P. 1
Mengapa Harus Bahasa Indonesia

Mengapa Harus Bahasa Indonesia

|Views: 124|Likes:
Published by Maz Vicarious

More info:

Published by: Maz Vicarious on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2012

pdf

text

original

1

MENGAPA HARUS BAHASA INDONESIA *) Oleh Sumarsono 1 Pengantar Biasa. Tiap bulan Oktober sebagian orang Indonesia, khususnya orang-orang yang terlibat dalam urusan kepemudaan, lebih-lebih yang berurusan dengan kebahasaindonesiaan, selalu membuat acara ritual “memperingati” sumpah pemuda. Juga tahun 2007 ini, pemudamahasiswa yang calon guru bahasa Indonesia melakukan ritual yang dimaksud tadi. Apakah ritual-ritual yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun yang lalu ada imbasnya ke dalam kehidupan dan perilaku berbahasa, tanyakan kepada rumput yang bergoyang. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar merenungkan atau berefleksi diri, seberapa jauh perilaku berbahasa kita mengimplimentasikan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. 2 Yang Terkuat Terus terang saja, di antara tiga butir Sumpah Pemuda, yaitu sumpah tentang tanah air, tentang bangsa, dan tentang bahasa, hanya sumpah tentang bahasa itulah yang terkuat. Bangsa kita sudah mencabik-cabik sendiri sumpahnya tentang tanah air dan tentang bangsanya, tetapi tidak tentang bahasanya. Marilah kita tengok ihwal tanah air. Sejarah mencatat bahwa segera setelah kita merdeka di Ambon, Maluku, lahir RMS (Republik Maluku Selatan) yang pro dan didukung Belanda. RMS segera dapat ditumpas, tetapi sisa-sisa pikiran RMS masih ada sampai kehadiran Presiden SBY ke Ambon tahun 2007 ini. Hampir tiap tahun generasi penerus RMS selalu mengibarkan bendera RMS. Kemudian, kira-kira tahun 1957 – 1958 terjadi apa yang disebut “pemberontakan” PRRI (?) di Sumatra Barat, dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi Utara. Keduanya berwatak ___________________________________
*) Disampaikan dalam Seminar Peringatan Bulan Bahasa 2007, tanggal 22 Oktober 2007 Kampus Bawah Universitas Pendidikan Ganesha, di Singaraja.

kedaerahan, biasa disebut daerahisme, istilah kerennya lokonasionalisme (Sumarsono,

yang nasibnya tampaknya mirip RMS di Ambon. Perhatikan baik-baik. Kemudian. Minangkabau. karena ada etnik MelayuAustronesia (Aceh. berbangsa yang satu.. di wilayah paling barat Indonesia lahir GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Bali. ada kasus-kasus “adat” yang sedikit banyak berlandaskan awig-awig atau berdasarkan kepentingan desa atau banjar yang berwatak geografis. pengusiran. Kasus-kasus yang terjadi itu selalu melibatkan kekerasan fisik (pembakaran. lalu ke mana bangsa Arab dan bangsa Cina dimasukkan? Mungkin rumusan yang (lebih) baik ialah “bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnik”. Gesekan kedaerahan di panggung tingkat nasional itu kemudian bergeser ke arena tingkat daerah. India.2 2006). Titik. kita sebut etnonasionalisme. Lihat. Di wilayah paling timur Indonesia juga lahir Gerakan Papua Merdeka (GPM). Jawa. ketika ada pengangkatan guru PNS di Banten. Dari istilah etnik ini muncul.. seorang calon guru ditolak oleh Panitia karena dia adalah tamatan IKIP Jakarta. Konon juga. ada etnik Arab. dan Cina. mereka sekarang dapat berdalih “Saya tidak ikut bersumpah” dan karena itu “kami tidak merasa wajib bertanah air yang satu. Sering dikatakan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas sekian banyak suku. ketika Banten berdiri sebagai provinsi. yang sedikit banyak bewarna keislaman. Kalau tidak. yaitu bangsa Indonesia”. Di Bali lokonasionalisme bukannya tidak ada. Konon. tanah air Indonesia” dan “. penolakan). Misalnya. Dapat juga dikatakan bahwa para pemuda yang bersumpah pada saat itu terlalu berani untuk “mengatasnamakan” pemuda dan nama Indonesia. maka etnik Cina sering dianggap oleh sebagian bangsa ini sebagai “bukan orang Indonesia”. Pemda Banten menuntut beberapa pulau yang selama ini masuk ke DKI Jakarta. ada etnik Melanesia (Irian). Tamil. Begitulah. jika ada gerakan antietnik atau gerakan yang berdasarkan etnik. Menurut hemat saya. dan lain-lain. karena rumusan yang kurang tepat tadi. perusakan. Sunda. pelemparan rumah) dan atau kekerasan mental-psikologis (pengucilan. beberapa tahun terakhir ini. padahal Banten dimekarkan bukan dari DKI melainkan dari Jawa Barat. dll). Kalau hanya terdiri dari suku-suku. ada dua provinsi yang letaknya berdekatan bertengkar karena batas wilayah dan batas laut yang tidak jelas. ya. Bagaimana dengan urusan bangsa? Sama saja dengan urusan tanah air. GAM berakhir dengan “damai” melalui mediasi bangsa lain. sehingga lahir Sumpah Pemuda. Saya tidak tahu persis apakah wakil-wakil pemuda dari Aceh dan dari Papua pada tahun 1928 ikut mengucapkan Sumpah Pemuda. pernyataan itu tidak lengkap dan menyesatkan. dan karena itu dalam beberapa . Batak.

tetapi latarbelakangnya sebenarnya adalah perbedaan etnik. . yang ujung-ujungnya menambah deretan penyebab perpecahan. yang saya tekankan ialah bahwa semua itu menimbulkan ancaman perpecahan. 3 Yang Terpilih Sudah dikemukakan bahwa yang hadir dan mengucapkan Sumpah Pemuda 1928 ada sejumlah pemuda yang memberanikan diri menjadi “wakil” seluruh pemuda Indonesia. . Agama yang seharusnya membangun damai. namun perbedaan itu tidak pernah menimbulkan pertentangan. berbunyi: “kami menjunjung tinggi bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia”. Di Papua kita temukan “perang suku”. Jika rumusan ini yang benar. dan rumusan kedua lebih mementingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu (supaya kita menjadi satu) dengan konotasi bahasa berprestise. Ada dua versi rumusan tentang sumpah kebahasaan itu. maka kita dapat mengatakan bahwa setakat ini tidak ada manusia Indonesia yang memberontak atas dasar bahasa. Bahkan. konon adalah rumusan yang asli diucapkan pada 1928. Beberapa tahun lalu di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat timbul konflik antaretnik (Madura – Dayak. Tidak ada kelompok yang memberontak atas dasar bahasa. Rumusan lain. sebagaimana tampak pada konflik di Poso dan Ambon. tidak ada yang memberontak dan menuntut agar bahasa Indonesia diganti oleh bahasa lain. Yang ada mungkin perbedaan rumusan sumpah. Saya tidak hendak menekankan latar belakang perbedaan teologisnya atau urusan benar – salahnya. sebagaimana kasus pengikut Ahmadiyah yang diserang oleh kelompok lain. tidak ada usir-mengusir dan rusak-merusak karena bahasa Indonesia. Mengenai bahasa haruslah dikatakan bahwa hanya sumpah mengenai bahasa sajalah yang terkuat. kelompok etnik Cina menjadi kurban amuk. dengan menempatkan bahasa Indonesia di tempat yang tinggi. Rumusan pertama menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu (supaya kita bersatu). justru sering dipakai dalih oleh sekelompok umat untuk melakukan kekerasan terhadap umat agama lain. Rumusan sumpah yang sekarang berlaku ialah “kami mengaku berbahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia”. dan Madura – Melayu). Di Jakarta dan Batam sering dikabarkan adanya perkelaian “antarkelompok”. kelompok-kelompok umat di dalam satu naungan agama pun dapat berkelahi secara fisik disertai kekerasan dan amuk. tidak ada etnik yang memisahkan diri karena alasan bahasa.3 kerusuhan.

Saya sebut sumpah 1928 itu sebagai peristiwa budaya karena bahasa dan budaya itu ibarat dua wajah uang kepeng. melainkan peristiwa budaya. Sebagai peristiwa politik. khususnya yang memperjuangkan kemerdekaan. diubah menjadi menggunakan bahasa Indonesia. Dan sumpah itu.4 termasuk “wakil” seluruh kelompok etnik di Indonesia. Di Indonesia saat itu. negarawan. dan bukan bahasa Melayu. Dalam hal bahasa Indonesia yang terpilih sebagai bahasa “persatuan” dan “yang dijunjung tinggi” perlu dicatat adanya beberapa hal yang menarik didiskusikan. keduanya tak bisa dipisahkan. Dengan menggunakan bahasa Indonesia. bukan sekadar peristiwa politik. (Baca buku Risalah Sidang PPPKI tahun 1945 yang berupa naskah asli rapat yang membahas tentang UUD dan dasar negara). hebatnya ialah bahwa bangsa Indonesia sudah mempunyai bahasa nasional sebelum merdeka. Keduanya dapat dikatakan dalam ungkapan language and culture atau language in culture. para pemuda merasa dipersatukan oleh roh bahasa Indonesia. bahasa penjajah mulai dicampakkan dan dipertentangkan dengan bahasa kebangsaan atau bahasa nasional. Bung Karno adalah sosok pemuda yang intelek-akademisi. yaitu bahasa Indonesia. orator ulung. politikus. berarti pada waktu sumpah terjadi usia beliau baru 27 tahun. Para pemuda itu kadang-kadang bahkan memimpin gerakan politik. sumpah yang mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa “yang satu” merupakan karya yang mendukung perjuangan para pemuda dan menjadikannya sebagai alat perjuangan politik bagi “Indonesia merdeka”. dan penulis ulung (Bacalah kumpulan tulisan beliau: Di Bawah Bendera Revolusi I). salalu melibatkan kelompok pemuda. sehingga ketika Indodnesia merdeka kita tidak sulit menentukan bahasa nasional dan bahasa resmi bagi negara. meskipun secara linguistik bahasa itu berwujud bahasa Melayu ditambah di sana sini kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda. bagi saya. baik yang berterang-terang maupun yang di bawah tanah. Kita juga tahu bahwa di mana pun ada gerakan politik di sebuah negeri. Rapat-rapat kelompok intelektual yang semula menggunakan bahasa Belanda. para pemuda yang menjadi motor penggerak dan lokomotif perjuangan kemerdekaan adalah mereka yang betul-betul muda usia. bergantung bagaimana orang . Dari segi ini para pemuda mengubah sosok putera daerah menjadi (atau ditambah menjadi) sosok putera bangsa. dengan wawasan kebangsaan yang lebih dari sekadar wawasan kedaerahan. Sudah kita maklum bahwa Sumpah Pemuda 1928 itu terjadi 17 tahun sebelum Indonesia merdeka. Dari segi ini. Bung Karno lahir tahun 1901. Bagi saya. Jadi.

demokrasi diukur dari jumlah manusia yang terlibat. 4 Yang mengalah Bahasa Jawa dan bahasa Melayu sebenarnya masih sekeluarga. pasti juga berselimut budaya Jawa. karena bahasa Indonesia (atau bahasa Melayu) dan bahasa Jawa (dan banyak bahasa daerah lain) masih mempunyai hubungan kekeluargaan dan hubungan sejarah. yang di Indonesia biasa disebut bahasa daerah (local language). yakni “bahasa Jakarta” sekarang (Baca Sumarsono. Dan kadang-kadang dirasakan bahwa budaya nasional itu pun masih harus kita bangun. sementara bahasa Melayu (sebagaimana yang dikuasai oleh para pemimpin bangsa waktu itu) didukung hanya sekitar 5%. bagi masyarakat barat. seseorang yang sudah mempunyai dan menguasai satu bahasa. apa pun bentuk dan warnanya. seperti di Jakarta. Bersyukurlah kita. tetapi bahasa ini digunakan hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. sementara masyarakat Indonesia memiliki dasar kearifan lokal (local genious) . terutama di wilayah-wilayah pantai dan pusat-pusat perdagangan. karena sepertinya sumpah kita itu mengabaikan demokrasi. Mereka bertanya-tanya. sebagai bahasanya juga. yaitu bahasa Indonesia. dan karena itu juga hubungan kultural. Ini berarti bahwa “orang daerah” dengan budaya daerah harus mau memiliki budaya nasional. Para pakar bahasa dari negeranegara barat biasanya “heran”. termasuk dialek-dialeknya di berbagai wilayah Hindia Belanda. Pada tahun 1928 itu penutur bahasa Jawa diperkirakan sekitar 40% dari seluruh penduduk Hindia Belanda (Lihat Suryadinata. Jika beliau kemudian mengakui memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasanya. kemudian bersedia mengakui bahasa lain.5 memandang hubungan keduanya. pilihan bahasa untuk dijadikan bahasa persatuan pada 1928 itu adalah kondisi bahasa Melayu yang tersebar tadi. mengapa penutur yang 40% dapat “dikalahkan” oleh yang hanya 5%? Pertanyaan ini muncul karena. Hanya saja bahasa Melayu. yakni bahasa ibu (mother tongue) dan sekaligus bahasa pertama (first language). sudah sangat tersebar ke seluruh negeri. Secara kultural.2003). maka budaya yang dibawa serta oleh bahasa Indonesia (atau bahasa Melayu plus) harus juga diakui sebagai miliknya. yang kemudian berubah menjadi kreol. adalah suatu kejutan budaya. Di pusatpusat perdagangan bahasa Melayu bisa menjadi pijin. menyisihkan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya menjadi mayoritas tetapi tinggal bertengger di Pulau Jawa saja. memiliki bahasa ibu bahasa Jawa. sama-sama bahasa Austronesia. 2005) Tampaknya. Bung Karno yang orang Jawa.

000. orang Jawa tidak dikalahkan melainkan mengalah. maka orang Jawa. Akibatnya. Satu hal yang tampaknya kurang disadari oleh para pemuda saat itu. pasti tidak demikian. merendahkan diri) (Lihat Kartomihardjo. ditemukan adanya 1. jika ada kedwibahasaan seperti itu. Mengalah tidaklah berarti. edisi ke-2 (11991). maka sejak merdeka sebagian besar jabatan di lingkungan pemerintahan dan militer dipegang oleh orang Jawa. menjadikan mereka dwibahasawan Jawa – Indonesia. dari sekitar 72. Sampai sekarang kita dapat melihat betapa besar kosakata bahasa Jawa yang terpinjam oleh bahasa Indonesia. dan tidak dirasakan sebagai. Menurut penelitian Sumarsono (1993) terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). penutur bahasa Jawa dikalahkan oleh penutur bahasa Melayu? Menurut saya. karena unsur persebaran sebagai salah satu dasar pertimbangan yang penting. karena memang pengetahuan yang terbatas. Sikap dan konsep mengalah adalah salah satu kearifan lokal orang Jawa. pasti sedikit banyak ada pengaruh bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang baru dikuasainya. yang diberi kode Jw. Sudah kita maklumi. Jumlah ini tentu tidak akurat karena di dalam KBBI banyak sekali kata yang sebenarnya berasal dari bahasa Jawa tetapi tidak diberi kode Jw. 1981). ialah kenyataan bahwa sebenarnya bahasa Melayu itu memiliki prestise tinggi dibandingkan bahasa-bahasa lain. termasuk Tuhan). Karena masyarakat Jawa menjadi mayoritas penduduk. sejajar dengan sikap dan nilai-nilai nrima (menerima aapa adanya). yang sekarang berjumlah sekitar 80 juta. mengalah dalam menentukan pilihan bahasa persatuan ini mempunyai konsekuensi linguistik. budaya dan bahasa Jawa besar pengaruhnya pada bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. hasil musyawarah ini ternyata benar.387 lema (1. Mengalah adalah konsep luhur tentang pengurbanan. andhap asor (merendah. harus belajar bahasa Melayu sebagai bahasa kedua. Karena yang terpilih adalah bahasa Melayu. Hanya saja. Bagi saya. Kosakata itu menyebaar ke berbagai .9%). Yang saya maksudkan ialah demikian. Pertanyaan yang menarik ialah betulkah. Dipandang dari sudut sosiolinguistik. pasrah (mau menerima apa yang ditentukan atasan. dan ekonomi berada di Jawa. kalah. sebagaimana diungkapkan oleh pakar linguistik negara barat. ditambah dengan kenyataan bahwa pusat pemerintahan.6 yang bernama musyawarah. ketersebaran dan prestise suatu bahasa merupakan modal penting bagi pengangkatannya sebagai bahasa nasional suatu negara baru. politik.Di mata sosiolinguistik. Orang yang mengalah pasti menyadari dan siap berkurban bagi kepentingan bersama dan kepentingan yang lebih “besar”.

kepercayaan. maka jawabannya ialah kita harus menerima bahasa Indonesia sebagai konsekuensi logis dari perilaku kita (sebagai bangsa) sebelum ini. masyarakat tutur yang menjadi dwibahasawan. Sebagian besar (54. pertanian. Sudah dikatakan di depan bahwa Sumpah Pemuda itu bukan sekadar peristiwa politik melainkan juga peristiwa kultural. marga. Buktinya dapat dilihat dari kenyataan lahirnya dialek-dialek bahasa Indonesia di tiap wilayah kekuasaan bahasa daerah. Perkembangan kota yang melahirkan hunian-hunian “Indonesia mini” makin memperkokoh posisi bahasa Indonesia. bahkan desa. memiliki bahasa sendiri. saku. yang berlaku sejak masa lampau ialah kondisi di Flores. Jika pertanyaan ini diarahkah kepada masa sebelum sumpah. 21. kuliner (masakan. Hal demikian tidak begitu terasa di Jawa. Jika pertanyaan tadi diarahkan ke masa setelah sumpah. Di sana tiap kota atau daerah kecamatan. seni-budaya. Hal semacam ini saya kira tidak hanya berlaku di dalam masyarakat Jawa melainkan juga di suku-suku lain.000. Konsekuensi linguistik lain ialah lahirnya homonimi baru. atau menambah anggota hominimi yang sudah ada. maka jawabannya barang kali ialah karena “terpaksa”.77 % adjektiva. Mereka terselamatkan komunikasi sosialnya oleh bahasa Indonesia.387 itu tergolong nomina. Contoh jelas. tetapi berapa persen persisnya sumbangan bahasa Jawa belum saya hitung. jelas bahasa Indonesia berperan sebagai faktor sosial yang menghubungkan antarwarga atau antarkelompok yang berbeda bahasa. 5 Yang menjadi konsekuensi Sampailah kita pada persoalan pokok: mengapa harus bahasa Indonesia. dan 21. NTT. seperti pada kata bodong. Konsekuensi logis itu dibarengi atau disertai konsekuensi kultural dan konsekuensi moral dari adanya Sumpah Pemuda dan diakuinya bahasa ini sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. minuman. dadar. perbuatan. makanan). bahwa sumpah itu memberikan sumbangan besar bagi .41% verba. kapan pun adanya. pada. emosi dan suasana hati. buta. perilaku. keluarga dan kata sapaan. sadak. kudu. sifat dan keadaan barang. jumlah homonimi dalam kamus itu ada hampir berjumlah 3.87 %) dari 1. karena bahasa inilah yang sudah telanjur menjadi alat komunikasi praktis di seluruh wilayah tanah air. Sebagai alat komunikasi. kandar. watak. seperti bera. den. adat. Menurut penelitian saya yang lain terhadap KBBI itu. sakit dan cacat tubuh.7 bidang kehidupan: pandangan hidup. murba.

Bahasa Inggris telah menjadi sarana untuk memenuhi fungsi hegemoninya (Gramsci. nyaris tanpa kontrol dari Pusat Bahasa atau pemerintah. Tidak ada alasan lagi untuk mengelak. untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. . mendampingi penggunaan bahasa ibu. Bahasa Inggris sebagai bahasa dunia telah menjadi bahasa dominan dan mempunyai kekuasaan (power) untuk mempengaruhi bahasa-bahasa lain di dunia. Diangkatnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi dalam konstitusi kita jelas merupakan konsekuensi politis-yuridis. Dan ini memberi kewajiban bagi warga bangsa untuk mematuhinya.8 tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa menuju ke kemerdekaan. Maka perlu diajukan pertanyaan. Itu hukum! 6 Yang perlu dijaga Konsekuensi moral harus ditanggapi dengan tanggung jawab moral untuk selalu menjaga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Media massa cetak dan elektronik di Indonesia begitu leluasa menggunakan bahasa Inggris. Orang tidak bisa lagi beralasan “Saya tidak tahu. “Harus mengakui” sudah terjadi. Karena itu sumpah membawa konsekuensi moral untuk menjalankan apa yang diujarkan dalam sumpah. Kecenderungan untuk hidup atau matinya bahasa secara global telah diingatkan oleh Grimes (2002). 1971). antara lain: (1) Bahasa Indonesia harus dijaga agar tidak terlalu didominasi bahasa Inggris. Imperialisme bahasa (language imperialism) di dunia telah dilakukan oleh bahasa Inggris (Sumarsono. Kita wajib mempertanyakan “harus bahasa Indonesia” itu seperti apa wujudnya. Ada segi ritual-sakral pada suatu sumpah yang mengikat mereka yang terlibat. bagaimana yang namanya “harus” itu.2007). Menurut saya. tetapi “harus menjaga” dan “harus menjunjung tinggi” belum sepenuh hati. Sumpah bukanlah sekadar janji.” karena tahu atau tidak tahu adanya hukum di suatu negara tiap warga harus “dianggap tahu”. “harus menggunakan” sudah jalan. bagaimana cara menjaga dan menjunjung tinggi itu. Sumpah kebahasaan membawa konsekuensi kultural bagi kita bahwa bahasa Indonesia ialah bagian dari budaya kita dan karena itu penggunaannya menjadi wajib. Yang paling memprihatinkan ialah bahwa bahasa Inggris itu telah masuk ke benak bangsa Indonesia melalui struktur kognitif masyarakat (social cognitive structures).

di Papua. dari 80 bahasa daerah. Diglosia itu harus terus dijaga agar tetap stabil. Grimes menulis. Ini berarti. karena dianggap mempunyai prestise tinggi oleh penuturnya.9 Kweldju (2005). Peta kebahasaan S. 2002) menunjukkan ancaman punahnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia Timur. dan kognisi ialah motor penggerak dalam otak kita. masing-masing dengan fungsi-fungsi dan ranah-ranahnya sendiri.L). dari 271 bahasa daerah. maka terancamlah “cara berpikir” bangsa. money politics diindonesiakan menjadi politik uang (padahal kita punya main duit. 56 terancam punah.A. mengutip karya Philipson tentang imperialisme bahasa. “yang efeknya jauh lebih berpengaruh.818 bahasa di dunia yang sudah didaftar. warga terbawah. melainkan disengaja. mengemukakan bahwa dominasi bahasa Inggris di dunia itu bukannya terjadi secara kebetulan. maka mulailah bahasa H akan merambah ke ranah-ranah L dan menggeser fungsi-fungsi L.Wurn terbitan UNESCO (dipetik Grimes. Artinya. Di Indonesia H itu adalah bahasa Indonesia dan L itu bahasa daerah. di Maluku. Struktur konseptual itu kira-kira serupa dengan struktur kognitif. karena metafora pinjaman dapat langsung mempengaruhi struktur konseptual penuturny”. Yang lebih berbahaya lagi. dan yang satu rendah (low =. di antara 6. (2) Bahasa Indonesia harus dapat hidup harmonis bersama dengan bahasa daerah. Sosiolinguistik mengenal apa yang disebut diglosia. ada 330 bahasa yang penuturnya satu juta orang atau lebih. meskipun salah satu bahasa itu berada pada posisi tinggi (high = H). main suap). Kweldju menunjuk penggunaan kosakata bahasa Inggris yang begitu banyak. bahasa H makin banyak digunakan dan bahasa L makin surut. dari 110 bahasa daerah. tiris. grass-root dijadikan akar rumput (padahal kita punya rakyat jelata. Di Sulawesi. melalui bahasa. Dalam KBBI 20% isinya ialah kata pinjaman dari bahasa Inggris. 36 terancam punah. kata Kweldju. ialah penutur bahasa Indonesia sudah masuk ke metafora pinjaman (borrowing metaphor) atau metafora konseptual (conceptual metaphor). jika struktur kognisi bangsa ini sudah dikuasai oleh struktur kognisi bangsa asing. Begitu diglosia itu rembes. yaitu suatu situasi kebahasaan yang memberikan peluang bagi dua bahasa untuk hidup berdampingan. 22 terancam punah dan 11 sudah punah. . 450 bahasa yang penuturnya hanya sedikit dan terancam punah. apalagi bocor. wong cilik). Ambil contoh seperti time is money diindonesiakan menjadi waktu adalah uang (bukan waktu itu uang). Ini yang menyebabkan bahasa-bahasa daerah kita terancam.

dan dengan logis (menurut kaidah logika). Yang ingin saya kemukakan dalam tulisan ini sebenarnya ialah bukan hanya menjawab pertanyaan “Mengapa harus Bahasa Indonesia?”. Dan yang memprihatinkan pelanggaran itu juga dilakukan oleh para insan pendidikan yang guru dan dosen bahasa Indonesia. di Indonesia. Di kampus kita ini masih banyak kita temukan orang menulis formolir. kaidah gramatika. Pengajaran bahasa Indonesia kita juga selayaknya memakai konsep program imersi (immersion program). prihal. saya telah menunjukkan betapa sumpah kebahasaan lebih kuat dari dua sumpah yang lain. kasus-kasus pergeseran bahasa daerah itu disebabkan oleh dominasi bahasa Indonesia. dan bentuk pelanggaran kaidah yang lain.. masih banyak orang berujar “Saya rasa .” (dan bukan”Saya pikir. serta “Bagaimana cara menafsirkan ‘harus’ itu?” Untuk itu. Mungkin ini disebabkan oleh kebijakan bahasa nasional (national language policy) kita kurang tepat.. Nopember. Kita mengaku memiliki bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa daerah itu tergeser karena kalah bersaing dengan bahasa Indonesia. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. penyakitb kebiasaan bekerja tanpa kelengkapan kerja (banyak dosen dan guru bahasa Indonesia yang tidak mempunyai buku pedoman EYD. pedoman Pembentukan Istilah. dan logis.. (3) Kita harus mau dan mampu berbahasa Indonesia dengan benar. dan Kamaus Besar Bahasa Indonesia). dan penyakit malas berpikir. 7 Penutup Begitulah pandangan saya tentang sumpah pemuda. melainkan juga pertanyaan “Mengapa harus Berbahasa Indonesia?”. kaidah pragmatik.”). dan kaidah logika. amprah. Sumpah Pemuda saya pandang . Rebo. penyakit kurang motivasi aktualisasi diri (tidak mau atau malas belajar lagi).. Kita kadang-kadang munafik dan kurang bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia. Masih banyak kita temukan berbagai “pelanggaran” EYD. baik. kita mengatakan mencintai atau menjunjung tinggi bahasa Indonesia tetapi kita tidak mau dan tidak mampu menggunakannya dengan benar (bertaat asas menurut kaidah gramatika). Faktor-faktor penyebab mereka melanggar berbagai kaidah itu penyakit mental (suka asal-asalan. menurut laporan penelitian Asim Gunarwan (2005). kurang disiplin.10 Yang menarik ialah. dengan baik dan tertib (menurut kaidah pragmatik). dsb). tetapi kita tidak mau memeliharanya dengan baik. koprasi. yaitu program pengajaran B2 yang tidak boleh mematikan B1.

Agustus 2005: 193 – 203. Dalam Bambang Kaswanti Purwo.2. Sumarsono. 2005. Makalah dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Hibah Bersaing. 2002.Y: Lawrence & Wishart. “Kasus-Kasus Pergeseran Bahasa Daerah: Akibat Persaingan dengan Bahasa Indonesia” Kweldju.2003. BACAAN Fairclough.No. Gramsci. Gunarwan. Nasionalisme. baik.11 bukan hanya sebagai peristiwa politik. melainkan juga peristiwa kultural dan moral. 2006.1971. Kita juga harus berupaya menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Amlapura. Gejala. 15 November 2006. Malang: Boyan Publishing. 2007. Terjemahan Indah Rohmani. Jakarta. “Imperialisme dalam Pembentukan Istilah”. 12 Oktober 2007 ***** . kultural dan moral. “Kecenderungan Bahasa untuk Hidup atau Mati secara Global (Global Viability): Sebab.Kekuasaan dan Ideologi. Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya. 2005. Sumpah ini membawa konsekuensi logis. “Meningkatkan Nasionalisme melalui Bahasa Indonesia”. Singaraja. “Metafora Pungutan Berpotensi Mempengaruhi Struktur Konseptual Bangsa”. Sumarsono. Norman. Barbara F. dan Pemulihan untuk Bahasa-Bahasa yang Terancam Punah”. A. 31 Juli – 2 Agustus 2007. Relasi Bahasa. N. Sumarsono. dan Bahasa Indonesia. namun yang lebih penting ialah menjaga agar bahasa Indonesia tidak didominasi oleh bahasa Inggris. sebaliknya tidak mendominasi bahasa daerah.Tahun 23. Grimes. Selectin from the Prison Notebook. Asim. Siusana.2005. PELLBA 15. Makalah pada Seminar Sumpah Pemuda. diselenggarakan oleh KNPI dan MGMP Bahasa Inddonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sosiolinguistik. LINGUISTIK INDONESIA. dan logis. berdasarkan kearifan lokal bangsa Indonesia dan kearifan lokal etnik Jawa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->