JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI

Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4
Penanggung Jawab Pimpinan Umum Pimpinan Redaksi Anggota Redaksi : : : :

Oktober 2006
Ir. Rosnani Ginting, MT Ketua Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. Hj. Yuliza Hidayati, MT Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Humala L. Napitupulu, DEA Ir. Harmein Nasution, MSIE Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc Ir. Nazaruddin, MT Ir. Poerwanto, M. Sc Ir. Nazlina, MT Ir. Nurhayati Sembiring, MT Ir. Tuti S Sinaga, MT Ir. Tanib Sembiring, M. Eng Aulia Ishak, ST. MT Buchari, ST Ir. Dini Wahyuni, MT Ir. Danci Sukatendal Ir. Ukurta Tarigan, MT Nisma Panjaitan, ST Dina M. Nasution Jurusan Teknik Indusri Fakultas Teknik USU, Gedung Unit II Lantai 2, Jl. Almamater Kampus USU Medan, 20155. Telp. (061) 8213649 Fax.(061) 8213250 Homepage : http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail : jsti@plasa.com Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Medan Rp. 125.000 per tahun (termasuk ongkos kirim). Biaya dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via Bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening: 005084001 a.n. Ir. T. Sembiring dan mengisi form berlangganan yang disediakan.

Pemasaran/Sirkulasi/Promosi

:

Editing

:

Alamat Penerbit/Redaksi

:

Diterbitkan Harga Berlangganan

: :

Jurnal Sistem Teknik Industri diterbitkan 4 (empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Redaksi menerima karangan ilmiah tentang hasil penelitian, survei, dan telaah pustaka yang erat hubunganya dengan bidang teknik industri. Penulis yang naskahnya dimuat akan dihubungi sebelum dicetak dan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 350.000,- per artikel yang dapat dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening 005084001 a.n.Ir. T. Sembiring.

i

JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4 DAFTAR ISI

Oktober 2006 Halaman
1-5

POTENSI AIR SUNGAI ULAR .................................................................................................................... Boas Hutagalung REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM ............................. Herman Mawengkang, Saib Suwilo, and Opim S. Sitompul PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X .... Amri KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER .......... Sihar Parlinggoman Panjaitan AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ..................................... Idhar Yahya STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X ............................................ Khawarita Siregar ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN ............................ Syahrul Fauzi Siregar PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN ....................................................................................................................................... Anizar ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN ...................................................... Filiyanti T. A. Bangun PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA .................................... Bilter Sirait THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN ... Taslim PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO ................................... Ukurta Tarigan PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN ................................... Mangara M. Tambunan ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS............................. T. Hafli dan Akhyar Ibrahim UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA ...................... Suryatmono

6-10 11-20

21-26

27-29

30-39

40-47

48-53

54-60 61-68

69-72

73-78

79-85

86-90

91-95

ii

HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE ........................................ Armansyah Ginting DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI ...................................... Satria Ginting ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA.............................................................................................................................. Aditia Warman URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS .................................................................. Filiyanti T.A. Bangun SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L.)................................................................ Muhdi, Tito Sucipto, dan Nur Idul Adha

96-99

100-103

104-109

110-113

114-119

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

iii

POTENSI AIR SUNGAI ULAR Dosen Departemen Teknik Sipil. In the future the use of water on Ular River should be complicated if the management of water distribution do not prepare smoothly.= 17.= 632. Dengan membuat suatu pola pengaturan yang baik maka diharapkan penggunaan air tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan juga potensi lainnya seperti galian C berupa pasir dapat ditambang dari sungai asalkan dilakukan dengan pengaturan yang baik. fish pond and maintenance water. Perhitungan Volume Sedimen (Jembatan Serbajadi) adalah sebagai berikut: Perhitungan Prosida (1990) = 172. hal ini memerlukan penelitian dan pengukuran lebih mendalam. seperti pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. kira-kira 10 km dari kota Lubuk Pakam ibukota Kabupaten Deli Serdang.280 ha. Pembangunan lapangan terbang Kuala Namu adalah salah satu rencana yang akan segera dibangun. bila kita ambil angka yang menengah dari hasil perhitungan tersebut yaitu Perhitungan Brown maka: Pengambilan bahan galian “C” Sungai Ular untuk setiap harinya dapat diambil adalah: 231000 m3/thn Vc = -----------------------. air untuk perikanan dan keperluan lainnya. The total area for irrigation now is 18. Adapun potensi tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain: . industries and fish pond should be calculated. dan juga di sekitar sungai ini sudah banyak kegiatan-kegiatan industri. Kabupaten ini pada masa yang akan datang mempunyai potensi yang sangat besar.0 m3/hari 365 hari Dengan pengambilan per kilometer dilakukan maka volume bahan galian “C” yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 632. maka Boas Hutagalung 1 .500 ha already establish. The calculation doing by using the formula has been suggested by Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum (Public Work).70 m3/hari/km 35.The Ular River has been used for irrigation. Debit harian Sungai Ular pengukuran di Pulo Tagor menunjukkan debit ratarata sepanjang tahunnya antara 35 m3/det sampai dengan 75 m3/det. Dengan adanya rencana penyatuan seluruh intake menjadi satu dengan membangun intake baru (rencana bendung karet) di Pulo Tagor.000 m3/thn Perhitungan Brown (1990) = 231.0 m3/hari Vc = ----------------------. pabrik pabrik lainnya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . Another gain can be accepted from the sediment material such as sand and gravel material. and also another needs such as domestic water (drinking and public water). Distribution.7 Km Dari peninjauan dan penelitian lokasi Cathmen Area Sungai Ular didapat bahwa kondisi Cathmen Area tersebut cenderung semakin rusak sepanjang tahunnya sehingga mengakibatkan semakin tingginya volume sedimen sepanjang tahun. dan lokasi Sungai Ular mempunyai nilai potensi yang cukup baik.000 m3/thn Perhitungan Ashida (Sato. Maka untuk mengantisipasi perkembangan tersebut pada saat ini perlu dibuat suatu kajian mengenai potensi yang akan diberikan oleh Sungai Ular yaitu pemanfaatan airnya yang multi guna yang antara lain adalah: air irigasi.Potensi bahan Galian “C” . Keywords: Water. industries and domestic water. 1990) = 289.000 m3/thn Dari hasil perhitungan tersebut.Potensi Air METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder yang diperoleh dari lapangan berupa data-data pengukuran dan hasil-hasil penelitian terdahulu dan seterusnya dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus yang biasa dipergunakan dalam perencanaan irigasi yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yaitu buku: Standard Perencanaan Irigasi. the area can be extended up to 25. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa debit rata-rata Sungai Ular memberikan volume sedimen maximun sepanjang tahunnya. Sesuai dengan perhitungan debit air sungai dan kondisi akibat debit tersebut. air untuk industri. air minum. we try to make some calculation for using water for all purpose and then make suggestion for the future. In this paper.Potensi Bahan Galian “C” Dari hasil penyelidikan bahwa debit sungai 50 m3/det memberikan volume sedimen yang maximum sepanjang tahunnya. in the future if the weir construct. Irrigation and Another Purposes PENDAHULUAN Sungai Ular adalah salah satu sungai yang terbesar di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: The study is to analyse how to use the water on Ular River according to the needs .

3617 31.1594 30.0157 DEBIT TAMBAK M3/det 2. Dengan pemilihan pola tanam alternatif 2 di atas (pola tanam sekarang) menunjukkan bahwa debit kebutuhan dari sumbernya untuk tambak adalah sebagai berikut: Tabel 2.18 31.2956 31.828. Sesuai dengan perhitungan kelebihan debit air Sungai Ular ada baiknya dipergunakan sebahagian untuk kebutuhan air tambak.0211 29.Potensi Air .274 2.452.274 2. Luas Lahan Max.80 43.94 57.4323 29.9761 36. No.01 74.73 65.0895 30.557.274 2.Potensi Tambak Potensi tambak di hilir Sungai Ular cukup besar.6178 34.6336 34.8670 27.Potensi Irigasi Luas lahan irigasi yang tersedia pada proyek irigasi Sungai Ular yang sudah menjadi sawah pada saat sekarang ini adalah 18500 ha .74 53.8656 35.9252 27. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.2506 38.674.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis Tabel 1.8115 35.63 51.647.1400 38.23 51. Sisa debit andalan dengan adanya Tambak DEBIT Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.274 2.102. Diperkirakan luasan yang dapat dipergunakan untuk luasan lahan pertambakan adalah kurang lebih 1232 ha.336 m3/det.274 2.200.*).28 34.511.40 49. kebutuhan air 30.4936 31.274 2.141.82 52.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. .1415 29. Sesuai dengan perhitungan dan analisis pola tanam yang dilakukan sebanyak 24 alternatif.7681 33.274 2.3434 32.274 2.793 ha.9985 28.368.0872 29.274 2.28 61.5404 29.274 2.399.274 2. Juli Agustus September Oktober November Desember 2 .3640 32.kebutuhan air 22.7099 34.110.793. Luas Lahan Terkecil Diairi No.0859 38.274 SISA DEBIT M3/det 32.281.4339 32. didapatkan besarnya potensi irigasi sekitar daerah Sungai Ular yaitu pada pola tanam 17 dengan luas areal 31.01 122.381.274 2.87 .4287 31.7837 34.90 69.820.0582 37. Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.40 52.274 2.9351 28.3437 34.1578 27.1996 29.332.793.7032 33.793 ha dengan pola tanam alternatif 17.07 122.690.274 2.3591 32.274 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pola Tanam Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4 Alternatif 5 Alternatif 6 Alternatif 7 Alternatif 8 Alternatif 9 Alternatif 10 Alternatif 11 Alternatif 12 Luas Lahan Terkecil yang Dapat Diairi (Ha) 33.2659 26.9844 37.73 65.121.50 59.274 2.526.4679 27.1103 38.332.274 2. Dengan pemilihan pola tanam sesuai alternatif di atas maka debit air sungai ular dapat dipergunakan seperti tabel di atas untuk setiap periode setengah bulanan.90 93.0692 32.8359 35.60 64.07 36.274 2.274 2.7412 Februari Maret April Mei Juni 13 Alternatif 13 14 Alternatif 14 15 Alternatif 15 16 Alternatif 16 17 Alternatif 17 18 Alternatif 18 19 Alternatif 19 20 Alternatif 20 21 Alternatif 21 22 Alternatif 22 23 Alternatif 23 24 Alternatif 24 Luas Lahan Min.274 2.209.07 36.1935 25.6773 26.2 m3/det dan rencana perluasan bila sarana irigasi diperbaiki dan dikembangkan luas areal sawah dapat ditingkatkan menjadi 25280 ha.87 31.53 51.72 71.9518 29. 4 Oktober 2006 pengambilan bahan galian “C” dapat dilakukan pada satu titik pangambilan dengan maximal dan terkontrol volume yang dapat dikeluarkan dari sungai.030.274 2.7241 26.105.102.6606 25.274 2.274 2.

minyak Barrel 163000 Kertas Ton 75200 Tn. California hingga 1400 galon/ton baja (5800 liter/ton). Standar Kebutuhan Dasar (Basic Need) Air Bersih Klarifikasi Kota Kota besar utama Kota besar Kota sedang Kota kecil Kota Kecamatan I Kota Kecamatan II Penduduk (jiwa) >1.000 < 3. Angka-angka pemakaian air yang umum disajikan pada tabel berikut. Perkiraan tersebut diperhitungkan sebagai berikut: Rumah tangga: 60 liter/kapita/hari Keperluan umum30 liter/kapita/hari Kehilangan dan pemborosan 30 liter/kapita/hari Jumlah:120 liter/kapita/hari Potensi debit air Sungai Ular untuk air minum/air domestik yang dapat digunakan adalah setelah dikurangi keperluan debit untuk pemeliharaan sungai.000 . pada pola tanam tersebut kebutuhan air dijamin 80% akan terpenuhi walaupun 3 . Penetapan zona di kota-kota besar dipengaruhi letak industri. Persediaan air tersebut dapat dipergunakan untuk penyediaan air minum/domestik untuk Kota Perbaungan. .00556 m3/det.00556 m3/det = 1. Beberapa industri/pabrik mengembangkan sistem penyediaan airnya sendiri dan hanya sedikit atau sama sekali tidak menuntut dari sistem penyediaan air kota yang bersangkutan. Daerah-daerah perdagangan meliputi bangunanbangunan kantor. Dari hasil perhitungan di atas telah dihitung masing-masing kebutuhan irigasi dengan 24 pola tanam yang diusulkan dipilih satu pola tanam yang terbaik dalam hal ini. kira-kira hanya 4 persen dari kebutuhan rata-rata yang dicantumkan pada tabel. rata-rata sekitar 40 liter/hari untuk setiap pegawai tetap. air industri haruslah mengandung kadar garam terlarut yang lebih rendah daripada yang dapat diizinkan untuk air minum.20. kawasan wisata Pantai Cermin dan juga rencana Pelabuhan Udara Kuala Namu dan daerah sekitarnya.100. Kebutuhan untuk daerah-daerah semacam ini tidaklah tinggi. Tabel 3. Kota Perbaungan. debit untuk keperluan tambak perikanan dan debit air untuk keperluan industri. Rayon Ton 146200 Baja Ton 585000 Wool Ton 300 Uap Listrik Kwhr Dari tabel di atas diperkirakan kebutuhan air industri untuk daerah lokasi pekerjaan sesuai dengan kondisinya adalah 300 m3/hari/Industri atau sama dengan 0.Potensi Air Minum Kebutuhan akan air minum/air domestik sangat diperlukan pada daerah ini.000 . maka kebutuhan air untuk industri tersebut adalah 300 bh x 0.000 Kebutuhan per kapita (liter/org/hari) 120 100 90 60 45 30 Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya.000 20. penggunaan kembali air dalam jumlah yang banyak telah mengurangi kebutuhan air di pabrik baja Kaiser di Fontana. sehingga informasi tentang zona tersebut dapat bermanfaat dalam menghitung tuntutan kebutuhan industri di masa depan.000 100.000 . Sesuai dengan tingkat pemakaian kebutuhan dasar air bersih yang disarankan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya yang disesuikan dengan besarnya kota dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Walaupun demikian. Kota Lubuk Pakam sebagai ibukota Kabupaten Deli Serdang. Sebagai contoh. sehubungan dengan perkembangan daerah. Dari tabel 6 di bawah dapat dilihat ketersediaan air yang dapat digunakan untuk air minum/air domestik. gudang-gudang dan toko-toko. Dalam beberapa kasus.000. Kira-kira 80 persen dari air industri digunakan untuk tujuan pendinginan dan tidak perlu bermutu baik. Klg No.000 .Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung . Adapun standar kebutuhan industri adalah sebagai berikut: Peralatan-peralatan pabrik seringkali membutuhkan jumlah air yang besar.000. Produk Produk liter/satuan 1780 Bir Barrel 300 Aprikot klg Klg No.000. 2 950 Coca-cola Ton 15000 Kulit (diolah) Ton 66800 2920 Peny. Direktorat Perumahan dan Pemukiman. Apabila diperkirakan pada masa yang akan datang ada 300 buah industri sedang sampai dengan industri besar. 500. bila faktorfaktor lain mempengaruhi letak instalasi.000 3. Perkiraan pemakaian air dapat digolongkan pada golongan kota kecil yaitu 60 liter/orang/hari ditambah dengan penggunaan kepentingan umum seperti rumah ibadah dan pertamanan. Lubuk Pakam dan rencana lapangan terbang Kuala Namu dan bahkan untuk menambah suplai Kota Medan apabila Kota Medan masih membutuhkannya.Potensi Industri Sesuai dengan kebutuhan air standar untuk perindustrian dapat diperkirakan pengembangan industri di daerah lokasi pekerjaan. debit untuk air irigasi. kebutuhan air dapat dikurangi di bawah angka rata-rata untuk industri yang bersangkutan.668 m3/det. 2 Kacang 5 kl. Letak industri sering sangat dipengaruhi oleh adanya persediaan air. Standar Penggunaan Air untuk Beberapa Produk Industri Tertentu Penggunaan air Satuan yang umum.500.1. Jumlah yang sebenarnya tergantung pada besarnya pabrik dan industrinya.

1668 0.1791 13.274 DEBIT INDUSTRI M3/det 0.1791 13.1668 0.7636 6.274 2.5913 1.9025 3.6356 2.3381 7.1791 13.6779 2.4323 29.1668 0.6053 1.274 2.1668 0.4050 6.9180 1.1791 13.1668 0.9518 28.1996 29.1668 0.8226 1.1791 13.7218 17.4339 27.2905 7.0859 38.9351 27.1668 0.7655 12.4339 32.4518 10.9954 13.7681 28.1668 0.274 2.8709 13.4323 29.274 2.1656 8.1791 13.274 2. No. 4 Oktober 2006 pada saat musim kemarau sawah masih dapat diairi.4947 11.1791 13.274 2.274 2.9351 DEBIT PEME LIHARAAN M3/det 13.5360 10. Kebutuhan air untuk air minum/air domestik.274 2.2330 16.1791 13.2831 1.0153 8. DEBIT IRIGASI M3/det 2.9147 9.7841 7.9672 10.3617 31.0729 9.6807 13. Pemakaian Air yang Diusulkan DEBIT 20% Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.274 2.1668 0.1668 0.6336 37.274 2.5039 12.6946 16.1668 0.1668 0.6336 34.1668 0.274 2.1668 0. industri dan untuk tambak juga telah dihitung dan seluruh Tabel 5.1252 11.6178 34.1791 13.5849 13.1914 2.9518 29.2508 1.3156 17.1791 13.1996 31.1791 13.0582 38.1791 13.4166 1.1791 13.1668 0.274 2.1668 0.3617 32.274 2.1791 13.274 2.274 2.1791 13.274 2.274 2.6178 33.2506 38.1791 13.5042 DEBIT TAMBAK M3/det 2.1668 0.274 2.1668 0.7681 33.8699 1.1668 0.6499 12.274 2.8763 14.1531 2.6946 2.1668 0.1668 0.274 2.7953 2.9896 2.0582 37.6769 10.1668 Jumlah Rata-rata DEBIT DOMESTIK M3/det 13.1791 13.274 2.4466 1.1021 10.274 2.1043 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 4 .1791 13.274 2.1791 kebutuhan tersebut dianalisis apakah seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi lihat tabel 5.1791 13.1791 13.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.1791 13.1791 13.0859 38.0152 1.1791 13.1668 0.3390 290.1668 0.2506 34.7081 2.

Baars. Bagian Penunjang. Ular River Improvement Project. • Potensi air Sungai Ular sangat cukup untuk mensuplai kebutuhan air untuk luasan potensi pertambakan di hilir Sungai Ular. Medan . Design Report. • Potensi Sungai Ular dapat menambah pasokan air untuk Kota Medan apabila Kota Medan berkembang menjadi kota Metropolitan.. 1986. 1986. 1984. Crop Water Requirements Irrigation and Drainage Paper. b.0 m3/hari di daerah hilir sungai sepanjang 35. Indah Karya. 1971. * Sistim pengambilan Galian “C” hendaknya perperiode guna untuk pengontrolan volume pengambilan dan menjaga kondisi alur sungai * Untuk mendapatkan hasil yang mendetail akan potensi air Sungai Ular perlu dilakukan penelitian diberbagai sektor pendukung antara lain: a. Rome KijneJ.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung Dari tabel di atas rata-rata debit yang tersedia untuk air domestik setiap bulannya adalah 12. KESIMPULAN • Dari hasil perhitungan dan analisis pola tanam. Dari hasi perhitungan ini. Indah Karya.9180 m3/det masih dapat dipenuhi dan masih mempunyai sisa 11.000 orang. FAO. Wagenigen. dari 24 pola tanam untuk daerah irigasi ini yang paling kritis. 1981. Standar Perencanaan Irigasi KP. Survei pengukuran dan perencanaan lokasi potensi tambak di hilir Sungai Ular. Juni dan musim tanam 2 awal Agustus sampai dengan pertengahan Desember) kebutuhan air irigasi sebesar pada bulan Maret sebesar 9.and C. KU Leuven. Dirk RAES. Nikken Consultants. keperluan tambak dan pemeliharaan sungai dapat dipenuhi dengan kata lain kebutuhan irigasi tidak terganggu. “C” yang dapat diproduksi adalah 632. Bandung Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerjasama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi. SARAN-SARAN * Pengendalian pengambilan bahan galian “C” harus dilakukan dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. And Pruitt W.1553 m3/det dan pada bulan Oktober 7. Inc in association with Nippon Koei . Potensi Bahan Galian Gol. 5 .01-KP07. • Kebutuhan air untuk keperluan lainnya seperti: air untuk industri. DAFTAR PUSTAKA Cv. Dengan kebutuhan air industri 300 m3/hari/industri dan perkiraan adanya 300 buah industri sedang dan besar kebutuhan airnya sebesar 1.10 m3/det dan untuk debit 80% terpenuhi adalah 10 m3/det. Analisis dampak terhadap pantai dan laut muara sungai apabila dedit andalan Sungai Ular dipergunakan maximum. 2003.3156 m3/det pada bulan Maret dan 6. Bandung.7 km.668 m3/det.6499 m3/det pada bulan Oktober. Luasan yang berpotensi untuk pertambakan diperkirakan seluas 1232 ha. Survei elavasi existing tanggul Sungai Ular dan kelayakannya terhadap banjir. • Perlunya pengendalian pengambilan bahan galian “C” dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi. d.Cipta Perkasa.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis. c. Faculty of Agricultural Sciences Irrigation Engineering. air domestik. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.W. Crop Water Requirements.O. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. Studi kelayakan potensi air Sungai Ular untuk air minum dan debit kecukupan dihitung periode harian. 1977. bila setiap orang menggunakan air setiap hari 120 l/det. Methods of Calculating potential evaporation and bouwhoge school. Penelitian dan pengukuran sedimentasi dan analisis laboratorium air Sungai Ular. perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. e.640. Laporan Akhir Studi Hak Atas Air/Pemanfaatan Sungai Ular.793 ha dengan pola tanam alternatif 17. LTD. • Potensi air Sungai Ular untuk perindustrian cukup besar. pola tanam alternatif 17 (musim tanam 1 dimulai awal Maret s. maka jumlah penduduk yang dapat disuplai adalah: 12100 liter x 24 x 60 x 60/120 liter/orang/hari = 8.d. Belgium Dorenbos J. Nederland. • Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.

for problem (1) we may proceed as follows. and Opim S. and was one of the motivations for Dantzig’s seminal work on linear programming. However. ξ ) ≤ 0. our additional costs (called the recourse function) amount to 6 .REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM Mathematics Department. leading to so-called deterministic equivalents for (1). i = 1. we consider two-stage stochastic programming problem. ⎩ g i ( x. For examples. This paper discusses about modifying the twostage stochatic programming into deterministic equivalents model. Furthermore. which can be introduced in various ways. since there are random vectors imposed in the model to present the uncertainties of the model parameter. i. ξ ) > 0 for a given decision x and realization % ξ of ξ . Sitompul where % ξ k is a random vector varying over a set Ξ ⊂  . Van Slyke and Wets [ 8 ] developed the Lshaped method which is the basis of many algorithms used today. 1.K . ⋅) : Ξ →  ∀x. is chosen such as to compensate its constraint’s violation . Hence for every subset A ⊂ Ξ that is an events. Instead of treating the future as a certainty with known data as in classical optimization. in such a way that we could solve the original stochastic programming problem more easily. 6] is an increasingly important problem class for long term planning. ξ ) ⎪ ⎪ (1) % s. the problem can be divided into multiple stages. As a lot of data is not available at planning stages. DETERMINISTIC EQUIVALENT FORMULATION Let us now come back to deterministic equivalents for (1). stochastic programs incorporate information from spectrum of possible future events. gi ( x. Stochastic Programming [3. ξ ) = ⎨ otherwise. i.e. Deterministic equivalent formulation of twostage stochastic programming model can also be found in [ 9. Early work concentrated on the two-stage linear programs. Dynamic programming [1. we assume that the functions gi ( x. ⎬ ⎪ x∈ X ⊂  n. For instance. This extra effort is assumed to cause an extra cost or penalty of qi per unit. Faculty of Mathematics and Natural Sciences University of North Sumatera Abstract: Stochastic programming is an important tool in medium to long term planning where there are uncertainties in the data. 2. The model is not well defined. In these applications. Therefore a revision of the modeling process is necessary. ⎪ ⎭ Herman Mawengkang. m. A ∈ F. 2]. In this paper. ξ ) ≤ 0. 4. However.if there is one by satisfying gi ( x. after observing the realization ξ . Hence we could provide for each constraint a recourse or second-stage activity yi (ξ ) that. More precisely.e. 3.10 ]. This gives decision makers the ability to quantify the risk in different scenarios. With if gi ( x. if we think of taking a decision on % x before knowing the realization of ξ . the decisions need to be flexible enough to cope with different eventualities. subsets of Ξ. Saib Suwilo. bilevel programming [7] and mathematical programming with equilibrium constraints [5] are useful modeling and solution techniques for problems with two or more stages. Stochastic programming began in the mids 1950s. Therefore a revision of the modeling process is necessary. leading to so-called deterministic equivalents of the original model. INTRODUCTION Medium to long term planning is essential to the success of business and project management. i. in analogy to the particular stochastic linear program with recourse. and the probability distribution P on F are given. problem (1) is not well define since the meanings of “min” as well as of the constraints are not cleat at all. This paper discusses about how to get the deterministic equivalent model.t. we assume throughout that a family F of “events”.e. STOCHASTIC PROGRAMS: GENERAL FORMULATION We define the stochastic (linear) program as the following model % ⎫ min g 0 ( x. the probability P(A) is known. in this paper we address several alternatives to get such deterministic equivalent model. ξ ) the ith constraint of (1) is violated if and only if gi+ ( x. ξ ) − yi (ξ ) ≤ 0 . usually over time. ⎧ 0 gi+ ( x. i are random variables themselves and that the probability distribution P is independent of x.

Instead of (2).L . In any case.L . x1 . such as {y | y ≥ 0}). ξτ ) ⎥ (8) x0 ∈X τ =1 ⎣ ⎦ where q: n →  and Hi :  n →  are supposed to be given. For the two-stage case. Choosing W=I. xτ −1 . for instance. m ⎬ (2) y ⎩ i =1 ⎭ sequential decisions yielding a total cost-first-stage and recourse cost-of f 0 ( x.L . be interpreted as “times periods”. ˆ ˆ xτ = xτ ( x0 . first-stage and recourse costs). the (two-stage) stochastic program with recourse % % % min Eξ% f 0 ( x.K. ξ ) = min Eξ% g0 ( x. problem (2) could for instance be interpreted as buying the shortage of products at the market. xτ −1 . ξ1 . (2) turns out to be a special case of (4). to be taken at stages 1 and 2. i = 1. xτ −1 .L . but need not.e.Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. ξτ ) ≤ 0} xτ Q( x.L . carried through with the factor input y and a technology represented by the matrix W. Assuming that the factory is committed to cover the demands. ξτ as well as the previous decisions x0 . i. ξ ) = g 0 ( x. ξτ of the W (the recourse matrix) and a corresponding unit n y (ξ ) ∈ Y ⊂  n . Problem (4) instead could result from a second-stage or emergency production program. x1 .e. relative to the demand. ξτ ) τ =1 1 K (7) τ { } yielding the deterministic equivalent for the described dynamic decision problem.L . xτ −1 .ξ%τ Qτ ( x0 . ξ1 . Sitompul ⎧m ⎫ Q( x. xτ −1 . i = 1. assuming a cost function qτ ( xτ ). ξ K ) = g 0 ( x0 ) + ∑ Eξ% . ξ1 . if it is meaningful and acceptable to the decision maker to minimize the expected value of the total costs (i. m × m identity matrix.L . ξ ) + Q ( x. g m ( x. Then g ( x.L .ξ% Qτ ( x0 .L . g 0 ( x. Q( x. an arbitrary fixed m × n matrix % % random vectors ξ1 . (5) ˆ indicating that the optimal recourse action xτ at time τ depends on the previous decisions and the realizations observed until stage τ . y ∈ Y ⊂  n . Ax = b.t. at stage τ ≥ 1 we have a recourse function Qτ = ( x0 . ξτ ) = min {qτ ( xτ ) | gτ ( x0 . ξ ) = g 0 ( x ) . in view of their practical relevance it is worthwhile to describe briefly some variants of recourse problems in the stochastic linear programming setting. i. x1 . ξ ) = min qT y | Wy ≥ g + ( x. m.L .L . and Opim S.K.L . ⎪ % % ⎬ T (ξ ) x = h(ξ ). taking into account the multiple stages.L .as stated . ξ ) (3) The term “stages” can.L .L. yielding for (3) the recourse function xτ such that the constraints(s) (with vector valued constraint functions gτ ) gτ ( x0 . ξ ). ξτ ). ⎪ ⎭ (9) 7 . ξ ) = g1 ( x. we might think of a more general linear recourse program with a recourse vector τ (τ ≥ 1) we know the realizations ξ1 . ξ ) = min q( y) | H i ( y ) ≥ gi+ ( x.L . ξ ) > 0 means that there is a shortage in product I.L. ξ ) + ( + + ) T If we think of a factory producing m products. Hence.L . ξ1 . where g ( x.τ ≥ 1 Hence.1. ξ1 . Assume that we are given the following stochastic linear program The above two-stage problem is immediately extended to the multistage recourse program as follows: instead of the two decisions x and y. to be taken at the subsequent stages τ = 0. xτ . we are now faced with K+1 "min" cT x ⎫ ⎪ s.L .K. Assume for simplicity that the objective of (1) is deterministic. ξ ) + Q( x. xK ( xτ ∈  nτ ) . ξτ ≤ 0) are satisfied. x1 . ξ1 . ξ1 . ξ ) = min ⎨∑ qi yi (ξ ) | yi (ξ ) ≥ gi+ ( x. Saib Suwilo. (6) x∈X x∈ X { } obviously a straight generalization of our former (two-stage) stochastic program with recourse (6). and we have to decide on cost vector q ∈  . gi ( x. the multistage stochastic program with recourse K ⎡ % % ⎤ ˆ ˆ min ⎢ g0 ( x0 ) + ∑ Eξ%1 . K . ξ ) could be chosen as Q( x. based on the knowledge of the previous decisions and realizations. instead of problem (1) we could consider its deterministic equivalent. At stage x0 . we get as total costs for the multistage problem ˆ ˆ f 0 ( x0 . x1 .e. Finally we also could think of a nonlinear recourse program to define the recourse function for (3). ξ ). (Y is some given polyhedral set. ξ ) could be understood as the difference {demand}-{output} + i of a product i. ξ ). y ∈ Y y { } (4) . ξ ). which . ⎪ x ≥ 0.K. ξ ) .at this stage can only be achieved by the proper choice of xτ . xτ −1 .

on average).-I) (13) f 0 ( x. ξ ) ≤ 0. y ≥ 0 { } f 0 ( x. In contrast.t. the recourse variables y and y − can be chosen to measure (positively) the absolute deficiencies in the stochastic constraints. ξ ) = min (q+ )T y + + (q− )T y − | y + − y − = h(ξ ) − T (ξ ) x. the second-stage program Defining get Q( x. whereas for x feasible at ξ of 1 − α . ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. ⎪ Eξ% f i ( x.L . ξ ) and f1 ( x. ξ ) T { } α ∈ [ 0. ξ ) m0 × n matrix A and the vector b are assumed to be deterministic.L . which. i = 1. In general. To give just two examples showing how other deterministic equivalent problems for (1) may be generated. y + ≥ 0. A special case of complete fixed recourse is simple recourse. ξ )dP ≥ 0 Ξ % and the realizations ξ of ξ turn out to be. at least in the mean (i.e. ⎪ ˆ ˆ h (ξ ) = h 1 K ⎭ with deterministic matrices (10) in (9) are equalities (instead of inequalities. f0 represented the total costs (see(3) or (7)) and f1 . α . y ≥ 0} =  m1 (12) have a return for decisions on x that. ξ ) ⎫ ⎪ ⎧α − 1 if gi ( x.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Ax = b. ⎬ (15) f1 ( x. for q + q ≥ 0 . for x infeasible at absolute loss of In particular. Generally.1] and define a { } “payoff” function for all constraints as (11) ϕ ( x. y − ≥ 0 + − + is specified as X = x ∈  | Ax = b.t. ξ ) = ⎨ ⎧1 − α ⎩ −α if gi ( x. ξ ) = g 0 ( x. the m1 × n matrix T (⋅) and vector h(⋅) are allowed to depend % on the random vector ξ . let us choose first Y = y ∈  n | y ≥ 0 . depending on the way the functions fi are derived from the problem functions gj in (1). i = s + 1. ξ h k . f m could be used to describe the first-stage feasible set X. where with the identity matrix I of order m1: W =(I. ξ K T k .L . we will always be feasible. ξ ) = −ϕ ( x. T k and vectors where the fi are constructed from the objective and the constraints in (1) or (9) respectively. this general formulation also includes other types of deterministic equivalents for the stochastic program (1). as in the general problem formulation (1)).L . we assume that this dependence on (14) ξ ∈Ξ ⊂  k is given as ˆ ˆ ˆ T (ξ ) = T 0 + ξ1T 1 . and therefore to have random entries themselves. ⎬ ⎪ where ⎪ Q( x. h k . otherwise { } Consequently. Eξ% f i ( x. y ≥ 0 ⎪ ⎭ % min x Eξ% c x + Q( x. Observing that the stochastic constraints ˆ ˆ T 0 . ξ ) . i = 1.L . we speak of complete fixed recourse if the fixed m × n recourse matrix W satisfies { z | z = Wy. we may put all the above problems into the following form: ⎫ ⎪ % ⎪ s. according to (4) yields the stochastic linear program with fixed recourse ⎫ ⎪ ⎪ s.L . It seems natural to aim ξ we have an we This implies that. This is equivalent to the requirement. ⎪ x ≥ 0.e. ξ ) = ∫ ϕ ( x.L . ξ ) ≤ 0. avoid an absolute loss. it seems meaningful to equate their deficiencies.L .L . ξ ) = g 0 ( x. ξ ) = ⎨ ⎪ otherwise ⎩ α ⎭ 8 . ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. s ⎪ ⎬ % ) = 0. we see that the set X ⊂  n Then the second-stage program reads as Q( x. whatever the first-stage decision x % Eξ%ϕ ( x. ξ ⎪ x∈ X ⊂  n ⎪ ⎭ % min Eξ% f 0 ( x. However. x ≥ 0 where the { n } { } i. So far. i = 1. m. m. No. m. ξ ) ≤ 0. ⎫ ⎪ ⎬ ˆ0 + ξ h1 . 4 Oktober 2006 Comparing this with the general stochastic program (1). using linear recourse and assuming that ˆ ˆ h0 .

m f 0 ( x. P ({ξ | g ( x. we have the stochastic linear program min x∈X Eξ% g 0 ( x. D. % Eξ% f1 ( x. with Ti (⋅) and hi (⋅) denoting the ith row and ith component of Ti (⋅) and hi (⋅) respectively. Introduction to Stochastic Programming. in particular. ξ ) ≤ 0 f1 ( x. are mathematical programs. 4.t. Kluwer Academic Publishers. i. % Eξ% f1 ( x.L . ξ ) = − Eξ%ϕ ( x. and Opim S. g m ( x. Formally. all problems derived. Bertsekas. Ralph. ξ ). 1997. i = 1. Bellman. ξ ) = ∫ f1 ( x. ξ ) ≤ 0}) ≥ α i . 1996. S. P ({ξ | T (ξ ) x ≥ h(ξ )}) ≥ α ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x and. g ( x. 1995.R. ξ ) are linear in x and if furthermore the set X is convex polyhedral.F. Mathematical Programs with Equilibrium Constraints. Stochastic Programming. Luo. Louveaux. ξ ) % "min" cT (ξ ) x ⎫ ⎪ s. Princeton University Press. Cambridge. Introduction to Stochastic Dynamic Programming. Cambridge University Press. 1983. 1997. under these assumptions. Dynamic Programming. Shimizu. Saib Suwilo.P. Obviously there are many other possibilities to generate types of deterministic equivalents for (1) by constructing the fi in different ways out of the objective and the constraints of (1). ξ ) ≤ 0}) / 144444444 2444444444 4 3 − P ({ξ | g ( x.ξ )≤ 0} α dP ⎫ ⎪ (19) ⎬ s. with the vector-valued T function ⎫ ⎪ (18) ⎬ s. ξ ) α i ∈ [ 0. Chicester and New York.W Wallace. ξ )dP Ξ =∫ = (α − 1) P ({ξ | g ( x. Dynamic Programming and Optimal Control. (14) reads as ⎫ ⎪ (16) ⎬ s. ξ ) ≤ 0}) ≥ α . otherwise ⎩ αi then we get from (14) the problem with single (or separate) probabilistic constraints: ⎫ ⎪ (17) ⎬ s.L .Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. P ({ξ | Ti (ξ ) x ≥ hi (ξ )}) ≥ α i . ξ ) = ⎨ i i = 1. Y. Sitompul implying then problems (16) and (17) become % % Eξ% f1 ( x.-Q. If instead of (15) we define min x∈X Eξ% g 0 ( x. This paper has described some possibilities to generate types of deterministic equivalent for model of two-stage stochastic program. Boston. Springer-Verlag.1] . Ishizuka.e. i = 1. 5.t. J. m ≥ α ⎪ ⎭ If. Prentice Hall.-S. P ({ξ | gi ( x.t. m ≥ α ⎪ ⎭ Problem (16) is called a probability constrained or chance constrained program (or a problem with joint probabilistic constraints). Ross. Z. Ax = b. 1957. NJ. i = 1. ξ ) ≤ 0 where. REFERENCES R. m ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x the stochastic linear programs with joint and with single chance constraints respectively. ξ ) ) .t. 1994.L . ξ ) ≤ 0}) =1 { g ( x . ξ ) = g 0 ( x. ξ ) ≤ 0}) . J. K. John Wiley.L . m. Academic Press. New York and London. ⎪ % ) x ≥ h(ξ ) x ⎬ % ⎪ T (ξ ⎪ x≥0 ⎭ 9 .ξ )≤ 0} (α − 1)dP + ∫ / { g ( x . i = 1. CONCLUSION The model of stochastic programming problem needs to be revisioned into a deterministic equivalent model such that the original problem would be well defined and solvable. Kall and S. Birge and F.L . we have that the functions gi ( x. and J.t. New York. New Jersey. Nondifferentiable and Two-Level Mathematical Programming. Therefore the constraint equivalent to P ({ξ | g ( x.e. ξ ) ≤ 0 is Hence. P. Bard. ξ ) = ( g1 ( x. i. MA. ξ ) and analogous “payoffs” for every single constraint. whether or under which assumptions do they have properties like convexity and smoothness such that we have any reasonable chance to deal with them computationally using the toolkit of mathematical programming methods.L . ξ ) ≤ 0}) + P ({ξ | g ( x. Another interesting topic to be explored is. Englewood Cliffs. resulting in ⎧α − 1 if gi ( x. Pang and D. all the above deterministic equivalents.

Van Slyke and R. 4 Oktober 2006 R. and S. Stochastic Programming Model in Financial Optimization: A Survei. Of Tech. –D. 10 .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. X. Working paper of Chinese Academy of sciences. 638-663.B. 2002.-Y. Ji. –Y. 17 (1969). On Robust Optimization of Two-Stage Systems. Wang. Takriti and S. Yu. L-shaped Linear Programs with application to Optimal Control. L . S. Working paper of Georgia Inst. pp. SIAM Journal on Applied Mathematics. No.J. 2001. Wets. Beizing. Ahmed.

PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X Jurusan Teknik Industri. dan perbandingan antara MRP dan Just in Time Kanban terjadi penurunan sebesar 28% untuk bulb dan 25% untum duplex. NR63. A55. Permasalahan di atas juga dialami oleh perusahaan yang memproduksi bola lampu dengan berbagai jenis. kurang koordinasi atau kerjasama sesama karyawan. Akibat lain yang ditimbulkan terjadi keterlambatan pengiriman barang. BW35. Dengan adanya kanban yang merupakan suatu alat untuk mencapai proses Just in Time. Inventori Amri 1. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Abstrak: Perkembangan ilmu pengetahuan pada era globalisasi semakin berkembang dengan pesatnya sehingga perusahaan dalam menjalankan bisnis harus bersaing dengan perusahaan sejenis. T45. NR80. T45. Lamp. BW35 sampai B35. perakitan. dalam setiap proses produksi yang akan dikembangkan untuk mengendalikan jumlah produksi dalam setiap tahap proses produksi. Perusahaan PT X yang bergerak dalam bidang perakitan bola lampu pijar. Penerapan sistem kanban produksi adalah dengan membuat kartu kanban yang diperlukan menghitung jumlah kanban merencanakan aliran kanban yang efisien dan sarana pendukung sistem kanban. dari gudang raw material ke proses produksi sehingga menghambat kerja proses berikutnya banyak produk yang cacat sehingga diperlukan pengerjaan ulang dan kadang harus membuang bahan karena kesalahan proses atau perhitungan dan ini semua akan menambah biaya produksi. diharapkan dapat menekan kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sistem produksi dengan membuat sistem kontrol kanban mulai dari penyediaan bahan baku. Kanban. Perencanaan dan pengendalian produksi yang digunakan sekarang menyebabkan terjadinya penumpukan material di lini produksi dan waktu proses yang lama. Untuk dapat harus dapat mengendalikan penyediaan material untuk kelancaran proses produksi. Selain itu juga melakukan produksi seperlunya dengan mengurangi kegiatan yang tidak perlu atau pemborosan Kanban adalah suatu kartu yang berfungsi sebagai alat kontrol produksi Just in Time. E50. kemajuan ini menciptakan persaingan bisnis yang semakin kompetitif. A80. Permasalahan yang terjadi di perusahaan adalah terlalu besarnya inventori. Hasil analisis yang diperoleh dengan menerapkan sistem kanban adalah terjadi penurunan WIP (work in process) di lini produksi. Pengurangan biaya tersebut dapat dicapai dengan penerapan Just in Time (JIT). pengemasan. Untuk dapat terus survive (bertahan) dalam persaingan tersebut maka salah satu cara adalah dengan mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan produktif. E80. Produksi jadi yang dihasilkan antara lain tipe lampu: E50. Kelemahan dari sistem ini bila manajemen tidak mengontrol kerja bawahan maka akan terjadi kelambatan produksi. A60. Dalam hal ini kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dengan harga yang lebih kompetitif. Perbandingan antara sistem nyata dengan sistem kanban adalah sebesar 45% untuk bulb dan 25% untuk duplex. salah satu diperoleh melalui pengurangan biaya produksi. yang diakibatkan oleh penerapan sistem push. NR80. dan bola lampu General Lighting Service (GLS) dengan tipe bulb. Kanban yang digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi pada unit perakitan dan pengemasan lampu. Produksi yang dilakukan berdasarkan permintaan yang masuk. Sedangkan proses produksi di dalam work station diatur oleh kanban perintah produksi. NR63. E60. sehingga dapat menghilangkan ongkos persediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi WIP (work in process) di lini produksi dan waktu proses. lambatnya kerja operator tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan kurangnya kesadaran pekerja dalam melakukan tugas. P45. sampai B35. Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian perusahaan di Indonesia antara lain sistem produksi yang terpusat. karena semua rencana proses produksi dibuat oleh manajemen puncak. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan minimasi inventori dan waktu proses adalah dengan menggunakan kanban. Produk yang dihasilkan antara lain adalah TL. T55. Kata kunci: Just in Time. A60. Perencanaan sistem kanban perlu digunakan secara optimal untuk dapat mengendalikan persediaan dan proses produksi ini dapat dicapai bila 11 . PENDAHULUAN Dunia industri sekarang ini mengalami kemajuan pesat. Dari permasalahan yang terjadi pada perusahaan tersebut di atas maka dibuat sebuah usulan untuk menerapkan sistem kanban. dan kemudian baru diserahkan kepada stasiun kerja masing-masing. P45. A55. pengurangan inventori. Secara garis besar sistem kanban yang diusulkan mempunyai aliran informasi produksi yang berjalan dari gudang bahan jadi. A80. E60. persediaan yang tidak perlu dihilangkan. gudang bahan baku dengan menggunakan kaban pengambilan.

Hasil estimasi ini kemudian digunakan untuk menjawab tujuan studi yang telah ditentukan adalah dengan perbaikan sistem. kedatangan barang. dan proses pengemasan lampu terdiri dari 13 unit mesin. produksi sehingga tidak terjadi kegiatan yang tidak efisien. adapun batasan yang digunakan adalah: • Tidak membahas analisis jumlah kebutuhan tenaga kerja dan mesin • Tidak membahas pemasukan barang dari supplier • Tidak membahas proses distribusi produksi dari pabrik ke konsumen • Pembahasan dilakukan pada produksi bola lampu GLS (General Lighting Service) Perhitungan jumlah kanban dilakukan pada material bulb dan duplex. jika barang yang diinginkan oleh work station sebelumnya tidak dapat dipenuhi maka work station tersebut akan mengambil pada work station sebelumnya lagi dengan kanban pengambilan. Work in Process (WIP) pada tiap proses produksi • Menganalisis sistem kanban penyediaan dengan melihat pengaruh yang terjadi pada proses produksi • Mengukur performansi sistem kanban pada proses produksi Dalam penelitian ini digunakan beberapa batasan untuk membatasi ruang lingkup penelitian.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Secara garis besar aliran yang akan dilakukan adalah membuat Master Production Schedule pada work station akhir yaitu produk jadi. demikian seterusnya. kemudian mengambil data di lapangan seusia dengan tahapan yang diperlukan dalam menentukan jumlah kanban.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data Pada tahap ini dilakukan pencatatan data yang 2. Proses produksi perakitan lampu terdiri dari 13 unit mesin. Sedangkan pada proses dan pekerja perlu sedikit perbaikan. bila ternyata barang yang diinginkan tidak ada maka akan diminta pada work station sebelumnya dengan menggunakan kanban pengambilan. permintaan tahunan. Kemudian diambil kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang ada di perusahaan dan saran sebagai tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan bila ingin menerapkan sistem kanban. 3. Perhitungan dilakukan pada unit perakitan dan pengemasan di lini produksi pada unit perakitan dan pengemasan 1 sampai 13. Kedua proses dalam penelitian ini akan dibuat sistem kanban mulai dari kedatangan 2. yaitu: • Bagaimana merancang sistem kanban • Bagaimana merancang sistem kanban penyediaan material untuk produksi bola lampu yang optimal • Bagaimana mengukur tingkat performansi sistem produksi bola lampu Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan tersebut antara lain: • Merancang sistem kanban penyediaan material pada proses produksi sehingga dapat mengurangi inventori. Dari work station produk jadi akan memberikan barang sesuai dengan jadwal rencana produksi. pada proses yang tidak diperlukan sehingga membawa efisiensi kerja. DESKRIPSI MODEL Model yang akan dijadikan studi adalah model sistem produksi yang terdiri dari beberapa tahap proses. Sistem nyata yang ada sekarang ini akan dicoba membuat model sistem produksi Just in Time yaitu dengan mengganti sistem aliran informasi sistem yang nyata dengan sistem kanban. Tahap Perencanaan Sistem Kanban Studi mengenai sistem kanban dengan pendekatan Just in Time untuk diterapkan pada semua proses produksi. jumlah kartu untuk tiap part. membuat usulan produksi dengan pendekatan Just in Time mulai dari penyediaan material sampai menjadi barang jadi.1 Tahap Identifikasi dan Penelitian Awal Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dan tujuan penelitian. 2. komponen. dan saldo minimal di lini produksi dengan pendekatan Kanban JIT.3 12 . Penelitian ini juga menggunakan beberapa asumsi antara lain: • Lay out site departemen yang masih berada pada kondisi saat ini • Seluruh permintaan dianggap dapat dipenuhi • Kondisi mesin dianggap dalam keadaan normal METODOLOGI PENELITIAN Didalam penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap penelitian. kemudian work station tersebut akan memberikan barang pada work station berikutnya. Penelitian pendahuluan dilakuakn dengan wawancara pihak manajemen dan karyawan. kapasitas kontainer atau palet. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data yang dimulai dengan perhitungan jumlah kanban yaitu. 4 Oktober 2006 perusahaan akan memproduksi produk yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan. Selanjutnya dilakukan penentuan metode yang digunakan yaitu kanban sebagi alat pengontrol just in time. dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan pendekatan sistem kanban antara lain data produksi. 2. Maka perlu dianalisis sehingga didapat gambaran keberhasilan penerapan system kanban secara kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. No. dilanjutkan dengan melakukan studi literatur yang meliputi sumber buku dan penelitian sebelumnya. yaitu: 2.4 Tahap Analisis Data hasil penelitian yang digunakan untuk mengestimasi suatu kriteria performansi sistem yang diteliti. bukan pada masing-masing work station.

5. Kanban yang digunakan dalam usulan sistem ini ada 2 yaitu kanban perintah produksi dan kanban pengambilan. Setiap proses pada sistem push secara langsung dikontrol dan dikendalikan oleh Master Production Schedule. Persiapan material dilakukan di gudang bahan baku mulai dari pengecekan material apakah tersedia atau tidak. A55. perakitan bulb dan pengemasan. Master Prodution Schedule 5. dan di angkut ke unit produksi dan juga ke penampungan sementara yang dilakukan dengan hand forklift electric dan hand forklift. Setiap work station diberikan daftar jadwal pekerjaan yang harus dilaksanakan dan transportasi yang dilakukan pada semua work station. Kanban perintah produksi digunakan pada perakitan lampu dan pengemasan lampu ke 13 unit produksi. Ada sedikit perubahan di mana penampungan sementara yang ada dihilangkan. karena mengingat tidak ada proses yang dilakukan di gudang produk jadi. Pabrik pembuatan komponen lampu Lamp Component Factory (LCF) dalam penelitian ini dianggap sebagai pemasok bahan baku gelas ke pabrik perakitan lampu.1 PERMODELAN SISTEM KANBAN Aliran Material Aliran material usulan sistem produksi dengan menggunakan kanban merupakan sistem pull (tarik) yaitu proses produksi yang berjalan dari belakang (proses tarik) menuju ke proses sebelumnya. berapa jumlahnya dan berapa yang diambil. Proses perhitungan jumlah yang terjadi pada sistem nyata dihilangkan. urutan aliran peredaran kanban yang ada di gudang setelah dihitung jumlahnya adalah: Kanban pengambilan diletakkan pada produk jadi dan telah disimpan digudang setelah dihitung jumlahnya • Jika ada permintaan dari konsumen. A80. Kanban pengambilan digunakan pada pengembalian barang di gudang bahan baku. 5. NR80. Kartu kanban yang akan digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi. E80. E60. T45. PERMODELAN SISTEM NYATA Proses order material dilakukan oleh perusahaan PT X dengan pihak supplier di mana barang yang dipesan sesuai dengan permintaan yang masuk. T55. maka produk yang diinginkan di gudang produk jadi dicek kebenarannya. pengambilan barang di rak masing-masing kemudian dikumpulkan di area penampungan sementara sebelum dibawa ke unit produksi masingmasing. Penyelesaian pekerjaan menjadi tidak efisien dan membuat biaya produksi lebih tinggi akibat penggunaan kanban yang tidak diperlukan. dan jika produk tersebut ada maka kanban pengambilan diletakkan pada pos kanban pengambilan beserta tanda terima order yang telah dikirimkan 13 . NR63. 4. Produk yang dibuat berupa bola lampu berbagai jenis dan tipe mulai tipe A60. Secara garis besar aliran informasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Setelah selesai operator bagian gudang bahan baku menyiapkan material dan komponen dikumpulkan di area sementara sebelum dibawa ke unit produksi. Aktivitas yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mulai dari peng-input-an data komponen ke komputer. P45. Di sini akan dijelaskan aliran peredaran kanban dalam proses produksi. Kemudian baru membuat Master Production Schedule untuk masing-masing work station mulai dari gudang bahan baku. karena dianggap pemborosan kerja. BW35 sampai B35. E50.2 Kanban di Gudang Produk Jadi Pada gudang produk jadi lampu tidak menggunakan kanban perintah produksi. Setelah komponen disiapkan kemudian dihitung ulang apakah sudah selesai denga permintaan. Master Production Schedule Push Trans Gudang Bahan Baku Job Sequence Push Trans Assembly Packing Push Trans Produk Jadi Job Sequence Job Sequence Job Sequence Aliran Informasi Aliran Material Gambar 1. sedangkan pada sistem usulan pull hanya menerima sejumlah produk yang dikirim oleh pengemas dengan jumlah yang sudah tertulis pada kanban. Pengambilan tidak perlu dilakukan perhitungan lagi. Sehingga diperkirakan jika menggunakan kanban perintah produksi malah akan memakan waktu yang lama.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri produk ke unit produksi sampai selesai. Jadi produk dibawa langsung ke unit proses masingmasing. Informasi yang diperlukan untuk memodelkan sistem produksi nyata perusahaan adalah meliputi Master Production Schedule dan rencana produksi yang diberikan kepada tiap work station.

4 Gambar 2. Kanban produksi dilakukan oleh operator pergi ke tempat buffer stock untuk proses produksi. • Apabila komponen yang tidak tersedia untuk proses tersebut maka ia akan mengambil pada proses sebelumnya sesuai jumlah yang dibutuhkan. Komponen yang diambil pada proses pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. kemudian kanban yang melekat pada palet atau body dilepas ditempatkan pada pos kanban yang telah disediakan. maka kanban perintah produksi yang melekat pada produk tersebut diletakkan di pos penerimaan kanban. Kanban ini harus melekat pada produk selama: berada dalam proses sampai proses pengemasan tersebut selesai. Kanban di Gudang Produk Jadi 5. Petugas bagian Quality Control mengisi kembali komponen ke palet yang telah kosong sesuai kebutuhan serta kanban ditempelkan pada badan palet. Bagian pengemasan menerima kanban pengambilan dari bagian produk jadi jika produk yang diinginkan oleh gudang dapat dipenuhi oleh bagian pengemasan. Kanban produksi ini gunanya untuk mengetahui jumlah produk yang dibuat dan jumlah permintaan terhadap produk tersebut yang diambil oleh bagian gudang produk jadi pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. kanban pengambilan dan kanban produksi. Kanban di Lini Pengemasan Kanban di Lini Perakitan Lampu Kanban di area perakitan lampu yang digunakan adalah kanban antar proses. Kanban di Lini Perakitan Lampu 14 . maka pihak pengemasan akan memproduksi produk tersebut dan disertai oleh kanban perintah produksi yang diambil dari pos kanban pengambilan produksi. Jika produk yang diinginkan oleh pihak gudang produk jadi tidak dapat dipenuhi oleh pihak pengemas. Pada proses yang dianggap tidak efisien dan hanya memperlambat pekerjaan yaitu proses pengangkutan material ke unit penampungan sementara dihilangkan. dan diganti oleh kanban pengambilan. Petugas bagian gudang mengambil kanban beserta palet dibawa ke gudang untuk pengisian kembali. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar 4: Proses Perakitan Kanban perintah produksi Gudang Bahan Baku 5. pengisian besarta dengan forklift sebagai alat angkut produk. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Pos Pengemasan Produk Kanban Pengambilan Produk Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Gambar 4. Gambar aliran kanban di lini pengemasan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Proses Pengemasan Kanban perintah produksi Perakitan Gudang Produk Jadi Storage Pengemasan Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Order Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Kanban Pengambilan Produk Produk Produk Jadi Pos Kanban Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan produk jadi Kanban Pengambilan Gambar 3. jadi komponen yang diambil di gudang langsung dibawa ke unit masing-masing. Kanban beserta produk tersebut akan dibawa ke gudang produk jadi.3 Kanban di Lini Pengemasan Pada daerah pengemasan digunakan kanban pengambilan antar proses dan kanban perintah produksi (pengepakan lampu jadi). Gambar aliran kanban di lini gudang produk jadi dapat dilihat di bawah ini: Barang Jadi Kanban Pengambilan • Bila produk yang harus dikemas ternyata tidak ada di bagian pengemasan maka pihak pengemasan harus mengambil kanban pengambilan yang diletakkan pada pos kanban pengambilan untuk proses sebelumnya yaitu. 4 Oktober 2006 • Jika produk yang dinginkan tidak ada maka pihak gudang produk jadi akan meminta produk tersebut kepada bagian pengemasan dengan menggunakan kanban pengambilan yang terletak di pos kanban pengambilan di gudang produk jadi diangkut dengan forklift. No.

Kemudian kanban perintah produksi yang melekat pada produk dilepas dan diletakkan pada pos penerimaan kanban. sedangkan aliran material tetap bergerak mulai dari proses awal menuju ke proses berikutnya sampai ke produk jadi. ANALISIS HASIL 6. Bahan Baku Kanban perintah produksi Bahan Baku 5. maka bahan yang diinginkan diambil dengan forklift. Gambar aliran kaban gudang bahan baku dapat dilihat pada gambar 5. selanjutnya kanban ini diletakkan di pos pengambilan kanban dan digati dengan kanban pengambilan yang digunakan untuk mengambil bahan baku tersebut. Setelah bahan yang diinginkan dikirim oleh supplier bahan baku ke gudang bahan baku akan diletakkan kanban perintah produksi pada bahan baku yang diperlukan. Gambar 6.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 5. Adapun bagan aliran kanban adalah sebagai berikut: Kanban pengambilan dari area perakitan Storage Master Production schedule Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Job Square Job Square Job Square Job Square Storage Kanban Pengambilan Bukti Pembelian Bahan Baku Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Produk Pos Perakitan Sistem pemesanan kembali Pull Transp Pull Transp Pull Transp Aliran Informasi Daftar Bahan Aliran Material Gambar 5. Aliran Informasi dan aliran Material Kanban 6. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Data yang diamati dalam penelitian ini merupakan kuantitas bahan baku yang tersedia pada storage area dan dijumlahkan dengan kuantitas Work in Process (WIP) pada lini produksi.1 Analisis Perbandingan Tingkat Persediaan Work in Process (WIP) antara Sistem Kanban dengan Aktual di Pabrik Tingkat persediaan material di lini produksi Work in Process (WIP) adalah salah satu parameter utama yang diestimasikan dalam penelitian ini.5 Proses Pemesanan Kembali Di gudang bahan baku pengambilan bahan baku di rak dengan forklift proses yang dilakukan adalah: Jika ada permintaan dari ruang perakitan dengan menggunakan kanban pengambilan. dan dari proses sebelumnya tersebut diberikan ke proses sebelumnya lagi demikian seterusnya. setelah itu bahan baku dibawa dari gudang dengan menggunakan forklift ke tempat pengolahan General Lighting Service lampu beserta kanban pengambilan. sehingga dapat diketahui pada titik berapa bahan baku harus dipesan kembali ke supplier bahan baku. Pada tahapan ini dianalisis tingkat persediaan Work In Process (WIP) dengan sistem yang ada saat ini dan persediaan Work in Process (WIP) dengan sistem informasi kanban yang dirancang. 15 . Sistem pemesanan kembali sudah dibuat dalam sistem nyata. Proses Pemesanan Kembali Bila permintaan daripada perakitan lampu tidak dapat dipenuhi maka bagian gudang bahan baku membuat sistem pemesanan kembali dengan jumlah pesanan tetap dan membuat titik pesan ulang (reorder point).6 Aliran Informasi Aliran informasi bergerak dari Master Production Schedule yang diberikan hanya kepada bagian akhir (produk jadi yang ada di gudang produk jadi) kemudian dari bagian akhir ini bergerak ke depan yaitu pada proses sebelumnya dengan menggunakan kanban.

10 43. Kondisi ini dimungkinkan karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process (WIP) di pagi hari saat mulai operasi.13 42. No.87 16.57 63.00 46. Stock maksimum sistem kanban adalah jumlah kanban yang beredar untuk part tersebut dikalikan dengan kapasitas paletnya.00 55.48 13.68 12.86 37.58 34.25% dan 25.01 Data tersebut di atas merupakan jumlah sisa komponen dari produksi sehari sebelumnya.57 0. Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai stok yang ada berbeda jumlahnya dengan yang ada di pabrik. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 261761 74839 77638 67025 147011 59751 212125 104461 0 71787 172210 162183 384227 Kanban 7 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Maximum Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan stock awal 57.83 36.06 53.55 25.86 -40.00 25. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Bulb No.25 Tabel 2. belum mendapat pasokan dari gudang utama.39 0.34 66.39 41. dibandingkan dengan jumlah maksimum tingkat persediaan sistem kanban rancangan sebagai stock level Work in Process.82 33. jika diperhatikan tabel di atas pada 1 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok.01%.17 27.62 87. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Bulb E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 157428 32400 41624 32514 55500 74000 256864 165196 289625 44500 68198 344035 498679 Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 185000 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Maximum Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan stock awal 44.21 25.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.45 42.00 21. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 16 . Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Duplex No.99 67. Secara grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 3 5 7 9 11 13 Aktual Kanban Gambar 7. 4 Oktober 2006 Tabel 1. Penurunan rata-rata stok di Work in Process (WIP)untuk semua komponen bulb dan duplex adalah mencapai 45. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Aktual Kaban Gambar 8.

00 -55. belum mendapat pasokan 17 .98 24.86 20.97 60.81 16.69 Tabel 4 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan JIT/Kanban untuk Duplek N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Mak (unit) 297678 90789 92441 86784 136172 90863 258363 157575 0 120871 188295 225363 444900 Min (unit) 54569 25050 18623 19959 42976 5851 55024 39442 0 26011 71308 55024 91283 Range (unit) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Max Inventori MRP (unti) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Kanban 4 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas Palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Max Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan Stock Awal 53.00 56.60 0.60 • • • • Dari hasil tabel di atas diperoleh: Nilai maksimum adalah merupakan nilai konsumsi material harian tertinggi dari konsumen material per hari dalam produksi Nilai minimum adalah nilai konsumsi material harian terendah dari data pengamatan Range adalah selisih antara nilai maksimum dan minimum.15 52.13 14.11 50.93 24.46 33.19 31.33 -42.13 17.00 40. 1 2 3 Jenis Bulb E50 A80 NR/R6 3 4 NR/R8 0 5 B35 6 BW35 7 P45 8 T55 9 T45 10 E60 11 A60 12 P45 13 A55 Rata-rata Mak (unit) 176000 30100 40178 50450 74000 38550 242250 142500 108000 45500 64345 315250 561000 Min (unit) 33000 2600 6575 3875 18500 2770 14250 14250 13500 13000 6250 28200 41250 Range (unit) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 Max Inventori MRP (unti) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 system Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban.73 53.81 4. yang merupakan tingkat persediaan dari sistem Material Requirement Planning (MRP) Maksimum inventori kanban adalah jumlah kartu kanban tiap komponen dikalikan jumlah palet material tersebut (jumlah maksimum material dalam lini produksi sama dengan • • • • jumlah kartu kanban yang beredar dalam lini produksi) Dapat diestimasikan secara teoretis bahwa persediaan maksimum sistem kanban lebih rendah dari persediaan maksimum sistem Material Requirement Planning (MRP) Penurunan persediaan material Work In Process rata-rata untuk bulb dan duplex 27. Jika diperhatikan tabel di atas ada 2 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok Kondisi ini terjadi karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process di pagi hari saat mulai operasi.29 39.69% dan 24.87 1.00 83.82 21.2 Analisis Tingkat Persediaan Material Requirement Planning (MRP) dan Just In Time/Kanban Selanjutnya dari perhitungan berikut ini akan diestimasi tingkat persediaan maksimum antara No .62 0. Perbandingan tingkat persediaan antara Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban dapat dilihat pada tabel di bawah ini.97 52.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 6.68 27.60% per hari. Tabel 3 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just in Time/Kanban untuk Bulb Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas Palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 18500 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Max Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan Stock Awal 38.20 9.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

dari gudang utama. Dapat dilihat dengan grafik di bawah ini:
400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

MRP

JIT/Kanban

• Gambar 9. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just In Time/Kanban
450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Siklus kanban untuk bulb adalah 1.7. Hal ini berarti barang di sampaikan dalam satu hari 7 kali dan part yang dipesan akan datang jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Sedangkan untuk duplex 1.4.2, hal ini berarti barang disampaikan dalam satu hari 4 kali dan part yang dipesan akan datang 2 jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Aktivitas gudang utama dan pengangkutan forklift masing-masing sebesar1 jam untuk bulb dan duplex Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh aktivitas yang dilakukan dengan sistem kanban untuk bulb adalah sebesar 54 menit dan untuk duplex adalah 49 menit.

2.

MRP

JIT/Kanban

Gambar 10. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan Material Requirement Planning dan Just In Time/kaban 6.3 Analisis Performansi Sistem Dalam melakukan analisis performansi sistem didasarkan pada kriteria utama adalah: 1. Analisis aktivitas pengisian kembali (replacement), dan 2. Analisis inventori Analisis dilakukan pada material bulb dan duplex baik pengantian kembali material maupun inventori. Analisis Aktivitas Pengisian Kembali (Replacement) Kedua sistem yang lama dan yang baru semuanya digunakan untuk menyediakan bahan baku untuk mesin dengan kapasitas yang sama, yang berbeda adalah replacement cycle. Pada sistem yang lama, replacement cycle dilakukan 8 jam sekali, sedangkan pada sistem yang baru replacement dilakukan 3.5 jam sekali untuk bulb. Sedangkan untuk duplex replacement cycle dilakukan 3.9 jam sekali. Sehingga replacement cycle dari bulb dan duplex dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Replacement Cycle dari Bulb dan Duplex
Aktivitas Bulb Duplex Replacement Cycle Lama Baru 8 jam 3.54 jam 8 jam 3.49 jam Jumlah Persediaan Lama Baru 17200 unit 7611 unit 17200 unit 7504 unit

1.

Analisis Inventori Perbandingan tingkat persediaan Work In Process antara sistem kanba dengan aktual di pabrik (lini produksi). a. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban, terjadi penurunan persediaan sebesar 45.25%. b. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 25.01%. Perbandingan tingkat persediaan sistem MRP dan sistem kanban 1. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara MRP dengan sistem kanban menjadi penurunan pesediaan sebesar 27.69% per hari. 2. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 24.60%. 6.4 Kelemahan dan Kelebihan Sistem Lama dan Sistem Baru Adapun kelemahan dan kelebihan dari masingmasing sistem dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Kelemahan dan Masing Sistem
Sistem Lama Kelemahan Kelebihan Koordinasi Penjadwalan antara unit tidak selalu kurang sering (bulanan) Material Service menumpuk level lebih pada lini bagus produksi

Kelebihan

Masing-

Adapun aktivitas yang dilakukan adalah:

Sistem Baru Kelemahan Kelebihan Harus dilakukan Inventori penjadwalan minimum sering (mingguan/harian) Pengangkutan Material material lebih tidak sering menumpuk. Koordinasi lebih bagus

18

Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri

6.5 Kesulitan yang Muncul dengan Adanya Sistem Just In Time/Kanban 1. Sumber daya manusia yang telah biasa dengan sistem lama, sehingga apabila Just In Time/Kanban diterpakan di perusahaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melatih para pekerja. Memberikan tanggung jawab penuh pada karyawan, karena dalam Just In Time/Kanban sangat dibutuhkan pekerja penuh tanggung jawab tanpa harus menunggu perintah dari atasan seperti pada saat ini 2. Kesulitan menerapkan sumber daya yang fleksibel seperti pada Just In Time yang telah dilaksanakan Toyota, artinya adanya pengambilan tenaga kerja ekstra apabila order meningkat dan merumahkan tenaga kerja tersebut. Prinsip ini tidak dapat dilakukan, karena semua tenaga kerja berstatus tenaga kerja tetap, hal ini malah merugikan perusahaan yaitu membuat gaji pegawai yang tidak bekerja. 6.6 Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Pelaksanaannya Adalah 1. Membuat team proyek yang terdiri dari manajemen pabrik, kepala bagian tiap work station yang harus dibentuk dan dilatih terlebih dahulu dalam membuat pola pikir Just In Time/Kanban sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran antara sistem nyata dengan sistem pull 2. Membuat produk percontohan, maksudnya karena penerapan Just In Time/Kanban membutuhkan perubahan revolusioner maka sebaiknya dimulai dari perubahan dalam skala kecil, misalnya penerapan sistem kanban pada permintaan produk akhir ke bagian pengemasan, dari sini akan dievaluasi bila hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke bagian pengolahan dan seterusnya. Bila hasil evaluasi kurang memuaskan maka harus dicari faktor penyebabnya 7. KESIMPULAN DAN SARAN

3.

4.

5.

(kanban segi tiga) 4, dan kanban supplier (gudang bahan baku) Dalam kebutuhan material bahan baku, sediaan dalam proses, terutama dalam kuantitasnya pada lini produksi, rancangan informasi sistem kanban memberikan tingkat persediaan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan sistem MRP yang ada sekarang Sistem informasi kanban bekerja lebih baik dalam perencanaan kebutuhan bahan baku material dan minimasi tingkat persediaan serta cycle time Frekuensi kedatangan part yang lebih besar dengan kuantitas part terkirim lebih kecil dalam sistem informasi kanban menghasilkan tingkat persediaan Work In Process yang lebih rendah

7.1 Saran Saran yang diajukan di bawah ini merupakan rekomendasi yang diberikan penulis, baik terhadap sistem yang diamati maupun untuk penelitian selanjutnya. 1. Penerapan metode just in time dengan sistem kanban sangat membantu integrasi dari seluruh pihak dalam perusahaan mulai dari pihak manajemen hingga operator produksi. Persiapan dalam hal sumber daya manusia hendaknya lebih dahulu diperhatikan dalam sistem yang menuntut kedisiplinan. Tinggi dalam bekerja 2. Penyebarluasan pemahaman dan penelitian sistem produksi Just In Time sebaiknya dilakukan dengan kerjasama antara perguruan tinggi dengan kalangan industri. 3. Sistem kanban relatif sederhana sehingga mudah dimengerti karena itu hendaknya pemahaman diberikan secara menyeluruh pada semua tingkat dalam perusahaan sehingga sistem kanban berjalan dengan baik 8. DAFTAR PUSTAKA Gaspersz, Vincent., 1998, Manajemen Produksi Total, Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global, Gramedia ustaka Umum, Jakarta Jimmy, Browne, John Harnen, James Shivnan., 1988, Production Management System, Addison Weslwy Publishing Company Law,A.M and Kelton, W.D., 1991. Simulation Modelinh and Analysis, 2th edition., New York, McGraw-Hill, Inc Monden, Yasuhiro. 2000. Sistem Produksi Toyota Suatu Ancangan Terpadu Untuk Penerapan Just In Time, 1.II jilid, terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta Mudjahidin, 2000. Pembuatan Kanban dan Simulasi Sistem Produksi Just In Time untuk Multi Produk da Multi Proses., Program Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya

7.1 Kesimpulan Melalui serangkaian tahapan penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Siklus kanban untuk bulb adalah 1 :7 :2 artinya barang ini harus disampaikan tujuh kali sehari dan suku cadang harus disampaikan tiga kali setelah kanban dibawa ke pemasok. Siklus kanban untuk duplex 1 :4 :2 artinya barang ini harus disampaikan empat kali sehari dan suku cadang harus disampaikan dua kali setelah kanban dibawa ke pemasok 2. Jumlah keseluruhan kanban di lini produksi untuk bulb adalah 12, titik pesan ulang (kanban segi tiga) 8, dan kanban supplier (Lamp Component Factory) 4. Jumlah kanban di lini produksi untuk duplex adalah 7, titik pesan ulang

19

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

Ohno, Taiichi. Just In Time-1995. Dlam Sistem Produksi Toyota,. Terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo Jakarta Fogarty, D.W., J.Blakestone.JR., and T.R Hoffman., Production and Inventory Management 2ed. Cicinnati, OH: South-Western Peblishing, 1991 Schniederjans, Marc J., Topics In JustIn-Time Management: Allyn & Bacon, 1993. Boston

Schonberger, Richard J. Teknik-teknik Manufaktur epang. Terjemahan Dr.Edi Nugrohio, Pustaka Binaman Pressindo, 1995, Jakarta.

20

proses pengkodean. Bagian ketiga adalah pemodelan dari medium transmisi yang meliputi pembangkitan sampel noise Gaussian dan pembangkitan salah bit. Oleh karena itu untuk memperoleh Bit Error Rate dilakukan simulasi. Bit Error Rate. Kode Reed Salomon. di mana yang satu sebagai kode inner dan yang lainnya sebagai kode outer. jika menggunakan kode inner dan outer. Model sistem sebagaimana diperlihatkan oleh gambar 1 diimplementasikan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang terdiri dari program pembangkitan binari 0 dan 1. yaitu banyaknya bit yang salah dibagi dengan banyaknya bit yang dikirimkan dalam jumlah yang besar. Bit Error Rate. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tersebut dibandingkan dengan kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode tunggal. Coding and Decoding. Fakultas Teknik USU Abstrak: Kesalahan merupakan masalah pada sistem komunikasi. Oleh karena itu diperlukan model sistem. Bagian kedua adalah pemodelan pengkodean dari data yang hendak ditransmisikan. Bagian keempat adalah pemodelan pengkodean dari stream bit yang diterima di sistem penerima. Blok diagram model sistem diperlihatkan oleh gambar 1. 1989). Reed Salomon Code. systems coding are used to correct this error. The performance of the system is measured by Bit Error Rate By inner and outer Hamming code and Reed Salomon. 1987). tolok ukur kinerja dari suatu sistem pengkodean adalah Bit Error Rate.KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER Staf Pengajar Departemen Teknik Elektro. Pola penggabungan kode yang dikombinasikan sebagai kode inner dan kode outer sangat luas pemakaiannya pada sistem komunikasi digital. Cakupan pemodelan sistem terdiri dari 4 bagian yaitu: 1. Kode Hamming. II. Blok Diagram Model Sistem II 1 Algoritma Pembangkitan Binari 0 dan 1 Pada penelitian ini sumber diasumsikan sebagai sumber binari yang mempunyai peluang munculnya bit 1 dan peluang munculnya bit 0 adalah sama. jika hanya menggunakan satu jenis pengkodean saja (Christian Thommesen. Sihar Parlinggoman Panjaitan Sumber Data Proses Medium Proses Gambar 1. PENDAHULUAN Beberapa studi mengatakan.. In order to overcome this problem. Kata kunci: Kode Inner dan Outer. Bagian pertama adalah pemodelan sumber data yang berupa bilangan binari 0 dan 1. Bit Error Rate dari sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tidak dapat dihitung secara teoretis. Gain Coding I. Hamming Code. 2. Keywords: Inner and Outer Code. Oleh karena itu dipakai satu 21 . maka dapat diperoleh kemampuan yang sangat andal. Pengkodean dan Pendekodean. Kinerja dari suatu sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer diukur dari besarnya kemampuan koreksi kesalahan dari kode tersebut. Di samping itu. 3. di mana tujuannya memperoleh kemampuan yang sangat andal guna mengoreksi kesalahan (Fazel K & Salembier P. MODEL SISTEM Sistem yang diteliti adalah kinerja dari sistem kode inner dan outer dengan menggunakan metode simulasi. pembangkitan noise Gaussian dan pembangkitan salah bit serta proses pendekodean. 4. Penelitian ini membuat model sistem kode inner dan outer. The performance of coding system by using code is compared with the performace of coding system by using code. Koding Gain Abstract:The error represents a problem for the communications systems. This research makes model of the inner and outer code. Tolok ukuran kinerja sistem adalah Bit Error Rate dari kode inner dan outer kode Hamming dan kode Reed Salomon. Untuk mengatasi masalah ini digunakan sistem pengkodean untuk dapat mengkoreksi kesalahan.

Bila bilangan acak dibangkitkan lebih besar dari n maka proses pembangkitan bilangan acak berhenti.3 Algoritma Pembangkitan Salah Bit Pada penelitian ini didefinisikan transmisi tanpa modulasi dan format sinyal adalah bipolar di mana bit 1 mewakili tegangan V volt dan bit 0 mewakili tegangan -V volt.k n -k . Setelah itu diambil bit-bit yang keluar dari inner enkoder di mana tiap yang diambil dibandingkan dengan tiap sampel noise yang dibangkitan. Oleh karena itu dalam proses pengkodean diperlukan suatu generator. Bila bit 0 dikirim error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari V. Kemudian simbol tersebut dikalikan dengan generator polinomial. maka perlu dibuat suatu hubungan antara tegangan dan variansi dengan signal noise. Karena parameter yang dipakai di dalam program adalah Signal to Noise Ratio (SIN) dan yang akan dicari adalah tegangan (V). baik generator matriks. Pembangkitan bilangan acak yang terdistribusi antara 0 dan 1 dimulai dari pembangkitan bilangan acak ke-i yaitu dari 1 sampai dengan bilangan acak ke-n di mana n.. error terjadi jika sampel noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V. bit tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. Bila yang diambil adalah bit 0. acak Gaussian dengan rataan = 0 dan harga variansi = 1. 1989): tegangan lebih kecil dari harga treshold-nya (0 volt). Dari harga Signal to Noise Ratio dihitung besarnya tegangan (V) dengan menggunakan persamaan (4). Bilangan acak yang telah dibangkitkan (u) dibandingkan dengan 0. 1983]. 11. Jika sindrom yang dihasilkan bemilai nol 22 . Dari definisi tersebut dapat dibuat suatu persamaan yaitu: 2 V2 σ 2 = S ……………………… ……(3) N Bila σ 2 = 1 maka persamaan (3) menjadi: S …………………. Bentuk umum generator polinomial dari kode Reed Salomon [Blahut.11) dimulai dengan mengambil k bit data sebanyak 44 bit. No. Tegangan akan lebih besar dari 0 jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +V.4) dan kode BCH (127. Kode Hamming. Pada penelitian ini kode-kode yang dipergunakan adalah kode Hamming (7. Bila bit 1 dikirim maka error akan terjadi jika Gaussian dengan rataan 0 dan variansi σ .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7..5. Bila bilangan acak yang dibangkitkan lebih kecil atau sama dengan 0. + g n . 2 11. . Tegangan akan lebih kecil dari 0 volt jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V. generator polinomial maupun generator sekuens. Kemudian 44 bit ini. Rhichard E. Penghitungan sindrom ini untuk mengetahui apakah kode yang diterima benar atau tidak. Proses pembangkitan salah bit dimulai dengan memberikan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Hasilnya adalah kode Reed Salomon. Jika terjadi error. Bila yang diambil adalah bit 1. ( 2 ) 11.(4) N Pada penelitian ini diasumsikan noise adalah V2 = ⎡1 ⎢0 G= ⎢ ⎢1 ⎢ ⎣1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0⎤ 0⎥ ⎥ …………………. Dapat diperoleh dari hasil perkalian antara bit stream dengan generator matriks kode Hamming Generator matriks dari kode Hamming (Man Young Rhee. Bila bit 1 dikirim error terjadi jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari --V..(1) 0⎥ ⎥ 1⎦ Algoritma pembentukan kode Reed Salomon (15.2 Algoritma Pembentukan Kode Hamming dan Kode Reed Salomon Bit stream dari sumber data yang masuk ke enkoder dikodekan dengan menggunakan suatu generator. error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +'V. Kemudian dibangkitkan sample noise (u) yang berupa bilangan acak berdistribusi Gaussian dengan rataan 0 dan variansi = 1. Sehingga dari 44 bit diperoleh 11 simbol.4 Algoritma Pendekodean Kode Hamming Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Hamming dimulai dengan menghitung sindrom dari kode yang diterima.57) sebagai pembanding yang sifatnya sistematik. Didefinisikan tegangan kuadrat (V`) sama dengan daya sinyal (S) karena seolaholah. diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol. tegangan dc dan σ sama dengan daya noise (N). Oleh karena asumsi noise adalah Gaussian maka dalam simulasi ini diperlukan pembangkit bilangan. Berdasarkan sampel noise dan bit-bit yang keluar dari inner enkoder diputuskan apakah terjadi error atau tidak. 4 Oktober 2006 pembangkit yang dapat membangkitkan bit 0 dan bit 1 dengan peluang yang sama. Bila jumlah bilangan acak yang dibangkitkan belum mencapai n. sejumlah perkalian antara panjang data dari kode. g(x) = g 0 + g1 x + g 2 x 2 + ..5 dibangkitkan bit 1. maka dibangkitkan bilangan acak berikutnya. Apabila bit 0 dikirim maka error akan terjadi jika tegangan lebih besar dari harga treshold-nya (0 Volt).5 dibangkitkan bit 0 dan lebih besar dari 0.

Hitung error magnitude. bit pada posisi ke-i tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. Bila sindrom tidak bemilai nol maka ada error terdeteksi. 8. yang dihitung dengan persamaan berikut: s1 = r0 + r1α + r2α 2 + . Jika determinan tidak nol. hitung error locator σ dengan menggunakan persamaan: σ= S2 ………………………….. 4. yang mana posisinya diasumsikan sebagai posisi error. Sehingga dari 60 bit menjadi 15 simbol. Kemudian sindrom dihitung dengan menggunakan persamaan berikut. Hitung akar-akar persamaan error locator polinominal. maka bit-bit pariti dibuang. 3. Hitung error locator σ dan susun error locator polinominal σ (x). Banyaknya sindrom adalah dua kali kemampuan koreksi kesalahan... 10.. HT = transposisi dari pariti check matriks. Jumlahkan error polinomial dengan kode yang diterima. dekoder tidak melakukan pengkoreksian..5.(10) 5 log σ Misalkan σ = α maka x a = x a = x Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x). Tahap terakhir dari proses pengdekodean adalah mengeluarkan bit-bit pariti. + r14 (α 3 )14 s4 = r0 + r1 (α 4 )1 + r2 (α 4 ) 2 + .... Selesai.. Langkah-langkah dari algoritma adalah sebagai berikut: 1. Proses selanjutnya adalah mengambil sebanyak 60 bit data. Jika determinan nol. Setelah dikoreksi. 5 log a5 c (x) = r ( x ) + e(x)………………(11) setelah kode diperoleh. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x)....... 6. 11.. dengan cara menghapus kolom paling kanan dau baris paling bawah dari matriks sindrom yang lama. Susun matriks sindrom P.. Hitung determinan matriks sindrom... Jika sindrom tidak sama dengan nol. bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array.(7) S3 ⎥ ⎦ Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Reed Salomon..... II. 5.S 3. + r14α 14 s2 = r0 + r1 (α 2 )1 + r2 (α 2 ) 2 + . + r14 (α 2 )14 s3 = r0 + r1 (α 3 )1 + r2 (α 3 ) 2 + . dengan menggunakan persamaan: ei1 = S1 σ ……………………………(9) Kemudian disusun error polynomial e(x) e( x) = ei1 x log an ………………….. Kode yang diterima diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol.S 4 diuji..... di mana: . dipilih algoritma Peterson Gorenstein Zieler (Wicker..... Jika sindrom tidak sama dengan nol. Susun error polinomial... hitung determinasi matriks P....... kemudian bit-bit data disimpan pada array 23 . dilakukan pengkoreksian terhadap bit-bit yang terkena error.11) adalah 2..... Kemudian bit-bit data disimpan pada array.. dicari posisi error dengan membandingkan sindrom yang diperoleh dengan matriks pariti.. Setelah diperoleh posisi error maka dilakukan pengkoreksian..... lakukan langkah 5.S 2... Sehingga sindromnya ada sebanyak 4..(8) S1 Selanjutnya hitung error magnitude ei1 ... Langkah selanjutuya adalah mencari posisi error. Proses selanjutnya adalah mengambil 7 bit data.. 9.(5) di mana: r = kode yang diterima. Jika semua nol. 5 Algoritma Salomon Pendekodean kode Reed Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol. 1995).. Setelah posisi error diketahui. 2. susun matriks sindrom yang baru. Hitung sindrom dari bit stream yang telah melalui saluran transmisi.1 Determinan Sama dengan Nol Jika determinan sama dengan nol. Kemampuan koreksi kesalahan dari kode Reed Salomon (15....... Stephen B..(6) ⎡S p=⎢ 1 ⎣S 2 S2 ⎤ ………………………. Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol. Jika sindrom sama dengan nol. Untuk mengkoreksinya...... 7. S = r HT. berarti tidak ada error deteksi... kemudian bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array.Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan maka tidak ada error yang terdeteksi. Dekoder tidak melakukan pengkoreksian.. + r14 (α 4 )14 Kemudian sindrom S 1..

kemudian menguji masing-masing prosedur di dalam program tersebut.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.2 Determinan Tidak Sama dengan Nol Bila determinan tidak sama dengan nol maka susun error locator polinomial dengan menggunakan persamaan: σ ( x) = 1 + σ 1 x + σ 2 x 2 ……….(12) Di mana σ1 dan σ 2 diperoleh dari ⎡ S1 ⎢S ⎣ 2 S 2 ⎤ ⎡σ 2 ⎤ ⎡ S 3 ⎤ ………. Kemudian memberikan harga Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Kemudian dihitung error magnitude ei1 dan ei2 dengan menggunakan persamaan. c (x) = r ( x ) + e(x)……………………. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x). maka dilakukan pengujian gabungan seluruh prosedur. Kemudian bit-bit tersebut dikirimkan ke inner dekoder melalui kanal di mana pada kanal dibangkitkan salah bit. III. Selanjutnya memberikan jumlah bit yang hendak dikirimkan (Nbit stream) kemudian 24 .. 111. Pengujian dilakukan dengan menerapkan algoritma dalam bentuk program simulasi komputer.0. Hasil pengdekodean disimpan pada array datoutinner. Untuk bit masukan sebanyak 1000000 bit. Selanjutnya akar-akar persamaan di invers sehingga diperoleh β 2 . kemudian bit-bit data disimpan pada array III. Setelah semua prosedur diuji. 2 Pengujian Algoritma Yang Disusun Pengujian algoritma yang disusun bertujuan untuk menunjukkan bahwa algoritma tersebut dapat diterapkan dan dapat berfungsi sesuai dengan perancangannya. datanya menjadi 100100 bit. 111. Data yang diperoleh berdasarkan hasil rata-rata dari kesepuluh pengamatan tersebut.. e( x) = ei1 x log a β1−1 + ei2 x log a β 2 −1 ………. Setiap prosedur yang dibuat diuji secara terpisah dengan cara memberikan data masukan tertentu.5. ⎡ β1 ⎢ −12 ⎣ β1 −1 β2 β 2 −1 −1 2 ⎤ ⎡ ei1 ⎤ ⎡ S1 ⎤ ⎥ ⎢e ⎥ = ⎢ ⎥ ………. No. Program komputer yang dibuat ditulis dalam bahasa Pascal versi 7. Selanjutnya bit-bit tersebut didekodekan oleh outer dekoder.(15) Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x). 4 Oktober 2006 II. I Proses Simulasi Proses simulasi dimulai dengan membuat inisialisasi Jumlah bit (nbits) dan jumlah error (nerror) dengan nilai nol. Hasil pengkodean outer enkoder ini merupakan bit stream bagi inner enkoder. PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mewakili hasil dari sistem yang sesungguhnya. 3 Hasil-Hasil Penelitian Pada penelitian ini percobaan dilakukan dengan sepuluh kali pengamatan. β1 dan −1 −1 dibangkitkan bit stream oleh pembangkit bit. Hasil pengdekodean disimpan dalam array data out Kemudian dihitung jumlah bit yang error dengan cara membandingkan bit pada array datain dan bit pada array dataout.…(16) setelah kode diperoleh. untuk selanjutnya dikodekan oleh inner enkoder menjadi kode gabungan yang disimpan pada array codeoutinner. Adanya beberapa angka desimal di belakang koma disebabkan tidak tepatnya jumlah bit masukan dengan datanya. Bit stream yang dibangkitkan diambil sebagiansebagian. Misalnya untuk jumlah bit masukan sebanyak 100000 bit.(13) = S 3 ⎥ ⎢σ 1 ⎥ ⎢ S 4 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Kemudian dicari akar-akar persamaan (8) yaitu β 1 dan β 2 . Bit-bit yang telah melalui kanal disimpan pada array codechannel. maka bit-bit parity dibuang. datanya menjadi 1000076 bit dan untuk bit masukan sebanyak 10000000 bit. Kemudian bit-bit tersebut dikodekan oleh outer enkoder. menjadi 10000144 bit.(14) ⎦ ⎣ i2 ⎦ ⎣ S 2 ⎦ harga kesalahan Setelah diperoleh ei1 dan ei2 maka disusun error polynomial e (x). kemudian membandingkan data keluarannya dengan data yang diproses secara manual. Hasilnya disimpan pada array codeoutouter. Kemudian bit-bit tersebut didekodekan oleh inner dekoder.

5476 25 .6 6 6.7122 9.6 6 6.81 x 10-6 Tabel 3.0097 5. Kinerja Kode Inner dan Outer Hamming– Reed Solomon Efisiensi: 0.9015 x 10-4 -4 -5 -5 1.3292 x 10 5.7225 8.6826 3.3948 x 10 1.4879 x 10-3 7. Kinerja Kode BCH (127. 1995): Koding gain = S/N tanpa pengkode-S/N dengan pengkode……….2272 8.765 x 10 2.0484 x 10 3.2451 BER keluaran 6. Koding Gain kode BCH (127.1836 3. Kinerja Kode Inner dan Outer Reed Salomon-Hamming.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.(10) 9.8664 Tabel 2.0484 x 10-3 3.4879 x 10-3 7.7708 2.1476 IV.4873 x 10-3 3.8 5.0121 x 10 5.2459 1.2 5.4 Koding Gain (dB) -0.4 4.3903 0.9691 x 10-4 8.8038 3.8 5.2664 S/N dengan pengkode (dB) 4.0121 x 10-3 5.1708 7.2420 x 10-2 4.2555 x 10 1.4645 1.01 x 10-6 Tabel 4.6 6 6. Efesiensi: 0.9515 2.341 x 10 -4 2.9225 3.4879 x 10 7.5515 8.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.57) Efisiensi: 0.48 x 10-5 5 .3948 x 10 -3 -3 -3 -3 -3 Tabel 5.4 4.5691 x 10 -3 -3 -3 BER keluaran 1.5800 3.9800 8. Efisiensi: 0.2645 6.4459 7.4826 8.697 x 10-5 3.645 1 S/N dengan pengkode (dB) 4.0121 x 10-3 5.4038 9.8 5.4 Koding Gain (dB) 3.3948 x 10-3 1.2131 x 10 1.5691 x 10-3 BER keluaran 1.7608 3.2 5.65x 10-6 2.8403 3.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 S/N tanpa pengkode (dB) 4.0484 x 10-3 3.57).Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan Tabel 1.5691 x 10-3 8.5838 S/N dengan pengkode (dB) 4.8403 10.4 Koding Gain (dB) 2. al.5320 x 10-3 2.5320 x 10 2.7622 x 10-3 1. ANALISIS HASIL PENELITIAN Analisis hasil penelitian mencakup pengaruh parameter signal to Noise Ratio terhadap koding gain dari sistem yang diteliti.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.5320 x 10 2.0272 3. Besarnya koding gain (marving et.1836 9.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.4 4.2 5.9608 9. Koding Gain Kode Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon Efiensi: 0.626 x 10-5 1.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 BER masakan 9.0921 x 10 -4 -5 -5 Tabel 6. Koding Gain Kode Inner dan Outer Reed Salomon–Hamming Efisiensi: 0.5838 3.1122 3.71102 x 10 7.

Addison-Wesley Pubishing Company Inc.B.. 3 Avenue Descartes 94451 LimeilBrevannes Cedex (France). 2. Koding Gain terhadap Signal to Noise Ratio Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon. Grafik 2.. No. terlihat bahwa Koding Gain inner dan outer code Hamming-Reed Salomon dan Reed Salomon-Hamming lebih tinggi bila dibandingkan dengan kode BCH (127. (1989). IT-33. IEEE Transactions on Information Theory.. 4. New York.1995. (1987) Error Correcting Capabilities of Concatenated Codes With MDS Outer On Memoryless Channels with MaximumLikelihood Decoding. T. Prentice-Hall International Inc. Error Correcting Coding Theory. (1989). Koding Gain Hamming sebagai inner code dan Reed Salomon sebagai outer code lebih tinggi dibandingkan dengan Reed Salomon sebagai inner code dan Hamming sebagai outer code Hasil pemodelan simulasi ini mendeksi hasil secara teoretis yakni dengan naiknya signal to noise ratio. Mc Graw-Hill.5 Fazel. Man Young Rhee. bila dibandingkan dengan inner dan outer code Reed Salomon-Hamming... P. R.57).. K. Theory and Practice Of Error Control Codes. Laboratories d’Electronique Philips. Christian. 26 . Pada gambar 2. 4 Oktober 2006 3. Kenaikan koding gain semakin kecil pada signal to noise ratio yang semakin besar DAFTAR PUSTAKA Blahut. Reed Salomon-Hamming serta Kode BCH (127. New York. Salembier. V.57). Wicker Stephen. pq. maka dapat diambil kesimpulan antara lain: 1. 15281533.E. maka Bit Error Rate cenderung semakin menurun. Koding Gain inner dan outer Hamming Reed Salomon lebih tinggi. Dengan demikian model sistem yang dibuat dapat diyakini untuk mewakili sistem yang sebenarnya. Error Control Systems for Digital Communication and Storage. Application of Error Modeling at The Output Maximum Likelihood Dekoder to Concatenated Coded 16 PSK. (1983).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode gabungan lebih andal dibanding dengan kinerja sistem pengkodean yang menggunakan kode tunggal pada Bit Error Rate masukan dari 10-2 sampai 10-3. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan. Vol. IEEE. No.

Transparancy and accountability can be realized by the responsibility in all of regional’s financial management periodicly in financial’s report form to the central government. siapa yang bertanggung jawab terhadap berbagai bagian kegiatan dalam masyarakat. Osborne (1992) dalam Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa Akuntabilitas ditujukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pelayanan apa. since its make Kepmendagri No. Hal ini mengakibatkan pergolakanpergolakan di daerah untuk menuntut pemberlakuan otonomi khusus atau bahkan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rasa ketidakpuasan tersebut. Konsep Akuntabilitas dan Transparansi Menurut keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) No. Keywords: Transparancy and Accountablility PENDAHULUAN Gerakan reformasi mengedepankan beberapa tuntutan penting antara lain mendesak pemerintah meningkatkan kinerja. The acceleration in regional accounting system implementation is the necessity for the government. personalia yang mempunyai kemampuan juga terbatas. Hal tersebut dapat dipahami mengingat pemenuhan segala kebutuhan minimal memerlukan biaya dan tenaga ahli tidak sedikit.589/IX/6/Y/99 dalam Sitompul (2003). ternyata pelaksanaannya menghadapi banyak kendala yang cukup rumit. Good governance mengandung dua pengertian yaitu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan kemandirian. about the orientation of regional’s government which is not implements the regional’s accounting system already are worried not to manage its regional’s accounting transparancy. mengapa pertanggungjawaban harus diserahkan. milik siapa. dan pelaksanaan praktek pemerintah yang good governance dan clean government.29. dan bagaimana. Regional General Assembly (DPRD) and the public. maka harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship pada pihak-pihak yang melaksanakan akuntabilitas. Salah satu masalah penting yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah sebagai unsur dari suatu good governance. memberantas korupsi. pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menjelaskan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak/berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. yang mana. kepada siapa pertanggungjawaban diserahkan. 2002. Selain itu. apakah pertanggungjawaban berjalan seiring dengan kewenangan yang memadai. Di satu pihak pemerintah daerah dituntut untuk mewujudkan good governance sementara dipihak lain sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk semua kegiatan terutama menyangkut teknologi informasi dan sumber daya manusia belum memadai. dalam pengantar Standar Akuntasi Pemerintah dinyatakan bahwa salah satu Idhar Yahya 27 . Sentralisasi kekuasaan dan keuangan negara pada masa sebelum era reformasi telah banyak memberikan pengalaman kepada masyarakat daerah atas ketimpangan yang terjadi mengenai pembagian hasil dan sumber daya alam antara daerah dan Jakarta.AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU Abstract: The operational of transparancy and accountability are the important things to make a good and clean government according to the expectation of its stakeholders. Hal ini harus dilakukan agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder sesuai dengan karakteristik Good Governance menurut UNDP dan Word Bank. apa yang harus dipertanggungjawabkan. Konsep pelayanan ini dalam akuntabilitas belum memadai. Pertanyaan yang memerlukan jawaban tersebut antara lain. Oleh karena itu. kepada siapa. A. kolusi dan nepotisme (KKN). Pelaksanaan good governance tersebut. siapa. Pemerintah daerah mempunyai dana yang terbatas. Konsep pelayanan dalam akuntabilitas selain harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship juga harus diikuti dengan jiwa responsiveness. dan lain sebagainya. pemberlakuan undang-undang otonomi daerah harus dapat meningkatkan daya inovatif dari pemerintah daerah untuk dapat memberikan laporan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan keuangan daerah dari segi efisiensi dan efektivitas kepada DPRD maupun masyarakat luas.

dan badan legislatif. Akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan dan demokratis serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat. consessus orientation. Kedua. partisipasi masyarakat dan supremasi hukum. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tantang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa akuntabilitas publik meliputi akuntabilitas internal dan akuntabilitas eksternal. Sebagian besar masyarakat tidak dalam asumsi memiliki pengetahuan yang memadai tantang aktivitas pemerintahan dalam pengelolaan keuangan. Lembagalembaga tersebut tentunya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) menggunakan biaya yang bersumber dari keuangan negara. No. pemerintah harus betul-betul menyadari bahwa pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari publik. Akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan pemerintah daerah tidak begitu dipahami oleh masyarakat sebagai pemakai. Ketiga. sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Biro/Bagian Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah daerah kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pertama. Oleh karena itu informasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 28 . berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of public accountability). Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengadilan intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. media massa. serta kepada Kepala Satuan Kerja/Dinas selaku pengguna anggaran. Hal ini dapat kita lihat dari adanya keberadaan lembaga pengawas seperti Badan Pengawas Daerah. dan investor atau kreditor. Untuk membantu Kepala Daerah dalam mengelola keuangan daerah dimaksud. kenyataannya mekanisme akuntabilitas keuangan daerah tidak berjalan dengan baik terutama kepada masyarakat. dan DPRD. effectiveness dan strategic vision. kualitas pemerintahan yang baik juga ditentukan oleh faktorfaktor lain seperti responsiveness. Badan Pengawas Keuangan Pembangunan. Akuntabilitas internal merupakan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak internal yang berkepentingan seperti pegawai. Jiwa dari sistem ini adalah kemampuan dari setiap warga negara untuk memperoleh informasi melalui akuntabilitas pejabat pemerintah atas kegiatan yang mereka lakukan. pejabat pengelola keuangan negara. B. hak untuk diberi informasi (right to be kept information). Oleh karena itu. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh stakeholder tersebut diperlukan kerangka konseptual (conceptual framework) yang komprehensif. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa “stakeholder yang beragam memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Namun. pemberi dana bantuan. aset daerah dan akuntansi. Sedangkan akuntabilitas eksternal adalah pertanggungjawaban kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan. Hal ini sesuai dengan karakteristik pelaksanaan pemerintahan yang baik menurut UNDP dan Word Bank. Setiap warga negara berhak mengetahui (right to know) untuk setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh setiap pejabat negara baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. seperti pembayar pajak. Keempat. Biro/Bagian Keuangan sebagai pembantu Kepala Daerah dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah manajer keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Daerah. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa Kepala Daerah merupakan pengelola keuangan daerah. Katz (2004) menyatakan bahwa transparansi merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. Mekanisme monitoring cost sebenarnya sudah berjalan pada akuntansi sektor publik walaupun belum seefektif pada sektor privat. dilakukannya audit. C. Akuntabilitas Publik Keuangan Daerah Kualitas Pemerintahan Daerah yang baik (good governance) tidak hanya ditentukan oleh akuntabilitas. adanya sistem pengukuran kinerja. Dengan adanya transparansi maka diharapkan setiap warga negara dapat berperan aktif dalam melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan. Sektor publik. akuntabilitas publik keuangan daerah adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja keuangan daereah kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) sehingga hak-hak publik. equity efficiency. 4 Oktober 2006 upaya nyata untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip waktu. yaitu hak untuk tau (right to know). Menurut Mardismo (2004). Kerangka konseptual akuntabilitas publik dapat dibangun di atas dasar empat komponen. dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. dan hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to) dapat terpenuhi. transparansi. adanya sistem pelaporan keuangan. transparansi. Mekanisme Akuntabilitas Keuangan Dalam pelaksanaan penyajian laporan keuangan pemerintah daerah. sementara setiap Kepala Satuan Kerja/Dinas pada hakekatnya adalah manajer operasional atau Chief Operational Officer (COO) Pemerintah Daerah.

Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Idhar Yahya

D. Impelentasi Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pencapaian kinerja organisasi pemerintah biasanya memang dihubungkan dengan konsep 3E. Hal ini sesuai dengan konsep Value For Money (Mulgan, 1997) yang merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang didasarkan pada tiga elemen yaitu ekonomis, efisiensi dan efektivitas. Namu tiga elemen ini saja sebenarnya tidak cukup dan perlu ditambah dengan dua elemen lain yaitu keadilan (equity) dan pemerataan atau kesetaraan (equility). Artinya bahwa penggunaan uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja tetapi dilakukan secara merata. E. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Sarana Akuntabilitas dan Transparansi Keuangan Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah maka sistem akuntansi yang digunakan oleh pemerintah berubah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui apda saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dinyatakan bahwa komponen yang harus terdapat dalam suatu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi; Laporan Realisasi Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintah Nomor 1 tentang Penyajian Laporang Keuangan pada paragraf 38 dan paragraf 43 dinyatakan bahwa Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu, selain itu juga dinyatakan Neraca mencantumkan pos-pos berikut; Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang pajak dan bukan pajak, Persediaan, Investasi jangka panjang, Aset tetap, Kewajiban jangka pendek, Kewajiban jangka panjang, Ekuitas dana. Dengan demikan, PSAP Nomor 1 telah mengharuskan setiap Pemerintah Daerah untuk menyajikan dan melaporkan Neraca secara komprehensif.

F. Laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagai Bentuk Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pada setiap akhir tahun anggaran dan periode pemerintahan Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepada DPRD sebagai wakil dari masyarakat yang telah mempercayakan pengelolaan sumber daya daerah. Undang-undang republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pada ayat 2 disebutkan bahwa laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi Laporan Keuangan APBD, Neraca, Laporan Aliran Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan Badan Usaha Milik Daerah. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2001 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia telah menyampaikan Hasil Pemeriksaan Semesteran (HAPSEM) kepada DPRD, yaitu hasil pemeriksaan yang menyangkut pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi/ Kabupaten/Kota yang ber-sangkutan. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Barhullah, 2002, Fungsi Manajemen Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, oktober, hjal. 4-8 Katz, Ellen, 2004, Transparancy in GovernmentHow American Citizens Influence Public Policy, Journal of Accountancy, Juni 2004, hal. 1-2 Kosasih, Dadang, 2003, Reorientasi Pengelolaan Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 90, Juni-Juli, hal. 57-59 Kuntadi, Cris, 2002, Transparansi Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, Oktober, hal. 22-16 Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta, Mardiasmo, 2004, Membangun Akuntabilitas Publik Keuangan Negara, Cetakan Majalah Media Akuntansi, Edisi No. 39, April, hal. 12

29

STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X
Khawarita Siregar
Staf Pengajar Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU Abstrak: PT X merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ayam (pelet S-11). Penelitian ini menggunakan pengendalian proses secara statistik untuk melihat kemampuan proses dari PT X, juga dengan teknik ini perusahaan dapat menurunkan variabilitas yang dimiliki sebanyak mungkin. Ini merupakan sebuah keharusan karena PT X tidak memiliki metode khusus dalam mengendalikan pelet S-11. Dan juga dengan teknik ini, PT X ingin mengendalikan keseluruhan proses yang terdapat pada lantai produksi. Juga dapat dilakukan untuk mengendalikan produk akhir dengan menentukan rencana sampling penerimaan berdasarkan MIL-STD 1916 dan memberikan petunjuk arahan terhadap lot yang diterima dan yang ditolak. Dari analisis yang didapat, rendahnya proses kapabilitas disebabkan oleh kinerja operator, gudang bahan baku, peralatan turn head dan proses itu sendiri tidak bekerja secara optimum. Dan juga untuk perhitungan rencana sampling penerimaan berdasarkan metode MIL-STD 1916, lot yang diterima terdapat pada karakteristik protein, lemak, dan serat. Kalsium dan fosfor lot yang ditolak. Untuk lot yang ditolak dibutuhkan pemeriksaan yang lebih ketat. Kata kunci: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL- STD 1916 Abstract: PT X is a manufacturer in producing food for chicken (pellet S-11). This researh is using statistical process control to look the capability process of PT X, so with this technique the manufacturer can decrease the variability as much as possible. It’s a necessary because PT X doesn’t has a special method in controlling pellet S-11. And with this capability process technique, PT X want to control the whole process in the production floor. It can be also to control the end item product with determine the acceptance sampling plans according MIL-STD 1916 and giving an implementation direction about the acceptable and rejected lot. From the analysis result, poor capability cause by operator performance, raw material warehouse, turn head tool and the process to produce S-11 itself doesn’t works optimumly. And for the acceptance sampling plans calculation with MIL-STD 1916 method, the acceptable lot are protein, fat and fiber. Calcium and phosphor are rejected. For rejected lot, tightened inspection shall be istituted. Keywords: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL-STD 1916 1. PENDAHULUAN Produksi daging dan telur ayam kampung belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ditinjau dari segi peternakan ayam ras yang semakin berkembang berkaitan erat dengan penggunaan teknologi. Penerapan teknologi ini didukung oleh program pemerintah untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat dalam hal kebutuhan protein hewani. Melihat Indonesia sangat potensial bagi industri pakan ternak khususnya ayam, maka PT X mewujudkan minatnya untuk memproduksi pakan ayam yang berkualitas. Untuk menjaga kualitas pakan, PT X berusaha untuk tetap memenuhi mutu produk sesuai spesifikasi produk (nilai gizi) yang diinginkan pasar dengan tetap melakukan usaha-usaha pengendalian mutu. Untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan peluang yang sama untuk menerima produk tanpa cacat (defect) diperlukan usaha keras dari pihak perusahaan untuk mencapai zero defect. Usaha yang dimaksud tidak hanya berupa kebijakankebijakan yang tertulis tetapi juga diperlukan kesadaran dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Dari studi lapangan yang telah dilakukan terhadap PT Charoen Pokphand Indonesia, untuk mencapai zero defect menjadi hal yang sulit dikarenakan faktor kebudayaan seperti kesadaran, sikap, insentif, sistem penghargaan dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Juga faktor manusia (operator) yang melahirkan kesalahan manusia (human error), misalnya mempunyai tujuan yang salah atau kemampuan yang kurang sehingga menghasilkan kesalahan. Dikarenakan sulitnya untuk mengubah pola pikir, watak dan budaya yang dimiliki, maka untuk melakukan pengendalian secara statistik terhadap proses yang sedang berlangsung digunakan metode process capability dan MIL-STD 1916 dalam mengendalikan produk yang dihasilkan. 2. POKOK PERMASALAHAN Masih terdapatnya pakan ayam S-11 yang dihasilkan belum memenuhi spesifikasi standard mutu yang telah ditetapkan perusahaan, sehingga perlu diambil langkah konkrit agar mutu yang dihasilkan dapat tercapai. Langkah yang diambil adalah dengan menggunakan proses pengendalian statistik untuk melihat dan memeriksa proses yang berlangsung dan produk akhir yang dihasilkan. Pengendalian secara proses dapat dilakukan dengan menggunakan teknik process capability sedangkan pengendalian produk akhir dengan memakai MILSTD 1916.

30

Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar

3. PEMBATASAN PENELITIAN Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis masalah dilakukan pada produk pakan ayam S-11. 2. Variabel yang akan diuji adalah variabel kadar protein, lemak, serat, kalsium, dan fosfor. 3. Spesifikasi standar mutu terhadap variabel uji adalah: - Kadar Protein = 19 –21% - Kadar Lemak = 6 –7% - Kadar Serat = 3 – 4% - Kadar Kalsium = 0,9 – 1,1% - Kadar Fosfor = 0,7 – 0,9% 4. Tidak melakukan suatu evaluasi sistem manajemen perusahaan yang berhubungan dengan penerapan pengendalian mutu. 5. Tidak menggunakan konsep zero defect. 4. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif yang bersifat historis yaitu memakai data masa lalu perusahaan untuk dianalisis dengan menggunakan prinsip perhitungan pengendalian kualitas secara proses. 4.2 Objek Penelitian Objek yang diteliti adalah kajian process capability dan acceptance sampling plans berdasarkan MIL-STD 1916 untuk melihat sejauh mana studi ini dapat diterapkan pada PT X. 4.3 Identifikasi Masalah Masalah yang ditemui akan diidentifikasi untuk selanjutnya akan dicari penyelesaiannya. Secara umum tahapan-tahapan yang akan dilewati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi dan perumusan masalah 2. Penetapan tujuan penelitian 3. Studi kepustakaan 4. Penentuan metode penyelesaian penelitian 4.3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi yang berarti mengenal masalah harus didasarkan pada tingkat urgensi dan relevansi permasalahan. Identifikasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap fakta yang terjadi pada perusahaan. Perlunya memakai prisip pengendalian secara statistik dimaksudkan agar perusahaan secara kontiniu dapat melakukan pengendalian produk secara terstruktur, sehingga hasil yang didapat dapat ditindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mengambil kesimpulan dari kondisi sebenarnya dan untuk memberikan petunjuk dan arahan atas pelaksanaan tersebut.

4.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengendalikan keseluruhan proses yang berlangsung dalam menghasilkan pakan ayam S11 dengan memakai process capability serta memberikan usulan berupa tindakan-tindakan korektif yang dapat diambil untuk meningkatkan kemampuan proses. 2. Mengendalikan pemeriksaan produk akhir dengan menentukan rencana sampel penerimaan variabel berdasarkan metode MIL-STD 1916 dan dapat memberikan petunjuk pelaksanaan atas kegiatan pemeriksaan terhadap lot yang diterima atau ditolak. 4.3.3 Studi Kepustakaan Kualitas produk biasanya dipakai dalam penggunaan produk atau jasa yang dapat memenuhi harapan (expectation) pelanggan. Harapan ini didasarkan pada kepuasan akan kebutuhan pelanggan (fitness for use) dan harga/nilai jual produk. Kualitas sendiri dapat didefenisikan sebagai keseluruhan segi, keistimewaan (feature) dan karakteristik sebuah produk atau jasa layanan yang memberikan kepuasan akan kebutuhan pelanggan. A. Statistical Process Control Merupakan alat utama untuk memonitor sebuah proses, mendiagnosis masalah-masalah yang timbul pada saat proses dan membuat usaha-usaha prioritas untuk melakukan perbaikan kualitas. Tujuan pokok pengendalian proses statistik adalah menyelidiki dengan cepat sebab-sebab penyimpangan kualitas sehingga penyelidikan terhadap proses itu dan tindakan pembetulan unit dapat dilakukan sebelum terlalu banyak produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi. B. Control Chart Suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk memperlihatkan variasi-variasi didalam kualitas keluaran yang disebabkan oleh penyebab khusus dan penyebab umum dan sekaligus melalui peta kendali dapat digunakan untuk menghilangkan variasi data yang tidak normal. Manfaat dari peta kendali adalah memberitahukan kapan harus membiarkan suatu proses berjalan seadanya atau kapan harus mengambil tindakan untuk mengatasi gangguan. Peta kendali dapat dibagi atas dua tipe umum, yaitu: 1. Peta kendali atribut (sifat), digunakan apabila karakteristik mutu tidak dapat dinyatakan secara numerik. 2. Peta kendali variabel, digunakan apabila karakteristik mutu dapat diukur dan dinyatakan dalam bilangan. Untuk mengendalikan mutu pada perusahaan ini, penulis menggunakan peta kendali untuk variabel, yaitu peta X dan R, karena karakteristik mutu yang diamati adalah variabelnya.

31

Process Capability Ukuran dari proses capability disebut capability index. untuk menghasilkan standar proses yang diinginkan.Data yang berada di luar batas pengendalian merupakan jenis data yang tidak normal yang disebabkan oleh jenis variasi penyebab khusus (variasi tidak alami). yaitu Cp dan Cpk. Nilai Cp dan Cpk 32 . 1). Dalam penelitian ini.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Capability Index suatu proses adalah perbandingan variasi proses terhadap spesifakasi yang telah ditentukan. tetapi hanya merupakan hasil perhitungan dari proses statistical control. Perlu diketahui bahwa kedua sifat sampel tersebut dapat dipilih salah satunya sesuai dengan penelitian yang dilakukan dan disesuaikan dengan produk yang dihasilkan. Pemilihan sampel yang bersifat random akan memberikan hasil yang memuaskan bila populasi dari sampel tersebut adalah yang homogen. hal-hal yang pertama sekali yang harus diketahui lebih dahulu adalah: Gambar 1. Rencana sampling menunjukkan ukuran sampel dan cacat yang diizinkan dalam sampel untuk menentukan apakah suatu populasi diterima atau tidak.00. C. Dalam menentukan proses perencanaan sampling. 4 Oktober 2006 Revisi Peta Kendali X dan R Jika terdapat data yang di luar batas kendali. nilai Cp tidak mengindikasikan bahwa suatu proses telah benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan terhadap proses. Perlu diketahui. No. Metode Accepatance Sampling Plans Metode perencanaan sampling penerimaan yang dibahas pada penelitian ini adalah metode penerimaan sampling alternatif (alternative acceptence sampling methode) atau disebut sebagai MIL-STD 1916 yang dikeluarkan pada 1 April 1996 oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang digunakan sebagai standar metode penerimaan produk (methods for acceptance product). Kedua nilai ini harus dilakukan secara bersama. MIL-STD 1916 adalah singkatan dari Military Standard 1916 yang merupakan salah satu dari teknik untuk rencana sampel penerimaan yang teriri dari tiga perencanaan sampling sekaligus yaitu pemeriksaan sampel dari lot atau batch yang bersifat variabel atau atribut. maka dilakukan revisi terhadap peta kendali tersebut. Berikut adalah merupakan analisis hubungan antara nilai Cp dan Cpk: Secara jelasnya dapat dilihat melalui gambar 1. Simple random adalah sampel yang terdiri dari unsur-unsur di mana setiap unsur mempunyai probabilitas yang sama untuk dipilih. jenis sampel yang digunakan adalah simple random. di mana nilai minimum dari Cpk yang dianjurkan adalah 1. Nilai capability index minimum untuk distribusi normal adalah satu. sehingga dapat memberi gambaran yang tepat tentang karakteristik populasi yang diselidiki. D. Accepatance Sampling Plans Melakukan rencana sampling penerimaan tidak terlepas dari cara pemilihan sampel yang representatif. dengan cara membuang data yang di luar kendali dan menghitung kembali batas-batas kendali. Nilai yang menentukan bahwa proses telah sesuai atau tidak terhadap karakteristik proses adalah nilai dari Cpk (performance index).

Tipe dari sampling yang diteliti (variabel) Penggunaan perencanaan sampling variabel. Verification level yang digunakan adalah VLVII.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar 1. Hal ini terdapat pada kondisi suatu perusahaan yang terancam hancur/tutup (unsafe manufacture). Verification Level Verification Level (VL) adalah gambaran dari tingkat utilitas suatu karakteristik dalam suatu proses. Kode Huruf untuk Lot/Batch VII 2 – 170 A 171 – 288 A 289 – 544 A 545 – 960 A 961 – 1632 A 1633 – 3072 A 3073 – 5440 A 5441 – 9216 B 9217 – 17408 C 17409 – 30720 D 30721 – dst E Sumber: DoD Article MIL-STD 1916 USA Lot Or Poduction Interval Size VI A A A A A A B C D E E Verification Levels V VI III A A A A A A A A A A A B A B C B C D C D E D E E E E E E E E E E E II A A B C D E E E E E E I A B C D E E E E E E E 33 . yaitu: minor karakteristik. Penetuan nilai VL tergantung jenis karakteristik yang diteliti. Penentuan kode huruf (CL) terhadap besar lot yang diperiksa. VL-III : pemeriksaan dengan sedikit variasi dalam produksi. Major karakteristik adalah gambaran karakteristik yang harus menghindari kesalahan produksi atau pengurangan material (material reduction) pada saat proses lagi berjalan. c. VL-VI : jenis pemeriksaan yang diguna– kan apabila ada perbedaan yang besar terhadap spesifikasi yang ditetapkan. major karakteristik dan kritikal karakteristik. diperketat (tightened). diperlonggar (reduced). 2. Setelah VL dispesifikasi maka kode huruf jumlah lot/batch bisa dilihat dari tabel 1. atribut dan continous MIL-STD 1916 harus menggunakan prinsip sampel secara random dan khusus untuk variabel distribusinya normal. diperketat. yaitu: VL-I : digunakan apabila kondisi produksi tidak pernah mengalami kesalahan. Kritikal karakteristik adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu sistem dalam keadaan sangat berbahaya (hazardous) atau bisa dikatakan sebagai kondisi tak terselamatkan (unsafe condition) bila dalam jangka tertentu tidak diantisipasi dengan menggunakan pemeriksaan prinsip otomatis yang menggunakan sistem komputerisasi. b. a. VL-II : pemeriksaan dengan kondisi variasi produksi hampir tidak pernah ada. Minor karakteristik adalah gambaran karakteristik yang menunjukkan bahwa kurangnya usaha untuk menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi. Tingkat pemeriksaan (normal. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai VLIV sampai VL-VI. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai dari VL-I sampai VL-III. 4. 3. yaitu: VL-IV : jenis level umum yang digunakan oleh perusahaan. Jenis karakteristik dalam hal pemeriksaan dibagi atas tiga bagian. VL-V : jenis level yang membutuhkan satu kali pemeriksaan dari VL-IV. Tabel 1. baik itu pada saat produksi atau penanganan material. diperlonggar) Aturan tingkat pemeriksaan hanya diaplikasikan terhadap ukuran yang ada yaitu: normal.

Dari tabel 2 diperoleh standar deviasi = 0.2 Pengolahan Data A.325 – 6. Penentuan Nilai χ Hitung No. ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ 2 pendahuluan B.9177 1 Za-Zb 0.0002 0. No.2514 0. 2 2 Tabel 2. 6. .105 – 6. Dari tabel 3.362 22.907 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Longgar ke normal .154 0.95 N’ < N.780 0. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesa digunakan nilai α = 0.995 – 6.32 4.105 12 6.995 14 6. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 5.927 23.003 0.111 0.042 0.1401 0.93 97. 6.435 6.Kondisi pabrikasi lainnya menjamin pemeriksaan normal untuk dilakukan kembali.4 3.151 0. Uji Kecukupan Data ⎡ 60 26 (1099.185 fi.27 100. Perhitungan yang dilakukan untuk setiap data variabel tersebut dilakukan dengan cara yang sama. 2.498 -1.655 – 6.838 oi 12 15 16 25 18 17 20 19 14 156 (oi-ei)2/ei 0.0812 0.118 0.388 Zbka -1.4 ) − (169 )2 N' = ⎢ 169 ⎢ ⎣ N’ = 2.0733 0.82 129. Distribusi Frekuensi Kadar Lemak S-11 No.055 0.435 – 6.875 19 6. kalsium dan fosfor pelet S-11.2 7.765 6.765 20 6.099 0.085 -0.1662 0.206 0.504 (xi.504 6.8365 0.09 II.xi Kelas 1.880 0.Proses produksi tidak teratur dan sering mengalami delay.146 0.105 9.563 0.9177 2 x 6.995 Zbkb 0 -1.1401 0.776 25. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total Batas Kelas 5.673 -0.435 25 6. Normal ke ketat Dua lot tidak memenuhi kriteria penerimaan dari lima lot terakhir yang diperiksa.Lima lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.0668 0.563 0. berarti jumlah pengamatan telah memenuhi.261 0.015 Za 0.3974 0.387 0.05.38 159.504 6.009 0.890 2.58 9. 6. Bagi perencanaan sampling penerimaan. pemeriksaan normal dilakukan pada awal pemeriksaan.844 1. lemak.504 6.504 6.325 16 6. Ketat ke normal .05 72.239 1.423 1. 5. 5.498 -1.Proses produksi dalam keadaan mantap. Pengalihan prosedur pemeriksaan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi atau yang terjadi. sehingga penulis mengambil satu sampel data yaitu kadar lemak.504 6.0668 0.655 6.594 11.267 Untuk uji kenormalan data.875 – 6.105 – 6.015 0. bahwa data berdistribsi normal.1113 0.217 2.215 – 6.106 0.673 -0.765 – 6. diperoleh χ hitung < χ tabel.545 18 6.325 6.504 6.6 112.3974 0.x )2 0.5636 0.504 6.166 0.844 12. Uji Kenormalan Data Hasil distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 2.545 – 6.71 Tabel 3. 3.667 12.875 6. 6. (xi.085 -0.Sepuluh lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.545 – 6.348 34 . .6 2.215 – 6.x )2 2.976 1.0823 ei 10.82 6.070 3.1 Pengumpulan Data Data yang didapat merupakan data persentase kadar protein.2 8.215 6.545 6.655 – 6.5636 0. ketat dan diperlonggar adalah sebagai berikut: 1.7157 0. 6.976 1.325 – 6. ini berarti Ho diterima.Penyebab-penyebab produk rusak yang telah ditemukan. 4.1208 0.435 – 6.71 134. 6. serat. 6.420 11. I.105 6.727 18. Batas fi xi fi.5 5.875 – 6.215 15 6.151 0. . 4 Oktober 2006 2).655 17 6.434 17.8365 0.16 92. . 5.1521 0.7157 0. Aturan Pengalihan Prosedur Pemeriksaan Aturan pengalihan pemeriksaan prosedur pemeriksaan normal.765 – 6.504 6.0668 0.388 1 Zb 0 0.2514 0.49 116. Total 156 1014. Normal ke longgar . 6.479 1.1 lot ditolak.261 0.995 – 6.

Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Kadar Lemak C.88 169 17.633 6. maka dapat pula ditentukan nilai Cp dan Cpk.853. Karena semua data berada pada batas kontrol.5 1 3 5 7 9 11 13 15 17 S u b Gr o u p 19 21 23 25 Gar is Tengah Batas Kontr ol Atas Batas Kontr ol Bawah Rata-r ata Kadar Lemak BKBX = X − A 2 R = 6. Karena terdapat data yang berada di luar batas kontrol.5 Kadar Lemak Garis Tengah 1 0.325 6.72 0.73 0.4 6. Revisi Peta Kontrol X Kadar Lemak Berdasarkan hasil revisi yang terlihat pada gambar 4. 35 .45 0.2 6 5.77 0.34 = 0 Gambar 4.46 0. 67 26 Faktor-faktor yang dipakai untuk perhitungan batas kontrol atas dan bawah berdasarkan Tabel Faktor untuk n = 6 didapat: A2 = 0.68 0. D4 = 2.5 6 5.004 x 0.422 6.76 0.75 0. R X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6. Peta Kontrol X Kadar Lemak Peta R Kadar Lemak X 6.618 6. Sedangkan untuk peta R semua data dalam batas kontrol.568 6.5 0.68 6. Perhitungan Lemak No.73 0.472 6. 67 = 1.8 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Garis Tengah Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Rata-rata Kadar Lemak Gambar 2.94 0.485 6.82 0.54 0.61 0.408 6.6 6.592 6.415 6.428 6. terlihat bahwa pada peta X R Berdasarkan tabel 4 dapat dilakukan perhitungan garis tengah (central line) untuk kadar lemak.495 6. D3 = 0 . Penentuan Batas Kendali dan Penentuan Index Capability Process Untuk menentukan kemampuan proses yang dihasilkan terlebih dahulu ditentukan batas-batas kendali untuk karakteristik lemak dengan memperhatikan data X dan R seperti terlihat pada tabel 4.5 − (0.537 6.88 0. Ini menunjukkan bahwa variasi data tidak normal.505 1.73 0.534 Batas kontrol peta X untuk kadar lemak: BKAX = X + A2 R = 6.54 0.67 = 0 x 0 .82 0.462 6. Variasi ini disebabkan oleh faktor pencampuran bahan-bahan yang ditambahkan pada saat proses pencampuran di mesin mixing.543 6.483 .63 0.358 6.265 6.68 6.79 0.67) = 6.65 6. Variasi ini merupakan jenis variasi penyebab khusus sehingga perlu dilakukan revisi.18 Batas kontrol peta R untuk kadar lemak: BKB R = D 3 R BKA R = D 4 R = 2. 5 26 R = ∑ g R g i i =1 = 17 .483x 0.52 Batas No.5 + (0. Tabel 4.69 0.2 0. Setelah revisi selesai dilakukan maka dapat dilakukan perhitungan Cp dan Cpk.4 6. X = ∑ g X g i i =1 = 169 = 6 .004 .67) = 6. 38 = 0 .8 6.407 6. ditunjukkan bahwa variasi data sudah normal tanpa ada variasi penyebab khusus atau variasi penyebab umum.403 6.82 X terdapat data yang berada di luar batas kontrol pada data yang ke-14 dengan nilai 6. Peta Kontrol R Kadar Lemak Berdasarkan gambar 2.483 x 0.63 0. 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total Kendali Kadar R 0.61 0. maka dilakukan revisi sehingga semua data dalam batas kontrol (proses dalam pengendalian)seperti yang nampak pada gambar 4. Revisi Peta X R e v i s i P e t a X Ka d a r Le ma k 7 6. d2 = 2.38 Peta X Kadar Lemak 7 6.432 6. Spesifikasi yang diizinkan perusahaan untuk kadar lemak pada pakan S-11 adalah 6 – 7%.853 0.5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Range Kadar Lemak Gambar 3.

542 4.59 6.315 – 6.36 6.615 – 6.95 -0.563 6.69 fi 10 8 5 5 5 5 6 44 xi 6. No.488 oi 10 8 5 5 5 5 6 44 (oi-ei)2/ei 0.27 Zbka -0.32 6.05.36 6.51 5 6.465 4 6.LSL 3σ 0 6 .000 .365 2 6. ini berarti Ho diterima.0045 0.0052 0.44 6. bahwa data berdistribusi normal.4761 0.066 0.0067 0.06 0.2 32.515 5 6.827 1.615 7 6.54 6.53 3 6.57 11 6.LSL 6σ0 7 .4722 6. Penentuan Rencana Sampling Penerimaan Penarikan sampel yang dilakukan adalah sebagai berikut : .95 -0.615 – 6.800.65 6.1685 0.4722 6.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.0541 0.565 6 6.171 0. C pl = X .305 0.465 – 6.4722 6.4722 (xi.415 3 6.38 X4 6.1685 0.102 ei 7.52 6.7 6.565 – 6.148 0.36 6.x )2 0.X = 3σ 0 = 7 − 6 .849 0.00.51 -0.0010 0.x )2 0. Distribusi Frekuensi No. 4 Oktober 2006 Cp = USL .45 32.51 -0.868 0.38 6. ini menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk yang tidak memenuhi lower spesification level (LSL) kadar lemak.Ukuran Lot : 2.465 – 6.415 3 6.5 6.509 4.44 6 6.7967 0.648 0.415 – 6.305 0.414 6.96 284.615 7 6.365 – 6.65 3 ( 0 .00.7 32.565 6 6.68 6.136 0.0692 0.47 6.xi 63. 49 = 0.168 0.5395 Dari tabel 6 diperoleh standar deviasi = 0.39 6.36 9 6.37 6.63 Nilai Cpk = 0.0174 0.95 39.648 0.4 51.415 – 6.41 6.64 6.52 7 6.662 0. karena nilai berada pada kriteria Cpk < 1.6 = = 0 . Batas Kelas 1 6.32 6.82 1. (xi.7 6. Penentuan Nilai No.57 6.901 0. Tabel 6.32 6.63.44 6. Batas Kelas 1 6.53 6.565 – 6.39 6.48 8 6.44 6.4722 6.7967 0.51 10 6.54 6.78 x 6.Spesification : 6 – 7% .Verification Level : IV .0229 0.42 6. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesis digunakan nilai α = 0.2114 0.363 0.Jenis Pemeriksaan : normal .33 6. 26 ) Cpk = min [Cpl:Cpu] = 0.32 6.39 4 6.38 0. 36 .63 = 3 ( 0 .0138 0.61 6.57 6. ini menunjukkan bahwa proses tidak capable untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak karena nilai Cp < 1. Tabel 7.898 1 Za-Zb 0.365 2 6.58 6.4761 0.12 32.221 hitung < χ 2 tabel.1749 0.37 6. Data Ukuran Sampel No.44 2 6.0352 fi.34 6.26) Nilai Cp = 0.171 0.006 7.898 Za 0.Nama Karakteristik Mutu : kadar lemak .112 Untuk uji normal data.515 – 6.34 C pu USL .315 – 6.4722 6. 64 6(0. 26 ) D.528 7.Ukuran Sampel (nv) : 44 Tabel 5.45 4.27 1 Zb 0 0.705 Total Dari tabel 7 diperoleh χ 2 χ 2 hitung Zbkb 0 -0.465 4 6.38 0.38 6.365 – 6.0015 0.66 fi. 49 − 6 = 0.06 0.515 5 6.101 0.515 – 6. X1 X2 1 6.705 Total X3 6.0003 0.49 6.4722 6.64.

65 0. Kesimpulan: lot diterima 6.Untuk spesifikasi bawah.74 – 0.63 0.69 (memenuhi) .74 Cpk = 0.9% 0. Karena homogenisasi yang rendah menyebabkan produk rapuh.65 0.65 Central Line 20.64 0.8 37 .69 0.74 - 3. QU ≥ k : 4. 1 Batas Kontrol 19.Yang mana pada proses ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.86 - 0. . Indeks Process Capability dari Hasil Revisi untuk Masing-Masing Karakteristik Mutu No.93 – 1.49 – 20.174 (memenuhi) b.1% 0.7 – 0.Untuk spesifikasi ganda F’ ≤ F : 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Tabel 8.16 – 3.69 (memenuhi) .81 6.07 - 0. Hal ini dapat menyebabkan raw material menjadi rusak akibat serangan tikus dan kutu busuk.82 6.X )/s QL= ( X -L)/s s/(USL-LSL) X s QU QL Kriteria keputusan: a.27 ≥ 2.9 – 1.82 4.69 0.76 0. Proses pelletizing belum bekerja secara optimum. MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 Perhitungan Perhitungan QU= (U.09 2 Kadar Lemak 6 – 7% 6.1 Process Capability Dari tabel 9 didapat analisis hasil dari perhitungan proses kapabilitas dan indeks proses kapabilitas untuk karakteristik mutu kadar lemak dari pakan S-11 menunjukkan bahwa process capability tidak baik untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak yaitu: (6 – 7)%.11 Keterangan Lihat Tabel 1. Perhitungan Penarikan Sampel Item yang dihitung USL LSL Kode Huruf Ukuran Nilai Sampel Nilai ‘k’ Nilai ‘F’ (untuk spesifikasi ganda) Rata-rata Sampel Standar Deviasi Sampel Nilai QU (Upper Quality Index) Nilai QL (Lower Quality Index) Nilai F sampel.56 0.5 0.5 0. sehingga kandungan nutrisi yang didalamnya menjadi rendah.5 3 Kadar Serat 3 – 4% 3. Kriteria penolakan: tolak apabila salah satu syarat di atas tidak memenuhi. Kriteria penerimaan: terima lot.16 – 6.174 6. ANALISIS 6.65 0.99 5 Kadar Fosfor 0.11 ≤ 0.82 ≥ 2.68 Cpu = 0.47 0.63 0. Tabel 9.62 Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk = = = = = = = = = = = = = = = = 0.625 0.11 4. Hal ini menyebabkan raw material tidak masuk pada salurannya. c.27 0.61 0.Untuk spesifikasi atas. apabila semua syarat dibawah ini dipenuhi. hanya untuk spesifikasi ganda Simbol U L CL nv k F Hasil 7 6 E 44 2. QL ≥ k : 4. Hal ini disebabkan oleh beberapa Karakteristik Mutu Kadar Protein Batas Spesifikasi 19 – 21% faktor seperti: Kondisi gudang penyimpanan raw material yang kurang diperhatikan.18 – 6.45 4 Kadar Kalsium 0.65 0.625 0. Adanya tindakan kesengajaan yang disebabkan operator dalam memasukkan komposisi raw material yang akan dituang ke dalam mesin mixing dalam mengejar target.7 Batas Kontrol Revisi Process Capability Cp = 0.62 Cpl = 0. Peralatan turn head yang tidak bekerja dengan baik pada saat memasukkan raw material ke dalam saluran-saluran intake.

52 4. 1 2 3 4 5 Jenis Pengujian Kadar Protein Kadar Lemak Kadar Serat Kadar Kalsium Kadar Fosfor Jenis Pemeriksaan Normal CL VL nv E E E E E IV IV IV IV IV 44 44 44 44 44 Keterangan K 2.69 2. Berdasarkan hasil perhitungan batas kontrol dengan menggunakan peta kontrol variabel didapat karakteristik mutu kadar lemak perlu dilakukan revisi karena ada data yang berada di luar batas kontrol. maka harus dilakukan revisi dengan menghilangkan data yang berada di luar batas kendali untuk mendapatkan batas kendali yang baru. Berdasarkan hasil interpretasi data untuk masingmasing karakteristik mutu menunjukkan bahwa variasi data yang tidak normal hanya disebabkan oleh variasi penyebab khusus saja. Cp = 0. sedangkan untuk kadar protein.69 0. Demikian juga untuk nilai Cpu = 0. serat. Dengan melihat nilai Cp untuk masing-masing karakteristik dapat 38 .174 4. Ini menunjukkan bahwa proses tidak mampu memenuhi batas spesifikasi bawah (LSL) karena berada dalam kriteria Cp < 1.174 1.81)% untuk kadar lemak.82 > 2.30 > 2.63 = Cpl ini berarti bahwa nilai pengukuran rata-rata kadar lemak 6. 4 Oktober 2006 Tabel 10. Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa rencana sampling untuk kadar lemak pakan S-11 setelah dilakukan pengujian disimpulkan bahwa lot diterima.64 untuk kadar lemak.30 1. serat.20 F’ 0.81% adalah lebih dekat ke batas spesifikasi bawah yang ditetapkan (LSL) yaitu 6%. 7. KESIMPULAN DAN SARAN 7. . Perhitungan indeks process capability untuk masing-masing karakteristik mutu dilakukan setelah proses dalam pengendalian. kalsium dan fosfor dengan menggunakan metode MIL-STD 1916 dapat dilihat pada Tabel 10. lemak.27 4.70 > 2.60 1.11 0.70 2.56 untuk kadar kalsium dan Cp = 0. 3.69 untuk kadarserat.69 2. Revisi data dapat dilakukan jika variasi data disebabkan oleh variasi penyebab khusus. Peralihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperlonggar tingkat pemeriksaannya dengan mengubah tingkat verifikasinya (VL) satu tingkat ke kanan. Jika masih terdapat data di luar batas kendali. Penentuan Acceptance Sampling Plans No.69 2.174 Lot Diterima Lot Diterima Lot Diterima Lot Ditolak Lot Ditolak Keputusan Adapun tindakan korektif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan process capabilitynya adalah: . Bila diperlukan dilakukan pergantian dengan yang baru.10 0.174 1.69 Ftabel 0.40 < 2.93–1.69 0.Melakukan inspeksi terhadap raw material yang masuk ke gudang penyimpanan. (6.Perlunya pengawasan yang ketat kepada operator dari pihak manajemen.69 0.Memeriksa proses gelatinisasi untuk meningkatkan daya ikat antar bahan. .49– 20.174 0. (3.74– 0.25 0.12 < 0.7)% untuk kadar protein.25 > 0.10 < 0.65 untuk kadar fosfor.69 2. 5.Memeriksa ulang secara keseluruhan kondisi gudang yang layak untuk penyimpanan raw material. .1 Kesimpulan 1.69 4. (0.69 2. Dan untuk nilai Cpk = 0.80 QL 4.17 4.68 untuk kadar protein.174 0.40 2.86)% untuk kadar fosfor.Melakukan perawatan secara berkala terhadap peralatan turn head.25 4. Cp = 0. No.65 menunjukkan bahwa proses juga tidak mampu memenuhi batas spesifikasi atas (USL) yaitu 7% karena berada dalam dalam kriteria Cp <1.16-6. Cp = 0.27 > 2.17 > 2.80 < 2.74)% untuk kadar serat. 2.69 0.174 0. 6.69 4.69 4.82 4.174 0. 6. Variasi penyebab umum hanya dapat diperbaiki oleh pihak manajemen perusahaan.174 4.12 0. 4.60 < 2. yaitu menjadi VL-III.25 > 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.16–3.69 2. Nilai Cp = 0. Revisi untuk persentase kadar lemak untuk peta X didapat kendali yang baru yakni 6.174 QU 4.07)% untuk kadar kalsium dan (0. kalsium dan fosfor berada dalam batas-batas kontrol. Dan batas kendali untuk masing-masing karakteristik adalah (19. .52 > 2.20 < 2.16–6. yaitu variasi yang disebabkan oleh kesalahan operator dalam mencampurkan material pada saat proses pencampuran.11 < 0.69 0.81%.2 Acceptance Sampling Plans Penggunaan acceptance sampling plans untuk karakteristik mutu kadar protein. supaya proses dapat terkendali.

625 untuk kadar serat. Metode sampling penerimaan dapat memenuhi fungsinya jika dalam pengambilan sampel untuk pengujian karakteristik mutu menggunakan hasil perhitungan yang telah didapat dan dilakukan dengan benar.. 4. Jakarta.. and Leavenworth R. karena kesadaran. Menggunakan statistical process control. 7. Gryna.65 untuk kadar fosfor.. International Edition Quality Control. 7th Edition. 1996.. Cpk = 0. and Davis. 1987.. Cpk = 0. 7. 10 Februari 1999. PT. Goetsch. International Edition Statistical Quality Control.63 untuk kadar lemak. proses itu harus diperbaiki dulu.. Canada. Vincent Gaspersz. United States of America. Introduction to Statistical Quality Control.. Frank M. 3th Edition.. Quality Planning and Analysis. Sehingga perlu dilakukan pengendalian yang ketat untuk menghasilkan proses yang lebih baik lagi (Cpk > 1). Singapore. 4th Edition. Mc Graw-Hill. Ini perlu disosialisasikan terhadap semua pekerja.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar disimpulkan bahwa proses memiliki kemampuan yang rendah dalam bereproduksi. Dan untuk perhitungan index capability didapat Cpk = 0. lemak. John Wiley & Sons. kalsium dan fosfor pakan ternak S-11. dkk. kemampuan mesin sebelum proses produksi siap untuk dijalankan. S. Cpk = 0. L. dan baru kemudian membangun peta kontrol terkendali (yang baru) untuk memantau proses yang telah stabil. 2001. Canada. Karena dengan peta kontrol kita dapat melihat apakah suatu proses yang sedang berlangsung sudah stabil atau tidak. Approve for public release.5 untuk kadar kalsium. Inc. W.62 untuk kadar protein. yang akhirnya dapat memenuhi kepuasan pelanggan... Gramedia Pustaka Utama. 1994. Jakarta. Dilihat dari rendahnya kemampuan proses yang ada. Introduction to Total Quality. PT. Perlunya merubah lingkungan sosial budaya yang terdapat dalam PT... Sugiarto..2 Saran 1. 1995. Juga adanya arahan yang kontinu terhadap para operator terhadap tanggung jawab pekerjaannya. Dari perhitungan Cpk dapat disimpulkan bahwa proes tidak mampu memenuhi batas spesifikasi yang ditentukan karena nilai Cpknya < 1. 1991. MIL-STD 1916. MILSTD 1916. Prentice Hall International. Jakarta. Montgomery D. Inc. Ronald E. Charoen Pokphand Indonesia agar setiap pekerjaan/tindakan yang berdampak terhadap proses dan produk tidak menimbulkan cacat. 1986. 1994. United States of America. Mc Graw-Hill. 2003. Hal ini berarti membawa proses ke dalam pengendalian. 2. Pengantar Statistika. H. 5. United States of America. Besterfield D. serat. H. Approve for public release.. insentif. Berdasarkan hasil perhitungan sampling penerimaan dengan menggunakan MIL-STD 1916 didapat bahwa karakteristik mutu kadar kalsium dan fosfor lot ditolak. DoD Handbook. H. Banks J. maka perusahaan perlu melakukan pengawasan yang ketat terhadap kinerja proses produksi agar proses yang dilakukan dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. DoD Test Method Standard. 2th Edition. Setiap melakukan proses produksi perlu menguji dengan benar dan memperhatikan dengan teliti penyebab-penyebab khusus yang berpengaruh terhadap pengendalian persentase kadar protein. Quality Control. 39 .. perusahaan perlu memperhatikan lebih ketat kondisi gudang penyimpanan. PT. Principles of Quality Control. Jika belum stabil. 2th Edition. 2th Edition. Inc. 5th Edition. Stanley B. United States of America. Gramedia Pustaka Utama. John Wiley & Sons. tingkat komitmen dan human error inilah yang akan berdampak langsung bagaimana proses dan produk itu akan dihasilkan. 3. DAFTAR PUSTAKA Besterfield D. khususnya peta kontrol X dan R secara periodik. untuk mendeteksi kesalahan secara dini.. Pengalihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperketat tingkat pemeriksaannya dari normal menjadi ketat (tightened). Teknik Sampling. sistem penghargaan. Grant E. Prentice Hall International Inc.. 1 April 1996. Berkaitan dengan rendahnya kapabilitas proses yang didapat. Metode Analisis untuk Peningkatan Kualitas. Gramedia Pustaka Utama. Prentice Hall International Inc. David L. Cpk = 0. 2001. sikap.

keinginan dan harapannya terpenuhi. baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah lain yang ada di Indonesia. Sementara itu. yaitu: kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (variabel 2). 100. Sedangkan dari hasil perhitungan index potential gain customer value dihasilkan prioritas tertinggi. Data yang dihasilkan merupakan data ordinal dan dikonversikan menjadi data interval dengan menggunakan metode successive interval. pengaturan kursi untuk menungggu (variabel 5). yaitu penyebaran kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup. Salah satu jenis industri yang menghadapi persaingan yang kompetitif di masa mendatang adalah industri perbankan. intensitas persaingan berskala global menuntut pergeseran besar dalam dunia industri. Fakultas Teknik USU Abstrak: PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam kegiatan pelayanan jasa perbankan syariah di masyarakat Indonesia. responsiveness (terdiri dari 2 variabel pertanyaan). reliability (terdiri dari 3 variabel pertanyaan). jaminan kerahasiaan nasabah (variabel 16). lokasi bank yang strategis (variabel 18). Pengambilan data dilakukan secara dua tahap. 1. 93. penguasaan dan pengetahuan karyawan (variabel 14).53% (responsiveness). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan nasabah Bank Muamalat. 11(ketanggapan teller dalam melayani nasabah). perusahaan ini mampu bersaing dengan para kompetitornya. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepusan pelanggan.92% (assurance).89% (reliability). pihak perbankan muamalat harus memperhatikan kualitas jasa yang dikehendaki pelanggan. Penelitian ini berlatar belakang kepada upaya meningkatkan kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat terhadap nasabah. Dalam 40 . Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index).60% (tangibles). Hasil pengolahan data menghasilkan tingkat kepuasan pelayanan masing-masing untuk dimensi 94. 14 (penguasaaan dan pengetahuan karyawan). kepuasan nasabah tercapai bila kebutuhan. dan emphaty (terdiri dari 4 variabel pertanyaan). yaitu: variabel 18 (lokasi bank). 96.ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN Syahrul Fauzi Siregar Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia. Khusus untuk industri perbankan. dan seterusnya. kualitas jasa diukur dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Hasil perhitungan variabel kunci dengan peta kartesius menghasilkan 6 variabel kunci yang harus diperbaiki pihak Bank Muamalat. baik itu industri yang bergerak di bidang manufaktur maupun di bidang jasa. dan 91. apakah sesuai dengan harapan dan keinginan nasabah. Bank Muamalat merupakan salah satu industri perbankan yang tumbuh pesat di antara bank-bank konvensional yang ada di Indonesia. yaitu pengambilan awal (untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen dan menentukan ukuran sampel lanjutan) dan pengambilan data lanjutan dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara acak (random sampling). assurance (terdiri dari 5 variabel pertanyaan). Penyebaran kuisioner dilakukan dengan dua tahap. bersaing dan tidak kehilangan konsumennya. Semakin besar tingkat pemenuhan yang diberikan kepada nasabah. keamanan dalam bertransaksi (variabel 15). Dengan konsep bagi hasil yang ditawarkan kepada para nasabahnya. Dengan mengetahui hal ini diharapkan Bank Muamalat dapat bersaing dengan para kompetitornya dengan mengambil langkah–langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. PENDAHULUAN I. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang diberikan dilihat dari sudut pandang nasabah dan dengan melakukan perbaikan– perbaikan terhadap kondisi pelayanan yang dianggap belum memenuhi harapan nasabah. yaitu tangibles (terdiri dari 7 variabel pertanyaan). Responden yang daimbil adalah nasabah Bank Muamalat yang datang melakukan transaksi. yaitu suatu alat untuk mengukur persepsi nasabah mengenai kualitas pelayanan.42% (emphaty). Alat pengukuran yang digunankan untuk mengukur kualitas pelayanan pada industri perbankan pada penelitian ini adalah metode servqual. maka semakin tinggi kualitas pelayanan jasa perbankan tersebut. Hal utama yang harus diprioritaskan oleh industri perbankan dalam hal ini Bank Muamalat adalah bagaimana caranya agar konsumen mendapat kepuasan sehingga perusahaan itu dapat bertahan.1 Latar Belakang Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era transformasi informasi sekarang ini. yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi.

sehingga dapat menunjukkan kedudukan permasalah. yang mana nilai ini didapatkan dengan rumus: UDCV = I x Ps Keterangan: UDCV = Nilai akhir keinginan konsumen I Ps = Nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = Nilai kinerja maksimum dalam skala likert yang dipilih 41 . empathy. yaitu: ACV = I x P Keterangan: ACV = nilai pencapaian konsumen I P = (Importance) nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = (Performance) nilai rata – rata untuk kinerja ( X ) Setelah mendapat nilai ACV. 3. 3. Kinerja kualitas pelayanan hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang termasuk di dalam dimensi kualitas pelayanan yang telah ditentukan oleh peneliti. Asumsi-asumsi tersebut adalah: 1. responsiveness. Batasan-batasan tersebut adalah: 1. 3.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar penilaian dan pengukuran terhadap kualitas pelayanan. Untuk diketahui tingkat kepuasan pelanggan Bank Muamalat serta faktor-faktor atau dimensi kualitas apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan.4 Batasan dan Asumsi Untuk mempermudah pecahan masalah. 2. I. Interpretasi responden tentang pernyataanpernyataan dalam kuisioner sesuai dengan maksud penulis. Sejauh mana pihak jasa perbankan (Bank Muamalat) mengetahui tingkat kualitas pelayanan dilihat dari sudut pandang nasabah. Meneliti dan memberikan saran bagaimana perubahan yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Muamalat di masa yang akan datang. I. yaitu dengan mengalikan antara variabel importance dengan variabel performance. Kemudahan tersebut memberikan jalan bagi diagram ImportancePerformance untuk dapat dibandingkan dalam bentuk kualitatif yang lebih terperinci. Dimensi kualitas pelayanan yang diukur adalah 5 dimensi kualitas jasa. 2.2 Perumusan Masalah Masalah yang dirumuskan pada penelitian ini adalah: 1. 2. reliability. konsumen diminta untuk menyatakan dan menilai lima komponen penentu kualitas jasa (assurance. Dari hasil penilaian kualitas pelayanan yang dilakukan oleh responden. 4. yaitu: tangibles.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. 3. 5. Langkah pertama dalam menghitung indeks PGCV adalah mencari nilai ACV atau Achieved Customer Value. reliability. Mengidentifikasi dimensi/faktor kualitas jasa perbankan muamalat yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelayanan Bank Muamalat untuk dapat bersaing dengan bank konvensional lainnya. TEORI Index Potential Gain Customer Value (PGCV) Analisis pelanggan melalui angka indeks merupakan konsep dan peralatan yang mudah untuk menganalisis pelanggan. I. assurance. Responden dengan jujur dan benar mengisi kuisioner yang diberikan. Penunjukkan konsumen yang menjadi responden kuisioner penilaian yang datang ke Bank Muamalat pada suatu rentang waktu tertentu sebagai sampel dianggap mewakili yang menabung di perusahaan tersebut. Pada penelitian ini tidak dibahas posisi perusahaan yang diteliti dengan perusahaanperusahaan pesaing menurut para konsumennya. 4. 2. perlu disusun beberapa batasan dan asumsi yang berkaitan dengan permasalahan. maka selanjutnya adalah mencari UDCV atau Ultimately Desired Customer Value. Dengan mengetahui keinginan nasabah Bank Muamalat diharapkan dapat dikembangkan jasa perbankan yang dapat memuaskan pelanggan. Dalam Penelitian ini tidak dilakukan analisis biaya terhadap proses perbaikan kualitas pelayanan dan hasil penelitian ini tidak berlaku untuk umum. 6. responsiveness. Menganalisis tingkat prioritas kompetitif dan kualitas pelayanan Bank Muamalat. dan emphaty. and tangibles) yang mempngaruhi persepsi dan harapan konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat. Variabel-variabel yang diteliti dianggap sesuai dengan kondisi pelayanan yang berlaku pada perusahaan yang menjadi objek penelitian. Alat pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah berupa daftar pertanyaan (questioner). pihak manajemen dapat mengidentifikasi kinerja dan tingkat kepentingan yang dimiliki Bank Muamalat. 2. 5. Objek yang diteliti adalah perusahaan perbankan dalam hal ini Bank Muamalat. Informasi penilaian kualitas pelayanan perusahaan yang menjadi objek penelitian yang diterapkan sekarang ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap pelanggan. 7. Hal ini dilakukan untuk mempertegas atribut-atribut yang menjadi pusat perhatian. Nasabah yang diteliti sebagai responden adalah yang menjadi nasabah di PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan.

Data sekunder. Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian. 3. wawancara dengan pihak terkait pada objek studi. alat serta desain penelitian yang digunakan.3 Studi Pustaka Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh landasan kerangka berpikir bagi penelitian yang akan dilakukan. yaitu apakah kualitas jasa yang ditawarkan kepada konsumen memenuhi ekspetasi (harapannya) atau tidak. Menurut sifatnya: a. 1987) adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. 4 Oktober 2006 Dan terakhir nilai indeks PGCV adalah nilai Ultimately Desired Customer Value dikurangi dengan Achieved Customer Value. dan statistik. 3. 3. yaitu data yang menggambarkan keadaan/kegiatan di luar suatu organisasi. kriteria yang dipakai adalah teknik serta prosedur penelitian. yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi. Perumusan masalah merupakan suatu usaha untuk memformulasikan atau memodelkan fenomena yang ada secara sistematis berdasarkan teori yang ada. Permasalahan yang ingin dipecahkan adalah pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan (perbankan) dan penentuan atribut kualitas pelayanan yang paling penting bagi pelanggan.2 Penentuan Tujuan Penelitian Penentuan tujuan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai suatu penelitian. Maksud penentuan tujuan penelitian adalah agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan terarah dan mancapai sasaran. Jika seseorang membicarakan metode penelitian. b. b. Tujuan penelitian eksplorasi ini untuk mengetahui dimensi-dimensi kualitas apa saja yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan konsumen. Dengan ditentukannya dimensi ini. Tetapi tidak jarang terdapat pengelompokan yang dibuat ada kalanya didasarkan pada prosedur saja dan ada kalanya didasarkan pada tekniknya saja.1 Perumusan Masalah Penelitian Perumusan masalah disusun berdasarkan uraian pada Bab I mengenai latar belakang dan pokok permasalahan. yaitu: 1. Menurut cara memperolehnya: a. sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain. maka ia tidak terlepas dari membicarakan teknik dan prosedur penelitian. Data kualitatatif. Penelitian survei (Masri Singarimbun. Studi pendahuluan dalam penelitian ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian terhadap objek studi. manajemen jasa. 2. Data internal. 42 . 1999). Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan. yaitu: PGCV = ACV – UDCV Kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. Penelitian eksplorasi adalah riset yang bertujuan untuk mengumpulkan data pendahuluan guna memperoleh keterangan mengenai sifat nyata dari masalah tersebut dan memberikan kemungkinan hipotesis atau ide-ide baru (Philip Kotler. yaitu data yang berbentuk angka-angka. yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh perseorangan langsung dari objeknya. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian survei dengan maksud eksplorasi. Data eksternal. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. Data kuantitatif. maka yang dibicarakan di sini adalah teknik penelitian. peneliti dapat memilih berbagai jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Menurut Sumbernya: a. Melalui studi ini diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian dan variabel-variabel yang terkait dengan permasalahan tersebut. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur. diharapkan akan diketahui bagian mana yang harus mendapatkan perhatian/menjadi prioritas apabila adanya keterbatasan sumber daya perusahaan untuk meningkatkan kualitas jasanya. yaitu data yang menggambarkan keadaaan/kegiatan di dalam suatu organisasi.5 Identifikasi Sumber Data Adapun data yang diambil pada penelitian ini menurut jenis dan sumbernya. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 3. No. 3. Studi literatur dengan mempelajari teori yang berhubungan dengan metode service quality. sehingga penelitian ini dilakukan berdasarkan suatu logika tertentu. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan kuisioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. Data primer. Adapun skematis langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada halaman berikut: 3. METODOLOGI PENELITIAN Didalam melakukan suatu penelitian. yaitu data yang tidak berbentuk angka. 3. b.4 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan bertujuan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti.

Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variabel dan atribut yang mempengaruhi kualitas pelayanan jasa perbankan. berarti layak. Data yang dikumpulkan dalam kuisoner terbagi dalam tiga bagian. 3.. baik dengan menggunakan data sekunder.11 Pengolahan Data Awal Dalam pengolahan data penelitian ini digunakan metode kualitatif dan metode kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling). menyebarkan kuisioner dan wawancara. Data kuisioner kualitas jasa (harapan nasabah dan kinerja perusahaan).7 Penentuan dan Pemilihan Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung. yaitu pengambilan setiap unsur ke – k dalam populasi untuk dijadikan sampel. Layak di sini berarti item-item pertanyaan sudah cukup baik dan dimengerti oleh responden. Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji kelayakan kuisioner yang disebarkan. yang terdiri dari: a. Pengambilan unitunit sampel didasarkan atas kunjungan nasabah yang akan bertransaksi. Jika hasil pengolahan data kuisioner tahap pendahuluan ini tidak baik. Kuisioner kualitas jasa Kuisioner ini digunakan untuk mengetahui persepsi dan harapan nasabah sehingga dapat diketahui penilaian nasabah terhadap variabel dan atribut kualitas pelayanan pada objek studi.9 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah: 1. maka dilakukan pengumpulan data sehingga memenuhi sampel minimum. 1999). wawancara ataupun pengumpulan data primer dengan menggunakan metode survei. c. yaitu: a.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar 3. Kuisioner terbuka 2.6 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian. 3.8 Pembuatan Kuisioner Kuisioner sebagai alat pengumpulan data disusun dalam dua bentuk pertanyaan yang bersifat terbuka dan pertanyaan yang bersifat tertutup. Data kuisioner terbuka (pendahuluan/awal) Guna kuesioner pendahuluan ini adalah untuk menentukan atribut-atribut apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan kuesioner tertutup b. Pada penelitian ini akan dijelaskan tahap-tahap di dalam melakukan pengolahan data. kemudian diuji. Nilai Kinerja / Persepsi Jawaban sangat puas diberi nilai: 5 Jawaban puas diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak puas diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak puas diberi nilai: 1 3. 3. Untuk pengukuran atribut digunakan Skala Likert. 2. Sedangkan pertanyaan tertutup di mana peneliti memerikan semua kemungkinan jawaban. Kemudian kuisioner tertutup ini disebarkan sebanyak 40 eksemplar. Nilai Harapan Jawaban sangat penting diberi nilai: 5 Jawaban penting diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak penting diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak penting diberi nilai: 1 b. Perusahaan jasa perbankan. dan responden tinggal memilih di antaranya (Philip Kotler dkk. 43 . berarti tidak layak. Dalam skala ini dibagi atas lima kategori jawaban yang menunjukkan derajat kepentingan (untuk data harapan). maka teknik pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak secara sestematik (systematic random sampling). Karena data populasi Bank Muamalat tidak diketahui. gap yang terjadi antara persepsi dan harapan nasabah serta atribut mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya dan perlu dipertahankan kualitas pelayanannya. Jika hasil pengolahan data baik. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Data identitas responden. 3. Kuisioner tentang identitas responden 3. yakni Bank Muamalat Cabang Medan. dan derajat kepuasan (untuk data kinerja/persepsi). Sehingga peneliti mengasumsikan populasi nasabah Bank Muamalat tidak terbatas (infinite population). Nasabah Bank Muamalat Cabang Medan Pada penelitian ini jumlah populasi nasabah Bank Muamalat Cabang Medan tidak diketahui oleh peneliti. Variabel juga merupakan pedoman atau petunjuk untuk mencari data maupun informasi dilapangan. maka dilakukan perbaikan kuisioner.10 Pengumpulan Data Awal Pengumpulan data awal ini berupa kuisioner pendahuluan (terbuka) yang kemudian digunakan untuk menyusun kuisioner tertutup. di mana titik awal pengambilan sampel pada kelompok berikutnya mengikuti pola yang telah ditentukan dari hasil pengambilan sampel di titik awal. Pertanyaan terbuka di mana responden dapat menjawab sesuai dengan diinginkan dengan kata-kata mereka sendiri. Hal ini dikarenakan pihak manajemen Bank Muamalat tidak dapat memberi informasi data berapa banyak nasabah yang menabung di Bank Muamalat karena merupakan rahasia perusahaan.

7) Maka pendugaaan varians dari rata-rata sampel adalah: 44 .6) s s ≤ X − μ ≤ Zα / 2 n n s X − μ ≤ Zα / 2 n Sebelum melanjutkan rumus di atas.11.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ditentukan tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) dan tentukan pula taraf kepercayaan yang diinginkan. Adapun cara menguji validitas kuisioner adalah dengan menggunakan metode Korelasi Pearson Product Momen. Dengan taraf kepercayaan 95%.3) r = koefisien rata-rata korelasi antar variabel S2 = ∑ (y n i =1 i −y ) 2 Koefisien keandalan alat ukur menyatakan tingkat konsistensi jawaban responden.σ ) n P ( Zα / 2 ≤ Z ≤ Zα / 2 ) = (1 − α ) X = Nilai varians sampelnya adalah: (4.3 Pengumpulan Data Lanjutan Setelah uji kelayakan dan kuisioner tidak perlu diperbaiki lagi.96 (tabel distribusi normal) (Zα / 2 )2 .t dengan rumus: r= [N ∑ X ij − (∑ Xij ) ][N ∑Y ij − (∑Yi) ] 2 2 2 2 N (∑ XijYij ) − (∑ Xij ∑ Yij ) Di mana: n = Jumlah sampel yang dibutuhkan p = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang dapat diolah q = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang tidak dapat diolah Zα/2 = Nilai tabel distribusi normal untuk keberartian sebesar α/2 λ = Tingkat kesalahan (5%) 3. maka tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) adalah: Zα/2 = 1. Karena tidak ada perbaikan pada kuisioner. Nilai keandalan alat ukur bervariasi antara 0 sampai 1.11. Dengan rumus matematisnya sebagai berikut: ⎛Z ⎞ n = ⎜ α / 2 ⎟ .q n= (λ )2 μ = ysy = ∑y i =1 n i n (rata – rata sampel) (4. Pada penelitian ini untuk menguji apakah sampel yang diambil sudah mencukupi atau belum digunakan rumus sebagai berikut: Di mana: r = angka atau tingkat korelasi N = jumlah responden Xij = skor pernyataaan j dan responden i Yi = skor total responden i 3. Nilai yang mendekati 1 menunjukkan keandalan yang makin baik.11. Kuisioner yang dapat diolah diasumsikan sebagai outcome sukses dan yang tidak dapat diolah diasumsikan sebagai outcome gagal. pengambilan sampel dianalogikan dengan percobaan kembali dari hasil pengisian kuisioner yang dapat diolah dan yang tidak dapat diolah. maka data awal yang telah dikumpulkan dapat diolah bersama-sama data yang dikumpulkan selanjutnya.2 Uji Reliabilitas Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keandalan alat ukur adalah metode Alpha Cronbach. dan sebaliknya.4 Uji Kecukupan Data Data sampel yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner lanjutan dengan menggunakan kuisioner persepsi dan harapan kemudian diuji kecukupan sampelnya. No. dim ana X = N (μ . 3.11.Zα/2 dari tabel normal ⎝ ε ⎠ (4. yaitu: n −1 (4.4) S= S = Maka. Sekiranya peneliti menggunakan kuisioner didalam pengumpulan data penelitian. maka kuisioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukur. 4 Oktober 2006 3.5) ) 2 − Zα / 2 ≤ − Zα / 2 X −μ ≤ Zα / 2 s n (4. maka dapat dilakukan pengumpulan data selanjutnya.1) Penurunan dari rumus di atas adalah sebagai berikut: Jika data berdistribusi normal: α= Di mana: α = koefisien keandalan alat ukur K = banyak butir pertanyaan kr 1 + (k − 1)r 1 ∑ Xi. Dalam menentukan besarnya ukuran sampel.1 Uji Validitas Validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. p. 2 ∑ (y 2 i −y n −1 (4.2) (4. kemudian dicari nilai standar deviasi sampel. Adapun jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian lanjutan didasarkan atas kuisioner yang dapat diolah dan tidak dapat diolah dengan menggunakan rumus pengambilan sampel sebagai berikut: Setelah didapat varians.

398 3. yaitu: ⎛ Z . 3. (N-n)/N dianggap satau dan tidak perlu dituliskan. maka berarti variabel tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya.9) Setelah didapat tingkat kesalahan pengambilan sampel. index potentian gain customer value dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui kepuasan pelayanan Bank Muamalat Cabang Medan berdasarkan persepsi dan harapan nasabah.450 2. Bagian ini juga dilengkapi dengan saran-saran.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar V = y sy = ∧ ( ) ∧ s2 ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟ n⎝ N ⎠ tingkat (4. Penarikan kesimpulan dapat berguna dalam merangkum hasil akhir dari suatu penelitian selain sebagai landasan rumusan strategi dan pengambilan keputusan bagi pehak perusahaan juga digunakan bahan acuan penelitian selanjutnya.582 Variabel Variabel 18 Variabel 11 Variabel 14 Variabel 5 Variabel 6 Variabel 19 Variabel 2 Variabel 15 Variabel 17 Variabel 16 Faktor Kualitas Pelayanan Lokasi Bank yang strategis Ketanggapan Teller dalam melayani nasabah Penguasaan dan pengetahuan karyawan Pengaturan kursi untuk menunggu Jumlah Teller yang melayani Komunikasi yang mudah dan baik Kenyamanan ruangan (keberadaan AC) Keamanan dalam bertransaksi Kredibilitas (nama baik) Bank Jaminan kerahasiaan nasabah Jika populasi (N) tidak diketahui.S ⎞ n = ⎜ α /2 ⎟ ⎝ ε ⎠ 2 (4.852 2. Index Potential Gain Customer Value Setelah Diurutkan Prioritas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Index PGCV 3.10) 2 ⎞ ⎟ = (Z )2 s α/2 ⎟ n ⎠ 2 Dari penurunan rumus di atas. maka dapat diketahui rumus untuk menguji kecukupan pengambilan sampel.625 3.1 Analisis Indeks Potential Gain Customer Value Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa nilai indeks PGCV untuk tiap variabel.045 2. 4.500 3. ⎜ ⎟ = finite population correction ( fpc ) n⎝ n ⎠ ⎝ n ⎠ 3.11) Di mana: n = jumlah sampel minimum s = standart deviasi sampel Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel Dan untuk menguji kecukupan sampel berdasarkan proporsi (p). maka rumus di atas menjadi: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ∧ ( ) s2 =ε n (kesalahan pengambilan sampel) (4.648 1.12 Pengolahan Data Lanjutan Pada tahap ini akan dibahas perhitungan konversi skala ordinal kedalam skala interval dengan metode successive interval.145 1.14 Kesimpulan dan Saran Bagian akhir dari penelitian ini adalah penarikan kesimpulan hasil analisis dan interpretsi data. Dari kesimpulan tersebut. Kesimpulan yang didapat bila suatu variabel mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. maka: ε ≤ Zα / 2 ε 2 = ⎜ Zα / 2 ⎜ ⎝ ⎛ s2 dikuadratk an n s n 2 (4. Dalam tahap ini faktor-faktor yang dianggap dominan dalam menentukan kualitas jasa dan tingkat kepuasan pelayanan akan dianalisis sebagai landasan dalam menyusun strategi bisnis selanjutnya.13 Analisis Pemecahan Masalah Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pengolahan data. ANALISIS 4.8) kesalahan pengambilan Sehingga sampel. yaitu rasio dari unsur dalam sampel yang mempunyai sifat – sifat yang diinginkan adalah: ⎛Z ⎞ (4. kemudian dibahas pula langkah – langkah perhitungan tingkat kualitas pelayanan.540 2. yaitu: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ( ) s2 ⎛ N − n ⎞ ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟. Urutan prioritas untuk tiap variabel dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1. maka (fpc) dihilangkan. maka diberikan saran kepada pihak perusahaan mengenai atribut yang perlu ditingkatkan kualitas pelayanannya serta usulan perbaikan yang harus dilakukan tentang atribut kualitas pelayanan.12) n = P(1 − P )⎜ α / 2 ⎟ ⎝ ε ⎠ Di mana: n = jumlah sampel minimum P = proporsi untuk sukses 1 – P = proporsi untuk gagal Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel 3. 2 45 .

Kuadran I Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang dinilai sangat penting oleh pelanggan.Prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit) (9) .Penampilan karyawan (3) .012 -0. harapan pelanggan tinggi). No.339 -1. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1.370 1. harapan pelanggan tinggi).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Adapun variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran III ini adalah: . sehingga dapat memuaskan pelanggan (kinerja perusahaan tinggi. Faktor-faktor yang termasuk dalam kuadran ini adalah: ­ Kredibilitas (nama baik) bank (17) ­ Jumlah teller yang melayani (6) ­ Keakuratan pencatatan transaksi (10) ­ Kecepatan pelayanan (8) ­ Ketanggapan teller dalam melayani nasabah (11) ­ Komunikasi yang mudah dan baik (19) 5. 4 Oktober 2006 Index PGCV 1.048 -1.2 Analisis Variabel Kunci Dari peta performansi pada gambar 1 terlihat bahwa letak variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan pengguna jasa perbankan pada PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan terbagi menjadi 4 bagian.059 -0. sedangkan pelaksanaannya masih belum memuaskan (kinerja perusahaan rendah.116 0. sehingga menjadikan variabel tersebut nilai plus perusahaan di mata pelanggannya. Variabel yang temasuk dalam kuadran II ini adalah: ­ Kebersihan bank (4) ­ Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah (20) ­ Perhatian Bank kepada nasabah (21) ­ Kemampuan pihak bank/karyawan dalam mengatasi masalah (12) 3.714 Faktor Kualitas Pelayanan Keakuratan pencatatan transaksi Kecepatan pelayanan Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah Penataan ruangan Prosedur pelayanan (tidak berbelit – belit) Keberadaan fasilitas ATM dilokasi strategis Perhatian Bank kepada nasabah Kemampuan pihak Bank/karyawan dalam mengatasi masalah Kebersihan Bank Etika dan sopan santun karyawan Penampilan karyawan Prioritas 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Variabel Variabel 10 Variabel 8 Variabel 20 Variabel 1 Variabel 9 Variabel 7 Variabel 21 Variabel 12 Variabel 4 Variabel 13 Variabel 3 ­ ­ ­ ­ 2. KESIMPULAN DAN SARAN 5. tetapi pelaksanaannya dilakukan dengan baik sekali oleh perusahaan. Lokasi bank yang strategis (18) Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) Jaminan kerahasiaan nasabah (16) Keamanan dalam bertransaksi (15) Kuadran II Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang perlu dipertahankan.330 -0. Adapun interpretasi dari peta tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.778 0.Etika dan sopan santun karyawan (13) 4. Peta Performansi/Kepentingan Variabel-variabel yang masuk kuadran ini adalah: ­ Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) ­ Pengaturan kursi untuk menungggu (5) 46 . Kuadran IV Menunjukkan variabel-variabel yang oleh pelanggan dianggap tidak terlalu penting. Gambar 1.(7) . sedangkan pelaksanaannya oleh perusahaan biasa atau cukup saja.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data pada bab-bab sebelumnya.333 0.Keberadaan fasilitas ATM di lokasi strategis. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa gap antara harapan dan persepsi memberi gambaran bahwa nasabah menganggap kualitas pelayanan 4.Penataan ruangan (interior) di dalam dan di luar bank (1) . karena pada umumnya tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan pelanggan. Kuadran III Menunjukkan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan yang berada dalam kuadran ini dinilai masih kurang penting bagi pelanggan.124 0.

1955 Fandy. Dari hasil perhitungan indeks potential gain customer value.2 Saran 1. New York Appleton Century. Sedangkan ratarata nilai tingkat kepuasan nasabah terhadap masing-masing dimensi berkisar 91.89%. 2. Metode Penelitian Survei. Hasil perhitungan gap untuk tiap dimensi kualitas. LP3ES. Vol.Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) . Bedasarkan analisis peta kartesius. Erlangga. Tjiptono. Statistik Teori dan Aplikasi. DAFTAR PUSTAKA Allen. 2. Techniques of Attitude Scale Contruction. Yokyakarta Offset.. Sedangkan nilai ratarata harapan menunjukkan bahwa nasabah menganggap keseluruhan faktor sebagai faktor yang penting untuk mendapat perhatian pihak bank untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya. 1995 J. L. 3. 1985 Rambat Lupiyoadi.Pengaturan kursi untuk menungggu (5) . A Conceptual Model of Service Quality and its Implications For Future Research. 1987 Parasuraman. Jakarta. Edwards. A et al. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memenuhi harapan nasabahnya. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks potential gain customer value terbesar. 1997 Husaini. 2001 Vincent Gasperz. 1991 Masri Singarimbun. Journal of Marketing.42–100. Urutan prioritas tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Gramedia Pustaka Utama. 49. Manajemen Pemasaran Jasa. Edisi 5. Usman.Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) . Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memuaskan nasabahnya. Diharapkan pihak perusahaan lebih meningkatkan program pelatihan (khususnya di dalam peningkatan pengetahuan dan penguasaan pekerjaan) yang dinilai nasabah masih kurang memuaskan dan juga perlunya pengaturan kursi untuk menunggu bagi nasabah dan penambahan jumlah teller agar para nasabah tidak terlalu lama mengantri. Penerbit PT Salemba Empat. 4.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar di Bank Muamalat Cabang Medan tidak mengecewakan tetapi belum sepenuhnya memenuhi keinginan nasabah melihat cukup besarnya gap yang terjadi.Keamanan dalam bertransaksi (15) 5.Supranto. Survei kepuasan nasabah hendaknya dilakukan secara periodik. dari 21 variabel pelayanan terdapat 7 variabel kunci yaitu variabel yang harus ditingkatkan kinerjanya oleh PT Bank Muamalat Indonsia Cabang Medan karena variabel tersebut sangat penting bagi pelanggan dan ketidakpuasan pelanggan tinggi yaitu: . Prinsip-prinsip Total Quality Service. terutama dalam persaingan Bank Syariah yang cukup ketat sekarang ini. Pengantar Statistika. sehingga harapan dan persepsi pelanggan dapat dipantau untuk memberi umpan balik atas perbaikan yang telah disesuaikan. 1997 47 .Jaminan kerahasiaan nasabah (16) . Bumi Aksara.Lokasi bank yang strategis (18) .

Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check terbukti dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan whole body reaction tester. Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara memberikan waktu istirahat yang cukup serta mengatur waktu istirahat. Hal ini berarti pekerja wanita memiliki tanggung jawab yang sama akan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. kinerja kerja serta berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk melakukan kegiatan. Apakah penerapan program ergonomi dapat mengendalikan kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik? Anizar 48 . Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation). Produktivitas Kerja 1. 2000 menemukan bahwa terdapat efek positif dari pemberian suatu program intervensi yang meliputi 15 karakteristik ergonomis pada stasiun kerja terhadap penurunan kelelahan pada operator komputer. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). a.7155.PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. pemberian waktu istirahat pendek berulang sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Fakultas Teknik USU Abstrak: Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi.. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya penyakit akibat kerja yang disebut musculoskeletal disorders. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu reaksi ratarata 0. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work).6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0.065. Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi. Kelelahan yang timbul dalam diri manusia merupakan proses terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan mendatangkan ketegangan (stres) yang dialami oleh tubuh manusia. Kata kunci: Program Ergonomi. Karakteristik pekerjaan akan semakin meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan dilakukan. Penerapan program ergonomi menghasilkan beda sebesar 0.2 Perumusan Masalah Kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik pada dasarnya untuk membentuk postur kerja tertentu. Undang-Undang No. PENDAHULUAN 1. Untuk menghindari akumulasi yang terlalu berlebihan diperlukan keseimbangan antara sumber datangnya kelelahan dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan (recovery). Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation). Keadaan ini diperburuk dengan tidak adanya alat pendukung kerja berupa kursi kerja yang ergonomis. bersifat menetap. Proses pemulihan akan memberikan kesempatan fisik maupun psikologis manusia untuk lepas dari beban yang menghimpitnya. Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot. Para ilmuwan telah mencoba beberapa alternatif pengendalian kelelahan dengan pengaturan stasiun kerja seergonomis mungkin maupun pemberian waktu istirahat yang cukup sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Kelelahan Pekerja. Penelitianpenelitian yang dilakukan Pada sebuah penelitian Demure et al. Yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah.1 Latar Belakang Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. 1. bersifat menetap. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita antara lain dinyatakan bahwa pekerja wanita berhak menerima upah yang sama dengan pekerja pria atas pekerjaan yang sama nilainya. Terdapat kenaikan produktivitas pada operator komputer yang diberi suatu program intervensi yang meliputi perbaikan postur kerja. Apabila dibiarkan berlarut-larut maka akan dapat menimbulkan suatu penyakit akibat kerja yang akan mengurangi produktivitas dan diperlukan suatu cara untuk mengatasinya.

Organizational Ergonomics. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada. fasilitas kerja dan lingkungan kerja saling berinteraksi dengan tujuan utama menyesuaikan suasana kerja dengan manusia. berat seperti ada beban. Perbandingan terus mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Pada kerja otot dinamis. Terganggunya peredaran darah dan kurangnya oksigen merupakan fenomena kelelahan akibat kerja otot statis. kaku dan nyeri. Produktivitas Kerja Secara umum. Kontraksi disertai pemompaan darah ke luar otot sedangkan relaksasi memberikan kesempatan bagi darah untuk masuk ke dalam otot. disiplin kerja. Sastrowinoto(1985) menyatakan bahwa produktivitas menggambarkan perbandingan antara rasio keluaran dengan masukan. International Ergonomic Association membagi ergonomi dalam 3 katagori utama yaitu Physical Ergonomics. Apakah penerapan program ergonomi dapat meningkatkan produktivitas kerja pada pekerja industri perakitan elektronik? Apakah ada persamaan peningkatan produktivitas kerja antara wanita dan pria pada industri perakitan elektronik? 1. 2. Pada penelitian untuk memperoleh data tentang kelelahan sering digunakan kuesioner dengan skala bi-Polar maupun skala sifat seperti skala Borg maupun skala Semantik. perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja. pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontrasi sehingga menyebabkan peredaran darah dalam otot terganggu. pengerahan tenaga 50% dari maksimum dapat diterima otot untuk jangka waktu kerja selama 1 menit sedangkan pada pengerahan tenaga kurang dari 20% kerja dapat berlangsung lebih lama. produktivitas mengandung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Efek Kerja Otot Statis Kerja otot statis (postural) mencakup jenis pekerjaan yang berkepanjangan (prolonged) di mana level kontraksi konstan dan tidak berubah dalam satu satuan periode waktu yang bervariasi dari beberapa detik hingga beberapa jam. Kerja otot dinamis berlaku sebagai suatu pompa bagi peredaran darah.5 Penerapan Program Ergonomi Dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem di mana manusia. 2. keterampilan. Lebih dari itu sisa metabolisme seperti asam laktat tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri. Otot yang bekerja secara dinamis memperoleh banyak oksigen dan glukosa sehingga memiliki banyak tenaga sementara sisa metabolisme segera dibuang. Kelelahan yang dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja.3 Kelelahan Otot Pada dasarnya kelelahan menggambarkan 3 (tiga) fenomena yaitu perasaan lelah. kerja otot statis yang menggunakan tenaga sebesar 60% dari maksimum akan menyebabkan peredaran darah 2. Secara subjektif kelelahan otot dapat digambarkan dengan adanya perasaan tertekan. 2. otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode waktu tertentu. Kelelahan pada dasarnya merupakan keadaan fisiologis normal yang dapat dipulihkan dengan beristirahat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Monod. Otot dapat bekerja secara statis (postural) atau dinamis (rhythmic). Dengan demikian peredaran darah meningkat dan otot menerima darah 10 sampai 20 kali keadaan kerja otot statis. c. Cognitive.1 Kerja Otot Statis dan Dinamis Otot adalah organ yang terpenting dalam system gerak tubuh. Pada kerja otot statis. Kuesioner dan skala ini dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan data yang diinginkan peneliti. sikap kerja.2 terhenti sama sekali. pemberian waktu istirahat berulang yang diikuti oleh gerakan relaksasi otot akan efektif menurunkan kelelahan operator pada industri perakitan elektronik. Terdapat 2 (dua) jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi berulang.3 Hipotesis Penelitian Suatu program ergonomi yang terdiri dari perbaikan tata letak tempat kerja. Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah mendekati batas maksimal kemampuannya. Keadaan peredaran darah pada kerja otot statis berbeda dengan kerja otot dinamis. dan lainnya 2. lingkungan kerja. motivasi.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar b. Kerja otot statis dibutuhkan dalam membentuk postur tubuh oleh karena konstraksinya yang kontiniu maka bagian-bagian tubuh dapat dipertahankan berada pada posisi yang tetap. Kelelahan otot dikenal dengan adanya perasaan tertekan dan lemah. Penelitian yang dilakukan oleh Nemecek dan Van Wely menyimpulkan bahwa kerja otot statis yang menggunakan tenaga 15% sampai 20% dari maksimum akan menimbulkan penyakit akibat kerja jika dibiarkan terus selama beberapa hari dan bulan. Kerja otot statis lebih cepat menimbulkan kelelahan. TINJAUAN PUSTAKA 2. kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis.4 49 . Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot.

METODE PENELITIAN 4. 4. pemberian kuesioner. Penentuan produktivitas kerja wanita dan pria dilakukan dengan menggunakan metoda analisis produktivitas. Adapun gerakan otot tersebut terdiri dari: Otot leher. c. otot bahu.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (x) yakni program ergonomi dan variabel terikat (y) yakni kelelahan kerja dan produktivitas kerja. otot lengan bawah. Data sekunder dikumpulkan melalui hasil laporan yang diperoleh dari berbagai pihak.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan bersifat penelitian terapan (applied research) dengan menggunakan metode eksperimen kuasi jenis one group pretest posttest design (Nawawi. Quitler (1997) menganjurkan pemberian waktu istirahat selama 5 menit setiap 30 menit bekerja. Gerakan relaksasi dapat dilakukan berupa melakukan setiap gerakan 3 sampai 5 kali di mana setiap gerakan tahan selama 5 sampai 10 hitungan sesuai dengan kebutuhan. 4. otot pergelangan tangan. Suatu kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan relaksasi otot sangat dibutuhkan oleh pekerja. 3. pengukuran produktivitas kerja. Pengolahan dan Analisis Data Berdasarkan kepada pendekatan dan jenis data yang dikumpulkan secara kuantatif dan kualitatif maka data yang dikumpulkan dilakukan perhitungan statistik dengan mencari rata-rata (mean) pre test dan nilai rata (mean) post test. 3. Hasil lokakarya Penyusunan Norma Ergonomi di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja pada tahun 1978 berdasarkan anthropometri orang Indonesia untuk kerja duduk adalah 38 cm sampai 48 cm.6 Program Pengendalian Kelelahan pada Pekerja Postur kerja sering disebut juga sebagai posisi atau sikap tubuh dalam bekerja.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada salah satu industri pada stasiun monitor check. 4.4 Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria yang bekerja sebagai operator di stasiun monitor check. 4 Oktober 2006 2. Mengetahui tingkat kelelahan kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. Mengetahui manfaat diterapkannya program ergonomi di perusahaan.7 4. Dilakukan uji t berpasangan (t paired test) dengan alpha = 0. Hal ini bisa diperoleh dengan beberapa cara sesuai kebutuhan dan kemampuan pekerja seperti berjalan di sekitar ruang kerja ataupun melakukan relaksasi (streatching).1 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan program ergonomi dalam mengendalikan kelelahan pekerja terhadap produktivitas pekerja wanita dan pria pada industri perakitan elektronik di Kota Medan. Jenis kursi yang dapat disesuaikan (adjustable chair) sangat baik untuk kerja yang bersifat sedentary namun jika hal ini sulit untuk dilaksanakan maka kursi yang sesuai anthropometri suatu etnis dapat diberikan. Salah satu cara mengendalikan kelelahan otot pada pekeja adalah pemberian waktu istirahat pendek yang sering (micro breaks) untuk merubah posisi kerja dan relaksasi otot.5% untuk melihat perbandingan skor kelelahan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi. 4.2 Manfaat Penelitian Manfaat daripada penelitian yang dilakukan adalah: a. otot punggung bawah dan otot pinggang serta lengan atas. Postur kerja di industri perakitan elektronik menuntut kerja duduk dalam jangka waktu lama dengan posisi lengan melawan gaya gravitasi dalam menyokong jari memegang komponen elektronik dan kepala menunduk (duduk membungkuk) untuk melihat komponen yang sangat kecil. 4. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data primer dengan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan kerja. Survei awal yang dilakukan diketahui bahwa operator yang bekerja adalah wanita dan pria dengan postur kerja duduk dan waktu kerja 7 jam setiap hari selama 6 hari dalam seminggu. Mengetahui produktivitas kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. pengukuran waktu reaksi. 4. No. otot tangan. Posisi punggung yang membentuk sudut 100 sampai 130 derajat dengan paha dan alas duduk lebih dianjurkan oleh karena pada posisi ini tekanan antar ruas tulang belakang akan lebih berkurang dan otot punggung berada dalam keadaan lebih relaksasi karena bantuan dari sandaran punggung yang ikut menahan berat tubuh. Duduk dalam keadaan tegak lurus atau membungkuk dan duduk dalam waktu lama tanpa merubah posisi akan mempercepat terjadinya kelelahan. 1996).5 50 .6 Alat Ukur Alat ukur yang dilakukan dalam penelitian adalah Whole Body Reaction Tester Model YB-1000. b. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.

Bau-bauan di dalam ruang pabrik juga tidak mengganggu kenyamanan kerja. Metal/washer dan Cone Press Fit. Subjek penelitian seluruhnya merupakan tenaga kerja wanita dengan usia berkisar antara 23 tahun sampai 27 tahun.1.00 42.90 2. Monitor check.30 2.05 5.18 0.1.25 3.2 Kondisi Lingkungan Kerja Kondisi lingkungan kerja yang ada di PT Nando Karya Elektronik selama pengamatan dilakukan adalah: a.00 5. 5°C. Getaran mekanis secara umum di dalam ruang pabrik tidak terjadi.35 5. e.20 10.90 2. Case and Appearance dan Quality Control.80 80. g.30 3. Press.15 2.3 Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian yang ditetapkan sekaligus merupakan populasi penelitian sebanyak 20 orang pekerja di stasiun monitor check. b.33 0. akan tetapi terfokus pada Bracket MAEM.1.15 11. Terlihat bahwa angka probabilitas yang diperoleh pada pretest dan posttest penerapan program ergonomi sebesar 0.1 5.35 5.57 9. f. jenis kelamin.34 0.05) sehingga menunjukkan suatu perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tingkat kelelahan pekerja pada stasiun monitor check.80 3. 5.00 42. dan Rotor Assy (armature assy). meja kerja dan kursi kerja. Warna dinding ruangan pabrik sudah terasa menyamankan suasana kerja. Tabel 1.74 2.1 Sistem Kerja Monitor Check Sistem kerja yang ada pada stasiun monitor check terdiri dari monitor.05 41.30 3. Press Fit.00 40. berat badan dan tinggi badan.30 5.00 37.00 42.10 11. Tingkat kebisingan yang ada di dalam ruangan antara 65-83 dB.74 2.2 Hasil Pengukuran 5.19 51 .73 0.00 2. Pada umumnya terdapat perbedaan nilai yang signifikan hampir sama pada semua regio.81 2.05) uji 1 ekor di mana nilai t berada pada posisi penolakan Ho atau penerimaan Ha. Pencahayaan di ruangan pabrik cukup baik di mana sumber penerangan lampu neon 40 watt.00 7.000 di mana nilai tersebut jauh lebih kecil daripada ∝5% (0.00 12. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan pada perusahaan elektronik yang mengahasilkan 3 jenis produksi yaitu Bracket MEM.40 5.00 41.00 39. Brus Terminal Inserting. d. Distribusi Persentase Tingkat Kelelahan Pretest dan Posttest Pretest Posttest Beda Nilai t P % Penurunan Skor Kelelahan Regio Otot Leher/ tengkuk Bahu Punggung Atas Pinggang Punggung Bawah Lengan Atas Lengan Bawah Pergelangan tangan Skor Kelelahan Otot Total 5.00 38.30 5.15 9. Kebanyakan responden mengalami kelelahan tingkat 6 sebanyak 35% – 45% pada saat sebelum diterapkan program ergonomi (pretest) dan kelelahan tingkat 4 sebanyak 25% – 55% pada saat program ergonomi telah diterapkan (posttest). Karakteristik subjek penelitian yang diteliti meliputi umur.32 2. Bracket MAEM.15 3. Posisi operator dalam melakukan pekerjaan adalah duduk pada kursi tanpa sandaran dengan ketinggian dari lantai 55 cm dengan sudut pandang 90° terhadap conveyor. masa kerja.12 2. c. belt conveyor. Kelembaban di dalam pabrik berkisar antara 6074%.2.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap pekerja menunjukkan adanya penurunan skor kelelahan sesudah diterapkan program ergonomi.05 7. Temperatur ruangan berkisar 30°C hingga 33. Sirkulasi udara kurang baik karena kurangnya jendela/ventilasi sehingga pertukaran udara sangat lambat.90 2.12 0.83 0. Nilai t empiris jauh lebih besar dari nilai t tabel pada ∝ 5% rata(0. Proses perakitan elemen-elemen tersebut terdiri dari beberapa tahap yaitu: Proses Combaine.00 16. Monitor berada di sebelah kiri operator dengan sudut padang 45°. 5. 5.2 m dari meja kerja dan dipasang secara berjajar tanpa memperhatikan objek yang akan dirakit. Tingkat kelelahan responden bervariasi pada saat sebelum (pretest) dan pada saat setelah (posttest).Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar 5. 5. h.02 0.57 25. pinset.73 0. Pada umumnya kelelahan yang dialami oleh responden merata pada semua regio.96 0. Berdasarkan kepada analisis statistik dengan menggunakan uji t berpasangan (t paired test) maka terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah diterapkannya program ergonomi. Penempatan lampu di ruangan hanya berjarak 1.00 37.

Probabilitas sebesar 0.034 dan t tabel sebesar 2. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah tidak identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan prgogram ergonomi adalah berbeda secara nyata). Waktu reaksi operator sebelum penerapan program ergonomi rata-rata berkisar 1. 5.034 dan t tabel sebesar 2. lengan bawah).02 menit hingga 1. Peningkatan jumlah produksi dapat diperoleh karena berkurangnya waktu yang diperlukan untuk relaksasi otot leher. No. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk relaksasi otot leher dalam satu shift kerja adalah 40 menit untuk metoda kerja sekarang sedangkan untuk metode usulan hanya butuh waktu 15 menit. Uji satu sisi yang dilakukan dengan derajat kebebasan (df) 19 dan α (0.025 adalah jauh lebih kecil dari α (0. dan meletakkan bracket di palet.3 Pembahasan 5. H1 : D ≠ 0.025) diperoleh t hitung sebesar –6. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan program ergonomi ternyata menurunkan kelelahan otot statis operator stasiun monitor check.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan program ergonomi membuat rata-rata kelelahan otot statis menjadi berbeda pula secara nyata.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. operator memeriksa bracket melalui layar monitor. Setelah penerapan program ergonomi. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi pada umumnya waktu reaksi mengalami peningkatan jika diamati selama satu hari kerja dengan rata-rata berkisar antara 0. pada akhirnya menjadi berarti karena pada umumnya terjadi pada 8 regio setiap responden. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan paired samples test (perbandingan t hitung dengan t tabel) maka dilakukan uji 2 sisi dengan tingkat signifikansi α sebesar 5% dan derajat kebebasan (df) sebesar 19 maka diperoleh t hitung 6. 5. Sebelumnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.13 dengan skor kebanyakan responden berada pada tingkat kelelahan 4 (regio bahu.15 menit.093 maka H0 ditolak dan H1 diterima.23. Hipotesis untuk hal ini adalah: H0 : D = 0.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Pengukuran waktu reaksi (kecepatan reaksi) dengan menggunakan peralatan Whole body reaction tester dilakukan terhadap operator stasiun monitor check yang berjumlah 20(dua puluh) orang. Produktivitas operator stasiun monitor check pada industri perakitan elektronik dapat dihitung dari waktu siklus.2.1 atau sekitar 2 tingkatan. pergelangan tangan.92 menit hingga 1.093.23 menit. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan program ergonomi mempengaruhi kelelahan otot statis yang operator stasiun monitor check yang terlihat dari skor waktu reaksi.3.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil perhitungan statistik dengan uji-t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi di mana terlihat skor rata-rata kelelahan setelah penerapan lebih kecil daripada sebelumnya sehingga hipotesis penelitian terjawab.3. 5.2. Penurunan kelelahan sekitar 2 tingkat. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan program ergonomi adalah sama/tidak berbeda secara nyata). punggung atas.7155. Data yang ada menunjukkan bahwa rata-rata penurunan skor kelelahan sebelum dan sesudah penerapan program ergonomi sebesar 2. Skor rata-rata kelelahan yang nyaris sama pada setiap regio otot. lengan atas.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Berdasarkan perhitungan tsb. Skor kelelahan rata-rata menjadi 3.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Analisis statistik dengan uji t-berpasangan (t paired test) terhadap data waktu reaksi operator yang diperoleh dari whole body reaction tester terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan antara sebelum dan setelah penerapan program ergonomi. 4 Oktober 2006 5. memposisikan brush terminal dengan pinset. 52 . tengkuk/leher) dan tingkat kelelahan 3 (regio pinggang. Deskripsi daripada waktu operasi 1 siklus adalah operator mengambil bracket. Kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6(40%) untuk seluruh regio. terjadi penurunan skor kelelahan pada seluruh responden (100%). Kecepatan reaksi yang diketahui dari data yang dihasilkan oleh peralatan memperlihatkan bahwa selama 6(enam) hari kerja terdapat fluktuasi pada waktu reaksi yang diperoleh.6505 sedangkan setelahnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0. 5.3.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Pengukuran terhadap produktivitas dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap waktu yang dibutuhkan. maka waktu standar yang diperoleh dari metode kerja usulan lebih singkat dari metode kerja sekarang sehingga selain dapat mempersingkat waktu penyelesaian juga dapat meningkatkan jumlah produksi. Sebelum penerapan program ergonomi. punggung bawah.

.13 dengan kelelahan tersebar pada kelelahan tingkat 3 dan 4. Edisi Pertama. 2003. Uniba Press. Bandung.7155. S. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi maka skor rata-rata kelelahan turun menjadi 3. Jakarta. 1979. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check. Solichul. 3. Wignjosoebroto. Sutalaksana. Edisi Pertama. Teknik Tata Cara Kerja. 6.659 unit 4. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu DAFTAR PUSTAKA Eko Nurmianto. Ergonomi.532 unit. Suma’mur. Studi Gerak dan Waktu. Jakarta.K. Institut Teknologi Bandung. Surakarta.88 detik 12.K. I.32 di mana kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6 untuk seluruh regio. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. pelaksanaan relaksasi otot dan perbaikan tata letak tempat kerja. Surabaya. 53 . Ergonomi Untuk Produktivitas kerja. P. Jurusan Teknik Industri. 2004.. Ergonomi Untuk Keselamatan. 2. L. Kesehatan Kerja dan Produktivitas.19%. Jakarta: Candimas Metropole. Toko Gunung Agung. Prima Printing.88 detik menjadi 1. 1989. Waktu standar penyelesaian pekerjaan meningkat sebesar 0.10 detik dari 1. Tarwaka. Penerapan program ergonomi yang dilakukan pada industri elektronik dapat mengendalikan kelelahan pekerja (operator monitor check).Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar Tabel 2. Sebelum penerapan program ergonomi. 1995. Hal tersebut terlihat dari skor penurunan kelelahan otot total yang mencapai 40. Perbandingan Keluaran (Output) Metode Kerja Sekarang dengan Usulan Metoda Kerja Sekarang 380 menit 1.78 detik 13. Toko Gununng Agung. Konsep Dasar dan Aplikasinya”. 1996. Program ergonomi yang diterapkan berupa pemberian waktu istirahat berulang. Suma’mur.6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0.127 unit Metoda Kerja Usulan 405 menit 1. PT. Z. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. “Ergonomi. Sudiajeng. PT. P. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat sebesar 1. KESIMPULAN 1. Produktivitas pekerja stasiun monitor check mengalami peningkatan setelah diterapkan program ergonomi maka terjadi peningkatan efektifitas waktu kerja dalam 1 shift dari 380 menit menjadi 405 menit. Uraian Waktu kerja efektif dalam 1 shift Waktu standar Penyelesaian Jumlah produk yang dihasilkan reaksi rata-rata 0.78 detik.

Misalnya belum memperhatikan nilai estetika atau keindahan kota dan tidak adanya jalur hijau atau taman kota di wilayah inti kota khususnya. Consequently. polusi air dan suara. Hal ini juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi. The concept of satellite cities is offered to be applied in Medan. low health quality and decreases morality of inhabitants which further increases the criminality level of the city. Belum adanya konsep tata ruang yang jelas dan tegas untuk Kota Medan secara menyeluruh terintegrasi dengan rencana jaringan transportasi untuk jangka panjang dan bukan hanya untuk 5-10 tahun mendatang saja mengakibatkan perkembangan Kota Medan tidak terarah dan mementingkan keuntungan sesaat saja. Konsep tata ruang yang tidak jelas dan tegas juga mengakibatkan nilai jual Kota Medan bagi investor sangat rendah karena tidak adanya kepastian (sewaktu-waktu segala sesuatu dapat berubah bergantung situasi atau political will Pemko Medan). Konsep kota satelit yang menginginkan penduduknya bekerja dan beraktivitas di dalam kota satelit tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan angkutan umum. Fakultas Teknik USU Medan Abstract: Urban sprawl development for Medan City unites the business and trade centres and the government centre in the CBD area of Medan. Barangkali alternatif solusi yang paling ampuh untuk mengatasi kesemrawutan perkembangan Kota Medan serta juga menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas ini adalah dengan mengadakan pembangunan kota-kota baru ataupun kota-kota satelit di wilayah batas kota (wilayah pinggiran) seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara lain. misalnya rute menjadi lebih pendek. waktu tempuh ke tempat kerja semakin panjang dan biaya perjalanan juga semakin tinggi akibat bertambahnya penggunaan BBM yang selanjutnya menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja karena stres dalam kemacetan. Bangun 54 . rendahnya mutu kesehatan hingga menurunnya tingkat moralitas penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat kriminalitas perkotaan.ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN Dosen Departemen Teknik Sipil. sehingga kemacetan lalu lintas. yang berhasil misalnya Turki. 1. Sekalipun mungkin setiap tahun RTRW Kota Medan direvisi namun karena Pemko Medan tidak berdaya mengatasi kekuatan pasar maka selama ini yang terjadi adalah penataan ruang dan sistem transportasi perkotaanlah yang mengikuti selera pasar yang mana semestinya Pemko Medanlah yang menentukan bagi pasar/investor lokasi-lokasi untuk daerah bisnis dan perdagangan. Juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi serta meningkatkan pengunaan sepeda dan fungsi pejalan kaki/pedestrian. Selain itu terjadi ketimpangan yang mencolok antara warga yang tinggal di wilayah inti kota dengan warga yang tinggal di wilayah pinggiran Kota Medan. polusi udara dan suara yang mengakibatkan rendahnya mutu kesehatan penduduk terutama anak-anak dapat Filiyanti T. tingginya kebutuhan akan pengadaan infrastruktur baru. Pembangunan Kota Medan yang bersifat setempat saja yakni hanya di wilayah inti kota (CBD) sama sekali tidak dapat dibenarkan sekalipun dengan alasan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). which is also the core problem of traffic in Medan. maksudnya tidak mengutamakan perkembangan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.A. tingginya polusi udara. is also offered in this paper. PENDAHULUAN Dampak yang meresahkan dari perkembangan kota yang tidak terarah dan tidak terkontrol adalah kemacetan sistem lalu lintas yang dapat menyebar ke seluruh wilayah kota. Pembangunan kota satelit dapat dilakukan dengan membangun dan mengembangkan lapangan pekerjaan dan aktivitas komersial ke suatu lokasi baru yang jauh dari wilayah inti kota namun tetap dihubungkan oleh sistem jaringan transportasi yang memadai dengan pusat kota. Sisi lain yang tak kalah penting adalah minimnya akses untuk jalur hijau atau open space seperti taman yang merupakan paru-paru kota. Tentative concept of Urban Spatial Arrangement causes the City Government of Medan has no power and authority on deciding locations for the businesses of investors in accordance with the RTRW Master Plan and so far the spatial arrangement and the urban transportation systems follow the desires of the investors. Jepang dan RRC. this causes severe traffic jam that could spread to whole the city area and spread to whole time because the distribution of the traffic is focused on the CBD area and as well causes air and noise pollution. In addition the revitalization of public transport systems. Adanya pertumbuhan pusat bisnis dan perbelanjaan di lokasi yang sama dengan pusat pemerintahan Kota Medan yakni di wilayah inti kota mengakibatkan distribusi lalu lintas hanya terkonsentrasi pada satu wilayah atau zona saja. perumahan ataupun perkantoran. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang parah di inti kota yang menyebar ke seluruh wilayah Kota Medan khususnya pada peak-hours.

5. misalnya: Microskill di Jl. khususnya bagi para pegawai pemerintahan tersebut beserta dengan segala fasilitasnya seperti toko. Sarana infrastruktur yang menghubungkan pusat pemerintahan ini ke inti kota dan juga ke bagian-bagian Kota Medan lainnya juga hendaknya direncanakan dengan maksimal. Bangun berkurang. maka dapat dipastikan 5-10 tahun mendatang pertumbuhan dan perkembangan PTS ini akan semakin tidak terkontrol yang akan sangat berdampak pada kemacetan lalu lintas. Keberadaan pusat pemerintahan dan pusat bisnis dan perbelanjaan di dalam satu wilayah/zona yang sama yakni di inti kota adalah masalah yang mendasar dan utama bagi Kota Medan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. apartemen. akutansi serta bahasa yang menyebar di seluruh wilayah inti kota. Gajah Mada dan kursus-kursus keahlian jangka pendek seperti kursus komputer. Kantor DPRD/DPR Provsu. Bagaimana dengan Kota Medan? Konsep kota satelit yang bagaimana sebaiknya dilaksanakan untuk Kota Medan sehingga dapat mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya di wilayah inti kota? Sebaiknya daerah mana yang dapat menjadi lokasi-lokasi baru bagi kota-kota satelit tersebut? Apakah konsep kota satelit dapat menyelesaikan masalah sistem angkutan umum (angum) di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan ? 2. TKTB. 3. Kantor Imigrasi dan semua instansi-instansi pemerintah berada pada satu lokasi yang sama. KONSEP KOTA SATELIT BAGI KOTA MEDAN Jadi sebenarnya setiap kota yang notabene punya masalah kota dan masalah lalu lintas tersendiri yang khusus dan berbeda di tiap-tiap kota mestinya punya konsep kota satelit tersendiri. Keuntungan lain dari adanya kota satelit yakni dapat mengoptimalkan kelangsungan usaha daripada fasilitas-fasilitas kota seperti toko. 2. Pusat Bisnis dan Perbelanjaan: tetap dikembangkan di wilayah inti kota yang dengan sendirinya akan berkembang memenuhi segala kebutuhan akan fasilitas-fasilitasnya yang sesuai seperti hotel. maksudnya seperti Kantor Walikota. bersekolah atau berbisnis di dalam kota satelit tersebut. hanya perlu travel ke satu tempat saja.. Pabrik Finishing Industrial di wilayah sekitar Belawan. Dengan demikian masyarakat yang ingin mengurus keperluannya terkait dengan instansi pemerintah. Hal ini disebabkan bahwa penduduk yang berdiam di kota satelit tersebut belum tentu bekerja. dan perlahan-lahan akan dapat menjadi suatu Kota Mandiri. klinik dan praktik dokter sampai halte yang terletak dekat dengan rumah-rumah penduduk. STIE di Jl. maka kemacetan tetap saja akan terjadi di inti kota yang menyebar ke seluruh penjuru Kota Medan. sekolah. Pelajar-pelajar PTS ini pada umumnya menggunakan kenderaan pribadi sehingga dapat dibayangkan pada saat masuk dan keluar kegiatan perkuliahan selalu membuat macet daerah sekitar lokasi kegiatan. Pusat Automobile (Showroom). termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Belawan menjadi Hub-Port Internasional. flat/apartemen bagi pelajar baik swasta maupun milik Pemda sendiri yang dapat menambah pemasukan bagi Pemda. Pusat Industri: tetap dikembangkan di kawasan utara Kota Medan. Jadi aktivitas-aktivitas apa saja yang semestinya disatelitkan terlebih dahulu di Kota Medan ? 1. Pengadilan Tinggi. 4. Penjualan Spareparts dan Perbengkelan: tingginya pertumbuhan mobil-mobil pribadi maupun 55 . Bila PTS–PTS ini tidak segera dialokasikan pada satu wilayah yang sama yang secara alamiah akan berusaha mengembangkan kebutuhannya akan penggunaan gedung. Karena sekalipun dibangun kota-kota satelit misalnya di wilayah-wilayah lingkar luar. Pusat Pemerintahan: Sudah saatnya Pemko Medan memikirkan lokasi baru bagi pusat pemerintahan Kota Medan. Thamrin. pengembangan KIM (Kawasan Industri Medan). Dinas Tarukim. kondominium. Selanjutnya dikembangkan juga perumahan-perumahan. Hal yang signifikan yang langsung terjadi dengan adanya re-alokasi pusat pemerintahan ini adalah terdistribusinya sistem lalu lintas Kota Medan sehingga tidak hanya menuju inti kota saja. Kantor Pengadilan Negeri. sekolah dan fasilitas rekreasi. Pengembangan Airport Internasional Kuala Namu serta rencana sistem infrastruktur yang menghubungkan ketiga kegiatan urat nadi kota satu dengan lainnya dan terhadap wilayah inti kota dan pusat pemerintahan. Namun ternyata pengadaan kota-kota satelit seperti Bintaro dan BSD (Bumi Serpong Damai) yang terdapat di Jakarta ternyata tidak dapat mencapai tujuan daripada pengadaan kota satelit tersebut. cafe serta fasilitas hiburan dan rekreasi.-toko. rumah sakit.A.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Sungai Deli atau LP3I di Jl. rumah sakit ataupun exhibition center. Semestinya masalahmasalah khusus kota tersebut diselesaikan terlebih dahulu agar pengembangan kota satelit dapat maksimal fungsinya. Bila semua PTS ini dapat diarahkan terkonsentrasi dalam satu lokasi yang sama (ruislag) sehingga berkembang pula rumah-rumah kost. Pusat Pendidikan Tinggi Swasta: banyaknya pertumbuhan perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah inti kota. Proses pengembangan kota satelit ini akan berjalan secara alamiah. Selain itu fasilitas kota satelit tersebut juga belum tentu sesuai dengan keinginan penduduknya sehingga sebaran kemacetan lalu lintas tetap saja terjadi.

taksi. Kondisi ini mengakibatkan perusahaan (dealer) kenderaan angum yang mungkin saja bekerjasama dengan oknum pemerintah dari dinas terkait dapat mengambil keuntungan dari penjualan kenderaan angum serta pengurusan izin trayek sehingga modal dasar operator menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan tingginya setoran yang diwajibkan operator terhadap pengemudi angum ditambah dengan Biaya Operasional Kenderaan (BOK) dan biaya-biaya informal rutin. akan semakin menambah nilai jual kota terhadap investor. pemilik-pemilik angkot pada umumnya adalah perorangan sehingga terdapat begitu banyak stakeholders angum di Kota Medan. Kota Medan dapat mengalami grid-lock atau macet total dan perkembangan Kota Medan akan semakin tidak terkontrol atau terarah. mobil penumpang umum (MPU) dan bus damri. yakni masalah angkutan umum (angum). Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk mengontrol. SOLUSI PERCEPATAN PEMBERDAYAAN SISTEM ANGKUTAN UMUM DI KOTA MEDAN 3. 4 Oktober 2006 sepeda motor dengan berbagai jenis merek dengan kelebihan dan kekurangan dari masingmasing merk mobil tersebut. jumlah armada taksi yang beroperasi 1187 unit (plafon 2545 unit). seperti: becak (dayung dan bermotor). pusat industri. becak (dayung dan bermotor) sekitar 18. 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.272 unit) dengan 248 trayek. Izin operasional diberikan untuk kenderaan dan bukan untuk trayek. angkutan umum penumpang terdiri dari berbagai jenis moda angkutan darat. showrooms dan perbengkelan yang signifikan bagi masyarakat Kota Medan. kelangsungan hidup daripada pusat-pusat kegiatan tersebut dengan segala fasilitasnya akan lebih terjaga. Selama tahun 2004-2005 jumlah armada angkutan umum penumpang yang beroperasi jelas semakin meningkat.1 Hambatan dalam Pembenahan Sistem Angkutan Umum di Kota Medan Di Kota Medan. Untuk kondisi Kota Medan. Selain masalah keberadaan tata ruang. jumlah armada angkutan umum (angum) yang beroperasi sudah sekitar 7. Jadi untuk Kota Medan realokasi pusat pemerintahan. juga akan lebih menguntungkan pengusaha automobile tersebut karena terkonsentrasi dalam satu wilayah. Juga izin dikeluarkan selalu berdasarkan jumlah plafon maksimal tanpa memperhitungkan demand penumpang dan evaluasi hasil operasi di lapangan yang seharusnya mempertimbangkan jumlah plafon minimal armada trayek. resto. pusat pendidikan tinggi swasta dan pusat automobile dalam masing-masing wilayah yang terkonsentrasi merupakan masalah mendasar bagi Kota Medan. No. bila Medan memiliki suatu konsep Tata Ruang yang jelas dan tegas. Namun bila realokasi kelima pusat kegiatan tersebut di atas dilaksanakan maka secara alamiah investor juga akan mulai menanamkan modalnya untuk pengembangan kawasan-kawasan tersebut sehingga dapat meratakan pembangunan dan meningkatkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya di wilayah inti kota saja seperti yang terjadi pada saat ini. Dan bila hal ini tidak segera ditangani. Itulah sebabnya. Selanjutnya juga akan berkembang di kawasan ini fasilitas perumahan bagi pengusaha maupun pegawai. Medan juga mempunyai masalah mendasar lainnya yang juga menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Dan yang saat ini nyata terjadi bahwa semakin bertambahnya mall atau plaza-plaza yang menjadi sepi pengunjung dan tidak menguntungkan. Data dari Dinas Perhubungan Kota Medan didapat bahwa sampai tahun 2003.583 unit (plafon 15. maka dalam tempo 10–15 tahun mendatang. menjadikan kebutuhan akan spareparts. seperti contoh kota satelit Putra Jaya yang memiliki bangunan-bangunan perkantoran dengan berbagai style yang berbeda dengan fasilitas rekreasi danau buatan. Bila semua kegiatan yang berhubungan dengan automobile ini ditempatkan dalam satu wilayah yang sama. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pelayanan angum tersebut apalagi menjaga mutu pelayanannya. Dengan demikian. Misalnya bagaimana masyarakat dapat menikmati gaya arsitektur bangunan-bangunan dan bagaimana masyarakat tetap dapat berekreasi mendapatkan hiburan sekalipun berada di lokasi perkantoran ataupun pendidikan. Hal lain yang juga penting untuk dipertimbangkan bagi Pemko Medan dalam membangun dan mengembangkan pusat-pusat kegiatan tersebut hendaknya juga memperhatikan nilai seni yang dapat mengundang pariwisata yang akan dapat meningkatkan PAD. Kelemahan 56 . Apakah dengan adanya realokasi kelima pusat-pusat kegiatan tersebut akan menjamin solusi bagi kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya masalah sistem angum di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan? Hal ini selanjutnya akan dibahas pada sesi berikut ini.800 unit. maka selain signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas. Bila hal ini tidak dilakukan pada tahap awal maka rencana pembangunan kota-kota satelit atau kota-kota mandiri lainnya. seperti pengembangan kawasan eks Bandara Polonia dan kawasan outer ring-road Kota Medan tidak akan maksimal tercapai tujuannya dan kemacetan lalu lintas terutama di inti kota sebaliknya akan semakin parah. dan fasilitas hiburan/rekreasi lainnya. ditambah lagi dengan bertambahnya angkutan becak mesin baru (jenis honda win) dan angkutan kancil. Jadi setiap pemilik angkutan mengurus izin trayek untuk kenderaannya dan hal ini sering sekali dijadikan sebagai “uang masuk” bagi oknum pemerintah terkait baik itu untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan dinasnya. cafe.

Setoran yang tinggi ditambah dengan pungutan informal (iuran di terminal asal dan tujuan serta iuran rutin per hari). maka permasalahan ini akan semakin kompleks yang tentu saja akan berakibat pada kerugian-kerugian sosial yang semakin parah sehingga pada satu waktu akan berakhir dengan grid lock (lumpuh total). namun tidak memperhitungkan modal dasar operator yang tinggi serta BOK seperti harga BBM. Aksara. seperti Pemko (Dinas Perhubungan/DLLAJ. Sp. besarnya modal dasar kenderaan. setiap komponen terkait dan jajarannya sepakat mengubah pola pikir dengan paradigma yang lama secara bertahap sehingga pada Desember 2000 Bogota memulai dengan satu sistem angum BRT yang disebut Transmilenio. 57 . Operator serta pengemudi angum yang lama tetap dilibatkan dalam pengembangan BRT tersebut menurut kebijakan yang ditetapkan. sistem izin trayek. dsb. dsb). Masalah angum perkotaan lainnya yang turut menambah ruwetnya masalah angum di Kota Medan yakni keberadaan pool-pool angkutan antar kota di sisi jalan-jalan utama (arteri primer) yang masih masuk wilayah Kota Medan yang mengambil alih peranan angum perkotaan serta masalah manajemen terminal yang belum tertata serta munculnya terminal bayangan di jalan-jalan utama (seperti di: Sp. Rahayu. Sp. Polisi Lalu lintas (Satlantas). Goiania (Brazil) dan Santiago (Chile). Sp. Namun sejak 1998. Pemerintah memberlakukan tarif tetap untuk angum yang disesuaikan dengan willingness atau daya beli masyarakat. Quito (Equador). taxi. Bila masyarakat sekarang ini sulit untuk mempercayai Pemda/Pemko. Sp. Bangun daripada sistem setoran ini adalah baik pemilik maupun pengemudi tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kualitas pelayanan dan setiap pemilik kendaraan mengawasi dengan caranya sendiri. Setiap kali armada articulated bus Transmileneo ditambah maka jumlah armada angum yang lama berkurang ataupun dijadikan sebagai pendukung pada sistem feeder service (angkutan pengumpan) pada koridor-koridor pelayanan BRT Transmilenio tersebut.3 Rekomendasi Metode Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Kota Medan Satu alternatif solusi untuk pemberdayaan angum perkotaan di Kota Medan secara maksimal adalah dengan mengadakan manajemen satu payung bagi angum perkotaan. Bogota mempunyai sistem angum. Penerapan sistim angum seperti yang dilakukan Bogota kemudian dilakukan oleh developing countries yang lain dengan sukses seperti di Curitiba. Morina.2 Contoh Kasus Revitalisasi Pelayanan Angkutan Umum di Bogota Satu kasus menarik terjadi di Bogota (ibukota negara Kolumbia) yang dapat dijadikan pelajaran dan teladan bagi masyarakat Kota Medan dalam merevitalisasi sistem angumnya. Sampai saat ini belum ada subsidi dalam bentuk apapun dari Pemda/Pemnas untuk angkutan umum. bagaikan raja jalanan. Sp.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Halat. maka dibentuklah suatu badan/lembaga yang anggotanya dipercaya oleh baik masyarakat umum maupun Pemko Medan yang dapat menjembatani kedua belah pihak untuk duduk bersama mendiskusikan segala sesuatu perubahan dalam sistem angum perkotaan. menyalip (overtaking) kenderaan lain tanpa mempertimbangkan lalu lintas sekitarnya dengan alasan kejar setoran. tidak melakukan pembenahan baik terhadap internal maupun eksternal komponen tersebut sejak dini. jumlah armada angum yang besar dengan jumlah trayek yang begitu banyak (rute yang tumpang tindih yang tidak sebanding dengan demand penumpang). tidak ada subsidi dari pemerintah. Koperasi Angkutan Umum (KPUM. persaingan antar tipe angum (angkot. Kampus USU. 3. Perum Damri. Organisasi Masyarakat/LSM. sering melanggar aturan lampu persimpangan (merah bisa jalan. Limun. hijau bisa berhenti bila perlu). Adakah sistem lain yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memperbaiki sistem angkutan umum perkotaan di Kota Medan saat ini? Apakah para decision makers Kota Medan masih terkesan apatis dalam membenahi Kota Medan? Bagaimana dengan krisis kepercayaan masyarakat yang semakin menurun terhadap para decision makers kota? Bila para komponen yang terlibat dalam angum. kondisi internal/eksternal komponen terkait serta kondisi pelayanan angum yang persis sama dengan kondisi sistem angum di Indonesia khususnya dengan Kota Medan seperti yang telah diuraikan di atas yakni kesamaan dalam sistem kejar setoran. tidak sesuai dengan kemauan pengguna ataupun belum ada batasan mutu minimal pelayanan yang diterapkan. Sao Paulo. Jasa Raharja dan juga para perusahaan (dealer) kendaraan serta para Preman Setempat (PS) di lapangan. seperti: berhenti di sembarang tempat di badan jalan. Amplas. becak mesin. Bappeda). Sumber. Kasat mata memang terlihat bahwa pengoperasian angum dengan berbagai jenis tipe dan ukuran tidak disiplin dalam berlalu lintas di jalan. Teknik/metode perubahan sistem angum yang bagaimana yang dilakukan oleh Bogota? Sesi berikut akan membahas teknik/metode yang sebaiknya diadopsi oleh Kota Medan yang disesuaikan dengan kondisi serta permasalahan angum di Kota Medan sendiri yang dapat dijadikan alternatif solusi untuk percepatan pemberdayaan dan revitalisasi sistem angum perkotaan untuk mendukung sistem transportasi Kota Medan di masa mendatang. 3. kancil) yang mengakibatkan persaingan antar eksternal dan internal koperasi angum yang tidak sehat dan mengakibatkan mutu pelayanan angum sangat rendah.) untuk menunggu penumpang (ngetem). khususnya untuk mengantisipasi rencana pembangunan monorel di Kota Medan. sistem tarif dan sistem institusional angumnya. biaya pengurusan STNK dan biaya pemeliharaan kenderaan.A.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. cepat.3. Pos-pos pemasukan bagi Pemda sehubungan dengan angum jangan lagi ditargetkan dalam konteks untuk menggemukkan APBD. 2005). STNK. BOK serta biaya pencapaian mutu minimal 1pelayanan angum dan profit-nya tinggi/mahal. Jadi bagi setiap perusahaan pemenang tender haruslah menyediakan tipe angkutan yang sesuai. 3. Misalnya bila pada umumnya occupancy kenderaan untuk trayek A adalah 80% namun bila dengan adanya pembenahan dalam sistem. terpercaya. Perubahan-perubahan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam sistem angum di Kota Medan? 3. termasuk sistem target PAD dari instansi-instansi/dinas-dinas terkait maupun dari retribusi-retribusi (retribusi terminal. Misalnya untuk trayek A jenis angkutan adalah tipe bus sedang dengan kapasitas maksimal 40 seats. Untuk rute kurus penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang meminta subsidi yang paling minimum dari Pemda. 3. sekalipun tetap di bawah pengawasan BOAU Kota Medan. Selain subsidi dari Pemda.3. Selain itu pengemudi angum juga akan menanggung denda/sanksi tilang bila melanggar peraturan lalu lintas (Iwan Margono. Subsidi ini dapat berasal dari profit yang diberikan oleh pengusaha yang memiliki rute gemuk penumpang (subsidi silang) ataupun dari sumber daya Pemda sendiri.). dan untuk trayek B dengan tipe bus kecil dengan kapasitas penumpang 14 seats. No.3 Sistem Retribusi Hapuskan istilah pagar makan tanaman bagi pihak Pemda (Heru Sutomo. Prinsip tender per trayek tersebut adalah sebagai berikut: a.3. maka tarif angum tersebut hendaknya juga mahal. maka pengusaha dapat menentukan 5% profit diberikan ke BOAU dan 10% profit merupakan hak pengusaha. Pengadaan sanksi/hukuman bagi pelanggar kontrak dalam bentuk sanksi uang dan bukan pencabutan izin trayek. dsb. 3. pengusaha yakin akan mendapatkan 95% occupancy. 58 . Jadi retribusi-retribusi tersebut hanya sekedar alat pengaturan dan bukan untuk cari uang. Sanksi uang ini dapat dijadikan sebagai masukan sumber subsidi BOAU sendiri bagi rute-rute kurus penumpang ataupun untuk pembenahan sistem. Misalnya dalam bentuk pengurangan subsidi ataupun denda. Izin bentuk dan tipe angkutan ditentukan oleh pemerintah.4 Sistem Tarif Sistem tarif angum jangan lagi dibatasi.1 Sistem Perizinan: Izin trayek diberikan pada satu perusahaan dan bukan kepada perorangan untuk mengoperasikan satu trayek secara keseluruhan melalui tender. Contoh-contoh developing ataupun developed countries yang mempunyai sistem transportasi yang murah.1.3. Sistem ini memberikan kesempatan pada kekuatan pasar untuk mempengaruhi kualitas pelayanan dan harga tiket/tarif angum. Untuk rute gemuk penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang dapat memberi keuntungan terbesar kepada BOAU.2 Sistem Gaji bagi Supir Angum Apa keuntungan sistem gaji dibandingkan sistem setoran dalam sistem angum? Adanya kepastian pendapatan bagi pengemudi angum akan mengurangi ketidakdisiplinan pengemudi angum di jalanan sehingga umur kendaraan juga akan lebih lama. aman dan nyaman. 2004). 4 Oktober 2006 misalnya seperti Dewan Transportasi Kota Medan atau Badan Koordinasi Transportasi Kota Medan atau Badan Otorita Angkutan Umum/BOAU Kota Medan (Heru Sutomo. namun penanggung jawab operasional tetaplah perusahaan pemenang tender. Profit/pendapatan ini dapat digunakan BOAU untuk mengembangkan sistem ataupun sebagai subsidi terhadap pengusaha untuk rute kurus penumpang. b. Schedule kedatangan/keberangkatan angum juga dapat diatur sehingga dengan jadwal yang pasti para penumpang tidak akan memaksakan diri untuk berjejalan di satu kendaraan (overcrowded) karena kendaraan berikut sudah dijadwalkan. misalnya dalam penambahan /pengurangan jumlah armada. 2005). dapat menghubungi pemenang tender untuk bekerjasama. memiliki tanggung jawab subsidi dan keterlibatan yang tinggi dari masing-masing Pemda maupun pemerintah nasionalnya. kompensasi pemasukan pendapatan dari pemasangan iklan pada kenderaan angum serta pengadaan usahausaha toko-toko/cafe di terminal. 3. Namun bila daya beli masyarakat masih rendah maka Pemda harus subsidi.5 Sistem Internal dan Eksternal Institusional Sistem konvensional dan kediktatoran dari Pemda harus diubah menjadi lebih liberal: Memberi keleluasaan pada pengusaha pemenang tender trayek untuk menanggapi kebutuhan. Bila ada investor kecil yang hanya mampu memiliki beberapa kenderaan saja ingin menanamkan modalnya pada rute-rute tersebut. subsidi dapat juga berasal dari sistem tender yang ditetapkan pada pasal 2. Pengusahaan angum oleh pemenang tender mempunyai jangka waktu tertentu dan dievaluasi pelaksanaannya sebagai pedoman dalam penentuan pemenang tender periode berikutnya.3.3. jika memang tarif hasil perhitungan modal pengadaan kenderaan.

BOAU Kota Medan bersama dengan seluruh instansi terkait serta elemen-elemen dalam masyarakat dalam suatu rapat khusus menetapkan urut-urutan prioritas langkah yang akan dilakukan. pihak swasta yang masih belum tertarik. lalu mengadakan perubahan-perubahan demi terlaksananya program BRT Transmilenio. Adapun keseluruhan daripada pembahasan di atas dituangkan dalam gambar 1 berikut ini mengenai Bagan Manajemen Satu Payung bagi sistem angum di Kota Medan (Heru Sutomo.6 Darimana Pemasukan bagi Pemda untuk Subsidi Angum? Karena subsidi angum tidak umum dari APBD maka kembali rakyat diminta kesadarannya untuk membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. Transmilenio beroperasi setelah perbaikan-perbaikan bertahap sukses dilaksanakan dalam sistem angumnya yang kondisi sistem angumnya persis sama dengan Kota Medan ataupun kota-kota di Indonesia pada umumnya.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Sementara sistem pengutipan angkos dan tiket serta sistem pengawasan atas implementasi seluruh sistem yang baru tersebut diserahkan kepada suatu badan yang dipercaya oleh pemerintah maupun masyarakat yang tetap dievaluasi kinerjanya secara teratur dan mempunyai durasi kontrak yang tertentu pula (Hidalgo & Senoval. 3. 2001). karena pada umumnya masyarakat kelas bawah juga yang lebih terkena dampak negatifnya bila masyarakat tidak membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. Pengadaan 470 unit articulated bus untuk Transmilenio diserahkan kepada 4 perusahaan swasta yang melibatkan 96% operator angum lama/tradisional. Sudah saatnya sistem angum di Indonesia ataupun khususnya di Kota Medan menjadi perintis untuk mengubah sistem angum yang overprivatised. lalu dijadikan sebagai pilot project (sebagai contoh/pedoman langkah berikutnya). dilaksanakan dan dievaluasi. Ini juga membutuhkan kesadaran yang tinggi terhadap petugas dan pejabat terkait dari instansi perpajakan. Pengalaman mereka sebagai operator dari sistem angum tradisional yang dijadikan sebagai bagian daripada sistem BRT yang baru bernilai sebagai aspek kunci dari kesuksesan sistem BRT dan mencegah adanya protes serta kemungkinan aksi demonstrasi atas pelayanan sistem BRT tersebut. pelaksaaan dan pengawasan yang lebih transparan karena melibatkan uang rakyat. Bus-bus baru tersebut digunakan sebagai bus pengumpan (feeder) untuk mengangkut penumpang dari daerah-daerah sekitar dan yang jauh yang akan menggunakan system Transmilenio. 2005): 59 .7 Darimana Harus Dimulai? Penentuan prioritas tindakan. Bila ada subsidi BBM mengapa tidak diciptakan subsidi angum? Sudah saatnya Pemda maupun Pemerintah Nasional terlibat penuh dalam pengembangan angum seperti yang dilakukan oleh negara-negara sedang berkembang maupun negara-negara maju lainnya. pengaturan sistem bus pengumpan (feeder service sebagai sistem pendukung yang tidak masuk ke main line) dan seterusnya satu persatu dibahas. Demikian juga kontrak pengadaan sistem feeder service dan renovasi bus yang lama diserahkan kepada operator angum tradisional melalui tender dengan sistem subsidi silang.A. pemerintah telah melibatkan pengusaha angum tradisional dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Bangun Bila BP (Badan Pengelola) atau UPT/UPTD dari Dishub tidak lagi sesuai dalam pelaksanaan ataupun pengawasan pelaksanaan operasional sistem angum maupun penerapan peraturan secara konsisten ini maka dapat menunjuk suatu BUMN atau Perusahaan Daerah untuk melakukannya sesuai dengan proses tender (dengan prinsip. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan sumber daya bagi Pemda guna penerapan peraturan secara konsisten yang mengakibatkan pelaksanaan peraturan dapat “dinegosiasi” di lapangan. dan lebih melibatkan pemerintah dalam pengelolaan/ operasional maupun pengawasannya. Berikut ini dipaparkan secara garis besarnya apa yang dilakukan oleh Bogota sehingga implementasi BRT Transmilenio sukses dan menguntungkan yang dapat dijadikan pelajaran bagi Kota Medan dalam rencana implementasi monorel di Kota Medan. ditentukan urutan prioritasnya. Setiap kali terjadi penambahan bus Transmilenio baru maka beberapa angum lama harus dieliminasi dari sistem. sehingga pada 18 Desember 2000. Sejak rencana awal program BRT Transmilenio. pemenang tender adalah yang dapat memberikan kontribusi terbesar kepada Pemda) karena diharapkan pengelolaan. Operator yang masih perorangan.3. Bogota mulai membicarakan revitalisasi sistem angumnya di tahun 1998. 3.3.

Direktorat Jenderal Bina Marga. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? Suatu Opini. Satellite Cities. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah. 18. A... Penerbit Beta Offset. F. P. R. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. R. Powerpoint Transparansi. R. Munawar. Napitupulu. 13. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. p.km Pembayaran menagih Biaya operasi: kend-km x Rp/km Rute 2 Pendapatan Operasi Rute ke . and Bangun. Medan. Hasamagaola 3-25-3. ----------. 1992. Vol. dan Bertini. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 2. Hyogo-ken. R. F. ----------.2005. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.. Napitupulu. Jakarta. Suatu Opini. Jogjakarta.. 13. ----------. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Jakarta. Bandung. H. F. Bangun.. International Planning Studies. University of Tokyo. p. Dinas Perhubungan Kota Medan. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan. 1.. 15 January 2005. 4. Harian Waspada: Medan. P. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Suatu Opini.. No. p. 1993. A. Medan. A Case Study of Istambul. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB.T. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius.. 2006. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. R. F. 13.. 6. F. 4 Oktober 2006 Penerimaan Non Operasi Pengeluaran Operasi MANAJEMEN Jika defisit: Penerimaan subsidi Pendapatan Operasi Pendapatan Operasi Jika surplus: Untuk pengembangan sistem Produksi: Rute 1 kend . Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65 Tahun 1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Japan 669 . Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. Portland State University. Bangun. R. F... Vol. Suatu Opini. Januari 2006.. 60 . Bangun.n Gambar 1. 31 Januari 2005. Suatu Opini. 2003. p.L.. Jogjakarta.. F. Harian Waspada: Medan. 2006. and Bangun. 103 – 108. 13 November 2004.. P. Suatu Opini. Napitupulu.. Sutomo.. Portland. Harian Analisis: Medan. dan Alkhairi. and Bangun.. p. Sanda-shi. dan Alkhairi. Department of Urban Engineering. 2005. DAFTAR PUSTAKA Bangun. Departemen Pekerjaan Umum RI. Powerpoint Transparansi. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. Februari 2006. 13. Usulan Manajemen Satu Payung bagi Sistem Angkutan Umum Kota Medan 4.. Menteri Perhubungan RI. p. Ghana. 2004. No. 3. F.1545. pp. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 1. dan Napitupulu. Turki. A Case Study of Accra Metropolitan Area. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. and Bangun. The Urban Satellite Field Concept. 4. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? Suatu Opini. pp 9 – 32. No. Sorensen.. Medan. M. 1. 19 November 2004. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. April 2006. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. dan Alkhairi. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Leal. p. 21 Maret 2005. Napitupulu. 2001. 2005.

progrowth. selalu dalam posisi disempowered tidak memiliki aksesibilitas. Sejumlah kegiatan dapat efektif bila dilakukan secara individu (individual action). Selanjutnya. namun ada juga kegiatan yang hanya akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama/gerakan bersama (collective action). Komoditas Unggulan. Sumatera Utara memiliki 18 kabupaten. dan mereka tidak mampu mempresentasikan diri.4 juta jiwa atau 18.6%. Pemerintah menegaskan kebijakan dasar yakni Triple-Track-Strategy = “pro-poor. 7 kota.5% menjadi 8. dan 5. Pembangunan agropolitan memberi solusi ideal untuk mengatasi ketimpangan antara desa dan kota sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara.8 juta (68. 8. investasi masyarakat meningkat dari 16. Hingga saat ini tingkat pertambahan penduduk masih tinggi. Keadaan tersebut diperkirakan saat ini meningkat tajam menjadi 63.6 juta jiwa atau 28. petani masih dijadikan sebagai “bahan presentasi” obyek politisi. dan kaidah distribusi pendapatan (income distribution). Secara umum yang melatarbelakangi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani melalui pengembangan kawasan agropolitan dan agroindustri antara lain: persentasi penduduk miskin rawan dan sangat rawan pangan hingga pada tahun 2002 masih mencapai 36.5% menjadi 7.PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA Staf Pengajar Kopertis Wilayah I/Ketua Tim Teknis Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara Abstrak: Pembangunan kawasan agropolitan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.5% per tahun. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 telah mencapai kisaran 220 juta dengan pertumbuhan 1. Kaidah ekonomi aksi (economic of action).14%) adalah petani di pedesaan 11.86%) di perkotaan. dan secara umum pertumbuhan industri kecil meningkat ratarata 3. Agroindustri PENDAHULUAN Sumatera Utara terletak pada 1-4° LU dan 98100 ° BT dengan luas 71. bahwa untuk mengefisiensikan aliran barang/jasa dalam ruang dan waktu. pertumbuhan industri pengolahan non migas dan lain-lain meningkat masing-masing 3.2%.8%.6% menjadi 8.6%. Pemerintah telah menetapkan beberapa tolak ukur keberhasilan antara lain bahwa dalam periode akhir tahun 2004 hingga 2009 jumlah penduduk miskin akan berkurang dari 16.5% menjadi 5. 678 jiwa.9% jumlah penduduk. terdiri dari 24. Kaidah permintaan turunan (derived demand). Pembangunan ke arah modernisasi pertanian akan semakin penting artinya. sehingga produksi usaha tani mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.4 juta (3 1. Desa-Kota. perlu diupayakan agar industri yang berkembang di agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya. kegiatan ekonomi yang mempunyai index material (rasio fisik bahan baku dengan produk akhir) harus lebih besar dari satu.1% dari rakyat Indonesia. ilmuwan. menjadi “komoditas” politik/demokrasi dan nasibnya tetap sebagai petani gurem. jumlah pengangguran terbuka berkurang dari 9. Hal ini didasari bukan hanya karena terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan akan tetapi karena tingginya potensi di kawasan pedesaan untuk dimanfaatkan sebagai alat mendorong pembangunan. pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5. pro-job. dan 6.4%. Bilter Sirait 61 . jumlah ekspor meningkat dari 5. 326 kecamatan. pengembangan agropolitan didasari atas beberapa kaidah ekonomi: kaidah ekonomi lokasi (economic of location).7%. pemerintah. 326. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam konteks pengembangan mengingat kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal dan komoditas unggulan serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani karena mengimplementasikan pembangunan secara holistik dalam kegiatan on farm dan off farm. khususnya di era perdagangan bebas yang merupakan tindak lanjut persetujuan sistem perdagangan bebas seperti Asean Free Trade Area (AFTA) dan Global Agreement Trade and Tariff (GATT).680 km2. Petani menghasikan produk yang memiliki nilai tukar sangat rendah sehingga daya beli masyarakat di pedesaan sangat Iemah. Dalam era globalisasi tersebut usaha tani harus mampu menghasilkan komoditas yang lebih murah namun bermutu tinggi.0% menjadi 24. Kaidah skala ekonomi (economic of scale) yakni suatu kegiatan ekonomi memerlukan skala usaha (business size) tertentu yang optimal untuk mencapai efisiensi ekonomi. Kata kunci: Agropolitan. Menurut Sembiring dan Sitepu (2006).5%.25% per tahun sehingga secara nasional kebutuhan terhadap hasil komoditas pertanian masih terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas.1%.466 desa/kelurahan dengan jumlah penduduk tahun 2005 sebesar 12. aktivis.

industri pembuatan kaleng. Sebagai contoh suatu kawasan yang lahannya sesuai untuk komoditas nanas. dilain pihak desapun kehilangan tenaga-tenaga produktif yang seharusnya sebagai bagian dari mata rantai roda kehidupan dan roda ekonomi perdesaan. Setiap kawasan tentunya dikembangkan dengan spesifikasinya sendiri (1 Agropolitan dengan 1 komoditi unggulan). Salah satu penyebab dibutuhkannya kawasan agropolitan ini adalah tingginya arus urbanisasi. sementara pemerintah pusat/propinsi memberi dukungan melalui pelatihan bagi petani nanas. No. merupakan alternatif pembangunan perdesaan melalui urban-rural linkages untuk mencegah terjadinya urban bias (http://www. kemudian di agropolitan dikembangkan industri pengalengan nenas. Pengembangan sektor industri dan jasa di perkotaan dimaksudkan untuk memfasilitasi atau mendukung pembangunan pertanian-pedesaan. Dari sisi peta kemiskinan kondisi tersebut di atas telah menimbulkan kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan dan menghasilkan kemiskinan di perdesaan.id) Dalam kaitannya dengan pembangunan daerah. Pada tahun yang sama. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah terjadinya migrasi penduduk perdesaan ke perkotaan akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian.277. yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. pengembangan kawasan agropolitan ini akan mengintegrasikan program/proyek-proyek multisektor yang telah berjalan selama ini sehingga efek sinergisnya makin kuat dan manfaat yang dihasilkannya makin besar dan beragam. berkelanjutan dan terdesentralisasi.go. Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1.5% (tahun 1995) menjadi 40. Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta. adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani. yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. Karena itu pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanianpedesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. tingginya urbanisasi ditunjukkan dengan terjadinya konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan. juga akan semakin menurunkan produktivitas pertanian. Tercatat. Kalaupun ada program/proyek baru. 4 Oktober 2006 PENGERTIAN AGROPOLITAN Agropolitan terdiri dari dua kata yaitu Agro = pertanian. menarik. Apabila proses urbanisasi yang tidak terkendali semakin mendesak produktivitas pertanian dibiarkan akan mengancam ketahanan pangan nasional. mendorong.5% (tahun 1998). Karena itu. Tetapi setiap daerah harus mempunyai komoditi unggulan atau karakter tersendiri. politan = kota. Proses urbanisasi yang tidak terkendali.nakertrans. hanyalah untuk memperkuat atau memfasilitasi efek sinergis dalam ruang dan fungsi. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecenderungan aliran bersih (transfer netto) sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besarbesaran dengan disertai derasnya proses (speed up processes) migrasi penduduk secara berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. Pembangunan suatu daerah jangan meniru (blue print) dari daerah lain yang sudah berhasil. Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) Sumatera Utara telah dimulai pelaksanaannya pada awal tahun 2004 sedang penyusunan master plan dilakukan pada tahun 2003 setelah penanda tanganan Nota 62 . Pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan fakta tersebut. pengembangan agropolitan pada dasarnya bukanlah program/proyek yang benar-benar baru. melainkan lebih menekankan pada upaya-upaya mensinergikan dan mengintegrasikan program/ proyek yang telah ada selama ini. PENGEMBANGAN AGROPOLITAN Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Perpindahan ini pun memberikan dampak di berbagai kota yaitu mengalami urbanisasi berlebihan (overurbanization). Dan kota-kota yang berkembang adalah kota rural-urban (rurban) di mana karakteristik rural (pedesaan) dan karakteristik (perkotaan) terintegrasi secara harmonis. Sumatera Utara misalnya pada tahun 2003 telah mengeluarkan komoditas-komoditas unggulan pada suatu kawasan agropolitan dengan komoditas unggulan tertentu pula. Yang perlu diupayakan ialah bagaimana agar industri yang berkembang di Agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya. dukungan pemasaran dan informasi. menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Dengan kata lain yang dikembangkan di perkotaan adalah fungsi-fungsi dari sistem agribisnis mulai dari hulu sampai ke hilir. Secara lebih mikro. berbasis kerakyatan. pengangkutan dan lain-lain. sehingga pendekatan pembangunan selama ini yang banyak mengakibatkan urban bias harus menjadi perhatian semua pihak. Data Survei Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37.

diperkenalkan apa yang disebut dengan program kawasan agropolitan. Pendidikan dan pelatihan yang diperlukan adalah: 1. Juga perlu dikembangkan industri pengolahan dan industri turunananya/ikutan. dan Dairi) pada 28 September 2002. benih. (2) Subsistem usaha tani (on-farm agribusiness). Karena itu kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. Dengan demikian. alat dan mesin pertanian. up-stream. kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. Tapanuli Utara. Departemen Pertanian mengembangkan paradigma baru pembangun ekonomi berbasis pertanian. transportasi. Sistem pendidikan dan pelatihan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memperhatikan aspek kemampuan dan budaya masyarakat. pestisida. desentralisasi. kebijakan pemerintah. telekomunikasi dan informasi dan air bersih). Paradigma baru yang dimaksud adalah: ”Membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Pelatihan pengolahan produk pertanian 3. down-stream agribisnis dan services for agribusiness. penyuluhan. Inilah yang disebut dengan “kota pertanian” (agropolitan). (3) Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yakni pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya. Berdasarkan teori ekonomi lokal. infrastruktur. Pelatihan manajemen pemasaran 4. dan (4) Subsistem jasa penunjang (services for agribusiness) seperti penelitian. Fasilitator yang digunakan sebaiknya memanfaatkan sumber daya yang ada di kawasan agropolitan. maka dalam suatu kawasan akan dikembangkan kegiatan agribisnis mulai dari up-stream agribisnis. serta desa dan kecamatan yang berbatasan sebagai pendukung. pengembangan kawasan agropolitan merupakan implementasi spasial (ruang) dari pembangunan sistem agribisnis. kegiatan ekonomi yang memiliki indeks material (rasio fisik antara bahan baku dengan produk akhir) lebih besar dari satu. Pelatihan manajemen keuangan ALASAN PEMBANGUNAN AGROPOLITAN Konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pedesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal (Setia Hadi.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait Kesepakatan 5 Bupati yang berada di kawasan Dataran Tinggi Bukit Barisan (Karo. jaringan listrik. Perlu dikembangkan infrastruktur prasarana dan sarana serta kelembagaan lainnya yang menunjang agropolitan (sarana transportasi jalan dan jembatan. Berdasarkan prinsip ekonomi tersebut. 2006). Pelatihan kultur teknis budidaya pertanian 2. sesuai dengan potensi agribisnis di daerah yang bersangkutan. berkerakyatan. Sub-sistem jasa penunjang akan mengikuti di mana lokasi on-farm. Untuk ”membumikan” pembangunan sistem agribisnis tersebut di setiap daerah. sehingga diharapkan dalam waktu dekat dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Umum Tataruang (RUTR) dan ditetapkan dengan PERDA. penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital 63 . Toba Samosir. dan down-stream dikembangkan. Berbagai bentuk pemerasan tersebut antara lain. demokrasi) pada tahun 2000. sehingga koordinasi kegiatan pengembangan dari masing-masing dinas terkait dapat lebih terfokus dan saling mendukung. Pengembangan ini diarahkan pada di desa pusat pertumbuhan di Kecamatan Nagari Lambah. Sistem agribisnis yang dimaksud mencakup 4 subsistem (1) Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni usaha industri pupuk. Serta perlu dikembangkan jasa keuangan (perbankan) dan asuransi. perkreditan. on-farm agribisnis. Untuk meng-adress isu aktual pengembangan ekonomi 3D (daya saing. Sedangkan bila indeks material kurang dari satu (seperti up-stream agribusiness) harus dikembangkan dekat dengan sentra konsumsinya yakni para petani di kawasan pedesaan. Pengembangan kawasan agropolitan sebagai implementasi spasial dan sistem agribisnis. dengan terlebih dahulu mengikuti studi banding ke kawasan yang memiliki karakteristik sumber daya alam yang sama. dengan diketahui/didukung Gubernur Sumatera Utara dan Menteri Pertanian RI. Paradigma pembangunan yang bias kota akan mendorong terjadinya proses pemerasan surplus pedesaan pertanian. Karena itu industri pengolahan hasil pertanian (down-stream) harus dikembangkan di sentra produksi pertanian. Simalungun. Teori ekonomi lokal membimbing di mana industri up-stream dan downstream agribisnis harus dikembangkan agar pergerakan barang dan jasa dalam ruang efesien. Beberapa infrastruktur yang dalam waktu dekat diperlukan untuk Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) dalah: • Infrastruktur jalan usaha tani • Infrastruktur jalan usaha tani di desa sekitar pusat pertumbuhan • Infrastruktur jalan poros desa di desa pusat pertumbuhan • Infrastruktur pasar desa di desa sekitar • Infrastruktur pusat data dan informasi • Infrastruktur saluran irigasi • Pembangunan gudang penampungan dan penyimpanan produk pertanian. Mengingat bahwa dalam FGD tersebut terungkap bahwa saat ini rencana pengembangan kawasan baru berupa master plan. berkelanjutan dan dilaksanakan secara desentralisasi”. didasarkan pada teori ekonomi yakni teori ekonomi lokasi (economic of location) dan teori skala ekonomi (economics of scale). Sedangkan teori skala ekonomi akan membimbing berapa besar skala usaha down-stream dan up-stream yang harus dikembangkan.

Bagi komoditas terpilih-durian.. dan dalam pengembangan kota-kota dan pedesaan sehingga kawasan agropolitan mampu bersaing dalam perdagangan internasional termasuk produksi dan hasil-hasil agribisnis dan agroindustri. IRR (Internal Rate of Return) bagi tanaman tahunan. sering juga dihitung Break Even Point (BEP) produksi yakni total biaya per harga penjualan serta BEP harga yaitu total biaya per total produksi. yang pasti tulisan ini juga sekaligus untuk proses pengkayaan di dalam menyusun detail planning. faktor risiko. Dalam hal ini r pertumbuhan tiap tahun dalam % merupakan proporsi tingkat luas panen. apakah sudah mengikuti prosedur baku Pakpak Barat untuk menentukan durian sebagai komoditas unggulan. ketersediaan oksigen (oa). Menurut laporan akhir tim teknis kelompok kerja pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (2005) bahwa beberapa variabel untuk menentukan komoditas unggulan sebagai berikut: luas areal. dan Tidak Sesuai. Perbandingan antar komoditas diurut. selanjutnya dilakukan pembobotan dan scoring terhadap indikator keunggulan. media perakaran (rm). Sesuai Marginal. derivat produk dan ketergantungan impor. Selain hal itu. KK dihitung sebagai berikut: KK = (Std/Ya) x 100 % KK = Koefisien keragaman masing-masing indikator prioritas Std = Standar deviasi masing-masing indikator prioritas Ya = Rata-rata aktual masing-masing indikator prioritas Tahap berikutnya untuk penentuan selang interval (Δ) adalah: ΔI = (Xmax – Xmin) / JI ΔI = selang interval JI = jumlah interval (berkisar 3-5 bila kurang dari 30 populasi-kecamatan) 64 . produktivitas. penghasil devisa. tiap indikator keunggulan dianalisis dengan metode statistik non parametrik yang menghitung r (rata-rata pertumbuhan per tahun) dan KK (koefisien keragaman). Selanjutnya.30 km2 secara de facto sudah memasyarakat. hanya pengelolaannya barang kali perlu lebih intens sebab masih terbuka kemungkinan penggunaan teknologi baik di on farm maupun off farm. hanya saja barang kali belum intens dikelola oleh pemerintah daerah. nilai ekonomis. Dalam hal ini BEP adalah titik impas usaha dan sering berhubungan dengan IRR. produksi. produktivitas tahun ke-t dengan tingkat luas panen. ketersediaan hara (na). STRATEGI PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN UNTUK MENDUKUNG AGROINDUSTRI Durian di Kabupaten Pakpak Barat misalnya dapat dikatakan banyak dihasilkan oleh masyarakat dan relatif sudah intens budidayanya sehingga sekaligus telah mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (b) pelarian sumber daya manusia terdidik (brain drain) dari pertanian pedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. B/C rasio adalah proporsi tingkat keuntungan dengan total biaya. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user) dan mekanisme transaksi antar sektor. pemasaran. di mana suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat bila B/C > 1. Pembangunan agropolitan memiliki hubungan yang saling menguntungkan dan menciptakan sinergis dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri komoditi unggulan. Sedang jenjang ke-3 yang juga mungkin diperlukan adalah pusat seluruh kawasan yang berfungsi mendukung seluruh pusat-pusat distrik dan menyediakan hal-hal yang tidak tersedia di pusat distrik. Banyak durian yang ditemukan di Kota Medan berasal dari Pakpak Barat dan menurut informasi memiliki sifat merekah beberapa minggu dan lebih lama merekah dibanding dari durian lainnya yang berasal dari Sumatera Utara. Hal ini juga karena derivasi durian dimaksud banyak serta telah memiliki jaringan pemasaran yang baik. Metode analisis skoring pemilihan. sehingga dapat ditentukan komoditas calon unggulan untuk bahan analisis berikutnya. keragaan usaha tani dinilai Benefit Cost Ratio atau B/C rasio untuk tanaman semusim. ketersediaan bibit. produksi. 4 Oktober 2006 drain) melalui nekanisme urbanisasi. dan penyiapan lahan (lp). business planing agropolitan di KADTBB. produktivitas sebelum tahun ke-t dikurang satu dikalikan dengan 100 %. Kondisi biofisik yang digunakan sebagai dasar penentuan kualitas dan karakteristik lahan dalam analisis kesesuaian lahan adalah: ketersediaan air (wa). durian yang merupakan komoditas unggulan dari Kabupaten Pakpak Barat yang memiliki luas daerah 1 218. Pada analisis derajat keunggulan komoditas. Penulis memang belum tahu sepenuhnya. Kota-kota pertanian yang dibangun mempunyai jenjang (hierarki) sesuai dengan fungsinya. Paling sedikit ada 2 jenjang yaitu (i) kota pusat lokalita atau kawasan usaha tani yang langsung dilayani dan (ii) kota pusat distrik yaitu kota yang melayani beberapa kota pusat lokalita atau yang melayani semua kawasan secara langsung. luas panen atau populasi. Penilaian untuk masing-masing komoditas untuk tiap sub sektor adalah berdasarkan data sekunder tentang perkembangan komoditas yang bersangkutan di setiap kecamatan target pengkajian. keterlibatan masyarakat. No. Untuk analisis ekonomi komoditas sumber utama pendapatan. retensi hara (nr). Kesesuaian lahan untuk tiap komoditas pada setiap satuan tanah dibedakan menjadi Sesuai. Parameter utama yang menjadi acuan di antaranya luas tanam. seperti dalam pengolahan hasil pertanian. produksi. kesesuaian lahan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.0. Selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian lahan bagi komoditas unggulan.

(4) lingkungan usaha. tidak strategis). kurang tersedia). tidak sesuai). dihitung skor rata-rata untuk masing-masing indikator berdasar rata-rata pertumbuhan per tahun dan KK. ketersediaan lahan (sangat tersedia. Lemahnya kepastian hukum juga tercermin dari tumpang tindihnya kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. akses dengan ibukota propinsi). Meskipun dengan tingkat pajak progresif yang diperkirakan relatif sama dengan negara-negara lain. = Pengamatan tertinggi dari nilai r. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan para investor dalam berinvestasi di suatu daerah adalah faktor: (1) yuridis. keterkaitan dengan daerah lain (sangat terkait. tidak sesuai rekomendasi). dalam menarik penanaman modal di Indonesia. Analisis derajat keunggulan wilayah. bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. KK atau nisbah X min. penerapan teknologi (sesuai rekomendasi. tidak respons). Sebagai perbandingan. Simanjuntak (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa upaya dan langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembanguan agropolitan sebagai berikut: A. 2006): 3. (3) pasar. terkait dengan pusat pertumbuhan lain. Dibandingkan dengan negara-negara lain. seperti yang diharapkan oleh investor. tersedia. Lemahnya insentif investasi. kondisi sarana dan prasarana (sangat memadai. Selain itu juga keragaman/variatif yang besar dari kebijakan investasi antar daerah. Berdasarkan studi Bank Dunia pada tahun 2004. 4. untuk memulai usaha di Malaysia hanya melalui 9 prosedur dengan waktu yang dibutuhkan hanya 30 hari dan biaya yang diperlukan hanya sekitar 25 persen dari per capita income (sekitar US$ 945). dan kapasitas dan sistem dan jaringan infrastruktur karena sebagian besar dalam keadaan rusak akibat krisis. cukup respons. Rendahnya kepastian hukum. kurang strategis. (5) sumber daya manusia. Skala dan bobot penilaian keunggulan wilayah pengembangan komoditas unggulan adalah berdasar parameter kesesuaian lahan (sesuai. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi para investor di Indonesia saat ini adalah (Simanjuntak. mendekati rekomendasi. Investor akan tertarik untuk investasi apabila faktor-faktor yang dianggap penting telah disediakan oleh kabupaten/kota dengan baik. termasuk insentif perpajakan. Prosedur perizinan investasi yang panjang dan berbelit-beli. kurang memadai). KK atau nisbah Untuk penentuan interval aktual sebagai berikut: Interval (Xmin) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Skor 1 2 3 1. Fokus pada Beberapa Komoditi Unggulan Pelaksanaan kegiatan sudah dapat segera dimulai pada beberapa komoditi unggulan yang dinilai sangat 65 . Kesemuanya ini mengakibatkan ketidakjelasan kebijakan investasi nasional yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi. = Pengamatan terkecil dari nilai r. UPAYA UNTUK MEMACU INVESTASI Dalam konteks pengembangan ekonomi lokal. Ini tercermin dari antara lain berlarutnya perumusan RUU Penanaman Modal dan lemahnya penegakan hukum yang terkait dengan kinerja pengadilan niaga. Implikasi signifikan dari pengembangan manufaktur yang belum berbasis pada kemampuan penguasaan teknologi dan masih relatif rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja. perizinan untuk memulai suatu usaha dari berbagai instansi terkait baik pusat maupun daerah di Indonesia membutuhkan lebih lama dengan 12 prosedur yang harus dilalui dengan waktu yang dibutuhkan selama 151 hari (sekitar 5 bulan) dan biaya yang diperlukan sebesar 131 persen dari per capita income (sekitar USS 1. Berdasar nilai skor akhir kemudian ditentukan selang interval untuk menentukan keunggulan komoditas sebagai berikut: Interval (Xmin)----(Xmin + ΔI) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Golongan Komoditas Penunjang Potensial Unggulan 2. respons terhadap teknologi (sangat respons. letak geografis (strategis. jelas bahwa masuknya investasi sangat dibutuhkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Indonesia relatif tertinggal dalam menyusun insentif investasi. Kualitas SDM yang rendah dan terbatasnya infrastruktur. Selanjutnya. dan (7) penghasilan.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait X max. Kurang bergairahnya iklim investasi juga disebabkan oleb keterbatasan dari daya saing produksi (supply side). Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpangsiuran kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kebijakan investasi. sesuai bersyarat. Karenanya pemerintah daerah perlu mengkreasi kebijakan untuk memberikan jaminan kondisi yang mantap bagi masuknya investor. memadai. sistem perpajakan di Indonesia kurang memberi kelonggaran-kelonggaran perpajakan dalam upaya mendorong investasi. (2) infrastruktur. (6) risiko.163).

Peningkatan Penyuluhan dan Konsultasi Bisnis serta Koperasi Petani. Jeruk siam madu (jeruk berastagi). dan Taput). ketersediaan teknologi dan SDA banyak terbuang atau hanya sedikit dimanfaatkan apabila SDM petani tidak mempunyai kemampuan entrepreneur. modal perbankan. lahan untuk pakan hijauan yang cukup luas. 4. Pemberdayaan dan Perkuatan Kelembagaan Petani Selain peningkatan SDM petani secara individu. Dengan adanya beberapa jenis bibit unggul. varitas yang cukup tinggi produktivitasnya. manfaat dan nilai kotoran untuk menghasilkan pupuk kompos dan pengalaman petani yang sudah agak memadai.Pengalaman masyarakat tani yang sudah ada mengusahakannya Berdasarkan kriteria ini telah ditetapkan 6 komoditi unggulan yang akan dikembangkan secara intensif di Sumatera Utara: 1. produsen dan pemasok sarana produksi). Peningkatan Kemitraan dan Investor Ujung tombak dari kegiatan agribisnis (termasuk agroindustri) dalam kawasan agropolitan adalah petani dan dunia usaha (pengolah. koperasi petani. adalah kelompok tani sehamparan. Yang paling penting disediakan/ditingkatkan adalah modal usaha. No. Karena tingkat rentabilitas dari ke 6 komoditi unggulan di atas yang cukup tinggi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. antara lain: . Tobasa. kopi sidikalang sudah mendunia yang didukung oleh lahan di atas 1000 m dpl yang cukup luas dan adanya investor/penguasaha yang berminat bermitra dengan petani. Samosir. teknologi antara lain pasar domestik yang sangat besar. bibit. dan teknologi pengolahan . sarana produksi dan pabrik pengolahan. 6. potensi ekspor yang juga besar. permintaan domestik untuk pakan ternak cukup besar. Kopi arabica: kopi lintong. jenis pedaging dan perah.l. adanya varitas ekspor yang sangat sesuai (Varitas IPB dll. eksportir. diperkirakan petani dan mitra pengusaha (pengolah dan eksportir) sangat berminat mengusahakannya. Namun hal ini harus dibina secara bertahap dan jangka panjang. konsultasi atau studi banding bagi pengurus-pengurus organisasi tersebut. Peluang pasar. terutama di kabupatenkabupaten yang belum begitu berkembang agribisnisnya (Pakpak Barat. Untuk ini upaya peningkatan permodalan petani harus sungguh-sungguh diupayakan misalnya pemberian modal bergulir dari pemerintah. Ketela rambat: adanya bibit yang cukup unggul termasuk ubi jepang. Dalam tahap pertama mungkin perlu diberi bantuan 66 . B. juice. pasar yang cukup besar. Nenas: pasar yang sangat besar. pakan dari limbah pertanian yang cukup banyak. Juga kemitraan sangat penting dilaksanakan untuk menampung hasil. D. asosiasi petani sejenis. 4 Oktober 2006 layak dan mempunyai prospek baik dalam jangka panjang walau detail planning belum sepenuhnya rampung. C. 2. pengalaman petani sudah cukup banyak dalam budidaya. pasar domestik yang besar dan adanya potensi pasar ekspor. Untuk itu peningkatan kemampuan petani sebagai entrepreneur dan manajer usaha tani adalah mendesak dilakukan. E. Hal ini juga memerlukan penyuluhan dan bimbingan sekaligus yang dapat bertindak sebagai konsultan bisnis. mengolah. 5. perhitungan biaya. lahan yang cukup luas dan sudah adanya pabrik pengolahan (konsentrat. memperkuat posisi tawar dalam pemasaran dan pembelian input.Kelimpahan sumber daya alam . dan pengalengan). teknologi budidaya. Jagung: adanya bermacam-macam bibit unggul. Hal ini meliputi bidang teknik.Prospek pasar yang cukup baik di pasar domestik dan pasar ekspor . kerjasama atau asosiasi petani sejenis perlu dikembangkan. pengalaman petani yang sudah cukup banyak. modal ventura dan modal yang disalurkan melalui mitra. Humbang Has. pedagang. lahan yang cukup luas. manajemen. Kelemahan SDM petani adalah merupakan penghambat utama dalam pelaksanaan program pengembangan KADTBB. dan permodalan.). Juga untuk memperkuat posisi tawar petani dan mengefisienkan kegiatan operasi usaha tani. Wadah organisasi petani antara lain. pelatihan.Keadaan sumber daya alam yang sangat/cukup sesuai yaitu lahan. pemasaran. memasarkan dan menjamin penyaluran kredit. 3. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas perlu dilakukan penyuluhan. musyawarah desa dan badan perwakilan petani dalam pemerintahan desa dan kecamatan Pemberdayaan dan perkuatan lembaga-lembaga ini akan mempercepat petani dalam proses belajar (alih teknologi). iklim. topografi . wadah tempat petani bekerja sama adalah sangat perlu diberdayakan dan diperkuat. Kriteria pemilihan komoditi ini adalah. baik domestik dan ekspor (a. kemungkinan pengolahan untuk berbagai macam produk turunan. Penguatan Modal Salah satu hal tersulit dalam pengembangan petani adalah penguatan permodalan. Ternak sapi dan kerbau. lahan yang cukup luas dan budidaya yang cukup mudah. Jepang). dan memberikan hak bagi petani untuk ikut memutuskan perencanaan desa dalam penggunaan sumber-sumber yang dimiliki atau diperoleh dari pemerintah.Sudah ada teknologi yang cukup handal dimiliki (teknologi spesifik lokasi) terutama adanya bibit unggul.

2006. Menyempurnakan Tata Ruang Propinsi Tata ruang propinsi yang belum sesuai dengan tata ruang kabupaten perlu segera dirubah. Dukungan diperlukan dari DPRD adalah perubahan alokasi anggaran yang lebih baik dan pembuatan payung hukum program agropolitan. Hal ini disebabkan karena terjadinya penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital-drain) melalui mekanisme urbanisasi. Peningkatan Frekuensi Pertemuan Forum Pemkab Forum Pemkab yang telah dibentuk sebagai wadah diskusi. maka jaringan informasi perlu dikembangkan. pergudangan. pasar dan telekomunikasi. Evaluasi pengembangankawasan agropolitan. S. J. dalam konteks spasial. I. kebisingan). irigasi. dan mekanisme transaksi antar sektor. 27 Juli 2006. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user). Oleh sebab itu pada kawasankawasan sentra produksi yang sedang atau sudah berkembang harus segera dilengkapi dengan parasarana dan sarana-sarana pertanian penting. misalnya dengan membentuk koperasi simpan pinjam atau Credit Union (CU). dan Suhaedi. Selain prasarana pertanian. Meningkatkan Sosialisasi Program Agropolitan Program agropolitan masih perlu disosialisasikan pada berbagai stakes holder agar mendapat dukungan mereka. persoalan lingkungan (polusi. Sosialisasi kepada dunia usaha juga mendesak dilakukan untuk menarik dunia usaha melakukan investasi dan melakukan kemitraan dengan petani. para petani dan dunia usaha (KADIN. beberapa sarana penting dalam pertanian terbukti dapat mempercepat perkembangan agropolitan antara lain pembangunan cold storage. anggota DPR-RI. penyaluran informasi kepada semua kabupaten dan dinas-dinas propinsi perlu melakukan pertemuan teratur setiap 2 bulan dan pada saat-saat tertentu. supaya diadakan pertemuan yang lebih sering agar usul dapat dibahas secara mendalam dan keputusan bersama dapat dibuat lebih tepat. G. yang biasanya dibentuk oleh koperasi petani dan pembentukan dana agunan dibantu pemerintah. pasar melancarkan arus perdagangan dan memperbaiki struktur pasar sedang telekomunikasi memperlancar arus informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Pembuatan Website dan Jaringan Informasi Agar semua stakesholder. 67 . Oleh karena itu. Akhirnya apabila telah mampu. Jalan dapat memperlancar arus barang dan menurunkan biaya angkutan barang. Juga dapat diberikan pada petani subsidi (kredit tak berbunga) seperti modal bergulir dari Pemda. Pembangunan agropolitan akan memberi solusi ideal sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara. Usul perubahan selengkapnya harus segera disampaikan pada badan yang menangani perubahan tata ruang (Bappeda dan instansi lain) untuk di proses dan diajukan ke DPRD untuk disyahkan. Salah satu di antaranya adalah membuat website. Prasarana yang sangat bermanfaat adalah jalan. Selain itu juga disebabkan karena terjadinya pelarian sumber daya manusia terdidik (brain-drain) dari pertanianpedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. petani dapat menerima kredit komersial dari perbankan dengan bunga menurut pasar. Sementara. DAFTAR PUSTAKA Budiharsono. Website sudah dibuat. daerah perkotaan mengalami over-investment dan overpopulation yang tercermin dari makin banyaknya persoalan internal perkotaan seperti kemacetan lalulintas. sekarang tinggal mengisinya dengan data-data dan informasi dan memberi tahu masyarakat adanya website. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait hibah (gratis) kepada petani. Universitas Methodist Indonesia Medan. seperti bantuan bibit. sehingga produktivitas pertanian-pedesaan sulit dikembangkan. Pembangunan Infrastruktur Prasarana pertanian dan perekonomian sudah terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan pelaksanaan program pada kawasan agropolitan. Tahap selanjutnya dibina kegiatan menabung petani dan menyalurkan tabungan kembali kepada anggota. Para stakes holder utama adalah anggota DPRD kabupaten dan propinsi. packing house atau Sub Terminal Agribisnis (STA) yang menyediakan berbagai fasilitas. maka perlu juga dikembangkan lembaga penjamin kredit. publikasi melalui media massa dan pembuatan brosur dan buletin. banjir. KESIMPULAN DAN SARAN Proses pembangunan yang selama ini dilakukan. dan perusahaan-perusahaan). ASOSIASI PENGUSAHA. F. pembangunan dan pengembangan agropolitan yang didukung agroindustri mutlak dilaksanakan. telah menimbulkan permasalahan ketimpangan pendapatan antara wilayah desa (rural) dengan kota (urban). Akibatnya sektor pertanian-pedesaan menjadi underinvestment dan under-brain. para pegawai/staf dinas di kabupaten dan propinsi. H. Agar masalah agunan dapat diatasi. Kemudian dapat diberi kredit lunak atau bunga rendah atau kredit yang disupervisi (kredit modal ventura). kriminalitas. terutama waktu pengajuan usul RAPBD propinsi dan RAPBN. para camat dan kepala desa. pengambilan keputusan bersama. pasar dan calon-calon mitra dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan dan hal ikhwal kawasan agropolitan DTBB Sumut.

dan B. Masalah dan kendala perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan KADTBB Sumatera Utara. No. 27 Juli 2006. Pohan. Humus chemistry. 2006.. P. 2006. 27 Juli 2006. R. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. E. Mengenal buah unggul indonesia. F. Pasaribu. 2006.. John Wiley & Sons. Sianturi. 27 Juli 2006. 2006. Persepsi dan saran mempercepat pengembangan kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. T. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. B.. Universitas Methodist Indonesia Medan. Prihatini. Stevenson. Universitas Methodist Indonesia Medan.. Laporan Akhir. Konsep pembangunan desa-kota berimbang. dan I. B. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. 2006. 1990. Seminar International Fund for Agricultural Development (IFAD) Hanoy. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Sitepu. E. Nuswamarhaeni. 2006. Agropolitik pembangunan Sumut: Agropolitan dan agroindustri.. 27 Juli 2006. S. Konsep pengembangan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan dan agromarinepolitan pesisisr pantai dan pulaupulau kecil di Sumatera Utara. 1994. Saragih.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Universitas Methodist Indonesia Medan. Sirait. Pasaribu. Poverty Profile & The Alleviation Programs in Indonesia. D. Durian sebagai komoditas unggulan kabupaten Pakpak Bharat. Setia Hadi. B. R. J. Universitas Methodist Indonesia Medan. 27 Juli 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Nainggolan. Universitas Methodist Indonesia Medan. Vietnam. E.. 2006. Kawasan agropolitan. Crestpent Press Kampus IPB Baranangsiang P4W-LPPM IPB. Bberapa catatan tentang pengembangan agropolitan. Universitas Methodist Indonesia Medan. BPTP Sumatera Utara. Sumber daya komoditi unggulan jeruk pada tingkat lokalitas di kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan SumateraUtara. S. Inc. Tim Teknis Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. 5-6 April 2006. 4 Oktober 2006 Depari. B.. 68 . Penebar Swadaya. Sembiring.. Simanjuntak. A. 27 Juli 2006. S. 2006. 2005. S.

Reo. The amplitude oscillation was measured by noting the displacement of the liquid level at the surface. EXPERIMENTALS AND METHODS A schematic diagram of the experimental apparatus is shown in figure 1. characterizing the mixing performance in the so-designed column is important before applying in the industries. and gap size between baffles and column. Fluid Oscillation. Flow Pattern. which represents a ratio of column diameter to stroke length. However. The baffles were inserted into the column. which describes the intensity of oscillation applied to the column. the resulting radial velocity component is comparable to the axial velocity component in the space between two baffles. Gap Size INTRODUCTION Oscillatory flow in baffled columns has been reported in numerous publications as a promising method to enhance mixing in columns. Its top is open to the atmosphere. 1989. which is flanged to the bottom end of the column. 1989). efficient mixing in the column depends on many factors such as geometrical configuration and operating conditions. there is no correlation has been developed until now. The oscillating fluid motion interacts with each baffle to form vortices. A motor with a speed controller drives the bellows. measuring effective eddy propagation. and 6 mm respectively were investigated. the mixing time increased with gap size between baffles and column. 2. Variables studied were oscillation amplitude and frequency. The results showed that the mixing time decreased with oscillation frequency and amplitude. The first parameter is the oscillatory Reynolds number.1989) and axial dispersion coefficient (Mackley & Ni 1993). 94 mm in internal diameter and 1200 mm in height. The experimental system consists of a vertically mounted Perspex column. The tracer used was a KCl solution of 4 M which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both Taslim 69 . the characteristics of mixing in batch oscillatory flow mixing in the column by mixing time have not been investigated well. 4. Numerical simulation of oscillatory flow in the column has also been performed to study flow patterns in the device.peak oscillation amplitudes of 1-4 mm can be obtained by adjusting of the rod linking the bellows and the drive unit. which provides an oscillation frequency of from 1 to 3 Hz to the system. Tracer concentration measurements were used to determine mixing time. As a result. the objectives of current study are to investigate the mixing time in batch oscillatory flow mixing in a baffled column and to propose a correlation for mixing time. Therefore. heat and mass transfer are significantly improved (Mackley 1991). Mixing time was determined using tracer concentration measurements. Consequently mixing capability is enhanced in both directions (Brunold et al. and each set consisting of seven baffles. The fluid mechanics of oscillatory flow in a baffled column is controlled by the geometrical configuration of the baffles and two dimensionless parameters. Baffles with a spacing of 141 mm in between bafles supported by two stainless steel rods with a 6 mm diameter were installed in the column. The centre –to. Preliminary study of mixing time has been reported by Ni et al. A number of baffles setup made of polycarbonate were used. ρ ω xo D Reo = (1) μ The second parameter is the Strouhal number. Therefore. Dickens et al. and four gaps of 0. The tracer used was a KCl solution which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both the top and the bottom sampling ports. Dickens et al. The diameter of the baffle is 94 mm and each baffle has a central hole with a 50 mm diameter..THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN Department of Chemical Engineering. Keywords: Equilibrium Concentration. D St = (2) 4 π xo Characteristics of mixing in continuous oscillatory flow mixing in a baffled column have received much attention in recent years from residence time distribution (Brunold et al. however. for batch processes. and a stainless steel bellows. University of North Sumatera Abstract: The investigation of mixing time and flow pattern to characterize oscillatory flow mixing was conducted in a vertical baffled column. The basic mechanism of mixing in the column is to induce oscillatory motion of the fluid. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. However. The results of simulation are displayed as flow lines plots which confirm the finding of the experimental results. (1998). The oscillation frequency was measured using a digital tachometer. However. 1989. St.

5 mixing time Tracer conc. Push-fit.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. The vortex formed at the rear of the baffles is entrained by the flowing of the liquid through the gap. D≈Db (b).9 0. As a result. i. but longer time is needed to achieve an equilibrium concentration. It can be seen that the change of tracer concentrations in pushfit is faster than loose-fit. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Push-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm 70 . Figure 2 shows that both concentration curves quickly converged to an equilibrium concentration. vigorous vortices occur in the space between two baffles and consequently uniform mixing could be achieved. Loose-fit. Similar profiles also achieved in figure 3. x 100 (M) 1. Figures 2 and 3 show concentration profile during the experiments under oscillatory condition.3 0.5 1.2 0. which mean that the overall mixing time appear to be better for the push-fit than the loose-fit condition. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. and xo=2 cm Db Gap size D (a). C∞. The time dependent flow simulation was based on Navier-Stokes model using Femlab (Taslim & Takriff 2003).0 mixing time bottom concentration top concentration equilibrium concentration 0 80 160 240 320 400 Supporting rods Baffle spacing Time (s) Figure 2. the mixing time was measured as the time required for the response curve to reach 99% of the final value and remain within the limit. Tracer Concentration Against Time for Loose-Fit Baffles at f=1 Hz and xo=2 cm downstroke upstroke Figure 4. Columns Do 1. can be calculated from a mass balance as follows: Vinitial Cinitial + Vinjection Cinjection = Vfinal C∞ (3) RESULTS AND DISCUSSION Mixing time experiments with push-fit baffles was first carried out to establish a basis for comparison of experimental runs with loose-fit baffles at the same operational conditions.3 0. the time required for the overall concentration of the fluid to reach an arbitrary percentage of its final equilibrium value (Harnby 1992). Schematic Diagram of The Oscillatory Baffled Column In this work. this limiting its growth as shown in figure 5. shorter time was required to achieve equilibrium concentration in the presence of push-fit baffles. D>Db Figure 1.9 0.6 0. Figures 4 and 5 are the oscillatory flow patterns in the column obtained from numerical simulation. 4 Oktober 2006 Tracer conc.0 0 100 200 bottom concentration top concentration equilibrium concentration 300 400 500 600 Time (s) Figure 3. When liquid oscillation and push-fit baffles were present in the column. x 100 (M) the top and the bottom sampling ports.2 0.6 0. 1. the equilibrium concentration. The presence of the gap between baffles and column causes the change of mixing mechanism and it reduces the intensity of vortex formation. As the volume of the tracer is known. No.e. Tracer Concentration Against Time for Push-Fit Baffles at f=1 Hz.

Similar results were also obtained by Ni et al.46 St0.8 Mixing time (s) 300 225 150 75 0 0 5000 10000 15000 20000 25000 Reo 30000 Figure 6. These runs were carried out for a range of oscillation amplitude and fixed oscillation frequency at various gap size. The mixing time increases with gap size at constant oscillation frequency and amplitude.0 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm 0. mixing time increases with St (or decreases with oscillation amplitude).5 0. resulting vigorous vortices in the space between two baffles. This figure displays mixing time versus St at fixed oscillation frequency and various gap size. St 0. the liquid motions are displaced further at each stroke. However. and f = 1 Hz As can be seen in figure 7. 71 .91 D*5.7 Downstroke upstroke Figure 5. the intraction between liquid oscillation and baffles more significant. At a fixed St. the gapsize limits the mixing efficiency.The Investigation of Mixing Time and Flow Patern… Taslim 450 Mixing time (s) 375 300 225 150 75 0 0. Mixing Time Against St at Various Gap Size. Lower mixing times reflex better mixing in the column. Oscillation amplitude expressed as St has strong effect on mixing time as shown in figure 7. Mixing Time Against Reo at Various Gap Size.4 0.1 0. At higher oscillation amplitudes. The experiments with liquid oscillation were conducted for a range of oscillation frequencies and fixed oscillation amplitude at various gap size. the flow in each space between two baffles becomes chaotic.6 0. dimensionless mixing time (tm*) was correlated as a function of Reo. this correlation is the only one that has been developed for mixing time in oscillatory flow in a baffled column. This phenomenon causes the tracer quickly mixes with bulk flow in the column to reach an equilibrium concentration. as a result lower mixing times were obtained.1 (5) Untill now. CORRELATION In this study.2 0. and xo= 2 cm Several experimental runs were performed to determine the effect of oscillation amplitude on the mixing time. the tracer will rapidly mix with the bulk liquid in the column to reach an equlibrium concentration giving shorter mixing time. mixing time also increases with gap size in the range used. Figure 6 shows mixing time againts Reo at fixed oscillation amplitude and various gap sizes. Under this condition. However. a column diameter of 50 mm was used in their experiments. the mixing time decreases with oscillation frequency and amplitud. In the range tested. At higher Reo. (1998) for various orifice (baffle inner) diameters. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Loose-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm The effect of oscillation frequency on mixing time was also investigated.3 0.5 Reo0. Oscillation velocity expressed as Reo has significant effect on mixing time. 450 375 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm Figure 7. CONCLUSION The experimental results describes in this paper show that the oscillation frequency and amplitud. and gap size between baffles and column appear to be the controlling parameters which dictate the mixing efficiency in the oscillatory baffled column. which leads to enhancement in mixing. St and dimensionless diameter (D*) and could be expressed in a general form as follows: tm* = a Reob Stc D*c (4) The present data were fitted with equation (4) to give: tm* = 4. It can be seen that the mixing time decreses with Reo in the range studied.

1993. 72 . Eng. Mackey. m Db Baffle outer diameter. 1/s Reo Oscillatory Reynolds number St Strouhal number tm Mixing time.. 1998 A Systematic Study of the Effect of Geometrical Parameters on Mixing Time in Oscillatory Baffled Columns. Trans IChemE.R. H. A. The author also would like to thank Assoc. m Do Baffle hole diameter. Prof. 44 (5): 1227-1244. kg/m3 μ viscosity of liquid. Directorate General of Higher Education. Sci. Brogan. C. Chem. Experimental Fluid Dispersion Measurements in Periodic Baffled Tube Arrays. A.. 1989. Experimental Observations on Flow Patterns and Energy Looses for Oscillatory Flow in Ducts Containing Sharp Edges. and Ni. M D Colum diameter.F. Shahrir Abdullah from Department of Mechanical and Material Engineering. M. m ρ Density of liquid. Sci. 2003. Numerical simulation of oscillatory flow in a baffled channel. Ni. Hunn. 4 Oktober 2006 NOMENCLATURES C Tracer concentration.C.W. 48: 3293-3305. and Nienow. Takriff. Conf.f) V Tracer volume.R. and Thomson.. and. Dr.R. 1989.W. 69(A): 197-199.W.R. s tm* Dimensionles mixing time (tm. X. March 13-15.8-27 – 8-33.R. 1992. Bennett . Dickens. Ministry of National Education of Indonesia for providing financial support. and Wilson.C.B. Sci.. Eng. Oxford: Butterwort-Heinemann Ltd. J. Eng. Batam. kg/(m. rad/s ACKNOWLEDGEMENT The author would like to thank the DP2M. Trans IChemE. M.. REFERENCES Brunold.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.D. The 3rd Int. Chem.. Process Innovation Using Oscillatory Flow Within Baffled Tubes. 44 (7): 1471-1479.. Chem. Universiti Kebangsaan Malaysia. m D* Dimensionless diameter (D/Db) f Frequency.s) ω Angular frquency (2πf).. 2nd Edition. Mackley. No. G. Mackey. Mixing in the Process Industry. pp.. S. 2003. Experimental Residence Time Distribution Measurements for Un-Steady Flow in Baffled Tubes. M.S. J. X. 1991. Mackley.R. M.. 76(A): 635-642.. Edward.. William. Taslim and M. Indonesia.F. Harnby. M. N. on Numerical Analysis in Engineering. m3 xo Oscillation amplitude. Struthers. A. for the use of Femlab software.

dan antar bisnis dalam bidang tertentu semakin ketat. penelitian dan pengembangan. Analytical Hierarchy Process (AHP) for the experts of company. c. Strategi operasi adalah suatu visi fungsi operasi yang menetapkan keseluruhan arah atau daya dorong untuk pengambilan keputusan. Dewasa ini. terutama dengan telah disepakatinya aturan perdagangan bebas yang mulai berlaku tahun 2003 (AFTA). antar industri. persaingan antar perusahaan. Where as operation strategy is a pattern of making an operational decision which is consistent and it is a competitive superiority for the company. Membantu perusahaan dalam mengambil langkah-langkah operasinya dengan menggunakan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Sebagai implikasi dari definisi tersebut. manajemen strategis mempunyai fokus pada mengintegrasikan manajemen pemasaran.PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO Ukurta Tarigan Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh operasi. maka PT Growth Pamindo harus meningkatkan kemampuan bersaingnya antara lain dengan menerapkan strategi operasi dengan memperhatikan faktor-faktor internal operasi yakni memperkecil kelemahan dan bersamaan dengan itu. The formulation of operation strategy using a Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) was done through application of the decision making method. Sedangkan strategi operasi adalah suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Dengan diproklamirkannya era perdagangan bebas. yaitu ancaman-ancaman yang sedang dihadapi oleh operasi tersebut. diharapkan dapat berguna untuk: a. Keywords: Internal and External Analysis. and then making the analytical matrixes and formulating the operation strategy to be implemented by the company. PT Growth Pamindo dalam operasinya belum menggunakan strategi operasi apapun. III. maka diperlukan suatu strategi di tingkat fungsional. serta peluangpeluang yang dapat dimanfaatkan. 73 . Faktorfaktor eksternal juga merupakan bagian yang harus diperhitungkan agar strategi operasi yang dirumuskan nantinya dapat mengantarkan PT Growth Pamindo mampu memenangkan persaingan. kemudian membuat matriks-matriks analisis dan merumuskan strategi operasi yang akan dijalankan perusahaan. II. Strategi operasi seharusnya menghasilkan suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan suatu keunggulan bersaing bagi perusahaan. b. PENDAHULUAN PT Growth Pamindo merupakan perusahaan yang memproduksi pipa ductile. dan mengevaluasi keputusan antarfungsional dalam mencapai tujuan organisasi. strategy is a pattern of main action determined to realize the vision of organization through the mission. Untuk dapat memenangkan persaingan tersebut. TUJUAN PENELITIAN Perumusan strategi operasi ini. meningkatkan kekuatan yang ada. Menganalisis kekuatan-kekuatan dan kelemahankelemahan internal operasi serta posisi relatif operasi dalam industri yang bersangkutan. yaitu strategi operasi. Abstract: In business sphere. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi-strategi yang akan dijalankan dalam rangka pengembangan perusahaan dengan menganalisis faktorfaktor eksternal dan internal yang mempengaruhi operasi. produksi/operasi. This study intends to determine a proper strategy to be implement by the company by analyzing the internal and external factors influencing on operation. Kata kunci: Analisis Internal dan Eksternal Operasi. keuangan/akuntansi. strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). and Analytical Hierarchy Process (AHP) I. LANDASAN TEORI III. Universitas Sumatera Utara Abstrak: Dalam dunia bisnis. implementasi. Analytical Hierarchy Process (AHP).1 Definisi Manajemen Strategi dan Manajemen Operasi Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam formulasi. dan sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi. Selama ini. Perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) dilakukan melalui penerapan metode pengambilan keputusan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk para ahli dalam perusahaan.

No. Analisis internal ini meliputi. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi peluang dan ancaman utama. pemerintahan. kapasitas. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi yang terbaik. demografi. IV. dan Cleveland (1986) telah mendefinisikan bahwa strategi operasi terdiri dari misi. III.2 Proses Formulasi Strategi Proses formulasi strategi terdiri dari: . Tujuan dari analisis eksternal (external audit) adalah membuat daftar ancaman-ancaman dan peluang-peluang yang akan dihadapi perusahaan. sediaan. Pembuatan Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix. bidang sosial budaya. merupakan salah satu alat yang penting untuk membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: Strategi SO. 3. Data mengenai lingkungan internal dan ekternal operasi 2. Pembuatan Internal-External (IE) Matrix. Data kuesioner pembobotan untuk masingmasing faktor internal dan eksternal dengan menggunakan AHP kepada para ahli (experts) di perusahaan. V. sasaran. Langkah-langkah dalam tahap penyesuaian ini adalah: a.Tahap keputusan: Pembuatan QSPM.2.Tahap penyesuaian: pembuatan SWOT Matrix.4 Tahap Keputusan Pada tahap keputusan ini digunakan teknik analisis dengan pendekatan kuantitatif yakni Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.2. di mana masing-masing sel memiliki strategi masing-masing. Anderson. dan IFE Matrix .2 Tahap Input Pada tahap input ini. Analisis lingkungan eksternal meliputi: bidang ekonomi. Strategi WO. III.3 Tahap Penyesuaian Informasi yang diperoleh dari ketiga matriks pada tahap input sebelumnya digunakan sebagai informasi input dasar pada tahap penyesuaian. PENGUMPULAN DATA Adapun data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah: 1. b. dan lingkungan alam. bidang teknologi dan bidang kompetitif. dan hukum.2. dan identifikasi faktor kunci persaingan (key success factor) . keunggulan khusus. Data tingkat kepentingan untuk masing-masing faktor intenal dan eksternal dengan menggunakan skala likert. III. PENGOLAHAN DATA Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner AHP. 4 Oktober 2006 Schroeder. proses.2. Strategi ST. Pembuatan Strengths-Weaknesses-OpportunitiesThreats (SWOT) Matrix.1 Analisis Awal Analisis awal merupakan analisis data internal dan data eksternal perusahaan. Diagram formulasi strategi dapat dilihat pada gambar 1. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis eksternal.Tahap input: pembuatan EFE Matrix. dan kebijakan. kemudian dihitung bobotnya melalui perhitungan dengan mengikuti langkah-langkah perhitungan AHP. dan IE Matrix . bidang politik.Analisis awal: analisis data eksternal-internal. dilakukan beberapa langkah yaitu: a. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan utama. III. yang memposisikan berbagai dimensi organisasi dalam sembilan sel. Keempat komponen ini membantu untuk menentukan apakah tujuan yang harus dicapai dapat membantu mengarahkan pengambilan keputusan pada semua tahap operasi. Tujuan dari analisis internal (internal audit) adalah membuat daftar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kunci internal perusahaan. dan Strategi WT. III. b. mutu dan tenaga kerja. Sehingga diperoleh bobot untuk faktor internal dan eksternal operasi sebagaimana tercantum pada tabel 1 dan 2. TAHAP I: THE INPUT STAGE External Factor Internal Factor Evaluation (EFE) Matrix Evaluation (IFE) Matrix TAHAP II: THE MATCHING STAGE Strengths Weaknesses Internal-External (IE) Opportunities Threaths Matrix (SWOT) Matrix TAHAP III: THE DECISION STAGE Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) Gambar 1. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis internal. Diagram Formulasi Strategi 74 . Pembuatan External Evaluation Matrix (EFE) Matrix.

politik. Dari Matriks SWOT.1694) Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan (0.0643 0. hukum.2256) Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain (0. yaitu sebagaimana terlihat pada tabel 5.0847 0. 75 .0438 0.1131) Jaminan mutu ISO 9001:2000 (0.0875 Peluang (0. teknologi.5) Kelemahan (0.1.2.5) Ancaman (0.1383 0. Gambar Matriks IE untuk operasi PT Growth Pamindo dapat dilihat pada gambar 2.1.1046 0.1795) Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih (0.0596 0.1 Internal-External Matrix Matriks IE dibagi menjadi 9 sel.1229 0.2. V.2765) Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal (0.1287) Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi (0.1637) Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material (0. strategi WO.1 Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Matriks IFE ini meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam bidang operasi perusahaan.0422 0.5) V. Tahap Input V. strategi ST.1192) Diberlakukannya era perdagangan bebas. ditujukan untuk memunculkan beberapa strategi yang mungkin dilakukan berdasarkan faktor internal dan eksternal operasi.1038) Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain (0. sosial budaya. pemerintahan.1108) Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah Tingginya harga produk Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Bobot 0.2092) Daya beli masyarakat rendah (0.0898 0.2 Tahap Penyesuaian Dalam tahap penyesuaian ini. didapat 10 alternatif strategi.5) Tabel 2.0554 0. V.1.0818) Aplikasi teknologi informasi dalam pengambilan keputusan operasional (0.0409 0.0875 0.2 Strengths-Weaknesses-Opportunities-hreats (SWOT) Matrix Dalam matriks SWOT ini akan dihasilkan empat tipe strategi yaitu strategi SO. di mana masing-masing sel memberi strategi yang berbeda. Matriks EFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 4.1507) Pengiriman barang berjalan lancar (0. Penentuan Bobot Faktor Internal Operasi Faktor Internal Sub faktor Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi (0.1749) Bobot 0.0875) Tidak ada penumpukan barang dalam proses (0.1421 0. Internal-External (IE) Matrix Dari gambar 2 diperoleh posisi operasi PT Growth Pamindo adalah pada sel V. dan strategi WT. yaitu AFTA dan APEC (0. Gambar 2.2717) Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil (0.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan Tabel 1.0754 0.1751) Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan (0.1359 0.0620 0.0471 Kekuatan (0. Strategi yang muncul pada posisi ini adalah strategi mempertahankan dan memelihara dalam hal ini berupa pengembangan produk.0519 0.0818 0. V. dan persaingan.1128 0.2092) Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional (0. V.0566 0. Penentuan Bobot Faktor Eksternal Operasi Faktor Eksternal Sub faktor Lokasi perusahaan yang strategis (0. Matriks IFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 3.2 External Factor Evaluation (EFE) Matrix Matriks EFE berisikan ringkasan dan evaluasi informasi ekonomi.1259 0.0872 0.0843) Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi (0.

0875 0.1046 0.2518 0.7924 Bobot 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.0409 0. No. Jaminan mutu ISO 9001:2000 Kelemahan 1.0898 0.0620 0. Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Jumlah Tabel 4. Aplikasi teknologi operasi dalam pengambilan keputusan operasional 6.1421 0.0643 0.1636 0.1750 2. 4 Oktober 2006 V. Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain 7.340. Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Faktor Internal Operasi Dari QSPM yang telah dibuat.1752 0.0554 0. Tabel 3. Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal 3.3016 0.1229 0. Tingginya harga produk 5.5532 0. Daya beli masyarakat rendah 2.0872 0.2092 0. Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material Jumlah Bobot 0. Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi 4.2216 0.0620 0.1128 0. Lokasi perusahaan yang strategis 2.00 Nilai 4 4 3 4 4 3 4 2 2 1 2 2 Kekuatan 1.0519 0.0596 0. strategi yang terpilih adalah strategi 1 yaitu mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. Nilai yang Dibobot 0. Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional Ancaman 1. yaitu AFTA dan APEC 3.2541 0.0422 0. Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil 5. Tidak ada penumpukan barang dalam proses 4.2616 0.1259 0.1929 0.1359 0.1383 0. Untuk mendapat satu strategi terpilih sebagai dasar perumusan strategi operasi.0566 0.1557 0. Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah 4. Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih 5. maka alternatif strategi ini akan dipilih dengan QSPM. Diberlakukannya era perdagangan bebas.000 Nilai 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 Nilai yang Dibobot 0.3 Tahap Pemilihan Keputusan Setelah mendapat 10 alternatif strategi dari SWOT. Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan 5.2256 0.1750 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strategi Mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga Melakukan riset pasar untuk mengambil keputusan-keputusan operasi untuk mengisi pasar global Mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan produk yang sudah ada Memanfaatkan CAD/CAM dalam melakukan pengembangan produk Bekerjasama dengan bagian pemasaran untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap perilaku pembeli dan kebutuhan pasar sebagai dasar untuk pengembangan produk Memperbaiki dan mempertahankan kualitas produk lama Menerapkan system persediaan dengan memanfaatkan teknologi informasi Meningkatkan pengetahuan karyawan bagian operasi untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi Melakukan kerjasama dengan pesaing untuk melakukan sinergi untuk memenangkan tender dan merebut pasar Melakukan motivasi terus menerus untuk menciptakan brand image 76 . Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain 4.2458 0.0818 0. Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi 2.1788 0.1698 0.0754 0. Mengadakan pelatihan bagi karyawan 7.1266 0.2718 0.0438 0.2842 0.4717 Tabel 5.2694 0.2454 0.0942 2.0875 1.0847 0. Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi 6. Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas 3. External Factor Evaluation (EFE) Matrix Faktor Internal Operasi Peluang 1. Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya 2. Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan 3. Alternatif Strategi dari SWOT No.0471 1.

yaitu penetapan misi operasi. Kebijakan operasi tersebut yang dapat dipertimbangkan untuk jangka 5 tahun kedepan adalah sebagai berikut: A. Growth Pamindo harus dikembangkan untuk mengefektif dan mengefisienkan setiap kategori keputusan (proses. Pernyataan misi operasi diatas. .Mempertahankan fasilitas yang ada. . dan menerapkan reward dan punishment untuk meningkatkan kedisiplinan karyawan. VI. Dengan tidak melakukan investasi baru juga berarti mengurangi biaya produksi dari sisi penyusutan aset. . . karena lokasi ini cukup strategis dengan area memadai untuk mendukung operasi karena memberi kemudahan arus masuk bahan baku dan kelancaran arus keluar produk. harus ditetapkan misi operasi sedemikian sehingga operasional perusahaan dapat berjalan. D. 77 .Tidak melakukan investasi baru. sediaan. Kebijakan operasi PT. penetapan tujuan operasi dan penetapan kebijakan operasi yang dibuat berdasarkan strategi terpilih. mempunyai teknologi yang cukup baik sehingga mampu menghasilkan kualitas produk yang sangat baik. penetapan keunggulan khusus. VI. sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan untuk turut menekan biaya produksi. .Mempertahankan lokasi yang ada.Otomatisasi dan spesialisasi memungkinkan dilakukannya pengawasan sentral.Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan otomatisasi fleksibel yang telah dimiliki.Perlu dilakukan rekrutmen dan mutasi dari staf dan pegawai yang telah ada untuk penempatan yang tepat dalam mendukung efektivitas dan efisiensi operasi. Kebijakan Operasi Kebijakan operasi menjelaskan bagaimana sasaran operasi akan dapat dicapai. juga dengan penggantian tersebut bahan baku baru dengan komposisinya yang sedemikian rupa harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang sama namun secara keseluruhan lebih efisien dalam penggunaannya. dirumuskan sebuah misi operasi sebagai berikut: “PT Growth Pamindo akan memproduksi pipa ductile untuk kebutuhan nasional dan internasional dengan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik yang didukung oleh SDM professional agar perusahan tetap dapat berkembang dan senantiasa mengembangkan produknya agar memuaskan para pengguna serta pihak terkait dengan harga sebanding dengan nilai produk yang ditawarkan”. Dalam penyusunan strategi operasi. Sediaan . Sasaran Operasi Secara umum. Perlu dilakukan pengendalian sediaan yang terinci dengan tetap memperhatikan sediaan minimum. karena fasilitas yang ada sekarang masih dapat dioptimalkan. . perlu dilakukan sentralisasi gudang. VI.Dengan menerapkan otomatisasi fleksibel maka cukup dilakukan spesialisasi tingkat rendah.Tetap mempertahankan penggunaan alur peoses lini. sasaran operasi yang mungkin adalah: harga. dan fleksibilitas. kapasitas. Tenaga Kerja . mutu. Untuk hal ini dibutuhkan kerjasama antara unit operasi dengan bagian R&D. Kapasitas .2 Keunggulan Khusus PT Growth Pamindo dalam operasionalnya selama ini.Mencari bahan baku lain sebagai pengganti dari yang digunakan sekarang di samping mengingat harganya yang terus mengalami kenaikan. B. dan menggunakan peralatan pemindahan bahan sehingga dapat menekan biaya perpindahan dan meminimalkan kendala akibat kesalahan pekerja.4. .Untuk menekan biaya penyimpanan. Untuk itu. Proses . . berkembang dan berkesinambungan. akan disusun suatu strategi operasi yang didasari oleh strategi terpilih pada tahap pemilihan keputusan dengan QSPM. sehingga proses dapat berjalan sesuai urutan. . karena masih mampu memenuhi order tepat pada waktunya. ANALISIS Dalam sub bab analisis ini. tenaga kerja dan mutu) agar dapat bersaing dalam harga.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan VI.3. hal ini bisa dicapai melalui survei kepuasan pegawai.1 Penetapan Misi Operasi Dari strategi terpilih. C.Perusahaan harus melakukan penilaian yang objektif terhadap staf dan pegawai.Melakukan sediaan tingkat rendah (low inventory level). pengiriman. dilalui 4 langkah. mengandung komponen-komponen yang menyangkut strategi efisiensi produksi dan pengembangan produk agar dapat memenangkan persaingan.SDM harus dipandang sebagai aset penting perusahaan yang perlu dipelihara motivasi dan dedikasinya tanpa memberi beban ekstra bagi biaya operasional.Secara periodik perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan pegawai yang pada umumnya dari pendidikan menengah. VI. . Mereka benar-benar memelihara keunggulan khusus tersebut dengan senantiasa memperbaharui sistem produksi secara periodik.

dibuat suatu strategi operasi yang terdiri dari misi.G. 2002. Penerbit Erlangga. 1993. Saaty. 2. 78 . Michael E.47 yang berarti juga operasi perusahaan memiliki kemampuan rata-rata dalam menghadapi lingkungan eksternalnya. University of Pitsburgh terjemahan Liana Setiono.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah: 1. VII.Perusahaan harus menetapkan standar minimum kualitas bahan baku dan melakukan seleksi terhadap pemasok yang mampu memenuhi spesifikasi (standar minimum kualitas) tersebut dengan harga yang menguntungkan. Penerbit: PT Prenhallindo. Dari matriks QSPM. Husein.. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing. Dengan demikian.. strategi terpilih adalah mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. Manajemen Operasi: Pengambilan Keputusan dalam Suatu Fungsi Operasi. Edisi Ketujuh. 1998.. No. 1994. keunggulan khusus. Nilai untuk matriks IFE adalah 2. Roger. Thomas L. 2. diharapkan pihak perusahaan dapat lebih melengkapi/mencukupi data pendukung yang diperlukan. dengan strategi pengembangan produk. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin.2 Saran Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah: 1. Dalam menghadapi persaingan.R. Penerbit: PT Raja Grafindo Persada.Melakukan evaluasi rutin berjangka pendek terhadap seluruh proses mulai dari penerimaan bahan baku hingga ke produk jadi. 1993. Untuk memudahkan dilakukannya penelitian ke depan. . Jakarta. Jakarta. perusahaan dapat memproduksi dan mengembangkan produk pipa ductile yang mampu memenuhi spesifikasi tertentu yang diharapkan dengan memanfaatkan berbagai keunggulan kompetitif yang ada pada internal perusahaan dengan berfokus kepada penekanan biaya produksi melalui penggunaan bahan-bahan baku baru yang berasal dari sumber bahan baku baru yang memberikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu memenangkan persaingan. Umar. KESIMPULAN DAN SARAN VII. Penerbit: PT Erlangga. 4 Oktober 2006 E. sasaran operasi dan kebijakan-kebijakan operasi VII. Kualitas . Dari strategi terpilih pada tahap QSPM.340. yang bila perlu dengan menyempurnakan working procedure maupun working instructions dari yang tercantum dalam dokumen ISO.79 yang berarti operasi perusahaan memiliki kemampuan ratarata dalam segi internal. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo Schroeder. Harvard Bussiness School. Manajemen Strategis: Konsep. Porter. 3.. DAFTAR PUSTAKA David. posisi operasi perusahaan berada pada sel V dari matriks IE. Fred. Jakarta. Edisi Ketiga. Sedangkan nilai matriks EFE adalah 2. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Terjemahan Agus Maulana.

PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN
Mangara M. Tambunan
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: Varieties of new motor bike in the market creates a tight competition and makes consumer has his/her own choice to a specific brand. Motor bike it self gives a value to the company or customer in the forn of brand equity. The research calculated four brand equity dimension; such as brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyality. The objective of the research is to know motor bike associations of Honda Karisma and Suzuki Shogun 125 R, which become the surplus to be used in marketing strategy. Data collections is done by judgment sampling using minimum of 50 questionnaires for both motor bike and data collected is done in the formal service workshop. Preliminary questionnaires result from 40 respondents shows there are 4 % associations needed by consumer to the type of motor bike. From the analysis, Honda Karisma is in top of mind-brand awareness position of 57.14% there is 4.08% of consumer does not know Suzuki Shogun 125 R. Honda Karisma has 28 associations and Suzuki Shogun 125 R has 42 associations. In perceived quality, Honda Karisma and Suzuki shogun 125 R have 9 associations need to be improved. Suzuki shogun 125 R has Loyality level of 51.020% and Karisma has 22.449%. Game Theory shows the strategy used by both companies is pure strategy where Honda karisma uses “formal workshop availability strategy” and Suzuki Shogun would use “economical in fuel consumption strategy” Keywords: Game Theory, Brand Equity 1. PENDAHULUAN 1.2 Permasalahan Mengetahui ekuitas merek (kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek) sepeda motor bebek buatan Jepang untuk menerapkan strategi yang tepat untuk memenangkan pangsa pasar. 1.3 Batasan Masalah 1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor jenis bebek, buatan Jepang dengan volume silinder 125 cc dan tipe mesin 4 langkah, yang beredar di kota Medan. 2. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 3. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 4. Pengambilan sampel dilakukan di tempat service tiap jenis merek sepeda motor, yang merupakan bengkel resmi yang paling banyak dikunjungi konsumen. 5. Pengumpulan data dilakukan pada bulan AprilMei 2005. 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Munculnya produk-produk sepeda motor baru yang beraneka ragam dalam pasar mengakibatkan persaingan sehingga konsumen mempunyai penilaian sendiri terhadap merek yang beredar di pasaran. Peningkatan penggunaan sepeda motor ini juga terjadi di kota Medan dengan jumlah sepeda motor yang terdaftar untuk tahun 2003 sebanyak 1.300.995 dari 1.979.340 jiwa penduduk kota Medan. Jumlah sepeda motor terdaftar di Polda Sumatera Utara Seksi Lalu Lintas, tahun 1995-2003 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Jumlah Sepeda Motor Terdaftar Tahun 1995-2003 Sepeda Motor No. Tahun (Unit) 1. 1995 619.346 2. 1996 689.868 3. 1997 769.759 4. 1998 798.828 5. 1999 821.862 6. 2000 873.452 7. 2001 952.361 8. 2002 1.084.051 9. 2003 1.300.995 Persaingan ini juga terjadi untuk sepeda motor bebek, dengan tingkat penjualan mencapai 90% dari total keseluruhan jenis/model sepeda motor.

2.1 Ekuitas Merek Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, keduanya mesti berhubungan dengan nama atau simbol sebuah merek. Jika nama dan

79

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

simbol merek diubah, beberapa atau semua aset atau liabilitas bisa dipengaruhi dan mengalami kerugian, kendati beberapa di antaranya sudah dialihkan ke nama dan simbol baru. Menurut David. A. Aaker, aset dan liabilitas merek dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu: 1. Kesadaran merek (brand awareness) 2. Asosiasi merek (brand asosiation) 3. Persepsi kualitas merek (brand perceived quality) 4. Loyalitas merek (brand loyalty) 5. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets) Konsep ekuitas merek ini dapat ditampilkan pada gambar 1, yang memperlihatkan kemampuan ekuitas merek dalam menciptakan nilai bagi perusahaan atau pelanggan atas dasar lima kategori aset yang telah disebutkan. 2.2 Teori Permainan (Game Theory) 2.2.1 Permainan Dua-Pemain Jumlah-Nol (TwoPerson Zero-Sum Games) Permainan atau persaingan yang melibatkan hanya dua pemain atau dua pihak disebut permainan dua orang. Karena perolehan dari satu pemain menjadi derita bagi pemain lain, dan karena itu jumlah perolehan kedua pemain adalah nol, maka disebut permainan imbang (zero sum). Tiap pemain mempunyai sejumlah pilihan atau tindakan yang dapat dipergunakan dalam permainan. Tiap pilihan atau tindakan disebut strategi.
Brand awareness Brand loyalty Perceived quality Brand association
Other proprietary brand assets

Stategi optimal untuk pemain I ialah baris yang sesuai dengan harga: Max {Pi} = max [ min {H(i,j)} ] = V i i j i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria maksimin. Untuk pemain II, misalkan Pj derita maksimum dari tiap tindakan bj, maka : Pj = max {H(i,j)}, i = 1,2,...,n i Strategi optimal untuk pemain II adalah kolom yang sesuai dengan harga: Min {Pj} = min [ max {H(i,j)} ] = V j j i i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria minimaks. Dan strategi bersih maksimin/minimaks disebut strategi maksimin/minimaks optimal. Bila kedua pemain menggunakan strategi minimaks optimal, maka hasil perolehan rata-rata disebut harga dari permainan. Bila strategi minimaks adalah strategi bersih, maka perolehan rata-rata (diharapkan) adalah harga dari titik pelana. 3. METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut: a. Menentukan latar belakang penelitian b. Menentukan perumusan masalah dan tujuan penelitian c. Menentukan ruang lingkup penelitian d. Perancangan metode pengumpulan data - Studi literatur - Kuisioner pendahuluan - Identifikasi variabel penelitian Variabel demografi Variabel kesadaran merek Variabel asosiasi merek Variabel persepsi kualitas Variabel loyalitas merek - Perancangan kuisioner sebagai alat Pengumpul data - Penyebaran kuisioner - Pengujian kuisioner Uji reliabilitas kuisioner Uji Cochran e. Pengumpulan data f. Pengolahan data - Pengolahan data tahap I. Pengolahan data kuisioner pendahuluan, untuk menghasilkan atribut-atribut pertanyaan pada kuisioner penelitian. - Pengolahan data tahap II a. Variabel demografi b. Variabel kesadaran merek c. Variabel asosiasi merek d. Variabel persepsi kualitas e. Variabel kesetiaan merek

Brand equity

Memberikan nilai kepada pelanggan dengan memperkuat : a. Interpretasi/proses informasi. b. Rasa percaya diri dalam pembelian

c. Pencapaian kepuasan dari
pelanggan

Memberikan nilai kepada perusahaan dengan memperkuat : a. Efisiensi dan efektivitas program pemasaran b. Loyalitas merek c. Harga/laba d. Perluasan merek d. Peningkatan perdagangan e. Keuntungan kompetitif

Gambar 1. Konsep Ekuitas Merek 2.2.2 Kriteria Maksimin-Minimaks Persoalan ini dapat dibentuk dalam suatu model matematika sebagai berikut: Misalkan Pi perolehan minimum dari tiap tindakan Ai oleh pemain I, sehingga: Pi = min {H(i,j)}, j = 1,2,...,n j

80

Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Tambunan

- Pengolahan data tahap III. Menyusun strategi permainan untuk perusahaan dan dengan perusahaan pesaing berdasarkan peta persepsi multi dimensional scaling. Data yang digunakan adalah data persepsi konsumen, dengan membentuk matriks payoff dan diselesaikan dengan program linier. g. Analisis hasil pengolahan data h. Kesimpulan dan saran 4. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Kuisioner penelitian disebar di dua bengkel resmi, yaitu AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) yang terletak di Jln. Sisingamangaraja No. 362 dan bengkel resmi Suzuki yang terletak di Jln. Adam Malik No. 101, dengan perincian yang ada pada Bab IV. Responden pada kuisioner penelitian adalah pengguna Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R, masing-masing merek memiliki 49 kuisioner. Pengolahan data untuk kuisioner penelitian, dibagi atas lima bagian, yaitu: a. Pengolahan untuk Variabel Demografi Tabel 2. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pria Wanita Merek Orang % Orang % Honda 41 83.673 8 16.327 Suzuki 40 81.633 9 18.367 Tabel 3. Profil Responden Berdasarkan Usia Honda Suzuki Tingkat Usia Orang % Orang % Kurang 16 thn 0 0.000 0 0.000 16 - 25 thn 17 34.694 16 32.653 26 - 35 thn 19 38.776 27 55.102 36 - 45 thn 10 20.408 6 12.245 Lebih dari 45 thn 3 6.122 0 0.000 Tabel 4. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Honda Suzuki Tingkat Pendidikan Orang % Orang % SD 0 0.000 0 0.000 SLTP 2 4.082 0 0.000 SLTA/sederajat 22 44.898 22 44.898 Diploma 7 14.286 17 34.694 Sarjana (S1) 18 36.735 10 20.408 Lain-lain 0 0.000 0 0.000

Tabel 5. Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Honda Suzuki Jenis Pekerjaan Orang % Orang % Pelajar/Mahasiswa 10 20.408 4 8.163 Pegawai negri 7 14.286 6 12.245 Pegawai swasta 15 30.612 14 28.571 Wiraswasta 12 24.490 20 40.816 Ibu rumah tangga 3 6.122 3 6.122 Lain-lain 2 4.082 2 4.082 b. Pengolahan untuk Variabel Kesadaran Merek

Tabel 6. Top of Mind-Brand Awareness Merek Responden (Orang) % Honda Karisma 56 57.14 Suzuki Shogun 125 R 40 40.82 Honda Kirana 2 2.04 Total 98 100.00 Tabel 7. Brand Recall of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 34 34.69 Suzuki Shogun 125 R 32 32.65 Honda Kirana 8 8.16 Tabel 8. Brand Recognition of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 4 4.08 Suzuki Shogun 125 R 22 22.45 Tabel 9. Unaware Brand of Brand Awareness Responden Merek (Orang) % Honda Karisma 0 0,00 Suzuki Shogun 125 R 4 4.08 Pengolahan untuk Variabel Asosiasi Merek Hasil pengolahan data untuk Honda Karisma menunjukkan bahwa R11 >R(0,05), (0,874 > 0.281), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Honda Karisma ini dapat diandalkan. Nilai R11 Suzuki Shogun 125 > R tabel, (0,951 >0,281), maka instrumen ini pun dapat digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Suzuki Shogun 125 R. Nilai uji Cochran untuk Honda Karisma, Q (29,369) < nilai X2(0,05;21) (32,7), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Honda Karisma memiliki brand image yang didalamnya terkandung 28 buah asosiasi (termasuk asosiasi yang dibuang pada pengujian terakhir). Nilai uji Cochran untuk Suzuki Shogun 125 R, Q (47,189) < nilai X2(0,05;40) (55,8), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Suzuki Shogun 125 R c.

81

No.000 Habitual buyer 26.571 4.286 3. serta 0% untuk usia di bawah 16 tahun.776% konsumen Karisma berada pada batas 26-35 tahun dan Shogun 125 R 55. Pengolahan untuk Variabel Persepsi Kualitas Perbandingan Performance-Importance Honda Karisma Performance-Importance Kesan Kualitas Honda Karisma 5.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. untuk kedua merek tersebut.959 3.000 Tabel 11. Berdasarkan pendidikan terakhir 44.966 3. 38.449 51.050 4.041 4.429 93.000 3.061 4. 5.041 3.959 4.694 4.041 4.020 4.265.898% konsumen Karisma dan Shogun 125 R lulus SLTA/sederajat.900 4. Persentase di atas adalah persentase terbesar untuk setiap pertanyaan yang ditanyakan. d. ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL e. Untuk Karisma 30.000 3.061 4.061 4.959 3.429 95.061 4.082 4.100 4. namun tingkat 82 .300 4. “Tersedia bengkel/service resmi” sedangkan Suzuki Shogun 125 R menggunakan strategi S1.020 4. Dengan demikian ditemukan strategi murni untuk Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R.000 4.200 4.959 4.204 4.959 4.2 Analisis Brand Awareness Top of mind-brand awareness dipegang oleh Honda Karisma.143 3.980 S. Rekapitulasi Persentase Kesetiaan Merek Merek Kesetiaan Merek Karisma (%) Shogun 125 R (%) Switcher 8.122 4.500 3. Honda menggunakan strategi H3.531 4.061 4.878 Liking the brand 71.1 Analisis Profil Konsumen Berdasarkan jenis kelamin.700 3. 125 R 4.265. 5. Rekapitulasi Performance No.612% konsumen adalah pegawai swasta.S.837 3.82%.204 3.918 Committed buyer 22.102%. dan untuk Shogun 125 R 40. “Irit dalam penggunaan bahan bakar” dengan selisih nilai kepuasan konsumen yang dipertaruhkan adalah 0.816% konsumen adalah wiraswasta.673% adalah pria dan untuk Suzuki Shogun 125 R 81. Ini menunjukkan bahwa konsumen kedua merek tersebut didominasi oleh pria. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Keterangan Nilai Rata-Rata Karisma 4.061 4. Pengolahan Game Theory Teori permainan merupakan salah satu metode untuk menghasilkan strategi dalam pemasaran.14%.122 3.633%.950 4. Importance Pengolahan untuk Variabel Kesetiaan Merek Tabel 10.300 4.000 3.163 0. 4 Oktober 2006 memiliki brand image dengan 42 buah asosiasi (semua asosiasi yang ada pada kuisioner) yang melekat padanya. data yang digunakan adalah nilai rata-rata performance setiap atribut yang melekat pada Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R.224 4.347 3. yaitu 0.100 4. Ini juga didukung dari hasil pengolahan brand recall (konsumen dapat mengingat secara langsung. Berdasarkan usia.061 3.082 Satisfied buyer 71. dengan nilai yang sama untuk maksimin dan minimaks.900 3. 5. Shogun menempati urutan kedua 40.100 Performance Pada matriks payoff dapat diketahui bahwa matriks ini memiliki titik pelana (saddle point).980 3.020 f.000 4.980 4. yakni 57.082 3.500 Performance 16 17 18 19 20 Perbandingan Shogun 125 R Performance-Importance Suzuki Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Memiliki kecepatan yang tinggi Kemudahan dalam perawatan Kemudahan mendapatkan spare part Harga spare part terjangkau & tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Suspensi atau shock yang bagus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontinu Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Tersedia garansi Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Kualitas rangka yang tahan banting Importance Performance-Importance Kesan Kualitas Suzuki Shogun 125 R 4. untuk merek Honda Karisma 83.082 4.959 4.400 4.000 3.061 4.980 4. Dalam pengolahan ini.

) 18. yaitu Kuadran I. 39. 19. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 10. 42. III dan IV. 8. Ini berarti Karisma adalah sepeda motor bebek buatan Jepang dengan volume 125 cc dan mesin 4 tak yang paling diingat oleh konsumen. 29. 40. Kemudahan dalam perawatan 13. Diagram ini dibagi atas empat bagian. 16. 20. 2. 5. 14. 25. 22. Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. 41. spion. Kemudahan dalam penggunaan 17. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 9.08% konsumen yang tidak mengenal merek Suzuki Shogun 125 R.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. 3. yaitu: 1. 37. Memiliki rem cakram 12. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 3. II.) Suspensi atau shock yang bagus Tinggi sepeda motor yang standar Pergantian roda gigi yang halus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi Mampu membawa beban yang besar/berat Memiliki sistem pengaman (kunci) yang baik Jangka waktu garansi yang panjang Inovasi perusahaan yang terus-menerus Volume silinder yang besar Dapat dengan mudah dimodifikasi Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Ada undian berhadiah Memakai racing pada roda Kualitas rangka yang tahan banting Suara yang nyaring Tanpa oli samping Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Ada penutup rantai 5. 34.08%. Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Body yang sportif Body yang ramping Ada tempat penyimpanan barang yang luas Warna dan jenis strip yang bervariasi & tahan lama Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Ada bonus pembelian (seperti helm dan jaket) Memiliki kecepatan yang tinggi Memiliki rem cakram Kemudahan dalam perawatan Produk tersebar luas di pasar Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli Harga spare part terjangkau dan tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. 10. 5. Inovasi perusahaan yang terus-menerus 25. dll. 83 . 13. 7. Ada tempat penyimpanan barang yang luas 6.45%. 32. 17. 15. Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Asosiasi-asosiasi untuk Suzuki Shogun 125 R ada 42 buah. Harga spare part terjangkau dan tahan lama 16. 31.69% dan 4. Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman 26.65% daan brand recognition sebesar 22.4 Analisis Kesan Kualitas Analisis kesan kualitas dapat dilakukan dengan melihat pada diagram cartesius performanceimportance. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 21. 38. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 8. 18. dll. 27. 26. Memiliki kecepatan yang tinggi 11. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. 12.3 Analisis Asosiasi Merek Asosiasi-asosiasi yang melekat pada Honda Karisma ada 28 asosiasi (dari 24 yang diuji) yaitu: 1. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 15. 4. 30. 21. 9. 33. Kualitas rangka yang tahan banting 28. Warna dan jenis strip yang bervariasi dan tahan lama 7. Tersedia bengkel/service resmi 4. Tambunan pengingatannya setelah merek utama dalam top of mind) dan brand recognition (konsumen mengingat merek setelah diingatkan kembali) di mana Honda Karisma memiliki persentase 34. 23. Sedangkan Suzuki Shogun 125 R memiliki tingkat brand recall sebesar 32. 6. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 27. tetapi ada 4. Tidak ada konsumen yang tidak mengenal merek sepeda motor Honda Karisma. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu 22. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. Produk tersebar luas di pasar 14. 11. spion. Suspensi atau shock yang bagus 19. 24. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 23. 35. Jangka waktu garansi yang panjang 24. 36. Tinggi sepeda motor yang standar 20. 28.

Dari 20 atribut yang dibandingkan untuk kesan kualitas. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 10. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 5. 2.1 Kesimpulan 1. Atribut Karisma pada Diagram Cartesius Kuadran I (underact) Honda Karisma 1. 2. Suspensi/shock yang bagus c. di mana nilai permainan adalah 0. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 4. Model/desain yang menarik dan dinamis 4. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Kualitas rangka yang tahan banting 4. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. yakni 71. Model/desain yang menarik dan dinamis 1. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Kuadran I (underact) Kuadran II (maintain) Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) 84 . 3. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) e. Harga sepeda motor terjangkau 3. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 5. Kemudahan dalam perawatan 1.020% konsumen yang komit akan merek tersebut. Demikian halnya dengan Karisma.429%. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 2. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 1. Ketika Shogun 125 R melihat Karisma menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” maka ia akan menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar” untuk memperkecil nilai kehilangannya. Memiliki kecepatan yang tinggi 2. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi i. Shogun 125 R tidak memiliki konsumen yang switcher (berpindah merek karena faktor harga).5 Analisis Kesetiaan Merek Dari pengolahan data dapat diketahui bahwa Shogun 125 R memiliki konsumen dengan persentase 93. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Kemudahan dalam penggunaan 9. Harga sepeda motor terjangkau 3. ditemukan saddle point untuk matriks payoff Karisma. Irit dalam penggunaan bahan bakar 8. sedangkan untuk Shogun 125 R. Sementara Karisma memiliki 8. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7.918% untuk tingkat liking the brand. yang pada dua tingkatan ini memiliki nilai yang sama. Honda Karisma memiliki 10 atribut yang dapat terus dipertahankan. Dan 22. 6. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) h.163% konsumen yang switcher. Tarikan/akselerasi mesin yang baik b. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 5. No. 4 Oktober 2006 Tabel 12. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 4. meski memiliki asosiasi yang lebih sedikit daripada asosiasi Shogun 125 R. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 9. Kemudahan dalam penggunaan Kuadran II (maintain) 5. sehingga dapat dihasilkan strategi murni. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 5. Tersedia garansi 3. Kemudahan dalam perawatan 2. jika ia melihat Shogun 125 R menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar”. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Atribut Shogun 125 R pada Diagram Cartesius Honda Karisma 1. Tersedia bengkel/service resmi Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) Tabel 13. Dari kedua jenis sepeda motor bebek yang dibandingkan.265. Persentase ini unggul jika dibandingkan dengan Karisma.878% untuk tingkat satisfied buyer dan 95.449% konsumen Karisma adalah konsumen yang komit. Tersedia bengkel/service resmi 1. yaitu: a. 8. 5. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 2. Memiliki kecepatan yang tinggi 1. Tersedia garansi 6.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ada 51. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Suspensi/shock yang bagus 3. dengan persentase (untuk keseluruhan responden) terbesar pada batas usia 26-35 tahun. Kualitas rangka yang tahan banting 1. Konsumen sepeda motor bebek buatan Jepang untuk volume silinder 125 cc dan mesin 4 tak dengan merek Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R didominasi oleh pria.6 Analisis Permainan Dari metode maksimin-minimaks dalam permainan. Kemudahan mendapatkan spare part g. Tersedia bengkel/service resmi 2. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 4. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi d. Honda Karisma merupakan sepeda motor yang paling diingat oleh konsumen. Suspensi/shock yang bagus 3. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 7. maka ia akan menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” untuk memperbesar nilai perolehannya.

Iklannya menarik dan promosi yang kontinu b. yaitu: a. Strategi yang dapat digunakan Honda untuk menghadapi Shogun 125 R adalah dengan mengoptimalkan atribut tersedianya bengkel/service resmi. Edisi IX. yaitu: Kuadran I (underact): a. Jakarta: UI Press.449%. 7. 2000 85 . Kemudahan dalam perawatan Kuadran III (low priority) a. dealer dan papan reklame. 6. Marketing Manajemen. Model/desain yang menarik dan dinamis d. Product Design and Development. Philip. Sitinjak Tony. 7. Kemudahan dalam perawatan b. Harga spare part terjangkau dan tahan lama h. Harga sepeda motor terjangkau c. 1997 (Terjemahan) Durianto Darmadi. 2000 Kotler. DAFTAR PUSTAKA Aacker David. Tambunan 4. Strategi Menaklukkan Pasar melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. yaitu: Kuadran I (underact) a. Kualitas rangka yang tahan banting d. Memiliki kecepatan yang tinggi Saran kepada pihak Suzuki. Juga penjelasan untuk setiap pertanyaan atribut-atribut sepeda motor pada kuisioner penelitian. Memiliki kecepatan yang tinggi b. Tersedia garansi f. Harga sepeda motor terjangkau c. 6. Memperhatikan secara khusus atribut pada Kuadran I dan III. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. New Jersey: Prentice Hall. 2001 Husein Umar Drs. Manajemen Ekuitas Merek. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) g. Jakarta: Mitra Utama. Kemudahan mendapatkan spare part g. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Kuadran III (low priority): a. Harga spare part terjangkau dan tahan lama b. Persentase konsumen Shogun 125 R yang komit akan merek adalah 51. Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Sugiarto. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu e. America: The McGraw-Hill Companies. yang berarti lebih besar dibandingkan dengan Karisma dengan persentase 22.020%. Inc. A. untuk mengetahui perkembangan ekuitas merek dan perbaikanperbaikan terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan ekuitas merek.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. 1997 Siagian P. Tersedia bengkel/service resmi b.2 Saran Saran yang dapat diberikan peneliti kepada pihak Honda adalah perlunya meningkatkan promosi melalui radio dan surat kabar. Penelitian Operasional: Teori dan Praktek. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran e. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) d. Strategi yang dapat digunakan Shogun 125 R untuk menghadapi Karisma adalah dengan mengoptimalkan atribut irit dalam penggunaan bahan bakar. Butir-butir pertanyaan untuk kesetiaan merek dapat ditambah untuk memunculkan kriteria loyalitas yang lain. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran d. 1987 Ulrich Karl. Shogun 125 R memiliki 9 atribut yang dapat dipertahankan. Ini berarti perlu menjalin hubungan baik dengan konsumen sebagai pedoman untuk perbaikan kualitas produk ke depan. Tersedia garansi c. Kemudahan dalam penggunaan i. Perlu juga dilakukan perbaikan kualitas dalam atribut-atribut pada Kuadran I dan III. Kualitas rangka yang tahan banting Penting dilakukan penelitian ekuitas merek dalam frekuensi yang lebih sering. Tarikan/akselerasi mesin yang baik e. Suspensi/shock yang bagus c. untuk meningkatkan promosi melalui teman/keluarga. agar responden memiliki persepsi yang sama akan atribut-atribut tersebut. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Eppinger Steven.

The results of research show that water working stres is 0. Dengan pelaksanaan kedua langkah tersebut diharapkan kegagalan komponen yang digunakan selama operasi dapat dicegah sejak dini.5 inch. (2002). 1977). Jika sebuah pipa pecah maka tekanan fluida (air minum) akan menurun drastis (depressured) menghasilkan gelombang kejut (decomposion shock waves) dengan kecepatan travelling dalam orde kecepatan bunyi (400 m/detik). kriteria kegagalan suatu material struktur ditentukan oleh 3 parameter yaitu tegangan yang terjadi. Hafli1 dan Akhyar Ibrahim2 Abstract: This current research was developed to find out the material reliability. Failure Criteria PENDAHULUAN Dalam desain struktur pipa penyalur pipa air minum ada dua langkah penting yang perlu diperhatikan.8 ksi of working stres. Charphy Impact. Faktor Intensitas Tegangan Retak menjalar jika faktor intensitas tegangan (K) mencapai harga kritis K1c yang selanjutnya dikenal sebagai ketangguhan retak. so that operating condition of 12 inch pipeline is very safe from break or brittle fracture. Pressure drop yang tejadi secara tiba-tiba di dalam pipa yang bocor akan menurunkan tekanan hoop pada dinding pipa. Keywords: Reliability. Undercut. Cacat lasan undercut. bahkan di atas kecepatan bunyi tersebut diatas. LANDASAN TEORI Suatu struktur dikatakan gagal apabila tegangan yang terjadi lebih besar dari tegangan luluh atau kekuatan tariknya. By using the concept of fracture mechanics. untuk mempelajari keandalan pipa. ketahanan pipa akan menurun keandalan (reliability). kekuatan dan umur sisa pipa dapat dihitung melalui pendekatan mekanika retakan. menurut Korda. ketika mengalami beban statik atau siklik. Mekanika retakan adalah suatu metoda analisis patah getas dari struktur yang mengandung retakan dengan geometri dan dimensi tertentu yang sebelumnya sudah diketahui melalui suatu jenis NDT tertentu. Masalah yang dihadapi. library study. hingga pipa patah getas (Rothwell. and then all data was analyzed by descriptive method.33 ksi to generate design stres about 8. korosi. Masalah penjalaran retak sering terjadi pada pipeline yang mengalirkan air minum. Oleh karena itu. Politeknik Negeri Lhokseumawe T.8 ksi. sehingga faktor indentitas tegangan (K1) akan turun juga. Pada pipa yang mengandung cacat retak. Suatu harga K1c menggambarkan ketangguhan retak dari suatu 86 . crack propagation rate still in stable condition up to 8. Welded. Konsep konvensional tersebut hanya dapat diterapkan pada struktur yang mulus. mengakibatkan ketahanan pipa akan menurun atau keandalan (reliability) pipa berkurang. life-time assessment on drinking water pipeline 12” in diameter which consists of undercut crack welded with semielliptical geometry. biasanya berbentuk semi elips. for undercut crack depth 0. handling dan material). atau bencana alam. Retakan dapat terjadi dan pipa dapat pecah sampai beberapa kilometer. Akibatnya retakan akan berhenti menjalar sebab driving force-nya melemah. Cacat Retak pada Permukaan Pipa Instalasi pipa memiliki ketidaksempurnaan atau cacat yang dapat berasal dari semua tahapan manufaktur. Untuk jenis cacat pipa yang berbentuk retak. Dalam konsep ini. apabila dibarengi dengan beban monotonik atau siklik baik yang bersumber dari fluida kerja maupun sumber eksternal lainnya sehingga pipa akan gagal dengan cara patah getas. and according to failure criteria this drinking water pipeline 12” in diameter is in safe condition from both break before leak mode and damage after crack mode which its crack propagate about half depth of pipe wall. yaitu seleksi terhadap material yang akan digunakan dan analisis kekuatan struktur terhadap kondisi pembebanan selama masa pengoperasian. Pipe. Beberapa faktor penyebab kegagalan pipa berupa bocor dan pecah dari hasil survei antara lain akibat sabotase. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh 2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. and yield strength of welded is 52 ksi. ketahanan pipa akan menurun drastis akibat penjalaran retak yang sangat cepat. ukuran cacat dan ketangguhan patah material itu. Suatu fenomena yang disebut dengan fast fracture.25 inch and width 2.ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Fracture Mechanics. mekanik (cacat yang berkaitan dengan masalah konstruksi. sedangkan pada permukaan cacat dapat digunakan konsep mekanika retakan. et al. field inspection and experimental. adalah “berapa tingkat keandalan dari struktur pipa penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut ditinjau dari analisis mekanika retakan”. instalasi dan operasi. Cacat permukaan pipa yang dihasilkan pada proses pengelasan pada saat konstruksi. KI of simulation less than experimental which it means crack propagate controlled to material surface. fracture toughness.

Menurut David Broek (5) (1988: 216) menurunkan hubungan perbandingan empiris sebagai KIC = 11. geometrik. Jika pipa tersebut mempunyai cacat berbentuk semi-ellips pada daerah lasan. 87 . ac < t. salah satu rumus yang sering digunakan adalah yang diajukan oleh AISI dan didaftarkan dalam klausul 941. Menurut Mohitpour.σ2) (4) dan Q = θ2 – 0. Jika terjadi kebocoran terlebih dahulu maka melalui inspeksi rutin kebocoran tersebut dapat dideteksi sehingga langkah reparasi dapat diambil. 2c adalah panjang cacat tembus dinding (mm). Kriteria Bocor Sebelum Pecah Salah satu aplikasi mekanika retakan pada pipa adalah mengkaji pipa yang mengandung cacat awal (pre-crackdefect) dan mengalami beban statik (constant internal pressure). Uji Impak Charphy mengukur energi patah total dari spesimen.1 dari ASME B31. σ1 adalah tegangan melintang (radial) pipa.π. Hal yang sangat penting adalah perbedaan laju pembebanan (berpengaruh pada tegangan luluh) dan perbedaan dalam ketajaman takikan (berpengaruh (4) keadaan tegangan pada ujung retak. Jika kurva R horizontal. Persamaan matematis dari tegangan secara analitik pada pipa berisi fluida tekan. Menurut Broek (1988: 53).50545σ π 2c ⎥ ⎣ 2E ⎦ (9) dengan Cv adalah energi Charphy (J). pipa akan langsung pecah/patah getas. menurut Mohitpour. sehingga ada suatu korelasi antara KIC dan energi Charphy hampir sama nilainya. Untuk ketangguhan rendah pada urutan yang sangat rendah. ac > t. fluid stres.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. Hafli dan Akhyar Ibrahim material yang tergantung pada retak. yang menurunkan hubungan antara COP dan tegangan terpakai di dalam medan tegangan biaksial. dan Q adalah parameter geometri retak.t σ2 = Menurut Mohitpour. Kondisi ini disebut sebagai kriteria bocor sebelum pecah (”leak before break criterion). σ adalah tegangan terpakai pada saat gagal (MPa). σ1. K1 adalah faktor intensitas tegangan. ukuran retak kriris yang dibutuhkan untuk mengawali retakan dapat dihitung dengan berbagai tingkat ketangguhan Charphy menggunakan persamaan dibawah ini. D adalah jari-jari pipa. dan E adalah modulus elastisitas (207.21.8 sebagai CVN = 0. khususnya lasan spiral baik arah memanjang dan melintang radial pipa. dan juga medan tegangan pada saat luluh). (2003: 399). maka kurva R akan mendekati horizontal. (2003: 303). misalnya menjalar sesuai dengan waktu. ketangguhan retak untuk kondisi regangan bidang adalah: K1c = βσ π ac (1) di mana ac adalah panjang retak kritis dan β adalah parameter geometri retak spesimen. t adalah tebal pipa. Bagaimanapun. nilai integral tadi dibagi dengan ligamen tertentu R dan K = (ER)0. Ukuran cacat kritis dapat dihubungkan dengan ketangguhan Charphy menggunakan pendekatan Mekanika Ratakan. dirujuk kepada Model strip elastis plastik dari Dagdale (1960). kriteria kegagalan pipa dapat dinyatakan bahwa: jika.R0. (σ/σ0)22 (5) di mana ac adalah panjang retakan kritis. Ac = K21. (2003:400). maka penelitian ini akan dikaji lebih lanjut. et al. 2 K Cπ π ⎡M σ ⎤ ≡ ln sec ⎢ T T ⎥ 2 8cσ 2⎣ σ ⎦ 12CvE 2 KC = AC (6) (7) P. Berdasarkan persamaan (4) dan (5) di atas.000 MPa untuk baja). Rumus di bawah ini biasanya digunakan untuk menentukan ketangguhan Charphy: 2 ⎡ ⎤ Cv = ⎢ 4. maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah pipa tersebut akan langsung pecah secara getas atau mengalami kebocoran terlebih dulu sebelum pecah.D σ1 = 2. masingmasing adalah: Ketangguhan Charphy Metode yang digunakan untuk menentukan ketangguhan patah berdasarkan nilai energi impak charphy. yang merupakan integral dari R(a) sepanjang ligamen. Q/(1. et al. Untuk menghitung kegagalan suatu pipeline yang mengandung retak awal.0345.4√Cv (10) di mana K dalam MPa√m dan Cv dalam joules.212. Ketangguhan retak merupakan ukuran ketahanan meterial menerima beban luar atau lingkungannya.5. σ/σ0 adalah hoop stres.D 4.5.t P. Tegangan pada Pipa Tekan Kekuatan sambungan las dapat diuji dengan tegangan arah tegak lurus dari arah lasan. dapat diterapkan untuk berbagai arah sambungan las. dan t adalah tebal pipa. ada beberapa perbedaan mendasar antara suatu nilai uji Charphy dan uji ketangguhan. Berdasarkan persamaan-persamaan di atas.. pipa bocor terlebih dahulu sebelum pecah.5 (8) (2) (3) di mana: σ2 adalah tegangan memanjang (horizontal). et al. menurut Engle (1979: 75) dapat digunakan persamaan di bawah ini. P adalah tekanan fluida. atau sistem pembebanan.

5 100 147 135.0" 2. tampak bahwa hasil simulasi diperoleh data untuk kedalaman cacat undercut 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 0. Data yang telah dikumpulkan baik data sekunder (studi kepustakaan).005 0. sehingga diperoleh analisis bahwa semakin tinggi atau besar rasio ukuran cacat undercut semakin rendah intensitas tegangan yang dihasilkan dan semakin kecil atau rendah rasio ukuran cacat undercut (kedalaman dan lebar cacat undercut) yang terjadi semakin tinggi intensitas tegangan yang diperoleh kemudian.2 0.25 inch dan lebar cacat undercut 0. K .1 0. yang langsung dikunstruksikan gambar 2.5" 2. Kemudian Sampel-sampel tersebut diperiksa komposisi kimia. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Faktor Intensitas Tegangan Pipa sebagai Fungsi Ukuran Cacat Untuk mencari faktor konversi satuan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus di bawah ini: KIC={820√Cv–1420}B-1/2+630[N/mm3/2] (11) Apabila faktor intensitas tegangan (KI) pada pipa sebagai fungsi dari ukuran cacat undercut diamati berdasarkan gambar 2. Hubungan Energi Impak Charphy dan Intensitas Tegangan Kritis Tabal Cv Intensitas Intensitas Material (joule) Tegangan Tegangan B (mm) Kritis. dan survei lapangan untuk mengamati secara langsung obyek penelitian dan melakukan pencatatan. KIC (MPa√m) (ksi√in) 1 2 3 4 60 108 97. hasil perbandingan ukuran bentuk geometri cacat undercut dengan intensitas tegangan yang didapat dari persamaan empiris yang diperoleh dari hasil merujuk kepada rumus simulasi pada tabel dan gambar 2. 9 Indtensitas Tegangan.20 0.30 0.3 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. kemudian dilas dalam bentuk spiral dengan sengaja lasan dibuat tidak sempurna hingga membentuk cacat undercut dengan geometri semi-elips.0" 1.025 Kedalaman Undercut .2 9 intensitas tegangan.2 70 118 1062 10 80 126 113. mesin gergaji. KIC Kritis.(ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0.” Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan mengenai berbagai kasus kegagalan material pipa 12” transmisi air minum.a (inch) 0. Faktor Intensitas Tegangan terhadap Rasio Ukuran Cacat Undercut 88 . Tabel 1. 10 Dan hasil konvensi tersebut diperoleh faktor intensitas tegangan kritis [kIC(ksi√in)] maksimum dan minimum seperti dapat diperlihatkan dalam tabel 1 di bawah ini. mesin uji tarik. dan uji impak Charphy berdasarkan ASTM E 23-91. hubungan kedalaman cacat undercut (a) dan lebar cacat undercut (2c) terhadap faktor intensitas tegangan (KI).50 0. 4 Oktober 2006 METODOLOGI Dalam penelitian ini dipergunakan sejumlah peralatan. maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa dari data cacat undercut yang diperoleh kedalaman cacat undercut 0. antara lain.039 (lihat tabel 1) dan lebar cacat undercut dari simulasi tertinggi 2. Bahan penelitian adalah Pipa 12” untuk penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut geometri retak semi-ellips dan kawat las merek ”Jumbo. (ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0.5" Gambar 1.5 mempunyai tingkat intensitas tegangan yang rendah yaitu 3. uji tarik. bahan pipa JIS G 3452 yang memiliki diameter 12 inchi. K. hasil perhitungan dan pengujian) diolah berdasarkan analis-deskriptip. dipotong menjadi 6 bagian. dan mesin uji impak charphy. diagonal dan arah canai (arah memanjang) dari baja lembaran itu.3 90 138 124.40 0. Hubungan Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Cacat Undercut Analisis Geometri Cacat Maksimum untuk Tekanan Operasi Tertentu Selanjutnya.4 ksi√in (lihat tabel 1). Pada sambungan lasan yang mempunyai undercut yang berbentuk semi-elips itu. hasil tersebut dapat disusun suatu tabulasi data. data-data teknis lainya.325 ksi√in.5 inch mempunyai tingkat intensitas tegangan tertinggi yaitu 3. diambil sampel dengan cara memotongnya yang dilakukan pada arah-arah memanjang. Kemudian.10 0. mesin las listrik. mesin freis.5" 1. No.60 rasio ukuran cacat undercut a/2c (non-dimensi) Gambar 2.015 0. maupun primer (hasil wawancara. Di dalam pengujian laboratorium. terutama data-data hasil rekaman NDT dari perusahaan.

33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 88 ksi. (Kic max (ksi in)) retak masih dalam kondisi stabil untuk tegangan operasional yang diizinkan 8.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. Analisis Kekuatan Sisa Pipa dan Perambatan Retak Apabila ditinjau kekuatan sisa pipa yang mengalami perambatan retak.2 0.0" 2. melampaui tebal pipa (t). yaitu di bawah batas ’netsection-yielding’ weld material sehingga dapat dinyatakan bahwa pipa dalam keadaan aman dari deformasi kebocoran maupun mengalami patah getas.2 0.2 ksi√in).4 Log.a (inch) 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. bahkan kondisi tersebut belum mencapai daerah penjalaran retak cepat menuju kegagalan bocor atau patah getas. Hubungan Faktor Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Undercut Pada gambar 4 hubungan tegangan operasi yang diizinkan terhadap kedalaman cacat undercut.005 0. (ksi in) 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0.25 inch dan panjang retak 2.25”).015 0. maka akan diperoleh hasil tegangan operasional maksimum ketangguhan material yang mengandung cacat las undercut terhadap deformasi plastic maupun perpatahandengan perbandingan data desain tegangan sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1.5" 2. (Kic min (ksi in)) Log.5" 1. Gambar 3.025 0. dan dari Gambar 4 pipa masih dalam daerah aman karena jauh di bawah batas kekuatan luluh dari material lasan 52 ksi. Berdasarkan pernyataan di atas.3 kedalaman Undercut.5 inch ternyata bahwa KI (8. tampak bahwa tegangan operasi yang dihasilkan air bertekanan 0.0. Analisis kriteria kegagalan Penentuan kriteria kegagalan pecah sebelum bocor atau sebaliknya dari pipa berdasarkan kriteria bocor sebelum patah perlu diketahui: ”apakah panjang kritis retakan (aC). Berdasarkan gambar 4 hasil simulasi dan data KIC maksimum dan KIC minimum bahwa untuk kedalaman retak 0. atau sebaliknya retakan sudah menjalar hingga nilai kritisnya tercapai sebelum ketebalan pipa terlampaui”. 600 tegangan operasi izin (ksi) 500 400 300 200 100 0 0 0.1 0. sedangkan kuat luluh material las adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa yang sedang beroperasi.25 ksi√in< KIC minimum (97. Panjang retak (kedalaman cacat undercut) maksimum yang diizinkan untuk tekanan operasi tertentu dari grafik 3 dapat disimpulkan bahwa kedalaman cacat undercut (a = 0039” .8 ksi dengan internal pressure 0. Jika KI<KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. Hafli dan Akhyar Ibrahim Analisis panjang retak maksimum yang diizinkan untuk tekanan atau tegangan operasi tertentu dapat dilakukan dengan memperhatikan gambar 3. juga untuk tegangan operasional maksimum sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1. pipa akan mengalami deformasi plastik atau patah getas (pipa pecah). Hubungan Tegangan Operasi terhadap Kedalaman Cacat Undercut Hal ini berarti bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan dengan laju perjalanan 89 . Apabila sebaliknya. atau aC<t menyatakan pipa akan langsung mengalami pecah/ patah getas. prediksi penjalaran retak ini masih dalam daerah kontinum yang dapat dipantau dan dikendalikan dengan baik. kriteria kegagalan dapat disusun sebagai berikut: Jika KI>KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. 135 130 125 120 115 110 105 100 95 Indtensitas Tegangan.33 ksi.5 ksi pipa masih aman dari deformasi kebocoran atau patah getas. Jadi.3 Kedalaman Undercut . a (inch) 0. K.5 ksi dan batas ’net-section-yielding’ weld material (data kuat luluh material lasan) 52 ksi pipa masih dalam batas daerah safe area.0" 1. atau aC>t menyatakan pipa akan bocor terlebih dahulu sebelum mengalami pecah/ patah getas.1 0. maka pipa tersebut akan benar-benar aman dari deformasi maupun patah getas apabila kuat luluh dari material las berada di bawah garis ”net-section yielding”.5" max min Gambar 4.

and A.B. SARAN Dalam kenyataannya. Golsham. Tegangan operasi yang dihasilkan fluida alir bertekanan 0. 74-88. Murray.B. 4 Oktober 2006 KESIMPULAN 1. 1977. 2002. Broek. KIC hasil simulasi lebih kecil daripada hasil percobaan.. Secong Edition. Ed. Proc. A. penelitian ini masih perlu dilanjutkan dengan mengembangkan pengaruh temperatur operasi supaya tingkat keandalan pipa dapat diprediksi terlebih dahulu. Engle. Chang. ketika instalasi pipa yang sedang beroperasi terjadi berbagai pengaruh beban internal dan eksternal. 2003. dan faktor intensitas tegangan kritis (KIC) atau ”facture toughness” di dalam material.8 ksi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. “ Paper 12.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 8.. Untuk kedalaman retak 0.8 ksi dan pipa masih dalam daerah aman (safe area).25 inch dan lebar 2. Prosiding Seminar Offshore Technology 2002 (Bandung Pusat Studi Teknik Kelautan & LPPB ITB. New York: ASME Press). H. 90 . (Tree Park Avenue. American Society for Testing and Materials. Rothwell. sedangkan kuat luluh material lasan adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa pada saat beroperasi.Jr. “Aspect Ratio Varibiality in Part-Throung crack Life Analysis. 3. “The International State of the art Pipeline fracture Control and Fracture Risk Management.” PartThroungh Crack Fatigue Life Prediction. J. Mekanika retakan dapat digunakan dalam desain dengan cara memperhitungkan kehadiran retak/cacat awal (pre-crack).. ASTM STP 687..M. DAFTAR PUSTAKA Akhmad A. No. pp. 2.5 inch. The Proctical Use of Fracture Mechanics. 1997.. dan terlihat bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan. David 1988. 1997. Int. Korda. “Prediksi Kekuatan Sisa Pipeline yang terkorosi”. (Dordrecht and London: Kluwer Academics Publishers). Karena itulah. laju penjalaran retak masih dalam kondisi stabil dengan tegangan operasional yang diizinkan 8. 13-14 Januari). terutama efek suhu. M. Mohitpour. Pipeline Design dan Constuction: A Practical Approach. R. Achmad Sulaiman dan Ahmad Taufik.

dan industriindustri yang padat modal tetap akan didorong. sektor pemerintah dan sektor swasta. e. Dalam hubungan timbal balik ini peranan sektor industri adalah memperluas lapangan kerja. c. Akan lebih memusatkan perhatiannya kepada pembangunan prasarana dan pencipta iklim yang menunjang pertumbuhan industri. 1983). Untuk itu kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan industri yaitu: a. mengenal tiga sektor besar yang interdependent yaitu sektor koperasi. Setelah memenuhi persyaratan Suryatmono 91 . Bidang gerak sektor swasta adalah hanya perusahaan yang tidak mengurusi hajat hidup orang banyak dan bidang usaha yang belum ditangani oleh negara dan koperasi. Dalam musyawarah penetapan upah di perusahaan sektor industri sebaiknya masing-masing pihak. Penciptaan lapangan kerja akan menyerap para pengangguran yang sebagian besar berada di sektor pertanian.UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA Staf Kopertis Wilayah I Abstrak: Dalam rangka mengikuti kebijakan pembangunan yang digariskan oleh Peropenas 2004–2009 khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ketenagakerjaan. PENGEMBANGAN SEKTOR LNDUSTRI DAN KAITANNYA DENGAN TENAGA KERJA Pembangunan sektor industri tidak terlepas dengan pembangunan sektor lain karena ada hubungan kait mengkait yang erat antara pembangunan sektor industri dengan sektorsektor lain. pemerintah harus melaksanakan pembinaan dan perlindungan tenaga kerja di antaranya melalui penetapan upah minimum yang berlaku untuk masingmasing propinsi dan sektor pekerjaan. Industri yang dibangun dan dikembangkan haruslah industri-industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Untuk menunjang dan memberikan kemudahan-kemudahan dalam pembangun-an industri bagi pihak swasta. II. baik maupun pengusaha menyadari bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan eksistensi perusahaan karena runtuhnya perusahaan akan merugikan pengusaha dan buruh. sepanjang teknologi yang ada menimbulkan efek berganda yang luas. maka logika perkembangan perusahaan industri swasta adalah kecenderungan persaingan sesama perusahaan swasta itu. Membantu dalam pembinaan dan pengembangan golongan ekonomi lemah di sektor industri. b. Dengan motif keuntungan maksimum. Pada perusahan industri swasta. d. Berkurangnya tenaga pengangguran di sektor pertanian ini akan meningkatkan pendapatan di daerah pedesaan yang pada gilirannya petani akan menjadi pasaran hasil industri yang dihasilkan perusahaan industri. PENDAHULUAN Bahwa sistem perekonomian menurut Pancasila dan UUD 1945. pada umumnya modal merupakan unsur dan faktor utama dan sebagai tujuan utama adalah laba sebesar-besarnya atau keuntugan maksium. Pembangunan sektor industri di Indonesia ditujukan untuk memperluas lapangan kerja karena dengan meluasnya lapangan kerja maka pendapatan nasional akan terbagi lebih merata. Dalam pengembangan perusahaan industri tersebut pihak manajemen harus benar-benar memperhatikan upah para pekerja yang merupakan salah satu aset perusahaan. Intervensi pemerintah melalui penetapan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dimaksudkan agar keputusan perusahaan mempertimbangkan prinsip keadilan bagi pekerja. Sektor Industri I. Sektor swasta sebagai pelengkap dan pembantu kedua sektur lainnya (Tom Gunadi. menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat dan sektor pembangunan yang lain. Kata kunci: Upah Minimum. dalam hal ini mengusahakan perkembangan ketrampilan dan kecakapan pengelola pengusaha-pengusaha nasional golongan ekonomi lemah melalui latihanlatihan pada pusat-pusat pendidikan di berbagai tempat yang menitikberatkan pada pengetahuan manajemen teknis dan penyediaan-penyediaan kredit dalam usaha membantu permodalannya. pemerintah berusaha agar dapat dibangun kawasankawasan industri (industrial estates) dibeberapa daerah tertentu di tanah air kita. Memberikan kesempatan kepada pengusaha pengusaha asing untuk mendirikan perusahaan-perusahaan industrinya di tanah air kita. menghasilkan devisa ekspor dari hasil industri dan menghemat devisa melalui produksi barang-barang yang hingga kini masih diimpor.

sedangkan barang yang dihasilkan adalah sangat penting bagi pembangunan.: maka dalam bidang industri perlu di tetapkan suatu keseimbangan antara laju pembangunan industri dengan daya serap tenaga kerja. Tujuan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjan yang diberikan secara tetap untuk pekerja dan keluarga yang dibayarkan bersama dengan upah pokok seperti tunjangan anak. antara lain: Perbandingan jumlah modal yang ditanam dan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan tidak boleh tinggi. calon investor harus menunjukkan perkiraan penggunaan tenaga kerja selama perusahaan tersebut berkembang. Dalam garis besarnya pemberian izin dilaksanakan menurut prinsip-prinsip berikut: 1. dan hukum Indonesia dan berdomisili di Indonesia. dan sanggup membantu masyarakat terutama membantu melatih tenaga-tenaga Indonesia dan sanggup menempatkannya dalam kedudukan Pimpinan (G. dan menggunakan tenaga-tenaga kerja Indonesia. 5 No. Bagi industri yang sifat teknologinya padat modal. 4 Oktober 2006 persyaratan yang telah ditentukan pemerintah. harus mempertimbangkannya secara teliti. Berdasarkan penelitian yang lebih mendalam harus diperkirakan perbandingan yang wajar antara kenaikan perkembangan produksi dan kenaikan perkembangan buruh yang bekerja pada perusahan tersebut. Fokus perhatian perusahaan tidak terbatas pada barang/jasa yang dihasilkan tetapi juga aspek proses dan aspek sumber daya manusia dan lingkungannya (Luthti Parinduri. PENETAPAN UPAH MINIMUM SEKTOR INDUSTRI Dalam menentukan besaran upah yang harus diterima oleh para pekerja. yang termasuk komponen upah dan pendapatan non upah adalah sebagai berikut: a. sanggup menampung. tunjangan transportasi dan tunjangan kesehatan. Dalam penyusunan proram operasional di bidang ini ditetapkan lebih lanjut perbandingan modal dan buruh sehingga menjadi pegangan bagi pemberian izin. Persyaratan ini terutama berlaku bagi industri-industri yang mempunyai pilihan teknologi sehingga bisa disyaratkan pengunaan teknologi padat karya tanpa mempengaruhi efisiensi perusahan. Sebelum diberikan izin. SH. Dengan kebijakan pemerintah seperti diatas maka akan terbentuknya sumber daya manusia industri yang berkualitas dan mampu bekerja sama serta bersaing untuk memperoleh manfaat positif dari era globalisasi. Upah yang adil adalah upah Minimum yang menjamin kebutuhan yang essensial bagi kehidupan yang manusiawi (Tom Gunadi. wajar dan serasi sesuai dengan pekerjaan dan jabatan para pekerja. 2. seperti fasilitas kenderaan antara jemput. maka secara 92 . Keseimbangan ini harus menghasilkan perluasan lapangan kerja sebesar mungkin tanpa mengakibatkan rendahnya laju pertumbuhan sektor perindustrian. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan diharuskan secara tidak tetap gaji pekerja dan keluarganya yang pembayarannya tidak bersama dengan upah pokok. tidak melakukan persaingan yang terlebih-lebih terhadap perusahaan nasional. Perusahaan-perusahaan asing ini tidak boleh merugikan kepentingan nasional. Bulletin Utama Teknik Vol. Karena pembangunan sektor industri memiliki kaitan yang erat dengan sektor lain. No. sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran terhadap pelaksanaan kebijakan-kehijakan tersebut melalui pengawasan yang ketat dari pemerintah. b. tunjangan kesehatan. Upah adalah pembayaran yang diterima buruh selama ia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan. Komponen upah Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja menurut tingkat atau jenis pekerja yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. Dengan demikian berarti fungsi perizinan dalam pembangunan industri harus lebih ketat dan efisien. tunjangan perumahan. pihak manajemen sesuai dengan hukum ketenagakerjaan yang berlaku berdasarkan hubungan industrial Pancasila. 1983). Kartasapoetra 1985). (Imam Soepomo. Menurut ketentuan dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja RI No.4 Oktober 2001).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. adil. Untuk mencari keseimbangan tersebut diperlukan adanya penyaringan dalam pemberian izin penanaman modal dalam negeri maupun asing. Tidak termasuk komponen upah Fasilitas kenikmatan dalam bentuk nyata atau natural hal-hal yang bersifat khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. 07/MEN/90 tentang pengelompokan upah dan pendapatan non upah. 2000). Dalam hal tenaga kerja. penanaman modal (baik asing maupun dalam negeri) yang menghasilkan barang-barang untuk dijual harus memenuhi beberapa persyaratan. 1974) pengusaha wajib membayar upah kepada para pekerja secara teratur sejak terjadinya hubungan kerja sampai dengan berakhirnya hubungan kerja (Lalu Husni. 3. maka pembagunan industri semacam ini dimungkinkan. III.

Khususnya bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sesuai ketetapan tersebut dapat dikecualikan dari kewajiban tersebut dengan syarat mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dengan rekomendasi dari Kepala Dinas Tenaga Kerja setempat.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono cuma-cuma sarana ibadah. 8 Tahun 1981 tentang perlindungan upah maka untuk menjaga sampai terjadi upah yang diterima para pekerja terlampau rendah maka pemerintah turut serta menentukan standar upah minimum melalui peraturan perundangundangan berupa penetapan upah minimum yang wajib ditaati oleh pengusaha termasuk pengusaha perusahaan industri.3549/6/DTK-TR/2005 tanggal 20-12-2005. Bagi perusahaan industri tidak ada larangan untuk menerapkan sistem upah seperti time/day rate. Adapun surat usulan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara untuk penetapan Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006 adalah usulan No. upah pada umumnya yang berlaku secara regional. tingkat perkembangan perekonomian regional dan nasional. surat Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara pada setiap akhir tahun mengajukan usul penetapan upah minimum sektoral propinsi Sumatera Utara yang berlaku mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. Berdasarkan PP No.q. Upah minimum regional: upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan dalam daerah tertentu. Keputusan pemerintah tentang. 07/MEN/1997 tentang upah minimum disebutkan bahwa upah minimum adalah upah pokok sudah termasuk di dalamnya tunjangan-tunjangan yang bersifat tetap yang terdiri dari: a. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. perongkosan. pola premi Rowan. Upah minimum adalah upah terendah yang hanya berlaku bagi pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun sedang upah pekerja yang memiliki masa kerja 1 tahun ke atas dirundingkan secara musyawarah oleh serikat pekerja dengan pengusaha yang bersangkutan dan dimuat dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Berdasarkan permohonan tersebut Menteri Tenaga Kerja dapat menangguhkan pelaksanaan UMR tersebut paling lama 12 bulan. piece rate. pola premi Hosley. Asas dari penetapan upah minimum yang adil tidak dapat lain dari pada hakikat dan fungsi tenaga kerja itu sendiri untuk penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja. Upah minimum sektor regional upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. No. tempat penitipan bayi. kebutuhan fisik minimum. Upah minimum sub sektoral. Dewan Pengupahan Daerah dibentuk oleh Gubernur yang terdiri dari wakil Pemerintah. penetapan upah minimum yang berlaku untuk setiap propinsi dan sektor pekerjaan diterbitkan oleh Menteri Tenaga Kerja RI setelah mempertimbangkan Rekomendasi dari Gubernur Propinsi dan saran dari Dewan penelitian pengupahan Nasional Upah minimum ditetapkan dan berlaku mulai tanggal l Januari tahun berikutnya. Untuk maksud tersebut maka pemerintah ikut dalam penetapan upah minimum dengan maksud untuk tercapainya keadilan dibidang ketenagakerjaan dan pemerintah menyadari hahwa apabila masalah perupahan ini hanya diserahkan kepada pihak pekerja dan pihak pengusaha maka keputusan mengenai upah ini akan didominasi oleh kehendak pihak pengusaha. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. kebutuhan kerja. c. wakil pengusaha dan wakil serikat pekerja. pola bonus 100% pola kelompok atau sistem-sistem lainnya dengan ketentuan jumlah upah terendah yang diterima oleh pekerja tetap mengacu kepada ketentuan upah minimum yang berlaku dari Pemerintah. karena pekerja pada saat ini masih dalam kedudukan yang lemah. Gubernur Propinsi Sumatera Utara dengan keputusan No. upah minimum yang berlaku untuk perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. Sanksi hukum bagi pengusaha yang tidak melaksanakan ketentuan upah minimum adalah yakni Rp. kantin dan sejenisnya. 05/MEN/1989 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 560/3892/KS Tahun 2001 tanggal 20 Desember 2001 telah menetapkan pembentukan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara. 100. maka mulai tahun 2001 penetapan upah minimum disetiap Propinsi diputuskan oleh Gubernur dengan memperhatikan usul Dewan Pengupahan Daerah Propinsi setempat yang berlaku mulai 1 Januari tahun yang berikutnya. kelangsungan dan perkembangan perusahaan. UMR untuk setiap daerah berbeda-beda yang didasarkan pada indeks harga konsumen. Berdasarkan usulan tersebut maka Gubernur 93 .000. b. Kemudian Dewan Pengupahan Daerah c. Dengan berlakunya Undang-Undang No.00. Bagi pengusaha yang mampu membayar upah lebih tinggi dari upah minimum tidak dilarang menetapkan upah minimum lebih tinggi dari upah minimum dan upah yang sudah dibayar di atas upah minimum dilarang mengurangi atau menurunkan upah tersebut. Bonus/jasa produk yaitu pembayaran yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja berprestasi melebihi target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas Tujuan hari besar keagamaan seperti tunjangan Hari Raya dan Tunjangan Tahun Baru.

Djambatan. Raja Gratindo Persada. Di dalam keputusan tersebut dari 45 jenis pekerjaan pada sektor industri yang dapat dikelompokkan ke dalam 5 kelompok UMPS sebagai berikut: UMSP 2005 (Sektor Industri) 636.561/2858/K/Tahun 2005 tanggal 25 Desember 2005 tentang Penetapan Upah Minimum Sektoral Propinsi Sumatera Utara tahun 2006.000 660. Dengan berpadunya peranan pengusaha dan peranan serikat pekerja dalam perundingan.000. musyawarah dan menghadapi masalah akan melahirkan keputusan bijak dan arif yang menjadi seleksi terbaik bagi masing-masing pihak baik itu pihak buruh maupun pihak manajemen 94 .40 Jenis Pekerjaan 9 17 11 4 4 perusahaan.58 796.46 811. Kartasapoetra.000 Jenis Pekerjaa n 9 17 11 4 4 UMSP 2005 (Sektor Industri) 774.573. Bandung: 1985 Imam Soepomo. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia.638. sudah memiliki materi yang tajam sehingga usulan yang dibawa dalam musyawarah cukup baik dan bisa memperkuat posisi tawar serikat buruh dalam perundingan agar peranan kedua belah pihak terpadu. upah lembur. Pihak manajemen perusahaan industri harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki sistem perupahan yang kurang baik sesuai kemampuan perusahaan dan apabila memang kondisi perusahaan belum memungkinkan maka perlu dimusyawarahkan secara terbuka dengan pihak serikat buruh. akan membawa dampak yang baik yaitu musyawarah dan mufakat yang melahirkan keputusan berupa terwujudnya upah yang wajar bagi pekerja. Keterbukaan dalam manajemen.70 789. Dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2006 kenaikan Upah Minimum tersebut kurang berarti bagi meningkatkan kesejahteraan buruh karena sebelum upah minimum berlaku sudah didahului dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi. KESIMPULAN Setelah membahas masalah penetapan upah minimum pada perusahaan sektor industri maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila. 4 Oktober 2006 Propinsi Sumatera Utara menerbitkan keputusan No. Jakarta: 2000 Berdasarkan data upah minimum di atas dapat kita lihat bahwa upah para pekerja di sektor industri masih di bawah kebutuhan fisik minimum namun bila nilai upah tersebut disatukan dengan fasilitas lain seperti Jamsostek. Untuk jelasnya pada tabel dibawah ini adalah daftar upah minimum sektor industri Propinsi Sumatera Utara tahun 2006 yang dikutip dari keputusan Gubernur tersebut. No. IV. Unjuk rasa pekerja saat ini masih berkisar pada perbaikan upah yang menurut mereka belum memadai namun di lain pihak pengusaha/industriawan juga mengeluh karena kondisi ekonomi saat ini kurang mendukung perbaikan upah tersebut.00 kecuali Vietnam. Pengantar Hukum Perburuhan. Perlunya kesadaran pihak pengusaha dan pihak pekerja bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama terhadap peusahaan karena tutupnya perusahaan dapat menyebabkan pengusaha kehilangan sumber usaha dan pekeija akan kehilangan sumber nafkahnya. uang makan dan lain-lain.439 654. Kartasapoetra.400 648. maka upah yang diterima pekerja tersebut sudah mendekati nilai kebutuhan nyata (NKN).195.G. Bina Aksara. Apalagi dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). namun masih jauh dan kebutuhan fisik minimum (KFM). 3.52 804. Pihak Serikat Buruh harus bisa membaca denyut nadi perusahaan tempat kerjanya terutama yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian perusahaan sehingga pada waktu berunding dengan pihak pengusaha. R.000 642.439. Pekerjaan harus dapat menjamin penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja yang bekerja dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Kartasapoetra.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Upah pekerja yang pada kondisi sekarang menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di Indonesia masih dalam tahap bagaimana meningkatkan upah buruh agar bisa mencapai taraf kebutuhan hidup minimum (KHM) padahal di negara ASFAN lainnya persoalan tersebut sudah bergeser kearah perebutan lapangan kerja dengan buruh asing. Upah terendah pada perusahaan industri baru pada tahap kebutuhan fisik minimum namun sudah mendekati nilai kebutuhan nyata namumn dengan adanya kenaikan harga BBM kenaikan tersebut tidak punya arti yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan buruh. Jakarta: 1975 Lalu Husni.G. DAFTAR PUSTAKA G. 2. Pemerintah setiap tahun mengevaluasi pelaksanaan ketetapan upah minimum di daerahdaerah propinsi sebagai dasar untuk menetapkan upah minimum pada tahun berikutnya dengan mempertimbangkan masukan dari Dewan Pertimbangan Upah Daerah Propinsi. dan A. 4. 750. North Sumatra Project Coordinator International Labour Organization (ILO) Henri Sitorus menilai gaji buruh di Indonesia masih terendah di antara buruh-buruh Se-ASEAN. Saat ini gaji buruh sesuai UMP di seluruh Indonesia rata-rata masih di bawah Rp.817. PT.

561/2858/K Tahun 2005 tanggal 25 Desember Tom 95 . Jakarta: 2004 Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. Bandung: 1983 Bulletin Utama Teknik. Sistem Perekonomian Menurut Pancasila Dan UUD 1945. 4 Oktober 2001.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono 2005 Gunadi. 5 No. Vol. Medan Sekretariat Negara RI. Fakultas Teknik UISU. Program Pembangunan Nasional 2004 – 2009. Angkasa.

many cutting tools have been coated with some coating materials such as TiN.700 Modulus (N/mm2) 193. MATERIALS AND METHODS The fully hardened tool steel (AISI D2) with hardness of 62 HRC was selected as workpiece material. the dimension may not be produced accurately due to the heat treating process. The shape of workpiece was block with dimension of (310x75x54) mm. usually chipping. 2. the rate of tool wear is high when hard machining process. TiN) is promising when used in turning of tool steel in normal hardness (27 HRC). tool life is ranging from 5 to 20 minutes. Fe to 100% C Si Mn Cr Mo V 1.2 Spec.HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE Department of Mechanical Engineering. cavity bars. flaking and fracturing are the dominant wear modes found in hard machining (Ghani et al. in the case of producing the high accuracy product. Mechanical Properties of AISI D2 Density (kg/m3) 7. the result of surface roughness when tool life of wet cutting passes the dry cutting is three times higher (more than 6 micron). Armansyah Ginting 96 . At those cutting conditions. This method is called hard machining. The workpiece was clamped firmly on the milling machine’s table during machining testing. Chipping.8 0. Those stages in the above are time consuming and thus. It is recommended from the study that cutting conditions for the tool when cutting hardened steel are cutting speeds of 50 to 95 m/min. Al2O3. Flank Wear. The tool geometry is given in table 3. The advantage of this study is facilitating the small and medium enterprises in setting up their cutting condition and sharing the good practice when machining product made of hardened steel. Besides flank wear. The multilayer coated carbide is used in this study and the machining trial is carried out with end milling process under dry cutting. Flaking 1. while feed. productivity is relatively low. Che Hassan et al. etc. Brittle Fracture. machining the workpiece materials in hard condition is one of hot issues in metal cutting. However. Faculty of Engineering University of North Sumatera Abstract: Tool wear and tool life when hard milling of fully hardened steel with 62 HRC using CVD multilayer coated carbide tool are the objectives of the study reported in this paper. TiAlN. In this stage.4 11. materials with hardness from 32 HRC to fully hardened 60-62 HRC are directly machined into its final geometry and dimension.01 mm/tooth. Finally. Two pieces of this insert were mounted in a tool holder to form the end milling cutter with nominal diameter of 20 mm. As the advancement of cutting tool technology today. The objective of study reported in this paper is to study the tool wear and tool life when end milling of fully hardened tool steel with hardness of 62 HRC.42 0. the first stage is machining of the tool steel in normal condition that is in hardness around 23-27 HRC.000 Conductivity (W/moC) 20.2 0. tool steel is machined until the geometry of parts is produced. 2004. Aslan 2005). INTRODUCTION Tool steel is widely used in making moulds. and 20 mm. TiC. The chemical composition and mechanical properties of this material are given in Table 1 and 2. Keywords: CVD. this stage is ended by finish machining (Dewes & Aspinwall 1997).3 0. In producing the parts. They reported that the coated carbide could be used up to 350 m/min with tool life not less than 7 minutes when machining under dry cutting and not less than 12 minutes when machining under wet cutting. 1 mm. Moreover. Nowadays. dies. gears and many kinds of machine parts. Due to the high hardness of workpiece material. Al2O3.2 Table 2. (2001) have reported that the multilayer coated carbide (WC-Co coated with TiC. This stage is followed by the heat treatment stage in which the hardness property of tool steel is improved up to 40 HRC or more in order to meet the requirement of product. axial and radial depth of cut are 0. respectively. The results of study show that flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the dominant wear modes of the tool. heat (J/kgoC) 460 The multilayer CVD coated carbide tool in insert type was prepared in this study. Under this method. Table 1. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. Chemical Composition of AISI D2 Chemical Composition (%).

Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting Tabel 3. Unlike brittle fracture in group one.086 0. Cutting conditions for machining trial are cutting speed (v) from 50 m/min (recommended by the tool manufacturer) to 95 m/min and feeding (f) of 0. Ti(C. 3. Wear rate is calculated based on flank wear (0.3 mm. based on the cutting speed.N) and Al2O3.120 0.060 0. In group two (cutting speed of 80 and 95 m/min) the wear marks of flank wear is smooth (figure 2).1 Tool Wear From the results presented in table 5.16 14 8 -7 7 7 17 0 15 15 90o8’ 15 radial (ar) depths of cut are kept constant at 1.000 rpm.00 15.300 Density (kg/m3) 145 Conductivity (W/mK) 120 Modulus (GPa) 600 Hardness (HV10) 1. Table 4.01 to 0. the tool wear modes of the multilayer CVD coated carbide tool used in this study are flank wear and brittle fracture.188 Wear mode F and BF (rough) F and BF (smooth) RF = rough flank wear.3 mm on both inserts.24 13.056 Feed (f) = 0.015 0. The axial (aa) and Table 5. Tool Geometry Nose radius (mm) Chamfer width (mm) Chamfer angle (o) Axial rake angle Radial rake angle Face relief angle Peripheral relief angle Face cutting edge angle Peripheral cutting edge angle Face clearance angle Peripheral clearance angle Blade setting angle Helix angle 0. Tool life data was recorded when flank wear at VB 0.077 0.8 0. the wear modes can be classified into 2 groups. RESULTS AND DISCUSSIONS The results of machining trials in this study are summarized in table 5. the brittle fracture in group two is worst. The measurement of VB was taken using the toolmakers microscope and each VB measurement was carried out after cutting length of 60 mm. flaking) SF = smooth flank wear. However.029 0. Cutting speeds of 50 to 72 m/min can be classified into group one.60 Wear rate (mm/min) 0.90 3.3 mm) divided by tool life.02 mm/tooth Tool life Wear mode (min) 5. EBF = excessive brittle fracture (chipping. Mechanical Properties of Insert Transverse rupture (N/mm2) 3. 3. The excessive chipping and flaking are occurred due to the high momentum of interrupted cutting during machining at high cutting speed. the wear marks of flank wear is rough and brittle fracture is dominantly occupied by flaking and chipping (figure 1). respectively.02 mm/tooth (finish machining). The mechanical properties of this insert are given in table 4. flaking) 97 .020 0.7 mm on any insert and VB average 0.00 RF and BF 3.022 0.0 mm and 20 mm. In this group.51 SF and EBF 1.450 Grain size (micron) <1 The machining trial was executed on the CNC Vertical Milling Center with 0 – 10.48 2.91 10. it can be seen that generally. All trials are repeated 3 times in order to obtain the reliable data and the average values are recorded. The Experimental Results Cutting speed (v) (m/min) 50 65 72 80 95 Tool life (min) 20.2 micron.33 Wear rate (mm/min) 0.24 5. The tool life criteria in this study were stipulated based on ISO 8688 (1989). BF = brittle fracture (chipping. The machining trial is stopped when VBmax 0. The total thickness of the combination layers is 10 microns and the outer layer of this insert (TiN) has roughness of Ra 0. The insert is made of the micrograin WC-Co with 10% of Cobalt and it is coated with 13 combination layers of TiN.

3 mm. it can be seen that the increasing of feeding from 0.9 and 3.02 mm/tooth (2 times) at all cutting speeds tested results the increasing of flank wear rate averagely 3. Statistically.2 Tool Life Tool life data in Table 5 is plotted and presented in Figure 3.3 mm Referring to Table 5. 98 . 0.02 mm/Tooth at VB 0.01 mm/tooth to 0. the micro observation using SEM proves that the excessive chipping is also affected by feeding. In fabricating the vertical table work. The values indicate that the effect of feeding is more significant than cutting speed in term of the progression of flank wear.3 mm feed 0. 4 Oktober 2006 Based on the recommendation of ISO standard for tool life testing (ISO 8688 1989). 3.02 mm/tooth results the flank wear rate 3.1 times. while 50 m/min for making the dove tail slot on the table. Flank Wear and Brittle Fracture When 72 m/min.01 mm/tooth at VB 0. Flank Wear and Brittle Fracture When 80 m/min. Therefore. the reliable tool life of cutting tool is ranging from 5 to 25 minutes. 1 1 feed 0. it can also be concluded that the effect of feeding is more than cutting speed in terminating the tool life. while axial and radial depth of cut are 1 mm and 20 mm (full engagement since the nominal diameter of the milling cutter is 20 mm).02 mm/tooh at VB 0. No. Cutting Speed vs. the increasing of cutting speed from 50 m/min to 95 (m/min) (about 2 times) at feed of 0. The result of machining proves that the cutting conditions recommended and good practices gained from this study are successful implemented in producing the vertical table work that made of hardened steel. When cutting speed is concerned.01 mm/Tooth at VB 0. the worst chipping and flaking are resulted by the higher feeding. 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. By these facts.9 times. the recommended cutting condition for the cutting tool tested in this study is at cutting speeds of 50 to 95 m/min and feed of 0.01 and 0. respectively. Moreover. 100 Figure 1. At the same cutting speed.3 mm S i 3 10 100 1000 Cutting speed (m/min) Figure 3.01 mm/tooth. Tool Life for All Cutting Conditions 4. Tool life (min) 10 Figure 2. IMPLEMENTATION The cutting condition recommended from this study was implemented in fabricating the vertical table work to support the operation of milling machine in horizontal position (Figure 4). cutting speed of 72 m/min was used for face milling the wide surface of table work. The table work is a sample product made by the small and medium enterprises. the decreasing value of tool life is found analogue to the increasing value of flank wear rate in the above.

Product of Implementation. Dewes R. 1997. C.A.A. 2006. Performance of P10 TiN coated carbide tools when end milling AISI H13 tool steel at high cutting speed. and Aspinwall D. 7. Goh Joo Hua for the data. A. E. 4.H. 6. 2004. 69: 1-17. C. 116: 49-54. Tool Life Testing In Milling. ACKNOWLEGEMENT The author would like to express his sincere of gratitude to Prof. I.. (b) Vertical Table Work Installed on Horizontal Milling Machine 5. Dr.H. H. Journal of Materials Processing Technology.. Wear of coated and uncoated carbides in turning tool steel. 1989. Ginting. 2. 3. Materials and Design 26: 21-27.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting (a) (b) Figure 4. REFERENCES Aslan. Journal of Materials Processing Technology. CONCLUSIONS 1. Ghani. ISO Standard 8688. 99 . & Goh. Choudhury. Experimental investigation of cutting tool performance in high speed cutting of hardened X210 Cr12 cold-work tool steel (62 HRC). Part II-End Milling. feed 0. The cutting conditions recommended from this study are successfully used in fabricating the vertical work table made of hardened steel. and Masjuki. Journal of Materials Processing Technology. (a) Vertical Table Work. The recommendation cutting condition for hardened steel using the CVD multilayer coated carbide from this study is cutting speeds of 50 to 95 m/min. axial and radial depth of cut 1 mm and 20 mm (nominal diameter of cutter). Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. J.01 mm/tooth. Flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the wear modes of the CVD multilayer coated-carbide when used in hard milling of fully hardened steel with 62 HRC. Che Haron. K. A Review of Ultra High Speed Milling of Hardened Steel. J. Che Hassan Che Haron from University Kebangsaan Malaysia and Mr.H. 2001.

One of these techniques is using admittance parameters. Representasi Transistor sebagai Divais 2 Port Contoh : y11=1/z11=v1/i1. Radiated signals in spaces measured in microvolt. Y=1/Z. Oleh karenanya diperlukan metode analisis yang lebih teliti dan akurat. Transistor diperlakukan sebagai kotak 2 port seperti ditunjukkan pada gambar 1. Kata kunci: Penguat. Salah satu teknik analisis dan desain akurat tersebut adalah teknik parameter admitansi. it is necessary to find methods to analyze more precisely. After being received by antennas. Sesaat setelah diterima oleh antena sinyal ini harus diperkuat agar dapat dideteksi dan diartikan. Hasil parameter admitansi y yang diperoleh frekuensi meliputi: y11 = g11 + jb11 y12 = g12 + jb12 y21 = g21 + jb21 y22 = g22 + jb22 resistif dan terdiri dari pengukuran untuk setip PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT Gambar 1. Cara Memperoleh Nilai Admitansi 100 . Nilai impedansi terdiri dari komponen reaktif. 2 Port Abstract: The amplifier is the most important circuit in communication electronics. di mana i2=0 Gambar 2. PENDAHULUAN Analisis admitansi adalah bagian dari analisis sistem 2 port.DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI Satria Ginting Abstrak: Penguat merupakan bahagian terpenting dalam sistem rangkaian komunikasi. Admitansi. these signals should be amplified in order to recognized and translated correctly. Therefore. 1. sehingga nilai admitansi y konduktasi g dan suseptansi b. Transistor. Sinyal-sinyal radiasi yang berada di udara. umumnya berukuran mikrovolt. Amplification technique that is always used in analyzing transistor circuits and operational amplifier will not working properly for signals in frequency of GHz. Parameter admitansi diperoleh dengan mengukur nilai-nilai admitansi dari transistor yang akan digunakan. Admitansi adalah nilai kebalikan dari impedansi. Nilai-nilai admitansi yang diperoleh dari gambar 2. Teknik penguatan yang biasa digunakan dalam analisis transistor serta teknik penguatan operasional tidak bekerja optimal untuk sinyal-sinyal berfrekuensi orde GHz. Nilai tersebut diukur untuk range frekuensi tertentu.

UJI PARAMETER STERN Setelah rangkaian bias diperoleh. selanjutnya adalah menghubungkan penguat dengan sumber sinyal dan beban. maka rangkaian tidak stabil. Rangkaian bias yang ditunjukkan pada gambar 3 menggunakan bias sendiri dalam konfigurasi common gate. Transistor frekuensi tinggi (sampai beberapa GHz) memiliki parameter 2 port (parameter h.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting 2. Jika tabulasi yang tersedia dalam parameter s atau h. maka parameter admitansi harus diuji kestabilannya dengan menggunakan uji kestabilan Linvill: Jika k<1. Jika C<1. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah. 101 . y. Parameter yang penting dari sumber sinyal dan beban adalah impedansi masingmasing. 5.504. Gambar 3. maka transistor akan cendrung stabil dan tidak berosilasi. Transistor 2N3823 pada frekuensi 200MHz memiliki nilai C=0. Jika tabulasi yang tersedia dalam bentuk fasor. maka transistor cendrung tidak stabil dan memerlukan rangkaian netralisasi. PEMILIHAN TRANSISTOR Untuk mendesain penguat frekuensi tinggi. Kapasitor digunakan untuk mengurangi efek riak dari catudaya. Untuk mencegah osilasi akibat induksi elektromagnetis. harus dipilih tansistor dengan karakteristik yang diinginkan. Rangkaian bias lain seperti bias pembagi tegangan. Dalam hal ini 10mA. maka harus diubah dalam bentuk kompleks. Untuk mengetahui keseluruhan rangkaian dapat beroperasi atau tidak. maka digunakan analisis kestabilan stern: di mana di mana Dalam artikel ini transistor 2N3823 digunakan sebagai contoh untuk mendesain penguat pada frekuensi 200 MHz. sebaliknya jika C>1. Adapun metode konversinya ditunjukkan beberapa formula berikut ini. Pada frekuensi ini. RFC menghubungkan drain ke ground. UJI PARAMETER LINVILL Untuk mengetahui apakah transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. Ini berarti transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. Nilai tersebut diukur dan ditabulasikan sampai rentang frekuensi tertentu. Rangkaian Bias Arus bias akan mengalir dari sumber tegangan melalui RFC ke drain dengan memanfaatkan nilai tahanan pada RFC. shielding dilakukan untuk memisahkan pin output dan pin input. atau s) pada datasheetnya. maka rangkaian akan stabil. 3. maka dalam mengaplikasikannya akan efektif pada frekuensi tersebut dan arus bias 10mA. di mana nilai Zo adalah 50 Ohm. maka harus dikonversikan ke parameter y. 4. PENENTUAN RANGKAIAN BIAS Rangkaian bias yang digunakan harus dapat mensuplai arus bias sesuai nilai arus pada parameter admitansi yang digunakan. RF Choke adalah induktansi dengan nilai tinggi dan akan melewatkan semua sinyal pada frekuensi tinggi. Tabel 1 menunjukkan contoh tabulasi parameter s untuk transistor MRF134. transistor harus dipisahkan secara fisik pada frekuensi 200MHz dari rangkaian biasnya. dengan syarat dapat mensuplai arus bias yang ditetapkan dan dipisahkan dengan menggunakan RFC. bias kolektor (untuk BJT) juga dapat digunakan. transistor memiliki parameter y sebagai berikut: Nilai ini adalah nilai pada frekuensi 200MHz dan ID=10mA. arus ID= 10 mA. Dari impedansi tersebut diperoleh nilai YS dan YL. Hal ini dicapai dengan menambahkan RF Choke pada setiap kaki transistor. sebaliknya jika k>1.

y22f. .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. No. 102 . nilai-nilai yang diperoleh eksak dan teliti. Teknik Stabilisasi Penguat Jika nilai parameter admitansi transistor adalah y11t. digunakan rangkaian matching impedance. . yakni gain transducer: Pada kasus di atas. Namun penguatan yang diperoleh akan bervariasi terhadap nilai YS dan YL. Bentuk Modul Penguat dan output admittance adalah: 7. Gambar berikut adalah gambar lengkap di mana diasumsi kan YL=50 Ohm (YIN penguat dapat dihitung). karena tidak mempengaruhi gain selama arus bias terpenuhi dan rangkaian dipisahkan dengan RFC. Gambar 4. Hal ini disebabkan: .Perhitungan lebih mudah.y21t. Gambar 6. MAKSIMALISASI PENGUATAN Gain maksimal yang dapat diberikan sebuah penguat adalah: Kondisi ini diasumsikan bahwa impedansi source dan load match dengan input impedance/admittance dan output impedance/admittance dari penguat. y12t. Keduanya menggunakan matching impedace. y12f. 4 Oktober 2006 6. YS=50Ohm (YOUT dapat dihitung). YOUT dan YL juga dapat dimatchingkan. diperoleh bahwa analisis dan desain penguat dengan menggunakan parameter admitansi lebih teliti dan lebih mudah dibandingkan dengan parameter sebelumnya seperti phi atau gm. . KESIMPULAN Dari uraian di atas. Namun permasalahannya adalah ketika beban dan source tidak match. penguat dapat dibuat beberapa tingkat dan dipabrikasikan dalam bentuk modul seperti gambar 5 berikut. 8. maka akan diperoleh nilai admitansi baru dari rangkaian: Nilai ini dapat digunakan dalam desain yang baru dengan menggunakan langkah-langkah yang sama.y22t. Rangkaian Lenglap Penguat Untuk langkah selanjutnya. Posisi RFC disesuaikan sehingga diperoleh rangkaian yang tepat. y21f. Di mana input admitance penguat adalah: Gambar 5. sehingga YIN dan YS dapat dimatchingkan.Pemakain matching impedance dan teknik stabilisasi mempertinggi luasnya pemakaian transistor sebagai penguat. hal ini berarti kondisi penguat stabil. Nilai penguatan maksimum yang dapat diberikan adalah 16. Perhitungannya diperoleh dengan memasukkan komponen YS dan YL pada perhitungan.Pemilihan bias lebih flexible. nilai kestabilan stern untuk admitansi beban dan source 50 Ohm adalah lebih besar dari 1.8 dB. dan nilai admitansi rangkaian feedback adalah y11f. TEKNIK STABILISASI Jika pada langkah perhitungan kestabilan Linvill nilai C ternyata lebih dari 1.Parameter y langsung diperoleh secara experimental untuk frekuensi yang diinginkan. maka akan diperoleh penurunan nilai gain. maka dapat dilakukan teknik stabilisasi dengan menambahkan rangkaian feedback seperti ditunjukkan pada gambar 6. Maka untuk memaksimalkan penguatan dan menstandarkan impedansi sumber dan beban.

Proc.” by John Lauchner and Marvin Lilverstein.” by George E.” Motorola Semiconductor Products. IRE. Application Note 513.” Motorola Semiconductor Products. “A High Gain Integrated Circuit RF-IF Amplifier with Wide Range AGC. “High-Gain. Bodway.. Inc. Inc.” by Arthur P. Application Note 423. 1961. March. January.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting REFERENSI “Field Effect Transistor RF Amplifier Design Techniques. “Using Linvill Techniques for R. 1968. Inc. Electronic Design. High-Frequency Amplifiers. “Stability and Power Gain of Tuned Transistor Amplifiers. The Microwave Journal. Stern. Norris. “Small-Signal RF Design with Dual-Gate MOSFET’s. Electro-Technology. 103 .”Motorola Semiconductor Products. “Linvill Technique Speeds High Frequency Amplifier Design. 1966. April 12. May. Application Note 478A.” Motorola Semiconductor Products. McGraw-Hill. F. Inc. “Circuit Design and Characterization of Transistors by Means of Three-Part Scattering Parameters. 1957.. Application Note 166. Amplifiers.” by Linvill and Gibbons.” by Peter M. 1966. “Transistors and Active Circuits.

Aslam Ali PD II-LIPI). N=3. 1999).5% dan pH=6. arang dan bahan mineral lainnya.84 kal/gr dengan kuat tekan 4. Laine. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui adalah pemanfaatan limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket arang. Sungguh menakjubkan bahwa satu elemen tunggal seperti karbon. maka arang polar yang sering digunakan karena material arang polar akan merekat dengan binder atau perekat yang bersifat polar (Suheng Wu.9%. These particel were impregnated in natrium silicate (Na2SiO3) solution under a range cocentration (0. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Abstrak: Briket arang adalah suatu sumber energi alternatif yang dapat diturunkan dari arang tempurung kelapa dan perekat. Hilda F. Pembuatan obat dalam bentuk tablet atau pun katalis dalam bentuk pellet termasuk juga dalam cara briquetting. namun mutunya seperti nilai kalor bakar masih berkisar 5000 kal/gr dengan kuat tekan 2. Tempurung kelapa dikarbonisasi pada (600–700) 0C dengan udara terbatas.7 sedang karbon tempurung dapat disebut karbon polar atau karbon nonpolar. dan kabon amorf. Pada pembuatan briket arang. H=5. Variasi Konsentrasi.84 cal/gr with its compressibility number 4. 1955). TEORI KARBON Karbon merupakan suatu bahan padatan yang berpori dan mempunyai tiga bentuk alotrop. Bahan ini (impregnan) selanjutnya dicampur dengan perekat organik dan dicetak menjadi briket. peat. arang yang dihasilkan digiling dan diayak sampai (40 – 60) mesh.5%. kalor bakar maksimum diperoleh 8083. sementara sediaan tempurung kelapa cukup banyak terdapat di Indonesia khususnya daerah Sumatera Utara dan dapat diperbaharui. O=9. Karbon polar biasanya terjadi jika karbonisasi (proses pengarangan) karbon di bawah suhu 700 oC.1%. arang aktif serta briket. sized to (40–60) in mesh. Adapun komposisi arang tempurung kelapa terdiri atas unsur C=81. banyak dimanfaatkan sebagai media abrasi dan Aditia Warman 104 ..64 kgf/cm2. The impregnant was blended with an organic glue then molded to be a briquet. dan gas alam yang tersedia di perut bumi semakin menipis. dapat muncul dalam dua bentuk kristal yang sangat berbeda yaitu intan dan grafit.45 kgf/cm2 pada konsentrasi 0. Intan adalah elemen yang transparan dan merupakan salah satu material paling keras.1–1.2% natrium silicate (Na2SiO3) solution. Kata kunci: Impregnasi. 1996). Silikat Abstract: A materil such as charcoal briquet can be used as an alternative energy. The charcoal formed then was crushed. Pembriketan ini lazim dilakukan terhadap coke. A maximum caloric value was obtained 8083.45 kgf/cm2 in 0. Dengan menggunakan teknik ini maka serbuk karbon jika diimpregnasi dengan silika (SiO2) akan memperkecil ukuran pori-pori karbon tersebut.64 kgf/cm2.1–1. PENDAHULUAN Dengan meningkatnya secara pesat pembangunan pada segala bidang yang mengakibatkan pula meningkatnya kebutuhan akan energi. Perlakuan Panas. To improve the quality both caloric value and compressibility number is an objective of this study.0)%. Partikel halus ini diimpregnasi dalam larutan natrium silikat (Na2SiO3) dengan variasi konsentrasi (0. Pori-pori ini dapat diimpregnasi dengan logam untuk keperluan katalis suhu tinggi (A. (Sudrajat R. pori-pori karbon yang besar diduga menurunkan nilai kalor bakar dari briket (4000-5000) kal/g (Hartoyo Ando. It has caloric value approximatly 5000 cal/gr with compressibility number is 2. grafit.1993). intan. Pembriketan atau briquetting terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu. This material has been regenerated from a coconut shell charcoal blended with organic glue. oleh karena itu kita dituntut untuk memikirkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. 1999). Pemanfaatan arang sebagai arang aktif adalah didasarkan pada sifat-sifatnya yang merupakan bahan padatan amorf yang berpori (Keake. These briquets were tested their caloric value and their compressibility.ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA Departemen Fisika. G. hal ini dibedakan dari banyaknya gugus karbonil (C=O) yang melekat pada karbon (J. untuk meningkatkan mutu ini maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. Calafat. sementara cadangan energi seperti minyak bumi.0)%. Karbon merupakan material berpori-pori di mana pori-porinya semakin besar setelah dilakukan aktivasi fisik atau kimia. Tempurung kelapa banyak juga dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu pada industri kerajinan tangan. A coconut shell was carbonized at (600–700) 0C in limited air condition. karena selama ini penggunaan tempurung kelapa hanya sebagai arang biasa dan belum dipergunakan secara optimal. A.2% larutan natrium silikat (Na2SiO3). tepung tempurung. garam. arang. Briket ini diuji kalor bakar dan kuat tekannya.

30 bagian dari 25% larutan dekstrin/glukosa . pembriketan biasanya lazim dilakukan terhadap coke. secara garis besar pembriketan dapat dibedakan atas dua macam.28 bagian dari 10% larutan Na2SiO3 . . Elemen ini sekarang digolongkan ke dalam kelompok keramik tahan panas karena kekuatannya pada temperatur tinggi serta ketahanannya yang sangat baik terhadap kejutan termal. Kadar volatil. dalam hal ini digunakan tekanan yang sangat besar (mencapai 10 ton/in2). garam arang. selanjutnya dihaluskan dengan hammer mill dan diayak dengan ayakan berukuran 40 dan 60 mesh lalu diaktifkan dengan metode pengaktifan selanjutnya dicuci dengan air lalu dikeringkan dalam oven 125 o C selama 6 jam setelah itu diamati dengan foto SEM dan FTIR untuk mengetahui keadaan permukaan dan strukturnya sebelum diimpregnasi. setelah itu arang yang telah diimpregnasi ini dicuci dengan air dan ditiriskan lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 125 o C selama 6 jam. Grafit digunakan sebagai pelumas padat dan alat tulis (mata pensil). hampir semua/sebagian besar dari pembriketan menggunakan cara ini.Kadar air. sebagai contoh misalnya untuk coal bituminous. BRIKET ARANG Briket arang dapat dibuat dari campuran bubuk arang ditambah dengan suatu bahan pengikat lalu dicetak dan dipres pada cetakan dan setelah itu dikeringkan. dan mineral lainnya. kuat tekan yang memadai diperlukan untuk mencegah agar briket arang ini tidak pecah pada waktu pengangkutannya. Kadar abu. sifat fisis yang penting dari briket arang ini adalah nilai kalor bakar dan kuat tekannya. selanjutnya butiran arang ini diayak kembali dengan ayakan yang berukuran 40 dan 60 mesh dan dipanaskan pada tanur dengan suhu 400 oC selama 4 jam dan siap untuk dikarakterisasi: . FTIR Pembuatan Briket Arang Butiran arang dari hasil impregnasi selanjutnya dibuat menjadi briket dengan komposisi sebagai berikut: tujuh bagian arang dicampur dengan satu bagian bahan pengikat dan bahan pengikat ini terdiri dari. termasuk di dalamnya karbon aktif dan karbon hitam karena sifat-sifatnya lebih banyak menunjukkan sebagi senyawa amorf (R. .23 bagian dari 5% larutan H2SO4 Selanjutnya diaduk hingga merata dan dicetak dalam cetakan dan ditekan dengan hidrolik press 10 kgf/cm2 dan dikeringkan untuk siap dikarakterisasi kembali. 2. Adsorbsi asam asetat . Smallman.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman alat pemotong. SEM. 1999).Kadar karbon. Intan dan grafit mempunyai struktur atom karbon murni yang sifatnya berbeda sedangkan karbon amorf meliputi sejumlah besar senyawaan yang bagian terbesarnya adalah karbon dan tidak dapat di klasifikasikan sebagai intan atau grafit. E. Pembriketan dengan memakai pengikat (binder). 1. Pembriketan terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu.Kuat tekan 105 . Pembriketan tanpa memakai pengikat. Absorbsi Iodium.Kalor baker .29 bagian dari 25% larutan NaCl . peat. Butiran arang yang berukuran 40 dan 60 mesh ini selanjutnya dibagi menjadi 10 bagian dan masing-masing direndam dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) yang konsentrasinya masing-masing (0. cara ini dipakai untuk material-material tertentu saja.0 ) % selama satu hari.1 s/d 1. METODOLOGI PENELITIAN Impregnasi Karbon dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) Butiran arang yang terbuat dari tempurung kelapa dengan metode destilasi kering akan menghasilkan arang dengan rendamen yang tinggi.

00 6.vs – Consentrasi Pengimpreg Series3 Grafik Kadar Volatil .90 1.90 1.00 20.60 0.80 0.00 0. 4 Oktober 2006 HASIL DALAM GRAFIK DAN GAMBAR 11.30 0.20 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 0.40 0.80 0.50 0.00 0.00 5.Consentrasi Pengimpreg 100.00 1.10 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kadar Karbon .30 0.70 0.00 0.00 30.00 Kadar (Air.00 0.00 40.00 90.00 80.00 0.vs – Consentrasi Pengimpreg SiO2 Series2 Grafik Kadar Abu . Abu.vs .40 0.Consetrasi Pengimpreg SiO2 106 . Volatil) (%) 7.00 3.00 60.00 1.00 10.00 8.vs .10 0.00 50.00 Kadar Karbon (%) 70.00 1.00 10.00 4.00 9.00 2. No.50 0.10 Consentrasi SiO2 (%) Series1 Grafik Kadar Air .20 0.10 0.60 0.70 0.

vs .1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik nilai Kalor Bakar .4 0.7 0.8 0.4 0.2 0.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman 9000 8000 Kalor Bakar (kal / g) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 0.5 0.8 0.6 0.vs .Konsentrasi Pengimpreg SiO2 25 20 Kuat Tekan (kgf / cm ) 2 15 10 5 0 0 0.1 0.9 1 1.1 0.3 0.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 107 .3 0.7 0.9 1 1.5 0.2 0.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kuat Tekan .6 0.

No.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 4 Oktober 2006 Foto SEM Permukaan Arang Sebelum Diimpregnasi SiO2 Foto SEM Permukaan Arang Sesudah Diimpregnasi SiO2 FTIR Sebelum Diimpregnasi 108 .

Report No.G. Inc. Alport. Bishop. Laine. Standar Cara-Cara Analisis dan Syarat Mutu Barang”. Erlangga Jakarta. bahan pengimpregnasi dan jenis bahan bakunya. (1995) “Rekayasa dan Pembuatan Tungku Abu Sekam Dengan Bahan Bakar Briket” Balai Industri Ujung Pandang. R.” Majalah Ilmiah BIMN No. 2. No. Sifat kuat tekan (σ) briket arang tempurung kelapa akan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi pengimpreg SiO2 dan hal ini juga diikuti oleh sifat kadar air (Kr).“ Pembutan Briket Arang dari Lima Jenis Kayu Indonesia”. Nilai kalor bakar (C) arang tempurung kelapa meningkat jika diimpregnasi dengan SiO2 pada konsentrasi tertentu.J. Smallman. Hasibuan M. Keake. Supeno M (1987) “Efek Termal dan Nyala Pada Pembuatan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Sifat Fisik Arang Tempurung” Universitas Sumatera Utara Medan.84 kal/g dan kuat tekannya 4. 103.2%.Graw Hill Company. (1994) Pedoman Teknis Pembuatan Briket Arang. DAFTAR PUSTAKA A. “Pengaruh Beberapa pengolahan Terhadap Sifat Arang Aktif ”. Departemen Perindustrian. A. Saran Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan variasi tekanan pengepresan. (2002).“Actived Carbon” Encyclopedia Of Science and Technology. 109 .27. Vol 1:69 American Society For Testing and Material (1981) “ Annual Book Of ASTM Standards” Part 30 D-28 Departemen Perindustrian. dalam penelitian ini nilai kalor bakar optimum diperoleh 8083. London. Arang tempurung kelapa memiliki absorbsi I2 = 100. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Departemen Kehutanan. Sudrajat. kadar volatil (Kv) tetapi hal ini menyebabkan turunnya kadar karbon (Kk).“ Pembuatan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dengan Cara Pemanasan Tinggi. Calafat. Aslam Ali. Harotoyo. 19-29. and M. Badan Penelitian dan pengembangan kehutanan. pp. J dan H Roliadi. Marcel Dekker. Buletin PD II – LIPI Jakarta.44 mg I2/g yang didukung oleh data foto SEM dan FTIR. Vol.45 kgf/cm2 pada konsentrasi pengimpreg SiO2 0. 3.3. (1979) “ Standar Industri Indonesia. No. Ando. Lumingkewes. J. Souheng Wu (1999). R. dan nilai kalor bakar ( C ) arang tempurung kelapa tersebut. (1995). Mc.2. (1987). Meiske S. (1993).Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman FTIR Sesudah Diimpregnasi SiO2 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Lybrary of Congress Cataloging In Publication Data. H Bumham. New York. kadar abu (Ku).Y.“ Activated Carbon From Coir Fibre Pith”. Labady (1999). R.61 mg I2/g dan semakin kecil setelah diimpregnasi dengan SiO2.” Preparation and Characterization of Activated Carbon From Coconut Shell Impregnated with Phosphoric Acid. (1996). “Polymer Interface and Adhesion ”. Hilda F.7. (1999) “Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa Meterial”.E.2. absorbsi I2 = 47. Carbon Vol. ukuran partikel arang.

which restricted by their discipline levels in the traffic. and the average delay is about 10 minutes/pcu/travel. that is “an interesting scene” or the contest of “line exhibition of various types of queuing vehicles” at every segment of road in Medan. traffic direction management (one or two ways). The aim of the traffic management policy is to manage the movement to achieve the system’s efficiency and effectiveness in accordance with the movement’s needs. selling/market on road or on the sidewalks. and often become chatting topics for community from various classes everywhere.g. An illustration for the amount of financial losses per day that has to be bore by traveller community in Medan based on author’ observations and estimations is such as follows: Congestion locations per day in Medan are about 60 road segments (30 intersection spots. wasting petrol. How is the existing policy objectives and the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan? And how is the relationship with the urban transport systems of Medan? 1. setting traffic lights. This could happen because of high side friction effects which lead to road segment stricture (bottleneck). like what has been visible now. for instance: parking location management. and stres (triggering high blood pressure.URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS A Lecturer/Researcher of Civil Engineering Department. Bangun 110 . with assumption of 2 road segments are congested per intersection). efforts to minimize the congestion levels are necessary through the application of traffic management policy.A. however it supposed to be minimized and not maximized (intentionally or not). then the traffic queue on the preceded intersection will affect the succeeded intersection. THE IMPACTS AND FINANCIAL LOSSES FROM TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN Urban traffic congestion cannot certainly be eluded.000. Therefore. pedestrians (on road walking and/or crossing). while the number of vehicles that can be distributed is very limited during the green-light time. whereas the movement’s needs are determined by the land use inside the city space and its surroundings which can be illustrated in data of Origin Destination (of movement) Matrix (O-D Matrix). 2. restaurants and plaza) which therefore can decrease incomes/revenues of the land use functions. less visitors to land use functions of surroundings roads (parking. the urban traffic jam is not only due to the unbalance ratio between infrastructure developments and means boost (vehicles) and low discipline level of motorists. such as the correct and integrated traffic managements. cause the queue length becomes more intense. When the distances between intersections are close enough.40. heart disease). like what always become reasons/arguments for various relevant government parties/individual to protect themselves. increase the travel time. on road social activities (party or funeral ceremony). retails/shops. etc. and the average value of time of traveller is about Rp. For surrounded environment (non users) such as air and noise pollutions. bus priority) and the bus stops (bus bay.850/litre. The management should be based on the hierarchical. In addition. functions and classifications of the roads respectively. 2. Faculty of Engineering USU Abstract: Urban traffic congestion often become topics in seminars. bus way. e. has been discussed and investigated by various experts. For users (travellers). the traffic congestion/delay and harmful accident also occur due to the behaviour of angkot’s drivers that often turn up (nyelonong) and suddenly stop on/in the middle of road to get on/off the passengers due to “reaching the daily bill target” (kejar setoran). added by high accessibilities to the surrounded land use of the road segments. However.- Filiyanti T. In Medan. shelter). public transports routes/lines managements (bus lane. due to the number of vehicle arrivals (pcu/minute) is quite high on the road segment.1. due to the limited procurement of road infrastructure until the existence of emotional behaviour of motorists. urban traffic congestion cannot be eluded. Each congested road segment has average traffic volume of 2. The most urgent for short-term program is the effectiveness and efficiency achievements of transport systems. Traffic congestion on the intersection segment can be observed from the long queued vehicles. The impacts and financial losses caused by traffic congestion that are directly affected are: 1. road-cross facilities. traffic signals. trishaw and urban public transport (angkot) poles. BACKGROUND Traffic congestion occurred due to the road segment has started not to be able to accommodate/distribute the vehicle flows that spilled over the road.5 litre/pcu/road segment. there are about 4 hours peak per day. which consequently causes series of congestions at all integrated junctions.500 pcu/hour at peak hours. Indeed. for instance: on road parking. Furthermore. the congestion is also often caused by less accurate intersection management (with or without traffic light). While the petrol (BBM) price is Rp. therefore the average petrol waste is about 0.

however it has to become a serious attention for all levels of road user communities.. functions and classifications. Gatot Subroto Street is a Primary Artery Road and operating as a State Highway (interprovinces) as well as S.40. From KH. added by stres burden that has to be experienced. Prior to the one-way policy on Gatot Subroto Street. especially for regulators (The City Government and the Regional House of Representatives).000.000.M. The congestion from Kejaksaan Street will flow to Kpt.000. 2. which consequently causes higher congestion level on one-way flow of Gatot Subroto Street.285.000.000. with a small difference is at morning and afternoon peak hours. the City Government should rigorously mull the policy over through deeper and comprehensive (integrated) academic investigation/research in accordance with road network systems and traffic movement patterns. therefore the loss of angkot due to less passengers (less trips) with about 15. such as follows: a. Maulana Lubis Street intersection and continually until the intersection of Raden Saleh Street (becomes extreamly congested).per productive hour and the waiting time delays averagely about 10 minutes.000 total armada (angkot and taxi) is about Rp. Bangun /productive hour (assumption: 1 vehicle contains 1 person).150.-. continually to the intersection of Skip Street and keep going to Gereja Street until Glugur junction. THE IMPACTS OF BY-SPOTS ONE-WAY POLICY Post application of policy package of determining the traffic movement direction from two ways to become one way in several road segments in Medan is increasingly discussed through seminars and newspapers..180.000. 111 . the prevailed one way policy is only from Petisah Roundabout until Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection (from East to West direction). then the larger the loss that has to be bore by traveller community (user) and non-users. researchers/planners of transportation and city region development.. Department of Communications/DLLAJ). Western intersection.1.. The congestion from Darussalam Street will affect Pabrik Tenun Street. 3.000.-/vehicle. law supervisors (police. so that the traffic flow condition on the road segments is expected to be constantly fast. d.000.: market.500 x 0.-. state that the services of Primary Artery Roads.12.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. This is not even yet the loss that has to be carried by non-users (needs further investigation with more accurate data).5 x 4 x 60 x Rp.Parman Street and continually to Kejaksaan Street (becomes more severe at the intersection of Imam Bonjol– Diponegoro).000.per day (± Rp.. the more the locations and the higher the levels of congestion. Thus. the traffic flow distributions according to the both directions are similar in general. the urban traffic congestion is not deserve just as a chatting topic for community. the traffic flow will affect the intersection of Abdulah Lubis Street. The congestion from Gajah Mada Street flows to S. Raja Street.000.36 Billions per month).000.000.850.400. c. especially in large cities. should be sustained by managing the traffic systems in such a way in order to maintain the average operational velocity of vehicles.000 passengers with value of time is Rp20. The loss due to productive time = 2. especially about the one-way policy on Gatot Subroto road segment (from roundabout of Petisah until Gatot Subroto – Iskandar Muda intersection).-.= Rp. Asrama intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Asrama Street.555. schools and retails) and limiting the impacts of side frictions. To achieve these goals. continuing along the roads. The loss due to delayed waiting time = 120.= Rp. then the accesses to local roads along the Primary Artery Roads should be limited.. which will continually unite with the flow from Iskandar Muda Street at the intersection of Abdulah Lubis – Iskandar Muda causes severe congestion at the intersection.1. the total financial loss for traveller community (user) is Rp. Adding susceptible spots and congestion levels on the other intersection road segments caused by shifting the traffic flow distributions.000 x 10/60 x Rp.000.g. However.20. The loss of public transport operators = 15. which causes: 1.12. real estate. H.Wahid Hasyim Street.= Rp..000. plaza. traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East becomes more excessive to K. The average number of angkot’s users for 4 peak hours is about 120. The waste petrol occur = 2. Flow stricture occurs (bottleneck) on Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection caused by the shift of one-way flow (from Medan to Binjai) to become two-way flows (starts from the intersection nozzle of Gatot SubrotoIskandar Muda to Binjai direction). b. Therefore. at both inside and outside the cities (suburban). As a Primary Artery Road.500 x 60 x 15/60 x Rp. In conclusion. A. Wahid Hasyim and continually to the intersection of Gajah Mada– Iskandar Muda (extreme congestion). H Wahid Hasyim Street and affects the intersection of Gajah Mada–K. function and classification.000 x Rp. The stipulations based on the road hierarchies. including limiting the direct accesses to surroundings land use (e. especially at afternoon peak-hours.= Rp. From the existing road hierarchy.000. Ayahanda intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Ayahanda Street and/or Darussalam Street.

it is highly expected that the development programs of Medan City is not centralized only in CBD area or in the other word “heaping sugar in city centre” so that the “ants will gather and rotate in city centre” that causes various bigger urban problems (not only in transportation sector but also in other sectors) so that the solutions become heavier and more complicated. in one conditional that the traffic flows should be changed back to two-ways flows. then these will cost huge money and social impacts and will cause a lot of stres to urban community as the expelled victims. Fair Plaza are expected to (should) grant the financial compensation for the development of both types of road. Not yet adding with financial loss for the angkots’ drivers due to fewer passengers. Reduce accessibilities to Petisah market and retails/office complex around the road due to the one way flow. D. The development of Medan City has rapidly advanced nowadays. the vow has become a fact. The win-win solutions are: 1. 5. Thus. parking. What become salient questions are: Has City Government of Medan (Pemko) accurately mulled the amount of losses over including other effects caused by the one-way policies? How much more the losses. moreover the effects will be very heavy and complicated for community. 4. Therefore. that has to be integrated with RTRW of North Sumatera Province and has been enacted (Perda)? 4. because the perceptions and the travellers’ traits have patterned on road network according to time. 5. less trips and longer travel distances.g. especially during the policy application term. T. Whereas for the policies of traffic flow direction management of other road segments in Medan. WIN-WIN SOLUTIONS The authors give temporary win-win solutions (without comprehensive data analysis). How long will the development vow be a fact so that the financial and psycho losses for the community can be estimated and bore? If. only then the City Government (Pemko) issues a plan to develop the Warga Street. the management of traffic problems might be different again.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. police). The reallocation of angkot routes to other road segments. but it should be by network systems that are integrated. which causes additional congestion in various intersections along Iskandar Muda Street and continually causes congestions at the intersections of each alternative road with S. Therefore. In the future. whereas the development of the road infrastructure has seen nothing. e. it is better if the road networks (infrastructure) have been built primarily before applying the traffic management policies. which have to be bare by the community? And to where the direction of further development of Medan. for instance. after the congestion problems become very serious and the solutions are only either to widen the roads or to establish a new road or a fly over. The city establishment /development concepts are expected not only having temporary goals or just taking the advantages (lagi mumpung). etc. e. without solemn planning and up to angkot’s will). about the possible policy that may be more effective to be applied (with the existence of Medan Fair Plaza). The development of Warga Street which has to be followed by the establishment of fly. such as: Hayam Wuruk Street. the traffic flow comes from Gajah Mada Street to Iskandar Muda Street will cause travellers search alternative roads around the acceess roads. The ingress and egress accesses of Medan Fair Plaza are not permitted from Gatot Subroto Street.over (jalan layang) at the intersection of Gatot Subroto – Iskandar Muda. which previously passes the road segment of Gatot Subroto (specifically from West direction to East). Retail business owners/shareholders of Medan 112 . which will enable to reduce conflict spots of the intersection (therefore continued flows will separate from turned flows). THE ROLES OF CITY GOVERNMENT OF MEDAN Enacting the one-way policy on several road segments.. cooperative and sustainable. causes community has experienced the negative impacts. No. Parman Street with Sudirman Street. there will be no more direct access from Gatot Subroto Street to Medan Fair Plaza. it is compulsory to undertake further investigations that are more integrated according to the comprehensive systems. Pardede Street.Parman Street that affect the intersection of S. demand reduction to market/shopping areas. especially for retails’ businesses that tend to be concentrated on the surroundings CBD (Centre Business of District) area. Dr. therefore it is necessary to determine the both accesses from other surroundings road alternatives in accordance with the road functions and hierarchies. The both solutions above will exactly minimize the traffic congestions along Gatot Subroto Street although the traffic flows are still in two-ways flows like previously. so that the traffic management in Medan is not by spots. higher costs and more plenty security guards (DLLAJ. 2. especially flows from West to East for land users on surroundings road segments. 4 Oktober 2006 3. The intersection of Gajah Mada–Iskandar Muda. Additional of heavy duties. if not based on RTRW Medan City. cause the traffic chaotic and congestion more severe on road segments and intersections that accommodating the impacts. Considering the too many routes and angkots’ armada that pass the road segment simultaneously with longer routes (chaotic reallocations.

Jakarta. 2003.. 3. 19 November 2004. Medan. F. F. Januari 2006. p. University of Tokyo. Analisis Newspaper: Medan. and Bangun. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. 6. Jogjakarta. p. A Case Study of Istambul. Directorate Genderal Bina Marga. Napitupulu. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan.. p. M.. Napitupulu. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. Japan 669-1545. 6. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?.. An Opinion. Waspada Newspaper: Medan. An Opinion. 2001. Bangun. R. p.. A. Hyogo-ken. F. Department of Transportation of Medan. and Alkhairi. Sanda-shi. Bandung. Jogjakarta. pp 9–32. dan Alkhairi. 15 January 2005. Minister of Transportation RI. F. the direction of city development is compulsory determined based on the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan and it should be synergized for both inside and inter development sectors with RTRW of Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang (MEBIDANG) simultaneously with RTRW of North Sumatera Province. No. Hasamagaola 3-25-3. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism. p. Sorensen. 103 – 108. 1993. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? An Opinion.. Ghana. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. Portland. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. F. Sutomo. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. Waspada Newspaper: Medan. An Opinion. and Bangun.. 13 November 2004. No. Februari 2006. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. ----------. Bangun Thus. 1992. Bangun. 2006. pp. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. 113 . Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. dan Napitupulu. 1. R.. 13. 31 Januari 2005. and Bertini. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. A Case Study of Accra Metropolitan Area. Medan... Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 2. F. Portland State University. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. Munawar. 4. 1. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? An Opinion. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. 13. P.. Turki. ----------. Beta Offset Publisher. Satellite Cities.. F. A.. Vol. 2005. An Opinion. Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan. 18. R. Department of Urban Engineering... F. April 2006. The Urban Satellite Field Concept.and Alkhairi. International Planning Studies. 13. Bangun.L. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65/1993 about Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. 4.. and Bangun. p. R. REFERENCES Bangun..T. ----------. Departemen of Public Work RI. p. P. Vol. and Bangun. A. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. R. 13. An Opinion. 2006. P. Powerpoint Transparansi. Napitupulu. Jakarta. 2004. 2005.. Powerpoint Transparansi. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 1. Leal. 21 Maret 2005.. 2005. H.. Medan. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. R. Napitupulu.

Perilaku kayu dalam proses pemesinan akan berpengaruh terhadap efisiensi pengolahan dan merupakan salah satu kriteria dalam penentuan alokasi penggunaannya. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. Wood Working.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. kempas. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengolahan kayu. To be able to be made use of the processing industry of wood was needed by basic characteristics especeally the machining properties. serat terangkat. Pemanfaatan kayu dari spesies yang kurang dikenal (lesser known spesies) dan berkualitas rendah merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifatsifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. meranti. Kayu selain banyak dimanfaatkan untuk bahan baku konstruksi juga dimanfaatkan untuk industri pengolahan kayu. dan lainnya tersebut sehingga pemanfaatannya dapat optimal dan sesuai dengan penggunaannya. Kayu durian yang biasa ditanam di hutan rakyat.) as a industrial raw material. rengas. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. dan Nur Idul Adha Abstrak: Kayu durian (Durio zibethinus L. meranti. Pengerjaan Kayu. Pemanfaatan kayu ini tentu harus didasarkan pada kualitas yang sesuai dan seimbang dengan kayu jati. 114 . Sumatera Utara. 1995). chip mark.) is included first class (very good).) (THE MACHINING PROPERTIES OF DURIAN WOOD [Durio zibethinus L]) Muhdi. serat tersobek. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. kempas dan lainnya lebih disukai oleh industri pengolahan kayu sebagai bahan baku konstruksi dan mebel. Jenis cacat yang teramati pada proses permesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Supriadi dan Rachman (2002) mengemukakan bahwa 400 jenis dari 4. The aimed of this research was to know the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. raised grain and destruct grain.) is one of the wood that has a low quality that could be made use to the alternative fo the processing industry of wood especially as the furniture raw material.) adalah salah satu kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk bahan baku dalam industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. bulu halus. Tujuannya ialah untuk memperoleh gambaran mengenai mutu kayu olahan sebagai hasil interaksi antara kayu dengan berbagai mesin yang digunakan di dalam pengerjaannya (Ginoga. This research indicated that durian wood can be made alternative to industrial raw material of wood working. tanda serpih. Tito Sucipto. Machining Properties PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan kayu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan manusia. Kayu-kayu yang memiliki kelas kuat dan kelas awet tinggi atau sifat-sifat pengerjaan kayu yang sangat baik seperti kayu jati. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat sampai sekarang pada umumnya terbatas pada kayu dari spesies yang telah dikenal dan berkualitas tinggi. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. Keywords: Durian Wood. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian bertempat di pabrik pengolahan kayu furniture dan mebel. dan serat hancur. pinus. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifat-sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. Kata kunci: Kayu Durian. pinus.SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L. The defect kind that abserved in the machining process of durian wood including chipped grain. rengas.) termasuk kelas I (sangat baik).) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. Sifat Pemesinan Abstract: Durian wood (Durio zibethinus L. This research showed that the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. perkebunan bahkan di pekarangan rumah adalah salah satu jenis kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. Salah satu sifat dasar tersebut ialah sifat pemesinan atau pengerjaan pada papan kayu gergajian. Padahal pasokan kayu dan ketersediaannya semakin berkurang dan sulit untuk didapatkan. UD Setia Perabot. Kota Medan. fuzzy grain.000 jenis kayu yang diperkirakan tumbuh di Indonesia merupakan jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu dan secara alami terdapat dalam jumlah yang besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L.

b.000 Router KaferMK408 Cina 1994 R4-R6 220 4 20.00012. Spesifikasi mesin yang digunakan dalam proses pengerjaan disajikan pada tabel 1. Muhdi. Penyerutan (Planing) Contoh uji penyerutan dibuat berukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm.5 cm x 2 cm dan bebas cacat. dan Nur Idul Adha Tabel 1.000 Borer GeetechMA09 Taiwan 1995 Bor 220-240 2 2. Sudut potong pisau diatur sebesar 20°-30°. Pola pembuatan contoh uji disajikan pada gambar 1. Tito Sucipto.0006. mesin profil (shaper).000 rpm. mesin serut (planer).Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Pada setiap contoh uji dibuat dua buah lubang bor dengan laju pengeboran diusahakan cukup lambat agar menghasilkan lubang bor yang baik. Spesifikasi Mesin Pengerjaan Kayu Planer Shaper Spesifikasi Merk-Tipe AT-602 TCB-26 Asal Buatan (tahun) Tipe bilah Tegangan (volt) Tenaga (HP) Kecepatan (rpm) Cina 1995 Persegi 240 4 2. Dilakukan pengamatan terhadap cacat-cacat pemesinan yang terjadi pada bidang permukaan hasil pembentukan. Memberi tanda pada setiap contoh uji begitu keluar dari mesin dengan menunjukkan arah masuk kayu ke dalam mesin. Pengeboran dilakukan sampai 2 mm melebihi permukaan bawah contoh uji untuk menghindari terjadinya serpih. laju pengumpanan sebesar 12 m/mm. dengan kecepatan putaran mata bor sebesar 3. c. Pada salah satu sisi contoh uji tersebut dibentuk alur berbentuk M6 (moulding model 6).5 cm 2 cm 5 cm c 10 cm 90 cm Keterangan: a = Contoh uji pengeboran (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) b = Contoh uji pengampelasan (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) c = Contoh uji penyerutan. serta tebal sayatan sebesar 2 mm.000 rpm.600 rpm. Semua contoh uji yang telah diserut disimpan dengan teratur dan selanjutnya dinilai sifat penyerutannya.00032. 30 cm a b 2. Pembuatan profil ini menggunakan pisau M6. Papan contoh tersebut dibuat menjadi contoh-contoh uji untuk pengujian sifat-sifat pemesinan kayu. Contoh uji diserut dengan mesin double moulder searah dengan arah serat. Pembuatan Contoh Uji Menurut metode ASTM D 1666-99. dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi bahan dan peralatan yang ada.000-6. Mata bor yang digunakan berdiameter 12 mm. pembentukan dan pembuatan alur (ukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm) Pengujian 1.000 Taiwan 1992 Pita 300 3 8. Alat bantu yang digunakan adalah meteran. Pembentukan (Shaping) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin pembentuk (shaper). Kondisi pemesinan disesuaikan dengan kondisi yang saat ini diterapkan di industri pengerjaan kayu. Sifat-sifat pemesinan yang dinilai dan cara pengerjaan adalah: a. mesin bor (borer) dan mesin amplas (sander). Penelitian sifat-sifat pemesinan menggunakan bahan baku berupa papan contoh kayu durian (Durio zibethinus) berukuran 120 cm x 12.000 Sander HML-906 Taiwan 1997 240 1 1.000 Alat yang digunakan untuk penelitian adalah gergaji bundar (circular saw). kaca pembesar (loope) dengan perbesaran sepuluh kali dan tranparansi millimeter. alat tulis. dengan kecepatan putar pisau sebesar 9. Gambar 1. Pengerjaan Papan Contoh Pengujian dilakukan dengan menilai sifat pemesinan pada papan contoh.. 2002). Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada dasarnya sama dengan metode ASTM D 166699.725-2. Semua papan contoh dalam keadaan kering udara dan kondisi bebas cacat. mesin pembuat alur (router). caliper. Perubahan tersebut terutama pada pembuatan contoh uji dan cara pengujiannya (Abdurrahman dan Karnasudirja. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. kecepatan putar pisau sebesar 5. 1982 dalam Supriadi dan Rachman. Pola Pemotongan Contoh Uji (ASTM D 1666-99) 115 .5 cm x 2 cm sebanyak 20 lembar papan (ASTM D 1666-99). papan contoh uji dibuat berukuran 120 cm x 12. Selanjutnya dibuat contoh uji dan dikerjakan dengan peralatan yang terdapat di UD Setia Perabot. Semua papan contoh bebas cacat terlebih dahulu dikeringudarakan hingga kadar air 12–18%. Pengeboran (Boring) Contoh uji yang dibor berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm.

Pada permukaan kayu dengan arah serat lurus jarang ditemukan cacat ini. Arah serat kayu durian yang berpadu dan adanya mata kayu diduga juga akan membentuk cacat serat terserpih. Cacat yang terbentuk ini biasanya disebut serat terserpih. dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang sifat pemesinan kayu durian. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. Objek yang diamati yaitu cacat yang timbul pada permukaan contoh uji sebagai akibat dilakukan pemesinan. sehingga pada permukaan papan akan terbentuk cacat akibat belahan tadi. Menurut Koch (1964). Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji penyerutan yang disajikan pada lampiran 2 adalah serat terserpih. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Rekapitulasi nilai bebas cacat dan kelas mutu sifat pemesinan pada seluruh proses pengerjaan disajikan pada tabel 2.5 cm dan panjang 90 cm. Analisis Data Pengolahan data mengenai sifat pemesinan kayu mengacu pada ASTM D 1666-99. Selanjutnya diamati cacatcacat pemesinan yang timbul. walaupun ada juga permukaan kayu yang sama sekali tidak terdapat cacat ini. bulu halus dan tanda serpih.5 cm. Oleh karena itu. 4 Oktober 2006 d. Kecepatan dorong kayu (feed rate) diatur sebesar kurang lebih 360 m/menit dengan arah pengumpanan searah dengan arah pengumpanan pada saat penyerutan. Pengujian Sifat Pemesinan Setiap contoh uji yang telah dikerjakan dengan mesin diamati hasilnya secara visual. Cacat serat terserpih hampir merata terdapat pada semua permukaaan kayu. tatal yang tebal kekuatan lenturnya (bending) lebih tinggi dari tatal tipis. sehingga sisi kayu tidak siku. Dimensi alur yang dibuat pada permukaan contoh uji adalah lebar 0. 2. Pengambilan kesimpulan sifat pemesinan kayu dilakukan secara kualitatif berdasarkan persentase rata-rata permukaan contoh uji yang bebas cacat dan selanjutnya dikelompokkan menjadi lima kelas sifat pemesinan. Terdapatnya cacat ini diduga karena tebalnya serat-serat kayu (tatal) durian. Pengampelasan (Sanding) Pada pengujian pengampelasan dipakai contoh uji berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm dengan menggunakan mesin amplas (sander). tatal tebal akan cenderung terbelah (splitting). e. Loope dengan derajat pembesaran sepuluh kali digunakan sebagai alat bantu untuk melihat lebih jelas bentuk cacat. Pisau router yang digunakan berbentuk R6 yang menghasilkan bentuk “r” pada sisi kayu. Pembuatan alur (Routing) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin router. Pembahasan 1. adanya miring serat (berpadu) cenderung merangsang timbulnya cacat pengetaman yang disebut cacat serat terserpih. Menurut Darmawan (1997). luas permukaan bebas cacat serta persentase contoh uji yang masuk ke dalam kelas pemesinan yang telah ditentukan. Tabel 2. Nilai Bebas Cacat dan Kelas Mutu Sifat Pemesinan Kayu Durian Pembuatan Penyerutan Pembentukan Pengeboran Kriteria Alur (Planing) (Shaping) (Boring) (Routing) % bebas 93 87 96 96 cacat Kelas I I I I Mutu Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pengampelasan (Sanding) 95 I Sangat baik 116 . Pengerjaan penyerutan menyebabkan banyaknya serat yang terlepas dan membentuk lekukan-lekukan pada permukaan kayu.000 rpm. Proses ini menggunakan kertas amplas grit 80 dan 120 dengan tebal pengampelasan sebesar 0. Cacat serat terserpih lebih banyak ditemukan terdapat pada permukaan kayu dengan arah serat berpadu dan di sekitar mata kayu seperti yang terlihat pada gambar 2. Selanjutnya data mengenai jenis cacat. Sifat pemesinan kayu didasarkan pada besar kecilnya persentase permukaan bebas cacat setelah proses pemesinan. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat terserpih yaitu sebesar 4 %.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. No. Kecepatan putar pisau router sebesar 30. tebal 0. Penyerutan (Planing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas penyerutan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 93 %. diikuti bulu halus dan tanda serpih masing-masing sebesar 2 % dan 1 %.5 mm.

Ini berarti serat-serat kayu tersebut tidak terpotong sempurna oleh mata pisau. sehingga akan terbentuk tatal-tatal yang pendek. dan Nur Idul Adha Mata kayu Serat terserpih Serat terserpih Gambar 2. Cacat yang paling banyak muncul adalah bulu halus yaitu sebesar 6%.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Tanda serpih yang timbul diduga karena adanya kandungan resin pada kayu tersebut. Darmawan (1997) menambahkan bahwa tatal-tatal yang pendek ini memiliki kekuatan lentur yang rendah sehingga tatal-tatal ini mudah digeser oleh mata pisau. diikuti serat terangkat dan tanda serpih masing-masing sebesar 5% dan 2%. Menurut Darmawan (1997). bulu halus dan tanda serpih. yakni suatu proses pemotongan bidang kerja yang dipotong oleh beberapa mata pisau yang berputar terus menerus. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembentukan yang disajikan pada lampiran 3 adalah serat terangkat. Menurut Darmawan (1997). Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya bagian kayu dengan arah serat berpadu. Proses pembentukan yang dilakukan pada sisi lebar kayu menyebabkan sudut potong pisau dengan arah serat kayu menjadi tegak lurus. melainkan terjadi kerusakan serat-serat kayu sehingga terbentuk cacat serat berbulu pada permukaan kayu. pengetaman dengan laju pengetaman rendah dan tebal ketaman tipis akan terjadi pergeseran serat-serat kayu oleh pisau pengetam.. Darmawan (1997) menyatakan bahwa keberadaan cacat tanda serpih ditentukan oleh karakteristik kayu itu sendiri dan 117 . Pembentukan (Shaping) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembentukan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 87%. cacat tanda serpih terbentuk akibat rendahnya kekerasan kayu. Muhdi. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembentukan Menurut Koch (1964). proses pembentukan merupakan proses peripheral milling. sehingga seratserat kayu yang tidak terpotong dengan sempurna akan berdiri dan membentuk bulu-bulu halus. sehingga tatal-tatal kayu yang terbentuk akan sangat mudah dilekukkan pada permukaan papan yang telah diketam oleh pisau-pisau pengetam. Cacat serat terangkat yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena pengerjaan pembentukan dilakukan pada bagian kayu yang masih lunak sehingga menyebabkan kekasaran pada permukaan kayu. Akibat bekerjanya gaya geser ini maka serat-serat tepat di depan mata pisau akan mengalami pemadatan dan mengalami pelipatan. kekasaran permukaan kayu disebabkan oleh terangkatnya kayu akhir sehingga lebih tinggi daripada kayu awal. Menurut Darmawan (1997). 2. Tito Sucipto. Cacat Serat Terserpih Akibat Pengerjaan Penyerutan Kecepatan pengumpanan rendah dan tebal ketaman tipis yang dipakai dalam proses penyerutan diduga juga memicu timbulnya serat berbulu halus. Cacat tanda serpih yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu durian termasuk kayu dengan kekerasan yang rendah. Hal ini menyebabkan serat-serat kayu tidak terpotong sempurna dan terbentuk serat berbulu. Cacat serat terangkat seperti terlihat pada gambar 3. Tanda serpih yang terdapat pada kayu durian ditandai dengan adanya lekukan warna hitam. Serat terangkat Gambar 3.

Pengampelasan (Sanding) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengampelasan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 95%. diduga karena proses pengeboran dilakukan kurang sempurna sehingga ketika mata bor ditarik ke atas (keluar dari dalam kayu) ada sebagian serat di bagian pinggir lubang yang ikut tertarik dan menyebabkan serat tersobek pada bagian tersebut. Sedangkan cacat serat hancur yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu yang dibor adalah bagian kayu yang keras. Salah satu kriteria hasil pengeboran yang bagus yaitu permukaan yang bersih dan halus dengan sedikit serat hancur dan serat tersobek. jenis kayu keras mempunyai kecenderungan memiliki cacat bulu halus lebih sedikit dibandingkan kayu yang lebih lunak pada proses pengampelasan. 3. Hasil uji pengeboran ini diduga dipengaruhi oleh berat jenis kayu. Pengeboran (Boring) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengeboran sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. diikuti serat hancur sebesar 1%. Kayu lunak dengan serat-serat yang lunak diduga memudahkan berdirinya sekelompok serat karena terjadinya gesekan antara ujung serat dengan ampelas. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembuatan Alur Pembuatan alur dengan pisau R6 yang dilakukan sejajar dan berlawanan arah serat diduga menyebabkan cacat serat terangkat dan bulu halus. Jika arah Gambar 4. Cacat serat tersobek yang ditemukan pada permukaan kayu seperti terlihat pada gambar 4. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pengeboran yang disajikan pada lampiran 4 adalah serat tersobek dan serat hancur. Cacat Pengerjaan Pengeboran Pembuatan Alur (Routing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembuatan alur sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembuatan alur yang disajikan pada lampiran 5 adalah serat terangkat dan bulu halus masing-masing sebesar 2%. No. 118 . Cacat serat terangkat yang timbul akibat pembuatan alur seperti yang terlihat pada gambar 5. Serat berpadu pada permukaan kayu diduga juga memicu timbulnya serat terangkat. sehingga ada reaksi ketika mata bor bersentuhan dengan permukaan kayu dan menyebabkan bagian ujung lubang menjadi hancur. Bulu-bulu halus Gambar 6. Cacat yang muncul pada hasil uji pengampelasan yang disajikan pada lampiran 6 hanya bulu halus sebesar 5%. Menurut Koch (1964). Gambar 5. Cacat bulu halus ini hampir terdapat pada semua permukaan kayu dan tesebar secara tidak merata. Mandang dan Pandit (1997) menyatakan bahwa kayu durian termasuk kelas kuat II-III. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat tersobek yaitu sebesar 3%. kayu yang memiliki kerapatan sel tinggi. yang ditandai dengan berdirinya serat-serat kayu seperti yang terlihat pada gambar 6.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Cacat Bulu Halus Akibat Pengerjaan Pengampelasan Cacat bulu halus ini lebih banyak ditemukan terdapat pada bagian kayu yang lunak. Menurut Supriadi dan Rachman (2002). karena cacat ini lebih banyak ditemukan pada bagian kayu yang berserat berpadu daripada serat lurus. ukuran grit ampelas yang digunakan serta arah pengumpanan kayu saat memasukkan kayu pada mesin ampelas. 4 Oktober 2006 menjadi lebih serius pada kayu dengan kandungan getah dan resin tinggi. Timbulnya cacat bulu halus kadang dipengaruhi oleh karakteristik kayu. cenderung lebih tahan terhadap kemungkinan terjadinya cacat ketika melakukan proses pengerjaan.

Muhdi. B. Fakultas Kehutanan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. The Ronald Press Company. Supriadi. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengerjaan kayu. Pengaruh Laju Pengumpanan dan Tebal Ketaman terhadap Kualitas Pengetaman Kayu Pinus. KESIMPULAN 1. 1964). Vol. Bogor. Aghatis dan Manii.K.. pengeboran. pembuatan alur dan pengampelasan) termasuk kelas I dengan mutu pemesinan sangat baik.N. serat tersobek dan serat hancur. Philadelphia. Ginoga. 1964. X (1): 15–21. 2002. serat terangkat. 20 (1): 70 – 85. Cacat yang paling banyak ditemukan pada permukaan kayu sebagai hasil proses pemesinan kayu durian adalah bulu halus dan yang paling sedikit adalah serat hancur. Annual Book of ASTM. tanda tersepih. Jenis cacat yang teramati pada proses pemesinan kayu durian antara lain serat terserpih. 119 . DAFTAR PUSTAKA American Society for Testing and Materials. 1995. Vol. karena pada saat proses pengampelasan serat yang tidak terpotong sempurna akan bangun oleh gesekan ampelas (Koch. bulu halus. pembentukan. Standard Method of Conducting Machining Test of Wood and Wood Base Materials. P. Sifat Pemesinan Empat Jenis Kayu Kurang Dikenal dan Hubungannya dengan Berat Jenis serta Ukuran Pori. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Koch. Vol.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor. A dan O. Darmawan. Pandit. New York. Tito Sucipto. Wood Machining Process. Rachman. Bogor. Sifat Pemesinan Enam Jenis Kayu Indonesia. W. Y dan I. Jurnal Teknologi Hasil Hutan. 13 (6): 246 – 251. Secara umum persentase permukaan bebas cacat pada kayu durian untuk semua proses pemesinan (penyerutan. 1997. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Buletin Penelitian Hasil Hutan. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. dan Nur Idul Adha pengumpanan berlawanan dengan arah serat maka kemungkinan terjadinya cacat bulu halus akan semakin besar. Yayasan Prosea Bogor dan Pusat Diklat Pegawai dan Sumber Daya Manusia Kehutanan. Mandang. 1999. 1997. Institut Pertanian Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

120 .

Eng NIP. Oktober 2006 Pemimpin Umum. di Tempat Banyaknya 1 (satu) eksemplar Keterangan Disampaikan dengan hormat sebagai tukar informasi ilmiah. Almamater Kampus USU P. /JO5. TANDA TERIMA Telah diterima dari Berupa Tanggal diterima Nama Jabatan Institusi Alamat Telepon Tanda tangan/cap : Redaksi Jurnal Sistem Teknik Industri Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl. No. mohon lembar di bawah ini dikirim kembali No. 4 Oktober 2006 SURAT PENGANTAR No.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa. Ir.. …. A. Jabbar M.. H. Bulan Medan 20155 : JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Vol….geocities.31/TI/STI/2004- Kepada Yth : ……………………………….. 130 517 496 …………………………………………………………………………………………. 4 Oktober 2006 Medan. 200… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… .com Volume 7 No. Almamater Kampus USU P.1. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www. ………………………………. M. 1. Rambe..JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 7 No. Isi Surat/Barang JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Ilmiah Terakreditas Vol. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl.. … .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful