JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI

Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4
Penanggung Jawab Pimpinan Umum Pimpinan Redaksi Anggota Redaksi : : : :

Oktober 2006
Ir. Rosnani Ginting, MT Ketua Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. Hj. Yuliza Hidayati, MT Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Humala L. Napitupulu, DEA Ir. Harmein Nasution, MSIE Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc Ir. Nazaruddin, MT Ir. Poerwanto, M. Sc Ir. Nazlina, MT Ir. Nurhayati Sembiring, MT Ir. Tuti S Sinaga, MT Ir. Tanib Sembiring, M. Eng Aulia Ishak, ST. MT Buchari, ST Ir. Dini Wahyuni, MT Ir. Danci Sukatendal Ir. Ukurta Tarigan, MT Nisma Panjaitan, ST Dina M. Nasution Jurusan Teknik Indusri Fakultas Teknik USU, Gedung Unit II Lantai 2, Jl. Almamater Kampus USU Medan, 20155. Telp. (061) 8213649 Fax.(061) 8213250 Homepage : http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail : jsti@plasa.com Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Medan Rp. 125.000 per tahun (termasuk ongkos kirim). Biaya dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via Bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening: 005084001 a.n. Ir. T. Sembiring dan mengisi form berlangganan yang disediakan.

Pemasaran/Sirkulasi/Promosi

:

Editing

:

Alamat Penerbit/Redaksi

:

Diterbitkan Harga Berlangganan

: :

Jurnal Sistem Teknik Industri diterbitkan 4 (empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Redaksi menerima karangan ilmiah tentang hasil penelitian, survei, dan telaah pustaka yang erat hubunganya dengan bidang teknik industri. Penulis yang naskahnya dimuat akan dihubungi sebelum dicetak dan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 350.000,- per artikel yang dapat dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening 005084001 a.n.Ir. T. Sembiring.

i

JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4 DAFTAR ISI

Oktober 2006 Halaman
1-5

POTENSI AIR SUNGAI ULAR .................................................................................................................... Boas Hutagalung REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM ............................. Herman Mawengkang, Saib Suwilo, and Opim S. Sitompul PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X .... Amri KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER .......... Sihar Parlinggoman Panjaitan AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ..................................... Idhar Yahya STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X ............................................ Khawarita Siregar ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN ............................ Syahrul Fauzi Siregar PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN ....................................................................................................................................... Anizar ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN ...................................................... Filiyanti T. A. Bangun PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA .................................... Bilter Sirait THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN ... Taslim PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO ................................... Ukurta Tarigan PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN ................................... Mangara M. Tambunan ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS............................. T. Hafli dan Akhyar Ibrahim UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA ...................... Suryatmono

6-10 11-20

21-26

27-29

30-39

40-47

48-53

54-60 61-68

69-72

73-78

79-85

86-90

91-95

ii

HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE ........................................ Armansyah Ginting DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI ...................................... Satria Ginting ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA.............................................................................................................................. Aditia Warman URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS .................................................................. Filiyanti T.A. Bangun SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L.)................................................................ Muhdi, Tito Sucipto, dan Nur Idul Adha

96-99

100-103

104-109

110-113

114-119

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

iii

In the future the use of water on Ular River should be complicated if the management of water distribution do not prepare smoothly.000 m3/thn Perhitungan Brown (1990) = 231. air untuk perikanan dan keperluan lainnya. Adapun potensi tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain: . Distribution. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . hal ini memerlukan penelitian dan pengukuran lebih mendalam. air minum. dan juga di sekitar sungai ini sudah banyak kegiatan-kegiatan industri.Potensi bahan Galian “C” . bila kita ambil angka yang menengah dari hasil perhitungan tersebut yaitu Perhitungan Brown maka: Pengambilan bahan galian “C” Sungai Ular untuk setiap harinya dapat diambil adalah: 231000 m3/thn Vc = -----------------------. seperti pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Perhitungan Volume Sedimen (Jembatan Serbajadi) adalah sebagai berikut: Perhitungan Prosida (1990) = 172. maka Boas Hutagalung 1 .500 ha already establish.Potensi Bahan Galian “C” Dari hasil penyelidikan bahwa debit sungai 50 m3/det memberikan volume sedimen yang maximum sepanjang tahunnya. Maka untuk mengantisipasi perkembangan tersebut pada saat ini perlu dibuat suatu kajian mengenai potensi yang akan diberikan oleh Sungai Ular yaitu pemanfaatan airnya yang multi guna yang antara lain adalah: air irigasi.000 m3/thn Dari hasil perhitungan tersebut.= 632. 1990) = 289.000 m3/thn Perhitungan Ashida (Sato. Irrigation and Another Purposes PENDAHULUAN Sungai Ular adalah salah satu sungai yang terbesar di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. air untuk industri.0 m3/hari 365 hari Dengan pengambilan per kilometer dilakukan maka volume bahan galian “C” yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 632. In this paper. pabrik pabrik lainnya. kira-kira 10 km dari kota Lubuk Pakam ibukota Kabupaten Deli Serdang. Sesuai dengan perhitungan debit air sungai dan kondisi akibat debit tersebut. Another gain can be accepted from the sediment material such as sand and gravel material. Debit harian Sungai Ular pengukuran di Pulo Tagor menunjukkan debit ratarata sepanjang tahunnya antara 35 m3/det sampai dengan 75 m3/det.= 17. Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: The study is to analyse how to use the water on Ular River according to the needs . the area can be extended up to 25.0 m3/hari Vc = ----------------------.7 Km Dari peninjauan dan penelitian lokasi Cathmen Area Sungai Ular didapat bahwa kondisi Cathmen Area tersebut cenderung semakin rusak sepanjang tahunnya sehingga mengakibatkan semakin tingginya volume sedimen sepanjang tahun. Dengan membuat suatu pola pengaturan yang baik maka diharapkan penggunaan air tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan juga potensi lainnya seperti galian C berupa pasir dapat ditambang dari sungai asalkan dilakukan dengan pengaturan yang baik. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa debit rata-rata Sungai Ular memberikan volume sedimen maximun sepanjang tahunnya.280 ha. fish pond and maintenance water. industries and fish pond should be calculated. Keywords: Water. The total area for irrigation now is 18. Dengan adanya rencana penyatuan seluruh intake menjadi satu dengan membangun intake baru (rencana bendung karet) di Pulo Tagor.The Ular River has been used for irrigation. dan lokasi Sungai Ular mempunyai nilai potensi yang cukup baik. Pembangunan lapangan terbang Kuala Namu adalah salah satu rencana yang akan segera dibangun. industries and domestic water. we try to make some calculation for using water for all purpose and then make suggestion for the future.Potensi Air METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder yang diperoleh dari lapangan berupa data-data pengukuran dan hasil-hasil penelitian terdahulu dan seterusnya dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus yang biasa dipergunakan dalam perencanaan irigasi yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yaitu buku: Standard Perencanaan Irigasi. The calculation doing by using the formula has been suggested by Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum (Public Work).70 m3/hari/km 35. in the future if the weir construct.POTENSI AIR SUNGAI ULAR Dosen Departemen Teknik Sipil. Kabupaten ini pada masa yang akan datang mempunyai potensi yang sangat besar. and also another needs such as domestic water (drinking and public water).

274 2. Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.1415 29.0872 29. Sesuai dengan perhitungan kelebihan debit air Sungai Ular ada baiknya dipergunakan sebahagian untuk kebutuhan air tambak. didapatkan besarnya potensi irigasi sekitar daerah Sungai Ular yaitu pada pola tanam 17 dengan luas areal 31.557.274 2. Luas Lahan Max.3437 34. 4 Oktober 2006 pengambilan bahan galian “C” dapat dilakukan pada satu titik pangambilan dengan maximal dan terkontrol volume yang dapat dikeluarkan dari sungai.793 ha.200.209.6773 26.9518 29. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pola Tanam Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4 Alternatif 5 Alternatif 6 Alternatif 7 Alternatif 8 Alternatif 9 Alternatif 10 Alternatif 11 Alternatif 12 Luas Lahan Terkecil yang Dapat Diairi (Ha) 33.274 2.274 2.1103 38.274 2.0211 29.274 2.28 61.820.0157 DEBIT TAMBAK M3/det 2.1996 29.1594 30.9252 27.793.kebutuhan air 22.5404 29.23 51.63 51.4323 29.3640 32.7241 26.3434 32.274 2.1935 25.9985 28.121.4339 32. Juli Agustus September Oktober November Desember 2 .102.53 51.7681 33.94 57. Dengan pemilihan pola tanam sesuai alternatif di atas maka debit air sungai ular dapat dipergunakan seperti tabel di atas untuk setiap periode setengah bulanan.40 49.674.274 2.01 74.274 2.368. Sisa debit andalan dengan adanya Tambak DEBIT Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.274 2.828.40 52.Potensi Tambak Potensi tambak di hilir Sungai Ular cukup besar.18 31.332.7412 Februari Maret April Mei Juni 13 Alternatif 13 14 Alternatif 14 15 Alternatif 15 16 Alternatif 16 17 Alternatif 17 18 Alternatif 18 19 Alternatif 19 20 Alternatif 20 21 Alternatif 21 22 Alternatif 22 23 Alternatif 23 24 Alternatif 24 Luas Lahan Min.73 65.399.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.274 2.87 .141.01 122.*).9351 28.72 71.Potensi Air .274 2.274 2.274 2.3617 31.8115 35.332.793.274 2.0582 37.6336 34.110.274 2.511.7837 34. Dengan pemilihan pola tanam alternatif 2 di atas (pola tanam sekarang) menunjukkan bahwa debit kebutuhan dari sumbernya untuk tambak adalah sebagai berikut: Tabel 2.80 43.1400 38.2506 38.8359 35.274 2.0859 38.102.73 65.452.07 122.07 36. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.030.647. Diperkirakan luasan yang dapat dipergunakan untuk luasan lahan pertambakan adalah kurang lebih 1232 ha.3591 32.07 36.4936 31.4679 27.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis Tabel 1. Luas Lahan Terkecil Diairi No.793 ha dengan pola tanam alternatif 17.2659 26.274 2.Potensi Irigasi Luas lahan irigasi yang tersedia pada proyek irigasi Sungai Ular yang sudah menjadi sawah pada saat sekarang ini adalah 18500 ha .381.0692 32.82 52.274 2.1578 27.274 2. No.60 64.0895 30.9761 36.87 31.274 SISA DEBIT M3/det 32.7032 33.28 34.105.8656 35.526.6178 34.9844 37. Sesuai dengan perhitungan dan analisis pola tanam yang dilakukan sebanyak 24 alternatif. kebutuhan air 30.2 m3/det dan rencana perluasan bila sarana irigasi diperbaiki dan dikembangkan luas areal sawah dapat ditingkatkan menjadi 25280 ha.90 93.690. .90 69.74 53.4287 31.7099 34.274 2.8670 27.2956 31.274 2.281.50 59.336 m3/det.274 2.6606 25.

000.000 . Perkiraan pemakaian air dapat digolongkan pada golongan kota kecil yaitu 60 liter/orang/hari ditambah dengan penggunaan kepentingan umum seperti rumah ibadah dan pertamanan. Kebutuhan untuk daerah-daerah semacam ini tidaklah tinggi. Tabel 3. rata-rata sekitar 40 liter/hari untuk setiap pegawai tetap.100. Standar Penggunaan Air untuk Beberapa Produk Industri Tertentu Penggunaan air Satuan yang umum. sehubungan dengan perkembangan daerah. Persediaan air tersebut dapat dipergunakan untuk penyediaan air minum/domestik untuk Kota Perbaungan. Rayon Ton 146200 Baja Ton 585000 Wool Ton 300 Uap Listrik Kwhr Dari tabel di atas diperkirakan kebutuhan air industri untuk daerah lokasi pekerjaan sesuai dengan kondisinya adalah 300 m3/hari/Industri atau sama dengan 0. Adapun standar kebutuhan industri adalah sebagai berikut: Peralatan-peralatan pabrik seringkali membutuhkan jumlah air yang besar. Kota Perbaungan. 2 950 Coca-cola Ton 15000 Kulit (diolah) Ton 66800 2920 Peny. Standar Kebutuhan Dasar (Basic Need) Air Bersih Klarifikasi Kota Kota besar utama Kota besar Kota sedang Kota kecil Kota Kecamatan I Kota Kecamatan II Penduduk (jiwa) >1. pada pola tanam tersebut kebutuhan air dijamin 80% akan terpenuhi walaupun 3 .668 m3/det. debit untuk air irigasi.000 3. California hingga 1400 galon/ton baja (5800 liter/ton). Produk Produk liter/satuan 1780 Bir Barrel 300 Aprikot klg Klg No. kira-kira hanya 4 persen dari kebutuhan rata-rata yang dicantumkan pada tabel. kawasan wisata Pantai Cermin dan juga rencana Pelabuhan Udara Kuala Namu dan daerah sekitarnya. debit untuk keperluan tambak perikanan dan debit air untuk keperluan industri.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung .000 20.Potensi Industri Sesuai dengan kebutuhan air standar untuk perindustrian dapat diperkirakan pengembangan industri di daerah lokasi pekerjaan. Kota Lubuk Pakam sebagai ibukota Kabupaten Deli Serdang. Apabila diperkirakan pada masa yang akan datang ada 300 buah industri sedang sampai dengan industri besar. Daerah-daerah perdagangan meliputi bangunanbangunan kantor. air industri haruslah mengandung kadar garam terlarut yang lebih rendah daripada yang dapat diizinkan untuk air minum. Dari tabel 6 di bawah dapat dilihat ketersediaan air yang dapat digunakan untuk air minum/air domestik.Potensi Air Minum Kebutuhan akan air minum/air domestik sangat diperlukan pada daerah ini. maka kebutuhan air untuk industri tersebut adalah 300 bh x 0.000 .000 . 2 Kacang 5 kl.00556 m3/det. 500. Kira-kira 80 persen dari air industri digunakan untuk tujuan pendinginan dan tidak perlu bermutu baik. Dalam beberapa kasus. Penetapan zona di kota-kota besar dipengaruhi letak industri.000. Klg No.500. Dari hasil perhitungan di atas telah dihitung masing-masing kebutuhan irigasi dengan 24 pola tanam yang diusulkan dipilih satu pola tanam yang terbaik dalam hal ini. Angka-angka pemakaian air yang umum disajikan pada tabel berikut. Lubuk Pakam dan rencana lapangan terbang Kuala Namu dan bahkan untuk menambah suplai Kota Medan apabila Kota Medan masih membutuhkannya. . Perkiraan tersebut diperhitungkan sebagai berikut: Rumah tangga: 60 liter/kapita/hari Keperluan umum30 liter/kapita/hari Kehilangan dan pemborosan 30 liter/kapita/hari Jumlah:120 liter/kapita/hari Potensi debit air Sungai Ular untuk air minum/air domestik yang dapat digunakan adalah setelah dikurangi keperluan debit untuk pemeliharaan sungai.000 < 3. kebutuhan air dapat dikurangi di bawah angka rata-rata untuk industri yang bersangkutan.00556 m3/det = 1. Direktorat Perumahan dan Pemukiman. sehingga informasi tentang zona tersebut dapat bermanfaat dalam menghitung tuntutan kebutuhan industri di masa depan. Sebagai contoh. Walaupun demikian.000.000 100.20. bila faktorfaktor lain mempengaruhi letak instalasi. gudang-gudang dan toko-toko. Letak industri sering sangat dipengaruhi oleh adanya persediaan air.000 Kebutuhan per kapita (liter/org/hari) 120 100 90 60 45 30 Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya.000 . Beberapa industri/pabrik mengembangkan sistem penyediaan airnya sendiri dan hanya sedikit atau sama sekali tidak menuntut dari sistem penyediaan air kota yang bersangkutan. Jumlah yang sebenarnya tergantung pada besarnya pabrik dan industrinya. minyak Barrel 163000 Kertas Ton 75200 Tn. Sesuai dengan tingkat pemakaian kebutuhan dasar air bersih yang disarankan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya yang disesuikan dengan besarnya kota dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4.1. penggunaan kembali air dalam jumlah yang banyak telah mengurangi kebutuhan air di pabrik baja Kaiser di Fontana.

7655 12.1791 13. Pemakaian Air yang Diusulkan DEBIT 20% Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.274 2.4466 1.9147 9.1668 0.2508 1.2506 38.1668 Jumlah Rata-rata DEBIT DOMESTIK M3/det 13.274 2.1791 13.8709 13.9518 28.1668 0.1791 kebutuhan tersebut dianalisis apakah seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi lihat tabel 5.9025 3.8226 1.1791 13.1791 13.3381 7.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. No.2831 1.2506 34.274 2.4050 6.9180 1.6336 37.1656 8. Kebutuhan air untuk air minum/air domestik.274 DEBIT INDUSTRI M3/det 0.1252 11.9672 10.1668 0.6946 16.2330 16.1791 13.4518 10.1668 0.0582 38.274 2.1791 13.1791 13.274 2.1668 0.4323 29.1668 0.274 2.1668 0.8699 1.274 2.6178 34.1668 0.1791 13.1791 13.5039 12.6336 34.7953 2.0729 9.3156 17.6053 1.3617 31.1791 13.5849 13.274 2.7081 2.1791 13.1668 0.1791 13.4339 32.1791 13.5913 1.1668 0.3390 290.6356 2.4947 11.9351 DEBIT PEME LIHARAAN M3/det 13.0859 38.1914 2.1996 31.6946 2.1668 0.8763 14.1791 13.1668 0.1668 0.1668 0.3617 32.1043 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 4 .1996 29.6499 12.1021 10.1791 13.1791 13.1668 0. 4 Oktober 2006 pada saat musim kemarau sawah masih dapat diairi.274 2.1791 13.1791 13.274 2.274 2.6779 2.1668 0.5360 10.274 2.7636 6.0582 37.0152 1.1791 13.1668 0.5042 DEBIT TAMBAK M3/det 2.1531 2.7218 17.1668 0.7681 28.4323 29.0859 38.4339 27.274 2.6769 10.274 2.6807 13.1791 13. DEBIT IRIGASI M3/det 2.1668 0.1668 0.0153 8.274 2.1791 13.274 2.1668 0.9954 13.274 2.274 2.2905 7.7841 7.274 2.6178 33.9518 29.1791 13. industri dan untuk tambak juga telah dihitung dan seluruh Tabel 5.1668 0.274 2.1791 13.274 2.274 2.1668 0.7681 33.9351 27.9896 2.4166 1.274 2.

5 .01-KP07. Dirk RAES. Ular River Improvement Project.9180 m3/det masih dapat dipenuhi dan masih mempunyai sisa 11. “C” yang dapat diproduksi adalah 632. Juni dan musim tanam 2 awal Agustus sampai dengan pertengahan Desember) kebutuhan air irigasi sebesar pada bulan Maret sebesar 9. FAO. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. Crop Water Requirements. Inc in association with Nippon Koei . Wagenigen. dari 24 pola tanam untuk daerah irigasi ini yang paling kritis. Medan .7 km. Methods of Calculating potential evaporation and bouwhoge school. 1984. bila setiap orang menggunakan air setiap hari 120 l/det. KESIMPULAN • Dari hasil perhitungan dan analisis pola tanam. Indah Karya. d. Indah Karya. • Potensi air Sungai Ular sangat cukup untuk mensuplai kebutuhan air untuk luasan potensi pertambakan di hilir Sungai Ular. • Kebutuhan air untuk keperluan lainnya seperti: air untuk industri. Bandung. air domestik. Belgium Dorenbos J. 1971. KU Leuven.668 m3/det. Nikken Consultants. Potensi Bahan Galian Gol.640. Studi kelayakan potensi air Sungai Ular untuk air minum dan debit kecukupan dihitung periode harian. DAFTAR PUSTAKA Cv. Dari hasi perhitungan ini. • Potensi Sungai Ular dapat menambah pasokan air untuk Kota Medan apabila Kota Medan berkembang menjadi kota Metropolitan. Laporan Akhir Studi Hak Atas Air/Pemanfaatan Sungai Ular. Survei elavasi existing tanggul Sungai Ular dan kelayakannya terhadap banjir. 1981. Bandung Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerjasama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. c. LTD. 1986. 1977. 1986. And Pruitt W.10 m3/det dan untuk debit 80% terpenuhi adalah 10 m3/det. Rome KijneJ. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis. Bagian Penunjang.6499 m3/det pada bulan Oktober. keperluan tambak dan pemeliharaan sungai dapat dipenuhi dengan kata lain kebutuhan irigasi tidak terganggu.1553 m3/det dan pada bulan Oktober 7. maka jumlah penduduk yang dapat disuplai adalah: 12100 liter x 24 x 60 x 60/120 liter/orang/hari = 8. Dengan kebutuhan air industri 300 m3/hari/industri dan perkiraan adanya 300 buah industri sedang dan besar kebutuhan airnya sebesar 1. Standar Perencanaan Irigasi KP. perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. Crop Water Requirements Irrigation and Drainage Paper. Analisis dampak terhadap pantai dan laut muara sungai apabila dedit andalan Sungai Ular dipergunakan maximum. • Potensi air Sungai Ular untuk perindustrian cukup besar.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung Dari tabel di atas rata-rata debit yang tersedia untuk air domestik setiap bulannya adalah 12.0 m3/hari di daerah hilir sungai sepanjang 35.d.W. b.O. • Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.000 orang. Faculty of Agricultural Sciences Irrigation Engineering. Luasan yang berpotensi untuk pertambakan diperkirakan seluas 1232 ha.Cipta Perkasa. Survei pengukuran dan perencanaan lokasi potensi tambak di hilir Sungai Ular. 2003..and C. e. pola tanam alternatif 17 (musim tanam 1 dimulai awal Maret s.3156 m3/det pada bulan Maret dan 6. * Sistim pengambilan Galian “C” hendaknya perperiode guna untuk pengontrolan volume pengambilan dan menjaga kondisi alur sungai * Untuk mendapatkan hasil yang mendetail akan potensi air Sungai Ular perlu dilakukan penelitian diberbagai sektor pendukung antara lain: a. Nederland. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi. SARAN-SARAN * Pengendalian pengambilan bahan galian “C” harus dilakukan dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. • Perlunya pengendalian pengambilan bahan galian “C” dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi. Baars.793 ha dengan pola tanam alternatif 17. Design Report. Penelitian dan pengukuran sedimentasi dan analisis laboratorium air Sungai Ular.

Faculty of Mathematics and Natural Sciences University of North Sumatera Abstract: Stochastic programming is an important tool in medium to long term planning where there are uncertainties in the data. i. bilevel programming [7] and mathematical programming with equilibrium constraints [5] are useful modeling and solution techniques for problems with two or more stages. for problem (1) we may proceed as follows. This gives decision makers the ability to quantify the risk in different scenarios. we consider two-stage stochastic programming problem. usually over time. the decisions need to be flexible enough to cope with different eventualities. However.10 ]. ξ ) the ith constraint of (1) is violated if and only if gi+ ( x. and Opim S. leading to so-called deterministic equivalents for (1). ξ ) ⎪ ⎪ (1) % s. ⋅) : Ξ →  ∀x. ⎬ ⎪ x∈ X ⊂  n. ξ ) − yi (ξ ) ≤ 0 . in analogy to the particular stochastic linear program with recourse. m. 6] is an increasingly important problem class for long term planning. and was one of the motivations for Dantzig’s seminal work on linear programming. However. For examples. As a lot of data is not available at planning stages. ξ ) = ⎨ otherwise. if we think of taking a decision on % x before knowing the realization of ξ . Early work concentrated on the two-stage linear programs. leading to so-called deterministic equivalents of the original model.K . we assume that the functions gi ( x. i. Stochastic programming began in the mids 1950s. ⎧ 0 gi+ ( x. is chosen such as to compensate its constraint’s violation . In these applications. ξ ) ≤ 0. More precisely. after observing the realization ξ . This extra effort is assumed to cause an extra cost or penalty of qi per unit. 3. This paper discusses about how to get the deterministic equivalent model. ⎩ g i ( x. 4. DETERMINISTIC EQUIVALENT FORMULATION Let us now come back to deterministic equivalents for (1). The model is not well defined.e. Sitompul where % ξ k is a random vector varying over a set Ξ ⊂  . the problem can be divided into multiple stages. INTRODUCTION Medium to long term planning is essential to the success of business and project management. 2. in such a way that we could solve the original stochastic programming problem more easily. subsets of Ξ.REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM Mathematics Department. Saib Suwilo. Van Slyke and Wets [ 8 ] developed the Lshaped method which is the basis of many algorithms used today. in this paper we address several alternatives to get such deterministic equivalent model. the probability P(A) is known. problem (1) is not well define since the meanings of “min” as well as of the constraints are not cleat at all. 1. since there are random vectors imposed in the model to present the uncertainties of the model parameter. Stochastic Programming [3. Hence we could provide for each constraint a recourse or second-stage activity yi (ξ ) that. ξ ) > 0 for a given decision x and realization % ξ of ξ . stochastic programs incorporate information from spectrum of possible future events. In this paper. ⎪ ⎭ Herman Mawengkang. i = 1. A ∈ F.e. With if gi ( x. Instead of treating the future as a certainty with known data as in classical optimization. we assume throughout that a family F of “events”.if there is one by satisfying gi ( x. and the probability distribution P on F are given. which can be introduced in various ways. ξ ) ≤ 0.t. our additional costs (called the recourse function) amount to 6 . For instance. 2]. Deterministic equivalent formulation of twostage stochastic programming model can also be found in [ 9. Hence for every subset A ⊂ Ξ that is an events. STOCHASTIC PROGRAMS: GENERAL FORMULATION We define the stochastic (linear) program as the following model % ⎫ min g 0 ( x. gi ( x. Dynamic programming [1. i are random variables themselves and that the probability distribution P is independent of x. i. This paper discusses about modifying the twostage stochatic programming into deterministic equivalents model.e. Furthermore. Therefore a revision of the modeling process is necessary. Therefore a revision of the modeling process is necessary.

At stage x0 . ξ ) = g 0 ( x ) . in view of their practical relevance it is worthwhile to describe briefly some variants of recourse problems in the stochastic linear programming setting. ξ ) > 0 means that there is a shortage in product I. ξ ) = min Eξ% g0 ( x. assuming a cost function qτ ( xτ ). we might think of a more general linear recourse program with a recourse vector τ (τ ≥ 1) we know the realizations ξ1 .K. ξ ) + ( + + ) T If we think of a factory producing m products. Assume that we are given the following stochastic linear program The above two-stage problem is immediately extended to the multistage recourse program as follows: instead of the two decisions x and y. ξτ of the W (the recourse matrix) and a corresponding unit n y (ξ ) ∈ Y ⊂  n . (2) turns out to be a special case of (4). such as {y | y ≥ 0}). m × m identity matrix. K . Instead of (2). Problem (4) instead could result from a second-stage or emergency production program.L . In any case. where g ( x. y ∈ Y ⊂  n . ξ ) = min q( y) | H i ( y ) ≥ gi+ ( x. Hence.L. ξ1 .L . Assuming that the factory is committed to cover the demands. ξτ ) ≤ 0} xτ Q( x.K. xτ −1 . (5) ˆ indicating that the optimal recourse action xτ at time τ depends on the previous decisions and the realizations observed until stage τ . ⎪ ⎭ (9) 7 .L.L . ξ1 . x1 .L . yielding for (3) the recourse function xτ such that the constraints(s) (with vector valued constraint functions gτ ) gτ ( x0 . ξ ) .Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. the (two-stage) stochastic program with recourse % % % min Eξ% f 0 ( x. ξτ ). xτ −1 . i = 1. ξτ ≤ 0) are satisfied. (Y is some given polyhedral set. taking into account the multiple stages.L . for instance.L .as stated .ξ%τ Qτ ( x0 . problem (2) could for instance be interpreted as buying the shortage of products at the market. xτ −1 . at stage τ ≥ 1 we have a recourse function Qτ = ( x0 . first-stage and recourse costs). x1 . ξ ) could be chosen as Q( x. ξ ). ξ1 . Choosing W=I. ξ ) + Q( x. to be taken at the subsequent stages τ = 0. For the two-stage case. ξ ) (3) The term “stages” can. gi ( x. ξ ) = g1 ( x. xτ −1 . i.L . the multistage stochastic program with recourse K ⎡ % % ⎤ ˆ ˆ min ⎢ g0 ( x0 ) + ∑ Eξ%1 .at this stage can only be achieved by the proper choice of xτ . y ∈ Y y { } (4) . ξ ) = g 0 ( x.L .L . i = 1.K.L . ξ ) = min ⎨∑ qi yi (ξ ) | yi (ξ ) ≥ gi+ ( x.e.L . we get as total costs for the multistage problem ˆ ˆ f 0 ( x0 . ξτ ) τ =1 1 K (7) τ { } yielding the deterministic equivalent for the described dynamic decision problem. xK ( xτ ∈  nτ ) . Q( x. xτ −1 . and Opim S. Then g ( x. Ax = b. ξτ ) ⎥ (8) x0 ∈X τ =1 ⎣ ⎦ where q: n →  and Hi :  n →  are supposed to be given. we are now faced with K+1 "min" cT x ⎫ ⎪ s. relative to the demand. ˆ ˆ xτ = xτ ( x0 . be interpreted as “times periods”. Saib Suwilo. ξ ). m. ⎪ % % ⎬ T (ξ ) x = h(ξ ).e. xτ . ξτ ) = min {qτ ( xτ ) | gτ ( x0 .e. g 0 ( x.L .L . ξτ as well as the previous decisions x0 . but need not. Assume for simplicity that the objective of (1) is deterministic.K.L . ξ1 .L . i. ξ1 . an arbitrary fixed m × n matrix % % random vectors ξ1 . ξ1 . g m ( x. x1 . instead of problem (1) we could consider its deterministic equivalent.ξ% Qτ ( x0 . if it is meaningful and acceptable to the decision maker to minimize the expected value of the total costs (i. ξ1 . ξ ). x1 .L . (6) x∈X x∈ X { } obviously a straight generalization of our former (two-stage) stochastic program with recourse (6). Finally we also could think of a nonlinear recourse program to define the recourse function for (3). xτ −1 . carried through with the factor input y and a technology represented by the matrix W. and we have to decide on cost vector q ∈  . ξ ) = min qT y | Wy ≥ g + ( x. x1 . ξ K ) = g 0 ( x0 ) + ∑ Eξ% .τ ≥ 1 Hence. ξ ) + Q ( x. m ⎬ (2) y ⎩ i =1 ⎭ sequential decisions yielding a total cost-first-stage and recourse cost-of f 0 ( x. ξ ) could be understood as the difference {demand}-{output} + i of a product i.L . ⎪ x ≥ 0.t. based on the knowledge of the previous decisions and realizations. ξ ).1. which . to be taken at stages 1 and 2. Sitompul ⎧m ⎫ Q( x.

for q + q ≥ 0 . ξ ) ≤ 0. i = 1. we will always be feasible. the recourse variables y and y − can be chosen to measure (positively) the absolute deficiencies in the stochastic constraints. otherwise { } Consequently. we speak of complete fixed recourse if the fixed m × n recourse matrix W satisfies { z | z = Wy. So far. m. whatever the first-stage decision x % Eξ%ϕ ( x. y ≥ 0} =  m1 (12) have a return for decisions on x that. ξ ) = ⎨ ⎧1 − α ⎩ −α if gi ( x. y ≥ 0 { } f 0 ( x. f0 represented the total costs (see(3) or (7)) and f1 .L . the m1 × n matrix T (⋅) and vector h(⋅) are allowed to depend % on the random vector ξ . Generally. ξ ⎪ x∈ X ⊂  n ⎪ ⎭ % min Eξ% f 0 ( x. Observing that the stochastic constraints ˆ ˆ T 0 . It seems natural to aim ξ we have an we This implies that. at least in the mean (i. it seems meaningful to equate their deficiencies. y ≥ 0 ⎪ ⎭ % min x Eξ% c x + Q( x. which. ⎬ ⎪ where ⎪ Q( x. ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. h k .L .L .1] and define a { } “payoff” function for all constraints as (11) ϕ ( x. ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. ξ h k . ξ ) = g 0 ( x. ⎬ (15) f1 ( x. f m could be used to describe the first-stage feasible set X. let us choose first Y = y ∈  n | y ≥ 0 . m.L . i = 1. m. In contrast. where with the identity matrix I of order m1: W =(I. A special case of complete fixed recourse is simple recourse. we may put all the above problems into the following form: ⎫ ⎪ % ⎪ s. on average).t.t. i = s + 1. ξ ) = −ϕ ( x. ξ ) m0 × n matrix A and the vector b are assumed to be deterministic. ⎫ ⎪ ⎬ ˆ0 + ξ h1 . T k and vectors where the fi are constructed from the objective and the constraints in (1) or (9) respectively.e. using linear recourse and assuming that ˆ ˆ h0 .L .e. ξ K T k . No. ⎪ Eξ% f i ( x. ⎪ ˆ ˆ h (ξ ) = h 1 K ⎭ with deterministic matrices (10) in (9) are equalities (instead of inequalities.-I) (13) f 0 ( x.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ξ ) T { } α ∈ [ 0. this general formulation also includes other types of deterministic equivalents for the stochastic program (1). ξ ) = g 0 ( x. x ≥ 0 where the { n } { } i. 4 Oktober 2006 Comparing this with the general stochastic program (1). ξ )dP ≥ 0 Ξ % and the realizations ξ of ξ turn out to be. α . ⎪ x ≥ 0. i = 1. the second-stage program Defining get Q( x. avoid an absolute loss. according to (4) yields the stochastic linear program with fixed recourse ⎫ ⎪ ⎪ s. ξ ) ⎫ ⎪ ⎧α − 1 if gi ( x. Eξ% f i ( x. and therefore to have random entries themselves. ξ ) = min (q+ )T y + + (q− )T y − | y + − y − = h(ξ ) − T (ξ ) x. ξ ) = ⎨ ⎪ otherwise ⎩ α ⎭ 8 . However. ξ ) = ∫ ϕ ( x.L . In general.L . ξ ) ≤ 0. depending on the way the functions fi are derived from the problem functions gj in (1). for x infeasible at absolute loss of In particular. This is equivalent to the requirement.L . s ⎪ ⎬ % ) = 0.L . y + ≥ 0. ξ ) ≤ 0. To give just two examples showing how other deterministic equivalent problems for (1) may be generated. we see that the set X ⊂  n Then the second-stage program reads as Q( x. Ax = b. y − ≥ 0 + − + is specified as X = x ∈  | Ax = b. ξ ) . ξ ) and f1 ( x. whereas for x feasible at ξ of 1 − α . we assume that this dependence on (14) ξ ∈Ξ ⊂  k is given as ˆ ˆ ˆ T (ξ ) = T 0 + ξ1T 1 . as in the general problem formulation (1)).

Ishizuka. ξ ) are linear in x and if furthermore the set X is convex polyhedral. Ralph. K. Obviously there are many other possibilities to generate types of deterministic equivalents for (1) by constructing the fi in different ways out of the objective and the constraints of (1). Ax = b.ξ )≤ 0} α dP ⎫ ⎪ (19) ⎬ s.t. are mathematical programs.-Q. Z. Saib Suwilo. Cambridge. Boston. ξ ) = g 0 ( x. Introduction to Stochastic Dynamic Programming. m ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x the stochastic linear programs with joint and with single chance constraints respectively. otherwise ⎩ αi then we get from (14) the problem with single (or separate) probabilistic constraints: ⎫ ⎪ (17) ⎬ s. ξ ). Y. 1996. 1995. we have that the functions gi ( x.R.L . Dynamic Programming. Louveaux.L . m f 0 ( x. Dynamic Programming and Optimal Control. i = 1.e. all problems derived. Princeton University Press. Another interesting topic to be explored is. Englewood Cliffs. all the above deterministic equivalents. P ({ξ | Ti (ξ ) x ≥ hi (ξ )}) ≥ α i . Academic Press. ξ ) ≤ 0 where. 1957. ξ )dP Ξ =∫ = (α − 1) P ({ξ | g ( x.L . Stochastic Programming. Cambridge University Press. m. ξ ) = − Eξ%ϕ ( x. Sitompul implying then problems (16) and (17) become % % Eξ% f1 ( x. Kluwer Academic Publishers. i = 1. This paper has described some possibilities to generate types of deterministic equivalent for model of two-stage stochastic program. % Eξ% f1 ( x. ξ ) = ∫ f1 ( x. ξ ) ≤ 0 f1 ( x. Springer-Verlag. Luo. ξ ) ≤ 0 is Hence. Mathematical Programs with Equilibrium Constraints. CONCLUSION The model of stochastic programming problem needs to be revisioned into a deterministic equivalent model such that the original problem would be well defined and solvable. m ≥ α ⎪ ⎭ If.P. 1994. If instead of (15) we define min x∈X Eξ% g 0 ( x. Nondifferentiable and Two-Level Mathematical Programming. m ≥ α ⎪ ⎭ Problem (16) is called a probability constrained or chance constrained program (or a problem with joint probabilistic constraints). ξ ) ≤ 0}) + P ({ξ | g ( x. J. P ({ξ | g ( x. in particular. Bertsekas. Introduction to Stochastic Programming. and J.L . 1997. ξ ) ≤ 0}) ≥ α i . Formally. g ( x.t. with the vector-valued T function ⎫ ⎪ (18) ⎬ s. ξ ) ) . ξ ) = ( g1 ( x. % Eξ% f1 ( x. i. Therefore the constraint equivalent to P ({ξ | g ( x. resulting in ⎧α − 1 if gi ( x.e. g m ( x. P ({ξ | T (ξ ) x ≥ h(ξ )}) ≥ α ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x and. ξ ) ≤ 0}) =1 { g ( x . ξ ) % "min" cT (ξ ) x ⎫ ⎪ s.-S. i = 1.1] .ξ )≤ 0} (α − 1)dP + ∫ / { g ( x . P ({ξ | gi ( x. with Ti (⋅) and hi (⋅) denoting the ith row and ith component of Ti (⋅) and hi (⋅) respectively. ξ ) ≤ 0}) / 144444444 2444444444 4 3 − P ({ξ | g ( x. Birge and F. whether or under which assumptions do they have properties like convexity and smoothness such that we have any reasonable chance to deal with them computationally using the toolkit of mathematical programming methods. Pang and D. 1997. Shimizu. P. i. ξ ) ≤ 0}) ≥ α . and Opim S.t.L . under these assumptions.t. i = 1.F. ⎪ % ) x ≥ h(ξ ) x ⎬ % ⎪ T (ξ ⎪ x≥0 ⎭ 9 . Chicester and New York. J. ξ ) and analogous “payoffs” for every single constraint. 4. New York. New York and London. 1983. ξ ) = ⎨ i i = 1. MA.Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. Bellman. (14) reads as ⎫ ⎪ (16) ⎬ s. S. Prentice Hall. Kall and S. John Wiley. 5. D.L . NJ. ξ ) α i ∈ [ 0. New Jersey. ξ ) ≤ 0}) . Bard. Ross. we have the stochastic linear program min x∈X Eξ% g 0 ( x. REFERENCES R.W Wallace.t.

J. On Robust Optimization of Two-Stage Systems. Working paper of Georgia Inst. 2002. 10 . Ahmed. No. –Y. Wang. X. S.Van Slyke and R. 638-663.B. L-shaped Linear Programs with application to Optimal Control. Yu.-Y. and S. SIAM Journal on Applied Mathematics.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. –D. Ji. 17 (1969). Takriti and S. Of Tech. Beizing. 2001. 4 Oktober 2006 R. L . Working paper of Chinese Academy of sciences. Wets. pp. Stochastic Programming Model in Financial Optimization: A Survei.

persediaan yang tidak perlu dihilangkan. E80. BW35 sampai B35. P45. T45. E60. Produksi yang dilakukan berdasarkan permintaan yang masuk. Secara garis besar sistem kanban yang diusulkan mempunyai aliran informasi produksi yang berjalan dari gudang bahan jadi. Perencanaan sistem kanban perlu digunakan secara optimal untuk dapat mengendalikan persediaan dan proses produksi ini dapat dicapai bila 11 . Untuk dapat terus survive (bertahan) dalam persaingan tersebut maka salah satu cara adalah dengan mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan produktif. yang diakibatkan oleh penerapan sistem push. P45. Perencanaan dan pengendalian produksi yang digunakan sekarang menyebabkan terjadinya penumpukan material di lini produksi dan waktu proses yang lama. Permasalahan di atas juga dialami oleh perusahaan yang memproduksi bola lampu dengan berbagai jenis. Lamp. A60. Perusahaan PT X yang bergerak dalam bidang perakitan bola lampu pijar. BW35. PENDAHULUAN Dunia industri sekarang ini mengalami kemajuan pesat. A55. Dengan adanya kanban yang merupakan suatu alat untuk mencapai proses Just in Time. dalam setiap proses produksi yang akan dikembangkan untuk mengendalikan jumlah produksi dalam setiap tahap proses produksi. Dalam hal ini kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dengan harga yang lebih kompetitif. Hasil analisis yang diperoleh dengan menerapkan sistem kanban adalah terjadi penurunan WIP (work in process) di lini produksi. Selain itu juga melakukan produksi seperlunya dengan mengurangi kegiatan yang tidak perlu atau pemborosan Kanban adalah suatu kartu yang berfungsi sebagai alat kontrol produksi Just in Time. kurang koordinasi atau kerjasama sesama karyawan. diharapkan dapat menekan kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sistem produksi dengan membuat sistem kontrol kanban mulai dari penyediaan bahan baku. A55. Produksi jadi yang dihasilkan antara lain tipe lampu: E50. Kanban yang digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi pada unit perakitan dan pengemasan lampu. A80. T45. dan perbandingan antara MRP dan Just in Time Kanban terjadi penurunan sebesar 28% untuk bulb dan 25% untum duplex. NR80. Kelemahan dari sistem ini bila manajemen tidak mengontrol kerja bawahan maka akan terjadi kelambatan produksi. NR80. salah satu diperoleh melalui pengurangan biaya produksi. Kata kunci: Just in Time. T55. Perbandingan antara sistem nyata dengan sistem kanban adalah sebesar 45% untuk bulb dan 25% untuk duplex. Permasalahan yang terjadi di perusahaan adalah terlalu besarnya inventori. Akibat lain yang ditimbulkan terjadi keterlambatan pengiriman barang. pengemasan. E60. lambatnya kerja operator tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan kurangnya kesadaran pekerja dalam melakukan tugas. Inventori Amri 1. dan kemudian baru diserahkan kepada stasiun kerja masing-masing. sehingga dapat menghilangkan ongkos persediaan. NR63. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan minimasi inventori dan waktu proses adalah dengan menggunakan kanban. Sedangkan proses produksi di dalam work station diatur oleh kanban perintah produksi. Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian perusahaan di Indonesia antara lain sistem produksi yang terpusat. Dari permasalahan yang terjadi pada perusahaan tersebut di atas maka dibuat sebuah usulan untuk menerapkan sistem kanban. perakitan. A60. dan bola lampu General Lighting Service (GLS) dengan tipe bulb. E50. Penerapan sistem kanban produksi adalah dengan membuat kartu kanban yang diperlukan menghitung jumlah kanban merencanakan aliran kanban yang efisien dan sarana pendukung sistem kanban. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi WIP (work in process) di lini produksi dan waktu proses. Produk yang dihasilkan antara lain adalah TL. karena semua rencana proses produksi dibuat oleh manajemen puncak. Kanban. dari gudang raw material ke proses produksi sehingga menghambat kerja proses berikutnya banyak produk yang cacat sehingga diperlukan pengerjaan ulang dan kadang harus membuang bahan karena kesalahan proses atau perhitungan dan ini semua akan menambah biaya produksi. A80. sampai B35. Untuk dapat harus dapat mengendalikan penyediaan material untuk kelancaran proses produksi. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Abstrak: Perkembangan ilmu pengetahuan pada era globalisasi semakin berkembang dengan pesatnya sehingga perusahaan dalam menjalankan bisnis harus bersaing dengan perusahaan sejenis. NR63.PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X Jurusan Teknik Industri. Pengurangan biaya tersebut dapat dicapai dengan penerapan Just in Time (JIT). pengurangan inventori. gudang bahan baku dengan menggunakan kaban pengambilan. kemajuan ini menciptakan persaingan bisnis yang semakin kompetitif.

Kemudian diambil kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang ada di perusahaan dan saran sebagai tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan bila ingin menerapkan sistem kanban. 2. Selanjutnya dilakukan penentuan metode yang digunakan yaitu kanban sebagi alat pengontrol just in time. permintaan tahunan. 3. jika barang yang diinginkan oleh work station sebelumnya tidak dapat dipenuhi maka work station tersebut akan mengambil pada work station sebelumnya lagi dengan kanban pengambilan. Work in Process (WIP) pada tiap proses produksi • Menganalisis sistem kanban penyediaan dengan melihat pengaruh yang terjadi pada proses produksi • Mengukur performansi sistem kanban pada proses produksi Dalam penelitian ini digunakan beberapa batasan untuk membatasi ruang lingkup penelitian. adapun batasan yang digunakan adalah: • Tidak membahas analisis jumlah kebutuhan tenaga kerja dan mesin • Tidak membahas pemasukan barang dari supplier • Tidak membahas proses distribusi produksi dari pabrik ke konsumen • Pembahasan dilakukan pada produksi bola lampu GLS (General Lighting Service) Perhitungan jumlah kanban dilakukan pada material bulb dan duplex.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data Pada tahap ini dilakukan pencatatan data yang 2. Hasil estimasi ini kemudian digunakan untuk menjawab tujuan studi yang telah ditentukan adalah dengan perbaikan sistem. dan saldo minimal di lini produksi dengan pendekatan Kanban JIT. bukan pada masing-masing work station. jumlah kartu untuk tiap part. Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan pendekatan sistem kanban antara lain data produksi. kedatangan barang.4 Tahap Analisis Data hasil penelitian yang digunakan untuk mengestimasi suatu kriteria performansi sistem yang diteliti. dan proses pengemasan lampu terdiri dari 13 unit mesin.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. dilanjutkan dengan melakukan studi literatur yang meliputi sumber buku dan penelitian sebelumnya. kapasitas kontainer atau palet. Proses produksi perakitan lampu terdiri dari 13 unit mesin. kemudian work station tersebut akan memberikan barang pada work station berikutnya.1 Tahap Identifikasi dan Penelitian Awal Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dan tujuan penelitian. yaitu: • Bagaimana merancang sistem kanban • Bagaimana merancang sistem kanban penyediaan material untuk produksi bola lampu yang optimal • Bagaimana mengukur tingkat performansi sistem produksi bola lampu Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan tersebut antara lain: • Merancang sistem kanban penyediaan material pada proses produksi sehingga dapat mengurangi inventori. demikian seterusnya. Dari work station produk jadi akan memberikan barang sesuai dengan jadwal rencana produksi. bila ternyata barang yang diinginkan tidak ada maka akan diminta pada work station sebelumnya dengan menggunakan kanban pengambilan. komponen. 4 Oktober 2006 perusahaan akan memproduksi produk yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan.3 12 . produksi sehingga tidak terjadi kegiatan yang tidak efisien. membuat usulan produksi dengan pendekatan Just in Time mulai dari penyediaan material sampai menjadi barang jadi. Perhitungan dilakukan pada unit perakitan dan pengemasan di lini produksi pada unit perakitan dan pengemasan 1 sampai 13. DESKRIPSI MODEL Model yang akan dijadikan studi adalah model sistem produksi yang terdiri dari beberapa tahap proses. pada proses yang tidak diperlukan sehingga membawa efisiensi kerja. Sedangkan pada proses dan pekerja perlu sedikit perbaikan. Kedua proses dalam penelitian ini akan dibuat sistem kanban mulai dari kedatangan 2. No. yaitu: 2. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data yang dimulai dengan perhitungan jumlah kanban yaitu. Secara garis besar aliran yang akan dilakukan adalah membuat Master Production Schedule pada work station akhir yaitu produk jadi. 2. Penelitian ini juga menggunakan beberapa asumsi antara lain: • Lay out site departemen yang masih berada pada kondisi saat ini • Seluruh permintaan dianggap dapat dipenuhi • Kondisi mesin dianggap dalam keadaan normal METODOLOGI PENELITIAN Didalam penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap penelitian. Maka perlu dianalisis sehingga didapat gambaran keberhasilan penerapan system kanban secara kualitatif dan kuantitatif. Tahap Perencanaan Sistem Kanban Studi mengenai sistem kanban dengan pendekatan Just in Time untuk diterapkan pada semua proses produksi. Sistem nyata yang ada sekarang ini akan dicoba membuat model sistem produksi Just in Time yaitu dengan mengganti sistem aliran informasi sistem yang nyata dengan sistem kanban. Penelitian pendahuluan dilakuakn dengan wawancara pihak manajemen dan karyawan. kemudian mengambil data di lapangan seusia dengan tahapan yang diperlukan dalam menentukan jumlah kanban.

Ada sedikit perubahan di mana penampungan sementara yang ada dihilangkan. NR63. Jadi produk dibawa langsung ke unit proses masingmasing. Kanban pengambilan digunakan pada pengembalian barang di gudang bahan baku. Penyelesaian pekerjaan menjadi tidak efisien dan membuat biaya produksi lebih tinggi akibat penggunaan kanban yang tidak diperlukan. NR80. Sehingga diperkirakan jika menggunakan kanban perintah produksi malah akan memakan waktu yang lama. E60. P45. sedangkan pada sistem usulan pull hanya menerima sejumlah produk yang dikirim oleh pengemas dengan jumlah yang sudah tertulis pada kanban. maka produk yang diinginkan di gudang produk jadi dicek kebenarannya. Kemudian baru membuat Master Production Schedule untuk masing-masing work station mulai dari gudang bahan baku. Kanban yang digunakan dalam usulan sistem ini ada 2 yaitu kanban perintah produksi dan kanban pengambilan. urutan aliran peredaran kanban yang ada di gudang setelah dihitung jumlahnya adalah: Kanban pengambilan diletakkan pada produk jadi dan telah disimpan digudang setelah dihitung jumlahnya • Jika ada permintaan dari konsumen. A80. Kartu kanban yang akan digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi. Kanban perintah produksi digunakan pada perakitan lampu dan pengemasan lampu ke 13 unit produksi. 5. T45. Di sini akan dijelaskan aliran peredaran kanban dalam proses produksi. Informasi yang diperlukan untuk memodelkan sistem produksi nyata perusahaan adalah meliputi Master Production Schedule dan rencana produksi yang diberikan kepada tiap work station. Master Production Schedule Push Trans Gudang Bahan Baku Job Sequence Push Trans Assembly Packing Push Trans Produk Jadi Job Sequence Job Sequence Job Sequence Aliran Informasi Aliran Material Gambar 1. BW35 sampai B35.1 PERMODELAN SISTEM KANBAN Aliran Material Aliran material usulan sistem produksi dengan menggunakan kanban merupakan sistem pull (tarik) yaitu proses produksi yang berjalan dari belakang (proses tarik) menuju ke proses sebelumnya. dan jika produk tersebut ada maka kanban pengambilan diletakkan pada pos kanban pengambilan beserta tanda terima order yang telah dikirimkan 13 . Proses perhitungan jumlah yang terjadi pada sistem nyata dihilangkan. E50. PERMODELAN SISTEM NYATA Proses order material dilakukan oleh perusahaan PT X dengan pihak supplier di mana barang yang dipesan sesuai dengan permintaan yang masuk. 5. pengambilan barang di rak masing-masing kemudian dikumpulkan di area penampungan sementara sebelum dibawa ke unit produksi masingmasing. Aktivitas yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mulai dari peng-input-an data komponen ke komputer. dan di angkut ke unit produksi dan juga ke penampungan sementara yang dilakukan dengan hand forklift electric dan hand forklift. perakitan bulb dan pengemasan. Master Prodution Schedule 5. berapa jumlahnya dan berapa yang diambil. Setiap work station diberikan daftar jadwal pekerjaan yang harus dilaksanakan dan transportasi yang dilakukan pada semua work station. Pabrik pembuatan komponen lampu Lamp Component Factory (LCF) dalam penelitian ini dianggap sebagai pemasok bahan baku gelas ke pabrik perakitan lampu. Persiapan material dilakukan di gudang bahan baku mulai dari pengecekan material apakah tersedia atau tidak. Produk yang dibuat berupa bola lampu berbagai jenis dan tipe mulai tipe A60. T55. Setelah komponen disiapkan kemudian dihitung ulang apakah sudah selesai denga permintaan. Pengambilan tidak perlu dilakukan perhitungan lagi. E80. 4. karena mengingat tidak ada proses yang dilakukan di gudang produk jadi. Secara garis besar aliran informasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. karena dianggap pemborosan kerja. A55.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri produk ke unit produksi sampai selesai. Setiap proses pada sistem push secara langsung dikontrol dan dikendalikan oleh Master Production Schedule. Setelah selesai operator bagian gudang bahan baku menyiapkan material dan komponen dikumpulkan di area sementara sebelum dibawa ke unit produksi.2 Kanban di Gudang Produk Jadi Pada gudang produk jadi lampu tidak menggunakan kanban perintah produksi.

dan diganti oleh kanban pengambilan. kanban pengambilan dan kanban produksi. Pada proses yang dianggap tidak efisien dan hanya memperlambat pekerjaan yaitu proses pengangkutan material ke unit penampungan sementara dihilangkan. pengisian besarta dengan forklift sebagai alat angkut produk. • Apabila komponen yang tidak tersedia untuk proses tersebut maka ia akan mengambil pada proses sebelumnya sesuai jumlah yang dibutuhkan. Kanban ini harus melekat pada produk selama: berada dalam proses sampai proses pengemasan tersebut selesai. Gambar aliran kanban di lini gudang produk jadi dapat dilihat di bawah ini: Barang Jadi Kanban Pengambilan • Bila produk yang harus dikemas ternyata tidak ada di bagian pengemasan maka pihak pengemasan harus mengambil kanban pengambilan yang diletakkan pada pos kanban pengambilan untuk proses sebelumnya yaitu. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar 4: Proses Perakitan Kanban perintah produksi Gudang Bahan Baku 5.3 Kanban di Lini Pengemasan Pada daerah pengemasan digunakan kanban pengambilan antar proses dan kanban perintah produksi (pengepakan lampu jadi). Bagian pengemasan menerima kanban pengambilan dari bagian produk jadi jika produk yang diinginkan oleh gudang dapat dipenuhi oleh bagian pengemasan. Kanban beserta produk tersebut akan dibawa ke gudang produk jadi. No.4 Gambar 2. 4 Oktober 2006 • Jika produk yang dinginkan tidak ada maka pihak gudang produk jadi akan meminta produk tersebut kepada bagian pengemasan dengan menggunakan kanban pengambilan yang terletak di pos kanban pengambilan di gudang produk jadi diangkut dengan forklift. Kanban di Lini Pengemasan Kanban di Lini Perakitan Lampu Kanban di area perakitan lampu yang digunakan adalah kanban antar proses.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kanban produksi ini gunanya untuk mengetahui jumlah produk yang dibuat dan jumlah permintaan terhadap produk tersebut yang diambil oleh bagian gudang produk jadi pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. Komponen yang diambil pada proses pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. kemudian kanban yang melekat pada palet atau body dilepas ditempatkan pada pos kanban yang telah disediakan. Kanban produksi dilakukan oleh operator pergi ke tempat buffer stock untuk proses produksi. maka pihak pengemasan akan memproduksi produk tersebut dan disertai oleh kanban perintah produksi yang diambil dari pos kanban pengambilan produksi. maka kanban perintah produksi yang melekat pada produk tersebut diletakkan di pos penerimaan kanban. Petugas bagian gudang mengambil kanban beserta palet dibawa ke gudang untuk pengisian kembali. Kanban di Gudang Produk Jadi 5. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Pos Pengemasan Produk Kanban Pengambilan Produk Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Gambar 4. Kanban di Lini Perakitan Lampu 14 . Jika produk yang diinginkan oleh pihak gudang produk jadi tidak dapat dipenuhi oleh pihak pengemas. Petugas bagian Quality Control mengisi kembali komponen ke palet yang telah kosong sesuai kebutuhan serta kanban ditempelkan pada badan palet. jadi komponen yang diambil di gudang langsung dibawa ke unit masing-masing. Gambar aliran kanban di lini pengemasan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Proses Pengemasan Kanban perintah produksi Perakitan Gudang Produk Jadi Storage Pengemasan Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Order Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Kanban Pengambilan Produk Produk Produk Jadi Pos Kanban Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan produk jadi Kanban Pengambilan Gambar 3.

maka bahan yang diinginkan diambil dengan forklift. sehingga dapat diketahui pada titik berapa bahan baku harus dipesan kembali ke supplier bahan baku. Pada tahapan ini dianalisis tingkat persediaan Work In Process (WIP) dengan sistem yang ada saat ini dan persediaan Work in Process (WIP) dengan sistem informasi kanban yang dirancang. Gambar 6. sedangkan aliran material tetap bergerak mulai dari proses awal menuju ke proses berikutnya sampai ke produk jadi. Gambar aliran kaban gudang bahan baku dapat dilihat pada gambar 5. dan dari proses sebelumnya tersebut diberikan ke proses sebelumnya lagi demikian seterusnya. Sistem pemesanan kembali sudah dibuat dalam sistem nyata. Aliran Informasi dan aliran Material Kanban 6. 15 .6 Aliran Informasi Aliran informasi bergerak dari Master Production Schedule yang diberikan hanya kepada bagian akhir (produk jadi yang ada di gudang produk jadi) kemudian dari bagian akhir ini bergerak ke depan yaitu pada proses sebelumnya dengan menggunakan kanban. Bahan Baku Kanban perintah produksi Bahan Baku 5. Kemudian kanban perintah produksi yang melekat pada produk dilepas dan diletakkan pada pos penerimaan kanban.5 Proses Pemesanan Kembali Di gudang bahan baku pengambilan bahan baku di rak dengan forklift proses yang dilakukan adalah: Jika ada permintaan dari ruang perakitan dengan menggunakan kanban pengambilan. setelah itu bahan baku dibawa dari gudang dengan menggunakan forklift ke tempat pengolahan General Lighting Service lampu beserta kanban pengambilan. Proses Pemesanan Kembali Bila permintaan daripada perakitan lampu tidak dapat dipenuhi maka bagian gudang bahan baku membuat sistem pemesanan kembali dengan jumlah pesanan tetap dan membuat titik pesan ulang (reorder point). Setelah bahan yang diinginkan dikirim oleh supplier bahan baku ke gudang bahan baku akan diletakkan kanban perintah produksi pada bahan baku yang diperlukan. Data yang diamati dalam penelitian ini merupakan kuantitas bahan baku yang tersedia pada storage area dan dijumlahkan dengan kuantitas Work in Process (WIP) pada lini produksi.1 Analisis Perbandingan Tingkat Persediaan Work in Process (WIP) antara Sistem Kanban dengan Aktual di Pabrik Tingkat persediaan material di lini produksi Work in Process (WIP) adalah salah satu parameter utama yang diestimasikan dalam penelitian ini. Adapun bagan aliran kanban adalah sebagai berikut: Kanban pengambilan dari area perakitan Storage Master Production schedule Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Job Square Job Square Job Square Job Square Storage Kanban Pengambilan Bukti Pembelian Bahan Baku Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Produk Pos Perakitan Sistem pemesanan kembali Pull Transp Pull Transp Pull Transp Aliran Informasi Daftar Bahan Aliran Material Gambar 5. ANALISIS HASIL 6. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 1.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 5. selanjutnya kanban ini diletakkan di pos pengambilan kanban dan digati dengan kanban pengambilan yang digunakan untuk mengambil bahan baku tersebut.

jika diperhatikan tabel di atas pada 1 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok. Kondisi ini dimungkinkan karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process (WIP) di pagi hari saat mulai operasi.48 13. No.86 -40.21 25.57 63.55 25.10 43. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Bulb No. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Duplex No. Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai stok yang ada berbeda jumlahnya dengan yang ada di pabrik.39 0. Secara grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 3 5 7 9 11 13 Aktual Kanban Gambar 7.57 0.86 37.34 66.25 Tabel 2. belum mendapat pasokan dari gudang utama.01 Data tersebut di atas merupakan jumlah sisa komponen dari produksi sehari sebelumnya. Stock maksimum sistem kanban adalah jumlah kanban yang beredar untuk part tersebut dikalikan dengan kapasitas paletnya.17 27.00 25. Penurunan rata-rata stok di Work in Process (WIP)untuk semua komponen bulb dan duplex adalah mencapai 45.00 46.58 34.01%.83 36.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 55.13 42. 4 Oktober 2006 Tabel 1. dibandingkan dengan jumlah maksimum tingkat persediaan sistem kanban rancangan sebagai stock level Work in Process.45 42.87 16.39 41.68 12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 261761 74839 77638 67025 147011 59751 212125 104461 0 71787 172210 162183 384227 Kanban 7 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Maximum Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan stock awal 57. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 16 .99 67.00 21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Bulb E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 157428 32400 41624 32514 55500 74000 256864 165196 289625 44500 68198 344035 498679 Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 185000 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Maximum Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan stock awal 44. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Aktual Kaban Gambar 8.82 33.06 53.62 87.25% dan 25.

29 39. 1 2 3 Jenis Bulb E50 A80 NR/R6 3 4 NR/R8 0 5 B35 6 BW35 7 P45 8 T55 9 T45 10 E60 11 A60 12 P45 13 A55 Rata-rata Mak (unit) 176000 30100 40178 50450 74000 38550 242250 142500 108000 45500 64345 315250 561000 Min (unit) 33000 2600 6575 3875 18500 2770 14250 14250 13500 13000 6250 28200 41250 Range (unit) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 Max Inventori MRP (unti) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 system Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban.60 0.20 9.69% dan 24.93 24.69 Tabel 4 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan JIT/Kanban untuk Duplek N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Mak (unit) 297678 90789 92441 86784 136172 90863 258363 157575 0 120871 188295 225363 444900 Min (unit) 54569 25050 18623 19959 42976 5851 55024 39442 0 26011 71308 55024 91283 Range (unit) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Max Inventori MRP (unti) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Kanban 4 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas Palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Max Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan Stock Awal 53.00 40.00 83.82 21. Perbandingan tingkat persediaan antara Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just in Time/Kanban untuk Bulb Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas Palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 18500 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Max Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan Stock Awal 38.11 50.33 -42.60 • • • • Dari hasil tabel di atas diperoleh: Nilai maksimum adalah merupakan nilai konsumsi material harian tertinggi dari konsumen material per hari dalam produksi Nilai minimum adalah nilai konsumsi material harian terendah dari data pengamatan Range adalah selisih antara nilai maksimum dan minimum.87 1. yang merupakan tingkat persediaan dari sistem Material Requirement Planning (MRP) Maksimum inventori kanban adalah jumlah kartu kanban tiap komponen dikalikan jumlah palet material tersebut (jumlah maksimum material dalam lini produksi sama dengan • • • • jumlah kartu kanban yang beredar dalam lini produksi) Dapat diestimasikan secara teoretis bahwa persediaan maksimum sistem kanban lebih rendah dari persediaan maksimum sistem Material Requirement Planning (MRP) Penurunan persediaan material Work In Process rata-rata untuk bulb dan duplex 27.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 6.13 17.62 0.46 33.19 31.2 Analisis Tingkat Persediaan Material Requirement Planning (MRP) dan Just In Time/Kanban Selanjutnya dari perhitungan berikut ini akan diestimasi tingkat persediaan maksimum antara No .81 4.86 20. Jika diperhatikan tabel di atas ada 2 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok Kondisi ini terjadi karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process di pagi hari saat mulai operasi.15 52. belum mendapat pasokan 17 .60% per hari.81 16.97 52.00 56.00 -55.98 24.73 53.13 14.97 60.68 27.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

dari gudang utama. Dapat dilihat dengan grafik di bawah ini:
400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

MRP

JIT/Kanban

• Gambar 9. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just In Time/Kanban
450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Siklus kanban untuk bulb adalah 1.7. Hal ini berarti barang di sampaikan dalam satu hari 7 kali dan part yang dipesan akan datang jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Sedangkan untuk duplex 1.4.2, hal ini berarti barang disampaikan dalam satu hari 4 kali dan part yang dipesan akan datang 2 jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Aktivitas gudang utama dan pengangkutan forklift masing-masing sebesar1 jam untuk bulb dan duplex Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh aktivitas yang dilakukan dengan sistem kanban untuk bulb adalah sebesar 54 menit dan untuk duplex adalah 49 menit.

2.

MRP

JIT/Kanban

Gambar 10. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan Material Requirement Planning dan Just In Time/kaban 6.3 Analisis Performansi Sistem Dalam melakukan analisis performansi sistem didasarkan pada kriteria utama adalah: 1. Analisis aktivitas pengisian kembali (replacement), dan 2. Analisis inventori Analisis dilakukan pada material bulb dan duplex baik pengantian kembali material maupun inventori. Analisis Aktivitas Pengisian Kembali (Replacement) Kedua sistem yang lama dan yang baru semuanya digunakan untuk menyediakan bahan baku untuk mesin dengan kapasitas yang sama, yang berbeda adalah replacement cycle. Pada sistem yang lama, replacement cycle dilakukan 8 jam sekali, sedangkan pada sistem yang baru replacement dilakukan 3.5 jam sekali untuk bulb. Sedangkan untuk duplex replacement cycle dilakukan 3.9 jam sekali. Sehingga replacement cycle dari bulb dan duplex dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Replacement Cycle dari Bulb dan Duplex
Aktivitas Bulb Duplex Replacement Cycle Lama Baru 8 jam 3.54 jam 8 jam 3.49 jam Jumlah Persediaan Lama Baru 17200 unit 7611 unit 17200 unit 7504 unit

1.

Analisis Inventori Perbandingan tingkat persediaan Work In Process antara sistem kanba dengan aktual di pabrik (lini produksi). a. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban, terjadi penurunan persediaan sebesar 45.25%. b. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 25.01%. Perbandingan tingkat persediaan sistem MRP dan sistem kanban 1. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara MRP dengan sistem kanban menjadi penurunan pesediaan sebesar 27.69% per hari. 2. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 24.60%. 6.4 Kelemahan dan Kelebihan Sistem Lama dan Sistem Baru Adapun kelemahan dan kelebihan dari masingmasing sistem dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Kelemahan dan Masing Sistem
Sistem Lama Kelemahan Kelebihan Koordinasi Penjadwalan antara unit tidak selalu kurang sering (bulanan) Material Service menumpuk level lebih pada lini bagus produksi

Kelebihan

Masing-

Adapun aktivitas yang dilakukan adalah:

Sistem Baru Kelemahan Kelebihan Harus dilakukan Inventori penjadwalan minimum sering (mingguan/harian) Pengangkutan Material material lebih tidak sering menumpuk. Koordinasi lebih bagus

18

Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri

6.5 Kesulitan yang Muncul dengan Adanya Sistem Just In Time/Kanban 1. Sumber daya manusia yang telah biasa dengan sistem lama, sehingga apabila Just In Time/Kanban diterpakan di perusahaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melatih para pekerja. Memberikan tanggung jawab penuh pada karyawan, karena dalam Just In Time/Kanban sangat dibutuhkan pekerja penuh tanggung jawab tanpa harus menunggu perintah dari atasan seperti pada saat ini 2. Kesulitan menerapkan sumber daya yang fleksibel seperti pada Just In Time yang telah dilaksanakan Toyota, artinya adanya pengambilan tenaga kerja ekstra apabila order meningkat dan merumahkan tenaga kerja tersebut. Prinsip ini tidak dapat dilakukan, karena semua tenaga kerja berstatus tenaga kerja tetap, hal ini malah merugikan perusahaan yaitu membuat gaji pegawai yang tidak bekerja. 6.6 Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Pelaksanaannya Adalah 1. Membuat team proyek yang terdiri dari manajemen pabrik, kepala bagian tiap work station yang harus dibentuk dan dilatih terlebih dahulu dalam membuat pola pikir Just In Time/Kanban sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran antara sistem nyata dengan sistem pull 2. Membuat produk percontohan, maksudnya karena penerapan Just In Time/Kanban membutuhkan perubahan revolusioner maka sebaiknya dimulai dari perubahan dalam skala kecil, misalnya penerapan sistem kanban pada permintaan produk akhir ke bagian pengemasan, dari sini akan dievaluasi bila hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke bagian pengolahan dan seterusnya. Bila hasil evaluasi kurang memuaskan maka harus dicari faktor penyebabnya 7. KESIMPULAN DAN SARAN

3.

4.

5.

(kanban segi tiga) 4, dan kanban supplier (gudang bahan baku) Dalam kebutuhan material bahan baku, sediaan dalam proses, terutama dalam kuantitasnya pada lini produksi, rancangan informasi sistem kanban memberikan tingkat persediaan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan sistem MRP yang ada sekarang Sistem informasi kanban bekerja lebih baik dalam perencanaan kebutuhan bahan baku material dan minimasi tingkat persediaan serta cycle time Frekuensi kedatangan part yang lebih besar dengan kuantitas part terkirim lebih kecil dalam sistem informasi kanban menghasilkan tingkat persediaan Work In Process yang lebih rendah

7.1 Saran Saran yang diajukan di bawah ini merupakan rekomendasi yang diberikan penulis, baik terhadap sistem yang diamati maupun untuk penelitian selanjutnya. 1. Penerapan metode just in time dengan sistem kanban sangat membantu integrasi dari seluruh pihak dalam perusahaan mulai dari pihak manajemen hingga operator produksi. Persiapan dalam hal sumber daya manusia hendaknya lebih dahulu diperhatikan dalam sistem yang menuntut kedisiplinan. Tinggi dalam bekerja 2. Penyebarluasan pemahaman dan penelitian sistem produksi Just In Time sebaiknya dilakukan dengan kerjasama antara perguruan tinggi dengan kalangan industri. 3. Sistem kanban relatif sederhana sehingga mudah dimengerti karena itu hendaknya pemahaman diberikan secara menyeluruh pada semua tingkat dalam perusahaan sehingga sistem kanban berjalan dengan baik 8. DAFTAR PUSTAKA Gaspersz, Vincent., 1998, Manajemen Produksi Total, Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global, Gramedia ustaka Umum, Jakarta Jimmy, Browne, John Harnen, James Shivnan., 1988, Production Management System, Addison Weslwy Publishing Company Law,A.M and Kelton, W.D., 1991. Simulation Modelinh and Analysis, 2th edition., New York, McGraw-Hill, Inc Monden, Yasuhiro. 2000. Sistem Produksi Toyota Suatu Ancangan Terpadu Untuk Penerapan Just In Time, 1.II jilid, terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta Mudjahidin, 2000. Pembuatan Kanban dan Simulasi Sistem Produksi Just In Time untuk Multi Produk da Multi Proses., Program Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya

7.1 Kesimpulan Melalui serangkaian tahapan penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Siklus kanban untuk bulb adalah 1 :7 :2 artinya barang ini harus disampaikan tujuh kali sehari dan suku cadang harus disampaikan tiga kali setelah kanban dibawa ke pemasok. Siklus kanban untuk duplex 1 :4 :2 artinya barang ini harus disampaikan empat kali sehari dan suku cadang harus disampaikan dua kali setelah kanban dibawa ke pemasok 2. Jumlah keseluruhan kanban di lini produksi untuk bulb adalah 12, titik pesan ulang (kanban segi tiga) 8, dan kanban supplier (Lamp Component Factory) 4. Jumlah kanban di lini produksi untuk duplex adalah 7, titik pesan ulang

19

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

Ohno, Taiichi. Just In Time-1995. Dlam Sistem Produksi Toyota,. Terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo Jakarta Fogarty, D.W., J.Blakestone.JR., and T.R Hoffman., Production and Inventory Management 2ed. Cicinnati, OH: South-Western Peblishing, 1991 Schniederjans, Marc J., Topics In JustIn-Time Management: Allyn & Bacon, 1993. Boston

Schonberger, Richard J. Teknik-teknik Manufaktur epang. Terjemahan Dr.Edi Nugrohio, Pustaka Binaman Pressindo, 1995, Jakarta.

20

3. Koding Gain Abstract:The error represents a problem for the communications systems. PENDAHULUAN Beberapa studi mengatakan. tolok ukur kinerja dari suatu sistem pengkodean adalah Bit Error Rate. Gain Coding I. proses pengkodean. Bagian ketiga adalah pemodelan dari medium transmisi yang meliputi pembangkitan sampel noise Gaussian dan pembangkitan salah bit. Sihar Parlinggoman Panjaitan Sumber Data Proses Medium Proses Gambar 1. systems coding are used to correct this error. Cakupan pemodelan sistem terdiri dari 4 bagian yaitu: 1. 1989). Kata kunci: Kode Inner dan Outer. The performance of coding system by using code is compared with the performace of coding system by using code. jika menggunakan kode inner dan outer. jika hanya menggunakan satu jenis pengkodean saja (Christian Thommesen. pembangkitan noise Gaussian dan pembangkitan salah bit serta proses pendekodean. Blok Diagram Model Sistem II 1 Algoritma Pembangkitan Binari 0 dan 1 Pada penelitian ini sumber diasumsikan sebagai sumber binari yang mempunyai peluang munculnya bit 1 dan peluang munculnya bit 0 adalah sama. Penelitian ini membuat model sistem kode inner dan outer. Bagian pertama adalah pemodelan sumber data yang berupa bilangan binari 0 dan 1. Kinerja dari suatu sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer diukur dari besarnya kemampuan koreksi kesalahan dari kode tersebut. Bit Error Rate dari sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tidak dapat dihitung secara teoretis. Bagian keempat adalah pemodelan pengkodean dari stream bit yang diterima di sistem penerima. Oleh karena itu dipakai satu 21 . Bit Error Rate. Keywords: Inner and Outer Code. Model sistem sebagaimana diperlihatkan oleh gambar 1 diimplementasikan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang terdiri dari program pembangkitan binari 0 dan 1. Tolok ukuran kinerja sistem adalah Bit Error Rate dari kode inner dan outer kode Hamming dan kode Reed Salomon. 2.KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER Staf Pengajar Departemen Teknik Elektro. Di samping itu. Oleh karena itu untuk memperoleh Bit Error Rate dilakukan simulasi. This research makes model of the inner and outer code. Blok diagram model sistem diperlihatkan oleh gambar 1. Coding and Decoding. yaitu banyaknya bit yang salah dibagi dengan banyaknya bit yang dikirimkan dalam jumlah yang besar. 1987). Fakultas Teknik USU Abstrak: Kesalahan merupakan masalah pada sistem komunikasi. di mana yang satu sebagai kode inner dan yang lainnya sebagai kode outer. 4. maka dapat diperoleh kemampuan yang sangat andal. II. Bagian kedua adalah pemodelan pengkodean dari data yang hendak ditransmisikan. Oleh karena itu diperlukan model sistem. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tersebut dibandingkan dengan kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode tunggal. Pola penggabungan kode yang dikombinasikan sebagai kode inner dan kode outer sangat luas pemakaiannya pada sistem komunikasi digital.. di mana tujuannya memperoleh kemampuan yang sangat andal guna mengoreksi kesalahan (Fazel K & Salembier P. Pengkodean dan Pendekodean. Bit Error Rate. The performance of the system is measured by Bit Error Rate By inner and outer Hamming code and Reed Salomon. Kode Reed Salomon. In order to overcome this problem. Kode Hamming. Reed Salomon Code. Hamming Code. MODEL SISTEM Sistem yang diteliti adalah kinerja dari sistem kode inner dan outer dengan menggunakan metode simulasi. Untuk mengatasi masalah ini digunakan sistem pengkodean untuk dapat mengkoreksi kesalahan.

k n -k . 11. Pembangkitan bilangan acak yang terdistribusi antara 0 dan 1 dimulai dari pembangkitan bilangan acak ke-i yaitu dari 1 sampai dengan bilangan acak ke-n di mana n. Bentuk umum generator polinomial dari kode Reed Salomon [Blahut. Sehingga dari 44 bit diperoleh 11 simbol.(4) N Pada penelitian ini diasumsikan noise adalah V2 = ⎡1 ⎢0 G= ⎢ ⎢1 ⎢ ⎣1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0⎤ 0⎥ ⎥ …………………. Kemudian simbol tersebut dikalikan dengan generator polinomial. Karena parameter yang dipakai di dalam program adalah Signal to Noise Ratio (SIN) dan yang akan dicari adalah tegangan (V). Bila bit 1 dikirim maka error akan terjadi jika Gaussian dengan rataan 0 dan variansi σ . 2 11. baik generator matriks. Apabila bit 0 dikirim maka error akan terjadi jika tegangan lebih besar dari harga treshold-nya (0 Volt). Oleh karena asumsi noise adalah Gaussian maka dalam simulasi ini diperlukan pembangkit bilangan. Dari harga Signal to Noise Ratio dihitung besarnya tegangan (V) dengan menggunakan persamaan (4). Bila jumlah bilangan acak yang dibangkitkan belum mencapai n. Kemudian 44 bit ini.. Kemudian dibangkitkan sample noise (u) yang berupa bilangan acak berdistribusi Gaussian dengan rataan 0 dan variansi = 1.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ( 2 ) 11. Bila yang diambil adalah bit 1. Dari definisi tersebut dapat dibuat suatu persamaan yaitu: 2 V2 σ 2 = S ……………………… ……(3) N Bila σ 2 = 1 maka persamaan (3) menjadi: S …………………. error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +'V. 1989): tegangan lebih kecil dari harga treshold-nya (0 volt). Bila yang diambil adalah bit 0.11) dimulai dengan mengambil k bit data sebanyak 44 bit. + g n .4) dan kode BCH (127. Didefinisikan tegangan kuadrat (V`) sama dengan daya sinyal (S) karena seolaholah.. error terjadi jika sampel noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V.5 dibangkitkan bit 1.4 Algoritma Pendekodean Kode Hamming Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Hamming dimulai dengan menghitung sindrom dari kode yang diterima. Bilangan acak yang telah dibangkitkan (u) dibandingkan dengan 0.5. Berdasarkan sampel noise dan bit-bit yang keluar dari inner enkoder diputuskan apakah terjadi error atau tidak. tegangan dc dan σ sama dengan daya noise (N). Tegangan akan lebih kecil dari 0 volt jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V. maka dibangkitkan bilangan acak berikutnya. generator polinomial maupun generator sekuens. maka perlu dibuat suatu hubungan antara tegangan dan variansi dengan signal noise. Jika sindrom yang dihasilkan bemilai nol 22 . Jika terjadi error. Pada penelitian ini kode-kode yang dipergunakan adalah kode Hamming (7. Rhichard E. bit tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. sejumlah perkalian antara panjang data dari kode. Tegangan akan lebih besar dari 0 jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +V. Bila bilangan acak yang dibangkitkan lebih kecil atau sama dengan 0. No. Oleh karena itu dalam proses pengkodean diperlukan suatu generator. Bila bilangan acak dibangkitkan lebih besar dari n maka proses pembangkitan bilangan acak berhenti. Bila bit 1 dikirim error terjadi jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari --V. Penghitungan sindrom ini untuk mengetahui apakah kode yang diterima benar atau tidak.5 dibangkitkan bit 0 dan lebih besar dari 0. Dapat diperoleh dari hasil perkalian antara bit stream dengan generator matriks kode Hamming Generator matriks dari kode Hamming (Man Young Rhee.. Proses pembangkitan salah bit dimulai dengan memberikan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan.(1) 0⎥ ⎥ 1⎦ Algoritma pembentukan kode Reed Salomon (15. 1983]. Setelah itu diambil bit-bit yang keluar dari inner enkoder di mana tiap yang diambil dibandingkan dengan tiap sampel noise yang dibangkitan. acak Gaussian dengan rataan = 0 dan harga variansi = 1.2 Algoritma Pembentukan Kode Hamming dan Kode Reed Salomon Bit stream dari sumber data yang masuk ke enkoder dikodekan dengan menggunakan suatu generator. g(x) = g 0 + g1 x + g 2 x 2 + .. . Bila bit 0 dikirim error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari V. Hasilnya adalah kode Reed Salomon.57) sebagai pembanding yang sifatnya sistematik. 4 Oktober 2006 pembangkit yang dapat membangkitkan bit 0 dan bit 1 dengan peluang yang sama. Kode Hamming.3 Algoritma Pembangkitan Salah Bit Pada penelitian ini didefinisikan transmisi tanpa modulasi dan format sinyal adalah bipolar di mana bit 1 mewakili tegangan V volt dan bit 0 mewakili tegangan -V volt. diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol.

. Kemampuan koreksi kesalahan dari kode Reed Salomon (15. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x).. Jika sindrom sama dengan nol..1 Determinan Sama dengan Nol Jika determinan sama dengan nol. kemudian bit-bit data disimpan pada array 23 . Kemudian bit-bit data disimpan pada array. lakukan langkah 5. II. Sehingga sindromnya ada sebanyak 4...(6) ⎡S p=⎢ 1 ⎣S 2 S2 ⎤ ……………………….... yang dihitung dengan persamaan berikut: s1 = r0 + r1α + r2α 2 + . Hitung akar-akar persamaan error locator polinominal...(10) 5 log σ Misalkan σ = α maka x a = x a = x Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x).. dilakukan pengkoreksian terhadap bit-bit yang terkena error... + r14 (α 4 )14 Kemudian sindrom S 1...... 3. Dekoder tidak melakukan pengkoreksian. 2. Untuk mengkoreksinya. 11. Hitung error magnitude.. Jika sindrom tidak sama dengan nol.. kemudian bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array. Setelah posisi error diketahui. 10. 4... Hitung sindrom dari bit stream yang telah melalui saluran transmisi. HT = transposisi dari pariti check matriks.(8) S1 Selanjutnya hitung error magnitude ei1 . hitung error locator σ dengan menggunakan persamaan: σ= S2 ………………………….. 5.. Sehingga dari 60 bit menjadi 15 simbol.. 5 log a5 c (x) = r ( x ) + e(x)………………(11) setelah kode diperoleh... Setelah dikoreksi..S 3. Jika determinan nol. Proses selanjutnya adalah mengambil 7 bit data. dengan cara menghapus kolom paling kanan dau baris paling bawah dari matriks sindrom yang lama. susun matriks sindrom yang baru. bit pada posisi ke-i tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. berarti tidak ada error deteksi.. dengan menggunakan persamaan: ei1 = S1 σ ……………………………(9) Kemudian disusun error polynomial e(x) e( x) = ei1 x log an …………………. Kode yang diterima diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol...... maka bit-bit pariti dibuang. Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol.. Selesai.. Langkah selanjutuya adalah mencari posisi error. Proses selanjutnya adalah mengambil sebanyak 60 bit data...Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan maka tidak ada error yang terdeteksi. 9. Langkah-langkah dari algoritma adalah sebagai berikut: 1. 8....5..... + r14α 14 s2 = r0 + r1 (α 2 )1 + r2 (α 2 ) 2 + . 1995).. 6.... dipilih algoritma Peterson Gorenstein Zieler (Wicker.. Kemudian sindrom dihitung dengan menggunakan persamaan berikut.11) adalah 2. Bila sindrom tidak bemilai nol maka ada error terdeteksi. yang mana posisinya diasumsikan sebagai posisi error. + r14 (α 2 )14 s3 = r0 + r1 (α 3 )1 + r2 (α 3 ) 2 + ... bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array. Susun matriks sindrom P... 7. Banyaknya sindrom adalah dua kali kemampuan koreksi kesalahan.S 2.. Jika semua nol. S = r HT.... hitung determinasi matriks P. + r14 (α 3 )14 s4 = r0 + r1 (α 4 )1 + r2 (α 4 ) 2 + ...(5) di mana: r = kode yang diterima.. 5 Algoritma Salomon Pendekodean kode Reed Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol.. Tahap terakhir dari proses pengdekodean adalah mengeluarkan bit-bit pariti.. Susun error polinomial..S 4 diuji. Stephen B... Jika sindrom tidak sama dengan nol.. Jika determinan tidak nol.(7) S3 ⎥ ⎦ Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Reed Salomon. Jumlahkan error polinomial dengan kode yang diterima... Hitung determinan matriks sindrom. Setelah diperoleh posisi error maka dilakukan pengkoreksian.. dekoder tidak melakukan pengkoreksian. Hitung error locator σ dan susun error locator polinominal σ (x).. dicari posisi error dengan membandingkan sindrom yang diperoleh dengan matriks pariti... di mana: .

Selanjutnya akar-akar persamaan di invers sehingga diperoleh β 2 . 3 Hasil-Hasil Penelitian Pada penelitian ini percobaan dilakukan dengan sepuluh kali pengamatan. datanya menjadi 1000076 bit dan untuk bit masukan sebanyak 10000000 bit. datanya menjadi 100100 bit.5. Pengujian dilakukan dengan menerapkan algoritma dalam bentuk program simulasi komputer.2 Determinan Tidak Sama dengan Nol Bila determinan tidak sama dengan nol maka susun error locator polinomial dengan menggunakan persamaan: σ ( x) = 1 + σ 1 x + σ 2 x 2 ……….Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Selanjutnya bit-bit tersebut didekodekan oleh outer dekoder. ⎡ β1 ⎢ −12 ⎣ β1 −1 β2 β 2 −1 −1 2 ⎤ ⎡ ei1 ⎤ ⎡ S1 ⎤ ⎥ ⎢e ⎥ = ⎢ ⎥ ……….(13) = S 3 ⎥ ⎢σ 1 ⎥ ⎢ S 4 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Kemudian dicari akar-akar persamaan (8) yaitu β 1 dan β 2 . I Proses Simulasi Proses simulasi dimulai dengan membuat inisialisasi Jumlah bit (nbits) dan jumlah error (nerror) dengan nilai nol. kemudian bit-bit data disimpan pada array III. Kemudian bit-bit tersebut dikodekan oleh outer enkoder. Kemudian bit-bit tersebut dikirimkan ke inner dekoder melalui kanal di mana pada kanal dibangkitkan salah bit. Untuk bit masukan sebanyak 1000000 bit.(12) Di mana σ1 dan σ 2 diperoleh dari ⎡ S1 ⎢S ⎣ 2 S 2 ⎤ ⎡σ 2 ⎤ ⎡ S 3 ⎤ ………. Kemudian memberikan harga Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Selanjutnya memberikan jumlah bit yang hendak dikirimkan (Nbit stream) kemudian 24 . Hasil pengkodean outer enkoder ini merupakan bit stream bagi inner enkoder. Data yang diperoleh berdasarkan hasil rata-rata dari kesepuluh pengamatan tersebut. Bit-bit yang telah melalui kanal disimpan pada array codechannel. Hasilnya disimpan pada array codeoutouter... PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mewakili hasil dari sistem yang sesungguhnya. No. 2 Pengujian Algoritma Yang Disusun Pengujian algoritma yang disusun bertujuan untuk menunjukkan bahwa algoritma tersebut dapat diterapkan dan dapat berfungsi sesuai dengan perancangannya. 4 Oktober 2006 II. kemudian membandingkan data keluarannya dengan data yang diproses secara manual. Kemudian dihitung error magnitude ei1 dan ei2 dengan menggunakan persamaan. menjadi 10000144 bit. 111. kemudian menguji masing-masing prosedur di dalam program tersebut. Setelah semua prosedur diuji. e( x) = ei1 x log a β1−1 + ei2 x log a β 2 −1 ………. Adanya beberapa angka desimal di belakang koma disebabkan tidak tepatnya jumlah bit masukan dengan datanya. Kemudian bit-bit tersebut didekodekan oleh inner dekoder. maka bit-bit parity dibuang.(15) Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x). β1 dan −1 −1 dibangkitkan bit stream oleh pembangkit bit. Bit stream yang dibangkitkan diambil sebagiansebagian. untuk selanjutnya dikodekan oleh inner enkoder menjadi kode gabungan yang disimpan pada array codeoutinner. maka dilakukan pengujian gabungan seluruh prosedur. Setiap prosedur yang dibuat diuji secara terpisah dengan cara memberikan data masukan tertentu. 111. Hasil pengdekodean disimpan dalam array data out Kemudian dihitung jumlah bit yang error dengan cara membandingkan bit pada array datain dan bit pada array dataout. Hasil pengdekodean disimpan pada array datoutinner.(14) ⎦ ⎣ i2 ⎦ ⎣ S 2 ⎦ harga kesalahan Setelah diperoleh ei1 dan ei2 maka disusun error polynomial e (x). jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x). III. Misalnya untuk jumlah bit masukan sebanyak 100000 bit.0.…(16) setelah kode diperoleh. c (x) = r ( x ) + e(x)……………………. Program komputer yang dibuat ditulis dalam bahasa Pascal versi 7.

4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.5691 x 10-3 8.4038 9.2 5.0484 x 10-3 3.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.71102 x 10 7.2645 6.4826 8.3948 x 10 -3 -3 -3 -3 -3 Tabel 5.9691 x 10-4 8.8403 10.1836 3.0921 x 10 -4 -5 -5 Tabel 6.9515 2.2420 x 10-2 4.0121 x 10 5.5838 S/N dengan pengkode (dB) 4.Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan Tabel 1.3903 0.4 Koding Gain (dB) 3. Kinerja Kode Inner dan Outer Reed Salomon-Hamming.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 S/N tanpa pengkode (dB) 4.3948 x 10 1.5320 x 10 2.4645 1.8 5.2 5.0097 5.0272 3.57).8 5. Efisiensi: 0.2451 BER keluaran 6.5691 x 10-3 BER keluaran 1.5838 3.7622 x 10-3 1.4 4. Koding Gain Kode Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon Efiensi: 0.5691 x 10 -3 -3 -3 BER keluaran 1.5515 8.4879 x 10-3 7.4879 x 10-3 7.65x 10-6 2.9800 8.3948 x 10-3 1.4879 x 10 7.697 x 10-5 3.2555 x 10 1.5476 25 .4 Koding Gain (dB) -0.9015 x 10-4 -4 -5 -5 1.8664 Tabel 2.626 x 10-5 1.0121 x 10-3 5.341 x 10 -4 2.0484 x 10 3.1836 9.8 5.8038 3.9225 3.81 x 10-6 Tabel 3.4 4.4 Koding Gain (dB) 2.(10) 9. ANALISIS HASIL PENELITIAN Analisis hasil penelitian mencakup pengaruh parameter signal to Noise Ratio terhadap koding gain dari sistem yang diteliti.6 6 6.645 1 S/N dengan pengkode (dB) 4.7608 3.8403 3.1476 IV.3292 x 10 5.6 6 6.2459 1. Kinerja Kode BCH (127.57) Efisiensi: 0.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.7708 2. Besarnya koding gain (marving et.1708 7.5320 x 10-3 2. 1995): Koding gain = S/N tanpa pengkode-S/N dengan pengkode……….4873 x 10-3 3.2272 8.2 5.6826 3.6 6 6.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.765 x 10 2. Koding Gain kode BCH (127.5320 x 10 2.5800 3.4 4. al.9608 9.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 BER masakan 9.2664 S/N dengan pengkode (dB) 4. Koding Gain Kode Inner dan Outer Reed Salomon–Hamming Efisiensi: 0. Efesiensi: 0.0484 x 10-3 3.7225 8.1122 3.01 x 10-6 Tabel 4.7122 9.0121 x 10-3 5.4459 7.2131 x 10 1. Kinerja Kode Inner dan Outer Hamming– Reed Solomon Efisiensi: 0.48 x 10-5 5 .

15281533. New York.. Wicker Stephen. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode gabungan lebih andal dibanding dengan kinerja sistem pengkodean yang menggunakan kode tunggal pada Bit Error Rate masukan dari 10-2 sampai 10-3. V. (1989). Laboratories d’Electronique Philips. New York. 2. P. 4 Oktober 2006 3. Reed Salomon-Hamming serta Kode BCH (127. Dengan demikian model sistem yang dibuat dapat diyakini untuk mewakili sistem yang sebenarnya.E. (1983). R. Man Young Rhee. Kenaikan koding gain semakin kecil pada signal to noise ratio yang semakin besar DAFTAR PUSTAKA Blahut. Mc Graw-Hill. No.. 3 Avenue Descartes 94451 LimeilBrevannes Cedex (France). IEEE.5 Fazel. pq. 26 . Grafik 2.1995. Addison-Wesley Pubishing Company Inc. Koding Gain terhadap Signal to Noise Ratio Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon. IEEE Transactions on Information Theory.. Theory and Practice Of Error Control Codes. bila dibandingkan dengan inner dan outer code Reed Salomon-Hamming. (1987) Error Correcting Capabilities of Concatenated Codes With MDS Outer On Memoryless Channels with MaximumLikelihood Decoding.. T. Pada gambar 2. Error Correcting Coding Theory. terlihat bahwa Koding Gain inner dan outer code Hamming-Reed Salomon dan Reed Salomon-Hamming lebih tinggi bila dibandingkan dengan kode BCH (127. Koding Gain Hamming sebagai inner code dan Reed Salomon sebagai outer code lebih tinggi dibandingkan dengan Reed Salomon sebagai inner code dan Hamming sebagai outer code Hasil pemodelan simulasi ini mendeksi hasil secara teoretis yakni dengan naiknya signal to noise ratio. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan. maka dapat diambil kesimpulan antara lain: 1. Prentice-Hall International Inc. Application of Error Modeling at The Output Maximum Likelihood Dekoder to Concatenated Coded 16 PSK.B. Koding Gain inner dan outer Hamming Reed Salomon lebih tinggi. 4. Christian.57). maka Bit Error Rate cenderung semakin menurun. Error Control Systems for Digital Communication and Storage. (1989). No.. K. Vol..Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. IT-33. Salembier.57).

Pertanyaan yang memerlukan jawaban tersebut antara lain. Hal ini mengakibatkan pergolakanpergolakan di daerah untuk menuntut pemberlakuan otonomi khusus atau bahkan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rasa ketidakpuasan tersebut. Sentralisasi kekuasaan dan keuangan negara pada masa sebelum era reformasi telah banyak memberikan pengalaman kepada masyarakat daerah atas ketimpangan yang terjadi mengenai pembagian hasil dan sumber daya alam antara daerah dan Jakarta. Oleh karena itu. pemberlakuan undang-undang otonomi daerah harus dapat meningkatkan daya inovatif dari pemerintah daerah untuk dapat memberikan laporan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan keuangan daerah dari segi efisiensi dan efektivitas kepada DPRD maupun masyarakat luas. siapa yang bertanggung jawab terhadap berbagai bagian kegiatan dalam masyarakat. apakah pertanggungjawaban berjalan seiring dengan kewenangan yang memadai. since its make Kepmendagri No. The acceleration in regional accounting system implementation is the necessity for the government. dan bagaimana. Pelaksanaan good governance tersebut. Pemerintah daerah mempunyai dana yang terbatas. milik siapa. Good governance mengandung dua pengertian yaitu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan kemandirian. dalam pengantar Standar Akuntasi Pemerintah dinyatakan bahwa salah satu Idhar Yahya 27 . Regional General Assembly (DPRD) and the public. kepada siapa pertanggungjawaban diserahkan. Salah satu masalah penting yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah sebagai unsur dari suatu good governance. memberantas korupsi.589/IX/6/Y/99 dalam Sitompul (2003). A. apa yang harus dipertanggungjawabkan. Hal tersebut dapat dipahami mengingat pemenuhan segala kebutuhan minimal memerlukan biaya dan tenaga ahli tidak sedikit.AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU Abstract: The operational of transparancy and accountability are the important things to make a good and clean government according to the expectation of its stakeholders. dan lain sebagainya. Konsep pelayanan dalam akuntabilitas selain harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship juga harus diikuti dengan jiwa responsiveness. Konsep pelayanan ini dalam akuntabilitas belum memadai. maka harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship pada pihak-pihak yang melaksanakan akuntabilitas. Keywords: Transparancy and Accountablility PENDAHULUAN Gerakan reformasi mengedepankan beberapa tuntutan penting antara lain mendesak pemerintah meningkatkan kinerja. dan pelaksanaan praktek pemerintah yang good governance dan clean government. mengapa pertanggungjawaban harus diserahkan. Konsep Akuntabilitas dan Transparansi Menurut keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) No. kolusi dan nepotisme (KKN). akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menjelaskan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak/berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Di satu pihak pemerintah daerah dituntut untuk mewujudkan good governance sementara dipihak lain sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk semua kegiatan terutama menyangkut teknologi informasi dan sumber daya manusia belum memadai. pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. 2002. Selain itu. kepada siapa.29. about the orientation of regional’s government which is not implements the regional’s accounting system already are worried not to manage its regional’s accounting transparancy. Hal ini harus dilakukan agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder sesuai dengan karakteristik Good Governance menurut UNDP dan Word Bank. siapa. ternyata pelaksanaannya menghadapi banyak kendala yang cukup rumit. yang mana. Osborne (1992) dalam Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa Akuntabilitas ditujukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pelayanan apa. Transparancy and accountability can be realized by the responsibility in all of regional’s financial management periodicly in financial’s report form to the central government. personalia yang mempunyai kemampuan juga terbatas.

effectiveness dan strategic vision. kenyataannya mekanisme akuntabilitas keuangan daerah tidak berjalan dengan baik terutama kepada masyarakat. B. aset daerah dan akuntansi. Sektor publik. Sebagian besar masyarakat tidak dalam asumsi memiliki pengetahuan yang memadai tantang aktivitas pemerintahan dalam pengelolaan keuangan. Oleh karena itu informasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Namun. Keempat. Badan Pengawas Keuangan Pembangunan. transparansi. kualitas pemerintahan yang baik juga ditentukan oleh faktorfaktor lain seperti responsiveness. akuntabilitas publik keuangan daerah adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja keuangan daereah kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) sehingga hak-hak publik. Akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan pemerintah daerah tidak begitu dipahami oleh masyarakat sebagai pemakai. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh stakeholder tersebut diperlukan kerangka konseptual (conceptual framework) yang komprehensif. sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Biro/Bagian Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah daerah kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. dilakukannya audit. hak untuk diberi informasi (right to be kept information). dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Mekanisme Akuntabilitas Keuangan Dalam pelaksanaan penyajian laporan keuangan pemerintah daerah. Lembagalembaga tersebut tentunya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) menggunakan biaya yang bersumber dari keuangan negara. adanya sistem pelaporan keuangan. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa akuntabilitas publik meliputi akuntabilitas internal dan akuntabilitas eksternal. yaitu hak untuk tau (right to know). Kerangka konseptual akuntabilitas publik dapat dibangun di atas dasar empat komponen. dan hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to) dapat terpenuhi. pemberi dana bantuan. 4 Oktober 2006 upaya nyata untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip waktu. Akuntabilitas Publik Keuangan Daerah Kualitas Pemerintahan Daerah yang baik (good governance) tidak hanya ditentukan oleh akuntabilitas. transparansi. consessus orientation. serta kepada Kepala Satuan Kerja/Dinas selaku pengguna anggaran. Setiap warga negara berhak mengetahui (right to know) untuk setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh setiap pejabat negara baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. adanya sistem pengukuran kinerja. Sedangkan akuntabilitas eksternal adalah pertanggungjawaban kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan. Kedua. berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of public accountability). Pertama. dan badan legislatif. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa Kepala Daerah merupakan pengelola keuangan daerah. Akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan dan demokratis serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Akuntabilitas internal merupakan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak internal yang berkepentingan seperti pegawai. pejabat pengelola keuangan negara. equity efficiency. pemerintah harus betul-betul menyadari bahwa pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari publik. Hal ini dapat kita lihat dari adanya keberadaan lembaga pengawas seperti Badan Pengawas Daerah. partisipasi masyarakat dan supremasi hukum. dan investor atau kreditor. Jiwa dari sistem ini adalah kemampuan dari setiap warga negara untuk memperoleh informasi melalui akuntabilitas pejabat pemerintah atas kegiatan yang mereka lakukan. Menurut Mardismo (2004). dan DPRD. Biro/Bagian Keuangan sebagai pembantu Kepala Daerah dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah manajer keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Daerah. C. No. sementara setiap Kepala Satuan Kerja/Dinas pada hakekatnya adalah manajer operasional atau Chief Operational Officer (COO) Pemerintah Daerah. Ketiga. Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengadilan intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. 28 . media massa. seperti pembayar pajak. Katz (2004) menyatakan bahwa transparansi merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. Dengan adanya transparansi maka diharapkan setiap warga negara dapat berperan aktif dalam melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa “stakeholder yang beragam memiliki kepentingan yang berbeda-beda.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Mekanisme monitoring cost sebenarnya sudah berjalan pada akuntansi sektor publik walaupun belum seefektif pada sektor privat. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tantang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja. Hal ini sesuai dengan karakteristik pelaksanaan pemerintahan yang baik menurut UNDP dan Word Bank. Oleh karena itu. Untuk membantu Kepala Daerah dalam mengelola keuangan daerah dimaksud.

Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Idhar Yahya

D. Impelentasi Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pencapaian kinerja organisasi pemerintah biasanya memang dihubungkan dengan konsep 3E. Hal ini sesuai dengan konsep Value For Money (Mulgan, 1997) yang merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang didasarkan pada tiga elemen yaitu ekonomis, efisiensi dan efektivitas. Namu tiga elemen ini saja sebenarnya tidak cukup dan perlu ditambah dengan dua elemen lain yaitu keadilan (equity) dan pemerataan atau kesetaraan (equility). Artinya bahwa penggunaan uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja tetapi dilakukan secara merata. E. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Sarana Akuntabilitas dan Transparansi Keuangan Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah maka sistem akuntansi yang digunakan oleh pemerintah berubah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui apda saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dinyatakan bahwa komponen yang harus terdapat dalam suatu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi; Laporan Realisasi Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintah Nomor 1 tentang Penyajian Laporang Keuangan pada paragraf 38 dan paragraf 43 dinyatakan bahwa Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu, selain itu juga dinyatakan Neraca mencantumkan pos-pos berikut; Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang pajak dan bukan pajak, Persediaan, Investasi jangka panjang, Aset tetap, Kewajiban jangka pendek, Kewajiban jangka panjang, Ekuitas dana. Dengan demikan, PSAP Nomor 1 telah mengharuskan setiap Pemerintah Daerah untuk menyajikan dan melaporkan Neraca secara komprehensif.

F. Laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagai Bentuk Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pada setiap akhir tahun anggaran dan periode pemerintahan Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepada DPRD sebagai wakil dari masyarakat yang telah mempercayakan pengelolaan sumber daya daerah. Undang-undang republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pada ayat 2 disebutkan bahwa laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi Laporan Keuangan APBD, Neraca, Laporan Aliran Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan Badan Usaha Milik Daerah. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2001 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia telah menyampaikan Hasil Pemeriksaan Semesteran (HAPSEM) kepada DPRD, yaitu hasil pemeriksaan yang menyangkut pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi/ Kabupaten/Kota yang ber-sangkutan. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Barhullah, 2002, Fungsi Manajemen Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, oktober, hjal. 4-8 Katz, Ellen, 2004, Transparancy in GovernmentHow American Citizens Influence Public Policy, Journal of Accountancy, Juni 2004, hal. 1-2 Kosasih, Dadang, 2003, Reorientasi Pengelolaan Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 90, Juni-Juli, hal. 57-59 Kuntadi, Cris, 2002, Transparansi Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, Oktober, hal. 22-16 Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta, Mardiasmo, 2004, Membangun Akuntabilitas Publik Keuangan Negara, Cetakan Majalah Media Akuntansi, Edisi No. 39, April, hal. 12

29

STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X
Khawarita Siregar
Staf Pengajar Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU Abstrak: PT X merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ayam (pelet S-11). Penelitian ini menggunakan pengendalian proses secara statistik untuk melihat kemampuan proses dari PT X, juga dengan teknik ini perusahaan dapat menurunkan variabilitas yang dimiliki sebanyak mungkin. Ini merupakan sebuah keharusan karena PT X tidak memiliki metode khusus dalam mengendalikan pelet S-11. Dan juga dengan teknik ini, PT X ingin mengendalikan keseluruhan proses yang terdapat pada lantai produksi. Juga dapat dilakukan untuk mengendalikan produk akhir dengan menentukan rencana sampling penerimaan berdasarkan MIL-STD 1916 dan memberikan petunjuk arahan terhadap lot yang diterima dan yang ditolak. Dari analisis yang didapat, rendahnya proses kapabilitas disebabkan oleh kinerja operator, gudang bahan baku, peralatan turn head dan proses itu sendiri tidak bekerja secara optimum. Dan juga untuk perhitungan rencana sampling penerimaan berdasarkan metode MIL-STD 1916, lot yang diterima terdapat pada karakteristik protein, lemak, dan serat. Kalsium dan fosfor lot yang ditolak. Untuk lot yang ditolak dibutuhkan pemeriksaan yang lebih ketat. Kata kunci: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL- STD 1916 Abstract: PT X is a manufacturer in producing food for chicken (pellet S-11). This researh is using statistical process control to look the capability process of PT X, so with this technique the manufacturer can decrease the variability as much as possible. It’s a necessary because PT X doesn’t has a special method in controlling pellet S-11. And with this capability process technique, PT X want to control the whole process in the production floor. It can be also to control the end item product with determine the acceptance sampling plans according MIL-STD 1916 and giving an implementation direction about the acceptable and rejected lot. From the analysis result, poor capability cause by operator performance, raw material warehouse, turn head tool and the process to produce S-11 itself doesn’t works optimumly. And for the acceptance sampling plans calculation with MIL-STD 1916 method, the acceptable lot are protein, fat and fiber. Calcium and phosphor are rejected. For rejected lot, tightened inspection shall be istituted. Keywords: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL-STD 1916 1. PENDAHULUAN Produksi daging dan telur ayam kampung belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ditinjau dari segi peternakan ayam ras yang semakin berkembang berkaitan erat dengan penggunaan teknologi. Penerapan teknologi ini didukung oleh program pemerintah untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat dalam hal kebutuhan protein hewani. Melihat Indonesia sangat potensial bagi industri pakan ternak khususnya ayam, maka PT X mewujudkan minatnya untuk memproduksi pakan ayam yang berkualitas. Untuk menjaga kualitas pakan, PT X berusaha untuk tetap memenuhi mutu produk sesuai spesifikasi produk (nilai gizi) yang diinginkan pasar dengan tetap melakukan usaha-usaha pengendalian mutu. Untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan peluang yang sama untuk menerima produk tanpa cacat (defect) diperlukan usaha keras dari pihak perusahaan untuk mencapai zero defect. Usaha yang dimaksud tidak hanya berupa kebijakankebijakan yang tertulis tetapi juga diperlukan kesadaran dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Dari studi lapangan yang telah dilakukan terhadap PT Charoen Pokphand Indonesia, untuk mencapai zero defect menjadi hal yang sulit dikarenakan faktor kebudayaan seperti kesadaran, sikap, insentif, sistem penghargaan dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Juga faktor manusia (operator) yang melahirkan kesalahan manusia (human error), misalnya mempunyai tujuan yang salah atau kemampuan yang kurang sehingga menghasilkan kesalahan. Dikarenakan sulitnya untuk mengubah pola pikir, watak dan budaya yang dimiliki, maka untuk melakukan pengendalian secara statistik terhadap proses yang sedang berlangsung digunakan metode process capability dan MIL-STD 1916 dalam mengendalikan produk yang dihasilkan. 2. POKOK PERMASALAHAN Masih terdapatnya pakan ayam S-11 yang dihasilkan belum memenuhi spesifikasi standard mutu yang telah ditetapkan perusahaan, sehingga perlu diambil langkah konkrit agar mutu yang dihasilkan dapat tercapai. Langkah yang diambil adalah dengan menggunakan proses pengendalian statistik untuk melihat dan memeriksa proses yang berlangsung dan produk akhir yang dihasilkan. Pengendalian secara proses dapat dilakukan dengan menggunakan teknik process capability sedangkan pengendalian produk akhir dengan memakai MILSTD 1916.

30

Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar

3. PEMBATASAN PENELITIAN Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis masalah dilakukan pada produk pakan ayam S-11. 2. Variabel yang akan diuji adalah variabel kadar protein, lemak, serat, kalsium, dan fosfor. 3. Spesifikasi standar mutu terhadap variabel uji adalah: - Kadar Protein = 19 –21% - Kadar Lemak = 6 –7% - Kadar Serat = 3 – 4% - Kadar Kalsium = 0,9 – 1,1% - Kadar Fosfor = 0,7 – 0,9% 4. Tidak melakukan suatu evaluasi sistem manajemen perusahaan yang berhubungan dengan penerapan pengendalian mutu. 5. Tidak menggunakan konsep zero defect. 4. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif yang bersifat historis yaitu memakai data masa lalu perusahaan untuk dianalisis dengan menggunakan prinsip perhitungan pengendalian kualitas secara proses. 4.2 Objek Penelitian Objek yang diteliti adalah kajian process capability dan acceptance sampling plans berdasarkan MIL-STD 1916 untuk melihat sejauh mana studi ini dapat diterapkan pada PT X. 4.3 Identifikasi Masalah Masalah yang ditemui akan diidentifikasi untuk selanjutnya akan dicari penyelesaiannya. Secara umum tahapan-tahapan yang akan dilewati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi dan perumusan masalah 2. Penetapan tujuan penelitian 3. Studi kepustakaan 4. Penentuan metode penyelesaian penelitian 4.3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi yang berarti mengenal masalah harus didasarkan pada tingkat urgensi dan relevansi permasalahan. Identifikasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap fakta yang terjadi pada perusahaan. Perlunya memakai prisip pengendalian secara statistik dimaksudkan agar perusahaan secara kontiniu dapat melakukan pengendalian produk secara terstruktur, sehingga hasil yang didapat dapat ditindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mengambil kesimpulan dari kondisi sebenarnya dan untuk memberikan petunjuk dan arahan atas pelaksanaan tersebut.

4.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengendalikan keseluruhan proses yang berlangsung dalam menghasilkan pakan ayam S11 dengan memakai process capability serta memberikan usulan berupa tindakan-tindakan korektif yang dapat diambil untuk meningkatkan kemampuan proses. 2. Mengendalikan pemeriksaan produk akhir dengan menentukan rencana sampel penerimaan variabel berdasarkan metode MIL-STD 1916 dan dapat memberikan petunjuk pelaksanaan atas kegiatan pemeriksaan terhadap lot yang diterima atau ditolak. 4.3.3 Studi Kepustakaan Kualitas produk biasanya dipakai dalam penggunaan produk atau jasa yang dapat memenuhi harapan (expectation) pelanggan. Harapan ini didasarkan pada kepuasan akan kebutuhan pelanggan (fitness for use) dan harga/nilai jual produk. Kualitas sendiri dapat didefenisikan sebagai keseluruhan segi, keistimewaan (feature) dan karakteristik sebuah produk atau jasa layanan yang memberikan kepuasan akan kebutuhan pelanggan. A. Statistical Process Control Merupakan alat utama untuk memonitor sebuah proses, mendiagnosis masalah-masalah yang timbul pada saat proses dan membuat usaha-usaha prioritas untuk melakukan perbaikan kualitas. Tujuan pokok pengendalian proses statistik adalah menyelidiki dengan cepat sebab-sebab penyimpangan kualitas sehingga penyelidikan terhadap proses itu dan tindakan pembetulan unit dapat dilakukan sebelum terlalu banyak produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi. B. Control Chart Suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk memperlihatkan variasi-variasi didalam kualitas keluaran yang disebabkan oleh penyebab khusus dan penyebab umum dan sekaligus melalui peta kendali dapat digunakan untuk menghilangkan variasi data yang tidak normal. Manfaat dari peta kendali adalah memberitahukan kapan harus membiarkan suatu proses berjalan seadanya atau kapan harus mengambil tindakan untuk mengatasi gangguan. Peta kendali dapat dibagi atas dua tipe umum, yaitu: 1. Peta kendali atribut (sifat), digunakan apabila karakteristik mutu tidak dapat dinyatakan secara numerik. 2. Peta kendali variabel, digunakan apabila karakteristik mutu dapat diukur dan dinyatakan dalam bilangan. Untuk mengendalikan mutu pada perusahaan ini, penulis menggunakan peta kendali untuk variabel, yaitu peta X dan R, karena karakteristik mutu yang diamati adalah variabelnya.

31

Dalam penelitian ini. Process Capability Ukuran dari proses capability disebut capability index. jenis sampel yang digunakan adalah simple random. tetapi hanya merupakan hasil perhitungan dari proses statistical control. MIL-STD 1916 adalah singkatan dari Military Standard 1916 yang merupakan salah satu dari teknik untuk rencana sampel penerimaan yang teriri dari tiga perencanaan sampling sekaligus yaitu pemeriksaan sampel dari lot atau batch yang bersifat variabel atau atribut. 4 Oktober 2006 Revisi Peta Kendali X dan R Jika terdapat data yang di luar batas kendali.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. D. Accepatance Sampling Plans Melakukan rencana sampling penerimaan tidak terlepas dari cara pemilihan sampel yang representatif. 1).Data yang berada di luar batas pengendalian merupakan jenis data yang tidak normal yang disebabkan oleh jenis variasi penyebab khusus (variasi tidak alami). maka dilakukan revisi terhadap peta kendali tersebut. Berikut adalah merupakan analisis hubungan antara nilai Cp dan Cpk: Secara jelasnya dapat dilihat melalui gambar 1.00. Perlu diketahui bahwa kedua sifat sampel tersebut dapat dipilih salah satunya sesuai dengan penelitian yang dilakukan dan disesuaikan dengan produk yang dihasilkan. di mana nilai minimum dari Cpk yang dianjurkan adalah 1. Pemilihan sampel yang bersifat random akan memberikan hasil yang memuaskan bila populasi dari sampel tersebut adalah yang homogen. Rencana sampling menunjukkan ukuran sampel dan cacat yang diizinkan dalam sampel untuk menentukan apakah suatu populasi diterima atau tidak. yaitu Cp dan Cpk. Nilai Cp dan Cpk 32 . Simple random adalah sampel yang terdiri dari unsur-unsur di mana setiap unsur mempunyai probabilitas yang sama untuk dipilih. dengan cara membuang data yang di luar kendali dan menghitung kembali batas-batas kendali. No. hal-hal yang pertama sekali yang harus diketahui lebih dahulu adalah: Gambar 1. untuk menghasilkan standar proses yang diinginkan. Nilai capability index minimum untuk distribusi normal adalah satu. Nilai yang menentukan bahwa proses telah sesuai atau tidak terhadap karakteristik proses adalah nilai dari Cpk (performance index). sehingga dapat memberi gambaran yang tepat tentang karakteristik populasi yang diselidiki. Dalam menentukan proses perencanaan sampling. Kedua nilai ini harus dilakukan secara bersama. Metode Accepatance Sampling Plans Metode perencanaan sampling penerimaan yang dibahas pada penelitian ini adalah metode penerimaan sampling alternatif (alternative acceptence sampling methode) atau disebut sebagai MIL-STD 1916 yang dikeluarkan pada 1 April 1996 oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang digunakan sebagai standar metode penerimaan produk (methods for acceptance product). C. Perlu diketahui. nilai Cp tidak mengindikasikan bahwa suatu proses telah benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan terhadap proses. Capability Index suatu proses adalah perbandingan variasi proses terhadap spesifakasi yang telah ditentukan.

atribut dan continous MIL-STD 1916 harus menggunakan prinsip sampel secara random dan khusus untuk variabel distribusinya normal. 4. Kode Huruf untuk Lot/Batch VII 2 – 170 A 171 – 288 A 289 – 544 A 545 – 960 A 961 – 1632 A 1633 – 3072 A 3073 – 5440 A 5441 – 9216 B 9217 – 17408 C 17409 – 30720 D 30721 – dst E Sumber: DoD Article MIL-STD 1916 USA Lot Or Poduction Interval Size VI A A A A A A B C D E E Verification Levels V VI III A A A A A A A A A A A B A B C B C D C D E D E E E E E E E E E E E II A A B C D E E E E E E I A B C D E E E E E E E 33 . Tingkat VL yang digunakan adalah mulai dari VL-I sampai VL-III. yaitu: VL-IV : jenis level umum yang digunakan oleh perusahaan. Kritikal karakteristik adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu sistem dalam keadaan sangat berbahaya (hazardous) atau bisa dikatakan sebagai kondisi tak terselamatkan (unsafe condition) bila dalam jangka tertentu tidak diantisipasi dengan menggunakan pemeriksaan prinsip otomatis yang menggunakan sistem komputerisasi. 2. Minor karakteristik adalah gambaran karakteristik yang menunjukkan bahwa kurangnya usaha untuk menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi. VL-II : pemeriksaan dengan kondisi variasi produksi hampir tidak pernah ada. major karakteristik dan kritikal karakteristik. Tipe dari sampling yang diteliti (variabel) Penggunaan perencanaan sampling variabel. Setelah VL dispesifikasi maka kode huruf jumlah lot/batch bisa dilihat dari tabel 1. Jenis karakteristik dalam hal pemeriksaan dibagi atas tiga bagian. c. yaitu: VL-I : digunakan apabila kondisi produksi tidak pernah mengalami kesalahan. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai VLIV sampai VL-VI. diperketat (tightened).Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar 1. yaitu: minor karakteristik. Penetuan nilai VL tergantung jenis karakteristik yang diteliti. Verification Level Verification Level (VL) adalah gambaran dari tingkat utilitas suatu karakteristik dalam suatu proses. Major karakteristik adalah gambaran karakteristik yang harus menghindari kesalahan produksi atau pengurangan material (material reduction) pada saat proses lagi berjalan. VL-VI : jenis pemeriksaan yang diguna– kan apabila ada perbedaan yang besar terhadap spesifikasi yang ditetapkan. diperlonggar) Aturan tingkat pemeriksaan hanya diaplikasikan terhadap ukuran yang ada yaitu: normal. Tabel 1. 3. Tingkat pemeriksaan (normal. diperlonggar (reduced). baik itu pada saat produksi atau penanganan material. VL-III : pemeriksaan dengan sedikit variasi dalam produksi. Penentuan kode huruf (CL) terhadap besar lot yang diperiksa. VL-V : jenis level yang membutuhkan satu kali pemeriksaan dari VL-IV. a. Verification level yang digunakan adalah VLVII. Hal ini terdapat pada kondisi suatu perusahaan yang terancam hancur/tutup (unsafe manufacture). diperketat. b.

504 6.106 0.7157 0.875 19 6.003 0.880 0.206 0.82 6.504 6. (xi.38 159.780 0.6 2.xi Kelas 1.217 2. Dari tabel 3.105 12 6.05 72.2 Pengolahan Data A.479 1.x )2 0.x )2 2.1 Pengumpulan Data Data yang didapat merupakan data persentase kadar protein. 6.844 12.71 Tabel 3. . Ketat ke normal .325 6.16 92.1 lot ditolak.Proses produksi dalam keadaan mantap.995 14 6.Kondisi pabrikasi lainnya menjamin pemeriksaan normal untuk dilakukan kembali.776 25.435 – 6. Uji Kecukupan Data ⎡ 60 26 (1099.504 6.070 3. ketat dan diperlonggar adalah sebagai berikut: 1.2 7.09 II.151 0. diperoleh χ hitung < χ tabel.504 6.504 6.435 6.976 1.Lima lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.0668 0.8365 0. 4.5 5.563 0.545 18 6.9177 2 x 6.765 20 6.111 0. . kalsium dan fosfor pelet S-11.673 -0.995 – 6. 4 Oktober 2006 2).655 17 6.765 – 6.49 116.420 11. Normal ke ketat Dua lot tidak memenuhi kriteria penerimaan dari lima lot terakhir yang diperiksa.105 – 6.58 9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total Batas Kelas 5.4 ) − (169 )2 N' = ⎢ 169 ⎢ ⎣ N’ = 2.Penyebab-penyebab produk rusak yang telah ditemukan.261 0.2514 0.0668 0.27 100.563 0. sehingga penulis mengambil satu sampel data yaitu kadar lemak.348 34 .055 0.215 15 6.727 18.504 (xi. No.423 1.673 -0.3974 0.1401 0.362 22.655 – 6. Aturan Pengalihan Prosedur Pemeriksaan Aturan pengalihan pemeriksaan prosedur pemeriksaan normal.3974 0. 2 2 Tabel 2.667 12. 6. Perhitungan yang dilakukan untuk setiap data variabel tersebut dilakukan dengan cara yang sama.215 – 6.655 6.995 – 6.504 6.239 1.105 9.Sepuluh lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.8365 0. 5. Distribusi Frekuensi Kadar Lemak S-11 No. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesa digunakan nilai α = 0.325 – 6.1113 0.5636 0.504 6.875 6.1401 0. .435 – 6. 3.6 112.085 -0.015 Za 0.875 – 6.995 Zbkb 0 -1.Proses produksi tidak teratur dan sering mengalami delay.655 – 6. pemeriksaan normal dilakukan pada awal pemeriksaan. Penentuan Nilai χ Hitung No.976 1. bahwa data berdistribsi normal.105 – 6.498 -1. berarti jumlah pengamatan telah memenuhi.844 1. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 5.7157 0.890 2.545 6.93 97.1662 0.151 0.504 6.5636 0.267 Untuk uji kenormalan data.05.388 1 Zb 0 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Total 156 1014. 5.015 0.185 fi.146 0.434 17. serat.71 134. 5.325 16 6. lemak.1208 0.927 23.325 – 6.435 25 6. ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ 2 pendahuluan B. Pengalihan prosedur pemeriksaan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi atau yang terjadi.2514 0.0823 ei 10. .765 6.0668 0. Bagi perencanaan sampling penerimaan. Normal ke longgar .875 – 6.085 -0.099 0. 6.118 0.0002 0.154 0. 2.95 N’ < N.545 – 6.9177 1 Za-Zb 0.387 0.594 11.838 oi 12 15 16 25 18 17 20 19 14 156 (oi-ei)2/ei 0.166 0.0812 0. Longgar ke normal .042 0.261 0. 6.498 -1.215 – 6.907 0. 6.32 4. Dari tabel 2 diperoleh standar deviasi = 0. I.1521 0.2 8.4 3.82 129.009 0.105 6. Uji Kenormalan Data Hasil distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 2.0733 0.765 – 6. Batas fi xi fi. 6.388 Zbka -1.545 – 6.215 6. 6. 6. ini berarti Ho diterima.

73 0.2 0.8 6.82 X terdapat data yang berada di luar batas kontrol pada data yang ke-14 dengan nilai 6.77 0.68 6.853. 5 26 R = ∑ g R g i i =1 = 17 .408 6. 38 = 0 .46 0.358 6.495 6. X = ∑ g X g i i =1 = 169 = 6 .534 Batas kontrol peta X untuk kadar lemak: BKAX = X + A2 R = 6.462 6. Revisi Peta X R e v i s i P e t a X Ka d a r Le ma k 7 6.5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Range Kadar Lemak Gambar 3.5 6 5.265 6.82 0. Penentuan Batas Kendali dan Penentuan Index Capability Process Untuk menentukan kemampuan proses yang dihasilkan terlebih dahulu ditentukan batas-batas kendali untuk karakteristik lemak dengan memperhatikan data X dan R seperti terlihat pada tabel 4. maka dapat pula ditentukan nilai Cp dan Cpk.61 0.543 6.6 6.82 0.853 0.18 Batas kontrol peta R untuk kadar lemak: BKB R = D 3 R BKA R = D 4 R = 2.63 0.505 1.407 6.67) = 6.004 . R X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6. Karena semua data berada pada batas kontrol.61 0.633 6.403 6.73 0. 35 . Peta Kontrol R Kadar Lemak Berdasarkan gambar 2.422 6.76 0.75 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Kadar Lemak C.45 0.428 6. Spesifikasi yang diizinkan perusahaan untuk kadar lemak pada pakan S-11 adalah 6 – 7%.52 Batas No. terlihat bahwa pada peta X R Berdasarkan tabel 4 dapat dilakukan perhitungan garis tengah (central line) untuk kadar lemak.88 169 17.54 0.34 = 0 Gambar 4.2 6 5. Tabel 4.483x 0. Ini menunjukkan bahwa variasi data tidak normal. Karena terdapat data yang berada di luar batas kontrol.79 0. 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total Kendali Kadar R 0.8 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Garis Tengah Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Rata-rata Kadar Lemak Gambar 2. Sedangkan untuk peta R semua data dalam batas kontrol.69 0.5 + (0.5 Kadar Lemak Garis Tengah 1 0.432 6.72 0.5 − (0.485 6. d2 = 2.325 6.4 6.54 0.5 1 3 5 7 9 11 13 15 17 S u b Gr o u p 19 21 23 25 Gar is Tengah Batas Kontr ol Atas Batas Kontr ol Bawah Rata-r ata Kadar Lemak BKBX = X − A 2 R = 6.5 0.38 Peta X Kadar Lemak 7 6.67) = 6. ditunjukkan bahwa variasi data sudah normal tanpa ada variasi penyebab khusus atau variasi penyebab umum. Variasi ini disebabkan oleh faktor pencampuran bahan-bahan yang ditambahkan pada saat proses pencampuran di mesin mixing.88 0.94 0. D4 = 2.67 = 0 x 0 . Revisi Peta Kontrol X Kadar Lemak Berdasarkan hasil revisi yang terlihat pada gambar 4. Setelah revisi selesai dilakukan maka dapat dilakukan perhitungan Cp dan Cpk.415 6.63 0.4 6.65 6. maka dilakukan revisi sehingga semua data dalam batas kontrol (proses dalam pengendalian)seperti yang nampak pada gambar 4.618 6. 67 = 1.568 6.73 0.592 6. Peta Kontrol X Kadar Lemak Peta R Kadar Lemak X 6. Perhitungan Lemak No.483 . Variasi ini merupakan jenis variasi penyebab khusus sehingga perlu dilakukan revisi. 67 26 Faktor-faktor yang dipakai untuk perhitungan batas kontrol atas dan bawah berdasarkan Tabel Faktor untuk n = 6 didapat: A2 = 0.537 6.68 6.483 x 0.004 x 0.472 6. D3 = 0 .68 0.

565 6 6.365 2 6.41 6.705 Total X3 6.6 = = 0 .57 11 6.05.38 6.44 6 6.221 hitung < χ 2 tabel.4722 6. bahwa data berdistribusi normal.006 7.101 0.69 fi 10 8 5 5 5 5 6 44 xi 6.52 7 6.1685 0.465 – 6.45 32. Batas Kelas 1 6.32 6.648 0.48 8 6.63 = 3 ( 0 .33 6.54 6.Ukuran Sampel (nv) : 44 Tabel 5.0174 0.465 – 6.63 Nilai Cpk = 0.51 5 6.102 ei 7.38 X4 6.365 – 6.53 6. 49 − 6 = 0.136 0.95 39. 36 .315 – 6.365 2 6.565 6 6.Ukuran Lot : 2. karena nilai berada pada kriteria Cpk < 1.000 .00.95 -0.00.515 – 6.171 0.7 32. Tabel 7.66 fi.4722 6.64 6.36 6.171 0.315 – 6.363 0.49 6.LSL 6σ0 7 .2114 0.Nama Karakteristik Mutu : kadar lemak . ini berarti Ho diterima. No. Penentuan Nilai No. X1 X2 1 6.0352 fi.42 6.12 32.82 1.37 6.305 0.Spesification : 6 – 7% .0541 0.x )2 0.45 4.515 5 6.32 6.898 Za 0.27 1 Zb 0 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.515 – 6.38 6.34 6.57 6. (xi.901 0. Batas Kelas 1 6.36 6.36 9 6.x )2 0.39 6. ini menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk yang tidak memenuhi lower spesification level (LSL) kadar lemak.06 0.4722 (xi.542 4.Jenis Pemeriksaan : normal .26) Nilai Cp = 0.465 4 6.2 32.0692 0.32 6.0003 0.7967 0.39 4 6.648 0.X = 3σ 0 = 7 − 6 .38 0.27 Zbka -0.849 0.112 Untuk uji normal data.51 -0. ini menunjukkan bahwa proses tidak capable untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak karena nilai Cp < 1.44 6.4 51.415 – 6. C pl = X .305 0.65 3 ( 0 .0138 0.1685 0.509 4.415 3 6.4722 6.662 0.0015 0.705 Total Dari tabel 7 diperoleh χ 2 χ 2 hitung Zbkb 0 -0.868 0. 26 ) Cpk = min [Cpl:Cpu] = 0.563 6.47 6.59 6.44 6.7 6.415 – 6.51 -0.615 7 6. 4 Oktober 2006 Cp = USL . Penentuan Rencana Sampling Penerimaan Penarikan sampel yang dilakukan adalah sebagai berikut : .5395 Dari tabel 6 diperoleh standar deviasi = 0.0052 0.0067 0.7 6.32 6.414 6.95 -0.615 7 6.4761 0.465 4 6.51 10 6.53 3 6.800. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesis digunakan nilai α = 0.5 6.565 – 6.34 C pu USL .58 6.066 0.4722 6. Data Ukuran Sampel No. Distribusi Frekuensi No.68 6.898 1 Za-Zb 0.365 – 6.615 – 6. Tabel 6.61 6.565 – 6.44 2 6.64.06 0.1749 0.488 oi 10 8 5 5 5 5 6 44 (oi-ei)2/ei 0.148 0. 64 6(0.44 6. 49 = 0.528 7.0010 0.57 6.78 x 6.38 0.39 6.615 – 6.0229 0.LSL 3σ 0 6 .168 0.96 284. 26 ) D.36 6.0045 0.415 3 6.Verification Level : IV .xi 63.4722 6.63.827 1.52 6.54 6.4722 6.515 5 6.37 6.65 6.7967 0.4761 0.

9% 0.07 - 0.1 Process Capability Dari tabel 9 didapat analisis hasil dari perhitungan proses kapabilitas dan indeks proses kapabilitas untuk karakteristik mutu kadar lemak dari pakan S-11 menunjukkan bahwa process capability tidak baik untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak yaitu: (6 – 7)%.86 - 0.65 0.Untuk spesifikasi ganda F’ ≤ F : 0.1% 0.63 0.69 (memenuhi) .9 – 1.76 0. hanya untuk spesifikasi ganda Simbol U L CL nv k F Hasil 7 6 E 44 2. Tabel 9.56 0.8 37 .82 6. Kriteria penerimaan: terima lot.62 Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk = = = = = = = = = = = = = = = = 0.174 6.49 – 20. apabila semua syarat dibawah ini dipenuhi.27 0. MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 Perhitungan Perhitungan QU= (U. Adanya tindakan kesengajaan yang disebabkan operator dalam memasukkan komposisi raw material yang akan dituang ke dalam mesin mixing dalam mengejar target.82 4.5 0. ANALISIS 6. Proses pelletizing belum bekerja secara optimum.16 – 6. QU ≥ k : 4. c. .65 0. Karena homogenisasi yang rendah menyebabkan produk rapuh.69 (memenuhi) .09 2 Kadar Lemak 6 – 7% 6. Indeks Process Capability dari Hasil Revisi untuk Masing-Masing Karakteristik Mutu No.Untuk spesifikasi atas.27 ≥ 2.99 5 Kadar Fosfor 0.7 Batas Kontrol Revisi Process Capability Cp = 0.62 Cpl = 0.69 0.5 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Tabel 8.61 0.64 0.Untuk spesifikasi bawah. Hal ini disebabkan oleh beberapa Karakteristik Mutu Kadar Protein Batas Spesifikasi 19 – 21% faktor seperti: Kondisi gudang penyimpanan raw material yang kurang diperhatikan.63 0.81 6.18 – 6.65 0.7 – 0.5 3 Kadar Serat 3 – 4% 3.16 – 3.93 – 1.82 ≥ 2. 1 Batas Kontrol 19. Hal ini dapat menyebabkan raw material menjadi rusak akibat serangan tikus dan kutu busuk.174 (memenuhi) b. Kesimpulan: lot diterima 6.X )/s QL= ( X -L)/s s/(USL-LSL) X s QU QL Kriteria keputusan: a.74 Cpk = 0. Kriteria penolakan: tolak apabila salah satu syarat di atas tidak memenuhi.74 - 3. Perhitungan Penarikan Sampel Item yang dihitung USL LSL Kode Huruf Ukuran Nilai Sampel Nilai ‘k’ Nilai ‘F’ (untuk spesifikasi ganda) Rata-rata Sampel Standar Deviasi Sampel Nilai QU (Upper Quality Index) Nilai QL (Lower Quality Index) Nilai F sampel.625 0.47 0.11 4. QL ≥ k : 4.625 0.68 Cpu = 0. sehingga kandungan nutrisi yang didalamnya menjadi rendah.11 ≤ 0.45 4 Kadar Kalsium 0.74 – 0.65 Central Line 20.11 Keterangan Lihat Tabel 1. Peralatan turn head yang tidak bekerja dengan baik pada saat memasukkan raw material ke dalam saluran-saluran intake. Hal ini menyebabkan raw material tidak masuk pada salurannya.69 0.65 0.Yang mana pada proses ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.

27 4. 2.74)% untuk kadar serat.17 4.12 < 0.Melakukan perawatan secara berkala terhadap peralatan turn head.80 < 2.174 1. Cp = 0.82 > 2. serat. Dan untuk nilai Cpk = 0. No. Ini menunjukkan bahwa proses tidak mampu memenuhi batas spesifikasi bawah (LSL) karena berada dalam kriteria Cp < 1. Demikian juga untuk nilai Cpu = 0.69 2. 1 2 3 4 5 Jenis Pengujian Kadar Protein Kadar Lemak Kadar Serat Kadar Kalsium Kadar Fosfor Jenis Pemeriksaan Normal CL VL nv E E E E E IV IV IV IV IV 44 44 44 44 44 Keterangan K 2. Variasi penyebab umum hanya dapat diperbaiki oleh pihak manajemen perusahaan. serat.11 0.69 0. Perhitungan indeks process capability untuk masing-masing karakteristik mutu dilakukan setelah proses dalam pengendalian.69 4. .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.25 > 0.69 0. Revisi data dapat dilakukan jika variasi data disebabkan oleh variasi penyebab khusus. Dengan melihat nilai Cp untuk masing-masing karakteristik dapat 38 .20 < 2.81)% untuk kadar lemak.69 0. Cp = 0.86)% untuk kadar fosfor.Memeriksa proses gelatinisasi untuk meningkatkan daya ikat antar bahan. .68 untuk kadar protein. KESIMPULAN DAN SARAN 7.40 2.174 0. Penentuan Acceptance Sampling Plans No.69 2.174 0.82 4.Perlunya pengawasan yang ketat kepada operator dari pihak manajemen.60 1.30 1.69 4.69 4. sedangkan untuk kadar protein.25 > 0.25 4.81% adalah lebih dekat ke batas spesifikasi bawah yang ditetapkan (LSL) yaitu 6%.11 < 0. 4. maka harus dilakukan revisi dengan menghilangkan data yang berada di luar batas kendali untuk mendapatkan batas kendali yang baru. yaitu variasi yang disebabkan oleh kesalahan operator dalam mencampurkan material pada saat proses pencampuran.20 F’ 0.74– 0. Berdasarkan hasil interpretasi data untuk masingmasing karakteristik mutu menunjukkan bahwa variasi data yang tidak normal hanya disebabkan oleh variasi penyebab khusus saja.93–1.10 < 0.Melakukan inspeksi terhadap raw material yang masuk ke gudang penyimpanan. kalsium dan fosfor berada dalam batas-batas kontrol. Berdasarkan hasil perhitungan batas kontrol dengan menggunakan peta kontrol variabel didapat karakteristik mutu kadar lemak perlu dilakukan revisi karena ada data yang berada di luar batas kontrol.2 Acceptance Sampling Plans Penggunaan acceptance sampling plans untuk karakteristik mutu kadar protein. Bila diperlukan dilakukan pergantian dengan yang baru. (6. supaya proses dapat terkendali.65 menunjukkan bahwa proses juga tidak mampu memenuhi batas spesifikasi atas (USL) yaitu 7% karena berada dalam dalam kriteria Cp <1.174 Lot Diterima Lot Diterima Lot Diterima Lot Ditolak Lot Ditolak Keputusan Adapun tindakan korektif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan process capabilitynya adalah: .64 untuk kadar lemak. Revisi untuk persentase kadar lemak untuk peta X didapat kendali yang baru yakni 6. .69 0.10 0.7)% untuk kadar protein.69 0.174 1.69 2. kalsium dan fosfor dengan menggunakan metode MIL-STD 1916 dapat dilihat pada Tabel 10. 6.16–3.17 > 2.63 = Cpl ini berarti bahwa nilai pengukuran rata-rata kadar lemak 6.49– 20. Peralihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperlonggar tingkat pemeriksaannya dengan mengubah tingkat verifikasinya (VL) satu tingkat ke kanan.69 2.69 untuk kadarserat.69 Ftabel 0.56 untuk kadar kalsium dan Cp = 0. 6. Cp = 0.174 4.174 4. 3. Jika masih terdapat data di luar batas kendali.52 > 2.30 > 2. 4 Oktober 2006 Tabel 10. yaitu menjadi VL-III. lemak.174 0.60 < 2.1 Kesimpulan 1.16-6. Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa rencana sampling untuk kadar lemak pakan S-11 setelah dilakukan pengujian disimpulkan bahwa lot diterima.Memeriksa ulang secara keseluruhan kondisi gudang yang layak untuk penyimpanan raw material. Dan batas kendali untuk masing-masing karakteristik adalah (19.40 < 2.25 0. 5.174 QU 4. Nilai Cp = 0.12 0.65 untuk kadar fosfor.69 2.80 QL 4.70 2.69 2. (3. (0.52 4.27 > 2. 7.16–6.81%.174 0.07)% untuk kadar kalsium dan (0. .70 > 2.

Quality Control. Dan untuk perhitungan index capability didapat Cpk = 0. International Edition Statistical Quality Control. Gramedia Pustaka Utama. Hal ini berarti membawa proses ke dalam pengendalian.. 7th Edition. Pengalihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperketat tingkat pemeriksaannya dari normal menjadi ketat (tightened). karena kesadaran. Stanley B. Grant E. Menggunakan statistical process control. 2003. 10 Februari 1999.. DoD Handbook.. kalsium dan fosfor pakan ternak S-11. insentif. Ronald E. untuk mendeteksi kesalahan secara dini.5 untuk kadar kalsium. Banks J. 1994. 4th Edition. 3th Edition. khususnya peta kontrol X dan R secara periodik. Charoen Pokphand Indonesia agar setiap pekerjaan/tindakan yang berdampak terhadap proses dan produk tidak menimbulkan cacat. 1994. David L. 2001. Prentice Hall International Inc. H. Berdasarkan hasil perhitungan sampling penerimaan dengan menggunakan MIL-STD 1916 didapat bahwa karakteristik mutu kadar kalsium dan fosfor lot ditolak. Canada. Mc Graw-Hill. Sugiarto. 39 . Besterfield D. Gramedia Pustaka Utama. Pengantar Statistika. United States of America. 1995. proses itu harus diperbaiki dulu.62 untuk kadar protein. 2. H. perusahaan perlu memperhatikan lebih ketat kondisi gudang penyimpanan. 2th Edition. Metode sampling penerimaan dapat memenuhi fungsinya jika dalam pengambilan sampel untuk pengujian karakteristik mutu menggunakan hasil perhitungan yang telah didapat dan dilakukan dengan benar. United States of America. Teknik Sampling. Jakarta. and Leavenworth R.. Prentice Hall International Inc. DoD Test Method Standard...2 Saran 1. John Wiley & Sons. Mc Graw-Hill..Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar disimpulkan bahwa proses memiliki kemampuan yang rendah dalam bereproduksi. PT. Metode Analisis untuk Peningkatan Kualitas. Introduction to Total Quality. lemak. S. Jakarta.. 4. tingkat komitmen dan human error inilah yang akan berdampak langsung bagaimana proses dan produk itu akan dihasilkan. Singapore. Cpk = 0. Inc. 7. Juga adanya arahan yang kontinu terhadap para operator terhadap tanggung jawab pekerjaannya.. 5th Edition. Sehingga perlu dilakukan pengendalian yang ketat untuk menghasilkan proses yang lebih baik lagi (Cpk > 1).65 untuk kadar fosfor. H. serat.63 untuk kadar lemak. Montgomery D. MIL-STD 1916. L. DAFTAR PUSTAKA Besterfield D. maka perusahaan perlu melakukan pengawasan yang ketat terhadap kinerja proses produksi agar proses yang dilakukan dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Ini perlu disosialisasikan terhadap semua pekerja. 1987. 2th Edition. PT. Perlunya merubah lingkungan sosial budaya yang terdapat dalam PT. 1986... Canada. dkk. Frank M. Approve for public release.. sistem penghargaan.. W. and Davis. Prentice Hall International. MILSTD 1916. Jakarta.625 untuk kadar serat. 5. Dilihat dari rendahnya kemampuan proses yang ada. United States of America. 1991. Cpk = 0. 2001.. Inc. John Wiley & Sons. 1 April 1996. Goetsch. Principles of Quality Control. Inc. Setiap melakukan proses produksi perlu menguji dengan benar dan memperhatikan dengan teliti penyebab-penyebab khusus yang berpengaruh terhadap pengendalian persentase kadar protein. sikap. Vincent Gaspersz. Quality Planning and Analysis. dan baru kemudian membangun peta kontrol terkendali (yang baru) untuk memantau proses yang telah stabil. Approve for public release. Dari perhitungan Cpk dapat disimpulkan bahwa proes tidak mampu memenuhi batas spesifikasi yang ditentukan karena nilai Cpknya < 1. Introduction to Statistical Quality Control. United States of America. Berkaitan dengan rendahnya kapabilitas proses yang didapat. 3.. yang akhirnya dapat memenuhi kepuasan pelanggan. 7. Jika belum stabil.. kemampuan mesin sebelum proses produksi siap untuk dijalankan. Gramedia Pustaka Utama. Cpk = 0. International Edition Quality Control. 2th Edition. 1996. PT. Karena dengan peta kontrol kita dapat melihat apakah suatu proses yang sedang berlangsung sudah stabil atau tidak. Cpk = 0. Gryna..

apakah sesuai dengan harapan dan keinginan nasabah. yaitu pengambilan awal (untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen dan menentukan ukuran sampel lanjutan) dan pengambilan data lanjutan dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara acak (random sampling). dan seterusnya. pihak perbankan muamalat harus memperhatikan kualitas jasa yang dikehendaki pelanggan. Semakin besar tingkat pemenuhan yang diberikan kepada nasabah. Salah satu jenis industri yang menghadapi persaingan yang kompetitif di masa mendatang adalah industri perbankan. maka semakin tinggi kualitas pelayanan jasa perbankan tersebut. yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi. yaitu penyebaran kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup.60% (tangibles). keamanan dalam bertransaksi (variabel 15). 1. yaitu suatu alat untuk mengukur persepsi nasabah mengenai kualitas pelayanan. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index). yaitu tangibles (terdiri dari 7 variabel pertanyaan). yaitu: variabel 18 (lokasi bank). 100. Bank Muamalat merupakan salah satu industri perbankan yang tumbuh pesat di antara bank-bank konvensional yang ada di Indonesia. Alat pengukuran yang digunankan untuk mengukur kualitas pelayanan pada industri perbankan pada penelitian ini adalah metode servqual. assurance (terdiri dari 5 variabel pertanyaan).ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN Syahrul Fauzi Siregar Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia. Penelitian ini berlatar belakang kepada upaya meningkatkan kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat terhadap nasabah. bersaing dan tidak kehilangan konsumennya. keinginan dan harapannya terpenuhi.42% (emphaty). intensitas persaingan berskala global menuntut pergeseran besar dalam dunia industri. kualitas jasa diukur dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen.53% (responsiveness). PENDAHULUAN I. reliability (terdiri dari 3 variabel pertanyaan). Khusus untuk industri perbankan. Sementara itu. Dengan konsep bagi hasil yang ditawarkan kepada para nasabahnya. penguasaan dan pengetahuan karyawan (variabel 14). Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepusan pelanggan. baik itu industri yang bergerak di bidang manufaktur maupun di bidang jasa.89% (reliability). Responden yang daimbil adalah nasabah Bank Muamalat yang datang melakukan transaksi. kepuasan nasabah tercapai bila kebutuhan. 96.1 Latar Belakang Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era transformasi informasi sekarang ini. Dengan mengetahui hal ini diharapkan Bank Muamalat dapat bersaing dengan para kompetitornya dengan mengambil langkah–langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam 40 . perusahaan ini mampu bersaing dengan para kompetitornya. 11(ketanggapan teller dalam melayani nasabah). Hasil pengolahan data menghasilkan tingkat kepuasan pelayanan masing-masing untuk dimensi 94. Penyebaran kuisioner dilakukan dengan dua tahap. Data yang dihasilkan merupakan data ordinal dan dikonversikan menjadi data interval dengan menggunakan metode successive interval. dan emphaty (terdiri dari 4 variabel pertanyaan). responsiveness (terdiri dari 2 variabel pertanyaan). Hasil perhitungan variabel kunci dengan peta kartesius menghasilkan 6 variabel kunci yang harus diperbaiki pihak Bank Muamalat. 93. pengaturan kursi untuk menungggu (variabel 5). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan nasabah Bank Muamalat. dan 91. jaminan kerahasiaan nasabah (variabel 16). yaitu: kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (variabel 2). Sedangkan dari hasil perhitungan index potential gain customer value dihasilkan prioritas tertinggi. baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah lain yang ada di Indonesia. Fakultas Teknik USU Abstrak: PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam kegiatan pelayanan jasa perbankan syariah di masyarakat Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang diberikan dilihat dari sudut pandang nasabah dan dengan melakukan perbaikan– perbaikan terhadap kondisi pelayanan yang dianggap belum memenuhi harapan nasabah. lokasi bank yang strategis (variabel 18). 14 (penguasaaan dan pengetahuan karyawan).92% (assurance). Pengambilan data dilakukan secara dua tahap. Hal utama yang harus diprioritaskan oleh industri perbankan dalam hal ini Bank Muamalat adalah bagaimana caranya agar konsumen mendapat kepuasan sehingga perusahaan itu dapat bertahan.

yaitu: tangibles. responsiveness. reliability. 2. Pada penelitian ini tidak dibahas posisi perusahaan yang diteliti dengan perusahaanperusahaan pesaing menurut para konsumennya. yaitu dengan mengalikan antara variabel importance dengan variabel performance. pihak manajemen dapat mengidentifikasi kinerja dan tingkat kepentingan yang dimiliki Bank Muamalat. dan emphaty. Dari hasil penilaian kualitas pelayanan yang dilakukan oleh responden. 3. yang mana nilai ini didapatkan dengan rumus: UDCV = I x Ps Keterangan: UDCV = Nilai akhir keinginan konsumen I Ps = Nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = Nilai kinerja maksimum dalam skala likert yang dipilih 41 . empathy. 7. reliability. Nasabah yang diteliti sebagai responden adalah yang menjadi nasabah di PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan. Responden dengan jujur dan benar mengisi kuisioner yang diberikan. 2. and tangibles) yang mempngaruhi persepsi dan harapan konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat. Hal ini dilakukan untuk mempertegas atribut-atribut yang menjadi pusat perhatian. 2. sehingga dapat menunjukkan kedudukan permasalah. 3. Objek yang diteliti adalah perusahaan perbankan dalam hal ini Bank Muamalat. Meneliti dan memberikan saran bagaimana perubahan yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Muamalat di masa yang akan datang.4 Batasan dan Asumsi Untuk mempermudah pecahan masalah. Menganalisis tingkat prioritas kompetitif dan kualitas pelayanan Bank Muamalat. 5. 3.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Langkah pertama dalam menghitung indeks PGCV adalah mencari nilai ACV atau Achieved Customer Value. 4.2 Perumusan Masalah Masalah yang dirumuskan pada penelitian ini adalah: 1. Dalam Penelitian ini tidak dilakukan analisis biaya terhadap proses perbaikan kualitas pelayanan dan hasil penelitian ini tidak berlaku untuk umum. Mengidentifikasi dimensi/faktor kualitas jasa perbankan muamalat yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelayanan Bank Muamalat untuk dapat bersaing dengan bank konvensional lainnya. konsumen diminta untuk menyatakan dan menilai lima komponen penentu kualitas jasa (assurance. Informasi penilaian kualitas pelayanan perusahaan yang menjadi objek penelitian yang diterapkan sekarang ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap pelanggan. perlu disusun beberapa batasan dan asumsi yang berkaitan dengan permasalahan. Variabel-variabel yang diteliti dianggap sesuai dengan kondisi pelayanan yang berlaku pada perusahaan yang menjadi objek penelitian. 4. Dimensi kualitas pelayanan yang diukur adalah 5 dimensi kualitas jasa. maka selanjutnya adalah mencari UDCV atau Ultimately Desired Customer Value. Sejauh mana pihak jasa perbankan (Bank Muamalat) mengetahui tingkat kualitas pelayanan dilihat dari sudut pandang nasabah. Kemudahan tersebut memberikan jalan bagi diagram ImportancePerformance untuk dapat dibandingkan dalam bentuk kualitatif yang lebih terperinci. 5. Kinerja kualitas pelayanan hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang termasuk di dalam dimensi kualitas pelayanan yang telah ditentukan oleh peneliti. Batasan-batasan tersebut adalah: 1. yaitu: ACV = I x P Keterangan: ACV = nilai pencapaian konsumen I P = (Importance) nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = (Performance) nilai rata – rata untuk kinerja ( X ) Setelah mendapat nilai ACV. I. 3. Penunjukkan konsumen yang menjadi responden kuisioner penilaian yang datang ke Bank Muamalat pada suatu rentang waktu tertentu sebagai sampel dianggap mewakili yang menabung di perusahaan tersebut. 6. Untuk diketahui tingkat kepuasan pelanggan Bank Muamalat serta faktor-faktor atau dimensi kualitas apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Asumsi-asumsi tersebut adalah: 1. 2. TEORI Index Potential Gain Customer Value (PGCV) Analisis pelanggan melalui angka indeks merupakan konsep dan peralatan yang mudah untuk menganalisis pelanggan. assurance. Alat pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah berupa daftar pertanyaan (questioner). responsiveness. 2. Dengan mengetahui keinginan nasabah Bank Muamalat diharapkan dapat dikembangkan jasa perbankan yang dapat memuaskan pelanggan.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar penilaian dan pengukuran terhadap kualitas pelayanan. I. Interpretasi responden tentang pernyataanpernyataan dalam kuisioner sesuai dengan maksud penulis. I.

alat serta desain penelitian yang digunakan. Maksud penentuan tujuan penelitian adalah agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan terarah dan mancapai sasaran. diharapkan akan diketahui bagian mana yang harus mendapatkan perhatian/menjadi prioritas apabila adanya keterbatasan sumber daya perusahaan untuk meningkatkan kualitas jasanya.5 Identifikasi Sumber Data Adapun data yang diambil pada penelitian ini menurut jenis dan sumbernya. METODOLOGI PENELITIAN Didalam melakukan suatu penelitian. 4 Oktober 2006 Dan terakhir nilai indeks PGCV adalah nilai Ultimately Desired Customer Value dikurangi dengan Achieved Customer Value. yaitu: 1. No. yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh perseorangan langsung dari objeknya. 3. peneliti dapat memilih berbagai jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Data internal. 3. Data sekunder.2 Penentuan Tujuan Penelitian Penentuan tujuan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai suatu penelitian. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian survei dengan maksud eksplorasi. Data kualitatatif. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan.4 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan bertujuan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti. Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian. b. Perumusan masalah merupakan suatu usaha untuk memformulasikan atau memodelkan fenomena yang ada secara sistematis berdasarkan teori yang ada. 3. sehingga penelitian ini dilakukan berdasarkan suatu logika tertentu. Adapun skematis langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada halaman berikut: 3. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan kuisioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. Tetapi tidak jarang terdapat pengelompokan yang dibuat ada kalanya didasarkan pada prosedur saja dan ada kalanya didasarkan pada tekniknya saja. b.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. yaitu data yang menggambarkan keadaaan/kegiatan di dalam suatu organisasi. sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain. maka ia tidak terlepas dari membicarakan teknik dan prosedur penelitian. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih.1 Perumusan Masalah Penelitian Perumusan masalah disusun berdasarkan uraian pada Bab I mengenai latar belakang dan pokok permasalahan. maka yang dibicarakan di sini adalah teknik penelitian. 2. Jika seseorang membicarakan metode penelitian. manajemen jasa. Data primer. 3. 1999). dan statistik. b. yaitu: PGCV = ACV – UDCV Kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. Data kuantitatif. yaitu data yang menggambarkan keadaan/kegiatan di luar suatu organisasi. Data eksternal. Menurut Sumbernya: a. Penelitian eksplorasi adalah riset yang bertujuan untuk mengumpulkan data pendahuluan guna memperoleh keterangan mengenai sifat nyata dari masalah tersebut dan memberikan kemungkinan hipotesis atau ide-ide baru (Philip Kotler. wawancara dengan pihak terkait pada objek studi. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur. Studi pendahuluan dalam penelitian ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian terhadap objek studi. Permasalahan yang ingin dipecahkan adalah pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan (perbankan) dan penentuan atribut kualitas pelayanan yang paling penting bagi pelanggan. Studi literatur dengan mempelajari teori yang berhubungan dengan metode service quality. yaitu apakah kualitas jasa yang ditawarkan kepada konsumen memenuhi ekspetasi (harapannya) atau tidak. yaitu data yang berbentuk angka-angka. kriteria yang dipakai adalah teknik serta prosedur penelitian. 42 . yaitu data yang tidak berbentuk angka. Menurut sifatnya: a. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. Penelitian survei (Masri Singarimbun. 1987) adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Melalui studi ini diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian dan variabel-variabel yang terkait dengan permasalahan tersebut. Menurut cara memperolehnya: a. 3. Tujuan penelitian eksplorasi ini untuk mengetahui dimensi-dimensi kualitas apa saja yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan konsumen. Dengan ditentukannya dimensi ini. 3. yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi.3 Studi Pustaka Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh landasan kerangka berpikir bagi penelitian yang akan dilakukan.

Kuisioner kualitas jasa Kuisioner ini digunakan untuk mengetahui persepsi dan harapan nasabah sehingga dapat diketahui penilaian nasabah terhadap variabel dan atribut kualitas pelayanan pada objek studi.. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling). dan responden tinggal memilih di antaranya (Philip Kotler dkk. Data identitas responden. Nilai Kinerja / Persepsi Jawaban sangat puas diberi nilai: 5 Jawaban puas diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak puas diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak puas diberi nilai: 1 3. 2. berarti layak. Sedangkan pertanyaan tertutup di mana peneliti memerikan semua kemungkinan jawaban. kemudian diuji. Data kuisioner kualitas jasa (harapan nasabah dan kinerja perusahaan). Kuisioner tentang identitas responden 3. Variabel juga merupakan pedoman atau petunjuk untuk mencari data maupun informasi dilapangan. Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variabel dan atribut yang mempengaruhi kualitas pelayanan jasa perbankan. Nasabah Bank Muamalat Cabang Medan Pada penelitian ini jumlah populasi nasabah Bank Muamalat Cabang Medan tidak diketahui oleh peneliti.11 Pengolahan Data Awal Dalam pengolahan data penelitian ini digunakan metode kualitatif dan metode kualitatif. menyebarkan kuisioner dan wawancara. Jika hasil pengolahan data baik. Nilai Harapan Jawaban sangat penting diberi nilai: 5 Jawaban penting diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak penting diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak penting diberi nilai: 1 b. 3.7 Penentuan dan Pemilihan Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung. Karena data populasi Bank Muamalat tidak diketahui. yaitu pengambilan setiap unsur ke – k dalam populasi untuk dijadikan sampel.8 Pembuatan Kuisioner Kuisioner sebagai alat pengumpulan data disusun dalam dua bentuk pertanyaan yang bersifat terbuka dan pertanyaan yang bersifat tertutup. Layak di sini berarti item-item pertanyaan sudah cukup baik dan dimengerti oleh responden. 1999). Pada penelitian ini akan dijelaskan tahap-tahap di dalam melakukan pengolahan data.6 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian. Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji kelayakan kuisioner yang disebarkan. gap yang terjadi antara persepsi dan harapan nasabah serta atribut mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya dan perlu dipertahankan kualitas pelayanannya. 3. Kemudian kuisioner tertutup ini disebarkan sebanyak 40 eksemplar. yaitu: a. maka teknik pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak secara sestematik (systematic random sampling). 43 . 3. dan derajat kepuasan (untuk data kinerja/persepsi). Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Untuk pengukuran atribut digunakan Skala Likert. Dalam skala ini dibagi atas lima kategori jawaban yang menunjukkan derajat kepentingan (untuk data harapan). baik dengan menggunakan data sekunder. Kuisioner terbuka 2. Perusahaan jasa perbankan. c. Hal ini dikarenakan pihak manajemen Bank Muamalat tidak dapat memberi informasi data berapa banyak nasabah yang menabung di Bank Muamalat karena merupakan rahasia perusahaan. Sehingga peneliti mengasumsikan populasi nasabah Bank Muamalat tidak terbatas (infinite population). Pertanyaan terbuka di mana responden dapat menjawab sesuai dengan diinginkan dengan kata-kata mereka sendiri. berarti tidak layak. maka dilakukan perbaikan kuisioner. di mana titik awal pengambilan sampel pada kelompok berikutnya mengikuti pola yang telah ditentukan dari hasil pengambilan sampel di titik awal. Jika hasil pengolahan data kuisioner tahap pendahuluan ini tidak baik.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar 3. maka dilakukan pengumpulan data sehingga memenuhi sampel minimum. wawancara ataupun pengumpulan data primer dengan menggunakan metode survei. yang terdiri dari: a. Data yang dikumpulkan dalam kuisoner terbagi dalam tiga bagian.10 Pengumpulan Data Awal Pengumpulan data awal ini berupa kuisioner pendahuluan (terbuka) yang kemudian digunakan untuk menyusun kuisioner tertutup. 3. Data kuisioner terbuka (pendahuluan/awal) Guna kuesioner pendahuluan ini adalah untuk menentukan atribut-atribut apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan kuesioner tertutup b. Pengambilan unitunit sampel didasarkan atas kunjungan nasabah yang akan bertransaksi. yakni Bank Muamalat Cabang Medan.9 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah: 1.

Adapun jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian lanjutan didasarkan atas kuisioner yang dapat diolah dan tidak dapat diolah dengan menggunakan rumus pengambilan sampel sebagai berikut: Setelah didapat varians.5) ) 2 − Zα / 2 ≤ − Zα / 2 X −μ ≤ Zα / 2 s n (4.96 (tabel distribusi normal) (Zα / 2 )2 . Sekiranya peneliti menggunakan kuisioner didalam pengumpulan data penelitian. maka tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) adalah: Zα/2 = 1.t dengan rumus: r= [N ∑ X ij − (∑ Xij ) ][N ∑Y ij − (∑Yi) ] 2 2 2 2 N (∑ XijYij ) − (∑ Xij ∑ Yij ) Di mana: n = Jumlah sampel yang dibutuhkan p = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang dapat diolah q = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang tidak dapat diolah Zα/2 = Nilai tabel distribusi normal untuk keberartian sebesar α/2 λ = Tingkat kesalahan (5%) 3. Kuisioner yang dapat diolah diasumsikan sebagai outcome sukses dan yang tidak dapat diolah diasumsikan sebagai outcome gagal.1 Uji Validitas Validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur.11.2 Uji Reliabilitas Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keandalan alat ukur adalah metode Alpha Cronbach. maka kuisioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukur.4 Uji Kecukupan Data Data sampel yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner lanjutan dengan menggunakan kuisioner persepsi dan harapan kemudian diuji kecukupan sampelnya. dan sebaliknya. dim ana X = N (μ . ditentukan tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) dan tentukan pula taraf kepercayaan yang diinginkan. Dalam menentukan besarnya ukuran sampel.7) Maka pendugaaan varians dari rata-rata sampel adalah: 44 . maka data awal yang telah dikumpulkan dapat diolah bersama-sama data yang dikumpulkan selanjutnya.3 Pengumpulan Data Lanjutan Setelah uji kelayakan dan kuisioner tidak perlu diperbaiki lagi. pengambilan sampel dianalogikan dengan percobaan kembali dari hasil pengisian kuisioner yang dapat diolah dan yang tidak dapat diolah. Dengan rumus matematisnya sebagai berikut: ⎛Z ⎞ n = ⎜ α / 2 ⎟ .σ ) n P ( Zα / 2 ≤ Z ≤ Zα / 2 ) = (1 − α ) X = Nilai varians sampelnya adalah: (4.4) S= S = Maka.1) Penurunan dari rumus di atas adalah sebagai berikut: Jika data berdistribusi normal: α= Di mana: α = koefisien keandalan alat ukur K = banyak butir pertanyaan kr 1 + (k − 1)r 1 ∑ Xi. 4 Oktober 2006 3.11. p. Nilai keandalan alat ukur bervariasi antara 0 sampai 1. Dengan taraf kepercayaan 95%. 3. Pada penelitian ini untuk menguji apakah sampel yang diambil sudah mencukupi atau belum digunakan rumus sebagai berikut: Di mana: r = angka atau tingkat korelasi N = jumlah responden Xij = skor pernyataaan j dan responden i Yi = skor total responden i 3. Karena tidak ada perbaikan pada kuisioner.3) r = koefisien rata-rata korelasi antar variabel S2 = ∑ (y n i =1 i −y ) 2 Koefisien keandalan alat ukur menyatakan tingkat konsistensi jawaban responden. Nilai yang mendekati 1 menunjukkan keandalan yang makin baik.2) (4. Adapun cara menguji validitas kuisioner adalah dengan menggunakan metode Korelasi Pearson Product Momen.11.q n= (λ )2 μ = ysy = ∑y i =1 n i n (rata – rata sampel) (4.Zα/2 dari tabel normal ⎝ ε ⎠ (4. No. kemudian dicari nilai standar deviasi sampel. yaitu: n −1 (4.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.6) s s ≤ X − μ ≤ Zα / 2 n n s X − μ ≤ Zα / 2 n Sebelum melanjutkan rumus di atas. 2 ∑ (y 2 i −y n −1 (4. maka dapat dilakukan pengumpulan data selanjutnya.11.

⎜ ⎟ = finite population correction ( fpc ) n⎝ n ⎠ ⎝ n ⎠ 3. maka (fpc) dihilangkan.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar V = y sy = ∧ ( ) ∧ s2 ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟ n⎝ N ⎠ tingkat (4. Urutan prioritas untuk tiap variabel dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1. Penarikan kesimpulan dapat berguna dalam merangkum hasil akhir dari suatu penelitian selain sebagai landasan rumusan strategi dan pengambilan keputusan bagi pehak perusahaan juga digunakan bahan acuan penelitian selanjutnya. yaitu: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ( ) s2 ⎛ N − n ⎞ ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟. (N-n)/N dianggap satau dan tidak perlu dituliskan.12 Pengolahan Data Lanjutan Pada tahap ini akan dibahas perhitungan konversi skala ordinal kedalam skala interval dengan metode successive interval.8) kesalahan pengambilan Sehingga sampel.625 3. maka: ε ≤ Zα / 2 ε 2 = ⎜ Zα / 2 ⎜ ⎝ ⎛ s2 dikuadratk an n s n 2 (4. 3.11) Di mana: n = jumlah sampel minimum s = standart deviasi sampel Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel Dan untuk menguji kecukupan sampel berdasarkan proporsi (p). yaitu rasio dari unsur dalam sampel yang mempunyai sifat – sifat yang diinginkan adalah: ⎛Z ⎞ (4.045 2.14 Kesimpulan dan Saran Bagian akhir dari penelitian ini adalah penarikan kesimpulan hasil analisis dan interpretsi data. Dari kesimpulan tersebut.450 2.1 Analisis Indeks Potential Gain Customer Value Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa nilai indeks PGCV untuk tiap variabel. maka diberikan saran kepada pihak perusahaan mengenai atribut yang perlu ditingkatkan kualitas pelayanannya serta usulan perbaikan yang harus dilakukan tentang atribut kualitas pelayanan. Index Potential Gain Customer Value Setelah Diurutkan Prioritas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Index PGCV 3. Kesimpulan yang didapat bila suatu variabel mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. 2 45 .145 1. kemudian dibahas pula langkah – langkah perhitungan tingkat kualitas pelayanan. maka berarti variabel tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya.500 3.582 Variabel Variabel 18 Variabel 11 Variabel 14 Variabel 5 Variabel 6 Variabel 19 Variabel 2 Variabel 15 Variabel 17 Variabel 16 Faktor Kualitas Pelayanan Lokasi Bank yang strategis Ketanggapan Teller dalam melayani nasabah Penguasaan dan pengetahuan karyawan Pengaturan kursi untuk menunggu Jumlah Teller yang melayani Komunikasi yang mudah dan baik Kenyamanan ruangan (keberadaan AC) Keamanan dalam bertransaksi Kredibilitas (nama baik) Bank Jaminan kerahasiaan nasabah Jika populasi (N) tidak diketahui.540 2.12) n = P(1 − P )⎜ α / 2 ⎟ ⎝ ε ⎠ Di mana: n = jumlah sampel minimum P = proporsi untuk sukses 1 – P = proporsi untuk gagal Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel 3.S ⎞ n = ⎜ α /2 ⎟ ⎝ ε ⎠ 2 (4.852 2. maka dapat diketahui rumus untuk menguji kecukupan pengambilan sampel.648 1. Dalam tahap ini faktor-faktor yang dianggap dominan dalam menentukan kualitas jasa dan tingkat kepuasan pelayanan akan dianalisis sebagai landasan dalam menyusun strategi bisnis selanjutnya.398 3.13 Analisis Pemecahan Masalah Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pengolahan data.9) Setelah didapat tingkat kesalahan pengambilan sampel. index potentian gain customer value dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui kepuasan pelayanan Bank Muamalat Cabang Medan berdasarkan persepsi dan harapan nasabah. maka rumus di atas menjadi: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ∧ ( ) s2 =ε n (kesalahan pengambilan sampel) (4. ANALISIS 4. yaitu: ⎛ Z .10) 2 ⎞ ⎟ = (Z )2 s α/2 ⎟ n ⎠ 2 Dari penurunan rumus di atas. Bagian ini juga dilengkapi dengan saran-saran. 4.

Kuadran I Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang dinilai sangat penting oleh pelanggan. harapan pelanggan tinggi). harapan pelanggan tinggi).778 0. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa gap antara harapan dan persepsi memberi gambaran bahwa nasabah menganggap kualitas pelayanan 4.339 -1. tetapi pelaksanaannya dilakukan dengan baik sekali oleh perusahaan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. sedangkan pelaksanaannya masih belum memuaskan (kinerja perusahaan rendah.714 Faktor Kualitas Pelayanan Keakuratan pencatatan transaksi Kecepatan pelayanan Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah Penataan ruangan Prosedur pelayanan (tidak berbelit – belit) Keberadaan fasilitas ATM dilokasi strategis Perhatian Bank kepada nasabah Kemampuan pihak Bank/karyawan dalam mengatasi masalah Kebersihan Bank Etika dan sopan santun karyawan Penampilan karyawan Prioritas 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Variabel Variabel 10 Variabel 8 Variabel 20 Variabel 1 Variabel 9 Variabel 7 Variabel 21 Variabel 12 Variabel 4 Variabel 13 Variabel 3 ­ ­ ­ ­ 2.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data pada bab-bab sebelumnya.370 1.Prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit) (9) .Etika dan sopan santun karyawan (13) 4.048 -1. Adapun variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran III ini adalah: . sehingga menjadikan variabel tersebut nilai plus perusahaan di mata pelanggannya.2 Analisis Variabel Kunci Dari peta performansi pada gambar 1 terlihat bahwa letak variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan pengguna jasa perbankan pada PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan terbagi menjadi 4 bagian. Faktor-faktor yang termasuk dalam kuadran ini adalah: ­ Kredibilitas (nama baik) bank (17) ­ Jumlah teller yang melayani (6) ­ Keakuratan pencatatan transaksi (10) ­ Kecepatan pelayanan (8) ­ Ketanggapan teller dalam melayani nasabah (11) ­ Komunikasi yang mudah dan baik (19) 5. sedangkan pelaksanaannya oleh perusahaan biasa atau cukup saja. KESIMPULAN DAN SARAN 5. 4 Oktober 2006 Index PGCV 1.Keberadaan fasilitas ATM di lokasi strategis. Lokasi bank yang strategis (18) Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) Jaminan kerahasiaan nasabah (16) Keamanan dalam bertransaksi (15) Kuadran II Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang perlu dipertahankan. No. Peta Performansi/Kepentingan Variabel-variabel yang masuk kuadran ini adalah: ­ Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) ­ Pengaturan kursi untuk menungggu (5) 46 . Gambar 1.059 -0. karena pada umumnya tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan pelanggan. Variabel yang temasuk dalam kuadran II ini adalah: ­ Kebersihan bank (4) ­ Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah (20) ­ Perhatian Bank kepada nasabah (21) ­ Kemampuan pihak bank/karyawan dalam mengatasi masalah (12) 3.116 0.330 -0. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. sehingga dapat memuaskan pelanggan (kinerja perusahaan tinggi.012 -0. Kuadran IV Menunjukkan variabel-variabel yang oleh pelanggan dianggap tidak terlalu penting. Kuadran III Menunjukkan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan yang berada dalam kuadran ini dinilai masih kurang penting bagi pelanggan.Penampilan karyawan (3) .124 0. Adapun interpretasi dari peta tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.Penataan ruangan (interior) di dalam dan di luar bank (1) .333 0.(7) .

Vol..89%. Bedasarkan analisis peta kartesius. sehingga harapan dan persepsi pelanggan dapat dipantau untuk memberi umpan balik atas perbaikan yang telah disesuaikan. Edisi 5. Jakarta. Urutan prioritas tersebut dapat dilihat pada tabel 1. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memenuhi harapan nasabahnya. 2. DAFTAR PUSTAKA Allen. Usman. 1985 Rambat Lupiyoadi. Pengantar Statistika. terutama dalam persaingan Bank Syariah yang cukup ketat sekarang ini. Yokyakarta Offset.Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) . maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. LP3ES. 2001 Vincent Gasperz. Bumi Aksara. Dari hasil perhitungan indeks potential gain customer value. 1955 Fandy. 1991 Masri Singarimbun. Gramedia Pustaka Utama. Statistik Teori dan Aplikasi. dari 21 variabel pelayanan terdapat 7 variabel kunci yaitu variabel yang harus ditingkatkan kinerjanya oleh PT Bank Muamalat Indonsia Cabang Medan karena variabel tersebut sangat penting bagi pelanggan dan ketidakpuasan pelanggan tinggi yaitu: .42–100. Erlangga. Penerbit PT Salemba Empat. L. Manajemen Pemasaran Jasa. Edwards. 2. Tjiptono. 1997 Husaini. Sedangkan nilai ratarata harapan menunjukkan bahwa nasabah menganggap keseluruhan faktor sebagai faktor yang penting untuk mendapat perhatian pihak bank untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya. A Conceptual Model of Service Quality and its Implications For Future Research. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memuaskan nasabahnya. Prinsip-prinsip Total Quality Service.Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) . Metode Penelitian Survei.Pengaturan kursi untuk menungggu (5) . 1987 Parasuraman.Keamanan dalam bertransaksi (15) 5. Journal of Marketing.Supranto. 4. Hasil perhitungan gap untuk tiap dimensi kualitas. Techniques of Attitude Scale Contruction.2 Saran 1. 3.Lokasi bank yang strategis (18) . A et al. Diharapkan pihak perusahaan lebih meningkatkan program pelatihan (khususnya di dalam peningkatan pengetahuan dan penguasaan pekerjaan) yang dinilai nasabah masih kurang memuaskan dan juga perlunya pengaturan kursi untuk menunggu bagi nasabah dan penambahan jumlah teller agar para nasabah tidak terlalu lama mengantri.Jaminan kerahasiaan nasabah (16) . 49. Sedangkan ratarata nilai tingkat kepuasan nasabah terhadap masing-masing dimensi berkisar 91. Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa. Survei kepuasan nasabah hendaknya dilakukan secara periodik. 1997 47 . kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks potential gain customer value terbesar.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar di Bank Muamalat Cabang Medan tidak mengecewakan tetapi belum sepenuhnya memenuhi keinginan nasabah melihat cukup besarnya gap yang terjadi. New York Appleton Century. 1995 J.

PENDAHULUAN 1. bersifat menetap. Apakah penerapan program ergonomi dapat mengendalikan kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik? Anizar 48 . Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya penyakit akibat kerja yang disebut musculoskeletal disorders. Proses pemulihan akan memberikan kesempatan fisik maupun psikologis manusia untuk lepas dari beban yang menghimpitnya. Karakteristik pekerjaan akan semakin meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan dilakukan. Kata kunci: Program Ergonomi. Para ilmuwan telah mencoba beberapa alternatif pengendalian kelelahan dengan pengaturan stasiun kerja seergonomis mungkin maupun pemberian waktu istirahat yang cukup sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation). Penerapan program ergonomi menghasilkan beda sebesar 0. 1. bersifat menetap. pemberian waktu istirahat pendek berulang sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check terbukti dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan whole body reaction tester.065. Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi. Apabila dibiarkan berlarut-larut maka akan dapat menimbulkan suatu penyakit akibat kerja yang akan mengurangi produktivitas dan diperlukan suatu cara untuk mengatasinya. Penelitianpenelitian yang dilakukan Pada sebuah penelitian Demure et al.PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. kinerja kerja serta berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk melakukan kegiatan.7155. Keadaan ini diperburuk dengan tidak adanya alat pendukung kerja berupa kursi kerja yang ergonomis. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita antara lain dinyatakan bahwa pekerja wanita berhak menerima upah yang sama dengan pekerja pria atas pekerjaan yang sama nilainya. Fakultas Teknik USU Abstrak: Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. 2000 menemukan bahwa terdapat efek positif dari pemberian suatu program intervensi yang meliputi 15 karakteristik ergonomis pada stasiun kerja terhadap penurunan kelelahan pada operator komputer.. Produktivitas Kerja 1. Yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah. Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara memberikan waktu istirahat yang cukup serta mengatur waktu istirahat. a. Undang-Undang No.2 Perumusan Masalah Kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik pada dasarnya untuk membentuk postur kerja tertentu. Kelelahan yang timbul dalam diri manusia merupakan proses terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan mendatangkan ketegangan (stres) yang dialami oleh tubuh manusia.1 Latar Belakang Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. Terdapat kenaikan produktivitas pada operator komputer yang diberi suatu program intervensi yang meliputi perbaikan postur kerja. Hal ini berarti pekerja wanita memiliki tanggung jawab yang sama akan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan.6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. Untuk menghindari akumulasi yang terlalu berlebihan diperlukan keseimbangan antara sumber datangnya kelelahan dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan (recovery). Kelelahan Pekerja. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu reaksi ratarata 0. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation).

kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis. sikap kerja.1 Kerja Otot Statis dan Dinamis Otot adalah organ yang terpenting dalam system gerak tubuh. Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot. Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah mendekati batas maksimal kemampuannya. Pada kerja otot dinamis. International Ergonomic Association membagi ergonomi dalam 3 katagori utama yaitu Physical Ergonomics. pemberian waktu istirahat berulang yang diikuti oleh gerakan relaksasi otot akan efektif menurunkan kelelahan operator pada industri perakitan elektronik. produktivitas mengandung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input).5 Penerapan Program Ergonomi Dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem di mana manusia. 2. 2. Organizational Ergonomics.3 Kelelahan Otot Pada dasarnya kelelahan menggambarkan 3 (tiga) fenomena yaitu perasaan lelah. c. pengerahan tenaga 50% dari maksimum dapat diterima otot untuk jangka waktu kerja selama 1 menit sedangkan pada pengerahan tenaga kurang dari 20% kerja dapat berlangsung lebih lama. Kerja otot dinamis berlaku sebagai suatu pompa bagi peredaran darah. berat seperti ada beban. Kelelahan yang dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. dan lainnya 2. Apakah penerapan program ergonomi dapat meningkatkan produktivitas kerja pada pekerja industri perakitan elektronik? Apakah ada persamaan peningkatan produktivitas kerja antara wanita dan pria pada industri perakitan elektronik? 1. Kelelahan otot dikenal dengan adanya perasaan tertekan dan lemah. kaku dan nyeri. Cognitive. perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja. lingkungan kerja. keterampilan. Kerja otot statis lebih cepat menimbulkan kelelahan. motivasi. Produktivitas Kerja Secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Nemecek dan Van Wely menyimpulkan bahwa kerja otot statis yang menggunakan tenaga 15% sampai 20% dari maksimum akan menimbulkan penyakit akibat kerja jika dibiarkan terus selama beberapa hari dan bulan. TINJAUAN PUSTAKA 2. Perbandingan terus mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Secara subjektif kelelahan otot dapat digambarkan dengan adanya perasaan tertekan. Kelelahan pada dasarnya merupakan keadaan fisiologis normal yang dapat dipulihkan dengan beristirahat. Dengan demikian peredaran darah meningkat dan otot menerima darah 10 sampai 20 kali keadaan kerja otot statis. Pada penelitian untuk memperoleh data tentang kelelahan sering digunakan kuesioner dengan skala bi-Polar maupun skala sifat seperti skala Borg maupun skala Semantik. Otot dapat bekerja secara statis (postural) atau dinamis (rhythmic). Keadaan peredaran darah pada kerja otot statis berbeda dengan kerja otot dinamis. Kerja otot statis dibutuhkan dalam membentuk postur tubuh oleh karena konstraksinya yang kontiniu maka bagian-bagian tubuh dapat dipertahankan berada pada posisi yang tetap. disiplin kerja. Lebih dari itu sisa metabolisme seperti asam laktat tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri.2 terhenti sama sekali. Kontraksi disertai pemompaan darah ke luar otot sedangkan relaksasi memberikan kesempatan bagi darah untuk masuk ke dalam otot. otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode waktu tertentu.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar b. Sastrowinoto(1985) menyatakan bahwa produktivitas menggambarkan perbandingan antara rasio keluaran dengan masukan. Terdapat 2 (dua) jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi berulang. 2.3 Hipotesis Penelitian Suatu program ergonomi yang terdiri dari perbaikan tata letak tempat kerja. Efek Kerja Otot Statis Kerja otot statis (postural) mencakup jenis pekerjaan yang berkepanjangan (prolonged) di mana level kontraksi konstan dan tidak berubah dalam satu satuan periode waktu yang bervariasi dari beberapa detik hingga beberapa jam. Terganggunya peredaran darah dan kurangnya oksigen merupakan fenomena kelelahan akibat kerja otot statis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Monod. Pada kerja otot statis. Kuesioner dan skala ini dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan data yang diinginkan peneliti. pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontrasi sehingga menyebabkan peredaran darah dalam otot terganggu.4 49 . Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada. Otot yang bekerja secara dinamis memperoleh banyak oksigen dan glukosa sehingga memiliki banyak tenaga sementara sisa metabolisme segera dibuang. fasilitas kerja dan lingkungan kerja saling berinteraksi dengan tujuan utama menyesuaikan suasana kerja dengan manusia. kerja otot statis yang menggunakan tenaga sebesar 60% dari maksimum akan menyebabkan peredaran darah 2.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. b.5% untuk melihat perbandingan skor kelelahan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi. 4. 1996). Salah satu cara mengendalikan kelelahan otot pada pekeja adalah pemberian waktu istirahat pendek yang sering (micro breaks) untuk merubah posisi kerja dan relaksasi otot. 4. 4. 4. otot lengan bawah. Penentuan produktivitas kerja wanita dan pria dilakukan dengan menggunakan metoda analisis produktivitas. pengukuran produktivitas kerja. 3. Mengetahui manfaat diterapkannya program ergonomi di perusahaan. Pengolahan dan Analisis Data Berdasarkan kepada pendekatan dan jenis data yang dikumpulkan secara kuantatif dan kualitatif maka data yang dikumpulkan dilakukan perhitungan statistik dengan mencari rata-rata (mean) pre test dan nilai rata (mean) post test. Quitler (1997) menganjurkan pemberian waktu istirahat selama 5 menit setiap 30 menit bekerja.6 Alat Ukur Alat ukur yang dilakukan dalam penelitian adalah Whole Body Reaction Tester Model YB-1000.6 Program Pengendalian Kelelahan pada Pekerja Postur kerja sering disebut juga sebagai posisi atau sikap tubuh dalam bekerja.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (x) yakni program ergonomi dan variabel terikat (y) yakni kelelahan kerja dan produktivitas kerja. Posisi punggung yang membentuk sudut 100 sampai 130 derajat dengan paha dan alas duduk lebih dianjurkan oleh karena pada posisi ini tekanan antar ruas tulang belakang akan lebih berkurang dan otot punggung berada dalam keadaan lebih relaksasi karena bantuan dari sandaran punggung yang ikut menahan berat tubuh. 4 Oktober 2006 2. c. Dilakukan uji t berpasangan (t paired test) dengan alpha = 0. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan bersifat penelitian terapan (applied research) dengan menggunakan metode eksperimen kuasi jenis one group pretest posttest design (Nawawi.5 50 . METODE PENELITIAN 4.7 4. 3. otot pergelangan tangan. No. Survei awal yang dilakukan diketahui bahwa operator yang bekerja adalah wanita dan pria dengan postur kerja duduk dan waktu kerja 7 jam setiap hari selama 6 hari dalam seminggu. Data sekunder dikumpulkan melalui hasil laporan yang diperoleh dari berbagai pihak. Duduk dalam keadaan tegak lurus atau membungkuk dan duduk dalam waktu lama tanpa merubah posisi akan mempercepat terjadinya kelelahan. Adapun gerakan otot tersebut terdiri dari: Otot leher. pemberian kuesioner. Jenis kursi yang dapat disesuaikan (adjustable chair) sangat baik untuk kerja yang bersifat sedentary namun jika hal ini sulit untuk dilaksanakan maka kursi yang sesuai anthropometri suatu etnis dapat diberikan.2 Manfaat Penelitian Manfaat daripada penelitian yang dilakukan adalah: a. otot tangan. Hasil lokakarya Penyusunan Norma Ergonomi di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja pada tahun 1978 berdasarkan anthropometri orang Indonesia untuk kerja duduk adalah 38 cm sampai 48 cm. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data primer dengan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan kerja. otot punggung bawah dan otot pinggang serta lengan atas. Suatu kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan relaksasi otot sangat dibutuhkan oleh pekerja.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada salah satu industri pada stasiun monitor check. 4. Mengetahui tingkat kelelahan kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. Gerakan relaksasi dapat dilakukan berupa melakukan setiap gerakan 3 sampai 5 kali di mana setiap gerakan tahan selama 5 sampai 10 hitungan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini bisa diperoleh dengan beberapa cara sesuai kebutuhan dan kemampuan pekerja seperti berjalan di sekitar ruang kerja ataupun melakukan relaksasi (streatching). Mengetahui produktivitas kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. pengukuran waktu reaksi. otot bahu.4 Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria yang bekerja sebagai operator di stasiun monitor check. Postur kerja di industri perakitan elektronik menuntut kerja duduk dalam jangka waktu lama dengan posisi lengan melawan gaya gravitasi dalam menyokong jari memegang komponen elektronik dan kepala menunduk (duduk membungkuk) untuk melihat komponen yang sangat kecil.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan program ergonomi dalam mengendalikan kelelahan pekerja terhadap produktivitas pekerja wanita dan pria pada industri perakitan elektronik di Kota Medan. 4.

96 0.73 0.83 0. Kebanyakan responden mengalami kelelahan tingkat 6 sebanyak 35% – 45% pada saat sebelum diterapkan program ergonomi (pretest) dan kelelahan tingkat 4 sebanyak 25% – 55% pada saat program ergonomi telah diterapkan (posttest). 5.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap pekerja menunjukkan adanya penurunan skor kelelahan sesudah diterapkan program ergonomi. e.34 0. Warna dinding ruangan pabrik sudah terasa menyamankan suasana kerja. Pencahayaan di ruangan pabrik cukup baik di mana sumber penerangan lampu neon 40 watt. berat badan dan tinggi badan. Getaran mekanis secara umum di dalam ruang pabrik tidak terjadi.02 0. Terlihat bahwa angka probabilitas yang diperoleh pada pretest dan posttest penerapan program ergonomi sebesar 0. 5. Temperatur ruangan berkisar 30°C hingga 33.18 0.12 0.00 37.90 2.57 25. belt conveyor. Nilai t empiris jauh lebih besar dari nilai t tabel pada ∝ 5% rata(0.81 2.15 11. d. Pada umumnya kelelahan yang dialami oleh responden merata pada semua regio.30 5. Tingkat kelelahan responden bervariasi pada saat sebelum (pretest) dan pada saat setelah (posttest). jenis kelamin. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan pada perusahaan elektronik yang mengahasilkan 3 jenis produksi yaitu Bracket MEM. b. Karakteristik subjek penelitian yang diteliti meliputi umur.90 2. c. pinset. Subjek penelitian seluruhnya merupakan tenaga kerja wanita dengan usia berkisar antara 23 tahun sampai 27 tahun.57 9. Kelembaban di dalam pabrik berkisar antara 6074%. Press Fit. Pada umumnya terdapat perbedaan nilai yang signifikan hampir sama pada semua regio.00 40.05) sehingga menunjukkan suatu perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tingkat kelelahan pekerja pada stasiun monitor check.05 7. Tabel 1.73 0.2 Kondisi Lingkungan Kerja Kondisi lingkungan kerja yang ada di PT Nando Karya Elektronik selama pengamatan dilakukan adalah: a.05 41.33 0. Posisi operator dalam melakukan pekerjaan adalah duduk pada kursi tanpa sandaran dengan ketinggian dari lantai 55 cm dengan sudut pandang 90° terhadap conveyor. Brus Terminal Inserting. Penempatan lampu di ruangan hanya berjarak 1.90 2.00 16.30 5. h.00 39.00 38.00 41.25 3. Monitor berada di sebelah kiri operator dengan sudut padang 45°.00 12. masa kerja.00 42.1.30 3. Bau-bauan di dalam ruang pabrik juga tidak mengganggu kenyamanan kerja.40 5. 5.80 3. Bracket MAEM.00 42. Proses perakitan elemen-elemen tersebut terdiri dari beberapa tahap yaitu: Proses Combaine. Berdasarkan kepada analisis statistik dengan menggunakan uji t berpasangan (t paired test) maka terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah diterapkannya program ergonomi.3 Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian yang ditetapkan sekaligus merupakan populasi penelitian sebanyak 20 orang pekerja di stasiun monitor check.30 3.30 2.00 7.1 Sistem Kerja Monitor Check Sistem kerja yang ada pada stasiun monitor check terdiri dari monitor.2 Hasil Pengukuran 5.12 2. Monitor check. Sirkulasi udara kurang baik karena kurangnya jendela/ventilasi sehingga pertukaran udara sangat lambat. Metal/washer dan Cone Press Fit. akan tetapi terfokus pada Bracket MAEM.00 37.05 5. g.74 2.1.19 51 . meja kerja dan kursi kerja.00 2. dan Rotor Assy (armature assy).05) uji 1 ekor di mana nilai t berada pada posisi penolakan Ho atau penerimaan Ha.1.000 di mana nilai tersebut jauh lebih kecil daripada ∝5% (0. Tingkat kebisingan yang ada di dalam ruangan antara 65-83 dB.15 9. f. 5.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar 5. Press.2 m dari meja kerja dan dipasang secara berjajar tanpa memperhatikan objek yang akan dirakit.1 5.35 5.35 5. 5°C.20 10.2.74 2.00 42.00 5.10 11. Distribusi Persentase Tingkat Kelelahan Pretest dan Posttest Pretest Posttest Beda Nilai t P % Penurunan Skor Kelelahan Regio Otot Leher/ tengkuk Bahu Punggung Atas Pinggang Punggung Bawah Lengan Atas Lengan Bawah Pergelangan tangan Skor Kelelahan Otot Total 5.32 2.15 2.80 80.15 3. Case and Appearance dan Quality Control.

2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Analisis statistik dengan uji t-berpasangan (t paired test) terhadap data waktu reaksi operator yang diperoleh dari whole body reaction tester terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan antara sebelum dan setelah penerapan program ergonomi. Hipotesis untuk hal ini adalah: H0 : D = 0.1 atau sekitar 2 tingkatan. 5.6505 sedangkan setelahnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil perhitungan statistik dengan uji-t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi di mana terlihat skor rata-rata kelelahan setelah penerapan lebih kecil daripada sebelumnya sehingga hipotesis penelitian terjawab. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan paired samples test (perbandingan t hitung dengan t tabel) maka dilakukan uji 2 sisi dengan tingkat signifikansi α sebesar 5% dan derajat kebebasan (df) sebesar 19 maka diperoleh t hitung 6.3. Setelah penerapan program ergonomi. 4 Oktober 2006 5. 5. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan program ergonomi mempengaruhi kelelahan otot statis yang operator stasiun monitor check yang terlihat dari skor waktu reaksi.23.034 dan t tabel sebesar 2.2. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan program ergonomi adalah sama/tidak berbeda secara nyata). 52 . Deskripsi daripada waktu operasi 1 siklus adalah operator mengambil bracket. Probabilitas sebesar 0. dan meletakkan bracket di palet.92 menit hingga 1. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan program ergonomi ternyata menurunkan kelelahan otot statis operator stasiun monitor check. 5.3 Pembahasan 5. Sebelum penerapan program ergonomi. punggung atas. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah tidak identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan prgogram ergonomi adalah berbeda secara nyata). Uji satu sisi yang dilakukan dengan derajat kebebasan (df) 19 dan α (0. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5.2. lengan bawah).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.025 adalah jauh lebih kecil dari α (0.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Pengukuran terhadap produktivitas dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap waktu yang dibutuhkan. tengkuk/leher) dan tingkat kelelahan 3 (regio pinggang.7155.034 dan t tabel sebesar 2.15 menit.13 dengan skor kebanyakan responden berada pada tingkat kelelahan 4 (regio bahu. Skor rata-rata kelelahan yang nyaris sama pada setiap regio otot. operator memeriksa bracket melalui layar monitor.23 menit. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi pada umumnya waktu reaksi mengalami peningkatan jika diamati selama satu hari kerja dengan rata-rata berkisar antara 0. No.3. Kecepatan reaksi yang diketahui dari data yang dihasilkan oleh peralatan memperlihatkan bahwa selama 6(enam) hari kerja terdapat fluktuasi pada waktu reaksi yang diperoleh. pergelangan tangan.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Pengukuran waktu reaksi (kecepatan reaksi) dengan menggunakan peralatan Whole body reaction tester dilakukan terhadap operator stasiun monitor check yang berjumlah 20(dua puluh) orang. lengan atas.025) diperoleh t hitung sebesar –6.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Berdasarkan perhitungan tsb. Waktu reaksi operator sebelum penerapan program ergonomi rata-rata berkisar 1. 5.3. terjadi penurunan skor kelelahan pada seluruh responden (100%). Data yang ada menunjukkan bahwa rata-rata penurunan skor kelelahan sebelum dan sesudah penerapan program ergonomi sebesar 2. Kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6(40%) untuk seluruh regio. punggung bawah. Produktivitas operator stasiun monitor check pada industri perakitan elektronik dapat dihitung dari waktu siklus. Skor kelelahan rata-rata menjadi 3. pada akhirnya menjadi berarti karena pada umumnya terjadi pada 8 regio setiap responden. maka waktu standar yang diperoleh dari metode kerja usulan lebih singkat dari metode kerja sekarang sehingga selain dapat mempersingkat waktu penyelesaian juga dapat meningkatkan jumlah produksi. H1 : D ≠ 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan program ergonomi membuat rata-rata kelelahan otot statis menjadi berbeda pula secara nyata. Sebelumnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.093. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk relaksasi otot leher dalam satu shift kerja adalah 40 menit untuk metoda kerja sekarang sedangkan untuk metode usulan hanya butuh waktu 15 menit.02 menit hingga 1. memposisikan brush terminal dengan pinset. Penurunan kelelahan sekitar 2 tingkat.093 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Peningkatan jumlah produksi dapat diperoleh karena berkurangnya waktu yang diperlukan untuk relaksasi otot leher.

. Prima Printing.532 unit. pelaksanaan relaksasi otot dan perbaikan tata letak tempat kerja. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. Toko Gununng Agung. Ergonomi.32 di mana kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6 untuk seluruh regio. 6. KESIMPULAN 1. 1989. Waktu standar penyelesaian pekerjaan meningkat sebesar 0. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check. “Ergonomi. Surabaya. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu DAFTAR PUSTAKA Eko Nurmianto. Sebelum penerapan program ergonomi. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat sebesar 1. PT.659 unit 4. Ergonomi Untuk Keselamatan.. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Edisi Pertama. Jakarta. Uniba Press. S. P.88 detik 12. 1979.7155. Studi Gerak dan Waktu. Suma’mur.K. Teknik Tata Cara Kerja. Uraian Waktu kerja efektif dalam 1 shift Waktu standar Penyelesaian Jumlah produk yang dihasilkan reaksi rata-rata 0. Jakarta: Candimas Metropole. Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Solichul.10 detik dari 1. Toko Gunung Agung. 1996.6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. 2003. Perbandingan Keluaran (Output) Metode Kerja Sekarang dengan Usulan Metoda Kerja Sekarang 380 menit 1. 1995.78 detik 13. 2004. Jakarta.13 dengan kelelahan tersebar pada kelelahan tingkat 3 dan 4. Tarwaka. Produktivitas pekerja stasiun monitor check mengalami peningkatan setelah diterapkan program ergonomi maka terjadi peningkatan efektifitas waktu kerja dalam 1 shift dari 380 menit menjadi 405 menit. Suma’mur. Jurusan Teknik Industri.88 detik menjadi 1. 2.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar Tabel 2. PT.19%. Program ergonomi yang diterapkan berupa pemberian waktu istirahat berulang. Sudiajeng. Z. Konsep Dasar dan Aplikasinya”. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi maka skor rata-rata kelelahan turun menjadi 3. I. Surakarta. Sutalaksana.78 detik. Hal tersebut terlihat dari skor penurunan kelelahan otot total yang mencapai 40. P.127 unit Metoda Kerja Usulan 405 menit 1. 53 .K. Wignjosoebroto. Ergonomi Untuk Produktivitas kerja. Penerapan program ergonomi yang dilakukan pada industri elektronik dapat mengendalikan kelelahan pekerja (operator monitor check). 3. L. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Edisi Pertama.

perumahan ataupun perkantoran. Jepang dan RRC. Tentative concept of Urban Spatial Arrangement causes the City Government of Medan has no power and authority on deciding locations for the businesses of investors in accordance with the RTRW Master Plan and so far the spatial arrangement and the urban transportation systems follow the desires of the investors. tingginya kebutuhan akan pengadaan infrastruktur baru. Fakultas Teknik USU Medan Abstract: Urban sprawl development for Medan City unites the business and trade centres and the government centre in the CBD area of Medan. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang parah di inti kota yang menyebar ke seluruh wilayah Kota Medan khususnya pada peak-hours. Misalnya belum memperhatikan nilai estetika atau keindahan kota dan tidak adanya jalur hijau atau taman kota di wilayah inti kota khususnya. Pembangunan Kota Medan yang bersifat setempat saja yakni hanya di wilayah inti kota (CBD) sama sekali tidak dapat dibenarkan sekalipun dengan alasan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). maksudnya tidak mengutamakan perkembangan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. misalnya rute menjadi lebih pendek. In addition the revitalization of public transport systems. which is also the core problem of traffic in Medan. Belum adanya konsep tata ruang yang jelas dan tegas untuk Kota Medan secara menyeluruh terintegrasi dengan rencana jaringan transportasi untuk jangka panjang dan bukan hanya untuk 5-10 tahun mendatang saja mengakibatkan perkembangan Kota Medan tidak terarah dan mementingkan keuntungan sesaat saja. yang berhasil misalnya Turki. Sekalipun mungkin setiap tahun RTRW Kota Medan direvisi namun karena Pemko Medan tidak berdaya mengatasi kekuatan pasar maka selama ini yang terjadi adalah penataan ruang dan sistem transportasi perkotaanlah yang mengikuti selera pasar yang mana semestinya Pemko Medanlah yang menentukan bagi pasar/investor lokasi-lokasi untuk daerah bisnis dan perdagangan. low health quality and decreases morality of inhabitants which further increases the criminality level of the city. Bangun 54 . PENDAHULUAN Dampak yang meresahkan dari perkembangan kota yang tidak terarah dan tidak terkontrol adalah kemacetan sistem lalu lintas yang dapat menyebar ke seluruh wilayah kota. Juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi serta meningkatkan pengunaan sepeda dan fungsi pejalan kaki/pedestrian. Consequently. Hal ini juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi. is also offered in this paper. Barangkali alternatif solusi yang paling ampuh untuk mengatasi kesemrawutan perkembangan Kota Medan serta juga menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas ini adalah dengan mengadakan pembangunan kota-kota baru ataupun kota-kota satelit di wilayah batas kota (wilayah pinggiran) seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara lain. polusi air dan suara. Konsep kota satelit yang menginginkan penduduknya bekerja dan beraktivitas di dalam kota satelit tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan angkutan umum. this causes severe traffic jam that could spread to whole the city area and spread to whole time because the distribution of the traffic is focused on the CBD area and as well causes air and noise pollution. Sisi lain yang tak kalah penting adalah minimnya akses untuk jalur hijau atau open space seperti taman yang merupakan paru-paru kota. sehingga kemacetan lalu lintas. Konsep tata ruang yang tidak jelas dan tegas juga mengakibatkan nilai jual Kota Medan bagi investor sangat rendah karena tidak adanya kepastian (sewaktu-waktu segala sesuatu dapat berubah bergantung situasi atau political will Pemko Medan). polusi udara dan suara yang mengakibatkan rendahnya mutu kesehatan penduduk terutama anak-anak dapat Filiyanti T.ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN Dosen Departemen Teknik Sipil. rendahnya mutu kesehatan hingga menurunnya tingkat moralitas penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat kriminalitas perkotaan. 1. waktu tempuh ke tempat kerja semakin panjang dan biaya perjalanan juga semakin tinggi akibat bertambahnya penggunaan BBM yang selanjutnya menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja karena stres dalam kemacetan. The concept of satellite cities is offered to be applied in Medan. tingginya polusi udara. Pembangunan kota satelit dapat dilakukan dengan membangun dan mengembangkan lapangan pekerjaan dan aktivitas komersial ke suatu lokasi baru yang jauh dari wilayah inti kota namun tetap dihubungkan oleh sistem jaringan transportasi yang memadai dengan pusat kota.A. Selain itu terjadi ketimpangan yang mencolok antara warga yang tinggal di wilayah inti kota dengan warga yang tinggal di wilayah pinggiran Kota Medan. Adanya pertumbuhan pusat bisnis dan perbelanjaan di lokasi yang sama dengan pusat pemerintahan Kota Medan yakni di wilayah inti kota mengakibatkan distribusi lalu lintas hanya terkonsentrasi pada satu wilayah atau zona saja.

klinik dan praktik dokter sampai halte yang terletak dekat dengan rumah-rumah penduduk. cafe serta fasilitas hiburan dan rekreasi. misalnya: Microskill di Jl. 2. Pusat Pemerintahan: Sudah saatnya Pemko Medan memikirkan lokasi baru bagi pusat pemerintahan Kota Medan. STIE di Jl. KONSEP KOTA SATELIT BAGI KOTA MEDAN Jadi sebenarnya setiap kota yang notabene punya masalah kota dan masalah lalu lintas tersendiri yang khusus dan berbeda di tiap-tiap kota mestinya punya konsep kota satelit tersendiri. Sungai Deli atau LP3I di Jl. 5. dan perlahan-lahan akan dapat menjadi suatu Kota Mandiri. Pengembangan Airport Internasional Kuala Namu serta rencana sistem infrastruktur yang menghubungkan ketiga kegiatan urat nadi kota satu dengan lainnya dan terhadap wilayah inti kota dan pusat pemerintahan. Pusat Automobile (Showroom).Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. rumah sakit ataupun exhibition center. kondominium. Proses pengembangan kota satelit ini akan berjalan secara alamiah. Bila PTS–PTS ini tidak segera dialokasikan pada satu wilayah yang sama yang secara alamiah akan berusaha mengembangkan kebutuhannya akan penggunaan gedung. Semestinya masalahmasalah khusus kota tersebut diselesaikan terlebih dahulu agar pengembangan kota satelit dapat maksimal fungsinya. Bagaimana dengan Kota Medan? Konsep kota satelit yang bagaimana sebaiknya dilaksanakan untuk Kota Medan sehingga dapat mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya di wilayah inti kota? Sebaiknya daerah mana yang dapat menjadi lokasi-lokasi baru bagi kota-kota satelit tersebut? Apakah konsep kota satelit dapat menyelesaikan masalah sistem angkutan umum (angum) di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan ? 2. khususnya bagi para pegawai pemerintahan tersebut beserta dengan segala fasilitasnya seperti toko. Pabrik Finishing Industrial di wilayah sekitar Belawan. Kantor Pengadilan Negeri. Bangun berkurang. Karena sekalipun dibangun kota-kota satelit misalnya di wilayah-wilayah lingkar luar. Kantor Imigrasi dan semua instansi-instansi pemerintah berada pada satu lokasi yang sama. Jadi aktivitas-aktivitas apa saja yang semestinya disatelitkan terlebih dahulu di Kota Medan ? 1. bersekolah atau berbisnis di dalam kota satelit tersebut. rumah sakit. Gajah Mada dan kursus-kursus keahlian jangka pendek seperti kursus komputer. Dengan demikian masyarakat yang ingin mengurus keperluannya terkait dengan instansi pemerintah. Pusat Pendidikan Tinggi Swasta: banyaknya pertumbuhan perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah inti kota. sekolah. Keberadaan pusat pemerintahan dan pusat bisnis dan perbelanjaan di dalam satu wilayah/zona yang sama yakni di inti kota adalah masalah yang mendasar dan utama bagi Kota Medan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Selanjutnya dikembangkan juga perumahan-perumahan. Penjualan Spareparts dan Perbengkelan: tingginya pertumbuhan mobil-mobil pribadi maupun 55 . flat/apartemen bagi pelajar baik swasta maupun milik Pemda sendiri yang dapat menambah pemasukan bagi Pemda. Keuntungan lain dari adanya kota satelit yakni dapat mengoptimalkan kelangsungan usaha daripada fasilitas-fasilitas kota seperti toko.. termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Belawan menjadi Hub-Port Internasional. maksudnya seperti Kantor Walikota. Sarana infrastruktur yang menghubungkan pusat pemerintahan ini ke inti kota dan juga ke bagian-bagian Kota Medan lainnya juga hendaknya direncanakan dengan maksimal. Pengadilan Tinggi. TKTB. Dinas Tarukim. pengembangan KIM (Kawasan Industri Medan). Bila semua PTS ini dapat diarahkan terkonsentrasi dalam satu lokasi yang sama (ruislag) sehingga berkembang pula rumah-rumah kost. akutansi serta bahasa yang menyebar di seluruh wilayah inti kota. sekolah dan fasilitas rekreasi. maka kemacetan tetap saja akan terjadi di inti kota yang menyebar ke seluruh penjuru Kota Medan. 3. Hal ini disebabkan bahwa penduduk yang berdiam di kota satelit tersebut belum tentu bekerja.-toko.A. Pelajar-pelajar PTS ini pada umumnya menggunakan kenderaan pribadi sehingga dapat dibayangkan pada saat masuk dan keluar kegiatan perkuliahan selalu membuat macet daerah sekitar lokasi kegiatan. Thamrin. Kantor DPRD/DPR Provsu. Selain itu fasilitas kota satelit tersebut juga belum tentu sesuai dengan keinginan penduduknya sehingga sebaran kemacetan lalu lintas tetap saja terjadi. apartemen. Pusat Bisnis dan Perbelanjaan: tetap dikembangkan di wilayah inti kota yang dengan sendirinya akan berkembang memenuhi segala kebutuhan akan fasilitas-fasilitasnya yang sesuai seperti hotel. hanya perlu travel ke satu tempat saja. Hal yang signifikan yang langsung terjadi dengan adanya re-alokasi pusat pemerintahan ini adalah terdistribusinya sistem lalu lintas Kota Medan sehingga tidak hanya menuju inti kota saja. 4. Namun ternyata pengadaan kota-kota satelit seperti Bintaro dan BSD (Bumi Serpong Damai) yang terdapat di Jakarta ternyata tidak dapat mencapai tujuan daripada pengadaan kota satelit tersebut. maka dapat dipastikan 5-10 tahun mendatang pertumbuhan dan perkembangan PTS ini akan semakin tidak terkontrol yang akan sangat berdampak pada kemacetan lalu lintas. Pusat Industri: tetap dikembangkan di kawasan utara Kota Medan.

juga akan lebih menguntungkan pengusaha automobile tersebut karena terkonsentrasi dalam satu wilayah. jumlah armada angkutan umum (angum) yang beroperasi sudah sekitar 7. Kondisi ini mengakibatkan perusahaan (dealer) kenderaan angum yang mungkin saja bekerjasama dengan oknum pemerintah dari dinas terkait dapat mengambil keuntungan dari penjualan kenderaan angum serta pengurusan izin trayek sehingga modal dasar operator menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan tingginya setoran yang diwajibkan operator terhadap pengemudi angum ditambah dengan Biaya Operasional Kenderaan (BOK) dan biaya-biaya informal rutin. Izin operasional diberikan untuk kenderaan dan bukan untuk trayek. Selanjutnya juga akan berkembang di kawasan ini fasilitas perumahan bagi pengusaha maupun pegawai. Jadi setiap pemilik angkutan mengurus izin trayek untuk kenderaannya dan hal ini sering sekali dijadikan sebagai “uang masuk” bagi oknum pemerintah terkait baik itu untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan dinasnya. cafe. Itulah sebabnya. becak (dayung dan bermotor) sekitar 18. Selama tahun 2004-2005 jumlah armada angkutan umum penumpang yang beroperasi jelas semakin meningkat. pusat industri. Untuk kondisi Kota Medan. Bila semua kegiatan yang berhubungan dengan automobile ini ditempatkan dalam satu wilayah yang sama. Jadi untuk Kota Medan realokasi pusat pemerintahan. maka selain signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas. kelangsungan hidup daripada pusat-pusat kegiatan tersebut dengan segala fasilitasnya akan lebih terjaga. mobil penumpang umum (MPU) dan bus damri. taksi.800 unit. 4 Oktober 2006 sepeda motor dengan berbagai jenis merek dengan kelebihan dan kekurangan dari masingmasing merk mobil tersebut.583 unit (plafon 15. seperti: becak (dayung dan bermotor). Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk mengontrol. dan fasilitas hiburan/rekreasi lainnya. yakni masalah angkutan umum (angum). ditambah lagi dengan bertambahnya angkutan becak mesin baru (jenis honda win) dan angkutan kancil. bila Medan memiliki suatu konsep Tata Ruang yang jelas dan tegas. Kelemahan 56 . Hal lain yang juga penting untuk dipertimbangkan bagi Pemko Medan dalam membangun dan mengembangkan pusat-pusat kegiatan tersebut hendaknya juga memperhatikan nilai seni yang dapat mengundang pariwisata yang akan dapat meningkatkan PAD. pemilik-pemilik angkot pada umumnya adalah perorangan sehingga terdapat begitu banyak stakeholders angum di Kota Medan. 3. Medan juga mempunyai masalah mendasar lainnya yang juga menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Misalnya bagaimana masyarakat dapat menikmati gaya arsitektur bangunan-bangunan dan bagaimana masyarakat tetap dapat berekreasi mendapatkan hiburan sekalipun berada di lokasi perkantoran ataupun pendidikan. Bila hal ini tidak dilakukan pada tahap awal maka rencana pembangunan kota-kota satelit atau kota-kota mandiri lainnya. Dengan demikian. menjadikan kebutuhan akan spareparts. Selain masalah keberadaan tata ruang. akan semakin menambah nilai jual kota terhadap investor. pusat pendidikan tinggi swasta dan pusat automobile dalam masing-masing wilayah yang terkonsentrasi merupakan masalah mendasar bagi Kota Medan. Namun bila realokasi kelima pusat kegiatan tersebut di atas dilaksanakan maka secara alamiah investor juga akan mulai menanamkan modalnya untuk pengembangan kawasan-kawasan tersebut sehingga dapat meratakan pembangunan dan meningkatkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya di wilayah inti kota saja seperti yang terjadi pada saat ini. jumlah armada taksi yang beroperasi 1187 unit (plafon 2545 unit). showrooms dan perbengkelan yang signifikan bagi masyarakat Kota Medan. Juga izin dikeluarkan selalu berdasarkan jumlah plafon maksimal tanpa memperhitungkan demand penumpang dan evaluasi hasil operasi di lapangan yang seharusnya mempertimbangkan jumlah plafon minimal armada trayek. resto. Dan bila hal ini tidak segera ditangani.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. SOLUSI PERCEPATAN PEMBERDAYAAN SISTEM ANGKUTAN UMUM DI KOTA MEDAN 3.1 Hambatan dalam Pembenahan Sistem Angkutan Umum di Kota Medan Di Kota Medan. maka dalam tempo 10–15 tahun mendatang. Dan yang saat ini nyata terjadi bahwa semakin bertambahnya mall atau plaza-plaza yang menjadi sepi pengunjung dan tidak menguntungkan.272 unit) dengan 248 trayek. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pelayanan angum tersebut apalagi menjaga mutu pelayanannya. Data dari Dinas Perhubungan Kota Medan didapat bahwa sampai tahun 2003. seperti contoh kota satelit Putra Jaya yang memiliki bangunan-bangunan perkantoran dengan berbagai style yang berbeda dengan fasilitas rekreasi danau buatan. angkutan umum penumpang terdiri dari berbagai jenis moda angkutan darat. Kota Medan dapat mengalami grid-lock atau macet total dan perkembangan Kota Medan akan semakin tidak terkontrol atau terarah. seperti pengembangan kawasan eks Bandara Polonia dan kawasan outer ring-road Kota Medan tidak akan maksimal tercapai tujuannya dan kemacetan lalu lintas terutama di inti kota sebaliknya akan semakin parah. Apakah dengan adanya realokasi kelima pusat-pusat kegiatan tersebut akan menjamin solusi bagi kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya masalah sistem angum di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan? Hal ini selanjutnya akan dibahas pada sesi berikut ini. No.

kancil) yang mengakibatkan persaingan antar eksternal dan internal koperasi angum yang tidak sehat dan mengakibatkan mutu pelayanan angum sangat rendah. dsb. tidak sesuai dengan kemauan pengguna ataupun belum ada batasan mutu minimal pelayanan yang diterapkan. maka permasalahan ini akan semakin kompleks yang tentu saja akan berakibat pada kerugian-kerugian sosial yang semakin parah sehingga pada satu waktu akan berakhir dengan grid lock (lumpuh total). Morina. 3. Perum Damri. Sp. Masalah angum perkotaan lainnya yang turut menambah ruwetnya masalah angum di Kota Medan yakni keberadaan pool-pool angkutan antar kota di sisi jalan-jalan utama (arteri primer) yang masih masuk wilayah Kota Medan yang mengambil alih peranan angum perkotaan serta masalah manajemen terminal yang belum tertata serta munculnya terminal bayangan di jalan-jalan utama (seperti di: Sp. Halat. Adakah sistem lain yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memperbaiki sistem angkutan umum perkotaan di Kota Medan saat ini? Apakah para decision makers Kota Medan masih terkesan apatis dalam membenahi Kota Medan? Bagaimana dengan krisis kepercayaan masyarakat yang semakin menurun terhadap para decision makers kota? Bila para komponen yang terlibat dalam angum. jumlah armada angum yang besar dengan jumlah trayek yang begitu banyak (rute yang tumpang tindih yang tidak sebanding dengan demand penumpang). Kampus USU. seperti Pemko (Dinas Perhubungan/DLLAJ. khususnya untuk mengantisipasi rencana pembangunan monorel di Kota Medan. hijau bisa berhenti bila perlu). tidak ada subsidi dari pemerintah. Operator serta pengemudi angum yang lama tetap dilibatkan dalam pengembangan BRT tersebut menurut kebijakan yang ditetapkan.A.3 Rekomendasi Metode Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Kota Medan Satu alternatif solusi untuk pemberdayaan angum perkotaan di Kota Medan secara maksimal adalah dengan mengadakan manajemen satu payung bagi angum perkotaan. seperti: berhenti di sembarang tempat di badan jalan. Aksara. sistem tarif dan sistem institusional angumnya. becak mesin. bagaikan raja jalanan. menyalip (overtaking) kenderaan lain tanpa mempertimbangkan lalu lintas sekitarnya dengan alasan kejar setoran. namun tidak memperhitungkan modal dasar operator yang tinggi serta BOK seperti harga BBM. Quito (Equador). besarnya modal dasar kenderaan. Bila masyarakat sekarang ini sulit untuk mempercayai Pemda/Pemko. Pemerintah memberlakukan tarif tetap untuk angum yang disesuaikan dengan willingness atau daya beli masyarakat. Jasa Raharja dan juga para perusahaan (dealer) kendaraan serta para Preman Setempat (PS) di lapangan. Goiania (Brazil) dan Santiago (Chile). Bogota mempunyai sistem angum. Bappeda). kondisi internal/eksternal komponen terkait serta kondisi pelayanan angum yang persis sama dengan kondisi sistem angum di Indonesia khususnya dengan Kota Medan seperti yang telah diuraikan di atas yakni kesamaan dalam sistem kejar setoran.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. 3. Teknik/metode perubahan sistem angum yang bagaimana yang dilakukan oleh Bogota? Sesi berikut akan membahas teknik/metode yang sebaiknya diadopsi oleh Kota Medan yang disesuaikan dengan kondisi serta permasalahan angum di Kota Medan sendiri yang dapat dijadikan alternatif solusi untuk percepatan pemberdayaan dan revitalisasi sistem angum perkotaan untuk mendukung sistem transportasi Kota Medan di masa mendatang. biaya pengurusan STNK dan biaya pemeliharaan kenderaan. maka dibentuklah suatu badan/lembaga yang anggotanya dipercaya oleh baik masyarakat umum maupun Pemko Medan yang dapat menjembatani kedua belah pihak untuk duduk bersama mendiskusikan segala sesuatu perubahan dalam sistem angum perkotaan. Sumber. setiap komponen terkait dan jajarannya sepakat mengubah pola pikir dengan paradigma yang lama secara bertahap sehingga pada Desember 2000 Bogota memulai dengan satu sistem angum BRT yang disebut Transmilenio. Rahayu. Setiap kali armada articulated bus Transmileneo ditambah maka jumlah armada angum yang lama berkurang ataupun dijadikan sebagai pendukung pada sistem feeder service (angkutan pengumpan) pada koridor-koridor pelayanan BRT Transmilenio tersebut. Polisi Lalu lintas (Satlantas).2 Contoh Kasus Revitalisasi Pelayanan Angkutan Umum di Bogota Satu kasus menarik terjadi di Bogota (ibukota negara Kolumbia) yang dapat dijadikan pelajaran dan teladan bagi masyarakat Kota Medan dalam merevitalisasi sistem angumnya. Kasat mata memang terlihat bahwa pengoperasian angum dengan berbagai jenis tipe dan ukuran tidak disiplin dalam berlalu lintas di jalan. 57 . sistem izin trayek. Namun sejak 1998. Sao Paulo. Setoran yang tinggi ditambah dengan pungutan informal (iuran di terminal asal dan tujuan serta iuran rutin per hari). Sp. Sp. sering melanggar aturan lampu persimpangan (merah bisa jalan. Sampai saat ini belum ada subsidi dalam bentuk apapun dari Pemda/Pemnas untuk angkutan umum. persaingan antar tipe angum (angkot. taxi. Amplas. Sp. Koperasi Angkutan Umum (KPUM. Bangun daripada sistem setoran ini adalah baik pemilik maupun pengemudi tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kualitas pelayanan dan setiap pemilik kendaraan mengawasi dengan caranya sendiri. Limun. Penerapan sistim angum seperti yang dilakukan Bogota kemudian dilakukan oleh developing countries yang lain dengan sukses seperti di Curitiba. Organisasi Masyarakat/LSM. tidak melakukan pembenahan baik terhadap internal maupun eksternal komponen tersebut sejak dini. dsb).) untuk menunggu penumpang (ngetem). Sp.

Sanksi uang ini dapat dijadikan sebagai masukan sumber subsidi BOAU sendiri bagi rute-rute kurus penumpang ataupun untuk pembenahan sistem. b. dan untuk trayek B dengan tipe bus kecil dengan kapasitas penumpang 14 seats. 3. Perubahan-perubahan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam sistem angum di Kota Medan? 3.). Contoh-contoh developing ataupun developed countries yang mempunyai sistem transportasi yang murah. 2005). BOK serta biaya pencapaian mutu minimal 1pelayanan angum dan profit-nya tinggi/mahal. 58 . namun penanggung jawab operasional tetaplah perusahaan pemenang tender.3 Sistem Retribusi Hapuskan istilah pagar makan tanaman bagi pihak Pemda (Heru Sutomo.3. maka tarif angum tersebut hendaknya juga mahal.3. Sistem ini memberikan kesempatan pada kekuatan pasar untuk mempengaruhi kualitas pelayanan dan harga tiket/tarif angum. Subsidi ini dapat berasal dari profit yang diberikan oleh pengusaha yang memiliki rute gemuk penumpang (subsidi silang) ataupun dari sumber daya Pemda sendiri. 2004).1.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Prinsip tender per trayek tersebut adalah sebagai berikut: a. Untuk rute kurus penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang meminta subsidi yang paling minimum dari Pemda. Misalnya bila pada umumnya occupancy kenderaan untuk trayek A adalah 80% namun bila dengan adanya pembenahan dalam sistem. Misalnya dalam bentuk pengurangan subsidi ataupun denda.5 Sistem Internal dan Eksternal Institusional Sistem konvensional dan kediktatoran dari Pemda harus diubah menjadi lebih liberal: Memberi keleluasaan pada pengusaha pemenang tender trayek untuk menanggapi kebutuhan. termasuk sistem target PAD dari instansi-instansi/dinas-dinas terkait maupun dari retribusi-retribusi (retribusi terminal. Pos-pos pemasukan bagi Pemda sehubungan dengan angum jangan lagi ditargetkan dalam konteks untuk menggemukkan APBD. sekalipun tetap di bawah pengawasan BOAU Kota Medan.3. aman dan nyaman. subsidi dapat juga berasal dari sistem tender yang ditetapkan pada pasal 2. 3. pengusaha yakin akan mendapatkan 95% occupancy. Pengadaan sanksi/hukuman bagi pelanggar kontrak dalam bentuk sanksi uang dan bukan pencabutan izin trayek. maka pengusaha dapat menentukan 5% profit diberikan ke BOAU dan 10% profit merupakan hak pengusaha. Bila ada investor kecil yang hanya mampu memiliki beberapa kenderaan saja ingin menanamkan modalnya pada rute-rute tersebut. misalnya dalam penambahan /pengurangan jumlah armada. 3. Jadi bagi setiap perusahaan pemenang tender haruslah menyediakan tipe angkutan yang sesuai. memiliki tanggung jawab subsidi dan keterlibatan yang tinggi dari masing-masing Pemda maupun pemerintah nasionalnya. STNK. jika memang tarif hasil perhitungan modal pengadaan kenderaan.3. 4 Oktober 2006 misalnya seperti Dewan Transportasi Kota Medan atau Badan Koordinasi Transportasi Kota Medan atau Badan Otorita Angkutan Umum/BOAU Kota Medan (Heru Sutomo. Misalnya untuk trayek A jenis angkutan adalah tipe bus sedang dengan kapasitas maksimal 40 seats. Pengusahaan angum oleh pemenang tender mempunyai jangka waktu tertentu dan dievaluasi pelaksanaannya sebagai pedoman dalam penentuan pemenang tender periode berikutnya. kompensasi pemasukan pendapatan dari pemasangan iklan pada kenderaan angum serta pengadaan usahausaha toko-toko/cafe di terminal. Selain itu pengemudi angum juga akan menanggung denda/sanksi tilang bila melanggar peraturan lalu lintas (Iwan Margono.3. Untuk rute gemuk penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang dapat memberi keuntungan terbesar kepada BOAU.1 Sistem Perizinan: Izin trayek diberikan pada satu perusahaan dan bukan kepada perorangan untuk mengoperasikan satu trayek secara keseluruhan melalui tender.3. Izin bentuk dan tipe angkutan ditentukan oleh pemerintah. terpercaya. No. Profit/pendapatan ini dapat digunakan BOAU untuk mengembangkan sistem ataupun sebagai subsidi terhadap pengusaha untuk rute kurus penumpang. Namun bila daya beli masyarakat masih rendah maka Pemda harus subsidi. dsb. Jadi retribusi-retribusi tersebut hanya sekedar alat pengaturan dan bukan untuk cari uang. 2005). Selain subsidi dari Pemda. 3.4 Sistem Tarif Sistem tarif angum jangan lagi dibatasi. cepat. dapat menghubungi pemenang tender untuk bekerjasama. Schedule kedatangan/keberangkatan angum juga dapat diatur sehingga dengan jadwal yang pasti para penumpang tidak akan memaksakan diri untuk berjejalan di satu kendaraan (overcrowded) karena kendaraan berikut sudah dijadwalkan.2 Sistem Gaji bagi Supir Angum Apa keuntungan sistem gaji dibandingkan sistem setoran dalam sistem angum? Adanya kepastian pendapatan bagi pengemudi angum akan mengurangi ketidakdisiplinan pengemudi angum di jalanan sehingga umur kendaraan juga akan lebih lama.

3. sehingga pada 18 Desember 2000. Adapun keseluruhan daripada pembahasan di atas dituangkan dalam gambar 1 berikut ini mengenai Bagan Manajemen Satu Payung bagi sistem angum di Kota Medan (Heru Sutomo. dan lebih melibatkan pemerintah dalam pengelolaan/ operasional maupun pengawasannya. lalu dijadikan sebagai pilot project (sebagai contoh/pedoman langkah berikutnya). Bangun Bila BP (Badan Pengelola) atau UPT/UPTD dari Dishub tidak lagi sesuai dalam pelaksanaan ataupun pengawasan pelaksanaan operasional sistem angum maupun penerapan peraturan secara konsisten ini maka dapat menunjuk suatu BUMN atau Perusahaan Daerah untuk melakukannya sesuai dengan proses tender (dengan prinsip. Sementara sistem pengutipan angkos dan tiket serta sistem pengawasan atas implementasi seluruh sistem yang baru tersebut diserahkan kepada suatu badan yang dipercaya oleh pemerintah maupun masyarakat yang tetap dievaluasi kinerjanya secara teratur dan mempunyai durasi kontrak yang tertentu pula (Hidalgo & Senoval. pemenang tender adalah yang dapat memberikan kontribusi terbesar kepada Pemda) karena diharapkan pengelolaan. Ini juga membutuhkan kesadaran yang tinggi terhadap petugas dan pejabat terkait dari instansi perpajakan.6 Darimana Pemasukan bagi Pemda untuk Subsidi Angum? Karena subsidi angum tidak umum dari APBD maka kembali rakyat diminta kesadarannya untuk membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur.7 Darimana Harus Dimulai? Penentuan prioritas tindakan. BOAU Kota Medan bersama dengan seluruh instansi terkait serta elemen-elemen dalam masyarakat dalam suatu rapat khusus menetapkan urut-urutan prioritas langkah yang akan dilakukan. ditentukan urutan prioritasnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan sumber daya bagi Pemda guna penerapan peraturan secara konsisten yang mengakibatkan pelaksanaan peraturan dapat “dinegosiasi” di lapangan. Bus-bus baru tersebut digunakan sebagai bus pengumpan (feeder) untuk mengangkut penumpang dari daerah-daerah sekitar dan yang jauh yang akan menggunakan system Transmilenio. Bila ada subsidi BBM mengapa tidak diciptakan subsidi angum? Sudah saatnya Pemda maupun Pemerintah Nasional terlibat penuh dalam pengembangan angum seperti yang dilakukan oleh negara-negara sedang berkembang maupun negara-negara maju lainnya. Pengalaman mereka sebagai operator dari sistem angum tradisional yang dijadikan sebagai bagian daripada sistem BRT yang baru bernilai sebagai aspek kunci dari kesuksesan sistem BRT dan mencegah adanya protes serta kemungkinan aksi demonstrasi atas pelayanan sistem BRT tersebut. pengaturan sistem bus pengumpan (feeder service sebagai sistem pendukung yang tidak masuk ke main line) dan seterusnya satu persatu dibahas.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Pengadaan 470 unit articulated bus untuk Transmilenio diserahkan kepada 4 perusahaan swasta yang melibatkan 96% operator angum lama/tradisional. pelaksaaan dan pengawasan yang lebih transparan karena melibatkan uang rakyat. pemerintah telah melibatkan pengusaha angum tradisional dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Transmilenio beroperasi setelah perbaikan-perbaikan bertahap sukses dilaksanakan dalam sistem angumnya yang kondisi sistem angumnya persis sama dengan Kota Medan ataupun kota-kota di Indonesia pada umumnya. 3. dilaksanakan dan dievaluasi. karena pada umumnya masyarakat kelas bawah juga yang lebih terkena dampak negatifnya bila masyarakat tidak membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. Sudah saatnya sistem angum di Indonesia ataupun khususnya di Kota Medan menjadi perintis untuk mengubah sistem angum yang overprivatised.A. pihak swasta yang masih belum tertarik. Bogota mulai membicarakan revitalisasi sistem angumnya di tahun 1998. 2005): 59 . Berikut ini dipaparkan secara garis besarnya apa yang dilakukan oleh Bogota sehingga implementasi BRT Transmilenio sukses dan menguntungkan yang dapat dijadikan pelajaran bagi Kota Medan dalam rencana implementasi monorel di Kota Medan. 2001). lalu mengadakan perubahan-perubahan demi terlaksananya program BRT Transmilenio. Sejak rencana awal program BRT Transmilenio. Demikian juga kontrak pengadaan sistem feeder service dan renovasi bus yang lama diserahkan kepada operator angum tradisional melalui tender dengan sistem subsidi silang. Setiap kali terjadi penambahan bus Transmilenio baru maka beberapa angum lama harus dieliminasi dari sistem. Operator yang masih perorangan. 3.3.

Februari 2006. April 2006. R. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Munawar. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. Hyogo-ken. p. ----------.. Vol.. F. p. Portland State University. P. F. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65 Tahun 1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. 1. Direktorat Jenderal Bina Marga. 2006.. Medan. Suatu Opini. Medan. F. Menteri Perhubungan RI. Usulan Manajemen Satu Payung bagi Sistem Angkutan Umum Kota Medan 4. 4 Oktober 2006 Penerimaan Non Operasi Pengeluaran Operasi MANAJEMEN Jika defisit: Penerimaan subsidi Pendapatan Operasi Pendapatan Operasi Jika surplus: Untuk pengembangan sistem Produksi: Rute 1 kend . Bangun. The Urban Satellite Field Concept. and Bangun.km Pembayaran menagih Biaya operasi: kend-km x Rp/km Rute 2 Pendapatan Operasi Rute ke .. Suatu Opini... 2005.. Harian Waspada: Medan. Harian Waspada: Medan. Leal. 60 .. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism.. R. A Case Study of Istambul. 13. pp. Jogjakarta. p. Napitupulu. Manajemen Lalu lintas Perkotaan.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 1. p. R. Portland. 2004. A. 1. P. F. dan Napitupulu. University of Tokyo. 6. and Bangun. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. 13 November 2004.. dan Alkhairi.. 31 Januari 2005. 1993. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan. Satellite Cities. Suatu Opini. 13. 4. Penerbit Beta Offset. dan Alkhairi. DAFTAR PUSTAKA Bangun. Sutomo. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? Suatu Opini. ----------. pp 9 – 32. F. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. Napitupulu.. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. Harian Analisis: Medan. A Case Study of Accra Metropolitan Area.2005. F. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. Suatu Opini. Departemen Pekerjaan Umum RI. International Planning Studies.. 2003. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? Suatu Opini. R. Powerpoint Transparansi. Jakarta. Napitupulu. Jogjakarta. Powerpoint Transparansi. and Bangun.n Gambar 1.T. dan Bertini.1545. Dinas Perhubungan Kota Medan. ----------. M.. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. 21 Maret 2005.. Suatu Opini. H. 19 November 2004. Vol. 4. F. p. Napitupulu. 15 January 2005. R. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. 3. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 2. R. A. 103 – 108. Januari 2006. P.. Department of Urban Engineering. Turki. 13.. No. No. Ghana.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 18. Bandung. 1992. Sanda-shi. Bangun. 2006. 2001. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Bangun. F. Medan. p. dan Alkhairi..L.. Hasamagaola 3-25-3. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah. No. Sorensen. and Bangun. 13. Japan 669 . Jakarta. 2005. p.

4 juta jiwa atau 18.6% menjadi 8. khususnya di era perdagangan bebas yang merupakan tindak lanjut persetujuan sistem perdagangan bebas seperti Asean Free Trade Area (AFTA) dan Global Agreement Trade and Tariff (GATT).1%. dan mereka tidak mampu mempresentasikan diri. Kaidah ekonomi aksi (economic of action). dan kaidah distribusi pendapatan (income distribution). 326.25% per tahun sehingga secara nasional kebutuhan terhadap hasil komoditas pertanian masih terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. sehingga produksi usaha tani mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Dalam era globalisasi tersebut usaha tani harus mampu menghasilkan komoditas yang lebih murah namun bermutu tinggi. Hal ini didasari bukan hanya karena terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan akan tetapi karena tingginya potensi di kawasan pedesaan untuk dimanfaatkan sebagai alat mendorong pembangunan.4%. Agroindustri PENDAHULUAN Sumatera Utara terletak pada 1-4° LU dan 98100 ° BT dengan luas 71.5% per tahun. investasi masyarakat meningkat dari 16. petani masih dijadikan sebagai “bahan presentasi” obyek politisi.5% menjadi 7.6%.6%. selalu dalam posisi disempowered tidak memiliki aksesibilitas. Petani menghasikan produk yang memiliki nilai tukar sangat rendah sehingga daya beli masyarakat di pedesaan sangat Iemah. jumlah pengangguran terbuka berkurang dari 9. dan secara umum pertumbuhan industri kecil meningkat ratarata 3. kegiatan ekonomi yang mempunyai index material (rasio fisik bahan baku dengan produk akhir) harus lebih besar dari satu. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam konteks pengembangan mengingat kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal dan komoditas unggulan serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani karena mengimplementasikan pembangunan secara holistik dalam kegiatan on farm dan off farm.466 desa/kelurahan dengan jumlah penduduk tahun 2005 sebesar 12. Komoditas Unggulan.0% menjadi 24.9% jumlah penduduk.5% menjadi 5. pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5. namun ada juga kegiatan yang hanya akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama/gerakan bersama (collective action). jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 telah mencapai kisaran 220 juta dengan pertumbuhan 1. Sumatera Utara memiliki 18 kabupaten.2%. perlu diupayakan agar industri yang berkembang di agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya.680 km2. Bilter Sirait 61 .14%) adalah petani di pedesaan 11.7%.8%. aktivis. 7 kota. Desa-Kota. Menurut Sembiring dan Sitepu (2006).86%) di perkotaan. Secara umum yang melatarbelakangi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani melalui pengembangan kawasan agropolitan dan agroindustri antara lain: persentasi penduduk miskin rawan dan sangat rawan pangan hingga pada tahun 2002 masih mencapai 36. Pembangunan agropolitan memberi solusi ideal untuk mengatasi ketimpangan antara desa dan kota sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara. bahwa untuk mengefisiensikan aliran barang/jasa dalam ruang dan waktu. 8. Pemerintah menegaskan kebijakan dasar yakni Triple-Track-Strategy = “pro-poor. progrowth. menjadi “komoditas” politik/demokrasi dan nasibnya tetap sebagai petani gurem. pro-job. 678 jiwa. Pembangunan ke arah modernisasi pertanian akan semakin penting artinya.8 juta (68. Hingga saat ini tingkat pertambahan penduduk masih tinggi. pengembangan agropolitan didasari atas beberapa kaidah ekonomi: kaidah ekonomi lokasi (economic of location). Kata kunci: Agropolitan.4 juta (3 1. jumlah ekspor meningkat dari 5. dan 5. dan 6. ilmuwan.5%. Sejumlah kegiatan dapat efektif bila dilakukan secara individu (individual action). pemerintah. Keadaan tersebut diperkirakan saat ini meningkat tajam menjadi 63. terdiri dari 24.1% dari rakyat Indonesia. 326 kecamatan. Kaidah skala ekonomi (economic of scale) yakni suatu kegiatan ekonomi memerlukan skala usaha (business size) tertentu yang optimal untuk mencapai efisiensi ekonomi. Selanjutnya.6 juta jiwa atau 28.5% menjadi 8. pertumbuhan industri pengolahan non migas dan lain-lain meningkat masing-masing 3. Kaidah permintaan turunan (derived demand). Pemerintah telah menetapkan beberapa tolak ukur keberhasilan antara lain bahwa dalam periode akhir tahun 2004 hingga 2009 jumlah penduduk miskin akan berkurang dari 16.PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA Staf Pengajar Kopertis Wilayah I/Ketua Tim Teknis Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara Abstrak: Pembangunan kawasan agropolitan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.

Yang perlu diupayakan ialah bagaimana agar industri yang berkembang di Agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya. Secara lebih mikro. Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1. No. Pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan fakta tersebut. industri pembuatan kaleng. PENGEMBANGAN AGROPOLITAN Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis. mendorong. Tetapi setiap daerah harus mempunyai komoditi unggulan atau karakter tersendiri. Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta. Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) Sumatera Utara telah dimulai pelaksanaannya pada awal tahun 2004 sedang penyusunan master plan dilakukan pada tahun 2003 setelah penanda tanganan Nota 62 . Setiap kawasan tentunya dikembangkan dengan spesifikasinya sendiri (1 Agropolitan dengan 1 komoditi unggulan). menarik. Perpindahan ini pun memberikan dampak di berbagai kota yaitu mengalami urbanisasi berlebihan (overurbanization). Pembangunan suatu daerah jangan meniru (blue print) dari daerah lain yang sudah berhasil. tingginya urbanisasi ditunjukkan dengan terjadinya konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan.5% (tahun 1995) menjadi 40. Sumatera Utara misalnya pada tahun 2003 telah mengeluarkan komoditas-komoditas unggulan pada suatu kawasan agropolitan dengan komoditas unggulan tertentu pula. Pada tahun yang sama. Kalaupun ada program/proyek baru.5% (tahun 1998). melainkan lebih menekankan pada upaya-upaya mensinergikan dan mengintegrasikan program/ proyek yang telah ada selama ini. Data Survei Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37.go. Sebagai contoh suatu kawasan yang lahannya sesuai untuk komoditas nanas. kemudian di agropolitan dikembangkan industri pengalengan nenas. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah terjadinya migrasi penduduk perdesaan ke perkotaan akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian. Salah satu penyebab dibutuhkannya kawasan agropolitan ini adalah tingginya arus urbanisasi. juga akan semakin menurunkan produktivitas pertanian. yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. pengangkutan dan lain-lain.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Karena itu pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanianpedesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. berbasis kerakyatan.277. adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani. Apabila proses urbanisasi yang tidak terkendali semakin mendesak produktivitas pertanian dibiarkan akan mengancam ketahanan pangan nasional. Pengembangan sektor industri dan jasa di perkotaan dimaksudkan untuk memfasilitasi atau mendukung pembangunan pertanian-pedesaan.id) Dalam kaitannya dengan pembangunan daerah. pengembangan kawasan agropolitan ini akan mengintegrasikan program/proyek-proyek multisektor yang telah berjalan selama ini sehingga efek sinergisnya makin kuat dan manfaat yang dihasilkannya makin besar dan beragam. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecenderungan aliran bersih (transfer netto) sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besarbesaran dengan disertai derasnya proses (speed up processes) migrasi penduduk secara berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. 4 Oktober 2006 PENGERTIAN AGROPOLITAN Agropolitan terdiri dari dua kata yaitu Agro = pertanian. Dan kota-kota yang berkembang adalah kota rural-urban (rurban) di mana karakteristik rural (pedesaan) dan karakteristik (perkotaan) terintegrasi secara harmonis. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Tercatat. politan = kota. Dari sisi peta kemiskinan kondisi tersebut di atas telah menimbulkan kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan dan menghasilkan kemiskinan di perdesaan. Proses urbanisasi yang tidak terkendali. merupakan alternatif pembangunan perdesaan melalui urban-rural linkages untuk mencegah terjadinya urban bias (http://www. Dengan kata lain yang dikembangkan di perkotaan adalah fungsi-fungsi dari sistem agribisnis mulai dari hulu sampai ke hilir.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. dilain pihak desapun kehilangan tenaga-tenaga produktif yang seharusnya sebagai bagian dari mata rantai roda kehidupan dan roda ekonomi perdesaan. pengembangan agropolitan pada dasarnya bukanlah program/proyek yang benar-benar baru. sehingga pendekatan pembangunan selama ini yang banyak mengakibatkan urban bias harus menjadi perhatian semua pihak. berkelanjutan dan terdesentralisasi. sementara pemerintah pusat/propinsi memberi dukungan melalui pelatihan bagi petani nanas. hanyalah untuk memperkuat atau memfasilitasi efek sinergis dalam ruang dan fungsi. Karena itu.nakertrans. dukungan pemasaran dan informasi. yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing.

Juga perlu dikembangkan industri pengolahan dan industri turunananya/ikutan. Mengingat bahwa dalam FGD tersebut terungkap bahwa saat ini rencana pengembangan kawasan baru berupa master plan. Pelatihan pengolahan produk pertanian 3. Simalungun. Sedangkan teori skala ekonomi akan membimbing berapa besar skala usaha down-stream dan up-stream yang harus dikembangkan. Toba Samosir. kegiatan ekonomi yang memiliki indeks material (rasio fisik antara bahan baku dengan produk akhir) lebih besar dari satu. Pengembangan ini diarahkan pada di desa pusat pertumbuhan di Kecamatan Nagari Lambah. on-farm agribisnis. pestisida. Sistem agribisnis yang dimaksud mencakup 4 subsistem (1) Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni usaha industri pupuk. infrastruktur. demokrasi) pada tahun 2000. Untuk ”membumikan” pembangunan sistem agribisnis tersebut di setiap daerah. dengan terlebih dahulu mengikuti studi banding ke kawasan yang memiliki karakteristik sumber daya alam yang sama. Sub-sistem jasa penunjang akan mengikuti di mana lokasi on-farm. up-stream. Pelatihan manajemen keuangan ALASAN PEMBANGUNAN AGROPOLITAN Konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pedesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal (Setia Hadi. Paradigma pembangunan yang bias kota akan mendorong terjadinya proses pemerasan surplus pedesaan pertanian. dan down-stream dikembangkan. Tapanuli Utara. dengan diketahui/didukung Gubernur Sumatera Utara dan Menteri Pertanian RI. perkreditan. Untuk meng-adress isu aktual pengembangan ekonomi 3D (daya saing. transportasi. maka dalam suatu kawasan akan dikembangkan kegiatan agribisnis mulai dari up-stream agribisnis. Serta perlu dikembangkan jasa keuangan (perbankan) dan asuransi. Berdasarkan prinsip ekonomi tersebut. benih. Pelatihan manajemen pemasaran 4. Pelatihan kultur teknis budidaya pertanian 2. Teori ekonomi lokal membimbing di mana industri up-stream dan downstream agribisnis harus dikembangkan agar pergerakan barang dan jasa dalam ruang efesien. down-stream agribisnis dan services for agribusiness. kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. berkerakyatan. kebijakan pemerintah. diperkenalkan apa yang disebut dengan program kawasan agropolitan. berkelanjutan dan dilaksanakan secara desentralisasi”. didasarkan pada teori ekonomi yakni teori ekonomi lokasi (economic of location) dan teori skala ekonomi (economics of scale). pengembangan kawasan agropolitan merupakan implementasi spasial (ruang) dari pembangunan sistem agribisnis. Sistem pendidikan dan pelatihan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memperhatikan aspek kemampuan dan budaya masyarakat. Pendidikan dan pelatihan yang diperlukan adalah: 1. sehingga koordinasi kegiatan pengembangan dari masing-masing dinas terkait dapat lebih terfokus dan saling mendukung. Dengan demikian. Perlu dikembangkan infrastruktur prasarana dan sarana serta kelembagaan lainnya yang menunjang agropolitan (sarana transportasi jalan dan jembatan. 2006). (2) Subsistem usaha tani (on-farm agribusiness). Pengembangan kawasan agropolitan sebagai implementasi spasial dan sistem agribisnis. Sedangkan bila indeks material kurang dari satu (seperti up-stream agribusiness) harus dikembangkan dekat dengan sentra konsumsinya yakni para petani di kawasan pedesaan. desentralisasi.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait Kesepakatan 5 Bupati yang berada di kawasan Dataran Tinggi Bukit Barisan (Karo. penyuluhan. dan (4) Subsistem jasa penunjang (services for agribusiness) seperti penelitian. Fasilitator yang digunakan sebaiknya memanfaatkan sumber daya yang ada di kawasan agropolitan. Berbagai bentuk pemerasan tersebut antara lain. Beberapa infrastruktur yang dalam waktu dekat diperlukan untuk Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) dalah: • Infrastruktur jalan usaha tani • Infrastruktur jalan usaha tani di desa sekitar pusat pertumbuhan • Infrastruktur jalan poros desa di desa pusat pertumbuhan • Infrastruktur pasar desa di desa sekitar • Infrastruktur pusat data dan informasi • Infrastruktur saluran irigasi • Pembangunan gudang penampungan dan penyimpanan produk pertanian. Inilah yang disebut dengan “kota pertanian” (agropolitan). telekomunikasi dan informasi dan air bersih). Berdasarkan teori ekonomi lokal. serta desa dan kecamatan yang berbatasan sebagai pendukung. sesuai dengan potensi agribisnis di daerah yang bersangkutan. Departemen Pertanian mengembangkan paradigma baru pembangun ekonomi berbasis pertanian. dan Dairi) pada 28 September 2002. (3) Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yakni pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya. jaringan listrik. alat dan mesin pertanian. sehingga diharapkan dalam waktu dekat dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Umum Tataruang (RUTR) dan ditetapkan dengan PERDA. Karena itu kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. Karena itu industri pengolahan hasil pertanian (down-stream) harus dikembangkan di sentra produksi pertanian. Paradigma baru yang dimaksud adalah: ”Membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital 63 .

di mana suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat bila B/C > 1. ketersediaan hara (na). keterlibatan masyarakat. hanya pengelolaannya barang kali perlu lebih intens sebab masih terbuka kemungkinan penggunaan teknologi baik di on farm maupun off farm. Penulis memang belum tahu sepenuhnya. Kesesuaian lahan untuk tiap komoditas pada setiap satuan tanah dibedakan menjadi Sesuai. ketersediaan bibit. dan Tidak Sesuai. dan dalam pengembangan kota-kota dan pedesaan sehingga kawasan agropolitan mampu bersaing dalam perdagangan internasional termasuk produksi dan hasil-hasil agribisnis dan agroindustri. Metode analisis skoring pemilihan. produktivitas sebelum tahun ke-t dikurang satu dikalikan dengan 100 %. faktor risiko. Selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian lahan bagi komoditas unggulan. business planing agropolitan di KADTBB. Perbandingan antar komoditas diurut. Kondisi biofisik yang digunakan sebagai dasar penentuan kualitas dan karakteristik lahan dalam analisis kesesuaian lahan adalah: ketersediaan air (wa). produksi. produksi. Hal ini juga karena derivasi durian dimaksud banyak serta telah memiliki jaringan pemasaran yang baik. keragaan usaha tani dinilai Benefit Cost Ratio atau B/C rasio untuk tanaman semusim. Selanjutnya. yang pasti tulisan ini juga sekaligus untuk proses pengkayaan di dalam menyusun detail planning. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user) dan mekanisme transaksi antar sektor. Untuk analisis ekonomi komoditas sumber utama pendapatan. Dalam hal ini r pertumbuhan tiap tahun dalam % merupakan proporsi tingkat luas panen. Sedang jenjang ke-3 yang juga mungkin diperlukan adalah pusat seluruh kawasan yang berfungsi mendukung seluruh pusat-pusat distrik dan menyediakan hal-hal yang tidak tersedia di pusat distrik. sering juga dihitung Break Even Point (BEP) produksi yakni total biaya per harga penjualan serta BEP harga yaitu total biaya per total produksi.30 km2 secara de facto sudah memasyarakat. produktivitas. (b) pelarian sumber daya manusia terdidik (brain drain) dari pertanian pedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. IRR (Internal Rate of Return) bagi tanaman tahunan. B/C rasio adalah proporsi tingkat keuntungan dengan total biaya. No. Bagi komoditas terpilih-durian. kesesuaian lahan. produktivitas tahun ke-t dengan tingkat luas panen. apakah sudah mengikuti prosedur baku Pakpak Barat untuk menentukan durian sebagai komoditas unggulan. Banyak durian yang ditemukan di Kota Medan berasal dari Pakpak Barat dan menurut informasi memiliki sifat merekah beberapa minggu dan lebih lama merekah dibanding dari durian lainnya yang berasal dari Sumatera Utara. 4 Oktober 2006 drain) melalui nekanisme urbanisasi. penghasil devisa. Menurut laporan akhir tim teknis kelompok kerja pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (2005) bahwa beberapa variabel untuk menentukan komoditas unggulan sebagai berikut: luas areal. ketersediaan oksigen (oa). durian yang merupakan komoditas unggulan dari Kabupaten Pakpak Barat yang memiliki luas daerah 1 218. Sesuai Marginal.. retensi hara (nr). derivat produk dan ketergantungan impor. produksi. STRATEGI PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN UNTUK MENDUKUNG AGROINDUSTRI Durian di Kabupaten Pakpak Barat misalnya dapat dikatakan banyak dihasilkan oleh masyarakat dan relatif sudah intens budidayanya sehingga sekaligus telah mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. KK dihitung sebagai berikut: KK = (Std/Ya) x 100 % KK = Koefisien keragaman masing-masing indikator prioritas Std = Standar deviasi masing-masing indikator prioritas Ya = Rata-rata aktual masing-masing indikator prioritas Tahap berikutnya untuk penentuan selang interval (Δ) adalah: ΔI = (Xmax – Xmin) / JI ΔI = selang interval JI = jumlah interval (berkisar 3-5 bila kurang dari 30 populasi-kecamatan) 64 . Pembangunan agropolitan memiliki hubungan yang saling menguntungkan dan menciptakan sinergis dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri komoditi unggulan. Pada analisis derajat keunggulan komoditas. tiap indikator keunggulan dianalisis dengan metode statistik non parametrik yang menghitung r (rata-rata pertumbuhan per tahun) dan KK (koefisien keragaman).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. media perakaran (rm). Parameter utama yang menjadi acuan di antaranya luas tanam. luas panen atau populasi. nilai ekonomis. hanya saja barang kali belum intens dikelola oleh pemerintah daerah. sehingga dapat ditentukan komoditas calon unggulan untuk bahan analisis berikutnya. Kota-kota pertanian yang dibangun mempunyai jenjang (hierarki) sesuai dengan fungsinya. seperti dalam pengolahan hasil pertanian. dan penyiapan lahan (lp). Dalam hal ini BEP adalah titik impas usaha dan sering berhubungan dengan IRR. Selain hal itu. Paling sedikit ada 2 jenjang yaitu (i) kota pusat lokalita atau kawasan usaha tani yang langsung dilayani dan (ii) kota pusat distrik yaitu kota yang melayani beberapa kota pusat lokalita atau yang melayani semua kawasan secara langsung.0. pemasaran. selanjutnya dilakukan pembobotan dan scoring terhadap indikator keunggulan. Penilaian untuk masing-masing komoditas untuk tiap sub sektor adalah berdasarkan data sekunder tentang perkembangan komoditas yang bersangkutan di setiap kecamatan target pengkajian.

dihitung skor rata-rata untuk masing-masing indikator berdasar rata-rata pertumbuhan per tahun dan KK. = Pengamatan terkecil dari nilai r. penerapan teknologi (sesuai rekomendasi. tidak respons). kurang memadai). keterkaitan dengan daerah lain (sangat terkait. (6) risiko. tidak strategis). Beberapa permasalahan yang sering dihadapi para investor di Indonesia saat ini adalah (Simanjuntak. tidak sesuai rekomendasi). respons terhadap teknologi (sangat respons. (2) infrastruktur. Sebagai perbandingan. (3) pasar. kondisi sarana dan prasarana (sangat memadai. perizinan untuk memulai suatu usaha dari berbagai instansi terkait baik pusat maupun daerah di Indonesia membutuhkan lebih lama dengan 12 prosedur yang harus dilalui dengan waktu yang dibutuhkan selama 151 hari (sekitar 5 bulan) dan biaya yang diperlukan sebesar 131 persen dari per capita income (sekitar USS 1. akses dengan ibukota propinsi). sistem perpajakan di Indonesia kurang memberi kelonggaran-kelonggaran perpajakan dalam upaya mendorong investasi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan para investor dalam berinvestasi di suatu daerah adalah faktor: (1) yuridis. Selanjutnya. kurang strategis. KK atau nisbah Untuk penentuan interval aktual sebagai berikut: Interval (Xmin) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Skor 1 2 3 1. Analisis derajat keunggulan wilayah. letak geografis (strategis. ketersediaan lahan (sangat tersedia. Kesemuanya ini mengakibatkan ketidakjelasan kebijakan investasi nasional yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi. Berdasar nilai skor akhir kemudian ditentukan selang interval untuk menentukan keunggulan komoditas sebagai berikut: Interval (Xmin)----(Xmin + ΔI) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Golongan Komoditas Penunjang Potensial Unggulan 2. Prosedur perizinan investasi yang panjang dan berbelit-beli. bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Investor akan tertarik untuk investasi apabila faktor-faktor yang dianggap penting telah disediakan oleh kabupaten/kota dengan baik. (5) sumber daya manusia. kurang tersedia). mendekati rekomendasi. Skala dan bobot penilaian keunggulan wilayah pengembangan komoditas unggulan adalah berdasar parameter kesesuaian lahan (sesuai. Indonesia relatif tertinggal dalam menyusun insentif investasi. jelas bahwa masuknya investasi sangat dibutuhkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpangsiuran kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kebijakan investasi. Dibandingkan dengan negara-negara lain. Lemahnya insentif investasi. Karenanya pemerintah daerah perlu mengkreasi kebijakan untuk memberikan jaminan kondisi yang mantap bagi masuknya investor. Meskipun dengan tingkat pajak progresif yang diperkirakan relatif sama dengan negara-negara lain. Rendahnya kepastian hukum. Kurang bergairahnya iklim investasi juga disebabkan oleb keterbatasan dari daya saing produksi (supply side). tersedia. seperti yang diharapkan oleh investor. = Pengamatan tertinggi dari nilai r. (4) lingkungan usaha. dalam menarik penanaman modal di Indonesia. Fokus pada Beberapa Komoditi Unggulan Pelaksanaan kegiatan sudah dapat segera dimulai pada beberapa komoditi unggulan yang dinilai sangat 65 . dan kapasitas dan sistem dan jaringan infrastruktur karena sebagian besar dalam keadaan rusak akibat krisis. UPAYA UNTUK MEMACU INVESTASI Dalam konteks pengembangan ekonomi lokal. Selain itu juga keragaman/variatif yang besar dari kebijakan investasi antar daerah. memadai. 4. Ini tercermin dari antara lain berlarutnya perumusan RUU Penanaman Modal dan lemahnya penegakan hukum yang terkait dengan kinerja pengadilan niaga. KK atau nisbah X min. Lemahnya kepastian hukum juga tercermin dari tumpang tindihnya kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. Implikasi signifikan dari pengembangan manufaktur yang belum berbasis pada kemampuan penguasaan teknologi dan masih relatif rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja. cukup respons. Kualitas SDM yang rendah dan terbatasnya infrastruktur. terkait dengan pusat pertumbuhan lain. Simanjuntak (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa upaya dan langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembanguan agropolitan sebagai berikut: A. termasuk insentif perpajakan. 2006): 3. tidak sesuai).163). Berdasarkan studi Bank Dunia pada tahun 2004.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait X max. dan (7) penghasilan. sesuai bersyarat. untuk memulai usaha di Malaysia hanya melalui 9 prosedur dengan waktu yang dibutuhkan hanya 30 hari dan biaya yang diperlukan hanya sekitar 25 persen dari per capita income (sekitar US$ 945).

B. Samosir. baik domestik dan ekspor (a. perhitungan biaya. Jagung: adanya bermacam-macam bibit unggul. modal ventura dan modal yang disalurkan melalui mitra. Juga untuk memperkuat posisi tawar petani dan mengefisienkan kegiatan operasi usaha tani. Wadah organisasi petani antara lain. sarana produksi dan pabrik pengolahan. pakan dari limbah pertanian yang cukup banyak. 4.Prospek pasar yang cukup baik di pasar domestik dan pasar ekspor . dan memberikan hak bagi petani untuk ikut memutuskan perencanaan desa dalam penggunaan sumber-sumber yang dimiliki atau diperoleh dari pemerintah. Nenas: pasar yang sangat besar.Pengalaman masyarakat tani yang sudah ada mengusahakannya Berdasarkan kriteria ini telah ditetapkan 6 komoditi unggulan yang akan dikembangkan secara intensif di Sumatera Utara: 1. Peluang pasar. Ternak sapi dan kerbau. 6. produsen dan pemasok sarana produksi). Peningkatan Penyuluhan dan Konsultasi Bisnis serta Koperasi Petani. topografi . dan Taput). teknologi antara lain pasar domestik yang sangat besar. Penguatan Modal Salah satu hal tersulit dalam pengembangan petani adalah penguatan permodalan. Kriteria pemilihan komoditi ini adalah. asosiasi petani sejenis. Hal ini juga memerlukan penyuluhan dan bimbingan sekaligus yang dapat bertindak sebagai konsultan bisnis.Keadaan sumber daya alam yang sangat/cukup sesuai yaitu lahan. pengalaman petani sudah cukup banyak dalam budidaya.). musyawarah desa dan badan perwakilan petani dalam pemerintahan desa dan kecamatan Pemberdayaan dan perkuatan lembaga-lembaga ini akan mempercepat petani dalam proses belajar (alih teknologi). Hal ini meliputi bidang teknik. Yang paling penting disediakan/ditingkatkan adalah modal usaha. jenis pedaging dan perah. Jepang). memperkuat posisi tawar dalam pemasaran dan pembelian input. adanya varitas ekspor yang sangat sesuai (Varitas IPB dll. D. ketersediaan teknologi dan SDA banyak terbuang atau hanya sedikit dimanfaatkan apabila SDM petani tidak mempunyai kemampuan entrepreneur. 5. adalah kelompok tani sehamparan. eksportir. Pemberdayaan dan Perkuatan Kelembagaan Petani Selain peningkatan SDM petani secara individu. Jeruk siam madu (jeruk berastagi). Untuk itu peningkatan kemampuan petani sebagai entrepreneur dan manajer usaha tani adalah mendesak dilakukan. Dengan adanya beberapa jenis bibit unggul. terutama di kabupatenkabupaten yang belum begitu berkembang agribisnisnya (Pakpak Barat. teknologi budidaya. manfaat dan nilai kotoran untuk menghasilkan pupuk kompos dan pengalaman petani yang sudah agak memadai. pasar domestik yang besar dan adanya potensi pasar ekspor. Karena tingkat rentabilitas dari ke 6 komoditi unggulan di atas yang cukup tinggi.l. manajemen. Namun hal ini harus dibina secara bertahap dan jangka panjang. Tobasa. pedagang. dan permodalan. bibit. potensi ekspor yang juga besar. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas perlu dilakukan penyuluhan. lahan untuk pakan hijauan yang cukup luas. dan pengalengan). Kopi arabica: kopi lintong. koperasi petani.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. modal perbankan. Humbang Has. lahan yang cukup luas dan budidaya yang cukup mudah. E. dan teknologi pengolahan . konsultasi atau studi banding bagi pengurus-pengurus organisasi tersebut. pelatihan. varitas yang cukup tinggi produktivitasnya.Kelimpahan sumber daya alam . memasarkan dan menjamin penyaluran kredit. kopi sidikalang sudah mendunia yang didukung oleh lahan di atas 1000 m dpl yang cukup luas dan adanya investor/penguasaha yang berminat bermitra dengan petani. lahan yang cukup luas dan sudah adanya pabrik pengolahan (konsentrat. 3. Untuk ini upaya peningkatan permodalan petani harus sungguh-sungguh diupayakan misalnya pemberian modal bergulir dari pemerintah. pasar yang cukup besar. 4 Oktober 2006 layak dan mempunyai prospek baik dalam jangka panjang walau detail planning belum sepenuhnya rampung. kerjasama atau asosiasi petani sejenis perlu dikembangkan. pengalaman petani yang sudah cukup banyak. iklim. C. Peningkatan Kemitraan dan Investor Ujung tombak dari kegiatan agribisnis (termasuk agroindustri) dalam kawasan agropolitan adalah petani dan dunia usaha (pengolah. permintaan domestik untuk pakan ternak cukup besar. mengolah. juice. lahan yang cukup luas. Juga kemitraan sangat penting dilaksanakan untuk menampung hasil. Kelemahan SDM petani adalah merupakan penghambat utama dalam pelaksanaan program pengembangan KADTBB. wadah tempat petani bekerja sama adalah sangat perlu diberdayakan dan diperkuat. antara lain: .Sudah ada teknologi yang cukup handal dimiliki (teknologi spesifik lokasi) terutama adanya bibit unggul. kemungkinan pengolahan untuk berbagai macam produk turunan. 2. Dalam tahap pertama mungkin perlu diberi bantuan 66 . diperkirakan petani dan mitra pengusaha (pengolah dan eksportir) sangat berminat mengusahakannya. pemasaran. No. Ketela rambat: adanya bibit yang cukup unggul termasuk ubi jepang.

Salah satu di antaranya adalah membuat website. penyaluran informasi kepada semua kabupaten dan dinas-dinas propinsi perlu melakukan pertemuan teratur setiap 2 bulan dan pada saat-saat tertentu. pasar dan telekomunikasi. Kemudian dapat diberi kredit lunak atau bunga rendah atau kredit yang disupervisi (kredit modal ventura). pasar melancarkan arus perdagangan dan memperbaiki struktur pasar sedang telekomunikasi memperlancar arus informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Akibatnya sektor pertanian-pedesaan menjadi underinvestment dan under-brain. para pegawai/staf dinas di kabupaten dan propinsi. 67 . ASOSIASI PENGUSAHA. anggota DPR-RI. beberapa sarana penting dalam pertanian terbukti dapat mempercepat perkembangan agropolitan antara lain pembangunan cold storage. pengambilan keputusan bersama. pergudangan. Oleh sebab itu pada kawasankawasan sentra produksi yang sedang atau sudah berkembang harus segera dilengkapi dengan parasarana dan sarana-sarana pertanian penting. yang biasanya dibentuk oleh koperasi petani dan pembentukan dana agunan dibantu pemerintah. pasar dan calon-calon mitra dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan dan hal ikhwal kawasan agropolitan DTBB Sumut. kriminalitas. G. Akhirnya apabila telah mampu. Selain prasarana pertanian. Prasarana yang sangat bermanfaat adalah jalan. Sosialisasi kepada dunia usaha juga mendesak dilakukan untuk menarik dunia usaha melakukan investasi dan melakukan kemitraan dengan petani. Tahap selanjutnya dibina kegiatan menabung petani dan menyalurkan tabungan kembali kepada anggota. Usul perubahan selengkapnya harus segera disampaikan pada badan yang menangani perubahan tata ruang (Bappeda dan instansi lain) untuk di proses dan diajukan ke DPRD untuk disyahkan. H. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. sehingga produktivitas pertanian-pedesaan sulit dikembangkan. Sementara. Website sudah dibuat. DAFTAR PUSTAKA Budiharsono. dalam konteks spasial. F. sekarang tinggal mengisinya dengan data-data dan informasi dan memberi tahu masyarakat adanya website. para camat dan kepala desa. Pembangunan agropolitan akan memberi solusi ideal sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara. telah menimbulkan permasalahan ketimpangan pendapatan antara wilayah desa (rural) dengan kota (urban). pembangunan dan pengembangan agropolitan yang didukung agroindustri mutlak dilaksanakan. para petani dan dunia usaha (KADIN. supaya diadakan pertemuan yang lebih sering agar usul dapat dibahas secara mendalam dan keputusan bersama dapat dibuat lebih tepat. Pembangunan Infrastruktur Prasarana pertanian dan perekonomian sudah terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan pelaksanaan program pada kawasan agropolitan. persoalan lingkungan (polusi. 2006. Agar masalah agunan dapat diatasi.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait hibah (gratis) kepada petani. Hal ini disebabkan karena terjadinya penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital-drain) melalui mekanisme urbanisasi. 27 Juli 2006. daerah perkotaan mengalami over-investment dan overpopulation yang tercermin dari makin banyaknya persoalan internal perkotaan seperti kemacetan lalulintas. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user). I. dan Suhaedi. Dukungan diperlukan dari DPRD adalah perubahan alokasi anggaran yang lebih baik dan pembuatan payung hukum program agropolitan. maka perlu juga dikembangkan lembaga penjamin kredit. Juga dapat diberikan pada petani subsidi (kredit tak berbunga) seperti modal bergulir dari Pemda. kebisingan). irigasi. KESIMPULAN DAN SARAN Proses pembangunan yang selama ini dilakukan. publikasi melalui media massa dan pembuatan brosur dan buletin. Evaluasi pengembangankawasan agropolitan. terutama waktu pengajuan usul RAPBD propinsi dan RAPBN. dan perusahaan-perusahaan). packing house atau Sub Terminal Agribisnis (STA) yang menyediakan berbagai fasilitas. misalnya dengan membentuk koperasi simpan pinjam atau Credit Union (CU). Universitas Methodist Indonesia Medan. seperti bantuan bibit. dan mekanisme transaksi antar sektor. Meningkatkan Sosialisasi Program Agropolitan Program agropolitan masih perlu disosialisasikan pada berbagai stakes holder agar mendapat dukungan mereka. Jalan dapat memperlancar arus barang dan menurunkan biaya angkutan barang. Menyempurnakan Tata Ruang Propinsi Tata ruang propinsi yang belum sesuai dengan tata ruang kabupaten perlu segera dirubah. Para stakes holder utama adalah anggota DPRD kabupaten dan propinsi. S. J. Selain itu juga disebabkan karena terjadinya pelarian sumber daya manusia terdidik (brain-drain) dari pertanianpedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. Peningkatan Frekuensi Pertemuan Forum Pemkab Forum Pemkab yang telah dibentuk sebagai wadah diskusi. Oleh karena itu. petani dapat menerima kredit komersial dari perbankan dengan bunga menurut pasar. maka jaringan informasi perlu dikembangkan. banjir. Pembuatan Website dan Jaringan Informasi Agar semua stakesholder.

E. Pasaribu. 2006. P. BPTP Sumatera Utara.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 2006. Universitas Methodist Indonesia Medan. Universitas Methodist Indonesia Medan. 27 Juli 2006. B. Sianturi. Nainggolan. 68 . Laporan Akhir. J. Durian sebagai komoditas unggulan kabupaten Pakpak Bharat.. Universitas Methodist Indonesia Medan. 2005. E. 1990. Kawasan agropolitan. F. 1994. B. Konsep pembangunan desa-kota berimbang. S. dan B. Inc. Bberapa catatan tentang pengembangan agropolitan. 27 Juli 2006. Simanjuntak. Nuswamarhaeni.. 2006. B. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan.. 2006. S. Persepsi dan saran mempercepat pengembangan kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. Seminar International Fund for Agricultural Development (IFAD) Hanoy.. 2006. 2006. Setia Hadi. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan.. 2006. E. Mengenal buah unggul indonesia. 27 Juli 2006. Pasaribu. Sitepu. T. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Universitas Methodist Indonesia Medan. Penebar Swadaya. Saragih. S. Agropolitik pembangunan Sumut: Agropolitan dan agroindustri. Universitas Methodist Indonesia Medan. R. Crestpent Press Kampus IPB Baranangsiang P4W-LPPM IPB. R. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Stevenson. John Wiley & Sons.. 27 Juli 2006. Poverty Profile & The Alleviation Programs in Indonesia. Prihatini. Konsep pengembangan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan dan agromarinepolitan pesisisr pantai dan pulaupulau kecil di Sumatera Utara. No. Masalah dan kendala perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan KADTBB Sumatera Utara. Tim Teknis Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. 2006. 5-6 April 2006. Sembiring. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Sumber daya komoditi unggulan jeruk pada tingkat lokalitas di kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan SumateraUtara. Vietnam. dan I. 27 Juli 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Pohan. Universitas Methodist Indonesia Medan. B. 4 Oktober 2006 Depari. D. 2006. Sirait. 27 Juli 2006. S. Humus chemistry... A.

which is flanged to the bottom end of the column. Variables studied were oscillation amplitude and frequency. there is no correlation has been developed until now. Baffles with a spacing of 141 mm in between bafles supported by two stainless steel rods with a 6 mm diameter were installed in the column. heat and mass transfer are significantly improved (Mackley 1991). The results showed that the mixing time decreased with oscillation frequency and amplitude. ρ ω xo D Reo = (1) μ The second parameter is the Strouhal number. for batch processes.1989) and axial dispersion coefficient (Mackley & Ni 1993). The experimental system consists of a vertically mounted Perspex column. The oscillation frequency was measured using a digital tachometer. which represents a ratio of column diameter to stroke length. A motor with a speed controller drives the bellows. Dickens et al. the resulting radial velocity component is comparable to the axial velocity component in the space between two baffles. which provides an oscillation frequency of from 1 to 3 Hz to the system. 1989. The results of simulation are displayed as flow lines plots which confirm the finding of the experimental results. and 6 mm respectively were investigated. The first parameter is the oscillatory Reynolds number. D St = (2) 4 π xo Characteristics of mixing in continuous oscillatory flow mixing in a baffled column have received much attention in recent years from residence time distribution (Brunold et al. (1998). and each set consisting of seven baffles. However. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. The centre –to. However. and four gaps of 0. Fluid Oscillation. As a result. 1989. which describes the intensity of oscillation applied to the column. characterizing the mixing performance in the so-designed column is important before applying in the industries. 4. the objectives of current study are to investigate the mixing time in batch oscillatory flow mixing in a baffled column and to propose a correlation for mixing time.. The oscillating fluid motion interacts with each baffle to form vortices. and gap size between baffles and column. St. however. Numerical simulation of oscillatory flow in the column has also been performed to study flow patterns in the device. Therefore. Therefore. and a stainless steel bellows. The diameter of the baffle is 94 mm and each baffle has a central hole with a 50 mm diameter. 1989). the characteristics of mixing in batch oscillatory flow mixing in the column by mixing time have not been investigated well. The amplitude oscillation was measured by noting the displacement of the liquid level at the surface. Mixing time was determined using tracer concentration measurements. the mixing time increased with gap size between baffles and column. Dickens et al. efficient mixing in the column depends on many factors such as geometrical configuration and operating conditions. The fluid mechanics of oscillatory flow in a baffled column is controlled by the geometrical configuration of the baffles and two dimensionless parameters.peak oscillation amplitudes of 1-4 mm can be obtained by adjusting of the rod linking the bellows and the drive unit. University of North Sumatera Abstract: The investigation of mixing time and flow pattern to characterize oscillatory flow mixing was conducted in a vertical baffled column. 94 mm in internal diameter and 1200 mm in height. 2.THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN Department of Chemical Engineering. EXPERIMENTALS AND METHODS A schematic diagram of the experimental apparatus is shown in figure 1. A number of baffles setup made of polycarbonate were used. The tracer used was a KCl solution of 4 M which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both Taslim 69 . Its top is open to the atmosphere. Keywords: Equilibrium Concentration. However. Flow Pattern. Gap Size INTRODUCTION Oscillatory flow in baffled columns has been reported in numerous publications as a promising method to enhance mixing in columns. Tracer concentration measurements were used to determine mixing time. The basic mechanism of mixing in the column is to induce oscillatory motion of the fluid. Preliminary study of mixing time has been reported by Ni et al. The tracer used was a KCl solution which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both the top and the bottom sampling ports. Consequently mixing capability is enhanced in both directions (Brunold et al. Reo. measuring effective eddy propagation. The baffles were inserted into the column.

Columns Do 1.9 0. vigorous vortices occur in the space between two baffles and consequently uniform mixing could be achieved. this limiting its growth as shown in figure 5. As the volume of the tracer is known.e.9 0.3 0. No. When liquid oscillation and push-fit baffles were present in the column. The presence of the gap between baffles and column causes the change of mixing mechanism and it reduces the intensity of vortex formation.5 1. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. Tracer Concentration Against Time for Push-Fit Baffles at f=1 Hz. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Push-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm 70 . Schematic Diagram of The Oscillatory Baffled Column In this work. 1. which mean that the overall mixing time appear to be better for the push-fit than the loose-fit condition. The vortex formed at the rear of the baffles is entrained by the flowing of the liquid through the gap.2 0. D≈Db (b). D>Db Figure 1. Figures 2 and 3 show concentration profile during the experiments under oscillatory condition. the time required for the overall concentration of the fluid to reach an arbitrary percentage of its final equilibrium value (Harnby 1992). It can be seen that the change of tracer concentrations in pushfit is faster than loose-fit. i.0 0 100 200 bottom concentration top concentration equilibrium concentration 300 400 500 600 Time (s) Figure 3. x 100 (M) 1. the mixing time was measured as the time required for the response curve to reach 99% of the final value and remain within the limit. Similar profiles also achieved in figure 3.6 0. As a result. Figures 4 and 5 are the oscillatory flow patterns in the column obtained from numerical simulation. and xo=2 cm Db Gap size D (a).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. shorter time was required to achieve equilibrium concentration in the presence of push-fit baffles.2 0. Figure 2 shows that both concentration curves quickly converged to an equilibrium concentration. 4 Oktober 2006 Tracer conc.0 mixing time bottom concentration top concentration equilibrium concentration 0 80 160 240 320 400 Supporting rods Baffle spacing Time (s) Figure 2. Tracer Concentration Against Time for Loose-Fit Baffles at f=1 Hz and xo=2 cm downstroke upstroke Figure 4.6 0. x 100 (M) the top and the bottom sampling ports. Push-fit.3 0. can be calculated from a mass balance as follows: Vinitial Cinitial + Vinjection Cinjection = Vfinal C∞ (3) RESULTS AND DISCUSSION Mixing time experiments with push-fit baffles was first carried out to establish a basis for comparison of experimental runs with loose-fit baffles at the same operational conditions. the equilibrium concentration.5 mixing time Tracer conc. Loose-fit. but longer time is needed to achieve an equilibrium concentration. The time dependent flow simulation was based on Navier-Stokes model using Femlab (Taslim & Takriff 2003). C∞.

71 .5 Reo0.6 0. These runs were carried out for a range of oscillation amplitude and fixed oscillation frequency at various gap size. However.5 0. Mixing Time Against Reo at Various Gap Size. At higher oscillation amplitudes. the liquid motions are displaced further at each stroke. as a result lower mixing times were obtained.4 0. the flow in each space between two baffles becomes chaotic. resulting vigorous vortices in the space between two baffles.2 0. and f = 1 Hz As can be seen in figure 7. Figure 6 shows mixing time againts Reo at fixed oscillation amplitude and various gap sizes. CORRELATION In this study. the tracer will rapidly mix with the bulk liquid in the column to reach an equlibrium concentration giving shorter mixing time. At a fixed St. which leads to enhancement in mixing. Similar results were also obtained by Ni et al.The Investigation of Mixing Time and Flow Patern… Taslim 450 Mixing time (s) 375 300 225 150 75 0 0. Oscillation amplitude expressed as St has strong effect on mixing time as shown in figure 7. Mixing Time Against St at Various Gap Size.1 0. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Loose-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm The effect of oscillation frequency on mixing time was also investigated. Oscillation velocity expressed as Reo has significant effect on mixing time. In the range tested. The mixing time increases with gap size at constant oscillation frequency and amplitude. The experiments with liquid oscillation were conducted for a range of oscillation frequencies and fixed oscillation amplitude at various gap size. the gapsize limits the mixing efficiency.0 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm 0. mixing time increases with St (or decreases with oscillation amplitude). mixing time also increases with gap size in the range used.91 D*5. However. dimensionless mixing time (tm*) was correlated as a function of Reo. It can be seen that the mixing time decreses with Reo in the range studied. St and dimensionless diameter (D*) and could be expressed in a general form as follows: tm* = a Reob Stc D*c (4) The present data were fitted with equation (4) to give: tm* = 4. a column diameter of 50 mm was used in their experiments. Lower mixing times reflex better mixing in the column. and xo= 2 cm Several experimental runs were performed to determine the effect of oscillation amplitude on the mixing time.7 Downstroke upstroke Figure 5.46 St0. CONCLUSION The experimental results describes in this paper show that the oscillation frequency and amplitud. the intraction between liquid oscillation and baffles more significant. this correlation is the only one that has been developed for mixing time in oscillatory flow in a baffled column. and gap size between baffles and column appear to be the controlling parameters which dictate the mixing efficiency in the oscillatory baffled column. 450 375 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm Figure 7. (1998) for various orifice (baffle inner) diameters.1 (5) Untill now.8 Mixing time (s) 300 225 150 75 0 0 5000 10000 15000 20000 25000 Reo 30000 Figure 6. At higher Reo. St 0.3 0. This figure displays mixing time versus St at fixed oscillation frequency and various gap size. Under this condition. the mixing time decreases with oscillation frequency and amplitud. This phenomenon causes the tracer quickly mixes with bulk flow in the column to reach an equilibrium concentration.

1/s Reo Oscillatory Reynolds number St Strouhal number tm Mixing time. Experimental Observations on Flow Patterns and Energy Looses for Oscillatory Flow in Ducts Containing Sharp Edges. March 13-15.. 1998 A Systematic Study of the Effect of Geometrical Parameters on Mixing Time in Oscillatory Baffled Columns. 44 (5): 1227-1244. A. The author also would like to thank Assoc. 2nd Edition. Chem. s tm* Dimensionles mixing time (tm. X. Trans IChemE.D. m Do Baffle hole diameter.F. and Wilson. Eng.. A.R.. REFERENCES Brunold. Universiti Kebangsaan Malaysia. for the use of Femlab software. Dr. m ρ Density of liquid.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. M. 48: 3293-3305. Batam. M.W. Struthers. Process Innovation Using Oscillatory Flow Within Baffled Tubes. M.W. 76(A): 635-642.. Sci.R.C. Dickens. Conf.R. Indonesia. Ministry of National Education of Indonesia for providing financial support. 72 . Bennett . rad/s ACKNOWLEDGEMENT The author would like to thank the DP2M. Mackey. 4 Oktober 2006 NOMENCLATURES C Tracer concentration. Mixing in the Process Industry.R. on Numerical Analysis in Engineering. N. 1989. Trans IChemE. Harnby. C. pp. and Ni. Numerical simulation of oscillatory flow in a baffled channel. m D* Dimensionless diameter (D/Db) f Frequency.. and Thomson. Eng.W.. 1992.C. Experimental Residence Time Distribution Measurements for Un-Steady Flow in Baffled Tubes.. X.. No. M. M. Mackley.. m3 xo Oscillation amplitude. William. Chem. S.8-27 – 8-33. A. Mackley. Shahrir Abdullah from Department of Mechanical and Material Engineering. Taslim and M. m Db Baffle outer diameter.S. 69(A): 197-199.. Sci. Ni. M D Colum diameter. Brogan.. Takriff. Sci. Experimental Fluid Dispersion Measurements in Periodic Baffled Tube Arrays. J.. and Nienow. H. Oxford: Butterwort-Heinemann Ltd. kg/m3 μ viscosity of liquid.s) ω Angular frquency (2πf). The 3rd Int.B. 2003. Eng. 1989.f) V Tracer volume. kg/(m. Directorate General of Higher Education. 1991. Chem. Mackey. Hunn. G. 1993.F. Prof. Edward.R.R. and. 2003. J. 44 (7): 1471-1479.

strategy is a pattern of main action determined to realize the vision of organization through the mission. persaingan antar perusahaan. Analytical Hierarchy Process (AHP). This study intends to determine a proper strategy to be implement by the company by analyzing the internal and external factors influencing on operation. III. Untuk dapat memenangkan persaingan tersebut. LANDASAN TEORI III. The formulation of operation strategy using a Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) was done through application of the decision making method. yaitu strategi operasi. maka diperlukan suatu strategi di tingkat fungsional. PT Growth Pamindo dalam operasinya belum menggunakan strategi operasi apapun. dan mengevaluasi keputusan antarfungsional dalam mencapai tujuan organisasi.PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO Ukurta Tarigan Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. Membantu perusahaan dalam mengambil langkah-langkah operasinya dengan menggunakan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Analytical Hierarchy Process (AHP) for the experts of company. serta peluangpeluang yang dapat dimanfaatkan. c. Kata kunci: Analisis Internal dan Eksternal Operasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi-strategi yang akan dijalankan dalam rangka pengembangan perusahaan dengan menganalisis faktorfaktor eksternal dan internal yang mempengaruhi operasi. Strategi operasi seharusnya menghasilkan suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan suatu keunggulan bersaing bagi perusahaan. Strategi operasi adalah suatu visi fungsi operasi yang menetapkan keseluruhan arah atau daya dorong untuk pengambilan keputusan. kemudian membuat matriks-matriks analisis dan merumuskan strategi operasi yang akan dijalankan perusahaan. Universitas Sumatera Utara Abstrak: Dalam dunia bisnis. PENDAHULUAN PT Growth Pamindo merupakan perusahaan yang memproduksi pipa ductile. and Analytical Hierarchy Process (AHP) I. Dengan diproklamirkannya era perdagangan bebas. terutama dengan telah disepakatinya aturan perdagangan bebas yang mulai berlaku tahun 2003 (AFTA). yaitu ancaman-ancaman yang sedang dihadapi oleh operasi tersebut. and then making the analytical matrixes and formulating the operation strategy to be implemented by the company. II. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) dilakukan melalui penerapan metode pengambilan keputusan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk para ahli dalam perusahaan. keuangan/akuntansi. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). dan sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi. 73 . maka PT Growth Pamindo harus meningkatkan kemampuan bersaingnya antara lain dengan menerapkan strategi operasi dengan memperhatikan faktor-faktor internal operasi yakni memperkecil kelemahan dan bersamaan dengan itu.1 Definisi Manajemen Strategi dan Manajemen Operasi Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam formulasi. meningkatkan kekuatan yang ada. implementasi. Keywords: Internal and External Analysis. Where as operation strategy is a pattern of making an operational decision which is consistent and it is a competitive superiority for the company. dan antar bisnis dalam bidang tertentu semakin ketat. Selama ini. penelitian dan pengembangan. antar industri. Abstract: In business sphere. Sebagai implikasi dari definisi tersebut. b. diharapkan dapat berguna untuk: a. manajemen strategis mempunyai fokus pada mengintegrasikan manajemen pemasaran. TUJUAN PENELITIAN Perumusan strategi operasi ini. Menganalisis kekuatan-kekuatan dan kelemahankelemahan internal operasi serta posisi relatif operasi dalam industri yang bersangkutan. Dewasa ini. Faktorfaktor eksternal juga merupakan bagian yang harus diperhitungkan agar strategi operasi yang dirumuskan nantinya dapat mengantarkan PT Growth Pamindo mampu memenangkan persaingan. produksi/operasi. Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh operasi. Sedangkan strategi operasi adalah suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan. strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi.

Diagram Formulasi Strategi 74 . Diagram formulasi strategi dapat dilihat pada gambar 1. bidang teknologi dan bidang kompetitif. b. TAHAP I: THE INPUT STAGE External Factor Internal Factor Evaluation (EFE) Matrix Evaluation (IFE) Matrix TAHAP II: THE MATCHING STAGE Strengths Weaknesses Internal-External (IE) Opportunities Threaths Matrix (SWOT) Matrix TAHAP III: THE DECISION STAGE Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) Gambar 1. kemudian dihitung bobotnya melalui perhitungan dengan mengikuti langkah-langkah perhitungan AHP. Pembuatan External Evaluation Matrix (EFE) Matrix. pemerintahan. No. dan Cleveland (1986) telah mendefinisikan bahwa strategi operasi terdiri dari misi. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis internal. Strategi ST. 4 Oktober 2006 Schroeder. III. IV. Pembuatan Internal-External (IE) Matrix.Tahap penyesuaian: pembuatan SWOT Matrix.2 Proses Formulasi Strategi Proses formulasi strategi terdiri dari: . V.2. di mana masing-masing sel memiliki strategi masing-masing. III. PENGOLAHAN DATA Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner AHP. proses. Langkah-langkah dalam tahap penyesuaian ini adalah: a. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi peluang dan ancaman utama. Tujuan dari analisis eksternal (external audit) adalah membuat daftar ancaman-ancaman dan peluang-peluang yang akan dihadapi perusahaan. bidang sosial budaya. sediaan. dan IFE Matrix . demografi.2 Tahap Input Pada tahap input ini.1 Analisis Awal Analisis awal merupakan analisis data internal dan data eksternal perusahaan. Sehingga diperoleh bobot untuk faktor internal dan eksternal operasi sebagaimana tercantum pada tabel 1 dan 2. Pembuatan Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix. Strategi WO.2. Analisis internal ini meliputi. Tujuan dari analisis internal (internal audit) adalah membuat daftar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kunci internal perusahaan. b. dilakukan beberapa langkah yaitu: a. dan identifikasi faktor kunci persaingan (key success factor) .4 Tahap Keputusan Pada tahap keputusan ini digunakan teknik analisis dengan pendekatan kuantitatif yakni Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). sasaran.2. bidang politik. Anderson. yang memposisikan berbagai dimensi organisasi dalam sembilan sel. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis eksternal.3 Tahap Penyesuaian Informasi yang diperoleh dari ketiga matriks pada tahap input sebelumnya digunakan sebagai informasi input dasar pada tahap penyesuaian. kapasitas. III. Data mengenai lingkungan internal dan ekternal operasi 2.Tahap keputusan: Pembuatan QSPM. dan kebijakan. Keempat komponen ini membantu untuk menentukan apakah tujuan yang harus dicapai dapat membantu mengarahkan pengambilan keputusan pada semua tahap operasi. dan hukum.Analisis awal: analisis data eksternal-internal. dan lingkungan alam.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.Tahap input: pembuatan EFE Matrix. dan Strategi WT. III. mutu dan tenaga kerja. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi yang terbaik. PENGUMPULAN DATA Adapun data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah: 1. Data kuesioner pembobotan untuk masingmasing faktor internal dan eksternal dengan menggunakan AHP kepada para ahli (experts) di perusahaan. III. 3. Analisis lingkungan eksternal meliputi: bidang ekonomi. Pembuatan Strengths-Weaknesses-OpportunitiesThreats (SWOT) Matrix. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan utama. dan IE Matrix .2. merupakan salah satu alat yang penting untuk membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: Strategi SO. Data tingkat kepentingan untuk masing-masing faktor intenal dan eksternal dengan menggunakan skala likert. keunggulan khusus.

1.1192) Diberlakukannya era perdagangan bebas. 75 .5) Ancaman (0. Strategi yang muncul pada posisi ini adalah strategi mempertahankan dan memelihara dalam hal ini berupa pengembangan produk. Gambar Matriks IE untuk operasi PT Growth Pamindo dapat dilihat pada gambar 2.5) Tabel 2.2092) Daya beli masyarakat rendah (0. Penentuan Bobot Faktor Internal Operasi Faktor Internal Sub faktor Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi (0. strategi ST.2256) Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain (0.2.0818) Aplikasi teknologi informasi dalam pengambilan keputusan operasional (0.0872 0.0471 Kekuatan (0.1108) Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah Tingginya harga produk Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Bobot 0. yaitu AFTA dan APEC (0.0754 0. sosial budaya.0620 0.0875 0.1131) Jaminan mutu ISO 9001:2000 (0. V.0643 0.1383 0.0566 0. ditujukan untuk memunculkan beberapa strategi yang mungkin dilakukan berdasarkan faktor internal dan eksternal operasi.0875) Tidak ada penumpukan barang dalam proses (0. dan persaingan.2765) Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal (0. di mana masing-masing sel memberi strategi yang berbeda.1 Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Matriks IFE ini meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam bidang operasi perusahaan. Internal-External (IE) Matrix Dari gambar 2 diperoleh posisi operasi PT Growth Pamindo adalah pada sel V.1507) Pengiriman barang berjalan lancar (0.0409 0. politik.0818 0.5) Kelemahan (0.1046 0.1637) Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material (0. dan strategi WT. didapat 10 alternatif strategi.0898 0. V.1795) Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih (0.1229 0.2 External Factor Evaluation (EFE) Matrix Matriks EFE berisikan ringkasan dan evaluasi informasi ekonomi. yaitu sebagaimana terlihat pada tabel 5.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan Tabel 1. strategi WO.1 Internal-External Matrix Matriks IE dibagi menjadi 9 sel.2 Strengths-Weaknesses-Opportunities-hreats (SWOT) Matrix Dalam matriks SWOT ini akan dihasilkan empat tipe strategi yaitu strategi SO.0422 0. Matriks EFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 4.2092) Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional (0.2.0875 Peluang (0.1038) Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain (0. V.0843) Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi (0.1421 0.2 Tahap Penyesuaian Dalam tahap penyesuaian ini.0596 0.0519 0. Dari Matriks SWOT. Gambar 2. teknologi.1. Tahap Input V.1694) Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan (0.1128 0.1.1259 0. Penentuan Bobot Faktor Eksternal Operasi Faktor Eksternal Sub faktor Lokasi perusahaan yang strategis (0.1359 0.0438 0. Matriks IFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 3.1751) Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan (0. hukum.2717) Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil (0. pemerintahan.1287) Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi (0. V.0554 0.1749) Bobot 0.0847 0.5) V.

0875 0.340. Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material Jumlah Bobot 0.0566 0. Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan 3.2694 0.7924 Bobot 0.2454 0.0942 2.0409 0.5532 0.3 Tahap Pemilihan Keputusan Setelah mendapat 10 alternatif strategi dari SWOT.0875 1.2518 0.1421 0.2842 0.0620 0.2256 0. Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil 5.1752 0.2541 0.1750 0. Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain 7.0847 0.1266 0. Lokasi perusahaan yang strategis 2.1698 0.1383 0.1636 0. Mengadakan pelatihan bagi karyawan 7.1259 0.1128 0.0519 0. Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih 5.1929 0. Untuk mendapat satu strategi terpilih sebagai dasar perumusan strategi operasi.0898 0. Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Jumlah Tabel 4.0596 0.0471 1. yaitu AFTA dan APEC 3.1788 0.00 Nilai 4 4 3 4 4 3 4 2 2 1 2 2 Kekuatan 1.1229 0. Tidak ada penumpukan barang dalam proses 4.0438 0.0620 0.1046 0. strategi yang terpilih adalah strategi 1 yaitu mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Faktor Internal Operasi Dari QSPM yang telah dibuat.1557 0.2216 0.2718 0. Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan 5. Daya beli masyarakat rendah 2. Diberlakukannya era perdagangan bebas. Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional Ancaman 1. Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah 4. No. Tingginya harga produk 5. Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi 6. Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain 4. maka alternatif strategi ini akan dipilih dengan QSPM.2092 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strategi Mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga Melakukan riset pasar untuk mengambil keputusan-keputusan operasi untuk mengisi pasar global Mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan produk yang sudah ada Memanfaatkan CAD/CAM dalam melakukan pengembangan produk Bekerjasama dengan bagian pemasaran untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap perilaku pembeli dan kebutuhan pasar sebagai dasar untuk pengembangan produk Memperbaiki dan mempertahankan kualitas produk lama Menerapkan system persediaan dengan memanfaatkan teknologi informasi Meningkatkan pengetahuan karyawan bagian operasi untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi Melakukan kerjasama dengan pesaing untuk melakukan sinergi untuk memenangkan tender dan merebut pasar Melakukan motivasi terus menerus untuk menciptakan brand image 76 .0643 0.2616 0.0422 0. Alternatif Strategi dari SWOT No. 4 Oktober 2006 V.0818 0.1750 2. Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya 2. Nilai yang Dibobot 0. Tabel 3.0872 0.0554 0. Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi 2. Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi 4.1359 0. External Factor Evaluation (EFE) Matrix Faktor Internal Operasi Peluang 1.0754 0.3016 0. Jaminan mutu ISO 9001:2000 Kelemahan 1. Aplikasi teknologi operasi dalam pengambilan keputusan operasional 6.000 Nilai 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 Nilai yang Dibobot 0.2458 0. Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal 3.4717 Tabel 5.

sediaan. juga dengan penggantian tersebut bahan baku baru dengan komposisinya yang sedemikian rupa harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang sama namun secara keseluruhan lebih efisien dalam penggunaannya. mengandung komponen-komponen yang menyangkut strategi efisiensi produksi dan pengembangan produk agar dapat memenangkan persaingan.Tetap mempertahankan penggunaan alur peoses lini.Untuk menekan biaya penyimpanan. Pernyataan misi operasi diatas. .Dengan menerapkan otomatisasi fleksibel maka cukup dilakukan spesialisasi tingkat rendah. . akan disusun suatu strategi operasi yang didasari oleh strategi terpilih pada tahap pemilihan keputusan dengan QSPM. .Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan VI. VI. tenaga kerja dan mutu) agar dapat bersaing dalam harga. .Perusahaan harus melakukan penilaian yang objektif terhadap staf dan pegawai. Kebijakan Operasi Kebijakan operasi menjelaskan bagaimana sasaran operasi akan dapat dicapai. perlu dilakukan sentralisasi gudang. Growth Pamindo harus dikembangkan untuk mengefektif dan mengefisienkan setiap kategori keputusan (proses. . . dan menerapkan reward dan punishment untuk meningkatkan kedisiplinan karyawan. sehingga proses dapat berjalan sesuai urutan.Tidak melakukan investasi baru. Sasaran Operasi Secara umum. VI. 77 . C.2 Keunggulan Khusus PT Growth Pamindo dalam operasionalnya selama ini.Mempertahankan lokasi yang ada. kapasitas.3. Kebijakan operasi tersebut yang dapat dipertimbangkan untuk jangka 5 tahun kedepan adalah sebagai berikut: A. dirumuskan sebuah misi operasi sebagai berikut: “PT Growth Pamindo akan memproduksi pipa ductile untuk kebutuhan nasional dan internasional dengan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik yang didukung oleh SDM professional agar perusahan tetap dapat berkembang dan senantiasa mengembangkan produknya agar memuaskan para pengguna serta pihak terkait dengan harga sebanding dengan nilai produk yang ditawarkan”. Kebijakan operasi PT. Kapasitas . Proses .Mencari bahan baku lain sebagai pengganti dari yang digunakan sekarang di samping mengingat harganya yang terus mengalami kenaikan.Perlu dilakukan rekrutmen dan mutasi dari staf dan pegawai yang telah ada untuk penempatan yang tepat dalam mendukung efektivitas dan efisiensi operasi.1 Penetapan Misi Operasi Dari strategi terpilih. pengiriman.Otomatisasi dan spesialisasi memungkinkan dilakukannya pengawasan sentral. sasaran operasi yang mungkin adalah: harga. B. harus ditetapkan misi operasi sedemikian sehingga operasional perusahaan dapat berjalan. VI. Tenaga Kerja . Sediaan . mutu. karena lokasi ini cukup strategis dengan area memadai untuk mendukung operasi karena memberi kemudahan arus masuk bahan baku dan kelancaran arus keluar produk. Perlu dilakukan pengendalian sediaan yang terinci dengan tetap memperhatikan sediaan minimum. dan fleksibilitas. ANALISIS Dalam sub bab analisis ini. Dengan tidak melakukan investasi baru juga berarti mengurangi biaya produksi dari sisi penyusutan aset.Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan otomatisasi fleksibel yang telah dimiliki. . VI. sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan untuk turut menekan biaya produksi. berkembang dan berkesinambungan. penetapan keunggulan khusus. dan menggunakan peralatan pemindahan bahan sehingga dapat menekan biaya perpindahan dan meminimalkan kendala akibat kesalahan pekerja. penetapan tujuan operasi dan penetapan kebijakan operasi yang dibuat berdasarkan strategi terpilih. Mereka benar-benar memelihara keunggulan khusus tersebut dengan senantiasa memperbaharui sistem produksi secara periodik. hal ini bisa dicapai melalui survei kepuasan pegawai. . karena fasilitas yang ada sekarang masih dapat dioptimalkan. karena masih mampu memenuhi order tepat pada waktunya. Untuk itu. Dalam penyusunan strategi operasi.Melakukan sediaan tingkat rendah (low inventory level). . mempunyai teknologi yang cukup baik sehingga mampu menghasilkan kualitas produk yang sangat baik. yaitu penetapan misi operasi.4. Untuk hal ini dibutuhkan kerjasama antara unit operasi dengan bagian R&D. .Mempertahankan fasilitas yang ada. dilalui 4 langkah. D.Secara periodik perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan pegawai yang pada umumnya dari pendidikan menengah.SDM harus dipandang sebagai aset penting perusahaan yang perlu dipelihara motivasi dan dedikasinya tanpa memberi beban ekstra bagi biaya operasional.

Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. 1998. Umar. 3. VII. Penerbit: PT Raja Grafindo Persada. Dengan demikian. Untuk memudahkan dilakukannya penelitian ke depan. No.G. University of Pitsburgh terjemahan Liana Setiono. Jakarta.. Nilai untuk matriks IFE adalah 2. 78 . keunggulan khusus. Dari matriks QSPM.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah: 1. Edisi Ketiga. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing.. DAFTAR PUSTAKA David. Jakarta. Jakarta. 1994. Edisi Ketujuh. Sedangkan nilai matriks EFE adalah 2. Penerbit Erlangga. dengan strategi pengembangan produk. Penerbit: PT Prenhallindo. Manajemen Operasi: Pengambilan Keputusan dalam Suatu Fungsi Operasi. 2002. Fred. 1993. Saaty. 1993. sasaran operasi dan kebijakan-kebijakan operasi VII. Terjemahan Agus Maulana. Roger. 2. Husein. Porter. Harvard Bussiness School. Manajemen Strategis: Konsep.2 Saran Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah: 1. posisi operasi perusahaan berada pada sel V dari matriks IE. strategi terpilih adalah mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. yang bila perlu dengan menyempurnakan working procedure maupun working instructions dari yang tercantum dalam dokumen ISO. diharapkan pihak perusahaan dapat lebih melengkapi/mencukupi data pendukung yang diperlukan. 2. Kualitas .. KESIMPULAN DAN SARAN VII. Dari strategi terpilih pada tahap QSPM. Thomas L.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Michael E. 4 Oktober 2006 E. perusahaan dapat memproduksi dan mengembangkan produk pipa ductile yang mampu memenuhi spesifikasi tertentu yang diharapkan dengan memanfaatkan berbagai keunggulan kompetitif yang ada pada internal perusahaan dengan berfokus kepada penekanan biaya produksi melalui penggunaan bahan-bahan baku baru yang berasal dari sumber bahan baku baru yang memberikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu memenangkan persaingan. Dalam menghadapi persaingan.47 yang berarti juga operasi perusahaan memiliki kemampuan rata-rata dalam menghadapi lingkungan eksternalnya..79 yang berarti operasi perusahaan memiliki kemampuan ratarata dalam segi internal.340.R. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo Schroeder.Melakukan evaluasi rutin berjangka pendek terhadap seluruh proses mulai dari penerimaan bahan baku hingga ke produk jadi. dibuat suatu strategi operasi yang terdiri dari misi. Penerbit: PT Erlangga. .Perusahaan harus menetapkan standar minimum kualitas bahan baku dan melakukan seleksi terhadap pemasok yang mampu memenuhi spesifikasi (standar minimum kualitas) tersebut dengan harga yang menguntungkan.

PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN
Mangara M. Tambunan
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: Varieties of new motor bike in the market creates a tight competition and makes consumer has his/her own choice to a specific brand. Motor bike it self gives a value to the company or customer in the forn of brand equity. The research calculated four brand equity dimension; such as brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyality. The objective of the research is to know motor bike associations of Honda Karisma and Suzuki Shogun 125 R, which become the surplus to be used in marketing strategy. Data collections is done by judgment sampling using minimum of 50 questionnaires for both motor bike and data collected is done in the formal service workshop. Preliminary questionnaires result from 40 respondents shows there are 4 % associations needed by consumer to the type of motor bike. From the analysis, Honda Karisma is in top of mind-brand awareness position of 57.14% there is 4.08% of consumer does not know Suzuki Shogun 125 R. Honda Karisma has 28 associations and Suzuki Shogun 125 R has 42 associations. In perceived quality, Honda Karisma and Suzuki shogun 125 R have 9 associations need to be improved. Suzuki shogun 125 R has Loyality level of 51.020% and Karisma has 22.449%. Game Theory shows the strategy used by both companies is pure strategy where Honda karisma uses “formal workshop availability strategy” and Suzuki Shogun would use “economical in fuel consumption strategy” Keywords: Game Theory, Brand Equity 1. PENDAHULUAN 1.2 Permasalahan Mengetahui ekuitas merek (kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek) sepeda motor bebek buatan Jepang untuk menerapkan strategi yang tepat untuk memenangkan pangsa pasar. 1.3 Batasan Masalah 1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor jenis bebek, buatan Jepang dengan volume silinder 125 cc dan tipe mesin 4 langkah, yang beredar di kota Medan. 2. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 3. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 4. Pengambilan sampel dilakukan di tempat service tiap jenis merek sepeda motor, yang merupakan bengkel resmi yang paling banyak dikunjungi konsumen. 5. Pengumpulan data dilakukan pada bulan AprilMei 2005. 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Munculnya produk-produk sepeda motor baru yang beraneka ragam dalam pasar mengakibatkan persaingan sehingga konsumen mempunyai penilaian sendiri terhadap merek yang beredar di pasaran. Peningkatan penggunaan sepeda motor ini juga terjadi di kota Medan dengan jumlah sepeda motor yang terdaftar untuk tahun 2003 sebanyak 1.300.995 dari 1.979.340 jiwa penduduk kota Medan. Jumlah sepeda motor terdaftar di Polda Sumatera Utara Seksi Lalu Lintas, tahun 1995-2003 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Jumlah Sepeda Motor Terdaftar Tahun 1995-2003 Sepeda Motor No. Tahun (Unit) 1. 1995 619.346 2. 1996 689.868 3. 1997 769.759 4. 1998 798.828 5. 1999 821.862 6. 2000 873.452 7. 2001 952.361 8. 2002 1.084.051 9. 2003 1.300.995 Persaingan ini juga terjadi untuk sepeda motor bebek, dengan tingkat penjualan mencapai 90% dari total keseluruhan jenis/model sepeda motor.

2.1 Ekuitas Merek Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, keduanya mesti berhubungan dengan nama atau simbol sebuah merek. Jika nama dan

79

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

simbol merek diubah, beberapa atau semua aset atau liabilitas bisa dipengaruhi dan mengalami kerugian, kendati beberapa di antaranya sudah dialihkan ke nama dan simbol baru. Menurut David. A. Aaker, aset dan liabilitas merek dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu: 1. Kesadaran merek (brand awareness) 2. Asosiasi merek (brand asosiation) 3. Persepsi kualitas merek (brand perceived quality) 4. Loyalitas merek (brand loyalty) 5. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets) Konsep ekuitas merek ini dapat ditampilkan pada gambar 1, yang memperlihatkan kemampuan ekuitas merek dalam menciptakan nilai bagi perusahaan atau pelanggan atas dasar lima kategori aset yang telah disebutkan. 2.2 Teori Permainan (Game Theory) 2.2.1 Permainan Dua-Pemain Jumlah-Nol (TwoPerson Zero-Sum Games) Permainan atau persaingan yang melibatkan hanya dua pemain atau dua pihak disebut permainan dua orang. Karena perolehan dari satu pemain menjadi derita bagi pemain lain, dan karena itu jumlah perolehan kedua pemain adalah nol, maka disebut permainan imbang (zero sum). Tiap pemain mempunyai sejumlah pilihan atau tindakan yang dapat dipergunakan dalam permainan. Tiap pilihan atau tindakan disebut strategi.
Brand awareness Brand loyalty Perceived quality Brand association
Other proprietary brand assets

Stategi optimal untuk pemain I ialah baris yang sesuai dengan harga: Max {Pi} = max [ min {H(i,j)} ] = V i i j i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria maksimin. Untuk pemain II, misalkan Pj derita maksimum dari tiap tindakan bj, maka : Pj = max {H(i,j)}, i = 1,2,...,n i Strategi optimal untuk pemain II adalah kolom yang sesuai dengan harga: Min {Pj} = min [ max {H(i,j)} ] = V j j i i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria minimaks. Dan strategi bersih maksimin/minimaks disebut strategi maksimin/minimaks optimal. Bila kedua pemain menggunakan strategi minimaks optimal, maka hasil perolehan rata-rata disebut harga dari permainan. Bila strategi minimaks adalah strategi bersih, maka perolehan rata-rata (diharapkan) adalah harga dari titik pelana. 3. METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut: a. Menentukan latar belakang penelitian b. Menentukan perumusan masalah dan tujuan penelitian c. Menentukan ruang lingkup penelitian d. Perancangan metode pengumpulan data - Studi literatur - Kuisioner pendahuluan - Identifikasi variabel penelitian Variabel demografi Variabel kesadaran merek Variabel asosiasi merek Variabel persepsi kualitas Variabel loyalitas merek - Perancangan kuisioner sebagai alat Pengumpul data - Penyebaran kuisioner - Pengujian kuisioner Uji reliabilitas kuisioner Uji Cochran e. Pengumpulan data f. Pengolahan data - Pengolahan data tahap I. Pengolahan data kuisioner pendahuluan, untuk menghasilkan atribut-atribut pertanyaan pada kuisioner penelitian. - Pengolahan data tahap II a. Variabel demografi b. Variabel kesadaran merek c. Variabel asosiasi merek d. Variabel persepsi kualitas e. Variabel kesetiaan merek

Brand equity

Memberikan nilai kepada pelanggan dengan memperkuat : a. Interpretasi/proses informasi. b. Rasa percaya diri dalam pembelian

c. Pencapaian kepuasan dari
pelanggan

Memberikan nilai kepada perusahaan dengan memperkuat : a. Efisiensi dan efektivitas program pemasaran b. Loyalitas merek c. Harga/laba d. Perluasan merek d. Peningkatan perdagangan e. Keuntungan kompetitif

Gambar 1. Konsep Ekuitas Merek 2.2.2 Kriteria Maksimin-Minimaks Persoalan ini dapat dibentuk dalam suatu model matematika sebagai berikut: Misalkan Pi perolehan minimum dari tiap tindakan Ai oleh pemain I, sehingga: Pi = min {H(i,j)}, j = 1,2,...,n j

80

Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Tambunan

- Pengolahan data tahap III. Menyusun strategi permainan untuk perusahaan dan dengan perusahaan pesaing berdasarkan peta persepsi multi dimensional scaling. Data yang digunakan adalah data persepsi konsumen, dengan membentuk matriks payoff dan diselesaikan dengan program linier. g. Analisis hasil pengolahan data h. Kesimpulan dan saran 4. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Kuisioner penelitian disebar di dua bengkel resmi, yaitu AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) yang terletak di Jln. Sisingamangaraja No. 362 dan bengkel resmi Suzuki yang terletak di Jln. Adam Malik No. 101, dengan perincian yang ada pada Bab IV. Responden pada kuisioner penelitian adalah pengguna Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R, masing-masing merek memiliki 49 kuisioner. Pengolahan data untuk kuisioner penelitian, dibagi atas lima bagian, yaitu: a. Pengolahan untuk Variabel Demografi Tabel 2. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pria Wanita Merek Orang % Orang % Honda 41 83.673 8 16.327 Suzuki 40 81.633 9 18.367 Tabel 3. Profil Responden Berdasarkan Usia Honda Suzuki Tingkat Usia Orang % Orang % Kurang 16 thn 0 0.000 0 0.000 16 - 25 thn 17 34.694 16 32.653 26 - 35 thn 19 38.776 27 55.102 36 - 45 thn 10 20.408 6 12.245 Lebih dari 45 thn 3 6.122 0 0.000 Tabel 4. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Honda Suzuki Tingkat Pendidikan Orang % Orang % SD 0 0.000 0 0.000 SLTP 2 4.082 0 0.000 SLTA/sederajat 22 44.898 22 44.898 Diploma 7 14.286 17 34.694 Sarjana (S1) 18 36.735 10 20.408 Lain-lain 0 0.000 0 0.000

Tabel 5. Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Honda Suzuki Jenis Pekerjaan Orang % Orang % Pelajar/Mahasiswa 10 20.408 4 8.163 Pegawai negri 7 14.286 6 12.245 Pegawai swasta 15 30.612 14 28.571 Wiraswasta 12 24.490 20 40.816 Ibu rumah tangga 3 6.122 3 6.122 Lain-lain 2 4.082 2 4.082 b. Pengolahan untuk Variabel Kesadaran Merek

Tabel 6. Top of Mind-Brand Awareness Merek Responden (Orang) % Honda Karisma 56 57.14 Suzuki Shogun 125 R 40 40.82 Honda Kirana 2 2.04 Total 98 100.00 Tabel 7. Brand Recall of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 34 34.69 Suzuki Shogun 125 R 32 32.65 Honda Kirana 8 8.16 Tabel 8. Brand Recognition of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 4 4.08 Suzuki Shogun 125 R 22 22.45 Tabel 9. Unaware Brand of Brand Awareness Responden Merek (Orang) % Honda Karisma 0 0,00 Suzuki Shogun 125 R 4 4.08 Pengolahan untuk Variabel Asosiasi Merek Hasil pengolahan data untuk Honda Karisma menunjukkan bahwa R11 >R(0,05), (0,874 > 0.281), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Honda Karisma ini dapat diandalkan. Nilai R11 Suzuki Shogun 125 > R tabel, (0,951 >0,281), maka instrumen ini pun dapat digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Suzuki Shogun 125 R. Nilai uji Cochran untuk Honda Karisma, Q (29,369) < nilai X2(0,05;21) (32,7), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Honda Karisma memiliki brand image yang didalamnya terkandung 28 buah asosiasi (termasuk asosiasi yang dibuang pada pengujian terakhir). Nilai uji Cochran untuk Suzuki Shogun 125 R, Q (47,189) < nilai X2(0,05;40) (55,8), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Suzuki Shogun 125 R c.

81

980 S.449 51. Untuk Karisma 30. Honda menggunakan strategi H3.500 Performance 16 17 18 19 20 Perbandingan Shogun 125 R Performance-Importance Suzuki Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Memiliki kecepatan yang tinggi Kemudahan dalam perawatan Kemudahan mendapatkan spare part Harga spare part terjangkau & tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Suspensi atau shock yang bagus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontinu Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Tersedia garansi Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Kualitas rangka yang tahan banting Importance Performance-Importance Kesan Kualitas Suzuki Shogun 125 R 4.959 4. No.429 93.959 3.898% konsumen Karisma dan Shogun 125 R lulus SLTA/sederajat. Dalam pengolahan ini. Persentase di atas adalah persentase terbesar untuk setiap pertanyaan yang ditanyakan.612% konsumen adalah pegawai swasta.000 3. “Tersedia bengkel/service resmi” sedangkan Suzuki Shogun 125 R menggunakan strategi S1. untuk merek Honda Karisma 83. Pengolahan untuk Variabel Persepsi Kualitas Perbandingan Performance-Importance Honda Karisma Performance-Importance Kesan Kualitas Honda Karisma 5.980 3.S.020 4. Ini menunjukkan bahwa konsumen kedua merek tersebut didominasi oleh pria. Rekapitulasi Performance No.837 3.633%.950 4. ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL e.000 4. Berdasarkan usia. Pengolahan Game Theory Teori permainan merupakan salah satu metode untuk menghasilkan strategi dalam pemasaran. Importance Pengolahan untuk Variabel Kesetiaan Merek Tabel 10. 5.143 3.966 3.000 3.041 4.061 4.204 4.300 4.265.061 4.700 3.000 3.100 4.959 4.531 4.082 4.122 4.816% konsumen adalah wiraswasta.082 4.000 4.429 95.082 Satisfied buyer 71.000 Habitual buyer 26.102%. serta 0% untuk usia di bawah 16 tahun.265.061 4.061 4.061 4.082 3.100 4.878 Liking the brand 71. 4 Oktober 2006 memiliki brand image dengan 42 buah asosiasi (semua asosiasi yang ada pada kuisioner) yang melekat padanya.300 4.204 3. d. namun tingkat 82 .2 Analisis Brand Awareness Top of mind-brand awareness dipegang oleh Honda Karisma. Berdasarkan pendidikan terakhir 44.224 4.041 4.000 Tabel 11.500 3. Dengan demikian ditemukan strategi murni untuk Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R.000 3.900 4.061 4.980 4.959 4.776% konsumen Karisma berada pada batas 26-35 tahun dan Shogun 125 R 55. Shogun menempati urutan kedua 40. Rekapitulasi Persentase Kesetiaan Merek Merek Kesetiaan Merek Karisma (%) Shogun 125 R (%) Switcher 8.571 4. untuk kedua merek tersebut.673% adalah pria dan untuk Suzuki Shogun 125 R 81.980 4.959 3.14%.918 Committed buyer 22.1 Analisis Profil Konsumen Berdasarkan jenis kelamin.020 f. yakni 57.100 Performance Pada matriks payoff dapat diketahui bahwa matriks ini memiliki titik pelana (saddle point). 125 R 4.347 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Keterangan Nilai Rata-Rata Karisma 4.82%.061 3.020 4.163 0.041 3. dan untuk Shogun 125 R 40. 5.900 3. dengan nilai yang sama untuk maksimin dan minimaks.122 3. data yang digunakan adalah nilai rata-rata performance setiap atribut yang melekat pada Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R.200 4.286 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.400 4. 5.050 4. Ini juga didukung dari hasil pengolahan brand recall (konsumen dapat mengingat secara langsung. “Irit dalam penggunaan bahan bakar” dengan selisih nilai kepuasan konsumen yang dipertaruhkan adalah 0.959 4. 38.061 4.694 4. yaitu 0.

Ini berarti Karisma adalah sepeda motor bebek buatan Jepang dengan volume 125 cc dan mesin 4 tak yang paling diingat oleh konsumen. 23. dll.65% daan brand recognition sebesar 22. Harga spare part terjangkau dan tahan lama 16. 2. Kemudahan dalam penggunaan 17. spion.3 Analisis Asosiasi Merek Asosiasi-asosiasi yang melekat pada Honda Karisma ada 28 asosiasi (dari 24 yang diuji) yaitu: 1.69% dan 4. 16. 10. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 8.) 18. 7. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. Jangka waktu garansi yang panjang 24. 21. 32. 11. spion. 41. 20. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu 22. 18.08% konsumen yang tidak mengenal merek Suzuki Shogun 125 R. 15. Tersedia bengkel/service resmi 4. 83 . Kualitas rangka yang tahan banting 28.45%. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 9. 42. 17. 38. 26. 28. yaitu Kuadran I. 36. Memiliki kecepatan yang tinggi 11. 40. 19. Tidak ada konsumen yang tidak mengenal merek sepeda motor Honda Karisma. 37. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 3. yaitu: 1. 4. 35. 29. 25. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. 14.4 Analisis Kesan Kualitas Analisis kesan kualitas dapat dilakukan dengan melihat pada diagram cartesius performanceimportance. 13. 6. Tinggi sepeda motor yang standar 20. Memiliki rem cakram 12. 5. 34. 12. 9. Inovasi perusahaan yang terus-menerus 25. Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Asosiasi-asosiasi untuk Suzuki Shogun 125 R ada 42 buah. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 27. 24. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 23.08%. Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Body yang sportif Body yang ramping Ada tempat penyimpanan barang yang luas Warna dan jenis strip yang bervariasi & tahan lama Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Ada bonus pembelian (seperti helm dan jaket) Memiliki kecepatan yang tinggi Memiliki rem cakram Kemudahan dalam perawatan Produk tersebar luas di pasar Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli Harga spare part terjangkau dan tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. Suspensi atau shock yang bagus 19. Ada tempat penyimpanan barang yang luas 6. 30. II. 22. Sedangkan Suzuki Shogun 125 R memiliki tingkat brand recall sebesar 32. Warna dan jenis strip yang bervariasi dan tahan lama 7. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 15. 39. III dan IV. Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman 26. Produk tersebar luas di pasar 14. 5. tetapi ada 4. Tambunan pengingatannya setelah merek utama dalam top of mind) dan brand recognition (konsumen mengingat merek setelah diingatkan kembali) di mana Honda Karisma memiliki persentase 34. Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. 33.) Suspensi atau shock yang bagus Tinggi sepeda motor yang standar Pergantian roda gigi yang halus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi Mampu membawa beban yang besar/berat Memiliki sistem pengaman (kunci) yang baik Jangka waktu garansi yang panjang Inovasi perusahaan yang terus-menerus Volume silinder yang besar Dapat dengan mudah dimodifikasi Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Ada undian berhadiah Memakai racing pada roda Kualitas rangka yang tahan banting Suara yang nyaring Tanpa oli samping Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Ada penutup rantai 5. 3. 31. 8. 27. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 10. Kemudahan dalam perawatan 13. Diagram ini dibagi atas empat bagian. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 21. dll.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M.

Kemudahan dalam perawatan 2. 2. 8. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 4. Suspensi/shock yang bagus 3. Dan 22.265. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 2. Kemudahan dalam penggunaan Kuadran II (maintain) 5. dengan persentase (untuk keseluruhan responden) terbesar pada batas usia 26-35 tahun. Harga sepeda motor terjangkau 3. Demikian halnya dengan Karisma. di mana nilai permainan adalah 0. Kemudahan mendapatkan spare part g. Irit dalam penggunaan bahan bakar 8. 4 Oktober 2006 Tabel 12. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) h. ada 51. Dari 20 atribut yang dibandingkan untuk kesan kualitas. yakni 71. Model/desain yang menarik dan dinamis 1. Kemudahan dalam perawatan 1. No.020% konsumen yang komit akan merek tersebut. Kualitas rangka yang tahan banting 1. Shogun 125 R tidak memiliki konsumen yang switcher (berpindah merek karena faktor harga). Atribut Shogun 125 R pada Diagram Cartesius Honda Karisma 1. Honda Karisma merupakan sepeda motor yang paling diingat oleh konsumen. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) e. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 7. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 2. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi d. 6. Memiliki kecepatan yang tinggi 2. Tarikan/akselerasi mesin yang baik b. Tersedia garansi 6.163% konsumen yang switcher. Konsumen sepeda motor bebek buatan Jepang untuk volume silinder 125 cc dan mesin 4 tak dengan merek Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R didominasi oleh pria. Suspensi/shock yang bagus 3. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 4. 2. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama.878% untuk tingkat satisfied buyer dan 95. meski memiliki asosiasi yang lebih sedikit daripada asosiasi Shogun 125 R. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 5. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 10. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi i. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 5. Honda Karisma memiliki 10 atribut yang dapat terus dipertahankan. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 5. Persentase ini unggul jika dibandingkan dengan Karisma. Model/desain yang menarik dan dinamis 4. Memiliki kecepatan yang tinggi 1. Kualitas rangka yang tahan banting 4. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 1. sedangkan untuk Shogun 125 R. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. maka ia akan menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” untuk memperbesar nilai perolehannya. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 5. Suspensi/shock yang bagus c. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Kuadran I (underact) Kuadran II (maintain) Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) 84 .5 Analisis Kesetiaan Merek Dari pengolahan data dapat diketahui bahwa Shogun 125 R memiliki konsumen dengan persentase 93. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 9.6 Analisis Permainan Dari metode maksimin-minimaks dalam permainan. Sementara Karisma memiliki 8. yaitu: a. yang pada dua tingkatan ini memiliki nilai yang sama. Tersedia garansi 3. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 4. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7.918% untuk tingkat liking the brand. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Harga sepeda motor terjangkau 3. 5. 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Atribut Karisma pada Diagram Cartesius Kuadran I (underact) Honda Karisma 1. sehingga dapat dihasilkan strategi murni. ditemukan saddle point untuk matriks payoff Karisma.1 Kesimpulan 1. jika ia melihat Shogun 125 R menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar”. Kemudahan dalam penggunaan 9. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. Tersedia bengkel/service resmi 1.449% konsumen Karisma adalah konsumen yang komit. Tersedia bengkel/service resmi 2.429%. Tersedia bengkel/service resmi Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) Tabel 13. Dari kedua jenis sepeda motor bebek yang dibandingkan. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Ketika Shogun 125 R melihat Karisma menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” maka ia akan menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar” untuk memperkecil nilai kehilangannya.

Harga spare part terjangkau dan tahan lama b. America: The McGraw-Hill Companies. 6. Sugiarto. yaitu: Kuadran I (underact): a. Kualitas rangka yang tahan banting d. 7. Tambunan 4. Product Design and Development. Jakarta: Mitra Utama.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. 6. Harga sepeda motor terjangkau c. Persentase konsumen Shogun 125 R yang komit akan merek adalah 51. Strategi yang dapat digunakan Shogun 125 R untuk menghadapi Karisma adalah dengan mengoptimalkan atribut irit dalam penggunaan bahan bakar. Butir-butir pertanyaan untuk kesetiaan merek dapat ditambah untuk memunculkan kriteria loyalitas yang lain. 1997 Siagian P. DAFTAR PUSTAKA Aacker David. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) g.2 Saran Saran yang dapat diberikan peneliti kepada pihak Honda adalah perlunya meningkatkan promosi melalui radio dan surat kabar.020%. Tersedia bengkel/service resmi b. Suspensi/shock yang bagus c. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Memiliki kecepatan yang tinggi Saran kepada pihak Suzuki. A. Jakarta: UI Press. Ini berarti perlu menjalin hubungan baik dengan konsumen sebagai pedoman untuk perbaikan kualitas produk ke depan. Strategi yang dapat digunakan Honda untuk menghadapi Shogun 125 R adalah dengan mengoptimalkan atribut tersedianya bengkel/service resmi. Memiliki kecepatan yang tinggi b. Marketing Manajemen. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran e. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu e. Shogun 125 R memiliki 9 atribut yang dapat dipertahankan. Kemudahan dalam perawatan b. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. Manajemen Ekuitas Merek. 2000 85 . Kemudahan mendapatkan spare part g. Inc. Memperhatikan secara khusus atribut pada Kuadran I dan III. Sitinjak Tony. Philip. 2000 Kotler. Kemudahan dalam perawatan Kuadran III (low priority) a. 2001 Husein Umar Drs. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) d. yaitu: Kuadran I (underact) a. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu b. New Jersey: Prentice Hall.449%. untuk mengetahui perkembangan ekuitas merek dan perbaikanperbaikan terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan ekuitas merek. Harga sepeda motor terjangkau c. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Harga spare part terjangkau dan tahan lama h. dealer dan papan reklame. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. 7. Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. agar responden memiliki persepsi yang sama akan atribut-atribut tersebut. Perlu juga dilakukan perbaikan kualitas dalam atribut-atribut pada Kuadran I dan III. 1997 (Terjemahan) Durianto Darmadi. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran d. 1987 Ulrich Karl. yang berarti lebih besar dibandingkan dengan Karisma dengan persentase 22. Tarikan/akselerasi mesin yang baik e. Tersedia garansi c. Eppinger Steven. Penelitian Operasional: Teori dan Praktek. untuk meningkatkan promosi melalui teman/keluarga. Tersedia garansi f. Kemudahan dalam penggunaan i. Model/desain yang menarik dan dinamis d. Juga penjelasan untuk setiap pertanyaan atribut-atribut sepeda motor pada kuisioner penelitian. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Kuadran III (low priority): a. yaitu: a. Edisi IX. Kualitas rangka yang tahan banting Penting dilakukan penelitian ekuitas merek dalam frekuensi yang lebih sering. Strategi Menaklukkan Pasar melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek.

menurut Korda.25 inch and width 2.8 ksi. (2002). handling dan material). 1977).5 inch. Jika sebuah pipa pecah maka tekanan fluida (air minum) akan menurun drastis (depressured) menghasilkan gelombang kejut (decomposion shock waves) dengan kecepatan travelling dalam orde kecepatan bunyi (400 m/detik). Suatu fenomena yang disebut dengan fast fracture. mengakibatkan ketahanan pipa akan menurun atau keandalan (reliability) pipa berkurang. Welded. and yield strength of welded is 52 ksi. hingga pipa patah getas (Rothwell. Politeknik Negeri Lhokseumawe T. bahkan di atas kecepatan bunyi tersebut diatas. Cacat Retak pada Permukaan Pipa Instalasi pipa memiliki ketidaksempurnaan atau cacat yang dapat berasal dari semua tahapan manufaktur. Pada pipa yang mengandung cacat retak. ukuran cacat dan ketangguhan patah material itu.ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Konsep konvensional tersebut hanya dapat diterapkan pada struktur yang mulus. Retakan dapat terjadi dan pipa dapat pecah sampai beberapa kilometer. yaitu seleksi terhadap material yang akan digunakan dan analisis kekuatan struktur terhadap kondisi pembebanan selama masa pengoperasian. so that operating condition of 12 inch pipeline is very safe from break or brittle fracture. Cacat lasan undercut. atau bencana alam. Faktor Intensitas Tegangan Retak menjalar jika faktor intensitas tegangan (K) mencapai harga kritis K1c yang selanjutnya dikenal sebagai ketangguhan retak. Keywords: Reliability. Mekanika retakan adalah suatu metoda analisis patah getas dari struktur yang mengandung retakan dengan geometri dan dimensi tertentu yang sebelumnya sudah diketahui melalui suatu jenis NDT tertentu. Masalah penjalaran retak sering terjadi pada pipeline yang mengalirkan air minum. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh 2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Akibatnya retakan akan berhenti menjalar sebab driving force-nya melemah. Hafli1 dan Akhyar Ibrahim2 Abstract: This current research was developed to find out the material reliability. korosi. Pipe. ketahanan pipa akan menurun drastis akibat penjalaran retak yang sangat cepat. Masalah yang dihadapi. and then all data was analyzed by descriptive method. By using the concept of fracture mechanics. crack propagation rate still in stable condition up to 8. Pressure drop yang tejadi secara tiba-tiba di dalam pipa yang bocor akan menurunkan tekanan hoop pada dinding pipa. Untuk jenis cacat pipa yang berbentuk retak. adalah “berapa tingkat keandalan dari struktur pipa penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut ditinjau dari analisis mekanika retakan”. sehingga faktor indentitas tegangan (K1) akan turun juga. ketahanan pipa akan menurun keandalan (reliability). ketika mengalami beban statik atau siklik.8 ksi of working stres. Charphy Impact. LANDASAN TEORI Suatu struktur dikatakan gagal apabila tegangan yang terjadi lebih besar dari tegangan luluh atau kekuatan tariknya. apabila dibarengi dengan beban monotonik atau siklik baik yang bersumber dari fluida kerja maupun sumber eksternal lainnya sehingga pipa akan gagal dengan cara patah getas. and according to failure criteria this drinking water pipeline 12” in diameter is in safe condition from both break before leak mode and damage after crack mode which its crack propagate about half depth of pipe wall. The results of research show that water working stres is 0. Fracture Mechanics. Dalam konsep ini. Undercut. Cacat permukaan pipa yang dihasilkan pada proses pengelasan pada saat konstruksi. Oleh karena itu. life-time assessment on drinking water pipeline 12” in diameter which consists of undercut crack welded with semielliptical geometry. for undercut crack depth 0. sedangkan pada permukaan cacat dapat digunakan konsep mekanika retakan. library study. kekuatan dan umur sisa pipa dapat dihitung melalui pendekatan mekanika retakan.33 ksi to generate design stres about 8. field inspection and experimental. Suatu harga K1c menggambarkan ketangguhan retak dari suatu 86 . mekanik (cacat yang berkaitan dengan masalah konstruksi. Dengan pelaksanaan kedua langkah tersebut diharapkan kegagalan komponen yang digunakan selama operasi dapat dicegah sejak dini. Failure Criteria PENDAHULUAN Dalam desain struktur pipa penyalur pipa air minum ada dua langkah penting yang perlu diperhatikan. fracture toughness. untuk mempelajari keandalan pipa. Beberapa faktor penyebab kegagalan pipa berupa bocor dan pecah dari hasil survei antara lain akibat sabotase. kriteria kegagalan suatu material struktur ditentukan oleh 3 parameter yaitu tegangan yang terjadi. et al. KI of simulation less than experimental which it means crack propagate controlled to material surface. instalasi dan operasi. biasanya berbentuk semi elips.

212.t P. atau sistem pembebanan. Kriteria Bocor Sebelum Pecah Salah satu aplikasi mekanika retakan pada pipa adalah mengkaji pipa yang mengandung cacat awal (pre-crackdefect) dan mengalami beban statik (constant internal pressure).4√Cv (10) di mana K dalam MPa√m dan Cv dalam joules. dan t adalah tebal pipa. Bagaimanapun.. khususnya lasan spiral baik arah memanjang dan melintang radial pipa. D adalah jari-jari pipa. (2003: 303). masingmasing adalah: Ketangguhan Charphy Metode yang digunakan untuk menentukan ketangguhan patah berdasarkan nilai energi impak charphy. σ1. menurut Engle (1979: 75) dapat digunakan persamaan di bawah ini. yang menurunkan hubungan antara COP dan tegangan terpakai di dalam medan tegangan biaksial. misalnya menjalar sesuai dengan waktu. Berdasarkan persamaan-persamaan di atas. (2003:400). σ1 adalah tegangan melintang (radial) pipa. ac < t.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. Ukuran cacat kritis dapat dihubungkan dengan ketangguhan Charphy menggunakan pendekatan Mekanika Ratakan. Hafli dan Akhyar Ibrahim material yang tergantung pada retak.t σ2 = Menurut Mohitpour.π. maka penelitian ini akan dikaji lebih lanjut. 2c adalah panjang cacat tembus dinding (mm). maka kurva R akan mendekati horizontal. 2 K Cπ π ⎡M σ ⎤ ≡ ln sec ⎢ T T ⎥ 2 8cσ 2⎣ σ ⎦ 12CvE 2 KC = AC (6) (7) P. Menurut Broek (1988: 53). et al. sehingga ada suatu korelasi antara KIC dan energi Charphy hampir sama nilainya. σ/σ0 adalah hoop stres. geometrik. pipa akan langsung pecah/patah getas. maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah pipa tersebut akan langsung pecah secara getas atau mengalami kebocoran terlebih dulu sebelum pecah. 87 . Persamaan matematis dari tegangan secara analitik pada pipa berisi fluida tekan. (σ/σ0)22 (5) di mana ac adalah panjang retakan kritis.σ2) (4) dan Q = θ2 – 0. et al. Menurut Mohitpour.21.8 sebagai CVN = 0.0345. pipa bocor terlebih dahulu sebelum pecah. dapat diterapkan untuk berbagai arah sambungan las. et al. Jika pipa tersebut mempunyai cacat berbentuk semi-ellips pada daerah lasan.5.D σ1 = 2.000 MPa untuk baja).5. dan juga medan tegangan pada saat luluh).R0. yang merupakan integral dari R(a) sepanjang ligamen. Berdasarkan persamaan (4) dan (5) di atas.1 dari ASME B31. nilai integral tadi dibagi dengan ligamen tertentu R dan K = (ER)0.5 (8) (2) (3) di mana: σ2 adalah tegangan memanjang (horizontal). ada beberapa perbedaan mendasar antara suatu nilai uji Charphy dan uji ketangguhan. Jika terjadi kebocoran terlebih dahulu maka melalui inspeksi rutin kebocoran tersebut dapat dideteksi sehingga langkah reparasi dapat diambil. ketangguhan retak untuk kondisi regangan bidang adalah: K1c = βσ π ac (1) di mana ac adalah panjang retak kritis dan β adalah parameter geometri retak spesimen. dirujuk kepada Model strip elastis plastik dari Dagdale (1960). menurut Mohitpour. kriteria kegagalan pipa dapat dinyatakan bahwa: jika. K1 adalah faktor intensitas tegangan.D 4. Jika kurva R horizontal. ac > t. Untuk menghitung kegagalan suatu pipeline yang mengandung retak awal. Kondisi ini disebut sebagai kriteria bocor sebelum pecah (”leak before break criterion). dan E adalah modulus elastisitas (207. fluid stres. Ketangguhan retak merupakan ukuran ketahanan meterial menerima beban luar atau lingkungannya. (2003: 399). Q/(1. Menurut David Broek (5) (1988: 216) menurunkan hubungan perbandingan empiris sebagai KIC = 11. σ adalah tegangan terpakai pada saat gagal (MPa). Ac = K21. t adalah tebal pipa. Uji Impak Charphy mengukur energi patah total dari spesimen. Hal yang sangat penting adalah perbedaan laju pembebanan (berpengaruh pada tegangan luluh) dan perbedaan dalam ketajaman takikan (berpengaruh (4) keadaan tegangan pada ujung retak. ukuran retak kriris yang dibutuhkan untuk mengawali retakan dapat dihitung dengan berbagai tingkat ketangguhan Charphy menggunakan persamaan dibawah ini. Untuk ketangguhan rendah pada urutan yang sangat rendah. Tegangan pada Pipa Tekan Kekuatan sambungan las dapat diuji dengan tegangan arah tegak lurus dari arah lasan.50545σ π 2c ⎥ ⎣ 2E ⎦ (9) dengan Cv adalah energi Charphy (J). salah satu rumus yang sering digunakan adalah yang diajukan oleh AISI dan didaftarkan dalam klausul 941. P adalah tekanan fluida. dan Q adalah parameter geometri retak. Rumus di bawah ini biasanya digunakan untuk menentukan ketangguhan Charphy: 2 ⎡ ⎤ Cv = ⎢ 4.

2 70 118 1062 10 80 126 113. tampak bahwa hasil simulasi diperoleh data untuk kedalaman cacat undercut 0. mesin gergaji. bahan pipa JIS G 3452 yang memiliki diameter 12 inchi.5 100 147 135.a (inch) 0. Faktor Intensitas Tegangan terhadap Rasio Ukuran Cacat Undercut 88 . Bahan penelitian adalah Pipa 12” untuk penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut geometri retak semi-ellips dan kawat las merek ”Jumbo. dan uji impak Charphy berdasarkan ASTM E 23-91.0" 1.1 0. hubungan kedalaman cacat undercut (a) dan lebar cacat undercut (2c) terhadap faktor intensitas tegangan (KI).5" 2.(ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0. No. mesin uji tarik.005 0. K.0" 2. dan survei lapangan untuk mengamati secara langsung obyek penelitian dan melakukan pencatatan. Hubungan Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Cacat Undercut Analisis Geometri Cacat Maksimum untuk Tekanan Operasi Tertentu Selanjutnya. dipotong menjadi 6 bagian. Tabel 1.5 mempunyai tingkat intensitas tegangan yang rendah yaitu 3. Pada sambungan lasan yang mempunyai undercut yang berbentuk semi-elips itu. antara lain.60 rasio ukuran cacat undercut a/2c (non-dimensi) Gambar 2.5" 1.20 0.30 0. KIC Kritis.10 0. Di dalam pengujian laboratorium. mesin las listrik. maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa dari data cacat undercut yang diperoleh kedalaman cacat undercut 0.5 inch mempunyai tingkat intensitas tegangan tertinggi yaitu 3. yang langsung dikunstruksikan gambar 2.5" Gambar 1. sehingga diperoleh analisis bahwa semakin tinggi atau besar rasio ukuran cacat undercut semakin rendah intensitas tegangan yang dihasilkan dan semakin kecil atau rendah rasio ukuran cacat undercut (kedalaman dan lebar cacat undercut) yang terjadi semakin tinggi intensitas tegangan yang diperoleh kemudian.039 (lihat tabel 1) dan lebar cacat undercut dari simulasi tertinggi 2.50 0.025 Kedalaman Undercut . (ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0. kemudian dilas dalam bentuk spiral dengan sengaja lasan dibuat tidak sempurna hingga membentuk cacat undercut dengan geometri semi-elips.40 0. dan mesin uji impak charphy. Data yang telah dikumpulkan baik data sekunder (studi kepustakaan). Kemudian Sampel-sampel tersebut diperiksa komposisi kimia.2 9 intensitas tegangan.25 inch dan lebar cacat undercut 0. terutama data-data hasil rekaman NDT dari perusahaan. uji tarik. KIC (MPa√m) (ksi√in) 1 2 3 4 60 108 97.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. diambil sampel dengan cara memotongnya yang dilakukan pada arah-arah memanjang.3 90 138 124.” Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan mengenai berbagai kasus kegagalan material pipa 12” transmisi air minum.00 0. data-data teknis lainya. maupun primer (hasil wawancara. mesin freis.4 ksi√in (lihat tabel 1). hasil perbandingan ukuran bentuk geometri cacat undercut dengan intensitas tegangan yang didapat dari persamaan empiris yang diperoleh dari hasil merujuk kepada rumus simulasi pada tabel dan gambar 2. hasil perhitungan dan pengujian) diolah berdasarkan analis-deskriptip.325 ksi√in. hasil tersebut dapat disusun suatu tabulasi data. K .015 0. diagonal dan arah canai (arah memanjang) dari baja lembaran itu. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Faktor Intensitas Tegangan Pipa sebagai Fungsi Ukuran Cacat Untuk mencari faktor konversi satuan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus di bawah ini: KIC={820√Cv–1420}B-1/2+630[N/mm3/2] (11) Apabila faktor intensitas tegangan (KI) pada pipa sebagai fungsi dari ukuran cacat undercut diamati berdasarkan gambar 2.2 0. 9 Indtensitas Tegangan.3 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. Hubungan Energi Impak Charphy dan Intensitas Tegangan Kritis Tabal Cv Intensitas Intensitas Material (joule) Tegangan Tegangan B (mm) Kritis. 4 Oktober 2006 METODOLOGI Dalam penelitian ini dipergunakan sejumlah peralatan. Kemudian. 10 Dan hasil konvensi tersebut diperoleh faktor intensitas tegangan kritis [kIC(ksi√in)] maksimum dan minimum seperti dapat diperlihatkan dalam tabel 1 di bawah ini.

a (inch) 0.5 inch ternyata bahwa KI (8.1 0. 600 tegangan operasi izin (ksi) 500 400 300 200 100 0 0 0. yaitu di bawah batas ’netsection-yielding’ weld material sehingga dapat dinyatakan bahwa pipa dalam keadaan aman dari deformasi kebocoran maupun mengalami patah getas.25”). kriteria kegagalan dapat disusun sebagai berikut: Jika KI>KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. atau aC<t menyatakan pipa akan langsung mengalami pecah/ patah getas.33 ksi.8 ksi dengan internal pressure 0. (Kic min (ksi in)) Log. maka akan diperoleh hasil tegangan operasional maksimum ketangguhan material yang mengandung cacat las undercut terhadap deformasi plastic maupun perpatahandengan perbandingan data desain tegangan sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1. sedangkan kuat luluh material las adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa yang sedang beroperasi. Berdasarkan gambar 4 hasil simulasi dan data KIC maksimum dan KIC minimum bahwa untuk kedalaman retak 0. Berdasarkan pernyataan di atas. Hubungan Tegangan Operasi terhadap Kedalaman Cacat Undercut Hal ini berarti bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan dengan laju perjalanan 89 .5 ksi pipa masih aman dari deformasi kebocoran atau patah getas.25 ksi√in< KIC minimum (97. atau aC>t menyatakan pipa akan bocor terlebih dahulu sebelum mengalami pecah/ patah getas. Jadi.5 ksi dan batas ’net-section-yielding’ weld material (data kuat luluh material lasan) 52 ksi pipa masih dalam batas daerah safe area. tampak bahwa tegangan operasi yang dihasilkan air bertekanan 0.2 0. Panjang retak (kedalaman cacat undercut) maksimum yang diizinkan untuk tekanan operasi tertentu dari grafik 3 dapat disimpulkan bahwa kedalaman cacat undercut (a = 0039” . (Kic max (ksi in)) retak masih dalam kondisi stabil untuk tegangan operasional yang diizinkan 8.1 0.4 Log.2 ksi√in).005 0. (ksi in) 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0. juga untuk tegangan operasional maksimum sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1.0" 1. Analisis kriteria kegagalan Penentuan kriteria kegagalan pecah sebelum bocor atau sebaliknya dari pipa berdasarkan kriteria bocor sebelum patah perlu diketahui: ”apakah panjang kritis retakan (aC).3 Kedalaman Undercut . pipa akan mengalami deformasi plastik atau patah getas (pipa pecah). dan dari Gambar 4 pipa masih dalam daerah aman karena jauh di bawah batas kekuatan luluh dari material lasan 52 ksi. atau sebaliknya retakan sudah menjalar hingga nilai kritisnya tercapai sebelum ketebalan pipa terlampaui”. Jika KI<KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. Apabila sebaliknya. Analisis Kekuatan Sisa Pipa dan Perambatan Retak Apabila ditinjau kekuatan sisa pipa yang mengalami perambatan retak.0" 2. 135 130 125 120 115 110 105 100 95 Indtensitas Tegangan. Hubungan Faktor Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Undercut Pada gambar 4 hubungan tegangan operasi yang diizinkan terhadap kedalaman cacat undercut.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. Hafli dan Akhyar Ibrahim Analisis panjang retak maksimum yang diizinkan untuk tekanan atau tegangan operasi tertentu dapat dilakukan dengan memperhatikan gambar 3.5" max min Gambar 4.2 0.025 0.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 88 ksi.a (inch) 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. melampaui tebal pipa (t). prediksi penjalaran retak ini masih dalam daerah kontinum yang dapat dipantau dan dikendalikan dengan baik.3 kedalaman Undercut. bahkan kondisi tersebut belum mencapai daerah penjalaran retak cepat menuju kegagalan bocor atau patah getas.25 inch dan panjang retak 2.015 0.0.5" 1. K.5" 2. maka pipa tersebut akan benar-benar aman dari deformasi maupun patah getas apabila kuat luluh dari material las berada di bawah garis ”net-section yielding”. Gambar 3.

. 1977. Tegangan operasi yang dihasilkan fluida alir bertekanan 0. ketika instalasi pipa yang sedang beroperasi terjadi berbagai pengaruh beban internal dan eksternal. Mekanika retakan dapat digunakan dalam desain dengan cara memperhitungkan kehadiran retak/cacat awal (pre-crack).. Engle. Golsham. 1997. Rothwell. dan terlihat bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan. David 1988. The Proctical Use of Fracture Mechanics. 2.25 inch dan lebar 2. 1997. and A.M. terutama efek suhu. “Prediksi Kekuatan Sisa Pipeline yang terkorosi”. Ed. Secong Edition.B. R. 2002. No.8 ksi dan pipa masih dalam daerah aman (safe area). “Aspect Ratio Varibiality in Part-Throung crack Life Analysis. dan faktor intensitas tegangan kritis (KIC) atau ”facture toughness” di dalam material. Int.. (Tree Park Avenue. penelitian ini masih perlu dilanjutkan dengan mengembangkan pengaruh temperatur operasi supaya tingkat keandalan pipa dapat diprediksi terlebih dahulu. Chang. (Dordrecht and London: Kluwer Academics Publishers). “ Paper 12. M.5 inch. laju penjalaran retak masih dalam kondisi stabil dengan tegangan operasional yang diizinkan 8.. pp. A. H.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. KIC hasil simulasi lebih kecil daripada hasil percobaan. Murray. sedangkan kuat luluh material lasan adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa pada saat beroperasi. Proc. 2003. Prosiding Seminar Offshore Technology 2002 (Bandung Pusat Studi Teknik Kelautan & LPPB ITB. 3. 4 Oktober 2006 KESIMPULAN 1. Korda.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 8. Achmad Sulaiman dan Ahmad Taufik. Pipeline Design dan Constuction: A Practical Approach. 13-14 Januari). New York: ASME Press). Untuk kedalaman retak 0. “The International State of the art Pipeline fracture Control and Fracture Risk Management..Jr.” PartThroungh Crack Fatigue Life Prediction. SARAN Dalam kenyataannya.8 ksi. DAFTAR PUSTAKA Akhmad A. J. Karena itulah. American Society for Testing and Materials. Mohitpour. ASTM STP 687. Broek. 74-88. 90 .B.

Dalam hubungan timbal balik ini peranan sektor industri adalah memperluas lapangan kerja. Industri yang dibangun dan dikembangkan haruslah industri-industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Sektor Industri I. dan industriindustri yang padat modal tetap akan didorong. pada umumnya modal merupakan unsur dan faktor utama dan sebagai tujuan utama adalah laba sebesar-besarnya atau keuntugan maksium. menghasilkan devisa ekspor dari hasil industri dan menghemat devisa melalui produksi barang-barang yang hingga kini masih diimpor. Dalam musyawarah penetapan upah di perusahaan sektor industri sebaiknya masing-masing pihak. Kata kunci: Upah Minimum. Pembangunan sektor industri di Indonesia ditujukan untuk memperluas lapangan kerja karena dengan meluasnya lapangan kerja maka pendapatan nasional akan terbagi lebih merata. sektor pemerintah dan sektor swasta. Penciptaan lapangan kerja akan menyerap para pengangguran yang sebagian besar berada di sektor pertanian. maka logika perkembangan perusahaan industri swasta adalah kecenderungan persaingan sesama perusahaan swasta itu. baik maupun pengusaha menyadari bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan eksistensi perusahaan karena runtuhnya perusahaan akan merugikan pengusaha dan buruh. Berkurangnya tenaga pengangguran di sektor pertanian ini akan meningkatkan pendapatan di daerah pedesaan yang pada gilirannya petani akan menjadi pasaran hasil industri yang dihasilkan perusahaan industri. e. Untuk menunjang dan memberikan kemudahan-kemudahan dalam pembangun-an industri bagi pihak swasta. pemerintah harus melaksanakan pembinaan dan perlindungan tenaga kerja di antaranya melalui penetapan upah minimum yang berlaku untuk masingmasing propinsi dan sektor pekerjaan.UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA Staf Kopertis Wilayah I Abstrak: Dalam rangka mengikuti kebijakan pembangunan yang digariskan oleh Peropenas 2004–2009 khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ketenagakerjaan. Dengan motif keuntungan maksimum. Pada perusahan industri swasta. Akan lebih memusatkan perhatiannya kepada pembangunan prasarana dan pencipta iklim yang menunjang pertumbuhan industri. c. Setelah memenuhi persyaratan Suryatmono 91 . Intervensi pemerintah melalui penetapan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dimaksudkan agar keputusan perusahaan mempertimbangkan prinsip keadilan bagi pekerja. Memberikan kesempatan kepada pengusaha pengusaha asing untuk mendirikan perusahaan-perusahaan industrinya di tanah air kita. d. menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat dan sektor pembangunan yang lain. Bidang gerak sektor swasta adalah hanya perusahaan yang tidak mengurusi hajat hidup orang banyak dan bidang usaha yang belum ditangani oleh negara dan koperasi. mengenal tiga sektor besar yang interdependent yaitu sektor koperasi. sepanjang teknologi yang ada menimbulkan efek berganda yang luas. b. Membantu dalam pembinaan dan pengembangan golongan ekonomi lemah di sektor industri. II. PENDAHULUAN Bahwa sistem perekonomian menurut Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan industri yaitu: a. pemerintah berusaha agar dapat dibangun kawasankawasan industri (industrial estates) dibeberapa daerah tertentu di tanah air kita. 1983). dalam hal ini mengusahakan perkembangan ketrampilan dan kecakapan pengelola pengusaha-pengusaha nasional golongan ekonomi lemah melalui latihanlatihan pada pusat-pusat pendidikan di berbagai tempat yang menitikberatkan pada pengetahuan manajemen teknis dan penyediaan-penyediaan kredit dalam usaha membantu permodalannya. PENGEMBANGAN SEKTOR LNDUSTRI DAN KAITANNYA DENGAN TENAGA KERJA Pembangunan sektor industri tidak terlepas dengan pembangunan sektor lain karena ada hubungan kait mengkait yang erat antara pembangunan sektor industri dengan sektorsektor lain. Sektor swasta sebagai pelengkap dan pembantu kedua sektur lainnya (Tom Gunadi. Dalam pengembangan perusahaan industri tersebut pihak manajemen harus benar-benar memperhatikan upah para pekerja yang merupakan salah satu aset perusahaan.

sedangkan barang yang dihasilkan adalah sangat penting bagi pembangunan. (Imam Soepomo. 3. dan hukum Indonesia dan berdomisili di Indonesia. Karena pembangunan sektor industri memiliki kaitan yang erat dengan sektor lain. antara lain: Perbandingan jumlah modal yang ditanam dan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan tidak boleh tinggi. Menurut ketentuan dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja RI No. sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran terhadap pelaksanaan kebijakan-kehijakan tersebut melalui pengawasan yang ketat dari pemerintah. seperti fasilitas kenderaan antara jemput. 5 No. Untuk mencari keseimbangan tersebut diperlukan adanya penyaringan dalam pemberian izin penanaman modal dalam negeri maupun asing. Persyaratan ini terutama berlaku bagi industri-industri yang mempunyai pilihan teknologi sehingga bisa disyaratkan pengunaan teknologi padat karya tanpa mempengaruhi efisiensi perusahan. harus mempertimbangkannya secara teliti. penanaman modal (baik asing maupun dalam negeri) yang menghasilkan barang-barang untuk dijual harus memenuhi beberapa persyaratan. sanggup menampung. Dalam hal tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan asing ini tidak boleh merugikan kepentingan nasional. pihak manajemen sesuai dengan hukum ketenagakerjaan yang berlaku berdasarkan hubungan industrial Pancasila. calon investor harus menunjukkan perkiraan penggunaan tenaga kerja selama perusahaan tersebut berkembang. Dalam garis besarnya pemberian izin dilaksanakan menurut prinsip-prinsip berikut: 1. PENETAPAN UPAH MINIMUM SEKTOR INDUSTRI Dalam menentukan besaran upah yang harus diterima oleh para pekerja. Kartasapoetra 1985). tunjangan transportasi dan tunjangan kesehatan. tunjangan perumahan. Fokus perhatian perusahaan tidak terbatas pada barang/jasa yang dihasilkan tetapi juga aspek proses dan aspek sumber daya manusia dan lingkungannya (Luthti Parinduri. Dalam penyusunan proram operasional di bidang ini ditetapkan lebih lanjut perbandingan modal dan buruh sehingga menjadi pegangan bagi pemberian izin. 1983). Komponen upah Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja menurut tingkat atau jenis pekerja yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. dan sanggup membantu masyarakat terutama membantu melatih tenaga-tenaga Indonesia dan sanggup menempatkannya dalam kedudukan Pimpinan (G. 2000).4 Oktober 2001). 4 Oktober 2006 persyaratan yang telah ditentukan pemerintah. tunjangan kesehatan. 07/MEN/90 tentang pengelompokan upah dan pendapatan non upah. Bagi industri yang sifat teknologinya padat modal. Dengan kebijakan pemerintah seperti diatas maka akan terbentuknya sumber daya manusia industri yang berkualitas dan mampu bekerja sama serta bersaing untuk memperoleh manfaat positif dari era globalisasi. SH. adil. wajar dan serasi sesuai dengan pekerjaan dan jabatan para pekerja. Tidak termasuk komponen upah Fasilitas kenikmatan dalam bentuk nyata atau natural hal-hal yang bersifat khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. Berdasarkan penelitian yang lebih mendalam harus diperkirakan perbandingan yang wajar antara kenaikan perkembangan produksi dan kenaikan perkembangan buruh yang bekerja pada perusahan tersebut. Bulletin Utama Teknik Vol. No. b. Upah adalah pembayaran yang diterima buruh selama ia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan. 1974) pengusaha wajib membayar upah kepada para pekerja secara teratur sejak terjadinya hubungan kerja sampai dengan berakhirnya hubungan kerja (Lalu Husni. Keseimbangan ini harus menghasilkan perluasan lapangan kerja sebesar mungkin tanpa mengakibatkan rendahnya laju pertumbuhan sektor perindustrian. Upah yang adil adalah upah Minimum yang menjamin kebutuhan yang essensial bagi kehidupan yang manusiawi (Tom Gunadi. Tujuan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjan yang diberikan secara tetap untuk pekerja dan keluarga yang dibayarkan bersama dengan upah pokok seperti tunjangan anak. yang termasuk komponen upah dan pendapatan non upah adalah sebagai berikut: a. maka secara 92 . maka pembagunan industri semacam ini dimungkinkan. tidak melakukan persaingan yang terlebih-lebih terhadap perusahaan nasional. dan menggunakan tenaga-tenaga kerja Indonesia. Sebelum diberikan izin. Dengan demikian berarti fungsi perizinan dalam pembangunan industri harus lebih ketat dan efisien.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. III.: maka dalam bidang industri perlu di tetapkan suatu keseimbangan antara laju pembangunan industri dengan daya serap tenaga kerja. 2. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan diharuskan secara tidak tetap gaji pekerja dan keluarganya yang pembayarannya tidak bersama dengan upah pokok.

tempat penitipan bayi.00. Dengan berlakunya Undang-Undang No. Upah minimum sub sektoral. Bonus/jasa produk yaitu pembayaran yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja berprestasi melebihi target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas Tujuan hari besar keagamaan seperti tunjangan Hari Raya dan Tunjangan Tahun Baru. kebutuhan kerja. Kemudian Dewan Pengupahan Daerah c.3549/6/DTK-TR/2005 tanggal 20-12-2005. Untuk maksud tersebut maka pemerintah ikut dalam penetapan upah minimum dengan maksud untuk tercapainya keadilan dibidang ketenagakerjaan dan pemerintah menyadari hahwa apabila masalah perupahan ini hanya diserahkan kepada pihak pekerja dan pihak pengusaha maka keputusan mengenai upah ini akan didominasi oleh kehendak pihak pengusaha. No. penetapan upah minimum yang berlaku untuk setiap propinsi dan sektor pekerjaan diterbitkan oleh Menteri Tenaga Kerja RI setelah mempertimbangkan Rekomendasi dari Gubernur Propinsi dan saran dari Dewan penelitian pengupahan Nasional Upah minimum ditetapkan dan berlaku mulai tanggal l Januari tahun berikutnya. piece rate. Upah minimum sektor regional upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. 07/MEN/1997 tentang upah minimum disebutkan bahwa upah minimum adalah upah pokok sudah termasuk di dalamnya tunjangan-tunjangan yang bersifat tetap yang terdiri dari: a. kelangsungan dan perkembangan perusahaan. tingkat perkembangan perekonomian regional dan nasional. 100. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. 560/3892/KS Tahun 2001 tanggal 20 Desember 2001 telah menetapkan pembentukan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara. upah pada umumnya yang berlaku secara regional. UMR untuk setiap daerah berbeda-beda yang didasarkan pada indeks harga konsumen. Berdasarkan permohonan tersebut Menteri Tenaga Kerja dapat menangguhkan pelaksanaan UMR tersebut paling lama 12 bulan. perongkosan. Gubernur Propinsi Sumatera Utara dengan keputusan No. upah minimum yang berlaku untuk perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. Keputusan pemerintah tentang. Asas dari penetapan upah minimum yang adil tidak dapat lain dari pada hakikat dan fungsi tenaga kerja itu sendiri untuk penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono cuma-cuma sarana ibadah. 8 Tahun 1981 tentang perlindungan upah maka untuk menjaga sampai terjadi upah yang diterima para pekerja terlampau rendah maka pemerintah turut serta menentukan standar upah minimum melalui peraturan perundangundangan berupa penetapan upah minimum yang wajib ditaati oleh pengusaha termasuk pengusaha perusahaan industri. Upah minimum regional: upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan dalam daerah tertentu. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. wakil pengusaha dan wakil serikat pekerja. pola premi Hosley. surat Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara pada setiap akhir tahun mengajukan usul penetapan upah minimum sektoral propinsi Sumatera Utara yang berlaku mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. maka mulai tahun 2001 penetapan upah minimum disetiap Propinsi diputuskan oleh Gubernur dengan memperhatikan usul Dewan Pengupahan Daerah Propinsi setempat yang berlaku mulai 1 Januari tahun yang berikutnya. 05/MEN/1989 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Sanksi hukum bagi pengusaha yang tidak melaksanakan ketentuan upah minimum adalah yakni Rp. Adapun surat usulan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara untuk penetapan Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006 adalah usulan No. pola bonus 100% pola kelompok atau sistem-sistem lainnya dengan ketentuan jumlah upah terendah yang diterima oleh pekerja tetap mengacu kepada ketentuan upah minimum yang berlaku dari Pemerintah. Bagi pengusaha yang mampu membayar upah lebih tinggi dari upah minimum tidak dilarang menetapkan upah minimum lebih tinggi dari upah minimum dan upah yang sudah dibayar di atas upah minimum dilarang mengurangi atau menurunkan upah tersebut. Dewan Pengupahan Daerah dibentuk oleh Gubernur yang terdiri dari wakil Pemerintah. Berdasarkan usulan tersebut maka Gubernur 93 . c. pola premi Rowan. Upah minimum adalah upah terendah yang hanya berlaku bagi pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun sedang upah pekerja yang memiliki masa kerja 1 tahun ke atas dirundingkan secara musyawarah oleh serikat pekerja dengan pengusaha yang bersangkutan dan dimuat dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Bagi perusahaan industri tidak ada larangan untuk menerapkan sistem upah seperti time/day rate. Berdasarkan PP No. Khususnya bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sesuai ketetapan tersebut dapat dikecualikan dari kewajiban tersebut dengan syarat mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dengan rekomendasi dari Kepala Dinas Tenaga Kerja setempat. b. kantin dan sejenisnya. kebutuhan fisik minimum.q. karena pekerja pada saat ini masih dalam kedudukan yang lemah.000.

Apalagi dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Unjuk rasa pekerja saat ini masih berkisar pada perbaikan upah yang menurut mereka belum memadai namun di lain pihak pengusaha/industriawan juga mengeluh karena kondisi ekonomi saat ini kurang mendukung perbaikan upah tersebut.573. Untuk jelasnya pada tabel dibawah ini adalah daftar upah minimum sektor industri Propinsi Sumatera Utara tahun 2006 yang dikutip dari keputusan Gubernur tersebut. Kartasapoetra.000 642. upah lembur.70 789. Saat ini gaji buruh sesuai UMP di seluruh Indonesia rata-rata masih di bawah Rp. North Sumatra Project Coordinator International Labour Organization (ILO) Henri Sitorus menilai gaji buruh di Indonesia masih terendah di antara buruh-buruh Se-ASEAN. PT. sudah memiliki materi yang tajam sehingga usulan yang dibawa dalam musyawarah cukup baik dan bisa memperkuat posisi tawar serikat buruh dalam perundingan agar peranan kedua belah pihak terpadu. Upah terendah pada perusahaan industri baru pada tahap kebutuhan fisik minimum namun sudah mendekati nilai kebutuhan nyata namumn dengan adanya kenaikan harga BBM kenaikan tersebut tidak punya arti yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan buruh. Jakarta: 2000 Berdasarkan data upah minimum di atas dapat kita lihat bahwa upah para pekerja di sektor industri masih di bawah kebutuhan fisik minimum namun bila nilai upah tersebut disatukan dengan fasilitas lain seperti Jamsostek. Jakarta: 1975 Lalu Husni. 750. dan A. namun masih jauh dan kebutuhan fisik minimum (KFM).000. Pemerintah setiap tahun mengevaluasi pelaksanaan ketetapan upah minimum di daerahdaerah propinsi sebagai dasar untuk menetapkan upah minimum pada tahun berikutnya dengan mempertimbangkan masukan dari Dewan Pertimbangan Upah Daerah Propinsi.638. R.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 kecuali Vietnam. IV. Di dalam keputusan tersebut dari 45 jenis pekerjaan pada sektor industri yang dapat dikelompokkan ke dalam 5 kelompok UMPS sebagai berikut: UMSP 2005 (Sektor Industri) 636.195. akan membawa dampak yang baik yaitu musyawarah dan mufakat yang melahirkan keputusan berupa terwujudnya upah yang wajar bagi pekerja. No.G. uang makan dan lain-lain. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. 4. Kartasapoetra. Pengantar Hukum Perburuhan. Dengan berpadunya peranan pengusaha dan peranan serikat pekerja dalam perundingan. Bandung: 1985 Imam Soepomo. 4 Oktober 2006 Propinsi Sumatera Utara menerbitkan keputusan No. Kartasapoetra. Djambatan.439.817. KESIMPULAN Setelah membahas masalah penetapan upah minimum pada perusahaan sektor industri maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. DAFTAR PUSTAKA G.40 Jenis Pekerjaan 9 17 11 4 4 perusahaan. Dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2006 kenaikan Upah Minimum tersebut kurang berarti bagi meningkatkan kesejahteraan buruh karena sebelum upah minimum berlaku sudah didahului dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi. Pihak Serikat Buruh harus bisa membaca denyut nadi perusahaan tempat kerjanya terutama yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian perusahaan sehingga pada waktu berunding dengan pihak pengusaha. musyawarah dan menghadapi masalah akan melahirkan keputusan bijak dan arif yang menjadi seleksi terbaik bagi masing-masing pihak baik itu pihak buruh maupun pihak manajemen 94 . Perlunya kesadaran pihak pengusaha dan pihak pekerja bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama terhadap peusahaan karena tutupnya perusahaan dapat menyebabkan pengusaha kehilangan sumber usaha dan pekeija akan kehilangan sumber nafkahnya. Upah pekerja yang pada kondisi sekarang menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di Indonesia masih dalam tahap bagaimana meningkatkan upah buruh agar bisa mencapai taraf kebutuhan hidup minimum (KHM) padahal di negara ASFAN lainnya persoalan tersebut sudah bergeser kearah perebutan lapangan kerja dengan buruh asing.58 796.439 654.561/2858/K/Tahun 2005 tanggal 25 Desember 2005 tentang Penetapan Upah Minimum Sektoral Propinsi Sumatera Utara tahun 2006.000 Jenis Pekerjaa n 9 17 11 4 4 UMSP 2005 (Sektor Industri) 774. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila. Pekerjaan harus dapat menjamin penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja yang bekerja dan keluarga yang menjadi tanggungannya. 2. Raja Gratindo Persada.000 660.G. 3. maka upah yang diterima pekerja tersebut sudah mendekati nilai kebutuhan nyata (NKN). Keterbukaan dalam manajemen.400 648.52 804. Pihak manajemen perusahaan industri harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki sistem perupahan yang kurang baik sesuai kemampuan perusahaan dan apabila memang kondisi perusahaan belum memungkinkan maka perlu dimusyawarahkan secara terbuka dengan pihak serikat buruh.46 811. Bina Aksara.

Jakarta: 2004 Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. Fakultas Teknik UISU. Vol. Sistem Perekonomian Menurut Pancasila Dan UUD 1945. Medan Sekretariat Negara RI. 561/2858/K Tahun 2005 tanggal 25 Desember Tom 95 .Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono 2005 Gunadi. Bandung: 1983 Bulletin Utama Teknik. 4 Oktober 2001. Angkasa. Program Pembangunan Nasional 2004 – 2009. 5 No.

TiN) is promising when used in turning of tool steel in normal hardness (27 HRC). The multilayer coated carbide is used in this study and the machining trial is carried out with end milling process under dry cutting. respectively. 1 mm.4 11. usually chipping. heat (J/kgoC) 460 The multilayer CVD coated carbide tool in insert type was prepared in this study. Finally.3 0. Flank Wear. Moreover. In this stage. Al2O3. Che Hassan et al.8 0. machining the workpiece materials in hard condition is one of hot issues in metal cutting. The workpiece was clamped firmly on the milling machine’s table during machining testing. flaking and fracturing are the dominant wear modes found in hard machining (Ghani et al. in the case of producing the high accuracy product. The objective of study reported in this paper is to study the tool wear and tool life when end milling of fully hardened tool steel with hardness of 62 HRC. Brittle Fracture. tool life is ranging from 5 to 20 minutes. dies. gears and many kinds of machine parts. Chipping. Aslan 2005). Faculty of Engineering University of North Sumatera Abstract: Tool wear and tool life when hard milling of fully hardened steel with 62 HRC using CVD multilayer coated carbide tool are the objectives of the study reported in this paper. Besides flank wear. Chemical Composition of AISI D2 Chemical Composition (%). INTRODUCTION Tool steel is widely used in making moulds. many cutting tools have been coated with some coating materials such as TiN.2 0. Fe to 100% C Si Mn Cr Mo V 1. It is recommended from the study that cutting conditions for the tool when cutting hardened steel are cutting speeds of 50 to 95 m/min. The tool geometry is given in table 3. The results of study show that flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the dominant wear modes of the tool. etc. (2001) have reported that the multilayer coated carbide (WC-Co coated with TiC. As the advancement of cutting tool technology today. However. materials with hardness from 32 HRC to fully hardened 60-62 HRC are directly machined into its final geometry and dimension. Table 1. Under this method. This stage is followed by the heat treatment stage in which the hardness property of tool steel is improved up to 40 HRC or more in order to meet the requirement of product. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. The shape of workpiece was block with dimension of (310x75x54) mm. cavity bars. Those stages in the above are time consuming and thus. the rate of tool wear is high when hard machining process. The chemical composition and mechanical properties of this material are given in Table 1 and 2. productivity is relatively low. and 20 mm. MATERIALS AND METHODS The fully hardened tool steel (AISI D2) with hardness of 62 HRC was selected as workpiece material. the first stage is machining of the tool steel in normal condition that is in hardness around 23-27 HRC. At those cutting conditions. They reported that the coated carbide could be used up to 350 m/min with tool life not less than 7 minutes when machining under dry cutting and not less than 12 minutes when machining under wet cutting.700 Modulus (N/mm2) 193. the result of surface roughness when tool life of wet cutting passes the dry cutting is three times higher (more than 6 micron).01 mm/tooth. Nowadays.000 Conductivity (W/moC) 20. the dimension may not be produced accurately due to the heat treating process. This method is called hard machining. Armansyah Ginting 96 . while feed. TiC. Due to the high hardness of workpiece material. Two pieces of this insert were mounted in a tool holder to form the end milling cutter with nominal diameter of 20 mm. Al2O3. Keywords: CVD.2 Table 2. 2.42 0. The advantage of this study is facilitating the small and medium enterprises in setting up their cutting condition and sharing the good practice when machining product made of hardened steel.2 Spec.HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE Department of Mechanical Engineering. In producing the parts. tool steel is machined until the geometry of parts is produced. this stage is ended by finish machining (Dewes & Aspinwall 1997). TiAlN. 2004. Flaking 1. axial and radial depth of cut are 0. Mechanical Properties of AISI D2 Density (kg/m3) 7.

Cutting conditions for machining trial are cutting speed (v) from 50 m/min (recommended by the tool manufacturer) to 95 m/min and feeding (f) of 0. the brittle fracture in group two is worst. The insert is made of the micrograin WC-Co with 10% of Cobalt and it is coated with 13 combination layers of TiN.015 0. In group two (cutting speed of 80 and 95 m/min) the wear marks of flank wear is smooth (figure 2).24 5. The total thickness of the combination layers is 10 microns and the outer layer of this insert (TiN) has roughness of Ra 0.91 10. Tool Geometry Nose radius (mm) Chamfer width (mm) Chamfer angle (o) Axial rake angle Radial rake angle Face relief angle Peripheral relief angle Face cutting edge angle Peripheral cutting edge angle Face clearance angle Peripheral clearance angle Blade setting angle Helix angle 0.33 Wear rate (mm/min) 0.060 0.450 Grain size (micron) <1 The machining trial was executed on the CNC Vertical Milling Center with 0 – 10. Tool life data was recorded when flank wear at VB 0.01 to 0. Ti(C. The mechanical properties of this insert are given in table 4. Wear rate is calculated based on flank wear (0. flaking) 97 . 3.51 SF and EBF 1. 3.24 13.000 rpm. flaking) SF = smooth flank wear.1 Tool Wear From the results presented in table 5.3 mm on both inserts. The axial (aa) and Table 5.029 0.7 mm on any insert and VB average 0.90 3. respectively.086 0. EBF = excessive brittle fracture (chipping.0 mm and 20 mm.60 Wear rate (mm/min) 0.020 0.02 mm/tooth Tool life Wear mode (min) 5. RESULTS AND DISCUSSIONS The results of machining trials in this study are summarized in table 5.056 Feed (f) = 0. based on the cutting speed. Mechanical Properties of Insert Transverse rupture (N/mm2) 3.188 Wear mode F and BF (rough) F and BF (smooth) RF = rough flank wear.16 14 8 -7 7 7 17 0 15 15 90o8’ 15 radial (ar) depths of cut are kept constant at 1. However.120 0.00 RF and BF 3.2 micron. In this group. it can be seen that generally. the wear marks of flank wear is rough and brittle fracture is dominantly occupied by flaking and chipping (figure 1).022 0.02 mm/tooth (finish machining). the tool wear modes of the multilayer CVD coated carbide tool used in this study are flank wear and brittle fracture.00 15. All trials are repeated 3 times in order to obtain the reliable data and the average values are recorded. The measurement of VB was taken using the toolmakers microscope and each VB measurement was carried out after cutting length of 60 mm.077 0. The Experimental Results Cutting speed (v) (m/min) 50 65 72 80 95 Tool life (min) 20. Table 4.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting Tabel 3. Cutting speeds of 50 to 72 m/min can be classified into group one.300 Density (kg/m3) 145 Conductivity (W/mK) 120 Modulus (GPa) 600 Hardness (HV10) 1. the wear modes can be classified into 2 groups.3 mm. Unlike brittle fracture in group one.N) and Al2O3.3 mm) divided by tool life. The machining trial is stopped when VBmax 0. The excessive chipping and flaking are occurred due to the high momentum of interrupted cutting during machining at high cutting speed. BF = brittle fracture (chipping.8 0. The tool life criteria in this study were stipulated based on ISO 8688 (1989).48 2.

respectively. the recommended cutting condition for the cutting tool tested in this study is at cutting speeds of 50 to 95 m/min and feed of 0.02 mm/tooth results the flank wear rate 3.02 mm/tooth (2 times) at all cutting speeds tested results the increasing of flank wear rate averagely 3. The result of machining proves that the cutting conditions recommended and good practices gained from this study are successful implemented in producing the vertical table work that made of hardened steel. The table work is a sample product made by the small and medium enterprises.3 mm Referring to Table 5.02 mm/Tooth at VB 0. 98 . the decreasing value of tool life is found analogue to the increasing value of flank wear rate in the above. 3.02 mm/tooh at VB 0.01 mm/tooth.9 times.2 Tool Life Tool life data in Table 5 is plotted and presented in Figure 3.9 and 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. IMPLEMENTATION The cutting condition recommended from this study was implemented in fabricating the vertical table work to support the operation of milling machine in horizontal position (Figure 4).01 and 0. while axial and radial depth of cut are 1 mm and 20 mm (full engagement since the nominal diameter of the milling cutter is 20 mm). while 50 m/min for making the dove tail slot on the table. the worst chipping and flaking are resulted by the higher feeding. 0. 1 1 feed 0. Flank Wear and Brittle Fracture When 80 m/min. 4 Oktober 2006 Based on the recommendation of ISO standard for tool life testing (ISO 8688 1989).01 mm/Tooth at VB 0. By these facts. Therefore. At the same cutting speed.3 mm S i 3 10 100 1000 Cutting speed (m/min) Figure 3. it can be seen that the increasing of feeding from 0. the micro observation using SEM proves that the excessive chipping is also affected by feeding.3 mm. 100 Figure 1.1 times.01 mm/tooth to 0. The values indicate that the effect of feeding is more significant than cutting speed in term of the progression of flank wear. it can also be concluded that the effect of feeding is more than cutting speed in terminating the tool life. the increasing of cutting speed from 50 m/min to 95 (m/min) (about 2 times) at feed of 0. Tool Life for All Cutting Conditions 4. cutting speed of 72 m/min was used for face milling the wide surface of table work.3 mm feed 0. the reliable tool life of cutting tool is ranging from 5 to 25 minutes. 0. Statistically.01 mm/tooth at VB 0. No. In fabricating the vertical table work. Tool life (min) 10 Figure 2. When cutting speed is concerned. Cutting Speed vs. Flank Wear and Brittle Fracture When 72 m/min. Moreover.

Flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the wear modes of the CVD multilayer coated-carbide when used in hard milling of fully hardened steel with 62 HRC. Goh Joo Hua for the data. 1989. The cutting conditions recommended from this study are successfully used in fabricating the vertical work table made of hardened steel. (b) Vertical Table Work Installed on Horizontal Milling Machine 5. 116: 49-54. Wear of coated and uncoated carbides in turning tool steel. Journal of Materials Processing Technology. CONCLUSIONS 1. feed 0.H. REFERENCES Aslan.H. ISO Standard 8688.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting (a) (b) Figure 4. 2. Performance of P10 TiN coated carbide tools when end milling AISI H13 tool steel at high cutting speed. 1997. A. Journal of Materials Processing Technology.01 mm/tooth. 2006.. 2004. 69: 1-17. (a) Vertical Table Work.. & Goh. A Review of Ultra High Speed Milling of Hardened Steel. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. Dewes R. ACKNOWLEGEMENT The author would like to express his sincere of gratitude to Prof. C. Experimental investigation of cutting tool performance in high speed cutting of hardened X210 Cr12 cold-work tool steel (62 HRC). 3. and Masjuki. 99 . I. Ginting.H. Materials and Design 26: 21-27. Dr. Che Haron. 2001. Journal of Materials Processing Technology. H. Part II-End Milling. Choudhury. and Aspinwall D. C. Tool Life Testing In Milling. The recommendation cutting condition for hardened steel using the CVD multilayer coated carbide from this study is cutting speeds of 50 to 95 m/min. axial and radial depth of cut 1 mm and 20 mm (nominal diameter of cutter). J.A. Che Hassan Che Haron from University Kebangsaan Malaysia and Mr. 4. Ghani. K.A. J. 6. Product of Implementation. 7. E.

it is necessary to find methods to analyze more precisely. Transistor. Amplification technique that is always used in analyzing transistor circuits and operational amplifier will not working properly for signals in frequency of GHz. Nilai-nilai admitansi yang diperoleh dari gambar 2. After being received by antennas.DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI Satria Ginting Abstrak: Penguat merupakan bahagian terpenting dalam sistem rangkaian komunikasi. umumnya berukuran mikrovolt. PENDAHULUAN Analisis admitansi adalah bagian dari analisis sistem 2 port. Y=1/Z. Therefore. Sesaat setelah diterima oleh antena sinyal ini harus diperkuat agar dapat dideteksi dan diartikan. Sinyal-sinyal radiasi yang berada di udara. Salah satu teknik analisis dan desain akurat tersebut adalah teknik parameter admitansi. Hasil parameter admitansi y yang diperoleh frekuensi meliputi: y11 = g11 + jb11 y12 = g12 + jb12 y21 = g21 + jb21 y22 = g22 + jb22 resistif dan terdiri dari pengukuran untuk setip PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT Gambar 1. Admitansi. Admitansi adalah nilai kebalikan dari impedansi. 2 Port Abstract: The amplifier is the most important circuit in communication electronics. Oleh karenanya diperlukan metode analisis yang lebih teliti dan akurat. these signals should be amplified in order to recognized and translated correctly. Cara Memperoleh Nilai Admitansi 100 . 1. Nilai tersebut diukur untuk range frekuensi tertentu. Teknik penguatan yang biasa digunakan dalam analisis transistor serta teknik penguatan operasional tidak bekerja optimal untuk sinyal-sinyal berfrekuensi orde GHz. sehingga nilai admitansi y konduktasi g dan suseptansi b. Representasi Transistor sebagai Divais 2 Port Contoh : y11=1/z11=v1/i1. di mana i2=0 Gambar 2. Nilai impedansi terdiri dari komponen reaktif. Parameter admitansi diperoleh dengan mengukur nilai-nilai admitansi dari transistor yang akan digunakan. Radiated signals in spaces measured in microvolt. Kata kunci: Penguat. One of these techniques is using admittance parameters. Transistor diperlakukan sebagai kotak 2 port seperti ditunjukkan pada gambar 1.

Ini berarti transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. PEMILIHAN TRANSISTOR Untuk mendesain penguat frekuensi tinggi. Rangkaian Bias Arus bias akan mengalir dari sumber tegangan melalui RFC ke drain dengan memanfaatkan nilai tahanan pada RFC. Gambar 3. maka digunakan analisis kestabilan stern: di mana di mana Dalam artikel ini transistor 2N3823 digunakan sebagai contoh untuk mendesain penguat pada frekuensi 200 MHz. UJI PARAMETER STERN Setelah rangkaian bias diperoleh. Dalam hal ini 10mA. Jika C<1. PENENTUAN RANGKAIAN BIAS Rangkaian bias yang digunakan harus dapat mensuplai arus bias sesuai nilai arus pada parameter admitansi yang digunakan. Rangkaian bias lain seperti bias pembagi tegangan. maka transistor akan cendrung stabil dan tidak berosilasi. maka rangkaian tidak stabil. arus ID= 10 mA. shielding dilakukan untuk memisahkan pin output dan pin input. bias kolektor (untuk BJT) juga dapat digunakan. sebaliknya jika C>1. atau s) pada datasheetnya. Tabel 1 menunjukkan contoh tabulasi parameter s untuk transistor MRF134. Dari impedansi tersebut diperoleh nilai YS dan YL. Transistor frekuensi tinggi (sampai beberapa GHz) memiliki parameter 2 port (parameter h. 3. Transistor 2N3823 pada frekuensi 200MHz memiliki nilai C=0. 5. UJI PARAMETER LINVILL Untuk mengetahui apakah transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. maka harus diubah dalam bentuk kompleks. sebaliknya jika k>1. maka rangkaian akan stabil. RF Choke adalah induktansi dengan nilai tinggi dan akan melewatkan semua sinyal pada frekuensi tinggi. dengan syarat dapat mensuplai arus bias yang ditetapkan dan dipisahkan dengan menggunakan RFC. 101 . Jika tabulasi yang tersedia dalam bentuk fasor. maka dalam mengaplikasikannya akan efektif pada frekuensi tersebut dan arus bias 10mA. selanjutnya adalah menghubungkan penguat dengan sumber sinyal dan beban. harus dipilih tansistor dengan karakteristik yang diinginkan. Pada frekuensi ini. Adapun metode konversinya ditunjukkan beberapa formula berikut ini. RFC menghubungkan drain ke ground. Parameter yang penting dari sumber sinyal dan beban adalah impedansi masingmasing.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting 2. Untuk mencegah osilasi akibat induksi elektromagnetis. maka transistor cendrung tidak stabil dan memerlukan rangkaian netralisasi. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah. Rangkaian bias yang ditunjukkan pada gambar 3 menggunakan bias sendiri dalam konfigurasi common gate. Hal ini dicapai dengan menambahkan RF Choke pada setiap kaki transistor. 4. maka parameter admitansi harus diuji kestabilannya dengan menggunakan uji kestabilan Linvill: Jika k<1. Untuk mengetahui keseluruhan rangkaian dapat beroperasi atau tidak. transistor memiliki parameter y sebagai berikut: Nilai ini adalah nilai pada frekuensi 200MHz dan ID=10mA. y. di mana nilai Zo adalah 50 Ohm. maka harus dikonversikan ke parameter y. transistor harus dipisahkan secara fisik pada frekuensi 200MHz dari rangkaian biasnya.504. Nilai tersebut diukur dan ditabulasikan sampai rentang frekuensi tertentu. Kapasitor digunakan untuk mengurangi efek riak dari catudaya. Jika tabulasi yang tersedia dalam parameter s atau h.

y12t. . yakni gain transducer: Pada kasus di atas. dan nilai admitansi rangkaian feedback adalah y11f. Bentuk Modul Penguat dan output admittance adalah: 7. 4 Oktober 2006 6. digunakan rangkaian matching impedance. 102 . 8. penguat dapat dibuat beberapa tingkat dan dipabrikasikan dalam bentuk modul seperti gambar 5 berikut. maka dapat dilakukan teknik stabilisasi dengan menambahkan rangkaian feedback seperti ditunjukkan pada gambar 6.Parameter y langsung diperoleh secara experimental untuk frekuensi yang diinginkan. YOUT dan YL juga dapat dimatchingkan.Pemakain matching impedance dan teknik stabilisasi mempertinggi luasnya pemakaian transistor sebagai penguat.8 dB. Perhitungannya diperoleh dengan memasukkan komponen YS dan YL pada perhitungan. Teknik Stabilisasi Penguat Jika nilai parameter admitansi transistor adalah y11t. Rangkaian Lenglap Penguat Untuk langkah selanjutnya. Maka untuk memaksimalkan penguatan dan menstandarkan impedansi sumber dan beban. Namun permasalahannya adalah ketika beban dan source tidak match. karena tidak mempengaruhi gain selama arus bias terpenuhi dan rangkaian dipisahkan dengan RFC.Pemilihan bias lebih flexible. No. KESIMPULAN Dari uraian di atas. Keduanya menggunakan matching impedace. Di mana input admitance penguat adalah: Gambar 5. hal ini berarti kondisi penguat stabil. YS=50Ohm (YOUT dapat dihitung). y22f. y12f. y21f. nilai kestabilan stern untuk admitansi beban dan source 50 Ohm adalah lebih besar dari 1. maka akan diperoleh penurunan nilai gain. Gambar 6. nilai-nilai yang diperoleh eksak dan teliti.Perhitungan lebih mudah. Posisi RFC disesuaikan sehingga diperoleh rangkaian yang tepat. TEKNIK STABILISASI Jika pada langkah perhitungan kestabilan Linvill nilai C ternyata lebih dari 1. Hal ini disebabkan: . sehingga YIN dan YS dapat dimatchingkan. Namun penguatan yang diperoleh akan bervariasi terhadap nilai YS dan YL. .y21t. . MAKSIMALISASI PENGUATAN Gain maksimal yang dapat diberikan sebuah penguat adalah: Kondisi ini diasumsikan bahwa impedansi source dan load match dengan input impedance/admittance dan output impedance/admittance dari penguat. Gambar berikut adalah gambar lengkap di mana diasumsi kan YL=50 Ohm (YIN penguat dapat dihitung). diperoleh bahwa analisis dan desain penguat dengan menggunakan parameter admitansi lebih teliti dan lebih mudah dibandingkan dengan parameter sebelumnya seperti phi atau gm. maka akan diperoleh nilai admitansi baru dari rangkaian: Nilai ini dapat digunakan dalam desain yang baru dengan menggunakan langkah-langkah yang sama.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.y22t. Nilai penguatan maksimum yang dapat diberikan adalah 16. Gambar 4.

.” by John Lauchner and Marvin Lilverstein. Proc. 1961. Electronic Design. “Using Linvill Techniques for R.” by Linvill and Gibbons.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting REFERENSI “Field Effect Transistor RF Amplifier Design Techniques. Stern. Application Note 423. IRE. Norris. F. 103 .. Bodway. May.” Motorola Semiconductor Products. January. 1966. “Stability and Power Gain of Tuned Transistor Amplifiers. “Small-Signal RF Design with Dual-Gate MOSFET’s. April 12. Inc. Electro-Technology. “Circuit Design and Characterization of Transistors by Means of Three-Part Scattering Parameters.” by George E. Application Note 478A. McGraw-Hill. 1966. Application Note 513. 1968. Inc. High-Frequency Amplifiers. “Linvill Technique Speeds High Frequency Amplifier Design.”Motorola Semiconductor Products.” by Peter M. “Transistors and Active Circuits. “High-Gain. 1957. Application Note 166.” Motorola Semiconductor Products. The Microwave Journal. Inc. “A High Gain Integrated Circuit RF-IF Amplifier with Wide Range AGC. March. Inc.” by Arthur P.” Motorola Semiconductor Products. Amplifiers.

Laine. TEORI KARBON Karbon merupakan suatu bahan padatan yang berpori dan mempunyai tiga bentuk alotrop. It has caloric value approximatly 5000 cal/gr with compressibility number is 2.ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA Departemen Fisika. 1996).5% dan pH=6. Calafat. namun mutunya seperti nilai kalor bakar masih berkisar 5000 kal/gr dengan kuat tekan 2. Sungguh menakjubkan bahwa satu elemen tunggal seperti karbon.2% larutan natrium silikat (Na2SiO3). Adapun komposisi arang tempurung kelapa terdiri atas unsur C=81. Perlakuan Panas. sementara cadangan energi seperti minyak bumi. The impregnant was blended with an organic glue then molded to be a briquet. Pada pembuatan briket arang. Silikat Abstract: A materil such as charcoal briquet can be used as an alternative energy. (Sudrajat R. arang aktif serta briket. Tempurung kelapa banyak juga dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu pada industri kerajinan tangan. Kata kunci: Impregnasi. arang. Pembriketan atau briquetting terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu. A.Aslam Ali PD II-LIPI).. grafit. arang yang dihasilkan digiling dan diayak sampai (40 – 60) mesh.1–1.1–1. Tempurung kelapa dikarbonisasi pada (600–700) 0C dengan udara terbatas. Partikel halus ini diimpregnasi dalam larutan natrium silikat (Na2SiO3) dengan variasi konsentrasi (0. peat. 1999). banyak dimanfaatkan sebagai media abrasi dan Aditia Warman 104 . arang dan bahan mineral lainnya. dapat muncul dalam dua bentuk kristal yang sangat berbeda yaitu intan dan grafit. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Abstrak: Briket arang adalah suatu sumber energi alternatif yang dapat diturunkan dari arang tempurung kelapa dan perekat. Dengan menggunakan teknik ini maka serbuk karbon jika diimpregnasi dengan silika (SiO2) akan memperkecil ukuran pori-pori karbon tersebut. These briquets were tested their caloric value and their compressibility.1%.84 cal/gr with its compressibility number 4. untuk meningkatkan mutu ini maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. N=3. To improve the quality both caloric value and compressibility number is an objective of this study. Briket ini diuji kalor bakar dan kuat tekannya. Intan adalah elemen yang transparan dan merupakan salah satu material paling keras. Hilda F.45 kgf/cm2 in 0. Pemanfaatan arang sebagai arang aktif adalah didasarkan pada sifat-sifatnya yang merupakan bahan padatan amorf yang berpori (Keake. pori-pori karbon yang besar diduga menurunkan nilai kalor bakar dari briket (4000-5000) kal/g (Hartoyo Ando. garam. 1955). karena selama ini penggunaan tempurung kelapa hanya sebagai arang biasa dan belum dipergunakan secara optimal. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui adalah pemanfaatan limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket arang.0)%. dan kabon amorf. This material has been regenerated from a coconut shell charcoal blended with organic glue. These particel were impregnated in natrium silicate (Na2SiO3) solution under a range cocentration (0.2% natrium silicate (Na2SiO3) solution.0)%.1993). Variasi Konsentrasi. sementara sediaan tempurung kelapa cukup banyak terdapat di Indonesia khususnya daerah Sumatera Utara dan dapat diperbaharui. Pembriketan ini lazim dilakukan terhadap coke.45 kgf/cm2 pada konsentrasi 0. O=9.9%.7 sedang karbon tempurung dapat disebut karbon polar atau karbon nonpolar. Karbon merupakan material berpori-pori di mana pori-porinya semakin besar setelah dilakukan aktivasi fisik atau kimia. maka arang polar yang sering digunakan karena material arang polar akan merekat dengan binder atau perekat yang bersifat polar (Suheng Wu. oleh karena itu kita dituntut untuk memikirkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. A maximum caloric value was obtained 8083. dan gas alam yang tersedia di perut bumi semakin menipis.84 kal/gr dengan kuat tekan 4. Pembuatan obat dalam bentuk tablet atau pun katalis dalam bentuk pellet termasuk juga dalam cara briquetting. The charcoal formed then was crushed. hal ini dibedakan dari banyaknya gugus karbonil (C=O) yang melekat pada karbon (J. kalor bakar maksimum diperoleh 8083. 1999).64 kgf/cm2. sized to (40–60) in mesh. Karbon polar biasanya terjadi jika karbonisasi (proses pengarangan) karbon di bawah suhu 700 oC. H=5. Pori-pori ini dapat diimpregnasi dengan logam untuk keperluan katalis suhu tinggi (A. A coconut shell was carbonized at (600–700) 0C in limited air condition.5%. tepung tempurung. Bahan ini (impregnan) selanjutnya dicampur dengan perekat organik dan dicetak menjadi briket. intan. PENDAHULUAN Dengan meningkatnya secara pesat pembangunan pada segala bidang yang mengakibatkan pula meningkatnya kebutuhan akan energi.64 kgf/cm2. G.

cara ini dipakai untuk material-material tertentu saja.28 bagian dari 10% larutan Na2SiO3 . 2.30 bagian dari 25% larutan dekstrin/glukosa . sifat fisis yang penting dari briket arang ini adalah nilai kalor bakar dan kuat tekannya. BRIKET ARANG Briket arang dapat dibuat dari campuran bubuk arang ditambah dengan suatu bahan pengikat lalu dicetak dan dipres pada cetakan dan setelah itu dikeringkan. 1.23 bagian dari 5% larutan H2SO4 Selanjutnya diaduk hingga merata dan dicetak dalam cetakan dan ditekan dengan hidrolik press 10 kgf/cm2 dan dikeringkan untuk siap dikarakterisasi kembali. Grafit digunakan sebagai pelumas padat dan alat tulis (mata pensil). setelah itu arang yang telah diimpregnasi ini dicuci dengan air dan ditiriskan lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 125 o C selama 6 jam. .Kuat tekan 105 . Butiran arang yang berukuran 40 dan 60 mesh ini selanjutnya dibagi menjadi 10 bagian dan masing-masing direndam dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) yang konsentrasinya masing-masing (0. selanjutnya butiran arang ini diayak kembali dengan ayakan yang berukuran 40 dan 60 mesh dan dipanaskan pada tanur dengan suhu 400 oC selama 4 jam dan siap untuk dikarakterisasi: . METODOLOGI PENELITIAN Impregnasi Karbon dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) Butiran arang yang terbuat dari tempurung kelapa dengan metode destilasi kering akan menghasilkan arang dengan rendamen yang tinggi. pembriketan biasanya lazim dilakukan terhadap coke. FTIR Pembuatan Briket Arang Butiran arang dari hasil impregnasi selanjutnya dibuat menjadi briket dengan komposisi sebagai berikut: tujuh bagian arang dicampur dengan satu bagian bahan pengikat dan bahan pengikat ini terdiri dari.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman alat pemotong. secara garis besar pembriketan dapat dibedakan atas dua macam.0 ) % selama satu hari. peat. Kadar abu.Kalor baker . hampir semua/sebagian besar dari pembriketan menggunakan cara ini. Intan dan grafit mempunyai struktur atom karbon murni yang sifatnya berbeda sedangkan karbon amorf meliputi sejumlah besar senyawaan yang bagian terbesarnya adalah karbon dan tidak dapat di klasifikasikan sebagai intan atau grafit. Absorbsi Iodium. Pembriketan tanpa memakai pengikat. . SEM.1 s/d 1. dalam hal ini digunakan tekanan yang sangat besar (mencapai 10 ton/in2). Pembriketan dengan memakai pengikat (binder). dan mineral lainnya. Adsorbsi asam asetat . Kadar volatil.Kadar karbon. 1999). kuat tekan yang memadai diperlukan untuk mencegah agar briket arang ini tidak pecah pada waktu pengangkutannya. selanjutnya dihaluskan dengan hammer mill dan diayak dengan ayakan berukuran 40 dan 60 mesh lalu diaktifkan dengan metode pengaktifan selanjutnya dicuci dengan air lalu dikeringkan dalam oven 125 o C selama 6 jam setelah itu diamati dengan foto SEM dan FTIR untuk mengetahui keadaan permukaan dan strukturnya sebelum diimpregnasi. E. Smallman. termasuk di dalamnya karbon aktif dan karbon hitam karena sifat-sifatnya lebih banyak menunjukkan sebagi senyawa amorf (R.Kadar air. sebagai contoh misalnya untuk coal bituminous.29 bagian dari 25% larutan NaCl . garam arang. Pembriketan terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu. Elemen ini sekarang digolongkan ke dalam kelompok keramik tahan panas karena kekuatannya pada temperatur tinggi serta ketahanannya yang sangat baik terhadap kejutan termal.

00 Kadar Karbon (%) 70.00 0.00 1.90 1.50 0.00 2.00 80.Consetrasi Pengimpreg SiO2 106 .10 0. Abu. Volatil) (%) 7.vs – Consentrasi Pengimpreg Series3 Grafik Kadar Volatil .00 40.00 20. No.80 0.00 9.00 6.00 3.90 1.00 1.00 10.00 1.50 0.00 0.00 30.00 0.40 0.00 0.vs .60 0.70 0. 4 Oktober 2006 HASIL DALAM GRAFIK DAN GAMBAR 11.30 0.30 0.00 60.00 8.20 0.20 0.00 5.40 0.00 90.00 0.00 0.10 Consentrasi SiO2 (%) Series1 Grafik Kadar Air .00 50.60 0.10 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.vs – Consentrasi Pengimpreg SiO2 Series2 Grafik Kadar Abu .Consentrasi Pengimpreg 100.00 4.vs .00 10.70 0.00 Kadar (Air.80 0.10 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kadar Karbon .

6 0.2 0.9 1 1.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik nilai Kalor Bakar .8 0.5 0.3 0.vs .Konsentrasi Pengimpreg SiO2 107 .Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman 9000 8000 Kalor Bakar (kal / g) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 0.9 1 1.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 25 20 Kuat Tekan (kgf / cm ) 2 15 10 5 0 0 0.8 0.4 0.1 0.3 0.7 0.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kuat Tekan .vs .5 0.2 0.1 0.6 0.4 0.7 0.

No. 4 Oktober 2006 Foto SEM Permukaan Arang Sebelum Diimpregnasi SiO2 Foto SEM Permukaan Arang Sesudah Diimpregnasi SiO2 FTIR Sebelum Diimpregnasi 108 .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.

Report No. (1979) “ Standar Industri Indonesia. Keake. Vol. Alport. pp.“ Pembutan Briket Arang dari Lima Jenis Kayu Indonesia”. Supeno M (1987) “Efek Termal dan Nyala Pada Pembuatan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Sifat Fisik Arang Tempurung” Universitas Sumatera Utara Medan. (1994) Pedoman Teknis Pembuatan Briket Arang.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman FTIR Sesudah Diimpregnasi SiO2 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1.G.44 mg I2/g yang didukung oleh data foto SEM dan FTIR. Arang tempurung kelapa memiliki absorbsi I2 = 100. Sudrajat. kadar abu (Ku).45 kgf/cm2 pada konsentrasi pengimpreg SiO2 0.Graw Hill Company. H Bumham. DAFTAR PUSTAKA A.“Actived Carbon” Encyclopedia Of Science and Technology. No. Departemen Perindustrian. Marcel Dekker. ukuran partikel arang. Laine.2. 2. “Polymer Interface and Adhesion ”. Smallman. Calafat. Ando. (1993). Saran Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan variasi tekanan pengepresan. and M. Departemen Kehutanan. “Pengaruh Beberapa pengolahan Terhadap Sifat Arang Aktif ”. Labady (1999). Harotoyo. (2002). R. J dan H Roliadi.2%.3. kadar volatil (Kv) tetapi hal ini menyebabkan turunnya kadar karbon (Kk). Sifat kuat tekan (σ) briket arang tempurung kelapa akan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi pengimpreg SiO2 dan hal ini juga diikuti oleh sifat kadar air (Kr). (1995) “Rekayasa dan Pembuatan Tungku Abu Sekam Dengan Bahan Bakar Briket” Balai Industri Ujung Pandang.” Majalah Ilmiah BIMN No. Badan Penelitian dan pengembangan kehutanan. (1987). London.” Preparation and Characterization of Activated Carbon From Coconut Shell Impregnated with Phosphoric Acid. (1995). (1999) “Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa Meterial”.E. Mc.7. Nilai kalor bakar (C) arang tempurung kelapa meningkat jika diimpregnasi dengan SiO2 pada konsentrasi tertentu. Aslam Ali. Buletin PD II – LIPI Jakarta. bahan pengimpregnasi dan jenis bahan bakunya. J.27. 109 . Vol 1:69 American Society For Testing and Material (1981) “ Annual Book Of ASTM Standards” Part 30 D-28 Departemen Perindustrian. Standar Cara-Cara Analisis dan Syarat Mutu Barang”. No.Y. Meiske S. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. dalam penelitian ini nilai kalor bakar optimum diperoleh 8083. dan nilai kalor bakar ( C ) arang tempurung kelapa tersebut. R.84 kal/g dan kuat tekannya 4.“ Pembuatan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dengan Cara Pemanasan Tinggi. A. Bishop. R. 19-29. absorbsi I2 = 47. 103. Erlangga Jakarta. Souheng Wu (1999). Lumingkewes. Hasibuan M. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Carbon Vol. 3.“ Activated Carbon From Coir Fibre Pith”. Inc. (1996).61 mg I2/g dan semakin kecil setelah diimpregnasi dengan SiO2. Lybrary of Congress Cataloging In Publication Data.J. Hilda F. New York.2.

850/litre. THE IMPACTS AND FINANCIAL LOSSES FROM TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN Urban traffic congestion cannot certainly be eluded.000. increase the travel time.500 pcu/hour at peak hours. pedestrians (on road walking and/or crossing). BACKGROUND Traffic congestion occurred due to the road segment has started not to be able to accommodate/distribute the vehicle flows that spilled over the road. e. etc. In Medan. efforts to minimize the congestion levels are necessary through the application of traffic management policy. How is the existing policy objectives and the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan? And how is the relationship with the urban transport systems of Medan? 1. and the average value of time of traveller is about Rp. therefore the average petrol waste is about 0. functions and classifications of the roads respectively. which restricted by their discipline levels in the traffic. like what always become reasons/arguments for various relevant government parties/individual to protect themselves. and often become chatting topics for community from various classes everywhere.40. For surrounded environment (non users) such as air and noise pollutions. wasting petrol. selling/market on road or on the sidewalks. due to the limited procurement of road infrastructure until the existence of emotional behaviour of motorists. there are about 4 hours peak per day. the traffic congestion/delay and harmful accident also occur due to the behaviour of angkot’s drivers that often turn up (nyelonong) and suddenly stop on/in the middle of road to get on/off the passengers due to “reaching the daily bill target” (kejar setoran). However. restaurants and plaza) which therefore can decrease incomes/revenues of the land use functions. Faculty of Engineering USU Abstract: Urban traffic congestion often become topics in seminars. added by high accessibilities to the surrounded land use of the road segments.5 litre/pcu/road segment. While the petrol (BBM) price is Rp. heart disease). trishaw and urban public transport (angkot) poles. less visitors to land use functions of surroundings roads (parking. such as the correct and integrated traffic managements.1. 2.A. the congestion is also often caused by less accurate intersection management (with or without traffic light). In addition. setting traffic lights. road-cross facilities. cause the queue length becomes more intense. on road social activities (party or funeral ceremony). whereas the movement’s needs are determined by the land use inside the city space and its surroundings which can be illustrated in data of Origin Destination (of movement) Matrix (O-D Matrix).g. and stres (triggering high blood pressure. Each congested road segment has average traffic volume of 2. due to the number of vehicle arrivals (pcu/minute) is quite high on the road segment. and the average delay is about 10 minutes/pcu/travel. The most urgent for short-term program is the effectiveness and efficiency achievements of transport systems. public transports routes/lines managements (bus lane.- Filiyanti T. traffic direction management (one or two ways). The management should be based on the hierarchical. An illustration for the amount of financial losses per day that has to be bore by traveller community in Medan based on author’ observations and estimations is such as follows: Congestion locations per day in Medan are about 60 road segments (30 intersection spots. has been discussed and investigated by various experts. 2. with assumption of 2 road segments are congested per intersection). urban traffic congestion cannot be eluded. traffic signals. for instance: on road parking. however it supposed to be minimized and not maximized (intentionally or not). for instance: parking location management. Indeed. the urban traffic jam is not only due to the unbalance ratio between infrastructure developments and means boost (vehicles) and low discipline level of motorists. shelter). Traffic congestion on the intersection segment can be observed from the long queued vehicles. When the distances between intersections are close enough. Bangun 110 . while the number of vehicles that can be distributed is very limited during the green-light time. that is “an interesting scene” or the contest of “line exhibition of various types of queuing vehicles” at every segment of road in Medan. retails/shops.URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS A Lecturer/Researcher of Civil Engineering Department. The aim of the traffic management policy is to manage the movement to achieve the system’s efficiency and effectiveness in accordance with the movement’s needs. The impacts and financial losses caused by traffic congestion that are directly affected are: 1. For users (travellers). which consequently causes series of congestions at all integrated junctions. This could happen because of high side friction effects which lead to road segment stricture (bottleneck). like what has been visible now. then the traffic queue on the preceded intersection will affect the succeeded intersection. Furthermore. bus way. bus priority) and the bus stops (bus bay. Therefore.

-.-. therefore the loss of angkot due to less passengers (less trips) with about 15.000 passengers with value of time is Rp20.12. H.1. Flow stricture occurs (bottleneck) on Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection caused by the shift of one-way flow (from Medan to Binjai) to become two-way flows (starts from the intersection nozzle of Gatot SubrotoIskandar Muda to Binjai direction)..20.-/vehicle. 2. especially in large cities.000. This is not even yet the loss that has to be carried by non-users (needs further investigation with more accurate data). Prior to the one-way policy on Gatot Subroto Street.12.000 x 10/60 x Rp. the urban traffic congestion is not deserve just as a chatting topic for community.000 x Rp. Ayahanda intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Ayahanda Street and/or Darussalam Street. Bangun /productive hour (assumption: 1 vehicle contains 1 person).000. should be sustained by managing the traffic systems in such a way in order to maintain the average operational velocity of vehicles.5 x 4 x 60 x Rp.500 x 0. Raja Street.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. schools and retails) and limiting the impacts of side frictions. the traffic flow distributions according to the both directions are similar in general.000. The stipulations based on the road hierarchies. however it has to become a serious attention for all levels of road user communities. function and classification. the total financial loss for traveller community (user) is Rp.000. To achieve these goals. The waste petrol occur = 2. 111 .000.000.g. Gatot Subroto Street is a Primary Artery Road and operating as a State Highway (interprovinces) as well as S. researchers/planners of transportation and city region development. Asrama intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Asrama Street. the traffic flow will affect the intersection of Abdulah Lubis Street. Department of Communications/DLLAJ).000.. From the existing road hierarchy.per day (± Rp.555. which will continually unite with the flow from Iskandar Muda Street at the intersection of Abdulah Lubis – Iskandar Muda causes severe congestion at the intersection. such as follows: a.000.= Rp. Maulana Lubis Street intersection and continually until the intersection of Raden Saleh Street (becomes extreamly congested). Wahid Hasyim and continually to the intersection of Gajah Mada– Iskandar Muda (extreme congestion).40. which consequently causes higher congestion level on one-way flow of Gatot Subroto Street. The loss due to productive time = 2. As a Primary Artery Road. The congestion from Darussalam Street will affect Pabrik Tenun Street. In conclusion. functions and classifications. law supervisors (police. However. so that the traffic flow condition on the road segments is expected to be constantly fast. A.000. the more the locations and the higher the levels of congestion. which causes: 1. Adding susceptible spots and congestion levels on the other intersection road segments caused by shifting the traffic flow distributions.. The congestion from Gajah Mada Street flows to S.180.850. b. continuing along the roads. then the accesses to local roads along the Primary Artery Roads should be limited.. with a small difference is at morning and afternoon peak hours. The loss due to delayed waiting time = 120. Therefore. d. Thus.= Rp. the prevailed one way policy is only from Petisah Roundabout until Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection (from East to West direction).000. especially at afternoon peak-hours. The average number of angkot’s users for 4 peak hours is about 120.M.285.150.000. added by stres burden that has to be experienced. state that the services of Primary Artery Roads. especially about the one-way policy on Gatot Subroto road segment (from roundabout of Petisah until Gatot Subroto – Iskandar Muda intersection). at both inside and outside the cities (suburban).36 Billions per month). 3.. c. H Wahid Hasyim Street and affects the intersection of Gajah Mada–K. especially for regulators (The City Government and the Regional House of Representatives). The loss of public transport operators = 15.000.000.000. then the larger the loss that has to be bore by traveller community (user) and non-users. traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East becomes more excessive to K.per productive hour and the waiting time delays averagely about 10 minutes.: market.000 total armada (angkot and taxi) is about Rp.Wahid Hasyim Street.400. Western intersection.= Rp.1. the City Government should rigorously mull the policy over through deeper and comprehensive (integrated) academic investigation/research in accordance with road network systems and traffic movement patterns.-. plaza.Parman Street and continually to Kejaksaan Street (becomes more severe at the intersection of Imam Bonjol– Diponegoro). THE IMPACTS OF BY-SPOTS ONE-WAY POLICY Post application of policy package of determining the traffic movement direction from two ways to become one way in several road segments in Medan is increasingly discussed through seminars and newspapers.. The congestion from Kejaksaan Street will flow to Kpt.. From KH. real estate.= Rp. including limiting the direct accesses to surroundings land use (e.500 x 60 x 15/60 x Rp. continually to the intersection of Skip Street and keep going to Gereja Street until Glugur junction.000.

Whereas for the policies of traffic flow direction management of other road segments in Medan. but it should be by network systems that are integrated. What become salient questions are: Has City Government of Medan (Pemko) accurately mulled the amount of losses over including other effects caused by the one-way policies? How much more the losses. Not yet adding with financial loss for the angkots’ drivers due to fewer passengers. less trips and longer travel distances. the traffic flow comes from Gajah Mada Street to Iskandar Muda Street will cause travellers search alternative roads around the acceess roads. 4. Dr.. moreover the effects will be very heavy and complicated for community. which will enable to reduce conflict spots of the intersection (therefore continued flows will separate from turned flows). The ingress and egress accesses of Medan Fair Plaza are not permitted from Gatot Subroto Street. without solemn planning and up to angkot’s will). Considering the too many routes and angkots’ armada that pass the road segment simultaneously with longer routes (chaotic reallocations. which causes additional congestion in various intersections along Iskandar Muda Street and continually causes congestions at the intersections of each alternative road with S. D. WIN-WIN SOLUTIONS The authors give temporary win-win solutions (without comprehensive data analysis). demand reduction to market/shopping areas. about the possible policy that may be more effective to be applied (with the existence of Medan Fair Plaza). in one conditional that the traffic flows should be changed back to two-ways flows. 5.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. so that the traffic management in Medan is not by spots. the vow has become a fact. if not based on RTRW Medan City. for instance. it is compulsory to undertake further investigations that are more integrated according to the comprehensive systems. that has to be integrated with RTRW of North Sumatera Province and has been enacted (Perda)? 4. 2. 4 Oktober 2006 3. How long will the development vow be a fact so that the financial and psycho losses for the community can be estimated and bore? If. e. especially for retails’ businesses that tend to be concentrated on the surroundings CBD (Centre Business of District) area. therefore it is necessary to determine the both accesses from other surroundings road alternatives in accordance with the road functions and hierarchies. etc. Therefore. THE ROLES OF CITY GOVERNMENT OF MEDAN Enacting the one-way policy on several road segments. e. especially during the policy application term. Pardede Street. causes community has experienced the negative impacts.Parman Street that affect the intersection of S. No. 5. cause the traffic chaotic and congestion more severe on road segments and intersections that accommodating the impacts. The win-win solutions are: 1. cooperative and sustainable. Thus. whereas the development of the road infrastructure has seen nothing. Parman Street with Sudirman Street. police). The reallocation of angkot routes to other road segments. only then the City Government (Pemko) issues a plan to develop the Warga Street. which previously passes the road segment of Gatot Subroto (specifically from West direction to East). then these will cost huge money and social impacts and will cause a lot of stres to urban community as the expelled victims. In the future. The both solutions above will exactly minimize the traffic congestions along Gatot Subroto Street although the traffic flows are still in two-ways flows like previously. it is better if the road networks (infrastructure) have been built primarily before applying the traffic management policies. there will be no more direct access from Gatot Subroto Street to Medan Fair Plaza. which have to be bare by the community? And to where the direction of further development of Medan. especially flows from West to East for land users on surroundings road segments. T. The development of Warga Street which has to be followed by the establishment of fly. The development of Medan City has rapidly advanced nowadays. The intersection of Gajah Mada–Iskandar Muda. Additional of heavy duties.g. The city establishment /development concepts are expected not only having temporary goals or just taking the advantages (lagi mumpung). such as: Hayam Wuruk Street. because the perceptions and the travellers’ traits have patterned on road network according to time.over (jalan layang) at the intersection of Gatot Subroto – Iskandar Muda. it is highly expected that the development programs of Medan City is not centralized only in CBD area or in the other word “heaping sugar in city centre” so that the “ants will gather and rotate in city centre” that causes various bigger urban problems (not only in transportation sector but also in other sectors) so that the solutions become heavier and more complicated. the management of traffic problems might be different again. Retail business owners/shareholders of Medan 112 . Reduce accessibilities to Petisah market and retails/office complex around the road due to the one way flow. parking. Therefore. after the congestion problems become very serious and the solutions are only either to widen the roads or to establish a new road or a fly over. higher costs and more plenty security guards (DLLAJ. Fair Plaza are expected to (should) grant the financial compensation for the development of both types of road.

Satellite Cities. Februari 2006. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. Bangun.T. Napitupulu. Turki.. F.. 13 November 2004. ----------. p.. P. 2006. F. Bangun. A Case Study of Istambul.. Bangun. Sanda-shi.. 1992. An Opinion. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. 1.. 1993. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism. A Case Study of Accra Metropolitan Area. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung... International Planning Studies. 13. R. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. Bangun Thus. F. the direction of city development is compulsory determined based on the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan and it should be synergized for both inside and inter development sectors with RTRW of Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang (MEBIDANG) simultaneously with RTRW of North Sumatera Province. Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan. and Alkhairi.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. 15 January 2005. Portland State University. Department of Urban Engineering. p. and Bangun. Sutomo. R. 2005. ----------. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan.. 103 – 108. Januari 2006. An Opinion. Sorensen. Munawar. Powerpoint Transparansi. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 2. Departemen of Public Work RI. M.. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? An Opinion. 2005. 18.. Medan. and Bangun. Napitupulu. Department of Transportation of Medan. Medan. 19 November 2004. p. R. Analisis Newspaper: Medan. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. F. 13. F. P. P.and Alkhairi.. dan Alkhairi. 3. 113 .. p. R. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan.. and Bangun. No. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. Waspada Newspaper: Medan.. University of Tokyo. R. 2004. ----------. 1. p. 4.. p. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 1. Medan. F. April 2006. 31 Januari 2005. pp.L. Directorate Genderal Bina Marga. A. Jogjakarta.. Jakarta. Hyogo-ken. A. REFERENCES Bangun.. Jakarta. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. F. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. Napitupulu. and Bangun. 2005. Minister of Transportation RI. Portland. Leal. Powerpoint Transparansi. and Bertini. H. 6. 2006. Ghana. Hasamagaola 3-25-3. An Opinion. 4. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? An Opinion.. p. 13. An Opinion. Bandung. Japan 669-1545. Beta Offset Publisher. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. R. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. The Urban Satellite Field Concept. 2001. A. 21 Maret 2005. 6. Waspada Newspaper: Medan. 2003. F. An Opinion. Manajemen Lalu lintas Perkotaan.. 13. Jogjakarta. Vol. Napitupulu. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65/1993 about Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. dan Napitupulu. Vol. pp 9–32. No.

114 .) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. 1995). Pemanfaatan kayu dari spesies yang kurang dikenal (lesser known spesies) dan berkualitas rendah merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut. perkebunan bahkan di pekarangan rumah adalah salah satu jenis kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. rengas. Sifat Pemesinan Abstract: Durian wood (Durio zibethinus L. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. fuzzy grain. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. This research indicated that durian wood can be made alternative to industrial raw material of wood working.) adalah salah satu kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk bahan baku dalam industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. Perilaku kayu dalam proses pemesinan akan berpengaruh terhadap efisiensi pengolahan dan merupakan salah satu kriteria dalam penentuan alokasi penggunaannya. kempas. Tujuannya ialah untuk memperoleh gambaran mengenai mutu kayu olahan sebagai hasil interaksi antara kayu dengan berbagai mesin yang digunakan di dalam pengerjaannya (Ginoga. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifatsifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. serat terangkat. bulu halus. Tito Sucipto. This research showed that the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. Kota Medan. pinus.SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L. Keywords: Durian Wood. UD Setia Perabot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. raised grain and destruct grain. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat sampai sekarang pada umumnya terbatas pada kayu dari spesies yang telah dikenal dan berkualitas tinggi. dan serat hancur. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengolahan kayu. Sumatera Utara. kempas dan lainnya lebih disukai oleh industri pengolahan kayu sebagai bahan baku konstruksi dan mebel.000 jenis kayu yang diperkirakan tumbuh di Indonesia merupakan jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu dan secara alami terdapat dalam jumlah yang besar. Kayu durian yang biasa ditanam di hutan rakyat. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian bertempat di pabrik pengolahan kayu furniture dan mebel. Machining Properties PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan kayu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan manusia. serat tersobek. Pemanfaatan kayu ini tentu harus didasarkan pada kualitas yang sesuai dan seimbang dengan kayu jati. Jenis cacat yang teramati pada proses permesinan kayu durian antara lain serat terserpih.) is included first class (very good). Supriadi dan Rachman (2002) mengemukakan bahwa 400 jenis dari 4.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. Kayu-kayu yang memiliki kelas kuat dan kelas awet tinggi atau sifat-sifat pengerjaan kayu yang sangat baik seperti kayu jati. tanda serpih. rengas. Padahal pasokan kayu dan ketersediaannya semakin berkurang dan sulit untuk didapatkan. Kayu selain banyak dimanfaatkan untuk bahan baku konstruksi juga dimanfaatkan untuk industri pengolahan kayu. The defect kind that abserved in the machining process of durian wood including chipped grain.) termasuk kelas I (sangat baik). dan lainnya tersebut sehingga pemanfaatannya dapat optimal dan sesuai dengan penggunaannya.) (THE MACHINING PROPERTIES OF DURIAN WOOD [Durio zibethinus L]) Muhdi. dan Nur Idul Adha Abstrak: Kayu durian (Durio zibethinus L. Wood Working. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifat-sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L.) is one of the wood that has a low quality that could be made use to the alternative fo the processing industry of wood especially as the furniture raw material. meranti.) as a industrial raw material. The aimed of this research was to know the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. Salah satu sifat dasar tersebut ialah sifat pemesinan atau pengerjaan pada papan kayu gergajian. Pengerjaan Kayu. chip mark. meranti. To be able to be made use of the processing industry of wood was needed by basic characteristics especeally the machining properties. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. pinus. Kata kunci: Kayu Durian.

Sifat-sifat pemesinan yang dinilai dan cara pengerjaan adalah: a. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada dasarnya sama dengan metode ASTM D 166699. Papan contoh tersebut dibuat menjadi contoh-contoh uji untuk pengujian sifat-sifat pemesinan kayu. caliper.. c.5 cm 2 cm 5 cm c 10 cm 90 cm Keterangan: a = Contoh uji pengeboran (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) b = Contoh uji pengampelasan (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) c = Contoh uji penyerutan.725-2. Gambar 1. Pembentukan (Shaping) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin pembentuk (shaper).Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Pada setiap contoh uji dibuat dua buah lubang bor dengan laju pengeboran diusahakan cukup lambat agar menghasilkan lubang bor yang baik. Semua contoh uji yang telah diserut disimpan dengan teratur dan selanjutnya dinilai sifat penyerutannya.000 Alat yang digunakan untuk penelitian adalah gergaji bundar (circular saw). dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi bahan dan peralatan yang ada. Pola pembuatan contoh uji disajikan pada gambar 1.000 Taiwan 1992 Pita 300 3 8. dengan kecepatan putar pisau sebesar 9. papan contoh uji dibuat berukuran 120 cm x 12. Kondisi pemesinan disesuaikan dengan kondisi yang saat ini diterapkan di industri pengerjaan kayu.5 cm x 2 cm sebanyak 20 lembar papan (ASTM D 1666-99). Pengerjaan Papan Contoh Pengujian dilakukan dengan menilai sifat pemesinan pada papan contoh. Penelitian sifat-sifat pemesinan menggunakan bahan baku berupa papan contoh kayu durian (Durio zibethinus) berukuran 120 cm x 12. Pengeboran dilakukan sampai 2 mm melebihi permukaan bawah contoh uji untuk menghindari terjadinya serpih.000 Sander HML-906 Taiwan 1997 240 1 1. laju pengumpanan sebesar 12 m/mm. kecepatan putar pisau sebesar 5. 2002). dengan kecepatan putaran mata bor sebesar 3. pembentukan dan pembuatan alur (ukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm) Pengujian 1. mesin serut (planer). Dilakukan pengamatan terhadap cacat-cacat pemesinan yang terjadi pada bidang permukaan hasil pembentukan. b. Contoh uji diserut dengan mesin double moulder searah dengan arah serat. Spesifikasi Mesin Pengerjaan Kayu Planer Shaper Spesifikasi Merk-Tipe AT-602 TCB-26 Asal Buatan (tahun) Tipe bilah Tegangan (volt) Tenaga (HP) Kecepatan (rpm) Cina 1995 Persegi 240 4 2. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. dan Nur Idul Adha Tabel 1. 30 cm a b 2. Spesifikasi mesin yang digunakan dalam proses pengerjaan disajikan pada tabel 1. Alat bantu yang digunakan adalah meteran. 1982 dalam Supriadi dan Rachman. Memberi tanda pada setiap contoh uji begitu keluar dari mesin dengan menunjukkan arah masuk kayu ke dalam mesin. Penyerutan (Planing) Contoh uji penyerutan dibuat berukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm.000 Router KaferMK408 Cina 1994 R4-R6 220 4 20. Pada salah satu sisi contoh uji tersebut dibentuk alur berbentuk M6 (moulding model 6).000-6. Pola Pemotongan Contoh Uji (ASTM D 1666-99) 115 . mesin bor (borer) dan mesin amplas (sander).000 rpm. Tito Sucipto.5 cm x 2 cm dan bebas cacat. Muhdi.00012. Mata bor yang digunakan berdiameter 12 mm. Semua papan contoh bebas cacat terlebih dahulu dikeringudarakan hingga kadar air 12–18%. mesin pembuat alur (router). Pembuatan profil ini menggunakan pisau M6. Semua papan contoh dalam keadaan kering udara dan kondisi bebas cacat. mesin profil (shaper). Sudut potong pisau diatur sebesar 20°-30°. Perubahan tersebut terutama pada pembuatan contoh uji dan cara pengujiannya (Abdurrahman dan Karnasudirja. alat tulis.600 rpm.0006. kaca pembesar (loope) dengan perbesaran sepuluh kali dan tranparansi millimeter. Pengeboran (Boring) Contoh uji yang dibor berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm. Selanjutnya dibuat contoh uji dan dikerjakan dengan peralatan yang terdapat di UD Setia Perabot.00032. Pembuatan Contoh Uji Menurut metode ASTM D 1666-99.000 Borer GeetechMA09 Taiwan 1995 Bor 220-240 2 2. serta tebal sayatan sebesar 2 mm.000 rpm.

Menurut Koch (1964). No. Loope dengan derajat pembesaran sepuluh kali digunakan sebagai alat bantu untuk melihat lebih jelas bentuk cacat. Penyerutan (Planing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas penyerutan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 93 %.5 cm. Arah serat kayu durian yang berpadu dan adanya mata kayu diduga juga akan membentuk cacat serat terserpih. Pada permukaan kayu dengan arah serat lurus jarang ditemukan cacat ini.5 mm. Cacat serat terserpih lebih banyak ditemukan terdapat pada permukaan kayu dengan arah serat berpadu dan di sekitar mata kayu seperti yang terlihat pada gambar 2. Pengujian Sifat Pemesinan Setiap contoh uji yang telah dikerjakan dengan mesin diamati hasilnya secara visual. Pembuatan alur (Routing) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin router. Proses ini menggunakan kertas amplas grit 80 dan 120 dengan tebal pengampelasan sebesar 0. Pengambilan kesimpulan sifat pemesinan kayu dilakukan secara kualitatif berdasarkan persentase rata-rata permukaan contoh uji yang bebas cacat dan selanjutnya dikelompokkan menjadi lima kelas sifat pemesinan. adanya miring serat (berpadu) cenderung merangsang timbulnya cacat pengetaman yang disebut cacat serat terserpih. tatal tebal akan cenderung terbelah (splitting). sehingga sisi kayu tidak siku. Pembahasan 1.5 cm dan panjang 90 cm. Oleh karena itu. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat terserpih yaitu sebesar 4 %.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Cacat serat terserpih hampir merata terdapat pada semua permukaaan kayu. Selanjutnya diamati cacatcacat pemesinan yang timbul. Pisau router yang digunakan berbentuk R6 yang menghasilkan bentuk “r” pada sisi kayu. diikuti bulu halus dan tanda serpih masing-masing sebesar 2 % dan 1 %. 2. Kecepatan dorong kayu (feed rate) diatur sebesar kurang lebih 360 m/menit dengan arah pengumpanan searah dengan arah pengumpanan pada saat penyerutan. Pengerjaan penyerutan menyebabkan banyaknya serat yang terlepas dan membentuk lekukan-lekukan pada permukaan kayu. e. walaupun ada juga permukaan kayu yang sama sekali tidak terdapat cacat ini. Analisis Data Pengolahan data mengenai sifat pemesinan kayu mengacu pada ASTM D 1666-99. Terdapatnya cacat ini diduga karena tebalnya serat-serat kayu (tatal) durian. Cacat yang terbentuk ini biasanya disebut serat terserpih. Menurut Darmawan (1997). sehingga pada permukaan papan akan terbentuk cacat akibat belahan tadi. 4 Oktober 2006 d. bulu halus dan tanda serpih. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji penyerutan yang disajikan pada lampiran 2 adalah serat terserpih.000 rpm. Tabel 2. Nilai Bebas Cacat dan Kelas Mutu Sifat Pemesinan Kayu Durian Pembuatan Penyerutan Pembentukan Pengeboran Kriteria Alur (Planing) (Shaping) (Boring) (Routing) % bebas 93 87 96 96 cacat Kelas I I I I Mutu Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pengampelasan (Sanding) 95 I Sangat baik 116 . tatal yang tebal kekuatan lenturnya (bending) lebih tinggi dari tatal tipis. dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang sifat pemesinan kayu durian. tebal 0. Pengampelasan (Sanding) Pada pengujian pengampelasan dipakai contoh uji berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm dengan menggunakan mesin amplas (sander). Dimensi alur yang dibuat pada permukaan contoh uji adalah lebar 0. Selanjutnya data mengenai jenis cacat. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. Objek yang diamati yaitu cacat yang timbul pada permukaan contoh uji sebagai akibat dilakukan pemesinan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Rekapitulasi nilai bebas cacat dan kelas mutu sifat pemesinan pada seluruh proses pengerjaan disajikan pada tabel 2. Sifat pemesinan kayu didasarkan pada besar kecilnya persentase permukaan bebas cacat setelah proses pemesinan. Kecepatan putar pisau router sebesar 30. luas permukaan bebas cacat serta persentase contoh uji yang masuk ke dalam kelas pemesinan yang telah ditentukan.

Serat terangkat Gambar 3. Proses pembentukan yang dilakukan pada sisi lebar kayu menyebabkan sudut potong pisau dengan arah serat kayu menjadi tegak lurus. cacat tanda serpih terbentuk akibat rendahnya kekerasan kayu. sehingga tatal-tatal kayu yang terbentuk akan sangat mudah dilekukkan pada permukaan papan yang telah diketam oleh pisau-pisau pengetam. Muhdi. proses pembentukan merupakan proses peripheral milling.. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembentukan Menurut Koch (1964). Pembentukan (Shaping) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembentukan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 87%. Ini berarti serat-serat kayu tersebut tidak terpotong sempurna oleh mata pisau. pengetaman dengan laju pengetaman rendah dan tebal ketaman tipis akan terjadi pergeseran serat-serat kayu oleh pisau pengetam. Cacat yang paling banyak muncul adalah bulu halus yaitu sebesar 6%. Darmawan (1997) menambahkan bahwa tatal-tatal yang pendek ini memiliki kekuatan lentur yang rendah sehingga tatal-tatal ini mudah digeser oleh mata pisau. Tito Sucipto. Akibat bekerjanya gaya geser ini maka serat-serat tepat di depan mata pisau akan mengalami pemadatan dan mengalami pelipatan. diikuti serat terangkat dan tanda serpih masing-masing sebesar 5% dan 2%. kekasaran permukaan kayu disebabkan oleh terangkatnya kayu akhir sehingga lebih tinggi daripada kayu awal. Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya bagian kayu dengan arah serat berpadu. Darmawan (1997) menyatakan bahwa keberadaan cacat tanda serpih ditentukan oleh karakteristik kayu itu sendiri dan 117 . Cacat Serat Terserpih Akibat Pengerjaan Penyerutan Kecepatan pengumpanan rendah dan tebal ketaman tipis yang dipakai dalam proses penyerutan diduga juga memicu timbulnya serat berbulu halus. Tanda serpih yang timbul diduga karena adanya kandungan resin pada kayu tersebut. Cacat serat terangkat seperti terlihat pada gambar 3. Menurut Darmawan (1997). 2. Menurut Darmawan (1997). dan Nur Idul Adha Mata kayu Serat terserpih Serat terserpih Gambar 2. melainkan terjadi kerusakan serat-serat kayu sehingga terbentuk cacat serat berbulu pada permukaan kayu. Tanda serpih yang terdapat pada kayu durian ditandai dengan adanya lekukan warna hitam. Menurut Darmawan (1997).Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . bulu halus dan tanda serpih. Hal ini menyebabkan serat-serat kayu tidak terpotong sempurna dan terbentuk serat berbulu. yakni suatu proses pemotongan bidang kerja yang dipotong oleh beberapa mata pisau yang berputar terus menerus. Cacat tanda serpih yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu durian termasuk kayu dengan kekerasan yang rendah. Cacat serat terangkat yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena pengerjaan pembentukan dilakukan pada bagian kayu yang masih lunak sehingga menyebabkan kekasaran pada permukaan kayu. sehingga akan terbentuk tatal-tatal yang pendek. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembentukan yang disajikan pada lampiran 3 adalah serat terangkat. sehingga seratserat kayu yang tidak terpotong dengan sempurna akan berdiri dan membentuk bulu-bulu halus.

Pengeboran (Boring) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengeboran sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. Gambar 5. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembuatan Alur Pembuatan alur dengan pisau R6 yang dilakukan sejajar dan berlawanan arah serat diduga menyebabkan cacat serat terangkat dan bulu halus. sehingga ada reaksi ketika mata bor bersentuhan dengan permukaan kayu dan menyebabkan bagian ujung lubang menjadi hancur. 4 Oktober 2006 menjadi lebih serius pada kayu dengan kandungan getah dan resin tinggi. diikuti serat hancur sebesar 1%. Salah satu kriteria hasil pengeboran yang bagus yaitu permukaan yang bersih dan halus dengan sedikit serat hancur dan serat tersobek. Cacat bulu halus ini hampir terdapat pada semua permukaan kayu dan tesebar secara tidak merata. yang ditandai dengan berdirinya serat-serat kayu seperti yang terlihat pada gambar 6. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat tersobek yaitu sebesar 3%. kayu yang memiliki kerapatan sel tinggi. Mandang dan Pandit (1997) menyatakan bahwa kayu durian termasuk kelas kuat II-III. Cacat serat terangkat yang timbul akibat pembuatan alur seperti yang terlihat pada gambar 5. Cacat yang muncul pada hasil uji pengampelasan yang disajikan pada lampiran 6 hanya bulu halus sebesar 5%. Serat berpadu pada permukaan kayu diduga juga memicu timbulnya serat terangkat. Menurut Supriadi dan Rachman (2002). jenis kayu keras mempunyai kecenderungan memiliki cacat bulu halus lebih sedikit dibandingkan kayu yang lebih lunak pada proses pengampelasan. diduga karena proses pengeboran dilakukan kurang sempurna sehingga ketika mata bor ditarik ke atas (keluar dari dalam kayu) ada sebagian serat di bagian pinggir lubang yang ikut tertarik dan menyebabkan serat tersobek pada bagian tersebut. ukuran grit ampelas yang digunakan serta arah pengumpanan kayu saat memasukkan kayu pada mesin ampelas. No. Sedangkan cacat serat hancur yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu yang dibor adalah bagian kayu yang keras. Menurut Koch (1964). Pengampelasan (Sanding) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengampelasan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 95%. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembuatan alur yang disajikan pada lampiran 5 adalah serat terangkat dan bulu halus masing-masing sebesar 2%. Cacat Bulu Halus Akibat Pengerjaan Pengampelasan Cacat bulu halus ini lebih banyak ditemukan terdapat pada bagian kayu yang lunak.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pengeboran yang disajikan pada lampiran 4 adalah serat tersobek dan serat hancur. Timbulnya cacat bulu halus kadang dipengaruhi oleh karakteristik kayu. Cacat Pengerjaan Pengeboran Pembuatan Alur (Routing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembuatan alur sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. Jika arah Gambar 4. Kayu lunak dengan serat-serat yang lunak diduga memudahkan berdirinya sekelompok serat karena terjadinya gesekan antara ujung serat dengan ampelas. 118 . Hasil uji pengeboran ini diduga dipengaruhi oleh berat jenis kayu. karena cacat ini lebih banyak ditemukan pada bagian kayu yang berserat berpadu daripada serat lurus. cenderung lebih tahan terhadap kemungkinan terjadinya cacat ketika melakukan proses pengerjaan. Bulu-bulu halus Gambar 6. Cacat serat tersobek yang ditemukan pada permukaan kayu seperti terlihat pada gambar 4. 3.

1997. serat terangkat. 2002. 1999. Vol. Sifat Pemesinan Enam Jenis Kayu Indonesia. bulu halus. Bogor. Cacat yang paling banyak ditemukan pada permukaan kayu sebagai hasil proses pemesinan kayu durian adalah bulu halus dan yang paling sedikit adalah serat hancur.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Jenis cacat yang teramati pada proses pemesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Bogor. Aghatis dan Manii. Vol. Y dan I. Fakultas Kehutanan. 13 (6): 246 – 251. DAFTAR PUSTAKA American Society for Testing and Materials.N. The Ronald Press Company. Pandit. Rachman. pembuatan alur dan pengampelasan) termasuk kelas I dengan mutu pemesinan sangat baik. tanda tersepih. Vol. 1964). 1964. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. 119 . Jurnal Teknologi Hasil Hutan. Tito Sucipto. A dan O. Secara umum persentase permukaan bebas cacat pada kayu durian untuk semua proses pemesinan (penyerutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. P. X (1): 15–21. pembentukan. Mandang. pengeboran.K. Annual Book of ASTM. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. karena pada saat proses pengampelasan serat yang tidak terpotong sempurna akan bangun oleh gesekan ampelas (Koch. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengerjaan kayu.. Darmawan. KESIMPULAN 1. Buletin Penelitian Hasil Hutan. dan Nur Idul Adha pengumpanan berlawanan dengan arah serat maka kemungkinan terjadinya cacat bulu halus akan semakin besar. Muhdi. W. Philadelphia. Standard Method of Conducting Machining Test of Wood and Wood Base Materials. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Sifat Pemesinan Empat Jenis Kayu Kurang Dikenal dan Hubungannya dengan Berat Jenis serta Ukuran Pori. Wood Machining Process. Pengaruh Laju Pengumpanan dan Tebal Ketaman terhadap Kualitas Pengetaman Kayu Pinus. Ginoga. B. 1997. 1995. New York. Bogor. 20 (1): 70 – 85. serat tersobek dan serat hancur. Yayasan Prosea Bogor dan Pusat Diklat Pegawai dan Sumber Daya Manusia Kehutanan. Koch. Supriadi. 2.

120 .

4 Oktober 2006 SURAT PENGANTAR No. 130 517 496 …………………………………………………………………………………………. H. /JO5. Jabbar M. 7 No. 1. di Tempat Banyaknya 1 (satu) eksemplar Keterangan Disampaikan dengan hormat sebagai tukar informasi ilmiah.JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. TANDA TERIMA Telah diterima dari Berupa Tanggal diterima Nama Jabatan Institusi Alamat Telepon Tanda tangan/cap : Redaksi Jurnal Sistem Teknik Industri Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl. … ..com Volume 7 No.1. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 : JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Vol….Eng NIP.. Isi Surat/Barang JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Ilmiah Terakreditas Vol. ………………………………. M. No.geocities.. Oktober 2006 Pemimpin Umum. 200… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… .31/TI/STI/2004- Kepada Yth : ………………………………. Ir. A. …. Almamater Kampus USU P... mohon lembar di bawah ini dikirim kembali No. Rambe. 4 Oktober 2006 Medan. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful