KAJIAN PENGGUNAAN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) PADA PENURUNAN SENYAWA NITROGEN EFLUEN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PT.

CAPSUGEL INDONESIA

Oleh HANNI DAYLISTIO RAHMANINGSIH F34101095

2006 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Hanni Daylistio.R. F34101095. Kajian Penggunaan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Pada Penurunan Senyawa Nitrogen Efluen Pengolahan Limbah Cair PT. Capsugel Indonesia. Di bawah bimbingan. Ir. Andes Ismayana, MT. 2006

RINGKASAN Eceng gondok (Eichhornia Crassipes) merupakan tanaman air yang dapat tumbuh dengan cepat di daerah tropis. Tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik, sehingga penyebarannyapun sangat cepat. Eceng gondok (Eichhornia Crassipes) mampu menyerap berbagai zat yang terkandung dalam air, baik terlarut maupun tersuspensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan tanaman eceng gondok (Eichhornia crasipes) untuk tumbuh dan berkembang biak dalam effluen limbah cair. Selain itu, bertujuan pula untuk mengetahui kemampuan tanaman dalam menurunkan senyawa nitrogen yang terdapat dalam eflluen limbah. Pada kolam percobaan diberikan dua perlakuan, yaitu perbedaan bobot basah tanaman eceng gondok dan perbedaan beban nitrogen yang terdapat dalam air kolam percobaan. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh keduanya terhadap kemampuan tumbuh tanaman dan kemampuan tanaman menyerap senyawa nitrogen dari dalam air. Namun sebelumnya dilakukan karakterisasi efluen limbah cair untuk mengetahui sifat dari efluen yang akan dijadikan bahan utama dalam penelitian. Kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga factor dan Microsoft Excell 2003. Selama penelitian berlangsung, terjadi perubahan kandungan senyawa nitrogen yang terdapat pada kolam percobaan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa penurunan total nitrogen terbesar terjadi pada kolam A1 (73.05%), kemudian kolam A2 (67.04%), kolam B1 (65.93%) dan penurunan total nitrogen terendah terjadi pada kolam B2 (60.66%). Persen penurunan ammonia tertinggi terdapat pada kolam B1 (72.7%), kemudian kolam B2 (36.4%), dan kolam A1 (27.3%), sedangkan pada kolam A2 terjadi peningkatan jumlah ammonia sebesar 54.5%. Dengan demikian kondisi kolam B1 sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan tanaman untuk menurunkan jumlah ammonia. Persentase penurunan nitrat terbesar terdapat pada kolam A1 (71.43%),kemudian kolam A2 (70.86%), kolam B1 (65.14%) dan presentase penurunan nitrat terendah pada kolam B2 (61.43%). Dilihat dari presentase penurunan, senyawa nitrat memiliki kecenderungan penurunan yang sama dengan total nitrogen, dimana penurunan keduanya optimum berada pada kolam A1. Penurunan senyawa nitrogen disebabkan karena kemampuan tanaman dalam menyerap senyawa-senyawa tersebut sebagai unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pertambahan bobot (basah) tanaman eceng gondok, laju pertumbuhan rata-rata tanaman (RGR) yang berada pada selang 0.95-1.17%/hari dan kemampuannya untuk berganda (DT), dimana waktu tercepat yang dibutuhkan adalah 0.49 hari dan 1.27 hari untuk tanaman yang memiliki nilai RGR yang rendah.

ii

Hanni Daylistio.R. F34101095. Study of Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) at Degradation Nitrogen Compound Effluent Waste Water PT. Capsugel Indonesia. Di bawah bimbingan. Ir. Andes Ismayana, MT. 2006

SUMMARY Eceng gondok (Eichhornia crassipes) is a water hyacinth that can grow fast in tropical area. This plant have a good adaptation and have a certain capacity to absorp suspended solid and soluble solid. The purpose of the research is to identify the ability of this plant to grow in a effluent waste water and to identify the ability of this plant to reduce the nitrogen compound in the effluent waste water. There are two kinds of methods that used in the research pool, which is two give a weighter of the plant and two give a more nitrogen compound. Two kind of methods are used to identify the effect of boths methods in the way the plant grows and the ability to absorp nitrogen in a effluent waste water. But before that, there was a pre research to know the characteristics of the effluent waste water that will be used. The data produced was processed with complete random design with three factor and Microsoft Excell 2003 During the research there are differences in a nitrogen compound. Total Kjeldahl Nitrogen (TKN) test show the value equal to 0.06%. According to the research is known the biggest reduce of nitrogen happen in A1 (73.05%) than A2 (67.04%), B1 (65.93%), and B2 (60.66%). The biggest reduce of ammonia (NH3) happen in B1 (72.7%) than B2 (36.4%), and A1 (27.3%). But in A2 pool that are increasing in ammonia for 54.5%. So we can conclude that B1 pool is suitable condition for the plant to reduce the ammonia. The biggest nitrat (NO3) reducement happen in A1 pool (71.43%) than A2 (70.86%), B1 (65.14%), and B2 (61.43%). From the data, we can conclude that the nitrat have the same reducement possibility with the total nitrogen which optimal in A1 pool. The reducement of the nitrogen is caused by the ability of the plant to absorp those compound as nutrients to grow. This is proof with the increasing of the eceng gondok weight. The grow rate of eceng gondok (RGR) is at 0.951.17%/day and the day to be doubled (DT) where quickest time required is at 0.49-1.27 day.

iii

KAJIAN PENGGUNAAN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) PADA PENURUNAN SENYAWA NITROGEN EFLUEN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PT. CAPSUGEL INDONESIA

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh HANNI DAYLISTIO RAHMANINGSIH F34101095

2006 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR iv

v .

Februari 2006 Yang membuat pernyataan Hanni Daylistio Rahmaningsih F34101095 vi . Bogor. kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.SURAT PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul “Kajian Penggunaan Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Pada Penurunan Senyawa Nitrogen Efluen Pengolahan Limbah Cair Pt. Capsugel Indonesia adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan dosen Pembimbing Akademik.

Pada tahun 1989 Penulis memulai pendidikan di SDN Ciampea I dan lulus pada tahun 1995. Tahun 2001 Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI pada Departemen Teknologi Industri Pertanian. Kemudian pada tahun 1995 Penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Bogor dan lulus pada tahun 1998. Fakultas Teknologi Pertanian.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 26 Oktober 1983. Pada tahun 2004 Penulis melakukan kegiatan praktek lapang di PTPN VIII Cianjur dengan judul “Mempelajari Proses Produksi Teh Hitam Orthodoks dan Penanganan Limbah Industri”. Capsugel Indonesia” di bawah bimbingan Ir. Selanjutnya pada tahun 2005 Penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Kajian Penggunaan Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Pada Penurunan Senyawa Nitrogen Efluen Pengolahan Limbah Cair Pt. Institut Pertanian Bogor. Dawam Yusuf dan Sri Lestari. MT. Andes Ismayana. vii . Pada tahun 1998 Penulis melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 2 Bogor dan lulus pada tahun 2001. Penulis merupakan anak pertama dari enam bersaudara yang merupakan anak dari pasangan M.

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah bagi Rasulullah mulia Nabi Muhammad SAW. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa skripsi ini terselesaikan atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan rasa tulus dan hormat, Penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Ir. Andes Ismayana, MT. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan, nasehat dan bimbingannya selama ini. 2. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti dan Ika Amalia.Kartika, STP. MS selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran untuk penyempurnaan skripsi ini 3. Ibu, Bapak, dan adik-adikku tercinta atas doa, dukungan, motivasi, cinta dan kasih sayangnya yang menguatkan dan meringankan langkah perjalanan ini. 4. Bapak Edi Suyadi selaku Plant Manager PT. Capsugel Indonesia, Bapak Idwan selaku QE. Manager, dan Bapak Steven yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian 5. Bapak Maryudi selaku operator IPAL atas segala bantuan dan bimbingannya selama penulis melakukan penelitian 6. Keluarga besar Lab TML, terimakasih atas segala bantuan yang diberikan 7. TINers 38 atas persaudaraan dan persahabatannya selama ini. 8. Semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu. Penulis berharap semoga hasil tulisan yang sederhana ini dapat menjadi pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang serta dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Bogor, Februari 2006 Penulis

viii

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................... ii DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... v DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vi I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 A. LATAR BELAKANG ......................................................................... 1 B. TUJUAN .............................................................................................. 2 II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3 A. ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes).......................................... 3 1. Biologi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) ................................ 3 2. Kemampuan Eceng Gondok Dalam Penyerapan Air Limbah .......... 6 B. NITROGEN .......................................................................................... 8 1. Ammonia (NH3) .............................................................................. 10 2. Nitrat (NO3)..................................................................................... 12 3. Degradasi Nitrogen ......................................................................... 12 a. Ammonifikasi.............................................................................. 13 b. Nitrifikasi .................................................................................... 13 III. METODE PENELITIAN ......................................................................... 16 A. BAHAN DAN ALAT .......................................................................... 16 B. METODOLOGI ................................................................................... 16 1. Karakterisasi Efluen Pengolahan Limbah Cair ............................... 17 2. Penelitian Pendahuluan ................................................................... 17 3. Penelitian Utama ............................................................................. 18 C. ANALISIS DATA ................................................................................ 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 22 A. KARAKTERISASI EFLUEN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ........ 22 B. PENELITIAN PENDAHULUAN.......................................................... 25

9

Halaman D. PENELITIAN UTAMA........................................................................ 28 1. Berat Basah, Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dan Waktu Berganda (DT) Tanaman .............................................. 28 2. Pertumbuhan Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) ..... 31 3. Pengaruh Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Kandungan Senyawa Nitrogen ....................................... 34 V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 45 A. KESIMPULAN ..................................................................................... 45 B. SARAN ................................................................................................. 46 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 47 LAMPIRAN ...................................................................................................... 50

10

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Metode pengukuran parameter yang diuji ......................................... 17 Tabel 2. Perlakuan penelitian pendahuluan...................................................... 18 Tabel 3. Perlakuan penelitian utama ................................................................ 19 Tabel 4. Kondisi efluen pengolahan limbah cair sebelum pengujian .............. 24 Tabel 5. Kondisi efluen pengolahan limbah cair pada penelitian pendahuluan ....................................................................................... 25 Tabel 6. Kondisi tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) selama penelitian pendahuluan………………………………….….. 27 Tabel 7. Pengamatan bobot tanaman, RGR, dan DT eceng gondok................ 28 Tabel 8. Perbandingan jumlah nitrat dengan berat eceng gondok (g NO3/g eceng gondok)……………………………………………. 29 Tabel 9. Kondisi pertumbuhan tanaman………………………………………. 32

11

. Diagram siklus nitrogen di alam ......... 15 Gambar 6....................... 7 Gambar 4...................... 23 Gambar 8. Grafik laju pertumbuhan relatif (RGR) dan waktu berganda (DT) eceng gondok .... 4 Gambar 2.................................... Mekanisme reaksi kolam aerobik................................................................ 38 Gambar 12................... 35 Gambar 10. 43 12 ..... 6 Gambar 3.......................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1....................................................................................................................... Pengaruh perlakuan terhadap temperatur ................................... 19 Gambar 7........................................... Pengaruh perlakuan terhadap kandungan nitrat (NO3)....... 30 Gambar 9.......... Bagan alir proses pengolahan air limbah ...... mg/l) ..... 42 Gambar 13.. Tataletak bak percobaan ................................... Morfologi eceng gondok ......................................................... 9 Gambar 5........... Grafik perubahan nilai nitrogen total .......... 36 Gambar 11............................. Pengaruh perlakuan terhadap kandungan ammonia (NH3) pada effluent............................................................... Pengaruh perlakuan terhadap kandungan oksigen terlarut (DO........ Sistem perakaran eceng gondok............. Diagram sebuah sel tumbuhan hipotetis ...........

........... 63 Lampiran 10.... 50 Prosedur analisa .. 57 Kondisi proses selama penelitian utama…………....... 61 Lampiran 9...... Baku mutu perairan berdasarkan kelas........ 68 13 .... Desain Kolam Aerobik.... 56 Perubahan jumlah NH3 (mg/l) selama waktu pengamatan ... 51 Hasil pengamatan terhadap jumlah nitrogen total (mg/l)... 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran udara ........................... 55 Perubahan jumlah nitrat (NO3.............. Lampiran 5............……………………............... 65 Lampiran 11................... Lampiran 2......... mg/l) selama pengamatan. Gambaran siklus nitrogen pada air permukaan ....... Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap tinggi rata-rata eceng gondok pada efluen pengolahan limbah cair…………. Lampiran 7.......…………. Lampiran 4. Lampiran 3.. 59 Lampiran 8................ PP No............DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1... Lampiran 6............................ 58 Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah ammonia (NH3) pada efluen pengolahan limbah cair………………………………………............. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah nitrat (NO3) pada efluen pengolahan limbah cair………………………………………........

Di negara berkembang kolam eceng gondok paling sering ditempatkan sebagai tahap utama pembersihan secara biologis dengan kolam pengendap anaerob. Oksidasi ammonia-nitrogen pada kolam aerasi menimbulkan peningkatan konsentrasi nitrat pada efluen pengolahan limbah 14 . Tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bernata (2004). efluen pengolahan limbah cair PT. sehingga penyebarannyapun sangat cepat. PENDAHULUAN A.I. tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan suatu jenis tanaman air yang sangat kuat dan potensial. Capsugel Indonesia masih mengandung senyawa nitrogen yang cukup tinggi. Menurut Sato dan Kondo (1978). eceng gondok mampu menurunkan kandungan nitrat dalam efluen pengolahan limbah cair. LATAR BELAKANG Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tanaman air yang dapat tumbuh dengan cepat di daerah tropis. industri. Karena kemampuan tanaman eceng gondok tersebut dalam menyerap berbagai zat terlarut dan tersuspensi dan menurunkan senyawa nitrogen dari dalam air. baik terlarut maupun tersuspensi. Penanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat mereduksi nitrat sebesar 78%. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) mampu menyerap berbagai zat yang terkandung di dalam air. maka tanaman ini banyak digunakan dalam kolam-kolam stabilisasi untuk menstabilkan efluen pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan. Jumlah nitrat yang tinggi dalam perairan dapat direduksi dengan pemanfaatan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes). dan air limbah campuran dari rumah tangga dan industri. Kolam eceng gondok menyediakan proses yang terus mempertahankan keuntungan-keuntungan kolam air limbah biasa dan sekaligus menghalangi perkembangan massal ganggang yang merupakan kelemahan dari sistem kolam air limbah biasa. Dengan demikian. dilihat dari sisi pembersihan air limbah. Kolam ini sesuai untuk mengolah air limbah yang berasal dari rumah tangga.

Mempelajari pengaruh perbedaan bobot basah eceng gondok yang ditanam terhadap penurunan kandungan senyawa nitrogen pada efluen pengolahan limbah cair 2. Methemoglobin tidak mampu mengikat molekul oksigen. Potensi bahaya yang ditimbulkan oleh adanya kelebihan nitrogen tersebut memerlukan adanya penanganan terhadap efluen tersebut harus lebih ditingkatkan. Mempelajari pengaruh perbedaan beban kandungan nitrogen awal pada penurunan kandungan senyawa nitrogen oleh tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) 3. B. 15 . Namun demikian dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mempengaruhi proses penyerapan senyawa nitrogen tersebut.1 mg/l NO3-N melebihi batasan yang ditetapkan sesuai Baku Mutu I. Selain itu pembuangan efluen pengolahan limbah cair yang mengandung konsentrasi nitrat yang tinggi dapat menyebabkan keracunan pada bayi dan balita. sehingga kulit menjadi kebiru-biruan hal ini menyebabkan suatu kondisi kesehatan yang bernama Methemoglobinemia (blue babies). Dengan adanya kelebihan jumlah senyawa nitrogen tersebut dapat berpotensi untuk memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan. TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. yaitu sebesar 20 mg/l NO3-N. di antaranya adalah jumlah bobot basah tanaman yang ditanam pada kolam stabilisasi dan jumlah senyawa nitrogen pada kolam stabilisasi. Adapun dampak yang ditimbulkan oleh tingginya senyawa nitrogen dalam perairan di antaranya adalah dapat menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tak terbatas dan penurunan kandungan oksigen telarut sehingga menyebabkan kematian ikan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan kolam stabilisasi yang ditanami oleh tanaman eceng gondok sebagai bahan penyerap nitrogen. Mengetahui kemampuan pertumbuhan eceng gondok pada kolam stabilisasi efluen pengolahan limbah cair. Oksidasi oleh nitrit-besi dalam hemoglobin membentuk methemoglobin.cair IPAL hingga mencapai rata-rata 46.

9 ton/ha/th. 1981). Induk eceng gondok memperpanjang stolonnya kemudian tumbuh anaknya diujung stolon. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhannya adalah pH. pertumbuhan eceng gondok tertinggi tercapai pada umur 3-4 minggu. tumbuhan ini menyerap lebih banyak P. 1974). Kisaran pH optimum untuk pertumbuhannya adalah antara 6-8 (Gopal dan Sharma.4%). Suhu optimum untuk pertumbuhannya antara 27 – 30oC. 1981).8%/hari atau sekitar 15 g berat kering/m2/hari. TINJAUAN PUSTAKA A. Pada pH 5 eceng gondok bertambah berat keringnya 17. dan akan mati pada suhu dibawah 0oC atau pada 45oC dalam 48 jam (Gopal dan Sharma. Biologi Eceng Gondok (Eichornia crasipes) Eceng gondok (Eichornia crasipes) merupakan mikrophyta akuatik yang mampu menyerap senyawa-senyawa kimia dalam perairan. eceng gondok mampu menyerap fosfor (ortofosfat) sebesar 157 kg dan nitrogen (Nitrat-NH3) sebanyak 693 kg (Mitchell. Pertumbuhan eceng gondok memerlukan cahaya yang cukup. Kemudian pada pH 5 jumlah individu eceng gondok akan berlipat dua setelah 10 – 15 hari dengan pertambahan individu 20%/hari dan pertambahan berat basah 13. ECENG GONDOK (Eichornia crasipes) 1. Pertumbuhan terhenti pada suhu dibawah 10oC atau diatas 40oC.II. Pada pH 4. dan pada pH 7 lebih banyak menyerap N dan K (Gopal dan Sharma. 1981). Eceng gondok mampu berkembang biak secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Dinyatakan dari berat kering 2. sehingga di daerah tropik tumbuhan ini dapat berkembang dengan baik.4% atau 8 kali lebih besar dibandingkan pada pH 7 (5. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sukar (1987). Perkembangbiakan vegetatif lebih umum dibandingkan generatif. 16 .

leher daun. dan stolon yang dijadikan sebagai tempat perkembangbiakan vegetatif. Kemampuan eceng gondok untuk menyerap senyawa kimia dalam air tidak terlepas dari aspek fisiologis tumbuhan itu sendiri. ujung akar. akar. pengapung. Gambar 1 ini menunjukkan morfologi dari tumbuhan eceng gondok: Gambar 1. Morfologi Eceng Gondok Keterangan: B = Helai daun (leaf blade) F = Pengapung (float) I = Leher daun (Isthmus) L = Ligula R = akar (Root) rh = Akar rambut (root hair) rc = Ujung akar S = Stolon 17 .Pengukuran laju pertumbuhan relatif didasarkan pada berat kering yang diukur mulai tahap bertunas sampai tahap berbunga. senyawa kimia yang diabsorbsi tumbuhan dapat diakumulasi dalam jaringan vascular tumbuhan atau digunakan untuk proses metabolisme tumbuhan. Menurut Larcher (1980). akar rambut. Tumbuhan eceng gondok terdiri atas helai daun. ligula.

Sistem perakaran eceng gondok pada umumnya lebih dari 50% dari seluruh biomassa tumbuhan. Sumber lain menjelaskan bahwa eceng gondok yang tumbuh pada air yang kaya akan unsur hara mempunyai petiole (batang) yang panjangnya lebih dari 100 cm. 1962). yaitu 70 buah/cm. Mollenhauer (1967) mengadakan penelitian secara detail tentang struktur tudung akar. Akar menunjukkan variasi yang kecil dalam ketebalan. Adapun sistem perakaran eceng gondok ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini: 18 .Eceng gondok merupakan tanaman yang berakar serabut dan tidak bercabang.. 1948). tetapi panjangnya bervariasi mulai dari 10 – 300 cm. Berdasarkan pengamatan Das (1968) menunjukkan bahwa ada hubungan kuat antara panjang akar dengan panjang daun. mempunyai tudung akar yang mencolok. tetapi perakarannya kecil apabila tumbuh dalam lumpur. dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat banyak vakuola tanpa noda (zat warna tebal) di dalam tudung akar. tetapi akarnya pendek yaitu kurang dari 20 cm (Bagnall et al. tetapi sistem perakarannya pendek (Wakefield. Eceng gondok memiliki lubang stomata yang besar. Tumbuhan yang tumbuh pada limbah domestik mencapai tinggi sampai 75 cm. Akarnya memproduksi sejumlah besar akar lateral. Hal-hal di atas mempengaruhi kemampuan eceng gondok dalam penyerapan berbagai unsur hara dan senyawa kimia lainnya dari dalam air. yaitu dua kali lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan tumbuhan lain dan jarak antar stomata adalah delapan kali besarnya lubang (Penfound dan Earle.1974). Sementara itu dalam perairan yang miskin hara panjang petiole kurang dari 20 cm tetapi panjang akarnya lebih dari 60 cm.

1981). tapioka.. dan lain-lain. Nitrifikasi yang dihasilkannya serta denitrifikasi yang kemudian berlangsung dalam sedimen. Permukaan akarnya digunakan oleh mikroorganisme sebagai tempat pertumbuhan. pabrik karet. industri farmasi. Eceng gondok memiliki akar yang bercabang-cabang halus. Sistem perakaran eceng gondok yang tumbuh pada air dengan kadar N yang rendah (Dinges. diamati sebagai proses yang memisahkan zat lemas dalam kolam-kolam eceng gondok (Stowell et all. Penelitian tersebut meliputi limbah kota. Dengan demikian kepadatan organisme dalam sistem meningkat. 19 .Gambar 2. terutama nitrifikasi yang peka menemukan tempat pertumbuhan yang sesuai dengan pada akar eceng gondok. eceng gondok mampu menyerap zat yang terkandung di dalam air limbah yang cukup besar. pabrik kelapa sawit. Kemampuan Eceng Gondok (Eichornia crasipes) Dalam Penyerapan Air Limbah Dari berbagai penelitian. 1982) 2.

1977). misalnya jenis logam/zat pencemar. 1987) 20 . Mekanisme penyerapan yang terjadi yaitu dengan adanya bahan-bahan yang diserap menyebabkan vakuola menggelembung. eceng gondok mampu menurunkan kadar total bakteri coliform dan fecal bakteri coliform limbah kota. Diagram sebuah sel tumbuhan hipotetis diamati di bawah mikroskop elektron (Loveless. lamanya kontak berlangsung dan lain-lain (Widiyanto dan Susilo. Kecepatan dan banyaknya penyerapan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal ini menyebabkan pertukaran atau penyerapan bahan antara sebuah sel dengan sekelilingnya menjadi lebih efisien. Adapun gambaran dari tumbuhan hipotetis dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini: Gambar 3. Kemampuan eceng gondok dalam penyerapan adalah karena adanya vakuola dalam struktur sel. umur dan ukuran tumbuhan.Menurut Dinges (1982). maka sitoplasma terdorong ke pinggiran sel sehingga protoplasma dekat dengan permukaan sel.

Kecepatan transpirasi tanaman eceng gondok dua kali lebih besar dibandingkan kayambang. Nitrogen harus mengalami fiksasi terlebih dulu menjadi NH3. B. NH4. Di perairan. nitrogen berupa nitrogen anorganik dan organik. NITROGEN Nitrogen adalah nutrien penting dalam sistem biologis. Proporsinya tergantung degradasi bahan organik yang berlangsung. dan NO3. 1987). Pada tumbuhan dan hewan. Nitrogen organik berupa asam amino. Nitrogen mengisi sekitar 12% protoplasma bakteri dan 5-6% protoplasma kapang. 21 . Menurut Loveless (1987). dan nitrat (NO3). kecepatan penyerapan garam mineral dan unsur hara ditentukan pula oleh transpirasi dari tumbuhan tersebut. nitrit (NO2). Senyawa nitrogen organik dapat ditransformasi menjadi nitrogen ammonium dan dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat dalam fungsi biologis (Jenie dan Rahayu. Eceng gondok memiliki kecepatan transpirasi yang lebih besar apabila dibandingkan dengan tumbuhan lain seperti kayambang (Salvinia sp. senyawa nitrogen ditemukan sebagai penyusun protein dan klorofil.1993) Nitrogen dan senyawanya tersebar secara meluas dalam biosfer. ammonium (NH4). Nitrogen akan terdapat sebagai nitrogen organik dan nitrogen ammonia dalam air limbah. Meskipun beberapa organisme akuatik dapat memanfaatkan nitrogen dalam bentuk gas. nitrogen tidak dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup secara langsung (Dugan. Nitrogen anorganik terdiri atas ammonia (NH3). Meskipun ditemukan dalam jumlah yang melimpah di lapisan atmosfer.). 1972). Sitoplasma berfungsi sebagai “bengkel” sel karena di dalamnya berlangsung sebagian besar kegiatan kimiawi antar sel berlangsung melalui dinding sel dngan proses difusi dan osmosa (Loveless.Sebuah sel yang bervakuola dapat mencapai ukuran lebih besar dari pada tanpa vakuola. akan tetapi sumber utama nitrogen di perairan tidak terdapat dalam bentuk gas.

Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transformasi sebagai bagian dari siklus nitrogen. Senyawa nitrogen mengalami dekomposisi menjadi ammonium. Nitrat yang terbentuk dapat terbawa oleh aliran air dan sebagian mengalami reaksi denitrifikasi yang menghasilkan gas nitrogen. Ammonium yang ada kemudian terdekomposisi menjadi nitrat melalui reaksi nitrifikasi. Jumlah ammonium akan mengalami peningkatan dengan adanya penguraian bahan organik melalui reaksi ammonifikasi. dan urea. buangan domestik. Nitrogen di atmosfer difiksasi oleh organisme.protein. limbah perikanan. Adapun siklus nitrogen di alam ditunjukkan pada Gambar 4 berikut: Gambar 4. peternakan dan pupuk. limbah industri. Diagram siklus nitrogen di alam Sebagian besar dari nitrogen total dalam air dapat terikat sebagai nitrogen organik. Bentuk utama dari nitrogen di air limbah adalah material protein dan urea. kegiatan industri dan proses kimia. yaitu dalam bahan-bahan berprotein. 22 . Sumber-sumber nitrogen dalam air dapat bermacam-macam meliputi hancuran bahan organik.

karena ammonia merupakan bentuk terbanyak dari nitrogen anorganik dalam air. 2000). Nitrat sebagai nutrien dapat digunakan oleh binatang untuk membentuk N-organik. 1984. 23 . 2003) dan mikroorganisme dapat mengasimilasi N langsung dari bahan organik atau merubah bahan organik menjadi ammonia melalui hidrolisis (Lin. Tingginya kadar ammonia di perairan menunjukkan tingginya kadar bahan organik yang mudah terurai. 1977). Perairan alami pada umumnya memiliki kandungan ammonia kurang dari 0. karena sebagian besar keberadaan ammonia dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik oleh mikroorganisme (Effendi. Pada sistem perairan alami. Adapun gambaran dari siklus nitrogen yang terdapat di lingkungan perairan dapat dilihat pada Lampiran 1. Semua bentuk nitrogen dapat ditemui pada berbagai jenis lingkungan karena sifatnya yang mudah dioksidasi atau direduksi oleh berbagai proses lingkungan (Waite. 1987). 1991). nitrat merupakan senyawa yang paling dominan dan selanjutnya berturut-turut adalah ammonia. Jumlah nitrogen nitrat yang lebih banyak menunjukkan bahwa air limbah telah distabilkan dengan keberadaan oksigen. Nitrit dan nitrat akan dirubah menjadi nitrogen (N2) oleh mikroorganisme dengan proses yang disebut denitrifikasi. Wiesman. Bakteri dapat mengoksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat dalam lingkungan aerobik. Amonia sangat mudah larut dalam air dan umumnya merupakan bentuk peralihan serta sumber tambahan nitrogen yang penting bagi pertumbuhan ganggang dan tanaman air lainnya serta merupakan substrat yang diserap oleh sel biota (Brown dan Johnson. Molekul nitrogen atmosfer (N2) difiksasi menjadi ammonia (NH3) dan kemudian ammonia akan diasimilasi menjadi asam amino (Jackson dan Jackson. 1979). dan nitrit. Amonia (NH3) Kadar ammonia di perairan merupakan salah satu parameter kimia perairan yang penting.Dekomposisi oleh bakteri merubahnya menjadi ammonia. Dekomposisi dari ammonia tanaman ataupun binatang oleh bakteri dapat meningkatkan jumlah ammonia (Metcalf dan Eddy. yaitu protein. 1. 1994).1 mg/l (McNeely et al..

sedangkan dengan kondisi pH yang tinggi. Larutan tersebut bereaksi dengan NH3 akan membentuk dispersi koloid kuning kecoklatan. hanya dengan jumlah ammonia yang rendahpun sudah bersifat racun. Amonia dapat mengakibatkan keadaan kekurangan oksigen pada air. karena pada konversi ammonia menjadi nitrat membutuhkan 4. reduksi nitrit oleh bakteri. yaitu ammonia bebas atau tidak terionisasi (NH3) dan dalam bentuk ion ammonia (NH4+). Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: NH3 + H2O NH4+ + OH- Salah satu metode untuk mengukur kadar ammonia adalah dengan menggunakan reagen nessler. dan pemupukan (jika ada). tergantung pada pH dari larutan tersebut. Keasaman air atau nilai pH pada perairan sangat mempengaruhi apakah jumlah ammonia yang ada akan bersifat racun atau tidak.5 bagian oksigen untuk setiap bagian ammonia. Kemudian Widigdo et al.. Reagen nessler merupakan larutan basa kuat kalium merkuri iodida. konsentrasi ammonia yang tinggi pada permukaan air dapat menyebabkan kematian ikan yang terdapat pada perairan tersebut. Menurut Jenie dan Rahayu (1993). Dengan keadaan tersebut. Intensitas warna tersebut proporsional dengan jumlah NH3 yang ada. (2000) menambahkan bahwa ammonia di perairan dapat berasal dari proses dekomposisi bahan organik yang banyak mengandung senyawa nitrogen (protein) oleh mikroba (amonifikasi). ammonia (NH3) terdapat dalam larutan baik dalam bentuk ion ammonium ataupun ammonia. maka kadar oksigen terlarut dalam cairan akan turun yang menyebabkan 24 . Pengaruh pH terhadap toksisitas ammonia ditunjukkan dengan kondisi dimana pada pH yang rendah ammonia akan bersifat racun jika dalam perairan ammonia berada dalam jumlah yang banyak. Perbandingan ammonia dalam kedua bentuk tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai pH dan suhu.Menurut Metcalf dan Eddy (1991). mengatakan pada bentuk cairan ammonia terdapat dalam dua bentuk. ekskresi organisme. Jenie dan Rahayu (1993).

nitrogen nitrit.. Kedua parameter ini dalam perairan sangat tergantung pada ketersediaan oksigen terlarut. Mahida (1986) mengemukakan bahwa nitrat mewakili produk akhir dan pengoksidasian zat yang bersifat senyawa nitrogen. namun dapat juga diserap oleh air dari udara dan digunakan oleh ganggang dan beberapa jenis bakteri untuk pertumbuhan. sumber dan tipe bahan organik. 3. 2. 1991). nitrogen ammoniak. 1987).makhluk biologis. 1989). Proses-proses tersebut akan berlangsung secara otomatis tatkala kondisi lingkungan mengalami perubahan untuk mikroorganisme tersebut hidup. dan nitrogen nitrat. misalnya ikan tidak dapat hidup (Jenie dan Rahayu. Nitrat (NO3) Kandungan nitrat dan nitrit dapat digunakan sebagai indikator status perairan. nitrat berada dalam jumlah yang paling banyak dan sumber nitrat berasal dari difusi udara dan oksidasi nitrit (Orth dan Wilderer. Degradasi Nitrogen Nitrogen yang terkandung dalam limbah cair pada umumnya berada dalam bentuk nitrogen organik. Menurut Suryadiputra (1995) didalam kondisi anaerob sekelompok golongan bakteri fakultatif anaerob menggunakan nitrit dan nitrat sebagai terminal penerima elektron nitrat nitrogen diubah menjadi gas nitrogen dalam kondisi tidak ada oksigen dalam air (proses denitrifikasi anoksik). Proses penurunan 25 . jadi jumlah nitrat menunjukkan lajunya pembenahan menuju oksidasi lengkap. Nitrat merupakan senyawa terpenting karena dalam senyawa ini lebih mudah diserap oleh tanaman air dan dapat digunakan dalam proses fotosintesa. 1979. Abel. Nitrifikasi dan denitrifikasi adalah proses yang secara biologis akan mengkonversi amoniak menjadi gas N2. Nitrogen netral sebagai gas N2 merupakan nitrogen yang sulit untuk bereaksi lagi. Dibanding dengan senyawa lainnya. tipe dan kondisi perairan (Uhlman. Nitrogen lenyap dari larutan sebagai gas.

nitrifikasi dan denitrifikasi. Ammonifikasi merupakan reaksi yang merubah nitrogen organik menjadi ammonium menurut reaksi berikut: N – Organik NH4+ Seiring dengan waktu limbah cair masuk ke dalam instalasi pengolahan. nitrogen merupakan amoniak (NH3). Ammonifikasi Nitrogen pada kebanyakan air limbah cair dan domestik berada dalam bentuk nitrogen organik. Nitrifikasi Nitrifikasi adalah proses autropik dimana energi untuk pertumbuhan bakteri berasal dari oksidasi senyawa nitrogen. Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut: Tahap pertama: NH4+ + 3/2 O2 Tahap Kedua: NO2Nitrobacter + ½ O2 NO3 Nitrosomonas NO2. dan dilakukan pada dua tahap proses. Ketika pH adalah asam atau netral. nitrogen organik memulai konversi ke ammoniak atau ammonium. Nitrifikasi merupakan konversi secara biologi dari ammonium menjadi nitrogen nitrat.nitrogen dalam limbah cair meliputi proses ammonifikasi. kebanyakan nitrogen organik telah dikonversi menjadi ammonium (Arundel. 2000) b.0. Ketika pH meningkat melebihi 8. a. Melalui proses yang disebut hidrolisis.+ 2H+ + H2O 26 . Bentuk dari nitrogen tergantung pada pH dan suhu. mayoritas nitrogen adalah ammonium (NH4+). terutama ammonia.

terdapat dua cara yang dapat dilakukan. Pada penanganan dan pengolahan limbah cair . Proses ini dapat berjalan dengan baik jika konsentrasi oksigen dijaga minimum pada 2. 1994). Salah satu sistem yang dapat digunakan adalah dengan dengan memakai kolam stabilisasi aerobik (Moertinah. Pada oksigen terlarut kurang dari 0. Laju pertumbuhan bakteri nitrifikasi dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen terlarut (DO).Persamaan tersebut di atas adalah reaksi yang menghasilkan energi. Gambaran mengenai mekanisme reaksi kolam aerobik dapat dilihat seperti pada Gambar 5 berikut: 27 . Nitrosomonas dan Nitrobacter menggunakan energi ini untuk pertumbuhan dan perawatan sel.0 mg/l. tumbuhan terapung) mengkonsumsi CO2 dalam fotosintetis dan mengeluarkan O2 ke dalam air (Moertinah. Bakteri ini dikenal sebagai “nitrifiers” yang merupakan bakteri aerobik obligat atau hanya aktif jika terdapat oksigen dalam jumlah cukup. laju nitrifikasi mendekati nol (Metcalf dan Eddy. Pada suhu 40oC atau lebih. Nitrifikasi mencapai laju maksimum pada suhu antara 30oC dan 35oC. Suhu air juga mempengaruhi tingkat nitrifikasi. Dalam kolam stabilisasi aerobik.5 mg/l laju pertumbuhannya minimum. Pengolahan secara biologis pada prinsipnya adalah pemecahan bahan organik. 1984). sedangkan organisme fotosinteik (alga. 1984). bakteri aerobik mendekomposisi bahan-bahan organik limbah. yaitu pengolahan secara fisik dan pengolahan secara biologis.

1974) 28 .Gambar 5. Mekanisme reaksi kolam aerobik (Moriber.

31 – 11. timbangan digital.39 cm. Adapun peralatan lain yang digunakan adalah pH meter.III. tinggi rata-rata eceng gondok 9. Polivinyl Alcohol. cawan alumunium.68 – 13. Digestion solution for COD. METODE PENELITIAN A. Molybdovanadate reagent. penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Adapun bahan kimia penunjang meliputi DPD Free Clhorine. B. NaSO4. NaOH 50%. furnace.25 cm. erlenmeyer 250 ml. Capsugel Indonesia dan tanaman eceng gondok. desikator. dan panjang rata-rata diameter rumpun 8. spektrophotometer DR 2010.05 N. neraca analitik.05 N. Nitrat ver. METODOLOGI Penelitian dibagi menjadi beberapa tahap. pH buffer. labu kjeldahl 25 ml. oven. yaitu karakteristik efluen limbah cair. nessler reagent. kertas saring Whatman seri 41. HCl 0. labu destilasi. BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah efluen pengolahan limbah cair Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa data jumlah helai daun tiap rumpun 5-7 helai. CuSO4. Pemilihan eceng gondok yang seragam dalam penelitian ini terkait dengan kemampuan eceng gondok dalam menyerap bahan organik yang terdapat pada air limbah. H2SO4 pekat. dan buret. dan NaOH 0. DO meter. 29 . Penelitian ini menggunakan drum plastik dengan kapasitas volume 120 l sebanyak 12 buah.

DO. ammonium (NH3) dan total kjeldahl nitrogen (TKN). suhu. Pada tahap ini dilakukan pengukuran terhadap beberapa parameter. Adapun metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran ini adalah sebagai berikut: Tabel 1. Pengenceran efluen pengolahan limbah cair bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan pertumbuhan eceng gondok pada tiaptiap efluen pengolahan limbah cair IPAL PTCI yang telah diencerkan. 1 2 3 4 5 6 7 Parameter pH DO Suhu (T) Amonium (NH3) Nitrat (NO3) TKN Cl2 mg/l % mg/l Spectrophotometric Titrimetrik Spectrophotometric Spectrophotometer Kjeldahl Spectrophotometer Satuan mg/l O Cara Analisis Potensiometrik Potensiometrik Kalorimetrik Spectrophotometric Alat pH meter DO meter Thermometer Spectrophotometer C mg/l 2. 30 . Penelitian Pendahuluan Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengenceran terhadap efluen pengolahan limbah cair PT. Capsugel Indonesia.1. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman eceng gondok yang ditanam pada efluen pengolahan limbah cair. Metode pengukuran parameter yang diuji (SOP PTCI) No. nitrat (NO3). diantaranya pH. Karakterisasi Efluen Pengolahan Limbah Cair Karakterisasi efluen pengolahan limbah cair ini bertujuan untuk mengetahui kondisi efluen pengolahan limbah cair sebelum ditanami oleh tanaman eceng gondok. yang kemudian akan menjadi dasar bagi percobaan penyerapan oleh tanaman eceng gondok.

dan diameter rumpun eceng gondok (Eichhornia crassipes). Perlakuan Penelitian pendahuluan Perlakuan E1 E2 E3 E4 E5 E6 Perbandingan 100 % air buangan IPAL 1:1 1:2 1:3 1:4 1:5 Tanaman eceng gondok yang digunakan adalah tanaman yang seragam dengan melihat jumlah helai daun. dan panjang rata-rata diameter rumpun 8. 3. dan suhu serta tingkat kemampuan tanaman dalam menurunkan kadar nitrogen (amonium dan nitrat) pada akhir pengamatan yang terkandung dalam efluen pengolahan limbah cair IPAL PTCI. kemudian tanaman eceng gondok ditanam pada media tersebut. nitrat.68 – 13.Pada bagian ini. ammonia. tinggi rata-rata eceng gondok 9. Penelitian Utama Hal yang dilakukan dalam penelitian utama adalah memberikan perlakuan terhadap air buangan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman eceng gondok dan pengaruhnya terhadap efisiensi 31 .31 – 11.25 cm.39 cm. suhu. DO. DO. tinggi tanaman. meliputi pH. dan klorin pada awal pengamatan dan selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap kemampuan tumbuh tanaman eceng gondok serta kondisi proses yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Berikut ini tabel pengenceran (efluen pengolahan limbah cair IPAL : air sumur) pada penelitian pendahuluan : Tabel 2. setelah itu dilakukan pengukuran pH. panjang akar. efluen pengolahan limbah cair PTCI diencerkan dengan pengenceran 1-5 kali. Berdasarkan hasil pengamatan tanaman eceng gondok yang digunakan adalah tanaman dengan jumlah helai daun tiap rumpun 5-7 helai.

Reaktor kolam yang digunakan dibagi menjadi empat bagian dengan dua kali ulangan. Pada kolam percobaan diberikan dua perlakuan.penyerapan nitrat (NO3) dan ammonium (NH3) serta nitrogen total oleh tanaman Eceng gondok (Eichhornia crassipes). 32 . Berikut ini tabel yang menunjukan perlakuan yang diberikan pada penelitian utama: Tabel 3. yaitu perbedaan pada bobot basah tanaman eceng gondok dan jumlah beban nitrogen dalam kolam percobaan. Perlakuan penelitian utama Perlakuan A1 A2 B1 Jumlah beban nitrogen (mg) 217 217 433 Bobot basah eceng gondok (g) 358 640 350 Penutupan permukaan kolam (%) 25 50 25 50 B2 433 618 Tata letak bak percobaan pada penelitian utama ditentukan secara acak. Tataletak bak percobaan Kedelapan bak percobaan diisi dengan efluen IPAL PTCI yang telah diencerkan secara “Batch Loading” (pengisian sekaligus). Adapun tataletak bak percobaan ditunjukkan pada Gambar 6 berikut: A2 A1 A2 A1 B2 B1 B2 B1 Gambar 6.

Model matematika yang digunakan adalah berdasarkan grafik dari hubungan antara x dan y. ANALISIS DATA Data yang diperoleh diperhitungkan dengan mengukur laju pertumbuhan relatif tanaman (Relative Growth Rate. hasil analisa yang telah diperoleh kemudian dicari model matematikanya. Analisa data diolah dengan menggunakan Microsoft Excell 2003. DT). 1974) Data hasil pengujian yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan pendekatan grafis berdasarkan hubungan antara lamanya waktu pengujian dengan nilai penurunan parameter-parameter yang diuji. dimana x adalah lamanya waktu pengujian dan y adalah penurunan konsentrasi dari parameter-parameter yang diuji. DT = Ln 2 RGR Dimana: RGR = Laju Pertumbuhan Relatif Tanaman (%/hari) (Mitchell. Menurut Walpole (1995).C. Adapun faktor yang digunakan yaitu jumlah bobot basah tanaman eceng gondok dan jumlah beban nitrogen yang ada pada kolam percobaan. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitungnya adalah sebagai berikut: RGR = Ln Xt – Ln Xo t Dimana: Xo = Berat basah awal (g) Xt = Berat basah setelah waktu ke-t t = Waktu (hari) Perhitungan waktu berganda eceng gondok ditentukan berdasarkan laju pertumbuhan relatif tanaman (RGR). RGR) dan kemampuannya untuk berganda (Double Time. rancangan acak lengkap dicirikan dengan diberikannya perlakuan 33 . Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua kali ulangan.

34 .secara acak pada seluruh bahan percobaan. Model rancangan yang digunakan adalah sebagai berikut : Yijk = μ + Ti + Xj + εijk Dimana : Yijk = Peubah respon ulangan ke-k (1.2) karena pengaruh faktor yang diberikan Data diolah dengan menganalisa keragaman untuk melihat pengaruh perlakuan-perlakuan yang diberikan.2) karena interaksi dari dua perlakuan yang diberikan μ = Pengaruh rata-rata sebenarnya Ti = Pengaruh penanaman eceng gondok pada bobot basah yang berbeda Xj = Pengaruh perbedaan beban nitrogen yang diberikan εij = Galat percobaan ulangan ke-j (1. Analisa keragaman dilanjutkan dengan uji lanjut wilayah berganda Duncan untuk perlakuan yang menunjukkan perbedaan nyata (F hitung > F tabel).

Efluen pengolahan limbah cair adalah air buangan hasil dari pengolahan limbah cair pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah melalui beberapa tahapan proses. kemudian dilakukan penurunan suhu. presipitasi. ekualisasi.8. Setelah dari bak sedimentasi. karena suhu air dari proses produksi mencapai 80oC-100oC. Pengolahan limbah secara fisika meliputi: penurunan suhu. CAPSUGEL INDONESIA Limbah cair PT. Capsugel Indonesia berasal dari air buangan proses pencucian disk (disc wash) dan sebagian limbah domestik. pengaturan pH. setelah itu disaring dengan menggunakan filter zeolit untuk menyerap material yang tersisa pada air limbah. Adapun urutan dari tahapan proses tersebut adalah air limbah mengalir ke dalam bak ekualisasi sehingga konsentrasi dan debit menjadi homogen. oksidasi dan desinfeksi. Setelah dilakukan penurunan suhu. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengolahan secara kimia meliputi: koagulasi dan flokulasi.5 dan kemudian masuk ke dalam proses denitrifikasi dan nitrifikasi. Untuk membantu pengendapan bahan pencemar yang tidak dapat mengendap dengan cara gravitasi maka dilakukan proses flokulasi – koagulasi dan kemudian diendapkan pada bak sedimentasi. penyaringan. Pengolahan limbah cair di PTCI meliputi pengolahan secara fisika.5 .IV. Pengolahan biologis meliputi nitrifikasi dan denitrifikasi. limbah cair masuk ke dalam proses klorinasi untuk menghilangkan mikroorganisme pathogen. kimia. dan biologi. KARAKTERISASI EFLUEN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR IPAL` PT. pH limbah cair diatur secara kontinu pada pH 6. pengendapan dan pengadukan (mixing). Adapun bagan alir proses pengolahan air limbah adalah sebagai berikut: 35 .

Keterangan: : Aliran proses : Aliran bahan kimia Gambar 7. Bagan alir proses pengolahan air limbah 36 .

No.1 16. diperoleh pula nilai klorin yang tinggi pada efluen pengolahan limbah cair. Tingginya nilai nitrat (NO3) ini dimungkinkan karena bahan baku produksi yang berupa gelatin yang merupakan senyawa turunan protein.06 0.Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan. Adapun senyawa nitrogen yang lain memiliki nilai yang rendah dan berdasarkan pengujian yang dilakukan. selain itu dapat pula disebabkan karena adanya proses nitrifikasi pada pengolahan limbah cair PTCI dimana proses nitrifikasi merupakan konversi secara biologi dari ammonium menjadi nitrogen-nitrat. sehingga nilai klorin yang ada melebihi baku mutu golongan I (0.03 mg/l) berdasarkan PP. Nilai total kjeldahl yang dihasilkan tersebut menunjukkan bahwa nitrogen yang terdapat pada efluen pengolahan limbah cair merupakan nitrogen yang bersifat anorganik (Nammonia bebas). Total kjeldahl nitrogen menunjukkan jumlah dari nitrogen organik dan nitrogen anorganik. diketahui bahwa efluen pengolahan limbah cair IPAL PTCI masih memiliki jumlah nitrat (NO3) yang cukup tinggi. diperoleh data awal efluen pengolahan limbah cair IPAL sebagai berikut: Tabel 4. 82 Tahun 2001.01 29 0. Tingginya kandungan klorin ini disebabkan karena adanya proses klorinasi pada pengolahan limbah cair PTCI dimana terdapat penambahan kaporit atau kalsium hipoklorit 1% dengan tujuan untuk menghilangkan mikroorganisme 37 . Berdasarkan hasil pengujian.84 Berdasarkan tabel 4 di atas.06%). Kondisi efluen pengolahan limbah cair sebelum pengujian Parameter Total Kjeldahl Nitrogen (TKN) Ammonia (NH3) Nitrat (NO3) pH hSuhu (T) Klorin (Cl2) o Satuan % mg/l mg/l C mg/l Nilai 0.5 8. diperoleh nilai Total Kjeldahl Nitrogen (TKN) yang sangat kecil (0.

42 7.6 25.4 27.65 7.8 Suhu (oC) Waktu (hari) 3 6 27. Nilai pH yang tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar limbah berasal dari senyawa-senyawa organik.99 4.71 4.35 4. PENELITIAN PENDAHULUAN Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan eceng gondok.95 5.18 6.70 4.20 4.7 27. B.45 4.2 27.50 4.7 Berdasarkan hasil pengujian pada penelitian pendahuluan.4 27.4 27.8 29.5 9 25.28 7.69 0 28.82 4.71 5.56 7. terutama pada parameter ammonium-nitrogen. dan DO (Demand Oxygen).1 27.15 7. dimana sebelum ditanam pada efluen. yang mana beban tersebut pada instalasi Pengolahan Limbah Cair (IPAL) PTCI dihasilkan dari pencucian disk (disk wash) dan sebagian limbah domestik. Adapun hasil pengamatan pada penelitian pendahuluan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.9 25. Amonia. dan COD merupakan parameter yang secara umum menjadi beban limbah cair.1 28.20 3.1 27.32 4.82 4.64 4.5 25. Beban air buangan selama penelitian sangat fluktuatif.68 4.16 7.1 27.90 4.39 7.20 7.2 27.6 27. seperti protein yang kemudian didekomposisi menjadi ammonia (NH3). 38 .29 7.77 4. Kondisi efluen pengolahan limbah cair pada penelitian pendahuluan Kolam 0 E1 E2 E3 E4 E5 E6 7. Selain itu dengan jumlah cahaya yang cukup dan suhu yang optimum untuk pertumbuhannya (27 oC.90 6.7 28.77 7.26 9 7.5 25.85 DO (mg/l) Waktu (hari) 3 6 9 3.5 6.58 4.15 7.pengolahan limbah cair Kondisi Eceng gondok selama penelitian pendahuluan dapat dilihat pada Tabel 6.21 7.27 pH Waktu (hari) 3 6 7.7 7. Tanaman eceng gondok yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar.35 7.34 0 4.30 oC) menyebabkan eceng gondok mampu untuk terus tumbuh dan menyerap unsur hara yang terkandung di dalam efluen.46 7.56 4.71 4.68 4.3 27. tanaman eceng gondok distabilkan pada air bersih selama satu hari.42 4. nilai pH berada dalam kisaran yang normal.4 25. BOD.7 28.57 7. fosfat. sehingga pada pH tersebut eceng gondok masih dapat untuk tumbuh dan berkembang biak.46 7.pathogen. pH.9 28.75 6.

tanaman eceng gondok tidak dapat berkembang biak dengan baik sampai akhir pengamatan. terutama bagi air yang diperuntukkan bagi kepentingan domestik. Berikut ini persamaan reaksi yang terjadi: NH4+ + HClO NH2Cl + HClO NHCl2 + HClO NH2Cl + H2O + H+ NHCl2 + H2O NCl3 + H2O (monokloramin) (dikloramin) (nitrogen triklorida) 39 . dan tri-amines. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan klorin yang tinggi pada efluen pengolahan limbah cair. Oleh karena itu. tanaman eceng gondok lebih cepat layu dan mengering. N-kloramides. Pada tanaman eceng gondok. sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. dapat dilihat bahwa pada efluen pengolahan limbah cair yang tidak diencerkan. Dengan tingginya kandungan klorin dalam air menyebabkan terhambatnya reaksi nitrifikasi. Nkloramines. di-. Klorin dalam perairan dapat berfungsi sebagai desinfektan untuk menghilangkan mikroorganisme yang tidak dibutuhkan. dan senyawa berklor lainnya sehingga mengurangi jumlah nutrient dalam air dan menghambat pertumbuhan tanaman.Pada Tabel 6 tersebut. klorin di perairan dapat bereaksi dengan senyawa nitrogen membentuk mono-. Pada kolam ini. klorin bersifat sangat toksik bagi mikroorganisme dengan cara menghambat aktifitas metabolisme mikroorganisme tersebut (Tebbut. karena selain menghambat aktifitas metabolisme mikroorganisme. Pertumbuhan tanaman pada kolam percobaan ini lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada kolam percobaan yang lain. 1992). mikroorganisme tumbuh di akar tanaman membantu terjadinya proses nitrifikasi.

satu daun ujungnya layu Eceng gondok masih dapat tumbuh. terdapat bintik-bintik pada hampir semua permukaan daun Eceng gondok dapat tumbuh bagus. satu batang berwarna kuning dan mati Eceng gondok masih dapat tumbuh. tidak terdapat daun yang mati Eceng gondok dapat tumbuh bagus. tiga batang daun kering berwarna kuning Eceng gondok masih dapat tumbuh. 2 daun kering berwarna kuning Eceng gondok masih dapat tumbuh. eceng gondok dapat tumbuh baik Beberapa daun mulai layu dan berwarna kuning. Kondisi tanaman eceng gondok selama penelitian pendahuluan Hari ke3 Perlakuan E1 E2 E3 E4 E5 E6 6 E1 E2 E3 E4 E5 E6 9 E1 E2 E3 E4 E5 E6 Kondisi Eceng Gondok Pada permukaan daun timbul bintik-bintik. hanya satu daun yang layu dan batangnya berwarna kuning Tidak ada daun yang layu dan kering. tidak terdapat eceng gondok yang mati. beberapa daun layu berwarna kekuningan dan kering. Beberapa daun mulai layu. tidak terdapat daun yang mati. 1 daun rusak dan kering berwarna kuning dan beberapa daun ujungnya layu Eceng gondok masih dapat tumbuh. tidak ada daun yang kering dan layu.Tabel 6. satu batang ujungnya layu dan berwarna kekuningan Eceng gondok dapat tumbuh bagus. 4 daun ujungnya kering berwarna kuning Eceng gondok masih dapat tumbuh. satu batang daun kering dan satu batang layu ujungnya. terdapat 6 daun yang kering 5 daun rusak dan ujungnya kering. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan tersebut diperoleh data bahwa perbandingan efluen pengolahan limbah cair IPAL dengan air sumur yang 40 . tidak ada daun yang kering Eceng gondok masih dapat tumbuh bagus. tumbuh satu buah daun baru Tidak ada daun yang kering dan layu Eceng gondok dapat tumbuh. tumbuh satu daun baru Eceng gondok masih dapat tumbuh.

RGR dan DT tanaman dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 7.5 680 365 622. Berat Basah.95 1.5 640 350 617.17 0. Hasil pengukuran berat basah. semua tanaman eceng gondok yang ditanam mengalami peningkatan bobot basah. Hal ini menunjukkan bahwa air yang digunakan dalam pengujian mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan eceng gondok. dan Waktu Berganda (DT) Tanaman Nilai laju pertumbuhan relatif (Relative Growth Rate/RGR) merupakan gambaran dari kemampuan tanaman eceng gondok dalam menyerap unsur hara dari air limbah yang digunakan untuk pertumbuhannya.5 RGR (%/hari) 1.5 692.60 1. Perbandingan ini kemudian dijadikan sebagai dasar dalam penelitian utama yang akan dilakukan. Pengamatan bobot tanaman.49 1.15 0. dan DT eceng gondok Perlakuan 0 A1 A2 B1 B2 357. seperti N dan P.5 390 662. maka eceng gondok dapat menurunkan senyawa nitrogen dengan optimal pada efluen pengolahan limbah cair.27 0.83 0.08 DT (hari) Berdasarkan tabel di atas. B. Dengan pertumbuhan yang lebih baik. RGR.sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan eceng gondok adalah pada perbandingan 1 : 2. sehingga jumlah eceng gondok yang tidak dapat tumbuh lebih kecil dibandingkan dengan eceng gondok yang tumbuh. Perbedaan jumlah pertambahan bobot basah tanaman disebabkan karena kondisi 41 . PENELITIAN UTAMA 1. Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) Eceng Gondok (Eichhornia crassipes). dan tanaman eceng gondok mampu menyerap unsur hara tersebut. karena pada perbandingan tersebut eceng gondok dapat tumbuh lebih baik dibandingkan dengan perbandingan yang lainnya.5 Waktu (Hari) 3 372.5 6 385 685 375 625 9 397.

jumlah nitrat mengalami penurunan sejalan dengan pertambahan bobot (basah) tanaman. Kondisi tersebut pun dapat dilihat pada pola perubahan senyawa nitrogen yang terdapat dalam kolam percobaan. Selain itu. Hal ini disebabkan pada kolam B1 terdapat perbandingan antara beban nitrogen dengan bobot (basah) tanaman dalam jumlah yang sesuai atau tidak berlebih dan kurang. Pertambahan bobot tanaman akan semakin besar apabila terdapat jumlah nutrisi yang cukup besar.0011 0. Kondisi ini dibuktikan dengan hasil percobaan dimana kolam A2 memiliki pertambahan bobot (basah) tanaman lebih besar dibandingkan dengan kolam yang lain. Perbandingan bobot tanaman dan jumlah nitrat yang tinggi menyebabkan sistem kelebihan 42 .0014 0.0036 0.00033 0. Semakin banyak jumlah nitrat yang diserap.002 Waktu (hari) 3 0.00047 0.00026 0. berdasarkan Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan laju pertumbuhan relatif tanaman pada setiap kolam percobaan.00045 0.00049 0. Perbandingan jumlah nitrat dengan berat eceng gondok (g NO3/g Eceng gondok) Perlakuan 0 A1 A2 B1 B2 0. Berikut ini tabel yang menunjukkan adanya perbandingan bobot tanaman dan jumlah nitrat yang terdapat dalam efluen selama pengamatan: Tabel 8.00073 Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh. Laju pertumbuhan relatif yang terbesar terdapat pada eceng gondok yang ditanam pada kolam B1.proses pada tiap-tiap kolam percobaan berbeda.00095 9 0. sesuai dengan kebutuhan tanaman. maka pertambahan bobot basah tanaman pun akan semakin besar.00083 0.00056 6 0. selain itu perlakuan (jumlah beban nitrogen dan bobot tanaman) yang diberikan kepada tiaptiap kolam percobaan pun mempengaruhi pertambahan bobot tanaman selama pengamatan.0031 0.00098 0.0018 0.

6 1.83 0.4 0.2 0 1. Hal ini didukung oleh pendapat Davis dan Cornwell (1991) yang menyatakan bahwa nilai perbandingan yang rendah menyebabkan sistem kekurangan makanan dan keadaan ini menghasilkan degradasi limbah yang lebih baik.makanan. Adanya degradasi senyawa yang terdapat pada limbah ini ditunjukkan dengan adanya perubahan senyawa nitrogen. keadaan ini menyebabkan degradasi limbah yang lebih baik (Davis dan Cornwell. 1980).2 1 0.95 1.27 1.6 0.4 1. Senyawa kimia yang diserap oleh tanaman eceng gondok diakumulasi dalam jaringan vaskular tumbuhan atau digunakan untuk proses metabolisme tumbuhan dan kemampuan eceng gondok dalam menyerap senyawa kimia dalam air tidak lepas dari aspek fisiologis tumbuhan air itu sendiri (Larcher.8 0. sedangkan nilai perbandingan yang rendah menyebabkan sistem kekurangan makanan.08 RGR (%/hari) DT (hari) 0. Dari hasil pengujian diperoleh nilai perbandingan yang cukup rendah.17 0. 1991). 1.49 A1 A2 B1 B2 Perlakuan Gambar 8. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kelebihan jumlah makanan dalam sistem yang dapat menyebabkan sistem menjadi jenuh terhadap makanan dan pada akhirnya dapat mengganggu proses pengolahan air buangan. kondisi ini mempermudah terjadinya degradasi senyawa organik yang terdapat pada effluen. Grafik laju pertumbuhan relatif eceng gondok 43 . Jumlah nutrisi atau substrat dan tanaman selama proses berlangsung harus berada dalam perbandingan yang cukup.15 0.

karena senyawa nitrogen dalam air berfungsi sebagai nutrisi bagi tanaman. Pada grafik pertumbuhan relatif (RGR) dapat terlihat bahwa RGR tertinggi terdapat pada perlakuan B1 (1. maka waktu berganda tanaman akan menurun semakin cepat. Hal tersebut dapat disebabkan karena lebih banyaknya jumlah eceng gondok pada penutupan 50%.17%/hari) yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan relatif eceng gondok pada perlakuan A1 (1. Pertumbuhan Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Kemampuan tanaman eceng gondok dalam menyerap nitrogen sebagai nutrien selain ditunjukkan dengan nilai laju petumbuhan relatif tanaman (RGR).15%). Pada air limbah yang ditanami dengan tanaman eceng gondok dengan bobot tanaman lebih tinggi dan penutupan permukaan kolam sebesar 50% memiliki nilai RGR yang lebih rendah dibandingkan dengan air limbah yang ditanami eceng gondok sebesar 25%.Berdasarkan grafik di atas. 2. maka tanaman akan semakin cepat berkembang biak. dimana pada saat tanaman dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dapat pula dilihat dari penurunan senyawa nitrat selama waktu pengamatan. ditunjukkan pula dengan adanya pertumbuhan tanaman selama waktu pengamatan. dapat dilihat bahwa pada saat pertumbuhan relative rata-rata (RGR) tanaman meningkat. Hubungan antara pertumbuhan eceng gondok dan kandungan nutrien media adalah positif yang menghasilkan biomassa dengan pola pertumbuhan eksponensial pada waktu terbatas atau pertumbuhan sigmoid yang dipengaruhi oleh kepadatan (Bock. sehingga untuk mendapatkan unsur hara yang terdapat pada air limbah lebih sedikit diserap oleh setiap tanaman eceng gondok. Oleh karena itu perubahan senyawa nitrogen mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangbiakan tanaman. 1969). Adapun pertumbuhan tanaman tersebut 44 . Kondisi ini menggambarkan proses pertumbuhan yang terjadi pada tanaman eceng gondok. Nilai RGR merupakan cerminan dari kemampuan eceng gondok dalam menyerap unsur hara dari air selain dari pengukuran biomassa tanaman.

07 8.59 56 12.unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman eceng gondok terdiri dari unsur makro: N.2 31 11.59 65 10.73 63 10.25 Pertambahan jumlah helai daun terbanyak terdapat pada tanaman eceng gondok yang ditanam pada kolam B2.68 7.8 10. Ca.01 9.5 63 12. serta unsur mikro: Mn.1 9 38 13. Kemampuan tanaman eceng gondok untuk tumbuh di dalam air sangat bervariasi tergantung pada kandungan unsur hara yang terdapat di dalamnya. dan Cu (Gopal. P. tinggi rata-rata tanaman dan diameter tanaman.73 7. Fe. Seperti halnya tumbuhan lain.31 60 10.35 10.23 40 11.71 8. kemudian pada kolam B1 (10 helai 45 .85 9.91 62 11.59 7. Zn.32 47 9.82 8. Eceng gondok masih dapat tumbuh dalam keadaan miskin unsur hara dan pada perairan yang subur tanaman ini dapat berkembang biak dengan cepat. tinggi rata-rata tanaman dan diameter rumpun dari tanaman.83 35 12.meliputi pertambahan jumlah helai tanaman.05 7.33 7. Mg. semua eceng gondok yang ditanam pada kolam percobaan mengalami perubahan jumlah helai daun.72 9. Kondisi pertumbuhan tanaman Perlakuan A1 Parameter 0 Jumlah Helai Tinggi rata-rata Diameter rumpun A2 Jumlah Helai Tinggi rata-rata Diameter rumpun B1 Jumlah Helai Tinggi rata-rata Diameter rumpun B2 Jumlah Helai Tinggi rata-rata Diameter rumpun 33 11. yaitu sebanyak 16 helai daun (dari 47 helai menjadi 63 helai daun).84 50 10.25 11.91 9.85 9. 1987). Berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman eceng gondok.58 6 36 12.68 41 12. K.13 Waktu (hari) 3 34 12. Kondisi pertumbuhan tanaman ini dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini: Tabel 9.

pertambahan tinggi ratarata terbesar terdapat pada kolam B2 (9.35 cm).73 menjadi 10. yaitu 5 helai daun.25). Selain itu dengan adanya peningkatan tinggi rata-rata tanaman dan pertambahan diameter rumpun tanaman membuktikan bahwa pada kolam percobaan terdapat unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk proses tumbuh dan berkembang dan tanaman eceng gondok memiliki kemampuan untuk menyerap unsur hara dalam kolam percobaan tersebut. selain itu dengan jumlah beban nitrogen yang cukup tinggi menyebabkan terpenuhinya nutrien yang dibutuhkan oleh tanaman untuk 46 .daun) dan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa jumlah nitrogen dalam efluen dan bobot basah tanaman memberikan pengaruh yang nyata (P<0.68 cm menjadi 12.07) dan pertambahan tinggi rata-rata terendah pada kolam A2 (10. Hal ini dikarenakan kolam percobaan diletakkan pada lingkungan yang terbuka sehingga cahaya dapat masuk dan membantu pertumbuhan tanaman.85). A2 dan B2 mengalami pertambahan jumlah helai daun yang sama. di antaranya adalah terdapat cahaya yang cukup yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh.71 menjadi 13.59 menjadi 12. Untuk perubahan tinggi rata-rata tanaman. B1 (11. Kondisi tersebut di atas terjadi karena kolam B2 memiliki volume air sebanyak 120 l dengan beban nitrogen 433 mg dan bobot tanaman sebesar 618 g atau penutupan permukaan kolam sebesar 50%. Hal ini menyebabkan tanaman lebih banyak memperoleh cahaya dibandingkan dengan tanaman pada kolam percobaan dengan volume 60 l. sehingga terjadi perubahan pada ketiga parameter tersebut selama waktu pengamatan.05) terhadap perubahan tinggi rata-rata tanaman pada keempat kolam percobaan. kemudian pada kolam A1 (11. terdapat faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman eceng gondok. Selain karena tanaman memperoleh nutrisi untuk pertumbuhannya. Adanya peningkatan jumlah helai daun menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu berkembang biak selama waktu pengamatan.

Nitrogen total adalah gambaran nitrogen dalam bentuk organik dan anorganik pada air limbah (Davis dan Cornwell. dan N-NH3 yang bersifat larut. Pengaruh Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Kandungan Senyawa Nitrogen Unsur nitrogen dalam perairan dapat berbentuk gas nitrogen (N2). Senyawa ini akan ditimbun dalam vakuola.. O. Senyawa-senyawa organik yang terdapat di dalam air akan diuraikan menjadi zat anorganik berupa unsur-unsur C. N. Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan pada setiap tanaman dalam kolam percobaan disebabkan karena adanya perbedaan jumlah beban nitrogen awal pada tiap kolam percobaan. Tanaman eceng gondok dapat tumbuh dengan cepat pada kolam percobaan dengan beban nitrogen awal yang tinggi. Kemampuan untuk tumbuh pada tanaman disebabkan karena adanya kemampuan untuk menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. H. Nitrogen total merupakan penjumlahan dari nitrogen anorganik yang berupa N-NO3. dan digunakan oleh tanaman untuk keperluan pertumbuhannya. 3. tinggi dan panjang diameter rumpun eceng gondok dari awal pengamatan sampai dengan hari kesembilan menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu menyerap unsur hara yang terdapat pada air yang digunakan untuk pertumbuhannya. O. dari karbohidrat dan lemak dan unsur-unsur C. dan nitrogen organik yang bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth et al. NH4+. Adanya peningkatan jumlah helai daun. 47 . 1991). Hal ini yang menyebabkan kecepatan pertumbuhan dan produktifitas tanaman eceng gondok menjadi tinggi. ammonia (NH3) terlarut atau senyawa ammonium (NH4+). dan PO42-. nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) yang merupakan mata rantai daur (siklus) nitrogen dalam perairan alami. sehingga mempercepat pertambahan tinggi rata-rata tanaman dibandingkan dengan kolam yang lain. seperti pada kolam B1 dan B2.pertumbuhannya. NNO2. 1989). P dari protein dalam bentuk misalnya ion-ion NO3-. H. S.

5 1 0. karena jumlah oksigen terlarut (DO) yang terdapat didalam air lebih dari 3 mg/l.5 0 0 3 Waktu (hari) A1 A2 B1 B2 6 9 Gambar 9. sehingga pada kondisi ini tidak terjadi reaksi denitrifikasi. di antaranya reaksi nitrifikasi yang mendekomposisi nitrogen menjadi nitrat menyebabkan perubahan pada kandungan nitrat dalam kolam pecobaan. Hal ini didukung dengan adanya nilai oksigen terlarut (DO) yang mencukupi untuk reaksi nitrifikasi. diantaranya ammonia dan nitrat.5 Total Nitrogen (mg/l) nitrogen total mengalami perubahan selama waktu pengamatan. Adapun mekanisme yang terjadi pada kolam percobaan termasuk ke dalam mekanisme reaksi kolam aerobik. Grafik perubahan nilai nitrogen total Adanya perubahan total nitrogen menyebabkan perubahan senyawasenyawa nitrogen yang lain. sehingga jumlah total nitrogen akan berkurang dan jumlah senyawa ammonia akan mengalami peningkatan.5 2 1. Untuk lebih jelasnya perubahan ini dapat dilihat pada grafik 3 2.Jumlah berikut: 4 3. Apabila nilai kandungan oksigen terlarut tidak sesuai dengan kebutuhan reaksi nitrifikasi. Selama penelitian berlangsung. 48 . Penanaman eceng gondok pada kolam percobaan memberikan pengaruh terhadap kandungan ammonia. Perubahan total nitrogen disebabkan karena adanya proses reaksi pada kolam percobaan. maka kolam berada dalam kondisi anaerob dan senyawa nitrogen yang terbentuk di dalamnya adalah senyawa ammonia (NH3).

7 0. selain itu peningkatan ini dapat pula disebabkan oleh banyaknya nitrat yang diserap oleh akar tanaman untuk pertumbuhan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan kemudian diubah menjadi ammonia (ammonifikasi). dan B2.4 0. yaitu pada kolam A2. Tingginya kandungan ammonia dapat pula disebabkan oleh limbah cair yang sebagian besar terdiri dari bahan organik berupa protein dan nitrogen yang berada dalam bentuk organik atau nitrogen protein dan ammonia (Abel. Pada hari ketiga terjadi peningkatan kandungan amonia pada tiga kolam percobaan.6 Ammonia (mg/l) 0.OH + energi Berikut ini grafik perubahan kandungan ammonia (NH3) selama waktu pengamatan: 0. Pengaruh perlakuan terhadap kandungan ammonia (NH3) pada efluen pengolahan limbah cair Gambar 10 di atas menunjukkan bahwa mulai hari ke-0 kandungan ammonia mengalami perubahan sejalan dengan proses penguraian yang 49 . 1989).NH2 + CO2 + energi + hasil lain NH3 + R. Peningkatan kandungan ammonia ini disebabkan oleh kondisi kolam yang tidak diberi tambahan sistem aerasi.3 0. B1.1 0 0 3 Waktu (hari) A1 A2 B1 B2 6 9 Gambar 10.5 0. Nitrogen dalam bentuk protein dirombak menjadi amoniak dengan reaksi sebagai berikut: Mikroba Protein R.NH2 + HOH Mikroba R.2 0.terjadi perubahan kandungan ammonia pada air kolam percobaan.

Dengan penutupan luas permukaan kolam sebanyak 50% dan beban nitrogen 433 g menyebabkan jumlah ammonia yang terbentuk di dalamnya lebih banyak dibandingkan dengan kolam percobaan yang lain. maka proses nitrifikasi yang berlangsung akan semakin lama. Peningkatan kandungan ammonia terbesar pada hari ketiga terdapat pada sample B1. Dengan demikian dapat dilihat bahwa semakin lamanya waktu penyerapan. Perubahan ammonia terjadi pada setiap waktu pengamatan. kolam B1 menunjukkan persen penurunan ammonia yang tinggi (72. Kandungan nitrat dan nitrit dapat digunakan sebagai indikator perairan. karena peningkatan jumlah amonia dapat disebabkan oleh dekomposisi amonia tanaman ataupun binatang oleh bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepadatan eceng gondok dan jumlah beban nitrogen pada kolam percobaan memberikan pengaruh terhadap kandungan amonia pada air kolam percobaan. Dan kondisi tersebut pun mempengaruhi jumlah nitrat (NO3) yang terdapat dalam kolam percobaan. Kondisi ini menyebabkan tanaman memperoleh nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya dan membantu proses biologi yang berlangsung di dalam air. tetapi pada tingkat kepadatan tanaman yang rendah. sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman dalam memperoleh nitrogen sebagai nutrisi. Hal ini pun ditunjukkan dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan ammonia pada efluen pengolahan limbah cair pada hari ke-6 dan hari ke-9. dimana pada sampel ini ditanami eceng gondok dengan bobot basah 350 g dan beban nitrogen 433 g dengan luas penutupan permukaan kolam percobaan 50%. Parameter ini dalam perairan sangat tergantung pada ketersediaan 50 . Selain itu. hal ini menunjukkan bahwa lamanya waktu penyerapan yang dilakukan oleh tanaman eceng gondok mempengaruhi kandungan ammonia yang terdapat dalam kolam percobaan. Nilai ini menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu menurunkan senyawa ammonia dengan beban yang tinggi.terjadi.7%). dilihat dari persentase penurunan ammonia pada kolam percobaan.

1987). 1986). tipe dan kondisi perairan (Uhlman. nitrat tersedia dalam jumlah yang paling banyak dan sumber nitrat berasal dari difusi udara dan oksidasi nitrit (Orth dan Wilderer. terlihat bahwa terjadi penurunan kandungan nitrat yang besar pada kolam percobaan. 1989). Pada tiga hari pertama.oksigen terlarut (DO). Setelah itu pada hari 51 . Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada penelitian ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan nitrat yang terdapat dalam air kolam percobaan. Dibandingkan dengan senyawa yang lain. 1979 dan Abel. sumber dan tipe bahan organik. Selain itu nitrat mewakili produk akhir dan pengoksidasian zat yang bersifat senyawa nitrogen. Nitrat merupakan senyawa penting. karena dalam bentuk nitrat lebih mudah diserap oleh tanaman air dan digunakan dalam fotosintesa. jadi jumlah nitrat menunjukkan lajunya pembenahan menuju oksidasi lengkap (Mahida. Tetapi kondisi ini berbanding terbalik dengan perubahan kandungan ammonia pada kolam percobaan. Hal ini dapat dilihat pada grafik perubahan jumlah nitrat pada kolam percobaan berikut ini: 12 10 Nitrat (mg/l) 8 6 4 2 0 0 3 Waktu (hari) A1 A2 B1 B2 6 9 Gambar 11. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Nitrat (NO3) Gambar 11 di atas menunjukan bahwa laju penurunan nitrat sejalan dengan penurunan total nitrogen pada kolam percobaan.

Hasil tersebut sesuai dengan yang didapat oleh Sato dan Kondo (1979) yang menyatakan bahwa dengan penanaman eceng gondok tingkat reduksi nitrat yang terjadi sebesar 78%. nitrat berada pada kondisi dimana tidak terjadi penurunan dalam jumlah yang besar. Adanya penurunan kandungan nitrat yang diperoleh (>50%) menunjukkan bahwa dengan penanaman eceng gondok mampu menurunkan kandungan nitrat dalam air kolam percobaan. dimana nitrat yang terdapat dalam efluen pengolahan limbah cair tidak dapat dihilangkan.05) terhadap perubahan nitrat pada efluen pengolahan limbah cair. Adanya penurunan kandungan nitrat dalam kolam percobaan sejalan dengan pertambahan kandungan ammonium yang terdapat pada kedua kolam percobaan tersebut. Persentase penurunan nitrat terbesar terdapat pada kolam A1. Hal ini pun dapat dilihat pada grafik perubahan nitrat. Hal tersebut menunjukkan semakin lama waktu penyerapan akan menurunkan kadar nitrat hingga akhir pengamatan.15 mg/l. dimana pada kolam percobaan ini beban nitrogen yang terdapat di dalamnya lebih kecil dibandingkan dengan kolam yang lain. Lamanya waktu penyerapan mempengaruhi perubahan kandungan nitrat.5 mg/l menjadi 1. Hal ini menunjukkan tingkat kemampuan tanaman dalam menyerap nitrat. Hal ini menunjukkan bahwa eceng gondok dapat menurunkan jumlah 52 . Hasil rata-rata pada akhir pengamatan menunjukkan terjadi penurunan kandungan nitrat dari 3. selain itu bobot basah tanaman eceng gondok dan persen penutupan permukaan kolam percobaan pun lebih kecil dibandingkan dengan kolam yang lain. Berbeda halnya dengan perubahan kandungan ammonia pada kolam percobaan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada keempat kolam percobaan tidak memiliki pengaruh yang nyata (P>0. nitrat mengalami penurunan yang cukup besar. dimana pada hari ketiga pengujian. kemudian pada hari ke-6 mulai mengalami peningkatan hingga proses oksidasi selesai.berikutnya.

dan oksigen terlarut (DO). Hal ini menunjukkan bahwa pada tiga hari pertama eceng gondok lebih banyak menyerap nitrat dan terjadi pembentukan ammonia (ammonifikasi). Adapun kondisi proses tersebut di antaranya adalah pH. sehingga terdapat peningkatan jumlah nitrat. bobot basah eceng gondok dan kondisi proses pun mempengaruhi perubahan senyawa nitrogen yang terdapat dalam kolam percobaan. dimana oksigen yang ada dalam jumlah yang cukup membantu proses nitrifikasi yang mengubah ammonia menjadi nitrat. Pada hari keenam. perubahan terbesar yang terjadi adalah pada senyawa nitrat (>50%). kandungan ammonia mengalami penurunan pada kolam percobaan dengan volume 120 l (kolam B) dan peningkatan jumlah ammonia pada kolam percobaan dengan volume 60 l (kolam A). seperti pada kolam A1. Hal ini dapat dikaitkan dengan nilai oksigen terlarut (DO) pada masing-masing kolam percobaan. ammonia dan nitrat selama waktu pengamatan. Secara umum terjadi pola perubahan total nitrogen.nitrat dengan optimal pada beban nitrogen rendah dan jumlah eceng gondok yang rendah pula. Nilai oksigen terlarut (DO) pada kolam percobaan dengan volume 120 l lebih besar dibandingkan dengan kolam percobaan bervolume 60 l. suhu. senyawa nitrat digunakan oleh tumbuhan eceng gondok untuk pertumbuhannya. Berdasarkan hasil yang diperoleh. Seperti halnya pada tiga hari pertama terjadi peningkatan kandungan ammonia pada semua kolam percobaan. Selain itu jumlah beban nitrogen. diketahui bahwa perlakuan yang diberikan tidak memiliki pengaruh terhadap nilai pH. Secara umum nilai 53 . Hal ini didukung oleh pernyataan Orth dan Wilderer (1987) yang mengatakan bahwa nitrat merupakan senyawa terpenting karena dalam bentuk nitrat lebih mudah diserap oleh tanaman air dan dapat digunakan dalam proses fotosintesa. Jumlah beban nitrogen dan bobot basah eceng gondok mempengaruhi kondisi proses yang terdapat dalam kolam percobaan. tetapi sebaliknya terjadi penurunan kandungan nitrat dan total nitrogen yang cukup besar pada semua kolam. Kondisi ini menyebabkan terjadinya reaksi nitrifikasi pada kolam percobaan B. Pada perubahan senyawa nitrogen ini.

Adanya peningkatan nilai pH ini terkait dengan penguraian bahan organik protein menjadi ammonia oleh bakteri aerobik yang menghasilkan CO2. sampai tingkat NH3 ini dikenal sebagai ammonifikasi.33 sampai dengan 8. H2O.. Kandungan oksigen dalam air sangat menentukan penyebaran hewan yang terdapat di dalamnya. Perlakuan yang ditanami tanaman eceng gondok dengan bobot (basah) yang lebih tinggi dan penutupan 50% memiliki CO2 + H2O + NH3 54 .al. maka nilai DO dalam perairan harus dijaga tidak kurang dari 4 mg/l. Selain pH. Kandungan oksigen terlarut dalam air sangat diperlukan oleh mikroorganisme pengurai untuk menguraikan bahan-bahan organik biodegradable. menjaga kelestarian reproduksi jenis. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah oksigen yang terlarut dalam suatu perairan antara lain adalah suhu. turbulensi perairan dan tekanan udara. dan NH3 dengan proses kimia sebagai berikut: CxHyOzN + O2 (Pandia et. Kondisi ini mendukung tanaman eceng gondok dalam menyerap senyawa nitrogen dalam efluen. Boyd (1979) menyatakan bahwa 1 mg DO/l merupakan konsentrasi minimal untuk ikan pada periode istirahat.1995: Effendi 2003) Penguraian bahan organik dilakukan oleh bakteri aerobik.pH berkisar antara 7. oksigen yang terlarut dalam air pun mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi pada kolam percobaan. Hal ini menunjukkan bahwa pada kolam percobaan nilai oksigen terlarut dapat dijaga dalam kondisi aerob. Kematian ikan dapat dicegah dengan menjaga kondisi konsentrasi DO 3 mg/l. Namun demikian mulai hari ketiga pH air limbah mengalami peningkatan pada semua perlakuan.21. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa perubahan kandungan oksigen yang terjadi tidak signifikan. Sedangkan menurut NTAC (1968) agar kegiatan perikanan dapat berhasil dan layak. salinitas. Suatu perairan dengan nilai DO 2 mg/l dapat menghindarkan kondisi yang mengganggu kehidupan di perairan itu. kesuburan dan perkembangan populasi.

Kehilangan oksigen dapat disebabkan karena adanya oksigen digunakan oleh eceng gondok untuk respirasi.29 3.973. beban nitrat dan jumlah tanaman eceng gondok yang ditanam pada kolam percobaan terhadap penurunan ketiga parameter tersebut. dan sebaliknya CO2 bebas sangat tinggi.88 A1 A2 B1 B2 4.34 6 9 Gambar 12. Hal ini dapat disebabkan oleh kandungan bahan organik yang berada dalam jumlah sedikit.8 4.kandungan oksigen yang paling rendah.11 4 3.65 4. Menurut Mitchell (1974) adanya eceng gondok menyebabkan kandungan oksigen terlarut rendah dibandingkan dengan perairan terbuka. yang disebabkan oleh respirasi dan rendahnya proses fotosintesis. mg/l) Gambar 12 menunjukkan bahwa pada hari pertama sampai dengan hari ke-6 kandungan oksigen selama pengujian mengalami peningkatan. Grafik kandungan Oksigen Terlarut (DO.32 3 2 1 0 0 3 Waktu (hari) 3. ammonia dan nitrogen total.92 3.95 3. 55 . Apabila dilihat hubungan antara grafik oksigen terlarut dengan perubahan kandungan nitrat. Pengaruh Perlakuan terhadap kandungan oksigen terlarut (DO.55 3. mg/l) 6 5 DO (m g/l) 5. Kondisi ini disebabkan karena proses fotosintesa eceng gondok terjadi di permukaan. Wahlquist (1974) menyatakan bahwa kandungan oksigen dibawah perakaran eceng gondok sangat rendah. Maka terdapat pengaruh oksigen terlarut.36 4.11 4. sehingga oksigen yang dihasilkan lepas ke udara. sehingga oksigen yang diperlukan untuk proses dekomposisi juga sedikit.51 3.05 4.49 4.

Penurunan oksigen terlarut terjadi pada tiga hari pertama. maka akan menyebabkan pengurangan ammonia dan peningkatan nitrat pada air kolam percobaan Hal ini pun dipengaruhi pula oleh jumlah eceng gondok yang ditanam dan beban nitrogen pada kolam percobaan. Dimana pada saat oksigen terlarut berkurang. 31 30 29 Suhu (oC) 28 27 26 25 24 23 0 3 Waktu (hari) A1 A2 B1 B2 6 9 Gambar 13. Pengaruh perlakuan terhadap temperatur 56 . nitrat. Selain pH dan oksigen terlarut. Begitu pula yang terjadi pada kolam percobaan yang lainnya. dimana penurunan terbesar terdapat pada kolam B2. Kondisi ini menyebabkan kandungan ammonia pada kolam percobaan meningkat. dan ammonia. Gambaran kondisi di atas menunjukkan suatu hubungan antara oksigen terlarut dengan kandungan nitrogen total. sebaliknya kandungan nitrat turun sejalan dengan turunnya jumlah nitrogen total yang terdapat dalam kolam percobaan. Kondisi ini dapat dilihat pada kolam percobaan B. kandungan ammonia akan turun dan nitrat akan meningkat begitu pula dengan nitrogen total. pada saat oksigen terlarut meningkat. Perubahan suhu yang terjadi dapat disebabkan adanya perbedaan cuaca harian dari awal pengamatan sampai dengan hari terakhir pengamatan. Dan sebaliknya. Namun pada saat oksigen terlarut mulai meningkat pada hari ke-6. maka akan menyebabkan peningkatan ammonia dan pengurangan nitrat pada air kolam percobaan. kondisi lain yang mempengaruhi penyerapan senyawa nitrogen oleh eceng gondok adalah suhu.

57 . maka akan semakin besar menghalangi pertukaran panas antara atmosfer dengan permukaan air (Aneja dan Singh. Semakin banyak permukaan kolam yang tertutupi oleh tanaman. Suhu air buangan yang diberi perlakuan masih memiliki kisaran suhu yang normal karena masih berada di atas 10 oC dan di bawah 40 oC. Sehingga dengan demikian perubahan suhu yang terjadi tidak mempengaruhi proses reaksi yang terdapat pada kolam percobaan. Sedangkan peningkatan suhu yang terjadi berkaitan dengan adanya hasil pernafasan. 1992). baik untuk kolam A maupun maupun kolam B. Sehingga perubahan senyawa nitrogen yang terjadi disebabkan oleh adanya penanaman eceng gondok dalam kolam percobaan.Suhu air limbah dalam kolam percobaan memiliki kecenderungan yang sama. Penurunan suhu yang terjadi memiliki hubungan dengan kepadatan eceng gondok yang ditanam. baik aerob maupun anaerob berupa CO2 yang berlebihan. Adanya hasil metabolisme mikroorganisme pada akar tanaman serta adanya penghancuran eceng gondok yang sudah mati.

sedangkan perlakuan yang diberikan memiliki pengaruh yang nyata (P<0. Kemampuan eceng gondok dalam menyerap senyawa nitrogen sebagai nutrien ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang meliputi pertambahan jumlah helai. Pada kolam percobaan dengan bobot basah tanaman yang tinggi memiliki waktu berganda untuk pertumbuhannya. disebabkan karena adanya persaingan yang lebih besar pada kolam tersebut dalam memperoleh nutrisi 58 .27 hari. Tanaman Eceng gondok dapat menurunkan senyawa ammonia (NH3) hingga 72.. Hasil uji statistik menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan tidak memiliki pengaruh yang nyata (P>0.05%.95 1. KESIMPULAN DAN SARAN A. Perbedaan bobot basah tanaman dan perbedaan beban nitrogen mempengaruhi proses penyerapan senyawa nitrogen dari dalam air oleh tanaman eceng gondok. Sejalan dengan adanya penurunan nitrat. Penurunan total nitrogen terbesar adalah 73. Selain itu ditunjukkan pula dengan nilai laju pertumbuhan relatif tanaman (RGR) dan kemampuan tanaman untuk berganda (DT).05) terhadap perubahan nitrat pada ke empat kolam percobaan.3% pada bobot basah eceng gondok 433 g dan beban nitrogen 350 mg/l.V. terjadi penurunan total nitrogen pada kondisi kolam yang sama.43%) terdapat pada kolam dengan bobot basah eceng gondok 217 g dan beban nitrogen 358 mg/l. Laju pertumbuhan relatif tanaman pada penelitian ini berada pada selang 0.17%/hari dan kemampuan tanaman untuk berganda berada pada selang 0. yang lebih lama. Sebaliknya penurunan jumlah nitrat (NO3) terbesar (71.05) terhadap perubahan ammonia pada ke empat kolam percobaan.491. perubahan tinggi rata-rata tanaman dan pertambahan pada diameter rumpun tanaman eceng gondok. KESIMPULAN Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tanaman yang dapat menyerap senyawa nitrogen dari dalam air.

SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini.B. 59 . yaitu dengan melakukan pengolahan lanjutan pada efluen pengolahan limbah cair Instalasi Pengolahan air Limbah (IPAL) pada kolam stabilisasi yang ditanami oleh eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebelum efluen tersebut dibuang ke lingkungan. perlu dilakukan adanya aplikasi langsung pada instalasi pengolahan air limbah.

L. Sci acad. B. Natural Systems for Water Pollution Control Van Nestrand Reinhold Environment Engineering Series. Vol. 60 . Proc. singh. Production Of Water Hyacinth (Eichhornia crassipes (Malt) solms). 1977. M. McGraw-Hill-Newyork Dinges. and Sharma. R.. J. P. 2000. Water Hyacinth (Eichhornia crassipes (Malt) Solms) The Most Troublesome Weed of The Word. Craftmaster Printers. Bock. Sewage and Industrial Effluent Treatment. W. Kajian Proses Denitrifikasi Limbah Organik Dengan Sistem Modified Ludzak-Ettinger. Manual Nitogen Control. and K. C. 1991. Cornwell. P: 49114. New Delhi Jenie. B. S. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. V. M. Melbourne Effendi. 1981. Skripsi. Telaahan Kualitas Air Bagi Pengelolaan sumber Daya dan Lingkungan Perairan. EPA. Albama Brown. Penanganan Limbah Industri Pangan.DAFTAR PUSTAKA Aneja. Washington DC. 50: 460-464 Boyd. Academic Press. Toronto. London. Inc. B. In: M. J. 2nd. Aquatic Plant Studies I. Droop and H. 1982. Rahayu. Hindasia. Gopal. 313 PP. Indiana Nat. and B. 2003. L.. Bogor. Gopal. G. I. U. Ed. Water Hyacinth. A. Yogyakarta. 2004. dan D. Blackwell Science Ltd. E. Water Quality in Waste Water Fish Ponds. Fakultas Teknologi Pertanian. 1993. Kanisius. Office of Research and Development. Effect of Water Hyacinth (Eichhornia crassipes (Malt) Solms) on The Physico-Chemical Environmental Of Shalllow Pond . Inorganic Nitrogen assimilation In Aquatic Microorganisme. K. EPA. IPB. 1993. Office of Water. Johnson. H. Bernata. Kanisius. VNR Company. Davis. H. R. Cincinnati. 1992. R. Ecology. Janasch (Eds) Anvance In Aquatic Microbiology. 1987. 56 (66): 357-364 Arundel. Elsevier Science Publishers B. dan W. S. Water Resource and Environment Engineering. 1969. yogyakarta. 1979. Newyork.

Neimanis and L Dwyer. S. Metcalf and Eddy. Water Quality Branch. Wilderer. IPB. 2nd. 1998. Disposal and Reuse. H. Inc. V. Jakarta. 1989. 1989. Mahida. 1980. Bogor. Pandia. Moertinah. Limbah Tapioka di Indonesia dan kemungkinankemungkinan Penanganannya dalam Lokakarya Pemanfaatan Limbah Industri Tapioka. Bogor 61 . Rotating Biological Contractor. Environmental Science. 1987. Waste Water Treatment for Industrial Estates in Southeast Asia Using Water Hyacinths. Lin. N. Neely. Berlin. Moriber. 1974. Ed. Aquatic Vegetation and It’s Use and Control. Newyork Mitchell. Bioenvironmental Systems.Paris. Wise. Loveless. Jakarta.1974. S. Orth. September 1984. L..Larcher. 1986. Thesis.: 85-96. Kolam Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Untuk Membersihkan Air Limbah Industri dalam Owe Neis. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. D. Yayasan Obor Indonesia.UNESCO. McGraw-Hill. 128 hal.S. A Guide To Water Quality Parameters. Jakarta. and P. Springer-Verlag. IPB. 19. Boston. U. 1984. CRC Press. 1994.. Inc. Sel Tech.Canada. P. II. Inland Water Directorate. Allyn dan Bacon. Rajawali. Ottawa. S. Masyithah. Vol. In: D. A. S. H. Kandungan Limbah Cair Pabrik Tahu dan Pengolahannya dengan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Malt) Solms). Pengolahan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah dengan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Malt) Solms). Bogor. Waste Water Engineering Treatment. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi DepDikBud. Boca Raton. R. N. A. Thesis Program Pascasarjana. Dhahiyat. Water Quality Source Book. Kimia Lingkungan. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah INdustri. G. Orth. L. 1987. Fakultas Pasca Sarjana. Rio. Vol. 1995.. R. Heidelberg. 1979. Wal. No. 1987. PUSDI PSL – IPB. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Florida. Physiological Plant Ecology. Penerbit CV. W. A. Salundik. Mc.. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik dalam Y. D. Husin and Z. Jakarta.

Chichester. N. W. Susilo. Hydribiology. Bogor. Teknologi Pengolahan air Limbah (Suatu Pengantar). D. FAPERIKAN. E. Indonesia. 1974.1977. Suryadiputra. 1979. 1995. Pencemaran Air oleh Logam Berat dan Hubungannya dengan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes). PT Gramedia Pustaka Utama. Bogor Uhlman. IPB. I.Suardana. BIOTROP. 2001. R. H. Pengantar Statistika. 1995. Jakarta. S. Widyanto. Hyacinth Control J. Diktat Kuliah. John and Willey and Sons. L. Tesis Program pascasarjana. 62 . Production Of Water Hyacinth and Resulting Water Quality. Edisi ke-3. IPB. 10:9-11 Walpole. I. Wahlquis. dan H. Penggunaan Eceng gondok (Eichhornia crassipes) Sebagai Salah Satu Teknik Pengolahan Alternatif Air Limbah asal Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kotamadya Bogor.

63 .

1993 64 .Lampiran 1. Gambaran Siklus Nitrogen Pada Air Permukaan Sumber: EPA.

dimana 500 mg sample dimasukkan dalam labu kjeldahl 25 ml. Cairan yang telah dingin dipindahkan ke dalam labu destilasi dan ditambahkan 5 ml NaOH 50 %. kemudian didinginkan. Jumlah Helai Daun. destilasi dimulai dan destilat ditampung dalam Erlenmeyer 250 ml yang berisi 25 ml HCl 0. perlahan-lahan diperbesar hingga diperoleh suatu cairan yang terang (hijau-biru). Selain itu juga dilakukan pengukuran terhadap jumlah helai daun.9 g dan ditambahkan 5 ml H2SO4. Kadar Nitrogen Kadar nitrogen dihitung dengan metode kjeldahl. Prosedur Analisa 1. Destilasi dihentikan setelah destilat yang diperoleh 2 kali volume awal. kemudian ditambahkan katalis (CuSO4 dan NaSO4) sebanyak 1.05 N dan telah ditambahkan indicator mengsel. Destilat dititrasi dengan NaOH 0. dan diameter tanaman. Analisis Biomassa.05 N sampai warna hijau. Kadar N (%) dihitung dengan perhitungan sebagai berikut: Kadar N (%) = (ml NaOH blanko – contoh) x N NaOH x 14 x 100 Bobot sampel 65 . Tinggi dan Diameter Rumpun Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Pengukuran biomassa (berat basah) Eceng gondok (Eichhornia crassipes) menggunakan timbangan digital dengan terlebih dahulu ditaruh pada kertas koran selama ± 5 menit sebelum ditimbang agar air yang terdapat pada akar tanaman Eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat diserap. 2. Labu yang telah berisi sample kemudian dipanaskan di kamar asap dengan api kecil.Lampiran 2. tinggi.

Lampiran 2. 66 . Prosedur Analisa (Lanjutan Lanjutan) 3. kemudian didiamkan selama satu menit. Tabung yang berisi contoh kemudian dikocok hingga homogen kemudian diukur dengan menggunakan alat spektrophotometer pada panjang gelombang 530 nm. Metode Pengukuran Chlorine (Cl2) Contoh air yang akan dianalisa disaring dengan menggunakan kertas saring Whatman seri 41. Kemudian 10 ml contoh dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml. setelah itu diencerkan dengan air suling sampai tanda tera. Labu ukur yang telah berisi contoh ditambahkan satu bungkus DPD Free Chlorine Powder Pillow.

Lanjutan Lampiran 2. Prosedur Analisa 67 .

Prosedur Analisa 68 .Lanjutan Lampiran 2.

6 3.32 1.42 9 1.05 63.25 1.6 3.4 1.91 1.6 3.54 1.34 70.39 65.21 1.6 3.6 3.6 3.47 66.44 1.19 1.05 1.83 0.44 1.33 1.40 1.25 1.93 60.56 1.02 1.27 2.00 1.11 0. Hasil Pengamatan Terhadap Jumlah Nitrogen Total (mg/l) Perlakuan 0 A1 1 2 Rata-rata A2 1 2 Rata-rata B1 1 2 Rata-rata B2 1 2 Rata-rata 3.12 2.Lampiran 3.6 3.6 3.91 1.04 65.82 1.09 1.6 3.29 1.37 1.02 61.28 1.82 67.42 Penurunan Nitrogen (%) 69.97 1.6 3.4 1.16 77 73.16 1.14 6 1.59 1.66 69 .91 2.6 3.58 1.22 60.19 1.6 Waktu (hari) 3 1.

02 1.5 3.5 3.Lampiran 4.77 1.86 61.77 1.5 3.97 1.5 3.27 1.2 1.5 3.5 3.97 1.77 1.0 1.33 1.86 64.90 1.88 1.9 1.5 3.5 3.85 1.80 1.29 71.20 1.60 1.50 1.13 0.57 72.50 1.86 65.17 1.50 1.97 1.5 3 Waktu (hari) 6 0.13 0.43 61. mg/l) Selama Pengamatan Perlakuan 0 A1 1 2 Rata-rata A2 1 2 Rata-rata B1 1 2 Rata-rata B2 1 2 Rata-rata 3.65 9 1.70 1.83 1.5 3.12 0.14 60.22 1.71 74.35 Persentase Penurunan NO3 (%) 70.03 0. Perubahan Jumlah Nitrat (NO3.93 1.07 1.71 65.43 67.5 3.43 70 .37 1.29 70.23 1.03 0.5 3.

10 0.21 0.5 -90.11 0.3 .097 0.08 0.08 0.15 0.11 Waktu (hari) 3 0.27.11 0.06 0.11 0.05 0.14 0.03 0.5 -72.07 0.08 0.19 0.15 0.11 0.07 Persentase Perubahan NH3 (%) .15 0.11 0.3 -36. Perubahan Jumlah NH3 (mg/l) Selama Waktu Pengamatan Perlakuan 0 A1 1 2 Rata-rata A2 1 2 Rata-rata B1 1 2 Rata-rata B2 1 2 Rata-rata Keterangan: 0.08 0.11 0.11 0.27.4 : Persen Penurunan Ammonia + : Persen Pertambahan Ammonia 71 .3 +36.14 0.11 0.08 0.7 -27.18 0.3 +72.15 0.3 .01 0.13 0.09 9 0.18 6 0.12 0.27.11 0.Lampiran 5.9 -54.07 0.11 0.11 0.11 0.23 0.20 0.4 -36.15 0.17 0.4 +54.15 0.09 0.11 0.13 0.

51 4.75 27.05 4.3 4.57 7.25 9 27.8 3.48 7.36 6 4.29 9 3.97 3.25 25.92 3.5 3 27 Suhu (oc) 6 27.51 7.5 27.70 7.54 7.48 27. Kondisi Proses Selama Penelitian Utama Kolam 0 A1 A2 B1 B2 7.5 26.39 7.11 4.60 9 7.73 7.32 3.5 29.80 7.33 7.54 7.74 0 4.5 72 .44 3 pH (Unit) 6 7.65 4.6 3.11 5.25 26.25 28 7.75 26.56 7.Lampiran 6.49 4.5 26.44 7.9 0 29 30 29.95 DO (mg/l) 3 3.

1300 0.014* 0.001 0.1350 0.010* * berbeda nyata (P<0.002 0.000 Signifikasi 0.000 0.000 0. Uji lanjutan jumlah ammonia hari ke-3 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 0. Uji lanjutan jumlah ammonia hari ke-6 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 0.022 db 3 4 7 3 4 7 3 4 7 3 4 7 KT 0.002 0.Lampiran 7.002 0.000 0.205 Kelompok 1 2 A A B B * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.024 0. Analisa keragaman jumlah ammonia Sumber Keragaman Perlakuan hari ke-0 Galat Total Perlakuan hari ke-3 Galat Total Perlakuan hari ke-6 Galat Total Perlakuan hari ke-9 Galat Total JK 0. berbeda nyata 73 .085 0.002 0.007 0.000 0.220 0.005 0.001 0. berbeda nyata Lampiran 7c.1085 0.150 0.05) Lampiran 7b.075 0. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah ammonia (NH3) Lampiran 7a.1750 Kelompok 1 A A A A * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.189 0.007 0.000 0.021 0.007 0.

Uji lanjutan jumlah ammonia hari ke-9 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 0. bobot basah tanaman 358 g A2 : Jumlah Beban N2 217 mg.075 0.Lampiran 7.030 0. bobot basah tanaman 640 g B1 : Jumlah beban N2 433 mg. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah ammonia (NH3) (Lanjutan) Lampiran 7d. bobot basah tanamn 350 g B2 : Jumlah beban N2 618 mg. bobot basah tanaman 618 g 74 . berbeda nyata Keterangan : A1 : Jumlah beban N2 217 mg.170 Kelompok 1 2 A A A B * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.080 0.

65 1.401 0.000 0.120 1. Uji lanjutan jumlah nitrat hari ke-3 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 0.235 Kelompok 1 A A A A * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah nitrat (NO3) Lampiran 8a.50 1.77 1.070 0.174 0.035 0.000 0.965 1.060 Signifikasi 0.160 0.228 * berbeda nyata (P<0.000 0.104 0.010 0.88 1 A Kelompok 2 B B C 3 * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.134 0.053 0.000 0. berbeda nyata Lampiran 8c.006* 0. berbeda nyata 75 .000 0.262 0.05) Lampiran 8b.002 0. Analisa keragaman jumlah nitrat Sumber Keragaman Perlakuan hari ke-0 Galat Total Perlakuan hari ke-3 Galat Total Perlakuan hari ke-6 Galat Total Perlakuan hari ke-9 Galat Total JK 0.641 db 3 4 7 3 4 7 3 4 7 3 4 7 KT 0.170 0.965 0.018 0.240 0.Lampiran 8. Uji lanjutan jumlah nitrat hari ke-6 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 1.

Uji lanjutan jumlah nitrat hari ke-9 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 1.000 1. bobot basah tanamn 350 g B2 : Jumlah beban N2 618 mg. bobot basah tanaman 618 g 76 .525 Kelompok 1 A A A A * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.350 1. bobot basah tanaman 358 g A2 : Jumlah Beban N2 217 mg. bobot basah tanaman 640 g B1 : Jumlah beban N2 433 mg.015 1. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap jumlah nitrat (NO3) (Lanjutan) Lampiran 8d.Lampiran 8. berbeda nyata Keterangan : A1 : Jumlah beban N2 217 mg.

671 4.82 12.490* 0.05 11.374 0.59 11.773 0.71 1 A Kelompok 2 B C C 3 * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.010 Signifikasi 0.73 11. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap tinggi rata-rata eceng gondok Lampiran 9a.168 4. Uji lanjutan jumlah tinggi rata-rata eceng gondok hari ke-3 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 10.Lampiran 9.125 0.318 0.020* 0.000 0.042 1.73 5.391 3. berbeda nyata 77 .91 11.041 5.044 4.67 10.018 1. Uji lanjutan tinggi rata-rata eceng gondok hari ke-0 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 9.873 5.05) Lampiran 9b.890 0.705 0.000* * berbeda nyata (P<0. Analisa keragaman tinggi rata-rata eceng gondok Sumber Keragaman Perlakuan hari ke-0 Galat Total Perlakuan hari ke-3 Galat Total Perlakuan hari ke-6 Galat Total Perlakuan hari ke-9 Galat Total JK 5.930 db 3 4 7 3 4 7 3 4 7 3 4 7 KT 1.963 0.73 Kelompok 1 2 A A B A B B * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata baris * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.568 0.169 4. berbeda nyata Lampiran 9c.

Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan terhadap tinggi rata-rata eceng gondok (Lanjutan) Lampiran 9c.01 12. bobot basah tanamn 350 g B2 : Jumlah beban N2 618 mg. bobot basah tanaman 358 g A2 : Jumlah Beban N2 217 mg. Uji lanjutan tinggi rata-rata tanaman hari ke-6 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 10.25 1 A Kelompok 2 B B C 3 * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.Lampiran 9.34 12. berbeda nyata Keterangan : A1 : Jumlah beban N2 217 mg.85 1 A A Kelompok 2 3 B C * Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda tapi dalam satu baris tidak berbeda nyata * Huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda.35 13. berbeda nyata Lampiran 9d. bobot basah tanaman 618 g 78 .80 11.85 12.07 12. Uji lanjutan tinggi rata-rata tanaman hari ke-9 Sampel A1 A2 B1 B2 n 2 2 2 2 Rata-rata 10. bobot basah tanaman 640 g B1 : Jumlah beban N2 433 mg.

residu tersuspensi ≤ 5000 mg/l II.01 0.02 mg/l sebagai NH3-N 11 12 13 14 15 16 17 18 Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 0.05 0.2 (-) 1 0.01 0. KIMIA ORGANIK 4 5 6 7 8 9 10 Ph BOD COD DO Total sebagai P NO3-N NH3-N mg/l mg/l 10 0.05 0.5 10 (-) 20 (-) 20 (-) Bagi perikanan kandungan ammonia bebas untuk ikan yang peka ≤ 0.2 (-) 1 0.2 (-) 1 0.02 1 0.2 6-9 6 50 3 1 5-9 12 100 0 5 79 .2 1 1 0. FISIKA 1 Temperatur O Kelas II Deviasi 3 III Deviasi 3 IV Deviasi 3 Keterangan c Deviasi 3 Deviasi Temperatur dari keadaan almiahnya 2 3 Residu Terlarut Residu Tersuspensi mg/l mg/l 1000 50 1000 50 1000 400 2000 400 Bagi Pengolahan air minum secara konvensional.05 0.01 0.02 1 0.01 0. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Udara No.05 0.2 6-9 3 25 4 0. Cu ≤ 1 mg/l 19 Besi Mg/l 0.05 0. PP No. Baku Mutu Perairan Berdasarkan Kelas.2 Bagi pengolahan air minum secara konvensional.Lampiran 10.01 0.02 1 0.05 0.05 0. Fe ≤ 5 mg/l Fosfat mg/l mg/l mg/l mg/l 6-9 2 10 6 0.05 0.3 (-) (-) (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional. Parameter Satuan I I.

05 (-) 0. KIMIA ORGANIK 80 .03 IV 1 Bagi pengolahan air minum secara konvensional.002 0.03 0. PP No.1 mg/l III. MIKROBIOLOGI 31 Fecal Coliform Jml/100 ml 100 1000 2000 2000 Bagi pengolahan air minum secara konvensional.03 0.02 1. 20 Parameter Timbal Satuan I mg/l 0.03 Kelas III 0. Fecal Coliform ≤ 2000 jml/100 ml.02 1.1 1 (-) (-) jml/100 Keterangan IV. RADIOAKTIFITAS V.03 II 0.1 0.05 (-) 0. NO2-N ≤ mg/l 28 29 30 Sulfat Khlorin Bebas Belerang sebagai H2S mg/l mg/l mg/l 400 0.1 1 1000 200 10000 0.5 0.5 0. H2S ≤ 0.002 (-) (-) (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional.1 mg/l 21 22 23 Mangan Air Raksa Seng mg/l mg/l mg/l 0.Lampiran 10. Baku Mutu Perairan Berdasarkan Kelas.5 0.03 0.05 (-) 0.002 (-) 0.06 (-) 0.02 0.002 (-) 0. Total Coliform ≤ 10000 ml 32 33 34 35 36 Total Coliform Gross-A Gross-B Minyak dan Lemak Detergen MBAS sebagai Jml/100 ml Bg/l Bg/l µg/l µg/l 1000 0.002 0.1 1 1000 200 5000 0.06 (-) 0.06 (-) (-) (-) (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional. Zn ≤ 5 mg/l 24 25 26 27 Klorida Sianida Fluorida Nitrit-N mg/l mg/l mg/l mg/l 600 0. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Udara (Lanjutan) No.1 1 1000 200 10000 0.001 0. Pb ≤ 0.05 2 Bagi pengolahan air minum secara konvensional.

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Parameter Senyawa sebagai Fenol BHC Aldrin/Dieldrin Chlordane DDT Heptachlor Lindane Methoxyclor Endrin Toxaphan dan heptachlor epoxide µg/l µg/l µg/l µg/l 56 35 1 5 (-) (-) 4 (-) (-) (-) 4 (-) (-) (-) (-) (-) µg/l µg/l µg/l µg/l µg/l 210 17 3 2 18 210 (-) (-) 2 (-) 210 (-) (-) 2 (-) (-) (-) (-) 2 (-) Fenol Satuan I µg/l 1 II 1 Kelas III 1 IV (-) Keterangan 81 .Lampiran 10. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Udara (Lanjutan) No. PP No. Baku Mutu Perairan Berdasarkan Kelas.

Limbah Cair 82 .Lampiran 11. Desain Kolam Aerobik Keterangan: 1. Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) 4. Lapisan Plastik 2. Tanah Kontaminan 3.