P. 1
Sistim Sealing Control Valve

Sistim Sealing Control Valve

|Views: 288|Likes:
Published by Rudy Wijaya

More info:

Published by: Rudy Wijaya on May 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2014

pdf

text

original

Sistim Sealing Control Valve

Studi Kasus Pada Kebocoran (ANSI 150 & 300)
Rudiyanto Wijaya
Email : rudywjy@gmail.com
ABSTRAK
Dalam proses industri peralatan katup pengatur otomatis (Automatic Control Valve) sangat
diperlukan karena tidak semua aliran fluida (cairan atau gas) bisa diatur secara manual. Control valve
merupakan peralatan pengatur aliran yang bekerja secara otomatis dengan sistim penggerak pneumatic,
electric,, hydraulic atau jenis actuator lainnya yang membuka atau menutup sepenuhnya ke set point
tertentu atau yang di kehendaki dengan menerima signal dari controller yang bisa berasal dari PLC
(Programmable Logic Controller) atau DCS (Distributed Control System). Karena peranannya yang
penting, maka dibutuhkan pengetahuan yang benar mengenai Control Valve tersebut.
Kebocoran pada control valve merupakan masalah serius yang harus diatasi, Enviroment
Protection Agency (EPA) di Amerika memberikan rekomendasi kebocoran dibatasi maksimum 500 ppmv.
Kebocoran terjadi dengan pola yang berbeda beda karena perbedaan/perubahan kondisi proses seperti
perubahan aliran, jenis fluida, tekanan, temperature, karakteristik fluida (korosive, mengandung partikel,
viskositas dan sebagainya). Packing control valve memiliki peran penting untuk menunjang kehandalan
Control Valve sehingga diperlukan pemahaman yang baik mengenai desain, jenis dan bahan paking yang
cocok dengan fluida proses.
Analisa lapangan pada Control Valve untuk aplikasi air laut ANSI 150 & 300 di PT. Polychem
Indonesia menunjukan bahwa packing mampu mencegah kebocoran dengan baik jika memenuhi 2 (dua)
parameter yaitu parameter internal (desain dan material paking) dan parameter external (sifat mekanis dari
batang poros/stem Control Valve). Nilai kebocoran sangat tergantung dari besar atau kecilnya celah (gap)
packing. Meskipun kelasnya berbeda (ANSI 150 dan 300) tetapi kedua valve size 2 inch (50.8 mm)
tersebut bisa menggunakan Stem diameter yang sama yaitu 0.387 cm
2
(0.60 Inch
2
), packing friction yang
terjadi juga sama yaitu 6.6 kg (14.6 Lbs), ukuran actuator yang sama yaitu 161.29 cm
2
(25 Inch
2
) dan
memiliki CV yang sama 3.5. Sehingga disimpulkan bahwa nilai kebocorannya akan sama.
ABSTRACT
In the process industry the need of a good control valve is a mandatory, as most of process fluid
could not be handled or controlled manually. Control valve is a device which work automatically with
pneumatic systems, electrical, hydraulic or other type of actuator to open or close completely to specific set
point or the desire to receive the signal from controller which can be derived from PLC (Programmable
Logic Controller) or DCS (Distributed Control System). Control valve has an important role in industrial
process and requires people to understand technology behind the control valve including the knowledge to
do selection of suitable control valve.
Leakage of process fluid on a Control Valve is become an issue that need to be attended and
resolved, according Environment protection Agency (EPA) policy in the USA, leakage should be limited to
maximum 500 ppmv. Leakage value is usually varies due to the different characteristic or changes of
process conditions such as fluid flow, pressure, temperature or characteristic of the fluid (corrosive,
viscosity, particle etc). Packing design in control valve is very important to support the reliability of the
control valve therefore the better knowledge and understanding to do proper packing selection is required.
Field analysis on control valve that used for sea water application ANSI 150 & 300 that conducted
in PT. Polychem Indonesia shows that a good packing can prevent the leakage if comply with 2 (two)
parameters, i.e. internal side (design and material of the packing), external side (mechanical properties of
the stem of the control valve). Leakage value is depend on the gap (clearance) value of the packing, smaller
gap will generate small leakage. Two different valve size 2 inch (50.8 mm), i.e. rating ANSI 150 and 300
can use the same size of stem diameter 0.387 cm
2
(0.60 Inch
2
), packing friction also same 6.6 kg (14.6
Lbs), same actuator size 161.29 cm
2
(25 Inch
2
) and select the same CV 3.5. Therefore with the similar
condition leakage value would also be the same.
1. PENDAHULUAN
Control valve adalah suatu jenis elemen
pengendali akhir atau final control elemen yang
paling umum digunakan untuk memanipulasi
proses laju aliran fluida. Kata control valve dapat
juga di artikan bahwa prinsip kerjanya bisa
secara otomatis maupun manual. Suatu proses
aliran fluida pada control valve bekerja tidak
hanya pada posisi menutup secara penuh (fully
closed) atau membuka secara penuh (fully
opened) tetapi dapat juga di kendalikan melalui
manipulated variable atau input dari suatu proses
yang dapat dimanipulasi atau diubah-ubah untuk
mengatur besaran bukaan valve agar proses
variabel selalu sama dengan set point yang di
kehendaki.
Control Valve terdiri dari tiga bagian utama yaitu
: Body Valve, Actuator, serta Positioner.
Body valve adalah tempat dimana fluida yang
mengalir akan dikondisikan sesuai kebutuhan
perancang baik dari segi flow, temperature,
maupun pressure.
Actuator berfungsi sebagai penggerak dari
komponen body valve setelah merubah signal
pneumatic maupun electric dari positioner
menjadi energy mechanic untuk mengatur
pembukaan valve tersebut.
Positioner berperan sebagai pemberi signal
pengaturan kepada actuator setelah mendapat
data-data kondisi kerja dari sensor-sensor serta
berdasarkan penyetelan awal yang dikondisikan
sesuai kebutuhan penggunanya.
Terminologi Proses Kontrol
Istilah proses kontrol adalah gabungan
disiplin ilmu Statistik dan Teknik yang
berhubungan langsung dengan ilmu Arsitektur,
Engineering dan Algoritma dimana untuk
menjaga atau mengendalikan output/keluaran
dari suatu proses tertentu dalam kisaran yang
dikehendaki.
Kata proses dalam bidang engineering
/rekayasa adalah seperangkat alat yang memiliki
tugas yang saling terkait satu dengan yang lain,
untuk bersama-sama mengubah input menjadi
output agar sesuai yang diinginkan. Sedang kata
kontrol adalah cabang antara ilmu pengetahuan
engineering dan matematika yang berhubungan
dengan peralatan yang bersifat dinamis dan dapat
dimanipulasi atau diubah-ubah besaran
outputnya.
Gabungan kerja alat-alat pengendali
otomatis itulah yang sering dinamakan dengan
sistem pengendalian proses (process control
system). Sedangkan semua peralatan yang
membentuk sistem pengendali disebut
instrument pengendali proses (process control
instrumentation).
Maka dapat disimpulkan bahwa control
valve adalah bagian dari istilah proses kontrol
yaitu suatu perangkat yang telah dilengkapi
beberapa komponen yang menjadi satu kesatuan
unit control valve berupa aktuator, positioner,
regulator udara bertekanan, solenoid dan limit
switch.
2. ALAT PENELITIAN
Alat penelitian yang utama (secara
manual) adalah menggunakan rumus yang sudah
di standarkan oleh ANSI (American National
Standards Institute) / ISA (The Instrumentation,
Systems, and Automation Society)., tentunya
harus ada variable utama yang harus dimasukan
seperti jenis katup control ANSI 150, ANSI 300,
ANSI 600 dan lain sebagainya. Kemudian
menentukan kondisi operasinya, seperti untuk
fluida steam, gas, water dan sebagainya.
3. DASAR TEORI
Di era industri yang maju begitu pesat
saat ini, penggunaan control valve sebagai final
control element dalam suatu proses produksi
telah banyak digunakan sesuai dengan
peruntukannya, semisal control valve tersebut
dititik beratkan untuk di aplikasikan pada flow,
temperature, pressure dan lain sebagainya.
Berikut adalah fungsi dari control valve :
Flow Control
Untuk memudahkan identitas sebuah
control valve yang di aplikasi pada area tertentu,
maka perlu di berikan Tag. No agar lebih mudah
di monitor. Sebuah control valve yang
dititikberatkan untuk mencapai flow tertentu,
maka sering di singkat dengan nama FCV atau
flow control valve.
Pressure Control
Untuk memudahkan identitas sebuah
control valve yang di aplikasi pada area tertentu,
maka perlu di berikan Tag. No agar lebih mudah
di monitor. Sebuah control valve yang
dititikberatkan untuk mencapai pressure tertentu,
maka sering di singkat dengan nama PCV atau
pressure control valve.
Level Control
Untuk memudahkan identitas sebuah
control valve yang di aplikasi pada area tertentu,
maka perlu di berikan Tag. No agar lebih mudah
di monitor. Sebuah control valve yang
dititikberatkan untuk mencapai level sebuah
permukaan, maka control valve pada area
tersebut sering di singkat dengan nama LCV atau
level control valve.
Temperature Control
Untuk memudahkan identitas sebuah
control valve yang di aplikasi pada area tertentu,
maka perlu di berikan Tag. No agar lebih mudah
di monitor. Sebuah control valve yang
dititikberatkan untuk menghandle temperatur
tertentu, maka sering di singkat dengan nama
TCV atau Temperature Control Valve. Biasanya
tipe TCV banyak di aplikasikan pada system line
boiler.
Flow Coefficient (Cv) Prinsipal
Dalam menentukan suatu aplikasi unit
control valve pada proses aliran fluida atau gas
maka perlu menentukan aliran coefficient atau
Cv yaitu gunanya untuk menentukan kapasitas
aliran terhadap kekuatan bodi valve dan ukuran
trim (bagian valve yang bekerja secara dinamis,
seperti plug, stem/as dan seat ring/dudukan
untuk plug). Definisi kenaikan 1 Cv yaitu pada 1
galon per menit (gpm) pada temperature 60
o
F
pada saat fluida mengalir pada valve dengan
beda tekanan/pressure drop 1 psi. Pada
umumnya, untuk mendapatkan Cv yang tepat
dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :
a
f
P
P
G
F
q
Cv
A
=
Dimana :
Cv = Flow coefficient
Q = Aliran dalam gpm
Fp = Piping geometry factor
∆P
a
= Allowable pressure drop melalui
valve, psi
G
f
= Specific gravity
∆P = Pressure Drop dalam psi
Perhitungan Cv Untuk Fluida Cair
Dalam memenentukan ukuran, rating
serta flow coefficient control valves yang akan
dialirkan pada fluida cair atau gas sering disebut
dengan istilah sizing control valves, maka dari
itu diperlukan pemahaman yang memadai
dengan suatu acuan persamaan yang telah di
sepakati oleh pabrikan control valve di seluruh
dunia dengan nama organisasi ANSI/ISA-
75.01.01-2002 (IEC 60534-2-1 Mod) yaitu Flow
Equations for Sizing Control Valves. ISA sendiri
kepanjangan dari The Instrumentation, Systems,
and Automation Society.
Berikut adalah tahapan-tahapan yang harus
diperhatikan dalam men-sizing control valve,
yaitu:
1. Menghitung aktual pressure drop dengan
persamaan :
2 1
P P P ÷ = A
Dimana :
P
1
= Inlet Pressure
P
2
= Out let Pressure
2. Memeriksa aliran tersedak/choked flow,
kavitasi dan flashing dengan persamaan :
) (
1
2
V F L ch
P F P F P ÷ = A
Dimana:
F
F
= Liquid Pressure Recovery Factor
F
F
= Liquid Critical Pressure Ratio
P
v
= Vapor Pressure pada temperature
inlet, psia
P
1
= Inlet Pressure, psia
F
F
dapat di estimasikan dengan
persamaan:
C
V
F
P
P
F 28 . 0 96 . 0 ÷ =
Dimana:
F
F
= Liquid critical pressure ratio
P
v
= vapor pressure dari liquid, psia
P
c
= Critical pressure dari liquid, psia
Jika ∆P
ch
kurang dari actual ∆P,
gunakan ∆P
ch
untuk ∆P
a
dalam
persamaan 1.
4. PERENCANAAN SISTIM SEALING
CONTROL VALVE
Dasar perencanaan dan pemilihan
packing yang baik untuk contol valve harus
memperhatikan regulasi yang berkaitan dengan
perlindungan lingkungan (Environmental
Protection). Amerika (USA) mempelopori dalam
membuat kebijakan mengenai pemilihan material
paking yang ramah lingkungan melalui kebijakan
USA Clean Air Act Amandment and
Environmental Protection Agency (EPA).
Kebijakan ini mengatur tingkat
kebocoran yang diijinkan pada peralatan valve
dan control valve, yang harus diterapkan secara
ketat mengikuti protokol EPA yaitu hanya
mengijinkan batas ambang kebocoran sebesar
500 ppmv, bahkan di beberapa kota lain di dunia
batas ambangnya lebih ketat lagi yaitu sebesar
100 ppmv. Kebijakan tersebut juga membatasi
jumlah kebocoran packing valve sebesar 0.5%
dari total populasi valve di setiap industri. Selain
kebijakan EPA negara Amerika juga menerapkan
program LDAR (Leak Detection And Repair)
yang berlaku untuk pompa dan valve yang
merupakan peralatan penyumbang emisi
terbesar.
Perhatian lebih besar pada valve perlu
dilakukan karena kebocoran fluida (bisa gas atau
cairan) ke atmosfir selalu terjadi dan
disebabkan oleh kerusakan packing atau gasket .
Metode pengukuran kebocoran sesuai dengan
kebijakan LDAR digambarkan sebagai berikut.
Setiap pemakai control valve harus peduli
terhadap performa packing yang memiliki umur
lebih panjang dan perawatan yang mudah. Pada
masa lampau pemilihan packing hanya
berdasarkan pertimbangan temperatur fluida
proses. Hanya ada dua material yang biasa
digunakan yaitu PTFE (Poly Tetra Fluoro
Ethylene) untuk temperatur di bawah 232º
Celsius dan Graphite untuk temperatur di atas
232° C.
Namun seiring dengan perkembangan
teknologi beberapa material baru selain yang
berbasis PTFE dan Graphite digunakan sebagai
packing untuk control valve antara lain, kalrez,
sintetic fiber, polyamide, aramid, fiberglas
inconnel, carbon filament dan sebagainya.
Bahkan untuk aplikasi yang sangat kusus seperti
di industri makanan material packing harus
sesuai dengan standar FDA (Food and Drug
Association).
Pemilihan bahan (material) Packing
Pemilihan packing untuk control valve
dilakukan dengan memperhatikan hal hal penting
seperti :
Suhu/temperature dari fluida proses
Suhu fluida proses merupakan
parameter penting dalam melakukan seleksi jenis
packing yang sesuai, misalnya material PTFE
murni tidak bisa digunakan untuk fluida proses
yang suhunya lebih tinggi dari 232º Celcius, atau
contoh lain seandainya suhu fluida proses
melebihi 232 º Celcius maka material packing
yang digunakan harus jenis Graphite murni.
Karakteristik dari fluida
Hal ini juga menjadi pertimbangan
penting untuk memilih jenis packing yang benar
kondisi seperti apakah fluida mengandung
partikel, memiliki tingkat kekentalan yang
tinggi, bersifat abrasive atau faktor lainnya akan
mempengaruhi umur packing yang digunakan.
Dengan mengetahui karakteristik fluida dengan
maka bisa dipilih material yang sesuai.
Tekanan kerja fluida proses
Terutama untuk tekanan yang sangat
tinggi misalnya di atas 100 bar, harus dipilihkan
material packing yang lebih kaku (stiff) sehingga
tidak mudah mengalami ekstrusi. Material PTFE
murni misalnya, bisa digunakan sampai tekanan
150 bar, untuk tekanan yang lebih tinggi lagi
bisa digunakan material Glass Filled PTFE.
Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di
atas maka material packing yang sesuai dapat
dipilih sebagai packing untuk control valve.
Kekeliruan pemilihan material akan
menyebabkan kerusakan lebih cepat.
Material packing terbuat dari kombinasi material
berbeda yang sifat mekanisnya saling
melengkapi, secara umum material pendukung
packing adalah : Serat (fibers), pelumas cair
(lubricant), pelumas kering (dry lubricant),
pengikat (binders), penguat (strengteners),
penghambat( inhibitor), logam (metals) dan
elastomer.
Packing modern umumnya menggunakan
material dasar yang terbuat dari Syntetic Blends,
PTFE Blends, Graphite Blends dan Polyamide
blends. Namun biasanya setiap pabrik packing
memiliki formulasi sendiri menambahkan
material tertentu untuk memperbaiki sifat
mekanisnya.
Panduan seleksi packing untuk sliding - stem
valve
Secara umum pemilihan seleksi packing
harus memperhatikan faktor faktor seperti
kondisi fluida (cairan atau gas), batasan suhu
(temperature), batasan tekanan (pressure),
ukuran batang poros, kondisi peralatan, cara
pergerakan (motion).
Seleksi packing untuk control valve
harus mempertimbangkan beberapa hal penting
seperti :
Kemampuan pengesilan (Sealing Capability),
Pada hakekatnya hal ini berhubungan
dengan karakteristik dari cincin sil (sealing ring)
itu sendiri dan tergantung desain serta
konstruksi komponen logam dari packing secara
keseluruhan.
Faktor yang mempengaruhi kemampuan
pengesilan antara lain :
Kelurusan (alignment) batang poros (stem)
dengan packing set, kelurusan harus dicapai
untuk mencegah gesekan yang berlebihan di
bagian tertentu dari packin set sehingga
mempercepat rusaknya packing tersebut.
Celah/jarak ruang (clearance) antara batang
poros dengan packing, jika celahnya sangat
sempit maka batang poros mudah tergores dan
menyebabkan kebocoran, untuk kondisi seperti
ini harus dipilihkan packing yang non metalik.
Kondisi akhir (surface finish) dari permukaan
batang poros, ruangan packing,
penuntun/penekan (follower), cincin lantern,
penjarak (spacer) harus sehalus mungkin,
maksimum kehalusan (roughness) Ra = 0.4µm.
Jumlah cincin packing akan mempengaruhi
kemampuan pengesilan, seandainya jumlah
cincin packing berkurang maka harus diimbangi
dengan menambah kompresi namun hal ini bisa
menyebabkan kerusakan pada cincin packing
karena mengalami ekstrusi. Sebaliknya
seandainya jumlah cincin packing berlebihan
akan menyebabkan fungsi pengesilan cincin
yang paling bawah menjadi tidak sempurna.
Penambahan jumlah cincin packing hanya akan
menambah beban gesekan pada batang poros
tanpa meningkatkan kemampuan pengesilan.
Packing yang ideal harus memperhatikan jumlah
cincin packing yang sesuai untuk mendapatkan
pengesilan maksimum dengan mengurangi beban
gesekan pada stem. Biasanya jumlah cincin
packing yang ideal dalam suatu aplikasi
diperoleh dari beberapa kali test/ pengujian dan
pengalaman untuk mencapai keseimbangan
antara faktor pengesilan (sealing properties) dan
gesekan.
Gaya gesekan yang rendah (low friction)
Kompresi packing tidak boleh melebihi
nilai yang sudah ditentukan. Kompresi pada
packing hanya boleh disebabkan oleh naiknya
tekanan cairan bukan karena faktor lainnya. Pada
beberapa rancangan tertentu digunakan pegas
PTFE V-Ring untuk mencegah kompresi yang
terlalu kuat. Besarnya gesekan pada batang poros
(stem) mempengaruhi kinerja control valve, jika
terlalu besar akan menyebabkan bukaan control
valve menjadi terganggu (tidak lancar). Untuk
menggaransi pergerakan bukaan control valve
agar senantiasa konstan bisa ditambahkan valve
positioner, positioner berfungsi menyelaraskan
input sinyal terhadap posisi penutup katup (valve
plug). Dari beberapa riset yang dilakukan untuk
menemukan material yang memiliki gesekan
paling baik/rendah telah disimpulkan bahwa
material dengan basis PTFE (Poly Tetra Fluoro
Ethylene) dan Graphite murni merupakan jenis
yang terbaik.
Faktor yang membantu untuk mengurangi
gesekan pada packing antara lain :
Jenis material yang digunakan, misalkan
material PTFE memiliki koesfisien gesek yang
paling baik yaitu sekitar 0.03, sementara material
Graphite murni koefisien geseknya sekitar 0.07,
namun Graphite memiliki ketahan terhadap
temperature lebih tinggi dari PTFE.
Bentuk konstruksi dari cincin sil, semakin
fleksibel cincin sil tersebut (PTFE memiliki sifat
ini) menyebabkan gesekan yang rendah dan
memberikan efek pngesilan yang baik kususnya
pada tekanan operasi yang rendah. Cincin sil
yang terbuat dari Graphite murni mengandung
partikel padat yang dibentuk seperti cincin
dengan cara die-formed atau dibentuk dengan
cara menggulung pita graphite sesuai diameter
stem.
Pelumasan (lubrication), material yang terbuat
dari PTFE dan Graphite pada umumnya tidak
memerlukan pelumasan.
Jumlah cincin sil, semakin banyak jumlah
cincin sil menyebabkan semakin tingginya
gesekan, hal ini bisa terjadi seandainya terjadi
kesalahan dalam menentukan tekanan kompresi.
Menentukan ukuran cincin packing (Packing
Ring) :
- Ukur diameter rumah packing (Stuffing box
Bore), ‘A’
- Ukur diameter batang poros/stem, ‘B’
- Kurangkan ukuran ‘A’ – ‘B’
- Hasilnya dibagi 2 , (A-B)/2 = cross
section/ukuran packing
Menentukan jumlah cincin packing (Packing
Ring) :
- Ukur kedalaman rumah packing (Stuffing
Box Depth), ‘C’
- Bagi hasil pengukuran ‘C’ dengan cross
section/ukuran packing (C/cross section).
- Jika nilai kuantitas memiliki kelebihan ¼”.
Bisaditambahkan 1 buah cincin.
Menentukan posisi Gland :
- Ukur ketinggian gland, ’D’
- Setelah packing dipasang, kencangkan baut
gland sampai jarak ’D’ mencapai 1/8” atau
3/16”
- Jarak D sebelum baut dikencangkan
seharusnya sama dengan ukuran cross
section 1 buah cincin packing.
Tingkat kehalusan (surface finish) permukaan
batang poros (stem)
Semakin halus permukaan batang poros
maka gesekan yang terjadi juga akan semakin
kecil. Untuk jenis batang poros yang tidak terlalu
halus maka diperlukan jenis packing yang
fleksible dengan kompresi yang tidak terlalu kuat
untuk mengurangi gesekan. Secara umum
kondisi rumah packing yang baik harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- Shaft finish : 16 – 20 microinches
- Bore finish : 50 – 75 microinches
- Throat/Shaft Clearance : .005” - .015”
- Gland/ Shaft Clearance : .010” - .030”
- Gland/ Bore Clearance : .010” -
.030”
- Metallic Packing, Brinell hardness 500
(Rockwell C 55-60)
Umur pakai yang panjang (life time)
Usia pakai packing tergantung dari
tingkat kecepatan rusak cincin sil dan batang
poros (stem). Penyebab yang paling sering
adalah kerusakan yang terjadi pada batang poros
akibat tingkat kehalusan permukaan yang kurang
baik dan diperburuk dengan tingginya
pergerakan batang poros. Adanya partikel pada
fluida proses serta komprsi yang berlebihan pada
komponen pendorong packing juga mempercepat
umur pakai cincin sil. Batang poros juga bisa
mudah rusak/tergores karena terjadi kontak
dengan komponen metal packing akibat
misalignment atau berkurangnya celah
(clearance) akibat perbedaan peregangan
temperatur (thermal expansion). Untuk
mencegah kerusakan batang poros dengan cepat
maka perlu dilakukan pengerasan kulit (hard
surfacing) batang poros mengunakan lapisan
chromium.
Penggunaan yang meluas (wide range of use)
Pada prinsipnya packing yang
digunakan untuk valve dan control valve adalah
sama dengan jenis packing yang biasa digunakan
di pompa sentrifugal. Yang membedakan adalah
pergerakan poros di pompa dan batang poros
(stem) pada valve/control valve. Pada pompa
poros berputar dengan kecepatang tinggi
sementara pada valve batang poros bergerak
relative lambat, terjadi gesekan yang rendah pada
packing valve sehingga tidak diperlukan
pendinginan dan pelumasan ekstra. Packing yang
baik adalah packing yang bisa digunakan secara
meluas dari mulai aplikasi yang ringan sampai
aplikasi berat. Kriteria packing untuk aplikasi
yang meluas adalah :
- Packing merupakan material yang memiliki
sifat seperti plastik (tidak terlalu kaku dan
tidak terlalu fleksibel), tidak mudah berubah
bentu pada saat dipasang di ruang antara
batang poros dan rongga/rumah packing.
- Memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk
tidak mudah larut, membengkak, atau
melemah ketika kontak dengan fluida
proses.
- Cukup fleksible untuk menyerap pergerakan
batang poros/stem yang tidak diinginkan
(misalignment).
- Jika dilakukan penambahan kompresi tidak
menyebabkan penambahan panas dan
gesekan pada batang poros.
- Tidak menimbulkan efek pengikisan (abrasi)
atau menggerus batang poros.
- Volume material tidak mudah berkurang
sehingga tidak perlu sering dilakukan
penyesuaian kompresi.
Desain dan konstruksi packing Control Valve
Packing yang digunakan untuk
pengesilan bekerja dengan cara mencekik
(throttling) kebocoran yg terjadi di antara bagian
komponen yang diam (stationary part) dan
bagian yang bergerak (motion part). Di beberapa
kasus nilai pergerakannya tidak bisa kita prediksi
karena banyak parameter pengukuran yang
terlibat, antara lain kecepatan pergerakan
(speed), suhu (temperaure), tekanan (pressure),
sifat kimia cairan/gas (chemical action),
pergerakan poros (run-out), ketidak selarasan
batang poros (mis-alignment), dan sebagainya.
Konstruksi pemasangan dan desain
packing pada Control Valve dapat membantu
mengatasi permasalahan (kebocoran) yang
timbul, desain packing yang tersedia ada 3 (tiga)
yaitu :
Packing Kompresi Biasa (Compresion
Packing)
Untuk melakukan pengesilan secara
baik, cincin packing kompresi dipasang
berdesakan (mepet) satu dengan lainnya mulai
dari throat housing sampai dengan gland
follower (penekan). Pada kondisi seperti ini
cincin packing akan mengesil di bagian diameter
luar (O.D) yang bersentuhan dengan stufing box
bore dan di bagian diameter dalam (I.D) yang
bersentuhan dengan batang poros. Nilai
penekanan (kompresi) pada Gland Follower
harus disesuaikan/dikencangkan secara manual
terus menerus dan seimbang untuk kompensasi
kerusakan batang poros dan membatasi
kebocoran.
5. METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini penulis meneliti t
entang pengaruh konstruksi control valve dan
bahan packing terhadap besaran kebocoran fluida
proses. Nilai kebocoran bisa dipekirakan
menggunakan beberapa persamaan matematis
yang dijabarkan di dalam bab ini.
Pengamatan lapangan dilakukan pada 2
(dua) buah control valve berbeda yang terpasang
di PT. Polychem Indonesia – Merak, yaitu
control valve ukuran 2 inch ANSI 150 dan Ansi
300 untuk aplikasi air laut.
Diagram Alur Penelitian
Alat Penelitian
Alat penelitaian yang utama (secara
manual) adalah menggunakan rumus yang sudah
di standarkan oleh ANSI (American National
Standards Institute) / ISA (The Instrumentation,
Systems, and Automation Society). Adapun alat
penunjang dalam penelitian ini adalah
menggunakan software FLOWSERVE .
Software ini merupkan buatan perusahaan
Amerika Serikat yang khusus membuat katup
control dengan merk utamanya Valtek. Dengan
software ini kita bisa menentukan ukuran Cv dan
material dari suatu katup control, tentunya harus
ada variable utama yang harus dimasukan seperti
jenis katup control ANSI 150, ANSI 300, ANSI
600 dan lain sebagainya. Kemudian menentukan
kondisi operasinya, seperti untuk fluida steam,
gas, water dan sebagainya.
Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Melakukan pengumpulan data dari
berbagai sumber yang berkaitan
langsung dengan tema yang diambil.
b. Melakukan pengolahan data sehingga
didapat hasil untuk bahan analisa.
c. Melakukan analisa data baik secara
hitungan manual maupun dengan
menggunakan software.
d. Menyimpulkan dari hasil analisa yang
sudah dilakukan.
Rancangan Format Data
Adapun rancangan data yang dipakai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data pabrikan katup control buatan
Yamatake
2. Data Spesifikasi Katup Kontrol PT. Gajah
Tunggal tbk.
- Spesifikasi Katup kontrol
- Kondisi fluida
- Gambar produk dan dimensi flensa
- Data inspeksi material
3. Data Spesifikasi Katup Kontrol PT.
Polychem Indonesia tbk - Merak
- Spesifikasi Katup kontrol
- Kondisi fluida
- Gambar produk dan dimensi flensa
- Data inspeksi material
4. Pengolahan data secara manual
5. Pengolahan data mengunakan software
Flowserve
6. Data hasil
7. Kesimpulan
6. PENGOLAHAN DATA
Kebocoran Packing
Kesuksesan pengesilan sebuah packing
pada control valve dinilai dari kemampuan
packing mencegah kebocoran fluida cairan atau
gas. Sebenarnya kebocoran selalu terjadi
meskipun tidak telihat mata karena kebocoran
emisi tidak bisakita cegah namun hanya bisa kita
kurangi besarannya. Definisi kebocoran disini
adalah fluida (cairan atau gas) yang keluar dari
peralatan dalm jumlah di atas ambang batas,
untuk cairan definisi bocoran adalah emisi yang
secara kasat mata terlihat (visible).
Persamaan berikut ini adalah
berhubungan dengan celah (gap), kebocoran
Non Choked
ANSI /ISA–75.01.01–2002
Manual
Masoneilan
Dresser
Software Flowserve
Cv
Material
Cv
Analisa
STOP
END
Uap ai r (Steam)
Ai r
CO
2
Choked
Non Choked
Choked Non Choked
START
(leakage) erat sekali hubugannya dengan adanya
celah (gap/clearance), besaran kebocoran
proporsional terhadap kekuatan dari celah
tersebut yang secara matematis dijabarkan
sebagai berikut :
Untuk muka muka (faces) paralel dengan sudut
kecepatan 0
3
Gap Leakage  ÷
Untuk muka muka (faces) dengan kecepatan
sudut tertentu
2
Gap Leakage  ÷
Jika celah bertambah menjadi 10 X maka
besaran bocoran akan bertambah 100 X, namun
demikian besaran efektif celah (gap) dapat juga
ditentukan oleh kualitas permukaan (surface
finish).
2 1
SF SF Gap + =
SF
1
= Surface Finish on Part 1, µ inches
SF
2
= Surface Finish on Part 2, µ inches
Persamaan ini hanya berlaku untuk jenis
fluida yang ‘incompressible’ seperti cairan, tidak
berlaku untuk fluida gas. Gaya yang bekerja
dalam kaitannya dengan kebocoran adalah gaya
buka (opening force) dan gaya tutup (closing
force). Untuk mencegah terjadinya kebocoran
yang diinginkan adalah gaya tutu (closing force)
lebih besar dari gaya buka (opening force),
namun gaya tutup tersebut tidak boleh melebihi
nilai toleransi yang ditetapkan, seandainya
nilainya terlalu besar maka tidak akan tercipta
lapisan fluida (fluid film) yang berfungsi sebagai
pendingin (cooling) dan pelumas (lubricating).
Kalau hal ini terjadi maka gesekan akan
menyebabkan kerusakan pada batang poros
(stem).
Besaran nilai kebocoran dengan asumsi aliran
laminar (laminar flow) bisa dijabarkan dengan
persamaan sebagai berikut :
26 , 0
6
3
x
L
Ph R
Q
m

 A
=
(gpm)
Q = Flow thru the bushing, gpm
h = nominal clearance gap, inches
R
m
= Mean Radius of the bushing, inches
∆P = Pressure differential across the bushing,
psig
µ = Absolute viscosity, reyns
Reynold Number, N
re
= Dimensionless


g
hV
N
re
2
=
A
Q
V =
AV Q =
V = Average Velocity, inc/sec (multiply V in
gpm/inch
2
by 3.85 to get V in inc/sec)
A = Annulus area between the bushing and the
shaft, in
2
h R A
m
 2 = In
2
ρ = Mass Density, Lbs/In
3
g = gravitional acceleration constant equal 386
In/Sec
2
fL
Pg h
V

A
=
4
Inc/Sec
Frictional Factor
21 . 0
316 . 0
re
N
f =
Contoh menghitung kebocoran : diperoleh suatu
keadaan di mana :
- Mean radius of Bushing (Rm) = 1.4 inches
- Length of Bushing (L) = 1 inch
- Differential Press (∆P) = 0.04 psig
- Nominal Clearance gap (h) = 0.015
inches
Maka nilai kebocoran adalah :
26 , 0
6
3
x
L
Ph R
Q
m

 A
=
26 , 0
) 1 ( 10 2 . 5 ( 6
) 015 . 0 )( 04 . 0 )( 4 . 1 (
8
3
x
X
Q
÷
=

Gpm 5 . 0 =
Reynold Number,


g
hV
N
re
2
=
777
) 10 2 . 5 ( 386
) 4 . 14 )( 015 . 0 )( 0361 . 0 ( 2
8
= =
÷
X
N
re
Reynold Number <1500 = Laminar Flow
) 26 , 0 )( ) 1 ( 5 . 1 1 (
) 1 ( 10 2 . 5 ( 6
) 015 . 0 )( 04 . 0 )( 4 . 1 (
2
8
3
max
+ =
÷
x
X
Q

Gpm 25 . 1 =
Maximal Flow in Laminar Region is 1.25 Gpm
Aplikasi lapangan
Pada setiap penggunaan packing
diperlukan penyesuaian (adjustment) beban pada
gland follower yang menekan/kompresi cincin
packing di rumah packing,. Berdasarkan
petunjuk manual dari pabrik pembuat packing,
ada 2 cara untuk penyesuaian/adjustment
compression yang benar yaitu :
- Kompresi berdasarkan persentasi
(percentage compression), biasanya sekitar
25 – 30% kompresi.
- Kompresi berdasarkan torsi
pengencangan baut, kususnya pada
aplikasi yang bertekanan tinggi (di atas 50
barG).
BoIt Torque Equals:
(Bore dia.2 - Stem dia.2) x (Gland bolt dia.) x
(Load Factor)
76.39 x (# of bolts)s
Dimana:
Torsi baut (bolt torque) dalam in ft. lbs.
Bore, stem, dan ukuran baut (bolt diameters)
dalam inches
Faktor beban penekanan (load factor) dalam psi
Selain menggunakan persamaan di atas
penghitungan besaran torsi baut pengencangan
pada Gland follower juga bisa menggunakan
persamaan sebagai berikut :
N
DF
Torque
12

=
 = Coefficient of friction antara mur dan baut
D = Stud Diameter in inch
F = Packing Area X Pressure
Packing Area = ( )
4
2 2

× ÷ ID OD , in inch
2
N = Jumlah baut
12 = Konversi dari inch ke feets
Gesekan Packing (packing friction)
Menghitung besarnya gesekan packing pada
batang poros (stem) bisa menggunakan
persamaan sebagai berikut :
( ) L d g Y f F × × × × × =  
- F = Packing Stem Friction Load
- f = Coefficien of friction antara stem dan
packing
- Y = Ratio of Radial to Axial Stress in
Packing
- g  = Average Contact Stress between
Packing and Gland Follower
-  = 3.14 constant
- d = Stem Diameter
- L = Panjang packing/ ketinggian (height)
dari 5 Ring Set dalam kondidi tidak
terkompress (uncompressed)
Hasil penelitian menemukan bahwa besaran
kebocoran fluida proses pada packing control
valve ANSI 150 dan ANSI 300 adalah relative
sama besar karena kedua control valve tersebut
menggunakan jenis packing yang sama dan
terpasang pada batang poros (stem) dengan
ukuran yang sama.
Description ANSI 150 ANSI 300
Valve Model 2.00/
CL150
Cast
3.00/
CL300
Cast
Body/Bonnet
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Plug/Stem/Seat
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Packing Mat’l PTFE V-
Ring/Single
PTFE V-
Ring/Single
Stem Diameter 0.88 inchs 0.88 inchs
Inlet Press 0.2 MPaG 2.5 MPaG
Oulet Press 0.04 MPaG 2.2 MPaG
Liquid Flow Rate 150 Kg/hr 300 Kg/Hr
Pressure Drop 1.632
Kg/Cm
2
3.059
Kg/Cm
2
Packing Friction 48.6 Lbs 48.6 Lbs
7. ANALISA HASIL
Analisa contol valve ANSI 150 dan ANSI 300
untuk aplikasi air laut (sea water)
Pengamatan dilakukan dengan
membandingkan pengoperasian control valve
pada 2 (dua) jenis pressure rating yang berbeda
yaitu class 150 dengan class 300 di perusahaan
PT. Polychem Indonesia – Cilegon. Kondisi
operasi dan ukuran kedua valve tersebut adalah
sama yaitu untuk aplikasi air laut menggunakan
valve ukuran 2 inchi.
Description ANSI 150 ANSI 300
Tag. No FVC-1201 FVC-1202
Process Fluid Sea Water Sea Water
Design
Press/Temp
14.7 PsiA/
70ºF
14.7 PsiA/
70ºF
Pipe Size 2 inchs, Sch
40
2 inchs, Sch
40
Viscosity 0.9 cP 0.9 Cp
Specific
Grafity
0.985 0.985
Vapour Press -1.034
(kg/Cm
2
G)
-1.034
(kg/Cm
2
G)
Hasil seleksi berdasarkan kondisi operasi yang
diinginkan maka diperoleh design valve dengan
konstruksi sebagai berikut :
Description ANSI 150 ANSI 300
Valve Model 2.00/
CL150
Cast
3.00/
CL300
Cast
Body/Bonnet
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Plug/Stem/Seat
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Packing Mat’l PTFE V-
Ring/Single
PTFE V-
Ring/Single
Stem Diameter 0.88 inchs 0.88 inchs
Inlet Press 0.2 MPaG 2.5 MPaG
Oulet Press 0.04 MPaG 2.2 MPaG
Liquid Flow Rate 150 Kg/hr 300 Kg/Hr
Pressure Drop 1.632
Kg/Cm
2
3.059
Kg/Cm
2
Packing Friction 48.6 Lbs 48.6 Lbs
Diperoleh hasil bahwa untuk aplikasi air
laut direkomendasikan menggunakan valve
dengan material Monel 400 yang lebih tahan
terhadap korosi. Sebenarnya penggunaan
material 316SS masih diijinkan namun
diperlukan perawatan yang lebih sering
mengingat sifat mekanis material 316SS yang
kurang tahan untuk cairan yang mengandung
garam (Na Cl) sehingga untuk pemakaian jangka
panjang tidak sesuai. Material carbon steel sama
sekali tidak direkomendasikan untuk aplikasi air
laut.
Bahan packing yang paling cocok untuk aplikasi
air laut adalah adalah bahan jenis PTFE (Poly
Tetra Fluoro Ethylene). Material ini selain
memiliki ketahanan yang sangat baik untuk air
laut (dan juga jenis cairan kimia lainnya) juga
memiliki koeefisien friksi yang sangat baik.
Konstruksi packing bisa dibentuk V-Ring atau
seperti gland packing standard (square ring).
8. KESIMPULAN
Keberadaan suatu proses industri tidak
bisa terlepas dari penggunaan control valve
maupun manual valve. Selain dituntut agar
befungsi dan beroperasi dengan baik peralatan
ini juga harus memenuhi standar dunia yang
mensyaratkan agar kebocoran/emisi dari suatu
control valve di bawah 500 ppmv bahkan
beberapa negara mensyaratkan standard
kebocoran sebesar 100 ppmv.
Agar memenuhi persyaratan tersebut
diperlukan packing yang mampu melakukan
pengesilan dengan baik dan maksimal. Untuk itu
pemilihan bahan/material, dan konstruksi/desain
packing harus dilakukan dengan teliti dan benar.
Ketepatan dalam melakukan pengencangan baut
dan menentukan torsi yang tepat juga sangat
berpengaruh pada umur pakai packing dan
keausan batang poros (stem) valve.
Besaran kebocoran suatu packing pada
control valve tergantung dari beberapa parameter
antara lain besaran temperature, tekanan, jenis
fluida, kondisi permukaan steam (surface finish),
jenis material packing, besaran gesekan,
coefficient of friction. Kesimpulan yang
diperoleh dari hasil penelitian adalah besaran
kebocoran tergantung dari parameter sebagai
berikut :
- Tekanan fluida proses
- Temperature fluida proses
- Torsi pengencangan baut
- Ukuran diameter batang poros (stem)
- Karakteristik fluida proses (mengandung
partikel, viscositas, specific gravity dan
sebagainya)
Pemahaman yang baik dari seorang
insinyur mengenai aspek yang terkait dengan
packing akan sangat membantu dalam memenuhi
memilih packing untuk sebuah control valve
yang sesuai dengan standard dunia kususnya
dalam hal pembatasan kebocoran/emisi.
Description ANSI 150 ANSI 300
Valve Model 2.00/
CL150
Cast
3.00/
CL300
Cast
Body/Bonnet
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Plug/Stem/Seat
Mat’l
Monel 400 Monel 400
Packing Mat’l PTFE V-
Ring/Single
PTFE V-
Ring/Single
Stem Diameter 0.88 inchs 0.88 inchs
Inlet Press 0.2 MPaG 2.5 MPaG
Oulet Press 0.04 MPaG 2.2 MPaG
Liquid Flow Rate 150 Kg/hr 300 Kg/Hr
Pressure Drop 1.632
Kg/Cm
2
3.059
Kg/Cm
2
Packing Friction 48.6 Lbs 48.6 Lbs
9. SARAN
Sangat dianjurkan bagi pengguna
control valve yang menggunakan packing agar
memperhatikan aturan pemasangan dan standar
yang sudah dibuat oleh pabrikan control valve
tersebut atau dari pembuat packing.
Penyimpangan dari aturan tersebut akan
menyebabkan kerusakan packing yang
sebenarnya tidak perlu terjadi. Dan seandainya
mengalami permasalahan yang berulang
dinjurkan unuk menghubungi pabrikan untuk
mendapatkan masukan.
- Pemilihan design packing dan material harus
disesuaikan dengan kondisi operasi, fluida
proses.
- Sifat mekanis dari stem (batang poros)
control valve, harus diseuaikan dengan
rekomendasi pabrikan.
DAFTAR ACUAN
1. Emerson, Control Valve Hand Book, Control Valve Packing, Halaman 66-72
2. PT. Azbil Berca Indonesia, Control Valve Elementary Course, Halaman 5
3. PT. Azbil Berca Indonesia, Control Valve Elementary Course, Halaman 18
4. Yamatake Corporation 1-12-2 Kawana, Fujisawa, Kanagawa 251-8522, Japan AGVB/AGVM
Top-Guide Single Seat Control Valve
DAFTAR PUSTAKA
1. Chesterton Packing, Decreasing Packing Friction by Utilizing Inovative Construction, 2009
2. Engineering Department of John Crane Inc, Mechanical Seal Hand Book, 2003
3. Fisher Control International, Control Valve Hand Book, 2005
4. Garlock Sealing Technology, Compression Packing Technic Manual, 2000
5. James A Staire, Masoneilan, Control Valve Packing, 2001
6. John G Ciffone, John Crane Mechanical Maintenance Training Center, Packing, 1994
7. Parcol SPA, Packing for Control Valve, 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->