Askep Bronkhitis akut

A. Definisi Bronkitis akut merupakan proses radang akut pada mukosa bronkus berserta cabang – cabangnya yang disertai dengan gejala batuk dengan atau tanpa sputum yang dapat berlangsung sampai 3 minggu. Tidak dijumpai kelainan radiologi pada bronkitis akut. Gejala batuk pada bronkitis akut harus dipastikan tidak berasal dari penyakit saluran pernapasan lainnya. (Gonzales R, Sande M, 2008).

Gambar 1. Bronkitis akut (Sumber: www.usdrugstore.blogspot.com, diakses tanggal 16 Juli 2011; 19.00 WIB) B. Etiologi Bronkitis akut dapat disebabkan oleh : 1. Infeksi virus : influenza virus, parainfluenza virus, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, coronavirus, rhinovirus, dan lain-lain. 2. Infeksi bakteri : Bordatella pertussis, Bordatella parapertussis, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, atau bakteri atipik (Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumonia, Legionella)

2008). Bakteri juga memerankan perannya dalam pada bronkitis akut. 2008). Virus yang biasanya mengakibatkan infeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus. 2006). Adapun beberapa virus yang telah diidentifikasi sebagai penyebab bronkitis akut adalah virus – virus yang banyak terdapat di saluran pernapasan bawah yakni influenza B. keluar sekret encer dari telinga (rhinorrhea) dan faringitis (Gonzales R. karena biasanya ditemukan pula infeksi virus atau terjadi infeksi campuran (Sidney S. influenza A. Clewley J. oleh karena kultur virus dan pemeriksaan serologis jarang dilakukan. peranan infeksi bakteri dalam terjadinya bronkitis akut tanpa komplikasi masih belum pasti. pada anak kecil yang mendiami rumah yang sempit bersama keluarganya dan pada tempat penitipan anak. Sigurdsson J. Penyebab bronkitis akut yang paling sering adalah infeksi virus yakni sebanyak 90% sedangkan infeksi bakteri hanya sekitar < 10% (Jonsson J. 2009). nyeri otot. Gejala yang paling sering akibat infeksi virus influenza diantaranya adalah lemah. . et al. Sande M. Jamur Noninfeksi : polusi udara. Bordatella pertusis. maka gejala batuk serta demam dalam 48 jam pertama merupakan prediktor kuat seseorang terinfeksi virus influenza. Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae. parainfluenza dan respiratory syncytial virus (RSV). Apabila penyakit influenza sudah mengenai hampir seluruh populasi di suatu daerah. rokok. Gejala batuk biasanya lebih berat pada pasien dengan bronkitis akut akibat infeksi RSV (Zambon M. et al. adenovirus dapat juga mengakibatkan bronkitis akut. dan lain-lain. Kristonsson K. bordatella parapertusis. Stockton J. Braman. Infeksi bakteri ini biasanya paling banyak terjadi di lingkungan kampus dan di lingkungan militer.3. Gejala yang dominan timbul akibat infeksi virus ini adalah hidung tersumbat. Patofisiologi Seperti disebutkan sebelumnya penyebab dari bronkitis akut adalah virus. Influenza sendiri merupakan virus yang timbul sekali dalam setahun dan menyebar secara cepat dalam suatu populasi. C. namun organisme pasti penyebab bronkitis akut sampai saat ini belum dapat diketahui. RSV biasanya menyerang orang – orang tua yang terutama mendiami panti jompo. 4. Namun sampai saat ini. batuk dan hidung tersumbat. antara lain.

pneumoniae atau C. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Ketika infeksi timbul. sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Pada pasien dengan bronkhitis akut. menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal).Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paruparu. Kongerud J.Penyebab batuk pada bronkitis akut tanpa komplikasi bisa dari berbagai penyebab dan biasanya bermula akibat cedera pada mukosa bronkus. Pada keadaan normal. Sedangkan pada infeksi akibat bakteri M. akan terjadi pengeluaran mediator inflamasi yang mengakibatkan kelenjar mukus menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. dan mengeluarkan mukus kental. Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napas terutama selama ekspirasi (Gambar 4) . Vorland L. Vorland L. yaitu sistem penjagaan paruparu yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pasien mengalami kekurangan 02. Pada bronkitis akut akibat infeksi virus. paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliary defence.sehingga pasien terlihat sianosis (Melbye H. Pneumoniae biasanya mempunyai nilai reduksi FEV1 yang lebih rendah serta nilai reversibilitas yang rendah pula (Melbye H. di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO. Kongerud J. Infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial meradang.. 2009). iaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. 2009). pasien dapat mengalami reduksi nilai volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1) yang reversibel. Gambar 3: Patogenesis Bronkitis Akut .

Yang diketahui adalah adanya peningkatan aktivitas kelenjar mucus dan terjadinya deskuamasi sel – sel epitel bersilia. Selain itu dapat pula terjadi infeksi sekunder. Manifestasi klinis Gejala utama bronkitis akut adalah batuk-batuk yang dapat berlangsung 2-3 minggu. Selain batuk. Batuk biasanya muncul 3 – 4 hari setelah rhinitis. maka dapat terjadi gejala muntah pada saat batuk keras dan memuncak. Bila tanda – tanda klinis menetap hingga 2 – 3 minggu. putih. suara napas yang berat dan kasar. . maka sputum yang purulen tidak harus menunjukkan adanya superinfeksi bakteri. Bunyi napas mengi atau – ngik Rasa tidak nyaman di dada atau nyeri dada Bronkitis akut akibat virus biasanya mengikuti gejala – gejala infeksi saluran respiratori seperti rhinitis dan faringitis. Seiring perkembangan dan progresivitas batuk. Pada umumnya gejala akan menghilang dalam 10 -14 hari. Dahak dapat berwarna jernih.D. maka proses patologis yang terjadi masih belum diketahui secara jelasa karena kurangnya ketersediaanjaringan untuk pemeriksaan. atau hijau. dapat terdengar berbagai macam ronki. Karena anak – anak biasanya tidak membuang lendir tapi menelannya. Demam. 2. Sesak napas. perlu dicurigai adanya infeksi kronis. keluhan utama dapat berupa produksi sputum dengan batuk serta nyeri dada pada keadaaan yang lebih berat. Karena bronchitis akut biasanya merupakan kondisi yang tidak berat dan dapat membaik sendiri. kemudian seringkali berkembang menjadi batuk lepas yang ringan dan produktif. 3. Akan tetapi karena migrasi leukosit ini merupakan reaksi nonspesifik terhadap kerusakan jalan napas. 4. Batuk pada mulanya keras dan kering. Hasil pemeriksaan radiologist biasanya normal atau didapatkan corakan bronchial. kuning kehijauan. Pemeriksaan auskultasi dada biasanya tidak khas pada stadium awal. Adanya infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding serta lumen saluran respiratori menyebabkan sekresi tampak purulen. Pada anak yang lebih besar. bronkitis akut dapat disertai gejala berikut ini : 1. wheezing ataupun suara kombinasi. Batuk bisa atau tanpa disertai dahak.

. Hingga saat ini. Mycoplasma pneumoniae juga dapat menyebabkan bronchitis akut. jenis organisme yang biasa menginfeksi dan sensitivitas di komunitas tersebut. masukan cairan yang adekuat serta pemberian asetaminofen dalam keadaan demam bila perlu. asma akut. Oleh karena itu sebelum memikirkan bronkitis akut. Sebagai contoh. Antibiotik juga telah dibuktikan tidak mencegah terjadinya infeksi bakteri sekunder. sudah mencukupi untuk beberapa kasus. dapat diberikan bronkodilator ß2 agonist. tatapi diperlukan evaluasi yang seksama terhadap respon bronkus untuk mencegah pemberian bronkodilator yang berlebihan. Braman. dengan karakteristik klinis yang tidak khas. Chlamydia sp pada bayi dapat menyebabkan trakeobronkitis akut dan penumonitis dan terapi pilihan yang dibeikan adalah eritromisin. common cold. bakteri penyebab bronchitis akut yang telah diketahui adalah Staphylococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. infeksi virus influenza menyebabkan deskuamasi luas epitel bersilia di trakea.TAMBAHAN: Sebagian besar terapi bronchitis akut viral bersifat suportif. 2006). percobaan pada tikus. Jumlah bronchitis akut bakterial lebih sedikit daripada bronchitis akut viral. Istirahat yang cukup. Antibiotik sebaiknya hanya digunakan bila dicurigai adanya infeksi bakteri atau telah dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang lainnya. Pada kenyataannya rhinitis dapat sembuh tanpa pengobatan sama sekali. sehingga tidak ada tempatnya diberikan pada bronchitis akut viral. perlu dipikirkan kemungkinan lainnya seperti pneumonia. . eksaserbasi akut bronkitis kronik dan PPOK (Sidney S. Pemberian antibiotik berdasarkan terapi empiris biasanya disesuaikan dengan usia. Gejala bronkitis akut tidaklah spesifik dan menyerupai gejala infeksi saluran pernafasan lainnya. Bila ditemukan wheezing pada pemeriksaan fisik. sehingga bakteri seperi Pseudomonas aeruginosa yang seharusnya dapat tersapu dapat beradhesi di permukaan epitel. Invasi bakteri ke bronkus merupakan infeksi sekunder setelah terjadi kerusakan permukaan mukoasa oleh infeksi virus sebelumnya. dan biasanya terjadi pada anak berusia di atas 5 tahun atau remaja.

E. et al. Sim I. 2006). Pemberian antibiotik Beberapa studi menyebutkan. Pasien dengan usia tua paling sering menerima antibiotik dan sekitar sebagian dari mereka menerima terapi antibiotik dengan spektrum luas (Steinman M. 2009). Masseli J. Sauaia A. bahwa sekitar 65 – 80 % pasien dengan bronkitis akut menerima terapi antibiotik meskipun seperti telah diketahui bahwa pemberian antibiotik sendiri tidak efektif (Linder J. Besser R. Landefeld C. MotturPilson C. Terdapat beberapa penelitian mengenai kegunaan antibiotik terhadap pengurangan lama batuk dan tingkat keparahan batuk pada bronkitis akut. Farmakologi a. Pada pasien bronkitis akut yang mempunyai kebiasaan merokok.Tren pemberian antibiotik spektrum luas juga dapat dijumpai di praktek dokter – dokter pada umumnya (Steinman M. Gonzales R. Namun begitu. dimana sampai saat ini belum ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa pasien bronkitis akut yang merokok dan tidak mempunyai riwayat PPOK lebih perlu diberikan antibiotik dibandingkan dengan pasien dengan bronkitis akut yang tidak merokok. 2009). penggunaan antibiotik diperlukan pada pasien bronkitis akut yang dicurigai atau telah dipastikan diakibatkan oleh infeksi bakteri pertusis atau seiring masa perjalanan penyakit terdapat perubahan warna sputum. 2008). banyak pasien dengan bronkitis akut yang minta diberikan antibiotik dan sebaiknya hal ini ditangani dengan memberikan penjelasan mengenai tidak perlunya penggunaan obat tersebut dan justru pemberian antibiotik yang berlebihan dapat meningkatkan kekebalan kuman (resistensi) terhadap antibiotik (Snow V. 2007). Brrtlett J.et al. Rangkuman penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 (Sidney S. Kesimpulan dari beberapa penelitian itu adalah pemberian antibiotik sebenarnya tidak bermanfaat pada bronkitis akut karena penyakit ini disebabkan oleh virus (GonzalesR. Pengobatan dengan eritromisin (atau dengan trimetroprim/sulfametoksazol bila makrolid tidak dapat . Gonzales R. 2006). Dalam praktek dokter di klinik. Braman. Penatalaksanaan 1. sekitar 90% menerima antibiotik.

Bronkodilator Dalam suatu studi penelitian dari Cochrane. Flynn C. 2008) Namun. Namun. beberapa studi menunjukkan bahwa kedua obat ini juga efektif dalam menurunkan frekuensi batuk per harinya. 2006). Antitusif Penggunaan codein atau dekstrometorphan untuk mengurangi frekuensi batuk dan perburukannya pada pasien bronkitis akut sampai saat ini belum diteliti secara sistematis. Dalam suatu penelitian. Pasien juga dianjurkan untuk dirawat dalam ruang isolasi selama 5 hari (Sidney S. tremor. 2006). c. et al. maka penggunaan pada bronkitis akut diperkirakan memiliki nilai kegunaan. Dikarenakan pada penelitian sebelumnya. Eccles R. Becker L. b. sebanyak 710 orang dewasa dengan infeksi saluran pernapasan atas dan gejala batuk. 2007). penggunaan kedua obat tersebut terbukti efektif untuk mengurangi gejala batuk untuk pasien dengan bronkitis kronik. gelisah dan tangan gemetar (Smucny J. Ringkasan statistik dari penelitian Cochrane tidak menegaskan adanya keuntungan dari penggunaan β-agonists oral maupun dalam mengurangi gejala batuk pada pasien dengan bronkhitis akut (Hueston WJ. penggunaan bronkodilator justru mempunyai nilai kegunaan. Braman. Penggunaan antikolinergik oral untuk meringankan gejala batuk pada bronkitis akut sampai saat ini belum diteliti dan oleh karena itu tidak dianjurkan (Sidney S. menunjukkan hasil yang beragam dan tidak direkomendasikan untuk sering digunakan dalam praktek keseharian (Lee P. pada kelompok subgrup dari penelitian ini yakni pasien bronkhitis akut dengan gejala obstruksi saluran napas dan terdapat wheezing. 2008).Efek samping dari penggunaan βagonists antara lain. secara acak diberikan dosis tunggal 30 mg Dekstromethorpan hydrobromide atau placebo dan gejala batuk kemudian di analisa secara objektif menggunakan rekaman batuk . Suatu penelitian mengenai penggunaan kedua obat tersebut untuk mengurangi gejala batuk pada common cold dan penyakit saluran napas akibat virus. penggunaan bronkodilator tidak direkomendasikan sebagai terapi untuk bronkitis akut tanpa komplikasi. Braman.diberikan) dalam hal ini diperbolehkan. Jawad M.

d. . Dikarenakan pada penelitian ini disebutkan bahwa gejala batuk lebih banyak berasal dari bronkitis akut. Porter – Shaw K. Braman. maka penggunaan antitusif sebagai terapi empiris untuk batuk pada bronkitis akut dapat digunakan (Sidney S. diperlukan istirahat dan asupan makanan yang cukup. Ringkasan penelitian mengenai efek penggunaan antibiotik untuk gejala batuk pada pasien dengan bronkitis akut. Tabel 1. Subburaj S. Braman. Lain – lain Analgesik & antipiretik bila diperlukan dapat diberikan. e. Pada penderita. meskipun terbukti bahwa efek samping obat minimal (Sidney S. 2009). Hasilnya menunjukkan bahwa batuk berkurang dalam periode 4 jam pengamatan (Pavesi L. Agen mukokinetik Penggunaan ekspektoran dan mukolitik belum memilki bukti klinis yang menguntungkan dalam pengobatan batuk pada bronkitis akut di beberapa penelitian. kelembaban udara yang cukup serta masukan cairan ditingkatkan. 2006). 2006).secara berkelanjutan.

Komplikasi a. Nonfarmakologi Suatu studi penelitian menyebutkan bahwa beberapa pasien dengan bronkitis akut sering mendapatkan terapi yang tidak tepat dan gejala batuk yang mereka derita seringkali berasal dari asma akut. Hal lain dalam penatalaksanaan pada penyakit bronkitis akut yaitu a. Braman. atau faring hiperemis. Penyuluhan kepada klien tentang bahaya merokok. 2006). Terapi antibiotik terutama pada musim dingin untuk mengurangi insiden infeksi saluran napas bawah. d. karena setiap infeksi akan semakin meningkat pembentukan mukus dan pembengkakan. gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring. eksaserbasi akut bronkitis kronik atau common cold. Pneumenia. pada auskultasi dada dapat terdengar . 4.2. b. Proses keperawatan 1. b. Dapat ditemukan adanya demam. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya tidak khas. c. Pengelolaan sehari-hari untuk mengurangi obstruksi jalan pernafasan dengan cara pemberian bronkodilator. c. Peningkatan asupan cairan dan ekspekstorran untuk mengencerkan dahak. Istirahat untuk mengurangi kebutuhan oksigen 3. Kegagalan pernafasan. d. Dapat timbul kanker paru. e. Hipertensi paru.Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk. Beberapa penelitian menyebutkan terapi untuk bronkitis akut hanya untuk meringankan gejala klinis saja dan tidak perlu pemberian antibiotik dikarenakan penyakit ini disebabkan oleh virus (Sidney S.

Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis kronis. mukus. Bila lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah 2. 4. wheezing dengan berbagai gradasi (perpanjangan ekspirasi hingga ngik-ngik) dan krepitasi (suara kretek-kretek dengan menggunakan stetoskop). 3. Penggunaan Stetoskop Pada pemeriksaan menggunakan stetoskop (auskultasi). Biasanya para dokter menegakkan diagnosa berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Foto rontgen Adapun pemeriksaan dahak maupun rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d dispnea. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus ditemukan untuk kepentingan terapi. ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian besar penyebabnya adalah virus. Resiko infeksi . Itu sudah cukup. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkitis. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi sekret. b. terdengar ronki. 3. anoreksia. 4. Pola napas tidak efektif b/d bronchokontriksi .ronki. wheezing. penggunaan otot nafas tambahan. Diagnosa Keperawatan 1. Kerusakan pertukaran gas b/d obstruksi jalan napas oleh sekresi. dan mual/muntah. 2. 5. Intoleransi aktifitas b/d insufisiensi oksigenisasi untuk aktifitas dan keletihan. spasme bronchus.

Kaji/pantau frekuensi pernapasan Rasional : takipnea biasanya ada pda beberapa derajat dan dapat ditemukan selama adanya proses infeksi akut. dorong nafas dalam. dispnea dan kerja napas. Auskultasi bunyi napas. Dorong / bantu latihan nafas abdomen atau bibir Rasional : memberikan cara untuk mengatasi dan mengintrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. d. Tinggikan kepala tempat tidur. Rasional : berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit. Rencana tindakan : a. 2. penyakit akut/ kelemahan. Intervensi 1. Rencana Tindakan : a. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari Rasional : hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret mempermudah pengeluaran. kedalaman pernafasan. Kaji frekuansi . b. c. Auskultasi bunyi napas Rasional : bebrapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas. Observasi karakteristik batuk Rasional : batik dapat menetap tapi tidak efektif. Rasional : pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas.5. e. c. b. . Dx 2 Tujuan : menunjuka perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan. Dx 1 Tujuan : mempertahankan jalan napas paten. khususnya pada lansia.

produksi sputum. Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir. Berikan perawatan oral. Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan efektif. bau adalah pencegahan utama yang dapat membuat mual dan muntah. Rasional : Menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan. 3. f. Auskultasi bunyi usus. Aktifitas dorongan untuk menyelingi aktifitas dan periode istirahat. Rencana Tindakan : a. Dx 4 Tujuan : menunjukkan peningkatan berat badan. d. Rasional : penurunan bising usus menunjukkan motilitas gaster. Rasional : membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Rasional : Pa CO2 biasanya meningkat. 4.Rasional : bunyi nafas makin redup karena penurunan alirn udara atau area konsolidasi. Rasional : takikardi. anoreksia karena dispnea. b. Dx 3 Tujuan : Perbaikan dalam pola napas. Awasi tanda vital dan irama jantung. c. b. Rasional : dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia. Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktifitas tanpa distres berlebihan. c. Rasional : pasien distress pernafasan akut. Awasi GDA . Berikaqn O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA. e. dan PO2 menurun sehingga hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil. Rencana Tindakan : a. Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-oto pernafasan jika diharuskan. . Kaji kebiasaan diet. Rasional : rasa tidak enak. disritmia dan perubahan teknan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

dan pernafasan). TD.d. c. Dx 5 Tujuan : klien dapat melakukan aktifitas seperti biasanya setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Rasional : tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk memurunkan kebutuhan metabolik. Konsul ahli gizi. Dorong pengguanaan manajemen stress dan pengalihan yang tepat. meningkatkan istirahat. Rencana Tindakan : a. b. Timbang berqt badan sesuai indikasi. klien memperlihatkan tanda-tanda hipoksia pada peningkatan aktifitas (nadi. Rasional : kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu memberikan nutrisi maksimal. e. dan klien dapat melaporkan gelajagejala intoleransi aktifitas. Rasional : membantu dengan metode pengajaran yang baik untuk kompensasi gangguan pada kemampuan pergerakan. Rasional : sandal tidak menyangga kaki dengan baik. Kriteria hasil : klien dapat memperlihatkan kemajuan khususnya tingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin. d. Evaluasi respon pasien terhdap aktifitas. Rasional : berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. . Kolaboraasi dengan dokter dan ahli terapi fisik untuk program latihan jangka panjang. Rasional : menetapkan kemampuan/ kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. e. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai anjuran. Pembatasan aktifitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktifitas. Anjurkan klien untuk mengenakan sepatu yang nyaman. Jelaskan pentingnya istirahat dlam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktifitas dan istirahat. Catat laporan peningkatan kelelahan/kelemahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktifitas. 5. Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan. menghemat energi untuk pertumbuhan.

Brunner & Suddart. Suriadi. EGC: Jakarta 3. infective factors. Skidmore S. . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Respir Med 1990. changes in pulmonary function and bronchial reactivity to histamine. 2002. Boldy D. Fajar Interpratama: Jakarta 2. Ayeres J. 84:377–385. 2001. dan rita yuliani.PT. Acute bronchitis in the community: clinical features.Daftar Pustaka 1.

dan penurunan kemampuan batuk efektif Peningkatan laju metabolisme umum.PATHWAY Invasi kuman kejalan nafas alergen aktivasi Ig E Fenomena infeksi Pelepasan histamin Iritasi mukosa bronkhus Edema mukosa. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas Kerusakan pertukaran gas Pola nafas tidak efektif Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan. sel goblet memproduksi mukus. kurangnya pemenuhan istirahat dan tidur serta kecemasan. Bakterimia /viremia Peningkatan akumulasi sekret Batuk produktif. intake nutrisi tidak adekuat. tubuh makin kurus. sesak nafas. Intoleransi aktivitas . ketergantungan aktifitas sehari-hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful