P. 1
Jurnal Sistem Teknik Industri Vol_ 7 No_ 4 Oktober 2006

Jurnal Sistem Teknik Industri Vol_ 7 No_ 4 Oktober 2006

|Views: 566|Likes:
Published by Tony Aribowo

More info:

Published by: Tony Aribowo on May 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI

Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4
Penanggung Jawab Pimpinan Umum Pimpinan Redaksi Anggota Redaksi : : : :

Oktober 2006
Ir. Rosnani Ginting, MT Ketua Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. A. Jabbar M. Rambe, M. Eng Ir. Hj. Yuliza Hidayati, MT Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Humala L. Napitupulu, DEA Ir. Harmein Nasution, MSIE Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc Ir. Nazaruddin, MT Ir. Poerwanto, M. Sc Ir. Nazlina, MT Ir. Nurhayati Sembiring, MT Ir. Tuti S Sinaga, MT Ir. Tanib Sembiring, M. Eng Aulia Ishak, ST. MT Buchari, ST Ir. Dini Wahyuni, MT Ir. Danci Sukatendal Ir. Ukurta Tarigan, MT Nisma Panjaitan, ST Dina M. Nasution Jurusan Teknik Indusri Fakultas Teknik USU, Gedung Unit II Lantai 2, Jl. Almamater Kampus USU Medan, 20155. Telp. (061) 8213649 Fax.(061) 8213250 Homepage : http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail : jsti@plasa.com Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik USU Medan Rp. 125.000 per tahun (termasuk ongkos kirim). Biaya dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via Bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening: 005084001 a.n. Ir. T. Sembiring dan mengisi form berlangganan yang disediakan.

Pemasaran/Sirkulasi/Promosi

:

Editing

:

Alamat Penerbit/Redaksi

:

Diterbitkan Harga Berlangganan

: :

Jurnal Sistem Teknik Industri diterbitkan 4 (empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Redaksi menerima karangan ilmiah tentang hasil penelitian, survei, dan telaah pustaka yang erat hubunganya dengan bidang teknik industri. Penulis yang naskahnya dimuat akan dihubungi sebelum dicetak dan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 350.000,- per artikel yang dapat dikirim melalui Pos Wesel ke alamat redaksi atau via bank BNI 1946 Cabang Jl. Pemuda Medan No. Rekening 005084001 a.n.Ir. T. Sembiring.

i

JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI
Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl. Almamater Kampus USU P. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.geocities.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa.com

Volume 7 No. 4 DAFTAR ISI

Oktober 2006 Halaman
1-5

POTENSI AIR SUNGAI ULAR .................................................................................................................... Boas Hutagalung REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM ............................. Herman Mawengkang, Saib Suwilo, and Opim S. Sitompul PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X .... Amri KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER .......... Sihar Parlinggoman Panjaitan AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ..................................... Idhar Yahya STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X ............................................ Khawarita Siregar ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN ............................ Syahrul Fauzi Siregar PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN ....................................................................................................................................... Anizar ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN ...................................................... Filiyanti T. A. Bangun PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA .................................... Bilter Sirait THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN ... Taslim PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO ................................... Ukurta Tarigan PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN ................................... Mangara M. Tambunan ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS............................. T. Hafli dan Akhyar Ibrahim UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA ...................... Suryatmono

6-10 11-20

21-26

27-29

30-39

40-47

48-53

54-60 61-68

69-72

73-78

79-85

86-90

91-95

ii

HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE ........................................ Armansyah Ginting DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI ...................................... Satria Ginting ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA.............................................................................................................................. Aditia Warman URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS .................................................................. Filiyanti T.A. Bangun SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L.)................................................................ Muhdi, Tito Sucipto, dan Nur Idul Adha

96-99

100-103

104-109

110-113

114-119

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

iii

The total area for irrigation now is 18.POTENSI AIR SUNGAI ULAR Dosen Departemen Teknik Sipil. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .000 m3/thn Perhitungan Ashida (Sato. Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: The study is to analyse how to use the water on Ular River according to the needs . maka Boas Hutagalung 1 . dan lokasi Sungai Ular mempunyai nilai potensi yang cukup baik. pabrik pabrik lainnya. Sesuai dengan perhitungan debit air sungai dan kondisi akibat debit tersebut. seperti pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Adapun potensi tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain: . Dengan adanya rencana penyatuan seluruh intake menjadi satu dengan membangun intake baru (rencana bendung karet) di Pulo Tagor. Another gain can be accepted from the sediment material such as sand and gravel material. air untuk industri. hal ini memerlukan penelitian dan pengukuran lebih mendalam.70 m3/hari/km 35. we try to make some calculation for using water for all purpose and then make suggestion for the future.0 m3/hari 365 hari Dengan pengambilan per kilometer dilakukan maka volume bahan galian “C” yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 632.500 ha already establish. Dengan membuat suatu pola pengaturan yang baik maka diharapkan penggunaan air tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan juga potensi lainnya seperti galian C berupa pasir dapat ditambang dari sungai asalkan dilakukan dengan pengaturan yang baik. Pembangunan lapangan terbang Kuala Namu adalah salah satu rencana yang akan segera dibangun. 1990) = 289.The Ular River has been used for irrigation. dan juga di sekitar sungai ini sudah banyak kegiatan-kegiatan industri. kira-kira 10 km dari kota Lubuk Pakam ibukota Kabupaten Deli Serdang.000 m3/thn Dari hasil perhitungan tersebut.280 ha. air untuk perikanan dan keperluan lainnya.Potensi bahan Galian “C” . the area can be extended up to 25.7 Km Dari peninjauan dan penelitian lokasi Cathmen Area Sungai Ular didapat bahwa kondisi Cathmen Area tersebut cenderung semakin rusak sepanjang tahunnya sehingga mengakibatkan semakin tingginya volume sedimen sepanjang tahun.= 632. Keywords: Water. Perhitungan Volume Sedimen (Jembatan Serbajadi) adalah sebagai berikut: Perhitungan Prosida (1990) = 172. fish pond and maintenance water.Potensi Bahan Galian “C” Dari hasil penyelidikan bahwa debit sungai 50 m3/det memberikan volume sedimen yang maximum sepanjang tahunnya. industries and fish pond should be calculated. The calculation doing by using the formula has been suggested by Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum (Public Work). bila kita ambil angka yang menengah dari hasil perhitungan tersebut yaitu Perhitungan Brown maka: Pengambilan bahan galian “C” Sungai Ular untuk setiap harinya dapat diambil adalah: 231000 m3/thn Vc = -----------------------. Debit harian Sungai Ular pengukuran di Pulo Tagor menunjukkan debit ratarata sepanjang tahunnya antara 35 m3/det sampai dengan 75 m3/det. air minum. In this paper. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa debit rata-rata Sungai Ular memberikan volume sedimen maximun sepanjang tahunnya. Irrigation and Another Purposes PENDAHULUAN Sungai Ular adalah salah satu sungai yang terbesar di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang.000 m3/thn Perhitungan Brown (1990) = 231. Distribution. Maka untuk mengantisipasi perkembangan tersebut pada saat ini perlu dibuat suatu kajian mengenai potensi yang akan diberikan oleh Sungai Ular yaitu pemanfaatan airnya yang multi guna yang antara lain adalah: air irigasi.0 m3/hari Vc = ----------------------. In the future the use of water on Ular River should be complicated if the management of water distribution do not prepare smoothly. industries and domestic water.= 17. and also another needs such as domestic water (drinking and public water). Kabupaten ini pada masa yang akan datang mempunyai potensi yang sangat besar. in the future if the weir construct.Potensi Air METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder yang diperoleh dari lapangan berupa data-data pengukuran dan hasil-hasil penelitian terdahulu dan seterusnya dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus yang biasa dipergunakan dalam perencanaan irigasi yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yaitu buku: Standard Perencanaan Irigasi.

53 51.674. Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.0859 38.4679 27.3640 32.0872 29.73 65.793.820.90 93.23 51.1594 30.01 122.4936 31.6773 26.63 51.Potensi Tambak Potensi tambak di hilir Sungai Ular cukup besar.72 71.1415 29.110.9761 36.1578 27.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.7099 34.209.102.7241 26.94 57.274 2.28 61. Juli Agustus September Oktober November Desember 2 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pola Tanam Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4 Alternatif 5 Alternatif 6 Alternatif 7 Alternatif 8 Alternatif 9 Alternatif 10 Alternatif 11 Alternatif 12 Luas Lahan Terkecil yang Dapat Diairi (Ha) 33. Luas Lahan Max.274 2.6178 34.60 64.74 53.87 .50 59.87 31. Diperkirakan luasan yang dapat dipergunakan untuk luasan lahan pertambakan adalah kurang lebih 1232 ha. Dengan pemilihan pola tanam sesuai alternatif di atas maka debit air sungai ular dapat dipergunakan seperti tabel di atas untuk setiap periode setengah bulanan.0692 32. 4 Oktober 2006 pengambilan bahan galian “C” dapat dilakukan pada satu titik pangambilan dengan maximal dan terkontrol volume yang dapat dikeluarkan dari sungai.7412 Februari Maret April Mei Juni 13 Alternatif 13 14 Alternatif 14 15 Alternatif 15 16 Alternatif 16 17 Alternatif 17 18 Alternatif 18 19 Alternatif 19 20 Alternatif 20 21 Alternatif 21 22 Alternatif 22 23 Alternatif 23 24 Alternatif 24 Luas Lahan Min.3591 32.274 2.274 2.9351 28.3437 34.793 ha.274 2.8656 35.2 m3/det dan rencana perluasan bila sarana irigasi diperbaiki dan dikembangkan luas areal sawah dapat ditingkatkan menjadi 25280 ha. No.793 ha dengan pola tanam alternatif 17.73 65.4287 31.1935 25. .274 2.274 2.kebutuhan air 22.274 2.2506 38.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis Tabel 1.332.526.40 52.452.030.690.9844 37.3434 32.274 SISA DEBIT M3/det 32.281.274 2.07 36.90 69.274 2. Sesuai dengan perhitungan kelebihan debit air Sungai Ular ada baiknya dipergunakan sebahagian untuk kebutuhan air tambak.105.7837 34.1400 38.381.200.0211 29.274 2.647.274 2.368.82 52.121.141.2659 26.274 2.274 2.274 2.7681 33.274 2. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25.Potensi Irigasi Luas lahan irigasi yang tersedia pada proyek irigasi Sungai Ular yang sudah menjadi sawah pada saat sekarang ini adalah 18500 ha .6336 34.18 31.8670 27.102.28 34.332.4323 29.07 122.274 2.01 74.9252 27. Luas Lahan Terkecil Diairi No.0157 DEBIT TAMBAK M3/det 2.336 m3/det.557.0895 30. Sesuai dengan perhitungan dan analisis pola tanam yang dilakukan sebanyak 24 alternatif.828.399. didapatkan besarnya potensi irigasi sekitar daerah Sungai Ular yaitu pada pola tanam 17 dengan luas areal 31.274 2.2956 31.80 43.9985 28.*). kebutuhan air 30.793.40 49.8359 35.511.07 36.274 2.7032 33.1996 29.9518 29.274 2.0582 37.5404 29.4339 32.1103 38. Dengan pemilihan pola tanam alternatif 2 di atas (pola tanam sekarang) menunjukkan bahwa debit kebutuhan dari sumbernya untuk tambak adalah sebagai berikut: Tabel 2. Sisa debit andalan dengan adanya Tambak DEBIT Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.3617 31.8115 35.274 2.274 2.274 2.6606 25.Potensi Air .

Kira-kira 80 persen dari air industri digunakan untuk tujuan pendinginan dan tidak perlu bermutu baik. Adapun standar kebutuhan industri adalah sebagai berikut: Peralatan-peralatan pabrik seringkali membutuhkan jumlah air yang besar.00556 m3/det. Direktorat Perumahan dan Pemukiman. Kota Perbaungan.Potensi Industri Sesuai dengan kebutuhan air standar untuk perindustrian dapat diperkirakan pengembangan industri di daerah lokasi pekerjaan.100. Dari hasil perhitungan di atas telah dihitung masing-masing kebutuhan irigasi dengan 24 pola tanam yang diusulkan dipilih satu pola tanam yang terbaik dalam hal ini.500.000 3. Sesuai dengan tingkat pemakaian kebutuhan dasar air bersih yang disarankan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya yang disesuikan dengan besarnya kota dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Penetapan zona di kota-kota besar dipengaruhi letak industri. Standar Penggunaan Air untuk Beberapa Produk Industri Tertentu Penggunaan air Satuan yang umum. Daerah-daerah perdagangan meliputi bangunanbangunan kantor.000 < 3. 2 950 Coca-cola Ton 15000 Kulit (diolah) Ton 66800 2920 Peny. debit untuk keperluan tambak perikanan dan debit air untuk keperluan industri.668 m3/det.000 .20. penggunaan kembali air dalam jumlah yang banyak telah mengurangi kebutuhan air di pabrik baja Kaiser di Fontana. Persediaan air tersebut dapat dipergunakan untuk penyediaan air minum/domestik untuk Kota Perbaungan. Apabila diperkirakan pada masa yang akan datang ada 300 buah industri sedang sampai dengan industri besar. Tabel 3. California hingga 1400 galon/ton baja (5800 liter/ton). bila faktorfaktor lain mempengaruhi letak instalasi.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung .000. rata-rata sekitar 40 liter/hari untuk setiap pegawai tetap. Dari tabel 6 di bawah dapat dilihat ketersediaan air yang dapat digunakan untuk air minum/air domestik. Kota Lubuk Pakam sebagai ibukota Kabupaten Deli Serdang. Beberapa industri/pabrik mengembangkan sistem penyediaan airnya sendiri dan hanya sedikit atau sama sekali tidak menuntut dari sistem penyediaan air kota yang bersangkutan. .00556 m3/det = 1.000 . Sebagai contoh. pada pola tanam tersebut kebutuhan air dijamin 80% akan terpenuhi walaupun 3 . Lubuk Pakam dan rencana lapangan terbang Kuala Namu dan bahkan untuk menambah suplai Kota Medan apabila Kota Medan masih membutuhkannya.000 . Dalam beberapa kasus. kebutuhan air dapat dikurangi di bawah angka rata-rata untuk industri yang bersangkutan. minyak Barrel 163000 Kertas Ton 75200 Tn. Standar Kebutuhan Dasar (Basic Need) Air Bersih Klarifikasi Kota Kota besar utama Kota besar Kota sedang Kota kecil Kota Kecamatan I Kota Kecamatan II Penduduk (jiwa) >1. Kebutuhan untuk daerah-daerah semacam ini tidaklah tinggi. Klg No. kawasan wisata Pantai Cermin dan juga rencana Pelabuhan Udara Kuala Namu dan daerah sekitarnya. sehingga informasi tentang zona tersebut dapat bermanfaat dalam menghitung tuntutan kebutuhan industri di masa depan. maka kebutuhan air untuk industri tersebut adalah 300 bh x 0. sehubungan dengan perkembangan daerah. Produk Produk liter/satuan 1780 Bir Barrel 300 Aprikot klg Klg No.000 . debit untuk air irigasi.000. Perkiraan pemakaian air dapat digolongkan pada golongan kota kecil yaitu 60 liter/orang/hari ditambah dengan penggunaan kepentingan umum seperti rumah ibadah dan pertamanan.000 Kebutuhan per kapita (liter/org/hari) 120 100 90 60 45 30 Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya. Jumlah yang sebenarnya tergantung pada besarnya pabrik dan industrinya.1.000 20. 500.000 100. Letak industri sering sangat dipengaruhi oleh adanya persediaan air. gudang-gudang dan toko-toko.Potensi Air Minum Kebutuhan akan air minum/air domestik sangat diperlukan pada daerah ini. 2 Kacang 5 kl. kira-kira hanya 4 persen dari kebutuhan rata-rata yang dicantumkan pada tabel. air industri haruslah mengandung kadar garam terlarut yang lebih rendah daripada yang dapat diizinkan untuk air minum. Angka-angka pemakaian air yang umum disajikan pada tabel berikut. Perkiraan tersebut diperhitungkan sebagai berikut: Rumah tangga: 60 liter/kapita/hari Keperluan umum30 liter/kapita/hari Kehilangan dan pemborosan 30 liter/kapita/hari Jumlah:120 liter/kapita/hari Potensi debit air Sungai Ular untuk air minum/air domestik yang dapat digunakan adalah setelah dikurangi keperluan debit untuk pemeliharaan sungai.000. Rayon Ton 146200 Baja Ton 585000 Wool Ton 300 Uap Listrik Kwhr Dari tabel di atas diperkirakan kebutuhan air industri untuk daerah lokasi pekerjaan sesuai dengan kondisinya adalah 300 m3/hari/Industri atau sama dengan 0. Walaupun demikian.

1668 0.274 2.1668 0.8699 1.1668 0.6178 34.4466 1.274 2.274 2.5849 13.1668 0.2506 34.6336 34.9351 DEBIT PEME LIHARAAN M3/det 13.1668 0.274 2.2506 38.1668 0.9518 28.1791 13.4339 27.6356 2.2831 1.3381 7.3617 32.274 2.8226 1.9954 13.274 DEBIT INDUSTRI M3/det 0.274 2.6807 13.1668 0.274 2. DEBIT IRIGASI M3/det 2.0153 8.1791 13.0729 9.274 2.274 2.1791 13.7081 2.1914 2.1791 13.1252 11.8763 14.1791 13.274 2.9147 9.1791 13.6499 12.1791 13. 4 Oktober 2006 pada saat musim kemarau sawah masih dapat diairi.1668 0.4323 29.7218 17.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.1791 13.7953 2.4947 11.1791 kebutuhan tersebut dianalisis apakah seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi lihat tabel 5.7841 7.0152 1.1668 0.9518 29.1791 13.2905 7.274 2.1668 0.4050 6.6946 2.1668 0.1668 0.274 2.274 2. industri dan untuk tambak juga telah dihitung dan seluruh Tabel 5.1791 13.1668 0.1996 29.8709 13.1531 2.1791 13.7681 28.6779 2.1656 8.1668 0.5042 DEBIT TAMBAK M3/det 2.1668 0.6336 37. No.1791 13.0859 38.274 2.1791 13. Pemakaian Air yang Diusulkan DEBIT 20% Periode ANDALAN M3/det Januari 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 34.3617 31.1668 0.1791 13.0582 38.6769 10.1791 13.9351 27.9025 3.7681 33.274 2.6178 33.1668 0.0859 38.1668 0.4339 32.6053 1.274 2.274 2.1791 13.9180 1.274 2.1668 0.6946 16.1791 13.1668 Jumlah Rata-rata DEBIT DOMESTIK M3/det 13.1791 13.274 2.1791 13.274 2.1668 0.4323 29. Kebutuhan air untuk air minum/air domestik.5039 12.2330 16.0582 37.9896 2.274 2.1021 10.7655 12.3156 17.1791 13.3390 290.1668 0.4166 1.274 2.7636 6.1668 0.1043 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 4 .9672 10.4518 10.2508 1.1791 13.1996 31.5360 10.1668 0.1791 13.5913 1.1791 13.274 2.

Nederland. KESIMPULAN • Dari hasil perhitungan dan analisis pola tanam. Faculty of Agricultural Sciences Irrigation Engineering. Dengan rencana pengembangan luasan irigasi hingga 25. Medan . Rome KijneJ.6499 m3/det pada bulan Oktober.793 ha dengan pola tanam alternatif 17. pola tanam alternatif 17 (musim tanam 1 dimulai awal Maret s. 1981. • Dari hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi kritis (kering) luasan irigasi yang dapat diairi adalah 31.0 m3/hari di daerah hilir sungai sepanjang 35. • Perlunya pengendalian pengambilan bahan galian “C” dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi. Baars. • Potensi air Sungai Ular sangat cukup untuk mensuplai kebutuhan air untuk luasan potensi pertambakan di hilir Sungai Ular. Dirk RAES. Penelitian dan pengukuran sedimentasi dan analisis laboratorium air Sungai Ular.Cipta Perkasa. Belgium Dorenbos J. c. dari 24 pola tanam untuk daerah irigasi ini yang paling kritis. Methods of Calculating potential evaporation and bouwhoge school.Potensi Air Sungai Ular Boas Hutagalung Dari tabel di atas rata-rata debit yang tersedia untuk air domestik setiap bulannya adalah 12. Juni dan musim tanam 2 awal Agustus sampai dengan pertengahan Desember) kebutuhan air irigasi sebesar pada bulan Maret sebesar 9.3156 m3/det pada bulan Maret dan 6. Laporan Akhir Studi Hak Atas Air/Pemanfaatan Sungai Ular. 1986. Ular River Improvement Project. e. LTD. 1971. bila setiap orang menggunakan air setiap hari 120 l/det. • Potensi Sungai Ular dapat menambah pasokan air untuk Kota Medan apabila Kota Medan berkembang menjadi kota Metropolitan. 1977.000 orang. Crop Water Requirements Irrigation and Drainage Paper. Analisis dampak terhadap pantai dan laut muara sungai apabila dedit andalan Sungai Ular dipergunakan maximum.O. Survei pengukuran dan perencanaan lokasi potensi tambak di hilir Sungai Ular. b. Crop Water Requirements. Design Report. • Kebutuhan air untuk keperluan lainnya seperti: air untuk industri. Dengan kebutuhan air industri 300 m3/hari/industri dan perkiraan adanya 300 buah industri sedang dan besar kebutuhan airnya sebesar 1. Bagian Penunjang.. And Pruitt W. Inc in association with Nippon Koei .668 m3/det. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi. Wagenigen. SARAN-SARAN * Pengendalian pengambilan bahan galian “C” harus dilakukan dan untuk memastikan volume galian “C” yang dapat diproduksi perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. Luasan yang berpotensi untuk pertambakan diperkirakan seluas 1232 ha. d.280 ha adalah aman untuk kondisi paling kritis. Indah Karya.10 m3/det dan untuk debit 80% terpenuhi adalah 10 m3/det.01-KP07. 1986. DAFTAR PUSTAKA Cv. 5 . Dari hasi perhitungan ini. keperluan tambak dan pemeliharaan sungai dapat dipenuhi dengan kata lain kebutuhan irigasi tidak terganggu. air domestik.640. Indah Karya. Survei elavasi existing tanggul Sungai Ular dan kelayakannya terhadap banjir. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan DHV Consulting Engineers dan PT. perlu dilakukan pengukuran ulang sungai dan penelitian sedimentasi. maka jumlah penduduk yang dapat disuplai adalah: 12100 liter x 24 x 60 x 60/120 liter/orang/hari = 8. * Sistim pengambilan Galian “C” hendaknya perperiode guna untuk pengontrolan volume pengambilan dan menjaga kondisi alur sungai * Untuk mendapatkan hasil yang mendetail akan potensi air Sungai Ular perlu dilakukan penelitian diberbagai sektor pendukung antara lain: a.1553 m3/det dan pada bulan Oktober 7. Studi kelayakan potensi air Sungai Ular untuk air minum dan debit kecukupan dihitung periode harian. 1984. 2003. Potensi Bahan Galian Gol.7 km.and C. FAO. Standar Perencanaan Irigasi KP. • Potensi air Sungai Ular untuk perindustrian cukup besar. Nikken Consultants.W.9180 m3/det masih dapat dipenuhi dan masih mempunyai sisa 11. “C” yang dapat diproduksi adalah 632. KU Leuven. Bandung. Bandung Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum bekerjasama dengan DHV Consulting Engineers dan PT.d.

after observing the realization ξ . in this paper we address several alternatives to get such deterministic equivalent model. This extra effort is assumed to cause an extra cost or penalty of qi per unit. This paper discusses about how to get the deterministic equivalent model. i. More precisely. For examples.K . Furthermore. As a lot of data is not available at planning stages. i are random variables themselves and that the probability distribution P is independent of x. Van Slyke and Wets [ 8 ] developed the Lshaped method which is the basis of many algorithms used today. Therefore a revision of the modeling process is necessary. usually over time. Dynamic programming [1. ⎬ ⎪ x∈ X ⊂  n. Instead of treating the future as a certainty with known data as in classical optimization. the decisions need to be flexible enough to cope with different eventualities. i. the probability P(A) is known. With if gi ( x. ⎪ ⎭ Herman Mawengkang. subsets of Ξ. leading to so-called deterministic equivalents for (1). and Opim S. 6] is an increasingly important problem class for long term planning. i = 1. we assume throughout that a family F of “events”. in such a way that we could solve the original stochastic programming problem more easily. Stochastic programming began in the mids 1950s. the problem can be divided into multiple stages.e. Early work concentrated on the two-stage linear programs.e. and was one of the motivations for Dantzig’s seminal work on linear programming. The model is not well defined. Hence we could provide for each constraint a recourse or second-stage activity yi (ξ ) that. ξ ) ≤ 0. stochastic programs incorporate information from spectrum of possible future events. ξ ) > 0 for a given decision x and realization % ξ of ξ . bilevel programming [7] and mathematical programming with equilibrium constraints [5] are useful modeling and solution techniques for problems with two or more stages.if there is one by satisfying gi ( x. DETERMINISTIC EQUIVALENT FORMULATION Let us now come back to deterministic equivalents for (1). STOCHASTIC PROGRAMS: GENERAL FORMULATION We define the stochastic (linear) program as the following model % ⎫ min g 0 ( x. 2. A ∈ F. for problem (1) we may proceed as follows. since there are random vectors imposed in the model to present the uncertainties of the model parameter. leading to so-called deterministic equivalents of the original model. gi ( x. in analogy to the particular stochastic linear program with recourse. is chosen such as to compensate its constraint’s violation . if we think of taking a decision on % x before knowing the realization of ξ . Stochastic Programming [3. 4. Sitompul where % ξ k is a random vector varying over a set Ξ ⊂  . ξ ) = ⎨ otherwise. ξ ) the ith constraint of (1) is violated if and only if gi+ ( x. 2]. In this paper. ⎩ g i ( x. Faculty of Mathematics and Natural Sciences University of North Sumatera Abstract: Stochastic programming is an important tool in medium to long term planning where there are uncertainties in the data. INTRODUCTION Medium to long term planning is essential to the success of business and project management. i. Saib Suwilo. ξ ) ≤ 0.REVISION MODELING OF TWO-STAGE STOCHASTIC PROGRAMMING PROBLEM Mathematics Department. we assume that the functions gi ( x. we consider two-stage stochastic programming problem. Deterministic equivalent formulation of twostage stochastic programming model can also be found in [ 9. Hence for every subset A ⊂ Ξ that is an events. problem (1) is not well define since the meanings of “min” as well as of the constraints are not cleat at all. Therefore a revision of the modeling process is necessary. This gives decision makers the ability to quantify the risk in different scenarios. In these applications. For instance. 3. ⎧ 0 gi+ ( x. ξ ) ⎪ ⎪ (1) % s. our additional costs (called the recourse function) amount to 6 . m.e. and the probability distribution P on F are given. 1. which can be introduced in various ways.10 ]. ⋅) : Ξ →  ∀x. This paper discusses about modifying the twostage stochatic programming into deterministic equivalents model. However. ξ ) − yi (ξ ) ≤ 0 .t. However.

At stage x0 . first-stage and recourse costs). ξ ) > 0 means that there is a shortage in product I. ξ ) could be understood as the difference {demand}-{output} + i of a product i. assuming a cost function qτ ( xτ ).Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang. if it is meaningful and acceptable to the decision maker to minimize the expected value of the total costs (i. Saib Suwilo. ξτ ) ≤ 0} xτ Q( x. ξ ) = min q( y) | H i ( y ) ≥ gi+ ( x.e. for instance. Problem (4) instead could result from a second-stage or emergency production program. Then g ( x. ξ1 .L . Assume that we are given the following stochastic linear program The above two-stage problem is immediately extended to the multistage recourse program as follows: instead of the two decisions x and y. where g ( x. an arbitrary fixed m × n matrix % % random vectors ξ1 .L . gi ( x. Finally we also could think of a nonlinear recourse program to define the recourse function for (3). Ax = b. (2) turns out to be a special case of (4). be interpreted as “times periods”. g m ( x.L . ξτ ) ⎥ (8) x0 ∈X τ =1 ⎣ ⎦ where q: n →  and Hi :  n →  are supposed to be given.K. we might think of a more general linear recourse program with a recourse vector τ (τ ≥ 1) we know the realizations ξ1 . yielding for (3) the recourse function xτ such that the constraints(s) (with vector valued constraint functions gτ ) gτ ( x0 .as stated . problem (2) could for instance be interpreted as buying the shortage of products at the market. m × m identity matrix. ξ K ) = g 0 ( x0 ) + ∑ Eξ% .K. ξτ ) τ =1 1 K (7) τ { } yielding the deterministic equivalent for the described dynamic decision problem. ξ ).L . (Y is some given polyhedral set.τ ≥ 1 Hence. taking into account the multiple stages. ξ1 . we are now faced with K+1 "min" cT x ⎫ ⎪ s. ξ1 . ⎪ ⎭ (9) 7 .L .K. xτ −1 . Q( x. which . to be taken at the subsequent stages τ = 0.L . to be taken at stages 1 and 2.L .K.ξ% Qτ ( x0 . Sitompul ⎧m ⎫ Q( x.t.e. ξτ ).at this stage can only be achieved by the proper choice of xτ . ξ1 . i = 1. x1 . ξ ). ξ ). ξ ) = g 0 ( x ) .L . xτ −1 .L . Assume for simplicity that the objective of (1) is deterministic. the multistage stochastic program with recourse K ⎡ % % ⎤ ˆ ˆ min ⎢ g0 ( x0 ) + ∑ Eξ%1 . we get as total costs for the multistage problem ˆ ˆ f 0 ( x0 .L . Hence. the (two-stage) stochastic program with recourse % % % min Eξ% f 0 ( x. ξ1 . ξ ) could be chosen as Q( x. ξ ) = min ⎨∑ qi yi (ξ ) | yi (ξ ) ≥ gi+ ( x. y ∈ Y y { } (4) . (6) x∈X x∈ X { } obviously a straight generalization of our former (two-stage) stochastic program with recourse (6).L . g 0 ( x. ξ ) + Q( x.L . carried through with the factor input y and a technology represented by the matrix W. y ∈ Y ⊂  n . and Opim S.e. ξ ) (3) The term “stages” can. For the two-stage case. m ⎬ (2) y ⎩ i =1 ⎭ sequential decisions yielding a total cost-first-stage and recourse cost-of f 0 ( x. and we have to decide on cost vector q ∈  . based on the knowledge of the previous decisions and realizations. ξ1 . xτ −1 . xτ −1 . ξ ) + Q ( x. xτ . but need not.L. such as {y | y ≥ 0}). ˆ ˆ xτ = xτ ( x0 . ξτ of the W (the recourse matrix) and a corresponding unit n y (ξ ) ∈ Y ⊂  n . xτ −1 .ξ%τ Qτ ( x0 .L .L . i = 1. Instead of (2). relative to the demand. ξ ) = min Eξ% g0 ( x. ξτ as well as the previous decisions x0 . in view of their practical relevance it is worthwhile to describe briefly some variants of recourse problems in the stochastic linear programming setting. instead of problem (1) we could consider its deterministic equivalent. ξ ) + ( + + ) T If we think of a factory producing m products. i. i. ξ ) . m.L. ⎪ x ≥ 0. Choosing W=I. xτ −1 . ξ ) = min qT y | Wy ≥ g + ( x.L . x1 . In any case. xK ( xτ ∈  nτ ) . ξ ) = g1 ( x. ξ ). ξ1 . x1 . Assuming that the factory is committed to cover the demands. x1 .L . ⎪ % % ⎬ T (ξ ) x = h(ξ ). (5) ˆ indicating that the optimal recourse action xτ at time τ depends on the previous decisions and the realizations observed until stage τ .L . x1 .1. ξ ) = g 0 ( x. at stage τ ≥ 1 we have a recourse function Qτ = ( x0 . ξτ ≤ 0) are satisfied. K . ξτ ) = min {qτ ( xτ ) | gτ ( x0 .

i = 1. ξ ) = ∫ ϕ ( x. Generally. ⎪ Eξ% f i ( x. avoid an absolute loss.-I) (13) f 0 ( x. However.L . s ⎪ ⎬ % ) = 0. ξ ) ≤ 0.e. ξ ) = ⎨ ⎪ otherwise ⎩ α ⎭ 8 . m. ξ ) ≤ 0. ξ K T k . y − ≥ 0 + − + is specified as X = x ∈  | Ax = b. So far. otherwise { } Consequently. 4 Oktober 2006 Comparing this with the general stochastic program (1). Ax = b.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. ⎪ ˆ ˆ h (ξ ) = h 1 K ⎭ with deterministic matrices (10) in (9) are equalities (instead of inequalities. we may put all the above problems into the following form: ⎫ ⎪ % ⎪ s.L . where with the identity matrix I of order m1: W =(I. depending on the way the functions fi are derived from the problem functions gj in (1). ξ ) = g 0 ( x. i = s + 1.L .L .t. let us choose first Y = y ∈  n | y ≥ 0 . It seems natural to aim ξ we have an we This implies that. i = 1. ξ ) = ⎨ ⎧1 − α ⎩ −α if gi ( x. No. ⎪ x ≥ 0. x ≥ 0 where the { n } { } i. Eξ% f i ( x. i = 1. the m1 × n matrix T (⋅) and vector h(⋅) are allowed to depend % on the random vector ξ . ξ ) . the recourse variables y and y − can be chosen to measure (positively) the absolute deficiencies in the stochastic constraints. ξ ) and f1 ( x. α . To give just two examples showing how other deterministic equivalent problems for (1) may be generated. for q + q ≥ 0 . ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. whereas for x feasible at ξ of 1 − α . m. whatever the first-stage decision x % Eξ%ϕ ( x.L . ⎫ ⎪ ⎬ ˆ0 + ξ h1 . we assume that this dependence on (14) ξ ∈Ξ ⊂  k is given as ˆ ˆ ˆ T (ξ ) = T 0 + ξ1T 1 . y ≥ 0 { } f 0 ( x. ⎬ (15) f1 ( x. f m could be used to describe the first-stage feasible set X. we speak of complete fixed recourse if the fixed m × n recourse matrix W satisfies { z | z = Wy. ξ ) = −ϕ ( x.e. we will always be feasible. which. and therefore to have random entries themselves. T k and vectors where the fi are constructed from the objective and the constraints in (1) or (9) respectively. ξ ) = g 0 ( x. ξ )dP ≥ 0 Ξ % and the realizations ξ of ξ turn out to be. on average). ξ ) T { } α ∈ [ 0.1] and define a { } “payoff” function for all constraints as (11) ϕ ( x. using linear recourse and assuming that ˆ ˆ h0 . ξ ) m0 × n matrix A and the vector b are assumed to be deterministic. In contrast. Observing that the stochastic constraints ˆ ˆ T 0 . ξ ) ≤ 0. ⎬ ⎪ where ⎪ Q( x. y ≥ 0} =  m1 (12) have a return for decisions on x that.L .L . ξ ) ⎫ ⎪ ⎧α − 1 if gi ( x. it seems meaningful to equate their deficiencies. A special case of complete fixed recourse is simple recourse. y + ≥ 0. ξ ) = min qT y | Wy = h(ξ ) − T (ξ ) x. f0 represented the total costs (see(3) or (7)) and f1 . for x infeasible at absolute loss of In particular. In general. the second-stage program Defining get Q( x. as in the general problem formulation (1)). m. h k .L .L . ξ ⎪ x∈ X ⊂  n ⎪ ⎭ % min Eξ% f 0 ( x. at least in the mean (i. we see that the set X ⊂  n Then the second-stage program reads as Q( x.t. according to (4) yields the stochastic linear program with fixed recourse ⎫ ⎪ ⎪ s. ξ h k . this general formulation also includes other types of deterministic equivalents for the stochastic program (1). This is equivalent to the requirement. ξ ) = min (q+ )T y + + (q− )T y − | y + − y − = h(ξ ) − T (ξ ) x. y ≥ 0 ⎪ ⎭ % min x Eξ% c x + Q( x.

resulting in ⎧α − 1 if gi ( x. under these assumptions. Dynamic Programming. Prentice Hall.t. Cambridge. ξ ) ≤ 0}) / 144444444 2444444444 4 3 − P ({ξ | g ( x.L .e. 1995. Y.ξ )≤ 0} α dP ⎫ ⎪ (19) ⎬ s.t.t. ξ ) = g 0 ( x. Louveaux. i = 1. 1983. i = 1. i = 1. ξ ) ≤ 0}) =1 { g ( x . % Eξ% f1 ( x.L . and J. m ≥ α ⎪ ⎭ Problem (16) is called a probability constrained or chance constrained program (or a problem with joint probabilistic constraints).P. 1997. ξ ) ≤ 0}) . New York and London. 1997. ξ )dP Ξ =∫ = (α − 1) P ({ξ | g ( x. ξ ) are linear in x and if furthermore the set X is convex polyhedral. Kall and S. Sitompul implying then problems (16) and (17) become % % Eξ% f1 ( x. K.L . ξ ) ) . Another interesting topic to be explored is. S. Englewood Cliffs. 4. J. Boston.R. Therefore the constraint equivalent to P ({ξ | g ( x.t. whether or under which assumptions do they have properties like convexity and smoothness such that we have any reasonable chance to deal with them computationally using the toolkit of mathematical programming methods. m ≥ α ⎪ ⎭ If. Luo. Saib Suwilo. % Eξ% f1 ( x.e. 5. ξ ) ≤ 0 is Hence.1] . P. g ( x. ξ ) ≤ 0}) ≥ α i .F. ξ ) = − Eξ%ϕ ( x.W Wallace. (14) reads as ⎫ ⎪ (16) ⎬ s. i. If instead of (15) we define min x∈X Eξ% g 0 ( x. Birge and F. P ({ξ | Ti (ξ ) x ≥ hi (ξ )}) ≥ α i . otherwise ⎩ αi then we get from (14) the problem with single (or separate) probabilistic constraints: ⎫ ⎪ (17) ⎬ s. ξ ) = ∫ f1 ( x. CONCLUSION The model of stochastic programming problem needs to be revisioned into a deterministic equivalent model such that the original problem would be well defined and solvable. all the above deterministic equivalents. ξ ) = ⎨ i i = 1. ξ ) = ( g1 ( x. This paper has described some possibilities to generate types of deterministic equivalent for model of two-stage stochastic program. ξ ) % "min" cT (ξ ) x ⎫ ⎪ s. P ({ξ | T (ξ ) x ≥ h(ξ )}) ≥ α ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x and. i = 1. with the vector-valued T function ⎫ ⎪ (18) ⎬ s. we have that the functions gi ( x. Academic Press. J.L . Ax = b. Ishizuka. ξ ) ≤ 0}) + P ({ξ | g ( x. MA. we have the stochastic linear program min x∈X Eξ% g 0 ( x. New Jersey. ξ ) and analogous “payoffs” for every single constraint. i. Introduction to Stochastic Dynamic Programming. Chicester and New York. REFERENCES R. Introduction to Stochastic Programming.L . Nondifferentiable and Two-Level Mathematical Programming. Pang and D. m f 0 ( x. Ralph. 1996. ξ ) ≤ 0 where. ⎪ % ) x ≥ h(ξ ) x ⎬ % ⎪ T (ξ ⎪ x≥0 ⎭ 9 . P ({ξ | gi ( x. Shimizu. are mathematical programs. Kluwer Academic Publishers. Z. Stochastic Programming. in particular. m. Springer-Verlag. ξ ) ≤ 0 f1 ( x. Bellman. m ⎪ ⎭ % min x∈X Eξ% cT (ξ ) x the stochastic linear programs with joint and with single chance constraints respectively. Princeton University Press. John Wiley. 1994. ξ ) α i ∈ [ 0.Revision Modeling of Two-Stage Stochastic Programming Problem Herman Mawengkang.ξ )≤ 0} (α − 1)dP + ∫ / { g ( x . all problems derived. ξ ) ≤ 0}) ≥ α .t. Obviously there are many other possibilities to generate types of deterministic equivalents for (1) by constructing the fi in different ways out of the objective and the constraints of (1). with Ti (⋅) and hi (⋅) denoting the ith row and ith component of Ti (⋅) and hi (⋅) respectively.-S. P ({ξ | g ( x. NJ. Bertsekas. Dynamic Programming and Optimal Control. 1957.L . g m ( x. ξ ). Cambridge University Press.-Q. Mathematical Programs with Equilibrium Constraints. D. Formally. Bard. New York. Ross. and Opim S.

Yu. Working paper of Georgia Inst. Ji. –Y.Van Slyke and R.-Y. On Robust Optimization of Two-Stage Systems.B. Wets. SIAM Journal on Applied Mathematics. Ahmed. Stochastic Programming Model in Financial Optimization: A Survei. Beizing. 17 (1969). Takriti and S. Wang. S. L .J. –D. No. pp. X. Of Tech.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 10 . 2001. Working paper of Chinese Academy of sciences. and S. 638-663. L-shaped Linear Programs with application to Optimal Control. 2002. 4 Oktober 2006 R.

T45. dan bola lampu General Lighting Service (GLS) dengan tipe bulb. NR80. karena semua rencana proses produksi dibuat oleh manajemen puncak.PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X Jurusan Teknik Industri. Perusahaan PT X yang bergerak dalam bidang perakitan bola lampu pijar. sehingga dapat menghilangkan ongkos persediaan. P45. Dalam hal ini kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dengan harga yang lebih kompetitif. Dari permasalahan yang terjadi pada perusahaan tersebut di atas maka dibuat sebuah usulan untuk menerapkan sistem kanban. Produk yang dihasilkan antara lain adalah TL. E50. NR63. NR63. Pengurangan biaya tersebut dapat dicapai dengan penerapan Just in Time (JIT). Dengan adanya kanban yang merupakan suatu alat untuk mencapai proses Just in Time. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan minimasi inventori dan waktu proses adalah dengan menggunakan kanban. Produksi yang dilakukan berdasarkan permintaan yang masuk. Secara garis besar sistem kanban yang diusulkan mempunyai aliran informasi produksi yang berjalan dari gudang bahan jadi. Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian perusahaan di Indonesia antara lain sistem produksi yang terpusat. Kata kunci: Just in Time. persediaan yang tidak perlu dihilangkan. A60. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi WIP (work in process) di lini produksi dan waktu proses. Inventori Amri 1. dan perbandingan antara MRP dan Just in Time Kanban terjadi penurunan sebesar 28% untuk bulb dan 25% untum duplex. diharapkan dapat menekan kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sistem produksi dengan membuat sistem kontrol kanban mulai dari penyediaan bahan baku. BW35 sampai B35. Lamp. Perencanaan dan pengendalian produksi yang digunakan sekarang menyebabkan terjadinya penumpukan material di lini produksi dan waktu proses yang lama. perakitan. Penerapan sistem kanban produksi adalah dengan membuat kartu kanban yang diperlukan menghitung jumlah kanban merencanakan aliran kanban yang efisien dan sarana pendukung sistem kanban. Selain itu juga melakukan produksi seperlunya dengan mengurangi kegiatan yang tidak perlu atau pemborosan Kanban adalah suatu kartu yang berfungsi sebagai alat kontrol produksi Just in Time. yang diakibatkan oleh penerapan sistem push. lambatnya kerja operator tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan kurangnya kesadaran pekerja dalam melakukan tugas. Permasalahan di atas juga dialami oleh perusahaan yang memproduksi bola lampu dengan berbagai jenis. Permasalahan yang terjadi di perusahaan adalah terlalu besarnya inventori. E80. dari gudang raw material ke proses produksi sehingga menghambat kerja proses berikutnya banyak produk yang cacat sehingga diperlukan pengerjaan ulang dan kadang harus membuang bahan karena kesalahan proses atau perhitungan dan ini semua akan menambah biaya produksi. Perbandingan antara sistem nyata dengan sistem kanban adalah sebesar 45% untuk bulb dan 25% untuk duplex. Kanban yang digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi pada unit perakitan dan pengemasan lampu. pengurangan inventori. A55. Produksi jadi yang dihasilkan antara lain tipe lampu: E50. A80. pengemasan. E60. salah satu diperoleh melalui pengurangan biaya produksi. A60. Perencanaan sistem kanban perlu digunakan secara optimal untuk dapat mengendalikan persediaan dan proses produksi ini dapat dicapai bila 11 . T55. Kelemahan dari sistem ini bila manajemen tidak mengontrol kerja bawahan maka akan terjadi kelambatan produksi. Untuk dapat terus survive (bertahan) dalam persaingan tersebut maka salah satu cara adalah dengan mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan produktif. A55. dan kemudian baru diserahkan kepada stasiun kerja masing-masing. Sedangkan proses produksi di dalam work station diatur oleh kanban perintah produksi. NR80. E60. gudang bahan baku dengan menggunakan kaban pengambilan. T45. kurang koordinasi atau kerjasama sesama karyawan. Untuk dapat harus dapat mengendalikan penyediaan material untuk kelancaran proses produksi. dalam setiap proses produksi yang akan dikembangkan untuk mengendalikan jumlah produksi dalam setiap tahap proses produksi. sampai B35. Akibat lain yang ditimbulkan terjadi keterlambatan pengiriman barang. Hasil analisis yang diperoleh dengan menerapkan sistem kanban adalah terjadi penurunan WIP (work in process) di lini produksi. kemajuan ini menciptakan persaingan bisnis yang semakin kompetitif. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Abstrak: Perkembangan ilmu pengetahuan pada era globalisasi semakin berkembang dengan pesatnya sehingga perusahaan dalam menjalankan bisnis harus bersaing dengan perusahaan sejenis. Kanban. A80. PENDAHULUAN Dunia industri sekarang ini mengalami kemajuan pesat. P45. BW35.

Sedangkan pada proses dan pekerja perlu sedikit perbaikan. komponen. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data yang dimulai dengan perhitungan jumlah kanban yaitu. 2. Work in Process (WIP) pada tiap proses produksi • Menganalisis sistem kanban penyediaan dengan melihat pengaruh yang terjadi pada proses produksi • Mengukur performansi sistem kanban pada proses produksi Dalam penelitian ini digunakan beberapa batasan untuk membatasi ruang lingkup penelitian. 2. Secara garis besar aliran yang akan dilakukan adalah membuat Master Production Schedule pada work station akhir yaitu produk jadi.1 Tahap Identifikasi dan Penelitian Awal Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dan tujuan penelitian. Selanjutnya dilakukan penentuan metode yang digunakan yaitu kanban sebagi alat pengontrol just in time. jumlah kartu untuk tiap part. kemudian mengambil data di lapangan seusia dengan tahapan yang diperlukan dalam menentukan jumlah kanban.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data Pada tahap ini dilakukan pencatatan data yang 2. Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Dari work station produk jadi akan memberikan barang sesuai dengan jadwal rencana produksi. kedatangan barang. pada proses yang tidak diperlukan sehingga membawa efisiensi kerja. dilanjutkan dengan melakukan studi literatur yang meliputi sumber buku dan penelitian sebelumnya. Hasil estimasi ini kemudian digunakan untuk menjawab tujuan studi yang telah ditentukan adalah dengan perbaikan sistem. bukan pada masing-masing work station. Proses produksi perakitan lampu terdiri dari 13 unit mesin. bila ternyata barang yang diinginkan tidak ada maka akan diminta pada work station sebelumnya dengan menggunakan kanban pengambilan. jika barang yang diinginkan oleh work station sebelumnya tidak dapat dipenuhi maka work station tersebut akan mengambil pada work station sebelumnya lagi dengan kanban pengambilan. Maka perlu dianalisis sehingga didapat gambaran keberhasilan penerapan system kanban secara kualitatif dan kuantitatif.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. dan proses pengemasan lampu terdiri dari 13 unit mesin. demikian seterusnya. membuat usulan produksi dengan pendekatan Just in Time mulai dari penyediaan material sampai menjadi barang jadi. Tahap Perencanaan Sistem Kanban Studi mengenai sistem kanban dengan pendekatan Just in Time untuk diterapkan pada semua proses produksi. Perhitungan dilakukan pada unit perakitan dan pengemasan di lini produksi pada unit perakitan dan pengemasan 1 sampai 13. produksi sehingga tidak terjadi kegiatan yang tidak efisien. Sistem nyata yang ada sekarang ini akan dicoba membuat model sistem produksi Just in Time yaitu dengan mengganti sistem aliran informasi sistem yang nyata dengan sistem kanban. Penelitian ini juga menggunakan beberapa asumsi antara lain: • Lay out site departemen yang masih berada pada kondisi saat ini • Seluruh permintaan dianggap dapat dipenuhi • Kondisi mesin dianggap dalam keadaan normal METODOLOGI PENELITIAN Didalam penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap penelitian. yaitu: • Bagaimana merancang sistem kanban • Bagaimana merancang sistem kanban penyediaan material untuk produksi bola lampu yang optimal • Bagaimana mengukur tingkat performansi sistem produksi bola lampu Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan tersebut antara lain: • Merancang sistem kanban penyediaan material pada proses produksi sehingga dapat mengurangi inventori. 4 Oktober 2006 perusahaan akan memproduksi produk yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan. Kedua proses dalam penelitian ini akan dibuat sistem kanban mulai dari kedatangan 2. Kemudian diambil kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang ada di perusahaan dan saran sebagai tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan bila ingin menerapkan sistem kanban. DESKRIPSI MODEL Model yang akan dijadikan studi adalah model sistem produksi yang terdiri dari beberapa tahap proses. Penelitian pendahuluan dilakuakn dengan wawancara pihak manajemen dan karyawan.4 Tahap Analisis Data hasil penelitian yang digunakan untuk mengestimasi suatu kriteria performansi sistem yang diteliti. dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan pendekatan sistem kanban antara lain data produksi. No.3 12 . 3. dan saldo minimal di lini produksi dengan pendekatan Kanban JIT. yaitu: 2. kapasitas kontainer atau palet. permintaan tahunan. adapun batasan yang digunakan adalah: • Tidak membahas analisis jumlah kebutuhan tenaga kerja dan mesin • Tidak membahas pemasukan barang dari supplier • Tidak membahas proses distribusi produksi dari pabrik ke konsumen • Pembahasan dilakukan pada produksi bola lampu GLS (General Lighting Service) Perhitungan jumlah kanban dilakukan pada material bulb dan duplex. kemudian work station tersebut akan memberikan barang pada work station berikutnya.

Pabrik pembuatan komponen lampu Lamp Component Factory (LCF) dalam penelitian ini dianggap sebagai pemasok bahan baku gelas ke pabrik perakitan lampu. E80. 5. sedangkan pada sistem usulan pull hanya menerima sejumlah produk yang dikirim oleh pengemas dengan jumlah yang sudah tertulis pada kanban. Ada sedikit perubahan di mana penampungan sementara yang ada dihilangkan. E60. perakitan bulb dan pengemasan. Sehingga diperkirakan jika menggunakan kanban perintah produksi malah akan memakan waktu yang lama. Setiap proses pada sistem push secara langsung dikontrol dan dikendalikan oleh Master Production Schedule. Proses perhitungan jumlah yang terjadi pada sistem nyata dihilangkan. T45. Pengambilan tidak perlu dilakukan perhitungan lagi. Setelah selesai operator bagian gudang bahan baku menyiapkan material dan komponen dikumpulkan di area sementara sebelum dibawa ke unit produksi. Secara garis besar aliran informasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. E50. Kanban perintah produksi digunakan pada perakitan lampu dan pengemasan lampu ke 13 unit produksi. BW35 sampai B35. Master Prodution Schedule 5.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri produk ke unit produksi sampai selesai. Aktivitas yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mulai dari peng-input-an data komponen ke komputer. dan jika produk tersebut ada maka kanban pengambilan diletakkan pada pos kanban pengambilan beserta tanda terima order yang telah dikirimkan 13 . 5. karena dianggap pemborosan kerja. Penyelesaian pekerjaan menjadi tidak efisien dan membuat biaya produksi lebih tinggi akibat penggunaan kanban yang tidak diperlukan. NR63. Master Production Schedule Push Trans Gudang Bahan Baku Job Sequence Push Trans Assembly Packing Push Trans Produk Jadi Job Sequence Job Sequence Job Sequence Aliran Informasi Aliran Material Gambar 1. 4. NR80. P45. T55. Setelah komponen disiapkan kemudian dihitung ulang apakah sudah selesai denga permintaan. pengambilan barang di rak masing-masing kemudian dikumpulkan di area penampungan sementara sebelum dibawa ke unit produksi masingmasing. Kemudian baru membuat Master Production Schedule untuk masing-masing work station mulai dari gudang bahan baku. PERMODELAN SISTEM NYATA Proses order material dilakukan oleh perusahaan PT X dengan pihak supplier di mana barang yang dipesan sesuai dengan permintaan yang masuk. Jadi produk dibawa langsung ke unit proses masingmasing. dan di angkut ke unit produksi dan juga ke penampungan sementara yang dilakukan dengan hand forklift electric dan hand forklift. Persiapan material dilakukan di gudang bahan baku mulai dari pengecekan material apakah tersedia atau tidak. A80. Kanban yang digunakan dalam usulan sistem ini ada 2 yaitu kanban perintah produksi dan kanban pengambilan. Kartu kanban yang akan digunakan adalah kanban pengambilan dan kanban perintah produksi. maka produk yang diinginkan di gudang produk jadi dicek kebenarannya. Di sini akan dijelaskan aliran peredaran kanban dalam proses produksi.1 PERMODELAN SISTEM KANBAN Aliran Material Aliran material usulan sistem produksi dengan menggunakan kanban merupakan sistem pull (tarik) yaitu proses produksi yang berjalan dari belakang (proses tarik) menuju ke proses sebelumnya. Kanban pengambilan digunakan pada pengembalian barang di gudang bahan baku. Setiap work station diberikan daftar jadwal pekerjaan yang harus dilaksanakan dan transportasi yang dilakukan pada semua work station. Informasi yang diperlukan untuk memodelkan sistem produksi nyata perusahaan adalah meliputi Master Production Schedule dan rencana produksi yang diberikan kepada tiap work station. karena mengingat tidak ada proses yang dilakukan di gudang produk jadi. A55. berapa jumlahnya dan berapa yang diambil.2 Kanban di Gudang Produk Jadi Pada gudang produk jadi lampu tidak menggunakan kanban perintah produksi. urutan aliran peredaran kanban yang ada di gudang setelah dihitung jumlahnya adalah: Kanban pengambilan diletakkan pada produk jadi dan telah disimpan digudang setelah dihitung jumlahnya • Jika ada permintaan dari konsumen. Produk yang dibuat berupa bola lampu berbagai jenis dan tipe mulai tipe A60.

Kanban produksi dilakukan oleh operator pergi ke tempat buffer stock untuk proses produksi. jadi komponen yang diambil di gudang langsung dibawa ke unit masing-masing. Komponen yang diambil pada proses pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. Bagian pengemasan menerima kanban pengambilan dari bagian produk jadi jika produk yang diinginkan oleh gudang dapat dipenuhi oleh bagian pengemasan. Gambar aliran kanban di lini pengemasan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Proses Pengemasan Kanban perintah produksi Perakitan Gudang Produk Jadi Storage Pengemasan Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Order Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Kanban Pengambilan Produk Produk Produk Jadi Pos Kanban Konsumen Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan produk jadi Kanban Pengambilan Gambar 3.4 Gambar 2. • Apabila komponen yang tidak tersedia untuk proses tersebut maka ia akan mengambil pada proses sebelumnya sesuai jumlah yang dibutuhkan. pengisian besarta dengan forklift sebagai alat angkut produk. Kanban beserta produk tersebut akan dibawa ke gudang produk jadi. maka kanban perintah produksi yang melekat pada produk tersebut diletakkan di pos penerimaan kanban. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar di bawah ini Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Kanban Pengambilan Pos Kanban pengambilan Pos Pengemasan Produk Kanban Pengambilan Produk Kanban Pengambilan Kanban Pengambilan Gambar 4. Pada proses yang dianggap tidak efisien dan hanya memperlambat pekerjaan yaitu proses pengangkutan material ke unit penampungan sementara dihilangkan. 4 Oktober 2006 • Jika produk yang dinginkan tidak ada maka pihak gudang produk jadi akan meminta produk tersebut kepada bagian pengemasan dengan menggunakan kanban pengambilan yang terletak di pos kanban pengambilan di gudang produk jadi diangkut dengan forklift. Kanban produksi ini gunanya untuk mengetahui jumlah produk yang dibuat dan jumlah permintaan terhadap produk tersebut yang diambil oleh bagian gudang produk jadi pengemasan dalam penelitian ini adalah bulb. Kanban di Gudang Produk Jadi 5. No. Kanban di Lini Pengemasan Kanban di Lini Perakitan Lampu Kanban di area perakitan lampu yang digunakan adalah kanban antar proses. kemudian kanban yang melekat pada palet atau body dilepas ditempatkan pada pos kanban yang telah disediakan.3 Kanban di Lini Pengemasan Pada daerah pengemasan digunakan kanban pengambilan antar proses dan kanban perintah produksi (pengepakan lampu jadi). kanban pengambilan dan kanban produksi. maka pihak pengemasan akan memproduksi produk tersebut dan disertai oleh kanban perintah produksi yang diambil dari pos kanban pengambilan produksi. Gambar aliran kanban di lini perakitan lampu dapat dilihat pada gambar 4: Proses Perakitan Kanban perintah produksi Gudang Bahan Baku 5. Jika produk yang diinginkan oleh pihak gudang produk jadi tidak dapat dipenuhi oleh pihak pengemas. Gambar aliran kanban di lini gudang produk jadi dapat dilihat di bawah ini: Barang Jadi Kanban Pengambilan • Bila produk yang harus dikemas ternyata tidak ada di bagian pengemasan maka pihak pengemasan harus mengambil kanban pengambilan yang diletakkan pada pos kanban pengambilan untuk proses sebelumnya yaitu. Kanban ini harus melekat pada produk selama: berada dalam proses sampai proses pengemasan tersebut selesai. Petugas bagian Quality Control mengisi kembali komponen ke palet yang telah kosong sesuai kebutuhan serta kanban ditempelkan pada badan palet. Petugas bagian gudang mengambil kanban beserta palet dibawa ke gudang untuk pengisian kembali. dan diganti oleh kanban pengambilan. Kanban di Lini Perakitan Lampu 14 .Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.

5 Proses Pemesanan Kembali Di gudang bahan baku pengambilan bahan baku di rak dengan forklift proses yang dilakukan adalah: Jika ada permintaan dari ruang perakitan dengan menggunakan kanban pengambilan. selanjutnya kanban ini diletakkan di pos pengambilan kanban dan digati dengan kanban pengambilan yang digunakan untuk mengambil bahan baku tersebut. maka bahan yang diinginkan diambil dengan forklift. sedangkan aliran material tetap bergerak mulai dari proses awal menuju ke proses berikutnya sampai ke produk jadi. Gambar aliran kaban gudang bahan baku dapat dilihat pada gambar 5. Setelah bahan yang diinginkan dikirim oleh supplier bahan baku ke gudang bahan baku akan diletakkan kanban perintah produksi pada bahan baku yang diperlukan. setelah itu bahan baku dibawa dari gudang dengan menggunakan forklift ke tempat pengolahan General Lighting Service lampu beserta kanban pengambilan.1 Analisis Perbandingan Tingkat Persediaan Work in Process (WIP) antara Sistem Kanban dengan Aktual di Pabrik Tingkat persediaan material di lini produksi Work in Process (WIP) adalah salah satu parameter utama yang diestimasikan dalam penelitian ini. 15 . Sistem pemesanan kembali sudah dibuat dalam sistem nyata. Proses Pemesanan Kembali Bila permintaan daripada perakitan lampu tidak dapat dipenuhi maka bagian gudang bahan baku membuat sistem pemesanan kembali dengan jumlah pesanan tetap dan membuat titik pesan ulang (reorder point). sehingga dapat diketahui pada titik berapa bahan baku harus dipesan kembali ke supplier bahan baku. ANALISIS HASIL 6. Bahan Baku Kanban perintah produksi Bahan Baku 5. Aliran Informasi dan aliran Material Kanban 6. Gambar 6. dan dari proses sebelumnya tersebut diberikan ke proses sebelumnya lagi demikian seterusnya. Data yang diamati dalam penelitian ini merupakan kuantitas bahan baku yang tersedia pada storage area dan dijumlahkan dengan kuantitas Work in Process (WIP) pada lini produksi.6 Aliran Informasi Aliran informasi bergerak dari Master Production Schedule yang diberikan hanya kepada bagian akhir (produk jadi yang ada di gudang produk jadi) kemudian dari bagian akhir ini bergerak ke depan yaitu pada proses sebelumnya dengan menggunakan kanban.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 5. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Pada tahapan ini dianalisis tingkat persediaan Work In Process (WIP) dengan sistem yang ada saat ini dan persediaan Work in Process (WIP) dengan sistem informasi kanban yang dirancang. Adapun bagan aliran kanban adalah sebagai berikut: Kanban pengambilan dari area perakitan Storage Master Production schedule Pos penerimaan kanban Pos Kanban Perintah Produksi Job Square Job Square Job Square Job Square Storage Kanban Pengambilan Bukti Pembelian Bahan Baku Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Gudang Bahan Baku Produk Pos Perakitan Sistem pemesanan kembali Pull Transp Pull Transp Pull Transp Aliran Informasi Daftar Bahan Aliran Material Gambar 5. Kemudian kanban perintah produksi yang melekat pada produk dilepas dan diletakkan pada pos penerimaan kanban.

39 41.39 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 261761 74839 77638 67025 147011 59751 212125 104461 0 71787 172210 162183 384227 Kanban 7 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Maximum Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan stock awal 57.99 67. Stock maksimum sistem kanban adalah jumlah kanban yang beredar untuk part tersebut dikalikan dengan kapasitas paletnya. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Bulb E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Rata-rata stock Actual per hari 157428 32400 41624 32514 55500 74000 256864 165196 289625 44500 68198 344035 498679 Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 185000 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Maximum Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan stock awal 44.00 25.34 66.01%.01 Data tersebut di atas merupakan jumlah sisa komponen dari produksi sehari sebelumnya.25% dan 25.10 43.21 25.00 46. Secara grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 3 5 7 9 11 13 Aktual Kanban Gambar 7.58 34. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Duplex No. Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai stok yang ada berbeda jumlahnya dengan yang ada di pabrik. Perbandingan antara Stock Actual dengan Stock System Kanban untuk Bulb No. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Aktual Kaban Gambar 8.25 Tabel 2.48 13.00 55.57 0.86 -40. belum mendapat pasokan dari gudang utama.68 12.45 42. Kondisi ini dimungkinkan karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process (WIP) di pagi hari saat mulai operasi.87 16.86 37.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.55 25.17 27.82 33. Grafik Perbandingan Stock Actual dan Karban 16 .57 63.06 53. Penurunan rata-rata stok di Work in Process (WIP)untuk semua komponen bulb dan duplex adalah mencapai 45. dibandingkan dengan jumlah maksimum tingkat persediaan sistem kanban rancangan sebagai stock level Work in Process. jika diperhatikan tabel di atas pada 1 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok.83 36.62 87. No. 4 Oktober 2006 Tabel 1.00 21.13 42.

46 33.82 21.19 31. Tabel 3 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just in Time/Kanban untuk Bulb Kanban 8 7 4 8 3 3 8 3 10 4 4 8 38 Kapasitas Palet (unit) 11000 2600 6575 2700 18500 18500 14250 7125 13500 6500 6250 14250 8250 Stock Max Kanban (unit) 88000 18200 26300 21600 55500 55500 114000 21375 135000 26000 25000 114000 313500 % Penurunan Stock Awal 38.73 53.97 60.2 Analisis Tingkat Persediaan Material Requirement Planning (MRP) dan Just In Time/Kanban Selanjutnya dari perhitungan berikut ini akan diestimasi tingkat persediaan maksimum antara No .60 0.33 -42.68 27.97 52.60% per hari.69 Tabel 4 Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan JIT/Kanban untuk Duplek N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 Jenis Duplek E50 A80 NR/R63 NR/R80 B35 BW35 P45 T55 T45 E60 A60 P45 A55 Rata-rata Mak (unit) 297678 90789 92441 86784 136172 90863 258363 157575 0 120871 188295 225363 444900 Min (unit) 54569 25050 18623 19959 42976 5851 55024 39442 0 26011 71308 55024 91283 Range (unit) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Max Inventori MRP (unti) 243109 73809 65739 66825 93196 85012 203339 118133 0 94860 116987 170339 353617 Kanban 4 2 2 2 3 3 5 2 5 2 2 5 12 Kapasitas Palet (unit) 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 28000 Stock Max Kanban (unit) 112000 56000 56000 56000 84000 84000 140000 56000 140000 56000 56000 140000 336000 % Penurunan Stock Awal 53.81 4.81 16. Jika diperhatikan tabel di atas ada 2 nilai negatif yang berarti terjadi penambahan jumlah stok Kondisi ini terjadi karena data aktual adalah kondisi stok yang ada di Work In Process di pagi hari saat mulai operasi.60 • • • • Dari hasil tabel di atas diperoleh: Nilai maksimum adalah merupakan nilai konsumsi material harian tertinggi dari konsumen material per hari dalam produksi Nilai minimum adalah nilai konsumsi material harian terendah dari data pengamatan Range adalah selisih antara nilai maksimum dan minimum.11 50.62 0.15 52. yang merupakan tingkat persediaan dari sistem Material Requirement Planning (MRP) Maksimum inventori kanban adalah jumlah kartu kanban tiap komponen dikalikan jumlah palet material tersebut (jumlah maksimum material dalam lini produksi sama dengan • • • • jumlah kartu kanban yang beredar dalam lini produksi) Dapat diestimasikan secara teoretis bahwa persediaan maksimum sistem kanban lebih rendah dari persediaan maksimum sistem Material Requirement Planning (MRP) Penurunan persediaan material Work In Process rata-rata untuk bulb dan duplex 27.29 39.86 20.69% dan 24. 1 2 3 Jenis Bulb E50 A80 NR/R6 3 4 NR/R8 0 5 B35 6 BW35 7 P45 8 T55 9 T45 10 E60 11 A60 12 P45 13 A55 Rata-rata Mak (unit) 176000 30100 40178 50450 74000 38550 242250 142500 108000 45500 64345 315250 561000 Min (unit) 33000 2600 6575 3875 18500 2770 14250 14250 13500 13000 6250 28200 41250 Range (unit) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 Max Inventori MRP (unti) 143000 27500 33603 46575 55500 35780 228000 128250 94500 32500 58095 287050 519750 system Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban.13 17.00 -55.Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri 6.98 24.13 14. Perbandingan tingkat persediaan antara Material Requirement Planning dan Just in Time/Kanban dapat dilihat pada tabel di bawah ini.20 9.00 83.93 24.87 1. belum mendapat pasokan 17 .00 56.00 40.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

dari gudang utama. Dapat dilihat dengan grafik di bawah ini:
400000 300000 200000 100000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

MRP

JIT/Kanban

• Gambar 9. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan MRP dan Just In Time/Kanban
450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Siklus kanban untuk bulb adalah 1.7. Hal ini berarti barang di sampaikan dalam satu hari 7 kali dan part yang dipesan akan datang jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Sedangkan untuk duplex 1.4.2, hal ini berarti barang disampaikan dalam satu hari 4 kali dan part yang dipesan akan datang 2 jam berikutnya. Untuk menjaga kontinuitas produksi pada waktu tersebut, maka stock level produksi ditetapkan sebesar 2 jam. Aktivitas gudang utama dan pengangkutan forklift masing-masing sebesar1 jam untuk bulb dan duplex Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh aktivitas yang dilakukan dengan sistem kanban untuk bulb adalah sebesar 54 menit dan untuk duplex adalah 49 menit.

2.

MRP

JIT/Kanban

Gambar 10. Grafik Perbandingan Tingkat Persediaan Material Requirement Planning dan Just In Time/kaban 6.3 Analisis Performansi Sistem Dalam melakukan analisis performansi sistem didasarkan pada kriteria utama adalah: 1. Analisis aktivitas pengisian kembali (replacement), dan 2. Analisis inventori Analisis dilakukan pada material bulb dan duplex baik pengantian kembali material maupun inventori. Analisis Aktivitas Pengisian Kembali (Replacement) Kedua sistem yang lama dan yang baru semuanya digunakan untuk menyediakan bahan baku untuk mesin dengan kapasitas yang sama, yang berbeda adalah replacement cycle. Pada sistem yang lama, replacement cycle dilakukan 8 jam sekali, sedangkan pada sistem yang baru replacement dilakukan 3.5 jam sekali untuk bulb. Sedangkan untuk duplex replacement cycle dilakukan 3.9 jam sekali. Sehingga replacement cycle dari bulb dan duplex dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Replacement Cycle dari Bulb dan Duplex
Aktivitas Bulb Duplex Replacement Cycle Lama Baru 8 jam 3.54 jam 8 jam 3.49 jam Jumlah Persediaan Lama Baru 17200 unit 7611 unit 17200 unit 7504 unit

1.

Analisis Inventori Perbandingan tingkat persediaan Work In Process antara sistem kanba dengan aktual di pabrik (lini produksi). a. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban, terjadi penurunan persediaan sebesar 45.25%. b. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara Work In Process di lini produksi sistem nyata dengan sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 25.01%. Perbandingan tingkat persediaan sistem MRP dan sistem kanban 1. Stok di lini produksi untuk bulb, dari hasil perhitungan antara MRP dengan sistem kanban menjadi penurunan pesediaan sebesar 27.69% per hari. 2. Stok di lini produksi untuk duplex, dari hasil perhitungan antara sistem kanban terjadi penurunan persediaan sebesar 24.60%. 6.4 Kelemahan dan Kelebihan Sistem Lama dan Sistem Baru Adapun kelemahan dan kelebihan dari masingmasing sistem dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Kelemahan dan Masing Sistem
Sistem Lama Kelemahan Kelebihan Koordinasi Penjadwalan antara unit tidak selalu kurang sering (bulanan) Material Service menumpuk level lebih pada lini bagus produksi

Kelebihan

Masing-

Adapun aktivitas yang dilakukan adalah:

Sistem Baru Kelemahan Kelebihan Harus dilakukan Inventori penjadwalan minimum sering (mingguan/harian) Pengangkutan Material material lebih tidak sering menumpuk. Koordinasi lebih bagus

18

Penerapan Sistem Kanban Penyediaan Material untuk Proses Produksi pada PT X Amri

6.5 Kesulitan yang Muncul dengan Adanya Sistem Just In Time/Kanban 1. Sumber daya manusia yang telah biasa dengan sistem lama, sehingga apabila Just In Time/Kanban diterpakan di perusahaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melatih para pekerja. Memberikan tanggung jawab penuh pada karyawan, karena dalam Just In Time/Kanban sangat dibutuhkan pekerja penuh tanggung jawab tanpa harus menunggu perintah dari atasan seperti pada saat ini 2. Kesulitan menerapkan sumber daya yang fleksibel seperti pada Just In Time yang telah dilaksanakan Toyota, artinya adanya pengambilan tenaga kerja ekstra apabila order meningkat dan merumahkan tenaga kerja tersebut. Prinsip ini tidak dapat dilakukan, karena semua tenaga kerja berstatus tenaga kerja tetap, hal ini malah merugikan perusahaan yaitu membuat gaji pegawai yang tidak bekerja. 6.6 Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Pelaksanaannya Adalah 1. Membuat team proyek yang terdiri dari manajemen pabrik, kepala bagian tiap work station yang harus dibentuk dan dilatih terlebih dahulu dalam membuat pola pikir Just In Time/Kanban sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran antara sistem nyata dengan sistem pull 2. Membuat produk percontohan, maksudnya karena penerapan Just In Time/Kanban membutuhkan perubahan revolusioner maka sebaiknya dimulai dari perubahan dalam skala kecil, misalnya penerapan sistem kanban pada permintaan produk akhir ke bagian pengemasan, dari sini akan dievaluasi bila hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke bagian pengolahan dan seterusnya. Bila hasil evaluasi kurang memuaskan maka harus dicari faktor penyebabnya 7. KESIMPULAN DAN SARAN

3.

4.

5.

(kanban segi tiga) 4, dan kanban supplier (gudang bahan baku) Dalam kebutuhan material bahan baku, sediaan dalam proses, terutama dalam kuantitasnya pada lini produksi, rancangan informasi sistem kanban memberikan tingkat persediaan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan sistem MRP yang ada sekarang Sistem informasi kanban bekerja lebih baik dalam perencanaan kebutuhan bahan baku material dan minimasi tingkat persediaan serta cycle time Frekuensi kedatangan part yang lebih besar dengan kuantitas part terkirim lebih kecil dalam sistem informasi kanban menghasilkan tingkat persediaan Work In Process yang lebih rendah

7.1 Saran Saran yang diajukan di bawah ini merupakan rekomendasi yang diberikan penulis, baik terhadap sistem yang diamati maupun untuk penelitian selanjutnya. 1. Penerapan metode just in time dengan sistem kanban sangat membantu integrasi dari seluruh pihak dalam perusahaan mulai dari pihak manajemen hingga operator produksi. Persiapan dalam hal sumber daya manusia hendaknya lebih dahulu diperhatikan dalam sistem yang menuntut kedisiplinan. Tinggi dalam bekerja 2. Penyebarluasan pemahaman dan penelitian sistem produksi Just In Time sebaiknya dilakukan dengan kerjasama antara perguruan tinggi dengan kalangan industri. 3. Sistem kanban relatif sederhana sehingga mudah dimengerti karena itu hendaknya pemahaman diberikan secara menyeluruh pada semua tingkat dalam perusahaan sehingga sistem kanban berjalan dengan baik 8. DAFTAR PUSTAKA Gaspersz, Vincent., 1998, Manajemen Produksi Total, Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global, Gramedia ustaka Umum, Jakarta Jimmy, Browne, John Harnen, James Shivnan., 1988, Production Management System, Addison Weslwy Publishing Company Law,A.M and Kelton, W.D., 1991. Simulation Modelinh and Analysis, 2th edition., New York, McGraw-Hill, Inc Monden, Yasuhiro. 2000. Sistem Produksi Toyota Suatu Ancangan Terpadu Untuk Penerapan Just In Time, 1.II jilid, terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta Mudjahidin, 2000. Pembuatan Kanban dan Simulasi Sistem Produksi Just In Time untuk Multi Produk da Multi Proses., Program Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya

7.1 Kesimpulan Melalui serangkaian tahapan penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Siklus kanban untuk bulb adalah 1 :7 :2 artinya barang ini harus disampaikan tujuh kali sehari dan suku cadang harus disampaikan tiga kali setelah kanban dibawa ke pemasok. Siklus kanban untuk duplex 1 :4 :2 artinya barang ini harus disampaikan empat kali sehari dan suku cadang harus disampaikan dua kali setelah kanban dibawa ke pemasok 2. Jumlah keseluruhan kanban di lini produksi untuk bulb adalah 12, titik pesan ulang (kanban segi tiga) 8, dan kanban supplier (Lamp Component Factory) 4. Jumlah kanban di lini produksi untuk duplex adalah 7, titik pesan ulang

19

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

Ohno, Taiichi. Just In Time-1995. Dlam Sistem Produksi Toyota,. Terjemahan Dr.Edi Nugroho, Pustaka Binaman Pressindo Jakarta Fogarty, D.W., J.Blakestone.JR., and T.R Hoffman., Production and Inventory Management 2ed. Cicinnati, OH: South-Western Peblishing, 1991 Schniederjans, Marc J., Topics In JustIn-Time Management: Allyn & Bacon, 1993. Boston

Schonberger, Richard J. Teknik-teknik Manufaktur epang. Terjemahan Dr.Edi Nugrohio, Pustaka Binaman Pressindo, 1995, Jakarta.

20

jika menggunakan kode inner dan outer. systems coding are used to correct this error. Bit Error Rate dari sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tidak dapat dihitung secara teoretis. Gain Coding I. Oleh karena itu untuk memperoleh Bit Error Rate dilakukan simulasi. Cakupan pemodelan sistem terdiri dari 4 bagian yaitu: 1. pembangkitan noise Gaussian dan pembangkitan salah bit serta proses pendekodean. Bagian pertama adalah pemodelan sumber data yang berupa bilangan binari 0 dan 1. 4. Bagian kedua adalah pemodelan pengkodean dari data yang hendak ditransmisikan. Model sistem sebagaimana diperlihatkan oleh gambar 1 diimplementasikan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang terdiri dari program pembangkitan binari 0 dan 1. Blok Diagram Model Sistem II 1 Algoritma Pembangkitan Binari 0 dan 1 Pada penelitian ini sumber diasumsikan sebagai sumber binari yang mempunyai peluang munculnya bit 1 dan peluang munculnya bit 0 adalah sama. Pengkodean dan Pendekodean. 1989). Bagian keempat adalah pemodelan pengkodean dari stream bit yang diterima di sistem penerima. The performance of coding system by using code is compared with the performace of coding system by using code. This research makes model of the inner and outer code. Pola penggabungan kode yang dikombinasikan sebagai kode inner dan kode outer sangat luas pemakaiannya pada sistem komunikasi digital. yaitu banyaknya bit yang salah dibagi dengan banyaknya bit yang dikirimkan dalam jumlah yang besar. 2. 1987). Reed Salomon Code. proses pengkodean. Bagian ketiga adalah pemodelan dari medium transmisi yang meliputi pembangkitan sampel noise Gaussian dan pembangkitan salah bit. Tolok ukuran kinerja sistem adalah Bit Error Rate dari kode inner dan outer kode Hamming dan kode Reed Salomon. jika hanya menggunakan satu jenis pengkodean saja (Christian Thommesen. In order to overcome this problem. Oleh karena itu diperlukan model sistem. Blok diagram model sistem diperlihatkan oleh gambar 1. MODEL SISTEM Sistem yang diteliti adalah kinerja dari sistem kode inner dan outer dengan menggunakan metode simulasi. Kata kunci: Kode Inner dan Outer. Oleh karena itu dipakai satu 21 . di mana yang satu sebagai kode inner dan yang lainnya sebagai kode outer. Kode Reed Salomon. Hamming Code. Fakultas Teknik USU Abstrak: Kesalahan merupakan masalah pada sistem komunikasi. Sihar Parlinggoman Panjaitan Sumber Data Proses Medium Proses Gambar 1. II. Koding Gain Abstract:The error represents a problem for the communications systems. 3. Penelitian ini membuat model sistem kode inner dan outer. Coding and Decoding.KINERJA SISTEM PENGKODEAN DENGAN MENGGUNAKAN KODE INNER DAN KODE OUTER Staf Pengajar Departemen Teknik Elektro. Kode Hamming. Untuk mengatasi masalah ini digunakan sistem pengkodean untuk dapat mengkoreksi kesalahan. maka dapat diperoleh kemampuan yang sangat andal. Di samping itu. Keywords: Inner and Outer Code. Bit Error Rate.. di mana tujuannya memperoleh kemampuan yang sangat andal guna mengoreksi kesalahan (Fazel K & Salembier P. tolok ukur kinerja dari suatu sistem pengkodean adalah Bit Error Rate. Kinerja dari suatu sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer diukur dari besarnya kemampuan koreksi kesalahan dari kode tersebut. Bit Error Rate. The performance of the system is measured by Bit Error Rate By inner and outer Hamming code and Reed Salomon. PENDAHULUAN Beberapa studi mengatakan. Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode inner dan outer tersebut dibandingkan dengan kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode tunggal.

+ g n .2 Algoritma Pembentukan Kode Hamming dan Kode Reed Salomon Bit stream dari sumber data yang masuk ke enkoder dikodekan dengan menggunakan suatu generator. Bila bilangan acak yang dibangkitkan lebih kecil atau sama dengan 0.. Tegangan akan lebih kecil dari 0 volt jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V.(4) N Pada penelitian ini diasumsikan noise adalah V2 = ⎡1 ⎢0 G= ⎢ ⎢1 ⎢ ⎣1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0⎤ 0⎥ ⎥ …………………. Setelah itu diambil bit-bit yang keluar dari inner enkoder di mana tiap yang diambil dibandingkan dengan tiap sampel noise yang dibangkitan.5 dibangkitkan bit 1. maka dibangkitkan bilangan acak berikutnya.3 Algoritma Pembangkitan Salah Bit Pada penelitian ini didefinisikan transmisi tanpa modulasi dan format sinyal adalah bipolar di mana bit 1 mewakili tegangan V volt dan bit 0 mewakili tegangan -V volt. Jika sindrom yang dihasilkan bemilai nol 22 . Sehingga dari 44 bit diperoleh 11 simbol. . Berdasarkan sampel noise dan bit-bit yang keluar dari inner enkoder diputuskan apakah terjadi error atau tidak. Hasilnya adalah kode Reed Salomon. 2 11. 1983]. No.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Didefinisikan tegangan kuadrat (V`) sama dengan daya sinyal (S) karena seolaholah. Pada penelitian ini kode-kode yang dipergunakan adalah kode Hamming (7. Bila bit 1 dikirim error terjadi jika noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari --V. error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +'V. Bila bit 1 dikirim maka error akan terjadi jika Gaussian dengan rataan 0 dan variansi σ . 11.4 Algoritma Pendekodean Kode Hamming Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Hamming dimulai dengan menghitung sindrom dari kode yang diterima. Bila jumlah bilangan acak yang dibangkitkan belum mencapai n.5 dibangkitkan bit 0 dan lebih besar dari 0. Karena parameter yang dipakai di dalam program adalah Signal to Noise Ratio (SIN) dan yang akan dicari adalah tegangan (V).11) dimulai dengan mengambil k bit data sebanyak 44 bit. Dari harga Signal to Noise Ratio dihitung besarnya tegangan (V) dengan menggunakan persamaan (4). 1989): tegangan lebih kecil dari harga treshold-nya (0 volt). tegangan dc dan σ sama dengan daya noise (N). Tegangan akan lebih besar dari 0 jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari +V. Bentuk umum generator polinomial dari kode Reed Salomon [Blahut. Penghitungan sindrom ini untuk mengetahui apakah kode yang diterima benar atau tidak. sejumlah perkalian antara panjang data dari kode. maka perlu dibuat suatu hubungan antara tegangan dan variansi dengan signal noise. Bila yang diambil adalah bit 0.5. acak Gaussian dengan rataan = 0 dan harga variansi = 1. error terjadi jika sampel noise negatif dengan tegangan lebih kecil dari -V. bit tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. Bila yang diambil adalah bit 1. Pembangkitan bilangan acak yang terdistribusi antara 0 dan 1 dimulai dari pembangkitan bilangan acak ke-i yaitu dari 1 sampai dengan bilangan acak ke-n di mana n. Rhichard E.57) sebagai pembanding yang sifatnya sistematik. Oleh karena asumsi noise adalah Gaussian maka dalam simulasi ini diperlukan pembangkit bilangan.(1) 0⎥ ⎥ 1⎦ Algoritma pembentukan kode Reed Salomon (15.4) dan kode BCH (127. Apabila bit 0 dikirim maka error akan terjadi jika tegangan lebih besar dari harga treshold-nya (0 Volt). Kemudian dibangkitkan sample noise (u) yang berupa bilangan acak berdistribusi Gaussian dengan rataan 0 dan variansi = 1. Jika terjadi error. diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol. Bila bit 0 dikirim error terjadi jika noise positif dengan tegangan lebih besar dari V. Proses pembangkitan salah bit dimulai dengan memberikan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Oleh karena itu dalam proses pengkodean diperlukan suatu generator.. Bila bilangan acak dibangkitkan lebih besar dari n maka proses pembangkitan bilangan acak berhenti. Dari definisi tersebut dapat dibuat suatu persamaan yaitu: 2 V2 σ 2 = S ……………………… ……(3) N Bila σ 2 = 1 maka persamaan (3) menjadi: S …………………. Kode Hamming. ( 2 ) 11. Dapat diperoleh dari hasil perkalian antara bit stream dengan generator matriks kode Hamming Generator matriks dari kode Hamming (Man Young Rhee. g(x) = g 0 + g1 x + g 2 x 2 + . 4 Oktober 2006 pembangkit yang dapat membangkitkan bit 0 dan bit 1 dengan peluang yang sama. Bilangan acak yang telah dibangkitkan (u) dibandingkan dengan 0. Kemudian simbol tersebut dikalikan dengan generator polinomial.k n -k .. baik generator matriks. Kemudian 44 bit ini. generator polinomial maupun generator sekuens..

5.. Sehingga dari 60 bit menjadi 15 simbol. Banyaknya sindrom adalah dua kali kemampuan koreksi kesalahan... dilakukan pengkoreksian terhadap bit-bit yang terkena error.. Kemampuan koreksi kesalahan dari kode Reed Salomon (15. Hitung error magnitude.. 1995).. 4. dekoder tidak melakukan pengkoreksian.. Jika semua nol. HT = transposisi dari pariti check matriks... di mana: .(6) ⎡S p=⎢ 1 ⎣S 2 S2 ⎤ ……………………….... Hitung determinan matriks sindrom..(7) S3 ⎥ ⎦ Algoritma pendekodean dari bit stream yang diterima oleh sistem penerima dengan menggunakan kode Reed Salomon... Jika determinan tidak nol. Bila sindrom tidak bemilai nol maka ada error terdeteksi.. Hitung sindrom dari bit stream yang telah melalui saluran transmisi. II.. Kode yang diterima diubah kedalam bentuk simbol di mana tiap 4 bit menjadi satu simbol. Hitung error locator σ dan susun error locator polinominal σ (x)... Setelah posisi error diketahui. + r14α 14 s2 = r0 + r1 (α 2 )1 + r2 (α 2 ) 2 + .1 Determinan Sama dengan Nol Jika determinan sama dengan nol..11) adalah 2..... yang mana posisinya diasumsikan sebagai posisi error. bit pada posisi ke-i tersebut di invert yakni bit 1 menjadi bit 0 dan bit 0 menjadi bit 1. Susun matriks sindrom P. dipilih algoritma Peterson Gorenstein Zieler (Wicker..(5) di mana: r = kode yang diterima.... Langkah-langkah dari algoritma adalah sebagai berikut: 1... + r14 (α 2 )14 s3 = r0 + r1 (α 3 )1 + r2 (α 3 ) 2 + ... dengan menggunakan persamaan: ei1 = S1 σ ……………………………(9) Kemudian disusun error polynomial e(x) e( x) = ei1 x log an …………………. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x).... Susun error polinomial.. Dekoder tidak melakukan pengkoreksian... + r14 (α 3 )14 s4 = r0 + r1 (α 4 )1 + r2 (α 4 ) 2 + .S 3. Selesai... kemudian bit-bit data disimpan pada array 23 . 9. dicari posisi error dengan membandingkan sindrom yang diperoleh dengan matriks pariti.Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan maka tidak ada error yang terdeteksi.. susun matriks sindrom yang baru. Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol. 7. maka bit-bit pariti dibuang... yang dihitung dengan persamaan berikut: s1 = r0 + r1α + r2α 2 + . 5 Algoritma Salomon Pendekodean kode Reed Proses dimulai dengan membuat inisialisasi pada mark data dan markcode dengan nilai nol.. Kemudian bit-bit data disimpan pada array.S 4 diuji. 8.. 5 log a5 c (x) = r ( x ) + e(x)………………(11) setelah kode diperoleh.S 2... 6. berarti tidak ada error deteksi. kemudian bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array. 11.. 10.... 2.. 3... + r14 (α 4 )14 Kemudian sindrom S 1. Proses selanjutnya adalah mengambil sebanyak 60 bit data. hitung determinasi matriks P.(10) 5 log σ Misalkan σ = α maka x a = x a = x Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x).. Hitung akar-akar persamaan error locator polinominal.. bit-bit pariti dibuang dan bit-bit data disimpan pada array.. Setelah diperoleh posisi error maka dilakukan pengkoreksian. Setelah dikoreksi.. Proses selanjutnya adalah mengambil 7 bit data. Kemudian sindrom dihitung dengan menggunakan persamaan berikut. hitung error locator σ dengan menggunakan persamaan: σ= S2 ………………………….. Stephen B.. Jika determinan nol.(8) S1 Selanjutnya hitung error magnitude ei1 .. Jika sindrom tidak sama dengan nol.. Langkah selanjutuya adalah mencari posisi error. 5.... Jumlahkan error polinomial dengan kode yang diterima. S = r HT.. Sehingga sindromnya ada sebanyak 4... Jika sindrom sama dengan nol. Tahap terakhir dari proses pengdekodean adalah mengeluarkan bit-bit pariti... Untuk mengkoreksinya. Jika sindrom tidak sama dengan nol. lakukan langkah 5. dengan cara menghapus kolom paling kanan dau baris paling bawah dari matriks sindrom yang lama....

Program komputer yang dibuat ditulis dalam bahasa Pascal versi 7. Setiap prosedur yang dibuat diuji secara terpisah dengan cara memberikan data masukan tertentu. Hasilnya disimpan pada array codeoutouter.(14) ⎦ ⎣ i2 ⎦ ⎣ S 2 ⎦ harga kesalahan Setelah diperoleh ei1 dan ei2 maka disusun error polynomial e (x). PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam bentuk program simulasi pada komputer yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mewakili hasil dari sistem yang sesungguhnya. III. menjadi 10000144 bit.(12) Di mana σ1 dan σ 2 diperoleh dari ⎡ S1 ⎢S ⎣ 2 S 2 ⎤ ⎡σ 2 ⎤ ⎡ S 3 ⎤ ………. maka bit-bit parity dibuang. Pengujian dilakukan dengan menerapkan algoritma dalam bentuk program simulasi komputer. No. kemudian membandingkan data keluarannya dengan data yang diproses secara manual. Selanjutnya memberikan jumlah bit yang hendak dikirimkan (Nbit stream) kemudian 24 . β1 dan −1 −1 dibangkitkan bit stream oleh pembangkit bit. maka dilakukan pengujian gabungan seluruh prosedur. e( x) = ei1 x log a β1−1 + ei2 x log a β 2 −1 ………. c (x) = r ( x ) + e(x)……………………. I Proses Simulasi Proses simulasi dimulai dengan membuat inisialisasi Jumlah bit (nbits) dan jumlah error (nerror) dengan nilai nol. ⎡ β1 ⎢ −12 ⎣ β1 −1 β2 β 2 −1 −1 2 ⎤ ⎡ ei1 ⎤ ⎡ S1 ⎤ ⎥ ⎢e ⎥ = ⎢ ⎥ ………. 3 Hasil-Hasil Penelitian Pada penelitian ini percobaan dilakukan dengan sepuluh kali pengamatan. Kemudian bit-bit tersebut dikirimkan ke inner dekoder melalui kanal di mana pada kanal dibangkitkan salah bit. Untuk bit masukan sebanyak 1000000 bit. Selanjutnya bit-bit tersebut didekodekan oleh outer dekoder. Misalnya untuk jumlah bit masukan sebanyak 100000 bit. 2 Pengujian Algoritma Yang Disusun Pengujian algoritma yang disusun bertujuan untuk menunjukkan bahwa algoritma tersebut dapat diterapkan dan dapat berfungsi sesuai dengan perancangannya. Kemudian memberikan harga Signal to Noise Ratio (SNR) yang diinginkan. Hasil pengdekodean disimpan dalam array data out Kemudian dihitung jumlah bit yang error dengan cara membandingkan bit pada array datain dan bit pada array dataout. Hasil pengkodean outer enkoder ini merupakan bit stream bagi inner enkoder.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.0.. Kemudian bit-bit tersebut dikodekan oleh outer enkoder. Hasil pengdekodean disimpan pada array datoutinner.. kemudian menguji masing-masing prosedur di dalam program tersebut. untuk selanjutnya dikodekan oleh inner enkoder menjadi kode gabungan yang disimpan pada array codeoutinner. kemudian bit-bit data disimpan pada array III. Setelah semua prosedur diuji. Kemudian bit-bit tersebut didekodekan oleh inner dekoder. 111. datanya menjadi 100100 bit. Data yang diperoleh berdasarkan hasil rata-rata dari kesepuluh pengamatan tersebut. Bit-bit yang telah melalui kanal disimpan pada array codechannel.2 Determinan Tidak Sama dengan Nol Bila determinan tidak sama dengan nol maka susun error locator polinomial dengan menggunakan persamaan: σ ( x) = 1 + σ 1 x + σ 2 x 2 ………. jumlahkan kode yang diterima r(x) dengan error polinomial e(x). Kemudian dihitung error magnitude ei1 dan ei2 dengan menggunakan persamaan. datanya menjadi 1000076 bit dan untuk bit masukan sebanyak 10000000 bit. Selanjutnya akar-akar persamaan di invers sehingga diperoleh β 2 . 4 Oktober 2006 II. Adanya beberapa angka desimal di belakang koma disebabkan tidak tepatnya jumlah bit masukan dengan datanya. 111.(15) Untuk memperoleh kode yang sebenarnya c(x).5.…(16) setelah kode diperoleh. Bit stream yang dibangkitkan diambil sebagiansebagian.(13) = S 3 ⎥ ⎢σ 1 ⎥ ⎢ S 4 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Kemudian dicari akar-akar persamaan (8) yaitu β 1 dan β 2 .

Koding Gain Kode Inner dan Outer Reed Salomon–Hamming Efisiensi: 0.2451 BER keluaran 6.57) Efisiensi: 0.0121 x 10-3 5.Kinerja Sistem Pengkodean dengan Menggunakan Kode Inner dan Kode Outer Sihar Parlinggoman Panjaitan Tabel 1.5691 x 10-3 8.6 6 6.4645 1.626 x 10-5 1.6826 3.4 Koding Gain (dB) 3.4038 9.4 Koding Gain (dB) -0. Efesiensi: 0.1122 3.765 x 10 2.4879 x 10 7.0097 5. 1995): Koding gain = S/N tanpa pengkode-S/N dengan pengkode……….2 5.5691 x 10-3 BER keluaran 1.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.2131 x 10 1.71102 x 10 7.8038 3. Kinerja Kode Inner dan Outer Hamming– Reed Solomon Efisiensi: 0.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.5320 x 10 2.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 BER masukan 9.8403 10.1836 9.5691 x 10 -3 -3 -3 BER keluaran 1.2664 S/N dengan pengkode (dB) 4. Kinerja Kode BCH (127.4873 x 10-3 3.5320 x 10-3 2.81 x 10-6 Tabel 3.8 5.7608 3.5800 3.9608 9.8403 3.01 x 10-6 Tabel 4.7225 8.9800 8. Efisiensi: 0.0484 x 10-3 3.0272 3.4 4.65x 10-6 2.3948 x 10 1.3903 0.5838 3.9515 2.7708 2.4879 x 10-3 7. al.6 6 6.4459 7.8664 Tabel 2.4 Koding Gain (dB) 2.5515 8.57).2459 1.4 4.2645 6. Kinerja Kode Inner dan Outer Reed Salomon-Hamming. Besarnya koding gain (marving et.7622 x 10-3 1.341 x 10 -4 2. Koding Gain kode BCH (127.0921 x 10 -4 -5 -5 Tabel 6.9015 x 10-4 -4 -5 -5 1.5320 x 10 2.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 S/N tanpa pengkode (dB) 4.5838 S/N dengan pengkode (dB) 4.4488 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 11 BER masakan 9.2555 x 10 1.4 4.7122 9.1476 IV.0121 x 10-3 5.0121 x 10 5.8 5.0484 x 10 3.0484 x 10-3 3.2 5.2 5. Koding Gain Kode Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon Efiensi: 0.(10) 9.3292 x 10 5.697 x 10-5 3.1708 7.5476 25 .4826 8.1836 3.8 5.9691 x 10-4 8. ANALISIS HASIL PENELITIAN Analisis hasil penelitian mencakup pengaruh parameter signal to Noise Ratio terhadap koding gain dari sistem yang diteliti.645 1 S/N dengan pengkode (dB) 4.9225 3.6 6 6.2420 x 10-2 4.4879 x 10-3 7.3948 x 10 -3 -3 -3 -3 -3 Tabel 5.4191 Kemampuan Koreksi Kesalahan: 7 S/N tanpa pengkode (dB) 7.3948 x 10-3 1.48 x 10-5 5 .2272 8.

K. (1989). Christian. Mc Graw-Hill. pq. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan. Error Control Systems for Digital Communication and Storage. (1989)..57). Kinerja sistem pengkodean dengan menggunakan kode gabungan lebih andal dibanding dengan kinerja sistem pengkodean yang menggunakan kode tunggal pada Bit Error Rate masukan dari 10-2 sampai 10-3.1995. (1983). Dengan demikian model sistem yang dibuat dapat diyakini untuk mewakili sistem yang sebenarnya.B. Theory and Practice Of Error Control Codes. New York. Kenaikan koding gain semakin kecil pada signal to noise ratio yang semakin besar DAFTAR PUSTAKA Blahut. 4 Oktober 2006 3.. maka dapat diambil kesimpulan antara lain: 1. Error Correcting Coding Theory. Koding Gain terhadap Signal to Noise Ratio Inner dan Outer Hamming-Reed Salomon. R. New York. bila dibandingkan dengan inner dan outer code Reed Salomon-Hamming. IEEE Transactions on Information Theory. T.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Application of Error Modeling at The Output Maximum Likelihood Dekoder to Concatenated Coded 16 PSK. Prentice-Hall International Inc. Laboratories d’Electronique Philips. Koding Gain Hamming sebagai inner code dan Reed Salomon sebagai outer code lebih tinggi dibandingkan dengan Reed Salomon sebagai inner code dan Hamming sebagai outer code Hasil pemodelan simulasi ini mendeksi hasil secara teoretis yakni dengan naiknya signal to noise ratio. IEEE. Pada gambar 2. terlihat bahwa Koding Gain inner dan outer code Hamming-Reed Salomon dan Reed Salomon-Hamming lebih tinggi bila dibandingkan dengan kode BCH (127. maka Bit Error Rate cenderung semakin menurun. (1987) Error Correcting Capabilities of Concatenated Codes With MDS Outer On Memoryless Channels with MaximumLikelihood Decoding. No. Grafik 2. 4.E. Koding Gain inner dan outer Hamming Reed Salomon lebih tinggi.. Reed Salomon-Hamming serta Kode BCH (127. Vol. V. 3 Avenue Descartes 94451 LimeilBrevannes Cedex (France). Wicker Stephen. 15281533. Man Young Rhee...57). IT-33.5 Fazel. P. 26 . 2.. Salembier. Addison-Wesley Pubishing Company Inc. No.

2002. Hal ini mengakibatkan pergolakanpergolakan di daerah untuk menuntut pemberlakuan otonomi khusus atau bahkan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rasa ketidakpuasan tersebut. apa yang harus dipertanggungjawabkan.29. kepada siapa. dan pelaksanaan praktek pemerintah yang good governance dan clean government. dan lain sebagainya. about the orientation of regional’s government which is not implements the regional’s accounting system already are worried not to manage its regional’s accounting transparancy. mengapa pertanggungjawaban harus diserahkan. Salah satu masalah penting yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah sebagai unsur dari suatu good governance. Regional General Assembly (DPRD) and the public. Di satu pihak pemerintah daerah dituntut untuk mewujudkan good governance sementara dipihak lain sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk semua kegiatan terutama menyangkut teknologi informasi dan sumber daya manusia belum memadai. Pelaksanaan good governance tersebut. Good governance mengandung dua pengertian yaitu nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan kemandirian. pemberlakuan undang-undang otonomi daerah harus dapat meningkatkan daya inovatif dari pemerintah daerah untuk dapat memberikan laporan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan keuangan daerah dari segi efisiensi dan efektivitas kepada DPRD maupun masyarakat luas. A. apakah pertanggungjawaban berjalan seiring dengan kewenangan yang memadai. Oleh karena itu. Konsep pelayanan ini dalam akuntabilitas belum memadai. Transparancy and accountability can be realized by the responsibility in all of regional’s financial management periodicly in financial’s report form to the central government. kolusi dan nepotisme (KKN). dan bagaimana. milik siapa.AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU Abstract: The operational of transparancy and accountability are the important things to make a good and clean government according to the expectation of its stakeholders. dalam pengantar Standar Akuntasi Pemerintah dinyatakan bahwa salah satu Idhar Yahya 27 . Konsep pelayanan dalam akuntabilitas selain harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship juga harus diikuti dengan jiwa responsiveness. Konsep Akuntabilitas dan Transparansi Menurut keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) No. since its make Kepmendagri No. The acceleration in regional accounting system implementation is the necessity for the government. maka harus diikuti dengan jiwa eterpreneurship pada pihak-pihak yang melaksanakan akuntabilitas. ternyata pelaksanaannya menghadapi banyak kendala yang cukup rumit. yang mana. Keywords: Transparancy and Accountablility PENDAHULUAN Gerakan reformasi mengedepankan beberapa tuntutan penting antara lain mendesak pemerintah meningkatkan kinerja.589/IX/6/Y/99 dalam Sitompul (2003). personalia yang mempunyai kemampuan juga terbatas. akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menjelaskan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak/berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Selain itu. Pemerintah daerah mempunyai dana yang terbatas. siapa yang bertanggung jawab terhadap berbagai bagian kegiatan dalam masyarakat. Sentralisasi kekuasaan dan keuangan negara pada masa sebelum era reformasi telah banyak memberikan pengalaman kepada masyarakat daerah atas ketimpangan yang terjadi mengenai pembagian hasil dan sumber daya alam antara daerah dan Jakarta. kepada siapa pertanggungjawaban diserahkan. Osborne (1992) dalam Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa Akuntabilitas ditujukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pelayanan apa. Hal ini harus dilakukan agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder sesuai dengan karakteristik Good Governance menurut UNDP dan Word Bank. pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. memberantas korupsi. Hal tersebut dapat dipahami mengingat pemenuhan segala kebutuhan minimal memerlukan biaya dan tenaga ahli tidak sedikit. Pertanyaan yang memerlukan jawaban tersebut antara lain. siapa.

dan DPRD. serta kepada Kepala Satuan Kerja/Dinas selaku pengguna anggaran. Oleh karena itu. C.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh stakeholder tersebut diperlukan kerangka konseptual (conceptual framework) yang komprehensif. Sedangkan akuntabilitas eksternal adalah pertanggungjawaban kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan. Pertama. Badan Pengawas Keuangan Pembangunan. Akuntabilitas Publik Keuangan Daerah Kualitas Pemerintahan Daerah yang baik (good governance) tidak hanya ditentukan oleh akuntabilitas. Untuk membantu Kepala Daerah dalam mengelola keuangan daerah dimaksud. pemberi dana bantuan. Hal ini sesuai dengan karakteristik pelaksanaan pemerintahan yang baik menurut UNDP dan Word Bank. seperti pembayar pajak. berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of public accountability). Akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan pemerintah daerah tidak begitu dipahami oleh masyarakat sebagai pemakai. Akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan dan demokratis serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat. effectiveness dan strategic vision. partisipasi masyarakat dan supremasi hukum. Sebagian besar masyarakat tidak dalam asumsi memiliki pengetahuan yang memadai tantang aktivitas pemerintahan dalam pengelolaan keuangan. 4 Oktober 2006 upaya nyata untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip waktu. Setiap warga negara berhak mengetahui (right to know) untuk setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh setiap pejabat negara baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Akuntabilitas internal merupakan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak internal yang berkepentingan seperti pegawai. Menurut Mardismo (2004). No. Biro/Bagian Keuangan sebagai pembantu Kepala Daerah dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah manajer keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Daerah. aset daerah dan akuntansi. dan investor atau kreditor. Katz (2004) menyatakan bahwa transparansi merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. kualitas pemerintahan yang baik juga ditentukan oleh faktorfaktor lain seperti responsiveness. Oleh karena itu informasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda. 28 . akuntabilitas publik keuangan daerah adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja keuangan daereah kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) sehingga hak-hak publik. B. yaitu hak untuk tau (right to know). Mekanisme monitoring cost sebenarnya sudah berjalan pada akuntansi sektor publik walaupun belum seefektif pada sektor privat. Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengadilan intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Kerangka konseptual akuntabilitas publik dapat dibangun di atas dasar empat komponen. adanya sistem pengukuran kinerja. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tantang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja. sementara setiap Kepala Satuan Kerja/Dinas pada hakekatnya adalah manajer operasional atau Chief Operational Officer (COO) Pemerintah Daerah. Keempat. dilakukannya audit. Lembagalembaga tersebut tentunya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) menggunakan biaya yang bersumber dari keuangan negara. adanya sistem pelaporan keuangan. dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa Kepala Daerah merupakan pengelola keuangan daerah. pemerintah harus betul-betul menyadari bahwa pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari publik. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa “stakeholder yang beragam memiliki kepentingan yang berbeda-beda. pejabat pengelola keuangan negara. hak untuk diberi informasi (right to be kept information). Namun. Ketiga. dan hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to) dapat terpenuhi. Kedua. dan badan legislatif. sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Biro/Bagian Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah daerah kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. media massa. Dengan adanya transparansi maka diharapkan setiap warga negara dapat berperan aktif dalam melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan. kenyataannya mekanisme akuntabilitas keuangan daerah tidak berjalan dengan baik terutama kepada masyarakat. consessus orientation. Hal ini dapat kita lihat dari adanya keberadaan lembaga pengawas seperti Badan Pengawas Daerah. Jiwa dari sistem ini adalah kemampuan dari setiap warga negara untuk memperoleh informasi melalui akuntabilitas pejabat pemerintah atas kegiatan yang mereka lakukan. Sektor publik. equity efficiency. transparansi. transparansi. Mekanisme Akuntabilitas Keuangan Dalam pelaksanaan penyajian laporan keuangan pemerintah daerah. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa akuntabilitas publik meliputi akuntabilitas internal dan akuntabilitas eksternal.

Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Idhar Yahya

D. Impelentasi Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pencapaian kinerja organisasi pemerintah biasanya memang dihubungkan dengan konsep 3E. Hal ini sesuai dengan konsep Value For Money (Mulgan, 1997) yang merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang didasarkan pada tiga elemen yaitu ekonomis, efisiensi dan efektivitas. Namu tiga elemen ini saja sebenarnya tidak cukup dan perlu ditambah dengan dua elemen lain yaitu keadilan (equity) dan pemerataan atau kesetaraan (equility). Artinya bahwa penggunaan uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja tetapi dilakukan secara merata. E. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Sarana Akuntabilitas dan Transparansi Keuangan Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah maka sistem akuntansi yang digunakan oleh pemerintah berubah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui apda saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dinyatakan bahwa komponen yang harus terdapat dalam suatu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi; Laporan Realisasi Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintah Nomor 1 tentang Penyajian Laporang Keuangan pada paragraf 38 dan paragraf 43 dinyatakan bahwa Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu, selain itu juga dinyatakan Neraca mencantumkan pos-pos berikut; Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang pajak dan bukan pajak, Persediaan, Investasi jangka panjang, Aset tetap, Kewajiban jangka pendek, Kewajiban jangka panjang, Ekuitas dana. Dengan demikan, PSAP Nomor 1 telah mengharuskan setiap Pemerintah Daerah untuk menyajikan dan melaporkan Neraca secara komprehensif.

F. Laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagai Bentuk Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Pada setiap akhir tahun anggaran dan periode pemerintahan Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepada DPRD sebagai wakil dari masyarakat yang telah mempercayakan pengelolaan sumber daya daerah. Undang-undang republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pada ayat 2 disebutkan bahwa laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi Laporan Keuangan APBD, Neraca, Laporan Aliran Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan Badan Usaha Milik Daerah. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2001 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia telah menyampaikan Hasil Pemeriksaan Semesteran (HAPSEM) kepada DPRD, yaitu hasil pemeriksaan yang menyangkut pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi/ Kabupaten/Kota yang ber-sangkutan. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Barhullah, 2002, Fungsi Manajemen Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, oktober, hjal. 4-8 Katz, Ellen, 2004, Transparancy in GovernmentHow American Citizens Influence Public Policy, Journal of Accountancy, Juni 2004, hal. 1-2 Kosasih, Dadang, 2003, Reorientasi Pengelolaan Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 90, Juni-Juli, hal. 57-59 Kuntadi, Cris, 2002, Transparansi Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Majalah Pemeriksaan, Edisi No. 87, Oktober, hal. 22-16 Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta, Mardiasmo, 2004, Membangun Akuntabilitas Publik Keuangan Negara, Cetakan Majalah Media Akuntansi, Edisi No. 39, April, hal. 12

29

STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X
Khawarita Siregar
Staf Pengajar Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU Abstrak: PT X merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ayam (pelet S-11). Penelitian ini menggunakan pengendalian proses secara statistik untuk melihat kemampuan proses dari PT X, juga dengan teknik ini perusahaan dapat menurunkan variabilitas yang dimiliki sebanyak mungkin. Ini merupakan sebuah keharusan karena PT X tidak memiliki metode khusus dalam mengendalikan pelet S-11. Dan juga dengan teknik ini, PT X ingin mengendalikan keseluruhan proses yang terdapat pada lantai produksi. Juga dapat dilakukan untuk mengendalikan produk akhir dengan menentukan rencana sampling penerimaan berdasarkan MIL-STD 1916 dan memberikan petunjuk arahan terhadap lot yang diterima dan yang ditolak. Dari analisis yang didapat, rendahnya proses kapabilitas disebabkan oleh kinerja operator, gudang bahan baku, peralatan turn head dan proses itu sendiri tidak bekerja secara optimum. Dan juga untuk perhitungan rencana sampling penerimaan berdasarkan metode MIL-STD 1916, lot yang diterima terdapat pada karakteristik protein, lemak, dan serat. Kalsium dan fosfor lot yang ditolak. Untuk lot yang ditolak dibutuhkan pemeriksaan yang lebih ketat. Kata kunci: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL- STD 1916 Abstract: PT X is a manufacturer in producing food for chicken (pellet S-11). This researh is using statistical process control to look the capability process of PT X, so with this technique the manufacturer can decrease the variability as much as possible. It’s a necessary because PT X doesn’t has a special method in controlling pellet S-11. And with this capability process technique, PT X want to control the whole process in the production floor. It can be also to control the end item product with determine the acceptance sampling plans according MIL-STD 1916 and giving an implementation direction about the acceptable and rejected lot. From the analysis result, poor capability cause by operator performance, raw material warehouse, turn head tool and the process to produce S-11 itself doesn’t works optimumly. And for the acceptance sampling plans calculation with MIL-STD 1916 method, the acceptable lot are protein, fat and fiber. Calcium and phosphor are rejected. For rejected lot, tightened inspection shall be istituted. Keywords: Statistical Process Control, Capability Process, Acceptance Sampling, MIL-STD 1916 1. PENDAHULUAN Produksi daging dan telur ayam kampung belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ditinjau dari segi peternakan ayam ras yang semakin berkembang berkaitan erat dengan penggunaan teknologi. Penerapan teknologi ini didukung oleh program pemerintah untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat dalam hal kebutuhan protein hewani. Melihat Indonesia sangat potensial bagi industri pakan ternak khususnya ayam, maka PT X mewujudkan minatnya untuk memproduksi pakan ayam yang berkualitas. Untuk menjaga kualitas pakan, PT X berusaha untuk tetap memenuhi mutu produk sesuai spesifikasi produk (nilai gizi) yang diinginkan pasar dengan tetap melakukan usaha-usaha pengendalian mutu. Untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan peluang yang sama untuk menerima produk tanpa cacat (defect) diperlukan usaha keras dari pihak perusahaan untuk mencapai zero defect. Usaha yang dimaksud tidak hanya berupa kebijakankebijakan yang tertulis tetapi juga diperlukan kesadaran dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Dari studi lapangan yang telah dilakukan terhadap PT Charoen Pokphand Indonesia, untuk mencapai zero defect menjadi hal yang sulit dikarenakan faktor kebudayaan seperti kesadaran, sikap, insentif, sistem penghargaan dan tingkat komitmen dari individu dan organisasi yang terlibat. Juga faktor manusia (operator) yang melahirkan kesalahan manusia (human error), misalnya mempunyai tujuan yang salah atau kemampuan yang kurang sehingga menghasilkan kesalahan. Dikarenakan sulitnya untuk mengubah pola pikir, watak dan budaya yang dimiliki, maka untuk melakukan pengendalian secara statistik terhadap proses yang sedang berlangsung digunakan metode process capability dan MIL-STD 1916 dalam mengendalikan produk yang dihasilkan. 2. POKOK PERMASALAHAN Masih terdapatnya pakan ayam S-11 yang dihasilkan belum memenuhi spesifikasi standard mutu yang telah ditetapkan perusahaan, sehingga perlu diambil langkah konkrit agar mutu yang dihasilkan dapat tercapai. Langkah yang diambil adalah dengan menggunakan proses pengendalian statistik untuk melihat dan memeriksa proses yang berlangsung dan produk akhir yang dihasilkan. Pengendalian secara proses dapat dilakukan dengan menggunakan teknik process capability sedangkan pengendalian produk akhir dengan memakai MILSTD 1916.

30

Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar

3. PEMBATASAN PENELITIAN Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis masalah dilakukan pada produk pakan ayam S-11. 2. Variabel yang akan diuji adalah variabel kadar protein, lemak, serat, kalsium, dan fosfor. 3. Spesifikasi standar mutu terhadap variabel uji adalah: - Kadar Protein = 19 –21% - Kadar Lemak = 6 –7% - Kadar Serat = 3 – 4% - Kadar Kalsium = 0,9 – 1,1% - Kadar Fosfor = 0,7 – 0,9% 4. Tidak melakukan suatu evaluasi sistem manajemen perusahaan yang berhubungan dengan penerapan pengendalian mutu. 5. Tidak menggunakan konsep zero defect. 4. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif yang bersifat historis yaitu memakai data masa lalu perusahaan untuk dianalisis dengan menggunakan prinsip perhitungan pengendalian kualitas secara proses. 4.2 Objek Penelitian Objek yang diteliti adalah kajian process capability dan acceptance sampling plans berdasarkan MIL-STD 1916 untuk melihat sejauh mana studi ini dapat diterapkan pada PT X. 4.3 Identifikasi Masalah Masalah yang ditemui akan diidentifikasi untuk selanjutnya akan dicari penyelesaiannya. Secara umum tahapan-tahapan yang akan dilewati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi dan perumusan masalah 2. Penetapan tujuan penelitian 3. Studi kepustakaan 4. Penentuan metode penyelesaian penelitian 4.3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi yang berarti mengenal masalah harus didasarkan pada tingkat urgensi dan relevansi permasalahan. Identifikasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap fakta yang terjadi pada perusahaan. Perlunya memakai prisip pengendalian secara statistik dimaksudkan agar perusahaan secara kontiniu dapat melakukan pengendalian produk secara terstruktur, sehingga hasil yang didapat dapat ditindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mengambil kesimpulan dari kondisi sebenarnya dan untuk memberikan petunjuk dan arahan atas pelaksanaan tersebut.

4.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengendalikan keseluruhan proses yang berlangsung dalam menghasilkan pakan ayam S11 dengan memakai process capability serta memberikan usulan berupa tindakan-tindakan korektif yang dapat diambil untuk meningkatkan kemampuan proses. 2. Mengendalikan pemeriksaan produk akhir dengan menentukan rencana sampel penerimaan variabel berdasarkan metode MIL-STD 1916 dan dapat memberikan petunjuk pelaksanaan atas kegiatan pemeriksaan terhadap lot yang diterima atau ditolak. 4.3.3 Studi Kepustakaan Kualitas produk biasanya dipakai dalam penggunaan produk atau jasa yang dapat memenuhi harapan (expectation) pelanggan. Harapan ini didasarkan pada kepuasan akan kebutuhan pelanggan (fitness for use) dan harga/nilai jual produk. Kualitas sendiri dapat didefenisikan sebagai keseluruhan segi, keistimewaan (feature) dan karakteristik sebuah produk atau jasa layanan yang memberikan kepuasan akan kebutuhan pelanggan. A. Statistical Process Control Merupakan alat utama untuk memonitor sebuah proses, mendiagnosis masalah-masalah yang timbul pada saat proses dan membuat usaha-usaha prioritas untuk melakukan perbaikan kualitas. Tujuan pokok pengendalian proses statistik adalah menyelidiki dengan cepat sebab-sebab penyimpangan kualitas sehingga penyelidikan terhadap proses itu dan tindakan pembetulan unit dapat dilakukan sebelum terlalu banyak produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi. B. Control Chart Suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk memperlihatkan variasi-variasi didalam kualitas keluaran yang disebabkan oleh penyebab khusus dan penyebab umum dan sekaligus melalui peta kendali dapat digunakan untuk menghilangkan variasi data yang tidak normal. Manfaat dari peta kendali adalah memberitahukan kapan harus membiarkan suatu proses berjalan seadanya atau kapan harus mengambil tindakan untuk mengatasi gangguan. Peta kendali dapat dibagi atas dua tipe umum, yaitu: 1. Peta kendali atribut (sifat), digunakan apabila karakteristik mutu tidak dapat dinyatakan secara numerik. 2. Peta kendali variabel, digunakan apabila karakteristik mutu dapat diukur dan dinyatakan dalam bilangan. Untuk mengendalikan mutu pada perusahaan ini, penulis menggunakan peta kendali untuk variabel, yaitu peta X dan R, karena karakteristik mutu yang diamati adalah variabelnya.

31

00. tetapi hanya merupakan hasil perhitungan dari proses statistical control. MIL-STD 1916 adalah singkatan dari Military Standard 1916 yang merupakan salah satu dari teknik untuk rencana sampel penerimaan yang teriri dari tiga perencanaan sampling sekaligus yaitu pemeriksaan sampel dari lot atau batch yang bersifat variabel atau atribut. Rencana sampling menunjukkan ukuran sampel dan cacat yang diizinkan dalam sampel untuk menentukan apakah suatu populasi diterima atau tidak. Nilai capability index minimum untuk distribusi normal adalah satu. 1). jenis sampel yang digunakan adalah simple random. dengan cara membuang data yang di luar kendali dan menghitung kembali batas-batas kendali.Data yang berada di luar batas pengendalian merupakan jenis data yang tidak normal yang disebabkan oleh jenis variasi penyebab khusus (variasi tidak alami). Accepatance Sampling Plans Melakukan rencana sampling penerimaan tidak terlepas dari cara pemilihan sampel yang representatif. Perlu diketahui bahwa kedua sifat sampel tersebut dapat dipilih salah satunya sesuai dengan penelitian yang dilakukan dan disesuaikan dengan produk yang dihasilkan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. C. yaitu Cp dan Cpk. Perlu diketahui. di mana nilai minimum dari Cpk yang dianjurkan adalah 1. 4 Oktober 2006 Revisi Peta Kendali X dan R Jika terdapat data yang di luar batas kendali. nilai Cp tidak mengindikasikan bahwa suatu proses telah benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan terhadap proses. sehingga dapat memberi gambaran yang tepat tentang karakteristik populasi yang diselidiki. untuk menghasilkan standar proses yang diinginkan. Metode Accepatance Sampling Plans Metode perencanaan sampling penerimaan yang dibahas pada penelitian ini adalah metode penerimaan sampling alternatif (alternative acceptence sampling methode) atau disebut sebagai MIL-STD 1916 yang dikeluarkan pada 1 April 1996 oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang digunakan sebagai standar metode penerimaan produk (methods for acceptance product). Dalam menentukan proses perencanaan sampling. Nilai Cp dan Cpk 32 . Simple random adalah sampel yang terdiri dari unsur-unsur di mana setiap unsur mempunyai probabilitas yang sama untuk dipilih. maka dilakukan revisi terhadap peta kendali tersebut. Capability Index suatu proses adalah perbandingan variasi proses terhadap spesifakasi yang telah ditentukan. No. hal-hal yang pertama sekali yang harus diketahui lebih dahulu adalah: Gambar 1. Pemilihan sampel yang bersifat random akan memberikan hasil yang memuaskan bila populasi dari sampel tersebut adalah yang homogen. Kedua nilai ini harus dilakukan secara bersama. Dalam penelitian ini. Berikut adalah merupakan analisis hubungan antara nilai Cp dan Cpk: Secara jelasnya dapat dilihat melalui gambar 1. Nilai yang menentukan bahwa proses telah sesuai atau tidak terhadap karakteristik proses adalah nilai dari Cpk (performance index). Process Capability Ukuran dari proses capability disebut capability index. D.

yaitu: VL-I : digunakan apabila kondisi produksi tidak pernah mengalami kesalahan. Tipe dari sampling yang diteliti (variabel) Penggunaan perencanaan sampling variabel. 2. Kode Huruf untuk Lot/Batch VII 2 – 170 A 171 – 288 A 289 – 544 A 545 – 960 A 961 – 1632 A 1633 – 3072 A 3073 – 5440 A 5441 – 9216 B 9217 – 17408 C 17409 – 30720 D 30721 – dst E Sumber: DoD Article MIL-STD 1916 USA Lot Or Poduction Interval Size VI A A A A A A B C D E E Verification Levels V VI III A A A A A A A A A A A B A B C B C D C D E D E E E E E E E E E E E II A A B C D E E E E E E I A B C D E E E E E E E 33 . Hal ini terdapat pada kondisi suatu perusahaan yang terancam hancur/tutup (unsafe manufacture). Tabel 1. diperketat. diperlonggar) Aturan tingkat pemeriksaan hanya diaplikasikan terhadap ukuran yang ada yaitu: normal. diperlonggar (reduced). Major karakteristik adalah gambaran karakteristik yang harus menghindari kesalahan produksi atau pengurangan material (material reduction) pada saat proses lagi berjalan. Jenis karakteristik dalam hal pemeriksaan dibagi atas tiga bagian. baik itu pada saat produksi atau penanganan material. Minor karakteristik adalah gambaran karakteristik yang menunjukkan bahwa kurangnya usaha untuk menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi. Penentuan kode huruf (CL) terhadap besar lot yang diperiksa. VL-V : jenis level yang membutuhkan satu kali pemeriksaan dari VL-IV. atribut dan continous MIL-STD 1916 harus menggunakan prinsip sampel secara random dan khusus untuk variabel distribusinya normal. Verification Level Verification Level (VL) adalah gambaran dari tingkat utilitas suatu karakteristik dalam suatu proses. c. 4. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai VLIV sampai VL-VI. 3. Kritikal karakteristik adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu sistem dalam keadaan sangat berbahaya (hazardous) atau bisa dikatakan sebagai kondisi tak terselamatkan (unsafe condition) bila dalam jangka tertentu tidak diantisipasi dengan menggunakan pemeriksaan prinsip otomatis yang menggunakan sistem komputerisasi. Verification level yang digunakan adalah VLVII. Tingkat VL yang digunakan adalah mulai dari VL-I sampai VL-III. Setelah VL dispesifikasi maka kode huruf jumlah lot/batch bisa dilihat dari tabel 1. yaitu: minor karakteristik. major karakteristik dan kritikal karakteristik. VL-II : pemeriksaan dengan kondisi variasi produksi hampir tidak pernah ada. b. Penetuan nilai VL tergantung jenis karakteristik yang diteliti. diperketat (tightened).Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar 1. VL-III : pemeriksaan dengan sedikit variasi dalam produksi. Tingkat pemeriksaan (normal. VL-VI : jenis pemeriksaan yang diguna– kan apabila ada perbedaan yang besar terhadap spesifikasi yang ditetapkan. a. yaitu: VL-IV : jenis level umum yang digunakan oleh perusahaan.

6. .435 – 6. diperoleh χ hitung < χ tabel.388 1 Zb 0 0.844 12.765 – 6.106 0. 4.435 6.4 ) − (169 )2 N' = ⎢ 169 ⎢ ⎣ N’ = 2.32 4.504 6.2514 0. 2.423 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total Batas Kelas 5.479 1.907 0.545 6. pemeriksaan normal dilakukan pada awal pemeriksaan.504 (xi.6 112.267 Untuk uji kenormalan data.1113 0. Penentuan Nilai χ Hitung No.875 – 6.015 Za 0.563 0.3974 0.504 6.239 1.Penyebab-penyebab produk rusak yang telah ditemukan. Total 156 1014.594 11.Sepuluh lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.070 3.215 – 6.015 0.118 0.504 6. . Normal ke longgar .261 0.5 5.875 – 6.765 6.5636 0.1401 0.146 0. Dari tabel 3.206 0. Aturan Pengalihan Prosedur Pemeriksaan Aturan pengalihan pemeriksaan prosedur pemeriksaan normal.325 – 6. 6.3974 0. I. Bagi perencanaan sampling penerimaan.498 -1.504 6. (xi. Normal ke ketat Dua lot tidak memenuhi kriteria penerimaan dari lima lot terakhir yang diperiksa.504 6. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 5.325 6. Distribusi Frekuensi Kadar Lemak S-11 No.111 0.995 Zbkb 0 -1. Dari tabel 2 diperoleh standar deviasi = 0.82 129.434 17. Pengalihan prosedur pemeriksaan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi atau yang terjadi.673 -0.105 12 6. 6.498 -1.49 116.655 – 6.655 6.185 fi. 6.5636 0.667 12.217 2.0668 0.765 – 6.003 0.099 0.82 6.x )2 2.2514 0.890 2.673 -0.0823 ei 10.1 lot ditolak. serat.105 – 6.09 II. 6.875 19 6.105 – 6.1401 0.325 – 6.1208 0.362 22.1662 0.927 23.166 0.765 20 6. ketat dan diperlonggar adalah sebagai berikut: 1.05.875 6.2 8. 6.1521 0.215 15 6. 5.xi Kelas 1.151 0.009 0.1 Pengumpulan Data Data yang didapat merupakan data persentase kadar protein.388 Zbka -1.325 16 6.71 Tabel 3.4 3.8365 0.151 0. 5.154 0.8365 0. ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ 2 pendahuluan B.93 97.995 14 6.655 – 6.042 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.545 18 6. Batas fi xi fi.348 34 .Proses produksi tidak teratur dan sering mengalami delay.95 N’ < N.435 25 6. 3.976 1.838 oi 12 15 16 25 18 17 20 19 14 156 (oi-ei)2/ei 0.055 0. bahwa data berdistribsi normal.38 159. berarti jumlah pengamatan telah memenuhi.504 6. No. Longgar ke normal .7157 0.9177 2 x 6.776 25. Uji Kenormalan Data Hasil distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 2.215 – 6.655 17 6. .16 92.727 18.x )2 0.504 6.71 134. Ketat ke normal .0668 0.27 100.2 Pengolahan Data A.504 6.2 7. 2 2 Tabel 2.0668 0. 6.0002 0.261 0.995 – 6.215 6.7157 0.844 1.0733 0. kalsium dan fosfor pelet S-11.105 6. Uji Kecukupan Data ⎡ 60 26 (1099. 6.6 2.05 72. 4 Oktober 2006 2).780 0. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesa digunakan nilai α = 0.Proses produksi dalam keadaan mantap. sehingga penulis mengambil satu sampel data yaitu kadar lemak.420 11.545 – 6.880 0.105 9.387 0.58 9. lemak.545 – 6. 5.085 -0. .9177 1 Za-Zb 0.563 0. ini berarti Ho diterima.Kondisi pabrikasi lainnya menjamin pemeriksaan normal untuk dilakukan kembali. Perhitungan yang dilakukan untuk setiap data variabel tersebut dilakukan dengan cara yang sama.995 – 6.Lima lot secara berurutan diterima atau sesuai dengan kriteria penerimaan.976 1.435 – 6.085 -0.0812 0.

495 6.54 0.82 X terdapat data yang berada di luar batas kontrol pada data yang ke-14 dengan nilai 6.46 0.853 0.422 6. Revisi Peta Kontrol X Kadar Lemak Berdasarkan hasil revisi yang terlihat pada gambar 4.483x 0.94 0.633 6.472 6.407 6. Setelah revisi selesai dilakukan maka dapat dilakukan perhitungan Cp dan Cpk.408 6.69 0. 67 = 1.5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Range Kadar Lemak Gambar 3. Peta Kontrol R Kadar Lemak Berdasarkan gambar 2. 67 26 Faktor-faktor yang dipakai untuk perhitungan batas kontrol atas dan bawah berdasarkan Tabel Faktor untuk n = 6 didapat: A2 = 0.76 0. Ini menunjukkan bahwa variasi data tidak normal.618 6. Sedangkan untuk peta R semua data dalam batas kontrol. d2 = 2.853.505 1.18 Batas kontrol peta R untuk kadar lemak: BKB R = D 3 R BKA R = D 4 R = 2.6 6.73 0.82 0. terlihat bahwa pada peta X R Berdasarkan tabel 4 dapat dilakukan perhitungan garis tengah (central line) untuk kadar lemak.4 6.534 Batas kontrol peta X untuk kadar lemak: BKAX = X + A2 R = 6. Tabel 4.61 0.265 6.568 6.54 0.5 + (0.2 6 5. ditunjukkan bahwa variasi data sudah normal tanpa ada variasi penyebab khusus atau variasi penyebab umum.68 0.77 0.67) = 6. Karena terdapat data yang berada di luar batas kontrol.537 6. 38 = 0 . Spesifikasi yang diizinkan perusahaan untuk kadar lemak pada pakan S-11 adalah 6 – 7%.485 6.004 .72 0. Peta Kontrol X Kadar Lemak Peta R Kadar Lemak X 6. D3 = 0 .65 6.67) = 6.5 0.67 = 0 x 0 .45 0. D4 = 2.004 x 0.415 6.325 6.483 .5 − (0.82 0.5 Kadar Lemak Garis Tengah 1 0. Karena semua data berada pada batas kontrol.88 169 17. R X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6.4 6.592 6.483 x 0. Penentuan Batas Kendali dan Penentuan Index Capability Process Untuk menentukan kemampuan proses yang dihasilkan terlebih dahulu ditentukan batas-batas kendali untuk karakteristik lemak dengan memperhatikan data X dan R seperti terlihat pada tabel 4.8 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Sub Group Garis Tengah Batas Kontrol Atas Batas Kontrol Bawah Rata-rata Kadar Lemak Gambar 2. 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total Kendali Kadar R 0. X = ∑ g X g i i =1 = 169 = 6 .68 6. Perhitungan Lemak No.34 = 0 Gambar 4.52 Batas No.462 6.38 Peta X Kadar Lemak 7 6. Revisi Peta X R e v i s i P e t a X Ka d a r Le ma k 7 6. 5 26 R = ∑ g R g i i =1 = 17 .63 0.68 6.75 0.61 0.5 6 5.8 6.73 0. maka dapat pula ditentukan nilai Cp dan Cpk.2 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Kadar Lemak C.358 6. Variasi ini disebabkan oleh faktor pencampuran bahan-bahan yang ditambahkan pada saat proses pencampuran di mesin mixing.73 0.403 6.432 6.543 6.5 1 3 5 7 9 11 13 15 17 S u b Gr o u p 19 21 23 25 Gar is Tengah Batas Kontr ol Atas Batas Kontr ol Bawah Rata-r ata Kadar Lemak BKBX = X − A 2 R = 6. Variasi ini merupakan jenis variasi penyebab khusus sehingga perlu dilakukan revisi. 35 .63 0.428 6.88 0. maka dilakukan revisi sehingga semua data dalam batas kontrol (proses dalam pengendalian)seperti yang nampak pada gambar 4.79 0.

662 0.65 3 ( 0 .0003 0.Ukuran Sampel (nv) : 44 Tabel 5.415 – 6.221 hitung < χ 2 tabel.27 Zbka -0.x )2 0.4722 6. Tabel 6.565 – 6.465 – 6.96 284.36 6.x )2 0.44 2 6.168 0.53 6.414 6.27 1 Zb 0 0.648 0. karena nilai berada pada kriteria Cpk < 1. bahwa data berdistribusi normal.95 -0.52 6. 4 Oktober 2006 Cp = USL .54 6.1685 0.363 0.315 – 6.465 4 6.39 6.44 6 6. Distribusi Frekuensi No.315 – 6.64 6.565 6 6.136 0.705 Total X3 6.63 Nilai Cpk = 0.69 fi 10 8 5 5 5 5 6 44 xi 6.0229 0.12 32.00.51 -0.7967 0.4722 6. Batas Kelas 1 6.42 6.57 6. Batas Kelas 1 6.26) Nilai Cp = 0.5395 Dari tabel 6 diperoleh standar deviasi = 0.515 5 6.59 6. 64 6(0.066 0.509 4.Ukuran Lot : 2.0138 0.528 7.615 7 6.4722 6.00.44 6.78 x 6. Tabel 7.45 4.112 Untuk uji normal data.0052 0.06 0.305 0.44 6.7 32.64.95 39.6 = = 0 . 26 ) D. 36 .488 oi 10 8 5 5 5 5 6 44 (oi-ei)2/ei 0.0045 0. 26 ) Cpk = min [Cpl:Cpu] = 0.615 – 6.32 6. X1 X2 1 6.38 6.365 2 6.95 -0.465 4 6.36 6.171 0.38 6.32 6.X = 3σ 0 = 7 − 6 . (xi.49 6.44 6.82 1.Verification Level : IV .34 6.Jenis Pemeriksaan : normal .52 7 6.415 3 6.4722 6.36 6. C pl = X .53 3 6.563 6.51 5 6.7967 0.63 = 3 ( 0 .32 6.66 fi.515 – 6. 49 − 6 = 0.2 32.0067 0.48 8 6.38 0.0692 0.515 – 6. hipotesa yang digunakan: Ho : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Dalam pengujian hipotesis digunakan nilai α = 0.901 0.365 2 6. Penentuan Nilai No.565 6 6.4761 0.51 10 6.0174 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.898 1 Za-Zb 0. Data Ukuran Sampel No.849 0.39 4 6.705 Total Dari tabel 7 diperoleh χ 2 χ 2 hitung Zbkb 0 -0.58 6.05.365 – 6.365 – 6.827 1.615 7 6.7 6.37 6.LSL 6σ0 7 .xi 63.65 6.1749 0.565 – 6.4761 0.LSL 3σ 0 6 .305 0.000 .38 0.868 0.39 6.68 6.465 – 6. ini menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk yang tidak memenuhi lower spesification level (LSL) kadar lemak.57 11 6.54 6. ini berarti Ho diterima.615 – 6. No.51 -0.63.4722 (xi.61 6.415 3 6.57 6.4722 6.898 Za 0.415 – 6.2114 0.101 0.38 X4 6.515 5 6.0541 0.0010 0.Spesification : 6 – 7% .47 6.5 6. Penentuan Rencana Sampling Penerimaan Penarikan sampel yang dilakukan adalah sebagai berikut : .171 0.36 9 6.1685 0.102 ei 7.37 6.33 6.006 7. ini menunjukkan bahwa proses tidak capable untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak karena nilai Cp < 1.4 51.648 0.542 4.148 0.34 C pu USL .06 0.4722 6.800.45 32.0352 fi.41 6. 49 = 0.32 6.7 6.Nama Karakteristik Mutu : kadar lemak .0015 0.

QU ≥ k : 4.62 Cpl = 0. Karena homogenisasi yang rendah menyebabkan produk rapuh.65 0.49 – 20.11 Keterangan Lihat Tabel 1.Untuk spesifikasi atas.11 4.56 0. Kriteria penolakan: tolak apabila salah satu syarat di atas tidak memenuhi.27 0. Perhitungan Penarikan Sampel Item yang dihitung USL LSL Kode Huruf Ukuran Nilai Sampel Nilai ‘k’ Nilai ‘F’ (untuk spesifikasi ganda) Rata-rata Sampel Standar Deviasi Sampel Nilai QU (Upper Quality Index) Nilai QL (Lower Quality Index) Nilai F sampel.9% 0.16 – 6. Hal ini dapat menyebabkan raw material menjadi rusak akibat serangan tikus dan kutu busuk.82 ≥ 2.61 0. Adanya tindakan kesengajaan yang disebabkan operator dalam memasukkan komposisi raw material yang akan dituang ke dalam mesin mixing dalam mengejar target.5 0.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar Tabel 8. c.1% 0.69 (memenuhi) .65 Central Line 20.99 5 Kadar Fosfor 0.74 – 0.62 Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk Cp Cpu Cpl Cpk = = = = = = = = = = = = = = = = 0.18 – 6.7 Batas Kontrol Revisi Process Capability Cp = 0. QL ≥ k : 4.76 0.82 4.63 0.09 2 Kadar Lemak 6 – 7% 6.07 - 0. Kriteria penerimaan: terima lot. Proses pelletizing belum bekerja secara optimum.82 6.64 0.5 0.47 0.86 - 0.174 6. MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 MIL-STD 1916 Perhitungan Perhitungan QU= (U. 1 Batas Kontrol 19.625 0.74 - 3.65 0.8 37 . Hal ini menyebabkan raw material tidak masuk pada salurannya.174 (memenuhi) b. ANALISIS 6.27 ≥ 2.5 3 Kadar Serat 3 – 4% 3.68 Cpu = 0. apabila semua syarat dibawah ini dipenuhi.16 – 3. Tabel 9. .Yang mana pada proses ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.Untuk spesifikasi ganda F’ ≤ F : 0.81 6.Untuk spesifikasi bawah.X )/s QL= ( X -L)/s s/(USL-LSL) X s QU QL Kriteria keputusan: a. Hal ini disebabkan oleh beberapa Karakteristik Mutu Kadar Protein Batas Spesifikasi 19 – 21% faktor seperti: Kondisi gudang penyimpanan raw material yang kurang diperhatikan.69 0.1 Process Capability Dari tabel 9 didapat analisis hasil dari perhitungan proses kapabilitas dan indeks proses kapabilitas untuk karakteristik mutu kadar lemak dari pakan S-11 menunjukkan bahwa process capability tidak baik untuk memenuhi spesifikasi kadar lemak yaitu: (6 – 7)%.69 0.69 (memenuhi) .45 4 Kadar Kalsium 0.93 – 1.65 0. Kesimpulan: lot diterima 6. sehingga kandungan nutrisi yang didalamnya menjadi rendah.11 ≤ 0.74 Cpk = 0. hanya untuk spesifikasi ganda Simbol U L CL nv k F Hasil 7 6 E 44 2.65 0. Indeks Process Capability dari Hasil Revisi untuk Masing-Masing Karakteristik Mutu No.9 – 1.63 0.625 0. Peralatan turn head yang tidak bekerja dengan baik pada saat memasukkan raw material ke dalam saluran-saluran intake.7 – 0.

Perhitungan indeks process capability untuk masing-masing karakteristik mutu dilakukan setelah proses dalam pengendalian. Dan batas kendali untuk masing-masing karakteristik adalah (19.49– 20.25 > 0.7)% untuk kadar protein.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. supaya proses dapat terkendali.80 < 2.86)% untuk kadar fosfor. 4 Oktober 2006 Tabel 10. 1 2 3 4 5 Jenis Pengujian Kadar Protein Kadar Lemak Kadar Serat Kadar Kalsium Kadar Fosfor Jenis Pemeriksaan Normal CL VL nv E E E E E IV IV IV IV IV 44 44 44 44 44 Keterangan K 2. Peralihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperlonggar tingkat pemeriksaannya dengan mengubah tingkat verifikasinya (VL) satu tingkat ke kanan.27 > 2.25 > 0.Perlunya pengawasan yang ketat kepada operator dari pihak manajemen. Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa rencana sampling untuk kadar lemak pakan S-11 setelah dilakukan pengujian disimpulkan bahwa lot diterima. Bila diperlukan dilakukan pergantian dengan yang baru. yaitu variasi yang disebabkan oleh kesalahan operator dalam mencampurkan material pada saat proses pencampuran.11 < 0.81%. lemak.69 4.69 0.69 0.174 0.16–6. Variasi penyebab umum hanya dapat diperbaiki oleh pihak manajemen perusahaan. yaitu menjadi VL-III.10 0. KESIMPULAN DAN SARAN 7.69 2.Melakukan perawatan secara berkala terhadap peralatan turn head.07)% untuk kadar kalsium dan (0. .40 2.52 > 2. Cp = 0.80 QL 4.2 Acceptance Sampling Plans Penggunaan acceptance sampling plans untuk karakteristik mutu kadar protein. 3.11 0. Penentuan Acceptance Sampling Plans No.69 2. Revisi data dapat dilakukan jika variasi data disebabkan oleh variasi penyebab khusus.56 untuk kadar kalsium dan Cp = 0.65 menunjukkan bahwa proses juga tidak mampu memenuhi batas spesifikasi atas (USL) yaitu 7% karena berada dalam dalam kriteria Cp <1.174 1. Nilai Cp = 0.30 > 2.65 untuk kadar fosfor.16–3.17 4.69 2.27 4.64 untuk kadar lemak. Demikian juga untuk nilai Cpu = 0. 6.52 4.17 > 2.174 0. 4.174 0. No. . Dengan melihat nilai Cp untuk masing-masing karakteristik dapat 38 .174 4.82 > 2. (3. sedangkan untuk kadar protein.174 QU 4.174 4. Revisi untuk persentase kadar lemak untuk peta X didapat kendali yang baru yakni 6.174 Lot Diterima Lot Diterima Lot Diterima Lot Ditolak Lot Ditolak Keputusan Adapun tindakan korektif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan process capabilitynya adalah: . (0. serat.69 0.60 1. . maka harus dilakukan revisi dengan menghilangkan data yang berada di luar batas kendali untuk mendapatkan batas kendali yang baru.68 untuk kadar protein.69 2. kalsium dan fosfor dengan menggunakan metode MIL-STD 1916 dapat dilihat pada Tabel 10. 2. Dan untuk nilai Cpk = 0.93–1.70 > 2. (6.69 4.40 < 2.20 < 2. 6.174 1.81% adalah lebih dekat ke batas spesifikasi bawah yang ditetapkan (LSL) yaitu 6%.25 0.60 < 2.16-6. Jika masih terdapat data di luar batas kendali.174 0.70 2. Cp = 0.10 < 0.74– 0. .69 0. 5.74)% untuk kadar serat.69 Ftabel 0.Melakukan inspeksi terhadap raw material yang masuk ke gudang penyimpanan.69 untuk kadarserat. Ini menunjukkan bahwa proses tidak mampu memenuhi batas spesifikasi bawah (LSL) karena berada dalam kriteria Cp < 1. Berdasarkan hasil perhitungan batas kontrol dengan menggunakan peta kontrol variabel didapat karakteristik mutu kadar lemak perlu dilakukan revisi karena ada data yang berada di luar batas kontrol.30 1.81)% untuk kadar lemak.20 F’ 0. 7.69 2.1 Kesimpulan 1.69 4. kalsium dan fosfor berada dalam batas-batas kontrol.Memeriksa proses gelatinisasi untuk meningkatkan daya ikat antar bahan.Memeriksa ulang secara keseluruhan kondisi gudang yang layak untuk penyimpanan raw material.63 = Cpl ini berarti bahwa nilai pengukuran rata-rata kadar lemak 6.69 0. serat. Cp = 0. Berdasarkan hasil interpretasi data untuk masingmasing karakteristik mutu menunjukkan bahwa variasi data yang tidak normal hanya disebabkan oleh variasi penyebab khusus saja.82 4.12 < 0.25 4.69 2.12 0.

1991. Cpk = 0. 2th Edition. Mc Graw-Hill. Gramedia Pustaka Utama. United States of America.62 untuk kadar protein. insentif. 7. 39 . 1986. Dilihat dari rendahnya kemampuan proses yang ada. Metode sampling penerimaan dapat memenuhi fungsinya jika dalam pengambilan sampel untuk pengujian karakteristik mutu menggunakan hasil perhitungan yang telah didapat dan dilakukan dengan benar... Frank M. Principles of Quality Control.. Canada.. W. PT. Quality Planning and Analysis. Jakarta. karena kesadaran. 3. Singapore. Jakarta. S. MIL-STD 1916. 3th Edition. Prentice Hall International Inc.. tingkat komitmen dan human error inilah yang akan berdampak langsung bagaimana proses dan produk itu akan dihasilkan.2 Saran 1. Sugiarto.. 10 Februari 1999. Cpk = 0. Approve for public release. Inc. John Wiley & Sons. Jika belum stabil. 7th Edition. Prentice Hall International. Cpk = 0. Goetsch. Montgomery D. 1996.. Inc. 7. H. Vincent Gaspersz. L. 4th Edition. DAFTAR PUSTAKA Besterfield D.. H. United States of America. 1995.. 1987. Jakarta. Karena dengan peta kontrol kita dapat melihat apakah suatu proses yang sedang berlangsung sudah stabil atau tidak. Sehingga perlu dilakukan pengendalian yang ketat untuk menghasilkan proses yang lebih baik lagi (Cpk > 1).. Introduction to Statistical Quality Control. Berdasarkan hasil perhitungan sampling penerimaan dengan menggunakan MIL-STD 1916 didapat bahwa karakteristik mutu kadar kalsium dan fosfor lot ditolak. Juga adanya arahan yang kontinu terhadap para operator terhadap tanggung jawab pekerjaannya. 2.. Metode Analisis untuk Peningkatan Kualitas. sikap. Canada. lemak. 2001. Setiap melakukan proses produksi perlu menguji dengan benar dan memperhatikan dengan teliti penyebab-penyebab khusus yang berpengaruh terhadap pengendalian persentase kadar protein. Besterfield D. sistem penghargaan. Hal ini berarti membawa proses ke dalam pengendalian. Teknik Sampling.63 untuk kadar lemak. 1994. John Wiley & Sons. 1994. Prentice Hall International Inc. 2th Edition. MILSTD 1916. kemampuan mesin sebelum proses produksi siap untuk dijalankan. and Davis. proses itu harus diperbaiki dulu. Inc. 1 April 1996. 2th Edition. Gramedia Pustaka Utama. Introduction to Total Quality. Perlunya merubah lingkungan sosial budaya yang terdapat dalam PT.. DoD Test Method Standard. International Edition Statistical Quality Control. DoD Handbook. Gryna. PT. perusahaan perlu memperhatikan lebih ketat kondisi gudang penyimpanan. Dan untuk perhitungan index capability didapat Cpk = 0. yang akhirnya dapat memenuhi kepuasan pelanggan. David L. Gramedia Pustaka Utama. Pengantar Statistika.5 untuk kadar kalsium.Studi Penerapan Process Capability dan Acceptance Sampling Plans … Khawarita Siregar disimpulkan bahwa proses memiliki kemampuan yang rendah dalam bereproduksi. khususnya peta kontrol X dan R secara periodik. Menggunakan statistical process control.. H. Stanley B. dkk. kalsium dan fosfor pakan ternak S-11. United States of America. Grant E.625 untuk kadar serat. Quality Control. Mc Graw-Hill. maka perusahaan perlu melakukan pengawasan yang ketat terhadap kinerja proses produksi agar proses yang dilakukan dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Ini perlu disosialisasikan terhadap semua pekerja.. Berkaitan dengan rendahnya kapabilitas proses yang didapat. dan baru kemudian membangun peta kontrol terkendali (yang baru) untuk memantau proses yang telah stabil. Cpk = 0.65 untuk kadar fosfor. International Edition Quality Control. Dari perhitungan Cpk dapat disimpulkan bahwa proes tidak mampu memenuhi batas spesifikasi yang ditentukan karena nilai Cpknya < 1. serat. untuk mendeteksi kesalahan secara dini. Banks J. 4. 5. 2003. United States of America. 5th Edition... Pengalihan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara memperketat tingkat pemeriksaannya dari normal menjadi ketat (tightened). Approve for public release.. PT. 2001. Ronald E. and Leavenworth R. Charoen Pokphand Indonesia agar setiap pekerjaan/tindakan yang berdampak terhadap proses dan produk tidak menimbulkan cacat.

maka semakin tinggi kualitas pelayanan jasa perbankan tersebut. yaitu suatu alat untuk mengukur persepsi nasabah mengenai kualitas pelayanan. baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah lain yang ada di Indonesia. reliability (terdiri dari 3 variabel pertanyaan). dan 91. PENDAHULUAN I. yaitu pengambilan awal (untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen dan menentukan ukuran sampel lanjutan) dan pengambilan data lanjutan dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara acak (random sampling).60% (tangibles). Hasil pengolahan data menghasilkan tingkat kepuasan pelayanan masing-masing untuk dimensi 94. bersaing dan tidak kehilangan konsumennya. penguasaan dan pengetahuan karyawan (variabel 14). Salah satu jenis industri yang menghadapi persaingan yang kompetitif di masa mendatang adalah industri perbankan. perusahaan ini mampu bersaing dengan para kompetitornya. kepuasan nasabah tercapai bila kebutuhan. keamanan dalam bertransaksi (variabel 15). yaitu tangibles (terdiri dari 7 variabel pertanyaan). Pengambilan data dilakukan secara dua tahap. 93. Fakultas Teknik USU Abstrak: PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam kegiatan pelayanan jasa perbankan syariah di masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepusan pelanggan. responsiveness (terdiri dari 2 variabel pertanyaan).89% (reliability). keinginan dan harapannya terpenuhi. Hal utama yang harus diprioritaskan oleh industri perbankan dalam hal ini Bank Muamalat adalah bagaimana caranya agar konsumen mendapat kepuasan sehingga perusahaan itu dapat bertahan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang diberikan dilihat dari sudut pandang nasabah dan dengan melakukan perbaikan– perbaikan terhadap kondisi pelayanan yang dianggap belum memenuhi harapan nasabah.ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE INDEX POTENTIAL GAIN CUSTOMER VALUE (PGCV) DI PT BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG MEDAN Syahrul Fauzi Siregar Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia. Penelitian ini berlatar belakang kepada upaya meningkatkan kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat terhadap nasabah. 11(ketanggapan teller dalam melayani nasabah). assurance (terdiri dari 5 variabel pertanyaan). 1. Alat pengukuran yang digunankan untuk mengukur kualitas pelayanan pada industri perbankan pada penelitian ini adalah metode servqual.92% (assurance). jaminan kerahasiaan nasabah (variabel 16). baik itu industri yang bergerak di bidang manufaktur maupun di bidang jasa. 14 (penguasaaan dan pengetahuan karyawan). Penyebaran kuisioner dilakukan dengan dua tahap. yang mengukur tingkat kualitas pelayanan berdasarkan lima dimensi.42% (emphaty). lokasi bank yang strategis (variabel 18). yaitu: kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (variabel 2). Hasil perhitungan variabel kunci dengan peta kartesius menghasilkan 6 variabel kunci yang harus diperbaiki pihak Bank Muamalat. yaitu penyebaran kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup. intensitas persaingan berskala global menuntut pergeseran besar dalam dunia industri. dan seterusnya. apakah sesuai dengan harapan dan keinginan nasabah. Dengan konsep bagi hasil yang ditawarkan kepada para nasabahnya. Khusus untuk industri perbankan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan nasabah Bank Muamalat.53% (responsiveness). 96. Dalam 40 . Responden yang daimbil adalah nasabah Bank Muamalat yang datang melakukan transaksi. kualitas jasa diukur dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen. 100. Sedangkan dari hasil perhitungan index potential gain customer value dihasilkan prioritas tertinggi. yaitu: variabel 18 (lokasi bank). Dengan mengetahui hal ini diharapkan Bank Muamalat dapat bersaing dengan para kompetitornya dengan mengambil langkah–langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. pihak perbankan muamalat harus memperhatikan kualitas jasa yang dikehendaki pelanggan. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat kualitas pelayanan pada penelitian ini adalah metode index potential gain customer value (PGCV index). Sementara itu. Semakin besar tingkat pemenuhan yang diberikan kepada nasabah. Bank Muamalat merupakan salah satu industri perbankan yang tumbuh pesat di antara bank-bank konvensional yang ada di Indonesia. pengaturan kursi untuk menungggu (variabel 5). dan emphaty (terdiri dari 4 variabel pertanyaan). Data yang dihasilkan merupakan data ordinal dan dikonversikan menjadi data interval dengan menggunakan metode successive interval.1 Latar Belakang Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era transformasi informasi sekarang ini.

2. Interpretasi responden tentang pernyataanpernyataan dalam kuisioner sesuai dengan maksud penulis. Meneliti dan memberikan saran bagaimana perubahan yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Muamalat di masa yang akan datang. Mengidentifikasi dimensi/faktor kualitas jasa perbankan muamalat yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelayanan Bank Muamalat untuk dapat bersaing dengan bank konvensional lainnya. Langkah pertama dalam menghitung indeks PGCV adalah mencari nilai ACV atau Achieved Customer Value. 2. Responden dengan jujur dan benar mengisi kuisioner yang diberikan. yaitu dengan mengalikan antara variabel importance dengan variabel performance. responsiveness. sehingga dapat menunjukkan kedudukan permasalah. Batasan-batasan tersebut adalah: 1. I. 5. Pada penelitian ini tidak dibahas posisi perusahaan yang diteliti dengan perusahaanperusahaan pesaing menurut para konsumennya. Nasabah yang diteliti sebagai responden adalah yang menjadi nasabah di PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan.4 Batasan dan Asumsi Untuk mempermudah pecahan masalah. 2. Variabel-variabel yang diteliti dianggap sesuai dengan kondisi pelayanan yang berlaku pada perusahaan yang menjadi objek penelitian. pihak manajemen dapat mengidentifikasi kinerja dan tingkat kepentingan yang dimiliki Bank Muamalat. Menganalisis tingkat prioritas kompetitif dan kualitas pelayanan Bank Muamalat. Asumsi-asumsi tersebut adalah: 1. 3. Kinerja kualitas pelayanan hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang termasuk di dalam dimensi kualitas pelayanan yang telah ditentukan oleh peneliti. 5. Dari hasil penilaian kualitas pelayanan yang dilakukan oleh responden. TEORI Index Potential Gain Customer Value (PGCV) Analisis pelanggan melalui angka indeks merupakan konsep dan peralatan yang mudah untuk menganalisis pelanggan.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar penilaian dan pengukuran terhadap kualitas pelayanan. 3. konsumen diminta untuk menyatakan dan menilai lima komponen penentu kualitas jasa (assurance. yaitu: ACV = I x P Keterangan: ACV = nilai pencapaian konsumen I P = (Importance) nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = (Performance) nilai rata – rata untuk kinerja ( X ) Setelah mendapat nilai ACV. Untuk diketahui tingkat kepuasan pelanggan Bank Muamalat serta faktor-faktor atau dimensi kualitas apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Sejauh mana pihak jasa perbankan (Bank Muamalat) mengetahui tingkat kualitas pelayanan dilihat dari sudut pandang nasabah. yaitu: tangibles.2 Perumusan Masalah Masalah yang dirumuskan pada penelitian ini adalah: 1. responsiveness. yang mana nilai ini didapatkan dengan rumus: UDCV = I x Ps Keterangan: UDCV = Nilai akhir keinginan konsumen I Ps = Nilai rata – rata untuk harapan ( Y ) = Nilai kinerja maksimum dalam skala likert yang dipilih 41 . 2. and tangibles) yang mempngaruhi persepsi dan harapan konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa perbankan muamalat. Dengan mengetahui keinginan nasabah Bank Muamalat diharapkan dapat dikembangkan jasa perbankan yang dapat memuaskan pelanggan. Alat pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah berupa daftar pertanyaan (questioner). Kemudahan tersebut memberikan jalan bagi diagram ImportancePerformance untuk dapat dibandingkan dalam bentuk kualitatif yang lebih terperinci. reliability. reliability. Dimensi kualitas pelayanan yang diukur adalah 5 dimensi kualitas jasa. Penunjukkan konsumen yang menjadi responden kuisioner penilaian yang datang ke Bank Muamalat pada suatu rentang waktu tertentu sebagai sampel dianggap mewakili yang menabung di perusahaan tersebut. 4.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. dan emphaty. Hal ini dilakukan untuk mempertegas atribut-atribut yang menjadi pusat perhatian. empathy. 4. Informasi penilaian kualitas pelayanan perusahaan yang menjadi objek penelitian yang diterapkan sekarang ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terhadap pelanggan. 2. perlu disusun beberapa batasan dan asumsi yang berkaitan dengan permasalahan. I. 7. assurance. I. 3. Objek yang diteliti adalah perusahaan perbankan dalam hal ini Bank Muamalat. Dalam Penelitian ini tidak dilakukan analisis biaya terhadap proses perbaikan kualitas pelayanan dan hasil penelitian ini tidak berlaku untuk umum. 3. maka selanjutnya adalah mencari UDCV atau Ultimately Desired Customer Value. 6.

3. 3. 1987) adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. sehingga penelitian ini dilakukan berdasarkan suatu logika tertentu. b. Tujuan penelitian eksplorasi ini untuk mengetahui dimensi-dimensi kualitas apa saja yang berpengaruh terhadap tingkat kepuasan konsumen. yaitu data yang menggambarkan keadaan/kegiatan di luar suatu organisasi. maka yang dibicarakan di sini adalah teknik penelitian.4 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan bertujuan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti. maka ia tidak terlepas dari membicarakan teknik dan prosedur penelitian. peneliti dapat memilih berbagai jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. 3. 3. Data internal. yaitu data yang berbentuk angka-angka. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur. No. Melalui studi ini diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian dan variabel-variabel yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dengan ditentukannya dimensi ini. Penelitian eksplorasi adalah riset yang bertujuan untuk mengumpulkan data pendahuluan guna memperoleh keterangan mengenai sifat nyata dari masalah tersebut dan memberikan kemungkinan hipotesis atau ide-ide baru (Philip Kotler. Data eksternal. yaitu apakah kualitas jasa yang ditawarkan kepada konsumen memenuhi ekspetasi (harapannya) atau tidak.1 Perumusan Masalah Penelitian Perumusan masalah disusun berdasarkan uraian pada Bab I mengenai latar belakang dan pokok permasalahan. Penelitian survei (Masri Singarimbun. Jika seseorang membicarakan metode penelitian. 4 Oktober 2006 Dan terakhir nilai indeks PGCV adalah nilai Ultimately Desired Customer Value dikurangi dengan Achieved Customer Value. Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian. Tetapi tidak jarang terdapat pengelompokan yang dibuat ada kalanya didasarkan pada prosedur saja dan ada kalanya didasarkan pada tekniknya saja. Data kuantitatif. METODOLOGI PENELITIAN Didalam melakukan suatu penelitian. Adapun skematis langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada halaman berikut: 3. sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain. yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi. Maksud penentuan tujuan penelitian adalah agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan terarah dan mancapai sasaran. kriteria yang dipakai adalah teknik serta prosedur penelitian. Studi pendahuluan dalam penelitian ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian terhadap objek studi. 3. b. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian survei dengan maksud eksplorasi. yaitu: PGCV = ACV – UDCV Kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar.2 Penentuan Tujuan Penelitian Penentuan tujuan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai suatu penelitian. 2. 1999). Perumusan masalah merupakan suatu usaha untuk memformulasikan atau memodelkan fenomena yang ada secara sistematis berdasarkan teori yang ada. manajemen jasa. 42 . dan statistik. Data sekunder. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan kuisioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh perseorangan langsung dari objeknya. Data kualitatatif. yaitu data yang menggambarkan keadaaan/kegiatan di dalam suatu organisasi. maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. Menurut Sumbernya: a. wawancara dengan pihak terkait pada objek studi. Permasalahan yang ingin dipecahkan adalah pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan (perbankan) dan penentuan atribut kualitas pelayanan yang paling penting bagi pelanggan. diharapkan akan diketahui bagian mana yang harus mendapatkan perhatian/menjadi prioritas apabila adanya keterbatasan sumber daya perusahaan untuk meningkatkan kualitas jasanya. yaitu data yang tidak berbentuk angka. Data primer.3 Studi Pustaka Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh landasan kerangka berpikir bagi penelitian yang akan dilakukan. Studi literatur dengan mempelajari teori yang berhubungan dengan metode service quality. alat serta desain penelitian yang digunakan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 3. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih. Menurut sifatnya: a. yaitu: 1.5 Identifikasi Sumber Data Adapun data yang diambil pada penelitian ini menurut jenis dan sumbernya. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan. b. Menurut cara memperolehnya: a.

Nasabah Bank Muamalat Cabang Medan Pada penelitian ini jumlah populasi nasabah Bank Muamalat Cabang Medan tidak diketahui oleh peneliti. Pada penelitian ini akan dijelaskan tahap-tahap di dalam melakukan pengolahan data. yang terdiri dari: a. Kemudian kuisioner tertutup ini disebarkan sebanyak 40 eksemplar.6 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian. wawancara ataupun pengumpulan data primer dengan menggunakan metode survei. yaitu: a. menyebarkan kuisioner dan wawancara. Dalam skala ini dibagi atas lima kategori jawaban yang menunjukkan derajat kepentingan (untuk data harapan).Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar 3. Karena data populasi Bank Muamalat tidak diketahui. maka teknik pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak secara sestematik (systematic random sampling). 2.8 Pembuatan Kuisioner Kuisioner sebagai alat pengumpulan data disusun dalam dua bentuk pertanyaan yang bersifat terbuka dan pertanyaan yang bersifat tertutup. Kuisioner tentang identitas responden 3. Kuisioner terbuka 2. maka dilakukan perbaikan kuisioner. Data kuisioner terbuka (pendahuluan/awal) Guna kuesioner pendahuluan ini adalah untuk menentukan atribut-atribut apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan kuesioner tertutup b.. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. kemudian diuji. 1999). di mana titik awal pengambilan sampel pada kelompok berikutnya mengikuti pola yang telah ditentukan dari hasil pengambilan sampel di titik awal. Data yang dikumpulkan dalam kuisoner terbagi dalam tiga bagian.9 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah: 1. dan derajat kepuasan (untuk data kinerja/persepsi). Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variabel dan atribut yang mempengaruhi kualitas pelayanan jasa perbankan. 3. yaitu pengambilan setiap unsur ke – k dalam populasi untuk dijadikan sampel. Sedangkan pertanyaan tertutup di mana peneliti memerikan semua kemungkinan jawaban. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling).7 Penentuan dan Pemilihan Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung. Jika hasil pengolahan data kuisioner tahap pendahuluan ini tidak baik. Data kuisioner kualitas jasa (harapan nasabah dan kinerja perusahaan). 43 . Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji kelayakan kuisioner yang disebarkan.11 Pengolahan Data Awal Dalam pengolahan data penelitian ini digunakan metode kualitatif dan metode kualitatif. 3. c. Nilai Harapan Jawaban sangat penting diberi nilai: 5 Jawaban penting diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak penting diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak penting diberi nilai: 1 b. Pengambilan unitunit sampel didasarkan atas kunjungan nasabah yang akan bertransaksi. Nilai Kinerja / Persepsi Jawaban sangat puas diberi nilai: 5 Jawaban puas diberi nilai: 4 Jawaban biasa diberi nilai: 3 Jawaban tidak puas diberi nilai: 2 Jawaban sangat tidak puas diberi nilai: 1 3. gap yang terjadi antara persepsi dan harapan nasabah serta atribut mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya dan perlu dipertahankan kualitas pelayanannya. dan responden tinggal memilih di antaranya (Philip Kotler dkk. Layak di sini berarti item-item pertanyaan sudah cukup baik dan dimengerti oleh responden. 3. Jika hasil pengolahan data baik.10 Pengumpulan Data Awal Pengumpulan data awal ini berupa kuisioner pendahuluan (terbuka) yang kemudian digunakan untuk menyusun kuisioner tertutup. berarti layak. maka dilakukan pengumpulan data sehingga memenuhi sampel minimum. Pertanyaan terbuka di mana responden dapat menjawab sesuai dengan diinginkan dengan kata-kata mereka sendiri. Hal ini dikarenakan pihak manajemen Bank Muamalat tidak dapat memberi informasi data berapa banyak nasabah yang menabung di Bank Muamalat karena merupakan rahasia perusahaan. Kuisioner kualitas jasa Kuisioner ini digunakan untuk mengetahui persepsi dan harapan nasabah sehingga dapat diketahui penilaian nasabah terhadap variabel dan atribut kualitas pelayanan pada objek studi. baik dengan menggunakan data sekunder. Sehingga peneliti mengasumsikan populasi nasabah Bank Muamalat tidak terbatas (infinite population). Untuk pengukuran atribut digunakan Skala Likert. Perusahaan jasa perbankan. Data identitas responden. Variabel juga merupakan pedoman atau petunjuk untuk mencari data maupun informasi dilapangan. 3. yakni Bank Muamalat Cabang Medan. berarti tidak layak.

11. Adapun cara menguji validitas kuisioner adalah dengan menggunakan metode Korelasi Pearson Product Momen.11. No. 4 Oktober 2006 3. dan sebaliknya. Pada penelitian ini untuk menguji apakah sampel yang diambil sudah mencukupi atau belum digunakan rumus sebagai berikut: Di mana: r = angka atau tingkat korelasi N = jumlah responden Xij = skor pernyataaan j dan responden i Yi = skor total responden i 3. Nilai keandalan alat ukur bervariasi antara 0 sampai 1.7) Maka pendugaaan varians dari rata-rata sampel adalah: 44 . Nilai yang mendekati 1 menunjukkan keandalan yang makin baik.4 Uji Kecukupan Data Data sampel yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner lanjutan dengan menggunakan kuisioner persepsi dan harapan kemudian diuji kecukupan sampelnya. 3. pengambilan sampel dianalogikan dengan percobaan kembali dari hasil pengisian kuisioner yang dapat diolah dan yang tidak dapat diolah. p. maka dapat dilakukan pengumpulan data selanjutnya.2) (4. Sekiranya peneliti menggunakan kuisioner didalam pengumpulan data penelitian.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Adapun jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian lanjutan didasarkan atas kuisioner yang dapat diolah dan tidak dapat diolah dengan menggunakan rumus pengambilan sampel sebagai berikut: Setelah didapat varians. maka tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) adalah: Zα/2 = 1. Dengan rumus matematisnya sebagai berikut: ⎛Z ⎞ n = ⎜ α / 2 ⎟ . 2 ∑ (y 2 i −y n −1 (4. maka kuisioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukur.σ ) n P ( Zα / 2 ≤ Z ≤ Zα / 2 ) = (1 − α ) X = Nilai varians sampelnya adalah: (4.t dengan rumus: r= [N ∑ X ij − (∑ Xij ) ][N ∑Y ij − (∑Yi) ] 2 2 2 2 N (∑ XijYij ) − (∑ Xij ∑ Yij ) Di mana: n = Jumlah sampel yang dibutuhkan p = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang dapat diolah q = Peluang untuk mendapatkan kuisioner yang tidak dapat diolah Zα/2 = Nilai tabel distribusi normal untuk keberartian sebesar α/2 λ = Tingkat kesalahan (5%) 3.Zα/2 dari tabel normal ⎝ ε ⎠ (4. kemudian dicari nilai standar deviasi sampel. Kuisioner yang dapat diolah diasumsikan sebagai outcome sukses dan yang tidak dapat diolah diasumsikan sebagai outcome gagal.5) ) 2 − Zα / 2 ≤ − Zα / 2 X −μ ≤ Zα / 2 s n (4. Dalam menentukan besarnya ukuran sampel. Karena tidak ada perbaikan pada kuisioner.1) Penurunan dari rumus di atas adalah sebagai berikut: Jika data berdistribusi normal: α= Di mana: α = koefisien keandalan alat ukur K = banyak butir pertanyaan kr 1 + (k − 1)r 1 ∑ Xi.3 Pengumpulan Data Lanjutan Setelah uji kelayakan dan kuisioner tidak perlu diperbaiki lagi.4) S= S = Maka.3) r = koefisien rata-rata korelasi antar variabel S2 = ∑ (y n i =1 i −y ) 2 Koefisien keandalan alat ukur menyatakan tingkat konsistensi jawaban responden. yaitu: n −1 (4.q n= (λ )2 μ = ysy = ∑y i =1 n i n (rata – rata sampel) (4. maka data awal yang telah dikumpulkan dapat diolah bersama-sama data yang dikumpulkan selanjutnya. Dengan taraf kepercayaan 95%. ditentukan tingkat kesalahan pengambilan sampel (ε) dan tentukan pula taraf kepercayaan yang diinginkan.6) s s ≤ X − μ ≤ Zα / 2 n n s X − μ ≤ Zα / 2 n Sebelum melanjutkan rumus di atas.96 (tabel distribusi normal) (Zα / 2 )2 .11.1 Uji Validitas Validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur.2 Uji Reliabilitas Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keandalan alat ukur adalah metode Alpha Cronbach.11. dim ana X = N (μ .

Penarikan kesimpulan dapat berguna dalam merangkum hasil akhir dari suatu penelitian selain sebagai landasan rumusan strategi dan pengambilan keputusan bagi pehak perusahaan juga digunakan bahan acuan penelitian selanjutnya. kemudian dibahas pula langkah – langkah perhitungan tingkat kualitas pelayanan.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar V = y sy = ∧ ( ) ∧ s2 ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟ n⎝ N ⎠ tingkat (4. maka: ε ≤ Zα / 2 ε 2 = ⎜ Zα / 2 ⎜ ⎝ ⎛ s2 dikuadratk an n s n 2 (4.10) 2 ⎞ ⎟ = (Z )2 s α/2 ⎟ n ⎠ 2 Dari penurunan rumus di atas. (N-n)/N dianggap satau dan tidak perlu dituliskan. yaitu: ⎛ Z .9) Setelah didapat tingkat kesalahan pengambilan sampel. Index Potential Gain Customer Value Setelah Diurutkan Prioritas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Index PGCV 3.852 2. index potentian gain customer value dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui kepuasan pelayanan Bank Muamalat Cabang Medan berdasarkan persepsi dan harapan nasabah.13 Analisis Pemecahan Masalah Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pengolahan data. maka diberikan saran kepada pihak perusahaan mengenai atribut yang perlu ditingkatkan kualitas pelayanannya serta usulan perbaikan yang harus dilakukan tentang atribut kualitas pelayanan. 2 45 . 4.398 3. maka dapat diketahui rumus untuk menguji kecukupan pengambilan sampel.582 Variabel Variabel 18 Variabel 11 Variabel 14 Variabel 5 Variabel 6 Variabel 19 Variabel 2 Variabel 15 Variabel 17 Variabel 16 Faktor Kualitas Pelayanan Lokasi Bank yang strategis Ketanggapan Teller dalam melayani nasabah Penguasaan dan pengetahuan karyawan Pengaturan kursi untuk menunggu Jumlah Teller yang melayani Komunikasi yang mudah dan baik Kenyamanan ruangan (keberadaan AC) Keamanan dalam bertransaksi Kredibilitas (nama baik) Bank Jaminan kerahasiaan nasabah Jika populasi (N) tidak diketahui.1 Analisis Indeks Potential Gain Customer Value Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa nilai indeks PGCV untuk tiap variabel.500 3.12) n = P(1 − P )⎜ α / 2 ⎟ ⎝ ε ⎠ Di mana: n = jumlah sampel minimum P = proporsi untuk sukses 1 – P = proporsi untuk gagal Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel 3.11) Di mana: n = jumlah sampel minimum s = standart deviasi sampel Zα/2 = nilai tabel distribusi normal untuk keberartian α/2 ε = tingkat kesalahan pengambilan sampel Dan untuk menguji kecukupan sampel berdasarkan proporsi (p).8) kesalahan pengambilan Sehingga sampel.045 2. ANALISIS 4.12 Pengolahan Data Lanjutan Pada tahap ini akan dibahas perhitungan konversi skala ordinal kedalam skala interval dengan metode successive interval. Dalam tahap ini faktor-faktor yang dianggap dominan dalam menentukan kualitas jasa dan tingkat kepuasan pelayanan akan dianalisis sebagai landasan dalam menyusun strategi bisnis selanjutnya. ⎜ ⎟ = finite population correction ( fpc ) n⎝ n ⎠ ⎝ n ⎠ 3.625 3.145 1. Bagian ini juga dilengkapi dengan saran-saran. 3.648 1. Dari kesimpulan tersebut. maka rumus di atas menjadi: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ∧ ( ) s2 =ε n (kesalahan pengambilan sampel) (4.450 2. maka (fpc) dihilangkan.540 2.S ⎞ n = ⎜ α /2 ⎟ ⎝ ε ⎠ 2 (4.14 Kesimpulan dan Saran Bagian akhir dari penelitian ini adalah penarikan kesimpulan hasil analisis dan interpretsi data. yaitu rasio dari unsur dalam sampel yang mempunyai sifat – sifat yang diinginkan adalah: ⎛Z ⎞ (4. Kesimpulan yang didapat bila suatu variabel mendapatkan nilai indeks PGCV terbesar. yaitu: Zα / 2 V y sy = Zα / 2 ( ) s2 ⎛ N − n ⎞ ⎛ N − n ⎞ ⎜ ⎟. maka berarti variabel tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. Urutan prioritas untuk tiap variabel dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1.

Keberadaan fasilitas ATM di lokasi strategis.124 0.778 0. sehingga menjadikan variabel tersebut nilai plus perusahaan di mata pelanggannya. karena pada umumnya tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan pelanggan.714 Faktor Kualitas Pelayanan Keakuratan pencatatan transaksi Kecepatan pelayanan Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah Penataan ruangan Prosedur pelayanan (tidak berbelit – belit) Keberadaan fasilitas ATM dilokasi strategis Perhatian Bank kepada nasabah Kemampuan pihak Bank/karyawan dalam mengatasi masalah Kebersihan Bank Etika dan sopan santun karyawan Penampilan karyawan Prioritas 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Variabel Variabel 10 Variabel 8 Variabel 20 Variabel 1 Variabel 9 Variabel 7 Variabel 21 Variabel 12 Variabel 4 Variabel 13 Variabel 3 ­ ­ ­ ­ 2.333 0.Penampilan karyawan (3) . sedangkan pelaksanaannya masih belum memuaskan (kinerja perusahaan rendah.Prosedur pelayanan (tidak berbelit-belit) (9) .370 1.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Adapun interpretasi dari peta tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.2 Analisis Variabel Kunci Dari peta performansi pada gambar 1 terlihat bahwa letak variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan pengguna jasa perbankan pada PT Bank Muamalat Indonesia Cabang Medan terbagi menjadi 4 bagian.339 -1. Peta Performansi/Kepentingan Variabel-variabel yang masuk kuadran ini adalah: ­ Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) ­ Pengaturan kursi untuk menungggu (5) 46 . Variabel yang temasuk dalam kuadran II ini adalah: ­ Kebersihan bank (4) ­ Kesabaran karyawan dalam melayani nasabah (20) ­ Perhatian Bank kepada nasabah (21) ­ Kemampuan pihak bank/karyawan dalam mengatasi masalah (12) 3.330 -0. Kuadran III Menunjukkan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan yang berada dalam kuadran ini dinilai masih kurang penting bagi pelanggan.048 -1. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Gambar 1. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data pada bab-bab sebelumnya. sehingga dapat memuaskan pelanggan (kinerja perusahaan tinggi. tetapi pelaksanaannya dilakukan dengan baik sekali oleh perusahaan.(7) . Lokasi bank yang strategis (18) Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) Jaminan kerahasiaan nasabah (16) Keamanan dalam bertransaksi (15) Kuadran II Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang perlu dipertahankan. Adapun variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran III ini adalah: . sedangkan pelaksanaannya oleh perusahaan biasa atau cukup saja. harapan pelanggan tinggi). No.Etika dan sopan santun karyawan (13) 4. Kuadran I Menunjukkan faktor-faktor atau variabel yang dinilai sangat penting oleh pelanggan. 4 Oktober 2006 Index PGCV 1. Kuadran IV Menunjukkan variabel-variabel yang oleh pelanggan dianggap tidak terlalu penting.012 -0. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa gap antara harapan dan persepsi memberi gambaran bahwa nasabah menganggap kualitas pelayanan 4.116 0.059 -0.Penataan ruangan (interior) di dalam dan di luar bank (1) . Faktor-faktor yang termasuk dalam kuadran ini adalah: ­ Kredibilitas (nama baik) bank (17) ­ Jumlah teller yang melayani (6) ­ Keakuratan pencatatan transaksi (10) ­ Kecepatan pelayanan (8) ­ Ketanggapan teller dalam melayani nasabah (11) ­ Komunikasi yang mudah dan baik (19) 5. harapan pelanggan tinggi).

Edwards. 2. Bumi Aksara. 3. Edisi 5. Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa.42–100.Jaminan kerahasiaan nasabah (16) .Keamanan dalam bertransaksi (15) 5.2 Saran 1. dari 21 variabel pelayanan terdapat 7 variabel kunci yaitu variabel yang harus ditingkatkan kinerjanya oleh PT Bank Muamalat Indonsia Cabang Medan karena variabel tersebut sangat penting bagi pelanggan dan ketidakpuasan pelanggan tinggi yaitu: . LP3ES. Tjiptono. A Conceptual Model of Service Quality and its Implications For Future Research. Pengantar Statistika. 1997 Husaini. Jakarta. 1985 Rambat Lupiyoadi. Urutan prioritas tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Statistik Teori dan Aplikasi. Sedangkan nilai ratarata harapan menunjukkan bahwa nasabah menganggap keseluruhan faktor sebagai faktor yang penting untuk mendapat perhatian pihak bank untuk ditingkatkan kualitas pelayanannya. Yokyakarta Offset. A et al. Techniques of Attitude Scale Contruction. Erlangga.Pengaturan kursi untuk menungggu (5) . Journal of Marketing. Bedasarkan analisis peta kartesius.Kenyamanan ruangan (keberadaaan AC) (2) . kesimpulan yang didapat bila suatu item mendapatkan nilai indeks potential gain customer value terbesar. Dari hasil perhitungan indeks potential gain customer value.89%. Metode Penelitian Survei. Hasil perhitungan gap untuk tiap dimensi kualitas.Penguasaan dan pengetahuan karyawan (14) . Sedangkan ratarata nilai tingkat kepuasan nasabah terhadap masing-masing dimensi berkisar 91. New York Appleton Century. DAFTAR PUSTAKA Allen. Vol. Gramedia Pustaka Utama. L. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memenuhi harapan nasabahnya. 4.Lokasi bank yang strategis (18) . maka berarti item tersebut mendapatkan prioritas utama untuk diperbaiki kinerjanya baru menyusul item kedua dan seterusnya. 1995 J. 2. Penerbit PT Salemba Empat. 1955 Fandy.Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan dengan Metode… Syahrul Fauzi Siregar di Bank Muamalat Cabang Medan tidak mengecewakan tetapi belum sepenuhnya memenuhi keinginan nasabah melihat cukup besarnya gap yang terjadi. sehingga harapan dan persepsi pelanggan dapat dipantau untuk memberi umpan balik atas perbaikan yang telah disesuaikan. 1991 Masri Singarimbun. menunjukkan bahwa pelayanan di Bank Muamalat Cabang Medan sudah cukup memuaskan nasabahnya. 2001 Vincent Gasperz. 1987 Parasuraman. 1997 47 . Manajemen Pemasaran Jasa.Supranto. Survei kepuasan nasabah hendaknya dilakukan secara periodik. terutama dalam persaingan Bank Syariah yang cukup ketat sekarang ini. Usman.. 49. Prinsip-prinsip Total Quality Service. Diharapkan pihak perusahaan lebih meningkatkan program pelatihan (khususnya di dalam peningkatan pengetahuan dan penguasaan pekerjaan) yang dinilai nasabah masih kurang memuaskan dan juga perlunya pengaturan kursi untuk menunggu bagi nasabah dan penambahan jumlah teller agar para nasabah tidak terlalu lama mengantri.

Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya penyakit akibat kerja yang disebut musculoskeletal disorders. Hal ini berarti pekerja wanita memiliki tanggung jawab yang sama akan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. PENDAHULUAN 1. bersifat menetap. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita antara lain dinyatakan bahwa pekerja wanita berhak menerima upah yang sama dengan pekerja pria atas pekerjaan yang sama nilainya. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation). Produktivitas Kerja 1. 1. Undang-Undang No. Karakteristik pekerjaan akan semakin meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan dilakukan. Apakah penerapan program ergonomi dapat mengendalikan kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik? Anizar 48 .6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot.7155. Terdapat kenaikan produktivitas pada operator komputer yang diberi suatu program intervensi yang meliputi perbaikan postur kerja. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check terbukti dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan whole body reaction tester. Untuk menghindari akumulasi yang terlalu berlebihan diperlukan keseimbangan antara sumber datangnya kelelahan dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan (recovery). Para ilmuwan telah mencoba beberapa alternatif pengendalian kelelahan dengan pengaturan stasiun kerja seergonomis mungkin maupun pemberian waktu istirahat yang cukup sambil melakukan gerakan relaksasi otot.PENGARUH PENERAPAN PROGRAM ERGONOMI DALAM MENGENDALIKAN KELELAHAN PEKERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA DAN PRIA PADA INDUSTRI PERAKITAN ELEKTRONIKA DI KOTA MEDAN Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara memberikan waktu istirahat yang cukup serta mengatur waktu istirahat.1 Latar Belakang Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. kinerja kerja serta berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk melakukan kegiatan. Penelitianpenelitian yang dilakukan Pada sebuah penelitian Demure et al. Kelelahan Pekerja. Kelelahan yang timbul dalam diri manusia merupakan proses terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan mendatangkan ketegangan (stres) yang dialami oleh tubuh manusia. bersifat menetap. 2000 menemukan bahwa terdapat efek positif dari pemberian suatu program intervensi yang meliputi 15 karakteristik ergonomis pada stasiun kerja terhadap penurunan kelelahan pada operator komputer. Yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). Jenis pekerjaan ini menimbulkan stres pada sekelompok otot rangka (musculoskeletal) dan menyebabkan terjadinya kelelahan otot.2 Perumusan Masalah Kelelahan pekerja pada industri perakitan elektronik pada dasarnya untuk membentuk postur kerja tertentu.065. pemberian waktu istirahat pendek berulang sambil melakukan gerakan relaksasi otot. Proses pemulihan akan memberikan kesempatan fisik maupun psikologis manusia untuk lepas dari beban yang menghimpitnya.. duduk terus-menerus dan tidak berpindah-pindah (sedentary work). Kata kunci: Program Ergonomi. a. Apabila dibiarkan berlarut-larut maka akan dapat menimbulkan suatu penyakit akibat kerja yang akan mengurangi produktivitas dan diperlukan suatu cara untuk mengatasinya. Keadaan ini diperburuk dengan tidak adanya alat pendukung kerja berupa kursi kerja yang ergonomis. Penerapan program ergonomi menghasilkan beda sebesar 0. Fakultas Teknik USU Abstrak: Pekerjaan yang dilakukan pada industri perakitan elektronik merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu reaksi ratarata 0. Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi. Waktu kerja disita oleh sejumlah perintah kerja yang harus dikerjakan dalam postur kerja tertentu (postural limitation).

Pada kerja otot statis. Otot dapat bekerja secara statis (postural) atau dinamis (rhythmic). disiplin kerja. c. Penelitian yang dilakukan oleh Nemecek dan Van Wely menyimpulkan bahwa kerja otot statis yang menggunakan tenaga 15% sampai 20% dari maksimum akan menimbulkan penyakit akibat kerja jika dibiarkan terus selama beberapa hari dan bulan. Kuesioner dan skala ini dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan data yang diinginkan peneliti.4 49 . pemberian waktu istirahat berulang yang diikuti oleh gerakan relaksasi otot akan efektif menurunkan kelelahan operator pada industri perakitan elektronik. 2. Terganggunya peredaran darah dan kurangnya oksigen merupakan fenomena kelelahan akibat kerja otot statis. International Ergonomic Association membagi ergonomi dalam 3 katagori utama yaitu Physical Ergonomics. Produktivitas Kerja Secara umum. perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja. Dengan demikian peredaran darah meningkat dan otot menerima darah 10 sampai 20 kali keadaan kerja otot statis. Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot. keterampilan. kerja otot statis yang menggunakan tenaga sebesar 60% dari maksimum akan menyebabkan peredaran darah 2. Apakah penerapan program ergonomi dapat meningkatkan produktivitas kerja pada pekerja industri perakitan elektronik? Apakah ada persamaan peningkatan produktivitas kerja antara wanita dan pria pada industri perakitan elektronik? 1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Monod. 2. Perbandingan terus mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. pengerahan tenaga 50% dari maksimum dapat diterima otot untuk jangka waktu kerja selama 1 menit sedangkan pada pengerahan tenaga kurang dari 20% kerja dapat berlangsung lebih lama.2 terhenti sama sekali. Lebih dari itu sisa metabolisme seperti asam laktat tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri. Terdapat 2 (dua) jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi berulang. Cognitive. Kerja otot dinamis berlaku sebagai suatu pompa bagi peredaran darah. Kontraksi disertai pemompaan darah ke luar otot sedangkan relaksasi memberikan kesempatan bagi darah untuk masuk ke dalam otot. Kelelahan yang dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada. sikap kerja.1 Kerja Otot Statis dan Dinamis Otot adalah organ yang terpenting dalam system gerak tubuh. Pada kerja otot dinamis.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar b. 2. Organizational Ergonomics. produktivitas mengandung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Kerja otot statis dibutuhkan dalam membentuk postur tubuh oleh karena konstraksinya yang kontiniu maka bagian-bagian tubuh dapat dipertahankan berada pada posisi yang tetap.3 Hipotesis Penelitian Suatu program ergonomi yang terdiri dari perbaikan tata letak tempat kerja.5 Penerapan Program Ergonomi Dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem di mana manusia. Efek Kerja Otot Statis Kerja otot statis (postural) mencakup jenis pekerjaan yang berkepanjangan (prolonged) di mana level kontraksi konstan dan tidak berubah dalam satu satuan periode waktu yang bervariasi dari beberapa detik hingga beberapa jam. kaku dan nyeri. TINJAUAN PUSTAKA 2. Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah mendekati batas maksimal kemampuannya. kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis. Pada penelitian untuk memperoleh data tentang kelelahan sering digunakan kuesioner dengan skala bi-Polar maupun skala sifat seperti skala Borg maupun skala Semantik. motivasi. dan lainnya 2. fasilitas kerja dan lingkungan kerja saling berinteraksi dengan tujuan utama menyesuaikan suasana kerja dengan manusia. Kerja otot statis lebih cepat menimbulkan kelelahan. Otot yang bekerja secara dinamis memperoleh banyak oksigen dan glukosa sehingga memiliki banyak tenaga sementara sisa metabolisme segera dibuang.3 Kelelahan Otot Pada dasarnya kelelahan menggambarkan 3 (tiga) fenomena yaitu perasaan lelah. lingkungan kerja. Secara subjektif kelelahan otot dapat digambarkan dengan adanya perasaan tertekan. Kelelahan pada dasarnya merupakan keadaan fisiologis normal yang dapat dipulihkan dengan beristirahat. Kelelahan otot dikenal dengan adanya perasaan tertekan dan lemah. Keadaan peredaran darah pada kerja otot statis berbeda dengan kerja otot dinamis. Sastrowinoto(1985) menyatakan bahwa produktivitas menggambarkan perbandingan antara rasio keluaran dengan masukan. pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontrasi sehingga menyebabkan peredaran darah dalam otot terganggu. otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode waktu tertentu. berat seperti ada beban.

pemberian kuesioner. Jenis kursi yang dapat disesuaikan (adjustable chair) sangat baik untuk kerja yang bersifat sedentary namun jika hal ini sulit untuk dilaksanakan maka kursi yang sesuai anthropometri suatu etnis dapat diberikan. 4. Posisi punggung yang membentuk sudut 100 sampai 130 derajat dengan paha dan alas duduk lebih dianjurkan oleh karena pada posisi ini tekanan antar ruas tulang belakang akan lebih berkurang dan otot punggung berada dalam keadaan lebih relaksasi karena bantuan dari sandaran punggung yang ikut menahan berat tubuh. 4 Oktober 2006 2.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (x) yakni program ergonomi dan variabel terikat (y) yakni kelelahan kerja dan produktivitas kerja. 4. 4. No. Mengetahui manfaat diterapkannya program ergonomi di perusahaan. Quitler (1997) menganjurkan pemberian waktu istirahat selama 5 menit setiap 30 menit bekerja. 1996). pengukuran waktu reaksi. 3.6 Program Pengendalian Kelelahan pada Pekerja Postur kerja sering disebut juga sebagai posisi atau sikap tubuh dalam bekerja. METODE PENELITIAN 4. b.5 50 . otot tangan. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3. c.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.6 Alat Ukur Alat ukur yang dilakukan dalam penelitian adalah Whole Body Reaction Tester Model YB-1000. Duduk dalam keadaan tegak lurus atau membungkuk dan duduk dalam waktu lama tanpa merubah posisi akan mempercepat terjadinya kelelahan.2 Manfaat Penelitian Manfaat daripada penelitian yang dilakukan adalah: a. 4. Survei awal yang dilakukan diketahui bahwa operator yang bekerja adalah wanita dan pria dengan postur kerja duduk dan waktu kerja 7 jam setiap hari selama 6 hari dalam seminggu.7 4. Data sekunder dikumpulkan melalui hasil laporan yang diperoleh dari berbagai pihak. 4. Penentuan produktivitas kerja wanita dan pria dilakukan dengan menggunakan metoda analisis produktivitas. otot pergelangan tangan.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada salah satu industri pada stasiun monitor check. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data primer dengan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan kerja. otot punggung bawah dan otot pinggang serta lengan atas. otot bahu. Mengetahui tingkat kelelahan kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi. Hal ini bisa diperoleh dengan beberapa cara sesuai kebutuhan dan kemampuan pekerja seperti berjalan di sekitar ruang kerja ataupun melakukan relaksasi (streatching). Suatu kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan relaksasi otot sangat dibutuhkan oleh pekerja. Pengolahan dan Analisis Data Berdasarkan kepada pendekatan dan jenis data yang dikumpulkan secara kuantatif dan kualitatif maka data yang dikumpulkan dilakukan perhitungan statistik dengan mencari rata-rata (mean) pre test dan nilai rata (mean) post test. Mengetahui produktivitas kerja sebelum dan setelah dilakukan penerapan program ergonomi.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan bersifat penelitian terapan (applied research) dengan menggunakan metode eksperimen kuasi jenis one group pretest posttest design (Nawawi. Dilakukan uji t berpasangan (t paired test) dengan alpha = 0. otot lengan bawah. Gerakan relaksasi dapat dilakukan berupa melakukan setiap gerakan 3 sampai 5 kali di mana setiap gerakan tahan selama 5 sampai 10 hitungan sesuai dengan kebutuhan.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan program ergonomi dalam mengendalikan kelelahan pekerja terhadap produktivitas pekerja wanita dan pria pada industri perakitan elektronik di Kota Medan. 4. Hasil lokakarya Penyusunan Norma Ergonomi di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja pada tahun 1978 berdasarkan anthropometri orang Indonesia untuk kerja duduk adalah 38 cm sampai 48 cm. Salah satu cara mengendalikan kelelahan otot pada pekeja adalah pemberian waktu istirahat pendek yang sering (micro breaks) untuk merubah posisi kerja dan relaksasi otot. Postur kerja di industri perakitan elektronik menuntut kerja duduk dalam jangka waktu lama dengan posisi lengan melawan gaya gravitasi dalam menyokong jari memegang komponen elektronik dan kepala menunduk (duduk membungkuk) untuk melihat komponen yang sangat kecil. 3.5% untuk melihat perbandingan skor kelelahan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi.4 Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria yang bekerja sebagai operator di stasiun monitor check. Adapun gerakan otot tersebut terdiri dari: Otot leher. pengukuran produktivitas kerja.

Temperatur ruangan berkisar 30°C hingga 33.30 3. c. Press.00 7.90 2.35 5. d.57 9.1.2 Hasil Pengukuran 5.3 Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian yang ditetapkan sekaligus merupakan populasi penelitian sebanyak 20 orang pekerja di stasiun monitor check.80 3.12 0. Monitor check.30 3. akan tetapi terfokus pada Bracket MAEM.00 37.000 di mana nilai tersebut jauh lebih kecil daripada ∝5% (0. jenis kelamin. Nilai t empiris jauh lebih besar dari nilai t tabel pada ∝ 5% rata(0.15 3.25 3. Bracket MAEM. Posisi operator dalam melakukan pekerjaan adalah duduk pada kursi tanpa sandaran dengan ketinggian dari lantai 55 cm dengan sudut pandang 90° terhadap conveyor.73 0. Tingkat kelelahan responden bervariasi pada saat sebelum (pretest) dan pada saat setelah (posttest).05 41. Bau-bauan di dalam ruang pabrik juga tidak mengganggu kenyamanan kerja. e. Tabel 1.30 5.00 40. Kebanyakan responden mengalami kelelahan tingkat 6 sebanyak 35% – 45% pada saat sebelum diterapkan program ergonomi (pretest) dan kelelahan tingkat 4 sebanyak 25% – 55% pada saat program ergonomi telah diterapkan (posttest).05 7. Tingkat kebisingan yang ada di dalam ruangan antara 65-83 dB.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar 5.00 42. Case and Appearance dan Quality Control.10 11.57 25.35 5. meja kerja dan kursi kerja.00 37. berat badan dan tinggi badan.1. Monitor berada di sebelah kiri operator dengan sudut padang 45°.90 2. Kelembaban di dalam pabrik berkisar antara 6074%.83 0.00 42.00 16.30 2. Penempatan lampu di ruangan hanya berjarak 1.00 41.00 5. Metal/washer dan Cone Press Fit.19 51 .1. Pada umumnya terdapat perbedaan nilai yang signifikan hampir sama pada semua regio.12 2.96 0. 5.32 2.81 2. pinset.15 9. Warna dinding ruangan pabrik sudah terasa menyamankan suasana kerja.05) sehingga menunjukkan suatu perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tingkat kelelahan pekerja pada stasiun monitor check.80 80. Subjek penelitian seluruhnya merupakan tenaga kerja wanita dengan usia berkisar antara 23 tahun sampai 27 tahun. h. f. Sirkulasi udara kurang baik karena kurangnya jendela/ventilasi sehingga pertukaran udara sangat lambat. 5°C.30 5.15 11. Distribusi Persentase Tingkat Kelelahan Pretest dan Posttest Pretest Posttest Beda Nilai t P % Penurunan Skor Kelelahan Regio Otot Leher/ tengkuk Bahu Punggung Atas Pinggang Punggung Bawah Lengan Atas Lengan Bawah Pergelangan tangan Skor Kelelahan Otot Total 5.2 Kondisi Lingkungan Kerja Kondisi lingkungan kerja yang ada di PT Nando Karya Elektronik selama pengamatan dilakukan adalah: a.00 12. b. Proses perakitan elemen-elemen tersebut terdiri dari beberapa tahap yaitu: Proses Combaine.90 2. 5.00 42.2 m dari meja kerja dan dipasang secara berjajar tanpa memperhatikan objek yang akan dirakit.1 Sistem Kerja Monitor Check Sistem kerja yang ada pada stasiun monitor check terdiri dari monitor.33 0.15 2.05 5.20 10.05) uji 1 ekor di mana nilai t berada pada posisi penolakan Ho atau penerimaan Ha.2. 5.1 5.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap pekerja menunjukkan adanya penurunan skor kelelahan sesudah diterapkan program ergonomi.18 0. Pencahayaan di ruangan pabrik cukup baik di mana sumber penerangan lampu neon 40 watt. dan Rotor Assy (armature assy).00 2. belt conveyor. Terlihat bahwa angka probabilitas yang diperoleh pada pretest dan posttest penerapan program ergonomi sebesar 0.74 2.34 0. masa kerja. g.73 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan pada perusahaan elektronik yang mengahasilkan 3 jenis produksi yaitu Bracket MEM. 5.02 0. Getaran mekanis secara umum di dalam ruang pabrik tidak terjadi. Brus Terminal Inserting.00 38. Press Fit.00 39. Karakteristik subjek penelitian yang diteliti meliputi umur.74 2.40 5. Pada umumnya kelelahan yang dialami oleh responden merata pada semua regio. Berdasarkan kepada analisis statistik dengan menggunakan uji t berpasangan (t paired test) maka terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah diterapkannya program ergonomi.

skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi pada umumnya waktu reaksi mengalami peningkatan jika diamati selama satu hari kerja dengan rata-rata berkisar antara 0.13 dengan skor kebanyakan responden berada pada tingkat kelelahan 4 (regio bahu. Produktivitas operator stasiun monitor check pada industri perakitan elektronik dapat dihitung dari waktu siklus.034 dan t tabel sebesar 2. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah tidak identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan prgogram ergonomi adalah berbeda secara nyata). pergelangan tangan. lengan bawah).025 adalah jauh lebih kecil dari α (0. tengkuk/leher) dan tingkat kelelahan 3 (regio pinggang. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan paired samples test (perbandingan t hitung dengan t tabel) maka dilakukan uji 2 sisi dengan tingkat signifikansi α sebesar 5% dan derajat kebebasan (df) sebesar 19 maka diperoleh t hitung 6.3.093 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sebelumnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0.3 Pembahasan 5. Kecepatan reaksi yang diketahui dari data yang dihasilkan oleh peralatan memperlihatkan bahwa selama 6(enam) hari kerja terdapat fluktuasi pada waktu reaksi yang diperoleh. Setelah penerapan program ergonomi.6505 sedangkan setelahnya nilai rata-rata waktu reaksi sebesar 0. Probabilitas sebesar 0.034 dan t tabel sebesar 2.1 atau sekitar 2 tingkatan. 5.093. punggung bawah. terjadi penurunan skor kelelahan pada seluruh responden (100%). dan meletakkan bracket di palet. Penurunan kelelahan sekitar 2 tingkat.025) diperoleh t hitung sebesar –6. 5. Sebelum penerapan program ergonomi.3.2. Kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6(40%) untuk seluruh regio.2.3.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Pengukuran waktu reaksi (kecepatan reaksi) dengan menggunakan peralatan Whole body reaction tester dilakukan terhadap operator stasiun monitor check yang berjumlah 20(dua puluh) orang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk relaksasi otot leher dalam satu shift kerja adalah 40 menit untuk metoda kerja sekarang sedangkan untuk metode usulan hanya butuh waktu 15 menit. 4 Oktober 2006 5.02 menit hingga 1. Skor rata-rata kelelahan yang nyaris sama pada setiap regio otot. Hipotesis untuk hal ini adalah: H0 : D = 0.2 Pengukuran Kelelahan dengan Whole Body Reaction Tester Analisis statistik dengan uji t-berpasangan (t paired test) terhadap data waktu reaksi operator yang diperoleh dari whole body reaction tester terlihat adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan antara sebelum dan setelah penerapan program ergonomi. No. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan program ergonomi mempengaruhi kelelahan otot statis yang operator stasiun monitor check yang terlihat dari skor waktu reaksi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Berdasarkan perhitungan tsb. H1 : D ≠ 0. Uji satu sisi yang dilakukan dengan derajat kebebasan (df) 19 dan α (0. berarti kedua rata-rata nilai skor adalah identik (di mana rata-rata waktu reaksi sebelum dan setelah penerapan program ergonomi adalah sama/tidak berbeda secara nyata). operator memeriksa bracket melalui layar monitor. 5. Data yang ada menunjukkan bahwa rata-rata penurunan skor kelelahan sebelum dan sesudah penerapan program ergonomi sebesar 2.15 menit. 5. memposisikan brush terminal dengan pinset. 52 .23 menit.7155. Skor kelelahan rata-rata menjadi 3.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan program ergonomi membuat rata-rata kelelahan otot statis menjadi berbeda pula secara nyata.1 Pengukuran Kelelahan dengan Kuesioner Hasil perhitungan statistik dengan uji-t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan skor kelelahan yang signifikan sebelum dan setelah penerapan program ergonomi di mana terlihat skor rata-rata kelelahan setelah penerapan lebih kecil daripada sebelumnya sehingga hipotesis penelitian terjawab.92 menit hingga 1. Waktu reaksi operator sebelum penerapan program ergonomi rata-rata berkisar 1. punggung atas.23. maka waktu standar yang diperoleh dari metode kerja usulan lebih singkat dari metode kerja sekarang sehingga selain dapat mempersingkat waktu penyelesaian juga dapat meningkatkan jumlah produksi. pada akhirnya menjadi berarti karena pada umumnya terjadi pada 8 regio setiap responden. Deskripsi daripada waktu operasi 1 siklus adalah operator mengambil bracket. Peningkatan jumlah produksi dapat diperoleh karena berkurangnya waktu yang diperlukan untuk relaksasi otot leher. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan program ergonomi ternyata menurunkan kelelahan otot statis operator stasiun monitor check. lengan atas.3 Pengukuran terhadap Produktivitas Pengukuran terhadap produktivitas dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap waktu yang dibutuhkan.

K. S. Suma’mur. Konsep Dasar dan Aplikasinya”.7155. Penerapan program ergonomi memberi pengaruh terhadap kecepatan reaksi operator stasiun monitor check.88 detik menjadi 1.78 detik. Studi Gerak dan Waktu.88 detik 12. Wignjosoebroto. 2003. Ergonomi Untuk Keselamatan.K.659 unit 4. Jurusan Teknik Industri. Sebelum penerapan program ergonomi. 53 . Perbandingan Keluaran (Output) Metode Kerja Sekarang dengan Usulan Metoda Kerja Sekarang 380 menit 1. Prima Printing.127 unit Metoda Kerja Usulan 405 menit 1. pelaksanaan relaksasi otot dan perbaikan tata letak tempat kerja.Pengaruh Penerapan Program Ergonomi dalam Mengendalikan Kelelahan Pekerja… Anizar Tabel 2. 6.10 detik dari 1. “Ergonomi.. 1996. Operator yang bekerja sebelum penerapan program ergonomi memiliki waktu DAFTAR PUSTAKA Eko Nurmianto. Produktivitas pekerja stasiun monitor check mengalami peningkatan setelah diterapkan program ergonomi maka terjadi peningkatan efektifitas waktu kerja dalam 1 shift dari 380 menit menjadi 405 menit. Penerapan program ergonomi yang dilakukan pada industri elektronik dapat mengendalikan kelelahan pekerja (operator monitor check).6505 sedangkan setelah penerapan program ergonomi rata-rata 0. Solichul. P. 2004. Surakarta. Jakarta: Candimas Metropole. Uniba Press. L. 2.32 di mana kebanyakan responden mengalami skor kelelahan tingkat 6 untuk seluruh regio. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.13 dengan kelelahan tersebar pada kelelahan tingkat 3 dan 4. PT. Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Ergonomi Untuk Produktivitas kerja. Uraian Waktu kerja efektif dalam 1 shift Waktu standar Penyelesaian Jumlah produk yang dihasilkan reaksi rata-rata 0. Tarwaka. 1989. Jakarta. 1979. Edisi Pertama. Jakarta. I. P. Program ergonomi yang diterapkan berupa pemberian waktu istirahat berulang.532 unit. Institut Teknologi Bandung.. Hal tersebut terlihat dari skor penurunan kelelahan otot total yang mencapai 40. Z. 1995. Sudiajeng. Toko Gununng Agung. Suma’mur. 3. Bandung. Ergonomi. KESIMPULAN 1. Toko Gunung Agung. skor rata-rata kelelahan operator sebesar 5. Surabaya. Teknik Tata Cara Kerja. Edisi Pertama. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat sebesar 1.19%. Sutalaksana.78 detik 13. PT. Waktu standar penyelesaian pekerjaan meningkat sebesar 0. Setelah dilakukan penerapan program ergonomi maka skor rata-rata kelelahan turun menjadi 3.

Belum adanya konsep tata ruang yang jelas dan tegas untuk Kota Medan secara menyeluruh terintegrasi dengan rencana jaringan transportasi untuk jangka panjang dan bukan hanya untuk 5-10 tahun mendatang saja mengakibatkan perkembangan Kota Medan tidak terarah dan mementingkan keuntungan sesaat saja. Tentative concept of Urban Spatial Arrangement causes the City Government of Medan has no power and authority on deciding locations for the businesses of investors in accordance with the RTRW Master Plan and so far the spatial arrangement and the urban transportation systems follow the desires of the investors. tingginya polusi udara. Selain itu terjadi ketimpangan yang mencolok antara warga yang tinggal di wilayah inti kota dengan warga yang tinggal di wilayah pinggiran Kota Medan. Sisi lain yang tak kalah penting adalah minimnya akses untuk jalur hijau atau open space seperti taman yang merupakan paru-paru kota. PENDAHULUAN Dampak yang meresahkan dari perkembangan kota yang tidak terarah dan tidak terkontrol adalah kemacetan sistem lalu lintas yang dapat menyebar ke seluruh wilayah kota. waktu tempuh ke tempat kerja semakin panjang dan biaya perjalanan juga semakin tinggi akibat bertambahnya penggunaan BBM yang selanjutnya menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja karena stres dalam kemacetan. polusi udara dan suara yang mengakibatkan rendahnya mutu kesehatan penduduk terutama anak-anak dapat Filiyanti T. Pembangunan kota satelit dapat dilakukan dengan membangun dan mengembangkan lapangan pekerjaan dan aktivitas komersial ke suatu lokasi baru yang jauh dari wilayah inti kota namun tetap dihubungkan oleh sistem jaringan transportasi yang memadai dengan pusat kota. tingginya kebutuhan akan pengadaan infrastruktur baru. Consequently. In addition the revitalization of public transport systems. Pembangunan Kota Medan yang bersifat setempat saja yakni hanya di wilayah inti kota (CBD) sama sekali tidak dapat dibenarkan sekalipun dengan alasan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Hal ini juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi. Sekalipun mungkin setiap tahun RTRW Kota Medan direvisi namun karena Pemko Medan tidak berdaya mengatasi kekuatan pasar maka selama ini yang terjadi adalah penataan ruang dan sistem transportasi perkotaanlah yang mengikuti selera pasar yang mana semestinya Pemko Medanlah yang menentukan bagi pasar/investor lokasi-lokasi untuk daerah bisnis dan perdagangan. yang berhasil misalnya Turki. perumahan ataupun perkantoran. is also offered in this paper. rendahnya mutu kesehatan hingga menurunnya tingkat moralitas penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat kriminalitas perkotaan. Misalnya belum memperhatikan nilai estetika atau keindahan kota dan tidak adanya jalur hijau atau taman kota di wilayah inti kota khususnya. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang parah di inti kota yang menyebar ke seluruh wilayah Kota Medan khususnya pada peak-hours. maksudnya tidak mengutamakan perkembangan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. this causes severe traffic jam that could spread to whole the city area and spread to whole time because the distribution of the traffic is focused on the CBD area and as well causes air and noise pollution.ALTERNATIF SOLUSI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN Dosen Departemen Teknik Sipil. polusi air dan suara. Adanya pertumbuhan pusat bisnis dan perbelanjaan di lokasi yang sama dengan pusat pemerintahan Kota Medan yakni di wilayah inti kota mengakibatkan distribusi lalu lintas hanya terkonsentrasi pada satu wilayah atau zona saja. misalnya rute menjadi lebih pendek.A. Konsep tata ruang yang tidak jelas dan tegas juga mengakibatkan nilai jual Kota Medan bagi investor sangat rendah karena tidak adanya kepastian (sewaktu-waktu segala sesuatu dapat berubah bergantung situasi atau political will Pemko Medan). Konsep kota satelit yang menginginkan penduduknya bekerja dan beraktivitas di dalam kota satelit tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan angkutan umum. The concept of satellite cities is offered to be applied in Medan. Jepang dan RRC. sehingga kemacetan lalu lintas. Juga dapat mengurangi penggunaan kenderaan pribadi serta meningkatkan pengunaan sepeda dan fungsi pejalan kaki/pedestrian. Bangun 54 . 1. which is also the core problem of traffic in Medan. Fakultas Teknik USU Medan Abstract: Urban sprawl development for Medan City unites the business and trade centres and the government centre in the CBD area of Medan. Barangkali alternatif solusi yang paling ampuh untuk mengatasi kesemrawutan perkembangan Kota Medan serta juga menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas ini adalah dengan mengadakan pembangunan kota-kota baru ataupun kota-kota satelit di wilayah batas kota (wilayah pinggiran) seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara lain. low health quality and decreases morality of inhabitants which further increases the criminality level of the city.

Keuntungan lain dari adanya kota satelit yakni dapat mengoptimalkan kelangsungan usaha daripada fasilitas-fasilitas kota seperti toko. Bila semua PTS ini dapat diarahkan terkonsentrasi dalam satu lokasi yang sama (ruislag) sehingga berkembang pula rumah-rumah kost. Dengan demikian masyarakat yang ingin mengurus keperluannya terkait dengan instansi pemerintah. Thamrin. 3. Semestinya masalahmasalah khusus kota tersebut diselesaikan terlebih dahulu agar pengembangan kota satelit dapat maksimal fungsinya. Kantor Pengadilan Negeri. termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Belawan menjadi Hub-Port Internasional. Pusat Pendidikan Tinggi Swasta: banyaknya pertumbuhan perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah inti kota. Selanjutnya dikembangkan juga perumahan-perumahan. misalnya: Microskill di Jl. Keberadaan pusat pemerintahan dan pusat bisnis dan perbelanjaan di dalam satu wilayah/zona yang sama yakni di inti kota adalah masalah yang mendasar dan utama bagi Kota Medan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. pengembangan KIM (Kawasan Industri Medan). Namun ternyata pengadaan kota-kota satelit seperti Bintaro dan BSD (Bumi Serpong Damai) yang terdapat di Jakarta ternyata tidak dapat mencapai tujuan daripada pengadaan kota satelit tersebut. sekolah. klinik dan praktik dokter sampai halte yang terletak dekat dengan rumah-rumah penduduk. Selain itu fasilitas kota satelit tersebut juga belum tentu sesuai dengan keinginan penduduknya sehingga sebaran kemacetan lalu lintas tetap saja terjadi. Hal ini disebabkan bahwa penduduk yang berdiam di kota satelit tersebut belum tentu bekerja. Gajah Mada dan kursus-kursus keahlian jangka pendek seperti kursus komputer. Sarana infrastruktur yang menghubungkan pusat pemerintahan ini ke inti kota dan juga ke bagian-bagian Kota Medan lainnya juga hendaknya direncanakan dengan maksimal. rumah sakit. Pusat Automobile (Showroom). kondominium. Karena sekalipun dibangun kota-kota satelit misalnya di wilayah-wilayah lingkar luar. Pabrik Finishing Industrial di wilayah sekitar Belawan. Proses pengembangan kota satelit ini akan berjalan secara alamiah. sekolah dan fasilitas rekreasi. 4. Pusat Bisnis dan Perbelanjaan: tetap dikembangkan di wilayah inti kota yang dengan sendirinya akan berkembang memenuhi segala kebutuhan akan fasilitas-fasilitasnya yang sesuai seperti hotel. Sungai Deli atau LP3I di Jl. Bangun berkurang. Pelajar-pelajar PTS ini pada umumnya menggunakan kenderaan pribadi sehingga dapat dibayangkan pada saat masuk dan keluar kegiatan perkuliahan selalu membuat macet daerah sekitar lokasi kegiatan. Dinas Tarukim. akutansi serta bahasa yang menyebar di seluruh wilayah inti kota.A. maksudnya seperti Kantor Walikota. maka dapat dipastikan 5-10 tahun mendatang pertumbuhan dan perkembangan PTS ini akan semakin tidak terkontrol yang akan sangat berdampak pada kemacetan lalu lintas. dan perlahan-lahan akan dapat menjadi suatu Kota Mandiri. hanya perlu travel ke satu tempat saja. STIE di Jl. TKTB. Penjualan Spareparts dan Perbengkelan: tingginya pertumbuhan mobil-mobil pribadi maupun 55 . bersekolah atau berbisnis di dalam kota satelit tersebut. apartemen. Kantor DPRD/DPR Provsu. Pusat Pemerintahan: Sudah saatnya Pemko Medan memikirkan lokasi baru bagi pusat pemerintahan Kota Medan. Bagaimana dengan Kota Medan? Konsep kota satelit yang bagaimana sebaiknya dilaksanakan untuk Kota Medan sehingga dapat mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya di wilayah inti kota? Sebaiknya daerah mana yang dapat menjadi lokasi-lokasi baru bagi kota-kota satelit tersebut? Apakah konsep kota satelit dapat menyelesaikan masalah sistem angkutan umum (angum) di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan ? 2. Pengadilan Tinggi. rumah sakit ataupun exhibition center.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Pusat Industri: tetap dikembangkan di kawasan utara Kota Medan. maka kemacetan tetap saja akan terjadi di inti kota yang menyebar ke seluruh penjuru Kota Medan. 2. khususnya bagi para pegawai pemerintahan tersebut beserta dengan segala fasilitasnya seperti toko. KONSEP KOTA SATELIT BAGI KOTA MEDAN Jadi sebenarnya setiap kota yang notabene punya masalah kota dan masalah lalu lintas tersendiri yang khusus dan berbeda di tiap-tiap kota mestinya punya konsep kota satelit tersendiri. Hal yang signifikan yang langsung terjadi dengan adanya re-alokasi pusat pemerintahan ini adalah terdistribusinya sistem lalu lintas Kota Medan sehingga tidak hanya menuju inti kota saja. Kantor Imigrasi dan semua instansi-instansi pemerintah berada pada satu lokasi yang sama. 5. flat/apartemen bagi pelajar baik swasta maupun milik Pemda sendiri yang dapat menambah pemasukan bagi Pemda. Jadi aktivitas-aktivitas apa saja yang semestinya disatelitkan terlebih dahulu di Kota Medan ? 1.-toko. cafe serta fasilitas hiburan dan rekreasi. Pengembangan Airport Internasional Kuala Namu serta rencana sistem infrastruktur yang menghubungkan ketiga kegiatan urat nadi kota satu dengan lainnya dan terhadap wilayah inti kota dan pusat pemerintahan.. Bila PTS–PTS ini tidak segera dialokasikan pada satu wilayah yang sama yang secara alamiah akan berusaha mengembangkan kebutuhannya akan penggunaan gedung.

showrooms dan perbengkelan yang signifikan bagi masyarakat Kota Medan.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. bila Medan memiliki suatu konsep Tata Ruang yang jelas dan tegas. taksi. maka dalam tempo 10–15 tahun mendatang. pusat industri. Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk mengontrol. Hal lain yang juga penting untuk dipertimbangkan bagi Pemko Medan dalam membangun dan mengembangkan pusat-pusat kegiatan tersebut hendaknya juga memperhatikan nilai seni yang dapat mengundang pariwisata yang akan dapat meningkatkan PAD. seperti: becak (dayung dan bermotor). Untuk kondisi Kota Medan. Misalnya bagaimana masyarakat dapat menikmati gaya arsitektur bangunan-bangunan dan bagaimana masyarakat tetap dapat berekreasi mendapatkan hiburan sekalipun berada di lokasi perkantoran ataupun pendidikan. akan semakin menambah nilai jual kota terhadap investor. ditambah lagi dengan bertambahnya angkutan becak mesin baru (jenis honda win) dan angkutan kancil. 4 Oktober 2006 sepeda motor dengan berbagai jenis merek dengan kelebihan dan kekurangan dari masingmasing merk mobil tersebut. juga akan lebih menguntungkan pengusaha automobile tersebut karena terkonsentrasi dalam satu wilayah. Namun bila realokasi kelima pusat kegiatan tersebut di atas dilaksanakan maka secara alamiah investor juga akan mulai menanamkan modalnya untuk pengembangan kawasan-kawasan tersebut sehingga dapat meratakan pembangunan dan meningkatkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya di wilayah inti kota saja seperti yang terjadi pada saat ini. Izin operasional diberikan untuk kenderaan dan bukan untuk trayek. Selanjutnya juga akan berkembang di kawasan ini fasilitas perumahan bagi pengusaha maupun pegawai. Dan yang saat ini nyata terjadi bahwa semakin bertambahnya mall atau plaza-plaza yang menjadi sepi pengunjung dan tidak menguntungkan. jumlah armada taksi yang beroperasi 1187 unit (plafon 2545 unit). Selain masalah keberadaan tata ruang. angkutan umum penumpang terdiri dari berbagai jenis moda angkutan darat. seperti pengembangan kawasan eks Bandara Polonia dan kawasan outer ring-road Kota Medan tidak akan maksimal tercapai tujuannya dan kemacetan lalu lintas terutama di inti kota sebaliknya akan semakin parah. yakni masalah angkutan umum (angum). Juga izin dikeluarkan selalu berdasarkan jumlah plafon maksimal tanpa memperhitungkan demand penumpang dan evaluasi hasil operasi di lapangan yang seharusnya mempertimbangkan jumlah plafon minimal armada trayek. resto.1 Hambatan dalam Pembenahan Sistem Angkutan Umum di Kota Medan Di Kota Medan. mobil penumpang umum (MPU) dan bus damri. cafe. Jadi setiap pemilik angkutan mengurus izin trayek untuk kenderaannya dan hal ini sering sekali dijadikan sebagai “uang masuk” bagi oknum pemerintah terkait baik itu untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan dinasnya. Itulah sebabnya. Jadi untuk Kota Medan realokasi pusat pemerintahan.800 unit. Kota Medan dapat mengalami grid-lock atau macet total dan perkembangan Kota Medan akan semakin tidak terkontrol atau terarah. Kelemahan 56 . pemilik-pemilik angkot pada umumnya adalah perorangan sehingga terdapat begitu banyak stakeholders angum di Kota Medan. Dengan demikian. Apakah dengan adanya realokasi kelima pusat-pusat kegiatan tersebut akan menjamin solusi bagi kemacetan lalu lintas di Kota Medan khususnya masalah sistem angum di Kota Medan yang tak kalah peliknya? Adakah alternatif solusi percepatan pemberdayaan sistem angum di Kota Medan? Hal ini selanjutnya akan dibahas pada sesi berikut ini. Dan bila hal ini tidak segera ditangani. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pelayanan angum tersebut apalagi menjaga mutu pelayanannya. Selama tahun 2004-2005 jumlah armada angkutan umum penumpang yang beroperasi jelas semakin meningkat. becak (dayung dan bermotor) sekitar 18.272 unit) dengan 248 trayek. pusat pendidikan tinggi swasta dan pusat automobile dalam masing-masing wilayah yang terkonsentrasi merupakan masalah mendasar bagi Kota Medan. dan fasilitas hiburan/rekreasi lainnya.583 unit (plafon 15. kelangsungan hidup daripada pusat-pusat kegiatan tersebut dengan segala fasilitasnya akan lebih terjaga. SOLUSI PERCEPATAN PEMBERDAYAAN SISTEM ANGKUTAN UMUM DI KOTA MEDAN 3. seperti contoh kota satelit Putra Jaya yang memiliki bangunan-bangunan perkantoran dengan berbagai style yang berbeda dengan fasilitas rekreasi danau buatan. No. maka selain signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas. Bila semua kegiatan yang berhubungan dengan automobile ini ditempatkan dalam satu wilayah yang sama. menjadikan kebutuhan akan spareparts. Bila hal ini tidak dilakukan pada tahap awal maka rencana pembangunan kota-kota satelit atau kota-kota mandiri lainnya. Kondisi ini mengakibatkan perusahaan (dealer) kenderaan angum yang mungkin saja bekerjasama dengan oknum pemerintah dari dinas terkait dapat mengambil keuntungan dari penjualan kenderaan angum serta pengurusan izin trayek sehingga modal dasar operator menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan tingginya setoran yang diwajibkan operator terhadap pengemudi angum ditambah dengan Biaya Operasional Kenderaan (BOK) dan biaya-biaya informal rutin. jumlah armada angkutan umum (angum) yang beroperasi sudah sekitar 7. Medan juga mempunyai masalah mendasar lainnya yang juga menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Data dari Dinas Perhubungan Kota Medan didapat bahwa sampai tahun 2003. 3.

Rahayu. dsb. Morina. Masalah angum perkotaan lainnya yang turut menambah ruwetnya masalah angum di Kota Medan yakni keberadaan pool-pool angkutan antar kota di sisi jalan-jalan utama (arteri primer) yang masih masuk wilayah Kota Medan yang mengambil alih peranan angum perkotaan serta masalah manajemen terminal yang belum tertata serta munculnya terminal bayangan di jalan-jalan utama (seperti di: Sp. Goiania (Brazil) dan Santiago (Chile).Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Bila masyarakat sekarang ini sulit untuk mempercayai Pemda/Pemko. besarnya modal dasar kenderaan. maka dibentuklah suatu badan/lembaga yang anggotanya dipercaya oleh baik masyarakat umum maupun Pemko Medan yang dapat menjembatani kedua belah pihak untuk duduk bersama mendiskusikan segala sesuatu perubahan dalam sistem angum perkotaan. Setiap kali armada articulated bus Transmileneo ditambah maka jumlah armada angum yang lama berkurang ataupun dijadikan sebagai pendukung pada sistem feeder service (angkutan pengumpan) pada koridor-koridor pelayanan BRT Transmilenio tersebut. Operator serta pengemudi angum yang lama tetap dilibatkan dalam pengembangan BRT tersebut menurut kebijakan yang ditetapkan. Kasat mata memang terlihat bahwa pengoperasian angum dengan berbagai jenis tipe dan ukuran tidak disiplin dalam berlalu lintas di jalan.3 Rekomendasi Metode Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Kota Medan Satu alternatif solusi untuk pemberdayaan angum perkotaan di Kota Medan secara maksimal adalah dengan mengadakan manajemen satu payung bagi angum perkotaan. Halat.) untuk menunggu penumpang (ngetem). Sp. Amplas. khususnya untuk mengantisipasi rencana pembangunan monorel di Kota Medan. Sp. Jasa Raharja dan juga para perusahaan (dealer) kendaraan serta para Preman Setempat (PS) di lapangan. tidak melakukan pembenahan baik terhadap internal maupun eksternal komponen tersebut sejak dini. Sp. 3. Teknik/metode perubahan sistem angum yang bagaimana yang dilakukan oleh Bogota? Sesi berikut akan membahas teknik/metode yang sebaiknya diadopsi oleh Kota Medan yang disesuaikan dengan kondisi serta permasalahan angum di Kota Medan sendiri yang dapat dijadikan alternatif solusi untuk percepatan pemberdayaan dan revitalisasi sistem angum perkotaan untuk mendukung sistem transportasi Kota Medan di masa mendatang. Perum Damri. persaingan antar tipe angum (angkot. becak mesin. namun tidak memperhitungkan modal dasar operator yang tinggi serta BOK seperti harga BBM. tidak ada subsidi dari pemerintah. Adakah sistem lain yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memperbaiki sistem angkutan umum perkotaan di Kota Medan saat ini? Apakah para decision makers Kota Medan masih terkesan apatis dalam membenahi Kota Medan? Bagaimana dengan krisis kepercayaan masyarakat yang semakin menurun terhadap para decision makers kota? Bila para komponen yang terlibat dalam angum. taxi. Koperasi Angkutan Umum (KPUM. Sp.2 Contoh Kasus Revitalisasi Pelayanan Angkutan Umum di Bogota Satu kasus menarik terjadi di Bogota (ibukota negara Kolumbia) yang dapat dijadikan pelajaran dan teladan bagi masyarakat Kota Medan dalam merevitalisasi sistem angumnya. bagaikan raja jalanan. kondisi internal/eksternal komponen terkait serta kondisi pelayanan angum yang persis sama dengan kondisi sistem angum di Indonesia khususnya dengan Kota Medan seperti yang telah diuraikan di atas yakni kesamaan dalam sistem kejar setoran. 3. sistem tarif dan sistem institusional angumnya. Penerapan sistim angum seperti yang dilakukan Bogota kemudian dilakukan oleh developing countries yang lain dengan sukses seperti di Curitiba. Organisasi Masyarakat/LSM. Bangun daripada sistem setoran ini adalah baik pemilik maupun pengemudi tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kualitas pelayanan dan setiap pemilik kendaraan mengawasi dengan caranya sendiri. Polisi Lalu lintas (Satlantas). Quito (Equador). Namun sejak 1998. Sumber. menyalip (overtaking) kenderaan lain tanpa mempertimbangkan lalu lintas sekitarnya dengan alasan kejar setoran. Sp. sistem izin trayek. Limun. dsb). setiap komponen terkait dan jajarannya sepakat mengubah pola pikir dengan paradigma yang lama secara bertahap sehingga pada Desember 2000 Bogota memulai dengan satu sistem angum BRT yang disebut Transmilenio. Sampai saat ini belum ada subsidi dalam bentuk apapun dari Pemda/Pemnas untuk angkutan umum. 57 . Pemerintah memberlakukan tarif tetap untuk angum yang disesuaikan dengan willingness atau daya beli masyarakat. Bappeda). tidak sesuai dengan kemauan pengguna ataupun belum ada batasan mutu minimal pelayanan yang diterapkan. Aksara. sering melanggar aturan lampu persimpangan (merah bisa jalan. Bogota mempunyai sistem angum. maka permasalahan ini akan semakin kompleks yang tentu saja akan berakibat pada kerugian-kerugian sosial yang semakin parah sehingga pada satu waktu akan berakhir dengan grid lock (lumpuh total). seperti Pemko (Dinas Perhubungan/DLLAJ. biaya pengurusan STNK dan biaya pemeliharaan kenderaan. seperti: berhenti di sembarang tempat di badan jalan.A. Setoran yang tinggi ditambah dengan pungutan informal (iuran di terminal asal dan tujuan serta iuran rutin per hari). Sao Paulo. jumlah armada angum yang besar dengan jumlah trayek yang begitu banyak (rute yang tumpang tindih yang tidak sebanding dengan demand penumpang). hijau bisa berhenti bila perlu). kancil) yang mengakibatkan persaingan antar eksternal dan internal koperasi angum yang tidak sehat dan mengakibatkan mutu pelayanan angum sangat rendah. Kampus USU.

Schedule kedatangan/keberangkatan angum juga dapat diatur sehingga dengan jadwal yang pasti para penumpang tidak akan memaksakan diri untuk berjejalan di satu kendaraan (overcrowded) karena kendaraan berikut sudah dijadwalkan.3. Contoh-contoh developing ataupun developed countries yang mempunyai sistem transportasi yang murah. Perubahan-perubahan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam sistem angum di Kota Medan? 3. 58 . dapat menghubungi pemenang tender untuk bekerjasama. dan untuk trayek B dengan tipe bus kecil dengan kapasitas penumpang 14 seats.1.3. BOK serta biaya pencapaian mutu minimal 1pelayanan angum dan profit-nya tinggi/mahal.3. maka tarif angum tersebut hendaknya juga mahal. Pos-pos pemasukan bagi Pemda sehubungan dengan angum jangan lagi ditargetkan dalam konteks untuk menggemukkan APBD.3. Prinsip tender per trayek tersebut adalah sebagai berikut: a. Sistem ini memberikan kesempatan pada kekuatan pasar untuk mempengaruhi kualitas pelayanan dan harga tiket/tarif angum. Subsidi ini dapat berasal dari profit yang diberikan oleh pengusaha yang memiliki rute gemuk penumpang (subsidi silang) ataupun dari sumber daya Pemda sendiri.2 Sistem Gaji bagi Supir Angum Apa keuntungan sistem gaji dibandingkan sistem setoran dalam sistem angum? Adanya kepastian pendapatan bagi pengemudi angum akan mengurangi ketidakdisiplinan pengemudi angum di jalanan sehingga umur kendaraan juga akan lebih lama. Misalnya bila pada umumnya occupancy kenderaan untuk trayek A adalah 80% namun bila dengan adanya pembenahan dalam sistem. Selain subsidi dari Pemda.3 Sistem Retribusi Hapuskan istilah pagar makan tanaman bagi pihak Pemda (Heru Sutomo.3. sekalipun tetap di bawah pengawasan BOAU Kota Medan. aman dan nyaman. 3. Misalnya dalam bentuk pengurangan subsidi ataupun denda.4 Sistem Tarif Sistem tarif angum jangan lagi dibatasi. pengusaha yakin akan mendapatkan 95% occupancy. maka pengusaha dapat menentukan 5% profit diberikan ke BOAU dan 10% profit merupakan hak pengusaha. Misalnya untuk trayek A jenis angkutan adalah tipe bus sedang dengan kapasitas maksimal 40 seats. 3. Izin bentuk dan tipe angkutan ditentukan oleh pemerintah. 2005).3. 3. Bila ada investor kecil yang hanya mampu memiliki beberapa kenderaan saja ingin menanamkan modalnya pada rute-rute tersebut. jika memang tarif hasil perhitungan modal pengadaan kenderaan. dsb. termasuk sistem target PAD dari instansi-instansi/dinas-dinas terkait maupun dari retribusi-retribusi (retribusi terminal. Untuk rute gemuk penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang dapat memberi keuntungan terbesar kepada BOAU. No. Pengusahaan angum oleh pemenang tender mempunyai jangka waktu tertentu dan dievaluasi pelaksanaannya sebagai pedoman dalam penentuan pemenang tender periode berikutnya. memiliki tanggung jawab subsidi dan keterlibatan yang tinggi dari masing-masing Pemda maupun pemerintah nasionalnya. 2005).1 Sistem Perizinan: Izin trayek diberikan pada satu perusahaan dan bukan kepada perorangan untuk mengoperasikan satu trayek secara keseluruhan melalui tender. subsidi dapat juga berasal dari sistem tender yang ditetapkan pada pasal 2. Selain itu pengemudi angum juga akan menanggung denda/sanksi tilang bila melanggar peraturan lalu lintas (Iwan Margono. 3. Jadi retribusi-retribusi tersebut hanya sekedar alat pengaturan dan bukan untuk cari uang. b. Pengadaan sanksi/hukuman bagi pelanggar kontrak dalam bentuk sanksi uang dan bukan pencabutan izin trayek. Namun bila daya beli masyarakat masih rendah maka Pemda harus subsidi.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. namun penanggung jawab operasional tetaplah perusahaan pemenang tender. misalnya dalam penambahan /pengurangan jumlah armada. Untuk rute kurus penumpang: yang menjadi pemenang tender adalah perusahaan yang meminta subsidi yang paling minimum dari Pemda. cepat. Profit/pendapatan ini dapat digunakan BOAU untuk mengembangkan sistem ataupun sebagai subsidi terhadap pengusaha untuk rute kurus penumpang. terpercaya. Jadi bagi setiap perusahaan pemenang tender haruslah menyediakan tipe angkutan yang sesuai. Sanksi uang ini dapat dijadikan sebagai masukan sumber subsidi BOAU sendiri bagi rute-rute kurus penumpang ataupun untuk pembenahan sistem. 2004). 4 Oktober 2006 misalnya seperti Dewan Transportasi Kota Medan atau Badan Koordinasi Transportasi Kota Medan atau Badan Otorita Angkutan Umum/BOAU Kota Medan (Heru Sutomo. STNK.).5 Sistem Internal dan Eksternal Institusional Sistem konvensional dan kediktatoran dari Pemda harus diubah menjadi lebih liberal: Memberi keleluasaan pada pengusaha pemenang tender trayek untuk menanggapi kebutuhan. kompensasi pemasukan pendapatan dari pemasangan iklan pada kenderaan angum serta pengadaan usahausaha toko-toko/cafe di terminal.

Berikut ini dipaparkan secara garis besarnya apa yang dilakukan oleh Bogota sehingga implementasi BRT Transmilenio sukses dan menguntungkan yang dapat dijadikan pelajaran bagi Kota Medan dalam rencana implementasi monorel di Kota Medan. Sementara sistem pengutipan angkos dan tiket serta sistem pengawasan atas implementasi seluruh sistem yang baru tersebut diserahkan kepada suatu badan yang dipercaya oleh pemerintah maupun masyarakat yang tetap dievaluasi kinerjanya secara teratur dan mempunyai durasi kontrak yang tertentu pula (Hidalgo & Senoval. pihak swasta yang masih belum tertarik.A. Demikian juga kontrak pengadaan sistem feeder service dan renovasi bus yang lama diserahkan kepada operator angum tradisional melalui tender dengan sistem subsidi silang. Pengalaman mereka sebagai operator dari sistem angum tradisional yang dijadikan sebagai bagian daripada sistem BRT yang baru bernilai sebagai aspek kunci dari kesuksesan sistem BRT dan mencegah adanya protes serta kemungkinan aksi demonstrasi atas pelayanan sistem BRT tersebut. ditentukan urutan prioritasnya. Bus-bus baru tersebut digunakan sebagai bus pengumpan (feeder) untuk mengangkut penumpang dari daerah-daerah sekitar dan yang jauh yang akan menggunakan system Transmilenio. Transmilenio beroperasi setelah perbaikan-perbaikan bertahap sukses dilaksanakan dalam sistem angumnya yang kondisi sistem angumnya persis sama dengan Kota Medan ataupun kota-kota di Indonesia pada umumnya. lalu dijadikan sebagai pilot project (sebagai contoh/pedoman langkah berikutnya). Sudah saatnya sistem angum di Indonesia ataupun khususnya di Kota Medan menjadi perintis untuk mengubah sistem angum yang overprivatised. Pengadaan 470 unit articulated bus untuk Transmilenio diserahkan kepada 4 perusahaan swasta yang melibatkan 96% operator angum lama/tradisional. 2001). Adapun keseluruhan daripada pembahasan di atas dituangkan dalam gambar 1 berikut ini mengenai Bagan Manajemen Satu Payung bagi sistem angum di Kota Medan (Heru Sutomo. 2005): 59 . Ini juga membutuhkan kesadaran yang tinggi terhadap petugas dan pejabat terkait dari instansi perpajakan. Bogota mulai membicarakan revitalisasi sistem angumnya di tahun 1998. lalu mengadakan perubahan-perubahan demi terlaksananya program BRT Transmilenio.7 Darimana Harus Dimulai? Penentuan prioritas tindakan. dan lebih melibatkan pemerintah dalam pengelolaan/ operasional maupun pengawasannya. dilaksanakan dan dievaluasi. 3.Alternatif Solusi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Medan Filiyanti T. Bangun Bila BP (Badan Pengelola) atau UPT/UPTD dari Dishub tidak lagi sesuai dalam pelaksanaan ataupun pengawasan pelaksanaan operasional sistem angum maupun penerapan peraturan secara konsisten ini maka dapat menunjuk suatu BUMN atau Perusahaan Daerah untuk melakukannya sesuai dengan proses tender (dengan prinsip. BOAU Kota Medan bersama dengan seluruh instansi terkait serta elemen-elemen dalam masyarakat dalam suatu rapat khusus menetapkan urut-urutan prioritas langkah yang akan dilakukan. Setiap kali terjadi penambahan bus Transmilenio baru maka beberapa angum lama harus dieliminasi dari sistem. pengaturan sistem bus pengumpan (feeder service sebagai sistem pendukung yang tidak masuk ke main line) dan seterusnya satu persatu dibahas. pemenang tender adalah yang dapat memberikan kontribusi terbesar kepada Pemda) karena diharapkan pengelolaan. Bila ada subsidi BBM mengapa tidak diciptakan subsidi angum? Sudah saatnya Pemda maupun Pemerintah Nasional terlibat penuh dalam pengembangan angum seperti yang dilakukan oleh negara-negara sedang berkembang maupun negara-negara maju lainnya. Sejak rencana awal program BRT Transmilenio.3. Operator yang masih perorangan. pemerintah telah melibatkan pengusaha angum tradisional dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.6 Darimana Pemasukan bagi Pemda untuk Subsidi Angum? Karena subsidi angum tidak umum dari APBD maka kembali rakyat diminta kesadarannya untuk membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. 3. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan sumber daya bagi Pemda guna penerapan peraturan secara konsisten yang mengakibatkan pelaksanaan peraturan dapat “dinegosiasi” di lapangan.3. karena pada umumnya masyarakat kelas bawah juga yang lebih terkena dampak negatifnya bila masyarakat tidak membayar pajak yang sebenarnya dengan jujur. sehingga pada 18 Desember 2000. pelaksaaan dan pengawasan yang lebih transparan karena melibatkan uang rakyat.

Bangun. Sutomo. 3. Bangun.. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. p. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. Medan. 13. International Planning Studies.. 2003. 4. 19 November 2004. F. F. Menteri Perhubungan RI.. No. Vol. and Bangun. Leal. Februari 2006.. 6. R. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. H. Dinas Perhubungan Kota Medan. Jogjakarta. Suatu Opini. p. 60 . Department of Urban Engineering. 1992. Turki. Medan. 15 January 2005. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. ----------. M. pp 9 – 32. No. Portland State University. 13. F. Japan 669 . R. F. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 1.1545. April 2006. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. No.. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006. dan Alkhairi. 21 Maret 2005. Suatu Opini. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan. A. A Case Study of Istambul. Napitupulu.. Suatu Opini. dan Napitupulu. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah. and Bangun. F. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? Suatu Opini. Jogjakarta. Powerpoint Transparansi. 31 Januari 2005. A Case Study of Accra Metropolitan Area. 2005. 18. ----------. Napitupulu. 2005. 2004. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia.. dan Bertini. Vol.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Hasamagaola 3-25-3. Harian Analisis: Medan. Usulan Manajemen Satu Payung bagi Sistem Angkutan Umum Kota Medan 4. P... Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. p. Penerbit Beta Offset. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65 Tahun 1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan.L.. Januari 2006. p. Direktorat Jenderal Bina Marga.. 2006. R.. Harian Sinar Indonesia Baru: Medan. 13. University of Tokyo. 4 Oktober 2006 Penerimaan Non Operasi Pengeluaran Operasi MANAJEMEN Jika defisit: Penerimaan subsidi Pendapatan Operasi Pendapatan Operasi Jika surplus: Untuk pengembangan sistem Produksi: Rute 1 kend . Satellite Cities. R. Medan. 2001. Sorensen. 13. and Bangun.km Pembayaran menagih Biaya operasi: kend-km x Rp/km Rute 2 Pendapatan Operasi Rute ke . 1. Jakarta. p.. Hyogo-ken. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?. P. A. Munawar. Bandung. Napitupulu. F. DAFTAR PUSTAKA Bangun..T. p. and Bangun.. R. F. P. Suatu Opini.. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai..2005. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan. Harian Waspada: Medan. F. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism. Harian Waspada: Medan. dan Alkhairi. 1993. dan Alkhairi.. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? Suatu Opini.. p. 103 – 108. Jakarta. 1. Bangun. 13 November 2004. Suatu Opini. Portland.n Gambar 1. Ghana. 4.. 2006. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan-Bagian 2. Sanda-shi. Powerpoint Transparansi. Departemen Pekerjaan Umum RI. Napitupulu. pp. R. ----------. The Urban Satellite Field Concept.

jumlah pengangguran terbuka berkurang dari 9. Dalam era globalisasi tersebut usaha tani harus mampu menghasilkan komoditas yang lebih murah namun bermutu tinggi. bahwa untuk mengefisiensikan aliran barang/jasa dalam ruang dan waktu.8 juta (68. pemerintah. Hingga saat ini tingkat pertambahan penduduk masih tinggi. dan kaidah distribusi pendapatan (income distribution).0% menjadi 24. 678 jiwa. selalu dalam posisi disempowered tidak memiliki aksesibilitas. Pemerintah menegaskan kebijakan dasar yakni Triple-Track-Strategy = “pro-poor. dan 5. Sejumlah kegiatan dapat efektif bila dilakukan secara individu (individual action). perlu diupayakan agar industri yang berkembang di agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya.1%.4%. Secara umum yang melatarbelakangi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani melalui pengembangan kawasan agropolitan dan agroindustri antara lain: persentasi penduduk miskin rawan dan sangat rawan pangan hingga pada tahun 2002 masih mencapai 36. Agroindustri PENDAHULUAN Sumatera Utara terletak pada 1-4° LU dan 98100 ° BT dengan luas 71. Keadaan tersebut diperkirakan saat ini meningkat tajam menjadi 63.4 juta jiwa atau 18. pertumbuhan industri pengolahan non migas dan lain-lain meningkat masing-masing 3. khususnya di era perdagangan bebas yang merupakan tindak lanjut persetujuan sistem perdagangan bebas seperti Asean Free Trade Area (AFTA) dan Global Agreement Trade and Tariff (GATT).86%) di perkotaan. terdiri dari 24.2%.5% per tahun. ilmuwan. 326. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 telah mencapai kisaran 220 juta dengan pertumbuhan 1. sehingga produksi usaha tani mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.25% per tahun sehingga secara nasional kebutuhan terhadap hasil komoditas pertanian masih terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Desa-Kota.4 juta (3 1. Sumatera Utara memiliki 18 kabupaten.5%. Pemerintah telah menetapkan beberapa tolak ukur keberhasilan antara lain bahwa dalam periode akhir tahun 2004 hingga 2009 jumlah penduduk miskin akan berkurang dari 16. Kaidah ekonomi aksi (economic of action). investasi masyarakat meningkat dari 16. kegiatan ekonomi yang mempunyai index material (rasio fisik bahan baku dengan produk akhir) harus lebih besar dari satu. Petani menghasikan produk yang memiliki nilai tukar sangat rendah sehingga daya beli masyarakat di pedesaan sangat Iemah. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam konteks pengembangan mengingat kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal dan komoditas unggulan serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani karena mengimplementasikan pembangunan secara holistik dalam kegiatan on farm dan off farm. pengembangan agropolitan didasari atas beberapa kaidah ekonomi: kaidah ekonomi lokasi (economic of location).6% menjadi 8. dan mereka tidak mampu mempresentasikan diri. dan secara umum pertumbuhan industri kecil meningkat ratarata 3. Komoditas Unggulan. Kaidah permintaan turunan (derived demand). 8. Pembangunan ke arah modernisasi pertanian akan semakin penting artinya.7%.6 juta jiwa atau 28.6%. Selanjutnya. 7 kota. aktivis. jumlah ekspor meningkat dari 5.9% jumlah penduduk.5% menjadi 7. progrowth.5% menjadi 8. Menurut Sembiring dan Sitepu (2006).8%.14%) adalah petani di pedesaan 11.466 desa/kelurahan dengan jumlah penduduk tahun 2005 sebesar 12. pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5. namun ada juga kegiatan yang hanya akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama/gerakan bersama (collective action). pro-job. dan 6.5% menjadi 5. Bilter Sirait 61 .680 km2. 326 kecamatan.PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DAN AGROINDUSTRI DI SUMATERA UTARA Staf Pengajar Kopertis Wilayah I/Ketua Tim Teknis Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara Abstrak: Pembangunan kawasan agropolitan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. petani masih dijadikan sebagai “bahan presentasi” obyek politisi. Kata kunci: Agropolitan. menjadi “komoditas” politik/demokrasi dan nasibnya tetap sebagai petani gurem. Pembangunan agropolitan memberi solusi ideal untuk mengatasi ketimpangan antara desa dan kota sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara.6%. Hal ini didasari bukan hanya karena terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan akan tetapi karena tingginya potensi di kawasan pedesaan untuk dimanfaatkan sebagai alat mendorong pembangunan.1% dari rakyat Indonesia. Kaidah skala ekonomi (economic of scale) yakni suatu kegiatan ekonomi memerlukan skala usaha (business size) tertentu yang optimal untuk mencapai efisiensi ekonomi.

Dari sisi peta kemiskinan kondisi tersebut di atas telah menimbulkan kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan dan menghasilkan kemiskinan di perdesaan. Setiap kawasan tentunya dikembangkan dengan spesifikasinya sendiri (1 Agropolitan dengan 1 komoditi unggulan). Yang perlu diupayakan ialah bagaimana agar industri yang berkembang di Agropolitan ialah industri yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan kegiatan pertanian yang dikembangkan di hiterland-nya. Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta.5% (tahun 1998).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Salah satu penyebab dibutuhkannya kawasan agropolitan ini adalah tingginya arus urbanisasi.nakertrans.5% (tahun 1995) menjadi 40. kemudian di agropolitan dikembangkan industri pengalengan nenas. sementara pemerintah pusat/propinsi memberi dukungan melalui pelatihan bagi petani nanas. menarik.277. tingginya urbanisasi ditunjukkan dengan terjadinya konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan. Karena itu pembangunan dengan pendekatan agropolitan sering disebut pembangunan pertanianpedesaan yang didukung pembangunan industri dan jasa. PENGEMBANGAN AGROPOLITAN Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis. Kalaupun ada program/proyek baru. hanyalah untuk memperkuat atau memfasilitasi efek sinergis dalam ruang dan fungsi. berkelanjutan dan terdesentralisasi. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah terjadinya migrasi penduduk perdesaan ke perkotaan akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian. No. pengembangan agropolitan pada dasarnya bukanlah program/proyek yang benar-benar baru. Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) Sumatera Utara telah dimulai pelaksanaannya pada awal tahun 2004 sedang penyusunan master plan dilakukan pada tahun 2003 setelah penanda tanganan Nota 62 . Apabila proses urbanisasi yang tidak terkendali semakin mendesak produktivitas pertanian dibiarkan akan mengancam ketahanan pangan nasional. berbasis kerakyatan. Sumatera Utara misalnya pada tahun 2003 telah mengeluarkan komoditas-komoditas unggulan pada suatu kawasan agropolitan dengan komoditas unggulan tertentu pula. melainkan lebih menekankan pada upaya-upaya mensinergikan dan mengintegrasikan program/ proyek yang telah ada selama ini. merupakan alternatif pembangunan perdesaan melalui urban-rural linkages untuk mencegah terjadinya urban bias (http://www. Proses urbanisasi yang tidak terkendali. Tercatat. Pembangunan suatu daerah jangan meniru (blue print) dari daerah lain yang sudah berhasil. Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. dilain pihak desapun kehilangan tenaga-tenaga produktif yang seharusnya sebagai bagian dari mata rantai roda kehidupan dan roda ekonomi perdesaan.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. industri pembuatan kaleng. sehingga pendekatan pembangunan selama ini yang banyak mengakibatkan urban bias harus menjadi perhatian semua pihak.id) Dalam kaitannya dengan pembangunan daerah. pengangkutan dan lain-lain. mendorong. adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani. Sebagai contoh suatu kawasan yang lahannya sesuai untuk komoditas nanas.go. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecenderungan aliran bersih (transfer netto) sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besarbesaran dengan disertai derasnya proses (speed up processes) migrasi penduduk secara berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. Data Survei Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37. yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Karena itu. Perpindahan ini pun memberikan dampak di berbagai kota yaitu mengalami urbanisasi berlebihan (overurbanization). yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. juga akan semakin menurunkan produktivitas pertanian. dukungan pemasaran dan informasi. Pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan fakta tersebut. Pengembangan sektor industri dan jasa di perkotaan dimaksudkan untuk memfasilitasi atau mendukung pembangunan pertanian-pedesaan. Pada tahun yang sama. politan = kota. menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Dan kota-kota yang berkembang adalah kota rural-urban (rurban) di mana karakteristik rural (pedesaan) dan karakteristik (perkotaan) terintegrasi secara harmonis. 4 Oktober 2006 PENGERTIAN AGROPOLITAN Agropolitan terdiri dari dua kata yaitu Agro = pertanian. Tetapi setiap daerah harus mempunyai komoditi unggulan atau karakter tersendiri. Secara lebih mikro. Dengan kata lain yang dikembangkan di perkotaan adalah fungsi-fungsi dari sistem agribisnis mulai dari hulu sampai ke hilir. pengembangan kawasan agropolitan ini akan mengintegrasikan program/proyek-proyek multisektor yang telah berjalan selama ini sehingga efek sinergisnya makin kuat dan manfaat yang dihasilkannya makin besar dan beragam.

alat dan mesin pertanian. Karena itu kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. up-stream. dengan terlebih dahulu mengikuti studi banding ke kawasan yang memiliki karakteristik sumber daya alam yang sama. telekomunikasi dan informasi dan air bersih). Sistem agribisnis yang dimaksud mencakup 4 subsistem (1) Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni usaha industri pupuk. penyuluhan. Beberapa infrastruktur yang dalam waktu dekat diperlukan untuk Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (KADTBB) dalah: • Infrastruktur jalan usaha tani • Infrastruktur jalan usaha tani di desa sekitar pusat pertumbuhan • Infrastruktur jalan poros desa di desa pusat pertumbuhan • Infrastruktur pasar desa di desa sekitar • Infrastruktur pusat data dan informasi • Infrastruktur saluran irigasi • Pembangunan gudang penampungan dan penyimpanan produk pertanian. kebijakan pemerintah. Mengingat bahwa dalam FGD tersebut terungkap bahwa saat ini rencana pengembangan kawasan baru berupa master plan. maka dalam suatu kawasan akan dikembangkan kegiatan agribisnis mulai dari up-stream agribisnis. sesuai dengan potensi agribisnis di daerah yang bersangkutan. kegiatan ekonomi yang memiliki indeks material (rasio fisik antara bahan baku dengan produk akhir) lebih besar dari satu. 2006). Tapanuli Utara. perkreditan. dengan diketahui/didukung Gubernur Sumatera Utara dan Menteri Pertanian RI. Departemen Pertanian mengembangkan paradigma baru pembangun ekonomi berbasis pertanian. Perlu dikembangkan infrastruktur prasarana dan sarana serta kelembagaan lainnya yang menunjang agropolitan (sarana transportasi jalan dan jembatan. jaringan listrik. Paradigma baru yang dimaksud adalah: ”Membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Pelatihan kultur teknis budidaya pertanian 2. transportasi. Pelatihan manajemen pemasaran 4. Berdasarkan teori ekonomi lokal. Sub-sistem jasa penunjang akan mengikuti di mana lokasi on-farm. diperkenalkan apa yang disebut dengan program kawasan agropolitan. (2) Subsistem usaha tani (on-farm agribusiness). serta desa dan kecamatan yang berbatasan sebagai pendukung. Pelatihan manajemen keuangan ALASAN PEMBANGUNAN AGROPOLITAN Konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pedesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal (Setia Hadi. Pengembangan kawasan agropolitan sebagai implementasi spasial dan sistem agribisnis. Untuk ”membumikan” pembangunan sistem agribisnis tersebut di setiap daerah. benih. Juga perlu dikembangkan industri pengolahan dan industri turunananya/ikutan. sehingga koordinasi kegiatan pengembangan dari masing-masing dinas terkait dapat lebih terfokus dan saling mendukung. dan Dairi) pada 28 September 2002. Inilah yang disebut dengan “kota pertanian” (agropolitan). kegiatan ekonomi tersebut harus dekat dengan bahan bakunya. Sedangkan bila indeks material kurang dari satu (seperti up-stream agribusiness) harus dikembangkan dekat dengan sentra konsumsinya yakni para petani di kawasan pedesaan. Berbagai bentuk pemerasan tersebut antara lain. dan (4) Subsistem jasa penunjang (services for agribusiness) seperti penelitian. Sistem pendidikan dan pelatihan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memperhatikan aspek kemampuan dan budaya masyarakat. Serta perlu dikembangkan jasa keuangan (perbankan) dan asuransi. penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital 63 . Berdasarkan prinsip ekonomi tersebut. berkelanjutan dan dilaksanakan secara desentralisasi”. Karena itu industri pengolahan hasil pertanian (down-stream) harus dikembangkan di sentra produksi pertanian. berkerakyatan. desentralisasi. pestisida. demokrasi) pada tahun 2000. pengembangan kawasan agropolitan merupakan implementasi spasial (ruang) dari pembangunan sistem agribisnis. Fasilitator yang digunakan sebaiknya memanfaatkan sumber daya yang ada di kawasan agropolitan. Pendidikan dan pelatihan yang diperlukan adalah: 1. sehingga diharapkan dalam waktu dekat dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Umum Tataruang (RUTR) dan ditetapkan dengan PERDA. Dengan demikian. Toba Samosir. Simalungun.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait Kesepakatan 5 Bupati yang berada di kawasan Dataran Tinggi Bukit Barisan (Karo. Paradigma pembangunan yang bias kota akan mendorong terjadinya proses pemerasan surplus pedesaan pertanian. infrastruktur. on-farm agribisnis. Untuk meng-adress isu aktual pengembangan ekonomi 3D (daya saing. didasarkan pada teori ekonomi yakni teori ekonomi lokasi (economic of location) dan teori skala ekonomi (economics of scale). Sedangkan teori skala ekonomi akan membimbing berapa besar skala usaha down-stream dan up-stream yang harus dikembangkan. Pengembangan ini diarahkan pada di desa pusat pertumbuhan di Kecamatan Nagari Lambah. down-stream agribisnis dan services for agribusiness. (3) Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yakni pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya. Pelatihan pengolahan produk pertanian 3. Teori ekonomi lokal membimbing di mana industri up-stream dan downstream agribisnis harus dikembangkan agar pergerakan barang dan jasa dalam ruang efesien. dan down-stream dikembangkan.

sering juga dihitung Break Even Point (BEP) produksi yakni total biaya per harga penjualan serta BEP harga yaitu total biaya per total produksi. Bagi komoditas terpilih-durian. luas panen atau populasi. Selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian lahan bagi komoditas unggulan.30 km2 secara de facto sudah memasyarakat. No. hanya pengelolaannya barang kali perlu lebih intens sebab masih terbuka kemungkinan penggunaan teknologi baik di on farm maupun off farm. keragaan usaha tani dinilai Benefit Cost Ratio atau B/C rasio untuk tanaman semusim.. produktivitas sebelum tahun ke-t dikurang satu dikalikan dengan 100 %.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. keterlibatan masyarakat. faktor risiko. dan penyiapan lahan (lp). Kota-kota pertanian yang dibangun mempunyai jenjang (hierarki) sesuai dengan fungsinya. Dalam hal ini BEP adalah titik impas usaha dan sering berhubungan dengan IRR. 4 Oktober 2006 drain) melalui nekanisme urbanisasi. hanya saja barang kali belum intens dikelola oleh pemerintah daerah. Selain hal itu. nilai ekonomis. media perakaran (rm). produksi. Pembangunan agropolitan memiliki hubungan yang saling menguntungkan dan menciptakan sinergis dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri komoditi unggulan. di mana suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat bila B/C > 1. business planing agropolitan di KADTBB. sehingga dapat ditentukan komoditas calon unggulan untuk bahan analisis berikutnya. Sedang jenjang ke-3 yang juga mungkin diperlukan adalah pusat seluruh kawasan yang berfungsi mendukung seluruh pusat-pusat distrik dan menyediakan hal-hal yang tidak tersedia di pusat distrik. Paling sedikit ada 2 jenjang yaitu (i) kota pusat lokalita atau kawasan usaha tani yang langsung dilayani dan (ii) kota pusat distrik yaitu kota yang melayani beberapa kota pusat lokalita atau yang melayani semua kawasan secara langsung. ketersediaan hara (na). retensi hara (nr). produksi. produksi. penghasil devisa. Kondisi biofisik yang digunakan sebagai dasar penentuan kualitas dan karakteristik lahan dalam analisis kesesuaian lahan adalah: ketersediaan air (wa). Kesesuaian lahan untuk tiap komoditas pada setiap satuan tanah dibedakan menjadi Sesuai. Untuk analisis ekonomi komoditas sumber utama pendapatan. Penilaian untuk masing-masing komoditas untuk tiap sub sektor adalah berdasarkan data sekunder tentang perkembangan komoditas yang bersangkutan di setiap kecamatan target pengkajian. ketersediaan oksigen (oa). pemasaran. Banyak durian yang ditemukan di Kota Medan berasal dari Pakpak Barat dan menurut informasi memiliki sifat merekah beberapa minggu dan lebih lama merekah dibanding dari durian lainnya yang berasal dari Sumatera Utara. Hal ini juga karena derivasi durian dimaksud banyak serta telah memiliki jaringan pemasaran yang baik. dan dalam pengembangan kota-kota dan pedesaan sehingga kawasan agropolitan mampu bersaing dalam perdagangan internasional termasuk produksi dan hasil-hasil agribisnis dan agroindustri. Metode analisis skoring pemilihan. IRR (Internal Rate of Return) bagi tanaman tahunan. STRATEGI PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN UNTUK MENDUKUNG AGROINDUSTRI Durian di Kabupaten Pakpak Barat misalnya dapat dikatakan banyak dihasilkan oleh masyarakat dan relatif sudah intens budidayanya sehingga sekaligus telah mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya. ketersediaan bibit. produktivitas. kesesuaian lahan. Menurut laporan akhir tim teknis kelompok kerja pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (2005) bahwa beberapa variabel untuk menentukan komoditas unggulan sebagai berikut: luas areal. selanjutnya dilakukan pembobotan dan scoring terhadap indikator keunggulan. produktivitas tahun ke-t dengan tingkat luas panen. Perbandingan antar komoditas diurut. KK dihitung sebagai berikut: KK = (Std/Ya) x 100 % KK = Koefisien keragaman masing-masing indikator prioritas Std = Standar deviasi masing-masing indikator prioritas Ya = Rata-rata aktual masing-masing indikator prioritas Tahap berikutnya untuk penentuan selang interval (Δ) adalah: ΔI = (Xmax – Xmin) / JI ΔI = selang interval JI = jumlah interval (berkisar 3-5 bila kurang dari 30 populasi-kecamatan) 64 . Dalam hal ini r pertumbuhan tiap tahun dalam % merupakan proporsi tingkat luas panen. B/C rasio adalah proporsi tingkat keuntungan dengan total biaya.0. apakah sudah mengikuti prosedur baku Pakpak Barat untuk menentukan durian sebagai komoditas unggulan. durian yang merupakan komoditas unggulan dari Kabupaten Pakpak Barat yang memiliki luas daerah 1 218. dan Tidak Sesuai. Penulis memang belum tahu sepenuhnya. tiap indikator keunggulan dianalisis dengan metode statistik non parametrik yang menghitung r (rata-rata pertumbuhan per tahun) dan KK (koefisien keragaman). Pada analisis derajat keunggulan komoditas. seperti dalam pengolahan hasil pertanian. Parameter utama yang menjadi acuan di antaranya luas tanam. (b) pelarian sumber daya manusia terdidik (brain drain) dari pertanian pedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user) dan mekanisme transaksi antar sektor. Sesuai Marginal. yang pasti tulisan ini juga sekaligus untuk proses pengkayaan di dalam menyusun detail planning. derivat produk dan ketergantungan impor.

mendekati rekomendasi. termasuk insentif perpajakan.163). (5) sumber daya manusia. Kualitas SDM yang rendah dan terbatasnya infrastruktur. kurang memadai). Simanjuntak (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa upaya dan langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembanguan agropolitan sebagai berikut: A. sistem perpajakan di Indonesia kurang memberi kelonggaran-kelonggaran perpajakan dalam upaya mendorong investasi. dihitung skor rata-rata untuk masing-masing indikator berdasar rata-rata pertumbuhan per tahun dan KK. respons terhadap teknologi (sangat respons. Rendahnya kepastian hukum. Fokus pada Beberapa Komoditi Unggulan Pelaksanaan kegiatan sudah dapat segera dimulai pada beberapa komoditi unggulan yang dinilai sangat 65 . Prosedur perizinan investasi yang panjang dan berbelit-beli. tidak sesuai rekomendasi). seperti yang diharapkan oleh investor. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan para investor dalam berinvestasi di suatu daerah adalah faktor: (1) yuridis. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi para investor di Indonesia saat ini adalah (Simanjuntak. tidak strategis). Ini tercermin dari antara lain berlarutnya perumusan RUU Penanaman Modal dan lemahnya penegakan hukum yang terkait dengan kinerja pengadilan niaga. 2006): 3. kondisi sarana dan prasarana (sangat memadai. KK atau nisbah Untuk penentuan interval aktual sebagai berikut: Interval (Xmin) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Skor 1 2 3 1. Selain itu juga keragaman/variatif yang besar dari kebijakan investasi antar daerah. dalam menarik penanaman modal di Indonesia. Lemahnya kepastian hukum juga tercermin dari tumpang tindihnya kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. dan kapasitas dan sistem dan jaringan infrastruktur karena sebagian besar dalam keadaan rusak akibat krisis. UPAYA UNTUK MEMACU INVESTASI Dalam konteks pengembangan ekonomi lokal. (2) infrastruktur. Berdasarkan studi Bank Dunia pada tahun 2004. letak geografis (strategis. perizinan untuk memulai suatu usaha dari berbagai instansi terkait baik pusat maupun daerah di Indonesia membutuhkan lebih lama dengan 12 prosedur yang harus dilalui dengan waktu yang dibutuhkan selama 151 hari (sekitar 5 bulan) dan biaya yang diperlukan sebesar 131 persen dari per capita income (sekitar USS 1. memadai. ketersediaan lahan (sangat tersedia. Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpangsiuran kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kebijakan investasi. terkait dengan pusat pertumbuhan lain. jelas bahwa masuknya investasi sangat dibutuhkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. (6) risiko. dan (7) penghasilan. (3) pasar. Berdasar nilai skor akhir kemudian ditentukan selang interval untuk menentukan keunggulan komoditas sebagai berikut: Interval (Xmin)----(Xmin + ΔI) (Xmin + ΔI)---(Xmin + 2ΔI) (Xmin + 2ΔI)--(Xmin + 3ΔI) Golongan Komoditas Penunjang Potensial Unggulan 2. = Pengamatan terkecil dari nilai r. Sebagai perbandingan. tidak sesuai). Lemahnya insentif investasi. Karenanya pemerintah daerah perlu mengkreasi kebijakan untuk memberikan jaminan kondisi yang mantap bagi masuknya investor. tersedia. (4) lingkungan usaha. Investor akan tertarik untuk investasi apabila faktor-faktor yang dianggap penting telah disediakan oleh kabupaten/kota dengan baik. Skala dan bobot penilaian keunggulan wilayah pengembangan komoditas unggulan adalah berdasar parameter kesesuaian lahan (sesuai. KK atau nisbah X min. penerapan teknologi (sesuai rekomendasi. Selanjutnya. bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. tidak respons). untuk memulai usaha di Malaysia hanya melalui 9 prosedur dengan waktu yang dibutuhkan hanya 30 hari dan biaya yang diperlukan hanya sekitar 25 persen dari per capita income (sekitar US$ 945). akses dengan ibukota propinsi). Analisis derajat keunggulan wilayah. Indonesia relatif tertinggal dalam menyusun insentif investasi. Implikasi signifikan dari pengembangan manufaktur yang belum berbasis pada kemampuan penguasaan teknologi dan masih relatif rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja. cukup respons. Kurang bergairahnya iklim investasi juga disebabkan oleb keterbatasan dari daya saing produksi (supply side). sesuai bersyarat. keterkaitan dengan daerah lain (sangat terkait. Dibandingkan dengan negara-negara lain. Kesemuanya ini mengakibatkan ketidakjelasan kebijakan investasi nasional yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait X max. Meskipun dengan tingkat pajak progresif yang diperkirakan relatif sama dengan negara-negara lain. 4. kurang strategis. = Pengamatan tertinggi dari nilai r. kurang tersedia).

Dengan adanya beberapa jenis bibit unggul. permintaan domestik untuk pakan ternak cukup besar. wadah tempat petani bekerja sama adalah sangat perlu diberdayakan dan diperkuat. E.Pengalaman masyarakat tani yang sudah ada mengusahakannya Berdasarkan kriteria ini telah ditetapkan 6 komoditi unggulan yang akan dikembangkan secara intensif di Sumatera Utara: 1. Kelemahan SDM petani adalah merupakan penghambat utama dalam pelaksanaan program pengembangan KADTBB. adanya varitas ekspor yang sangat sesuai (Varitas IPB dll. antara lain: . 4 Oktober 2006 layak dan mempunyai prospek baik dalam jangka panjang walau detail planning belum sepenuhnya rampung. modal ventura dan modal yang disalurkan melalui mitra. Penguatan Modal Salah satu hal tersulit dalam pengembangan petani adalah penguatan permodalan. iklim. konsultasi atau studi banding bagi pengurus-pengurus organisasi tersebut. Karena tingkat rentabilitas dari ke 6 komoditi unggulan di atas yang cukup tinggi. juice. asosiasi petani sejenis. kerjasama atau asosiasi petani sejenis perlu dikembangkan. eksportir. Jeruk siam madu (jeruk berastagi). Untuk ini upaya peningkatan permodalan petani harus sungguh-sungguh diupayakan misalnya pemberian modal bergulir dari pemerintah.Prospek pasar yang cukup baik di pasar domestik dan pasar ekspor . Nenas: pasar yang sangat besar.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kriteria pemilihan komoditi ini adalah. produsen dan pemasok sarana produksi). kopi sidikalang sudah mendunia yang didukung oleh lahan di atas 1000 m dpl yang cukup luas dan adanya investor/penguasaha yang berminat bermitra dengan petani. Pemberdayaan dan Perkuatan Kelembagaan Petani Selain peningkatan SDM petani secara individu. lahan yang cukup luas dan budidaya yang cukup mudah. diperkirakan petani dan mitra pengusaha (pengolah dan eksportir) sangat berminat mengusahakannya. mengolah. memasarkan dan menjamin penyaluran kredit. B. Juga untuk memperkuat posisi tawar petani dan mengefisienkan kegiatan operasi usaha tani. Wadah organisasi petani antara lain. adalah kelompok tani sehamparan.Kelimpahan sumber daya alam . koperasi petani. pasar yang cukup besar. jenis pedaging dan perah. sarana produksi dan pabrik pengolahan. 5. Jepang). varitas yang cukup tinggi produktivitasnya. pedagang. Peningkatan Penyuluhan dan Konsultasi Bisnis serta Koperasi Petani. Ternak sapi dan kerbau. pasar domestik yang besar dan adanya potensi pasar ekspor. C. Hal ini juga memerlukan penyuluhan dan bimbingan sekaligus yang dapat bertindak sebagai konsultan bisnis. perhitungan biaya. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas perlu dilakukan penyuluhan. D. lahan yang cukup luas dan sudah adanya pabrik pengolahan (konsentrat. 6.). Untuk itu peningkatan kemampuan petani sebagai entrepreneur dan manajer usaha tani adalah mendesak dilakukan. dan memberikan hak bagi petani untuk ikut memutuskan perencanaan desa dalam penggunaan sumber-sumber yang dimiliki atau diperoleh dari pemerintah.l. No. Samosir. topografi . pelatihan. teknologi antara lain pasar domestik yang sangat besar. Jagung: adanya bermacam-macam bibit unggul. dan teknologi pengolahan . 4. modal perbankan. 3. dan pengalengan). pengalaman petani yang sudah cukup banyak. Yang paling penting disediakan/ditingkatkan adalah modal usaha. Humbang Has. memperkuat posisi tawar dalam pemasaran dan pembelian input. potensi ekspor yang juga besar. Tobasa. lahan untuk pakan hijauan yang cukup luas. Hal ini meliputi bidang teknik. 2. bibit. dan Taput). lahan yang cukup luas. kemungkinan pengolahan untuk berbagai macam produk turunan.Sudah ada teknologi yang cukup handal dimiliki (teknologi spesifik lokasi) terutama adanya bibit unggul. teknologi budidaya. dan permodalan. baik domestik dan ekspor (a. musyawarah desa dan badan perwakilan petani dalam pemerintahan desa dan kecamatan Pemberdayaan dan perkuatan lembaga-lembaga ini akan mempercepat petani dalam proses belajar (alih teknologi). Peluang pasar. pengalaman petani sudah cukup banyak dalam budidaya. Dalam tahap pertama mungkin perlu diberi bantuan 66 . Kopi arabica: kopi lintong. manfaat dan nilai kotoran untuk menghasilkan pupuk kompos dan pengalaman petani yang sudah agak memadai. ketersediaan teknologi dan SDA banyak terbuang atau hanya sedikit dimanfaatkan apabila SDM petani tidak mempunyai kemampuan entrepreneur. pemasaran.Keadaan sumber daya alam yang sangat/cukup sesuai yaitu lahan. manajemen. Juga kemitraan sangat penting dilaksanakan untuk menampung hasil. Peningkatan Kemitraan dan Investor Ujung tombak dari kegiatan agribisnis (termasuk agroindustri) dalam kawasan agropolitan adalah petani dan dunia usaha (pengolah. terutama di kabupatenkabupaten yang belum begitu berkembang agribisnisnya (Pakpak Barat. Ketela rambat: adanya bibit yang cukup unggul termasuk ubi jepang. pakan dari limbah pertanian yang cukup banyak. Namun hal ini harus dibina secara bertahap dan jangka panjang.

para pegawai/staf dinas di kabupaten dan propinsi. DAFTAR PUSTAKA Budiharsono. seperti bantuan bibit. 27 Juli 2006. Oleh karena itu. F. Pembangunan Infrastruktur Prasarana pertanian dan perekonomian sudah terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan pelaksanaan program pada kawasan agropolitan. KESIMPULAN DAN SARAN Proses pembangunan yang selama ini dilakukan. sekarang tinggal mengisinya dengan data-data dan informasi dan memberi tahu masyarakat adanya website. beberapa sarana penting dalam pertanian terbukti dapat mempercepat perkembangan agropolitan antara lain pembangunan cold storage. banjir. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Website sudah dibuat. Menyempurnakan Tata Ruang Propinsi Tata ruang propinsi yang belum sesuai dengan tata ruang kabupaten perlu segera dirubah. terutama waktu pengajuan usul RAPBD propinsi dan RAPBN. para petani dan dunia usaha (KADIN. Agar masalah agunan dapat diatasi. Kemudian dapat diberi kredit lunak atau bunga rendah atau kredit yang disupervisi (kredit modal ventura). pasar melancarkan arus perdagangan dan memperbaiki struktur pasar sedang telekomunikasi memperlancar arus informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Sementara. H. pembangunan dan pengembangan agropolitan yang didukung agroindustri mutlak dilaksanakan. dan mekanisme transaksi antar sektor. daerah perkotaan mengalami over-investment dan overpopulation yang tercermin dari makin banyaknya persoalan internal perkotaan seperti kemacetan lalulintas. Meningkatkan Sosialisasi Program Agropolitan Program agropolitan masih perlu disosialisasikan pada berbagai stakes holder agar mendapat dukungan mereka. pergudangan. J. anggota DPR-RI. yang biasanya dibentuk oleh koperasi petani dan pembentukan dana agunan dibantu pemerintah. Pembangunan agropolitan akan memberi solusi ideal sekaligus menjamin ketahanan pangan khususnya di Sumatera Utara. pasar dan calon-calon mitra dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan dan hal ikhwal kawasan agropolitan DTBB Sumut. S. mekanisme perbankan (fund raising lebih besar dari fund user). misalnya dengan membentuk koperasi simpan pinjam atau Credit Union (CU). 2006. dalam konteks spasial. dan perusahaan-perusahaan). irigasi. kriminalitas. Tahap selanjutnya dibina kegiatan menabung petani dan menyalurkan tabungan kembali kepada anggota. Usul perubahan selengkapnya harus segera disampaikan pada badan yang menangani perubahan tata ruang (Bappeda dan instansi lain) untuk di proses dan diajukan ke DPRD untuk disyahkan. Jalan dapat memperlancar arus barang dan menurunkan biaya angkutan barang. maka perlu juga dikembangkan lembaga penjamin kredit. Prasarana yang sangat bermanfaat adalah jalan. para camat dan kepala desa. Para stakes holder utama adalah anggota DPRD kabupaten dan propinsi. Universitas Methodist Indonesia Medan. kebisingan). ASOSIASI PENGUSAHA. packing house atau Sub Terminal Agribisnis (STA) yang menyediakan berbagai fasilitas. Pembuatan Website dan Jaringan Informasi Agar semua stakesholder. pasar dan telekomunikasi. Sosialisasi kepada dunia usaha juga mendesak dilakukan untuk menarik dunia usaha melakukan investasi dan melakukan kemitraan dengan petani. Oleh sebab itu pada kawasankawasan sentra produksi yang sedang atau sudah berkembang harus segera dilengkapi dengan parasarana dan sarana-sarana pertanian penting. telah menimbulkan permasalahan ketimpangan pendapatan antara wilayah desa (rural) dengan kota (urban). pengambilan keputusan bersama. petani dapat menerima kredit komersial dari perbankan dengan bunga menurut pasar. Dukungan diperlukan dari DPRD adalah perubahan alokasi anggaran yang lebih baik dan pembuatan payung hukum program agropolitan. G. I. penyaluran informasi kepada semua kabupaten dan dinas-dinas propinsi perlu melakukan pertemuan teratur setiap 2 bulan dan pada saat-saat tertentu. Selain prasarana pertanian. Akhirnya apabila telah mampu. Peningkatan Frekuensi Pertemuan Forum Pemkab Forum Pemkab yang telah dibentuk sebagai wadah diskusi. sehingga produktivitas pertanian-pedesaan sulit dikembangkan. supaya diadakan pertemuan yang lebih sering agar usul dapat dibahas secara mendalam dan keputusan bersama dapat dibuat lebih tepat. Hal ini disebabkan karena terjadinya penghisapan modal dari pertanian-pedesaan ke perkotaan (capital-drain) melalui mekanisme urbanisasi. Selain itu juga disebabkan karena terjadinya pelarian sumber daya manusia terdidik (brain-drain) dari pertanianpedesaan ke perkotaan melalui mekanisme urbanisasi. Evaluasi pengembangankawasan agropolitan. Akibatnya sektor pertanian-pedesaan menjadi underinvestment dan under-brain. publikasi melalui media massa dan pembuatan brosur dan buletin. Salah satu di antaranya adalah membuat website. persoalan lingkungan (polusi. 67 . dan Suhaedi.Pembangunan Agropolitan dan Agroindustri di Sumatera Utara Bilter Sirait hibah (gratis) kepada petani. Juga dapat diberikan pada petani subsidi (kredit tak berbunga) seperti modal bergulir dari Pemda. maka jaringan informasi perlu dikembangkan.

. Nuswamarhaeni. Universitas Methodist Indonesia Medan. 2006. 27 Juli 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. T. Pohan. D.... Durian sebagai komoditas unggulan kabupaten Pakpak Bharat. Universitas Methodist Indonesia Medan. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. S. Simanjuntak. 2005.. S.. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. E. Crestpent Press Kampus IPB Baranangsiang P4W-LPPM IPB. 27 Juli 2006. 1994. Humus chemistry. Vietnam. Konsep pembangunan desa-kota berimbang. 27 Juli 2006. Masalah dan kendala perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan KADTBB Sumatera Utara. B. Sumber daya komoditi unggulan jeruk pada tingkat lokalitas di kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan SumateraUtara. 2006. B. Agropolitik pembangunan Sumut: Agropolitan dan agroindustri. dan I. Sianturi. Saragih. 27 Juli 2006. Bberapa catatan tentang pengembangan agropolitan. Sitepu. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. R. B. 2006. 2006. 5-6 April 2006. Tim Teknis Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. F. Konsep pengembangan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan dan agromarinepolitan pesisisr pantai dan pulaupulau kecil di Sumatera Utara. Universitas Methodist Indonesia Medan. Stevenson. Kawasan agropolitan. No.. Pasaribu. R. Sirait. P. John Wiley & Sons. 27 Juli 2006. Laporan Akhir. Setia Hadi. 68 . Penebar Swadaya. 2006. 2006.. 2006. Mengenal buah unggul indonesia. Universitas Methodist Indonesia Medan. J. 2006. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. E. S. 1990. Sembiring. Poverty Profile & The Alleviation Programs in Indonesia. Universitas Methodist Indonesia Medan. Prihatini. BPTP Sumatera Utara. B. A. Pasaribu. 4 Oktober 2006 Depari. Disampaikan pada seminar nasional pengembangan wilayah dan agribisnis komoditi ungulan dengan pendekatan agropolitan. Inc. 27 Juli 2006. E. S. 2006. Universitas Methodist Indonesia Medan. Persepsi dan saran mempercepat pengembangan kawasan agropolitan dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara. dan B.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Nainggolan. Seminar International Fund for Agricultural Development (IFAD) Hanoy.

The first parameter is the oscillatory Reynolds number.. Consequently mixing capability is enhanced in both directions (Brunold et al. which describes the intensity of oscillation applied to the column. Its top is open to the atmosphere. The results showed that the mixing time decreased with oscillation frequency and amplitude. and each set consisting of seven baffles. University of North Sumatera Abstract: The investigation of mixing time and flow pattern to characterize oscillatory flow mixing was conducted in a vertical baffled column. for batch processes. however. and four gaps of 0. Therefore. The oscillation frequency was measured using a digital tachometer. The baffles were inserted into the column. the objectives of current study are to investigate the mixing time in batch oscillatory flow mixing in a baffled column and to propose a correlation for mixing time. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept. the characteristics of mixing in batch oscillatory flow mixing in the column by mixing time have not been investigated well. However. (1998). which represents a ratio of column diameter to stroke length. The centre –to. Fluid Oscillation. Preliminary study of mixing time has been reported by Ni et al. The basic mechanism of mixing in the column is to induce oscillatory motion of the fluid. Tracer concentration measurements were used to determine mixing time. which is flanged to the bottom end of the column. The diameter of the baffle is 94 mm and each baffle has a central hole with a 50 mm diameter. The results of simulation are displayed as flow lines plots which confirm the finding of the experimental results. Dickens et al.THE INVESTIGATION OF MIXING TIME AND FLOW PATERN IN AN OSCILLATORY-BAFFLED COLUMN Department of Chemical Engineering. The fluid mechanics of oscillatory flow in a baffled column is controlled by the geometrical configuration of the baffles and two dimensionless parameters. Therefore. Reo. 1989). and gap size between baffles and column. ρ ω xo D Reo = (1) μ The second parameter is the Strouhal number. St.1989) and axial dispersion coefficient (Mackley & Ni 1993). 1989. A number of baffles setup made of polycarbonate were used. Variables studied were oscillation amplitude and frequency. 4. Baffles with a spacing of 141 mm in between bafles supported by two stainless steel rods with a 6 mm diameter were installed in the column. and a stainless steel bellows. the mixing time increased with gap size between baffles and column. As a result. characterizing the mixing performance in the so-designed column is important before applying in the industries. there is no correlation has been developed until now. Gap Size INTRODUCTION Oscillatory flow in baffled columns has been reported in numerous publications as a promising method to enhance mixing in columns. Keywords: Equilibrium Concentration. D St = (2) 4 π xo Characteristics of mixing in continuous oscillatory flow mixing in a baffled column have received much attention in recent years from residence time distribution (Brunold et al. and 6 mm respectively were investigated. Numerical simulation of oscillatory flow in the column has also been performed to study flow patterns in the device. 1989. 94 mm in internal diameter and 1200 mm in height. EXPERIMENTALS AND METHODS A schematic diagram of the experimental apparatus is shown in figure 1. However. 2. The tracer used was a KCl solution which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both the top and the bottom sampling ports. The experimental system consists of a vertically mounted Perspex column. the resulting radial velocity component is comparable to the axial velocity component in the space between two baffles. efficient mixing in the column depends on many factors such as geometrical configuration and operating conditions.peak oscillation amplitudes of 1-4 mm can be obtained by adjusting of the rod linking the bellows and the drive unit. Dickens et al. The oscillating fluid motion interacts with each baffle to form vortices. which provides an oscillation frequency of from 1 to 3 Hz to the system. heat and mass transfer are significantly improved (Mackley 1991). The tracer used was a KCl solution of 4 M which was injected at the bottom of the column and its concentration changes were monitored by discrete measurement from both Taslim 69 . Mixing time was determined using tracer concentration measurements. measuring effective eddy propagation. Flow Pattern. However. The amplitude oscillation was measured by noting the displacement of the liquid level at the surface. A motor with a speed controller drives the bellows.

3 0.0 mixing time bottom concentration top concentration equilibrium concentration 0 80 160 240 320 400 Supporting rods Baffle spacing Time (s) Figure 2.2 0. It can be seen that the change of tracer concentrations in pushfit is faster than loose-fit. Figure 2 shows that both concentration curves quickly converged to an equilibrium concentration.9 0. the equilibrium concentration. Loose-fit. D≈Db (b). and xo=2 cm Db Gap size D (a). No. i.2 0. The time dependent flow simulation was based on Navier-Stokes model using Femlab (Taslim & Takriff 2003).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Similar profiles also achieved in figure 3. x 100 (M) 1. x 100 (M) the top and the bottom sampling ports. but longer time is needed to achieve an equilibrium concentration. can be calculated from a mass balance as follows: Vinitial Cinitial + Vinjection Cinjection = Vfinal C∞ (3) RESULTS AND DISCUSSION Mixing time experiments with push-fit baffles was first carried out to establish a basis for comparison of experimental runs with loose-fit baffles at the same operational conditions. The vortex formed at the rear of the baffles is entrained by the flowing of the liquid through the gap. 1. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Push-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm 70 . As the volume of the tracer is known.5 mixing time Tracer conc. Push-fit.6 0. As a result.5 1. the time required for the overall concentration of the fluid to reach an arbitrary percentage of its final equilibrium value (Harnby 1992).e. Figures 2 and 3 show concentration profile during the experiments under oscillatory condition. 4 Oktober 2006 Tracer conc. which mean that the overall mixing time appear to be better for the push-fit than the loose-fit condition. shorter time was required to achieve equilibrium concentration in the presence of push-fit baffles. C∞.0 0 100 200 bottom concentration top concentration equilibrium concentration 300 400 500 600 Time (s) Figure 3. When liquid oscillation and push-fit baffles were present in the column. The presence of the gap between baffles and column causes the change of mixing mechanism and it reduces the intensity of vortex formation. Tracer Concentration Against Time for Push-Fit Baffles at f=1 Hz. The mixing time evaluated was based on the equilibrium concentration concept.9 0. Schematic Diagram of The Oscillatory Baffled Column In this work. Tracer Concentration Against Time for Loose-Fit Baffles at f=1 Hz and xo=2 cm downstroke upstroke Figure 4.3 0.6 0. Columns Do 1. D>Db Figure 1. the mixing time was measured as the time required for the response curve to reach 99% of the final value and remain within the limit. this limiting its growth as shown in figure 5. vigorous vortices occur in the space between two baffles and consequently uniform mixing could be achieved. Figures 4 and 5 are the oscillatory flow patterns in the column obtained from numerical simulation.

At higher Reo. this correlation is the only one that has been developed for mixing time in oscillatory flow in a baffled column. Similar results were also obtained by Ni et al. dimensionless mixing time (tm*) was correlated as a function of Reo. mixing time increases with St (or decreases with oscillation amplitude). (1998) for various orifice (baffle inner) diameters. The mixing time increases with gap size at constant oscillation frequency and amplitude. and f = 1 Hz As can be seen in figure 7.4 0. the gapsize limits the mixing efficiency.6 0. Oscillation velocity expressed as Reo has significant effect on mixing time. This figure displays mixing time versus St at fixed oscillation frequency and various gap size. the mixing time decreases with oscillation frequency and amplitud. However. CONCLUSION The experimental results describes in this paper show that the oscillation frequency and amplitud. which leads to enhancement in mixing. Under this condition. Mixing Time Against St at Various Gap Size. Figure 6 shows mixing time againts Reo at fixed oscillation amplitude and various gap sizes. Oscillation amplitude expressed as St has strong effect on mixing time as shown in figure 7. the intraction between liquid oscillation and baffles more significant. as a result lower mixing times were obtained.1 0.5 Reo0. However. Lower mixing times reflex better mixing in the column.0 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm 0. 450 375 gap size = 0 mm gap size = 2 mm gap size = 4 mm gap size = 6 mm Figure 7.5 0. These runs were carried out for a range of oscillation amplitude and fixed oscillation frequency at various gap size. It can be seen that the mixing time decreses with Reo in the range studied.1 (5) Untill now. The experiments with liquid oscillation were conducted for a range of oscillation frequencies and fixed oscillation amplitude at various gap size.8 Mixing time (s) 300 225 150 75 0 0 5000 10000 15000 20000 25000 Reo 30000 Figure 6. At a fixed St.7 Downstroke upstroke Figure 5. mixing time also increases with gap size in the range used. This phenomenon causes the tracer quickly mixes with bulk flow in the column to reach an equilibrium concentration.46 St0.The Investigation of Mixing Time and Flow Patern… Taslim 450 Mixing time (s) 375 300 225 150 75 0 0. the flow in each space between two baffles becomes chaotic. Oscillatory Flow Patterns in The Column With Loose-Fit Baffes at f = 1 Hz and xo = 10 mm The effect of oscillation frequency on mixing time was also investigated. In the range tested.3 0.2 0.91 D*5. At higher oscillation amplitudes. CORRELATION In this study. and xo= 2 cm Several experimental runs were performed to determine the effect of oscillation amplitude on the mixing time. a column diameter of 50 mm was used in their experiments. and gap size between baffles and column appear to be the controlling parameters which dictate the mixing efficiency in the oscillatory baffled column. St and dimensionless diameter (D*) and could be expressed in a general form as follows: tm* = a Reob Stc D*c (4) The present data were fitted with equation (4) to give: tm* = 4. 71 . St 0. resulting vigorous vortices in the space between two baffles. the liquid motions are displaced further at each stroke. Mixing Time Against Reo at Various Gap Size. the tracer will rapidly mix with the bulk liquid in the column to reach an equlibrium concentration giving shorter mixing time.

s) ω Angular frquency (2πf). Brogan. M. Taslim and M.C. M. Mackey. Harnby. m Do Baffle hole diameter. and Thomson. S. Struthers. C.C.. Directorate General of Higher Education.. J. m Db Baffle outer diameter.W. on Numerical Analysis in Engineering.W. Trans IChemE... Shahrir Abdullah from Department of Mechanical and Material Engineering. 2003. 2nd Edition.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.. Ni. 48: 3293-3305.D. rad/s ACKNOWLEDGEMENT The author would like to thank the DP2M. Indonesia. and Nienow. and. A. 44 (7): 1471-1479.F. Dickens... J. M. William. Numerical simulation of oscillatory flow in a baffled channel. H. No. Mixing in the Process Industry. Oxford: Butterwort-Heinemann Ltd. Universiti Kebangsaan Malaysia. M. X. Prof. 2003. X. A. REFERENCES Brunold. Edward.f) V Tracer volume. A. Chem. M D Colum diameter.R. Experimental Observations on Flow Patterns and Energy Looses for Oscillatory Flow in Ducts Containing Sharp Edges. m ρ Density of liquid.R. Eng.. 1989. Experimental Residence Time Distribution Measurements for Un-Steady Flow in Baffled Tubes. Chem. Sci.8-27 – 8-33. Eng. for the use of Femlab software. Mackley. Mackey. m D* Dimensionless diameter (D/Db) f Frequency. Experimental Fluid Dispersion Measurements in Periodic Baffled Tube Arrays. Eng. Sci. Hunn. s tm* Dimensionles mixing time (tm.. Bennett . The 3rd Int. 72 .R.B. March 13-15. kg/(m. Dr.. 1/s Reo Oscillatory Reynolds number St Strouhal number tm Mixing time. Process Innovation Using Oscillatory Flow Within Baffled Tubes. kg/m3 μ viscosity of liquid. and Wilson. Conf.S. Batam. and Ni. G. M. N.. 4 Oktober 2006 NOMENCLATURES C Tracer concentration. pp. 1989. 44 (5): 1227-1244. Mackley. Sci.R. Chem.F. Ministry of National Education of Indonesia for providing financial support. 76(A): 635-642. Takriff. 1998 A Systematic Study of the Effect of Geometrical Parameters on Mixing Time in Oscillatory Baffled Columns.R. The author also would like to thank Assoc. m3 xo Oscillation amplitude..W. 1992.R. 69(A): 197-199. Trans IChemE. 1991. 1993.

Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). manajemen strategis mempunyai fokus pada mengintegrasikan manajemen pemasaran. This study intends to determine a proper strategy to be implement by the company by analyzing the internal and external factors influencing on operation. yaitu ancaman-ancaman yang sedang dihadapi oleh operasi tersebut. Abstract: In business sphere. persaingan antar perusahaan. produksi/operasi. diharapkan dapat berguna untuk: a. maka PT Growth Pamindo harus meningkatkan kemampuan bersaingnya antara lain dengan menerapkan strategi operasi dengan memperhatikan faktor-faktor internal operasi yakni memperkecil kelemahan dan bersamaan dengan itu. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Where as operation strategy is a pattern of making an operational decision which is consistent and it is a competitive superiority for the company. strategy is a pattern of main action determined to realize the vision of organization through the mission. Dengan diproklamirkannya era perdagangan bebas. Strategi operasi adalah suatu visi fungsi operasi yang menetapkan keseluruhan arah atau daya dorong untuk pengambilan keputusan. II. Analytical Hierarchy Process (AHP). Selama ini. and Analytical Hierarchy Process (AHP) I. Keywords: Internal and External Analysis. maka diperlukan suatu strategi di tingkat fungsional. 73 . Menganalisis kekuatan-kekuatan dan kelemahankelemahan internal operasi serta posisi relatif operasi dalam industri yang bersangkutan. III. Untuk dapat memenangkan persaingan tersebut. dan sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi. implementasi. and then making the analytical matrixes and formulating the operation strategy to be implemented by the company.PENDEKATAN QSPM (QUANTITATIVE STRATEGIC PLANNING MATRIX) DALAM RANGKA MERUMUSKAN STRATEGI OPERASI PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PT GROWTH PAMINDO Ukurta Tarigan Staf Pengajar Departemen Teknik Industri. strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi. Kata kunci: Analisis Internal dan Eksternal Operasi. meningkatkan kekuatan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi-strategi yang akan dijalankan dalam rangka pengembangan perusahaan dengan menganalisis faktorfaktor eksternal dan internal yang mempengaruhi operasi. Dewasa ini. TUJUAN PENELITIAN Perumusan strategi operasi ini.1 Definisi Manajemen Strategi dan Manajemen Operasi Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam formulasi. Faktorfaktor eksternal juga merupakan bagian yang harus diperhitungkan agar strategi operasi yang dirumuskan nantinya dapat mengantarkan PT Growth Pamindo mampu memenangkan persaingan. keuangan/akuntansi. yaitu strategi operasi. terutama dengan telah disepakatinya aturan perdagangan bebas yang mulai berlaku tahun 2003 (AFTA). antar industri. serta peluangpeluang yang dapat dimanfaatkan. Universitas Sumatera Utara Abstrak: Dalam dunia bisnis. PT Growth Pamindo dalam operasinya belum menggunakan strategi operasi apapun. Membantu perusahaan dalam mengambil langkah-langkah operasinya dengan menggunakan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh operasi. c. PENDAHULUAN PT Growth Pamindo merupakan perusahaan yang memproduksi pipa ductile. b. Sebagai implikasi dari definisi tersebut. dan mengevaluasi keputusan antarfungsional dalam mencapai tujuan organisasi. Analytical Hierarchy Process (AHP) for the experts of company. Sedangkan strategi operasi adalah suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan. LANDASAN TEORI III. Perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) dilakukan melalui penerapan metode pengambilan keputusan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk para ahli dalam perusahaan. The formulation of operation strategy using a Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) was done through application of the decision making method. Strategi operasi seharusnya menghasilkan suatu pola pengambilan keputusan operasi yang konsisten dan suatu keunggulan bersaing bagi perusahaan. kemudian membuat matriks-matriks analisis dan merumuskan strategi operasi yang akan dijalankan perusahaan. penelitian dan pengembangan. dan antar bisnis dalam bidang tertentu semakin ketat.

Strategi WO. proses. di mana masing-masing sel memiliki strategi masing-masing.2. III. Data tingkat kepentingan untuk masing-masing faktor intenal dan eksternal dengan menggunakan skala likert. 4 Oktober 2006 Schroeder. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis internal. kapasitas.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. III. dan Strategi WT. Data mengenai lingkungan internal dan ekternal operasi 2. demografi. yang memposisikan berbagai dimensi organisasi dalam sembilan sel. dan IE Matrix .Tahap input: pembuatan EFE Matrix. Pembuatan External Evaluation Matrix (EFE) Matrix. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan utama.2 Tahap Input Pada tahap input ini. Pembuatan Internal-External (IE) Matrix. PENGUMPULAN DATA Adapun data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah: 1. III. III. merupakan salah satu alat yang penting untuk membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: Strategi SO. Analisis internal ini meliputi. b.Tahap keputusan: Pembuatan QSPM. dan lingkungan alam. 3. Anderson. TAHAP I: THE INPUT STAGE External Factor Internal Factor Evaluation (EFE) Matrix Evaluation (IFE) Matrix TAHAP II: THE MATCHING STAGE Strengths Weaknesses Internal-External (IE) Opportunities Threaths Matrix (SWOT) Matrix TAHAP III: THE DECISION STAGE Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) Gambar 1. dan hukum.3 Tahap Penyesuaian Informasi yang diperoleh dari ketiga matriks pada tahap input sebelumnya digunakan sebagai informasi input dasar pada tahap penyesuaian. kemudian dihitung bobotnya melalui perhitungan dengan mengikuti langkah-langkah perhitungan AHP. bidang teknologi dan bidang kompetitif. Analisis lingkungan eksternal meliputi: bidang ekonomi. No. pemerintahan. Tujuan dari analisis internal (internal audit) adalah membuat daftar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kunci internal perusahaan. Langkah-langkah dalam tahap penyesuaian ini adalah: a. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi yang terbaik. dan kebijakan.2. b. V. Diagram Formulasi Strategi 74 . dan Cleveland (1986) telah mendefinisikan bahwa strategi operasi terdiri dari misi.2. IV. Strategi ST. yaitu ringkasan dari audit manajemen strategis eksternal. Tujuan dari analisis eksternal (external audit) adalah membuat daftar ancaman-ancaman dan peluang-peluang yang akan dihadapi perusahaan. dan identifikasi faktor kunci persaingan (key success factor) . Pembuatan Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix.2 Proses Formulasi Strategi Proses formulasi strategi terdiri dari: . sediaan.2.4 Tahap Keputusan Pada tahap keputusan ini digunakan teknik analisis dengan pendekatan kuantitatif yakni Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).1 Analisis Awal Analisis awal merupakan analisis data internal dan data eksternal perusahaan. PENGOLAHAN DATA Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner AHP. Sehingga diperoleh bobot untuk faktor internal dan eksternal operasi sebagaimana tercantum pada tabel 1 dan 2. III. Diagram formulasi strategi dapat dilihat pada gambar 1.Tahap penyesuaian: pembuatan SWOT Matrix. dan IFE Matrix . Keempat komponen ini membantu untuk menentukan apakah tujuan yang harus dicapai dapat membantu mengarahkan pengambilan keputusan pada semua tahap operasi. mutu dan tenaga kerja. Data kuesioner pembobotan untuk masingmasing faktor internal dan eksternal dengan menggunakan AHP kepada para ahli (experts) di perusahaan. keunggulan khusus. bidang politik.Analisis awal: analisis data eksternal-internal. bidang sosial budaya. sasaran. Pembuatan Strengths-Weaknesses-OpportunitiesThreats (SWOT) Matrix. Alat formulasi strategi ini merangkum dan mengevaluasi peluang dan ancaman utama. dilakukan beberapa langkah yaitu: a.

0438 0.1751) Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan (0.1637) Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material (0.1383 0. ditujukan untuk memunculkan beberapa strategi yang mungkin dilakukan berdasarkan faktor internal dan eksternal operasi.0596 0.0818) Aplikasi teknologi informasi dalam pengambilan keputusan operasional (0. yaitu sebagaimana terlihat pada tabel 5.1795) Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih (0.5) Kelemahan (0.2256) Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain (0.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan Tabel 1.5) V.0554 0.0818 0.1046 0. Gambar Matriks IE untuk operasi PT Growth Pamindo dapat dilihat pada gambar 2.0643 0.1038) Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain (0. sosial budaya.0875) Tidak ada penumpukan barang dalam proses (0. hukum.2717) Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil (0.0872 0. politik.0875 Peluang (0. strategi ST.0409 0.0471 Kekuatan (0. V.5) Ancaman (0.1507) Pengiriman barang berjalan lancar (0.1 Internal-External Matrix Matriks IE dibagi menjadi 9 sel. pemerintahan.2.0898 0. didapat 10 alternatif strategi.1749) Bobot 0.1259 0.0566 0. strategi WO.1192) Diberlakukannya era perdagangan bebas.2092) Daya beli masyarakat rendah (0. teknologi.1.1229 0.0843) Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi (0.1. V. Penentuan Bobot Faktor Internal Operasi Faktor Internal Sub faktor Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi (0. Matriks EFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 4. Penentuan Bobot Faktor Eksternal Operasi Faktor Eksternal Sub faktor Lokasi perusahaan yang strategis (0.2. di mana masing-masing sel memberi strategi yang berbeda.1421 0. V. Dari Matriks SWOT.1694) Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan (0.1108) Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah Tingginya harga produk Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Bobot 0.0422 0.2 Strengths-Weaknesses-Opportunities-hreats (SWOT) Matrix Dalam matriks SWOT ini akan dihasilkan empat tipe strategi yaitu strategi SO. Tahap Input V. dan strategi WT.1128 0.0875 0.2765) Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal (0.1. 75 . Strategi yang muncul pada posisi ini adalah strategi mempertahankan dan memelihara dalam hal ini berupa pengembangan produk.0519 0.0620 0. V. Internal-External (IE) Matrix Dari gambar 2 diperoleh posisi operasi PT Growth Pamindo adalah pada sel V. Matriks IFE PT Growth Pamindo dapat dilihat pada tabel 3.1359 0. yaitu AFTA dan APEC (0.0847 0.2 External Factor Evaluation (EFE) Matrix Matriks EFE berisikan ringkasan dan evaluasi informasi ekonomi.2 Tahap Penyesuaian Dalam tahap penyesuaian ini. dan persaingan. Gambar 2.1131) Jaminan mutu ISO 9001:2000 (0.1287) Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi (0.5) Tabel 2.1 Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Matriks IFE ini meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam bidang operasi perusahaan.2092) Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional (0.0754 0.

Produk pendatang baru dari luar tidak ada hambatan 5. Mayoritas karyawan perusahaan masih berpendidikan menengah 4.0409 0.2458 0.1259 0. Nilai yang Dibobot 0.1359 0.0875 1.1557 0. Tabel 3.1750 2. Tingginya harga produk 5.0942 2.1752 0. Penumpukan barang jadi dapat menimbulkan biaya dan menurunnya kualitas 3.0620 0.2454 0. Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi informasi 4. Fasilitas produksi telah diatur sesuai dengan urutan proses produksi 2. Menggunakan mesin-mesin produksi yang canggih 5.3 Tahap Pemilihan Keputusan Setelah mendapat 10 alternatif strategi dari SWOT.0596 0.0643 0. Permintaan belum terpenuhi sepenuhnya 2. Untuk mendapat satu strategi terpilih sebagai dasar perumusan strategi operasi. Kondisi politik dan pemerintahan yang mulai stabil 5. Kemudahan memperoleh produk dari perusahaan lain 7.1750 0. Dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi Jumlah Tabel 4. Lokasi perusahaan yang strategis 2. Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix Faktor Internal Operasi Dari QSPM yang telah dibuat.0620 0.1229 0.340. Tidak ada penumpukan barang dalam proses 4.2216 0.2541 0.2092 0.1788 0. maka alternatif strategi ini akan dipilih dengan QSPM. Alternatif Strategi dari SWOT No.0872 0. Daya beli masyarakat rendah 2. Diberlakukannya era perdagangan bebas. Konsumen yang semakin kritis dari segi harga dan material Jumlah Bobot 0. Mengadakan pelatihan bagi karyawan 7.0438 0.0471 1.7924 Bobot 0.0519 0. Hubungan baik Indonesia dengan negara-negara lain 4. Peraturan pemerintah tentang pajak dan ekspor impor tidak mempengauhi operasional Ancaman 1.2518 0. yaitu AFTA dan APEC 3. Persaingan dengan jenis produk lain dengan harga yang bervariasi 6.1266 0.0875 0.2616 0. External Factor Evaluation (EFE) Matrix Faktor Internal Operasi Peluang 1. 4 Oktober 2006 V.1698 0.0818 0.5532 0.1636 0. Aplikasi teknologi operasi dalam pengambilan keputusan operasional 6.1929 0.2256 0.0554 0.0422 0.1383 0. strategi yang terpilih adalah strategi 1 yaitu mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5.00 Nilai 4 4 3 4 4 3 4 2 2 1 2 2 Kekuatan 1.1421 0.2842 0.0566 0.4717 Tabel 5.0898 0. Kemudahan pengawasan karena lokasi fasilitas tunggal 3.0754 0.1128 0. No.0847 0.2694 0.1046 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Jaminan mutu ISO 9001:2000 Kelemahan 1. Kenaikan harga BBM mempengaruhi operasional perusahaan 3.3016 0.000 Nilai 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 Nilai yang Dibobot 0.2718 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strategi Mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga Melakukan riset pasar untuk mengambil keputusan-keputusan operasi untuk mengisi pasar global Mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan produk yang sudah ada Memanfaatkan CAD/CAM dalam melakukan pengembangan produk Bekerjasama dengan bagian pemasaran untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap perilaku pembeli dan kebutuhan pasar sebagai dasar untuk pengembangan produk Memperbaiki dan mempertahankan kualitas produk lama Menerapkan system persediaan dengan memanfaatkan teknologi informasi Meningkatkan pengetahuan karyawan bagian operasi untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi Melakukan kerjasama dengan pesaing untuk melakukan sinergi untuk memenangkan tender dan merebut pasar Melakukan motivasi terus menerus untuk menciptakan brand image 76 .

Melakukan sediaan tingkat rendah (low inventory level).Tetap mempertahankan penggunaan alur peoses lini. VI.Perusahaan harus melakukan penilaian yang objektif terhadap staf dan pegawai.Dengan menerapkan otomatisasi fleksibel maka cukup dilakukan spesialisasi tingkat rendah. kapasitas. Kebijakan operasi tersebut yang dapat dipertimbangkan untuk jangka 5 tahun kedepan adalah sebagai berikut: A. karena lokasi ini cukup strategis dengan area memadai untuk mendukung operasi karena memberi kemudahan arus masuk bahan baku dan kelancaran arus keluar produk. pengiriman. . 77 .Secara periodik perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan pegawai yang pada umumnya dari pendidikan menengah. . VI.Otomatisasi dan spesialisasi memungkinkan dilakukannya pengawasan sentral. Perlu dilakukan pengendalian sediaan yang terinci dengan tetap memperhatikan sediaan minimum. D. Pernyataan misi operasi diatas. ANALISIS Dalam sub bab analisis ini. dan fleksibilitas.Tidak melakukan investasi baru. mempunyai teknologi yang cukup baik sehingga mampu menghasilkan kualitas produk yang sangat baik. yaitu penetapan misi operasi. karena fasilitas yang ada sekarang masih dapat dioptimalkan.Perlu dilakukan rekrutmen dan mutasi dari staf dan pegawai yang telah ada untuk penempatan yang tepat dalam mendukung efektivitas dan efisiensi operasi. harus ditetapkan misi operasi sedemikian sehingga operasional perusahaan dapat berjalan.Mempertahankan lokasi yang ada.1 Penetapan Misi Operasi Dari strategi terpilih. . Proses . . mengandung komponen-komponen yang menyangkut strategi efisiensi produksi dan pengembangan produk agar dapat memenangkan persaingan. VI.SDM harus dipandang sebagai aset penting perusahaan yang perlu dipelihara motivasi dan dedikasinya tanpa memberi beban ekstra bagi biaya operasional.Untuk menekan biaya penyimpanan. . akan disusun suatu strategi operasi yang didasari oleh strategi terpilih pada tahap pemilihan keputusan dengan QSPM.Mempertahankan fasilitas yang ada.Mencari bahan baku lain sebagai pengganti dari yang digunakan sekarang di samping mengingat harganya yang terus mengalami kenaikan. sehingga proses dapat berjalan sesuai urutan. Dalam penyusunan strategi operasi. Tenaga Kerja . . Mereka benar-benar memelihara keunggulan khusus tersebut dengan senantiasa memperbaharui sistem produksi secara periodik. sediaan. B. penetapan tujuan operasi dan penetapan kebijakan operasi yang dibuat berdasarkan strategi terpilih.Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan otomatisasi fleksibel yang telah dimiliki. dirumuskan sebuah misi operasi sebagai berikut: “PT Growth Pamindo akan memproduksi pipa ductile untuk kebutuhan nasional dan internasional dengan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik yang didukung oleh SDM professional agar perusahan tetap dapat berkembang dan senantiasa mengembangkan produknya agar memuaskan para pengguna serta pihak terkait dengan harga sebanding dengan nilai produk yang ditawarkan”. . juga dengan penggantian tersebut bahan baku baru dengan komposisinya yang sedemikian rupa harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang sama namun secara keseluruhan lebih efisien dalam penggunaannya. dan menggunakan peralatan pemindahan bahan sehingga dapat menekan biaya perpindahan dan meminimalkan kendala akibat kesalahan pekerja. berkembang dan berkesinambungan. hal ini bisa dicapai melalui survei kepuasan pegawai. Untuk hal ini dibutuhkan kerjasama antara unit operasi dengan bagian R&D. Kapasitas . Kebijakan Operasi Kebijakan operasi menjelaskan bagaimana sasaran operasi akan dapat dicapai. dan menerapkan reward dan punishment untuk meningkatkan kedisiplinan karyawan. sehingga biaya persediaan dapat diminimalkan untuk turut menekan biaya produksi.Pendekatan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) … Ukurta Tarigan VI. mutu. Untuk itu. Dengan tidak melakukan investasi baru juga berarti mengurangi biaya produksi dari sisi penyusutan aset. sasaran operasi yang mungkin adalah: harga. Kebijakan operasi PT. Growth Pamindo harus dikembangkan untuk mengefektif dan mengefisienkan setiap kategori keputusan (proses. dilalui 4 langkah. C. .4. VI. .3. perlu dilakukan sentralisasi gudang. .2 Keunggulan Khusus PT Growth Pamindo dalam operasionalnya selama ini. Sasaran Operasi Secara umum. Sediaan . karena masih mampu memenuhi order tepat pada waktunya. penetapan keunggulan khusus. tenaga kerja dan mutu) agar dapat bersaing dalam harga.

Untuk memudahkan dilakukannya penelitian ke depan. Dalam menghadapi persaingan. posisi operasi perusahaan berada pada sel V dari matriks IE. Jakarta.R. University of Pitsburgh terjemahan Liana Setiono. Porter. Edisi Ketujuh. Roger. Harvard Bussiness School.2 Saran Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah: 1.47 yang berarti juga operasi perusahaan memiliki kemampuan rata-rata dalam menghadapi lingkungan eksternalnya. diharapkan pihak perusahaan dapat lebih melengkapi/mencukupi data pendukung yang diperlukan. 78 .Melakukan evaluasi rutin berjangka pendek terhadap seluruh proses mulai dari penerimaan bahan baku hingga ke produk jadi. Saaty. No. Edisi Ketiga. 2002. dibuat suatu strategi operasi yang terdiri dari misi. yang bila perlu dengan menyempurnakan working procedure maupun working instructions dari yang tercantum dalam dokumen ISO. Jakarta.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Terjemahan Agus Maulana. Thomas L. dengan strategi pengembangan produk.Perusahaan harus menetapkan standar minimum kualitas bahan baku dan melakukan seleksi terhadap pemasok yang mampu memenuhi spesifikasi (standar minimum kualitas) tersebut dengan harga yang menguntungkan. Dari strategi terpilih pada tahap QSPM. Fred. VII. KESIMPULAN DAN SARAN VII. 4 Oktober 2006 E.. strategi terpilih adalah mencari sumber bahan baku baru dan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku untuk menekan harga dengan nilai total attractiveness 5. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Kualitas . perusahaan dapat memproduksi dan mengembangkan produk pipa ductile yang mampu memenuhi spesifikasi tertentu yang diharapkan dengan memanfaatkan berbagai keunggulan kompetitif yang ada pada internal perusahaan dengan berfokus kepada penekanan biaya produksi melalui penggunaan bahan-bahan baku baru yang berasal dari sumber bahan baku baru yang memberikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu memenangkan persaingan.79 yang berarti operasi perusahaan memiliki kemampuan ratarata dalam segi internal. Umar. Husein.. . 2. Penerbit Erlangga.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai perumusan strategi operasi dengan menggunakan pendekatan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah: 1. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo Schroeder. 2. 3.. keunggulan khusus. 1998. Penerbit: PT Prenhallindo. sasaran operasi dan kebijakan-kebijakan operasi VII. 1994. Dari matriks QSPM. Penerbit: PT Raja Grafindo Persada. 1993. Sedangkan nilai matriks EFE adalah 2. Michael E. Manajemen Operasi: Pengambilan Keputusan dalam Suatu Fungsi Operasi. 1993.G.340. Nilai untuk matriks IFE adalah 2. Jakarta. Dengan demikian. DAFTAR PUSTAKA David.. Penerbit: PT Erlangga. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing. Manajemen Strategis: Konsep. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.

PENGGUNAAN GAME THEORY DALAM STRATEGI PEMASARAN DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR BEBEK BUATAN JEPANG DI KOTA MEDAN
Mangara M. Tambunan
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstract: Varieties of new motor bike in the market creates a tight competition and makes consumer has his/her own choice to a specific brand. Motor bike it self gives a value to the company or customer in the forn of brand equity. The research calculated four brand equity dimension; such as brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyality. The objective of the research is to know motor bike associations of Honda Karisma and Suzuki Shogun 125 R, which become the surplus to be used in marketing strategy. Data collections is done by judgment sampling using minimum of 50 questionnaires for both motor bike and data collected is done in the formal service workshop. Preliminary questionnaires result from 40 respondents shows there are 4 % associations needed by consumer to the type of motor bike. From the analysis, Honda Karisma is in top of mind-brand awareness position of 57.14% there is 4.08% of consumer does not know Suzuki Shogun 125 R. Honda Karisma has 28 associations and Suzuki Shogun 125 R has 42 associations. In perceived quality, Honda Karisma and Suzuki shogun 125 R have 9 associations need to be improved. Suzuki shogun 125 R has Loyality level of 51.020% and Karisma has 22.449%. Game Theory shows the strategy used by both companies is pure strategy where Honda karisma uses “formal workshop availability strategy” and Suzuki Shogun would use “economical in fuel consumption strategy” Keywords: Game Theory, Brand Equity 1. PENDAHULUAN 1.2 Permasalahan Mengetahui ekuitas merek (kesadaran merek, asosiasi merek, kesan kualitas dan loyalitas merek) sepeda motor bebek buatan Jepang untuk menerapkan strategi yang tepat untuk memenangkan pangsa pasar. 1.3 Batasan Masalah 1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor jenis bebek, buatan Jepang dengan volume silinder 125 cc dan tipe mesin 4 langkah, yang beredar di kota Medan. 2. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 3. Responden yang diteliti adalah pengguna sepeda motor yang masih dalam masa garansi (3 tahun). 4. Pengambilan sampel dilakukan di tempat service tiap jenis merek sepeda motor, yang merupakan bengkel resmi yang paling banyak dikunjungi konsumen. 5. Pengumpulan data dilakukan pada bulan AprilMei 2005. 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Munculnya produk-produk sepeda motor baru yang beraneka ragam dalam pasar mengakibatkan persaingan sehingga konsumen mempunyai penilaian sendiri terhadap merek yang beredar di pasaran. Peningkatan penggunaan sepeda motor ini juga terjadi di kota Medan dengan jumlah sepeda motor yang terdaftar untuk tahun 2003 sebanyak 1.300.995 dari 1.979.340 jiwa penduduk kota Medan. Jumlah sepeda motor terdaftar di Polda Sumatera Utara Seksi Lalu Lintas, tahun 1995-2003 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Jumlah Sepeda Motor Terdaftar Tahun 1995-2003 Sepeda Motor No. Tahun (Unit) 1. 1995 619.346 2. 1996 689.868 3. 1997 769.759 4. 1998 798.828 5. 1999 821.862 6. 2000 873.452 7. 2001 952.361 8. 2002 1.084.051 9. 2003 1.300.995 Persaingan ini juga terjadi untuk sepeda motor bebek, dengan tingkat penjualan mencapai 90% dari total keseluruhan jenis/model sepeda motor.

2.1 Ekuitas Merek Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, keduanya mesti berhubungan dengan nama atau simbol sebuah merek. Jika nama dan

79

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 4 Oktober 2006

simbol merek diubah, beberapa atau semua aset atau liabilitas bisa dipengaruhi dan mengalami kerugian, kendati beberapa di antaranya sudah dialihkan ke nama dan simbol baru. Menurut David. A. Aaker, aset dan liabilitas merek dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu: 1. Kesadaran merek (brand awareness) 2. Asosiasi merek (brand asosiation) 3. Persepsi kualitas merek (brand perceived quality) 4. Loyalitas merek (brand loyalty) 5. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets) Konsep ekuitas merek ini dapat ditampilkan pada gambar 1, yang memperlihatkan kemampuan ekuitas merek dalam menciptakan nilai bagi perusahaan atau pelanggan atas dasar lima kategori aset yang telah disebutkan. 2.2 Teori Permainan (Game Theory) 2.2.1 Permainan Dua-Pemain Jumlah-Nol (TwoPerson Zero-Sum Games) Permainan atau persaingan yang melibatkan hanya dua pemain atau dua pihak disebut permainan dua orang. Karena perolehan dari satu pemain menjadi derita bagi pemain lain, dan karena itu jumlah perolehan kedua pemain adalah nol, maka disebut permainan imbang (zero sum). Tiap pemain mempunyai sejumlah pilihan atau tindakan yang dapat dipergunakan dalam permainan. Tiap pilihan atau tindakan disebut strategi.
Brand awareness Brand loyalty Perceived quality Brand association
Other proprietary brand assets

Stategi optimal untuk pemain I ialah baris yang sesuai dengan harga: Max {Pi} = max [ min {H(i,j)} ] = V i i j i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria maksimin. Untuk pemain II, misalkan Pj derita maksimum dari tiap tindakan bj, maka : Pj = max {H(i,j)}, i = 1,2,...,n i Strategi optimal untuk pemain II adalah kolom yang sesuai dengan harga: Min {Pj} = min [ max {H(i,j)} ] = V j j i i = 1,2, ..., m j = 1,2, ...., n Ini disebut kriteria minimaks. Dan strategi bersih maksimin/minimaks disebut strategi maksimin/minimaks optimal. Bila kedua pemain menggunakan strategi minimaks optimal, maka hasil perolehan rata-rata disebut harga dari permainan. Bila strategi minimaks adalah strategi bersih, maka perolehan rata-rata (diharapkan) adalah harga dari titik pelana. 3. METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut: a. Menentukan latar belakang penelitian b. Menentukan perumusan masalah dan tujuan penelitian c. Menentukan ruang lingkup penelitian d. Perancangan metode pengumpulan data - Studi literatur - Kuisioner pendahuluan - Identifikasi variabel penelitian Variabel demografi Variabel kesadaran merek Variabel asosiasi merek Variabel persepsi kualitas Variabel loyalitas merek - Perancangan kuisioner sebagai alat Pengumpul data - Penyebaran kuisioner - Pengujian kuisioner Uji reliabilitas kuisioner Uji Cochran e. Pengumpulan data f. Pengolahan data - Pengolahan data tahap I. Pengolahan data kuisioner pendahuluan, untuk menghasilkan atribut-atribut pertanyaan pada kuisioner penelitian. - Pengolahan data tahap II a. Variabel demografi b. Variabel kesadaran merek c. Variabel asosiasi merek d. Variabel persepsi kualitas e. Variabel kesetiaan merek

Brand equity

Memberikan nilai kepada pelanggan dengan memperkuat : a. Interpretasi/proses informasi. b. Rasa percaya diri dalam pembelian

c. Pencapaian kepuasan dari
pelanggan

Memberikan nilai kepada perusahaan dengan memperkuat : a. Efisiensi dan efektivitas program pemasaran b. Loyalitas merek c. Harga/laba d. Perluasan merek d. Peningkatan perdagangan e. Keuntungan kompetitif

Gambar 1. Konsep Ekuitas Merek 2.2.2 Kriteria Maksimin-Minimaks Persoalan ini dapat dibentuk dalam suatu model matematika sebagai berikut: Misalkan Pi perolehan minimum dari tiap tindakan Ai oleh pemain I, sehingga: Pi = min {H(i,j)}, j = 1,2,...,n j

80

Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Tambunan

- Pengolahan data tahap III. Menyusun strategi permainan untuk perusahaan dan dengan perusahaan pesaing berdasarkan peta persepsi multi dimensional scaling. Data yang digunakan adalah data persepsi konsumen, dengan membentuk matriks payoff dan diselesaikan dengan program linier. g. Analisis hasil pengolahan data h. Kesimpulan dan saran 4. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Kuisioner penelitian disebar di dua bengkel resmi, yaitu AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) yang terletak di Jln. Sisingamangaraja No. 362 dan bengkel resmi Suzuki yang terletak di Jln. Adam Malik No. 101, dengan perincian yang ada pada Bab IV. Responden pada kuisioner penelitian adalah pengguna Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R, masing-masing merek memiliki 49 kuisioner. Pengolahan data untuk kuisioner penelitian, dibagi atas lima bagian, yaitu: a. Pengolahan untuk Variabel Demografi Tabel 2. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pria Wanita Merek Orang % Orang % Honda 41 83.673 8 16.327 Suzuki 40 81.633 9 18.367 Tabel 3. Profil Responden Berdasarkan Usia Honda Suzuki Tingkat Usia Orang % Orang % Kurang 16 thn 0 0.000 0 0.000 16 - 25 thn 17 34.694 16 32.653 26 - 35 thn 19 38.776 27 55.102 36 - 45 thn 10 20.408 6 12.245 Lebih dari 45 thn 3 6.122 0 0.000 Tabel 4. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Honda Suzuki Tingkat Pendidikan Orang % Orang % SD 0 0.000 0 0.000 SLTP 2 4.082 0 0.000 SLTA/sederajat 22 44.898 22 44.898 Diploma 7 14.286 17 34.694 Sarjana (S1) 18 36.735 10 20.408 Lain-lain 0 0.000 0 0.000

Tabel 5. Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Honda Suzuki Jenis Pekerjaan Orang % Orang % Pelajar/Mahasiswa 10 20.408 4 8.163 Pegawai negri 7 14.286 6 12.245 Pegawai swasta 15 30.612 14 28.571 Wiraswasta 12 24.490 20 40.816 Ibu rumah tangga 3 6.122 3 6.122 Lain-lain 2 4.082 2 4.082 b. Pengolahan untuk Variabel Kesadaran Merek

Tabel 6. Top of Mind-Brand Awareness Merek Responden (Orang) % Honda Karisma 56 57.14 Suzuki Shogun 125 R 40 40.82 Honda Kirana 2 2.04 Total 98 100.00 Tabel 7. Brand Recall of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 34 34.69 Suzuki Shogun 125 R 32 32.65 Honda Kirana 8 8.16 Tabel 8. Brand Recognition of Brand Awareness Responden (Orang) Merek % Honda Karisma 4 4.08 Suzuki Shogun 125 R 22 22.45 Tabel 9. Unaware Brand of Brand Awareness Responden Merek (Orang) % Honda Karisma 0 0,00 Suzuki Shogun 125 R 4 4.08 Pengolahan untuk Variabel Asosiasi Merek Hasil pengolahan data untuk Honda Karisma menunjukkan bahwa R11 >R(0,05), (0,874 > 0.281), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Honda Karisma ini dapat diandalkan. Nilai R11 Suzuki Shogun 125 > R tabel, (0,951 >0,281), maka instrumen ini pun dapat digunakan untuk mengungkap asosiasi-asosiasi yang terkait dengan sepeda motor Suzuki Shogun 125 R. Nilai uji Cochran untuk Honda Karisma, Q (29,369) < nilai X2(0,05;21) (32,7), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Honda Karisma memiliki brand image yang didalamnya terkandung 28 buah asosiasi (termasuk asosiasi yang dibuang pada pengujian terakhir). Nilai uji Cochran untuk Suzuki Shogun 125 R, Q (47,189) < nilai X2(0,05;40) (55,8), dengan demikian Ho diterima. Maka pengujian dihentikan, dan Suzuki Shogun 125 R c.

81

Pengolahan untuk Variabel Persepsi Kualitas Perbandingan Performance-Importance Honda Karisma Performance-Importance Kesan Kualitas Honda Karisma 5.959 4.082 3.061 4.959 3.204 3.061 4. serta 0% untuk usia di bawah 16 tahun.980 4. Persentase di atas adalah persentase terbesar untuk setiap pertanyaan yang ditanyakan.000 3.000 3.204 4.082 4.959 4.286 3.837 3. d.878 Liking the brand 71.S. 38. Ini menunjukkan bahwa konsumen kedua merek tersebut didominasi oleh pria.163 0.950 4.041 4.082 Satisfied buyer 71.100 Performance Pada matriks payoff dapat diketahui bahwa matriks ini memiliki titik pelana (saddle point).041 4.1 Analisis Profil Konsumen Berdasarkan jenis kelamin.959 3.050 4. dan untuk Shogun 125 R 40. Berdasarkan usia.531 4. dengan nilai yang sama untuk maksimin dan minimaks.082 4.14%.122 4.816% konsumen adalah wiraswasta.966 3. 5.898% konsumen Karisma dan Shogun 125 R lulus SLTA/sederajat.2 Analisis Brand Awareness Top of mind-brand awareness dipegang oleh Honda Karisma. “Irit dalam penggunaan bahan bakar” dengan selisih nilai kepuasan konsumen yang dipertaruhkan adalah 0.694 4. “Tersedia bengkel/service resmi” sedangkan Suzuki Shogun 125 R menggunakan strategi S1. Untuk Karisma 30. 5. Ini juga didukung dari hasil pengolahan brand recall (konsumen dapat mengingat secara langsung. untuk merek Honda Karisma 83.959 4.265. Rekapitulasi Persentase Kesetiaan Merek Merek Kesetiaan Merek Karisma (%) Shogun 125 R (%) Switcher 8.000 3.020 4.020 4.700 3.900 4. Importance Pengolahan untuk Variabel Kesetiaan Merek Tabel 10. Rekapitulasi Performance No. Shogun menempati urutan kedua 40.041 3.571 4.000 4.980 3.959 4. namun tingkat 82 .300 4. Dengan demikian ditemukan strategi murni untuk Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R.673% adalah pria dan untuk Suzuki Shogun 125 R 81. data yang digunakan adalah nilai rata-rata performance setiap atribut yang melekat pada Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R. Berdasarkan pendidikan terakhir 44.347 3.122 3. ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL e. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Keterangan Nilai Rata-Rata Karisma 4.300 4.633%.449 51. 125 R 4.020 f.224 4.100 4. Pengolahan Game Theory Teori permainan merupakan salah satu metode untuk menghasilkan strategi dalam pemasaran.100 4.265.429 95.061 4.061 3. 5. 4 Oktober 2006 memiliki brand image dengan 42 buah asosiasi (semua asosiasi yang ada pada kuisioner) yang melekat padanya.980 S.612% konsumen adalah pegawai swasta. No.000 4.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.000 Tabel 11.400 4.061 4.500 3.82%. yakni 57.061 4.061 4.776% konsumen Karisma berada pada batas 26-35 tahun dan Shogun 125 R 55. yaitu 0.102%.500 Performance 16 17 18 19 20 Perbandingan Shogun 125 R Performance-Importance Suzuki Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Memiliki kecepatan yang tinggi Kemudahan dalam perawatan Kemudahan mendapatkan spare part Harga spare part terjangkau & tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Suspensi atau shock yang bagus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontinu Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Tersedia garansi Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Kualitas rangka yang tahan banting Importance Performance-Importance Kesan Kualitas Suzuki Shogun 125 R 4. Dalam pengolahan ini.061 4.143 3.900 3.000 3. untuk kedua merek tersebut.918 Committed buyer 22. Honda menggunakan strategi H3.429 93.200 4.000 Habitual buyer 26.980 4.

19. 12. 25. Ada tempat penyimpanan barang yang luas 6. 29. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. 32.45%. Diagram ini dibagi atas empat bagian. 6. Tidak ada konsumen yang tidak mengenal merek sepeda motor Honda Karisma. yaitu Kuadran I. 10. Warna dan jenis strip yang bervariasi dan tahan lama 7. 8. Model/desain yang menarik dan dinamis 5.4 Analisis Kesan Kualitas Analisis kesan kualitas dapat dilakukan dengan melihat pada diagram cartesius performanceimportance. II.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. 28. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 3. spion. Sedangkan Suzuki Shogun 125 R memiliki tingkat brand recall sebesar 32. 2. Memiliki kecepatan yang tinggi 11. Memiliki rem cakram 12. Tinggi sepeda motor yang standar 20. Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Asosiasi-asosiasi untuk Suzuki Shogun 125 R ada 42 buah. Harga spare part terjangkau dan tahan lama 16. Kemudahan dalam perawatan 13. dll. Suspensi atau shock yang bagus 19. yaitu: 1. 7.65% daan brand recognition sebesar 22. 36. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 9. 11. 30. 17. 37.08%. Irit dalam penggunaan bahan bakar Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Tersedia bengkel/service resmi Harga terjangkau Model/desain yang menarik dan dinamis Body yang sportif Body yang ramping Ada tempat penyimpanan barang yang luas Warna dan jenis strip yang bervariasi & tahan lama Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) Tarikan/akselerasi mesin yang baik Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan Ada bonus pembelian (seperti helm dan jaket) Memiliki kecepatan yang tinggi Memiliki rem cakram Kemudahan dalam perawatan Produk tersebar luas di pasar Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli Harga spare part terjangkau dan tahan lama Kemudahan dalam penggunaan Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. 83 . 20. 22. 18. 42. Kualitas rangka yang tahan banting 28. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 10. Tersedia bengkel/service resmi 4. 14. 3. Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman 26. 4.) Suspensi atau shock yang bagus Tinggi sepeda motor yang standar Pergantian roda gigi yang halus Nama/merek yang dikenal luas di pasaran Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi Mampu membawa beban yang besar/berat Memiliki sistem pengaman (kunci) yang baik Jangka waktu garansi yang panjang Inovasi perusahaan yang terus-menerus Volume silinder yang besar Dapat dengan mudah dimodifikasi Jok yang empuk dan tinggi jok (dudukan) yang nyaman Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) Ada undian berhadiah Memakai racing pada roda Kualitas rangka yang tahan banting Suara yang nyaring Tanpa oli samping Ban tidak mudah selip (banyak gerigi) Ada penutup rantai 5. Kemudahan dalam penggunaan 17. 24. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 15.) 18. 16.69% dan 4. 34. 5. 5.3 Analisis Asosiasi Merek Asosiasi-asosiasi yang melekat pada Honda Karisma ada 28 asosiasi (dari 24 yang diuji) yaitu: 1. Jangka waktu garansi yang panjang 24. 40. 13. III dan IV. 39. 21. Inovasi perusahaan yang terus-menerus 25. 38. 15. 27. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 23. 41. Ini berarti Karisma adalah sepeda motor bebek buatan Jepang dengan volume 125 cc dan mesin 4 tak yang paling diingat oleh konsumen. dll. 9. spion. tetapi ada 4.08% konsumen yang tidak mengenal merek Suzuki Shogun 125 R. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu 22. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 27. 35. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 21. Produk tersebar luas di pasar 14. 31. 23. 33. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 8. 26. Aksesoris yang lengkap (lampu kristal. Tambunan pengingatannya setelah merek utama dalam top of mind) dan brand recognition (konsumen mengingat merek setelah diingatkan kembali) di mana Honda Karisma memiliki persentase 34.

Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. yakni 71. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi Kuadran I (underact) Kuadran II (maintain) Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) 84 . Persentase ini unggul jika dibandingkan dengan Karisma. Irit dalam penggunaan bahan bakar 8. Shogun 125 R tidak memiliki konsumen yang switcher (berpindah merek karena faktor harga). Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. Demikian halnya dengan Karisma. Dari 20 atribut yang dibandingkan untuk kesan kualitas. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 4. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 10. Suspensi/shock yang bagus c. 2.449% konsumen Karisma adalah konsumen yang komit. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi i. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 5.1 Kesimpulan 1. Dari kedua jenis sepeda motor bebek yang dibandingkan. Ketika Shogun 125 R melihat Karisma menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” maka ia akan menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar” untuk memperkecil nilai kehilangannya. dengan persentase (untuk keseluruhan responden) terbesar pada batas usia 26-35 tahun. Atribut Shogun 125 R pada Diagram Cartesius Honda Karisma 1. Tersedia garansi 3. Sementara Karisma memiliki 8. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 2. Iklannya menarik dan promosi yang kontiniu 2. Kemudahan dalam perawatan 1. 4 Oktober 2006 Tabel 12. Model/desain yang menarik dan dinamis 1. 6. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi d. Atribut Karisma pada Diagram Cartesius Kuadran I (underact) Honda Karisma 1. Harga jual kembali/purna jual yang tinggi 4. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) 9. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Kualitas rangka yang tahan banting 1. Kemudahan dalam penggunaan 9. 5. No. Memiliki kecepatan yang tinggi 1. maka ia akan menggunakan strategi “Tersedia bengkel resmi” untuk memperbesar nilai perolehannya. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) h. ada 51. meski memiliki asosiasi yang lebih sedikit daripada asosiasi Shogun 125 R. Dan 22.918% untuk tingkat liking the brand. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 5. Suspensi/shock yang bagus 3. Irit dalam penggunaan bahan bakar 2. 8.020% konsumen yang komit akan merek tersebut. 2. sedangkan untuk Shogun 125 R. Harga sepeda motor terjangkau 3. Tersedia garansi 6. Honda Karisma memiliki 10 atribut yang dapat terus dipertahankan. Kemudahan dalam perawatan 2. Tarikan/akselerasi mesin yang baik 5. Kualitas rangka yang tahan banting 4. Suspensi/shock yang bagus 3. Konsumen sepeda motor bebek buatan Jepang untuk volume silinder 125 cc dan mesin 4 tak dengan merek Honda Karisma dan Suzuki Shogun 125 R didominasi oleh pria. Tersedia bengkel/service resmi 1. Tersedia bengkel/service resmi Kuadran III (low priority) Kuadran IV (overact) Tabel 13. Tarikan/akselerasi mesin yang baik b. Kemudahan dalam penggunaan Kuadran II (maintain) 5. Tersedia bengkel/service resmi 2.265.878% untuk tingkat satisfied buyer dan 95. Memiliki kecepatan yang tinggi 2. sehingga dapat dihasilkan strategi murni. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 4. yang pada dua tingkatan ini memiliki nilai yang sama. Kemudahan mendapatkan spare part/suku cadang asli 7. Model/desain yang menarik dan dinamis 4. Honda Karisma merupakan sepeda motor yang paling diingat oleh konsumen.6 Analisis Permainan Dari metode maksimin-minimaks dalam permainan.5 Analisis Kesetiaan Merek Dari pengolahan data dapat diketahui bahwa Shogun 125 R memiliki konsumen dengan persentase 93. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan 6. ditemukan saddle point untuk matriks payoff Karisma.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kemudahan mendapatkan spare part g. 3. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran 5.163% konsumen yang switcher. yaitu: a.429%. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) e. jika ia melihat Shogun 125 R menggunakan strategi “Irit dalam penggunaan bahan bakar”. di mana nilai permainan adalah 0. Tetap stabil meski dikendarai dengan kecepatan tinggi 1. Harga sepeda motor terjangkau 3. Harga spare part terjangkau dan spare part yang tahan lama. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) 7.

Strategi Menaklukkan Pasar melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Penelitian Operasional: Teori dan Praktek. Inc. Kemudahan dalam penggunaan i. Tetap stabil dikendarai pada kecepatan tinggi Kuadran III (low priority): a. untuk mengetahui perkembangan ekuitas merek dan perbaikanperbaikan terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan ekuitas merek. Tersedia garansi c. Kualitas rangka yang tahan banting Penting dilakukan penelitian ekuitas merek dalam frekuensi yang lebih sering. Product Design and Development.Penggunaan Game Theory dalam Strategi Pemasaran … Mangara M. Kadar polusi sedikit (filter knalpot yang baik) g. Edisi IX. Harga sepeda motor terjangkau c. agar responden memiliki persepsi yang sama akan atribut-atribut tersebut. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu b. Model/desain yang menarik dan dinamis 5. Harga spare part terjangkau dan tahan lama h. Strategi yang dapat digunakan Honda untuk menghadapi Shogun 125 R adalah dengan mengoptimalkan atribut tersedianya bengkel/service resmi. dealer dan papan reklame. 2000 85 . Kemudahan mendapatkan spare part g. 1997 (Terjemahan) Durianto Darmadi. Memiliki kecepatan yang tinggi b. Philip. Jakarta: Mitra Utama. Kemudahan dalam perawatan Kuadran III (low priority) a.2 Saran Saran yang dapat diberikan peneliti kepada pihak Honda adalah perlunya meningkatkan promosi melalui radio dan surat kabar. Manajemen Ekuitas Merek. Tambunan 4.020%. Tarikan/akselerasi mesin yang baik e. New Jersey: Prentice Hall. 6. 1997 Siagian P. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran e. 2001 Husein Umar Drs. yaitu: a.449%. Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Harga spare part terjangkau dan tahan lama b. Model/desain yang menarik dan dinamis d. Kemudahan dalam perawatan b. yaitu: Kuadran I (underact) a. Harga sepeda motor terjangkau c. A. yang berarti lebih besar dibandingkan dengan Karisma dengan persentase 22. Persentase konsumen Shogun 125 R yang komit akan merek adalah 51. Tersedia garansi f. Tersedia bengkel/service resmi b. 1987 Ulrich Karl. DAFTAR PUSTAKA Aacker David. 2000 Kotler. America: The McGraw-Hill Companies. Butir-butir pertanyaan untuk kesetiaan merek dapat ditambah untuk memunculkan kriteria loyalitas yang lain. Sitinjak Tony. Kualitas rangka yang tahan banting d. Eppinger Steven. Memperhatikan secara khusus atribut pada Kuadran I dan III. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: UI Press. untuk meningkatkan promosi melalui teman/keluarga. Strategi yang dapat digunakan Shogun 125 R untuk menghadapi Karisma adalah dengan mengoptimalkan atribut irit dalam penggunaan bahan bakar. 6. Memiliki kecepatan yang tinggi Saran kepada pihak Suzuki. Marketing Manajemen. Juga penjelasan untuk setiap pertanyaan atribut-atribut sepeda motor pada kuisioner penelitian. Ini berarti perlu menjalin hubungan baik dengan konsumen sebagai pedoman untuk perbaikan kualitas produk ke depan. Kenyamanan dan keamanan dalam penggunaan f. 7. yaitu: Kuadran I (underact): a. Perlu juga dilakukan perbaikan kualitas dalam atribut-atribut pada Kuadran I dan III. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 7. Ketangguhan dan keawetan mesin (tahan lama) d. Shogun 125 R memiliki 9 atribut yang dapat dipertahankan. Iklannya menarik dan promosi yang kontinu e. Nama/merek yang dikenal luas di pasaran d. Sugiarto. Suspensi/shock yang bagus c.

Untuk jenis cacat pipa yang berbentuk retak.8 ksi. Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh 2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Cacat permukaan pipa yang dihasilkan pada proses pengelasan pada saat konstruksi. Pada pipa yang mengandung cacat retak. yaitu seleksi terhadap material yang akan digunakan dan analisis kekuatan struktur terhadap kondisi pembebanan selama masa pengoperasian. Suatu harga K1c menggambarkan ketangguhan retak dari suatu 86 . Konsep konvensional tersebut hanya dapat diterapkan pada struktur yang mulus. Suatu fenomena yang disebut dengan fast fracture. instalasi dan operasi. mekanik (cacat yang berkaitan dengan masalah konstruksi. Jika sebuah pipa pecah maka tekanan fluida (air minum) akan menurun drastis (depressured) menghasilkan gelombang kejut (decomposion shock waves) dengan kecepatan travelling dalam orde kecepatan bunyi (400 m/detik). untuk mempelajari keandalan pipa. ketahanan pipa akan menurun keandalan (reliability). Hafli1 dan Akhyar Ibrahim2 Abstract: This current research was developed to find out the material reliability. handling dan material). (2002). atau bencana alam. Masalah penjalaran retak sering terjadi pada pipeline yang mengalirkan air minum. Keywords: Reliability. ukuran cacat dan ketangguhan patah material itu. korosi. menurut Korda.ANALISIS KEANDALAN PIPA PENYALUR AIR MINUM DENGAN CACAT SEMI ELIPS 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. life-time assessment on drinking water pipeline 12” in diameter which consists of undercut crack welded with semielliptical geometry. apabila dibarengi dengan beban monotonik atau siklik baik yang bersumber dari fluida kerja maupun sumber eksternal lainnya sehingga pipa akan gagal dengan cara patah getas. Dengan pelaksanaan kedua langkah tersebut diharapkan kegagalan komponen yang digunakan selama operasi dapat dicegah sejak dini. kriteria kegagalan suatu material struktur ditentukan oleh 3 parameter yaitu tegangan yang terjadi. sehingga faktor indentitas tegangan (K1) akan turun juga. biasanya berbentuk semi elips. Pipe. et al. so that operating condition of 12 inch pipeline is very safe from break or brittle fracture. LANDASAN TEORI Suatu struktur dikatakan gagal apabila tegangan yang terjadi lebih besar dari tegangan luluh atau kekuatan tariknya. Oleh karena itu. 1977). Politeknik Negeri Lhokseumawe T. ketahanan pipa akan menurun drastis akibat penjalaran retak yang sangat cepat. library study. ketika mengalami beban statik atau siklik. and then all data was analyzed by descriptive method. hingga pipa patah getas (Rothwell. Retakan dapat terjadi dan pipa dapat pecah sampai beberapa kilometer. Dalam konsep ini. Mekanika retakan adalah suatu metoda analisis patah getas dari struktur yang mengandung retakan dengan geometri dan dimensi tertentu yang sebelumnya sudah diketahui melalui suatu jenis NDT tertentu. Faktor Intensitas Tegangan Retak menjalar jika faktor intensitas tegangan (K) mencapai harga kritis K1c yang selanjutnya dikenal sebagai ketangguhan retak. Masalah yang dihadapi. KI of simulation less than experimental which it means crack propagate controlled to material surface. bahkan di atas kecepatan bunyi tersebut diatas. Pressure drop yang tejadi secara tiba-tiba di dalam pipa yang bocor akan menurunkan tekanan hoop pada dinding pipa. Akibatnya retakan akan berhenti menjalar sebab driving force-nya melemah.5 inch. field inspection and experimental. for undercut crack depth 0. sedangkan pada permukaan cacat dapat digunakan konsep mekanika retakan. mengakibatkan ketahanan pipa akan menurun atau keandalan (reliability) pipa berkurang. fracture toughness. By using the concept of fracture mechanics. Undercut. Beberapa faktor penyebab kegagalan pipa berupa bocor dan pecah dari hasil survei antara lain akibat sabotase. The results of research show that water working stres is 0.33 ksi to generate design stres about 8. Cacat lasan undercut. and according to failure criteria this drinking water pipeline 12” in diameter is in safe condition from both break before leak mode and damage after crack mode which its crack propagate about half depth of pipe wall. Charphy Impact. kekuatan dan umur sisa pipa dapat dihitung melalui pendekatan mekanika retakan. Cacat Retak pada Permukaan Pipa Instalasi pipa memiliki ketidaksempurnaan atau cacat yang dapat berasal dari semua tahapan manufaktur. crack propagation rate still in stable condition up to 8. adalah “berapa tingkat keandalan dari struktur pipa penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut ditinjau dari analisis mekanika retakan”. Welded.25 inch and width 2. Failure Criteria PENDAHULUAN Dalam desain struktur pipa penyalur pipa air minum ada dua langkah penting yang perlu diperhatikan. and yield strength of welded is 52 ksi.8 ksi of working stres. Fracture Mechanics.

1 dari ASME B31.21. dan Q adalah parameter geometri retak. salah satu rumus yang sering digunakan adalah yang diajukan oleh AISI dan didaftarkan dalam klausul 941. pipa akan langsung pecah/patah getas. sehingga ada suatu korelasi antara KIC dan energi Charphy hampir sama nilainya. ac > t. Ketangguhan retak merupakan ukuran ketahanan meterial menerima beban luar atau lingkungannya. Ukuran cacat kritis dapat dihubungkan dengan ketangguhan Charphy menggunakan pendekatan Mekanika Ratakan. Q/(1. dapat diterapkan untuk berbagai arah sambungan las. dan t adalah tebal pipa. t adalah tebal pipa. ketangguhan retak untuk kondisi regangan bidang adalah: K1c = βσ π ac (1) di mana ac adalah panjang retak kritis dan β adalah parameter geometri retak spesimen. K1 adalah faktor intensitas tegangan. dirujuk kepada Model strip elastis plastik dari Dagdale (1960). pipa bocor terlebih dahulu sebelum pecah.000 MPa untuk baja).8 sebagai CVN = 0. 87 . (2003: 303).t P. menurut Mohitpour. σ adalah tegangan terpakai pada saat gagal (MPa).212. yang merupakan integral dari R(a) sepanjang ligamen. nilai integral tadi dibagi dengan ligamen tertentu R dan K = (ER)0.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T. maka penelitian ini akan dikaji lebih lanjut. Bagaimanapun. dan juga medan tegangan pada saat luluh).D σ1 = 2. Berdasarkan persamaan-persamaan di atas. P adalah tekanan fluida. Uji Impak Charphy mengukur energi patah total dari spesimen. Jika terjadi kebocoran terlebih dahulu maka melalui inspeksi rutin kebocoran tersebut dapat dideteksi sehingga langkah reparasi dapat diambil.D 4. et al. D adalah jari-jari pipa. Menurut David Broek (5) (1988: 216) menurunkan hubungan perbandingan empiris sebagai KIC = 11. et al. atau sistem pembebanan. (2003: 399).50545σ π 2c ⎥ ⎣ 2E ⎦ (9) dengan Cv adalah energi Charphy (J).4√Cv (10) di mana K dalam MPa√m dan Cv dalam joules. 2 K Cπ π ⎡M σ ⎤ ≡ ln sec ⎢ T T ⎥ 2 8cσ 2⎣ σ ⎦ 12CvE 2 KC = AC (6) (7) P.5 (8) (2) (3) di mana: σ2 adalah tegangan memanjang (horizontal). σ1. ukuran retak kriris yang dibutuhkan untuk mengawali retakan dapat dihitung dengan berbagai tingkat ketangguhan Charphy menggunakan persamaan dibawah ini. Menurut Broek (1988: 53). 2c adalah panjang cacat tembus dinding (mm). Ac = K21.π. Kondisi ini disebut sebagai kriteria bocor sebelum pecah (”leak before break criterion). et al. ada beberapa perbedaan mendasar antara suatu nilai uji Charphy dan uji ketangguhan. misalnya menjalar sesuai dengan waktu.σ2) (4) dan Q = θ2 – 0. Jika pipa tersebut mempunyai cacat berbentuk semi-ellips pada daerah lasan. (σ/σ0)22 (5) di mana ac adalah panjang retakan kritis. yang menurunkan hubungan antara COP dan tegangan terpakai di dalam medan tegangan biaksial.. Berdasarkan persamaan (4) dan (5) di atas. Menurut Mohitpour. geometrik. ac < t. khususnya lasan spiral baik arah memanjang dan melintang radial pipa. Untuk ketangguhan rendah pada urutan yang sangat rendah. Persamaan matematis dari tegangan secara analitik pada pipa berisi fluida tekan. Kriteria Bocor Sebelum Pecah Salah satu aplikasi mekanika retakan pada pipa adalah mengkaji pipa yang mengandung cacat awal (pre-crackdefect) dan mengalami beban statik (constant internal pressure).0345. maka kurva R akan mendekati horizontal. Hal yang sangat penting adalah perbedaan laju pembebanan (berpengaruh pada tegangan luluh) dan perbedaan dalam ketajaman takikan (berpengaruh (4) keadaan tegangan pada ujung retak.5.5. fluid stres. σ/σ0 adalah hoop stres.R0. Rumus di bawah ini biasanya digunakan untuk menentukan ketangguhan Charphy: 2 ⎡ ⎤ Cv = ⎢ 4. maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah pipa tersebut akan langsung pecah secara getas atau mengalami kebocoran terlebih dulu sebelum pecah. kriteria kegagalan pipa dapat dinyatakan bahwa: jika. menurut Engle (1979: 75) dapat digunakan persamaan di bawah ini. σ1 adalah tegangan melintang (radial) pipa. Hafli dan Akhyar Ibrahim material yang tergantung pada retak. masingmasing adalah: Ketangguhan Charphy Metode yang digunakan untuk menentukan ketangguhan patah berdasarkan nilai energi impak charphy. Untuk menghitung kegagalan suatu pipeline yang mengandung retak awal. Jika kurva R horizontal. (2003:400). Tegangan pada Pipa Tekan Kekuatan sambungan las dapat diuji dengan tegangan arah tegak lurus dari arah lasan. dan E adalah modulus elastisitas (207.t σ2 = Menurut Mohitpour.

No. K.30 0. data-data teknis lainya. Hubungan Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Cacat Undercut Analisis Geometri Cacat Maksimum untuk Tekanan Operasi Tertentu Selanjutnya. 4 Oktober 2006 METODOLOGI Dalam penelitian ini dipergunakan sejumlah peralatan.00 0.(ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0. yang langsung dikunstruksikan gambar 2. Bahan penelitian adalah Pipa 12” untuk penyalur air minum yang mengandung cacat lasan undercut geometri retak semi-ellips dan kawat las merek ”Jumbo. 9 Indtensitas Tegangan.4 ksi√in (lihat tabel 1). bahan pipa JIS G 3452 yang memiliki diameter 12 inchi.0" 1. Data yang telah dikumpulkan baik data sekunder (studi kepustakaan). sehingga diperoleh analisis bahwa semakin tinggi atau besar rasio ukuran cacat undercut semakin rendah intensitas tegangan yang dihasilkan dan semakin kecil atau rendah rasio ukuran cacat undercut (kedalaman dan lebar cacat undercut) yang terjadi semakin tinggi intensitas tegangan yang diperoleh kemudian. hubungan kedalaman cacat undercut (a) dan lebar cacat undercut (2c) terhadap faktor intensitas tegangan (KI).5" 2. dipotong menjadi 6 bagian. maupun primer (hasil wawancara.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. hasil perhitungan dan pengujian) diolah berdasarkan analis-deskriptip.a (inch) 0.005 0.20 0. Pada sambungan lasan yang mempunyai undercut yang berbentuk semi-elips itu. hasil perbandingan ukuran bentuk geometri cacat undercut dengan intensitas tegangan yang didapat dari persamaan empiris yang diperoleh dari hasil merujuk kepada rumus simulasi pada tabel dan gambar 2.2 9 intensitas tegangan. (ksi in) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Faktor Intensitas Tegangan Pipa sebagai Fungsi Ukuran Cacat Untuk mencari faktor konversi satuan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus di bawah ini: KIC={820√Cv–1420}B-1/2+630[N/mm3/2] (11) Apabila faktor intensitas tegangan (KI) pada pipa sebagai fungsi dari ukuran cacat undercut diamati berdasarkan gambar 2.2 70 118 1062 10 80 126 113. terutama data-data hasil rekaman NDT dari perusahaan. mesin freis.2 0.40 0.039 (lihat tabel 1) dan lebar cacat undercut dari simulasi tertinggi 2.25 inch dan lebar cacat undercut 0. mesin gergaji. mesin uji tarik.3 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0. KIC Kritis. diambil sampel dengan cara memotongnya yang dilakukan pada arah-arah memanjang. maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa dari data cacat undercut yang diperoleh kedalaman cacat undercut 0.5 100 147 135. kemudian dilas dalam bentuk spiral dengan sengaja lasan dibuat tidak sempurna hingga membentuk cacat undercut dengan geometri semi-elips. diagonal dan arah canai (arah memanjang) dari baja lembaran itu.5" 1. dan survei lapangan untuk mengamati secara langsung obyek penelitian dan melakukan pencatatan. Di dalam pengujian laboratorium. hasil tersebut dapat disusun suatu tabulasi data.60 rasio ukuran cacat undercut a/2c (non-dimensi) Gambar 2.025 Kedalaman Undercut .325 ksi√in. Tabel 1.0" 2.5 inch mempunyai tingkat intensitas tegangan tertinggi yaitu 3. 10 Dan hasil konvensi tersebut diperoleh faktor intensitas tegangan kritis [kIC(ksi√in)] maksimum dan minimum seperti dapat diperlihatkan dalam tabel 1 di bawah ini.5 mempunyai tingkat intensitas tegangan yang rendah yaitu 3.1 0. antara lain.015 0. tampak bahwa hasil simulasi diperoleh data untuk kedalaman cacat undercut 0. K . Hubungan Energi Impak Charphy dan Intensitas Tegangan Kritis Tabal Cv Intensitas Intensitas Material (joule) Tegangan Tegangan B (mm) Kritis.50 0. uji tarik. KIC (MPa√m) (ksi√in) 1 2 3 4 60 108 97. dan uji impak Charphy berdasarkan ASTM E 23-91. mesin las listrik. dan mesin uji impak charphy. Faktor Intensitas Tegangan terhadap Rasio Ukuran Cacat Undercut 88 .” Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan mengenai berbagai kasus kegagalan material pipa 12” transmisi air minum. Kemudian Sampel-sampel tersebut diperiksa komposisi kimia.3 90 138 124. Kemudian.10 0.5" Gambar 1.

Analisis Kekuatan Sisa Pipa dan Perambatan Retak Apabila ditinjau kekuatan sisa pipa yang mengalami perambatan retak. kriteria kegagalan dapat disusun sebagai berikut: Jika KI>KIC menyatakan retak merambat tak terkendali.025 0. Jadi.1 0. K.5" 2. dan dari Gambar 4 pipa masih dalam daerah aman karena jauh di bawah batas kekuatan luluh dari material lasan 52 ksi.33 ksi. tampak bahwa tegangan operasi yang dihasilkan air bertekanan 0.5 ksi dan batas ’net-section-yielding’ weld material (data kuat luluh material lasan) 52 ksi pipa masih dalam batas daerah safe area. (ksi in) 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0. melampaui tebal pipa (t). maka pipa tersebut akan benar-benar aman dari deformasi maupun patah getas apabila kuat luluh dari material las berada di bawah garis ”net-section yielding”. (Kic max (ksi in)) retak masih dalam kondisi stabil untuk tegangan operasional yang diizinkan 8.5 inch ternyata bahwa KI (8.2 0. Analisis kriteria kegagalan Penentuan kriteria kegagalan pecah sebelum bocor atau sebaliknya dari pipa berdasarkan kriteria bocor sebelum patah perlu diketahui: ”apakah panjang kritis retakan (aC).25 ksi√in< KIC minimum (97.2 0.005 0. Hafli dan Akhyar Ibrahim Analisis panjang retak maksimum yang diizinkan untuk tekanan atau tegangan operasi tertentu dapat dilakukan dengan memperhatikan gambar 3. Berdasarkan gambar 4 hasil simulasi dan data KIC maksimum dan KIC minimum bahwa untuk kedalaman retak 0.2 ksi√in). prediksi penjalaran retak ini masih dalam daerah kontinum yang dapat dipantau dan dikendalikan dengan baik.8 ksi dengan internal pressure 0. juga untuk tegangan operasional maksimum sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1.a (inch) 2c 2c 2c 2c 2c = = = = = 0.5" 1.1 0. 600 tegangan operasi izin (ksi) 500 400 300 200 100 0 0 0.0" 1. bahkan kondisi tersebut belum mencapai daerah penjalaran retak cepat menuju kegagalan bocor atau patah getas. (Kic min (ksi in)) Log.0" 2.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 88 ksi.3 kedalaman Undercut.4 Log.015 0. Panjang retak (kedalaman cacat undercut) maksimum yang diizinkan untuk tekanan operasi tertentu dari grafik 3 dapat disimpulkan bahwa kedalaman cacat undercut (a = 0039” .0.25”). Apabila sebaliknya.5 ksi pipa masih aman dari deformasi kebocoran atau patah getas.Analisis Keandalan Pipa Penyalur Air Minum… T.25 inch dan panjang retak 2.5" max min Gambar 4. Berdasarkan pernyataan di atas. maka akan diperoleh hasil tegangan operasional maksimum ketangguhan material yang mengandung cacat las undercut terhadap deformasi plastic maupun perpatahandengan perbandingan data desain tegangan sekitar 40 ksi untuk internal pressure 1. Hubungan Faktor Intensitas Tegangan terhadap Kedalaman Undercut Pada gambar 4 hubungan tegangan operasi yang diizinkan terhadap kedalaman cacat undercut. atau aC<t menyatakan pipa akan langsung mengalami pecah/ patah getas. a (inch) 0. atau aC>t menyatakan pipa akan bocor terlebih dahulu sebelum mengalami pecah/ patah getas. Jika KI<KIC menyatakan retak merambat tak terkendali. sedangkan kuat luluh material las adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa yang sedang beroperasi. Hubungan Tegangan Operasi terhadap Kedalaman Cacat Undercut Hal ini berarti bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan dengan laju perjalanan 89 . yaitu di bawah batas ’netsection-yielding’ weld material sehingga dapat dinyatakan bahwa pipa dalam keadaan aman dari deformasi kebocoran maupun mengalami patah getas. atau sebaliknya retakan sudah menjalar hingga nilai kritisnya tercapai sebelum ketebalan pipa terlampaui”.3 Kedalaman Undercut . Gambar 3. pipa akan mengalami deformasi plastik atau patah getas (pipa pecah). 135 130 125 120 115 110 105 100 95 Indtensitas Tegangan.

Engle. M.. laju penjalaran retak masih dalam kondisi stabil dengan tegangan operasional yang diizinkan 8.5 inch. (Tree Park Avenue. Proc. 2002. R. SARAN Dalam kenyataannya. penelitian ini masih perlu dilanjutkan dengan mengembangkan pengaruh temperatur operasi supaya tingkat keandalan pipa dapat diprediksi terlebih dahulu. “The International State of the art Pipeline fracture Control and Fracture Risk Management. Mohitpour.” PartThroungh Crack Fatigue Life Prediction. “Aspect Ratio Varibiality in Part-Throung crack Life Analysis..25 inch dan lebar 2. Untuk kedalaman retak 0. “Prediksi Kekuatan Sisa Pipeline yang terkorosi”.B. 13-14 Januari). Ed. H. 2003. Prosiding Seminar Offshore Technology 2002 (Bandung Pusat Studi Teknik Kelautan & LPPB ITB. (Dordrecht and London: Kluwer Academics Publishers). pp. Int. 1997. Golsham. American Society for Testing and Materials. New York: ASME Press). 4 Oktober 2006 KESIMPULAN 1. Broek. sedangkan kuat luluh material lasan adalah 52 ksi sehingga kondisi pipa benar-benar aman dari kebocoran maupun terjadinya pecah pada pipa pada saat beroperasi.. Mekanika retakan dapat digunakan dalam desain dengan cara memperhitungkan kehadiran retak/cacat awal (pre-crack).Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. dan terlihat bahwa retak merambat terkendali dan mencapai permukaan. dan faktor intensitas tegangan kritis (KIC) atau ”facture toughness” di dalam material. terutama efek suhu. 1997.33 ksi menghasilkan desain tegangan sekitar 8. A. 90 . 3.M.8 ksi dan pipa masih dalam daerah aman (safe area). David 1988. Pipeline Design dan Constuction: A Practical Approach.Jr. 74-88. 2.B. Tegangan operasi yang dihasilkan fluida alir bertekanan 0. Secong Edition.. J. and A. “ Paper 12.8 ksi. ASTM STP 687. KIC hasil simulasi lebih kecil daripada hasil percobaan.. Achmad Sulaiman dan Ahmad Taufik. Chang. Murray. No. Korda. ketika instalasi pipa yang sedang beroperasi terjadi berbagai pengaruh beban internal dan eksternal. The Proctical Use of Fracture Mechanics. DAFTAR PUSTAKA Akhmad A. 1977. Rothwell. Karena itulah.

Intervensi pemerintah melalui penetapan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dimaksudkan agar keputusan perusahaan mempertimbangkan prinsip keadilan bagi pekerja. d. Memberikan kesempatan kepada pengusaha pengusaha asing untuk mendirikan perusahaan-perusahaan industrinya di tanah air kita. e. Pembangunan sektor industri di Indonesia ditujukan untuk memperluas lapangan kerja karena dengan meluasnya lapangan kerja maka pendapatan nasional akan terbagi lebih merata. baik maupun pengusaha menyadari bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan eksistensi perusahaan karena runtuhnya perusahaan akan merugikan pengusaha dan buruh. PENDAHULUAN Bahwa sistem perekonomian menurut Pancasila dan UUD 1945. II. Akan lebih memusatkan perhatiannya kepada pembangunan prasarana dan pencipta iklim yang menunjang pertumbuhan industri. pada umumnya modal merupakan unsur dan faktor utama dan sebagai tujuan utama adalah laba sebesar-besarnya atau keuntugan maksium. Dalam musyawarah penetapan upah di perusahaan sektor industri sebaiknya masing-masing pihak. b. Dalam pengembangan perusahaan industri tersebut pihak manajemen harus benar-benar memperhatikan upah para pekerja yang merupakan salah satu aset perusahaan. Pada perusahan industri swasta. pemerintah harus melaksanakan pembinaan dan perlindungan tenaga kerja di antaranya melalui penetapan upah minimum yang berlaku untuk masingmasing propinsi dan sektor pekerjaan. pemerintah berusaha agar dapat dibangun kawasankawasan industri (industrial estates) dibeberapa daerah tertentu di tanah air kita. sepanjang teknologi yang ada menimbulkan efek berganda yang luas. dan industriindustri yang padat modal tetap akan didorong. Bidang gerak sektor swasta adalah hanya perusahaan yang tidak mengurusi hajat hidup orang banyak dan bidang usaha yang belum ditangani oleh negara dan koperasi.UPAH MINIMUM TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI SUMATERA UTARA Staf Kopertis Wilayah I Abstrak: Dalam rangka mengikuti kebijakan pembangunan yang digariskan oleh Peropenas 2004–2009 khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ketenagakerjaan. Berkurangnya tenaga pengangguran di sektor pertanian ini akan meningkatkan pendapatan di daerah pedesaan yang pada gilirannya petani akan menjadi pasaran hasil industri yang dihasilkan perusahaan industri. c. Kata kunci: Upah Minimum. PENGEMBANGAN SEKTOR LNDUSTRI DAN KAITANNYA DENGAN TENAGA KERJA Pembangunan sektor industri tidak terlepas dengan pembangunan sektor lain karena ada hubungan kait mengkait yang erat antara pembangunan sektor industri dengan sektorsektor lain. sektor pemerintah dan sektor swasta. Setelah memenuhi persyaratan Suryatmono 91 . Untuk itu kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan industri yaitu: a. menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat dan sektor pembangunan yang lain. 1983). Industri yang dibangun dan dikembangkan haruslah industri-industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Untuk menunjang dan memberikan kemudahan-kemudahan dalam pembangun-an industri bagi pihak swasta. mengenal tiga sektor besar yang interdependent yaitu sektor koperasi. Penciptaan lapangan kerja akan menyerap para pengangguran yang sebagian besar berada di sektor pertanian. Sektor swasta sebagai pelengkap dan pembantu kedua sektur lainnya (Tom Gunadi. Dalam hubungan timbal balik ini peranan sektor industri adalah memperluas lapangan kerja. dalam hal ini mengusahakan perkembangan ketrampilan dan kecakapan pengelola pengusaha-pengusaha nasional golongan ekonomi lemah melalui latihanlatihan pada pusat-pusat pendidikan di berbagai tempat yang menitikberatkan pada pengetahuan manajemen teknis dan penyediaan-penyediaan kredit dalam usaha membantu permodalannya. menghasilkan devisa ekspor dari hasil industri dan menghemat devisa melalui produksi barang-barang yang hingga kini masih diimpor. maka logika perkembangan perusahaan industri swasta adalah kecenderungan persaingan sesama perusahaan swasta itu. Membantu dalam pembinaan dan pengembangan golongan ekonomi lemah di sektor industri. Dengan motif keuntungan maksimum. Sektor Industri I.

Dalam penyusunan proram operasional di bidang ini ditetapkan lebih lanjut perbandingan modal dan buruh sehingga menjadi pegangan bagi pemberian izin. Keseimbangan ini harus menghasilkan perluasan lapangan kerja sebesar mungkin tanpa mengakibatkan rendahnya laju pertumbuhan sektor perindustrian. 2000). 5 No. Berdasarkan penelitian yang lebih mendalam harus diperkirakan perbandingan yang wajar antara kenaikan perkembangan produksi dan kenaikan perkembangan buruh yang bekerja pada perusahan tersebut. maka secara 92 . Komponen upah Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja menurut tingkat atau jenis pekerja yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. maka pembagunan industri semacam ini dimungkinkan.4 Oktober 2001). Fokus perhatian perusahaan tidak terbatas pada barang/jasa yang dihasilkan tetapi juga aspek proses dan aspek sumber daya manusia dan lingkungannya (Luthti Parinduri. dan menggunakan tenaga-tenaga kerja Indonesia. Menurut ketentuan dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja RI No. sedangkan barang yang dihasilkan adalah sangat penting bagi pembangunan. 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kartasapoetra 1985). b. tunjangan transportasi dan tunjangan kesehatan. sanggup menampung. 2. pihak manajemen sesuai dengan hukum ketenagakerjaan yang berlaku berdasarkan hubungan industrial Pancasila. Dengan kebijakan pemerintah seperti diatas maka akan terbentuknya sumber daya manusia industri yang berkualitas dan mampu bekerja sama serta bersaing untuk memperoleh manfaat positif dari era globalisasi. (Imam Soepomo. yang termasuk komponen upah dan pendapatan non upah adalah sebagai berikut: a. dan sanggup membantu masyarakat terutama membantu melatih tenaga-tenaga Indonesia dan sanggup menempatkannya dalam kedudukan Pimpinan (G. wajar dan serasi sesuai dengan pekerjaan dan jabatan para pekerja. Tujuan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjan yang diberikan secara tetap untuk pekerja dan keluarga yang dibayarkan bersama dengan upah pokok seperti tunjangan anak. Untuk mencari keseimbangan tersebut diperlukan adanya penyaringan dalam pemberian izin penanaman modal dalam negeri maupun asing. calon investor harus menunjukkan perkiraan penggunaan tenaga kerja selama perusahaan tersebut berkembang. 07/MEN/90 tentang pengelompokan upah dan pendapatan non upah. Upah yang adil adalah upah Minimum yang menjamin kebutuhan yang essensial bagi kehidupan yang manusiawi (Tom Gunadi. Dalam hal tenaga kerja. Dalam garis besarnya pemberian izin dilaksanakan menurut prinsip-prinsip berikut: 1.: maka dalam bidang industri perlu di tetapkan suatu keseimbangan antara laju pembangunan industri dengan daya serap tenaga kerja. seperti fasilitas kenderaan antara jemput. Persyaratan ini terutama berlaku bagi industri-industri yang mempunyai pilihan teknologi sehingga bisa disyaratkan pengunaan teknologi padat karya tanpa mempengaruhi efisiensi perusahan. Karena pembangunan sektor industri memiliki kaitan yang erat dengan sektor lain. tunjangan perumahan. Perusahaan-perusahaan asing ini tidak boleh merugikan kepentingan nasional. No. sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran terhadap pelaksanaan kebijakan-kehijakan tersebut melalui pengawasan yang ketat dari pemerintah. harus mempertimbangkannya secara teliti. tidak melakukan persaingan yang terlebih-lebih terhadap perusahaan nasional. Sebelum diberikan izin. 1983). Upah adalah pembayaran yang diterima buruh selama ia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan. penanaman modal (baik asing maupun dalam negeri) yang menghasilkan barang-barang untuk dijual harus memenuhi beberapa persyaratan. 1974) pengusaha wajib membayar upah kepada para pekerja secara teratur sejak terjadinya hubungan kerja sampai dengan berakhirnya hubungan kerja (Lalu Husni. PENETAPAN UPAH MINIMUM SEKTOR INDUSTRI Dalam menentukan besaran upah yang harus diterima oleh para pekerja. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan diharuskan secara tidak tetap gaji pekerja dan keluarganya yang pembayarannya tidak bersama dengan upah pokok. dan hukum Indonesia dan berdomisili di Indonesia. adil. Tidak termasuk komponen upah Fasilitas kenikmatan dalam bentuk nyata atau natural hal-hal yang bersifat khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. 4 Oktober 2006 persyaratan yang telah ditentukan pemerintah. Dengan demikian berarti fungsi perizinan dalam pembangunan industri harus lebih ketat dan efisien. antara lain: Perbandingan jumlah modal yang ditanam dan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan tidak boleh tinggi. Bulletin Utama Teknik Vol. tunjangan kesehatan. III. Bagi industri yang sifat teknologinya padat modal. SH.

Kemudian Dewan Pengupahan Daerah c. c. Bagi perusahaan industri tidak ada larangan untuk menerapkan sistem upah seperti time/day rate. karena pekerja pada saat ini masih dalam kedudukan yang lemah. 560/3892/KS Tahun 2001 tanggal 20 Desember 2001 telah menetapkan pembentukan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara. kelangsungan dan perkembangan perusahaan. penetapan upah minimum yang berlaku untuk setiap propinsi dan sektor pekerjaan diterbitkan oleh Menteri Tenaga Kerja RI setelah mempertimbangkan Rekomendasi dari Gubernur Propinsi dan saran dari Dewan penelitian pengupahan Nasional Upah minimum ditetapkan dan berlaku mulai tanggal l Januari tahun berikutnya. Berdasarkan PP No. upah minimum yang berlaku untuk perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. pola bonus 100% pola kelompok atau sistem-sistem lainnya dengan ketentuan jumlah upah terendah yang diterima oleh pekerja tetap mengacu kepada ketentuan upah minimum yang berlaku dari Pemerintah. 05/MEN/1989 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. UMR untuk setiap daerah berbeda-beda yang didasarkan pada indeks harga konsumen. perongkosan.000. kantin dan sejenisnya. Dewan Pengupahan Daerah dibentuk oleh Gubernur yang terdiri dari wakil Pemerintah. Sanksi hukum bagi pengusaha yang tidak melaksanakan ketentuan upah minimum adalah yakni Rp. Adapun surat usulan Dewan Pengupahan Daerah Propinsi Sumatera Utara untuk penetapan Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006 adalah usulan No. 8 Tahun 1981 tentang perlindungan upah maka untuk menjaga sampai terjadi upah yang diterima para pekerja terlampau rendah maka pemerintah turut serta menentukan standar upah minimum melalui peraturan perundangundangan berupa penetapan upah minimum yang wajib ditaati oleh pengusaha termasuk pengusaha perusahaan industri. Berdasarkan permohonan tersebut Menteri Tenaga Kerja dapat menangguhkan pelaksanaan UMR tersebut paling lama 12 bulan. tingkat perkembangan perekonomian regional dan nasional. Bagi pengusaha yang mampu membayar upah lebih tinggi dari upah minimum tidak dilarang menetapkan upah minimum lebih tinggi dari upah minimum dan upah yang sudah dibayar di atas upah minimum dilarang mengurangi atau menurunkan upah tersebut. kebutuhan fisik minimum. kebutuhan kerja. Untuk maksud tersebut maka pemerintah ikut dalam penetapan upah minimum dengan maksud untuk tercapainya keadilan dibidang ketenagakerjaan dan pemerintah menyadari hahwa apabila masalah perupahan ini hanya diserahkan kepada pihak pekerja dan pihak pengusaha maka keputusan mengenai upah ini akan didominasi oleh kehendak pihak pengusaha. wakil pengusaha dan wakil serikat pekerja.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono cuma-cuma sarana ibadah. Bonus/jasa produk yaitu pembayaran yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja berprestasi melebihi target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas Tujuan hari besar keagamaan seperti tunjangan Hari Raya dan Tunjangan Tahun Baru. pola premi Hosley. Upah minimum sub sektoral. Keputusan pemerintah tentang.3549/6/DTK-TR/2005 tanggal 20-12-2005. No. Upah minimum sektor regional upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu. maka mulai tahun 2001 penetapan upah minimum disetiap Propinsi diputuskan oleh Gubernur dengan memperhatikan usul Dewan Pengupahan Daerah Propinsi setempat yang berlaku mulai 1 Januari tahun yang berikutnya. surat Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara pada setiap akhir tahun mengajukan usul penetapan upah minimum sektoral propinsi Sumatera Utara yang berlaku mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. piece rate. Upah minimum regional: upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan dalam daerah tertentu. Khususnya bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sesuai ketetapan tersebut dapat dikecualikan dari kewajiban tersebut dengan syarat mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dengan rekomendasi dari Kepala Dinas Tenaga Kerja setempat. b. Berdasarkan usulan tersebut maka Gubernur 93 . Asas dari penetapan upah minimum yang adil tidak dapat lain dari pada hakikat dan fungsi tenaga kerja itu sendiri untuk penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. tempat penitipan bayi. 100. upah pada umumnya yang berlaku secara regional.q. pola premi Rowan. 07/MEN/1997 tentang upah minimum disebutkan bahwa upah minimum adalah upah pokok sudah termasuk di dalamnya tunjangan-tunjangan yang bersifat tetap yang terdiri dari: a. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Dengan berlakunya Undang-Undang No.00. Upah minimum adalah upah terendah yang hanya berlaku bagi pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun sedang upah pekerja yang memiliki masa kerja 1 tahun ke atas dirundingkan secara musyawarah oleh serikat pekerja dengan pengusaha yang bersangkutan dan dimuat dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Gubernur Propinsi Sumatera Utara dengan keputusan No.

000 Jenis Pekerjaa n 9 17 11 4 4 UMSP 2005 (Sektor Industri) 774. akan membawa dampak yang baik yaitu musyawarah dan mufakat yang melahirkan keputusan berupa terwujudnya upah yang wajar bagi pekerja.40 Jenis Pekerjaan 9 17 11 4 4 perusahaan. upah lembur. Apalagi dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Jakarta: 2000 Berdasarkan data upah minimum di atas dapat kita lihat bahwa upah para pekerja di sektor industri masih di bawah kebutuhan fisik minimum namun bila nilai upah tersebut disatukan dengan fasilitas lain seperti Jamsostek. No.000 642.58 796. Dengan berpadunya peranan pengusaha dan peranan serikat pekerja dalam perundingan.400 648. Pihak Serikat Buruh harus bisa membaca denyut nadi perusahaan tempat kerjanya terutama yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian perusahaan sehingga pada waktu berunding dengan pihak pengusaha. namun masih jauh dan kebutuhan fisik minimum (KFM). Raja Gratindo Persada. Saat ini gaji buruh sesuai UMP di seluruh Indonesia rata-rata masih di bawah Rp. sudah memiliki materi yang tajam sehingga usulan yang dibawa dalam musyawarah cukup baik dan bisa memperkuat posisi tawar serikat buruh dalam perundingan agar peranan kedua belah pihak terpadu. Jakarta: 1975 Lalu Husni. 4. Unjuk rasa pekerja saat ini masih berkisar pada perbaikan upah yang menurut mereka belum memadai namun di lain pihak pengusaha/industriawan juga mengeluh karena kondisi ekonomi saat ini kurang mendukung perbaikan upah tersebut. Pekerjaan harus dapat menjamin penghidupan yang layak bagi kemanusiaan si pekerja yang bekerja dan keluarga yang menjadi tanggungannya. 2. R. Kartasapoetra. Di dalam keputusan tersebut dari 45 jenis pekerjaan pada sektor industri yang dapat dikelompokkan ke dalam 5 kelompok UMPS sebagai berikut: UMSP 2005 (Sektor Industri) 636. KESIMPULAN Setelah membahas masalah penetapan upah minimum pada perusahaan sektor industri maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.G. Untuk jelasnya pada tabel dibawah ini adalah daftar upah minimum sektor industri Propinsi Sumatera Utara tahun 2006 yang dikutip dari keputusan Gubernur tersebut.439. Kartasapoetra. Keterbukaan dalam manajemen. PT. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila.817. 3.52 804. musyawarah dan menghadapi masalah akan melahirkan keputusan bijak dan arif yang menjadi seleksi terbaik bagi masing-masing pihak baik itu pihak buruh maupun pihak manajemen 94 .000. Perlunya kesadaran pihak pengusaha dan pihak pekerja bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama terhadap peusahaan karena tutupnya perusahaan dapat menyebabkan pengusaha kehilangan sumber usaha dan pekeija akan kehilangan sumber nafkahnya. Bandung: 1985 Imam Soepomo.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Kartasapoetra. Upah terendah pada perusahaan industri baru pada tahap kebutuhan fisik minimum namun sudah mendekati nilai kebutuhan nyata namumn dengan adanya kenaikan harga BBM kenaikan tersebut tidak punya arti yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan buruh.573.439 654. maka upah yang diterima pekerja tersebut sudah mendekati nilai kebutuhan nyata (NKN). Pemerintah setiap tahun mengevaluasi pelaksanaan ketetapan upah minimum di daerahdaerah propinsi sebagai dasar untuk menetapkan upah minimum pada tahun berikutnya dengan mempertimbangkan masukan dari Dewan Pertimbangan Upah Daerah Propinsi. DAFTAR PUSTAKA G.000 660.561/2858/K/Tahun 2005 tanggal 25 Desember 2005 tentang Penetapan Upah Minimum Sektoral Propinsi Sumatera Utara tahun 2006.70 789. Bina Aksara. uang makan dan lain-lain.46 811.195.G. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Upah pekerja yang pada kondisi sekarang menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di Indonesia masih dalam tahap bagaimana meningkatkan upah buruh agar bisa mencapai taraf kebutuhan hidup minimum (KHM) padahal di negara ASFAN lainnya persoalan tersebut sudah bergeser kearah perebutan lapangan kerja dengan buruh asing. 750. North Sumatra Project Coordinator International Labour Organization (ILO) Henri Sitorus menilai gaji buruh di Indonesia masih terendah di antara buruh-buruh Se-ASEAN. Pihak manajemen perusahaan industri harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki sistem perupahan yang kurang baik sesuai kemampuan perusahaan dan apabila memang kondisi perusahaan belum memungkinkan maka perlu dimusyawarahkan secara terbuka dengan pihak serikat buruh.638.00 kecuali Vietnam. 4 Oktober 2006 Propinsi Sumatera Utara menerbitkan keputusan No. IV. Pengantar Hukum Perburuhan. Djambatan. Dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2006 kenaikan Upah Minimum tersebut kurang berarti bagi meningkatkan kesejahteraan buruh karena sebelum upah minimum berlaku sudah didahului dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi. dan A.

Jakarta: 2004 Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. Sistem Perekonomian Menurut Pancasila Dan UUD 1945.Upah Minimum Tenaga Kerja Sektor Industri … Suryatmono 2005 Gunadi. Program Pembangunan Nasional 2004 – 2009. 5 No. Bandung: 1983 Bulletin Utama Teknik. Medan Sekretariat Negara RI. Angkasa. Vol. 561/2858/K Tahun 2005 tanggal 25 Desember Tom 95 . 4 Oktober 2001. Fakultas Teknik UISU.

Those stages in the above are time consuming and thus. Fe to 100% C Si Mn Cr Mo V 1.000 Conductivity (W/moC) 20.2 Spec. Faculty of Engineering University of North Sumatera Abstract: Tool wear and tool life when hard milling of fully hardened steel with 62 HRC using CVD multilayer coated carbide tool are the objectives of the study reported in this paper. tool steel is machined until the geometry of parts is produced. Brittle Fracture. and 20 mm. TiC. many cutting tools have been coated with some coating materials such as TiN. dies.8 0. This stage is followed by the heat treatment stage in which the hardness property of tool steel is improved up to 40 HRC or more in order to meet the requirement of product. Chipping. cavity bars. Flank Wear. The results of study show that flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the dominant wear modes of the tool. Keywords: CVD. INTRODUCTION Tool steel is widely used in making moulds. They reported that the coated carbide could be used up to 350 m/min with tool life not less than 7 minutes when machining under dry cutting and not less than 12 minutes when machining under wet cutting. TiN) is promising when used in turning of tool steel in normal hardness (27 HRC). Due to the high hardness of workpiece material. This method is called hard machining. The chemical composition and mechanical properties of this material are given in Table 1 and 2. 2004. (2001) have reported that the multilayer coated carbide (WC-Co coated with TiC. The workpiece was clamped firmly on the milling machine’s table during machining testing. Che Hassan et al. while feed. the result of surface roughness when tool life of wet cutting passes the dry cutting is three times higher (more than 6 micron).01 mm/tooth. However. MATERIALS AND METHODS The fully hardened tool steel (AISI D2) with hardness of 62 HRC was selected as workpiece material. The multilayer coated carbide is used in this study and the machining trial is carried out with end milling process under dry cutting. Under this method. the rate of tool wear is high when hard machining process. Flaking 1. Two pieces of this insert were mounted in a tool holder to form the end milling cutter with nominal diameter of 20 mm. The tool geometry is given in table 3. TiAlN. The objective of study reported in this paper is to study the tool wear and tool life when end milling of fully hardened tool steel with hardness of 62 HRC. Al2O3.2 Table 2. in the case of producing the high accuracy product. Aslan 2005). Chemical Composition of AISI D2 Chemical Composition (%). axial and radial depth of cut are 0. Table 1. As the advancement of cutting tool technology today. materials with hardness from 32 HRC to fully hardened 60-62 HRC are directly machined into its final geometry and dimension. Al2O3. At those cutting conditions. Mechanical Properties of AISI D2 Density (kg/m3) 7. In producing the parts. It is recommended from the study that cutting conditions for the tool when cutting hardened steel are cutting speeds of 50 to 95 m/min. The shape of workpiece was block with dimension of (310x75x54) mm. 2.2 0. 1 mm. productivity is relatively low. Moreover. usually chipping. Nowadays.4 11. Armansyah Ginting 96 .HARD MILLING OF HARDENED TOOL STEEL: TOOL WEAR AND TOOL LIFE Department of Mechanical Engineering. the first stage is machining of the tool steel in normal condition that is in hardness around 23-27 HRC. respectively.3 0. In this stage. etc. this stage is ended by finish machining (Dewes & Aspinwall 1997). the dimension may not be produced accurately due to the heat treating process.42 0. heat (J/kgoC) 460 The multilayer CVD coated carbide tool in insert type was prepared in this study. Besides flank wear. The advantage of this study is facilitating the small and medium enterprises in setting up their cutting condition and sharing the good practice when machining product made of hardened steel.700 Modulus (N/mm2) 193. tool life is ranging from 5 to 20 minutes. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. machining the workpiece materials in hard condition is one of hot issues in metal cutting. gears and many kinds of machine parts. Finally. flaking and fracturing are the dominant wear modes found in hard machining (Ghani et al.

However.48 2.1 Tool Wear From the results presented in table 5.2 micron.086 0.16 14 8 -7 7 7 17 0 15 15 90o8’ 15 radial (ar) depths of cut are kept constant at 1.015 0. the wear marks of flank wear is rough and brittle fracture is dominantly occupied by flaking and chipping (figure 1).51 SF and EBF 1. BF = brittle fracture (chipping.N) and Al2O3. Tool Geometry Nose radius (mm) Chamfer width (mm) Chamfer angle (o) Axial rake angle Radial rake angle Face relief angle Peripheral relief angle Face cutting edge angle Peripheral cutting edge angle Face clearance angle Peripheral clearance angle Blade setting angle Helix angle 0.060 0.0 mm and 20 mm. The insert is made of the micrograin WC-Co with 10% of Cobalt and it is coated with 13 combination layers of TiN. In this group. respectively.90 3.33 Wear rate (mm/min) 0. Tool life data was recorded when flank wear at VB 0.077 0.01 to 0. 3. the brittle fracture in group two is worst. based on the cutting speed.7 mm on any insert and VB average 0.60 Wear rate (mm/min) 0. In group two (cutting speed of 80 and 95 m/min) the wear marks of flank wear is smooth (figure 2). it can be seen that generally.450 Grain size (micron) <1 The machining trial was executed on the CNC Vertical Milling Center with 0 – 10. EBF = excessive brittle fracture (chipping. the tool wear modes of the multilayer CVD coated carbide tool used in this study are flank wear and brittle fracture.029 0.91 10.056 Feed (f) = 0. flaking) SF = smooth flank wear.188 Wear mode F and BF (rough) F and BF (smooth) RF = rough flank wear. Wear rate is calculated based on flank wear (0.8 0.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting Tabel 3. the wear modes can be classified into 2 groups.24 13. Ti(C. Cutting conditions for machining trial are cutting speed (v) from 50 m/min (recommended by the tool manufacturer) to 95 m/min and feeding (f) of 0.02 mm/tooth (finish machining). The tool life criteria in this study were stipulated based on ISO 8688 (1989). Mechanical Properties of Insert Transverse rupture (N/mm2) 3. The axial (aa) and Table 5. Unlike brittle fracture in group one.300 Density (kg/m3) 145 Conductivity (W/mK) 120 Modulus (GPa) 600 Hardness (HV10) 1.022 0. The machining trial is stopped when VBmax 0. Cutting speeds of 50 to 72 m/min can be classified into group one.00 RF and BF 3. The measurement of VB was taken using the toolmakers microscope and each VB measurement was carried out after cutting length of 60 mm.3 mm on both inserts. The mechanical properties of this insert are given in table 4. RESULTS AND DISCUSSIONS The results of machining trials in this study are summarized in table 5.020 0. The total thickness of the combination layers is 10 microns and the outer layer of this insert (TiN) has roughness of Ra 0. The excessive chipping and flaking are occurred due to the high momentum of interrupted cutting during machining at high cutting speed.120 0. flaking) 97 .3 mm. Table 4. All trials are repeated 3 times in order to obtain the reliable data and the average values are recorded.24 5.00 15.02 mm/tooth Tool life Wear mode (min) 5. 3. The Experimental Results Cutting speed (v) (m/min) 50 65 72 80 95 Tool life (min) 20.3 mm) divided by tool life.000 rpm.

02 mm/tooh at VB 0. the increasing of cutting speed from 50 m/min to 95 (m/min) (about 2 times) at feed of 0. 4 Oktober 2006 Based on the recommendation of ISO standard for tool life testing (ISO 8688 1989). it can be seen that the increasing of feeding from 0.01 mm/tooth.3 mm Referring to Table 5. 98 . 0.02 mm/tooth (2 times) at all cutting speeds tested results the increasing of flank wear rate averagely 3. At the same cutting speed.2 Tool Life Tool life data in Table 5 is plotted and presented in Figure 3.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.01 and 0.01 mm/tooth at VB 0. Tool Life for All Cutting Conditions 4. Flank Wear and Brittle Fracture When 80 m/min. The values indicate that the effect of feeding is more significant than cutting speed in term of the progression of flank wear.1 times.3 mm S i 3 10 100 1000 Cutting speed (m/min) Figure 3. while 50 m/min for making the dove tail slot on the table. The result of machining proves that the cutting conditions recommended and good practices gained from this study are successful implemented in producing the vertical table work that made of hardened steel. Flank Wear and Brittle Fracture When 72 m/min. When cutting speed is concerned.01 mm/Tooth at VB 0. IMPLEMENTATION The cutting condition recommended from this study was implemented in fabricating the vertical table work to support the operation of milling machine in horizontal position (Figure 4). Statistically.02 mm/tooth results the flank wear rate 3.3 mm. 0. The table work is a sample product made by the small and medium enterprises. 1 1 feed 0.9 times.02 mm/Tooth at VB 0. the reliable tool life of cutting tool is ranging from 5 to 25 minutes. 3. the micro observation using SEM proves that the excessive chipping is also affected by feeding. Moreover.01 mm/tooth to 0.3 mm feed 0. Therefore. Cutting Speed vs. while axial and radial depth of cut are 1 mm and 20 mm (full engagement since the nominal diameter of the milling cutter is 20 mm). the recommended cutting condition for the cutting tool tested in this study is at cutting speeds of 50 to 95 m/min and feed of 0. Tool life (min) 10 Figure 2. cutting speed of 72 m/min was used for face milling the wide surface of table work.9 and 3. the decreasing value of tool life is found analogue to the increasing value of flank wear rate in the above. it can also be concluded that the effect of feeding is more than cutting speed in terminating the tool life. By these facts. In fabricating the vertical table work. 100 Figure 1. No. respectively. the worst chipping and flaking are resulted by the higher feeding.

H. E. J. 116: 49-54.. Ghani. Ginting. 3. A Review of Ultra High Speed Milling of Hardened Steel. Tool Life Testing In Milling.Hard Milling of Hardened Tool Steel: … Armansyah Ginting (a) (b) Figure 4. Che Haron. 1997. REFERENCES Aslan. C.01 mm/tooth. 4. 2. K. and Aspinwall D. 2001. ISO Standard 8688. ACKNOWLEGEMENT The author would like to express his sincere of gratitude to Prof. Dewes R. Dr. Goh Joo Hua for the data. CONCLUSIONS 1. Choudhury. (a) Vertical Table Work. Product of Implementation. A. C.H. axial and radial depth of cut 1 mm and 20 mm (nominal diameter of cutter). & Goh. Wear of coated and uncoated carbides in turning tool steel. I. Part II-End Milling. 1989. Journal of Materials Processing Technology. Experimental investigation of cutting tool performance in high speed cutting of hardened X210 Cr12 cold-work tool steel (62 HRC). 7.A. 6. Che Hassan Che Haron from University Kebangsaan Malaysia and Mr. 69: 1-17. Materials and Design 26: 21-27. and Masjuki.H. 2006. (b) Vertical Table Work Installed on Horizontal Milling Machine 5. 2004.A. The recommendation cutting condition for hardened steel using the CVD multilayer coated carbide from this study is cutting speeds of 50 to 95 m/min. J. Journal of Materials Processing Technology. The cutting conditions recommended from this study are successfully used in fabricating the vertical work table made of hardened steel.. H. Performance of P10 TiN coated carbide tools when end milling AISI H13 tool steel at high cutting speed. 99 . Flank wear and brittle fracture (chipping and flaking) are the wear modes of the CVD multilayer coated-carbide when used in hard milling of fully hardened steel with 62 HRC. feed 0. Feeding is found as the dominant parameter in flank wear progression and in terminating tool life. Journal of Materials Processing Technology.

Admitansi. Transistor. Transistor diperlakukan sebagai kotak 2 port seperti ditunjukkan pada gambar 1. Cara Memperoleh Nilai Admitansi 100 . Salah satu teknik analisis dan desain akurat tersebut adalah teknik parameter admitansi.DESAIN PENGUAT TRANSISTOR MENGGUNAKAN PARAMETER ADMITANSI Satria Ginting Abstrak: Penguat merupakan bahagian terpenting dalam sistem rangkaian komunikasi. 1. 2 Port Abstract: The amplifier is the most important circuit in communication electronics. Therefore. Sesaat setelah diterima oleh antena sinyal ini harus diperkuat agar dapat dideteksi dan diartikan. sehingga nilai admitansi y konduktasi g dan suseptansi b. Amplification technique that is always used in analyzing transistor circuits and operational amplifier will not working properly for signals in frequency of GHz. umumnya berukuran mikrovolt. After being received by antennas. Representasi Transistor sebagai Divais 2 Port Contoh : y11=1/z11=v1/i1. Admitansi adalah nilai kebalikan dari impedansi. Nilai tersebut diukur untuk range frekuensi tertentu. it is necessary to find methods to analyze more precisely. di mana i2=0 Gambar 2. Nilai impedansi terdiri dari komponen reaktif. Teknik penguatan yang biasa digunakan dalam analisis transistor serta teknik penguatan operasional tidak bekerja optimal untuk sinyal-sinyal berfrekuensi orde GHz. PENDAHULUAN Analisis admitansi adalah bagian dari analisis sistem 2 port. Sinyal-sinyal radiasi yang berada di udara. Oleh karenanya diperlukan metode analisis yang lebih teliti dan akurat. Nilai-nilai admitansi yang diperoleh dari gambar 2. Radiated signals in spaces measured in microvolt. Y=1/Z. these signals should be amplified in order to recognized and translated correctly. Kata kunci: Penguat. Parameter admitansi diperoleh dengan mengukur nilai-nilai admitansi dari transistor yang akan digunakan. Hasil parameter admitansi y yang diperoleh frekuensi meliputi: y11 = g11 + jb11 y12 = g12 + jb12 y21 = g21 + jb21 y22 = g22 + jb22 resistif dan terdiri dari pengukuran untuk setip PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT PORT IN PORT OUT Gambar 1. One of these techniques is using admittance parameters.

PENENTUAN RANGKAIAN BIAS Rangkaian bias yang digunakan harus dapat mensuplai arus bias sesuai nilai arus pada parameter admitansi yang digunakan. Gambar 3. sebaliknya jika k>1.504. Rangkaian bias lain seperti bias pembagi tegangan.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting 2. Transistor frekuensi tinggi (sampai beberapa GHz) memiliki parameter 2 port (parameter h. di mana nilai Zo adalah 50 Ohm. maka rangkaian tidak stabil. RFC menghubungkan drain ke ground. transistor memiliki parameter y sebagai berikut: Nilai ini adalah nilai pada frekuensi 200MHz dan ID=10mA. Jika tabulasi yang tersedia dalam parameter s atau h. Ini berarti transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. Rangkaian bias yang ditunjukkan pada gambar 3 menggunakan bias sendiri dalam konfigurasi common gate. Nilai tersebut diukur dan ditabulasikan sampai rentang frekuensi tertentu. PEMILIHAN TRANSISTOR Untuk mendesain penguat frekuensi tinggi. UJI PARAMETER STERN Setelah rangkaian bias diperoleh. Tabel 1 menunjukkan contoh tabulasi parameter s untuk transistor MRF134. 3. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah. maka digunakan analisis kestabilan stern: di mana di mana Dalam artikel ini transistor 2N3823 digunakan sebagai contoh untuk mendesain penguat pada frekuensi 200 MHz. maka transistor cendrung tidak stabil dan memerlukan rangkaian netralisasi. Jika tabulasi yang tersedia dalam bentuk fasor. Pada frekuensi ini. atau s) pada datasheetnya. bias kolektor (untuk BJT) juga dapat digunakan. maka dalam mengaplikasikannya akan efektif pada frekuensi tersebut dan arus bias 10mA. transistor harus dipisahkan secara fisik pada frekuensi 200MHz dari rangkaian biasnya. Untuk mencegah osilasi akibat induksi elektromagnetis. Dalam hal ini 10mA. Jika C<1. harus dipilih tansistor dengan karakteristik yang diinginkan. dengan syarat dapat mensuplai arus bias yang ditetapkan dan dipisahkan dengan menggunakan RFC. RF Choke adalah induktansi dengan nilai tinggi dan akan melewatkan semua sinyal pada frekuensi tinggi. Dari impedansi tersebut diperoleh nilai YS dan YL. shielding dilakukan untuk memisahkan pin output dan pin input. maka parameter admitansi harus diuji kestabilannya dengan menggunakan uji kestabilan Linvill: Jika k<1. maka rangkaian akan stabil. 5. Kapasitor digunakan untuk mengurangi efek riak dari catudaya. Untuk mengetahui keseluruhan rangkaian dapat beroperasi atau tidak. maka harus dikonversikan ke parameter y. 4. UJI PARAMETER LINVILL Untuk mengetahui apakah transistor dapat digunakan pada frekuensi 200MHz. Transistor 2N3823 pada frekuensi 200MHz memiliki nilai C=0. maka harus diubah dalam bentuk kompleks. selanjutnya adalah menghubungkan penguat dengan sumber sinyal dan beban. arus ID= 10 mA. Rangkaian Bias Arus bias akan mengalir dari sumber tegangan melalui RFC ke drain dengan memanfaatkan nilai tahanan pada RFC. Parameter yang penting dari sumber sinyal dan beban adalah impedansi masingmasing. y. 101 . Hal ini dicapai dengan menambahkan RF Choke pada setiap kaki transistor. maka transistor akan cendrung stabil dan tidak berosilasi. Adapun metode konversinya ditunjukkan beberapa formula berikut ini. sebaliknya jika C>1.

Bentuk Modul Penguat dan output admittance adalah: 7. sehingga YIN dan YS dapat dimatchingkan. Nilai penguatan maksimum yang dapat diberikan adalah 16.Pemilihan bias lebih flexible. Namun permasalahannya adalah ketika beban dan source tidak match.y22t. maka akan diperoleh nilai admitansi baru dari rangkaian: Nilai ini dapat digunakan dalam desain yang baru dengan menggunakan langkah-langkah yang sama. Posisi RFC disesuaikan sehingga diperoleh rangkaian yang tepat. Keduanya menggunakan matching impedace. hal ini berarti kondisi penguat stabil. penguat dapat dibuat beberapa tingkat dan dipabrikasikan dalam bentuk modul seperti gambar 5 berikut. . .Pemakain matching impedance dan teknik stabilisasi mempertinggi luasnya pemakaian transistor sebagai penguat. KESIMPULAN Dari uraian di atas. Hal ini disebabkan: . digunakan rangkaian matching impedance. maka akan diperoleh penurunan nilai gain. y12t.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 102 . y12f.8 dB. TEKNIK STABILISASI Jika pada langkah perhitungan kestabilan Linvill nilai C ternyata lebih dari 1. YS=50Ohm (YOUT dapat dihitung). 8. Namun penguatan yang diperoleh akan bervariasi terhadap nilai YS dan YL. y22f. MAKSIMALISASI PENGUATAN Gain maksimal yang dapat diberikan sebuah penguat adalah: Kondisi ini diasumsikan bahwa impedansi source dan load match dengan input impedance/admittance dan output impedance/admittance dari penguat. . Teknik Stabilisasi Penguat Jika nilai parameter admitansi transistor adalah y11t. diperoleh bahwa analisis dan desain penguat dengan menggunakan parameter admitansi lebih teliti dan lebih mudah dibandingkan dengan parameter sebelumnya seperti phi atau gm. 4 Oktober 2006 6. karena tidak mempengaruhi gain selama arus bias terpenuhi dan rangkaian dipisahkan dengan RFC. YOUT dan YL juga dapat dimatchingkan. Gambar 4.Perhitungan lebih mudah. No. nilai-nilai yang diperoleh eksak dan teliti.Parameter y langsung diperoleh secara experimental untuk frekuensi yang diinginkan. Di mana input admitance penguat adalah: Gambar 5. nilai kestabilan stern untuk admitansi beban dan source 50 Ohm adalah lebih besar dari 1.y21t. maka dapat dilakukan teknik stabilisasi dengan menambahkan rangkaian feedback seperti ditunjukkan pada gambar 6. Rangkaian Lenglap Penguat Untuk langkah selanjutnya. Perhitungannya diperoleh dengan memasukkan komponen YS dan YL pada perhitungan. yakni gain transducer: Pada kasus di atas. Gambar 6. Maka untuk memaksimalkan penguatan dan menstandarkan impedansi sumber dan beban. y21f. dan nilai admitansi rangkaian feedback adalah y11f. Gambar berikut adalah gambar lengkap di mana diasumsi kan YL=50 Ohm (YIN penguat dapat dihitung).

Bodway. Electronic Design. Norris.. “A High Gain Integrated Circuit RF-IF Amplifier with Wide Range AGC. April 12. Proc. Application Note 513. “Small-Signal RF Design with Dual-Gate MOSFET’s.Desain Penguat Transistor Menggunakan Parameter Admitansi Satria Ginting REFERENSI “Field Effect Transistor RF Amplifier Design Techniques. “Circuit Design and Characterization of Transistors by Means of Three-Part Scattering Parameters. May. 1968.”Motorola Semiconductor Products. Inc.” Motorola Semiconductor Products.” by George E. January. 1957. “Linvill Technique Speeds High Frequency Amplifier Design.” Motorola Semiconductor Products. Inc. F.. “Stability and Power Gain of Tuned Transistor Amplifiers.” Motorola Semiconductor Products. 1966. 1966. “High-Gain. 1961. “Transistors and Active Circuits. Inc. Application Note 166. McGraw-Hill. Inc. High-Frequency Amplifiers. “Using Linvill Techniques for R. March.” by Arthur P. 103 . Electro-Technology.” by John Lauchner and Marvin Lilverstein. IRE. Amplifiers. Application Note 423. Stern. Application Note 478A.” by Linvill and Gibbons.” by Peter M. The Microwave Journal.

arang. intan. Karbon polar biasanya terjadi jika karbonisasi (proses pengarangan) karbon di bawah suhu 700 oC. 1955). dapat muncul dalam dua bentuk kristal yang sangat berbeda yaitu intan dan grafit. kalor bakar maksimum diperoleh 8083. O=9. It has caloric value approximatly 5000 cal/gr with compressibility number is 2. karena selama ini penggunaan tempurung kelapa hanya sebagai arang biasa dan belum dipergunakan secara optimal. arang yang dihasilkan digiling dan diayak sampai (40 – 60) mesh. Intan adalah elemen yang transparan dan merupakan salah satu material paling keras. Hilda F.5% dan pH=6.45 kgf/cm2 pada konsentrasi 0. Pembriketan ini lazim dilakukan terhadap coke.2% natrium silicate (Na2SiO3) solution.2% larutan natrium silikat (Na2SiO3). garam.1–1. Pori-pori ini dapat diimpregnasi dengan logam untuk keperluan katalis suhu tinggi (A. Pada pembuatan briket arang. oleh karena itu kita dituntut untuk memikirkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. maka arang polar yang sering digunakan karena material arang polar akan merekat dengan binder atau perekat yang bersifat polar (Suheng Wu. To improve the quality both caloric value and compressibility number is an objective of this study. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Abstrak: Briket arang adalah suatu sumber energi alternatif yang dapat diturunkan dari arang tempurung kelapa dan perekat.0)%. Silikat Abstract: A materil such as charcoal briquet can be used as an alternative energy. The charcoal formed then was crushed.7 sedang karbon tempurung dapat disebut karbon polar atau karbon nonpolar. Variasi Konsentrasi.ANALISIS PENGARUH IMPREGNASI SILIKA (SIO2) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA Departemen Fisika. pori-pori karbon yang besar diduga menurunkan nilai kalor bakar dari briket (4000-5000) kal/g (Hartoyo Ando. Tempurung kelapa dikarbonisasi pada (600–700) 0C dengan udara terbatas. Dengan menggunakan teknik ini maka serbuk karbon jika diimpregnasi dengan silika (SiO2) akan memperkecil ukuran pori-pori karbon tersebut. Pembriketan atau briquetting terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu. A maximum caloric value was obtained 8083.45 kgf/cm2 in 0. This material has been regenerated from a coconut shell charcoal blended with organic glue. 1999). Perlakuan Panas. PENDAHULUAN Dengan meningkatnya secara pesat pembangunan pada segala bidang yang mengakibatkan pula meningkatnya kebutuhan akan energi. A coconut shell was carbonized at (600–700) 0C in limited air condition. Partikel halus ini diimpregnasi dalam larutan natrium silikat (Na2SiO3) dengan variasi konsentrasi (0.. Pembuatan obat dalam bentuk tablet atau pun katalis dalam bentuk pellet termasuk juga dalam cara briquetting. Bahan ini (impregnan) selanjutnya dicampur dengan perekat organik dan dicetak menjadi briket. The impregnant was blended with an organic glue then molded to be a briquet.1%. Karbon merupakan material berpori-pori di mana pori-porinya semakin besar setelah dilakukan aktivasi fisik atau kimia. Tempurung kelapa banyak juga dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu pada industri kerajinan tangan. dan gas alam yang tersedia di perut bumi semakin menipis. These briquets were tested their caloric value and their compressibility.9%.64 kgf/cm2. Pemanfaatan arang sebagai arang aktif adalah didasarkan pada sifat-sifatnya yang merupakan bahan padatan amorf yang berpori (Keake. Kata kunci: Impregnasi.1–1. These particel were impregnated in natrium silicate (Na2SiO3) solution under a range cocentration (0.0)%. dan kabon amorf. tepung tempurung. peat. namun mutunya seperti nilai kalor bakar masih berkisar 5000 kal/gr dengan kuat tekan 2. hal ini dibedakan dari banyaknya gugus karbonil (C=O) yang melekat pada karbon (J. G. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui adalah pemanfaatan limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket arang. Laine.5%. grafit. arang aktif serta briket.64 kgf/cm2. (Sudrajat R. A. banyak dimanfaatkan sebagai media abrasi dan Aditia Warman 104 . Sungguh menakjubkan bahwa satu elemen tunggal seperti karbon. Adapun komposisi arang tempurung kelapa terdiri atas unsur C=81.1993).84 cal/gr with its compressibility number 4. TEORI KARBON Karbon merupakan suatu bahan padatan yang berpori dan mempunyai tiga bentuk alotrop.84 kal/gr dengan kuat tekan 4. arang dan bahan mineral lainnya. untuk meningkatkan mutu ini maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. Calafat.Aslam Ali PD II-LIPI). H=5. 1999). sementara cadangan energi seperti minyak bumi. sementara sediaan tempurung kelapa cukup banyak terdapat di Indonesia khususnya daerah Sumatera Utara dan dapat diperbaharui. 1996). N=3. sized to (40–60) in mesh. Briket ini diuji kalor bakar dan kuat tekannya.

1.Kalor baker . Pembriketan terhadap suatu material merupakan cara untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu.Kadar karbon.Kuat tekan 105 . Grafit digunakan sebagai pelumas padat dan alat tulis (mata pensil). Elemen ini sekarang digolongkan ke dalam kelompok keramik tahan panas karena kekuatannya pada temperatur tinggi serta ketahanannya yang sangat baik terhadap kejutan termal. sebagai contoh misalnya untuk coal bituminous. . FTIR Pembuatan Briket Arang Butiran arang dari hasil impregnasi selanjutnya dibuat menjadi briket dengan komposisi sebagai berikut: tujuh bagian arang dicampur dengan satu bagian bahan pengikat dan bahan pengikat ini terdiri dari. BRIKET ARANG Briket arang dapat dibuat dari campuran bubuk arang ditambah dengan suatu bahan pengikat lalu dicetak dan dipres pada cetakan dan setelah itu dikeringkan. Adsorbsi asam asetat . Pembriketan tanpa memakai pengikat.Kadar air. Kadar abu. secara garis besar pembriketan dapat dibedakan atas dua macam.29 bagian dari 25% larutan NaCl . Kadar volatil. peat. dalam hal ini digunakan tekanan yang sangat besar (mencapai 10 ton/in2). 1999). E. selanjutnya butiran arang ini diayak kembali dengan ayakan yang berukuran 40 dan 60 mesh dan dipanaskan pada tanur dengan suhu 400 oC selama 4 jam dan siap untuk dikarakterisasi: .1 s/d 1. setelah itu arang yang telah diimpregnasi ini dicuci dengan air dan ditiriskan lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 125 o C selama 6 jam. Pembriketan dengan memakai pengikat (binder). garam arang. cara ini dipakai untuk material-material tertentu saja. METODOLOGI PENELITIAN Impregnasi Karbon dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) Butiran arang yang terbuat dari tempurung kelapa dengan metode destilasi kering akan menghasilkan arang dengan rendamen yang tinggi. Smallman. Absorbsi Iodium. SEM. . pembriketan biasanya lazim dilakukan terhadap coke. Intan dan grafit mempunyai struktur atom karbon murni yang sifatnya berbeda sedangkan karbon amorf meliputi sejumlah besar senyawaan yang bagian terbesarnya adalah karbon dan tidak dapat di klasifikasikan sebagai intan atau grafit. hampir semua/sebagian besar dari pembriketan menggunakan cara ini.28 bagian dari 10% larutan Na2SiO3 .0 ) % selama satu hari. kuat tekan yang memadai diperlukan untuk mencegah agar briket arang ini tidak pecah pada waktu pengangkutannya. 2. termasuk di dalamnya karbon aktif dan karbon hitam karena sifat-sifatnya lebih banyak menunjukkan sebagi senyawa amorf (R.30 bagian dari 25% larutan dekstrin/glukosa . Butiran arang yang berukuran 40 dan 60 mesh ini selanjutnya dibagi menjadi 10 bagian dan masing-masing direndam dengan Natrium Silikat (Na2SiO3) yang konsentrasinya masing-masing (0.23 bagian dari 5% larutan H2SO4 Selanjutnya diaduk hingga merata dan dicetak dalam cetakan dan ditekan dengan hidrolik press 10 kgf/cm2 dan dikeringkan untuk siap dikarakterisasi kembali.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman alat pemotong. selanjutnya dihaluskan dengan hammer mill dan diayak dengan ayakan berukuran 40 dan 60 mesh lalu diaktifkan dengan metode pengaktifan selanjutnya dicuci dengan air lalu dikeringkan dalam oven 125 o C selama 6 jam setelah itu diamati dengan foto SEM dan FTIR untuk mengetahui keadaan permukaan dan strukturnya sebelum diimpregnasi. dan mineral lainnya. sifat fisis yang penting dari briket arang ini adalah nilai kalor bakar dan kuat tekannya.

00 Kadar Karbon (%) 70.10 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kadar Karbon .70 0.40 0.00 0.00 4.20 0. Volatil) (%) 7.30 0.00 0.00 40.vs .00 50.00 10.00 30.00 0.00 60.00 9.60 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7.00 0.00 Kadar (Air.00 1.00 2.80 0.90 1.Consentrasi Pengimpreg 100.00 6.00 0.90 1.00 0. No.50 0.10 0. 4 Oktober 2006 HASIL DALAM GRAFIK DAN GAMBAR 11.10 Consentrasi SiO2 (%) Series1 Grafik Kadar Air .10 0.00 1. Abu.00 5.00 8.70 0.40 0.vs – Consentrasi Pengimpreg Series3 Grafik Kadar Volatil .00 90.Consetrasi Pengimpreg SiO2 106 .vs .20 0.00 20.00 1.vs – Consentrasi Pengimpreg SiO2 Series2 Grafik Kadar Abu .80 0.60 0.00 10.00 3.50 0.00 80.30 0.

5 0.vs .7 0.4 0.4 0.vs .7 0.6 0.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 107 .9 1 1.5 0.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik Kuat Tekan .6 0.2 0.3 0.8 0.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman 9000 8000 Kalor Bakar (kal / g) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 0.2 0.9 1 1.1 Consentrasi SiO2 (%) Grafik nilai Kalor Bakar .8 0.1 0.1 0.3 0.Konsentrasi Pengimpreg SiO2 25 20 Kuat Tekan (kgf / cm ) 2 15 10 5 0 0 0.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. 4 Oktober 2006 Foto SEM Permukaan Arang Sebelum Diimpregnasi SiO2 Foto SEM Permukaan Arang Sesudah Diimpregnasi SiO2 FTIR Sebelum Diimpregnasi 108 . No.

103. Hasibuan M. Departemen Perindustrian. (1996). bahan pengimpregnasi dan jenis bahan bakunya. London. Alport. J. No. Ando. “Polymer Interface and Adhesion ”.“ Activated Carbon From Coir Fibre Pith”. No.61 mg I2/g dan semakin kecil setelah diimpregnasi dengan SiO2.J. J dan H Roliadi. dan nilai kalor bakar ( C ) arang tempurung kelapa tersebut.” Majalah Ilmiah BIMN No. Standar Cara-Cara Analisis dan Syarat Mutu Barang”. Meiske S. A. R. R.2%. Vol 1:69 American Society For Testing and Material (1981) “ Annual Book Of ASTM Standards” Part 30 D-28 Departemen Perindustrian. (1999) “Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa Meterial”.“ Pembutan Briket Arang dari Lima Jenis Kayu Indonesia”. Calafat. Hilda F. New York. Sudrajat.2. “Pengaruh Beberapa pengolahan Terhadap Sifat Arang Aktif ”. (1979) “ Standar Industri Indonesia.“Actived Carbon” Encyclopedia Of Science and Technology. Lumingkewes. Laine. (2002). Saran Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan variasi tekanan pengepresan.2. Smallman. R.G. Erlangga Jakarta.44 mg I2/g yang didukung oleh data foto SEM dan FTIR. absorbsi I2 = 47.84 kal/g dan kuat tekannya 4. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Badan Penelitian dan pengembangan kehutanan. 109 . Arang tempurung kelapa memiliki absorbsi I2 = 100. Aslam Ali. ukuran partikel arang. Carbon Vol. Vol. Lybrary of Congress Cataloging In Publication Data. Keake. Souheng Wu (1999). (1995).27. Nilai kalor bakar (C) arang tempurung kelapa meningkat jika diimpregnasi dengan SiO2 pada konsentrasi tertentu. Inc. DAFTAR PUSTAKA A.“ Pembuatan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dengan Cara Pemanasan Tinggi. Supeno M (1987) “Efek Termal dan Nyala Pada Pembuatan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Sifat Fisik Arang Tempurung” Universitas Sumatera Utara Medan. 2. pp. 3. Labady (1999). (1987). H Bumham. (1993).7. Bishop.E. (1995) “Rekayasa dan Pembuatan Tungku Abu Sekam Dengan Bahan Bakar Briket” Balai Industri Ujung Pandang. Report No. dalam penelitian ini nilai kalor bakar optimum diperoleh 8083. kadar volatil (Kv) tetapi hal ini menyebabkan turunnya kadar karbon (Kk). (1994) Pedoman Teknis Pembuatan Briket Arang. Buletin PD II – LIPI Jakarta. kadar abu (Ku). 19-29.45 kgf/cm2 pada konsentrasi pengimpreg SiO2 0.” Preparation and Characterization of Activated Carbon From Coconut Shell Impregnated with Phosphoric Acid.Y. Departemen Kehutanan.Analisis Pengaruh Impregnasi Silika … Aditia Warman FTIR Sesudah Diimpregnasi SiO2 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1.3. Sifat kuat tekan (σ) briket arang tempurung kelapa akan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi pengimpreg SiO2 dan hal ini juga diikuti oleh sifat kadar air (Kr). Harotoyo.Graw Hill Company. Pusat Penelitian Hasil Hutan. and M. Mc. Marcel Dekker.

Faculty of Engineering USU Abstract: Urban traffic congestion often become topics in seminars. Therefore. efforts to minimize the congestion levels are necessary through the application of traffic management policy. In addition.URBAN TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN ARE SERIOUS A Lecturer/Researcher of Civil Engineering Department. which consequently causes series of congestions at all integrated junctions. shelter). cause the queue length becomes more intense. However. therefore the average petrol waste is about 0. Furthermore. less visitors to land use functions of surroundings roads (parking. then the traffic queue on the preceded intersection will affect the succeeded intersection. The impacts and financial losses caused by traffic congestion that are directly affected are: 1. such as the correct and integrated traffic managements. like what has been visible now. retails/shops. An illustration for the amount of financial losses per day that has to be bore by traveller community in Medan based on author’ observations and estimations is such as follows: Congestion locations per day in Medan are about 60 road segments (30 intersection spots. due to the limited procurement of road infrastructure until the existence of emotional behaviour of motorists. functions and classifications of the roads respectively. etc.40. Indeed. traffic signals.- Filiyanti T. public transports routes/lines managements (bus lane. For surrounded environment (non users) such as air and noise pollutions. e.A. urban traffic congestion cannot be eluded. The management should be based on the hierarchical.5 litre/pcu/road segment. This could happen because of high side friction effects which lead to road segment stricture (bottleneck). THE IMPACTS AND FINANCIAL LOSSES FROM TRAFFIC CONGESTIONS IN MEDAN Urban traffic congestion cannot certainly be eluded.850/litre. For users (travellers). while the number of vehicles that can be distributed is very limited during the green-light time. which restricted by their discipline levels in the traffic. pedestrians (on road walking and/or crossing). traffic direction management (one or two ways). Traffic congestion on the intersection segment can be observed from the long queued vehicles. however it supposed to be minimized and not maximized (intentionally or not). for instance: parking location management. on road social activities (party or funeral ceremony).1. When the distances between intersections are close enough. BACKGROUND Traffic congestion occurred due to the road segment has started not to be able to accommodate/distribute the vehicle flows that spilled over the road.500 pcu/hour at peak hours. and the average delay is about 10 minutes/pcu/travel. and stres (triggering high blood pressure. Each congested road segment has average traffic volume of 2. 2. and often become chatting topics for community from various classes everywhere. While the petrol (BBM) price is Rp. road-cross facilities.g. selling/market on road or on the sidewalks. 2. the urban traffic jam is not only due to the unbalance ratio between infrastructure developments and means boost (vehicles) and low discipline level of motorists.000. The aim of the traffic management policy is to manage the movement to achieve the system’s efficiency and effectiveness in accordance with the movement’s needs. increase the travel time. trishaw and urban public transport (angkot) poles. bus priority) and the bus stops (bus bay. Bangun 110 . for instance: on road parking. whereas the movement’s needs are determined by the land use inside the city space and its surroundings which can be illustrated in data of Origin Destination (of movement) Matrix (O-D Matrix). heart disease). and the average value of time of traveller is about Rp. wasting petrol. due to the number of vehicle arrivals (pcu/minute) is quite high on the road segment. bus way. like what always become reasons/arguments for various relevant government parties/individual to protect themselves. there are about 4 hours peak per day. the congestion is also often caused by less accurate intersection management (with or without traffic light). the traffic congestion/delay and harmful accident also occur due to the behaviour of angkot’s drivers that often turn up (nyelonong) and suddenly stop on/in the middle of road to get on/off the passengers due to “reaching the daily bill target” (kejar setoran). added by high accessibilities to the surrounded land use of the road segments. restaurants and plaza) which therefore can decrease incomes/revenues of the land use functions. In Medan. setting traffic lights. The most urgent for short-term program is the effectiveness and efficiency achievements of transport systems. has been discussed and investigated by various experts. How is the existing policy objectives and the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan? And how is the relationship with the urban transport systems of Medan? 1. that is “an interesting scene” or the contest of “line exhibition of various types of queuing vehicles” at every segment of road in Medan. with assumption of 2 road segments are congested per intersection).

As a Primary Artery Road.000. traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East becomes more excessive to K. The congestion from Darussalam Street will affect Pabrik Tenun Street.. including limiting the direct accesses to surroundings land use (e. such as follows: a.g. Prior to the one-way policy on Gatot Subroto Street.150. researchers/planners of transportation and city region development. To achieve these goals. Flow stricture occurs (bottleneck) on Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection caused by the shift of one-way flow (from Medan to Binjai) to become two-way flows (starts from the intersection nozzle of Gatot SubrotoIskandar Muda to Binjai direction). 2.-. therefore the loss of angkot due to less passengers (less trips) with about 15.000.= Rp.000.M. 111 . the traffic flow will affect the intersection of Abdulah Lubis Street.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T.Wahid Hasyim Street.000.000.180.000.400.1. From the existing road hierarchy. function and classification. with a small difference is at morning and afternoon peak hours. The loss of public transport operators = 15... THE IMPACTS OF BY-SPOTS ONE-WAY POLICY Post application of policy package of determining the traffic movement direction from two ways to become one way in several road segments in Medan is increasingly discussed through seminars and newspapers.000. Thus. which consequently causes higher congestion level on one-way flow of Gatot Subroto Street.12. A.-.= Rp.= Rp. Department of Communications/DLLAJ).000 total armada (angkot and taxi) is about Rp. Raja Street. H. Gatot Subroto Street is a Primary Artery Road and operating as a State Highway (interprovinces) as well as S. the prevailed one way policy is only from Petisah Roundabout until Gatot Subroto-Iskandar Muda intersection (from East to West direction). Therefore. especially for regulators (The City Government and the Regional House of Representatives)..000. which will continually unite with the flow from Iskandar Muda Street at the intersection of Abdulah Lubis – Iskandar Muda causes severe congestion at the intersection.1. the City Government should rigorously mull the policy over through deeper and comprehensive (integrated) academic investigation/research in accordance with road network systems and traffic movement patterns..285. d. especially at afternoon peak-hours. The loss due to productive time = 2.500 x 60 x 15/60 x Rp. law supervisors (police. real estate. the urban traffic congestion is not deserve just as a chatting topic for community. especially in large cities.Parman Street and continually to Kejaksaan Street (becomes more severe at the intersection of Imam Bonjol– Diponegoro).000. should be sustained by managing the traffic systems in such a way in order to maintain the average operational velocity of vehicles.850.12. especially about the one-way policy on Gatot Subroto road segment (from roundabout of Petisah until Gatot Subroto – Iskandar Muda intersection).000 x 10/60 x Rp.000. the traffic flow distributions according to the both directions are similar in general. Wahid Hasyim and continually to the intersection of Gajah Mada– Iskandar Muda (extreme congestion).000. the total financial loss for traveller community (user) is Rp. plaza. The average number of angkot’s users for 4 peak hours is about 120. at both inside and outside the cities (suburban). However.= Rp.. The waste petrol occur = 2.500 x 0. Ayahanda intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Ayahanda Street and/or Darussalam Street. state that the services of Primary Artery Roads. then the larger the loss that has to be bore by traveller community (user) and non-users. Western intersection.per productive hour and the waiting time delays averagely about 10 minutes.-/vehicle. H Wahid Hasyim Street and affects the intersection of Gajah Mada–K. continually to the intersection of Skip Street and keep going to Gereja Street until Glugur junction. This is not even yet the loss that has to be carried by non-users (needs further investigation with more accurate data).per day (± Rp. functions and classifications. In conclusion.000. however it has to become a serious attention for all levels of road user communities. From KH. added by stres burden that has to be experienced. b.20. 3. The congestion from Kejaksaan Street will flow to Kpt. The loss due to delayed waiting time = 120. Maulana Lubis Street intersection and continually until the intersection of Raden Saleh Street (becomes extreamly congested).000. so that the traffic flow condition on the road segments is expected to be constantly fast. Bangun /productive hour (assumption: 1 vehicle contains 1 person). then the accesses to local roads along the Primary Artery Roads should be limited. the more the locations and the higher the levels of congestion.000. schools and retails) and limiting the impacts of side frictions.: market.000 passengers with value of time is Rp20.-. continuing along the roads. which causes: 1. The congestion from Gajah Mada Street flows to S.000.555. Asrama intersection: traffic flow disposal of Gatot Subroto Street from West to East direction becomes more excessive to Asrama Street..40. The stipulations based on the road hierarchies.5 x 4 x 60 x Rp.36 Billions per month). Adding susceptible spots and congestion levels on the other intersection road segments caused by shifting the traffic flow distributions.000 x Rp. c.

it is better if the road networks (infrastructure) have been built primarily before applying the traffic management policies. 5. The development of Warga Street which has to be followed by the establishment of fly. so that the traffic management in Medan is not by spots. 5. In the future. Reduce accessibilities to Petisah market and retails/office complex around the road due to the one way flow. that has to be integrated with RTRW of North Sumatera Province and has been enacted (Perda)? 4. No. cooperative and sustainable.g. such as: Hayam Wuruk Street. Whereas for the policies of traffic flow direction management of other road segments in Medan. How long will the development vow be a fact so that the financial and psycho losses for the community can be estimated and bore? If. Therefore. less trips and longer travel distances. police).Parman Street that affect the intersection of S. which will enable to reduce conflict spots of the intersection (therefore continued flows will separate from turned flows). The intersection of Gajah Mada–Iskandar Muda. if not based on RTRW Medan City. The win-win solutions are: 1. demand reduction to market/shopping areas. D. e. about the possible policy that may be more effective to be applied (with the existence of Medan Fair Plaza). whereas the development of the road infrastructure has seen nothing. cause the traffic chaotic and congestion more severe on road segments and intersections that accommodating the impacts. THE ROLES OF CITY GOVERNMENT OF MEDAN Enacting the one-way policy on several road segments. 4. which have to be bare by the community? And to where the direction of further development of Medan. Considering the too many routes and angkots’ armada that pass the road segment simultaneously with longer routes (chaotic reallocations. Therefore. especially for retails’ businesses that tend to be concentrated on the surroundings CBD (Centre Business of District) area. The ingress and egress accesses of Medan Fair Plaza are not permitted from Gatot Subroto Street. because the perceptions and the travellers’ traits have patterned on road network according to time. 4 Oktober 2006 3. Dr. What become salient questions are: Has City Government of Medan (Pemko) accurately mulled the amount of losses over including other effects caused by the one-way policies? How much more the losses. for instance. The city establishment /development concepts are expected not only having temporary goals or just taking the advantages (lagi mumpung). the traffic flow comes from Gajah Mada Street to Iskandar Muda Street will cause travellers search alternative roads around the acceess roads. the vow has become a fact. The reallocation of angkot routes to other road segments.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. causes community has experienced the negative impacts. higher costs and more plenty security guards (DLLAJ. which causes additional congestion in various intersections along Iskandar Muda Street and continually causes congestions at the intersections of each alternative road with S. after the congestion problems become very serious and the solutions are only either to widen the roads or to establish a new road or a fly over. Pardede Street. then these will cost huge money and social impacts and will cause a lot of stres to urban community as the expelled victims. Not yet adding with financial loss for the angkots’ drivers due to fewer passengers. there will be no more direct access from Gatot Subroto Street to Medan Fair Plaza. the management of traffic problems might be different again. Additional of heavy duties. in one conditional that the traffic flows should be changed back to two-ways flows. especially flows from West to East for land users on surroundings road segments. moreover the effects will be very heavy and complicated for community. T. Retail business owners/shareholders of Medan 112 . Fair Plaza are expected to (should) grant the financial compensation for the development of both types of road. but it should be by network systems that are integrated. parking. which previously passes the road segment of Gatot Subroto (specifically from West direction to East). especially during the policy application term. WIN-WIN SOLUTIONS The authors give temporary win-win solutions (without comprehensive data analysis). The both solutions above will exactly minimize the traffic congestions along Gatot Subroto Street although the traffic flows are still in two-ways flows like previously. only then the City Government (Pemko) issues a plan to develop the Warga Street. without solemn planning and up to angkot’s will). therefore it is necessary to determine the both accesses from other surroundings road alternatives in accordance with the road functions and hierarchies. it is compulsory to undertake further investigations that are more integrated according to the comprehensive systems. it is highly expected that the development programs of Medan City is not centralized only in CBD area or in the other word “heaping sugar in city centre” so that the “ants will gather and rotate in city centre” that causes various bigger urban problems (not only in transportation sector but also in other sectors) so that the solutions become heavier and more complicated. Parman Street with Sudirman Street. etc. 2.. The development of Medan City has rapidly advanced nowadays.over (jalan layang) at the intersection of Gatot Subroto – Iskandar Muda. Thus. e.

. Kemacetan Lalu lintas di Kota Medan Serius. Napitupulu. 2005. International Planning Studies. and Bangun. 15 January 2005. H. No. F. ----------. Analisis Newspaper: Medan. Department of Transportation of Medan. 2006. Turki. A. Sutomo. Napitupulu. The Urban Satellite Field Concept. Ghana. F. Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi Lebih Prioritas dari Medan-Binjai. P. 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur– ITB. Data Profil Angkutan Umum Perkotaan.. 13. Powerpoint Transparansi. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 65/1993 about Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan. R. Jogjakarta. Kota Metropolitan Atau Kota Metromarpilitan? An Opinion. p. Bangun. Hasamagaola 3-25-3. and Bangun.. Napitupulu.T. An Opinion. Apakah Kemacetan Lalu lintas Perkotaan di Medan Hanya Layak Sebagai Bahan Obrolan Saja? An Opinion. 21 Maret 2005. Bangun. p. Bangun Thus. and Bangun.. p. and Bertini. the direction of city development is compulsory determined based on the City Regional Layout Planning (RTRWK) of Medan and it should be synergized for both inside and inter development sectors with RTRW of Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang (MEBIDANG) simultaneously with RTRW of North Sumatera Province. 1992. 18. 2005.. pp. ----------. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 1. 13 November 2004. P. Vol. R.. Bandung. Vol. M. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. Januari 2006. Medan. Manajemen Lalu lintas Perkotaan. Medan. Forum Keselamatan Masyarakat Transportasi Indonesia. pp 9–32. 1.. Wahana Hijau: Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah.L. 1. Sorensen.. 13.. Jakarta. An Opinion. 6. P. ----------. 113 . Jakarta. Februari 2006. Medan. Satellite Cities. Waspada Newspaper: Medan.. 103 – 108. An Opinion. Napitupulu.Urban Traffic Congestions in Medan are Serious Filiyanti T. 2001. 2003. Sistem Manajemen Satu Payung Angkutan Umum Menyongsong Program Monorel di Kota Medan–Bagian 2. Bus Rapid Transit: An Alternative for Developing Countries. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan.. Portland. 13... An Opinion. p. 2005. 3. Department of Urban Engineering. F.. REFERENCES Bangun. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. Minister of Transportation RI. Waspada Newspaper: Medan. Sanda-shi.. p. Directorate Genderal Bina Marga. R.. A Case Study of Istambul. dan Napitupulu. p.. Leal. R. Sub-Centers and Satellite Cities: Tokyo’s 20th Century Experience of Planned Polycentrism. 6. Hyogo-ken. 4. Menggagas Revitalisasi Angkutan Umum: Berubah Sekarang atau Mati?.and Alkhairi. Prospek Sistem Angkutan Umum di Kota Medan. F. Sinar Indonesia Baru Newspaper: Medan. A Case Study of Accra Metropolitan Area. Percepatan Pemberdayaan Pelayanan Angkutan Umum Metro Bandung. R.. and Bangun. p. University of Tokyo. 13. 19 November 2004. An Opinion. 1993. F. F. F. A. April 2006. Portland State University. Japan 669-1545. A. R. F. Anugrah Tertib Lalu lintas Kota Medan 2006.. Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan. Jogjakarta. dan Alkhairi. Munawar. Bangun.. 4. 2004. Powerpoint Transparansi. 31 Januari 2005. and Alkhairi. No. Departemen of Public Work RI. Beta Offset Publisher.

) (THE MACHINING PROPERTIES OF DURIAN WOOD [Durio zibethinus L]) Muhdi. UD Setia Perabot. dan lainnya tersebut sehingga pemanfaatannya dapat optimal dan sesuai dengan penggunaannya. bulu halus. pinus. Wood Working. Sumatera Utara. serat tersobek.) as a industrial raw material. To be able to be made use of the processing industry of wood was needed by basic characteristics especeally the machining properties. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian bertempat di pabrik pengolahan kayu furniture dan mebel. Kayu durian yang biasa ditanam di hutan rakyat. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifatsifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. Pemanfaatan kayu dari spesies yang kurang dikenal (lesser known spesies) dan berkualitas rendah merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Keywords: Durian Wood.000 jenis kayu yang diperkirakan tumbuh di Indonesia merupakan jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu dan secara alami terdapat dalam jumlah yang besar. dan Nur Idul Adha Abstrak: Kayu durian (Durio zibethinus L. Sifat Pemesinan Abstract: Durian wood (Durio zibethinus L.) is one of the wood that has a low quality that could be made use to the alternative fo the processing industry of wood especially as the furniture raw material. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. Kayu selain banyak dimanfaatkan untuk bahan baku konstruksi juga dimanfaatkan untuk industri pengolahan kayu. Jenis cacat yang teramati pada proses permesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L. This research showed that the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L. pinus. kempas dan lainnya lebih disukai oleh industri pengolahan kayu sebagai bahan baku konstruksi dan mebel.) is included first class (very good). Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. Perilaku kayu dalam proses pemesinan akan berpengaruh terhadap efisiensi pengolahan dan merupakan salah satu kriteria dalam penentuan alokasi penggunaannya. Kata kunci: Kayu Durian. fuzzy grain. Salah satu sifat dasar tersebut ialah sifat pemesinan atau pengerjaan pada papan kayu gergajian. 1995). Pemanfaatan kayu ini tentu harus didasarkan pada kualitas yang sesuai dan seimbang dengan kayu jati. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat sampai sekarang pada umumnya terbatas pada kayu dari spesies yang telah dikenal dan berkualitas tinggi. dan serat hancur. Pengerjaan Kayu.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. perkebunan bahkan di pekarangan rumah adalah salah satu jenis kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. diperlukan sifat dasar terutama kemudahan untuk dikerjakan dengan mesin. Supriadi dan Rachman (2002) mengemukakan bahwa 400 jenis dari 4. Kayu-kayu yang memiliki kelas kuat dan kelas awet tinggi atau sifat-sifat pengerjaan kayu yang sangat baik seperti kayu jati. meranti. 114 .SIFAT-SIFAT PEMESINAN KAYU DURIAN (Durio zibethinus L.) termasuk kelas I (sangat baik). Tujuan penelitian adalah untuk meneliti sifat-sifat pemesinan kayu durian (Durio zibethinus L.) sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. rengas. Machining Properties PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan kayu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan manusia. Untuk dapat dimanfaatkan dalam industri pengolahan kayu. This research indicated that durian wood can be made alternative to industrial raw material of wood working. chip mark. tanda serpih. kempas. Tito Sucipto. Tujuannya ialah untuk memperoleh gambaran mengenai mutu kayu olahan sebagai hasil interaksi antara kayu dengan berbagai mesin yang digunakan di dalam pengerjaannya (Ginoga. Padahal pasokan kayu dan ketersediaannya semakin berkurang dan sulit untuk didapatkan. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengolahan kayu. rengas. The aimed of this research was to know the machining properties of durian wood (Durio zibethinus L.) adalah salah satu kayu berkualitas rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk bahan baku dalam industri pengolahan kayu terutama sebagai bahan baku mebel. meranti. The defect kind that abserved in the machining process of durian wood including chipped grain. raised grain and destruct grain. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. Kota Medan. serat terangkat.

0006.5 cm x 2 cm dan bebas cacat. dengan kecepatan putaran mata bor sebesar 3. Memberi tanda pada setiap contoh uji begitu keluar dari mesin dengan menunjukkan arah masuk kayu ke dalam mesin. Pola Pemotongan Contoh Uji (ASTM D 1666-99) 115 . alat tulis. Penelitian sifat-sifat pemesinan menggunakan bahan baku berupa papan contoh kayu durian (Durio zibethinus) berukuran 120 cm x 12.000 rpm. mesin serut (planer). b. Pembentukan (Shaping) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin pembentuk (shaper). Sudut potong pisau diatur sebesar 20°-30°. caliper. Spesifikasi mesin yang digunakan dalam proses pengerjaan disajikan pada tabel 1. dengan kecepatan putar pisau sebesar 9. c. Pengerjaan Papan Contoh Pengujian dilakukan dengan menilai sifat pemesinan pada papan contoh. Semua papan contoh dalam keadaan kering udara dan kondisi bebas cacat. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. Penyerutan (Planing) Contoh uji penyerutan dibuat berukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm. Alat bantu yang digunakan adalah meteran. Contoh uji diserut dengan mesin double moulder searah dengan arah serat.5 cm 2 cm 5 cm c 10 cm 90 cm Keterangan: a = Contoh uji pengeboran (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) b = Contoh uji pengampelasan (ukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm) c = Contoh uji penyerutan. Gambar 1.. dan Nur Idul Adha Tabel 1.5 cm x 2 cm sebanyak 20 lembar papan (ASTM D 1666-99). dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi bahan dan peralatan yang ada. Pada salah satu sisi contoh uji tersebut dibentuk alur berbentuk M6 (moulding model 6). Pengeboran dilakukan sampai 2 mm melebihi permukaan bawah contoh uji untuk menghindari terjadinya serpih. Semua contoh uji yang telah diserut disimpan dengan teratur dan selanjutnya dinilai sifat penyerutannya. Perubahan tersebut terutama pada pembuatan contoh uji dan cara pengujiannya (Abdurrahman dan Karnasudirja. Selanjutnya dibuat contoh uji dan dikerjakan dengan peralatan yang terdapat di UD Setia Perabot. Semua papan contoh bebas cacat terlebih dahulu dikeringudarakan hingga kadar air 12–18%. Tito Sucipto. papan contoh uji dibuat berukuran 120 cm x 12. Kondisi pemesinan disesuaikan dengan kondisi yang saat ini diterapkan di industri pengerjaan kayu. Pembuatan profil ini menggunakan pisau M6. 1982 dalam Supriadi dan Rachman. laju pengumpanan sebesar 12 m/mm.00032.000 Router KaferMK408 Cina 1994 R4-R6 220 4 20. Pola pembuatan contoh uji disajikan pada gambar 1. Spesifikasi Mesin Pengerjaan Kayu Planer Shaper Spesifikasi Merk-Tipe AT-602 TCB-26 Asal Buatan (tahun) Tipe bilah Tegangan (volt) Tenaga (HP) Kecepatan (rpm) Cina 1995 Persegi 240 4 2.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian .725-2. 2002). Sifat-sifat pemesinan yang dinilai dan cara pengerjaan adalah: a.000 Taiwan 1992 Pita 300 3 8.000-6. Mata bor yang digunakan berdiameter 12 mm. kecepatan putar pisau sebesar 5. Pada setiap contoh uji dibuat dua buah lubang bor dengan laju pengeboran diusahakan cukup lambat agar menghasilkan lubang bor yang baik.000 Alat yang digunakan untuk penelitian adalah gergaji bundar (circular saw). serta tebal sayatan sebesar 2 mm.000 Borer GeetechMA09 Taiwan 1995 Bor 220-240 2 2. Muhdi. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada dasarnya sama dengan metode ASTM D 166699. mesin pembuat alur (router). mesin profil (shaper). Papan contoh tersebut dibuat menjadi contoh-contoh uji untuk pengujian sifat-sifat pemesinan kayu. pembentukan dan pembuatan alur (ukuran 90 cm x 10 cm x 2 cm) Pengujian 1. Pengeboran (Boring) Contoh uji yang dibor berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm. kaca pembesar (loope) dengan perbesaran sepuluh kali dan tranparansi millimeter. Pembuatan Contoh Uji Menurut metode ASTM D 1666-99.000 rpm. 30 cm a b 2. Dilakukan pengamatan terhadap cacat-cacat pemesinan yang terjadi pada bidang permukaan hasil pembentukan.600 rpm.000 Sander HML-906 Taiwan 1997 240 1 1. mesin bor (borer) dan mesin amplas (sander).00012.

Pembuatan alur (Routing) Mengerjakan kembali contoh uji yang sudah diserut dengan menggunakan mesin router. 4 Oktober 2006 d. Sifat pemesinan kayu didasarkan pada besar kecilnya persentase permukaan bebas cacat setelah proses pemesinan. diikuti bulu halus dan tanda serpih masing-masing sebesar 2 % dan 1 %. sehingga pada permukaan papan akan terbentuk cacat akibat belahan tadi. Selanjutnya diamati cacatcacat pemesinan yang timbul. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat terserpih yaitu sebesar 4 %. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Rekapitulasi nilai bebas cacat dan kelas mutu sifat pemesinan pada seluruh proses pengerjaan disajikan pada tabel 2. Nilai Bebas Cacat dan Kelas Mutu Sifat Pemesinan Kayu Durian Pembuatan Penyerutan Pembentukan Pengeboran Kriteria Alur (Planing) (Shaping) (Boring) (Routing) % bebas 93 87 96 96 cacat Kelas I I I I Mutu Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pengampelasan (Sanding) 95 I Sangat baik 116 . Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji penyerutan yang disajikan pada lampiran 2 adalah serat terserpih. Pengampelasan (Sanding) Pada pengujian pengampelasan dipakai contoh uji berukuran 30 cm x 5 cm x 2 cm dengan menggunakan mesin amplas (sander). Pengerjaan penyerutan menyebabkan banyaknya serat yang terlepas dan membentuk lekukan-lekukan pada permukaan kayu. dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang sifat pemesinan kayu durian. Pengambilan kesimpulan sifat pemesinan kayu dilakukan secara kualitatif berdasarkan persentase rata-rata permukaan contoh uji yang bebas cacat dan selanjutnya dikelompokkan menjadi lima kelas sifat pemesinan. Arah serat kayu durian yang berpadu dan adanya mata kayu diduga juga akan membentuk cacat serat terserpih. Menurut Koch (1964). Pembahasan 1. Proses ini menggunakan kertas amplas grit 80 dan 120 dengan tebal pengampelasan sebesar 0.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. tebal 0. adanya miring serat (berpadu) cenderung merangsang timbulnya cacat pengetaman yang disebut cacat serat terserpih. Cacat serat terserpih lebih banyak ditemukan terdapat pada permukaan kayu dengan arah serat berpadu dan di sekitar mata kayu seperti yang terlihat pada gambar 2. Menurut Darmawan (1997). Pisau router yang digunakan berbentuk R6 yang menghasilkan bentuk “r” pada sisi kayu.5 cm. Kecepatan putar pisau router sebesar 30. tatal yang tebal kekuatan lenturnya (bending) lebih tinggi dari tatal tipis. Oleh karena itu. e. sehingga sisi kayu tidak siku. tatal tebal akan cenderung terbelah (splitting). Kecepatan dorong kayu (feed rate) diatur sebesar kurang lebih 360 m/menit dengan arah pengumpanan searah dengan arah pengumpanan pada saat penyerutan. Cacat yang terbentuk ini biasanya disebut serat terserpih. Selanjutnya data mengenai jenis cacat. bulu halus dan tanda serpih. luas permukaan bebas cacat serta persentase contoh uji yang masuk ke dalam kelas pemesinan yang telah ditentukan. Selanjutnya dilakukan pengamatan cacat-cacat yang timbul. walaupun ada juga permukaan kayu yang sama sekali tidak terdapat cacat ini. Cacat serat terserpih hampir merata terdapat pada semua permukaaan kayu.5 mm. Terdapatnya cacat ini diduga karena tebalnya serat-serat kayu (tatal) durian. Objek yang diamati yaitu cacat yang timbul pada permukaan contoh uji sebagai akibat dilakukan pemesinan. Analisis Data Pengolahan data mengenai sifat pemesinan kayu mengacu pada ASTM D 1666-99. Penyerutan (Planing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas penyerutan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 93 %. Pengujian Sifat Pemesinan Setiap contoh uji yang telah dikerjakan dengan mesin diamati hasilnya secara visual. 2. Dimensi alur yang dibuat pada permukaan contoh uji adalah lebar 0.000 rpm. Loope dengan derajat pembesaran sepuluh kali digunakan sebagai alat bantu untuk melihat lebih jelas bentuk cacat. No. Pada permukaan kayu dengan arah serat lurus jarang ditemukan cacat ini.5 cm dan panjang 90 cm. Tabel 2.

Cacat yang paling banyak muncul adalah bulu halus yaitu sebesar 6%. Menurut Darmawan (1997). Darmawan (1997) menambahkan bahwa tatal-tatal yang pendek ini memiliki kekuatan lentur yang rendah sehingga tatal-tatal ini mudah digeser oleh mata pisau. Hal ini menyebabkan serat-serat kayu tidak terpotong sempurna dan terbentuk serat berbulu. Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembentukan Menurut Koch (1964). Darmawan (1997) menyatakan bahwa keberadaan cacat tanda serpih ditentukan oleh karakteristik kayu itu sendiri dan 117 . kekasaran permukaan kayu disebabkan oleh terangkatnya kayu akhir sehingga lebih tinggi daripada kayu awal. sehingga akan terbentuk tatal-tatal yang pendek. Proses pembentukan yang dilakukan pada sisi lebar kayu menyebabkan sudut potong pisau dengan arah serat kayu menjadi tegak lurus. sehingga tatal-tatal kayu yang terbentuk akan sangat mudah dilekukkan pada permukaan papan yang telah diketam oleh pisau-pisau pengetam. Ini berarti serat-serat kayu tersebut tidak terpotong sempurna oleh mata pisau. sehingga seratserat kayu yang tidak terpotong dengan sempurna akan berdiri dan membentuk bulu-bulu halus. melainkan terjadi kerusakan serat-serat kayu sehingga terbentuk cacat serat berbulu pada permukaan kayu. Muhdi. pengetaman dengan laju pengetaman rendah dan tebal ketaman tipis akan terjadi pergeseran serat-serat kayu oleh pisau pengetam. proses pembentukan merupakan proses peripheral milling. Tanda serpih yang terdapat pada kayu durian ditandai dengan adanya lekukan warna hitam. bulu halus dan tanda serpih. Tito Sucipto. Cacat serat terangkat yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena pengerjaan pembentukan dilakukan pada bagian kayu yang masih lunak sehingga menyebabkan kekasaran pada permukaan kayu. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembentukan yang disajikan pada lampiran 3 adalah serat terangkat. Menurut Darmawan (1997). cacat tanda serpih terbentuk akibat rendahnya kekerasan kayu. Serat terangkat Gambar 3. Pembentukan (Shaping) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembentukan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 87%. Akibat bekerjanya gaya geser ini maka serat-serat tepat di depan mata pisau akan mengalami pemadatan dan mengalami pelipatan. Cacat tanda serpih yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu durian termasuk kayu dengan kekerasan yang rendah.. dan Nur Idul Adha Mata kayu Serat terserpih Serat terserpih Gambar 2. Tanda serpih yang timbul diduga karena adanya kandungan resin pada kayu tersebut.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . 2. Cacat Serat Terserpih Akibat Pengerjaan Penyerutan Kecepatan pengumpanan rendah dan tebal ketaman tipis yang dipakai dalam proses penyerutan diduga juga memicu timbulnya serat berbulu halus. yakni suatu proses pemotongan bidang kerja yang dipotong oleh beberapa mata pisau yang berputar terus menerus. diikuti serat terangkat dan tanda serpih masing-masing sebesar 5% dan 2%. Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya bagian kayu dengan arah serat berpadu. Cacat serat terangkat seperti terlihat pada gambar 3. Menurut Darmawan (1997).

Cacat Serat Terangkat Akibat Pengerjaan Pembuatan Alur Pembuatan alur dengan pisau R6 yang dilakukan sejajar dan berlawanan arah serat diduga menyebabkan cacat serat terangkat dan bulu halus. diduga karena proses pengeboran dilakukan kurang sempurna sehingga ketika mata bor ditarik ke atas (keluar dari dalam kayu) ada sebagian serat di bagian pinggir lubang yang ikut tertarik dan menyebabkan serat tersobek pada bagian tersebut. Mandang dan Pandit (1997) menyatakan bahwa kayu durian termasuk kelas kuat II-III. Gambar 5. Hasil uji pengeboran ini diduga dipengaruhi oleh berat jenis kayu. Pengampelasan (Sanding) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengampelasan sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 95%. Timbulnya cacat bulu halus kadang dipengaruhi oleh karakteristik kayu. yang ditandai dengan berdirinya serat-serat kayu seperti yang terlihat pada gambar 6. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pengeboran yang disajikan pada lampiran 4 adalah serat tersobek dan serat hancur. 3. sehingga ada reaksi ketika mata bor bersentuhan dengan permukaan kayu dan menyebabkan bagian ujung lubang menjadi hancur. Serat berpadu pada permukaan kayu diduga juga memicu timbulnya serat terangkat. Cacat Bulu Halus Akibat Pengerjaan Pengampelasan Cacat bulu halus ini lebih banyak ditemukan terdapat pada bagian kayu yang lunak. cenderung lebih tahan terhadap kemungkinan terjadinya cacat ketika melakukan proses pengerjaan. Cacat Pengerjaan Pengeboran Pembuatan Alur (Routing) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pembuatan alur sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%. Cacat bulu halus ini hampir terdapat pada semua permukaan kayu dan tesebar secara tidak merata. kayu yang memiliki kerapatan sel tinggi. 118 . No. Kayu lunak dengan serat-serat yang lunak diduga memudahkan berdirinya sekelompok serat karena terjadinya gesekan antara ujung serat dengan ampelas. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembuatan alur yang disajikan pada lampiran 5 adalah serat terangkat dan bulu halus masing-masing sebesar 2%. Bulu-bulu halus Gambar 6. Cacat serat terangkat yang timbul akibat pembuatan alur seperti yang terlihat pada gambar 5. Cacat yang muncul pada hasil uji pengampelasan yang disajikan pada lampiran 6 hanya bulu halus sebesar 5%. ukuran grit ampelas yang digunakan serta arah pengumpanan kayu saat memasukkan kayu pada mesin ampelas. Cacat serat tersobek yang ditemukan pada permukaan kayu seperti terlihat pada gambar 4. 4 Oktober 2006 menjadi lebih serius pada kayu dengan kandungan getah dan resin tinggi. Jika arah Gambar 4. Menurut Supriadi dan Rachman (2002). diikuti serat hancur sebesar 1%. karena cacat ini lebih banyak ditemukan pada bagian kayu yang berserat berpadu daripada serat lurus. Sedangkan cacat serat hancur yang ditemukan pada permukaan kayu diduga karena kayu yang dibor adalah bagian kayu yang keras. Salah satu kriteria hasil pengeboran yang bagus yaitu permukaan yang bersih dan halus dengan sedikit serat hancur dan serat tersobek. Menurut Koch (1964). Pengeboran (Boring) Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu durian menunjukkan kualitas pengeboran sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 96%.Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7. Cacat yang paling banyak muncul adalah serat tersobek yaitu sebesar 3%. jenis kayu keras mempunyai kecenderungan memiliki cacat bulu halus lebih sedikit dibandingkan kayu yang lebih lunak pada proses pengampelasan.

Mandang. Vol. Pandit. P. New York. 1997. Philadelphia. Bogor. Bogor. 2002. tanda tersepih.N. dan Nur Idul Adha pengumpanan berlawanan dengan arah serat maka kemungkinan terjadinya cacat bulu halus akan semakin besar. Muhdi. Rachman. Buletin Penelitian Hasil Hutan. Kayu durian memiliki sifat fisik dan anatomis yang baik. 1964). Bogor. Vol.Sifat-Sifat Pemesinan Kayu Durian . Cacat yang paling banyak ditemukan pada permukaan kayu sebagai hasil proses pemesinan kayu durian adalah bulu halus dan yang paling sedikit adalah serat hancur. Vol. 1997. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. sehingga kayu durian dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku industri pengerjaan kayu. Fakultas Kehutanan. DAFTAR PUSTAKA American Society for Testing and Materials. Jenis cacat yang teramati pada proses pemesinan kayu durian antara lain serat terserpih. Y dan I. Pengaruh Laju Pengumpanan dan Tebal Ketaman terhadap Kualitas Pengetaman Kayu Pinus. 119 . A dan O. 1999. Tito Sucipto. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 2.. 20 (1): 70 – 85. Darmawan.K. Sifat Pemesinan Empat Jenis Kayu Kurang Dikenal dan Hubungannya dengan Berat Jenis serta Ukuran Pori. Institut Pertanian Bogor. 13 (6): 246 – 251. Ginoga. The Ronald Press Company. bulu halus. X (1): 15–21. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Sifat Pemesinan Enam Jenis Kayu Indonesia. Supriadi. serat terangkat. Standard Method of Conducting Machining Test of Wood and Wood Base Materials. serat tersobek dan serat hancur. Jurnal Teknologi Hasil Hutan. KESIMPULAN 1. karena pada saat proses pengampelasan serat yang tidak terpotong sempurna akan bangun oleh gesekan ampelas (Koch. W. Aghatis dan Manii. 1964. pembentukan. 1995. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. pengeboran. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Annual Book of ASTM. B. Koch. pembuatan alur dan pengampelasan) termasuk kelas I dengan mutu pemesinan sangat baik. Yayasan Prosea Bogor dan Pusat Diklat Pegawai dan Sumber Daya Manusia Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Secara umum persentase permukaan bebas cacat pada kayu durian untuk semua proses pemesinan (penyerutan. Wood Machining Process.

120 .

4 Oktober 2006 SURAT PENGANTAR No. M. /JO5...1. Rambe. … . Almamater Kampus USU P. Isi Surat/Barang JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Ilmiah Terakreditas Vol. 1..JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Jurnal Keilmuan dan Penggunaan Terhadap Sistem Teknik Industri ISSN 1411-5247 Terakreditasi No.com/jurnalsti_usu E-mail: jsti@plasa. H. Bulan Medan 20155 : JURNAL SISTEM TEKNIK INDUSTRI Vol….geocities. 130 517 496 …………………………………………………………………………………………. No. Almamater Kampus USU P.31/TI/STI/2004- Kepada Yth : ………………………………. …. 52/DIKTI/KEP/2002 Jl.. Bulan Medan 20155 Homepage: http://www.Eng NIP. TANDA TERIMA Telah diterima dari Berupa Tanggal diterima Nama Jabatan Institusi Alamat Telepon Tanda tangan/cap : Redaksi Jurnal Sistem Teknik Industri Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl.com Volume 7 No. A. 200… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… : ……………………………………………………………………………… . Jabbar M. 4 Oktober 2006 Medan. ………………………………. Oktober 2006 Pemimpin Umum.. Ir. mohon lembar di bawah ini dikirim kembali No. 7 No. di Tempat Banyaknya 1 (satu) eksemplar Keterangan Disampaikan dengan hormat sebagai tukar informasi ilmiah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->