Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together

)
22 April 2009 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.

NHT (Numbered Head Together)

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 1. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2. Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan social Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan

Pertanyaan dapat bervariasi. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. suku. dengan tiga langkah yaitu : a) b) c) Pembentukan kelompok. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok. guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29). dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Langkah 3. jenis kelamin dan kemampuan belajar. tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. Langkah 5. Selain itu. Langkah 4. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok.sebagainya. Tukar jawaban antar kelompok Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut : Langkah 1. guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. ras. dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. . Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP). Langkah 2. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Diskusi masalah.

Fase Fase Menyampaikan tujuan Fase ke-1 dan memotivasi siswa Menyajikan informasi Fase ke-2 Mengorganisasikan Fase ke-3 siswa dalam kelompok kooperatif Fase ke-4 Membimbing kelompok Perilaku Guru Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siwa belajar Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. sehingga siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa yang lainnya dan saling belajar mengajar sesama mereka. Memberi kesimpulan Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar . Slavin dalam isjoni (2007) menyebutkan cooperative learning merupakan model pembelajaran yang telah dikenal sejak lama. antara lain adalah : 1. Pemahaman yang lebih mendalam 7. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 2. Konflik antara pribadi berkurang 6. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 5. Trianto (2007) menuliskan “dalam pembelajaran kooperatif terdapat enam fase pada setiap pembelajarannya” No. Meningkatkan kebaikan budi.Langkah 6. kepekaan dan toleransi 8. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 4. dimana pada saat itu guru mendorong para siswa untuk melakukan kerja sama dalam kegiatan kegiatan tertentu seperti diskusi atau pengajaran oleh teman sebaya (peer teaching). Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Hasil belajar lebih tinggi 60 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF lainnya <<<<klik di sini>>>> INFO TAMBAHAN Dapa Numbered Head Together (NHT) Isjoni (2007) menuliskan Cooperative learning berasal dari kataCooperative yang berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18). Dalam melakukan proses belajar mengajar guru tidak lagi mendominasi seperti lazimnya pada saat ini. Memperbaiki kehadiran 3.

kemudian guru menunjuk nomor yang lain Kelebihan model Cooperative Learning tipe Numbered Heads together: 1. Kemungkinan nomor yang dipanggil. suasana kelas yang rileks dan menyenangkan serta tidak terdapatnya siswa yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran karena semua siswa memiliki peluang yang sama untuk tampil menjawab pertanyaan. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 2. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya. 2. Tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok Kelemahan model Cooperative Learning tipe Numbered Heads together: 1.bekerja dan belajar Evaluasi Fase ke-5 Memberikan Fase ke-6 penghargaan paa saat mereka mengerjakan tugas mereka. dipanggil lagi oleh guru. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya 4. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru Baca juga posting . siswa dapat saling berbagi ilmu dan informasi. 2. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya 3. belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat teman. Dengan menggunakan model ini. tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka 5. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok Dalam Isjoni (2007) dituliskan model Cooperative learning tipe Numbered heads together (Kepala bernomor) dikembangkan spencer kagan. Tanggapan dari teman yang lain. dan setiap nomor mendapatkaan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi. 4. Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa menjadi siap semua. Maksud dari kepala bernomor yaitu setiap anak mendapatkan nomor tertentu. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat. Adapun langkah-langkah model Cooperative learning tipe Numbered heads together antara lain: 1. Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. 3. siswa tidak hanya sekedar paham konsep yang diberikan. rasa kepedulian pada teman satu kelompok agar dapat menguasai konsep tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful