Makalah Etika Profesi dan Hukum Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN

Mengamati pemberitaan media massa akhir-akhir ini, terlihat peningkatan dugaan kasus malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan kesalahan diagnosis dokter yang berdampak buruk terhadap pasiennya. Dalam rentang dua bulan terakhir ini, media massa marak memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/ atau pidana) kepada dokter, tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik (malpractice) atau kelalaian medis. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gugatan-gugatan malpraktik tersebut dan semuanya berangkat dari kerugian psikis dan fisik korban. Mulai dari kesalahan diagnosis dan pada gilirannya mengimbas pada kesalahan terapi hingga pada kelalaian dokter pasca operasi pembedahan pada pasien (alat bedah tertinggal didalam bagian tubuh), dan faktor-faktor lainnya. Seperti yang terjadi di Batu, -Linda Handayani- sosok bidan yang berpengalaman dan senior. Dia sudah praktik puluhan tahun umurnya sudah 60 tahun lebih yang tersebut melakukan malpraktik atas kelahiran istri dari Wiji Muhaimin. Bayi sungsang yang ditolong lahir dengan leher putus. Badan bayi keluar duluan, sedangkan kepalanya tertinggal di dalam rahim. Kasus ini sampai mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Menurut ketua Fraksi Gabungan Sugeng Minto Basuki atas kasus ini dia meminta dinas kesehatan melakukan recovery lagi terhadap para bidan yang ada di Batu. Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-kasus itu terkategori malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error) dari sang bidan/dokter. Untuk diketahui, sejauh ini di negara kita belum ada ketentuan hukum tentang standar profesi kebidanan yang bisa mengatur kesalahan profesi. Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa. Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Putusan pengadilan apakah ada kelalaian atau tidak atau tindakan tersebut merupakan risiko yang melekat pun belum pernah diambil. Masyarakat hanya melihat dampak dan akibat yang timbul dari tindakan malpraktik tersebut. Semua bergantung kepada si penafsir masing-masing (keluarga, media massa, pengacara), dan tidak ada proses hukumnya yang tuntas. Karena itu sangat perlu bagi kita terutama tenaga medis untuk mengetahui sejauh mana malpraktek ditinjau dari segi etika dan hukum. Melihat fenomena di atas, maka kami melalui makalah ini akan membahas tentang salah satu kasus malpraktik di Indonesia.

etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan profesi itu. perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk.BAB II LANDASAN TEORI Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah. serta bertindak dengan cara-cara yang profesional. dan moral adalah sistem tentang motivasi. terhadap organisasi dan staff. Bagi sosiolog. profesional dan terhormat. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos. jujur. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. Bagi eksekutif puncak rumah sakit. etika seharusnya berarti kewajiban dan tanggung jawab khusus terhadap pasien dan klien lain. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer. etika adalah adat. Oleh sebab itu apabila . terhadap diri sendiri dan profesi. Bagi asosiasi profesi. filusf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas sama artinya. Kriteria wajar. PENGERTIAN MALPRAKTEK Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam profesi bidan. karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya secara tertukar-tukar. adil. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi. profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit. etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. California. sehingga malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”. 1956). terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap masyarakat. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat. jujur. A. adil. Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau tenaga keperawatan (perawat dan bidan) untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien. Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut moral. etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”. kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu.

diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. yang berbunyi: Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencahariannya. yakni Criminal malpractice. 1893). Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut substansi.timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. 1. Pasal 346 KUHP Mengatakan: Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. maka perbuatan itu hanya dapat dituntut ata pengaduan orang itu. Pasal 322 KUHP. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice. Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional): 1. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan . 1. tentang Abortus Provokatus. tentang Pelanggaran Wajib Simpan Rahasia Kebidanan. MALPRAKTEK DI BIDANG HUKUM Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar. B. kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence). Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice (Lord Chief Justice. sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar. maka ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya ethica malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda. 1. tujuan dan sangsi. Criminal malpractice Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela dan dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan (intensional). Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. baik yang sekarang. Pasal 348 KUHP menyatakan: Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau me¬matikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. Pasal 346 sampai dengan pasal 349 KUHP. Ayat (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu.Civil malpractice dan Administrative malpractice. maupun yang dahuluj diancam dengan pidana penjara paling lama sembi Ian bulan atau denda paling banyak enam ratu rupiah. otoritas.

Pasal 351 KUHP. yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 KUHP menyatakan: Jika seorang dokter. Pasal 349 KUHP menyatakan: Jika seorang dokter. Ayat (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. II. Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati melakukan proses kelahiran. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita ter¬sebut. Ayat (3) Jika mengakibatkan mati. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan di¬lakukan. 1. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. III. Ayat (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipdana. dikenakart pidana penjara paling lama lima belas tahun. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan di¬lakukan. 1. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. . Pasal 347 KUHP menyatakan: Ayat (l) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan dan me¬matikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya. 1. Ayat (2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut. 1. tentang penganiayaan. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Ayat (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. yang berbunyi: Ayat (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent.

apoteker. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lamasatu tahun. 2. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lamasatu tahun. Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan. karena kelalaian menyebakan luka berat: Ayat (1) Barangsiapa karena kealpaannya menyebakan orang lain mendapat luka-luka berat. Tindakan bidan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain: 1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan. Pasal 361 KUHP menyatakan: Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini di-lakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pen¬caharian.1. Pasal 359 KUHP. 1. diancam de¬ngan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah. masinis dan Iain-lain) apabila melalaikan peraturanperaturan pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau luka berat. maka pidana ditambah dengan pertiga. . Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna. 3. dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya putusnya di-umumkan. jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. maka mendapat hukuman yang lebih berat pula. Ayat (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehinga menimbulkan penyakit atau alangan menjalankan pekerjaan. bidan. Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP. Pasal 360 KUHP. karena kelalaian menyebabkan orang mati : Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain. pasal-pasal karena lalai menyebabkan mati atau luka-luka berat. sopir. Civil malpractice Seorang bidan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya. karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau pekerjaan (misalnya: dokter. 1. Pasal 361 KUHP.

2. batas kewenangan serta kewajiban bidan. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan. Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dalam menjalankan praktik profesionalnya bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan. 1. 4. pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan. Bidan harus dapat mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan praktik profesionalnya harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan. obat-obatan dan kelengkapan administrasi. Surat Ijin Praktek). Wewenang Bidan dalam Menjalankan Praktik Profesionalnya . Bidan yang praktik perorangan harus memenuhi persyaratan yang meliputi tempat dan ruangan praktik. Setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya. seminar. Syarat Praktik Profesional Bidan 1. 1. memperhatikan kewajiban bidan. pendidikan berkelanjutan. LANDASAN HUKUM WEWENANG BIDAN Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. Harus memiliki Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB) baik bagi bidan yang praktik pada sarana kesehatan dan/atau perorangan Bdan Praktek Swasta (BPS). Kegiatan praktik bidan dikontrol oleh peraturan tersebut. misalnya tentang persyaratan bagi bidan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja. Dalam menjalankan praktik profesionalnya harus menghormati hak pasien. dan pertemuan ilmiah lainnya. berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta berdasarkan standar profesi.4. 3. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi. 5. Pengaturan tenaga kesehatan ditetapkan di dalam undang-undang dan Peraturan Pemerintah. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power. Administrative malpractice Bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala bidan tersebut telah melanggar hukum administrasi. merujuk kasus yang tidak dapat ditangani. Dengan prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (bidan) selama bidan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya. peralatan. 5. Tugas dan kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan praktik bidan diatur di dalam peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. tempat tidur. meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan dan melakukan medical record dengan baik. Oleh karena itu bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dengan cara mengikuti pelatihan. C.

Pertolongan persalinan normal f.Dalam menangani kasus seorang bidan diberi kewenangan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Indonesia No:900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan. pra hamil. Penyuluhan dan konseling Pemeriksaan fisik Pelayanan antenatal pada kehamilan normal d. post aterm dan preterm. Pelayanan kebidanan pada anak diberikan pada masa bayi baru lahir. g. Pertolongan persalinan abnormal yang mencakup letak sungsang. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 huruf (pelayanan kebidanan) ditujukan pada ibu dan anak b. Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pra nikah. c. h.yang disebut dalam BAB V praktik bidan antara lain:  Pasal 14 : bidan dalam menjalankan prakteknya berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi : Pelayanan kebidanan Pelayanan keluarga berencana Pelayanan kesehatan masyarakat a. pre eklamsi ringan dan anemia ringan. perdarahan post partum. hiperemesis grafidarum tingkat 1.renjatan dan infeksi ringan . c. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens. masa nifas. masa bersalin . laserasi jalan lahir. Pelayanan ibu nifas normal Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta. b. b. masa hamil.masa bayi.  Pasal 16 : Pelayanan kebidanan kepada meliputi : a. ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi. partus macet kepala di dasar panggul. e.  Pasal 15 : a. distosia karena inersia uteri primer.masa anak balita dan masa pra sekolah. menyusui dan masa antara (periode interval) c.

k.perdarahan tidak teratur dan penundaan haid. j. Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi: a. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan. b. g. d. g. e. e.berwenang untuk : Memberikan imunisasi Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan dan nifas Mengeluarkan plasenta secara secara manual Bimbingan senam hamil Pengeluaran sisa jaringan konsepsi Episiotomi Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat 2 Amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm Pemberian infuse Pemberian suntikan intramuskuler uterotonik Kompresi bimanual Versi ekstrasi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya a. c. f. i. h. . c.i.  Pemeriksaan bayi baru lahir Perawatan tali pusat Perawatan bayi Resusitasi pada bayi baru lahir Pemantauan tumbuh kembang anak Pemberian imunisasi Pemberian penyuluhan Pasal 18 : Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16. b. l. d. f.

Standar Kompetensi Kebidanan Standar kompetensi kebidanan yang berhubungan dengan anak dan imunisasi : Undang-Undang UU Kesehatan No. 1. . n. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli. pasal 80 ayat (1): Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2). 23 Th 1992 pasal 15 ayat (1): Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyclamatkan jiwaibu hamil dan atau janinnya.permintaan . 3. 4. o. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. r. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut. pada sarana kesehatan tertentu. Vakum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul Pengendalian anemi Peningkatan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu Resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia Penanganan hipotermi Pemberian minum dengan sonde/pipet s. 2. Ayat (2): Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan : 1. Pemberian obat-obatan terbatas melalui lembaran . Pemberian surat kelahiran dan kematian.m. q. p. obat sesuai dengan formulir IV terlampir t. dapat ditakukan tindakan medis tertentu.

Wiji sempat pulang sebentar untuk menjalankan salat magrib. Bahkan yang paling buruk. “Setiap pembantu Bu Han keluar ruang persalinan. Batu. si bayi meninggal juga bisa saja terjadi.00 (lima ratus juta rupiah). tak mengerti maksud bidan. Bidan yang menangani. bidan Han ke luar dari ruang persalinan dengan tergopoh-gopoh.” kata Wiji saat ditemui. “Menurut Bu Han (panggilan Tutik Handayani). bidan memintanya untuk menahan tubuh si bayi sedang kedua perawat bertugas menekan perut ke bawah untuk membantu .000. BAB III Pembahasan Masalah A. Si jabang bayi memang sudah keluar. saya selalu bertanya apakah anak saya sudah lahir. sekitar jam 15. bayi saya susah keluar. segera berkemas-kemas dan mengantarkan istrinya ke bidan Tutik Handayani. persalinan berlangsung cukup lama.Kegagalan dalam proses melahirkan memang bisa terjadi pada wanita mana saja. si bayi pun meninggal dalam keadaan tragis. Namun. Baru saja memasuki klinik bersalin. Nunuk mengeluh perutnya sakit sebagai tanda akan melahirkan. Nunuk langsung diperiksa bidan untuk mengetahui keadaan kesehatan si bayi. kondisi anak saya dalam keadaan sehat. Sang suami. Malang. Inilah kisah tragis bayi Nunuk Rahayu : Proses persalinan ibu yang tinggal di Batu. Sore itu Selasa. “Pak. diduga melakukan kesalahan penanganan. Di tengah kepanikan. Mata Wiji langsung terbelalak begitu melihat pemandangan yang begitu mencekam. tak jauh dari rumahnya di Jalan Imam Bonjol. Ia melahirkan secara sungsang. tolong bantu saya!” teriaknya kepada Wiji. Saya disuruh keluar karena persalinan akan dimulai. suami Nunuk. Ibu dua anak ini berharap kelahiran anak ketiganya akan semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Wiji tetap saja diliputi ketegangan. Lelaki yang sehari-hari berjualan es dan mainan anak-anak di sekolah-sekolah ini. Meski menunggui kelahiran anak ketiga. si bayi lahir dengan kondisi kepala masih tertinggal di rahim! Kejadian yang demikian tragis itu diceritakan Wiji Muhaimin (40).” papar Wiji. yang dialami oleh Nunuk Rahayu (39 tahun) ini memang kelewat tragis. Usai salat.000. Akibatnya. Bidan yang sudah praktik sejak tahun 1972 itu berteriak minta tolong kepadanya. Malang ini sungguh tragis. namun kepala bayi masih berada di dalam rahim. Jawabannya selalu belum. Apalagi. Jawa Timur.Diduga karena kesalahan bidan. Katanya. Jumat (11/8). Wiji mengikuti bidan Han masuk ruang persalinan.dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500. KAJIAN KASUS Berikut ini adalah salah satu contoh kasus nyata malpraktik yang dilakukan oleh bidan di daerah Jawa Timur berhubungan dengan kesalahan bidan yang menolong persalinan sungsang dan tidak merujuk ke fasilitas kesehatan yang berhak untuk menangani kasus tersebut. Sesampai di tempat bersalin.00. Istri saya mesti diberi suntikan obat perangsang sampai dua kali agar jabang bayi segera keluar. lelaki berkumis lebat ini kembali ke bidan.

Bu Han bilang sanggup menangani. sepupunya. anak bungsunya sudah tak bernyawa lagi.” tutur Wiji sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.” urai Riyanto. Beruntung ada mobil pick up yang siap jalan. Namun. Saya hanya menatap wajah istri saya. bidan mengajak Wiji untuk membawa istrinya ke BKIA Islam Batu.” ujar Wiji. Wiji pun tak tega melihat penderitaan istrinya. kalau keadaan bayi sungsang. si bidan sempat mengeluh. Wiji sudah tak sanggung membendung air matanya. Yang saya lakukan hanya terus istigfar. bidan Tutik meminta Wiji menarik tubuh bayi agar segera keluar dari rahim. Selain itu.” urai Wiji. bidan berusaha memanggil Wiji dan memintanya untuk menarik. Sampai 15 menit kemudian. “Saya sudah tak berani melihat bagaimana bidan menangani anak saya. Yang mengerikan. Selanjutnya. Setiba di sana.” imbuh Wiji. “Ia hanya bisa merinih kesakitan saja. meski dia tak sempat hidup. Kala itu. . untuk penanganan lebih lanjut. kepala disambung kembali dengan tubuh bayi. langsung melakukan tindakan untuk mengeluarakan kepala si bayi dari rahim istrinya. Sejurus kemudian dia mendengar si bidan semakin panik.” Lalu. (aduh bagaimana ini). Sebab. Wiji sambil berurai air mata mendekati istrinya yang tengah kesakitan dan berjuang antara hidup dan mati. Beberapa saat kemudian. Coba kalau ditarik beneran lalu putus. kondisi istri Wiji antara sadar dan tidak. Ia tahu karena tubuh si bayi sudah lemas dan tak ada gerakan sama sekali. Riyanto melihat ada upaya untuk mengaburkan kasus ini dengan mengalihkan kesalahan kepada Wiji. Ia paham. Si jabang bayi segera dimakamkan.” urainya. saya tetap memberinya nama. “Saya tak tega menarik tubuh anak saya.” kata Wiji yang selama wawancara ditemani Riyanto. “Waktu itu. Bahkan. Makanya saya mempercayakan persalinan istri saya kepadanya. kepala si jabang bayi belum juga berhasil dikeluarkan. istri Wiji segera ditangani.” ujar Wiji. Pikiran saya sangat kalut. Dr. Baik Wiji maupun Riyanto menyesalkan tindakan sang bidan. “Aduh yok opo iki”. “Nama itu memang permintaan istri saya sejak mengandung. kami sepakat untuk melaporkan kasus ini polisi. Sutrisno. Kepergian si jabang bayi mendatangkan duka mendalam bagi Wiji. “Saya tak berani memandangi wajah anak saya. Apa jadinya kalau saya tarik kemudian sampai lepas. SpOG. Wiji enggan melakukannya. pasti yang disalahkan oleh Bu Han adalah Mas Wiji. “Misalnya saja pada saat bidan kesulitan mengeluarkan kepala bayi. tetap saja kepala bayi belum berhasil dikeluarkan. Ia hanya menahan tubuh bayi agar tak menggantung.” papar Wiji. “Untung saja Mas Wiji tidak mau melakukan. selintas Wiji melihat tubuh anaknya sudah diangkat dan ditempatkan di ranjang sebelah. Kala itu. Dengan nada setengah berteriak lantaran panik. Wiji pun memberi nama anaknya Ratna Ayu Manggali. Lantas apa langkah Wiji? “Setelah melakukan rapat keluarga. seharusnya sejak awal bidan merujuk ke dokter kandungan. “Baru setelah itu. Makanya. “Saya berikan tubuh bayi saya kepada Bu Han.mengeluarkan kepala bayi.

Ia sudah menangani ribuan persalinan. maka yang harus dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga. Ia sempat dirawat selama tiga hari. B. Apabila bidan didakwa telah melakukan kesalahan profesi. Sementara Nunuk sendiri sepulang dari rumah sakit masih tampak lemas dan syok. yaitu malfeasance. hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami profesi kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan. termasuk dua anak Wiji. “Saya tak ingat persis bagaimana bisa seperti itu.” ucapnya lirih. menderita luka. Makanya saya tolak ajakan damai meski banyak pihak meminta. misfeasance dan nonfeasance. Waktu itu perasaan saya antara sadar dan tidak karena sakitnya luar biasa. Ini adalah persoalan hukum. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan. Bu Han tetap saja salah. Pembahasan Kasus Malpraktek dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu. . Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk. ataupun suatu kekurang-mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan. Salah satu upaya untuk menghindarkan dari malpraktek adalah adanya informed consent (persetujuan) untuk setiap tindakan dan pelayanan medis pada pasien. Dalam hal bidan didakwa telah melakukan ciminal malpractice. Para tetangga sekitar berbondong-bondong memenuhi kamarnya yang sempit dan sangat sederhana.” tegas Riyanto. tindakan kelalaian (negligence). misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah improper). yakni: apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang tercela dan apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah (sengaja. “Namun dalam kasus ini. tetapi juga diperlukan untuk melindungi tenaga kesehatan dari kesewenangan pasien yang melanggar batasbatas hukum dan perundang-undangan malpraktek. harus dibuktikan apakah perbuatan bidan tersebut telah memenuhi unsur tidak pidanya. Nunuk tak sanggup menceritakan saat-saat menegangkan dalam hidupnya. yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur.Lelaki yang sehari-hari sebagai takmir masjid sekaligus tukang memandikan jenazah ini tak menampik bahwa bidan Han merupakan bidan senior di Batu. ceroboh atau adanya kealpaan). Hal ini sangat perlu tidak hanya untuk melindungi pasien dari kesewenangan tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan. mari diselesaikan secara hukum. Selanjutnya apabila bidan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan pasien meninggal dunia. selama tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance). Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau improper). Ini berdasarkan prinsip hukum “de minimis noncurat lex”. hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele.

bidan haruslah bertindak berdasarkan 1) Adanya indikasi medis 2) Bertindak secara hati-hati dan teliti 3) Bekerja sesuai standar profesi 4) Sudah ada informed consent. d. b. Doktrin res ipsa loquitur (doktrin pembuktian dalam hukum perdata yang membantu pihak korban (penggugat) untuk membuktikan kasusnya) dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria: a. yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan (doktrin res ipsa loquitur). Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Jika seorang bidan melakukan pekerjaan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya. Cara tidak langsung Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien.Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara yakni : 1. 2. maka bidan tersebut dapat dipersalahkan. Duty (kewajiban) Dalam hubungan perjanjian bidan dengan pasien. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan bidan. Direct Causation (penyebab langsung) Damage (kerugian) Bidan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage)yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. c. b. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila bidan tidak lalai Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab bidan . Cara langsung Kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni : a.

Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory negligence.c. Di dalam transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat. karena health care provider baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar pelayanan. Malapetaka seperti ini tidak mungkin dapat dihindari sama sekali. untuk selanjutnya siapa yang harus bertanggung gugat apabila kerugian tersebut merupakan akibat kelalaian bidan. bidan Tutik Handayani berusaha memanggil Wiji dan memintanya untuk menarik. kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. misalnya rumah sakit akan bertanggung gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian bidan sebagai karyawannya. Tidak setiap upaya kesehatan selalu dapat memberikan kepuasan kepada pasien baik berupa kecacatan atau bahkan kematian. akan tetapi termasuk juga yang berlawanan dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad 31 Januari 1919). Yang perlu dikaji apakah malapetaka tersebut merupakan akibat kesalahan bidan atau merupakan resiko tindakan. Menurut penulis. Bidan Tutik Handayani telah melakukan Malpraktek dengan bentuk kelalaian malfeansance. antara lain: 1) Contractual liability Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari hubungan kontraktual yang sudah disepakati. Kesimpulan Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan di muka kiranya dapat diambil suatu kesimpulan sehubungan dengan masalah malapraktek bidan. Misalnya saja pada saat bidan kesulitan mengeluarkan kepala bayi. Perbuatan melawan hukum tidak terbatas hanya perbuatan yang melawan hukum. dengan alasan Bidan Tutik Handayani telah melakukan tindakan medis yang tidak tepat dan ada upaya untuk mengaburkan kesalahan medis yang dia lakukan dengan mengalihkan kesalahannya kepada Bapak Wiji. bukan keberhasilan. 3) Liability in tort Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). Di lapangan kewajiban yang harus dilaksanakan adalah daya upaya maksimal. adalah sebagai berikut: . BAB IV Kesimpulan dan Saran A. 2) Vicarius liability Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam tanggung jawabnya (sub ordinate).

khususnya bagi yang merasa dirugikannya. Sementara itu dengan semakin banyaknya kasus malapraktek yang disidangkan di Pengadilan dan bermunculannya berita-berita tentang malapraktek bidan di mass media karena kegagalannya dalam berpraktek sehingga mengakibatkan cidera-nya atau meninggalkan pasien. Sedangkan altematif untuk menyelesaikan sengketa itu sendiri. Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice. konsultasikan kepada senior atau dokter. apalagi untuk membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage). sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan bidan. yakni:      Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. . Kasus malapraktek merupakan suatu kasus yang menarik.1. Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah. sebab kasus ini sangat banyak berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 3. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis. karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis). B. maka bidan dapat melakukan :  Informal defence. Oleh sebab sangst diperlukan adanya suatu pemikiran-pemikiran yang jernih dari para arsitek hukum untuk mene-mukan altematif apa yang dapat dipakai dalam menghadapi kasus-kasus malapraktek tersebut. untuk sementara waktu ini belum memadai. Upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam menghadapi tuntutan hukum: Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga bidan menghadapi tuntutan hukum. Apabila terjadi keragu-raguan. yang sering dialami oleh masyarakat. sehingga kasus-kasus malapraktek dijuimpai kandas di pemeriksaan sidang pengadilan. dan yang sekaligus merupakan manifestasi dari kemajuan teknologi kesehatan dengan berbagai peralatannya yang canggih. dengan mengajukan bukti untuk menangkis/menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada. menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat mulai meningkat. sehingga perpaduan antara kedua hal tersebut di atas akan menimbulkan suatu perbenturan atau sengketa. keluarga dan masyarakat sekitarnya. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya. maka bidan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian bidan. Saran Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat bidan karena adanya mal praktek diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati. 2. utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur).

. Grafikatama Jaya. Jakarta.com/2010/01/13/makalah-etika-profesi-dan-hukum-kesehatan/ http://purwanto78. yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat. 1991. Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat membayar ganti rugi sejumlah uang. akan tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment). Jakarta.com/2008/09/14/malpraktik-dalam-bidang-medis/ . Hukum Kesehatan. 2002. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.F.   misalnya bidan mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja. Ninik. J. http://khanzima. Mariyanti.wordpress. Malpraktek Kedokteran. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. 1993. karena dalam peradilan perdata. Formal/legal defence.wordpress. dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa. S. atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.. yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum. Bina Aksara. Semarang. pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan. Dahlan. 1988. DAFTAR PUSTAKA Ameln. yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban. Malpraktek Medik. Guwandi. ada baiknya bidan menggunakan jasa penasehat hukum. Berbicara mengenai pembelaan. sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya. dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (bidan) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat. Jakarta.. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.