Proses Produksi Semen

Posted on 28 September 2011.

Produksi Semen
Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi semen, batu kapur (limestone) adalah bahan yang paling besar proporsinya. Oleh karena itu, biasanya pabrik semen akan berlokasi di daerah yang dekat dengan tambang batu kapur. Namun, dari beberapa mineral yang diperlukan untuk proses produksi semen, seperti CaO, Al²0³, Si0², dan Fe²0³ seringkali tidak semuanya bisa didapatkan dari satu lokasi penambangan yang sama, sehingga sebagian bahan baku semen tersebut harus didatangkan dari daerah lain. Desain campuran yang tepat sesuai dengan kualitas jenis semen yang akan diproduksi dipengaruhi oleh proporsi clan kompoisisi kimia masingmasing bahan baku.

Selanjutnya. Ini penting. Kualitas dan komposisi masing-masing bahan baku yang sudah tersimpan dalam tempat penyimpanan ini kemudian secara periodik dilakukan pengujian untuk mengetahui komposisi masing-masing materialnya. masing-masing bahan baku disimpan dalam sebuah gudang penyimpanan bahan baku. .Diagram alur proses produksi semen Proses produksi semen dimulai dari penambangan bahan baku. kemudian material hasil penambangan tersebut diperkecil ukurannya dengan proses pemecahan yang dilakukan oleh alat pemecah batu (stone crusher). sebab desain campuran harus selalu disesuaikan dengan komposisi dari bahan baku yang ada.

sehingga menghasilkan tepung baku (raw meal). yaitu pengeringan dan penghalusan ukuran butiran. Pada mesin produksi modern.Berdasarkan hasil perhitungan proporsi campuran. pengontrolan kualitas ini banyak dilakukan dengan peralatan sinar X dan bantuan peralatan robotik. Selanjutnya tepung baku ini ditumpahkan pada unit pemanasan awal (preheater). • Pada temperatur 100 °C-300 °C terjadi proses pelepasan air yang secara fisik terserap dalam . masing masing bahan baku selanjutnya ditimbang dan dimasukkan ke dalam mesin penggilingan bahan Di dalam mesin ini material mengalami dua macam proses. Tepung baku ini harus dilakukan pengujian kimia secara periodik untuk memastikan bahwa sebelum proses pembakaran. Beberapa fase pemrosesan material di dalam preheater sebagai berikut : • Pada temperatur 20 °C-100 °C terjadi proses evaporasi air bebas dalam bahan baku. tepung baku yang akan diumpankan harus sudah sesuai dengan desain kualitas yang direncanakan.

Di dalam tungku putar ini. Klinker yang telah didinginkan ini merupakan bahan setengah jadi.250 °C terjadi formasi mineral 3Ca0.450 °C terjadi penyempurnaan proses reaksi atau rekristalisasi dari mineral C3S and C2S Untuk menghindari dekomposisi mineral klinker setelah proses klinkerisasi.tepung baku. sebagai berikut. Pada fase pendinginan ini.Al203(C3A) atau sering disebut sebagai Aluminate dan mineral 4CaO. Pada temperatur di atas 1. . kemudian material masuk ke dalam unit pembakaran atau tungku putar. Dari tempat penyimpanan ini selanjutnya semen siap didistribusikan.Fe203 (C. klinker segera didinginkan dengan alat yang disebut Cooler. • Pada temperatur 600 °C-900 °C terjadi proses disosiasi karbonat.300 °C— 1240 °C terjadi proses kristaliasasi fase cair dan pembentukan mineral 3CaO. C3S) atau yang sering disebut sebagai Alite. material mengalami beberapa proses pada rentang temperatur yang berbeda. bahan tersebut ditambahkan gypsum yang berfungsi untuk mengatur waktu pengikatan (setting time) semen yang diproduksi. rentang temperatur 1. Selanjutnya digiling dengan bola-bola baja dalam finish mill hingga mencapai tingkat kehalusan sesuai dengan desain yang direncanakan dan memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dari 75 micron. • Dan pada temperatur di atas 800 °C mulai terjadi proses pembentukan mineral 2CaO. Selama proses penggilingan dalam finish mill.Al203. baik dalam kemasan kantong maupun curah.AF) atau yang sering disebut dengan Ferrite. Pada temperatur sekitar 1.Si0² (dicalcium silicate. Si0²(tricalcium silicate. Bubuk semen yang telah digiling dan mencapai kehalusan yang dikehendaki selanjutnya disimpan dalam tempat penyimpanan semen (cement silo). • Pada temperatur 400 °C-900 °C terjadi pelepasan struktur air dari mineral lempung. Dari unit pemanasan awal ini. setelah keluar dari tanur. • Pada temperatur di atas 500 °C terjadi perubahan sturktur material silikat. C²S) atau sering disebut dengan Belite.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful