1

MENGAPA HARUS BAHASA INDONESIA *) Oleh Sumarsono 1 Pengantar Biasa. Tiap bulan Oktober sebagian orang Indonesia, khususnya orang-orang yang terlibat dalam urusan kepemudaan, lebih-lebih yang berurusan dengan kebahasaindonesiaan, selalu membuat acara ritual “memperingati” sumpah pemuda. Juga tahun 2007 ini, pemudamahasiswa yang calon guru bahasa Indonesia melakukan ritual yang dimaksud tadi. Apakah ritual-ritual yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun yang lalu ada imbasnya ke dalam kehidupan dan perilaku berbahasa, tanyakan kepada rumput yang bergoyang. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar merenungkan atau berefleksi diri, seberapa jauh perilaku berbahasa kita mengimplimentasikan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. 2 Yang Terkuat Terus terang saja, di antara tiga butir Sumpah Pemuda, yaitu sumpah tentang tanah air, tentang bangsa, dan tentang bahasa, hanya sumpah tentang bahasa itulah yang terkuat. Bangsa kita sudah mencabik-cabik sendiri sumpahnya tentang tanah air dan tentang bangsanya, tetapi tidak tentang bahasanya. Marilah kita tengok ihwal tanah air. Sejarah mencatat bahwa segera setelah kita merdeka di Ambon, Maluku, lahir RMS (Republik Maluku Selatan) yang pro dan didukung Belanda. RMS segera dapat ditumpas, tetapi sisa-sisa pikiran RMS masih ada sampai kehadiran Presiden SBY ke Ambon tahun 2007 ini. Hampir tiap tahun generasi penerus RMS selalu mengibarkan bendera RMS. Kemudian, kira-kira tahun 1957 – 1958 terjadi apa yang disebut “pemberontakan” PRRI (?) di Sumatra Barat, dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi Utara. Keduanya berwatak ___________________________________
*) Disampaikan dalam Seminar Peringatan Bulan Bahasa 2007, tanggal 22 Oktober 2007 Kampus Bawah Universitas Pendidikan Ganesha, di Singaraja.

kedaerahan, biasa disebut daerahisme, istilah kerennya lokonasionalisme (Sumarsono,

Di wilayah paling timur Indonesia juga lahir Gerakan Papua Merdeka (GPM). perusakan. Titik. ketika ada pengangkatan guru PNS di Banten. karena rumusan yang kurang tepat tadi. Menurut hemat saya. Konon. yang nasibnya tampaknya mirip RMS di Ambon. pengusiran. lalu ke mana bangsa Arab dan bangsa Cina dimasukkan? Mungkin rumusan yang (lebih) baik ialah “bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnik”. Jawa. Tamil. sehingga lahir Sumpah Pemuda. kita sebut etnonasionalisme. Kalau tidak. Bali. ada etnik Arab. Saya tidak tahu persis apakah wakil-wakil pemuda dari Aceh dan dari Papua pada tahun 1928 ikut mengucapkan Sumpah Pemuda. Di Bali lokonasionalisme bukannya tidak ada.. Lihat. Batak. dan lain-lain. karena ada etnik MelayuAustronesia (Aceh. seorang calon guru ditolak oleh Panitia karena dia adalah tamatan IKIP Jakarta. penolakan). padahal Banten dimekarkan bukan dari DKI melainkan dari Jawa Barat. mereka sekarang dapat berdalih “Saya tidak ikut bersumpah” dan karena itu “kami tidak merasa wajib bertanah air yang satu. Kalau hanya terdiri dari suku-suku. pelemparan rumah) dan atau kekerasan mental-psikologis (pengucilan. dll). Sering dikatakan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas sekian banyak suku. maka etnik Cina sering dianggap oleh sebagian bangsa ini sebagai “bukan orang Indonesia”. ada kasus-kasus “adat” yang sedikit banyak berlandaskan awig-awig atau berdasarkan kepentingan desa atau banjar yang berwatak geografis. Dapat juga dikatakan bahwa para pemuda yang bersumpah pada saat itu terlalu berani untuk “mengatasnamakan” pemuda dan nama Indonesia. ketika Banten berdiri sebagai provinsi. pernyataan itu tidak lengkap dan menyesatkan. ada etnik Melanesia (Irian). beberapa tahun terakhir ini. ya. Misalnya. jika ada gerakan antietnik atau gerakan yang berdasarkan etnik. Bagaimana dengan urusan bangsa? Sama saja dengan urusan tanah air. Begitulah. berbangsa yang satu.. Gesekan kedaerahan di panggung tingkat nasional itu kemudian bergeser ke arena tingkat daerah. Minangkabau. Konon juga. dan karena itu dalam beberapa . yang sedikit banyak bewarna keislaman. Kasus-kasus yang terjadi itu selalu melibatkan kekerasan fisik (pembakaran. Sunda. Pemda Banten menuntut beberapa pulau yang selama ini masuk ke DKI Jakarta. di wilayah paling barat Indonesia lahir GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Perhatikan baik-baik. dan Cina. India. yaitu bangsa Indonesia”. tanah air Indonesia” dan “. ada dua provinsi yang letaknya berdekatan bertengkar karena batas wilayah dan batas laut yang tidak jelas. Dari istilah etnik ini muncul. Kemudian.2 2006). GAM berakhir dengan “damai” melalui mediasi bangsa lain.

3 Yang Terpilih Sudah dikemukakan bahwa yang hadir dan mengucapkan Sumpah Pemuda 1928 ada sejumlah pemuda yang memberanikan diri menjadi “wakil” seluruh pemuda Indonesia. Beberapa tahun lalu di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat timbul konflik antaretnik (Madura – Dayak. Agama yang seharusnya membangun damai. Mengenai bahasa haruslah dikatakan bahwa hanya sumpah mengenai bahasa sajalah yang terkuat. tidak ada yang memberontak dan menuntut agar bahasa Indonesia diganti oleh bahasa lain. berbunyi: “kami menjunjung tinggi bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia”. Tidak ada kelompok yang memberontak atas dasar bahasa. justru sering dipakai dalih oleh sekelompok umat untuk melakukan kekerasan terhadap umat agama lain. maka kita dapat mengatakan bahwa setakat ini tidak ada manusia Indonesia yang memberontak atas dasar bahasa. dan Madura – Melayu). Saya tidak hendak menekankan latar belakang perbedaan teologisnya atau urusan benar – salahnya. Di Papua kita temukan “perang suku”. dengan menempatkan bahasa Indonesia di tempat yang tinggi. kelompok-kelompok umat di dalam satu naungan agama pun dapat berkelahi secara fisik disertai kekerasan dan amuk. Rumusan sumpah yang sekarang berlaku ialah “kami mengaku berbahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia”. sebagaimana tampak pada konflik di Poso dan Ambon. konon adalah rumusan yang asli diucapkan pada 1928. Ada dua versi rumusan tentang sumpah kebahasaan itu. Rumusan lain. tidak ada usir-mengusir dan rusak-merusak karena bahasa Indonesia. Rumusan pertama menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu (supaya kita bersatu). . . Yang ada mungkin perbedaan rumusan sumpah. Di Jakarta dan Batam sering dikabarkan adanya perkelaian “antarkelompok”. tetapi latarbelakangnya sebenarnya adalah perbedaan etnik. sebagaimana kasus pengikut Ahmadiyah yang diserang oleh kelompok lain. namun perbedaan itu tidak pernah menimbulkan pertentangan. yang saya tekankan ialah bahwa semua itu menimbulkan ancaman perpecahan. tidak ada etnik yang memisahkan diri karena alasan bahasa. kelompok etnik Cina menjadi kurban amuk. yang ujung-ujungnya menambah deretan penyebab perpecahan. Jika rumusan ini yang benar.3 kerusuhan. dan rumusan kedua lebih mementingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu (supaya kita menjadi satu) dengan konotasi bahasa berprestise. Bahkan.

sehingga ketika Indodnesia merdeka kita tidak sulit menentukan bahasa nasional dan bahasa resmi bagi negara. hebatnya ialah bahwa bangsa Indonesia sudah mempunyai bahasa nasional sebelum merdeka. meskipun secara linguistik bahasa itu berwujud bahasa Melayu ditambah di sana sini kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda. yaitu bahasa Indonesia. Dalam hal bahasa Indonesia yang terpilih sebagai bahasa “persatuan” dan “yang dijunjung tinggi” perlu dicatat adanya beberapa hal yang menarik didiskusikan. Bung Karno lahir tahun 1901. para pemuda yang menjadi motor penggerak dan lokomotif perjuangan kemerdekaan adalah mereka yang betul-betul muda usia. sumpah yang mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa “yang satu” merupakan karya yang mendukung perjuangan para pemuda dan menjadikannya sebagai alat perjuangan politik bagi “Indonesia merdeka”. salalu melibatkan kelompok pemuda. Bung Karno adalah sosok pemuda yang intelek-akademisi. Kita juga tahu bahwa di mana pun ada gerakan politik di sebuah negeri. bagi saya. Sebagai peristiwa politik. para pemuda merasa dipersatukan oleh roh bahasa Indonesia. Di Indonesia saat itu. Dari segi ini. Para pemuda itu kadang-kadang bahkan memimpin gerakan politik.4 termasuk “wakil” seluruh kelompok etnik di Indonesia. negarawan. orator ulung. dan bukan bahasa Melayu. diubah menjadi menggunakan bahasa Indonesia. bergantung bagaimana orang . Sudah kita maklum bahwa Sumpah Pemuda 1928 itu terjadi 17 tahun sebelum Indonesia merdeka. Keduanya dapat dikatakan dalam ungkapan language and culture atau language in culture. dan penulis ulung (Bacalah kumpulan tulisan beliau: Di Bawah Bendera Revolusi I). keduanya tak bisa dipisahkan. Saya sebut sumpah 1928 itu sebagai peristiwa budaya karena bahasa dan budaya itu ibarat dua wajah uang kepeng. dengan wawasan kebangsaan yang lebih dari sekadar wawasan kedaerahan. (Baca buku Risalah Sidang PPPKI tahun 1945 yang berupa naskah asli rapat yang membahas tentang UUD dan dasar negara). Dengan menggunakan bahasa Indonesia. bahasa penjajah mulai dicampakkan dan dipertentangkan dengan bahasa kebangsaan atau bahasa nasional. Jadi. Rapat-rapat kelompok intelektual yang semula menggunakan bahasa Belanda. baik yang berterang-terang maupun yang di bawah tanah. Bagi saya. khususnya yang memperjuangkan kemerdekaan. berarti pada waktu sumpah terjadi usia beliau baru 27 tahun. politikus. bukan sekadar peristiwa politik. Dan sumpah itu. melainkan peristiwa budaya. Dari segi ini para pemuda mengubah sosok putera daerah menjadi (atau ditambah menjadi) sosok putera bangsa.

pasti juga berselimut budaya Jawa. Dan kadang-kadang dirasakan bahwa budaya nasional itu pun masih harus kita bangun. terutama di wilayah-wilayah pantai dan pusat-pusat perdagangan. seperti di Jakarta. seseorang yang sudah mempunyai dan menguasai satu bahasa. tetapi bahasa ini digunakan hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. mengapa penutur yang 40% dapat “dikalahkan” oleh yang hanya 5%? Pertanyaan ini muncul karena. Para pakar bahasa dari negeranegara barat biasanya “heran”. memiliki bahasa ibu bahasa Jawa. Di pusatpusat perdagangan bahasa Melayu bisa menjadi pijin. sudah sangat tersebar ke seluruh negeri. bagi masyarakat barat. karena sepertinya sumpah kita itu mengabaikan demokrasi. 2005) Tampaknya. yakni “bahasa Jakarta” sekarang (Baca Sumarsono. Pada tahun 1928 itu penutur bahasa Jawa diperkirakan sekitar 40% dari seluruh penduduk Hindia Belanda (Lihat Suryadinata. Bung Karno yang orang Jawa. Secara kultural. kemudian bersedia mengakui bahasa lain. 4 Yang mengalah Bahasa Jawa dan bahasa Melayu sebenarnya masih sekeluarga. yaitu bahasa Indonesia. yang kemudian berubah menjadi kreol. Jika beliau kemudian mengakui memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasanya. maka budaya yang dibawa serta oleh bahasa Indonesia (atau bahasa Melayu plus) harus juga diakui sebagai miliknya. Mereka bertanya-tanya.2003). menyisihkan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya menjadi mayoritas tetapi tinggal bertengger di Pulau Jawa saja. Hanya saja bahasa Melayu. demokrasi diukur dari jumlah manusia yang terlibat. pilihan bahasa untuk dijadikan bahasa persatuan pada 1928 itu adalah kondisi bahasa Melayu yang tersebar tadi. karena bahasa Indonesia (atau bahasa Melayu) dan bahasa Jawa (dan banyak bahasa daerah lain) masih mempunyai hubungan kekeluargaan dan hubungan sejarah. yang di Indonesia biasa disebut bahasa daerah (local language).5 memandang hubungan keduanya. sama-sama bahasa Austronesia. termasuk dialek-dialeknya di berbagai wilayah Hindia Belanda. sebagai bahasanya juga. apa pun bentuk dan warnanya. yakni bahasa ibu (mother tongue) dan sekaligus bahasa pertama (first language). Bersyukurlah kita. sementara masyarakat Indonesia memiliki dasar kearifan lokal (local genious) . adalah suatu kejutan budaya. sementara bahasa Melayu (sebagaimana yang dikuasai oleh para pemimpin bangsa waktu itu) didukung hanya sekitar 5%. dan karena itu juga hubungan kultural. Ini berarti bahwa “orang daerah” dengan budaya daerah harus mau memiliki budaya nasional.

6 yang bernama musyawarah. Akibatnya. menjadikan mereka dwibahasawan Jawa – Indonesia. ketersebaran dan prestise suatu bahasa merupakan modal penting bagi pengangkatannya sebagai bahasa nasional suatu negara baru. maka sejak merdeka sebagian besar jabatan di lingkungan pemerintahan dan militer dipegang oleh orang Jawa. yang sekarang berjumlah sekitar 80 juta. Jumlah ini tentu tidak akurat karena di dalam KBBI banyak sekali kata yang sebenarnya berasal dari bahasa Jawa tetapi tidak diberi kode Jw. harus belajar bahasa Melayu sebagai bahasa kedua.000. budaya dan bahasa Jawa besar pengaruhnya pada bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. dari sekitar 72. ditambah dengan kenyataan bahwa pusat pemerintahan. Orang yang mengalah pasti menyadari dan siap berkurban bagi kepentingan bersama dan kepentingan yang lebih “besar”. karena memang pengetahuan yang terbatas. andhap asor (merendah. Menurut penelitian Sumarsono (1993) terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). pasrah (mau menerima apa yang ditentukan atasan. pasti tidak demikian. ialah kenyataan bahwa sebenarnya bahasa Melayu itu memiliki prestise tinggi dibandingkan bahasa-bahasa lain.387 lema (1.9%). politik. Yang saya maksudkan ialah demikian. Mengalah adalah konsep luhur tentang pengurbanan. mengalah dalam menentukan pilihan bahasa persatuan ini mempunyai konsekuensi linguistik. hasil musyawarah ini ternyata benar. Kosakata itu menyebaar ke berbagai . Hanya saja. 1981). kalah. Sudah kita maklumi. ditemukan adanya 1. Mengalah tidaklah berarti. Bagi saya. pasti sedikit banyak ada pengaruh bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang baru dikuasainya. termasuk Tuhan). penutur bahasa Jawa dikalahkan oleh penutur bahasa Melayu? Menurut saya. dan ekonomi berada di Jawa. sebagaimana diungkapkan oleh pakar linguistik negara barat. Sikap dan konsep mengalah adalah salah satu kearifan lokal orang Jawa. maka orang Jawa. yang diberi kode Jw. Pertanyaan yang menarik ialah betulkah. dan tidak dirasakan sebagai. edisi ke-2 (11991). sejajar dengan sikap dan nilai-nilai nrima (menerima aapa adanya). Dipandang dari sudut sosiolinguistik. karena unsur persebaran sebagai salah satu dasar pertimbangan yang penting. Karena yang terpilih adalah bahasa Melayu. merendahkan diri) (Lihat Kartomihardjo. Sampai sekarang kita dapat melihat betapa besar kosakata bahasa Jawa yang terpinjam oleh bahasa Indonesia. Karena masyarakat Jawa menjadi mayoritas penduduk. orang Jawa tidak dikalahkan melainkan mengalah. Satu hal yang tampaknya kurang disadari oleh para pemuda saat itu.Di mata sosiolinguistik. jika ada kedwibahasaan seperti itu.

Di sana tiap kota atau daerah kecamatan. dan 21.77 % adjektiva. maka jawabannya ialah kita harus menerima bahasa Indonesia sebagai konsekuensi logis dari perilaku kita (sebagai bangsa) sebelum ini. NTT. kuliner (masakan. Konsekuensi linguistik lain ialah lahirnya homonimi baru. watak. emosi dan suasana hati. pada. sakit dan cacat tubuh. Hal semacam ini saya kira tidak hanya berlaku di dalam masyarakat Jawa melainkan juga di suku-suku lain. perbuatan. yang berlaku sejak masa lampau ialah kondisi di Flores. tetapi berapa persen persisnya sumbangan bahasa Jawa belum saya hitung. Sudah dikatakan di depan bahwa Sumpah Pemuda itu bukan sekadar peristiwa politik melainkan juga peristiwa kultural. Menurut penelitian saya yang lain terhadap KBBI itu. murba. atau menambah anggota hominimi yang sudah ada. sadak. Perkembangan kota yang melahirkan hunian-hunian “Indonesia mini” makin memperkokoh posisi bahasa Indonesia. bahkan desa. maka jawabannya barang kali ialah karena “terpaksa”. sifat dan keadaan barang. adat. jelas bahasa Indonesia berperan sebagai faktor sosial yang menghubungkan antarwarga atau antarkelompok yang berbeda bahasa. perilaku.87 %) dari 1. kapan pun adanya. Mereka terselamatkan komunikasi sosialnya oleh bahasa Indonesia. 21. Buktinya dapat dilihat dari kenyataan lahirnya dialek-dialek bahasa Indonesia di tiap wilayah kekuasaan bahasa daerah. keluarga dan kata sapaan. dadar. makanan). minuman. masyarakat tutur yang menjadi dwibahasawan. seni-budaya. seperti pada kata bodong. kandar. karena bahasa inilah yang sudah telanjur menjadi alat komunikasi praktis di seluruh wilayah tanah air. kepercayaan.387 itu tergolong nomina. Konsekuensi logis itu dibarengi atau disertai konsekuensi kultural dan konsekuensi moral dari adanya Sumpah Pemuda dan diakuinya bahasa ini sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. Jika pertanyaan ini diarahkah kepada masa sebelum sumpah. marga.41% verba.000. kudu. buta. jumlah homonimi dalam kamus itu ada hampir berjumlah 3. pertanian. bahwa sumpah itu memberikan sumbangan besar bagi . memiliki bahasa sendiri. 5 Yang menjadi konsekuensi Sampailah kita pada persoalan pokok: mengapa harus bahasa Indonesia. seperti bera. Hal demikian tidak begitu terasa di Jawa. den. saku. Sebagian besar (54.7 bidang kehidupan: pandangan hidup. Contoh jelas. Sebagai alat komunikasi. Jika pertanyaan tadi diarahkan ke masa setelah sumpah.

Kita wajib mempertanyakan “harus bahasa Indonesia” itu seperti apa wujudnya.” karena tahu atau tidak tahu adanya hukum di suatu negara tiap warga harus “dianggap tahu”. Orang tidak bisa lagi beralasan “Saya tidak tahu. antara lain: (1) Bahasa Indonesia harus dijaga agar tidak terlalu didominasi bahasa Inggris. Maka perlu diajukan pertanyaan. “harus menggunakan” sudah jalan. . Bahasa Inggris telah menjadi sarana untuk memenuhi fungsi hegemoninya (Gramsci. bagaimana cara menjaga dan menjunjung tinggi itu. mendampingi penggunaan bahasa ibu. Tidak ada alasan lagi untuk mengelak. bagaimana yang namanya “harus” itu. Media massa cetak dan elektronik di Indonesia begitu leluasa menggunakan bahasa Inggris. Itu hukum! 6 Yang perlu dijaga Konsekuensi moral harus ditanggapi dengan tanggung jawab moral untuk selalu menjaga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia.2007). Sumpah bukanlah sekadar janji. tetapi “harus menjaga” dan “harus menjunjung tinggi” belum sepenuh hati. “Harus mengakui” sudah terjadi. Kecenderungan untuk hidup atau matinya bahasa secara global telah diingatkan oleh Grimes (2002). Sumpah kebahasaan membawa konsekuensi kultural bagi kita bahwa bahasa Indonesia ialah bagian dari budaya kita dan karena itu penggunaannya menjadi wajib. Yang paling memprihatinkan ialah bahwa bahasa Inggris itu telah masuk ke benak bangsa Indonesia melalui struktur kognitif masyarakat (social cognitive structures). Dan ini memberi kewajiban bagi warga bangsa untuk mematuhinya. Bahasa Inggris sebagai bahasa dunia telah menjadi bahasa dominan dan mempunyai kekuasaan (power) untuk mempengaruhi bahasa-bahasa lain di dunia. Menurut saya. Ada segi ritual-sakral pada suatu sumpah yang mengikat mereka yang terlibat. Imperialisme bahasa (language imperialism) di dunia telah dilakukan oleh bahasa Inggris (Sumarsono. Karena itu sumpah membawa konsekuensi moral untuk menjalankan apa yang diujarkan dalam sumpah. untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. 1971).8 tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa menuju ke kemerdekaan. nyaris tanpa kontrol dari Pusat Bahasa atau pemerintah. Diangkatnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi dalam konstitusi kita jelas merupakan konsekuensi politis-yuridis.

Grimes menulis. Kweldju menunjuk penggunaan kosakata bahasa Inggris yang begitu banyak. dari 80 bahasa daerah. ada 330 bahasa yang penuturnya satu juta orang atau lebih. ialah penutur bahasa Indonesia sudah masuk ke metafora pinjaman (borrowing metaphor) atau metafora konseptual (conceptual metaphor). 36 terancam punah. dan kognisi ialah motor penggerak dalam otak kita. Struktur konseptual itu kira-kira serupa dengan struktur kognitif. bahasa H makin banyak digunakan dan bahasa L makin surut. Begitu diglosia itu rembes. 2002) menunjukkan ancaman punahnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia Timur. mengemukakan bahwa dominasi bahasa Inggris di dunia itu bukannya terjadi secara kebetulan. yaitu suatu situasi kebahasaan yang memberikan peluang bagi dua bahasa untuk hidup berdampingan.L). kata Kweldju. maka mulailah bahasa H akan merambah ke ranah-ranah L dan menggeser fungsi-fungsi L. (2) Bahasa Indonesia harus dapat hidup harmonis bersama dengan bahasa daerah. jika struktur kognisi bangsa ini sudah dikuasai oleh struktur kognisi bangsa asing. masing-masing dengan fungsi-fungsi dan ranah-ranahnya sendiri. dan yang satu rendah (low =. Ini yang menyebabkan bahasa-bahasa daerah kita terancam.818 bahasa di dunia yang sudah didaftar.A. di antara 6. Yang lebih berbahaya lagi. . dari 271 bahasa daerah. Ambil contoh seperti time is money diindonesiakan menjadi waktu adalah uang (bukan waktu itu uang). karena dianggap mempunyai prestise tinggi oleh penuturnya. 56 terancam punah. apalagi bocor. dari 110 bahasa daerah. Dalam KBBI 20% isinya ialah kata pinjaman dari bahasa Inggris. Diglosia itu harus terus dijaga agar tetap stabil. 450 bahasa yang penuturnya hanya sedikit dan terancam punah. main suap). tiris. maka terancamlah “cara berpikir” bangsa. di Maluku. Di Indonesia H itu adalah bahasa Indonesia dan L itu bahasa daerah. Peta kebahasaan S. Ini berarti.9 Kweldju (2005). Artinya. mengutip karya Philipson tentang imperialisme bahasa. Di Sulawesi. melalui bahasa. meskipun salah satu bahasa itu berada pada posisi tinggi (high = H). warga terbawah. melainkan disengaja. grass-root dijadikan akar rumput (padahal kita punya rakyat jelata. 22 terancam punah dan 11 sudah punah. di Papua.Wurn terbitan UNESCO (dipetik Grimes. wong cilik). money politics diindonesiakan menjadi politik uang (padahal kita punya main duit. karena metafora pinjaman dapat langsung mempengaruhi struktur konseptual penuturny”. “yang efeknya jauh lebih berpengaruh. Sosiolinguistik mengenal apa yang disebut diglosia.

pedoman Pembentukan Istilah.”).. Nopember. penyakitb kebiasaan bekerja tanpa kelengkapan kerja (banyak dosen dan guru bahasa Indonesia yang tidak mempunyai buku pedoman EYD. kurang disiplin. menurut laporan penelitian Asim Gunarwan (2005). kaidah gramatika. dsb). di Indonesia. Bahasa-bahasa daerah itu tergeser karena kalah bersaing dengan bahasa Indonesia. Dan yang memprihatinkan pelanggaran itu juga dilakukan oleh para insan pendidikan yang guru dan dosen bahasa Indonesia. dan dengan logis (menurut kaidah logika). amprah. Yang ingin saya kemukakan dalam tulisan ini sebenarnya ialah bukan hanya menjawab pertanyaan “Mengapa harus Bahasa Indonesia?”. kaidah pragmatik. masih banyak orang berujar “Saya rasa .. dan kaidah logika. 7 Penutup Begitulah pandangan saya tentang sumpah pemuda. saya telah menunjukkan betapa sumpah kebahasaan lebih kuat dari dua sumpah yang lain. melainkan juga pertanyaan “Mengapa harus Berbahasa Indonesia?”. dan bentuk pelanggaran kaidah yang lain. Faktor-faktor penyebab mereka melanggar berbagai kaidah itu penyakit mental (suka asal-asalan. Kita kadang-kadang munafik dan kurang bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia. serta “Bagaimana cara menafsirkan ‘harus’ itu?” Untuk itu. dan logis. tetapi kita tidak mau memeliharanya dengan baik.. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Kita mengaku memiliki bahasa Indonesia. dengan baik dan tertib (menurut kaidah pragmatik).. yaitu program pengajaran B2 yang tidak boleh mematikan B1. kasus-kasus pergeseran bahasa daerah itu disebabkan oleh dominasi bahasa Indonesia. baik. penyakit kurang motivasi aktualisasi diri (tidak mau atau malas belajar lagi). kita mengatakan mencintai atau menjunjung tinggi bahasa Indonesia tetapi kita tidak mau dan tidak mampu menggunakannya dengan benar (bertaat asas menurut kaidah gramatika). Sumpah Pemuda saya pandang . dan Kamaus Besar Bahasa Indonesia).10 Yang menarik ialah. Rebo. Mungkin ini disebabkan oleh kebijakan bahasa nasional (national language policy) kita kurang tepat. dan penyakit malas berpikir.” (dan bukan”Saya pikir. prihal. koprasi. Pengajaran bahasa Indonesia kita juga selayaknya memakai konsep program imersi (immersion program). Masih banyak kita temukan berbagai “pelanggaran” EYD. Di kampus kita ini masih banyak kita temukan orang menulis formolir. (3) Kita harus mau dan mampu berbahasa Indonesia dengan benar.

Gunarwan. A. Jakarta. namun yang lebih penting ialah menjaga agar bahasa Indonesia tidak didominasi oleh bahasa Inggris. Siusana.Y: Lawrence & Wishart.2003. “Imperialisme dalam Pembentukan Istilah”. 2002. Barbara F.No. melainkan juga peristiwa kultural dan moral.2005. PELLBA 15. “Kecenderungan Bahasa untuk Hidup atau Mati secara Global (Global Viability): Sebab. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Amlapura. Sumarsono. dan logis. Asim. Norman. dan Bahasa Indonesia. LINGUISTIK INDONESIA. “Metafora Pungutan Berpotensi Mempengaruhi Struktur Konseptual Bangsa”. Nasionalisme. Relasi Bahasa.Tahun 23.Kekuasaan dan Ideologi. Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya.Agustus 2005: 193 – 203. Terjemahan Indah Rohmani. diselenggarakan oleh KNPI dan MGMP Bahasa Inddonesia. Sumarsono. Singaraja.2. 2007. baik. 2005. sebaliknya tidak mendominasi bahasa daerah.11 bukan hanya sebagai peristiwa politik. berdasarkan kearifan lokal bangsa Indonesia dan kearifan lokal etnik Jawa. Sumpah ini membawa konsekuensi logis. 31 Juli – 2 Agustus 2007. “Meningkatkan Nasionalisme melalui Bahasa Indonesia”. Dalam Bambang Kaswanti Purwo. 15 November 2006. Selectin from the Prison Notebook. 12 Oktober 2007 ***** . Gejala. Kita juga harus berupaya menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Makalah pada Seminar Sumpah Pemuda. Sumarsono. Gramsci. 2006. kultural dan moral. Grimes. BACAAN Fairclough. “Kasus-Kasus Pergeseran Bahasa Daerah: Akibat Persaingan dengan Bahasa Indonesia” Kweldju.1971. 2005. Makalah dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Hibah Bersaing. dan Pemulihan untuk Bahasa-Bahasa yang Terancam Punah”. Sosiolinguistik. Malang: Boyan Publishing. N.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.