Pasal 58 ayat (1) UU No. artinya perkara tersebut hanya bisa diperiksa dan diadili oleh Pengadilan Agama. h. 2. Dan lain-lain (Selanjutnya lihat Mukti Arto : 1995 : 10). (2) dan (3) UU No. 19 ayat (1) UU No. (Pasal 17 ayat (1). Pemeriksaan perkara perceraian dilakukan secara tertutup. (Pasal 59 UU No.. 7 Tahun 1989 jo. j. 4/2004). 4 Tahun 2004). Kewenangan Mutlak (Absolute Competensi) yaitu kewenangan yang menyangkut kekuasaan mutlak untuk mengadili suatu perkara. g. (Pasal 67 hurup b dan pasal 80 hurup b UU No. No. Persidangan dilakukan terbuka untuk umum kecuali undang-undang menentukan lain.3 Tahun 2006). Pengadilan yang berhak mengadili suatu perkara dalam bahasa latin disebut dengan istilah “Actor Sequitur Forum Rei”.7/1989 jo. 7/1989). Peradilan Agama memutus perkara berdasarkan hukum Islam. i. 10. Peradilan Agama dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan setiap putusan dan penetapan dimulai dengan kalimat “Bismillahirrahmanir rahim” dan diikuti dengan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Hal ini sudah jarang dilakukan karena Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 telah mengatur dibolehkannya penetapan ahli waris dalam perkara volunteer. Waris. h. Menyelesaikan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar sengketa antara orang-orang Islam. d. Contoh perkara penetapan wali. Memberikan isbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun hijriyah (Pasal 52 A UU No. Infaq. Jenis Perkara di Lingkungan Peradilan Agama Ditinjau dari sifat perkara yang diajukan masyarakat pencari keadilan kepada badan Peradilan Agama terdapat 2 (dua) macam perkara yaitu : 1. g. 2. Melaksanakan tugas lainnya seperti pelayanan riset/penelitian dan tugas-tugas lainnya. (Pasal 107 ayat (2) Undang-undang No. mengadili dan memutus serta menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang: a. Perkara Kontensius Perkara Kontensius adalah perkara yang mengandung sengketa antara dua pihak atau lebih dan merupakan tuntutan hak serta adanya kepentingan hukum. f. Perkara Volunter Perkara Volunter adalah perkara yang tidak mengandung sengketa tetapi ada kepentingan hukum serta diatur dalam Undang-undang.Tugas Pokok Badan Peradilan Agama Menerima. (Pasal 52 ayat (1) Undang-undang No. dan i. Wasiat. Tugas lain dari badan Peradilan Agama Selain dari tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas. Contoh perkara sengketa harta waris. (Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-Undang-ndang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama). Zakat. b. penetapan wali adlol dan lain-lain. 7/1989). Memberikan pertimbangan dan nasehat tentang hukum Islam kepada instansi pemerintah apabila diminta. Wakaf. Shadaqoh. perkara perceraian dan lain-lain. c. Hibah.3 Tahun 2006) 4. memeriksa. Peradilan Agama mempunyai tugas tambahan baik yang diatur dalam Undang-undang maupun dalam peraturan-peraturan lainnya yaitu : 1. e. Ekonomi Syari’ah. 3. Perkawinan. Proses Berperkara di Pengadilan Agama Seseorang yang akan berperkara di Pengadilan Agama datang secara pribadi atau melalui kuasannya yang sah (dengan Surat Kuasa) mengajukan surat gugatan atau permohonan yang . 7/1989) 2.

Kemudian petugas yang menerima surat gugatan atau permohonan tersebut menaksir uang muka/panjar biaya perkara yang harus dibayar dengan membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) lalu penggugat atau pemohon membayar uang muka/panjar biaya perkara ke kasir. 1. Surat Gugatan dan Permohonan.ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama dan mendaftarkannya kepada petugas yang ditunjuk menerima surat gugatan atau permohonan tersebut. Selanjutnya petugas kasir memberi nomor perkara pada surat gugatan atau permohonan tersebut dan menyerahkan satu eksemplar salinan surat gugatan atau permohonan dan lembar pertama (asli) SKUM kepada yang mengajukan perkara. b. Dibuat dengan Cermat dan Terang . Dalam praktek sering ditemukan Penggugat tidak hanya satu orang tetapi bisa lebih. Setelah itu perkara tersebut didaftarkan ke dalam buku induk perkara oleh petugas yang ditunjuk sesuai dengan jenis perkaranya. (Pasal 120 HIR/Pasal 144 ayat (1) RBg. Pengertian surat gugatan. dengan demikian perkara tersebut telah didaftar secara resmi dan akan ditentukan Majelis Hakim yang akan memerikasanya oleh Ketua Pengadilan. Sengketa Yaitu tuntutan hak tersebut harus merupakan sengketa. Surat gugatan ialah surat yang diajukan kepada Ketua Pengadilan yang berkompeten yang memuat tuntutan hak dan adanya kepentingan hukum serta mengandung sengketa. geen actie) d. BerupaTuntutan Yaitu merupakan suatu aksi atau tindakan hukum yang bertujuan untuk memperoleh perlindungan hukum dari Pengadilan dan untuk mencegah tindakan main hakim sendiri. kemudian catatan tersebut diformulasikan menjadi surat gugatan atau permohonan.) 2. Syarat-syarat Gugatan a. Tidak ada sengketa maka tidak ada perkara (geen belang. Ada Kepentingan Hukum Maksudnya yaitu setiap gugatan harus merupakan tuntutan hak dan mempunyai kepentingan hukum yang cukup. demikian juga Tergugat bahkan kemungkinan terdapat orang lain atau pihak ketiga yang tidak masuk kepada kelompok Penggugat maupun Tergugat tetapi mempunyai hubungan atau keterkaitan dengan perkara yang diajukan tetapi pihak ketiga tersebut tidak mau bergabung dengan penggugat maupun dengan Tergugat oleh karena itu pihak ketiga tersebut harus dilibatkan dalam perkara dan dalam surat gugatan disebut sebagai Turut Tergugat. c. Bentuk Lisan Gugatan atau permohonan bentuk lisan ialah gugatan atau permohonan yang diajukan secara lisan kepada Ketua Pengadilan oleh mereka yang buta huruf dan Ketua Pengadilan mencatat atau menyuruh mencatat kepada salah seorang pejabat pengadilan. Bentuk Tertulis Gugatan atau permohonan bentuk tertulis harus memenuhi syarat formil. a. Bentuk dan Kelengkapan Gugatan/Permohonan Adapun bentuk gugatan atau permohonan dapat dibagi 2 (dua) yaitu : a. Yang mengajukan disebut Penggugat sedang pihak yang digugat disebut Tergugat. dibuat dengan jelas dan terang serta ditanda tangani oleh yang mengajukan (Penggugat/Pemohon) atau kuasanya yang telah mendapat surat kuasa khusus.

5. umur dan tempat tinggal. Kumulasi Obyektif yaitu Penggugat mengajukan beberapa tuntutan atau gugatan terhadap Tergugat. Dalam bahasa lain posita disebut Fundamentum Fetendi. Suatu petitum harus didukung dengan posita dan suatu petitum yang tidak didasarkan pada posita maka petitum tidak akan dikabulkan oleh hakim. Kumulasi Subjektif yaitu jika dalam surat gugatan/permohonan terdapat beberapa orang penggugat atau Tergugat. 3. c. Gugatan Rekonvensi. oleh karena itu ia melawan kedua belah pihak (Penggugat dan Tergugat) yang sedang berperkara. dan ada 3 (tiga) macam bentuk intervensi yang dikenal dalam hukum acara perdata yaitu : a. Posita Posita yaitu penjelasan tentang keadaan atau peristiwa yang berhubungan dengan hukum yang dijadikan sebagai landasan atau dasar dari gugatan tersebut serta dibuat dengan jelas dan terang. Voeging adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan memasuki perkara yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat dengan memihak kepada penggugat atau tergugat. Tussenkomst. c. b. Vrijwaring adalah suatu aksi hukum yang dilakukan oleh tergugat untuk menarik pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang berlangsung guna menjamin kepentingan tergugat dalam menghadapi gugatan Penggugat. tetapi untuk lebih lengkapnya identitas seseorang sebaiknya ditulis juga jenis kelamin. Intervensi yaitu ikut sertanya pihak ketiga ke dalam suatu proses perkara karena ada kepentingan hukum atau ditarik sebagai pihak. Jika tidak jelas maka surat gugatan tersebut akan dinyatakan gugatan kabur (Obscure Libel). Identitas dan kedudukan para pihak Menurut ketentuan pasal 67 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989.V. Kebiasaan di Peradilan Agama jenis kelamin seseorang dapat diketahui dari nama yang bersangkutan diiringi dengan kata Bin berarti anak laki-laki dari dan kata Binti artinya anak perempuan. Petitum yaitu tuntutan yang diminta oleh Penggugat supaya dikabulkan oleh Hakim. 4. pihak-pihaknya juga harus jelas demikian juga obyeknya. Intervensi diatur dalam pasal 279 -282 R. b. Jadi suatu surat gugatan harus memuat peristiwa hukum dan dasar hukum yang dijadikan alasan untuk mengajukan tuntutan.Yaitu dengan alasan atau dasar hukumnya harus jelas dan dapat dibuktikan apabila disangkal. Identitas seseorang adalah nama lengkap. Unsur-unsur Surat Gugatan Unsur-unsur surat gugatan ada 3 (tiga) yaitu : a. Petitum. b. Yang dimaksud dengan gugatan rekonpensi ialah gugatan balik yang diajukan oleh Tergugat . Voeging. c. Kumulasi atau Penggabungan gugatan/permohonan dalam satu surat gugatan/ permohonan berarti terdapat beberapa tuntutan/permohonan. Tussenkomst ialah masuknya pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang berlangsung untuk membela kepentingannya sendiri. Ada beberapa macam penggabungan (kumulasi) yaitu: a. Vrijwaring. Penggabungan (kumulasi) gugatan/permohonan. agama dan pekerjaan.

pengangkatan anak dan lain-lain. lalu Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk tersebut membuat Penetapan Hari Sidang (PHS) dengan menetapkan Hari Sidang dan memerintahkan Juru sita/Juru sita Pengganti untuk memanggil pihak-pihak yang berperkara. Syarat-syarat gugatan rekonvensi : 1. Surat permohonan ialah surat yang diajukan kepada Ketua Pengadilan yang berkompeten yang memuat tuntutan hak perdata yang diajukan oleh seseorang atau lebih yang mempunyai kepentingan hukum terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa dan diatur dalam Undang-undang atau ada aturan hukumnya. lalu Ketua Pengadilan memeriksa kelengakapan berkas perkara tersebut. misalnya pihak Tergugat berada di luar Negeri. Dasar hukum Pasal 132 a dan 132 b HIR/Pasal 157 dan 158 RBg. Diajukan bersama-sama jawaban. Bukan mengenai pelaksanaan putusan. 3. tetapi ada yang berpendapat selama dalam tahap jawab menjawab dan belum sampai ke pembuktian bisa diajukan gugatan rekonpensi. Tenggang waktu pemanggilan pihak-pihak berperkara tersebut. Perkara yang telah resmi terdaftar harus sudah disidangkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan dari pendaftaran perkara. misalnya 2 (dua) hari sebelum hari sidang. Disampaikan kepada pribadi yang bersangkutan di tempat tinggalnya. Jika yang dipanggil tidak ditemui di tempat tinggalnya panggilan disampaikan melalui Kepala . Surat Permohonan. 3. Diatur dalam Undang-undang atau Peraturan Tata Cara Pemerikasaan Perkara Persiapan Persidangan: Setelah surat gugatan atau permohonan didaftar atau dicatat dalam register induk perkara. 4. Menyangkut hukum kebendaan. maka Panitera Pengadlan Agama selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari harus sudah menyampaikan berkas perkara tersebut kepada Ketua Pengadilan Agama. apabila panggilan disampaikan kepada pihak-pihak berperkara kurang dari 3 (tiga) hari. 2. Contoh perwalian. 2. 2.terhadap Penggugat tentang sengketa antara mereka menyangkut hukum kebendaan. maka panggilan tersebut harus dinyatakan tidak patut/tidak sah. tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari antara hari pemanggilan dan hari sidang yang telah ditentukan. harus dilakukan dengan surat panggilan resmi (relaas panggilan) dengan cara sebagai berikut : 1. dalam hal ini sepanjang masih dalam kewenangan Pengadilan Agama. Ciri-ciri Surat Permohonan yaitu : 1. Diajukan terhadap Penggugat inpersona tidak kepada kuasa Penggugat. Tata Cara Pemanggilan Pihak-pihak Berperkara Untuk menghadirkan pihak-pihak berperkara di muka persidangan. artinya panggilan sidang harus sudah diterimakan kepada pihak-pihak berperkara selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum hari sidang. Pemanggilan dilakukan oleh Juru Sita/Juru Sita Pengganti. kecuali ada alasan hukum yang membenarkan. Kemudian perkara tersebut diserahkan kepada Majelis Hakim melalui Panitera. Tidak mengandung sengketa 3. selanjutnya menunjuk Majelis Hakim yang akan memeriksa perkara tersebut dengan membuat Penetapan Majelis Hakim (PMH). 6. Ada kepentingan hukum.

Eksepsi . Jika perdamaian tersebut berhasil. 6. Sidang ketiga Jawaban Tergugat. Majelis Hakim harus membaca dan mepelajari berkas perkara. akan tetapi harus diingat bahwa suatu perkara perdata pada peradilan tingkat pertama dan peradilan tingkat banding harus sudah selesai selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak didaftarkan. Sidang keenam Pembuktian dari Penggugat. Sidang keempat Replik Penggugat. Hakim tanpa diminta oleh pihak berperkarapun sebenarnya harus mengundurkan diri dari perkara apabila: 1. Tahapan-tahapan seperti diuraikan di atas (1 s/d 9 ) tidak bersifat baku. para pihak mempunyai hak ingkar yang dalam istilah hukum disebut ”wraking”.Desa/Lurah setempat. Akan tetapi dalam perkara perceraian tidak dibuatkan akta perdamaian melainkan perkara dicabut. Sebelum memeriksa perkara. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin peradilan yang obyektif dan tidak memihak. atau sampai derajat ke empat ke samping tersangkut dalam perkara itu. Sidang kelima Duplik Tergugat. 4. 3. Dalam pemeriksaan suatu perkara. 7. 5. maka dibuatkan akta perdamaian (Acta van vergelijk) yang isinya menghukum kedua belah pihak untuk melaksanakan isi perdamaian. 2. keluarga atau keluarga semendanya dalam garis keturunan lurus. Ia secara pribadi mempunyai kepentingan baik langsung atau tidak langsung dalam perkara itu. (SEMA RI No. Tahap-Tahap Pemerikasaan. Sidang kedelapan Kesimpulan pihak-pihak berperkara. Hakim wajib mendamaikan pihak-pihak berperkara. bisa lebih singkat dan bisa juga lebih lama. 4. Pasal 121 dan Pasal 390 HIR. Secara teoritis pemeriksaan suatu perkara dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Sidang kesembilan Pembacaan putusan. selanjutnya Para pihak dipanggil masuk ke ruang sidang. Sidang kedua Pembacaan surat gugatan. dan dalam persidangan Ketua Majelis berada di tengah/diantara dua hakim anggota lalu membuka sidang dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim diiringi dengan mengetukkan palu sebanyak 3 (tiga) kali. 5. kemudian Majelis Hakim memeriksa identitas para pihak. 2. pasal 26 dan 27 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. 8. Dasar hukumnya Pasal 145 dan pasal 718 RBg. cepat dan lamanya penyelesaian suatu perkara sangat tergantung dari kehadiran dan kesiapan pihak-pihak berperkara karena pada dasarnya dalam perkara perdata hakim bersifat pasif. Panggilan sudah disampaikan minimal 3 (tiga) hari sebelum hari sidang. terakhir SEMA Nomor 3 Tahun 1998). Wraking atau hak ingkar ialah hak seseorang yang sedang diadili untuk mengajukan keberatan yang disertai dengan alasan-alasan terhadap seorang Hakim yang mengadili perkaranya. Sidang pertama usaha Perdamaian. 6 Tahun 1992 tanggal 21 Oktober 1992. Panggilan pertama kepada Tergugat harus dilampirkan salinan surat gugatan. Sidang ketujuh Pembuktian dari Tergugat. Suami/Isteri. jika diwakili oleh kuasanya. 9. (Pasal 374 HIR/702 RBg. maka penerima kuasa tersebut harus diperiksa identitasnya dan juga surat kuasanya. Catatan: Pada sidang pertama sebelum memeriksa pokok perkara.

eksepsi yang menyatakan bahwa perkara tersebut bersifat prematur. misalnya mengenai perjanjian belum habis waktunya. untuk menjamin agar putusan Hakim nantinya tidak illusoir. Sita Jaminan diatur dalam pasal 227 HIR/261RBg. 3. suatu perkara tidak dapat diputus dua kali sehingga suatu perkara yang sama antara pihak-pihak yang sama dan di pengadilan yang sama pula. tidak jelas. Eksepsi formil ini terbagi 5 macam yaitu : a. tidak dapat dipahami baik mengenai susunan kalimatnya. Eksepsi diskwlifikator. dirusak atau dimusnahkan oleh pemegang atau pihak yang menguasai barang tersebut. Eksepsi kewenangan relatif. formatnya atau hubungan hukumnya satu sama lain yang tidak saling mendukung atau mungkin bertentangan sama sekali. ialah sita terhadap barang barang milik Tergugat yang disengketakan status kepemilikannya atau sengketa hutang piutang atau tuntutan ganti rugi. belum waktunya diajukan.V. Prematoir eksepsi. Sita dan Permohonan Sita Jaminan Pengertian Sita : Sita atau beslaag adalah suatu tindakan hukum oleh hakim yang bersipat eksepsional atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa untuk mengamankan barang-barang sengketa atau yang menjadi jaminan dari kemungkinan dipindahtangankan. Eksepsi prematoir. Eksepsi tidak berwenang secara absolut. Eksepsi tentang kewenangan absolut b. Eksepsi Formil (Prosesual Eksepsi) yaitu eksepsi berdasarkan hukum formil atau hukum acara. yaitu karena surat gugatan kabur. Sita Jaminan atau Conservatoir beslaag 2. Sita Revindikator. yaitu eksepsi yang menyatakan Penggugat tidak mempunyai kedudukan/hak untuk mengajukan gugatan atau Pengugat salah menentukan Tergugat baik mengenai orangnya maupun identitasnya Eksepsi gugatan obscure libel. Ada beberapa macam sita yang dikenal dalam hukum acara perdata yaitu : 1. dibebani suatu sebagai jaminan. Eksepsi tentang kewenangan relatif. ialah sita terhadap barang-barang milik Penggugat (kreditur) yang dikuasai . Sita Revindikator.Eksepsi adalah sanggahan terhadap suatu gugatan atau perlawanan yang tidak mengenai pokok perkara dengan maksud untuk menghindari gugatan agar Hakim menetapkan gugatan tidak dapat diterima atau ditolak (Pasal 136 HIR/Pasal 162 RBg Pasal 356 R. eksepsi menyangkut kewenangan mutlak yaitu sanggahan tentang kewenangan absolute pengadilan yang tidak berwenang mengadili perkara tersebut melainkan menjadi wewenang Pengadilan lain. Eksepsi Nebis in idem. Eksepsi Materil yaitu eksepsi berdasarkan hukum materil yang meliputi : a. Pada dasarnya eksepsi terbagi 2 (dua) yaitu: 1. Sita Marital Sita Jaminan. Eksepsi gugatan kabur (obscure libel) 2. Eksepsi tentang nebis is idem (eksepsi van gewisde zaak) d. adalah eksepsi yang menyatakan gugatan terlambat diajukan karena sudah kadaluwarsa. (Belum waktunya diajukan) b. Eksepsi diskwalifikator. eksepsi mengenai kewenangan relatif. Dilatoir eksepsi. c. Eksepsi dilatoir. e. (Terlambat mengajukan).

7/1989 jo pasal 24 PP no. .V. sekaligus bersamaan dengan pengajuan gugatan pokok. maka Juru Sita tidak dapat melakukan penyitaan sekali lagi. Sita Marital.Dirumuskan setelah uraian posita atau dalil gugatan . Sita persamaan ini diatur dalam pasal 463 Rv. tidak dipisahkan dengan dalil gugatan atau gugatan pokok. Permohonan diajukan secara terpisah dari pokok perkara. 9/1975. Jika mengikuti pola ini biasanya rumusannya adalah sebagai berikut : . 1987 : 11) Adapun prosedur atau tata cara pengajuan sita jaminan adalah sebagai berikut : 1. ada yang memakai istilah sita perbandingan ada pula yang memakai sita persamaan. Tujuan Sita Jaminan . 2. pasal 95 Kompilasi Hukum Islam. Bentuk pengajuan permohonan sita yang kedua ini dilakukan penggugat dalam bentuk permohonan tersendiri terpisah dari pokok perkara dan berada dalam surat yang lain. .oleh Tergugat. Mahkamah Agung RI memakai istilah sita persamaan. Permohonan diajukan dalam surat gugatan. Selama putusan belum dijatuhkan atau selama putusan belum berkekuatan tetap. namun ia mempunyai kewenangan untuk mempersamakan barang-barang yang disita itu dengan berita acara penyitaan. . Adapun tenggang waktu pengajuan sita jaminan menurut ketentuan undang-undang pengajuan permohonan sita jaminan dapat dilakukan : 1. . Pengajuan permohonan sita jaminan dalam bentuk ini.Permintaan sah dan berharga biasanya diajukan pada petitum kedua.Bermaksud menjamin gugatan penggugat agar tidak illusoir (hampa) pada saat putusan nanti memperoleh kekuatan hukum tetap. 3.Berita Acara Sita Persamaan ini berlaku sebagai sarana pencegahan hasil lelang kepada penyita pertama. Sita Revindikator diatur dalam pasal 226 HIR/260 RBg. Sejak mulai berlangsung pemeriksaan perkara di sidang pengadilan sampai putusan dijatuhkan. Tata cara sita persamaan .Juru Sita kemudian akan dapat menyita barang-barang yang tidak disebut dalam berita acara penyitaan itu dan memerintahkan kepada penyita pertama untuk menjual barang-barang tersebut secara bersamaan dan dalam waktu sebagaimana ditentukan dalam pasal 466 R. (Pasal 227 ayat (1) HIR/Pasal 261 ayat (1) RBg.Apabila Juru Sita hendak melakukan penyitaan dan menemukan bahwa barang-barang yang akan disita itu sebelumnya sudah dista terlebih dahulu. Hal ini dipertegas lagi dalam petitum gugatan yang berisi permintaan kepada pengadilan supaya sita jaminan yang diletakkan atas harta sengketa atau harta kekayaan tergugat dinyatakan sah dan berharga. Atau selama putusan belum dapat dieksekusi. 2. Selain sita tersebut di atas masih ada lagi satu jenis sita yaitu sita persaman. yang untuk itu oleh pihak tersita harus diperlihatkan kepada Juru Sita tersebut. Dasar hukum sita marital Pasal 78 hurup c UU No. .Dengan demikian harta yang dipersengketakan atau harta kekayaan Tergugat yang disita tetap terjamin keutuhannya sampai tiba saatnya perkara dieksekusi (dilaksanakan) (Yahya Harahap. Sita persamaan yang dalam istilah bahasa Belanda disebut “vergelind beslaag”. ialah sita yang diletakkan atas harta perkawinan. Penggugat mengajukan permohonan sita jaminan atau conservatoir beslag secara tertulis dalam surat gugatan.

Persidangan dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum Menurut ketentuan pasal 19 ayat (1) UU No.Tahapan Pelaksanaan Sidang Untuk melaksanakan pemeriksaan suatu perkara harus diperhatikan ketentuan atau prinsipprinsip sebagai berikut : 1. 4 Tahun 2004. 2. kecuali apabila Undang-undang menentukan lain. Pasal 58 ayat (1) UU No. Pemeriksaan perkara perceraian termasuk yang dikecualikan dan persidangannya harus dinyatakan tertutup untuk umum. semua pengadilan memeriksa dan memutus perkara dengan sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim kecuali apabila Undangundang menentukan lain. karena telah diatur dalam Undang-undang yaitu pasal 68 dan 80 ayat 2 (dua) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. (Pasal 130 HIR/Pasal 154 RBg) 3. Oleh karena itu apapun jenis perkara yang diperiksa maka ketika membacakan putusan perkara tersebut sidang harus dinyatakan terbuka untuk umum. sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum. (Pasal 5 ayat (1) UU No. Tugas Panitera dan Panitera Pengganti tersebut adalah mencatat segala hal ihwal yang terjadi dalam persidangan dan dituangkan dalam Berita Acara Persidangan dan berita acara persidangan tersebut harus sudah selesai diketik dan ditanda tangani oleh ketua Majelis dan Panitera atau Panitera Pengganti sebelum persidangan berikutnya dimulai. 7 Tahun 1989) 4. Oleh karena itu setelah Ketua Majelis membuka sidang pemeriksaan perkara perceraian dan dinyatakan terbuka untuk umum lalu Majelis Hakim berusaha mendamaikan para pihak yang berperkara dan apabila tidak berhasil. hakim wajib mengusahakan perdamaian antara pihak-pihak yang berperkara. Diantara para hakim tersebut seorang bertindak sebagi Ketua Majelis dan lainnya sebagai Hakim Anggota. (2) dan (3) UU No.(Pasal 17 ayat (1).4/2004). Putusan Harus diucapkan dalam Sidang Terbuka Untuk Umum Pasal 20 UU. maka persidangan harus dinyatakan tertutup untuk umum. Persamaan Hak dan Kedudukan dalam Persidangan Pengadilan harus mengadili menurut hukum tidak boleh membeda-bedakan orang yang sedang berperkara artinya hakim tidak boleh memihak kepada salah satu pihak yang berperkara tersebut. No. 4 Tahun 2004 dan Pasal 60 UU No. . kemudian pemeriksaan dilanjutkan sesuai dengan acara sidang. Mengusahakan Perdamaian Pada setiap permulaan sidang. 4 Tahun 2004. Persidangan Harus dengan Majelis Menurut ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004. tidak boleh langsung memeriksa pokok perkara. Tugas Hakim Ketua adalah memimpin dan mengarahkan jalannya persidangan agar pemeriksaan perkara berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. sebelum pemerikasaan pokok perkara. Kemudian asli putusan suatu perkara harus ditanda tangani oleh Majelis Hakim termasuk Panitera atau Panitera Pengganti yang menyidangkan perkara tersebut. Dalam memeriksa perkara Majelis Hakim tersebut dibantu oleh seorang panitera atau seseorang yang ditugaskan melakukan pekerjaan Panitera yang dikenal dengan istilah Panitera Pengganti. sedangkan tugas Hakim Anggota adalah membantu Ketua Majelis menyelesaikan perkara dengan memberikan petanyaan kepada para pihak yang berperkara dan memberikan pendapat dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim dalam memutuskan suatu perkara dan setiap akan memutus perkara Majelis Hakim berkewajiban untuk bermusyawarah bagaimana suatu perkara diselesaikan. 7 tahun 1989 menyebutkan semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. 5.

Isi dan Penutup. c. Dibuat berdasarkan sumpah jabatan. Penjelasan resmi pasal 97 UU No. siapa-siapa yang hadir. 7 Tahun 1989) Berita Acara Persidangan Berita Acara Persidangan atau Berita Acara Sidang adalah suatu akta authentik yang dibuat oleh Panitera yang ikut sidang memuat keterangan-keterangan tentang segala sesuatu yang terjadi dalam pemeriksaan persidangan. 2. Bagian Pendahuluan BAP berisi : . Sebagai akta otenik/resmi maka semua yang tertulis dalam berita acara adalah sah dan resmi. b. teliti dan cermat serta jujur. Dibuat oleh pejabat resmi yang berwenang untuk itu yaitu Panitera/Panitera Pengganti. Hakim/Ketua Majelis bertangung jawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara persidangan dan menandatanganinya sebelum sidang berikutnya. b. Karena itu BAP harus dibuat. Dalam buku II Edisi Revisi juga dipakai istilah “Berita Acara Persidangan” dan disebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. Perkembangan suatu perkara harus dilaporkan oleh Panitera sidang kepada petugas register untuk dicatat dalam buku register. disusun dan diketik secara hatihati. disamping tepat waktu. Ditandatangani oleh Panitera sidang bersama Ketua sidang yang bersangkutan.4/2004 dan Pasal 59 ayat (2) UU No. Susunan Berita Acara Persidangan Untuk mudahnya susunan dan berntuk BAP dapat kita bagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu Pendahuluan. 7 Tahun 1989 menyebutkan: Panitera. Panitera Muda dan Panitera Pengganti bertugas membantu Hakim dengan menghadiri dan mencatat jalannya sidang pengadilan. Panitera Pengganti yang ikut bersidang wajib membuat BAP yang memuat segala sesuatu yang terjadi di persidangan. sebab jika tidak maka tidak dapat dijadikan sumber rujukan bagi Hakim dalam mengambil keputusan dan akan berkait hancurnya seluruh hasil pemerksaan perkara. adapun nilai otentiknya terletak pada: a. Kedudukan BAP ditinjau dari segi hukum. BAP adalah akta autentik. Wakil Panitera. 7 Tahun 1989 menyatakan: “Berdasarkan catatan Panitera disusun berita acara persidangan” Dari penjelasan tersebut dapat dipahami hal-hal berikut : a. 3. Tergugat. Keabsahan dan keresmian yang melekat pada BAP ini diperlukan bagi kepastian hukum. Istilah yang dipakai adalah “Berita Acara Persidangan”. Berita Acara Persidangan (BAP) harus dibuat sesudah sidang berdasarkan catatan sidang dari Panitera sidang. Pertimbangan hukum oleh Hakim akan selalu mengacu kepada fakta-fakta yang tercatat dalam BAP. saksi-saksi dan segala sesuatu tentang alat bukti. Berita acara Persidangan berfungsi sebagai sumber landasan fakta dan data dalam pengambilan keputusan oleh Hakim karena dalam BAP dicatat semua kejadian dalam persidangan termasuk di dalamnya keterangan-keterangan Penggugat. yaitu memuat susunan persidangan. Pada waktu musyawarah semua berita acara harus sudah selesai dibuat dan ditandatangani sehingga dapat dipakai sebagai bahan musyawarah oleh Majelis Hakim yang bersangkutan.Apabila ketentuan atau prinsip-prinsip tersebut tidak dilaksanakan atau tidak dipenuhi maka putusan suatu perkara berakibat menjadi “Batal Demi Hukum” (Pasal 19 ayat (2) UU No. kecuali dapat dibuktikan sebaliknya (misalnya dipalsukan). 4. serta jalannya pemeriksaan perkara tersebut dengan lengkap dan jelas. Pasal 97 UU No.

Catatan : Pada Berita Acara Persidangan Pertama nama dan kedudukan serta identitas lengkap Hakim dan Panitera serta para pihak ditulis dengan lengkap. What. biru. who.Hadir tidaknya para pihak. . identitas dan kedudukan pihak-pihak berperkara.Bukti tertulis diberi kode untuk Penggugat diberi tanda P. who taught me all I knew: what. (Apa peristiwa/akibat) ..Nama Pengadilan yang menyidangkan. .. sedang apabila Ketua Majelis yang diganti harus dibuatkan PMH yang baru oleh Ketua Pengadilan Agama.Keterangan saksi harus dimuat secara lengkap. lalu diminta tanggapan pihak lawan.Bukti tertulis berupa potocopy harus dijelaskan dibubuhi meterai cukup atau tidak. sedang pada sidang-sidang berikutnya cukup ditulis : Susunan Persidangan sama dengan persidangan yang lalu dan pihakpihak cukup ditulis nama dan kedudukannya. dst. Untuk Tergugat diberi tanda T. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal berikut: . . Bagian Penutup BAP Bagian penutup ini berisi : . dapat dijadikan menjadi bagian dari BAP dengan teknik tertentu. hubungan dengan pihakpiak berperkara dan keterangan saksi tersebut harus dimintai tanggapan pihak-pihak berperkara. Oleh karena itu untuk membuat berita acara persidangan yang baik dan mengadakan tanya jawab dengan Penggugat. disumpah atau tidak. . . jika belum patut sidang tidak dapat dilanjutkan.1. .Jika pihak prinsifal diwakili oleh kuasanya.Judul (“Berita Acara Persidangan”) .) kecuali perkara volunteer.Pembacaan surat gugatan/permohonan.Nama dan tanda tangan Ketua Majelis dan Panitera sidang.Jawaban. jenis perkara yang disidangkan.Nomor Perkara yang disidangkan . . atau tertutup untuk umum.Panggilan kepada pihak-pihak sudah patut atau belum. Tergugat dan saksi-saksi di persidangan perlu dipedomani 6 (enam) hal yaitu : 1. 2 Tahun 2003. Jika terjadi perubahan susunan Majelis Hakim misalnya Hakim Anggota berganti harus dicatat dalam BAP dengan menyebut nama Hakim pengganti dan sebab-sebabnya. Pedoman untuk menggali fakta mengacu kepada statemen Rudyat Kipling: I have six honest friends. dst.Sidang ke berapa . diakhiri dengan pernyataan penundaan atau penutupan sidang.Pernyataan Ketua Majelis bahwa persidangan telah selesai dan ditutup.Upaya perdamaian harus tergambar dalam BAP (Pasal 154 HIR/130 RBg. where.Susunan Majelis Hakim dan Panitera dan Panitera sidang. why an how. . . when. dicocokkan atau tidak dengan aslinya. hitam. hari dan tanggal sidang serta tempat dilangsungkannya sidang. bagian ini dimulai dari pernyataan Hakim tentang sidang dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.Nama. SEMA No. Dalam bagian ini semua jalannya pemeriksaan dibuat dalam bentuk tanya jawab.1. . replik dan duplik yang diajukan dengan tertulis. maka lebih dahulu disebut prinsifalnya baru kemudian kuasa hukumnya (pada sidang pertama sebaiknya tanggal surat kuasa juga disebutkan) . Bagian isi BAP : Bagian isi ini merupakan yang terpenting dari BAP.

cermat dan mudah dimengerti. Disamping adanya larangan. Hakim dilarang dan tidak boleh menjatuhkan putusan suatu perkara sebelum fakta/peristiwa yang diajukan itu benar-benar terjadi yaitu dibuktikan kebenarannya. Hakim berpedoman kepada kebenaran materil. Secara teori dalam hukum perdata. Dalam sengketa antara pihak-pihak berperkara tersebut dan sedang diperiksa dimuka persidangan. 4.2. Kebenaran formil yang dicari oleh Hakim dalam arti Hakim tidak boleh melampaui batas batas yang diajukan oleh pihak berperkara. sederhana. 5. Hakim yang memeriksa perkara perdata berpedoman kepada kebenaran formil sedangkan dalam hukum pidana. Menurut teori ini harus ada ketentuan-ketentuan yang mengikat. mengkwalifisir dan mengkonstituir serta mengambil keputusan berdasarkan kepada pembuktian tersebut. (Kapan/waktu terjadi peristiwa). Ada 3 (tiga) teori pembuktian yaitu : 1. hindari istilah bahasa daerah yang membingungkan. Penulisannya berdasarkan Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dan tidak boleh menggunakan tip ex. Hakim harus memeriksa dalil-dalil mana yang benar dan tidak benar. Dengan demikian diharapkan akan diperoleh putusan hakim yang benar dan adil. Sedang tujuan pembuktian adalah untuk memperoleh kebenaran suatu peristiwa atau hak yang diajukan kepada hakim. Why. Teori pembuktian positif. Pembuktian Pembuktian adalah upaya para pihak yang berperkara untuk meyakinkan hakim akan kebenaran peristiwa atau kejadian yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa dengan alat-alat bukti yang telah ditetapkan undang-undang. “Dalam praktek peradilan sebenarnya seorang Hakim dituntut mencari kebenaran materil terhadap perkara yang sedang diperiksanya karena tujuan pembuktian itu adalah untu meyakinkan Hakim atau memberikan kepastian kepada Hakim tentang adanya peristiwaperistiwa tertentu sehingga Hakim dalam mengkonstatir. (Dimana tempat kejadian/peristiwa). Teori pembuktian negative. (Bagaimana/cara terjadinya peristiwa). Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat Hakim sehingga penilaian pembuktian diserahkan kepada Hakim. Membuktikan artinya mempertimbangkan secara logis kebenaran suatu fakta/ peristiwa berdasarkan alat-alat bukti yang sah menurut hukum pembuktian yang berlaku. Menurut ketentuan pasal 163 HIR/ Pasal 283 RBg yang wajib membuktikan atau mengajukan alat-alat bukti adalah para pihak yaitu Penggugat dan Tergugat yang berkepentingan di dalam . How. yang bersifat negative sehinga membatasi Hakim untuk melakukan sesuatu kecuali yang diijinkan oleh undang-undang. 3. Jadi baik kebenaran formil maupun kebenaran materil hendaknya harus dicari secara bersamaan dalam pemeriksaan suatu perkara yang diajukan kepadanya. serta dengan kalimat yang sempurna (ada pokok kalimat dan ada sebutan). Where. Who. Teori pembuktian bebas.” (Manan : 2000 : 129) Teori Pembuktian. 2. teori ini menghendaki adanya perintah kepada Hakim dan diwajibkan untuk melakukan segala tindakan dalam pembuktian. (Siapa pelaku/penderita) 3. When. masing-masing pihak mengajukan dalil-dalil yang saling bertentangan. (Mengapa/sebab terjadi peristiwa) 6. jika terdapat kesalahan diperbaiki dan direnvoi (bagi pengetikan manual/mesin tik) XX. Selain itu perlu mengguganakan bahasa Indonesia yang baik. kecuali yang dilarang oleh undang-undang.

2. Persangkaan 4. yaitu berupa hal-hal atau keadaankeadaan yang telah diketahui oleh khalayak ramai (umum) yang dalam istilah hukum disebut fakta notoir. S u m p a h Dasar Hukum : Pasal 164 HI/Pasal 284 RBg/ Pasal 1866 BW Pengertian Surat ialah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau menyampaikan buah pikiran seseorang dan dipergunakan sebagai pembuktian (Sudikno 1998:116) Surat sebagai alat bukti dapat dibedakan dalam akta dan surat bukan akta yaitu : Akta yang bersifat authentic dan akta di bawah tangan. selain itu masih ada satu hal lagi yang tidak harus dibuktikan. . A l a t B u k t i. Di dalam soal menjatuhkan beban pembuktian. Jelasnya apabila terhadap suatu sengketa baik Penggugat maupun Tergugat saling membantah maka kepada keduanya harus diberikan kesempatan untuk mengajukan bukti-buktinya masingmasing secara berimbang. Pengakuan. Hakim harus bertindak arif dan bijaksana. Dalam soal pembuktian tidak selalu pihak Penggugat saja yang harus membuktikan dalilnya. serta tidak boleh berat sebelah. (Retnowulan 1989 :51) Ketentuan pembuktian sebagaimana tersebut di atas diatur dalam pasal 163 HIR/ Pasal 283 RBg dan dalam ketentuan tersebut terdapat azas tiga azas yaitu : 1. Akta ialah surat yang diberi tanda tangan. Syarat-syarat akta otentik ada 3 (tiga) yaitu : 1. S a k s i 3.. Dalam hukum perdata ada 5 (lima macam) alat bukti yaitu : 1. yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan. Dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang untuk itu. ditempat dimana pejabat berwenang menjalankan tugasnya (Pasal 1868 BW).suatu perkara atau sengketa. Hakim yang memeriksa perkara itu yang akan menentukan siapa diantara pihak-pihak yang berperkara akan diwajibkan untuk memberikan bukti. apakah pihak pengugat atau sebaliknya yaitu Tergugat. S u r a t 2. “orang itu harus membuktikannya” Berdasarkan ketiga azas tersebut maka yang wajib membuktikan adalah orang yang mempunyai hak atau orang yang mendalilkan mempunyai hak tetapi hak tersebut dibantah orang lain dalam hal ini tergugat sementara orang yang membantah hak orang lain juga harus membuktikan bantahannya tersebut. Semua peristiwa dan keadaan yang konkrit harus diperhatikan secara seksama olehnya. “siapa yang mempunyai hak” 2. Akta otentik ialah akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu dan dalam bentuk menurut ketentuan yang ditetapkan untuk itu. Terhadap hal-hal yang telah diakui atau setidak-tidaknya tidak disangkal tidak perlu dibuktikan. “membantah hak orang lain” 3. Dibuat dalam bentuk sesuai ketentuan yang ditetapkan untuk itu. jika hak atau dalil tersebut tidak dibantah maka hak dan atau dalil tersebut dianggap telah terbukti dan tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. berkepentingan bahwa gugatannya dikabulkan atau ditolak. yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian. 5. baik dengan maupun tanpa bantuan dari yang berkepentingan.

Keterangan seorang saksi tanpa alat bukti lainnya tidak dianggap sebagai pembuktian yang cukup. Akta yang dibuat di hadapan pejabat (partij acte) ialah akta yang dibuat oleh para pihak di hadapan pejabat yang berwenang untuk itu atas kehendak para pihak. Menerangkan apa yang dilihat. mendengar dan mengalami sendiri melainkan melalui orang lain disebut “Testimonium de auditu” (Pasal 171 HIR). 8. Pasal 1905 BW) Keterangan seorang saksi yang diperoleh secara tidak langsung. 5. Pejabat Akta Ikrar Wakaf dan sebagainya. Jurusita. Pejabat Pembuat Akta Tanah. Syarat-syarat materil seorang saksi : 1. Syarat-syarat formil seorang saksi: 1. Pengertian Saksi Saksi adalah orang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan memenuhi syarat-syarat tertentu tentang sesuatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat. Dewasa. (Pasal 145 HIR) 6. Pegawai Pencatat Nikah. (Pasal 169 HIR) 7. didengar serta apa yang dilakukannya. Akta di bawah tangan ialah akta yang dibuat oleh para pihak dengan sengaja untuk pembuktian. Tidak ada hubungan keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak. Bukan merupakan pendapat atau kesimpulan. Saling bersesuaian satu sama lain. Tidak ada hubungan kerja kecuali undang-undang menentukan lain. Hakim bebas untuk menilai kesaksian itu sesuai dengan nalurinya dan Hakim tidak terikat dengan keterangan saksi tetapi harus dipertimbangkan dengan argumentasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Hakim. dengan melihat. process verbal acte) ialah akta yang dibuat oleh pejabat berwenang untuk itu karena jabatannya tanpa campur tangan pihak lain. 5. Memberikan keterangan secara lisan. Saksi sekurang-kurangnya 2 (dua) orang. Pegawai Pencatat Sipil. 4. Berakal sehat. dalam bahasa lain disebut “unus testis nullus testis”. 3. 2. Pejabat yang dimaksudkan itu antara lain ialah Notaris. Persangkaan Persangkan ialah kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah dikenal atau dianggap terbukti dari suatu peristiwa yang dikenal atau dianggap terbukti ke arah suatu peristiwa yang . dengan mana pejabat tersebut menerangkan apa yang dilihat. Dibuat di tempat di mana pejabat itu berwenang untuk menjalankan tugasnya. 4. Tidak ada hubungan perkawinan dengan salah satu pihak meskipun telah bercerai (Pasal 145 HIR/Pasal 172RBg. Apabila syarat-syarat formil dan materil tersebut telah dipenuhi oleh seorang saksi. kecuali undang-undang menentukan lain. seorang saksi bukan saksi.3. (Pasal 169 HIR/Pasal 306 RBg. Tidak bertentangan dengan akal sehat.). Menghadap di persidangan. 2. Akta yang dibuat oleh pejabat (acta ambleijk. Akta otentik ada 2 (dua) macam yaitu : a. b. Panitera. 3. Pada dasarnya tidak ada larangan untuk mendengar kesaksian seperti itu namun nilai pembuktiannya tidak perlu dipertimbangkan. Mengetahui sebab-sebab terjadinya peristiwa yang diterangkan. dengar dan alami sendiri. dengar dan ia alami. dengan mana pejabat tersebut menerangkan juga yang dilihat dan dilakukannya. tetapi tanpa bantuan dari seseorang pejabat.

300. 2.tidak dikenal atau belum terbukti. 3. 10. Bahkan Hakim dapat menggunakan peristiwa prosesuail maupun notoir sebagai persangkaan. tetapi dalam perkara perceraian pengakuan bukan merupakan bukti yang menentukan tetapi baru bukti permulaan.350. ave qualifie) ialah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan.000. Misalnya saja pembuktian daripada ketidak hadiran seseorang pada suatu waktu di tempat tertentu dengan membuktikan kehadirannya pada waktu yang lain.000. (Sudikno 1998 :145-146) Pengakuan Pengakuan ialah pernyataan seseorang tentang sesuatu peristiwa atau kejadian bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain dan dapat dilakukan di muka Hakim dalam persidangan maupun di luar persidangan. aveu complekse) adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersipat membebaskan misalnya Penggugat mengatakan bahwa Tergugat telah membeli rumah Penggugat seharga Rp.Sedang yang dimaksud pengakuan dengan kalusula ( geclausuleerde bekentenis. Pengakuan dengan kualifikasi dan pengakuan dengan klausula harus diterima bulat dan tidak boleh dipisah-pisahkan dari keterangan tambahannya. baik yang berdasarkan undang-undang atau kesimpulan yang ditarik oleh Hakim.000. Sumpah : .-.(sepuluh juta) dan minta supaya dibayar oleh Tergugat lalu Tergugat mengakui sepenuhnya hutang tersebut. Yang dimaksud Pengakuan kualifikasi (gequalificeerde bekentenis.000..000. yang membenarkan baik seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa. Misalnya Penggungat menyatakan Tergugat mempunyai hutang kepada Penggugat sebesar Rp.Tergugat mengakui telah membeli rumah Penggugat tersebut tetapi harganya adalah Rp.000. Pada hakikatnya yang dimaksud dengan persangkaan tidak lain adalah alat bukti yang bersifat tidak langsung.000.. 200.000. Dengan deimkian maka setiap alat bukti dapat menjadi persangkaan. pasal 174 HIR dan pasal 1925 KUHPerdata. Pengakuan dengan klausula. hak atau hubungan hukum yang diajukan oleh lawannya yang mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut oleh Hakim tidak perlu lagi.000.000. Pengakuan dengan kualifikasi. Yang dimaksud dengan Pengakuan murni (aveu pur et simple) ialah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan. karena jika pengakuan dianggap sebagai bukti yang lengkap/sempurna akan terjadi penyelundupan hukum. Pengakuan di muka Hakim di persidangan (gerechtelijke bekentenis) merupakan keterangan sepihak baik tertulis maupun lisan yang tegas dan dinyatakan oleh salah satu pihak dalam perkara di persidangan. Pengakuan semacam itulah yang disebut sebagai “Pengakuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan” (onsplitbare aveu) yang diatur dalam pasal 176 HIR?Pasal 313 RBg/Pasal 1924 BW) Catatan : Pengakuan dalam perkara perdata merupakan bukti yang lengkap/sempurna sesuai dengan ketentuan pasal 311 RBg. Misalnya Penggugat menyatakan bahwa Tergugat telah membeli rumah dari Penggugat seharga Rp.tetapi ditambahkan bahwa harga rumah telah dibayar lunas. jadi dalam hal ini tidak perlu lagi dibuktikan oleh Penggugat. Tergugat mengaku telah mengadakan perjanjian jual beli rumah milik Penggugat seharga Rp. Ada tiga macam pengakuan yaitu : 1. Pengakuan murni.200.

sedangkan sumpah confirmatoir tidak lain adalah sumpah sebagai alat bukti. schatingseed) Sumpah supletoir diatur dalam pasal 155 HIR. bersifat sempurna dan masih memungkinkan pembuktian lawan. Pihak yang diperintahkan untuk melakukan sumpah suplatoir tidak boleh mengembalikan sumpah tersebut kepada pihak lawan. Sumpah penaksir ini barulah dapat dibebankan oleh hakim kepada Penggugat apabila Penggugat telah dapat membuktikan haknya atas ganti kerugian itu serta jumlahnya masih belum pasti dan tidak ada cara lain untuk menentukan jumlah ganti kerugian tersbut kecuali dengan taksiran. 2. Sumpah penaksir (aestimator. Jadi pada hakikatnya sumpah merupakan tindakan yang bersifat religius yang digunakan dalam peradilan. 182 RBg dan 1940 BW yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Sumpah pelengkap (supletoir) 2. karena sebelum memberikan kesaksian atau pendapatnya harus diucapkan pernyataan atau janji akan memberikan keterangan yang benar tidak lain dari yang sebenarnya. Untuk dapat diperintahkan sumpah supletoir kepada salah satu pihak harus ada pembuktian permulaan lebih dahulu. Sumpah atau berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang disebut sumpah prommisior. ia hanya dapat menolak atau menjalankannya. Sumpah atau janji untuk memberikan keterangan guna meneguhkan bahwa sesuatu itu benar demikian atau tidak. sedang pihak yang harus bersumpah disebut delaat. Hakim tidak wajib untuk membebani sumpah penaksir ini kepada Penggugat. (Pasal 1943 BW) Sumpah penaksir.Sumpah ialah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat akan sifat mahakuasa daripada Tuhan dan percaya bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum olehNya. Sumpah Decisoir Sumpah decisoir atau pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya (Pasal 156 HIR/Pasal 183 RBg/Pasal 1930 BW} Pihak yang meminta lawannya mengucapkan sumpah disebut deferent. Kekuatan pembuktian sumpah aestimatoir ini sama dengan sumpah supletoir. tetapi belum mencukupi dan tidak ada alat bukti lainnya sehingga apabila ditambah dengan sumpah supletoir pemeriksan perkaranya menjadi selesai sehingga hakim dapat menjatuhkan putusannya. 183 RBg. maka soal ganti kerugian ini harus dipastikan dengan pembuktian. 190 BW) . Di dalam praktek sering terjadi bahwa jumlah uang ganti kerugian yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan itu simpang siur. karena fungsinya adalah untuk meneguhkan (comfirm) suatu peristiwa. misalnya apabila hanya ada seorang saksi saja. (Sudikno : 1998 : 158) HIR menyebutkan 3 macam sumpah sebagai alat bukti yaitu : 1. yang disebut sumpah assertoir atau compirmatoir. Sumpah pemutus (decicoir) 3. Sumpah prommisioner adalah sumpah saksi dan sumpah saksi ahli. (Pasal 156. Sumpah dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Sumpah decisoir dapat diperintahkan atau dibebankan meskipun tidak ada pembuktian sama sekali sehingga pembebanan sumpah decesoir ini dapat dilakukan pada setiap saat selama pemeriksaan di persidangan.

Apabila dalam satu perkara terdapat barang tetap yang dipersengketakan tentu tidak mungkin membawa barang tersebut ke muka persidangan oleh karena itu hukum mengatur dibolehkannya pemeriksaan setempat (Pasal 153 HIR/ Pasal 180 RBg dan Pasal 211 RV) Yang dimaksud dengan pemeriksaan setempat adalah pemeriksaan mengenai perkara oleh Hakim karena jabatannya yang dilakukan di luar gedung atau tempat kedudukan pengadilan. Akta Perdamaian. duduk perkara dan pertimbangan hkum tetapi tidak terpisah dari berita acara persidangan dan ditandatangani oleh Majelis Hakim serta Panitera sidang. 2.Inisiatif untuk membebani sumpah decisoir ini datang dari salah satu pihak. Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontensius) Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (volunteer) Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/ kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa dan berlaku sebagai putusan. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR) . 2. Putusan sela ini dibuat seperti putusan biasa lengkap dengan identitas pihak-pihak. Putusan adalah produk Hakim dari hasil pemeriksaan dan penyelesaian perkara di persidangan. Putusan Gugur Putusan gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena halangan yang sah. putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. Pemeriksaan setempat (descente) Ketentuan pasal 164 HIR (Pasal 284 RBg. agar Hakim dengan melihat sendiri memperoleh gambaran atau keterangan yang memberi kepastian tentang peristiwa yang menjadi sengketa XXI. Dilihat dari hadir tidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu : 1. 3. Putusan. Macam dan Jenis Putusan Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu : 1. Penetapan. Putusan Akhir Putusan akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum melalui semua tahapan pemeriksaan. P u t u s a n. Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu : 1. 1866 BW sepertinya bersifat limitative akan tetapi selain 5 (lima) macam alat bukti tersebut masih ada alat bukti yang dapat dipergunakan untuk memperoleh kepastian mengenai kebenaran suatu peristiwa yang menjadi sengketa yaitu descente atau pemeriksaan setempat. Putusan sela Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya pemeriksaan.

Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum d. Putusan Konstitutif Putusan konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru.2. 3. Dilihat dari segi Sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu : 1. Identitas Para Pihak c. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan (isbat nikah) 3. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan ta’lik talak. Identitas dan kedudukan pihak-pihak berperkara. 2. Dilihat dari Isinya terhadap gugatan putusan terbagi kepada 3 macam yaitu : 2. Misalnya Menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat. Judul dan Nomor Putusan (Nomor Putusan sama dengan Nomor perkara) 2. Khusus putusan/penetapan Pengadilan Agama diawali dengan kalimat : BISMILLAHIRRAHMANIR RAHIEM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 3. Amar atau dictum putusan Secara detail suatu putusan harus memuat hal-hal berikut : 1. Susunan dan Isi Putusan Putusan Hakim harus dibuat dengan tertulis dan harus ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. Putusan Verstek Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi mengenai kewenangan. 4. Suatu putusan hakim terdiri dari : a. (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR) 3. Putusan Diklatoir Putusan diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu yang resmi menurut hukum.(termasuk nama kuasa hukum apabila ada) . 4. Nama dan tingkat pengadilan yang memutus. Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima gugatan. berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian. Putusan Kondemnatoir Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. Kepala Putusan b. Putusan Kontradiktoir Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat dan tergugat pernah hadir. Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh isi gugatan.

Pasal 129 ayat (1) HIR 2. Upaya Hukum Apabila pihak-pihak berperkara (Penggugat dan Tergugat) tidak dapat menerima putusan pengadilan. bukti-bukti dan saksi serta kesimpulan para pihak.) Adapun tatacara eksekusi ialah : 1. (Pasal 225 HIR/259 RBg) 3. Tanggal putusan yaitu memuat hari dan tanggal pengucapan putusan dalam sidang yang dinyatakan dalam akhir putusan. Adanya permohonan eksekusi dari pihak yang bersangkutan. 7. Pelaksanaan Putusan Pelaksanaan putusan atau yang lebih dikenal dengan eksekusi ialah tindakan yang dilakukan secara paksa terhadap pihak yang kalah dalam perkara apabila pihak yang dikalahkan tidak menjalankan putusan secara sukarela sedang putusan tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dan yang bersangkutan telah ditegur atau dianmaning untuk melaksanakan secara sukarela. Putusan yang dapat dieksekusi ialah putusan yang bersifat komdemnatoir yaitu : 1. 5. dalam amar putusan memuat juga pembebanan biaya perkara. surat perintah ini dikekluarkan setelah Tergugat tidak mau menghadiri panggilan peringatan (anmaning) tanpa alasan yang sah dan Tergugat tidak mau melaksanakan amar putusan selama masa peringatan. Mengajukan verzet yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan verstek. yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan secara kontradiktur. 6. replik. Amar putusan yaitu merupakan kesimpulan akhir oleh hakim atas perkara yang diperiksanya. jawaban tergugat. Sita eksekusi dilakukan di tempat obyek sengketa. pasal 125 ayat (1) HIR Dasar Hukum Verzet : Pasal 153 ayat (1) RBg. (Pasal 1033 RV) 4. Tentang hukumnya yaitu memuat bagaimana Hakim mengkwalifisir fakta atau kejadian dan mempertimbangkanya secara baik dan dasar-dasar hukum yang dipergunakan dalam menilai fakta dan memutus perkara. Rincian biaya perkara. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang. maka ia dapat menempuh upaya hukum agar putusan pengadilan tersebut dibatalkan dengan cara sebagai berikut : 1.5. dalil-dalil penggugat. (Pasal 200 ayat (1) HIR/218 RBg. 10. Dasar Hukum Verstek : Pasal 149 ayat (1) RBg. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. Eksekusi atas dasar perintah Ketua Pengadilan Agama. Membuat berita acara sita eksekusi. Mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan yang memutus perkara tersebut. XXII. duplik. Putusan yang menghukum salah satu pihak mengosongkan suatu benda tetap. Eksekusi riil dalam bentuk lelang. Hadir tidaknya para pihak ketika putusan dibacakan. Dilaksanakan oleh Panitera atau Juru Sita dengan dibantu 2 (dua) orang saksi 4. Nama Hakim/Majelis Hakim yang memutus perkara termasuk Panitera/PP. . 8. 2. 3. Tentang duduk perkara yaitu memuat kronlogis duduk perkara mulai dari usaha perdamaian. XXIII. (Pasal 196HIR/208 RBg) 2. 9. 11.

Diajukan masih dalam tenggang waktu banding.3. Pemohon PK harus disumpah atas penemuan novum tersebut. masa bandingnya selama 30 hari terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang bersangkutan. Harus ada bukti baru (novum) 3. (Pasal 7 ayat (1). Putusan Sela tidak dapat diajukan banding kecuali sekaligus diajukan bersama dengan putusan akhir. Mengajukan upaya hukum luar biasa yaitu Permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung RI melalui Pengadilan yang memutus perkara tersebut yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang telah mempunyai hukum tetap. Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan. 4.14 Tahun 1985. 4. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap pejabat kepaniteraan pengadilan. Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara tersebut. 1. 2. Dasar Hukum PK : Pasal 23 UU No. Tidak lebih dari 6 (enam) bulan setelah Novum ditemukan. 2. 5.4 Tahun 2004. Permohonan Peninjauan Kembali atas putusan suatu perkara diperlukan syarat-syarat sebagai berikut : 1. Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke . maka ia dapat mengajukan kasasi tanpa melalui proses banding terlebih dahulu. Membayar panjar biaya banding. Masa Pengajuan banding : 1. Pasal 77 UU No. 2. Syarat-syarat banding. Catatan : Upaya hukum perkara volunteer adalah kasasi dengan perkataan lain apabila pemohon tidak dapat menerima penetapan yang dijatuhkan hakim. Diajukan oleh pihak-pihak dalam perkara. dengan ketentuan sebagai berikut . 4. 1. (2) dan (3) UU No. Mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan yang memutus perkara yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Tingkat Banding (Pengadilan Tinggi) apabila tidak dapat menerima putusan banding. Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang memutus perkara tersebut. Putusan telah mempunyai kekuatan hukum (inkrach) 2.20/1947) Pengajuan Kasasi Pengertian Kasasi ialah pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam penerapan hukum. Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara. Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding. 3.

Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh Mahkamah Agung. 5. 5. Pemohon harus disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan novum tersebut. Syarat-syarat kasasi 1. 2. 6. 7. Panitera Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak memenuhi syarat formal. Syarat-syarat permohonan PK 1.Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu. Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. maka berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung. 3. 2. Masa pengajuan permohonan Peninjauan Kembali adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum atau bukti baru dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung. Pengertian Peninjauan Kembali ialah meninjau kembali putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh Hakim. 6. Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001) Peninjauan Kembali. Diajukan oleh yang berhak. Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya. Membayar panjar biaya peninjauan kembali. 4. Membayar panjar biaya kasasi. Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi. Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding menurut hukum dapat dimintakan kasasi. Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan agama yang bersangkutan Adapun tenggang waktu pengajuan kasasi sama dengan pengajuan banding. 3. . Membuat memori kasasi. 4. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang. Diajukan oleh pihak yang berperkara. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan Pengadilan Agama.

disebut tergugat.dan apabila kaidah hukum tersebut di langgar.yaitu dengan membuat ketentuan atau kaidah hukum. II. Pihak-pihak dalam perkara 1. dan seterusnya.Apabila ada banyak penggugat atau banyak tergugat. yang harus di taati oleh setiap anggota masyarakat.tiap-tiap individu atau orang. Perlu ditegaskan. . yaitu kesemuanya kaidah hukum yang menentukan dan mengatur cara bagaimana melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata sebagaiman yang di atur dlam hukum perdata materiil.Dalam kaidah hukum yang ditentukan itu. Pendahuluan Sesuai dengan kodratnya.Dalam hidup bermasyarakat ini mereka saling menjalin hubungan. Sebagai lawana hukum perdata materiil adalah hukum perdata formil. mempunyai kepentingan yang berbeda antara yang satu dan yang lain. dan seterusnya.yang di atur dalam hukum perdata materiil.sehingga kepentingan anggota masyarakat lainnya akan tejaga dan di lindungi.Pihak – pihak dalam perkara I.mereka mencari jalan untuk mengadakan tata tertib. Hukum acara perdata juga disebutkan hukum perdata formil. dimana dapat menimbulkan sengketa. Penggugat. tergugat II. Untuk menghindari gejala tersebut. manusia di ciptakan oleh Tuhan yang Maha Pengasih untuk hidup bersama dengan manusia lainnya (bermasyarakat). Di dalam kehidupan bermasyarakat. yang apabila diteliti jumlah dan sifatnya tidak terhingga banyaknya. Demikian pula apabila ada banyak tergugat maka mereka di sebut tergugat I.agar adpat memepertahankan hidup bermasyarakat. maka mereka disebut penggugat I. tergugat dan turut tergugat Dalam hukum acara perdata. Adakalanya kepentingan mereka itu saling bertentangan.maka kepada yang bersangkutan akan di kenai sanksi atau hukuman. penggugat II. bahwa yang di maksud dengan kepentingan adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata. orang yang merasa bahwa haknya itu di langgar disebut penggugat sedang bagi orang yang ditarik kemuak pengadilan karena di anggap melanggar hak seseorang tau beberapa orang itu. setiap orang di haruskan agar bertingkahlaku sedemikian rupa.

yang bernama Suhaida. halaman 191) Di dalam suatu sengketa perdata. yang pada umumnya tidak menggantungkan adanya perkara dari inisiatif orang yang dirugikan. sebagai penggugat.Menurut Yurisprudensi. termuat dalam Yurisprudensi Indonesia. sengaja dipakai disini. tanpa . akan tetapi menurut hukum.diterbikan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia penerbit 1982-I. gugatan cukup ditujukan kepada yang secara nyata menguasai barang sengketa (lihat putusan Mahkamah Agung tertanggal 1 Agustus 1983 No. Sebagai contoh kongkrit di bawah ini dikemukakan suatau persoalan yang sering di periksa dan diputuskan oleh pengadilan.dan pihak tregugat ( gedaagde. plaintif ) yang mengajukan gugatan. Perkataan “merasa” dan “dirasa” dalam tanda petik. Akan tetapi. sesungguhnya Najib tidak melanggar Suhaida. Ini berbeda dengan sifat hukum acara pidana. Walhasil gugat akan ditolak . oleh karema menurut hukum adat daerah Jawa Barat. “merasa” bahwa Najib melanggar haknya. yaitu ada atau tidak adnya suatu perkara. Suhaida “merasa” haknya dilanggar. Seorang anak angkat almarhum Muhammad Ilham dan almarhumah Siti Aisah. 1072 K/Sip/1982. seorang anak angkat tidak mewarisi warisan yang semula adalah harta asal orang tua angkatnya. adik dari almarhum Muhammad Ilham. harus diambil oleh seseorang atau beberapa orang yang merasa. apabila terjadi suatu tabrakan . karena mereka mempunyai kepentingan langsung di dalam perkara. bahwa penggugat adalah orang yang “:merasa” bahwa haknya dilanggar dan menarik orang yang “dirasa” melanggar haknya itu sebagai tergugat dalam suatu perkara kedepan hakim. yaitu pengguagat atau para penggugat. Dalam hukum acara perdata. oleh karena pamannya itu menguasai sebidang tanah bekas milik ayahnya almarhum Muhammad Ilham. bahwa haknya atau hak mereka dilanggar. baik sebagai penggugat maupun tergugat. oleh karena belum tentu yang bersangkutan sesungguh-sungguhnya melangar hak penggugat. Dan biasanya orang yang langsung berkepentingan sendirilah yang aktif bertindak sebagai pihak di muka pengadilan.sekurang-kurangnya terdapat dua pihak. yang bernama Najib. menggugat pamannya. yaitu oleh karena ada azaz bahwa “asal mulih kaasalna”. Di atas teah dikemukakan.yaitu pihak penggugat ( eiser. Inisiatif . defendant ). maka yang berhak tanah sengketa adlah Najib dan bukan Suhaida. Mereka ini merupakan pihak materiil. Suhaida. Misalnya.

masing dari warisan. diperluakn ada suatu putusan hakim. Perbedaan antara gugatan dan permohonan adalah dalam perkara gugatan ada suatu sengketa atau koflik yang harus diselesaikan dan diputuskan oleh pengadilan.Dalam perkara yang di sebut permohonan tidak ada sengketa. misalnya dalam contoh kasus Suhaida dan Najib tersebut di atas. ada perkaraperkara yang disebut permohonan. yaitu pada delik-delik aduan. 2. Apabila yang di hina ini tidak mengadu. misalnya apabila segenap ahliwaris almarhum secra bersama-sama mengahadap ke pengadilan untuk mendapat suatu suatu penetapan perihal bagian masing.Misalnya apabila ada orang yang dihina.(peggabungan dari subyek). atau seorang penggugat melawan tergugat yang lebih dari seorang atau dua pihak yang masing-masing terdri dari seorang. . maka perkara penghinaan tersebut tidak aka di ajukan kedepan sidang. Di samping perkara gugatan. polisi datang. pemeriksaan dilakukan. terdakwa dihadapkan kemuka sidang. jadi tidak ada suatu pengaduan kepada yang berwajib.Contohnya misalnya apabila seorang kreditur menagihbeberapa orang debitur atau beberapa orang ahliwris menggugat ahliwaris lainnya mengenai harta warisan. Kumulasi subyektif Kumulasi subyektif adalah sebuah perkara dimana terjadi penggugatan yang terdiri lebih dari seseorang melawan tergugat yang hanya seorang saja. pihak yang diwajibkan akan terus bertindak.adanya suatu pengaduanpun. Di sini hakim benar-benar berfungsi sebagai hakim yang mengadili dan memutuskan siapa di antara pihak-pihak tersebut mana yang benar dan siapa yang tidak benar. tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu yang diminta itu. dimana terdapat pihak penggugat dan pihak tergugat. yang di ajukan seorang pemohon atau lebih secara bersama-sama. akan tetapi orang yang “dirasa” melnggar haknya atau hak mereka itu. Untuk menentukan siapa yang benar atau berhak. Pengecualian terhadap azaz ini adalah. maka terlebih dahulu ditinggu adanya pengaduan dari pihak yang bersangkutan. Kumulasi a. Dalam suatu gugatan ada seorang ata lebih yang “merasa” bahwa haknya atau hak mereka teah dilanggar.

Interventie . Sekalipun tidak ada ketentuannya. 1.151 Rbg.Undang – undang tidak melarang penggugat mengajukan gugatan terhadap beberapa orang tergugat (pasal 4.81. 3. tuntutan tentang “bezit” tidak boleh di ajukan bersama-sama dengan tuntutan “eigendom” dalam satu gugatan( pasal 103 Rv).Tangkisan tergugat ini. yaitu bahwa masih ada orang lain yang di sertakan dalam sengketa sbagai pihak yang berkepentingan.Untuk mengajukan kumulasi obyektif pada umunya tidak disyaratkan bahwa tuntutan-tuntutan yang diajukan harus ada hubungan yang erat satu sama lain.18 WvK). Kumulasi Obyektif Kumulasi Obyektif adalah sebuah perkara dimana terjadi penggugat mengajukan lebih adari satu tuntutan dalam satu pekara sekaligus. Didalam praktek pada umumnya kita lihat adanya koneksitas antara tuntutan-tuntutan yang di gabung itu.1283 BW. maka kedua tuntutan itu tidak boleh digabung dalam satu gugatan. bahwa diantara tuntutantuntutan yang di ajukan terhadap pelbagai tergugat harus ada hubungannya yang erat. Terhadap kumulasi subektif ini tergugat dapat mengajukan keberatannya . maka kedua tuntutan itu tidak boleh di ajukan bersama-sama dalam satu gugatan 3. Akan tetapi dalam tiga hal. b. demikian pula apabila hakim tidak wenag (secara relatif) untuk memeriksa salah satu tuntutan yang di ajukan bersama-sama dalam satu gugatan dengan tuntutan lain. harus ada koneksitas. Demikian mempercepat dan mempermudahkan jalannya pemeriksaan maka dapat di pahami larangan-larangan tersebut di atas. 2. disebut exceptio plurium litis consurtium . Baik kumulasi subyektif maupun kumulasi obyektif pada hakekatnya merupakan penggabungan ( kumulasi ) dari pada tuntutan hak. kalau untuk suatu tuntutan (gugatan) tertentu diperlukan suatau acara khusus (gugat cerai) sedangkan tuntutan yang lain harus diperiksa menurut acara biasa (gugatan untuk memenuhi perjanjian).127 HIR. tetapi pada umumnya dapat dikatakan.sebaliknya justru dapat terjadi bahwa tergugat menghendaki kumulasi subyektif. komulasi obtektif itu tidak diperbolehkan.107 Rv.

Bentuk ini di sebut interventie atau campur tangan. Pihak ketiga yang mencapuri sengketa yang sedang berlangsung disebut Intervenient. Ada dua bentuk interventie : menyertai (voeging) dan menegahi (tussenkomst) Dalam hal menyertai (voeging) pihak ketiga mencampuri sengketa yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat dengan sikap memihak pada salah satu pihak. yaitu penggugat dan tergugat. jadi melawan penggugat dan tergugat untuk memperjuangkan kepentinganya sendiri. Memang tujuan dari tussenkomst pada hakekanya tidak lain untuk menyederhanakan prosedur dan mencegahadanya putusan yang saling bertentanggan. biasanya pihak tergugat. Disinipun di syratkan ada kepentingan hukum pada pihak ketiga yang mencampuri sengketa. Interventie diatur dalam pasal 279 – 282 Rv. .. dan dimaksudkan untuk melindungi kepentingan hukumnya sendiri dengan jalan membela salah satu pihak yang bersengketa.Sesungguhnya pihak ketiga dapat mengajukan tuntutan sendiri pada masing-masing pihak tanpa ada campur tangan sengketa yang sedang berlangsung. menyengketakan sesuatu dimuka pengadilan. pihak ketiga atas kehendaknya sendiri mencampuri sengketa yang sedang berlangsung antara pengugat dan tergugat tersebut. Pihak ketiga disini menuntut haknya sendiri terhadap penggugat dan tergugat. yang ada hubungannya tentang pokok sengketa antara pengugat dan tergugat(pasal 279 Rv) Sedangkan intrventie dalam hal menegahi ( tussenkomst) terdapat penggabungan daripada beberapa tuntutan. karena pihak ketiga atau intervenient mengajukan tuntutan juga disamping adanya tuntutan dari penggugat. Akan tetapi dengan acara interventie ini prosedurnya di permudahkan dan dipersingkat.Telah di ketahui ada dua pihak yang telah di jelaskan di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful