P. 1
PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN KECAKAPAN HIDUP TERINTEGRASI DENGAN NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BERUSAHA

PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN KECAKAPAN HIDUP TERINTEGRASI DENGAN NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BERUSAHA

|Views: 1,224|Likes:
Published by Gilang Nugraha
Teori yang melandasi penelitian ini adalah: teori dan pendekatan pendidikan luar sekolah, pembelajaran orang dewasa, pelatihan, pendidikan kecakapan hidup, konsep dan nilai-nilai budaya lokal, serta kemandirian berusaha.
Teori yang melandasi penelitian ini adalah: teori dan pendekatan pendidikan luar sekolah, pembelajaran orang dewasa, pelatihan, pendidikan kecakapan hidup, konsep dan nilai-nilai budaya lokal, serta kemandirian berusaha.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Gilang Nugraha on May 23, 2012
Copyright:Attribution

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2014

pdf

text

original

PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN KECAKAPAN HIDUP TERINTEGRASI DENGAN NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BERUSAHA

(Studi Pada Masyarakat Pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Provinsi Gorontalo)

DISERTASI

OLEH Dr. ABD. HAMID ISA, M.Pd.I

SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2012

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 1

ABSTRAK Penelitian ini bertolak dari problematik bagaimana upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Provinsi Gorontalo. Fakta menunjukkan bahwa di wilayah ini terdapat 51% masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan. Sebagai mata pencaharian tetap, nelayan melakukan aktivitasnya dalam kondisi seadanya saja dan hal ini berpengaruh pula pada perolehan hasil tangkapan serta pendapatan mereka setiap hari dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Salah satu upaya strategis yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembangkan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha. Teori yang melandasi penelitian ini adalah: teori dan pendekatan pendidikan luar sekolah, pembelajaran orang dewasa, pelatihan, pendidikan kecakapan hidup, konsep dan nilai-nilai budaya lokal, serta kemandirian berusaha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (RD), yang meliputi kegiatan: (1) studi pendahuluan, (2) pengembangan draft awal model konseptual kecakapan hidup, (3) validasi ahli dan revisi, (4) implementasi model, (5) uji keefektifan model, dan (6) model direkomendasikan. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: (1) kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir serta keterampilan kecakapan hidup relatif rendah, , (2) kondisi pendidikan kecakapan hidup yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat nelayan belum sepenuhnya mengakomodir kebutuhan belajar keterampilan dan kemandirian berusaha yang perlu dikembangkan, (3) validasi ahli telah menghasilkan model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha, (4) implementasi model menghasilkan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dapat meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat, (5) Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang dikembangkan dalam penelitian ternyata efektif dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Temuan penelitian ini menunjukkan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha direkomendasikan kepada pihak-pihak terkait untuk mengembangkan program yang berfokus pada peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui kegiatan pembinaan, pendidikan dan pelatihan keterampilan praktis dan produktif. Prioritas program ini penting karena dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal maka secara simultan berpengaruh pula terhadap wawasan, orientasi dan sikap masyarakat terhadap pekerjaan, pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, peningkatan pendapatan serta kualitas hidupnya.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 2

ABSTRACT

This research emerges from the quest to establish the efforts made to improve the autonomy of entrepreneurs of the coastal communities in the Sub-district of Batuda in the Province of Gorontalo. The prevailing condition reveals that in this area, over 51 % of the community members are fish-mongers. As their permanent job, these people do their activities in a sober condition, it influences the result of their work and also their daily income something which affects their family needs. One of the strategic efforts to solve this problem is by developing an integrated life-skills model based on the local values to improve their reliance in entrepreneurship. The theories that underlie this research are; the theory and approach of continuing education (nonformal/informal), adult learning, training, life-skills education, the concept of local values, and also self-reliant entrepreneurship. The method applied in this research was Research and Development (R&D), involving the following activities: (1) preliminary study, (2) developing the first life-skill conceptual model, (3) validation by the expert and revision, (4) model implementation, (5) testing the effectiveness of the model, (6) recommendation of the model. The research results and development comprise of: (1) the social and economic condition of the coastal communities as well as the life-skills are relatively low, (2) the condition of lifeskills education conducted in the fishing communities has not fully accommodated the needs of independent learning and self-reliant entrepreneurship skills,(3) the validation of experts has led to a conceptual model of life-skills training integrated with local cultural values in trying to improve the self-dependence of entrepreneurs, (4) implementation of a life-skills model led to an integrated life-skill training model integrating the local values of the local communities in trying to improve the self-dependence entrepreneurship skills, (5) life-skills integrated training model consisting of the local values developed in this study was effective in enhancing the self-reliant entrepreneurship society. The findings of this study suggested a model of life-skills integrated training model which consists local cultural-values in enhancing self-reliant entrepreneurs to be recommended to the parties concerned to develop a programme that focuses on improving knowledge, attitudes and skills through training, education and training of practical and productive skills. The priority of this programme is important because with the increased knowledge and skills about the fully integrated local cultural-values can affect the simultaneous insight, orientation and attitudes towards entrepreneurship activities which meet the requirements of daily living, increased income and improved quality of life.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 3

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kondisi pembangunan pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi yang belum sepenuhnya normal setelah dari krisis yang melanda dunia, secara cepat tidak bisa memberi nilai tambah yang signifikan bagi pengurangan pengangguran, dan pengentaskan kemiskinan. Masyarakat di pedesaan dan yang ada di kantong-kantong kemiskinan di perkotaan adalah warga negara yang lebih banyak dan secara terus menerus mengalami berbagai masalah tersebut. Mereka adalah kelompok masyarakat yang hampir total mengalami ketidakberdayaan (lack of resources) untuk mengembangkan diri dari komunitasnya, sehingga dalam waktu panjang, mereka akan tetap berada pada lingkaran kebodohan, kemiskinan, dan ketidak berdayaan. Kondisi masyarakat demikian, cenderung akan menimbulkan dampak negatif yang dapat merugikan masyarakat luas (Suryadi, 2009: 5). Kondisi ini pula mempengaruhi kelangsungan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek khususnya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Kebijakan pembangunan bidang kelautan dan perikanan, selama ini, cenderung lebih mengarah kepada kebijakan “produktivitas” dengan memaksimalkan hasil eksploitasi sumber daya laut tanpa ada kebijakan memadai yang mengendalikannya. Akibat dari kebijakan tersebut telah mengakibatkan beberapa kecenderungan yang tidak menguntungkan dalam aspek kehidupan, seperti: (1) Aspek Ekologi, overfishing penggunaan sarana dan prasarana penangkapan ikan telah cenderung merusak ekologi laut dan pantai (trawl, bom, potas, pukat harimau,) akibatnya menyempitnya wilayah dan sumber daya tangkapan, sehingga sering menimbulkan konflik secara terbuka baik bersifat vertikal dan horisontal (antara sesama nelayan, nelayan dengan masyarakat sekitar dan antara nelayan dengan pemerintah), (2) Aspek Sosial Ekonomi, akibat kesenjangan penggunaan teknologi antara pengusaha besar dan nelayan tradisional telah menimbulkan kesenjangan dan kemiskinan bagi nelayan tradisional. Akibat dari kesenjangan tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan tradisional mengubah profesinya menjadi buruh nelayan pada pengusaha perikanan besar, dan (3) Aspek Sosio Kultural, dengan adanya kesenjangan dan kemiskinan tersebut menyebabkan ketergantungan antara masyarakat nelayan kecil/ tradisional terhadap pemodal besar/modern, antara nelayan dan pedagang, antara pherphery terdapat center, antara masyarakat dengan pemerintah. Hal ini menimbulkan penguatan terhadap adanya komunitas juragan dan buruh nelayan.(Syarief, 2001 :1) . Berkaitan dengan masalah yang dihadapi masyarakat pesisir maka sangat diperlukan suatu strategi yang bisa diandalkan untuk mengendalikan sekaligus dapat menumbuhkan investasi sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi masyarakat. Dewasa ini investasi sumber daya manusia menempati prioritas tertinggi, pemerintah masih pula dihadapkan terhadap persoalan klasik tentang mutu dan relevansi pendidikan yang tampak masih penuh “misteri” jika dihadapkan pada kondisi nyata kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja. Masalah lain yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan, pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasilhasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era global dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga Page 4

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman kebutuhan/keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat Pembangunan pendidikan pasca krisis yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengimplementasikan kembali program-program pembentukan Sumber Daya Manusia yang bermutu, dan profesional sebagai pelaku pembangunan baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah (Ditjen PLS, 2004). Pendidikan merupakan instrumen yang penting bagi setiap bangsa untuk meningkatkan daya saingnya dalam percaturan politik, ekonomi, hukum, budaya dan pertahanan pada tatanan kehidupan global. Sadar akan hal ini maka setiap bangsa selalu membangun dunia pendidikan tanpa henti-hentinya. Bahkan ada kecenderungan yang amat jelas bahwa ada beberapa negara semakin meningkatkan investasinya dalam dunia pendidikan. Semakin intensif melakukan investasi dalam dunia pendidikan, semakin meningkat pula daya saing untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang prima. Bagi bangsa Indonesia upaya pengembangan sumber daya manusia dalam berbagai dimensi telah menjadi sebuah prioritas kecuali itu adanya komitmen untuk menyelenggarakan pendidikan secara berkualitas baik dari segi proses dan hasil pendidikan terkait dengan kompetensi lulusannya pada berbagai jenjang dan satuan pendidikan formal dan pendidikan non formal. Ditinjau dari tataran implementasi ternyata bahwa pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar persekolahan yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah dalam kerangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan berorientasi kemasa depan dapat menjadi pilar penting bagi pembangunan. Pendidikan luar sekolah baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat pada gilirannya telah memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi peningkatan sumber daya manusia. Trisnamansyah S (Kamil, 2010 : 30) menyatakan bahwa ilmu pendidikan luar sekolah diartikan sebagai ilmu yang secara sistematik mempelajari interaksi sosial-budaya antara warga belajar sebagai objek dengan sumber belajar dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan, dengan menekankan pada pembentukan kemandirian, dalam rangka belajar sepanjang hayat. Sementara itu Phillips H. Combs (dalam Joesoef, 1986; 50) menyatakan bahwa ”Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan belajar”. Definisi ini menjelaskan bahwa pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal yang memberikan layanan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. Terdapat empat hal yang menjadi pilar pengembangan Pendidikan luar sekolah sebagaimana dikemukakan oleh Sihombing (2000 :13), yaitu (1) memperluas pelayanan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang tidak dibelajarkan pada jalur pendidikan sekolah, (2) meningkatkan relevansi, keterkaitan dan kesepadanan programprogram pendidikan luar sekolah dengan kebutuhan masyarakat, kebutuhan pembangunan, kebutuhan dunia kerja, pengembangan industri dan ekonomi masyarakat dan pengembangan sumber daya alam, (3) peningkatan mutu penyelengggaraan dan hasil pendidikan luar sekolah, serta (4) meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 5

Empat pilar sebagaimana disebutkan di atas bila dicermati sebenarnya mengandung arti bahwa pendidikan luar sekolah turut mengemban upaya pemerintah dalam menuntaskan masalah pembangunan pendidikan dewasa ini berkenaan dengan mutu, pemerataan, relevansi, efektifitas dan efisiensi. Untuk menyikapi masalah pendidikan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah menyelenggarakan berbagai program antara lain sebagai berikut (1) Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), (2) Program Keaksaraan Fungsional, (3) Program Pendidikan Dasar, (4) Program Pendidikan Kewanitaan, (5) Program Pendidikan Luar Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (DIKLUSEMAS), dan (6) Program PLS lainnya seperti Program Pendidikan dan Pelatihan, Program Magang, serta Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills). Program-program pendidikan luar sekolah merupakan program yang dapat dilaksanakan antar lintas sektor, karena itu program-program ini dapat dilakukan oleh siapa saja dan lembaga mana saja sepanjang para stakeholder di maksud mempunyai niat yang tulus dan ikhlas untuk membantu upaya pendidikan secara merata, berkualitas dan berkesinambungan. Gagasan tentang pendidikan kecakapan hidup (life skills) bukanlah sesuatu yang baru, meskipun konsep pendidikan berorientasi kecakapan hidup baru digulirkan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Menurut Santoso S. Hamidjojo (2002 : 2-3) gagasan tentang pendidikan kecakapan hidup telah dimulai oleh UNESCO pada tahun 1949 melalui konsep functional literacy. Gagasan pokok dari konsep tersebut adalah agar kemampuan baca-tulishitung dapat berfungsi memberi manfaat bagi yang bersangkutan untuk keluar dari tiga kesengsaraan, yaitu : kebodohan (ignorance), kepenyakitan (ill-healith), dan kemelaratan (proverty). Pentingnya pembelajaran kecakapan hidup telah mendapat pengakuan dari para pakar yang berkecimpung di dunia pendidikan. Penegasan tentang pentingnya kecakapan hidup dapat dilihat pada Pokok-Pokok Deklarasi Dakkar Tahun 2000 tentang Pendidikan Untuk Semua (Fasli Jalal : 2004, 11-12) yang menunjukkan adanya hak bagi setiap warga negara, baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk memperoleh kesempatan yang ada dalam mengikuti pendidikan kecakapan hidup, dan adanya kewajiban bagi setiap negara untuk menyediakan, memperbaiki, meningkatkan dan menjamin kualitas penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup, terutama kecakapan hidup yang bersifat penting, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara merata. Kecakapan hidup (life skills) merupakan sebuah konsep yang sering dikemukakan oleh para ahli maupun organisasi yang memiliki otoritas terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Konsep life skills dalam bidang kesehatan, seperti yang didefinisikan oleh WHO adalah sebagai suatu keterampilan atau kemampuan manusia untuk dapat beradaptasi dan berprilaku positif, yang memungkinkan seorang manusia mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam kehidupannya sehari-hari secara efektif, terutama dalam aspek kesehatan dan kesejahteraannya. Pentingnya pendidikan kecakapan hidup bagi setiap pribadi karena mereka menghadapi berbagai masalah yang harus senantiasa diselesaikan dalam kehidupannya sehari-hari. Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada individu memasuki kehidupan yang mandiri, anggota masyarakat dan warga negara. Sehingga dengan penguasaan terhadap life skills, individu diharapkan akan menjadi individu yang mampu memecahkan permasalahan-permasalahannya dengan menemukan alternatif / solusi yang tepat yang berimplikasi positif bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang berada di sekitar kehidupannya. Perilaku dan karakter inilah yang akan menyebabkan mereka bisa beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan zaman, survive dan bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsanya. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 6

Dalam pada itu, bahwa seseorang memerlukan berbagai macam kemampuan supaya dapat hidup dengan sukses, bahagia, bermartabat dalam masyarakatnya. Hal ini dapat terwujud jika seseorang/individu mampu mengembangkan komunikasi yang efektif dalam hidupnya, mampu mengembangkan kerjasama, mampu melaksanakan perannya (berdaya) sebagai warga negara yang bertanggung jawab, memiliki karakter dan berpola pikir maju dalam kehidupannya. Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang khususnya kelompok rentan dan lemah dan tidak memiliki akses sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam berbagai dimensi kehidupannya. Suharto (2005) melihat dimensi-dimensi tersebut adalah (a) memenuhi kebutuhan bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan (b) menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan, dan (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. Pemberdayaan masyarakat sebagai sebuah strategi, sekarang telah banyak diterima, bahkan telah berkembang dalam berbagai literatur di dunia barat. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Sosial di Kopenhagen Tahun 1992 juga telah memuatnya dalam berbagai kesepakatannya. Namun, upaya mewujudkannya dalam praktik pembangunan tidak selalu berjalan mulus. Banyak pemikir dan praktisi yang belum memahami dan mungkin tidak meyakini bahwa konsep pemberdayaan merupakan alternatif pemecahan terhadap dilema-dilema pembangunan yang dihadapi. Mereka yang berpegang pada teori-teori pembangunan model lama juga tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan pandanganpandangan dan tuntutan-tuntutan keadilan. Lebih lanjut, disadari pula adanya berbagai bias terhadap proses pemberdayaan masyarakat sebagai suatu paradigma baru pembangunan. Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial dan ekonomi. Konsep ini yang mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “peoplecentered, participatory, empowering, and sustainable” (Chambers, dalam Suhato, 2005). Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap konsep-konsep pertumbuhan dimasa yang lalu. Konsep pemberdayaan tidak mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan, karena seperti dikatakan oleh Donald Brown (dalam Suharto, 2005), keduanya tidak harus diasumsikan sebagai “incompatible or antithetical”. Konsep ini mencoba melepaskan diri dari perangkap “zero-sum game” dan “trade off”. Ia bertitik tolak dari pandangan bahwa dengan pemerataan tercipta landasan yang lebih luas untuk pertumbuhan dan yang akan menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan melalui upaya pendidikan dipengaruhi oleh kondisi nilai budaya setempat. Nilai budaya lokal yang ditampilkan dalam bentuk tradisi, yang dianut oleh suatu masyarakat merupakan konsepsi yang telah lama berakar dalam diri individu yang direfleksikan melalui sikap. Nilai-nilai budaya yang dimiliki telah menanamkan garis pengarah dan mewarnai perilaku individu, maupun kelompok masyarakat. Sumaatmadja (Suryana, 2009 : 68) mengemukakan bahwa dalam proses kehidupan individu yang selalu berhubungan dengan lingkungan sosial, ia tidak dapat lepas dari lingkungan budayanya. Norma, nilai, peraturan, pranata, bangunan, peralatan, sampai kepada pakaian yang melekat pada dirinya, merupakan lingkungan budaya yang mempengaruhi kepribadian individu yang bersangkutan. Page 7

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Uraian ini menujukkan bahwa dalam menyelenggarakan aktivitas pendidikan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan potensi nilai budaya lokal yang terdapat pada dilingkungan masyarakat. Potensi nilai budaya lokal berfungsi sebagai pedoman, aturan-aturan dan norma-norma yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. P.J. Bouman (Kamil, 2007 : 54) memberikan alasan mengapa masyarakat tidak menyadari akan kehidupannya, hal tersebut terjadi sebagai akibat dari konsep pemahaman diri dan konsep pemahaman lingkungan yang selalu ditentukan oleh aturan-aturan yang sebenarnya tidak dipahami. Padahal sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakukan manusia. Sistem-sistem tata kelakukan manusia lain yang tingkatannya lebih konkrit seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai budaya itu. Dalam dimensi lain upaya memberdayakan masyarakat dipengaruhi pula oleh kondisi tingkat kehidupan dan faktor geografis terutama masyarakat di daerah pesisir. Kondisi ini mempengaruhi mata pencaharian penduduk nelayan setempat. Wilayah yang langsung bersentuhan dengan laut lepas pada umumnya pekerjaan nelayan adalah nelayan penangkap. Wilayah yang letaknya di daerah teluk, pekerjaan nelayan selain penangkap, ada juga yang melakukan budidaya hasil laut, seperti budi daya kepiting bakau, rumput laut, kerang, pertambakan, budi daya ikan seperti ikan karapu, pembuatan jaring perahu, pengolahan hasil laut dan sebagainya. Mata pencaharian penduduk pada daerah kawasan pesisir dan kepulauan pada umumnya dibagi atas empat, yaitu home industry, pedagang/distribusi, petani/nelayan dan buruh nelayan, (BP-PNFI Regional V, 2010 : 2). (1) Home industry yaitu kegiatan ekonomi yang memanfaatkan hasil perikanan. Hal ini berupa mengolah hasil tangkapan ikan, atau kerajinan dari sumber laut. Kelompok ini sangat sedikit jumlahnya, kurang lebih 5 %, (2) Pedagang/distribusi, para pelaku ekonomi ini mendistribusikan hasil perikanan, baik berupa perikanan hasil tangkapan nelayan maupun home industri, dan kebanayakan masyarakat pesisir terutama yang pendatang lebih banyak bergerak disektor ini, kelompok ini jumlahnya kurang lebih 10 %, (3) Petani/nelayan, adalah nelayan pemilik modal pelaku ekonomi ini menyewakan peralatan nelayan baik berupa alat tangkap maupun kapal dengan sistem kerja bagi hasil yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, dan yang bergerak di sektor ini adalah para pendatang. Kelompok ini biasanya disebut punggawa atau juragan jumlahnya kurang lebih 25 %. Walaupun jumlahnya sedikit, cukup berpengaruh di daerah pesisir dan pulau karena sebagian besar penduduk sangat menggantungkan hidupnya pada kelompok ini, (4) Buruh/nelayan, adalah nelayan yang tidak mempunyai modal, dia hanya bermodalkan badan, dan yang bergerak di sektor ini adalah para nelayan tetap atau penduduk asli. Kelompok ini biasanya juga disebut sawi, hidupnya sangat tergantung punggawa. Kelompok ini merupakan kelompok besar di daerah pesisir, jumlahnya kurang lebih 60 %. Kecamatan Batudaa Pantai merupakan salah satu Kecamatan yang berada diwilayah hukum Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo yang secara definitif terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 43 Tahun 1995, sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Batudaa yang terdiri dari 13 (tiga belas) desa. Selanjutnya dimekarkan lagi pada tahun 2008 dengan hasil pemekarannya adalah Kecamatan Biluhu. Berdasarkan pemutahiran data penduduk akhir tahun 2009, jumlah penduduk Kecamatan Batudaa Pantai adalah 11.959 jiwa, terdiri Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 8

dari laki-laki 6.142 jiwa dan 5.817 jiwa perempuan. Jumlah Kepala Keluarga 2.984 KK, 712 KK diantaranya dikategorikan KK miskin (Laporan Akuntabilitas Kinerja, 2011: 2). Selanjutnya dari studi eksplorasi yang dilaksanakan di daerah ini diperoleh data dan informasi bahwa sekitar 51% masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan (BPS Kabupaten Gorontalo, 2011). Sebagai mata pencaharian tetap para nelayan ini melakukan aktivitasnya dalam kondisi seadanya saja dan hal ini berpengaruh pula pada perolehan hasil tangkapan serta pendapatan mereka setiap hari dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagai bagian dari upaya penyelenggaraan pembangunan masyarakat, komunitas nelayan telah pula mendapatkan perhatian dari pemerintah kaitannya dengan program/kegiatan pembinaan kecakapan hidup peningkatan produktivitas usaha nelayan dan pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat diwujudkan dalam bentuk pendampingan dan bantuan dana. Bantuan pendampingan diwujudkan dalam bentuk penugasan tenaga fasilitator beserta dukungan dan operasional untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat agar mampu melaksanakan berbagai usaha mata pencaharian dengan tujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kualitas hidup masyarakat nelayan. Berbagai kegiatan pendampingan dan fasilitasi yang telah dilakukan antara lain berupa, (1) pertemuan-pertemuan, musyawarah, diskusi, ditingkat komunitas/desa, untuk pengambilan keputusan atau sosialisasi, (2) pelatihan dan bimbingan, survey swadaya, kerja kelompok penyusunan program pembangunan, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan program, (3) Bantuan permodalan yang diwujudkan dalam bentuk pengadaan fasilitas motorisasi nelayan, dan pemenuhan alat-alat tangkap, (4) Pengembangan koperasi nelayan sebagai upaya strategis dalam membantu dan memfasilitasi segala kebutuhan nelayan dan keluarganya. Dari bentuk program pendampingan ini diharapkan dapat mewujudkan terciptanya masyarakat yang mampu melaksanakan usahanya secara lebih produktif, makin meningkatnya kondisi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup yang pada gilirannya terbentuknya kemampuan masyarakat yang memiliki kemandirian berusaha. Kemandirian berusaha masyarakat sangat erat kaitannya dengan sistem lingkungan sosial, sistem budaya, perubahan sosial ekonomi yang berpengaruh pula terhadap kehidupan interaksi mobilitas pergaulan masyarakat itu sendiri. Transformasi nilai-nilai budaya masyarakat yang beragam perlu dipertimbangkan dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan potensi, pemberdayaan masyarakat yang diharapkan oleh setiap individu, masyarakat dan negara. Kajian tentang penyelenggaraan program kecakapan hidup bagi masyarakat penting dilakukan hal ini sebagaimana hasil temuan penelitian Wiratno (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2008 : 529-530) mengemukakan bahwa penyelenggaraan program life skills pada umumnya tidak didasari atas minat dan bakat serta kebutuhan peserta didik, melainkan program yang sudah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, sehingga pelaksanaannya belum dapat mencapai sasaran yang optimal. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan kecakapan hidup harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannya dan mendidik peserta didik sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Berdasarkan uraian di atas, maka upaya pengembangan model pelatihan pendidikan kecakapan merupakan suatu program yang penting karena dapat memberikan peluang bagi masyarakat guna mengembangkan potensi yang dimilikinya, dalam penelitian ini diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal. Selanjutnya urgensi pemberdayaan masyarakat sebagai sasaran dari upaya pendidikan luar sekolah diharapkan dapat memberi ruang pengembangan usaha produktif masyarakat sebagai alternatif pemecahan masalahDr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 9

masalah yang dihadapinya dan perwujudan kemandirian berusaha masyarakat pesisir dan atau masyarakat nelayan. Jika suatu program pelatihan yang dilaksanakan dapat memberikan bekal dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehingga masyarakat dapat mampu bekerja dan berusaha baik secara individu maupun kelompok, maka selain dapat menimbulkan semangat dan motivasi kerja bagi masyarakat itu sendiri pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan pendapatan serta kualitas hidup masyarakat. Berbagai model pelatihan telah banyak dikembangkan, baik yang bertujuan untuk kepentingan individu, lembaga, maupun masyarakat. Model-model yang dikembangkan melalui beberapa langkah seperti dikemukakan Sudjana (1993 :14), model latihan keterampilan kerja, model strategi latihan, model lima langkah, model tujuh langkah, model sembilan langkah. Dari formula model di atas, peneliti mengangkat upaya meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir melalui pengembangan model konseptual pendidikan kecakapan hidup (life skills) terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah maka dalam kaitan dengan tema penelitian ini dapat diindentifikasi beberapa asfek masalah sebagai berikut: 1. Sebahagian besar masyarakat atau sekitar 51% bermata mata pencaharian nelayan (BPS Kabupaten Gorontalo, 2011). Dominannya mata pencaharian pokok masyarakat nelayan ini berkonsekuensi pula terhadap terbatasnya pengembangan jenis kecakapan dan keterampilan di lingkungan masyarakat pesisir yang pada akhirnya pula masyarakat hanya melakukan kegiatan dengan mata pencaharian sebagai nelayan, dan tingkat pendapatan yang minimal. 2. Penyelenggaraan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai pada umumnya belum sepenuhnya berpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan masyarakat ke arah yang lebih baik khususnya bagi peningkatan taraf hidup masyarakat nelayan. 3. Sebagai sebuah wilayah dengan komunitas mayoritas bermata pencaharian nelayan, Kecamatan Batudaa Pantai memiliki berbagai potensi lokal yang besar, baik berupa sumber daya alam, nilai-nilai budaya lokal, prinsip-prinsip kemasyarakatan, maupun potensi lainnya yang dapat diberdayakan, akan tetapi berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal. 4. Aspek pengembangan sumber daya manusia melalui upaya pendidikan nonformal, khususnya dalam kegiatan pendidikan kecakapan hidup masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Oleh karenanya perlu dikembangkan sebuah model pelatihan kecakapan hidup sebagai upaya pemberdayaan masyarakat pesisir secara terprogram dan berkesinambungan. C. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian Mengacu pada hasil identifikasi masalah maka permasalahan umum yang akan diteliti adalah “bagaimana model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir” 1. Bagaimana kondisi objektif sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. 2. Bagaimana kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir. 3. Bagaimana model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilainilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 10

4. Bagaimana implementasi model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. 5. Bagaimana efektivitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilainilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menemukan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui data kondisi objektif sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. b. Mengetahui kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir. c. Mengembangkan model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. d. Mengetahui implementasi model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. e. Mengetahui efektivitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. E. Manfaat Penelitian Model pelatihan pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan keilmuan kajian pendidikan luar sekolah, khususnya model pengembangan pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan konsep pembelajaran, pemberdayaan masyarakat dan kecakapan hidup. Dengan difokuskannya penelitian ini pada usaha untuk menemukan model, maka penelitian ini pun dapat dijadikan prototype model pengembangan pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Pada akhirnya, hasil penelitian ini pun diharapkan dapat bermanfaat bagi perluasan kajian materi-materi Pendidikan Luar Sekolah yang berkenaan dengan dialektika keilmuan masyarakat. 2. Manfaat Praktis a. Dapat memberikan masukan bagi pengemban kebijakan dalam upaya pengembangan kehidupan masyarakat pesisir dalam rangka meningkatkan kemandirian berusaha melalui model pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan. b. Dapat memberikan masukan positif bagi organisasi mitra sebagai wadah usaha peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir atau pihak-pihak yang berkepentingan dalam konteks pengembangan peran serta dan pemberdayaan masyarakat yang dibutuhkan dalam mempercepat perbaikan dan perwujudan kemandirian berusaha masyarakat nelayan dan keluarganya. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 11

c. Bermanfaat sebagai bahan kajian dan memberikan arah bagi pihak lain yang berminat untuk meneliti permasalahan ini secara lebih lanjut. F. Asumsi Kajian model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir, didasari beberapa asumsi sebagai berikut : 1. Peningkatan taraf hidup masyarakat melalui berbagai upaya termasuk dibidang pengembangan sumber daya pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang perlu disukseskan dan menjadi tanggung jawab semua pihak dalam mendukung implementasinya bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat yang diharapkan. 2. Upaya mengemban program pengembangan sumber daya manusia di bidang pendidikan senantiasa didasari oleh tujuan pendidikan nasional sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan baik tataran sektoral maupun program. Usaha untuk mencapai sasaran pendidikan nasional tersebut menjadi landasan bagi penyelenggaraan pendidikan luar sekolah, pendidikan kecakapan hidup, pemberdayaan masyarakat yang pada gilirannya terbentuknya kemandirian berusaha dilingkungan masyarakat. 3. Suatu deskripsi ideal model pelatihan kecakapan hidup terintegasi nilai-nilai budaya lokal dilingkungan masyarakat pesisir bagi peningkatan kemandirian masyarakat dapat dihasilkan melalui kajian dan sinergi keilmuan antara deskripsi sasaran masyarakat yang menjadi objek pembahasan dengan dukungan teori yang relevan dengan substansi kajian. 4. Bahwa dalam masyarakat senantiasa terdapat nilai-nilai budaya yang dipelihara dan menjadi bagian kehidupannya berfungsi sebagai kriteria dalam memilih tujuan-tujuan hidupnya. Nilai budaya merupakan unsur penting bagi kehidupan masyarakat termasuk masyarakat yang bermata pencaharian nelayan. Bagi masyarakat nelayan nilai-nilai ini biasanya dijunjung tinggi diakui bersama sebagai hasil konsensus yang erat kaitannya terhadap pandangan dan harapan dalam meningkatkan kemandirian berusaha guna memenuhi peningkatan kualitas hidup bermasyarakat. 5. Selanjutnya adanya kajian terhadap masyarakat yang diinginkan (kemandirian) dilapangan yang terkait dengan pentingnya penyelenggaraan dan pengembangan kecakapan hidup dalam perspektif ilmiah, pada dasarnya sebagai tuntutan dalam menyelenggarakan program ini bagi upaya peningkatan kemandirian berusaha bagi masyarakat. Berdasarkan deskripsi ideal pendidikan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir yang merupakan hasil kajian dan sinergi keilmuan pada dasarnya dapat diajukan acuan penyusunan model konseptual (rancangan model) pendidikan kecakapan hidup dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Kajian ketiga unsur ini menjadi landasan bagi terciptanya suatu model yang efektif dan implementatif dalam pelaksanaan dan pengembangan pendidikan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. G. Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan permasalahan penelitian, maka perlu dikemukakan definisi operasional terhadap istilah-istilah yang berkaitan dengan variabel penelitian. 1. Model Pelatihan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 12

Model merupakan interpretasi atas fenomena yang terjadi dalam praksis penyelenggaraan pelatihan, karena melalui model dapat dirumuskan serangkaian kegiatan yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan. Model pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kegiatan pelatihan bagi masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan serta peningkatan partisipasi individu, kelompok dan masyarakat yang dilakukan dalam rangka memampukan dan memberdayakan diri sehingga masyarakat dapat mengaktualisasikan potensinya secara optimal. 2. Pendidikan Kecakapan Hidup Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Pendidikan kecakapan hidup yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan baik dan produktif. Dalam arti bahwa pendidikan kecakapan hidup sebagai pendidikan yang memberi bekal dan latihan yang dilakukan secara benar kepada individu, kelompok tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya secara optimal dan produktif. 3. Nilai-Nilai budaya Lokal Secara umum, nilai sebagai ukuran sikap dan perasaan seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan keadaan baik buruk, benar salah atau suka tidak suka terhadap suatu obyek baik material maupun non material. Nilai budaya lokal merupakan nilai yang berlaku bagi masyarakat yang biasanya dijunjung tinggi diakui bersama sebagai hasil konsensus erat kaitannya dengan pandangan dan harapan dalam meningkatkan kemandirian berusaha guna memenuhi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Nilai budaya lokal yang diidentifikasi dan dikembangkan dalam penelitian ini dengan sasaran masyarakat nelayan terkait dengan kemandirian berusaha menyangkut aspek sebagai berikut : Toleran, Kepatuhan kepada Pemimpin/Pimpinan, Kerjasama, Kekerabatan, Rasa Ingin Tahu, Menghargai Keberhasilan orang lain, Kerja Keras, dan Saling membagi hasil. 4. Kemandirian Berusaha Secara umum konsep kemandirian dapat dikaji dalam dua hal, yaitu kemandirian “psikologis” dan “sikap mental kewirausahaan”. Kemandirian psikologis sebagai kesiapan dan kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari ikatan emosi dengan orang dewasa lain dalam mengatur, mengurus, dan menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, seberapa jauh kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya melalui perbuatan atau tindakan nyata, serta kemampuan untuk melawan/menolak tekanan atau tuntutan orang lain berdasarkan prinsip benat dan salah, atau penting dan tidak penting. Sikap mental kewirausahaan berkaitan dengan sikap masyarakat terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mencakup aspek percaya pada diri sendiri, berorientasi tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan, dan berorientasi kemasa depan. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 13

Kemandirian berusaha dalam penelitian dipahami sebagai ketidaktergantungan kepada pihak lain (dependency). Ketidak tergantungan tidak berarti keterisolasian dan tidak berarti tidak mengenal adanya saling ketergantungan (interdepedency). Kemandirian berusaha mengacu pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang didasari oleh kemandirian psikologis dan kemandirian berusaha. 5. Masyarakat Pesisir Masyarakat pesisir adalah komunitas yang bertempat tinggal di kawasan pesisir pantai dengan mata pencaharian pokok bekerja sebagai nelayan. Dalam kelompok masyarakat pesisir di dalamnya terdapat banyak kelompok kehidupan masyarakat antara lain : (1) Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan di laut, (2) Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan, (3) Masyarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir, (4) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh. H. Kerangka Berpikir Penelitian Berdasarkan pokok masalah dan tujuan penelitian sebagaimana dijelaskan pada uraian sebelumnya, maka kajian dalam penelitian ini berupaya mengembangkan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Pengembangan model pelatihan kecakapan hidup merupakan masalah utama yang dijadikan variabel kunci dalam meningkatkan kemandirian masyarakat. Kemandirian merupakan variabel yang dipengaruhi oleh kegiatan pelatihan kecakapan hidup yang diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal yang diimplementasikan dilingkungan masyarakat pesisir. Model konsep pelatihan kecakapan hidup dalam operasionalnya diidentifikasi melalui komponen perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan aspek –aspek sebagai berikut: tujuan pembelajaran, kelompok sasaran, nara sumber, kurikulum, bahan belajar dan media pembelajaran, metode pelatihan, waktu serta evaluasi. Indikator-indikator tersebut merupakan komponen utama dalam mengembangkan model konsep pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Kemandirian masyarakat diindentifikasi dari kemandirian psikologis dan sikap mental. Kedua dimensi indikator tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk kemandirian bekerja, berusaha dalam hal meningkatnya pendapatan serta motivasi hidup, yang dipengaruhi oleh dimilikinya pengetahuan, keterampilan dan sikap positif aspiratif. Kaitan antar variabel yang dikembangkan dalam pengembangan model konsep penelitian terlihat pada bagan berikut.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pendidikan Luar Sekolah 1. Pengertian Pendidikan Luar Sekolah Pendidikan luar sekolah sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, antara lain menyebutkan dasar filosofis dari penyelenggaraan pendidikan nasional yaitu “... Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia...’ selanjutnya pasal 31 Undang Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Dalam memenuhi tuntutan kebutuhan pendidikan masyarakat yang cukup kompleks, pemerintah mengupayakan pelayanan pendidikan non formal atau pendidikan yang berlangsung di luar sekolah. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 5 ayat 1 menegaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Mewujudkan sebuah pendidikan yang bermutu dapat dicapai dengan mengoptimalkan berbagai institusi dan organisasi pendidikan melalui penyelenggaraan pendidikan baik pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Ini berati bahwa fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan dan pencapaiannya dibebankan kepada Pendidikan Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah, sehingga kedua satuan organisasi pendidikan ini sama pentingnya, untuk itu perlu mendapatkan perhatian yang sama. Selanjutnya pengertian Pendidikan Luar Sekolah menurut Coombs yang diadaptasi oleh Sudjana (2001 :22) dijelaskan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya. Hamijoyo (Kamil 2010: 32) memberikan definisi Pendidikan Luar Sekolah adalah: ...suatu pendidikan yang terorganisir secara sistematis dan kontinyu di luar sistem persekolahan melalui proses hubungan sosial membimbing individu kelompok dan masyarakat supaya memiliki sifat dan cita-cita sosial yang positif dan konstruktif guna meningkatkan taraf hidup di bidang material, sosial dan mental dalam rangka usaha mewujudkan kesejahteraan, sosial kecerdasan bangsa dan persahabatan antar manusia. Napitupulu dalam Sihombing (1999: 49) memberi batasan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap usaha pelayanan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistim sekolah, berlangsung seumur hidup, dijalankan dengan sengaja, teratur, dan berencana yang bertujuan untuk mengaktualisasikan potensi manusia (sikap, tindak, dan karya) sehingga dapat terwujud manusia seutuhnya yang gemar belajar mengajar dan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Pendidikan Luar Sekolah sebagai kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lembagakan maupun tidak melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang tetapi dilaksanakan secara berkesinambungan. Yoesoef dan Santosa (1987 :19) mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan, sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan memungkinkan baginya menjadi peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan masyarakat dan negara. Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah suatu kegiatan pelayanan pendidikan pada masyarakat yang dilaksanakan di luar sistem Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 15

persekolahan, serta bertujuan untuk mengaktualisasikan potensi berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan guna terbentuknya manusia yang berkualitas dan produktif. 2. Tujuan Pendidikan Luar Sekolah Tujuan pendidikan merupakan suatu komponen pendidikan yang menduduki posisi penting di antara komponen-komponen pendidikan lainnya. Komponen tujuan pendidikan dalam hal ini tujuan pendidikan luar sekolah harus dilakukan secara konsisten dengan sedapat mungkin menghindari penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan program pendidikan luar sekolah. Dalam konteks tujuan pendidikan nasional Trisnamansyah.S (1989 :97) berpendapat bahwa Pendidikan Luar Sekolah bertujuan memberikan pengetahuan, keterampilan dan menanamkan sikap-sikap positif pada warga belajar atau sasaran didik dalam mencapai tujuan tersebut dapat melalui berbagai variasi dan bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah yang disesuaikan dengan jenis programnya. Pendidikan luar sekolah sebagai bagian integral penyelenggaraan pendidikan nasional pada jalur pendidikan non formal mempunyai tujuan sebagaimana digariskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 yaitu: (a) Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya, (b) Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat/ jenjang pendidikan yang lebih tinggi, (c) Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi melalui jalur pendidikan sekolah.(Kamil, 2010: 32). Sudjana (2001) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan luar sekolah bersifat jangka pendek dan khusus. Maksudnya pendidikan luar sekolah disusun untuk memenuhi kebutuhan belajar jangka pendek yang diidentifikasi dari warga belajar dan masyarakat. Karena tujuannya lebih menekankan pada perubahan tingkah laku fungsional warga belajar, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan. Selanjutnya Sarwoko (1989:39) mengemukakan pula bahwa tujuan Pendidikan Luar Sekolah adalah untuk merubah sikap mental dan pola berfikir warga masyarakat agar memiliki aktivitas dan kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan, serta memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan sebagai syarat untuk meningkatkan mutu dan taraf kehidupan. Dari pendapat di atas jelas bahwa tujuan Pendidikan Luar Sekolah dalam kerangka sistem Pendidikan dan Pembangunan Nasional pada umumnya, sangat besar kontribusinya terutama dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, dengan upaya menyelaraskan pengembangan kualitas pengetahuan, keterampilan dan sikap mental, memiliki pola berfikir serta berwawasan yang luas sehingga mampu mengaktulisasikan potensinya dalam meningkatkan martabat dan mutu kehidupan yang berguna bagi dirinya bangsa dan negaranya. 3. Fungsi Pendidikan Luar Sekolah Untuk mewujudkan tujuannya, pendidikan luar sekolah memiliki fungsi sebagai berikut: a. Mengembangkan nilai-nilai rohaniah dan jasmaniah warga belajar atas dasar potensi yang dimiliki. b. Mengembangkan cipta, rasa dan karsa warga belajar agar lebih kreatif, mampu memahami lingkungannya dan mempunyai kemampuan untuk mengaktualisasikan diri. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 16

c.

d.

e.

Membantu warga belajar membentuk dan menafsirkan pengalaman mereka serta mengembangkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan masyarakatnya. Mengembangkan cara berfikir dan bertindak kritis terhadap dan di dalam lingkungannya serta untuk memiliki kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengembangkan sikap dan moral tanggung jawab sosial, pelestarian nilai-nilai budaya, serta keterlibatan diri dalam perubahan masyarakat.

4. Ciri-Ciri Pendidikan Luar Sekolah Sebagai suatu sistem pendidikan nasional, pendidikan luar sekolah mempunyai ciriciri yang berbeda dengan pendidikan sekolah (formal). Untuk melihat adanya perbedaan tersebut maka dapat ditinjau ciri-cirinya. Dalam kaitan dengan ciri-ciri pendidikan luar sekolah, Kamil (2010: 33 - 35) meninjaunya dari karakteristik tujuan, waktu penyelenggaraan, program, proses belajar dan pembelajaran, dan pengendalian program. Ke lima karakteristik tersebut di jelaskan sebagai berikut : Dari segi tujuan, pendidikan luar sekolah memiliki karakteristik : a. Untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan kini dan masa depan. b. Untuk langsung menerapkan hasil belajar dalam kehidupan di lingkungan pekerjaan atau dalam masyarakat. c. Memberikan ganjaran berupa keterampilan, barang atau jasa yang diproduksi, dan pendapatan. Dari segi waktu, pendidikan luar sekolah memiliki karakteristik : a. Relatif singkat dan bergantung pada kebutuhan belajar peserta didik b. Menggunakan waktu tidak penuh dan tidak secara terus menerus. Waktu biasanya ditetapkan dengan berbagai cara sesuai dengan kesempatan peserta didik, serta memungkinkan untuk melakukan kegiatan belajar sambil bekerja dan berusaha. Dari segi program, pendidikan luar sekolah memiliki karakteristik : a. Kurikulum berpusat pada kepentingan peserta didik. Kurikulum bermacam ragam atas dasar perbedaan kebutuhan belajar peserta didik. b. Menekankan pada kebutuhan masa sekarang dan masa depan terutama untuk memenuhi kebutuhan terasa peserta didik guna meningkatkan kemampuan sosial ekonominya. c. Mengutamakan aplikasi dengan penekanan kurikulum yang lebih mengarah kepada keterampilan yang bernilai guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya. d. Persyaratan masuk ditetapkan bersama peserta didik, Persyaratan untuk mengikuti program adalah kebutuhan, minat, dan kesempatan peserta didik. e. Program di arahkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Dari segi proses belajar dan pembelajaran, pendidikan luar sekolah memiliki karakteristik : a. Dipusatkan di lingkungan masyarakat dan lembaga. Kegiatan belajar dan pembelajaran di berbagai lingkungan (masyarakat, tempat bekerja), atau di satuan pendidikan luar sekolah lainnya. b. Berkaitan dengan kehidupan peserta didik dan masyarakat. Pada saat mengikuti program pendidikan, peserta didik berada dalam dunia kehidupan dan pekerjaannya. Lingkungan dihubungkan secara fungsional dalam kegiatan belajar. c. Struktur program pembelajaran lebih fleksibel dan beraneka ragam dalam jenis dan urutannya, sehingga pengembangan program dapat dilaksanakan pada waktu program sedang berjalan. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 17

d. Berpusat pada peserta didik dengan menggunakan sumber belajar dari berbagai keahlian. Peserta didik juga bisa menjadi sumber belajar dengan lebih menekankan pada kegiatan membelajarkan. e. Penghematan sumber-sumber dengan memanfaatkan tenaga dan sarana yang tersedia di masyarakat dan di lingkungan kerja. Dari segi pengendalian program, karakteristik pendidikan luar sekolah adalah: a. Dilakukan oleh pelaksana program dan peserta didik b. Menggunakan pendekatan yang lebih bersifat demokratis. Selanjutnya terdapat pula beberapa ciri pendidikan luar sekolah, sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (2001) yaitu : (a) Pendidikan luar sekolah disusun untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek yang didefinisikan dari warga belajar dan masyarakat, (b) Hasil kegiatan langsung dirasakan nilainya bagi kebutuhan warga belajar atau masyarakat, (c) Program sangat pendek, (d) Untuk kehidupan sekarang berorientasi pada kebutuhan warga belajar dan masyarakat yang dirasakan dan harus segera dipenuhi guna meningkatkan kehidupan pada masa kini, (e) Waktu kegiatan tidak terus menerus ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan warga belajar, (f) Berpusat pada lulusan dan kepentingan perorangan satuan pelajaran dipecah dan dihubungkan dengan kebutuhan belajar yang cocok baginya, (g) Menekankan pada praktik, (h) Persyaratan khusus atau kualifikasi formal tidak diutamakan dengan pendaftaran masuk, (i) Diselenggarakan di berbagai tempat yang lebih murah biayanya, serta dapat pula dilakukan pada tempat khusus pada program tersebut, (j) Dihubungkan dengan kebutuhan belajar masyarakat, (k) Struktur fleksibel, (l) Menggunakan sumber dan teknologi, (m) Menggunakan sumber dengan cara memanfaatkan fasilitas dan tenaga yang ada di masyarakat, (n) Pengawasan tidak terpusat, koordinasi berdasarkan keperluan yang melibatkan berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta, dan (o) Demokrasi. 5. Ruang Lingkup dan Sasaran Pendidikan Luar Sekolah Dalam pasal 26 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa ”Program pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup (life skill), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik”. Jenis-jenis pendidikan tersebut diatas dapat diselenggarakan melalui satuan-satuan pendidikan non formal seperti lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), majelis taklim dan satuan pendidikan sejenis. Adapun sasaran pendidikan non formal menurut Depdiknas (2006; 5) adalah semua lapisan masyarakat, tidak terbatas usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan sebelumnya. Dengan kata lain bahwa pendidikan non formal melayani semua masyarakat yang membutuhkan tambahan pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan dalam pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/ atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Joesoef (1986: 58 – 62) dalam membagi kelompok sasaran dari pendidikan luar sekolah kedalam dua sasaran pokok, yaitu : 1. Pendidikan Luar sekolah untuk pemuda a. Sebab-sebab timbulnya pendidikan luar sekolah untuk pemuda ini antara lain adalah : 1. Banyaknya anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup, lebih-lebih di negara berkembang. 2. Mereka memperoleh pendidikan tradisional Page 18

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

3. Mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola pergaulan 4. Mereka dituntut mempelajari norma-norma dan tanggung jawab sebagai sangsi dari masyarakatnya b. Kelompok-kelompok kegiatan pendidikan luar sekolah antara lain : 1. Klub Pemuda 2. Klub-klub pemuda tani 3. Kelompok pergaulan 2. Pendidikan Luar Sekolah Untuk Orang Dewasa Pendidikan ini timbul karena : a). Orang-orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja b). Orang dewasa tertarik terhadap keahlian. Untuk memperoleh pendidikan tersebut diatas dapat ditempuh melalui :1) Kursuskursus pendek, 2) In service ttraining, dan 3) Surat menyurat. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa sasaran pendidikan luar sekolah dapat meliputi : a. Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa : 1) usia pra sekolah (0-6 tahun), 2) usia pendidikan dasar (7-12 tahun), 3) usia pendidikan menengah (13-18 tahun), dan 4) usia pendidikan tinggi (19-24 tahun). b. Ditinjau dari jenis kelamin; yakni lebih ditujukan kepada kaum wanita, karena jumlahnya yang besar, wanita juga dinilai kurang partisipasinya dalam rangka produktivitas dan efisiensi kerja. Oleh karenanya pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal) membantu para wanita ini melalui program-program PKK, program KB dan lain-lain seperti : program peningkatan gizi, perawatan bayi dan pengetahuan dan penjagaan lingkungan sehat. c. Berdasarkan lingkungan sosial budaya sasaran pendidikan luar sekolah dapat berupa 1) masyarakat pedesaan, 2) masyarakat perkotaan, 3) masyarakat terpencil. d. Berdasarkan kekhususan sasaran pelajaran antara lain: 1) peserta didik yang dapat digolongkan dalam kondisi terlantar seperti anak yatim piatu, 2) peserta didik yang mengalami pengembangan sosial dan emosional seperti anak nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila, 3) peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra dan tuna rungu, 4) peserta didik yang karena berbagai sebab sosial tidak dapat mengikuti program pendidikan persekolahan e. Berdasarkan Pranata sosial; meliputi pendidikan keluarga, pendidikan perluasan wawasan dalam rangka peningkatan kemampuan berfikir, menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala tentang kehidupan berbangsa dan berkeluarga, serta pendidikan keterampilan dalam rangka mengembangkan profesionalisme pekerjaan sehingga dapat menghasilkan barang/ jasa guna meningkatkan taraf hidup. f. Berdasarkan sistem pengajaran, meliputi : 1) kelompok, organisasi, lembaga, 2) mekanisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan, 3) kesenian tradisional seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern seperti televisi, radio, film, dan 4) prasarana dan sarana seperti balai desa, masjid, gereja, sekolah dan alat-alat perlengkapan kerja g. Berdasarkan segi pelembagaan program, yakni menyangkut keseluruhan proses pengintegrasian antara pendidikan luar sekolah dan pembangunan masyarakat, seperti : 1) program antar sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK dan lain sebagainya, 2) koordinasi perencanaan desa atau pelaksanaan program pembangunan, dan 3) tenaga pengarahan tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Ketujuh sasaran pendidikan luar sekolah ini menggambarkan bahwa pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal (PNF) mempunyai sasaran yang luas dengan bentuk program yang berbeda-beda yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Selain Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 19

itu, pelaksanaan pendidikan luar memberi kontribusi yang signifikan bagi pembangunan khususnya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. 6. Manfaat Program Pendidikan Luar Sekolah Sarwoko (1989: 40) mengemukakan bahwa manfaat PLS adalah memungkinkan seseorang untuk memperoleh kesempatan belajar pada jenjang pendidikan tertentu melalui jalur pendidikan luar sekolah, sehubungan dengan tidak atau belum adanya pendidikan sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Pendidikan luar sekolah dalam kerangka sistem Pendidikan Nasional bermanfaat melayani kebutuhan belajar masyarakat yang sifat dan jenisnya selalu berubah-ubah sesuai dengan proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Dalam mewujudkan pendidikan sebagai suatu upaya dalam proses memanusiakan manusia melalui peningkatan kualitas berfikir, moral dan mental sehingga mampu memahami, mengungkapkan, dan menyesuaikan dirinya dengan realitas kehidupan yang melingkupinya. Sihombing (1999 :13) berpendapat bahwa dalam kerangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas berorientasi ke masa depan sehingga Pendidikan Luar Sekolah dapat memegang peranan penting dan sangat strategis dalam upaya sebagai berikut (1) Memperluas pelayanan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang tidak sempat belajar di jalur sekolah, (2) Meningkatkan relevansi, keterkaitan dan kesepadanan program pendidikan luar sekolah dengan kebutuhan dunia kerja, pengembangan industri dan ekonomi masyarakat dan pengembangan sumber daya alam, (3) Peningkatan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan luar sekolah, serta (4) Meningkatan efisiensi dan efektitivas penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. Selanjutnya mengenai isi program Pendidikan Luar Sekolah senantiasa berorientasi pada peningkatan mutu kehidupan masyarakat. Mutu atau kualitas kehidupan di maksud mencakup keseluruhan asfek yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakat dalam kesehariannya. Faisal (1981 :5) mengemukakan bahwa isi program Pendidikan Luar Sekolah meliputi (1) Pengembangan nilai-nilai etis, religi, estetis, sosial dan budaya, (2) Pengembangan wawasan dan tata cara berpikir, (3) Peningkatan kesehatan pribadi, keluarga dan lingkungan, (4) Peningkatan pengembangan pengetahuan di dalam arti luas (sosial, ekonomi, politik, ilmu kealaman, sejarah, dan (5) Apresiasi seni budaya. Implementasi program Pendidikan Luar Sekolah telah banyak dikembangkan di berbagai sektor, lembaga dan kebijakan penyelenggaraan pendidikan. Adapun program PLS di maksud antara lain: (1) Program Keaksaraan Fungsional. Program ini dikembangkan untuk memberi pelayanan pendidikan dan bertujuan untuk membelajarkan warga masyarakat penyandang buta aksara, agar memiliki kemampuan menulis, membaca, berhitung dan menganalisis yang berorientasi pada kebutuhan hidup sehari-hari dengan memanfaatkan potensi yang ada dilingkungan sekitarnya,sehingga peserta didik dan masyarakat dapat meningkatkan mutu dan taraf hidupnya, (2) Program Kesetaraan yang disebut dengan program kesetaraan paket A,B dan C. Program ini dilaksanakan dan dikembangkan mengingat bahwa secara kumulatif masih terdapat banyak warga masyarakat yang belum mempunyai kualifikasi pendidikan setara sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Sasaran Program ini agar peserta didik atau warga belajar mampu menguasai pengetahuan, ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional, (3) Program Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD). Program ini difokuskan pada pembinaan watak dan karakter anak melalui berbagai kegiatan bermain dan bermuatan unsur pendidikan dan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 20

pemberian makanan sehat,yang mengarah pada penyiapan sumber daya manusia masa depan. Melalui program ini di harapkan sumber daya manusia kecil akan tumbuh menjadi suatu potensi yang siap dan mampu berkembang, baik secara emosional, intelektual, kreativitas dan sosial, (4) Program Pembinaan Kursus dan Pelatihan. Program ini dikembangkan untuk memberi layanan pendidikan kepada masyarakat yang membutuhkan ketrampilan praktis dan aplikatif kaitannya dengan lapangan kerja.Bentuk Program ini terdiri atas kegiatan kursus dan pelatihan. Sedang pengelola program ini dapat diselenggarakan oleh lembaga pendidikan ketrampilan dan atau masyarakat yang berminat serta peduli terhadap pengembangan pendidikan masyarakat, (5) Program Pendidikan Kecakapan Hidup. Program ini dimaksudkan sebagai usaha pengembangan berbagai kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. Sasaran program ini agar warga belajar mempunyai kemampuan dan ketrampilan yang produktif untuk hidup mandiri dalam masyarakat, (6) Program Pendidikan Pemberdayaan Perempuan. Program ini dikembangkan dalam upaya pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kesejahteraan keluarga dengan berbagai ketrampilan yang bermanfaat dalam menunjang peningkatan penghasilan keluarga,pembinaan keluarga dan pengembangan kelestarian lingkungan hidup, (7) Program PLS lainnya yang dilaksanakan oleh masyarakat maupun yang bersentuhan dengan kebutuhan dan pengembangan budaya belajar masyarakat melalui Taman Bacaan Masyarakat dan Peningkatan fungsi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Magang, serta Program Penguatan Kelembagaan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau Pendidikan Nonformal (PNF) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat dan Daerah sebagai Pusat Pengembangan Model Program PLS/PNF. Berbagai program PLS yang diuraikan di atas senantiasa dikembangkan dan dioptimalkan pencapaian sasaran kegiatannya dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas warga belajar dan masyarakat yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat secara berkesinambungan. Program pendidikan luar sekolah bukanlah suatu program yang berdiri sendiri melainkan program yang terkait dan saling tergantung dengan perkembangan yang ada di lingkungan masyarakat. Perubahan yang terjadi di masyarakat baik yang datang atau bersumber dari lingkungan dimana mereka berada maupun yang bersumber dari pengaruh luar, baik yang berupa penguatan maupun guncangan yang sebenarnya tidak diinginkan sangat berpengaruh pada program pendidikan luar sekolah, karena itu perlu mendapat perhatian yang sungguhsungguh dari semua pihak terutama profesional yang berkecimpung pada bidang keahlian dan pengembangan program/kegiatan Pendidikan Luar Sekolah. B. Hakikat Pelatihan 1. Makna Pelatihan Aktivitas pelatihan yang juga lazim disebut training atau Diklat (pendidikan dan latihan) merupakan sebuah fenomena yang telah berkembang secara luas di masyarakat. Program pelatihan atau training mula-mula muncul di lingkungan perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah. Kini program kegiatan pelatihan semakin meluas ke kalangan sekolah dan bahkan masyarakat luas. Di lingkungan perusahaan, training dan sumber daya manusia dikesankan sebagai hal yang sama. Keduanya sebenarnya tidak sama persis. Training merupakan kegiatan pengembangan potensi sumber daya manusia khususnya tentang kompetensi, sedangkan pengembangan sumber daya manusia berarti bagian yang mengurus ketenagaan perusahaan, sehingga selain mengurus training juga peraturan ketenagaan, pendataan, penerimaan, penempatan, dan sebagainya ( Moedzakir, 2010 : 37). Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 21

Lebih lanjut dijelaskan bahwa training atau pelatihan untuk level supervisor ke bawah lazim disebut training, sedangkan pelatihan untuk level manager ke atas cenderung disebut pengembangan atau development. Para manager tidak suka kalau program pelatihan yang diikutinya disebut training. Training untuk level operator sampai supervisor pada dasarnya merupakan technical training (pelatihan tentang prosedur-prosedur pelaksanaan pekerjaan), sedangkan training untuk level manager ke atas merupakan managerial training (pelatihan kepemimpinan, termasuk problem solving kasus-kasus kepemimpinan). Sebenarnya antar ketiganya hanya berbeda kontennya sedangkan esensinya sama-sama sebagai kegiatan pelatihan. Pelatihan merupakan kebutuhan untuk peningkatan kualitas pegawai pemerintah, kader sebuah organisasi politik, bahkan juga bagi generasi bangsa dan warga masyarakat sebagai sebuah institusi. Di dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa pelatihan untuk individu sebagai warga masyarakat juga bisa ditempatkan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan individu dalam melaksanakan peran sosialnya di masyarakat. Kebutuhan belajar yang menjadi dasar penyelenggaraan suatu pelatihan bisa bermacammacam mencakup segala kemampuan yang harus dimiliki individu terkait dengan fungsi, peran atau tugasnya di dalam organisasi atau masyarakat. Berbagai program pelatihan yang berkembang luas di masyarakat akhir-akhir ini pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan bagi peningkatan kualitas warga masyarakat dalam rangka melaksanakan perannya secara lebih baik dalam kehidupan masyarakat. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai makna pelatihan maka dikemukakan beberapa pengertian para ahli tentang pelatihan. Edwin B. Flippo (Kamil, 2010: 3) mengemukakan bahwa ”Training is the act of increasing the knowledge and skill of an employee for doing a particular job” (pelatihan adalah tindakan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seorang pegawai untuk melaksanakan pekerjaan tertentu). Selanjutnya sebagaimana dikemukakan Michael J. Jucius (1972) bahwa “The term training is used here to indicate any process by wich the aptitudes, skills, and abilities of employes to perform specipic jobs are in creased (istilah latihan yang dipergunakan disini adalah untuk menunjukkan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tertentu). Dari pendapat di atas jelas kegiatan pelatihan senantiasa dilihat dalam kaitan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu.Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kegiatan pelatihan sebenarnya tidak harus selalu dalam kaitan dengan pekerjaan, atau tidak selalu diperuntukkan bagi kalangan pegawai. Simamora (1997 : 287) mengartikan bahwa pelatihan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang individu. Dalam Instruksi Presiden No. 15 tahun 1974, dijelaskan bahwa pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dan dengan menggunakan metode yang lebih mengutamakan praktik daripada teori. Pengertian pelatihan sebagaimana diuraikan mengandung maksud bahwa gagasan utama dalam suatu pelatihan adalah adanya suatu proses yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam arti bahwa melalui kegiatan pelatihan diharapkan terjadi perubahan dalam hal menghilangkan ketimpangan yang terjadi antara keadaan saat ini dengan keadaan yang diharapkan pada masa depan. Kenneth R. Robinson (dalam Rifaid, 2000 :12) mengemukakan bahwa pelatihan sebagai “training therefore we are seeking by any instruction behavior pattern in the area knowledge, skill or attitude in order achieve a desired, standard”. Pelatihan adalah suatu proses belajar yang terjadi baik dalam suatu ruangan tertentu atau di lapangan. Selanjutnya Max Foster (1979) dalam Rifaid (2000:3) menjelaskan bahwa : “that training should create Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 22

conditions and stimuli to accomplish four things; (1) To evoke responses in others; (2) To develop knowledge, skills, and attitudes; (3) To produce changes in behavior, and (4) To attain specific objectives”. Pendapat Max Foster ini mengandung makna bahwa pelatihan harus dapat menciptakan kondisi-kondisi dan dorongan untuk menyempurnakan empat pemikiran yaitu untuk membangkitkan berbagai tanggapan lain, untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan dan sikap, untuk menghasilkan beberapa perubahan perilaku, dan untuk mencapai objektivitas yang lebih khusus. Dalam perspektif pelatihan sebagai sebuah kegiatan pendidikan luar sekolah yang terprogram dan pemenuhan kebutuhan dunia kerja, maka pelatihan memiliki makna antara lain sebagai berikut: (1) Pelatihan merupakan proses yang disengaja atau direncanakan, bukan kegiatan yang bersifat kebetulan atau spontan. Pelatihan merupakan proses yang terdiri dari serangkaian kegiatan yang sistematis dan terencana yang terarah pada suatu tujuan, (2) Pelatihan merupakan bagian kegiatan pendidikan yang menyangkut proses belajar yang dilaksanakan diluar sistem sekolah memerlukan waktu yang relatif singkat, dan lebih menekankan pada praktek, (3) Pelatihan diselenggarakan baik terkait dengan kebutuhan dunia kerja maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas (Kamil, 2010 : 10). Selanjutnya keberhasilan mencapai tujuan program pelatihan yang telah ditetapkan merupakan salah satu indikator terhadap keberhasilan dan efektivitas penyelenggaraan suatu pelatihan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pencapaian tujuan pelatihan, maka semakin besar nilai efektivitasnya (semakin efektif pelatihan tersebut). Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pelatihan guna pencapaian tujuan yang diharapkan maka diperlukan langkah yang strategis sebelum pelatihan dilaksanakan, antara lain (Marzuki, 1992 :23) sebagai berikut : Langkah pertama : setelah perubahan yang diinginkan kita tetapkan, pastikan bahwa perubahan itu memang memerlukan latihan. Apakah yang diperlukan oleh banyak organisasi bukanlah training, dan tentu bukanlah menempati prioritas utama, melainkan rincian perencanaan operasional dan pelaksanaan dari pada rencana tersebut. Langkah kedua : menetapkan bagian yang dalam hal ini training akan berperan dalam mengadakan perubahan. Kompetensi-kompetensi baru apa yang menurut organisasi perlu dan bahagian-bahagian mana saja dari hal tersebut yang perlu dilakukan pelatihan secara sistematik. Langkah ketiga: mempertimbangkan masalah kualitas dan kuantitas atau level daripada personil yang akan dilatih dan waktu yang tepat untuk latihan. Sangat jarang ditemui hanya satu orang yang dilatih dalam organisasi untuk mengadakan perubahan. Sementara orang yang dikirim untuk mengikuti latihan sebelumnya sering kali terjadi secara tidak sistematik. Pengaturan latihan bagi personil organisasi sangat penting sebab tidak jarang telah menimbulkan kekecewaan kepada mereka. 2. Tujuan dan Manfaat Pelatihan Sebagaimana telah diuraikan bahwa keberhasilan mencapai tujuan program pelatihan yang telah ditetapkan merupakan salah satu indikator terhadap keberhasilan dan efektivitas penyelenggaraan suatu pelatihan. Dalam konteks ini dapat dikemukakan bahwa suatu kegiatan pelatihan yang dilaksanakan secara terprogram baik maka akan memberikan dampak yang sangat baik pula bagi sasaran pelatihan dalam hal peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif terhadap pekerjaan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pencapaian tujuan pelatihan, maka semakin besar nilai efektivitasnya (semakin efektif pelatihan tersebut). Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 23

Edwin B. Flippo (1971) mengemukakan bahwa tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang. Para ahli lainnya menjelaskan bahwa tujuan pelatihan tidak saja meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melainkan juga untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Pandangan demikian seperti dikemukakan oleh Michael J. Jucius (Kamil, 2010 : 11) bahwa pelatihan bertujuan untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan. Tujuan umum pelatihan menurut Moekijat (1981) adalah untuk : (1) mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif, (2) mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional, dan (3) mengembangkan sikap, sehingga dapat menimbulkan kemauan untuk bekerjasama. Dalam konteks pekerjaan atau kegiatan tertentu, Simamora (1997) mengelompokkan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu: (1) memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi-teknologi baru, (2) mengurangi waktu belajar bagi karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan, (3) membantu memecahkan permasalahan operasional, (4) mempersiapkan karyawan untuk promosi, dan (5) mengorientasikan karyawan terhadap organisasi. Tujuan pelatihan sebagaimana dijelaskan oleh Simamora adalah berorientasi pada tujuan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan bagi peningkatan kinerja karyawan dalam suatu organisasi dan atau perusahaan. Akan tetapi dilihat dari substansi sasaran yang diharapkan maka tujuan-tujuan tersebut masih erat kaitannya dan dapat diterapkan untuk kegiatan pelatihan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat. Selanjutnya dalam kaitannya dengan manfaat pelatihan Siagian (1998, 183-185) mengemukakan 10 manfaat yang dapat dipetik oleh karyawan dari kegiatan pelatihan, yaitu : (a) Membantu pegawai membuat keputusan yang lebih baik, (b) Meningkatkan kemampuan para pekerja menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya, (c) Terjadinya interaksi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional, (d) Timbulnya dorongan dalam diri pekerja untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya, (e) Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi, stress, frustrasi, dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya diri sendiri, (f) Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal dan intelektual, (g) Meningkatkan kepuasan kerja, (h) Semakin besar pengakuan atas kemampuan seseorang, (i)Makin besarnya tekad pekerja untuk lebih mandiri, dan (j) Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru dimasa depan. Pada bagian lain Simamora (1997) mengemukakan pula bahwa kegiatan pelatihan berperan penting dan menentukan efektivitas dan efisiensi kelangsungan suatu organisasi. Oleh karena itu menurut Simamora (1997), menjelaskan bahwa manfaat suatu pelatihan adalah : (1) Meningkatkan kuantitas, kualitas produktivitas, (2) Mengurangi waktu belajar yang diperlukan untuk mencapai standar kinerja yang dapat diterima, (3) Menciptakan sikap loyalitas, dan kerjasama yang lebih menguntungkan, (4) Memenuhi persyaratan-persyaratan perencanaan sumber daya manusia, (5) Mengurangi jumlah biaya kecelakaan kerja, (6) Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka.

3. Prinsip Pelatihan Pada dasarnya kegiatan pelatihan adalah merupakan bagian dari proses pembelajaran, dalam hal aktivitas pelatihan lebih berkaitan dengan pengembangan keterampilan tertentu Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 24

yang dibutuhkan sehingga lebih produktif. Dalam kaitan ini maka prinsip-prinsip pelatihanpun dikembangkan mengacu pada implementasi prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip umum agar pelatihan berhasil (Kamil,11-13), adalah sebagai berikut : (a) Prinsip Perbedaan Individu. Perbedaan-perbedaan individu dalam latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman, minat, bakat, dan kepribadian harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pelatihan, (b) Prinsip Motivasi. Agar peserta pelatihan belajar dengan giat perlu ada motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau kesempatan berusaha, penghasilan, kenaikan pangkat atau jabatan, dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup. Dengan begitu, pelatihan dirasakan bermakna oleh peserta pelatihan, (c) Prinsip Pemilihan dan Pelatihan pata Pelatih. Efektivitas program pelatihan antara lain tergantung pada para pelatih yang mempunyai minat dan kemampuan melatih. Anggapan bahwa seseorang yang dapat mengerjakan sesuatu dengan baik akan dapat melatihkannya dengan baik pula tidak sepenuhnya benar. Karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih. Selain itu pemilihan dan pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan bagi peserta pelatihan, (d) Prinsip Belajar. Belajar harus dimulai yang mudah menuju kepada yang sulit, atau dari yang sudah diketahui menuju kepada yang belum diketahui, (e) Prinsip Partisipasi Aktif. Partisipasi aktif dalam proses pembelajaran pelatihan dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta pelatihan, (f) Prinsip Fokus pada Batasan Materi. Pelatihan dilakukan hanya untuk menguasai materi tertentu, yaitu melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap pengertian, pemahaman, sikap dan penghargaan, (g) Prinsip Diagnosis dan Koreksi. Pelatihan berfungsi sebagai diagnosis melalui usaha yang berulang-ulang dan mengadakan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang timbul, (h) Prinsip Pembagian Waktu. Pelatihan dibagi menjadi sejumlah kurun waktu yang singkat, (i) Prinsip Keseriusan. Pelatihan jangan dianggap sebagai usaha sambilan yang bisa dilakukan dengan seenaknya, (j) Prinsip Kerjasama. Pelatihan dapat berhasil dengan baik melalui kerjasama yang apik antar semua komponen yang terlibat dalam pelatihan, (k) Prinsip Metode Pelatihan. Terdapat berbagai metode pelatihan, dan tidak ada satu pun metode pelatihan yang dapat digunakan untuk semua jenis pelatihan.Untuk itu perlu dicarikan metode pelatihan yang cocok untuk suatu pelatihan, dan (l) Prinsip Hubungan Pelatihan dengan Pekerjaan atau dengan Kehidupan Nyata. Pekerjaan, jabatan, atau kehidupan nyata dalam organisasi atau dalam masyarakat dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa yang dibutuhkan, sehingga perlu diselenggarakan pelatihan. 4. Tahapan Pelatihan Secara umum model sistem dalam sebuah pelatihan terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Ketiga tahapan tersebut, selanjutnya dikembangkan oleh masing-masing ahli sesuai dengan tujuan dan orientasi pelatihan itu sendiri. Djudju Sudjana (1993 : 14-22) mengembangkan model pelatihan sepuluh langkah atau yang dikenal dengan model pelatihan partisipatif. Sepuluh langkah model pelatihan tersebut dijelaskan sebagai berikut: a. Rekrutmen Peserta Pelatihan. Rekrutmen peserta menjadi kunci yang bisa menentukan keberhasilan langkah selanjutnya dalam pelatihan. Dalam rekrutmen ini penyelenggara menetapkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh peserta terutama yang berhubungan dengan karakteristik peserta yang mengikuti pelatihan. Kualitas peserta pelatihan pada umumnya ditentukan pada saat kegiatan rekrutmen ini. b. Identifikasi Kebutuhan Belajar, Sumber belajar, dan Kemungkinan Hambatan. Identifikasi kebutuhan belajar adalah kegiatan mencari, menemukan, mencatat, dan mengolah data tentang kebutuhan belajar yang diinginkan atau diharapkan oleh Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 25

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

peserta pelatihan atau oleh organisasi. Untuk dapat menemukan kebutuhan belajar ini dapat digunakan berbagai pendekatan yang relevan. Menentukan dan Merumuskan Tujuan Pelatihan. Tujuan pelatihan yang dirumuskan akan menuntun penyelenggaraan pelatihan dari awal sampai akhir kegiatan, dari pembuatan rencana pembelajaran sampai evaluasi hasil belajar. Oleh karena itu, perumusan tujuan harus dilakukan dengan cermat. Tujuan pelatihan secara umum berisi hal-hal yang harus dicapai dalam pelatihan. Tujuan umum itu dijabarkan menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Menyusun Alat Evaluasi Awal dan Evaluasi Akhir Semester. Alat evaluasi awal digunakan untuk mengadakan evaluasi awal guna mengetahui pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar (awal) yang dimiliki peserta. Sedangkan alat evaluasi akhir adalah digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Menyusun Urutan Kegiatan Pelatihan. Pada tahap ini penyelenggara pelatihan menentukan bahan belajar, memilih dan menentukan metode dan teknik pembelajaran, serta menentukan media yang akan digunakan. Urutan yang harus disusun adalah seluruh rangkaian aktivitas mulai dari pembukaan sampai penutupan. Dalam menyusun urutan kegiatan ini faktor-faktor yang harus diperhatikan antara lain : peserta pelatihan, sumber belajar, waktu, fasilitas yang tersedia, bentuk pelatihan, dan bahan pelatihan. Pelatihan untuk Pelatih. Pelatih harus memahami program pelatihan secara menyeluruh. Urutan kegiatan, ruang lingkup, materi pelatihan, metode yang digunakan, dan media yang dipakai hendaknya dipahami benar oleh pelatih. Selain itu pelatih juga harus memahami karakteristik peserta pelatihan dan kebutuhannya. Oleh karena itu, orientasi bagi pelatih sangat penting untuk dilakukan. Melaksanakan Evaluasi bagi Peserta. Evaluasi awal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta yang menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Evaluasi awal ini dapat berupa tes tulis dan dapat juga berupa tes lisan. Mengimplementasikan Pelatihan. Tahapan ini merupakan inti pelaksanaan kegiatan pelatihan. Pada tahapan ini terjadi proses pembelajaran yaitu proses interaksi dinamis antara peserta pelatihan dan sumber belajar, tutor,fasilitator, dan materi pelatihan. Evaluasi Akhir. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh peserta setelah mengikuti program pelatihan. Untuk mengetahui evaluasi akhir kegiatan dapat menggunakan alat evaluasi yang digunakan pada saat evaluasi awal. Evaluasi Program Pelatihan. Evaluasi program pelatihan merupakan kegiatan untuk menilai seluruh kegiatan pelatihan dari awal sampai akhir, dan hasilnya menjadi masukan bagi pengembangan pelatihan selanjutnya. Melalui tahapan ini, selain diketahui faktor-faktor yang sempurna yang harus diperhatikan, juga diharapkan diketahui pula titik-titik lemah pada setiap komponen, setiap langkah, dan setiap kegiatan yang dilaksanakan. Dalam kegiatan ini yang dinilai bukan hanya hasil, melainkan juga proses yang telah dilakukan. Dengan demikian diperoleh gambaran yang menyeluruh dan objektif dari kegiatan yang telah dilakukan.

C. Hakikat Pendidikan Kecakapan Hidup 1. Beberapa Pengertian Gagasan tentang pendidikan kecakapan hidup (life skills) bukanlah sesuatu yang baru, meskipun konsep pendidikan berorientasi kecakapan hidup baru digulirkan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Menurut Santoso S. Hamidjojo (2002 : 2-3) gagasan tentang pendidikan kecakapan hidup telah dimulai oleh UNESCO pada tahun 1949 melalui konsep Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 26

functional literacy. Gagasan pokok dari konsep tersebut adalah agar kemampuan baca-tulishitung dapat berfungsi dapat berfungsi memberi manfaat bagi yang bersangkutan untuk keluar dari tiga kesengsaraan, yaitu: kebodohan (ignorance), kepenyakitan (ill-healith), dan kemelaratan (proverty). Kecakapan hidup merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan oleh seseorang agar dapat mengatasi berbagai persoalan yang ditemui dalam kehidupannya. Malik Fadjar (Slamet, 2002 : 4) mengemukakan bahwa kecakapan hidup sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan untuk berorientasi ke jalur akademik. Amirin (2002 : 58) menjelaskan bahwa istilah “skill” sering diartikan sebagai keterampilan, padahal keterampilan mempunyai makna yang sama dengan kecakapan fisik dan pekerjaan tangan. Hal ini menyebabkan life skills sering dimaknai hanya sebagai vocational skill, keterampilan kerja-kejuruan (pertukangan) atau kemampuan yang perlu dimiliki oleh peserta didik agar mereka dapat segera bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya. Pentingnya pendidikan kecakapan hidup telah mendapat pengakuan dari para pakar yang berkecimpung di dunia pendidikan. Penegasan tentang pentingnya kecakapan hidup dapat dilihat pada Pokok-Pokok Deklarasi Dakkar Tahun 2000 tentang Pendidikan Untuk Semua (Fasli Jalal : 2004, 11-12) yang menunjukkan adanya hak bagi setiap warga negara, baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk memperoleh kesempatan yang ada dalam mengikuti pendidikan kecakapan hidup, dan adanya kewajiban bagi setiap negara untuk menyediakan, memperbaiki,meningkatkan dan menjamin kualitas penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup, terutama kecakapan hidup yang bersifat penting, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara merata. Kecakapan hidup (life skills) merupakan sebuah konsep yang sering dikemukakan oleh para ahli maupun organisasi yang memiliki otoritas terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Konsep life skills dalam bidang kesehatan, seperti yang didefinisikan oleh WHO adalah sebagai suatu keterampilan atau kemampuan manusia untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seorang manusia mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam kehidupannya sehari-hari secara efektif, terutama dalam asfek kesehatan dan kesejahteraannya. Dalam bidang pendidikan, konsep life skills mengacu pada definisi yang dikemukakan oleh Kent Davis (2000:1) yang mengatakan bahwa kecakapan merupakan sebuah “manual pribadi” bagi seseorang yang dapat membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerjasama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya. Pentingnya pendidikan kecakapan hidup bagi setiap pribadi karena mereka menghadapi berbagai masalah yang harus senantiasa diselesaikan dalam kehidupannya sehari-hari. Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada individu memasuki kehidupan yang mandiri, anggota masyarakat dan warga negara. Sehingga dengan penguasaan terhadap life skills, individu diharapkan akan menjadi individu yang mampu memecahkan permasalahan-permasalahannya dengan menemukan alternatif/ solusi yang tepat yang berimplikasi positif bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang berada di sekitar kehidupannya. Perilaku dan karakter inilah yang akan menyebabkan mereka bisa beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan zaman, survive dan bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsanya. Dalam pada itu, bahwa seseorang memerlukan berbagai macam kemampuan supaya dapat hidup dengan sukses, bahagia, bermartabat dalam masyarakatnya. Hal ini dapat terwujud jika seseorang/individu mampu mengembangkan komunikasi yang efektif dalam hidupnya, mampu mengembangkan kerjasama, mampu melaksanakan perannya sebagai Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 27

warga negara yang bertanggung jawab, memiliki karakter dan berpola pikir maju dalam kehidupannya. Pengertian pendidikan kecakapan hidup (life skills) banyak dikemukakan oleh para pakar maupun badan/lembaga yang memiliki otoritas di bidang pendidikan, pelatihan dan kesehatan, antara lain menurut Brolling (1989) life skills adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Menurut Kent Davis (2000 : 1) Kecakapan hidup adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya sendiri, bekerja sama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya. Makna kecakapan hidup (life skills) lebih luas dari keterampilan untuk bekerja. Orang yang tidak bekerja misalnya ibu rumah tangga, orang yang telah pensiun atau anak-anak tetap memerlukan kecakapan hidup. Sebagaimana orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan. Orang yang sedang menempuh pendidikan pun memerlukan kecakapan hidup, karena mereka tentu memiliki permasalahan sendiri. Kecakapan hidup di bagi menjadi 4 (empat) jenis: Pertama : Kecakapan personal (personal skills) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness), dan kecakapan berpikir rasional (thinking skills). Kedua : Kecakapan sosial (social skills) Ketiga : Kecakapan akademik (academic skills), dan Keempat : Kecakapan vokasional (vocational skills). Kecakapan mengenal diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikan sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Kecakapan berpikir rasional mencakup : (1) kecakapan menggali dan menemukan informasi (informating searching), (2) kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (informating processing and decision making skills), serta (3) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skills). Kecakapan sosial atau kecakapan interpersonal (interpersonal skills) mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati (communication skills), dan kecakapan bekerjasama (collaboration skills). Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan karena yang dimaksud berkomunikasi disini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesan disertai dengan kesan yang baik menumbuhkan hubungan harmonis. Dua kecakapan hidup yang dikemukakan di atas biasanya disebut sebagai kecakapan hidup bersifat umum atau kecakapan hidup general (generic life skills/GLS). Kecakapan hidup tersebut diperlukan oleh siapapun, baik mereka yang bekerja, yang tidak bekerja dan yang sedang menempuh pendidikan. Bagi bangsa Indonesia yang merupakan bagian integral dari masyarakat dunia yang memiliki sifat religius, kecakapan hidup yang bersifat umum (GLS) di atas masih harus ditambah satu sebagai acuan, yakni akhlak. Artinya kesadaran diri, berfikir rasional, hubungan antar personal, kecakapan akademik serta kecakapan vokasional harus dijiwai oleh akhlak yang mulia. Akhlak harus menjadi kendali dari setiap tindakan seseorang. Karena itu, kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa harus mampu mengembangkan akhlak yang mulia tersebut. Disinilah pentingnya pembentukan jati diri dan kepribadian (character building) guna mengembangkan penghayatan nilai-nilai etika sosio-religius yang merupakan bagian integral dari pendidikan disemua jenis dan jenjang pendidikan itu sendiri. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 28

Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life skills) diperlukan seseorang untuk menghadapi problema bidang khusus tertentu. Untuk mengatasi problema ”komputer yang rusak” misalnya sudah barang tentu diperlukan kecakapan khusus tentang komputer. Demikian pula untuk memecahkan masalah karena dagangan yang tidak laku terjual, diperlukan kecakapan/keterampilan dibidang pemasaran. Kecakapan hidup yang bersifat khusus biasanya disebut juga sebagai kompetensi teknis (technical competencies) yang terkait dengan materi mata pelajaran atau mata diklat tertentu dan pendekatan pendidikan lainnya. Sebagaimana disebut di depan specific life skills mencakup pengembangan akademik (kecakapan akademik) dan kecakapan vokational yang terkait dengan pekerjaan tertentu. Kecakapan akademik (academic life skills) yang seringkali juga disebut kemampuan berfikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berfikir rasional pada GLS. Jika kecakapan berfikir rasional masih bersifat umum, kecakapan akademik lebih menjurus kepada kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan melakukan indentifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian, serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan. Kecakapan vokasional (vocational skills) seringkali disebut dengan kecakapan kejuruan. Artinya, kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat dilingkungan masyarakat. Perlu di maklumi bahwa dalam kehidupan alam nyata, antara generic life sklls (GLS) dan specific life skills (SLS) yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vokasional tidak berfungsi secara terpisah-pisah atau tidak terpisah secara eksklusif. Hal yang terjadi adalah peleburan kecakapan-kecakapan tersebut, sehingga menyatu menjadi sebuah tindakan individu yang melibatkan asfek fisik, mental, emosional dan intelektual. Derajat kualitas tindakan individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas kematangan berbagai asfek pendukung tersebut di atas. Dalam menghadapi kehidupan dimasyarakat juga akan selalu diperlukan GLS dan SLS yang sesuai dengan masalahnya. Untuk mengatasi masalah komputer yang rusak diperlukan vocasional skills (bagian dari SLS), khususnya tentang komputer dan juga GLS, khususnya tentang berfikir rasional, menganalisis dan memecahkan masalah secara kreatif. Dengan perkataan lain, walaupun antara kecakapan-kecakapan hidup tersebut dapat dipilah, tetapi dalam penggunaannya akan selalu bersama-sama dan saling menunjang. Pendeskripsian kecakapan hidup sebagaimana dijelaskan di atas,disebut pendeskripsian berdasarkan kompetensi. Disamping itu masih ada beberapa pendeskripsian dari sudut pandang lain, misalnya dari segi fungsi yang memilahkan kecakapan hidup menjadi kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Sondra Stein (2000:7) berpendapat bahwa terdapat empat kategori standar yang perlu dipersiapkan pada masa depan untuk kecakapan orang dewasa, yaitu: pertama mendapatkan informasi dan ide-ide, kedua mengkomunikasikan dengan penuh percaya diri pesannya dan dapat dimengerti oleh orang lain, ketiga membuat keputusan yang didasarkan pada informasi yang valid dan mampu menganalisis serta dapat memutuskan secara cermat, ke empat selalu belajar agar tidak tertinggal oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Mengacu pada teori dan urgensi pentingnya pembelajaran dan pengembangan life skill maka indikator yang digunakan dalam kajian ini secara konseptual dikelompokkan sebagai berikut : (a) kecakapan mengenal diri sendiri atau disebut juga kecakapan personal dan kepribadian (personal skills), (b) kecakapan berfikir rasional (thinking skills) atau Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 29

kecakapan akademik (academic skills), (c) kecakapan sosial (social skills), (d) kecakapan vokasional (vocational skills) disebut juga keterampilan kejuruan artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik (specific skills) atau keterampilan teknis (technical skills). Selanjutnya ke empat jenis kecakapan hidup dimaksud mempunyai peran tertentu dalam implementasinya yang dapat diuraikan sebagai berikut : Kecakapan sosial disebut dengan istilah kecakapan umum atau general, yang merupakan fondasi dari kecakapan hidup. Kecakapan personal mencakup kecakapan mengenal diri dan kecakapan berfikir rasional. Seperti kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan, kecakapan memecahkan masalah secara kreatif. Kecakapan sosial yang dimaksud meliputi kecakapan komunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan akademik dan kecakapan vokasional disebut dengan istilah kecakapan khusus karena dianggap lebih spesifik. Kecakapan akademik dapat dikatakan sebagai pengembangan dari kecakapan berfikir rasional yang terdapat dalam kecakapan general, namun dikembangkan lebih spesifik yang mengarah pada aktivitas yang bersifat akademis. Kecakapan vokasional merupakan kecakapan yang cenderung dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang ada dalam lingkungan masyarakat. 2. Tujuan dan Bidang-Bidang Program Pendidikan Life Skills Pengembangan program pendidikan life skills bertujuan memberikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan fungsional praktis serta perubahan sikap untuk bekerja dan berusaha mandiri, membuka lapangan kerja dan lapangan usaha serta memanfaatkan peluang yang dimilikinya serta dapat meningkatkan kualitas kesejahteraannya. Dengan demikian pelaksanaan program pendidikan life skills dimaksudkan untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat untuk memperoleh kecakapan hidup. Soepardi (2003 : 13) mengemukakan bahwa yang harus dicapai dalam konsep pendidikan life skills atau kecakapan hidup adalah kemandirian. Oleh sebab itu, tujuan program pendidikan life skills adalah untuk mencapai kemandirian dengan mengacu pada personal dan social skills. Personal skill mencakup kecakapan mengenai diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skills) yang secara utuh diartikan sebagai kemampuan berdialog secara baik dengan diri sendiri untuk mengaktualisasikan jati dirinya,sehingga cakap memecahkan masalah secara kreatif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Sedangkan social skills adalah kemampuan mendengar dan memahami perasaan orang lain, kecakapan berkomunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan ini mengarah kepada ”membuat orang menjadi mandiri”. Dari pendapat ini jelas bahwa program pendidikan life skills sangat bermanfaat bagi masyarakat, agar masyarakat menjadi mandiri. Hal ini berarti bahwa program pendidikan life skills mempunyai peranan penting dalam ikut serta meningkatkan mutu sumber daya manusia. Keberadaan program pendidikan life skills pada dasarnya mengacu pada prinsip pendidikan seumur hidup yaitu bertumpu pada kepercayaan warga belajar untuk menjadi masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Yunus (2000 : 3) mengemukakan tujuan pendidikan life skills secara umum dan secara khusus. a. Tujuan Secara Umum Pendidikan life skills yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan nonformal bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap warga belajar di bidang pekerjaan/usaha tertentu sesuai dengan bakat, minat perkembangan fisik dan jiwanya serta potensi lingkungannya, sehingga mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri yang dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan kualitas hidupnya. b. Tujuan Secara Khusus Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 30

Bertujuan memberikan pelayanan pendidikan kecakapan hidup kepada warga belajar agar : (a) Memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dibutuhkan dalam memasuki dunia kerja baik bekerja mandiri (wirausaha) dan/atau bekerja pada suatu produksi/jasa dengan penghasilan yang semakin layak untuk memenuhi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, (b) Memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi serta dapat menghasilkan karya-karya yang unggul dan mampu bersaing di pasar global, (c) Memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan untuk dirinya sendiri maupun anggota keluarganya, (d) Mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan sepanjang hayat ( long life education) dalam rangka mewujudkan keadilan di setiap lapisan masyarakat. Selanjutnya mengenai bidang-bidang yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan program pendidikan life skills, Yunus (2010 : 4) secara garis besar adalah sebagai berikut : (1) Produksi Ekstraktif. Produksi ekstraktif yaitu kegiatan pembelajaran yang memproduksi/menghasilkan suatu barang yang langsung diperoleh dari alam, seperti perikanan, kehutanan, dan pertambangan, (2) Produksi Agraris. Produksi agraris yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam mengolah tanah bagi kegiatan pertanian, seperti tanaman pangan, sayuran, bunga dan buah-buahan serta pengembangan berbagai jenis ternak, (3) Produksi Industri, Produksi industri yaitu pembelajaran yang mengolah, merakit, memperbaiki, dan merekayasa suatu jenis bahan baku menjadi bahan setengah jadi maupun bahan yang setengah jadi menjadi bahan jadi, (4) Produksi Perdagangan. Produksi perdagangan yaitu pembelajaran melalui usaha perdagangan seperti berjual beli, melalui usaha mandiri, analisis pasar, perhitungan laba-rugi dan pengembangan usaha, (5) Produksi Jasa. Produksi jasa yaitu pembelajaran yang melakukan pelayanan berupa jasa yang diperlukan oleh pengguna jasa berdasarkan kriteria pelayanan yang disepakati, seperti jasa sopir, tata rias rambut dan wajah, penerjemah bahasa, konsultan teknik, pengajar dan pertukangan. Berdasarkan bidang-bidang tersebut life skills bermaksud memberi kepada seseorang bekal pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan fungsional praktis serta perubahan sikap untuk bekerja dan berusaha mandiri, membuka lapangan kerja dan lapangan usaha serta memanfaatkan peluang yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan kualitas kesejahteraannya. Program life skills dirancang untuk membimbing, melatih dan membelajarkan warga belajar agar mempunyai bekal dalam menghadapi masa depannya dengan memanfaatkan peluang dan tantangan yang ada. 3. Kecakapan Hidup Dalam PLS Dalam upaya peningkatan mutu dan relevansi pendidikan melalui PLS yang beroientasi keterampilan hidup, terdapat beberapa program strategis yang dapat dilakukan antara lain program kesetaraan plus keterampilan, yaitu dengan pendekatan broad-base education, maksudnya memberi bekal keterampilan sebagai antisipasi agar dapat dimanfaatkan oleh lulusan Paket A/B/C yang tidak melanjutkan pendidikannya untuk memasuki dunia kerja. Pada kategori pengenalan wawasan kerja/bisnis, peserta didik (warga belajar) diharapkan mengenal pola dunia kerja/ bisnis. Sedangkan pada kategori pembekalan keterampilan hidup, peserta didik diharapkan dapat mulai mengikuti kegiatan praktek keterampilan pada pusat-pusat kerja yang telah mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga. Di samping itu, peserta didik diharapkan mampu menyelesaikan satu paket program secara utuh sampai pada tingkat kemahiran tertentu. Pendayagunaan mata pelajaran muatan lokal dengan program pendidikan yang berorientasi kerja, di beberapa daerah telah memulai pada mata pelajaran muatan lokal yang Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 31

menitik beratkan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar, misalnya di Bali kemampuan berbahasa Inggris. Kegiatan seperti ini dapat dikembangkan di daerah lain, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Pelaksanaan keterampilan hidup diselenggarakan di luar sekolah memiliki beberapa persyaratan. Persyaratan mendasar penetapan jenis keterampilan hidup tersebut, meliputi : (1) keterampilan hidup dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan individu dan/atau kelompok sasaran; (2) terkait dengan karakteristik potensi wilayah setempat, misalnya : sumber daya alam, ekonomi, pariwisata dan sosial budaya; (3) dapat dikembangkan secara nyata sebagai dasar penguatan sektor usaha kecil atau home industry; dan (4) berorientasi kepada peningkatan kompetensi keterampilan untuk berusaha dan bekerja, sehingga tidak terlalu teoritik namun lebih bersifat aplikatif dan operasional; serta (5) jenis keterampilan ditetapkan oleh pengelola program bersama-sama dengan peserta didik, mitra kerja terkait, tokoh masyarakat, dan lainnya yang berhubungan dengan program keterampilan hidup.

4.

Hubungan antara Kehidupan Nyata, Kecakapan Hidup dan materi Pendidikan Dari dimensi kecakapan hidup dapat dikemukakan bahwa antara kehidupan nyata dengan kecakapan hidup dan materi pendidikan memiliki keterhubungan. Kehidupan Life Skills Materi Pendidikan Nyata Gambar 2. 1 Hubungan antara Kehidupan Nyata, Pendidikan Kecakapan Hidup dan Materi Pendidikan Berdasarkan skema tersebut di atas dapat dijelaskan tahapan-tahapan perumusan pendidikan kecakapan hidup. Pertama, mengidentifikasi kecakapan hidup yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Kedua, berdasarkan hasil identifikasi kecakapan hidup tersebut, disusun ke dalam bentuk-bentuk kecakapan berdasarkan kategori pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut. Ketiga, mengklasifikasikan dalam bentuk tema/pokok bahasan/topik yang dikemas ke dalam materi pendidikan. Dari sisi pemberian bekal bagi peserta didik ditunjukkan dengan anak panah bergaris tegas, yaitu apa yang dipelajari pada setiap materi pendidikan diharapkan dapat membentuk kecakapan hidup yang nantinya diperlukan pada saat yang bersangkutan memasuki kehidupan nyata di masyarakat. Dari pemahaman tersebut, sekali lagi materi peserta didik adalah alam, sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup. Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada saat seseorang memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri, anggota masyarakat dan warga negara. Kompetensi yang dicapai pada materi pendidikan hanyalah kompetensi antara untuk mewujudkan kemampuan nyata yang diinginkan yaitu kecakapan hidup. Sebagai contoh, mempelajari IPA bukan sekedar untuk pandai IPA, melainkan agar seseorang dapat memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui peristiwa alam, menelaah mengapa peristiwa itu dapat terjadi, mempelajari ilmu lain yang terkait dengan peristiwa yang sedang terjadi dan sebagainya.Demikian pula dengan pelajaran bahasa yakni Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, bukan sekedar paham bahasanya, namun mampu dipergunakan untuk bernalar, mengungkapkan dan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk komunikasi yang efektif. Begitu pula dengan materi peserta didik pendidikan kewarganegaraan, bukan sekedar untuk memahami prinsip dan aturan kewarganegaraan, Page 32

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

tetapi lebih dari itu, yakni agar peserta didik mampu menerapkan pengetahuannya untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Inovasi pendidikan di negara maju kini juga mengarah kepada pengembangan kecakapan hidup. Model peserta didik terpadu (integrated learning) dan pendidikan kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan model pendidikan yang mengarah kepada pengembangan kecakapan hidup. Model realistik (realistic education) yang kini sedang berkembang, juga merupakan upaya mengatur agar pendidikan sesuai dengan kebutuhan nyata peserta didik, agar hasilya dapat diterapkan guna memecahkan dan mengatasi problema hidup yang di hadapi. Pada model-model pendidikan tersebut, materi pendidikan dipadukan atau dikaitkan satu dengan yang lain, agar sesuai dengan kehidupan nyata dimasyarakat. Pendidikan dikaitkan dengan konteks kehidupan peserta didik, agar memungkinkan mereka belajar menerapkan isi materi pendidikan dalam memecahkan problem yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, walaupun dengan istilah berbeda dengan kecakapan hidup yang sedang dikembangkan dinegara maju. Perlu dicermati pula mengenai evaluasi hasil belajar. Pendidikan yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup dengan pendidikan kontekstual memerlukan model evaluasi otentik, yaitu evaluasi dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerapkan apa yang dipelajarinya (IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau lainnya) dalam kehidupan nyata. Paling tidak dalam bentuk evaluasi tercakup, yaitu dalam bentuk pemberian tugas proyek/kegiatan untuk memecahkan masalah yang memang terjadi masyarakat. 5. Pendidikan Berbasis Luas sebagai Wahana Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Pendidikan berbasis luas merupakan suatu pendekatan yang memiliki karakteristik bahwa proses pendidikan bersumber pada nilai-nilai hidup yang berkembang secara luas di masyarakat. Hasan (2008 : 17) mengemukakan bahwa pendidikan berbasis luas merupakan pendekatan yang mendorong masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam proses penentuan kebijakan dan pelaksanaan pendidikan,baik yang terkait dengan peningkatan akses kesempatan mengikuti pendidikan maupun peningkatan kualitas pendidikan. Masyarakat di ajak dan dilibatkan secara aktif melalui berbagai wahana untuk bersama-sama pemerintah meningkatkan layanan pendidikan bagi generasi muda sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat yang ada di setiap daerah. Dengan demikian broad-based education diartikan bahwa pendekatan pendidikan yang harus memberikan orientasi yang lebih luas, kuat dan mendasar, sehingga memungkinkan warga masyarakat memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap kemungkinan yang terjadi pada dirinya baik yang berkaitan dengan usaha atau pekerjaanya. a. Landasan 1) Filosofi Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan adalah tanggung jawab antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. 2) Sosial Budaya a) Nilai sosial dan budaya digali, dibina dan dikembangkan melalui proses pendidikan guna memperkuat kepribadian bangsa. b) Menata masyarakat melalui pendidikan berdasarkan fungsi-fungsi budaya yang universal dengan orientasi pada budaya lokal yang berkembang ke arah budaya nasional dan global. c) Proses revitalisasi potensi untuk membangkitkan kesadaran, pengertian, dan kepekaan peserta didik terhadap perkembangan sosial, ekonomi dan Page 33

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

politik sehingga memiliki kesadaran dan kemampuan untuk memperbaiki posisinya di dalam kehidupan masyarakat. 3) Psikologi a) Proses pendidikan diarahkan untuk mengoptimalkan karakteristik potensi yang dimiliki seseorang sehingga menuntut adanya lingkungan yang kondusif bagi kebutuhan belajarnya. b) Manusia dalam kehidupannya memerlukan hubungan dengan lainnya, sehingga membutuhkan berbagai nilai-nilai yang berkembang secara luas untuk kepentingan kelangsungan bangsa. b. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam program keterampilan hidup dengan pendekatan pendidikan berbasis luas pada jalur luar sekolah. 1) Adanya penyempurnaan kurikulum dari program pendidikan yang berbasis sempit (narrow-based curriculum) menjadi berbasis mendasar, kuat dan luas (broad-based curriculum). 2) Pelaksanaan evaluasi difokuskan kepada kompetensi peserta didik yang mengikuti kegiatan pendidikan. 3) Metode pendidikan variatif menerapkan prinsip ”reinforcement”. Peserta didik dilatih mencapai tingkat keberhasilan tertentu, dituntut untuk tidak mudah puas, sehingga tetap didorong untuk mencapai keberhasilan yang lebih tinggi (optimal). 4) Peningkatan mutu dan pembentukan keunggulan sebagai bekal menghadapi berbagai perubahan yang berkembang semakin cepat. 5) Membuka wawasan dan pola pikir, sikap mental warga masyarakat sehingga mampu mengoptimalkan potensi yang ada, merubah tantangan menjadi peluang bagi kehidupannya. 6) Membentuk dan meningkatkan mutu tim fasilitasi terhadap pelaksanaan program keterampilan hidup guna memantau dan memberikan supervisi terhadap program sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. 7) Memfasilitasi berbagai bentuk kegiatan dalam rangka mendukung program keterampilan hidup. 8) Mengoptimalkan peran lembaga/masyarakat untuk melaksanakan dan mengembangkan program keterampilan hidup, sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah/lokal. 9) Meningkatkan kerjasama dengan unit kerja terkait, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat dan sebagainya dalam mendukung pelaksanaan program keterampilan hidup. Pendekatan pendidikan berbasis luas di atas telah diperkuat pula dengan gagasan dari UNESCO berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai proses memperluas pilihan masyarakat.

D. Pelatihan dan Pembelajaran Orang Dewasa bagi Masyarakat Pesisir 1. Tinjauan Masyarakat Pesisir Wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan intrusi garam, sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang ada di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan. Supriharyono (2007:428) Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 34

Hal di atas menunjukkan bahwa tidak ada garis batas yang nyata, sehingga batas wilayah pesisir hanyalah garis khayal yang letaknya ditentukan oleh situasi dan kondisi setempat. Misalnya di delta sungai Mahakam (Kalimantan Timur), garis batas pesisir dapat berada jauh dari garis pantai. Sebaliknya di tempat yang berpantai curam dan langsung berbatasan dengan laut dalam, wilayah pesisirnya akan sempit. Pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang memiliki ciri geosfer yang khusus, kearah darat dibatasi oleh sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari sedangkan arah ke laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat. Wilayah pesisir/pantai adalah suatu daerah yang lebarnya bervariasi, yang mencakup tepi laut (shore) yang meluas kearah daratan sehingga batas pengaruh marin masih dilaraskan (Nontji 2002:367) Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Mukhtasor, 2007:332) Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang memiliki tempramental dan karakter watak yang keras dan tidak mudah diatur. Aparat birokrasilokal mengatakan hal serupa dengan mengatakan, bahwa daerah pesisir tergolong desa yang paling rawan kekerasan, kaum wanitanya juga bersikap kritis terhadap aparat desa yang kebijakannya dinilai tidak benar, misalnya : merugikan kepentingan masyarakat setempat. Sebagian masyarakat lainnya berpendapat bahwa bentuk perlakuan kita terhadap mereka mempengaruhi bentuk-bentuk respons masyarakat pesisir yang di tampilkan artinya, jika kita menghormati dan menghargai mereka, merekapun akan merespon dengan tindakan yang sama demikian pula sebaliknya. Realitas pendidikan di masyarakat adalah pendidikan yang mengalami “Dehumanisasi”, dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. (http://id. shvoong. com/social-sciences/education/2190305-pengertian-masyarakat-pesisir/, Diakses 20 Juni 2011). Penjelasan umum mengenai kawasan pesisir yang meliputi definisi dan karakteristik wilayah merupakan hal yang sangat penting, hal ini bertujuan agar pemahaman mengenai wilayah pesisir dapat di mengerti dan merupakan awal pemahaman dari penelitian ini. Pengertian tentang pesisir sampai saat ini masih menjadi suatu pembicaraan, terutama penjelasan tentang ruang lingkup wilayah pesisir yang secara batasan wilayah masih belum jelas. Berikut ini adalah definisi dari beberapa sumber mengenai wilayah pesisir. Sorenson dan Mc. Creary dalam Clark (1996:1) “The band of dry land adjancent ocean space (water dan submerged land) in wich terrestrial processes and land uses directly affect oceanic processes and uses, and vice versa“. Diartikan bahwa wilayah pesisir adalah wilayah yang merupakan tanda atau batasan wilayah daratan dan wilayah perairan yang mana proses kegiatan atau aktivitas bumi dan penggunaan lahan masih mempengaruhi proses dan fungsi kelautan (http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/02pengertian–wilayah-pesisir.html, diakses 6 Desember 2011). Pengertian wilayah pesisir menurut kesepakatan terakhir internasional adalah merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah paparan benua (continential shelf) Beatley (Dahuri, 2001:9). Menurut Suprihayono (2007:14) wilayah pesisir adalah pertemuan antar daratan dan laut ke arah laut meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut,angin laut, dan perembasan air asin. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 35

Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Pengertian wilayah pesisir menuruut Soegiarto (Dahuri, 2009 :9) adalah merupakan pengertian wilayah pesisir yang dianut di indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dimana wilayah pesisir ke arah darat meliputi daratan, baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembasan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di sebabkan oleh kegiatan manusia. Dari pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena merupakan tempat percampuran antara daratan dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dimana pada umumnya daerah yang berada di sekitar laut memiliki kontur yang relatif datar. Sebagian besar penduduk di wilayah pesisir bermata pencaharian di sektor pemanfaatan sumber daya kelautan (marine resources base), seperti nelayan, petani ikan (budidaya tambak dan laut). Kemiskinan masyarakat nelayan (problem struktural), penambangan pasir, kayu mangrove dan lain-lain (Yulianti, 2003: 18). Ciri-ciri masyarakat pesisir pada umumnya bermukim di daerah pantai yang terkebelakang dan miskin, bermukim di daerah pantai yang pada umumnya merupakan tanah negara, tanah kehutanan, tanah timbul, tanah milik, dan tanah adat. Desa pantai timbul secara spontan tanpa perencanaan sehingga tidak terjadi perkembangan tata ruang yang integratif dan serasi. Dalam studi ekonomi dan antropologi yang dilakukan oleh beberapa peneliti mengemukakan bahwa keadaan miskin masyarakat pesisir disebabkan oleh faktor sosial budaya yakni pola hidup yang bersandar pada mentalitas, sedangkan masyarakat pesisir yang berhasil maju dari kondisi mereka yang berpacu dengan peralatan dan teknologi yang mendukung kegiatan produksi mereka (Hamid, 2001) Sebagai negara kepulauan Indonesia tentu saja memiliki kawasan pesisir yang terbentang luas mengelilingi Indonesia. Hal tersebut juga membuat tidak sedikit masyarakat tinggal di daerah pesisir dan bermata pencaharian nelayan, sebagaimana dikemukakan oleh Hamid (2001 : 16) membagi masyarakat daerah pesisir menjadi empat bagian antara lain : (1) Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan laut. Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional. Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya, (2) Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakat pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan. Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual kemasyarakat sekitarnya atau dibawa ke pasar-pasar lokal. Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan, (3) Masyarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan minim, (4) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh. Kondisi lingkungan pemukiman masyarakat pesisir, khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan terkesan kumuh. Dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang Page 36

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

relatif berada dalam tingkat kesejahteraan rendah, maka dalam jangka panjang tekanan terhadap sumberdaya pesisir akan semakin besar guna pemenuhan kebutuhan pokoknya (http /coastaleco. worpress. com/? blogsub=confirming=subscribe-blog, diakses 3 Desember 2011). Berdasarkan pendapat Nikijuluw (Hamid, 2001 :18) Masyarakat pesisir itu sendiri sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya tergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. Memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir sebagaimana dikemukakan di atas maka diperlukan layanan pendidikan dan pelatihan kecakapan hidup. Pendidikan kecakapan ini sebagai upaya dalam meningkatkan kecakapan untuk hidup secara tepat dan berdaya guna. Program pendidikan kecakapan hidup ini diharapkan dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang tersedia dan dapat dikembangkan dilingkungan masyarakat. Adapun karakteristik program masyarakat pesisir yang dapat menjadi perhatian dalam pengembangan layanan pendidikan kecakapan hidup, (Hamid, 2001 : 1) meliputi : (a) Dalam wilayah dan kepulauan terdapat lebih dari satu sumber alam yang dapat dikelola, (b) Dalam suatu kawasan pesisir biasanya terdapat lebih dari satu kelompok masyarakat yang memiliki keterampilan atau keahlian dan kesenangan bekerja yang berbeda sebagai petani, nelayan, petani tambak, petani rumput laut, pendamping pariwisata, industri dan kerajinan rumah tangga dan lain-lain yang secara tradisi menekuni bidang pekerjaan, (c) Pola hubungan/ interaksi sosial ekonomi antara lapisan masyarakat. Dari uraian ini dapat dikemukakan bahwa pendekatan pola pendidikan kecakapan hidup yang menjadi bagian dari peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan diharapkan menjadi salah satu alternatif solusi yang bijak dalam penanganan masyarakat pesisir dan pulau-pulau terpencil guna mendapatkan kesempatan yang sama dalam menikmati pendidikan yang sesuai untuk mendukung upaya peningkatan pendapatan dan taraf hidup mereka. 2. Pendekatan Pembelajaran Orang Dewasa Pada bagian uraian ini dikemukakan pendekatan pembelajaran orang dewasa sebagai pendekatan yang digunakan dalam pengembangan model pelatihan kecakapan hidup. Pendekatan ini diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan praktek keterampilan vokasional yang dilatihkan kepada sasaran. Secara etimologis, andragogi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata andra yang artinya orang dewasa dan agogos yang artinya memimpin atau membimbing. Andragogi memiliki makna sebagai seni dan ilmu membantu orang dewasa belajar. (Knowles, 1980: 38). Dalam makna yang lebih luas andragogi bukan sekedar membantu orang dewasa belajar tetapi membantu manusia belajar. Teori andragogi menggabungkan elemen psikologi humanistik dengan pendekatan sistem. Pembelajaran akan lebih bermakna jika melibatkan warga belajar sepenuhnya dan menekankan pengarahan diri (self-directed). Pembelajaran orang dewasa merujuk pada penyelenggaraan pendidikan yang ditunjukkan bukan untuk anak-anak melainkan diperuntukkan bagi orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa didasarkan pula atas pertimbangan bahwa terdapat perbedaanperbedaan karakteristik belajar antara orang dewasa dengan pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 37

Menurut konsep andragogi dari Knowles (1980: 44-46) bahwa pembelajaran orang dewasa dirancang melibatkan sejumlah pandangan yang mengakui keterkaitan dengan kematangan pebelajar dewasa. Hal ini dimaksudkan bahwa : (1) belajar orang dewasa berpusat pada masalah (problem-centered) bukan berpusat pada isi pelajaran (contentcentered), (2) belajar orang dewasa harus memungkinkan dan mendorong partisipasi aktif pebelajar, (3) belajar orang dewasa mendorong pebelajar melibatkan masa lalu ke dalam proses, untuk menilai kembali pengalaman itu di dalam situasi dan masalah-masalah baru, (4) iklim belajar harus kolaboratif (instruktur dengan pebelajar, dan pebelajar dengan pebelajar), (5) perencanaan belajar dilakukan sebagai aktivitas bersama antara pebelajar dengan instruktur, (6) evaluasi dilakukan sebagai aktivitas bersama antar pebelajar dengan instruktur, (7) evaluasi diarahkan pada penilaian kembali tentang kebutuhan dan minat, dan untuk merancang ulang kembali aktivitas pembelajaran yang baru, dan (8) aktivitas belajar orang dewasa adalah pengalaman bukan ”pemindahan dan penyerapan” (not “transmittal and absorption”). Bagi orang dewasa, belajar selalu terkait dengan perubahan diri, terutama berkenaan dengan cara mereka menginterpretasi, menilai, merespon, dan menyikapi persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi sehari-hari.(Moedzakir, 2010 :71). Lebih lanjut dijelaskannya bahwa karakteristik belajar orang dewasa seperti ini dapat dipahami dari seluk beluk kehidupan orang dewasa. Kehidupan orang dewasa adalah dunia kehidupan yang riil, artinya bukan dunia imajinasi, dan bukan juga dunia permainan.Orang Dewasa telah berada dalam suatu kenyataan hidup yang menuntutnya untuk menanggung segala resiko dari apapun yang mereka lakukan, menentukan sendiri segala keputusan untuk urusan apapun, dan sebagainya. Menurut Bryson, Reevers, dan Fansler (Supriyanto, 2009) pembelajaran orang dewasa adalah semua aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan intelektual. Pengertian ini lebih menekankan pada penggunaan sebagian waktu dan tenaganya (bukan seluruh waktu dan tenaga) untuk memperoleh peningkatan intelektualnya. Dalam kaitannya dengan prinsip pembelajaran orang dewasa, Brookfield (1983) (dalam Finger dan Asun, 2004: 89-90) mengemukakan enam prinsip pembelajaran orang dewasa, yakni: (1) pembelajaran orang dewasa bercirikan partisipasi sukarela, (2) pembelajaran orang dewasa terdapat saling menghargai, (3) adanya semangat kerjasama antar warga belajar dan fasilitator, (4) adanya tindakan atau refleksi konsep pragmatis yang khas, (5) terjadinya pemikiran yang kritis, dan (6) belajar orang dewasa adalah mengarahkan diri untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri. Keenam prinsip belajar orang dewasa menurut Brookfield tersebut, mengandung maksud bahwa partisipasi sukarela dalam belajar orang dewasa sejalan dengan pedagogik humanistik, dimana warga belajar terlibat menentukan kebutuhannya, langkah belajar, dan proses belajar. Saling menghargai, artinya fasilitator harus menghargai warga belajar sebagai orang dewasa yang harus serius melaksanakan belajarnya, dan pada dasarnya merupakan proses belajar individu. Semangat kerjasama antara fasilitator dengan warga belajar yaitu, fasilitator dan warga belajar sama-sama terikat secara kolaboratif untuk mengatasi persoalan. Tindakan atau refleksi konsep yaitu berkaitan dengan pengalaman psikologis yang membawa tindakan dan pemikiran kepada upaya-upaya perbaikan. Pemikiran kritis adalah merefleksikan pengalaman pribadi, sehingga seseorang bisa berkembang lebih bisa mengaktualisasikan diri dan berpikir kritis. Dalam perspektif lainnya bahwa pembelajaran orang dewasa akan berhasil dengan baik jika melibatkan warga belajar secara utuh baik fisik maupun mental emosionalnya dalam aktivitas pembelajaran. Karena itu, pelaksanaan pembelajaran yang bersifat andragogi sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut : Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 38

1. Iklim belajar perlu diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa, baik ruangan yang digunakan maupun fasilitas. Dalam iklim belajar perlu diciptakan kerja sama yang saling menghargai antara peserta dengan peserta yang lain maupun dengan fasilitator. Hal ini berarti bahwa setiap peserta diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa ada rasa takut dihukum maupun dipermalukan. Terciptanya iklim belajar ini, banyak tergantung kepada fasilitator. 2. Peserta diikutsertakan mendiagnosa kebutuhan belajarnya. Mereka akan merasa terlibat dan termotivasi untuk belajar apabila apa yang dipelajarinya akan sesuai dengan kebutuhan yang ingin dipelajari. 3. Peserta dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya. Dalam perencanaan ini kedudukan fasilitator lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing dan narasumber. Dengan melibatkan peserta dalam proses perencanaan, mereka akan merasa bertanggung jawab pula terhadap kegiatan belajar yang akan mereka lakukan. 4. Proses pembelajaran merupakan tanggung jawab bersama antara fasilitator dan peserta. Kedudukan fasilitator dalam proses pembelajaran lebih berperan sebagai narasumber, pembimbing, dari pada berperan sebagaimana pendidik pada kelas biasanya. Dalam andragogi terdapat suatu asumsi yang mengemukakan bahwa seorang pendidik tidak dapat mengajar dalam arti membuat seorang belajar, tetapi seorang pendidik hanya dapat membantu orang lain belajar. 5. Evaluasi belajar dalam proses belajar secara andragogi menekankan kepada cara evaluasi diri sendiri. Fasilitator lebih banyak membantu peserta untuk menilai sejauh mana mereka memperoleh kemajuan dalam belajarnya. Secara operasional Knowles (1980:44) mengemukakan beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembelajaran orang dewasa yakni: (a) menciptakan iklim belajar yang cocok untuk orang dewasa, (b) menciptakan struktur organisasi untuk perencanaan partisipatif, (c) mendiagnosa kebutuhan belajar, (d) merumuskan tujuan belajar, (e) mengembangkan rancangan kegiatan belajar, (f) melaksanakan kegiatan belajar, (g) mendiagnosa kembali kebutuhan belajar (evaluasi) dan mereka diperlakukan sebagai teman belajar bukan seperti kedudukan antara siswa dengan pendidik. Melibatkan masyarakat sebagai warga belajar dalam suatu kegiatan pelatihan dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa dilandasi oleh empat asumsi. Asumsi ini dikembangkan melalui perbandingan antara karakteristik orang dewasa dengan karakteristik anak, yakni: 1. Konsep diri seorang anak, bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Seorang anak sesungguhnya merupakan kepribadian yang tergantung pada pihak lain, hampir seluruh kehidupannya diatur oleh orang yang lebih dewasa, baik di rumah, di tempat bermain, maupun di tempat beribadah. Seseorang yang beranjak dewasa mulai berkurang ketergantungannya dengan orang lain dan mulai tumbuh kesadarannya dan merasa dapat mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Selama proses perubahan dari ketergantungan kepada orang lain, berubah ke arah mampu berdiri sendiri secara psikologis orang tersebut dipandang sudah dewasa. Ia memandang dirinya sudah mampu sepenuhnya mengatur dirinya sendiri. Oleh karena itu seorang dewasa memerlukan perlakuan yang sifatnya menghargai, khususnya dalam mengambil keputusan. Mereka akan menolak jika diperlakukan seperti anak-anak, contoh diberi ceramah apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Orang dewasa menolak suatu situasi belajar yang kondisinya bertentangan dengan konsep diri mereka dengan pribadi mandiri. Di lain pihak apabila orang Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 39

dewasa di bawah ke dalam situasi belajar yang memperlakukan mereka dengan penuh penghargaan, maka mereka akan melakukan proses belajar tersebut dengan penuh pelibatan dirinya secara mendalam. Orang dewasa akan menolak segala perlakuan belajar yang bertentangan dengan konsep dirinya sebagai pribadi yang mandiri. Karena itu, mereka harus dihargai sebagai manusia mandiri dan melibatkan di dalam setiap tahap pembelajaran mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi. 2. Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda sebagai akibat latar belakang kehidupan masa mudanya. Makin lama ia hidup makin menumpuk pengalaman dan makin berbeda pula dengan pengalaman orang lain. Orang dewasa memiliki banyak pengalaman terakumulasi di dalam dirinya dan pengalaman ini dapat dijadikan sumber belajar. Pembelajaran akan lebih baik dan efektif jika senantiasa dikaitkan dengan pengalaman mereka. Perbedaan pengalaman pada orang dewasa dan anak menimbulkan konsekwensi dalam belajar. Konsekwensi itu, pertama bahwa orang dewasa mempunyai kesempatan lebih baik untuk mengkontribusikan dalam proses belajar orang lain. Kedua, orang dewasa mempunyai dasar pengalaman yang lebih kaya yang berkaitan dengan pengalaman baru. Ketiga, orang dewasa telah mempunyai pola berpikir dan kebiasaan yang pasti dan karenanya mereka cenderung kurang terbuka. 3. Kesiapan belajar, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajar. Masa ini sebagai akibat dari peranan sosialnya. Suryadi (2009: 56) mengemukakan bahwa penampilan orang dewasa dalam melaksanakan peranan sosialnya berubah-ubah sejalan dengan perubahan dengan ketiga fase masa dewasa sehingga hal ini mengakibatkan pula perubahan dalam kesiapan belajar. Orang dewasa memiliki masa kesiapan belajar yang dikelompokkan berdasarkan tingkat usianya. Perkembangan dan peranan sosialnya secara gradual terus menerus meningkat sesuai dengan tingkat usia. Oleh karena itu, pembelajaran harus disesuaikan dengan masa kesiapan belajar. Sebagai ilustrasi, dalam peran seorang sebagai pekerja, maka tugas perkembangan pertamanya adalah memperoleh pekerjaan. Pada saat itu ia sudah siap untuk belajar segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan, tetapi ia belum siap untuk belajar mengenai supervisi. Setelah memperoleh pekerjaan, ia dihadapkan untuk menguasai kemampuan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya. Dengan demikian ia perlu mempersiapkan ketrampilan khusus yang diperlukan yang merupakan ukuran baku bagi pekerjaan itu. Setelah pekerjaan itu dikuasai selanjutnya ia akan meniti karir lebih tinggi. Sekarang ia telah siap untuk belajar menjadi seorang supervisor atau eksekutif. Akhirnya setelah ia mencapai puncak karir, ia menghadapi tugas untuk mengakhiri perannya sebagai pekerja dan ia siap sekarang untuk belajar mengenai masa pensiun atau mengganti pekerjaan. 4. Orientasi belajar, Dalam belajar, antara orang dewasa dan anak-anak berbeda dalam perspektif waktunya. Hal ini menghasilkan perbedaan pula dalam memandang terhadap belajar. Anak-anak cenderung mempunyai perspektif untuk menunda aplikasi apa yang akan dipelajari. Bagi anak pendidikan dipandang sebagai suatu proses penumpukkan pengetahuan dan ketrampilan yang nantinya diharapkan akan dapat bermanfaat dalam kehidupannya. Sebaliknya orang dewasa berperspektif sesegera mungkin mengaplikasikan apa yang dipelajari. Pembelajaran diarahkan kepada keterpakaian saat ini dan menjawab masalah dan dapat memenuhi kebutuhannya, karena pembelajaran lebih bersifat fungsional dengan pendekatan pemecahan masalah. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 40

Bagi orang dewasa, investasi waktu dalam suatu kegiatan sama pentingnya dengan keputusan untuk menanam modal atau berusaha. Orang dewasa lebih suka mengikuti pendidikan dan memperoleh banyak keuntungan dari kegiatan belajar yang berpusat pada masalah praktis. Mereka biasanya mengidentifikasi sendiri atau dengan bantuan pejabat pendidikan orang dewasa untuk mengidentifikasi apa yang dipelajari (Kidd, 1973; Smith, 1982). Oleh sebab itu pendidik orang dewasa perlu memperhatikan materi dan metode pembelajaran untuk membantu warga belajar untuk mengubah dan mentransformasikan arti dan ketrampilan yang telah diperolehnya dari pengalaman terdahulu. Knowless (1980) membedakan antara belajar orang dewasa dengan belajar anak-anak, yakni: (1) perbedaan dalam kosep diri, orang dewasa membutuhkan kebebasan yang lebih bersifat pengarahan diri, (2) perbedaan pengalaman, orang dewasa mengumpulkan pengalaman yang makin meluas, yang menjadi sumber daya yang kaya dalam kegiatan belajar, (3) kesiapan untuk belajar, orang dewasa ingin mempelajari bidang permasalahan yang sedang mereka hadapi dan dianggap relevan, (4) perbedaan orientasi kearah kegiatan belajar, orang dewasa orientasinya berpusat pada masalah dan kurang kemungkinannya berpusat pada subyek. Dari dimensi waktu dan manfaat belajar, terdapat perbedaan antara orang dewasa dengan anak-anak. Anak-anak cenderung belajar untuk memiliki kemampuan yang kelak dibutuhkan untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah lanjutan/perguruan tinggi, yang memungkinkan mereka memasuki alam kehidupan yang bahagia dan produktif dalam masa kedewasaan. Bagi anak-anak, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pengakumulasian pengetahuan dan ketrampilan yang kelak bermanfaat dalam kehidupan. Orang dewasa cenderung memasuki kerangka kegiatan belajar yang segera diaplikasikan, baik pengetahuan maupun keterampilan yang dipelajarinya. Mereka menyenangi kegiatan belajar yang memungkinkan merespon terhadap tekanan yang dirasakannya dalam situasi kehidupan yang dialaminya. Pendidikan orang dewasa adalah proses peningkatan kemampuan untuk menghadapi masalah kehidupan yang dialaminya sekarang. Pada dasarnya orang dewasa dapat belajar, jika ada orang dewasa yang mengatakan tidak dapat belajar lagi, maka itu terjadi karena mereka kurang percaya pada kemampuannya untuk belajar. Menurut penelitian, kemampuan belajar yang berkurang hanyalah kecepatan belajarnya, bukan daya kecerdasannya (Knowles, 1980:55). Kemunduran kecepatan belajar tersebut ada kaitannya dengan pertambahan usia yang mengakibatkan perubahan beberapa unsur fisik seperti ketajaman pendengaran dan penglihatan yang mengalami kemunduran. Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa dalam menerapkan pembelajaran orang dewasa dalam suatu kegiatan pendidikan dan pelatihan maka perlu mendiagnosis dan mengidentifikasi kebutuhan belajar, mengorganisir pembelajaran dan mengembangkan pendekatan yang sesuai, mengembangkan suasana pembelajaran yang kondusif, memperlakukan mereka sebagai mitra dalam pembelajaran, serta melibatkannya dalam kegiatan evaluasi. E. Konsep Budaya dan Integrasi Nilai Budaya Lokal Masyarakat 1. Pengertian Budaya dan Nilai Budaya Kebudayaan (Culture) merupakan suatu komponen penting dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam konteks struktur sosial. Kebudayaan sebagai suatu cara hidup atau dalam bahasa inggris disebut ways of life. Cara hidup atau pandangan hidup dapat meliputi cara berpikir, cara berencana dan cara bertindak, disamping segala hasil karya nyata yang dianggap berguna, benar dan dipatuhi oleh anggota-anggota masyarakat atas kesepakatan bersama. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 41

Kebudayaan berasal dari kata sanskerta Buddayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal, artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Koentjaraningrat 1987 :1) mengemukakan bahwa konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Makna yang terkandung dari kebudayaan, adalah menunjukkan seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Dalam kehidupannya, tidak mungkin sesorang individu tanpa latar sosial budayanya, karena sejak manusia telah menjadi anggota suatu komunitas sosial, entah komunitas itu kecil berupa ayah, ibu, dan saudara-saudaranya, atau dalam komunitas sosial yang besar misalnya masyarakat desa dan kota dimana manusia hidup dan dibesarkan. Kebudayaan sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh antropologi budaya. Walaupun demikian, seseorang yang memperdalam perhatiannya pada ilmu-ilmu sosial lain, tak dapat menyampingkan eksistensi kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya, tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Walaupun secara teoritis dan untuk kepentingan analisis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah. (Soerjono, 1997:187). Pengaruh komunitas terhadap pertumbuhan individu sangat besar. Komunitas sosiokultural yang terdapat disekelilingnya, seorang individu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terinternalisasi dalam jiwanya yang akan membentuk kepribadian individu yang bersangkutan. Dengan jenis dan macam pengetahuan yang didapat oleh individu sebagian besar berasal dari lingkungan dimana individu tersebut berada. Demikian pula jenis keterampilan yang dipelajarinya sebagian besar juga berasal dari lingkungan komunitas sosiokultural. Menurut Amin (2011 : 86) budaya adalah keseluruhan cara hidup, wawarisan sosial, cara berpikir, kepercayaan, cara kelompok bertingkah laku, gudang pelajaran yang dikumpulkan, tindakan baku untuk mengatasi masalah peraturan bertingkah laku dalam acara tertentu. Substansi dari budaya dalam kehidupan sehari-hari tampak pada kebiasaan, adat istiadat, pola pergaulan, upacara ritual (kepercayaan), sikap dan perilaku yang berulang-ulang yang khas dalam kehidupan masyarakat tertentu. Nilai-nilai budaya yang positif yang diwariskan oleh nenek moyang tampaknya perlu dihidupkan, dibangun kembali dalam kerangka membangun karakter/budi pekerti anak bangsa saat ini. Sejarah telah membuktikan bahwa kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia mampu menanamkan kepribadian yang berbudi dan mentalitas, berakhlak yang baik bagi keturunannya, baik itu dalam kehidupannya sebagai individu, dalam keluarga, dalam kelompok, serta dalam masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (Ranjabar, 2006 : 179-180) dalam masyarakat Indonesia terdapat mentalitas yang cocok dengan jiwa pembangunan dan yang tidak cocok dengan jiwa pembangunan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa : Mentalitas yang cocok dengan jwa pembangunan: (1) tidak berspekulasi tentang hakikat dari kehidupan, karya dan hasil karya manusia, tetapi manusia itu bekerja keras untuk dapat makan, (2) mempunyai persepsi waktu yang terbatas sehingga selalu memperhitungkan tahapan-tahapan aktivitas dalam lingkaran waktu (menghargai waktu), (3) tidak merasa tunduk kepada alam, sebaliknya juga tidak merasa mampu menguasainya.Oleh karena itu harus hidup selaras dengan alam sekelilingnya, (4) di dunia ini, manusia pada hakikatnya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu mendapat bantuan dari sesamanya, terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan. Konsep ini memberi suatu landasan yang kokoh bagi rasa kehidupan bersama, terutama konsep gotong royong, hanya saja segi negatifnya adalah jangan dengan sengaja berusaha untuk menonjolkan diri di atas orang lain. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 42

Mentalitas yang tidak cocok dengan jiwa pembangunan: (1) tidak bersumber kepada suatu nilai sosial budaya yang berorientasi terhadap hasil dari karya manusia itu sendiri, tetapi hanya terhadap amal dari karya (ibarat orang sekolah yang tidak mengejar keterampilan yang diajarkan, tetapi hanya ijazahnya saja), (2) dalam kehidupan sehari-hari masih terdapat suatu rasa sentimen yang agak berlebihan terhadap benda-benda pusaka dari nenek moyangnya dengan perhatian terhadap mitologi, silsilah, dan karya-karya pujanggapujangga kuno serta diselingi dengan upacara-upacara rumit untuk memelihara benda-benda pusaka, (3) berspekulasi tentang hubungan antar manusia dengan alam serta terlampau banyak menggantungkan diri kepada nasib. Dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, menggunakan kesempatan untuk bersembunyi dalam alam kebatinan (pelarian dari dunia nyata ke dunia kebatinan/klenik), (4) mentalitas yang berorientasi nilai budaya yang terlampau terarah kepada orang-orang yang berpangkat tinggi, yang senior dan orang-orang yang tua sehingga hasrat untuk berdiri sendiri dan berusaha sendiri menjadi lemah, begitu juga dengan rasa disiplin pribadi yang murni (karena orang hanya akan taat apabila ada pengawasan dari atas). Juga mentalitas yang selalu menunggu restu dari atasan, (5) sifatsifat kelemahan yang bersumber pada kehidupan keragu-raguan dan hidup tanpa orientasi yang tegas: (a) sifat mentalitas yang meremehkan mutu, (b) sifat mentalitas yang suka menerabas atau mencari jalan pintas atau gampang, (c) sifat kurang percaya pada diri sendiri, (d) sifat tak berdisiplin murni, dan (e) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.

Dalam konteks bersamaan dapat dikemukakan bahwa kebudayaan dipelajari dari golongan atau masyarakat dalam kehidupan bersama, dan tidak dilahirkan sebagai sifat biologis atau karena naluri. Tidak ada kebudayaan yang diciptakan oleh seorang manusia saja, atau hasil cipta seorang manusia saja. Mungkin penemuan-penemuan yang berarti diciptakan oleh pemikiran seseorang, tetapi penemuan itu akhirnya akan berkembang dan digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan di dalam masyarakat itu, dan ide penemuan itu pun dihasilkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat tertentu itu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa budaya merupakan sesuatu yang sukar dipahami, tidak dapat diraba, harus dipatuhi dan diterima sebagai kebenaran. Tetapi setiap organisasi dalam suatu komunitas tertentu mengembangkan seperangkat asumsi dasar, pemahaman dan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi, yang menentukan perilaku sehari-hari di lingkungan komunitas atau masyarakat tertentu. Dalam konteks nilai budaya sebagai dimensi yang terdapat dalam budaya maka nilainilai merupakan standar-standar di mana pendukung suatu kebudayaan mendefinisikan apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, apa yang baik dan tidak baik, apa yang indah dan jelek. Karena itu, nilai-nilai adalah semacam evaluasi atau pertimbangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh menurut kebudayaan tertentu. Prinsip-prinsip ini tercermin di dalam setiap aspek kehidupan manusia. Sejak kecil manusia diajarkan nilai-nilai tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang dielakkan. Selanjutnya ketika tumbuh dewasa, nilai-nilai itu diajarkan melalui budi pekerti, agama, etika di sekolah dan masyarakat. Manusia belajar tentang bagaimana cara berperilaku yang sesuai dengan adat-istiadat dan kebudayaan, tentang tujuan-tujuan hidup yang dianggap layak oleh masyarakat; dan tentang cara berelasi dengan sesama manusia. Nilai-nilai itu tidak selalu seragam di dalam suatu kebudayaan. Dalam suatu lingkungan budaya tertentu, tidak semua nilai budaya dihayati secara sama oleh setiap orang. Sebab kalau demikian, tidak akan ada kejahatan atau perilaku yang menyimpang. Namun demikian, setiap kebudayaan memiliki sejumlah besar nilai yang diakui oleh kebanyakan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 43

anggota masyarakat dan bertahan untuk masa yang cukup lama. Ada sejumlah nilai tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih berlaku hingga sekarang. Setiap sistem nilai budaya dalam setiap kebudayaan senantiasa mengenal lima masalah dasar dalam kehidupan manusia. C. Kluckhon dan F. Kluckhon (Wiranata, 2011: 105-106) mengkaji secara tekun masalah ini, dan kesimpulan mereka sampai pada suatu kerangka variasi sistem nilai budaya sebagai berikut:

Tabel 2.1. Lima Dasar dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Masalah Dasar dalam Hidup Hakikat (MH) Hidup Hidup itu buruk Orientasi Nilai Budaya Hidup itu baik Hidup ini buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu menjadi baik Karya itu untuk menambah karya

Hakikat (MK)

Karya

Karya itu untuk naflah hidup

Persepsi manusia Tentang Waktu (MW) Pandangan Manusia terhadap Alam

Orientasi masa kini

Karya itu untuk kedudukan, kehormatan dan sebagainya menuju Orientasi menuju Orientasi menuju masa lalu masa depan Manusia berhasrat menguasai alam

Manusia tunduk Manusia berusaha pada alam yang menjaga dahsyaf keselarasan dengan alam Hakikat hubungan Orientasi kolateral Orientasi vertikal antara manusia (horizontal) rasa rasa dan sesamanya kebergantungan kebergantungan kepada sesamanya kepada tokoh(berjiwa gotong tokoh atasan yang royong) berpangkat

Individualisme menilai tinggi usaha atas kekukatan sendiri

Meskipun pada berbagai suku bangsa tidak terdapat keseragaman manivestasi perilaku, kerangka sistem nilai budaya ini memberikan asumsi dasar yang bersifat seragam, misalnya cara pandang mengenai hakikat dari hidup manusia. Sebagian orang memandang hakikat hidup itu baik, sedangkan sebagian lain memandang hidup itu hakikatnya jelek. Kerangka sistem nilai budaya itu menjadi asumsi dasar beragamnya tatanan dan sistem nilai dalam masyarakat. Mengenai pentingnya sistem nilai budaya dalam suatu komunitas sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat bahwa nilai budaya yang harus dimiliki oleh warga masyarakat hendaknya berupa: (a) Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan. Nilai budaya ini akan mendorong warga belajar untuk melihat dan merencanakan masa depannya dengan lebih seksama dan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 44

teliti, dan oleh karena itu akan memaksa untuk hidup lebih berhati-hati dan berhemat, (b) Nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksploitasi lingkungan alam dan kekuatankekuatan alam. Nilai budaya semacam ini akan mempertinggi kemungkinan kapasitas inovasi, terutama inovasi dalam teknologi, (c) Orientasi nilai budaya yang menilai tinggi hasrat dari hasil karya anusia. Tujuan dari nilai-nilai budaya ini lebih mengindikasikan akan sikap warga belajar akan achievement orientation, (d) Nilai budaya yang menilai tinggi usaha orang yang dapat mencapai hasil, sedapat mungkin atas usahanya sendiri. Nilai budaya ini mendorong warga belajar untuk melatih kemampuan diri sendiri. (Koentjaraningrat, 1987 : 34 -36) Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam masyarakat senantiasa terdapat nilai-nilai budaya yang dipelihara dan menjadi bagian kehidupannya. Nilai budaya bukanlah merupakan tujuan konkrit dari pada tindakan tetapi ia tetap mempunyai hubungan dengan tujuan. Sebab nilai berfungsi sebagai kriteria dalam memilih tujuan-tujuan hidupnya. Nilai budaya merupakan unsur penting bagi kehidupan masyarakat termasuk masyarakat yang bermata pencaharian nelayan. Bagi masyarakat nelayan nilai-nilai ini biasanya dijunjung tinggi diakui bersama sebagai hasil konsensus yang erat kaitannya terhadap pandangan dan harapan dalam meningkatkan kemandirian berusaha guna memenuhi peningkatan kualitas hidup bermasyarakat.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

2. Nilai Pendidikan dalam Konteks Budaya Gotong Royong Dalam undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pada bagian lain dinyatakan pula bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari uraian ini menunjukkan bahwa pendidikan nasional pada dasarnya berakar pada dua nilai yang fundamental yaitu nilai-nilai yang bersumber dari agama dan nilai-nilai yang bersumber dari kebudayaan nasional. Amin (2011 : 88) menyatakan bahwa berdasarkan dari budaya-budaya daerah yang tumbuh subur ditengah-tengah masyarakat lahirnya apa yang disebut budaya bangsa atau budaya nasional (National Culture). Gotong royong sebagai nilai budaya secara nyata telah melembaga dan mengakar kuat, ini diwujudkan dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat Indonesia. Masyarakat pedesaan di Indonesia baik disetiap suku maupun daerah pada dasarnya memiliki budaya gotong royong yang beraneka ragam, baik dalam bentuk maupun sistem pelaksanaannya. Bagi bangsa Indonesia, gotong royong seharusnya bukanlah sesuatu yang asing. Sebaliknya, sebagai sebuah bangsa timur yang memiliki ciri masyarakat yang bersifat kekeluargaan, gotong royong adalah suatu nilai yang sudah diwarisi dari sejak dahulu kala. Koentjaraningrat (2000 :8) mengemukakan bahwa pada masyarakat pedesaan yang masih tradisional budaya gotong royong merupakan ciri khas dan pandangan hidup yang sudah turun tumurun. Budaya ini di dalam kehidupan setiap masyarakatnya memiliki bentuk yang beraneka ragam sistem pelaksanaannya. Mulai dari kegotongroyong berazaskan timbal Page 45

balik maupun gotong royong yang hanya untuk memenuhi kewajiban sosial (sukarela dan tanpa pamrih) sebagai anggota masyarakat. Dalam gotong royong sumbangan yang diberikan masyarakat apakah dalam bentuk benda, jasa atau tenaga adalah untuk kepentingan bersama seluruh anggota masyarakat. Jadi yang disebut di dalamnya adalah komitmen dan semangat menyatukan diri dalam kelompok masyarakat, masyarakat solidaritas sebagai anggota masyarakat. Sementara apabila seseorang tidak ikut dalam gotong royong dapat dipandang sebagai orang yang tidak punya kebersamaan dalam masyarakat. Nilai-nilai pendidikan dalam budaya gotong royong adalah dapat berupa gagasan, konsep, tata nilai, sistem nilai, perundangan, perilaku yang menunjukkan jatidiri bangsa Indonesia. Budaya gotong royong adalah perwujudan kemampuan manusia sebagai mahkluk individu dan sosial. Wujud budaya gotong royong adanya ide atau gagasan, memiliki adat istiadat yang khas, memiliki aktivitas tertentu serta berlaku sistem sosial kemasyarakatan. Hal ini sebagaimana pendapat Supriyoko (2006 :10) bahwa nilai pendidikan dalam budaya gotong royong menjadi garis acuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tilaar (2002 : 95) mengemukakan bahwa nilai pendidikan dan budaya gotong royong memiliki keterkaitan yang sangat erat. Bahkan kaitan keduanya adalah kaitan ontologis dan epistemologis. Dalam konteks lahirnya etno-nasionalisme, keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan akan semakin menonjol. Di dalam praksis pendidikan untuk pengembangan sikap toleransi dalam masyarakat demokratis terdapat berbagai model pendidikan untuk kesadaran dan pengembangan kohesi sosial, yaitu pendidikan multikultural, pendidikan transkultural, dan pendidikan interkultural. Nilai pendidikan interkultural ditekankan kepada eksistensi budaya gotong royong yang berlaku di masyarakat. Dalam rangka pengembangan kohesi sosial maka yang diperlukan ialah kegiatan interaksi budaya. Bentuk lain dari nilai pendidikan melalui budaya gotong royong adalah nilai transkultural yang mencari bentukbentuk universalitas dari budaya-budaya yang ada. Nilai transkultural ini yang telah digunakan di dalam praksis pendidikan yang selama ini berlaku. Pada bagian lain Tilaar (2002 : 99) menjelaskan bahwa bagi masyarakat Indonesia dalam rangka otonomi daerah, nilai pendidikan yang tepat dalam budaya gotong royong adalah penanaman sikap dan paham multikultural. Artinya masing-masing-masing etnis yang yang terdapat dimasyarakat mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dikembangkan. Di dalam pengembangan tersebut tidak ada campur tangan pemerintah, melainkan sepenuhnya menjadi urusan masyarakat pemiliknya. Pemerintah hanya menjaga supaya tidak erjadi benturan budaya yang merugikan. Pemerintah mempunyai tugas menjaga terjadinya perkembangan budaya yang alamiah dan kemungkinan terjadinya akulturasi atau pengembangan budaya. Hal inilah yang merupakan salah satu nilai pendidikan melalui budaya gotong royong. Dalam model transkultural ada kemungkinan pemerintah mempunyai keinginan untuk memaksakan adanya unsur-unsur yang universal yang harus dilaksanakan oleh semua budaya etnis. Di dalam nilai interkultural yang dipentingkan bukannya perkembangan sub budaya itu sendiri, tetapi bagaimana menjadi interaksi antar subbudaya sehingga tidak terjadi ketegangan-ketegangan. Tilaar (2002 : 101) menjelaskan bahwa nilai pendidikan multikultural melalui budaya gotong royong dalam masyarakat Indonesia mempuyai berbagai orientasi. Pertama-tama tentunya suatu reorientasi visi pendidikan. Dalam rangka otonomi daerah, pendidikan di daerah haruslah tumbuh dan berkembang dalam konteks budaya dimana lembaga pendidikan itu berada. Pengetahuan mengenai budaya lokal bagi pendidik tentunya menjadi syarat. Dalam kaitannya dengan peran pendidikan nasional sebagai pengiring kebudayaan nasional dapat dicapai melalui proses belajar mengajar disekolah/ lembaga pendidikan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 46

lainnya melalui pendidikan kecakapan hidup sebagai salah satu program dan kegiatan pendidikan luar sekolah. Peserta didik atau warga belajar dapat dikenalkan kebudayaan nasional baik berupa ide (gagasan), sistem sosial masyarakat Indonesia atau perilaku, moral, akhlak yang baik. Di samping itu, boleh juga dikenalkan budaya asing yang tidak melanggar/menyalahi budaya Indonesia, misalnya etos kerja, menjaga kebersihan, ketertiban, sikap toleransi dan sebagainya. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan bahwa nilai pendidikan dalam budaya gotong royong adalah nilai yang bersifat multikultural menanamkan sifat menghargai orang lain yang berbeda suku, etnis, agama dan status sosial lainnya. Nilai interkultural ditekankan kepada eksistensi budaya gotong royong yang berlaku dimasyarakat dalam rangka pengembangan kohesi sosial maka yang diperlukan ialah kegiatan interaksi budaya. Nilai transkultural yang mencari bentuk-bentuk universalitas dari budaya-budaya yang ada. 3. Dimensi Nilai Budaya Lokal Masyarakat Gorontalo Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa masyarakat memiliki memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya tertentu yang merupakan ciri khas dan pandangan hidup yang sudah turun tumurun. Nilai budaya ini dalam kehidupan masyarakatnya memiliki bentuk yang beraneka ragam sistem pelaksanaannya. Nilai budaya gotong royong sebagai dimensi nilai budaya lokal bagi masyarakat berazaskan timbal balik maupun gotong royong yang hanya untuk memenuhi kewajiban sosial (sukarela dan tanpa pamrih) sebagai anggota masyarakat. Secara umum aktivitas gotong royong memiliki tema sentral sebagai mutual help antar anggota masyarakat yang mana masing-masing pihak terlibat saling memberikan kontribusi dan sebagai reward-nya mereka mendapatkan gain dari aktivitas yag dikerjasamakan. Semangat timbal balik melekat kuat sebagai petunjuk bahwa proses kerjasama berlangsung dengan fair. Dalam praktek nyata keseharian, timbal balik memiliki spektrum yang fleksibel dari timbal balik yang sangat ketat (strict reciprocity) sampai dengan timbal balik yang longgar (non-strict reciprocity). Dan bukan tidak mungkin dalam kasuskasus , tertentu terjadi ketidakseimbangan antara kontribusi dan gain yang diperoleh pihak terlibat dalam jangka panjang. Namun karena warga masyarakat masih memegang prinsip generosity, hal itu diterima sebagai hal yang biasa dengan kesabaran hati. semangat kesepadanan, dan rasa timbang rasa memungkinkan anggota masyarakat dari golongan kurang mampu atau terbelakang secara sosial dan ekonomi untuk memperoleh gain yang lebih besar dibandingkan dengan kontribusi yang diberikan kepada kelompoknya. Di banyak tempat di Pulau Jawa, kegiatan gotong royong dalam istilah lokal disebut : sambatan, gentosan, kerja bakti, gugur gunung dan huyula untuk masyarakat Gorontalo apabila kegiatan dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, dan disebut tetulung layat, tilik untuk jenis kegiatan yang berhubungan dengan kemalangan dan bencana. Jadi gotong royong adalah kegiatan kerjasama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Pada masyarakat Gorontalo menurut Hattu (1999) dalam (Rosdiana,2010 :24) bahwa budaya gotong royong dikenal dengan istilah huyula atau mohuyula yang mengandung arti bekerja bersama-sama atau beramai-ramai. Budaya ini menjadi ciri khas kepribadian masyarakat Gorontalo yang telah dibina secara turun temurun. Huyula bagi masyarakat Gorontalo merupakan suatu sistem gotong royong antara anggota masyarakat, masyarakat dengan pemimpinnya yang didasarkan pada solidaritas sosial, letak geografis, iman dan kepercayaan guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama. Huyula atau gotong royong sudah ada sejak dahulu kala, dimana pada waktu penduduk masyarakat Gorontalo masih mengembara atau bermukim dalam satu tempat yakni di pegunungan Tilongkabila, sementara daratan lainnya masih tergenang air, terutama air laut. Bagi masyarakat Gorontalo budaya huyula memiliki konsep nilai yang tinggi dalam Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 47

kehidupan masyarakat karena terdiri dari jaringan cita-cita, norma, aturan, pandangan dan sebagainya. Dalam hubungan dengan konsep nilai ini Hatu (1999) menjelaskan bahwa budaya huyula dapat dilihat dari nilai yang melandasi yaitu (1) huyula, dilihat dari kontak antara manusia dengan Tuhannya (relasi vertikal) seperti keyakinan, kepercayaan (2) huyula dilihat dari kontak atau hubungan antar manusia (relasi horizontal). Hattu (1999) mengemukakan terdapat 3 (tiga) bentuk huyula atau gotong royong yang dilaksanakan masyarakat Gorontalo yaitu sebagai berikut: 1. Huyula Tiayo Huyula tiayo yaitu kegiatan gotong royong yang sifatnya tolong menolong yang dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam melaksanakan pekerjaan seseorang. Kata tiayo bila diartikan adalah mengundang atau meminta bantuan orang untuk membantu dalam melaksanakan pekerjaan. Jumlah anggota yang diundang relatif artinya tidak terbatas. Cara pelaksanaannya antara lain setiap diundang datang membantu tenaga sementara yang mengundang hanya menyediakan makanan dan berkewajiban membalas dalam bentuk tenaga kepada semua yang diundangnya, apabila mereka akan melaksanakan suatu pekerjaan, baik dalam jenis pekejaan yang sama maupun jenis pekerjaan yang berbeda. Biasanya yang pernah diundang akan mengundang kembali yang pernah dibantunya. Pekerjaan yang biasanya dilaksanakan dengan huyula tiayo seperti : menggarap lahan pertanian (momadeo), membangun rumah (mohutu bele) dan pelaksanaan hajatan berupa pesta perkawinan (moponika), pesta khitanan (moluna) dan sebagainya. 2. Huyula Ambu Huyula ambu adalah bentuk gotong royong yang sifatnya kerja bakti yang dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan status sosial. Kata ambu mengandung arti berkumpul atau masyarakat harus berkumpul dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau kepentingan bersama. Permintaan berkumpul berasal dari Kepala Desa (Taudaa) yang ditujukan kepada masyarakatnya setelah pekerjaan yang akan dilaksanakan tersebut telah dimusyawarahkan dengan tokoh-tokoh masyarakat beserta anggota masyarakat. 3. Huyula Hileiya Huyula dalam bentuk hileiya adalah bentuk gotong royong yang sifatnya tolong menolong, khusus dilaksanakan untuk membantu keluarga yang mengalami musibah berupa kematian maupun kecelakaan. Hileiya mengandung arti kiasan yang artinya memindahkan atau mengalihkan bentuk kegiatan kepada pihak yang berduka. Huyula seperti ini dilaksanakan oleh keluarga, tetangga, secara spontan dan sukarela. Dengan memperhatikan bentuk-bentuk pelaksanaan gotong royong di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pelaksanaan gotong royong sumbangan yang diberikan seseorang apakah dalam bentuk benda, jasa atau tenaga adalah untuk kepentingan bersama seluruh anggota kelompok. Sementara apabila seseorang tidak ikut dalam gotong royong dapat dipandang tidak punya kebersamaan dan mau hanya enaknya sendiri. Mengacu pada konsep sistem nilai budaya Kluckhon dan F. Kluckhon (Wiranata,2011: 105-106) formula kerangka variasi sistem nilai budaya, Koentjaraningkat (1987) dengan formula nilai budaya yang harus dimiliki masyarakat, dan Hattu (1999) dengan asfek nilai budaya gotong royong masyarakat Gorontalo, maka nilai budaya lokal yang diidentifikasi dan dikembangkan dalam penelitian ini komunitas masyarakat nelayan terkait dengan kemandirian berusaha menyangkut asfek sebagai berikut: Toleran, Kepatuhan kepada Pemimpin/ Pimpinan, Kerjasama, Kekerabatan, Rasa Ingin Tahu, Menghargai Keberhasilan orang lain, Kerja Keras, Saling membagi hasil. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 48

F. Model Pelatihan Kecakapan Hidup sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kemandirian Berusaha 1. Hakikat Peran serta Masyarakat Terhadap Pendidikan a. Pengertian Partisipasi Istilah “partisipasi” menurut kamus “participation” tidak lain adalah act participating (kata kerja transitif participate; have a share or take part), diterjemahkan sebagai pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Sedangkan definisi konseptual Partisipasi menurut Keith Davis (Huraerah,2008:95), “participations is defined as mental and emotional involvement of persons in group goals and situations that encourage them to contribute to group goals and share responsibility for them” (Partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental dan emosi orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk menyumbangkan pada tujuan-tujuan kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadapnya). Dari batasan partisipasi tersebut, bisa diketahui bahwa arti partisipasi bukan hanya sekedar mengambil bagian atau pengikutsertaan saja melainkan lebih dari itu dalam pengertian tersebut terkandung tiga gagasan pokok, yaitu mental and emotional involvement (keterlibatan mental dan emosi), motivation to contribute (dorongan untuk memberikan sumbangan), dan acceptance of responsibility (penerimaan tanggung jawab). Seorang ahli ekonomi kerakyatan, Mubyarto (1997) mengemukakan pengertian dasar partisipasi adalah tindakan mengambil bagian dalam kegiatan, sedangkan pengertian partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat dalam suatu proses pembangunan dimana masyarakat ikut terlibat mulai dari tahap penyusunan program, perencanaan dan pembangunan, perumusan kebijakan, dan pengambilan keputusan. Sulaiman (1985 :6) seorang ahli pekerjaan sosial, mengungkapkan bahwa partisipasi sosial sebagai keterlibatan aktif warga masyarakat secara perorangan, kelompok, atau kesatuan masyarakat dalam proses pembuatan keputusan bersama, perencanaan dan pelaksanaan program serta usaha pelayanan dan pembangunan kesejahteraan sosial di dalam dan atau di luar lingkungan masyarakat atas dasar rasa kesadaran tanggung jawab sosialnya. Selanjutnya, dengan mengutip beberapa pendapat para ahli Ndraha (1987 :1) menyimpulkan, partisipasi masyarakat meliputi kegiatan sebagai berikut: (a) Partisipasi dalam melalui kontak dengan pihak lain (contact change) sebagai satu di antara titik awal perubahan social, (b) Partisipasi dalam memperhatikan/menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi, baik dalam arti menerima (menaati, menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya), (c) Partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan (penetapan rencana), (d) Partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan, (e) Partisipasi dalam menerima, memelihara, dan mengembangkan hasil pembangunan (participation in belief), (f) Partisipasi dalam menilai hasil pembangunan. Dari dari definisi partisipasi yang dikemukakan Mubyarto, Sulaiman dan Ndraha tersebut, dapat dipahami bahwa partisipasi masyarakat memiliki pengertian yang luas. Partisipasi masyarakat bukan hanya dalam pelaksanaan saja seperti halnya ditafsirkan masyarakat awam pada umumnya, melainkan meliputi kegiatan pengambilan keputusan, penyusunan program, perencanaan program, pelaksanaan program, mengembangkan program, dan menikmati hasil dari pelaksanaan program tersebut. Pada bagian lain, kita juga dapat memahami bahwa konsep partisipasi masyarakat yang lebih jelas dan tegas, seperti yang diungkapkan Soetrisno (1995 :221-222) menguraikan dua jenis partisipasi: Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 49

(1) Definisi yang diberikan oleh para perencana pembangunan formal di Indonesia. Definisi partisipasi jenis ini adalah partisipasi rakyat dalam pembangunan sebagai dukungan rakyat terhadap rencana atau proyek pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh perencana. Definisi ini mempunyai motto “silakan Anda (baca: rakyat) berpartisipasi, tetapi pemerintah yang merencanakan”. Ukuran tinggi rendahnya partisipasi rakyat dalam definisi ini pun diukur dengan kemampuan rakyat ikut menanggung biaya pembangunan, baik berupa uang maupun tenaga dalam pelaksanaan proyek pembangunan pemerintah, (2) Definisi yang ada dan berlaku universal adalah partisipasi rakyat dalam pembangunan merupakan kerjasama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai. Menurut definisi ini, ukuran tinggi rendahnya partisipasi rakyat dalam pembangunan tidak hanya diukur dengan kemauan rakyat untuk menanggung biaya pembangunan, melainkan juga dengan ada tidaknya hak rakyat untuk ikut menentukan arah dan tujuan proyek yang akan dibangun di wilayah mereka. Ukuran lain yang digunakan oleh definisi ini dalam mengukur tinggi rendahnya partisipasi rakyat adalah ada tidaknya kemauan rakyat untuk secara mandiri melestarikan dan mengembangkan hasil proyek itu. Lebih lanjut Soetrisno (1995 :222) menjelaskan, definisi yang akan digunakan akan sangat menentukan keberhasilan dalam mengembangkan dan memasyarakatkan sistem pembangunan wilayah yang partisipatif. Dari sudut pandang sosiologis, definisi pertama tidak dapat dikatakan sebagai partisipasi rakyat dalam pembangunan, melainkan mobilisasi rakyat dalam pembangunan. Mobilisasi rakyat dalam pembangunan hanya dapat mengatasi permasalahan pembangunan dalam jangka pendek. Di Indonesia, kita cenderung pada penggunaan definisi pertama dalam proses pembangunan, baik yang bersifat nasional maupun regional. Partisipasi adalah keterlibatan individu maupun kelompok dalam upaya pencapaian tujuan tertentu. Dalam proses pendidikan, alasan seorang individu berpartisipasi didasari oleh berbagai macam motivasi agar tujuan dapat berlangsung dalam berbagai tingkatan. b. Faktor-faktor Terbentuknya Partisipasi Model proses terjadinya partisipasi, khususnya dalam bidang pendidikan, dikembangkan oleh Cross dengan Model “ Chain of Respons-nya (D’Amico,2000). Dalam mengembangkan modelnya, Cross mengambil beberapa elemen, dimulai dengan faktor individu dan diakhiri dengan faktor eksternal, yang dkemudian digabungnya kedalam tujuh tahapan proses. Model ini berangkat dari mengidentifikasi dua elemen pokok, yaitu : (1) evaluasi diri, (2) sikap terhadap pendidikan, kedua faktor internal ini kemudian mempengaruhi (3) nilai tujuan/valensi, (4) harapan bahwa dengan berpartisipasi maka kebutuhannya akan terpenuhi. Valensi dan harapan juga dipengaruhi oleh transisi kehidupan dan tugas-tugas perkembangan yang merupakan wujud dari harapan sosial seorang individu, (5) kesempatan dan keterbatasan serta (6) informasi tentang pendidikan yang sesuai lebih lanjut akan modifikasi apakah seorang individu akan mengambil (7) keputusan untuk berpartisipasi atau tidak. Gambar ini menjelaskan elemen pokok dari skema

Cross- chain Of Responce Model.
P

Evaluasi Diri Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I
Transisi Kehidupan

A R

Informasi

T I S I

Tujuan dan Harapan

Kesempatan dan

P A

Page 50

Gambar 2.2 Skema Cross-Chain of Response Model Dari skema dalam gambar dapat dijelaskan bahwa berpartisipasi dalam proses pendidikan bukanlah aksi atau tindakan tunggal, namun merupakan hasil rantai respon dari elemen sebelumnya dan masing-masing elemen berdasarkan evaluasi terhadap posisi individu terhadap lingkungannya. Salah satu faktor dalam rangkaian proses tersebut akan mempengaruhi faktor lainnya. Semakin positif pengalaman pada satu tahapan, akan semakin baik pula untuk mencapai tahap terakhirnya, yaitu berpartisipasi. Backer (2003) menggunakan pendekatan perilaku (behavior) untuk menjelaskan proses terjadinya partisipasi. Asumsi dasar penjelasan Backer adalah bahwa membentuk partisipasi berarti membentuk perilaku, dan meningkatkan partisipasi berarti mengubah perilaku. Dari pernyataan ini dapat dikemukakan bahwa keputusan seseorang untuk berpartisipasi merupakan cerminan dari perilakunya. Fishbein’s Theory of Reasoned Action merupakan teori dasar yang digunakan Backer (2003). Teori tersebut mengasumsikan bahwa secara umum individu menggunakan rasionalitas dan informasi dari luar dengan cara yang sistematik. Untuk memahami perilaku, menurut Ajzen dan Fishbein, ada dua faktor yang penting, yaitu : (1) faktor personal, yang kemudian disebut dengan istilah sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior), yang ditentukan oleh estimasi subyektif, berupa belief (keyakinan, pemahaman, persepsi) dan (2) faktor pengaruh sosial, atau norma subyektif (subjective norm) yang mengekspresikan persepsi bahwa seorang individu dipengaruhi oleh tekanan sosial atau lingkungannya dalam berprilaku. Atau dapat dikatakan bahwa, seseorang akan berperilaku jika ia berpikiran bahwa orang lain juga mengharapkannya untuk berperilaku demikian. c. Bentuk Partisipasi Masyarakat Terhadap Pendidikan Partisipasi masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk menyekolahkan anak dalam lembaga pendidikan namun lebih dari pada upaya masyarakat dalam ikut serta melaksanakan dan mengembangkan kualitas pendidikan. Whiterington (Afia Rosdiana, 2006: 65) mengemukakan bahwa pada dasarnya pendidikan adalah suatu proses yang sengaja dilakukan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan seseorang. Menyediakan lingkungan dan sarana belajar yang kondusif, berinteraksi dengan anak secara emosional dan intelektual, memberikan kesempatan anak untuk dapat bereksplorasi dalam lingkungan yang lebih luas, memberikan keteladanan yang baik, menanamkan kebiasaan yang baik bagi anak dirumah, mengadakan komunikasi yang baik dengan pihak “sekolah” merupakan wujud nyata partisipasi orang tua dalam pendidikan. Epstein (Lee, 2000) mengkategorikan partisipasi masyarakat/orang tua ke dalam enam tipe keterlibatan, yaitu : (1) parenting atau pola asuh, yang ditunjukkan sebagai membangun lingkungan rumah untuk mendorong anak-anak murid, (2) communicating atau komunikasi, didesain dari bentuk komunikasi sekolah rumah dan rumah sekolah yang efektif tentang program-program sekolah dan kemajuan anak, (3) volunteering atau sukarelawan, dengan merekrut dan mengatur bantuan orang tua, (4) learning at home atau belajar di rumah, dengan menyediakan informasi dan gagasan kepada keluarga bagaimana menolong dan mendorong anaknya belajar di rumah, (5) decision making atau pengambilan keputusan, dengan melibatkan orang tua/masyarakat dalam pengambilan keputusan, tentang programprogram sekolah,misalnya melalui komite sekolah, dan (6) collaborating with community atau bekerjasama dengan masyarakat, dalam bentuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan sumber daya dan pelayanan dari masyarakat untuk menunjang program-program sekolah, kegiatan di rumah, dan pengembangan belajar anak. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 51

Sejalan dengan pandangan Epstein, Backer seperti yang dikutip oleh Lee (2000) mengkategorikan partisipasi masyarakat/ orang tua ke dalam tiga hal, yaitu : (1) bantuan orang tua dalam belajar di rumah, (2) partisipasi dalam menyediakan sarana dan prasarana kelas dan sekolah, (3) komunikasi orang tua-guru tentang pendidikan anak. Ketiga kategori tersebut sesuai dengan enam kategori partisipasi yang dikemukakan oleh Epstein, yaitu keterlibatan belajar di rumah, keterlibatan di sekolah dan komunikasi. Lebih lanjut, Grotberg (Afia Rosdiana,2006:65) mengemukakan tugas masyarakat/orang tua dalam hubungannya dengan proses pendidikan anak adalah memberikan stimulasi edukasi (education stimulation) dan dukungan emosi (emotional support). Stimuli edukasi adalah pemberian kesempatan pada anak untuk dapat mengembangkan potensi dirinya baik secara emosional maupun intelektual, penyediaan sarana dan prasarana belajar, seperti buku-buku, alat permainan, serta pemberian kesempatan bagi anak untuk dapat bereksplorasi pada lingkungan yang lebih luas. Dukungan emosi dimaksudkan sebagai hubungan interpersonal antata anak dan orang tua/masyarakat. Bila kita menggabungkan pendapat Grotberg yang lebih menitik beratkan pada partisipasi masyarakat/orang tua di rumah dengan kategori partisipasi yang dikembangkan baik oleh Enstein maupun Backer, dapat ditarik satu benang merah bahwa peran masyarakat/orang tua dalam pendidikan meliputi asfek, yaitu: interaksi orang tua-anak, komunikasi orang tua- guru serta penyediaan sarana dan lingkungan edukasi. Dan ketiga asfek tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. 2. Makna Kemandirian Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3 (2003 : 710) kata mandiri sebagai sebuah kata sifat yang berarti dalam keadaan dapat berdiri sendiri, sedangkan kemandirian artinya keadaan dapat berdiri sendiri, dapat mengurus atau mengatasi kepentingannya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Kemandirian berasal dari kata mandiri, yang berarti suatu sikap individu yang “ditandai adanya kemampuan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup minimalnya secara sah, wajar, dan bertanggung jawab” (Rifaid,2000 :147). Konsep mandiri di atas dapat berarti bahwa seseorang disebut mandiri adalah mereka yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk berusaha guna memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupannya secara normatif. Suparman Sumahamidjaya dkk (2003 : 34 ) mengemukakan bahwa : Mandiri atau kemandirian sebagai suatu karakter yang dibentuk melalui pendidikan. Pendidikan karakter kemandirian adalah pendidikan yang membentuk akhlak, watak budi pekerti, dan mental manusia agar hidupnya tidak tergantung atau bersandar kepada pihak-pihak lain, tidak tergantung pada bantuan orang lain. Pendidikan karakter mandiri ini bertujuan membentuk insan-insan yang percaya kepada dirinya sendiri dalam mengerjakan suatu urusan. Karakter mandiri ini memacu dan mendorong seseorang untuk memecahkan sendiri persoalan hidup dan kehidupannya, sehingga dia termotivasi untuk berinisiatif, berkreasi, berinovasi, proaktif dan bekerja keras. Roger (Jurnal Pendidikan dan kebudayaan, 2006 : 370) menjelaskan bahwa kemandirian sebagai bentuk perilaku hidup sehat, yang mampu mengaktualisasikan diri sebagai suatu kebutuhan fundamental yang dibawa individu sejak lahir demi meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan aktualisasi diri ini mendorong individu kedepan menuju satu tingkat pematangan ketingkat berikut, yang diikuti dengan pertumbuhan dan penyesuaian diri. Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kemandirian. Fakta dimaksud antara lain, lebih keras, lebih banyak, dan mampu lebih lama mengingat hal-hal yang dialami dan dipelajarinya. Dapat dikemukakan bahwa aktualisasi diri mendorong seseorang individu untuk menjadi seseorang yang berfungsi sepenuhnya. Bathia (1997 : 5) menyatakan bahwa kemandirian merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan kepada diri sendiri, tanpa meminta bantuan orang lain. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 52

Kemandirian merupakan ciri kedewasaan individu, dalam hal ini kemandirian diartikan sebagai kemauan, kemampuan, berusaha guna memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya secara saha, wajar dan bertanggung jawab. Kemandirian tidak identik dengan individualistik yang mengisolasi diri dari orang lain dan lingkungan sekitar. Tetapi individu yang mandiri adalah individu yang hidup dan berada ditengah-tengah masyarakat yang bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya dan memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya sendiri secara wajar walaupun dalam batas yang sangat minimal sekalipun. Orang dikatakan mandiri bila (1) dapat bekerja sendiri secara fisik, (2) dapat berfikir sendiri atau berpindah dari tingkatan abstaksi ke abstraksi berikut secara mental, (3) dapat menyusun serta mengekspresikan gagasan dan cara mengekspresikan dapat dimengerti orang lain, serta (4) kegiatan yang dilakukan diabsahkan oleh diri sendiri secara emosional (Ringer, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2006 : 371). Kemandirian adalah perilaku yang selalu aktif berusaha meningkatkan penghasilan tanpa menggantungkan diri pada orang lain, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) Tanggung jawab, maksudnya berkaitan erat dengan kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan kewajiban dan memanfaatkan hak hidupnya secara wajar, sah sesuai dengan norma hidup yang berlaku di masyarakat, (b) Tidak bergantung pada orang lain, sanggup hidup secara mandiri di lingkungan masyarakat sekitarnya, dengan kemandiriannya mereka sanggup mendapatkan kebutuhan hidupnya tanpa menggantungkan diri terhadap orang lain. Karena itu individu yang mandiri menganggap bantuan orang lain tidak akan dijadikan sandaran, tapi hanya sebagai pelengkap dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, (c) Mampu memenuhi kebutuhan pokok minimal, individu mandiri mampu memenuhi kebutuhan pokok minimal, bukan hanya kebutuhan ekonomi saja, mencakup kebutuhan jasmani dan rohani seperti belajar bermasyarakat, berbuat dan sebagainya yang diperoleh secara wajar dan normatif, (d) Memiliki etos kerja yang tinggi, individu yang mandiri memiliki kemauan kerja yang baik dan tinggi, ulet, bersemangat, dan memiliki prinsip keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, (e) Disiplin dan berani mengambil resiko, orang yang berjiwa mandiri mempunyai disiplin dan berani mengambil resiko, konsisten melakukan pekerjaan walaupun mengandung resiko. Bekerja penuh perhitungan serta siap mempertanggungjawabkan segala keputusan yang dibuatnya. Kemandirian sebagai suatu nilai dapat dioptimalkan atau disempurnakan. Sebagaimana dikemukakan oleh Kamil (2002 : 91) bahwa nilai-nilai kemandirian yang dimiliki individu akan menjadi sempurna apabila didukung oleh sifat-sifat kemandirian meliputi : mandiri psikososial, kultural dan ekonomi, disiplin, prakarsa dan wirausaha, kepemimpinan dan orientasi prestasi dalam persaingan. Kemandirian sebagai kepribadian atau sikap mental yang harus dimiliki oleh setiap orang didalamnya terkandung unsur-unsur dengan watak-watak yang ada di dalamnya perlu dikembangkan, agar tumbuh menyatu dalam setiap gerak kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan luar sekolah , kemandirian merupakan tolok ukur dalam setiap pengembangan program-programnya. Kurikulum program pembelajaran pendidikan luar sekolah, secara lebih khusus memiliki inti dasar yang mengacu pada menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai kemandirian bagi setiap sasaran didiknya. Dari perspektif pembangunan masyarakat, menurut UN (1956) dalam Kamil (2002 : 93) kemandirian adalah : The participation of the people themselves in effors to improve their level of living with as much relieve as possible on their own initiative, and the provision of technical and other services in way which encourage initiative, self help and mutual help and make these more effective. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 53

Pada bagian lain Davis (Kamil : 2009: 69) memberikan tiga kekuatan dasar bagi pengukuran profesional yang didasari kemandirian yakni :pengetahuan, keterampilan dan bersikap mandiri. Unsur-unsur tersebut digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2.2. Unsur Kemandirian Mengetahui dan memahami tentang Terampil dalam Bersikap mandiri dan profesional 1. Memahami sifat kemandirian 2. Berkomitmen terhadap kemandirian 3. Berkemauan untuk melakukan sesuatu secara mandiri

1. Disiplin akademik 1. Melakukan prosedur2. Dasar-dasar prosedur keterampilan keterampilan 2. Bergaul dengan orang 3. Hubungan antar lain pribadi 4. Nilai-nilai

Pengertian dan unsur-unsur ini memberikan gambaran bahwa kemandirian dapat dipandang sebagai upaya yang dilakukan individu secara partisipatif untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya ataupun dalam membantu orang lain. Adanya kesadaran dan keinginan ini menjadikan pencapaian kesejahteraan menjadi lebih efektif. Dalam penelitian ini digunakan istilah kemandirian yang merujuk kepada konsep Steinberg (1995) dengan menggunakan istilah autonomy. Individu yang otonom ialah individu yang mampu mengelola diri sendiri ini (self govering person). Kemampuan dalam mengelola diri sendiri ditandai oleh kemampuannya untuk tidak bergantung secara emosional terhadap orang lain terutama orang tua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta kemampuan menggunakan seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting. Kemampuannya untuk tidak tergantung secara emosional terhadap orang lain disebut kemandirian emosional (emotional authonomy), kemampuan mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan disebut kemandirian behavioral (behavioral authonomy), serta kemampuan untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting disebut kemendirian nilai (Value authonomy). 3. Kemandirian Berusaha sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Sebagaimana dinyatakan dalam konsep pendidikan nasional, core value pendidikan nasiona adalah independency (kemandirian). Kemandirian dalam hal ini merupakan karakteristik individu sehingga mampu membuat keputusan sendiri setelah secara masak dan konsekuen mampu mensistemkan dan mensinergikan lingkungannya secara baik (Kamil, 2010 : 133). Selanjutnya dijelaskan pula dengan menggunakan formula yang dikembangkan oleh DePorter disebutkan bahwa Core Value Independency, tampil dalam proses pendidikannya sebagai proses empowering atau pemberdayaan. Artinya dengan berbagai pembekalan isi dan wawasan ditumbuhkan kreativitas individu dan satuan sosial, dan secara jeli dan cerdas mampu mensistemkan dan sekaligus mensinergikan lingkungannya untuk mencapai Independency. Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa salah satu teori yang membahas kemandirian secara relatif komprehensif dikembangkan oleh Steinberg (1995). Dalam teori kemandirian yang dikembangkan oleh Steinberg terdapat dua istilah yaitu independence dan autonomy, yang sering dimaknakan secara identik dan digunakan secara silih berganti. Meski secara umum kedua istilah tersebut memiliki arti yang sama yakni kemandirian, tetapi sesungguhnya secara konseptual kedua istilah tersebut berbeda dengan pedoman yang sangat tipis. Secara konseptual independence mengacu kepada kapasitas individu untuk memperlakukan diri sendiri. Steinberg (1995 : 286) menjelaskan bahwa independence generally refers to individuals’ capacity to behave on their own. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 54

Berdasarkan konsep independence ini Steinberg mengemukakan bahwa individu yang sudah mencapai independence ia mampu menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari kontrol orang lain. Kemandirian yang mengarah kepada konsep independence ini merupakan bagian dari perkembangan autonomy selama masa remaja, hanya saja autonomy mencakup dimensi emosional, behavioral, dan nilai. Kemandirian berusaha dipahami sebagai ketidaktergantungan kepada pihak lain (dependency). Ketidak tergantungan tidak berarti keterisolasian dan tidak berarti tidak mengenal adanya saling ketergantungan (interdepedency). Karena tidak semua masyarakat mempunyai potensi yang sama maka ada kebutuhan untuk saling mengisi dan kebutuhan ini merupakan suatu upaya dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. Konsep kemandirian (autonomy) menurut Lerner (1976), mencakup kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung kepada orang lain, tidak terpengaruh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri. Konsep kemandirian ini senada dengan yang dikembangkan oleh Steinberg (1995) yang dalam karyanya menggunakan istilah authonomy. Menurutnya individu yang disebut otonom ialah individu yang mampu mengelola dirinya sendiri (self governing person). Kemampuan dalam mengelola diri sendiri ini ditandai oleh kemampuannya untuk tidak tergantung secara emosional terhadap orang lain terutama orang tua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta kemampuan menggunakan seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting kaitannya dengan kebutuhan. Teori yang berhubungan dengan kebutuhan hidup manusia dikemukakan oleh Abraham H. Maslow yang diadaptasi Goble (1994 : 69 - 77). Maslow menjelaskan terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya. Antara lain, kebutuhan dasar/fisiologis (physiological need), kebutuhan rasa aman (safety need), kebutuhan sosial (social need), kebutuhan penghargaan (esteem need) dan kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization need). Kebutuhan dasar meliputi antara lain kebutuhan untuk memperoleh pendapatan, pangan, sandang, dan kesehatan, hiburan dan rekreasi. Kebutuhan rasa aman meliputi kebutuhan untuk terhindar dari kemunduran, keterbelakangan, kebodohan. Kebutuhan sosial mencakup antara lain; kebutuhan rasa memiliki dan rasa kasih sayang, kebutuhan berteman dan bersahabat. Kebutuhan penghargaan diri meliputi antara lain pengakuan dan penghargaan terhadap diri yang disebabkan oleh kemampuan, kepercayaan diri yang dimiliki. Kebutuhan aktualisasi diri antara lain menyangkut aspek perilaku untuk mengaktualisasikan diri secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat. Dengan mendasarkan pandangan ini, maka dapat dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar telah terpenuhi, maka akan memotivasi diri manusia untuk mencapai kebutuhan hidup berikutnya. Dalam perspektif psikologis, Gerungan (1991) mengemukakan bahwa semua penggerak, alasan, dorongan dari dalam diri manusia untuk bertingkah laku disebut dengan motif. Motif manusia dapat dikategorikan menjadi motif biogenesis dan motif sosiogenesis. Motif biogenesis merupakan motif manusia untuk memenuhi kebutuhan primernya, yakni kebutuhan fisiologis atau biologis, motif sosiogenesis merupakan motif manusia untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti aktualisasi diri, penghargaan diri dari lingkungan, perbaikan nasib atau status sosial menuju hidup yang sejahtera. Dalam kehidupan manusia kedua motif ini dapat muncul bersamaan, dalam arti tingkahlaku manusia dapat dilatar belakangi oleh motif biogenesis, motif sosiogenesis atau kedua motif ini sekaligus. Dalam pandangan Maslow kegiatan pembelajaran selayaknya didasarkan pada kebutuhan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu, dalam konteks ini pemberdayaan dapat berupa bantuan bagi perkembangan untuk mencapai aktualisasi diri dan mengembangkan wawasan diri. Dalam perspektif ini, maka kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat (warga belajar) terhadap dirinya dan lingkungannya yang terus Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 55

berubah sehingga mereka akan dapat meningkatkan kesadaran diri untuk menerima kenyataan diri dan potensi diri yang dimilikinya. Secara teoritis, dapat dikemukakan bahwa taraf kehidupan masyarakat akan terus meningkat apabila dalam dirinya telah tumbuh dan berkembang kemampuaan untuk mengenali kenyataan diri melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan untuk mengenali potensi diri akan menjadi pendorong untuk bertindak secara positif. Tindakan positif yang dilakukan merupakan refleksi dari pandangan dan perasaan positif dari diri mereka, sehingga pada gilirannya dapat mengaktualisasikan diri secara jelas. Aktualisasi diri ini merupakan faktor pendorong bagi upaya pengembangan diri dan pemgembangan kemampuan berpikir dan bertindak kreatif dan inovatif, termasuk dalam konteks mempersiapkan diri berusaha dan bangkit untuk berusaha untuk hidup kearah kemandirian. Dikemukakan oleh Mc Clelland et. al (1969) bahwa terdapat setidaknya empat teori berkenaan dengan motivasi berprestasi dari manusia. Pertama, the survifal model. Pada teori ini motivasi didasarkan pada dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup. Kedua, the stimulus intensity model. Dimana pada teori ini mendasarkan bahwa motivasi merupakan suatu perangsang yang kuat untuk mendorong tingkahlaku. Ketiga, the stimulus pettern model, dimana motivasi muncul karena adanya kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang dialami sehingga menimbulkan motivasi untuk motif yang lebih tinggi. Keempat, the effektif orrousal, dimana berdasarkan bahwa motivasi merupakan pengalaman belajar yang berbentuk dalam suasana efektif. Mc Clelland (1969) mengemukakan karakteristik motif berprestasi yang tinggi antara lain : (1) mencari dan memiliki tanggungjawab pribadi yang tinggi, (2) berani mengambil resiko, (3) memiliki tujuan yang tinggi secara realistik, (4) mengembangkan rencana yang menyeluruh untuk merealisasikan tujuan, (5) mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah disusun. Dalam perspektif lainnya bahwa nilai-nilai kemandirian yang dimiliki oleh individu akan menjadi sempurna apabila didukung oleh sifat-sifat kemandirian meliputi kemandirian psikososial, kultural dan ekonomi, disiplin prakarsa dan wirausaha, kepemimpinan dan orientasi prestasi dalam persaingan. Dalam konteks dunia kerja mandiri atau kemandirian muncul seiring dengan berkembangnya orientasi kerja, yang mengarah pada sikap wirausaha. Perilaku mandiri merupakan dasar bagi seseorang dalam meningkatkan kualitas pekerjaannya.Mandiri menciptakan kerja untuk diri sendiri, maupun berkembang menjadi wiraswasta yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain ataupun mampu menjadi cendekiawan, manusia yang berkreasi, inovatif, melalui ide-idenya atau hasil penemuannya, menjadikan masyarakat lebih baik; baik dalam bentuk inovasi teknologi, ataupun inivasi ilmu yang mampu mengembangkan ilmu lebih maju, sebagai upaya preventif maupun represif untuk kelangsungan hidup sumber daya manusia. Jiwa mandiri tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuhnya konsep wiraswasta, atau dikenal dengan istilah lain yakni wirausaha atau kewirausahaan. Seorang wiraswasta harus memiliki jiwa mandiri atau kemandirian. Istilah kewirausahaan dipadankan dengan istilah kewiraswastaan. Uraian tersebut diperkuat oleh Alma (2005: 14) yang menyatakan bahwa istilah wiraswasta sering dipakai tumpang tindih dengan istilah wirausaha. Di dalam berbagai literatur dapat dilihat bahwa pengertian wiraswasta sama dengan wirausaha, demikian pula penggunaan istilah wirausaha seperti sama dengan wiraswasta. Mengenai karakteristik kewiraswastaan, telah dikemukakan oleh sejumlah ahli. (Kao 1991, Meredith 1989 dan Inkeles 1974 dalam Saraka, 2001) menyebutkan bahwa manusia wiraswasta itu memiliki enterpreneurial spirits tinggi, seperti: bermoral tinggi, optimistik, proaktif, kerja keras, kegigihan dan keuletan, kesungguhan, percaya din, tekad bulat, achievement-oriented, bertanggung jawaab, semangat periang dan humoris, berani memikul resiko, jurm'l, motivasi dan bersaing tinggi, keorsinilan, keteladanan, ask-and product-oriented, dan lain-lain. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 56

Sumahamijaya (1980:78) mengatakan bahwa kewiraswastaan memiliki sifat-sifat; keberanian, keutamaan, keteladanan dan semangat yang bersumber dan kekuatan sendiri, dari seorang pendekar kemajuan baik dalam bidang kekaryaan pemerintahan, maupun dalam kegiatan apa saja di luar pemerintahan dalam arti positif yang menjadi pangkal keberhasilan seseorang. Selain itu, kewiraswastaan memiliki nilai keberanian, keutamaan dan kepercayaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan persoalan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Seorang wiraswasta memiliki ciri kepribadian; mau dan mampu serta berani mengambi resiko untuk meningkatkan produksi dan penghasilan, mernahami arti tanggung jawab dan kehormatan, tidak meminta atau mengemis, inovatif, berpartisipasi, pandai membaca situasi dan memanfaatkan waktu secara efisien, memiliki sifat mental positif kepada pekerjaan. Kepribadian wiraswasta merupakan suatu kepribadian unggul, yang mencerminkan budi luhur dan sifat yang patut diteladani karena atas dasar kemampuan sendiri, ia dapat melahirkan suatu sumbangsih karya untuk memajukan kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan. Selanjutnya, Mussleman dkk (1984) menyatakan bahwa perilaku seorang pewiraswasta menampakkan karakteristik seperti: strong disire to be independent, willingness to assume risks, ability learn from experience, self-motivation, competitive spirit, orientation to hard-work, self confidence, achievement drive, highly energy level, assertiveness, belief in self. Mc Clelland (1969) mengatakan bahwa seorang pewiraswasta memiliki virus mental yang mendorong orang berfikir dan berbuat untuk melakukan sesuatu. Virus mental ini melalui kemauan yang keras untuk mencapai suatu tujuan atas kemampuan diri sendiri, sabar dan tabah menghadapi cobaan. Sikap mental wiraswasta menunjukan adanya kemauan keras meraih tujuan, keyakinan, kepercayaan pada kemampuan diri sendiri, bermotif prestasi, memiliki tanggung jawab kejujuran dan tanggung jawab kekuatan fisik, mental, sabar, tabah, bekerja keras dan energik (Ahmed,1975). Memperhatikan konsep-konsep yang dikemukakan di atas, tampak bahwa seorang pewiraswasta memiliki sikap-sikap: a) Rasa percaya diri, b) Bersikap mandiri dalam mencari penghasilan dan keuntungan melalui aktivitasnya, c) Berusaha menemukan peluang usaha yang menguntungkan serta melakukan apa saja yang perlu untuk memanfaatkannya, d) Bekerja keras serta tekun dalam menghasilkan sesuatu, selalu mencoba cara kerja yang lebih tepat dan efisien, e) Berkomunikasi dan berinteraksi dengan pembeli / pelanggan untuk kemajuan usahanya. f) Menghadapi hidup dengan terencana, g) Jujur, hemat dan disiplin, h) Mencintai dan melindungi kegiatan usahanya, i) Meningkatkan kapasitas diri sendiri dan usahanya dengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain untuk kemajuan usahanya, j) Bersinergi lingkungan dengan hubungan saling menguntungkan. Seorang wiraswasta biasanya terampil mengambil keputusan dan mengambil resiko secara moderat, dan bukan atas dasar kebetulan belaka, enerjetik dalam kegiatan inovatif, bertanggung jawab secara individual atau kelompok dalam mengembangkan kewiraswastaanya secara dinamik, mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya dengan tolok ukur satuan uang sebagai indikator keberhasilannya, mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa mendatang dan memiliki kemampuan keorganisasian, kemampuan dan keterampilan kepemimpinan disamping managerial (Suhandana, 1980 dalam Saraka, 2001). Sumahamijaya mengatakan bahwa manusia wiraswasta itu memiliki sikap positif: berinisiatif sebagai prasyarat berkembangnya kreativitas, percaya kepada Tuhan YME, Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 57

percaya kepada diri sendiri dan orang lain, mensyukuri apa yang tersedia dalam diri: waktu dan alam lingkungan, bertanggung jawab dan berkeadilan tinggi, memajukan lingkungan dan masyarakat kecil, mengetahui apa maunya dengan sejelasnya, berani mengambil resiko sekiranya ada kerugian, mau maju, bergairah memberi bukan meminta, dan membebaskan diri dari ketergantungan dan kevakuman yang membelenggu diri. Timmons dan Kao dalam Saraka (2001) menambahkan bahwa manusia wiraswasta memiliki rasa percaya diri, tekad bulat dan tekun, berorientasi prestasi, peluang dan tujuan, berinisiatif dan bertanggung jawab, kemauan keras dalam memecahkan masalah, bersikap periang dan penuh rasa humor, mencari dan menggunakan umpan balik, mampu mengendalikan diri, berani mengambil resiko yang muncul, jujur dan percaya, dan kurang berambisi status dan kekuasaan. Beberapa sikap yang perlu dimiliki oleh seorang wirausaha antara lain keberanian, keutamaan serta kepercayaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan ketekunan yang ada dalam diri sendiri. Jiwa wirausaha ditentukan oleh tiga komponen utama yang ada dalam diri seseorang yakni kemauan, ketekunan dan keuletan. Dalam konteks ini Meredith (1989 : 5-6) mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan sebagai berikut Tabel 2.3 Ciri-Ciri dan Watak Kewirausahaan Ciri-Ciri 1. Percaya diri Watak Keyakinan, Ketidaktergantungan, Individualitas dan Optimisme 2. Berorientasi pada tugas dan hasil Kebutuhan untuk berprestasi, Berorientasi laba, Ketekunan dan ketabahan, Tekad kerja keras, Mempunyai dorongan kuat, Energi dan Inisiatif 3. Pengambilan resiko dan suka Kemampuan untuk mengambil resiko yang tantangan wajar 4. Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, Bergaul dengan orang lain, Menanggapi saran-saran dan kritik 5. Keorisinilan Inovatif dan Kreatif serta Fleksibel 6. Berorientasi kemasa depan Pandangan kedepan dan Perspektif Kemandirian sebagai kepribadian atau sikap mental perlu dimiliki oleh setiap orang yang didalamnya terkandung unsur-unsur dengan watak-watak yang ada perlu dikembangkan agar tumbuh menyatu dalam setiap gerak kehidupan manusia.Asumsi ini menunjukkan bahwa kemandirian menentukan sikap dan perilakuk seseorang menuju ke arah wirausahawan. Para ahli menyebutkan bahwa kemandirian merupakan jiwa wirausaha yang tumbuh dan berkembang seiring dengan pemahaman dan konsep hidup yang mengarah pada kemampuan, kemauan, keuletan, ketekunandalam bidang-bidang usaha yang ditekuni.Sehingga seorang wirausaha yang berhasil berarti memiliki jiwa mandiri (makarya). Mengacu pada teori kemandirian yang dikemukakan oleh Steinberg, formula ciri dan watak wirausaha oleh Meredith, maka konsep kemandirian berusaha dalam kajian ini dapat ditinjau dari dua hal, yakni kemandirian psikologis dan sikap mental kewirausahaan. Kemandirian psikologis sebagai kesiapan dan kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari ikatan emosi dengan orang dewasa lain dalam mengatur, mengurus, dan menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri dan seberapa jauh kemampuan meraka dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya melalui perbuatan atau tindakan nyata, serta kemampuan untuk melawan/menolak tekanan atau tuntutan orang lain berdasarkan prinsip benar salah, atau penting dan tidak penting. Sikap mental kewirausahaan sebagai dasar kemandirian Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 58

berusaha merupakan motivasi berprestasi dapat dilihat dalam asfek-asfek antara lain; (1) memiliki motivasi untuk maju dalam bentuk keikutsertaan dalam pelatihan keterampilan, (2) memiliki kekuatan mental serta mampu berpikir kreatif untuk mengubah bahan baku industri yang menjadi bahan untuk pelatihan keterampilan, (3) kemampuan menjalin hubungan sesama peserta melalui komunikasi yang intensif dan saling mengisi, (4) berdisiplin, (5) mampu menguasai pengetahuan praktis tentang keterampilan yang dipelajari dalam pelatihan, (6) hidup hemat, (7) memiliki percaya diri dan mampu mengidentifikasi potensi diri untuk dapat dimamfaatkan secara optimal. Kemandirian berusaha mengacu pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup layak. Konsep kemandirian berusaha antara lain dilihat pula dari tingkat pendapatan masyarakat dan perilaku konsumsi masyarakat. Dalam kaitannya dengan pelatihan pendidikan kecakapan hidup sebagai upaya memampukan dan memberdayakan masyarakat maka pada dasarnya asfek yang diharapkan mengalami perubahan dalam tataran kehidupan masyarakat terutama ditujukan kepada upaya meningkatkan pendapatan masyarakat guna kemandirian berusaha. Upaya untuk mengembangkan dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan keterampilan produktif dilingkungan masyarakat. 4. Model Pelatihan Kecakapan Hidup Untuk Kemandirian Berusaha Masyarakat. Menurut Kamil (2010, 39) bahwa program pendidikan luar sekolah yang sasarannya dikategorikan usia dewasa seperti halnya pelatihan, menggunakan pendekatan andragogi atau pendekatan pendidikan orang dewasa dan pendekatan partisipatif. Makna dari kedua pendekatan ini adalah bahwa dalam pelaksanaan pelatihan, peserta pelatihan diasumsikan sebagai orang yang telah memiliki konsep diri, pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi belajar sehingga mereka dilibatkan dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Dalam pengembangan program dan kegiatan pendidikan luar sekolah dikenal berbagai model terutama ditujukan kepada kegiatan pelatihan. Model-model ini dapat dikaji dari segi tujuan pelatihan yang kemudian menentukan proses pelatihan itu sendiri. Pada umumnya setiap model mempunyai karakteristik tertentu dan memiliki kelebihan berikut pula kelemahannya. Oleh karena itu bagi penyelenggara program pelatihan selain memilih suatu model pelatihan, juga diharapkan dapat mengoptimalkan penyelenggaraan pelatihan dengan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang ada pada model tertentu. Pemilihan suatu model pelatihan terutama di dasarkan pada kebutuhan disatu pihak dan potensi atau peluang yang dimiliki di pihak lain. Model-model pelatihan dalam penyelenggaraan program dan kegiatan pendidikan luar sekolah sebenarnya cukup beragam. Beberapa di antaranya yang sangat penting dan urgen dikembangkan antara lain (Kamil, 2010 :35-36): (1) Model Magang atau pemagangan (apprenticeship training/learning by doing), (2) Model Internship (internship training),(3) Model Pelatihan Kerja (Job training), (4) Model Pelatihan Keaksaraan (Literacy Training), (5) Model Pelatihan Kewirausahaan (Entrepneurship Training), (6) Model Pelatihan Manajemen Peningkatan Mutu (Quality management Training). Dalam melaksanakan manajemen pelatihan dan pembelajaran kecakapan hidup untuk masyarakat pesisir (nelayan) maka model dikembangkan dengan bersandar pada formula pemikiran dari Blanchard (1982 : 3) mengemukakan bahwa : “ Management as working with and though individuals and groups to accomplish organizational goals”. Konsep ini mengandung makna bahwa, pertama; manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki seseorang, kedua; keterampilan tersebut merupakan kemampuan dalam mengadakan kerjasama untuk melakukan suatu kegiatan bersama dengan orang lain atau Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 59

melalui orang lain, ketiga; kemampuan dan keterampilan bekerjasama dengan atau melalui orang lain tersebut adalah dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Dalam dimensi lain Sudjana (2004) menjelaskan bahwa manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan wajar yang telah ditetapkan dan memiliki hubungan serta saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya dilaksanakan oleh orang-orang, organisasi atau bagian-bagiannya, yang diberi tugas melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut. Secara implementatif konsep manajemen diarahkan kepada penerapan fungsi-fungsi manajemen, hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Stoner (1998) bahwa : “Management is the process of planning, organizing, leading an controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieves stated organizational goals”. Mengacu pada konsep manajemen di atas, pengembangan model pelatihan kecakapan hidup memfokuskan pada penerapan fungsi manajemen dalam implementasi pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat pesisir. Secara operasional dasar konsepsi fungsi manajemen dikembangkan dari konsep Sudjana (2004 : 38) yaitu : perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pembinaan, penilaian dan pengembangan. Dalam penelitian ini fungsi manajemen dimaksud diimplementasikan pada tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang dalam operasional kegiatannya dikembangkan dalam beberapa kegiatan antara lain asfek yaitu : warga belajar, tujuan pembelajaran, sumber belajar dan media pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, forum pembelajaran serta penilaian pembelajaran. Beberapa asfek kegiatan dimaksud diuraikan sebagai berikut; 1) Warga belajar Warga belajar berasal dari anggota masyarakat desa setempat dan sekirtarnya. Mereka tidak tergantung sepenuhnya kepada tutor, baik dalam akomodasi maupun konsumsi. Dalam kegiatan pelatihan warga belajar difasilitasi oleh penyelenggara kegiatan khususnya untuk pelayanan konsumsi selama pelatihan. Warga belajar yang umumnya orang dewasa dapat mengubah format belajarnya yang berarti mengubah tujuan belajarnya dengan memutuskan untuk pindah ke format lanjutan atau format mahir. Ini berarti bahwa tujuan belajarnya berubah dari sekedar mengenal dan mengetahui keterampilan tertentu (dasar dan menengah) untuk selanjutnya menguasai seluruh rangkaian kegiatan belajar keterampilan tertentu.

2) Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran tidak dirumuskan secara tertulis atau lisan sebagaimana dalam format pembelajaran yang melembaga, melainkan dirumuskan secara etik melalui simbolsimbol yang terungkap dari kegiatan tutor dan warga belajar. Format pembelajaran yang ada dibedakan atas dasar tujuan belajarnya masing-masing. Warga belajar yang umumnya orang dewasa dapat mengubah format dan/atau tujuan belajarnya dengan memutuskan untuk pindah ke format lanjutan atau format mahir. Tujuan pembelajaran tidak dikembangkan berdasarkan pertimbangan khusus terhadap komponen lain kecuali kebutuhan warga belajar dan kemampuan tutor dalam rangka terlaksananya pembelajaran. Tidak dipertimbangkannya komponen lain karena kegiatan belajar dalam format ini berlangsung secara alami melalui proses bekerja. Tujuan dirumuskan oleh tutor berdasarkan kondisi sarana dan kebutuhan warga belajar. Kedua komponen tersebut terkait erat dengan kegiatan belajar yang terjadi sangat ditentukan oleh kegiatan produksi. Tujuan belajar warga belajar dirumuskan berdasarkan kompetensi yang diharapkan dari kegiatan pelatihan. Warga belajar cenderung meniru dan mencontoh tutornya. Meskipun demikian tutor tidak selamanya menggurui dan mengatur kegiatan warga Page 60

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

3)

4)

5)

6)

belajar, kecuali yang berkaitan langsung dengan kegiatan praktek yang sedang berlangsung. Tujuan belajar demikian dicerminkan tahapan kegiatan belajar untuk mengembangkan kecakapan dalam keterampilan yang sedang dipelajari. Tujuan belajar keterampilan tersebut bersifat spesifik dan dapat dilakukan secara cepat dan mudah dalam kegiatan sehari-hari (Anwar, 2004:91) Sumber belajar dan Media Pembelajaran Sumber belajar terdiri atas manusia dan non manusia. Manusia sebagai sumber belajar terdiri atas tutor, warga belajar yang telah terampil, tutor sebaya, relasi. Di antara sumber belajar tersebut, tutor memiliki tanggung jawab lebih besar dalam membantu warga belajar memenuhi kebutuhan belajarnya. Meskipun demikian, tutor tidak secara menoton menggiring warga belajar sesuka hatinya. Tutor terlibat dalam kegiatan membelajarkan pada kondisi yang dianggap perlu, baik sebelum, selama, maupun setelah kegiatan bekerja dan belajar berlangsung. Tutor sebagai sumber belajar juga mempunyai peran sebagai warga belajar anggota kelompok belajar dan sebagai pemimpin yang luwes dan banyak melayani warga belajar dalam proses yang sedang berlangsung. Peran tutor di sini merupakan penerapan konsep andragogi yang menghargai eksistensi warga belajar. Media pembelajaran yang digunakan media konvensional, tetapi perannya secara langsung melibatkan warga belajar dalam kegiatan yang dipelajari/dikerjakan. Meskipun kedua belah pihak tidak menyadari arti memfungsikan peralatan dalam mendemonstrasikan kegiatan belajar kepada warga belajar, apa yang dilakukan pada dasarnya menyampaikan informasi dengan perantaraan alat atau media. Media pembelajaran dalam konteks ini tidak selalu dirancang khusus untuk tujuan pembelajaran melainkan sebagai alat dan proses produksi yang secara kebetulan pengoperasiannya sering digunakan sebagai saluran informasi yang dapat mempermudah pemahaman warga belajar terhadap bahan ajar yang tersajikan dalam pembelajaran. Pelaksanaan Pembelajaran Insiatif penciptaan situasi belajar pada format dasar lebih dominan muncul dari tutor, sebaliknya pada format sampingan, format lanjutan, dan format mahir lebih dominan lahir dari warga belajar karena adanya akumulasi pengetahuan dan cita-cita warga belajar untuk mandiri sehingga mereka berupaya memanfaatkan semua potensi yang memungkinkan terciptanya situasi belajar atau terjadi proses belajar partisipatif. Kegiatan belajarnya tidak terlepas dari kejatidirian (authenticy) yang diperoleh melalui belajar reflektif (reflective learning) dan berusaha membantu orang lain menjadi dirinya sendiri. Teknik pembelajaran yang digunakan sama untuk semua format pembelajaran, yaitu ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan praktek Teknik tidak dirancang sebelumnya untuk tujuan pembelajaran melainkan terjadi secara alamiah sesuai dengan kondisi kegiatan yang produktif. Teknik pembelajaran seperti ini dapat dikatakan kurang efektif dan efisien karena menggunakan waktu yang relatif lama, meskipun telah berhasil dilahirkan beberapa orang tenaga terampil yang telah berperan sebagai tutor. Forum Pembelajaran Forum yang dijadikan wahana pembelajaran ialah lingkungan tempat pesan diterima oleh warga belajar. Di antara format yang ada, dapat terjadi perbedaan forum yang digunakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan warga belajar, meskipun juga terdapat forum yang dimanfaatkan oleh semua format pembelajaran seperti forum pertemuan rutin ditempat kerja/usaha. Forum ini merupakan yang utama dijadikan tempat proses belajar pertama kali terjadi dan paling banyak dimanfaatkan oleh warga belajar baik untuk keterampilan kerja maupun keterampilan usaha. Penilaian pembelajaran Page 61

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Ukuran keberhasilan warga belajar dalam pembelajaran dapat diketahui dari sejauh mana warga belajar dapat mendemonstrasikan pekerjaan yang telah dipelajari atau kemampuan untuk mempraktekkan keterampilan berusaha dalam kegiatan yang berhubungan objek atau pekerjaan para nelayan. Penilaian hasil belajar berbeda dengan format yang dikenal akhir-akhir ini yang merupakan perpaduan antara pembelajaran, latihan, dan pengembangan yang berlangsung dalam waktu terbatas. Meskipun demikian pembelajaran akan tetap efektif karena bahan ajar yang terjadi berhubungan langsung dengan pekerjaan nyata yang sedang dihadapi warga belajar. Demikian pula tenggang waktu yang tidak dibatasi secara ketat memberi kesempatan kepada warga belajar untuk menuntaskan bahan ajar yang ada dalam rangka pencapaian tujuan akhir pembelajaran.Oleh karena itu, kesempatan untuk berhenti karena alasan keterbatasan waktu tidak ada, kecuali atas inisiatif warga belajar sendiri dengan pertimbangan untuk meninggalkan format pembelajarannya. Sebagai penilai adalah tutor dan warga belajar sendiri. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan dilanjutkan sampai dengan warga belajar pertama kali mandiri. Penilaian akhir dimaksudkan sebagai tindak lanjut dari penilaian sebelumnya, baik yang dilakukan oleh tutor maupun oleh warga belajar sendiri. Dalam konteks kajian ini lingkungan kerja (training) bukanlah lingkungan akhir bagi warga belajar, dan keterampilan yang diperoleh akan dibuktikan di lingkungan akhir dalam hal warga belajar (masyarakat nelayan) telah siap dan mandiri mengimplementasikan keterampilan hidup/ kecakapan yang telah di milikinya untuk pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kualitas hidupnya sehari-hari.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 62

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Kegiatan penelitian pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha bagi masyarakat pesisir ini didesain dengan menerapkan pendekatan penelitian dan pengembangan (research and development). Borg dan Gall (1989;624) berpendapat, bahwa Research and Developmet (R & D) adalah sebagai suatu strategi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian dengan menggunakan pendekatan R & D bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi hasil-hasil pendidikan dan untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru melalui basic research. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan khusus tentang masalah-masalah bersifat praktis melalui ‘applied research’ yang digunakan untuk meningkatkan praktik-praktik pendidikan. Langkah-langkah dalam pelaksanaaan R & D sebagaimana dinyatakan Borg dan Gall (1989:624) adalah: (1) dimulai dengan meneliti dan mengumpulkan informasi, melalui bacaan literatur, melakukan observasi, serta menyiapkan laporan tentang kebutuhan pengembangan, (2) merencanakan dan membuat prototipe komponen yang akan dikembangkan,termasuk mendefinisikan kemampuan/keterampilan yang akan dikembangkan, merumuskan tujuan, menentuan urutan kegiatan, serta membuat skala pengukuran khusus, (3) mengembangkan prototipe awal, seperti mempersiapkan buku teks dan mengangkat evaluasi,(4) melakukan uji coba terbatas terhadap model awal, (5) merevisi model awal, (6) melakukan uji coba lapangan, (7) melakukan revisi hasil uji coba, (8) mengoperasionalkan model yang telah teruji, (9) melakukan revisi akhir terhadap model, dan (10) melakukan diseminasi atau penyebaran model. Dari konteks Pendidikan Luar Sekolah (PLS), model juga merupakan interpretasi atas fenomena yang terjadi dalam praksis penyelenggaraan pelatihan, karena melalui model dapat dirumuskan serangkaian kegiatan yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan. Selanjutnya dengan dikembangkannya model pelatihan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir, dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa pengkajian model ini dapat : (1) memberikan gambaran atas kegiatan yang dilakukan agar terjadi perubahan yang diharapkan di dalam memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat pesisir, (2) mempresentasikan data dan informasi yang diolah ke dalam gambaran atau bentuk yang mudah dipahami. Dari uraian ini dapat dinyatakan bahwa secara umum pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu studi eksplorasi dan pengembangan model. Pada tahap studi eksplorasi, bertujuan untuk memetakan masalah dan sumber-sumber pendukung yang berkaitan dengan kegiatan pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat sasaran kegiatan. Tahap pengembangan model,yaitu dilakukannya penyusunan model konseptual yag diuji cobakan dalam kancah lapangan dengan menggunakan kuasi eksperimen. Melalui kegiatan eksperimen dengan memberikan perlakuan dan pengamatan intensif, akan ditemukan peningkatan kemampuan masyarakat sasaran sebagaimana yang diharapkan dalam penelitian ini. Temuan ini digunakan untuk merevisi model konseptual, sehingga dapat dijadikan model empirik yang layak untuk diterapkan. B. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua bentuk kegiatan,yaitu: (1) eksplorasi,yang bersifat kualitatif,dan (2) experimental. Kegiatan pertama, penelitian dilakukan secara exploratif-kualitatif dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Page 63

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

1. Studi pendahuluan; Kegiatan ini merupakan studi awal yang bertujuan untuk merefleksi situasi yang terjadi di lapangan. Melalui kegiaan ini akan digali berbagai fakta dan fenomena yang berkaitan dengan (1) gambaran umum tentang kondisi obyektif masyarakat pesisir, (2) model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi pemberdayaan bagi masyarakat, dan (3) implementasi prinsip-prinsip pembelajaran partisipasi, langkahlangkah, strategi pendekatan, bantuan sumber belajar, serta pemberdayaan masyarakat melalui wadah pengembangan kecakapan hidup yang dikembangkan. Dalam kajian ini,selain dilakukan penelusuran terhadap penelitian-penelitian yang relevan dengan pokok masalah yang dibahas, juga dilakukan penelusuran referensi dan sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan model pelatihan yang dikembangkan. 2. Penyusunan model konseptual; Dalam penyusunan model konseptual selalu mengacu pada hasil studi awal atau studi pendahuluan. Pada tahap ini dikembangkan suatu model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat. 3. Kegiatan validasi/verifikasi model konseptual; Model konseptual yang telah disusun dilakukan validasi/verifikasi dengan melibatkan pakar di bidang Pendidikan Luar Sekolah, narasumber pelatihan, dan dengan Tokoh-Tokoh masyarakat setempat. Kegiatan ini bertujuan untuk penyempurnaan model konseptual yang dilaksanakan melalui seminar,tukar pendapat dan sejenisnya. Hasil dari kegiatan ini kemudian diikuti dengan melakukan cek silang (cross check) dengan temuan-temuan dari hasil studi lain yang memiliki hubungan. 4. Kegiatan revisi model konseptual; Revisi model didasarkan atas saran-saran dan masukan pakar dan praktisi, serta didukung oleh sumber-sumber bacaan berupa literatur maupun hasil penelitian. Selanjutnya, model revisi siap untuk diuji cobakan atau dieksperimenkan. Kegiatan kedua, yaitu pelaksanaan uji coba dengan menggunakan metode preeksperimen. Penelitian tahap ini merupakan implementasi model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal melalui pelatihan kecakapan hidup (keterampilan yang terpilih) yang telah direvisi terhadap kelompok (masyarakat) eksperimen. Desain ini dilakukan dengan One-Group Pretest-Postest Design. Disain ini dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dengan hasil post-test ujicoba pada kelompok yang diuji cobakan,dan tidak menggunakan kelompok kontrol. Desain penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 3. sebagai berikut:

T1 X T2 Gambar.3.1. One-Group Pretest-Posttest Design
Keterangan : T1 = Pre Test T2 = Post Test X = Perlakuan

Pelaksanaan eksperimen terhadap khalayak sasaran masyarakat pesisir, dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Persiapan eksperimen; Tahap ini merupakan kelanjutan dari studi pendahuluan,yang dilakukan sesudah melakukan studi awal. Pada tahap persiapan ini juga dilakukan review hasil analisis studi pendahuluan. Rambu-rambu pertanyaan yang akan digunakan dalam mereviw adalah, apa yang harus dilakukan, tentang apa, siapa melakukan apa, dimana, kapan, dan bagaimana kegiatan itu dilakukan. Di tahap ini peneliti melakukan kolaborasi dengan pelatih/instruktur kecakapan hidup/keterampilan yang ada sesuai kebutuhan masyarakat pesisir dilokasi penelitian. Sebagai hasil dari tahap persiapan (perencana) eksperimen ini, diperoleh; (1) gambaran yang jelas tentang model pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat, (2) garis besar terinci dan jadual kegiatan eksperimen yang Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 64

dilakukan, (3) pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam pengembangan model, (4)caracara yang akan digunakan dalam memonitor perubahan-perubahan yang terjadi selama pelaksanaan eksperimen, (5) gambaran awal tentang evidensi data yang akan dikumpulkan. Dalam perencanaan eksperimen ini, sesuai dengan prinsip dari penelitian pengembangan, maka peneliti senantiasa siap dan adaptif (fleksibel) menghadapi kemungkinan perubahan atas rancangan eksperimen. 2. Pelaksanaan eksperimen; Dalam tahap ini masih diperlukan prinsip partisipatoris dan kolaboratif dari peneliti. Sebelum dilakukannya pelaksanaan eksperimen, terlebih dahulu dilakukan pre-test. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman terhadap anggota kelompok dalam pengimplementasian prinsip-prinsip pelatihan keterampilan, strategi pendekatan yang dilakukan, langkah-langkah, sumber belajar/instruktur,dan pemberdayaan unsur-usnur kerjasama dalam masyarakat setelah eksperimen dilaksanakan. Pada pelaksanaan eksperimen, peneliti berperan; (1) mengkomunikasikan, mendiskusikan, dan mengorganisasikan dengan praktisi yang ada, dan dengan sumber belajar yang akan menjadi fasilitator dalam eksperimen,dengan maksud agar terjadi kesepakatan dan pengertian tentang eksperimen yang akan dilakukan, (2) peneliti melakukan kegiatan memotivasi kepada semua komponen yang terlibat dan terkait dengan pelaksanaan eksperimen. Setelah berakhirnya kegiatan eksperimen dilakukan post-test,kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas dari model yang dikembangkan atau di eksperimenkan. Dari hasil eksperimen kemudian dilakukan revisi, yang kemudian digunakan untuk eksperimen berikutnya bila dianggap masih kurang sempurna sehingga diperoleh model yang teruji. Dalam pelaksanaan perlakuan senantiasa diupayakan pengendalian berbagai faktor yang dapat diduga mempengaruhi kondisi peserta, lingkungan dan keamanan instrumen yang digunakan sehingga kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik. 3. Observasi pada kelompok eksperimen; Selama kegiatan uji coba atau eksperimen berlangsung, dilakukan juga kegiatan monitoring atau pemantauan terhadap pelaksanaan eksperimen. Observasi dilakukan secara langsung dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan maupun penghambat kegiatan eksperimen. Tahap observasi juga dimaksudkan untuk mengenali, merekam,dan mendokumentasikan proses dan hasil yang telah dicapai,dan perubahan yang terjadi pada kelompok masyarakat sasaran kegiatan sebagai akibat dari dilakukannya perlakuan atau eksperimen. 4. Tahap evaluasi; Evaluasi dilakukan setelah diperoleh hasil dari kegiatan observasi dari monitoring pada tahap sebelumnya (perlakuan kelompok eksperimen). Kegiatan evaluasi ini berisikan tentang analisis, interpretasi dan eksplanasi eksperimen dari semua informasi yang diperoleh dari pengamatan atas pelaksanaan eksperimen pada kelompok eksperimen. Pada kegiatan evaluasi,yang dilakukan peneliti adalah,mengkaji setiap informasi bersama praktisi atau ahli maupun melalui berbagai tulisan yang dipublikasikan. Informasi yang ada diurai dan dicari kaitan satu sama lain,yang kemudian dikaitkan dengan teori tertentu atau dengan temuan dari penelitian lain. Dari hasil proses evaluasi tersebut, kemudian ditarik suatu kesimpulan untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan dan merencanakan eksperimen berikutnya, atau setelah dilakukan revisi-revisi yang mendasar berdasarkan kebutuhan. C. Variabel Penelitian dan Pengembangan Alat Pengumpul Data 1. Variabel dan Indikator Penelitian Mengacu pada langkah pengembangan model penelitian serta untuk memperjelas operasionalisasi model konseptual yang dikembangkan , maka pada bagian ini dijelaskan variabel dan indikator yang menjadi alat ukur penelitian. Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa penelitian ini memuat 2 (dua) variabel yakni pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal sebagai variabel faktor dan kemandirian berusaha Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 65

sebagai variabel respon. Variabel pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam pengembangannya didukung oleh berbagai sub variabel yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dalam proses operasionalisasi dan pengembangan model pelatihan. Artinya data hasil kegiatan yang dikembangkan dalam materi pelatihan untuk mengetahui pengetahuan, keterampilan serta sikap terhadap usaha sebagai output pelatihan terintegrasi dengan data variabel penelitian. Adapun variabel penelitian dan indikatornya sebagaimana tercantum pada tabel berikut 3.1. Tabel 3.1. Variabel dan Sub Variabel Penelitian No. 1. Variabel Kecakapan Hidup Indikator Asfek yang diteliti Keterangan Keterampilan 1. Mengenal diri Personal/Kepribadian sendiri 2. Keterampilan berfikir rasional Keterampilan Sosial 1. Keterampilan Berkomunikasi 2. Keterampilan Bekerja sama Keterampilan Pengembangan dari Akademik berpikir rasional Keterampilan Dikaitkan dengan Vokasional pekerjaan dan keterampilan tertentu yang dibutuhkan masyarakat atas dasar minat dan kebutuhannya Nilai Budaya 1) Toleran Nilai-Nilai berorientasi kemasa 2) Kepatuhan kepada Budaya depan, Hasrat Pemimpin/Pimpinan Lokal mengelola 3) Kerjasama lingkungan dengan 4) Kekerabatan potensi yang 5) Rasa Ingin Tahu dimiliki, Menilai 6) Menghargai tinggi hasil karya dan Keberhasilan orang pekerjaan dalam lain mencapai hasil yang 7) Kerja Keras diharapkan. 8) Saling membagi hasil 1.Emosi Kemandirian Kemandirian Psikologis 2.Perilaku Berusaha 3.Nilai Masyarakat Kemandirian 1.Percaya Diri Wirausaha 2.Berorientasi Tugas dan Hasil 3.Pengambilan Resiko 4.Kepemimpinan 5.Keorisinilan 6.Berorientasi kemasa

2.

Keterampilan Teknis meliputi :Pembuatan Fish Nugget, Bakso fortifikasi rumput laut, Stik jagung dan Kue Kolombengi cita rasa khas Nilai-Nilai Budaya Lokal untuk Pengembangan Kemandirian Masyarakat

3.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Keterampilan Teknis meliputi: Kewirausahaan, Organisasi Usaha, Administrasi/ Manajemen Keuangan usaha

Page 66

depan 2.

Nelayan.

Pengembangan Alat Pengumpul Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dan kemandirian berusaha. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui responden, informan dan pengamatan langsung selama penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan tes. Sedangkan data sekunder adalah berbagai data yang berfungsi melengkapi data primer, yang telah diolah dengan caracara tertentu dan tersedia pada lembaga-lembaga formal dan nonformal. Adapun alat pengumpul data pelaksanaan pelatihan diidentifikasi melalui 3 (tiga) asfek kegiatan yaitu :perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Deskripsi kegiatan dan indikator sebagaimana tercantum pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Kisi-Kisi Instrumen Pengungkap Data Pelaksanaan Pelatihan No. Asfek Indikator 1. 1. Tujuan Pelatihan Perencanaan 2. Kelompok Sasaran 3. Nara sumber/Fasilitator 4. Kurikulum 5. Bahan Ajar 6. Media Pelatihan 7. Metode Pelatihan 8. Waktu dan Tempat 9. Evaluasi 2. 1. Kegiatan pelatihan Pelaksanaan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilainilai budaya lokal 2. Praktek Keterampilan (Pembuatan Fish Nugget, Pembuatan Bakso ikan fortifikasi rumput laut, Pembuatan Stik Jagung dan Kue Kolombengi) 3. 1. Evaluasi Awal Evaluasi 2. Evaluasi Proses 3. Evaluasi Akhir Selanjutnya untuk mendapatkan data kemampuan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta terhadap materi pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dan kemandirian berusaha maka digunakan instrumen pengumpul data sebagai berikut : Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Tes Pengumpul Data Penelitian No. 1. Variabel Kecakapan Hidup Indikator Asfek yang diteliti 1.2.3. 4.5. Page 67 Item Keterampilan 1.Mengenal diri Personal/Kepribadian sendiri 2.Keterampilan berfikir rasional

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

2.

3.

1.Keterampilan Berkomunikasi 2.Keterampilan Bekerja sama Keterampilan Pengembangan dari Akademik berpikir rasional Keterampilan Dikaitkan dengan Vokasional pekerjaan dan keterampilan tertentu yang dibutuhkan masyarakat atas dasar minat dan kebutuhannya Nilai Budaya 1.Toleran Nilai-Nilai berorientasi kemasa 2.Kepatuhan kepada Budaya depan, Hasrat Pemimpin/Pimpinan Lokal 3.Kerjasama mengelola lingkungan dengan 4.Kekerabatan 5.Rasa Ingin Tahu potensi yang 6.Menghargai dimiliki, Menilai Keberhasilan tinggi hasil karya dan orang lain pekerjaan dalam mencapai hasil yang 7.Kerja Keras 8.Saling membagi diharapkan. hasil 1.Emosi Kemandirian Kemandirian Psikologis 2.Perilaku Berusaha 3.Nilai Masyarakat Kemandirian 1.Percaya Diri Wirausaha 2.Berorientasi Tugas dan Hasil 3.Pengambilan Resiko 4.Kepemimpinan 5.Keorisinilan 6.Berorientasikemasa depan

Keterampilan Sosial

16.17.18. 19. 20.21 31.32.33.34. 35.36.41 46.47.48.49. 50.51.52.53

6.7.8.9.10.14 11.12.13.15 22.23.24 25.26.27.30 28.29.59. 37.38.39.40.43

42.44.45.54.58 55.56.57.60 1.2.3.4.5.6. 7.8.9.10.11.12. 13.14.15.16.17.18. 19.20.21.22.23.24.25.26 27.28.29.30. 31.32.33.34. 35.36.37.38. 39.40.41.42.43.44. 45.46.47.48.49.50.51.52 53.54.55.56.

D. Lokasi dan Subyek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, dengan sasaran adalah kelompok masyarakat yang produktif. Beberapa pertimbangan yang melatar belakangi dipilihnya masyarakat pesisir di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai sebagai lokasi penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, masyarakat pesisir sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dengan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Kelompok ini secara langsung mengusahakan dan memanfaatkan sumberdaya ikan melalui kegiatan penangkapan dan budidaya. Kelompok ini pula yang mendominasi pemukiman di wilayah pesisir di seluruh Indonesia Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 68

Kedua, Dari segi skala usaha mata pencaharian bidang perikanan, sebahagian besar kelompok masyarakat pesisir dalam kondisi miskin diantaranya terdiri dari rumah tangga perikanan yang menangkap ikan tanpa menggunakan perahu, menggunakan perahu tanpa motor dan perahu bermotor tempel. Dengan skala usaha ini, rumah tangga ini hanya mampu menangkap ikan di daerah dekat pantai dalam kondisi seadanya hal ini berpengaruh pada perolehan hasil tangkapan serta pendapatan mereka setiap hari dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketiga, sebagai solusi permasalahan yang dihadapi masyarakat terutama dalam mengatasi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan, maka Pendidikan Nonformal atau Pendidikan Luar Sekolah telah banyak mengembangkan model pendidikan kecakapan hidup yang berbasis desa dan kota. Model pendidikan kecakapan dilakukan memfokuskan out put dari peserta program yaitu; (1) untuk memberikan keterampilan bekerja, dan (2) untuk mendorong peserta berusaha mandiri. Kedua tujuan akhir pendidikan kecakapan hidup tersebut adalah untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan produktivitas hidup masyarakat. Inilah kontribusi pendidikan nonformal dalam menyelesaikan masalah sosial ekonomi masyarakat. Keempat, adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah untuk mempercepat usaha pembangunan di lingkungan masyarakat pesisir. Berbagai kegiatan pendampingan dan fasilitasi yang telah dilakukan antara lain berupa, (1) pertemuan-pertemuan, musyawarah, diskusi, ditingkat komunitas/desa, untuk pengambilan keputusan atau sosialisasi, (2) pelatihan dan bimbingan, survey swadaya, kerja kelompok penyusunan program pembangunan, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan program, (3) Bantuan permodalan yang diwujudkan dalam bentuk pengadaan fasilitas motorisasi nelayan, dan pemenuhan alat-alat tangkap, (4) Pengembangan koperasi nelayan sebagai upaya strategis dalam membantu dan memfasilitasi segala kebutuhan nelayan dan keluarganya. Dari bentuk program pendampingan ini diharapkan dapat mewujudkan terciptanya masyarakat yang mampu melaksanakan usahanya secara lebih produktif, makin meningkatnya kondisi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup yang pada gilirannya terbentuknya kemampuan masyarakat yang memiliki kemandirian berusaha. 2. Subyek Penelitian Kegiatan eksplorasi difokuskan pada masyarakat nelayan di Kecamatan Batudaa Pantai, serta kelompok-kelompok usaha masyarakat desa yang tersebar di wilayah ini. Identifikasi terhadap kelompok dilakukan agar dapat diketahui secara pasti karakteristik kelompok yang akan dijadikan sebagai sasaran uji coba atau kelompok eksperimen,seperti yang berkaitan dengan kegiatan usaha yang dijalankan,jarak antara tempat usaha dengan tempat tinggal mereka. Data dan informasi seperti ini sangat penting, karena berkaitan dengan sumber informasi, sumber pembelajaran dan pelatihan dari kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan. Kegiatan eksperimen, pada kegiatan ini pengambilan sampel atau penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sebanyak 57 orang dengan sasaran kegiatan sebagai berikut (1) 20 orang menjadi responden pada studi pendahuluan, (2) 7 orang sebagai responden ujicoba kelompok kecil, (3) 30 orang sebagai responden ujicoba lapangan skala besar sekaligus ujicoba keefektifan model. Subjek penelitian 30 orang sebagai sasaran kegiatan pelatihan kecakapan hidup, dengan beberapa persyaratan seperti; (1) belum memiliki penghasilan dan keterampilan yang akan dilatihkan,dan (2) bersedia mengikuti pelatihan dan mau menularkan pengetahuan yang akan diterimanya kepada orang lain. Selain persyaratan tersebut,juga faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah kesediaan kelompok usaha yang dijadikan sampel atau ditunjuk untuk bekerjasama dalam pelaksanaan eksperimen sesuai model penelitian yang dikembangkan. Aspek lain yang juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan kelompok perlakuan atau kegiatan yang dilakukan adalah jarak tempuh Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 69

atau kemudahan untuk dijangkau,sehingga lebih memudahkan untuk mengontrol jalannya perlakuan. Subjek penelitian dalam hal ini anggota masyarakat sebagai peserta pelatihan ini berusia berkisar antara 22 – 40 tahun dengan tingkat pendidikan bervariasi SD/Sederajat dan SMA/Sederajat. Batasan usia peserta antara 22 – 40 tahun dipilih karena merupakan kelompok masyarakat yang produktif atau dapat dikembangkan kaitannya dengan kebutuhan pelatihan yang dibelajarkan yang diharapkan akan dapat berpengaruh terhadap pekerjaan (mata pencaharian) yang dijalankannya selama ini sebagai nelayan maupun keterampilan lainnya yang menunjang mata pencaharian nelayan. Secara umum deskripsi peserta pelatihan sebagai subjek penelitian sebagaimana terlihat pada tabel 3.4. Tabel 3.4, Subjek Penelitian No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Inisial Aswin Jufri Iwan Saman Sukri Susan Rusni Jasmin Yona Sema Wiwin Hartin Erni Yowan Mutia Ranti Firna Lian Yulce Hendra Yanse Tomi Jeksen Saiful Win Mima Aswin Wawan Darwin Taufik L/P L L L L L P P P P P P P P P P P P P P L L L L L L P L L L L Usia Tahun 30 28 36 30 22 23 40 38 37 40 26 40 36 36 26 27 27 38 31 22 25 30 40 25 22 22 24 24 40 32 Pendidikan SMA SMA SD SD SMA SMP SD SMA SD SD SD SMA SD SD SMA SMP SMK SMP SMP SD SMA SD SD SMA SD SMP SMP SMK SMA SD

Dari tabel 3.4, menunjukkan bahwa adanya persebaran usia subyek penelitian berkisar antara 22 sampai 40 tahun dengan tingkat pendidikan SD sampai dengan SMA/sederajat. Peserta pelatihan diikuti oleh 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Hal ini didasarkan pada kegiatan identifikasi awal bahwa ternyata antara laki-laki perempuan menunjukkan kebutuhan yang sama untuk mengikuti kegiatan pelatihan yang akan dikembangkan.. Hal Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 70

lainnya sebagai indikator bahwa kriteria peserta pelatihan masih dalam kategori yang dapat dibina dan diarahkan melalui sebuah proses pelatihan untuk pengembangan kemandirian berusaha, kecuali itu pada umumnya mereka yang menjadi sasaran kegiatan ini masih berada pada kategori usia produktif. Dalam kaitannya dengan penentuan sumber data, Nasution (1988: 95-96) menambahkan bahwa: "Sampling dalam penelitian naturalistik-kualitatif ialah pengambilan keputusan untuk mengadakan pilihan dari populasi manusia dan non-manusia". Berdasarkan pertimbangan jenis data yang dibutuhkan, maka sumber data penelitian sebagai berikut: 1. Warga masyarakat sebagai subyek penerapan model Pelatihan Kecakapan Hidup. 2. Pemerintah setempat yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan dilingkungan masyarakat nelayan. 3. Organisasi kemasyarakatan yang mempunyai komitmen dan kepedulian dan mengembangkan aktivitas program peningkatan kualitas hidup masyarakat nelayan. 4. Instansi terkait sebagai Pembina sekaligus Pendamping Pengembangan Masyarakat Pesisir dan atau yang relevan dengan objek dan fokus kajian penelitian ini. E. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data 1. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini,teknik yang digunakan dalam pengumpulan data melalui: (1) observasi (pengamatan),(2) studi dokumentasi; dan (3) wawancara. Kegiatan penilaian dilakukan dengan memberikan tes awal (pretest) sebelum pelatihan dan tes akhir (posttest) atau setelah kegiatan pelatihan selesai secara keseluruhan,dilanjutkan dengan membandingkan dengan hasil kerja peserta di lapangan. Teknik-teknik pelaksanaan pengumpulan data dilakukan dengan: Observasi, dalam kegiatan ini dilakukan dan diupayakan agar peserta sebagai sasaran penelitian tidak merasa kalau dirinya sedang diobservasi. Kegiatan ini dilakukan untuk mencermati beragam fenomena dari mulai tahap studi orientasi suasana lingkungan penelitian,implementasi,sampai evaluasi hasil. Data observasi diperoleh melalui sumber belajar maupun dinas atau instansi terkait lainnya, serta dari anggota masyarakat. Materi yang akan di ekperimenkan meliputi; (1) kegiatan nara sumber selama berinteraksi dengan calon peserta yang dilanjutkan dengan diskusi dalam pelatihan,(2) kegiatan nara sumber dalam menjelaskan materi selama diskusi berlangsung (3) kegiatan nara sumber dalam menciptakan suasana dalam kelompok,(4) aktifitas masyarakat sasaran (kelompok) selama mengikuti pelaksanaan eksperimen,dan (5) kegiatan implementasi komponen-komponen pelatihan di masyarakat. Studi dokumentasi, kegiatan ini bertujuan untuk menjaring data atau dokumen tertulis yang ada kaitannya dengan penyelenggaraan pelatihan yang dilaksanakan. Data ini digunakan untuk melengkapi dalam upaya menemukan data yang benar. Data diperoleh melalui hasil penelaahan serta interpretasi terhadap dokumen,dapat dijadikan sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji, bahkan untuk menganalisis data yang didapat dari Dinas atau instansi terkait maupun Pemerintah Kecamatan Batudaa Pantai. Wawancara, kegiatan ini bertujuan untuk mewawancarai sejumlah tokoh yang dianggap sebagai kunci dalam penelitian,seperti Pemerintah Desa, Kecamatan dan Kabupaten, Instansi terkait dan tokoh masyarakat yang dijadikan sasaran. Sedang kepada nara sumber berkisar tentang pengalaman, cara pengimplementasian dan metode yang digunakan dalam melaksanakan pelatihan di masyarakat. Teknik ini dilakukan peneliti untuk mengamati masyarakat, melalui pengamatan data yang intensif dalam bentuk komunikasi vertikal sebagai proses peneliti dengan sumber data sebagai responden. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 71

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan teknis saturasi atau kecukupan data dan trianggulasi. Teknik ini disamping bertujuan untuk menguji apakah model yang diajukan sudah layak untuk diimpementasikan, juga untuk merefleksikan data melakukan interpretasi atas dasar acuan teori serta memberikan penguatan terhadap proses pelatihan. Untuk menjaga validitas, reliabilitas dan objektifitas temuan maka digunakan kriteria untuk memeriksa keabsahannya. Kriteria ini mengacu kepada pendapat Sugiyono (2008: 269-277) yang mencakup validitas internal (credibility), validitas eksternal (transferability),reliabilitas (dependability) dan objektifitas (confirmability) Credibility (kepercayaan),dilakukan agar hasil-hasil temuan dapat dicapai kebenarannya oleh peneliti,untuk data dan informasi ganda atau yang memiliki penafsiran berbeda. Penarikan keabsahan data dan informasi melalui upaya (1) activies increasing the probality that credible finding will be produced,(2) persistent observation,(3) Triangulation,(4) peer debiefing,(5) referential adequacy,(6) negative case analysis dan (7) member checks. Transferability (validitas eksternal),dilakukan untuk mengkaji sejauhmana hasil penelitian dapat diaplikasi atau digunakan dalam situasi berbeda. Trasferability ditempuh peneliti dengan mencari dan mengumpulkan kajian-kajian empiris,yaitu model-model faktual dalam penyelenggaraan pelatihan,baik yang dilakukan oleh tenaga-tenaga PLS,instansi terkait maupun kelompok-kelompok usaha serta lembaga swadaya masyarakat. Dependability (ketergantungan),yaitu upaya untuk melihat sejauh mana hasil penelitian atau model pelatihan yang dikembangkan dan diujicobakan pada kondisi atau setting tertentu, sehingga model tersebut dinyatakan memiliki dependability. Comfirmability (derajat keyakinan),ditempuh untuk melihat kebenaran data yang diperoleh melalui audit trail. Audit trail dilakukan dengan (1) pemeriksaan terhadap semua catatan lapangan, laporan dan dokumen,(2) hasil analisis data,tabel,gambar dan konsep-konsep dan (3) catatan mengenai proses penelitian. Tes digunakan untuk memperoleh data menyangkut penguasaan peserta dalam hal pengetahuan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dan kemandirian berusaha yang dikembangkan sebelum kegiatan pelatihan (pretest) dan setelah kegiatan pelatihan (posttest), bentuk tes adalah objektif. 2. Analisis Data Pengujian efektifitas model dilakukan terhadap model konseptual yang dikembangkan sehingga dapat menjadi model empirik atau layak terap. Sedangkan pengukuran antara pretest dan post-test dilakukan dengan uji beda dua data rata-rata berpasangan. Teknik yang dianggap cocok adalah teknik Wilcoxon Match Pairs Test atau uji Wilcoxon (Siegel,1997:93, Borg and Gall,1989:565, dan Sugiyono,2011: 122-124 ). Uji beda dilakukan untuk melihat sejauh mana antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada kelompok ujicoba. Analisis data yang digunakan adalah data kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif, maka pengukuran hasil pre-test dan post-test juga dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi dan refleksi. Selanjutnya penerapan analisis statistik ini didasarkan atas pertimbangan: (1) sampel penelitian tidak berasal dari populasi yang diambil secara acak atau sampel penelitiannya diambil secara purposive, (2) sampel ujicoba masih tergolong relatif kecil, sehingga dengan menggunakan uji Wilcoxon diharapkan dapat diketahui dampak dari pelatihan terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari peserta pelatihan, yang hasilnya akan ditemukan dalam pembahasan. Teknik pengolahan data menggunakan fasilitas program excell dan SPSS for Windows. Untuk mengarahkan analisis yang digunakan maka dibuat hipotesis yang diuji. Penetapan hipotesis yang digunakan, diduga akan berdampak positif yang signifikan pada kegiatan pelatihan kecakapan hidup terhadap kemampuan berusaha masyarakat. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 72

Hipotesis yang digunakan dalam menganalisis pengujian efektifitas pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup dilakukan dengan melihat pada aspek yang diuji terhadap peserta, seperti: (Ho) dimaksudkan tidak terdapat perbedaan kemandirian berusaha peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Sedangkan (H1) berarti terdapat perbedaan kemandirian berusaha peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Pengujian hipotesis efektifitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemadirian berusaha masyarakat pesisir dapat dicari dengan menggunakan persamaan uji t. 1 Penerapan uji t sebagai uji hipotesis dengan pertimbangan : (1) penelitian ini termasuk penelitian pre experimental dilakukan dengan One-Group Pretest-Postest Design, (2) penelitian tidak menggunakan kelompok kontrol, dan (3) subjek penelitian tidak dipilih secara random. X1 − X 2 t= 2 2  s  s  s1 s2    + − 2r  1  2  n1 n2  n1   n 2     Keterangan: : Rata-rata sampel setelah perlakuan X2 X1 : Rata-rata sampel sebelum perlakuan s : Simpangan baku r : korelasi antar dua sampel

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini dikemukakan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. Fokus utama kajian dalam penelitian ini adalah apakah benar terdapat kecenderungan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dapat meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Data hasil penelitian ini mengacu pada tujuan penelitian yaitu: (1) mendeskripsikan kondisi objektif sosial ekonomi Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I
1

Sugiyono, Statistika untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2011), pp. 122-124.

Page 73

masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, (2) mendeskripsikan kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir, (3) mengembangkan model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir, (4), mengimplementasikan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir, dan (5) mengetahui efektivitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Penyajian dan deskripsi pada bab ini dibagi atas 2 (dua) bagian, pertama menjelaskan tentang data hasil penelitian dan bagian kedua menyajikan pembahasan hasil penelitian. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, gambaran dari hasil penelitian disajikan dalam bentuk deskripsi hasil penelitian. Hasil-hasil penelitian yang disajikan berisi tentang data-data, informasi dan keterangan yang diidentifikasi melalui indikator-indikator dari sumber data atau subyek penelitian. Adapun indikator yang disajikan sebagai bahan pembahasan menyangkut : 1. Data yang berhubungan dengan kondisi objektif sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. 2. Data yang berhubungan dengan kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir. 3. Data yang berhubungan dengan pengembangan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. 4. Data yang berhubungan dengan implementasi model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Telaah penelitian terhadap kondisi objektif sosial ekonomi masyarakat menyangkut data dan informasi keadaan sosial ekonomi masyarakat, serta kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup yang diperlukan. Penyajian data dan informasi ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Selanjutnya untuk menelaah dan mengkaji pengembangan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat, berkenaan dengan tiga komponen kegiatan yaitu, (1) Komponen perencanaan program, (2) Komponen Pelaksanaan Program, dan (3) Komponen Evaluasi program. Komponen perencanaan program, hal-hal yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini menyangkut : Jenis kegiatan pada tahap perencanaan, Peserta atau sasaran kegiatan, Materi yang diprogramkan, Tenaga yang disiapkan, Organisasi pelaksana kegiatan, Sarana dan prasarana yang diperlukan, Alokasi waktu yang ditetapkan, Pembiayaan dan Evaluasi. Pada komponen pelaksanaan program hal-hal yang menjadi fokus dan telaah dalam penelitian ini menyangkut : Materi-materi yang disajikan dalam Pelatihan Kecakapan Hidup (PKH), Tenaga fasilitator dan narasumber teknis, Pendekatan yang digunakan dalam penyajian materi, Media yang digunakan dalam proses pelatihan, Waktu yang digunakan proses pelatihan, Tingkat partisipasi peserta, meliputi kehadiran dan keaktifan selama proses pelatihan. Pada komponen evaluasi program, hal-hal yang menjadi fokus dan telaah dalam penelitian ini menyangkut : jenis evaluasi, waktu pelaksanaan evaluasi,dan kriteria evaluasi yang digunakan A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Kondisi Objektif Sosial Ekonomi Masyarakat Data dan informasi yang disajikan pada bagian ini menyangkut, (1) Keadaan Geografis, (2) Kondisi Sosial, dan (3) Kondisi Ekonomi. Kondisi-kondisi objektif dimaksud perlu Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 74

diketahui melalui studi pendahuluan (preliminary study) karena data dan informasi dapat digunakan sebagai dasar konseptual dan empiris pengembangan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang diasumsikan dapat meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. Data kondisi objektif ini diperoleh melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi (1) Kondisi Gegrafis Kecamatan Batudaa Pantai merupakan salah satu Kecamatan yang berada di wilayah hukum Kabupaten Gorontalo yang secara definitif terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 43 Tahun 1995, sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Batudaa, yang terdiri dari 13 (tiga belas) desa. Selanjutnya dimekarkan lagi pada tahun 2008 dengan hasil pemekarannya adalah Kecamatan Biluhu. Adanya pemekaran Kecamatan Batudaa Pantai, maka saat ini wilayah Kecamatan Batudaa Pantai terdiri dari 9 (sembilan) desa, yaitu Desa Bongo, Lopo, Kayubulan, Biluhu Timur, Tontayuo, Lamu, Olimo’oO, Buhudaa dan Langgula. Secara geografis Kecamatan Batudaa Pantai terletak pada 0.30 LU – 1.00 LS dam 121 BT – 123.30 BB, dengan luas wilayah keseluruhan 6.48 KM2, dengan batas-batas wilayah terdiri dari : a) Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batudaa dan Tabongo. b) Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tomini c) Sebelah timur berbatasan dengan Kota Gorontalo d) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Biluhu Wilayah kecamatan Batudaa Pantai sebahagian besar terdiri dari perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada 0 – 2.00 meter di atas permukaan laut. Keadaan topografi didominasi oleh kemiringan 15 – 40, dengan jenis tanah yang sering mengalami erosi. Kondisi dan struktur utama geologi adalah patahan yang berpotensi menimbulkan gerakan tektonik, menyebabkan rawan bencana alam seperti gempa bumi, erosi, abrasi, gelombang pasang, dan banjir. Geologis di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai terdiri dari granodistrite,andesit, basalt, alluvium, dengan jenis tanah secara dominan terdiri dari 2 (dua) jenis padsolik dan jenis lotosol. Aliran sungai yang terdapat di wilayah ini keseluruhannya berjumlah 23 buah sungai kecil dan 31 titik mata air. Kondisi hirologi ini merupakan suatu potensi yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber air dan energi. Dari segi kondisi klimatologi, iklim di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai termasuk dalam type C (Menurut Schmit dan Fergeso dalam Rencana Kerja Kecamatan Batudaa Pantai,2011. 6) dengan curah hujan setiap tahunnya ratarata 1.500 mm/tahun. Sedangkan tempratur rata-rata di Wilayah Kecamatan Batudaa Pantai 31.8 setiap tahunnya dengan tempratur maksimum adalah 12.9. Temperatur tertinggi (maksimum) biasanya terjadi pada bulan Mei dan tempratur terendah yakni pada bulan Agustus yakni 22.8. (2) Kondisi Sosial Mengenai data kondisi sosial yang dipaparkan menyangkut kondisi penduduk, pendidikan dan kesehatan masyarakat. Sebagai sebuah wilayah yang berada dikawasan pesisir Kecamatan Batudaa memiliki luas wilayah 6480 M2, dengan kondisi daerah sebahagian besar terdiri dari perbukitan rendah dan dataran tinggi. Berdasarkan pemutahiran data akhir tahun 2011, jumlah penduduk Kecamatan Batudaa Pantai adalah 11.959 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 6.142 jiwa dan 5.817 jiwa perempuan. Jumlah kepala keluarga 2.984 KK, 712 KK diantaranya dikategorikan KK miskin. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 75

Selanjutnya kondisi pendidikan dalam suatu wilayah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan kualitas kehidupan masyarakat, demikian pula hal ini terjadi di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai. Mengenai kondisi penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat dari tersedianya berbagai fasilitas yang diperlukan dan dari data capaian angka partisipasi pendidikan baik angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM). Sampai dengan tahun pelajaran 2010-2011 APK SD/MI sebesar 116.25% dan APM SD/MI 98.5%. Tingkat SMP/MTs APK sebesar 69.75% dan APM SMP/MTs 52.8%. Untuk tingkat APK SMA/MA sebesar 39.8% dan APM SMA/MA 28.25%. Kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di wilayah ini dapat dikemukakan antara lain telah memiliki fasilitas penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (PAUD) sejumlah 21 buah, TK/RA sejumlah 3 buah, SD/MI sejumah 15 buah, SMP/MTs sebanyak 6 buah, sedang untuk SMA baru memiliki 1 buah dan SMK Pariwisata (Swasta) 1 buah. Dari segi pelayanan pendidikan dasar dengan fasilitas yang tersedia telah memadai, akan tetapi untuk jenjang pendidikan menengah dan sederajat memang masih sangat diperlukan penyediaan sarana dan prasarana sehingga dapat memenuhi dan melayani kebutuhan pendidikan khususnya yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Untuk layanan pendidikan nonformal di wilayah ini masih terbatas pada fasilitas penyenggaraan pembelajaran untuk kegiatan Paket A dan B. Untuk lembaga kegiatan belajar masyarakat seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) masih kurang, bahkan untuk fasilitas yang melayani kegiatan keterampilan masyarakat dalam bentuk lembaga keterampilan belum tersedia. Memperhatikan kondisi dan layanan penyelenggaraan pendidikan di wilayah ini dapat dikemukakan bahwa kebutuhan akan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan untuk melayani masyarakat terutama yang berusia sekolah masih perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak baik pemerintah maupun swasta. Khusus layanan pendidikan nonformal di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai masih sangat perlu dikembangkan terutama yang terkait dengan pendidikan dan latihan keterampilan produktif untuk masyarakat. Pendidikan dan latihan ini diperlukan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat berbasis nilai-nilai budaya lokal yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kemandirian berusaha di lingkungan kehidupan masyarakat pesisir. Terkait dengan kondisi kegiatan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai dilakukan dengan memfasilitasi sarana dan prasarana kesehatan dengan mengoptimalkan kegiatan potensi yang tersedia dari segi ketenagaan dan fasilitas pendukung lainnya. Data sarana dan prasarana serta kegiatan pelayanan kesehatan antara lain memiliki Puskemas 1 buah, Puskesmas Pembantu (PUSTU) 2 buah, Polindes 3 buah, Pokedes 3 buah, Praktek Bidang 2 buah, dan Toko Obat serta Klinik KB masing-masing 1 buah. Tenaga Dokter 2 orang, perawat dan bidan 10 orang dan karyawan sejumlah 17 orang. Fasilitas lainnya berupa kenderaan roda empat 1 buah, dan kenderaan roda dua sebanyak 4 buah. Dari data ini dapat dikemukakan bahwa fasilitas yang tersedia untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat untuk semua desa masih sangat terbatas namun demikian pihak pemerintah desa dan kecamatan senantiasa berupaya untuk mengoptimalkan berbagai fasilitas yang tersedia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. (3) Kondisi Ekonomi Mengenai aspek ekonomi masyarakat di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai sebagaimana telah dikemukakan pada uraian sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk sebahagian besar adalah nelayan. Data penduduk yang bermata pencaharian nelayan sampai dengan akhir tahun 2011 berjumlah 1501 orang (Biro Pusat Statistik Kabupaten Gorontalo, 2011:18). Mata pencaharian ini digeluti oleh masyarakat karena kondisi geografis wilayah adalah pesisir pantai dan pada umumnya pekerjaan sebagai nelayan merupakan warisan yang Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 76

berlaku bagi masyarakat secara turun tumurun. Di samping mata pencaharian nelayan, masyarakat di wilayah ini melakukan aktivitas pekerjaan lainnya seperti petani, usaha kecil/pedagang, PNS, dan bahkan di antara mereka terdapat pula yang tidak memiliki mata pencaharian tetap. Potensi usaha lain yang terdapat di wilayah ini meliputi potensi pertanian, peternakan, perkebunan akan tetapi beberapa potensi usaha ini belum dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal dan produktif oleh masyarakat. Kaitannya dengan usaha bidang nelayan yang masih dominan aktivitas masyarakat melakukan kegiatan perikanan tangkap dibanding dengan usaha budidaya. Untuk melaksanakan aktivitas ini sudah barang tentu memerlukan fasilitas seperti sarana katinting, jaring apung, pukat, pamo dan rumpun yang masih sangat terbatas untuk memenuhi aktivitas para nelayan. Potensi perikanan tangkap sebahagian besar masyarakat bergerak pada perikanan jenis ikan tuna, sedangkan lainnya seperti jenis ikan lajang, antoni, batu dan cumi. Untuk kegiatan budidaya laut maupun darat masih kurang dikembangkan. Budidaya laut yang terdapat di wilayah ini yaitu budidaya rumput laut lokasinyapun hanya pada beberapa desa tertentu. Untuk jenis pengolahan hasil ketika produksi melimpah kegiatan yang dilakukan masih sangat terbatas yaitu pengasapan ikan dan pengeringan ikan inipun baru berlangsung sebanyak 2 (dua) kali. 2. Kondisi Objektif Pendidikan Kecakapan Hidup Masyarakat Pesisir Sebagaimana telah diuraikan pada bagian kondisi sosial ekonomi bahwa kegiatan pendidikan di lingkungan masyarakat khususnya yang terkait dengan pendidikan kecakapan hidup merupakan suatu program pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat khususnya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Data tentang kondisi objektif penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup diperoleh melalui wawancara, observasi pada kegiatan studi pendahuluan. Wawancara dilakukan melalui Ketua Kelompok Nelayan dan beberapa orang masyarakat nelayan yang dilaksanakan tanggal 10 – 14 Mei 2011 dan Observasi tanggal 15 - 17 Mei 2011 pada beberapa Desa di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa telah dilakukan kegiatan sosialisasi pembinaan terhadap nelayan oleh instansi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo. Kegiatan sosialisasi dan pembinaan ini merupakan program rutin yang diemban oleh Dinas tersebut dalam upaya mengembangkan berbagai program dan kegiatan yang diperuntukkan bagi nelayan dalam aktivitas pengembangan usahanya. Sebagai suatu program rutin maka kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara kontinyu dengan demikian para nelayan akan merasa difasilitasi terhadap kebutuhannya khususnya menyangkut usaha nelayan. Selanjutnya kegiatan yang berorientasi pendidikan kecakapan hidup dan pelatihan keterampilan telah dilakukan seperti keterampilan pengolahan abon ikan akan tetapi kegiatan ini hanya berlangsung 2 (dua) satu kali saja. Terkait dengan kegiatan sosialisasi pembinaan dan pelatihan keterampilan yang dilakukan selama ini, maka diperoleh data terdapat beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya, antara lain : a. Program pembinaan dan pelatihan keterampilan nelayan tidak disusun berdasarkan prinsip-prinsip kegiatan pelatihan yang dianjurkan, seperti : identifikasi kebutuhan pelatihan, kurikulum, sistem pelatihan yang efektif, standar keahlian instruktur, materi dan bahan ajar, strategi dan pendekatan, serta penyelenggaraan evaluasi sesuai prinsip yang berlaku. b. Program yang diperuntukkan untuk masyarakat nelayan belum sepenuhnya berorientasi pada analisis kebutuhan dan rencana program pendidikan dan pelatihan yang strategis dikembangkan. c. Penyelenggaraan program tidak diorganisir mengikuti prinsip pengelolaan sehingga baik proses dan hasil kegiatan belum maksimal sebagaimana yang diharapkan. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 77

d. Dari segi materi pelatihan yang dilakukan masih terbatas pada kegiatan keterampilan pengolahan abon ikan dan pengasapan. Hal ini sesungguhnya belum mengakomodir kebutuhan masyarakat untuk belajar keterampilan yang ada hubungannya dengan kondisi lingkungan dan pengembangan usaha dan kemandirian yang perlu dioptimalkan. e. Pengembangan strategi pembelajaran belum sepenuhnya dilakukan secara optimal menyangkut penerapan metode yang sesuai dan relevan, pemanfaatan media yang tepat sesuai kompetensi yang dibelajarkan dan pengaturan waktu yang belum efektif. f. Tidak adanya tindak lanjut dari pembinaan dan pelatihan keterampilan yang dilakukan untuk pengembangan kemandirian berusaha masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh karena faktor keterbatasan layanan pengembangan program pada Dinas terkait dan sumber daya lain yang diperlukan belum tersedia yang relevan dengan kegiatan tersebut. g. Penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup belum dirancang mengikuti format pendidikan yang menerapkan model dan tahapan-tahapan sebagaimana yang berlaku dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Tabel 4.1. Data Kondisi Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup Di lingkungan Masyarakat Pesisir, Tahun 2011 N o. 1 . 1. Belum terstruktur sesuai prinsip pelatihan 2. Tidak adanya analisis kebutuhan 3. Tidak mengikuti prosedur pengelolaan kegiatan yang efektif Pengorganisasian 1. Tidak diorganisir Kegiatan dalam suatu program pelatihan 2. Belum dikoordinasikan dengan pihak yang terkait dengan kegiatan 3. Tidak melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan Materi 1. Terbatas pada keterampilan abon ikan dan pengasapan 2. Tidak mengakomodir kebutuhan belajar keterampilan masyarakat 3. Tidak diintegrasikan dengan materi nilai-nilai budaya lokal Strategi Pelatihan 1. Penerapan metode tidak bervariasi 2. Pemanfaatan media kurang optimal Program Pelatihan Kondisi Data

2 .

3 .

4 .

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 78

3. 6 . 7 . Hambatan Evaluasi

Penataan waktu dalam pembelajaran kurang baik Evaluasi proses 1. Program tidak berkelanjutan 2. Sarana dan prasarana kegiatan 3. Bahan dan alat praktek keterampilan 4. Waktu kegiatan praktek keterampilan 1. Tidak adanya monitoring 2. Kegiatan pembinaan/ Pendampingan kurang dilaksanakan 3. Tidak adanya program kemitraan

8 .

Tindak Lanjut

Dengan mengacu pada data tabel 4.1 di atas menghasilkan temuan bahwa kondisi objektif penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup belum sepenuhnya mendukung usaha peningkatan pengetahuan, keterampilan serta sikap masyarakat terhadap kemandirian berusaha. Kondisi ini pula memberi pengaruh terhadap kurangnya pengembangan keterampilan produktif yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat nelayan sebagai salah satu upaya pengembangan usaha dalam menunjang kebutuhan hidup sehari-hari disamping mata pencaharian pokoknya sebagai nelayan. Atas dasar temuan inilah maka dilakukan Pengembangan Model Konseptual Pelatihan Kecakapan Hidup pada kajian ini diinterintegrasikan dengan Nilai-Nilai Budaya Lokal dalam Meningkatkan Berusaha Masyarakat Pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. 3. Deskripsi dan Analisis Data Pelatihan Kecakapan Hidup yang Di laksanakan di Masyarakat Pada bagian ini dikemukakan deskripsi urgensi pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Data ini dimaksudkan sebagai dasar dalam analisis dan penyusunan model konseptual yang dikembangkan selanjutnya. Materi data dan informasi diperoleh melalui berbagai sumber baik kegiatan wawancara, observasi lapangan, dan analisis SWOT. (1) Hasil Wawancara a) Pelatihan Kecakapan Hidup menurut Ketua Kelompok Nelayan Masyarakat pesisir yang melaksanakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai nelayan memerlukan upaya pemberdayaan dalam berbagai aspek. Aspek dimaksud tidak sekedar meningkatkan pendapatan masyarakat, melainkan juga melakukan upaya membangun basis ekonomi yang bertumpu pada kebutuhan masyarakat dan potensi nilai budaya lokal. Pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi nilai budaya lokal ini dilakukan karena masyarakat pesisir dengan kondisi kehidupannya masih menghadapi kendala-kendala terkait dengan aktivitasnya sementara pada aspek lainnya tersedianya potensi yang belum termanfaatkan secara optimal. Kendala-kendala tersebut antara lain belum semua masyarakat Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 79

mendapatkan bantuan yang diperlukan guna menunjang kelancaran usahanya, sarana dan prasarana yang terbatas, sering mengalami kesulitan dalam penyaluran bahan bakar minyak (BBM) dan belum adanya pangkalan BBM khusus untuk melayani kebutuhan nelayan, tidak adanya wadah koperasi nelayan, dan kegiatan yang bersifat pembinaan kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan nelayan kurang dilakukan. Disadari sepenuhnya bahwa fasilitas dan berbagai faktor lain memang sangat diperlukan masyarakat nelayan untuk pengembangan usahanya, akan tetapi harapan mereka yang sampai saat ini belum dilakukan secara optimal dan berkelanjutan adalah masyarakat membutuhkan adanya pemberian pengetahuan dalam bentuk keterampilan produktif terkait dengan usahanya. Karena itu dengan adanya kegiatan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan dan masyarakat membutuhkannya demi kelangsungan pengembangan kemandirian berusaha. b) Pelatihan Kecakapan Hidup menurut Peserta Pelatihan Kegiatan pelatihan kecakapan hidup dalam meningkatkan kemandirian berusaha sangat penting mengingat kegiatan seperti ini kurang dilakukan apalagi pelatihan ini terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal. Bagi masyarakat nelayan pelatihan ini akan banyak manfaatnya disamping sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap positif terhadap pekerjaan (nelayan) hal yang sangat penting adalah pengembangan keterampilan produktif terkait dengan pengembangan usaha nelayan. Oleh karena itu masyarakat sangat bersyukur menyambut baik dan bersedia mengikuti kegiatan ini sekaligus berpartisipasi untuk kelancaran pelaksanaannya. Peran aktif masyarakat sebagai sasaran kegiatan ini ditunjukkan pada saat identifikasi mereka sangat aktif membantu pelaksanaan kegiatan ini terutama dalam menghubungi calon peserta kegiatan sekaligus memfasilitasi berbagai kebutuhan yang diperlukan agar pelatihan dapat dilaksanakan sesuai rencana, tanpa adanya hambatan yang berarti. c) Pelatihan Kecakapan Hidup menurut Fasilitator Kegiatan Salah satu unggulan pendidikan nonformal yang merupakan kontribusi pendidikan dalam mengatasi pengangguran dan pengentasan kemiskinan adalah pendidikan kecakapan hidup. Program pendidikan kecakapan hidup mempunyai nilai strategis karena mempunyai kelompok sasaran masyarakat kurang mampu dan pengangguran. Program ini mempunyai tantangan yang berat secara ekonomi, sosial maupun budava karena sasaran program ini terfokus pada usaha untuk mengentaskan masyarakat marginal agar bisa hidup secara mandiri. Untuk itu diperlukan strategi yang komprehensip, simultan dan berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif dari stakeholder terkait untuk mencapai tujuan akhir dari program ini. Terkait dengan penyelenggaraan pelatihan kecakapan untuk kemandirian berusaha maka perlu dipertimbangkan subjek maupun objek dari kegiatan ini agar maksud dan tujuannya sesuai dengan yang diharapkan. Adapun hasil yang diharapkan antara lain (1) memberikan keterampilan kerja yang produktif, dan (2) mampu memotivasi peserta dapat berusaha mandiri. Kedua sasaran target sebagai hasil kegiatan ini sejalan dengan tujuan akhir dari pendidikan kecakapan hidup yaitu untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan produktivitas hidup masyarakat marginal dalam meningkatkan kemampuan sosial ekonominya. Pelatihan kecakapan hidup ini merupakan kegiatan yang diharapkan dapat membekali masyarakat agar mempumyai pengetahuan dan keterampilan vokasional untuk bekerja dan memasuki dunia kerja. Sebagai kegiatan yang lebih menekankan pada keterampilan vokasional terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal maka kegiatan ini penting dilakukan dan harus direncanakan berbagai komponen antara lain ; kurikulum relevan dengan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 80

kebutuhan, tenaga instruktur yang memiliki kompetensi profesional, pengembangan strategi pembelajaran (bahan, metode dan media) yang sesuai, serta penyelenggaraan evaluasi yang baik. (2) Hasil Observasi Mengenai data hasil observasi lapangan di lokasi penelitian terkait dengan urgensi penyelenggaraan pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha penting untuk dijelaskan pada bagian ini. Dari pengamatan peneliti selama berada dilokasi diperoleh data sebagai berikut: Pertama, dari segi kesiapan peserta pelatihan. Sebahagian besar peserta yang teridentifikasi sebagai sasaran kegiatan menyatakan bersedia mengikuti kegiatan pelatihan, bahkan di antara mereka menyatakan bahwa kegiatan ini segera dilaksanakan karena penting diikuti serta sesuai dengan kebutuhan dan bermanfaat. Kedua, dari segi sarana dan prasarana pelatihan sangat memadai. Untuk lokasi kegiatan pelatihan ditetapkan pelaksanaannya di Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, tepatnya mengambil lokasi di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “YOTAMA”. Lokasi ini untuk wilayah Kecamatan Batudaa Pantai sangat representatif sebagai tempat pelaksanaan pelatihan, karena PKBM ini menjadi sebuah aset pengembangan budaya, dan kajian religius sekaligus menjadi objek wisata yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Gorontalo saat ini. Peneliti ketika berkunjung ke lokasi PKBM dan menghubungi Ketua Yayasan dan Pengelola Bapak Yoseph Tahir Ma’ruf untuk melihat lokasi ini beliau menyambut baik pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup dan bersedia menyiapkan berbagai fasilitas yang diperlukan dan bahkan membantu segala hal yang diperlukan guna kelancaran kegiatan ini. Di lokasi PKBM ini sarana yang diperlukan berupa fasilitas kegiatan pelatihan tersedia memadai. Lingkungan yang cukup luas dan kondusif, nyaman dan menyenangkan. Di lokasi ini terdapat Aula terbuka, ruang untuk sekretariat, ruang kegiatan praktek dan dilengkapi dengan perangkat soundsystem yang siap digunakan. Fasilitas lainnya adalah sarana ibadah yang memadai, serta ketersediaan toilet yang baik pula. Ketiga, dari segi daya dukung pelaksanaan kegiatan. Dari hasil pengamatan yang dilakukan ternyata dukungan dari pemerintah sangat baik. Dukungan ini baik berasal dari pemerintah desa maupun kecamatan. Hal ini ditunjukkan pada saat persiapan pemrosesan segala administrasi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pelatihan ini diketahui dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Desa. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa adanya dukungan dan kerjasama yang terjalin ini menjadi modal yang sangat baik untuk keberhasilan pelaksanaan kegiatan pelatihan kecakapan hidup dalam meningkatkan kemandirian berusaha. Selanjunya sebagai suatu program yang dikembangkan untuk melayani kebutuhan belajar masyarakat dalam dimensi pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha maka kegiatan ini perlu direncanakan secara baik dan matang, program kegiatannya terarah dan sistematis sesuai target, dan tidak kalah pentingnya adalah daya dukung pelaksanaan pelatihan seperti standar keahlian instruktur, materi dan bahan ajar, strategi dan pendekatan, serta penyelenggaraan evaluasi perlu di tata dengan baik pula sehingga sasaran target kegiatan ini dapat dicapai. (3) Hasil Analisis SWOT Analisis model faktual pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup dalam meningkatkan kemandirian berusaha bagi masyarakat pesisir dilakukan menggunakan pendekatan analisis SWOT (Strength, Weaknees, Oppurtunity, Threat). Analisis SWOT ini dimaksudkan untuk mengkaji kondisi lingkungan karena dapat membantu dan memfasilitasi penyelenggaraan program dan kegiatan pelatihan yang dikembangkan. Kecuali itu dalam konteks penyelenggaran pendidikan kecakapan hidup sebagai sebuah proses pendidikan berbasis masyarakat maka analisis SWOT ini akan menyediakan bahan untuk para pengambil Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 81

kebijakan dan penyelenggara dalam menyiapkan berbagai sumber daya yang diperlukan sehingga program/kegiatan dapat mencapai sasaran yang maksimal. Analisis SWOT berguna bagi penyelenggara dan fasilitator program dan kegiatan dalam mengeksplorasi peluang-peluang dan tantangan serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan, yang pada gilirannya dapat diperoleh sebuah strategi yang efektif dalam pengelolaan dan pengembangan model konseptual. Mengacu pada asumsiasumsi demikian maka diperlukan pendekatan analisis SWOT dalam pengembangan model pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Kekuatan (Strength) 1) Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki kawasan yang luas dengan potensi kelautan yang besar dan beragam keanekaragaman hayati, potensi budidaya perikanan pantai, laut dan pariwisata bahari, akan tetapi potensi ini baru sebagian kecil saja yang dimanfaatkan secara optimal. 2) Adanya regulasi serta kebijakan pemerintah terkait dengan pemberdayaan masyarakat yang perlu diinternalisasikan dalam kegiatan pengembangan, pelaksanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir secara terpadu dan konprehensif. 3) Potensi budaya yang terdapat dilingkungan masyarakat berkaitan langsung dengan pengelolaan dan pemanfaatan kawasan pesisir yang perlu dimaksimalkan dalam menunjang peningkatan kemandirian berusaha. 4) Bahwa masyarakat yang bermukim di daerah pesisir memiliki potensi yang dapat dikembangkan khususnya terhadap upaya-upaya strategis meningkatkan kualitas hidup mereka melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan kecakapan hidup berbasis nilai-nilai budaya lokal yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemandirian berusaha. 5) Bahwa semakin baik perencanaan dalam konteks pemberdayaan masyarakat nelayan yang ditindak lanjuti dengan kegiatan yang produktif dan bermanfaat pada akhirnya akan berdampak positif untuk kemandirian berusaha masyarakat sebagai wujud peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat belayan. 6) Bahwa masyarakat nelayan memiliki potensi dan kecenderungan yang tinggi dalam menerima perubahan terkait dengan pengembangan usahanya khususnya penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha. b. Kelemahan (Weaknees) 1) Program yang diperuntukan untuk masyarakat nelayan belum sepenuhnya berorientasi pada analisis kebutuhan dan rencana program yang strategis dikembangkan. 2) Penyelenggaraan program tidak diorganisir mengikuti prinsip pengelolaan sehingga baik proses dan hasil kegiatan belum maksimal sebagaimana yang diharapkan. 3) Pelaksanaan pelatihan tidak mengadakan tes kemampuan awal peserta sehingga terkesan kegiatan ini dilakukan tanpa adanya analisis mengenai kebutuhan belajar peserta. 4) Tujuan pelatihan tidak dirumuskan secara eksplisit yang diarahkan kepada pembentukan sikap kemandirian berusaha bagi peserta. 5) Materi-materi program pelatihan tidak dikembangkan secara terencana dan sistematis mengikuti prinsip-prinsip pelatihan. 6) Nara sumber dan fasilitator kegiatan tidak menyiapkan rencana pelatihan dalam bentuk tertulis baik modul atau bahan belajar yang diperlukan. 7) Nara sumber dan fasilitator kegiatan tidak menjelaskan kompetensi apa yang dicapai dalam setiap pertemuan sehingga aktivitas pelatihan kurang menggugah motivasi dan rasa ingin tahu peserta. 8) Aktivitas pelatihan berlangsung kurang kondusif karena pendekatan yang dilakukan tidak berbasis pembelajaran orang dewasa dan pendekatan partisipatif. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 82

9) Terbatasnya sarana kegiatan untuk praktek menyebabkan pengembangan kemampuan yang utuh dalam pelatihan tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan. 10) Pelaksanaan evaluasi tidak direncanakan secara matang terpadu dengan komponen lainnya sehingga tolok ukur kriteria efektivitas penilaian pelatihan menjadi tidak jelas. c. Peluang (Oppurtunity) 1) Adanya perhatian dan antusiasme masyarakat khususnya para peserta untuk mengikuti kegiatan pelatihan kecakapan hidup dalam meningkatkan kemandirian berusaha. 2) Materi pelatihan kecakapan hidup yang berkenaan dengan keterampilan vokasional yang terpilih adalah berorientasi pada keterampilan pengolahan hasil perikanan dan potensi lokal. Materi ini untuk pengembangannya sangat tersedia dilokasi penelitian. 3) Pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal masyarakat. Potensi nilai budaya lokal ini sangat baik dikembangkan sehingga berdampak terhadap peningkatan kehidupan nelayan dan keluarganya. 4) Perhatian dan dukungan pemerintah Desa dan Kecamatan sangat baik untuk penyelenggaraan pelatihan kecakapan hidup sehingga hal ini sangat memperlancar pelaksanaannya. 5) Tindak lanjut dari kegiatan pelatihan kecakapan hidup khususnya untuk menjalin kerjasama dengan pihak lain terbuka baik kerjasama dengan pemerintah melalui instansi yang terkait maupun swasta dalam konteks pengembangan kemandirian berusaha bagi masyarakat d. Ancaman (Threat) 1) Penyelenggaraan suatu program yang melibatkan masyarakat seperti halnya kegiatan pelatihan memerlukan biaya operasional. Sementara dari kebijakan yang diemban oleh instansi terkait dan operasional untuk kegiatan pelatihan dan pembinaan masyarakat terbatas, faktor ini merupakan suatu hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program pelatihan. Akan tetapi pengembangan program dapat dilakukan dengan tetap memprioritaskan kegiatan yang sama melalui instansi terkait atau bekerjasama dengan pihak swasta yang peduli tentang pengembangan masyarakat nelayan. 2) Kegiatan pelatihan seperti ini membutuhkan tenaga yang terampil sementara kondisi yang dihadapi keterbatasan tenaga yang memiliki kemampuan terkait dengan keterampilan yang dilatihkan. 3) Masih rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat serta sarana transportasi belum memadai berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan ini khususnya keikusertaan peserta secara aktif dalam setiap ivent pelatihan 4. Analisis Kebutuhan dalam Pengembangan Model Pelatihan Kecakapan Hidup Bagi Masyarakat (1) Analisis Kebutuhan Model Pelatihan Kecakapan Hidup a) Rancangan Model Konseptual Pelatihan Kecakapan Hidup Rancangan model konseptual merupakan kerangka model yang disusun kedalam model yang lebih operasional dalam pelaksanaan uji coba model. Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat ini dilaksanakan di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. Selanjutnya disain yang digunakan dalam pengembangan model pelatihan kecakapan hidup dalam penelitian ini mengikuti 7 (tujuh) tahapan pengembangan model yang difokuskan pada objek dan sasaran kegiatan. Ketujuh tahapan tersebut, yaitu; a. Fase kajian teori, landasan teori dan penyusunan disain b. Fase penemuan model di lapangan (praksis) c. Deskripsi sistem pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 83

d. Verifikasi model/validasi ahli, praktisi dan ujicoba terbatas, hasil validasi gagasan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup. e. Implementasi model (treatment) f. Penerapan gagasan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup. g. Hasil implementasi dan dampak pengembangan model pelatihan kecakapan hidup. Ketujuh tahapan di atas telah dideskripsikan pada bagian sebelumnya pada disain penelitian. Dari tahapan tersebut di atas, maka bagian ini merupakan tahapan yang ke empat, yaitu verifikasi model dan validasi ahli dan praktisi. Melalui kegiatan verifikasi dan validasi model hasil penelitian memiliki kualitas dan pertanggungjawaban ilmiahnya yang dapat diandalkan. Berdasarkan kondisi faktual, masalah, analisis kebutuhan belajar serta karakteristik sasaran target kegiatan ini, maka program pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang diharapkan dapat mening0katkan kemandirian berusaha masyarakat didesain menjadi suatu model konseptual yang dikembangkan. Model konseptual pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha masyarakat dirancang dan dikembangkan secara umum dengan program-program pelatihan yang lain menerapkan tiga langkah pokok dalam penyelenggaraannya yaitu : perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Mengacu pada tiga langkah dalam model konseptual yang dikembangkan maka dijelaskan komponen-komponen tersebut baik yang dilakukan pada kegiatan ujicoba maupun yang dikembangkan dalam penelitian ini. b) Komponen Model 1) Perencanaan Perencanaan atau program pendidikan pada suatu kegiatan pendidikan luar sekolah sifatnya sangat kompleks dan menyangkut banyak segi yang bersangkut paut satu sama lainnya. Sifat kompleks ini menunjukkan sangat perlunya tindakan-tindakan yang dikoordinasikan untuk mengatasi batas-batas-batas perencanaan maupun batas-batas personil yang dilibatkan sehingga program yang akan dikembangkan benar-benar terorganisir melalui perencanaan yang matang dan terpadu. Ditinjau dari kajian manajemen bahwa proses atau kegiatan penyusunan program pada suatu satuan organisasi adalah relevan dengan aktivitas perencanaan program. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menata atau mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan standar yang diharapkan. Dalam setiap penyusunan rencana atau program selalu terdapat tiga tingkatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam proses perencanaan dan penyusunan program. Ketiga kegiatan itu adalah (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, (3) identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas. Proses perencanaan dan penyusunan program merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang mengerjakannya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai yang diharapkan. Terkait dengan kegiatan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-budaya budaya lokal yang diharapkan dapat meningkatkan kemandirian berusaha bagi masyarakat sasaran target kegiatan ini maka disusun beberapa komponen menjadi substansi kegiatan perencanaan pengembangan model. Sistem perencanaan pelatihan kecakapan hidup disusun Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 84

dengan pendekatan partisipatif, dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur yaitu calon peserta, nara sumber atau fasilitator, penyelenggara kegiatan, dan pemerintah setempat. Unsur yang merupakan bagian dari kegiatan ini harus direncanakan diorganisir dan dikoordinasikan dengan baik sehingga dalam pelaksanaannya tercipta suatu sistem yang dibangun melalui penyelenggaraan program kecakapan hidup dan mendapat dukungan dari semua pihak yang pada gilirannya kegiatan ini menjadi bagian dari kegiatan masyarakat yang perlu disukseskan pelaksanaannya. Selanjutnya rancangan materi program pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha difokuskan pada keterampilan vokasional pengolahan hasil laut dan kawasan daerah yang terdiri tiga jenis keterampilan pembuatan pengolahan bakso ikan fortifikasi rumput laut, pembuatan Fish Nugget, dan Keterampilan pembuatan Stik jagung dan Kue Kolombengi. Ketiga jenis keterampilan vokasional ini dilatihkan dalam satu paket kegiatan atau dalam waktu yang bersamaan. Rancangan pengembangan program pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk kemandirian berusaha mengandung unsur-unsur yang dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Tujuan Pelatihan Secara umum tujuan kegiatan pelatihan kecakapan hidup untuk meningkatkan kemandirian berusaha adalah memberikan pengetahuan, keterampilan serta sikap positif masyarakat terhadap berbagai potensi yang terdapat dilingkungan yang perlu dioptimalkan pengelolaannya guna menunjang pengembangan usaha yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan serta kualitas hidup masyarakat. Secara khusus penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup bertujuan : (1) Agar masyarakat peserta pelatihan memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan program kecakapan hidup pada aspek personal, sosial, akademik dan vokasional (2) Agar masyarakat peserta pelatihan dapat termotivasi mengembangkan kreativitas dalam memecahkan permasalahan kecakapan hidup khususnya dengan memanfaatkan potensi dan nilai budaya lokal yang terdapat dilingkungannya untuk kemandirian berusaha. (3) Agar masyarakat peserta pelatihan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan potensi lokal yang tersedia melalui keterampilan vokasional pengolahan hasil laut dan kawasan daerah yang benilai ekonomis produktif. (4) Dengan dimikinya pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berbasis akademik dan vokasional pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alternatif mata pencaharian yang produktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat di lingkungannya.

(b) Kelompok Sasaran Adapun kelompok sasaran penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup ditetapkan berdasarkan kriteria antara lain sebagai berikut: (1) Masyarakat yang berdomisili di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai. (2) Usia peserta pelatihan berkisar antara 22 – 40 tahun. (3) Kualifikasi pendidikan peserta adalah Sekolah Dasar (SD) sederajat sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. (4) Bersedia mengikuti pelatihan kecakapan hidup dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan ini. (5) Bersedia mengikuti pelatihan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 85

(c) Nara Sumber/Fasilitator Kriteria dan kualifikasi Nara Sumber dan Fasilitator penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup adalah sebagai berikut: (1) Berusia 25 – 50 tahun (2) Berkualifikasi pendidikan minimal SMA sederajat (3) Bersedia menjadi Narasumber dan Fasilitator Pelatihan (4) Memiliki pengalaman, kemampuan dalam membelajarkan dan melatih. (5) Mampu menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan baik (6) Memiliki pengetahuan dan keterampilan vokasional sesuai dengan yang diprogramkan. (d) Kurikulum Kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi, materi, hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai panduan dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi dan tujuan yang diharapkan. Berkenaan dengan kompetensi dan tujuan yang diharapkan dalam penerapan model kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha maka hasil identifikasi kebutuhan terhadap sasaran kegiatan menunjukkan perlu penguatan terhadap 3 (tiga) aspek meliputi : (1) aspek personal, berupa ketidakmampuan sasaran (peserta pelatihan) dalam memecahkan masalah dan manyadari potensi yang dimilikinya; (2) aspek sosial, berupa keterbatasan peserta dalam informasi dan pengetahuan tentang cara pengolahan produk bernilai ekonomis berdasarkan potensi sumber daya terintegrasi dengan nilai budaya lokal yang ada di masyarakat; dan (3) aspek vokasional, berupa kebutuhan belajar sasaran (peserta pelatihan) untuk belajar menguasai cara pengelolaan kegiatan usaha yang baik dan efektif. Mengacu pada hasil identifikasi dan mempertimbangkan kondisi dan potensi yang ada, maka disusun materi kurikulum yang difokuskan pada pengembangan kecakapan personal, kecakapan sosial, dan kecakapan vokasional, serta kecakapan akademik menjadi dasar dari ketiga kecakapan dimaksud. Materi kecakapan hidup ini terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal meliputi aspek : Toleransi, Kepatuhan kepada pemimpin/pimpinan, Kerjasama, Kekerabatan, Rasa ingin tahu, Menghargai keberhasilan orang lain, Kerja keras, dan Saling membagi hasil. Pengintegrasian ini tidak saja dalam materi teori melainkan pula pada kegiatan praktek keterampilan berbasis potensi lokal. Berdasarkan paparan di atas, maka disusun kriteria isi kurikulum pendidikan kecakapan hidup sebagai berikut, (1) Jenis kecakapan hidup yang dikembangkan lebih menitikberatkan pada aspek kecakapan vokasional berbasis keterampilan fungsional dan lokal, (2) Mengupayakan hasil analisis kebutuhan sebagai masukan dalam pengembangan kurikulum, (3) Strategi pelatihan kecakapan hidup dengan berbagai jenis keterampilan vokasional difokuskan untuk menggali potensi dan integrasi nilai budaya lokal, dan (4) Faktor pengelolaan usaha mandiri sebagai fokus materi pelatihan dengan penekanan pada pengembangan kemandirian berusaha.

(e) Bahan Ajar Dalam suatu kegiatan pelatihan ketersediaan bahan ajar merupakan kebutuhan tidak saja bagi peserta sebagai gambaran atas kompetensi dan materi, tetapi juga bagi narasumber dan fasilitator sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan baik teori maupun praktek. Bahan ajar yang dikembangkan dalam kegiatan pelatihan kecakapan hidup dituangkan dalam bentuk diktat/handout yang memuat materi sebagai berikut: (1) Materi kecakapan hidup keterampilan vokasional pengolahan hasil laut berbasis potensi lokal (Keterampilan pengolahan produk Fish Nugget, Keterampilan pengolahan Bakso Ikan yang difortifikasi rumput laut, Stik jagung dan Kolombengi), (2) Materi kewirausahaan tentang kepemimpinan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 86

dan pengelolaan usaha, Manfaat dan keuntungan organisasi dan kelompok usaha, dan Administrasi usaha, serta (3) Materi nilai budaya lokal untuk pengembangan kemandirian berusaha. (f) Media Pelatihan Media adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi dalam suatu aktivitas termasuk pula kegiatan pelatihan. Penggunaan media akan berpengaruh terhadap proses pelatihan dan kualitas hasil yang dicapai. Adapun media yang digunakan dalam pelatihan seperti alat tulis menulis, materi diktat dan handout, serta alat bahan-bahan praktek. (g) Metode Pelatihan Komponen penting lainnya dalam kegiatan pelatihan adalah ketepatan dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan. Tidak setiap metode pembelajaran sesuai untuk digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Karena itu perlu memilih metode yang sesuai untuk setiap kompetensi dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam kegiatan pelatihan dengan menerapkan pendekatan andragogi dan partisipatoris, metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, kerja kelompok dan praktek. (h) Waktu dan Tempat Pelatihan Kegiatan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha ini dilaksanakan selama 6 (enam) hari yang dibagi dalam 2 (dua) tahap. Tahap pertama ujicoba dilaksanakan selama tiga hari tanggal 5 sampai dengan 7 Desember 2011, dan uji coba tahap kedua dilaksanakan selama tiga hari pula dari tanggal 28 sampai dengan 30 Desember 2011. Tempat pelaksanaan kegiatan berlokasi di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “YOTAMA” Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. (i) Evaluasi Evaluasi pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemampuan berusaha masyarakat dilakukan dengan: (a) evaluasi awal (pretest), (b) evaluasi proses pelatihan, dan (c) evaluasi akhir (pos-test). Kegiatan evaluasi ini difokuskan pada aspek kemampuan menguasai materi pelatihan dan kemampuan mempraktekkan keterampilan vokasional yang dilatihkan. 2) Pelaksanaan Sebagaimana telah diuraikan terdahulu bahwa target pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal adalah memberikan pengetahuan, keterampilan serta sikap positif masyarakat terhadap berbagai potensi yang terdapat dilingkungan yang perlu dioptimalkan pengelolaannya guna menunjang pengembangan usaha yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan serta kualitas hidup masyarakat. Untuk mewujudkan target tersebut maka berbagai komponen perlu diorganisir dan ditata dengan baik sehingga semua dapat fungsional untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Komponen-komponen yang perlu diorganisir, dikelola dan dikendalikan dalam dimensi pelaksanaan, meliputi ; (1) Materi-materi yang disajikan dalam Pelatihan Kecakapan Hidup (PKH), (2) Tenaga fasilitator dan narasumber teknis, (3) Media yang digunakan, (4) Waktu yang dimanfaatkan, (5) Tingkat partisipasi peserta, kehadiran dan keaktifan selama proses pelatihan, serta (5) Pendekatan yang digunakan dalam proses pelatihan. Dalam proses pelatihan tahapan dan pendekatan merupakan dua kegiatan yang penting dikelola sebaik mungkin agar keseluruhan program dapat terlaksana sesuai target. Proses pelatihan kecakapan hidup ini dibagi dalam dua tahapan, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran partisipatif. Pertama, pelaksanaan kegiatan atas dua tahap dilakukan dengan pertimbangan berdasarkan kemandirian yang menjadi tujuan akhir dari penelitian ini yaitu adanya kepemilikan pengetahuan, keterampilan, aspirasi, sikap kemandirian dalam bekerja dan berusaha. Kedua, pendekatan pelatihan partisipatif, dimaksudkan untuk mengetahui Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 87

efektivitas dan efisiensi program, yang dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran melibatkan secara aktif peserta pelatihan. Selanjutnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan pelatihan senantiasa dilakukan koordinasi, komunikasi secara kontinu terhadap berbagai komponen yang diperlukan sehingga kalaupun terhadap hambatan semuanya dapat dikendalikan agar tujuan pelatihan mencapai hasil yang optimal. Kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi dan pemantauan. Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan pertimbangan untuk menjamin agar kualitas proses dan hasil yang diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap proses pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat sehingga penyelenggaraannya dilandasi oleh rasa tanggung jawab dan mampu menjamin mutu program pelatihan berlangsung dengan baik. 3) Evaluasi Kegiatan evaluasi merupakan komponen untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran pada model pendidikan kecakapan hidup. Evaluasi memerlukan kriteria dan alat yang akan digunakan sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Evaluasi dalam pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat mengedepankan kualitas pelaksanan untuk mengetahui keberhasilan pencapaian program. Evaluasi tersebut dilakukan secara bersama-sama, baik evaluasi proses maupun hasil. Kegiatan evaluasi proses dilakukan terhadap warga belajar meliputi aspek kerjasama, motivasi belajar dan partisipasi warga belajar dalam proses pelatihan. Evaluasi untuk Narasumber dan Fasilitator dilakukan untuk mengetahui aspek penguasaan materi, penerapan metode pelatihan dan pembelajaran, pemanfaatan media dan bahan latihan, pendayagunaan sarana dan prasarana yang tersedia, serta bimbingan selama proses pelatihan. Selanjutnya kegiatan evaluasi akhir pelatihan dimaksudkan untuk mengetahui kompetensi dan penguasaan materi pelatihan oleh warga belajar atau sasaran kegiatan pelatihan ini. Evaluasi pasca pelatihan kecakapan hidup dilakukan dengan maksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kontribusi penerapan model pelatihan kecakapan dalam menguasai kecakapan vokasional dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Evaluasi ini disamping dilakukan oleh peneliti melibatkan juga unsur lain yaitu narasumber dan fasilitator serta para tokoh masyarakat di lokasi penelitian guna melaksanakan pemantauan dan monitoring terhadap kemandirian warga sasaran kegiatan setelah mengikuti pelatihan. c) Asumsi Model Model pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan dalam penelitian ini didasari oleh beberapa asumsi sebagai berikut : (1) Dimilikinya pengetahuan dan keterampilan produktif bagi peserta yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja dan berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup. (2) Terjadinya perubahan sikap mental kearah jiwa wirausaha sebagai dasar dalam bekerja dan berusaha sesuai bidang yang diminati. (3) Kegiatan pelatihan ini dapat mengubah persepsi peserta yang sebelumnya apatis terhadap perubahan dan pengembangan usaha mandiri, menjadi optimis. (4) Meningkatnya keterampilan peserta dan mampu bekerja baik secara individu maupun berkelompok. (5) Terintegrasinya nilai-nilai budaya lokal dalam pembelajaran kecakapan hidup dapat memotivasi para peserta untuk menghargai dan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal yang dapat memberi kontribusi bagi meningkatnya keterampilan yang berbasis budaya lokal untuk kemandirian berusaha masyarakat. (6) Peserta dapat mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha, mengembangkan usaha produktif yang terdapat dilingkungannya, serta memasarkan hasil usahanya dengan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 88

(2) Validasi dan Revisi Model Konseptual Sebagai sebuah model penelitian pengembangan maka model ini perlu dilakukan validasi, verifikasi sehingga dapat diketahui efektivitas dari segi substansi, mekanisme, dan aspek teknisnya. 1) Instrumen Validasi Instrumen validasi model konseptual menggunakan instrumen yang disusun dan dikembangkan dengan mengacu pada dimensi penyelenggaraan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan kajian teori, hasil penelitian yang relevan dan kondisi empirik sasaran penyelenggaraan kegiatan. Instrumen ini divalidasi oleh beberapa unsur baik dari Perguruan Tinggi maupun dari praktisi meliputi : para pakar bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pelatihan dan Teknologi Pembelajaran, Praktisi yang berpengalaman bidang pelatihan keterampilan, serta warga masyarakat sasaran. 2) Tujuan Validasi Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan validasi ini adalah untuk menemukan suatu konsep yang valid, handal dan kredibel. Selain konsep model, materi latihan juga divalidasi, dengan maksud memperoleh model dan materi latihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan hasil pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha sebagai dasar dalam mengembangkan usaha dan keterampilan produktif lainnya yang terdapat dilingkungan masyarakat. 3) Aspek yang Divalidasi/Verifikasi Adapun aspek yang divalidasi dalam format model pelatihan ini meliputi sruktur model konseptual dan relevansinya dengan objek dan subjek penelitian. Fokus utama menyangkut (1) kegiatan pembelajaran dan pelatihan, (2) pengembangan kemandirian berusaha. Kedua hal ini menjadi aspek penting dalam kegiatan validasi bahkan dalam kegiatan ini pula diminta masukan dalam hubungannya dengan outcome kegiatan pelatihan kecakapan hidup. 4) Teknik dan Hasil Validasi Teknik yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi (1) melakukan diskusi intensif dengan para ahli dan praktisi terhadap model konseptual, (2) menelaah teori-teori dan hasilhasil penelitian yang relevan pelatihan kecakapan hidup, (3) observasi terhadap kondisi sosial empirik lokasi penelitian, (4) serta berdasarkan pengamalan peneliti selama berinteraksi dengan warga masyarakat sasaran kegiatan dan kondisi objektif. Data validasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan maksud untuk memperoleh masukan sebagai dasar pengambilan simpulan guna perbaikan model konseptual yang akan diujicobakan. Adapun hasil validasi model konseptual yang telah dilakukan oleh para ahli dan praktisi diuraikan sebagai berikut: 1. Pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilainilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha bagi masyarakat di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, dinyatakan memadai dan sudah dapat diujicobakan di lapangan. 2. Dari hasil validasi terhadap model konseptual terdapat beberapa aspek yang perlu disempurnakan, yaitu: (1) Model ini dari segi substasinya perlu disesuaikan dengan kondisi empirik agar model lebih baik, tepat dan siap untuk diterapkan. (2) Ruang lingkup dan prosedur model yang dikembangkan ini lebih diorientasikan pada implementasi praktis sasaran sehingga tujuan yang hendak dicapai dalam pengembangan model ini benar-benar terwujud. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 89

(3) Arah program pelatihan kecakapan hidup lebih difokuskan kepada upaya meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat sehingga dampak program ini memiliki nilai tambah sebagai kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat pesisir. (4) Materi pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal lebih banyak ditekankan kepada keterampilan vokasional sehingga manfaatnya dapat memberi pengaruh positif terhadap peningkatan kemandirian berusaha masyarakat. (5) Visualisasi model dalam bentuk gambar disesuaikan dengan aspek-aspek komponen utama model pelatihan kecakapan hidup supaya lebih terarah dan spesifik. (6) Penggunaan bahasa dan istilah yang tercantum dalam model ini perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan pengguna sehingga lebih mudah dipahami dan diimplementasikan dengan baik.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 90

5. Implementasi Model Pelatihan Kecakapan Hidup Bagi Masyarakat Setelah melalui proses validasi terhadap rancangan model maka sebagai pengembangannya perlu diimplementasikan kepada objek dan sasaran yaitu masyarakat yang ditetapkan sebagai peserta kegiatan. Secara sistematis, langkah dalam operasional pengembangannya meliputi: perencanaan, pelaksanaan dan pengamatan, serta evaluasi. Rancangan model konseptual diimplementasikan atau diujicobakan dalam dua tahap, yaitu uji coba tahap pertama dan ujicoba tahap kedua. Pelaksanaan kegiatan ujicoba dalam dua tahap ini dimaksudkan agar hasil yang dilatihkan dapat memenuhi kebutuhan peserta, mengenai kekurangan dan kelemahan yang ditemua pada saat diadakannya ujicoba tahap pertama, dapat disempurnakan dan lebij dimantapkan lagi pada saat ujicoba tahap kedua. Kegiatan yang dilakukan dalam ujicoba dideskripsikan sebagai berikut: 1. Uji Coba Tahap Pertama a. Perencanaan Adapun kegiatan yang dilakukan dalam aspek perencanaan ini berkenaan dengan berbagai hal yang terkait dengan persiapan, identifikasi kebutuhan, mengkoordinasikan peserta fasilitator, bahan belajar sarana dan prasarana serta waktu. Pertama, identifikasi kebutuhan pelatihan. Kegiatan identifikasi ini dilakukan dengan mengadakan kunjungan lapangan untuk memperoleh kebutuhan belajar keterampilan yang diperlukan melalui pendekatan dengan ketua kelompok nelayan, Pemerintah Desa dan Kecamatan. Kegiatan lainnya menghubungi fasilitator yang menjadi pelatih dan instansi yang terkait untuk mendapatkan data dan informasi yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan. Melakukan dialog dengan beberapa calon warga sasaran baik secara perorangan maupun secara simultan untuk beberapa orang. Kedua, penentuan materi pelatihan. Materi pelatihan ini selanjutnya menjadi bahan instrumen maupun kegiatan yang dilakukan. Berdasarkan identifikasi kebutuhan dan mempertimbangkan berbagai hal yang terkait dengan kondisi empirik dan potensi lokal maka materi pelatihan meliputi materi non teknis dan teknis seperti : (a) Materi identifikasi peluang usaha dan sumber-sumber yang dikembangkan, (b) Materi kewirausahaan tentang kepemimpinan dan pengelolaan usaha, Manfaat dan keuntungan organisasi dan kelompok usaha, dan Administrasi usaha, (c) Materi nilai budaya lokal untuk pengembangan kemandirian berusaha, (d) Materi kecakapan hidup keterampilan vokasional pengolahan hasil laut berbasis potensi lokal (Keterampilan pengolahan produk Fish Nugget, Keterampilan pengolahan Bakso Ikan yang difortifikasi rumput laut, Stik jagung dan Kolombengi), serta praktek keterampilan. Ketiga, melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa dan Kecamatan, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjalin kerja sama guna mendukung berbagai hal baik teknis maupun non teknis penyelenggaraan pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha masyarakat sehingga pelaksanaan kegiatan berjalan lancar. Keempat, penyiapan bahan belajar pelatihan. Materi pelatihan/ pembelajaran disusun oleh para fasilitator atau nara sumber dalam bentuk makalah dan hand out kemudian digandakan untuk dibagikan kepada peserta pelatihan. Mengenai sarana dan prasarana senantiasa dikoordinasikan dengan penyelenggara dan Ketua Yayasan YOTAMA sebagai lokasi pelaksanaan pelatihan. Bahan materi praktek penyiapannya disamping disediakan oleh fasilitator sebagian oleh penyelenggara bahkan oleh peserta. Kelima, penetapan nama calon peserta pelatihan kecakapan hidup. Peserta adalah masyarakat yang berdomisili di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai, berjumlah 30 orang terdiri dari 15 laki-laki dan 15 orang perempuan Calon peserta ini menyatakan kesediaannya mengikuti Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 91

pelatihan kecakapan hidup dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan ini, serta bersedia mengikuti pelatihan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. Keenam, penetapan waktu dan tempat pelatihan . Sebelum kegiatan pelatihan diselenggarakan terlebih dahulu peneliti mengadakan pertemuan dengan fasilitator, dan perwakilan calon peserta. Dari pertemuan tersebut disepakati program dan jadwal kegiatan pembelajaran untuk uji coba model tahap I, sekaligus menyepakati jenis-jenis keterampilan yang akan dipelajari dan menentukan tempat penyelenggaraan pelatihan. Kegiatan pelatihan tahap pertama dilaksanakan selama tiga hari tanggal 5 sampai dengan 7 Desember 2011 Ketujuh, persiapan peralatan pelatihan kecakapan hidup media/bahan pembelajaran yang dibutuhkan, selain disiapkan sendiri oleh peneliti, juga disiapkan oleh fasilitator, penyelenggara, bahkan anggota masyarakat terdekat dengan lokasi penelitian. b. Pelaksanaan Sebelum pelaksanaan pelatihan tahap pertama terlebih dahulu dilakukan tes awal (pre test) kepada sebagai subyek penelitian. Fokus tes yang dilakukan secara tertulis berorientasi pada dimensi pelatihan baik yang bersifat umum terkait dengan urgensi, manfaat dan dampak kegiatan, integrasi nilai-nilai budaya lokal maupun khusus yang mengacu pada pengembangan keterampilan pengolahan produk Fish Nugget, Keterampilan pengolahan Bakso Ikan yang difortifikasi rumput laut, Stik jagung dan Kolombengi. Setelah peserta diberikan perlakuan dengan model program pelatihan kecakapan hidup, selanjutnya dilakukan tes akhir (post test). Materi pre-test diberikan secara tertulis untuk kedua variabel yaitu pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dan kemandirian berusaha.Teknik penilaiannya menggunakan pilihak berganda (multiple choice) dengan empat pilihan. Untuk instrumen kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal sebanyak 60 item dengan skor tertinggi 240 dan skor terendah 60. Untuk instrumen kemandirian berusaha sebanyak 56 item diberi skor tertinggi 224 dan skor terendah 56. Untuk melihat tingkat perolehan nilai dari masing-masing peserta, adalah dengan melihat jumlah jawaban yang benar dan dibuat persentase (%). Data mengenai kemandirian berusaha sebagai sasaran dari kegiatan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal diperoleh pada kegiatan pre-test tersebut selanjutnya disajikan dalam tabel yang dapat dilihat sebagai berikut Tabel 4.2. Hasil Pretest Sebelum Implementasi Tahap Pertama N Usia Jenis Pendi Sk % o. Kelamin dikan or 1. 30 L SMA 17 7 4 7 2. 28 L SMA 17 7 5 8 3. 36 L SD 16 7 2 2 4. 30 L SD 15 6 0 6 5. 22 L SMA 18 8 7 3 6. 23 P SMP 17 7 6 8 7. 40 P SD 17 7 0 5 Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 92

8. 9. 1 0. 1 1. 1 2. 1 3. 1 4. 1 5. 1 6. 1 7. 1 8. 1 9. 2 0. 2 1. 2 2. 2 3. 2 4. 2 5. 2 6. 2 7. 2 8. 2 9. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I 0. 3

38 37 40 26 40 36 36 26 27 27 38 31 22 25 30 40 25 22 22 24 24 40 32

P P P P P P P P P P P P L L L L L L P L L L L

SMA 4 SD 3 SD 0 SD 8 SMA 3 SD 7 SD 9 SMA 6 SMP 4 SMK 4 SMP 9 SMP 5 SD 5 SMA 1 SD 1 SD 3 SMA 1 SD 7 SMP 1 SMP 1 SMK 0 SMA 3 SD 5

18 2 18 1 17 5 15 0 18 1 18 3 17 9 15 9 18 2 17 7 14 6 17 8 17 8 18 0 18 0 18 1 18 0 17 9 16 1 17 6 20 9 18 1 18 2

8 8 7 7 8 8 7 6 8 7 6 7 7 8 8 8 8 7 7 7 8 8 8 Page 93

Jumlah 54 Rerata

52 329 17 5,133

2 7 7.63

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Dari tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai maksimum pre-test adalah 200 dan nilai minimum 149. Total skor 5254 rata-rata 175.133 sedangkan total pesentase sejumlah 2329 dengan rata-rata 77.63. Dari jumlah 30 orang peserta yang mengisi instrumen nilai yang diperoleh seluruhnya di atas rata-rata skor bahkan bisa mencapai skor 149. Selanjutnya pelaksanaan kegiatan ini dilakukan selama tiga hari dengan materi teori dan praktek yang diatur dalam jadwal meliputi (1) Pengembangan usaha mandiri kewurausahaan, (2) Manfaat dan keuntungan organisasi wirausaha masyarakat, (3) Administrasi kewirausahaan, (4) Nilai-budaya lokal untuk pengembangan masyarakat nelayan, (5) Pembuatan bakso ikan fortivikasi rumput laut, (6) Pembuatan produk fish nugget, (7) Pembuatan kue (makanan ringan) stik jagung dan kue kolombengi. Untuk memperlancar kegiatan maka berbagai aspek yang terkait dengan penyelenggaraan perlu diorganisir dengan baik sehingga tujuan yang diharapkan dapat dicapai dengan baik pula. Aspek yang perlu mendapat perhatikan dalam dimesi pelaksanaan ini meliputi; (1) Materi-materi yang disajikan dalam Pelatihan Kecakapan Hidup (PKH), (2) Tenaga fasilitator dan narasumber teknis, (3) Media yang digunakan, (4) Waktu yang dimanfaatkan, (5) Tingkat partisipasi peserta, kehadiran dan keaktifan selama proses pelatihan, serta (5) Pendekatan yang digunakan dalam proses pelatihan. c. Observasi Observasi dilakukan selama kegiatan pelatihan dilaksanakan. Observasi ini bertujuan untuk mengamati keaktifan dan partisipasi peserta terhadap kegiatan pelatihan. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata peserta memiliki semangat dan motivasi yang tinggi dalam mengikuti setiap materi yang disajikan oleh fasilitator. Hanya saja pada kegiatan praktek belum seluruhnya peserta dapat mempraktekkan keterampilan, hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dan fasilitas bahan keterampilan yang tersedia. Diakhir kegiatan pelatihan beberapa orang peserta menyatakan cukup puas dengan pelatihan ini dan semakin termotivasi untuk mengembangkan keterampilan yang produktif untuk meningkatkan kemandirian berusaha d. Evaluasi Evaluasi kegiatan pelatihan tahap pertama tidak dilakukan secara tertulis sebagaimana pada awal sebelum pelatihan, akan tetapi dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil evaluasi menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang pentingnya pelatihan kecakapan hidup bagi kemandirian berusaha hal ini sebagaimana terlihat dari adanya kerjasama dalam kegiatan, adanya motivasi yang tinggi peserta dalam setiap sesi kegiatan, saling membelajarkan di antara sesama peserta melalui komunikasi yang baik. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa saran perbaikan berdasarkan hasil dialog antara peneliti dengan peserta dan fasilitator. Beberapa saran sebagai perbaikan antara lain (1) perlunya waktu yang cukup untuk kegiatan pelatihan khususnya praktek keterampilan, (2) keterlibatan langsung atau praktek yang agak lama agar peserta menjadi lebih terampil, (3) kegiatan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan diprogramkan lagi secara terprogram dan kontinu, (4) setelah pelatihan perlu diadakan pembinaan dan pendampingan, sehingga keterampilan yang diperoleh ini dapat dikembangkan menjadi suatu usaha yang produktif untuk kemandirian berusaha. Page 94

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi selama ujicoba tahap pertama, dipandang perlu adanya perubahan dalam rangka perencanaan dan ujicoba tahap berikutnya. 2. Uji coba Tahap Kedua a. Perencanaan Seperti kegiatan yang dilakukan pada tahap uji coba tahap I, perencanaan kegiatan untuk pelaksanaan uji coba model pada tahap II hampir sama dengan tahap pertama. Hanya saja pada tahap II langkah-langkahnya yang ditempuh sedikit lebih praktis, yaitu: Pertama, memeriksa hasil uji coba tahap I dan melakukan pertemuan dengan fasilitator yang terlibat dalam kegiatan untuk merevisi hal-hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan uji coba tahap II. Kedua, mengadakan pertemuan dengan peserta untuk menentukan dan menyepakati hal-hal dari jenis keterampilan yang masih dianggap kurang dan perlu diperdalam. Uji coba tahap II dilaksanakan pada minggu ke empat bulan Desember 2011 berlangsung selama tiga hari yang diikuti oleh 30 orang peserta. Ketiga, peneliti kembali menyiapkan berbagai keperluan kegiatan pelatihan bersama peserta, fasilitator, dan para penyelenggara kegiatan ini. Berbagai keperluan tersebut antara lain; tempat, kurikulum dan bahan belajar, dan peralatan/bahan-bahan yang diperlukan. b. Pelaksanaan Pelaksanaan uji coba tahap kedua tanpa tes awal (pre-test), karena pesertanya yang masih sama maka tetap menggunakan atau mengambil hasil pre test pada tahap I. Penyelenggaraan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dimaksudkan agar peserta atau warga masyarakat mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan fungsional produktf yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemandirian beruusaha masyarakat. Penerapan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilainilai budaya lokal dimaksudkan agar : (1) peserta pelatihan memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan program kecakapan hidup pada aspek personal, sosial, akademik dan vokasional, (2) peserta pelatihan dapat termotivasi mengembangkan kreativitas dalam memecahkan permasalahan kecakapan hidup khususnya dengan memanfaatkan potensi dan nilai budaya lokal yang terdapat dilingkungannya untuk kemandirian berusaha. (3) peserta pelatihan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan potensi lokal yang tersedia melalui keterampilan vokasional pengolahan hasil laut dan kawasan daerah yang benilai ekonomis produktif, (4) dengan dimilikinya pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berbasis akademik dan vokasional pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alternatif mata pencaharian yang produktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dilingkungannya. Kaitannya dengan proses pemberdayaan yang diharapkan terjadi dalam kegiatan pelatihan kecakapan hidup maka pada ujicoba tahap kedua ini lebih banyak dilakukan untuk praktek dan pendalaman. Secara tutorial, kepada peserra diberikan pemantapan kembali mengenai materi pelatihan tentang: pengelolaan pengelolaan usaha, administrasi usaha pemodalan, dan pemasaran, serta pentingnya nilai-nilai budaya lokal dalm membangun kemandirian berusaha. Sedangkan materi yang perlu diperdalam adalah; seperti pada kegiatan teknis atau praktek yang dirasa waktunya masih kurang, serta materi pembinaan, /pendampingan dan kemitraan yang juga sangat diperlukan peserta terutama dalam mengembangkan usahaya. c. Observasi Kegiatan observasi sama dengan pada saat dilakukannya ujicoba tahap pertama. Dalam ujicoba tahap kedua ini peran fasilitator mulai dikurangi dan lebih banyak peserta yang berperan. Fasilitator juga tidak banyak memberikan arahan tetapi lebih banyak memfasilitasi peserta terhadap berbagai kegiatan baik yang menyangkut teori maupun praktek keterampilan yang dilatihkan. Dalam suasana praktek, meskipun waktunya cukup singkat akan tetapi banyak peserta Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 95

yang merasa puas pengetahuan dan ilmu mereka bertanbah sehingga mereka semakin termotivasi dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya. Dapat dikemukakan pula bahwa dengan adanya kegiatan pelatihan kecakapan hidup ini peserta merasa senang karena bagi mereka pelatihan seperti ini sangat jarang dilakukan apalagi pelatihan yang dilaksanakan ini terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang merupakan potensi yang sangat baik dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya untuk peningkatan kemandirian berusaha, d. Evaluasi Kegiatan evaluasi pada ujicoba tahap kedua ini selain dilakukan secara kualitatif atau deskriptif melalui pengamatan dan wawancara, juga dilakukan secara kuantitatif, yaitu kepada peserta diberikan pengujian berupa post-test secara tertulis. Data hasil tes secara kualitatif menunjukkan bahwa hasil pelatihan dengan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang diaplikasikan dalam kegiatan tatap muka dengan melibatkan peserta secara aktif ternyata mampu meningkatkan kemampuan, sikap dan keterampilannya yang sangat diperlukan dalam meningkatkan kemandirian berusaha. Kondisi ini terlihat secara deskriptif seperti terjadinya peningkatan pemahaman dan motivasi peserta untuk mengembangkan suatu usaha, dalam arti bahwa terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai subjek bagi pengembangan kemandirian usaha. Hasil observasi dan wawancara juga menunjukkan semakin berkembangnya semangat kemandirian belajar peserta melalui pendekatan belajar antar sesama dan belajar dengan memanfaatkan potensi yang terdapat dilingkungannya. Dari hasil post-test, setelah dibandingkan dengan hasil pre-test menunjukkan adanya peningkatan. Dari hasil kegiatan pelatihan ternyata mampu memberikan peningkatan pengetahuan, kemampuan maupun sikap pada diri peserta. Untuk melihat perbandingan persentase nilai yang telah dicapai peserta selama mengikuti pelatihan dapat di lihat dalam tabel 4.3, sebagai berikut : Tabel 4.3 Perbandingan Hasil Pre-test dan Post-test N o 1 . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I . 170 176 75 194 6 187 78 192 5 8 24 1 1 Page 96 150 83 196 7 8 16 7 162 66 194 6 8 9 175 72 197 8 8 44 0 4 174 78 196 7 8 35 6 2 1 X 77 200 9 8 21 % X 8 26 2 9 1 % Pre-test Post-test Peningkatan* ) X %

8 . 9 . 1 0. 1 1. 1 2. 1 3. 1 4. 1 5. 1 6. 1 7. 1 8. 1 9. 2 0. 2 1. 2 2. 2 3. 2 4. 2 5. 2 6. 2 7. 2 8. 2 9. 3 0. 183 Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I 185 200 171 161 177 181 183 181 181 175 175 149 174 184 156 179 187 183 158 170 183 184

82 194 81 193 75 193 70 194 81 200 83 203 79 197 69 188 82 197 77 191 66 189 78 192 78 199 80 195 80 192 81 202 80 198 79 190 71 199 76 190 89 211 81 196 82 200 9 7 4 4 8 4 8 0 5 7 8 5 4 4 8 3 8 0 9 6 6 6 6

8 8 8 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 8 8 9 8 8 8 8 9 8 8

10 10 23 1 36 6 17 16 18 32 4 13 17 40 8 17 24 0 14 11 19 17 13 38 7 19 11 13 15

4 5 1 1 8 7 9 1 6 7 1 7 1 7 5 9 8 5 1 8 5 6 7 Page 97

J umlah R erata

525 4 175, 133 29

23 77. 63 5872 195, 733 607

2 8 6.90 0

618 78 20.6 27

2 9.

Data pada tabel 4.3 ternyata skor tertinggi post-test mencapai 203 dan terendah 188, dibandingkan skor pada pre-test yang tertinggi 200 dan terendah 149. Deskripsi data pada tabel ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata antara pre-test dan post-test sebesar 20.60 poin atau rata-rata 9.27 %. Dengan demikian secara keseluruhan subjek, telah terjadi peningkatan pengetahuan keterampilan dan sikap subjek terhadap kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk kemandirian berusaha. 6. Deskripsi Uji Efektivitas Model Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap subjek penelitian sebanyak 30 orang yang telah menerima pre-test dan pos-test, maka diadakan pengolahan data dengan menggunakan perhitungan statistik untuk mengetahui efektivitas model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir dicari dengan menggunakan persamaan uji t. X1 − X 2 t= 2 2  s  s  s1 s2    + − 2r  1  2  n1 n2  n1   n 2     Keterangan: X2 : Rata-rata sampel setelah perlakuan X1 : Rata-rata sampel sebelum perlakuan s : simpangan baku r : korelasi antar dua sampel Untuk mendapatkan nilai t, dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Perumusan Hipotesis Hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H0 : tidak terdapat perbedaan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebelum dan sesudah mendapat pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal. H1 : terdapat perbedaan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebelum dan sesudah mendapat pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal.

b. Perumusan Hipotesis Statistik H0 H1 : µ1 ≤ µ2 Kecakapan : µ1 > µ2 Tabel 4.4. Skor Kemandirian Berusaha Sebelum dan Sesudah Pelatihan Hidup Terintegrasi Dengan Nilai-Nilai Budaya Lokal No. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Kemandirian Berusaha Page 98

Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Jumlah Rerata Varians Standar Dev. Korelasi

Sebelum Perlakuan (X1) 174 175 162 150 187 176 170 184 183 170 158 183 187 179 156 184 174 149 175 175 181 181 183 181 177 161 171 200 183 185 5254 175,133 135,982 11,661 0,571

Setelah Perlakuan (X2) 200 196 197 194 196 192 194 194 193 193 194 200 203 197 188 197 191 189 192 199 195 192 202 198 190 199 190 211 196 200 5872 195,733 23,237 4,820

Pengolahan data dalam tabel di atas menggunakan bantuan program excell. c. Perhitungan t Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam persaaan t, maka diperoleh hasil sebagai berikut. Page 99

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

t=

X1 − X 2
2 2  s s1 s2  + − 2r  1 n1 n2  n1 

t=

 s 2       n 2    175,133 − 195,733

135,982   23,237  135,982 23,237 + − 2(0,571)    30 30  30   30 

t = 1,696 d. Pengujian Hipotesis Kerja Harga t hasil perhitungan ini atau thitung = 1,696 ini selanjutnya dibandingkan dengan harga ttabel dengan dk = n1+n2-2 = 60-2 = 58. Harga t pada taraf kesalahan 0,05 = 1,671 dan pada taraf kesalahan 0,01 = 2,390. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa thitung =1,696 > ttabel = 1,671 pada taraf kesalahan 0,05 dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak. Artinya terdapat perbedaan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebelum dan sesudah mendapat pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal. Perbedaan ini terlihat pada nilai rata-rata skor kemandirian sebelum perlakuan sebesar 175,133 dan rata-rata skor kemandirian setelah perlakuan sebesar 195,733. Dengan demikian kemandirian berusaha masyarakat pesisir setelah diberikan perlakuan lebih besar dari kemandirian mereka sebelum diberikan perlakuan. Perlakuan dapat meningkatkan skor rata-rata kemadirian berusaha masyarakat pesisir dari 175,133 menjadi 195,733. Sehingga range peningkatannya sebesar 20,600. Peningkatan ini merupakan salah satu indikasi bahwa pemberian perlakuan efektif meningkatkan kemadirian berusaha masyarakat pesisir. Peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebagai dampak dari pemberian model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal. Model pelatihan ini mengandung empat indikator yaitu; (1) keterampilan personal/kepribadian, (2) keterampilan sosial, (3) keterampilan akademik, dan (4) keterampilan vokasional. Keempat indikator ini memberikan pengaruh yang teramati dalam bentuk peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Skor dari empat indikator pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal, sebagaimana dalam tabel berikut ini. Tabel 4.5 Data Skor Empat Indikator Pelatihan Kecakapan Hidup Terintegrasi NilaiNilai Budaya Lokal dan Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir Skor Empat Indikator Pelatihan Kecakapan Hidup Terintegrasi dengan NilaiNo. Nilai Budaya Lokal Y Responden (X) (X1) (X2) (X3) (X4) 1 55 55 56 53 200 2 55 59 58 59 196 3 52 53 52 55 197 4 54 55 53 53 194 5 51 54 53 51 196 6 53 52 54 53 192 7 55 57 59 56 194 Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 100

No. Responden 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Jumla h Rerata Varia ns Stand ar Deviasi

Skor Empat Indikator Pelatihan Kecakapan Hidup Terintegrasi dengan NilaiNilai Budaya Lokal (X) (X1) (X2) (X3) (X4) 56 53 55 54 60 59 57 59 52 53 55 53 54 52 53 53 52 52 54 55 59 57 57 56 54 53 56 53 53 54 53 56 54 56 57 57 56 55 55 55 50 52 53 54 51 56 52 53 53 59 58 53 53 55 53 54 54 53 57 56 54 57 56 59 50 53 50 53 57 56 57 54 53 58 54 54 50 57 53 50 57 59 59 57 51 52 56 57 54 53 57 54 1612 53,7 3 6,20 2 2,49 1649 54,9 7 5,75 7 2,39 9 1652 55,0 7 5,23 7 2,28 8 1639 54,6 3 4,93 2,22

Y

194 193 193 194 200 203 197 188 197 191 189 192 199 195 192 202 198 190 199 190 211 196 200 5872 195, 7333 23,2 3678 4,82 0455

Keterangan: (X1) : keterampilan personal/kepribadian, (X2) : keterampilan sosial, (X3) : keterampilan akademik, (X4) : keterampilan vokasional, (Y) : kemandirian berusaha masyarakat posisir Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 101

Dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows, diperoleh besar pengaruh langsung dari masing-masing indikator terhadap kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Hasil perhitungan SPSS sebagaimana berikut ini. Tabel 4.6.Output Hasil Pengolahan Korelasi Keterampilan Personal/ Kepribadian, Keterampilan Sosial, Keterampilan Akademik, dan Keterampilan Vokasional Terintegrasi dengan Nilai-Nilai Budaya Lokal Terhadap Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir Kema ndirian Ketera Ketera Ketera Ketera Berusaha mpilan mpilan mpilan mpilan Masyarakat Personal Sosial Akademik Vokasional Pesisir ** ** ** Ketera Pearso 1 .477 .651 .518 .255 mpilan n Personal Correlation Sig. .008 .000 .003 .173 (2-tailed) N 30 30 30 30 30 ** ** Ketera Pearso .477 1 .509 .360 .318 mpilan Sosial n Correlation Sig. .008 .004 .051 .087 (2-tailed) N 30 30 30 30 30 ** ** ** Ketera Pearso .651 .509 1 .541 .371* mpilan n Akademik Correlation Sig. .000 .004 .002 .044 (2-tailed) N 30 30 30 30 30 ** ** Ketera Pearso .518 .360 .541 1 .268 mpilan n Vokasional Correlation Sig. .003 .051 .002 .153 (2-tailed) N 30 30 30 30 30 * Keman Pearso .255 .318 .371 .268 1 dirian n Berusaha Correlation Masyarakat Sig. .173 .087 .044 .153 Pesisir (2-tailed) N 30 30 30 30 30 Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 102

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Berdasarkan hasil perhitungan di atas dan beberapa perhitungan lainnya sebagaimana output SPSS pada lampiran 11 maka hasil perhitungan dapat dirangkum dalam tebel berikut. Tabel 4..7. Rangkuman Hasil Pengujian Keterampilan Personal, Sosial, Akademik, Vokasional dan Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir Keef ttabel N Pengaruh th Kontr α α isien o Variabel ibusi itung =0,10 =0,05 (r) 1 Keterampilan 0,25 1, 1, 1, 6,503 Personal terhadap 5 397 311 699 Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir 2 Keterampilan 0,31 1, 1, 1, 10,11 Sosial terhadap 8 776 311 699 2 Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir 3 Keterampilan 0,37 2, 1, 1, 13,76 Akademik terhadap 1 111 311 699 4 Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir 4 Keterampilan 0,26 1, 1, 1, 7,182 Vokasional terhadap 8 470 311 699 Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir 5 Total: Keterampilan Personal, Sosial, Akademik, dan Vokasional terhadap Kemandirian Berusaha Masyarakat Pesisir 0,40 6 333 5, 311 1, 699 1, 16,48 4

Memperhatikan hasil perhitungan pada tabel di atas terlihat bahwa secara berurutan (dari yang besar ke yang kecil) indikator yang memberikan kontribusi terhadap efektifitas kemandirian berusaha adalah; (1) keterampilan akademik sebesar13,764%, (2) keterampilan sosial sebesar 10,112%, (3) keterampilan vokasional sebesar 7,182%, dan (4) keterampilan personal sebesar 6,503%. Secara bersama-sama kontribusi keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional memberi kontribusi terhadap kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebesar 16,484%. a. Model yang Direkomendasikan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 103

1. Komponen Model Komponen model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk peningkatan kemandirian berusaha setelah melalui revisi dan penyempurnaan, selanjutnya dijadikan sebagai konsep model akhir atau disebut model empirik. a) Perencanaan

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Dalam setiap penyusunan rencana atau program selalu terdapat tiga tingkatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam proses perencanaan dan penyusunan program. Ketiga kegiatan itu adalah (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, (3) identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas. Terkait dengan kegiatan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-budaya budaya lokal yang diharapkan dapat meningkatkan kemandirian berusaha bagi masyarakat sasaran target kegiatan ini maka disusun beberapa komponen menjadi substansi kegiatan perencanaan pengembangan model. Sistem perencanaan pelatihan kecakapan hidup disusun dengan pendekatan partisipatif, dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur yaitu calon peserta, nara sumber atau fasilitator, penyelenggara kegiatan, dan pemerintah setempat. Unsur yang merupakan bagian dari kegiatan ini harus direncanakan diorganisir dan dikoordinasikan dengan baik sehingga dalam pelaksanaannya tercipta suatu sistem yang dibangun melalui penyelenggaraan program kecakapan hidup dan mendapat dukungan dari semua pihak yang pada gilirannya kegiatan ini menjadi bagian dari kegiatan masyarakat yang perlu disukseskan pelaksanaannya. Selanjutnya rancangan materi program pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha difokuskan pada keterampilan vokasional pengolahan hasil laut dan kawasan daerah yang terdiri tiga jenis keterampilan pembuatan pengolahan bakso ikan fortifikasi rumput laut, pembuatan Fish Nugget, dan Keterampilan pembuatan Stik jagung dan Kue Kolombengi. Ketiga jenis keterampilan vokasional ini dilatihkan dalam satu paket kegiatan atau dalam waktu yang bersamaan. Adapun rancangan pengembangan program pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk kemandirian berusaha mengandung unsur-unsur yang dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Tujuan Pelatihan Kegiatan pengembangan model pelatihan ini dilakukan untuk mewujudkan dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum tujuan kegiatan pelatihan kecakapan hidup untuk meningkatkan kemandirian berusaha adalah memberikan pengetahuan, keterampilan serta sikap positif masyarakat terhadap berbagai potensi yang terdapat dilingkungan yang perlu dioptimalkan pengelolaannya guna menunjang pengembangan usaha yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan serta kualitas hidup masyarakat. Secara khusus penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup bertujuan (1) Agar peserta pelatihan memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan program kecakapan hidup pada aspek personal, sosial, akademik dan vokasional, (2) Agar peserta pelatihan dapat termotivasi mengembangkan kreativitas dalam memecahkan permasalahan kecakapan hidup khususnya dengan memanfaatkan potensi dan nilai budaya lokal yang terdapat dilingkungannya untuk kemandirian berusaha, (3) Agar peserta pelatihan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan potensi lokal yang tersedia melalui Page 104

keterampilan vokasional pengolahan hasil laut dan kawasan daerah yang benilai ekonomis produktif, dan (4) Dengan dimikinya pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berbasis akademik dan vokasional pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alternatif mata pencaharian yang produktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dilingkungannya. (2) Kelompok Sasaran Adapun kelompok sasaran penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup ditetapkan berdasarkan kriteria antara lain sebagai berikut: 1. Masyarakat yang berdomisili di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai 2. Usia peserta pelatihan berkisar antara 22 – 40 tahun 3. Kualifikasi pendidikan peserta adalah Sekolah Dasar (SD) sederajat sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. 4. Bersedia mengikuti pelatihan kecakapan hidup dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan ini. 5. Bersedia mengikuti pelatihan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. (3) Nara Sumber/Fasilitator Kriteria dan kualifikasi Nara Sumber dan Fasilitator penyelenggaraan program pelatihan kecakapan hidup adalah sebagai berikut: (a) Berusia 25 – 50 tahun, (b) Berkualifikasi pendidikan minimal SMA sederajat, (c) Bersedia menjadi Narasumber/Fasilitator Pelatihan, (d) Memiliki pengalaman, kemampuan dalam membelajarkan dan melatih,(e) Mampu menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan baik, dan (f) Memiliki pengetahuan dan keterampilan vokasional sesuai dengan yang diprogramkan. (4) Kurikulum Dari hasil identifikasi kebutuhan terhadap sasaran kegiatan menunjukkan perlu penguatan terhadap 3 (tiga) aspek meliputi : (1) aspek personal, berupa ketidakmampuan sasaran (peserta pelatihan) dalam memecahkan masalah dan manyadari potensi yang dimilikinya; (2) aspek sosial, berupa keterbatasan peserta dalam informasi dan pengetahuan tentang cara pengolahan produk bernilai ekonomis berdasarkan potensi sumber daya terintegrasi dengan nilai budaya lokal yang ada di masyarakat; dan (3) aspek vokasional, berupa kebutuhan belajar sasaran (peserta pelatihan) untuk belajar menguasai cara pengelolaan kegiatan usaha yang baik dan efektif. Dengan memperhatikan hasil identifikasi dan mempertimbangkan kondisi objektif sasaran maka disusun kriteria isi kurikulum pendidikan kecakapan hidup sebagai berikut, (1) Jenis kecakapan hidup yang dikembangkan lebih menitikberatkan pada aspek kecakapan vokasional berbasis keterampilan fungsional dan lokal, (2) Mengupayakan hasil analisis kebutuhan sebagai masukan dalam pengembangan kurikulum, (3) Strategi pelatihan kecakapan hidup dengan berbagai jenis keterampilan vokasional difokuskan untuk menggali potensi dan integrasi nilai budaya lokal, dan (4) Faktor pengelolaan usaha mandiri sebagai fokus materi pelatihan dengan penekanan pada pengembangan kemandirian berusaha. (5) Bahan Ajar Bahan ajar yang dikembangkan dalam kegiatan pelatihan kecakapan hidup dituangkan dalam bentuk diktat/handout yang memuat materi sebagai berikut: (1) Materi kecakapan hidup keterampilan vokasional pengolahan hasil laut berbasis potensi lokal (Keterampilan pengolahan produk Fish Nugget, Keterampilan pengolahan Bakso Ikan yang difortifikasi rumput laut, Stik jagung dan Kolombengi), (2) Materi kewirausahaan tentang kepemimpinan dan pengelolaan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 105

usaha, Manfaat dan keuntungan organisasi dan kelompok usaha, dan Administrasi usaha, serta (3) Materi nilai budaya lokal untuk pengembangan kemandirian berusaha. (6) Media Pelatihan Adapun media yang digunakan dalam pelatihan ini seperti alat tulis menulis, materi diktat dan handout, serta alat bahan-bahan praktek. (7) Metode Pelatihan Adapun pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah pendekatan andragogi dan partisipatoris, sedangkan metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, kerja kelompok dan praktek. (8) Waktu dan Tempat Pelatihan Kegiatan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha ini dilaksanakan selama 6 (enam) hari yang dibagi dalam 2 (dua) tahap. Tahap pertama ujicoba dilaksanakan selama tiga hari tanggal 5 sampai dengan 7 Desember 2011, dan uji coba tahap kedua dilaksanakan selama tiga hari pula dari tanggal 28 sampai dengan 30 Desember 2011. Tempat pelaksanaan kegiatan berlokasi di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “YOTAMA” Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. (9) Evaluasi Evaluasi pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemampuan berusaha masyarakat dilakukan dengan: (a) evaluasi awal (pre-test), (b) evaluasi proses pelatihan, dan (c) evaluasi akhir (pos-test). Kegiatan evaluasi ini difokuskan pada aspek kemampuan menguasai materi pelatihan dan kemampuan mempraktekkan keterampilan vokasional yang dilatihkan. b) Pelaksanaann

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Sebagai upaya untuk mewujudkan target pencapaian kompetensi pelatihan maka berbagai komponen diorganisir dan ditata dengan baik sehingga semua dapat fungsional untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Komponen-komponen yang perlu diorganisir, dikelola dan dikendalikan dalam dimensi pelaksanaan, meliputi ; (1) Materi-materi yang disajikan dalam Pelatihan Kecakapan Hidup (PKH), (2) Tenaga fasilitator dan narasumber teknis, (3) Media yang digunakan, (4) Waktu yang dimanfaatkan, (5) Tingkat partisipasi peserta, kehadiran dan keaktifan selama proses pelatihan, serta (5) Pendekatan yang digunakan dalam proses pelatihan. Dalam proses pelatihan tahapan dan pendekatan merupakan dua kegiatan yang penting dikelola sebaik mungkin agar keseluruhan program dapat terlaksana sesuai target. Proses pelatihan kecakapan hidup ini dibagi dalam dua tahapan, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran partisipatif. Pertama, pelaksanaan kegiatan atas dua tahap dilakukan dengan pertimbangan berdasarkan kemandirian yang menjadi tujuan akhir dari penelitian ini yaitu adanya kepemilikan pengetahuan, keterampilan, aspirasi, sikap kemandirian dalam bekerja dan berusaha. Kedua, pendekatan pelatihan partisipatif, dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program, yang dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran melibatkan secara aktif peserta pelatihan. Selanjutnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan pelatihan senantiasa dilakukan koordinasi, komunikasi secara kontinu terhadap berbagai komponen yang diperlukan sehingga kalaupun terhadap hambatan semuanya dapat dikendalikan agar tujuan pelatihan mencapai hasil yang optimal. Page 106

Kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi dan pemantauan. Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan pertimbangan untuk menjamin agar kualitas proses dan hasil yang diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap proses pelatihan kecakapan hidup bagi masyarakat sehingga penyelenggaraannya dilandasi oleh rasa tanggung jawab dan mampu menjamin mutu program pelatihan berlangsung dengan baik. c) Evaluasi

Evaluasi dalam pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat mengedepankan kualitas pelaksanan untuk mengetahui keberhasilan pencapaian program. Evaluasi tersebut dilakukan secara bersama-sama, baik evaluasi proses maupun hasil. Kegiatan evaluasi proses dilakukan terhadap warga belajar meliputi aspek kerjasama, motivasi belajar dan partisipasi warga belajar dalam proses pelatihan. Evaluasi untuk Narasumber dan Fasilitator dilakukan untuk mengetahui aspek penguasaan materi, penerapan metode pelatihan dan pembelajaran, pemanfaatan media dan bahan latihan, pendayagunaan sarana dan prasarana yang tersedia, serta bimbingan selama proses pelatihan. Selanjutnya kegiatan evaluasi akhir pelatihan dimaksudkan untuk mengetahui kompetensi dan penguasaan materi pelatihan oleh warga belajar atau sasaran kegiatan pelatihan ini. Evaluasi pasca pelatihan kecakapan hidup dilakukan dengan maksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kontribusi penerapan model pelatihan kecakapan dalam menguasai kecakapan vokasional dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Evaluasi ini disamping dilakukan oleh peneliti melibatkan juga unsur lain yaitu narasumber dan fasilitator serta para tokoh masyarakat dilokasi penelitian guna melaksanakan pemantauan dan monitoring terhadap kemandirian warga sasaran kegiatan setelah mengikuti pelatihan. 2. Asumsi Model Model pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan dalam penelitian ini didasari oleh beberapa asumsi sebagai berikut : Pertama : dengan dimilikinya pengetahuan dan keterampilan produktif bagi peserta yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja dan berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kedua : terjadinya perubahan sikap mental kearah jiwa wirausaha sebagai dasar dalam bekerja dan berusaha sesuai bidang yang diminati, Ketiga : kegiatan pelatihan ini dapat mengubah persepsi peserta yang sebelumnya apatis terhadap perubahan dan pengembangan usaha mandiri, menjadi optimis, Ke empat : meningkatnya keterampilan peserta dan mampu bekerja baik secara individu maupun berkelompok. Kelima : terintegrasinya nilai-nilai budaya lokal dalam pembelajaran kecakapan hidup dapat memotivasi para peserta untuk menghargai dan mempertahankan nilainilai budaya lokal yang dapat memberi kontribusi bagi meningkatnya keterampilan yang berbasis budaya lokal untuk kemandirian berusaha masyarakat, dan Ke enam : peserta dapat mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha, mengembangkan usaha produktif yang terdapat dilingkungannya, serta memasarkan hasil usahanya dengan baik. 3. Pendekatan Model Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha menerapkan pendekatan model yang dipandang relevan dan sesuai dengan kondisi sosial ekonomi peserta yaitu pendekatan pembelajaran orang dewasa, partisipatif, kolaboratif dan berkelanjutan. Page 107

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

4. Prosedur Penerapan Model Produk model yang dikembangkan dalam penelitian ini telah melalui proses uji kelayakannya sampai diperoleh tingkat kelayakan yang memadai. Uji kelayakan ini dilakukan melalui suatu proses yang berulang, dan terinci baik pada tataran implementasi, evaluasi maupun revisi hingga diperoleh produk sebagai model akhir yang direkomendasikan.

Tabel 4.8 Prosedur Penerapan Model N o. 1 . Perencanaan (1) Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait (Pemerintah Desa,Kecamatan dan Instansi yang terkait) (2) Mengidentifikasi kebutuhan belajar dan jenis kecakapan yang diperlukan serta menetapkan kriteria peserta (3) Menetapkan kriteria Fasilitator/ Narasumber. (4) Menyusun program pelatihan yang meliputi: Tujuan Pelatihan, Kerangka kurikulum, Bahan ajar, Menetapkan strategi (Media, Metode Pelatihan, dan Waktu Pelatihan. (5) Menetapkan tempat pelatihan (6) Menetapkan teknik Evaluasi (1) Pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup dengan materi kewirausahaan, nilai-nilai budaya lokal masyarakat, dan keterampilan (Pendekatan teori dan praktek) (2) Praktek keterampilan (Pembuatan Fish Nugget, Pembuatan bakso ikan difortifikasi rumput laut, Pembuatan Stik jagung dan Kue Kolombengi) (3) Melaksanakan pemantauan kegiatan pelatihan (Teori dan Praktek Keterampilan) (1) (2) (3) Evaluasi Awal Evaluasi Proses Evaluasi Akhir Tahap Langkah-Langkah

2 .

Pelaksanaan

3 .

Evaluasi

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 108

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

5. Indikator Keberhasilan

Page 109

Pengembanggan model pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir lebih ditekankan pada kecakapan vokasional. Oleh karena itu, keberhasilan program pelatihan kecakapan hidup ini dipengaruhi antara lain, yaitu: Pertama program pelatihan ini memiliki tingkat kesesuaian dengan kebutuhan peserta terhadap peningkatan kecakapan personal/kepribadian, sosial, akademik dan vokasional dan sesuai pula dengan kondisi sosilal, ekonomi dan budaya serta sumber daya di masyarakat. Kedua, sasaran pengembangan model pelatihan ini terbentuknya konsep kemandirian pada diri peserta dalam dua hal, yaitu kemandirian “psikologis” dan “sikap mental kewirausahaan”. Kemandirian psikologis sebagai kesiapan dan kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari ikatan emosi dengan orang dewasa lain dalam mengatur, mengurus, dan menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, kemampuan dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya melalui perbuatan atau tindakan nyata, serta sikap mental kewirausahaan berkaitan dengan sikap masyarakat terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mencakup aspek percaya pada diri sendiri, berorientasi tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan, dan berorientasi kemasa depan. Pembentukan kedua aspek kemandirian dapat dilakukan melalui suatu program pelatihan berdasarkan prinsip-prinsip yang berlaku serta evaluasi yang kontinu. Ketiga : kebermaknaan model program kemandirian melalui pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan agar peserta memiliki motivasi belajar dan berusaha sehingga terbentuknya masyarakat yang disebut: ”kemauan untuk berubah” dari diri-sendiri dan bersama orang lain, dan Ke empat, program pelatihan kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha dipengaruhi pula oleh ketersediaan berbagai faktor seperti : sumber daya manusia, modal yang memadai, jenis keterampilan yang sesuai dan produktif, prasarana dan sarana, serta aksebiltas pemasaran hasil produk keterampilan. B. Pembahasan Hasil Penelitian Paradigma pendidikan mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak lagi dipikulkan kepada sekolah semata, melainkan dikembalikan kepada masyarakat dalam arti sekolah dan masyarakat sama-sama bertanggung jawab. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pendidikan akan tetapi yang lebih penting adalah masyarakat di tantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk dalam meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Salah satu upaya yang strategis untuk memberikan layanan pendidikan yang bermutu adalah dengan membangun pendidikan berdasarkan broad based education and high broad education. Pendidikan berdasarkan sistem broad education, ialah konsep pendidikan yang memacu pada Life skills. Tujuan utamanya adalah untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan masyarakat dalam rangka memperoleh pekerjaan yang layak sesuai dengan standar hidup, bagi pendidikan nonformal/ pendidikan luar sekolah sasarannya adalah memberikan layanan bekal keterampilan dasar bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan atau mereka yang akan memasuki lapangan kerja/dunia kerja. Pendidikan luar sekolah sebagai pendidikan yang berbasis masyarakat memiliki keleluasaan dalam membina dan mengembangkan program-programnya yang sesuai dengan potensi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pendidikan luar sekolah mampu melayani dan menjangkau kebutuhan belajar masyarakat dalam kondisi dan dimensi apapun. Sesuai dengan prinsip tersebut, maka hasil penelitian dan pengembangan model yang dilakukan dalam studi Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 110

ini, menunjukkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah memiliki keluasan dalam hal pengembangan program dan pengendalian konsep-konsep yang selalu menjadi acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan berbasis masyarakat dapat dikembangkan dengan 4 (empat) strategi yaitu (1) kajian pendidikan berbasis kewilayahan, (2) kajian pendidikan berbasis kehidupan ekonomi keluarga, (3) kajian pendidikan berbasis agama, dan (4) kajian pendidikan berbasis nilai budaya dan tradisi (Hasan, 2008 : 17-25). Pendidikan berbasis budaya dan tradisi dalam konteks bahwa pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan secara menyeluruh, pendidikan merupakan jalan, saluran untuk meneruskan kebudayaan. Pendidikan merupakan alat untuk menanamkan kemampuan bersikap, bertingkah laku di samping mengajarkan keterampilan dan ilmu pengetahuan untuk bisa memainkan peranan sosial secara menyeluruh dan sesuai dengan tempat dan kedudukan individu dalam masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat dalam pengembangan model pelatihan kecakapan hidup berkenaan dengan konsep dan aplikasi dari pelatihan itu sendiri. Pada dasarnya pelatihan merupakan kegiatan pembelajaran individual yang bersifat mendesak karena munculnya suatu kebutuhan yang dirasakan. Robinson (Anwar 2003 : 63) mengemukakan bahwa pelatihan sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membangun dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang telah dimiliki. Konsep ini dapat dimaknai bahwa sasaran dari suatu pelatihan adalah untuk membangun dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan individu agar dapat mencapai kualitas hidup yang baik. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa pelatihan merupakan usaha berencana yang diselenggarakan supaya dicapai penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang relevan dengan kebutuhan pelatihan. Hal ini berarti bahwa dengan menyelenggarakan kegiatan pelatihan kepada suatu kelompok atau komunitas tertentu diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup melalui kemandirian berusaha dan bekerja. Berdasarkan teori dan urgensi pembelajaran dan pengembangan kecakapan hidup maka dimensi kecakapan yang digunakan dalam kajian ini secara konseptual dikelompokkan sebagai berikut : (a) kecakapan mengenal diri sendiri atau disebut juga kecakapan personal dan kepribadian (personal skills), (b) kecakapan berfikir rasional (thinking skills) atau kecakapan akademik (academic skills), (c) kecakapan sosial (social skills), (d) kecakapan vokasional (vocational skills) disebut juga keterampilan kejuruan artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik (specific skills) atau keterampilan teknis (technical skills). Selanjutnya ke empat jenis kecakapan hidup di maksud mempunyai peran tertentu dalam implementasinya yang dapat diuraikan sebagai berikut : Kecakapan sosial disebut dengan istilah kecakapan umum atau general, yang merupakan fondasi dari kecakapan hidup. Kecakapan personal mencakup kecakapan mengenal diri dan kecakapan berfikir rasional. Seperti kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan, kecakapan memecahkan masalah secara kreatif. Kecakapan sosial yang dimaksud meliputi kecakapan komunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan akademik dan kecakapan vokasional disebut dengan istilah kecakapan khusus karena dianggap lebih spesifik. Kecakapan akademik dapat dikatakan sebagai pengembangan dari kecakapan berfikir rasional yang terdapat dalam kecakapan general, namun dikembangkan lebih spesifik yang mengarah pada aktivitas yang bersifat akademis. Kecakapan vokasional merupakan kecakapan yang cenderung dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang ada dalam lingkungan masyarakat. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 111

Pendidikan kecakapan hidup sebagai salah satu program Pendidikan luar sekolah dalam praksis penyelenggaraannya senantiasa responsif terhadap masukan lingkungan. Bahwa masukan lingkungan berupa sumber daya lokal dalam penyelenggaraan Pendidikan luar sekolah merupakan komponen yang harus dipertimbangkan bagi keterlaksanaan program yang diluncurkan. Yang tercakup dalam masukan lingkungan seperti sumber daya manusia, sumber daya alam (Sudjana, 1999). Masukan lingkungan memiliki kontribusi yang signifikan, dan ini perlu digali terutama potensi dan nilai-nilai budaya lokal. Karena dengan mencermati potensi nilai-nilai budaya lokal akan mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan program Pendidikan luar sekolah khususnya pendidikan kecakapan hidup. Penggalian potensi nilai budaya lokal dapat berarti menumbuhkan prakarsa dan inisiatif masyarakat lokal dalam mendukung dan menyukseskan penyelenggaraan Pendidikan luar sekolah. Nilai budaya merupakan unsur penting bagi kehidupan masyarakat termasuk masyarakat yang bermata pencaharian nelayan. Bagi masyarakat nelayan nilai-nilai ini biasanya dijunjung tinggi diakui bersama sebagai hasil konsensus yang erat kaitannya terhadap pandangan dan harapan dalam meningkatkan kemandirian berusaha guna memenuhi peningkatan kualitas hidup bermasyarakat Nilai-nilai budaya lokal yang diidentifikasi dan dikembangkan dalam penelitian komunitas masyarakat nelayan terkait dengan kemandirian berusaha menyangkut aspek sebagai berikut : Toleran, Kepatuhan kepada Pemimpin/Pimpinan, Kerjasama, Kekerabatan, Rasa Ingin Tahu, Menghargai Keberhasilan orang lain, Kerja Keras, dan Saling membagi hasil. Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang dikembangkan dalam penelitian ini merupakan upaya untuk meningkatkan kemandirian berusaha. Kemandirian merupakan jiwa wirausaha yang tumbuh dan berkembang seiring dengan pemahaman dan konsep hidup yang mengarah pada kemampuan, kemauan, keuletan, ketekunan dalam bidang-bidang usaha yang ditekuni. Pentingnya membangun kemandirian karena “manusia tidak selalu tunduk begitu saja pada pengaruh dari pembawaan atau pengaruh lingkungannya. Manusia memiliki keinginan dan kehendak untuk menentukan nasibnya sendiri (self determination)”(Kamil, 2009 :78). Sehingga seorang wirausaha yang berhasil berarti memiliki jiwa mandiri (makarya). Konsep kemandirian berusaha dalam kajian ini ditinjau dari dua hal, yakni kemandirian psikologis dan sikap mental kewirausahaan. Kemandirian berusaha mengacu pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup layak. Konsep kemandirian berusaha antara lain dilihat pula dari tingkat pendapatan masyarakat dan perilaku konsumsi masyarakat. Dengan dilaksanakannya pelatihan pendidikan kecakapan hidup sebagai upaya memampukan dan memberdayakan masyarakat maka pada dasarnya aspek yang diharapkan mengalami perubahan dalam tataran kehidupan masyarakat terutama ditujukan kepada upaya meningkatkan pendapatan masyarakat guna kemandirian berusaha. Upaya untuk mengembangkan dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan keterampilan produktif dilingkungan masyarakat. Pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha didasari oleh kondisi objektif yang ditemui dilokasi penelitian khususnya dalam pelayanan pendidikan kecakapan hidup antara lain, (1) Program yang diperuntukan untuk masyarakat nelayan belum sepenuhnya berorientasi pada analisis kebutuhan dan rencana program yang strategis dikembangkan, (2) Penyelenggaraan program tidak diorganisir mengikuti prinsip pengelolaan sehingga baik proses dan hasil kegiatan belum maksimal sebagaimana yang diharapkan, (3) Pelaksanaan pelatihan tidak mengadakan tes kemampuan awal peserta sehingga terkesan kegiatan ini dilakukan tanpa adanya analisis mengenai kebutuhan belajar peserta, (4) Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 112

Tujuan pelatihan tidak dirumuskan secara eksplisit yang diarahkan kepada pembentukan sikap kemandirian berusaha bagi peserta, (5) Materi-materi program pelatihan tidak dikembangkan secara terencana dan sistematis mengikuti prinsip-prinsip pelatihan, (6) Nara sumber dan fasilitator kegiatan tidak menyiapkan rencana pelatihan dalam bentuk tertulis baik modul atau bahan belajar yang diperlukan, (7) Nara sumber dan fasilitator kegiatan tidak menjelaskan kompetensi apa yang dicapai dalam setiap pertemuan sehingga aktivitas pelatihan kurang menggugah motivasi dan rasa ingin tahu peserta, (8) Aktivitas pelatihan berlangsung kurang kondusif karena pendekatan yang dilakukan tidak berbasis pembelajaran orang dewasa dan pendekatan partisipatif, (9) Terbatasnya sarana kegiatan untuk praktek menyebabkan pengembangan kemampuan yang utuh dalam pelatihan tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan, serta, (10) Pelaksanaan evaluasi tidak direncanakan secara matang terpadu dengan komponen lainnya sehingga tolok ukur kriteria efektivitas penilaian pelatihan menjadi tidak jelas. Pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal bertujuan agar peserta menguasai empat kecakapan hidup yaitu kecakapan personal/kepribadian, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan kecakapan vokasional. Melalui kegiatan pelatihan ini diharapkan peserta memiliki kemandirian memasuki dunia kerja atau berusaha mandiri minimal untuk dirinya sendiri dan keluarganya serta dapat dikembangkan untuk membuka lapangan kerja sehingga mereka memperoleh pekerjaaan dengan pengahsilan layak dan memadai. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam kajian pengembangan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha, penyelenggaraannya selalu di awali dengan kegiatan identifikasi kebutuhan calon peserta, dilanjutkan dengan perencanaan, proses pelatihan, out put dan outcome. Model ini memiliki perbedaan dengan model yang biasa diselenggarakan dengan cara atau bersifat top down, yang biasanya tanpa identifikasi dan berakhir dengan penilaian atau hanya sampai pada out put tanpa ada upaya pengembangan atau dampak dari program yang diselenggarakan. Kecuali itu, secara operasional program pelatihan yang ada selama ini hanya terbatas pada aspek kognitif, dengan mengabaikan aspek motorik dan nilai. Model program demikian dirasakan kurang efektif karena belum sepenuhnya dapat memberikan solusi konprehensif terhadap permasalahan subjek. Hasil penelitian model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk kemandirian berusaha menawarkan sebuah model alternatif dalam memberdayakan masyarakat diwilayah pesisir, karena tidak saja diberikan pengetahuan dan keterampilan, melainkan dalam kegiatan ini adanya integrasi nilai-nilai budaya lokal (toleran, kepatuhan kepada pemimpin/pimpinan, kerjasama, kekerabatan, rasa ingin tahu, menghargai keberhasilan orang lain, kerja keras, dan saling membagi hasil) yang menunjang dalam pengembangan keterampilan baik untuk membantu memfasilitasi warga masyarakat dalam bekerja dan berusaha maupun menjadi pekerja yang produktif, memiliki pengetahuan kewirausahaan yang pada akhirnya dapat membentuk kemandirian berusaha. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta pelatihan yang diperoleh dari perbedaan skor hasil pre test dan post test, bermakna bahwa ternyata kegiatan pelatihan memberikan pengaruh positif terhadap perubahan tingkah laku pada diri peserta sebagai akibat dari kegiatan pelatihan yang dilaksanakan. Dalam penelitian model pelatihan kecakapan hidup untuk meningkatkan kemandirian berusaha peneliti menggunakan subjek penelitian yang diambil secara purposive sejumlah 30 orang sebagai peserta. Dari hasil analisis kualitatif dan kuantitaif sebagaimana telah dijelaskan Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 113

sebelumnya, secara kualitatif temuan penelitian menunjukkan bahwa peserta pelatihan mampu diberdayakan melalui kegiatan pelatihan untuk kemandirian usahanya. Temuan dan analisis kualitatif ini diperkuat dengan temuan kuantitatif. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan secara nyata antara pengetahuan dan kemampuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan, sehingga dapat dikatakan bahwa pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal teruji efektif dalam memberdayakan peserta untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam berusaha. Di samping daripada itu hasil analisis diperoleh terjadi peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebagai dampak dari pemberian model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal. Model pelatihan yang mengandung empat indikator keterampilan atau kecakapan hidup (personal/kepribadian, sosial, akademik dan vokasional), memberikan pengaruh yang teramati dalam bentuk peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Hasil analisis terlihat bahwa secara berurutan (dari yang besar ke yang kecil) indikator yang memberikan kontribusi terhadap efektifitas kemandirian berusaha adalah; (1) keterampilan akademik sebesar 13,764%, (2) keterampilan sosial sebesar 10,112%, (3) keterampilan vokasional sebesar 7,182%, dan (4) keterampilan personal sebesar 6,503%. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa secara bersama-sama kontribusi keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional memberi kontribusi terhadap kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebesar 16,484%. Data ini bermakna bahwa dari empat kecakapan hidup yang dikembangkan dalam pelatihan ternyata terdapat 2 (dua) kecakapan yang memberikan pengaruh strategis terhadap pengembangan kemandirian berusaha masyarakat yaitu kecakapan akademik dan kecakapan sosial. Hal ini mengandung makna bahwa dalam penyelenggaraan kegiatan kecakapan hidup, kecakapan akademik menjadi dasar dalam pembentukan kecakapan hidup lainnya kecuali itu kecakapan akademik termasuk dalam kategori kemampuan yang bersifat umum yang perlu dimiliki dalam mengembangkan kemampuan kecakapan hidup. Selanjutnya kecakapan sosial bermakna bahwa dalam mengembangkan kecakapan hidup sebagai bekal dalam menguasai keterampilan produktif, maka setiap orang senantiasa berupaya untuk bekerjasama dan menjalin aktivitasnya bersama dengan orang lain sebagai salah satu wujud dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Namun demikian dalam pengembangan kecakapan hidup bagi kelangsungan hidup manusia (masyarakat pesisir) kecakapan personal dan kecakapan vokasional akan tetap diperlukan terlebih dalam konteks menghadapi perubahan sejalan dengan tuntutan kebutuhan dan persaingan yang semakin cepat, maka untuk mengembangkan kemandirian berusaha peranan kecakapan personal dan vokasional akan sangat dibutuhkan. Temuan penelitian tersebut di atas membawa implikasi hasil pengembangan model kecakapan hidup untuk kemandirian berusaha baik teoretis maupun praktis. Secara teoretis, pengembangan model ini mendukung sekaligus memperkaya model-model yang telah dikembangkan selama ini yang didasari teori Pendidikan Luar Sekolah, Pelatihan, Kecakapan Hidup, Nilai Budaya Lokal, Kemandirian Berusaha, dan Pendekatan orang dewasa. Secara praktis model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kemandirian berusaha. Dalam arti bahwa model ini menjadi salah satu solusi alternatif guna mengatasi kelemahan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat pesisir untuk kemandirian berusaha. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 114

Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk kemandirian berusaha telah memadai untuk dikatakan sebagai sebuah model, karena telah melalui proses pengujian dan validasi baik secara teoretik maupun empirik. Namun demikian penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan baik dari segi, kelompok sasaran yang terbatas hanya 30 orang warga masyarakat, desain penelitian yang digunakan, lokasi maupun siklus ujicoba, karena itu sangat diperlukan penelitian lanjutan oleh pihak lain menggunakan subjek yang representatif, dengan disain yang lebih lengkap sehingga model yang dihasilkan memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang lebih handal.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 115

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada dasarnya penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menemukan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. Guna mencapai tujuan dimaksud maka dirumuskan 5 fokus utama tujuan yaitu (1) mendeskripsikan kondisi objektif sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, (2) mendeskripsikan kondisi pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir, (3) mengembangkan model konseptual pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir, (4), mengimplementasikan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir, dan (5) mengetahui efektivitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. Mengacu pada tujuan tersebut telah diadakan analisis data sebagaimana telah dideskripsikan pada Bab IV laporan penelitian ini. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kondisi objektif geografis, sosial ekonomi masyarakat dilingkungan pesisir di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo berdasarkan data dan analisis sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan aktivitas masyarakat dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai nelayan dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat yang bekerja dengan mata pencaharian nelayan umumnya mempunyai penghasilan yang cukup, sarana prasarana, layanan kebutuhan umum kesehatan, transportasi dan komunikasi yang terbatas serta fasilitas penyelenggaraan dan kualifikasi pendidikan masyarakat yang belum sepenuhnya memadai. Untuk mengoptimalkan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat di lingkungan masyarakat pesisir diperlukan berbagai program dan kegiatan yang berkenaan dan menyentuh langsung kebutuhan hidup mereka khususnya penyelenggaraan Pendidikan Luar Sekolah melalui pengembangan program Pendidikan Kecakapan Hidup berbasis potensi nilai budaya lokal. 2. Kondisi objektif pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir berdasarkan data dan analisis studi pendahuluan telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi dan pembinaan terhadap masyarakat nelayan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo. Pelaksanaan sosialisasi dan pembinaan ini masih terbatas pada salah satu asfek keterampilan pengolahan abon ikan dan pengasapan dan hingga saat ini baru berlangsung sebanyak 2 (dua) kali. Penyelenggaraan kegiatan ini sesungguhnya belum mengakomodir kebutuhan masyarakat untuk belajar keterampilan yang ada hubungannya dengan kondisi lingkungan, pengembangan usaha dan kemandirian yang perlu dioptimalkan. Kecuali itu program pembinaan dan pelatihan keterampilan nelayan tidak disusun berdasarkan prinsip-prinsip kegiatan pelatihan yang dianjurkan, seperti : identifikasi kebutuhan pelatihan, kurikulum, sistem pelatihan yang efektif, standar keahlian instruktur, materi dan bahan ajar, strategi dan pendekatan, serta penyelenggaraan evaluasi sesuai prinsip yang berlaku. Dengan perkataan lain bahwa kegiatan pendidikan kecakapan hidup di lingkungan masyarakat pesisir belum dirancang Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 116

mengikuti format pendidikan yang menerapkan model dan tahapan-tahapan sebagaimana yang berlaku dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. 3. Model konseptual pelatihan kecakapan hidup yang dirancang menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa, partisipatif dan kolaboratif ternyata memberikan kontribusi yang signifikan dalam memantapkan kelayakan model yang dikembangkan dalam penelitian ini. Kontribusi dimaksud dalam penyempurnaan model hipotetik, antara lain adanya kerangka acuan yang jelas dalam bentuk hasil analisis kebutuhan belajar, kooordinasi dan komunikasi yang kontinu, penyiapan berbagai perangkat sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan, pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai, pelaksanaan monitoring, serta penyelenggaraan evaluasi. Model pelatihan kecakapan hidup yang dikembangkan juga mengkondisikan implementasi model di lapangan, yang mencakup sosialisasi prinsip-prinsip model dan pemberian motivasi secara persuasif terhadap peserta, fasilitator dan nara sumber, agar mau dan mampu menerapkan model pendidikan kecakapan hidup dengan sebaik-baiknya. 4. Implementasi model pelatihan kecakapan hidup dari hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum pengembangan model pendidikan kecakapan hidup telah teruji kelayakannya melalui teknik: analisis kualitas model, penilaian ahli, dan uji lapangan. Hasil analisis kualitas model yang dilakukan secara sistemik, yakni mengenai isi, keterkaitan, dan prinsip-prinsip pengembangan model, yang secara khusus dapat disimpulkan bahwa model pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha yang dikembangkan dilingkungan masyarakat pesisir telah menghasilkan hubungan yang tepat antar komponen model. Dengan demikian, komponen model pendidikan kecakapan hidup mencakup; rasional, tujuan, ruang lingkup model, produk model, kriteria keberhasilan model, dan keberadaan model memiliki isi yang tepat, berbobot, konsistensi, serta mudah dalam pemahaman dan penerapannya. 5. Model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal ((Toleran, Kepatuhan pada Pemimpin/pimpinan, Kerjasama, Kekerabatan, Rasa Ingin Tahu, Menghargai keberhasilan orang lain, Kerja keras, dan Saling membagi hasil), yang dikembangkan dalam penelitian dari hasil analisis kualitatif dan kuantitatif ternyata efektif dalam meningkatkan kemandirian berusaha masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan kecakapan hidup yang dapat berpengaruh terhadap adanya kamandirian berusaha dari dimensi psikologis dan dimensi kewirausahaan. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan secara nyata antara pengetahuan dan kemampuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan, sehingga dapat dikatakan bahwa model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal teruji efektif dalam memberdayakan peserta untuk menguasai pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam berusaha. Hasil analisis diperoleh terjadi peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir sebagai dampak dari pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi nilai-nilai budaya lokal. Model pelatihan yang mengandung empat indikator keterampilan personal atau kepribadian, sosial, akademik dan vokasional memberikan pengaruh yang teramati dalam bentuk peningkatan kemandirian berusaha masyarakat pesisir. B. Implikasi Hasil penelitian menunjukkan adanya efektifitas model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan kemandirian berusaha Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 117

masyarakat.. Hasil ini memberikan makna bahwa penelitian ini berimplikasi secara teoritis dan praktis. Secara teoretis pengembangan model ini mendukung sekaligus memperkaya model-model yang telah dikembangkan selama ini yang didasari teori pendidikan luar sekolah, pelatihan, pemberdayaan, pendekatan orang dewasa, partisipatif dan kemandirian berusaha. Secara praktis model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kemandirian berusaha. Dalam arti bahwa model ini menjadi salah satu solusi alternatif guna mengatasi kelemahan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat pesisir untuk kemandirian berusaha. C. Rekomendasi Mengacu pada temuan, analisis data dan model temuan penelitian serta teori-teori yang digunakan sebagai landasan penelitian ini, maka perlu merekomendasikan kepada pihak-pihak sebagai berikut : 1. Penerapan Model Temuan Studi ( Pakar Pendidikan Luar Sekolah) a. Tema dan fokus penelitian yang dikaji dalam penelitian ini berkenaan dengan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemandirian berusaha. Dalam perspektif keilmuan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) fokus kajian perlu merekomendasikan bahwa perluasan pengembangan program dan kegiatan PLS tidak hanya dilakukan melalui satuan dan kelembagaan dalam lingkup program PLS, melainkan perlu dilakukan upaya pengembangan dan perluasan aktivitas dengan mengembangkan program-program yang inovatif produktif antara lain dengan pengembangan model pelatihan kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal bagi komunitas tertentu dengan demikian masyarakat semakin mendapat manfaat dan layanan yang lebih banyak dari program dan kegiatan PLS b. Penelitian yang mengangkat tema kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal diharapkan dapat menjadi sarana ilmiah dalam mengkomunikasikan penerapan model-model pelatihan program PLS lainnya di lingkungan masyarakat, yang perlu dikembangkan seiring dengan makin meningkatnya kebutuhan dan dinamika masyarakat terhadap layanan program yang diemban oleh Pendidikan Luar Sekolah. c. Kajian dalam penelitian ini patut untuk digunakan oleh pihak-pihak terkait dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat tertentu untuk kemandirian berusaha disatu pihak, dan menjadi bahan penyelenggaraan model dan proses pelatihan yang dikembangkan berbasis potensi dan nilai budaya lokal masyarakat di pihak lain. 2. Pengembangan Program dan Kegiatan PLS (Satuan Pendidikan Luar Sekolah : BPPNF-I, BPKB dan SKB) a. Kajian dalam penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana pengembangan modelmodel pelatihan sebagai bagian dari kiprah keilmuan PLS dalam proses transformasi yang terintegrasi peduli dan menyikapi pelayanan kebutuhan belajar dan pendidikan masyarakat yang di rancang dalam suatu paket model pelatihan. b. Temuan yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan PLS terutama upaya menemukan dan menyebarluaskan model-model pelatihan yang lebih aplikatif, inovatif dan produktif dalam membantu memfasilitasi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 118

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

c. Hasil temuan penelitian ini dapat menjadi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan program dan kegiatan PLS terutama pelayanan kebutuhan belajar masyarakat mendesak dan terasakan, serta pengurangan pengangguran, dan pengentasan kemiskinan. 3. Pemerintah dan Instansi yang Terkait dengan Upaya Pengembangan Masyarakat Pesisir (Pemerintah Daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan,Organisasi Kemasyarakatan) a. Program pemerintah melalui pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat nelayan hendaknya diarahkan untuk mendorong nelayan menjadi subyek atau pelaku utama yang substansial dan mandiri, sehingga mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi setiap saat. Untuk itu diperlukan strategi pemberdayaan yang berbasis potensi sosial budaya masyarakat yang dapat memacu kemudahan akses mereka terhadap sumber-sumber modal, teknologi dan pasar, sehingga pemanfaatan sumber daya ekonomi dan potensi lingkungan lokal dapat dioptimalkan secara merata dan masalah kemiskinan yang dialami nelayan dapat di atasi atau paling tidak dikurangi. b. Bagi pemerintah daerah dan kecamatan agar lebih memprioritaskan program-program yang berkenaan langsung dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya terkait peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dilakukan melalui kegiatan pembinaan, pendidikan dan pelatihan keterampilan praktis dan produktif. Prioritas program ini penting karena dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat maka secara simultan berpengaruh pula terhadap wawasan, orientasi dan sikap masyarakat terhadap pekerjaan, pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, peningkatan pendapatan dan kualitas hidupnya. c. Sebagai upaya memfasilitasi masyarakat terhadap kebutuhan hidup terkait dengan pekerjaannya, maka perlu diupayakan pemberian bantuan keperluan sarana alat-alat perlengkapan usahanya yang benar-benar diperlukan dan layak dimanfaatkan untuk mendukung dan memperlancar pengembangan usahanya. Untuk maksud tersebut maka perlu adanya pemetaan dan identifikasi kebutuhan masyarakat yang disusun dalam suatu program yang terpadu, sistematis dan berkesinambungan sehingga fasilitasi program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. d. Kepada instansi terkait khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan setempat kiranya lebih mengintensifkan kegiatan sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat nelayan dalam suatu program yang rutin terpadu dengan kegiatan pembangunan masyarakat dan melakukan pendampingan terhadap kelompok-kelompok usaha nelayan di samping mengoptimalkan program kemitraan yang selama ini dilakukan untuk pengembangan usaha nelayan. 4. Penelitian lanjutan a. Temuan penelitian ini merekomendasikan perlu dilaksanakan penelitian lanjutan yang lebih mendasar terkait dengan pengembangan kecakapan hidup dan kemandirian berusaha. Diharapkan dengan berbagai penelitian yang dilakukan dapat memperkaya khazanah empiris dan teoritis bagi pengembangan konsep pendidikan kecakapan hidup sehingga masyarakat dapat memiliki informasi yang lebih konprehensif mengenai pentingnya kecakapan hidup sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk membentuk kemandirian Page 119

berusaha yang dicapai melalui pengembangan kemandirian psikologis dan sikap mental kewirausahaan. b. Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan baik dari segi, kelompok sasaran atau subjek penelitian, desain penelitian yang digunakan, lokasi maupun siklus ujicoba, karena itu sangat diperlukan penelitian lanjutan oleh pihak lain menggunakan subjek yang representatif, dengan disain yang lebih lengkap sehingga model yang dihasilkan memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang lebih handal. c. Hasil temuan yang dikembangkan dalam penelitian ini tidak untuk digeneralisasikan kepada semua kalangan, akan tetapi dapat juga menjadi bahan acuan pada kelompok yang memiliki kesamaan karakteristik baik dari segi peserta, materi keterampilan yang dikembangkan, maupun integrasi potensi nilai budaya yang terdapat dilingkungan masyarakat.

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 120

DAFTAR PUSTAKA

Abdulsyani, (2007). Sosiologi. Skematika, Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara. Ahmed, M dan Coombs, P.H. (1977). Education for Rural Development: Case Studies for Planners. New York : Prager Publishers. Ahmed, M, (1975), The Economics of Non Formal Education (Resources, Cost and Beneft), New York, Praeger Publishers. Alma, Buchori. (2006). Kewirausahaan. Bandung : Allfabeta Amin, Muhammad Maswardi. (2011). Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta : Baduose Media. Amirin, Tatang (2002). Landasan Filosofis Pendidikan Berwawasan Kecakapan Hidup (Life Skills). Majalah Dinamika Pendidikan No, 1/Tahun IX, Maret 2002. Yogyakarta, Anwar. (2003).Pengembangan Model Pengelolaan Pembelajaran Keterampilan Berbasis Sosial Budaya Bagi Perempuan Nelayan. Disertasi Program Pascasarjana UPI: Tidak diterbitkan. Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills).Bandung: Alfabeta Audiyahira. 2011. Pengertian Masyarakat Pesisir (http:id.shvoong.com/socialsciences/education/2190305-pengertian-masyarakat-pesisir/,diakses 20 Juni 2011) Azis,H.Moh. Ali. (2005). Pendekatan Sosio-Kultural dalam Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Rr. Suhartini dkk .(eds). Model-Model Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Backer,T.E. (2003). Incrasing participation Means Changing Behavior: What can be Learn from Behavior Science. Dari http:/www, human-interest.org. Di akses tanggal 25 September 2004. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. (2006).Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Khusus, Desember 2006. Jakarta. ---------------(2008). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 072.Tahun Ke-14, Mei 2008. Jakarta. Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.(2010). Model Penyelenggaraan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Terintegrasi Kewirausahaan Bagi Buruh Nelayan Makassar : BP-PNFI Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 121

Bathia (1997). A Texbook of Education Psychology. New Delhi : The Mac Millan Company of India Limited. Biro Pusat Statistik (BPS). (2011). Buku Publikasi Kecamatan Batudaa Pantai Dalam Angka 2010. Kabupaten Gorontalo. Blanchard, K. (2001). Hati Seorang Pemimpin. Batam : Interaksara. Borg W.R and Gall, M.D (1989). Education Research An Introduction. New York: Pinancing. Washington; the Word Bank Borg W.R & Biklen (1989).Education Research. New York: Pitman Publishing. Coombs, P dan Manzoor A. (1984).Memerangi Kemiskinan di Pedesaan Melalui Pendidikan Nonformal.Jakarta : Rajawali --------------- (1985). The Word Crisis In Education, New York: Oxford University Press. D’Amico, D. etc.(2002). Building Participation in Workplace Learning (Versi Elektronik), Focus on basics. (Vo.6.Issue A- Oct. 2002). Dahuri, (2001). Sumber Daya Pesisir dan Lautan secara Terpadu. Jakarta : PT. Pradya Paramita. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2003).Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Ditjen Diklusepa Depdiknas. (2003). Pedoman Penyelenggaraan Program Kecakapan Hidup (Life Skills)PLS. Jakarta: Ditjen Diklusepa Depdiknas. Effrizal. 2012.Konservasi Daerah Pesisir (http://coastaleco.wordpress.com/?blogs ub=confirming#subscribe-blog, diakses 3 Desember 2011)

Faisal. Sanafiah, Abdillah H.(1980). Pendidikan Nonformal. Surabaya: Usaha Nasional. Faisal. Sanafiah. (1981) Pendidikan Luar sekolah Dalam Sstem Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Surabaya : Usaha Nasional. Finger, M & Asun, J.M. (2004). Quo Vadis Pendidikan Orang Dewasa (alih Bahasa : Nining Fatikasari). Yogyakarta: Pustaka Kendi. Gerungan, W.A. (1991) Psikologi Sosial. Bandung : CV Remaja Rosdakarya. Goble G. Frank. (1994) Psikologi Humanistik Abraham Maslow.Mazhab Ketiga. Yogyakarta : Kanisus. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 122

Hamijoyo, S.S.(2002). Menjelajah Ranah Keterampilan Hidup; Suatu Analisis dan Arahan Konseptual. Disampaikan pada Seminar Nasional dengan Tema Life Skills dalam Perspektif Pendidikan Nasional di Era Global yang di selenggarakan oleh Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 11 April di Yogyakarta. Hamid, Abu. (2001). Pengembangan Masyarakat Nelayan dan Kemandirian. Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama. Hasan, Engking Soewarman. (2007). Strategi Menciptakan Manusia yang Bersumber Daya Unggul. Bandung: UPI Jurusan PLS-FIP. --------------- 2008). Reoptimalisasi Manajemen Pendidikan Luar Sekolah dalam Konstalasi Teoretis dan Praktis.Bandung UPI Jurusan PLS-FIP. Huraerah.A.(2003). Isu Kesejahteraan Sosial.Di Tengah Ketidakpastian Indonesia (Cetakan Pertama). Bandung, Cente for Political and Local Autonomy Studies (CEPLAS). ---------------- (2008).Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat. Model dan Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan Bandung: Humaniora Ibrahim, R. (2010) Pelaksanaan Budaya Gotong Royong Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo. Jalal, F. (2004). Isu Strategis Pendidikan: Pendidikan Untuk Semua dan Kesepakatan Dakkar. Disampaikan pada Capacity Building Bagi Calon Anggota DPR-RI dari DPD Perempuan Periode 2004-2009 yang diselenggarakan oleh DPR-RI, Tanggal 4 Agustus 2004 di Jakarta. -------------- .(1996). Pemberdayaan Masyarakat: Konsep Pembangunan yang Berakar pada Masyarakat. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Joesoef, Soelaiman.Slamet Santoso (1987). Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah.Surabaya. Bumi Aksara. Kamil, Mustofa.(2002). Model Pembelajaran Magang Bagi Peningkatan Kemandirian Warga Belajar. Disertasi Program Pascasarjana UPI: Tidak diterbitkan. --------------- (2007). Mengembangkan Pendidikan Nonformal Melalui PKBM di Indonesia. Sebuah Pembelajaran dari Kominkan di Jepang. University of Tsukuba. ---------------- (2009). Pendidikan Nonformal. Bandung : Alfabeta. ---------------- (2010).Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan Aplikasi). Bandung : Alfabeta. Kidd, J. R. (1973). How Adult Learn. Cambridge Education Company. New York. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 123

Kindervater, S. (1979). Nonformal Education as An Empowering Process, Massachusetts: Center for International Education University of Massachusetts. Knowles, M.S. (1980). The Adult Learner : A Neglegted Species Houston. Gulf Publishing Couparman: Atwi. ---------------- (1994). Andragogi in Action Applying Modern Principles of Adult Learning. California. Josey-Bas. Koentjaraningrat. (1987). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Universitas Indonesia. Kusnadi, (2008). Akar Kemiskinan Nelayan. Yogyakarta: LKiS Lerner, R.M & Hultsch, D.F. (1983). Human Development: A Life-Span Perspective. New York : McGraw-Hill. Lee, H (1970), Education Income, dan Human Capital, New York, Columbia University Press. Lee,B. (2002). Parental Involvement in Croos Cultural Perspective (Thesis). University of Illionis. Lunandi,AG.(1998). Pendidikan Orang Dewasa.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. McClelland D. dan D. Winter,. (1969). Motivating Economic Achievement. New York . The Free Press. Meredith G. Geoffrey. (1996). Kewirausahaan : Teori dan Praktik.Jakarta: Pustaka Binaman Presindo. Moedzakir. Djauzi. (2010). Metode Pembelajaran Program-Program Pendidikan Luar Sekolah. Malang. UNM Press Moekidjat. (1977). Manajemen Personalia. Medan : Ghalia Indonesia. Mubyarto.dkk.(1991).Etos Kerja dan Kohesi Sosial.Yogyakarta : P3PK- UGM. --------------- (1997). Pembangunan yang Bertumpu pada Masyarakat Menyongsong Abad XXI. Bunga Rampai. Jakarta: Perencanaan Pembangunan Indonesia. Mukhtasor. (2007). Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta : PT Pradya Utama. Mussleman, Vernon A, (1984), Introduction to Modern Busines. New Tersev. Prentice Hall. Nasution.S.(1988). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 124

Nontji, A. (2002). Laut Nusantara. Cetakan ketiga. Jakarta : Djambatan. Pemerintah Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, (2010). Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP). Gorontalo. Ranjabar, Jacobus. (2006). Sistem Sosial Budaya Indonesia.Suatu Pengantar. Bandung : Ghalia Indonesia. Rifaid. (2000). Dampak Pelatihan Keterampilan Terhadap Perubahan Sikap dan Perilaku serta Kemandirian Bekas Wanita Tuna Susila (WTS)di Nusa Tenggara Barat. Tesis Program Pascasarjana UPI. Tidak diterbitkan. Rosdiana. Afia,(2006). Partisipasi Orang Tua Terhadap Pendidikan. Dalam Jurnal Visi PTKPNF. Direktorat PTK-PNF Depdiknas. Jakarta. Sanafiah dan Abdillah H.(1980). Pendidikan Nonformal. Surabaya: Usaha Nasional. Sanusi, A, (1989), Krisis dan Reformasi Politik dan Ekonomi Dewasa Ini Peluang untuk PLS Alternalif, (Chapter XIV halaman 545-571) Saraka, (2001). Model Belajar Swaarah dalam Pengembangan Sikap-Mental Wiraswasta, Disertasi Program Pasccasarjana UPI. Tidak diterbitkan. Sarwoko. Bambang. (1989). Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah . Semarang: IKIP Semarang. Setiawaty, T. (2005). Optimalisasi Pembelajaran Manajemen Usaha Boga Melalui Pendekatan Magang. (Online). Tersedia : http://pkk.upi.edu/invotec 40-48.pdf. (Akses: 12 April 2011)

Syarief. Efrizal,(2001). Pembangunan Kelautan dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Jakarta
Siagian, Sondang P. (1998). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara Sihombing. U.(1999). Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan Jakarta:PD Mahkota. --------------- (2000). Pendidikan Luar Sekolah Manajemen Strategi Jakarta : PD Mahkota. Simamora, H. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta: STIE.YPKN. Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta. Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I Page 125

--------------- (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta Supriyoko. 2006. Etika Masyarakat Indonesia.Jakarta: Pradya Paramita Slamet PH. (2002). Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsep Dasar, http:/www.depdiknas.go.id pada tanggal 15 November 2002) (Diperoleh dari

Sudomo, M. (1989). Pendidikan Luar Sekolah ke Arah Sistem Belajar Masyarakat. Jakarta : Depdikbud Soetomo. (1990). Pengembangan Masyarakat: Beberapa Tinjauan Liberty. Khusus. Yogyakarta:

Soepardi. (2003). Menyiapkan Sumber Daya Manusia Mandiri Melalui Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. Stoner, J.A. (1987). Management. London : Prentice-Hall International Inc. Sudjana, D. (1993). Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif dalam Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Nusantara Press. --------------- (1993). Strategi Pembelajaran Nusantara Press. dalam Pendidikan Luar Sekolah Bandung:

--------------- (2000).Manajemen Program Pendidikan; untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Bandung: Falah Production. -------------- (2001). Pendidikan Luar Sekolah: Wawasan, Sejarah Perkembangan Falsafah, Teori Pendukung Azas. Bandung: Falah Production. -------------- (2004). Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung : Falah Production. Suharto, E. (2005). Membangun Masyarakat Memberdayakan Aditama. Rakyat. Badung: Refika

Supriharyono. (2007). Konservasi Ekosistem Sumber Daya Hayati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Supriyanto, (2009). Pendidikan Orang Dewasa. Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta : PT Bumi Aksara. Suryadi, Ace.(2009). Mewujudkan Masyarakat Pembelajar. Implementasi. Bandung: Widya Aksara Press Konsep, Kebijakan dan

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 126

Suryana, Endang. (2009). Model Pembelajaran Magang Berbasis Hubungan Kekerabatan dalam Meningkatkan Kemandirian Warga Belajar. Disertasi SPS Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak diterbitkan. Steinberg, L. (1993). Adolescence. New York: McGraw-Hill. Thohir,2011.Pengertian Wilayah Pesisir.(http://kuliahitukeren. blogspot.com/2011/02pengertian –wilayah-pesisir.html, diakses 6 Desember 2011). Tilaar H.A.R. (2001). Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi. Jakarta : PT. Grasindo Trisnamansyah, S. (1989). Perubahan Sikap dan Perubahan Sosial dalam Konteks Pembangunan dan Modernisasi. Bandung: PLS – FIP IKIP. --------------- (1992). Pendidikan Kemasyarakatan (Pendidikan Luar Sekolah). Bandung: FIP IKIP Bandung. Yulianti, Yayu. (2003). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Umum. Yunus, Dadang. (2010). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills).Online http/file upi edu/Direktori/FIP/jur. Pend. Luar Sekolah/19600926198_pdf. Diakses 11 Oktober 2010. UNESCO. (1993). Post-Literacy Programmes. Bandung : UNESCO Principal Regional Office for Asia and The Pasific. -------------- (1993). Continuing Education: New Politicies and Directions.Bangkok: UNESCO Principal Regional Office for Asia and The Pasific. -------------- (1996). Pendidikan Berkelanjutan : Arah dan Kebijakan Baru, Ditjen Diklusepora dan UNESCO PROAP: Bangkok. --------------- (1996). Program Berorientasi Masa Depan. Ditjen Diklusepora dan UNESCO PROAP: Bangkok --------------- (1991). Training Materials for Literacy Personnel. APPEAL UNESCO: Bangkok. Wiranata, A,B. I Gde. (2011). Antropologi Budaya. Bandung: PT Citra Aditya Bakti

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 127

Dr. ABD. Hamid Isa, M.Pd.I

Page 128

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->