Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode Pengajaran Berbasis Tugas/proyek Pada Siswa SMP

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Tujuan dari kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen-komponen lainnya tidak diperlukan. Salah satunya adalah komponen metode. Metode adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan. Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran. Metode adalah pelican jalan pengajaran menuju tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka metode dan tujaun jangan bertolak belakang. Artinya, metode harus menunjang pencapaian tujuan tersebut. Apalah artinya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan tanpa mengindahkan tujuan. Jadi, guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran. Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satu pun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Motivasi ekstrinsik menurut

Sardiman A.M (1988: 90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Pendekatan kontekkstual (contextual teaching learning/CTL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pengajaran kontekstual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara maksimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang sedemikian cepat. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.

Bukan Cuma itu. Dalam persiapan itu sudah terkandung tentang.Apa yang menjadikan belajar aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. cara membuat tes dan menggunakannya. melihat. alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. memecahkan masalah. Belajar aktif harus gesit. bersemangat dan penuh gairah. bahan pelajaran. mengajukan pertanyaan tentangnya. dan membahasnya dengan orang lain. mencoba mempraktekkan keterampilan. metode mengajar. guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. menentukan dan menggunakan alat peraga. kita perlu mendengar. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar. dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi. bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud). yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri. dan menerapkan apa yang mereka pelajari. tujuan mengajar. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik. menunjukkan contohnya. mengkaji gagasan. . Setiap akan mengajar. secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. menyenangkan. cara memilih. Mereka harus menggunakan otak. siswa perlu “mengerjakannya”. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka. pokok yang akan diajarkan. dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.

dan sebagai calon manusia seutuhnya.. sarana dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Khusunya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode Pengajaran Berbasis Tugas/proyek Pada Siswa ……. sebagai makhluk sosial. setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal apalagi tingkat Sekolah Dasar. baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa. guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran struktural dalam penyampaian materi dan mudah diserap peserta didik atau siswa berbeda.. terutama bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan. tujuan yang ingin dicapai.Tahun Pelajaran . maka proses pembelajaran kontektual. agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik. haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik. Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar.Sementara itu teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan. guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci. Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas... Padahal kalau dikaji lebih lanjut..” .

D...B. Mengetahui pengaruh motivasi belajar Pengetahuan Sosial setelah diterapkan Metode pengajaran berbasis tugas/proyek pada siswa Kelas …………………………………….. Tahun Pelajaran ..? 2.. Bagaimanakah pengaruh Metode pengajaran berbasis tugas/proyek terhadap motivasi belajar Pengetahuan Sosial pada siswa Kelas ……………………………………... penelitian ini bertujuan untuk: 1.? C. Mengetahui peningkatan prestasi belajar Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya Metode pengajaran berbasis tugas/proyek pada siswa Kelas ……………………………………………. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Hipotesis Tindakan ..Tahun Pelajaran .. 2. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas.. Tahun Pelajaran .. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Pengetahuan Sosial dengan diterapkannya Metode pengajaran berbasis tugas/proyek pada siswa Kelas …………………………………………… Tahun Pelajaran .....

dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: "Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas ………………. Manfaat Penelitan Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai: . menggunakan metode………………. E. dalam menyampaikan materi pembelajaran.Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul ……………………………. maka dimungkinkan minat belajar dan hasil belajar siswa kelas …………………… akan lebih baik dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebelumnya". yang dilakukan oleh peneliti.

.1. Siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata 2.. 3. Prestasi belajar adalah: . Metode pengajaran berbasis tugas/proyek adalah: Pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Sumbangan pemikiran bagi guru Pengetahuan Sosial dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pengetahuan Sosial di ………………………………………. Penjelasan Istilah Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Pengetahuan Sosial dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar pengetahuan sosial 2. Tahun Pelajaran .. atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. F.

. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas ……………………………….. 2. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu.Tahun Pelajaran . Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan……………………… . 3..Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor.. setelah siswa mengikuti pelajaran... Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun ajaran . G.. maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi: 1..

saya lupa. Konfusius menyatakan: Yang saya dengar. Tetapi beberapa kata-kata yang dapat ditangkap siswa dalam per . 2003: 15). (Melvin L. lihat. lihat. Yang saya lihat. Yang saya dengar. saya lupa. bahas dan terapkan. saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan. saya sedikit ingat. saya pahami. Tiga pertanyaan sederhana ini berbicara banya tentang perlunya metode belajar aktif. dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain. Yang saya dengar dan lihat. Siberman. saya ingat. Yang saya kerjakan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. saya kuasai. Ada sejumlah alasan mengapa sebagian besar orang cenderung lupa tentang apa yang mereka dengar. Yang saya ajarkan kepada orang lain. Pada umumnya guru berbicara dengan kecepatan 100 hingga 200 kata permenit. saya mulai pahami. Dari yang saya dengar. Yang saya dengar. Memperkenalkan Belajar Aktif Lebih dari 2400 tahun silam. Salah satu alasan yang paling menarik ada kaitannya dengan tingkat kecepatan bicara guru dan tingkat kecepatan pendengaran siswa.

sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam suatu perkualiahan bergaya-ceramah. mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu kuliah (Pollio.menitnya? Ini tentunya juga bergantung pada cara mereka mendengarkannya. Bayangkan apa yang bisa didapatkan dari pemberian kuliah dengan cara seperti itu di perguruan tinggi. mereka hany dapat mengingat 20% materi kuliah mereka (McKeachie. sedangkan dalam sepuluh menit terakhir. . dan pikiran mereka mengembara entah ke mana. atau setengah dari apa yang dikatakan guru. Itu karena siswa juga berpikir banyak selama mereka mendengarkan. mereka akan dapat mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap 50 sampai 100 kata per menit. Besar kemungkinan. siswa tidak bisa konsentrasi karena. 1986). Ketika mendengarkan dalam waktu berkepanjangan terhadap seorang guru yang berbicara lambat. Penelitian menunjukkan bahwa siswa mampu mendengarkan (tanpa memikirkan) denga kecepatan 400 hingga 500 kata per menit. berskonsentrasi dalam waktu yang lama memang bukan perkara mudah. Akan sulit menyimak guru yang bicaranya nyerocos. 1989). siswa cenderung menjadi jenuh. 1984).. Tidak heran bila masisiwa dalam kualiah psikologi yang disampaikan dengan gaya ceramah hanya mengetahui 8% lebih banyak dasri kelompok pembanding yang sama sekali belum pernah mengikuti kuliah itu (Richard. Mahasiswa dapat mengingat 70 persen dalam sepuluh menit pertama kuliah. sekalipun materinya menarik. dkk. Jika siswa benar-benar berkonsentrasi. Bahkan.

Johnson & Smith. Dengan menambahkan media visual pada pemberian pelajaran. 1989). mengemukakan beberapa persoalan berkenaan dengan perkuliahan yang berkepanjangan (Johnson. seperti akan kita bahas nanti. Penelitian juga menunjukkanadanya peningkatan hingga 200 persen ketika digunakan media visual dalam mengajarkan kosa kata. sebagian siswa. Perhatian masasiswa menurun seiring berlalunya waktu. namun ia tiga kali lebih efektif ketimbang kata-kata saja.Dua figur terkenal dalam gerakan kooperatif. Cara kuliah macam ini hanya menarik bagi peserta didik auditori. bersama Karl Smith. Lebih menyukai satu cara . Mahasiswa cenderung tidak menyukainya. waktu yang diperlukan untuk menyajikan sebuah konsep dapat berkurang hingga 40 persen ketika media visual digunakan untuk mendukung presentasi lisan. Cara ini mengasumsikan bahwa mahasiswa memerlukan informasi yang sama dengan langkah penyampaian yang sama dengan langkah penyampaian yang sama pula. pesan yang diberikan akan menjadi lebih kuat berkat kedua system penyampaian itu. Ketika pengajaran memiliki dimensi auditori dan visual. Juga. Tidak hanya itu. Sebuah gambar barangkali tidak memiliki ribuan kata. 1991). Cara ini cenderung mengakibatkan kurangnya proses belajar mengajar tentang informasi faktual. ingatan akan meningkat dari 14 hingga 38 persen (Pike. David dan Roger Jonson.

penyampaian ketimbang cara yang lain. . Dengan menggunakan keduanya. Namum demikian belajar tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan atau melihat sesuatu. kita memiliki peluang yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dari beberapa tipe siswa.

Dibandingkan dengan siswa dalam kelas pembanding yang tidak diselingi diskusi.B. Sebagai contoh. ia mengolah. Hughes. Otak kita akan melakukan tugas proses belajar yang lebih baik jiak kita membahas informasi dengan orang lain dan jika kita diminta mengajukan pertanyaan tentang itu. Untuk mengolah informsi secara efektif. dan dengan demikian kita bisa mendapat umpan balik tentang seberapa bagus . Ruhl. ia akn terbantu dengan melakukan perenungan semacam itu secara eksternal juga internal. Pernahkan saya mendengar atu melihat informasi ini sebelumnya? Di bagian manakah informasi itu cocok? Apa yang bisa saya lakukan terhadapnya? Dapatkah saya asumsikan bahwa ini merupakan gagasan yang sama yang saya dapatkan kemarin atau bulan lalu atau tahun lalu? Otak tidak sekedar menerima informasi. Akan lebih baik lagi jika kita dapat melakukan sesuatu terhadap informasi itu. Bagaimanakah Otak Bekerja Otak kita tidak bekerja seperti piranti audio atau video tape recorder. siswa-siswi ini mendapatkan nilai dengan selisih dua angka lebih tinggi. dan Schloss (1987) meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangkunya tentang apa yang dijelaskan oleh guru pada beberapa jeda waktu yang disediakan selama pelajaran berlangsung. Otak kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Informasi yang masuk akan secara kontinyu dipertanyakan.

Mengenalinya dalam bermacam-macam bentuk dan situasi. Menyebutkan lawan atau kebalikannya. Otak kita perlu mengaitkan antara apa yang diajarkan kepada kita dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan cara kita berpikir. otak kita tidak “on”. otak tidak melakukan pengkaitan ini dengan software pikiran kita. Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif. Otak kita juga demikian. Ketika proses belajar sifatnya pasif. Ujung-ujungnya. Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain. Menggunakannya dengan beragam cara. 4. proses belajar akan meningkat jika siswa dinima untuk melakukan berikut ini. atau menjelaskan kepada orang lain untuk dapat . Sebuah computer terntunya perlu di-“on“-kan untuk bisa digunakan. Otak kita perlu mengaitkan antara apa yang dimasukkan. 6. Sebuah computer membutuhkan software yang tepat untuk menginterpretasikan data yang diasumsikan. 5. Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sindiri. 1. otak tidak begitu berbeda dengan sebuah computer. Memprekdisikan sejumlah konsekuensinya.pemahaman kita. computer tidak dapat mengakses kembali informasi yang dia olah bila tidak terlebih dahulu “disimpan”. dan kita adalah pemakainya. 3. 2. 7. Memberikan contohnya. Menurut John Holt (1967). Otak kita perlu menguji informasi. Dalam banyak hal. mengikhtisarkannya.

dan barangkali bahkan mengajarkannya kepada siwa yang lain. mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang bermana. Untuk mengingat apa yang telah diajarkan. “begini lho caranya”? Menuangkan fakta dan konsep ke dalam benak siswa dan menunjukan keterampilan dan prosedur dengan cara yang kelewat menguasai justru akan mengganggu proses belajar. otak tidak menyimpan apa yang telah disajikan kepadanya. Cara menyajikan informasi akan menimbulkan kesan langsung di otak. Tentu saja. siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya. mengajukan pertanyaan. Ketika proses belajar bersifat pasif. namun tanpa memori fotografis. siswa tidak akan mendapatkan banyak hal baik dalam waktu lama maupun sebentar. belajar bukanlah kegiatan sekali tembak. proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal.menyimpannya dalam bank ingatannya. Tanpa peluang untuk mendiskusikan. Lebih lanjut. Banyak hal yang kita ingat akan hilang dalam beberapa jam. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi . Memperlajari bukanlah menelan semuanya. mempraktekan. proses belajar yang sesungguhnya tidak akan terjadi. Apa yang terjadi ketika guru menjejali siswa dengan pemikiran mereka sendiri (betapapun meyakinkan dan tertatanya pemikitan mereka) atau ketika guru terlalu sering menggunakan penjelasan dan pemeragaan (demonstrasi) yang dsertai ungkapan. Proses belajar berlangsung secara bergelombang.

nilai yang akan dia peroleh). mereka biasanya diam dan jarang terganggu oleh kebisingan. dan tanpa minat terhadap hasilnya (kecuali. Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Dia menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan. mereka ini menyukai penyajian informasi yang runtut. Ketika kegiatan belajar sifat aktif. bukan sekedar pengulangan atau hafalan. Masing-masing cara dalam menyajikan konsep akan menentukan pemahaman siswa. siswa mengikuti pelajaran tanpa rasa keingintahuan. membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah. yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dikerjakan oleh . Jika ini terjadi pada peserta didik. Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif. C. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai macam hal. siswa akan mengupayakan sesuatu. Sebagi contoh.yang hendak dipelajari. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana kedekatan itu berlangsung. Gaya Belajar Kalangan pendidik telah menyadari bahwa peserta didik memiliki bermacam cara belajar. Biasanya. dan dengan mempraktekan dalam kegiatan sehari-hari. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru. dia akan merasakan sedikit keterlibatan mental. Perserta didik visual ini berbeda dengan peserta didik auditori. atau mencari cara untuk mengerjakan tugas. jauh sebelum bisa memahaminya. melalui buku-buku latihan. tanpa mengajukan pertanyaan. pelajaran Pengetahuan Sosial bisa diajarkan dengan media yang konkret. Selama pelajaran. barangkali.

Tentu saja. Selama lima belas tahun terakhir. dan kurang sabaran. Sehingga mereka mesti berupaya keras untuk memahami pelajaran bila tidak ada kecermatan dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka sukai. mereka mungkin saja gelisah bila tidak bisa leluasa bergerak dan mengerjakan sesuatu. Mereka cenderung impulsive. Cara mereka belajar boleh jadi tampak sembarangan dan tida karuan. auditori dan kinestik. semau gue. Schroeder dan koleganya (1993) telah menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa baru. pengajaran harus bersifat mulitsensori dan penuh dengan variasi. Mereka menggunakan kemampuan untuk mendengar dan mengingat. mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. 8 siswa siswanya sedemikan menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya. hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara belajar. MBTI merupakan salah satu instrument yang paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan dan untuk memahami fungsi perbedaan individu dalam proses belajar. Selama pelajaran. Peserta didik kinestetik belajar terutama dengan terlibat langsung dalam kegiatan. Namun. dan membuat catatan.guru. 22 diantaranya rata-rata dapat belajar dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual. Guna memenuhi kebutuhan ini. Selama pelajaran. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya perubahan cara belajar siswa. . Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa.

Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa masa kini “bisa beradaptasi dengan baik terhadap kegiatan kelompok dan belajar bersama. pengalaman lapangan. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu. guru harus menggunakan yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil.Hasilnya menunjukkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk memiliki orientasi praktis ketimbang teoritis terhadap pembelajaran. Penelitain MBTI lainnya. Dimasa kini siswa dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berjalan dengan cepat dan banyak pilihan yang tersedia. dan studi kasus. dalam kelas.” Temuan-temuan ini dapat dianggap tidak mengejutkan bila kita mempertimbangkan secepatnya laju kehidupan modern. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman langsung dan konkret daripada mempelajari konsep-konsep dasar terlebih dahulu dan baru kemudian menerapkannya. . Dari semua ini. presentasi dan debat. dan persentase itu bertambah setiap tahunnya. Agar bisa efektif. latihan melalui pengalaman. dengan rasio lima banding satu. simulasi. menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka kegiatan belajar yang benar-benar aktif dari pada kegiatan yang reflektif abstrak. dan warnawarna terlihat begitu semarak dan menarik. Obyek. Peluang untuk mengubah segala sesuatu dari satu kondisi ke kondisi lain terbuka sangat luas. jelas Schroeder. baik yang nyata maupun yang maya. bergerak cepat. dia menyimpulkan bahwa cara belajar dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini.

Abraham Maslow mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki dua kumpulan kekuatan atau kebutuhan yang satu berupaya untuk tumbuh dan yang lain condong kepada keamanan. mereka mendapatkan dukungan emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang pengetahuan dan ketermapilan mereka yang sekarang. Jerome Bruner membahas sisi sosial proses belajar dama buku klasiknya. mereka bisa mengalami kegelisahan dan bersikap defensif. yang mana ini merupakan langkah ke depan dari suasana rumah yang aman menuju wilayah yang belum diketahui” (Maslow. Pertumbuhan berjalan dengan langkah-langkah kecul. Dia menjelaskan tentang “kebutuhan mendalam . Sisi Sosial Proses Belajar Karena siswa masa kini menghadapi dunia di mana terdapat pengetahuan yang luas. dan ketidakpastian. Salah satu cara utama untuk mendapatkan rasa aman adalah menjalin hubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari kelompok.D. Kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa sepenuhnya kebutuhan untuk mencapai sesuatu mengambil resiko. bukannya sendirian. perubahan pesat. dan “tiap langkah maju hanya dimungkin akan bila ada rasa aman. Ketika mereka belajar bersama teman. Toward a Theory of Instruction. 1968). Perasaan saling memiliki ini memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan. dan menggali hal-hal baru. menurut Maslow. Orang yang dihadapkan pada kedua kebutuhan ini akan memiliki keamanan ketimbang pertumbuhan.

yang mengarah kepada hubungan-hubungan lebih lanjut. disitulah terdapat proses yang membawa individu ke dalam pembelajaran membimbingnya untuk mendapatkan kemampuan yang diperlukan dalam pembentukan kelompok” (Bruner. “Di mana dibutuhkan tindakan bersama. dan di mana resiprositas diperlukan bagi kelompok untuk mencapai suatu tujuan. Konsep-konsepnya Maslow dan Bruner melgurusi perkembangan metode belajar kolaboratif yng sedemikian popular dalam lingkup pendidikan masa kini. Mereka menjadi cenderung lebih telibat dalam kegiatan belajar karena mereka mengerjakannya bersama teman-teman.manusia untuk merespon orang lain dan untuk bekerjasama dengan mereka guna mencapai tujuan. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk . Menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka tugas yang menuntut untuk bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang bagus untuk memanfaatkan kebutuhan sosial siswa. Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif dengan cara khusus. Bruner berpendapat bahwa resiprositas merupakan sumber motivasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai berikut. mereka juga langsung memiliki kebutuhan untuk membicarakan apa yang mereka alami bersama teman. 1966). Begitu terlibat.” yang mana hal ini dia sebut resiprositas (hubungan timbal balik).

menulis untuk disajikan kepada forum pendengar yang sesungguhnya. penyelidikan masyarakat.memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. memenuhi persyaratan ini. Prinsip ini digunakan untuk menunjang pemberian tugas kompleks di kelas seperti proyek. tetapi realistis/autentik dan kemudian diberikan bantuan secekupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas mereka (bukan diajar sedikit demi sedikit komponenkomponen suatu tugas kompleks yang padu suatu diharapkan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk menyelesaikan tugas kompleks tersebut). lengkap. semisal pelajaran menyusun gambar (jigsaw). Pemberian tugas yang berbeda kepada siswa akan mendorong mereka untuk tidak hanya belajar bersama. Pengajaran Berbasis Tugas/Proyek Pengajaran berbasis proyek/tugas terstruktur (Project-Based Learning) membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa disain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalahmasalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran. Siswa diberikan tugas/proyek yang kompleks. dan tugas-tugas autentik lainnya. simulasi. Istilah situated . Metode belajar bersama yang terbaik. E. sulit. 2001). dan melaksanakan tugas bermana lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Eduction. namun juga mengajarkan satu sama lain.

learning (Prawat. 1992) digunakan untuk menggambarkan pembelajaran yang terjadi di dalam kehidupan nyata. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. khususnya apabila tugastugas itu rutin. Pada saat bekerja sendiri. Sebagai contoh . tugas-tugas outentik/asli yang sebenarnya. 1. Linda Anderson (1985) menunjukan bahwa guru jarang menaruh perhatian pada tujuan pekerjaan kelas atau strategi-strategi belajar yang telibat. sangat mudah bagi sisa untuk kehilangan minat dan melalukan tindakan yang tidak relevan. Kebanyakan guru setuju bahwa tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah mandiri yang dapat mempertahankan keterlibatan siswa memiliki tujuan yang jelas. empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif. Membuat tugas bermakna. jelas. Sebaliknya. dan menantang Salah satu tantangan paling sukar yang dihadapi guru pada saat mereka menggunakan pekerjaan kelas atau pekerjaan rumah adalah menjaga siswa tetap terlibat. dan apa yang dibutuhkanuntuk menyelsaikan pekerjaan itu. guru menekankan pada arahan-arahan procedural. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. Siswa-siswa itu tetap berada dalam tugas selama pekerjaan kelas dan menyelesaikan pekerjaan rumah apabila mereka menyikapi tugas-tugas tersebut secar bermakna. Tidak memandang apakah suatu tugas harus dikerjaklan sebagai pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah.

Guru yang efektif mengubah panjang dan cara tugas yang diberikan di samping hakikat tugas beljar dan strategi-strategi kognitif yang telibat.siswa kemungkinan besar ttap terlibata dan mengerjakan pekerjaan mereka jika tugas-tugas lebih bervariasi dan menarik daripada rutindan monoton. Menaruh Perhatian pada Tingkat Kesulitan . Menganekaragamkan Tugas-tugas Sama dengan kehidupan pada umumnya. Membaca di dalam hati. keanekaragaman menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Sementar petunjuk-petunjuk tentang “apa yang dilakukan” adalah penting guru tidak menyertakan penjelasan tentang “mengapa” sesuatu harus dikerjakan dan proses-proses pembelajaran yang terlibat. 3. guru hendaknya mempertimbangkan cirri penting itu secara seksama dan kemudian menyediakan waktu cukupuntuk menjelaskan cirri penting itu kepada siswa. 2. Pilihan kemungkinan tidak terbatas dan tidak aka alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari. Sebelum memberikan suatu tugas. dan bahan-bahan multimedia menawarkn berbagai macam cara untuk menyelesaikan pekerjaan mandiri. laporan proyek-proyek khusus.guru dpat menghabiskan waktu banyak menjelaskan kepad siswa di mana menulis nama di kertas atau bagaimana menyusun jawaban-jawabannya.

Pad saat beberfapa siswa diberikan pekerjaan kelas.a dianjurkan agar guru menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka . namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. maka guru dapat bekerja dengan siswa lain.Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan suatu bahan baku penting untuk keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Memonitor Kemajuan Siswa Akhirnya. Pada umumnya tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang. Apabila siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. 4. merupakan hal penting bagi guru untuk memonitor tugastugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Mereka menyikapi tugas-tugas seperti sebagai pekerjaan yang tidak menantang. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan guru terlalu mudah. Monitoring ini juga termasuk pengecekan pekerjaan siswa dan mengembalikan tugas dengan umpan balik. Monitoring hendaknya meliputi pengecekan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka dan proses-proses kognitif yang telibat. tugas tesebut sehrusnya memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi.

maka guru hendaknya berada dalam kelompok-kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. Apabila siswa bekerja dalam kelompok-kelompok. Meskipun mengoreksi tugas menghabiskan waktu. hendaknya guru mengoreksi pekerjaan yang dibuat siswa dan mengembalikan kepda mereka dengan umpan balik.memahami tugas tersebut sebelum menangani siswa-siswa lain. .

Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti. tindakan. 1997: 8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu. kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif. (d) administrasi social eksperimental. (b) penelitian tindakan kolaboratif. (a) guru sebagai penelitia. karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. pengamatan. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti. (c) simultan terintegratif.BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun. dan refleksi. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. .

.. Tahun Pelajaran . Tempat. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Budha dan Islam di Indonesia. 2000: 3). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ………………………………... 2. .. pada pokok bahasan kerajaan Hindu. PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Waktu dan Subyek Penelitian 1.. Tahun Pelajaran .. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran . memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu.. Penelitian ini bertempat di ………………………………………. serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis... 3.. B...A.

yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis. tindakan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan Putar an 1 kelas dapat dilihat pada gambar berikut. action (tindakan). dan reflection (refleksi). observation (pengamatan). dan refleksi. 1997: 6). Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. 2000: 5). Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih.Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi. Refleksi Rencana Rencana awal/rancangan awal/rancangan Putar an 2 Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Putar an 3 . pengamatan. Setiap siklus meliputi planning (rencana). Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan. maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti. yaitu penelitian tindakan.

termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model tugas/proyek. . sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah. tujuan dan membuat rencana tindakan.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1. Rancangan/rencana awal. 2. Kegiatan dan pengamatan.Gambar 3.

dan kegiatan belajar mengajar. 2 dan 3. Lembar Kegiatan Siswa . Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Refleksi. berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. 3. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan. peneliti mengkaji. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas. Observasi dibagi dalam tiga putaran. yaitu putaran 1. Rancangan/rencana yang direvisi.3. indikator pencapaian hasil belajar. melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. serta penilaian hasil belajar. tujuan pembelajaran khusus. 2. C. 4.

Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan korelasi Product Moment: rxy = {N ∑ X N ∑ XY − ( ∑ X )( ∑ Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑ Y 2 − (∑Y ) 2 } (Suharsimi Arikunto. 2001: 72) . kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. 4. Langkah-langkah analisi butir soal adalah sebagai berikut: a. Budha dan Islam di Indonesia. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep Pengetahuan Sosial pada pokok bahasan kerajaan Hindu. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data.Lembar kegiataan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan belajar mengajar. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif).

Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran adalah: P= B Js (Suharsimi Arikunto. Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. 2001: 208) P : Indeks kesukaran Dengan: . Reliabilitas Relaiabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus belah dua sebagai berikut: r11 = 2r1 / 21 / 2 (Suharsimi Arikunto. 20001: 93) (1 + r1 / 21 / 2 ) r11 r1/21/2 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes Dengan: Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel.Dengan: rxy N ΣY ΣX ΣX2 : Joefisien korelasi product moment : Jumlah peserta tes : Jumlah skor total : Jumlah skor butir soal : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. c.

2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah peserta kelompok bawah PA = BA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.701 sampai 1.000 adalah mudah d. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi.700 adalah sedang Soal dengan P = 0.B Js : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar : Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: Soal dengan P = 0. JA .000 sampai 0. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.301 sampai 0. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut: D= B A BB − = PA − PB JA JB (Suharsimi Arikunto.300 adalah sukar Soal dengan P = 0.

201 sampai 0. E.200 adalah jelek Soal dengan D = 0.701 sampai 1. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data.400 adalah cukup Soal dengan D = 0. observasi aktivitas siswa dan guru.401 sampai 0.000 sampai 0.000 adalah sangat baik D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar aktif.700 adalah baik Soal dengan D = 0.PB = BB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar JB Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal sebagai berikut: Soal dengan D = 0. yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon . Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. dan tes formatif.

Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65. dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. 1994). . Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: X = ∑X ∑N : X = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa Dengan 2. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud.siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu: 1.

Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: P= ∑ Siswa.tuntas.belajar x100% ∑ Siswa . yang.

Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. taraf kesukaran. dan daya pembeda. reliabilitas. Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Analisis tes yang dilakukan meliputi: 1. data observasi berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran. Dari . maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrument penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang baik. A. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini.

Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid 1. 38. 31. Tabel 4. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0. 8.perhitungan 42 soal diperoleh 12 soal tidak valid dan 30 soal valid.36. 256 27. 34. 16. 19. 18. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. 15. 32. Soal Tidak Valid 5. 2. 33.294. 10. 22. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas. 24. 23. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Untuk jumlah siswa (N = 45) dengan r (95%) = 0. 12. 7. 13. Hasil analisis menunjukkan dari 42 soal yang diuji terdapat: 18 soal mudah 14 soal sedang 10 soal sukar . 17. 4. 39. 6. 37. 35. 14.1. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. 20. 25. 40 2. 42. 29. 41. 21. 11. 9. 635. 30. 28. 3. Harga ini lebih besar dari harga r product moment.

taraf kesukaran. . Siklus I a.. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. berkriteria baik 10 soal. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 5 September 2004 di Kelas ………. dengan jumlah siswa 45 siswa. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria jelek sebanyak 12 soal. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. b. reliabilitas.4. dan daya pembeda. soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. berkriteria cukup 20 soal. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas.

Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Table 4.Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Absen 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Jumlah Nilai 70 60 80 60 80 80 80 60 60 70 80 70 80 80 90 70 60 60 60 70 80 80 1580 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 15 7 . Nilai Tes Formati Pada Siklus I No.00 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 17 6 No. Nilai Absen 1 80 2 80 3 70 4 60 5 80 6 60 7 80 8 80 9 80 10 60 11 60 12 70 13 70 14 70 15 80 16 70 17 90 18 70 19 60 20 60 21 80 22 70 23 80 Jumlah 1660 Skor Maksimal Ideal 4500 Jumlah Skor Tercapai 3240 Skor Rata-rata 72.2.

00 32 71.11% atau ada 32 siswa dari 45 siswa sudah tuntas belajar.00 dan ketuntasan belajar mencapai 71.11 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pengajaran berbasis proyek/tugas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72. karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 71. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar.3.11% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I 72.Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 32 : 13 : Belum tuntas Tabel 4. . Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode pengajaran berbasis proyek/tugas.

Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 12 September 2004 di Kelas ……………dengan jumlah siswa 45 siswa.2. b. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2. soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. . Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I. sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.

Table 4.4. Absen 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Jumlah Nilai 60 70 80 80 80 80 80 70 60 60 90 90 80 80 80 80 90 80 70 60 80 80 1680 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 18 4 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 37 :8 : Belum tuntas .22 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 19 4 No. Nilai Absen 1 80 2 60 3 70 4 70 5 80 6 80 7 80 8 80 9 70 10 60 11 60 12 90 13 90 14 80 15 80 16 80 17 80 18 90 19 80 20 70 21 60 22 80 23 80 Jumlah 1750 Skor Maksimal Ideal 4500 Jumlah Skor Tercapai 3430 Skor Rata-rata 76. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No.

5. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode pengajaran berbasis proyek/tugas. b. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3.22% atau ada 37 siswa dari 45 siswa sudah tuntas belajar. Adanya peningkatan hasil belajr siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus II 76. soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 3.22 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 76. Siklus III a.Tabel 4.22 dan ketuntasan belajar mencapai 82. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.22 37 82. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 19 September 2004 di Kelas ………… dengan .

sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut: .jumlah siswa 45 siswa. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II.

Table 4. Nilai Absen 1 90 2 80 3 90 4 90 5 80 6 80 7 90 8 80 9 70 10 80 11 60 12 80 13 90 14 90 15 90 16 80 17 90 18 80 19 90 20 60 21 90 22 70 23 90 Jumlah 1890 Skor Maksimal Ideal 4500 Jumlah Skor Tercapai 3720 Skor Rata-rata 82. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No.67 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 2 No. Absen 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Jumlah Nilai 80 90 90 80 80 90 80 70 80 60 80 90 90 90 80 90 80 90 70 90 90 90 1830 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 1 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 42 :3 : Tuntas .6.

Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III
No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus III 82,67 42 93,33

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,67 dan dari 45 siswa yang telah tuntas sebanyak 42 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 93,33% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan belajar aktif sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis

proyek/tugas. Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum

sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas memiliki dampak positif dalam meningkatkan daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 71,11%, 82,22%, dan 93,33%.Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap proses mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif.

memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan. BAB V PENUTUP .Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dengan baik. menjelaskan materi yang tidak dimengerti oleh siswa.

siklus II (82. 3. dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.22%). dimana dengan metode ini siswa dipaksa untuk mengingat kembali materi palajaran yang telah diterima selama ini.A. siklus III (93. .33%). yaitu siklus I (71.11%). Pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas memiliki dampak positif terhadap daya ingat siswa. 2. Penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas mempunyai pengaruh positif. yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk mempelajari kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus. Pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus.

Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut... walau dalam taraf yang sederhana. sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. dimana siswa nantinya dapat menemuan pengetahuan baru. 2. karena hasil penelitian ini hanya dilakukan pelajaran .B. Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas memerlukan persiapan yang cukup matang. memperoleh konsep dan keterampilan. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa. makan disampaikan saran sebagai berikut: 1. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa... guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai. di ………………………………………………… tahun . sehingga guru harus mempu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Bandung: PT. Universitas Terbuka. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Psikologi UGM. Sutrisno. 1996. 1998. dan Moerdjiono. Arthur. 2002.DAFTAR PUSTAKA Ali. Bandung: Remaja Rosdakarya. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. 1997. Rustiyah. 1990. W. Jilid 1. Syaiful Bahri. Jakarta. Bandung: PT. Proses Belajar Mengajar. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Suharsimi. 1982. Hadi. 1996. Suharsimi. Jakarta: Rineksa Cipta. Jakarta: Rineksa Cipta Combs. N. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Jakarta: PAU-PPAI. Remaja Rosdakarya. Jakarta: Bina Aksara. A. Ngalim. Inc. J. Succesfull Teaching (terjemahan). Metodogi Research. 2002. Yoyakarta. Boston. Soekamto. 1981. Jakarta: Bina Aksara. Metodologi Research.). Fak. Hasibuan. Arikunto.K. Yogyakarta: YP. Mursell. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Arikunto. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Rineksa Cipta. Psikologi Pendidikan.M. . Sardiman. 1993. Margono. Strategi Belajar Mengajar. Sutrisno. 1984. Muhammad. Purwanto M. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta. Purwanto M. Metodologi Penelitian Pendidikan. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Hadi. Allin and Bacon. The Profesional Education of Teachers. Toeti. 1990. Djamarah. Bandung: Jemmars. 1997. Ngalim. James ( .J.

Uzer. Burton. Muhibbin. and W.C. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1986. 2001. (terjemahan) Bandung: Jemmars. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. Psikologi Pendidikan. Moh.H. 1995. Usman.Syah. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suatu Pendekatan Baru. Wetherington. Walt. . H. Menjadi Guru Profesional.

. KARYA ILMIAH OLEH ………………………………… NIP: ……………………… DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN ………………………. ……………………………………….. …………………………………………………………. TAHUN .MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI METODE PENGAJARAN BERBASIS TUGAS/PROYEK PADA SISWA KELAS ………………………….. ..

hasil karya dari: Nama NIP Unit Kerja Judul : ……………………… : ………………………. NPA: …………………………. Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru.. Mengetahui Ketua PD PGRI II Kabupaten ………………….. Kepala …………………… ……………………………… ………………………………. NIP: ………………… ..HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ……………………………. : …………………………….. : Meningkatkan Pengajaran Prestasi Belajar IPS Melalui Siswa Metode Kelas Berbasis Tugas/proyek Pada ………………………… Tahun ..

Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan ……………………………………… Pada Hari Tanggal : …………………… : …………………… Pustakawan ……………………………. Kabupaten …………… …………………..HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. ……………………. Kabupaten ……………….. NIP: ……………. . Kepala ………………………………..

. Ketua PD II PGRI Kabupaten ……………………………….. Penulis . Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak.. hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada: 1. 3. Yth. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai. Yth. Yth. Rekan-rekan ……………………………………………………. Tahun . penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode Pengajaran Berbasis Tugas/proyek Pada Siswa Kelas………………….”.. 4. penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten ……………………… 2.KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT.

. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan. mencoba mempraktekkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah mereka dapatkan.11%).. siklus I (71. siklus III (93. refleksi. siswa perlu “mengerjakannya”... menunjukkan contohnya. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran.. mengajukan pertanyaan tentangnya. .22%).. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Pengetahuan Sosial dengan diterapkannya metode pengajaran berbasis tugas proyek? (b) Bagaimanakah pengaruh pembelajaran metode pengajaran berbasis tugas/proyek terhadap motivasi belajar siswa? Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Mengetahui peningkatan prestasi belajar Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya pengajaran berbasis tugas proyek. dan membahasnya dengan orang lain. kita perlu mendengar. yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri..33%). prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai III Dari hasil analis didapatkan bahwa iklus III yaitu. 2004. pengajaran berbasis proyek tugas Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik. dan refisi. ………………………………. kegiatan dan pengamatan..ABSTRAK ……………………. Simpulan dari penelitian ini adalah metode pengajaran tugas/proyek dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa ……………………………… serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran ilmu pengetahuan sosial. Kata Kunci: belajar ips. Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode Pengajaran Berbasis Tugas/proyek Pada Siswa Kelas ……………………. melihat.Tahun . Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif. siklus II (82. Bukan Cuma itu. lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas ………………. (b) Mengetahui pengaruh motivasi belajar Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya metode pengajaran berbasis tugas proyek.

...................................................................................................................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.................. B.................. Abstrak ............................................................................. Bagaimana Otak Bekerja .... D.......... B................................. Rumusan Masalah ...... Gaya Belajar ................................................................ Batasan Masalah ............... Memperkenalkan Belajar Aktif .... C...... Kata Pengantar ......................... Latar Belakang Masalah ...... E..................... Penjelasan Istilah ............. B........................................................... Sisi Sosial Proses Belajar ............ C...................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA A.................................. D......... BAB I PENDAHULUAN A. C.................. Waktu.............. F... Tempat................................DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul .............. dan Subyek Penelitian ..................................................................................................... Tujuan Penelitian ................ Daftar Isi ............................................................................................................................ Manfaat Penelitian..................................... Pengajaran Berbasis Tugas/Proyek ...................... i Halaman Pengesahan ........................................................................................................................... E.................................................. 24 24 25 7 10 14 16 18 1 4 4 5 5 6 ii iv v vi ............................................................................................. Rancangan Penelitian ............ Instrument Penelitian .....................

.................................. Metode Pengumpulan Data ..................... 30 30 32 34 43 46 47 48 .. C.............................. Saran-saran .................................................................. BAB V PENUTUP A........................ E.................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A............... Kesimpulan ............ B......... B................. Analisis Data Penelitian ............................................................ DAFTAR PUSTAKA ................................ Analisis Item Butir Soal.......................D................. Teknik Analisis Data ................................... Pembahasan ............................................................................................................................