P. 1
Contoh Kasus

Contoh Kasus

|Views: 1,232|Likes:
Published by Erwin Doank

More info:

Published by: Erwin Doank on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

Contoh Kasus : Penghitungan PPh Pasal 24 kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut : Penghitungan kredit pajak

luar negeri adalah sebagai berikut : Contoh 1: 1. Penghasilan Luar negeri : a. laba di negara X = Rp. 100.000.000,00 b. laba di negara Y = Rp. 750.000.000,00 c. Jumlah penghasilan luar negeri = Rp. 850.000.000,00

2. Penghasilan dalam negeri = Rp. 400.000.000,00 3. Jumlah penghasilan neto adalah : Rp. 850.000.000,00 + Rp. 400.000.000,00 = Rp. 1.250.000.000,00 4.

Contoh 2: Penghitungan PPh pasal 24 jika terjadi kerugian usaha di dalam negeri PT Adinda berkedudukan di Indonesia memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2006 sebagai berikut: Di negara A memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp600.000.000 (tarif

pajak yang berlaku adalah 30%) Di dalam negeri menderita kerugian sebesar Rp200.000.000

Penghitungan PPh pasal 24 adalah sebagai berikut: 1. menghitung total penghasilan kena pajak penghasilan kena pajak dari negara A kerugian usaha dalam negeri jumlah penghasilan neto Rp600.000.000 ( 200.000.000) Rp400.000.000

1. menghitung total PPh terutang: 10% x Rp 50.000.000 = 15% x Rp 50.000.000 = 30% x Rp 300.000.000 = Jumlah pajak terutang Rp Rp 5.000.000 7.500.000

Rp 90.000.000 Rp102.500.000

2. menghitung PPh maksimum yang dapat dikreditkan (Rp600.000.000 : Rp400.000.000) x Rp102.500.000 = Rp153.750.000 3.menghitung PPh yang dipotong/dibayar di LN 30% x Rp600.000.000 = Rp180.000.000 Kredit pajak yang diperbolehkan (PPh pasal 24) adalah Rp102.500.000. jumlah ini diperoleh dengan membandingkan perhitungan PPh maksimum yang dapat dikreditkan dengan PPh yang sesungguhnya dibayarkan/terutang di LN dan total pajak yang terutang.

Perhitungan PPh pasal 24 jika terjadi kerugian usaha di LN PT Kartika pada tahun 2006 memperoleh penghasilan neto sebagai berikut: di negara X memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp300.000.000 (tarif

pajak yang berlaku 40%) di negara Y menderita kerugian sebesar Rp500.000.000 (tarif pajak yang berlaku) 25%. Di dalam negeri memperoleh laba usaha sebesar Rp500.000.000

Perhitungan kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah sebagai berikut: 1. menghitung penghasilan total kena pajak penghasilan dari negara X berupa laba usaha penghasilan dari dalam negeri berupa laba usaha jumlah penghasilan neto 2. menghitung total PPh terutang 10% x Rp50.000.000 = 15% x Rp50.000.000 = 30% x Rp700.000.000 = Jumlah total PPh yang terutang Rp Rp 5.000.000 7.500.000 Rp300.000.000 Rp500.000.000

Rp800.000.000

Rp210.000.000 Rp222.500.000

3. menghitung PPh maksimal yang bisa dikreditkan (Rp300.000.000 : Rp800.000.000) x Rp222.500.000 = Rp83.437.500 4. menghitung PPh yang dibayar atau terutang di LN 40% x Rp300.000.000 = Rp120.000.000 Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan adalah Rp83.437.500. Perhitungan PPh pasal 24 jika penghasilan LN berasal dari beberapa negara PT Kartika berkedudukan di Jakarta pada tahun pajak 2006 memperoleh penghasilan bersih sebagai berikut:

-

di negara A memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp200.000.000 (tarif

pajak yang berlaku 25%) di negara B memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp300.000.000 (tarif

pajak yang berlaku 30%) di negara C memperoleh penghasilan berupa laba usaha sebesar Rp400.000.000 (tarif

pajak yang berlaku 40%) di dalam negeri memperoleh laba usaha sebesar Rp100.000.000 1. menghitung total penghasilan kena pajak: penghasilan dari negara A penghasilan dari negara B penghasilan dari negara C penghasilan dari dalam negeri total penghasilan kena pajak 2.menghitung total PPh terutang 10% x Rp50.000.000 = 15% x Rp50.000.000 = 30% x Rp900.000.000 = Total pajak terutang Rp Rp 5.000.000 7.500.000 Rp 200.000.000 Rp 300.000.000 Rp 400.000.000 Rp 100.000.000 Rp1.000.000.000

Rp270.000.000 Rp282.500.000

3. menghitung PPh maksimum yang dapat dikreditkan dari negara A = (Rp200.000.000 : Rp1.000.000.000) x Rp282.500.000 = Rp56.500.000 dari negara B = (Rp300.000.000 : Rp1.000.000.000) x Rp282.500.000 = Rp84.750.000* dari negara C = (Rp400.000.000 : Rp1.000.000.000) x Rp282.500.000 = Rp113.000.000*

4.menghitung PPh yang dibayar atau terutang di LN PPh terutang di negara A = 20% x Rp200.000.000 = Rp 40.000.000* PPh terutang di negara B = 30% x Rp300.000.000 = Rp 90.000.000 PPh terutang di negara C = 40% x Rp400.000.000 = Rp160.000.000 Dari perhitungan di atas kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah Dari negara A Dari negara B Dari negara C Total kredit pajak LN Rp 40.000.000 Rp 84.750.000 Rp113.000.000 Rp237.750.000

Pengurangan/pengembalian pajak penghasilan luar negeri Dalam hal terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang dibayar di LN, sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia menjadi lebih kecil daripada kredit pajak LN semula, maka selisihnya ditambahkan pada pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wp dalam negeri pada tahun terjadinya pengurangan atau pengembalian tersebut. Perubahan besarnya penghasilan luar negeri Apabila terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri, wajib pajak harus melakukan pembetulan SPT untuk tahun pajak yang bersangkutan dengan melampirkan dikumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut. 1. jika karena perubahan tersebut, menyebabkan adanya tambahan penghasilan yang mengakibatkan pajak yang terutang atas penghasilan luar negeri menjadi lebih besar daripada yang dilaporkan dalam SPT tahunan, sehingga pajak yang terutang di LN menjadi kurang bayar, maka terdapat kemungkinan pajak penghasilan di Indonesia juga kurang bayar. Sesuai dengan pasal 8 UU No. 16 tahun 2000 tentang ketentuan Umum dan tatacara perpajakan, apabila WP membetulkan sendiri SPT yang mengakibatkan pajak yang terutang menjadi lebih besar, maka kepadanya dikenakan bunga sebesar 2% sebulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian SPT terakhir sampai dengan tanggal pembayaran karena pembetulan SPT tersebut.

2. Apabila karena pembetulan SPT tersebut, menyebabkan penghasilan dan pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri menjadi lebih kecil daripada yang dilaporkan dalam SPT tahunan, sehingga pajak di luar negeri lebih di bayar, yang akan mengakibatkan pajak penghasilan yang terutang di Indonesia menjadi lebih kecil, sehingga pajak penghasilan menjadi lebih dibayar. Atas kelebihan bayar pajak tersebut dapat dikembalikan kepada wajib pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya. Contoh: Berikut ini data yang berhubungan dengan penghitungan PPh pasal 24 pada tahun 2006: - penghasilan di luar negeri (sesuai SPT) - penghasilan dari dalam negeri Rp 800.000.000 Rp1.000.000.000

- penghasilan di luar negeri (setelah koreksi di luar negeri) Rp1.000.000.000 - tarif pajak di luar negeri - PPh pasal 25 40% Rp200.000.000

SPT disampaikan pada 30 Maret 2007 dan pembetulan dilakukan pada bulan mei 2007. PPh sebelum dan sesudah koreksi fiskal di luar negeri adalah sebagai berikut:

Contoh : PT. NYIHUYYY yang berlokasi di citayam, selama tahun 2011 memperoleh penghasilan baik dari usahanya dari dalam negeri ataupun beberapa cabangnya yang berada di luar negeri. Penghasilan Netto dari dalam negeri Rp 150.000.000 sedangkan usahanya, seperti Jepang memperoleh penghasilan Rp 300.000.000 di Korea memperoleh penghasilan Rp 400.000.000 dan di China mengalami rugi Rp 100.000.000 Pajak yang telah dibayar diluar negeri sebesar 25% untuk Jepang, 30 % untuk Korea, dan 20% untuk China. Berapa PPh pasal 24 yang diperkenankan untuk dikreditkan dengan pajak penghasilan yang harus dibayar di dalam negeri? Jawaban: 1. Mencari penghasilan kena pajak (PKP) : penghasilan netto dalam negeri Rp 150.000.000 panghasilan netto luar negeri Jepang Rp 300.000.000 Korea Rp 400.000.000 Jumlah penghasilan netto luar negeri Rp Rp. 700.000.000 + Penghasilan kena pajak (PKP) Rp 850.000.000 2. Mencari pajak penghasilan terutang dari jumlah PKP sebesar Rp 850.000.000 25% X 850.000.000 = Rp 212.500.000 3. Mencari pajak yang telah dibayar atas penghasilan di luar negeri : Jepang : 25% X 300.000.000 = Rp 75.000.000 Korea : 30% X 400.000.000 = Rp 120.000.000 4. Mencari kredit pajak luar negeri (KPLN) KPLN Jepang : 300.000.000/850.000.000X212.500.000 = Rp75.000.000 KPLN Korea : 400.000.000/850.000.000X212.500.000 = Rp100.000.000 5. PPh pasal 24 yang dapat di kreditkan di Indonesia atas penghasilan di Jepang sebesar Rp 75.000.000 (pilih yang terendah lihat point 3 dan point 4)

PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan di Indonesia atas penghasilan di Korea sebesar Rp 100.000.000 (pilih yang terendah, lihat point 3 dan point 4) 6. Jumlah PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri : Rp 75.000.000 + Rp 100.000.000 = Rp 175.000.000 Jadi, besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar di dalam negeri oleh PT. NYIHUYYY sebesar Rp 175.000.000

Untuk kegiatan usaha yang berlokasi di China mengalami kerugian, maka kerugian yang diderita tidak boleh dikompensasikan ataupun digabungkan dengan penghasilan yang diterima di Indonesia.

Contoh kasus : PT. NYIHUYYY LAGI mempunyai penghasilan di luar negeri yakni dari Malaysia Rp 37.500.000 (tarif yang berlaku 30%); Singapura Rp 75.000.000 (tarif yang berlaku 20%) dan Australia Rp 35.000.000 (tarif yang berlaku 35%). Sedangkan penghasilan dari dalam negeri sebesar Rp 37.500.000 Besarnya pajak penghasilan yang terutang PT. NYIHUYYY LAGI atas seluruh penghasilan adalah : 10% x 50.000.000 = Rp 5.000.000 15% x 50.000.000 = Rp 7.500.000 30% x 87.500.000 = Rp 26.250.000 + PPh yang terhitung Rp 38.750.000 Sedangkan besarnya kredit pajak yang diperkenankan untuk dipilih mana yang paling rendah antara pajak yang terutang masing-masing negara dengan kredit pajak maksimum yang telah dikreditkan berdasarkan perbandingan.

PPh yang terutang di luar negeri

Malaysia : 30% x 37.500.000 = Rp 11.250.000 Singapura : 20% x 75.000.000 = Rp 15.000.000 Australia : 35% x 37.500.000 = Rp 13.125.000

PPh yang terutang menurut perbandingan

Malaysia : 37.500.000/187.500.000 x 38.750.000 = Rp 7.750.000 Singapura :75.000.000/187.500.000 x 38.750.000 = Rp 15.500.000 Australia : 37.500.000/187.500.000 x 38.750.000 = Rp 7.750.000

Jumlah kredit pajak yang diperkenankan dikurangkan dihitung untuk masing-masing negara, dengan memilih mana yang paling rendah antara pajak yang terutang di luar negeri dengan pajak yang dihitung menurut perbandingan, sebagai berikut : Negara PPh terutang PPh menurut PPh boleh di luar negeri perbandingan dikreditkan : Malaysia Rp 11.250.000 Rp 7.750.000 Rp 7.750.000 Singapura Rp 15.000.000 Rp 15.500.000 Rp 15.000.000 Australia Rp 13.125.000 Rp 7.750.000 Rp 7.750.000 + Total boleh dikreditkan atas seluruh penghasilan Rp 30.500.000 Jadi, selisih sebesar Rp 8.875.000 (Rp 39.375.000 – Rp 30.500.000) merupakan selisih antara PPh yang terutang di luar negeri dengan PPh yang boleh dikreditkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->