P. 1
kedaulatan 2

kedaulatan 2

|Views: 201|Likes:
Published by Fauzi Rahman

More info:

Published by: Fauzi Rahman on May 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2014

pdf

text

original

BAB I.

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Kedaulatan merupakan masalah yang sangat pokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena adanya pengakuan kedaulatan oleh negaranegara lain, berarti eksistensi suatu negara diakui. Maka dengan adanya landasan kedaulatan tersebut, suatu negara dapat menjalankan berbagai macam hubungan dan jalinan kerjasama dengan negara-negara maupun lembaga-lembaga internasional untuk lebih meningkatkan kepentingan nasional dan kemajuan bangsanya. Kedaulatan atau Souvereign memiliki sinonim kemerdekaan dan persamaan, yang berarti bahwa setiap negara bebas untuk mengelola urusan dalam dan luar negerinya masing-masing tanpa campur tangan pihak lain atau negara lain. Prinsip persamaan kedaulatan, penghormatan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara-negara, serta tidak turut campur urusan dalam negeri negara-negara lain dengan jelas tercantum di dalam Piagam PBB, Dengan kata lain kedaulatan merupakan salah satu “tiang” penegak bagi PBB. Negara anggota PBB mendapat jaminan bahwa kedaulatan negaranya terlindungi, tetapi juga berkewajiban untuk patuh pada prinsip dan tujuan PBB. Kedaulatan sendiri mempunyai 2 pengertian yaitu Pengertian Negatif dan Positif, Pengertian secara Negatif adalah bahwa negara tidak tunduk pada ketentuan Hukum Internasional dan kekuasaan apapun dan darimanapun datangnya tanpa persetujuan negaranya. Sedangkan, Pengertian Positif, bahwa kedaulatan memberikan pimpinan yang tertinggi atas rakyatnya dan memberi wewenang penuh untuk mengekploitasi sumber-sumber alam yang ada di negaranya Beberapa pemikiran mengenai kedaulatan dan pemegang kedaulatan suatu negara setelah revolusi Perancis dikemukakan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam karyanya Du Contrat Social Ou Principes Du Droit Politique (Mengenai Kontrak Sosial atau Prinsip-prinsip Hak Politik) membagi tingkat kedaulatan menjadi dua yaitu de facto dan de jure. Potensi strategis dalam segala aspek kehidupan bernegara dan berbangsa antara negara yang berbatasan wilayahnya akan menjadi suatu permasalahan bila tidak ada upaya untuk menginventarisir, mengkaji, merumuskan inti permasalahan, dan menindaklanjuti dengan suatu bentuk perjanjian bersama serta membuat/memyusun kebijakan untuk mengatur wilayah masingmasing negara. Kedaulatan territorial sangat penting bagi suatu negara, karena sebagaimana memiliki arti yaitu kedaulatan yang dimiliki oleh suatu negara dalam melaksanakan jurisdiksi eksklusif di wilayahnya. Didalam wilayah inilah negara memiliki wewenang untuk melaksanakan hukum nasionalnya. Hakim Huber dalam kasus yang terkenal The Island of Palmas mengungkapkan bahwa dalam kaitannya dengan wilayah ini, kedaulatan mempunyai dua ciri yang sangat penting : 1. Kedaulatan merupakan prasyarat hukum untuk adanya suatu negara

1

2. Kedaulatan menunjukan negara tersebut merdeka yang sekaligus juaga merupakan fungsi dari suatu negara. Sehingga apabila kita melihat pentingnya kedaulatan yang ada di suatu negara menjelaskan bahwa suatu negara tidak dapat melaksanakan yurisdiksi eksklusifnya keluar dari wilayahnya yang dapat mengganggu kedaulatan wilayah negara lain. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk mencari dan memahami teori-teori yang berkaitan dengan kedaulatan, terutama kedaulatan territorial perairan. Wilayah kedaulatan suatu negara mencakup pula ruang udara diatas wilayahnya, juga meliputi ruang angkasa. Hal ini menjadi penting sebab, sering terjadi pelanggaran-pelanggara terhadap kedua hal tersebut, seperti masuknya pesawat udara ke dalam suatu negara tanpa izin ke dalam wilayahnya, karena alasan itulah negara-negara menjadi semakin sadar akan peranan ruang udara dan ruang angkasa terhadap setiap pelanggaran terhadap kedua hal tersebut. Hal ini dapat berakibat fatal bagi negara tersebut.

1.2 Rumusan masalah Fokus makalah yang ingin dibahas oleh penulis dalam karya tulis ini adalah tentang sebab-sebab latar belakang dan berbagai hal yang berkaitan dengan sengketa kedaulatan wilayah suatu negara. Selanjutnya penulis merumuskan identifikasi masalah sebagai berikut: 1. Apakah faktor-faktor yang melatarbelakangi masalah kedaulatan wilayah suatu negara ? 2. Apa saja yang termasuk kedalam kedaulatan wilayah laut dan udara ? 3. Bagaimana penyelesaian atau solusi konflik yang disebabkan sengketa kedaulatan wilayah ?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu : 1. Memahami fenomena pelanggaran kedaulatan wilayah suatu negara . 2. Mengetahui solusi dari masalah terhadap pelanggaran kedaulatan wilayah.

1.4 Metode Penelitian Adapun metode yang dilakukan oleh penulis yaitu : a) Literature yaitu dengan cara mencari sumber-sumber yang dapat dijadikan landasan dari buku atau sumber lain yang merupakan hasil pemikiran para pakar hukum mengenai masalah yang akan dibahas.

2

b) Kajian teori yaitu dalam menjelaskan mengenai pembahasan yang terdapat dalam makalah ini kami menjelaskan dengan proses penggambaran mengenai suatu bahasan berdasarkan hasil analisis kami setelah kami memahami terlebih dahulu bahasan tersebut dari para ahli. 3 .

Berarti kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang dimiliki suatu negara atas wilayah dan penduduknya/warga dan merupakan hak eksklusif untuk menguasai suatu wilayah pemerintahan. Ruang angkasa. Udara. bahwa kedaulatan memberikan pimpinan yang tertinggi atas rakyatnya dan memberi wewenang penuh untuk mengeploitasi sumber-sumber alam yang ada di negaranya. 2.1 Kedaulatan Menurut Mochtar Kusumaatmadja. kedaulatan ini terbatas oleh: 1. Kekuasaan itu terbatas pada batas-batas wilayah yang memiliki kekuasaan.BAB II KAJIAN TEORI 1. atau atas diri sendiri . Penentuan apakah suatu entitas merupakan suatu entitas yang berdaulat bukanlah sesuatu yang pasti. 4 .  Negara berdaulat.  Kedaulatan adalah suatu konsep dimana negara memiliki kekuasaan tertinggi atas dasar. dalam bahasa inggris dan “Superanus” atau kekuasaan tertinggi. dan dalam konteks tertentu terkait dengan berbagai organisasi atau lembaga yang memiliki yuridiksi hukum sendiri. bahwa negara tidak tunduk pada ketentuan hukum internasional dan kekuasaan apapun dan dari manapun datangnya tanpa persetujuan negara Pengertian positif . yaitu: 1. 3. Kedaulatan memiliki 2 pengertian. Laut. masyarakat.  Kedaulatan (soverignity) adalah kekuasaan tertinggi yang dimiliki suatu negara atas wilayah dan penduduknya/warga negaranya. kedaulatan adalah kekuasaan yang terbatas. konsep kedaulatan terkait dengan suatu pemerintahan yang memiliki kendali penuh urusan dalam negerinya sendiri dalam suatu wilayah atau batas teritorial atau geografisnya. dalam hukum konstitusi dan internasional. udara (yurisdiksi territorial) dan warga negara (yurisdiksi personal). laut. 4. melainkan seringkali merupakan masalah sengketa diplomatik. yaitu ruang berlakunya kekuasaan suatu negara tertentu dibatasi oleh batas-batas wilayah negara tersebut.  Wilayah (territory) suatu negara terbagi menjadi empat dimensi. Dengan kata lain kedaulatan berarti. Darat. yaitu :   Pengertian negatif. Kedaulatan sendiri berasal dari 2 kata yakni Souvereignty atau yang teratas. Tidak mencakup ruang angkasa karena ruang angkasa merupakan kepentingan bersama. artinya negara mempunyai kekuasaan tertinggi. dalam bahasa Latin.

pokok persoalan suatu penduduk ialah "Terra Nullius" dan wilayah yang didiami oleh suku atau bangsa yang mempunyai suatu organisasi sosial dan politik tidak dapat bersifat "Terra Nullius". Teori Klaim Pendudukan 1. 2. misalnya administrasi lokal. Kekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu negara lain dimulai. dan tindakan-tindakan autoritas legislatif sebagai bukti penunjukkan kedaulatan secara berkesinambungan yang diperlukan untuk mengkonfirmasi hak.2. Secara klasik. di mana kedaulatan negara yang menduduki itu mencapai wilayah-wilayah yang berdekatan yang secara geografis berhubungan dengan wilayah yang diklaim itu. yurisdiksi lokal. Teori Kontinuitas (continuity) di mana suatu tindakan pendudukan di suatu wilayah memperpanjang kedaulatan negara yang menduduki itu sejauh diperlukan untuk keamanan atau pengembangan alam wilayah yang diklaim itu. Pendudukan Pendudukan (occupation) ialah penegakan kedaulatan atas wilayah yang bukan di bawah wewenang negara lain. 5 . Mahkamah Internasional Permanen menetapkan bahwa agar berlaku suatu pendudukan di pihak negara yang menduduki diperlukan dua unsur: 1. 1. Entah yang baru ditemukan. b) Nyata dan langsung. Suatu maksud atau keinginan untuk bertindak sebagai yang berkuasa. Teori Hubungan (contiguity).2 Kedaulatan Teritorial Adalah kedaulatan yang dimiliki oleh suatu negara dalam melaksanakan yuridiksi ekslusif di wilayahnya. 2.2. 1. yaitu mencakup: a) Berlangsung secara damai. c) Berkesinambungan (terus menerus. atau (suatu hal yang tidak mungkin) ditinggalkan oleh negara yang sebelumnya menguasainya.1 Cara Memperoleh Wilayah Ada tujuh cara yang diakui secara umum dan secara tradisional untuk mendapatkan kedaulatan teritorial ialah: 1. tidak terputus-putus) Mahkamah Internasional menekankan pentingnya pelaksanaan sesungguhnya fungsi-fungsi negara. Pelaksanaan atau penunjukkan kedaulatan secara memadai.

yang mungkin oleh pelebaran aliran sungai atau faktor alam lain (misalnya endapan / sedimentasi. 5. Sesi (penyerahan) merupakan suatu metode yang penting untuk memperoleh kedaulatan teritorial. Melalui : Immemorial Possesion dan Adverse Possesion. Sesi (cession) Peralihan wilayah dari satu negara ke negara lainnya. umumnya melalui Treaty/Agreement. Hak dengan preskripsi (yaitu preskripsi akuistif) adalah hasil pelaksanaan kedaulatan de facto secara damai untuk jangka waktu yang sangat lama atas wilayah yang tunduk pada kedaulatan negara yang satu lagi. Penaklukan (annexation) Aneksasi adalah suatu metode memperoleh kedaulatan teritorial yang digunakan dalam dua perangkat keadaan:  Di mana wilayah yang dianeksasi itu telah ditaklukan oleh negara yang menganeksasi. “nemo dat qoud non habet”. karena faktor-faktor perubahan alam (melalui sebab-sebab alamiah).  Immemorial Possesion Dimana kedaulatan negara yang mengklaim sebuah wilayah telah berjalan sekian lamanya sehingga negara yang dulu mungkin memiliki kedaulatan disana telah “terlupakan”. Di mana wilayah yang dianeksasi itu benar-benar berada dalam posisi lebih rendah daripada negara penganeksasi pada waktu pengumuman maksud negara penganeksasi. munculnya pulau setelah letusan gunung berapi). ke wilayah yang telah berada di bawah kedaulatan negara yang memperoleh itu. Negara yang mengalihkan haruslah negara yang berdaulat atas wilayah tersebut . 6 . Non Navigable dan Navigable 4. harus ada maksud menganeksasi yang dinyatakan secara resmi. yang biasanya diungkapkan dalam suatu surat (nota) yang dikirimkan kepada semua negara lain yang berkepentingan. batas wilayah tetap pada “river bed” Perlahan .  3. Preskripsi (prescription) Salah satu metode mendapatkan wilayah yang dulunya mungkin merupakan wilayah negara lain yang menjadi hilang karena alasan-alasan tertentu dengan berlalunya waktu atau dengan kata lain . Perubahan aliran sungai di bagi 2 yaitu :   Tiba-tiba. Metode ini bersandar pada prinsip bahwa hak mengalihkan teritorialnya adalah sifat fundamental dari kedaulatan suatu negara. Akresi (accretion) Hak dengan akresi terjadi bila suatu negara bertambah wilayahnya.2.

6. lntegrasi Integrasi adalah merupakan penggabungan sebuah kawasan atau wilayah ke dalam suatu negara yang mana biasanya negara yang akan diajak bergabung atau berintegrasi tersebut tempat atau letaknya berdekatan dengan wilayah yang akan berintegrasi tersebut. 1. Adverse Possesion. Tidak ada keputusan suatu pengadilan internasional yang secara meyakinkan mendukung doktrin preskripsi akuisitif.2. 7. Negara memiliki kedaulatan penuh. yaitu :  Kedaulatan Atas Wilayah Darat  Kedaulatan Atas Wilayah Laut a. setiap kapal asing yang akan lewat di laut territorial harus dapat izin dari negara yang bersangkutan. Negara yang independen biasanya mendapatkan kemerdekaan atau kebebasannya dari tangan penjajah dengan melalui revolusi atau perjuangan untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah penjajahannya dan untuk mendirikan sebuah negara baru walaupun tidak diakui oleh negara penjajahnya. Hal ini di samping untuk memudahkan hubungan antara wilayah yang akan berintegrasi tersebut dengan negara yang akan diajak berintegrasi. tetapi negara lain masih dimungkinkan untuk menikmati hak lintas damai. suatu wilayah yang akan berintegrasi biasanya adalah merupakan sebuah wilayah yang pernah dijajah dan diterlantarkan begitu saja oleh penjajahnya. Jadi negara independen tidak mendapatkan kemerdekaannya berdasarkan hadiah ataupun pencaplokan atau pendudukan. 7 . Negara independen adalah merupakan negara yang mendapatkan kemerdekaannya dengan melalui perjuangan baik fisik maupun diplomasi. Laut teritorial Adalah laut yang terletak di sisi luar garis pangkal (base line) yang tidak melebihi lebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal. namun negara lainnya telah menjalankan kedaulatannya dalam waktu yang lama sehingga menghilangkan kedaulatan pemilik lama Sejumlah yuris (termasuk Rivier dan cle Martens) telah menyangkal bahwa preskripsi akuistif diakui oleh hukum internasional. Konsikuensinya.2 Dimensi dalam Kedaulatan Teritorial Kedaulatan teritorial mencakup 3 dimensi . Revolusi (independen) Sebuah negara independen adalah merupakan sebuah negara yang berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari negara lain maupun campur tangan dari pihak lain. Dimana negara yang dulunya memiliki kedaulatan atas wilayah diketahui. yaitu hak untuk melewati laut itu.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Zee diartikan sebagai suatu daerah diluar laut territorial yang lebarnya tidak boleh melebihi 200 mil diukur dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur lebar laut territorial Menurut pengertian pasal 56. negara pantai dapat berusaha mencegah terjadinya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan pada wilayahnya atau pada laut teritorialnya sekaligus dapat menerapkan hukumnya (pasal 33). Indonesia meratifikasi konvensi Hukum laut internasional (UU nomor 17 tahun 1985): 8 . Dalam hal ini adalah adanya kenyataan dimana telah dicapai kesepakatan mengenai batas terluar laut teritorial. Untuk beberapa negara lainnya hal ini diartikan sebagai kegagalan konvensi untuk mengesahkan tuntutan mereka yang lebih luas. dan menghukum setiap pelanggran demikian. menentukan bahwa negara pantai dalam zona tersebut dapat melaksanakan pengawasan yang diperlukan guna mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangannya menyangkut bea cukai. diadakan pada tahun 1958 dan 1960. negara pantai di zee dapat menikmati beberapa hal berikut. Dalam hukum laut baru ini pun kedaulatan negara tetap dibatasi dengan hak lintas damai bagi kapal asing (Pasal 7 dst). Dalam pasal 33 yang dibandingkan dengan pasal 24 konvensi 1958). Dengan demikian. dan angin). lebar jalur tambahan ini juga telah diperluas apabila dibandingkan dengan jalur tambahan ini juga telah diperluas apabila dibandingkan dengan jalur tambahan menurut hukum laut klasik. Yang pertama dan kedua . Hak-hak dan kewajiban lain sebagaimana yang ditetapkan dalam konvensi. riset ilmiah kelautan. Yurisdiksi. 1. sebagaimana yang ditetapkan dalam konvensi ini. atas pendirian dan penggunaan pulau-pulau buatan. konservasi . serta perlindungan laut. yaitu 12 mil laut diukur dari garis pangkal (pasal 4). Namun demikian . Zona Tambahan Pada suatu jalur yang lebarnya tidak melebihi 24 mil dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur lebar laut territorial. fiscal. dan pengelolaan segala sumber kekayaan alam di dasar laut dan tanah dibawahnya serta pada perairan di atasnya. termasuk ruang udara diatasnya dan dasar laut serta tanah dibawahnya. Belanda termasuk kelompok pertama dan peraturan perundang-undangan yang memperluas laut teritorialnya hingga 12 mil telah disahkan dan mulai berlaku tahun 1958 b. zona tambahan tidak boleh melebihi 24 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut territorial diukur c. 3. Demikian pula terhadap semua kegiatan untuk tujuan eksploitasi secara ekonomis dari zona tersebut (seperti produksi energy dari air.Pasal 2 konvensi menentukan bahwa kedaulatan negara pantai meliputi laut teritorialnya. hal ini merupakan pemecahan terhadap suatu masalah yang belum terselesaikan pada konferensi laut. Hak-hak berdaulat untuk melakukan eksploitasi . dan saniter di dalam wilayahnya atau laut teritorialnya . Dengan demikian. 2. arus. imigrasi.

Kebebasan-kebebasan ini harus dilaksanakan oleh negara-negara dengan mempertmbangkan kepentingan-kepentingan negara lain. Kebebasan dilaut lepas ini antara lain (a) kebebasan berlayar .  Sebagian merupakan terkodifikasi ketentuan-ketentuan hukum di laut lepas dan hak lintas damai laut internasional. laut territorial perairan pedalaman dan perairan kepualauan . 2. Kelanjutan alamiah wilayah daratan di bawah laut hingga tepian luar kontinen yang lebarnya tidak boleh melebihi 350 mil laut. 3. (c) kebebasan meletakan kabel dan pipa di bawah laut . diukur dari garis dasar laut territorial jika diluar 200 mil laut masih terdapat daerah dasar laut yang merupakan kelanjutan alamiah dari wilayah daratan. sedang dalam konvensi hukum laut tahun 1982 dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Jarak sampai 200 mil laut . Laut lepas harus digunakan hanya untuk maksud-maksud damai dan tidak ada satu negara pun dapat menyatakan kedaulatannya terhadap bagian dari laut lepas ini ( pasal 88 dan 89) Secara material konvensi hukum laut tahun 1982 dengan konvensi sebelumnya ada beberapa perbedaan:  Tentang landas kontinen Dimana pada konvensi hukum laut di Jenewa tahun 1958 dalam penentuan landas kontinen adalah kedalaman air 200 meter atau kemampuan dalam melakukan eksplorasi . d. 9 . Tidak boleh melebihi 100 mil laut dari garis kedalaman (isobat) 2500 meter. (d) Kebebasan membuat pulau-pulau buatan dan instalasi-instalasi lainnya. . misalnya ketentuan mengenai lebar laut territorial menjadi maksimum 12 mil laut dengan kriteria landas kontinen. jika tepian laut kontinen tidak tercapai jarak 200 mil laut. (b) kebebasan untuk terbang diatasnya . Laut Lepas Laut lepas terbuka bagi semua negara. Dan jika memenuhi kriteria kedalaman sendimentasi yang ditetapkan dalam konvensi. Dalam konvensi Jenewa tahun 1958 wilayah laut lepas dimulai dari batas terluar laut territorial . baik negara yang berpantai maupun yang tidak berpantai. (e) Kebebasan menangkap ikan dan (f) kebebasan melakukan riset ilmiah. Sebagian merupakan pengembangan hukum laut yang sudah ada . dalam konvensi tahun 1958 masalah ekses negara tanpa pantai diatur dalam salah satu passal sdangkan dalam konvensi tahun 1982 diatur lebih terinci dalam satu bab tersendiri. sedangkan dalam konvensi tahun 1982 bahwa laut lepas tidak mencakup zee. serta hak-hak yang tercantum dalam konvensi mengenai eksploitasi kawasan dasar laut dalam (pasal 87) .

maka segala konsekuensi yang timbul dengan segala dampaknya menjadi tanggung jawab bersama. wilayah udara belum begitu penting. Namun. Kelima kebebasan udara tersebut diatur dalam perjanian yang kedua. Kedaulatan Negara atas Ruang Udara Wilayah kedaulatan negara mencakup pula ruang udara diatas wilayahnya.Mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta kebebasan –kebebasan yang melekat di laut lepas. seorang penerbang bangsa Perancis. Pesawatpesawat terbang yang cukup banyak pada waktu itu. A. bahwa setiap negara memiliki kedaulatan penuh dan ekslusif pada ruang udara diatasnya. Kedaulatan suatu negara merupakan kekuasaan yang tertinggi dalam batas –batas wilayah negara itu sendiri. konsep kedaulatan negara di ruang udara belum begitu penting. Sebelum abad ke-19. Pada masa sekarang pun. Bleroit dari Perancis menyebrang melalui selat Calais untuk kemudian mendarat di Inggris tanpa adanya keberatan apapun dari pihak Inggris. Misalnya. Mengingat konvensi ini bersifat internasioanal. Oleh sebab itu. bebas diterbangkan dari satu negara dan mendarat di negara lain atau kemana saja pesawat tadi kebetulan terbawa oleh angin. beberapa negara mengusulkan memasukkan “lima kebebasan udara” (Five Freedoms of The Air) di dalam konvensi. keberadaan maupun berlakunya telah menjadi kesepakatan oleh negara-negara yang hadir pada konvensi itu . Demikian pula masalah konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan hayati di laut lepas. baik wilayah darat. Di Konverensi Chicago tahun 1944. juga mempunyai dampak negative bagi negara yang berunding dengan konvensi tersebut untuk negara-negara yang tidak berpantai. ada dua perjanjian yang ditandatangani di Chocago pada 7 Desember 1944. Dengan adanya konvensi hukum laut III tahun 1982 selain mempunyai dampak positif terutama bagi negara-negara yang memperoleh kepentingan dari konvensi tersebut. ruang udara mulai diperhitungkan dalam masyarakat internasional. Dalam sejarah pernah ada perdebatan yang cukup seru apakah suatu negara memiliki keadulatan diwilayah udara atau tidak? Perdebatan tersebut telah terjawab dengan berbagai teori dan bahkan sudah diatur dalam hokum positif internasional. Namun. perhatian negara terhadap wilayah praktis belum ada sama sekali. setelah berhasil ditemukannya pesawat terbang oleh Wright. yaitu balon-balon udara. laut maupun udara. kelima kebebasan tersebut adalah sebagai berikut :    Fly across foreign territory without landing atau terbang melintasi wilayah negara asing tanpa mendarat Land for non-traffic purpose atau mendarat untuk tujuan komersial Disembark in a foreign country traffic orginating in the state of origin of the aircraft atau menurunkan penumpang di wilayah negara asing yang berasal dari negara asal pesawat udara 10 . Pada masa permulaan perkembangannya. yaitu International Air Services Transit Agreement dan International Air Transport Agreement. usul ini ditolak oleh beberapa negara. Namun demikian kedaulatan tersebut dibatasi oleh hak –hak negara lain untuk melintas diwilayah ruang udara sebagaimana telah diatur dalam Konvensi Chicago 1944 dan perjanjian – perjanjian lain. yaitu Bleroit yang telah melakukan penerbangan yang menggemparkan pada tahun 1909.

Negara kolong berdaulat penuh. Teori ini dapat dikelompokan menjadi :    Negara kolong berdaulat penuh hanya terhadap satu ketinggian tertentu di ruang udara. tetapi dibatasi oleh hak lintas damai bagi navigasi pesawat -pesawat udara asing. Menurut konvensi Chicago 1944 tentang pengaturan mengenai wilayah udara. Teori pertama menyatakan. bahwa udara karena sifat yang dimilikinya. Dengan demikian akan timbul beberapa masalah antara 11 . sehingga negara berdaulat terhadap ruang udara di atas wilayah negaranya. yaitu adanya hak lintas damai (innocent passage) bagi pesawat udara asing. Dalam teori kedua ini tampak sudah ada pembatasan negara atas wilayah udara. maka memiliki akibat yang berbeda. Mengenai kepemilikan ruang udara ini. yaitu The Air Freedom Theory dan The Air Sovereignty Theory. sekitar tahun 1913 muncul dua teori. Sedangkan teori kedua merupakan kebalikan dari teori pertama. Pada kenyataannya. ia menjadi bebas (by its nature is free). sesuai dengan teori mana yang dianutnya. Dengan demikian apabila ada pesawat udara asing yang terbang di ruang udara suatu negara. Teori yang pertama ini dapat dikelompokan menjadi :    Kebebasan ruang udara tanpa batas Kedaulatan ruang udara yang dilekati beberapa hak khusus negara kolong. yaitu International Air Services Transit Agreement hanya memasukkan kebebasan pada pin a dan b saja. pasal 1-nya menyatakan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang komplit dan eksklusif (complete and exclusive) terhadap ruang udara yang ada di atasnya. Ketentuan pasal 1 ayat 1 dari International Air Tansport Agreement tersebut dikenal juga sebagai The Five Freedom Agreement. praktek negara-negara menunjukkan bahwa hanya sedikit negara yang mau menerapkan kebebasan ini. Pick-up in a foreign country traffic destined for the state of origin of the aircraft atau mengangkut penumpang pada lalu-lintas negara asing yang bertujuan ke negara asal pesawat udara  Carry traffic between two foreign countries atau mengangkut angkutan udara dua negara asing Perjanjian yang pertama. yang menyatakan. bahwa udara itu tidak bebas. dan Kebebasan ruang udara. tetapi diadakan semacam wilayah terretorial di daerah dimana hak -hak tertentu negara kolong dapat dilaksanakan. Selain itu dalam Pasal 5 dan 6 Konvensi Chicago 1944 diatur tentang Non Scheduled Flight dan Scheduled Flight. dan Negara kolong berdaulat penuh tanpa batas. Negara-negara lebih suka untuk mengadakan perjanjian bilateral atau perjanjian khusus dengan negara-negara lain. apakah teori udara bebas atau teori udara tidak bebas.

Selanjutnya Pasal 5 ayat 2 mengatakan.teori -teori yang ada dengan ketentuan – ketentuan mengenai penerbangan peswat udara. syarat -syarat atau pembatasan -pembatasan yang ditentukan oleh negara setempat. Pasal 6 Konvensi Chicago 1944 pada prinsipnya adalah bahwa pesawat asing yang melakukan penerbangan haruslah meminta ijin terlebih dahulu kepada negara kolong atau negara dimana tempat ia terbang. Pada prinsipnya dalam International Air Services Transit Agreement 1944 ini diatur bahwa masing masing negara peserta memberikan kepada negara peserta lian berupa kebebasan udara yang berhubungan dengan penerbangan berjadwal. antara lain menyatakan:  Semua pesawat terbang (all aircraft) negara peserta yang bukan penerbangan berjadwal (non scheduled flight) mempunyai hak untuk melewati wilayah udara negara peserta lainnya (in transit non stop across…) dan untuk turun bukan dengan maksud mengadakan angkutan (non traffic) dengan suatu notifikasi. 12 . Hak istimewa untuk mendarat tapi bukan untuk mengadakan lalulintas (non traffic purposes). yaitu sebagai berikut:   hak istimewa (privilege) untuk terbang lewat dinegara peserta yang satu ke negara peserta yang lain. tapi bukan untuk maksud traffic. yaitu :   hak untuk terbang melalui wilayah negara pemberi (non stop over).selain itu. barang pos atau muatan yang dipungut bayaran selain dari penerbangan berjadwal mempunyai hak untuk menaikan dan menurunkan penumpang dan sebagainya. benda pos atau barang. 3 Hal ini dapat dipahami. Untuk mencegah hal yang demikian diperlukan adanya persetjuan lebih dulu. artinya tidak boleh mengambil atau menurunkan penumpang. Hak -hak tersebut tidak berlaku untuk tujuan militer kecuali dalam keadaan perang. khususnya pesawat udara asing.bahwa apabila ada penerbangan yang berjadwal tentu memungkinkan terjadinya persaingan dengan penerbangan nasional. penerbangan berjadwal juga diatur dalam International Air Service Transit Agreement dan International Air Transport Agreement tanggal 7 Desember 1944. dan hak untuk mengadakan pendaratan (one more stops) diwilayah negara lain. Dengan demikian Two Freedom Agreement tersebut merupakan Transit Right. bahwa :  Apabila pesawat terbang tersebut membawa penumpang. Pasal 5 Konvensi Chicago 1944. akan tetapi harus mentaati peraturan -peraturan. melainkan hanya keperluan teknis.

kedua pihak setuju untuk tunduk kepada keputusan arbitrase yang mengikat pada 23 Januari 1928. Arbitrator mencatat bahwa tidak ada hukum internasional yang baru yang menyatakan tidak berlakunya penyerahan legal suatu wilayah dengan cara penyerahan. Amerika Serikat beranggapan bahwa pulau tersebut merupakan bagian dari Kepulauan Filipina (the Phillippine Archipelago) yang diserahkan oleh Spanyol kepadanya berdasarkan perjanjian Paris tersebut seusai pengakhiran perang kedua negara. Amerika Serikat menyatakan bahwa Spanyol memiliki wewenang yang sah atas Palmas karena Palmas ditemukan oleh Spanyol ketika pulau tersebut dalam keadaan terra nullius yaitu wilayah yang tidak dikuasai oleh pihak manapun. Persoalan yang ingin diselesaikan oleh arbitrator adalah untuk menyelesaikan apakah Pulau Miangas secara keseluruhan merupakan bagian dari wilayah Amerika Serikat atau Belanda. Pulau ini memiliki panjang 2 mil. seseorang yang berwarga Negara Swiss. Masalah hukum yang hadir adalah apakah wilayah tersebut dimiliki oleh si Penemu pertama walaupun mereka tidak menjalankan wewenangnya atas wilayah tersebut atau dimiliki oleh Negara yang secara nyata menjalankan kedaulatan atas Negara tersebut. Spanyol menyerahkan Filipina ke Amerika Serikat dalam sebuah Perjanjian Paris (1898) dan Palmas ikut diserahkan ke Amerika Serikat. Demi menyelesaikan kasus ini.BAB III PEMBAHASAN 3. Pulau ini terletak diantara Mindanao. 13 .1 Island of Palmas Case (1928) Pulau Miangas ini adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang memiliki luas 3. 15 km2 dan masuk dalam desa Miangas. Sedangkan pihak Belanda mengklaim kepemilikan atas pulau tersebut berdasarkan pendudukan atau pelaksanaan otoritas (pemerintahan) yang terus menerus. Kecamatan Nanusa Kabupaten Talaud Propinsi Sulawesi Utara. Spanyol menyatakan memiliki wewenangnya atas pulau tersebut dikarenakan pulau tersebut adalah bagian dari Filipina dan telah diserahkan kepada Amerika Serikat dalam Perjanjian Paris (1898) setelah Spanyol kalah dalam Perang antara Spanyol dan Amerika. adalah sebuah pulau yang bernilai ekonomis dan berlokasi strategis. Pada tahun 1898. dan berpopulasi sekita 750 jiwa pada saat keputusan arbitrase mengenai sengketa perebutan pulau ini diturunkan. Palmas atau yang biasa dikenal sebagai Pulau Miangas. Proses Arbitrase Amerika dalam argumennya menyatakan Pulau Palmas adalah miliknya berdasarkan perjanjian yang sah dari “penemu pertamanya” yakni Spanyol. Arbitrator dalam kasus ini adalah Max Huber. Pertikaian perebutan status kepemilikan pulau ini muncul pada tahun 1906 antara Amerika Serikat dan Belanda. dengan lebar ¾ mil. berlangsung lama dan selama itu tidak ada gangguan atau klaim dari pihak lain. Filipina dan yang paling utara yaitu pulau Nanusa.

Miangas (Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Keputusan Arbitrase Akhirnya. Di masa Soekarno menjadi Presiden. hampir tak ada pembangunan di daerah itu. Dalam hal ini bukanlah menyangkut pilihan hukum melainkan karena tidak adanya penerapan secara historis. tertinggal. Akan tetapi klaim yang diberikan Spanyol atas Palmas memang merupakan klaim yang lemah karena ia tidak pernah mengelola pulau tersebut.Bagaimanapun juga. Kasus Island of Palmas saat ini Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Belanda berhasil membuktikan bahwa Dutch East India Company telah melakukan negosiasi dengan Pemimpin Lokal pulau tersebut sejak abad ke-17 atas kedaulatannya termasuk dalam bentuk mengembangkan agama Protestan dan melarang kebangsaan lain di pulau tersebut. hanya menemukannya saja. Untuk alasan ini. Disamping itu letak P. arbitrator sesuai dengan Pasal 1 dari Sebuah Perjanjian Khusus pada tanggal 23 Januari 1928 memutuskan bahwa Pulau Palmas atau Miangas secara keseluruhan adalah bagian dari wilayah Negara Belanda. menurut kajian Weter (1979). Sekolah di pulau-pulau ini paling banyak dijalankan Yayasan Pendidikan Kristen. DR. yaitu klaim dari pihak lawan harus dinyatakan sesuai dengan hukum yang berlaku ketika wilayah tersebut di temukan. Terutama untuk fasilitas umum. Setelah Indonesia merdeka. daerah perbatasan tampaknya selalu berarti wilayah terisolasi. Ini 14 . dimana status kepemilikan suatu pulau/wilayah diberikan kepada daerah yang terdekat dengan pulau/wilayah tersebut. Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina. kehidupan di Kepulauan Nanusa ini tidak berubah. Max Huber menyatakan bahwa tidak ada satupun hukum positif Internasional pada saat itu yang mendukung pendekatan terra firma yang didkemukakan Amerika Serikat. Mendukung posisi Belanda dan menyatakan bahwa Pulau Palmas secara nyata adalah milik Belanda. Belanda dalam pendiriannya menyatakan memiliki kedaulatan atas Palmas Karena ia telah menjalankan kewenangannya di pulau tersebut semenjak tahun 1677. dimana kepemilikan P. Arbitrator menyimpulkan bahwa Spanyol sebagai pihak penemu memiliki kedaulatan sah atas pulau Palmas bahkan dengan cara yang sederhana seperti sekedar menancapkan benderanya di pantai. seperti sekolah. arbitrator mencatat bahwa Spanyol tidak dapat memberikan apa yang tidak ia miliki dan Perjanjian Paris kepada Amerika Serikat jika Spanyol tidak memiliki wewenang yang sah atasnya. Arbitrator mencatat bahwa Amerika gagal membuktikan kedaulatan Spanyol atas pulau tersebut kecuali dokumen yang secara spesifik menyebutkan bahwa Spanyol adalah pihak penemu tersebut. Balut (Filipina) dengan pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil. Di lain pihak. Argument kedua dari Amerika Serikat adalah ia menyatakan bahwa dirinya memiliki wewenang atas Palmas karena letak Palmas lebih dekat dengan Filipina (yang saat itu dimiliki oleh Amerika Serikat) daripada dengan Indonesia (yang saat itu dijajah Belanda). Max Huber memperkenalkan konsep “hukum intertemporal” dalam menangani sengketa dimana kaidah-kaidah hukum internasional diterapkan berdasarkan periode dan kasus tertentu. Max Huber. Arbitrator. Miangas oleh Indonesia berdasarkan Keputusan Peradilan Arbitrage di Den Haag tahun 1928.

Potensi sumber daya laut yang dapat menjadi sumber kemakmuran masyarakat kepulauan. the intention and will to act as a sovereign. bagi negara yang merelakan wilayahnya diambil oleh negara lain harus menunjukkan animus relinquendi (with intention to return)..merupakan dampak kebijakan pembangunan nasional di masa lalu. Negara yang menduduki wilayah tersebut harus menunjukkan adanya niatan untuk melakukan penguasaan atau animus occupandi (the intention and will to act as sovereign). maka ada beberapa istilah-istilah berikut yang berhubungan dengan cara-cara tradisional mendapatkan wilayah Palmas melaui sengketa yang terjadi antara Amerika Serikat dan Belanda. Pembentukan kabupaten ini tidak lepas lantaran rendahnya tingkat pengembangan daerah perbatasan selama ini. efektif dan damai”. Untuk itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi: Wilayah tersebut harus terra nullius. Melihat dari kasus Island of Palmas.. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan melakukan tindakan-tindakan administratif terhadap wilayah tersebut. yaitu wilayah yang tidak dikuasai oleh pihak manapun. Lihat the Legal Status of Eastern Greenland Case (1933) PCIJ Reports. Pada masa kolonialisme. penguasa asli seringkali diabaikan sehingga penguasa di sini lebih diartikan sebagai bangsa Eropa saja Kekuasaan terhadap wilayah tersebut harus berada dalam posisi “terbuka. terus menerus. Ada dua cara untuk memperoleh wilayah melalui metode ini: 15 . tidak mendapat perhatian. Dari sisi lain. sembilan pulau belum didiami dan tujuh pulau lainnya sudah berpenghuni. No. Prescription/Preskripsi Metode ini adalah proses perolehan wilayah yang tadinya dikuasai oleh negara lain namun karena satu dan lain hal maka penguasaan tersebut menjadi tidak efektif atau daluwarsa. Dari jumlah itu. Sebanyak 16 pulau di Talaud sendiri telah membentuk kabupaten. Disebutkan pula bahwa kekuasaan terhadap wilayah tersebut haruslah aktual/nyata dan bukan hanya nominal/klaim saja. and some actual exercise or display of such authority”. involves two elements each of which must be shown to exist. Series A/B.upon a continued display of authority. Wilayah yang dimiliki oleh negara sehingga secara ekslusif tata aturan dan tindakan kepemerintahan lainnya dapat dijalankan. Occupation/Pendudukan Occupation adalah cara memperoleh suatu wilayah yang tidak pernah dikuasai oleh negara lain atau ditelantarkan oleh penguasa sebelumnya. 53 disebutkan bahwa: “A claim to sovereignty based . Analisis Kasus Salah satu kriteria utama dari kedaulatan adalah dimilikinya suatu wilayah yang dapat diidentifikasikan dengan jelas. Lihat kasus Island of Palmas Case (1928) 2 RIAA 829.

Akan tetapi dalam praktek sangat susah membedakan antara occupation dan prescription sehingga biasanya hanya mengandalkan putusan yang dikeluarkan oleh badan arbitrasi atau badan pengadilan internasional lainnya. maka 3 aturan utama dalam menyelesaikan perkara sengketa wilayah dalam Hukum Internasional adalah:    Klaim wilayah berdasarkan jarak dekat suatu wilayah dengan wilayah lain tidak memiliki legal standing di hukum Internasional. Adverse Possession: kondisi dimana penguasa sebelumnya diketahui namun. Cession Metode ini adalah pengalihan kedaulatan suatu wilayah dari satu negara ke negara lainnya dengan melalui suatu perjanjian. Melalui kasus Palmas tersebut. Dalam perjanjian itu disebutkan secara tegas. Contoh Cession yaitu penyerahan atas Palmas Island dari Spanyol ke Amerika Serikat melalui perjanjian Paris (1898).  Immemorial Possession: dimana negara mendapatkan kedaulatannya atas suatu wilayah setelah menguasainya sampai sangat lama sehingga penguasa sebelumnya tidak bisa diketahui lagi. Penguasa baru dalam hal ini harus mendapatkan semacam “pembiaran” atas tindakan dan kebijakan yang dilakukan dari penguasa sebelumnya. karena penguasa baru telah secara efektif melakukan pemerintahannya sehingga penguasa lama seperti telah kehilangan kekuasaan untuk menjalankan fungsinya di wilayah tersebut. maka hak yang selama ini dinikmati oleh pihak ketiga harus dipertahankan sampai kemudian terjadi perjanjian baru antara pihak ketiga dan pihak penguasa baru tersebut. Klaim wilayah berdasarkan wewenang nyata yang dijalankan lebih kuat daripada hanya berdasarkan dasar penemuan. Jika akibat dari penyerahan kedaulatan tersebut berimbas kepada pihak ketiga. SENGKETA INTERNASIONAL ANTARA THAILAND DAN KAMBOJA 16 . Hal ini terjadi dalam kasus Palmas. (acquiescence principle). Doktrin “Intertemporal Law” Dalam Island of Palmas Arbitration (1928) menyatakan bahwa klaim dari pihak lawan harus dinyatakan sesuai dengan hukum yang berlaku ketika wilayah tersebut di temukan. Klaim wilayah atas dasar penemuan (discovery) hanyalah suatu kedaulatan yang tidak lengkap. adanya satu negara sebagai pihak yang melepaskan kedaulatan dan pihak negara lainnya menerima kedaulatan atas suatu wilayah tertentu.

Thailand dan Kamboja juga saling tuding mengenai siapa yang pertama kali menarik pelatuk senjata. Militer Thailand melanggar garis perbatasan dan menyerang pos militer kami di sepanjang perbatasan dari Ta Krabey hingga wilayah Chub Koki yang berada jauh di tengah wilayah Kamboja. Hal ini dikarenakan Thailand menolak tiga permintaan Kamboja terkait usaha demokrasi perbatasan. Pada tahun 1962. Menurut Pemerintah Thailand. Negara itu meminta pengadilan internasional memerintahkan Thailand menarik tentaranya dan menghentikan aktivitas militer mereka di sekitar kuil yang menjadi lokasi sengketa. Tujuannya untuk mengambil alih kedua candi yang diklaim milik Kamboja. masih tetap terjadi baku tembak di perbatasan dekat candi antara kedua belah pihak. Perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Sedangkan menurut Pemerintah Kamboja. Mahkamah Internasional di Den Haag memutuskan bahwa candi dari abad ke-11 itu milik Kamboja. Peran serta Indonesia didukung penuh oleh Kamboja yang menyetujui rencana pengiriman tim peninjau dari Indonesia untuk mengawasi gencatan senjata. Proses Penyelesaian Kasus Pemerintah Kamboja memilih jalan meminta bantuan pengadilan tertinggi Perserikatan BangsaBangsa (PBB). Konflik Kamboja-Thailand ini juga menjadi pembahasan dalam pertemuan KTT ASEAN ke-18 di Jakarta. Namun pada akhirnya pihak Thailand menentang yang mengatakan bahwa permasalahan perbatasan seharusnya adalah masalah bilateral dan tidak melibatkan pihak ketiga. Salah satu tuntutan Kamboja untuk Thailand adalah diadakannya kembali pertemuan pembahasan perbatasan atau pertemuan Joint Border Commission (JBC) di Indonesia. Pada tanggal 7-8 di Istana Bogor. insiden dimulai ketika pasukan Kamboja menembaki pihak Thailand.Case of The Temple of Preah Vihear (15 June 1962) Penyebab Terjadinya Sengketa. Indonesia dipilih sebagai tempat pertemuan JBC karena Indonesia sebagai ketua ASEAN telah diberi mandat oleh Dewan 17 . Konflik akibat sengketa kuil tersebut kembali pecah pada 22 April lalu. Thailand dan Kamboja selanjutnya meminta kesediaan Indonesia berperan sebagai penengah konflik yang terjadi di antara keduanya. Namun gerbang utama candi tersebut berada di wilayah Thailand. Pemerintah Kamboja dan Thailand mengklaim bahwa kuil tersebut milik kedua negara. yakni dari staf Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan staf dari Kementerian Pertahanan serta perwira militer TNI. Komposisi tim peninjau terdiri dari unsur sipil dan militer. Sengketa Sengketa Kuil Preah Vihear sejak 1962 telah memicu konflik berdarah antara Thailand dan Kamboja. Indonesia sebagai ketua ASEAN sejak awal terjadinya bentrokan telah turut andil dalam upaya mendamaikan kedua negara. Hingga kini. Permintaan ini disambut baik Pemerintah Indonesia dan diwujudkan dengan cara membentuk tim peninjau. sampa saat ini 18 Prajurit kedua belah pihak dinyatakan tewas dan memicu lebih dari 50 ribu warga dievakuasi ke pusat-pusat pengungsian.

18 . "tidak masalah penegakan demiliterisasi zona oleh otoritas pihak ketiga. tetapi kelayakan pelaksanaan dari zona demiliterisasi oleh Para Pihak. Mereka menginginkan JBC hanya dilakukan oleh kedua negara (Kamboja dan Thailand). Thailand berprinsip. berpendapat bahwa PDZ seperti yang ditunjukkan dalam sub --. Hakim Xue dalam ringkasan. Kamboja pun menuduh Thailand tidak serius menerapkan diplomasi damai dalam berunding Presiden Owada menyatakan kesetujuannya terhadap bagian bagian dari perintah operasi kecuali memperluas menunjukkan pembentukan beberapa PDZ (Provisional Demilitarized Zone). Menurut Kamboja.¶ Pasal (B) (1) gagal untuk mempertahankan hubungan yang diperlukan antara hak yang membentuk subjek dari proses utama pada manfaat dan langkah-langkah diminta. Masalah dengan PDZ. Kegagalan perjanjian tersebut. Thailand menolak memenuhi tuntutan tersebut ialah karena mereka harus terlebih dahulu mengajukan hal itu kepada parlemen Thailand untuk diratifikasi. kepada Presiden Owada. Menurut Hakim Xue. Ia menemukan pembebanan demiliterisasi zona. Pihak Thailand menolak hal ini.Khasawneh juga menyatakan ketidaksetujuannya ke sub --.¶ (B) (1) Ordo. tanpa peran Indonesia. dan seperti halnya Presiden Owada. Dia mencatat bahwa kekuasaan Mahkamah untukmenunjukkan langkah-langkah lebar. Hakim Xue berpendapat bahwa Pengadilan tidak memberikan alasan yang cukup untuk adopsi dari PDZ sebagai salah satu langkah-langkah sementara dan terutama pada apa pertimbangan ukuran yang luar biasa seperti ini patut dipertimbangkan. jika diperlukan menarik garis seperti melalui suatu Ordo. Pengadilan bisa menunjukkan sama sementara tindakan seperti dalam kasus Burkani Faso / Mali dengan meminta para Pihak. Dia berpandangan bahwa itu sudah cukup untuk engadilan dengan hanya memerintahkan Para Pihak untuk menahan diri dari kegiatan militer di wilayah Kuil dan karena hal ini berkaitan dengan penafsiran putusan Mahkamah. Hakim Xue menemukan ukuran ini menjadi berlebihan mengingat situasi saat ini antara para Pihak dan percaya untuk menempatkan mempertanyakan latihan yang tepat dari peradilan kebijaksanaan Pengadilan dalam menunjukkan tindakan sementara. Ia menyatakan setuju dengan Keputusan pengadilan untuk menunjukkan langkah-langkah sementara tetapi menyatakan "serius nya reservasi "untuk mendefinisikan PDZ sebagaimana tercantum dalam sub --. itulah sebabnya hingga kini perundingan perbatasan antarkedua negara tidak pernah rampung. menemukan PDZ untuk menjangkau wilayah yang tak perlu dari Para Pihak. Kamboja menilai permintaan izin kepada parlemen Thailand adalah prosedur yang terlalu lama dan bertele-tele. Di sisi lain. keduanya di bawah hukum dan oleh yurisprudensi Pengadilan. dalam batas-batas yang wajar.Keamanan PBB untuk menengahi perselisihan kedua Negara. Hakim Al --.Pasal ¶ (B) (1). tuntutan baru dapat dipenuhi apabila ratifikasi telah dilakukan. Tuntutan lain yang ditolak Thailand adalah dikirimkannya tim teknis dari Kamboja ke 23 titik perbatasan yang dipersengketakan kedua negara. dengan kerjasama Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk menentukan lebih dulu oleh mereka sendiri posisi yang bersenjata mereka pasukan harus ditarik. Dia mencatat dengan penyesalan bahwa PDZ persegi empat melibatkan lebih dari wilayah salah satu pihak dibandingkan dengan lain dan mencatat bahwa garis demarkasi buatan untuk menunjuk mungkin PDZ akan jelas di peta tapi mungkin berubah menjadi sulit bagi Para Pihak untuk dilaksanakan. Pengadilan kemudian bisa. pada tahap ini tidak ada kebutuhan nyata bagi Mahkamah untuk mengidentifikasi suatu daerah untuk demiliterisasi. dan memperingatkan bahwa karena ini harus dilakukan dengan hati-hati. dan dilakukannya foto pemetaan wilayah untuk mengidentifikasi pilar perbatasan.

lebih masuk akal pendekatan pasti untuk membatasi tindakan sementara dengan ketat pengamatan gencatan senjata di daerah Candi. Dalam Rangka nya. Keputusan ini dicapai oleh suara mayoritas yaitu 11 dari 5 suara. Pengadilan pertama dengan suara bulat menolak permintaan Thailand untuk kasus diperkenalkan oleh Kamboja untuk dihapus dari Daftar Umum .khususnya.personil militer. (c) bahwa Thailand tidak boleh menghalangi kebebasan akses Kamboja menuju Candi. Keputusan Pengadilan Internasional. untuk mengakses area Temple. Hal ini kemudian menunjukkan berbagai tindakan sementara. 19 . sebagai berikut: (a) bahwa kedua belah pihak harus segera menarik personel militer mereka saat ini hadir di zona demiliterisasi sementara (Provisional Demilitarized Zone). atau mencegah kamboja menyediakan pasokan segar untuk non --. Bahwa Kamboja dan Thailand harus terus menjalin kerjasama mereka dalam ASEAN dan. (b) bahwa setelah mencatat bahwa kawasan Candi telah menjadi ajang bersenjata bentrokan antara para Pihak dan bahwa bentrokan seperti itu mungkin terulang kembali. Dalam pandangannya. (d) bahwa masing-masing Pihak harus memberitahukan Pengadilan untuk kepatuhan dengan atas tindakan sementara dan bahwa.definisi spasial yang tidak didefinisikan berdasarkan sebuah kriteria dilihat sebagai yang tidak perlu untuk melindungi hak-hak dalam masalah dan "tak terhingga" terbuka untuk tuduhankesewenangwenangan. ada adalah kebutuhan mendesak untuk kehadiran semua angkatan bersenjata untuk sementara dikecualikan dari PDZ sekitar daerah Candi.bersama-sama dengan ukuran sebuah mengarahkan Thailand untuk tidak menghalangiakses ke tempat segala Candi dan mengukur mengarahkan kedua Pihak untuk memungkinkan pengamat. memungkinkan pengamat yang ditunjuk oleh ASEAN untuk memiliki akses ke PDZ dan kedua Pihak harus menahan diri dari tindakan apapun yang mungkin memperburuk atau memperpanjang sengketa sebelum Pengadilan atau membuatnya akan menjadi semakin sulit untuk diselesaikan. sampai Mahkamah telah memberikan keputusannya pada permintaan untuk interpretasi itu akan tetap seised hal-hal yang membentuk subjek Ordo. Mahkamah memutuskan bahwa untuk memastikan bahwa tidak ada kerusakan dapat diperbaiki disebabkan. sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 62. Keputusan ini dicapai oleh mayoritas 15 dari 1 suara. dan menahan diri dari kehadiran militer dalam zona tersebut dan dari kegiatan bersenjata diarahkan padadaerah itu. ditunjuk oleh ASEAN.

karena sering kali terjadi pelanggaran kedaulatan oleh nelayan asing atau kapal-kapal negara tetangga yang memasuki daerah perairan Indonesia Koordinasi pengamanan di laut hendaknya ditingkatkan. Menyangkut pengelolaan dan pemanfaatan hasil laut dilakukan oleh pihak berwenang sesuai undang-undang. Untuk mencegah terjadinya kehilangan wilayah Indonesia seperti Sipadan-Ligitan. satuan pengamanan di laut harus ditingkatkan dengan mengadakan tindakan polisional berupa 20     . dan demi memperkuat kedudukan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia maka diperlukan :  Memperkuat armada keamanan perairan di Indonesia untuk menjamin kedaulatan wilayah perairan di Indonesia tetap terjaga. pelanggaran yang menyangkut kedaulatan wilayah atas ruang udara dan ruang angkasa akan berakibat fatal bagi negara itu sendiri. mengingat kerentanan dan kompleksitas tantangan yang ada. Hal ini dikarenakan. Mendirikan pos-pos penjagaan di daerah yang rawan terjadinya penyerobotan oleh pihak asing Membangun fasilitas-fasilitas infrastrukur yang menunjang di sekitar daerah perbatasan demi menjaga kesejahteraan penduduk maupun pasukan penjaga di daerah perbatasan negara. Sebagai kawasan transit point yang diduga menjadi jalur kelompok teroris.BAB III PENUTUP Kesimpulan Kedaulatan wilayah atas laut merupakan hal yang penting bagi semua negara di dunia terutama yang memiliki laut . karena bisa saja ada negara yang diamdiam memata-matai atau bahkan menyerang salah satu daerah di dalam kedaulatan NKRI ini. perlulah kiranya kita menjaga kekayaan laut dengan kedaulatan yang dimiliki sehingga negara lain tidak dapat dengan mudah mengklaim wilayah perairan Indonesia yang terkenal kaya sebagai negara Zamrud khatulistiwa. Oleh sebab itu. maupun kewenangan menjaga yurisdiksi dan kedaulatan di laut demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana ketentuan dalam kedaulatan wilayah laut yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kedaulatan wilayah atas ruang udara dan ruang angkasa dirasa sangat penting bagi suatu negara. Saran Masalah klaim bagian wilayah oleh Negara lain hendaknya disikapi serius. terutama untuk negara Indonesia. setiap negara seharusnya memberi pengaturannya mengenai ruang udara dan ruang angkasa. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat banyak berada di antara 2 samudera dan 2 benua yang besar sehingga rawan terjadi tindakan pelanggaran kedaulatan oleh negara tetangga.

akan dengan mudah dapat ditangkap berdasarkan hukum yang berlaku 21 . dokumen tidak lengkap dan tidak memiliki pin register. Hal ini harus didukung oleh sarana yang canggih berupa satelit yang mampu memancarkan sonar ke radar yang mendeteksi kapal-kapal asing atau lokal yang secara khusus telah dipasang pin untuk pelayaran internasional.sweeping laut. Apabila sistem penginderaan jarak jauh tersebut berfungsi maka alasan ketersediaan kapal patroli akan berkurang karena dengan mengetahui titik kapal yang melewati batas perairan tanpa ijin. Hal demikian telah dilakukan dalam pemantauan satelit di Kepulauan Arafura.

com http://diansicute.com/2011/07/sengketa-internasional-antara-thailand.com/read/2011/02/22/17270840/Penyelesaian.DAFTAR PUSTAKA www.com/2011/12/kedaulatan-teritorial.kompas.Wikipedia.co.Konflik.internationalarbitrationcaselaw.Thailan d-Kamboja http://novyalrepula.html http://www.blogspot.html http://internasional.blogspot.com/new-cases/thetempleofpreahvihearcambodiavthailand-decisionontherequestofprovisionalmeasuresbyanitaghazirahman 22 .Google.id www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->