PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

Disusun untuk memenuhi tugas dalam mengikuti Perkuliahan Sistem Pemerintahan Indonesia yang dibina oleh Drs. Suwondo, MS dan Erlita Cahyasari, SAP, MAP

Disusun oleh: Kelompok 3 1. Nindyari Dewanti Putri 2. Ella Yulisa Putri 3. Eka Tri Wahyuni 4. Anggi Kurnianto 5. Deri Pradana (115030600111034) (115030600111036) (115030613111002) (115030600111024) (115030607111014)

Perencanaan Pembangunan (B)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN PEMBANGUNAN JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG April 2012

dan transfer fungsi. yang pada intinya berisi tentang penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah atau yang sering disebut dengan otonomi daerah. Pada UU Nomor 22 tahun 1999. yaitu: dekonsentrasi. adalah pelimpahan wewenang kepada daerah untuk mengurusi daerahnya sesuai dengan UU dalam kerangka NKRI. Dengan penetapan ini. Latar Belakang Sejarah sistem pemerintahan berawal dari pemerintahan Presiden Soekarno dan Soeharto yang menggunakan sentralisasi. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah. mengingat wilayah Indonesia sangat luas. Pengaturannya tersebar pada pasal 13 untuk penugasan dari pemerintahan pusat kepada Daerah dan pasal 100 untuk penugasan dari Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah kepada Desa. delegasi kepada semi otonom. 5 Tahun 1974 yang berisi bahwa pemerintahan daerah memperoleh kewenangan dari pemerintah pusat yang berdasarkan asas desentralisasi. Dikeluarkannya UU No.BAB 1 PENDAHULUAN A. Pada saat itu keputusan yang dilaksanakan di daerah masih ditetapkan oleh pemerintah pusat. kata pemerintahan daerah mulai digunakan. Di dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa setiap penugasan dalam rangka tugas pembantuan di tetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini memiliki kekurangan. Sehingga keputusan yang diambil memakan banyak waktu. Lebih luasnya. .32 Tahun 2004 tentang dekonsentrasi. devolusi.22 Tahun 1999 dan UU No. Selain menciptakan asas desentralisasi dan dekonsentrasi dalam pemerintahan daerah juga menetapkan tugas pembantuan sebagai salah satu kebijakan pemerintah terhadap pemerintahan daerah. Otonomi menurut UU No. Setelah itu pemerintahan daerah mulai di kuatkan lagi dengan dibuatnya UU No. tidak terdapat bab secara khusus yang mengatur tentang tugas pembantuan. desentralisasi dibagi dalam 4 bentuk-bentuk.

. Rumusan Masalah Apa itu pemerintahan daerah? C.B. Tujuan Mengetahui tentang pemerintahan daerah.

Marbun dalam bukunya Kamus Politik mengatakan bahwa sentralisasi yang paham nya kita kenal dengan sentralisme adalah pola kenegaraan yang memusatkan seluruh pengambilan keputusan politik ekonomi. 2. karena seluluh keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat. Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama. daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut undang . Berdasarkan definisi diatas bisa kita interpretasikan bahwa sistem sentralisasi itu adalah bahwa seluruh keputusan / kebijakan dikeluarkan oleh pusat.BAB 2 PEMBAHASAN 1. 2. Desentralisasi Definisi Desentralisasi Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan kepada manajer atau orang-orang pada level bawah . Sentralisasi Secara estimologi Sentralisasi berasal dari bahasa inggris yang berakar dari kata Centre yang artinya adalah pusat atau tengah.N.undang. Kelebihan sistem ini adalah di mana pemerintah pusat tidak harus pusingpusing pada permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan. Secara terminologi 1. sosial di satu pusat. Sentralisasi adalah seeluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Menurut B.

euforia yang berlebihan dimana wewenang itu hanya menguntungkan pihak tertentu atau golongan serta dipergunakan untuk mengeruk keuntungan para oknum atau pribadi. Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Rontoknya nilai-nilai otokrasi Orde Baru telah melahirkan suatu visi yang baru mengenai kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera ialah pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia. Namun kekurangan dari sistem ini adalah pada daerah khusus. kekayaan daerah telah dieksploitasi untuk kepentingan segelintir elite politik. Kelebihan sistem ini adalah sebagian keputusan dan kebijakan yang ada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa campur tangan pemerintah pusat. Oleh karena itu. Hal ini terjadi karena sulit dikontrol oleh pemerintah pusat.pada suatu suatu organisasi. desentralisasi dimaksud untuk mencegah penumpukan kekuasaan di suatu daerah. . Pada sistem pemerintahan yang terbaru tidak lagi menerapkan sistem pemerintahan sentralisasi. dan hak asasi masyarakat (civil rights). Adapun mengenai tujuan dari desentralisasi yang berdasarkan kepada landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintah daerah sebagaimana yang dimaksud oleh The Liang Gie (Jose Riwu Kaho. Lahirlah gerakan separtisme yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. hak politik. melainkan sistem otonomi daerah atau otoda yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan yang tadinya diputuskan seluruhnya oleh pemerintah pusat. Kejadian yang terjadi berpuluh tahun telah melahirkan suatu rasa curiga dan sikap tidak percaya kepada pemerintah. Kita ingin membangun suatu masyarakat baru yaitu masyarakat demokrasi yang mengakui akan kebebasan individu yang bertanggung jawab. desentralisasi atau otonomi daerah merupakan salah satu tuntutan era reformasi. 2001 Hal 8 ) adalah : 1. Pada masa orde baru hak-hak tersebut dirampas oleh pemerintah. Keadaan ini telah melahirkan suatu pemerintah otoriter sehingga tidak mengakui akan hak-hak daerah. Kekayaan nasional.

politik dan kondisi masyarakat. 4. jadi dekonsentrasi itu hanya merupakan pergeseran volume pekerjaan dari depertemen pusat kepada perwakilannya yang ada di daerah. Yang kedua adalah Local Administration (Administrasi Lokal) yang terdiri dari Integrated Local Administration (Adminstrasi Lokal Terpadu) dimana tenaga – tenaga dari depertemen pusat yang ditempatkan di daerah berada langsung dibawah perintah dan supervisi kepala daerah yang diangkat oleh . Dari perspektif teknik organisatoris pemerintah desentralisasi dimaksud untuk mencapai efensiensi. dalam rangka menarik minat rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan (pendidikan politik). Diharapakan pemerintah daerah lebih memfokuskan pembangunan di daerah tersebut.2. seperti : geografi. Dalam bidang Politik. Bentuk-bentuk Desentralisasi Dalam tataran pelaksanaan dan teorinya desentralisasi memiliki model. 5. ekonomi. bahwa dekonsentrasi memiliki dua bentuk diantara nya adalah Field Administration atau kita kenal dengan administrasi lapangan dimana penjabat lapangan diberikan kekuasaan untuk merencanakan. Dari sudut kultur desentralisasi diharapkan perhatian sepenuh nya ditumpahkan kepada daerah. 3. diantaranya adalah : 1. pada hakikat nya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara depertemen pusat dengan penjabat pusat yang ada di lapangan. Dekonsentrasi Desentralisasi dalam bentuk dekosentrasi (Deconcentration) menurut Rondinenlly. desentralisasi dianggap sebagai pendemokrasian. Juga ditamabahkan oleh Rondinelly. membuat keputusan-keputusan rutin dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kebijakan pusat dengan kondisi setempat (daerah) dan kesemuanya itu dilakukan atas petunjuk dan bimbingan pemerintah pusat.

kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah”. a. moneter dan fiskal nasional. b.menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. politik luar negeri. c. Sedangkan klausa yang mengatur mengenai kewenangan daerah diatur dalam pasal 13 ayat 1 dan pasal 14 ayat 1 UU No 32 tahun 2004. keamanan. Pembagian tersebut memang terbukti demikian dengan meninjau pasal selanjutnya maka akan terlihat betapa kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah menjadi sejajar dalam mengelelola daerah. atau c. e. Yang kedua adalah unintegration Local Administration (Adminstrasi Lokal yang tidak terpadu) dimana tenaga-tenaga yang diangkat oleh pusat yang berada di daerah dan kepala daerah masing-masing berdiri sendiri mereka bertanggung jawab kepada masing-masing depertemen yang ada di pusat.dan bertanggung jawab kepada pemerintah pusat. Dan kewenangan pemerintah diluar 6 poin tersebut dilaksanakan dengan . . d. dan f. yustisi. agama. b. Secara substansial klausa ini mengatakan bahwa kwenangan yang dimiliki pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah diatur secara jelas dan rigid. pertahanan.melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. Dari klausa “Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya.menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. digaji. dipromosikan dan dimutasikan oleh pemerintah pusat mereka tetap berkedudukan sebagai staff teknis kepala daerah. Walaupun tenaga-tenaga tersebut diangkat. Pasal 10 ayat 4 mengatur kewenangan pemerintah pusat tersebut sebagai berikut: a.

Pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah secara ketat merupakan sebuah konsep negara ferderal.Dari penjelasan diatas susunan. Karena. Privatisasi Privatisasi menurut Rondinelly adalah (transfer of functions From Government To Non Government Institution) artinya adalah suatu tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada badan swasta. 2. Devolusi Konsekuensi dari devolusi adalah pemerintah pusat membentuk unitunit pemerintah diluar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu kepada unit-unit untuk dilaksanakan secara mandiri. itu yang pertama. asas dekonsentrasi merupakan asas perekat bentuk negara kesatuan akan tetapi akibat pembagian kewenangan tersebut akhirnya konsep kesatuan diciderai. komposisi peraturan menurut penulis bertentangan satu sama lain dengan asas dekonsentrasi. 4. Yang kedua. Asas dekonsentrasi menyatakan bahwa keberadaan kewenangan berada dipemerintah pusat kemudian kewengan tersebut didistribusikan keperintah daerah. Delegasi Delegation To Semi Autonomus adalah pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan menejerial untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu oraganisasi yang tidak secara langsung berada dibawah pengawasan pemerintah pusat 3. Sedangkan pada klausa-klausa aturan diatas tidak demikian adanya pengaturan-pengaturan secara jelas hak dan wewenang baik pemerintah pusat maupun daerah membuktikan bahwa keberadaan asas dekonsentrasi tidak bermakna. dan ini sejak semula tidak diinginkan oleh masyarakat indonesia. dan swadaya masyarakat dan juga menjadi peleburan dari BUMN / BUMD menjadi swastanisasi. Contoh : Dalam beberapa hal pemerintah mentransfer beberapa kegiatan nya kepada KADIN (Kamar Dagang Dan .

22 Tahun 1999. kawasan perkotaan baru. Pelaksanaan otonomi daerah harus meningkatkan kemandirian daerah otonom. kawasan pelabuhan. manajemen dalam otoda pengambilan keputusan-keputusan dipangkas. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. nyata dan bertanggung jawab. Otonomi Daerah Pada tataran aplikatif bahwa antara otonomi daerah dan desentralisasi tidak punya perbedaan. sedangkan pada tingkat provinsi otonomi terbatas. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah adalah pelimpahan wewenang kepada daerah untuk mengurusi daerahnya sesuai dengan UU dalam kerangka NKRI. 7. keadilan. baik sebagai fungsi legislasi. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas. kawasan wisata dan semacamnya berlaku ketentuan peraturan daerah otonom. prinsip-prinsip pelaksanaan otonomi daerah sebagai berikut: 1.Industri) untuk mengeluarkan izin.fungsi pengawas maupun sebagai fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintah daerah. 4. Menurut ekonomi. cukup di tingkat daerah sehingga menghemat energi dan biaya. Pelaksanaan otonomi daerah lebih meningkatkan peranan dan fungsi legislatif daerah. Berdasarkan pada UU No. Otonomi menurut UU No. 3. kawasan pertambangan. sehingga tetap terjaga hubungan yang serasi antar pusat dan daerah serta antar daerah. dan karenanya dalam wilayah kabupaten dan kota tidak ada lagi wilayah administrasi. kemudian masalah yang menyangkut masalah sosial pemerintah memberikan kepada LSM. Pelaksanaan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspekaspek demokrasi. 5. 2. Kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah seperti atau pihak lain seperti Badan otorita. kawasan kehutanan. Pelaksanaan otonomi luas berada pada daerah tingkat kabupaten dan kota. 3. . 6. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah. keduanya memiliki esensial bahwa bagaimana daerah tersebut bebas menentukan masa depan mereka sendiri.

serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukan sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan tertentu yang dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah. dalam sebuah klausal “menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan”. sedangkan penangananya harus segera dilaksanakan. Keberadaan ketentuan ini sangat minim dalam peraturan. yang berarti penyerahan kewenangan tidak penuh. 9.8. Asas ini dalam UU 32 tahun 2004 ditempatkan pada pasal 10 ayat 5 poin c. Apabila dilihat dari bentuk dan sifat kegiatannya. Di dalam UU Nomor 22 tahun 1948 juga sudah di kenal asas medebewind. peranan asas tugas pembantuan dari waktu ke waktu juga mengalami pasang naik maupun pasang surut. sedangkan prinsip-prinsipnya di tetapkan oleh pemerintah pusat sendiri. akan tetapi dibandingkan dengan asas desentralisasi. Asas Tugas Pembantuan Asas ini mengandung pengertian. asas ini lebih dapat diterima oleh prinsip pemerintahan daerah dalam negara kesatuan. Sama seperti asas-asas lainnya. Ketentuan ini dilaksanakan untuk mengatisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan dalam sebuah pemerintahan. medebewind ini sama dengan asas tugas pembantuan yang di . adanya penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Karena asas ini tetap menempatkan pemerintah pusat sebagai tolak ukur dalam sebuah kebijakan. Dan pemerintah daerah merupakan subdivisi dari pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi-fungsi dan kebijakan-kebijkan yang dibuat oleh pemerintah pusat. dalam arti penyerahannya hanya mengenai cara menjalankannya saja. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan tidak hanya dari pemerintah daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan. sarana dan prasarana. 4.

Keputusan Presiden dan peraturan lainnya yang sejenis. Pengaturannya di tempelkan pada berbagai undang-undang yang mengatur kewenangan pada masing-masing sektor. . Kewenangan yang akan ditugas pembantuankan tidak di rinci secara jelas dan tetap. Pada UU Nomor 22 tahun 1999. meskipun asas tersebut secara faktual di laksanakan. Di dalam pasal 13 ayat (2) di sebutkan bahwa setiap penugasan dalam rangka tugas pembantuan di tetapkan dengan peraturan perundang-undangan. melainkan juga dapat berbentuk peraturan pemerintah. tidak terdapat bab secara khusus yang mengatur tentang tugas pembantuan. Sampai saat ini baru ada PP Nomor 52 Tahun 2001 tentang penyelenggaraan Tugas pembantuan sebagai pedoman pelaksanaan tugas pembantuan bagi Pemerintah Pusat. Peraturan perundang-undangan yang di maksudkan di sini tidak harus berbentuk UU. Sampai UU Nomor 5 Tahun 1974 di cabut. Kewenangan tambahan lainnya yang akan di-medebewind-kan diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan dari undang-undang. Sedangkan peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur setiap penugasan dalam rangka tugas pembantuan belum berdata dengan lengkap.kenal saat ini. Daerah maupun Desa. tugas pembantuan dari pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah diatur dengan undang-undang. Pengaturannya tersebar pada pasal 13 untuk penugasan dari pemerintahan pusat kepada Daerah. Menurut UU Nomor 22 Tahun 1948. belum ada undangundang yang mengatur secara khusus mengenai tugas pembantun. melainkan berubah-ubah tergantung pada kebutuhan. Menurut pasal 12 UU Nomor 5 Tahun 1974. sedangkan tugas pembantuan dari Pemerintah Daerah Tingkat 1 kepada Pemerintah Daerah Tingkat II di atur dengan peraturan Daerah Tingkat 1 bersangkutan. UU Nomor 1 tahun 1957 maupun UU Nomor 18 Tahun 1965 kewenangan yang di laksanakan dalam rangka medebewind dicantumkan dalam undang-undang pembentukan daerah otonom. Pada UU Nomor 5 Tahun 1974 hal tersebut tidak digunakan. Begitu pula pada UU Nomor 22 Tahun 1999. dan pasal 100 untuk penugasan dari Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah kepada Desa.

ditarik ke atas untuk kemudian didistribusikan kembali ke daerah melalui mekanisme tugas penbantuan. alat kendali pemerintah pusat hanya melalui keuangan saja. Sedangkan yang menerima tugas pembantuan adalah Daerah dan atau Desa sebagai Kesatuan masyarakat hukum.Di dalam pasal-pasal tersebut di atas di kemukakan bahwa pihak yang memberikan tugas pembantuan adalah institut Pemerintah (Pemerintah Pusat. Asas ini sekaligus juga sebagai salah satu alat kendali pemerintah pusat kepada pemerintah daerah melalui jalur keuangan. Disebut menarik karena asas tugas pembantuan nampaknya dijadikan strategi jalan keluar bagi pengurangan kewenangan yang sangat drastis bagi pemerintah pusat. implementasi asas tugas pembantuan masih relatif terbatas. Selama ini pemerintah pusat mengendalikan daerah melalui tiga jalur yakni kewenangan. Terlebih lagi sampai saat ini belum ada buku yang secara khusus membahas secara tuntas mengenai hal tersebut. karena kewenangan dan kepegawaian sudah diserahkan kepada daerah. Setelah berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999. Pemerintah Daerah Provinsi. Hal tersebut tercermin dari bunyi pasal 17 PP Nomor 52 Tahun 2001. Salah satu provinsi yang merintis pelaksanaan asas tugas pembantuan belum di laksanakan secara intensif. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota). dana-dana dekonsentrasi yang semula dialokasikan kepada instansi vertika di kabupaten/kota dan propinsi pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974. Implementasi yang nampak secara nyata barulah dari pemerintah pusat ke daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota. kepegawaian. Manifestasi dari Daerah ataupun Desa adalah pada Kepala Daerah dan Kepala Desa. Setelah UU Nomor 22 Tahun 1999 berusia sekitar lima tahun. Salah satu diantaranya kesalahan persepsi mengenai pengertian tugas pembantuan yang dicampur adukan dengan . serta keuangan. dimana penanggung jawab pelaksanaan tugas pembantuan adalah Kepala Daerah dan Kepala Desa. Fenomena implementasi asas tugas pembantuan berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 32 Tahun 2004 menarik untuk dikaji secara mendalam. Melalui asas tugas pembantuan. Sedangkan implementasi dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten ke desa masih sangat terbatas.

pengertian pemberian bantuan. Padahal nilai yang dimaksimumkan dari asas tugas pembantuan adalah efektivitas dan efisiensi. BAB 3 PENUTUP .

3.1. Bahwa tujuan negara untuk mensejahterakan rakyat. Akan tetapi bagaimanapun cara tersebut tidak bisa juga bertentangan dengan cara / prinsip-prinsip yang lain yang telah disepakati secara bersama. 2. akan tetapi asas tersebut juga diterapkan dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten kota. maka otonomi daerah tidak bisa dihindari. mencerdaskan kehidupan bangsa. Mahkamah konstitusi bisa dijadikan rujukan untuk mengantisipasi kecenderungan tersebut. Keberadaan otonomi daerah harus tetap ditempatkan dalam kerangka negara kesatuan. Penguatan terhadap keberadaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan dalam konsep otonomi daerah. Seharusnya asas dekonsentrasi tidak hanya mengatur pelimpahan wewenang antara pemerintah dengan pemerintahan provinsi. Saran 1. 2. Seandainya ada kekhawatiran terhadap berkembangnya sistem sentralistik. Otonomi sebagai sebuah alternatif pemerintahan merupakan sebuah cara yang diambil demi melaksanakan tujuan-tujuan tersebut. dan menciptakan rasa aman bagi seluruh rakyat indonesia dengan jalan melindungi segenap bangsa indonesia merupakan sesuatu yang mendesak. Sehingga hirarkisitas negara keasatuan bisa berjalan 4. Prinsip-prinsip yang bertentangan dengan itu sebisa mungkin harus dihindari. maka hal itu sekarang tidak cukup beralasan. Kesimpulan Didalam sebuah negara yang amat luas seperti di Indonesia ini tidak mungkin pemerintah pusat bisa mengatur secara keseluruhan pemerintahan. Pembagian pemerintahan secara vertikal merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditinggalkan apabila tujuan bernegara ini ingin segera tercapai. DAFTAR PUSTAKA .

http://www. 26 Maret 2012 Anonymous. 26 Maret 2012 .id/url?sa=t&r ct=j&q=bentuk-bentuk%20desentralisasi&source=web&cd=1&sqi=2&ved= 0CCIQFjAA&url=http%3A%2F%2F04locker.com%2F2009%2F0 3%2Fdesentralisasi-tiga-bentuk.blogspot.com/2009/04/23/mengenal-sentralisasi-desen tralisasi-da n-konsekwensinya/. Ht tp://assyariabdullah. Desentralisasi dan Konsekwensinya.html&ei=h-ZvT_nPCcbQrQfVyKGUCg&u sg=AFQjCNG24fY87IkKZWcRc0Y1N mbGBeV-mw. Bentuk – Bentuk Desentralisasi.co. Mengenal Sentralisasi.wordpress.google.Abdullah. Assyari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful