2009 Istadi: STUDI PEMODELAN PERTUMBUHAN DAN POTENSI GEOHAZARD MUD VOLCANO LUPSI: JAWA TIMUR, INDONESIA STUDI

PEMODELAN PERTUMBUHAN DAN POTENSI GEOHAZARD MUD VOLCANO LUPSI: JAWA TIMUR, INDONESIA
Bambang P. Istadi a,*, Gatot H. Pramono b, Prihadi Sumintadireja c, Syamsu Alam d BASELINES DATA DAN KNOWLEDGE: TERHADAP PILIHAN OPSI STRATEGIS PENANGGULANGAN SEMBURAN, PENANGANAN LUAPAN LUPSI DAN ANTISIPASI DAMPAK BERGANDA GEOHAZARD JANGKA PANJANG Makalah ini dirancang untuk Lusi Library: Knowledge Management Dengan Misi menyediakan dan menyampaikan informasi dan pemahaman terhadap fenomena Lusi mud volcano baik kepada publik umum maupun Pendidikan Kebumian di Indonesia pada khususnya Apresiasi disampaikan kepada Penulis Bambang P. Istadi Dikontribusikan Oleh: Hardi Prasetyo 29 Mei 2009 (3 Tahun Semburan Lupsi) DOKUMEN BASELINE 01, 2009

POKOK BAHASAN DAN KATA KUNCI Sari • Mud volcano Lupsi: • Durasi semburan dan kelanjutan dampak ke depan: • Besarnya dampak ke depan? • Menyediakan skenario untuk penanggulangan: • Perlunya pemahaman terhadap proses geologi yang mengendalikan evolusi mud volcano: • Membangun simulasi model 3-D untuk 10 tahun ke depan: • Masukan model (kecepatan semburan, subsidence dan topografi): • Validasi citra satelit Desember 2007: • Model lumpur mengalir ke barat, utara dan timur: Kesimpulan • Mud volcano Lupsi terjadi pada bidang patahan: • Dinamika tektonik telah dan akan merusak tatanan struktur permukaan: • Kerusakan pada infrastruktur dan disebabkan oleh pergerakan tanah dan bubble gas: • Tidak mungkin untuk menghentikan semburan dan kesulitan Relief Well baru bila akan diterapkan: • Perkiraan kegagalan Relief Well ke depan: Implementasi • Fenomena subsidence yang mempersulit pemboran, kemungkinan semburan muncul kembali sepanjang bidang patahan Watukosek: • Parameter aliran lumpur akan berhenti: • Model untuk memperkirakan waktu dan luasnya daerah terdampak: • Model dikembangkan berdasarkan data set dan dikalibrasi dengan citra satelit: • Model pertumbuhan mud volcano versus subsidence

subsidence. Watukosek. runtuhnya tanggul: Pendahuluan • Awal dan lokasi Semburan Lupsi: • Fluktuasi kecepatan semburan: • Tabel intensitas semburan Juni 2006-Desember 2008 • Penyebab dan pemicu semburan masih diperdebatkan: • Skenario underground blowout: • Skenario reaktivasi patahan: • Persepsi awal hubungan semburan dan BJP-1: • Kesimpulan tidak ada hubungan antara semburan dan BJP1 dan rasionalisasinya: • Skenario reaktivasi P. sehingga semburan tidak dapat dihentikan: • Lupsi tidak dapat lagi dihentikan. • Mud volcano Lupsi menyediakan informasi saat lahir sampai tahap berkembang: • Fokus makalah pada resiko geohazard ke depan Geologi Umum • Referensi Pemahaman Cekungan Jawa Timur • Cekungan busur belakang: • Tektonik Ekstensi Tersier Awal: • Patahan membentuk sub-basin NE-SW: • Konfigurasi basement dan basement ridge: • Formasi Ngimbang: • Batugamping Terumbu: • Tektonik Transpresi: • Batulumpur Formasi Kalibeng dan Pucangan: • Volkanik di Jawa sebagai sumber batuan: • Pengendapan yang cepat: .terhadap waktu: • Aktualisasi model berdasarkan faktor kecepatan semburan. dan diprediksi akan mengalir berabad-abad lamanya.

Watukosek untuk pembentukan mud volcano Lupsi: Resiko Bencana Geologi (Geohazard Risks) • Dampak semburan Lupsi: • Antisipasi skenario kasus terburuk: • Studi kasus mud volcano di Jatim dan Bleduk Kuwu: • Awal Lupsi terdiri dari 5 titik semburan: • Bubble dengan gas terbentuk di zona lemah atau reaktifasi patahan: • Bubble berjumlah 90 bersifat berfluktuatif: • Gas bubble mudah dan sulit terbakar: • Terjadinya kebocoran pada penyekat: • Bubble dengan gas bersumber dari lapisan dalam: • Pembentukan gas secara termogenik (thermogenic origin): • Perhatian pada daerah terjadi reaktivasi patahan: • Pergerakan horisontal dan vertikal: • Dampak dari perekahan terhadap masyarakat dan infrastruktur: • Indikasi pergerakan patahan pada rel kereta api: • Patahan menyebabkan pipa gas dan PDAM patah atau pecah: • Patahan mengendalikan timbulnya bubble gas: • Berlanjutnya subsidence membentuk daerah depresi diisi lumpur: • Viskositas Lupsi yang rendah. sulit akumulasi secara vertikal: • Lumpur menyebar ke samping dan menekan tanggultanggul: • Resiko daerah terdampak meluas makin besar: .• Zona sedimen bersifat plastis: • Formasi Kalibeng sebagai sumber dari mud volcano di Jawa: • Jawa Timur ideal untuk pembentukan mud volcano: • Peran P.

perhatian ditujukan pada geohazard: • Perkiraan resiko geohazard untuk perencanaan wilayah: Dimensi Lumpur dan Volume • Pentingnya nilai atau dimensi aliran lumpur: • Metoda yang diterapkan: • Genangan Lupsi Juni dan Juli 2006: • Genangan Lupsi Mei 2007: • Hasil Gayaberat • Nilai ‘gravity low’ di bawah semburan: • Batas bidang sesar: • Perubahan density mencerminkan kondisi struktur bawah permukaan: • Bukti pengurangan masa pada pusat semburan: .• Kegagalan tanggul ke depan makin besar: • Masyarakat harus dipersiapkan: • Indikator resiko geohazard dan pengendali mekanismenya: Menghentikan Semburan • Upaya menghentikan semburan selama ini: • Semburan akan keluar dari bidang Patahan Watukosek: • Keberlanjutan semburan dan intensitas: • Kondisi dan kejadian Lupsi berdasarkan data sumur eksplorasi: • Skenario Lupsi keluar dari bidang patahan: • RW-1 menghadapi daerah deformasi geologi atau zona Patahan: • Diasumsikan sumur BJP-1 tidak menembus patahan: • Aktivitas patahan aktif menimbulkan banyaknya bubble aktif: • Masalah pada saat reentry BJP-1: • Dampak subsidence dan pergerakan horisontal pada pengoperasian sumur: • Pergerakan sepanjang bidang sesar dan dampaknya: • Semburan sulit. aliran Lupsi lama.

000m3/hari: • Konstrain prediksi lama semburan dan mekanisme aliran: • Lama semburan terkait aliran masuk: • Aliran tidak beraturan (fluktuasi): • Kecepatan Semburan • Waktu pengukuran: • Identifikasi sumber lumpur dari kurva kompaksi: • Identifikasi dari data seismik refleksi: • Perhitungan kecepatan antara volume dan semburan harian: Hasil perhitungan: • Citra satelit untuk mengkoreksi model: .3 km2 • Perhitungan lama semburan dengan asumsi semburan 100.• Meningkatnya nilai anomali negatif dipicu oleh subsidence sebagai konsekuensi meningkatnya volume yang hilang: • Anomali gayaberat negatif karena adanya perbedaan densitas dikaitkan dengan peningkatan semburan: • Anomali positif terkait dengan pergerakan masa sepanjang bidang sesar: Model Simulasi Pertumbuhan Lumpur • Pengembangan pemodelan tiga dimensi: • Parameter model: • Metoda/tekonologi yang digunakan: • Estimasi Lama Semburan Lumpur • Lama semburan berdasarkan besarnya volume sumber lumpur: • Penentuan ketebalan lampiran serpih bertekanan tinggi: • Kurva kompaksi (compaction curve): • Model Sejarah Penguburan (burial history): • Kompaksi Formasi Kalibeng Atas: • Formasi Kalibeng Bawah: • Perkiraan ketebalan Formasi Kalibeng over pressure: • Luas Zona Seismik dengan kecepatan rendah (Low velocity zone): 2 dan 1.

GPS-based monitoring of subsidence phenomenon in the mud extrusion areas. dan ke selatan karena dibatasi oleh sungai.• Mendapatkan angka kecepatan semburan yang realistis: • Subsidence • Asumsi hubungan subsidence dan semburan: • Konsepsi penyebab semburan: • Perhitungan kecepatan dan cakupan/luas daerah: • Waktu pengukuran GPS: • Besaran (magnitude) Subsidence: • Ekspresi permukaan subsidence seperti baskom: (basinlike shape).. Purwaman.. 2007. R. Evans. M. H. Gamal. I.. Kusuma... Sumintadireja. sebagai hasil dari implementasi perkuatan tanggul-tanggul barat. Referensi (Selected as baseline papers) • Abidin.. • Juni 2009. 29 May 2006.Z. In: Proceedings of the International Union of Geodesy and Geophysics (IUGG) XXIV. Swarbrick. Italy. R. GSA Today 17. Andreas. M. M. Sidoarjo.B. H. Perugia.. • Bulan Desember 2008: Lumpur akan mulai membanjiri daerah barat dimana terdapat jalan raya dan rel kereta api. B. • Davies. • Analogi dengan struktur Runtuh Porong: Diapir dan piercement sedimen overpressure • Hasil Penting • Volume awal dan kecepatan: • Simulasi Pertumbuhan Lusi mud volcano: Lumpur tidak akan berekspansi ke utara. Darmoyo. Birth of a mud volcano: East Java. P. Huuse. 4–9.A. Istadi.. R. Pengecekan pada Desember 2008 memperlihatkan bahwa lumpur tidak membanjiri jalan raya dan rel kereta api. East-Java. beberapa kilometer jalan akan tergenang lumpur. A.. 2007... ..

. In: Proceedings of the Subsurface Sediment Remobilization and Fluid Flow in Sedimentary Basin Conference. B. Burlington House.G. The East Java mud volcano (2006 to present): an earthquake or drilling trigger? Earth and • Fukushima. Brumm. • Sawolo.. • Kopf. submitted for Q2 publication. Sidoarjo. Malthe-Sørenssen.000. Istadi. Skala 1:500... J. G.. Malaysia. Pramono. E. R.... Piccadilly. • Istadi.. B. The Geological Society. 2007. Reviews of Geophysics 40. Mori...J. Sardjono. S.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi... Akhmanov. Manga. Significance of mud volcanism. Kadar.P.P. Earth and Planetary Science Letters 261. In: Proceedings of the 28th Asian Conference on Remote Sensing. M. M..B. 2007. Bandung. R. Sutriono.H. The validation of mud flow model using multitemporal satellite images. G..Indonesia.. A.. Special issue: Mud volcanism. Sawolo. 2008. • Gafoer. Kuala Lumpur. R. In: Proceedings of the African Energy Global . B. Swarbrick. N. A.. Y. • Pramono. Rubiandini.. A. The application of geographic information systems to measure mud dimension in Porong.J.. London... investigated by SAR interferometry. 2008. A. 2002. Subsidence associated with the LUSI mud eruption. G. 375–388.. Planke. H. Aloisi. 1999. Poniman.. S.. N. 2008.. M. Darmoyo... Analysis & recent study results on East Java mud volcano. A. N.P. East Java. Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano. October 2008. Y. • Mazzini. M. Istadi.• Davies. A. Kano.H. Hashimoto. Journal Marine and Petroleum Geology. 2007. Peta Geologi Regional Jawa Bagian Timur. Forum Geografi 21 (2). 1–52. Ratman. Tingay. Svensen. G. S. East Java mud volcano (LUSI): drilling facts and analysis..

Purwaman. Heidbach. Davies. Sari Mud volcano Lupsi: Mud volcano yang dikenal sebagai Lupsi. P. In: Proceedings of the International Union of Geodesy and Geophysics (IUGG) XXIV.. Special issue: Mud volcanism.... A. Istadi.. N. Sidoarjo. Cape Town.. AAPG International Conference and Exhibition. Geology and geophysics study in revealing subsurface condition of Banjarpanji mud extrusion.. Besarnya dampak ke depan? Pertanyaan mendasar adalah sebesar besar dampak yang mungkin ditimbulkan pada daerah tersebut ke depan? . R. Triggering of the Lusi mud eruption: earthquake versus drilling initiation. submitted for publication. Indonesia. 639– 642. East Java. Italy.. Q3 • Sumintadireja. 2007. Swarbrick. Indonesia. Geology 36 (8). • Sawolo.P.B. October 2008. B. M.. E. August 2008. Perugia. O. Darmoyo. pertamakali menyembur 29 Mei 2006 di Jawa Timur. R. Sutriono.Impact. Istadi. • Tingay. A.B.. B. Mud volcano triggering controversy: was it caused by drilling? Journal Marine and Petroleum Geology. South Africa. Darmoyo. Durasi semburan dan kelanjutan dampak ke depan: Semburan Lupsi telah berlanjut lebih dari dua tahun. dan dapat berlanjut beberapa tahun mendatang.. Sehingga berpotensi menimbulkan dampak pada daerah yang lebih luas lagi. I.

Menyediakan skenario untuk penanggulangan: Jawaban dari pertayaan di atas menurut penulis buku yang penting adalah menyediakan suatu skenario yang terbaik (the best case scenario) untuk merelokasi warga. Validasi citra satelit Desember 2007: Prediksi dari model tersebut telah divalidasi dengan membandingkan hasil citra satelit pada perioda yang sama. diperlukan adanya pemahaman terhadap proses-proses geologi yang mengendalikan evolusi mud volcano. Dengan fokus pada perioda dari Desember 2007 sampai Juni 2010. infrastruktur. Membangun simulasi model 3-D untuk 10 tahun ke depan: Pada makalah ini. Perlunya pemahaman terhadap proses geologi yang mengendalikan evolusi mud volcano: Untuk membuat suatu prediksi yang lebih akurat terhadap kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang. Masukan model (kecepatan semburan. subsidence dan topografi): Sebagai masukan dari model utama adalah kecepatan semburan lumpur. kecepatan subsidence dan topografi. yaitu bulan Desember 2007. mengelola kerusakan lingkungan dan ekonomi yang ditimbulkannya. . telah dibangun suatu simulasi model 3dimensi untuk memperkirakan daerah yang dapat tekena dampak untuk periode lebih dari 10 tahun.

utara dan timur: Hasil pemodalan mengindikasikan bahwa aliran lumpur cenderung menyebar ke arah barat dan khususnya ke timur dan utara dari daerah terdapak saat ini. telah berkembang banyak mud volcano di daerah ini (Jawa Timur dan Jawa Tengah).Model lumpur mengalir ke barat. Berdasarkan analisis diketahui bahwa pergerakan aliran lumpur berlangsung sepanjang bidang patahan. rumah dan tanggultanggul serta menyebabkan luapan lumpur. dan karena itu sangat besar jumlah lumpur yang telah disemburkannya. KESIMPULAN Mud volcano Lupsi terjadi pada bidang patahan: Telah terbentuk mud volcano secara alami pada lokasi Lupsi. infrastruktur. Secara lebih regional. Dinamika tektonik telah dan akan merusak tatanan struktur permukaan: Gerakan tektonik yang konstan telah dan akan terus merusak tatanan struktur permukaan. Dinamika kondisi bawah permukaan di daerah terdampak menimbulkan resiko geohazard. Kerusakan pada infrastruktur dan disebabkan oleh bubble gas: Pergerakan horizontal dan vertikal akan lebih merusak . yang akan didiskusikan dalam makalah.

yang berada sepanjang kelurusan dari zona lemah. Terutama adanya pergerakan tanah sehingga akan menyebabkan ketidakstabilan peralatan anjungan. kemungkinan semburan muncul kembali sepanjang bidang patahan Watukosek: . Selanjutnya akan menyebabkan lobang pemboran tersumbat. Perkiraan kegagalan Relief Well ke depan: Implementasi Bila Relief Well baru tetap akan diimplementasikan. Tidak mungkin untuk menghentikan semburan dan kesulitan Relief Well baru bila akan diterapkan: Tidak ada peluang untuk dapat menghentikan semburan lumpur. Berlanjutnya reaktivasi patahan dan pembentukan rekahan dan rongga-rongga menyebabkan munculnya gas bubble pada daerah dengan radius 2-3 km dari pusat semburan Lumpur. khususnya jalan raya. oleh adanya pergerakan. Diperkirakan tidak ada lokasi yang jelas (ideal) untuk dapat melakukan pemboran sumur Relief Well tersebut. selubung pemboran akan runtuh dan memutuskan tail pemboran. lokasi.infrastruktur. Upaya menghentikan semburan lumpur tidak mungkin untuk dapat dilakukan dengan pemboran Relief Well yang baru (sebelumnya telah dilakukan 2 RW). Fenomena subsidence yang mempersulit pemboran. pipa gas dan pipa PDAM. Karena beberapa masalah akan timbul pada sumur relief ke depan. diperkirakan akan mengalami situasi loss dan kick sehingga dapat kehilangan tekanan di dalam selubung.

Model untuk memperkirakan waktu dan luasnya daerah terdampak: Dalam makalah ini. Model simulasi ini dikembangkan dengan menerapkan pendekatan GIS (Geographic Information System).Pemboran yang dilaksanakan dari sisi luar daerah subsidence tidak efektif. Model dikembangkan berdasarkan data set dan dikalibrasi dengan citra satelit: Sebagai masukan model berasal dari beberapa set data. Parameter aliran lumpur akan berhenti: Semburan lumpur secara alami akan berhenti ketika dicapai keseimbangan antara tekanan permukaan (surface) dan masa di bawah permukaan (subsurface). Bila semburan lumpur dapat dihentikan pada satu lokasi. Model tersebut telah dikalibrasi menggunakan data lapangan luapan lumpur dan citra satelit bulan Desember 2007. diperkirakan akan muncul di lokasi lainnya sepanjang zona patahan Watukosek. karena pergerakan horizontal juga akan sangat besar. suatu modal simulasi tiga dimensi telah dibangun untuk memperkirakan waktu dan luasnya daerah genangan. .

KESIMPULAN Mud volcano Lupsi terjadi pada bidang patahan: Telah terbentuk mud volcano secara alami pada lokasi Lupsi. dan karena itu . Aktualisasi model berdasarkan faktor kecepatan semburan. runtuhnya tanggul: Kecepatan lumpur. Berdasarkan analisis diketahui bahwa pergerakan aliran lumpur berlangsung sepanjang bidang patahan. Pengamatan secara periodik di daerah yang ditentukan sebagai daerah bahaya pada resiko geohazard diperlukan untuk memutahirkan model. subsidence. sehingga data baru yang tersedia harus diintegrasikan pada model untuk menyempurnakan suatu perkiraan secara lebih realistik. Secara lebih regional. telah berkembang banyak mud volcano di daerah ini (Jawa Timur dan Jawa Tengah).Model pertumbuhan mud volcano versus subsidence terhadap waktu: Pada model prediksi. waktu pertumbuhan mud volcano dan penenggelaman tanah. subsidence. dan runtuhnya tanggul merupakan data yang dinamis. khususnya dalam mengidentifikasikan pengaktifan kembali patahan sepanjang sumbu kelurusan zona patahan Watukosek dan patahanpatahan lainnya. diperkirakan besaran.

yang berada sepanjang kelurusan dari zona lemah. rumah dan tanggultanggul serta menyebabkan luapan lumpur. lokasi. Perkiraan kegagalan Relief Well ke depan: Implementasi Bila Relief Well baru tetap akan diimplementasikan. infrastruktur. Dinamika tektonik telah dan akan merusak tatanan struktur permukaan: Gerakan tektonik yang konstan telah dan akan terus merusak tatanan struktur permukaan. diperkirakan akan mengalami situasi loss dan kick sehingga . selubung pemboran akan runtuh dan memutuskan tail pemboran. Tidak mungkin untuk menghentikan semburan dan kesulitan Relief Well baru bila akan diterapkan: Tidak ada peluang untuk dapat menghentikan semburan lumpur. Terutama adanya pergerakan tanah sehingga akan menyebabkan ketidakstabilan peralatan anjungan.sangat besar jumlah lumpur yang telah disemburkannya. khususnya jalan raya. Berlanjutnya reaktivasi patahan dan pembentukan rekahan dan rongga-rongga menyebabkan munculnya gas bubble pada daerah dengan radius 2-3 km dari pusat semburan Lumpur. Karena beberapa masalah akan timbul pada sumur relief ke depan. Kerusakan pada infrastruktur dan disebabkan oleh bubble gas: Pergerakan horizontal dan vertikal akan lebih merusak infrastruktur. Upaya menghentikan semburan lumpur tidak mungkin untuk dapat dilakukan dengan pemboran Relief Well yang baru (sebelumnya telah dilakukan 2 RW). pipa gas dan pipa PDAM.

oleh adanya pergerakan. diperkirakan akan muncul di lokasi lainnya sepanjang zona patahan Watukosek. Parameter aliran lumpur akan berhenti: Semburan lumpur secara alami akan berhenti ketika dicapai keseimbangan antara tekanan permukaan (surface) dan masa di bawah permukaan (subsurface). Fenomena subsidence yang mempersulit pemboran. Bila semburan lumpur dapat dihentikan pada satu lokasi.dapat kehilangan tekanan di dalam selubung. Model simulasi ini dikembangkan dengan menerapkan pendekatan GIS (Geographic Information System). karena pergerakan horizontal juga akan sangat besar. Model dikembangkan berdasarkan data set dan dikalibrasi . kemungkinan semburan muncul kembali sepanjang bidang patahan Watukosek: Pemboran yang dilaksanakan dari sisi luar daerah subsidence tidak efektif. Diperkirakan tidak ada lokasi yang jelas (ideal) untuk dapat melakukan pemboran sumur Relief Well tersebut. Selanjutnya akan menyebabkan lobang pemboran tersumbat. Model untuk memperkirakan waktu dan luasnya daerah terdampak: Dalam makalah ini. suatu modal simulasi tiga dimensi telah dibangun untuk memperkirakan waktu dan luasnya daerah genangan.

Model tersebut telah dikalibrasi menggunakan data lapangan luapan lumpur dan citra satelit bulan Desember 2007. diperkirakan besaran. Model pertumbuhan mud volcano versus subsidence terhadap waktu: Pada model prediksi. khususnya dalam mengidentifikasikan pengaktifan kembali patahan sepanjang sumbu kelurusan zona patahan Watukosek dan patahanpatahan lainnya. Lokasi Lupsi kira-kira 30m selatan dari Surabaya. daerah Jawa Timur memperlihatkan adanya pusat pengendapan dari Cekungan Jawa Timur (East Java Basin’s depositional centers) ditandai dengan warna biru yang dikontrol oleh patahan utama. subsidence. runtuhnya tanggul: Kecepatan lumpur. Peta gayaberat Bouguer (Bouguer gravity map) diproses dengan menggunakan nilai densitas sebesar 2. waktu pertumbuhan mud volcano dan penenggelaman tanah. Pengamatan secara periodik di daerah yang ditentukan sebagai daerah bahaya pada resiko geohazard diperlukan untuk memutahirkan model. 1. Awal dan lokasi Semburan Lupsi: . Aktualisasi model berdasarkan faktor kecepatan semburan. Kerangka Tektonik Regional (Regional tectonic framework) Jawa Timur (atas kanan) memperlihatkan arah patahan regional NE–SW dan E–W.65 g/cc. dan runtuhnya tanggul merupakan data yang dinamis. PENDAHULUAN Gambar. sehingga data baru yang tersedia harus diintegrasikan pada model untuk menyempurnakan suatu perkiraan secara lebih realistik.dengan citra satelit: Sebagai masukan model berasal dari beberapa set data. subsidence.

. Skenario reaktivasi patahan: Namun bila semburan ternyata dikendalikan oleh suatu pengaktifan kembali patahan-patahan yang sebelumnya telah ada.. 2008.. 2008.Semburan lumpur terjadi 29 Mei 2006 pada 5 lokasi tersebar/terpisah satu dengan lainnya. Lokasi Lupsi kira-kira berjarak 700 m dari kelurusan Zona Patahan Watukosek.. September 2006 kecepatan semburan meningkat menjadi 125. Davies et al. dan tidak ada hubungan dengan lubang sumur BJP-1. penyebab semburan lumpur panas di Sidoarjo masih terus menjadi bahan perdebatan. Fluktuasi kecepatan semburan: Pada bulan-bulan pertama (Mei-Juni 2006) semburan lumpur panas terjadi kecepatan aliran (flow rate) sebesar 50. maka sangat rasional bila masyarakat umum telah mengasumsikan bahwa semburan disebabkan oleh UGBO dari sumur BJP-1 Kesimpulan tidak ada hubungan antara semburan dan BJP-1 dan rasionalisasinya: Setelah seluruh data set secara komprehensif diintegrasikan dan dianalisis. 2008).000 m3/hari. Skenario underground blowout: Bila semburan lumpur bermula dari suatu ledakan bawah permukaan (underground blowout).000 m3/hari. antara lain Mazzini et al. Tingay et al. Dilanjutkan dengan memompakan lumpur berat diikuti dengan penyemenan. Jawa Timur Indonesia. Mencapai maksimum sebesar 156. Tabel intensitas semburan Juni 2006-Desember 2008 Penyebab dan pemicu semburan masih diperdebatkan: Sampai saat ini. Pusat Semburan Lupsi berlokasi kira-kira 30 km selatan dari Surabaya. 2007. Sawolo et al.000 m3/hari pada Desember 2006. Desember 2008 menurun kembali dengan kecepatan mendekati 90. 2008. didasarkan data lapangan dan analisis tekanan menjadi lebih jelas bahwa antara sumur BJP-1 dan fenomena semburan lumpur tidak mempunyai hubungan satu dengan lainnya (Sawolo et al. 2007. Sehingga sangat tidak mungkin untuk menghentikan semburan. membentuk suatu kelurusan berarah NNE-SSW. Istadi et al. Dengan argumen yaitu: .000 m3/hari. karena lokasi Lupsi dekat dari lokasi pemboran BJP-1... Persepsi awal hubungan semburan dan BJP-1: Pada awal kejadian. 2008. Sebagai konsekuensi itu untuk mendapatkan solusinya (menghentikan atau mengurangi debit semburan) masih menjadi masalah. sehingga secara teori ia akan dapat dihentikan dengan menggunakan pemboran sumur relief (drilling relief well) untuk memotong lubang asli BJP-1. kira-kira berjarak 200 m jauhnya dari sumur Eksplorasi Banjarpanji-1 (disebut BJP-1) di Sidoarjo.

fluida di sumur tidak bor tekanan sangat ada rendah untuk merekahkan rendah: lubang bor. dan diprediksi akan mengalir berabad-abad lamanya. Skenario reaktivasi P. karena proses-proses geologi dari saat kelahirannya hingga kondisi saat ini (tahap perkembangan runtuh menjadi kaldera) dapat diamati secara langsung. fluida: propagasi Tidak ada fluida di lobang bor yang berpropagasi melalui rekahan ke permukaan. Hall (2002). Ketiga. (2006). diantaranya van Bemmelen (1949). and Prasetyadi et al. De Genevraye and Samuel (1972).000 m3/hari dan hanya berjarak 200m dari semburan. Titik merah mengidentifikasikan lokasi mud volcano. Tekanan Kedua. Sribudiyani et al. total mati: Lobang sumur telah terbuka dan pada kondisi total mati saat sumur menyembur dengan kecepatan 50. Watukosek. GEOLOGI UMUM Gambar 2. Mud volcano Lupsi menyediakan informasi saat lahir sampai tahap berkembang: Selama ini telah banyak dilaksanakan studi mud volcano yang telah ada. (2003).Pertama. (2005). sehingga semburan tidak dapat dihentikan: Penulis makalah beranggapan bahwa yang paling mungkin sebagai pemicu semburan lumpur adalah reaktivasi dari sistem Patahan Watukosek (Mazzini et al. 1999. Fokus makalah pada resiko geohazard ke depan Makalah ini akan memusatkan perhatian pada potensi dampak dan kaitannya dengan resiko geohazard terhadap kelanjutan semburan lumpur pada tahun-tahun mendatang (potential impact and related geohazard risks from the continued mud eruption in the years to come).) Referensi Pemahaman Cekungan Jawa Timur Beberapa model telah diusulkan untuk menguraikan kompleksitas Cekungan Jawa Timur (East Jawa Basin). Peta Geologi dan sebaran mud volcano di Jawa Tengah dan Jawa Timur.. Hamilton (1979). Lupsi merupakan suatu yang khusus. Smyth et al. Namun sangat sedikit diketahui kondisi sebelum dan selama tahap awal dari semburan mud volcanic. beberapa diantaranya digunakan sebagai analogi pengembangan mud volcano Lupsi. saat BOP pada posisi terbuka. Cekungan busur belakang: . (Peta dimodifikasi dari Gafoer and Ratman. Sehingga kasus semburan Lupsi tidak dapat lagi dihentikan. 2007).

Cekungan Jawa Timur berkembang sebagai cekungan busur belakang (back-arc-basin). Orientasi NE-SW. Tektonik Ekstensi Tersier Awal: Suatu sistem tektonik ekstensi (extensional tectonic system) berlangsung selama Tersier Awal disebabkan oleh interaksi antara lempeng-lempeng Pasifik. membentuk struktur rendahan (structural low) dari beberapa sub cekungan yang memanjang dari lepas pantai di Laut Jawa sampai ke bagian daratan Jawa Timur. berubah menjadi arah Timur-Barat dan lebih ke selatan. gawir patahan (escarpment) Watukosek menunjukkan adanya bagian blok terangkat pada bidang sesar. Dengan selingan struktur graben yang membentuk deposenter. dikenal sebagai Batugamping Kujung. yang menyediakan suatu bentukan karbonat dengan arah umum NNEWSW. Dua arah yang berbeda ini dikenal sebagai konfigurasi struktur dari Cekungan Jawa Timur. terdiri dari sedimen Tersier. Batugamping Terumbu: Perkembangan platform. Sedangkan Terumbu Prupuh dan Tuban berkembang pada Miosen Awal dan Pertengahan Tektonik Transpresi: . Membentuk sistem graben ekstensi (extensional graben systems) dan selanjutnya berkembang cekungan peregangan (rift basins). Berkembang seri setengah graben dan berarah sepanjang bidang lemah Pre-Tersier NE-SW. dan deposenter berarah sejajar dengan pulau Madura dan bagian utara pantai Jawa Timur. dimana sub-cekungan ditentukan dengan patahan-patahan berarah Timur-Barat. dan Australia yang komplek. Kedudukan Lupsi berada sepanjang bidang sesar Watukosek. Patahan Watukosek terdiri dari 2 patahan yang sejajar dimana Kali Porong mengalami pelurusan arah aliran searah bidang patahan. Gambar. Formasi Ngimbang: Pengendapan sedimen klastik dan bentukan karbonat (carbonate buildup) Formasi Ngimbang berlangsung selama Eosen dan Oligosen Awal. 3. selanjutnya ditafsirkan sebagai arah patahan-patahan batas lempeng yang berlangsung pada zona subduksi dan prisma akrasi pada zaman Kapur. Patahan membentuk sub-basin NE-SW: Arah kedua dari patahan berkembang di selatan dari cekungan dibatasi oleh jalur lipatan utara. Patahan-patahan dengan arah timurlaut terbentuk sebagai struktur utama. Eurasia. terjadi pada Oligosen. Sekuen Oligosen Akhir dan Miosen dipisahkan dari sekuen di bawahnya oleh ketidakselarasan. merupakan hasil dari subduksi Lempeng Samudera Australia ke arah baratlaut di bawah kontinen Sunda selama akhir Kapur. Konfigurasi basement dan basement ridge: Konfigurasi batuan dasar (basement) dengan orientasi struktur NE-SW terdiri dari deretan punggungan basement (basement ridge) yang berkembang baik.

menghasilkan zona ‘under-compacted shales’. Volkanik di Jawa sebagai sumber batuan: Material volkanik tersebut berasal dari sumber klastik busur volkanik Jawa di selatan daerah Sidoarjo. Batulumpur Formasi Kalibeng pada kondisi overpressure: Batulumpur Formasi Kalibeng berada pada kondisi tekanan tinggi/berlebih (over pressure).Perioda tektonisme berawal pada Miosen Akhir berlanjut sampai Pleistosen. menempatkan Jawa Timur sebagai daerah yang sangat ideal untuk berkembangnya mud volcanism. yang menempati sebagian besar dari cekungan. Batulumpur Formasi Kalibeng dan Pucangan: Sedimentasi Pliosen dan Pleistosen terdiri dari batulumpur (mudstone) yang didominasi oleh klastika volkanik Formasi Kalibeng dan Pucangan yang berpropagasi ke arah timur. 14 mud volcano di Jawa: Di sekitar Lupsi sekurang-kurangnya telah diketahui terdapat 14 mud volcano yang telah diidentifikasikan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Watukosek untuk pembentukan mud volcano Lupsi: . Jawa Timur ideal untuk pembentukan mud volcano: Aktif tektonik berbarengan dengan tersedianya tekanan berlebih dari sedimen matang yang kaya dengan material organik. Tektonisme tersebut menghasilkan rezim transpresi disebabkan oleh pergerakan lateral yang berarah Timur-Barat. Pengendapan yang cepat: Satuan batuan tersebut telah diendapkan dengan cepat. Zona sedimen bersifat plastis: Zona tersebut sangat plastis dan mengalami tekanan berlebih karena tersedianya pemerangkapan air yang berlebih dan pematangan (maturity) material yang kaya organik. Kecepatan sedimentasi dan penimbunan batuan serpih yang tebal pada deposenter terjadi selama Pliosen dan Pleistosen. dengan ketebalan antara 2400-3000m. Formasi Kalibeng sebagai sumber dari mud volcano di Jawa: Kebanyakan mud volcano yang diketemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur bersumber dari satuan sedimen Formasi Kalibeng. Sebagai hasil adalah terbentuknya struktur antiklin dengan orientasi timur barat. Peran P.

diplot kecepatan subsidence rata-rata (subsidence rate) 1. Studi kasus mud volcano di Jatim dan Bleduk Kuwu: Studi mud volcano lainnya di Jawa Timur telah digunakan sebagai pengkajian bencana geologi (geohazard assessment). Khususnya mud volcano Bleduk Kuwu yang sampai sat ini masih aktif di Jawa Tengah. Elip warna kuning adalah penafsiran daerah yang mengalami subsidence hasil dari analisis data satelit InSAR.5 km dari pusat semburan utama. Potensi resiko bencana geologi (geohazard risks) berlanjut pada daerah yang berpenduduk padat serta terdapat banyak aktivitas masyarakat dan infrastruktur. perusahaan. Bubble berjumlah 90 bersifat berfluktuatif: Bubble-bubble yang menyemburkan gas metan telah diidentifikasi berjumlah lebih dari 90 lokasi. atau terjadi suatu semburan baru pada lokasi yang lain. selanjutnya hanya satu yang terus menyembur atau aktif hingga sekarang ini. dan mengungsikan ribuan warga. terdiri dari komplek mud volcano dengan lokasi erupsi lumpur yang berganda pada radius 3. Antisipasi skenario kasus terburuk: Studi pemodelan terhadap pertumbuhan dan potensi geohazard merupakan bagian antisipasi resiko (risks anticipation) dan perencanaan untuk skenario kasus terburuk dari mud volcano Lupsi dan daerah sekitarnya. Serta menunjukkan beberapa penghubung atau saluran aktif (the presence of several active conduits). Sangat mungkin bahwa saluran semburan lumpur yang tidak aktif tersebut suatu saat dapat diaktifkan kembali. . Subsidence diukur dengan GPS pada 33 lokasi. Awal Lupsi terdiri dari 5 titik semburan: Pada awalnya Lupsi terdiri dari lima semburan lumpur.Keberadaan sistem patahan Watukosek di daerah Lupsi menyediakan suatu saluran (conduit) lumpur. selanjutnya membentuk mud volcano Lupsi. Gambar 4.9 dan 3. dan umumnya berasosiasi dengan rekahan-rekahan. sekolah.9 cm/hari untuk lokasi RW-1 dan RW-2. RESIKO Dampak BENCANA GEOLOGI semburan (GEOHAZARD RISKS) Lupsi: Semburan lumpur panas di Sidoarjo telah mengubur rumah. Bubble dengan gas terbentuk di zona lemah atau reaktifasi patahan: Studi ini berpendapat bahwa kemungkinan semburan lumpur atau yang lebih dikenal sebagai lokasi gas bubble atau lokasi baru semburan terjadi sepanjang zona lemah atau patahanpatahan yang diaktifkan kembali atau suatu zona sesar baru (new fault zone). Dua pengukuran GPS berkelanjutan dicirikan dengan label A dan B. fluida dan gas untuk menembus berasal dari suatu horizon dalam mengalir ke permukaan. desa.

butana. sedangkan yang lainnya mengecil atau bahkan telah mati. dimana gas berasal dari sumber yang dalam. Namun pada bubble dengan semburan yang kuat. Sebagai hasil dari pembebanan permukaan oleh berat dari lumpur atau kompaksi dari lapisan tanah lunak. beberapa diantaranya lebih aktif daripada yang lainnya. Terjadinya kebocoran pada penyekat: Rembesan gas dari rekahan-rekahan ini memberikan kepercayaan terjadinya kebocoran penyekat dan hilangnya kapasitas penyekatan dari patahan-patahan yang ada. kandungan gas metan tersebut tidak bersifat mudah terbakar (nonflammable). Dampak dari perekahan terhadap masyarakat dan infrastruktur: Sebagai akibat dari terjadinya perekahan dari reaktivasi patahan-patahan yang sebelumnya . Pembentukan gas secara termogenik (thermogenic origin): Kromatografi dari contoh gas bubble berasal dari dekat pusat kawah semburan yang diambil Juli 2006 mengindikasikan bahwa komposisinya terutama terdiri dari metan. Pergerakan horisontal dan vertikal: Daerah di dalam radius 2-3 km dari pusat semburan telah mengalami pergerakan horisontal dan vertikal yang sejajar dengan arah bidang patahan. Secara umum pergerakan tersebut mempunyai variasi spasial dan temporal dalam besaran dan arahnya. Ditafsirkan gas-gas tersebut berasal dari termogenik (thermogenic origin) dan mengalir melalui rekahan-rekahan yang panjang. dimana pergerakan diferensial telah menciptakan shear stress. karena hanya mengandung konsentrasi yang rendah dari pemisahan gas yang cepat di udara. Di samping itu serpih pada struktur geologi yang menutupinya. propan. maka konsentrasi gas metan cukup tinggi dan mudah terbakar. Bubble dengan gas bersumber dari lapisan dalam: Terdapatnya bubble gas juga memberikan kepercayaan bahwa subsidence bukan merupakan fenomena yang berasal dari dekat permukaan. Tapi juga sebagai pengaruh dari lapisan yang lebih dalam di bawah permukaan bumi.Kondisi bubble tersebut berfluktuatif. dan pertan. Perhatian pada daerah terjadi reaktivasi patahan: Daerah yang secara khusus patut mendapatkan perhatian adalah di daerah yang mengalami reaktivasi patahan-patahan. mengandung akumulasi gas. Namun keberadaannya berasal dari gas berat dengan kuantitas yang kecil termasuk etana. Gas bubble mudah dan sulit terbakar: Pada kebanyakan kasus.

berarti bahwa lumpur mempunyai viskositas yang lebih rendah. yang terjadi sebagai akibat berlanjutnya semburan lumpur diikuti pembebanan. bangunan-bangunan dan infrastruktur yang berada di dekatnya. Di mana pergerakan patahan berlangsung lebih besar dari pergerakan subsidence yang diukur dengan GPS. Tanggul-tanggul dan kolam penampungan lumpur sementara pada situasi darurat. sulit akumulasi secara vertikal: Tingginya kandungan air dari lumpur yaitu dengan perbandingan antara 70-50% air terhadap lumpur. Lumpur menyebar ke samping dan menekan tanggul-tanggul: Lumpur cenderung menyebar ke samping sehingga bertambahnya tekanan pada lumpur akan mempengaruhi tanggul-tanggul. Patahan menyebabkan pipa gas dan PDAM patah atau pecah: Pecahnya pipa gas dan pipa PDAM pada lokasi yang sama mendukung bahwa pergerakan berlangsung sepanjang bidang patahan. Berlanjutnya subsidence membentuk daerah depresi diisi lumpur: Berlanjutnya subsidence telah membentuk suatu daerah depresi berbentuk baskom atau kerucut.telah eksis adalah rusaknya rumah warga. Patahan mengendalikan timbulnya bubble gas: Berlanjutnya pergerakan sepanjang patahan-patahan juga tampaknya menyebabkan munculnya lebih banyak lagi bubble gas. Jebolnya tanggul-tanggul yang terjadi pada masa lalu telah menyebabkan banjir lumpur panas (temperatur 85-95oC) dan menyebabkan kecelakaan manusia atau kepunahan binatang. Terjadinya subsidence telah membentuk suatu ruang. Resiko daerah terdampak meluas makin besar: Daerah di sekitar area terdampak dihadapkan pada suatu resiko banjir lumpur yang makin luas. yang dapat diamati dari pergerakan rel kereta api yang terjadi pada September 2006. Indikasi pergerakan patahan pada rel kereta api: Pergerakan sesar tersebut adalah dextral (pergerakan menganan). Viskositas Lupsi yang rendah. cekungan alami yang selanjutnya diisi lumpur. Sehingga secara vertikal tidak dapat mengendap untuk membentuk suatu struktur gunung yang tinggi (steep mountain-like structure). Tanggul tersebut dibangun hanya dari tanah dan material batuan sehingga tidak stabil. Kegagalan tanggul ke depan makin besar: Ke depan kegagalan tanggul berpotensi terjadi saat lumpur tumbuh dan meningkatkan tekanan hidrostatik pada dinding tanggul. sampai pada kondisi dapat runtuh dan menimbulkan banjir. .

Masyarakat harus dipersiapkan: Saat resiko kegagalan tanggul adalah besar. • Gangguan integritas dari selubung relief well (subsidence and shearing). MENGHENTIKAN Upaya menghentikan semburan selama SEMBURAN ini: Beberapa upaya dengan menggunakan berbagai metoda dan teknik untuk menghentikan semburan telah dilaksanakan. Akan sangat mungkin bahwa semburan lumpur yang baru dapat terjadi dimana saja. maka sebagai alternatif rute alternatif transportasi publik harus disiapkan untuk memelihara keberlanjutan akses. Saat ini kecepatan semburan mendekati 90. Sekurang-kurangnya pada masa Timnas PSLS empat metoda yang telah diimplementasikan untuk menghentikan semburan. Baseline informasi dari RW-1 dan RW-2 untuk menghentikan semburan: .000 m3/hari (Agustus 2008). (3) Relief Wells. (2) Well Side Tracking. Indikator resiko geohazard dan pengendali mekanismenya: Dalam aspek resiko geohazard. • Retak jalan (subsidence). dan (4) Rangkaian bola-bola beton dengan densitas tinggi High Density Chained Balls (HDCB). Keberhasilan menghentikan semburan sangat kecil: Keberhasilan untuk menghentikan semburan sangat kecil. Keberlanjutan semburan dan intensitas: Aliran lumpur terus berlangsung kuat. Upaya ini tanpa sukses dan telah berhadapan dengan isu keamanan dan tantangan bawah permukaan. 5) runtuh tanggul (subsidence). 4 Metoda yang telah diterapkan yaitu: (1) Snubbing Unit (re-entry of the Banjarpanji-1 well). • Bubble gas tampaknya terjadi di sepanjang rekahan atau sona lemah (shear/faulting and subsidence). bukti-bukti dan perhatian daerah mencakup: • Retak dan pecahnya pipa gas dan pipa PDAM (shear and subsidence). • Melengkungnya rel kereta api (shear/faulting and subsidence). Semburan akan keluar dari bidang Patahan Watukosek: Diperkirakan bahwa semburan lumpur lainnya (baru) akan bermula sepanjang bidang patahan Watukosek (kira-kira 1 km) ke selatan dari Lupsi. bahkan bila semburan dapat dihentikan dengan sukses.

Kondisi dan kejadian Lupsi berdasarkan data sumur eksplorasi: Operasi sumur eksplorasi dilaksanakan antara bulan Juni 2006 dan Januari 2007. operasi tidak ada masalah. Even a wellhead drop was observed. sehingga permasalahan mulai timbul. Skenario Erupsi RW-1 lumpur Lupsi dapat dari daerah keluar bidang dari patahan. key seating. Seperti kondisi di bawah permukaan. menghadapi deformasi geologi Patahan: RW-1 menembus suatu bidang patahan dan saat pemboran diteruskan lumpur pemboran hilang dan terjadi kicks. moving upwards from deep to shallow zones in BJP-1 well as well as RW-1 and RW-2 wells. 3) Keamanan pengoperasian dari sumur relief tergantung pada integritas dari tanggul-tanggul melindungi lumpur terhadap banjir di daerah operasi sumur pemboran. jaringan patahan telah diaktifkan kembali dan dibentuk. equipment failure. Aktivitas patahan aktif menimbulkan banyaknya bubble aktif: Meningkatnya jaringan patahan aktif menghasilkan semakin banyak bubble gas di daerah tersebut. Diasumsikan sumur BJP-1 tidak menembus patahan: Sedangkan sumur BJP-1 tidak menembus patahan dan fluida pemboran berhasil bersirkulasi setelah terjadinya semburan lumpur. Dampak subsidence dan pergerakan horisontal pada pengoperasian sumur: Subsidence dan pergerakan horisontal telah menyebabkan tight hole. dan menghasilkan kondisi dinamika geologi dari Lusi mud volcano yang didiskusikan di bawah ini. bukan atau bidang dari patahan: lubang zona bor.Informasi geologi penting tentang Lusi berasal dari relief wells drilled (RW-1 dan RW-2) untuk menghentikan semburan lumpur. 2) Pergerakan termasuk horizon dangkal dan dalam saat casing runtuh. Beberapa diantaranya berkembangnya di dekat dari sumur relief dimana memperlihatkan kondisi yang membahayakan terhadap keamanan pengoperasian operator dan peralatan untuk operasi relief well. namun penurunan dan pergerakan horisontal bermula. casing collapse and buckling. . Masalah pada saat reentry BJP-1: Pada awal dari re-entry sumur BJP-1. 1) Integritas casing sulit untuk dicapai saat deformasi bertambah.

daerah genangan lumpur mencapai 111 dan 179 hektar. Luas genangan dari daerah banjir dihitung menggunakan citra satelit IKONOS. Metoda yang diterapkan: • Pelaksanaan survei dilakukan dengan melakukan 51 lokasi pengukuran pada daerah genangan lumpur tahun 2006. Semburan sulit. sebagai konsekuensi pemahaman terhadap geohazard risks menjadi sangat penting.Pergerakan sepanjang bidang sesar dan dampaknya: Namun ketika tekanan pada tanggul-tanggul bertambah. dengan 42 titik survei dalam upaya untuk mengkuantitatifkan perubahan dalam dimensi lumpur. volume dan kecepatan erupsi satu tahun setelah awal semburan. Ketinggian aliran lumpur diukur menggunakan pita dan membandingkan dengan daerah sekitarnya yang tidak tergenang. perhitungan volume adalah 1. Volume dihitung menggunakan metoda cut and fill dimana volume dihitung ketika material telah dipindahkan atau dihasilkan. Perkiraan resiko geohazard untuk perencanaan wilayah: Perkiraan terhadap resiko dan luas daerah yang dapat terkena dampak dari semburan yang berlangsung dan penurunan menjadi bagian penting didalam perencanaan untuk masyarakat dan prasarana. HASIL Genangan Lupsi Juni dan Juli 2006: Untuk bulan Juni dan Juli 2006. perhatian ditujukan pada geohazard: Ketika tidak ada indikasi bahwa semburan lumpur akan berhenti secepatnya dan upaya untuk menghentikan aliran lumpur tidak sukses.1 juta m3 dan 2. Studi dan survei diperlukan untuk memahami perilaku dari mud volcano ini dan di dalam membangun model perkiraan. • Survei dilangsungkan pada Mei 2007. Pergerakan yang berbeda sepanjang patahan telah menyebabkan rekahan dan pergerakan menghasilkan tanggul-tanggul runtuh pada beberapa waktu. aliran Lupsi lama. ia dapat runtuh sehingga menyebabkan banjir lumpur panas. • Luas dan ketebalan digunakan untuk menghitung volume dan merata-ratakan kecepatan semburan selama interval lebih dari satu bulan. . DIMENSI Pentingnya nilai LUMPUR atau DAN dimensi aliran VOLUME lumpur: Memahami dimensi aliran lumpur menjadi bagian penting untuk menghitung kecepatan erupsi. • Volume lumpur telah dihitung dengan program GIS yang mampu untuk melakukan analisis 3-D. hal ini merupakan suatu kunci masukan pada model simulasi.5 juta m3.

Genangan Lupsi Mei 2007: Daerah genangan lumpur telah meningkat menjadi 628 ha walaupun telah dibangun tanggultanggul. sesuai dengan data set terdahulu. Batas bidang sesar: Batas antara nilai anomali Bouguer yang rendah dan tinggi ditafsirkan sebagai suatu zona patahan dengan komponen slip yang normal/strike Perubahan density mencerminkan kondisi struktur bawah permukaan: Perubahan bulk density ditafsirkan sebagai perubahan kondisi bawah permukaan karena tekanan dan perubahan densitas dipercaya penyebaran masa di bawah tanah disebabkan oleh pergerakan dari masa. Rendahnya nilai anomali The low residual Bouguer anomaly values mencakup daerah seluas 1. atau lima kali lebih besar dari daerah genangan Juni 2006.3 juta m3.3 km2 dan ditafsirkan sebagai dampak struktur bawah permukaan yang dangkal shallow subsurface structural effect. Hasil Nilai ‘gravity low’ di bawah Gayaberat semburan: Sangat menarik adalah adanya lapisan yang mempunyai angka rendah di sekitar kawah semburan Lupsi dan dengan nilai tinggi di bagian timurlaut. Bukti pengurangan masa pada pusat semburan: Angka gayaberat mikro yang rendah mengindikasikan adanya pengurangan masa pada sekitar pusat semburan lumpur pada kedalaman 1700 m. perhitungan volume lumpur meningkat menjadi 37. fluida dan gas. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful