PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEBIJAKAN PUBLIK Menembus Batas Rasionalisme, Inkrementalisme dan Irasionalisme Diterjemahkan oleh: Joash Tapiheru Tahap

pengambilan keputusan dalam siklus kebijakan mendapatkan perhatian lebih dalam tahap awal pengembangan ilmu kebijakan, ketika para analis banyak meminjam dari berbagai model pengambilan-keputusan dalam organisasi yang kompleks, sebagaimana dikembangkan oleh para ahli administrasi publik dan organisasi bisnis.1 Pada pertengahan tahun 1960-an, diskusi tentang pengambilan-keputusan kebijakan publik berubah fokus ke perdebatan seputar ‘model rasional’ dan ‘model inkremental’.2 Model rasional dipilih sebagai model tentang bagaimana keputusan seharusnya diambil, sementara model inkremental digambarkan sebagai model yang secara aktual paling banyak dipraktekan dalam pemerintahan.3 Kenyataan ini, pada dekade 1970an, memunculkan kuatnya upaya untuk mengembangkan berbagai model pengambilan keputusan alternatif dalam berbagai organisasi yang kompleks. Sebagian upaya ini diarahkan untuk mensintesiskan model rasional dan inkremental. Sebagian yang lain – termasuk model pengambilan-keputusan yang disebut ‘garbage-can’ – berfokus pada berbagai elemen rasional dari perilaku organisasional, demi mencapai model alternative selain rasionalisme dan inkrementalisme.4
Õ∏ Diterjemahkan dari Michael Howlett dan M. Ramesh, (1995), “Studying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystem,” Oxford University Press, chap. 7, Public Policy Decision-Making – Beyond Rationalism, Incrementalism and Irrationalism. 1 Anthony Cahill & E. Sam Overman, ‘The Evolution of Rationality in Policy Analysis’ dalam Stuart S. Nagel (ed.). Policy Theory and Policy Evaluation. New York: Greenwood, 1990; Herbert A. Simon, ‘Proverbs of Administration’, Public Administration Review, 6, 1 (1946): 5367; Herbert A. Simon, ‘A Behavioral Model of Rational Choice’, Quarterly Journal of Economics 69, 1 (1955): 99-118; Herbert A. Simon, Administrative Behavior: A Study of Decision-Making Processes in Administrative Organization. New York: Macmillan, 1957; Herbert A. Simon, Models of Man, Social and Rational: Mathematical Essays on Rational Human Behavior in a Social Setting. New York: Wiley, 1957. 2 David Braybrooke & Charles Lindblom, A Strategy Of Decision: Public Evaluation As A Social Process. New York: Free Press Of Glencoe, 1963; Robert A. Dahl & Charles E. Lindblom, Politics, Economics And Welfare: Planning And Politico-Economic Systems Resolved Into Basic Social Process. New York: Harper And Row, 1953; Charles E. Lindblom, ‘The Science Of Muddling-Through’, Public Administration Review 19, 2 (1959); 79-88.

3 Yehezkel Dror, Public Policymaking Re-Examined. San Fransisco: Chandler Publishing Co., 1958; Amitai Etzioni, ‘Mixed-Scanning: A Third Approach To DecisionMaking’, Public Administration Review 27, 5 (1967): 385-92; S. Kenneth Howard, ‘Analysis, Rationality, And Administrative Decision-Making’ Dalam Frank Marini (Ed.), Toward A New Public Administration: The Minnowbrook Perspective. Scranton: Chandler, (1971): 285-301. 4 M. Cohen, J. March & J. Olsen, ‘A Garbage Can Model Of Organizational Choice’, Administrative Science Quarterly 17, 1 (1972): 1-25, Dan James G. March & Johan P. Olsen, ‘Oraganizational Choice Under Ambiguity’, Dalam J.G. March & J.P. Olsen (Eds.), Ambiguity And Choice In Organization, 2nd Ed. Bergen: Universitets-Forlaget, 1979.

Homewood: Dorsey. Jelasnya. The Foundations of Policy Analysis. Definisi Brewer dan DeLeon tidak mengatakan apapun tentang signifikansi. definisi ini menggarisbawahi poin bahwa pengambilan-keputusan dalam kebijakan publik bukanlah sebuah hal teknis.5 Tujuan dari bab ini adalah untuk membahas berbagai model yang ada dalam pengambilan keputusan kebijakan publik dan menelaah perkembangan terbaru di bidang ini. Pertama. Inilah yang akan kita bahas di bagian selanjutnya dari tulisan ini. ‘ The Artificial Debate Between Rationalist And Incrementalist Models Of Decision Making’. bahkan jika keputusan yang diambil adalah keputusan untuk tidak melakukan apapun atau mempertahankan status quo. pengambilan keputusan bukanlah sebuah tahap yang berdiri sendiri. Ini melibatkan tindakan memilih dari sejumlah kecil pilihan kebijakan alternatif. Policy And Politics 8. jumlah aktor yang 5 Gilbert Smith & David May. 1983: 179. pilihanpilihan yang paling mungkin tidak akan direalisasikan dan memutuskan untuk tidak memasukan alur tindakan tertentu adalah suatu bagian dari seleksi ketika akhirnya sampai pada keputusan tentang yang paling baik. Meskipun berbagai model ini memiliki perbedaan-perbedaan signifikan. Pada tahap formulasi kebijakan. agenda-setting melibatkan sejumlah besar aktor-aktor negara dan masyarakat. setiap model mengakui bahwa jumlah aktor kebijakan yang relevan semakin berkurang seiring dengan berjalannya proses kebijakan. untuk memecahkan sebuah masalah publik. . atau sebuah sinonim bagi keseluruhan proses pembuatan kebijakan publik. tetapi secara inheren adalah sebuah proses politik. sebagaimana diidentifikasikan dalam proses formulasi kebijakan.6 Definisi ini memberikan beberapa poin kunci tentang tahap pengambilan-keputusan dalam pembuatan kebijakan. arah yang berpotensi untuk diambil. Di sini diakui bahwa keputusan kebijakan pulbik menciptakan ‘pemenang’ dan ‘pecundang’. yang sebelumnya telah dibahas ketika kita membicarakan siklus kebijakan.Hanya baru-baru ini saja mulai muncul upaya untuk bergerak lebih jauh lagi dari tiga model yang umum dipakai tersebut dan mengembangkan sebuah pemahaman yang lebih bernuansa terhadap berbagai proses yang kompleks terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan publik. Dus. berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana keputusan dibuat di pemerintahan sekaligus memberikan preskripsi tentang bagaimana seharusnya keputusan dibuat. 6 Garry Brewer & Peter Deleon. tetapi sebuah tahap spesifik yang berakar pada tahap-tahap sebelumnya dalam siklus kebijakan. mereka juga memiliki beberapa kesamaan. 2 (1980): 147-61. BERBAGAI ISU KONSEPTUAL Gary Brewer dan Peter DeLeon menggambarkan tahap pengambilan keputusan dalam kebijakan publik sebagai: Pilihan berbagai alternatif kebijakan yang selama ini dimunculkan dan dampak yang mungkin muncul dalam masalah yang diestimasi…Tahap ini adalah tahap yang paling bersifat politis ketika berbagai solusi potensial bagi suatu masalah tertentu harus dimenangkan dan hanya satu atau beberapa solusi yang dipilih dan dipakai. Pertama. Bab ini akah diakhiri dengan menawarkan sebuah model alternatif pengambilan keputusan dalam pemerintahan. Kedua. atau cakupan dari pengambilan keputusan publik. Untuk menangani isuisu ini. yang memperhitungkan permasalahan pembatasan kekuasaan dan signifansi subsistem kebijakan.

sementara sebagian yang lain memungkinkan lembaga legislatif dan judikatif untuk memainkan peran yang lebih besar. Aberbach. termasuk mereka yang berasal dari level-level pemerintahan yang lain. Kanada dan negara-negara demokrasi parlementer lain. ‘Governmental Bureaucatizations: General Processes And An Anomalous Case’. 1982. Allison & Morton H. Page.9 Aturan dan SOP ini menjelaskan mengapa proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan menjadi begitu bersifat rutin dan repetitif. Seperti telah dicatat oleh Allison dan Halperin. 10 Lihat Richard R. 2. Tahap pengambilan keputusan kebijakan publik melibatkan aktor yang lebih sedikit lagi. tetapi juga mengatur prosedur yang harus diikuti untuk sampai pada keputusan itu. Knowledge In Society 1. Brighton. Mungkin ada saatnya ada keputusan yang harus mereka 7 Joel D. 4 (1975): 479-503. masih tersisa diskresi yang cukup besar pada individu pengambil keputusan untuk sampai pada penilaian mereka tentang cara yang terbaik untuk bertindak sesuai dengan keadaan yang ada. Berkeley: University Of California Press. Rockman. karena tahap ini menyisihkan seluruh aktor non-negara. World Politics 24 (Supplement. 1978.10 Sementara aturan dan SOP ini membatasi kebebasan para pengambil-keputusan. Comparative Studies In Society And History 17. berbagai model ini juga mengakui bahwa dalam pemerintahan modern derajat kebebasan yang dinikmati oleh para pengambil keputusan dibatasi oleh sejumlah aturan yang mengatur jabatan-jabatan politik dan administrative serta membatasi pilihan-pilihan tindakan para pemegang jabatan itu.relevan tetap besar. berbagai aturan dan prosedur operasional itu memberikan ‘action-channels’ bagi para pengambil keputusan – seperangkat prosedur yang teregularisasi untuk menghasilkan tipe-tipe keputusan tertentu. 1988: 86-111 . Aturan-aturan ini mulai dari konstitusi negara bersangkutan sampai mandate spesifik yang ditujukan pada individu pengambil keputusan melalui berbagai undang-undang dan regulasi. Dus. tanggungjawab pengambilan keputusan terletak sematamata di pundak kabinet dan birokrasi. 1972): 40-79. Bureaucrats And Politicians In Western Democracies. Robert D. tetapi hanya mencakup aktor-aktor negara dan masyarakat yang menjadi bagian dari subsistem kebijakan. Political Authority And Bureaucratic Power: A Comparative Analysis.’ What Do Decision Models Tell Us About Information Use?’. Sebagai sistem politik mengkonsentrasikan otoritas pengambilan keputusan pada lembaga eksektuif yang dipilih dan birokrasi. Cambridge: Harvard University Press. 1985). Edward C. Untuk review literatur yang bagus lihat Evert Lindquist. Cambridge: Harvard University Press. Economy And Society: An Outline Of Interpretive Sociology. An Evolutionary Theory of Economic Change. Tentang Legitimasi Dan Otoritas Lihat Max Weber. di Australia.7 Kedua.8 Aturan-aturan itu biasanya tidak hanya menentukan keputusan-keputusan apa yang mungkin untuk diambil oleh keagenan maupun pejabat pemerintah. Putnam & Bert A. Sistem parlementer cenderung untuk masuk pada kategori yang pertama dan sistem presidensiil pada yang kedua. Pada level makro. Keputusan tentang proses apa yang terjadi selanjutnya dan keputusan apa yang dianggap terbaik bervariasi sebagai hasil tarik menarik antara pengambil-keputusan dan konteks di mana para pengambil keputusan ini beroperasi. Inggris. 1981. 8 John Markoff. Sussex: Wheatsheaf. Nelson & Sidney G. Hanya para politisi dan pejabat pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan otoritatif dalam area permasalahan yang berpartisipasi dalam tahap ini. Winter. 9 Graham T. berbagai negara memiliki tatanan konstitusional dan aturan tentang struktur keagenan pemerintah serta aturan perilaku pejabat yang berbeda-beda. Halperin. ‘Bureaucratic Politics: A Paradigm And Some Policy Implications’.

terutama pada situasi ketika pemerintah yang berkuasa tidak menikmati sebuah mayoritas di parlemen. London Heinemann. Menentukan sebuah tujuan untuk memecahkan sebuah masalah 2.). para pengambil keputusan itu sendiri juga berasal dari latar belakang. Kita akan membahasnya satu-persatu. Model yang paling banyak digunakan dalam analisa terhadap tahap ini adalah model Rasional. . Chicago: Markham Publishing Co. Inkremental. 12 Diadaptasi Dari Michael Carley. Model-model yang lain berusaha untuk mengkombinasikan rasionalitas dan inkrementalism dengan komposisi yang berbeda-beda untuk tiap model. tetapi itu semua mensyaratkan adanya persetujuan dari legislatif. dan pilihan yang berbeda-beda yang mempengaruhi bagaimana mereka menafsirkan suatu masalah dan solusi yang tepat untuk masalah tersebut. Di balik area kesamaan dari berbagai model yang dikembangkan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan . Political Science And Public Policy.11 Pengambil keputusan yang berbeda yang beroperasi dalam tatanan institusional yang hampir serupa akan memberikan respon yang berbeda ketika dihadapkan pada situasi atau permasalahan yang sama atau hampir sama. sementara model yang kedua adalah sebuah model politik yang diaplikasikan dalam kebijakan publik. Pada level mikro. model-model itu juga memiliki perbedaan yang signifikan antara satu dengan lainnya. pengetahuan. yang berasal dari legislative. model garbage can memotret proses pengambilan keputusan sebaai sebuah proses yang pada dasarnya tidak rasional (tetapi tidak sepenuhnya irasional) yang didasarkan pada kepantasan dan perilaku pengambilan-keputusan yang telah menjadi ritual. ketika lembaga ini menjalankan perannya sebagai penafsir konstitusi. Huitt. berbeda dengan model-model yang mengakui adanya rasionalitas. 4. 1968. Terakhir.12 11 Ralph K. Model-model Pengambilan Keputusan Dua model yang paling dikenal dalam pengambilan keputusan kebijakan publik biasanya disebut dengan nama model rasional dan model inkremental.terima. meskipun otoritas untuk untuk mengambil keputusan ada di tangan Presiden (dan kabinet serta birokrasi yang bertindak mewakili presiden). Di Amerika Serikat. Rational Techniques In Policy Analysis. Model yang pertama pada dasarnya adalah sebuah model pengambilan keputusan bisnis yang diaplikasikan di arena publik. dalam proses pengambilan keputusan. tetapi hal seperti ini tidak rutin terjadi. dan Garbage Con. Seluruh alternatif strategi untuk mencapai tujuan itu dieksplorasi dan didaftar 3. meskipun derajatnya berbeda-beda. ‘Political Feasibility’ dalam Austin Rannay (Ed. strategi yang paling dekat dengan pemecahan masalah atau bisa memecahkan masalah dengan biaya paling rendah dipilih berdasarkan kalkulasi tersebut. atau di negara-negara lain yang menganut sistem presidensiil. Model Rasional Sebuah model ideal pengambilan keputusan kebijakan publik secara rasional terdiri dari ‘seorang individu rasional’ yang menempuh aktifitas-aktifitas berikut ini secara berurutan: 1.. Segala konsekuensi yang signifikan untuk setiap alternatif diperkirakan dan kemungkinan munculnya setiap konsekuensi diperhitungkan. Sebaliknya. Bisa juga aturan itu datang dari cabang yudikatif.

Perekrutan dan Penganggaran yang terencana. 4. melalui pengumpulan segala informasi yang relevan dan berbagai alternatif solusi.). Weiss. 4. ‘ The Possibility of Rational Politics’. 1937. ‘Notes On the Theory of Organizations’. ‘The Theory Of Decision-Making’. 15 Pembuat kebijakan diasumsikan sebagai untuk bekerja sebagai teknisi atau manajer bisnis. Model PODSCORB yang mereka kembangkan menyiratkan bahwa organisasi bisa memaksimalkan kinerja mereka melalui Perencanaan.14 Tugas analis kebijakan.18 Penekanan baru terhadap aspek komprehensif terbukti problematic. Dalam studi tentang pengambilan keputusan. Confronting Values In Policy Analysis: The Politics Of Criteria. 1977: 531-45.17 “Pengambilan keputusan’ atas suatu tindakan tertentu. Pengkoordinasian. 1. Douglas Torgerson. adalah mengembangkan pengetahuan yang relevan dan kemudian menawarkannya pada pemerintah untuk diaplikasikan. ‘Research For Policy’s Sake: The Enlightenment Od Social Science Research’.13 Ide-ide ini didasarkan pada keyakinan bahwa berbagai permasalahan sosial seharusnya diselesaikan melalui cara yang ‘ilmiah’ dan ‘rasional’. Kemudian. New York: Institute Of Public Administration.). dan kemudian memilih alternatif yang dianggap terbaik. Policy Analysis 3. 14 Carol H. .Model rasional adalah ‘rasional’ daam pengertian bahwa model tersebut memberikan preskripsi berbagai prosedur pengambilan keputusan yang akan menghasilkan pilihan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan kebijakan. model rasional berakar pada usaha awal untuk membangun sebuah disiplin ilmu tentang perilaku organisasi dan administrasi publik. Dengan menjadikan ide yang dikemukakan oleh Fayol dalam dalam studinya tentang industri batu bara di Prancis menjelang abad XX. 1954: 380417. Penentuan Pilihan. dan kritik segera bermunculan. Policy Sciences 19. Psychological Bulletin 51. dalam Luther Gullick & Lyndal Urwick (Eds. Political Theory Today. Oxford: Polity. Ada batasan-batasan manusiawi yang dimiliki oleh para pengambil keputusan untuk bisa komprehensif dalam 1980: 11. dalam David Held (Ed. Karena berorientasi pada ‘pemecahan masalah’ maka pendekatan ini sering juga disebut sebagai pendekatan ‘ilmiah’. 13 Bruce Jennings. Newbury Park: Sage. Pengorganisasian. ‘Between Knowledge And Politics: Three Faces Of Policy Analysis’. 1991: 115 16 Henry Fayol. Pengambilan Keputusan. ‘Interpretation And The Practice Of Policy Analysis’ dalam Frank Fischer & John Forester (Eds. berarti menimbang antara keuntungan dengan biaya yang diperkirakan harus dikeluarkan. bagi Gulick dan Urwick. Teori-teori rasionalis berakar dalam aliran-aliran pemikiran positifisme dan rasionalisme jaman pencerahan yang berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang ilmiah untuk meningkatkan kondisi hidup manusia. di sini. 1987: 128-52. 1986: 33-59. Papers On The Science of Administration.). 17 Luther Gullick. 18 Ward Edwards. Berbagai elemen dari model ini bisa ditemukan pada karya-karya para ahli administrasi publik awal seperti Henry Fayol di Perancis dan Luther Gulick serta Lyndal Urwick di Inggris dan Amerika Serikat. Studies In The Science of Administration. yang mengidentifikasi suatu masalah dan kemudian mengadopsi cara yang paling efektif dan efisien untuk mengatasi masalah tersebut. ‘rekayasa’ atau ‘manajerialis’. 15 John Elster. 1985.16 Gulick and Urwick mengkodifikasikan sebuah model yang mereka daku sebagai keputusan-keputusan terbaik yang bisa diambil. para analist yang mengusung perspektif ini mulai beargumen bahwa bentuk pengambilan keputusan seperti ini hanya akan memberikan hasil maksimal jika seluruh alternatif yang mungkin dan biaya dari setiap alternatif dipertimbangkan sebelum sebuah keputusan diambil – ini disebut model pengambilan keputusan ‘rational comprehensive’.

Social And Rational: Mathematical Essays On Rational Human Behavior In A Social Setting. Jasa dalam mengembangkan model inkremental dalam analisa pengambilan keputusan kebijakan publik paling layak diatributkan pada ilmuwan politik Yale University. Jika demikian. Lindblom. ‘The Science of Muddling Through’. Ketiga. ‘Satisfying criterion’ ini adalah sesuatu yang nyata. setiap opsi kebijakan diikuti oleh berbagai konsekuensi. yang menjadikan upaya komparasi berbagai konsekuensi tersebut menjadi sulit untuk dilakukan. Herbert A. Selain itu ada pula batasan politik dan institusional yang membatasi penseleksian opsi dan pilihan-pilihan keputusan. satu-satunya ahli administrasi publik yang pernah mendapatkan hadiah Nobel. 1955: 99-118. 1. Quarterly Journal Of Economics 69. ada batasan-batasan kognitif pada kemampuan pengambil keputusan untuk mempertimbangkan seluruh opsi yang ada. tetapi hanya cenderung untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh para pengambil keputusan untuk diri mereka sendiri dalam masalah yang sedang menjadi perhatian. 1955. Dahl & Charles E. tanpa merujuk dampak dari pilihan mereka terhadap efisiensi.membangun berbagai alternatif dan mengkalkulasikan keuntungan dan beban yang ditimbulkan tiap alternatif. bahkan ada yang menganggapnya mendekati ‘sesat’. New York: Wiley. Herbert Simon. maka nampaknya mereka memilih di antara opsi yang ada berdasarkan landasan ideologi atau politik. Public Administration Review 19.20 Ia 19 Herbert A. Charles E. Bargaining. Mungkin salah satu kritik paling keras yang diarahkan pada model rasional adalah kritik yang dilontarkan oleh ilmuwan behavioral Amerika. atau malah secara acak. Lindblom. maka tidaklah mungkin bagi pengambil keputusan untuk sampai pada kesimpulan mutlak tentang alternatif mana yang lebih baik daripada alternatif lain. Simon. Politics. 1953. Charles Lindblom. Models Of Man. New York: Harper And Row. Economics And Welfare: Planning And Politico-Economic Systems Resolved Into Basic Social Processes. 1957. Karena opsi yang sama bisa jadi efisien atau tidak-efisien tergantung dari situasinya. baik yang bersifat positif maupun negative. 2. Kedua. Simon. sehingga mereka terpaksa bertindak selektif dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut.19 Pertama. ia berpendapat dalam serangkaian buku dan artikel bahwa ada beberapa hambatan yang tidak memungkinkan para pengambil keputusan untuk mencapai rasionalitas yang murni dan komprehensif dalam keputusankeputusan mereka. Charles E. model ini mengasumsikan bahwa adalah mungkin bagi para pengambil keputusan untuk mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil. Los Angeles: Rand Corporation. Model Inkremental Berbagai keraguan tentang praktikalitas bahkan kegunaan model rasional membawa pada usaha untuk mengembangkan sebuah teori pengambilan keputusan yang lebih dekat dalam memperkirakan perilaku aktual dari para pengambil keputusan. Bermula di awal dekade 1950-an. ‘A Behavioral Model Of Rational Choice’. Penilaian Simon terhadap model rasional menyimpulkan bahwa berbagai keputusan publik pada prakteknya tidak memaksimalkan manfaat di atas beban. sebagai sesuatu muncul dari hakekat rasionalitas manusia yang terbatas. 1959: 79- . Lindblom. 20 Robert A. Model rasional-komprehensif dikritik sebagai menyesatkan. Situasi ini mendorong munculnya model inkremental yang memotret pengambilan keputusan kebijakan publik sebagai sebuah proses yang dikarakterisasikan oleh tawar menawar dan kompromi antara berbagai pengambil keputusan yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Keputusan-keputusan yang dihasilkan tentu saja lebih merepresentasikan apa yang secara politik fisibel daripada diinginkan. yang dalam kenyataannya kasus seperti ini sangat jarang terjadi.

Lindblom. Charles E. Hasil yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk muncul adalah kelanjutan dari status quo atau hanya perubahan kecil dari status quo. 6. Julianne Mahler & Jeanne Bell Nicholson. Kedua. dengan kata lain. 21 Charles E. menghambat inovasi dan hanya mengulang tatanan yang sudah ada. Organization Theory: A Public Perspective. Chicago: Dorsey Press. 1979: 517. 22 Lindblom. Keuntungan dan kelemahan dari tatanan ada sudah diketahui dan dikenal oleh para aktor kebijakan. Cara para birokrat mengidentifikasi berbagai opsi.21 Dalam pandangan Lindbolm. metode dan kriteria untuk dipilih seringkali telah ditetapkan lebih dahulu. maka akan lebih mudah untuk melanjutkan pola distribusi yang sudah ada daripada membuat sebuah pola baru yang berbeda secara radikal. 1958: 298-312. Seperti dikemukakan dalam artikelnya yang telah banyak dikutip. standard operating procedure yang menjadi batu penjuru seluruh sistem birokrasi cenderung untuk lebih mengedepankan keberlanjutan atau kontinyuitas praktek-praktek yang sudah ada.merangkum model ini sebagai sebuah model yang terdiri dari strategi-strategi yang saling mendukung dalam melakukan penyederhanaan dan pemusatan fokus. Serangkaian percobaan. 88. American Economic Review 48. ‘Still Muddling.23 Pertama. ‘Policy Analysis’. 1987: 257. konsekuensikonsekuensi yang penting dari suatu alternatif yang dipertimbangkan. yang membuat kesepakatan untuk melakukan perubahan menjadi sulit dicapai. Lindblom. karena proses tawar menawar mensyaratkan distribusi sumber daya yang terbatas di antara berbagai partisipan. para pengambil keputusan bekerja dalam sebuah proses yang secara terus menerus ‘terbangun dari situasi yang ada pada saat itu. setapak-demi-setapak dan dalam derajad yang kecil’. Public Administration Review 39. berbeda dengan ketidakpastian yang melingkupi tatanan yang masih baru. . Ada dua sebab mengapa berbagai keputusan cenderung tidak terlalu jauh berbeda dengan status quo. para pengambil keputusan mengembangkan berbagai kebijakan melalui sebuah proses membuat ‘perbandingan terbatas yang berurutan dengan kebijakan sebelumnya’. Sebuah analisis tujuan kebijakan yang berjalinkelindan dan nilai-nilai dengan berbagai aspek empiris dari masalah yang dihadapi Sebuah strategi yang mengedapankan analisis untuk mencari masalah yang ingin diselesaikan daripada tujuan-tujuan positif yang ingin dikejar. bukan keseluruhan.22 Keputusan yang diambil biasanya hanya sedikit berbeda dari keputusan-keputusan yang sudah ada. ‘The Science Of Muddling Through’: 81. Fragmentasi kerja analitis untuk berbagai partisipan dalam pembuatan kebijakan (setiap partisipan mengerjakan bagian mereka dari keseluruhan domain). Strategi-strategi itu adalah: • • • • • • Pembatasan analisis hanya pada beberapa alternatif kebijakan yang familiar…hanya sedikit berbeda dari status quo. Analisis yang mengeksplorasi hanya sebagian. yaitu keputusan-keputusan yang sudah familiar bagi mereka. ‘The Science of “Muddling Through”’. kegagalan. Not Yet Through’. dan percobaan ulang. perubahan dari status-quo bersifat inkremental. 3. 23 Harold Gortmer.

New York. A Strategy of Decision: Policy Evaluation as a Social Process.24 Ini memunculkan matix yang ditunjukan sebagai berikut: Empat Tipe Pengambilan Keputusan Tingkat pengetahuan yang ada Tinggi Perbedaan yang ada antara kebijakan alternatif dan yang terdahulu Tinggi Revolusioner Rendah Analitis Rendah Rasional Inkremental. tetapi juga karena para pembuat kebijakan tidak pernah benar-benar bisa memisahkan antara tujuan dan cara. karena membuat kesepakatan menjadi semakin sulit dicapai. Braybrooke dan Lindbolm berpendapat bahwa empat tipe pengambilan kuputusan bisa digunakan tergantung pada pengetahuan yang dimiliki oleh para pengambil keputusan.Lindbolm juga berpendapat bahwa model inkremental yang mensyaratkan pemisahan antara tujuan dan cara ternyata tidak bisa dipraktekan dalam praktek. terpisahpisah (disjointed incremental) Sumber: diadaptasi dari David Braybrooke dan Charles Lindblom. New York: Free Press Of Glencoe. para pengambil keputusan menghindari membuka kembali isu-isu lama atau mempertimbangkan kembali pilihan-pilihan yang terlalu jauh berbeda dengan praktek-praktek yang ada. Dengan demikian. tidak hanya karena ada batasan waktu dan informasi seperti yang dikatakan Simon. Lindbolm dan para koleganya berkeyakinan bahwa kemungkinan pengambilan keputusan secara inkremental sangat mungkin ada-bersama dengan upaya-upaya untuk mencapai keputusan secara lebih rasional. Karena kesepakatan atas pilihan kebijakan sulit untuk dicapai. cara-cara yang dipilih untuk menyelesaikan masalah ditemukan melalui trial-and-error daripada melalui evaluasi yang komprehensif dari semua cara yang ada. Lindbolm berpendapat bahwa di sebagian besar area kebijakan. Model inkremental melihat pengambilan keputusan sebagai sebuah kegiatan praktis yang berfokus pada pemecahan masalah yang sedang dihadapi daripada berupaya mencapai tujuan jangka panjang. tujuan tidak bisa dipisahkan dari cara. dan dianggap pantas. Dalam tulisan sebelumnya. 1963 Dalam pandangan ini. dan tujuan apa yang dituju seringkali bergantung pada efektifitas cara yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut. Para pengambil keputusan hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang familiar. Hasilnya adalah berbagai keputusan kebijakan yang hanya sedikit berbeda dengan kebijakankebijakan terdahulu. sebagian besar keputusan nampaknya diambil secara incremental. 1963. dan berhenti mencari alternatif lain ketika mereka percaya bahwa sebuah alternatif yang bisa diterima telah ditemukan. Dalam model ini. dan seberapa besar perbedaan alternatif kebijakan dengan kebijakan yang sudah ada. . Free Press of Glencoe. A Strategy Of Decision: Policy Evaluation As A Social Process. melibatkan perubahan yang sangat kecil dalam situasi di mana hanya tersedia sedikit informasi dan 24 David Braybrooke & Charles Lindblom.

inkrementalisme ‘akan membuat kita melintasi berbagai persimpangan berulang-ulang tanpa mengetahui kemana kita tujuan kita’. Usable Knowledge: Social Science And Social Problem Solving. model ini dikritik karena dianggap tidak 25 Charles E. Tetapi. Lindblom berpendapat bahwa ada spektrum style pengambilan keputusan. Public Adminstration Review 44. 27 John Forester. 26 Review tentang kritik terhadap model inkremental lihat Andrew Weiss & Edward Woodhouse. analisis ‘yang tidak lengkap dan tergeneralisasi’ (grossly incomplete analysis). apa yang disebutnya sebagai. terlalu pesimis terhadap perubahan bersekala besar dan inovasi. New Haven: Yale University Press.: Sebuah Spetrum Berbagai Style Pengambilan Keputusan Meskipun menerima berbagai kemungkinan teoritis bagi berbagai styles pengambilan keputusan. para kritikus ternyata juga menemukan beberapa kesalahan sebagai implikasi dari alur penelaahan yang disarankan model ini. model ini dikritik karena kecenderungan inherennya pada konservatisme. ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. .26 Pertama. Lindblom & D. Lindblom berpendapat. Spektrum ini terentang dari kutub ‘synoptic’ atau komprehensif rasional sampai pada ‘blundering’. esensi dari inkrementalism adalah untuk mensistematisasikan berbagai ekputusan yang dicapai melaui cara ini. dan seluruh pengambilan keputusan didasarkan pada. ada tiga kemungkinan lain. Policy Sciences 25. yang artinya hanya mengikuti perkiraan-perkiraan tanpa ada upaya riil yang sistematis untuk menganalisa berbagai strategi alternatif.pengetahuan. dengan menekankan pada pentingnya mencapai kesepakatan politik dan belajar dari trial-and-error. ketimbang hanya berkutat dengan keputusan-keputusan secara acak. model ini dikritik karena sangat kurang memperhatikan orientasi tujuan.25 Jika model inkremental mungkin bisa memberikan deskripsi yang akurat – yang mana klaim ini juga debatable – tentang bagaimana keputusan kebijakan publik seringkali dibuat. Lindbom dalam karya-karyanya yang kemudian menolak seluruh alternatif lain bagi model incremental berdasarkan alasan-alasan praktis.K. 1 (1984): 23. 3 (1992): 255-73. Dalam perjalanan karir selanjutnya. Ketiga. 1979. Cohen. model rasional muncul sebagai salah satu kemungkinan bersama-sama dengan dua tipe yang definisinya tidak terlalu jelas – revolusioner dan analitis – dan tidak terlalu sering digunakan sebagai alternatif pengambilan-keputusan. Ia berpendapat bahwa setiap analisis sinotik yang berusaha untuk mencapai keputusan-keputusan berdasarkan berbagai kriteria berorientasi maksimalisasi akan berakhir dengan kegagalan. Spektrum itu diilustrasikan sbb. Sebagaimana dilontarkan oleh Fosters.27 Kedua. ‘Reframing Incrementalism: A Constructive Response to Critics’.

dengan tidak memperhatikan analisis dan perencanaan yang sistematik dan.28 Keempat. 29 Yehezkel Dror. 30 D. Karena itu. Polity 20 (1987): 145:56. pemindaian gabungan dipandang sebuah sebuah model yang bersifat preskriptif dan juga desktriptif. sedikit banyak. Amitai Etzioni memngembangkan pemindaian gabungan – model mixed scanning untuk menjembatani berbagai kekurangan. Public Administration Review 24. model ini juga dikritik karena hanya memiliki kemampuan analitis yang sempit. pendekatan ini dan berbagai pendekatan lainnya sebagian besar tetap berada dalam kerangka yang dibangun oleh model rasional dan incremental. Administrative Politics and Social Change.C. model ini dianggap mendorong munculnya keputusan-keputusan berdasarkan perhitungan jangka-pendek. ‘Incremental and Nonincremental Policy Responses: The States and the Railroads’. 5 (1967): 385-92. Etzioni mengatakan lebih lanjut bahwa pengambilan keputusan seperti inilah yang lebih sering terjadi dalam realitas pengambilan keputusan kebijakan publik. para pembuat kebijakan senior. 29 Inkrementalisme juga memiliki karakteristik sebagai model pengambilan keputusan dalam sebuah lingkungan yang relatif stabil.30 Model Tong Sampah Limitasi model rasional dan incremental membawa para ahli pembuat kebijakan publik mencari alternatif-alternatif baru. seperti krisis. ‘Muddling Through-“Science” or Inertia’. Model ini juga mensyaratkan cara yang dibutuhkan untuk menjalankan kebijakan tersebut hampir selalu bisa dipakai. tanpa terlalu dibebani dengan tuntutan-tuntutan yang tidak realistis dari model rasional. yang mana problem ini berusaha diselesaikan melalui suatu kebijakan tertentu. dan agak sulit untuk diaplikasikan pada situasi-situasi tidak biasa. Martin’s Press. sebuah model yang sama sekali berbeda menyuarakan bahwa minimnya penggunaan rasionalitas adalah sesuatu yang inheren dalam prose pengambilan keputusan. baik model rasional maupun incremental. . Yehezkel Dror. Tetapi. 31 Amitai Etzioni. Adalah lazim ketika seringkaian keputusan-keputusan incremental diikuti oleh sebuah sebuah keputusan yang secara substansial berbeda. New York: St. yang dikawatirkan akan menimbulkan konsekuensikonsekuensi negatif jangka panjang. Pada kenyataannya. karena adanya sebuah permasalahan yang sama sekali bereda dari masalah yang dihadapi sebelumna.31 Model gabungan seperti ini memberikan ruang yang lebih luas untuk inovasi daripada model incremental. ‘Mixed Scanning: A “Third” Approach to Decision-Making’. Nice. mencatat bahwa inkrementalism hanya bisa bekerja ketika ada kontinyuitas problem dalam jangka waktu yang cukup panjang. Public Administration Review 27. Sebagai tambahan. contohnya.demokratis. 3 (1964): 154-7. Pada dekade 1970-an. menegasi kebutuhan untuk mencari alternatif-alternatif baru. March dan Olsen menawarkan model tongsampah/garbage can yang menyangkal adanya penggunaan rasionalitas dalam pengambilan 28 Louis Gawthrop. karena membatasi pengambilan keputusan hanya pada tawar menawar sekelompok kecil orang-orang pilihan. 1971. dengan mengkombinasikan elemen-elemen keunggulan keduanya. syarat-syarat ini jarang sekali terpenuhi.

Dan Johan Olsen. Andersson. incremental.35 Katakanlah demikian. pernah berpendapat bahwa bahkan keputusan-keputusan yang terkait dengan krisi Rudal Kuba sekalipun. model tong sampah mungkin dianggap sebagai upaya yang terlalu membesar-besarkan fakta yang terjadi. tetapi sebagian lagi ditentukan oleh sampah seperti apa yang dihasilkan pada saat itu. dan prediktibilitas relasi-relasi antar berbagai aktor yang pada kenyataannya sama sekali tidak diemui. bahkan dalam derajad kecil sebagaimana dipaparkan dalam model inkremental. Mereka berusaha untuk memunculkan pemahaman bahwa seringkali para pembuat kebijakan itu sendiri tidak tahu tujuan mereka. Dalam pandangan March dan Olsen. Beberapa studi kasus34 telah membuktikan proposisi bahwa keputusan publik seringkali dibuat dengan cara yang sangat ad-hoc dan acak. March dan Olsen. sembari menolak instrumentalisme yang menjadi karakter sebagian besar model-model lain. 33 Michael Cohen. ‘Decision Making By Objection And The Cuban Missile Crisis’.33 March dan Olsen sengaja menggunakan metafora tong sampah untuk menghilangkan aura ilmiah dan rasional yang diatributkan pada proses pengambilan keputusan oleh para teoritisi sebelumnya. dan seberapa cepat sampah bisa dikumpulkan dan dibuang. Ambiguity And Choice In Organizations. Ambiguity And Choice In Organizations. pada campuran tong-tong yang tersedia. dibuat dalam pilihan-pilihan simplistik pertanyaan dengan jawaban ya/tidak dalam berbagai proposal yang muncul selama pembahasan kebijakan terkait krisis tersebut. Terlepas dari itu semua. dan kecil sekali kaitannya dengan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.32 Mereka memulai dengan asumsi bahwa model-model yang lain mempertahankan asumsi adanya intensionalitas. James March. yang mana hasilnya juga sangat tidak pasti dan tidak bisa diprediksi. Ambiguity And Choice In Organizations: 26. diakui sebagai sebuah isu paling kritis selama perang dingin. Sementara tujuan utamanya mungkin bisa dikatakan cukup memberikan deskripsi yang akurat tentang bagaimana seringkali organisasi membuat kebijakankebijakannya. 35 Paul Anderson. And The Ambiguity Of Relevance’ dalam March & Olsen (Eds.). Campuran sampah dalam sebuah tong sebagian ditentukan oleh berbagai label yang ditempelkan pada tong-tong yang lain. Dalam pandangan March dan Olsen. ‘Organization Choice Under Ambiguity’ Dalam James March & Johan Olsen (Eds.). Solutions. . misalnya. dalam contoh-contoh yang lain mungkin akan lebih masuk akal jika kita mengharapkan sesuatu yang lebih masuk akal. 34 Lihat studi kasus dalam March & Olsen (Eds. berpendapat bahwa pengambilan keputusan adalah: Sebuah tong sampah kemana berbagai masalah dan solusi dilemparkan oleh para partisipan proses pengambilan keputusan. Problems. dan memberikan kesempatan untuk melakukan studi-studi pengambilan keputusan dalam konteks institusional yang lebih bernuansa. Administrative Science Quarterly 28 (1983): 201-22. 32 James March & Johan Olsen. pemahaman masalah.keputusan. ‘People. kekuatan utama dari model ini adalah kemampuannya untuk melepaskan diri dari perdebatan lama antara rasional vs. para aktor hanya mendefinisikan tujuan dan memilih cara secara serta merta. begitu juga hubungan kausal antara problem dan tujuan kebijakan yang dihadapi. pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang sangat ambigu dan tak-terprediksi.). seiring dengan berjalannya proses kebijakan.

dalam arti mempertautkan realitas sosial sesungguhnya yang direpresentasikan oleh masing-masing model. 40 Forrester. sebagian besar berpendapat bahwa pemikiran Braybrooke dan Lindblom tentang multiple-decision-making-styles adalah pilihan yang tepat dan adalah penting untuk menjelaskan secara cermat dalam kondisi seperti apa berbagai model pengambilan keputusan cenderung untuk diadopsi. 38 Ian Lustick. definisi. Permasalahannya bukanlah mendamaikan berbagai perbedaan yang ada antara model rasional dan incremental.38 Salah satu perkembangan yang paling menarik di sini bisa kia temukan dalam karya-karya John Forester.39 Menurutnya ‘apa yang rasional bagi untuk dilakukan oleh para administrator tergantung pada berbagai situasi di mana mereka bekerja’. semakin jelas bagi para pengamat bahwa perdebatan lama antara para pendukung rasionalisme dan inkrementalisme menghambat karya emperis dan pengembangan teoritis dari subyek tersebut. Planning In The Face Of Power. 39 John Forrester. jejaring intelijen akan sama penting. kalkulasi teknis mungkin bisa menjadi sesuatu yang berguna. 36 Gilbert Smith & David May. . John Forrester. kalkulasi semacam itu akan menjadi sesuatu yang sia-sia. 1 (1984): 23-31. 2 (1980): 147. American Political Science Review 74. Sebagaimana dikatakan oleh Smith dan May. data. Dalam waktu. ‘The Artificial Debate Between Rationalist And Incrementalist Models Of Decision-Making’. ketika muncul kebutuhan akan informasi. Problem yang ada adalah untuk menpertautkan keduanya. dan kalkulasi tidak terdefinisi dengan jelas. 1989. Public Administration Review 44. Pada tahun 1984 dia menulis dalam artikelnya: Sebuah strategi bisa dipandang sebagai sesuatu yang praktis dan berguna atau sia-sia tergantung dari kondisi yang sedang dihadapi. tetapi hampir sama sekali tidak memberikan efek bagi riset empiris di area kebijakan maupun administrasi publik’.37 Saat ini. Ia berpendapat bahwa setidaknya ada enam model pengambilan-keputusan yang terkait dengan enam perangkat kondisi kunci. 37 Smith & May. ‘Bounded Rationality And The Politics Of Muddling Through’. atau sepenuhnya menolak inkrementalisme paling tidak sebagai sebuah deskripsi tentang sebagian besar pengambilan keputusan kebijakan publik actual. Berkeley: University Of California Press. Dalam lingkungan organisasional yang kompleks. keahlian. pengarang berpendapat bahwa: Kita memerlukan lebih dari satu model untuk menjelaskan berbagai faset kehidupan organisasional. atau bahkan lebih penting. tetapi jika waktu. tetapi membangun alternatif ketiga yang menggabungkan keunggulan dari masing-masing model tersebut. ‘The Artificial Debate’: 156. ‘Bounded Rationality’: 23. beberapa langkah maju telah dicapai kea rah yang disarankan oleh Smith dan May.40 Model pengambilan keputusan yang dibuat oleh para pengambil keputusan bervariasi menurut isu dan konteks institusional yang melingkupinya. Meskipun ada sebagian kecil orang yang menginginkan untuk kembali ke sebuah model rasional komprehensif. ‘Sebuah perdebatan tentang keunggulan relatif model rasionalis dan inkremental telah mendominasi studi ini selama bertahun-tahun dan meskipun berbagai terma yang 36muncul dalam perdebatan ini telah diketahui oleh banyak orang. 2 (1980): 342-53. data dan permasalahan yang terdefinisikan dengan jelas. ‘Explaining The Variable Utility Of Disjointed Incrementalism: Four Propotitions’. Policy And Politics 8. Ketimbang melanjutkan perdebatan ini.SEBUAH MODEL SUBSISTEM DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PUBLIK Pada awal dekade 1980-an.

Pencarian (Search). ‘Bounded Rationality’: 25. pengambilan keputusan yang rasional bisa kita harapkan. 42 Forrester. Strategi-strategi administratif hanya menjadi strategi yang efektif dalam sebuah konteks politik dan organisasional. Satisfycing. Forester berpendapat bahwa kita akan menemukan model-model pengambilan keputusan yang lain. Public Administration Review 44. . menyesatkan atau secara sengaja dimanipulasi’ dan waktu yang tersedia bisa jadi terbatas atau juga sengaja dimanipulasi. sepenuhnya terpenuhi. Tawar-menawar (Bargain).42 Pertama. informasi harus sesempurna mungkin diketahui. informasi tidak lengkap. Optimilasisi adalah strategi yang digunakan ketika syarat-syarat model rasional komprehensif. Foreseter berpendapat bahwa ada lima kemungkinan model pengambilan keputusan: Optimalisasi. 1 (1984). Dengan demikian jumlah agen bisa bertambah sampai jumlah yang tidak terbatas. Ketiga. tertutup – Banyak. Prevalensi model-model lain 41 Forrester. dengan kata lain. horizon. tidak boleh ada desakan untuk mengambil keputusan secepat mungkin. yang mana menjadi kasus yang paling sering muncul dalam praktek. Kedua. dan bisa dipahami. Jika kelima syarat ini tidak terpenuhi. yaitu. jumlah agen (pengambil keputusan) harus dibatasi. Keempat. dan rantai konsekuensi harus betul-betul diketahui dan dipahami. permasalahan yang dihadapi akan bersifat ambigu atau multitafsir. scope. tawar menawar dan kompromi menjadi sesuatu yang sangat penting. sehingga mereka bisa mempertimbangkan seluruh kontingensi yang mungkin terjadi beserta konsekuensi yang sedang maupun akan dihadapi. Bagan berikut menggambarkan berbagai parameter pengambilan keputusan. aksesibel. tatanan yang ada bisa mencakup berbagai organisasi yang berbeda dan relatif terbuka bagi pengaruh-pengaruh eksternal. ambigu Sempurna – dikontestasikan Tak terbatas – dimanipulasi Sumber: diadaptasi dari John Forester: ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. terbuka Terdefinisi dengan jelas – Multitafsir.26 Dari perspektif ini. Ketika syarat-syarat ini bisa dipenuhi secara sempurna. tatanan organisasional bagi keputusan harus seerhana dan tertutup dari pengaruh aktor-aktor kebijakan lain. dimensi nilai. ‘Bounded Rationality’: 25.daripada dokumen. waktu yang tersedia bagi pengambil keputusan harus tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. dengan kata lain lengkap. seperti dipaparkan di atas. permasalahan yang dihadapi harus terdefinisi dengan jelas.41 Forester berpendapat bahwa agar pengambilan keputusan menurut model rasional maka syaratsyarat berikut ini harus dipenuhi. bila perlu sesedikit mungkin. Dalam sebuah lingkungan konflik antar-organisasi. Terakhir. Berbagai parameter pengambilan keputusan Variabel 1 2 3 4 5 Agen Setting Permasalahan Informasi Waktu Dimensi Tunggal – Banyak Tunggal. dan Organisasional.

45 Pada tarikan ini lihat Evert A. dan juga kejelasan masalah. Sebuah masalah besar dalam taksonomi yang dibangunnya adalah keterputusannya dari argument-argumennya sendiri. Sementara. Meskipun berbagai kategori. yang meskipun sumberdaya waktu dan informasi tersedia. Model Pencarian adalah salah satu model yang bisa digunakan ketika problem yang dihadapi tidak terdefinisi dengan jelas. model tawar-menawar adalah model yang bisa ditemukan ketika berbagai aktor harus mengambil keputusan dalam situasi ketiadaan informasi yang lengkap dan waktu yang mendesak. Model organisasional melibatkan berbagai setting dan aktor. Dengan demikian. dua variabel utama di sini adalah (1) kompleksitas subsistem kebijakan yang menangani permasalahan yang ada dan (2) seberapa besar konstrain yang harus dihadapi. informasi yang tidak lengkap dan terdistorsi.bergantung pada seberapa banyak syarat yang tidak terpenuhi. David A. selain model rasional. tidak terlalu berguna bagi tujuan analitis. Forrester. Knowledge in Society 1. ‘Hard Issues. Elliot Vittes. Sebuah penelaahan yang tertutup dari pembahasannya tentang berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan43 mengungkapkan bahwa orang akan berharap untuk menemukan lebih dari satu model yang mungkin muncul dari lima pilihan model kombinasi dan permutasi variabelvariabel yang dikemukakannya. NJ: Transaction Publishers. Beberapa pilihan dianggap sejalan dengan nilai-nilai utama yang dipegang oleh anggota subsistem sementara sebagian yang lain tidak. Pendek kata. Ketika limitasi-limitasi yang ada bersifat kognitif. David J. tetapi apa yang dilakukannya hanyalah langkah awal dalam membangun sebuah model pengambilan keputusan yang lebih baik. dan tentu saja memberikan alternatif pilihan yang berguna. Model-model lain yang disarankan oleh Forester saling tumpang-tindih sehingga sulit untuk membedakan dan memaparkannya satu persatu. pengambilan keputusan relatif dibatasi oleh informasi dan waktu. British Journal of Political Science 23. ‘informasi’ dan ‘waktu’ bisa dilihat sebagai pemikiran yang terkait dengan tipe-tipe konstrain yang dihadapi oleh para pembuat kebijakan. Core Values and Vertical Constrain: The Case of Nuclear Power’. Lindquist. permasalahan yang lebih beragam dan kabut. New Brunswick. Webber. ‘The Distribution and Use of Policy Knowledge in the Policy Process’. ‘Bounded Rationality’: 26. model-model pengambilan keputusan ini melibatkan jumlah aktor yang lebih banyak. Dunn & R. Pollock III. Advances in Policy Studies Since 1950. setting yang lebih kompleks. Stuart A. alasan mengapa seseorang harus menggunakan salah satu model yang dikemukakannya tetap merupakan sesuatu yang tidak jelas. Rochefort & Roger W. Kompleksitas subsistem kebijakan mempengaruhi kemungkinan keberhasilan mencapai kesepakatan atau opisisi terhadap suatu pilihan dalam subsistem tersebut. ‘What do Decision Model Tell Us about Information Use?’. 1992. tidak bisa dipilahpilah dan. tetapi dihadapkan pada permasalahan yang beragam. Meskipun pemikiran Forester menjadi sebuah langkah maju penting dalam memberikan klasifikasi dan taksonomi. 1 (1993): 5671.M. .44 Mirip dengan itu. dan waktu yang terbatas dan mendesak. dalam berbagai kesempatan. Policy Studies Journal 21. Cobb. 44 Phillip H. 2 (1988): 86-111.). untuk berbagai alasan yang dikemukakan sebelumnya. sementara pemikiran tentang ‘permasalahan’. nampaknya akan lebih baik jika kita menggunakan model satisfycing. Kita bisa mengembangkan model Forester dengan mendesain ulang variabel-variabelnya. Studi tentang ‘agen’ dan ‘setting’ bisa disempurnakan dengan berfokus pada subsistem kebijakan.45 Bagan berikut 43 Lihat daftar tabel. Kelly (ed. dan M. dalam W. inkremental dan garbage-can. dalam prakteknya. sehingga kompleksitas subsistem ini menstrukturkan keputusankeputusan dalam kategori pilihan-pilihan keras atau lunak. Agenda Access and Policy Choice’. 1 (1993): 29-50. ‘Problem Definition. Lillie.N.

Dalam model ini. Jika digabungkan. subsistem kebijakan yang kompleks akan cenderung memunculkan strategistrategi penyesuaian (adjustment) daripada strategi pencarian (search). ketika derajat konstrain tinggi. Apa yang rasional untuk dilakukan ditentukan oleh konteks yang dihadapi. sementara situasi di mana derajat konstrain rendah cenderung memunculkan aktifitas opmtimalisasi atau rasional. Sama halnya dengan tahapan sebelumnya dalam proses kebijakan publik. Empat model ini muncul sebagai basis dari dua dimensi yang dipaparkan dalam analisis ini: kompleksitas subsistem dan derajat konstrain. kedua variabel ini menghasilkan empat model dasar pengambilan keputusan. tetapi kompleksitas subsistem rendah. Pada skenario sebaliknya. apa yang rasional bagi para administrator dan politisi ditentukan oleh situasi di mana mereka bekerja. 1994. Situasi tingginya derajat konstrain cenderung menghasilan suatu pendekatan tawar menawar dalam pengambilan keputusan. KESIMPULAN Karakter esensial dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik sama seperti tahap-tahap lainnya dalam proses kebijakan. Brooks dan A. tahap pengambilan keputusan bervariasi menurut sifat alami dari subsistem kebijakan yang terlibat dalam proses itu dan derajat konstrain yang dihadapi oleh para pengambil-keputusan. Ketika dihadapkan pada persaingan dan kompetisi organisasional. maka adalah sangat rasional jika para pengambil keputusan ini menjadi lebih tertutup. ‘Bounded Rationality’: 23. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam administrasi publik. strategi-strategi satisfycing akan menjadi kecenderungan yang umum terjadi. New York: Praeger. maka para pengambil keputusan ini tidak bisa melakukan studi yang mendalam. Gagnon. Didesak untuk segera memberikan rekomendasi. tetapi kali ini ditujukan untuk mencapai optimalisasi. S.’ dalam Political Influence of Ideas: Policy Communities and the Socieal Sciences. maka akan ada kecenderungan untuk memunculkan strategi penyesuaian. Model Dasar PengambilanKeputusan Derajat konstrain Tinggi Rendah Kompleksitas subsistem kebijakan Tinggi Rendah Incremental adjustment Satisfying Search Optimizing adjustment Rational Search Sumber: dimodifikasi menurut Martin J. Dalam situasi semacam itu kita bisa perkirakan bahwa akan jarang muncul keputusan-keputusan bersekala besar dan beresiko tinggi. Ketika ada sebuah subsistem yang kompleks dan derajat konstrain yang rendah. pendekatan pencarian rasional dan perubahan besar sangat mungkin untuk dilakukan. ketika subsismtem kebijakan yang ada sederhana dan derajat konstrain rendah. ‘Policy Networks and State Autonomy. Sebagaimana dirangkum oleh John Forester.46 Bacaan Pendukung 46 Forrester.G. Penyesuaian inkremental gaya Lindblom cenderung muncul dalam situasi ketika subsistem yang ada bersifat kompleks dan derajat konstrain yang tinggi. Smith. eds. Terakhir.menggambarkan empat model dasar pengambilan keputusan. .

Policy Analysis for Public Decisions.Cahill. 1990. Public Administration Revew 44 (1984): 23-30. ‘The Science of Muddling Through’. & James A. 1 (1955): 99-118. MD: University Press of America. Etzioni. Forrester. Smith. . J. New York: Greenwood. 1 (1972): 1-25. Policy Theory and Policy Evaluation. Gilbert & David May. MacRae. Lanham. ‘A Behavioral Model of Rational Choice’. Simon. Charles. March & J. Duncan Jr. Sam Overman. Nagel (ed. 11-27 dalam Stuart S. Quarterly Journal of Economics 69. ‘The Evolution of Rationality in Policy Analysis’. Olsen. Public Administration Review 44 (1984): 23-30. Cohen.. ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. M. Herbert. John. 1985. Anthony & E. Policy and Politics 8 (1980): 147-61. Wilde.). Administrative Science Quarterly. Public Administration Review 19 (1959): 79-88.. ‘The Artificial Debate Between Rationalist and Incrementalist Models of Decision-Making’. Amitai. Lindblom. hlm. ‘A Garbage Can Model of Organizational Choice’. ‘Mixed-scanning: A “Third” Approach to Decision-Making’. 17.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful