I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap manusia untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari guna mempertahankan hidup. Pangan juga merupakan hak dasar (basic right) bagi setiap warga negara, oleh karena itu setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pangan sesuai dengan yang dibutuhkan. Masalah pangan merupakan permasalahan yang kompleks terkait dengan kepentingan banyak individu dengan segala perbedaan yang mendasari kepentingan itu. Oleh karena itu diperlukan peran pemerintah untuk menjembatani adanya beberapa kepentingan yang dimulai dari proses produksi hingga konsumsi. Dari sisi produksi, perhatian pemerintah terhadap produksi komoditas tanaman pangan khususnya produksi padi nasional sudah lebih dari 50 tahun dengan melakukan berbagai program peningkatan produksi dimulai dengan adanya program Bimas, Insus dan Supra Insus. Pada dasarnya program tersebut merupakan program introduksi teknologi baru pada budidaya tanaman padi yang dikenal dengan istilah Panca Usahatani, yaitu penggunaan varietas unggul, pemupukan, penanaman, pemakaian obat-obatan dan pengairan yang didukung dengan pembangunan infrastruktur di pedesaan seperti jaringan irigasi, transportasi, lembaga penyuluhan dan penelitian. Keberhasilan program-program tersebut ditandai dengan dicapainya swasembada beras pada tahun 1984, namun keberhasilan program tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan merosotnya produksi padi pada tahun-tahun berikutnya. Untuk meningkatkan produksi padi

09 persen per tahun dengan laju produktivitas 3. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa produktivitas padi lahan sawah irigasi lebih tinggi daripada produktivitas padi lahan sawah tadah hujan.pemerintah kembali membuat gerakan peningkatan produksi tanaman pangan melalui program Gerakan Mandiri Padi.81 persen per tahun (Tabel 1). yaitu 2. . sedangkan produktivitas padi ladang pada kurun waktu tersebut menunjukkan peningkatan produksi lebih tinggi. Pengembangan teknologi pada kedua program tersebut lebih disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat yang dikenal dengan teknologi spesifik lokasi. Palawija dan Jagung (Gema Palagung) pada tahun 2001. Pencapaian produksi padi sawah dengan adanya program-program tersebut selama kurun waktu 2000 – 2008 menunjukkan peningkatan produksi sebesar 1.38 persen per tahun dengan perluasan lahan sebesar 0.92 persen per tahun dan produktivitas meningkat 1. dan peningkatan produksi padi lebih disebabkan dengan peningkatan produktivitas dibandingkan dengan perluasan areal. Walau dua program terakhir tidak dikhususkan untuk komoditas tanaman pangan namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan program Prima Tani dan SLPTT lebih banyak diimplementasikan untuk petani tanaman pangan khususnya petani padi.75 persen per tahun.29 persen per tahun dan luas areal menurun sebesar 0. Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani) pada tahun 2006 -2009 dan Sekolah Lanjutan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) yang dimulai pada tahun 2010. Inovasi teknologi dibandingkan dengan perluasan areal sehingga untuk meningkatkan produksi padi pada masa yang akan datang lebih tepat dengan perbaikan teknologi spesifik lokasi.

81 2. meskipun pemerintah menaikkan subsidi harga pupuk namun harga yang dibayar petani masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).15 26. Kebijakan harga tersebut selain untuk memotivasi petani dalam berproduksi juga untuk meningkatkan pendapatan petani dengan menetapkan Harga Dasar Gabah (HDG) yang kemudian diubah menjadi Harga Dasar Pembelian Pemerintah (HDPP) pada tahun 2002 selanjutnya menjadi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) pada tahun 2005 mencakup HPP Gabah Kering Panen (GKP).09 Prodv. 2010 Tahun Prodv.92 Sumber : Departemen Pertanian.50 41.63 25.23 25. Perkembangan kebijakan harga dari tahun 2000 – 2009 ditampilkan pada Tabel 2.34 45.73 29.97 46.81 48. Perkembangan Luas Lahan.34 25.43 3. Gabah Kering Giling (GKG) dan HPP beras yang diperbaharui setiap tahun. Dengan fenomena yang terjadi . Tahun 2000 – 2008 Padi Sawah Luas Panen Produksi (ha) (ton) 2000 10 617 600 49 207 201 2001 10 419 375 47 895 512 2002 10 456 979 48 899 065 2003 10 394 516 49 378 126 2004 10 799 472 51 209 433 2005 10 733 576 51 317 758 2006 10 713 014 51 647 490 2007 11 041 225 54 199 693 2008 11 257 753 57 169 771 Rata-rata 10 726 989 51 464 606 r (%/tahun) 0.21 49. Produksi dan Produktivitas Padi di Indonesia.66 47.63 26.74 23.Tabel 1.75 1. Demikian pula terhadap kebijakan harga input melalui harga pupuk.78 47. serta masih diberlakukannya kebijakan harga pupuk bersubsidi.09 50.38 Padi Ladang Luas Panen Produksi (ha) (ton) 1 175 875 2 691 651 1 080 622 2 565 270 1 064 187 2 590 629 1 093 518 2 759 478 1 123 502 2 879 035 1 105 484 2 833 339 1 073 416 2 807 447 1 106 412 2 957 742 1 069 672 3 156 154 1 089 602 2 818 637 -0.29 Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah pada bidang produksi hingga saat ini adalah dengan intervensi harga melalui kebijakan harga output dan kebijakan harga input sejak tahun 1969. (ku/ha) 22.76 47. Walau harga yang diterima petani masih dibawah HPP.12 1. namun dampak dari perubahan HPP tersebut dapat meningkatkan harga di tingkat petani.89 23. (ku/ha) 46.51 25.

Tabel 2. Namun sejak tahun 2006 terlihat bahwa harga gabah di tingkat petani sudah di . Jawa Barat dan Sulawesi Selatan yang diterima petani mendekati HPP.59 12. 2010a dan Departemen Pertanian. 2010 Kajian Kariyasa dan Adnyana dalam Kariyasa (2003) bahwa harga gabah di Provinsi Sumatera Barat. yaitu harga jual gabah petani lebih rendah dari HDG atau HDPP serta harga beli pupuk bersubsidi oleh petani di atas HET. artinya harga di tingkat petani masih belum sesuai dengan harapan. Perkembangan Kebijakan Harga Gabah dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Urea.50 1 115 1 093 2001 1 123 1 092.20 1 150 1 400 2005 1 730 1 500.21 Sumber : Badan Pusat Statistik. sedangkan harga pupuk yang lebih tinggi dari HET disebabkan tidak tersedianya pupuk pada waktu yang diperlukan.59 1 200 1 800 r (%/tahun) 10.00 1 150 1 430 2006 1 730 2 115. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara menunjukkan bahwa rata-rata harga gabah yang diterima petani hanya sekitar Rp 1500/kg GKP atau sekitar 86.00 1 200 1 600 2008 2 240 2 438. 2007).11 1 200 1 650 2009 2 400 2 687.7% dari HPP yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2005 (Kariyasa. Tahun 2000-2009 (Rp) Tahun HPP GKP Harga Gabah HET Urea Harga Urea Petani Petani 2000 1 012 00950.67 2003 1 230 1 150 1 280 2004 1 250 1 211.dapat dikatakan bahwa implementasi kebijakan harga gabah dan harga pupuk menciptakan efek samping.89 6.00 1 050 1 027 2002 1 230 1 224.33 1 200 1 450 2007 2 000 2 192.88 0. Fakta tersebut menggambarkan bahwa kebijakan harga gabah dan harga pupuk belum efektif sampai di petani karena terdapat perbedaan harga antara HPP dan HET dengan harga yang diterima maupun yang dibayar oleh petani.25 1 050 1 357 1 222. Demikian pula kajian di Provinsi Jawa Timur.

80 kg/kapita/tahun pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan harga secara langsung tidak menjadi pemacu peningkatan produksi. sedangkan harga sebelum tahun 2006 merupakan peralihan dari harga dasar menjadi HPP. keberhasilan peningkatan produksi padi lebih ditentukan oleh harga yang diterima petani dibandingkan dengan kebijakan harga. yaitu kebutuhan konsumsi rumahtangga dan kebutuhan industry maka kebutuhan beras per kapita mencapai 139. Dari sisi konsumsi. . Hal ini disebabkan bahwa HPP bukan lagi merupakan batas harga dasar yang memerlukan pengamanan khusus agar harga pasar tidak melampaui dari HPP sehingga HPP lebih merupakan harga rujukan bagi petani dan harga yang terjadi lebih ditentukan oleh mekanisme pasar. kebutuhan beras untuk waktu mendatang diperkirakan mencapai 36. akan tetapi memacu peningkatan harga di tingkat petani. 2008). Oleh karena itu perlu memperhatikan perubahan harga di petani dalam mengambil suatu keputusan yang berkenaan dengan proses produksi.07 persen) penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok dan terjadinya peningkatan konsumsi beras per kapita per tahun.atas HPP.04 kg/kapita/tahun menjadi 107. Kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah digunakan sebagai faktor pendorong bagi peningkatan produksi padi. Oleh karena itu. namun secara statistik HPP gabah dan HET pupuk Urea tidak mempengaruhi produksi padi.32 juta ton karena hampir semua (97. bahkan jika perhitungan konsumsi beras dengan pendekatan neraca bahan makanan agregat.15 kg/kapita/tahun (Sumaryanto. Analisis data Susenas menunjukkan bahwa konsumsi beras penduduk Indonesia pada tahun 2004 sebesar 99. pengaruh yang nyata terhadap produksi adalah harga yang diterima petani.

96 65.84 05.14 57.29 15.05 21.52 Sumber : Badan Pusat Statistik.Permintaan beras lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan bahan pangan lainnya karena beras digunakan untuk konsumsi rumahtangga.00 119. Tahun 2000-2009 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 r (%/th) Beras 120.78 07. Hal ini menggambarkan bahwa konsumsi beras masyarakat Indonesia sudah mulai menurun dan kemungkinan bersubstitusi dengan makanan jadi karena permintaan beras per kapita dengan memperhitungkan industri sebesar 139 kg/kapita/tahun.17 22.40 65.63 19.5 21.00 133.60 23.04 20.80 -6.38 -1.80 101.49 18.18 18.84 23.78 72.58 persen per tahun.36 19. Selain itu beras masih menjadi makanan pokok bagi masyarakat sehingga kebutuhan konsumsi beras per kapita lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi pangan selain beras. Tabel 3.50 31.89 099.32 37.81 Ikan 18.68 17.70 127.20 12. Perkembangan permintaan beras dan permintaan pangan non beras disajikan pada Tabel 3.67 Buah 39.50 39. 2010 Tabel 3 memperlihatkan bahwa konsumsi beras dalam rumahtangga selama 10 tahun terakhir menurun rata-rata 0. 2010b dan Departemen Pertanian.34 42.93 27.78 37.41 40. Perkembangan Konsumsi Beras dan Non Beras.15 0-0.27 20.50 41.98 21.14 10.65 24.40 22.80 69. dan berkembangnya industri makanan yang berbahan baku beras.97 37.08 28.71 37.01 63.58 Jagung 46. demikian pula dengan konsumsi jagung dan umbi-umbian.99 05.20 107.18 20.26 47.93 50.28 17.62 33.74 37.00 100.08 69.00 120. stok beras nasional. Dengan demikian pemerintah masih tetap memprioritaskan pengembangan komoditas padi dibanding komoditas pangan lain yang selama ini dimanfaatkan langsung sebagai .99 56.84 35.37 18.49 Konsumsi (kg/kapita/tahun) Umbi Sayur 17.37 40.04 105.

lahan lebak dan rawa dengan sumbangan produksi tertinggi diperoleh dari lahan sawah irigasi diikuti dengan lahan sawah tadah hujan. kegiatan usahatani padi dilakukan hingga dua kali setahun. sedangkan usahatani sayuran diusahakan pada sebagian lahan sawah bagi petani yang mempunyai lahan cukup luas atau diusahakan pada surjan yang dibuat di areal persawahan (Zuraida dan Hamdan. sayur dan buah) menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi menggambarkan telah membaiknya pola pangan masyarakat. khususnya di Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan. Diversifikasi usahatani telah banyak dilakukan oleh petani di berbagai wilayah di Indonesia. Namun pada umumnya petani tidak hanya mengusahakan tanaman padi melainkan juga dengan tanaman pangan lainnya (multi-crop) karena usahatani padi merupakan usahatani yang rentan terhadap perubahan iklim (Sumaryanto. Hingga saat ini usahatani padi masih menjadi usahatani dominan yang dilakukan di lahan sawah dibandingkan dengan usahatani tanaman pangan lainnya. Konsumsi pangan lainnya (ikan. Tanaman sayuran juga merupakan salah satu jenis tanaman pangan yang dipilih oleh petani padi di Sulawesi Tenggara. 2008) dan keterbatasan air irigasi. namun petani tetap mengusahakannya baik di lahan . lahan sawah tadah hujan.makanan utama masyarakat Indonesia. Oleh karena itu untuk menjaga risiko gagal produksi maka petani padi melakukan diversifikasi usahatani antara usahatani padi dengan usahatani tanaman yang lain. 2008). Di Kalimantan Selatan. Walaupun harga sayur cukup berfluktuasi dan merupakan komoditas yang mudah rusak. Produksi padi di Indonesia dihasilkan dari lahan sawah irigasi.

99 55. Beberapa jenis sayuran yang dominan diusahakan oleh petani di Sulawesi Tenggara disajikan pada Tabel 4.17 -8.15 78.00 32.06 2004 1 171 1 397 1 977 562 0 859 1 544 1 000 2 942 7 763 3 002 2 641 4 805 3 058 5 089 25.90 Tahun 2005 2006 822 1 221 0 792 569 0 760 1 338 0 715 2 119 5 505 4 556 2 931 6 379 1 538 3 895 25.14 53.20 -4.90 34.41 22. Tomat 482 0 816 447 364 284 696 404 794 2 961 1 062 1 653 1 796 1 447 1 287 16. Produksi dan Produktivitas Sayuran di Sulawesi Tenggara.89 42. Zuraida dan Hamdan (2008) mendapatkan produktivitas terung di Kalimantan Selatan sebesar 11. Kangkung 4. Terung 6.98 00.80 45. Terung 6. 2006) dan produktivitas kangkung di Sumatera Utara sebesar 12.sawah maupun di lahan kering.61 36. Table 4.30 23. Tahun 2003 – 2008 2003 Luas panen (ha) : 1.40 63. Bayam 2.02 65.30 58. Ketimun 5.80 45.3 ton/ha.50 ton/ha (Kartika.57 35.53 51. Cabai 7.52 57.49 31. Cabai 7. Kacang panjang 3.22 23. Bayam 2. Kangkung 4.50 36.63 09. 2010 Produktivitas sayuran di Sulawesi Tenggara relatif masih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas sayuran di daerah lain. Walaupun produktivitas sayuran belum mencapai maksimal. 2007).88 50.37 47.72 00.94 55.98 18. namun petani padi masih tetap mengusahakan karena usahatani sayuran relatif lebih mudah dan tidak memerlukan biaya produksi yang tinggi . produktivitas kacang panjang di Samarinda sebesar 11.91 43. Kacang panjang 3.70 2008 716 1 101 0 662 423 0 580 1 038 0 613 1 715 3 521 2 178 1 455 2 560 1 572 2 220 24.62 15.03 46.91 37.59 18.70 %/tahun 2007 1 225 1 854 1 054 536 0 970 1 419 1 037 2 687 7 605 6 947 2 313 7 616 2 417 5 258 21.50 1 055 1 579 1 031 573 0 954 1 644 1 067 2 243 6 417 5 833 2 911 5 371 2 732 5 090 21. Kacang panjang 3.25 45.51 83.21 12.94 67. Ketimun 5.40 46.93 41.06 50. Ketimun 5.17 Jenis Tanaman Sumber : Departemen Pertanian. Tomat Produksi (ton) : 1.58 50. Bayam 2.24 20.10 55.15 ton/ha (Wijayanti.64 56.55 49. Terung 6.80 56.40 44.51 05.00 32.26 41. Kangkung 4.10 57.76 35. Cabai 7.93 36.58 02.20 54.79 25. Tomat Produktivitas (ku/ha) : 1. Perkembangan Luas Panen.

namun sub sektor tanaman pangan mempunyai andil yang cukup besar bagi ketahanan pangan daerah sebagai penghasil padi dan bahan pangan lainnya. Hasil produksi tidak saja untuk konsumsi sehari-hari tetapi juga untuk dijual sehingga dapat menambah pendapatan rumahtangga.44 persen (BPS.2. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar dibandingkan sektor lainnya. penyerap tenaga kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat tani. penyumbang devisa. Oleh karena itu untuk menstabilkan dan meningkatkan pendapatan rumahtangga petani maka pemerintah telah melakukan upaya dengan memberikan kebijakan harga output (kebijakan harga gabah) dan kebijakan harga input. . Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk melihat perilaku produksi dan konsumsi pada rumahtangga petani yang memiliki lebih dari satu jenis usahatani khususnya pada rumahtangga petani padi di Sulawesi Tenggara. 1. yaitu mencapai 36. Bagi petani padi yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha tani. 2010).sebagaimana usahatani padi. Perumusan Masalah Sektor pertanian di Sulawesi Tenggara masih memegang peranan yang cukup penting sebagai penyedia bahan pangan. maka kebijakan tersebut akan mempengaruhi perilaku petani terhadap produksi maupun terhadap konsumsi karena rumahtangga petani padi selain berperan sebagai produsen juga berperan sebagai konsumen. Pendapatan rumahtangga petani sebagian berasal dari usahatani sehingga fluktuasi produksi akan mempengaruhi keuntungan dan tingkat kesejahteraan rumahtangga petani. Meskipun sumbangan sub sektor tanaman pangan relatif kecil jika dilihat dari luas penggunaan tanah.

baik produktivitas padi maupun non padi. Kondisi lain yang terjadi adalah kualitas sumberdaya manusia khususnya petani tanaman pangan relatif masih rendah sehingga akses terhadap informasi dan teknologi terbatas. Modal yang terbatas merupakan kendala bagi petani untuk memperoleh produksi maksimal karena petani tidak dapat menggunakan input produksi secara optimal. modal dan penggunaan input yang terbatas serta kondisi infrastruktur lahan yang kurang memadai. Hal ini disebabkan oleh luas kepemilikan lahan yang sempit. jagung. kacang hijau dan sayuran. ketersediaan air irigasi dan jalan usahatani yang kurang memadai tanpa disertai input produksi yang seimbang juga menjadi penyebab rendahnya produktivitas usahatani. Dalam berusahatani petani menghadapi masalah produktivitas yang rendah. Produksi yang diperoleh akan dijual dan dikonsumsi dengan proporsi yang berbeda sesuai dengan kemampuan petani menyediakan pangan bagi anggota keluarga (Purwantini dan Ariani.Sebagian besar petani tanaman pangan di Sulawesi Tenggara mengusahakan padi sawah. kacang tanah. 2008). padi ladang. kedelai. Melihat produktivitas tanaman pangan yang masih rendah maka pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk meningkatkan produksi karena produksi hasil usahatani merupakan indikator bagi kesejahteraan rumahtangga. ubi jalar. . Infrastruktur lahan seperti kesuburan tanah. namun petani tidak hanya mengusahakan satu jenis komoditi tertentu melainkan beberapa komoditi yang ditanam di lahan sawah maupun di lahan kering. ubi kayu. Namun hingga saat ini produktivitas tanaman pangan masih stagnan dan pendapatan petani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar rumahtangga.

Insus dan Supra Insus disertai dengan pembangunan jaringan irigasi. Walaupun subsidi pupuk diberikan untuk tanaman pangan namun penggunaan pupuk bersubsidi lebih banyak untuk tanaman padi. terbagi atas lahan sawah irigasi seluas 73 766 ha dan lahan sawah tadah hujan seluas 23 225 ha. sehingga diasumsikan subsidi pupuk untuk tanaman padi. Kebijakan pemerintah tersebut bias ke padi sehingga akan mempunyai dampak yang berbeda bagi petani yang mengusahakan padi dan tanaman lainnya dalam mengambil keputusan produksi diantara tanaman padi dan non padi.Selama ini kebijakan pangan pemerintah lebih diarahkan pada komoditi padi. Kebijakan harga input dengan memberikan subsidi pupuk untuk tanaman pangan dan kebijakan harga output dengan menetapkan Harga Dasar Gabah (HDG) yang sekarang menjadi HPP gabah dan HPP beras. Kebijakan teknologi produksi lebih diarahkan ke lahan sawah dibandingkan lahan kering karena sebagian besar produksi padi dihasilkan dari lahan sawah. sedangkan kebijakan dari sisi ekonomi dengan menetapkan kebijakan harga baik kebijakan harga input maupun kebijakan harga output. Hal ini terlihat dari adanya program Bimas. Dengan adanya lahan sawah irigasi dan non irigasi maka petani memiliki pilihan untuk mengusahakan tanaman padi dan non padi di lahan sawah dengan teknologi dan ketersediaan air yang berbeda. Lahan sawah di Sulawesi Tenggara seluas 96 991 ha. hingga program Prima Tani dan SLPTT yang lebih banyak diintroduksikan kepada petani padi. baik dari sisi teknologi maupun dari sisi ekonomi. .

6 ton per hektar produktivitas kedelai di lahan non irigasi (Pesireron.3.74 ton per hektar produktivitas padi ladang.33 ton per hektar dibandingkan dengan 2. Mengetahui pengaruh harga output dan harga input terhadap efisiensi produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi pada usahatani padi dan non padi berdasarkan teknologi dan agroekosistem lahan sawah.80 ton per hektar dibandingkan 1. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian bertujuan untuk mempelajari perilaku produksi dan konsumsi rumahtangga petani padi baik rumahtangga petani lahan sawah irigasi maupun rumahtangga petani lahan sawah tadah hujan. Produktivitas lahan sawah irigasi rata-rata lebih tinggi dari produktivitas lahan sawah non irigasi. Secara khusus . produktivitas kedelai lahan sawah irigasi sebesar 2. penelitian ini bertujuan untuk : 1. Bagaimana respon produksi padi dan non padi terhadap perubahan harga output dan harga input pada agroekosistem lahan yang berbeda? 2. 2010).Agroekosistem lahan sawah yang berbeda menyebabkan produktivitas lahan juga berbeda. Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Hal ini dapat dilihat dari produktivitas padi sawah irigasi sebesar 4. Bagaimana respon konsumsi rumahtangga petani terhadap perubahan harga output dan harga input pada agroekosistem lahan yang berbeda? 1. Dengan perbedaan hasil tersebut maka pendapatan yang diperoleh petani juga berbeda sehingga petani pada kedua jenis lahan tersebut mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan harga output maupun harga input di dalam mengambil keputusan produksi dan konsumsi.

Pola tanam yang diamati adalah pola tanam pada tahun 2009 dimana tidak semua petani menanam padi sebanyak dua kali sehingga untuk kepentingan analisis dibatasi pada data Musim Tanam pertama (MT I/2009). Mengkaji respon penawaran output dan permintaan input terhadap perubahan harga output dan harga input pada rumahtangga petani berdasarkan agroekosistem lahan sawah.2. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sulawesi Tenggara pada dua kabupaten. 3. Membandingkan respon konsumsi rumahtangga petani sebagai konsumen murni dan respon konsumsi rumahtangga petani sebagai produsen dan konsumen berdasarkan agroekosistem lahan sawah dan efisiensi keuntungan usahatani. 3. 4. 2.4. Rumahtangga petani menghasilkan lebih dari satu jenis komoditi sehingga pendekatan analisis multi output didasarkan pada produksi yang dijual dan yang dikonsumsi. Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian adalah : 1. yaitu kabupaten Konawe sebagai sentra produksi padi lahan sawah irigasi dan Kabupaten Konawe Selatan sebagai sentra produksi padi lahan sawah tadah hujan. Produksi tanaman lainnya (produksi . 1. Mengkaji respon konsumsi rumahtangga petani terhadap perubahan harga dan pendapatan rumahtangga berdasarkan agroekosistem lahan sawah dan efisiensi keuntungan usahatani. yaitu padi dan sayuran. Responden adalah petani padi yang pernah mengikuti program Prima Tani dan yang tidak mengikuti program Prima Tani.

Metode MLE selanjutnya digunakan untuk mengestimasi respon konsumsi pangan dan non pangan yang diturunkan dari Model Rumahtangga Pertanian (MRP). 6. sedangkan konsumsi non pangan dengan mencatat pengeluaran rumahtangga selama satu bulan. 5. Data konsumsi pangan rumahtangga dilakukan dengan merecall data konsumsi selama satu minggu terakhir. Analisis produksi pada penelitian ini diduga dengan dua metode yang berbeda. Analisis produksi menggunakan model keuntungan stokastik frontir untuk mengetahui efisiensi produksi dan model Seemingly Unrelated Regression (SUR) untuk mengetahui pangsa penawaran output dan pangsa permintaan input. 4. yaitu dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk analisis efisiensi produksi dan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR) untuk analisis pangsa output dan pangsa input. 8. sedangkan analisis konsumsi menggunakan model Almost Ideal Demand System (AIDS). .palawija dan tanaman tahunan) diperhitungkan nilainya sebagai pendapatan rumahtangga. 7. Analisis produksi dan konsumsi dengan pendekatan multi input dan multi output pada rumahtangga petani dibedakan antar jenis lahan sawah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful