KATA PENGANTAR

Assalamualaikum,Wr.Wb. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa penulis ucapkan. Karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Serta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman. Di mana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati indahnya keimanan dan Islam. Dengan penuh rasa syukur kami ucapkan karena dapat menyelesaikan tugas tentang “KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA” yang diberikan kepada kami sebagai tugas dalam pembelajaran mata kuliah Disaster Nursing. Dalam penulisan dan penyusuan katakata pada tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin. Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Padang, 8 Mei 2012

Penulis

1

................2 Rumusan……………………………………………………………………….....1.................3 1...1............................................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN 1.........4 2.............................8 Pusat dan BAB III PENUTUP 3............................1 Daftar Isi...............DAFTAR ISI Kata Pengantar………………………………………………………………………..... Saran ....3 1.......................... Kesimpulan…………………………………………………………………......................................................3 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2...................................2............10 3.......................................10 REFERENSI .................3 Tujuan………………………………………………………………………….............12 2 ................................... Pola Pembentukan Sistem Penanggulangan Bencana Tingkat Daerah................1 Latar Belakang…………………………………………………………………............2.................Kebijakan Pemerintah Indonesia Berkaitan dengan Penanggulangan Bencana............................

kerusakan lingkungan. kerugian harta benda dan dampak psikologis dan di luar kemampuan masyarakat dengan segala sumber dayanya. Penanggulangan bencana tidak hanya bersifat reaktif: baru melakukan setelah terjadi bencana. Hal inilah yang coba diantisipasi.3.2.Rumusan Masalah Dalam makalah ini ada 2 hal yang akan dibahas. Hal ini akan menyebabkan angka kemiskinan di suatu wilayah yang terkena bencana akan meningkat.KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA BAB I PENDAHULUAN 1.antara lain : 1.1. Di dalam makalah ini penulis akan membahas bagaimana pemerintah Indonesia membuat kebijakan terkait penanggulangan bencana. Tetapi penanggulangan bencana juga bisa bersifat antisipatif. Bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia terkait dengan penanggulangan benca.Latar Belakang Bencana adalah peristiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia. 1. Bencana menimbulkan berbagai kerusakan dan kehilangan. Pola pembentukan sistem penanggulangan bencana tingkat pusat dan daerah. 1. melakukan pengkajian dan tindakan pencegahan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana. 2.Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas “Disaster Nursing” mengenai penaggulangan bencana secara umum dan bagaimana kebijakan 3 . sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. Apakah sesuai dengan penanggulangan bencana yang seharusnya atau tidak.

dipandang perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Badan Nasional. Sistem nasional penanggulangan di Indonesia dibuat menuju upaya penanggulangan bencana secara tepat. BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. dan dampak psikologis. c. b. d. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA. dan rekonstruksi secara adil dan setara. melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Presiden setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana. Pengertian bencana menurut International Strategy for Disaster Reduction (ISDR) : Suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat. menurut UU No.1. kerusakan lingkungan. menyampaikan informasi kegiatan penanggulangan bencana kepada masyarakat. rehabilitasi. memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana.m penanganan tanggap darurat.pemerintah Indonesia terkait dengan penanggulangan benca serta Pola pembentukan sistem penanggulangan bencana tingkat pusat dan daerah secara khususnya. sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi . kerugian harta benda.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Penanggulangan Bencana BNPB mempunyai tugas : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. bencana adalah Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundangundangan. ekonomi atau lingkungan dan melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Pada tahun 2008.Kebijakan Pemerintah Indonesia Berkaitan dengan Penanggulangan Bencana Apa itu Bencana. 4 .

8 Th.Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Pasal 19 berisi : (1) Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BNPB. Pasal 4. menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.dan h.Kami menyajikan dalam 4 kategori : a. Pasal 21 5 . 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana 5. DASAR HUKUM penanggulangan bencana di Indonesia (Yultekni. (2) Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dipimpin oleh Deputi. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Secara umum. 38 Th. maka kami akan membahas tentang kebijakan perundangan penanggulangan bencana tahun 2008. 32 Th. Pada tahap kesiapan Paragraf 4. 21 Th. 2007 Tentang Penanggulangan Bencana 3. Pasal 20 Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan mempunyai tugas mengkoordinasikan dan melaksanakan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat. yaitu: 1. Ayat 1 2. Pepres No. PP No.2012). PP No. Pepres No. PP No. UU No.24 Th. 2008 Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. 2008 Tentang BNPB.e. 2008 Tentang BNPB Karena kebijakan terbaru yang dibuat oleh pemerintah adalah perundangan tahun 2008. f. 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan 4. 6. menggunakan dan mempertanggungjawabkan sumbangan/bantuan nasional dan internasional. g. 8 Th. UUD 1945 RI.

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasal 25 (1) Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BNPB. Pasal 24 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. b. pengkoordinasian dan pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat. pelaksanaan hubungan kerja di bidang penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dan penanganan pengungsi. Pada saat tanggap darurat bencana Terdapat pada Pasal 23 Deputi Bidang Penanganan Darurat mempunyai tugas mengkoordinasikan dan melaksanakan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat. evaluasi. pemantauan. (2) Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi dipimpin oleh Deputi. Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan menyelenggarakan fungsi: a.Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. perumusan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dan penanganan pengungsi. e. Deputi Bidang Penanganan Darurat menyelenggarakan fungsi: a. komando pelaksanaan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat. pengkoordinasian dan pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dan penanganan pengungsi. dan analisis pelaporan tentang pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat. c. pelaksanaan hubungan kerja di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat. dan analisis pelaporan tentang pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dan penanganan pengungsi. perumusan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat. d. c. 6 . c. b. b. d. evaluasi. pemantauan.

pelaksanaan hubungan kerja di bidang penanggulangan bencana pada pascabencana. evaluasi. d. dan analisis pelaporan tentang pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada pascabencana. (2) Deputi Bidang Logistik dan Peralatan dipimpin oleh Deputi. analisis. d. perumusan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada pascabencana. Pasal 27 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26. b. Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi menyelenggarakan fungsi: a. perumusan kebijakan di bidang logistik dan peralatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Deputi Bidang Logistik dan Peralatan Pasal 28 (1) Deputi Bidang Logistik dan Peralatan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BNPB. Pasal 29 Deputi Bidang Logistik dan Peralatan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan dukungan logistik dan peralatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.Pasal 26 Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi mempunyai tugas mengkoordinasikan dan melaksanakan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada pascabencana. c. b. Deputi Bidang Logistik dan Peralatan menyelenggarakan fungsi: a. pemantauan. pelaksanaan penyusunan perencanaan di bidang logistik dan peralatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. evaluasi. pelaporan pelaksanaan kebijakan dibidang logistik dan peralatan dalam penyelenggaraan. pengkoordinasian dan pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada pascabencana. Pasal 30 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29. c. pemantauan. 7 .

(3) BNPB mengadakan rapat koordinasi dengan BPBD. Mengenai sistem penanggulangan bencana tingkat daerah juga ditetapkan di dalam Pepres No. Pasal 64 Rincian lebih lanjut mengenai tugas. (2) Pusat dipimpin oleh Kepala Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BNPB.2.2. Tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam Penanggulangan Bencana 8 . (2) Pembentukan BPBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui koordinasi dengan BNPB. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. 2008 Tentang BNPB yang terdapat pada KETENTUAN LAIN-LAIN : Pasal 63 (1) Untuk melaksanakan tugas penanggulangan bencana di daerahbaik Provinsi maupun Kabupaten/ Kota dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang selanjutnya disebut BPBD yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. terdapat pada Pasal 34 (1) Di lingkungan Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana dapat dibentuk 2 (dua) Pusat sebagai unsur penunjang tugas dan fungsi Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana. Pasal 35 Pembentukan Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ditetapkan oleh Kepala BNPB setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. Mengenai sistem penanggulangan bencana tingkat Pusat. dan tata kerja BNPB ditetapkan oleh Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. susunan organisasi. Pola Pembentukan Sistem Penanggulangan Bencana Tingkat Pusat dan Daerah. 8 Th. fungsi.

pedoman dan prosedur penyelenggaraan bencana     penanggulangan bencana BAB III 9 . Saat terjadi bencana .   Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab utama Gubernur memberikan dukungan perkuatan  Tanggungjawab Pemerintah Daerah :       Mengalokasikan dana penanggulangan bencana Memadukan penanggulangan bencana dalam pembangunan daerah Melindungi masyarakat dari ancaman bencana Melaksanakan upaya pengurangan resiko bencana Melaksanakan tanggap darurat Melakukan rehabilitasi-rekonstruksi pasca bencana  Wewenang Pemerintah Daerah dalam Penanggulangan Bencana      Merumuskan kebijakan penanggulangan bencana di wilayahnya Menentukan status dan tingkat keadaan darurat Mengerahkan potensi sumberdaya di wilayahnya Menjalin kerjasama dengan daerah lain Mengatur dan mengawasi penggunaan teknologi yang berpotensi menimbulkan Mencegah dan mengendalikan penggunaan sumberdaya alam yang berlebihan Menunjuk komandan penanganan darurat bencana Melakukan pengendalian bantuan bencana Menyusun perencanaan. Pemerintah Daerah bertanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayahnya.

24/2007 tentang penanggulangan bencana diamanatkan tentang pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Palang Merah Indonesia di daerah masing-masing 4. Pusat Studi Bencana di Universitas terdekat yang dapat memberikan peta ancaman. Indonesia secara peraturan dan kebijakan sudah membuat 3 unsur penting tersebut. bencana lingkungan). Badan Meteorologi dan Geofisika untuk mengetahui tentang cuaca. saat bencana dan pasca bencana.2. Di tingkat Provinsi terdapat Satuan Koordinasi Pelaksana (SATKORLAK) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi. Bertugas meningkatkan kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana. 3. Dalam UU No. Dalam kerja penanggulangan bencana di tingkat daerah. Kesimpulan Di tingkat Pusat terdapat Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi dengan Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) Wakil Presiden. Dinas lainnya seperti Pertambangan dan Energi yang berfungsi sebagai pengawas tata kelola pertambangan dan energi. Kantor/Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) yang juga mengorganisir Search and Rescue (SAR).85/2005. 10 . Di tingkat Kabupaten/Kota terdapat Satuan Pelaksana (SATLAK) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi yang dibentuk berdasarkan Perpres No.1. Bagian Kesra. Kemudian Dinas Sosial. Pemerintah tidak boleh melupakan 3 unsur penting ini dalam penanggulangan bencana. dan sampai sekarang Peraturan Pemerintah yang mengaturnya belum terbit. lokal maupun internasional yang concern terhadap isu-isu penanggulangan bencana.Selain itu terdapat organisasi masyarakat dan LSM baik nasional. iklim dikaitkan dengan bencana. Saran Kata kunci penanggulangan bencana: Serangkaian upaya komprehensif dalam prabencana. mempunyai peta-peta rawan bencana yang biasanya terkait dengan pertambangan (longsor.PENUTUP 3. DPU dsb 3. termasuk peringatan dini yang ada untuk berbagai jenis bencana. biasa dilakukan: 1. 2. namun dalam pelaksanaan ini belum terealisasi dengan sempurna. dan penelitian tentang kebencanaan yang lain 5. mikrozonasi.

Apalagi saat ini. Indonesia sedang gempar. Tetapi masyarakat juga tidak boleh sepenuhnya berharap dan menampung tangan100% dari pemerintah.gemparnya tertimpa bencana alam. Mereka juga harus tahu hal dasar dalam penanggulangan bencana dan mempunyai trik-trik tersendiri dalam menanggulangi masalah bencana. 11 . Masyarakat pasti berharap besar terhadap pemerintah.Dalam hal ini Pemerintah perlu mangadakan promosi dan pelatihan – pelatihan bagi kaderkader dan tim medis untuk dapat terlibat dalam sehingga pelaksanaannya sempurna. menurut penulis program penanggulangan bencana ini harus memberikan program persiapan kompetensi bagi masyarakat untuk menanggulangi bencana di dalam skala individu dan kjeluarga. Jadi. Perlu program danpelatihan serta promosi dari pemerintah untuk merealisasikan program tersebut jika pemerintah benrencana untuk mengadakannya.

al. Sriutomo@bakornaspb. Mengelola Bencana. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO). 2006. Buku Bantu Pendidikan Pengelolaan Bencana untuk Anak Usia Sekolah Dasar. WALHI. et.id.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.go.H. Salinan Peraturan Presiden ( mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 12 .Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 26 Januari 2008.ttd DR.REFERENSI Dhani Armanto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful