P. 1
Isi Laporan Kasus Stroke PIS Nining Dan Usi1

Isi Laporan Kasus Stroke PIS Nining Dan Usi1

|Views: 445|Likes:

More info:

Published by: Nina WidiyastutiAyomi on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

LAPORAN KASUS PASIEN STROKE BERULANG PIS BEDA SISI SISTEM KAROTIS SINISTRA FR.

HIPERTENSI

I.

IDENTITAS No.DM Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pendidikan Status Pernikahan Pekerjaan MRS KRS : 26 18 64 : Tn. S D E : 69 Tahun : Laki-laki : Dok V Bawah : Sekolah rakyat : Menikah : Pensiunan PNS : 10 Agustus 2011 : 18 Agustus 2011

II.

ANAMNESIS (Alloanamnesis dan Autoanamnesis) a. Keluhan Utama: Kelemahan kedua anggota gerak, bicara pelo b. Riwayat penyakit sekarang : ± 5 hari SMRS pasien mulai mengalami bicara pelo (+), Lemah kedua anggota gerak, namun pasien mengeluh anggota gerak kanan terasa lebih lemah saat itu pasien sedang membelah kayu, tiba-tiba pandangan gelap (+),nyeri kepala (+), muntah (+), kejang (+), panas badan (+), pusing berputar (-), penglihatan ganda (-), penglihatan gelap sesaat (-), telinga berdenging disangkal, rasa baal di sekitar mulut di sangkal, pasien lemah di kedua anggota gerak, namun kedua tangan pasien masih bisa memegang gelas dan minum sendiri. Pasien merasa lemah dan harus di bantu orang lain untuk berjalan. Sekitar ± pukul 11.00 WIT SMRS pasien ke dokter praktek dan tekanan darah 180/90mmHg keesokan harinya kurang lebih jam 12.30 pasien dibawa kerumah sakit.

1

c. Riwayat Penyakit dahulu Riwayat hipertensi (+) kurang lebih dua tahun TD 150/? rata-rata tidak tahu, kontrol tidak teratur, minum obat namun lupa nama obatnya, riwayat merokok lupa mulai merokok di usia berapa, namun berhenti di usia 50 tahun sehari bisa menghabiskan 15 batang rokok bentoel biru, riwayat alkohol disangkal, sesak napas, rasa berdebar-debar disangkal.

III.

PEMERIKSAAN FISIK a. Vital Sign (17 Agustus 2011) Kesadaran compus mentis, tekanan darah 140/70mmHg ka=kiN=HR : 88 x/menit, suhu370C. Status Interna kepala : Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), leher : Pembesaran KGB (-), thoraks : Inspeksi : Simetris, retraksi (-/-), paru :

Perkusi: Sonor seluruh lapangan paru, Auskultasi : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-), jantung :Perkusi : Redup, auskultasi :BJ I – BJ II reguler, mur-mur (-), abdomen :Inspeksi : cembung, palpasi : Tidak ada nyeri tekan, auskultasi :

Bising usus (+), palpasi Hepar / Lien : Tidak teraba, ekstremitas Atas dan Bawah : Akral Hangat dan edema (-), sianosis (-). b. Status Neurologis RM : KK (-), L/K tidak terbatas, Brud I/II/III (-), SO : pupil bulat isokor, ODS 3mm, RC +/+,GBM : Baik ke segalah arah. Wajah : parese N. VII dektra sentral, Lidah : parese N.XII dekstra sentral. Motorik kesan tetraparese, Sensoris dan vegetatif : dalam batas normal, Fungsi luhur : MMSE 28 MCI (Mild cognitif impaimen), Bartel index 12 (moderate disability) RF : BTR/KPR/APR +/+, RP : Babinski +/-, Palmomental +/-.

2

Nervus Kranialis N. I N. II : Pasien dapat mencium aroma kopi yang diletakan di tepi hidung pasien. : Pasien dapat melihat benda yang sama dengan benda yang dilihat oleh pemeriksa. N. III, IV dan VI: Gerakan bola mata : Baik ke segala arah

N. V

: ( ramus oftalmik, maksilaris, mandibularis ) Pasien dapat merapatkan gigi dengan kuat,tidak terdapat deviasi rahang bawah, kekuatan otot pada waktu menutup mulut pasien dapat mempertahankan rahang bawahnya ke samping saat di beri tekanan waktu mengembalikan rahang bawah ke posisi tengah.  Rasa raba Pada daerah dahi, mata,hidung, kening, selaput otak, sinus paranasalis dan sebagian mukosa hidung di rangsang dengan

sepotong kapas di ujungnya di runcingkan pasien tidak mengalami Thigmestesia (hilangnya rasa raba halus). Rasa Suhu Menggunakan dua botol plastik salah satu botol di isi air panas ( 40-500C)dan satunya lagi di isi air dingin (10-200C),pasien dapat membedakan rasa dingin dan panas (tidak mengalami hipestesia suhu)  Rasa nyeri Menggunakan jarum pentul yang di tusukkan pada kedua sisi daerah oftalmik,pasien tidak mengalami gangguan rasa nyeri. N. VII : Kekerutan dahi menghilang, mata kurang dipejamkan, plika nasolabialis mendatar, sudut mulut menjadi lebih rendah. N. VIII : Pasien dapat mendengar bisikan suara,detak arloji dan gesek rambut. N. IX, X : Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan pasien tidak memiliki suara sengau (disfoni), uvula terletak ditengah. 3

XI : Pasien dapat mengangkat bahu sebelah kanan dan kiri dan dapat melawan tahanan yang berlawanan saat menoleh kanan maupun kiri. Nyeri kepala (+). N. SKORING  Siriraj Stroke Score : SSS = (2.5 x Kesadaran) + (2x Muntah) + (2 x Sakit Kepala) + (0. Sehingga pasien dapat didiagnosis perdarahan intra serebral. 4 .1 x Tekanan  Darah Diastolik) – (3 x Ateroma) – 12. XII : Saat menjulurkan lidahnya keluar pasien mengalami deviasi ke kanan ke arah yang lumpuh. IV. Kami tidak menggunakan Siriraj Stroke Score karena onset > 24 jam.N. Gajah Mada Stroke Score Pada pasien ini digunakan Gajah Mada Stroke Score sebagai scoring karena terjadi >24 jam didapat : Penurunan kesadaran (+). dan reflex babinsky (+).

Membersihkan diri (mandi. Terkendali/teratur 0 1 1 2 3. Berpindah posisi (transfer) Dari tempat tidur a. Membutuhkan orang lain (banyak) Membutuhkan 2 orang Membutuhkan 1 orang Mandiri /sendiri 5 0 1 1 . Mandiri memakai pakaian. c. 0 2 1 2 6. menyiram wc. Terkendali / teratur Score 0 Nilai 1 No.dll) (GROMING) a. Bila memerlukan bantuan pada jamban (keluar beberapa aktivitas masuk WC) c. sikat gigi. Membantu sebagian c. a. bercukur. Tidak terkendali / tidak teratur (menggunakan kateter) b. b. Membutuhkan orang lain Penggunaan b. BAK a. BAB (bowling) 1 2 2. Tidak mampu / membutuhkan orang lain b. Membutuhkan orang lain b. Kegiatan 1. Kadang tidak teratur c. Mandiri 0 1 1 4. d. Makan (feeding) a. Kadang tidak teratur c. Bartel Index In ADL(Activity Daily Living) : KEMAMPUAN a. Tidak terkendali / tidak teratur (butuh pencahar) b. Mandiri 0 1 1 2 5.

Bila tergantung pada orang lain b. mandiri 0 1 1 Ket : 0-4 : very severe disability 10-14 : moderate disability 20 : independent in (ADL) 5-9 : severe disability 15-19 : mild disability Pada pasien ini didapatkan bartel index 12 yang masuk dalam moderat disability dan didapatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas/kegiatan dalam tingkat sedang. Tidak mampu Memakai kursi roda Bila dipapah 1 orang Bisa sendiri / mandiri 0 1 2 3 1 8. Membutuhkan bantuan orang c. c. DIAGNOSA KERJA DK : Stroke ulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra faktor resiko hipertensi 6 . Berpakaian a. 2 3 7. Naik turun tangga a. Memerlukan orang lain (step) c. V. tidak mampu / dibantu b. Tidak mampu b. mandiri 0 1 2 1 10. d. Mandi a. Mobilitas a. b.ke kursi roda. Sendiri / mandiri 0 1 2 2 9.

Mata : Pupil (bulat. TERAPI    Bed rest 300 IVFD RL drip Remopain 2 ampul + Diazepam 1 ampul / 12 jam Terapi injeksi . hypa (+).200 sel/mm3 ( Tanggal 18 Agustus 2011 ) Hasil cystografi : Tampak pembesaran prostat kesan BPH grad II + cystitis VII. GBM : baik kesegala arah.VII .HCT 1x 25 mg tab.VI. N : 84 kali/menit Saraf Otak . . spora (+) (ISK) ( Tanggal 17 Agustus 2011 ) Lab : Leukosit 14. FOLLOW UP RUANGAN Tanggal 17 Agustus 2011 Follow Up Kes : CM. bakteri +3.Citicoline 2x 1 ampul (iv) . VIII.200 sel/mm3 Urinalisis : Eritrosit +2.400/m m3 .Wajah: Parese N. RC(+/+).Amlodipin 1x10 mg tab. isokor Ǿ 3 mm).Vit K 3 x 1 ampul (iv)  Terapi oral .Citicoline 2x 1 ampul(iv) .Ranitidin 2 x 1 ampul (iv) . GCS = 15 TD : 140/70 mmHg S R : 37oC : 24 kali/menit Terapi  IVFD RL drip Remopain 2 ampul+Diazepam 1 ampul/12 jam  Terapi injeksi . PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Tanggal 13 Agustus 2011 ) Lab : Leukosit 18.Sohobiont 2 x 1 ampul (iv) .Vitamin K 3 x 1 7 Ket Lab:Leukosit:14. .Sohobion 2 x 1 ampul (iv) .

Ranitidin 2 x 1 ampul (iv)  Terapi oral .7oC : 18 kali/menit  IVFD RL drip Remopain 2 ampul + Diazepam 1 ampul / 12 jam  Terapi injeksi -Sohobiont 2 x 1 amp (iv) -Citicoline 2x 1 amp (iv) -Vit K 3 x 1 amp (iv) -Ranitidin 2 x 1 amp (iv)  Terapi oral 8 Cystografi : Kesan : Tampak BPH Grade II N : 84 kali/menit Saraf Otak . DK : Stroke berulang PIS beda sisi sistem Karotis Sinistra Fr. APR +/+ RP:Babinsky+/. . RC (+/+). palmomentale +/-. atrofi (/-). Hipertensi DKT : BPH + cystitis ampul (iv) . XII dekstra sentral MO : Tetraparese.Amlodipin 1x10 mg tablet .GBM .Lidah: Parase N. tremor (-/-). tremor (-/-) 4+ 4 4+ 4 Sen/Vegetatif: dbn FU : MMSE 28. GCS = 15 TD : 140/ 70 mmHg S R : 35. atrofi(-).Wajah: Parese N.Mata : Pupil (bulat.dekstra sentral.HCT 1x25 mg tablet 18 Agustus 2011 Kes : CM. isokor Ǿ 3 mm). XII dekstra sentral MO : Tetraparese. KPR+/+.Lidah: Parase N. . Bartel Index 12 RF:BTR+/+.VII dekstra sentral .

5 Diet rendah garam 1700 kkal Jangan lagi mengonsumsi rokok Kontrol ke polik jika obat habis dan disarankan minum obat teratur serta fisioterapi pasif di rumah. palmomental(+/-) Diagnosis : Stroke berulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra Fr. amitripilin alopurinol 300 mg di buat dalam caps ) Clindamycin 1x300 mg HCT 1x25 mg amlodipin 1x10 mg Citicoline 2x 250 mg Methioson 2x1 tablet kalnex tablet 9 .HCT 1x25 mg tablet Index 12 RF:BTR APR:+/+. Farmakoterapi KPDA2x1(katrofein75mg. A. Nonfarmakologi 400 12. KPR+/+. Bartel .kekuatan otot 4+ 4 4+ 4 Sen/ Veg : dbn FL: MMSE 28. Hipertensi DKT : BPH grd II + cystitis IX. diazepam 1 mg.Amlodipin 1x10 mg tablet . TERAPI B. BPH + cystitis +/+. RP:Babinsky(+/-).parasetamol mg. DIAGNOSA AKHIR DK : Stroke Ulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra Fr. Hipertensi DK : Tambahan X.

TD 170/90mmHg. Ad sanationam : Dubia ad malam Pasien bisa sembuh namun prognosisnya bisa jelek. sesak napas. rasa berdebar-debar disangkal. Ad fungsional : Dubia ad malam Motorik pasien mengalami perbaikan. kontrol tidak teratur. membelah kayu dan lain-lain namun pasien bisa saja mengalami perburukan kembali. status Interna: Dalam dalam batas normal. Status Neurologis : SO : Mata pupil bulat isokor Ǿ 3mm. RESUME Seorang pria. VII dektra sentral. namun kedua tangan masih bisa memegang gelas dan minum sendiri.00 ) WIT sebelum SMRS pasien sedang membelah kayu.nyeri kepala (+). panas badan (+). 69 tahun telah di rawat 9 hari dengan keluhan lemah di kedua anggota gerak namun anggota gerak kanan lebih lemah. riwayat alkohol disangkal. N. RPD : Riwaya Hipertensi (+) kurang lebih sejak 2 tahun yang lalu. riwayat merokok lupa mulai merokok di usia berapa. riwayat batuk lama. namun berhenti di usia 50 tahun sehari bisa menghabiskan 15 batang/hari rokok bentoel biru. keluhan vetebrobasiler (-). PROGNOSIS Prognosis pada pasien ini adalah Quo ad vitam : Dubia ad malam Tanda-tanda vital pasien menunjukkan perubahan kearah yang normal namun pasien bisa saja mengalami perburukan kembali dan bisa menyebabkan kematian. 10 . sehari SMRS pasien ke dokter praktek dan tekanan darah 180/90mmHg. TD 150/? Rata-rata tidak tahu. terlihat pasien lemah di kedua anggota gerak dan pasien mengeluh anggota gerak kanannya lebih lemah.RC +/+. muntah (+).XI. XII. R dan Suhu tidak tercantum dalam status. Pasien dapat kembali beraktifitas namun tidak mampu melakukan aktifitas yang dulu pernah dilakukan sendiri seperti menyetir mobil.GBM baik ke segalah arah. RPS : ± 5 hari SMRS SMRS ( 10. kedepanya kemungkinan pasien bisa mengalami stroke berulang kembali.Wajah parese N. Follow Up : kesadaran compus mentis. kejang (+). dan bicara pelo.mulut mencong (+). tiba-tiba padangan gelap (+). apabila didukung dengan tidak teratur minum obat dan kontrol.

Lidah parese N. Palmomental +/. Bartel Index 12.Sohobion 2 x 1 ampul (iv). lainya dalam batas normal. alopurinol 300 mg di buat dalam caps ). Sen/veg : dalam batas normal. RP Babinski +/-.XII dekstra sentral. Palmomental +/ Terapi saat di rawat di ruangan : SF 30 derajat .Luhur: MMSE 28.parasetamol 400 mg. Clindamycin 1x300 mg.Motorik kesan tetraparese. RP Babinski +/-. RF : +/+.Motorik kesan tetraparese. HCT 1x25 mg. Komplikasi apa yang dapat terjadi pada pasien ini? 11 . Citicoline 2x 1 ampul (iv).luhur : MMSE 28 masuk dalam MCI (Mild Cognitif Impaiment). F.HCT 1x 25 mg tab. Citicoline 2x 250 mg. amitripilin 12.  Pasien pindah ruangan bedah pada tanggal 18 Agustus 2011 untuk penangan BPH. kalnex tablet. VII dektra sentral. RF dalam batas normal. F. amlodipin 1x10 mg. Di rawat ruang saraf selama 9 hari dengan diagnosa akhir stroke berulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra FR Hipertensi dengan diagnosa tambahan BPH + cystitis.Lidah parese N. SO Wajah parese N.XII dekstra sentral.  Terapi oral pasien saat pasien pindah ke ruangan bedah : KPDA 2x1( katrofein 75 mg. Sen/Veg : Dbn.5. XIII. PERMASALAHAN 1. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini? 3. Apakah diagnosa pada pasien ini? 2. Methioson 2x1 tablet. Ranitidin 2 x 1 ampul (iv). Vit K 3 x 1 ampul (iv) Amlodipin 1x10 mg tab. diazepam 1 mg.Follow : TTV terdapat hipertensi. IVFD RL drip Remopain 2 ampul + Diazepam 1 ampul / 12 jam.

Stroke ini paling sering terjadi akibat cedera vaskuler yang dipicu oleh hipertensi dan rupture salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam jaringan otak. tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. berlangsung lebih dari 24 jam. Penyebab perdarahan intraserebral dibagi menjadi :  Perdarahan intraserebral primer (perdarahan intraserebral hipertensif) Disebabkan oleh hipertensi kronik yang disebabkan vaskulopati serebral dengan akibat pecahnya pembuluh darah otak.  Perdarahan sekunder (bukan hipertensif) Terjadi antara lain karena tumor otak. PEMBAHASAN 1. stroke adalah manifestasi klinis dari ganggguan fungsi serebral. basal ganglia. yang berlangsung dengan cepat. post sroke iskemik. dan kapsula interna sering menerima beban terbesar tekanan dan iskemik yang disebabkan oleh stroke ini. Apakah diagnosa pada pasien ini? Menurut WHO. Lokasinya berdekatan dengan arteri-arteri dalam. Berdasarkan tipe stroke terbagi : 1.XIV. baik fokal maupun global. vaskulitis dll. Perdarahan Intraserebral Perdarahan yang berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma. atau berakhir dengan kematian. Gambar perdarahan intracerebral 12 .

Perdarahan Subaraknoid Pecahnya pembuluh darah dan masuknya darah ke dalam rongga subaraknoid. PSA primer : bila darah masuk langsung ke dalam rongga subaraknoid. Berdasarkan asalnya darah dibagi dalam : a. Gambar stroke perdarahan subaracnoid 13 . Perdarahan subaraknoid merupakan salah satu kegawatdaruratan neurologi dengan gejala yang kadang kala tidak khas sehingga sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis. b.  Derajat 4 : Stupor. PSA sekunder : bila darah berasal dari PIS juga mengisi rongga subaraknoid.2. Derajat perdarahan subaraknoid (Hunt dan Hes)  Derajat 0 : Tidak ada gejala dan aneurisma belum rupture  Derajat 1 : Sakit kepala ringan  Derajat 2 : Sakit kepala berat dengan tanda rangsangan meningeal dan kemungkinan adanya deficit saraf kranialis  Derajat 3 : Kesadaran menurun dengan deficit fokal neurologi ringan. Pasien dengan keluhan nyeri kepala hebat (paling sakit yang dirasakan sepanjang hidup) sebaiknya dicurigai sebagai suatu tanda adanya PSA. awal deserebrasi  Derajat 5 : Koma dan serebrasi. hemiparesis sedang sampai berat.

Infark trombotik 1. Infark aterotrombotik 2.3. Infark Lakunar Gambar infrak trombotik b. Infark otak Kematian pada sebagian jaringan otak disebabkan berkurangnya perfusi vaskuler akibat stenosis atau oklusi pembuluh darah. Berdasarkan patofisiologinya terbagi : a. Gambar infrak emboli 14 . Infark Emboli Infark Kardioemboli dan Infark Tromboemboli.

pada pasien ini didapatkan: 1. daerah subkortikal Hipodens Hipodens Usia Muda/Tua Muda/Tua Muda Muda/Tua Tua Muda/Tua Berdasarkan tabel diagnosa banding berbagai tipe stroke di atas.Dari uraian di atas maka pasien ini di diagnose dengan Stroke perdarahan intraserebral primer (perdarahan intraserebral hipertensif) oleh karena hipertensi kronik yang disebabkan vaskulopati serebral dengan akibat pecahnya pembuluh darah otak Gambaran klinis suatu stroke : Kategori Klinis Perdarahan Intraserebral Perdarahan Subaraknoid saat Sering aktivitas Dapat Cardioemboli Tromboem boli Aterotromb otik Lakunar Saat awitan Sering saat Sering aktivitas aktivitas saat Sering saat Sering saat Sering saat aktivitas juga Dapat juga saat istirahat istirahat istirahat saat istirahat TIA Tanda TTIK Defisit neurologis Tekanan darah + + + Jarang - Jarang - + - + - Maximal at Maximal onset Tinggi onset Sedang/ Tinggi at Maximal onset Normal/ Sedang at Maximal at Worsening onset Normal/ tinggi Normal/ sedang/ tinggi Worsening Normal/ sedang/ tinggi - Kaku kuduk CT Scan +/- + - - - Hiperdens Hiperdens Hipodens.dae rah kortikal Hipodens. 2. Defisit neurologis stroke pertama adalah Maximal at onset pasien sudah mengalami defisit neuroligis berupa parase N. yaitu saat pasien sedang membelah kayu. Saat pasien beraktifitas.XII sentral dekstra yakni lidah pelo atau cadel ke arah 15 .

pasien ini termasuk dalam kategori Stroke Perdarahan Intra Serebral. Pasien berumur 69 tahun yang mempunyai resiko terkena stroke PIS Dengan demikian. kejang (+). Berdasarkan lokasi lesi pembuluh darah yang terkena. Sistem karotis 2. 4. Sistem vertebrobasiler Gejala Umum Klinis Motorik Sistem Karotis  Hemiparese kontralateral dengan lesi  Parese saraf otak motorik ipsilateral dengan ekstremitas sejajar  Hemihipestesi kontralateral dengan lesi  Gangguan sensibilitas saraf otak sensorik ipsilateral dengan ekstremitas  Hemiamnopsia homonim kontralateral  Amaurosis fugax Afasia (dominan otak kiri) Agnosia (non dominan)     Sistem Vertebrobasiler Hemiparese alternans dengan lesi Parese motorik saraf otak kontralateral dengan ekstremitas Hemihipestesi alternans dengan lesi Ganguan sensibilitas saraf otak sensorik kontralateral ekstremitas  Hemianopsia homonim (satu atau dua sisi lapang pandang)  Black out (buta kortikal)  Gangguan keseimbangan  Vertigo dan diplopia Sensorik Penglihatan Gangguan lain 16 . Pasien nyeri kepala. terbagi dalam : 1. Pasien masuk rumah sakit dengan tekanan darah 180/90 mmHg dan sebelumnya pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi 150/?mmHg.dekstra yang dialami pasien sejak ± 5 hari SMRS. rata-rata tidak diketahui. Sehari kemudian SMRS mengalami tetraparese 3.kontrol tidak teratur. penurunan kesadaran (+) 5. TTIK (+). muntah (+).

diabetes melitus. Hal ini dikarenakan oleh faktor kontrasepsi oral dan kehamilan yang meningkatkan resiko stroke pada wanita muda. Merokok (+) Merokok merupakan penyebab utama untuk stroke iskemik dan perdarahan. dimana . didapatkan bahwa tekanan darah tinggi biasanya tidak berdiri sendiri namun bersama-sama dengan penyakit lain yang dikenal dengan sindroma multifaktorial. tetapi jarang terjadi pada usia dibawah 40 tahun. b. obesitas. b. Riwayat stroke Pasien ini pernah menderita stroke. peningkatan agregasi trombosit. Banyaknya pria yang meninggal lebih dulu karena penyakit kardiovaskuler menyebabkan stroke pada wanita usia lanjut cenderung meningkat.Adapun faktor resiko yang menyebabkan stroke pada pasien ini yaitu : o Faktor yang tidak dapat dimodifikasi a.akibat adanya estrogen yang berfungsi sebagai proteksi pada proses aterosklerosis. Resiko stroke meningkat dua kali setiap 10 tahun setelah usia 55 tahun. dimana insiden terkena stroke pada wanita lebih besar dari pria. Hipertensi Dari banyak penelitian. Faktor-faktor ini meliputi hiperlipidemia. Usia Stroke paling sering terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Tekanan darah yang tinggi diduga dapat merusak endotel dan menaikkan permeabilitas pembuluh darah terhadap lipoprotein. Tekanan darah tinggi menyebabkan pengerasan dan penipisan dinding arteri dan membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan berpotensi mengakibatkan penyakit jantung lalu beresiko terhadap penyakit stroke. dan kurang olahraga. penurunan HDL (lemak baik). peningkatan LDL (lemak jahat) dan 17 peningkatan hematokrit. c. Jenis kelamin sering terjadi pada pria. dan kemungkinan besar akan terkena stroke lagi karena penyakit stroke tidak diatasi. o Faktor yang dapat dimodifikasi a. Diperkirakan bahwa insideni stroke pada wanita lebih rendah dibandingkan pria. Pengecualian pada usia 35 tahun sampai 44 tahun dan lebih dari 85 tahun. konstribusi merokok terhadap terjadinya stroke melalui peningkatan kadar fibrinogen dalam darah.

Pemeriksaan neurologis terutama pemeriksaan saraf kranialis. Penatalaksanaan di Ruang Gawat Darurat 1. koordinasi. dan cermat. muntah. c. 2. gejala seperti nyeri kepala. terutama mengenai gejala awal. suhu tubuh. Terapi Umum a. 2. oksimetri dan suhu tubuh. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan neurologis dan skala stroke. Pemeriksaan kepala dan leher (misalnya cedera kepala akibat jatuh saat kejang. aktivitas penderita saat serangan. sirkulasi. 18 . sehingga terjadi stroke perdarahan. dan saturasi oksigen dianjurkan dalam 72 jam. Stabilisasi jalan napas dan pernapasan  Pemantauan secara terus menerus terhadap status neurologis. maka evaluasi dan diagnosis klinis harus dilakukan dengan cepat. b. Skala stroke yang dianjurkan saat ini adalah NIHSS. pada pasien dengan deficit neurologis yang nyata. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien?  PENATALAKSANAAN UMUM STROKE A. sensorik dan fungsi kognitif. rasa berputar. nadi. sistematik. Anamnesis. sikap dan cara reflex. mual. serta faktor resiko stroke (hipertensi dan diabetes dan lainlain). Evaluasi cepat dan diagnosis Oleh karena jendela terapi dalam pengobatan stroke akut sangat pendek. tekanan darah. meliputi penilaian respirasi. rangsangan selaput otak.adanya kelainan komponen-komponen tersebut tersebut akan mengakibatkan kerusakan lapisan pembuluh darah (endotel) dan hal tersebut merupakan awal terjadinya aterosklerosis yang secara langsung dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba dan dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.cegukan (hiccup). kejang. pemeriksaan torak (jantung dan paru). waktu awitan. system motorik. penurunan kesadaran. abdomen. Evaluasi gejala klinis stroke akut meliputi: a. gangguan visual. kulit dan ekstremitas.

atau syok.  Hipotensi arterial harus dihindari dan dicari penyebabnya.dengan tujuan untuk memantau kecukupan cairan dan sebagai sarana untuk memasukkancairan dan nutrisi.  Pipa endotrakeal diusahakan terpasang tidak lebih dari 2 minggu.  Terapi oksigen diberikan pada pasien hipoksia  Pasien stroke iskemik akut yang nonhipoksia tidak memerlukan terapi oksigen  Intubasi ETT ( Endo Trakea Tube) atau LMA ( Laryngeal Mask Airway) diperlukan pada pasien dengan hipoksia. b. Stabilisasi Hemodinamik  Berikan cairan kritaloid atau koloid intravena (hindari pemberian cairan hipotonik seperti glukosa)  Dianjurkan pemasangan CVC (central Venous Catheter). maka obat obat vasopression dapat diberikan secara titrasi seperti dopamine dosis sedang/tinggi.  Optimalisasi tekanan darah  Bila tekanan darah sistolik <120 mmHgdan cairan sudah mencukupi. norepinefrin atau epinefrin dengan target tekanan darah sistolik berksar 140 mmhg.  Pemantauan jantung harus dilakukan selama 24 jam pertama setelah stroke iskemik. maka dianjurkan dilakukan trakeostomi. Pemberian oksigen dianjurkan pada keadaan dengan saturasi oksigen < 95%. atau pada pasien yang beresiko untuk terjadi aspirasi. Hipovolemik harus dikoreksi dengan larutan salin normal dan 19 .  Usahakan CVC 5-12mmHg.  Bila terdapat adanya penyakit jantung kongesti segera atasi. Berikan bantuan ventilasi pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran atau disfungs bulbar dengan gangguan jalan napas.  Perbaikan jalan napas termasuk pemasangan pipa orofaring pada pasien yang tidak sadar. Jika pipa terpasang lebih dari 2 minggu.

Monitor TIK harus dipasang pada pasien dengan GCS <9 dan penderita yang mengalami penurunan kesadaran karena kenaikan TIK Sasaran terapi adalah TIK kurang dari 20 mmHg dan CPP.aritmia jantung yang mengakibatkan penurunan curah jantung sekuncup harus dikoreksi.50 gr/kgBB. selama > 20 menit. Pemeriksaan awal fisik umum  Tekanan darah  Pemeriksaan jantung  Pemeriksaan neurologis umum awal: Derajat kesadaran Pemeriksaan jantung Pemeriksaan pupil dan akulomotor Keparahan hemiparesis d. c. diulang setiap 4-6 jam. Penatalaksanaan penderita dengan peningkatan tekanan intra cranial meliputi : o Tinggikan posisi kepala 200-300 o Posisi pasien hendaknya menghindari penekanan vena jugularis o Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik o Hindari hipertermia o Jaga normovolemik o Osmoterapi atas indikasi Manitol ). Osmolaritas sebaiknya 20 .70mmHg.0. Pengendalian peninggian tekanan intra kranial Pemantauan ketat terhadap penderita dengan resiko edema serebral harus dilakukan dengan memperhatikan perburukan gejala dan serangan neurologis pada harihari pertama setelah stroke.25.

Penanganan Transformasi Perdarahan Tidak ada anjuran tentang transformasi perdarahan asimtomatik. Pada stroke perdarahan intra serebral obat antikonvulsan profilaksis dapat diberikan selama 1 bulan.50C atau 37. faal hemostasis. e. Pemberian antikomvulsan profilaksis pada penderita stroke iskemik tampa kejang tidak dianjurkan. Kalau perlu. pada pasien febris atau beresiko terjadi infeksi. lakukan punsi lumbal untuk pemeriksaan cairan serebrospinal  Pemeriksaan radiologi Foto rontgen dada dan CT scan. berikan diazepam bolus lambat intravena 5-20 mg dan diikuti oleh fenitoin loading dose 15-20 mg/kg bolus dengan kecepatan maksimum 50 mg/menit. h. maka perlu dirawat di ICU.50C. hematologi. g. analisis urin.diperiksa 2 kali dalam sehari selama pemberian osmoterapi. Pengendalian suhu tubuh Setiap penderita stroke yang disertai demam harus diobati dengan antipiretika dan diatasi penyebabnya. darah. Bila kejang belum teratasi. terapi transformasi perdarahan simtomatik sama dengan terapi stroke perdarahan antara lain dengan memperbaiki perfusi serebral dengan mengendalikan tekanan darah arterial secara hati-hati. harus dilakukan kultur dan hapusan (trakea. f. dan dihentikan bila tidak ada kejang selama pengobatan. 21 . fungsi ginjal. dan elektrolit)  Bila perlu pada kecurigaan perdarahan subaraknoid. Pemeriksaan penunjang  EKG  Laboratorium (kimia darah. analisa gas darah. kadar gula darah. kemudian diturunkan. berikan furosemide dengan dosis inisial 1 mg/kgBB IV. berikan Asetaminofen 650 mg bila suhu lebih dari 38. Pengendalian kejang Bila kejang. dan urin) dan diberikan antibiotik.

kebutuhan cairan 30 ml/kg BB/hari (parentral maupun entral)  Balans cairan diperhitungkan dengan mengukur produksi urin sehari ditambah dengan pengeluaran cairan yang tidak dirasakan (produksi urin sehari di tambah dengan pengeluaran cairan yang tidak tampak dan tambah lagfi 300ml per drajat celcius pada penderita panas).  Cairan yang hipotonik atau mengandung glukosa hendaknya dihindari kecuali pada keadaan hipoglikemi.0 g/kgBB/hari (pada gangguan fungsi ginjal .4-2.6 minggu pertimbangkan untuk gastroktomi. kebutuhan kalori 25-30 kkal/kg/hari dengan komposisi: Karbohidrat 30-40% dari total kalori Lemak 25-35% (pada gangguan napas dapat lebih tinggi 3555%) Protein 1. kalium. 2.9% salin dengan tujuan menjaga euvolemi.  Bila terdapat gangguan menelan atau kesadaran menurun maka makanan diberikan melalui pipa nasogastrik  Pada keadaan akut.  Pada umumnya.0.  Asidosis dan alkalosis harus dikoreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah. Cairan  Berikan cairan isotonic seperti 0. Tekanan vena sentral pertahankan antara 5-12 mmHg.  Elektrolit (natrium. Penatalaksanaan Umum di Ruang Rawat 1.8 g/kg BB/hari)  Apabila kemungkinan pemakaian pipa gastric diperkirakan . kalsium. 22 .B. dan magnesium harus selalu diperiksa dan diganti bila terjadi kekurangan sampai terjadi nilai normal. Nutrisi  Nutrisi entral paling lambat sudah harus diberikan dalam 48 jam. nutrisi oral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik.

heparin subkutan 5000 IU dua kali sehari. hiperglikemia (kadar glukosa darah >180 mg/dl) pada stroke akut harus diobati dengan titrasi insulin target yang harus dicapai adalah normoglikemik. pneumonia. dan kontraktur) perlu dilakukan. MRI. Sonografi dan lain-lain. Pencegahan dan penanganan komplikasi Mobilisasi dan penilaian dini untuk mencegah komplikasi subakut (aspirasi. Pencegahan dekubitus dengan mobilisasi terbatas. 4. Penatalaksanaan medis lain  Pemantauan kadar glukosa darah perlu diperhatikan. Resiko perdarahan iskemik dan intraserebral perlu diperhatikan. hindarkan makanan yang banyak mengandung vitamin K pada pasien yang mendapat warfarin. Pencegahan thrombosis vena dalam dan emboli Pada pasien tertentu yang beresiko menderita thrombosis vena dalam. dukungan nutrisi boleh diberikan secara parenteral. Contohnya. Pada keadaan tertentu. Berikan antibiotik atas indikasi dan usaha sesuai dengan tes kultur dan sensivitas kuman atau minimal terapi empiris sesuai pola kuman. 3.hati dalam menggerakkan penyedotan lendir atau memandikan pasien karenan dapat mempengaruhi TIK  Mobilisasi bertahap bila hemodinamik dan pernapasan stabil  Kandung kemih kateterisasi.  Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium. yaitu pemberian nutrisi enteral tidak memungkinkan.  Perhatikan diet pasien yang tidak bertentangan dengan obat-obatan yang diberikan.  Hati. dekubitus. emboli paru. 23 yang penuh dikosongkan sebaiknya dengan . thrombosis vena dalam. Hipoglikemik berat (< 50 mg/dl) harus diobati dengan dekstrosa 40 % intravena atau infuse glukosa 10-20%  Jika gelisah dilakukan terapi psikologis  Analgesik dan anti muntah sesuai indikasi  Berikan H2 antagonis apabila ada indikasi perdarahan lambung. malnutrisi. Dupleks carotid.

Tata laksana medis Perdarahan Intrakranial a.  PENATALAKSANAAN PIS (PERDARAHAN INTRASEREBRAL) 1. 2. tetapi mendapat terapi untuk mengganti vitamin K-dependent factor mengoreksi INR serta mendapat vitamin K intravena. Pasien dengan defisiensi berat faktor koagulasi atau trombositipenia berat sebaiknya mendapat terapi penggantian faktor koagulasi atau trombosit b. Bila secara klinis atau radiologis terdapat kecurigaan yang mengarah ke lesi yang struktural termasuk malformasi vaskuler dan tumor sebaiknya dilakukan angiografi CT.  FFP (fres frozen plasma) 2-6 unit diberikan untuk mengoreksi defisiensi faktor pembekuan darah apabila ditemukan sehingga 24 . c. Pasien dengan perdarahan intrakranial dan peningkatan INR terkait obat antikoagulan sebaiknya tidak diberikan warfarin. CT dengan kontras. dan venografi MR. venografi CT. MRA. Rehabilitasi  Edukasi keluarga  Rencana pengolahan pasien di luar rumah. Kecepatan pemberian <1 mg/menit untuk meminimalkan resiko anafilaksis. Diagnosis dan penilaian gawat darurat paada perdarahan intracranial dan penyebabnya :  Pemeriksaan pencitraan yang cepat dengan CT scan atau MRI direkomendasikan untuk membedakan stroke iskemik dengan perdarahan intracranial  Angiografi CT dan CT dengan kontras dapat dipertimbangkan untuk membantu mengidentifikasi pasien dengan resiko perluasan hematoma. Apabila terjadi gangguan koagulasi maka dapat dikoreksi sebagai berikut :  Vitamin K 10 mg IV diberikan pada penderita dengan peningkatan INR dan diberikan dalam waktu yang sama dengan terapi yang lain karena efek akan timbul 6 jam kemudian.

Kegunaan dari transfuse trombosit pada pasien perdarahan intracranial dengan riwayat penggunaan antipletelet masih tidaj jelas dan dalam tahap penelitian. tekanan darah dengan sendirinya dalam 24 jam pertama setelah serangan stroke. Penanganan di Rumah sakit dan pencegahan kerusakan otak sekunder  Pemantauan awal dan penanganan pasien perdarahan intracranial sebaiknya dilakukan di ICU dengan dokter dan perawat yang mempunyai keahlian perawatan intensif neurosains. 3. d.  Pada pasien stroke perdarahan intraserebral akut apabia TDS >200 mmhg tekanan darah diturunkan dengan menggunakan obat antihipertensi ntravena secara continue dengan pemantauan tekanan darah setiap 5 menit  Pada pasien stroke perdarahan intraserebral dengan TDS 150-220 mmhg. Berbagai Guidelines (AHA/ASA 2007 dan ESO 2009) merekomendasikan penurunan tekanan yang tinggi pada stroke akut agar dilakukan secara hati-hati. Operasi  Evakuasi hematoma Pasien dengan perdarahan intraserebral yang mengalami perburukan neurologis. 4. Terapi FFP ini untuk mengganti pada kehilangan faktor koagulasi. penurunan tekanan darah dengan cepat hingga TDS 140 mmHg cukup aman.dengan cepat dapat memperbaiki INR. 5. atau yang terdapat dekompresi batang otak dan atau hidrosefalus 25 . dan walaupun INR pembekuan bisa jadi tidak membaik e. Tekanan darah Penurunan tekanan darah yang tinggi pada pasien akut sebagai tindakan rutin tidak dianjurkan kemungkinan dapat memperburuk keluaran neurologi padasebagian pasien.  Obat kejang dan antiepilepsi Kejang sebaiknya diterapi dengan obat antiepilepsi. Faktor VIIa rekombinasi tidak mengganti semua faktor pembekuan.

pada pasien ini mempunyai hipertensi yang tidak terkontrol maka dikombinasikan dengan Hidroklortiazid 1x25 mg dimana hidrotiazid merupakan diuretik tiazida yang bekerja dengan meningkatkan tekanan eksresi natrium. tekanan darah. nadi. Pada pasien stroke perdarahan intraserebral dengan TDS 150-220 mmhg. Tindakan Khusus  Terhadap hipertensi untuk penurunan tekanan darah dilakukan dengan hati-hati. klorida dan air sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel yang memungkinkan tekanan darah menurun dan di anjurkan diet rendah garam. B. Pada pasien ini di diagnosa Stroke ulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra FR Hipertensi dengan diagnosa tambahan BPH dan Cystitis. penurunan tekanan darah dengan cepat hingga TDS 140 mmHg cukup aman. Pasien degan penurunan kesadaran di beri makan melalui nasogastrik tube. Berdasarkan guideline stroke 2011 adalah : Pada pasien stroke perdarahan intraserebral akut apabia TDS >200 mmhg tekanan darah diturunkan dengan menggunakan obat antihipertensi ntravena secara continue dengan pemantauan tekanan darah setiap 5 menit. Tindak Umum  Bed rest tinggi posisi kepala 300  Memberikan makan peroral untuk pasien sadar dengan reflex muntah baik.  Penanganan penurunan kemampuan kognitif pada pasien ini dimana pasien merupakan lansia dengan umur 69 tahun maka diberikan Obat 26 .  Monitoring status neurologis.akibat obstruksi ventrikel sebainya menjalani oerasi evakuasi bekuan darah secepatnya. pemberian antihipertensi amlodipin 1x10 mg dimana amlodipin merupakan garam amlodipin besilat atau amlodipin asetat yang termasuk dalam golongan Calcium Channel Bloker yang bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer yang diindikasikan untuk pengobatan hipertensi. suhu tubuh.Pengolahan yang diberikan pada pasien ini adalah : A.

juga posisi terlentang secara bergantian.200 sel/mm3 (13 agustus 2011) dan 14.  Fisioterapi pasif. Senyawa ini juga dapat berubah menjadi asetilkolin. Terapi Fase Pasca Akut  Fisioterapi aktif dengan fisioterapi otot . 3.  Pasien diberikan Vit. mekanisme kerjanya berikatan dengan sub unit 50s dari ribosom bakteri dan menghambat tingkat awal dari sintesis protein. Obat-obatan ini berperan dalam mengisi dan mengubah reversibilitas neuronal yang terganggu. Memperbaiki gaya hidup pasien (life style). yaitu tiap 2 jam pasien dimiringkan ke kiri dank e kanan.  Hasil laboratorium didapatkan leukositosis dengan jumlah leukosit 18.  Pada pasien ini ada riwayat merokok maka disarankan untuk tidak merokok kembali. mulai dari aturan makanan. Brainact (Citicoline) mengandung suatu zat gizi penting untuk integritas dan fluiditas membran sel otak.neuroprotektor Citicolin 2x250 mg dimana fungsi citicoline untuk mencegah dan memblok proses yang menyebabkan kematian sel-sel. olah raga. 4. terutama di daerah penumbra. Tindakan mencegah komplikasi  Pencegahan timbulnya dekubitus dengan mobilisasi pasif. Latihan gerak yang dibantu oleh keluarga. serta mengurangi hal-hal yang dapat memicu timbulnya stress. 27 . Fisioterapi ini bertujuan untuk Mengoptimalkan anggota tubuh yang terkena stroke. suatu neurotransmitter penting untuk komunikasi antar sel sehat serta untuk menyimpan memori dan menyalurkannya. Fisioterapi mungkin dilakukan bila kondisi pasien sudah stabil. Fisioterapi ini guna untuk mencegah terjadinya atrofi otot serta risiko kontraktur. K 3x10 mg/ml selama perawatan di ruangan saraf.200 sel/mm3 (17 agustus 2011) untuk penanganan infeksi maka diberikan antibiotik Clindamycin 1x300mg dimana clindamycin merupakan antibiotic lincosamide dengan efek bakteriostatik terhadap organisme gram positif aerob dan pathogen anaerob.

Penatalaksanaan pasien ini pada umumnya telah diusahakan sesuai mungkin dengan anjuran yang ada. USG carotis dan Echocardigrafi ) tidak dapat dikerjakan dikarenakani kendala tidak tersedianya alat sehingga tidak dapat diterapkan sesuai dengan semestinya. Komplikasi apa yang dapat terjadi pada pasien ini? Pada pasien ini tidak didapatkan komplikasi. beberapa pemeriksaan (CT Scan kepala. yang diberikan pada pasien ini sudah memenuhi prosedur yang ada dan pasien dilakukan pemeriksaan foto Cystografi untuk pemeriksaan penunjang BPH grad II. 3. 28 .

Gejala pada pasien ini mendukung adanya stroke perdarahan dan pasien ini memiliki faktor resiko terhadap terjadinya stroke yaitu hipertensi tidak terkontrol dan riwayat merokok. Hasil diagnosa akhir pasien ini adalah Stroke ulang PIS beda sisi sistem karotis sinistra FR Hipertensi dengan diagnosa tambahan BPH+cystitis dengan demikian. Secara umum penatalaksanaan pada pasien ini sudah sesuai dengan standar Guideline Stroke. KESIMPULAN Telah dibahas kasus seorang laki-laki. 29 .XV. terapi yang diberikan selain untuk penyakit stroke adalah untuk mengendalikan faktor resiko sehingga dapat mencegah terjadinya stroke berulang kembali dan terapi untuk komplikasi yang terdapat pada pasien. 69 tahun yang telah dirawat selama kurang lebih 9 hari di ruang saraf kelas dua.

Amirudin. Loraine M Willson. Didapat dari : www.scribd.2005. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Diakses pada tanggal 7 Juli 2011 Kustila.com . Soertidewi Lyna.Patofisiologi Volume 2. Kapita Selekta Neurologi Edisi II. Bhuana Ilmu Popule. Jakarta : PT.Arifin. 2011. 5. R.2005.cetakan ke lima. Arlina.Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Stroke Aterotrombotik. Pramudianto. Gambaran Umum tentang Gangguan Perdarahan Darah Otak. Kuswura. Ela. F. Mims Indonesia.2002 . Limoa.com .Jakarta:EGC.Bandung:__ 6. 7.Daftar Pustaka 1. Diakses pada tanggal 7 Juli 2011. Didapat dari : www. 4.mims.Prince.dkk. 30 . Guideline Stroke. Pokdi Stroke. Wuysang Gerrad. Jakarta:Departemen Neurologi FKUI.F. 3. Sylvia A. Buku Saku Tentorium Neurologi. 2. Tiksnadi Amanda. 2010.Gajah Mada University Press. Stroke.2006. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. 8.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->