JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI

Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4
Penanggung Jawab Pimpinan Umum Pimpinan Redaksi Anggota Redaksi : : : :

Oktober 2006
Ir. Rosnani Ginting, MT Ketua Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. Hj. Yuliza Hidayati, MT Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Humala L. Napitupulu, DEA Ir. Harmein Nasution, MSIE Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc Ir. Nazaruddin, MT Ir. Poerwanto, M. Sc Ir. Nazlina, MT Ir. Nurhayati Sembiring, MT Ir. Tuti S Sinaga, MT Ir. Tanib Sembiring, M. Eng Aulia Ishak, ST. MT Buchari, ST Ir. Dini Wahyuni, MT Ir. Danci Sukatendal Ir. Ukurta Tarigan, MT Nisma Panjaitan, ST Dina M. Nasution Jurusan Teknik Indusri Fakultas Teknik USU, Gedung Unit II Lantai 2, Jl. Almamater Kampus USU Medan, 20155. Telp. (061) 8213649 Fax.(061) 8213250 Homepage : http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail : jsti@plasa.com Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Medan Rp. 125.000 per tahun (termasuk ongkos kirim). Biaya dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via Bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening: 005084001 a.n. Ir. T. Sembiring dan mengisi form berlangganan yang disediakan.

Pemasaran/Sirkulasi/Promosi

:

Editing

:

Alamat Penerbit/Redaksi

:

Diterbitkan Harga Berlangganan

: :

Jurnal Sistem Teknik Industri diterbitkan 4 (empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Redaksi menerima karangan ilmiah tentang hasil penelitian, survei, dan telaah pustaka yang erat hubunganya dengan bidang teknik industri. Penulis yang naskahnya dimuat akan dihubungi sebelum dicetak dan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 350.000,- per artikel yang dapat dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening 005084001 a.n.Ir. T. Sembiring.

i

JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4 DAFTAR ISI

Oktober 2006 Halaman
1-5

POTENSI AIR SUNGAI ULAR .................................................................................................................... Boas Hutagalung REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM ............................. Herman Mawengkang, Saib Suwilo, and Opim S. Sitompul PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X .... Amri KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER .......... Sihar Parlinggoman Panjaitan AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ..................................... Idhar Yahya STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X ............................................ Khawarita Siregar ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN ............................ Syahrul Fauzi Siregar PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN ....................................................................................................................................... Anizar ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN ...................................................... Filiyanti T. A. Bangun PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA .................................... Bilter Sirait THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN ... Taslim PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO ................................... Ukurta Tarigan PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN ................................... Mangara M. Tambunan ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS............................. T. Hafli dan Akhyar Ibrahim UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA ...................... Suryatmono

6-10 11-20

21-26

27-29

30-39

40-47

48-53

54-60 61-68

69-72

73-78

79-85

86-90

91-95

ii

HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE ........................................ Armansyah Ginting DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI ...................................... Satria Ginting ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA.............................................................................................................................. Aditia Warman URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS .................................................................. Filiyanti T.A. Bangun SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L.)................................................................ Muhdi, Tito Sucipto, dan Nur Idul Adha

96-99

100-103

104-109

110-113

114-119

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

iii

The Ular River has been used for irrigation. In the future the use of water on Ular River should be complicated if the management of water distribution do not prepare smoothly. in the future if the weir construct. Sesuai dengan perhitungan debit air sungai dan kondisi akibat debit tersebut. pabrik pabrik lainnya.Potensi Bahan Galian “C” Dari hasil penyelidikan bahwa debit sungai 50 m3/det memberikan volume sedimen yang maximum sepanjang tahunnya. dan lokasi Sungai Ular mempunyai nilai potensi yang cukup baik. Dengan membuat suatu pola pengaturan yang baik maka diharapkan penggunaan air tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan juga potensi lainnya seperti galian C berupa pasir dapat ditambang dari sungai asalkan dilakukan dengan pengaturan yang baik. Pembangunan lapangan terbang Kuala Namu adalah salah satu rencana yang akan segera dibangun.70 m3/hari/km 35.500 ha already establish. industries and domestic water. air untuk perikanan dan keperluan lainnya.000 m3/thn Dari hasil perhitungan tersebut. air untuk industri. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa debit rata-rata Sungai Ular memberikan volume sedimen maximun sepanjang tahunnya. Irrigation and Another Purposes PENDAHULUAN Sungai Ular adalah salah satu sungai yang terbesar di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. The calculation doing by using the formula has been suggested by Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum (Public Work). seperti pabrik pengolahan minyak kelapa sawit.= 632.Potensi Air METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder yang diperoleh dari lapangan berupa data-data pengukuran dan hasil-hasil penelitian terdahulu dan seterusnya dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus yang biasa dipergunakan dalam perencanaan irigasi yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yaitu buku: Standard Perencanaan Irigasi.Potensi bahan Galian “C” . Debit harian Sungai Ular pengukuran di Pulo Tagor menunjukkan debit ratarata sepanjang tahunnya antara 35 m3/det sampai dengan 75 m3/det. hal ini memerlukan penelitian dan pengukuran lebih mendalam. bila kita ambil angka yang menengah dari hasil perhitungan tersebut yaitu Perhitungan Brown maka: Pengambilan bahan galian “C” Sungai Ular untuk setiap harinya dapat diambil adalah: 231000 m3/thn Vc = -----------------------. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .0 m3/hari 365 hari Dengan pengambilan per kilometer dilakukan maka volume bahan galian “C” yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 632.= 17. In this paper. air minum. Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: The study is to analyse how to use the water on Ular River according to the needs . Maka untuk mengantisipasi perkembangan tersebut pada saat ini perlu dibuat suatu kajian mengenai potensi yang akan diberikan oleh Sungai Ular yaitu pemanfaatan airnya yang multi guna yang antara lain adalah: air irigasi. The total area for irrigation now is 18. industries and fish pond should be calculated.000 m3/thn Perhitungan Ashida (Sato. 1990) = 289.000 m3/thn Perhitungan Brown (1990) = 231. Kabupaten ini pada masa yang akan datang mempunyai potensi yang sangat besar.280 ha. Perhitungan Volume Sedimen (Jembatan Serbajadi) adalah sebagai berikut: Perhitungan Prosida (1990) = 172. Keywords: Water. Another gain can be accepted from the sediment material such as sand and gravel material.7 Km Dari peninjauan dan penelitian lokasi Cathmen Area Sungai Ular didapat bahwa kondisi Cathmen Area tersebut cenderung semakin rusak sepanjang tahunnya sehingga mengakibatkan semakin tingginya volume sedimen sepanjang tahun. Dengan adanya rencana penyatuan seluruh intake menjadi satu dengan membangun intake baru (rencana bendung karet) di Pulo Tagor. maka Boas Hutagalung 1 . and also another needs such as domestic water (drinking and public water). Adapun potensi tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain: .0 m3/hari Vc = ----------------------. Distribution. dan juga di sekitar sungai ini sudah banyak kegiatan-kegiatan industri. we try to make some calculation for using water for all purpose and then make suggestion for the future.POTENSI AIR SUNGAI ULAR Dosen Departemen Teknik Sipil. the area can be extended up to 25. fish pond and maintenance water. kira-kira 10 km dari kota Lubuk Pakam ibukota Kabupaten Deli Serdang.

5404 29.Potensi Irigasi Luas lahan irigasi yang tersedia pada proyek irigasi Sungai Ular yang sudah menjadi sawah pada saat sekarang ini adalah 18500 ha .274 2.332.9844 37.80 43.07 36.274 2.274 2.18 31.793 ha dengan pola tanam alternatif 17.1935 25.0157 DEBIT TAMBAK M3/det 2.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.*).511.274 2.7099 34.557.209.0872 29.274 2.336 m3/det.Potensi Tambak Potensi tambak di hilir Sungai Ular cukup besar.74 53.2659 26.0895 30.332.2 m3/det dan rencana perluasan bila sarana irigasi diperbaiki dan dikembangkan luas areal sawah dapat ditingkatkan menjadi 25280 ha.28 61.9252 27.1996 29.3640 32.7837 34.674.63 51.274 2.4339 32.6606 25.3591 32.274 2.2506 38.3434 32. Dengan pemilihan pola tanam sesuai alternatif di atas maka debit air sungai ular dapat dipergunakan seperti tabel di atas untuk setiap periode setengah bulanan.9518 29.274 2.274 2.01 74.Potensi Air .7412 Februari Maret April Mei Juni 13 Alternatif 13 14 Alternatif 14 15 Alternatif 15 16 Alternatif 16 17 Alternatif 17 18 Alternatif 18 19 Alternatif 19 20 Alternatif 20 21 Alternatif 21 22 Alternatif 22 23 Alternatif 23 24 Alternatif 24 Luas Lahan Min.40 49.kebutuhan air 22.94 57.274 2.274 SISA DEBIT M3/det 32.40 52.82 52.90 69.274 2.793.60 64.6773 26.102.274 2.274 2.50 59.1103 38.1415 29.07 122.793 ha.030.381.23 51. No.8670 27.8656 35. Sesuai dengan perhitungan kelebihan debit air Sungai Ular ada baiknya dipergunakan sebahagian untuk kebutuhan air tambak.87 31.274 2.452.0859 38.828.690. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.4323 29. 4 Oktober 2006 pengambilan bahan galian “C” dapat dilakukan pada satu titik pangambilan dengan maximal dan terkontrol volume yang dapat dikeluarkan dari sungai.4679 27.1578 27.1400 38.200.0582 37.274 2.07 36.820.274 2. didapatkan besarnya potensi irigasi sekitar daerah Sungai Ular yaitu pada pola tanam 17 dengan luas areal 31.28 34.4287 31.87 .1594 30.274 2.4936 31.399.141.281.102. kebutuhan air 30.8115 35. Juli Agustus September Oktober November Desember 2 .8359 35. Luas Lahan Max.274 2.72 71.647.7681 33. Sisa debit andalan dengan adanya Tambak DEBIT Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.0692 32. Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.274 2.73 65.7241 26.7032 33.2956 31.0211 29.121.274 2. Dengan pemilihan pola tanam alternatif 2 di atas (pola tanam sekarang) menunjukkan bahwa debit kebutuhan dari sumbernya untuk tambak adalah sebagai berikut: Tabel 2.9351 28.274 2.3617 31.9985 28. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pola Tanam Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4 Alternatif 5 Alternatif 6 Alternatif 7 Alternatif 8 Alternatif 9 Alternatif 10 Alternatif 11 Alternatif 12 Luas Lahan Terkecil yang Dapat Diairi (Ha) 33.274 2. Luas Lahan Terkecil Diairi No.793.3437 34.526.368.90 93. Diperkirakan luasan yang dapat dipergunakan untuk luasan lahan pertambakan adalah kurang lebih 1232 ha.01 122.6336 34.6178 34.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis Tabel 1.105.53 51. Sesuai dengan perhitungan dan analisis pola tanam yang dilakukan sebanyak 24 alternatif.73 65.274 2.110. .9761 36.

000 3. Walaupun demikian.000 . bila faktorfaktor lain mempengaruhi letak instalasi.000 100. kira-kira hanya 4 persen dari kebutuhan rata-rata yang dicantumkan pada tabel. Beberapa industri/pabrik mengembangkan sistem penyediaan airnya sendiri dan hanya sedikit atau sama sekali tidak menuntut dari sistem penyediaan air kota yang bersangkutan. pada pola tanam tersebut kebutuhan air dijamin 80% akan terpenuhi walaupun 3 . Standar Penggunaan Air untuk Beberapa Produk Industri Tertentu Penggunaan air Satuan yang umum. California hingga 1400 galon/ton baja (5800 liter/ton). Dari tabel 6 di bawah dapat dilihat ketersediaan air yang dapat digunakan untuk air minum/air domestik. Klg No.500. Daerah-daerah perdagangan meliputi bangunanbangunan kantor. Standar Kebutuhan Dasar (Basic Need) Air Bersih Klarifikasi Kota Kota besar utama Kota besar Kota sedang Kota kecil Kota Kecamatan I Kota Kecamatan II Penduduk (jiwa) >1. 2 950 Coca-cola Ton 15000 Kulit (diolah) Ton 66800 2920 Peny.000. sehubungan dengan perkembangan daerah.100.000 . air industri haruslah mengandung kadar garam terlarut yang lebih rendah daripada yang dapat diizinkan untuk air minum.Potensi Air Minum Kebutuhan akan air minum/air domestik sangat diperlukan pada daerah ini.668 m3/det. rata-rata sekitar 40 liter/hari untuk setiap pegawai tetap. Perkiraan tersebut diperhitungkan sebagai berikut: Rumah tangga: 60 liter/kapita/hari Keperluan umum30 liter/kapita/hari Kehilangan dan pemborosan 30 liter/kapita/hari Jumlah:120 liter/kapita/hari Potensi debit air Sungai Ular untuk air minum/air domestik yang dapat digunakan adalah setelah dikurangi keperluan debit untuk pemeliharaan sungai.000 20.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung . penggunaan kembali air dalam jumlah yang banyak telah mengurangi kebutuhan air di pabrik baja Kaiser di Fontana.000. debit untuk keperluan tambak perikanan dan debit air untuk keperluan industri.000. Perkiraan pemakaian air dapat digolongkan pada golongan kota kecil yaitu 60 liter/orang/hari ditambah dengan penggunaan kepentingan umum seperti rumah ibadah dan pertamanan. Sebagai contoh. Tabel 3. gudang-gudang dan toko-toko. Kota Lubuk Pakam sebagai ibukota Kabupaten Deli Serdang. Apabila diperkirakan pada masa yang akan datang ada 300 buah industri sedang sampai dengan industri besar. sehingga informasi tentang zona tersebut dapat bermanfaat dalam menghitung tuntutan kebutuhan industri di masa depan. Direktorat Perumahan dan Pemukiman. Lubuk Pakam dan rencana lapangan terbang Kuala Namu dan bahkan untuk menambah suplai Kota Medan apabila Kota Medan masih membutuhkannya.1. maka kebutuhan air untuk industri tersebut adalah 300 bh x 0.00556 m3/det.00556 m3/det = 1. Sesuai dengan tingkat pemakaian kebutuhan dasar air bersih yang disarankan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya yang disesuikan dengan besarnya kota dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4. .000 . Kira-kira 80 persen dari air industri digunakan untuk tujuan pendinginan dan tidak perlu bermutu baik. kebutuhan air dapat dikurangi di bawah angka rata-rata untuk industri yang bersangkutan.20. 2 Kacang 5 kl. Jumlah yang sebenarnya tergantung pada besarnya pabrik dan industrinya. Penetapan zona di kota-kota besar dipengaruhi letak industri. Rayon Ton 146200 Baja Ton 585000 Wool Ton 300 Uap Listrik Kwhr Dari tabel di atas diperkirakan kebutuhan air industri untuk daerah lokasi pekerjaan sesuai dengan kondisinya adalah 300 m3/hari/Industri atau sama dengan 0. debit untuk air irigasi. Dari hasil perhitungan di atas telah dihitung masing-masing kebutuhan irigasi dengan 24 pola tanam yang diusulkan dipilih satu pola tanam yang terbaik dalam hal ini. 500. Persediaan air tersebut dapat dipergunakan untuk penyediaan air minum/domestik untuk Kota Perbaungan. Kebutuhan untuk daerah-daerah semacam ini tidaklah tinggi. Dalam beberapa kasus.Potensi Industri Sesuai dengan kebutuhan air standar untuk perindustrian dapat diperkirakan pengembangan industri di daerah lokasi pekerjaan. kawasan wisata Pantai Cermin dan juga rencana Pelabuhan Udara Kuala Namu dan daerah sekitarnya. Kota Perbaungan. Letak industri sering sangat dipengaruhi oleh adanya persediaan air. Produk Produk liter/satuan 1780 Bir Barrel 300 Aprikot klg Klg No.000 . Adapun standar kebutuhan industri adalah sebagai berikut: Peralatan-peralatan pabrik seringkali membutuhkan jumlah air yang besar. Angka-angka pemakaian air yang umum disajikan pada tabel berikut.000 Kebutuhan per kapita (liter/org/hari) 120 100 90 60 45 30 Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya.000 < 3. minyak Barrel 163000 Kertas Ton 75200 Tn.

4518 10.1791 13.274 DEBIT INDUSTRI M3/det 0.5042 DEBIT TAMBAK M3/det 2.0582 38.3381 7.1668 0.7655 12.5849 13.1791 13.1668 0.274 2.3390 290.7081 2.1668 0.6336 37.1791 13.9351 27.1791 13.5039 12.1668 0.0152 1.5360 10.1914 2.274 2.274 2.6356 2.6178 34.1791 13. Pemakaian Air yang Diusulkan DEBIT 20% Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.274 2.2506 38.6053 1.0859 38.274 2.4323 29.1791 13.0582 37.4339 27.6769 10.1668 0. industri dan untuk tambak juga telah dihitung dan seluruh Tabel 5. No.1668 0.2905 7.3156 17.2831 1.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.1791 13.274 2.274 2.1668 0.1791 13.3617 32.1668 0.8699 1.0153 8.274 2.9518 29.1791 13.1791 13.9672 10. 4 Oktober 2006 pada saat musim kemarau sawah masih dapat diairi.274 2.1043 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 4 .1791 13.8763 14.9896 2.9954 13.1668 0.6779 2.1668 0.0859 38. Kebutuhan air untuk air minum/air domestik.9518 28.4947 11.1021 10.1668 0.1668 0.7218 17.274 2.274 2.4166 1.1791 13.1996 31.1531 2.4466 1.274 2.9180 1.1791 13.9025 3.1668 0.274 2.1791 13.6946 16.1791 13.7681 33.1791 13.274 2.1668 0.1668 0.6499 12.274 2.1668 0.1791 13.4050 6. DEBIT IRIGASI M3/det 2.274 2.8709 13.1668 0.6807 13.1668 0.6178 33.274 2.1668 0.8226 1.1996 29.9147 9.5913 1.1668 0.7636 6.3617 31.1791 13.1668 0.7841 7.1791 13.274 2.2506 34.4339 32.1791 kebutuhan tersebut dianalisis apakah seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi lihat tabel 5.0729 9.6336 34.2508 1.1791 13.1668 0.1791 13.9351 DEBIT PEME LIHARAAN M3/det 13.7681 28.1656 8.274 2.2330 16.274 2.6946 2.1668 0.1791 13.274 2.1252 11.274 2.1791 13.7953 2.4323 29.274 2.1668 Jumlah Rata-rata DEBIT DOMESTIK M3/det 13.

Medan .793 ha dengan pola tanam alternatif 17. 1986. Bagian Penunjang.1553 m3/det dan pada bulan Oktober 7. maka jumlah penduduk yang dapat disuplai adalah: 12100 liter x 24 x 60 x 60/120 liter/orang/hari = 8. Belgium Dorenbos J. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.668 m3/det. * Sistim pengambilan Galian “C” hendaknya perperiode guna untuk pengontrolan volume pengambilan dan menjaga kondisi alur sungai * Untuk mendapatkan hasil yang mendetail akan potensi air Sungai Ular perlu dilakukan penelitian diberbagai sektor pendukung antara lain: a. And Pruitt W. Studi kelayakan potensi air Sungai Ular untuk air minum dan debit kecukupan dihitung periode harian. Analisis dampak terhadap pantai dan laut muara sungai apabila dedit andalan Sungai Ular dipergunakan maximum. Laporan Akhir Studi Hak Atas Air/Pemanfaatan Sungai Ular. Bandung Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerjasama dengan DHV Consulting Engineers dan PT.640. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. Survei pengukuran dan perencanaan lokasi potensi tambak di hilir Sungai Ular. • Perlunya pengendalian pengambilan bahan galian “C” dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi. 2003. Dari hasi perhitungan ini. c. Nikken Consultants. LTD. Nederland. Wagenigen. SARAN-SARAN * Pengendalian pengambilan bahan galian “C” harus dilakukan dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. air domestik. “C” yang dapat diproduksi adalah 632. Standar Perencanaan Irigasi KP. Ular River Improvement Project. FAO. Faculty of Agricultural Sciences Irrigation Engineering. • Potensi air Sungai Ular sangat cukup untuk mensuplai kebutuhan air untuk luasan potensi pertambakan di hilir Sungai Ular. keperluan tambak dan pemeliharaan sungai dapat dipenuhi dengan kata lain kebutuhan irigasi tidak terganggu. Luasan yang berpotensi untuk pertambakan diperkirakan seluas 1232 ha. pola tanam alternatif 17 (musim tanam 1 dimulai awal Maret s.and C. Potensi Bahan Galian Gol.7 km. • Kebutuhan air untuk keperluan lainnya seperti: air untuk industri. Baars. Juni dan musim tanam 2 awal Agustus sampai dengan pertengahan Desember) kebutuhan air irigasi sebesar pada bulan Maret sebesar 9. • Potensi air Sungai Ular untuk perindustrian cukup besar.d.10 m3/det dan untuk debit 80% terpenuhi adalah 10 m3/det. dari 24 pola tanam untuk daerah irigasi ini yang paling kritis. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi.9180 m3/det masih dapat dipenuhi dan masih mempunyai sisa 11. KU Leuven. Survei elavasi existing tanggul Sungai Ular dan kelayakannya terhadap banjir. 1971.O. Indah Karya. • Potensi Sungai Ular dapat menambah pasokan air untuk Kota Medan apabila Kota Medan berkembang menjadi kota Metropolitan.Cipta Perkasa. Bandung. 1984.01-KP07. e. Dengan kebutuhan air industri 300 m3/hari/industri dan perkiraan adanya 300 buah industri sedang dan besar kebutuhan airnya sebesar 1. Inc in association with Nippon Koei .000 orang. 1977. Dirk RAES. Indah Karya. perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis.0 m3/hari di daerah hilir sungai sepanjang 35. 1986.3156 m3/det pada bulan Maret dan 6. Penelitian dan pengukuran sedimentasi dan analisis laboratorium air Sungai Ular. DAFTAR PUSTAKA Cv. d. Methods of Calculating potential evaporation and bouwhoge school. Crop Water Requirements.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung Dari tabel di atas rata-rata debit yang tersedia untuk air domestik setiap bulannya adalah 12.. bila setiap orang menggunakan air setiap hari 120 l/det. Rome KijneJ. • Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31. KESIMPULAN • Dari hasil perhitungan dan analisis pola tanam. Crop Water Requirements Irrigation and Drainage Paper.W. b. 5 . 1981. Design Report.6499 m3/det pada bulan Oktober.

REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM Mathematics Department. leading to so-called deterministic equivalents for (1). The model is not well defined. and was one of the motivations for Dantzig’s seminal work on linear programming. after observing the realization ξ . ξ ) the ith constraint of (1) is violated if and only if gi+ ( x. However. and Opim S. Instead of treating the future as a certainty with known data as in classical optimization. we assume throughout that a family F of “events”. 1. This paper discusses about how to get the deterministic equivalent model. ξ ) ≤ 0. However.10 ]. STOCHASTIC PROGRAMS: GENERAL FORMULATION We define the stochastic (linear) program as the following model % ⎫ min g 0 ( x. Stochastic Programming [3. ⎬ ⎪ x∈ X ⊂  n. Saib Suwilo. In these applications. the decisions need to be flexible enough to cope with different eventualities. i. our additional costs (called the recourse function) amount to 6 .t. 6] is an increasingly important problem class for long term planning. the probability P(A) is known. Therefore a revision of the modeling process is necessary. Early work concentrated on the two-stage linear programs. for problem (1) we may proceed as follows. More precisely. With if gi ( x. 3. since there are random vectors imposed in the model to present the uncertainties of the model parameter. INTRODUCTION Medium to long term planning is essential to the success of business and project management. i are random variables themselves and that the probability distribution P is independent of x. This paper discusses about modifying the twostage stochatic programming into deterministic equivalents model. problem (1) is not well define since the meanings of “min” as well as of the constraints are not cleat at all. subsets of Ξ. usually over time. ξ ) > 0 for a given decision x and realization % ξ of ξ . Hence for every subset A ⊂ Ξ that is an events. ⋅) : Ξ →  ∀x. As a lot of data is not available at planning stages. stochastic programs incorporate information from spectrum of possible future events. in analogy to the particular stochastic linear program with recourse. Sitompul where % ξ k is a random vector varying over a set Ξ ⊂  . ξ ) ⎪ ⎪ (1) % s. if we think of taking a decision on % x before knowing the realization of ξ . This extra effort is assumed to cause an extra cost or penalty of qi per unit. in this paper we address several alternatives to get such deterministic equivalent model. Therefore a revision of the modeling process is necessary. Deterministic equivalent formulation of twostage stochastic programming model can also be found in [ 9.if there is one by satisfying gi ( x. In this paper. DETERMINISTIC EQUIVALENT FORMULATION Let us now come back to deterministic equivalents for (1). For examples. m. in such a way that we could solve the original stochastic programming problem more easily.e. i = 1. i. and the probability distribution P on F are given. ξ ) − yi (ξ ) ≤ 0 . ξ ) ≤ 0. Dynamic programming [1. leading to so-called deterministic equivalents of the original model. i.K . 2].e. This gives decision makers the ability to quantify the risk in different scenarios. is chosen such as to compensate its constraint’s violation . 4. Van Slyke and Wets [ 8 ] developed the Lshaped method which is the basis of many algorithms used today. Faculty of Mathematics and Natural Sciences University of North Sumatera Abstract: Stochastic programming is an important tool in medium to long term planning where there are uncertainties in the data.e. which can be introduced in various ways. A ∈ F. we assume that the functions gi ( x. gi ( x. ⎩ g i ( x. the problem can be divided into multiple stages. Furthermore. we consider two-stage stochastic programming problem. Stochastic programming began in the mids 1950s. ⎪ ⎭ Herman Mawengkang. 2. bilevel programming [7] and mathematical programming with equilibrium constraints [5] are useful modeling and solution techniques for problems with two or more stages. ⎧ 0 gi+ ( x. Hence we could provide for each constraint a recourse or second-stage activity yi (ξ ) that. ξ ) = ⎨ otherwise. For instance.

⎪ x ≥ 0. where g ( x. ξ ) could be chosen as Q( x.t. ˆ ˆ xτ = xτ ( x0 . Assume that we are given the following stochastic linear program The above two-stage problem is immediately extended to the multistage recourse program as follows: instead of the two decisions x and y. ξτ ) τ =1 1 K (7) τ { } yielding the deterministic equivalent for the described dynamic decision problem.e.e.L . ξ K ) = g 0 ( x0 ) + ∑ Eξ% . problem (2) could for instance be interpreted as buying the shortage of products at the market. xτ −1 .ξ% Qτ ( x0 . Ax = b.L . but need not. ξτ ) ⎥ (8) x0 ∈X τ =1 ⎣ ⎦ where q: n →  and Hi :  n →  are supposed to be given. ξτ ) ≤ 0} xτ Q( x. y ∈ Y ⊂  n . (Y is some given polyhedral set. gi ( x. ξ ) = min q( y) | H i ( y ) ≥ gi+ ( x. xτ . to be taken at the subsequent stages τ = 0. Then g ( x. Saib Suwilo. ξτ ≤ 0) are satisfied. ξτ as well as the previous decisions x0 . and Opim S. ξτ ) = min {qτ ( xτ ) | gτ ( x0 . ξ ) (3) The term “stages” can. ξ ) = min qT y | Wy ≥ g + ( x. based on the knowledge of the previous decisions and realizations. ξτ of the W (the recourse matrix) and a corresponding unit n y (ξ ) ∈ Y ⊂  n . Q( x.at this stage can only be achieved by the proper choice of xτ . x1 . x1 . x1 . ξ ) + ( + + ) T If we think of a factory producing m products. if it is meaningful and acceptable to the decision maker to minimize the expected value of the total costs (i. Choosing W=I. i = 1. For the two-stage case. ξ ) = g 0 ( x ) . g m ( x. ξ1 . first-stage and recourse costs).as stated .K. (2) turns out to be a special case of (4). y ∈ Y y { } (4) . yielding for (3) the recourse function xτ such that the constraints(s) (with vector valued constraint functions gτ ) gτ ( x0 . ξ ) . i. ξ ) = g1 ( x. Finally we also could think of a nonlinear recourse program to define the recourse function for (3). and we have to decide on cost vector q ∈  .L . instead of problem (1) we could consider its deterministic equivalent. xK ( xτ ∈  nτ ) . ξ1 . Instead of (2). Hence. xτ −1 . ξ ) > 0 means that there is a shortage in product I.L . Assume for simplicity that the objective of (1) is deterministic. in view of their practical relevance it is worthwhile to describe briefly some variants of recourse problems in the stochastic linear programming setting.L . the multistage stochastic program with recourse K ⎡ % % ⎤ ˆ ˆ min ⎢ g0 ( x0 ) + ∑ Eξ%1 . Sitompul ⎧m ⎫ Q( x. ξ ) = min Eξ% g0 ( x. we get as total costs for the multistage problem ˆ ˆ f 0 ( x0 . x1 . xτ −1 .L . At stage x0 . xτ −1 .L .L . In any case. ξ ) = g 0 ( x. ξ ) + Q ( x.Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang.L. to be taken at stages 1 and 2.L . ξ1 . at stage τ ≥ 1 we have a recourse function Qτ = ( x0 . ξ ) + Q( x. ξ ) could be understood as the difference {demand}-{output} + i of a product i.L . ⎪ % % ⎬ T (ξ ) x = h(ξ ).ξ%τ Qτ ( x0 .L . ξ1 . taking into account the multiple stages.1. (5) ˆ indicating that the optimal recourse action xτ at time τ depends on the previous decisions and the realizations observed until stage τ .K. we might think of a more general linear recourse program with a recourse vector τ (τ ≥ 1) we know the realizations ξ1 . Assuming that the factory is committed to cover the demands. xτ −1 . (6) x∈X x∈ X { } obviously a straight generalization of our former (two-stage) stochastic program with recourse (6).K. xτ −1 .L . assuming a cost function qτ ( xτ ). ξ ). g 0 ( x. such as {y | y ≥ 0}). ⎪ ⎭ (9) 7 . for instance. which . K . ξ ). ξ ). m ⎬ (2) y ⎩ i =1 ⎭ sequential decisions yielding a total cost-first-stage and recourse cost-of f 0 ( x.K. i = 1. ξ1 . ξ1 . x1 .L.e.L . carried through with the factor input y and a technology represented by the matrix W. be interpreted as “times periods”.τ ≥ 1 Hence. ξ1 . an arbitrary fixed m × n matrix % % random vectors ξ1 . m. Problem (4) instead could result from a second-stage or emergency production program. we are now faced with K+1 "min" cT x ⎫ ⎪ s.L . relative to the demand. ξτ ). i. ξ ) = min ⎨∑ qi yi (ξ ) | yi (ξ ) ≥ gi+ ( x. ξ ). the (two-stage) stochastic program with recourse % % % min Eξ% f 0 ( x.L .L .L . m × m identity matrix.

ξ ) . y ≥ 0 { } f 0 ( x.L . otherwise { } Consequently. It seems natural to aim ξ we have an we This implies that.L . the recourse variables y and y − can be chosen to measure (positively) the absolute deficiencies in the stochastic constraints. at least in the mean (i.L . it seems meaningful to equate their deficiencies. ξ ) m0 × n matrix A and the vector b are assumed to be deterministic. ξ ) T { } α ∈ [ 0. ⎬ (15) f1 ( x. ξ ) = −ϕ ( x. ξ ) ≤ 0. T k and vectors where the fi are constructed from the objective and the constraints in (1) or (9) respectively. 4 Oktober 2006 Comparing this with the general stochastic program (1). ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. according to (4) yields the stochastic linear program with fixed recourse ⎫ ⎪ ⎪ s. ξ ) = g 0 ( x. ⎬ ⎪ where ⎪ Q( x. ξ ) ⎫ ⎪ ⎧α − 1 if gi ( x. m. for q + q ≥ 0 . ξ ) = ⎨ ⎪ otherwise ⎩ α ⎭ 8 . m. ⎪ ˆ ˆ h (ξ ) = h 1 K ⎭ with deterministic matrices (10) in (9) are equalities (instead of inequalities. In contrast. ξ ) = min (q+ )T y + + (q− )T y − | y + − y − = h(ξ ) − T (ξ ) x. we speak of complete fixed recourse if the fixed m × n recourse matrix W satisfies { z | z = Wy. Eξ% f i ( x. h k . ξ K T k . ξ ) = ⎨ ⎧1 − α ⎩ −α if gi ( x. ξ ) = g 0 ( x.L . m. Generally. which. f m could be used to describe the first-stage feasible set X. whereas for x feasible at ξ of 1 − α . i = s + 1. avoid an absolute loss. and therefore to have random entries themselves. for x infeasible at absolute loss of In particular. ⎫ ⎪ ⎬ ˆ0 + ξ h1 .L . i = 1. f0 represented the total costs (see(3) or (7)) and f1 . as in the general problem formulation (1)). To give just two examples showing how other deterministic equivalent problems for (1) may be generated.L . y ≥ 0 ⎪ ⎭ % min x Eξ% c x + Q( x.e. α . this general formulation also includes other types of deterministic equivalents for the stochastic program (1). depending on the way the functions fi are derived from the problem functions gj in (1). Observing that the stochastic constraints ˆ ˆ T 0 . x ≥ 0 where the { n } { } i. the m1 × n matrix T (⋅) and vector h(⋅) are allowed to depend % on the random vector ξ . i = 1. ξ h k . on average). where with the identity matrix I of order m1: W =(I. ⎪ x ≥ 0. we assume that this dependence on (14) ξ ∈Ξ ⊂  k is given as ˆ ˆ ˆ T (ξ ) = T 0 + ξ1T 1 .-I) (13) f 0 ( x. No.t. ξ ) and f1 ( x. However. y ≥ 0} =  m1 (12) have a return for decisions on x that.t. let us choose first Y = y ∈  n | y ≥ 0 .L .1] and define a { } “payoff” function for all constraints as (11) ϕ ( x. ξ ) ≤ 0. we may put all the above problems into the following form: ⎫ ⎪ % ⎪ s. using linear recourse and assuming that ˆ ˆ h0 . This is equivalent to the requirement. ξ ) = ∫ ϕ ( x. s ⎪ ⎬ % ) = 0.L . i = 1. A special case of complete fixed recourse is simple recourse.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. the second-stage program Defining get Q( x.L . we will always be feasible. ξ ) ≤ 0. y − ≥ 0 + − + is specified as X = x ∈  | Ax = b. Ax = b. ⎪ Eξ% f i ( x. ξ )dP ≥ 0 Ξ % and the realizations ξ of ξ turn out to be. ξ ⎪ x∈ X ⊂  n ⎪ ⎭ % min Eξ% f 0 ( x. whatever the first-stage decision x % Eξ%ϕ ( x. we see that the set X ⊂  n Then the second-stage program reads as Q( x.e. ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. So far. y + ≥ 0. In general.

ξ ) ≤ 0 is Hence. Nondifferentiable and Two-Level Mathematical Programming.ξ )≤ 0} α dP ⎫ ⎪ (19) ⎬ s.-S. otherwise ⎩ αi then we get from (14) the problem with single (or separate) probabilistic constraints: ⎫ ⎪ (17) ⎬ s. Kall and S. D. ξ ) = ⎨ i i = 1. Mathematical Programs with Equilibrium Constraints. CONCLUSION The model of stochastic programming problem needs to be revisioned into a deterministic equivalent model such that the original problem would be well defined and solvable. (14) reads as ⎫ ⎪ (16) ⎬ s. Obviously there are many other possibilities to generate types of deterministic equivalents for (1) by constructing the fi in different ways out of the objective and the constraints of (1). Shimizu.t. i = 1. Therefore the constraint equivalent to P ({ξ | g ( x. Cambridge. Bard. Dynamic Programming and Optimal Control. m ≥ α ⎪ ⎭ Problem (16) is called a probability constrained or chance constrained program (or a problem with joint probabilistic constraints). Z. P ({ξ | g ( x. under these assumptions. ξ ) ) . Ralph. ξ ) ≤ 0}) / 144444444 2444444444 4 3 − P ({ξ | g ( x. New Jersey. ξ ) ≤ 0}) .L . all the above deterministic equivalents. 1957.1] .L . New York. Bellman. Dynamic Programming. Bertsekas. % Eξ% f1 ( x. Chicester and New York. ξ ). ξ )dP Ξ =∫ = (α − 1) P ({ξ | g ( x. Springer-Verlag. Ishizuka. Y. m f 0 ( x. J. Introduction to Stochastic Programming. we have that the functions gi ( x. Ross. S.t. Academic Press. Birge and F.t. resulting in ⎧α − 1 if gi ( x. 1995. m ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x the stochastic linear programs with joint and with single chance constraints respectively. Englewood Cliffs.ξ )≤ 0} (α − 1)dP + ∫ / { g ( x . Princeton University Press. 1994.R.-Q. Luo. If instead of (15) we define min x∈X Eξ% g 0 ( x. ξ ) = ∫ f1 ( x. New York and London. i. i = 1.Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. Louveaux. Ax = b. ξ ) are linear in x and if furthermore the set X is convex polyhedral. ξ ) ≤ 0}) + P ({ξ | g ( x. Sitompul implying then problems (16) and (17) become % % Eξ% f1 ( x.L . are mathematical programs.L . i = 1. This paper has described some possibilities to generate types of deterministic equivalent for model of two-stage stochastic program. K. Boston.P. 1997. Another interesting topic to be explored is. 5. Prentice Hall. % Eξ% f1 ( x. in particular. ξ ) % "min" cT (ξ ) x ⎫ ⎪ s.t. REFERENCES R. all problems derived. ξ ) ≤ 0}) ≥ α . with the vector-valued T function ⎫ ⎪ (18) ⎬ s. Saib Suwilo.F.L . Introduction to Stochastic Dynamic Programming. ⎪ % ) x ≥ h(ξ ) x ⎬ % ⎪ T (ξ ⎪ x≥0 ⎭ 9 . P ({ξ | T (ξ ) x ≥ h(ξ )}) ≥ α ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x and. P ({ξ | gi ( x. g m ( x. Stochastic Programming. NJ. ξ ) ≤ 0 f1 ( x. ξ ) = − Eξ%ϕ ( x. m. and Opim S. g ( x. Kluwer Academic Publishers.L . MA. J. 1997. ξ ) = ( g1 ( x. i = 1.e.e. with Ti (⋅) and hi (⋅) denoting the ith row and ith component of Ti (⋅) and hi (⋅) respectively. m ≥ α ⎪ ⎭ If. ξ ) α i ∈ [ 0. Formally.t. ξ ) and analogous “payoffs” for every single constraint. ξ ) = g 0 ( x. we have the stochastic linear program min x∈X Eξ% g 0 ( x. ξ ) ≤ 0}) ≥ α i . 1983. P ({ξ | Ti (ξ ) x ≥ hi (ξ )}) ≥ α i . 4. John Wiley.W Wallace. 1996. ξ ) ≤ 0}) =1 { g ( x . and J. i. whether or under which assumptions do they have properties like convexity and smoothness such that we have any reasonable chance to deal with them computationally using the toolkit of mathematical programming methods. ξ ) ≤ 0 where. P. Pang and D. Cambridge University Press.

4 Oktober 2006 R.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 2002. L-shaped Linear Programs with application to Optimal Control. Wets. Ji. X. 638-663. 10 . SIAM Journal on Applied Mathematics. Stochastic Programming Model in Financial Optimization: A Survei.B. Ahmed. 2001.Van Slyke and R. pp. Wang. Of Tech. –Y.J. –D.-Y. Working paper of Georgia Inst. Yu. No. On Robust Optimization of Two-Stage Systems. and S. 17 (1969). Beizing. Takriti and S. S. Working paper of Chinese Academy of sciences. L .

A55. dan bola lampu General Lighting Service (GLS) dengan tipe bulb. Kata kunci: Just in Time. E60. A60. dan perbandingan antara MRP dan Just in Time Kanban terjadi penurunan sebesar 28% untuk bulb dan 25% untum duplex. gudang bahan baku dengan menggunakan kaban pengambilan. Dalam hal ini kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dengan harga yang lebih kompetitif. Permasalahan yang terjadi di perusahaan adalah terlalu besarnya inventori. E80. T55. yang diakibatkan oleh penerapan sistem push. Secara garis besar sistem kanban yang diusulkan mempunyai aliran informasi produksi yang berjalan dari gudang bahan jadi. Sedangkan proses produksi di dalam work station diatur oleh kanban perintah produksi. Penerapan sistem kanban produksi adalah dengan membuat kartu kanban yang diperlukan menghitung jumlah kanban merencanakan aliran kanban yang efisien dan sarana pendukung sistem kanban. NR80. lambatnya kerja operator tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan kurangnya kesadaran pekerja dalam melakukan tugas. Perbandingan antara sistem nyata dengan sistem kanban adalah sebesar 45% untuk bulb dan 25% untuk duplex. diharapkan dapat menekan kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sistem produksi dengan membuat sistem kontrol kanban mulai dari penyediaan bahan baku. sampai B35. T45. P45. salah satu diperoleh melalui pengurangan biaya produksi. kemajuan ini menciptakan persaingan bisnis yang semakin kompetitif. Untuk dapat harus dapat mengendalikan penyediaan material untuk kelancaran proses produksi. E60. PENDAHULUAN Dunia industri sekarang ini mengalami kemajuan pesat. karena semua rencana proses produksi dibuat oleh manajemen puncak. P45. Lamp. BW35. pengemasan. Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian perusahaan di Indonesia antara lain sistem produksi yang terpusat. NR63.PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X Jurusan Teknik Industri. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan minimasi inventori dan waktu proses adalah dengan menggunakan kanban. Kanban yang digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi pada unit perakitan dan pengemasan lampu. A55. Selain itu juga melakukan produksi seperlunya dengan mengurangi kegiatan yang tidak perlu atau pemborosan Kanban adalah suatu kartu yang berfungsi sebagai alat kontrol produksi Just in Time. A80. Kanban. Perusahaan PT X yang bergerak dalam bidang perakitan bola lampu pijar. Akibat lain yang ditimbulkan terjadi keterlambatan pengiriman barang. Dari permasalahan yang terjadi pada perusahaan tersebut di atas maka dibuat sebuah usulan untuk menerapkan sistem kanban. BW35 sampai B35. kurang koordinasi atau kerjasama sesama karyawan. Pengurangan biaya tersebut dapat dicapai dengan penerapan Just in Time (JIT). Produksi yang dilakukan berdasarkan permintaan yang masuk. Kelemahan dari sistem ini bila manajemen tidak mengontrol kerja bawahan maka akan terjadi kelambatan produksi. A60. pengurangan inventori. Dengan adanya kanban yang merupakan suatu alat untuk mencapai proses Just in Time. Untuk dapat terus survive (bertahan) dalam persaingan tersebut maka salah satu cara adalah dengan mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan produktif. sehingga dapat menghilangkan ongkos persediaan. Permasalahan di atas juga dialami oleh perusahaan yang memproduksi bola lampu dengan berbagai jenis. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Abstrak: Perkembangan ilmu pengetahuan pada era globalisasi semakin berkembang dengan pesatnya sehingga perusahaan dalam menjalankan bisnis harus bersaing dengan perusahaan sejenis. dari gudang raw material ke proses produksi sehingga menghambat kerja proses berikutnya banyak produk yang cacat sehingga diperlukan pengerjaan ulang dan kadang harus membuang bahan karena kesalahan proses atau perhitungan dan ini semua akan menambah biaya produksi. Perencanaan dan pengendalian produksi yang digunakan sekarang menyebabkan terjadinya penumpukan material di lini produksi dan waktu proses yang lama. NR63. Inventori Amri 1. NR80. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi WIP (work in process) di lini produksi dan waktu proses. Produk yang dihasilkan antara lain adalah TL. Perencanaan sistem kanban perlu digunakan secara optimal untuk dapat mengendalikan persediaan dan proses produksi ini dapat dicapai bila 11 . A80. E50. dan kemudian baru diserahkan kepada stasiun kerja masing-masing. dalam setiap proses produksi yang akan dikembangkan untuk mengendalikan jumlah produksi dalam setiap tahap proses produksi. perakitan. Hasil analisis yang diperoleh dengan menerapkan sistem kanban adalah terjadi penurunan WIP (work in process) di lini produksi. persediaan yang tidak perlu dihilangkan. Produksi jadi yang dihasilkan antara lain tipe lampu: E50. T45.

Sedangkan pada proses dan pekerja perlu sedikit perbaikan. jika barang yang diinginkan oleh work station sebelumnya tidak dapat dipenuhi maka work station tersebut akan mengambil pada work station sebelumnya lagi dengan kanban pengambilan. komponen. 2.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. jumlah kartu untuk tiap part. pada proses yang tidak diperlukan sehingga membawa efisiensi kerja. bila ternyata barang yang diinginkan tidak ada maka akan diminta pada work station sebelumnya dengan menggunakan kanban pengambilan. kemudian work station tersebut akan memberikan barang pada work station berikutnya. Secara garis besar aliran yang akan dilakukan adalah membuat Master Production Schedule pada work station akhir yaitu produk jadi. Dari work station produk jadi akan memberikan barang sesuai dengan jadwal rencana produksi. Selanjutnya dilakukan penentuan metode yang digunakan yaitu kanban sebagi alat pengontrol just in time. Sistem nyata yang ada sekarang ini akan dicoba membuat model sistem produksi Just in Time yaitu dengan mengganti sistem aliran informasi sistem yang nyata dengan sistem kanban.1 Tahap Identifikasi dan Penelitian Awal Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dan tujuan penelitian.4 Tahap Analisis Data hasil penelitian yang digunakan untuk mengestimasi suatu kriteria performansi sistem yang diteliti. permintaan tahunan. 3. yaitu: • Bagaimana merancang sistem kanban • Bagaimana merancang sistem kanban penyediaan material untuk produksi bola lampu yang optimal • Bagaimana mengukur tingkat performansi sistem produksi bola lampu Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan tersebut antara lain: • Merancang sistem kanban penyediaan material pada proses produksi sehingga dapat mengurangi inventori. membuat usulan produksi dengan pendekatan Just in Time mulai dari penyediaan material sampai menjadi barang jadi. dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan pendekatan sistem kanban antara lain data produksi. yaitu: 2.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data Pada tahap ini dilakukan pencatatan data yang 2. 2. Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Proses produksi perakitan lampu terdiri dari 13 unit mesin. produksi sehingga tidak terjadi kegiatan yang tidak efisien. Kedua proses dalam penelitian ini akan dibuat sistem kanban mulai dari kedatangan 2. No. Tahap Perencanaan Sistem Kanban Studi mengenai sistem kanban dengan pendekatan Just in Time untuk diterapkan pada semua proses produksi. 4 Oktober 2006 perusahaan akan memproduksi produk yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan. dan proses pengemasan lampu terdiri dari 13 unit mesin. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data yang dimulai dengan perhitungan jumlah kanban yaitu. DESKRIPSI MODEL Model yang akan dijadikan studi adalah model sistem produksi yang terdiri dari beberapa tahap proses. demikian seterusnya. Hasil estimasi ini kemudian digunakan untuk menjawab tujuan studi yang telah ditentukan adalah dengan perbaikan sistem. Perhitungan dilakukan pada unit perakitan dan pengemasan di lini produksi pada unit perakitan dan pengemasan 1 sampai 13. adapun batasan yang digunakan adalah: • Tidak membahas analisis jumlah kebutuhan tenaga kerja dan mesin • Tidak membahas pemasukan barang dari supplier • Tidak membahas proses distribusi produksi dari pabrik ke konsumen • Pembahasan dilakukan pada produksi bola lampu GLS (General Lighting Service) Perhitungan jumlah kanban dilakukan pada material bulb dan duplex. kedatangan barang. Maka perlu dianalisis sehingga didapat gambaran keberhasilan penerapan system kanban secara kualitatif dan kuantitatif. kapasitas kontainer atau palet. bukan pada masing-masing work station. Penelitian ini juga menggunakan beberapa asumsi antara lain: • Lay out site departemen yang masih berada pada kondisi saat ini • Seluruh permintaan dianggap dapat dipenuhi • Kondisi mesin dianggap dalam keadaan normal METODOLOGI PENELITIAN Didalam penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap penelitian. dan saldo minimal di lini produksi dengan pendekatan Kanban JIT. dilanjutkan dengan melakukan studi literatur yang meliputi sumber buku dan penelitian sebelumnya.3 12 . Kemudian diambil kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang ada di perusahaan dan saran sebagai tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan bila ingin menerapkan sistem kanban. Penelitian pendahuluan dilakuakn dengan wawancara pihak manajemen dan karyawan. kemudian mengambil data di lapangan seusia dengan tahapan yang diperlukan dalam menentukan jumlah kanban. Work in Process (WIP) pada tiap proses produksi • Menganalisis sistem kanban penyediaan dengan melihat pengaruh yang terjadi pada proses produksi • Mengukur performansi sistem kanban pada proses produksi Dalam penelitian ini digunakan beberapa batasan untuk membatasi ruang lingkup penelitian.

4. karena dianggap pemborosan kerja. Kartu kanban yang akan digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi. 5. Pabrik pembuatan komponen lampu Lamp Component Factory (LCF) dalam penelitian ini dianggap sebagai pemasok bahan baku gelas ke pabrik perakitan lampu. E80. A80. Setiap proses pada sistem push secara langsung dikontrol dan dikendalikan oleh Master Production Schedule.2 Kanban di Gudang Produk Jadi Pada gudang produk jadi lampu tidak menggunakan kanban perintah produksi. NR63. Kanban yang digunakan dalam usulan sistem ini ada 2 yaitu kanban perintah produksi dan kanban pengambilan. Aktivitas yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mulai dari peng-input-an data komponen ke komputer. Kanban perintah produksi digunakan pada perakitan lampu dan pengemasan lampu ke 13 unit produksi. Master Production Schedule Push Trans Gudang Bahan Baku Job Sequence Push Trans Assembly Packing Push Trans Produk Jadi Job Sequence Job Sequence Job Sequence Aliran Informasi Aliran Material Gambar 1. T55. Ada sedikit perubahan di mana penampungan sementara yang ada dihilangkan.1 PERMODELAN SISTEM KANBAN Aliran Material Aliran material usulan sistem produksi dengan menggunakan kanban merupakan sistem pull (tarik) yaitu proses produksi yang berjalan dari belakang (proses tarik) menuju ke proses sebelumnya. A55. Proses perhitungan jumlah yang terjadi pada sistem nyata dihilangkan. Secara garis besar aliran informasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. urutan aliran peredaran kanban yang ada di gudang setelah dihitung jumlahnya adalah: Kanban pengambilan diletakkan pada produk jadi dan telah disimpan digudang setelah dihitung jumlahnya • Jika ada permintaan dari konsumen. Setelah komponen disiapkan kemudian dihitung ulang apakah sudah selesai denga permintaan. Penyelesaian pekerjaan menjadi tidak efisien dan membuat biaya produksi lebih tinggi akibat penggunaan kanban yang tidak diperlukan. E60. Setelah selesai operator bagian gudang bahan baku menyiapkan material dan komponen dikumpulkan di area sementara sebelum dibawa ke unit produksi. Jadi produk dibawa langsung ke unit proses masingmasing. Produk yang dibuat berupa bola lampu berbagai jenis dan tipe mulai tipe A60. Kemudian baru membuat Master Production Schedule untuk masing-masing work station mulai dari gudang bahan baku. maka produk yang diinginkan di gudang produk jadi dicek kebenarannya. dan di angkut ke unit produksi dan juga ke penampungan sementara yang dilakukan dengan hand forklift electric dan hand forklift. Pengambilan tidak perlu dilakukan perhitungan lagi. NR80. Persiapan material dilakukan di gudang bahan baku mulai dari pengecekan material apakah tersedia atau tidak. Informasi yang diperlukan untuk memodelkan sistem produksi nyata perusahaan adalah meliputi Master Production Schedule dan rencana produksi yang diberikan kepada tiap work station. T45. dan jika produk tersebut ada maka kanban pengambilan diletakkan pada pos kanban pengambilan beserta tanda terima order yang telah dikirimkan 13 .Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri produk ke unit produksi sampai selesai. Kanban pengambilan digunakan pada pengembalian barang di gudang bahan baku. perakitan bulb dan pengemasan. Setiap work station diberikan daftar jadwal pekerjaan yang harus dilaksanakan dan transportasi yang dilakukan pada semua work station. E50. pengambilan barang di rak masing-masing kemudian dikumpulkan di area penampungan sementara sebelum dibawa ke unit produksi masingmasing. P45. Master Prodution Schedule 5. Di sini akan dijelaskan aliran peredaran kanban dalam proses produksi. karena mengingat tidak ada proses yang dilakukan di gudang produk jadi. sedangkan pada sistem usulan pull hanya menerima sejumlah produk yang dikirim oleh pengemas dengan jumlah yang sudah tertulis pada kanban. PERMODELAN SISTEM NYATA Proses order material dilakukan oleh perusahaan PT X dengan pihak supplier di mana barang yang dipesan sesuai dengan permintaan yang masuk. 5. Sehingga diperkirakan jika menggunakan kanban perintah produksi malah akan memakan waktu yang lama. berapa jumlahnya dan berapa yang diambil. BW35 sampai B35.

Jika produk yang diinginkan oleh pihak gudang produk jadi tidak dapat dipenuhi oleh pihak pengemas. Gambar aliran kanban di lini pengemasan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Proses Pengemasan Kanban perintah produksi Perakitan Gudang Produk Jadi Storage Pengemasan Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Order Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Kanban Pengambilan Produk Produk Produk Jadi Pos Kanban Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan produk jadi Kanban Pengambilan Gambar 3. kemudian kanban yang melekat pada palet atau body dilepas ditempatkan pada pos kanban yang telah disediakan.4 Gambar 2. Kanban di Lini Perakitan Lampu 14 . Petugas bagian Quality Control mengisi kembali komponen ke palet yang telah kosong sesuai kebutuhan serta kanban ditempelkan pada badan palet. Kanban produksi ini gunanya untuk mengetahui jumlah produk yang dibuat dan jumlah permintaan terhadap produk tersebut yang diambil oleh bagian gudang produk jadi pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar 4: Proses Perakitan Kanban perintah produksi Gudang Bahan Baku 5. pengisian besarta dengan forklift sebagai alat angkut produk. jadi komponen yang diambil di gudang langsung dibawa ke unit masing-masing. maka pihak pengemasan akan memproduksi produk tersebut dan disertai oleh kanban perintah produksi yang diambil dari pos kanban pengambilan produksi. Petugas bagian gudang mengambil kanban beserta palet dibawa ke gudang untuk pengisian kembali. • Apabila komponen yang tidak tersedia untuk proses tersebut maka ia akan mengambil pada proses sebelumnya sesuai jumlah yang dibutuhkan. No.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. dan diganti oleh kanban pengambilan. Kanban di Lini Pengemasan Kanban di Lini Perakitan Lampu Kanban di area perakitan lampu yang digunakan adalah kanban antar proses. maka kanban perintah produksi yang melekat pada produk tersebut diletakkan di pos penerimaan kanban. Kanban beserta produk tersebut akan dibawa ke gudang produk jadi. kanban pengambilan dan kanban produksi. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Pos Pengemasan Produk Kanban Pengambilan Produk Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Gambar 4. Kanban ini harus melekat pada produk selama: berada dalam proses sampai proses pengemasan tersebut selesai. Pada proses yang dianggap tidak efisien dan hanya memperlambat pekerjaan yaitu proses pengangkutan material ke unit penampungan sementara dihilangkan. Gambar aliran kanban di lini gudang produk jadi dapat dilihat di bawah ini: Barang Jadi Kanban Pengambilan • Bila produk yang harus dikemas ternyata tidak ada di bagian pengemasan maka pihak pengemasan harus mengambil kanban pengambilan yang diletakkan pada pos kanban pengambilan untuk proses sebelumnya yaitu. Bagian pengemasan menerima kanban pengambilan dari bagian produk jadi jika produk yang diinginkan oleh gudang dapat dipenuhi oleh bagian pengemasan. 4 Oktober 2006 • Jika produk yang dinginkan tidak ada maka pihak gudang produk jadi akan meminta produk tersebut kepada bagian pengemasan dengan menggunakan kanban pengambilan yang terletak di pos kanban pengambilan di gudang produk jadi diangkut dengan forklift. Komponen yang diambil pada proses pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. Kanban di Gudang Produk Jadi 5.3 Kanban di Lini Pengemasan Pada daerah pengemasan digunakan kanban pengambilan antar proses dan kanban perintah produksi (pengepakan lampu jadi). Kanban produksi dilakukan oleh operator pergi ke tempat buffer stock untuk proses produksi.

Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 5. selanjutnya kanban ini diletakkan di pos pengambilan kanban dan digati dengan kanban pengambilan yang digunakan untuk mengambil bahan baku tersebut. Adapun bagan aliran kanban adalah sebagai berikut: Kanban pengambilan dari area perakitan Storage Master Production schedule Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Job Square Job Square Job Square Job Square Storage Kanban Pengambilan Bukti Pembelian Bahan Baku Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Produk Pos Perakitan Sistem pemesanan kembali Pull Transp Pull Transp Pull Transp Aliran Informasi Daftar Bahan Aliran Material Gambar 5. maka bahan yang diinginkan diambil dengan forklift. Proses Pemesanan Kembali Bila permintaan daripada perakitan lampu tidak dapat dipenuhi maka bagian gudang bahan baku membuat sistem pemesanan kembali dengan jumlah pesanan tetap dan membuat titik pesan ulang (reorder point). dan dari proses sebelumnya tersebut diberikan ke proses sebelumnya lagi demikian seterusnya. sedangkan aliran material tetap bergerak mulai dari proses awal menuju ke proses berikutnya sampai ke produk jadi. Gambar 6. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 1. ANALISIS HASIL 6. setelah itu bahan baku dibawa dari gudang dengan menggunakan forklift ke tempat pengolahan General Lighting Service lampu beserta kanban pengambilan. Pada tahapan ini dianalisis tingkat persediaan Work In Process (WIP) dengan sistem yang ada saat ini dan persediaan Work in Process (WIP) dengan sistem informasi kanban yang dirancang. sehingga dapat diketahui pada titik berapa bahan baku harus dipesan kembali ke supplier bahan baku. Sistem pemesanan kembali sudah dibuat dalam sistem nyata. 15 . Kemudian kanban perintah produksi yang melekat pada produk dilepas dan diletakkan pada pos penerimaan kanban.5 Proses Pemesanan Kembali Di gudang bahan baku pengambilan bahan baku di rak dengan forklift proses yang dilakukan adalah: Jika ada permintaan dari ruang perakitan dengan menggunakan kanban pengambilan. Aliran Informasi dan aliran Material Kanban 6. Data yang diamati dalam penelitian ini merupakan kuantitas bahan baku yang tersedia pada storage area dan dijumlahkan dengan kuantitas Work in Process (WIP) pada lini produksi. Setelah bahan yang diinginkan dikirim oleh supplier bahan baku ke gudang bahan baku akan diletakkan kanban perintah produksi pada bahan baku yang diperlukan.1 Analisis Perbandingan Tingkat Persediaan Work in Process (WIP) antara Sistem Kanban dengan Aktual di Pabrik Tingkat persediaan material di lini produksi Work in Process (WIP) adalah salah satu parameter utama yang diestimasikan dalam penelitian ini. Gambar aliran kaban gudang bahan baku dapat dilihat pada gambar 5.6 Aliran Informasi Aliran informasi bergerak dari Master Production Schedule yang diberikan hanya kepada bagian akhir (produk jadi yang ada di gudang produk jadi) kemudian dari bagian akhir ini bergerak ke depan yaitu pada proses sebelumnya dengan menggunakan kanban. Bahan Baku Kanban perintah produksi Bahan Baku 5.

00 55.00 46.17 27. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Bulb No. Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai stok yang ada berbeda jumlahnya dengan yang ada di pabrik.39 41.99 67.01%.87 16. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 16 . 4 Oktober 2006 Tabel 1.00 25.01 Data tersebut di atas merupakan jumlah sisa komponen dari produksi sehari sebelumnya. jika diperhatikan tabel di atas pada 1 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok.39 0.55 25. belum mendapat pasokan dari gudang utama. Penurunan rata-rata stok di Work in Process (WIP)untuk semua komponen bulb dan duplex adalah mencapai 45. Kondisi ini dimungkinkan karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process (WIP) di pagi hari saat mulai operasi.57 0. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Duplex No.00 21.21 25.25 Tabel 2.25% dan 25. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Aktual Kaban Gambar 8.13 42. No.82 33.86 37.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Secara grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 3 5 7 9 11 13 Aktual Kanban Gambar 7.34 66.58 34.45 42.83 36.62 87.06 53. Stock maksimum sistem kanban adalah jumlah kanban yang beredar untuk part tersebut dikalikan dengan kapasitas paletnya.10 43. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Bulb E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 157428 32400 41624 32514 55500 74000 256864 165196 289625 44500 68198 344035 498679 Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 185000 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Maximum Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan stock awal 44.48 13. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 261761 74839 77638 67025 147011 59751 212125 104461 0 71787 172210 162183 384227 Kanban 7 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Maximum Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan stock awal 57. dibandingkan dengan jumlah maksimum tingkat persediaan sistem kanban rancangan sebagai stock level Work in Process.57 63.86 -40.68 12.

13 14.98 24.29 39.68 27.00 40.73 53.00 83.15 52.33 -42.93 24. 1 2 3 Jenis Bulb E50 A80 NR/R6 3 4 NR/R8 0 5 B35 6 BW35 7 P45 8 T55 9 T45 10 E60 11 A60 12 P45 13 A55 Rata-rata Mak (unit) 176000 30100 40178 50450 74000 38550 242250 142500 108000 45500 64345 315250 561000 Min (unit) 33000 2600 6575 3875 18500 2770 14250 14250 13500 13000 6250 28200 41250 Range (unit) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 Max Inventori MRP (unti) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 system Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban.20 9.2 Analisis Tingkat Persediaan Material Requirement Planning (MRP) dan Just In Time/Kanban Selanjutnya dari perhitungan berikut ini akan diestimasi tingkat persediaan maksimum antara No .87 1.13 17. Tabel 3 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just in Time/Kanban untuk Bulb Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas Palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 18500 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Max Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan Stock Awal 38.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 6.69 Tabel 4 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan JIT/Kanban untuk Duplek N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Mak (unit) 297678 90789 92441 86784 136172 90863 258363 157575 0 120871 188295 225363 444900 Min (unit) 54569 25050 18623 19959 42976 5851 55024 39442 0 26011 71308 55024 91283 Range (unit) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Max Inventori MRP (unti) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Kanban 4 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas Palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Max Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan Stock Awal 53.97 60.81 16.81 4.60% per hari.60 0.82 21.00 56.62 0.19 31.60 • • • • Dari hasil tabel di atas diperoleh: Nilai maksimum adalah merupakan nilai konsumsi material harian tertinggi dari konsumen material per hari dalam produksi Nilai minimum adalah nilai konsumsi material harian terendah dari data pengamatan Range adalah selisih antara nilai maksimum dan minimum. belum mendapat pasokan 17 .69% dan 24.46 33. Jika diperhatikan tabel di atas ada 2 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok Kondisi ini terjadi karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process di pagi hari saat mulai operasi.86 20.97 52.00 -55. yang merupakan tingkat persediaan dari sistem Material Requirement Planning (MRP) Maksimum inventori kanban adalah jumlah kartu kanban tiap komponen dikalikan jumlah palet material tersebut (jumlah maksimum material dalam lini produksi sama dengan • • • • jumlah kartu kanban yang beredar dalam lini produksi) Dapat diestimasikan secara teoretis bahwa persediaan maksimum sistem kanban lebih rendah dari persediaan maksimum sistem Material Requirement Planning (MRP) Penurunan persediaan material Work In Process rata-rata untuk bulb dan duplex 27.11 50. Perbandingan tingkat persediaan antara Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

dari gudang utama. Dapat dilihat dengan grafik di bawah ini:
400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

MRP

JIT/Kanban

• Gambar 9. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just In Time/Kanban
450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Siklus kanban untuk bulb adalah 1.7. Hal ini berarti barang di sampaikan dalam satu hari 7 kali dan part yang dipesan akan datang jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Sedangkan untuk duplex 1.4.2, hal ini berarti barang disampaikan dalam satu hari 4 kali dan part yang dipesan akan datang 2 jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Aktivitas gudang utama dan pengangkutan forklift masing-masing sebesar1 jam untuk bulb dan duplex Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh aktivitas yang dilakukan dengan sistem kanban untuk bulb adalah sebesar 54 menit dan untuk duplex adalah 49 menit.

2.

MRP

JIT/Kanban

Gambar 10. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan Material Requirement Planning dan Just In Time/kaban 6.3 Analisis Performansi Sistem Dalam melakukan analisis performansi sistem didasarkan pada kriteria utama adalah: 1. Analisis aktivitas pengisian kembali (replacement), dan 2. Analisis inventori Analisis dilakukan pada material bulb dan duplex baik pengantian kembali material maupun inventori. Analisis Aktivitas Pengisian Kembali (Replacement) Kedua sistem yang lama dan yang baru semuanya digunakan untuk menyediakan bahan baku untuk mesin dengan kapasitas yang sama, yang berbeda adalah replacement cycle. Pada sistem yang lama, replacement cycle dilakukan 8 jam sekali, sedangkan pada sistem yang baru replacement dilakukan 3.5 jam sekali untuk bulb. Sedangkan untuk duplex replacement cycle dilakukan 3.9 jam sekali. Sehingga replacement cycle dari bulb dan duplex dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Replacement Cycle dari Bulb dan Duplex
Aktivitas Bulb Duplex Replacement Cycle Lama Baru 8 jam 3.54 jam 8 jam 3.49 jam Jumlah Persediaan Lama Baru 17200 unit 7611 unit 17200 unit 7504 unit

1.

Analisis Inventori Perbandingan tingkat persediaan Work In Process antara sistem kanba dengan aktual di pabrik (lini produksi). a. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban, terjadi penurunan persediaan sebesar 45.25%. b. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 25.01%. Perbandingan tingkat persediaan sistem MRP dan sistem kanban 1. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara MRP dengan sistem kanban menjadi penurunan pesediaan sebesar 27.69% per hari. 2. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 24.60%. 6.4 Kelemahan dan Kelebihan Sistem Lama dan Sistem Baru Adapun kelemahan dan kelebihan dari masingmasing sistem dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Kelemahan dan Masing Sistem
Sistem Lama Kelemahan Kelebihan Koordinasi Penjadwalan antara unit tidak selalu kurang sering (bulanan) Material Service menumpuk level lebih pada lini bagus produksi

Kelebihan

Masing-

Adapun aktivitas yang dilakukan adalah:

Sistem Baru Kelemahan Kelebihan Harus dilakukan Inventori penjadwalan minimum sering (mingguan/harian) Pengangkutan Material material lebih tidak sering menumpuk. Koordinasi lebih bagus

18

Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri

6.5 Kesulitan yang Muncul dengan Adanya Sistem Just In Time/Kanban 1. Sumber daya manusia yang telah biasa dengan sistem lama, sehingga apabila Just In Time/Kanban diterpakan di perusahaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melatih para pekerja. Memberikan tanggung jawab penuh pada karyawan, karena dalam Just In Time/Kanban sangat dibutuhkan pekerja penuh tanggung jawab tanpa harus menunggu perintah dari atasan seperti pada saat ini 2. Kesulitan menerapkan sumber daya yang fleksibel seperti pada Just In Time yang telah dilaksanakan Toyota, artinya adanya pengambilan tenaga kerja ekstra apabila order meningkat dan merumahkan tenaga kerja tersebut. Prinsip ini tidak dapat dilakukan, karena semua tenaga kerja berstatus tenaga kerja tetap, hal ini malah merugikan perusahaan yaitu membuat gaji pegawai yang tidak bekerja. 6.6 Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Pelaksanaannya Adalah 1. Membuat team proyek yang terdiri dari manajemen pabrik, kepala bagian tiap work station yang harus dibentuk dan dilatih terlebih dahulu dalam membuat pola pikir Just In Time/Kanban sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran antara sistem nyata dengan sistem pull 2. Membuat produk percontohan, maksudnya karena penerapan Just In Time/Kanban membutuhkan perubahan revolusioner maka sebaiknya dimulai dari perubahan dalam skala kecil, misalnya penerapan sistem kanban pada permintaan produk akhir ke bagian pengemasan, dari sini akan dievaluasi bila hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke bagian pengolahan dan seterusnya. Bila hasil evaluasi kurang memuaskan maka harus dicari faktor penyebabnya 7. KESIMPULAN DAN SARAN

3.

4.

5.

(kanban segi tiga) 4, dan kanban supplier (gudang bahan baku) Dalam kebutuhan material bahan baku, sediaan dalam proses, terutama dalam kuantitasnya pada lini produksi, rancangan informasi sistem kanban memberikan tingkat persediaan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan sistem MRP yang ada sekarang Sistem informasi kanban bekerja lebih baik dalam perencanaan kebutuhan bahan baku material dan minimasi tingkat persediaan serta cycle time Frekuensi kedatangan part yang lebih besar dengan kuantitas part terkirim lebih kecil dalam sistem informasi kanban menghasilkan tingkat persediaan Work In Process yang lebih rendah

7.1 Saran Saran yang diajukan di bawah ini merupakan rekomendasi yang diberikan penulis, baik terhadap sistem yang diamati maupun untuk penelitian selanjutnya. 1. Penerapan metode just in time dengan sistem kanban sangat membantu integrasi dari seluruh pihak dalam perusahaan mulai dari pihak manajemen hingga operator produksi. Persiapan dalam hal sumber daya manusia hendaknya lebih dahulu diperhatikan dalam sistem yang menuntut kedisiplinan. Tinggi dalam bekerja 2. Penyebarluasan pemahaman dan penelitian sistem produksi Just In Time sebaiknya dilakukan dengan kerjasama antara perguruan tinggi dengan kalangan industri. 3. Sistem kanban relatif sederhana sehingga mudah dimengerti karena itu hendaknya pemahaman diberikan secara menyeluruh pada semua tingkat dalam perusahaan sehingga sistem kanban berjalan dengan baik 8. DAFTAR PUSTAKA Gaspersz, Vincent., 1998, Manajemen Produksi Total, Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global, Gramedia ustaka Umum, Jakarta Jimmy, Browne, John Harnen, James Shivnan., 1988, Production Management System, Addison Weslwy Publishing Company Law,A.M and Kelton, W.D., 1991. Simulation Modelinh and Analysis, 2th edition., New York, McGraw-Hill, Inc Monden, Yasuhiro. 2000. Sistem Produksi Toyota Suatu Ancangan Terpadu Untuk Penerapan Just In Time, 1.II jilid, terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta Mudjahidin, 2000. Pembuatan Kanban dan Simulasi Sistem Produksi Just In Time untuk Multi Produk da Multi Proses., Program Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya

7.1 Kesimpulan Melalui serangkaian tahapan penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Siklus kanban untuk bulb adalah 1 :7 :2 artinya barang ini harus disampaikan tujuh kali sehari dan suku cadang harus disampaikan tiga kali setelah kanban dibawa ke pemasok. Siklus kanban untuk duplex 1 :4 :2 artinya barang ini harus disampaikan empat kali sehari dan suku cadang harus disampaikan dua kali setelah kanban dibawa ke pemasok 2. Jumlah keseluruhan kanban di lini produksi untuk bulb adalah 12, titik pesan ulang (kanban segi tiga) 8, dan kanban supplier (Lamp Component Factory) 4. Jumlah kanban di lini produksi untuk duplex adalah 7, titik pesan ulang

19

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

Ohno, Taiichi. Just In Time-1995. Dlam Sistem Produksi Toyota,. Terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo Jakarta Fogarty, D.W., J.Blakestone.JR., and T.R Hoffman., Production and Inventory Management 2ed. Cicinnati, OH: South-Western Peblishing, 1991 Schniederjans, Marc J., Topics In JustIn-Time Management: Allyn & Bacon, 1993. Boston

Schonberger, Richard J. Teknik-teknik Manufaktur epang. Terjemahan Dr.Edi Nugrohio, Pustaka Binaman Pressindo, 1995, Jakarta.

20

Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tersebut dibandingkan dengan kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode tunggal. tolok ukur kinerja dari suatu sistem pengkodean adalah Bit Error Rate. Penelitian ini membuat model sistem kode inner dan outer. maka dapat diperoleh kemampuan yang sangat andal. Cakupan pemodelan sistem terdiri dari 4 bagian yaitu: 1. 1989). The performance of the system is measured by Bit Error Rate By inner and outer Hamming code and Reed Salomon. yaitu banyaknya bit yang salah dibagi dengan banyaknya bit yang dikirimkan dalam jumlah yang besar. Bagian pertama adalah pemodelan sumber data yang berupa bilangan binari 0 dan 1. Bit Error Rate. jika hanya menggunakan satu jenis pengkodean saja (Christian Thommesen. Hamming Code. 1987). Keywords: Inner and Outer Code. di mana yang satu sebagai kode inner dan yang lainnya sebagai kode outer. Oleh karena itu diperlukan model sistem. Gain Coding I.KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER Staf Pengajar Departemen Teknik Elektro. Pola penggabungan kode yang dikombinasikan sebagai kode inner dan kode outer sangat luas pemakaiannya pada sistem komunikasi digital. Model sistem sebagaimana diperlihatkan oleh gambar 1 diimplementasikan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang terdiri dari program pembangkitan binari 0 dan 1. Sihar Parlinggoman Panjaitan Sumber Data Proses Medium Proses Gambar 1. II. Blok diagram model sistem diperlihatkan oleh gambar 1. Reed Salomon Code. 3. di mana tujuannya memperoleh kemampuan yang sangat andal guna mengoreksi kesalahan (Fazel K & Salembier P. This research makes model of the inner and outer code. Kode Hamming. Oleh karena itu untuk memperoleh Bit Error Rate dilakukan simulasi. Koding Gain Abstract:The error represents a problem for the communications systems. Fakultas Teknik USU Abstrak: Kesalahan merupakan masalah pada sistem komunikasi. The performance of coding system by using code is compared with the performace of coding system by using code. 4. 2. pembangkitan noise Gaussian dan pembangkitan salah bit serta proses pendekodean. proses pengkodean.. Kinerja dari suatu sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer diukur dari besarnya kemampuan koreksi kesalahan dari kode tersebut. Kata kunci: Kode Inner dan Outer. Kode Reed Salomon. In order to overcome this problem. Di samping itu. systems coding are used to correct this error. Bagian ketiga adalah pemodelan dari medium transmisi yang meliputi pembangkitan sampel noise Gaussian dan pembangkitan salah bit. Pengkodean dan Pendekodean. Bit Error Rate. Bagian kedua adalah pemodelan pengkodean dari data yang hendak ditransmisikan. MODEL SISTEM Sistem yang diteliti adalah kinerja dari sistem kode inner dan outer dengan menggunakan metode simulasi. Tolok ukuran kinerja sistem adalah Bit Error Rate dari kode inner dan outer kode Hamming dan kode Reed Salomon. Bagian keempat adalah pemodelan pengkodean dari stream bit yang diterima di sistem penerima. jika menggunakan kode inner dan outer. Oleh karena itu dipakai satu 21 . Blok Diagram Model Sistem II 1 Algoritma Pembangkitan Binari 0 dan 1 Pada penelitian ini sumber diasumsikan sebagai sumber binari yang mempunyai peluang munculnya bit 1 dan peluang munculnya bit 0 adalah sama. Coding and Decoding. PENDAHULUAN Beberapa studi mengatakan. Bit Error Rate dari sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tidak dapat dihitung secara teoretis. Untuk mengatasi masalah ini digunakan sistem pengkodean untuk dapat mengkoreksi kesalahan.

. Dari harga Signal to Noise Ratio dihitung besarnya tegangan (V) dengan menggunakan persamaan (4). Oleh karena itu dalam proses pengkodean diperlukan suatu generator. Bila bit 0 dikirim error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari V.k n -k . Tegangan akan lebih kecil dari 0 volt jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V. diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol.3 Algoritma Pembangkitan Salah Bit Pada penelitian ini didefinisikan transmisi tanpa modulasi dan format sinyal adalah bipolar di mana bit 1 mewakili tegangan V volt dan bit 0 mewakili tegangan -V volt. Bila yang diambil adalah bit 0.. + g n . Apabila bit 0 dikirim maka error akan terjadi jika tegangan lebih besar dari harga treshold-nya (0 Volt). Sehingga dari 44 bit diperoleh 11 simbol. Berdasarkan sampel noise dan bit-bit yang keluar dari inner enkoder diputuskan apakah terjadi error atau tidak.4 Algoritma Pendekodean Kode Hamming Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Hamming dimulai dengan menghitung sindrom dari kode yang diterima. generator polinomial maupun generator sekuens. Bilangan acak yang telah dibangkitkan (u) dibandingkan dengan 0. Pada penelitian ini kode-kode yang dipergunakan adalah kode Hamming (7. Kemudian 44 bit ini. bit tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. Kemudian simbol tersebut dikalikan dengan generator polinomial. Bila jumlah bilangan acak yang dibangkitkan belum mencapai n. Pembangkitan bilangan acak yang terdistribusi antara 0 dan 1 dimulai dari pembangkitan bilangan acak ke-i yaitu dari 1 sampai dengan bilangan acak ke-n di mana n. Didefinisikan tegangan kuadrat (V`) sama dengan daya sinyal (S) karena seolaholah. maka perlu dibuat suatu hubungan antara tegangan dan variansi dengan signal noise. Dari definisi tersebut dapat dibuat suatu persamaan yaitu: 2 V2 σ 2 = S ……………………… ……(3) N Bila σ 2 = 1 maka persamaan (3) menjadi: S …………………. Bila bilangan acak dibangkitkan lebih besar dari n maka proses pembangkitan bilangan acak berhenti.57) sebagai pembanding yang sifatnya sistematik. Setelah itu diambil bit-bit yang keluar dari inner enkoder di mana tiap yang diambil dibandingkan dengan tiap sampel noise yang dibangkitan.4) dan kode BCH (127. g(x) = g 0 + g1 x + g 2 x 2 + . Bila bit 1 dikirim maka error akan terjadi jika Gaussian dengan rataan 0 dan variansi σ . error terjadi jika sampel noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V.5 dibangkitkan bit 1. Bila bit 1 dikirim error terjadi jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari --V.5 dibangkitkan bit 0 dan lebih besar dari 0. 1989): tegangan lebih kecil dari harga treshold-nya (0 volt). Bila bilangan acak yang dibangkitkan lebih kecil atau sama dengan 0. Dapat diperoleh dari hasil perkalian antara bit stream dengan generator matriks kode Hamming Generator matriks dari kode Hamming (Man Young Rhee. Hasilnya adalah kode Reed Salomon. 2 11. Karena parameter yang dipakai di dalam program adalah Signal to Noise Ratio (SIN) dan yang akan dicari adalah tegangan (V). Penghitungan sindrom ini untuk mengetahui apakah kode yang diterima benar atau tidak. Proses pembangkitan salah bit dimulai dengan memberikan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Tegangan akan lebih besar dari 0 jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +V. . Oleh karena asumsi noise adalah Gaussian maka dalam simulasi ini diperlukan pembangkit bilangan. tegangan dc dan σ sama dengan daya noise (N). sejumlah perkalian antara panjang data dari kode. Kemudian dibangkitkan sample noise (u) yang berupa bilangan acak berdistribusi Gaussian dengan rataan 0 dan variansi = 1. No.11) dimulai dengan mengambil k bit data sebanyak 44 bit. Bentuk umum generator polinomial dari kode Reed Salomon [Blahut. error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +'V.(4) N Pada penelitian ini diasumsikan noise adalah V2 = ⎡1 ⎢0 G= ⎢ ⎢1 ⎢ ⎣1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0⎤ 0⎥ ⎥ …………………. acak Gaussian dengan rataan = 0 dan harga variansi = 1. 11.2 Algoritma Pembentukan Kode Hamming dan Kode Reed Salomon Bit stream dari sumber data yang masuk ke enkoder dikodekan dengan menggunakan suatu generator. ( 2 ) 11. maka dibangkitkan bilangan acak berikutnya. Kode Hamming.. baik generator matriks. 1983].Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Jika sindrom yang dihasilkan bemilai nol 22 . Rhichard E. Bila yang diambil adalah bit 1.(1) 0⎥ ⎥ 1⎦ Algoritma pembentukan kode Reed Salomon (15. Jika terjadi error.. 4 Oktober 2006 pembangkit yang dapat membangkitkan bit 0 dan bit 1 dengan peluang yang sama.5.

.. 8. hitung determinasi matriks P.. + r14 (α 3 )14 s4 = r0 + r1 (α 4 )1 + r2 (α 4 ) 2 + . hitung error locator σ dengan menggunakan persamaan: σ= S2 ………………………….. 9.... Jika determinan nol.... yang dihitung dengan persamaan berikut: s1 = r0 + r1α + r2α 2 + . Jika sindrom tidak sama dengan nol. + r14 (α 2 )14 s3 = r0 + r1 (α 3 )1 + r2 (α 3 ) 2 + ... Kemudian bit-bit data disimpan pada array. Langkah-langkah dari algoritma adalah sebagai berikut: 1.. kemudian bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array. Jumlahkan error polinomial dengan kode yang diterima. 5 log a5 c (x) = r ( x ) + e(x)………………(11) setelah kode diperoleh. maka bit-bit pariti dibuang. 10...(8) S1 Selanjutnya hitung error magnitude ei1 ...... 7. dicari posisi error dengan membandingkan sindrom yang diperoleh dengan matriks pariti.(10) 5 log σ Misalkan σ = α maka x a = x a = x Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x)... jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x). Proses selanjutnya adalah mengambil 7 bit data.... 5.. 5 Algoritma Salomon Pendekodean kode Reed Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol.. S = r HT..... Setelah diperoleh posisi error maka dilakukan pengkoreksian. Susun error polinomial. Hitung akar-akar persamaan error locator polinominal. Langkah selanjutuya adalah mencari posisi error.(7) S3 ⎥ ⎦ Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Reed Salomon.... + r14α 14 s2 = r0 + r1 (α 2 )1 + r2 (α 2 ) 2 + . susun matriks sindrom yang baru.1 Determinan Sama dengan Nol Jika determinan sama dengan nol.. 2.5. Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol. Sehingga sindromnya ada sebanyak 4... lakukan langkah 5.. 4... Hitung error locator σ dan susun error locator polinominal σ (x).. kemudian bit-bit data disimpan pada array 23 . Setelah posisi error diketahui.S 3.. Proses selanjutnya adalah mengambil sebanyak 60 bit data.. Dekoder tidak melakukan pengkoreksian..... Stephen B. Jika sindrom sama dengan nol. HT = transposisi dari pariti check matriks.S 2. II.. bit pada posisi ke-i tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1.. Setelah dikoreksi.S 4 diuji. bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array. Selesai.11) adalah 2. Hitung error magnitude... 3.. Sehingga dari 60 bit menjadi 15 simbol. Kemampuan koreksi kesalahan dari kode Reed Salomon (15. Bila sindrom tidak bemilai nol maka ada error terdeteksi.. Jika determinan tidak nol. + r14 (α 4 )14 Kemudian sindrom S 1. 11...... dipilih algoritma Peterson Gorenstein Zieler (Wicker. Hitung sindrom dari bit stream yang telah melalui saluran transmisi..Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan maka tidak ada error yang terdeteksi. 1995). Susun matriks sindrom P.. dekoder tidak melakukan pengkoreksian. di mana: .... yang mana posisinya diasumsikan sebagai posisi error. dilakukan pengkoreksian terhadap bit-bit yang terkena error. Kemudian sindrom dihitung dengan menggunakan persamaan berikut. Kode yang diterima diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol.. Tahap terakhir dari proses pengdekodean adalah mengeluarkan bit-bit pariti. dengan cara menghapus kolom paling kanan dau baris paling bawah dari matriks sindrom yang lama.. Jika sindrom tidak sama dengan nol. 6... Untuk mengkoreksinya.... berarti tidak ada error deteksi.. Banyaknya sindrom adalah dua kali kemampuan koreksi kesalahan.. Hitung determinan matriks sindrom. dengan menggunakan persamaan: ei1 = S1 σ ……………………………(9) Kemudian disusun error polynomial e(x) e( x) = ei1 x log an ………………….(5) di mana: r = kode yang diterima.(6) ⎡S p=⎢ 1 ⎣S 2 S2 ⎤ ……………………….. Jika semua nol.

maka dilakukan pengujian gabungan seluruh prosedur.. Kemudian bit-bit tersebut dikodekan oleh outer enkoder. Data yang diperoleh berdasarkan hasil rata-rata dari kesepuluh pengamatan tersebut. 111. β1 dan −1 −1 dibangkitkan bit stream oleh pembangkit bit. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x).(13) = S 3 ⎥ ⎢σ 1 ⎥ ⎢ S 4 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Kemudian dicari akar-akar persamaan (8) yaitu β 1 dan β 2 . Kemudian memberikan harga Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. 2 Pengujian Algoritma Yang Disusun Pengujian algoritma yang disusun bertujuan untuk menunjukkan bahwa algoritma tersebut dapat diterapkan dan dapat berfungsi sesuai dengan perancangannya. Bit-bit yang telah melalui kanal disimpan pada array codechannel. c (x) = r ( x ) + e(x)……………………. Hasilnya disimpan pada array codeoutouter. Adanya beberapa angka desimal di belakang koma disebabkan tidak tepatnya jumlah bit masukan dengan datanya.0. Hasil pengdekodean disimpan dalam array data out Kemudian dihitung jumlah bit yang error dengan cara membandingkan bit pada array datain dan bit pada array dataout. datanya menjadi 100100 bit.(15) Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x). Program komputer yang dibuat ditulis dalam bahasa Pascal versi 7. maka bit-bit parity dibuang. 4 Oktober 2006 II. I Proses Simulasi Proses simulasi dimulai dengan membuat inisialisasi Jumlah bit (nbits) dan jumlah error (nerror) dengan nilai nol. Selanjutnya memberikan jumlah bit yang hendak dikirimkan (Nbit stream) kemudian 24 . Selanjutnya bit-bit tersebut didekodekan oleh outer dekoder. 3 Hasil-Hasil Penelitian Pada penelitian ini percobaan dilakukan dengan sepuluh kali pengamatan.…(16) setelah kode diperoleh. Kemudian bit-bit tersebut didekodekan oleh inner dekoder. Setelah semua prosedur diuji. Hasil pengdekodean disimpan pada array datoutinner. untuk selanjutnya dikodekan oleh inner enkoder menjadi kode gabungan yang disimpan pada array codeoutinner. Setiap prosedur yang dibuat diuji secara terpisah dengan cara memberikan data masukan tertentu.(12) Di mana σ1 dan σ 2 diperoleh dari ⎡ S1 ⎢S ⎣ 2 S 2 ⎤ ⎡σ 2 ⎤ ⎡ S 3 ⎤ ………. kemudian membandingkan data keluarannya dengan data yang diproses secara manual. No. datanya menjadi 1000076 bit dan untuk bit masukan sebanyak 10000000 bit. Misalnya untuk jumlah bit masukan sebanyak 100000 bit. e( x) = ei1 x log a β1−1 + ei2 x log a β 2 −1 ………. Untuk bit masukan sebanyak 1000000 bit.2 Determinan Tidak Sama dengan Nol Bila determinan tidak sama dengan nol maka susun error locator polinomial dengan menggunakan persamaan: σ ( x) = 1 + σ 1 x + σ 2 x 2 ……….(14) ⎦ ⎣ i2 ⎦ ⎣ S 2 ⎦ harga kesalahan Setelah diperoleh ei1 dan ei2 maka disusun error polynomial e (x).. Bit stream yang dibangkitkan diambil sebagiansebagian. Selanjutnya akar-akar persamaan di invers sehingga diperoleh β 2 . 111.5. ⎡ β1 ⎢ −12 ⎣ β1 −1 β2 β 2 −1 −1 2 ⎤ ⎡ ei1 ⎤ ⎡ S1 ⎤ ⎥ ⎢e ⎥ = ⎢ ⎥ ………. Kemudian bit-bit tersebut dikirimkan ke inner dekoder melalui kanal di mana pada kanal dibangkitkan salah bit. Hasil pengkodean outer enkoder ini merupakan bit stream bagi inner enkoder. III. Pengujian dilakukan dengan menerapkan algoritma dalam bentuk program simulasi komputer. menjadi 10000144 bit. kemudian menguji masing-masing prosedur di dalam program tersebut. kemudian bit-bit data disimpan pada array III.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mewakili hasil dari sistem yang sesungguhnya. Kemudian dihitung error magnitude ei1 dan ei2 dengan menggunakan persamaan.

9608 9.0921 x 10 -4 -5 -5 Tabel 6.7708 2.7622 x 10-3 1.4 4.2451 BER keluaran 6.8038 3. 1995): Koding gain = S/N tanpa pengkode-S/N dengan pengkode……….57) Efisiensi: 0.0484 x 10-3 3.9015 x 10-4 -4 -5 -5 1. Kinerja Kode Inner dan Outer Reed Salomon-Hamming. Efisiensi: 0.2459 1.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.645 1 S/N dengan pengkode (dB) 4.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 S/N tanpa pengkode (dB) 4.697 x 10-5 3.6826 3.341 x 10 -4 2.626 x 10-5 1.765 x 10 2.4038 9.0484 x 10-3 3.2 5.4 4.8 5.9515 2.5838 S/N dengan pengkode (dB) 4.71102 x 10 7.4879 x 10-3 7. Kinerja Kode BCH (127.4879 x 10-3 7.1122 3.5320 x 10 2.0097 5.0484 x 10 3.9800 8.5320 x 10-3 2.6 6 6.1836 3.5838 3.5515 8.8403 3. Efesiensi: 0.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.3292 x 10 5.4645 1.8403 10.2420 x 10-2 4. ANALISIS HASIL PENELITIAN Analisis hasil penelitian mencakup pengaruh parameter signal to Noise Ratio terhadap koding gain dari sistem yang diteliti.1476 IV. Koding Gain kode BCH (127.2664 S/N dengan pengkode (dB) 4.01 x 10-6 Tabel 4. Koding Gain Kode Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon Efiensi: 0.3903 0.3948 x 10 1.9225 3.0121 x 10-3 5.4873 x 10-3 3.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7. Kinerja Kode Inner dan Outer Hamming– Reed Solomon Efisiensi: 0.7122 9.Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan Tabel 1. Koding Gain Kode Inner dan Outer Reed Salomon–Hamming Efisiensi: 0.5691 x 10 -3 -3 -3 BER keluaran 1.(10) 9.8 5.4459 7.5800 3.4826 8.2 5.8664 Tabel 2.5476 25 .48 x 10-5 5 . Besarnya koding gain (marving et.4 Koding Gain (dB) 2.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 BER masakan 9.1836 9.6 6 6.8 5. al.57).81 x 10-6 Tabel 3.2131 x 10 1.0272 3.2555 x 10 1.3948 x 10 -3 -3 -3 -3 -3 Tabel 5.65x 10-6 2.1708 7.4879 x 10 7.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.0121 x 10-3 5.0121 x 10 5.3948 x 10-3 1.7225 8.5320 x 10 2.2272 8.2 5.7608 3.5691 x 10-3 8.5691 x 10-3 BER keluaran 1.4 Koding Gain (dB) 3.6 6 6.4 4.9691 x 10-4 8.2645 6.4 Koding Gain (dB) -0.

. Application of Error Modeling at The Output Maximum Likelihood Dekoder to Concatenated Coded 16 PSK. 4. Addison-Wesley Pubishing Company Inc. IEEE Transactions on Information Theory. 4 Oktober 2006 3. pq. 3 Avenue Descartes 94451 LimeilBrevannes Cedex (France). Koding Gain inner dan outer Hamming Reed Salomon lebih tinggi. R.. maka Bit Error Rate cenderung semakin menurun.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Christian. IEEE. Pada gambar 2. maka dapat diambil kesimpulan antara lain: 1.. New York.57). 2. (1983). Dengan demikian model sistem yang dibuat dapat diyakini untuk mewakili sistem yang sebenarnya. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode gabungan lebih andal dibanding dengan kinerja sistem pengkodean yang menggunakan kode tunggal pada Bit Error Rate masukan dari 10-2 sampai 10-3. Salembier.E. Prentice-Hall International Inc... Koding Gain Hamming sebagai inner code dan Reed Salomon sebagai outer code lebih tinggi dibandingkan dengan Reed Salomon sebagai inner code dan Hamming sebagai outer code Hasil pemodelan simulasi ini mendeksi hasil secara teoretis yakni dengan naiknya signal to noise ratio. No. Vol. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan.1995. Mc Graw-Hill. Error Control Systems for Digital Communication and Storage. Error Correcting Coding Theory. Grafik 2. Wicker Stephen.B. New York. Theory and Practice Of Error Control Codes.5 Fazel. (1989). Laboratories d’Electronique Philips. T. P.57). 26 . bila dibandingkan dengan inner dan outer code Reed Salomon-Hamming. terlihat bahwa Koding Gain inner dan outer code Hamming-Reed Salomon dan Reed Salomon-Hamming lebih tinggi bila dibandingkan dengan kode BCH (127. Kenaikan koding gain semakin kecil pada signal to noise ratio yang semakin besar DAFTAR PUSTAKA Blahut. Man Young Rhee.. Reed Salomon-Hamming serta Kode BCH (127. K. (1989). 15281533. Koding Gain terhadap Signal to Noise Ratio Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon. No. V. IT-33. (1987) Error Correcting Capabilities of Concatenated Codes With MDS Outer On Memoryless Channels with MaximumLikelihood Decoding.

yang mana. Pertanyaan yang memerlukan jawaban tersebut antara lain. ternyata pelaksanaannya menghadapi banyak kendala yang cukup rumit. memberantas korupsi. Regional General Assembly (DPRD) and the public. mengapa pertanggungjawaban harus diserahkan. Pemerintah daerah mempunyai dana yang terbatas. A. dan bagaimana. kepada siapa. since its make Kepmendagri No. Keywords: Transparancy and Accountablility PENDAHULUAN Gerakan reformasi mengedepankan beberapa tuntutan penting antara lain mendesak pemerintah meningkatkan kinerja. Osborne (1992) dalam Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa Akuntabilitas ditujukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pelayanan apa. 2002. siapa yang bertanggung jawab terhadap berbagai bagian kegiatan dalam masyarakat. milik siapa. kolusi dan nepotisme (KKN). Hal ini mengakibatkan pergolakanpergolakan di daerah untuk menuntut pemberlakuan otonomi khusus atau bahkan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rasa ketidakpuasan tersebut. apa yang harus dipertanggungjawabkan. dalam pengantar Standar Akuntasi Pemerintah dinyatakan bahwa salah satu Idhar Yahya 27 . Pelaksanaan good governance tersebut. Selain itu. Konsep pelayanan dalam akuntabilitas selain harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship juga harus diikuti dengan jiwa responsiveness. akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menjelaskan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak/berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. The acceleration in regional accounting system implementation is the necessity for the government. dan pelaksanaan praktek pemerintah yang good governance dan clean government. Konsep Akuntabilitas dan Transparansi Menurut keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) No. Hal tersebut dapat dipahami mengingat pemenuhan segala kebutuhan minimal memerlukan biaya dan tenaga ahli tidak sedikit. Konsep pelayanan ini dalam akuntabilitas belum memadai. kepada siapa pertanggungjawaban diserahkan.589/IX/6/Y/99 dalam Sitompul (2003). dan lain sebagainya. siapa. pemberlakuan undang-undang otonomi daerah harus dapat meningkatkan daya inovatif dari pemerintah daerah untuk dapat memberikan laporan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan keuangan daerah dari segi efisiensi dan efektivitas kepada DPRD maupun masyarakat luas. Transparancy and accountability can be realized by the responsibility in all of regional’s financial management periodicly in financial’s report form to the central government. maka harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship pada pihak-pihak yang melaksanakan akuntabilitas. Hal ini harus dilakukan agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder sesuai dengan karakteristik Good Governance menurut UNDP dan Word Bank. Sentralisasi kekuasaan dan keuangan negara pada masa sebelum era reformasi telah banyak memberikan pengalaman kepada masyarakat daerah atas ketimpangan yang terjadi mengenai pembagian hasil dan sumber daya alam antara daerah dan Jakarta. Di satu pihak pemerintah daerah dituntut untuk mewujudkan good governance sementara dipihak lain sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk semua kegiatan terutama menyangkut teknologi informasi dan sumber daya manusia belum memadai. Good governance mengandung dua pengertian yaitu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan kemandirian. Salah satu masalah penting yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah sebagai unsur dari suatu good governance. personalia yang mempunyai kemampuan juga terbatas. Oleh karena itu. about the orientation of regional’s government which is not implements the regional’s accounting system already are worried not to manage its regional’s accounting transparancy.29.AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU Abstract: The operational of transparancy and accountability are the important things to make a good and clean government according to the expectation of its stakeholders. apakah pertanggungjawaban berjalan seiring dengan kewenangan yang memadai.

Sektor publik. Pertama. Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengadilan intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Kerangka konseptual akuntabilitas publik dapat dibangun di atas dasar empat komponen. serta kepada Kepala Satuan Kerja/Dinas selaku pengguna anggaran. Akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan dan demokratis serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat. aset daerah dan akuntansi. Badan Pengawas Keuangan Pembangunan. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa akuntabilitas publik meliputi akuntabilitas internal dan akuntabilitas eksternal. Keempat. partisipasi masyarakat dan supremasi hukum. effectiveness dan strategic vision. 4 Oktober 2006 upaya nyata untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip waktu. adanya sistem pelaporan keuangan. consessus orientation. dan DPRD. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tantang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja. Setiap warga negara berhak mengetahui (right to know) untuk setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh setiap pejabat negara baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. dan hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to) dapat terpenuhi. Mekanisme monitoring cost sebenarnya sudah berjalan pada akuntansi sektor publik walaupun belum seefektif pada sektor privat. transparansi. Namun. Kedua. Sedangkan akuntabilitas eksternal adalah pertanggungjawaban kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan. sementara setiap Kepala Satuan Kerja/Dinas pada hakekatnya adalah manajer operasional atau Chief Operational Officer (COO) Pemerintah Daerah. No. Lembagalembaga tersebut tentunya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) menggunakan biaya yang bersumber dari keuangan negara. pemberi dana bantuan. Katz (2004) menyatakan bahwa transparansi merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. equity efficiency. berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of public accountability). B. Akuntabilitas internal merupakan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak internal yang berkepentingan seperti pegawai. Ketiga. Untuk membantu Kepala Daerah dalam mengelola keuangan daerah dimaksud. seperti pembayar pajak. hak untuk diberi informasi (right to be kept information). kenyataannya mekanisme akuntabilitas keuangan daerah tidak berjalan dengan baik terutama kepada masyarakat.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Biro/Bagian Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah daerah kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Dengan adanya transparansi maka diharapkan setiap warga negara dapat berperan aktif dalam melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan. Oleh karena itu informasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda. dan badan legislatif. 28 . akuntabilitas publik keuangan daerah adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja keuangan daereah kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) sehingga hak-hak publik. Biro/Bagian Keuangan sebagai pembantu Kepala Daerah dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah manajer keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Daerah. kualitas pemerintahan yang baik juga ditentukan oleh faktorfaktor lain seperti responsiveness. media massa. pejabat pengelola keuangan negara. Hal ini dapat kita lihat dari adanya keberadaan lembaga pengawas seperti Badan Pengawas Daerah. Jiwa dari sistem ini adalah kemampuan dari setiap warga negara untuk memperoleh informasi melalui akuntabilitas pejabat pemerintah atas kegiatan yang mereka lakukan. dan investor atau kreditor. adanya sistem pengukuran kinerja. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa “stakeholder yang beragam memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Menurut Mardismo (2004). Hal ini sesuai dengan karakteristik pelaksanaan pemerintahan yang baik menurut UNDP dan Word Bank. dilakukannya audit. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh stakeholder tersebut diperlukan kerangka konseptual (conceptual framework) yang komprehensif. yaitu hak untuk tau (right to know). Sebagian besar masyarakat tidak dalam asumsi memiliki pengetahuan yang memadai tantang aktivitas pemerintahan dalam pengelolaan keuangan. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa Kepala Daerah merupakan pengelola keuangan daerah. Akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan pemerintah daerah tidak begitu dipahami oleh masyarakat sebagai pemakai. Oleh karena itu. Mekanisme Akuntabilitas Keuangan Dalam pelaksanaan penyajian laporan keuangan pemerintah daerah. pemerintah harus betul-betul menyadari bahwa pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari publik. transparansi. C. dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Akuntabilitas Publik Keuangan Daerah Kualitas Pemerintahan Daerah yang baik (good governance) tidak hanya ditentukan oleh akuntabilitas.

Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Idhar Yahya

D. Impelentasi Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pencapaian kinerja organisasi pemerintah biasanya memang dihubungkan dengan konsep 3E. Hal ini sesuai dengan konsep Value For Money (Mulgan, 1997) yang merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang didasarkan pada tiga elemen yaitu ekonomis, efisiensi dan efektivitas. Namu tiga elemen ini saja sebenarnya tidak cukup dan perlu ditambah dengan dua elemen lain yaitu keadilan (equity) dan pemerataan atau kesetaraan (equility). Artinya bahwa penggunaan uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja tetapi dilakukan secara merata. E. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Sarana Akuntabilitas dan Transparansi Keuangan Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah maka sistem akuntansi yang digunakan oleh pemerintah berubah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui apda saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dinyatakan bahwa komponen yang harus terdapat dalam suatu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi; Laporan Realisasi Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintah Nomor 1 tentang Penyajian Laporang Keuangan pada paragraf 38 dan paragraf 43 dinyatakan bahwa Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu, selain itu juga dinyatakan Neraca mencantumkan pos-pos berikut; Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang pajak dan bukan pajak, Persediaan, Investasi jangka panjang, Aset tetap, Kewajiban jangka pendek, Kewajiban jangka panjang, Ekuitas dana. Dengan demikan, PSAP Nomor 1 telah mengharuskan setiap Pemerintah Daerah untuk menyajikan dan melaporkan Neraca secara komprehensif.

F. Laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagai Bentuk Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pada setiap akhir tahun anggaran dan periode pemerintahan Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepada DPRD sebagai wakil dari masyarakat yang telah mempercayakan pengelolaan sumber daya daerah. Undang-undang republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pada ayat 2 disebutkan bahwa laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi Laporan Keuangan APBD, Neraca, Laporan Aliran Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan Badan Usaha Milik Daerah. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2001 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia telah menyampaikan Hasil Pemeriksaan Semesteran (HAPSEM) kepada DPRD, yaitu hasil pemeriksaan yang menyangkut pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi/ Kabupaten/Kota yang ber-sangkutan. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Barhullah, 2002, Fungsi Manajemen Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, oktober, hjal. 4-8 Katz, Ellen, 2004, Transparancy in GovernmentHow American Citizens Influence Public Policy, Journal of Accountancy, Juni 2004, hal. 1-2 Kosasih, Dadang, 2003, Reorientasi Pengelolaan Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 90, Juni-Juli, hal. 57-59 Kuntadi, Cris, 2002, Transparansi Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, Oktober, hal. 22-16 Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta, Mardiasmo, 2004, Membangun Akuntabilitas Publik Keuangan Negara, Cetakan Majalah Media Akuntansi, Edisi No. 39, April, hal. 12

29

STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X
Khawarita Siregar
Staf Pengajar Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU Abstrak: PT X merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ayam (pelet S-11). Penelitian ini menggunakan pengendalian proses secara statistik untuk melihat kemampuan proses dari PT X, juga dengan teknik ini perusahaan dapat menurunkan variabilitas yang dimiliki sebanyak mungkin. Ini merupakan sebuah keharusan karena PT X tidak memiliki metode khusus dalam mengendalikan pelet S-11. Dan juga dengan teknik ini, PT X ingin mengendalikan keseluruhan proses yang terdapat pada lantai produksi. Juga dapat dilakukan untuk mengendalikan produk akhir dengan menentukan rencana sampling penerimaan berdasarkan MIL-STD 1916 dan memberikan petunjuk arahan terhadap lot yang diterima dan yang ditolak. Dari analisis yang didapat, rendahnya proses kapabilitas disebabkan oleh kinerja operator, gudang bahan baku, peralatan turn head dan proses itu sendiri tidak bekerja secara optimum. Dan juga untuk perhitungan rencana sampling penerimaan berdasarkan metode MIL-STD 1916, lot yang diterima terdapat pada karakteristik protein, lemak, dan serat. Kalsium dan fosfor lot yang ditolak. Untuk lot yang ditolak dibutuhkan pemeriksaan yang lebih ketat. Kata kunci: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL- STD 1916 Abstract: PT X is a manufacturer in producing food for chicken (pellet S-11). This researh is using statistical process control to look the capability process of PT X, so with this technique the manufacturer can decrease the variability as much as possible. It’s a necessary because PT X doesn’t has a special method in controlling pellet S-11. And with this capability process technique, PT X want to control the whole process in the production floor. It can be also to control the end item product with determine the acceptance sampling plans according MIL-STD 1916 and giving an implementation direction about the acceptable and rejected lot. From the analysis result, poor capability cause by operator performance, raw material warehouse, turn head tool and the process to produce S-11 itself doesn’t works optimumly. And for the acceptance sampling plans calculation with MIL-STD 1916 method, the acceptable lot are protein, fat and fiber. Calcium and phosphor are rejected. For rejected lot, tightened inspection shall be istituted. Keywords: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL-STD 1916 1. PENDAHULUAN Produksi daging dan telur ayam kampung belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ditinjau dari segi peternakan ayam ras yang semakin berkembang berkaitan erat dengan penggunaan teknologi. Penerapan teknologi ini didukung oleh program pemerintah untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat dalam hal kebutuhan protein hewani. Melihat Indonesia sangat potensial bagi industri pakan ternak khususnya ayam, maka PT X mewujudkan minatnya untuk memproduksi pakan ayam yang berkualitas. Untuk menjaga kualitas pakan, PT X berusaha untuk tetap memenuhi mutu produk sesuai spesifikasi produk (nilai gizi) yang diinginkan pasar dengan tetap melakukan usaha-usaha pengendalian mutu. Untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan peluang yang sama untuk menerima produk tanpa cacat (defect) diperlukan usaha keras dari pihak perusahaan untuk mencapai zero defect. Usaha yang dimaksud tidak hanya berupa kebijakankebijakan yang tertulis tetapi juga diperlukan kesadaran dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Dari studi lapangan yang telah dilakukan terhadap PT Charoen Pokphand Indonesia, untuk mencapai zero defect menjadi hal yang sulit dikarenakan faktor kebudayaan seperti kesadaran, sikap, insentif, sistem penghargaan dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Juga faktor manusia (operator) yang melahirkan kesalahan manusia (human error), misalnya mempunyai tujuan yang salah atau kemampuan yang kurang sehingga menghasilkan kesalahan. Dikarenakan sulitnya untuk mengubah pola pikir, watak dan budaya yang dimiliki, maka untuk melakukan pengendalian secara statistik terhadap proses yang sedang berlangsung digunakan metode process capability dan MIL-STD 1916 dalam mengendalikan produk yang dihasilkan. 2. POKOK PERMASALAHAN Masih terdapatnya pakan ayam S-11 yang dihasilkan belum memenuhi spesifikasi standard mutu yang telah ditetapkan perusahaan, sehingga perlu diambil langkah konkrit agar mutu yang dihasilkan dapat tercapai. Langkah yang diambil adalah dengan menggunakan proses pengendalian statistik untuk melihat dan memeriksa proses yang berlangsung dan produk akhir yang dihasilkan. Pengendalian secara proses dapat dilakukan dengan menggunakan teknik process capability sedangkan pengendalian produk akhir dengan memakai MILSTD 1916.

30

Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar

3. PEMBATASAN PENELITIAN Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis masalah dilakukan pada produk pakan ayam S-11. 2. Variabel yang akan diuji adalah variabel kadar protein, lemak, serat, kalsium, dan fosfor. 3. Spesifikasi standar mutu terhadap variabel uji adalah: - Kadar Protein = 19 –21% - Kadar Lemak = 6 –7% - Kadar Serat = 3 – 4% - Kadar Kalsium = 0,9 – 1,1% - Kadar Fosfor = 0,7 – 0,9% 4. Tidak melakukan suatu evaluasi sistem manajemen perusahaan yang berhubungan dengan penerapan pengendalian mutu. 5. Tidak menggunakan konsep zero defect. 4. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif yang bersifat historis yaitu memakai data masa lalu perusahaan untuk dianalisis dengan menggunakan prinsip perhitungan pengendalian kualitas secara proses. 4.2 Objek Penelitian Objek yang diteliti adalah kajian process capability dan acceptance sampling plans berdasarkan MIL-STD 1916 untuk melihat sejauh mana studi ini dapat diterapkan pada PT X. 4.3 Identifikasi Masalah Masalah yang ditemui akan diidentifikasi untuk selanjutnya akan dicari penyelesaiannya. Secara umum tahapan-tahapan yang akan dilewati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi dan perumusan masalah 2. Penetapan tujuan penelitian 3. Studi kepustakaan 4. Penentuan metode penyelesaian penelitian 4.3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi yang berarti mengenal masalah harus didasarkan pada tingkat urgensi dan relevansi permasalahan. Identifikasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap fakta yang terjadi pada perusahaan. Perlunya memakai prisip pengendalian secara statistik dimaksudkan agar perusahaan secara kontiniu dapat melakukan pengendalian produk secara terstruktur, sehingga hasil yang didapat dapat ditindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mengambil kesimpulan dari kondisi sebenarnya dan untuk memberikan petunjuk dan arahan atas pelaksanaan tersebut.

4.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengendalikan keseluruhan proses yang berlangsung dalam menghasilkan pakan ayam S11 dengan memakai process capability serta memberikan usulan berupa tindakan-tindakan korektif yang dapat diambil untuk meningkatkan kemampuan proses. 2. Mengendalikan pemeriksaan produk akhir dengan menentukan rencana sampel penerimaan variabel berdasarkan metode MIL-STD 1916 dan dapat memberikan petunjuk pelaksanaan atas kegiatan pemeriksaan terhadap lot yang diterima atau ditolak. 4.3.3 Studi Kepustakaan Kualitas produk biasanya dipakai dalam penggunaan produk atau jasa yang dapat memenuhi harapan (expectation) pelanggan. Harapan ini didasarkan pada kepuasan akan kebutuhan pelanggan (fitness for use) dan harga/nilai jual produk. Kualitas sendiri dapat didefenisikan sebagai keseluruhan segi, keistimewaan (feature) dan karakteristik sebuah produk atau jasa layanan yang memberikan kepuasan akan kebutuhan pelanggan. A. Statistical Process Control Merupakan alat utama untuk memonitor sebuah proses, mendiagnosis masalah-masalah yang timbul pada saat proses dan membuat usaha-usaha prioritas untuk melakukan perbaikan kualitas. Tujuan pokok pengendalian proses statistik adalah menyelidiki dengan cepat sebab-sebab penyimpangan kualitas sehingga penyelidikan terhadap proses itu dan tindakan pembetulan unit dapat dilakukan sebelum terlalu banyak produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi. B. Control Chart Suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk memperlihatkan variasi-variasi didalam kualitas keluaran yang disebabkan oleh penyebab khusus dan penyebab umum dan sekaligus melalui peta kendali dapat digunakan untuk menghilangkan variasi data yang tidak normal. Manfaat dari peta kendali adalah memberitahukan kapan harus membiarkan suatu proses berjalan seadanya atau kapan harus mengambil tindakan untuk mengatasi gangguan. Peta kendali dapat dibagi atas dua tipe umum, yaitu: 1. Peta kendali atribut (sifat), digunakan apabila karakteristik mutu tidak dapat dinyatakan secara numerik. 2. Peta kendali variabel, digunakan apabila karakteristik mutu dapat diukur dan dinyatakan dalam bilangan. Untuk mengendalikan mutu pada perusahaan ini, penulis menggunakan peta kendali untuk variabel, yaitu peta X dan R, karena karakteristik mutu yang diamati adalah variabelnya.

31

Data yang berada di luar batas pengendalian merupakan jenis data yang tidak normal yang disebabkan oleh jenis variasi penyebab khusus (variasi tidak alami). jenis sampel yang digunakan adalah simple random. yaitu Cp dan Cpk. untuk menghasilkan standar proses yang diinginkan. Process Capability Ukuran dari proses capability disebut capability index. Pemilihan sampel yang bersifat random akan memberikan hasil yang memuaskan bila populasi dari sampel tersebut adalah yang homogen. Metode Accepatance Sampling Plans Metode perencanaan sampling penerimaan yang dibahas pada penelitian ini adalah metode penerimaan sampling alternatif (alternative acceptence sampling methode) atau disebut sebagai MIL-STD 1916 yang dikeluarkan pada 1 April 1996 oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang digunakan sebagai standar metode penerimaan produk (methods for acceptance product).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Nilai Cp dan Cpk 32 . Accepatance Sampling Plans Melakukan rencana sampling penerimaan tidak terlepas dari cara pemilihan sampel yang representatif. Perlu diketahui. maka dilakukan revisi terhadap peta kendali tersebut. 1). Nilai capability index minimum untuk distribusi normal adalah satu. tetapi hanya merupakan hasil perhitungan dari proses statistical control.00. nilai Cp tidak mengindikasikan bahwa suatu proses telah benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan terhadap proses. dengan cara membuang data yang di luar kendali dan menghitung kembali batas-batas kendali. Nilai yang menentukan bahwa proses telah sesuai atau tidak terhadap karakteristik proses adalah nilai dari Cpk (performance index). sehingga dapat memberi gambaran yang tepat tentang karakteristik populasi yang diselidiki. Rencana sampling menunjukkan ukuran sampel dan cacat yang diizinkan dalam sampel untuk menentukan apakah suatu populasi diterima atau tidak. C. Dalam penelitian ini. Capability Index suatu proses adalah perbandingan variasi proses terhadap spesifakasi yang telah ditentukan. No. 4 Oktober 2006 Revisi Peta Kendali X dan R Jika terdapat data yang di luar batas kendali. Perlu diketahui bahwa kedua sifat sampel tersebut dapat dipilih salah satunya sesuai dengan penelitian yang dilakukan dan disesuaikan dengan produk yang dihasilkan. Dalam menentukan proses perencanaan sampling. di mana nilai minimum dari Cpk yang dianjurkan adalah 1. hal-hal yang pertama sekali yang harus diketahui lebih dahulu adalah: Gambar 1. MIL-STD 1916 adalah singkatan dari Military Standard 1916 yang merupakan salah satu dari teknik untuk rencana sampel penerimaan yang teriri dari tiga perencanaan sampling sekaligus yaitu pemeriksaan sampel dari lot atau batch yang bersifat variabel atau atribut. Kedua nilai ini harus dilakukan secara bersama. D. Berikut adalah merupakan analisis hubungan antara nilai Cp dan Cpk: Secara jelasnya dapat dilihat melalui gambar 1. Simple random adalah sampel yang terdiri dari unsur-unsur di mana setiap unsur mempunyai probabilitas yang sama untuk dipilih.

VL-V : jenis level yang membutuhkan satu kali pemeriksaan dari VL-IV. atribut dan continous MIL-STD 1916 harus menggunakan prinsip sampel secara random dan khusus untuk variabel distribusinya normal. VL-III : pemeriksaan dengan sedikit variasi dalam produksi. VL-VI : jenis pemeriksaan yang diguna– kan apabila ada perbedaan yang besar terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Tingkat pemeriksaan (normal. Minor karakteristik adalah gambaran karakteristik yang menunjukkan bahwa kurangnya usaha untuk menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi. 3. major karakteristik dan kritikal karakteristik. diperlonggar (reduced). 2. diperketat (tightened). Kritikal karakteristik adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu sistem dalam keadaan sangat berbahaya (hazardous) atau bisa dikatakan sebagai kondisi tak terselamatkan (unsafe condition) bila dalam jangka tertentu tidak diantisipasi dengan menggunakan pemeriksaan prinsip otomatis yang menggunakan sistem komputerisasi. diperlonggar) Aturan tingkat pemeriksaan hanya diaplikasikan terhadap ukuran yang ada yaitu: normal. c. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai dari VL-I sampai VL-III. Penentuan kode huruf (CL) terhadap besar lot yang diperiksa. Kode Huruf untuk Lot/Batch VII 2 – 170 A 171 – 288 A 289 – 544 A 545 – 960 A 961 – 1632 A 1633 – 3072 A 3073 – 5440 A 5441 – 9216 B 9217 – 17408 C 17409 – 30720 D 30721 – dst E Sumber: DoD Article MIL-STD 1916 USA Lot Or Poduction Interval Size VI A A A A A A B C D E E Verification Levels V VI III A A A A A A A A A A A B A B C B C D C D E D E E E E E E E E E E E II A A B C D E E E E E E I A B C D E E E E E E E 33 . Verification level yang digunakan adalah VLVII. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai VLIV sampai VL-VI. yaitu: VL-IV : jenis level umum yang digunakan oleh perusahaan. a. Verification Level Verification Level (VL) adalah gambaran dari tingkat utilitas suatu karakteristik dalam suatu proses. Jenis karakteristik dalam hal pemeriksaan dibagi atas tiga bagian.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar 1. VL-II : pemeriksaan dengan kondisi variasi produksi hampir tidak pernah ada. Penetuan nilai VL tergantung jenis karakteristik yang diteliti. Tabel 1. diperketat. b. Setelah VL dispesifikasi maka kode huruf jumlah lot/batch bisa dilihat dari tabel 1. Hal ini terdapat pada kondisi suatu perusahaan yang terancam hancur/tutup (unsafe manufacture). 4. Major karakteristik adalah gambaran karakteristik yang harus menghindari kesalahan produksi atau pengurangan material (material reduction) pada saat proses lagi berjalan. yaitu: VL-I : digunakan apabila kondisi produksi tidak pernah mengalami kesalahan. Tipe dari sampling yang diteliti (variabel) Penggunaan perencanaan sampling variabel. yaitu: minor karakteristik. baik itu pada saat produksi atau penanganan material.

9177 2 x 6. Pengalihan prosedur pemeriksaan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi atau yang terjadi.435 – 6.875 – 6.185 fi.Proses produksi tidak teratur dan sering mengalami delay.844 1.16 92.435 25 6.215 – 6.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.875 19 6. Dari tabel 3. kalsium dan fosfor pelet S-11.151 0.217 2.118 0.545 6.435 6.498 -1.0668 0.105 – 6.0823 ei 10.015 0.423 1.387 0.765 – 6.8365 0.2 Pengolahan Data A.2514 0.099 0.388 Zbka -1. 6.504 6.995 – 6.4 ) − (169 )2 N' = ⎢ 169 ⎢ ⎣ N’ = 2. Uji Kenormalan Data Hasil distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 2. 4.Lima lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan. 4 Oktober 2006 2).875 6.890 2. 2 2 Tabel 2. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesa digunakan nilai α = 0.215 15 6.995 Zbkb 0 -1. Distribusi Frekuensi Kadar Lemak S-11 No.927 23.7157 0.4 3. 5.6 112.880 0.261 0.239 1. serat.x )2 0.2 8.070 3.82 6.206 0.776 25.3974 0.504 6.545 – 6. ini berarti Ho diterima. Penentuan Nilai χ Hitung No.435 – 6.388 1 Zb 0 0. .09 II.05.085 -0.325 – 6.765 20 6.504 6.995 14 6.362 22.434 17. I. diperoleh χ hitung < χ tabel. pemeriksaan normal dilakukan pada awal pemeriksaan.875 – 6.49 116.594 11.780 0.1401 0. Normal ke ketat Dua lot tidak memenuhi kriteria penerimaan dari lima lot terakhir yang diperiksa.111 0.504 (xi. lemak.844 12. 2.6 2.563 0.Kondisi pabrikasi lainnya menjamin pemeriksaan normal untuk dilakukan kembali.5636 0. Aturan Pengalihan Prosedur Pemeriksaan Aturan pengalihan pemeriksaan prosedur pemeriksaan normal.27 100.105 9.Penyebab-penyebab produk rusak yang telah ditemukan.085 -0.151 0.105 6.3974 0.1401 0.71 Tabel 3. Uji Kecukupan Data ⎡ 60 26 (1099.015 Za 0.673 -0.765 – 6. Perhitungan yang dilakukan untuk setiap data variabel tersebut dilakukan dengan cara yang sama. 6.995 – 6. ketat dan diperlonggar adalah sebagai berikut: 1.95 N’ < N.261 0.504 6.82 129. Bagi perencanaan sampling penerimaan.498 -1.05 72.0002 0.655 – 6. No. 6.727 18.5 5.106 0.105 – 6. Batas fi xi fi.32 4.38 159.x )2 2.325 6.9177 1 Za-Zb 0.93 97. sehingga penulis mengambil satu sampel data yaitu kadar lemak.2 7.267 Untuk uji kenormalan data.504 6.1113 0.215 6.1521 0.1208 0.976 1.504 6.479 1. berarti jumlah pengamatan telah memenuhi. 6. Normal ke longgar . bahwa data berdistribsi normal.655 17 6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total Batas Kelas 5. Dari tabel 2 diperoleh standar deviasi = 0.838 oi 12 15 16 25 18 17 20 19 14 156 (oi-ei)2/ei 0.0812 0. 6.504 6.667 12.7157 0. Longgar ke normal . .976 1.2514 0.166 0.0733 0.1662 0.009 0.765 6. 6.042 0.8365 0. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 5.325 – 6.545 – 6.655 6. .154 0. 5.Sepuluh lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.0668 0. Total 156 1014. (xi.215 – 6.673 -0.Proses produksi dalam keadaan mantap. 6.504 6. 5.655 – 6.325 16 6.420 11.1 lot ditolak.146 0.0668 0.71 134. 3.003 0. Ketat ke normal .58 9.545 18 6.1 Pengumpulan Data Data yang didapat merupakan data persentase kadar protein.563 0. ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ 2 pendahuluan B. .xi Kelas 1.5636 0.348 34 .105 12 6.055 0. 6.907 0.

75 0. Revisi Peta X R e v i s i P e t a X Ka d a r Le ma k 7 6.407 6.568 6.2 0.5 6 5.4 6.5 0.61 0.472 6.462 6.4 6.72 0. Tabel 4. R X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6.403 6.77 0. Penentuan Batas Kendali dan Penentuan Index Capability Process Untuk menentukan kemampuan proses yang dihasilkan terlebih dahulu ditentukan batas-batas kendali untuk karakteristik lemak dengan memperhatikan data X dan R seperti terlihat pada tabel 4.5 − (0. ditunjukkan bahwa variasi data sudah normal tanpa ada variasi penyebab khusus atau variasi penyebab umum.76 0.82 0. maka dilakukan revisi sehingga semua data dalam batas kontrol (proses dalam pengendalian)seperti yang nampak pada gambar 4.8 6.485 6.633 6.5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Range Kadar Lemak Gambar 3.432 6.68 6.68 6.543 6. X = ∑ g X g i i =1 = 169 = 6 .94 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Kadar Lemak C.537 6. 38 = 0 .67) = 6.73 0. 35 . D4 = 2.45 0.88 169 17.004 . Karena semua data berada pada batas kontrol.34 = 0 Gambar 4.422 6.408 6. d2 = 2.495 6.483 x 0. Revisi Peta Kontrol X Kadar Lemak Berdasarkan hasil revisi yang terlihat pada gambar 4. Variasi ini disebabkan oleh faktor pencampuran bahan-bahan yang ditambahkan pada saat proses pencampuran di mesin mixing.79 0. Peta Kontrol X Kadar Lemak Peta R Kadar Lemak X 6.82 X terdapat data yang berada di luar batas kontrol pada data yang ke-14 dengan nilai 6.38 Peta X Kadar Lemak 7 6.5 Kadar Lemak Garis Tengah 1 0.5 + (0.73 0.592 6. 5 26 R = ∑ g R g i i =1 = 17 .69 0. terlihat bahwa pada peta X R Berdasarkan tabel 4 dapat dilakukan perhitungan garis tengah (central line) untuk kadar lemak.8 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Garis Tengah Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Rata-rata Kadar Lemak Gambar 2.67) = 6.428 6.52 Batas No.54 0. 67 26 Faktor-faktor yang dipakai untuk perhitungan batas kontrol atas dan bawah berdasarkan Tabel Faktor untuk n = 6 didapat: A2 = 0. Variasi ini merupakan jenis variasi penyebab khusus sehingga perlu dilakukan revisi.54 0.265 6.505 1.5 1 3 5 7 9 11 13 15 17 S u b Gr o u p 19 21 23 25 Gar is Tengah Batas Kontr ol Atas Batas Kontr ol Bawah Rata-r ata Kadar Lemak BKBX = X − A 2 R = 6.46 0.325 6.2 6 5. 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total Kendali Kadar R 0. Spesifikasi yang diizinkan perusahaan untuk kadar lemak pada pakan S-11 adalah 6 – 7%.534 Batas kontrol peta X untuk kadar lemak: BKAX = X + A2 R = 6.82 0. Karena terdapat data yang berada di luar batas kontrol.853 0.61 0.358 6.618 6.18 Batas kontrol peta R untuk kadar lemak: BKB R = D 3 R BKA R = D 4 R = 2. Sedangkan untuk peta R semua data dalam batas kontrol.67 = 0 x 0 .88 0.63 0. Peta Kontrol R Kadar Lemak Berdasarkan gambar 2.483x 0. 67 = 1.853.68 0.483 . D3 = 0 . Setelah revisi selesai dilakukan maka dapat dilakukan perhitungan Cp dan Cpk.65 6. maka dapat pula ditentukan nilai Cp dan Cpk.73 0. Perhitungan Lemak No.6 6.415 6.63 0. Ini menunjukkan bahwa variasi data tidak normal.004 x 0.

51 -0.849 0.52 6.49 6.365 2 6.45 4.112 Untuk uji normal data.565 – 6.96 284.X = 3σ 0 = 7 − 6 .4722 6.648 0.69 fi 10 8 5 5 5 5 6 44 xi 6.565 – 6.53 3 6.45 32. 26 ) Cpk = min [Cpl:Cpu] = 0. No.4761 0.1749 0. 49 − 6 = 0.465 – 6.44 6 6.305 0.305 0.61 6.465 4 6.63 = 3 ( 0 .41 6.615 – 6.7 32. Distribusi Frekuensi No.36 6.38 X4 6.898 1 Za-Zb 0.27 Zbka -0.414 6.Ukuran Sampel (nv) : 44 Tabel 5.0015 0.37 6.68 6.39 6.57 11 6.LSL 3σ 0 6 .101 0.563 6.27 1 Zb 0 0.515 5 6.0541 0. Penentuan Nilai No.32 6.48 8 6.5395 Dari tabel 6 diperoleh standar deviasi = 0.0010 0.42 6.36 6. 26 ) D. 49 = 0.36 9 6.4722 6.0067 0.Ukuran Lot : 2.53 6.4761 0.4722 6.898 Za 0. (xi.44 6.32 6. Tabel 6.4722 6.51 -0.51 5 6.615 7 6.38 6. ini berarti Ho diterima.827 1. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesis digunakan nilai α = 0.44 2 6.615 – 6.102 ei 7.64 6.415 – 6.363 0.00.63 Nilai Cpk = 0.168 0.Nama Karakteristik Mutu : kadar lemak . Batas Kelas 1 6.05.0045 0.Spesification : 6 – 7% .37 6.0003 0.0052 0.515 – 6.2 32.648 0.315 – 6.0174 0.4722 (xi.800.148 0.06 0.39 4 6.95 -0.59 6. Data Ukuran Sampel No.5 6.32 6.000 .171 0. ini menunjukkan bahwa proses tidak capable untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak karena nilai Cp < 1.415 3 6.26) Nilai Cp = 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.465 4 6.171 0.12 32.54 6.65 3 ( 0 .54 6. bahwa data berdistribusi normal.39 6.0692 0.901 0.488 oi 10 8 5 5 5 5 6 44 (oi-ei)2/ei 0.615 7 6.x )2 0.32 6. ini menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk yang tidak memenuhi lower spesification level (LSL) kadar lemak. 36 .1685 0.315 – 6.705 Total X3 6.34 C pu USL .Jenis Pemeriksaan : normal .57 6.65 6.365 – 6.LSL 6σ0 7 .44 6.0229 0.52 7 6.0352 fi.542 4.565 6 6.47 6.95 39. karena nilai berada pada kriteria Cpk < 1. Tabel 7.365 2 6.705 Total Dari tabel 7 diperoleh χ 2 χ 2 hitung Zbkb 0 -0.7 6.82 1.221 hitung < χ 2 tabel.66 fi.Verification Level : IV .x )2 0.066 0.365 – 6. Penentuan Rencana Sampling Penerimaan Penarikan sampel yang dilakukan adalah sebagai berikut : .51 10 6. Batas Kelas 1 6.7 6.38 0.44 6.415 – 6.4 51.38 6.1685 0.4722 6.57 6.565 6 6.xi 63. 64 6(0.34 6.528 7.64.515 – 6.33 6.78 x 6. C pl = X .509 4.7967 0.6 = = 0 .136 0.58 6.00.7967 0.868 0.06 0.2114 0. X1 X2 1 6.465 – 6.38 0.95 -0.415 3 6. 4 Oktober 2006 Cp = USL .0138 0.662 0.4722 6.006 7.36 6.515 5 6.63.

Untuk spesifikasi ganda F’ ≤ F : 0.Untuk spesifikasi bawah.11 4. Adanya tindakan kesengajaan yang disebabkan operator dalam memasukkan komposisi raw material yang akan dituang ke dalam mesin mixing dalam mengejar target.07 - 0.1 Process Capability Dari tabel 9 didapat analisis hasil dari perhitungan proses kapabilitas dan indeks proses kapabilitas untuk karakteristik mutu kadar lemak dari pakan S-11 menunjukkan bahwa process capability tidak baik untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak yaitu: (6 – 7)%.5 3 Kadar Serat 3 – 4% 3. Hal ini dapat menyebabkan raw material menjadi rusak akibat serangan tikus dan kutu busuk.49 – 20.82 6.65 0.69 0.69 0.Untuk spesifikasi atas. apabila semua syarat dibawah ini dipenuhi.7 – 0.76 0. .27 0.74 - 3.625 0.9% 0. Peralatan turn head yang tidak bekerja dengan baik pada saat memasukkan raw material ke dalam saluran-saluran intake.16 – 6.47 0. sehingga kandungan nutrisi yang didalamnya menjadi rendah.82 ≥ 2.9 – 1.11 Keterangan Lihat Tabel 1. Proses pelletizing belum bekerja secara optimum.7 Batas Kontrol Revisi Process Capability Cp = 0.69 (memenuhi) .65 Central Line 20. MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 Perhitungan Perhitungan QU= (U.65 0.86 - 0.63 0.Yang mana pada proses ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.45 4 Kadar Kalsium 0. QU ≥ k : 4.56 0. Tabel 9.81 6.16 – 3.65 0.93 – 1. Karena homogenisasi yang rendah menyebabkan produk rapuh.8 37 .68 Cpu = 0.62 Cpl = 0.62 Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk = = = = = = = = = = = = = = = = 0.63 0.65 0. Kriteria penerimaan: terima lot.09 2 Kadar Lemak 6 – 7% 6. Indeks Process Capability dari Hasil Revisi untuk Masing-Masing Karakteristik Mutu No. Kriteria penolakan: tolak apabila salah satu syarat di atas tidak memenuhi.99 5 Kadar Fosfor 0.18 – 6.5 0.X )/s QL= ( X -L)/s s/(USL-LSL) X s QU QL Kriteria keputusan: a.64 0.174 (memenuhi) b. hanya untuk spesifikasi ganda Simbol U L CL nv k F Hasil 7 6 E 44 2.74 – 0. ANALISIS 6.74 Cpk = 0. Perhitungan Penarikan Sampel Item yang dihitung USL LSL Kode Huruf Ukuran Nilai Sampel Nilai ‘k’ Nilai ‘F’ (untuk spesifikasi ganda) Rata-rata Sampel Standar Deviasi Sampel Nilai QU (Upper Quality Index) Nilai QL (Lower Quality Index) Nilai F sampel.69 (memenuhi) .1% 0. Hal ini menyebabkan raw material tidak masuk pada salurannya.82 4.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Tabel 8. Hal ini disebabkan oleh beberapa Karakteristik Mutu Kadar Protein Batas Spesifikasi 19 – 21% faktor seperti: Kondisi gudang penyimpanan raw material yang kurang diperhatikan.11 ≤ 0. QL ≥ k : 4. 1 Batas Kontrol 19. c. Kesimpulan: lot diterima 6.61 0.174 6.27 ≥ 2.5 0.625 0.

11 0. .16-6. Berdasarkan hasil interpretasi data untuk masingmasing karakteristik mutu menunjukkan bahwa variasi data yang tidak normal hanya disebabkan oleh variasi penyebab khusus saja.81%.80 QL 4.69 2.17 4.65 untuk kadar fosfor.49– 20. supaya proses dapat terkendali.174 4.60 1.69 0.174 Lot Diterima Lot Diterima Lot Diterima Lot Ditolak Lot Ditolak Keputusan Adapun tindakan korektif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan process capabilitynya adalah: . No.70 > 2.174 1. .82 > 2.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.30 > 2. 2. Cp = 0. Revisi data dapat dilakukan jika variasi data disebabkan oleh variasi penyebab khusus. Revisi untuk persentase kadar lemak untuk peta X didapat kendali yang baru yakni 6. Peralihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperlonggar tingkat pemeriksaannya dengan mengubah tingkat verifikasinya (VL) satu tingkat ke kanan. Jika masih terdapat data di luar batas kendali.69 0.Memeriksa ulang secara keseluruhan kondisi gudang yang layak untuk penyimpanan raw material. Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa rencana sampling untuk kadar lemak pakan S-11 setelah dilakukan pengujian disimpulkan bahwa lot diterima.81% adalah lebih dekat ke batas spesifikasi bawah yang ditetapkan (LSL) yaitu 6%.40 2.Melakukan inspeksi terhadap raw material yang masuk ke gudang penyimpanan.2 Acceptance Sampling Plans Penggunaan acceptance sampling plans untuk karakteristik mutu kadar protein.25 0.86)% untuk kadar fosfor. Dengan melihat nilai Cp untuk masing-masing karakteristik dapat 38 . Cp = 0. 4. . kalsium dan fosfor berada dalam batas-batas kontrol.16–3.174 0.27 > 2. yaitu variasi yang disebabkan oleh kesalahan operator dalam mencampurkan material pada saat proses pencampuran.74– 0. Nilai Cp = 0.25 4.69 untuk kadarserat.40 < 2. Dan untuk nilai Cpk = 0.82 4.60 < 2. 6.68 untuk kadar protein.69 2.17 > 2. (3. .174 1.25 > 0. serat. yaitu menjadi VL-III.74)% untuk kadar serat. Demikian juga untuk nilai Cpu = 0.65 menunjukkan bahwa proses juga tidak mampu memenuhi batas spesifikasi atas (USL) yaitu 7% karena berada dalam dalam kriteria Cp <1. 1 2 3 4 5 Jenis Pengujian Kadar Protein Kadar Lemak Kadar Serat Kadar Kalsium Kadar Fosfor Jenis Pemeriksaan Normal CL VL nv E E E E E IV IV IV IV IV 44 44 44 44 44 Keterangan K 2.56 untuk kadar kalsium dan Cp = 0.69 Ftabel 0.64 untuk kadar lemak.52 4. sedangkan untuk kadar protein. maka harus dilakukan revisi dengan menghilangkan data yang berada di luar batas kendali untuk mendapatkan batas kendali yang baru.07)% untuk kadar kalsium dan (0.12 0.174 0. Perhitungan indeks process capability untuk masing-masing karakteristik mutu dilakukan setelah proses dalam pengendalian. 7. lemak. Dan batas kendali untuk masing-masing karakteristik adalah (19.174 0.174 QU 4. (6.69 4.1 Kesimpulan 1. KESIMPULAN DAN SARAN 7. 3. Cp = 0. 4 Oktober 2006 Tabel 10.20 F’ 0.69 0.20 < 2.69 4.11 < 0.52 > 2. Penentuan Acceptance Sampling Plans No. 5.Perlunya pengawasan yang ketat kepada operator dari pihak manajemen.69 2.63 = Cpl ini berarti bahwa nilai pengukuran rata-rata kadar lemak 6. Bila diperlukan dilakukan pergantian dengan yang baru.69 0.10 < 0.69 2.10 0.70 2.27 4.174 0.25 > 0.16–6. kalsium dan fosfor dengan menggunakan metode MIL-STD 1916 dapat dilihat pada Tabel 10.7)% untuk kadar protein.Memeriksa proses gelatinisasi untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.30 1.174 4. 6. (0.81)% untuk kadar lemak.12 < 0.Melakukan perawatan secara berkala terhadap peralatan turn head.80 < 2.69 4.93–1. Ini menunjukkan bahwa proses tidak mampu memenuhi batas spesifikasi bawah (LSL) karena berada dalam kriteria Cp < 1. serat.69 2. Berdasarkan hasil perhitungan batas kontrol dengan menggunakan peta kontrol variabel didapat karakteristik mutu kadar lemak perlu dilakukan revisi karena ada data yang berada di luar batas kontrol. Variasi penyebab umum hanya dapat diperbaiki oleh pihak manajemen perusahaan.69 2.69 0.

62 untuk kadar protein. 7.. Pengantar Statistika. Introduction to Statistical Quality Control. yang akhirnya dapat memenuhi kepuasan pelanggan. Frank M. Gryna. Setiap melakukan proses produksi perlu menguji dengan benar dan memperhatikan dengan teliti penyebab-penyebab khusus yang berpengaruh terhadap pengendalian persentase kadar protein. Sehingga perlu dilakukan pengendalian yang ketat untuk menghasilkan proses yang lebih baik lagi (Cpk > 1).. S. karena kesadaran. Canada. DoD Test Method Standard. lemak. 5th Edition. Jika belum stabil.. Dan untuk perhitungan index capability didapat Cpk = 0.65 untuk kadar fosfor. 7th Edition. and Davis.. Quality Control. Berkaitan dengan rendahnya kapabilitas proses yang didapat. 1986. Juga adanya arahan yang kontinu terhadap para operator terhadap tanggung jawab pekerjaannya.. H. Teknik Sampling. Principles of Quality Control. DAFTAR PUSTAKA Besterfield D. perusahaan perlu memperhatikan lebih ketat kondisi gudang penyimpanan.63 untuk kadar lemak.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar disimpulkan bahwa proses memiliki kemampuan yang rendah dalam bereproduksi. Perlunya merubah lingkungan sosial budaya yang terdapat dalam PT. proses itu harus diperbaiki dulu. Cpk = 0.. serat. 2003. Dilihat dari rendahnya kemampuan proses yang ada. 7. Gramedia Pustaka Utama. PT. Dari perhitungan Cpk dapat disimpulkan bahwa proes tidak mampu memenuhi batas spesifikasi yang ditentukan karena nilai Cpknya < 1. PT. dkk.. 2th Edition. 3th Edition. Sugiarto.. 4th Edition. Quality Planning and Analysis. Singapore. Besterfield D.. Karena dengan peta kontrol kita dapat melihat apakah suatu proses yang sedang berlangsung sudah stabil atau tidak. dan baru kemudian membangun peta kontrol terkendali (yang baru) untuk memantau proses yang telah stabil. International Edition Statistical Quality Control. 4. 2th Edition. H. insentif.2 Saran 1.. United States of America. kemampuan mesin sebelum proses produksi siap untuk dijalankan. United States of America.. kalsium dan fosfor pakan ternak S-11. H. Inc. 2001. Mc Graw-Hill. 1995. John Wiley & Sons. 5. Approve for public release. Vincent Gaspersz. Mc Graw-Hill. 2001. 39 .. 2. Berdasarkan hasil perhitungan sampling penerimaan dengan menggunakan MIL-STD 1916 didapat bahwa karakteristik mutu kadar kalsium dan fosfor lot ditolak. Banks J.625 untuk kadar serat. John Wiley & Sons. Metode Analisis untuk Peningkatan Kualitas. United States of America. 1996. Prentice Hall International. maka perusahaan perlu melakukan pengawasan yang ketat terhadap kinerja proses produksi agar proses yang dilakukan dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Inc. 2th Edition. Montgomery D. Introduction to Total Quality. Inc. PT. sikap. and Leavenworth R. Cpk = 0. 1994. Ronald E. DoD Handbook. MILSTD 1916. Canada. 1 April 1996. Gramedia Pustaka Utama. Hal ini berarti membawa proses ke dalam pengendalian.. khususnya peta kontrol X dan R secara periodik. Ini perlu disosialisasikan terhadap semua pekerja. W. Goetsch. Menggunakan statistical process control. Pengalihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperketat tingkat pemeriksaannya dari normal menjadi ketat (tightened). MIL-STD 1916. 1994. Metode sampling penerimaan dapat memenuhi fungsinya jika dalam pengambilan sampel untuk pengujian karakteristik mutu menggunakan hasil perhitungan yang telah didapat dan dilakukan dengan benar. Gramedia Pustaka Utama.. International Edition Quality Control.5 untuk kadar kalsium. Approve for public release. Prentice Hall International Inc.. Jakarta. Grant E. Cpk = 0. tingkat komitmen dan human error inilah yang akan berdampak langsung bagaimana proses dan produk itu akan dihasilkan. 3. 1991. 10 Februari 1999. Jakarta.. Stanley B. Prentice Hall International Inc. Jakarta. 1987. L. Charoen Pokphand Indonesia agar setiap pekerjaan/tindakan yang berdampak terhadap proses dan produk tidak menimbulkan cacat. sistem penghargaan. David L.. untuk mendeteksi kesalahan secara dini. Cpk = 0. United States of America.

Dalam 40 . Sementara itu. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index). bersaing dan tidak kehilangan konsumennya. 96.53% (responsiveness).60% (tangibles). intensitas persaingan berskala global menuntut pergeseran besar dalam dunia industri. dan 91.42% (emphaty). jaminan kerahasiaan nasabah (variabel 16). Khusus untuk industri perbankan. Dengan konsep bagi hasil yang ditawarkan kepada para nasabahnya. apakah sesuai dengan harapan dan keinginan nasabah.92% (assurance). yaitu penyebaran kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup. Fakultas Teknik USU Abstrak: PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam kegiatan pelayanan jasa perbankan syariah di masyarakat Indonesia. 14 (penguasaaan dan pengetahuan karyawan). assurance (terdiri dari 5 variabel pertanyaan). kepuasan nasabah tercapai bila kebutuhan. baik itu industri yang bergerak di bidang manufaktur maupun di bidang jasa. Bank Muamalat merupakan salah satu industri perbankan yang tumbuh pesat di antara bank-bank konvensional yang ada di Indonesia. PENDAHULUAN I. keamanan dalam bertransaksi (variabel 15). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan nasabah Bank Muamalat.89% (reliability). pengaturan kursi untuk menungggu (variabel 5). 11(ketanggapan teller dalam melayani nasabah). Hal utama yang harus diprioritaskan oleh industri perbankan dalam hal ini Bank Muamalat adalah bagaimana caranya agar konsumen mendapat kepuasan sehingga perusahaan itu dapat bertahan. Salah satu jenis industri yang menghadapi persaingan yang kompetitif di masa mendatang adalah industri perbankan. lokasi bank yang strategis (variabel 18). Pengambilan data dilakukan secara dua tahap. yaitu: kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (variabel 2). yaitu pengambilan awal (untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen dan menentukan ukuran sampel lanjutan) dan pengambilan data lanjutan dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara acak (random sampling). kualitas jasa diukur dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen.ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN Syahrul Fauzi Siregar Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia. Responden yang daimbil adalah nasabah Bank Muamalat yang datang melakukan transaksi. 1. yaitu tangibles (terdiri dari 7 variabel pertanyaan). 100. baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah lain yang ada di Indonesia. dan emphaty (terdiri dari 4 variabel pertanyaan). Penelitian ini berlatar belakang kepada upaya meningkatkan kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat terhadap nasabah. Semakin besar tingkat pemenuhan yang diberikan kepada nasabah. perusahaan ini mampu bersaing dengan para kompetitornya. keinginan dan harapannya terpenuhi. Penyebaran kuisioner dilakukan dengan dua tahap. Hasil pengolahan data menghasilkan tingkat kepuasan pelayanan masing-masing untuk dimensi 94. penguasaan dan pengetahuan karyawan (variabel 14). dan seterusnya. yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi. pihak perbankan muamalat harus memperhatikan kualitas jasa yang dikehendaki pelanggan. Data yang dihasilkan merupakan data ordinal dan dikonversikan menjadi data interval dengan menggunakan metode successive interval. maka semakin tinggi kualitas pelayanan jasa perbankan tersebut. 93.1 Latar Belakang Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era transformasi informasi sekarang ini. reliability (terdiri dari 3 variabel pertanyaan). Dengan mengetahui hal ini diharapkan Bank Muamalat dapat bersaing dengan para kompetitornya dengan mengambil langkah–langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Hasil perhitungan variabel kunci dengan peta kartesius menghasilkan 6 variabel kunci yang harus diperbaiki pihak Bank Muamalat. Sedangkan dari hasil perhitungan index potential gain customer value dihasilkan prioritas tertinggi. yaitu: variabel 18 (lokasi bank). responsiveness (terdiri dari 2 variabel pertanyaan). Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang diberikan dilihat dari sudut pandang nasabah dan dengan melakukan perbaikan– perbaikan terhadap kondisi pelayanan yang dianggap belum memenuhi harapan nasabah. Alat pengukuran yang digunankan untuk mengukur kualitas pelayanan pada industri perbankan pada penelitian ini adalah metode servqual. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepusan pelanggan. yaitu suatu alat untuk mengukur persepsi nasabah mengenai kualitas pelayanan.

assurance. 3.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar penilaian dan pengukuran terhadap kualitas pelayanan. Dari hasil penilaian kualitas pelayanan yang dilakukan oleh responden.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. 2.2 Perumusan Masalah Masalah yang dirumuskan pada penelitian ini adalah: 1. sehingga dapat menunjukkan kedudukan permasalah. and tangibles) yang mempngaruhi persepsi dan harapan konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat. perlu disusun beberapa batasan dan asumsi yang berkaitan dengan permasalahan. I. Untuk diketahui tingkat kepuasan pelanggan Bank Muamalat serta faktor-faktor atau dimensi kualitas apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. 2. Batasan-batasan tersebut adalah: 1. responsiveness. Kinerja kualitas pelayanan hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang termasuk di dalam dimensi kualitas pelayanan yang telah ditentukan oleh peneliti. Dimensi kualitas pelayanan yang diukur adalah 5 dimensi kualitas jasa. responsiveness. Interpretasi responden tentang pernyataanpernyataan dalam kuisioner sesuai dengan maksud penulis. maka selanjutnya adalah mencari UDCV atau Ultimately Desired Customer Value. Alat pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah berupa daftar pertanyaan (questioner). 2. empathy. Sejauh mana pihak jasa perbankan (Bank Muamalat) mengetahui tingkat kualitas pelayanan dilihat dari sudut pandang nasabah. Meneliti dan memberikan saran bagaimana perubahan yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Muamalat di masa yang akan datang.4 Batasan dan Asumsi Untuk mempermudah pecahan masalah. Menganalisis tingkat prioritas kompetitif dan kualitas pelayanan Bank Muamalat. pihak manajemen dapat mengidentifikasi kinerja dan tingkat kepentingan yang dimiliki Bank Muamalat. Hal ini dilakukan untuk mempertegas atribut-atribut yang menjadi pusat perhatian. Variabel-variabel yang diteliti dianggap sesuai dengan kondisi pelayanan yang berlaku pada perusahaan yang menjadi objek penelitian. 2. Dengan mengetahui keinginan nasabah Bank Muamalat diharapkan dapat dikembangkan jasa perbankan yang dapat memuaskan pelanggan. 5. konsumen diminta untuk menyatakan dan menilai lima komponen penentu kualitas jasa (assurance. I. 3. Responden dengan jujur dan benar mengisi kuisioner yang diberikan. yaitu: tangibles. Penunjukkan konsumen yang menjadi responden kuisioner penilaian yang datang ke Bank Muamalat pada suatu rentang waktu tertentu sebagai sampel dianggap mewakili yang menabung di perusahaan tersebut. Langkah pertama dalam menghitung indeks PGCV adalah mencari nilai ACV atau Achieved Customer Value. yang mana nilai ini didapatkan dengan rumus: UDCV = I x Ps Keterangan: UDCV = Nilai akhir keinginan konsumen I Ps = Nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = Nilai kinerja maksimum dalam skala likert yang dipilih 41 . 4. 4. Kemudahan tersebut memberikan jalan bagi diagram ImportancePerformance untuk dapat dibandingkan dalam bentuk kualitatif yang lebih terperinci. dan emphaty. Dalam Penelitian ini tidak dilakukan analisis biaya terhadap proses perbaikan kualitas pelayanan dan hasil penelitian ini tidak berlaku untuk umum. reliability. TEORI Index Potential Gain Customer Value (PGCV) Analisis pelanggan melalui angka indeks merupakan konsep dan peralatan yang mudah untuk menganalisis pelanggan. Nasabah yang diteliti sebagai responden adalah yang menjadi nasabah di PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan. Pada penelitian ini tidak dibahas posisi perusahaan yang diteliti dengan perusahaanperusahaan pesaing menurut para konsumennya. yaitu dengan mengalikan antara variabel importance dengan variabel performance. 3. Asumsi-asumsi tersebut adalah: 1. 3. Informasi penilaian kualitas pelayanan perusahaan yang menjadi objek penelitian yang diterapkan sekarang ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap pelanggan. 5. 6. I. Mengidentifikasi dimensi/faktor kualitas jasa perbankan muamalat yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelayanan Bank Muamalat untuk dapat bersaing dengan bank konvensional lainnya. reliability. 7. Objek yang diteliti adalah perusahaan perbankan dalam hal ini Bank Muamalat. yaitu: ACV = I x P Keterangan: ACV = nilai pencapaian konsumen I P = (Importance) nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = (Performance) nilai rata – rata untuk kinerja ( X ) Setelah mendapat nilai ACV. 2.

Melalui studi ini diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian dan variabel-variabel yang terkait dengan permasalahan tersebut. 4 Oktober 2006 Dan terakhir nilai indeks PGCV adalah nilai Ultimately Desired Customer Value dikurangi dengan Achieved Customer Value. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan kuisioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. b. 3. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur. sehingga penelitian ini dilakukan berdasarkan suatu logika tertentu. Tetapi tidak jarang terdapat pengelompokan yang dibuat ada kalanya didasarkan pada prosedur saja dan ada kalanya didasarkan pada tekniknya saja. Permasalahan yang ingin dipecahkan adalah pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan (perbankan) dan penentuan atribut kualitas pelayanan yang paling penting bagi pelanggan. Data primer. 3. Jika seseorang membicarakan metode penelitian. Tujuan penelitian eksplorasi ini untuk mengetahui dimensi-dimensi kualitas apa saja yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan konsumen.4 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan bertujuan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti. Data sekunder. Penelitian eksplorasi adalah riset yang bertujuan untuk mengumpulkan data pendahuluan guna memperoleh keterangan mengenai sifat nyata dari masalah tersebut dan memberikan kemungkinan hipotesis atau ide-ide baru (Philip Kotler. Data kuantitatif. METODOLOGI PENELITIAN Didalam melakukan suatu penelitian. Menurut cara memperolehnya: a.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Studi literatur dengan mempelajari teori yang berhubungan dengan metode service quality. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian survei dengan maksud eksplorasi. 3. Penelitian survei (Masri Singarimbun. dan statistik. Adapun skematis langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada halaman berikut: 3. yaitu data yang menggambarkan keadaaan/kegiatan di dalam suatu organisasi. 1987) adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data.3 Studi Pustaka Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh landasan kerangka berpikir bagi penelitian yang akan dilakukan. Menurut Sumbernya: a. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih. alat serta desain penelitian yang digunakan. Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian. 3.5 Identifikasi Sumber Data Adapun data yang diambil pada penelitian ini menurut jenis dan sumbernya. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan. yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi.1 Perumusan Masalah Penelitian Perumusan masalah disusun berdasarkan uraian pada Bab I mengenai latar belakang dan pokok permasalahan. yaitu data yang menggambarkan keadaan/kegiatan di luar suatu organisasi. b.2 Penentuan Tujuan Penelitian Penentuan tujuan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai suatu penelitian. yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh perseorangan langsung dari objeknya. Data internal. manajemen jasa. 1999). yaitu apakah kualitas jasa yang ditawarkan kepada konsumen memenuhi ekspetasi (harapannya) atau tidak. maka ia tidak terlepas dari membicarakan teknik dan prosedur penelitian. kriteria yang dipakai adalah teknik serta prosedur penelitian. diharapkan akan diketahui bagian mana yang harus mendapatkan perhatian/menjadi prioritas apabila adanya keterbatasan sumber daya perusahaan untuk meningkatkan kualitas jasanya. Dengan ditentukannya dimensi ini. Maksud penentuan tujuan penelitian adalah agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan terarah dan mancapai sasaran. No. Perumusan masalah merupakan suatu usaha untuk memformulasikan atau memodelkan fenomena yang ada secara sistematis berdasarkan teori yang ada. wawancara dengan pihak terkait pada objek studi. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. Data eksternal. yaitu data yang berbentuk angka-angka. Studi pendahuluan dalam penelitian ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian terhadap objek studi. peneliti dapat memilih berbagai jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Data kualitatatif. sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain. 3. maka yang dibicarakan di sini adalah teknik penelitian. yaitu: PGCV = ACV – UDCV Kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. 2. yaitu data yang tidak berbentuk angka. yaitu: 1. b. 42 . Menurut sifatnya: a. 3.

Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variabel dan atribut yang mempengaruhi kualitas pelayanan jasa perbankan. Jika hasil pengolahan data baik.9 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah: 1. 3. Kemudian kuisioner tertutup ini disebarkan sebanyak 40 eksemplar.10 Pengumpulan Data Awal Pengumpulan data awal ini berupa kuisioner pendahuluan (terbuka) yang kemudian digunakan untuk menyusun kuisioner tertutup. maka teknik pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak secara sestematik (systematic random sampling). Layak di sini berarti item-item pertanyaan sudah cukup baik dan dimengerti oleh responden.7 Penentuan dan Pemilihan Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar 3. yang terdiri dari: a. dan responden tinggal memilih di antaranya (Philip Kotler dkk. 3. Kuisioner terbuka 2. Nasabah Bank Muamalat Cabang Medan Pada penelitian ini jumlah populasi nasabah Bank Muamalat Cabang Medan tidak diketahui oleh peneliti. yaitu pengambilan setiap unsur ke – k dalam populasi untuk dijadikan sampel. Sehingga peneliti mengasumsikan populasi nasabah Bank Muamalat tidak terbatas (infinite population). menyebarkan kuisioner dan wawancara. 3. 1999). maka dilakukan pengumpulan data sehingga memenuhi sampel minimum. wawancara ataupun pengumpulan data primer dengan menggunakan metode survei.. Nilai Harapan Jawaban sangat penting diberi nilai: 5 Jawaban penting diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak penting diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak penting diberi nilai: 1 b. gap yang terjadi antara persepsi dan harapan nasabah serta atribut mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya dan perlu dipertahankan kualitas pelayanannya. 3.8 Pembuatan Kuisioner Kuisioner sebagai alat pengumpulan data disusun dalam dua bentuk pertanyaan yang bersifat terbuka dan pertanyaan yang bersifat tertutup.6 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian. Pada penelitian ini akan dijelaskan tahap-tahap di dalam melakukan pengolahan data. yaitu: a. Karena data populasi Bank Muamalat tidak diketahui. Data kuisioner terbuka (pendahuluan/awal) Guna kuesioner pendahuluan ini adalah untuk menentukan atribut-atribut apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan kuesioner tertutup b. Jika hasil pengolahan data kuisioner tahap pendahuluan ini tidak baik. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling). Pengambilan unitunit sampel didasarkan atas kunjungan nasabah yang akan bertransaksi. Nilai Kinerja / Persepsi Jawaban sangat puas diberi nilai: 5 Jawaban puas diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak puas diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak puas diberi nilai: 1 3. Untuk pengukuran atribut digunakan Skala Likert. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Variabel juga merupakan pedoman atau petunjuk untuk mencari data maupun informasi dilapangan. kemudian diuji. berarti layak. Dalam skala ini dibagi atas lima kategori jawaban yang menunjukkan derajat kepentingan (untuk data harapan). Perusahaan jasa perbankan. dan derajat kepuasan (untuk data kinerja/persepsi). Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji kelayakan kuisioner yang disebarkan. Data kuisioner kualitas jasa (harapan nasabah dan kinerja perusahaan). 2. maka dilakukan perbaikan kuisioner. Kuisioner kualitas jasa Kuisioner ini digunakan untuk mengetahui persepsi dan harapan nasabah sehingga dapat diketahui penilaian nasabah terhadap variabel dan atribut kualitas pelayanan pada objek studi. Data yang dikumpulkan dalam kuisoner terbagi dalam tiga bagian. Kuisioner tentang identitas responden 3. Data identitas responden. di mana titik awal pengambilan sampel pada kelompok berikutnya mengikuti pola yang telah ditentukan dari hasil pengambilan sampel di titik awal. berarti tidak layak. c. Hal ini dikarenakan pihak manajemen Bank Muamalat tidak dapat memberi informasi data berapa banyak nasabah yang menabung di Bank Muamalat karena merupakan rahasia perusahaan. yakni Bank Muamalat Cabang Medan. baik dengan menggunakan data sekunder. Pertanyaan terbuka di mana responden dapat menjawab sesuai dengan diinginkan dengan kata-kata mereka sendiri. Sedangkan pertanyaan tertutup di mana peneliti memerikan semua kemungkinan jawaban.11 Pengolahan Data Awal Dalam pengolahan data penelitian ini digunakan metode kualitatif dan metode kualitatif. 43 .

5) ) 2 − Zα / 2 ≤ − Zα / 2 X −μ ≤ Zα / 2 s n (4. kemudian dicari nilai standar deviasi sampel.q n= (λ )2 μ = ysy = ∑y i =1 n i n (rata – rata sampel) (4. dim ana X = N (μ .t dengan rumus: r= [N ∑ X ij − (∑ Xij ) ][N ∑Y ij − (∑Yi) ] 2 2 2 2 N (∑ XijYij ) − (∑ Xij ∑ Yij ) Di mana: n = Jumlah sampel yang dibutuhkan p = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang dapat diolah q = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang tidak dapat diolah Zα/2 = Nilai tabel distribusi normal untuk keberartian sebesar α/2 λ = Tingkat kesalahan (5%) 3. Adapun cara menguji validitas kuisioner adalah dengan menggunakan metode Korelasi Pearson Product Momen.1) Penurunan dari rumus di atas adalah sebagai berikut: Jika data berdistribusi normal: α= Di mana: α = koefisien keandalan alat ukur K = banyak butir pertanyaan kr 1 + (k − 1)r 1 ∑ Xi. p. Nilai yang mendekati 1 menunjukkan keandalan yang makin baik. Nilai keandalan alat ukur bervariasi antara 0 sampai 1.11. maka dapat dilakukan pengumpulan data selanjutnya.11. Adapun jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian lanjutan didasarkan atas kuisioner yang dapat diolah dan tidak dapat diolah dengan menggunakan rumus pengambilan sampel sebagai berikut: Setelah didapat varians. Kuisioner yang dapat diolah diasumsikan sebagai outcome sukses dan yang tidak dapat diolah diasumsikan sebagai outcome gagal.Zα/2 dari tabel normal ⎝ ε ⎠ (4.11.3) r = koefisien rata-rata korelasi antar variabel S2 = ∑ (y n i =1 i −y ) 2 Koefisien keandalan alat ukur menyatakan tingkat konsistensi jawaban responden.1 Uji Validitas Validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. maka tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) adalah: Zα/2 = 1.σ ) n P ( Zα / 2 ≤ Z ≤ Zα / 2 ) = (1 − α ) X = Nilai varians sampelnya adalah: (4. Pada penelitian ini untuk menguji apakah sampel yang diambil sudah mencukupi atau belum digunakan rumus sebagai berikut: Di mana: r = angka atau tingkat korelasi N = jumlah responden Xij = skor pernyataaan j dan responden i Yi = skor total responden i 3.11. 4 Oktober 2006 3. Dengan rumus matematisnya sebagai berikut: ⎛Z ⎞ n = ⎜ α / 2 ⎟ .2) (4.4) S= S = Maka.6) s s ≤ X − μ ≤ Zα / 2 n n s X − μ ≤ Zα / 2 n Sebelum melanjutkan rumus di atas.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Dalam menentukan besarnya ukuran sampel.3 Pengumpulan Data Lanjutan Setelah uji kelayakan dan kuisioner tidak perlu diperbaiki lagi. maka kuisioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukur. No.96 (tabel distribusi normal) (Zα / 2 )2 . 2 ∑ (y 2 i −y n −1 (4. maka data awal yang telah dikumpulkan dapat diolah bersama-sama data yang dikumpulkan selanjutnya. yaitu: n −1 (4. 3.2 Uji Reliabilitas Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keandalan alat ukur adalah metode Alpha Cronbach. dan sebaliknya. pengambilan sampel dianalogikan dengan percobaan kembali dari hasil pengisian kuisioner yang dapat diolah dan yang tidak dapat diolah. Dengan taraf kepercayaan 95%. ditentukan tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) dan tentukan pula taraf kepercayaan yang diinginkan. Sekiranya peneliti menggunakan kuisioner didalam pengumpulan data penelitian.4 Uji Kecukupan Data Data sampel yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner lanjutan dengan menggunakan kuisioner persepsi dan harapan kemudian diuji kecukupan sampelnya. Karena tidak ada perbaikan pada kuisioner.7) Maka pendugaaan varians dari rata-rata sampel adalah: 44 .

11) Di mana: n = jumlah sampel minimum s = standart deviasi sampel Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel Dan untuk menguji kecukupan sampel berdasarkan proporsi (p). 3. 2 45 . yaitu: ⎛ Z . (N-n)/N dianggap satau dan tidak perlu dituliskan. ANALISIS 4.14 Kesimpulan dan Saran Bagian akhir dari penelitian ini adalah penarikan kesimpulan hasil analisis dan interpretsi data.398 3. maka dapat diketahui rumus untuk menguji kecukupan pengambilan sampel. Index Potential Gain Customer Value Setelah Diurutkan Prioritas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Index PGCV 3.13 Analisis Pemecahan Masalah Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pengolahan data. yaitu: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ( ) s2 ⎛ N − n ⎞ ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟.648 1. maka berarti variabel tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya.450 2. maka diberikan saran kepada pihak perusahaan mengenai atribut yang perlu ditingkatkan kualitas pelayanannya serta usulan perbaikan yang harus dilakukan tentang atribut kualitas pelayanan. Urutan prioritas untuk tiap variabel dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1.852 2. Kesimpulan yang didapat bila suatu variabel mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. maka (fpc) dihilangkan.500 3.1 Analisis Indeks Potential Gain Customer Value Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa nilai indeks PGCV untuk tiap variabel. Bagian ini juga dilengkapi dengan saran-saran. yaitu rasio dari unsur dalam sampel yang mempunyai sifat – sifat yang diinginkan adalah: ⎛Z ⎞ (4. Dalam tahap ini faktor-faktor yang dianggap dominan dalam menentukan kualitas jasa dan tingkat kepuasan pelayanan akan dianalisis sebagai landasan dalam menyusun strategi bisnis selanjutnya. ⎜ ⎟ = finite population correction ( fpc ) n⎝ n ⎠ ⎝ n ⎠ 3. index potentian gain customer value dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui kepuasan pelayanan Bank Muamalat Cabang Medan berdasarkan persepsi dan harapan nasabah.12 Pengolahan Data Lanjutan Pada tahap ini akan dibahas perhitungan konversi skala ordinal kedalam skala interval dengan metode successive interval. 4.145 1. maka rumus di atas menjadi: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ∧ ( ) s2 =ε n (kesalahan pengambilan sampel) (4.12) n = P(1 − P )⎜ α / 2 ⎟ ⎝ ε ⎠ Di mana: n = jumlah sampel minimum P = proporsi untuk sukses 1 – P = proporsi untuk gagal Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel 3. kemudian dibahas pula langkah – langkah perhitungan tingkat kualitas pelayanan.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar V = y sy = ∧ ( ) ∧ s2 ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟ n⎝ N ⎠ tingkat (4.8) kesalahan pengambilan Sehingga sampel.9) Setelah didapat tingkat kesalahan pengambilan sampel. Penarikan kesimpulan dapat berguna dalam merangkum hasil akhir dari suatu penelitian selain sebagai landasan rumusan strategi dan pengambilan keputusan bagi pehak perusahaan juga digunakan bahan acuan penelitian selanjutnya.10) 2 ⎞ ⎟ = (Z )2 s α/2 ⎟ n ⎠ 2 Dari penurunan rumus di atas.540 2.625 3. Dari kesimpulan tersebut. maka: ε ≤ Zα / 2 ε 2 = ⎜ Zα / 2 ⎜ ⎝ ⎛ s2 dikuadratk an n s n 2 (4.S ⎞ n = ⎜ α /2 ⎟ ⎝ ε ⎠ 2 (4.045 2.582 Variabel Variabel 18 Variabel 11 Variabel 14 Variabel 5 Variabel 6 Variabel 19 Variabel 2 Variabel 15 Variabel 17 Variabel 16 Faktor Kualitas Pelayanan Lokasi Bank yang strategis Ketanggapan Teller dalam melayani nasabah Penguasaan dan pengetahuan karyawan Pengaturan kursi untuk menunggu Jumlah Teller yang melayani Komunikasi yang mudah dan baik Kenyamanan ruangan (keberadaan AC) Keamanan dalam bertransaksi Kredibilitas (nama baik) Bank Jaminan kerahasiaan nasabah Jika populasi (N) tidak diketahui.

Penataan ruangan (interior) di dalam dan di luar bank (1) .333 0. Lokasi bank yang strategis (18) Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) Jaminan kerahasiaan nasabah (16) Keamanan dalam bertransaksi (15) Kuadran II Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang perlu dipertahankan.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data pada bab-bab sebelumnya.2 Analisis Variabel Kunci Dari peta performansi pada gambar 1 terlihat bahwa letak variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan pengguna jasa perbankan pada PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan terbagi menjadi 4 bagian. Gambar 1.778 0. sehingga menjadikan variabel tersebut nilai plus perusahaan di mata pelanggannya. Kuadran III Menunjukkan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan yang berada dalam kuadran ini dinilai masih kurang penting bagi pelanggan.012 -0. Kuadran IV Menunjukkan variabel-variabel yang oleh pelanggan dianggap tidak terlalu penting. Adapun variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran III ini adalah: .714 Faktor Kualitas Pelayanan Keakuratan pencatatan transaksi Kecepatan pelayanan Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah Penataan ruangan Prosedur pelayanan (tidak berbelit – belit) Keberadaan fasilitas ATM dilokasi strategis Perhatian Bank kepada nasabah Kemampuan pihak Bank/karyawan dalam mengatasi masalah Kebersihan Bank Etika dan sopan santun karyawan Penampilan karyawan Prioritas 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Variabel Variabel 10 Variabel 8 Variabel 20 Variabel 1 Variabel 9 Variabel 7 Variabel 21 Variabel 12 Variabel 4 Variabel 13 Variabel 3 ­ ­ ­ ­ 2.116 0. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1.339 -1. harapan pelanggan tinggi).Keberadaan fasilitas ATM di lokasi strategis. tetapi pelaksanaannya dilakukan dengan baik sekali oleh perusahaan. Peta Performansi/Kepentingan Variabel-variabel yang masuk kuadran ini adalah: ­ Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) ­ Pengaturan kursi untuk menungggu (5) 46 . Faktor-faktor yang termasuk dalam kuadran ini adalah: ­ Kredibilitas (nama baik) bank (17) ­ Jumlah teller yang melayani (6) ­ Keakuratan pencatatan transaksi (10) ­ Kecepatan pelayanan (8) ­ Ketanggapan teller dalam melayani nasabah (11) ­ Komunikasi yang mudah dan baik (19) 5. karena pada umumnya tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan pelanggan. sehingga dapat memuaskan pelanggan (kinerja perusahaan tinggi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.Etika dan sopan santun karyawan (13) 4. sedangkan pelaksanaannya masih belum memuaskan (kinerja perusahaan rendah. KESIMPULAN DAN SARAN 5.048 -1.370 1. sedangkan pelaksanaannya oleh perusahaan biasa atau cukup saja. Kuadran I Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang dinilai sangat penting oleh pelanggan. harapan pelanggan tinggi).(7) . Adapun interpretasi dari peta tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.Prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit) (9) . Variabel yang temasuk dalam kuadran II ini adalah: ­ Kebersihan bank (4) ­ Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah (20) ­ Perhatian Bank kepada nasabah (21) ­ Kemampuan pihak bank/karyawan dalam mengatasi masalah (12) 3.124 0. 4 Oktober 2006 Index PGCV 1. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa gap antara harapan dan persepsi memberi gambaran bahwa nasabah menganggap kualitas pelayanan 4.330 -0. No.059 -0.Penampilan karyawan (3) .

A et al. dari 21 variabel pelayanan terdapat 7 variabel kunci yaitu variabel yang harus ditingkatkan kinerjanya oleh PT Bank Muamalat Indonsia Cabang Medan karena variabel tersebut sangat penting bagi pelanggan dan ketidakpuasan pelanggan tinggi yaitu: . 1997 47 .Pengaturan kursi untuk menungggu (5) . Hasil perhitungan gap untuk tiap dimensi kualitas. Manajemen Pemasaran Jasa. 1991 Masri Singarimbun. New York Appleton Century. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memuaskan nasabahnya. Penerbit PT Salemba Empat. Yokyakarta Offset. Prinsip-prinsip Total Quality Service. A Conceptual Model of Service Quality and its Implications For Future Research. Techniques of Attitude Scale Contruction. Erlangga. kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks potential gain customer value terbesar. Edisi 5. 1995 J. 2. Jakarta. LP3ES. 1987 Parasuraman.Keamanan dalam bertransaksi (15) 5. 1955 Fandy. Dari hasil perhitungan indeks potential gain customer value.Supranto. Edwards. Sedangkan ratarata nilai tingkat kepuasan nasabah terhadap masing-masing dimensi berkisar 91. 3. 1997 Husaini.89%. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memenuhi harapan nasabahnya. L. Sedangkan nilai ratarata harapan menunjukkan bahwa nasabah menganggap keseluruhan faktor sebagai faktor yang penting untuk mendapat perhatian pihak bank untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya. Urutan prioritas tersebut dapat dilihat pada tabel 1.Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) . Bedasarkan analisis peta kartesius. 4. Usman. 2. 49. Bumi Aksara.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar di Bank Muamalat Cabang Medan tidak mengecewakan tetapi belum sepenuhnya memenuhi keinginan nasabah melihat cukup besarnya gap yang terjadi. Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa. Statistik Teori dan Aplikasi. Survei kepuasan nasabah hendaknya dilakukan secara periodik. Diharapkan pihak perusahaan lebih meningkatkan program pelatihan (khususnya di dalam peningkatan pengetahuan dan penguasaan pekerjaan) yang dinilai nasabah masih kurang memuaskan dan juga perlunya pengaturan kursi untuk menunggu bagi nasabah dan penambahan jumlah teller agar para nasabah tidak terlalu lama mengantri.42–100. 1985 Rambat Lupiyoadi. sehingga harapan dan persepsi pelanggan dapat dipantau untuk memberi umpan balik atas perbaikan yang telah disesuaikan. Vol.Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) . DAFTAR PUSTAKA Allen. Metode Penelitian Survei.2 Saran 1. terutama dalam persaingan Bank Syariah yang cukup ketat sekarang ini. Pengantar Statistika. Tjiptono. Journal of Marketing. Gramedia Pustaka Utama. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya..Lokasi bank yang strategis (18) . 2001 Vincent Gasperz.Jaminan kerahasiaan nasabah (16) .

Undang-Undang No.065. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya penyakit akibat kerja yang disebut musculoskeletal disorders. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation).6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. Penerapan program ergonomi menghasilkan beda sebesar 0. kinerja kerja serta berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk melakukan kegiatan. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu reaksi ratarata 0. Keadaan ini diperburuk dengan tidak adanya alat pendukung kerja berupa kursi kerja yang ergonomis.7155.2 Perumusan Masalah Kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik pada dasarnya untuk membentuk postur kerja tertentu.PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi. Proses pemulihan akan memberikan kesempatan fisik maupun psikologis manusia untuk lepas dari beban yang menghimpitnya. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation). Yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah. Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara memberikan waktu istirahat yang cukup serta mengatur waktu istirahat. 2000 menemukan bahwa terdapat efek positif dari pemberian suatu program intervensi yang meliputi 15 karakteristik ergonomis pada stasiun kerja terhadap penurunan kelelahan pada operator komputer. bersifat menetap. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check terbukti dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan whole body reaction tester. Apabila dibiarkan berlarut-larut maka akan dapat menimbulkan suatu penyakit akibat kerja yang akan mengurangi produktivitas dan diperlukan suatu cara untuk mengatasinya. PENDAHULUAN 1. Hal ini berarti pekerja wanita memiliki tanggung jawab yang sama akan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Kata kunci: Program Ergonomi. Karakteristik pekerjaan akan semakin meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan dilakukan. bersifat menetap. a. Kelelahan yang timbul dalam diri manusia merupakan proses terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan mendatangkan ketegangan (stres) yang dialami oleh tubuh manusia. Apakah penerapan program ergonomi dapat mengendalikan kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik? Anizar 48 . 1. Terdapat kenaikan produktivitas pada operator komputer yang diberi suatu program intervensi yang meliputi perbaikan postur kerja. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita antara lain dinyatakan bahwa pekerja wanita berhak menerima upah yang sama dengan pekerja pria atas pekerjaan yang sama nilainya. Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. Penelitianpenelitian yang dilakukan Pada sebuah penelitian Demure et al. pemberian waktu istirahat pendek berulang sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Para ilmuwan telah mencoba beberapa alternatif pengendalian kelelahan dengan pengaturan stasiun kerja seergonomis mungkin maupun pemberian waktu istirahat yang cukup sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Kelelahan Pekerja. Fakultas Teknik USU Abstrak: Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. Untuk menghindari akumulasi yang terlalu berlebihan diperlukan keseimbangan antara sumber datangnya kelelahan dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan (recovery).. Produktivitas Kerja 1.1 Latar Belakang Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi.

2. Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot. Kerja otot statis lebih cepat menimbulkan kelelahan. kerja otot statis yang menggunakan tenaga sebesar 60% dari maksimum akan menyebabkan peredaran darah 2. Organizational Ergonomics.3 Hipotesis Penelitian Suatu program ergonomi yang terdiri dari perbaikan tata letak tempat kerja. Terganggunya peredaran darah dan kurangnya oksigen merupakan fenomena kelelahan akibat kerja otot statis. Secara subjektif kelelahan otot dapat digambarkan dengan adanya perasaan tertekan.1 Kerja Otot Statis dan Dinamis Otot adalah organ yang terpenting dalam system gerak tubuh. c. motivasi. 2. Keadaan peredaran darah pada kerja otot statis berbeda dengan kerja otot dinamis. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada.2 terhenti sama sekali. International Ergonomic Association membagi ergonomi dalam 3 katagori utama yaitu Physical Ergonomics. produktivitas mengandung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Penelitian yang dilakukan oleh Nemecek dan Van Wely menyimpulkan bahwa kerja otot statis yang menggunakan tenaga 15% sampai 20% dari maksimum akan menimbulkan penyakit akibat kerja jika dibiarkan terus selama beberapa hari dan bulan. perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja. pemberian waktu istirahat berulang yang diikuti oleh gerakan relaksasi otot akan efektif menurunkan kelelahan operator pada industri perakitan elektronik. Lebih dari itu sisa metabolisme seperti asam laktat tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri. Pada penelitian untuk memperoleh data tentang kelelahan sering digunakan kuesioner dengan skala bi-Polar maupun skala sifat seperti skala Borg maupun skala Semantik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Monod.5 Penerapan Program Ergonomi Dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem di mana manusia.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar b. pengerahan tenaga 50% dari maksimum dapat diterima otot untuk jangka waktu kerja selama 1 menit sedangkan pada pengerahan tenaga kurang dari 20% kerja dapat berlangsung lebih lama. fasilitas kerja dan lingkungan kerja saling berinteraksi dengan tujuan utama menyesuaikan suasana kerja dengan manusia. Pada kerja otot dinamis. Kelelahan pada dasarnya merupakan keadaan fisiologis normal yang dapat dipulihkan dengan beristirahat.3 Kelelahan Otot Pada dasarnya kelelahan menggambarkan 3 (tiga) fenomena yaitu perasaan lelah. otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode waktu tertentu. sikap kerja. Kontraksi disertai pemompaan darah ke luar otot sedangkan relaksasi memberikan kesempatan bagi darah untuk masuk ke dalam otot. lingkungan kerja. kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis. keterampilan. dan lainnya 2. pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontrasi sehingga menyebabkan peredaran darah dalam otot terganggu. disiplin kerja. Pada kerja otot statis. TINJAUAN PUSTAKA 2. Otot yang bekerja secara dinamis memperoleh banyak oksigen dan glukosa sehingga memiliki banyak tenaga sementara sisa metabolisme segera dibuang. Efek Kerja Otot Statis Kerja otot statis (postural) mencakup jenis pekerjaan yang berkepanjangan (prolonged) di mana level kontraksi konstan dan tidak berubah dalam satu satuan periode waktu yang bervariasi dari beberapa detik hingga beberapa jam. Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah mendekati batas maksimal kemampuannya. Kelelahan yang dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Kelelahan otot dikenal dengan adanya perasaan tertekan dan lemah. kaku dan nyeri. Kerja otot dinamis berlaku sebagai suatu pompa bagi peredaran darah. Otot dapat bekerja secara statis (postural) atau dinamis (rhythmic). Kuesioner dan skala ini dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan data yang diinginkan peneliti. Apakah penerapan program ergonomi dapat meningkatkan produktivitas kerja pada pekerja industri perakitan elektronik? Apakah ada persamaan peningkatan produktivitas kerja antara wanita dan pria pada industri perakitan elektronik? 1. Terdapat 2 (dua) jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi berulang. Produktivitas Kerja Secara umum.4 49 . 2. Dengan demikian peredaran darah meningkat dan otot menerima darah 10 sampai 20 kali keadaan kerja otot statis. Kerja otot statis dibutuhkan dalam membentuk postur tubuh oleh karena konstraksinya yang kontiniu maka bagian-bagian tubuh dapat dipertahankan berada pada posisi yang tetap. Cognitive. Perbandingan terus mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. berat seperti ada beban. Sastrowinoto(1985) menyatakan bahwa produktivitas menggambarkan perbandingan antara rasio keluaran dengan masukan.

4 Oktober 2006 2. Penentuan produktivitas kerja wanita dan pria dilakukan dengan menggunakan metoda analisis produktivitas. pemberian kuesioner. b. pengukuran waktu reaksi. otot tangan.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada salah satu industri pada stasiun monitor check. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3. Hasil lokakarya Penyusunan Norma Ergonomi di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja pada tahun 1978 berdasarkan anthropometri orang Indonesia untuk kerja duduk adalah 38 cm sampai 48 cm. Mengetahui produktivitas kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. Jenis kursi yang dapat disesuaikan (adjustable chair) sangat baik untuk kerja yang bersifat sedentary namun jika hal ini sulit untuk dilaksanakan maka kursi yang sesuai anthropometri suatu etnis dapat diberikan.7 4. Postur kerja di industri perakitan elektronik menuntut kerja duduk dalam jangka waktu lama dengan posisi lengan melawan gaya gravitasi dalam menyokong jari memegang komponen elektronik dan kepala menunduk (duduk membungkuk) untuk melihat komponen yang sangat kecil. Dilakukan uji t berpasangan (t paired test) dengan alpha = 0. 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.6 Program Pengendalian Kelelahan pada Pekerja Postur kerja sering disebut juga sebagai posisi atau sikap tubuh dalam bekerja. Hal ini bisa diperoleh dengan beberapa cara sesuai kebutuhan dan kemampuan pekerja seperti berjalan di sekitar ruang kerja ataupun melakukan relaksasi (streatching). Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data primer dengan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan kerja. Survei awal yang dilakukan diketahui bahwa operator yang bekerja adalah wanita dan pria dengan postur kerja duduk dan waktu kerja 7 jam setiap hari selama 6 hari dalam seminggu. Salah satu cara mengendalikan kelelahan otot pada pekeja adalah pemberian waktu istirahat pendek yang sering (micro breaks) untuk merubah posisi kerja dan relaksasi otot. Quitler (1997) menganjurkan pemberian waktu istirahat selama 5 menit setiap 30 menit bekerja.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan program ergonomi dalam mengendalikan kelelahan pekerja terhadap produktivitas pekerja wanita dan pria pada industri perakitan elektronik di Kota Medan.2 Manfaat Penelitian Manfaat daripada penelitian yang dilakukan adalah: a. 3.5 50 . 4.5% untuk melihat perbandingan skor kelelahan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi.4 Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria yang bekerja sebagai operator di stasiun monitor check.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (x) yakni program ergonomi dan variabel terikat (y) yakni kelelahan kerja dan produktivitas kerja. No. pengukuran produktivitas kerja. 4. otot pergelangan tangan. otot lengan bawah. Mengetahui manfaat diterapkannya program ergonomi di perusahaan. 1996). Mengetahui tingkat kelelahan kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. Suatu kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan relaksasi otot sangat dibutuhkan oleh pekerja. c. otot punggung bawah dan otot pinggang serta lengan atas. Data sekunder dikumpulkan melalui hasil laporan yang diperoleh dari berbagai pihak. 4. METODE PENELITIAN 4. Pengolahan dan Analisis Data Berdasarkan kepada pendekatan dan jenis data yang dikumpulkan secara kuantatif dan kualitatif maka data yang dikumpulkan dilakukan perhitungan statistik dengan mencari rata-rata (mean) pre test dan nilai rata (mean) post test. Posisi punggung yang membentuk sudut 100 sampai 130 derajat dengan paha dan alas duduk lebih dianjurkan oleh karena pada posisi ini tekanan antar ruas tulang belakang akan lebih berkurang dan otot punggung berada dalam keadaan lebih relaksasi karena bantuan dari sandaran punggung yang ikut menahan berat tubuh.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan bersifat penelitian terapan (applied research) dengan menggunakan metode eksperimen kuasi jenis one group pretest posttest design (Nawawi. Adapun gerakan otot tersebut terdiri dari: Otot leher. Gerakan relaksasi dapat dilakukan berupa melakukan setiap gerakan 3 sampai 5 kali di mana setiap gerakan tahan selama 5 sampai 10 hitungan sesuai dengan kebutuhan. 4. Duduk dalam keadaan tegak lurus atau membungkuk dan duduk dalam waktu lama tanpa merubah posisi akan mempercepat terjadinya kelelahan. otot bahu. 4.6 Alat Ukur Alat ukur yang dilakukan dalam penelitian adalah Whole Body Reaction Tester Model YB-1000. 4.

Case and Appearance dan Quality Control. g.35 5. h.05) sehingga menunjukkan suatu perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tingkat kelelahan pekerja pada stasiun monitor check.90 2.2 Hasil Pengukuran 5. 5. Pencahayaan di ruangan pabrik cukup baik di mana sumber penerangan lampu neon 40 watt.00 38. Posisi operator dalam melakukan pekerjaan adalah duduk pada kursi tanpa sandaran dengan ketinggian dari lantai 55 cm dengan sudut pandang 90° terhadap conveyor.00 12.30 5. e.15 2.83 0.1.57 25. akan tetapi terfokus pada Bracket MAEM. Berdasarkan kepada analisis statistik dengan menggunakan uji t berpasangan (t paired test) maka terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah diterapkannya program ergonomi.35 5.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar 5. jenis kelamin. c.34 0.15 3.80 80.25 3. Proses perakitan elemen-elemen tersebut terdiri dari beberapa tahap yaitu: Proses Combaine.3 Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian yang ditetapkan sekaligus merupakan populasi penelitian sebanyak 20 orang pekerja di stasiun monitor check.30 5.12 0. Getaran mekanis secara umum di dalam ruang pabrik tidak terjadi.00 39. Pada umumnya terdapat perbedaan nilai yang signifikan hampir sama pada semua regio. Warna dinding ruangan pabrik sudah terasa menyamankan suasana kerja. Metal/washer dan Cone Press Fit. meja kerja dan kursi kerja. 5.74 2.12 2.30 3.20 10. Press Fit. Pada umumnya kelelahan yang dialami oleh responden merata pada semua regio.00 41.15 11.10 11. Temperatur ruangan berkisar 30°C hingga 33.05) uji 1 ekor di mana nilai t berada pada posisi penolakan Ho atau penerimaan Ha.19 51 .00 42.90 2.96 0.00 16.05 5.33 0.1. masa kerja.2 Kondisi Lingkungan Kerja Kondisi lingkungan kerja yang ada di PT Nando Karya Elektronik selama pengamatan dilakukan adalah: a.1 5. Tingkat kelelahan responden bervariasi pada saat sebelum (pretest) dan pada saat setelah (posttest). Tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan pada perusahaan elektronik yang mengahasilkan 3 jenis produksi yaitu Bracket MEM.1.00 37. 5.00 2.80 3.00 42. Bracket MAEM. Terlihat bahwa angka probabilitas yang diperoleh pada pretest dan posttest penerapan program ergonomi sebesar 0.2 m dari meja kerja dan dipasang secara berjajar tanpa memperhatikan objek yang akan dirakit.81 2. Tingkat kebisingan yang ada di dalam ruangan antara 65-83 dB. dan Rotor Assy (armature assy). Kebanyakan responden mengalami kelelahan tingkat 6 sebanyak 35% – 45% pada saat sebelum diterapkan program ergonomi (pretest) dan kelelahan tingkat 4 sebanyak 25% – 55% pada saat program ergonomi telah diterapkan (posttest). pinset. d. belt conveyor.73 0.30 3. 5.57 9.30 2. 5°C. Press.000 di mana nilai tersebut jauh lebih kecil daripada ∝5% (0. Subjek penelitian seluruhnya merupakan tenaga kerja wanita dengan usia berkisar antara 23 tahun sampai 27 tahun. Kelembaban di dalam pabrik berkisar antara 6074%.2. Brus Terminal Inserting.05 41.00 40.00 7.02 0. Karakteristik subjek penelitian yang diteliti meliputi umur.00 37.40 5.15 9.18 0.73 0. Monitor berada di sebelah kiri operator dengan sudut padang 45°.32 2. Sirkulasi udara kurang baik karena kurangnya jendela/ventilasi sehingga pertukaran udara sangat lambat. f. Penempatan lampu di ruangan hanya berjarak 1.74 2. berat badan dan tinggi badan. b. Monitor check.90 2.00 5.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap pekerja menunjukkan adanya penurunan skor kelelahan sesudah diterapkan program ergonomi.1 Sistem Kerja Monitor Check Sistem kerja yang ada pada stasiun monitor check terdiri dari monitor.05 7. Distribusi Persentase Tingkat Kelelahan Pretest dan Posttest Pretest Posttest Beda Nilai t P % Penurunan Skor Kelelahan Regio Otot Leher/ tengkuk Bahu Punggung Atas Pinggang Punggung Bawah Lengan Atas Lengan Bawah Pergelangan tangan Skor Kelelahan Otot Total 5.00 42. Nilai t empiris jauh lebih besar dari nilai t tabel pada ∝ 5% rata(0. Bau-bauan di dalam ruang pabrik juga tidak mengganggu kenyamanan kerja.

025 adalah jauh lebih kecil dari α (0. Kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6(40%) untuk seluruh regio. operator memeriksa bracket melalui layar monitor. Uji satu sisi yang dilakukan dengan derajat kebebasan (df) 19 dan α (0.13 dengan skor kebanyakan responden berada pada tingkat kelelahan 4 (regio bahu. terjadi penurunan skor kelelahan pada seluruh responden (100%).025) diperoleh t hitung sebesar –6.15 menit. punggung bawah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan program ergonomi ternyata menurunkan kelelahan otot statis operator stasiun monitor check. lengan bawah).2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Pengukuran waktu reaksi (kecepatan reaksi) dengan menggunakan peralatan Whole body reaction tester dilakukan terhadap operator stasiun monitor check yang berjumlah 20(dua puluh) orang. Sebelum penerapan program ergonomi. 5. Data yang ada menunjukkan bahwa rata-rata penurunan skor kelelahan sebelum dan sesudah penerapan program ergonomi sebesar 2.6505 sedangkan setelahnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.02 menit hingga 1.034 dan t tabel sebesar 2. Waktu reaksi operator sebelum penerapan program ergonomi rata-rata berkisar 1. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah tidak identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan prgogram ergonomi adalah berbeda secara nyata). Deskripsi daripada waktu operasi 1 siklus adalah operator mengambil bracket. Skor rata-rata kelelahan yang nyaris sama pada setiap regio otot. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan program ergonomi mempengaruhi kelelahan otot statis yang operator stasiun monitor check yang terlihat dari skor waktu reaksi. maka waktu standar yang diperoleh dari metode kerja usulan lebih singkat dari metode kerja sekarang sehingga selain dapat mempersingkat waktu penyelesaian juga dapat meningkatkan jumlah produksi.093 maka H0 ditolak dan H1 diterima.034 dan t tabel sebesar 2.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil perhitungan statistik dengan uji-t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi di mana terlihat skor rata-rata kelelahan setelah penerapan lebih kecil daripada sebelumnya sehingga hipotesis penelitian terjawab. Probabilitas sebesar 0. Kecepatan reaksi yang diketahui dari data yang dihasilkan oleh peralatan memperlihatkan bahwa selama 6(enam) hari kerja terdapat fluktuasi pada waktu reaksi yang diperoleh. No. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan paired samples test (perbandingan t hitung dengan t tabel) maka dilakukan uji 2 sisi dengan tingkat signifikansi α sebesar 5% dan derajat kebebasan (df) sebesar 19 maka diperoleh t hitung 6. H1 : D ≠ 0.3.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Berdasarkan perhitungan tsb. punggung atas. 5. lengan atas. Peningkatan jumlah produksi dapat diperoleh karena berkurangnya waktu yang diperlukan untuk relaksasi otot leher. dan meletakkan bracket di palet. Hipotesis untuk hal ini adalah: H0 : D = 0. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan program ergonomi adalah sama/tidak berbeda secara nyata).3. 5. Penurunan kelelahan sekitar 2 tingkat.3.1 atau sekitar 2 tingkatan.2. 4 Oktober 2006 5. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk relaksasi otot leher dalam satu shift kerja adalah 40 menit untuk metoda kerja sekarang sedangkan untuk metode usulan hanya butuh waktu 15 menit.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.23. pergelangan tangan.3 Pembahasan 5. tengkuk/leher) dan tingkat kelelahan 3 (regio pinggang.92 menit hingga 1. Produktivitas operator stasiun monitor check pada industri perakitan elektronik dapat dihitung dari waktu siklus.093.2. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi pada umumnya waktu reaksi mengalami peningkatan jika diamati selama satu hari kerja dengan rata-rata berkisar antara 0. Skor kelelahan rata-rata menjadi 3. 52 . pada akhirnya menjadi berarti karena pada umumnya terjadi pada 8 regio setiap responden.7155. 5. memposisikan brush terminal dengan pinset. Setelah penerapan program ergonomi.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan program ergonomi membuat rata-rata kelelahan otot statis menjadi berbeda pula secara nyata. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. Sebelumnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.23 menit.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Analisis statistik dengan uji t-berpasangan (t paired test) terhadap data waktu reaksi operator yang diperoleh dari whole body reaction tester terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan antara sebelum dan setelah penerapan program ergonomi.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Pengukuran terhadap produktivitas dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap waktu yang dibutuhkan.

78 detik 13. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. 2.78 detik. Surakarta. 2003. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. Program ergonomi yang diterapkan berupa pemberian waktu istirahat berulang.. PT. Sutalaksana.7155. Penerapan program ergonomi yang dilakukan pada industri elektronik dapat mengendalikan kelelahan pekerja (operator monitor check). Ergonomi Untuk Keselamatan. Konsep Dasar dan Aplikasinya”. S. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check.32 di mana kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6 untuk seluruh regio. Suma’mur. 2004. 1989. Toko Gunung Agung. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat sebesar 1. L. Edisi Pertama. Kesehatan Kerja dan Produktivitas.13 dengan kelelahan tersebar pada kelelahan tingkat 3 dan 4. Uraian Waktu kerja efektif dalam 1 shift Waktu standar Penyelesaian Jumlah produk yang dihasilkan reaksi rata-rata 0. Perbandingan Keluaran (Output) Metode Kerja Sekarang dengan Usulan Metoda Kerja Sekarang 380 menit 1. KESIMPULAN 1. Hal tersebut terlihat dari skor penurunan kelelahan otot total yang mencapai 40. Prima Printing.127 unit Metoda Kerja Usulan 405 menit 1.88 detik 12. Sebelum penerapan program ergonomi. Produktivitas pekerja stasiun monitor check mengalami peningkatan setelah diterapkan program ergonomi maka terjadi peningkatan efektifitas waktu kerja dalam 1 shift dari 380 menit menjadi 405 menit. Sudiajeng. P. Ergonomi.88 detik menjadi 1.659 unit 4. Jurusan Teknik Industri. 1996. 53 . Toko Gununng Agung. 6. 3.532 unit. 1979. Jakarta. “Ergonomi. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi maka skor rata-rata kelelahan turun menjadi 3.10 detik dari 1.6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. Solichul. Ergonomi Untuk Produktivitas kerja. pelaksanaan relaksasi otot dan perbaikan tata letak tempat kerja.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar Tabel 2. I. Jakarta: Candimas Metropole. Waktu standar penyelesaian pekerjaan meningkat sebesar 0. Studi Gerak dan Waktu. Tarwaka. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu DAFTAR PUSTAKA Eko Nurmianto. Wignjosoebroto. Surabaya.. Z.19%. Uniba Press.K. Jakarta. Suma’mur. 1995. P. Bandung. Teknik Tata Cara Kerja. PT. Institut Teknologi Bandung. Edisi Pertama.K.

Pembangunan Kota Medan yang bersifat setempat saja yakni hanya di wilayah inti kota (CBD) sama sekali tidak dapat dibenarkan sekalipun dengan alasan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN Dosen Departemen Teknik Sipil. tingginya polusi udara. waktu tempuh ke tempat kerja semakin panjang dan biaya perjalanan juga semakin tinggi akibat bertambahnya penggunaan BBM yang selanjutnya menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja karena stres dalam kemacetan. which is also the core problem of traffic in Medan. Sekalipun mungkin setiap tahun RTRW Kota Medan direvisi namun karena Pemko Medan tidak berdaya mengatasi kekuatan pasar maka selama ini yang terjadi adalah penataan ruang dan sistem transportasi perkotaanlah yang mengikuti selera pasar yang mana semestinya Pemko Medanlah yang menentukan bagi pasar/investor lokasi-lokasi untuk daerah bisnis dan perdagangan. Bangun 54 . Jepang dan RRC. low health quality and decreases morality of inhabitants which further increases the criminality level of the city. Konsep kota satelit yang menginginkan penduduknya bekerja dan beraktivitas di dalam kota satelit tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan angkutan umum. Sisi lain yang tak kalah penting adalah minimnya akses untuk jalur hijau atau open space seperti taman yang merupakan paru-paru kota. Konsep tata ruang yang tidak jelas dan tegas juga mengakibatkan nilai jual Kota Medan bagi investor sangat rendah karena tidak adanya kepastian (sewaktu-waktu segala sesuatu dapat berubah bergantung situasi atau political will Pemko Medan). maksudnya tidak mengutamakan perkembangan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Misalnya belum memperhatikan nilai estetika atau keindahan kota dan tidak adanya jalur hijau atau taman kota di wilayah inti kota khususnya. yang berhasil misalnya Turki. 1. tingginya kebutuhan akan pengadaan infrastruktur baru. rendahnya mutu kesehatan hingga menurunnya tingkat moralitas penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat kriminalitas perkotaan. this causes severe traffic jam that could spread to whole the city area and spread to whole time because the distribution of the traffic is focused on the CBD area and as well causes air and noise pollution. misalnya rute menjadi lebih pendek. Fakultas Teknik USU Medan Abstract: Urban sprawl development for Medan City unites the business and trade centres and the government centre in the CBD area of Medan. Hal ini juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi. Pembangunan kota satelit dapat dilakukan dengan membangun dan mengembangkan lapangan pekerjaan dan aktivitas komersial ke suatu lokasi baru yang jauh dari wilayah inti kota namun tetap dihubungkan oleh sistem jaringan transportasi yang memadai dengan pusat kota. Selain itu terjadi ketimpangan yang mencolok antara warga yang tinggal di wilayah inti kota dengan warga yang tinggal di wilayah pinggiran Kota Medan. polusi air dan suara. sehingga kemacetan lalu lintas. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang parah di inti kota yang menyebar ke seluruh wilayah Kota Medan khususnya pada peak-hours. polusi udara dan suara yang mengakibatkan rendahnya mutu kesehatan penduduk terutama anak-anak dapat Filiyanti T. perumahan ataupun perkantoran. Barangkali alternatif solusi yang paling ampuh untuk mengatasi kesemrawutan perkembangan Kota Medan serta juga menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas ini adalah dengan mengadakan pembangunan kota-kota baru ataupun kota-kota satelit di wilayah batas kota (wilayah pinggiran) seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara lain. Consequently. Belum adanya konsep tata ruang yang jelas dan tegas untuk Kota Medan secara menyeluruh terintegrasi dengan rencana jaringan transportasi untuk jangka panjang dan bukan hanya untuk 5-10 tahun mendatang saja mengakibatkan perkembangan Kota Medan tidak terarah dan mementingkan keuntungan sesaat saja. Adanya pertumbuhan pusat bisnis dan perbelanjaan di lokasi yang sama dengan pusat pemerintahan Kota Medan yakni di wilayah inti kota mengakibatkan distribusi lalu lintas hanya terkonsentrasi pada satu wilayah atau zona saja. In addition the revitalization of public transport systems. Juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi serta meningkatkan pengunaan sepeda dan fungsi pejalan kaki/pedestrian. Tentative concept of Urban Spatial Arrangement causes the City Government of Medan has no power and authority on deciding locations for the businesses of investors in accordance with the RTRW Master Plan and so far the spatial arrangement and the urban transportation systems follow the desires of the investors. PENDAHULUAN Dampak yang meresahkan dari perkembangan kota yang tidak terarah dan tidak terkontrol adalah kemacetan sistem lalu lintas yang dapat menyebar ke seluruh wilayah kota. is also offered in this paper.A. The concept of satellite cities is offered to be applied in Medan.

misalnya: Microskill di Jl. 3. dan perlahan-lahan akan dapat menjadi suatu Kota Mandiri. 2. kondominium. Selain itu fasilitas kota satelit tersebut juga belum tentu sesuai dengan keinginan penduduknya sehingga sebaran kemacetan lalu lintas tetap saja terjadi. Gajah Mada dan kursus-kursus keahlian jangka pendek seperti kursus komputer. pengembangan KIM (Kawasan Industri Medan). Pelajar-pelajar PTS ini pada umumnya menggunakan kenderaan pribadi sehingga dapat dibayangkan pada saat masuk dan keluar kegiatan perkuliahan selalu membuat macet daerah sekitar lokasi kegiatan. maka kemacetan tetap saja akan terjadi di inti kota yang menyebar ke seluruh penjuru Kota Medan. Thamrin. apartemen. Keuntungan lain dari adanya kota satelit yakni dapat mengoptimalkan kelangsungan usaha daripada fasilitas-fasilitas kota seperti toko. akutansi serta bahasa yang menyebar di seluruh wilayah inti kota. Pengembangan Airport Internasional Kuala Namu serta rencana sistem infrastruktur yang menghubungkan ketiga kegiatan urat nadi kota satu dengan lainnya dan terhadap wilayah inti kota dan pusat pemerintahan. termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Belawan menjadi Hub-Port Internasional. Pusat Industri: tetap dikembangkan di kawasan utara Kota Medan. Pengadilan Tinggi. Pusat Pendidikan Tinggi Swasta: banyaknya pertumbuhan perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah inti kota. Pabrik Finishing Industrial di wilayah sekitar Belawan. Kantor Imigrasi dan semua instansi-instansi pemerintah berada pada satu lokasi yang sama. hanya perlu travel ke satu tempat saja. Pusat Automobile (Showroom)..Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. TKTB. Pusat Bisnis dan Perbelanjaan: tetap dikembangkan di wilayah inti kota yang dengan sendirinya akan berkembang memenuhi segala kebutuhan akan fasilitas-fasilitasnya yang sesuai seperti hotel. Proses pengembangan kota satelit ini akan berjalan secara alamiah. Semestinya masalahmasalah khusus kota tersebut diselesaikan terlebih dahulu agar pengembangan kota satelit dapat maksimal fungsinya. Bila PTS–PTS ini tidak segera dialokasikan pada satu wilayah yang sama yang secara alamiah akan berusaha mengembangkan kebutuhannya akan penggunaan gedung. maksudnya seperti Kantor Walikota. Dengan demikian masyarakat yang ingin mengurus keperluannya terkait dengan instansi pemerintah. sekolah dan fasilitas rekreasi. rumah sakit ataupun exhibition center. khususnya bagi para pegawai pemerintahan tersebut beserta dengan segala fasilitasnya seperti toko. maka dapat dipastikan 5-10 tahun mendatang pertumbuhan dan perkembangan PTS ini akan semakin tidak terkontrol yang akan sangat berdampak pada kemacetan lalu lintas. 5. Hal yang signifikan yang langsung terjadi dengan adanya re-alokasi pusat pemerintahan ini adalah terdistribusinya sistem lalu lintas Kota Medan sehingga tidak hanya menuju inti kota saja. Keberadaan pusat pemerintahan dan pusat bisnis dan perbelanjaan di dalam satu wilayah/zona yang sama yakni di inti kota adalah masalah yang mendasar dan utama bagi Kota Medan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. STIE di Jl. Selanjutnya dikembangkan juga perumahan-perumahan. 4. Kantor Pengadilan Negeri. Penjualan Spareparts dan Perbengkelan: tingginya pertumbuhan mobil-mobil pribadi maupun 55 . Karena sekalipun dibangun kota-kota satelit misalnya di wilayah-wilayah lingkar luar. rumah sakit. Dinas Tarukim. Bagaimana dengan Kota Medan? Konsep kota satelit yang bagaimana sebaiknya dilaksanakan untuk Kota Medan sehingga dapat mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya di wilayah inti kota? Sebaiknya daerah mana yang dapat menjadi lokasi-lokasi baru bagi kota-kota satelit tersebut? Apakah konsep kota satelit dapat menyelesaikan masalah sistem angkutan umum (angum) di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan ? 2. Bangun berkurang. Sungai Deli atau LP3I di Jl.-toko.A. KONSEP KOTA SATELIT BAGI KOTA MEDAN Jadi sebenarnya setiap kota yang notabene punya masalah kota dan masalah lalu lintas tersendiri yang khusus dan berbeda di tiap-tiap kota mestinya punya konsep kota satelit tersendiri. flat/apartemen bagi pelajar baik swasta maupun milik Pemda sendiri yang dapat menambah pemasukan bagi Pemda. Jadi aktivitas-aktivitas apa saja yang semestinya disatelitkan terlebih dahulu di Kota Medan ? 1. sekolah. Pusat Pemerintahan: Sudah saatnya Pemko Medan memikirkan lokasi baru bagi pusat pemerintahan Kota Medan. bersekolah atau berbisnis di dalam kota satelit tersebut. Namun ternyata pengadaan kota-kota satelit seperti Bintaro dan BSD (Bumi Serpong Damai) yang terdapat di Jakarta ternyata tidak dapat mencapai tujuan daripada pengadaan kota satelit tersebut. Bila semua PTS ini dapat diarahkan terkonsentrasi dalam satu lokasi yang sama (ruislag) sehingga berkembang pula rumah-rumah kost. Hal ini disebabkan bahwa penduduk yang berdiam di kota satelit tersebut belum tentu bekerja. klinik dan praktik dokter sampai halte yang terletak dekat dengan rumah-rumah penduduk. cafe serta fasilitas hiburan dan rekreasi. Kantor DPRD/DPR Provsu. Sarana infrastruktur yang menghubungkan pusat pemerintahan ini ke inti kota dan juga ke bagian-bagian Kota Medan lainnya juga hendaknya direncanakan dengan maksimal.

Kota Medan dapat mengalami grid-lock atau macet total dan perkembangan Kota Medan akan semakin tidak terkontrol atau terarah. bila Medan memiliki suatu konsep Tata Ruang yang jelas dan tegas. maka selain signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas. Dan bila hal ini tidak segera ditangani. mobil penumpang umum (MPU) dan bus damri. Bila semua kegiatan yang berhubungan dengan automobile ini ditempatkan dalam satu wilayah yang sama. seperti contoh kota satelit Putra Jaya yang memiliki bangunan-bangunan perkantoran dengan berbagai style yang berbeda dengan fasilitas rekreasi danau buatan.583 unit (plafon 15. Dengan demikian. cafe. akan semakin menambah nilai jual kota terhadap investor. jumlah armada taksi yang beroperasi 1187 unit (plafon 2545 unit). kelangsungan hidup daripada pusat-pusat kegiatan tersebut dengan segala fasilitasnya akan lebih terjaga. angkutan umum penumpang terdiri dari berbagai jenis moda angkutan darat. Hal lain yang juga penting untuk dipertimbangkan bagi Pemko Medan dalam membangun dan mengembangkan pusat-pusat kegiatan tersebut hendaknya juga memperhatikan nilai seni yang dapat mengundang pariwisata yang akan dapat meningkatkan PAD. Itulah sebabnya. Misalnya bagaimana masyarakat dapat menikmati gaya arsitektur bangunan-bangunan dan bagaimana masyarakat tetap dapat berekreasi mendapatkan hiburan sekalipun berada di lokasi perkantoran ataupun pendidikan. becak (dayung dan bermotor) sekitar 18. jumlah armada angkutan umum (angum) yang beroperasi sudah sekitar 7. dan fasilitas hiburan/rekreasi lainnya. Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk mengontrol. seperti: becak (dayung dan bermotor). pusat pendidikan tinggi swasta dan pusat automobile dalam masing-masing wilayah yang terkonsentrasi merupakan masalah mendasar bagi Kota Medan.272 unit) dengan 248 trayek. 3. Juga izin dikeluarkan selalu berdasarkan jumlah plafon maksimal tanpa memperhitungkan demand penumpang dan evaluasi hasil operasi di lapangan yang seharusnya mempertimbangkan jumlah plafon minimal armada trayek. Izin operasional diberikan untuk kenderaan dan bukan untuk trayek. Medan juga mempunyai masalah mendasar lainnya yang juga menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Kelemahan 56 . Namun bila realokasi kelima pusat kegiatan tersebut di atas dilaksanakan maka secara alamiah investor juga akan mulai menanamkan modalnya untuk pengembangan kawasan-kawasan tersebut sehingga dapat meratakan pembangunan dan meningkatkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya di wilayah inti kota saja seperti yang terjadi pada saat ini. menjadikan kebutuhan akan spareparts. SOLUSI PERCEPATAN PEMBERDAYAAN SISTEM ANGKUTAN UMUM DI KOTA MEDAN 3. yakni masalah angkutan umum (angum). pemilik-pemilik angkot pada umumnya adalah perorangan sehingga terdapat begitu banyak stakeholders angum di Kota Medan. seperti pengembangan kawasan eks Bandara Polonia dan kawasan outer ring-road Kota Medan tidak akan maksimal tercapai tujuannya dan kemacetan lalu lintas terutama di inti kota sebaliknya akan semakin parah. Jadi setiap pemilik angkutan mengurus izin trayek untuk kenderaannya dan hal ini sering sekali dijadikan sebagai “uang masuk” bagi oknum pemerintah terkait baik itu untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan dinasnya. maka dalam tempo 10–15 tahun mendatang. Kondisi ini mengakibatkan perusahaan (dealer) kenderaan angum yang mungkin saja bekerjasama dengan oknum pemerintah dari dinas terkait dapat mengambil keuntungan dari penjualan kenderaan angum serta pengurusan izin trayek sehingga modal dasar operator menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan tingginya setoran yang diwajibkan operator terhadap pengemudi angum ditambah dengan Biaya Operasional Kenderaan (BOK) dan biaya-biaya informal rutin. juga akan lebih menguntungkan pengusaha automobile tersebut karena terkonsentrasi dalam satu wilayah. Selanjutnya juga akan berkembang di kawasan ini fasilitas perumahan bagi pengusaha maupun pegawai. 4 Oktober 2006 sepeda motor dengan berbagai jenis merek dengan kelebihan dan kekurangan dari masingmasing merk mobil tersebut. taksi. ditambah lagi dengan bertambahnya angkutan becak mesin baru (jenis honda win) dan angkutan kancil. Data dari Dinas Perhubungan Kota Medan didapat bahwa sampai tahun 2003. resto.800 unit. Selama tahun 2004-2005 jumlah armada angkutan umum penumpang yang beroperasi jelas semakin meningkat. Jadi untuk Kota Medan realokasi pusat pemerintahan. Dan yang saat ini nyata terjadi bahwa semakin bertambahnya mall atau plaza-plaza yang menjadi sepi pengunjung dan tidak menguntungkan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.1 Hambatan dalam Pembenahan Sistem Angkutan Umum di Kota Medan Di Kota Medan. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pelayanan angum tersebut apalagi menjaga mutu pelayanannya. Apakah dengan adanya realokasi kelima pusat-pusat kegiatan tersebut akan menjamin solusi bagi kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya masalah sistem angum di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan? Hal ini selanjutnya akan dibahas pada sesi berikut ini. showrooms dan perbengkelan yang signifikan bagi masyarakat Kota Medan. Selain masalah keberadaan tata ruang. No. Untuk kondisi Kota Medan. pusat industri. Bila hal ini tidak dilakukan pada tahap awal maka rencana pembangunan kota-kota satelit atau kota-kota mandiri lainnya.

Teknik/metode perubahan sistem angum yang bagaimana yang dilakukan oleh Bogota? Sesi berikut akan membahas teknik/metode yang sebaiknya diadopsi oleh Kota Medan yang disesuaikan dengan kondisi serta permasalahan angum di Kota Medan sendiri yang dapat dijadikan alternatif solusi untuk percepatan pemberdayaan dan revitalisasi sistem angum perkotaan untuk mendukung sistem transportasi Kota Medan di masa mendatang. Quito (Equador). Koperasi Angkutan Umum (KPUM. Goiania (Brazil) dan Santiago (Chile). Sp. tidak melakukan pembenahan baik terhadap internal maupun eksternal komponen tersebut sejak dini.2 Contoh Kasus Revitalisasi Pelayanan Angkutan Umum di Bogota Satu kasus menarik terjadi di Bogota (ibukota negara Kolumbia) yang dapat dijadikan pelajaran dan teladan bagi masyarakat Kota Medan dalam merevitalisasi sistem angumnya. seperti Pemko (Dinas Perhubungan/DLLAJ. Sp. becak mesin. hijau bisa berhenti bila perlu). Morina. Bogota mempunyai sistem angum. dsb). Bila masyarakat sekarang ini sulit untuk mempercayai Pemda/Pemko. biaya pengurusan STNK dan biaya pemeliharaan kenderaan. Jasa Raharja dan juga para perusahaan (dealer) kendaraan serta para Preman Setempat (PS) di lapangan. Halat. tidak sesuai dengan kemauan pengguna ataupun belum ada batasan mutu minimal pelayanan yang diterapkan. Setiap kali armada articulated bus Transmileneo ditambah maka jumlah armada angum yang lama berkurang ataupun dijadikan sebagai pendukung pada sistem feeder service (angkutan pengumpan) pada koridor-koridor pelayanan BRT Transmilenio tersebut. namun tidak memperhitungkan modal dasar operator yang tinggi serta BOK seperti harga BBM. taxi. maka dibentuklah suatu badan/lembaga yang anggotanya dipercaya oleh baik masyarakat umum maupun Pemko Medan yang dapat menjembatani kedua belah pihak untuk duduk bersama mendiskusikan segala sesuatu perubahan dalam sistem angum perkotaan. kancil) yang mengakibatkan persaingan antar eksternal dan internal koperasi angum yang tidak sehat dan mengakibatkan mutu pelayanan angum sangat rendah. Setoran yang tinggi ditambah dengan pungutan informal (iuran di terminal asal dan tujuan serta iuran rutin per hari).) untuk menunggu penumpang (ngetem). sistem izin trayek. besarnya modal dasar kenderaan. Polisi Lalu lintas (Satlantas). 3. Bappeda). seperti: berhenti di sembarang tempat di badan jalan. Adakah sistem lain yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memperbaiki sistem angkutan umum perkotaan di Kota Medan saat ini? Apakah para decision makers Kota Medan masih terkesan apatis dalam membenahi Kota Medan? Bagaimana dengan krisis kepercayaan masyarakat yang semakin menurun terhadap para decision makers kota? Bila para komponen yang terlibat dalam angum. Kasat mata memang terlihat bahwa pengoperasian angum dengan berbagai jenis tipe dan ukuran tidak disiplin dalam berlalu lintas di jalan. Sumber. kondisi internal/eksternal komponen terkait serta kondisi pelayanan angum yang persis sama dengan kondisi sistem angum di Indonesia khususnya dengan Kota Medan seperti yang telah diuraikan di atas yakni kesamaan dalam sistem kejar setoran. persaingan antar tipe angum (angkot. Sp. Sp. setiap komponen terkait dan jajarannya sepakat mengubah pola pikir dengan paradigma yang lama secara bertahap sehingga pada Desember 2000 Bogota memulai dengan satu sistem angum BRT yang disebut Transmilenio. sistem tarif dan sistem institusional angumnya. Rahayu. Bangun daripada sistem setoran ini adalah baik pemilik maupun pengemudi tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kualitas pelayanan dan setiap pemilik kendaraan mengawasi dengan caranya sendiri. Sp. Limun. Penerapan sistim angum seperti yang dilakukan Bogota kemudian dilakukan oleh developing countries yang lain dengan sukses seperti di Curitiba. jumlah armada angum yang besar dengan jumlah trayek yang begitu banyak (rute yang tumpang tindih yang tidak sebanding dengan demand penumpang). Operator serta pengemudi angum yang lama tetap dilibatkan dalam pengembangan BRT tersebut menurut kebijakan yang ditetapkan. maka permasalahan ini akan semakin kompleks yang tentu saja akan berakibat pada kerugian-kerugian sosial yang semakin parah sehingga pada satu waktu akan berakhir dengan grid lock (lumpuh total).3 Rekomendasi Metode Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Kota Medan Satu alternatif solusi untuk pemberdayaan angum perkotaan di Kota Medan secara maksimal adalah dengan mengadakan manajemen satu payung bagi angum perkotaan. Sampai saat ini belum ada subsidi dalam bentuk apapun dari Pemda/Pemnas untuk angkutan umum. 57 . sering melanggar aturan lampu persimpangan (merah bisa jalan. Kampus USU. dsb. Namun sejak 1998. Sao Paulo. khususnya untuk mengantisipasi rencana pembangunan monorel di Kota Medan.A. tidak ada subsidi dari pemerintah. Masalah angum perkotaan lainnya yang turut menambah ruwetnya masalah angum di Kota Medan yakni keberadaan pool-pool angkutan antar kota di sisi jalan-jalan utama (arteri primer) yang masih masuk wilayah Kota Medan yang mengambil alih peranan angum perkotaan serta masalah manajemen terminal yang belum tertata serta munculnya terminal bayangan di jalan-jalan utama (seperti di: Sp. 3. Pemerintah memberlakukan tarif tetap untuk angum yang disesuaikan dengan willingness atau daya beli masyarakat. menyalip (overtaking) kenderaan lain tanpa mempertimbangkan lalu lintas sekitarnya dengan alasan kejar setoran. Perum Damri. Organisasi Masyarakat/LSM. bagaikan raja jalanan. Amplas. Aksara.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Bila ada investor kecil yang hanya mampu memiliki beberapa kenderaan saja ingin menanamkan modalnya pada rute-rute tersebut. maka tarif angum tersebut hendaknya juga mahal. jika memang tarif hasil perhitungan modal pengadaan kenderaan. Selain itu pengemudi angum juga akan menanggung denda/sanksi tilang bila melanggar peraturan lalu lintas (Iwan Margono.). Izin bentuk dan tipe angkutan ditentukan oleh pemerintah. No. Misalnya dalam bentuk pengurangan subsidi ataupun denda. Jadi bagi setiap perusahaan pemenang tender haruslah menyediakan tipe angkutan yang sesuai. termasuk sistem target PAD dari instansi-instansi/dinas-dinas terkait maupun dari retribusi-retribusi (retribusi terminal. Selain subsidi dari Pemda. 3. Subsidi ini dapat berasal dari profit yang diberikan oleh pengusaha yang memiliki rute gemuk penumpang (subsidi silang) ataupun dari sumber daya Pemda sendiri.3.1. Pos-pos pemasukan bagi Pemda sehubungan dengan angum jangan lagi ditargetkan dalam konteks untuk menggemukkan APBD. sekalipun tetap di bawah pengawasan BOAU Kota Medan.3. 58 . Sistem ini memberikan kesempatan pada kekuatan pasar untuk mempengaruhi kualitas pelayanan dan harga tiket/tarif angum.3.4 Sistem Tarif Sistem tarif angum jangan lagi dibatasi. Pengadaan sanksi/hukuman bagi pelanggar kontrak dalam bentuk sanksi uang dan bukan pencabutan izin trayek.1 Sistem Perizinan: Izin trayek diberikan pada satu perusahaan dan bukan kepada perorangan untuk mengoperasikan satu trayek secara keseluruhan melalui tender. Pengusahaan angum oleh pemenang tender mempunyai jangka waktu tertentu dan dievaluasi pelaksanaannya sebagai pedoman dalam penentuan pemenang tender periode berikutnya. BOK serta biaya pencapaian mutu minimal 1pelayanan angum dan profit-nya tinggi/mahal. Untuk rute gemuk penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang dapat memberi keuntungan terbesar kepada BOAU.3. pengusaha yakin akan mendapatkan 95% occupancy. dan untuk trayek B dengan tipe bus kecil dengan kapasitas penumpang 14 seats. Untuk rute kurus penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang meminta subsidi yang paling minimum dari Pemda. namun penanggung jawab operasional tetaplah perusahaan pemenang tender. 2005). maka pengusaha dapat menentukan 5% profit diberikan ke BOAU dan 10% profit merupakan hak pengusaha. 3. 3. aman dan nyaman.3.3 Sistem Retribusi Hapuskan istilah pagar makan tanaman bagi pihak Pemda (Heru Sutomo. b. Misalnya untuk trayek A jenis angkutan adalah tipe bus sedang dengan kapasitas maksimal 40 seats. Sanksi uang ini dapat dijadikan sebagai masukan sumber subsidi BOAU sendiri bagi rute-rute kurus penumpang ataupun untuk pembenahan sistem. cepat. 4 Oktober 2006 misalnya seperti Dewan Transportasi Kota Medan atau Badan Koordinasi Transportasi Kota Medan atau Badan Otorita Angkutan Umum/BOAU Kota Medan (Heru Sutomo. Jadi retribusi-retribusi tersebut hanya sekedar alat pengaturan dan bukan untuk cari uang. terpercaya.5 Sistem Internal dan Eksternal Institusional Sistem konvensional dan kediktatoran dari Pemda harus diubah menjadi lebih liberal: Memberi keleluasaan pada pengusaha pemenang tender trayek untuk menanggapi kebutuhan. kompensasi pemasukan pendapatan dari pemasangan iklan pada kenderaan angum serta pengadaan usahausaha toko-toko/cafe di terminal.2 Sistem Gaji bagi Supir Angum Apa keuntungan sistem gaji dibandingkan sistem setoran dalam sistem angum? Adanya kepastian pendapatan bagi pengemudi angum akan mengurangi ketidakdisiplinan pengemudi angum di jalanan sehingga umur kendaraan juga akan lebih lama. Contoh-contoh developing ataupun developed countries yang mempunyai sistem transportasi yang murah. STNK. dsb. memiliki tanggung jawab subsidi dan keterlibatan yang tinggi dari masing-masing Pemda maupun pemerintah nasionalnya. 2005). Namun bila daya beli masyarakat masih rendah maka Pemda harus subsidi. Prinsip tender per trayek tersebut adalah sebagai berikut: a. dapat menghubungi pemenang tender untuk bekerjasama. 2004). subsidi dapat juga berasal dari sistem tender yang ditetapkan pada pasal 2. misalnya dalam penambahan /pengurangan jumlah armada. Schedule kedatangan/keberangkatan angum juga dapat diatur sehingga dengan jadwal yang pasti para penumpang tidak akan memaksakan diri untuk berjejalan di satu kendaraan (overcrowded) karena kendaraan berikut sudah dijadwalkan.3. 3. Profit/pendapatan ini dapat digunakan BOAU untuk mengembangkan sistem ataupun sebagai subsidi terhadap pengusaha untuk rute kurus penumpang. Perubahan-perubahan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam sistem angum di Kota Medan? 3. Misalnya bila pada umumnya occupancy kenderaan untuk trayek A adalah 80% namun bila dengan adanya pembenahan dalam sistem.

Sementara sistem pengutipan angkos dan tiket serta sistem pengawasan atas implementasi seluruh sistem yang baru tersebut diserahkan kepada suatu badan yang dipercaya oleh pemerintah maupun masyarakat yang tetap dievaluasi kinerjanya secara teratur dan mempunyai durasi kontrak yang tertentu pula (Hidalgo & Senoval. Transmilenio beroperasi setelah perbaikan-perbaikan bertahap sukses dilaksanakan dalam sistem angumnya yang kondisi sistem angumnya persis sama dengan Kota Medan ataupun kota-kota di Indonesia pada umumnya. Sudah saatnya sistem angum di Indonesia ataupun khususnya di Kota Medan menjadi perintis untuk mengubah sistem angum yang overprivatised.3. BOAU Kota Medan bersama dengan seluruh instansi terkait serta elemen-elemen dalam masyarakat dalam suatu rapat khusus menetapkan urut-urutan prioritas langkah yang akan dilakukan. pelaksaaan dan pengawasan yang lebih transparan karena melibatkan uang rakyat. 2005): 59 . ditentukan urutan prioritasnya. Operator yang masih perorangan. Bus-bus baru tersebut digunakan sebagai bus pengumpan (feeder) untuk mengangkut penumpang dari daerah-daerah sekitar dan yang jauh yang akan menggunakan system Transmilenio. sehingga pada 18 Desember 2000. Bogota mulai membicarakan revitalisasi sistem angumnya di tahun 1998. 3. pihak swasta yang masih belum tertarik.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Adapun keseluruhan daripada pembahasan di atas dituangkan dalam gambar 1 berikut ini mengenai Bagan Manajemen Satu Payung bagi sistem angum di Kota Medan (Heru Sutomo.3. 3. Pengadaan 470 unit articulated bus untuk Transmilenio diserahkan kepada 4 perusahaan swasta yang melibatkan 96% operator angum lama/tradisional. Sejak rencana awal program BRT Transmilenio. Berikut ini dipaparkan secara garis besarnya apa yang dilakukan oleh Bogota sehingga implementasi BRT Transmilenio sukses dan menguntungkan yang dapat dijadikan pelajaran bagi Kota Medan dalam rencana implementasi monorel di Kota Medan.7 Darimana Harus Dimulai? Penentuan prioritas tindakan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan sumber daya bagi Pemda guna penerapan peraturan secara konsisten yang mengakibatkan pelaksanaan peraturan dapat “dinegosiasi” di lapangan.6 Darimana Pemasukan bagi Pemda untuk Subsidi Angum? Karena subsidi angum tidak umum dari APBD maka kembali rakyat diminta kesadarannya untuk membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. Bila ada subsidi BBM mengapa tidak diciptakan subsidi angum? Sudah saatnya Pemda maupun Pemerintah Nasional terlibat penuh dalam pengembangan angum seperti yang dilakukan oleh negara-negara sedang berkembang maupun negara-negara maju lainnya. Pengalaman mereka sebagai operator dari sistem angum tradisional yang dijadikan sebagai bagian daripada sistem BRT yang baru bernilai sebagai aspek kunci dari kesuksesan sistem BRT dan mencegah adanya protes serta kemungkinan aksi demonstrasi atas pelayanan sistem BRT tersebut. dan lebih melibatkan pemerintah dalam pengelolaan/ operasional maupun pengawasannya. pemenang tender adalah yang dapat memberikan kontribusi terbesar kepada Pemda) karena diharapkan pengelolaan. pemerintah telah melibatkan pengusaha angum tradisional dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Ini juga membutuhkan kesadaran yang tinggi terhadap petugas dan pejabat terkait dari instansi perpajakan. lalu dijadikan sebagai pilot project (sebagai contoh/pedoman langkah berikutnya). pengaturan sistem bus pengumpan (feeder service sebagai sistem pendukung yang tidak masuk ke main line) dan seterusnya satu persatu dibahas.A. dilaksanakan dan dievaluasi. 2001). Setiap kali terjadi penambahan bus Transmilenio baru maka beberapa angum lama harus dieliminasi dari sistem. Demikian juga kontrak pengadaan sistem feeder service dan renovasi bus yang lama diserahkan kepada operator angum tradisional melalui tender dengan sistem subsidi silang. lalu mengadakan perubahan-perubahan demi terlaksananya program BRT Transmilenio. Bangun Bila BP (Badan Pengelola) atau UPT/UPTD dari Dishub tidak lagi sesuai dalam pelaksanaan ataupun pengawasan pelaksanaan operasional sistem angum maupun penerapan peraturan secara konsisten ini maka dapat menunjuk suatu BUMN atau Perusahaan Daerah untuk melakukannya sesuai dengan proses tender (dengan prinsip. karena pada umumnya masyarakat kelas bawah juga yang lebih terkena dampak negatifnya bila masyarakat tidak membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur.

dan Alkhairi. and Bangun. dan Alkhairi. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. and Bangun. p. 2006. Penerbit Beta Offset. F. F. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. ----------.. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan. ----------.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Januari 2006. Powerpoint Transparansi.. M. 19 November 2004. 6. Vol. 60 . Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. Napitupulu. A Case Study of Istambul.. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. 2005. Suatu Opini. Jakarta. P. Sorensen. 21 Maret 2005. 2005. Portland State University.. ----------. F. Menteri Perhubungan RI. Suatu Opini. pp 9 – 32. p. April 2006. University of Tokyo. P. p. 31 Januari 2005. R. Sanda-shi.L. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan.. Dinas Perhubungan Kota Medan. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? Suatu Opini. Harian Waspada: Medan.. Leal. Direktorat Jenderal Bina Marga. Bangun. R. No.. Suatu Opini. Napitupulu. Munawar. dan Napitupulu.. 1. R. No. F. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. p. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. 2006. 4. Bangun. Harian Analisis: Medan. 18.. F. 103 – 108. Suatu Opini. Sutomo.. Hyogo-ken. Napitupulu.2005. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 2. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah.km Pembayaran menagih Biaya operasi: kend-km x Rp/km Rute 2 Pendapatan Operasi Rute ke . R. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 1. F. Departemen Pekerjaan Umum RI. 2001. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. International Planning Studies. 1993. Portland. Bandung. Ghana. 13. A Case Study of Accra Metropolitan Area. and Bangun. Medan. Powerpoint Transparansi. A. Usulan Manajemen Satu Payung bagi Sistem Angkutan Umum Kota Medan 4. Japan 669 . 1992. P. 4 Oktober 2006 Penerimaan Non Operasi Pengeluaran Operasi MANAJEMEN Jika defisit: Penerimaan subsidi Pendapatan Operasi Pendapatan Operasi Jika surplus: Untuk pengembangan sistem Produksi: Rute 1 kend . Turki. Medan. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan.T.. dan Bertini. 13. F. Satellite Cities.. Jogjakarta. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Napitupulu.. 15 January 2005.. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65 Tahun 1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? Suatu Opini. Vol. 2003.. 13 November 2004. No. Februari 2006.. R. F. Harian Waspada: Medan. Hasamagaola 3-25-3. R. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. The Urban Satellite Field Concept. 13.. pp.. 3. 4. dan Alkhairi. p. p. Jakarta. A. 2004. Bangun.1545. Department of Urban Engineering. DAFTAR PUSTAKA Bangun. H. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. Jogjakarta.. 13. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism.. Suatu Opini. p. and Bangun. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. 1.n Gambar 1. Medan.

jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 telah mencapai kisaran 220 juta dengan pertumbuhan 1. pertumbuhan industri pengolahan non migas dan lain-lain meningkat masing-masing 3. namun ada juga kegiatan yang hanya akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama/gerakan bersama (collective action).86%) di perkotaan. Selanjutnya.PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA Staf Pengajar Kopertis Wilayah I/Ketua Tim Teknis Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara Abstrak: Pembangunan kawasan agropolitan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. Kaidah permintaan turunan (derived demand). pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5.6 juta jiwa atau 28. dan secara umum pertumbuhan industri kecil meningkat ratarata 3. jumlah ekspor meningkat dari 5.8 juta (68.2%. khususnya di era perdagangan bebas yang merupakan tindak lanjut persetujuan sistem perdagangan bebas seperti Asean Free Trade Area (AFTA) dan Global Agreement Trade and Tariff (GATT).6%. Kaidah skala ekonomi (economic of scale) yakni suatu kegiatan ekonomi memerlukan skala usaha (business size) tertentu yang optimal untuk mencapai efisiensi ekonomi. menjadi “komoditas” politik/demokrasi dan nasibnya tetap sebagai petani gurem. Menurut Sembiring dan Sitepu (2006).5% per tahun. dan kaidah distribusi pendapatan (income distribution). 678 jiwa. Keadaan tersebut diperkirakan saat ini meningkat tajam menjadi 63. Agroindustri PENDAHULUAN Sumatera Utara terletak pada 1-4° LU dan 98100 ° BT dengan luas 71. progrowth. 7 kota.6% menjadi 8. Pemerintah menegaskan kebijakan dasar yakni Triple-Track-Strategy = “pro-poor. selalu dalam posisi disempowered tidak memiliki aksesibilitas.8%.1% dari rakyat Indonesia.466 desa/kelurahan dengan jumlah penduduk tahun 2005 sebesar 12.4 juta jiwa atau 18. pemerintah. 8.14%) adalah petani di pedesaan 11. Kaidah ekonomi aksi (economic of action). Kata kunci: Agropolitan. dan mereka tidak mampu mempresentasikan diri.5% menjadi 7. aktivis. ilmuwan. Sejumlah kegiatan dapat efektif bila dilakukan secara individu (individual action). sehingga produksi usaha tani mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah telah menetapkan beberapa tolak ukur keberhasilan antara lain bahwa dalam periode akhir tahun 2004 hingga 2009 jumlah penduduk miskin akan berkurang dari 16. bahwa untuk mengefisiensikan aliran barang/jasa dalam ruang dan waktu. Pembangunan agropolitan memberi solusi ideal untuk mengatasi ketimpangan antara desa dan kota sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara.7%. dan 6. pro-job.680 km2. Sumatera Utara memiliki 18 kabupaten. investasi masyarakat meningkat dari 16.1%.5%. Petani menghasikan produk yang memiliki nilai tukar sangat rendah sehingga daya beli masyarakat di pedesaan sangat Iemah.9% jumlah penduduk. jumlah pengangguran terbuka berkurang dari 9.6%. Hingga saat ini tingkat pertambahan penduduk masih tinggi. Secara umum yang melatarbelakangi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani melalui pengembangan kawasan agropolitan dan agroindustri antara lain: persentasi penduduk miskin rawan dan sangat rawan pangan hingga pada tahun 2002 masih mencapai 36.0% menjadi 24.5% menjadi 8. Desa-Kota. Hal ini didasari bukan hanya karena terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan akan tetapi karena tingginya potensi di kawasan pedesaan untuk dimanfaatkan sebagai alat mendorong pembangunan.5% menjadi 5. terdiri dari 24. dan 5. Bilter Sirait 61 . 326 kecamatan. kegiatan ekonomi yang mempunyai index material (rasio fisik bahan baku dengan produk akhir) harus lebih besar dari satu. Dalam era globalisasi tersebut usaha tani harus mampu menghasilkan komoditas yang lebih murah namun bermutu tinggi.4 juta (3 1. Pembangunan ke arah modernisasi pertanian akan semakin penting artinya.25% per tahun sehingga secara nasional kebutuhan terhadap hasil komoditas pertanian masih terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. 326. Komoditas Unggulan. pengembangan agropolitan didasari atas beberapa kaidah ekonomi: kaidah ekonomi lokasi (economic of location). petani masih dijadikan sebagai “bahan presentasi” obyek politisi. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam konteks pengembangan mengingat kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal dan komoditas unggulan serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani karena mengimplementasikan pembangunan secara holistik dalam kegiatan on farm dan off farm. perlu diupayakan agar industri yang berkembang di agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya.4%.

Pada tahun yang sama. merupakan alternatif pembangunan perdesaan melalui urban-rural linkages untuk mencegah terjadinya urban bias (http://www. Perpindahan ini pun memberikan dampak di berbagai kota yaitu mengalami urbanisasi berlebihan (overurbanization). yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecenderungan aliran bersih (transfer netto) sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besarbesaran dengan disertai derasnya proses (speed up processes) migrasi penduduk secara berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. pengangkutan dan lain-lain. No. Karena itu pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanianpedesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. 4 Oktober 2006 PENGERTIAN AGROPOLITAN Agropolitan terdiri dari dua kata yaitu Agro = pertanian. sehingga pendekatan pembangunan selama ini yang banyak mengakibatkan urban bias harus menjadi perhatian semua pihak.nakertrans. Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta. Secara lebih mikro. Dan kota-kota yang berkembang adalah kota rural-urban (rurban) di mana karakteristik rural (pedesaan) dan karakteristik (perkotaan) terintegrasi secara harmonis. berkelanjutan dan terdesentralisasi.5% (tahun 1995) menjadi 40. kemudian di agropolitan dikembangkan industri pengalengan nenas. PENGEMBANGAN AGROPOLITAN Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis. Pengembangan sektor industri dan jasa di perkotaan dimaksudkan untuk memfasilitasi atau mendukung pembangunan pertanian-pedesaan. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Data Survei Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37. Tetapi setiap daerah harus mempunyai komoditi unggulan atau karakter tersendiri. berbasis kerakyatan. Pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan fakta tersebut.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. tingginya urbanisasi ditunjukkan dengan terjadinya konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan.5% (tahun 1998). Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah terjadinya migrasi penduduk perdesaan ke perkotaan akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian. pengembangan agropolitan pada dasarnya bukanlah program/proyek yang benar-benar baru. dukungan pemasaran dan informasi. industri pembuatan kaleng. hanyalah untuk memperkuat atau memfasilitasi efek sinergis dalam ruang dan fungsi. Dari sisi peta kemiskinan kondisi tersebut di atas telah menimbulkan kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan dan menghasilkan kemiskinan di perdesaan. politan = kota. juga akan semakin menurunkan produktivitas pertanian.go. melainkan lebih menekankan pada upaya-upaya mensinergikan dan mengintegrasikan program/ proyek yang telah ada selama ini. Pembangunan suatu daerah jangan meniru (blue print) dari daerah lain yang sudah berhasil. Salah satu penyebab dibutuhkannya kawasan agropolitan ini adalah tingginya arus urbanisasi. Yang perlu diupayakan ialah bagaimana agar industri yang berkembang di Agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya. adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani. Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) Sumatera Utara telah dimulai pelaksanaannya pada awal tahun 2004 sedang penyusunan master plan dilakukan pada tahun 2003 setelah penanda tanganan Nota 62 . mendorong.277. sementara pemerintah pusat/propinsi memberi dukungan melalui pelatihan bagi petani nanas. Sumatera Utara misalnya pada tahun 2003 telah mengeluarkan komoditas-komoditas unggulan pada suatu kawasan agropolitan dengan komoditas unggulan tertentu pula. Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1. Proses urbanisasi yang tidak terkendali.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Dengan kata lain yang dikembangkan di perkotaan adalah fungsi-fungsi dari sistem agribisnis mulai dari hulu sampai ke hilir. Tercatat. Setiap kawasan tentunya dikembangkan dengan spesifikasinya sendiri (1 Agropolitan dengan 1 komoditi unggulan). Apabila proses urbanisasi yang tidak terkendali semakin mendesak produktivitas pertanian dibiarkan akan mengancam ketahanan pangan nasional. yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Sebagai contoh suatu kawasan yang lahannya sesuai untuk komoditas nanas. dilain pihak desapun kehilangan tenaga-tenaga produktif yang seharusnya sebagai bagian dari mata rantai roda kehidupan dan roda ekonomi perdesaan. pengembangan kawasan agropolitan ini akan mengintegrasikan program/proyek-proyek multisektor yang telah berjalan selama ini sehingga efek sinergisnya makin kuat dan manfaat yang dihasilkannya makin besar dan beragam. menarik. Kalaupun ada program/proyek baru.id) Dalam kaitannya dengan pembangunan daerah. Karena itu.

Berdasarkan prinsip ekonomi tersebut. Serta perlu dikembangkan jasa keuangan (perbankan) dan asuransi. transportasi. Dengan demikian. Inilah yang disebut dengan “kota pertanian” (agropolitan). penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital 63 . Sedangkan teori skala ekonomi akan membimbing berapa besar skala usaha down-stream dan up-stream yang harus dikembangkan. serta desa dan kecamatan yang berbatasan sebagai pendukung. dan down-stream dikembangkan. (3) Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yakni pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya. sehingga koordinasi kegiatan pengembangan dari masing-masing dinas terkait dapat lebih terfokus dan saling mendukung. diperkenalkan apa yang disebut dengan program kawasan agropolitan. up-stream. Untuk ”membumikan” pembangunan sistem agribisnis tersebut di setiap daerah. Berdasarkan teori ekonomi lokal. Paradigma pembangunan yang bias kota akan mendorong terjadinya proses pemerasan surplus pedesaan pertanian. sesuai dengan potensi agribisnis di daerah yang bersangkutan. Sedangkan bila indeks material kurang dari satu (seperti up-stream agribusiness) harus dikembangkan dekat dengan sentra konsumsinya yakni para petani di kawasan pedesaan. demokrasi) pada tahun 2000. Sistem agribisnis yang dimaksud mencakup 4 subsistem (1) Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni usaha industri pupuk. Sub-sistem jasa penunjang akan mengikuti di mana lokasi on-farm. benih. jaringan listrik. Fasilitator yang digunakan sebaiknya memanfaatkan sumber daya yang ada di kawasan agropolitan. pengembangan kawasan agropolitan merupakan implementasi spasial (ruang) dari pembangunan sistem agribisnis. kebijakan pemerintah. Pelatihan kultur teknis budidaya pertanian 2. 2006). on-farm agribisnis. sehingga diharapkan dalam waktu dekat dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Umum Tataruang (RUTR) dan ditetapkan dengan PERDA. didasarkan pada teori ekonomi yakni teori ekonomi lokasi (economic of location) dan teori skala ekonomi (economics of scale). desentralisasi. kegiatan ekonomi yang memiliki indeks material (rasio fisik antara bahan baku dengan produk akhir) lebih besar dari satu. penyuluhan. Mengingat bahwa dalam FGD tersebut terungkap bahwa saat ini rencana pengembangan kawasan baru berupa master plan. dengan terlebih dahulu mengikuti studi banding ke kawasan yang memiliki karakteristik sumber daya alam yang sama. telekomunikasi dan informasi dan air bersih). (2) Subsistem usaha tani (on-farm agribusiness). Beberapa infrastruktur yang dalam waktu dekat diperlukan untuk Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) dalah: • Infrastruktur jalan usaha tani • Infrastruktur jalan usaha tani di desa sekitar pusat pertumbuhan • Infrastruktur jalan poros desa di desa pusat pertumbuhan • Infrastruktur pasar desa di desa sekitar • Infrastruktur pusat data dan informasi • Infrastruktur saluran irigasi • Pembangunan gudang penampungan dan penyimpanan produk pertanian. Pelatihan manajemen pemasaran 4. dengan diketahui/didukung Gubernur Sumatera Utara dan Menteri Pertanian RI. Berbagai bentuk pemerasan tersebut antara lain. dan Dairi) pada 28 September 2002. Karena itu industri pengolahan hasil pertanian (down-stream) harus dikembangkan di sentra produksi pertanian. Pendidikan dan pelatihan yang diperlukan adalah: 1. pestisida. Perlu dikembangkan infrastruktur prasarana dan sarana serta kelembagaan lainnya yang menunjang agropolitan (sarana transportasi jalan dan jembatan. Departemen Pertanian mengembangkan paradigma baru pembangun ekonomi berbasis pertanian. Teori ekonomi lokal membimbing di mana industri up-stream dan downstream agribisnis harus dikembangkan agar pergerakan barang dan jasa dalam ruang efesien.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait Kesepakatan 5 Bupati yang berada di kawasan Dataran Tinggi Bukit Barisan (Karo. kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. Karena itu kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. infrastruktur. berkelanjutan dan dilaksanakan secara desentralisasi”. Pengembangan kawasan agropolitan sebagai implementasi spasial dan sistem agribisnis. Juga perlu dikembangkan industri pengolahan dan industri turunananya/ikutan. Sistem pendidikan dan pelatihan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memperhatikan aspek kemampuan dan budaya masyarakat. down-stream agribisnis dan services for agribusiness. Pelatihan manajemen keuangan ALASAN PEMBANGUNAN AGROPOLITAN Konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pedesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal (Setia Hadi. maka dalam suatu kawasan akan dikembangkan kegiatan agribisnis mulai dari up-stream agribisnis. dan (4) Subsistem jasa penunjang (services for agribusiness) seperti penelitian. perkreditan. Untuk meng-adress isu aktual pengembangan ekonomi 3D (daya saing. Pengembangan ini diarahkan pada di desa pusat pertumbuhan di Kecamatan Nagari Lambah. alat dan mesin pertanian. berkerakyatan. Pelatihan pengolahan produk pertanian 3. Paradigma baru yang dimaksud adalah: ”Membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Simalungun. Toba Samosir. Tapanuli Utara.

STRATEGI PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN UNTUK MENDUKUNG AGROINDUSTRI Durian di Kabupaten Pakpak Barat misalnya dapat dikatakan banyak dihasilkan oleh masyarakat dan relatif sudah intens budidayanya sehingga sekaligus telah mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sesuai Marginal. dan dalam pengembangan kota-kota dan pedesaan sehingga kawasan agropolitan mampu bersaing dalam perdagangan internasional termasuk produksi dan hasil-hasil agribisnis dan agroindustri. produksi. Penilaian untuk masing-masing komoditas untuk tiap sub sektor adalah berdasarkan data sekunder tentang perkembangan komoditas yang bersangkutan di setiap kecamatan target pengkajian. business planing agropolitan di KADTBB. Bagi komoditas terpilih-durian. luas panen atau populasi. IRR (Internal Rate of Return) bagi tanaman tahunan. keragaan usaha tani dinilai Benefit Cost Ratio atau B/C rasio untuk tanaman semusim. faktor risiko. durian yang merupakan komoditas unggulan dari Kabupaten Pakpak Barat yang memiliki luas daerah 1 218. Pada analisis derajat keunggulan komoditas. KK dihitung sebagai berikut: KK = (Std/Ya) x 100 % KK = Koefisien keragaman masing-masing indikator prioritas Std = Standar deviasi masing-masing indikator prioritas Ya = Rata-rata aktual masing-masing indikator prioritas Tahap berikutnya untuk penentuan selang interval (Δ) adalah: ΔI = (Xmax – Xmin) / JI ΔI = selang interval JI = jumlah interval (berkisar 3-5 bila kurang dari 30 populasi-kecamatan) 64 .30 km2 secara de facto sudah memasyarakat. pemasaran. kesesuaian lahan. retensi hara (nr). Untuk analisis ekonomi komoditas sumber utama pendapatan. B/C rasio adalah proporsi tingkat keuntungan dengan total biaya. Kota-kota pertanian yang dibangun mempunyai jenjang (hierarki) sesuai dengan fungsinya. Metode analisis skoring pemilihan. No. Sedang jenjang ke-3 yang juga mungkin diperlukan adalah pusat seluruh kawasan yang berfungsi mendukung seluruh pusat-pusat distrik dan menyediakan hal-hal yang tidak tersedia di pusat distrik. selanjutnya dilakukan pembobotan dan scoring terhadap indikator keunggulan. tiap indikator keunggulan dianalisis dengan metode statistik non parametrik yang menghitung r (rata-rata pertumbuhan per tahun) dan KK (koefisien keragaman). hanya pengelolaannya barang kali perlu lebih intens sebab masih terbuka kemungkinan penggunaan teknologi baik di on farm maupun off farm. Pembangunan agropolitan memiliki hubungan yang saling menguntungkan dan menciptakan sinergis dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri komoditi unggulan. Perbandingan antar komoditas diurut. dan penyiapan lahan (lp). Paling sedikit ada 2 jenjang yaitu (i) kota pusat lokalita atau kawasan usaha tani yang langsung dilayani dan (ii) kota pusat distrik yaitu kota yang melayani beberapa kota pusat lokalita atau yang melayani semua kawasan secara langsung. ketersediaan bibit. produktivitas tahun ke-t dengan tingkat luas panen. (b) pelarian sumber daya manusia terdidik (brain drain) dari pertanian pedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. sering juga dihitung Break Even Point (BEP) produksi yakni total biaya per harga penjualan serta BEP harga yaitu total biaya per total produksi. Selain hal itu. Banyak durian yang ditemukan di Kota Medan berasal dari Pakpak Barat dan menurut informasi memiliki sifat merekah beberapa minggu dan lebih lama merekah dibanding dari durian lainnya yang berasal dari Sumatera Utara. Menurut laporan akhir tim teknis kelompok kerja pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (2005) bahwa beberapa variabel untuk menentukan komoditas unggulan sebagai berikut: luas areal. Penulis memang belum tahu sepenuhnya. nilai ekonomis. Parameter utama yang menjadi acuan di antaranya luas tanam. seperti dalam pengolahan hasil pertanian.. Kesesuaian lahan untuk tiap komoditas pada setiap satuan tanah dibedakan menjadi Sesuai. ketersediaan hara (na). ketersediaan oksigen (oa). penghasil devisa. di mana suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat bila B/C > 1.0. Selanjutnya.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. yang pasti tulisan ini juga sekaligus untuk proses pengkayaan di dalam menyusun detail planning. produktivitas sebelum tahun ke-t dikurang satu dikalikan dengan 100 %. Hal ini juga karena derivasi durian dimaksud banyak serta telah memiliki jaringan pemasaran yang baik. media perakaran (rm). keterlibatan masyarakat. Dalam hal ini r pertumbuhan tiap tahun dalam % merupakan proporsi tingkat luas panen. derivat produk dan ketergantungan impor. 4 Oktober 2006 drain) melalui nekanisme urbanisasi. produksi. hanya saja barang kali belum intens dikelola oleh pemerintah daerah. Kondisi biofisik yang digunakan sebagai dasar penentuan kualitas dan karakteristik lahan dalam analisis kesesuaian lahan adalah: ketersediaan air (wa). apakah sudah mengikuti prosedur baku Pakpak Barat untuk menentukan durian sebagai komoditas unggulan. dan Tidak Sesuai. sehingga dapat ditentukan komoditas calon unggulan untuk bahan analisis berikutnya. Dalam hal ini BEP adalah titik impas usaha dan sering berhubungan dengan IRR. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user) dan mekanisme transaksi antar sektor. produksi. produktivitas. Selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian lahan bagi komoditas unggulan.

Lemahnya insentif investasi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan para investor dalam berinvestasi di suatu daerah adalah faktor: (1) yuridis. Simanjuntak (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa upaya dan langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembanguan agropolitan sebagai berikut: A. Indonesia relatif tertinggal dalam menyusun insentif investasi. Prosedur perizinan investasi yang panjang dan berbelit-beli. Kurang bergairahnya iklim investasi juga disebabkan oleb keterbatasan dari daya saing produksi (supply side). dan kapasitas dan sistem dan jaringan infrastruktur karena sebagian besar dalam keadaan rusak akibat krisis. dalam menarik penanaman modal di Indonesia. = Pengamatan tertinggi dari nilai r. Selain itu juga keragaman/variatif yang besar dari kebijakan investasi antar daerah. akses dengan ibukota propinsi). keterkaitan dengan daerah lain (sangat terkait. Fokus pada Beberapa Komoditi Unggulan Pelaksanaan kegiatan sudah dapat segera dimulai pada beberapa komoditi unggulan yang dinilai sangat 65 . kurang strategis. (4) lingkungan usaha. (5) sumber daya manusia. tidak sesuai). (3) pasar. terkait dengan pusat pertumbuhan lain. (6) risiko. (2) infrastruktur. bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Selanjutnya. Kualitas SDM yang rendah dan terbatasnya infrastruktur. kurang memadai). Sebagai perbandingan. dan (7) penghasilan. ketersediaan lahan (sangat tersedia. tidak strategis).163). 2006): 3. Rendahnya kepastian hukum. 4. untuk memulai usaha di Malaysia hanya melalui 9 prosedur dengan waktu yang dibutuhkan hanya 30 hari dan biaya yang diperlukan hanya sekitar 25 persen dari per capita income (sekitar US$ 945). tersedia. Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpangsiuran kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kebijakan investasi. tidak sesuai rekomendasi). respons terhadap teknologi (sangat respons. cukup respons. Karenanya pemerintah daerah perlu mengkreasi kebijakan untuk memberikan jaminan kondisi yang mantap bagi masuknya investor. Dibandingkan dengan negara-negara lain. Implikasi signifikan dari pengembangan manufaktur yang belum berbasis pada kemampuan penguasaan teknologi dan masih relatif rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja. seperti yang diharapkan oleh investor. penerapan teknologi (sesuai rekomendasi. KK atau nisbah X min. Berdasarkan studi Bank Dunia pada tahun 2004. tidak respons). dihitung skor rata-rata untuk masing-masing indikator berdasar rata-rata pertumbuhan per tahun dan KK. Meskipun dengan tingkat pajak progresif yang diperkirakan relatif sama dengan negara-negara lain. UPAYA UNTUK MEMACU INVESTASI Dalam konteks pengembangan ekonomi lokal. Skala dan bobot penilaian keunggulan wilayah pengembangan komoditas unggulan adalah berdasar parameter kesesuaian lahan (sesuai.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait X max. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi para investor di Indonesia saat ini adalah (Simanjuntak. letak geografis (strategis. = Pengamatan terkecil dari nilai r. KK atau nisbah Untuk penentuan interval aktual sebagai berikut: Interval (Xmin) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Skor 1 2 3 1. kondisi sarana dan prasarana (sangat memadai. sistem perpajakan di Indonesia kurang memberi kelonggaran-kelonggaran perpajakan dalam upaya mendorong investasi. Berdasar nilai skor akhir kemudian ditentukan selang interval untuk menentukan keunggulan komoditas sebagai berikut: Interval (Xmin)----(Xmin + ΔI) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Golongan Komoditas Penunjang Potensial Unggulan 2. Kesemuanya ini mengakibatkan ketidakjelasan kebijakan investasi nasional yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi. Investor akan tertarik untuk investasi apabila faktor-faktor yang dianggap penting telah disediakan oleh kabupaten/kota dengan baik. kurang tersedia). Lemahnya kepastian hukum juga tercermin dari tumpang tindihnya kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. Ini tercermin dari antara lain berlarutnya perumusan RUU Penanaman Modal dan lemahnya penegakan hukum yang terkait dengan kinerja pengadilan niaga. Analisis derajat keunggulan wilayah. termasuk insentif perpajakan. mendekati rekomendasi. sesuai bersyarat. memadai. jelas bahwa masuknya investasi sangat dibutuhkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. perizinan untuk memulai suatu usaha dari berbagai instansi terkait baik pusat maupun daerah di Indonesia membutuhkan lebih lama dengan 12 prosedur yang harus dilalui dengan waktu yang dibutuhkan selama 151 hari (sekitar 5 bulan) dan biaya yang diperlukan sebesar 131 persen dari per capita income (sekitar USS 1.

teknologi antara lain pasar domestik yang sangat besar. 4 Oktober 2006 layak dan mempunyai prospek baik dalam jangka panjang walau detail planning belum sepenuhnya rampung. musyawarah desa dan badan perwakilan petani dalam pemerintahan desa dan kecamatan Pemberdayaan dan perkuatan lembaga-lembaga ini akan mempercepat petani dalam proses belajar (alih teknologi). Dengan adanya beberapa jenis bibit unggul.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ketersediaan teknologi dan SDA banyak terbuang atau hanya sedikit dimanfaatkan apabila SDM petani tidak mempunyai kemampuan entrepreneur. lahan yang cukup luas dan budidaya yang cukup mudah. lahan untuk pakan hijauan yang cukup luas. varitas yang cukup tinggi produktivitasnya. Jagung: adanya bermacam-macam bibit unggul. modal ventura dan modal yang disalurkan melalui mitra. 4. dan Taput). produsen dan pemasok sarana produksi). Kriteria pemilihan komoditi ini adalah.). manajemen. Hal ini meliputi bidang teknik. pedagang. perhitungan biaya. Kelemahan SDM petani adalah merupakan penghambat utama dalam pelaksanaan program pengembangan KADTBB. kerjasama atau asosiasi petani sejenis perlu dikembangkan. iklim. dan memberikan hak bagi petani untuk ikut memutuskan perencanaan desa dalam penggunaan sumber-sumber yang dimiliki atau diperoleh dari pemerintah. 5. diperkirakan petani dan mitra pengusaha (pengolah dan eksportir) sangat berminat mengusahakannya. terutama di kabupatenkabupaten yang belum begitu berkembang agribisnisnya (Pakpak Barat. eksportir. Pemberdayaan dan Perkuatan Kelembagaan Petani Selain peningkatan SDM petani secara individu. adalah kelompok tani sehamparan. topografi . asosiasi petani sejenis. 3. lahan yang cukup luas. Juga kemitraan sangat penting dilaksanakan untuk menampung hasil. konsultasi atau studi banding bagi pengurus-pengurus organisasi tersebut. D. Ketela rambat: adanya bibit yang cukup unggul termasuk ubi jepang. potensi ekspor yang juga besar. Nenas: pasar yang sangat besar. dan pengalengan).Sudah ada teknologi yang cukup handal dimiliki (teknologi spesifik lokasi) terutama adanya bibit unggul. Jeruk siam madu (jeruk berastagi).Pengalaman masyarakat tani yang sudah ada mengusahakannya Berdasarkan kriteria ini telah ditetapkan 6 komoditi unggulan yang akan dikembangkan secara intensif di Sumatera Utara: 1. modal perbankan. Karena tingkat rentabilitas dari ke 6 komoditi unggulan di atas yang cukup tinggi. Hal ini juga memerlukan penyuluhan dan bimbingan sekaligus yang dapat bertindak sebagai konsultan bisnis. E. lahan yang cukup luas dan sudah adanya pabrik pengolahan (konsentrat. sarana produksi dan pabrik pengolahan. pasar yang cukup besar. Penguatan Modal Salah satu hal tersulit dalam pengembangan petani adalah penguatan permodalan. koperasi petani. Namun hal ini harus dibina secara bertahap dan jangka panjang. pelatihan. C. pakan dari limbah pertanian yang cukup banyak. Peningkatan Penyuluhan dan Konsultasi Bisnis serta Koperasi Petani. mengolah. memperkuat posisi tawar dalam pemasaran dan pembelian input. memasarkan dan menjamin penyaluran kredit. juice. pemasaran. Untuk itu peningkatan kemampuan petani sebagai entrepreneur dan manajer usaha tani adalah mendesak dilakukan. kopi sidikalang sudah mendunia yang didukung oleh lahan di atas 1000 m dpl yang cukup luas dan adanya investor/penguasaha yang berminat bermitra dengan petani. Ternak sapi dan kerbau. pasar domestik yang besar dan adanya potensi pasar ekspor. baik domestik dan ekspor (a. dan teknologi pengolahan .l. adanya varitas ekspor yang sangat sesuai (Varitas IPB dll. Peningkatan Kemitraan dan Investor Ujung tombak dari kegiatan agribisnis (termasuk agroindustri) dalam kawasan agropolitan adalah petani dan dunia usaha (pengolah. Wadah organisasi petani antara lain. Untuk ini upaya peningkatan permodalan petani harus sungguh-sungguh diupayakan misalnya pemberian modal bergulir dari pemerintah. teknologi budidaya. Jepang). manfaat dan nilai kotoran untuk menghasilkan pupuk kompos dan pengalaman petani yang sudah agak memadai. jenis pedaging dan perah. 6. Peluang pasar. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas perlu dilakukan penyuluhan. wadah tempat petani bekerja sama adalah sangat perlu diberdayakan dan diperkuat. antara lain: . Tobasa.Kelimpahan sumber daya alam . 2. Yang paling penting disediakan/ditingkatkan adalah modal usaha.Prospek pasar yang cukup baik di pasar domestik dan pasar ekspor . Dalam tahap pertama mungkin perlu diberi bantuan 66 . pengalaman petani yang sudah cukup banyak. Humbang Has. permintaan domestik untuk pakan ternak cukup besar. B. Juga untuk memperkuat posisi tawar petani dan mengefisienkan kegiatan operasi usaha tani.Keadaan sumber daya alam yang sangat/cukup sesuai yaitu lahan. dan permodalan. bibit. No. kemungkinan pengolahan untuk berbagai macam produk turunan. Samosir. pengalaman petani sudah cukup banyak dalam budidaya. Kopi arabica: kopi lintong.

dan mekanisme transaksi antar sektor. yang biasanya dibentuk oleh koperasi petani dan pembentukan dana agunan dibantu pemerintah. banjir. Sosialisasi kepada dunia usaha juga mendesak dilakukan untuk menarik dunia usaha melakukan investasi dan melakukan kemitraan dengan petani. pergudangan. Agar masalah agunan dapat diatasi. Oleh karena itu. Dukungan diperlukan dari DPRD adalah perubahan alokasi anggaran yang lebih baik dan pembuatan payung hukum program agropolitan. ASOSIASI PENGUSAHA. pengambilan keputusan bersama. KESIMPULAN DAN SARAN Proses pembangunan yang selama ini dilakukan. Akibatnya sektor pertanian-pedesaan menjadi underinvestment dan under-brain. 2006. 67 . kebisingan). pasar dan calon-calon mitra dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan dan hal ikhwal kawasan agropolitan DTBB Sumut. Meningkatkan Sosialisasi Program Agropolitan Program agropolitan masih perlu disosialisasikan pada berbagai stakes holder agar mendapat dukungan mereka. Peningkatan Frekuensi Pertemuan Forum Pemkab Forum Pemkab yang telah dibentuk sebagai wadah diskusi. Universitas Methodist Indonesia Medan. dan perusahaan-perusahaan). 27 Juli 2006. Pembuatan Website dan Jaringan Informasi Agar semua stakesholder. pembangunan dan pengembangan agropolitan yang didukung agroindustri mutlak dilaksanakan. Kemudian dapat diberi kredit lunak atau bunga rendah atau kredit yang disupervisi (kredit modal ventura). dan Suhaedi. persoalan lingkungan (polusi. J. Usul perubahan selengkapnya harus segera disampaikan pada badan yang menangani perubahan tata ruang (Bappeda dan instansi lain) untuk di proses dan diajukan ke DPRD untuk disyahkan. Pembangunan agropolitan akan memberi solusi ideal sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara. H. DAFTAR PUSTAKA Budiharsono. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Menyempurnakan Tata Ruang Propinsi Tata ruang propinsi yang belum sesuai dengan tata ruang kabupaten perlu segera dirubah. maka perlu juga dikembangkan lembaga penjamin kredit. misalnya dengan membentuk koperasi simpan pinjam atau Credit Union (CU). Akhirnya apabila telah mampu. sekarang tinggal mengisinya dengan data-data dan informasi dan memberi tahu masyarakat adanya website. kriminalitas. Tahap selanjutnya dibina kegiatan menabung petani dan menyalurkan tabungan kembali kepada anggota. beberapa sarana penting dalam pertanian terbukti dapat mempercepat perkembangan agropolitan antara lain pembangunan cold storage. telah menimbulkan permasalahan ketimpangan pendapatan antara wilayah desa (rural) dengan kota (urban). daerah perkotaan mengalami over-investment dan overpopulation yang tercermin dari makin banyaknya persoalan internal perkotaan seperti kemacetan lalulintas. Pembangunan Infrastruktur Prasarana pertanian dan perekonomian sudah terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan pelaksanaan program pada kawasan agropolitan. supaya diadakan pertemuan yang lebih sering agar usul dapat dibahas secara mendalam dan keputusan bersama dapat dibuat lebih tepat. Jalan dapat memperlancar arus barang dan menurunkan biaya angkutan barang. maka jaringan informasi perlu dikembangkan. I. G. para petani dan dunia usaha (KADIN. para camat dan kepala desa. S. Prasarana yang sangat bermanfaat adalah jalan. sehingga produktivitas pertanian-pedesaan sulit dikembangkan.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait hibah (gratis) kepada petani. Hal ini disebabkan karena terjadinya penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital-drain) melalui mekanisme urbanisasi. Salah satu di antaranya adalah membuat website. Juga dapat diberikan pada petani subsidi (kredit tak berbunga) seperti modal bergulir dari Pemda. pasar dan telekomunikasi. petani dapat menerima kredit komersial dari perbankan dengan bunga menurut pasar. packing house atau Sub Terminal Agribisnis (STA) yang menyediakan berbagai fasilitas. publikasi melalui media massa dan pembuatan brosur dan buletin. penyaluran informasi kepada semua kabupaten dan dinas-dinas propinsi perlu melakukan pertemuan teratur setiap 2 bulan dan pada saat-saat tertentu. anggota DPR-RI. F. seperti bantuan bibit. dalam konteks spasial. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user). irigasi. Sementara. para pegawai/staf dinas di kabupaten dan propinsi. Selain prasarana pertanian. Oleh sebab itu pada kawasankawasan sentra produksi yang sedang atau sudah berkembang harus segera dilengkapi dengan parasarana dan sarana-sarana pertanian penting. Evaluasi pengembangankawasan agropolitan. pasar melancarkan arus perdagangan dan memperbaiki struktur pasar sedang telekomunikasi memperlancar arus informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Selain itu juga disebabkan karena terjadinya pelarian sumber daya manusia terdidik (brain-drain) dari pertanianpedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. Para stakes holder utama adalah anggota DPRD kabupaten dan propinsi. Website sudah dibuat. terutama waktu pengajuan usul RAPBD propinsi dan RAPBN.

R. B. dan I. 2006.. T. Inc. Sitepu. B.. 4 Oktober 2006 Depari. Sianturi.. Universitas Methodist Indonesia Medan.. 2006. 2006. 2006. Universitas Methodist Indonesia Medan.. Pasaribu. D. 2006.. Pohan. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Tim Teknis Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. S. P. Vietnam. 27 Juli 2006. Kawasan agropolitan. 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. 5-6 April 2006. B.. R. Universitas Methodist Indonesia Medan. Saragih. A. 2006. Nainggolan. 2005.. Mengenal buah unggul indonesia. Stevenson. Nuswamarhaeni. Konsep pengembangan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan dan agromarinepolitan pesisisr pantai dan pulaupulau kecil di Sumatera Utara. Pasaribu. 27 Juli 2006. Poverty Profile & The Alleviation Programs in Indonesia. E. Bberapa catatan tentang pengembangan agropolitan. F. S. Sirait. BPTP Sumatera Utara. E. dan B. E. 2006. Universitas Methodist Indonesia Medan. Universitas Methodist Indonesia Medan. Simanjuntak. Sumber daya komoditi unggulan jeruk pada tingkat lokalitas di kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan SumateraUtara. Humus chemistry. 27 Juli 2006. Laporan Akhir. 27 Juli 2006. Seminar International Fund for Agricultural Development (IFAD) Hanoy.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. S. Durian sebagai komoditas unggulan kabupaten Pakpak Bharat. Prihatini. 27 Juli 2006. 68 . S. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. 1994. Universitas Methodist Indonesia Medan. Sembiring. Masalah dan kendala perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan KADTBB Sumatera Utara. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Crestpent Press Kampus IPB Baranangsiang P4W-LPPM IPB. Konsep pembangunan desa-kota berimbang. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Persepsi dan saran mempercepat pengembangan kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. J. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Penebar Swadaya. 1990. Setia Hadi. No. 2006. John Wiley & Sons. Agropolitik pembangunan Sumut: Agropolitan dan agroindustri. 27 Juli 2006. B.

1989) and axial dispersion coefficient (Mackley & Ni 1993). The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. there is no correlation has been developed until now. The results of simulation are displayed as flow lines plots which confirm the finding of the experimental results. however. 1989). The fluid mechanics of oscillatory flow in a baffled column is controlled by the geometrical configuration of the baffles and two dimensionless parameters. Fluid Oscillation. which represents a ratio of column diameter to stroke length. Preliminary study of mixing time has been reported by Ni et al.THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN Department of Chemical Engineering. The tracer used was a KCl solution which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both the top and the bottom sampling ports. 1989. A number of baffles setup made of polycarbonate were used. 94 mm in internal diameter and 1200 mm in height. Consequently mixing capability is enhanced in both directions (Brunold et al. D St = (2) 4 π xo Characteristics of mixing in continuous oscillatory flow mixing in a baffled column have received much attention in recent years from residence time distribution (Brunold et al. Gap Size INTRODUCTION Oscillatory flow in baffled columns has been reported in numerous publications as a promising method to enhance mixing in columns. Variables studied were oscillation amplitude and frequency. Numerical simulation of oscillatory flow in the column has also been performed to study flow patterns in the device. Keywords: Equilibrium Concentration. 1989. Its top is open to the atmosphere. the mixing time increased with gap size between baffles and column.peak oscillation amplitudes of 1-4 mm can be obtained by adjusting of the rod linking the bellows and the drive unit. EXPERIMENTALS AND METHODS A schematic diagram of the experimental apparatus is shown in figure 1. Therefore. The tracer used was a KCl solution of 4 M which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both Taslim 69 . Therefore. Reo. Dickens et al. A motor with a speed controller drives the bellows. which provides an oscillation frequency of from 1 to 3 Hz to the system. ρ ω xo D Reo = (1) μ The second parameter is the Strouhal number. However. efficient mixing in the column depends on many factors such as geometrical configuration and operating conditions. 4. Tracer concentration measurements were used to determine mixing time. and each set consisting of seven baffles. the resulting radial velocity component is comparable to the axial velocity component in the space between two baffles. and four gaps of 0. 2. However. The amplitude oscillation was measured by noting the displacement of the liquid level at the surface. Flow Pattern. The first parameter is the oscillatory Reynolds number. St. for batch processes. University of North Sumatera Abstract: The investigation of mixing time and flow pattern to characterize oscillatory flow mixing was conducted in a vertical baffled column. The baffles were inserted into the column. The basic mechanism of mixing in the column is to induce oscillatory motion of the fluid. However. The oscillation frequency was measured using a digital tachometer.. The experimental system consists of a vertically mounted Perspex column. characterizing the mixing performance in the so-designed column is important before applying in the industries. and 6 mm respectively were investigated. The oscillating fluid motion interacts with each baffle to form vortices. and a stainless steel bellows. As a result. measuring effective eddy propagation. (1998). The diameter of the baffle is 94 mm and each baffle has a central hole with a 50 mm diameter. The centre –to. the objectives of current study are to investigate the mixing time in batch oscillatory flow mixing in a baffled column and to propose a correlation for mixing time. the characteristics of mixing in batch oscillatory flow mixing in the column by mixing time have not been investigated well. Dickens et al. The results showed that the mixing time decreased with oscillation frequency and amplitude. heat and mass transfer are significantly improved (Mackley 1991). which describes the intensity of oscillation applied to the column. Mixing time was determined using tracer concentration measurements. Baffles with a spacing of 141 mm in between bafles supported by two stainless steel rods with a 6 mm diameter were installed in the column. and gap size between baffles and column. which is flanged to the bottom end of the column.

5 mixing time Tracer conc. Schematic Diagram of The Oscillatory Baffled Column In this work. Figures 2 and 3 show concentration profile during the experiments under oscillatory condition. As a result. Columns Do 1.9 0.3 0.6 0. Similar profiles also achieved in figure 3. C∞. It can be seen that the change of tracer concentrations in pushfit is faster than loose-fit. The presence of the gap between baffles and column causes the change of mixing mechanism and it reduces the intensity of vortex formation. 4 Oktober 2006 Tracer conc. but longer time is needed to achieve an equilibrium concentration. No.e. When liquid oscillation and push-fit baffles were present in the column.0 mixing time bottom concentration top concentration equilibrium concentration 0 80 160 240 320 400 Supporting rods Baffle spacing Time (s) Figure 2.5 1. can be calculated from a mass balance as follows: Vinitial Cinitial + Vinjection Cinjection = Vfinal C∞ (3) RESULTS AND DISCUSSION Mixing time experiments with push-fit baffles was first carried out to establish a basis for comparison of experimental runs with loose-fit baffles at the same operational conditions.0 0 100 200 bottom concentration top concentration equilibrium concentration 300 400 500 600 Time (s) Figure 3. which mean that the overall mixing time appear to be better for the push-fit than the loose-fit condition. The time dependent flow simulation was based on Navier-Stokes model using Femlab (Taslim & Takriff 2003). x 100 (M) 1. Loose-fit. the time required for the overall concentration of the fluid to reach an arbitrary percentage of its final equilibrium value (Harnby 1992). and xo=2 cm Db Gap size D (a). Tracer Concentration Against Time for Loose-Fit Baffles at f=1 Hz and xo=2 cm downstroke upstroke Figure 4.3 0.2 0. x 100 (M) the top and the bottom sampling ports. i.9 0. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. D>Db Figure 1. Push-fit. 1. this limiting its growth as shown in figure 5. vigorous vortices occur in the space between two baffles and consequently uniform mixing could be achieved. D≈Db (b). Tracer Concentration Against Time for Push-Fit Baffles at f=1 Hz. Figures 4 and 5 are the oscillatory flow patterns in the column obtained from numerical simulation. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Push-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm 70 . the equilibrium concentration.6 0. the mixing time was measured as the time required for the response curve to reach 99% of the final value and remain within the limit. shorter time was required to achieve equilibrium concentration in the presence of push-fit baffles.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Figure 2 shows that both concentration curves quickly converged to an equilibrium concentration.2 0. The vortex formed at the rear of the baffles is entrained by the flowing of the liquid through the gap. As the volume of the tracer is known.

This figure displays mixing time versus St at fixed oscillation frequency and various gap size. the tracer will rapidly mix with the bulk liquid in the column to reach an equlibrium concentration giving shorter mixing time. dimensionless mixing time (tm*) was correlated as a function of Reo. (1998) for various orifice (baffle inner) diameters. St and dimensionless diameter (D*) and could be expressed in a general form as follows: tm* = a Reob Stc D*c (4) The present data were fitted with equation (4) to give: tm* = 4. as a result lower mixing times were obtained. In the range tested.5 0. mixing time increases with St (or decreases with oscillation amplitude). However. Similar results were also obtained by Ni et al.1 0. resulting vigorous vortices in the space between two baffles. The experiments with liquid oscillation were conducted for a range of oscillation frequencies and fixed oscillation amplitude at various gap size.4 0. the gapsize limits the mixing efficiency. At higher Reo. which leads to enhancement in mixing.91 D*5. Lower mixing times reflex better mixing in the column. However.0 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm 0.1 (5) Untill now. At higher oscillation amplitudes. the flow in each space between two baffles becomes chaotic.46 St0.The Investigation of Mixing Time and Flow Patern… Taslim 450 Mixing time (s) 375 300 225 150 75 0 0. CORRELATION In this study. the intraction between liquid oscillation and baffles more significant. the liquid motions are displaced further at each stroke.2 0. This phenomenon causes the tracer quickly mixes with bulk flow in the column to reach an equilibrium concentration. Mixing Time Against Reo at Various Gap Size. the mixing time decreases with oscillation frequency and amplitud. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Loose-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm The effect of oscillation frequency on mixing time was also investigated. Figure 6 shows mixing time againts Reo at fixed oscillation amplitude and various gap sizes. These runs were carried out for a range of oscillation amplitude and fixed oscillation frequency at various gap size. It can be seen that the mixing time decreses with Reo in the range studied.5 Reo0. At a fixed St. 450 375 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm Figure 7. and f = 1 Hz As can be seen in figure 7.6 0. Mixing Time Against St at Various Gap Size. and gap size between baffles and column appear to be the controlling parameters which dictate the mixing efficiency in the oscillatory baffled column. Oscillation amplitude expressed as St has strong effect on mixing time as shown in figure 7. CONCLUSION The experimental results describes in this paper show that the oscillation frequency and amplitud. mixing time also increases with gap size in the range used. this correlation is the only one that has been developed for mixing time in oscillatory flow in a baffled column.3 0. 71 . The mixing time increases with gap size at constant oscillation frequency and amplitude. St 0.8 Mixing time (s) 300 225 150 75 0 0 5000 10000 15000 20000 25000 Reo 30000 Figure 6. Under this condition. and xo= 2 cm Several experimental runs were performed to determine the effect of oscillation amplitude on the mixing time.7 Downstroke upstroke Figure 5. Oscillation velocity expressed as Reo has significant effect on mixing time. a column diameter of 50 mm was used in their experiments.

X. William. C. m Db Baffle outer diameter. M.. M. Taslim and M.W.. 44 (5): 1227-1244. 1991. J.R. Sci. Indonesia. 2nd Edition. m D* Dimensionless diameter (D/Db) f Frequency. Eng.. Takriff.C. Directorate General of Higher Education. kg/m3 μ viscosity of liquid. Mixing in the Process Industry. 1993. Batam. Dickens. and. J. M. Experimental Observations on Flow Patterns and Energy Looses for Oscillatory Flow in Ducts Containing Sharp Edges. A.R. Prof. m3 xo Oscillation amplitude. pp..s) ω Angular frquency (2πf)..f) V Tracer volume.. m Do Baffle hole diameter. M. Mackley. 44 (7): 1471-1479. Mackey. for the use of Femlab software.F.R. A. G. 72 . and Wilson. Experimental Residence Time Distribution Measurements for Un-Steady Flow in Baffled Tubes. 2003. 76(A): 635-642. Trans IChemE. 4 Oktober 2006 NOMENCLATURES C Tracer concentration.D. Eng. Chem. Chem. m ρ Density of liquid.. kg/(m. and Ni. Eng. N. 48: 3293-3305. Experimental Fluid Dispersion Measurements in Periodic Baffled Tube Arrays.. Sci. Ni. Edward. March 13-15. Bennett . Hunn. Oxford: Butterwort-Heinemann Ltd. 1992. Trans IChemE. and Thomson.. REFERENCES Brunold. Dr. Shahrir Abdullah from Department of Mechanical and Material Engineering. 69(A): 197-199.R. 1/s Reo Oscillatory Reynolds number St Strouhal number tm Mixing time.. No. H. Conf. 2003. Numerical simulation of oscillatory flow in a baffled channel. Mackley. Ministry of National Education of Indonesia for providing financial support.C. Mackey. M D Colum diameter. M. A.8-27 – 8-33. S. Process Innovation Using Oscillatory Flow Within Baffled Tubes. Brogan. Struthers. The 3rd Int. s tm* Dimensionles mixing time (tm. X. on Numerical Analysis in Engineering.S. 1998 A Systematic Study of the Effect of Geometrical Parameters on Mixing Time in Oscillatory Baffled Columns. Harnby. Sci.W.W..R. rad/s ACKNOWLEDGEMENT The author would like to thank the DP2M.B.R.. The author also would like to thank Assoc. Universiti Kebangsaan Malaysia.F. 1989. Chem. and Nienow.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 1989.

The formulation of operation strategy using a Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) was done through application of the decision making method. Dewasa ini. Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh operasi. III. serta peluangpeluang yang dapat dimanfaatkan. Sedangkan strategi operasi adalah suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan. diharapkan dapat berguna untuk: a. and then making the analytical matrixes and formulating the operation strategy to be implemented by the company. produksi/operasi. Perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) dilakukan melalui penerapan metode pengambilan keputusan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk para ahli dalam perusahaan. strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi-strategi yang akan dijalankan dalam rangka pengembangan perusahaan dengan menganalisis faktorfaktor eksternal dan internal yang mempengaruhi operasi. dan sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi. Keywords: Internal and External Analysis.1 Definisi Manajemen Strategi dan Manajemen Operasi Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam formulasi. II. keuangan/akuntansi. Faktorfaktor eksternal juga merupakan bagian yang harus diperhitungkan agar strategi operasi yang dirumuskan nantinya dapat mengantarkan PT Growth Pamindo mampu memenangkan persaingan. Analytical Hierarchy Process (AHP) for the experts of company. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). manajemen strategis mempunyai fokus pada mengintegrasikan manajemen pemasaran. PT Growth Pamindo dalam operasinya belum menggunakan strategi operasi apapun. implementasi. c. penelitian dan pengembangan. Strategi operasi seharusnya menghasilkan suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan suatu keunggulan bersaing bagi perusahaan. Untuk dapat memenangkan persaingan tersebut. kemudian membuat matriks-matriks analisis dan merumuskan strategi operasi yang akan dijalankan perusahaan. persaingan antar perusahaan. yaitu ancaman-ancaman yang sedang dihadapi oleh operasi tersebut. Kata kunci: Analisis Internal dan Eksternal Operasi. This study intends to determine a proper strategy to be implement by the company by analyzing the internal and external factors influencing on operation. terutama dengan telah disepakatinya aturan perdagangan bebas yang mulai berlaku tahun 2003 (AFTA). Abstract: In business sphere. dan mengevaluasi keputusan antarfungsional dalam mencapai tujuan organisasi. Analytical Hierarchy Process (AHP). maka PT Growth Pamindo harus meningkatkan kemampuan bersaingnya antara lain dengan menerapkan strategi operasi dengan memperhatikan faktor-faktor internal operasi yakni memperkecil kelemahan dan bersamaan dengan itu. b. antar industri. 73 . Membantu perusahaan dalam mengambil langkah-langkah operasinya dengan menggunakan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Strategi operasi adalah suatu visi fungsi operasi yang menetapkan keseluruhan arah atau daya dorong untuk pengambilan keputusan. yaitu strategi operasi. PENDAHULUAN PT Growth Pamindo merupakan perusahaan yang memproduksi pipa ductile. meningkatkan kekuatan yang ada.PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO Ukurta Tarigan Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. and Analytical Hierarchy Process (AHP) I. dan antar bisnis dalam bidang tertentu semakin ketat. Selama ini. TUJUAN PENELITIAN Perumusan strategi operasi ini. Sebagai implikasi dari definisi tersebut. LANDASAN TEORI III. Universitas Sumatera Utara Abstrak: Dalam dunia bisnis. maka diperlukan suatu strategi di tingkat fungsional. Where as operation strategy is a pattern of making an operational decision which is consistent and it is a competitive superiority for the company. Menganalisis kekuatan-kekuatan dan kelemahankelemahan internal operasi serta posisi relatif operasi dalam industri yang bersangkutan. strategy is a pattern of main action determined to realize the vision of organization through the mission. Dengan diproklamirkannya era perdagangan bebas. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).

Pembuatan Strengths-Weaknesses-OpportunitiesThreats (SWOT) Matrix. bidang teknologi dan bidang kompetitif. Pembuatan External Evaluation Matrix (EFE) Matrix. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi yang terbaik. dan Cleveland (1986) telah mendefinisikan bahwa strategi operasi terdiri dari misi.2. di mana masing-masing sel memiliki strategi masing-masing.Tahap input: pembuatan EFE Matrix. III. Data mengenai lingkungan internal dan ekternal operasi 2. sediaan. V. dan IFE Matrix . Anderson. yang memposisikan berbagai dimensi organisasi dalam sembilan sel. Pembuatan Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix. Langkah-langkah dalam tahap penyesuaian ini adalah: a.1 Analisis Awal Analisis awal merupakan analisis data internal dan data eksternal perusahaan.2. dan identifikasi faktor kunci persaingan (key success factor) . III. Keempat komponen ini membantu untuk menentukan apakah tujuan yang harus dicapai dapat membantu mengarahkan pengambilan keputusan pada semua tahap operasi.4 Tahap Keputusan Pada tahap keputusan ini digunakan teknik analisis dengan pendekatan kuantitatif yakni Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Analisis lingkungan eksternal meliputi: bidang ekonomi.3 Tahap Penyesuaian Informasi yang diperoleh dari ketiga matriks pada tahap input sebelumnya digunakan sebagai informasi input dasar pada tahap penyesuaian. Diagram Formulasi Strategi 74 . PENGOLAHAN DATA Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner AHP. Sehingga diperoleh bobot untuk faktor internal dan eksternal operasi sebagaimana tercantum pada tabel 1 dan 2. mutu dan tenaga kerja. Analisis internal ini meliputi. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis internal. III.2 Tahap Input Pada tahap input ini. kemudian dihitung bobotnya melalui perhitungan dengan mengikuti langkah-langkah perhitungan AHP. 3. Tujuan dari analisis internal (internal audit) adalah membuat daftar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kunci internal perusahaan. Strategi WO. dan Strategi WT. No. demografi. dan kebijakan. b. Strategi ST.2 Proses Formulasi Strategi Proses formulasi strategi terdiri dari: .2. bidang politik. proses. keunggulan khusus. Data tingkat kepentingan untuk masing-masing faktor intenal dan eksternal dengan menggunakan skala likert. Tujuan dari analisis eksternal (external audit) adalah membuat daftar ancaman-ancaman dan peluang-peluang yang akan dihadapi perusahaan. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis eksternal. TAHAP I: THE INPUT STAGE External Factor Internal Factor Evaluation (EFE) Matrix Evaluation (IFE) Matrix TAHAP II: THE MATCHING STAGE Strengths Weaknesses Internal-External (IE) Opportunities Threaths Matrix (SWOT) Matrix TAHAP III: THE DECISION STAGE Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) Gambar 1. dan hukum. III.Tahap keputusan: Pembuatan QSPM. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi peluang dan ancaman utama. merupakan salah satu alat yang penting untuk membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: Strategi SO. dilakukan beberapa langkah yaitu: a.Tahap penyesuaian: pembuatan SWOT Matrix. b. IV. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan utama. pemerintahan. sasaran.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. III. Data kuesioner pembobotan untuk masingmasing faktor internal dan eksternal dengan menggunakan AHP kepada para ahli (experts) di perusahaan. dan lingkungan alam. dan IE Matrix . 4 Oktober 2006 Schroeder. Pembuatan Internal-External (IE) Matrix. PENGUMPULAN DATA Adapun data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah: 1. bidang sosial budaya. Diagram formulasi strategi dapat dilihat pada gambar 1.Analisis awal: analisis data eksternal-internal. kapasitas.2.

5) Kelemahan (0. sosial budaya.1131) Jaminan mutu ISO 9001:2000 (0. dan strategi WT. strategi WO.1637) Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material (0.0818) Aplikasi teknologi informasi dalam pengambilan keputusan operasional (0.0471 Kekuatan (0. V.5) Tabel 2.0620 0.1383 0.1421 0. didapat 10 alternatif strategi.1749) Bobot 0. Strategi yang muncul pada posisi ini adalah strategi mempertahankan dan memelihara dalam hal ini berupa pengembangan produk.0566 0.0818 0. di mana masing-masing sel memberi strategi yang berbeda.0422 0.1359 0.0754 0. Penentuan Bobot Faktor Eksternal Operasi Faktor Eksternal Sub faktor Lokasi perusahaan yang strategis (0. strategi ST.2.0596 0. V.0409 0.1108) Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah Tingginya harga produk Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Bobot 0.1 Internal-External Matrix Matriks IE dibagi menjadi 9 sel.2092) Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional (0. V.2765) Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal (0. V.1229 0.0643 0. yaitu sebagaimana terlihat pada tabel 5. Tahap Input V.1.2 Tahap Penyesuaian Dalam tahap penyesuaian ini.1259 0.1046 0.0843) Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi (0.1751) Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan (0.0875 Peluang (0.0554 0.1038) Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain (0.1507) Pengiriman barang berjalan lancar (0. Dari Matriks SWOT.1128 0.0872 0.2 Strengths-Weaknesses-Opportunities-hreats (SWOT) Matrix Dalam matriks SWOT ini akan dihasilkan empat tipe strategi yaitu strategi SO.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan Tabel 1.0519 0. 75 .1795) Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih (0. dan persaingan.5) Ancaman (0. Internal-External (IE) Matrix Dari gambar 2 diperoleh posisi operasi PT Growth Pamindo adalah pada sel V. ditujukan untuk memunculkan beberapa strategi yang mungkin dilakukan berdasarkan faktor internal dan eksternal operasi.1. Matriks EFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 4.1 Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Matriks IFE ini meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam bidang operasi perusahaan. Matriks IFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 3.0875) Tidak ada penumpukan barang dalam proses (0.1694) Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan (0.2092) Daya beli masyarakat rendah (0. hukum.0847 0.2 External Factor Evaluation (EFE) Matrix Matriks EFE berisikan ringkasan dan evaluasi informasi ekonomi. Penentuan Bobot Faktor Internal Operasi Faktor Internal Sub faktor Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi (0.1. Gambar Matriks IE untuk operasi PT Growth Pamindo dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2.0875 0.2256) Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain (0.1287) Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi (0. pemerintahan.5) V. politik. yaitu AFTA dan APEC (0.0898 0.1192) Diberlakukannya era perdagangan bebas.2717) Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil (0. teknologi.2.0438 0.

0818 0. Lokasi perusahaan yang strategis 2. External Factor Evaluation (EFE) Matrix Faktor Internal Operasi Peluang 1. Daya beli masyarakat rendah 2.0422 0.0438 0.1698 0.2256 0.0409 0. Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi 6.3016 0. Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strategi Mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga Melakukan riset pasar untuk mengambil keputusan-keputusan operasi untuk mengisi pasar global Mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan produk yang sudah ada Memanfaatkan CAD/CAM dalam melakukan pengembangan produk Bekerjasama dengan bagian pemasaran untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap perilaku pembeli dan kebutuhan pasar sebagai dasar untuk pengembangan produk Memperbaiki dan mempertahankan kualitas produk lama Menerapkan system persediaan dengan memanfaatkan teknologi informasi Meningkatkan pengetahuan karyawan bagian operasi untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi Melakukan kerjasama dengan pesaing untuk melakukan sinergi untuk memenangkan tender dan merebut pasar Melakukan motivasi terus menerus untuk menciptakan brand image 76 .0620 0.2718 0.0872 0. maka alternatif strategi ini akan dipilih dengan QSPM. Jaminan mutu ISO 9001:2000 Kelemahan 1.1636 0. Tidak ada penumpukan barang dalam proses 4.5532 0.1128 0.00 Nilai 4 4 3 4 4 3 4 2 2 1 2 2 Kekuatan 1.0898 0. Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional Ancaman 1.1229 0.1421 0. Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain 7. No. Tingginya harga produk 5. Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Faktor Internal Operasi Dari QSPM yang telah dibuat.1383 0.0471 1. strategi yang terpilih adalah strategi 1 yaitu mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5.2518 0.2092 0.0519 0. Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas 3.1788 0.000 Nilai 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 Nilai yang Dibobot 0.1750 2.0566 0. Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah 4.1557 0.1929 0.0620 0.0554 0. Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya 2.7924 Bobot 0.1359 0. Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi 2. Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan 5.0847 0.0643 0.1750 0.4717 Tabel 5.2616 0. Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Jumlah Tabel 4. Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih 5.3 Tahap Pemilihan Keputusan Setelah mendapat 10 alternatif strategi dari SWOT.2458 0. 4 Oktober 2006 V.1266 0. Aplikasi teknologi operasi dalam pengambilan keputusan operasional 6. Diberlakukannya era perdagangan bebas.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan 3.0875 0.2541 0.1752 0. Untuk mendapat satu strategi terpilih sebagai dasar perumusan strategi operasi. Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal 3. Tabel 3.0754 0.340.0596 0.0942 2.2694 0. yaitu AFTA dan APEC 3. Alternatif Strategi dari SWOT No. Nilai yang Dibobot 0. Mengadakan pelatihan bagi karyawan 7.2216 0. Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil 5.0875 1.2842 0. Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material Jumlah Bobot 0. Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi 4.2454 0.1259 0.1046 0.

sasaran operasi yang mungkin adalah: harga. Sediaan . tenaga kerja dan mutu) agar dapat bersaing dalam harga. Untuk itu.Mencari bahan baku lain sebagai pengganti dari yang digunakan sekarang di samping mengingat harganya yang terus mengalami kenaikan. VI. yaitu penetapan misi operasi. harus ditetapkan misi operasi sedemikian sehingga operasional perusahaan dapat berjalan. .Untuk menekan biaya penyimpanan. dan menerapkan reward dan punishment untuk meningkatkan kedisiplinan karyawan. . . . Dengan tidak melakukan investasi baru juga berarti mengurangi biaya produksi dari sisi penyusutan aset.4. sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan untuk turut menekan biaya produksi. . Proses . dirumuskan sebuah misi operasi sebagai berikut: “PT Growth Pamindo akan memproduksi pipa ductile untuk kebutuhan nasional dan internasional dengan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik yang didukung oleh SDM professional agar perusahan tetap dapat berkembang dan senantiasa mengembangkan produknya agar memuaskan para pengguna serta pihak terkait dengan harga sebanding dengan nilai produk yang ditawarkan”. akan disusun suatu strategi operasi yang didasari oleh strategi terpilih pada tahap pemilihan keputusan dengan QSPM. mempunyai teknologi yang cukup baik sehingga mampu menghasilkan kualitas produk yang sangat baik. Sasaran Operasi Secara umum.Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan otomatisasi fleksibel yang telah dimiliki.Mempertahankan fasilitas yang ada.1 Penetapan Misi Operasi Dari strategi terpilih. Dalam penyusunan strategi operasi. D. Untuk hal ini dibutuhkan kerjasama antara unit operasi dengan bagian R&D.Tidak melakukan investasi baru.3. 77 .Perlu dilakukan rekrutmen dan mutasi dari staf dan pegawai yang telah ada untuk penempatan yang tepat dalam mendukung efektivitas dan efisiensi operasi. mutu. . perlu dilakukan sentralisasi gudang. Mereka benar-benar memelihara keunggulan khusus tersebut dengan senantiasa memperbaharui sistem produksi secara periodik. dilalui 4 langkah.Melakukan sediaan tingkat rendah (low inventory level). kapasitas. VI.Dengan menerapkan otomatisasi fleksibel maka cukup dilakukan spesialisasi tingkat rendah. penetapan keunggulan khusus. VI. dan fleksibilitas.2 Keunggulan Khusus PT Growth Pamindo dalam operasionalnya selama ini. penetapan tujuan operasi dan penetapan kebijakan operasi yang dibuat berdasarkan strategi terpilih. C.SDM harus dipandang sebagai aset penting perusahaan yang perlu dipelihara motivasi dan dedikasinya tanpa memberi beban ekstra bagi biaya operasional. ANALISIS Dalam sub bab analisis ini.Mempertahankan lokasi yang ada. dan menggunakan peralatan pemindahan bahan sehingga dapat menekan biaya perpindahan dan meminimalkan kendala akibat kesalahan pekerja. karena lokasi ini cukup strategis dengan area memadai untuk mendukung operasi karena memberi kemudahan arus masuk bahan baku dan kelancaran arus keluar produk. Pernyataan misi operasi diatas. Perlu dilakukan pengendalian sediaan yang terinci dengan tetap memperhatikan sediaan minimum.Otomatisasi dan spesialisasi memungkinkan dilakukannya pengawasan sentral. B. VI. mengandung komponen-komponen yang menyangkut strategi efisiensi produksi dan pengembangan produk agar dapat memenangkan persaingan. hal ini bisa dicapai melalui survei kepuasan pegawai.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan VI. sediaan.Tetap mempertahankan penggunaan alur peoses lini. juga dengan penggantian tersebut bahan baku baru dengan komposisinya yang sedemikian rupa harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang sama namun secara keseluruhan lebih efisien dalam penggunaannya. karena fasilitas yang ada sekarang masih dapat dioptimalkan.Secara periodik perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan pegawai yang pada umumnya dari pendidikan menengah.Perusahaan harus melakukan penilaian yang objektif terhadap staf dan pegawai. berkembang dan berkesinambungan. Kapasitas . Kebijakan Operasi Kebijakan operasi menjelaskan bagaimana sasaran operasi akan dapat dicapai. . Growth Pamindo harus dikembangkan untuk mengefektif dan mengefisienkan setiap kategori keputusan (proses. . Kebijakan operasi tersebut yang dapat dipertimbangkan untuk jangka 5 tahun kedepan adalah sebagai berikut: A. pengiriman. sehingga proses dapat berjalan sesuai urutan. Tenaga Kerja . Kebijakan operasi PT. karena masih mampu memenuhi order tepat pada waktunya. . .

Penerbit: PT Raja Grafindo Persada. Roger. 78 . Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing.Perusahaan harus menetapkan standar minimum kualitas bahan baku dan melakukan seleksi terhadap pemasok yang mampu memenuhi spesifikasi (standar minimum kualitas) tersebut dengan harga yang menguntungkan. . Fred. Husein. Penerbit: PT Erlangga.340. Jakarta. posisi operasi perusahaan berada pada sel V dari matriks IE. Jakarta. 4 Oktober 2006 E. KESIMPULAN DAN SARAN VII. 2. VII. 3. Dari strategi terpilih pada tahap QSPM. Umar. Dari matriks QSPM. Untuk memudahkan dilakukannya penelitian ke depan. Dalam menghadapi persaingan. Penerbit Erlangga. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Porter. Jakarta. keunggulan khusus. 1993.G.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah: 1. 2002.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo Schroeder. diharapkan pihak perusahaan dapat lebih melengkapi/mencukupi data pendukung yang diperlukan. yang bila perlu dengan menyempurnakan working procedure maupun working instructions dari yang tercantum dalam dokumen ISO.. 1993. Manajemen Operasi: Pengambilan Keputusan dalam Suatu Fungsi Operasi. Terjemahan Agus Maulana. dibuat suatu strategi operasi yang terdiri dari misi. Kualitas . Saaty. 2.R..2 Saran Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah: 1.. Dengan demikian. Thomas L.47 yang berarti juga operasi perusahaan memiliki kemampuan rata-rata dalam menghadapi lingkungan eksternalnya. Michael E. dengan strategi pengembangan produk. Edisi Ketujuh. strategi terpilih adalah mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. 1998.. Edisi Ketiga. Sedangkan nilai matriks EFE adalah 2. sasaran operasi dan kebijakan-kebijakan operasi VII. Harvard Bussiness School.79 yang berarti operasi perusahaan memiliki kemampuan ratarata dalam segi internal. Penerbit: PT Prenhallindo. DAFTAR PUSTAKA David.Melakukan evaluasi rutin berjangka pendek terhadap seluruh proses mulai dari penerimaan bahan baku hingga ke produk jadi. 1994. Manajemen Strategis: Konsep. perusahaan dapat memproduksi dan mengembangkan produk pipa ductile yang mampu memenuhi spesifikasi tertentu yang diharapkan dengan memanfaatkan berbagai keunggulan kompetitif yang ada pada internal perusahaan dengan berfokus kepada penekanan biaya produksi melalui penggunaan bahan-bahan baku baru yang berasal dari sumber bahan baku baru yang memberikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu memenangkan persaingan. Nilai untuk matriks IFE adalah 2. University of Pitsburgh terjemahan Liana Setiono. No.

PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN
Mangara M. Tambunan
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: Varieties of new motor bike in the market creates a tight competition and makes consumer has his/her own choice to a specific brand. Motor bike it self gives a value to the company or customer in the forn of brand equity. The research calculated four brand equity dimension; such as brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyality. The objective of the research is to know motor bike associations of Honda Karisma and Suzuki Shogun 125 R, which become the surplus to be used in marketing strategy. Data collections is done by judgment sampling using minimum of 50 questionnaires for both motor bike and data collected is done in the formal service workshop. Preliminary questionnaires result from 40 respondents shows there are 4 % associations needed by consumer to the type of motor bike. From the analysis, Honda Karisma is in top of mind-brand awareness position of 57.14% there is 4.08% of consumer does not know Suzuki Shogun 125 R. Honda Karisma has 28 associations and Suzuki Shogun 125 R has 42 associations. In perceived quality, Honda Karisma and Suzuki shogun 125 R have 9 associations need to be improved. Suzuki shogun 125 R has Loyality level of 51.020% and Karisma has 22.449%. Game Theory shows the strategy used by both companies is pure strategy where Honda karisma uses “formal workshop availability strategy” and Suzuki Shogun would use “economical in fuel consumption strategy” Keywords: Game Theory, Brand Equity 1. PENDAHULUAN 1.2 Permasalahan Mengetahui ekuitas merek (kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek) sepeda motor bebek buatan Jepang untuk menerapkan strategi yang tepat untuk memenangkan pangsa pasar. 1.3 Batasan Masalah 1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor jenis bebek, buatan Jepang dengan volume silinder 125 cc dan tipe mesin 4 langkah, yang beredar di kota Medan. 2. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 3. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 4. Pengambilan sampel dilakukan di tempat service tiap jenis merek sepeda motor, yang merupakan bengkel resmi yang paling banyak dikunjungi konsumen. 5. Pengumpulan data dilakukan pada bulan AprilMei 2005. 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Munculnya produk-produk sepeda motor baru yang beraneka ragam dalam pasar mengakibatkan persaingan sehingga konsumen mempunyai penilaian sendiri terhadap merek yang beredar di pasaran. Peningkatan penggunaan sepeda motor ini juga terjadi di kota Medan dengan jumlah sepeda motor yang terdaftar untuk tahun 2003 sebanyak 1.300.995 dari 1.979.340 jiwa penduduk kota Medan. Jumlah sepeda motor terdaftar di Polda Sumatera Utara Seksi Lalu Lintas, tahun 1995-2003 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Jumlah Sepeda Motor Terdaftar Tahun 1995-2003 Sepeda Motor No. Tahun (Unit) 1. 1995 619.346 2. 1996 689.868 3. 1997 769.759 4. 1998 798.828 5. 1999 821.862 6. 2000 873.452 7. 2001 952.361 8. 2002 1.084.051 9. 2003 1.300.995 Persaingan ini juga terjadi untuk sepeda motor bebek, dengan tingkat penjualan mencapai 90% dari total keseluruhan jenis/model sepeda motor.

2.1 Ekuitas Merek Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, keduanya mesti berhubungan dengan nama atau simbol sebuah merek. Jika nama dan

79

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

simbol merek diubah, beberapa atau semua aset atau liabilitas bisa dipengaruhi dan mengalami kerugian, kendati beberapa di antaranya sudah dialihkan ke nama dan simbol baru. Menurut David. A. Aaker, aset dan liabilitas merek dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu: 1. Kesadaran merek (brand awareness) 2. Asosiasi merek (brand asosiation) 3. Persepsi kualitas merek (brand perceived quality) 4. Loyalitas merek (brand loyalty) 5. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets) Konsep ekuitas merek ini dapat ditampilkan pada gambar 1, yang memperlihatkan kemampuan ekuitas merek dalam menciptakan nilai bagi perusahaan atau pelanggan atas dasar lima kategori aset yang telah disebutkan. 2.2 Teori Permainan (Game Theory) 2.2.1 Permainan Dua-Pemain Jumlah-Nol (TwoPerson Zero-Sum Games) Permainan atau persaingan yang melibatkan hanya dua pemain atau dua pihak disebut permainan dua orang. Karena perolehan dari satu pemain menjadi derita bagi pemain lain, dan karena itu jumlah perolehan kedua pemain adalah nol, maka disebut permainan imbang (zero sum). Tiap pemain mempunyai sejumlah pilihan atau tindakan yang dapat dipergunakan dalam permainan. Tiap pilihan atau tindakan disebut strategi.
Brand awareness Brand loyalty Perceived quality Brand association
Other proprietary brand assets

Stategi optimal untuk pemain I ialah baris yang sesuai dengan harga: Max {Pi} = max [ min {H(i,j)} ] = V i i j i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria maksimin. Untuk pemain II, misalkan Pj derita maksimum dari tiap tindakan bj, maka : Pj = max {H(i,j)}, i = 1,2,...,n i Strategi optimal untuk pemain II adalah kolom yang sesuai dengan harga: Min {Pj} = min [ max {H(i,j)} ] = V j j i i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria minimaks. Dan strategi bersih maksimin/minimaks disebut strategi maksimin/minimaks optimal. Bila kedua pemain menggunakan strategi minimaks optimal, maka hasil perolehan rata-rata disebut harga dari permainan. Bila strategi minimaks adalah strategi bersih, maka perolehan rata-rata (diharapkan) adalah harga dari titik pelana. 3. METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut: a. Menentukan latar belakang penelitian b. Menentukan perumusan masalah dan tujuan penelitian c. Menentukan ruang lingkup penelitian d. Perancangan metode pengumpulan data - Studi literatur - Kuisioner pendahuluan - Identifikasi variabel penelitian Variabel demografi Variabel kesadaran merek Variabel asosiasi merek Variabel persepsi kualitas Variabel loyalitas merek - Perancangan kuisioner sebagai alat Pengumpul data - Penyebaran kuisioner - Pengujian kuisioner Uji reliabilitas kuisioner Uji Cochran e. Pengumpulan data f. Pengolahan data - Pengolahan data tahap I. Pengolahan data kuisioner pendahuluan, untuk menghasilkan atribut-atribut pertanyaan pada kuisioner penelitian. - Pengolahan data tahap II a. Variabel demografi b. Variabel kesadaran merek c. Variabel asosiasi merek d. Variabel persepsi kualitas e. Variabel kesetiaan merek

Brand equity

Memberikan nilai kepada pelanggan dengan memperkuat : a. Interpretasi/proses informasi. b. Rasa percaya diri dalam pembelian

c. Pencapaian kepuasan dari
pelanggan

Memberikan nilai kepada perusahaan dengan memperkuat : a. Efisiensi dan efektivitas program pemasaran b. Loyalitas merek c. Harga/laba d. Perluasan merek d. Peningkatan perdagangan e. Keuntungan kompetitif

Gambar 1. Konsep Ekuitas Merek 2.2.2 Kriteria Maksimin-Minimaks Persoalan ini dapat dibentuk dalam suatu model matematika sebagai berikut: Misalkan Pi perolehan minimum dari tiap tindakan Ai oleh pemain I, sehingga: Pi = min {H(i,j)}, j = 1,2,...,n j

80

Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Tambunan

- Pengolahan data tahap III. Menyusun strategi permainan untuk perusahaan dan dengan perusahaan pesaing berdasarkan peta persepsi multi dimensional scaling. Data yang digunakan adalah data persepsi konsumen, dengan membentuk matriks payoff dan diselesaikan dengan program linier. g. Analisis hasil pengolahan data h. Kesimpulan dan saran 4. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Kuisioner penelitian disebar di dua bengkel resmi, yaitu AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) yang terletak di Jln. Sisingamangaraja No. 362 dan bengkel resmi Suzuki yang terletak di Jln. Adam Malik No. 101, dengan perincian yang ada pada Bab IV. Responden pada kuisioner penelitian adalah pengguna Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R, masing-masing merek memiliki 49 kuisioner. Pengolahan data untuk kuisioner penelitian, dibagi atas lima bagian, yaitu: a. Pengolahan untuk Variabel Demografi Tabel 2. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pria Wanita Merek Orang % Orang % Honda 41 83.673 8 16.327 Suzuki 40 81.633 9 18.367 Tabel 3. Profil Responden Berdasarkan Usia Honda Suzuki Tingkat Usia Orang % Orang % Kurang 16 thn 0 0.000 0 0.000 16 - 25 thn 17 34.694 16 32.653 26 - 35 thn 19 38.776 27 55.102 36 - 45 thn 10 20.408 6 12.245 Lebih dari 45 thn 3 6.122 0 0.000 Tabel 4. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Honda Suzuki Tingkat Pendidikan Orang % Orang % SD 0 0.000 0 0.000 SLTP 2 4.082 0 0.000 SLTA/sederajat 22 44.898 22 44.898 Diploma 7 14.286 17 34.694 Sarjana (S1) 18 36.735 10 20.408 Lain-lain 0 0.000 0 0.000

Tabel 5. Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Honda Suzuki Jenis Pekerjaan Orang % Orang % Pelajar/Mahasiswa 10 20.408 4 8.163 Pegawai negri 7 14.286 6 12.245 Pegawai swasta 15 30.612 14 28.571 Wiraswasta 12 24.490 20 40.816 Ibu rumah tangga 3 6.122 3 6.122 Lain-lain 2 4.082 2 4.082 b. Pengolahan untuk Variabel Kesadaran Merek

Tabel 6. Top of Mind-Brand Awareness Merek Responden (Orang) % Honda Karisma 56 57.14 Suzuki Shogun 125 R 40 40.82 Honda Kirana 2 2.04 Total 98 100.00 Tabel 7. Brand Recall of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 34 34.69 Suzuki Shogun 125 R 32 32.65 Honda Kirana 8 8.16 Tabel 8. Brand Recognition of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 4 4.08 Suzuki Shogun 125 R 22 22.45 Tabel 9. Unaware Brand of Brand Awareness Responden Merek (Orang) % Honda Karisma 0 0,00 Suzuki Shogun 125 R 4 4.08 Pengolahan untuk Variabel Asosiasi Merek Hasil pengolahan data untuk Honda Karisma menunjukkan bahwa R11 >R(0,05), (0,874 > 0.281), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Honda Karisma ini dapat diandalkan. Nilai R11 Suzuki Shogun 125 > R tabel, (0,951 >0,281), maka instrumen ini pun dapat digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Suzuki Shogun 125 R. Nilai uji Cochran untuk Honda Karisma, Q (29,369) < nilai X2(0,05;21) (32,7), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Honda Karisma memiliki brand image yang didalamnya terkandung 28 buah asosiasi (termasuk asosiasi yang dibuang pada pengujian terakhir). Nilai uji Cochran untuk Suzuki Shogun 125 R, Q (47,189) < nilai X2(0,05;40) (55,8), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Suzuki Shogun 125 R c.

81

4 Oktober 2006 memiliki brand image dengan 42 buah asosiasi (semua asosiasi yang ada pada kuisioner) yang melekat padanya.082 4.612% konsumen adalah pegawai swasta.041 4. 5.300 4.700 3. namun tingkat 82 .980 S. ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL e.100 4.061 4. untuk merek Honda Karisma 83.061 3.020 4.878 Liking the brand 71.673% adalah pria dan untuk Suzuki Shogun 125 R 81.429 95.050 4.286 3.000 Habitual buyer 26. Importance Pengolahan untuk Variabel Kesetiaan Merek Tabel 10. Ini menunjukkan bahwa konsumen kedua merek tersebut didominasi oleh pria.14%. Persentase di atas adalah persentase terbesar untuk setiap pertanyaan yang ditanyakan. Untuk Karisma 30. dengan nilai yang sama untuk maksimin dan minimaks.100 Performance Pada matriks payoff dapat diketahui bahwa matriks ini memiliki titik pelana (saddle point).918 Committed buyer 22.837 3.449 51.082 4.900 3.694 4.000 Tabel 11. Pengolahan Game Theory Teori permainan merupakan salah satu metode untuk menghasilkan strategi dalam pemasaran.061 4. Rekapitulasi Persentase Kesetiaan Merek Merek Kesetiaan Merek Karisma (%) Shogun 125 R (%) Switcher 8.959 3.633%.959 4.531 4.000 3.000 3. “Tersedia bengkel/service resmi” sedangkan Suzuki Shogun 125 R menggunakan strategi S1.816% konsumen adalah wiraswasta.980 3.980 4.163 0.061 4.204 4. data yang digunakan adalah nilai rata-rata performance setiap atribut yang melekat pada Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R. untuk kedua merek tersebut.061 4.122 3. 38.2 Analisis Brand Awareness Top of mind-brand awareness dipegang oleh Honda Karisma.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.224 4. Ini juga didukung dari hasil pengolahan brand recall (konsumen dapat mengingat secara langsung.300 4.041 4. No.900 4.122 4.000 3.82%.020 f. dan untuk Shogun 125 R 40. Shogun menempati urutan kedua 40.100 4.265. Pengolahan untuk Variabel Persepsi Kualitas Perbandingan Performance-Importance Honda Karisma Performance-Importance Kesan Kualitas Honda Karisma 5.950 4. 125 R 4.200 4.959 3.265. yakni 57.347 3.966 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Keterangan Nilai Rata-Rata Karisma 4.061 4. Berdasarkan pendidikan terakhir 44.000 4.000 4. “Irit dalam penggunaan bahan bakar” dengan selisih nilai kepuasan konsumen yang dipertaruhkan adalah 0.898% konsumen Karisma dan Shogun 125 R lulus SLTA/sederajat. serta 0% untuk usia di bawah 16 tahun.020 4. yaitu 0.061 4.500 Performance 16 17 18 19 20 Perbandingan Shogun 125 R Performance-Importance Suzuki Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Memiliki kecepatan yang tinggi Kemudahan dalam perawatan Kemudahan mendapatkan spare part Harga spare part terjangkau & tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Suspensi atau shock yang bagus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontinu Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Tersedia garansi Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Kualitas rangka yang tahan banting Importance Performance-Importance Kesan Kualitas Suzuki Shogun 125 R 4.S. Rekapitulasi Performance No. Honda menggunakan strategi H3.000 3.061 4.959 4. d.980 4.143 3. 5.571 4.959 4. Dalam pengolahan ini.102%.776% konsumen Karisma berada pada batas 26-35 tahun dan Shogun 125 R 55.500 3.959 4.204 3. Dengan demikian ditemukan strategi murni untuk Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R. Berdasarkan usia.429 93.1 Analisis Profil Konsumen Berdasarkan jenis kelamin.400 4.082 Satisfied buyer 71. 5.041 3.082 3.

Ada tempat penyimpanan barang yang luas 6.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 27. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 9. spion. tetapi ada 4. Suspensi atau shock yang bagus 19.69% dan 4. 39. 7. 3. 35. II. yaitu Kuadran I. 29. Harga spare part terjangkau dan tahan lama 16. Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. 9. yaitu: 1.) Suspensi atau shock yang bagus Tinggi sepeda motor yang standar Pergantian roda gigi yang halus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi Mampu membawa beban yang besar/berat Memiliki sistem pengaman (kunci) yang baik Jangka waktu garansi yang panjang Inovasi perusahaan yang terus-menerus Volume silinder yang besar Dapat dengan mudah dimodifikasi Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Ada undian berhadiah Memakai racing pada roda Kualitas rangka yang tahan banting Suara yang nyaring Tanpa oli samping Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Ada penutup rantai 5. Tidak ada konsumen yang tidak mengenal merek sepeda motor Honda Karisma. 18. 5.08%. Produk tersebar luas di pasar 14. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 21. 5. 14. 41. 38. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 8.65% daan brand recognition sebesar 22. 12.45%. 6. 24. Tersedia bengkel/service resmi 4. 27. Ini berarti Karisma adalah sepeda motor bebek buatan Jepang dengan volume 125 cc dan mesin 4 tak yang paling diingat oleh konsumen. 16. 2. 40. Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Asosiasi-asosiasi untuk Suzuki Shogun 125 R ada 42 buah. 15. 10. Tambunan pengingatannya setelah merek utama dalam top of mind) dan brand recognition (konsumen mengingat merek setelah diingatkan kembali) di mana Honda Karisma memiliki persentase 34. 25. Kualitas rangka yang tahan banting 28. 22. Memiliki kecepatan yang tinggi 11. spion. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. 20. 28. 31. 37. 26. Tinggi sepeda motor yang standar 20. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu 22. Kemudahan dalam penggunaan 17. 36. 8. Kemudahan dalam perawatan 13. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 15. 11. Warna dan jenis strip yang bervariasi dan tahan lama 7. 21. 19. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 10. dll. Inovasi perusahaan yang terus-menerus 25. 17. 83 . Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 3. Diagram ini dibagi atas empat bagian. 34. 42.08% konsumen yang tidak mengenal merek Suzuki Shogun 125 R. dll. Jangka waktu garansi yang panjang 24.) 18. 30. Sedangkan Suzuki Shogun 125 R memiliki tingkat brand recall sebesar 32. III dan IV. Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Body yang sportif Body yang ramping Ada tempat penyimpanan barang yang luas Warna dan jenis strip yang bervariasi & tahan lama Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Ada bonus pembelian (seperti helm dan jaket) Memiliki kecepatan yang tinggi Memiliki rem cakram Kemudahan dalam perawatan Produk tersebar luas di pasar Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli Harga spare part terjangkau dan tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman 26.3 Analisis Asosiasi Merek Asosiasi-asosiasi yang melekat pada Honda Karisma ada 28 asosiasi (dari 24 yang diuji) yaitu: 1. 32. 4. 23. Memiliki rem cakram 12. 33. 13. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 23.4 Analisis Kesan Kualitas Analisis kesan kualitas dapat dilakukan dengan melihat pada diagram cartesius performanceimportance.

Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kemudahan dalam penggunaan 9.163% konsumen yang switcher. Kemudahan dalam perawatan 2. Model/desain yang menarik dan dinamis 4. No. Tersedia garansi 3. Atribut Shogun 125 R pada Diagram Cartesius Honda Karisma 1. 5. Kemudahan dalam perawatan 1. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 4. Konsumen sepeda motor bebek buatan Jepang untuk volume silinder 125 cc dan mesin 4 tak dengan merek Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R didominasi oleh pria. sedangkan untuk Shogun 125 R. Demikian halnya dengan Karisma. Honda Karisma merupakan sepeda motor yang paling diingat oleh konsumen. Harga sepeda motor terjangkau 3.6 Analisis Permainan Dari metode maksimin-minimaks dalam permainan.020% konsumen yang komit akan merek tersebut. Model/desain yang menarik dan dinamis 1. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 5. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 2. Suspensi/shock yang bagus c. maka ia akan menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” untuk memperbesar nilai perolehannya. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 5. Ketika Shogun 125 R melihat Karisma menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” maka ia akan menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar” untuk memperkecil nilai kehilangannya. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 5. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 2. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. Dan 22. 2. meski memiliki asosiasi yang lebih sedikit daripada asosiasi Shogun 125 R. 8. 6. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Kemudahan dalam penggunaan Kuadran II (maintain) 5. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. Memiliki kecepatan yang tinggi 1. dengan persentase (untuk keseluruhan responden) terbesar pada batas usia 26-35 tahun.449% konsumen Karisma adalah konsumen yang komit.878% untuk tingkat satisfied buyer dan 95. Suspensi/shock yang bagus 3. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 4. Dari 20 atribut yang dibandingkan untuk kesan kualitas. yakni 71. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 7. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) e. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi i. Kemudahan mendapatkan spare part g. Persentase ini unggul jika dibandingkan dengan Karisma. Tarikan/akselerasi mesin yang baik b. Honda Karisma memiliki 10 atribut yang dapat terus dipertahankan. Kualitas rangka yang tahan banting 4. Tersedia bengkel/service resmi 2. jika ia melihat Shogun 125 R menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar”. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Suspensi/shock yang bagus 3. sehingga dapat dihasilkan strategi murni. Shogun 125 R tidak memiliki konsumen yang switcher (berpindah merek karena faktor harga).429%. di mana nilai permainan adalah 0.5 Analisis Kesetiaan Merek Dari pengolahan data dapat diketahui bahwa Shogun 125 R memiliki konsumen dengan persentase 93. Sementara Karisma memiliki 8. Irit dalam penggunaan bahan bakar 8. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 1. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi d.1 Kesimpulan 1. Dari kedua jenis sepeda motor bebek yang dibandingkan. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Kuadran I (underact) Kuadran II (maintain) Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) 84 . 3.918% untuk tingkat liking the brand. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Tersedia garansi 6. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) h. Atribut Karisma pada Diagram Cartesius Kuadran I (underact) Honda Karisma 1. Harga sepeda motor terjangkau 3. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 10. Tersedia bengkel/service resmi 1. 2. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 9. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 5. yaitu: a. ditemukan saddle point untuk matriks payoff Karisma. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 4. Tersedia bengkel/service resmi Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) Tabel 13. 4 Oktober 2006 Tabel 12. ada 51. yang pada dua tingkatan ini memiliki nilai yang sama. Memiliki kecepatan yang tinggi 2. Kualitas rangka yang tahan banting 1.265.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Memiliki kecepatan yang tinggi b. Kemudahan mendapatkan spare part g. Harga sepeda motor terjangkau c.2 Saran Saran yang dapat diberikan peneliti kepada pihak Honda adalah perlunya meningkatkan promosi melalui radio dan surat kabar. yaitu: Kuadran I (underact) a. yaitu: a. Kemudahan dalam perawatan Kuadran III (low priority) a. Ini berarti perlu menjalin hubungan baik dengan konsumen sebagai pedoman untuk perbaikan kualitas produk ke depan. Marketing Manajemen. Penelitian Operasional: Teori dan Praktek. Product Design and Development. Manajemen Ekuitas Merek. Eppinger Steven. Sugiarto. Harga sepeda motor terjangkau c. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) d. Butir-butir pertanyaan untuk kesetiaan merek dapat ditambah untuk memunculkan kriteria loyalitas yang lain. 2001 Husein Umar Drs. 7. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu b. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. Kualitas rangka yang tahan banting d. Jakarta: UI Press. Memperhatikan secara khusus atribut pada Kuadran I dan III. dealer dan papan reklame.020%. 1987 Ulrich Karl. Persentase konsumen Shogun 125 R yang komit akan merek adalah 51. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran d. Perlu juga dilakukan perbaikan kualitas dalam atribut-atribut pada Kuadran I dan III. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Kuadran III (low priority): a. Harga spare part terjangkau dan tahan lama b. Juga penjelasan untuk setiap pertanyaan atribut-atribut sepeda motor pada kuisioner penelitian. Strategi yang dapat digunakan Shogun 125 R untuk menghadapi Karisma adalah dengan mengoptimalkan atribut irit dalam penggunaan bahan bakar. agar responden memiliki persepsi yang sama akan atribut-atribut tersebut. Harga spare part terjangkau dan tahan lama h.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. untuk meningkatkan promosi melalui teman/keluarga. Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Model/desain yang menarik dan dinamis d. yaitu: Kuadran I (underact): a. 1997 (Terjemahan) Durianto Darmadi. 2000 Kotler. Sitinjak Tony. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran e. 7. untuk mengetahui perkembangan ekuitas merek dan perbaikanperbaikan terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan ekuitas merek. 6. Suspensi/shock yang bagus c. Kemudahan dalam perawatan b. DAFTAR PUSTAKA Aacker David. Memiliki kecepatan yang tinggi Saran kepada pihak Suzuki. Philip. A. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Strategi yang dapat digunakan Honda untuk menghadapi Shogun 125 R adalah dengan mengoptimalkan atribut tersedianya bengkel/service resmi. Edisi IX. New Jersey: Prentice Hall. Tarikan/akselerasi mesin yang baik e. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) g. 1997 Siagian P. Tersedia garansi f. Kemudahan dalam penggunaan i. Tersedia garansi c. Tambunan 4. 6. Kualitas rangka yang tahan banting Penting dilakukan penelitian ekuitas merek dalam frekuensi yang lebih sering. Shogun 125 R memiliki 9 atribut yang dapat dipertahankan. Jakarta: Mitra Utama. Tersedia bengkel/service resmi b.449%. America: The McGraw-Hill Companies. yang berarti lebih besar dibandingkan dengan Karisma dengan persentase 22. Inc. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. Strategi Menaklukkan Pasar melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu e. 2000 85 .

LANDASAN TEORI Suatu struktur dikatakan gagal apabila tegangan yang terjadi lebih besar dari tegangan luluh atau kekuatan tariknya. atau bencana alam. Keywords: Reliability. Cacat lasan undercut. Hafli1 dan Akhyar Ibrahim2 Abstract: This current research was developed to find out the material reliability. The results of research show that water working stres is 0. korosi. menurut Korda. Mekanika retakan adalah suatu metoda analisis patah getas dari struktur yang mengandung retakan dengan geometri dan dimensi tertentu yang sebelumnya sudah diketahui melalui suatu jenis NDT tertentu. yaitu seleksi terhadap material yang akan digunakan dan analisis kekuatan struktur terhadap kondisi pembebanan selama masa pengoperasian. Akibatnya retakan akan berhenti menjalar sebab driving force-nya melemah. Cacat Retak pada Permukaan Pipa Instalasi pipa memiliki ketidaksempurnaan atau cacat yang dapat berasal dari semua tahapan manufaktur. for undercut crack depth 0. library study. Dengan pelaksanaan kedua langkah tersebut diharapkan kegagalan komponen yang digunakan selama operasi dapat dicegah sejak dini. Pada pipa yang mengandung cacat retak. and according to failure criteria this drinking water pipeline 12” in diameter is in safe condition from both break before leak mode and damage after crack mode which its crack propagate about half depth of pipe wall. crack propagation rate still in stable condition up to 8. et al. By using the concept of fracture mechanics. (2002). ketahanan pipa akan menurun keandalan (reliability). field inspection and experimental. Faktor Intensitas Tegangan Retak menjalar jika faktor intensitas tegangan (K) mencapai harga kritis K1c yang selanjutnya dikenal sebagai ketangguhan retak. Beberapa faktor penyebab kegagalan pipa berupa bocor dan pecah dari hasil survei antara lain akibat sabotase. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh 2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Konsep konvensional tersebut hanya dapat diterapkan pada struktur yang mulus. Retakan dapat terjadi dan pipa dapat pecah sampai beberapa kilometer. Dalam konsep ini. sehingga faktor indentitas tegangan (K1) akan turun juga. Pressure drop yang tejadi secara tiba-tiba di dalam pipa yang bocor akan menurunkan tekanan hoop pada dinding pipa. sedangkan pada permukaan cacat dapat digunakan konsep mekanika retakan. so that operating condition of 12 inch pipeline is very safe from break or brittle fracture. fracture toughness. mengakibatkan ketahanan pipa akan menurun atau keandalan (reliability) pipa berkurang. Welded.8 ksi. instalasi dan operasi. Cacat permukaan pipa yang dihasilkan pada proses pengelasan pada saat konstruksi. Suatu fenomena yang disebut dengan fast fracture.5 inch. apabila dibarengi dengan beban monotonik atau siklik baik yang bersumber dari fluida kerja maupun sumber eksternal lainnya sehingga pipa akan gagal dengan cara patah getas. Masalah penjalaran retak sering terjadi pada pipeline yang mengalirkan air minum. KI of simulation less than experimental which it means crack propagate controlled to material surface.ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Fracture Mechanics.8 ksi of working stres. and yield strength of welded is 52 ksi. mekanik (cacat yang berkaitan dengan masalah konstruksi. Pipe. handling dan material). kekuatan dan umur sisa pipa dapat dihitung melalui pendekatan mekanika retakan. Untuk jenis cacat pipa yang berbentuk retak. Failure Criteria PENDAHULUAN Dalam desain struktur pipa penyalur pipa air minum ada dua langkah penting yang perlu diperhatikan. Politeknik Negeri Lhokseumawe T. Oleh karena itu. and then all data was analyzed by descriptive method. biasanya berbentuk semi elips. ketahanan pipa akan menurun drastis akibat penjalaran retak yang sangat cepat. life-time assessment on drinking water pipeline 12” in diameter which consists of undercut crack welded with semielliptical geometry. bahkan di atas kecepatan bunyi tersebut diatas. Charphy Impact. ketika mengalami beban statik atau siklik.25 inch and width 2. Masalah yang dihadapi. Undercut. Jika sebuah pipa pecah maka tekanan fluida (air minum) akan menurun drastis (depressured) menghasilkan gelombang kejut (decomposion shock waves) dengan kecepatan travelling dalam orde kecepatan bunyi (400 m/detik). untuk mempelajari keandalan pipa. ukuran cacat dan ketangguhan patah material itu. 1977).33 ksi to generate design stres about 8. Suatu harga K1c menggambarkan ketangguhan retak dari suatu 86 . hingga pipa patah getas (Rothwell. kriteria kegagalan suatu material struktur ditentukan oleh 3 parameter yaitu tegangan yang terjadi. adalah “berapa tingkat keandalan dari struktur pipa penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut ditinjau dari analisis mekanika retakan”.

P adalah tekanan fluida. Menurut Broek (1988: 53). σ1. Untuk menghitung kegagalan suatu pipeline yang mengandung retak awal. Kriteria Bocor Sebelum Pecah Salah satu aplikasi mekanika retakan pada pipa adalah mengkaji pipa yang mengandung cacat awal (pre-crackdefect) dan mengalami beban statik (constant internal pressure). dirujuk kepada Model strip elastis plastik dari Dagdale (1960). σ/σ0 adalah hoop stres.21.000 MPa untuk baja). Ac = K21. D adalah jari-jari pipa. maka penelitian ini akan dikaji lebih lanjut. salah satu rumus yang sering digunakan adalah yang diajukan oleh AISI dan didaftarkan dalam klausul 941. Persamaan matematis dari tegangan secara analitik pada pipa berisi fluida tekan. dan juga medan tegangan pada saat luluh). Ukuran cacat kritis dapat dihubungkan dengan ketangguhan Charphy menggunakan pendekatan Mekanika Ratakan.1 dari ASME B31. Menurut David Broek (5) (1988: 216) menurunkan hubungan perbandingan empiris sebagai KIC = 11.212. menurut Mohitpour. Jika kurva R horizontal.R0.D σ1 = 2. pipa akan langsung pecah/patah getas. σ adalah tegangan terpakai pada saat gagal (MPa).σ2) (4) dan Q = θ2 – 0. menurut Engle (1979: 75) dapat digunakan persamaan di bawah ini. 2c adalah panjang cacat tembus dinding (mm). Uji Impak Charphy mengukur energi patah total dari spesimen. geometrik. 2 K Cπ π ⎡M σ ⎤ ≡ ln sec ⎢ T T ⎥ 2 8cσ 2⎣ σ ⎦ 12CvE 2 KC = AC (6) (7) P. kriteria kegagalan pipa dapat dinyatakan bahwa: jika. masingmasing adalah: Ketangguhan Charphy Metode yang digunakan untuk menentukan ketangguhan patah berdasarkan nilai energi impak charphy. Kondisi ini disebut sebagai kriteria bocor sebelum pecah (”leak before break criterion). (2003: 303). Berdasarkan persamaan-persamaan di atas. Jika pipa tersebut mempunyai cacat berbentuk semi-ellips pada daerah lasan. ada beberapa perbedaan mendasar antara suatu nilai uji Charphy dan uji ketangguhan. ac > t. pipa bocor terlebih dahulu sebelum pecah. sehingga ada suatu korelasi antara KIC dan energi Charphy hampir sama nilainya. dan t adalah tebal pipa. dapat diterapkan untuk berbagai arah sambungan las. maka kurva R akan mendekati horizontal.5. Rumus di bawah ini biasanya digunakan untuk menentukan ketangguhan Charphy: 2 ⎡ ⎤ Cv = ⎢ 4. dan E adalah modulus elastisitas (207.4√Cv (10) di mana K dalam MPa√m dan Cv dalam joules. Bagaimanapun. Hafli dan Akhyar Ibrahim material yang tergantung pada retak. atau sistem pembebanan. et al. yang menurunkan hubungan antara COP dan tegangan terpakai di dalam medan tegangan biaksial. K1 adalah faktor intensitas tegangan.D 4. Ketangguhan retak merupakan ukuran ketahanan meterial menerima beban luar atau lingkungannya..π. ketangguhan retak untuk kondisi regangan bidang adalah: K1c = βσ π ac (1) di mana ac adalah panjang retak kritis dan β adalah parameter geometri retak spesimen. Q/(1.50545σ π 2c ⎥ ⎣ 2E ⎦ (9) dengan Cv adalah energi Charphy (J). yang merupakan integral dari R(a) sepanjang ligamen. dan Q adalah parameter geometri retak. fluid stres. (2003:400). Tegangan pada Pipa Tekan Kekuatan sambungan las dapat diuji dengan tegangan arah tegak lurus dari arah lasan. (2003: 399). Untuk ketangguhan rendah pada urutan yang sangat rendah. ukuran retak kriris yang dibutuhkan untuk mengawali retakan dapat dihitung dengan berbagai tingkat ketangguhan Charphy menggunakan persamaan dibawah ini.5.t σ2 = Menurut Mohitpour.t P. maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah pipa tersebut akan langsung pecah secara getas atau mengalami kebocoran terlebih dulu sebelum pecah. nilai integral tadi dibagi dengan ligamen tertentu R dan K = (ER)0. et al. t adalah tebal pipa.5 (8) (2) (3) di mana: σ2 adalah tegangan memanjang (horizontal). 87 . khususnya lasan spiral baik arah memanjang dan melintang radial pipa.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T.8 sebagai CVN = 0. et al. Hal yang sangat penting adalah perbedaan laju pembebanan (berpengaruh pada tegangan luluh) dan perbedaan dalam ketajaman takikan (berpengaruh (4) keadaan tegangan pada ujung retak. misalnya menjalar sesuai dengan waktu. σ1 adalah tegangan melintang (radial) pipa. ac < t. Jika terjadi kebocoran terlebih dahulu maka melalui inspeksi rutin kebocoran tersebut dapat dideteksi sehingga langkah reparasi dapat diambil. (σ/σ0)22 (5) di mana ac adalah panjang retakan kritis.0345. Berdasarkan persamaan (4) dan (5) di atas. Menurut Mohitpour.

039 (lihat tabel 1) dan lebar cacat undercut dari simulasi tertinggi 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Faktor Intensitas Tegangan Pipa sebagai Fungsi Ukuran Cacat Untuk mencari faktor konversi satuan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus di bawah ini: KIC={820√Cv–1420}B-1/2+630[N/mm3/2] (11) Apabila faktor intensitas tegangan (KI) pada pipa sebagai fungsi dari ukuran cacat undercut diamati berdasarkan gambar 2. dan survei lapangan untuk mengamati secara langsung obyek penelitian dan melakukan pencatatan. No. Hubungan Energi Impak Charphy dan Intensitas Tegangan Kritis Tabal Cv Intensitas Intensitas Material (joule) Tegangan Tegangan B (mm) Kritis. bahan pipa JIS G 3452 yang memiliki diameter 12 inchi.5" 2.00 0.5" 1. Data yang telah dikumpulkan baik data sekunder (studi kepustakaan).2 0. diambil sampel dengan cara memotongnya yang dilakukan pada arah-arah memanjang. dipotong menjadi 6 bagian.005 0. Di dalam pengujian laboratorium. yang langsung dikunstruksikan gambar 2. Faktor Intensitas Tegangan terhadap Rasio Ukuran Cacat Undercut 88 .” Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan mengenai berbagai kasus kegagalan material pipa 12” transmisi air minum.2 9 intensitas tegangan. 10 Dan hasil konvensi tersebut diperoleh faktor intensitas tegangan kritis [kIC(ksi√in)] maksimum dan minimum seperti dapat diperlihatkan dalam tabel 1 di bawah ini.0" 1.40 0.30 0. mesin gergaji. uji tarik.5 mempunyai tingkat intensitas tegangan yang rendah yaitu 3.60 rasio ukuran cacat undercut a/2c (non-dimensi) Gambar 2. hasil tersebut dapat disusun suatu tabulasi data. tampak bahwa hasil simulasi diperoleh data untuk kedalaman cacat undercut 0. Kemudian Sampel-sampel tersebut diperiksa komposisi kimia. KIC Kritis. antara lain. mesin uji tarik.50 0.a (inch) 0. mesin las listrik.5 inch mempunyai tingkat intensitas tegangan tertinggi yaitu 3. K . 9 Indtensitas Tegangan. maupun primer (hasil wawancara. Pada sambungan lasan yang mempunyai undercut yang berbentuk semi-elips itu. diagonal dan arah canai (arah memanjang) dari baja lembaran itu. kemudian dilas dalam bentuk spiral dengan sengaja lasan dibuat tidak sempurna hingga membentuk cacat undercut dengan geometri semi-elips.025 Kedalaman Undercut . data-data teknis lainya.10 0. hasil perbandingan ukuran bentuk geometri cacat undercut dengan intensitas tegangan yang didapat dari persamaan empiris yang diperoleh dari hasil merujuk kepada rumus simulasi pada tabel dan gambar 2.1 0.015 0. dan mesin uji impak charphy. dan uji impak Charphy berdasarkan ASTM E 23-91. maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa dari data cacat undercut yang diperoleh kedalaman cacat undercut 0.325 ksi√in. (ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0.(ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0. hubungan kedalaman cacat undercut (a) dan lebar cacat undercut (2c) terhadap faktor intensitas tegangan (KI). mesin freis.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.3 90 138 124. Kemudian. Hubungan Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Cacat Undercut Analisis Geometri Cacat Maksimum untuk Tekanan Operasi Tertentu Selanjutnya.3 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. terutama data-data hasil rekaman NDT dari perusahaan. Tabel 1. KIC (MPa√m) (ksi√in) 1 2 3 4 60 108 97. Bahan penelitian adalah Pipa 12” untuk penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut geometri retak semi-ellips dan kawat las merek ”Jumbo. 4 Oktober 2006 METODOLOGI Dalam penelitian ini dipergunakan sejumlah peralatan.4 ksi√in (lihat tabel 1).5 100 147 135.2 70 118 1062 10 80 126 113.0" 2. K.5" Gambar 1.20 0. hasil perhitungan dan pengujian) diolah berdasarkan analis-deskriptip. sehingga diperoleh analisis bahwa semakin tinggi atau besar rasio ukuran cacat undercut semakin rendah intensitas tegangan yang dihasilkan dan semakin kecil atau rendah rasio ukuran cacat undercut (kedalaman dan lebar cacat undercut) yang terjadi semakin tinggi intensitas tegangan yang diperoleh kemudian.25 inch dan lebar cacat undercut 0.

135 130 125 120 115 110 105 100 95 Indtensitas Tegangan. Analisis kriteria kegagalan Penentuan kriteria kegagalan pecah sebelum bocor atau sebaliknya dari pipa berdasarkan kriteria bocor sebelum patah perlu diketahui: ”apakah panjang kritis retakan (aC). kriteria kegagalan dapat disusun sebagai berikut: Jika KI>KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. Analisis Kekuatan Sisa Pipa dan Perambatan Retak Apabila ditinjau kekuatan sisa pipa yang mengalami perambatan retak.a (inch) 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0.3 kedalaman Undercut.5 inch ternyata bahwa KI (8. dan dari Gambar 4 pipa masih dalam daerah aman karena jauh di bawah batas kekuatan luluh dari material lasan 52 ksi.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 88 ksi.2 0. Apabila sebaliknya.2 0. Hubungan Tegangan Operasi terhadap Kedalaman Cacat Undercut Hal ini berarti bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan dengan laju perjalanan 89 .33 ksi.0" 2.1 0. maka akan diperoleh hasil tegangan operasional maksimum ketangguhan material yang mengandung cacat las undercut terhadap deformasi plastic maupun perpatahandengan perbandingan data desain tegangan sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1.25”). yaitu di bawah batas ’netsection-yielding’ weld material sehingga dapat dinyatakan bahwa pipa dalam keadaan aman dari deformasi kebocoran maupun mengalami patah getas. (Kic max (ksi in)) retak masih dalam kondisi stabil untuk tegangan operasional yang diizinkan 8. juga untuk tegangan operasional maksimum sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1.5 ksi pipa masih aman dari deformasi kebocoran atau patah getas.5" max min Gambar 4. atau aC<t menyatakan pipa akan langsung mengalami pecah/ patah getas. Jadi. atau sebaliknya retakan sudah menjalar hingga nilai kritisnya tercapai sebelum ketebalan pipa terlampaui”. 600 tegangan operasi izin (ksi) 500 400 300 200 100 0 0 0. maka pipa tersebut akan benar-benar aman dari deformasi maupun patah getas apabila kuat luluh dari material las berada di bawah garis ”net-section yielding”.25 ksi√in< KIC minimum (97. (ksi in) 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0. Berdasarkan gambar 4 hasil simulasi dan data KIC maksimum dan KIC minimum bahwa untuk kedalaman retak 0. prediksi penjalaran retak ini masih dalam daerah kontinum yang dapat dipantau dan dikendalikan dengan baik.0" 1.0.5" 1. a (inch) 0. Jika KI<KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. atau aC>t menyatakan pipa akan bocor terlebih dahulu sebelum mengalami pecah/ patah getas. pipa akan mengalami deformasi plastik atau patah getas (pipa pecah). Panjang retak (kedalaman cacat undercut) maksimum yang diizinkan untuk tekanan operasi tertentu dari grafik 3 dapat disimpulkan bahwa kedalaman cacat undercut (a = 0039” .5 ksi dan batas ’net-section-yielding’ weld material (data kuat luluh material lasan) 52 ksi pipa masih dalam batas daerah safe area.005 0. sedangkan kuat luluh material las adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa yang sedang beroperasi.8 ksi dengan internal pressure 0. bahkan kondisi tersebut belum mencapai daerah penjalaran retak cepat menuju kegagalan bocor atau patah getas.4 Log. K.3 Kedalaman Undercut . Hubungan Faktor Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Undercut Pada gambar 4 hubungan tegangan operasi yang diizinkan terhadap kedalaman cacat undercut. tampak bahwa tegangan operasi yang dihasilkan air bertekanan 0.25 inch dan panjang retak 2.1 0.2 ksi√in). (Kic min (ksi in)) Log. Berdasarkan pernyataan di atas.015 0. Hafli dan Akhyar Ibrahim Analisis panjang retak maksimum yang diizinkan untuk tekanan atau tegangan operasi tertentu dapat dilakukan dengan memperhatikan gambar 3. melampaui tebal pipa (t).5" 2.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. Gambar 3.025 0.

1997.B. and A. New York: ASME Press). Proc.. 1977. 90 . Karena itulah. Chang. SARAN Dalam kenyataannya.25 inch dan lebar 2. DAFTAR PUSTAKA Akhmad A.. Mohitpour. dan terlihat bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan. “ Paper 12. J. Prosiding Seminar Offshore Technology 2002 (Bandung Pusat Studi Teknik Kelautan & LPPB ITB.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 8. sedangkan kuat luluh material lasan adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa pada saat beroperasi. pp. M. penelitian ini masih perlu dilanjutkan dengan mengembangkan pengaruh temperatur operasi supaya tingkat keandalan pipa dapat diprediksi terlebih dahulu. 74-88.B. 3.Jr. terutama efek suhu. Untuk kedalaman retak 0.8 ksi. 2003... Korda. “Aspect Ratio Varibiality in Part-Throung crack Life Analysis. Golsham. dan faktor intensitas tegangan kritis (KIC) atau ”facture toughness” di dalam material.M. American Society for Testing and Materials. 4 Oktober 2006 KESIMPULAN 1. 1997. laju penjalaran retak masih dalam kondisi stabil dengan tegangan operasional yang diizinkan 8. Tegangan operasi yang dihasilkan fluida alir bertekanan 0. Rothwell.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Broek. The Proctical Use of Fracture Mechanics. 2.. (Tree Park Avenue. A. Secong Edition. No. David 1988. Int. Murray.” PartThroungh Crack Fatigue Life Prediction. “Prediksi Kekuatan Sisa Pipeline yang terkorosi”. H. “The International State of the art Pipeline fracture Control and Fracture Risk Management.5 inch. Engle. Mekanika retakan dapat digunakan dalam desain dengan cara memperhitungkan kehadiran retak/cacat awal (pre-crack). 2002. ketika instalasi pipa yang sedang beroperasi terjadi berbagai pengaruh beban internal dan eksternal. Pipeline Design dan Constuction: A Practical Approach.8 ksi dan pipa masih dalam daerah aman (safe area). Achmad Sulaiman dan Ahmad Taufik. (Dordrecht and London: Kluwer Academics Publishers). Ed. R. 13-14 Januari). KIC hasil simulasi lebih kecil daripada hasil percobaan. ASTM STP 687.

Industri yang dibangun dan dikembangkan haruslah industri-industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Akan lebih memusatkan perhatiannya kepada pembangunan prasarana dan pencipta iklim yang menunjang pertumbuhan industri. Membantu dalam pembinaan dan pengembangan golongan ekonomi lemah di sektor industri. Dalam musyawarah penetapan upah di perusahaan sektor industri sebaiknya masing-masing pihak. Sektor swasta sebagai pelengkap dan pembantu kedua sektur lainnya (Tom Gunadi. menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat dan sektor pembangunan yang lain. Penciptaan lapangan kerja akan menyerap para pengangguran yang sebagian besar berada di sektor pertanian. pemerintah harus melaksanakan pembinaan dan perlindungan tenaga kerja di antaranya melalui penetapan upah minimum yang berlaku untuk masingmasing propinsi dan sektor pekerjaan. sepanjang teknologi yang ada menimbulkan efek berganda yang luas. b. d. pada umumnya modal merupakan unsur dan faktor utama dan sebagai tujuan utama adalah laba sebesar-besarnya atau keuntugan maksium. Untuk menunjang dan memberikan kemudahan-kemudahan dalam pembangun-an industri bagi pihak swasta. Berkurangnya tenaga pengangguran di sektor pertanian ini akan meningkatkan pendapatan di daerah pedesaan yang pada gilirannya petani akan menjadi pasaran hasil industri yang dihasilkan perusahaan industri. c. baik maupun pengusaha menyadari bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan eksistensi perusahaan karena runtuhnya perusahaan akan merugikan pengusaha dan buruh. II. mengenal tiga sektor besar yang interdependent yaitu sektor koperasi. Untuk itu kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan industri yaitu: a. Setelah memenuhi persyaratan Suryatmono 91 .UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA Staf Kopertis Wilayah I Abstrak: Dalam rangka mengikuti kebijakan pembangunan yang digariskan oleh Peropenas 2004–2009 khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ketenagakerjaan. PENDAHULUAN Bahwa sistem perekonomian menurut Pancasila dan UUD 1945. Kata kunci: Upah Minimum. Sektor Industri I. pemerintah berusaha agar dapat dibangun kawasankawasan industri (industrial estates) dibeberapa daerah tertentu di tanah air kita. sektor pemerintah dan sektor swasta. Pembangunan sektor industri di Indonesia ditujukan untuk memperluas lapangan kerja karena dengan meluasnya lapangan kerja maka pendapatan nasional akan terbagi lebih merata. dan industriindustri yang padat modal tetap akan didorong. 1983). Dalam hubungan timbal balik ini peranan sektor industri adalah memperluas lapangan kerja. PENGEMBANGAN SEKTOR LNDUSTRI DAN KAITANNYA DENGAN TENAGA KERJA Pembangunan sektor industri tidak terlepas dengan pembangunan sektor lain karena ada hubungan kait mengkait yang erat antara pembangunan sektor industri dengan sektorsektor lain. e. Pada perusahan industri swasta. Bidang gerak sektor swasta adalah hanya perusahaan yang tidak mengurusi hajat hidup orang banyak dan bidang usaha yang belum ditangani oleh negara dan koperasi. dalam hal ini mengusahakan perkembangan ketrampilan dan kecakapan pengelola pengusaha-pengusaha nasional golongan ekonomi lemah melalui latihanlatihan pada pusat-pusat pendidikan di berbagai tempat yang menitikberatkan pada pengetahuan manajemen teknis dan penyediaan-penyediaan kredit dalam usaha membantu permodalannya. menghasilkan devisa ekspor dari hasil industri dan menghemat devisa melalui produksi barang-barang yang hingga kini masih diimpor. maka logika perkembangan perusahaan industri swasta adalah kecenderungan persaingan sesama perusahaan swasta itu. Dalam pengembangan perusahaan industri tersebut pihak manajemen harus benar-benar memperhatikan upah para pekerja yang merupakan salah satu aset perusahaan. Memberikan kesempatan kepada pengusaha pengusaha asing untuk mendirikan perusahaan-perusahaan industrinya di tanah air kita. Intervensi pemerintah melalui penetapan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dimaksudkan agar keputusan perusahaan mempertimbangkan prinsip keadilan bagi pekerja. Dengan motif keuntungan maksimum.

Dalam penyusunan proram operasional di bidang ini ditetapkan lebih lanjut perbandingan modal dan buruh sehingga menjadi pegangan bagi pemberian izin. Dalam hal tenaga kerja. 07/MEN/90 tentang pengelompokan upah dan pendapatan non upah. dan sanggup membantu masyarakat terutama membantu melatih tenaga-tenaga Indonesia dan sanggup menempatkannya dalam kedudukan Pimpinan (G. dan menggunakan tenaga-tenaga kerja Indonesia. III.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 1983).4 Oktober 2001). harus mempertimbangkannya secara teliti. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan diharuskan secara tidak tetap gaji pekerja dan keluarganya yang pembayarannya tidak bersama dengan upah pokok. Perusahaan-perusahaan asing ini tidak boleh merugikan kepentingan nasional. PENETAPAN UPAH MINIMUM SEKTOR INDUSTRI Dalam menentukan besaran upah yang harus diterima oleh para pekerja. Persyaratan ini terutama berlaku bagi industri-industri yang mempunyai pilihan teknologi sehingga bisa disyaratkan pengunaan teknologi padat karya tanpa mempengaruhi efisiensi perusahan. sedangkan barang yang dihasilkan adalah sangat penting bagi pembangunan. Kartasapoetra 1985). penanaman modal (baik asing maupun dalam negeri) yang menghasilkan barang-barang untuk dijual harus memenuhi beberapa persyaratan. 4 Oktober 2006 persyaratan yang telah ditentukan pemerintah. b. tunjangan kesehatan. 5 No. wajar dan serasi sesuai dengan pekerjaan dan jabatan para pekerja. Upah adalah pembayaran yang diterima buruh selama ia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan. 3. adil. Keseimbangan ini harus menghasilkan perluasan lapangan kerja sebesar mungkin tanpa mengakibatkan rendahnya laju pertumbuhan sektor perindustrian. pihak manajemen sesuai dengan hukum ketenagakerjaan yang berlaku berdasarkan hubungan industrial Pancasila. Bulletin Utama Teknik Vol. yang termasuk komponen upah dan pendapatan non upah adalah sebagai berikut: a. maka pembagunan industri semacam ini dimungkinkan. tunjangan perumahan. Dengan demikian berarti fungsi perizinan dalam pembangunan industri harus lebih ketat dan efisien. Bagi industri yang sifat teknologinya padat modal. sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran terhadap pelaksanaan kebijakan-kehijakan tersebut melalui pengawasan yang ketat dari pemerintah. Berdasarkan penelitian yang lebih mendalam harus diperkirakan perbandingan yang wajar antara kenaikan perkembangan produksi dan kenaikan perkembangan buruh yang bekerja pada perusahan tersebut. antara lain: Perbandingan jumlah modal yang ditanam dan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan tidak boleh tinggi. tunjangan transportasi dan tunjangan kesehatan. dan hukum Indonesia dan berdomisili di Indonesia.: maka dalam bidang industri perlu di tetapkan suatu keseimbangan antara laju pembangunan industri dengan daya serap tenaga kerja. Sebelum diberikan izin. 2. seperti fasilitas kenderaan antara jemput. Untuk mencari keseimbangan tersebut diperlukan adanya penyaringan dalam pemberian izin penanaman modal dalam negeri maupun asing. 2000). No. Komponen upah Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja menurut tingkat atau jenis pekerja yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. (Imam Soepomo. SH. Menurut ketentuan dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja RI No. Tidak termasuk komponen upah Fasilitas kenikmatan dalam bentuk nyata atau natural hal-hal yang bersifat khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. maka secara 92 . Tujuan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjan yang diberikan secara tetap untuk pekerja dan keluarga yang dibayarkan bersama dengan upah pokok seperti tunjangan anak. Fokus perhatian perusahaan tidak terbatas pada barang/jasa yang dihasilkan tetapi juga aspek proses dan aspek sumber daya manusia dan lingkungannya (Luthti Parinduri. Dalam garis besarnya pemberian izin dilaksanakan menurut prinsip-prinsip berikut: 1. Upah yang adil adalah upah Minimum yang menjamin kebutuhan yang essensial bagi kehidupan yang manusiawi (Tom Gunadi. Dengan kebijakan pemerintah seperti diatas maka akan terbentuknya sumber daya manusia industri yang berkualitas dan mampu bekerja sama serta bersaing untuk memperoleh manfaat positif dari era globalisasi. tidak melakukan persaingan yang terlebih-lebih terhadap perusahaan nasional. 1974) pengusaha wajib membayar upah kepada para pekerja secara teratur sejak terjadinya hubungan kerja sampai dengan berakhirnya hubungan kerja (Lalu Husni. sanggup menampung. Karena pembangunan sektor industri memiliki kaitan yang erat dengan sektor lain. calon investor harus menunjukkan perkiraan penggunaan tenaga kerja selama perusahaan tersebut berkembang.

Gubernur Propinsi Sumatera Utara dengan keputusan No. Berdasarkan usulan tersebut maka Gubernur 93 . 07/MEN/1997 tentang upah minimum disebutkan bahwa upah minimum adalah upah pokok sudah termasuk di dalamnya tunjangan-tunjangan yang bersifat tetap yang terdiri dari: a. 8 Tahun 1981 tentang perlindungan upah maka untuk menjaga sampai terjadi upah yang diterima para pekerja terlampau rendah maka pemerintah turut serta menentukan standar upah minimum melalui peraturan perundangundangan berupa penetapan upah minimum yang wajib ditaati oleh pengusaha termasuk pengusaha perusahaan industri. Keputusan pemerintah tentang. surat Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara pada setiap akhir tahun mengajukan usul penetapan upah minimum sektoral propinsi Sumatera Utara yang berlaku mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. kantin dan sejenisnya. UMR untuk setiap daerah berbeda-beda yang didasarkan pada indeks harga konsumen. No. Bonus/jasa produk yaitu pembayaran yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja berprestasi melebihi target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas Tujuan hari besar keagamaan seperti tunjangan Hari Raya dan Tunjangan Tahun Baru. upah minimum yang berlaku untuk perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. Asas dari penetapan upah minimum yang adil tidak dapat lain dari pada hakikat dan fungsi tenaga kerja itu sendiri untuk penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja.3549/6/DTK-TR/2005 tanggal 20-12-2005. Sanksi hukum bagi pengusaha yang tidak melaksanakan ketentuan upah minimum adalah yakni Rp. Upah minimum regional: upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan dalam daerah tertentu. 560/3892/KS Tahun 2001 tanggal 20 Desember 2001 telah menetapkan pembentukan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Upah minimum sub sektoral. Khususnya bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sesuai ketetapan tersebut dapat dikecualikan dari kewajiban tersebut dengan syarat mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dengan rekomendasi dari Kepala Dinas Tenaga Kerja setempat. Upah minimum sektor regional upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. Upah minimum adalah upah terendah yang hanya berlaku bagi pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun sedang upah pekerja yang memiliki masa kerja 1 tahun ke atas dirundingkan secara musyawarah oleh serikat pekerja dengan pengusaha yang bersangkutan dan dimuat dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB).00. pola premi Hosley. Kemudian Dewan Pengupahan Daerah c. Adapun surat usulan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara untuk penetapan Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006 adalah usulan No. penetapan upah minimum yang berlaku untuk setiap propinsi dan sektor pekerjaan diterbitkan oleh Menteri Tenaga Kerja RI setelah mempertimbangkan Rekomendasi dari Gubernur Propinsi dan saran dari Dewan penelitian pengupahan Nasional Upah minimum ditetapkan dan berlaku mulai tanggal l Januari tahun berikutnya. karena pekerja pada saat ini masih dalam kedudukan yang lemah. maka mulai tahun 2001 penetapan upah minimum disetiap Propinsi diputuskan oleh Gubernur dengan memperhatikan usul Dewan Pengupahan Daerah Propinsi setempat yang berlaku mulai 1 Januari tahun yang berikutnya. tingkat perkembangan perekonomian regional dan nasional. c. pola bonus 100% pola kelompok atau sistem-sistem lainnya dengan ketentuan jumlah upah terendah yang diterima oleh pekerja tetap mengacu kepada ketentuan upah minimum yang berlaku dari Pemerintah. Bagi perusahaan industri tidak ada larangan untuk menerapkan sistem upah seperti time/day rate.q. Untuk maksud tersebut maka pemerintah ikut dalam penetapan upah minimum dengan maksud untuk tercapainya keadilan dibidang ketenagakerjaan dan pemerintah menyadari hahwa apabila masalah perupahan ini hanya diserahkan kepada pihak pekerja dan pihak pengusaha maka keputusan mengenai upah ini akan didominasi oleh kehendak pihak pengusaha. 05/MEN/1989 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Berdasarkan permohonan tersebut Menteri Tenaga Kerja dapat menangguhkan pelaksanaan UMR tersebut paling lama 12 bulan. Bagi pengusaha yang mampu membayar upah lebih tinggi dari upah minimum tidak dilarang menetapkan upah minimum lebih tinggi dari upah minimum dan upah yang sudah dibayar di atas upah minimum dilarang mengurangi atau menurunkan upah tersebut. kelangsungan dan perkembangan perusahaan. 100. piece rate. Dewan Pengupahan Daerah dibentuk oleh Gubernur yang terdiri dari wakil Pemerintah. b. Berdasarkan PP No. kebutuhan kerja.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono cuma-cuma sarana ibadah. wakil pengusaha dan wakil serikat pekerja. Dengan berlakunya Undang-Undang No. perongkosan.000. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. kebutuhan fisik minimum. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. pola premi Rowan. tempat penitipan bayi. upah pada umumnya yang berlaku secara regional.

Unjuk rasa pekerja saat ini masih berkisar pada perbaikan upah yang menurut mereka belum memadai namun di lain pihak pengusaha/industriawan juga mengeluh karena kondisi ekonomi saat ini kurang mendukung perbaikan upah tersebut. No.G.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. akan membawa dampak yang baik yaitu musyawarah dan mufakat yang melahirkan keputusan berupa terwujudnya upah yang wajar bagi pekerja. sudah memiliki materi yang tajam sehingga usulan yang dibawa dalam musyawarah cukup baik dan bisa memperkuat posisi tawar serikat buruh dalam perundingan agar peranan kedua belah pihak terpadu. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Pengantar Hukum Perburuhan. musyawarah dan menghadapi masalah akan melahirkan keputusan bijak dan arif yang menjadi seleksi terbaik bagi masing-masing pihak baik itu pihak buruh maupun pihak manajemen 94 .638. Untuk jelasnya pada tabel dibawah ini adalah daftar upah minimum sektor industri Propinsi Sumatera Utara tahun 2006 yang dikutip dari keputusan Gubernur tersebut.439 654. upah lembur. Djambatan. Pemerintah setiap tahun mengevaluasi pelaksanaan ketetapan upah minimum di daerahdaerah propinsi sebagai dasar untuk menetapkan upah minimum pada tahun berikutnya dengan mempertimbangkan masukan dari Dewan Pertimbangan Upah Daerah Propinsi. Jakarta: 1975 Lalu Husni.561/2858/K/Tahun 2005 tanggal 25 Desember 2005 tentang Penetapan Upah Minimum Sektoral Propinsi Sumatera Utara tahun 2006.000 Jenis Pekerjaa n 9 17 11 4 4 UMSP 2005 (Sektor Industri) 774.52 804. Di dalam keputusan tersebut dari 45 jenis pekerjaan pada sektor industri yang dapat dikelompokkan ke dalam 5 kelompok UMPS sebagai berikut: UMSP 2005 (Sektor Industri) 636. namun masih jauh dan kebutuhan fisik minimum (KFM). Apalagi dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Upah pekerja yang pada kondisi sekarang menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di Indonesia masih dalam tahap bagaimana meningkatkan upah buruh agar bisa mencapai taraf kebutuhan hidup minimum (KHM) padahal di negara ASFAN lainnya persoalan tersebut sudah bergeser kearah perebutan lapangan kerja dengan buruh asing.195. Kartasapoetra. Raja Gratindo Persada. 4 Oktober 2006 Propinsi Sumatera Utara menerbitkan keputusan No. Pihak manajemen perusahaan industri harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki sistem perupahan yang kurang baik sesuai kemampuan perusahaan dan apabila memang kondisi perusahaan belum memungkinkan maka perlu dimusyawarahkan secara terbuka dengan pihak serikat buruh.400 648. Jakarta: 2000 Berdasarkan data upah minimum di atas dapat kita lihat bahwa upah para pekerja di sektor industri masih di bawah kebutuhan fisik minimum namun bila nilai upah tersebut disatukan dengan fasilitas lain seperti Jamsostek. DAFTAR PUSTAKA G.58 796. uang makan dan lain-lain.70 789. Bandung: 1985 Imam Soepomo.817. 2.000 660. 4. Pekerjaan harus dapat menjamin penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja yang bekerja dan keluarga yang menjadi tanggungannya. North Sumatra Project Coordinator International Labour Organization (ILO) Henri Sitorus menilai gaji buruh di Indonesia masih terendah di antara buruh-buruh Se-ASEAN.00 kecuali Vietnam. Saat ini gaji buruh sesuai UMP di seluruh Indonesia rata-rata masih di bawah Rp. IV. Upah terendah pada perusahaan industri baru pada tahap kebutuhan fisik minimum namun sudah mendekati nilai kebutuhan nyata namumn dengan adanya kenaikan harga BBM kenaikan tersebut tidak punya arti yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan buruh.40 Jenis Pekerjaan 9 17 11 4 4 perusahaan. 3. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila. Kartasapoetra.G.000. Dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2006 kenaikan Upah Minimum tersebut kurang berarti bagi meningkatkan kesejahteraan buruh karena sebelum upah minimum berlaku sudah didahului dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi. Keterbukaan dalam manajemen. R. Perlunya kesadaran pihak pengusaha dan pihak pekerja bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama terhadap peusahaan karena tutupnya perusahaan dapat menyebabkan pengusaha kehilangan sumber usaha dan pekeija akan kehilangan sumber nafkahnya. Bina Aksara. Pihak Serikat Buruh harus bisa membaca denyut nadi perusahaan tempat kerjanya terutama yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian perusahaan sehingga pada waktu berunding dengan pihak pengusaha. PT.46 811. Kartasapoetra. KESIMPULAN Setelah membahas masalah penetapan upah minimum pada perusahaan sektor industri maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.439.000 642. maka upah yang diterima pekerja tersebut sudah mendekati nilai kebutuhan nyata (NKN).573. dan A. 750. Dengan berpadunya peranan pengusaha dan peranan serikat pekerja dalam perundingan.

Bandung: 1983 Bulletin Utama Teknik. Angkasa. Fakultas Teknik UISU.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono 2005 Gunadi. Jakarta: 2004 Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. Program Pembangunan Nasional 2004 – 2009. 5 No. 4 Oktober 2001. Vol. Medan Sekretariat Negara RI. Sistem Perekonomian Menurut Pancasila Dan UUD 1945. 561/2858/K Tahun 2005 tanggal 25 Desember Tom 95 .

The tool geometry is given in table 3.8 0. Keywords: CVD. while feed. and 20 mm. MATERIALS AND METHODS The fully hardened tool steel (AISI D2) with hardness of 62 HRC was selected as workpiece material.2 0. The objective of study reported in this paper is to study the tool wear and tool life when end milling of fully hardened tool steel with hardness of 62 HRC. TiN) is promising when used in turning of tool steel in normal hardness (27 HRC). 2. Al2O3. the first stage is machining of the tool steel in normal condition that is in hardness around 23-27 HRC.000 Conductivity (W/moC) 20. gears and many kinds of machine parts. In this stage. They reported that the coated carbide could be used up to 350 m/min with tool life not less than 7 minutes when machining under dry cutting and not less than 12 minutes when machining under wet cutting. Under this method. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. usually chipping. Moreover. TiAlN.2 Spec. (2001) have reported that the multilayer coated carbide (WC-Co coated with TiC. Chemical Composition of AISI D2 Chemical Composition (%). The workpiece was clamped firmly on the milling machine’s table during machining testing. This method is called hard machining.700 Modulus (N/mm2) 193. At those cutting conditions. many cutting tools have been coated with some coating materials such as TiN. 1 mm.01 mm/tooth. the rate of tool wear is high when hard machining process. In producing the parts. Brittle Fracture. Two pieces of this insert were mounted in a tool holder to form the end milling cutter with nominal diameter of 20 mm. Faculty of Engineering University of North Sumatera Abstract: Tool wear and tool life when hard milling of fully hardened steel with 62 HRC using CVD multilayer coated carbide tool are the objectives of the study reported in this paper. Aslan 2005). INTRODUCTION Tool steel is widely used in making moulds. dies. machining the workpiece materials in hard condition is one of hot issues in metal cutting.HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE Department of Mechanical Engineering. Fe to 100% C Si Mn Cr Mo V 1. As the advancement of cutting tool technology today. productivity is relatively low. etc. Those stages in the above are time consuming and thus. Armansyah Ginting 96 . axial and radial depth of cut are 0. the result of surface roughness when tool life of wet cutting passes the dry cutting is three times higher (more than 6 micron). Flaking 1. Flank Wear. flaking and fracturing are the dominant wear modes found in hard machining (Ghani et al. Finally. heat (J/kgoC) 460 The multilayer CVD coated carbide tool in insert type was prepared in this study. Table 1. This stage is followed by the heat treatment stage in which the hardness property of tool steel is improved up to 40 HRC or more in order to meet the requirement of product. tool life is ranging from 5 to 20 minutes. cavity bars. respectively. tool steel is machined until the geometry of parts is produced. Due to the high hardness of workpiece material.4 11.2 Table 2. The shape of workpiece was block with dimension of (310x75x54) mm. Al2O3.42 0. However. TiC. this stage is ended by finish machining (Dewes & Aspinwall 1997). Nowadays. Besides flank wear. The chemical composition and mechanical properties of this material are given in Table 1 and 2. materials with hardness from 32 HRC to fully hardened 60-62 HRC are directly machined into its final geometry and dimension. The results of study show that flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the dominant wear modes of the tool. Chipping. the dimension may not be produced accurately due to the heat treating process. The advantage of this study is facilitating the small and medium enterprises in setting up their cutting condition and sharing the good practice when machining product made of hardened steel.3 0. Che Hassan et al. in the case of producing the high accuracy product. Mechanical Properties of AISI D2 Density (kg/m3) 7. The multilayer coated carbide is used in this study and the machining trial is carried out with end milling process under dry cutting. 2004. It is recommended from the study that cutting conditions for the tool when cutting hardened steel are cutting speeds of 50 to 95 m/min.

02 mm/tooth Tool life Wear mode (min) 5. Mechanical Properties of Insert Transverse rupture (N/mm2) 3.0 mm and 20 mm.2 micron. respectively.60 Wear rate (mm/min) 0.51 SF and EBF 1.02 mm/tooth (finish machining).16 14 8 -7 7 7 17 0 15 15 90o8’ 15 radial (ar) depths of cut are kept constant at 1.015 0.060 0.056 Feed (f) = 0.022 0. the brittle fracture in group two is worst.450 Grain size (micron) <1 The machining trial was executed on the CNC Vertical Milling Center with 0 – 10.300 Density (kg/m3) 145 Conductivity (W/mK) 120 Modulus (GPa) 600 Hardness (HV10) 1.077 0. BF = brittle fracture (chipping. flaking) 97 . Table 4. In this group.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting Tabel 3.029 0.90 3. EBF = excessive brittle fracture (chipping. Cutting speeds of 50 to 72 m/min can be classified into group one. Unlike brittle fracture in group one. The measurement of VB was taken using the toolmakers microscope and each VB measurement was carried out after cutting length of 60 mm. The insert is made of the micrograin WC-Co with 10% of Cobalt and it is coated with 13 combination layers of TiN. All trials are repeated 3 times in order to obtain the reliable data and the average values are recorded.91 10.7 mm on any insert and VB average 0. Tool life data was recorded when flank wear at VB 0. The excessive chipping and flaking are occurred due to the high momentum of interrupted cutting during machining at high cutting speed. the wear modes can be classified into 2 groups.00 15. the tool wear modes of the multilayer CVD coated carbide tool used in this study are flank wear and brittle fracture. The tool life criteria in this study were stipulated based on ISO 8688 (1989).3 mm.33 Wear rate (mm/min) 0.020 0.3 mm on both inserts.24 13. The Experimental Results Cutting speed (v) (m/min) 50 65 72 80 95 Tool life (min) 20.01 to 0. it can be seen that generally. Tool Geometry Nose radius (mm) Chamfer width (mm) Chamfer angle (o) Axial rake angle Radial rake angle Face relief angle Peripheral relief angle Face cutting edge angle Peripheral cutting edge angle Face clearance angle Peripheral clearance angle Blade setting angle Helix angle 0.00 RF and BF 3. However.48 2. based on the cutting speed. The axial (aa) and Table 5.120 0. In group two (cutting speed of 80 and 95 m/min) the wear marks of flank wear is smooth (figure 2).086 0. 3. Ti(C. the wear marks of flank wear is rough and brittle fracture is dominantly occupied by flaking and chipping (figure 1). 3.3 mm) divided by tool life.000 rpm.188 Wear mode F and BF (rough) F and BF (smooth) RF = rough flank wear. The total thickness of the combination layers is 10 microns and the outer layer of this insert (TiN) has roughness of Ra 0. The machining trial is stopped when VBmax 0. The mechanical properties of this insert are given in table 4. RESULTS AND DISCUSSIONS The results of machining trials in this study are summarized in table 5.8 0.1 Tool Wear From the results presented in table 5. Wear rate is calculated based on flank wear (0.24 5. Cutting conditions for machining trial are cutting speed (v) from 50 m/min (recommended by the tool manufacturer) to 95 m/min and feeding (f) of 0.N) and Al2O3. flaking) SF = smooth flank wear.

0. At the same cutting speed. 3. 0.02 mm/tooh at VB 0.1 times. The table work is a sample product made by the small and medium enterprises.3 mm Referring to Table 5. cutting speed of 72 m/min was used for face milling the wide surface of table work. When cutting speed is concerned. Flank Wear and Brittle Fracture When 72 m/min.01 mm/tooth. the worst chipping and flaking are resulted by the higher feeding. Moreover. the decreasing value of tool life is found analogue to the increasing value of flank wear rate in the above.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.01 mm/tooth to 0. it can also be concluded that the effect of feeding is more than cutting speed in terminating the tool life.02 mm/Tooth at VB 0. Tool life (min) 10 Figure 2. while axial and radial depth of cut are 1 mm and 20 mm (full engagement since the nominal diameter of the milling cutter is 20 mm). 100 Figure 1.2 Tool Life Tool life data in Table 5 is plotted and presented in Figure 3. the recommended cutting condition for the cutting tool tested in this study is at cutting speeds of 50 to 95 m/min and feed of 0. The values indicate that the effect of feeding is more significant than cutting speed in term of the progression of flank wear. Flank Wear and Brittle Fracture When 80 m/min. the increasing of cutting speed from 50 m/min to 95 (m/min) (about 2 times) at feed of 0. it can be seen that the increasing of feeding from 0. 1 1 feed 0. respectively.01 mm/Tooth at VB 0. IMPLEMENTATION The cutting condition recommended from this study was implemented in fabricating the vertical table work to support the operation of milling machine in horizontal position (Figure 4).3 mm.02 mm/tooth (2 times) at all cutting speeds tested results the increasing of flank wear rate averagely 3. 98 . Therefore. the micro observation using SEM proves that the excessive chipping is also affected by feeding.9 and 3. Statistically. No. the reliable tool life of cutting tool is ranging from 5 to 25 minutes. 4 Oktober 2006 Based on the recommendation of ISO standard for tool life testing (ISO 8688 1989).3 mm S i 3 10 100 1000 Cutting speed (m/min) Figure 3. By these facts. Tool Life for All Cutting Conditions 4.9 times.3 mm feed 0. The result of machining proves that the cutting conditions recommended and good practices gained from this study are successful implemented in producing the vertical table work that made of hardened steel.01 and 0. In fabricating the vertical table work. Cutting Speed vs.02 mm/tooth results the flank wear rate 3. while 50 m/min for making the dove tail slot on the table.01 mm/tooth at VB 0.

. 1989.A.H. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. 2. Performance of P10 TiN coated carbide tools when end milling AISI H13 tool steel at high cutting speed. I. 69: 1-17. Part II-End Milling. C. E. K. ISO Standard 8688. Materials and Design 26: 21-27.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting (a) (b) Figure 4. Ginting. Product of Implementation. CONCLUSIONS 1. 1997. A. 7. 3.H. and Aspinwall D. J. H. axial and radial depth of cut 1 mm and 20 mm (nominal diameter of cutter). Choudhury. 116: 49-54. J. C. Che Hassan Che Haron from University Kebangsaan Malaysia and Mr. Dr. & Goh. Experimental investigation of cutting tool performance in high speed cutting of hardened X210 Cr12 cold-work tool steel (62 HRC). Journal of Materials Processing Technology. and Masjuki. Tool Life Testing In Milling. REFERENCES Aslan. 4. 6.. The cutting conditions recommended from this study are successfully used in fabricating the vertical work table made of hardened steel. Ghani. 2001.01 mm/tooth. (b) Vertical Table Work Installed on Horizontal Milling Machine 5.H. 2006. A Review of Ultra High Speed Milling of Hardened Steel. Journal of Materials Processing Technology. Journal of Materials Processing Technology. Goh Joo Hua for the data. (a) Vertical Table Work. 99 . Dewes R. 2004. The recommendation cutting condition for hardened steel using the CVD multilayer coated carbide from this study is cutting speeds of 50 to 95 m/min.A. ACKNOWLEGEMENT The author would like to express his sincere of gratitude to Prof. Wear of coated and uncoated carbides in turning tool steel. feed 0. Flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the wear modes of the CVD multilayer coated-carbide when used in hard milling of fully hardened steel with 62 HRC. Che Haron.

Cara Memperoleh Nilai Admitansi 100 . di mana i2=0 Gambar 2. Representasi Transistor sebagai Divais 2 Port Contoh : y11=1/z11=v1/i1. 1. Salah satu teknik analisis dan desain akurat tersebut adalah teknik parameter admitansi. Sesaat setelah diterima oleh antena sinyal ini harus diperkuat agar dapat dideteksi dan diartikan. Nilai-nilai admitansi yang diperoleh dari gambar 2. Parameter admitansi diperoleh dengan mengukur nilai-nilai admitansi dari transistor yang akan digunakan. PENDAHULUAN Analisis admitansi adalah bagian dari analisis sistem 2 port. 2 Port Abstract: The amplifier is the most important circuit in communication electronics. Admitansi. One of these techniques is using admittance parameters. umumnya berukuran mikrovolt. After being received by antennas.DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI Satria Ginting Abstrak: Penguat merupakan bahagian terpenting dalam sistem rangkaian komunikasi. Amplification technique that is always used in analyzing transistor circuits and operational amplifier will not working properly for signals in frequency of GHz. Radiated signals in spaces measured in microvolt. Transistor diperlakukan sebagai kotak 2 port seperti ditunjukkan pada gambar 1. Oleh karenanya diperlukan metode analisis yang lebih teliti dan akurat. Nilai tersebut diukur untuk range frekuensi tertentu. Kata kunci: Penguat. Teknik penguatan yang biasa digunakan dalam analisis transistor serta teknik penguatan operasional tidak bekerja optimal untuk sinyal-sinyal berfrekuensi orde GHz. Transistor. Y=1/Z. Hasil parameter admitansi y yang diperoleh frekuensi meliputi: y11 = g11 + jb11 y12 = g12 + jb12 y21 = g21 + jb21 y22 = g22 + jb22 resistif dan terdiri dari pengukuran untuk setip PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT Gambar 1. these signals should be amplified in order to recognized and translated correctly. Nilai impedansi terdiri dari komponen reaktif. sehingga nilai admitansi y konduktasi g dan suseptansi b. Sinyal-sinyal radiasi yang berada di udara. Therefore. it is necessary to find methods to analyze more precisely. Admitansi adalah nilai kebalikan dari impedansi.

Kapasitor digunakan untuk mengurangi efek riak dari catudaya. Transistor frekuensi tinggi (sampai beberapa GHz) memiliki parameter 2 port (parameter h. Transistor 2N3823 pada frekuensi 200MHz memiliki nilai C=0. maka transistor akan cendrung stabil dan tidak berosilasi. y. 5. Rangkaian bias lain seperti bias pembagi tegangan. bias kolektor (untuk BJT) juga dapat digunakan. Jika tabulasi yang tersedia dalam parameter s atau h. maka dalam mengaplikasikannya akan efektif pada frekuensi tersebut dan arus bias 10mA. Dari impedansi tersebut diperoleh nilai YS dan YL.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting 2. sebaliknya jika k>1. maka harus diubah dalam bentuk kompleks. Hal ini dicapai dengan menambahkan RF Choke pada setiap kaki transistor. Nilai tersebut diukur dan ditabulasikan sampai rentang frekuensi tertentu. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah. Jika tabulasi yang tersedia dalam bentuk fasor. 101 . maka transistor cendrung tidak stabil dan memerlukan rangkaian netralisasi. dengan syarat dapat mensuplai arus bias yang ditetapkan dan dipisahkan dengan menggunakan RFC. Untuk mengetahui keseluruhan rangkaian dapat beroperasi atau tidak. shielding dilakukan untuk memisahkan pin output dan pin input. Ini berarti transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. transistor harus dipisahkan secara fisik pada frekuensi 200MHz dari rangkaian biasnya. Rangkaian Bias Arus bias akan mengalir dari sumber tegangan melalui RFC ke drain dengan memanfaatkan nilai tahanan pada RFC.504. maka digunakan analisis kestabilan stern: di mana di mana Dalam artikel ini transistor 2N3823 digunakan sebagai contoh untuk mendesain penguat pada frekuensi 200 MHz. Tabel 1 menunjukkan contoh tabulasi parameter s untuk transistor MRF134. Dalam hal ini 10mA. selanjutnya adalah menghubungkan penguat dengan sumber sinyal dan beban. RFC menghubungkan drain ke ground. atau s) pada datasheetnya. di mana nilai Zo adalah 50 Ohm. 3. Gambar 3. PEMILIHAN TRANSISTOR Untuk mendesain penguat frekuensi tinggi. Adapun metode konversinya ditunjukkan beberapa formula berikut ini. 4. Jika C<1. transistor memiliki parameter y sebagai berikut: Nilai ini adalah nilai pada frekuensi 200MHz dan ID=10mA. maka rangkaian tidak stabil. PENENTUAN RANGKAIAN BIAS Rangkaian bias yang digunakan harus dapat mensuplai arus bias sesuai nilai arus pada parameter admitansi yang digunakan. Parameter yang penting dari sumber sinyal dan beban adalah impedansi masingmasing. RF Choke adalah induktansi dengan nilai tinggi dan akan melewatkan semua sinyal pada frekuensi tinggi. maka harus dikonversikan ke parameter y. Pada frekuensi ini. harus dipilih tansistor dengan karakteristik yang diinginkan. Rangkaian bias yang ditunjukkan pada gambar 3 menggunakan bias sendiri dalam konfigurasi common gate. Untuk mencegah osilasi akibat induksi elektromagnetis. UJI PARAMETER STERN Setelah rangkaian bias diperoleh. maka parameter admitansi harus diuji kestabilannya dengan menggunakan uji kestabilan Linvill: Jika k<1. UJI PARAMETER LINVILL Untuk mengetahui apakah transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. maka rangkaian akan stabil. arus ID= 10 mA. sebaliknya jika C>1.

y21t. .Pemilihan bias lebih flexible. y22f. YS=50Ohm (YOUT dapat dihitung).y22t. Perhitungannya diperoleh dengan memasukkan komponen YS dan YL pada perhitungan. Gambar 4. Di mana input admitance penguat adalah: Gambar 5. sehingga YIN dan YS dapat dimatchingkan. nilai kestabilan stern untuk admitansi beban dan source 50 Ohm adalah lebih besar dari 1. Bentuk Modul Penguat dan output admittance adalah: 7. y12f. Keduanya menggunakan matching impedace. 8. dan nilai admitansi rangkaian feedback adalah y11f. 4 Oktober 2006 6. y21f. TEKNIK STABILISASI Jika pada langkah perhitungan kestabilan Linvill nilai C ternyata lebih dari 1. Rangkaian Lenglap Penguat Untuk langkah selanjutnya. Namun permasalahannya adalah ketika beban dan source tidak match. digunakan rangkaian matching impedance. MAKSIMALISASI PENGUATAN Gain maksimal yang dapat diberikan sebuah penguat adalah: Kondisi ini diasumsikan bahwa impedansi source dan load match dengan input impedance/admittance dan output impedance/admittance dari penguat. nilai-nilai yang diperoleh eksak dan teliti. Nilai penguatan maksimum yang dapat diberikan adalah 16. Posisi RFC disesuaikan sehingga diperoleh rangkaian yang tepat. Hal ini disebabkan: . . karena tidak mempengaruhi gain selama arus bias terpenuhi dan rangkaian dipisahkan dengan RFC. yakni gain transducer: Pada kasus di atas.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.8 dB. No. penguat dapat dibuat beberapa tingkat dan dipabrikasikan dalam bentuk modul seperti gambar 5 berikut.Pemakain matching impedance dan teknik stabilisasi mempertinggi luasnya pemakaian transistor sebagai penguat. YOUT dan YL juga dapat dimatchingkan. maka dapat dilakukan teknik stabilisasi dengan menambahkan rangkaian feedback seperti ditunjukkan pada gambar 6. . diperoleh bahwa analisis dan desain penguat dengan menggunakan parameter admitansi lebih teliti dan lebih mudah dibandingkan dengan parameter sebelumnya seperti phi atau gm.Parameter y langsung diperoleh secara experimental untuk frekuensi yang diinginkan. Namun penguatan yang diperoleh akan bervariasi terhadap nilai YS dan YL. KESIMPULAN Dari uraian di atas. hal ini berarti kondisi penguat stabil. Maka untuk memaksimalkan penguatan dan menstandarkan impedansi sumber dan beban. maka akan diperoleh penurunan nilai gain.Perhitungan lebih mudah. Gambar berikut adalah gambar lengkap di mana diasumsi kan YL=50 Ohm (YIN penguat dapat dihitung). Teknik Stabilisasi Penguat Jika nilai parameter admitansi transistor adalah y11t. 102 . maka akan diperoleh nilai admitansi baru dari rangkaian: Nilai ini dapat digunakan dalam desain yang baru dengan menggunakan langkah-langkah yang sama. Gambar 6. y12t.

“Small-Signal RF Design with Dual-Gate MOSFET’s. “Using Linvill Techniques for R..” by Arthur P.” by John Lauchner and Marvin Lilverstein. 1968. Application Note 513.. Electro-Technology.” by Linvill and Gibbons. High-Frequency Amplifiers. January. April 12. “Circuit Design and Characterization of Transistors by Means of Three-Part Scattering Parameters. 1961. “High-Gain. Inc. Stern.” Motorola Semiconductor Products.” by George E.” by Peter M. 103 . Norris. Application Note 423. “Transistors and Active Circuits. F.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting REFERENSI “Field Effect Transistor RF Amplifier Design Techniques. Inc. Bodway. May.” Motorola Semiconductor Products.” Motorola Semiconductor Products. 1966. Inc. “Stability and Power Gain of Tuned Transistor Amplifiers. 1957.”Motorola Semiconductor Products. Application Note 166. “A High Gain Integrated Circuit RF-IF Amplifier with Wide Range AGC. Proc. The Microwave Journal. Application Note 478A. “Linvill Technique Speeds High Frequency Amplifier Design. 1966. Inc. March. Amplifiers. Electronic Design. IRE. McGraw-Hill.

PENDAHULUAN Dengan meningkatnya secara pesat pembangunan pada segala bidang yang mengakibatkan pula meningkatnya kebutuhan akan energi. dan kabon amorf. G. A maximum caloric value was obtained 8083. garam.1993). Perlakuan Panas. Pemanfaatan arang sebagai arang aktif adalah didasarkan pada sifat-sifatnya yang merupakan bahan padatan amorf yang berpori (Keake.. Partikel halus ini diimpregnasi dalam larutan natrium silikat (Na2SiO3) dengan variasi konsentrasi (0. A coconut shell was carbonized at (600–700) 0C in limited air condition. hal ini dibedakan dari banyaknya gugus karbonil (C=O) yang melekat pada karbon (J. Variasi Konsentrasi. Bahan ini (impregnan) selanjutnya dicampur dengan perekat organik dan dicetak menjadi briket. To improve the quality both caloric value and compressibility number is an objective of this study. peat. namun mutunya seperti nilai kalor bakar masih berkisar 5000 kal/gr dengan kuat tekan 2. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui adalah pemanfaatan limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket arang. dan gas alam yang tersedia di perut bumi semakin menipis. This material has been regenerated from a coconut shell charcoal blended with organic glue. arang aktif serta briket.2% natrium silicate (Na2SiO3) solution.Aslam Ali PD II-LIPI).2% larutan natrium silikat (Na2SiO3). pori-pori karbon yang besar diduga menurunkan nilai kalor bakar dari briket (4000-5000) kal/g (Hartoyo Ando.84 kal/gr dengan kuat tekan 4. Pembriketan ini lazim dilakukan terhadap coke. Pembriketan atau briquetting terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu.84 cal/gr with its compressibility number 4. It has caloric value approximatly 5000 cal/gr with compressibility number is 2. dapat muncul dalam dua bentuk kristal yang sangat berbeda yaitu intan dan grafit. Intan adalah elemen yang transparan dan merupakan salah satu material paling keras.45 kgf/cm2 in 0. The charcoal formed then was crushed.7 sedang karbon tempurung dapat disebut karbon polar atau karbon nonpolar. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Abstrak: Briket arang adalah suatu sumber energi alternatif yang dapat diturunkan dari arang tempurung kelapa dan perekat. H=5. These particel were impregnated in natrium silicate (Na2SiO3) solution under a range cocentration (0. sementara sediaan tempurung kelapa cukup banyak terdapat di Indonesia khususnya daerah Sumatera Utara dan dapat diperbaharui.45 kgf/cm2 pada konsentrasi 0. Tempurung kelapa banyak juga dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu pada industri kerajinan tangan. Kata kunci: Impregnasi. maka arang polar yang sering digunakan karena material arang polar akan merekat dengan binder atau perekat yang bersifat polar (Suheng Wu.1%. untuk meningkatkan mutu ini maka perlu dilakukan penelitian lanjutan.1–1. Hilda F. Adapun komposisi arang tempurung kelapa terdiri atas unsur C=81. Pembuatan obat dalam bentuk tablet atau pun katalis dalam bentuk pellet termasuk juga dalam cara briquetting. Briket ini diuji kalor bakar dan kuat tekannya. tepung tempurung. kalor bakar maksimum diperoleh 8083.0)%. arang. The impregnant was blended with an organic glue then molded to be a briquet. sized to (40–60) in mesh. A.5% dan pH=6.1–1. Karbon polar biasanya terjadi jika karbonisasi (proses pengarangan) karbon di bawah suhu 700 oC. Laine. oleh karena itu kita dituntut untuk memikirkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. 1999). O=9. grafit. banyak dimanfaatkan sebagai media abrasi dan Aditia Warman 104 . Pada pembuatan briket arang. 1999). intan. Tempurung kelapa dikarbonisasi pada (600–700) 0C dengan udara terbatas. These briquets were tested their caloric value and their compressibility. 1955). 1996). Pori-pori ini dapat diimpregnasi dengan logam untuk keperluan katalis suhu tinggi (A.9%. Sungguh menakjubkan bahwa satu elemen tunggal seperti karbon.5%. N=3. Silikat Abstract: A materil such as charcoal briquet can be used as an alternative energy. arang dan bahan mineral lainnya.64 kgf/cm2.0)%. Dengan menggunakan teknik ini maka serbuk karbon jika diimpregnasi dengan silika (SiO2) akan memperkecil ukuran pori-pori karbon tersebut. sementara cadangan energi seperti minyak bumi. karena selama ini penggunaan tempurung kelapa hanya sebagai arang biasa dan belum dipergunakan secara optimal. Calafat.ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA Departemen Fisika.64 kgf/cm2. (Sudrajat R. Karbon merupakan material berpori-pori di mana pori-porinya semakin besar setelah dilakukan aktivasi fisik atau kimia. arang yang dihasilkan digiling dan diayak sampai (40 – 60) mesh. TEORI KARBON Karbon merupakan suatu bahan padatan yang berpori dan mempunyai tiga bentuk alotrop.

Pembriketan tanpa memakai pengikat. 2. hampir semua/sebagian besar dari pembriketan menggunakan cara ini. sifat fisis yang penting dari briket arang ini adalah nilai kalor bakar dan kuat tekannya.Kadar karbon. 1.23 bagian dari 5% larutan H2SO4 Selanjutnya diaduk hingga merata dan dicetak dalam cetakan dan ditekan dengan hidrolik press 10 kgf/cm2 dan dikeringkan untuk siap dikarakterisasi kembali.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman alat pemotong. Pembriketan dengan memakai pengikat (binder). Elemen ini sekarang digolongkan ke dalam kelompok keramik tahan panas karena kekuatannya pada temperatur tinggi serta ketahanannya yang sangat baik terhadap kejutan termal. selanjutnya butiran arang ini diayak kembali dengan ayakan yang berukuran 40 dan 60 mesh dan dipanaskan pada tanur dengan suhu 400 oC selama 4 jam dan siap untuk dikarakterisasi: . Kadar volatil. setelah itu arang yang telah diimpregnasi ini dicuci dengan air dan ditiriskan lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 125 o C selama 6 jam. FTIR Pembuatan Briket Arang Butiran arang dari hasil impregnasi selanjutnya dibuat menjadi briket dengan komposisi sebagai berikut: tujuh bagian arang dicampur dengan satu bagian bahan pengikat dan bahan pengikat ini terdiri dari. 1999). Intan dan grafit mempunyai struktur atom karbon murni yang sifatnya berbeda sedangkan karbon amorf meliputi sejumlah besar senyawaan yang bagian terbesarnya adalah karbon dan tidak dapat di klasifikasikan sebagai intan atau grafit. E.28 bagian dari 10% larutan Na2SiO3 . garam arang. dan mineral lainnya. SEM. BRIKET ARANG Briket arang dapat dibuat dari campuran bubuk arang ditambah dengan suatu bahan pengikat lalu dicetak dan dipres pada cetakan dan setelah itu dikeringkan.29 bagian dari 25% larutan NaCl . kuat tekan yang memadai diperlukan untuk mencegah agar briket arang ini tidak pecah pada waktu pengangkutannya. Pembriketan terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu. dalam hal ini digunakan tekanan yang sangat besar (mencapai 10 ton/in2). Absorbsi Iodium. Smallman. Grafit digunakan sebagai pelumas padat dan alat tulis (mata pensil).0 ) % selama satu hari. peat. pembriketan biasanya lazim dilakukan terhadap coke.30 bagian dari 25% larutan dekstrin/glukosa . . . cara ini dipakai untuk material-material tertentu saja. termasuk di dalamnya karbon aktif dan karbon hitam karena sifat-sifatnya lebih banyak menunjukkan sebagi senyawa amorf (R. Adsorbsi asam asetat .Kuat tekan 105 . METODOLOGI PENELITIAN Impregnasi Karbon dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) Butiran arang yang terbuat dari tempurung kelapa dengan metode destilasi kering akan menghasilkan arang dengan rendamen yang tinggi. selanjutnya dihaluskan dengan hammer mill dan diayak dengan ayakan berukuran 40 dan 60 mesh lalu diaktifkan dengan metode pengaktifan selanjutnya dicuci dengan air lalu dikeringkan dalam oven 125 o C selama 6 jam setelah itu diamati dengan foto SEM dan FTIR untuk mengetahui keadaan permukaan dan strukturnya sebelum diimpregnasi. secara garis besar pembriketan dapat dibedakan atas dua macam. sebagai contoh misalnya untuk coal bituminous. Kadar abu.Kalor baker .Kadar air.1 s/d 1. Butiran arang yang berukuran 40 dan 60 mesh ini selanjutnya dibagi menjadi 10 bagian dan masing-masing direndam dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) yang konsentrasinya masing-masing (0.

30 0.00 20.10 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kadar Karbon .00 80.00 0.00 0.80 0.00 5.70 0.00 6.vs .00 Kadar Karbon (%) 70.00 8.00 10.60 0.vs – Consentrasi Pengimpreg Series3 Grafik Kadar Volatil .40 0.70 0.00 0.00 50. No.Consentrasi Pengimpreg 100.00 0.50 0.vs .10 Consentrasi SiO2 (%) Series1 Grafik Kadar Air .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 3.00 9.00 2.00 1.00 90.90 1.00 Kadar (Air.40 0.60 0.vs – Consentrasi Pengimpreg SiO2 Series2 Grafik Kadar Abu .00 0. 4 Oktober 2006 HASIL DALAM GRAFIK DAN GAMBAR 11.00 1.00 4.00 10.00 1.50 0.10 0.00 40.00 30.Consetrasi Pengimpreg SiO2 106 .20 0.00 0. Volatil) (%) 7.00 60.30 0.90 1.20 0.80 0. Abu.10 0.

8 0.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 107 .1 0.5 0.6 0.9 1 1.3 0.6 0.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 25 20 Kuat Tekan (kgf / cm ) 2 15 10 5 0 0 0.4 0.4 0.vs .5 0.7 0.2 0.1 0.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik nilai Kalor Bakar .Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman 9000 8000 Kalor Bakar (kal / g) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 0.3 0.9 1 1.7 0.2 0.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kuat Tekan .vs .8 0.

4 Oktober 2006 Foto SEM Permukaan Arang Sebelum Diimpregnasi SiO2 Foto SEM Permukaan Arang Sesudah Diimpregnasi SiO2 FTIR Sebelum Diimpregnasi 108 .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. No.

ukuran partikel arang. Marcel Dekker. Vol. (1996).2. pp. No. Ando.E. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Calafat.Graw Hill Company. Standar Cara-Cara Analisis dan Syarat Mutu Barang”. (1987).J.2. Keake.“ Pembutan Briket Arang dari Lima Jenis Kayu Indonesia”. Mc. bahan pengimpregnasi dan jenis bahan bakunya. “Polymer Interface and Adhesion ”. Alport.2%.84 kal/g dan kuat tekannya 4. (1994) Pedoman Teknis Pembuatan Briket Arang. kadar abu (Ku). New York. Report No. J. and M. kadar volatil (Kv) tetapi hal ini menyebabkan turunnya kadar karbon (Kk). Badan Penelitian dan pengembangan kehutanan.” Majalah Ilmiah BIMN No.“ Activated Carbon From Coir Fibre Pith”. Vol 1:69 American Society For Testing and Material (1981) “ Annual Book Of ASTM Standards” Part 30 D-28 Departemen Perindustrian.” Preparation and Characterization of Activated Carbon From Coconut Shell Impregnated with Phosphoric Acid. Erlangga Jakarta. Sifat kuat tekan (σ) briket arang tempurung kelapa akan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi pengimpreg SiO2 dan hal ini juga diikuti oleh sifat kadar air (Kr).3.61 mg I2/g dan semakin kecil setelah diimpregnasi dengan SiO2.“ Pembuatan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dengan Cara Pemanasan Tinggi. London. No. Lybrary of Congress Cataloging In Publication Data. Departemen Kehutanan.45 kgf/cm2 pada konsentrasi pengimpreg SiO2 0. 3. Bishop. Sudrajat. (1995). Souheng Wu (1999). Departemen Perindustrian.44 mg I2/g yang didukung oleh data foto SEM dan FTIR. Arang tempurung kelapa memiliki absorbsi I2 = 100.Y. Carbon Vol. 2. DAFTAR PUSTAKA A. R. R. “Pengaruh Beberapa pengolahan Terhadap Sifat Arang Aktif ”. A. R. Smallman. Lumingkewes. dalam penelitian ini nilai kalor bakar optimum diperoleh 8083. (1999) “Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa Meterial”.7. Hilda F. H Bumham. Meiske S. absorbsi I2 = 47. (2002). 109 . (1979) “ Standar Industri Indonesia. J dan H Roliadi. Pusat Penelitian Hasil Hutan. 19-29.G. Buletin PD II – LIPI Jakarta. Nilai kalor bakar (C) arang tempurung kelapa meningkat jika diimpregnasi dengan SiO2 pada konsentrasi tertentu. 103. Harotoyo. Hasibuan M. (1993). Laine. Aslam Ali. dan nilai kalor bakar ( C ) arang tempurung kelapa tersebut. Labady (1999).“Actived Carbon” Encyclopedia Of Science and Technology.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman FTIR Sesudah Diimpregnasi SiO2 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Supeno M (1987) “Efek Termal dan Nyala Pada Pembuatan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Sifat Fisik Arang Tempurung” Universitas Sumatera Utara Medan. Inc. (1995) “Rekayasa dan Pembuatan Tungku Abu Sekam Dengan Bahan Bakar Briket” Balai Industri Ujung Pandang.27. Saran Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan variasi tekanan pengepresan.

therefore the average petrol waste is about 0. due to the number of vehicle arrivals (pcu/minute) is quite high on the road segment. with assumption of 2 road segments are congested per intersection). then the traffic queue on the preceded intersection will affect the succeeded intersection. Faculty of Engineering USU Abstract: Urban traffic congestion often become topics in seminars. bus way. This could happen because of high side friction effects which lead to road segment stricture (bottleneck). etc. The management should be based on the hierarchical. Furthermore. The most urgent for short-term program is the effectiveness and efficiency achievements of transport systems. has been discussed and investigated by various experts. setting traffic lights. and the average delay is about 10 minutes/pcu/travel. How is the existing policy objectives and the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan? And how is the relationship with the urban transport systems of Medan? 1. Indeed. heart disease). Each congested road segment has average traffic volume of 2.5 litre/pcu/road segment. trishaw and urban public transport (angkot) poles. An illustration for the amount of financial losses per day that has to be bore by traveller community in Medan based on author’ observations and estimations is such as follows: Congestion locations per day in Medan are about 60 road segments (30 intersection spots.1. and often become chatting topics for community from various classes everywhere. e. wasting petrol. cause the queue length becomes more intense. Bangun 110 . The aim of the traffic management policy is to manage the movement to achieve the system’s efficiency and effectiveness in accordance with the movement’s needs.g. the congestion is also often caused by less accurate intersection management (with or without traffic light). like what always become reasons/arguments for various relevant government parties/individual to protect themselves. When the distances between intersections are close enough. due to the limited procurement of road infrastructure until the existence of emotional behaviour of motorists. whereas the movement’s needs are determined by the land use inside the city space and its surroundings which can be illustrated in data of Origin Destination (of movement) Matrix (O-D Matrix). BACKGROUND Traffic congestion occurred due to the road segment has started not to be able to accommodate/distribute the vehicle flows that spilled over the road.000. Traffic congestion on the intersection segment can be observed from the long queued vehicles. the urban traffic jam is not only due to the unbalance ratio between infrastructure developments and means boost (vehicles) and low discipline level of motorists. While the petrol (BBM) price is Rp. the traffic congestion/delay and harmful accident also occur due to the behaviour of angkot’s drivers that often turn up (nyelonong) and suddenly stop on/in the middle of road to get on/off the passengers due to “reaching the daily bill target” (kejar setoran). selling/market on road or on the sidewalks. that is “an interesting scene” or the contest of “line exhibition of various types of queuing vehicles” at every segment of road in Medan. Therefore. urban traffic congestion cannot be eluded.40. traffic signals. restaurants and plaza) which therefore can decrease incomes/revenues of the land use functions. For surrounded environment (non users) such as air and noise pollutions. there are about 4 hours peak per day. road-cross facilities. 2.500 pcu/hour at peak hours.850/litre. shelter). public transports routes/lines managements (bus lane.URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS A Lecturer/Researcher of Civil Engineering Department. The impacts and financial losses caused by traffic congestion that are directly affected are: 1. added by high accessibilities to the surrounded land use of the road segments. In addition. on road social activities (party or funeral ceremony). like what has been visible now. which restricted by their discipline levels in the traffic. for instance: parking location management.- Filiyanti T. increase the travel time. In Medan. and the average value of time of traveller is about Rp. such as the correct and integrated traffic managements. However.A. pedestrians (on road walking and/or crossing). while the number of vehicles that can be distributed is very limited during the green-light time. retails/shops. 2. functions and classifications of the roads respectively. and stres (triggering high blood pressure. THE IMPACTS AND FINANCIAL LOSSES FROM TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN Urban traffic congestion cannot certainly be eluded. For users (travellers). however it supposed to be minimized and not maximized (intentionally or not). traffic direction management (one or two ways). efforts to minimize the congestion levels are necessary through the application of traffic management policy. which consequently causes series of congestions at all integrated junctions. less visitors to land use functions of surroundings roads (parking. for instance: on road parking. bus priority) and the bus stops (bus bay.

should be sustained by managing the traffic systems in such a way in order to maintain the average operational velocity of vehicles.000. the urban traffic congestion is not deserve just as a chatting topic for community.per productive hour and the waiting time delays averagely about 10 minutes.. especially at afternoon peak-hours. schools and retails) and limiting the impacts of side frictions. Thus. functions and classifications. The loss due to delayed waiting time = 120. the City Government should rigorously mull the policy over through deeper and comprehensive (integrated) academic investigation/research in accordance with road network systems and traffic movement patterns. Adding susceptible spots and congestion levels on the other intersection road segments caused by shifting the traffic flow distributions. Bangun /productive hour (assumption: 1 vehicle contains 1 person). Therefore.000.555.-. researchers/planners of transportation and city region development.20.= Rp.000 passengers with value of time is Rp20. Asrama intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Asrama Street. c. the traffic flow distributions according to the both directions are similar in general. with a small difference is at morning and afternoon peak hours. The loss due to productive time = 2. The congestion from Gajah Mada Street flows to S. the prevailed one way policy is only from Petisah Roundabout until Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection (from East to West direction). continuing along the roads.000 total armada (angkot and taxi) is about Rp.000. The loss of public transport operators = 15.000.850. real estate.g.000. The waste petrol occur = 2. therefore the loss of angkot due to less passengers (less trips) with about 15.12. Ayahanda intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Ayahanda Street and/or Darussalam Street.000.500 x 60 x 15/60 x Rp. such as follows: a. The stipulations based on the road hierarchies.36 Billions per month).Parman Street and continually to Kejaksaan Street (becomes more severe at the intersection of Imam Bonjol– Diponegoro).000 x Rp.. Prior to the one-way policy on Gatot Subroto Street.000. especially about the one-way policy on Gatot Subroto road segment (from roundabout of Petisah until Gatot Subroto – Iskandar Muda intersection).000.. Wahid Hasyim and continually to the intersection of Gajah Mada– Iskandar Muda (extreme congestion). Department of Communications/DLLAJ).: market.000.-.= Rp. however it has to become a serious attention for all levels of road user communities.000. From the existing road hierarchy. traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East becomes more excessive to K. so that the traffic flow condition on the road segments is expected to be constantly fast.500 x 0.400. H. which consequently causes higher congestion level on one-way flow of Gatot Subroto Street.. then the accesses to local roads along the Primary Artery Roads should be limited. The congestion from Darussalam Street will affect Pabrik Tenun Street.M.1.-.40. Flow stricture occurs (bottleneck) on Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection caused by the shift of one-way flow (from Medan to Binjai) to become two-way flows (starts from the intersection nozzle of Gatot SubrotoIskandar Muda to Binjai direction). To achieve these goals..per day (± Rp. plaza. added by stres burden that has to be experienced.000. A. This is not even yet the loss that has to be carried by non-users (needs further investigation with more accurate data). continually to the intersection of Skip Street and keep going to Gereja Street until Glugur junction.12. function and classification. However. the more the locations and the higher the levels of congestion. d.= Rp.285.= Rp. The congestion from Kejaksaan Street will flow to Kpt.000.000. 3. In conclusion. the traffic flow will affect the intersection of Abdulah Lubis Street. including limiting the direct accesses to surroundings land use (e. at both inside and outside the cities (suburban). As a Primary Artery Road.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. Gatot Subroto Street is a Primary Artery Road and operating as a State Highway (interprovinces) as well as S. law supervisors (police. especially in large cities.150.000. THE IMPACTS OF BY-SPOTS ONE-WAY POLICY Post application of policy package of determining the traffic movement direction from two ways to become one way in several road segments in Medan is increasingly discussed through seminars and newspapers. 111 . then the larger the loss that has to be bore by traveller community (user) and non-users. state that the services of Primary Artery Roads.000 x 10/60 x Rp.. From KH. the total financial loss for traveller community (user) is Rp. Raja Street.1.5 x 4 x 60 x Rp. especially for regulators (The City Government and the Regional House of Representatives). The average number of angkot’s users for 4 peak hours is about 120. b.Wahid Hasyim Street. which will continually unite with the flow from Iskandar Muda Street at the intersection of Abdulah Lubis – Iskandar Muda causes severe congestion at the intersection. which causes: 1.000. Maulana Lubis Street intersection and continually until the intersection of Raden Saleh Street (becomes extreamly congested). H Wahid Hasyim Street and affects the intersection of Gajah Mada–K.. 2.-/vehicle.180. Western intersection.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. The city establishment /development concepts are expected not only having temporary goals or just taking the advantages (lagi mumpung). which previously passes the road segment of Gatot Subroto (specifically from West direction to East). demand reduction to market/shopping areas. e. but it should be by network systems that are integrated. without solemn planning and up to angkot’s will). Fair Plaza are expected to (should) grant the financial compensation for the development of both types of road. which have to be bare by the community? And to where the direction of further development of Medan. especially for retails’ businesses that tend to be concentrated on the surroundings CBD (Centre Business of District) area. cooperative and sustainable. which will enable to reduce conflict spots of the intersection (therefore continued flows will separate from turned flows). for instance. THE ROLES OF CITY GOVERNMENT OF MEDAN Enacting the one-way policy on several road segments. causes community has experienced the negative impacts. T.g. about the possible policy that may be more effective to be applied (with the existence of Medan Fair Plaza). parking.. Additional of heavy duties.Parman Street that affect the intersection of S. The development of Medan City has rapidly advanced nowadays. after the congestion problems become very serious and the solutions are only either to widen the roads or to establish a new road or a fly over. especially flows from West to East for land users on surroundings road segments. because the perceptions and the travellers’ traits have patterned on road network according to time. the traffic flow comes from Gajah Mada Street to Iskandar Muda Street will cause travellers search alternative roads around the acceess roads. 4. Therefore. Pardede Street. it is better if the road networks (infrastructure) have been built primarily before applying the traffic management policies. D. which causes additional congestion in various intersections along Iskandar Muda Street and continually causes congestions at the intersections of each alternative road with S. it is highly expected that the development programs of Medan City is not centralized only in CBD area or in the other word “heaping sugar in city centre” so that the “ants will gather and rotate in city centre” that causes various bigger urban problems (not only in transportation sector but also in other sectors) so that the solutions become heavier and more complicated. Thus. that has to be integrated with RTRW of North Sumatera Province and has been enacted (Perda)? 4. Whereas for the policies of traffic flow direction management of other road segments in Medan. Considering the too many routes and angkots’ armada that pass the road segment simultaneously with longer routes (chaotic reallocations. it is compulsory to undertake further investigations that are more integrated according to the comprehensive systems. if not based on RTRW Medan City. e. The ingress and egress accesses of Medan Fair Plaza are not permitted from Gatot Subroto Street. Dr. especially during the policy application term. less trips and longer travel distances. moreover the effects will be very heavy and complicated for community. the vow has become a fact. 4 Oktober 2006 3. How long will the development vow be a fact so that the financial and psycho losses for the community can be estimated and bore? If. whereas the development of the road infrastructure has seen nothing. The development of Warga Street which has to be followed by the establishment of fly. the management of traffic problems might be different again. cause the traffic chaotic and congestion more severe on road segments and intersections that accommodating the impacts. 2. etc. The reallocation of angkot routes to other road segments. WIN-WIN SOLUTIONS The authors give temporary win-win solutions (without comprehensive data analysis). In the future. No.over (jalan layang) at the intersection of Gatot Subroto – Iskandar Muda. only then the City Government (Pemko) issues a plan to develop the Warga Street. in one conditional that the traffic flows should be changed back to two-ways flows. Therefore. The win-win solutions are: 1. police). then these will cost huge money and social impacts and will cause a lot of stres to urban community as the expelled victims. The both solutions above will exactly minimize the traffic congestions along Gatot Subroto Street although the traffic flows are still in two-ways flows like previously. Not yet adding with financial loss for the angkots’ drivers due to fewer passengers. The intersection of Gajah Mada–Iskandar Muda. 5. Reduce accessibilities to Petisah market and retails/office complex around the road due to the one way flow. such as: Hayam Wuruk Street. higher costs and more plenty security guards (DLLAJ. so that the traffic management in Medan is not by spots. Retail business owners/shareholders of Medan 112 . What become salient questions are: Has City Government of Medan (Pemko) accurately mulled the amount of losses over including other effects caused by the one-way policies? How much more the losses. therefore it is necessary to determine the both accesses from other surroundings road alternatives in accordance with the road functions and hierarchies. Parman Street with Sudirman Street. there will be no more direct access from Gatot Subroto Street to Medan Fair Plaza. 5.

Waspada Newspaper: Medan. Bangun Thus. Sorensen. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. 113 . p. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. An Opinion. 13. Vol. F.L.. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? An Opinion. Bangun. A Case Study of Accra Metropolitan Area. pp. Bangun. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. 1993.. No. 31 Januari 2005. F. A. Portland State University. Medan. 2005. 3. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. and Bertini.. F. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. p.. 2003. 21 Maret 2005. 1. Department of Transportation of Medan. 1992. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 1. dan Alkhairi. ----------. R.. 2006. Sanda-shi.. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. Leal.. R. Portland. Vol.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. 103 – 108. 2004. 4. R.and Alkhairi. P. Medan. Waspada Newspaper: Medan. p. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65/1993 about Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Directorate Genderal Bina Marga. April 2006. Analisis Newspaper: Medan. Powerpoint Transparansi. H. and Alkhairi. F. F. 13 November 2004. the direction of city development is compulsory determined based on the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan and it should be synergized for both inside and inter development sectors with RTRW of Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang (MEBIDANG) simultaneously with RTRW of North Sumatera Province. M. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. A Case Study of Istambul.. An Opinion. Napitupulu.. and Bangun. Jakarta.. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. P. Jogjakarta. R. Department of Urban Engineering.. 13. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. Satellite Cities. p. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. Bangun. p. Napitupulu. Turki. pp 9–32. An Opinion. Powerpoint Transparansi. and Bangun. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. R. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? An Opinion. p. An Opinion. No. 6. A. Ghana. P.. 4. Februari 2006. Beta Offset Publisher. An Opinion. ----------. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai.. Hasamagaola 3-25-3. and Bangun. Medan. Japan 669-1545. 6. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 2. Jakarta. University of Tokyo.. Jogjakarta. A. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism. 1. 2005. dan Napitupulu. and Bangun. Sutomo. REFERENCES Bangun. 19 November 2004.. 2001.T. 2006. The Urban Satellite Field Concept. 18. Hyogo-ken. F. Munawar. 15 January 2005. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. Bandung. F.. 13. F. Departemen of Public Work RI. International Planning Studies. p. ----------. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah.. Minister of Transportation RI. Napitupulu.. 13. R. Napitupulu. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. Januari 2006. Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan.. 2005..

Wood Working. The aimed of this research was to know the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. Pemanfaatan kayu ini tentu harus didasarkan pada kualitas yang sesuai dan seimbang dengan kayu jati. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengolahan kayu. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat sampai sekarang pada umumnya terbatas pada kayu dari spesies yang telah dikenal dan berkualitas tinggi. Supriadi dan Rachman (2002) mengemukakan bahwa 400 jenis dari 4. This research indicated that durian wood can be made alternative to industrial raw material of wood working. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. fuzzy grain.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. Kayu durian yang biasa ditanam di hutan rakyat. rengas. raised grain and destruct grain. tanda serpih. rengas. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. Salah satu sifat dasar tersebut ialah sifat pemesinan atau pengerjaan pada papan kayu gergajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. Pengerjaan Kayu.) is included first class (very good). chip mark. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. Kayu selain banyak dimanfaatkan untuk bahan baku konstruksi juga dimanfaatkan untuk industri pengolahan kayu. serat terangkat. Sumatera Utara. dan serat hancur. Sifat Pemesinan Abstract: Durian wood (Durio zibethinus L. The defect kind that abserved in the machining process of durian wood including chipped grain. Keywords: Durian Wood. Jenis cacat yang teramati pada proses permesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Machining Properties PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan kayu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan manusia.) adalah salah satu kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk bahan baku dalam industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian bertempat di pabrik pengolahan kayu furniture dan mebel. 1995). pinus. pinus. perkebunan bahkan di pekarangan rumah adalah salah satu jenis kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. Perilaku kayu dalam proses pemesinan akan berpengaruh terhadap efisiensi pengolahan dan merupakan salah satu kriteria dalam penentuan alokasi penggunaannya. dan Nur Idul Adha Abstrak: Kayu durian (Durio zibethinus L. This research showed that the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. Kota Medan. UD Setia Perabot. meranti.SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L. To be able to be made use of the processing industry of wood was needed by basic characteristics especeally the machining properties. kempas dan lainnya lebih disukai oleh industri pengolahan kayu sebagai bahan baku konstruksi dan mebel. Tito Sucipto.000 jenis kayu yang diperkirakan tumbuh di Indonesia merupakan jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu dan secara alami terdapat dalam jumlah yang besar. bulu halus. Tujuannya ialah untuk memperoleh gambaran mengenai mutu kayu olahan sebagai hasil interaksi antara kayu dengan berbagai mesin yang digunakan di dalam pengerjaannya (Ginoga. kempas. Kayu-kayu yang memiliki kelas kuat dan kelas awet tinggi atau sifat-sifat pengerjaan kayu yang sangat baik seperti kayu jati.) as a industrial raw material.) termasuk kelas I (sangat baik). Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifatsifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L.) (THE MACHINING PROPERTIES OF DURIAN WOOD [Durio zibethinus L]) Muhdi. Pemanfaatan kayu dari spesies yang kurang dikenal (lesser known spesies) dan berkualitas rendah merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut. 114 .) is one of the wood that has a low quality that could be made use to the alternative fo the processing industry of wood especially as the furniture raw material. serat tersobek. dan lainnya tersebut sehingga pemanfaatannya dapat optimal dan sesuai dengan penggunaannya. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifat-sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. Kata kunci: Kayu Durian. meranti. Padahal pasokan kayu dan ketersediaannya semakin berkurang dan sulit untuk didapatkan.

000 rpm. c. kaca pembesar (loope) dengan perbesaran sepuluh kali dan tranparansi millimeter. Contoh uji diserut dengan mesin double moulder searah dengan arah serat. Semua contoh uji yang telah diserut disimpan dengan teratur dan selanjutnya dinilai sifat penyerutannya.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . dan Nur Idul Adha Tabel 1. Pada salah satu sisi contoh uji tersebut dibentuk alur berbentuk M6 (moulding model 6). Sudut potong pisau diatur sebesar 20°-30°.5 cm x 2 cm sebanyak 20 lembar papan (ASTM D 1666-99). Alat bantu yang digunakan adalah meteran. Penelitian sifat-sifat pemesinan menggunakan bahan baku berupa papan contoh kayu durian (Durio zibethinus) berukuran 120 cm x 12.000 Taiwan 1992 Pita 300 3 8. serta tebal sayatan sebesar 2 mm. dengan kecepatan putar pisau sebesar 9. mesin bor (borer) dan mesin amplas (sander). b. mesin serut (planer). Semua papan contoh dalam keadaan kering udara dan kondisi bebas cacat.0006.00032.000 rpm.000-6. dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi bahan dan peralatan yang ada.600 rpm.5 cm x 2 cm dan bebas cacat. Selanjutnya dibuat contoh uji dan dikerjakan dengan peralatan yang terdapat di UD Setia Perabot. Pembentukan (Shaping) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin pembentuk (shaper). 1982 dalam Supriadi dan Rachman. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul.00012. Pengeboran (Boring) Contoh uji yang dibor berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm. pembentukan dan pembuatan alur (ukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm) Pengujian 1.. Kondisi pemesinan disesuaikan dengan kondisi yang saat ini diterapkan di industri pengerjaan kayu. Pembuatan Contoh Uji Menurut metode ASTM D 1666-99. Penyerutan (Planing) Contoh uji penyerutan dibuat berukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm.000 Router KaferMK408 Cina 1994 R4-R6 220 4 20. Papan contoh tersebut dibuat menjadi contoh-contoh uji untuk pengujian sifat-sifat pemesinan kayu. 2002). Sifat-sifat pemesinan yang dinilai dan cara pengerjaan adalah: a. Pola pembuatan contoh uji disajikan pada gambar 1. 30 cm a b 2. Dilakukan pengamatan terhadap cacat-cacat pemesinan yang terjadi pada bidang permukaan hasil pembentukan. papan contoh uji dibuat berukuran 120 cm x 12.000 Alat yang digunakan untuk penelitian adalah gergaji bundar (circular saw). Semua papan contoh bebas cacat terlebih dahulu dikeringudarakan hingga kadar air 12–18%. Mata bor yang digunakan berdiameter 12 mm. Muhdi. Pola Pemotongan Contoh Uji (ASTM D 1666-99) 115 . Memberi tanda pada setiap contoh uji begitu keluar dari mesin dengan menunjukkan arah masuk kayu ke dalam mesin.000 Borer GeetechMA09 Taiwan 1995 Bor 220-240 2 2. mesin pembuat alur (router). dengan kecepatan putaran mata bor sebesar 3. caliper. mesin profil (shaper). Pembuatan profil ini menggunakan pisau M6. Perubahan tersebut terutama pada pembuatan contoh uji dan cara pengujiannya (Abdurrahman dan Karnasudirja. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada dasarnya sama dengan metode ASTM D 166699. Pengeboran dilakukan sampai 2 mm melebihi permukaan bawah contoh uji untuk menghindari terjadinya serpih.5 cm 2 cm 5 cm c 10 cm 90 cm Keterangan: a = Contoh uji pengeboran (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) b = Contoh uji pengampelasan (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) c = Contoh uji penyerutan. laju pengumpanan sebesar 12 m/mm. Pengerjaan Papan Contoh Pengujian dilakukan dengan menilai sifat pemesinan pada papan contoh. kecepatan putar pisau sebesar 5.000 Sander HML-906 Taiwan 1997 240 1 1. Pada setiap contoh uji dibuat dua buah lubang bor dengan laju pengeboran diusahakan cukup lambat agar menghasilkan lubang bor yang baik. alat tulis. Spesifikasi mesin yang digunakan dalam proses pengerjaan disajikan pada tabel 1. Gambar 1. Spesifikasi Mesin Pengerjaan Kayu Planer Shaper Spesifikasi Merk-Tipe AT-602 TCB-26 Asal Buatan (tahun) Tipe bilah Tegangan (volt) Tenaga (HP) Kecepatan (rpm) Cina 1995 Persegi 240 4 2.725-2. Tito Sucipto.

Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji penyerutan yang disajikan pada lampiran 2 adalah serat terserpih. Proses ini menggunakan kertas amplas grit 80 dan 120 dengan tebal pengampelasan sebesar 0. Kecepatan putar pisau router sebesar 30. Loope dengan derajat pembesaran sepuluh kali digunakan sebagai alat bantu untuk melihat lebih jelas bentuk cacat.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. bulu halus dan tanda serpih. Dimensi alur yang dibuat pada permukaan contoh uji adalah lebar 0. Pengambilan kesimpulan sifat pemesinan kayu dilakukan secara kualitatif berdasarkan persentase rata-rata permukaan contoh uji yang bebas cacat dan selanjutnya dikelompokkan menjadi lima kelas sifat pemesinan. Cacat serat terserpih hampir merata terdapat pada semua permukaaan kayu. No. e.5 mm. Terdapatnya cacat ini diduga karena tebalnya serat-serat kayu (tatal) durian. Sifat pemesinan kayu didasarkan pada besar kecilnya persentase permukaan bebas cacat setelah proses pemesinan. tebal 0. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Rekapitulasi nilai bebas cacat dan kelas mutu sifat pemesinan pada seluruh proses pengerjaan disajikan pada tabel 2. sehingga sisi kayu tidak siku. sehingga pada permukaan papan akan terbentuk cacat akibat belahan tadi. diikuti bulu halus dan tanda serpih masing-masing sebesar 2 % dan 1 %. Analisis Data Pengolahan data mengenai sifat pemesinan kayu mengacu pada ASTM D 1666-99. Pengerjaan penyerutan menyebabkan banyaknya serat yang terlepas dan membentuk lekukan-lekukan pada permukaan kayu. Cacat yang terbentuk ini biasanya disebut serat terserpih. adanya miring serat (berpadu) cenderung merangsang timbulnya cacat pengetaman yang disebut cacat serat terserpih. Pembuatan alur (Routing) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin router. Penyerutan (Planing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas penyerutan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 93 %. Pengampelasan (Sanding) Pada pengujian pengampelasan dipakai contoh uji berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm dengan menggunakan mesin amplas (sander). Cacat yang paling banyak muncul adalah serat terserpih yaitu sebesar 4 %. walaupun ada juga permukaan kayu yang sama sekali tidak terdapat cacat ini.5 cm dan panjang 90 cm. 2. Objek yang diamati yaitu cacat yang timbul pada permukaan contoh uji sebagai akibat dilakukan pemesinan. 4 Oktober 2006 d. dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang sifat pemesinan kayu durian. Selanjutnya diamati cacatcacat pemesinan yang timbul.5 cm. tatal yang tebal kekuatan lenturnya (bending) lebih tinggi dari tatal tipis. Pisau router yang digunakan berbentuk R6 yang menghasilkan bentuk “r” pada sisi kayu. luas permukaan bebas cacat serta persentase contoh uji yang masuk ke dalam kelas pemesinan yang telah ditentukan. Tabel 2. Arah serat kayu durian yang berpadu dan adanya mata kayu diduga juga akan membentuk cacat serat terserpih. Cacat serat terserpih lebih banyak ditemukan terdapat pada permukaan kayu dengan arah serat berpadu dan di sekitar mata kayu seperti yang terlihat pada gambar 2. Menurut Darmawan (1997). Menurut Koch (1964).000 rpm. Selanjutnya data mengenai jenis cacat. Pengujian Sifat Pemesinan Setiap contoh uji yang telah dikerjakan dengan mesin diamati hasilnya secara visual. Oleh karena itu. Nilai Bebas Cacat dan Kelas Mutu Sifat Pemesinan Kayu Durian Pembuatan Penyerutan Pembentukan Pengeboran Kriteria Alur (Planing) (Shaping) (Boring) (Routing) % bebas 93 87 96 96 cacat Kelas I I I I Mutu Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pengampelasan (Sanding) 95 I Sangat baik 116 . tatal tebal akan cenderung terbelah (splitting). Pada permukaan kayu dengan arah serat lurus jarang ditemukan cacat ini. Kecepatan dorong kayu (feed rate) diatur sebesar kurang lebih 360 m/menit dengan arah pengumpanan searah dengan arah pengumpanan pada saat penyerutan. Pembahasan 1.

Menurut Darmawan (1997). sehingga tatal-tatal kayu yang terbentuk akan sangat mudah dilekukkan pada permukaan papan yang telah diketam oleh pisau-pisau pengetam. proses pembentukan merupakan proses peripheral milling. Tito Sucipto. Cacat tanda serpih yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu durian termasuk kayu dengan kekerasan yang rendah. Tanda serpih yang timbul diduga karena adanya kandungan resin pada kayu tersebut. Pembentukan (Shaping) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembentukan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 87%. Tanda serpih yang terdapat pada kayu durian ditandai dengan adanya lekukan warna hitam.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . yakni suatu proses pemotongan bidang kerja yang dipotong oleh beberapa mata pisau yang berputar terus menerus. Menurut Darmawan (1997). kekasaran permukaan kayu disebabkan oleh terangkatnya kayu akhir sehingga lebih tinggi daripada kayu awal. diikuti serat terangkat dan tanda serpih masing-masing sebesar 5% dan 2%. 2. Proses pembentukan yang dilakukan pada sisi lebar kayu menyebabkan sudut potong pisau dengan arah serat kayu menjadi tegak lurus.. Hal ini menyebabkan serat-serat kayu tidak terpotong sempurna dan terbentuk serat berbulu. Serat terangkat Gambar 3. Menurut Darmawan (1997). Muhdi. Cacat yang paling banyak muncul adalah bulu halus yaitu sebesar 6%. dan Nur Idul Adha Mata kayu Serat terserpih Serat terserpih Gambar 2. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembentukan Menurut Koch (1964). Darmawan (1997) menambahkan bahwa tatal-tatal yang pendek ini memiliki kekuatan lentur yang rendah sehingga tatal-tatal ini mudah digeser oleh mata pisau. Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya bagian kayu dengan arah serat berpadu. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembentukan yang disajikan pada lampiran 3 adalah serat terangkat. Akibat bekerjanya gaya geser ini maka serat-serat tepat di depan mata pisau akan mengalami pemadatan dan mengalami pelipatan. pengetaman dengan laju pengetaman rendah dan tebal ketaman tipis akan terjadi pergeseran serat-serat kayu oleh pisau pengetam. sehingga akan terbentuk tatal-tatal yang pendek. Cacat Serat Terserpih Akibat Pengerjaan Penyerutan Kecepatan pengumpanan rendah dan tebal ketaman tipis yang dipakai dalam proses penyerutan diduga juga memicu timbulnya serat berbulu halus. Cacat serat terangkat seperti terlihat pada gambar 3. Ini berarti serat-serat kayu tersebut tidak terpotong sempurna oleh mata pisau. Cacat serat terangkat yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena pengerjaan pembentukan dilakukan pada bagian kayu yang masih lunak sehingga menyebabkan kekasaran pada permukaan kayu. Darmawan (1997) menyatakan bahwa keberadaan cacat tanda serpih ditentukan oleh karakteristik kayu itu sendiri dan 117 . cacat tanda serpih terbentuk akibat rendahnya kekerasan kayu. sehingga seratserat kayu yang tidak terpotong dengan sempurna akan berdiri dan membentuk bulu-bulu halus. bulu halus dan tanda serpih. melainkan terjadi kerusakan serat-serat kayu sehingga terbentuk cacat serat berbulu pada permukaan kayu.

jenis kayu keras mempunyai kecenderungan memiliki cacat bulu halus lebih sedikit dibandingkan kayu yang lebih lunak pada proses pengampelasan. Jika arah Gambar 4. Salah satu kriteria hasil pengeboran yang bagus yaitu permukaan yang bersih dan halus dengan sedikit serat hancur dan serat tersobek. yang ditandai dengan berdirinya serat-serat kayu seperti yang terlihat pada gambar 6. diikuti serat hancur sebesar 1%. ukuran grit ampelas yang digunakan serta arah pengumpanan kayu saat memasukkan kayu pada mesin ampelas. Cacat bulu halus ini hampir terdapat pada semua permukaan kayu dan tesebar secara tidak merata. Gambar 5.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Cacat serat terangkat yang timbul akibat pembuatan alur seperti yang terlihat pada gambar 5. 118 . Timbulnya cacat bulu halus kadang dipengaruhi oleh karakteristik kayu. Serat berpadu pada permukaan kayu diduga juga memicu timbulnya serat terangkat. Hasil uji pengeboran ini diduga dipengaruhi oleh berat jenis kayu. sehingga ada reaksi ketika mata bor bersentuhan dengan permukaan kayu dan menyebabkan bagian ujung lubang menjadi hancur. Cacat serat tersobek yang ditemukan pada permukaan kayu seperti terlihat pada gambar 4. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembuatan Alur Pembuatan alur dengan pisau R6 yang dilakukan sejajar dan berlawanan arah serat diduga menyebabkan cacat serat terangkat dan bulu halus. Pengeboran (Boring) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengeboran sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. Cacat Bulu Halus Akibat Pengerjaan Pengampelasan Cacat bulu halus ini lebih banyak ditemukan terdapat pada bagian kayu yang lunak. 4 Oktober 2006 menjadi lebih serius pada kayu dengan kandungan getah dan resin tinggi. Cacat yang muncul pada hasil uji pengampelasan yang disajikan pada lampiran 6 hanya bulu halus sebesar 5%. No. cenderung lebih tahan terhadap kemungkinan terjadinya cacat ketika melakukan proses pengerjaan. Kayu lunak dengan serat-serat yang lunak diduga memudahkan berdirinya sekelompok serat karena terjadinya gesekan antara ujung serat dengan ampelas. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pengeboran yang disajikan pada lampiran 4 adalah serat tersobek dan serat hancur. diduga karena proses pengeboran dilakukan kurang sempurna sehingga ketika mata bor ditarik ke atas (keluar dari dalam kayu) ada sebagian serat di bagian pinggir lubang yang ikut tertarik dan menyebabkan serat tersobek pada bagian tersebut. Mandang dan Pandit (1997) menyatakan bahwa kayu durian termasuk kelas kuat II-III. karena cacat ini lebih banyak ditemukan pada bagian kayu yang berserat berpadu daripada serat lurus. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat tersobek yaitu sebesar 3%. Sedangkan cacat serat hancur yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu yang dibor adalah bagian kayu yang keras. Pengampelasan (Sanding) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengampelasan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 95%. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembuatan alur yang disajikan pada lampiran 5 adalah serat terangkat dan bulu halus masing-masing sebesar 2%. Menurut Supriadi dan Rachman (2002). Menurut Koch (1964). Cacat Pengerjaan Pengeboran Pembuatan Alur (Routing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembuatan alur sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. kayu yang memiliki kerapatan sel tinggi. Bulu-bulu halus Gambar 6. 3.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Wood Machining Process. Sifat Pemesinan Enam Jenis Kayu Indonesia. dan Nur Idul Adha pengumpanan berlawanan dengan arah serat maka kemungkinan terjadinya cacat bulu halus akan semakin besar. A dan O. Y dan I. serat tersobek dan serat hancur. Vol. Secara umum persentase permukaan bebas cacat pada kayu durian untuk semua proses pemesinan (penyerutan.. 119 . Sifat Pemesinan Empat Jenis Kayu Kurang Dikenal dan Hubungannya dengan Berat Jenis serta Ukuran Pori. karena pada saat proses pengampelasan serat yang tidak terpotong sempurna akan bangun oleh gesekan ampelas (Koch. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. 2. Philadelphia. 2002. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. pembuatan alur dan pengampelasan) termasuk kelas I dengan mutu pemesinan sangat baik.N. tanda tersepih. Koch. Institut Pertanian Bogor. B. Muhdi. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengerjaan kayu. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1964). Fakultas Kehutanan. Supriadi.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Cacat yang paling banyak ditemukan pada permukaan kayu sebagai hasil proses pemesinan kayu durian adalah bulu halus dan yang paling sedikit adalah serat hancur. 1964. Jenis cacat yang teramati pada proses pemesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Darmawan. Standard Method of Conducting Machining Test of Wood and Wood Base Materials. X (1): 15–21. 1997.K. Yayasan Prosea Bogor dan Pusat Diklat Pegawai dan Sumber Daya Manusia Kehutanan. W. Bogor. 1999. KESIMPULAN 1. Buletin Penelitian Hasil Hutan. Bogor. pengeboran. 20 (1): 70 – 85. Rachman. Vol. Bogor. 13 (6): 246 – 251. bulu halus. Jurnal Teknologi Hasil Hutan. Pandit. 1997. pembentukan. P. Annual Book of ASTM. Ginoga. Pengaruh Laju Pengumpanan dan Tebal Ketaman terhadap Kualitas Pengetaman Kayu Pinus. Vol. Mandang. DAFTAR PUSTAKA American Society for Testing and Materials. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Aghatis dan Manii. Tito Sucipto. The Ronald Press Company. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. New York. 1995. serat terangkat.

120 .

.JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No.com Volume 7 No. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www. Oktober 2006 Pemimpin Umum. 1. 7 No. A. ………………………………. /JO5. 4 Oktober 2006 Medan.. Isi Surat/Barang JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Ilmiah Terakreditas Vol. 200… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… . Jabbar M.. Rambe. Almamater Kampus USU P.Eng NIP.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa. TANDA TERIMA Telah diterima dari Berupa Tanggal diterima Nama Jabatan Institusi Alamat Telepon Tanda tangan/cap : Redaksi Jurnal Sistem Teknik Industri Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl. No. H. Ir.31/TI/STI/2004- Kepada Yth : ……………………………….geocities.. … .1. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. di Tempat Banyaknya 1 (satu) eksemplar Keterangan Disampaikan dengan hormat sebagai tukar informasi ilmiah. mohon lembar di bawah ini dikirim kembali No. Bulan Medan 20155 : JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Vol…. 130 517 496 …………………………………………………………………………………………. …. 4 Oktober 2006 SURAT PENGANTAR No.. Almamater Kampus USU P. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful