Strategi Mengembangkan Wawasan Kebangsaan dalam Proses Belajar Mengajar Di PT Melalui Pendidikan Kewargenegaran Oleh. B.

Wibowo Suliantoro *) Pendahuluan. Arus globalisasi yang berlangsung dewasa ini di dalamnya mengandung berbagai paradok. Disatu sisi globalisasi mengakibatkan sekat-sekat antar bangsa mulai pudar, sehingga isue-isue kemanusiaan seperti hak asasi manusia, demokratisasi, terorisme dan lingkungan hidup diangkat dalam wacana universal. Disisi lain globalisasi juga membangkitkan perjuangan arus bawah agar kearifan local dan otonomi daerah diberi penghargaan yang tinggi. Otonomi daerah yang lahir sebagai antitesis terhadap sistem pemerintahan yang sentralistik memunculkan bahaya disintegrasi bangsa serta semangat primordialisme. Otonomi daerah seakan-akan menjadikan kepala daerah sebagai raja-raja kecil yang berkuasa tunggal mengeksploitasi kekayaan alam di wilayahnya dan terlepas dari tanggungjawab sosial untuk berkorelasi dengan sesamanya. Demikian pula bangkitnya semangat primordialisme dewasa ini ditandai dengan adanya sukuisme, dominasi kelompok etnis, agama yang berlomba menguasai dan menundukkan sesamanya. Beberapa persoalan tersebut diatas dapat mengancam semangat kebangsaan yang telah dirumuskan oleh para pendiri negara kita. Persoalan yang perlu kita diskusikan bersama bagaimana mengembangkan konsep kebangsaan (nasionalisme) ditengah arus perubahan jaman sekarang ini? Bagaimanakah peran perguruan tinggi dalam upaya untuk mengembangkan semangat kebangsaan (nasionalisme) bagi kaum intelektual muda? Pemahaman Tentang Lahirnya Paham Kebangsaan di Indonesia Ditinjau secara historis lahirnya perjuangan nasionalisme di Indonesia bukan karena factor alamiah melainkan tekad bersama yang tumbuh akibat adanya aksi penindasan yang dilakukan oleh para penjajah (Magnis Suseno, 2001:1). Nasionalisme tidak tumbuh karena persamaan etnis, warna kulit, agama maupun wilayah ; namun lebih didorong oleh semangat yang menyala-nyala untuk hidup bersama, berjuang dan membebaskan dari belenggu penjajahan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ernest Renan bahwa suatu bangsa dapat lahir karena dilandasi asas kerokhanian berupa kehendak untuk bersatu sekarang dan dimasa mendatang. Kehendak yang kuat untuk bersatu lebih didasarkan karena adanya kesamaan nasib atau penderitaan bersama di masa lampau. Kesamaan ras, bahasa, agama, letak geografi saja belum cukup kuat untuk mendukung kehidupan kesatuan bangsa; yang diperlukan komitmen secara terus menerus berkorban bagi kepentingan bersama (Koentowibisono Siswomihardjo,1998:3). Nasionalisme akan mengalami penurunan arti dan makna apabila jatuh kedalam semangat ekslusifisme yaitu menjadi chauvisnisme. Chauvinisme merupakan semangat kebangsaan yang berlebihan dan memandang rendah bangsa lain. Nasionalisme juga akan turun pamornya apabila semangat kebangsaan itu diboyong oleh salah satu suku, etnis dalam masyarakat yang plural. Nasionalisme tidak dapat diklaim hanya merupakan milik ____________________ *)Dosen MPK Universitas Atma Jaya Yogyakarta salah satu suku atau etnis dengan mendeskriditkan suku yang lain. Nasionalisme tidak pernah mentolerir penggunaan kekejaman dan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Nasionalisme di Indonesia hendaknya dikembangkan berlandaskan pada sifat humanisme integral. Sifat humanisme integral ditandai dengan setiap warga bersikap toleran, saling

1

2 . konsep dan pengetahuan dijejalkan ke siswa didik mengenai aplikasi dan kemanfaatanya diserahkan pada pengembangan kreativitasnya masing-masing siswa.menghargai. tetapi motor penggerak ada pada sekelompok orang yang memiliki kepekaan dan kekritisan membaca tanda-tanda jaman. Dengan pemahaman yang benar diharapkan setiap warga negara dapat mengambil sikap yang benar pula. saling mengasihi. Akibatnya “Rasa memiliki” terhadap permasalahan tersebut tidak ada karena pengetahuan diturunkan dari atas. Berbagai macam teori. Skenario Pembelajaran yang Berbasis pada Masalah Kesalahan yang bersikap fundamental dalam sistem pembelajaran di perguruan tinggi yaitu memperlakukan mahasiswa sebagai kotak kosong yang dapat kita isi dengan pengetahuan sebanyak mungkin. karena kalau hanya ingin menambah pengetahuan setiap saat dapat diperoleh melalui internet. ada sistem hukum yang adil dan kebijakan hukum dan politik yang mengarah pada pencapaian keadilan sosial (Magnis Suseno. hormat sebagi person. meteri ajar bersifat idealistik. Pada saat negara menghadapi situasi batas yang mengancam keutuhan dan keberlangsungan bangsa. Memperlakukan mahasiswa seperti kertas putih yang bisa diisi dengan pengetahuan yang abstrak. Pengetahuan merupakan hasil olahan dari seseorang maupun sebuah institusi yang sudah jadi dan tinggal disampaikan kepada siswa didik. Evaluasi yang dilakukan oleh Dikti terhadap proses pembelajaran kewiraan pada masa orde baru menghasilkan beberapa catatan yang harus dibenahi yaitu a. Semangat nasionalisme bersifat dinamis kadang mengalami pasang-surut. c. b. tetapi hendaknya diberi makna yang kontekstual yang mampu membawa kehidupan yang lebih baik. hal ini kalau direfleksikan dalam upaya membangun skenario pembelajaran hendaknya bertitik tolak dari model pembelajaran yang berbasis pada masalah. Pengetahuan tidak hanya berupa kumpulan data. monologis dan tidak partisipatif. Fakta sejarah yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa sejak berdirinya Budi Utomo sampai dengan era roformasi peran perguruan tinggi menempati posisi yang strategis sebagai agen pembaharu masyarakat. Proses pembelajaran indoktrinatif. fakta maupun teori yang ditumpuk. Menambah jumlah pengetahuan dalam proses belajar mengajar hal itu tidak cukup. Nasionalisme merupakan gerakan bersama. Perguruan tinggi memiliki tugas untuk selalu meneguhkan kembali komitmen masyarakat dengan cara memberikan landasan ilmiah secara benar. Ditingkat institusi humanisme menuntut adanya pengakuan terhadap HAM. Penggunaan pembelajaran kewiraan pada masa orde baru yang dilakukan oleh beberapa dosen dengan menggunakan model tersebut diatas menuia berbagaimacam kritik. teoritis dan metafisik hanya akan membebani memori otak manusia. regimetatif (berpihak pada keinginan penguasa). Kesalahan yang dilakukan dalam penyusunan kurikulum yang berbasis pada pengetahuan terletak pada upaya untuk membekali pengetahuan yang sebanyak mungkin kepada siswa didik. adil.fokus bahasan yang membawa pada proses demokratisasi dan kesadaran warga negara dalam hidup bernegara kurang. Nasionalisme Indonesia dibangun atas dasar tekat dan semangat. Nasionalisme Indonesia bangkit karena dipicu oleh adanya musuh bersama yang mengancam eksistensi bangsa. Ukuran keberhasilan proses pembelajaran apabila dicek dalam evaluasi akhir pengetahuan yang kita simpan dapat terakumulasi dengan penuh. Teori yang diajarkan terdapat gab yang dalam dengan realitas politik yang ada. menguap maka merupakan indikasi kehancuran dari bangsa. objektif dan sistematis pentingnya mempertahankan eksistensi suatu bangsa. mahasiswa tampil sebagai ujung tombak untuk menyelamatkan dari jurang kehancuran. d. sehingga ketika tekat-dan semangat itu mulai luntur. legalistik dan normatif. 2001:1).Perguruan tinggi memiliki tanggungjawab sosial untuk memompa dan menghidupkan kembali semangat nasionalisme mulai menyusut dan meredup.

sintesis dan evaluasi terhadap persoalan-persoalan bangsa yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung. dan gaguan (TAHG) yang dihadapi oleh mahasiswa dalam situasi keseharian. melainkan sampai pada pembetukan sikap. pembelajaran dan pemodelan secara kontinyu untuk menemukan prinsip hidup yang dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi persoalan konkrit. Persoalan apakah dengan kurikulum yang mendasarkan pada kompetensi khususnya dibidang pendidikan kewarganegaran dapat mengantar siswa didik mengembangkan wawasan kebangsaan ? secara teoritis jawabannya dapat sejauh pengalaman belajar mendukung tercapainya tujuan yang ingin diraih. hambatan. Ide-ide yang muncul dari mahasiswa dikritisi dengan cara melihat kelemahan dan kelebihan masing-masing sampai pada menemukan gambaran konsep kebangsaan tentatif yang disepakati bersama. Kurikulum yang yang digunakan sekarang ini mendasarkan pada kompetensi. Mahasiswa dapat melakukan pengamatan sosial dilapangan. Pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian dari pendidikan nilai memiliki target tidak hanya membekali pengetahuan. Pengalaman belajar hendaknya membuka peluang bagi siswa didik untuk melakukan analisis. informasi dan keahliannya untuk menganalisis berbagai fenomena sosial kemasyarakatan dengan menemukan solusi yang baik dalam tingkat konseptual maupun tingkatan agenda aksi secara empirik (Suyanto. menganalisis dan mencari solusi terhadap keprihatinan yang ada disekitarnya merupakan potensi yang dimiliki oleh setiap insan manusia meskipun dengan kadar kualitas yang berbeda. Peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan tantangan kehidupan dalam masyarakat jika ia mampu mengaktualisasikan pengetahuan. Pemahaman filosofis yang masih bersifat tentatif tersebut kemudian direfleksikan dengan adanya berbagai macam tantangan. Tugas dosen menurut John Dewey adalah mendayagunakan semua pengetahuan awal yang dimiliki oleh mahasisiswa dengan cara mengarahkan pada “hal hal yang bermanfaat” (John De Santo.Sikap peka dan kritis bukan hanya disebabkan oleh faktor keturunan. Langkah-langkah metodis dalam mengembangkan wawasan kebangsaan melalui proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dapat ditempuh melalui beberapa tahapan. kemudian kita bertanya kembali karekteristik manusia yang bagaimanakah yang dapat memujudkan tercapainya wawasan yang ideal tersebut. 1995:284-285). Oleh karena itu studi kasus. ancaman. Pengalaman belajar merupakan interaksi dengan dunia nyata dalam kehidupan ketika masih belajar berbagai pelajaran dalam kurikulum pendidikan. solideritas dan lain sebagainya). Kemampuan untuk menangkap. Pengalaman belajar yang kontekstual dapat mengembangkan kepekaan nurani dan ketajaman rasio. Pembentukan sikap merupakan proses pembiasaan. Di perguruan tinggi yang berciri khas keagaman dapat mengisi karekteristik manusia yang ideal berdasarkan sistem nilai keagamaan namun tetap berlaku universal (misalnya kasih. 2004: 9-10) Melalui pengalaman belajar tersebut diatas diharapkan mahasiswa terbiasa untuk menggali dan memecahkan persoalan konkrit dan aktual dalam kehidupan masyarakat. dialog dengan masyarakat untuk membahas persoalan-persoalan bangsa yang aktual menjadi bagian yang penting untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. T A H G perlu diidentifikasi dalam rangka dalam rangka membangun kewaspadaan bersama. dapat pula mengungkap kasus-kasus 3 .Kesalahan metodologis maupun sabstansi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dicoba untuk dilakukan pembenahan paradigma dalam penyusunan kurikulum maupun bahan ajar. Setelah menemukan gambaran tetang wawasan kebangsaan tentatif yang akan dibangun. damai . sharing pengalaman dan persoalan yang dihadapi dalam hidup bermasyarakat. tetapi dapat ditumbuhkembangkan menggunakan media pendidikan. Pertama dapat dilakukan dengan cara mencari landasan rumusan dasar filosofis dengan pertanyaan wawasan kebangsaan apakah yang ingin kita bangun dalam kehidupan bersama.

“Filsafat Pendidikan Dewey” dalam Majalah Basis agustus 1995. Makalah Seminar Nasional “di Sanata Dharma Yogyakarta 2 Juni 2001 Suyanto. 1. 1995. 2. Yogyakarta 4 . 2001.yang sering muncul dimedia masa maupun elektronik. Penggunaan instrumen yang dapat membangkitkan kesadaran emosional seperti pemutaran film. regional maupun global dicoba untuk dipetakan agar memperoleh wawasan yang lebih komprehensif. musik. Agar tidak kehilangan arah dan pedoman dalam pemecahan masalah perlu dikembangkan Paradigma Berpikir Nasional yang dapat dijadikan pedoman/rujukan arah dalam mencari solusi yang tepat. Diskusi ini akan membuahkan hasil yang baik apabila muncul pemikiran atau ide-ide baru yang dapat dijadikan model bagi kita semua. Surakarta Magnis Suseno. Berbagaimacam TAHG tersebut muncul karena dipengaruhi oleh lingkungan stretegis baik yang bersifat nasional. Berbagai macam pathologi sosial (penyakit/penyimpangan sosial) yang menggejala di masyarakat yang dapat menghancurkan eksistensi bangsa dipecahkan ilmiah. kitab) yang relevan dapat digunakan sebagai alat bantu. karya sastra (novel.Lontaran ide tersebut di atas tentu tidak dapat lepas dari kesulitan-kesulitan baik yang bersifat teknis maupun administratif misalnya jumlah mahasiswa dalam 1 kelas besar. fasilitas yang kurang memadai sehingga dapat mengganggu tercapainya tujuan tersebut. 2004.Lontaran ide tentang strategi mengembangkan wawasan kebangsaan dalam proses belajar mengajar di PT melalui pendidikan kewarganegaraan tersebut diatas merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Pustaka John de Santo. Catatan penutup. 1998 “Pluralisme dalam semangat kebangsaan Bhineka Tunggal Ika” Makalah seminar dan Lokakarya Nasional IV Dosen Pancasila se Jateng & DIY. namun dengan menyadari akan keterbatasan kemampuan yang ada tentu banyak kekurangan dan kelemahannya. “Pendidikan Anti Korupsi” Makalah Seminar yang dalam forum diskusi pendidikan anti korupsi di hotel Santika. “Kebangsaan Humanistik”. Yogyakarta Koetowibisono Siswomihardjo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful