P. 1
PERANAN k3

PERANAN k3

|Views: 213|Likes:
Published by Novi Susanti

More info:

Published by: Novi Susanti on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2015

pdf

text

original

PERANAN (K3) DI RUMAH SAKIT / INSTANSI KESEHATAN

PERANAN (K3) DI RUMAH SAKIT / INSTANSI KESEHATAN Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS.

dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae.9%. 4. dermatitis: 1. crushing. Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. Bahaya infeksi dari kuman. 1983). Bahaya radiasi . prevalensi 42% dan di AS.1%.4% (US Department of Laboratorium. scratches.Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu.62/100 perawat per tahun. terkilir. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan). dan penyakit infeksi dan lain-lain. punctures: 10. Luka bakar . bruising : 11%.6%. tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS. Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan. abrasions: 1. virus atau parasit. Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan.2%. antara lain dengan penjelasan. Syok akibat aliran listrik . Selain itu. 7. varises. 5. peraturan serta penerapan disiplin kerja. misalnya bahaya infeksius. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. Bahan beracun. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : 1. yakni hipertensi. multiple injuries: 2. strains : 52%. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.8%. Bureau of Laboratorium Statistics. 2.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. thermal burns: 2%.contussion. Khusus di Indonesia. luka bakar. . 3. Di Australia.3%. dan lain-lain: 12. diantara 813 perawat. korosif dan kaustik . Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS. cuts. laceration. yaitu sprains. infections: 1. 6. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. fractures: 5. peralatan listrik maupun peralatan kesehatan. insiden cedera musculoskeletal 4. Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam . anemia (kebanyakan wanita). reagensia yang toksik . yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. Laporan lainnya yakni di Israel. sakit pinggang. tergores/terpotong. 87% pernah low back pain.

gangguan pada saat kehamilan.5 kali dari petugas atau pekerja lain. saluran pernafasan. /Organizing/ (organisasi) C. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dan instansi kesehatan. Bagaiman cara mengerjakannya c. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. Kapan harus dikerjakan .Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1. kegiatan yang ditentukan meliputi : a. /Controlling /(pengawasan) 1. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. yaitu penyakit infeksi dan parasit. /Actuating /(pelaksanaan) D.perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat ( hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter. Mengapa mengerjakan d. Siapa yang mengerjakan e. Untuk mencapai tujuan tersebut. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek) serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. serta masyarakat umum lainnya ). /Planning /(perencanaan) B. saluran cerna dan keluhan lain. masalah kelahiran anak. Planning/ (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam perencanaan tersebut. sakit kepala. dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut menjadi : A. gangguan saluran kemih. oleh karena itu K3 RS perlu dikelola dengan baik. seperti sakit telinga. Hal apa yang dikerjakan b. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. efisien dan terpadu. maka perlu upaya untuk mengendalikan.

2. 6. . Dimana kegiatan itu harus dikerjakan g. Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : 1. Dan lain-lain. juga metode-metode yang dipakai makin banyak ragamnya. HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. 5. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan .f. B. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin rumah sakit / instansi kesehatan. 4. di samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat (nasional). mulai dari tingkat rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau nasional. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah sakit / instansi kesehatan.an keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Oleh karena itu usahausaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan. Organizing/ (Organisasi) Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang. 154. 3. Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin Dunia Kedokteran No. penyuluhan. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian. Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan. pelatihan pelaksana. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah). Memberikan bimbingan. Semuanya menyebabkan risiko bahaya yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar. 2007 5/ background image Manajemen keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki. hubungan timbal balik ( sebab akibat) Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang tidak lagi hanya di bidang pelayanan.

Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. mengkoordinasikan berbagai aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron). . 1. mengerahkan aktivitas. serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Untuk dapat menjalankan pengawasan. 2. Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin. 6. benar dan aman. 5. Controlling/ (Pengawasan) Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. 3. Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul permasalahan. sehingga semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.1. Adanya rencana b. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. yaitu : a. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan.cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit / instansi kesehatan. Dalam rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit / instansi kesehatan yang tugasnya antara lain : 1. Actuating/ (Pelaksanaan) Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong semangat kerja. maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya. keragu-raguan atau pertentangan. Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan memahami cara. 4. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit / instansi kesehatan.praktek rumah sakit / instansi kesehatan yang baik. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Dan lain-lain.

Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki satu staf yang mengurusi bidang ini. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional Rumahsakit Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan K3RS. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam hal ini. 1. P . Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan sebelum desentralisasi. Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena teknologi dan sarana kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Daerah melaksanakan apa yang menjadi keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula. K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan. 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3 (Bab III Pasal 3). Jika tidak dikelola. observasi di lapangan.05/Men. Peraturan Kesehatan Kerja UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum ada sama sekali peraturan daerah. Selain itu. Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah belum ada sama sekali. keluarga.0 3 42. Di antara seluruh peraturan itu. Lima rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang memadai. regulasi K3RS ini lemah. kondisi fisik rumah sakit dapat membahayakan pasien. Tidak ada tim khusus K3RS. Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini. Komitmen rumahsakit dengan kebijakan Regulasi K3RS No Jenis komitmen yang RS1 ditunjukkan 1 Dana P 2 Kebijakan P RS2 RS3 RS4 RS5 RS6 RS7 P P P P P .Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumahsakit (K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan 1. rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran. P . 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur regulasi K3RS. Jumlah % 7 100. serta pekerja. 6 dari 7 rumahsakit belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS. Padahal mengacu pada PP No. atau dampak buruk pada kesehatan. bencana. rumahsakitrumahsakit ini tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. P .9 . Tabel 1. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan K3RS.

P . P . • Persyaratan & petunjuk teknis tata cara penye hatan lingkungan .1 14.3 100. .3 57. . . . . P . P . Tabel 2. P .3 4 5 6 7 8 9 . . . 6 67 .4 28. . Tahun Penerbitan. 2 22 .3 . 2 22 2 1 4 1 7 2 1 . .0 28. Pengawasan Penghargaan dan Sanksi Organisasi Ketenagaan Pengadaan APD Pengadan IPAL Membangun sistim keamanan JUMLAH PERSENTASE (%) P P P P P P P 9 100 P . . . 3 33 . . P . P . . . P P . 2 22 . 44. .6 14. Isi Regulasi dan Bentuk Regulasi K3RS TAHUN 1970 1975 1975 1980 1980 1981 1983 1989 1992 1992 1993 1993 1993 REGULASI Keselamatan Kerja Keselamatan kerja terhadap radiasi Izin pemakaian zat radioaktif Jenis Undang-undang Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Menteri Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan K3 Syarat-syarat pemasangan dan Peraturan Menteri pemeliharaan alat pemadam api ringan Kewajiban melapor penyakit akibat Peraturan Menteri kerja Pelayanan kesehatan tenaga kerja Peraturan Menteri Ketentuan KK terhadap radiasi Keputusan Dirjen Kesehatan Undang-undang Persyaratan Kesling RS Peraturan Menteri Penyakit yang timbul karena hubungan Keputusan Presiden kerja Komite K3 Keputusan Menteri • Persyaratan kesehatan Keputusan Dirjen lingkungan ruang & Bangunan serta fasilitas sanitasi rumah sakit • Persyaratan kesehatan konstruksi ruang di rumah sakit. . 4 44 . . .6 14. P .

Pemerintah daerah hendaknya lebih peduli dengan K3RS. standar K3RS bisa dijadikan sebagai persyaratan pendirian atau operasi rumahsakit. diikuti dengan tindakan sanksi bagi yang tidak menerapkannya. Satu rumahsakit dalam penelitian ini. menyediakan tenaga khusus. dan membuat pedoman pelaksanaan. bisa menjadi contoh karena mereka telah secara sadar menerapkan standar lebih internasional. kebetulan swasta. perlindungan publik dan pekerja seperti ini harus menjadi persyaratan mutlak dalam pemberian izin pendirian suatu rumahsakit. Kebijakan kita selama ini dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja adalah berupa sosialisasi program. Dinas kesehatan bisa mengawasi pelaksanaan K3RS. Rumahsakit swasta yang berorientasi internasional menganggap K3RS adalah strategis bagi pelanggan yang sudah makin kritis. Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan mau tidak mau perlu membuat tekanan dari luar agar kesehatan dan keselamatan kerja betul-betul terjaga. Pelaksanaan K3RS pada masa yang lalu ditekankan dengan pola pembinaan dinas kesehatan. Cara-cara pembinaan seperti itu memperlihatkan hasil yang minimal.1996 1996 1997 1997 1997 1997 1998 1999 2003 RS Sistem Manajemen K3 (SMK3) Pengamanan bahan berbahaya bagi Kesehatan Pelaksanaan Audit system manajemen K3 Penyelenggaraan pelayanan radiology Pembentukan Panitia K3 Rumah Sakit Inspeksi K3 Persyaratan kesling kerja Perubahan PP18 /1999 terhadap pemgelolaan limbah B3 Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Peraturan Menteri Peraturan Menteri Peraturan Menteri Peraturan Menteri Surat Edaran Keputusan Menteri Keputusan Menteri PP Keputusan Menteri Tekait dengan peran regulasi dinas kesehatan. Sifat kesukarelaan seperti ini bagi rumahsakit pemerintah dan swasta lokal bisa berakibat buruk. pelatihan tentang K3RS. dengan membuat peraturan daerah khusus yang diberlakukan di daerahnya. Lebih tegas. KESIMPULAN : .

Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing pelayanan dan kualitas saranan kesehatan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama. Selanjutnya dilakukan pemantauan dan evaluasi hasil yang dicapai. Bila menemui permasalahan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Pada tahun 2008 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura. Kemudian dia membuat keputusan pemecahan permasalahan untuk dilaksanakan. dilanjutkan dengan penetapan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Karena itu disamping perhatian instansi itu sendiri. pelaksanaan dan pengawasan dipisah-pisahkan. organisasi. . Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat. Fungsi terakhir ialah fungsi pengawasan yang meliputi penataan dan evaluasi hasil kegiatan serta pengendalian. Indonesia akan sulit menghadapi persaingan global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). pelaksanaan dan pengawasan. maka manajer yang bersangkutan akan menganalisis untuk mencari penyebab dan mencari cara pemecahan yang tepat. menganalisa data. Fungsi perencanaan meliputi perkiraan / peramalan. Hasil evaluasi ini dibandingkan dengan perencanaan.Proses manajemen keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium seperti proses manajemen umumnya adalah penerapan berbagai fungsi manajemen. yaitu perencanaan. Malaysia. fakta dan informasi. pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Fungsi berikutnya adalah fungsi pelaksanaan yang mencakup pengorganisasian penempatan staf. Kalau ada penyimpangan. kelihatan suatu proses manajemen merupakan siklus yang berkelanjutan. SARAN : Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) khususnya di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Padahal kemajuan pelayanan tersebut sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Keputusan Analisis Dari siklus seperti tampak dalam diagram. tetapi sebenarnya ketiga hal tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan saling terkait. Walaupun secara teoritis perencanaan. maka dilakukan perbaikan seperlunya.tasi program. pendanaan serta implemen. Filipina dan Thailand. merumuskan masalah serta menyusun program. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja pelayanan kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->