P. 1
3-buku-pendidikan-karakter

3-buku-pendidikan-karakter

|Views: 142|Likes:

More info:

Published by: Ahmad Dzikki Fajrul Falah on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Competence Conscience Compassion Competence Conscience Compassion Competence Conscience MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DI UNIVERSITAS SANATA Compassion YOGYAKARTA

Competence DHARMA Conscience Compassion Competence Conscience Compassion Competence Tim Penyusun: Conscience Compassion Dr. C. Kuntoro Conscience CompetenceAdi, S.J., M.A., M.Sc. Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc. Minto Istono, S.Psi., M.Si. Compassion Competence Setya Tri Nugraha, S.Pd., M.Pd. Eduardus Maryarsanto P. S.E..Akt Conscience Compassion Competence Conscience Compassion Competence Conscience Compassion YOGYAKARTA 2010 Competence Conscience Compassion Competence Conscience Compassion Competence Conscience

KATA PENGANTAR
Pengembangan karakter bangsa melalui pendidikan menjadi tujuan pendidikan nasional yang diharapkan menghasilkan manusia-manusia yang cerdas, tangguh, dan peduli. Sumber daya manusia yang dihasilkan dari proses pendidikan ini pada akhirnya diharapkan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Universitas Sanata Dharma sebagai perguruan tinggi Jesuit memiliki tradisi pendidikan yang kuat berbasis spiritualitas Ignasian. Dalam konteks pendidikan karakter mahasiswa, spirit itu diterjemahkan dan dioperasionalkan dalam model pendidikan karakter melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstra kurikuler. Secara khusus, USD menyadari bahwa kegiatan pembelajaran menjadi ujung tombak untuk menyiapkan generasi muda yang akan memikul tanggung jawabnya di masa depan. Implementasi Pedagogi Ignasian menjadi salah satu pilihan untuk melahirkan pribadi-pribadi dan pemimpin-pemimpin yang berjiwa Ignasian dan memiliki competence, conscience, dan compassion. Di pihak lain, kegiatan kokurikuler juga memberi sumbangan penting bagi pembentukan karakter. Pada kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk berproses dengan pengalaman nyata yang mengasah kecerdasan emosi melalui interaksi dengan diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Buku ini ditulis dengan maksud : 1) menjadi pedoman bagi universitas untuk pengembangan karakter mahasiswa, 2) menjadi rujukan dan memberikan inspirasi tentang model
2

pendidikan karakter bagi institusi-institusi pendidikan yang memerlukannya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata USD dalam pengembangan karakter mahasiswa berdasarkan ciri-ciri lembaga ini sebagai universitas Jesuit di Indonesia.. Disadari bahwa banyak model dan nilai-nilai lain yang dapat dikembangkan sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan terkait. Penggalian nilai-nilai kelembagaan menjadi hal yang paling pokok dalam memberikan landasan filosofis bagi pengembangan karakter mahasiswa. Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, Desember 2010 Rektor USD,

Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, S.J.

3

....... 2 Daftar Isi ..... Tujuan .................. 100 H........................................................ LAMPIRAN 4 ......................... Latar Belakang ............ 15 B................................................................................. 16 C.................................DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul .......... Penutup ................................ Nilai-nilai yang dikembangkan .................................................................... Pelaksanaan Pendidikan Karakter . 40 E............................. 1 Kata Pengantar ....................................... 97 F.... 19 D....................................... 98 G............... Daftar Pustaka . 4 5 A....... Landasan Teoritik dan Deskripsi Model ....................................................

A. Peserta didik memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. Renstra Kemendiknas 2010 menyebutkan bebe-rapa paradigma pendidikan menyangkut peserta didik. maupun makhluk sosial. spiritual. Dua diantaranya menyangkut pember-dayaan manusia seutuhnya dan pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik (Renstra Kemendiknas 2010-2014. LATAR BELAKANG Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan landasan filosofis serta berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan. Berdasarkan landasan filosofis tersebut. 5 . Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu). sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan tugas memimpin kehidupan yang berharkat dan bermartabat serta menjadi manusia yang bermoral. dan kinestetik. hal. sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan). Paradigma pemberdayaan manusia seutuhnya menyatakan bahwa memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. berbudi luhur. baik sebagai makhluk Tuhan. makhluk individu. 3). sosial. dan berakhlak mulia yang menjunjung tinggi dan memegang teguh norma agama dan kemanusiaan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

dan waktu. pember-dayaan. dan watak. Pembelajaran sepanjang hayat berlangsung secara terbuka melalui jalur formal. kepribadian. serta berbagai kecakapan hidup (life skills). yaitu pembelajaran sejak lahir hingga akhir hayat yang diselenggarakan secara terbuka dan multimakna. atau karakter unggul. Makna insan cerdas Indonesia yang dicita-citakan oleh undang-undang adalah sebagai berikut: Cerdas Spiritual Insan yang cerdas Spiritual mampu beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan. dan mendorong peserta didik menjadi subjek pembelajar mandiri yang bertanggung jawab. memfasilitasi. Pendidikan multimakna diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan. pembentukan akhlak mulia. kreatif. ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul 6 . Paradigma ini memperlakukan. inovatif. nonformal. sportif.Paradigma pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. budi pekerti luhur. tempat. Renstra tersebut diproyeksikan sebagai upaya membentuk insan cerdas Indnesia. dan berkewirausahaan. Pembelajaran dengan sistem terbuka diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). dan informal yang dapat diakses oleh peserta didik setiap saat dan tidak dibatasi oleh usia.

serta kompetensi untuk mengekspresikannya. bugar. Cerdas intelektual Insan yang cerdas intelektual memiliki kemampuan untuk:  beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi diri dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. 7 . (c) empatik dan simpatik. (d) menjunjung tinggi hak asasi manusia. sigap. Cerdas kinestesis Insan yang cerdas kinestesis memiliki kemampuan untuk beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat. (g) berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga Negara. berdaya tahan. terampil. (f) menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara. inovatif dan imajinatif. (b) demokratis.Cerdas emosional dan sosial Insan yang cerdas emosional dan sosial memiliki kemampuan untuk:  beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan kepekaan dan daya apresiasi akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya.  beraktualisasi diri sebagai insan intelektual yang kritis. dan cekatan. (e) ceria dan percaya diri.  beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang (a) membina dan memupuk hibungan timbal balik.

inkoherensi politisi atas retorika politik. PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK WATAK BANGSA Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional.  bersemangat juang tinggi. arah kebijakan pembangunan nasional 2010-2014 adalah pada pembentukan akhlak mulia dan karakter bangsa.  pembangun dan pembina jejaring.  pantang menyerah.  mandiri.  bersahabat dengan perubahan. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan. Terjadinya degradasi moral dan menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara dipandang sebagai gejala belum efektifnya implementasi pendidikan.  sadar mutu. dan  menjadi rahmat bagi semesta alam. pendidikan 8 .  pembelajaran sepanjang hayat.  berorientasi global. maraknya tindak kekerasan. Di tengah kebangkrutan moral bangsa. Secara jelas. kepribadian dan akhlak mulia.Makna Insan Idonesia Kompetitif Insan yang kompetitif memiliki ciri :  berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan.  inovatif dan menjadi agen perubahan.  produktif. dan perilaku keseharian.

yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. peserta didik akan menjadi cerdas emosinya. karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan. Louis bahwa ada peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Martin Luther King.al. that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter. 2001) diuraikan berbagai hasil 9 .. yakni. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif peserta didik yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting bagi peserta didik dalam mempersiapkan masa depan. Dalam buletin tersebut. Dalam buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins.. et. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Character Educator. Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini.. Foerster (1869-1966) yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. intelligence plus character. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan.. juga pernah dikatakan Dr. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu. diuraikan hasil studi Dr. adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).karakter model FW. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St.

Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. intuisi. Ia menyebut karakterkarakter manusia yang berhubungan dengan aktivitas kewirausahaan diantaranya: independensi. rasa empati. Penyiapan peserta didik untuk masuk dan berhadapan dengan dunia yang kapitalistik menjadi tujuan yang jelas bagi pendidikan. dan kemampuan berkomunikasi. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. tetapi pada karakter. tawuran. “untuk pekerjaan” untuk membantu masa transisi dari masa muda ke masa dewasa dalam menghadapi dunia kerja. akan mengalami kesulitan belajar. kemampuan bergaul. dan sebagainya. kemampuan menghadapi resiko. kemampuan bekerja sama. miras. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Ada sejumlah faktor penyebab kegagalan anak di sekolah yang ternyata bukan hanya terletak pada kecerdasan otak. kreativitas.penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. dan kepemimpinan. Ia menyatakan bagaimana orang harus belajar “melalui pekerjaan”. keberhasilan seseorang di masyarakat 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. imajinasi. tidak mudah bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Ternyata. kemampuan berkonsentrasi. perilaku seks bebas. inovasi. Ron Ritchhart (2001) menyimpulkan peran penting pendidikan karakter dalam era ekonomi pasar. “tentang pekerjaan”. yaitu rasa percaya diri. narkoba. 10 . dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa.

apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras. Salah satu kebijakan itu adalah mengembangkan kurikulum pendidikan yang memberikan muatan soft skills yang meningkatkan akhlak mulia dan menumbuhkan karakter berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu. menyangkut penyiapan peserta didik. VISI UNIVERSITAS SANATA DHARMA TENTANG PENDIDIKAN KAUM MUDA 11 . Kementerian Pendidikan Nasional telah memiliki sejumlah kebijakan yang tertuang dalam Renstranya. Realitas bangsa Indonesia dengan keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat memerlukan keterbukaan untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya haruslah merupakan keberpihakan yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik. sosial. Oleh karena itu.Dari mana memulai pembelajaran nilai-nilai karakter bangsa? Tantangan saat ini dan ke depan adalah mencari strategi yang tepat untuk menempatkan pendidikan karakter sebagai suatu kekuatan bangsa. dan budaya bangsa. suku dan keagamaan. Kebijakan itu perlu ditanggapi dengan tindakan nyata berupa rancangan pendidikan karakter yang diimplementasikan hingga tataran praktis secara sistemik dan terorganisir. pendidikan harus diletakkan pada posisi yang tepat.

Universitas Sanata Dharma (USD) memiliki keprihatinan khusus terkait dengan pengembanngan generasi muda. Keprihatinan itu dituangkan dalam salah satu visinya, yang dalam uraian lengkapnya berisi tentang bagaimana USD memandang kaum muda dan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengembangkannya. Dalam sejarah Indonesia, kaum muda merupakan kelompok dinamis yang memiliki peran penting sebagai pelaku perubahan sosial. Peran generasi muda dianggap sangat penting dalam membangun negara. Oleh karena itu, mereka perlu dibantu untuk mengembangkan dirinya secara aktif dan kreatif. USD menyadari bahwa sebagian besar dari subyek yang dilayani adalah kaum muda melalui kegiatan belajar mengajar. Usaha pengembangan kaum muda ini dilakukan menyeluruh menyangkut seluruh daya manusia yaitu pikiran, hati, dan kehendak. Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan kaum muda ini menekankan keterpaduan antara keunggulan akademik dan nilai-nilai kemanusiaan. Arah dari pengembangan ini adalah agar lulusan mampu berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat pluralistik yang adil, demokratis dan sejahtera. Lulusan diharapkan tidak hanya mampu menguasai ilmu pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga harus peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menjadi pelaku perubahan sosial yang berguna bagi masyarakat. Pengembangan kaum muda ini didasarkan atas visi Ignasian yaitu “men and women for and with others atau “manjadi manusia bagi dan bersama orang lain”. Sebagai perguruan tinggi Jesuit, sasaran pendidikan USD mengacu pada buku “Ciri-ciri khas Pendidikan pada Lembaga

12

Pendidikan Jesuit” yang sasaran pendidikannya dapat disarikan sebagai berikut:

Sasaran Pendidikan Jesuit
 Pembentukan intelektual: kemampuan berpikir secara reflektif, logis, dan kritis (hal 26)  Memperhatikan perkembangan segi imajinasi, perasaan, kreativitas (hal 28)  Menekankan peran selaku anggota komunitas insani: solidaritas di atas ras, kebudayaan dan agama, sikap sopan santun, kerja sama, saling memahami, menghormati, dan mengasihi (hal. 33)  Mementingkan perhatian dan keprihatinan bagi setiap orang, menekankan kegiatan siswa sendiri, menganjurkan keterbukaan untuk berkembang sepanjang umur (hal. 44)  Keperihatinan kepada kebutuhan orang lain, perhatian pada pribadi orang (“cura personalis”) (hal. 43)  Pertumbuhan ke arah kemandirian dan kematangan bergantung pada partisipasi aktif siswa, studi pribadi, kesempatan untuk menemukan sendiri dan kreativitas serta sikap reflektif (hal 45)  Membuka diri terhadap perubahan, untuk terus belajar (hal. 47)  Terarah pada nilai-nilai yang baik (hal. 50)  Pembentukan nilai, sikap, dan kemampuan untuk menilai (pembentukan kehendak). Pengetahuan tergabung dengan kebajikan (hal. 51)  Membawa pada keterlibatan menjadi manusia demi orang lain (hal. 70).

13

Paradigma pendidikan berikut sasarannya ini kiranya sejalan dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan arah pendidikan sebagaimana disebutkan di atas. USD dengan demikian ikut ambil bagian dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan yang mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mengintegra-sikannya dengan nilainilai humanistik.

14

5 RENSTRA USD 2008-2012 yaitu dinamisasi Ignatian Corporate Culture untuk meningkatkan kontribusi USD sebagai Universitas Jesuit di Indonesia. . yaitu: 1.TUJUAN Buku ini ditulis dengan tujuan yang bersifat internal maupun eksternal. memberikan arah dan pedoman bagi realisasi misi USD pada pembentukan watak kaum muda melalui pendidikan. 15 . 2.B. Kedua tujuan tersebut relevan dengan strategi ke. memberikan sumbangan pemikiran bagi pendidikan di Indonesia menyangkut pendidikan karakter.

Salah satu rujukan definisi yang paling sesuai tentu saja berasal dari lembaga pendidikan Jesuit. and effective communication skills. technological and vocational skills. A person of conscience discerns what is right. Berikut adalah definisi dari Loyola High School yang dapat diakses di http://www. Ketiga ranah tersebut diharapkan menjadi hasil mahasiswa yang diperoleh melalui pengalaman yang diolah dan direfleksikan dalam proses pendidikan di USD. and creatively). criticaly. dan compassion.au/school/school. and true.edu. and has the courage to do it. has a passion for social justice and is an influential leader in their community. in 16 . A compassionate person generously responds to those who are in greatest need who walk with others to enpower them. and leisure. imaginatively. Lulusan USD diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang tinggi (competence) tetapi mampu mengintegrasikan ketiganya sebagai identitas yang melekat dalam dirinya.nsw. conscience. ketiga ciri di atas perlu diidentifikasi indikator-indikator yang dapat diukur sebagai penanda ketercapaiannya. good. Untuk keperluan tersebut terlebih dahulu perlu didefinisikan secara lebih jelas apa yang dimaksud dengan competence. NILAI-NILAI YANG DIKEMBANGKAN Karakter mahasiswa USD yang diharapkan adalah karakter yang bercirikan competence. conscience.loyolashs. an appreciation of creative art. take a stand when necessary.swf competence embraces a broad spectrum of abilities – academic proficiency (including the ability to reason reflectively. Such a person is a pperson of integrity. logicaly.C. sport. Sebagai hasil dari proses pendidikan. dan compassion.

apabila masing-masing dari ketiganya dicermati secara parsial. Akan tetapi. conscience. kebebasan) dan moral masuk dalam ranah conscience. Competence Competence dimaknai sebagai kemampuan akademik yang memadukan unsur-unsur pengetahuan keterampilan. telah diidentifikasi pengertian competence. Berdasarkan definisi tersebut. dan compassion. psikomotorik. dan afektif (KPA) seperti yang dikemukakan oleh para ahli seperti Bloom. benar-salah). Unsur-unsur dasar competence: pengetahuan. b. Unsur-unsur dasar conscience adalah:  moral 17 .solidarity and empathy. Namun demikian. di sana termuat juga sebagian afektif meskipun terbatas dalam kaitannya dengan keilmuan (akademik). Competence sangat kental bermuatan ranah kognitif dan psikomotorik. pemahaman nilai-nilai (kejujuran. integritas. Conscience Conscience dimaknai sebagai kemampuan memahami alternatif dan menentukan pilihan (baik-buruk. dan sikap. dan sikap. Mengacu pada definisi tersebut serta mempertimbangkan visi-misi USD. Dengan jelas. Conscience dan compassion sangat jelas bermuatan ranah afektif. tampak jelas bahwa bila ketiganya dianggap sebagai sebuah keterpaduan. keterampilan. hal tersebut serupa dengan keterpaduan ranah kognitif. a. keadilan. dan Popham. akan tampak perbedaan pada penekanan-penekanan meskipun tetap beririsan satu dengan yang lain. misalnya sikap atau minat. Andersen.

18 . Compassion Compassion dimaknai sebagai kemauan untuk berbela rasa pada sesama dan lingkungan (Man and women for and with others).            prinsip tanggung jawab kejujuran mandiri kebebasan keterbukaan memiliki semangat pembelajar kesadaran (eling) kewaspadaan (prudent) keadilan konsekuen. Unsur-unsur compassion adalah : peduli. peka. c. dan tanggap. rela. dan keseimbangan.

tetapi dapat dirasakan dengan mengalaminya. Pengertian Karakter Karakter merupakan sesuatu yang tidak terlihat dengan mata. pelatihan interpersonal dan lain-lain. kita memahami karakter sebagai kerangka perilaku seseorang yang dipertimbangkan dari suatu sudut moral.1 PENDIDIKAN KARAKTER Pendidikan karakter seringkali dipisahkan dengan pendidikan akademis. berkembang pengertian bahwa karakter adalah sebuah tanda atau ciri yang sangat khas. misalnya berada bersama dengan orang yang berkarakter. Berangkat dari akar kata tersebut. William (2002) menyatakan bahwa karakter adalah susunan ciri psikologis yang mempengaruhi kecenderungan dan kemampuan seseorang untuk bertindak 19 . dan sumber pembentuk karakter. perlu kiranya memahami pengertian karakter. Riyan dan Bohlin (2001) secara etimologis menerangkan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani charassin yang berarti menuliskan pada permukaan lempengan batu atau logam.D. Untuk dapat memahami pentingnya pendidikan karakter dan model pengembangannya. Kemudian. Ada pendidikan karakter yang berdiri sendiri seperti pelatihan-pelatihan khusus atau pembelajaran mata kuliah khusus untuk mengembangkan karakter mahasiswa. LANDASAN TEORITIK DAN DESKRIPSI MODEL D. perkembangan karakter. peer conflict resolution. Ada pula pendidikan karakter sebenarnya dapat diintegrasikan dalam kurikulum yang implementasinya terlihat dalam praktik pembelajaran. misalnya sexual education. pada proses selanjutnya.

Aliran nature berpendapat lain. Keutamaan yang mengarah kepada orang lain adalah murah hati dan bela rasa. Dia mengembangkan keutamaan hidup yang mengarah baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Aristoteles memandang bahwa orang yang memiliki karakter baik. Dua jenis keutamaan tersebut saling berhubungan satu sama lain. cerita kepahlawanan. Perkembangan karakter Ada beberapa perspektif terkait faktor yang mempengaruhi perkembangan karakter seseorang. Pengikut aliran nurture berpendapat bahwa karakter terbentuk karena faktor lingkungan sehingga perkembangannya dimulai sejak dia lahir dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Aliran interaksionis muncul sebagai penengah diantara aliran nurture dan nature. melainkan keduanya. hidupnya senantiasa melakukan kebaikan terhadap orang lain dan diri sendiri.secara bermoral. cara berperilaku yang secara relatif dapat diramalkan. kisah-kisah dalam buku sastra. Aliran 20 . Setiap individu memiliki karakter. Karakter merupakan gabungan semua keutamaan yang hidup dalam tradisi keagamaan. Keduanya harus kita kembangkan agar kita tidak hanya berbuat baik kepada diri sendiri atau hanya kepada orang lain saja. Para pengikut aliran ini mengatakan bahwa karakter lebih dipengaruhi faktor genetik sehingga perkembangan karakter sudah dimulai sejak pranatal karena faktor genetik orang tuanya. Keutamaan yang mengarah kepada diri sendiri misalnya adalah pengendalian diri sendiri dan keugaharian. pola bertindak yang dengan mudah dapat dirasakan oleh orang disekitarnya. dan tokoh-tokoh dalam sejarah. Karakter tersusun atas unsur-unsur yang dapat membimbing seseorang untuk melakukan tindakan yang benar.

perasaan benar atau salah. dan tindakan beresiko (seperti misalnya seks bebas dan penggunaan narkoba). moral reasoning berkaitan dengan perilaku bermoral dan tidak bermoral seperti menolong. pada masa remaja. nakal. Pada umumnya. Mahasiswa berada pada tahap remaja akhir dan dewasa awal sehingga perkembangan karakter yang menonjol adalah moral reasoning dan terbentuknya moral identity. Perkembangan karakter yang menonjol dimasa remaja adalah moral reasoning dan pembentukan moral identity. perkembangan karakter di masa remaja merupakan lanjutan dari karakter yang sudah mulai muncul dari masa bayi dan anak-anak. selain dipengaruhi oleh genetik karakter juga dipengaruhi oleh lingkungan sehingga dapat dikatakan bahwa karakter berkembang saat individu dibentuk dalam kandungan dan akan terus berkembang karena faktor lingkungan. Karakter-karakter tersebut terus berkembang hingga mulai muncul karakter yang lebih matang seperti kontrol diri. dan kelekatan dengan orang lain.ini mengatakan bahwa. konsep tentang manusia. perspective-taking (anak bertindak dengan mempertimbangkan cara-cara pihak lain juga akan bertindak). Lebih lanjut. Moral reasoning adalah perkembangan dari kapasitas kognitif untuk menilai sesuatu benar atau salah dan membuat keputusan dengan pertimbangan moral yang matang. Berbeda dengan perkembangan pada masa anakanak yang baru dapat mempertimbangkan konsekuensi konkrit. seseorang sudah dapat mempertimbangkan konsekuensi abstrak. 21 . Karakter yang mulai berkembang dimasa bayi di antaranya: rasa empati. curang.

memiliki ketajaman penalaran moral. conscience (suara hati). memiliki orientasi sosial. disiplin dan penuh cinta cenderung membentuk anak yang mudah taat. Peran sekolah/universitas dalam membentuk karakter anak didik selalu bersifat sekunder. Proses tersebut berlangsung melalui interaksi antara orang tua dan anak. Sumber Pembentuk Karakter Karakter seseorang dapat dibentuk melalui keluarga. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa (1) pada tahun-tahun pertama kehidupan anak memiliki ikatan emosi yang sangat kuat dengan orang tua. meskipun sepertiga waktunya dihabiskan di sekolah atau universitas. dan masyarakat.Kondisi perkembangan remaja tersebut di atas sesuai sekali dengan nilai-nilai Ignatian yang dikembangkan dalam konteks pengembangan karakter remaja yaitu compentence (kompetensi). (2) sebelum masuk sekolah/kuliah anak sudah memiliki 22 . sekolah. memiliki kematangan empati. dan altruis. Sumber utama pembentuk karakter adalah keluarga. Orang tua yang memberikan perawatan dengan baik. Ketiga karakter inilah yang menjadi nilai utama yang dikembangkan USD dalam membentuk karakter mahasiswa. memberikan pujian daripada celaan. tumbuh dalam keluarga yang demokratis. terbuka. teman sebaya. kepekaan suara hati. memiliki harga diri yang positif. terutama kedua orang tua. compassion (hasrat bela rasa). Damon (2002) melaporkan hasil dari beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Pembentukan karakter yang terjadi di keluarga kemudian akan diperluas oleh pengalaman di sekolah/universitas.

Pengaruh masyarakat dalam pembentukan karakter berlangsung melalui media massa. menanamkan rasa setia kawan. Selama berinteraksi dengan teman sebaya para siswa dapat belajar memecahkan masalah. perilaku prososial. pikiran. Namun demikian. dan suasana hidup secara umum. Dengan kata lain. keterampilan sosial.2 PEDAGOGI IGNASIAN Dari makna etimologisnya.Yunani) mengandung makna metodologi atau cara mendampingi dan membantu pembelajar tumbuh dan berkembang dengan didasarkan pada pandangan hidup dan visi tentang pribadi manusia ideal. Pengaruh teman sebaya sangat besar dalam pembentukan karakter dan perlu diingat bahwa puncak pengaruh teman sebaya berlangsung dimasa remaja. pedagogi selalu sudah 23 . dan nilai-nilai yang dikembangkan oleh remaja. meskipun bersifat sekunder. dsb. melatih kejujuran. kematangan penalaran moral. Sumber pembentuk karakter mahasiswa yang lain adalah masyarakat. dan pengetahuan mengenai moralitas/ suara hati.bentukan dasar-dasar karakter baik dari keluarga atau sekolah ditingkat bawahnya. D. Berita atau informasi atau hiburan yang tersampaikan melalui media massa baik cetak maupun elektronik sangat mempengaruhi perasaan. Proses pembentukan karakter disekolah/ universitas diwarnai dengan interaksi antar teman sebaya. membangun persahabatan. nilai-nilai kultural. kata pedagogi (paideia . mengasah ketajaman suara hati. peran sekolah/ universitas dalam membentuk karakter tetap sangat penting. nilai-nilai. Sekolah/ universitas berperan besar dalam membangun konsep diri.

berbangsa. segala anugerah Allah yang diberikan kepada setiap orang mengungkapkan Allah yang mencintai setiap orang secara pribadi dan mengundang tiap pribadi untuk membalas cintaNya. tubuh. yang berarti juga cita-cita pendidikan nasional. Manusia diberi hidup. Proses pendidikan di USD. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Dalam Pedagogi Ignasian. perlu memperhatikan wilayah (domain). dalam pencariannya. akal budi. Visi tentang pribadi manusia yang ideal itu selalu berkaitan dengan konteks tertentu. Bagi Ignatius. Manusia dalam pandangan Ignatius adalah ciptaan yang berharga di mata Allah. Cita-cita negara. kemampuan. Hal ini sejalan dengan Strategi 24 . (1) Pendidikan Nasional dan (2) Pedagogi Ignasian. 2007). Cinta Allah mengalir dalam setiap ciptaan-Nya. termuat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang pada gilirannya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan kehendak bebas dan dengan semua itu dia mampu mencipta seperti Allah sendiri. Pengembangan ilmu dan teknologi melalui pendidikan harus tanggap terhadap perubahan global dan munculnya tatanan baru kehidupan bermasyarakat. bakat.mengandung cita-cita yang dituju sekaligus kriteria untuk memilih sarana yang digunakan dalam proses pendidikan (Supratiknya. dan bernegara. cita-cita mengenai manusia ideal yang dituju dan kriteria pemilihan sarana dalam pendampingan mahasiswa itu didasarkan pada pandangan dan pengalaman pribadi Santo Ignatius Loyola maupun praktik baik yang kemudian berkembang sebagai pola pendidikan Jesuit. terutama dalam diri seorang manusia.

Selain itu. USD mendasarkan pendekatan pendidikannya dengan mengedepankan manusia sebagai tujuan. Sebagai universitas Jesuit di Indonesia. teknologi dan seni. dalam rangka mendukung cita-cita di atas. Tujuan utama pendidikan Jesuit bukanlah sekadar pengumpulan segudang pengetahuan atau persiapan untuk melaksanakan sebuah profesi. Nilai-nilai dan tujuan pendidikan khas tersebut bersumber dari kharisma St. yaitu nilai-nilai dan tujuan yang khas lembaga pendidikan Jesuit. dalam ranah pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah paradigma pendidikan yang disebut Pedagogi Ignasian. Mengapa Pedagogi Ignasian dipilih sebagai pendekatan dalam pendidikan di USD? Universitas Sanata Dharma adalah lembaga pendidikan tinggi Jesuit yang memiliki keunikan yang bersumber dari misi dan identitasnya (mission and identity). bukan sarana. melainkan lebih dari itu. yaitu mengembangkan pribadi manusia seutuhnya yang akan 25 . Ignatius. Pedagogi Ignasian yang dikembangkan dalam tradisi pendidikan Jesuit menjadi model yang akan mengembangkan peserta didik sebagai pribadi yang utuh. Dalam hal ini. Pendidikan Nasional harus memperhatikan konteks Indonesia yang multikultural sebagaimana termaktup dalam Pancasila dan UUD 1945.Jangka Panjang Pengembangan Pendidikan Tinggi dari Dirjen DIKTI. proses pendidikan di USD merupakan bagian integral dari pergulatan kemanusiaan dalam ranah akademik demi lahirnya pribadi-pribadi magis. yaitu pribadi yang selalu memimpikan dan mengupayakan kebaikan bersama yang lebih. pendiri Serikat Jesus. Universitas Sanata Dharma ikut serta mengembangkan ilmu pengetahuan.

Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan segala aspek kemanusiaan setiap orang di dalamnya. dan memiliki komitmen untuk mewujudkan keadilan dalam pelayanannya terhadap umat Allah. memiliki kompetensi intelektual. S. (Jenderal Jesuit 1983 s. 26 . refleksi mengambil peran yang penting. memiliki kemauan untuk berkembang. Dengan berefleksi.menjadi ’manusia untuk dan bersama orang lain’ (Men and Women – for and with – Others). dan dapat bertindak sesuai dengan martabatnya dan demi martabatnya sebagai ciptaan yang berharga dan dicintai Allah. agar dia menemukan diri sebagai orang yang diciptakan Allah demi sesamanya. ia dapat mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan martabatnya yang luhur. menyadari dan menerima martabatnya sebagai ciptaan Allah. penuh kasih. Dalam pendidikan berbasis Ignasian. mahasiswa menimbang dan memilih pengalaman-pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik. J. sesuai dengan semangat dan teladan Yesus Kristus. Pola pengalaman-refleksi-tindakan di atas harus diletakkan dalam konteks relasi yang baik antara pendidik dan peserta didik karena keberhasilan proses pembelajaran mensyaratkan relasi yang baik antara pendidik dan peserta didik yang didasari rasa saling percaya dan menghargai. Pater Kolvenbach.d 2008) mengharapkan agar lulusan sekolah Jesuit menjadi orang yang “utuh”. religius. Dengan cara ini.” Pendidikan mengambil peran yang penting dalam proses mewujudkan kebebasan manusia yang sejati. Pendidikan membantu setiap orang untuk mengetahui.

sedang dan akan dikerjakan. model relasi tiga pihak tersebut diterapkan pada dosen. 1 Kutipan ini diambil dari makalah berjudul “Pedagogi Ignasian” yang disusun oleh A. terlibat secara pribadi. Dari buku Latihan Rohani. 27 . peserta retret. Latihan ini bertujuan untuk membantu orang mengatur hidup dengan melepaskan diri dari segala hal yang membelenggu kebebasan. 1. mahasiswa dan kebenaran. pikiran. Priyono Marwan. Latihan rohani adalah latihan-latihan yang teratur. Dalam Pedagogi Ignasian. Latihan rohani menggunakan daya ingatan. Dalam Latihan rohani. Setelah menemukan kehendak Allah. ketiga pihak tersebut adalah pembimbing. Dosen berperan melayani mahasiswanya. Prinsip-prinsip itu dirumuskan di dalam bahasa perguruan tinggi sebagai berikut.1 disimpulkan tujuh prinsip dasar pedagogi Ignasian. hati dan kehendak pribadi manusia. dan membantu pengembangan kemampuan internal setiap mahasiswa. pikiran. dan Allah. kerap dan terstruktur untuk mengolah relasi dengan Allah dalam lingkup ajaran Kristiani. Ini semua dilakukan untuk membantu setiap pribadi dalam mencari dan menemukan kehendak Allah. peserta retret dibantu untuk membuat niat-niat yang akan diwujudkan dalam tindakan nyata. Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk menginginkan dan melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. berdasarkan relasi yang saling percaya dan menghargai.Latihan rohani merupakan acuan dalam kerangka Pedagogi Ignasian khususnya mengenai relasi tiga pihak. SJ yang disajikan dalam Pelatihan Prajabatan Calon Dosen Biasa USD tanggal 14 Januari 2000. peka terhadap bakat dan kesulitan mahasiswa. Latihan rohani melibatkan secara aktif tubuh. dan imajinasi terhadap hal-hal yang telah.

2. Mahasiswa perlu secara aktif terlibat dalam studi, penemuan, dan kreativitas pribadi. 3. Hubungan antara dosen dan mahasiswa bersifat pribadi dan berkelanjutan. 4. Silabus dan pengajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan mahasiswa. 5. Isi dan bahan (pendidikan) diatur dalam urutan yang bersifat logis. 6. Pengulangan dan perbaikan (preview and review) sungguh-sungguh diupayakan demi penguasaan yang lebih baik, asimilasi yang lebih baik, dan pandangan yang lebih mendalam. 7. Kedalaman materi lebih disukai daripada keluasan cakupan (non multa, sed multum). Dari uraian tersebut, tampak bahwa salah satu ciri khas pendidikan Jesuit adalah berorientasi pada nilai (value oriented). Dalam dokumen berjudul Pedagogy Ignasian: A Practical Approach (1993) yang dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan Jesuit Internasional di Roma, Italia, disebutkan bahwa pendidikan khas Jesuit yang berorientasi nilai inilah yang menyebabkan implementasinya tidak mudah. Dalam implementasinya perlu dieksplisitkan tentang profil alumni pendidikan Jesuit yang mau diperjuangkan, yang konsekuensinya adalah 28 ciri sebagaimana tertuang dalam berjudul Ciri-ciri Khas Pendidikan Pada Lembaga Pendidikan Jesuit (1987). Tujuan dan nilai-nilai pendidikan itu menuntut (a) proses pembelajaran dalam kerangka moral dan intelektual, (b) proses yang bergulat dengan isu-isu yang penting, dan (c) nilai-nilai kehidupan yang kompleks. Proses ini menuntut

28

tersedianya para pengajar yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memandu pencarian ketiga unsur tersebut. Secara praktis, penerapan model pendidikan dengan paradigma Pedagogi Ignasian biasanya dirumuskan dalam sebuah sistem yang memiliki unsur-unsur pokok: context – experience – reflection – action – evaluation). Dengan demikian, Pedagogi Ignasian menekankan langkah-langkah beruntun yang terdiri dari: konteks, pengalaman, refleksi, evaluasi, tindakan, dan (kembali ke) konteks.

KONTEKS

PENGALAMAN

REFLEKSI

Gambar 1. Siklus Pedagogi Ignasian

29

D.3 MODEL PENDIDIKAN KARAKTER

KONTEKS

PENGALAMAN

REFLEKSI

TINDAKAN

EVA LUAS I

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER KEMAHASISWAAN

KONTEKS

PEMBENTUKAN

KARAKTER

PROSES PENDIDIKAN

PENGALAMAN

PEMBELAJARAN

REFLEKSI

TINDAKAN

EVA LUAS I

KEGIATAN KO KURIKULER
KONTEKS

PENGALAMAN

REFLEKSI

TINDAKAN

EVA LUAS I

MODEL

Gambar 2. Model Pendidikan Karakter USD Pengembangan karakter mahasiswa USD dilakukan dengan mengintegrasikan 3 pendekatan dalam model yaitu pengembangan karakter melalui kegiatan kurikuler yaitu pembelajaran, melalui kegiatan kokurikuler, dan melalui kegiatan ekstra kurikuler (Gambar 2). USD mengusahakan pendampingan untuk menghasilkan mahasiswa yang memiliki karakter utuh dan tajam dalam kompetensi (competence), suara hati (conscience), dan hasrat bela rasa (compassion) mempergunakan pendekatan Pedagogi Ignasian, sebagaimana terlihat dalam skema di gambar di atas.

30

Pengenalan terhadap konteks membantu dosen menentukan bentuk dan cara pemberian pengalaman melalui pembelajaran agar mahasiswa dapat menarik makna dari pengalaman utuhnya selama belajar. Pengembangan Karakter Mahasiswa melalui Pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian Kerangka dasar Pedagogi Ignasian dalam pembelajaran menekankan langkah berkesinambungan antara konteks. 31 . Dalam kaitan ini. Dosen memulai proses pembelajarannya dari diri mahasiswa (student centered learning) dengan memahami sebanyak mungkin konteks-konteks yang melingkupi mahasiswa sebagai subyek yang akan ditantang. dan evaluasi. dan didukung untuk mencapai perkembangan pribadi yang utuh. pendidik dan peserta didik diajak memandang positif dunia dengan keterbukaan pada nilai-nilai yang ditawarkan. tindakan. pengalaman. Menjadi tugas dosen untuk memahami dan memilihkan pengalaman yang mengena dan selaras dengan pengalaman hidup mahasiswa sebelumnya. refleksi. Ignatius yang menerima dunia dan terbuka pada bimbingan roh. bagi hidupnya sendiri dan orang lain.1. Konteks Belajar dari St. didorong. mahasiswa diajak untuk mencermati konteks-konteks hidupnya guna mengenali faktorfaktor yang berpotensi mendukung atau menghambat proses pembelajaran.

pengalaman mahasiswa diharapkan menjadi bermakna 32 . tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap makna dan nilai hakiki dari apa yang dipelajari. Refleksi juga merupakan proses perubahan pribadi yang mampu mempengaruhi perubahan lingkungan. imajinasi. Melalui refleksi. pengalaman. dan sintesis atas semua kegiatan mental serta psikomotorik untuk memahami realitas secara lebih baik. ide. Dengan demikian. dosen menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan mahasiswa mengingat pengalamannya yang berkaitan dengan bidang ilmu yang dibahas. pemahaman. Mahasiswa didorong untuk menyaring fakta. evaluasi. Refleksi Dalam Pedagogi Ignasian. Pengalaman yang diolah dapat berupa pengalaman hidup mereka sendiri (pengalaman langsung) atau pengalaman yang diperoleh dari membaca dan mendengarkan (pengalaman tidak langsung). dan memilah nilai-nilai. Pada tahap ini mahasiswa diajak mencari pemahaman baru dengan melakukan perbandingan. menimbang perasaannya. mahasiswa siap menyerap pengetahuan baru untuk menjalani pengalaman lebih lanjut.Pengalaman Berdasarkan konteks yang telah dikenali pada tahap sebelumnya. refleksi menjadi penghubung antara pengalaman dan tindakan. analisis. Refleksi berarti mengadakan pertimbangan seksama dengan menggunakan daya ingat. kontras. dan perasaan menyangkut bidang ilmu.

sedangkan bagi dosen merupakan masukan untuk memperbaiki cara dan metode pembelajaran. Tindakan Pengolahan pengalaman melalui refleksi membentuk sikap dan nilai. Bagi mahasiswa. melainkan terarah ke kehidupan konkrit. 33 . unggul). Dalam Pedagogi Ignasian. Dalam proses pembelajaran.sehingga mampu mendorong untuk melakukan aksi atau tindakan. posisi batin atau niat untuk berbuat sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya. Evaluasi Evaluasi dalam pembelajaran adalah aktivitas untuk memantau perkembangan akademis mahasiswa. Hasil evaluasi ini menjadi umpan balik bagi mahasiswa maupun dosen. yang dimaksud dengan tindakan adalah memaknai hasil pembelajaran dengan pikiran dan hati untuk mewujudkan pengetahuannya dalam praktik kehidupan nyata. Dengan demikian pembelajaran di sini sudah mencapai tahap pengambilan sikap. Pengetahuan menjadi sesuatu yang tidak hanya teoritis dan mandul. hasil evaluasi ini bermanfaat untuk memperbaiki cara belajarnya. evaluasi tidak hanya dilakukan pada aspek akademis tetapi juga pada aspek kemanusiaan. Pemaknaan pengalaman yang diperoleh melalui refleksi tersebut dimaksudkan agar peserta didik mampu mengambil keputusan dan bertindak dengan semangat magis (the power to do more.

Sementara itu. mahasiswa dan dosen mengambil peran sebagai berikut. mengamati keaktifan mahasiswa dalam kelas. portofolio. 34 . misalnya: kemampuan bekerjasama. Dosen merencanakan penilaian secara teratur baik yang menyangkut kemampuan akademik maupun pertumbuhan kepribadian mahasiswa. mengukur relasi interpersonal mahasiswa. kepemimpinan.Evaluasi dilaksanakan secara periodik untuk mendorong dosen dan mahasiswa memperhatikan pertumbuhan intelektual. saling menghargai pendapat. Mahasiswa melakukan evaluasi diri untuk melihat perkembangan pengetahuannya maupun aspek-aspek kepribadian. dll. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan dievaluasi dengan ujian. meninjau jurnal/buku harian mahasiswa. Dalam tahapan evaluasi. dan lain-lain. dll. dan tindakan-tindakan yang selaras dengan prinsip men and women for and with others. proyek. sikap. perkembangan sikap-sikap kepribadian dievaluasi dengan wawancara pribadi.

evaluasi dan kembali ke konteks. Pengembangan Karakter Mahasiswa melalui KegiatanKokurikuler Berbasis Pedagogi Ignasian Seluruh program pendampingan mahasiswa bertujuan agar para mahasiswa menemukan jati diri mereka di tengah pergulatan dan perkembangan masyarakat. untuk menghasilkan lulusan dengan karakter utuh dan tajam dalam kompetensi (competence). mahasiswa USD diharapkan sanggup melakukan pembaharuan di tengah masyarakat dengan ilmu dan kecakapan yang ditempa selama menjalani studi di USD. Program pendampingan mahasiswa USD menempatkan mahasiswa sebagai subyek yang diharapkan mampu menjadi penggerak kekuatan transformatif masyarakat. Dengan jiwa mudanya yang berciri kreatif dan dinamis. sebagaimana dijelaskan dalam sub-bab sebelumnya. Penerapan model pendampingan kokurikuler dengan pendekatan Pedagogi Ignasian. tindakan. menekankan langkah-langkah berkesinambungan antara konteks. pengalaman. Konteks hidup mahasiswa mencakup keluarga. kelompok 35 . Seluruh program pendampingan mahasiswa USD bertolak dari kondisi para mahasiswa dengan memperhatikan karakteristik lulusan sekolah menengah dalam konteks dinamika masyarakat.2. Konteks Mahasiswa diajak untuk mencermati konteks hidup yang berpeluang mendukung atau menghambat proses pengolahan diri. suara hati (conscience). refleksi. dan hasrat bela rasa (compassion).

media dan kenyataan hidup lainnya. baik aktivitas mandiri maupun aktivitas dalam kelompok. berbagai bentuk aktivitas pengolahan pengalaman dalam PPKM dibangun sedemikian sehingga keaslian dan keunikan pengalaman tidak menghilang. di mana dan seperti apa lingkungan tempat berinteraksi. 36 . lembaga pendidikan. serta konsep atau pengertian yang dibawa oleh mahasiswa ketika memulai proses pengolahan diri lewat Pelatihan Pengembangan kepribadian Mahasiswa (PPKM). Pengalaman digali. ekonomi. tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan substansi formatifnya. Mengingat pengalaman-pengalaman dari para peserta sungguh berharga. Konteks mencakup juga penggambaran dengan siapa mahasiswa berinteraksi. serta mengapa mengikuti PPKM. Untuk itu. tetapi justru memancarkan jati diri peserta. ditemukan. dirumuskan dan dikomunikasikan melalui berbagai bentuk aktivitas latihan.sebaya. situasi sosial. apa yang diharapkan muncul dari interaksi. keadaan politik. agar proses PPKM berlangsung secara efektif. bagaimana latar belakang dan pengalaman hidupnya. berbagai bentuk kegiatan latihan yang disajikan dalam PPKM diupayakan agar sesuai dengan konteks kultural dan kemudaan para mahasiswa. Pengalaman Bahan pokok PPKM adalah pengalaman konkret para peserta. Fasilitator perlu mengungkap dan memahami konteks. kebudayaan. dan merupakan berkat kehidupan.

Pada hari kedua. yang pada saatnya mampu mempengaruhi perubahan lingkungan sekitar. para peserta diajak untuk mengolah konteks seluruh pengalaman mereka yaitu: diri pribadi dan dunia yang terus berubah.Refleksi Refleksi. dan keberanian mengekspresikan diri. peserta diajak mengolah pengalaman dalam menumbuhkan strategi praktis: kecerdasan memutuskan prioritas. unggul). Refleksi dimaksudkan untuk melakukan pertimbangan dengan seksama mempergunakan ingatan. serta sikap yang bergelora karena cita-cita. nilai dan cita-cita merupakan hasil pengolahan peserta didik dalam refleksi. dan perasaan. Dalam PPKM. Pada hari ketiga. para peserta akan menjalani proses pengolahan pengalaman selama tiga hari. Masing-masing pokok pengalaman diolah dalam rangkaian kegiatan selama 120 menit. diharapkan terjadi perubahan pribadi. dalam Pedagogi Ignasian. Aksi (tindakan) Sikap. Pemaknaan pengalaman yang diperoleh melalui refleksi dimaksud agar peserta mampu mengambil keputusan dan bertindak dengan semangat magis (the power to do more. pemahaman. 37 . Melalui refleksi. Pada hari pertama. imajinasi. peserta diajak untuk mengolah dua strategi pokok dalam melewati hidup. dengan membawa bahan Asessmen Diri yang dikerjakan sebelum acara PPKM 1. yaitu dengan sikap menjadi kuat dan menang. menjadi penghubung antara pengalaman dan tindakan.

penentuan prioritas. Dalam Pedagogi Ignasian. kompeten secara intelek. Tindakan yang tertuang dalam action plan.Setelah menyelesaikan latihan-latihan pengolahan diri. proses PPKM berlanjut dengan pemantapan action plan untuk dijalankan setelah PPKM. tajam suara hati dan belarasa. pencapaian tujuan tersebut dilakukan dengan melakukan evaluasi menyeluruh pada aspek pengetahuan. Dalam PPKM. dan tindakan manifestasi lahiriah. Evaluasi Tujuan pendidikan USD adalah membentuk manusia yang berkepribadian utuh. perkembangan sikap. 38 . mencakup pilihan batin (hasil dari refleksi pengalaman) dan manifestasi lahiriah (perwujudan nyata) yang dapat dipertanggung-jawabkan. minimal ada satu pertemuan follow up untuk meninjau pelaksanaan action plan yang sudah dirumuskan sebelumnya.

Oleh karena itu pendamping perlu membantu mahasiswa untuk menggali: dengan siapa mahasiswa berinteraksi. mengapa mengikuti kegiatan. radio mahasiswa. komunitas doa maupun komunitas seni. Unit kegiatan mahasiswa (UKM) bisa berupa pers mahasiswa. suasana kebudayaan. Konteks yang mempengaruhi cara bersikap. Ada pula komunitas independen yang berkembang di USD misalnya. refleksi. serta apa yang diharapkan dengan mengikuti organisasi atau UKM. musik dan kenyataan hidup lainnya. badan eksekutif mahasiswa fakultas. Konteks Mahasiswa diajak untuk mengidentifikasi dan memahami sebanyak mungkin konteks diri yang membentuk minat dan bakat mereka. serta badan eksekutif mahasiswa universitas. pendekatan Pedagogi Ignasian dalam kegiatan ekstra kurikuler memperhatikan kesinambungan antara konteks. dan evaluasi. Sebagaimana model pendampingan dalam pembelajaran dan kegiatan kokurikuler. kelompok sebaya. pengalaman. tindakan.3. di mana dan seperti apa lingkungan tempat tinggal. bagaimana latar belakang dan pengalaman hidupnya. komunitas maupun unit kegiatan mahasiswa. unit kegiatan olah raga. dll. pencinta alam. Bidang organisasi mahasiswa mencakup himpunan mahasiswa jurusan. Model Pendampingan Kegiatan Ekstra Kurikuler berbasis Pedagogi Ignasian USD memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat melalui organisasi mahasiswa. media. cara membuat pilihan dan mengambil keputusan bisa berasal dari keluarga. 39 .

bakat. setting dan pengalaman beragam. melakukan refleksi dan evaluasi untuk pengembangan diri. dan kehendak (konatif). 40 . Kegiatan ekstra kurikuler USD menggaris-bawahi pentingnya individu. Melalui refleksi. pemahaman.Pengalaman Pedagogi Ignasian melihat pentingnya pengalaman dalam pembentukan diri. perasaan dan penghayatan (afektif). Dalam kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa diajak untuk merumuskan profil kelompok yang ingin dibangun. para mahasiswa diajak untuk menangkap berkembangnya nilai individu (pengenalan diri. Tiga hal ini terhubung dan sebagai konteks untuk belajar dan berkembang. minat. Melalui pengalaman. dan bisa diterapkan untuk kondisi. Berbagai bentuk pengolahan pengalaman dibangun sehingga mahasiswa semakin menemukan jati diri mereka melalui kegiatan ekstra kurikuler. kelompok dan komunitas. dan perasaan untuk menangkap makna dan nilai dari apa yang dialami dalam kegiatankegiatan. rasa. berarti mengadakan pertimbangan seksama mempergunakan ingatan. Refleksi Refleksi. kehendak) diasah supaya mahasiswa menemukan diri yang utuh. merencana kegiatan. Melalui berbagai kegiatan. menentukan pilihan-pilihan strategis. imajinasi. mahasiswa diajak mengolah pemahaman diri (kognitif). dalam Pedagogi Ignasian. melaksanakan kegiatan. keseluruhan pribadi (budi.

Tindakan Sikap. Pemaknaan pengalaman yang diperoleh melalui refleksi dimaksud agar mahasiswa mampu mengambil keputusan dan bertindak dengan semangat magis (the power to do more. unit kegiatan ataupun dalam komunitas minat. dan pembangunan jejaring). 41 . Setelah menyelesaikan kegiatan-kegiatan dan melakukan refleksi. evaluasi dilakukan secara berkala meninjau pelaksanaan action plan yang sudah dirumuskan sebelumnya. Tindakan yang tertuang dalam action plan. iman. dan tindakan manifestasi lahiriah. pemecahan masalah. kelompok (teamwork. komunikasi.kepemimpinan dasar. penentuan prioritas. dan komunitas (keterlibatan dalam komunitas beragam. merupakan pertumbuhan batin yang mencakup pilihan batin (hasil dari refleksi pengalaman) dan manifestasi lahiriah (perwujudan nyata) yang dapat dipertanggung-jawabkan. perkembangan sikap. penanganan konflik). pencapaian tujuan tersebut dilakukan dengan melakukan evaluasi menyeluruh pada aspek pengetahuan. tajam suara hati dan belarasa. Dalam kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa. Dalam Pedagogi Ignasian. unggul). mahasiswa menyusun action plan untuk dijalankan dalam organisasi. etika. Evaluasi Tujuan pendidikan USD adalah membentuk manusia yang berkepribadian utuh.. kompeten secara intelek. nilai dan cita-cita merupakan hasil pengolahan dalam refleksi.).

PSI memiliki jurnal Spiritualitas Ignasian. pembelajaran menjadi ujung tombak pendidikan karakter karena pembelajaran mengambil porsi terbesar dalam akivitas di perguruan tinggi. Di samping itu. P3MP menyosialisaikan pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian melalui berbagai media/forum diantaranya: buku Pedoman Penyusunan Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian. Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian ditempuh melalui tahapan sebagai berikut: a) Tahapan sosialisasi pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian. Lokakarya dan sharing of good practices. Pada tahapan ini unit yang terlibat aktif adalah Pusat Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pembelajaran (P3MP).E. CM dan SMI 42 . Campus Ministry CM). didukung pula oleh unit-unit lain seperti Pusat Studi Ignasian (PSI). dan Sekretariat Mission and Identity (SMI). tempat para dosen dan staf menulis tentang spiritualitas Ignasian dan pengalaman-pengalaman pribadi dalam mengimplementasikan Pedagogi Ignasian. Pelaksanaan pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian Sebagaimana telah dibahas di depan. dan website EXELSA. PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER 1. pendampingan dosen. Dosen memiliki peranan penting dalam pendidikan karakter karena mereka bersentuhan langsung dengan subyek didik melalui pembelajaran mata kuliah yang diampunya.

Sharing dan Lokakarya Pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian b) Membangun komitmen. Ayat 3 2) Lokakarya dosen tentang pendampingan mahasiswa melalui dosen pengampu mata kuliah. Pembangunan komitmen harus meliputi berbagai pihak di USD dari pucuk pimpinan hingga pihakpihak di tingkat operasional dan didukung oleh ketentuanketentuan yuridis yang mengikat. Tahapan ini bertujuan untuk menyelaraskan pandangan bahwa Pedagogi Ignasian menjadi sarana pembentukan karakter melalui pembelajaran.berkaitan dengan sosialisasi kegiatan-kegiatan spiritualitas kemahasiswaan dan penghayatan spiritualitas dosen dan staf melalui refleksi. Beberapa hal yang dilakukan untuk membangun komitmen meliputi: 1) Pernyataan kelembagaan tentang pembentukan karakter 3C yang dituangkan dalam Statuta USD Bab III. 43 . Pasal 3.

perwakilan mahasiswa. karir. pergaulan. Dari persoalan-persoalan tersebut dosen mendiskusikan tindak lanjut apa yang seharusnya 44 . dan masalah keluarga.Para dosen serius mendiskusikan persoalan-persoalan mahasiswa Lokakarya ini melibatkan seluruh dosen USD. iman. Lokakarya didahului dengan mendengarkan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi mahasiswa dalam lingkup non-akademik seperti: jati diri.

2) Universitas mengembangkan program pendampingan mahasiswa yang berangkat dari visi-misi humanistik. sebagaimana dideskripsikan sebagai berikut. 3) Universitas mengintegrasikan visi-misi humanistik ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran. Rekomendasi untuk universitas Dalam rangka pendampingan mahasiswa. Sejumlah rekomendasi dan komitmen telah dihasilkan dari lokakarya tersebut. Kebijakan tentang Input : Universitas menyediakan/membuat 45 . Universitas hendaknya melakukan hal-hal berikut ini : Kebijakan Umum 1) Universitas harus lebih menegaskan komitmennya pada nilai-nilai humanistik.dilakukan oleh universitas dan dosen.

3) Kebijakan seleksi masuk yang memper-hatikan kompetensi non akademik dengan tetap mengingat minimum requirement akademik. 4) Universitas meningkatkan kompetensi dosen dalam hal pendampingan mahasiswa dengan mengintensifkan forum-forum pertemuan dosen. 3) Universitas memperluas peran Pembimbing Akademik menjadi Pendamping Mahasiswa baik di bidang akademik maupun non akademik. 2) Universitas menata dan memberdayakan kembali fungsifungi lembaga yang terkait dengan pendampingan mahasiswa (misalnya wakaprodi. CM. weekend moral. 5) Media dan perangkat pendampingan maha-siswa. 7) Universitas menyelenggarakan self assesment mahasiswa secara bertahap dan terorganisir. 5) Universitas melembagakan pendam-pingan mahasiswa yang tersistem yang memungkinkan dosen bertemu mahasiswa secara teratur. P2TKP). berkelanjutan. 4) Konsep pendampingan mahasiswa pada universitas berasrama.1) Sistem pendampingan mahasiswa yang integral dan sinergis. dan perkuliahan MPK. menuju lulusan yang berkarakter 3C. 2) Kode etik pendampingan mahasiswa. Kebijakan tentang Proses 1) Universitas merevitalisasi dan mengkontekstualisasi retret. rekoleksi. 46 . bertahap. 6) Universitas mendorong metode pembelajaran yang reflektif dan cura personalis yang mengembangkan ranah 3C.

antara lain dalam memegang teguh nilai dan menjalankan tatatertib (menjadi role model). 47 . 2) Membantu menemukan dan menanamkan nilai-nilai lewat mata kuliah yang diampu. 9) Mengenal konteks mahasiswa yang akan dihadapi. supaya dapat merumuskan model pembelajaran yang sesuai dengan konteks mahasiswa. 3) Menjadi contoh/model di berbagai bidang.Rekomendasi untuk para dosen Dalam rangka pendampingan mahasiswa. dengan cara menegaskan nilai-nilai dalam setiap pertemuan kuliah. 4) Menciptakan situasi pembelajaran sesuai dengan nilai yang akan dikembangkan 5) Membangun counter culture terhadap culture yang negatif di masyarakat 6) Menumbuhkan semangat kolegialitas 7) Memberikan nilai-nilai untuk disepakati bersama dengan mahasiswa khususnya pada masa awal kuliah. misalnya dengan 3 pertemuan di luar jam kuliah yang berisi penanaman nilai-nilai 8) Memperkuat nilai yang diberikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai melalui setiap pertemuan mata kuliah. para dosen dalam mengampu mata kuliah hendaknya: Dalam Hal Pendidikan Nilai 1) Menanamkan nilai-nilai yang universal melalui mata kuliahnya masing-masing.

13)Menutup mata kuliah dengan memberikan refleksi dan evaluasi. Hal ini khusus dilakukan di prodi yang dilihat dari kualitas inputnya dipandang kurang memenuhi syarat. laboratorium yang terintegrasi dan mudah diakses mahasiswa c) Dimensi teologis : Perkuliahan selalu diawali dan diakhiri dengan berdoa 48 . 12)Memberikan nilai-nilai contoh-contoh nyata yang relevan dengan topik yang sedang dibahas. atau dengan model pendampingan oleh kakak kelas dengan supervisi dosen. Hal ini dapat dilakukan oleh dosen secara langsung. kekompakan dalam tim dan kepekaan dalam relasi sosial. 11)Mengklarifikasi nilai-nilai yang dapat ditarik atau diabstraksi dari mata kuliah ybs. misalnya kelas terbuka di taman. b) Dimensi ekologis : menciptakan tempat belajar yang dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. serta mengajak mahasiswa untuk menemukan nilai pada topik tersebut. 14)Memberikan pendekatan nilai dalam mata kuliah pada : a) Dimensi personal dan sesama :  Pendampingan mahasiswa yang intensif melalui kelompok-kelompok diskusi yang lebih kecil terkait dengan materi akademik. yang bisa diterapkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Menunjukkan perilaku yang dapat menjadi contoh penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.10)Model pembelajaran perlu mengangkat kasus nyata untuk menumbuhkan bela rasa. dilakukan pendekatan langsung ke mahasiswa melalui pendampingan yang intensif terkait dengan percaya diri.  Dalam kelas kecil.

Tidak kaku dengan tuntutan akademik. 7) Memperhatikan keunggulan masing-masing mahasiswa. 5) Melakukan pendampingan nilai akademis dan juga pengembangan nilai humanis 6) Menunjukkan totalitas dalam pengajaran dan pendampingan. 2) Menciptakan kelas yang kondusif sehingga mahasiswa merasa nyaman dan muncul rasa saling percaya. PPKN. 8) Mengkontekstualisasikan mata kuliah yang diampu (menempatkan mata kuliah dalam skop yang lebih luas) sambil mengenalkan nilai-nilai (Mis: Psikologi Organisasi. misal: melalui pembuatan jurnal pembelajaran. 3) Membangun rasa tanggung jawab mahasiswa melalui tugas-tugas mata kuliah. misal : yang pandai main drama. Management: not only getting done through people but also creating condition to achieve goal effectively and efficiently) 9) Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa 49 . Journalism.Dalam Hal Memotivasi dan Mengem-bangkan Potensi Mahasiswa 1) Mengembangkan metode pembelajaran yang menantang mahasiswa sehingga potensinya berkembang. 4) Memotivasi mahasiswa untuk membangun kekuatan supaya berhasil atau menerima kegagalan dan tidak putus asa. atau nyanyi dan diarahkan agar malah lebih sukses ketika telah lulus.

mengajak mahasiswa untuk sejenak berpikir tentang motivasi belajar. 13) Memberikan kisah-kisah motivasi singkat (misal dari buku Chicken Soup). 12) Memotivasi mahasiswa untuk dapat mencintai prodi yang dipilihnya. Hal ini bisa dilakukan sebelum memulai pelajaran hari itu. c) Kesetaraan – Equity : tidak ada dominasi dan marginalisasi. untuk membangkitkan motivasi mahasiswa. 16) Memampukan mahasiswa mengambil keputusan secara dewasa dan melaksanakannya mendorong self-actualization. b) Fokus pada kebaikan yang ada pada mahasiswa yang bisa dikontribusikan pada kelompok (kelas). menjadi pendamping adalah di sisi (bukan di depan). melalui: a) Refleksi (mengaitkan pengalaman dengan visi dan misi) dan semangat MAGIS (berbuat yang terbaik dengan sumber daya yang ada). 50 .10) Mengenal konteks mahasiswa yang akan dihadapi. misalnya dengan menuliskannya dalam satu lembar kertas. Bisa menjadi teman. meskipun hanya untuk satu hari itu. dengan penuh keuletan dan ketabahan. bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan kelompok. 14) Mengupayakan peningkatan minat/ motivasi mahasiswa yang rendah 15) Mengidentifikasi kontribusi mata kuliah dengan pancapaian visi misi prodi dan universitas. supaya dapat membidik “hasrat mahasiswa” untuk menumbuhkan motivasi. sabar. 11) Menjadi motivator dalam usaha membangkitkan semangat belajar yang terus menerus.

7) Mengklarifikasi pemahaman tentang nilai dan melaksanakan nilai-nilai : disiplin. ….. prestasi akademik tiba-tiba jatuh. Do what you and others preach. sapaan personal. persiapan yang baik. dsb) 4) Menyadarkan mahasiswa agar berkonsultasi pada pihak-pihak yang terkait apabila mengalami kesulitan yang tidak dapat diatasi sendiri dan menyapa teman yang tampak mengalami kesulitan. sering terlambat masuk kuliah. membuat ulah atau sinis 3) Mengalokasikan waktu untuk melakukan pendampingan bagi mahasiswa (face to face atau media lainnya misalnya facebook.. Menjadi guru adalah panggilan (vocation). Conscience. Ada role-model tentang perwujudan nilai. tepat waktu. cari perhatian. c) Tahapan implementasi 51 . seperti: nguwongke mahasiswa terutama justru pada mahasiswa yang tampak tidak memperhatikan.Dalam Pendampingan Mengatasi Masalah 1) Memberikan informasi kepada dosen Pendamping Mahasiswa (PM) tentang mahasiswa-mahasiswa yang bermasalah. Compassion) yang menunjukkan hadirnya komitmen. 5) Mencoba memperhatikan mahasiswa yang berperilaku “menyimpang”: sering membolos. rendah hati. konsekuen. tidak aktif di kelas. trouble maker. 6) Menyadari panggilan sebagai pendidik dengan semangat 3 C (Competence. 2) Melakukan manajemen kelas. dan lain-lain. email.

. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat ketercapaian proses pembelajaran sebagaimana ditetapkan dalam silabus matakuliah. Dosen yang rancangannya dinyatakan sebagai pemenang hibah diimple-mentasikan selama satu semester. Pada tahapan ini. d) Tahap evaluasi Sebagai sebuah paradigma. mekanisme hibah ini juga akan menghasilkan dokumen laporanlaporan dosen hasil implementasi PI yang dikemudian hari dapat menjadi rujukan untuk pembelajaran mata kuliah terkait. Evaluasi mencakup ranah 3 C dengan metode 52 . Pelaksanaan pembelajaran berbasis PI dimonitor dan didokumentasikan oleh P3MP dengan video sehingga hasilnya dapat menjadi bahan kajian dan refleksi bagi dosen yang bersangkutan atau menjadi referensi bagi dosen yang lain. implementasi Pedagogi Ignasian dalam pembelajaran perlu dievaluasi. baik dari segi proses maupun hasil belajar. Selain itu. USD menempuh mekanisme hibah kompetisi yang esensinya memberikan apresiasi bagi para dosen yang mengimplementasikan PI. c.Implementasi Pedagogi Ignasian dalam pembelajaran merupakan ranah baru di kalangan dosen USD. Praktikpraktik baik yang telah dijalankan oleh para dosen pewaris tradisi IKIP Sanata Dharma perlu diformulasikan dan disistematisasikan mengacu pada model siklus Pedagogi Ignasian. ditempuh mekanisme sbb: a. b. Model yang telah dimple-mentasikan dilaporkan dan di review sesuai dengan ketentuan buku pedoman. Sebagai suatu proses pembuda-yaan Pedagogi Ignasian.

pengukuran yang sesuai untuk ketiga ranah tersebut dengan mengacu pada buku pedoman evaluasi. Pembahasan secara filosofis memerlukan nara sumber yang kompeten di bidangnya sehingga para peserta calon pengusul hibah memahami dengan baik tentang Pedagogi Ignasian dan bagaimana implementasinya. Peserta lokakarya adalah pelaku Pedagogi Ignasian dan dosen-dosen yang belum mengimplementasikan PI. Dalam forum tersebut disampaikan praktik-praktik baik dari para pelaku pembelajaran yang telah menerapkan Pedagogi Ignasian. model yang telah dilaporkan di sharingkan pada saat penyelenggaraan acara “Sharing dan Lokakarya Model-model Pembelajaran Berbasis PI”. 53 . Dengan demikian dalam forum tersebut terjadi transfer of knowledge bagi peserta baru. Dalam lokakarya tersebut dibahas secara mendalam mulai dari filosofi spiritualitas Ignasian. dan sharing pengalaman dari para pelaku. e) Tahap sharing of good practices Sebagai kegiatan akhir. siklus Pedagogi Ignasian.

Agar tidak tersesat di tengah belantara kehidupan ini. penunjuk arah. sejak awal diperlukan semacam kompas. 54 . 2. mahasiswa bersama-sama melatih diri dengan bertolak dari pengalaman hidup sendiri. yang pada akhirnya terbentuk tanpa disadari. Tetapi sebenarnya. sekaligus daya yang menyertai sebuah peristiwa di dalam kehidupan. melainkan kancah tempat mahasiswa dituntut untuk secara serius mempersiapkan diri terjun ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) merupakan salah satu kesempatan untuk mendapatkan kompas yang dimaksud. Metode Pelaksanaan Diterima menjadi mahasiswa merupakan sebuah momentum. Pelaksanaan Pendidikan Karakter malalui Kegiatan Kokurikuler. peluang. Momentum adalah kesempatan.1 Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) 1 a.2. Keberhasilan menjalani pendidikan dan kehidupan selama empat atau lima tahun ke depan akan menentukan jalan hidup seterusnya. Perguruan tinggi bukan lagi sekadar tempat bermain. apa itu kebiasaan? Kebiasaan adalah hal atau perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang. Hidup terbangun dari kebiasaan-kebiasaan yang dijalani. Di dalam rangkaian kegiatan PPKM ini.

dan tercapainya cita-cita itu menuntut perubahan tertentu. maka sesungguhnya manusia bisa mengusahakannya dengan menjalani hidup ke depan secara berbeda. contohnya: mandi malam dengan air hangat. seimbang. Tergantung dari sifatnya. Artinya. Sejumlah kebiasaan lain bisa disebut negatif atau buruk. misalnya: membuat rencana. seperti: merasa rendah diri. manusia adalah produk dari seluruh kebiasaan. manusia pada dasarnya lebih kuat dari kebiasaan-kebiasaan. Adapun titik tolak yang dipakai untuk mengolah pengalaman dalam PPKM ini adalah panduan dan keterangan dari pengertian-pengertian delapan kebiasaan menurut Stephen Covey. yaitu dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan. yang sejalan dengan visi-misi Universitas Sanata Dharma. yaitu: 55 .Sejumlah kebiasaan bisa disebut positif atau baik. menyalahkan orang lain. berpikiran negatif. Kalau manusia memiliki cita-cita tertentu dalam hidup. matang. Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) ini merupakan ajakan sekaligus sarana bagi untuk MULAI mengubah kebiasaan-kebiasaan ke arah yang menunjang bagi pertumbuhan pribadi yang utuh. Sejumlah kebiasaan lain bisa disebut netral. manusia bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan. yang terkenal itu. dan tajam. menghargai orang lain. kebiasaan dapat menunjang atau menghambat pertumbuhan. Boleh dikatakan. berolahraga secara teratur. Untungnya.

Baru Dipahami! Artinya. dan jangan pernah berhenti untuk terus berkembang. berikanlah sumbangan yang bermakna bagi orang lain. Menggapai Keagungan. bertanggung-jawablah sendiri atas kehidupanmu. Kebiasaan 7: Asahlah Gergaji! Artinya. Kebiasaan 6: Bersinergilah! Artinya. buatlah skala prioritas. kembangkanlah sikap bahwa semua orang bisa dan harus diuntungkan. PPKM 1 membatasi latihan pada tiga 56 . bekerjasamalah untuk mencapai hasil yang lebih baik. serta temukanlah dalam dirimu hal-hal yang dapat mengilhami dan memberdayakan orang-orang lain di sekitarmu. Kebiasaan 3: Dahulukanlah Hal yang Harus Didahulukan! Artinya. dan dengarkanlah orang lain dengan tulus dan bersungguhsungguh. Kebiasaan 8: Melampaui Efektivitas. Artinya. perbaharuilah dirimu secara teratur. atau tidak ada yang dirugikan. Kebiasaan 5: Berusahalah Dulu Memahami.Kebiasaan 1: Jadilah Proaktif! Artinya. Kebiasaan 2: Mulailah dengan Akhir dalam Pikiran! Artinya. rumuskanlah tujuan dan misi hidupmu. Pelaksanaan kegiatan PPKM dibagi menjadi dua. berilah ruang yang luas untuk kehadiran sesamamu. Kebiasaan 4: Berpikirlah Menang-menang! Artinya. yaitu PPKM 1 dan PPKM 2. dan dahulukanlah hal-hal yang paling penting.

dan merupakan berkat dalam kehidupan. PPKM 1 yang diselenggarakan di tingkat universitas dan diikuti oleh seluruh mahasiswa USD tahun pertama ini nantinya akan dilanjutkan dengan PPKM 2 yang diselenggarakan oleh setiap Program Studi dan diikuti oleh para mahasiswa dari Program Studi bersangkutan. maka berbagai bentuk aktivitas latihan pengolahan pengalaman dalam PPKM 1 dibangun sedemikian rupa sehingga keaslian dan keunikan dari pengalamanpengalaman tersebut tidak menghilang. Bahan pokok kegiatan PPKM 1 adalah pengalaman konkrit dari peserta.kebiasaan pertama. berbagai bentuk aktivitas latihan yang disajikan dalam PPKM 1 ini diupayakan agar sesuai dengan konteks kultural dan kemudaan dari para mahasiswa. tetapi justru semakin memancarkan jati diri dari para peserta. Oleh karena pengalaman-pengalaman dari para peserta itu sungguh berharga. seluruh mahasiswa yang menjadi peserta bukan berdiri sebagai objek. Seluruh kegiatan dalam PPKM 1 mengunakan cara workshop terbimbing. dirumuskan. tanpa menghilangkan substansi formatifnya. sedangkan kebiasaan-kebiasaan yang lain menjadi bahan latihan untuk PPKM 2. 57 . ditemukan. Untuk itu. Artinya. Para fasilitator dan kofasilitator dalam kegiatankegiatan PPKM 1 berperan sebagai pendamping atau teman seperjalanan peserta dalam mengolah diri. dan dikomunikasikan melalui berbagai bentuk aktivitas latihan. baik aktivitas mandiri maupun aktivitas dalam kelompok. melainkan sebagai subjek kegiatan. Pengalaman ini digali.

Pada sesi terakhir latihan. para peserta akan menjalani proses terpadu yang pada setiap harinya berisi dua pokok pengolahan pengalaman. Setelah menyelesaikan latihan-latihan selama tiga hari. yang terkait dengan ekspresi diri. Di samping materi-materi audio-visual dari internet. setelah mempunyai bahan pengolahan yang terkait dengan Assesmen Diri yang dikerjakan sebelum PPKM 1. Pada hari kedua. yaitu: (1) “Tilik Diri” dan (2) “Dunia Terus Berubah”. disediakan pula kesempatan untuk merayakan seluruh proses latihan yang sudah dilalui. materi-materi yang digunakan dalam PPKM diolah 58 . Masing-masing pokok pengalaman diolah dalam rangkaian kegiatan selama 120 menit. Seluruh materi panduan dalam PPKM dikumpulkan dari berbagai sumber. para peserta diajak untuk mengolah dua stategi pokok dalam melewati konteks hidup. proses PPKM 1 masih berlanjut dengan pemantapan action plan yang sudah diputuskan oleh peserta dalam proses latihan PPKM 1 untuk dijalani setelah PPKM 1. Adapun pada hari ketiga. Minimal ada satu pertemuan follow up PPKM 1 untuk meninjau pelaksanaan action plan PPKM satu (1). para peserta diajak untuk mengolah konteks dari seluruh pengalaman mereka. Pada hari pertama. yaitu dengan strategi sikap: (1) “Menjadi Kuat dan Menanglah!” dan (2) “Digelorakan oleh Cita-cita”.Selama tiga hari. para peserta diajak untuk mengolah pengalamannya di dalam menumbuhkan strategi praktis: (1) “Cerdas Putuskan Prioritas” dan (2) “Berani Ekspresikan Diri”.

Handbook of Structured Experiences for Human Relations Training Training. dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi. “Themes of Jesuit Higher Education” (Pokok Gagasan yang disampaikan pada 7 Juni 1989 di Georgetown University USA) 4) J. New York: Free Press. 1989 2) Stephen R. California: University Associates Inc. Revisi.dari sejumlah buku dan artikel (dapat dipakai sebagai acuan). 2003 Berikut disajikan contoh modul untuk melatih mahasiswa memahami konteks: Hidup di dunia yang selalu berubah. Covey.. The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness. pat yaitu antara lain: 1) Stephen R. Jones (eds. 59 . Emotional Quality Management: Refleksi. New York: Free Press. 2004 Pra PPKM 1 • Peserta Mengerjakan Assesmen Diri PPKM 1 • Peserta Mengalami Workshop Terbimbing • Pendampingan oleh Fasilitator & Cofasilitator dalam koordinasi oleh WR 3 Pasca PPKM 1 • Peserta Menjalani Action Plan • Pertemuan Follow Up Workshop PPKM 1 • Pendampingan Fasilitator & Cofasilitator dalam koordinasi oleh WR 3 dan Para Wakaprodi Gambar 3 3) Peter-Hans Kolvenbach. William Pfeiffer & John E. Covey. SJ. Jakarta: Arga. 1977 5) Anthony Dio Martin.). The Seven Habits of Highly Effective People.

CONTOH. c. b. 4) Para peserta tergerak dan tertantang untuk memberikan tanggapan positif pada konteks dunia aktual yang dialaminya. Pengantar Modul ini adalah modul kedua dalam seluruh proses workshop terbimbing PPKM 1. Demikian Juga Diriku 2) Membaca RealitasDunia dan Para Korban 3) Ability to Respond (Responsability) 60 . 2) Para peserta semakin memahami relasi yang tak terpisahkan antara pertumbuhan dirinya dan perubahanperubahan yang terjadi di dunia tempat ia bertumbuh. Tujuan 1) Para peserta semakin mengenal konteks dunia di mana ia tumbuh dan berkembang. 3) Para peserta dapat mengidentifikasi ancaman dan peluang yang kelihatan dari konteks dunia aktual yang dialaminya. Setelah berlatih hal ikhwal yang terkait dengan gambar diri (self image) melalui panduan modul pertama. Pokok Bahasan 1) Dunia Terus Berubah. para peserta kini diajak untuk melihat lingkungan sekitar/sekeliling atau dunia di mana gambar diri seseorang itu terbentuk. Modul: Hidup di Dunia yang Terus Berubah a.

(5 menit) 2) Diberi kesempatan kepada peserta yang mau menyampaikan kesan atas tayangan tersebut. peserta diajak untuk 61 . (10 menit) 3) Fasilitator mengajak peserta untuk mengidentifikasi dan mendalami berbagai perubahan yang terjadi di dunia. dengan menayangkan panel 1 dari powerpoint “Dunia Terus Berubah”. Setelahnya.d. Bahan dan Alat 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Powerpoint “Dunia Terus Berubah” Powerpoint “Surat dari Teman di Tahun 2070” Bacaan 1 : Konsumerisme Bacaan 2 : Pendidikan Bermutu di Tengah Pentas Budaya Instan Bacaan 3 : 7 Dosa Besar menurut Mahatma Gandhi Bacaan 4 : Warsiyah. Prosedur (120 Menit) 1) Proses latihan dimulai dengan menyaksikan powerpoint “Surat dari Teman di Tahun 2070”. Benih untuk Perubahan Iklim Lembar Kerja 1 : Perubahan dalam Dunia Lembar Kerja 2 : Perubahan dalam Perilaku Manusia Lembar Kerja 3 : Peluang untuk Menjaga Eksistensi Manusia Film Pendek : Chicken ala Carte Klip : Imagine Klip : Make Poverty History  Klip Lagu : Dunia … Berbagilah  Klip : Hero (Lirik) Rekaman Instrumentalia lagu Melangkah Pasti Game “Deret Hitung – Deret Ukur” 13) 14) e.

Sangat dianjurkan bahwa perilaku yang ditemukan itu adalah perilaku yang dialami. 7 dari powerpoint. instan. termasuk peluang sebagai mahasiswa yang studi bidang ilmu tertentu (mengerjakan lembar kerja 3). (15 menit) Fakultatif: game “deret hitung dan deret ukur” di dalam kelompok.d. (5 menit) Para peserta diajak untuk menuliskan adanya berbagai perubahan dalam perilaku manusia (5 menit) Fasilitator meneguhkan apa yang ditemukan peserta mengenai perubahan dalam dunia dan dalam perilaku manusia. (15 menit) Para peserta – masih di dalam kelompok – diajak untuk menyaksikan film pendekChicken ala Carte (Alternatif: klip Imagine atau klip Make Poverty History). Atau seluruh peserta diajak untuk menyanyikan Jingle PPKM dengan gerakan-gerakan yang dipandu cofasilitator. (5 menit) Para peserta dibagi ke dalam 4 kelompok: konsumtif. atau yang dekat dengan situasi mahasiswa atau orang muda. dan mengantar ke langkah selanjutnya. (10 menit) Para peserta di dalam kelompok mengidentifikasi peluang-peluang supaya manusia tetap bermartabat dan mempunyai eksistensi sebagai manusia. Masing-masing kelompok membahas dan menemukan perilaku apa saja yang termasuk sifat yang sesuai dengan nama kelompok (mengisi lembar kerja 2). pembuang.4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) menuliskan pada lembar kerja 1 tentang berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia. dan individualis. lalu menyampaikan inti gagasan panel 2 s. Apa saja sumbangan aktivitas studiku untuk masa depan manusia dan dunia?(15 menit) Fasilitator dapat mengajak peserta untuk menyanyikan lagu Hero (Mariah Carey) yang liriknya ditayangkan 62 .

lewat LCD. mengajak para peserta seluruhnya untuk menciptakan suasana ruangan pelatihan esok hari yang diharapkan dapat menunjang terbangunnya suasana batin.mempersilahkan 1 wakil dari masing-masing kelompok untuk menyampaikan gagasan reflektif yang muncul dalam aktivitas kelompok mengenai lembar kerja 3. Berpenyakit Tembok Pesawat Jet Dampak bagi kehidu-pan 5 Lewat Blackberry 63 . dan setelahnya. dan setelahnya. Sehat Bambu Perahu Layar Lewat Kurir Gundul Kotor/Polusi. misalnya dengan mengatur ruangan sedemikian rupa dengan dekorasi atau properti tertentu. (15 menit) 11) Fasilitator menegaskan inti gagasan modul 2 dengan powerpoint pada panel 8 dan seterusnya. f. (15 menit) 12) Closing: menayangkan klip lagu Dunia … Berbagilah (5 menit) 13) Segera setelah pertemuan: cofasilitator mengajak para peserta untuk sejenak meninjau suasana batin yang di awal pelatihan sudah dibangun oleh masing-masing peserta. Lembar Kerja LembarKerja 1 No 1 2 3 4 Hal di Dunia Hutan Air Rumah Alat Transportasi Kirim Pesan Perubahan dalam Dunia Dulu Sekarang Rimbun Jernih.

buang kulitnya Naik motor/ taksi Di apartemen 3 Keperca-yaan Menyembah televisi Cari di mall. ambil di gerai.LembarKerja 2 Perubahan dalam Perilaku Manusia No Perilaku Manusia Dulu Sekarang Dampak bagi kehidu-pan 1 2 Menuju ke suatu tempat Tinggal Berjalan kaki Di atas pohon Menyembah batu besar Cari di hutan. petik buah. buang bungkus nya 4 Makan 5 6 Pendidikan Pengasuhan anak Nyantrikmag ang Diasuh ibu SMA. Universits Diasuh baby sitter 64 .

Lembar Kerja 3 Peluang Menjaga Eksistensi Manusia Apa saja sumbangan aktivitas studiku untuk masa depan manusia dan dunia? No 65 .

mahasiswa akan bersama-sama melihat konflik sebagai potensi positif untuk dipecahkan secara konstruktif sehingga lebih bisa meningkatkan kualitas hubungan antar-pribadi. kegiatan – kegiatan di PPKM 2 diarahkan untuk membentuk kebiasaan: (1) berpikir menang – menang. Pada aktivitas “Berpikirlah Menang – Menang”. pertentangan pendapat. dan (5) memberikan sumbangan yang bermakna bagi orang lain. konflik dipandang sebagai keadaan buruk yang harus dihindari karena bersifat merusak hubungan antar.masing. Dalam upaya 66 . (1) Berpikir Menang – Menang Kebiasaan berpikir menang – menang dilatarbelakangi oleh situasi bahwa setiap hubungan antar-pribadi bisa mengandung unsur-unsur konflik. Setiap program studi atau jurusan dapat mengembangkan aktivitas – aktivitas agar sesuai dengan core competence yang ada. mahasiswa dihadapkan dan dilibatkan pada situasi konflik serta berbagai upaya pemecahan masalahnya. (3) bersinergi.2 .2. Uraian untuk setiap kebiasaan sebagai berikut. Pada umumnya. Dalam berbagai aktivitas. (4) mengasah gergaji. Program ini diberikan kepada mahasiswa setelah mereka mengikuti PPKM 1 ditingkat universitas.pribadi. secara garis besar. ataupun perbedaan kepentingan. Namun demikian. Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) 2 Program Pengembangan Kepribadian Mahasiswa 2 (PPKM 2) diselenggarakan oleh program studi atau jurusan sesuai dengan karakteristik masing . (2) berusaha memahami dahulu sebelum dipahami.

Aktivitas – aktivitas dalam kegiatan ini. (2) Berusaha Memahami Dahulu Sebelum Dipahami Kebiasaan untuk selalu berusaha memahami orang lain sebelum dipahami oleh orang lain senantiasa ditanamkan kepada mahasiswa agar mereka mampu hidup dalam situasi yang plural. mahasiswa diajak untuk melakukan refleksi dan evaluasi atas berbagai bentuk penerapan paradigma interaksi pemecahan masalah. Salah satu cara yang diterapkan adalah mahasiswa dibiasakan untuk mau mendengarkan orang lain dengan baik dan empatik kepada orang lain. termasuk konsekuensi – konsekuensi atas penerapan paradigma interaksi tersebut. mahasiswa diharapkan mampu mengetahui. Hal ini akan semakin meneguhkan mahasiswa untuk memilih paradigma Win – Win. Berdasarkan pengalaman. Pada akhir aktivitas. dan memraktikkan berbagai paradigma interaksi yang mendasari strategi dalam mengatasi konflik tersebut. secara khusus. mengenal. Mereka diharapkan mampu menyadari bahwa memahami orang lain terlebih dahulu lebih penting sebelum menuntut untuk dipahami oleh orang lain. mengarahkan mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan konteks pemecahan masalah – masalah yang dihadapi oleh kelompoknya. terutama paradigma interaksi Win – Win. Sebelum Dipahami”. mereka dapat menerapkan berbagai paradigma interaksi dalam pemecahan masalah. dan secara konkrit dalam tindakan mereka diharapkan menerapkan paradigma Win – Win dalam pemecahan masalah tersebut. mahasiswa diajak untuk secara empatik mendengarkan 67 .pemecahan masalah ini. Pada aktivitas “Berusahalah Memahami.

Keterbukaan akan mempermudah komunikasi dan hubungan antar-pribadi. Untuk ini. yaitu mendengarkan dengan penuh perasaan dan melibatkan ‘hati’ dalam proses memahaminya. c) menjadi cermin bagi diri sendiri. tetapi mendengarkan dengan mengamati perubahan raut muka dan perilaku orang yang didengarkan. hati dan telinga. tetapi hanya merefleksikan apa yang ada dalam dirinya. mahasiswa dilatih untuk dapat bertindak secara bijaksama dalam rangka memahami orang lain dengan baik. memahami pokok – pokok persoalan yang ada dalam dialog/ kasus tersebut.berbagai dialog/ kasus dalam konteks nyata . dan menanggapinya secara empatik dengan bekal pengalaman mereka. masuk dalam kerangka berpikir orang lain. sehingga mahasiswa dapat mengulangi hal – hal yang dikatakannya sesuai maksud atau artinya. b) mendengarkan sesuai dengan kerangka berpikir orang yang kita dengarkan. Pemahaman mahasiswa pada orang lain membuat orang tersebut menjadi merasa dihargai. d) menanggapi secara empatik. mahasiswa diajak untuk mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh dan empatik. yaitu memberikan tanggapan dan berusaha untuk mengerti orang lain. Melalui aktivitas ini. dan menggunakan perasaan untuk memahami input yang didengarnya. sehingga mereka akan semakin terbuka pada orang lain. tidak memberi nasihat. Empatik artinya dapat menangkap dan memahami perasaan orang lain. mahasiswa dibiasakan untuk: a) mendengarkan dengan penuh perhatian. Untuk dapat memahami orang lain. artinya mahasiswa tidak diarahkan untuk menilai. yaitu mendengarkan dengan melibatkan mata. tidak sekadar mendengar dengan indera pendengaran. mengerti 68 .

Mahasiswa dihadapkan pada berbagai situasi bahwa sinergi dapat tercapai apabila semua anggota kelompok melaksanakan perannya masing-masing secara optimal demi tujuan-tujuan yang sudah disepakati bersama oleh seluruh anggota kelompok. bukan untuk menjawab. (3) Bersinergilah Kebiasaan bersinergi dikembangkan dalam diri mahasiswa agar mereka semakin memberdayakan diri untuk bekerjasama dengan orang lain. mengembangkan ide berdasarkan ide yang muncul dari anggota lain. sehingga muncul alternatif-alternatif yang menjadi kesepakatan kelompok. atau mengendalikan orang lain. Mahasiswa dihadapkan pada realitas bahwa perbedaan cara pandang yang ada pada setiap orang berpotensi untuk dikelola melalui sinergi agar mendapatkan hasil kerja kelompok yang lebih baik. Pada tahapan refleksi. memanipulasi. dan mendengarkan dengan telinga. dan hati.perasaan orang lain. Sinergi membutuhkan sikap proaktif dari setiap anggota kelompok untuk memunculkan ide. Pada aktivitas “Mewujudkan Sinergi” mahasiswa berlatih membangun sinergi bersama kelompok untuk menyelesaikan suatu proyek tertentu. mahasiswa diajak untuk menemukan berbagai manfaat dan hal – hal positif dari memahami orang lain dan secara evaluatif mereka dapat menilai secara adil sikap – sikap yang selama ini mereka kembangkan dalam interaksi dengan orang lain. mata. baik sebagai mahasiswa mupun sebagai warga komunitas. Penyelesaian 69 . Sinergi yang dibangun disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari – hari mereka.

Mereka pun diajak untuk dapat merencanakan tindakan mereka dengan sistematis. mahasiswa terbiasa 70 . termasuk mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin muncul dalam implementasi program yang mereka rancang. Melalui aktivitas ini. Dari konteks tersebut. (4) Mengasah Gergaji Kebiasaan “mengasah gergaji” dilatihkan kepada mahasiswa agar mereka memiliki semangat untuk selalu memperbaharui diri dan berkembang secara berimbang baik fisik. Dengan cara ini. ancaman. menganalisis daya dukung (kekuatan. mahasiswa juga berlatih mengevaluasi pendapat. Dari proses ini. maupun jiwa.proyek tersebut ditentukan oleh kontribusi setiap anggota kelompok secara individual maupun secara berkelompok berdasarkan pengalaman unik mereka masing . mental. dan tantangan) untuk aktivitas tersebut. mereka disadarkan bahwa setiap anggota dari kelompok tersebut mempunyai karakteristik dan cara bertindak tersendiri yang harus dihormati dan secara bersama – sama karakteristik tersebut disinergikan untuk menyelesaikan suatu hal melalui tindakan yang nyata. Pembaharuan diri ini bertolak pada konteks hidup mereka yang sudah dan sedang dijalani. mereka juga dilatih untuk merefleksikan sikap – sikap yang bermanfaat dalam dalam menghadapi perbedaan dalam keberagaman dan memanfaatkan potensi – potensi yang berbeda tersebut untuk menghasilkan sinergi. dan tindakan mereka dalam membangun sinergi dengan orang lain. sikap. mereka dapat menyarikan pengalamanan – pengalaman yang dapat menumbuhkan semangat untuk memperbaharui diri.masing. kelemahan. hati. Melalui serangkaian aktivitas. menghimpun.

mahasiswa diharapkan semakin membumikan prinsip “3C” (competence. 71 . and compassion yang menjadi ciri khas pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa juga dilatih untuk berani mengevaluasi diri mereka untuk menemukan kekuatan yang perlu dikembangkan untuk memperbaharui hidup mereka. Menggapai Keagungan Kebiasaan untuk memberikan sumbangan yang bermakna bagi orang lain merupakan bentuk konkrit atas sikap – sikap positif yang sudah terinternalisasi oleh mahasiswa yang diperoleh dari pengalaman – pengalaman mereka dalam berbagai konteks. (5) Melampaui Efektivitas. Aktivitas – aktivitas di atas dilaksanakan dengan tahapan yang membentuk siklus konteks  pengalaman  refleksi  tindakan  evaluasi  konteks. Melalui serangkaian kegiatan di atas. conscience. Berikut ini disajikan contoh modul untuk melatih mahasiswa bersinergi. Mahasiswa dilatih untuk menemukan hal – hal positif dalam dirinya yang nantinya mampu memberi inspirasi dan memberdayakan orang – orang di sekitar mereka. Mereka akan berkembang daya kognitifnya seiring dengan semakin terasahnya suara hati untuk menjunjung tinggi nilai – nilai kebenaran dan sekaligus memiliki semangat bela rasa yang terimplementasikan dalam tindakan mereka keseharian.merefleksi diri mereka untuk menjadi pribadi yang selalu dapat memperbaharui diri untuk kemajuan mereka dalam kehidupannya.

Bahan dan alat 1. Aica aibon atau sejenisnya) ukuran sedang (v) stapler b. Lembar Pengamat (khusus untuk pengamat) 4. Bahan dan alat yang dibawa oleh mahasiswa : (i) 2 lembar kertas buffalo ukuran kuarto atau folio (warna bebas) (ii) 1 buah gunting (iii) 1 buah cutter (iv)1 lem berdaya rekat kuat (Castol.KEBIASAAN: BERSINERGILAH a. 3. 4. Lembar Kerja 1: Refleksi Pribadi 3. 2. Arti sinergi Dasar terjadinya sinergi Bekerja dalam tim dan sinergi Langkah-langkah mencapai sinergi 72 . a. b. Bahan yang disediakan panitia: (i) 50 buah sendok ice cream ukuran pendek (ii) 50 buah sendok ice cream ukuran panjang 2. Tujuan Agar peserta dapat menyadari bahwa perbedaan cara pandang yang ada pada setiap orang berpotensi untuk dikelola (melalui sinergi) agar mendapatkan hasil kerja kelompok yang lebih baik. Handout: “Wujudkan Sinergi” c. Pokok Bahasan 1.

 setiap pengamat bertugas mengamati 1 kelompok. cara kerjanya. kemudian Fasilitator mengumpulkan para pengamat untuk diberi penjelasan sebagai berikut:  pengamat bertugas mengamati proses. dll sesuai keinginan kelompok”. Benda yang dibuat dapat diberi nama. Bentuk benda yang akan dibuat bisa dirundingkan dalam kelompok. dan akan dipresentasikan dalam pleno. lalu menuliskan di Lembaran Pengamat (Lembaran Pengamat dibagi). Prosedur 1) Fasilitator membentuk kelompok pengamat yang anggotanya sebanyak kelompok yang akan dibentuk. aktivitas dan dinamika yang terjadi dalam kelompok. dengan bahan yang sudah tersedia di setiap kelompok. Instruksinya adalah sebagai berikut: “Buatlah sebuah benda dengan menggunakan bahanbahan dan alat-alat yang telah disediakan dalam waktu 45 menit. 3) Fasilitator meminta setiap peserta menuju ke kelompoknya masing-masing dan duduk dalam posisi melingkar mengelilingi meja kerja. dijelaskan kegunaannya.d.  pengamat akan memberikan evaluasi dalam refleksi yang dipimpin oleh fasilitator. 4) Fasilitator meminta setiap kelompok membuat suatu benda (bentuk diserahkan sepenuhnya pada kelompok). 73 . Pembentukan kelompok pengamat harus dilakukan sebelum pembentukan kelompok (tahap 2) 2) Fasilitator membentuk kelompok-kelompok beranggota 5 mahasiswa per kelompok.

sementara kelompok yang diamati dapat dimintai konfirmasi tentang pengamatan tersebut. Pengamat diminta untuk menyampaikan hasil pengamatannya. Sebagai pedoman dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apakah ide-ide muncul secara spontan?  Adakah anggota yang memunculkan idenya setelah mendengar ide anggota lain?  Apakah ada perbedaan pendapat?  Ide apa saja yang muncul dalam kelompok?  Bagaimana cara kelompok mengatasi perbedaan pendapat (ide)?  Apakah dalam kelompok muncul sikap “memahami orang lain”?  Apakah dalam kelompok muncul sikap “menangmenang”? 74 . kegunaan. cara kerja dan hal lain yang perlu 7) Fasilitator membagi Lembar Refleksi pribadi kepada para peserta dan meminta seluruh peserta (kecuali pengamat) untuk mengisinya (5 menit). 8) Fasilitator memimpin aktivitas kelas (15 menit) untuk mengungkap hasil refleksi: apa yang diperoleh dari kegiatan kerja sama kreatif tersebut. 6) Fasilitator meminta setiap kelompok secara bergantian (5 menit per kelompok) untuk memberi penjelasan atas hasil karyanya berkaitan dengan nama karya.5) Fasilitator meminta setiap kelompok memamerkan karyanya di atas meja.

apa yang menyebabkan tidak ditemukannya ide bersama? 9) Sebelum menutup seluruh kegiatan kerjasama kreatif. Apakah ada ide yang disepakati bersama? Jika ya. fasilitator terlebih dahulu memberi lekturet (lihat Handout). apakah ide yang disepakati tersebut dapat diwujudkan dalam karya?  Apakah ada kelompok yang tidak dapat menemukan ide bersama? Jika ada. (15 menit) 75 .

Sinergi merupakan suatu proses kreativitas yang menggembirakan karena gagasan-gagasan bermunculan secara spontan. maka dalam sinergi. sinergi akan membuat hasil kerjasama melebihi 76 . Sinergi terjadi bila pikiran kita saling merangsang sehingga gagasan satu merangsang munculnya gagasan yang lain. Artinya. Sinergi memungkinkan kita menemukan penyelesaian yang lebih baik dari. Apakah sinergi itu? Bila dua orang atau lebih bekerja sama. yang hasilnya jauh lebih sulit dicapai bila kita berpikir sendirian. Aku menyampaikan sesuatu yang merangsang pikiranmu.HANDOUT WUJUDKAN SINERGI Aktivitas yang baru saja kita lakukan. lalu kamu memberi respon dengan mengembangkan suatu gagasan yang merangsang timbulnya gagasan baru dalam pikiranku.pada apa yang dapat kita temukan seorang diri. 1 + 1 = 3 atau 10 atau bahkan 100 atau mungkin jauh lebih besar lagi. Bila kita mengenal 1 + 1 = 2. Tingkat kesadaran dan perhatian yang meningkat ini adalah hasil pikiran orang-orang yang bekerja sama. dan kita merasa lebih sadar dan penuh perhatian. Gagasan baru itu diungkapkan satu orang kepada yang lain. sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan pengalaman tentang suatu proses yang disebut SINERGI beserta kondisikondisi yang memungkinkan terjadinya sinergi. mereka dapat menciptakan gejala yang disebut sinergi. dan bahkan terus meningkat. sehingga proses yang serupa terulang kembali.

belajar. Dalam keluarga dan lingkungan kita. Sebaliknya. dan bekerja dengan cara tidak 77 . Dengan demikian gagasan-gagasan mereka dapat saling merangsang. sehingga berpeluang untuk saling melengkapi. Apabila dua orang berdebat tentang sesuatu hal. Dasar untuk mencapai sinergi adalah penghargaan terhadap perbedaan. mungkin mereka tidak akan mencapai kata sepakat karena masingmasing berusaha membuktikan bahwa pihak lain salah. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang unik. mereka akan mulai berbicara secara kooperatif dan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Sinergi akan terwujud melalui penciptaan suasana atau situasi yang mendukung terjadinya sinergi.jumlah dari hasil yang dicapai sendiri-sendiri. Kunci penghargaan terhadap perbedaan adalah adanya kesadaran bahwa setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda. adik maupun teman kita berpikir. Sinergi adalah proses yang memungkinkan munculnya alternatif lain yang lebih baik. orang lain maupun kehidupan pada umumnya. Menghargai Perbedaan adalah dasar terjadinya sinergi Sinergi merupakan suatu proses yang tidak berlangsung dengan sendirinya (otomatis). berbeda satu dengan yang lainnya dalam banyak hal. baik tentang dirinya. Keseluruhannya lebih besar dari pada jumlah bagianbagiannya. dapat kita amati bahwa kakak. kalau mereka memperlunak sikapnya dan bersepakat mencari pemecahan yang memuaskan masingmasing pihak. Kita belajar secara berbeda.

Kita bisa mengatakan bahwa ia banyak omong dan sentimentil. Hal ini tidak berarti bahwa ‘yang kupilih’ lebih baik daripada ‘yang ia pilih’. Melalui komunikasi dengan orang lain yang berbeda cara pandangnya. dan memahami bahwa pandangan orang lain dapat mempunyai nilai kebenaran. Yang terjadi hanyalah perbedaan pilihan. yang melaluinya dunia akan dipandang. yang lebih baik dan memperkaya diri. Perbedaan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh sesuatu yang baru. kita dapat melihat dunia dengan kacamata yang lebih luas. Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap dirinya sendiri. Kita suka bermain catur. tapi teman kita lebih suka belajar bahasa. dapat diambil intisari sebagai berikut: 78 . Kita suka belajar matematika. orang lain maupun kehidupan pada umumnya. dan refleksi pribadi peserta melalui pleno. sehingga pemahaman kita tentang dunia menjadi lebih kaya. Kita memandang dunia secara berbeda. Sekarang. Jika kita dapat sampai pada pemahaman bahwa orang lain mempunyai cara pandang yang berbeda. Dan oleh karena pengalaman seseorang berbeda dengan orang lain. tergantung pada sikap kita terhadap adanya perbedaan tersebut. maka cara pandangnya pun berbeda. Pengalaman-pengalaman masa lalu seseorang akan membentuk ‘teropong’ atau paradigma.sebagaimana yang kita lakukan. tapi teman kita lebih suka membuat puisi. maka situasi semacam itu merangsang munculnya sinergi. pengamat. Bekerja dalam tim dan sinergi Berdasarkan masukan dari sharing kelompok. atau memanfaatkan perbedaan tersebut dengan memintanya untuk membantu kita belajar diskusi dan membuat karangan.

 Kita menghargai perbedaan cara pandang orang lain. Perbedaan yang ada pada orang-orang lain hendaknya dipandang sebagai kesempatan. Sinergi dapat tercapai apabila semua anggota kelompok melaksanakan perannya masing-masing secara optimal demi tujuan-tujuan yang sudah disepakati bersama oleh seluruh anggota kelompok. Sinergi akan muncul dengan sendirinya apabila dua orang atau lebih mempersatukan pikiran dalam usaha saling memahami. sehingga dengan memahaminya kita mempunyai gambaran yang lebih utuh tentang persoalan yang sedang dihadapi. Membangun sinergi bukan hal yang mudah. sehingga muncul alternatif-alternatif yang menjadi kesepakatan kelompok. dan bukan sebagai kelemahan.  Kita menyadari bahwa orang lain merupakan pintu masuk menuju ke potensi yang sepenuhnya. mengembangkan ide berdasarkan ide yang muncul dari anggota lain. Sikap-sikap yang demikian membutuhkan kondisikondisi antara lain:  Kita memiliki hasrat yang tulus untuk memahami orang lain. Perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya disadari dan dipahami dan selanjutnya dimanfaatkan untuk mengarahkan kita kepada alternatif pilihan yang lebih baik Perbedaan-perbedaan hendaknya dipandang sebagai suatu isyarat bahwa mungkin ada sesuatu yang kita lupakan atau luput dari perhatian kita. Dapat kita bayangkan bila kegiatan kreatif tadi kita lakukan 79 .Kondisi yang mendukung terjadinya sinergi. Sinergi membutuhkan sikap proaktif dari setiap anggota kelompok untuk memunculkan ide. Keberadaan orang-orang yang berpikir secara berbeda-beda kita pandang lebih berpeluang mencapai hasil yang lebih baik daripada orang-orang yang berpikir secara sama.

sehingga dalam waktu yang disediakan tidak menghasilkan sebuah karya yang memuaskan. Dalam refleksi pribadi. sehingga karya itu benar-benar hasil karya bersama dan akhirnya menjadi milik bersama. sikap kita yang benarbenar berusaha untuk mengerti orang lain ditambah dengan sikap Menang-Menang akan membuka kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bagi semua pihak yang berkepentingan. sementara teman lain dalam kelompok hanya menjadi penonton. Indikator terjadinya sinergi adalah adanya kepuasan yang dirasakan oleh seluruh anggota kelompok karena ide-ide dan sumbangan setiap anggota memiliki arti bagi karya yang dibuat bersama. kita ditanya tentang perasaan kita atas kerja kelompok yang kita lakukan (puas/tidak puas). Hal itu mengakibatkan anggota yang lain dalam lubuk hati mereka merasa tidak puas atau bangga atas karya yang dihasilkan karena tidak semua 80 . Gagasan-gagasan yang muncul dari teman lain karena dirangsang gagasan-gagasan sebelumnya akan memperkaya dan menambah nilai lebih pada pencapaian tujuan. namun karya tersebut bukan karya seluruh anggota kelompok. Akhirnya. melainkan hanya karya satu atau dua orang dalam kelompok tersebut. Menikmati proses pencapaian tujuan secara bersama-sama dan mencapai hasil karya bersama (meskipun mungkin belum jadi) merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan dalam sinergi.  Sikap Menang-Menang.seorang diri. Hal itu terkait dengan indikator terjadinya sinergi. Bukan tidak mungkin akan muncul kebuntuan gagasan. Hal tersebut perlu ditekankan karena seringkali terjadi bahwa suatu kelompok dapat menghasilkan suatu karya yang sangat monumental.

Orang bertipe ini dapat sangat membantu terwujudnya gagasan-gagasan yang dimunculkan oleh pimpinan kelompok. khas. saling bergantian sela-menyela. Inilah sinergi. Hal ini penting untuk menjaga semangat kerja kelompok dan mencegah kebuntuan dalam bekerja sama. Tim yang baik adalah tim yang dapat mengelola berbagai tipe orang yang berbeda-beda untuk mengambil perannya sendirisendiri dalam rangka tujuan bersama.  Tipe Pembaharu (inovator). Bekerja dalam kelompok (tim) membutuhkan sinergi antar-anggota kelompok. Orang bertipe ini sangat baik dalam memelihara kesatuan kelompok dan mendorong terjadinya kerjasama  Tipe “Sok” (show-off). Orang bertipe ini akan bekerja sampai pekerjaan selesai (tuntas)  Tipe Pendukung (follower). Alat-alat musik. Orang bertipe ini sangat kreatif dalam meluncurkan gagasan-gagasan yang segar. Orang bertipe ini sering muncul dengan bumbu-bumbu atau petuah-petuah yang menyegarkan dalam kerja kelompok. 81 . manakala tujuan kelompok tidak tercapai. namun pada akhirnya yang terdengar adalah sebuah keutuhan yang harmoni berupa lagu.anggota terlibat dalam proses. kita dapat melihat kembali apakah kondisi-kondisi yang mendukung terjadinya sinergi sebagaimana telah disebutkan di atas telah terpenuhi. secara individual.  Tipe Penyeimbang (harmonizer). Dengan demikian. dengan partitur masing-masing memunculkan nada-nada yang berbeda. Sekurang-kurangnya ada 5 tipe orang:  Tipe Pekerja Keras (plodder). Mengelola kelima macam tipe orang tersebut dapat diibaratkan sebagai sebuah ansambel musik.

akan timbul dorongan bagi orang lain untuk melakukan hal yang serupa kepada kita. sehingga memungkinkan terciptanya gagasan baru yang lebih besar. c) Ungkapkan gagasanmu. bersikap terbuka dalam mengekspresikan gagasan. e) Jalan terbaik.Langkah-langkah mencapai sinergi Meskipun terdapat perbedaan pandangan dengan orang lain. dengan suasana yang sudah terbangun tersebut. tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinyta sinergi yang menguntungkan banyak pihak yang terlibat. Pada langkah ini kita mengungkapkan gagasan yang kita yakini benar dengan mempertimbangkan semua fakta dan persepsi yang kita ketahui. hampir selalu ada alternatif penyelesaian yang 82 . 5 langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sinergi adalah sebagai berikut : a) Temukan masalah. perasaan dan pengalaman. yang akan menguntungkan setiap orang. Dengan adanya keberanian kita untuk mendengarkan. Pada langkah ini. alternatif atau kesempatan-kesempatan yang muncul berkaitan dengan suatu masalah b) Dengarkan gagasan orang lain. Jika terjadi perbedaan persepsi. Pada langkah ini setiap anggota kelompok menggunakan seluruh imajinasi dan kreasi untuk mengkombinasikan gagasan yang muncul. kita dapat mengidentifikasi sebanyak mungkin gagasan. d) Curah pendapat. Pada langkah ini kita diajak untuk menggunakan kemampuan kita dalam mendengarkan dengan empatik dalam rangka memahami orang lain.

LEMBAR PENGAMAT terbaik bagi pihak-pihak yang Berikan tanda V pada alternatif Ya dan Tidak (kecuali nomer 5.6 dan 13) No 1 2 Pertanyaan Adakah anggota yang secara spontan memunculkan ide? Adakah anggota yang memunculkan ide tertentu setelah mendengar ide anggota lain? Apakah setiap anggota terlibat aktif berdiskusi? Apakah ada perbedaan pendapat? Sebutkan ide apa saja yang muncul dalam kelompok Tuliskan bagaimana cara kelompok mengatasi perbedaan pendapat (ide) Ya Tidak 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Apakah sikap “memahami orang lain” muncul dalam kelompok? Apakah sikap “menang-menang “muncul dalam kelompok? Apakah ada peserta yang menjadi penengah? Apakah ada ide yang disepakati bersama? Apakah ide yang disepakati tersebut dapat diwujudkan dalam karya? 83 .merupakan jalan berkepentingan.

6. Menurutku. Setelah mendengarkan ide teman lain. . 8 atau 9 tidak. caranya adalah: (isilah) ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… …………………………………………………. sebutkan hal-hal yang mungkin menghambatnya Ya Tidak REFLEKSI PRIBADI *) coret yang tidak perlu 1. aku (dapat/tidak dapat*) memunculkan ide tertentu. di dalam kelompok (ada/tidak ada*) perbedaan pendapat. Menurutku. Dalam bekerja kelompok tadi. di dalam kelompok (muncul/tidak muncul*) sikap memahami orang lain. di dalam kelompok (ada/tidak ada*) upaya untuk mengatasi perbedaan pendapat.No 12 13 Pertanyaan Jika ya. 4. 2. di dalam kelompok (ada/tidak ada*) ide yang dapat disepakati bersama. 84 8. 7. Menurutku. Jika ada. 5. Menurutku setiap anggota (terlibat/tidak terlibat*) aktif membicarakan permasalahan yang ada dalam kelompok. Menurutku. 3. apakah ada kesan bahwa setiap anggota merasa puas? Jika jawaban no. di dalam kelompok (muncul/tidak muncul*) sikap menang-menang. Menurutku. aku (dapat/tidak dapat*) secara spontan memunculkan ide.

11. 10. Saya merasa (puas/tidak puas) atas kerja kelompok yang baru aku lakukan. bagi kehidupan kelompok. Menurutku. keuntungan/kerugian yang muncul akibat peran yang aku lakukan tersebut adalah 85 .9. Meramaikan suasana 12. Mengikuti kehendak teman b. Memunculkan ide d. Menurutku tujuan dari membuat karya bersama ini (dapat/tidak dapat*) tercapai. Di dalam kegiatan kelompok yang baru dikerjakan. Menjadi penengah c. aku cenderung berperan sebagai anggota yang: (pilihlah) a.

.. 11.... Pernyataan nomor 1-6 mengenai ranah kognitif.. 6..... 8...... 4. Aku bermaksud / berencana…………………… Catatan: 1...EVALUASI (untuk dikumpulkan) PERNYATAAN TENTANG HASIL BELAJARKU (“I-LEARNED” STATEMENTS) KEBIASAAN : BERSINERGILAH Nama : Kelas : Prodi : Kelompok : Dari pengalamanku dalam mengikuti kegiatan mengenai Kebiasaan: Bersinergilah... 3... Aku menjadi yakin bahwa aku ……………… Aku teringat kembali bahwa aku ……………… Aku perhatikan bahwa aku……………………… Aku temukan bahwa aku ……………………… Aku heran bahwa aku ………………………… Aku senang/bangga/gembira /puas (perasaan positif lain) bahwa aku .. 9.. 86 .. dapat diplih satu atau dua saja.... Aku putuskan dan nyatakan bahwa aku akan………………………………………………..... 5. nomor 7–9 mengenai ranah afektif. 7.. Aku tidak senang/kecewa/malu (perasaan negatif lain) bahwa aku ………………………… 10.. maka: 1. 2............. Tidak semua pernyataan harus diisi..... Aku belajar bahwa aku …………………… Aku menjadi sadar/tahu bahwa aku.. 2... nomor 10-11 mengenai ranah konatif/ behavioral (rencana tindakan)..

Pelaksanaan Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler Pengembangan Karakter mahasiswa melalui kegiatan ekstrakurikuler diwadahi dalam beberapa organisasi kemahasiswaan baik di tingkat universitas. Struktur Organisasi Kemahasiswaan Universitas Sanata Dharma 87 . fakultas maupun jurusan/ program studi yang meliputi:  Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU)  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU)  Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF)  Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF)  Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)  Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKF)  Komunitas-Komunitas Gambar 4.3.

Selain bidang fisik. sebetulnya bidang mental dan akal juga menjadi sasaran dalam pelaksanaan kegiatan rutinnya.Organisasi dan Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Peminatan Seni Bidang Garap dan Kegiatan Membina/melatih mahasiswa dalam kegiatan kreasi dan pengembangan seni. fotografi. provinsi. Pengembangan dan pembinaan keterampilan fisik dalam bidang olah raga dan (seni) bela diri adalah bidang garap dari UKM yang termasuk dalam kategori peminatan ini. maupun nasional. dan musik. teater. paduan suara. karawitan. Latihan rutin. Kegiatan lain yang dilaksanakan oleh UKM selain latihan rutin adalah keikutsertaan dalam lomba baik di tingkat kabupaten/kota. dan keikutsertaan dalam berbagai lomba adalah bentuk kegiatan yang dilakukan usaha mengembangkan diri mahasiswa. pentas.Terdapat beberapa bentuk seni yang digeluti mahasiswa seperti tari. baik untuk kategori umum maupun Nama UKM Tari Grisadha Karawitan Lens Club Teater Seriboe Djendela PSM Cantus Firmus Band & EO Sexen Olah raga & bela diri Sepak bola Basket Taekwondo Karate INKAI Aikido Kempo Tarung Derajat 88 .

pengembangan pengetahuan. dan lain-lain. diskusi. dan baksti sosial. Dalam kegiatan yang dilakukan. Wadah pengembangan minat jurnalistik dengan saluran media cetak dan elektronik (radio). dan beberapa kegiatan rekreatif – reflektif. Bentuk kegiatan: pelatihan anggota. dan penerbitan. mahasiswa diminta untuk memahami dan meringankan penderitaan sesama dengan sukarela tanpa pamrih. pelatihan terkait dengan materi jurnalistik dan kepenyiaran. Pengembangan sosial (kemanusiaan) adalah sasaran dari dibentuknya UKM ini. Kegiatan yang dilakukan penyelenggaraan siaran radio. Nama UKM Sosial Pengabdian Masyarakat Korps Suka Rela Spiritual Kerohanian Pers dan Media Masdha Pers Mahasiswa NATAS 89 . pembinaan.Peminatan Bidang Garap dan Kegiatan khusus (mahasiswa). Penyegaran dan pembinaan rohani tanpa mengarah pada salah satu aliran agama atau kepercayaan. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan sosial. Penekanan diberikan pada pengembangan kualitas jiwa (rohani) mahasiswa. saresehan.

minat pada pengembangan semangat berkoperasi (Kopma). pengalaman. Nama UKM Koperasi Mahasiswa KOPMA Resimen Mahasiswa Pecinta Alam Mapasadha Seperti sudah dikemukakan di atas.Peminatan Minat Lain/Khusus Bidang Garap dan Kegiatan Bidang garap yang termasuk dalam peminatan ini sangat beragam. metode pengembangan karakter mahasiswa melalui kegiatan ekstra kurikuler juga menerapkan pendekatan Pedagodi Ignasian dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan dengan karakter utuh dan tajam dalam kompetensi (competence). minat bela negara (Menwa). suara hati (conscience). tindakan. perlu adanya pendampingan dan pengawasan serta evaluasi kegiatan. Kegiatan ekstra kurikuler juga menerapkan langkah-langkah berkesinambungan antara konteks. Untuk menjamin terlaksananya langkah-langkah berkesinambungan dalam kegiatan ekstra kurikuler tersebut. dan minat pada alam dan kelestariannya (Mapasadha). sebagaimana dijelaskan dalam sub-bab sebelumnya. Terkait dengan hal ini. evaluasi dan kembali ke konteks. Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan membentuk tim pendamping kegiatan mahasiswa dan tim monitoring serta evaluasi. Tugas tim pendamping kemahasiswaan adalah sebagai berikut: 90 . refleksi. dan hasrat bela rasa (compassion).

Memberi masukan kepada Kaprodi mengenai kegiatan kemahasiswaan. Wakil Dekan : 1. Memantau dan mengevaluasi kegiatan kemahasiswaan di tingkat fakultas. 3. Membina mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa. Pembantu Dekan. dan Ketua Program Studi berhubungan dengan kemahasiswaan. Memantau dan mengevaluasi kegiatan kemahasiswaan di tingkat program studi. 3. Memberi masukan kepada Dekan. Wakil Ketua Program Studi : 1. Pendamping UKM : 1. c. Membina organisasi kemahasiswaan fakultas (BEM fakultas dan unit kegiatan fakultas). d.a. Membantu/ memberi masukan unit kegiatan mahasiswa dalam membuat dan mengevaluasi profil (visi) dan rencana strategis unit tersebut. 2. 4. 4. 91 . b. Wakil Rektor III : 1. Menyusun dan mengimplementasikan kebijakan universitas di bidang kemahasiswaan. Membina organisasi kemahasiswaan program studi (himpunan mahasiswa program studi). Menjalin kerja sama dan mencari informasi dari pihak luar yang berhubungan dengan kemahasiswaan. 2. 2. Menjalin kerjasama dan mencari informasi dari pihak luar yang berhubungan dengan peningkatan kegiatan kemahasiswaan.

2. Monitoring dan evaluasi kegiatan kemahasiswaan dilaksanakan di awal.2. universitas membuat kebijakan dengan mewajibkan mahasiswa mengumpulkan 92 . Melakukan evaluasi atas laporan pertanggungjawaban dan penggunaan dana kemahasiswaan. Lebih rinci kegiatan monitoring dan evaluasi adalah sebagai berikut. 4. Melakukan pemantauan pelaksanaan untuk beberapa pelaksanaan kegiatan yang dianggap penting dan strategis. 5. Adapun tim monitoring dan evaluasi terdiri dari beberapa dosen yang tugasnya memantau kegiatan dan penggunaan anggaran. Melakukan evaluasi atas profil (visi) dan melihat kesesuaiannya dengan analisis yang dibuat. 3. atau akhir tahun atau periode. Membantu/ memberi masukan unit kegiatan mahasiswa dalam membuat perencanaan kegiatan dan anggaran tahunan. Melakukan evaluasi atas rencana kegiatan dan anggaran (tahunan) dan melihat kesesuaian dengan rencana strategis unit kegiatan kemahasiswaan yang telah dibuat di awal periode. 3. Melakukan evaluasi atas rencana strategis unit kegiatan mahasiswa dan melihat kesesuaian/keterkaitan dengan rencana strategis universitas. Membimbing dan mendampingi unit kegiatan mahasiswa dalam melakukan refleksi dan evaluasi. Selain pendampingan dan monitoring. 1. Mendampingi unit kegiatan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan dan pertanggungjawaban anggaran. beserta dengan evaluasinya. tengah. 4.

minat. bakat dan minat dengan menjadi anggota unit 93 . Pada saat mahasiswa memilih kegiatan ekstra-kurikuler yang akan diikuti. refleksi. olah raga dan organisasi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya. Mereka dapat juga mengembangkan potensi diri. Pengalaman Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan mereka dengan menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan baik ditingkat fakultas maupun universitas. Konteks Universitas mendorong dan memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler dengan tujuan supaya mahasiswa tidak hanya memiliki kecerdasan kognitif saja tetapi diharapkan dapat mengasah bakat. tindakan. Kegiatan yang dipilih mahasiswa dapat berupa kegiatan pengembangan bakat dan minat seperti seni. kegiatan ekstra kurikuler dilaksanakan dengan menerapkan langkah-langkah berkesinambungan antara konteks. Ada banyak pilihan kegiatan yang ditawarkan di USD. mahasiswa dituntut untuk dapat melihat konteks hidup yang berpotensi mendukung atau menghambat proses pengembangan karakter sehingga dalam mengikuti kegiatan mahasiswa tidak asal berkegiatan tetapi memiliki tujuan yang jelas. evaluasi. pengalaman.point kegiatan kemahasiswaan yang diatur dalam buku peraturan point kegiatan kemahasiswaan. serta dapat mengembangkan karakter personalnya.

seni maupun olahraga melainkan juga dapat mengasah rasa empati. mahasiswa diajak untuk melakukan refleksi.kegiatan baik seni maupun olah raga. mahasiswa diharapkan tidak hanya dapat mengembangkan kompetensi mereka dalam berorganisasi. Dari keikutsertaan dan pengalaman terjun dalam kegiatan. Mahasiswa diajak untuk melakukan pertimbangan seksama mempergunakan ingatan. Mereka dapat pula mengembangkan kemampuan berkomunikasi. saling memahami. Refleksi Setelah mahasiswa mengalami suatu kegiatan. kerjasama tim dan mengelola suatu event dengan menjadi panitia suatu kegiatan. hasrat bela rasa dan dapat mengembangkan nilai-nilai kebenaran seperti kejujuran dan sportivitas (suara hati). pemahaman. dan perasaan untuk menangkap 94 . imajinasi.

unit kegiatan mahasiswa menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA). Mahasiswa diminta untuk memikirkan kegiatan apa yang akan mereka selenggarakan dengan melihat kebutuhan dan permasalahan mahasiswa saat ini (konteks). potensi yang sudah dikembangkan. Refleksi dapat juga dilakukan dengan meminta mahasiswa menuliskan pengalaman mereka membagi tulisan mereka ke teman-teman dalam kelompok. 95 . dan sumbangan yang sudah mereka berikan untuk berhasilnya suatu kegiatan dll. Kegiatan refleksi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Disinilah mahasiswa bersama dosen pendamping berusaha menemukan aspek diri apa saja yang berkembang melalui kegiatan.makna dan nilai dari apa yang dialami dalam kegiatankegiatan selama ini.hal yang dirasakan. Di tahap inilah peran dosen pendamping dan dokumentasi kegiatan menjadi sangat penting. pengalaman masa lalu (yang mungkin tidak dialami oleh mahasiswa yang akan berkegiatan pada tahun berikutnya) dapat disarikan dan menjadi bahan pembelajaran mahasiswa yang akan berkegiatan berikutnya. Tindakan Pada awal periode kegiatan. melihat pengalaman tahun sebelumnya dan bercermin dari hasil refleksi dari kegiatan sebelumnya. mahasiswa dituntut untuk belajar dari pengalaman untuk dapat membuat perbaikan-perbaikan dan tindakan nyata pada tahun berikutnya. Dengan adanya dosen pendamping dan dokumentasi yang rapi. Pada tahap inilah. seperti misalnya dosen pendamping mengajak mereka sharing kelompok berkaitan dengan hal .

96 . tindakan lebih banyak berdasar dari pengalaman pribadi. Setiap selesai melakukan kegiatan. bela rasa. Pada tahap evaluasi ini. tim monitoring dan evaluasi melihat mekanisme suatu kegiatan dapat berjalan. mahasiswa diminta untuk mengevaluasi anggaran dan proses/ dinamika yang sudah dialami. prosedur penggunaan anggaran. Hasil evaluasi dicatat untuk perbaikan pada tahun berikutnya. daya dukung yang sudah ada dan yang harus disediakan.Pada tahap tindakan ini. Kekurangan dan kelebihan yang ditemukan dapat berupa kekurangan dan kelebihan yang berkaitan dengan kompetensi. Evaluasi Evaluasi dapat berasal dari mahasiswa yang berkegiatan bersama dengan dosen pendamping dan dapat berasal dari tim monitoring dan evaluasi internal yang dibentuk oleh WR III. serta proses-proses psikologis yang dialami (rasa empati. serta efektivitas suatu kegiatan dalam mengembangkan karakter mahasiswa. kerjasama dll.). tetapi di model ekstra-kurikuler pengalaman akan lebih banyak didapat dari teman yang berkegiatan sebelumnya melalui catatan/ dokumentasi dan dosen pendamping. Pada model pembelajaran. model pengembangan karakter melalui kegiatan ekstra kurikuler sedikit berbeda dengan model pengembangan karakter melalui jalur pembelajaran.

3) memperbaharui komitmen Jesuit pada pelayanan yang terpelajar. Ad Maiorem Dei Gloriam! 97 .F. 2010) dibahas keprihatinan yang mendalam tentang tiga tantangan globalisasi bagi pendidikan Jesuit. PENUTUP Pada buku Tantangan Pendidikan Jesuit Masa Sekarang (Nicolas. yaitu 1) menggalakkan kedalaman pikiran dan imajinasi. 2) menemukan kembali dan menerapkan “universalitas” kita dalam sektor pendidikan Jesuit. Buku ini membantu USD merealisasikan niat baik tersebut. Universitas Sanata Dharma sebagai Universitas Jesuit di Indonesia menjawab tantangan tersebut dengan memantapkan jati dirinya sebagai universitas Jesuit dengan menggali nilai-nilai kelembagaan dan mengimplementasikannya dalam wujud nyata dalam bentuk pendidikan karakter mahasiswa melalui berbagai medium. A.

Nicolas. K.(2002) . R . Cincinnati: Office of Mission & Ministry Xavier University 3800 Victory Parkway. Inc. Bringing in a New Era in Character Education. International Commission on the Apostolate of Jesuit Education _____________(2002).Why It Matters. San Francisco: Jossey-Bass ___________ (1993) IGNATIAN PEDAGOGY: A PRACTICAL APPROACH. T. (2001). DAFTAR PUSTAKA Damon. 98 . Sekarang Tantangan Pendidikan Jesuit Masa Ritchhart. New York: Bantam Books Riyan. & Bohlin. W. A Glossary of Terms Used in Ignatian and Jesuit Circles.Intellectual Character: What It Is. (2002). Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life.: San Fransisco. California: Hoover Institution Press Lickona. A. (2010). Education for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility.G. and How to Get It. (1991). K. John Wiley & Sons.

______________(2010) Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010 ______________(2008) Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian. Yogyakarta: LPM-P3MP USD 99 .

LOGO PEDAGOGI IGNASIAN COMPETENCE-CONSCIENCE-COMPASSION 100 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->