P. 1
Makalah Etika Profesi Dan Hukum

Makalah Etika Profesi Dan Hukum

|Views: 1,749|Likes:

More info:

Published by: Syaifuddint Syaifuddin on May 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Makalah Etika Profesi dan Hukum Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN

Mengamati pemberitaan media massa akhir-akhir ini, terlihat peningkatan dugaan kasus malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan kesalahan diagnosis dokter yang berdampak buruk terhadap pasiennya. Dalam rentang dua bulan terakhir ini, media massa marak memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/ atau pidana) kepada dokter, tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik (malpractice) atau kelalaian medis. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gugatan-gugatan malpraktik tersebut dan semuanya berangkat dari kerugian psikis dan fisik korban. Mulai dari kesalahan diagnosis dan pada gilirannya mengimbas pada kesalahan terapi hingga pada kelalaian dokter pasca operasi pembedahan pada pasien (alat bedah tertinggal didalam bagian tubuh), dan faktor-faktor lainnya. Seperti yang terjadi di Batu, -Linda Handayani- sosok bidan yang berpengalaman dan senior. Dia sudah praktik puluhan tahun umurnya sudah 60 tahun lebih yang tersebut melakukan malpraktik atas kelahiran istri dari Wiji Muhaimin. Bayi sungsang yang ditolong lahir dengan leher putus. Badan bayi keluar duluan, sedangkan kepalanya tertinggal di dalam rahim. Kasus ini sampai mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Menurut ketua Fraksi Gabungan Sugeng Minto Basuki atas kasus ini dia meminta dinas kesehatan melakukan recovery lagi terhadap para bidan yang ada di Batu. Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-kasus itu terkategori malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error) dari sang bidan/dokter. Untuk diketahui, sejauh ini di negara kita belum ada ketentuan hukum tentang standar profesi kebidanan yang bisa mengatur kesalahan profesi. Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa. Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Putusan pengadilan apakah ada kelalaian atau tidak atau tindakan tersebut merupakan risiko yang melekat pun belum pernah diambil. Masyarakat hanya melihat dampak dan akibat yang timbul dari tindakan malpraktik tersebut. Semua bergantung kepada si penafsir masing-masing (keluarga, media massa, pengacara), dan tidak ada proses hukumnya yang tuntas. Karena itu sangat perlu bagi kita terutama tenaga medis untuk mengetahui sejauh mana malpraktek ditinjau dari segi etika dan hukum. Melihat fenomena di atas, maka kami melalui makalah ini akan membahas tentang salah satu kasus malpraktik di Indonesia.

jujur. profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit. serta bertindak dengan cara-cara yang profesional. A. jujur. terhadap organisasi dan staff. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. etika adalah adat. PENGERTIAN MALPRAKTEK Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Bagi sosiolog. sehingga malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat. California. etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. dan moral adalah sistem tentang motivasi. adil.BAB II LANDASAN TEORI Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah itu. 1956). filusf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas sama artinya. Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau tenaga keperawatan (perawat dan bidan) untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien. Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam profesi bidan. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi. etika seharusnya berarti kewajiban dan tanggung jawab khusus terhadap pasien dan klien lain. Bagi ahli falsafah. Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut moral. terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap masyarakat. adil. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos. etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar. Bagi asosiasi profesi. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer. etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan profesi itu. yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. terhadap diri sendiri dan profesi. profesional dan terhormat. Kriteria wajar. perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu. Bagi eksekutif puncak rumah sakit. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”. karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya secara tertukar-tukar. Oleh sebab itu apabila .

baik yang sekarang. tentang Abortus Provokatus. tentang Pelanggaran Wajib Simpan Rahasia Kebidanan. otoritas. tujuan dan sangsi. sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar. maka perbuatan itu hanya dapat dituntut ata pengaduan orang itu. Pasal 346 sampai dengan pasal 349 KUHP.timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. 1. 1. Pasal 346 KUHP Mengatakan: Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. maupun yang dahuluj diancam dengan pidana penjara paling lama sembi Ian bulan atau denda paling banyak enam ratu rupiah. Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut substansi. 1. yakni Criminal malpractice. Criminal malpractice Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela dan dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan (intensional). yang berbunyi: Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencahariannya. Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice (Lord Chief Justice. Pasal 322 KUHP. Ayat (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu. MALPRAKTEK DI BIDANG HUKUM Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar. Pasal 348 KUHP menyatakan: Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau me¬matikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence). diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional): 1. B. 1893).Civil malpractice dan Administrative malpractice. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice. maka ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya ethica malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda. Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan .

1. Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati melakukan proses kelahiran. Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent. 1. Ayat (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipdana. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan di¬lakukan. yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun. Ayat (3) Jika mengakibatkan mati. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. dikenakart pidana penjara paling lama lima belas tahun. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. II. Pasal 351 KUHP. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. tentang penganiayaan. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan di¬lakukan. III. 1. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 1. Pasal 347 KUHP menyatakan: Ayat (l) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan dan me¬matikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya. yang berbunyi: Ayat (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Pasal 349 KUHP menyatakan: Jika seorang dokter. Pasal 349 KUHP menyatakan: Jika seorang dokter. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348.Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita ter¬sebut. Ayat (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. . Ayat (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. Ayat (2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut.

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lamasatu tahun. 1. Civil malpractice Seorang bidan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). masinis dan Iain-lain) apabila melalaikan peraturanperaturan pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau luka berat. diancam de¬ngan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah. 3. maka pidana ditambah dengan pertiga. Pasal 361 KUHP menyatakan: Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini di-lakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pen¬caharian. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan. Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP. 2. maka mendapat hukuman yang lebih berat pula. karena kelalaian menyebabkan orang mati : Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain. Ayat (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehinga menimbulkan penyakit atau alangan menjalankan pekerjaan. karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau pekerjaan (misalnya: dokter. jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. 1. karena kelalaian menyebakan luka berat: Ayat (1) Barangsiapa karena kealpaannya menyebakan orang lain mendapat luka-luka berat. Pasal 360 KUHP. Pasal 359 KUHP. dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya putusnya di-umumkan. bidan. . sopir. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lamasatu tahun.1. apoteker. Tindakan bidan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain: 1. Pasal 361 KUHP. Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan. pasal-pasal karena lalai menyebabkan mati atau luka-luka berat.

LANDASAN HUKUM WEWENANG BIDAN Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. Dalam menjalankan praktik profesionalnya harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Surat Ijin Praktek). misalnya tentang persyaratan bagi bidan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja. Oleh karena itu bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dengan cara mengikuti pelatihan. Harus memiliki Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB) baik bagi bidan yang praktik pada sarana kesehatan dan/atau perorangan Bdan Praktek Swasta (BPS).4. Tugas dan kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan praktik bidan diatur di dalam peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. obat-obatan dan kelengkapan administrasi. 5. pendidikan berkelanjutan. Dalam menjalankan praktik profesionalnya bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan. pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan. 5. C. Setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya. Dengan prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (bidan) selama bidan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power. 1. tempat tidur. Administrative malpractice Bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala bidan tersebut telah melanggar hukum administrasi. berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta berdasarkan standar profesi. merujuk kasus yang tidak dapat ditangani. batas kewenangan serta kewajiban bidan. seminar. memperhatikan kewajiban bidan. 1. Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. 4. 2. Bidan harus dapat mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bidan yang praktik perorangan harus memenuhi persyaratan yang meliputi tempat dan ruangan praktik. peralatan. 3. meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan dan melakukan medical record dengan baik. Dalam menjalankan praktik profesionalnya harus menghormati hak pasien. Wewenang Bidan dalam Menjalankan Praktik Profesionalnya . Pengaturan tenaga kesehatan ditetapkan di dalam undang-undang dan Peraturan Pemerintah. Kegiatan praktik bidan dikontrol oleh peraturan tersebut. Syarat Praktik Profesional Bidan 1. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi. dan pertemuan ilmiah lainnya.

masa anak balita dan masa pra sekolah. Pelayanan kebidanan pada anak diberikan pada masa bayi baru lahir. menyusui dan masa antara (periode interval) c. ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi. masa hamil. distosia karena inersia uteri primer. pre eklamsi ringan dan anemia ringan. b. c. Pertolongan persalinan normal f. h. partus macet kepala di dasar panggul.  Pasal 16 : Pelayanan kebidanan kepada meliputi : a. pra hamil. hiperemesis grafidarum tingkat 1. post aterm dan preterm.yang disebut dalam BAB V praktik bidan antara lain:  Pasal 14 : bidan dalam menjalankan prakteknya berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi : Pelayanan kebidanan Pelayanan keluarga berencana Pelayanan kesehatan masyarakat a. Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pra nikah. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 huruf (pelayanan kebidanan) ditujukan pada ibu dan anak b. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens.renjatan dan infeksi ringan . c. masa nifas. Pelayanan ibu nifas normal Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta. b. perdarahan post partum. Penyuluhan dan konseling Pemeriksaan fisik Pelayanan antenatal pada kehamilan normal d. g.masa bayi.Dalam menangani kasus seorang bidan diberi kewenangan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Indonesia No:900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan. e. laserasi jalan lahir. Pertolongan persalinan abnormal yang mencakup letak sungsang.  Pasal 15 : a. masa bersalin .

h.i. f. i. l. k. Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi: a. g. b. d. b. g. j. e. c.  Pemeriksaan bayi baru lahir Perawatan tali pusat Perawatan bayi Resusitasi pada bayi baru lahir Pemantauan tumbuh kembang anak Pemberian imunisasi Pemberian penyuluhan Pasal 18 : Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan. .berwenang untuk : Memberikan imunisasi Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan dan nifas Mengeluarkan plasenta secara secara manual Bimbingan senam hamil Pengeluaran sisa jaringan konsepsi Episiotomi Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat 2 Amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm Pemberian infuse Pemberian suntikan intramuskuler uterotonik Kompresi bimanual Versi ekstrasi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya a. e. c. d. f.perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.

Pemberian obat-obatan terbatas melalui lembaran . p. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut. . Pemberian surat kelahiran dan kematian. 1. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli. obat sesuai dengan formulir IV terlampir t.m. 4. o. 23 Th 1992 pasal 15 ayat (1): Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyclamatkan jiwaibu hamil dan atau janinnya. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. Standar Kompetensi Kebidanan Standar kompetensi kebidanan yang berhubungan dengan anak dan imunisasi : Undang-Undang UU Kesehatan No. 2.permintaan . 3. dapat ditakukan tindakan medis tertentu. pasal 80 ayat (1): Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2). r. q. n. Vakum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul Pengendalian anemi Peningkatan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu Resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia Penanganan hipotermi Pemberian minum dengan sonde/pipet s. pada sarana kesehatan tertentu. Ayat (2): Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan : 1.

Kegagalan dalam proses melahirkan memang bisa terjadi pada wanita mana saja. “Menurut Bu Han (panggilan Tutik Handayani). Meski menunggui kelahiran anak ketiga. KAJIAN KASUS Berikut ini adalah salah satu contoh kasus nyata malpraktik yang dilakukan oleh bidan di daerah Jawa Timur berhubungan dengan kesalahan bidan yang menolong persalinan sungsang dan tidak merujuk ke fasilitas kesehatan yang berhak untuk menangani kasus tersebut. diduga melakukan kesalahan penanganan. “Pak. bayi saya susah keluar. saya selalu bertanya apakah anak saya sudah lahir. bidan Han ke luar dari ruang persalinan dengan tergopoh-gopoh. Sang suami. Wiji mengikuti bidan Han masuk ruang persalinan. Wiji sempat pulang sebentar untuk menjalankan salat magrib. Nunuk langsung diperiksa bidan untuk mengetahui keadaan kesehatan si bayi. bidan memintanya untuk menahan tubuh si bayi sedang kedua perawat bertugas menekan perut ke bawah untuk membantu .000. Saya disuruh keluar karena persalinan akan dimulai. Apalagi. “Setiap pembantu Bu Han keluar ruang persalinan.” kata Wiji saat ditemui. Namun. Inilah kisah tragis bayi Nunuk Rahayu : Proses persalinan ibu yang tinggal di Batu. tak jauh dari rumahnya di Jalan Imam Bonjol. BAB III Pembahasan Masalah A. tolong bantu saya!” teriaknya kepada Wiji. Jawabannya selalu belum. suami Nunuk. Si jabang bayi memang sudah keluar. Nunuk mengeluh perutnya sakit sebagai tanda akan melahirkan. Bahkan yang paling buruk. kondisi anak saya dalam keadaan sehat. si bayi meninggal juga bisa saja terjadi.00 (lima ratus juta rupiah). Akibatnya. Istri saya mesti diberi suntikan obat perangsang sampai dua kali agar jabang bayi segera keluar. persalinan berlangsung cukup lama. yang dialami oleh Nunuk Rahayu (39 tahun) ini memang kelewat tragis. Mata Wiji langsung terbelalak begitu melihat pemandangan yang begitu mencekam. Di tengah kepanikan. tak mengerti maksud bidan. Baru saja memasuki klinik bersalin. si bayi lahir dengan kondisi kepala masih tertinggal di rahim! Kejadian yang demikian tragis itu diceritakan Wiji Muhaimin (40).Diduga karena kesalahan bidan. si bayi pun meninggal dalam keadaan tragis. Batu.000. Sore itu Selasa. Wiji tetap saja diliputi ketegangan. Katanya.00. Usai salat.” papar Wiji. Malang. segera berkemas-kemas dan mengantarkan istrinya ke bidan Tutik Handayani.dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500. lelaki berkumis lebat ini kembali ke bidan. Bidan yang menangani. Ia melahirkan secara sungsang. Lelaki yang sehari-hari berjualan es dan mainan anak-anak di sekolah-sekolah ini. Bidan yang sudah praktik sejak tahun 1972 itu berteriak minta tolong kepadanya. sekitar jam 15. Jumat (11/8). Sesampai di tempat bersalin. namun kepala bayi masih berada di dalam rahim. Jawa Timur. Malang ini sungguh tragis. Ibu dua anak ini berharap kelahiran anak ketiganya akan semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.

Sampai 15 menit kemudian. anak bungsunya sudah tak bernyawa lagi.” kata Wiji yang selama wawancara ditemani Riyanto. kami sepakat untuk melaporkan kasus ini polisi. Selanjutnya. Apa jadinya kalau saya tarik kemudian sampai lepas.” Lalu. “Baru setelah itu. bidan Tutik meminta Wiji menarik tubuh bayi agar segera keluar dari rahim. Beberapa saat kemudian.mengeluarkan kepala bayi. Ia hanya menahan tubuh bayi agar tak menggantung. istri Wiji segera ditangani. kepala disambung kembali dengan tubuh bayi. meski dia tak sempat hidup.” urai Wiji. Ia paham. langsung melakukan tindakan untuk mengeluarakan kepala si bayi dari rahim istrinya. selintas Wiji melihat tubuh anaknya sudah diangkat dan ditempatkan di ranjang sebelah. Beruntung ada mobil pick up yang siap jalan. Coba kalau ditarik beneran lalu putus. Baik Wiji maupun Riyanto menyesalkan tindakan sang bidan. Selain itu.” ujar Wiji. Wiji enggan melakukannya. Kala itu. “Saya berikan tubuh bayi saya kepada Bu Han. Riyanto melihat ada upaya untuk mengaburkan kasus ini dengan mengalihkan kesalahan kepada Wiji. pasti yang disalahkan oleh Bu Han adalah Mas Wiji. “Waktu itu. Dengan nada setengah berteriak lantaran panik. “Saya tak berani memandangi wajah anak saya. Sejurus kemudian dia mendengar si bidan semakin panik.” imbuh Wiji. SpOG. kepala si jabang bayi belum juga berhasil dikeluarkan. “Aduh yok opo iki”. Saya hanya menatap wajah istri saya. si bidan sempat mengeluh. sepupunya. bidan mengajak Wiji untuk membawa istrinya ke BKIA Islam Batu. “Untung saja Mas Wiji tidak mau melakukan. Makanya saya mempercayakan persalinan istri saya kepadanya. Namun. Sutrisno. untuk penanganan lebih lanjut. Wiji sudah tak sanggung membendung air matanya. bidan berusaha memanggil Wiji dan memintanya untuk menarik. Si jabang bayi segera dimakamkan. “Nama itu memang permintaan istri saya sejak mengandung.” urainya. Ia tahu karena tubuh si bayi sudah lemas dan tak ada gerakan sama sekali. Makanya. (aduh bagaimana ini). Setiba di sana.” papar Wiji. Bu Han bilang sanggup menangani. Sebab. Kepergian si jabang bayi mendatangkan duka mendalam bagi Wiji. Bahkan. Pikiran saya sangat kalut. Yang mengerikan. “Saya sudah tak berani melihat bagaimana bidan menangani anak saya. Wiji pun memberi nama anaknya Ratna Ayu Manggali. Dr. . seharusnya sejak awal bidan merujuk ke dokter kandungan. kalau keadaan bayi sungsang.” urai Riyanto. Kala itu. “Ia hanya bisa merinih kesakitan saja. “Saya tak tega menarik tubuh anak saya. saya tetap memberinya nama. “Misalnya saja pada saat bidan kesulitan mengeluarkan kepala bayi. Wiji pun tak tega melihat penderitaan istrinya. Yang saya lakukan hanya terus istigfar. Wiji sambil berurai air mata mendekati istrinya yang tengah kesakitan dan berjuang antara hidup dan mati. Lantas apa langkah Wiji? “Setelah melakukan rapat keluarga.” ujar Wiji.” tutur Wiji sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. tetap saja kepala bayi belum berhasil dikeluarkan. kondisi istri Wiji antara sadar dan tidak.

termasuk dua anak Wiji. “Saya tak ingat persis bagaimana bisa seperti itu. Ini berdasarkan prinsip hukum “de minimis noncurat lex”. hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan. harus dibuktikan apakah perbuatan bidan tersebut telah memenuhi unsur tidak pidanya. mari diselesaikan secara hukum. Hal ini sangat perlu tidak hanya untuk melindungi pasien dari kesewenangan tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan. menderita luka. tindakan kelalaian (negligence). Apabila bidan didakwa telah melakukan kesalahan profesi. Ia sempat dirawat selama tiga hari. misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah improper).” tegas Riyanto. Pembahasan Kasus Malpraktek dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu. hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami profesi kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan. yakni: apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang tercela dan apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah (sengaja. B. Bu Han tetap saja salah. Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk. Nunuk tak sanggup menceritakan saat-saat menegangkan dalam hidupnya. selama tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ia sudah menangani ribuan persalinan. ceroboh atau adanya kealpaan).Lelaki yang sehari-hari sebagai takmir masjid sekaligus tukang memandikan jenazah ini tak menampik bahwa bidan Han merupakan bidan senior di Batu. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. Dalam hal bidan didakwa telah melakukan ciminal malpractice. Waktu itu perasaan saya antara sadar dan tidak karena sakitnya luar biasa. Selanjutnya apabila bidan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan pasien meninggal dunia. maka yang harus dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga. “Namun dalam kasus ini. tetapi juga diperlukan untuk melindungi tenaga kesehatan dari kesewenangan pasien yang melanggar batasbatas hukum dan perundang-undangan malpraktek. Salah satu upaya untuk menghindarkan dari malpraktek adalah adanya informed consent (persetujuan) untuk setiap tindakan dan pelayanan medis pada pasien. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau improper). Ini adalah persoalan hukum. yaitu malfeasance.” ucapnya lirih. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance). misfeasance dan nonfeasance. yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur. Para tetangga sekitar berbondong-bondong memenuhi kamarnya yang sempit dan sangat sederhana. . Sementara Nunuk sendiri sepulang dari rumah sakit masih tampak lemas dan syok. ataupun suatu kekurang-mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan. Makanya saya tolak ajakan damai meski banyak pihak meminta.

2. Direct Causation (penyebab langsung) Damage (kerugian) Bidan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage)yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Cara tidak langsung Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien. c. bidan haruslah bertindak berdasarkan 1) Adanya indikasi medis 2) Bertindak secara hati-hati dan teliti 3) Bekerja sesuai standar profesi 4) Sudah ada informed consent. b. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila bidan tidak lalai Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab bidan . b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Jika seorang bidan melakukan pekerjaan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya.Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara yakni : 1. maka bidan tersebut dapat dipersalahkan. Duty (kewajiban) Dalam hubungan perjanjian bidan dengan pasien. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan bidan. Cara langsung Kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni : a. yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan (doktrin res ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur (doktrin pembuktian dalam hukum perdata yang membantu pihak korban (penggugat) untuk membuktikan kasusnya) dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria: a. d.

Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory negligence. Kesimpulan Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan di muka kiranya dapat diambil suatu kesimpulan sehubungan dengan masalah malapraktek bidan. untuk selanjutnya siapa yang harus bertanggung gugat apabila kerugian tersebut merupakan akibat kelalaian bidan. akan tetapi termasuk juga yang berlawanan dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad 31 Januari 1919). bukan keberhasilan. BAB IV Kesimpulan dan Saran A. dengan alasan Bidan Tutik Handayani telah melakukan tindakan medis yang tidak tepat dan ada upaya untuk mengaburkan kesalahan medis yang dia lakukan dengan mengalihkan kesalahannya kepada Bapak Wiji. Misalnya saja pada saat bidan kesulitan mengeluarkan kepala bayi. misalnya rumah sakit akan bertanggung gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian bidan sebagai karyawannya. antara lain: 1) Contractual liability Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari hubungan kontraktual yang sudah disepakati. 2) Vicarius liability Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam tanggung jawabnya (sub ordinate). Malapetaka seperti ini tidak mungkin dapat dihindari sama sekali. Tidak setiap upaya kesehatan selalu dapat memberikan kepuasan kepada pasien baik berupa kecacatan atau bahkan kematian. adalah sebagai berikut: . karena health care provider baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar pelayanan. kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Bidan Tutik Handayani telah melakukan Malpraktek dengan bentuk kelalaian malfeansance. bidan Tutik Handayani berusaha memanggil Wiji dan memintanya untuk menarik. Di dalam transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat. Perbuatan melawan hukum tidak terbatas hanya perbuatan yang melawan hukum. Menurut penulis.c. 3) Liability in tort Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). Di lapangan kewajiban yang harus dilaksanakan adalah daya upaya maksimal. Yang perlu dikaji apakah malapetaka tersebut merupakan akibat kesalahan bidan atau merupakan resiko tindakan.

Oleh sebab sangst diperlukan adanya suatu pemikiran-pemikiran yang jernih dari para arsitek hukum untuk mene-mukan altematif apa yang dapat dipakai dalam menghadapi kasus-kasus malapraktek tersebut. Upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam menghadapi tuntutan hukum: Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga bidan menghadapi tuntutan hukum. sehingga perpaduan antara kedua hal tersebut di atas akan menimbulkan suatu perbenturan atau sengketa. dengan mengajukan bukti untuk menangkis/menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada. sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan bidan. . yakni:      Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya. karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis). Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis. konsultasikan kepada senior atau dokter. 2. Sedangkan altematif untuk menyelesaikan sengketa itu sendiri. sebab kasus ini sangat banyak berkaitan dengan kepentingan masyarakat. maka bidan dapat melakukan :  Informal defence. Kasus malapraktek merupakan suatu kasus yang menarik. khususnya bagi yang merasa dirugikannya. dan yang sekaligus merupakan manifestasi dari kemajuan teknologi kesehatan dengan berbagai peralatannya yang canggih. yang sering dialami oleh masyarakat.1. Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice. keluarga dan masyarakat sekitarnya. B. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. untuk sementara waktu ini belum memadai. menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat mulai meningkat. Saran Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat bidan karena adanya mal praktek diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati. Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah. maka bidan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian bidan. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya. sehingga kasus-kasus malapraktek dijuimpai kandas di pemeriksaan sidang pengadilan. 3. utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur). apalagi untuk membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage). Apabila terjadi keragu-raguan. Sementara itu dengan semakin banyaknya kasus malapraktek yang disidangkan di Pengadilan dan bermunculannya berita-berita tentang malapraktek bidan di mass media karena kegagalannya dalam berpraktek sehingga mengakibatkan cidera-nya atau meninggalkan pasien.

1988. Berbicara mengenai pembelaan. Jakarta.   misalnya bidan mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja. Malpraktek Medik. akan tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment). Ninik. DAFTAR PUSTAKA Ameln. 1993. Malpraktek Kedokteran. 1991. ada baiknya bidan menggunakan jasa penasehat hukum. sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya. Mariyanti.wordpress. Semarang.. yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat. S. yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban. yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum. http://khanzima. 2002. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa..wordpress. Grafikatama Jaya. pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan.. J. Bina Aksara. Guwandi. Jakarta. atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.com/2010/01/13/makalah-etika-profesi-dan-hukum-kesehatan/ http://purwanto78. Jakarta. Hukum Kesehatan. karena dalam peradilan perdata. Dahlan. dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (bidan) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.com/2008/09/14/malpraktik-dalam-bidang-medis/ .F. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat membayar ganti rugi sejumlah uang. Formal/legal defence. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->