PERANAN (K3) DI RUMAH SAKIT / INSTANSI KESEHATAN

PERANAN (K3) DI RUMAH SAKIT / INSTANSI KESEHATAN Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS.

2. terkilir. Di Australia. laceration. Bureau of Laboratorium Statistics. Syok akibat aliran listrik .6%. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. prevalensi 42% dan di AS.Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu. peralatan listrik maupun peralatan kesehatan. peraturan serta penerapan disiplin kerja. yaitu sprains. tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS. Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam . Bahaya infeksi dari kuman. strains : 52%. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS. tergores/terpotong. 5. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan). Bahaya radiasi . data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. thermal burns: 2%.contussion. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). Bahan beracun. Selain itu. antara lain dengan penjelasan. Laporan lainnya yakni di Israel. 87% pernah low back pain. 4. 6. korosif dan kaustik . cuts. sakit pinggang. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. multiple injuries: 2. 3. Khusus di Indonesia. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. luka bakar.2%. 7. fractures: 5.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. 1983).8%. reagensia yang toksik . Luka bakar . Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. diantara 813 perawat. yakni hipertensi. dan lain-lain: 12. virus atau parasit. abrasions: 1. Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan. dermatitis: 1. punctures: 10.3%. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. bruising : 11%. dan penyakit infeksi dan lain-lain.1%. misalnya bahaya infeksius.4% (US Department of Laboratorium. crushing. anemia (kebanyakan wanita). Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. infections: 1. . insiden cedera musculoskeletal 4. scratches. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.62/100 perawat per tahun.9%. varises. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : 1.

meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. Planning/ (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. maka perlu upaya untuk mengendalikan. /Actuating /(pelaksanaan) D. Bagaiman cara mengerjakannya c. Siapa yang mengerjakan e. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dan instansi kesehatan. /Planning /(perencanaan) B.perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat ( hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter. sakit kepala. dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut menjadi : A. gangguan saluran kemih. /Controlling /(pengawasan) 1. efisien dan terpadu. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek) serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. Mengapa mengerjakan d. Untuk mencapai tujuan tersebut. yaitu penyakit infeksi dan parasit. oleh karena itu K3 RS perlu dikelola dengan baik.Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1. dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal apa yang dikerjakan b. saluran cerna dan keluhan lain. kegiatan yang ditentukan meliputi : a. Dalam perencanaan tersebut. saluran pernafasan. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. /Organizing/ (organisasi) C. gangguan pada saat kehamilan.5 kali dari petugas atau pekerja lain. MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. serta masyarakat umum lainnya ). Kapan harus dikerjakan . seperti sakit telinga. masalah kelahiran anak.

an keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah). tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat (nasional). Dimana kegiatan itu harus dikerjakan g. 3. juga metode-metode yang dipakai makin banyak ragamnya. Oleh karena itu usahausaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan. 4. Organizing/ (Organisasi) Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin Dunia Kedokteran No. di samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja. mulai dari tingkat rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau nasional. pelatihan pelaksana. B. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah sakit / instansi kesehatan. penyuluhan. hubungan timbal balik ( sebab akibat) Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang tidak lagi hanya di bidang pelayanan. 2007 5/ background image Manajemen keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki. 154. Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : 1. . Memberikan bimbingan. HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin rumah sakit / instansi kesehatan. Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan. Semuanya menyebabkan risiko bahaya yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar. 2. 6. Dan lain-lain. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 5.f.

6. Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. Untuk dapat menjalankan pengawasan. Dalam rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit / instansi kesehatan yang tugasnya antara lain : 1. 2. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek. 3.1. maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya. 4. Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan memahami cara. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. sehingga semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 1.praktek rumah sakit / instansi kesehatan yang baik. Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit / instansi kesehatan.cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit / instansi kesehatan. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. mengkoordinasikan berbagai aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron). Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. 5. serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. . benar dan aman. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. Adanya rencana b. yaitu : a. mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. mengerahkan aktivitas. keragu-raguan atau pertentangan. Controlling/ (Pengawasan) Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Dan lain-lain. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul permasalahan. Actuating/ (Pelaksanaan) Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong semangat kerja.

Komitmen rumahsakit dengan kebijakan Regulasi K3RS No Jenis komitmen yang RS1 ditunjukkan 1 Dana P 2 Kebijakan P RS2 RS3 RS4 RS5 RS6 RS7 P P P P P . P . 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur regulasi K3RS. Di antara seluruh peraturan itu. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. keluarga. rumahsakitrumahsakit ini tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. observasi di lapangan. regulasi K3RS ini lemah. rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran.Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumahsakit (K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan 1. paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum ada sama sekali peraturan daerah. serta pekerja. atau dampak buruk pada kesehatan. P .05/Men. Jumlah % 7 100. Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan sebelum desentralisasi. Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam hal ini. 6 dari 7 rumahsakit belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS. Selain itu.0 3 42. kondisi fisik rumah sakit dapat membahayakan pasien. Daerah melaksanakan apa yang menjadi keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula.9 . Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional Rumahsakit Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan K3RS. K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan. P . Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah belum ada sama sekali. Jika tidak dikelola. 1. Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan K3RS. Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki satu staf yang mengurusi bidang ini. Tidak ada tim khusus K3RS. 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3 (Bab III Pasal 3). Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Padahal mengacu pada PP No. Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena teknologi dan sarana kesehatan. Peraturan Kesehatan Kerja UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. Tabel 1. Lima rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang memadai. bencana.

. Isi Regulasi dan Bentuk Regulasi K3RS TAHUN 1970 1975 1975 1980 1980 1981 1983 1989 1992 1992 1993 1993 1993 REGULASI Keselamatan Kerja Keselamatan kerja terhadap radiasi Izin pemakaian zat radioaktif Jenis Undang-undang Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Menteri Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan K3 Syarat-syarat pemasangan dan Peraturan Menteri pemeliharaan alat pemadam api ringan Kewajiban melapor penyakit akibat Peraturan Menteri kerja Pelayanan kesehatan tenaga kerja Peraturan Menteri Ketentuan KK terhadap radiasi Keputusan Dirjen Kesehatan Undang-undang Persyaratan Kesling RS Peraturan Menteri Penyakit yang timbul karena hubungan Keputusan Presiden kerja Komite K3 Keputusan Menteri • Persyaratan kesehatan Keputusan Dirjen lingkungan ruang & Bangunan serta fasilitas sanitasi rumah sakit • Persyaratan kesehatan konstruksi ruang di rumah sakit. . .3 .6 14. P . .3 4 5 6 7 8 9 . • Persyaratan & petunjuk teknis tata cara penye hatan lingkungan . . Tahun Penerbitan. . 44.4 28. . Pengawasan Penghargaan dan Sanksi Organisasi Ketenagaan Pengadaan APD Pengadan IPAL Membangun sistim keamanan JUMLAH PERSENTASE (%) P P P P P P P 9 100 P . 6 67 . 2 22 . P . . P P . P .1 14. Tabel 2. P . . P . 4 44 . 2 22 . 2 22 2 1 4 1 7 2 1 . .3 57. P . . . .0 28. 3 33 . . P . . . . .3 100. P .6 14.

Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan mau tidak mau perlu membuat tekanan dari luar agar kesehatan dan keselamatan kerja betul-betul terjaga. menyediakan tenaga khusus. Kebijakan kita selama ini dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja adalah berupa sosialisasi program. Lebih tegas. bisa menjadi contoh karena mereka telah secara sadar menerapkan standar lebih internasional. pelatihan tentang K3RS. standar K3RS bisa dijadikan sebagai persyaratan pendirian atau operasi rumahsakit. KESIMPULAN : . Satu rumahsakit dalam penelitian ini. kebetulan swasta. Sifat kesukarelaan seperti ini bagi rumahsakit pemerintah dan swasta lokal bisa berakibat buruk. Rumahsakit swasta yang berorientasi internasional menganggap K3RS adalah strategis bagi pelanggan yang sudah makin kritis. Dinas kesehatan bisa mengawasi pelaksanaan K3RS. dengan membuat peraturan daerah khusus yang diberlakukan di daerahnya. diikuti dengan tindakan sanksi bagi yang tidak menerapkannya. Cara-cara pembinaan seperti itu memperlihatkan hasil yang minimal. perlindungan publik dan pekerja seperti ini harus menjadi persyaratan mutlak dalam pemberian izin pendirian suatu rumahsakit.1996 1996 1997 1997 1997 1997 1998 1999 2003 RS Sistem Manajemen K3 (SMK3) Pengamanan bahan berbahaya bagi Kesehatan Pelaksanaan Audit system manajemen K3 Penyelenggaraan pelayanan radiology Pembentukan Panitia K3 Rumah Sakit Inspeksi K3 Persyaratan kesling kerja Perubahan PP18 /1999 terhadap pemgelolaan limbah B3 Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Peraturan Menteri Peraturan Menteri Peraturan Menteri Peraturan Menteri Surat Edaran Keputusan Menteri Keputusan Menteri PP Keputusan Menteri Tekait dengan peran regulasi dinas kesehatan. dan membuat pedoman pelaksanaan. Pemerintah daerah hendaknya lebih peduli dengan K3RS. Pelaksanaan K3RS pada masa yang lalu ditekankan dengan pola pembinaan dinas kesehatan.

dilanjutkan dengan penetapan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja pelayanan kesehatan. organisasi. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Walaupun secara teoritis perencanaan. Kemudian dia membuat keputusan pemecahan permasalahan untuk dilaksanakan. Selanjutnya dilakukan pemantauan dan evaluasi hasil yang dicapai. Kalau ada penyimpangan. fakta dan informasi. tetapi sebenarnya ketiga hal tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan saling terkait. yaitu perencanaan. Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama. menganalisa data. Karena itu disamping perhatian instansi itu sendiri. Fungsi berikutnya adalah fungsi pelaksanaan yang mencakup pengorganisasian penempatan staf. SARAN : Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) khususnya di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2008 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura. Hasil evaluasi ini dibandingkan dengan perencanaan. merumuskan masalah serta menyusun program. pelaksanaan dan pengawasan. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing pelayanan dan kualitas saranan kesehatan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Fungsi terakhir ialah fungsi pengawasan yang meliputi penataan dan evaluasi hasil kegiatan serta pengendalian. Padahal kemajuan pelayanan tersebut sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Fungsi perencanaan meliputi perkiraan / peramalan. pelaksanaan dan pengawasan dipisah-pisahkan. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.Proses manajemen keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium seperti proses manajemen umumnya adalah penerapan berbagai fungsi manajemen. Malaysia. . Keputusan Analisis Dari siklus seperti tampak dalam diagram.tasi program. Bila menemui permasalahan. pendanaan serta implemen. maka dilakukan perbaikan seperlunya. Filipina dan Thailand. maka manajer yang bersangkutan akan menganalisis untuk mencari penyebab dan mencari cara pemecahan yang tepat. pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Indonesia akan sulit menghadapi persaingan global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). kelihatan suatu proses manajemen merupakan siklus yang berkelanjutan.